-->

Pedang Ular Emas Bab 15

Bab ke 15

Tie Hong Liu kaget disusun kaget. Mulanya ia lihat orang lempar-lemparkan peti-peti yang berat, ia heran untuk tenaga besar dari si anak muda. Habis itu ia saksikan cara berlompatnya Sin Cie, yang demikian enteng dan pesat, ia kagum tak terkira. Dia tidak tahu anak muda itu, yang lihat dirinya menghadapi terlalu banyak lawan, sengaja pertontonkan ilmu entengkan tubuhnya yang sempurna yang ia peroleh dari Bhok Siang Toojin. Itulah dia ilmu "Pek pian kwie eng" atau "bajangan iblis berubah seratus macam".

"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Hong Liu tantang pemuda itu. Ia berbuat begini karena ia insyaf ia tak sanggup lawan ilmu entengkan tubuh orang yang sempurna itu.

"Jikalau kau berani, kau naiklah!" Sin Cie balas menantang.

Hong Liu bertindak menghampirkan peti-peti besi itu, ia lantas memeluk, untuk digoyang, dengan pengharapan peti- peti itu bergoyang-goyang, supaya si anak muda limbung dan jatuh karenanya.

Benar-benar tubuhnya anak muda itu menjadi limbung, lantas saja dia terjatuh, akan tetapi begitu lekas kakinya injak tanah, ia menyambar Hong Liu dengan gerakan

674 "Chong eng kim tou" atau "Garuda terkam kelinci". Ia gunai tangannya yang kiri.

Hong Liu tangkis serangan itu, dia pakai tangan kanan. Tapi justeru tangan kanannya diulur, Sin Cie sambar itu, dicekal di bagian nadinya, lalu sebelum dia tahu apa-apa, tubuhnya telah terangkat naik, dari mulut si anak muda pun terdengar seruan: "Bangun!" Dia sebenarnya bertubuh besar, tubuhnya itu berat sekali, akan tetapi dia jadi seperti dengar kata, tubuhnya terangkat naik, terlempar ke atas susunan peti-peti di atas mana lantas saja ia berdiri dengan limbung, sebab peti pun bergoyang-goyang....

Kawanan penjahat kaget berbareng merasa lucu, hingga akhirnya mereka pada tertawa, sedang si orang she Tie sendiri nampaknya sangat bingung dan kuatir, dengan susah payah dia mencoba akan mengatasi diri, supaya ia bisa berdiri tetap.

"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Ceng Ceng menggoda.

A Kiu ingat, itu adalah kata-katanya Hong Liu tadi. Ia bersenyum.

Melihat semua itu, See Thian Kong lantas berseru: "Tam Hiantee, kurunglah itu bocah! - lebih dahulu, singkirkan dia!"

Hu-ceecu itu kena disadarkan seruan orang she See ini, tidak lambat lagi, ia tiup terompetnya, maka semua berandal dari Shoatang hunus senjata mereka masing- masing, semua maju ke arah Sin Cie, untuk kepung anak muda ini.

Menampak ancaman itu, A Pa bersama-sama Ceng Ceng dan Ang Seng Hay dekati si anak muda, maka itu ketika kawanan berandal mulai menyerang, mereka bisa lantas menangkis. Seng Hay bersenjatakan golok, Ceng Ceng bergegaman pedang, tetapi A Pa, si empeh gagu, bertangan kosong, dan yang belakangan ini main cekuk sesuatu penyerangnya, untuk lempar-lemparkan tubuh mereka satu demi satu, hingga semua berandal jadi heran, hingga mereka jeri untuk mendekatinya. Mereka pun takut serang Sin Cie, yang berkelahi seperti si empeh gagu itu - dengan tangan kosong juga!

Sambil berkelahi, Sin Cie berlompat, hingga ia dapati See Thian Kong, siapa sedang rebah di tanah dengan dua orang jagai padanya. Dua orang ini lihat musuh datang, yang satu menyambut dengan goloknya, yang satu lagi segera gendong ketuanya, untuk diajak menyingkir.

Atas serangan golok, Sin Cie berkelit sambil mendak, kakinya bertindak terus, setelah molos dari serangan, ia sampai kepada penjahat yang satunya, yang gendong Thian Kong, begitu lekas ia jambret pundak orang, penjahat itu menjerit kesakitan, hingga lantas saja dia lepaskan ketuanya, maka dengan leluasa, pemuda kita tanggapi si orang she See, tubuh siapa ia kempit, untuk dibawa lari ke kereta besar, ke atas mana dia lompat bersama.

"Hai, kamu sayangi atau tidak jiwanya dia ini?" dia berseru pada semua berandal.

Semua berandal itu menjadi melongo, tidak ada satu juga yang berani bergerak.

Sin Cie memberi tanda kepada A Pa, lantas si empeh gagu menyerbu ke kalangan Ceng Tiok Pay.

Orang-orang Ceng Tiok Pay berdiam sedari tadi, menampak datangnya orang ini, mereka angkat senjata mereka, untuk meirntangi, akan tetapi A Pa telah dapatkan pelajarannya Bok Jin Ceng, dia tak takuti alat-senjata orang banyak itu, dia maju terus hingga ia dapat dekati Thia Ceng Tiok.

Dari tempatnya yang tinggi, Sin Cie awasi A Pa, yang segera bakal berhasil, ia merasa girang, akan tetapi tiba-tiba, ia tampak A Kiu, yang peluki tubuh ayahnya, numprah di tanah sambil menangis menggerung-gerung, hingga ia berbalik menjadi kaget. Ia insyaf, apabila si ketua menutup mata, sulit untuk ia urus anggauta-anggauta Ceng Tiok Pay itu. Maka ia lantas berseru: "Seng Hay! Lekas panggil pulang saudara A Pa!"

Seng Hay menurut, segera ia tinggalkan musuh- musuhnya, akan hampirkan si empeh gagu, di depannya dia ini, dia pun buat main kedua tangannya, atas maa A Pa segera menoleh kepada si anak muda.

Sin Cie geraki tangannya dengan cepat.

Melihat tanda itu, A Pa lantas kembali, akan hampirkan si anak muda.

"Pegang dia ini!" kata Sin Cie, yang serahkan See Thian Kong yang keadaannya seperti setengah hidup dan setengah mati.

A Pa sambuti itu orang tawanan. Sin Cie terus lari kepada A Kiu. "Bagaimana?" tanyanya.

"Suhu mati!. " jawab si nona sambil menangis.

Sin Cie periksa hidung orang, yang telah tidak bernapas, akan tetapi kapan ia pegang dadanya ia rasai jantung yang masih memukul perlahan-lahan.

"Jangan kuatir, aku nanti tolong dia!" ia bilang. Sin Cie baliki tubuhnya Thia Ceng Tiok, hingga ia bisa lihat lima batang paku yang nancap di bebokongnya, ialah sebab utama dari kecelakaannya jago itu tak perduli dia sebenarnya liehay dan tangguh. Untungnya darah sudah tidak keluar lagi.

Tidak ayal lagi Sin Cie totok jalan darah thian-hu-hiat dan yong-coan-hiat orang, menyusul mana darahnya jago itu lantas mulai jalan pula, maka selang sedikit lama, ia mulai sadar, kedua matanya bisa dibuka.

Bukan kepalang girangnya A Kiu.

"Suhu! Suhu!" ia memanggil, berulang-ulang.

Ceng Tiok dengar itu, ia ingat akan dirinya, ia manggut- manggut.

"Jadi dialah gurumu?" tanya Sin Cie. "Aku sangka dia adalah ayahmu."

Si nona manggut.

"Terima kasih untuk pertolongan kau," ia mengucapkan. Sementara itu, A Pa dengan diikuti Ceng Ceng dan Ang

Seng Hay dengan pondong tubuhnya See Thian Kong, sudah campuri diri dalam rombongan Ceng Tiok Pay.

Kawanan berandal Shoatang yang lihat pemimpinnya kena ditawan, sudah lantas maju untuk menolongi, akan tetapi percobaan mereka dirintangi oleh pihak Ceng Tiok Pay, hingga karenanya, mereka kedua pihak jadi bertempur dengan hebat, hingga dalam tempo pendek telah ada korban-korban jiwa dan terluka.

"Jikalau pertempuran ini berlanjut lagi sekian lama, mesti rubuh lebih banyak korban," kata Ceng Ceng kepada Sin Cie.

Si anak muda tidak menyahuti, dia Cuma bersenyum.

678 Sedang asyiknya pertempuran berlangsung, Tie Hong Liu yang masih berada di atas susunan peti besi telah terdengar seruannya: "Celaka! Tentara negeri mendatangi! Ribuan jumlah mereka! Lekas mundur! Oh, puluhan ribu jumlah mereka! Mundur, lekas mundur! Lekas!"

Chungcu dari Cian-liu-chung ini berada di tempat tinggi, tidak heran apabila dialah yang dapat melihat paling dulu.

Semua orang kaget, dengan sendirinya berhentilah mereka berkelahi, semua mengawasi dengan bengong ke arah dari mana katanya tentara negeri mendatangi.

Dari jurusan tersebut segera tertampak mendatangnya tiga penunggang kuda, kemudian ternyata, mereka ini terdiri dua dari pihak berandal Shoatang, yang satu dari Ceng Tiok Pay. Hampir berbareng, bertiga mereka perdengarkan seruan: "Tentara negeri mendatangi!"

Tie Hong Liu jadi nekat, dengan beranikan diri, dia lompat turun dari susunan peti besi, sesampainya ia di tanah, ia rubuh hingga ia bergulingan tiga kali, Baru ia dapat bangkit berdiri, dengan merasai sakit sekali kepada kedua kakinya, tetapi tanpa perdulikan itu, ia sambar seekor kuda untuk dinaiki, untuk segera ajak kawan-kawannya angkat kaki dari situ.

Sin Cie sambar tubuhnya See Thian Kong, untuk dilemparkan kepada kawan-kawannya, maka kawanan berandal itu tolongi pemimpinnya, untuk dikasih naik di atas bebokong kuda, buat segera dibawa kabur ke dalam rimba.

Pihak Ceng Tiok Pay juga perdengarkan suitan berulang- ulang, habis itu mereka tolongi kawan-kawan mereka yang terluka, lalu tetap dalam empat barisan, mereka undurkan diri dengan lekas. Maka di lain saat, sunyi-senyaplah medan pertempuran itu dimana ketinggalan saja Sin Cie serta rombongannya.

Lantas si anak muda berlaku sebat. Ia lompat naik ke atas susunan peti, untuk lempar itu turun satu demi satu, di bawah, A Pa menyambutinya, untuk dimuatkan ke kereta mereka.

Ceng Ceng tertawa atas kesudahannya kekalutan itu. "Banyak orang telah menjadi korban, tetapi uang kita,

satu chie pun tidak lenyap!" katanya dengan gembira dan

puas.

Tidak antara lama terdengarlah suara terompet disusul berisiknya banyak kuda, kemudian terlihat satu pasukan tentara lagi mendatangi.

"Di sana ada tentara negeri, kawanan berandal tentu tak berani muncul pula," kata Sin Cie. "Mari kita lanjuti perjalanan kita!"

Walaupun ia mengucapkan demikian, pemuda ini toh mesti periksa dulu rombongannya, yang tidak kurang suatu apa, dari itu sebelum mereka sempat berangkat, pasukan negeri mendahului sampai di antara mereka.

"Kamu bikin apa?" tanya satu perwira yang bersenjatakan golok panjang. Dia ini pimpin dua ratus serdadu, yang terpecah dalam dua barisan.

"Kami penduduk baik-baik yang sedang bikin perjalanan," sahut Sin Cie.

"Kenapa di sini ada tanda-tanda darah, dan pelbagai alat- senjata?" tanya pula perwira itu.

"Barusan ada penjahat pegat kita, lantaran datangnya tentara negeri, mereka kabur sendirinya," sahut Sin Cie pula. Sementara itu, muncul satu pasukan tentara lain, yang lantas menyerbu ke dalam rimba, untuk kejar kawanan berandal.

Perwira tadi melirik kedalam kereta dimana mereka lihat peti-peti besar.

"Barang-barang apakah itu?" tanyanya dengan tawar. "Itulah barang-barang keperluan kami sehari-hari." "Coba buka, aku hendak lihat!"

"Semuanya pakaian, tidak ada lainnya."

"Aku perintah buka, kau mesti buka! Perlu apa banyak mulut?"

"Kami tak bawa barang-barang haram, untuk apa dilihat?" Ceng Ceng campur bicara.

"Hei, bocah, kau kurang ajar!" bentak perwira itu. Dan cambuknya melayang.

Ceng Ceng berkelit untuk sabetan itu.

Perwira itu percaya, isinya peti mesti barang-barang berharga, dalam sedetik itu muncullah hatinya yang temaha.

"Hei, bocah, kau berani melawan?" dia bentak pula, untuk gunai ketikanya. "Hayo, saudara-saudara, sita barang-barang itu!"

Untuk rampas milik rakyat jelata, tentara itu biasanya tidak berayal, maka itu begitu dengar titah "mensita", segera mereka meluruk ke arah kereta.

Si perwira tak berhenti sampai di situ, karena ia tahu, ada kemungkinan Sin Cie beramai nanti majukan pengaduan kepada pembesar terlebih atas, maka kembali dia berseru: "Kawanan berandal ini berani lawan tentara negeri, bunuh mereka semua!"

Lalu ia mendahului angkat goloknya, untuk dipakai menyerang.

Sin Cie jadi gusar.

"Coba kita bangsa lemah, apa kita tidak bercelaka?" dia pikir sambil kelit dari bacokan, setelah mana ia membarengi lompat untuk hajar bebokong orang.

Perwira itu hanya satu orang peperangan biasa saja, dalam kesebatan ia kalah jauh dari si anak muda, maka itu, dengan gampang ia kena dihajar, hingga tubuhnya lantas rubuh terjungkal dari atas kudanya, malah jiwanya pun melayang dalam sekejab!

Menampak itu, semua serdadu menjadi kaget, lantas mereka berteriak-teriak: "Penyamun merampas angkutan! Penyamun rampas angkutan!"

Sementara itu Ceng Ceng bersama A Pa dan Seng Hay telah labrak buyar barisan serdadu itu, yang lari serabutan ke empat penjuru, akan tetapi di belakang mereka itu ada lagi satu pasukan besar, maka Sin Cie, yang rampas goloknya si perwira, maju untuk mencoba menahan, sedang Ceng Ceng bertiga ia perintah lindungi kereta-kereta mereka untuk berlindung masuk ke dalam rimba.

Di dalam rimba sendiri, sementara itu, telah terjadi pertempuran di antara tentara negeri dan kawanan penyamun dari Shoatang yang bersatu dengan rombongan Ceng Tiok Pay, akan tetapi belum terlalu lama, pihak negeri bisa mendesak, hingga musuh-musuhnya terpaksa mundur.

Sambil bereskan kereta-keretanya Sin Cie saksikan pihaknya See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok lagi terancam bahaya, terutama disebabkan kedua pemimpin itu sendiri tidak berdaya.

"Bagaimana?" tanya Ceng Ceng.

"Kita bantu berandal! Kita basmi tentara negeri!" Sin Cie menjawab dengan cepat.

"Benar!" berseru si nona dalam penyamaran.

"Tetapi kau berdiam di sini, untuk lindungi harta kita," Sin Cie bilang.

Ceng Ceng menjadi dengar kata. "Baik!" ia manggut.

Maka bertiga bersama A Pa dan Ang Seng Hay, ia kitari kereta-kereta mereka, untuk dilindungi, tatkala tentara negeri datang menyerbu, mereka pukul mundur, hingga kesudahannya, tentara negeri itu jadi jeri, mereka tak berani merangsek pula.

Sin Cie panjat pohon, akan mengawasi ke arah kawanan berandal, dengan begitu ia bisa saksikan A Kiu serta beberapa taubak dari Ceng Tiok Pay sedang terkurung hebat oleh tentara negeri, maka untuk tolong mereka, ia loncat turun dari pohon, ia menyerbu ke dalam medan pergulatan, sampai ia berhasil mendekati si nona, malah ia datang disaat yang tepat, selagi dua batang tumbak menikam nona itu, dari itu dengan sebat ia menalangi menangkis.

"Lekas mundur ke bukit sebelah barat!" ia teriaki.

A Kiu melengak atas datangnya bantuan ini, hingga ia tak tahu satu perwira bacok ia secara hebat.

Kembali Sin Cie tolong si nona. Dia rampas golok musuh, untuk dipatahkan, si perwira sendiri ia tonjok dadanya hingga dia muntah darah, tubuhnya rubuh seketika.

A Kiu sadar, segera ia tiup suitannya, kemudian ia beri tanda untuk kawan-kawannya mundur ke arah barat, seperti ditunjuki Sin Cie. Si anak muda sendiri mondar- mandir dengan bengis, untuk tahan tentara negeri yang mencoba mendesak.

Kawanan penyamun dari Shoatang juga turut mundur ke barat, setiap kali ada diantaranya yang dirintangi tentara negeri, Sin Cie maju menolongi, dengan begitu, mereka bertempur sambil mundur, hingga mereka sanggup mendaki bukit.

Kemudian, dibantu oleh sejumlah berandal, Sin Cie pergi sambut Ceng Ceng bertiga serta kereta mereka, untuk menyingkir ke bukit barat itu, hingga mereka ketiga pihak, jadi bersatu. Tentara negeri cuma bisa kurung mereka dari bawah bukit, mengurung sambil berteriak-teriak saja.

Sin Cie mengatur terlebih jauh. Ia pasang barisan panah di sebelah depan. Kawanan berandal, dengan sendirinya, suka taati segala titahnya. Maka itu, ketika tentara negeri mencoba mendaki gunung, mereka dipukul mundur dengan hujan anak panah, hingga selanjutnya mereka tidak berani mencoba naik pula.

Dengan titahnya Sin Cie, Hu-ceecu Tam Bun Lie bersama-sama Tie Hong Liu dan A Kiu pergi bantui Seng Hay beramai membikin penjagaan. Semua berandal telah dipecah dalam dua rombongan, hingga ada sebagian yang dapat beristirahat, untuk sekalian tolongi mereka yang terluka.

Sin Cie lantas tolongi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, dengan bergantian, ia uruti mereka itu hingga mereka tertolong dari ancaman bahaya maut, darah mereka

684 jalan pula seperti biasa begitupun napas mereka, yang tadinya sudah sesak. Karena ini, berdua mereka dapat rebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.

Kedua pihak berandal jadi bersyukur kepada anak muda ini, yang tolongi pemimpin-pemimpin mereka.

"Jumlah tentara negeri terlalu besar untuk kita, tak dapat mereka dilayani dengan tenaga, mesti dengan daya-upaya," kemudian Sin Cie bilang kepada Ceng Ceng.

"Benar!" sahut si nona. "Habis kau hendak gunai daya apa?"

Sin Cie tidak menyahuti, dia hanya berpikir, akan akhirnya dia panggil satu penyamun yang kenal baik keletakan tempat mereka ini; sembari tanya ini dan itu, iapun senantiasa mengawasi ke arah tentara negeri. Maka kesudahannya ia dapat lihat, di arah belakang dari tentara negeri itu, ada sejumlah besar kereta-kereta yang rupanya bermuatan berat. Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa, lantas ia lompat kepada Ceng Ceng.

"Bukankah tadi tentara negeri itu sebut-sebut angkutan?" ia tanya.

Sebelum si nona menjawab, Tie Hong Liu sudah mendahului. Dia ini Baru saja datang untuk beristirahat.

"Itulah artinya angkutan uang untuk ke Pakkhia," demikian jawabannya. "Sungguh tidak beruntung bagi kita, di sini kita bertemu mereka itu..."

"Mengapa angkutan uang Negara memerlukan tentara pengiring demikian besar?" tanya Sin Cie.

Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu, di pelbagai gunung ada saja penyamunnya, maka itu, untuk angkutan yang selamat, iring-iringannya mesti besar," Hong Liu terangkan lebih jauh. "Sekarang pemerintah sangat memerlukan uang dan rangsum dari Kanglam, terutama sebab Kaisar Cong Ceng mesti hadapi musuh bangsa Boan di Liau-tong dan pemberontakannya Giam Ong dan lainnya. Maka juga angkutan uang ini adalah jiwanya. "

"Jikalau begini, barisan serdadu iring-iringan ini terlalu usil," Sin Cie bilang. "Tugas mereka berat, mengapa mereka masih ambil kesempatan untuk ganggu kita?. "

"Mestinya mereka anggap kita gampang dikalahkan," Hong Liu bilang. "Jikalau mereka bisa labrak kita atau menawan beberapa di antara kita, bukankah itu artinya jasa besar?"

Sin Cie manggut-manggut.

"Di barat-utara sana ada satu mulut selat," kata ia kemudian, "mari kita nerobos keluar dari sana."

Tie Hong Liu bersedia untuk turut usul itu. "Silahkan Wan Siangkong menitahkannya," katanya.

Sin Cie mencorat-coret di tanah, ia berpikir, habis itu, ia lantas berikan titah-titahnya buat bersiap untuk sebentar malam.

Tepat pada jam yang telah ditetapkan, dibarengi teriakan mereka riuh-rendah, kawanan berandal bergerak untuk turun bukit, buat menerjang turun. Sebagai pembuka jalan adalah Sin Cie berdua A Pa, si empeh gagu.

Tentara negeri sudah lelah, kapan mereka lihat serbuan, mereka coba merintangi, tetapi sebentar saja, barisan mereka sudah dapat ditobloskan, dengan begitu, rombongannya Sin Cie semua bisa molos. Masih mereka mencoba mengejar, atau segera mereka dilawan oleh barisan belakang penyamun. Nyata ini adalah siasat saja, untuk mencegah tentara negeri itu, sebab apabila semua rombongan sudah memasuki selat, sejumlah penyamun itu lari kabur, akan susul rombongan mereka.

Tentara negeri menguber sampai di mulut selat, lantas mereka tidak berani mengejar terus akan masuk terlebih dalam, sebab orang yang menjadi pemimpinnya dapatkan, kedua belah selat tinggi dan berbahaya, hingga mereka jadi kuatirkan tentara sembunyi musuh.

Selagi tentara negeri berkumpul dan mengawasi ke dalam selat, tiba-tiba sebuah peti besar jatuh dari sisi lamping bukit, jatuhnya dengan terbuka tutupnya, maka isinya lantas saja terlempar berantakan. Yang membuat kaget dan herannya tentara negeri adalah isi itu yang banyak sekali barang permata, yang berkilauan di antara cahaya obor.

Pemimpin tentara negeri itu adalah satu congpeng atau brigade-jenderal, dia pun kaget tetapi kaget berbareng girang.

"Lekas maju!" ia titahkan. "Rampas semua peti itu!"

Perwira ini timbul keserakahannya hingga ia lupakan bahaya.

Tentara negeri itu lantas maju, bukan untuk mengejar, hanya untuk berebutan memunguti pelbagai barang permata dan uang, hingga barisan mereka menjadi kalut tanpa pemimpinnya dapat kendalikan pula mereka.

Sin Cie sendiri, yang ambil jalan di atas lamping, telah menuju ke arah belakang pasukan Negara, hingga ia bisa datang dekat kepada rombongan kereta-kereta angkutan yang berlerot. Semua kereta dikerudungi tutup kain kuning tebal, samara-samar kelihatan tulisan huruf-huruf yang menandakan itu adalah angkutan barang pemerintah dari Kanglam.

Mengawasi lerotan kereta itu, Sin Cie girang berbareng ragu-ragu. Ia girang sebab jumlah yang besar itu, yang pasti akan berguna besar untuk pergerakan Giam Ong. Ia ragu- ragu kapan ia ingat jumlah besar dari tentara negeri yang menjadi barisan pengiring angkutan itu.

Dengan hati-hati pemuda ini maju lebih jauh. Karena ia sembunyikan diri di antara pepohonan, tidak satu serdadu juga yang dapat pergoki padanya. Ia datang begitu dekat hingga kecuali bisa melihat tegas, ia juga bisa dengar pembicaraan mereka. Kemudian ia dengar suara lebih jelas dari kereta-kereta terbelakang, maka ia percaya, muatan kereta-kereta itu bukannya uang seperti kereta-kereta terdepan. Kapan ia telah perhatikan lebih jauh, ia dapat kenyataan itulah kereta orang-orang tawanan, dan si orang- orang tawanan sendiri, dengan kedua tangan mereka masing-masing tertelikung ke belakang, lagi duduk di dalam kereta kerangkeng mereka. Di atas setiap kereta nampak selembar bendera putih yang muat tulisan yang menyebutkan nama-nama si orang perantaian, yang telah dapat hukuman mati. Pun dibelakang setiap nama dijelaskan perantaian itu penyamun atau pemberontak atau pengkhianat.

"Mereka harus ditolongi...." Pikir Sin Cie. "Bagaimana aku dapat menolonginya?"

Selagi ia berpikir, ia lihat sebuah kereta kerangkeng di mana pada benderanya ada tulisan yang memuat nama Cou Tiong Siu, hingga Sin Cie jadi kaget tidak terkira. Ia pun lantas lihat orang yang bernama Cou Tiong Siu itu ialah seorang umur lima-puluh lebih, dandanannya sebagai sasterawan, rambutnya telah ubanan. Dia itu adalah bekas ponggawa ayahnya almarhum, yang telah bergerak dan

688 berkedudukan di Lau Ya San. Di belakang dia ini, di dalam beberapa kereta lainnya, ia tampak Nie Ho, Cu An Kok dan Lo Tay Kan bertiga. Eng Siong tidak ada di antara mereka itu.

Selagi Sin Cie mengawasi, kereta-kereta pesakitan itu sudah lewati dia, maka sebagai orang Baru sadar dengan tiba-tiba, dia lari mengejar, hingga sekarang ia terlihat oleh serdadu-serdadu pengiring. Di antara sedadu-serdadu itu sudah lantas ada yang memanah.

Dengan kesebatannya, Sin Cie selamatkan diri dari pelbagai anak panah itu, ia maju terus, sampai ia dekati satu perwira yang bersenjatakan golok, yang berjalan paling belakang.

"Baik aku bekuk perwira ini untuk bikin kacau barisannya," pikir anak muda kita. "Dengan menawan dia aku akan bisa tolongi Cou Siokhu beramai..."

Belum sempat Sin Cie bertindak, atau ia lihat debu mengepul di sebelah belakangnya dan kupingnya dengar suara berisik dari berlari-larinya beberapa ekor kuda, karena mana, ia lantas mengawasi, hingga ia tampak lima penunggang kuda sedang mendatangi.

"Kiranya barisan ini ada barisan penolongnya...." Pikir

ia.

Dari lima penunggang kuda itu, yang kabur di muka

adalah seorang perempuan. Karena mereka datang dengan cepat, selagi dia itu lewat di sampingnya, Sin Cie kenali Hui-thian-mo-lie Sun Tiong Kun serta Kwie Sin Sie suami- isteri bersama Bwee Kiam Hoo dan Lau Pwee Seng. Ia jadi girang.

"Jie-suko!" ia memanggil sambil lompat ke depan kudanya suami-isteri itu. Kwie jie-nio lihat si anak muda, ia tertawa dingin. "Oh, kau?" katanya. "Kau bikin apa di sini?"

Sun Tiong Kun dengar subonya bicara, ia tahan kudanya dan menoleh ke belakang.

"Ada urusan penting untuk mana aku hendak mohon bantuan suko dan suso," sahut Sin Cie tanpa perhatikan sikap mengejek dari si ipar perempuan itu.

"Kami juga mempunyai urusan sangat penting, kami tak sempat!" kata nyonya Kwie seraya terus keprak kudanya, untuk dikasih lari pula, melewati si anak muda.

"Su-siok!" memanggil Bwee Kiam Hoo sambil beri hormat kepada paman-guru yang muda itu, lantas ia ikuti itu guru lelaki dan perempuan.

Beda dari Kiam Hoo, Pwee Seng loncat turun dari kudanya.

"Suhu dan subo lagi hadapi urusan sangat penting," ia memberi tahu. "Susiok ada urusan apa? Baik tunggu sampai suhu dan subo sudah selesai, nanti aku bantui susiok..."

"Kalau begitu, tidak apa," jawab Sin Cie. "Aku ingin pinjam saja kudamu, Lau Toako."

"Silakan, susiok," menyahut Pwee Seng dengan hormat, sambil tarik kudanya. Ia terus berdiri di pinggiran.

"Kita naik berdua, untuk susul tentara negeri itu," Sin Cie bilang seraya terus lompat naik ke punggung kuda, diturut oleh Pwee Seng. Maka sebentar saja, mereka sudah kabur ke depan.

"Ada urusan apa susiok kejar tentara negeri?" Pwee Seng tanya.

"Untuk tolong orang!" Sin Cie jawab. "Bagus! Kami juga hendak hajar tentara itu!" berkata Pwee Seng.

Sin Cie kaburkan kudanya sampai ia dapat candak dan lombai Sun Tiong Kun dan lihat tentara negeri yang iringi kereta-kereta kerangkeng, masih ia jepit perut kudanya, untuk menyusul tentara itu.

Perwira yang pimpin barisannya dengar tindakan kaki kuda di arah belakang, dia lantas menoleh. Akan tetapi dia menoleh sesudah terlambat, karena tahu-tahu satu bajangan menyambar ke arahnya. Dalam gugupnya, dia membabat dengan goloknya yang besar, harapannya adalah bisa menabas kutung tubuh orang, siapa tahu Sin Cie telah ulur tangan kanannya, akan sambut gagang golok bagian ujung, tubuhnya sendiri mencelat naik di bebokong kudanya si opsir, siapa ia totok dengan tangan kirinya sambil ia pun membentak: "Kau sayangi jiwamu atau tidak?"

Opsir itu rasai ia kehabisan tenaga dalam sekejab, hingga tak dapat ia membikin perlawanan lebih jauh.

"Kau mau hidup atau mati?" Sin Cie ulangi bentakannya. "Ampun, tay-ong. " Memohon si opsir.

"Kalau begitu, lekas titahkan supaya semua kereta pesakitan itu berhenti!" Sin Cie titahkan.

Opsir itu menurut, selagi ia berikan titahnya, rombongannya Kwie Sin Sie pun sampai, malah mereka ini berlima sudah lantas serang tentara negeri, hingga barisannya menjadi kalut. Kejadian ini membuat Sin Cie menyesal, sebab tadinya ia tidak niat gunai kekerasan terhadap pasukan tentara itu. Sekarang terpaksa ia rampas dua buah kampak besar, dengan bawa itu, ia memburu ke kereta kerangkeng dari Cou Tiong Siu, untuk kampaki pintunya hingga menjeblak. "Cou Siokhu, aku Sin Cie!" pemuda ini perkenalkan diri.

Tiong Siu seperti sedang bermimpi, hingga ia berdiam diri.

Sin Cie lantas tolongi juga Cu An Kok dan Nie Hoo, hingga mereka ini dapat tolongi yang lain-lain, dan yang lain-lain lagi berebut tolongi semua perantaian lainnya, yang berjumlah seratus orang lebih, diantara siapa lebih dari tiga-puluh orang ada anggauta-anggauta golongan San Cong, bekas orang-orang sebawahannya almarhum Wan Cong Hoan. Mereka ini girang bukan main kapan mereka dapat tahu orang yang tolongi mereka adalah putera pemimpin mereka, maka dengan sengit mereka labrak tentara negeri, yang tadinya iringi mereka. Maka kesudahannya, tentara negeri itu kena dipukul buyar.

Di sebelah depan, jalanan telah dirintangi dengan batu- batu besar, sukar untuk tentara negeri lolos dari sana. Sin Cie ketahui ini. Ia juga tahu, biar bagaimana, jumlah tentara negeri lebih besar daripada jumlah rombongan mereka sendiri, seandai-kata tentara itu nekat, dia orang bisa berkelahi mati-matian dan ini berarti ancaman hebat bagi mereka sendiri, dari itu ia lantas pikir jalan pemecahan.

Sin Cie lemparkan kampaknya, ia loncat ke atas lerotan kereta, ia berlari-lari di atasnya, untuk maju ke depan. Ia telah lari sekira satu lie ketika ia lihat satu ponggawa, ialah congpeng yang tadi, di atas kudanya sedang pimpin perlawanan. Ia cepat maju ke arah pembesar militer itu. Dua serdadu rintangi ia tapi ia cekuk mereka, yang ia terus lemparkan ke jurang. Kemudian, dengan kegesitannya, ia loncat ke bokong kudanya congpeng itu.

Ponggawa itu tampak orang menyerbu, ia membacok, tapi sambil berkelit, anak muda kita coba rampas goloknya. Congpeng ini liehay, ia jatuhkan dirinya ke tanah, dengan begitu, goloknya tidak kena dirampas.

"Aku tidak sangka dia liehay," kata Sincie dalam hati. Tapi untuk tidak perlambat tempo, ia segera menyerang dengan tiga butir biji caturnya.

Congpeng itu benar-benar liehay, dengan goloknya ia berhasil menyampok jatuh tiga biji catur itu, hingga ia terlolos dari ancaman bahaya.

"Kau benar liehay! Mari coba lagi!" pikir Sin Cie. Dan sekali ini ia menyerang pula, dengan dua tangannya saling- susul. Kedua tangannya menggenggam tiga kali sembilan biji, hingga congpeng itu diserang terus-terusan dengan dua- puluh tujuh biji. Pasti sekali ia menjadi sibuk, mulanya ia masih bisa menangkis, lantas goloknya terlepas, segera pahanya, pinggangnya, bebokongnya, sambungan kakinya, kena tertimpuk, hingga kesudahannya, ia rubuh dengan lutut tertekuk!

"Tak usah pakai banyak adapt-peradatan!" Sin Cie menggoda sambil tertawa. Ia maju, untuk sambar bahu kiri orang, tapi dengan kepalan kanannya, congpeng itu menyerang kea rah dada.

"Biarlah kau hajar aku satu kali, untuk puasi hatimu!" tertawa si anak muda. Dan ia antapkan dadanya ditoyor.

Serangan itu tepat, akan tetapi congpeng itu merasakan ia lagi toyor kapas, dan ketika Sin Cie empos semangatnya, tenaga berbaliknya membikin tubuhnya terpental sendirinya, terapung tinggi!

Banyak serdadu menjerit melihat keadaannya pembesar itu.

Sang congpeng sendiri anggap dia bakal terbinasa sendirinya, ia sudah lantas tutup rapat kedua matanya, akan

693 tetapi segera ia merasa ada orang cekal kedua belah bahunya, apabila ia buka matanya, ia lihat lawannya adalah satu mahasiswa muda. Ia lantas insyaf bahwa ia telah rubuh di tangannya seorang liehay. Ia jadi putus asa.

"Kau perintahkan semua serdadu letaki senjata, kau akan dikasih ampun!" kata Sin Cie.

Congpeng ini tahu, dengan angkutannya lenyap, hukuman mati ada bagiannya, karena ini, ia jadi nekat. Ia berseru: "Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah aku, tak usah kau banyak omong!"

Sin Cie tertawa, ia kerahkan pula tenaganya. Lagi satu kali, tubuhnya congpeng itu terpental tinggi, di waktu jatuh, si anak muda tanggapi seperti tadi. Dan ia ulangi sampai tiga kali melempar tubuh opsir itu, hingga kesudahannya, opsir ini pusing kepalanya, berkunang-kunang matanya, sampai tak tahu ia, dirinya berada di mana....

"Jikalau kau tidak berikan titahmu, kau bakal mampus!" Sin Cie beri ingat. "Dengan begitu, tentaramu juga tidak bakal turut hidup! Maka baiklah kau menakluk kepada kami!"

Dalam keadaan sulit seperti itu, congpeng ini menyerah.

Ia manggut.

"Ini dia yang dibilang orang yang kenal selatan!" bilang Sin Cie.

Congpeng itu lantas teriaki tiga sebawahannya, untuk beritahukan mereka niatnya untuk menakluk.

Tiga sebawahan itu kaget, muka mereka pucat.

"Kau makan gaji Negara, kau put-tiong, put-hau!" satu di antaranya berseru saking gusar. Tapi ia tak sempat bicara banyak, Sin Cie sambar lengannya, terus dia dibanting hingga dia rebah dengan pingsan!

Melihat demikian, dua sebawahan itu menyatakan suka menurut.

"Nah, perintahkanlah hentikan pertempuran!" si congpeng memerintahkan.

Sin Cie juga lantas kasih tanda supaya kawanan penyamun berhenti berkelahi.

"Titahkan mereka letaki senjata mereka!" kemudian Sin Cie perintah si congpeng.

Dengan terpaksa, congpeng itu menurut, maka itu, selainnya pertempuran berakhir, semua serdadu juga letaki senjata mereka.

Menyusul itu, lima orang menerjang kalang-kabutan, mereka serbu pelbagai peti, untuk dibuka dengan paksa, apabila mereka dapati isinya uang belaka, mereka lemparkan itu ke samping, mereka menggeratak terus. Tidak ada satu serdadu juga yang berani rintangi mereka.

Lima orang itu adalah Kwie Sin Sie suami-isteri serta tiga muridnya.

"Jie-suheng, kau cari apa?" Sin Cie tanya selahi orang dekati dia. "Nanti aku perintah mereka kasi keluar!"

Kwie Sin Sie angkat kepalanya, ia lantas tampak tiga opsir berdiri di antara Sin Cie, ia lompat ke arah mereka, dengan tiga loncatan, ia sudah datang dekat, lalu dengan tiba-tiba, ia jambak si congpeng.

Pembesar militer ini kaget, apapula kapan ternyata, tak sanggup ia lepaskan diri dari jambakan itu, hingga ia mengerti, kembali ia hadapi seorang liehay. "Dimana adanya upeti hok-leng dan hoo-siu-ou dari Ma Tok-bu?" tanya Kwie Sin Sie dengan bengis.

"Karena anggap jalan kita ayal, Ma Tok-bu telah perintah lain orang bawa itu terlebih dahulu ke kota raja," sahut congpeng itu.

"Apakah kau tidak mendusta?" tanya Kwie Sin Sie. "Jiwaku ada di tangan kau, untuk apa aku mendusta?"

sang congpeng menjawab.

Sin Sie percaya orang omong benar, tapi toh ia masih banting congpeng itu.

"Jikalau kemudian ternyata kau main gila, aku nanti kembali untuk ambil jiwamu!" dia mengancam. Kemudian ia berpaling kepada isterinya: "Mari lekas kita susul!"

Habis mengucapkan demikian, Sin Sie segeral berlari pergi.

Nyonya Kwie empo anaknya, dia susul suaminya, selagi berlari, dia hajar beberapa sedadu yang melintang di depannya.

Sun Tiong Kun bertiga pun segera susul gurunya itu.

Sin Cie tahu orang sedang berpikiran kalut, ia antapkan saja suko itu beramai berlalu. Kemudian Baru ia tanya si congpeng tentang obat yang dicari suhengnya yang kedua itu.

"Itulah hok-leng dan hoo-siu-ou," sahut perwira itu. "Hok-leng itu besar sekali dan didapatinya belum lama ini di dalam sebuah gunung di propinsi An-hui diduga usianya telah dua-ribu tahun. Dan hoo-siu-ou itu, yang telah berpeta manusia, yang umurnya pun tua sekali, dapat digali di suatu tempat di Ciatkang timur. Maka itu adalah dua macam obat yang dipandang sebagai mustika. Ketika Congtok Ma Su Eng dari Hong-yang dengar hal kedua obat itu, dia perintah wakilnya pergi beli secara separuh paksa, kemudian ia perintahkan satu ahli obat bikin itu menjadi dua-puluh butir obat pulung, katanya campuran obat lainnya adalah jinsom, mutiara dan lainnya obat mahal, hingga ongkos pembuatannya sama sekali tiga-puluh ribu tail perak. Tentang obat ini sudah menggemparkan seluruh wilayah Kanglam, hingga banyak orang yang mengetahuinya.

"Untuk penyakit apa obat itu?" Sin Cie tanya pula.

"Aku sendiri tidak ketahui jelas, melainkan orang bilang mustajab sekali hingga bisa hidupkan kembali orang yang sudah mati. Juga dikatakan, siapa bertubuh lemah, asal makan sebutir saja dari obat itu, tubuhnya akan lantas jadi sehat dan kuat."

"Inilah dia!" pikir Sin Cie. "Anaknya jie-suko sakit sudah lama dan belum dapat obat yang manjur, pantaslah dia ingin dapatkan obat ini....." Lalu ia tanya pula: "Jadi obat itu hendak dijadikan upeti oleh Ma Congtok?"

"Benar. Mulanya akulah yang ditugaskan bawa itu, tetapi kemudian karena aku jalan lambat dan aku mesti antar banyak pesakitan, dia titahkan lain orang ialah Tang Piausu dari Eng Seng Piau Kiok dari Kimleng. Itulah upeti untuk Sri Baginda."

Mendengar itu, Sin Cie harap-harap sukonya berhasil mendapati obat itu untuk obati puteranya yang sakitan itu.

"Sudah berapa hari sejak berangkatnya piausu itu?"

"Kita berangkat bersamaan, tapi rombongan mereka Cuma belasan, mereka bisa jalan jauh terlebih cepat. Mungkin mereka telah dului kita delapan atau sembilan hari." Itu waktu Cou Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan serta orang-orang mereka telah datang berkumpul, girang mereka bukan kepalang, apapula akan saksikan ahli warisnya Wan Cong Hoan demikian cakap dan gagah.

Sin Cie lantas tanyakan mereka itu tentang tertawannya mereka.

Menurut Tiong Siu, ketika mereka dibokong di Lau Ya San, sudah banyak orang mereka yang bubaran, mereka sendiri bisa lolos, kecuali Eng Siong, yang mendapat kebinasaan. Kemudian mereka berkumpul pula, untuk lanjuti usaha mereka. Tapi rahasia bocor dan Ma Su Eng liehay sekali, selagi berapat, mereka disergap hingga mereka kena ditawan. Mereka hendak dikirim ke Pakkhia dimana mereka bakal jalankan hukuman mati. Maka beruntung sekali, di sini mereka bertemu dengan Sin Cie dan dapat ditolongi.

Setelah itu Sin Cie tuturkan hal perkenalannya dengan Giam Ong.

"Ini bagus, Wan Kongcu," berkata Tiong Siu. "Disini ada kawanan penyamun dan sejumlah tentara taklukan, maka baik kau tunda dulu perjalananmu ke Pakkhia, untuk pernahkan mereka ini.

Sin Cie nyatakan setuju, malah ia sarankan untuk cari tempat untuk satu pertemuan besar.

"Tay San bagaimana?" Tiong Siu usulkan.

"Tay San ada yang utama di antara lima gunung, kita pilih Tay San, tepat!" Sin Cie nyatakan akur.

Pemuda ini lantas perintah kumpulkan isinya peti yang ia titahkan "obral", sedang dari uang angkatan Negara, ia pisahkan sejumlah dua-puluh laksa tail perak, yang ia bagi

698 rata di antara rombongan Ceng Tiok Pay dan kawanan berandal dari Shoatang itu. Untuk Tie Hong Liu, ia pisahkan lagi lima-ribu tail. Dan untuk tentara negeri yang menakluk itu, ia kasikan dua-puluh laksa tail. Maka selat itu bergemuruh dengan tampik-surak pelbagai rombongan yang merasa sangat girang dengan tindakannya si anak muda.

Habis itu Sin Cie titahkan sejumlah orang dari kaum San Cong, Ceng Tiok Pay dan berandal Shoatang, untuk mereka pergi ke berbagai tempat, guna menyampaikan undangan supaya nanti orang berkumpul di atas gunung Tay San untuk berapat, tanggal-bulannya ialah pehgwee Tiong Ciu.

Untuk pernahkan Cou Tiong Siu beramai bersama tentara negeri taklukan itu, Sin Cie minta orang she Cou itu pergi cari suatu gunung, untuk dirikan pesanggrahan, buat mereka tempatkan diri sampai datang saatnya untuk bergerak menyambut Giam Ong.

Tentang lenyapnya uang Negara itu, yang berjumlah lebih dari dua juta tail perak, dan menakluknya tentara pengiringnya, telah menggemparkan wilayah Shoatang dan kota raja, dan kapan kemudian Congtok Ma Su Eng datang bersama satu pasukan perang besar, untuk mencari dan membasmi, di selat itu mereka tidak dapatkan satu penyamun juga, hingga mereka mesti pulang kembali dengan tangan kosong.

Sementara itu, sang hari lewat dengan cepat, selagi mendekati harian tanggal lima-belas bulan delapan, ke gunung Tay San telah datang orang-orang, dengan bersendirian dan berombongan, hingga mereka telah memenuhi pelbagai kelenteng di atas gunung yang suci itu, sebab jumlah mereka adalah beberapa ratus orang. Pada malaman tanggal lima-belas, cuaca terang, rembulan indah-permai, dan pada paginya tanggal yang dipilih itu, hawa pagi sangat nyaman. Semua orang berkumpul di lembah Sek Keng Kok dimana ada sebuah tegalan yang luas beberapa bau, yang terdiri dari batu yang bersih dan mengkilap, katanya itu dahulu adalah tempat peranti berkotbah dari suatu pendeta yang berilmu tinggi, sedang di atas gunungnya ada ukiran sebagian kitab Kim Kong Keng dengan huruf-hurufnya sebesar gantang dan bagus.

Pada waktu itu di antara hadirin, kecuali Wan Sin Cie bersama Un Ceng Ceng, si empeh gagu A Pa dan Ang Seng Hay, pun terdapat rombongan dari Cou Tiong Siu seperti Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan. Dari pihaknya Kim Liong Pay di Kangsou datang Ciau Kong Lee bersama gadisnya, Ciau Wan Jie, Lo Lip Jie dan lainnya. Dari Ceng Tiok Pay datang Thia Ceng Tiok beramai. Dari kawanan berandal Shoatang hadir See Thian Kong bersama Tam Bun Lie dan rombongannya. Dari Liong Yu Pang di Ciatkang, Eng Cay telah ajak semua kawan-kawannya. Dari pihak Siau Lim Sie dari Hokkian, Sip Lek Taysu, perlukan datang sendiri. The Kie In dari Cit-cap-jie- Too, tujuh-puluh dua pulau-pula pun datang bersama kawan- kawannya. Dari antara pesakitan, yang Sin Cie tolong merdekakan, ada Ceecu Liap Thian Kong dari lembah Hui Hou Kok dari Hoay -lam dan Pangcu Nio Gin Liong dari Po Yang Pang dari Kangsee utara. Begitupun sejumlah orang kangouw lainnya. Dari pihak tentara negeri yang menakluk hadir Congpeng Sui Cee Bu serta perwira-perwira sebawahannya. Maka itu, jumlah mereka sangat besar, ramailah selat gunung Tay San itu.

Di waktu fajar, orang telah berkumpul untuk menghadap ke timur, untuk saksikan munculnya Tay Yang Seng-kun atau Batara Surya, di waktu mana, cuaca indah luar biasa, langit di arah timur itu merupakan aneka-warna yang permai, hingga orang menyambutnya dengan tampik-surak ramai.

Selagi orang ramai duduk, Im-yang-sie See Thian Kong, yang lukanya telah sembuh, berbangkit untuk beri hormat kepada semua hadirin, guna angkat bicara. Ia memberi tahu bahwa penyambutannya tidak sempurna, maka itu, ia mohon diberi maaf. Lalu sekali lagi, ia menjura kepada semua tetamu.

Dengan hampir berbareng, semua hadirin mengucapkan terima kasih.

"Aku adalah seorang kasar, aku tak tahu apa-apa, maka sekarang aku persilahkan cianpwee dari Ceng Tiok Pay yang bicara lebih jauh," kemudian kata pula orang she See ini.

Thia Ceng Tiok merendahkan diri, dia menampik, hingga keduanya saling tolak. Demikian mereka ramah- tamah, beda daripada waktu mereka adu jiwa secara mati- matian untuk perebuti hartanya Sin Cie. Hal ini membuat girang dan kagum semua hadirin lainnya, karena, dari musuh, mereka kini jadi sahabat kekal.

Akhir-akhirnya Thia Ceng Tiok, dengan sebatang bamboo di tangannya, berbangkit sambil tertawa.

"Kita kaum rimba persilatan, sebenarnya dahulu pun pernah satu kali berkumpul di atas gunung Tay San ini," berkata dia, memulai. "Cuma itu waktu, jumlah kita tak ada sebanyak kali ini. Dan itu waktu, aku tidak malu akan mengatakannya, apakah maksud rapat kita itu? Tak lain tak lebih, melulu untuk membagi daerah bekerja, guna memecah uang rampasan. " Mendengar itu, semua orang tertawa.

"Sekarang ini telah hadir banyak enghiong, maka tak dapat kita berlaku lagi tak tahu malu seperti dulu itu!" melanjuti ketua Ceng Tiok Pay itu. "Sekarang ini dunia sedang kacau, sekarang adalah saatnya untuk orang-orang yang bersemangat mendirikan usaha yang berarti, untuk angkat nama! Kaisar sedang gelap pikiran, kusut segala aturannya! Di dalam pemerintahan hanya terdapat segala pembesar rakus dan busuk! Dan di luar tapal batas, kacung- kacung Boan di Kwan-gwa sering-sering menyerbu perbatasan kita, hingga karenanya, rakyat bercelaka, mereka mengeluh sampai suaranya terdengar di langit. Kita sendiri, siapakah di antara kita yang tidak pernah terdesak sampai kita berada di pojokan seperti sekarang ini? Maka sekarang haruslah kita berempuk, untuk membangun suatu usaha besar!"

Kembali orang bersurak-riuh, semua menyatakan setuju. "Yang hadir hari ini semuanya sahabat-sahabat karib,"

menambahkan Thia Ceng Tiok, "maka dari kita bersumpah

dengan darah kita, untuk dimana ada kesusahan saling membantu, guna bekerja sama-sama. Dan andaikata, ada yang rakus, yang silau dengan harta dan kemuliaan hingga dia jual sahabatnya, atau dia takut mati saking kou-ka-tie, mari kita ramai-ramai habiskan dia!"

"Bagus! Akur!" demikian kembali sambutan orang banyak.

"Di dalam satu pertemuan besar sebagai ini, tak dapat tidak ada beng-cu, ketuanya, maka itu, mari kita angkat satu pemimpin, satu saudara enghiong yang disegani semua orang," berkata pula See Thian Kong. "Terdapat beng-cu itu, kita semua mesti mendengar kata! Bagiku, tak perduli saudara mana yang diangkat, aku nanti selalu ikuti dia!" Sampai di situ, Sip Lek Taysu berbangkit.

"Memangnya, kawanan naga tidak ada kepalanya, tak nanti mereka bisa bangunkan usaha besar," kata pendeta ini. "Lo-lap setuju untuk kita pilih satu beng-cu, asal beng- cu itu mesti pintar dan gagah berbareng, welas-asih dan budiman, supaya ia bisa menakluki semua orang."

"Itu benar!" The Kie In menyambut. "Menurut aku, Tay- su setimpal untuk jadi pemimpin kita."

Sip Lek Taysu tertawa.

"Jangan main-main, toocu! Lolap adalah sebagai lilin diantara angina, lolap sedang tungkuli sisa umurku. Mana

lolap sanggup terima tugas penting itu?"

Orang ramai lantas kasak-kusuk, berbisik satu dengan lain, untuk damaikan siapa harus dipilih dan diangkat menjadi beng-cu mereka. Pemilihan ini perlu, untuk persatukan golongan mereka, yang terpencar di pelbagai tempat, agar mereka semua ada yang pimpin dan bersatu. Hal ini perlu, untuk cegah bentrokan di dalam kalangan sendiri, guna bikin jeri pembesar negeri.

Thia Ceng Tiok tunggu orang saling berdamai sekian lama, lalu ia tepuk tangannya beberapa kali, setelah semua orang sirap, dia tanya apa mereka itu sudah dapat pikir orang yang cocok, yang bakal dipilih.

Seorang, yang tubuhnya besar dan tingginya tujuh kaki, berbangkit. Suaranya pun nyaring ketika ia buka mulutnya. Ia kata: "Lo-ya-cu Beng Pek Hui adalah orang yang dihormati oleh kaum Rimba Persilatan, benar dia hari ini tidak turut hadir, akan tetapi kedudukan beng-cu ini harus diberikan kepadanya. Maka itu aku anggap baik kita jangan pilih lain orang lagi."

Usul ini segera dapat kesetujuannya beberapa orang. "Siapakah itu Beng Pek Hui?" tanya Sin Cie pada Seng Hay, yang duduk di sebelahnya.

Orang yang ditanya agaknya heran.

"Apakah Wan Siangkong tidak kenal orang she Beng itu?

Dia balik tanya.

"Ada sedikit sekali sahabatku dalam rimba persilatan," sahut si anak muda.

"Beng Lo-ya-cu itu ada orang juluki Kay Beng Siang, jadi dia dibandingi dengan Beng Siang Kun," terangkan Seng Hay. "Dia adalah seorang yang mulia hatinya, giat menderma, gemar bergaul. Dalam kalangan ilmu silat, dia telah ciptakan ilmu silat 'Sin Kun'. Banyak orang gagah yang menjadi muridnya. Untuk di utara, tidak ada yang tidak kenal nama Kay Beng Siang. Orang yang bicara barusan adalah Teng-kah-sin Teng Yu, si Malaikat Teng Kah, yang jadi murid kepalanya."

"Begitu," kata Sin Cie kemudian. "Kalau begitu, baik juga dia dipilih jadi beng-cu. "

Itu waktu, Cit cap jie too Toocu The Kie In berkata pula: "Namanya Lo-ya-cu Beng Pek Hui terkenal hingga di tempat jauh, sampai aku yang tinggal jauh dari daratan, telah pernah mendengarnya, aku turut kagumi dia. Dia bijaksana, kepandaiannya pun sempurna, memang pantas dia dipilih. Tapi aku memikir satu hal, boleh atau tidak apabila aku utarakan itu?"

"Tidak ada halangannya, The Toocu," bilang Teng Yu. "Beng Lo-ya-cu telah tinggal di Po-teng untuk banyak

tahun,"    menyatakan    toocu    ini,    "harta-benda    dan

kedudukannya, besar bukan main. Kita sebaliknya, apakah yang kita kerjalan? Kita berkumpul, untuk melakukan usaha pemberontakan! Apabila Beng Lo-ya-cu menjadi pemimpin

704 kita, kemudian dia kena terembet-rembet, apakah bisa senang hati kita?"

Kata-kata ini beralasan, maka itu semua orang berdiam. "Aku hendak pujikan satu orang lain," berkata Ciau

Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pay dari Kim-leng. "Dia

ini satu enghiong, dia tidak saja pandai ilmu silat, sifatnya pun welas-asih dan budiman. Melainkan dia masih berusia sangat muda dan banyak sahabat-sahabat Rimba Persilatan yang belum mengenalnya. Walaupun demikian, aku suka pujikan dia. Dan asal dia suka menerima keangkatan, dia pasti bakal pegang pimpinan dengan adil, dia pasti bakal angkat nama kita hingga pihak pembesar negeri niscaya tak nanti pandang ringan kepada kita."

Sebelum orang banyak tegaskan Kong Lee, siapa pilihannya itu, See Thian Kong sudah turut berkata pula. Dia punyakan suara kecil akan tetapi dia coba keluarkan dengan keras, hingga terdengarnya menyolok di kuping.

"Di dalam hatiku, aku juga memikir satu orang, satu enghiong yang usianya masih sangat muda," katanya. "Aku percaya dia tidak bakal beda jauh dengan enghiong yang dipujikan Ciau Pangcu."

"Aku tidak berani menyebutkan usiaku yang tinggi," berkata pula Ciau Kong Lee, seperti ia menyambung See Thian Kong, "akan tetapi usiaku sekarang ini sudah lebih dari lima-puluh tahun, dan tak berani aku membilang, pengetahuan dan pengalamanku telah luas, akan tetapi pernah aku menemui tak sedikit orang-orang gagah, walaupun itu semua, sahabat muda yang aku sebutkan itu telah membuat aku takluk setakluk-takluknya, seumurku, belum pernah aku menemui orang yang melebihkan dia."

Sampai di situ, Thia Ceng Tiok turut bicara. Tapi ia bicara dengan tawar. "Aku kenal tabeatnya Ceecu See Thian Kong," demikian katanya, "dan kipas Im-yang-sie-nya yang bisa dipakai menotok jalan darah, walaupun bukan tak ada keduanya, sudah sempurna sekali, maka seorang yang membuat dia kagum, pastilah bukan orang sembarang. Maka itu aku dari Ceng Tiok Pay, aku setuju dengannya."

Mendengar ini, mukanya Ciau Kong Lee menjadi merah.

"Habis bagaimana caranya beng-cu hendak dipilih?" tegaskan ketua Kim Liong Pang ini. "Orang-orang Kim Liong Pang memang tak punya guna, akan tetapi jumlah kami terlebih banyak daripada jumlah orang-orang Ceng Tiok Pay. "

Suasana lantas saja menjadi hangat.

Menampak demikian, Sip Lek Taysu lantas mendahului. "Sabar, Ciau Pangcu," berkata dia. "Siapa itu sahabat

yang pangcu hendak pujikan? Menurut aku, dalam sembilan bagian, dugaanku tidak bakal meleset. Aku pun minta supaya See Ceecu menyebutkannya orang yang dia hendak pujikan itu, supaya semua hadirin bisa berikan pertimbangannya yang sama tengah. Ada kemungkinan yang orang banyak tak menyetujui mereka itu. "

See Thian Kong lantas saja tunjuk Wan Sin Cie.

"Orang yang aku maksudkan adalah Wan Siangkong!" sahutnya. "Jangan saudara-saudara lihat saja usianya yang masih sangat muda, sebenarnya kepandaiannya terlebih tinggi daripada orang yang kebanyakan. Baik aku jelaskan, dengan Wan Siangkong ini aku Baru saja berkenalan, dengannya aku bukan pernah saudara seperguruan, bukan juga sahabat karib, bahwa aku pujikan dia, itulah disebabkan melulu karena aku kagumi kepandaiannya." Baru saja See Ceecu tutup mulutnya atau rombongan berandal dari Shoatang serta orang-orang Ceng Tiok Pay bertampik-surak semua hingga suara mereka jadi bergemuruh.

Hal ini di luar dugaan Sin Cie, maka lekas-lekas ia berbangkit, ia lantas ulap-ulapkan kedua tangannya.

"Jangan! Jangan!" katanya gugup.

Orang-orangnya Ciau Kong Lee tunggu sampai tampik- surak sudah reda, lalu mereka semua tertawa berkakakan, bergelak-gelak, kepala mereka ditegaki, kembali terdengar suara bergemuruh riuh.

See Thian Kong menjadi tidak senang.

"Ciau Pangcu, tolong kamu jelaskan, adakah kamu tertawai aku?" tanya dia.

Kong Lee rangkap kedua tangannya, akan beri hormat kepada ceecu ini.

"Mana berani aku tertawai kau, See Ceecu?" katanya. "Ketahuikah Ceecu, siapa orang yang aku hendak pujikan?"

Thian Kong menggeleng kepala. "Aku tidak tahu," jawabnya.

Kong Lee bersenyum

"Lain daripada Wan Siangkong ini, siapa lagi?" katanya.

Tanpa merasa, orang semua tertawa besar. Sebab sekian lama orang adu urat syaraf, tidak tahunya, jago yang mereka pujikan adalah satu orang!

Sin Cie menjadi sangat sibuk, kembali ia bangkit berdiri. "Aku masih terlalu muda, pengetahuanku pun sangat

cetek," katanya. "Sebenarnya dengan dapat turut hadir di sini saja aku sudah bukan main bersyukurnya. Di sini aku mengharap semua locianpwee nanti sudi pimpin aku, supaya aku bisa membantu sedikit, maka itu mana aku sanggup terima pujian kamu! Tak sanggup aku terima tugas berat ini, maka aku harap locianpwee beramai pilih lain orang saja."

Tapi Cou Tiong Siu turut bicara.

"Wan Kongcu adalah putera Wan Tayswee," katanya, "oleh karena kami kaum San Cong tidak memilih kasih, dengan kongcu yang terpilih, inilah paling tepat!"

"Siapa dimaksudkan dengan Wan Tayswee itu?" tanya The Kie In.

"Ialah Tayswee Wan Cong Hoan, panglima gagah yang di Liautong telah lawan angkatan perang Boan, yang belakangan tanpa sebab tanpa dosa telah dibikin celaka hingga dia menemui kebinasaannya," Tiong Siu terangkan.

Semua orang tahu Wan Cong Hoan gagah dan setia, bagaimana sebagai pahlawan dia bela negaranya, tapi dia terbinasa teraniaya, hingga orang rata-rata penasaran, maka sekarang, setelah dengar keterangannya Cou Tiong Siu, tidak saja The Kie In, pemimpin dari tujuh-puluh-dua pulau, juga yang lain-lain jadi tergerak hatinya, berbareng berduka mereka atas nasibnya Wan Tayswee itu, mereka girang menemui puteranya. Maka seperti satu suara, semua orang menyatakan setuju atas pilihan itu.

Sin Cie masih mencoba menampik, ia tidak berhasil. Malah Sui Congpeng, perwira taklukan itu, dan Nio Gin

Liong dan Liap Thian Hong serta lainnya yang ditolongi

dari kerangkeng perantaian, turut berikan suara menunjang, hingga tak dapat tidak, pemilihan lantas ditetapkan. Ketua dari Liong Yu Pang, Eng Cay, sebenarnya mempunyai sangkutan dengan Sin Cie, disebabkan kejadian di perahu waktu dia bentrok dengan Un Ceng Ceng, akan tetapi dia ingat pertolongannya pemuda ini, yang berikan dia papan yang membuat dia tak sampai tercebur ke sungai, maka dia pun berikan tunjangannya. Sambil berbangkit, dia berkata: "Wan Siangkong mempunyai bugee yang liehay, pasti banyak saudara hadirin disini mengetahuinya. Aku sendiri, pernah rubuh di tangannya. "

Mendengar ini, sejumlah orang menjadi tercengang. "Walaupun aku telah dirubuhkan, aku toh ditolongi,"

Eng Cay menyambungi, "karena itu sekarang aku setuju dia

dipilih menjadi bengcu, aku tunjang pemilihannya ini."

Orang bersorak untuk sikap laki-laki dari ketua Liong Yu Pang itu.

Teng-kah-sin Teng Yu dekati Sin Cie, untuk diawasi, hingga ia tampak tegas romannya Sin Cie yang cakap, sikap halus, tak ada tanda-tandanya dari seorang dengan dengan bugee yang liehay, karenanya, ia menjadi heran. Ia tidak puas karena namanya orang ini melewati nama gurunya.

"Kionghie, Wan Siangkong," kata dia, memberi hormat, tapi berbareng ia ulur tangannya, untuk jabat pemuda ini.

"Dengan sebenarnya, tak sanggup aku terima tugas berat ini," berkata Sin Cie.

Belum lagi anak muda ini tutup mulutnya, atau ia rasai cekalan yang keras sekali.

Tetapi, dengand iam-diam, Teng Yu sudah kerahkan tenaga "Pa Ong Kong Teng" atau "Cou Pa Ong angkat perapian kaki tiga," semacam ilmu tenaga besar warisan dari gurunya. Dengan jalan ini, ia niat angkat tubuhnya Sin Cie, untuk lalu dilepaskan, supaya pemuda ini rubuh setengah binasa, agar bengcu ini mendapat malu.

Sin Cie segera insyaf bahwa orang lagi mencoba dia, dia diam saja, tapi dengan diam-diam, dia kerahkan tenaga "Cian kin cui", atau "rubuhnya seribu kati", hingga dia bisa tancap kaki dengan tubuhnya dibikin berat, karena mana, sampai tiga kali Teng Yu kumpul tenaganya, untuk angkat ia masih tidak berhasil, tubuhnya seperti nancap di tanah. Dia pun lantas berkata: "Mana aku sanggup terima tugas begini berat? Gurumu terkenal di kolong langit, saudara Teng, gurumu itu jauh terlebih cocok daripada aku untuk dipilih!"

Masih Teng Yu kerahkan tenaganya, tetap ia tidak memperoleh hasil, malah pada lengan kanannya itu terdengar suara urat-uratnya, maka akhirnya terpaksa ia lepaskan cekalannya, karena ia tahu, ia telah gunai tenaga melebihi batas.

Masih Sin Cie berpura-pura seperti tak ada kejadian suatu apa, begitu orang lepaskan cekalannya, ia lantas tarik pulang tangannya.

Teng Yu sembrono tetapi ia jujur dan polos, Ia tahu orang telah berbuat baik terhadapnya, karena apabila si anak muda melakukan pembalasan, lengannya bisa patah atau tangannya remuk. Karena ini, ia jadi berterima kasih.

"Baik, kau pantas menjadi bengcu!" dia lantas serukan.

Lalu ia memberi hormat sambil menjura.

Sin Cie lekas-lekas membalas hormat, hatinya girang karena orang berhati polos. Ia jadi sangat suka pada orang sembrono ini. Ketika itu orang lantas siapkan lilin dan hio, untuk menjalankan kehormatan kepada langit dan bumi, yang menyaksikan pemilihan dan keangkatan bengcu itu.

"Kita telah adakan perserikatan, kita sudah mempunyai bengcu, karenanya tak boleh kita tidak punyakan undang- undang," berkata Thia Ceng Tiok. "Maka sekarang aku mohon bengcu maklumkan undang-undang itu, untuk kita rundingkan dan tetapkan."

Sebenarnya Sin Cie masih hendak menolak, tapi Tiong Siu bisiki dia, katanya: "Kongcu, jangan kau tampik lagi. Apabila kedudukan bengcu ini terjatuh kepada satu manusia licik, besar sekali bencananya di belakang hari. Umpama kau bisa pegang kendali, besar faedahnya untuk melampiaskan sakit hatinya Tayswee!"

Tertarik hatinya Sin Cie mendengar nasehat ini. Lantas ia berbangkit, akan menjura kepada orang banyak.

"Karena saudara-saudara demikian menyinta aku, baiklah, terpaksa aku turut titah kalian," katanya. "Karena pengetahuanku cetek, aku mohon supaya semua cianpwee dan kanda sudi bantui aku, aku senantiasa bersedia untuk terima pelbagai pengajaran."

Tampik surak riuh-rendah menyambut pengutaraan itu. "Untuk undang-undang, aku minta Cou Siokhu saja yang

mengarangnya," kemudian Sin Cie minta Tiong Siu.

Cou Tiong Siu tidak menolak, ia malah lantas kembali ke kuil, untuk tugasnya itu. Ia tahu semua orang sederhana, ia pun mengatur rencana secara ringkas. Maka belum terlalu lama, ia sudah siap dengan undang-undangnya, yang ia terus serahkan pada Sin Cie, untuk diumumkan kepada orang banyak itu, habis mana mereka mengadakan sumpah, minum arak tercampur darah, untuk janji bekerja sama- sama tidak ada yang boleh undurkan diri atau melanggar sumpah.

Secara demikian selesailah pertemuan besar di Tay San itu.

Belum berselang setengah tahun sejak Sin Cie muncul karena ilmu silatnya yang liehay, sebabnya ramah tamah dan kepintaran, ia telah membuat kemajuan ini, hingga ia sekarang menjadi bengcu dari Titlee, Shoatang, Kangou, Ciatkang, Hokkian, Kangsee dan Anhui, dari orang-orang gagah dari tujuh propinsi itu.

Tiga hari lamanya orang berkumpul di Tay San, berunding dan berpesta, lalu dengan bergantian mereka turun gunung, akan pulang ke masing-masing wilayahnya. Selama itu, kecuali sebagai pemimpin, Sin Cie juga telah ikat persahabatan kekal dengan orang-orang tang tadinya ia tak kenal. Di waktu orang berpisahan, ia bekali mereka uang, yang ia ambil dari harta karunnya itu, tak saying ia memberikan masing-masing sejumlah besar. Secara begini, ia pun menambah menarik simpati orang banyak itu.

Setelah semua sudah bubar, Sin Cie bersama Ceng Ceng, A Pa dan Seng Hay melanjuti mengangkut harta mereka menuju ke Pakkhia. Adalah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, yang tidak lantas pisahkan diri, karena mereka ini ingin mengantar sampai di kota raja, katanya untuk sekalian pesiar. Sin Cie terima baik kehendak dua sahabat ini, terutama karena ia tahu, dua sahabat itu mempunyai ilmu silat yang sempurna.

Sementara itu Ang Seng Hay terbukti berlaku jujur dan setia, dia rajin dan waspada dalam mengantar harta itu, hingga Sin Cie percaya dia tak nanti berontak atau berkhianat terhadapnya, maka ia lantas sembuhkan luka dalam tubuhnya. Pertolongan ini justru membikin orang she Ang itu menjadi bersyukur sekali, hatinya lega sebab ia tak usah dukai lagi lukanya ity.

Melakoni perjalanan di tanah dataran Shoatang, rombongan ini merasa aman sekali. Shoatang adalah daerah pengaruhnya See Thian Kong, orang-orangnya pemimpin ini telah atur segala apa untuk memudahkan mereka. Dan kapan mereka memasuki daerah Hoopak, di sana pun mereka mendapat pelayanan tak kurang sempurnanya dari orang-orangnya Thia Ceng Tiok.

Un Ceng Ceng puas sekali melihat amannya perjalanan itu, mendapati segala apa leluasa bagi mereka, maka akhirnya ia kagumi si anak muda, orang yang ia puja itu. Karena ini, kalau tadinya ia gemar "ngadat", dengan sendirinya ia bisa bawa diri, hingga ia pun menjadi jinak....

Pada suatu hari sampailah rombongan ini di Hoo-kan, disana ketua setempat dari Ceng Tiok Pay menyambut dengan mengadakan satu perjamuan, di antara hadirin ada orang-orang Rimba persilatan yang kenamaan dari kota itu, kecuali menemani, mereka ini memberi selamat kepada bengcu mereka. Selagi bersantap dan minum, orang pun pasang omong mengenai kaum kangouw.

"Thia Pangcu," berkata satu orang selagi perjamuan berjalan, "lagi sebelas hari adalah hari ulang tahun ke-enam- puluh dari Lo-ya-cu Beng Pek Hui, pasti kau tak dapat pergi untuk menghadiri pestanya itu, bukan?"

"Aku mesti turut bengcu ke kota raja, pasti aku tak dapat pergi," sahut Thia Ceng Tiok, "walaupun demikian, sumbangan tak dapat aku lupakan, aku telah perintah orang untuk menyampaikannya."

"Aku juga sudah kirimkan barang antaranku," See Thian Kong turut bicara. "Beng Lo-ya-cu ada satu sahabat baik, melihat kita tidak datang, tentu ia ketahui kita punyakan urusan penting, pasti ia tidak bakal jadi tidak senang. "

Sin Cie dengar pembicaraan itu, hatinya tergerak.

"Kay Beng Siang tersohor di lima propinsi Utara, selagi sekarang dia hendak rayakan hari ulang tahunnya, kenapa aku tidak mau ikat persahabatan dengannya?" dia berpikir. Maka ia turut bicara. Ia kata: "Aku pun telah dengar namanya Beng Lo-ya-cu, kebetulan sekarang dia hendak rayakan shejitnya yang ke enam-puluh, aku ingin pergi memberi selamat padanya. Bagaimana pikiran saudara- saudara?"

Mendengar ini, semua orang akur, sampai mereka tepuk- tepuk tangan.

"Bengcu niat berikan dia muka terang, pasti dia bakal jadi sangat girang!" berkata orang banyak itu.

Sin Cie lantas pastikan untuk kunjungi Beng Pek Hui. Sembari bicara, ia menanyakan terlebih jauh tentang jago tua dari Utara itu. Ia dapat kenyataan, Kay Beng Siang itu seorang budiman dan gemar bergaul.

"Dengan jalan mutar sedikit ke Poo-teng, aku anggap kita tidak sampai mensia-siakan banyak tempo untuk sampai di Pakkhia," kata Sin Cie kemudian. "Kita cuma akan terlambat beberapa hari saja."

Banyak hadirin menyatakan, memang mereka tak terlalu mensia-siakan tempo.

Karena ini urusan baru, ketika besoknya perjalanan dilanjuti, tujuan diubah ke Barat. Kapan mereka telah sampai di Kho-yang, dari mana untuk sampai ke Poo-teng tinggal perjalanan satu hari lagi, Seng Hay lantas ambil tempat di hotel Hoat Lay. Sesudah taruh rapi peti-peti besi dan buntalan mereka, mereka pergi duduk berkumpul di ruang besar, untuk bersantap.

Ketika itu di satu meja sebelah timur berduduk satu tautoo atau imam yang tubuhnya besar dan gemuk, kepalanya, atau rambutnya, dilibat dengan sebuah gelang kepala yang terbuat dari tembaga. Dia beroman keren. Di atas meja di depannya sudah menggeletak tujuh atau delapan poci arak yang kosong. Ketika satu jongos menambahi air kata-kata, ia mencegluknya dari satu mangkok besar. Dia pun dahar daging dengan main cabak dengan kedua tangannya. Dan dia dahar dengan cepat, hingga piringnya jadi kosong, mangkoknya jadi kering.

"Tambah lagi arak dan daging! Lekasan!" demikian ia perdengarkan suaranya yang nyaring, sampai berulang- ulang.

Jongos sedang melayani rombongan Sin Cie, ia jadi tak sempat.

"Kurang ajar!" menjerit tautoo itu, sambil keprak meja dengan keras, sampai poci arak dan mangkoknya berlompatan. Karena meja bergerak keras, cawan arak dari lain tetamu, yang duduk di ujung dari meja itu, telah terbalik, hingga araknya tumpah dan mengalir di atas meja.

"Aya!" berseru si tetamu sambil berjingkrak.

Dia ini adalah seorang dengan tubuh kecil dan kurus, kumisnya dua baris, apa yang dinamakan kumis tikus saking jarangnya akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam dan berpengaruh.

"Suhu," katanya, "kau ingin minum arak, orang lain juga!" Tautoo itu sedang gusar, teguran itu menambah kegusarannya. Ia gebrak meja.

"Aku panggil jongos, apa sangkutannya denganmu?" dia balik menegur.

"Belum pernah aku menemui orang suci sekasar kau!" kata orang kurus itu.

"Dan hari ini aku bikin kau menemuinya!" sahut si imam.

Ceng Ceng pun tidak puas.

"Nanti aku ajar adat padanya!" katanya pada Sin Cie. "Ah, kau nonton saja," jawab si anak muda. "Jangan

pandang ringan orang kecil dan kate itu, dia tak dapat dibuat permainan."

Ceng Ceng dengar kata, tapi keras keinginannya untuk saksikan pertempuran.

Tapi si orang kurus seperti jeri terhadap si imam.

"Baik, baik, aku mengaku salah. Tak apa, bukan?" katanya.

Melihat orang ngaku salah, justru waktu itu jongos datang dengan arak, si imam tidak menarik panjang, ia minum pula sendirian saja.

Si kurus berlalu, tapi tak lama ia sudah kembali.

Sin Cie dan kawan-kawannya, yang tidak jadi saksikan "keramaian", minum pula sendirinya.

Tiba-tiba saja ada angina menyambar, membawa bau keras yang menyampok hidung, hingga Ceng Ceng lekas sembat keluar saputangannya, untuk tekapi hidungnya. Sin Cie menoleh, atau segera ia tampak di mejanya si imam, di depannya, ada satu pispot, hingga Sin Cie tertawa dengan tak tertahan. Dia menoleh pada Ceng Ceng, akan bersenyum, lalu melirik ke arah si imam.

Ceng Ceng pun lihat pispot itu, tapi si imam seperti tak melihatnya, maka nona ini tertawa sendirinya.

Juga lain-lain tetamu tidak lihat pot tempat kotoran itu. "Bau! Bau!" kata beberapa orang kemudian.

"Wangi! Wangi!" sebaliknya si kurus kering, dengan suaranya yang nyaring.

"Itu pasti perbuatannya si kurus ini," Ceng Ceng bilang sambil bersenyum. "Dia sungguh sangat sebat! Kenapa aku tak lihat perbuatannya itu?"

Baru sekarang hidung si imam mencium bau busuk, tapi tanpa melihat lagi, ia ulur tangannya, akan jumput poci arak, akan tetapi kapan ia melihatnya, ia terperanjat. Ia bukan angkat poci arak hanya pispot dimana bertumpuk najis. Dengan tiba-tiba saja ia menjadi gusar, tangannya menyampok ke samping.

"Aduh!" menjerit si jongos, yang tubuhnya terpelanting rubuh, jauhnya setumbak lebih.

"Arak yang bagus, arak yang bagus! Wangi! Wangi!" kembali si kurus perdengarkan suaranya yang nyaring.

Sekarang si imam duga siapa yang main gila terhadapnya, dengan satu kali ayun saja, pispot itu menyambar kea rah si kurus. Tapi dia ini agaknya telah siap, dia berkelit dengan lincah, dengan nyelusup ke kolong meja, ketika ia muncul pula, tahu-tahu ia sudah berada di belakang si imam. Pispot mengenai meja dan hancur, kotorannya muncrat berhamburan, baunya berkesiur keras ke empat penjuru, hingga lain-lainnya tetamu lantas saja lekas-lekas menyingkir!

0o-d.w-o0