-->

Pedang Ular Emas Bab 16

Bab ke 16

Murkanya si imam bukan kepalang, terutama kapan ia ketahui si kurus berada di belakangnya, sambil putar tubuh, ia menyambar dengan sebelah tangannya. Si kurus awas dan licin, dia berkelit sambil nyelusup pula ke kolong meja.

Dalam murkanya, imam itu dupak meja hingga terbalik.

Sedetik saja, ruang makan itu jadi kacau. Semua tetamu lainnya pada berdiri di kedua pinggiran.

Lincah luar biasa ada si kurus, ketika si imam serang pula padanya, dia berkelit, lalu dia loncat sana dan lompat sini, hingga tidak ada kepalan atau dupakan yang mengenai tubuhnya.

Meja-meja lainnya, berikut kursinya, turut terbalik-balik, karena disempar dan dibentur, poci arak, cawan dan sumpit, jatuh berhamburan. Si kurus membalas menyerang, tetapi dengan poci arak dan lainnya, yang ia jumput dari lantai. Si imam menjerit-jerit, ia berkelit, ia menanggapi, untuk balas menimpuk. Dengan begitu terlihatlah kepandaian mereka berdua.

Karena meja dan kursi pun disempar pergi datang, ruang itu lantas menjadi ruang kosong, hingga si kurus tak dapat jalan untuk main berkelit atau berlari lagi, maka ia terpaksa mesti layani si imam yang serang ia tak hentinya. Ia melayani sambil perlihatkan kesebatannya, kegesitan tubuhnya.

Si imam bertenaga besar. Segera kelihatan dia bersilat dengan ilmu silat "Tay Ang Kun" berasal dari Chong-ciu, atau Chong Ciu Pay. Sesuatu serangannya menerbitkan sambaran angin yang keras.

Si kurus sendiri bersilat tetap sebagai bermulanya, tubuhnya gesit, gerakannya sebat. Dia lebih banyak berkelit, dengan buang diri atau berlompat, atau kadang-kadang ia terhuyung-huyung, nampaknya lucu, hingga Ceng Ceng, yang menyaksikan dengan penuh perhatian, tak tahan untuk tidak tertawa geli.

"Inilah tak enak dilihat!" katanya. "Macam apa ilmu silat ini?"

Sin Cie juga tidak kenal ilmu silat itu, yang ia belum pernah lihat, ia melainkan saksikan kelincahan dan gerak- gerakan yang aneh. Rupanya itu ada ilmu kepandaian suatu golongan tersendiri.

"Inilah Ap Heng Kun," kata Thia Ceng Tiok, yang luas pengetahuannya. "Dalam kalangan kaum kangouw, tidak banyak orang yang mengerti ilmu silat ini."

Ceng Ceng tertawa pula. Nama ilmu silat itu, yang berarti "Kuntau Bebek", sungguh luar biasa. Tapi sekarang ia bisa lihat tegas, gerakan kaki dan tangan benar-benar seperti gerak-geriknya bebek gemuk....

Si imam, yang tak bisa rubuhkan si kurus, lalu menjadi sibuk sendirinya. Sia -sia saja pelbagai toyoran dan tendangannya. Maka akhir-akhirnya, tubuhnya jadi terhuyung-huyung, sempoyongan, bagaikan orang bertubuh limbung dan tak kuat berdiri. Tapi ini adalah ilmu silat "Lou Tie Cim Cui Pa San-bun" atau "Lou Tie Cim sedang mabuk arak pukul pintu kuil". Tubunya terumbang-ambing tidak keruan, kaki tangannya sambar sana-sini, ada kalanya dia rubuh terbanting sendirinya, lalu bergulingan, tapi serangannya ada hebat, terutama sehabis jatuh, apabila musuh hampirkan dia, dia bisa berlompat bangun dengan cepat sekali. Kali ini, Baru dia jalankan separuh dari ilmu silatnya itu, atau si kurus-kecil sudah repot sendirinya.

Oleh karena itu, ia sering jatuh dan bergulingan, tubuh si iman telah berlepotan nasi dan kuah sayuran, malah juga kotoran dari pispot, tapi ia tak perdulikan itu, untuk bisa kalahkan musuhnya, ia masih suka bergulingan.

Rupa-rupanya imam ini lihat ketikanya yang baik sudah datang, dengan sekonyong-konyong dia lompat mendesak, selagi kakinya sebelah maju, tangan kirinya menggertak, tangan kanannya menyerang dada, dengan tipu-pukulannya "Pay san to hay", atau "menggempur gunung untuk menguruk lautan".

Ini adalah satu serangan liehay. Si kurus juga insyaf itu, maka dia lekas-lekas empos semangatnya, kedua tangannya ditaruh di depan dada, selagi serangan datang, ia berseru keras: "Bagus!"

Tidak tempo lagi, kedua tangan serta satu kepalan bentrok satu dengan lain. Kepalannya si imam besar dan antap, kedua tangannya si kurus kecil dan kurus, tapi kedua tangan itu tepat menyambuti, sesudah mana, keduanya saling dorong.

Si imam menyerang dengan kepalan kanan, karena itu, kepalan kirinya merdeka, akan tetapi karena dia kumpul tenaga di tangan kanan, tangan kiri itu tak dapat dipakai membantu. Dia bertenaga besar, dia kerahkan semua tenaganya, tapi tak dapat ia tolak tubuh musuh, yang pertahankan diri dengan kokoh-teguh, hingga keduanya jadi berkutetan, tak ada yang dapat maju, tak ada yang bisa mundur. Sebab siapa berani mundur, celakalah dia.

Keduanya, si imam dan si kurus, menjadi menyesal sendirinya. Mereka tidak bermusuhan satu dengan lain, tidak keruan, mereka bertarung secara hebat itu, mereka seperti adu jiwa.

Tidak lama kemudian, mereka masing-masing menjadi mandi keringat, air keringat sebesar kacang kedele mengetel dari jidat mereka...

"Thia Lau-hia," kata See Thian Kong, setelah mereka menyaksikan sampai sebegitu jauh, "coba kau pakai tongkatnya si pengemis untuk pisahkan mereka, kalau tidak, lagi sedikit lama, mereka dua-dua bakal celaka..."

"Aku sendirian tidak sanggup, mari kita berdua," mengajak Ceng Tiok.

"Baik, marilah," jawab Thian Kong. "Jikalau kita tolak mereka mungkin mereka sama-sama terluka di dalam, cumalah tak sampai membahayakan jiwa..."

Belum sampai dua orang itu maju, Sin Cie sudah campur bicara.

"Mari aku yang mencoba!" katanya sambil berbangkit. Lalu, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan dua jago itu, yang sudah mandi keringat. Ia berdiri di tengah, di samping mereka, lantas pentang kedua tangannya, akan buka kedua orang itu terpisah masing-masing tangannya, hanya karena mereka dipisahkan secara tiba-tiba, tubuh mereka maju ngusruk, tangan mereka maju ke depan tepat mengenai dada Sin Cie.

"Celaka!" berseru Ceng Tiok dan Thian Kong, sambil mereka lompat, dengan niat tolongi si anak muda. Tapi kapan mereka sudah datang dekat, mereka dapati si anak

721 muda tidak terluka, romannya tenang seperti biasa. Mereka tahu, Sin Cie sudah bersiap mengerahkan tenaga di dalam tubuhnya, untuk sambuti serangan yang tidak disengaja itu, hingga ia jadi tak kurang suatu apa.

Tidak demikian adalah si kurus dan si tautoo. Mereka telah kehabisan tenaga, setelah mereka dapat dipisahkan, saking lemasnya, dua-dua rubuh, mendeprok di lantai di tengah-tengah ruang itu.

Dengan seorang menolongi satu, Ceng Tiok dan Thian Kong pimpin bangun kedua jago itu, sedang jongos lantas diperintah untuk segera bebenah.

Sin Cie rogoh sakunya, akan serahkan dua-puluh tail perak pada kuasa hotel.

"Ini ada untuk ganti semua kerusakan," katanya. "Semua tetamu itu belum dahar cukup, silakan sajikan makanan untuk mereka, pembayarannya dimasuki atas namaku."

Tuan rumah menjadi girang, ia terima uang seraya mengucap terima kasih, kemudian ia perintah sekalian jongos bersihkan segala apa dan bebenah, untuk lekas sajikan barang hidangan baru untuk semua tetamunya.

Belum terlalu lama, dua-dua si imam dan si kurus telah dapat pulang tenaga mereka, maka keduanya hampirkan Sin Cie, untuk menghaturkan terima kasih, sebab si anak muda telah tolongi mereka.

Sin Cie tertawa.

"Tak usah, jiewie," katanya. "Aku mohon tanya she dan nama jiewie. Dengan kepandaian yang liehay, jiewie mesti ada orang-orang ternama."

"Aku adalah Gie Seng tetapi orang umumnya panggil aku Thie Lo Han," sahut si tautoo. "Aku ada Ou Kui Lam," jawab si kurus. "Aku mohon tanya she dan nama kau tuan, begitupun nama jiewie." Ia maksudkan Thian Kong dan Ceng Tiok.

Belum keburu Sin Cie perkenalkan diri, atau See Thian Kong dului ia.

"Kiranya tuan ada Seng-chiu Sin-tou Ou Toako!" katanya. Ia tahu julukan orang itu dan menyebutkannya. Seng-chiu Sin-tou berarti "Malaikat Copet".

Nampaknya Ou Kui Lam puas orang kenal dia, tapi ia lekas-lekas merendahkan diri. Lantas ia ulangi tanya nama See Thian Kong.

Thia Ceng Tiok jemput kipasnya orang she See itu dan sambil dibuka ia tunjuki kepada Kui Lam, hingga dia ini lihat lukisan tengkorak yang menyeramkan.

"Oh, kiranya Im-yang-sie See Ceecu!" kata Kui Lam. "Memang sudah lama aku dengar nama ceecu. Girang aku dengan pertemuan ini."

Sementara itu dengan matanya yang membelalak Kui Lam telah lihat juga ceng-tiok atau tongkat bambu orang yang disenderkan di samping meja, sebagai orang yang luas pengalamannya, ia tahu artinya senjata itu, malah ia kenal baik ruas atau bukunya tongkat itu, yang ada tiga-belas, tanda kedudukan paling tinggi. Maka lekas-lekas ia menjura kepada Ceng Tiok.

"Maafkan aku untuk mataku yang kurang terang," katanya. "Tuan toh Thia Lo-pangcu?"

Thia Ceng Tiok tertawa.

"Benar-benar liehay matanya Seng-chiu Sin-tou!" katanya. "Jiewie tidak kenal satu sama lain apabila jiewie tidak bentrok, maka sekarang, mari kita minum bersama- sama!"

Semua orang lantas duduk.

Gie Seng dan Kui Lam lantas saling memberi selamat dengan arak, satu sama lain mereka akui kesemberonoan mereka.

Gie Seng kemudian tertawa ketika ia kata: "Sungguh aneh, entah dari mana dia curinya pispot itu!"

Mendengar ini, semua orang tertawa.

Kui Lam berlaku sopan-santun, tidak saja ia tahu ia berhadapan sama dua jago dari Hoopak dan Shoatang, di situ pun Sin Cie yang agaknya dipandang tinggi kedua jago itu, hingga ia menduga, pemuda ini bukan orang sembarangan. Ia pun telah saksikan keliehayannya selagi si anak muda pisahkan mereka.

"Untuk maksud apa jiewie sampai di sini?" Ceng Tiok tanya kemudian. "Kau sendiri, Ou Lautee, apakah kau lihat dan penujui salah satu hartawan di sini hingga kau berniat perlihatkan ilmu kepandaianmu?"

"Di dalam wilayah Thia locianpwee mana berani aku main gila?" sahut Kui Lam sambil tertawa. "Aku hendak pergi memberi selamat kepada Lo-ya-cu Beng Pek Hui."

"Hei, mengapa kau tak menyebutkannya maksudmu itu siang-siang?" menegur Gie Seng sambil tepuk meja. "Aku juga berniat pergi memberi selamat! Coba aku ketahui maksudmu, mana kita bentrok..."

"Tapi inilah bagus!" tertawa Ceng Tiok. "Kita sama-sama hendak memberi selamat pada Beng Lo-yacu, mari besok kita berangkat bersama-sama. Rupanya jiewie kenal baik Beng Loyacu itu?" "Beng Toako itu adalah sahabatku sejak dua-puluh tahun yang lampau!" jawab Thie Lo Han. "Selama yang belakangan ini aku lebih banyak berdiam di Kwietang Hokkian, jarang aku pergi ke utara. Sudah kira-kira delapan atau sembilan tahun kami tak pernah bertemu satu dengan lain."

"Kalau demikian Lo Han Toako, tolong kau perkenalkan aku dengannya," kata Ou Kui Lam.

Tautoo itu menjadi heran.

"Apa?" katanya. "Apakah kau tak kenal Beng Toako?

Habis kenapa kau hendak pergi kasih selamat padanya?"

"Aku adalah seorang yang sejak lama kagumi Beng Toako, sayang belum ada jodonya aku bertemu dengannya," Kui Lam akui. "Belum lama ini aku telah dapatkan serupa barang berharha, aku pikir, untuk berkenalan sama orang kangouw kenamaan ini, aku boleh berikan bendaku itu."

"Begitu!" kata si tautoo. "Mengenai Beng Toako, jangan kata orang yang membekal barang antaran, sekalipun yang tidak, dia bakal sambut dengan manis-budi. Beng Toako sangat ramah-tamah. Kalau tidak, mengapa orang bandingi dia dengan Beng Siang Kun?"

Mendengar orang menyebut dapat benda berharga, hatinya Thia Ceng Tiok tertarik.

"Ou Lautee, benda apa itu yang kau dapatkan?" tanyanya. Apa boleh kau bantu membukan pandanganku dengan kau perlihatkan benda itu?"

"Seng-chiu Sin-tou telah curi banyak barangm yang tidak berharga mana dia pandang mata?" kata See Thian Kong sambil tertawa. "Pasti itu adalah barang yang harganya sama besarnya dengan sebuah kota. " Nampaknya Ou Kui Lam girang sekali.

"Barang itu sekarang berada padaku," ia beritahukan. Ia lantas merogo ke dalam sakunya, akan keluarkan sebuah lopa-lopa terbuat dari emas yang indah dan tertabur batu pualam dan mutiara.

"Di sini ada banyak mata, mari kita pergi ke dalam kamar," kata dia kemudian.

Semua orang ingin lihat isinya lopa-lopa indah itu, semua lantas bertindak ke dalam kamar.

Begitu lekas ia telah rapatkan pintu, Ou Kui Lam buka lopa-lopanya di dalam mana terdapat dua ekor kodok pek- ciam-sie yang sudah menjadi bangkai, tubuhnya putih bagaikan salju seluruhnya, biji matanya merah bagaikan darah hidup. Memang, nampaknya dua ekor kodok itu menarik hati untuk dipandang, akan tetapi semua orang tidak lihat faedahnya.

Ceng Tiok dan Thian Kong sendiri, yang berpengalaman luas, masih tak mengerti juga.

Ou Kui Lam awasi Gie Seng, ia tertawa.

"Tadi berdua kita adu tenaga," katanya, "umpama kata kita terbinasa karenanya, itu dia yang dinamakan takdir, tidak ada pertolongan lagi, akan tetapi andaikata kita cuma terluka parah, aku mempunyai daya-upaya untuk tolong mengobatinya hingga kita terbebas dari ancaman malapetaka." Dia lantas tunjuk sepasang kodok putih itu: "Inilah kodok Cu-ceng peng-ciam yang hidupnya di Soat San, Gunung Salju di See-hek, perbatasan barat. Tidak perduli luka bagaimana hebat, di luar, atau terkena racun, asal orang tidak mati seketika, dia dapat ditolong setelah dia makan kodok ini, kodok es. Kemujarabannya obat ini tidak ada tandingannya." "Dari mana kau dapatkannya ini?" Ceng Tiok tanya.

"Dari satu imam tua," sahut Kui Lam. "Pada bulan yang lalu aku berada di Hoolam, selagi singgah di hotel aku bertemu sama imam itu yang sedang sakit berat sampai hampir mati. Aku kasihan terhadapnya, aku berikan ia uang sepuluh tail, untuk ia panggil tabib dan berobat, aku sendiri layani dia selama sakitnya itu. Dasar umurnya sudah sampai, obat dan rawatanku tidak menolong, akhirnya tak dapat ia hidup lebih lama pula. Imam itu ingat budi, di saat hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia kasikan kodoknya ini kepadaku, untuk membalas kebaikanku."

"Mengapa lopa-lopanya demikia indah?" Thie Lo Han tanya.

"Pada mulanya, si imam tempatkan ini dalam sebuah lopa-lopa kaleng," menerangkan Kui Lam. "Sekarang aku hendak haturkan kodok es ini kepada Beng Loyacu, maka aku tukar tempatnya, supaya setimpal dilihatnya."

See Thian Kong tertawa.

"Maka lantas kau, dengan tangan kosong, kunjungi suatu hartawan, untuk dapatkan lopa-lopa emas dan indah ini?" katanya.

"See Ceecu pandai menerka," tertawa Kui Lam. "Lopa- lopa emas ini kepunyaan nona besar dari satu hartawan she Lau di kota Kay-hong..."

Semua orang tertawa.

Kui Lam tak malu ditertawai, ia pun tertawa juga. "Tadi," katanya, melanjuti, "jikalau tidak tuan ini

menolongi, kita berdua mesti rubuh dengan luka-luka parah, andaikata aku terluput dari kematian, pasti aku akan makan satu kodok es ini dan berikan dia yang lainnya. Kita berdua tidak bermusuhan, mustahil aku mesti bikin dia celaka?"

"Dengan begitu aku jadi bakal terima budimu!" tertawa Thie Lo Han.

Maka lagi-lagi semua orang tertawa.

"Dan sekarang, kedua kodok ini tetap bukanlah kepunyaanku," kata pula Kui Lam. Lalu dengan kedua tangannya, dia angsurkan kodok itu kepada Sin Cie. "Tak berani aku menyebut membalas budi tetapi ini melainkan ada tanda hati dari aku."

Sin Cie heran hingga ia melengak.

"Mana dapat!" katanya kemudian. "Kodok ini kau toh kau hendak berikan kepada Beng Lo-yacu..."

"Jikalau siangkong tidak berkorban untuk tolongi kami, pasti aku sudah mati," kata Kui Lam, "maka itu, nyata sepasang kodok es ini bukan jodonya Beng Lo-yacu. Untuk hadiah, bukannya aku tekebur, sembarang waktu aku bisa dapatkan gantinya, maka tak usah siangkong buat pikiran."

Masih Sin Cie menampik, karena mana, Kui Lam agaknya kurang puas.

"Siangkong tidak mau perkenalkan she dan nama, sekarang siangkong juga tidak sudi terima barangku, apa mungkin siangkong sangka kodok es ini aku dapatinya dari mencuri?" katanya. "Apa mungkin siangkong anggap ini barang kotor?"

"Maaf, saudara Ou," kata Sin Cie dengan cepat. "Tak sempat tadi aku perkenalkan diriku. Aku ada Wan Sin Cie." "Aha!" berseru Thie Lo Han dan Kui Lam juga. "Jadinya siangkong ada Wan Toaya yang menjadi bengcu dari tujuh propinsi! Pantas toaya liehay sekali."

Keduanya lantas unjuk sikap sangat menghormati.

"Ou Toako memaksa hendak memberikannya, jelek untuk aku menampik, baik aku terima," kata Sin Cie kemudian. "Banyak-banyak terima kasih!"

Ia sambuti kodok es itu, untuk disimpan dalam sakunya. Bukan main girangnya Kui Lam, wajahnya berseri-seri.

Sin Cie pergi ke kamarnya akan kembali bersama sepohon batu bunga-karang merah-dadu yang terang bercahaya, indah dan tak ada cacatnya, tak ada sebutir jua pasir tercampur di dalamnya, kapan ia letaki itu di atas meja, ruangan jadi tambah terang luar biasa. Jadi itu adalah mustika bunga-karang.

Kui Lam tercengang, walaupun ia pernah lihat banyak barang permata.

"Belum pernah aku lihat mustika ini," katanya. "Mungkin dalam istana kaisar Baru kedapatan ini macam mustika. Apakah ini pusaka turunan, Wan Toaya? Dengan ini mataku telah terbuka."

Sin Cie tertawa.

"Ini melainkan suatu benda permainan," bilangnya. "Meskipun barang ini indah, kefaedahannya masih kalah dengan kodok es itu, yang bisa menolongi jiwa orang. Secara kebetulan saja aku peroleh ini. Aku harap saudara Ou suka menerimanya, untuk ganti barang antaranmu."

"Tapi ini terlalu berharga," Kui Lam kata. "Tidak apa, saudara Ou. Kau terimalah." Karena terdesak, Kui Lam terima juga. Ia mengucap terima kasih.

Ceng Tiok semua kagum untuk sifat Sin Cie ini.

Sampai di situ, mereka beristirahat, untuk besoknya pagi, mereka melanjuti perjalanan, maka sorenya, sampailah mereka di Po-teng. Mereka singgah dulu di hotel, lalu besokannya pagi-pagi, mereka sudah bikin kunjungan kepada Beng Pek Hui, jago Utara itu.

Kapan tuan rumah lihat tiga nama - Wan Sin Cie, Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong - ia sendiri yang keluar menyambut, akan tetapi kapan ia telah saksikan Sin Cie hanya seorang muda, ia menjadi sedikit melengak. Inilah ia tak sangka, dengan sendirinya ia menjadi tak puas.

"Kenapa orang-orang gagah dari tujuh propinsi jadi begini angot," pikirnya, "Kenapa mereka pilih bocah semacam ini menjadi bengcu?"

Sebagai seorang yang gemar bergaul, biar bagaimana, Beng Pek Hui layani juga tetamu-tetamunya itu; ia dibantu oleh kedua anaknya, Beng Ceng dan Beng Siu. Ia menghaturkan terima kasih, ia utarakan penghargaannya kepada semua tetamu itu, lantas ia undang mereka masuk, untuk duduk.

Sin Cie lihat tuan rumah bertubuh kekar, rambut dan kumis-jenggotnya telah putih semua, tindakannya masih tetap, suatu tanda bahwa dia mengerti baik ilmu silat, sementara kedua puteranya sedang mudanya dan romannya gagah.

Kapan kemudian kedua pihak telah bicara lama juga, segera ternyata Beng Pek Hui kurang setuju dengan rapat besar di Tay San, selagi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong omongkan itu, dia seperti tak memperhatikan, dia tidak campur bicara atau menanyakannya.

Selang tidak lama, datang lain tetamu, dengan memohon maaf, Pek Hui tinggalkan rombongan Sin Cie, untuk sambut tetamu Baru itu.

"Dia dijuluki Kay Beng Siang,mengapa dia layani tetamunya begini adem?" pikir Ceng Ceng. "Mestinya dia kesohor namanya saja. "

Habis minum teh, Beng Siu temani rombongan Sin Cie ini pergi ke ruang belakang, untuk saksikan pelbagai barang antaran atau tanda mata dari sekalian tetamu. Di sana mengitari sebuah meja berada Pek Hui bersama sejumlah tetamu lainnya. Rata-rata tetamu itu memberikan pujiannya.

Melihat pada Sin Cie beramai, Pek Hui lekas-lekas menghampirkan.

"Saudara Wan, tak sanggup aku terima budi kebaikanmu ini!" katanya. "Sumbangan saudara berharga sangat besar. "

"Untuk hari ulang tahun locianpwee, barang itu tidak berharga," sahut Sin Cie.

Thian Kong beramai dekati meja, hingga mereka bisa lihat banyaknya barang tanda mata, yang indah-indah, sedang tanda mata dari Sin Cie ada dua-puluh empat butir mutiara serta kuda-kudaan kumala, dan sumbangan Ceng Ceng ada semangka-semangkaan dari batu huicui. Mencolok adalah tanda mata dari Ou Kui Lam, itu batu bunga-karang.

Beng Pek Hui tidak puas Sin Cie yang muda diangkat sebagai bengcu, tapi sekarang menyaksikan sikap sopan santun dan manis budi pemuda itu, dia dipanggil dengan

731 sebutan locianpwee serta barang sumbangannya demikian indah dan mahal, berubahlah perasaannya, dia mulai menjadi suka. Dia pun heran untuk kelakuan hormat dan halus dari anak muda ini.

Kapan kemudian telah selesai orang memberi selamat kepada tuan rumah, pada malamnya tuan rumah undang semua tetamu untuk dijamu. Itulah suatu pesta besar sekali. Telah hadir lebih daripada tiga-ribu tetamu, sebab Pek Hui adalah orang paling kenamaan di Po-teng, dia kaya raya dan sangat gemar bergaul. Di dalam pesta, tuan rumah ini berlaku sangat ramah-tamah, ia saban-saban menghaturkan terima kasih.

Di thia telah diatur kira-kira delapan-puluh meja, untuk semua tetamu yang ternama, dan untuk tetamu lainnya, mereka berpesta di ruang belakang.

Sin Cie bertiga Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong diundang duduk di meja pertama, Beng Pek Hui sendiri yang menemani. Di sini ada duduk juga - malah di kursi pertama - Wan-yho-tan Thio Jiak Kok, seorang umur tujuh- puluh-delapan tahun, yang tersohor gagah. Pek Hui perkenalkan dia ini pada Sin Cie bertiga.

Thio Jiak Kok juga heran mengapa rapat di Tay San pilih satu bengcu seorang muda dan tak beroman luar biasa sebagai pemuda ini, dari heran, ia merasa lucu, tetapi ia tidak bilang suatu apa.

Duduk bersama di meja pertama itu ada satu orang she Phang bekas congpeng, yang masih dipanngil Phang Congpeng, begitupun Tang Kay San, piausu kepala dari Eng Seng Piau Kiok, serta beberapa orang kenamaan lain.

Habis beri selamat pula dengan secawan arak pada tuan rumah, sekalian tetamu ini lantas dahar dan minum dengan gembira, dengan main bade-badean tangan juga. Selagi pesta berjalan, satu chungteng datang masuk dengan tangannya membawa satu barang hadiah, dia dekati Beng Ceng, untuk bicara di kupingnya majikan muda ini dengan pelahan, atas mana dia ini berbangkit, akan hampirkan ayahnya.

"Ayah, sungguh terang muka ayah," katanya. "Sin-kun Bu-tek Kwie Sin Sie suami-isteri serta murid-muridnya telah datang untuk memberi selamat!"

Tapi Pek Hui heran, hingga ia melengak.

"Sebenarnya aku tak punya hubungan dengan mereka," katanya.

Kapan dos barang antaran dibuka, di situ kedapatan selembar kertas merah yang memuat huruf-huruf besar menyebutkan nama Kwie Sin Sie suami isteri serta murid- muridnya, yang memberi selamat, serta di bawahan itu, dengan huruf kecil, ada tambahan mohon suka diterima sumbangan uang emas sepuluh tail, uang emas mana, dalam rupa sepotong goanpo kecil, terletak di dalam dos itu.

"Lekas menyambur!" kata tuan rumah, yang lantas bilang pada Thio Jiak Kok beramai, "Maaf." Bersama dua anaknya, segera ia pergi keluar. Tapi lekas juga ia telah kembali, dengan air muka riang-gembira, bersama dia ada Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo, Lau Pwee Seng dan Sun Tiong Kun.

Sin Cie sudah lantas berbangkit untuk berdiri di pinggiran, terus ia menjura seraya berkata: "Jie suko, jie- suso, baik?"

Kwie Sin Sie manggut.

"Oh, kau pun ada di sini. " sahut suko yang kedua itu. "Ehm," terdengar Kwie Jie-nio, yang tak perdulikan sutee itu.

"Silakan duduk di atas, suko," kata Sin Cie pula. "Aku nanti duduk bersama Kiam Hoo beramai."

Mendengar bahwa mereka adalah suheng dan sutee, Beng Pek Hui tertawa.

"Bagus, bagus!" katanya. "Ada suko yang begini terkenal yang menjadi tulang punggung, jangan kata Baru menjadi bengcu dari tujuh propinsi, walaupun dari empat-belas propinsi masih tepat!"

Dengan kata-katanya itu, Pek Hui beranggapan Sin Cie menjadi bengcu karena andalan suhengnya itu.

Sin Cie dengar itu, ia melainkan bersenyum, ia tak bilang suatu apa.

"Kau omong tentang bengcu, apa itu?" tanya Sin Sie dengan heran.

"Ah, aku bicara seenaknya saja, harap Kwie Jieko tak buat pikiran," sahut tuan rumah, yang terus silakan tetamunya ini duduk bersama Thio Jiak Kok beramai, karena mana, Sin Cie pindah akan duduk bersama Kiam Hoo.

Di dalam pesta ini, wanita dan pria duduk bersama, tidak ada pemisahan.

Kwie Sin Sie dan nyonya bersama tuan rumah lantas saling memberi selamat, yang satu untuk selamat panjang umur, yang lain untuk kedatangannya tetamu, kepada siapa pun dihaturkan terima kasih buat antaran barang tanda matanya. Habis minum tiga edaran, Tang Kay San berbangkit, untuk mohon undurkan diri, katanya tak kuat ia minum banyak, ingin ia beristirahat.

Beng Pek Hui tidak mencegah, malah ia suruh satu chungteng untuk antar tetamu ini ke balai istirahat.

Tiba-tiba Kwie Sin Sie kata dengan tawar: "Kami telah pergi kemana-mana untuk cari Tang Piausu, kami tidak berhasil, maka kami sangka, piautau mesti ada di sini, buktinya sekarang benar dugaan kami itu!"

Tang Kay San berubah wajahnya, dia likat agaknya. "Aku dengan Kwie jie-ya tidak punya dendaman atau

permusuhan, dahulu tidak, sekarang pun tidak,"  katanya.

"Maka kenapa Kwie Jie-ya bergitu mendesak mencari aku?"

Orang banyak heran, hingga mereka menunda cawan arak mereka. Semua orang mengawasi kedua tetamu ini.

Beng Pek Hui tertawa.

"Di antara jiewie ada sangkutan apa?" tanyanya. "Aku minta jiewie suka memandang aku, biarlah aku dapat mendamaikannya."

"Sudah lama aku kagumi nama Kwie Jie-ya," berkata Tang Kay San. "Dengan dia aku belum pernah berkenalan, maka aku pun tidak mengerti kenapa Kwie Jie-ya cari aku kemana-mana. "

Mendengar ini, Pek Hui lantas saja mengerti. Di dalam hatinya, ia kata: "Bagus benar! Kamu berdua jadi bukan dengan setulus-tulusnya hati datang untuk memberi selamat kepada aku! Yang satu adalah untuk menyingkirkan diri, yang lain untuk menyusul! Si orang she Tang ini menghargai aku, dia telah memasuki rumahku, biar bagaimana, tak dapat aku ijinkan dia mendapat susah." Karena memikir begini, ia terus kata kepada tetamunya yang baru: "Kwie Jie-ya, apabila kau ada punya urusan, baik kita bicarakan itu selewatnya hari ini. Kita semua ada sahabat-sahabat baik, urusan apa juga dapat didamaikan."

Kwie Sin Sie tak pandai bicara, maka isterinya yang wakilkan dia.

"Ini adalah anak tunggal dari Jie-ya," berkata nyonya ini sambil ia tunjuk puteranya, yang senantiasa berada dalam empoannya. "Anak ini telah mendapat sakit berat, dia tinggal matinya saja, karena itu kami hendak mohon Tang Piautau berbuat kebaikan kepada kami dengan berikan beberapa butir obat pulungnya kepada kami, untuk tolongi jiwanya anak kami ini. Tentu saja itu ada satu budi yang besar sekali."

"Itu adalah hal yang selayaknya," kata Beng Pek Hui, yang terus berpaling kepada piausu she Tang itu, akan kata: "Tuan Tang, menolongi satu jiwa manusia ada lebih berjasa daripada mendirikan sebuah menara tujuh tingkat, maka itu, tolong kau berikan obat kepada anak ini. Inilah permintaan dari Kwie Jie-ya, satu enghiong yang kenamaan."

"Coba hok-leng dan ho-siu-ou itu ada kepunyaanku sendiri, tidak usah Kwie Jie-ya capaikan hati akan cari aku, pasti siang-siang aku sudah menghaturkannya dengan kedua tanganku," sahut Tang Kay San. "Akan tetapi obat itu ada kepunyaan Ma Tayjin, congtok dari Hongyang - itu ada upeti untuk kotaraja, maka itu, bagaimana dapat aku menyerahkannya? Barang telah diserahkan dalam pertanggungan-jawab dari Eng Seng Piau Kiok, apabila aku membuat gagal, di belakang hari, cara bagaimana kami dapat hidup di dalam kalangan kangouw ini?" Tang Piausu telah memberikan alasan kuat, orang menjadi serba salah.

Phang Congpeng dengar halnya barang upeti, lantas saja dia campur bicara.

"Barang upeti berarti barangnya Sri Baginda, siapa bernyali besar berani ganggu itu?" katanya dengan nyaring.

"Hm!" Kwie Jie-nio menyambuti. "Walaupun itu ada barangnya Giok Hong Tay Tee, mesti aku mengambilnya!"

Phang Congpeng jadi gusar, hingga dia keluarkan lagak pembesarnya.

"Bagus!" serunya. "Orang perempuan, kau hendak berontak?"

Kwie Jie-nio jadi tambah murka. Dengan sumpitnya dia jemput sepotong bakso, selagi si congpeng belum sempat tutup rapat mulutnya, dia menimpuk, tepat masuk ke dalam mulut, sedangkan si congpeng lagi kaget, lain-lain potongan bakso beruntun menyambar mulutnya jadi penuh, hingga dia jadi kelabakan.

Jago tua Thio Jiak Kok menjadi tidak senang.

"Ini hari ada hari ulang tahun Beng Toaya, mengapa kau mengacau?" pikirnya.

Lantas dia jumput para-para sumpit mirip goanpo, ia menepuk dengan keras, hingga para-para itu nancap di atas meja.

"Kau pertontonkan tenaga lweekang, siapa jeri padamu?" kata Sin Sie dalam hatinya. Lantas dia letaki tangannya di atas menja, diam-diam ia kerahkan tenaganya, di mata orang kebanyakan, dia tidak berbuat suatu apa, akan tetapi tahu-tahu para-para sumpit itu meletik sendirinya, seperti tercabut dengan ilmu dewa. Mukanya Thio Jiak Kok menjadi merah, dia jengah sendirinya. Lagi dia keprak meja, lantas dia menoleh kepada tuan rumah, akan kata: "Beng Lautee, saudaramu telah mendapat malu di rumahmu ini...." Lantas dia bertindak keluar, tindakannya lebar.

"Jangan kesusu, Thio Loyacu," kata dua pelayan, sambil menyusul. "Silakan loyacu minum teh di ruang belakang. "

Jiak Kok tidak perdulikan cegahan itu, malah dengan buka kedua tangannya, ia bikin kedua pelayan sempoyongan dan jatuh terpental. Ia jalan terus.

Beng Pek Hui menjadi tidak senang. Ia anggap pestanya yang berjalan dengan gembira itu telah dikacau oleh Kwie Sin Sie suami-isteri. Tapi, belum sampai dia bicara, Phang Congpeng sudah berteriak kelabakan. Dia ini bisa keluarkan semua bakso dari mulutnya, kecuali sepotong yang pertama, yang nyerobot terus lewat tenggorokannya, masuk ke dalam perutnya!

"Berontak! Berontak!" Demikian suaranya yang nyaring. "Apakah masih ada undang-undang raja? Mari!"

Dia memanggil orangnya. Lantas dua pengikutnya muncul. Mereka ini menantikan di luar, mereka tidak tahu apa-apa, mereka masuk sambil berlari-lari.

"Lekas gotong Tay-Kwan-too-ku!" kata Phang Congpeng itu, yang bersenjatakan Tay-kwan-too itu - golok Kwan Kong.

Ketika ia peroleh pangkat, Phang Congpeng dapati itu karena andalkan pengaruh isterinya, bugeenya masih rendah, akan tetapi dia aksi, dia perintah tukang besi bikin golok Kwan Kong yang besar tapi di dalamnya, besinya dikosongkan. Kalau dia tunggang kuda, dia cekal goloknya itu, sengaja dia perlihatkan sebagai dia lagi pegang senjata berat, hingga orang kagumi dia karena tenaganya yang besar. Goloknya itu pun mesti selalu digotong dua pengiringnya. Sekarang dia gusar dengan mendadak, kumat penyakit tekeburnya, sampai dia lupa dirinya lagi berada di tempat apa, dia beraksi. Tentu saja dua pengiringnya jadi melengak. Mereka datang ke pesta, mereka tak bawa-bawa gegaman berat itu. Karena itu, satu pengiring loloskan saja golok di pinggangnya, dan angsurkan itu kepada majikannya.

Beng Pek Hui kenal bekas congpeng ini, menampak aksinya dia geli berbareng mendelu.

"Jangan!" tuan rumah ini segera menyela.

Tapi Phang congpeng biasa anggap jiwa manusia bagaikan rumput saja, goloknya telah menyambar ke arah Kwie Jie-nio!

Nyonya Kwie Sin Sie empo anaknya, dengan tangan kanan, maka itu, atas serangan, dia ulur tangannya yang kiri; dengan dua jari telunjuk dan tengahnya, ia sambuti, menjapit golok yang dipakai membacok dia.

"Toaloya, kau hendak apa?" dia menegur.

Congpeng pensiunan itu tarik goloknya, ia tidak berhasil. Bagaikan dijepit dengan sepit besi, demikian golok itu diam di antara jepitan kedua jarinya si nyonya, tak sanggup ia untuk membuat bergeming saja, hingga ia jadi penasaran. Lantas ia cekal gagang golok dengan kedua tangannya, ia menarik dengan sekuat tenaganya!

Dengan tiba-tiba saja Kwie Jie-nio lepaskan jepitannya, maka tidak ampun lagi, bekas congpeng itu rubuh terjengkang ke belakang tanpa dia bisa pertahankan tubuhnya, dia rubuh terbanting, belakang golok jatuh menimpa jidatnya, hingga bengkak-benjutlah jidat itu sebesar telur ayam!

Kedua pengiring lekas menghampirkan majikannya, untuk dibangunkan.

Malu bekas congpeng ini, tanpa bilang suatu apa lagi, bersama dua pengiringnya itu dia ngeloyor pergi, meninggalkan ruang pesta, selagi lewati pintu, dia damprat dua pengiring itu, yang dikatakan sudah tak gotong golok besarnya....

Dalam waktu kalut itu, Tang Kay San memikir untuk menyingkir, tapi Kwie Sin Sie bisa terka maksudnya.

"Tang Piausu, tinggalkan obatmu!" kata jago ini. "Aku tidak akan bikin susah padamu. "

Kay San jadi sangat terdesak, maka ia berdiri diam di tengah ruangan.

"Aku tahu aku Tang Kay San bukan tandingan kau, Sin- kun Bu-tek," kata dia. "Jiwaku ada di sini, jikalau kau hendak ambil, nah, ambillah!"

"Siapa inginkan jiwamu?" kata Kwie Jie-nio. "Kau keluarkan obatmu!"

Beng Ceng, putera sulung dari Beng Pek Hui, menjadi habis sabar. Ia maju ke depan Tang Piausu.

"Orang she Kwie," berkata dia, "hari ini ada hari ulang tahun ayahku, jikalau ada urusan di antara kamu, silakan urus itu di luar!"

"Baik!" sahut Kwie Sin Sie. "Tang Piautau, mari kita pergi keluar!"

Tapi piausu itu tak sudi ikuti orang. Kwie Sin Sie menjadi habis sabar, ia ulur sebelah tangannya, untuk menjambak.

Tang Kay San mundur setindak untuk tidak mengenai tangan itu.

Sin Sie telah ulur tangannya, tak pernah itu ditarik pualng dengan tangan kosong. Tang Kay San ada piausu kepala dari satu piau-kiok kesohor. Bugeenya pun bukan bugee sembarangan, akan tetapi tangan Sin Sie cepat luar biasa, tak perduli dia undurkan diri, bajunya kena juga terjambak hingga robek!

Kembali Beng Ceng menghalangi diri.

"Tang Piausu ada tetamu, yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada ayahku, kami tidak dapat ijinkan dia diperhina orang di tempat kami," katanya.

"Habis apa kau kehendaki?" tanya Kwie Jie-nio. "Kau dengan sendiri bukankah suamiku telah perintah dia pergi keluar?"

"Kamu mempunyai urusan penting dengan Tang Piausu, apakah tak dapat kamu pergi cari dia di Eng Seng Piaukiok?" tanya Beng Ceng. "Kenapa kamu justeru datang mengacau di sini?"

Dalam sengitnya, anak muda ini jadi tak sungkan- sungkan lagi bicaranya.

"Kami mengacau, habis bagaimana?" berseru Kwie Jie- nio.

Mukanya Beng Pek Hui jadi guram-suram. Dia lantas berbangkit.

"Baiklah!" katanya. "Jikalau Kwie Jie-ya memandang aku, aku si orang tua suka terima pengajaran daripadamu."

Saking habis sabar, jago tua ini terpaksa menantang.

741 "Ayah, hari ini ada hari ulang tahunmu, biarkan anakmu saja," Beng Ceng bilang.

Tuan rumah yang muda ini lantas panggil orang- orangnya untuk mereka singkirkan kursi-meja, untuk memberi satu ruangan terbuka, hingga karenanya, pesta jadi terganggu.

"Jikalau benar kau hendak mengacau, mari maju!" kemudian Beng Ceng menantang.

"Jikalau benar kau hendak turun tangan terhadap suamiku, baik kau belajar silat lagi dua puluh tahun!" peringati Kwie Jie-nio dengan tekebur. "Sekalipun begitu, aku sangsikan kau bakal berhasil!..."

Beng Ceng telah dapat warisan banyak dari ilmu silat ayahnya, dia pun sedang muda dan gagahnya, sampai sebegitu jauh, belum pernah ia menemui tandingan, maka meskipun ia pernah dengar nama kesohor dari Kwie Sin Sie suami-isteri, dalam kejadian seperti ini, tak dapat ia menahan sabar lebih jauh.

"Kwie Lo-jie, kau mahluk apa maka kau berani mengacau di sini?" ia berseru. "Jikalau Beng Siauya kalah daripadamu, nanti aku antap apa kau suka perbuat terhadap Tang Piautau, selanjutnya kami keluarga Beng tak akan campur tahu pula. Umpama kata aku yang menang, bagaimana denganmu?"

Kwie Sin Sie tak suka omong banyak, maka dengan pelahan, dia jawab: "Asal kau sanggup sambut tiga jurus dari aku, aku nanti menjura terhadapmu!"

Orang banyak tidak dapat dengar suara itu, mereka saling tanya satu pada lain.

Beng Ceng tertawa besar. "Tuan-tuan dengar, dia jumawa atau tidak?" kata dia kepada sekalian tetamunya.

"Dia bilang, asal aku sanggup sambut tiga jurus serangannya, dia bakal menjura kepadaku! Benarkah begitu, Kwie Lo-jie?"

"Tidak salah!" sahut Kwie Sin Sie. "Kau sambutlah!"

Dengan sekonyong-konyong saja kepalan kanan jago ini menyambar, dengan gerakannya "Tay San ap teng" atau "Gunung Tay San menindih batok kepala".

"Lihat, sukomu telah menelad contohmu!" kata Ceng Ceng pada Sin Cie.

"Kau maksudkan apa?" Sin Cie tegasi.

"Ketika kau layani murid sukomu itu, bukankah kau pun menyebutkan seranganmu berapa jurus?" si nona balik tanya.

"Orang she Beng ini tidak tahu selatan, dia mana tahu liehaynya suko," kata Sin Cie, yang tidak jawab si nona.

Beng Ceng lihat serangan datang, ia hendak lawan keras dengan keras, ia menangkis dengan tangan kanan, tangan kirinya dibarengi dipakai menyerang. Maka kedua lengannya bergerak dengan berbareng.

"Dia jumawa, dia rupanya punya kepandaian yang berarti," pikir Sin Sie, yang lihat sikap pemuda itu dan merasakan juga bentroknya kedua tangan. Tapi ia tidak mau memberi hati. Justeru ia diserang dengan tangan kiri, tangan kirinya mendahului, menyambar lengan atas orang, diteruskan disampok.

Beng Ceng telah wariskan ilmu "Koay wah Sam-sip- ciang" dari ayahnya, ilmu silat itu sangat utamakan beh-sie, atau kuda-kuda maka kedudukannya jadi kuat sekali, dia tak kena disempar lawannya.

"Celaka!" kata Sin Cie dengan pelahan. "Pukulan pertama ini tak membuat dia bergeming..."

Kwie Sin Sie sudah lantas ulangi serangannya.

Beng Ceng dapat ketika, karena ia tahu lawannya tangguh, ia menyambut dengan dua-dua tangannya, tapi tanpa ia menduga suatu apa, tahu-tahu ia rasakan dorongan keras sekali, otaknya menjadi butek, pusing sekejab saja dia rubuh terjengkang, dengan tak sadar akan dirinya.

Semua orang menjadi kaget.

Beng Pek Hui dan Beng Siu lompat, akan kasi bangun itu anak atau saudara.

Beng Ceng cepat sadar, walaupun dengan pelahan-lahan, akan tetapi begitu ia buka mulutnya, ia semburkan darah yang telah berwarna hitam, sebab ternyata ia telah terluka di dalam.

Kwie Sin Sie tak dapat sampok orang hingga terpelanting, ia mau percaya, pemuda ini benar-benar liehay, maka kapan ia menyerang pula, ia gunai tenaga penuh. Kali ini Beng Ceng tak dapat pertahankan diri, ia rubuh dengan segera. Melihat demikian, Sin Sie jadi menyesal, ia kuatir orang nanti mati karena lukanya itu.

Teng-kah-sin Teng Yu dan Beng Siu menjadi meluap hawa amarahnya, tanpa berdamai lagi, keduanya loncat maju, untuk menyerang. Beng Pek Hui sendiri lantas uruti puteranya, sambil menolongi, ia lihat tarikan napas pelahan sekali dari puteranya itu, tanpa merasa, air matanya berlinang dan turun mengucur. Tiba-tiba saja dia berbangkit untuk menyerang tetamunya yang dianggap pengacau pesta itu. Itu waktu Kwie Sin Sie lihat Tang Kay San hendak menyingkir, maka tempo Teng Yu dan Beng Ceng serang dia, dia berkelit dengan nyelundup di bawah, berbareng dengan mana, ia berhasil dekati si piausu, iga siapa terus ia totok. Piausu itu tak berdaya, hingga dia lantas jadi berdiri diam, hanya lucunya, justeru dengan sikap sebelah kaki di depan, sebelah kaki di belakang seperti orang lagi berlari...

Beng Pek Hui sendiri sudah bertempur dengan Kwie Jie- nio sebab nyonya ini telah majukan diri, akan lindungi suaminya dari bokongan. Jago tua itu seperti kalap, di sebelah itu, Kwie Jie-nio sedang empo anaknya, maka ini nyonya lekas juga kena terdesak, beberapa kali dia terancam bahaya.

Sun Tiong Kun bersama Bwee Kiam Hoo dan Lau Pwee Seng juga turun tangan, telah bentrok dengan beberapa murid-muridnya Beng Pek Hui, hingga medan pesta menjadi ramai dengan pelbagai rombongan pertempuran.

Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong menjadi sibuk sendirinya.

"Wan Siangkong, mari kita lekas memisahkan!" mereka mengajak. "Aku kuatir perkara bisa menjadi terlebih hebat!"

"Suko dan suso mendendam terhadapku, apabila aku turun tangan, perkara justeru bakal menjadi lebih hebat lagi," kata Sin Cie. "Coba kita lihat dulu sebentar..."

Ketika itu Kwie Sin Sie telah bantui isterinya, maka Kwie Jie-nio jadi bisa bernapas lega, sedang sebaliknya, Beng Pek Hui segera kena terdesak, sebab orang she Kwie ini terlalu liehay untuknya. Malah lagi sesaat, jago tua itu telah kena ditotok hingga dia tidak berdaya lagi. Habis itu, bagaikan kupu-kupu di antara bunga-bunga, Kwie Sin Sie nyerbu di antara murid-murid atau orang-orangnya Pek Hui, setiap ia lonjorkan tangannya, tentu ada orang-orang

745 yang berhenti berkelahi dengan sikapnya masing-masing sendiri, ada yang lagi menjotos, ada yang lagi menendang, ada yang lagi berkelit atau berpaling, semua tubuh mereka tak bergeming, melainkan mata mereka yang bercilakan.

Di antara hadirin ada banyak orang-orang gagah akan tetapi menyaksikan liehaynya Kwie Sin Sie, tidak ada satu diantaranya yang berani majukan diri, untuk memisahkan, hingga karenanya, pertempuran berhenti sendirinya sesudah Sin Sie rubuhkan semua lawannya.

"Geledah si orang she Tang!" Kwie Jie-nio titahkan Kiam Hoo.

Murid itu buka bungkusan yang tergendol di bebokong Tang Kay San, akan tetapi di situ tidak kedapatan pel hok- leng dan ho-siu-ou yang dicari.

Kwie Sin Sie lantas totok piausu itu, untuk hidupkan jalan darahnya.

"Mana itu obat pulung?" dia tanya.

"Hm, kau ingin dapatkan obat itu?" Kay San bilang. "Kenapa kau ikuti aku sampai di sini? Kecewa kau menjadi orang kangou yang ulung, sampai kau tidak menginsafi akal tonggeret meloloskan sarung-raganya!..."

Gusar Kwie Jie-nio mendengar jengekan itu.

"Apa?" tegaskan nyonya yang keras perangainya ini. "Obat itu sudah dikirim langsung ke kota raja dan

mungkin sudah sampai sekian lama!" jawab Kay San.

"Apakah benar?" tegaskan nyonya Kwie. Dia kaget berbareng mendongkol sekali.

"Aku sangat hargakan Beng lo-ya-cu sebagai sahabat baik, karenanya sengaja aku datang kemari untuk memberi selamat padanya," Tang Piausu terangkan. "Mustahil,

746 karena tahu kamu inginkan obat itu, lantas aku bawa kemari hingga karenanya aku bisa rembet-rembet loyacu?"

Mendengar keterangan itu, Ou Kui Lam si Malaikat Copet, dekati Sin Cie untuk berbisik.

"Wan Siangkong, piausu ini bermuka tebal, dia mendusta." Katanya.

Sin Cie heran.

"Kenapa begitu?" Sin Cie tegaskan.

"Sebab aku tahu di mana dia sembunyikan obat itu," jawab Kui Lam. Dan ia terus menunjuk ke arah siu-toh, ialah kue yang merupakan buah toh, tanda dari panjang umur, yang terbuat dari tepung beras. Siu-toh itu terletak di bawah tiok huruf "Siu" yang besar.

"Mengapa kau bisa ketahui itu?" tanya ia pula.

"Akal biasa di kalangan kaum kangou ini tak bisa lolos dari mataku!" jawab Kui Lam sambil tertawa.

Ceng Ceng berada di samping mereka, ia dengar pembicaraan itu lantas saja ia tertawa.

"Ou Toaya toh ada satu ahli!" ia turut bicara.

"Orang she Tang ini sangat licin," kata Kui Lam, sambil tertawa. "Dia rupanya telah duga Kwie Jie-ya bakal susul padanya, dia umpetkan obat itu, supaya kalau sebentar Kwie Jie-ya pergi, dia bisa ambil pula."

Sin Cie manggut, lantas ia muncul ke tengah ruangan, akan hampirkan Beng Pek Hui. Dengan hanyak sekali tepak dan totok pada kedua jalan darah "soan-kie" dan "sin-teng", ia telah bikin sadar tuan rumah itu.

"Apa?" berseru Kwie Jie-nio, yang lihat perbuatannya sutee itu. "Apakah kembali kau usilan?" Dalam panasnya hati, ia serahkan anaknya kepada Sun Tiong Kun, kemudian ia ulur tangannya terhadap Sin Cie. Ia tahu sutee ini liehay, untuk tidak membahayakan anaknya itu, untuk bikin ia leluasa bergerak, ia singkirkan anaknya lebih dahulu.

Sin Cie berkelit ke kiri.

"Suso, dengar dahulu aku!" kata dia.

Ketika itu Beng Pek Hui sudah gerak-geraki kedua tangannya, kedua kaki dan tubuhnya juga, dengan begitu dengan lekas ia dapat pulang kesegarannya. Rupanya ia penasaran, maka dengan berbareng ia serang Kwie Jie-nio dengan tangannya kiri dan kanan, masing-masing dengan tipu-silat "Seng siok hut sie" dan "Hui tim ceng tan," atau "Di musim panas mengebut kipas" dan "Mengebut debu untuk pasang omong." Inilah dua tipu-silat dari ilmu silat "Koay-wah Sam-sip-ciang" yang menjadi keahliannya.

Jago tua dari Utara ini sebanding dengan Kwie Jie-nio, maka itu, seperti bermula, mereka berkutat dalam keadaan berimbang, sampai belasan jurus, tidak ada yang menang atau kalah, hingga Kwie Sin Sie jadi hilang sabar.

"Kau mundur!" kata ia kepada isterinya.

Nyonya itu menurut, ia lantas mundur, sedang suaminya pegat Beng Pek Hui, untuk diserang, maka seperti tadi Baru beberapa jurus, tuan rumah itu sudah kena tertotok pula hingga kembali ia berdiri diam saja.

Selama orang bertempur, terpaksa Sin Cie berdiam diri, ia serba salah.

Begitu lekas pertempuran berhenti, Kwie Jie-nio lantas perdengarkan suaranya yang keras dan keren. Dia sangat gelisah karena penyakit anaknya itu, yang hari demi hari jadi bertambah lemah, hingga ia kuatir, apabila terlambat

748 lagi sekian hari, anak itu bakal tidak ketolongan lagi. Memangnya dia beradat aseran.

"Orang she Tang, apabila kau tidak keluarkan obatmu itu, aku nanti patahkan kedua lenganmu!" demikian suaranya, yang sangat mengancam.

Dengan tangan kiri ia jambret sebelah tangannya si piausu, tangan kanannya diangkat naik. Asal tangan itu dikasi turun, pasti bercacatlah piausu kepala dari Eng Seng Piau Kiok.

Tang Kay San kertak giginya atas dan bawah, yang ia bikin rapat.

"Obat tidak ada di sini, sia-sia saja kau patahkan lenganku!" kata dia dengan nekat.

Di antara hadirin, ada dua orang yang tak bisa lihati saja kejadian hebat itu, mereka maju untuk memisahkan, akan tetapi mereka dipegat Kiam Hoo dan Pwee Seng, hingga dia orang jadi bentrok.

Sin Cie lihat onar jadi hebat sekali, maka ia anggap, perlu ia mesti turun tangan juga, kalau tidak, tidak ada orang yang dapat mencegah huru-hara di medan pesta ini. Dengan sekonyong-konyong saja dia mencelat kepada Sun Tiong Kun, dengan ulur kedua jari tangannya, dalam gerakan "Siang liong chio cu" atau "Sepasang naga perebuti mutiara", ia ancam kedua matanya murid perempuan dari sukonya itu.

Nona Sun menjadi kaget, ia angkat tangan kanannya, untuk menangkis. Tapi ia tidak bisa kenai jeriji tangannya susiok atau paman-cilik itu karena Sin Cie pun menggunai tipu-daya. Selagi si nona sibuk, tahu-tahu tangan kanannya telah menolak dengan pelahan pundak si nona, sampai dia ini mesti mundur tiga tindak. Justru itu, sebat luar biasa, puteranya Kwie Jie-nio telah pindah ke dalam pelukannya pemuda ini, yang ancam Tiong Kun melulu untuk rampas bocah itu.

"Suhu! Sunio!" Sun Tiong Kun menjerit-jerit, bahna kaget dan takutnya. "Lekas! Lekas!. "

Selagi Sin Sie dan isterinya berpaling, Sin Cie sudah lompat naik atas sebuah meja.

"Adik Ceng, pedang!" berseru si anak muda.

Cepat sekali, Ceng Ceng lemparkan pedang kepada kawannya itu.

Sin Cie sambuti pedang dan terus saja berseru: "Kalian berhenti bertempur! Mari dengar aku dahulu."

Merah kedua matanya Kwie Jie-nio, sinarnya berapi. "Anak gila, kau berani ganggu anakku?" dia

mendamprat. "Nanti aku adu jiwaku dengan jiwamu!"

Nyonya ini menjejak lantai, dengan niat lompat maju. "Sabar," Sin Sie membujuk seraya ia tarik tangan

isterinya itu. "Ingat, anak kita ada di tangan dia. "

Jie-nio dapat dibujuk, dia diam, tapi terus dia awasi pemuda itu.

"Jie-suko, tolong kau merdekakan dulu jalan darahnya Beng Loyacu!" Sin Cie lantas minta kepada kandanya seperguruan.

"Hm. " bersuara Sin Sie, yang luluskan permintaan itu,

maka di lain saat, Beng Loyacu sudah dapat pulang kemerdekaannya.

"Semua cianpwee, sekalian sahabat, sukalah kalian dengar aku sebentar," berkata Sin Cie seraya pandang semua hadirin. "Anaknya suko dan suso ini mendapat sakit

750 berat, untuk tolong anaknya itu, mereka hendak pinjam obat pel yang menjadi barang upeti dari Congtok Ma Su Eng yang kemaruk dan merkis, obat mana diserahkan ke dalam tanggung-jawabnya ini Tang Piausu, Piausu ini telah kesudian menjual jiwanya kepada congtok busuk itu, maka itu suko dan suso jadi cari dan saterukan dia! Sementara itu Beng Loyacu adalah sahabat yang baik, tidak seharusnya, di saat pesta hari ulang tahunnya ini, kita ganggu padanya."

Semua hadirin heran mendengar suaranya anak muda ini. Bukankah suheng dan sutee ini berada dalam kedudukan bermusuh? Kenapa sekarang sang sutee bicara untuk kebaikannya sang suheng?

Kwie Sin Sie sendiri dan isterinya turut merasa aneh juga.

Maka itu, semua orang mengawasi, menantikan.

Sin Cie tidak perdulikan sikap orang banyak itu, dia berpaling kepada tuan rumah.

"Beng Loyacu, tolong kau buka kue siu-toh itu," katanya kemudian kepada jago dari utara itu. "Ada apa-apa yang luar biasa di dalam kue panjang umur itu."

Mendengar ini, mukanya Tang Kay San menjadi pucat.

Beng Pek Hui tidak mengerti, tetapi walaupun dia bingung, dia iringi kehendaknya si anak muda. Dia hampirkan siu-toh, untuk buka belah kue itu, hingga di dalamnya, ia tampak beberapa biji lah-wan putih. Masih ia tidak mengerti, karenanya, ia jadi berdiri tercengang.

Sin Cie lihat lah-wan itu, lalu ia berkata pula: "Coba Tang Piausu ini mempunyai kepandaian berarti, tidak apa ia jual jiwanya kepada pemerintah, akan tetapi nyata dia berhati rendah dan busuk, dia telah mencoba untuk adu- dombakan kita, supaya kita kaum kangouw bentrok satu

751 dengan lain! Beng Loyacu, adakah siu-toh itu dan lainnya antaran Tang Piausu ini?"

Beng Pek Hui manggut.

"Sengaja piausu she Tang ini umpetkan lah-wan itu di dalam siu-toh," Sin Cie beber orang punya rahasia. "Dia ketahui dengan baik, siu-toh tidak bakal dimakan, maka obat itu dia sembunyikan di dalamnya. Dia sudah pikir, kalau nanti pesta telah ditutup, dengan diam-diam dia bisa ambil pulang obat itu. Dalam hal ini, dia tidak perdulikan Kwie Suko nanti bentrok dengan Beng Loyacu! Dengan dia berhasil dengan tipunya yang keji ini, tidakkah ia bakal berjasa terhadap pemerintah?"

Sin Cie lantas turun dari meja, untuk hampirkan siu-toh. Ceng Ceng segera maju, untuk bantui kawannya itu.

Maka sedetik saja, lah-wan itu telah dikasi keluar.

Baru sekarang Kwie Sin Sie dan Beng Pek Hui sadar bahwa mereka telah kena orang pedayakan.

Sin Cie belah sebiji lah-wan, lantas bau obat yang harum menyerang hidungnya. Di dalam lilin bundar itu ada sebutir obat pulung sebesar lengkeng, warnanya merah dadu.

"Coba tolong ambilkan air dingin," Sin Cie minta pada Ceng Ceng.

Nona ini menurut, malah obat pulung itu segera ia aduk rata dengan air itu, sesudah mana, itu obat lantas dicekoki kedalam mulutnya si bocah, yang keadaannya sudah jadi lemah sekali, napasnya jalan dengan pelahan, dia tidak menangis. Dengan pelahan-lahan anak itu telan air obat.

Kwie Jie-nio mengawasi saja, air matanya berlinang- linang, saking terharu dan bersyukur. Berbareng ia pun malu sendirinya. Didalam hatinya, dia kata: "Coba tidak ada sutee cilik ini, yang membuka rahasia, onar hari ini mestinya hebat tak terkira. Sudah anakku tidak bakal ketolongan, aku pun telah berdosa terhadap kaum kangouw, sehingga juga kehormatan suamiku jadi ternoda..."

Setelah anak itu habis makan obat, dengan kedua tangannya, Sin Cie mengangsurkannya kepada Kwie Jie- nio, siapa menyambuti sambil kata dengan pelahan: "Wan Sutee, tak habisnya syukur kami suami-isteri. "

Sin Sie, yang tak pandai bicara, cuma kata: "Sutee, kau baik, kau baik. "

Ceng Ceng jumput semua obat, untuk serahkan itu pada si nyonya aseran.

Kwie Jie-nio sedang sangat girang dan bersyukur, dia sambuti obat itu tanpa bilang suatu apa.

Kwie Sin Sie sendiri segera totok sadar semua kurbannya.

Beng Pek Hui diam saja, di dalam hatinya, dia kata: "Anakmu telah ketolongan, adalah anakku telah dapatkan kebinasaannya.... Aku tak dapat membalas sakit hati...

Biarlah, lain kali saja aku mohon bantuan orang pandai akan mencari balas. "

Sin Cie lihat orang gotong Beng Ceng, hendak dibawa ke dalam. Dia lihat orang terluka parah, hampir mati.

"Tunggu dulu!" ia segera memanggil.

"Kandaku tinggal matinya, apakah kau mau?" bentak Beng Siu. Pikirannya sedang gelap, dia menyangka jelek terhadap tetamunya yang muda itu.

"Sabar," Sin Cie bilang. Ia tidak gusar. "Sukoku hargai Beng Loyacu, untuk bersahabat dia masih belum dapat ketikanya, bagaimana dia bisa bikin celaka Beng Toako? Memang benar dia telah serang Beng Toako sedikit hebat akan tetapi itu tak akan membahayakan jiwa, kalian baik jangan berkuatir."

"Siapakah yang kamu hendak dustakan?" pikir mereka. Mereka juga sudah tidak mempunyai harapan untuk Beng Ceng.

Sin Cie bisa duga orang kurang percaya dia, maka dia berkata pula: "Tidak ada niat dari sukoku akan bikin celaka Beng Toako, maka asal Beng Toako dikasi obat dan dapat beristirahat, dia bakal tak kurang suatu apa."

Tidak tunggu apa nanti orang bilang, Sin Cie rogoh sakunya akan kasi keluar sebuah lopa-lopa, ialah tempat dimana kodok esnya disimpan. Dia jumput satu di antaranya, terus ia pencet hancur, untuk diaduk rata dengan arak, kemudian ia sendiri yang cekoki Beng Ceng.

Ruangan yang luas itu, dimana tadi keadaan ada sangat kacau, terbenam dalam kesunyian. Semua mata mengawasi tindak-tanduknya Sin Cie, semua pandang Beng Ceng, untuk ketahui bagaimana kesudahannya.

Belum berselang lama, mukanya Beng Ceng telah mulai berubah, dari pucat-pias menjadi bersemu dadu, sesudah mana, menyusul suara rintihan, teraduh-aduh yang pelahan.

Menampak itu, bukan kepalang girangnya Beng Pek Hui, hingga dia lantas menjura kepada bengcu dari tujuh propinsi itu.

"Wan Siangkong, Wan Bengcu, kau benar-benar ada penolong puteraku!" katanya selagi ia menjura dalam.

Sin Cie repot membalas hormat. "Tidak apa," kata dia, yang merendahkan diri. Kemudian ia suruh Beng Siu gotong kakaknya ke dalam, untuk dirawat dengan baik.

Segera juga, Beng Pek Hui kerahkan orang-orangnya, untuk atur pula kursi-meja, guna sajikan barang hidangan baru, untuk mulai pula pesta yang yang terhalang itu, hingga di lain saat, suasana riang-gembira telah pulih.

"Beng Loyacu, kami sangat sembrono, harap kau memaafkannya," Kwie Jie-nio kata pada tuan rumah kepada siapa ia menjura. Iapun tarik tangan suaminya dan ketiga muridnya, untuk mereka juga beri hormat pada jago tua itu.

Beng Pek Hui bisa tertawa sekarang, ia tertawa besar. "Anakku menghadapi kematian, siapa tak gelisah?"

katanya. "Tidak, aku tidak persalahkan kamu suami-isteri."

Jie-nio mengucapkan terima kasih, kemudian ia dan rombongannya turut duduk berpesta.

Beng Pek Hui masih berhati kurang tenang, satu kali ia ambil ketika akan masuk ke dalam akan tengok puteranya. Sesampainya di dalam, hatinya jadi bertambah lega. Beng Ceng sedang tidur nyenyak, napasnya berjalan dengan rapi, wajahnya nampak tenang dan wajar. Itulah tanda-tanda dari kesembuhan.

Sekeluarnya kembali, tuan rumah segera layani dengan ramah-tamah pada semua tetamunya. Ia telah minta dua cawan yang besar, ia isi penuh dua-duanya, kemudian ia bawa itu ke depan Sin Cie.

"Wan Bengcu," katanya, "ketika dalam rapat di Tay San orang pilih kau, bilang terus-terang, aku kurang puas, akan tetapi sekarang, melihat sepak-terjangmu ini, aku bukan melainkan sangat berterima kasih, aku pun kagum dan

755 takluk padamu. Mari, bengcu, tolong kau keringi cawan ini, tanda hormat dari aku!"

Dia angkat cawan yang satunya, ia lantas cegluk itu hingga habis.

Sin Cie tak pandai minum arak, akan tetapi melihat kesungguhan hati orang, ia pun minum kering cawannya, atas mana, semua hadirin bertepuk tangan dan berseru: "Bagus!"

"Wan Bengcu," kata pula Beng Pek Hui kemudian, "sejak hari ini dan selanjutnya, apabila ada urusan sesuatu, aku bersedia untuk mengabdi kepada kau! Kau membutuhkan uang? Buat delapan atau sepuluh laksa tail perak, rasanya aku sanggup menyediakannya! Kau perlu orang? Kecuali kami ayah dan anak, yang tak nanti menampik untuk serbu api, sanggup aku mengumpulkan tiga atau empat ratus orang untuk membantu padamu! Aku rasa masih aku mempunyai muka terang akan mengumpulkan jumlah itu. "

Sin Cie bersenyum. Ia merasa sangat puas dengan kesudahannya urusan, terutama karena itu, ganjelan suko dan susonya itu terhadapnya, jadi dapat dibikin hilang.

Tapi malam itu, di waktunya orang bubaran setelah puas berpesta, Tang Piausu lenyap dari antara mereka, entah kemana sembunyinya dia.

Di lain harinya, selagi tetamu-tetamu bergantian pamitan pulang, Beng Pek Hui tahan rombongannya Sin Cie. Beberapa kali si anak muda niat pergi, ia saban-saban mesti urungkan itu sampai di hari ketujuh, Baru tuan rumah tak dapat menahan terlebih lama lagi. Pek Hui segera siapkan meja perjamuan, untuk memberi selamat jalan. Itu waktu, Sin Sie serta isteri dan murid-muridnya pun masih belum berangkat, mereka dijamu bersama. "Beng Lauko," berkata Thia Ceng Tiok, "si orang she Tang dari Eng Seng Piau Kiok bukannya satu mahluk baik, dia kehilangan upeti berharga itu, tak nanti dia mau sudah saja, andaikata dia tak berhasil mencari Kwie Jie-ko, mesti dia bakal cari lauko, dari itu, baik kau waspada."

"Terima kasih, saudara Thia," mengucap Pek Hui. "Umpama kata benar-benar mahluk itu berani main gila terhadapku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapnya!"

"Beng Lauko, adalah kami yang menyebabkan onar ini," kata Kwie Jie-nio, "maka itu, apabila kau benar menghadapi kesulitan, kami minta segeralah kau memberi kabar kepada kami!"

"Baik, Jie-nio!" jawab tuan rumah. "Sebenarnya aku sendiri tak takut!"

"Kita harus jaga kalau-kalau dia bersekongkol sama pembesar negeri," See Thian Kong turut memberi ingat.

Beng Pek Hui tertawa besar.

"Apabila itu sampai terjadi," katanya, "Thia Lautee, aku nanti mencontoh teladanmu, aku akan duduki bukit untuk menjadi raja!"

Semua orang tertawa mendengar pengutaraan itu. Sampai di situ, orang pada naik kuda, untuk berpisahan.

Jie-nio empo anaknya, dan bersama suaminya dan tiga orang muridnya, ia menuju pulang ke selatan, sedang rombongan Sin Cie berikut Thie Lo Han dan Ou Kui Lam, melanjuti perjalanan mereka mengangkut harta besar menuju ke utara.

Pada suatu hari sampailah Sin Cie beramai di Kho-pay- tiam, karena hari sudah magrib dan barang bawaan mereka banyak dan berat, mereka singgah di hotel "Yan Tiau Kie" di sebelah barat dusun itu. Habis bersantap, mereka lantas masuk tidur, untuk beristirahat. Tapi belum lagi mereka pulas, mereka telah terganggu suara berisik di luar hotel, antaranya riuh suara orang bicara. Cuma A Pa si empeh gagu, yang tak dengar suatu apa.

Suara bicara berisik terdengar semakin nyata apabila ternyata diaorang itu telah memasuki hotel, suara mereka pun tak dimengerti, karena bahasa mereka ada luar biasa. Sin Cie keluar dari kamarnya, maka itu ia bisa lihat beberapa puluh serdadu asing, yang duduk atau berdiri, masing-masing menyekal senapan. Merekalah yang menerbitkan suara berisik itu. Ia heran sebab belum pernah ia tampak orang-orang dengan mata kelabu dan hidung mancung-mancung itu, hingga ia mengawasi.

Segera terdengar suara seorang bicara dengan keras dengan kuasa hotel, dia minta segera disediakan beberapa kamar.

"Maaf, tayjin, kamar di sini cuma ada beberapa buah dan semua sudah penuh," kata kuasa hotel, yang memohon dengan sangat.

Orang yang dipanggil tayjin itu rupanya gusar, sebab segera dia tampar si kuasa hotel, hingga banyak mata diarahkan kepada mereka.

"Kau.... kau. " kata kuasa hotel itu, yang menjadi gusar.

"Jikalau kau tidak sediakan kamar, aku nanti bakar hotelmu ini!" seru si tayjin itu.

Kuasa hotel itu menjadi ketakutan, terpaksa ia pergi pada Seng Hay, sambil menjura berulang-ulang ia mohon tetamu-tetamunya ini suka mengalah. "Bagus betul!" seru See Thian Kong. "Orang toh ada yang datang terlebih dulu dan belakangan! Dia itu mahluk apa?"

Kuasa itu ketakutan, mukanya pucat.

"Aku minta, tuan, supaya kau tidak berpandangan sebagai dia itu yang makan nasi asing," kata dia, yang maksudkan si tayjin. "Hebat kesudahannya kalau kita berbuat salah terhadapnya..."

"Dia gegares nasi asing apa?" tanya Thian Kong. "Apakah makan nasi asing lantas mesti bertingkah?"

Masih kuasa hotel itu ketakutan.

"Mereka ini, tuan, adalah tentara asing yang datang ke kota raja untuk angkut meriam besar," menerangkan dia, dengan suara sangat pelahan. "Dan dia itu, yang bisa omong bahasa asing, dijadikan juru-bahasanya."

Baru sekarang Sin Cie beramai ketahui. Jadinya si tayjin itu adalah kacung asing yang banyak lagaknya.

"Nanti aku ajar adat pada bocah itu!" kata See Thian Kong, yang hatinya panas.

"Sabar," Sin Cie mencegah. Dan ia ajak semua kawannya masuk ke dalam kamar. "Ketika dulu marhum ayahku belai Liau-tong, di waktu ia peroleh kemenangan besar dalam peperangan di Leng-wan, ia peroleh bantuan besar dari meriam-meriam buatan asing semacam ini. Begitulah Nuerhacha, leluhur kaisar Boan, telah terbinasa karena tembakan meriam. Sekarang ini bangsa Boan sedang garangnya, dan ini tentara asing lagi angkut meriamnya untuk membantu padanya, baiklah kita mengalah."

"Habis kita mesti antapkan binatang itu banyak tingkah?" tanya Thian Kong. "Kenapa kita mesti bersatu pandangan dengan manusia rendah itu?" Sin Cie baliki.

Melihat bengcu ini bersikap demikian, orang lantas mengalah, maka kesudahannya mereka serahkan dua kamar.

Si jurubahasa itu, yang kemudian ketahuan bernama Cian Tong Su, masih mendumal saja, akan tetapi setelah ia dapat dua buah kamar, tidak lagi ia persulit lebih jauh kepada kuasa hotel. Dia pergi untuk sementara, kapan ia kembali lagi, ia ada bersama dua opsir asing. Satu opsir berumur empat-puluh lebih, yang lainnya Baru dua-puluh lebih. Dua-dua mereka ini beroman cakap dan gagah. Yang tuaan itu pergi sebentar, baliknya ia ajak satu wanita asing yang cantik, yang umurnya kurang lebih dua-puluh tahun, rambutnya hitam, kulitnya putih, barang perhiasannya adalah mutiara-mutiara yang bergemerlapan di antara cahaya api, pakaiannya reboh.

Belum pernah Sin Cie melihat orang asing, makanya ia awasi nona itu.

Menampak sikapnya si anak muda, Ceng Ceng tidak puas.

"Engko, apakah orang itu manis dipandangnya?" dia tanya.

"Beginilah memang dandanannya orang asing," Sin Cie jawab.

"Hm!" bersuara Ceng Ceng, yang terus bungkam.

Besoknya pagi, orang dahar dan duduk berkumpul di ruang besar, kedua opsir asing itu duduk bersama si nona asing. Cian Tong Su melayani dengan telaten sekali, nyata sekali sikapnya menjilat-jilat, sebab kapan dia butuhkan apa-apa, terhadap kuasa hotel dan jongos, segera dia main sentak, tangannya pun enteng.

Sangat tak puas Thia Ceng Tiok menyaksikan orang punya lagak tengik itu.

"Saudara See, coba lihat siautee main sulap!" kata dia, ketika ia putar tubuhnya. Lalu tanpa memutar lagi, dia ayun sebelah tangannya ke belakang, hingga sepasang sumpitnya menyambar ke arah mulutnya Cian Tong Su, mengenai dua baris giginya atas dan bawah.

Juru bahasa itu berteriak kesakitan, dia gelagapan menutup mulutnya, masih dia berkaok-kaok, teraduh-aduh!

Inilah kepandaian mainkan senjata rahasia dari Thia Ceng Tiok, kalau lain orang gunai piau atau panah-tangan, dialah potongan-potongan bambu pendek dan halus bagaikan lidi, tapi kali ini, dia pakai sumpit saja. Dengan lidi itu dia bisa timpuk jalan darah. Dia masih taati pesan Sin Cie, maka ia tidak arah kedua mata orang itu.

Tak tahu Tong Su dari mana datangnya serangan , kedua opsir itu pun heran. Si nona manis, yang pun merasa aneh, sebaliknya tertawa, mungkin dia anggap kejadian itu lucu....

Kedua opsir itu melirik kepada rombongan Sin Cie, rupanya dia mau menyangka, Tong Su telah jadi korban mereka ini. Opsir yang lebih tua letaki dua buah pistol di atas meja, lalu ia lemparkan dua buah cangkir ke tinggi, habis itu dengan sebat dia menembak dengan kedua tangannya, hingga cangkir-cangkir itu kena tertembak dan hancur.

Heran dan kagum Sin Cie beramai untuk kepandaiannya orang itu, dan hebatnya senjata api itu.

Opsir yang lebih tua itu nampaknya puas dan bangga, ia lantas isikan pula pistolnya. "Peter, kau hendak coba-coba?" kata dia kepada kawannya.

"Kepandaianku menembak mana bisa menangi tukang tembak nomor satu dari negara kami Portugal!" kata opsir yang muda itu.

Si manis tertawa.

"Ah, kalau begitu Raymond ada tukang tembak nomor satu?" katanya.

"Jikalau bukan nomor satu untuk dunia, sedikitnya untuk Eropa," kata si Peter ini.

"Nomor satu untuk Eropa apa bukan sama artinya dengan dunia?" tegaskan Raymond.

"Inilah tak berani aku bilang," sahut Peter. "Orang-orang timur ada bangsa aneh, di antara mereka ada yang punya kepandaian jauh lebih berbahaya daripada kita. Tidakkah demikian, Catherine?"

"Aku rasa kau benar," sahut si cantik sambil bersenyum.

Tak puas Raymond melihat Catherine nampaknya lebih manis kepada Peter.

"Orang-orang Timur aneh?" katanya. Dan tiba-tiba saja ia menembak pula, satu kali, segera disusul dengan yang kedua.

Ketika pistol itu memperlihatkan sinar api, tahu-tahu Ceng Ceng terkejut bukan main. Di luar tahunya, kopiahnya kena ketembak hingga terjatuh ke atas meja hingga karenanya, kelihatanlah rambutnya yang hitam dan gompiok, rambutnya seorang perempuan.

Sin Cie dan yang lainnya turut kaget dan heran. Raymond serta beberapa serdadu asing lainnya tertawa berkakakan, rupanya mereka anggap pemandangan itu lucu.

Ceng Ceng murka, di alompat bangun pedangnya segera dihunus.

"Jangan!" Sin Cie mencegah.

Pemuda ini insyaf bahayanya kalau mereka layani orang- orang asing itu. Ia pun mengerti, pemerintah Beng bakal pakai tenaga asing itu untuk memerangi bangsa Boan. Maka ia anggap, lebih baik bersabar.

"Sudah, adik Ceng," kata ia seraya ambil pedang orang.

Ceng Ceng mendelik mengawasi tiga orang asing itu, ia dengar kata terhadap Sin Cie.

"Kiranya dia satu nona, pantas dia eilok," kata Catheirne sambil tertawa.

"Bagus, ya," kata Raymond, "kiranya kau perhatikan keeilokan orang. "

"Dia menyekal pedang, agaknya dia hendak menantang kita," kata Peter.

"Kalau dia benar menantang, siapa yang sambuti, Peter?" tanya Raymond. "Di anatra kita berdua, siapa lebih tangguh?"

"Aku harap tak ada yang tahu untuk selamanya," Peter jawab.

"Eh, kenapa begitu?"

"Ah, sudah jangan ribut!" Catherine menyela. Ia bersenyum. "Orang Timur aneh, aku kuatir, dua-dua kamu tak nanti bisa lawan nona itu. " "Tong Su, mari!" sekonyong-konyong Raymond panggil juru-bahasanya.

Orang she Cian itu menghampirkan dengan cepat. "Ada apa, kolonel?" tanyanya.

"Coba tanya nona itu, apa dia mau adu pedang denganku. Lekas!"

"Baik, baik, kolonel!"

Raymond rogoh sakunya, akan kasih keluar belasan uang logam asing, yang ia lemparkan ke atas meja. Sambil tertawa, dia kata: "Jikalau dia benar hendak adu kepandaian, suruh dia kemari, asal dia menang, dia boleh ambil ini semua uang emas, tapi kalau dia kalah, aku mesti cium dia satu kali! Nah, lekas kasi tahu, lekas!"

Dengan tindakan berlenggang, Tong Su hampirkan Ceng Ceng, untuk sampaikan permintaan Raymond, si nona mau duel atau tidak, tapi di saat ia ulangi kata-kata "cium satu kali", mendadak tangan si nona melayang, mampir di pipi juru-bahasa ini hingga dia berkaok dan berjengit, pipi kanannya bertapak tangan berwarna merah. Celakanya, empat buah giginya copot, darahnya mengucur pula, hingga dia mesti tekapi mulutnya.

Raymond tertawa berkakakan.

"Nona itu benar kuat!" katanya. Ia lantas cabut pedangnya, ia bertindak ke tengah ruangan, pedangnya itu disabatkan ke atas hingga menerbitkan suara angin.

"Mari, mari, mari!" katanya.

Ceng Ceng tidak mengerti omongan orang, akan tetapi melihat dari sikapnya, dia tahu dia ditantang, maka ia pun hunus pula pedangnya, ia bertindak menghampiri. "Ini orang kurang ajar, boleh juga dia diajar adat, asal jangan dilukai," pikir Sin Cie, yang lantas panggil kawannya: "Adik Ceng, mari!"

"Tidak!" sahut Ceng Ceng yang cuma berpaling. Ia menyangka sahabat itu hendak cegah padanya.

"Mari, aku hendak ajari kau bagaimana mengalahkan dia," kata Sin Cie.

Ceng Ceng menghampiri, ia girang. Ia memang belum tahu ilmu silat pedang bangsa asing.

"Kita belum tahu ilmu pedang orang asing, tapi melihat caranya barusan dia hunus pedangnya dan kibaskan itu, terang dia gesit sekali," bilang Sin Cie. "Kau mesti waspada untuk tikamannya, jangan kuatirkan tabasan!"

"Kalau begitu aku boleh berdaya akan gempur pedangnya itu?" tanya si nona.

"Benar!" sahut Sin Cie. "Tapi ingat, jangan lukai dia." Raymond lihat orang bicara saja, dia tidak sabaran. "Mari, mari lekas!" dia menantang pula.

Ceng Ceng sambut tantangan itu, kali ini dia tidak bertindak dengan pelahan sebagai tadi, hanya dengan mendadak dia berlompat, hingga tahu-tahu ia sudah berada dekat si orang asing. Terus saja ia membabat ke arah pundak.

Raymond kaget, inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak nyana, si nona demikian gesit. Tapi ia masih sempat berkelit seraya jatuhkan diri dan pedangnya dipakai menangkis, hingga kedua senjata beradu keras dan nyaring, lelatu apinya muncrat. Ketika ia bangun pula, ia keluarkan keringat dingin.

"Bagus!" Catherine bertepuk tangan.

765 Segera setelah orang bangkit pula, Ceng Ceng menyerang lagi, maka sekarang mereka mulai bertempur. Keduanya bergerak sama gesitnya, bergantian mereka saling tikam dan tangkis.

Sin Cie memasang mata, ia mesti akui kesebatan orang asing itu.

Kapan Ceng Ceng merasa ia tak bisa lantas rebut kemenangan, ia ubah caranya berkelahi. Sekarang ia lebih banyak menggertak, habis mengancam, lekas-lekas ia tarik pulang pedangnya. Ia bersilat dengan ilmu pedang Cio Liang Pay "Lui Cin Kiam-hoat" atau "Gempuran Geledek", yang punyakan tiga-puluh enam gertakan.

Repot juga Ryamond melayani cara berkelahi itu, matanya lantas saja mulai kabur, sebab ia cuma lihat pelbagai ujung pedang hendak menikam padanya, tapi saban kali ia menangkis, ia tangkis angin. Dia tahu, ilmu pedangnya pun mengenal gertakan, tapi cuma beberapa kali, tidak banyak seperti ilmu si nona ini. Tadinya ia niat tegur si nona, atau mendadak nona itu sampok pedangnya, begitu keras, sampai ia rasakan tangannya menggetar dan sesemutan, tak dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dan terpental.

Menyusul itu, Ceng Ceng menyusuli dengan tudingannya ke arah dada lawan!

Di pihak lain, See Thian Kong berlompat akan sambar pedangnya opsir asing itu, lalu dengan dibantu tangan kiri, ia tekuk itu pedang hingga jadi patah dua! Dan kedua batang itu ia lempar ke tanah!

Ceng Ceng tertawa, dia tarik pulang pedangnya, untuk dia kembali ke kursinya. Raymond malu bukan kepalang, mukanya merah- padam. Tidak ia sangka, sebagai ahli pedang di Eropa, sekarang di Tiongkok dia dipecundangi satu nona.

Catherine tertawa riang, dia jumput uang di atas meja, ia bawa itu kepada Ceng Ceng, untuk diserahkan.

Nona kita menampik, ia memang tak harapi uang taruhan itu, tapi nona asing itu mendesak, mulutnya mengatakan apa-apa yang tak dimengerti nona Hee. Akhirnya Ceng Ceng menyambut, ia kepal uang itu dengan kedua tangannya, lantas ia menggenggam dengan keras sekali, kemudian uang itu ia sodorkan pula pada si nona asing.

Catherine heran, ia menyanggapi, setelah mana, dia tercengang. Semua uang itu nempel menjadi satu, ia coba pisahkan, tetapi tidak berhasil, maka dengan mata dipentang lebar, ia awasi nona kita, mulutnya mengucap: "Benar-benar, orang Timur aneh!. "

Lekas-lekas ia kembali pada Ryamond dan Peter, akan tunjuki uang itu.

"Dia punyakan ilmu sihir!" katanya.

"Jangan kita layani dia! Mari kita pergi!" mengajak Peter.

Dua opsir itu berbangkit, Catherine mengikuti. Peter lantas memberi titah.

Sebentar saja semua serdadu lari keluar, akan berkumpul sama kawan-kawannya, menyusul mana, lantas mereka berangkat bersama-sama meriam-meriam mereka.

Raymond dan Peter berbareng bertindak keluar dari hotel. Ketika Catherine lewat di samping Ceng Ceng, dia mengawasi sambil tertawa, hingga angin wangi berkesiur daripadanya. Sedetik saja, ruang hotel itu jadi sunyi.

"Bagaimana macamnya meriam asing itu, belum pernah aku lihat," kata Thie Lo Han.

"Mari kita lihat!" Ou Kui Lam mengajak. Tiba-tiba See Thian Kong tertawa.

"Saudara Ou," katanya kepada malaikat copet itu, "andai kata kau bisa unjuk kepandaianmu, dengan curi sebuah meriam, aku bakal kagumi kau tak habisnya. "

"Sebenarnya belum pernah aku curi meriam besar, yang demikian berat," kata Kui Lam, yang pun tertawa. "Kita bertaruh atau tidak?"

"Meriam itu ada untuk menghajar bangsa Boan, jadi tak tepat untuk dicuri," Thian Kong bilang, "kalau tidak, aku suka bertaruh."

Sambil tertawa, mereka bertindak keluar, malah dengan jalan cepat, mereka bisa lewati lerotan meriam dan barisan serdadunya itu. Semua meriam ada sepuluh buah, saking beratnya, setiap meriam diseret delapan ekor kuda, sudah begitu, di belakangnya masih ada orang-orang yang bantu mendorongnya. Bekas-bekas roda-roda menggelinding meninggalkan lobang yang dalam bagaikan selokan.

"Jikalau ada ini sepuluh jendral perang menjaga San-hay- kwan, tak perduli bagaimana garangnya pula tentara Boan, pasti mereka tak dapat menerjang dengan berhasil," kata Sin Cie sambil tertawa.

Orang telah berjalan terus, sampai selang dua-puluh lie lebih, rombongan Sin Cie dengar berisiknya suara kelenengan di sebelah depan, lalu tertampak belasan penunggang kuda sedang mendatangi, kapan mereka itu sudah datang lebih dektam kelihatan sesuatu penunggang kuda bekal senjata dan panah di bebokong, di atas kudanya tergendol kelinci dan lainnya binatang hutan, suatu tanda mereka adalah serombongan pemburu. Semua mereka mengenakan dandanan perlente, sepatunya pun tebruat dari kulit, sedang yang diiring adalah satu nona.

Kapan si nona telah datang dekat sekali pada rombongannya Sin Cie, lantas dia keprak kudanya untuk menghampirkan sambil berseru-seru: "Suhu! Suhu!"

Thia Ceng Tiok , orang yang dipanggil suhu (guru), lantas tertawa.

"Bagus, kau telah datang!" dia pun berseru dengan sambutannya.

Nona itu adalah sang murid, Nona A Kiu, hanya sekarang dia dandan dengan reboh, pada kedua kupingnya nempel mutiara sebesar jempol tangan, pada ujung bajunya tertabur batu permata merah.

Melihat Sin Cie, nona itu tertawa.

"Oh, kau ada bersama suhu!" dia menegor. Sin Cie bersenyum, dia manggut.

A Kiu kemudian pandang See Thian Kong, kembali dia tertawa dan kata: "Tanpa bertempur, kita tak akan bersahabat!"

Ceng Tiok panggil muridnya itu, untuk diajar kenal terutama dengan Thie Lo Han dan Ou Kui Lam.

"Kau hendak pergi kemana?" kemudian sang guru tanya. "Aku pergi berburu," jawab si nona.

"Kami lagi menuju ke Pakkhia, baik kau turut kami," Ceng Tiok kata. "Baik, suhu," jawab A Kiu, yang terus dampingi gurunya itu.

Sin Cie dan Ceng Ceng heran juga menampak Nona A Kiu, sebab meskipun begitu muda nona ini punyakan sikap yang beda daripada nona-nona sepantarannya.

Di waktu tengah hari, selagi singgah untuk beristirahat, orang duduk dahar menghadapi dua buah meja, dan A Kiu serta gurunya duduk bersama Sin Cie beramai.

Pada mulanya, Sin Cie duga nona itu ada cucu perempuan dari Thia Ceng Tiok, tidak tahunya dia itu adalah muridnya. Ia percaya si nona adalah gadisnya satu hartawan yang telah dimanja-manjai, jikalau tidak, dandanannya, gerak-geriknya, tidak sedemikian rupa, malah untuk berburu, si nona bawa demikian banyak pengiring. Ia tidak mengerti, bagaimana caranya maka si nona berguru kepada ketua Ceng Tiok Pay itu dan bisa bergaul di dalam golongan.

Habis bersantap, perjalanan dilanjuti, sorenya, mereka singgah di sebuah hotel di Im-ma-cip.

Selama itu, Sin Cie dan Ceng Ceng senantiasa perhatikan dengan diam-diam kepada A Kiu dan sekalian pengiringnya itu itu. Mereka mau percaya, sekalian pengiring itu bukan cuma kacung atau bujang belaka, mungkin mereka ada pegawai-pegawai negeri, karenanya, mereka jadi semakin heran.

0o-d.w-o0