-->

Pedang Ular Emas Bab 14

Bab ke 14

Besoknya lohor, Sin Cie titahkan Ang Seng Hay pergi ke rumah Ciau Kong Lee untuk panggil Lo Lip Jie. Dia ini masih sangat menderita karena lenyapnya sebelah tangannya, tapi mendengar Sin Cie panggil ia, bukan main girangnya, segera ia minta orang pepayang padanya, untuk memenuhi panggilan itu.

"Kau duduk," perintah Sin Cie, yang terus ajarkan bagaimana harus bersilat dengan tangan sebelah - tangan kiri.

Lip Jie berotak terang, ia gampang ingat, apapula setelah si anak muda yang liehay petahkan latihannya.

Untuk ini Sin Cie pakai tempo sepuluh hari, setelah Lip Jie ingat semua, dia dipesan untuk berlatih nanti, setelah lukanya sembuh.

Pelajaran ini beda daripada yang umum, karena Sin Cie wariskan dari dalam kitab Kim Coa Pit Kip. Maka itu, walaupun ia tercelaka, Lip Jie girang tak kepalang, karena ia sangat bahagia memperoleh ilmu golok yang liehay itu.

Sin Cie sudah lantas siapkan belasan kereta sewaan, untuk angkut hartanya ke kota raja. Untuk keberangkatannya itu, Kong Lee adakan satu perjamuan meriah sekali yang dihadiri oleh gadisnya dan sekalian muridnya. Di pihak lain, Sin Cie minta tolong supaya gedung Kokkong-hu itu dikembalikan kepada Bin Cu Hoa, sedang Tiang Pek Sam Eng diserahkan kepada pembesar negeri.

Selagi cuaca musim rontok menyenangi hati, Sin Cie berangkat bersama-sama Ceng Ceng, A Pa dan Ang Seng Hay, mengiringi belasan kereta harta karun itu, menuju ke Utara, Kong Lee dan gadisnya serta murid-muridnya mengantari sampai di seberang sungai Tiang Kang, sampai jauhnya tiga-puluh lie lebih. Daerah sebelah utara sungai ada daerah pengaruh Kim Liong Pang, dari itu siang-siang Kong Lee telah atur warta berita kepada pelbagai pelabuhan atau pos partainya, supaya di setiap tempat, rombongan Sin Cie disambut dengan baik dan dilindungi di sepanjang jalan.

Selang lebih dari sepuluh hari, sampailah rombongan ini di batas propinsi Shoatang.

"Tuan Wan, sejak ini, daerah bukan daerah pengaruh Kim Liong Pang lagi," menerangkan Ang Seng Hay, "karenanya, mulai hari ini, harus kita berlaku sedikit lebih hati-hati."

"Apa? Apa ada orang berani main gila terhadap kita?" tanya Ceng Ceng.

"Itulah tak dapat dibilang, "sahut Seng Hay. "Sekarang ini jalanan tidak aman, terutama di Shoatang, orang jahat terlebih banyak daripada tempat lainnya. Di daerah ini ada dua partai yang liehay."

"Kau toh dari partai Put Hay Pay?" Ceng Ceng tegasi. Seng Hay tertawa.

"Put Hay Pay berkuasa di lautan," kata dia, "maka juga kalau di darat, umpama emas dan permata kedapatan di tengah jalan, menjemputnya pun kami tidak lakukan!"

"Siapa itu dua partai di Shoatang?" Sin Cie tanya.

"Yang pertama ada rombongan Tie Hong Liu Tie Toaya di Chongciu," jawab Seng Hay.

Sin Cie manggut.

"Ya, aku pernah dengar guruku omong tentang Tie Toaya itu," kata ia. "Dia kesohor untuk tangan-pasir- besinya Tiat-seeciang dan ilmu silat toya Thay-cou-kun." "Itulah benar. Partai yang satu lagi adalah yang berkedudukan di ok-hou-kau," Seng Hay terangkan lebih jauh. "Partai ini mempunyai enam pemimpin yang semuanya liehay."

Sin Cie manggut pula.

"Baiklah, kita harus berhati-hati," katanya. "Setiap malam baik kita bergiliran menjaga."

Perjalanan dilanjuti. Selang dua hari, mereka berpapasan dengan dua penunggang kuda, yang kudanya dikaburan, sehingga suara kelenengannya terdengar dari jauh-jauh.

"Inilah dia!" kata Seng Hay setelah dua penunggang kuda itu lewat di samping mereka. Sebagai orang kangouw ulung, Seng Hay luas pengetahuannya. Ia tidak kuatir, karena ia tahu Sin Cie liehay dan ia sendiri pun tak dapat dipandang ringan.

Selang satu jam, dua penunggang kuda tadi telah kembali dan lantas melewatkan pula.

Ceng Ceng tertawa dingin.

"Tidak sampai sempuluh lie, bakal ada yang pegat kita," Seng Hay kasih tahu.

Akan tetapi sangkaan ini keliru. Lebih dari sepuluh lie dilewatkan, mereka tidak kurang suatu apa, hingga mereka singgah di Siang-cio-hu.

"Heran! Mungkin mataku lamur?" kata Seng Hay.

Besoknya pagi, jalan belum lima lie, di sebelah belakang mereka, empat penunggang kuda menguntit dari kejauhan.

"Aku mengerti," kata Seng Hay. "Kemarin mereka belum siap, hari ini tentu mereka akan bekerja." Tengah hari, sehabis singgah, lagi dua penunggang kuda menyusul rombongan ini.

"Aneh!" kata Seng Hay. "Kenapa begini banyak orang?"

Dan menambah keheranannya ini, beberapa jam kemudian, dua penunggang kuda lain lewatkan mereka.

Sin Cie masih hijau di kalangan kangouw, ia tidak merasakan apa-apa, tapi juga Ceng Ceng, pengalamannya masih kurang, tidak demikian dengan Seng Hay.

"Aku mengerti sekarang," kata dia. "Wan Siangkong, malam ini kita mesti singgah di tempat yang besar."

"Kenapa begitu?" Sin Cie tanya.

"Sebab yang kuntit kita bukannya orang-orang dari satu partai saja."

"Begitu? Berapa partai kiranya?" tanya Ceng Ceng. "Jikalau setiap partai kirim dua orang, itu berarti, di

depan dan belakang, sudah tujuh. "

Ceng Ceng tertawa.

"Kalau begitu, bakal ramai!" katanya.

"Tetapi siocia, satu orang tak dapat lawan orang yang banyak," Seng Hay peringati. "Kita sendiri boleh tak takut tetapi bagaimana kita dapat bela barang-barang kita? Ini sulit. "

"Kau benar juga," Sin Cie manggut. "Malam ini kita singgah di Cio-liau-tin saja."

Benar-benar mereka singgah di Cio-liau-tin dimana mereka pilih sebuah hotel besar, malah Sin Cie peirntah turunkan semua peti, untuk ditumpuk di dalam kamarnya dimana ia hendak tidur berdua si empeh gagu. Baru Sin Cie selesai mengangkut, dua orang dengan tubuh besar datang ke hotel itu. Lebih dulu mereka awasi anak muda kita, lantas mereka nyatakan pada kuasa hotel bahwa mereka berniat bermalam. Karena ini, satu jongos diperintah antar mereka masuk, untuk ambil kamar.

Sin Cie manggut-manggut dengan diam-diam, ia tahu apa yang harus diperbuat. Habis bersantap ia perintah semua orang masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat.

Kira tengah malam, pemuda kita dengar suara berkelidik di atas genteng, bukan dia lantas bersiap, dia malah bangun untuk nyalakan lilin secara terang-terang, kemudian ia buka sebuah petinya, untuk keluarkan seraup mutiara dan batu permata lainnya, yang ia letaki di atas meja, antaranya ada yang ia pandangi pulang-pergi, hingga di antara sinar api, semua permata itu terang-gemilang berkilauan.

Di luar jendela, entah berapa banyak pasang mata yang kesilauan juga.

Seng Hay pun dengar apa-apa, hatinya jadi tidak tenang, maka ia keluar dari kamarnya akan menghampiri Sin Cie. Di luar, ia lihat belasan tubuh berebut umpetkan diri, maka ia bersenyum ewa. Ia ketok kamarnya si anak muda.

"Masuk!" terdengar suara Sin Cie.

Seng Hay tolak daun pintu yang menjeblak. Nyata pintu tak dikunci.

Begitu melangkah di pintu dan lihat barang-barang permata itu, orang she Ang ini melengak, saking heran, karena matanya silau. Belum pernah ia lihat barang permata demikian banyak, banyak rupanya dan bear-besar juga. Ia heran ia tak tahu dari mana si anak muda perolehnya. Kemudian lekas-lekas ia dekati anak muda itu. "Wan Siangkong, apa boleh aku bantui kau simpan barang permata ini?" kata dia, suaranya sangat pelahan. "Di luar kamar banyak orang sedang intai kita "

"Aku justeru hendak bikin mereka buka mata mereka," sahut si anak muda, dengan pelahan juga. Ia lantas angkat serenceng mutiara, lalu ia tanya: "Kalau kita bawa mutiara ini ke kota raja, berapa kau taksir harga penjualannya?"

"Aku tidak tahu," sahut pengiring itu.

"Sebutirnya tiga-ratus tail perak, tak kurang lagi," si anak muda bersenyum. Dan rencengan ini terdiri dari dua-puluh empat butir."

"Jadi harganya sepuluh ribu tail. " Seng Hay bilang.

"Eh, kenapa jadi sepuluh ribu?" tegasi Sin Cie heran. "Sebab sukar akan cari mutiara sebesar ini, begitu

bundar, begini jernih cahayanya, malah semuanya, sama besarnya!" kata pengikut ini.

Pembicaraan ini terdengar sampai keluar jendela, orang- orang jahat yang lagi mengintai jadi merah matanya, hati mereka jadi gatal, hampir mereka tak sanggup mengatasi diri sendiri. Tapi mereka ditugaskan untuk mengintai saja, buat lekas pulang dengan laporan, supaya ketua mereka bisa berdamai dulu, agar dia orang tak bentrok satu dengan lain. Begitulah, lekas-lekas mereka berlalu dengan berpencaran.

Kapan Sin Cie telah duga orang sudah pergi semua, ia goyang-goyang tangan kepada Seng Hay, untuk menitahkan orang itu tidur, ia sendiri tertawa, ia naik ke pembaringan tanpa benahkan lagi mutiara itu.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, terus sampai dua hari, mereka tidak tampak rintangan suatu apa. Ketika itu mereka sudah lewati batas wilayah kota Ceelam. Sementara itu Sin Cie dapat kenyataan, orang-orang jahat yang arah dia jadi semakin banyak, hingga Seng Hay, yang tadinya tenang, jadi tak tenteram juga hatinya. Ia ini pun bingung, kenapa orang masih belum mau turun tangan. Maka akhirnya, ia usulkan si anak muda akan tukar jalan darat dengan jalan air.

"Di air aku mempunyai banyak sahabat," ia mendesak. "Kita naik perahu sampai di Thian-cin, di sana kita mendarat, untuk melanjuti sampai di Pakkhia. Dengan begini benar kita ambil jalan mutar dan memakan tempo jauh lebih banyak akan tetapi keselamatan kita lebih terjamin."

Sin Cie tertawa atas usul itu.

"Aku justeru hendak serahkan harta ini kepada orang- orang gagah kita dan pencinta-pencinta Negara!" katanya. "Umpama harta ini habis tersebar, masih tidak apa! Bukankah harta ada benda sampiran belaka? Untuk kita, kewajiban membela Negara adalah yang utama!"

Mendengar itu, Ang Seng Hay lantas tidak banyak omong lagi.

Itu hari sampailah mereka di Ie-shia, dimana mereka cari hotel.

Ceng Ceng tidak betah berdiam saja, seorang diri ia pergi pesiar di sekeliling kota. Tidak demikian Sin Cie, yang insyaf entah berapa banyak mata yang incar harta-karunnya itu, dari itu bersama-sama A Pa, ia tak mau meninggalkan hotelnya.

Berselang kira-kira satu jam, Ceng Ceng pulang dengan wajah berseri-seri, tangannya menenteng dua bumbung bambu kecil dalam mana masing-masing terdapat seekor jangkrik, yang masing-masing sedang mengasi dengar suara ngeringnya tak sudahnya. Yang seekor ia terus serahkan pada Sin Cie seraya bilang: "Aku beli dua-puluh chie seekornya. Sebentar malam kau gantung di kelambumu, pasti suaranya enak didengarnya..."

Sin Cie tertawa, dia menyambutinya. Tapi segera ia tertawa pula.

"Eh, adik Ceng, tadi ditengah jalan kau ketemu siapa?" tanyanya.

Ceng Ceng agaknya tercengang. "Tidak. " jawabnya.

"Bebokongmu orang telah berikan tanda," Sin Cie kasih tahu.

Tidak tempo lagi, Ceng Ceng lari kedalam kamarnya, untuk buka bajunya, guna periksa tanda yang dihunjuki itu. Ia telah lihat satu bundaran kapur. Mungkin tanda itu diberikan selagi tadi ia membeli jangkrik, saking gembira, ia sampai tidak merasakannya. Maka itu, ia puji kelicinannya orang yang memberikan tanda itu tapi ia pun mendongkol.

"Tolong kau bantu aku cekuk orang itu, untuk hajar dia!" Kata ia pada Sin Cie setelah ia ketemui pula si anak muda.

"Kemana aku mesti cari dia?" tanya Sin Cie sambil tertawa.

Ceng Ceng berpikir, tapi segera ia dapat jalan.

"Pergilah kau pesiar sendirian, berlagaklah sebagai orang tolol," ia kata kemudian.

"Jadi aku mesti pesiar seperti kau tadi, supaya orang pun datang untuk beri tanda di bebokongku?" Sin Cie tegaskan sambil tertawa. "Benar!" si nona pun tertawa. "Lekaslah pergi!"

Anak muda ini tak tega untuk menampik, maka ia pergis etelah pesan nona ini bersama Seng Hay untuk waspada menjaga harta mereka.

Ie-shia ada sebuah kota yang ramai, walaupun sudah mendekati malam, orang-orang banyak yang berdagang dan berbelanja, pelbagai kereta dan kuli-kuli masih saja berjuang untuk masing-masing kehidupannya atau pekerjaannya.

Sin Cie berjalan dengan sewajarnya sebagai seorang asing, akan tetapi dengan diam-diam, ia telah memasang mata, karenanya tak nanti orang curigai dia kendatipun ia sering celingukan. Demikian ia dapat tahu ada seorang menguntit ia sejak ia mulai keluar dari pekarangan hotel.

"Bagus, kau jadi makin kurang ajar!" kata ia dalam hatinya. "Tidak saja hartaku, diriku pun kau awasi! Kau beri tanda dibelakangnya adik Ceng, apakah artinya itu! Tidakkah dengan begitu kau seperti keprak rumput hingga ular mabur, hingga aku jadi dapat ketika untuk berjaga- jaga?"

Tidak usah pemuda ini berpikir lama, untuk ambil kesimpulan.

"Rupanya ada rombongan yang ingin temahai sendiri hartaku ini," pikir ia. "Mereka telah beri tanda supaya lain orang melihatnya dan lain orang tak berani mengganggu."

Sin Cie jalan terus, dengan sikapnya seperti tak ada perhatian, tapi sekarang ia telah ambil putusan akan bertindak bagaimana. Ia tetap masih dibayangi, ia menuju ke sebuah bengkel besi akan tonton tukang-tukang sedang bikin golok. Ia berdiri diam bagaikan orang kesengsam, tapi ia tahu, si penguntit dekati padanya. Mendadakan saja ia berpaling seraya tangannya menyambar tangan orang itu di bagian nadi.

Orang itu kaget, apapula segera ia merasakan sebelah tangannya seperti mati, maka tempo pemuda kita tarik tangannya, untuk dituntun dengan perlahan-lahan, ia mengikuti tanpa buka suara, seperti ia sudah tak dapat kuasai diri sendiri. Ia dituntun sampai di sebuah gang kecil dan sepi.

"Kau orang siapa?" tanya Sin Cie.

Orang itu ketakutan dan kesakitan, sampai ia mandi keringat.

"Tolong lepaskan tanganku, tuan, nanti tanganku patah," dia memohon.

"Jiaklau kau tidak mau bicara, batang lehermu pun aku nanti potes!" Sin Cie bilang.

"Aku nanti bicara, aku nanti bicara, tuan," sahut orang itu ketakutan. "Aku adalah orang sebawahan See Ceecu dari Ok Hou Kau."

"Bukankah kau hendak memberi tanda bundaran di bebokongku? Apakah artinya itu?"

"See Ceecu titahkan aku berbuat demikian, apa maksudnya, aku tidak tahu."

"Dimana adanya sekarang See Ceecumu itu?"

Orang itu celingukan, agaknya ia jeri untuk mengasih tahu.

Sin Cie gunai tenaganya, hingga orang itu meringis, ia takut bukan main.

"See Ceecu pesan aku untuk malam ini pergi ke kuil Sam Kong Sie di luar kota untuk menemui dia," ia buka rahasia. "Baik, hayo kau antar aku kesana."

Benar-benar orang ini takut, ia mengantarinya, terus sampai di kuil.

Ketika itu, di rumah berhala masih sepi, belum ada seorang lain. Itulah sebuah kuil tua sekali dan sudah rusak, tidak ada penghuninya. Sin Cie periksa semua ruangan, juga depan dan belakang, akhirnya ia totok urat gagu dari bajingan itu tubuh siapa ia lantas lemparkan ke dalam kotak patung. Kemudian lagi ia tak usah menunggu terlalu lama, akan dengar suara banyak orang lagi mendatangi. Maka segera ia sembunyikan diri diantara patung sang Buddha yang besar.

Yang datang itu ada beberapa puluh orang, mereka duduk berkerumun di ruang pendopo. Segeralah terdengar suaranya seorang perempuan:

"Giam Lo-sie, Lo-ngo, pergi kamu berdua saudara membawa empat saudara, untuk menjaga di empat penjuru, di atas genteng juga!" demikian satu titah.

Dua orang yang dipanggil dua saudara she Giam yang keempat dan kelima sudah lantas bertindak keluar, untuk jalankan titah itu, maka di lain saat, Sin Cie pun dengar suara di atas genteng.

"Kamu boleh cerdik tapi sekarang aku sudah ada di sini!" ia tertawa dalam hatinya.

Sebentar lagi datang pula serombongan orang, suara mereka berisik ketika suara mereka saling menegur, saling berbahasa saudara satu dengan lain.

Turut apa yang Sin Cie dengar, mereka adalah dari delapan rombongan atau delapan gunung dari wilayah Shoatang, karenanya dia tak berani berlaku sembarangan. "Tentang barang-barang yang diangkut telah didapatkan penjelasan," terdengar suara perempuan yang bermula tadi. "Barang-barang itu adalah permata-permata yang tak dapat ditaksir harganya, pengiringnya ada dua anak muda yang tak tahu apa-apa tetapi pembelanya adalah Ang Seng Hay, satu anggota dari Put Hay Pay. Dia ini tak ada kecelanya tapi sepasang tangan mana sanggup layani dua pasang? Hanya, memandang muka sesama kaum, jangan kita ganggu jiwanya."

"Untuk merampas harta itu, tak usah See Ceecu pusing memikirkannya," kata satu suara. "Apa yang penting adalah cara pembagiannya. Kita perlu mengatur terlebih dahulu, supaya kita tak usah merusak persahabatan."

"Aku adalah yang pertama mengetahui harta itu," kata satu suara keras dan kasar," maka menurut aku, setelah barang itu berada di tangan kita, di dalam sepuluh, Ok Hou Kau dapat dua bagian, Sat Pa Kong juga dapat dua bagian, lalu yang lainnya masing-masing satu bagian."

"Bagus benar!" pikir Sin Cie. "Kamu telah pandang barangku seperti milikmu sendiri dan sekarang asyik mengatur pembagiannya, untuk dipesta-pora!"

Lalu terdengar satu suara lagi: "Kenapa kau masing- masing menghendaki dua bagian? Menurut aku, baik kita bagi rata saja, seorang satu bagian."

Sampai di sini, suara jadi ramai, masing-masing memberi usulnya.

"Dibagi sepuluh bagian tidak adil, dibagi delapan tidak adil juga," kemudian kata satu suara tua tetapi keren. "Ok Hou Kau terdiri dari beberapa ribu jiwa saudara, tapi Sat Pa Kong dan Loan Sek Cay cuma terdiri dari tiga-ratus orang. Apakah mereka mesti mendapat bagian rata? Maka usulku adalah Ok Hou Kau ambil dua bagian, yang lain-lain

639 masing-masing satu bagian. Aku minta See Ceecu yang atur cara bekerja kita."

Kebanyakan orang anggap usul ini pantas, mereka suka menerimanya, karena itu, sisa yang lainnya lantas menurut saja.

"Sekarang sudah ada kecocokan, maka baik ditetapkan, besok kita turun tangan," berkata orang yang dipanggil See Ceecu, ketua she Cee. "Aku memikir desa Thio-chung, dari itu baiklah masing-masing rombongan berkumpul di sana."

Usul ini dapat persetujuan, dari itu tak ayal lagi, mereka saling pamitan dan lantas bubaran, hingga sebentar kemudian, kuil tua itu jadi sunyi senyap pula.

Sin Cie muncul dari tempat sembunyinya, tanpa perdulikan pula bandit atau orangnya See Ceecu, ia langsung menuju hotelnya, kepada Ceng Ceng ia tuturkan hasil "pesiarnya" itu.

Ceng Ceng bengong berpikir.

"Jumlah mereka besar sekali, pasti mereka tak dapat dipukul rubuh semua, tak bisa dibunuh habis," katanya. "Bagaimana pikiranmu?"

"Jikalau nanti mereka pegat kita, kita bersikap tenang- tenang saja," Sin Cie bilang. "Kita mesti cari tahu, siapa kepalanya di antara mereka, lantas paling dulu kita cekuk padanya. Aku percaya rombongan mereka tidak berani turun tangan terus."

Ceng Ceng tepuk-tepuk tangan, ia tertawa. "Inilah pikiran bagus!" ia memuji.

Besoknya pagi mereka berangkat pagi-pagi. Segera ternyata, mereka telah dikuntit dengan berani, seperti juga Sin Cie semua tidak ada lagi di mata mereka. Seng Hay lihat itu, dia sangat berduka.

"Kelihatannya, Wan Siangkong, hari ini tak dapat dilewatkan lagi," kata dia secara diam-diam kepada Sin Cie.

"Kau jangan kuatir," pesan si anak muda. "Tugasmu adalah jaga semua kereta, supaya keledai-keledai jangan kaget dan kabur. Untuk layani orang-orang jahat, serahkan itu kepada kita bertiga."

Seng Hay menurut, ia coba menenteramkan diri.

Sin Cie lantas bicara dengan si empeh gagu, dengan gerak-gerakan tangannya. Ia pesan, kalau ia sudah turun tangan, A Pa Barulah bekerja, dan yang bakal dibekuk adalah kepalanya penjahat.

A Pa manggut, tandanya ia mengerti.

Di waktu lohor jam tiga atau empat, rombongan kereta keledai yang angkut harta karun sampai di desa Thio- chung. Di muka itu ada segumpal pepohonan lebat. Segera terdengar suara anak panah mengaung dan muncul beberapa ratus orang yang pada ikat kepala dengan pelangi hijau, pakaian mereka serbat hitam, senjata mereka pelbagai macam, semuanya mengkilap tajam. Tapi mereka tidak menerbitkan suara berisik, mereka cuma menghadang di tengah jalan.

Tukang-tukang kereta lihat gelagat tidak baik, dengan lantas mereka hentikan kereta-kereta mereka, habis itu mereka berjongkok sambil tutupi kepala mereka. Inilah aturan mereka, sebab asal mereka tidak lari serabutan, orang jahat tidak bakal ganggu mereka.

Adalah setelah itu lalu terdengar suara suitan beruntun- runtun, menyusul mana beberapa puluh penunggang kuda muncul dari dalam rimba, menuju ke belakang rombongan kereta, untuk menjaga jalan mundur orang.

Selama di dalam kuil Sam Kong Sie, Sin Cie tidak lihat nyata roman orang, sekarang Barulah ia melihat tegas tujuh orang yang berbaris di paling muka, orangnya tinggi dan kate, satu di antaranya, yang berumur tiga-puluh lebih, maju pula kesebelah depan sekali. Dia ini tidak menyekal senjata, dia cuma menggoyang kipas dengan secara tenang.

"Wan Siangkong!" ia menegur, suaranya halus.

Sin Cie kenali suaranya See Ceecu dari Ok Hou Kau, ia lihat orang itu sikapnya tenang, dan tindakan kakinya tetap, maka ia mengerti kepala berandal ini pasti seorang yang liehay. Ia pun tidak sangka, dalam kalangan Cau-bong, Hutan Rumput, ada orang semacam ceecu ini. Ia lekas memberi hormat.

"See Ceecu!" katanya.

Kepala berandal itu heran, inilah ternyata dari romannya.

"Eh, mengapa dia kenal aku?" pikirnya.

"Wan Siangkong telah bikin perjalanan jauh, banyak cape, tentu," katanya kemudian.

Sin Cie awasi muka lawan, ia tahu ceecu itu heran bahwa ia ketahui namanya, maka itu ia memikir untuk bikin orang lebih heran.

"Perjalanan jauh tidak melelahkan aku," demikian jawabnya, "aku hanya sebal sebab barang-barang bawaanku ini terlalu banyak, terlalu berat. "

See Ceecu tertawa.

"Apakah siangkong hendak pergi ke ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat?" tanyanya.

642 "Oh, bukan, ceecu," sahut Sin Cie. "Ayahku titahkan aku pergi ke kota raja untuk menyerahkan uang, guna mendapatkan pangkat."

Kembali kepala berandal itu tertawa.

"Siangkong seorang jujur, tak miripnya kau dengan anak sekolahan yang kebanyakan," katanya.

Sin Cie pun tertawa. Kemudian ia kata:

"Tadi malam satu sahabatku datang memberi tahu padaku, katanya hari ini satu See Ceecu bakal menantikan aku di tengah jalan. Ia pesan aku untuk waspada, maka itu, aku tidak berani berlaku alpa, kuatir aku nanti tak dapat bertemu sama See Ceecu. Sungguh, benar-benar disini kita bertemu! Melihat dandanan ceecu, apakah ceecu juga hendak menuju ke kota raja? Bagaimana jikalau kita jalan sama?"

See Ceecu itu tertawa geli di dalam hatinya.

"Kiranya dia satu pitik yang tak tahu apa-apa!" pikirnya. Ia tertawa pula. Ia kata: "Apakah tidak baik siangkong hidup senang di dalam rumah? Untuk apa siangkong melakukan satu perjalanan begini jauh? Siangkong harus ketahui, diluaran banyak kejahatan. "

Dengan sikap wajar, Sin Cie menyahut: "Selama di rumah, pernah aku dengar orang-orang tua omong tentang penipu dan bunga raya, siapa tahu sesudah aku jalan seribu lie, aku tidak menemui apa juga, dari itu aku beranggapan, omongan itu kebanyakan hanya omongan untuk mendustai orang saja."

Ketujuh ceecu lainnya tak sabaran mendengar bicaranya si anak muda, mereka awasi See Ceecu, mereka kedip- kedipi mata, untuk menganjuri akan turun tangan dengan segera. See Ceecu rupanya berpikir sama seperti sekalian rekannya itu, mendadakan lenyap wajah berseri-serinya, sebagai gantinya, dia berseru nyaring dan panjang, lantas ia kibaskan, buka kipasnya, hingga pada daun kipas itu tertampak lukisan putih dari sebuah tengkorak dengan mulutnya tengkorak lagi menggigit sebatang golok, hingga romannya jadi sangat menakuti, menggiriskan.

Ceng Ceng yang berandalan terkejut juga dalam hatinya, malah Sin Cie sendiri merasakan hebatnya gambaran tengkorak itu, akan tetapi pemuda ini tetap tenang.

Habis itu, See Ceecu perdengarkan lagi suara tertawa, yang aneh, Baru suaranya berhenti, atau tangannya yang memegang kipas digeraki atas mana, beberapa ratus berandal lantas saja bergerak, untuk maju menyerang.

Sin Cie mengerti saatnya untuk bertindak, akan tetapi di saat ia hendak berlompat, guna bekuk See Ceecu, dengan tiba-tiba terdengar suara suitan yang nyaring dan tajam dari dalam rimba, hingga ceecu she Cee itu menjadi kaget, segera kibaskan pula kipasnya, melihat mana, semua berandal berhenti beraksi, semua lantas berdiri diam.

Segera muncul dua penunggang kuda dari dalam rimba itu. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang tua dengan rambut, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, sedang yang belakangan adalah satu nona dengan baju hijau, tangganya menyekal suitan. Mereka ini majukan kuda mereka di antara See Ceecu dan Sin Cie, Baru mereka berhenti.

"Inilah perbatasan Shoatang," kata See Ceecu.

"Memang. Siapa yang bilang bukan?" sahut orang tua itu. "Apa yang telah diputuskan ketika dulu kita membuat pertemuan di gunung Tay San?" See Ceecu tanya pula.

"Itu waktu telah ditetapkan, kami dari pihak Ceng Tiok Pay tidak akan memasuki daerah Shoatang untuk bekerja, dan kamu tidak dapat bekerja di Hoopak," si orang tua menjawab pula.

"Bagus!" kata See Ceecu. "Habis angin apakah sudah tiup Thia Lo-ya-cu datang kemari?"

Orang tua itu menyahuti dengan tenang: "Aku dengar kabar suatu barang-barang bakal dibawa masuk ke Hoopak, katanya tak sedikit terdiri dari barang baik, karenanya kita datang dulu untuk melihat."

Wajahnya See Ceecu berubah.

"Jikalau ditunggu sampai barang sudah sampai di daerah Hoopak, Baru dilihat, toh masih belum terlambat?" dia tanya.

Si orang tua tertawa berkakakan.

"Bagaimana tidak terlambat?" katanya. "Jikalau barang sudah terjatuh ke dalam tangan pihakmu, gilirannya untuk melihat saja sudah tidak ada!"

Sin Cie bertiga Ceng Ceng dan Ang Seng Hay saling memandang di dalam hati mereka, mereka berpendapat bagaimana cepatnya orang-orang Hoopak dengar kabar hal angkutan harta karun itu, hingga mereka sudah lantas datang untuk mendahulukan turun tanagan, atau untuk mendapati sebagian saja. Mereka pun pikir, baik mereka "tonton" sepak-terjang lebih jauh dari mereka itu.

Di pihak Shoatang, orang lantas bicara dengan seru, umumnya meeka katakan si orang tua bersikap tak tahu aturan. Menurut suara mereka, orang tua ini rupanya bernama Thia Ceng Tiok.

"He, apa yang kamu bicarakan demikian berisik?" si orang tua tanya rombongan Shoatang itu. "Aku sudah tua, kupingku tak dengar nyata. "

See Ceecu kibas-kibaskan kipasnya, untuk cegah rombongannya.

"Kita telah membuat perjanjian, Thia Lo-ya-cu, mengapa kau tidak hendak menepati janji?" See Ceecu tanya pula. "Ia tak dapat dipercaya, apakah dia tak bakal ditertawai orang- orang gagah kaum kangouw?"

Ditegur secara demikian, si orang tua tidak menjawab, ia hanya menoleh kepada si nona di sampingnya, akan tanya: "Eh, A Kiu, ketika masih di rumah, apakah kataku kepadamu?"

Si nona jawab: "Kau bilang, mari kita pergi ke Shoatang untuk lihat barang-barang berharga."

Ceng Ceng ada satu nona akan tetapi ia kagum mendengar suaranya nona ini. Itulah suara yang halus, jernih, sedap didengarnya. Maka ia menoleh kepada nona itu, yang ia awasi, hingga ia tampak lebih jelas wajah orang, muka yang bersemu dadu, segar dan manis. Dia adalah satu nona muda yang eilok dan menarik.

"Apakah kita pernah omong bahwa kita hendak ulur tangan kita untuk ambil barang itu?" Thia Ceng Tiok tanya pula, sambil tertawa.

"Tidak," sahut si A Kiu itu. "Sekarang pun kita tidak bicara sebagai itu."

Baru sekarang si orang she Thia berpaling pada See Ceecu. "Lautee, kau dengar atau tidak?" ia tanya. "Kapan aku pernah bilang hendak bekerja dalam daerah Shoatang?"

See Ceecu berubah wajahnya, ia bersenyum.

"Bagus, itu Barulah namanya sahabat!" dia bilang. "Thia Lo-ya-cu datang dari tempat jauh, sebentar kau akan dapat satu bagian!"

Orang she Thia itu tak ambil mumet akan kata-katanya ceecu ini, ia hanya berpaling pula kepada si nona.

"Eh, A kiu, apa saja yang kita katakan pula di rumah?" tanya ia.

"Kau bilang, barang permata itu tak sedikit, jangan kita biarkan lain orang mengambilnya," sahut orang yang ditanya.

"Hm!" bersuara Thia Ceng Tiok. "Umpama orang hendak mengambilnya?"

"Kalau sampai terjadi demikian, kami harus turun tangan untuk melindunginya," sahut pula si nona.

Ceng Tiok tertawa.

"Bagus, ingatannya anak muda tak jelek!" serunya. "Ya, aku ingat telah mengucapkan demikian." Lalu ia menoleh kepada si See Ceecu, dan kata: "Apa kau sekarang telah mengerti, lautee! Kami tak dapat bekerja di Shoatang, itu benar, akan tetapi kami hendak melindunginya! Tidakkah untuk ini tidak ada perjanjiannya?"

Mukanya ceecu she See ini menjadi pias-padam. "Sekarang kau larang kita turun tangan!" katanya dengan

sengit, "akan tetapi nanti, setelah barang sampai di dalam

daerah Hoopak, disana kaulah yang nanti lonjorkan tanganmu, bukan?" "Benar," aku Thia Ceng Tion. "Bukankah ini tidak merusak persahabatan? Bukankah ini tidak melanggar perjanjian kita di Tay San?"

Semua berandal itu menjadi sangat gusar. Itulah alasan yang dipaksakan, yang dicari-cari. Dari murka, mereka jadi niat menyerang ayah dan gadisnya itu. Bukankah mereka Cuma berdua saja?

Selagi orang berdiam, A KIu bawa dua lembar daun bambu ke dalam mulutnya, untuk tiup itu. Itulah suitan istimewa, yang memberikan pertandaan rahasia.

Menyusul bunyinya suitan, dari dalam rimba muncul beberapa ratus orang yang pakaiannya tak berseragam, kecuali di kopiah mereka, masing-masing mereka menyelipkan selembar daun bambu yang hijau.

See Ceecu terkejut dalam hati.

"Ah, kiranya dia telah bikin persiapan....." pikirnya. "Nyatalah saudara-saudara kita yang ditugaskan sebagai mata-mata, buta matanya! Kenapa mereka tidak ketahui orang datang dalam jumlah begini besar?"

Tidak ayal lagi, See Ceecu memberikan isyaratnya, maka lantas semua tujuh ceecu lainnya serta Tam Hu Ceecu, ketua muda dari Ok Hou Kau, lantas atur barisan mereka masing-masing.

Tak gentar hatinya Thia Ceng Tiok menampak persiapan pihak delapan ceecu itu, inilah disebabkan ia percaya orang- orangnya sendiri, yang ia rasa telah ia atur dengan sempurna.

Sin Cie tarik tangannya Ceng Ceng, si nona berpaling kepadanya, keduanya lantas bersenyum. "Barang masih belum didapatkan, mereka sudah berkeras di antara kawan sendiri, sungguh lucu!" kata si nona dengan perlahan. Ia pun tidak jeri.

"Biar saja!" kata Sin Cie. "Kita jadi si nelayan yang peroleh hasil! Tak jelek, bukan?"

Walaupun mereka bersiap untuk bertempur, kawanan begal Shoatang itu masih sempat pisahkan sejumlah kecil, ialah beberapa puluh orangnya, untuk jaga kereta-kereta barang, rupanya mereka kuatir, selagi mereka adu jiwa, kereta-kereta nanti kabur.

Sin Cie lambaikan Seng Hay.

"Ceng Tiok Pay itu golongan apa?" tanya ia pada pengikut itu.

"Di wilayah Hoopak, Ceng Tiok Pay berpengaruh sendiri," Seng Hay terangkan. "Orang tua itu, Thia Ceng Tiok, adalah ketuanya. Jangan kita lihat dia dari kurus tubuhnya dan tua usianya, ilmu silatnya liehay sekali!"

"Dan itu anak kecil?" Ceng Ceng tanya. "Dia cucunya atau gadisnya?"

"Turut apa yang aku dengar, tabeatnya Thia Ceng Tiok aneh sekali," sahut Seng Hay. "Seumur hidupnya, dia tidak pernah menikah, dari itu tak mungkin nona itu ada cucu atau anaknya. Mungkin dia kemenakan atau anak pungut. "

Ceng Ceng manggut-manggut.

Nona A Kiu itu bersikap tenang sekali, tak sedikit jua kentara ia berkuatir, maka Ceng Ceng sangka dia liehay bugeenya. Ia terus mengawasi kawanan begal itu.

Di pihak Ceng Tiok Pay, berulang-ulang terdengar suitan., lalu jumlah mereka yang terdiri dari beberapa ratus jiwa lantas pusatkan diri dalam empat pasukan, sesudah mana, Ceng Tiok dan A Kiu tempatkan diri di muka barisannya itu. Mereka masing-masing menunggang kuda. Mereka hendak bertempur akan tetapi mereka tidak menyekal senjata.

Dimana kedua pihak sudah siap, pertempuran akan meletus sembarang waktu, selagi begitu, di arah selatan, terdengar suara kelenengan nyaring, lalu tertampak tiga penunggang kuda mendatangi dengan cepat sekali, kemudian satu diantaranya, yang maju paling depan berseru: "Sama-sama sahabat sendiri, tolong kamu pandang mukaku!"

"Hei, heran!" pikir Sin Cie. "Mengapa muncul pula satu tukang mendamaikan?. " Ia lantas mengawasi.

Sebentar saja, ketiga penunggang kuda itu telah datang dekat. Orang yang pertama berumur lima-puluh lebih, roman mereka mirip dengan seorang hartawan bekas pembesar negeri, sebab ia pakai baju panjang tersulam dan tangannya menyekal sebatang huncwee besar. Dua yang lain, yang tubuhnya jangkung dan kate, sangat sederhana dandanannya.

Begitu lekas sudah tempatkan diri diantara kedua pihak rombongan yang hendak adu tenaga itu, orang itu angkat huncweenya, ia tertawa, lalu dengan nyaring, ia kata: "Kita ada diantara saudara-saudara sendiri, omongan apa yang tak dapat diucapkan? Kenapa kita mesti angkat senjata? Apakah kamu tak kuatir nanti ditertawai kaum kangouw umumnya?"

"Thie Chungcu, bagus kau telah datang!" berkata See Ceecu. "Tolong kau berikan pemandanganmu, untuk ketahui siapa benar dan siapa keliru. "

Ceecu ini lantas bentangkan sikapnya Thia Ceng Tiok.

650 Orang she Thia itu tidak perdulikan apa yang orang bilang, ia cuma tertawa saja dengan dingin.

Selagi orang bicara, Ang Seng Hay kata pada Sin Cie: "Wan Siangkong, See Ceecu itu bernama See Thian Kong, gelarannya Im-yangsie, si Kipas Imyang. Bersama-sama Thie Chungcu itu, yang bernama Tie Hong Liu, mereka menjadi dua cabang atas didalam propinsi Shoatang."

"Jadi mereka inilah yang dulu kau sebut-sebut?" kata Ceng Ceng.

"Dan kenapa dia dipanggil chungcu?" tanya Sin Cie.

Chungcu adalah hartawan atau pemilik sebuah kampung dimana dia berpengaruh seorang diri. ("Chung" dari chungcu baca mirip "ceng" dari "cengkeram").

"Bedanya ialah," menerangkan Ang Seng Hay, "kalau See Ceecu berkedudukan di atas gunung dengan pesanggrahannya, Tie Hong Liu hidup sebagai satu wan- gwee, hartawan yang berumah-tangga dalam sebuah kampung, sebab di depan dan belakang kampung itu ditanami ribuan pohon yangliu merah, kampungnya itu diberi nama Cian-liu-chung. Tapi sebenarnya dia adalah begal tunggal, dia bisa membegal atau merampas sendirian, kalau dia "bekerja", dia cuma ajak dua atau tiga pembantunya."

Dalam hatinya, Ceng Ceng bilang: "Dia jadinya mirip dengan cara hidupnya beberapa yayaku dari Cio Liang Pay..."

Segera terdengar suaranya Tie Hong Liu: "Thia Toako, di dalam hal ini, toakolah yang kurang tepat. Ketika dahulu dibikin rapat besar di gunung Tay San, dengan kebaikannya semua saudara, yang masih memandang mata kepadaku, aku telah diundang hadir, itu waktu telah ditetapkan bahwa kita masing-masing tak dapat bekerja di luar batas wilayah pengaruh sendiri!"

"Itulah benar, Tie Chungcu," shaut Thia Ceng Tiok dengan tenang, "tapi sekarang aku bukannya hendak bekerja, aku hanya bermaksud baik, niat melindungi rombongan kereta barang-barang ini. Tie Lauko, kupingmu terang sekali, di mana saja kau dengar ada 'air-minyak', lantas kesana kau sodorkan huncweemu!. "

Orang she Tie itu tertawa terbahak-bahak, terus ia tunjuk dua orang yang iringi padanya: "Kedua tuan ini adalah Huy-im Siang Kiat, Gu Hoa Seng dan Thio Hin. Mereka yang sengaja bergegas-gegas datang ke kampungku akan memberitahukan bahwa mereka mempunyai satu bahagian harta kegirangan untuk dipersembahkan kepadaku. Tubuhku telah jadi begini gemuk, aku malas untuk bekerja pula, akan tetapi mereka dua saudara demikian sungguh- sungguh, terpaksa aku tak dapat tampik kecintaan mereka, terpaksa aku keluar, untuk melihat, aku tidak sangka disini aku bertemu dengan saudara beramai. Sungguh, inilah ramai sekali!"

Sin Cie pandang Ceng Ceng, dalam hatinya, ia kata: "Bagus, sekarang tambah tiga ekor kucing!"

See Thian Kong sebaliknya pikir: "Orang she Tie ini liehay, baik aku rombak aturan pembagian, aku bagi dia satu bagian, supaya kita bisa bekerja sama-sama untuk hadapkan Ceng Tiok Pay." Karena ini, dia kata kepada chungcu itu: "Tie Chungcu adalah orang dari wilayah Shoatang, umpamanya Tie Chungcu kehendaki satu bahagian, kami tidak bisa bilang satu apa, tetapi jikalau orang dari lain wilayah masuk kemari, lalu kita mengalah, habis dari mana kita punyakan nasi untuk didahar?" Tie Hong Liu tidak bilang suatu apa kepada orang she See itu, dia hanya pandang Thia Ceng Tiok untuk tanya: "Nah, Thia Toako, apa katamu?"

"Urusan hari ini terang tak dapat diselesaikan secara baik," sahut orang she Thia itu. "Baiklah, mari kita bicara secara terbuka, kita cari kemenangan atau kekalahan di ujung golok dan tumbak saja!"

Nyata ketua dari Ceng Tiok Pay ini bernyali sangat besar, tidak perduli dia lagi hadapi musuh demikian banyak.

"Dan kau, See Lautee, bagaimana dengan kau?" Tie Hong Liu menoleh pada See Thian Kong yang menjawab dengan lantas: "Kami orang laki-laki dari Shoatang, tak dapat kami mengalah untuk diperhina orang lain daerah yang datang cari rumah kita!"

Dengan jawabannya itu, terang See Thian Kong sudah tarik Tie Hong Liu kepada pihaknya.

Thia Ceng Tiok mengulet, ia pun menguap.

"Sekarang bagaimana, kita maju semua berbareng atau satu demi satu?" tanya dia dengan tantangannya. "Silahkan See Ceecu mengaturnya, pihakku yang rendah bersedia untuk turut segala titahmu."

See Thian Kong goyang-goyang kipas Im-yang-sienya, ia pun berulang-ulang perdengarkan suara menghina: "Hm! Hm!"

"Dan kau, Tie Toako, bagaimana pikiranmu?" dia tanya.

Ketika pertama kali Tie Hong Liu terima laporan Hoay- im Siang Kiat, sepasang jago dari Hoa-im, dia telah memikir untuk telan sendiri harta karun itu, maka ia sudah berangkat dengan cepat, ia tidak sangka, dia telah datang terlambat, dari itu, dia memikir boleh jugalah ia mendapat hanya satu bagian. Tapi ia juga insyaf di pihak Ceng Tiok Pay ada banyak orang liehay.Thia Pangcu sendiri telah kesohor untuk banyak tahun, dia itu bukan orang sembarangan, tak dapat dia cari gara-gara dengan orang she Thia itu. Maka setelah berpikir sebentar, ia utarakan pikirannya.

"Jikalau begini duduknya hal, sulit untuk mencari pemecahan, satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi," katanya. "Kalau kita bertempur secara merabuh, mesti banyak orang terluka dan terbinasa. Kenapa kita mesti minta banyak korban, hingga persahabatan jadi terganggu hebat? Bagaimana jikalau aku majukan satu usul?"

"Silakan kau mengutarakannya, Tie Chungcu," kata Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong hampir berbareng.

Dengan huncweenya, Tie Hong Liu menunjuk kepada sepuluh buah kereta-kereta harta karun. Dia kata: "Disana ada sepuluh peti besi, maka itu, kita baik majukan saja sepuluh orang masing-masing, dengan begitu, pertempuran pun berarti sepuluh kali juga, batasnya yaitu sampai saling towel saja, jangan kita meminta jiwa. Siapa menang satu kali, dia dapat satu peti. Tidakkah ini paling adil? Anggap saja kita sedang sempat, hitung-hitung kita berlatih di sini, untuk menambah pengetahuan, siapa dapati barang permata, dia dapat hadiah kepala. Siapa tidak peroleh pahala, jangan dia berkecil hati, karena toh asalnya bukan kepunyaan kita sendiri! Bagaimana jiewie pikir?"

Mendengar usul itu, Thia Ceng Tiok paling dulu nyatakan akur.

See Thian Kong juga nyatakan akur, karena ia pikir: "Biar aku antap setiap rombongan majukan orang- orangnya, umpama mereka masing-masing menang, itu pun memang hak mereka, tapi umpama mereka kalah, kekalahan mereka tidak ada ruginya untuk aku. Jikalau dari pihakku, aku sendiri yang keluar bersama Tam Lo-jie, pasti kita tidak akan kalah, tentu kita bakal dapat dua buah peti."

Sampai di situ, kedua pihak lantas balik kedalam masing- masing barisannya, yang pun berbareng mereka tarik pulang, setelah mana, mereka mulai pilih orang-orang sendiri yang bakal dimajukan dalam pertandingan.

Tie Hong Liu sendiri lantas perintah orang beri tanda dengan coretan huruf-huruf kepada sepuluh peti itu, alat pencoretnya adalah tanah lempung kuning.

Sin Cie dan Ceng Ceng antap saja orang cumprang- compreng peti mereka.

Thia Ceng Tiok lihat dua anak muda itu tenang-tenang saja, sedikit juga tidak tertampak mereka berkuatir, ia heran, karenanya, beberapa kali ia melirik ke arah mereka itu.

Kemudian kawanan berandal itu berkerumun mengurung Tie Hong Liu, yang menjadi seperti saksi atau wasit.

Mulanya pihak Shoatang majukan jagonya, disusul sama jago pihak Hoopak; mereka ini bertubuh besar dan kasar, terang mereka bertenaga besar, maka itu, perkelahian mereka seru. Pihak Hoopak kurang waspada, satu kali kakinya kena direngkas, dia jatuh, rubuh terbanting. Dia hendak bangun, untuk berkelahi pula. Tapi Tie Hong Liu, sang wasit, goyangi tangan padanya dan tulisan huruf "Lou" (Shoatang) pada peti pertama yang bertanda huruf "Kak", itu berarti pihak Shoatang yang rebut kemenangan pertama.

Pertandingan ini disambut dengan tampik-surak. Sebagai jagonya yang kedua, pihak Hoopak majukan seorang yang See Thian Kong kenal sebagai ahli tangan- pasir Tiat-see-ciang, maka itu, ia suruh ketua mudanya, Tam Ceecu, untuk layani musuh itu.

Kedua jago tak berbeda banyak kepandaiannya, tapi Tam Hu-ceecu lebih terlatih, selang beberapa puluh jurus, dia berhasil hajar lengan lawan hingga lengannya jago Hoopak itu tak dapat diangkat. Maka untuk kedua kalinya, pihak Shoatang yang menang.

Bukan main girangnya pihak Shoatang. Tapi di babak ketiga, keempat, kelima dan keenam, mereka kalah dengan beruntun, hati mereka juga goncang.

Kapan sampai waktunya babak ketujuh, kedua jago yang maju masing-masing bekal senjata.

Di pihak Shoatang maju ceecu dari Sat Pa Kong, bukit Sembelih Macan Tutul, yang bergegaman golok besar Poat- hong Kiu-hoan-too. Dia ini gagah, dia berhasil membacok sebelah bahu lawannya.

Melihat sampai di situ, Tie Hong Liu berpikir. Peti tinggal tiga buah, apabila ia tidak lantas turun tangan, dia bisa kehabisan, dia bakal dapat tangan kosong, maka ia ingin majukan orangnya sendiri guna layani pihak Ceng Tiok Pay. Dia anggap cukup asal ia dapatkan satu peti saja....

"See Lautee," kata dia pada See Thian Kong, sesudah dia berdehem-dehem, "pihak sana itu, makin lama jadi makin hebta, maka itu kali ini, biarlah aku yang sambut padanya."

See Thian Kong mengerti, wasit ini tak boleh pulang dengan tangan kosong, ia suka mengalah.

"Aku harap bantuan Tie Chungcu untuk lindungi nama baik kita," katanya. Tapi kapan telah sampai waktunya pihak Ceng Tiok Pay majukan jagonya, chungcu dari Cian-liu-chung jadi melongo, ia berdiri tercengang. Karena yang maju itu adalah A Kiu, si nona muda, yang umurnya tidak lebih dari lima-belas atau enam-belas tahun! Dan tangannya pun tidak menyekal senjata tajam, melainkan dua batang bambu yang kecil.

"Aku adalah satu jago Rimba Persilatan, mana dapat aku perhina diri dengan layani satu nona cilik?" pikir dia. Dia sudah maju beberapa tindak, atau mendadakan dia merandek, lantas dia kembali.

"Lautee, kau majukan lain orang saja," katanya pada See Thian Kong. "Aku nanti maju di babak lainnya. "

See Ceecu tahu, chungcu itu tidak mau lawan satu nona, maka ia serukan orang-orangnya: "Saudara yang mana yang mempunyai kegembiraan hati akan temani nona kecil itu memain?"

Segera maju satu orang yang tubuhnya tinggi dan romannya gagah, mukanya putih, senjatanya sepasang poan-koan-pit, gegaman mirip pit peranti menotok jalan darah. Dialah Cin Tong, ceecu dari Uy Sek Po, dia gemar pelesiran, dari itu dia ketarik sama si nona Thia, yang romannya cantik manis dan menggiurkan. Dia maju sambil menyahuti seruannya See Thian Kong.

Melihat orang yang maju itu, See Ceecu bersenyum. "Memang, di antara kita, lautee adalah yang paling

cocok!" katanya.

Cin Tong hendak banggakan kepandaiannya, dia berlompat ke depan si nona. Dia benar-benar bertubuh enteng, gesit sekali gerakannya. Diapun telah pikir untuk bicara dengan nona itu, untuk membikin senang hati si nona. Tapi, Baru saja ia menaruh kaki, atau tangannya A Kiu telah bergerak, bambu di tangan kanannya sudah sambut ia dengan satu tusukan, yang arah dadanya. Dia satu ahli menotok jalan darah, sudah wajarnya dia gesit, akan tetapi sekjarang, dipapaki secara demikian, dia terkejut sekali, tidak ayal lagi, dia menangkis dengan poankoanpit kiri. Tapi menyusul tangan kanannya itu, tangan kiri si nona menusuk secara cepat luar biasa sampai, saking sibuk, ceecu ini mesti tolong diri dengan jatuhkan tubuhnya untuk terus bergulingan di tanah, hingga kepalanya penuh debu, hingga dia keluarkan keringat dingin.

Semua berandal dari Shoatang terperanjat, mereka tak menyangka nona itu begitu muda tapi demikian liehay, malah Sin Cie dan Ceng Ceng turut merasa heran juga, hingga kedua pemuda dan pemudi ini saling melirik.

Cin Tong sudah berlompat bangun, akan layani pula A Kiu, dengan begitu, keduanya sudah mulai bertempur, hingga tertampak lebih jauh, nona Thia telah gunakan dua batang bambunya bagaikan tumbak, gegamannya itu lemas tetapi bisa dibikin kaku.

Dalam tempo yang pendek, Cin Tong telah kena dibikin berpikir keras, sebab kadang-kadang ujung bambunya si nona juga mencari jalan darahnya. Dia pun pikirkan apabila dia tak sanggup rubuhkan si nona, bagaimana dengan nama besarnya di Shoatang sebagai seorang ceecu yang kesohor? Maka dalam sibuknya, dia bikin perlawanan dengan sungguh-sungguh.

A Kiu berkelahi secara luar biasa. Satu kali ia renggang dari lawan, dengan bambu kiri dia menekan tanah, lalu tubuhnya mencelat naik, berlompat ke arah musuh, bambu kanannya, dari atas, menyerang turun; kapan serangannya ini gagal, bambu kanan itu diteruskan dibikin mengenai tanah, hingga di lain saat, tubuhnya mencelat naik pula, hingga sekarang ia bisa menyerang pula dengan tangan kiri.

Tak tahu Cin Tong, bagaimana dia harus layani penyerangan macam ini, karena sibuk, dia terpaksa main menangkis saja sambil saban-saban mundur. Tetapi A Kiu terus desak dia, hingga dia jadi repot sekali dan berkuatir dia tak dapat ketika, untuk balas menyerang. Dalam repotnya, tahu-tahu ujung bambu telah mengenai bahu kirinya, di bagian jalan darah "kin-ceng-hiat", maka tak ampun lagi, lengan kirinya jadi kaku, poankoanpitnya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah, berbareng dengan itu, mukanya jadi bersemu merah! Mau atau tidak, dia mesti mengaku kalah, dia mundur sambil tunduki kepala....

A Kiu antapkan lawan itu mundur, dia berniat undurkan diri, tapi segera ia tampak Tie Hong Liu bertindak menghampiri padanya sambil jago dari Cian-liu-chung itu terus berkata: "Nona, tunggu dulu! Nona sungguh liehay, benar-benar, di bawahannya satu jenderal perang ternama, tidak ada serdadu yang lemah! Umpama kata nona masih belum letih, aku suka main-main denganmu beberapa jurus. Bagaimana?"

A Kiu tertawa gembira.

"Sebenarnya aku belum memain!" sahutnya. "Jikalau Tie Pehhu hendak berikan pengajaran kepadaku, itulah baik sekali. Pehhu hendak gunai senjata apa?"

Tie Hong Liu tertawa.

"Orang tua layani anak kecil memain, mustahil aku mesti pakai gegaman?" katanya. "Aku akan bertangan kosong!"

Hong Liu telah saksikan orang bertempur, ia terperanjat akan dapatkan nona muda itu demikian liehay, hingga ia percaya, disebelah si nona, dipihaknya nona ini, mesti ada lain-lain orang yang tak kurang liehaynya, maka itu, dari sungkan turun tangan, dia pikir baik ia mendahului maju, akan rintangi nona ini, asal dia telah dapati sebuah peti, urusan lainnya boleh lihat belakangan....

Di pihak Ceng Tiok Pay, tiga orang hendak majukan diri, karena mereka kuatir si nona menjadi terlalu lelah, akan tetapi A Kiu besar nyalinya, dia beri tanda kepada tiga kawan itu sambil berkata: "Aku telah beri kata-kataku kepada Tie Pehhu!" Maka itu, tiga orang itu terpaksa mundur pula.

Tie Hong Liu bertindak dengan perlahan menghampirkan si nona di tengah-tengah kalangan, sembari bertindak, dia telah kerahkan semangatnya, tenaga khie-kang, maka di lain saat, mukanya yang tadinya putih lantas saja berubah menjadi bersemu dadu.

Ceng Tiok saksikan perubahan muka itu, dia gapekan puterinya, atas mana, sambil berlompat, A Kiu hampiri sang ayah.

Segera Ceng Tiok bisiki gadisnya, siapa manggut- manggut, sesudah itu, si nona kembali ke dalam kalangan, di depan Hong Liu, dia membungkuk, untuk memberi hormat, habis itu, ia putar sepasang tumbak bambunya itu, untuk mengurung diri. Ia tidak segera menyerang.

Dengan tindakan ayal sekali, Hong Liu dekati si nona, lalu dengan sekonyong-konyong, ia menyerang.

A Kiu menangkis dengan pentang kedua tumbaknya, apabila ia sudah menarik pulang, lantas ia mulai dengan serangannya membalas, dimulai dengan tangan kanan, disusul sama tangan kiri, kemudian kedua batang bambu itu diteruskan, dipakai menyerang saling susul tak hentinya, ia mendesak bagaikan serangan badai. Di pihak Ceng Tiok Pay orang bertampik-surak melihat cara berkelahinya pahlawan mereka.

Tie Hong Liu berlaku tenang walaupun ia telah dicecar secara demikian, di lain bagian, mukanya jadi semakin merah dan semakin merah, hingga sinar merah itu sampai kepada batang lehernya, Ia masih main maju saja, kedua tangannya bergerak-gerak menghalau sesuatu tusukan. Ia bertubuh besar dan tangguh, hatinya mantap, disebelah ia ada satu nona muda, yang tubuhnya kecil-langsing, yang sedang hunjuk kegesitannya.

Sin Cie tonton pertempuran itu.

"Dia tua-bangka tetapi dia sudi layani satu nona-remaja," kemudian ia kata kepada Ceng Ceng, kawannya. "Kau lihat, dia berniat turunkan tangan jahat."

"Nanti aku tolong nona itu!" sahut Ceng Ceng. Sin Cie tertawa.

"Dua-dua mereka hendak rampas harta kita, untuk apa tolongi dia?" ia tanya.

"Tapi nona itu manis, dia sangat simpatik!" kata Ceng Ceng. "Baik kita tolong dia , urusan di belakang, ada lain. Toako, pergi kau yang turun tangan!"

Sin Cie tertawa pula, ia manggut-manggut.

Pertempuran masih berjalan, mukanya Hong Liu tetap merah, tapi cahaya merah itu sudah melulahan ke seluruh lengannya.

"Kalau sebentar cahaya merah itu sampai di tangannya, celakalah si nona," kata Sin Cie pada kawannya. Dia berlaku tenang, dia telah pikir bagaimana harus bertindak.

A Kiu telah berhasil menotok atau menusuk Hong Liu, sampai beberapa kali, akan tetapi ia tidak peroleh hasil

661 sebagaimana tadi ia lawan Cin Tong. Hong Liu tidak perdulikan serangan itu, ia tetap berlaku tenang, ia maju dengan perlahan, Cuma setiap herakannya jadi makin berat dan makin berat. Di samping dia, pada A Kiu pun terjadi perubahan karena ia ini sibuk sendirinya melihat serangan- serangannya yang tidak memberi hasil, walaupun ia bisa menusuk dengan tepat, hingga di lain saat, kegesitannya mulai berkurang, napasnya pun mulai memburu.

Thia Ceng Tiok pun telah perhatikan jalannya pertempuran.

"A Kiu, kembali!" ia teriaki gadisnya. "Tie Pehhu telah menang!"

Nona itu dengar kata, ia lantas putar tubuhnya, untuk mundur.

Tetapi Tie Hong Liu desak ia.

"Setelah kau tusuk aku berulang-ulang, kau masih berniat menyingkir?" dia membentak. Dia tetap bergerak ayal akan tetapi A Kiu toh seperti kena dikurung, ia tak dapat terus mundur.

Tangannya jago she Tie ini pun mulai merah sekarang.

Ceng Tiok ambil sebatang bamboo dari tangannya satu orangnya, dia serukan: "Semua berhenti!"

Justeru itu, See Thian Kong yang geraki kipasnya, maju, untuk serang ketua Ceng Tiok Pay ini, malah dia arah jalan darah, hingga mau atau tidak, Ceng Tiok mesti tangkis serangan mendadak ini. Malah ia mesti melayani terus, hingga ia tak bisa pecah tubuh, untuk tolongi puterinya. Ia tahu, orang she See ini liehay, ia mesti waspada.

Di pihak sana, A Kiu sudah mandi keringat, bertetes- tetes, air keringat jatuh dari kepalanya, sedang kedua tangannya sangat repot membela diri dari desakannya Hong Liu.

Sekonyong-konyong saja Sin Cie menjerit-jerit bagaikan orang edan-tolol: "Ayo! Tolong! Tolong!" Dan kudanya kabur ke tengah kalangan, kea rah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, hingga mereka ini, mau atau tidak, mesti pisahkan diri.

Sin Cie bercokol di atas kuda dengan tubuh limbung, kedua tangannya dipakai memeluki leher kuda, agaknya ia seperti mau jatuh, akan tetapi, sesudah miring dan merosot ke bawah perut kuda, ia berhasil perbaiki diri, duduk pula di atas bebokong kudanya. Kuda itu sendiri terus berlarian, seperti lagi kalap. Kemudian binatang itu lari ke arah A Kiu dan Hong Liu, hingga sekejab saja, dia telah pisahkan kedua orang yang lagi bertempur seru itu, malah sekarang, dia mau berhenti berlari-lari, berdiri di antara kedua musuh itu.

Sin Cie lekas-lekas merosot turun dari kudanya. "Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!" ia ngoceh

sendirinya. "Inilah yang dibilang lolos dari kematian...Eh,

binatang, apakah benar kau maui jiwanya majikanmu?"

Sementara itu, dengan jengah, A Kiu telah gunai kesempatan, untuk kembali ke dalam barisannya. Dalam keadaan seperti itu, Hong Liu tidak dapat kejar dia.

Tapi Thia Ceng Tiok sendiri tidak mau berhenti sampai di situ.

"See Ceecu, aku masih ingin belajar kenal dengan Im- yang Poo-sie!" ia tantang pula See Thian Kong.

"Ya, ini pun untuk pertandingan peti terakhir!" sahut orang she See itu. Maka tak tempo lagi, keduanya bertempur pula. Tadi mereka bertempur sampai beberapa puluh jurus tanpa ada keputusannya, sekarang ini mereka cari keputusan itu. Maka keduanya bertarung dengan hebat sekali.

Sepasang toya bamboo dari Thia Ceng Tiok ada panjang, permainan silatnya pun liehya, ia mmembuat lawannya dengan senjata kipasnya tak mampu dekati padanya.

Tatkala itu matahari yang merah sudah mulai doyong ke barat, beberapa rombongan gaok, dengan suaranya yang berisik, mulai terbang pulang ke hutan.

Setelah berjalan lagi beberapa puluh jurus, See Thian Kong mulai keteter, gerak-gerakan kakinya telah menjadi kacau.

Tie Hong Liu lihat keadaan itu, ia lantas berseru: "Kedua pihak sama tangguhnya, keputusan menang dan kalah sukar diambil, maka itu peti ini baiklah dibagi dua saja dengan rata!"

Justeru itu, Thia Ceng Tiok telah perdengarkan suara tawa yang panjang membarengi sapuan senjatanya yang istimewa itu.

Atas serangan ke bawah itu, See Thian Kong apungi diri untuk berlompat menyingkir, akan tetapi Ceng Tiok berlaku sangat sebat, setelah gagal sapuan yang pertama, ia ulangi itu selagi lawannya belum sempat injak tanah, dari itu tak ampun lagi, sebelah kakinya lawan itu kena tersapu, tubuhnya menjadi limbung, lantas saja dia rubuh.

Sesudah sang lawan jatuh, Thia Ceng Tiok tidak menyerang lebih jauh, dia malah tarik pulang senjatanya. Tapi See Thian Kong telah kertak gigi saking malu dan mendongkol, sambil rebah ia tekan pesawat rahasia pada kipasnya itu, yang ia tujukan ke bebokongnya si orang she Thia, yang telah memutar tubuh, maka lima batang paku rahasia lantas menyerang ketua dari Ceng Tiok Pay itu tanpa dia ini ketahui atau sempat berkelit, hingga semua lima-limanya paku nancap di bebokongnya itu.

Ceng Tiok kaget, apapula kapan ia rasai bebokongnya lantas ngilu dan baal, insyaf pada bahaya, ia segera menahan napas, ia tak mau bicara, kemudian dengan satu lompatan, ia dekati lawannya itu yang curang, untuk totok dia dua kali dengan ujung galanya. Ia arah perut lawan, ia telah gunai sisa tenaganya, atas mana, See Thian Kong semaput seketika itu juga.

Sejumlah berandal dari Shoatang hunus senjata mereka, mereka maju untuk tolongi ketua mereka, akan tetapi belum sampai mereka datang dekat, Thian Ceng Tiok sudah tak kuat pertahankan diri, dia rubuh celentang. Hebat adalah kesudahan dari itu, sebab lima batang paku rahasia di bebokongnya mengenai tanah, hingga dia jadi tertumblas lebih dalam.

A Kiu lompat kepada ayahnya, untuk mengasih bangun.

Melihat tubuhnya ketua mereka, yang tak ketahuan masih hidup atau sudah terbinasa, orang-orang Ceng Tiok Pay jadi kalap, tidak ayal lagi, mereka maju menyerang rombongan berandak dari Shoatang itu, hingga mereka jadi bertempur secara hebat dan kalut.

"Lekas suruh saudara-saudara itu berhenti bertempur!" serukan Tie Hong Liu kepada hu-ceecu dari Ok Hou Kau, yang lengannya ia sambar.

Tam Hoo-ceecu menurut, ia perdengarkan terompetnya.

Titah ini ditaati kawan-kawan, sekejab saja semua berandal dari Shoatang undurkan diri. Pihak Ceng Tiok Pay juga bunyikan pertandaan mereka, yang membikin anggauta-anggauta mereka mundur juga.

Itulah A Kiu, yang beirkan tandanya, karena itu waktu, ia dapatkan ayahnya sudah sadar, hingga ia anggap, satu pertarungan kacau balau tidak ada faedahnya, sedang juga pihak sana sudah bunyikan terompet.

Tie Hong Liu lantas majukan diri, akan berdiri di tengah- tengah kedua pihak.

"Baiklah kedua pihak jangan merusak perdamaian!" dia berseru. "Mari kita mulai membagi bagian! Tentang perselisihan, kita akan damaikan secara perlahan-lahan!"

Tam Hoo-ceecu segera perdengarkan suaranya: "Peti terakhir ini ada bagian kami!"

"Muka tebal!" berseru pihak Ceng Tiok Pay. "Sudah kalah bertempur, masih berlaku curang! Apakah ini namanya satu enghiong?"

Kedua pihak lantas saling damprat, lalu akhirnya mereka hunus pula senjata masing-masing.

"Baiklah, peti itu dibuka, isinya dibagi rata!" lagi-lagi Tie Hong Liu berseru.

Ata situ, orang-orang kedua pihak hendak maju berbareng.

"Tunggu dulu!" A Kiu berseru. "Peti yang kedelapan akulah yang menangkan akan tetapi aku tak inginkan itu, aku hendak hadiahkan kepada itu tuan tetamu! Aku larang siapa juga raba peti itu!"

"Eh, kenapa begitu?" tanya Tie Hong Liu.

"Apabila kudanya dia itu tidak binal, pasti aku telah rubuh di tangan kau, Tie Pehhu," sahut si nona. "Maka hendak aku menghadiahkannya kepadanya!"

666 Tie Hong Liu tertawa.

"Nyata kau kenal budi-kebaikan!" kata dia. "Baik, kau ambillah itu! Ingat, semua peti sudah ada tandanya, jangan salah ambil!"

Selagi orang hendak angkut peti-peti, mendadak Sin Cie berseru: "Hai, tuan-tuan, kamu hendak perbuat apa?" demikian suaranya.

A Kiu tertawa cekikikan.

"Eh, kau masih belum tahu?" katanya. "Kita hendak angkut peti-peti itu!"

"Oh, begitu?" kata Sin Cie. "Tak sanggup aku terima budi-kebaikan itu! Kamu lihat sendiri, aku telah sewa kereta yang besar untuk mengangkutnya!..."

"Tetapi kita bukannya hendak tolongi kau mengangkutnya!" kata A Kiu, yang tertawa pula. "Kita hendak mengangkut untuk kita sendiri!..."

"Hei, inilah aneh!" seru Sin Cie. "Peti ini toh kepunyaanku?"

Lalu terdengar ejekannya seorang Shoatang: "Ini anak muda bangsawan cuma kenal gegares, buat apa dia banyak omong?" Dan dia maju, untuk angkat peti yang menjadi bagiannya.

"Eh, tunggu dulu!" Sin Cie mencegah. "Tak dapat kau ambil ini!"

Ia terus loncat naik ke atas peti itu, ketika sebelah kakinya digeraki, orang itu, yang tubuhnya besar, terpelanting rubuh! Ia pun lantas menjerit-jerit: "Tolong! Tolong!" Tubuhnya sendiri limbung, seperti yang hendak terpelanting dari atas peti. A Kiu sangka orang ini semberono, dia lompat maju untuk sambar tangan orang, guna ditarik, dan cegah dia itu jatuh, separuh mengomeli, dia kata: "Ah, kau sangat semberono!. "

Kawanan berandal menyangka pemuda ini benar-benar semberono, bahwa tendangannya tadi bukan disengaja, dari itu, mereka hendak maju pula, guna ambil peti bagian mereka masing-masing.

"Sabar, sabar!" Sin Cie berseru pula, seraya ia ulap- ulapkan kedua tangannya. "Tuan-tuan hendak ambil semua petiku ini, hendak diangkut kemanakah?"

"Kami hendak bawa pulang masing-masing!" jawab A Kiu.

"Habis, bagaimana dengan aku?" tanya Sin Cie pula, dengan sikapnya tolol-tololan.

"Hai, mengapa kau begini bodoh?" kata si nona sambil tertawa. "Baiklah kau lekas berangkat pulang, jangan kau mencoba antari jiwamu di sini. "

"Kau benar juga," jawab Sin Cie seraya manggut. "Baiklah, aku nanti bawa pulang sepuluh petiku ini. "

Tapi sikapnya ini membuat gusar orang yang tadi ia kena tendang.

"Kau pergilah!" dia membentak seraya dia tolak pundaknya si pemuda.

Tapi, belum dia tutup mulutnya, atau tahu-tahu bebokongnya telah kena dijambak Sin Cie, dengan satu semparan saja, tubuhnya terlempar ke atas sebuah pohon, hingga dia mesti rangkul cabang-cabang pohon itu apabila ia tak ingin terjatuh. Saking ketakutan, dia lantas menjerit- jerit. Baru sekarang semua penjahat melongo, karena nyatanya, pemuda tolol itu berkepandaian tinggi.

Ketika itu, Thia Ceng Tiok telah sadar benar-benar, ia insyaf lukanya hebat, maka ia sudah pikir untuk angkat kaki dengan bawa peti-peti bahagian pihaknya sendiri, akan tetapi kapan ia saksikan liehaynya si anak muda, ia terperanjat.

"Mari!" ia panggil A Kiu, gadisnya, kepada siapa ia terus berbisik. "Jangan pandang enteng pada dia itu, kau waspadalah."

A Kiu manggut. Ia pun memang merasa heran.

Segera setelah itu, terdengar suaranya si anak muda: "Kamu kedua pihak sudah berkelahi setengah harian! Kamu perebuti petiku, di atas itu kamu tuliskan tanda huruf-huruf, maka sekarang hendak aku hapuskan semua tanda itu!"

Sambil tertawa besar, pemuda ini sambar satu orang yang berdiri paling dekat dengan dia, dia tekan jalan darah orang hingga orang itu menjadi mati kutunya, dari itu dengan gampang ia angkat melintang tubuhnya, buat dibawa jalan mengitari semua petinya, buat pakai tubuh atau bajunya untuk menghilangkan semua coretan huruf- huruf di atas peti, kemudian dengan kedua tangannya, ia lemparkan tubuh itu ke atas pohon!

Kawanan dari Shoatang menjadi gusar, mereka maju, akan serang anak muda ini, akan tetapi si anak muda dengan sabar layani mereka, tidak peduli ia bertangan kosong, tujuh atau delapan penyerangnya dengan gampang kena dibikin terpelanting rubuh. Setelah ini, semua penyerang mundur sendirinya. Sebab dua-dua See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok terluka parah, mereka lantas hadapi Tie Hong Liu. "Kiranya tuan satu ahli silat!" kata ketua dari Cian-liu- chung akhirnya. "Apakah tuan sudi beritahukan aku she dan namamu dan kau murid siapa?"

"Aku she Wan dan guruku Ong Lie Su Ong Lo-suhu," sahut Sin Cie. "Guruku itu ahli urusan kitab-kitab dan ia paling faham kedua kitab Lee Kie dan Cu Ciu. Ada lagi satu guruku ialah Lie Losuhu yang biasa ajarkan aku ilmu karang-mengarang. "

"Cukup!" memotong Tie Hong Liu. "Sekarang ini bukan waktunya bicara tentang pelbagai kitab dan ilmu mengarang! Sekarang sebutkan saja tentang gurumu, supaya kalau kita mempunyai hubungan satu sama lain, kita mesti hormati persahabatan. "

"Itulah bagus sekali!" kata Sin Cie dengan cepat. "Sekarang sudah tidak siang lagi, silakan, silakan! Kami hendak berangkat. "

Hau Ceecu dari Sat Pa Kong tidak sabaran, mendengar ocehan si anak muda, ia ayun goloknya yang besar, dipakai menabas anak muda ini. Ia telah menyerang dengan "Hong sau pay yap" atau "angin menyapu daun rusak".

Sin Cie berkelit untuk serangan itu, golok lewat di sampingnya dimana Tie Hong Liu berdiri, hingga ketua dari Cian-liu-chung ini yang terbabat, akan tetapi orang she Tie ini liehay, dengan gunai dua jari tangannya, telunjuk dan tengah, dia jepit bebokong golok, dia menahan, lantas bacokan itu berhenti sendirinya.

Mukanya Hau Ceecu menjadi merah, tetapi si orang she Tie ini cuma bersenyum, terus saja dia menoleh kepada Sin Cie dan kata: "Dengan kepandaianku ini, bukankah ada harganya untuk aku mendapati salah satu petimu?"

"Apakah namanya kepandaianmu ini?" tanya Sin Cie. "Inilah ilmu silat Kepiting Menjepit," sahut Hong Liu. "Jikalau kau pun mengerti ilmu silat ini, Baru aku takluk kepadamu. "

"Apa sih cepit kepiting, cepit kura-kura? Belum pernah aku lihat!" ujar si anak muda.

Tie Hong Liu jadi gusar.

"Bukankah aku telah jepit golok yang lagi menyambar?" tanyanya. "Apakah kau buta melek?"

"Oh, begitu?" jawab Sin Cie dengan tenang. "Tapi kamu berdua bersekongkol, apa anehnya? Adik Ceng, mari! Mari kita main-main sebentar!"

Ceng Ceng tertawa geli, ia jumput sebatang golok, yang terletak di tanah, lalu ia mengancam hendak membacok si anak muda, ketika golok dikasi turun, ia sengaja turunkan ayal-ayalan, hingga secara gampang saja, Sin Cie bisa tanggapi itu, atas mana kawan itu berpura-pura kerahkan tenaga, untuk berontak, buat loloskan golok dari jepitan, tapi walaupun sampai ia berjingkrakan, golok masih tak dapat diloloskan.

A Kiu tertawa melihat dua orang itu permainkan Tie Hong Liu, ia anggap pemandangan itu lucu. Malah kedua pihak berandal turut tertawa juga, suara mereka riuh- rendah!

Bukan kepalang mendongkolnya Tie Hong Liu yang dua anak muda berani permainkan ia secara demikian - ia juga dibuat bahan lelucon - maka dengan tiba-tiba ia sambar golok besar di tangannya Hau Ceecu dari Sat Pa Kong, untuk angsurkan itu kepada si anak muda sambil terus menantang: "Nah, kau cobalah bacok aku, pasti kali ini aku tidak berkongkol!" "Baik, aku nanti bacok kau!" Sin Cie jawab. "Tapi ingat, apabila aku bunuh orang sampai mati, tak usah aku ganti jiwa!"

"Baik! Hati-hatilah, golok datang!" berseru Sin Cie, yang terus saja putar tangannya untuk membabat dengan tiba- tiba.

Hong Liu bertambah gusar, ia lupa segala apa.

"Siapa juga yang terbinasa, dia tak usah diganti jiwanya," ia berikan perkataannya.

Tie Hong Liu kaget bukan main, ia tak mengira golok bisa dipakai menyerang secara demikian, walau ia sangat awas dan gesit dan bisa berkelit, tidak urung ia masih kalah sebat, hanya untung bagi ia, yang terbabat kutung adalah kopiahnya saja.

Oleh karena anggap pemandangan itu lucu, semua berandal tertawa berkakakan.

Sin Cie pun tertawa.

"Mana cepit kura-kuramu - eh, cingkong kepiting?..." Pemuda ini tidak cuma tertawa, tapi juga menanya,

hanya belum sampai dia menutup mulutnya atau dia telah menyerang pula, kali ini bacokannya dari atas turun ke bawah.

Hong Liu berkelit sambil berlompat, tapi ia masih kurang gesit, karena sesampainya di bawah, goloknya disimpangkan sedikit, hingga sebagai kesudahan, sol sepatunya kena terpapas kutung, hingga karenanya, ia kaget berbareng gusar.

"Aku mengerti sekarang!" berseru Sin Cie. "Terlalu tinggi salah, terlalu rendah salah juga, dan terlalu cepat pun kau gagal! Baiklah, aku akan menyerang di sama tengah, dengan perlahan. "

Dan benar-benar ia membacok pula, dengan perlahan, seperti Ceng Ceng tadi.

Hong Liu sodorkan tangannya yang kiri, untuk jepit golok itu, selagi berbuat demikian, dia memikir akan gunai tangan kanannya, untuk membarengi menyerang dengan cepat, supaya ia bisa ajar adat kepada anak muda ini. Akan tetapi dia berpikir demikian, orang lain juga berpikir lain. Di saat goloknya hampir dijepit, dengan mendadak saja Sin Cie balik goloknya bagian yang tajam lalu ia menarik, maka tidak ampun lagi, dua jari tangannya orang she Tie ini kena tergurat, darahnya lantas mengucur, coba dia tidak cepat menarik pulang, dua jarinya itu tentulah bakal sapat kutung!

"Bagus!" A Kiu berseru sambil tepuk tangan.

"Tikus!" membentak Hong Liu saking gusar. "Kau berani main-main denganku!"

Sin Cie tidak menjawab, hanya dia lemparkan golok di tangannya itu. Tapi dia melempar kea rah pohon dimana tadi dia lemparkan orang, orang itu lagi pegangi satu cabang, untuk meroyot turun, tepat sekali, golok itu mengenai cabang tersebut, hingga cabang itu kutung, hingga karenanya, orang itu jadi jatuh terguling!

Semua orang kaget dan kagum, suara mereka berisik.

Selagi begitu, Sin Cie hampirkan petinya, untuk dilemparkan, satu persatu dan disusun, maka di lain saat, semua peti telah merupakan satu tumpukan tinggi beberapa tumbak.

"Aku suka main-main denganmu tetapi hatiku tidak tenteram," katanya kepada Tie Hong Liu. "Kamu semua

673 bangsa bangsat, aku hendak cegah kamu selagi aku berkelahi, nanti kamu rampas peti ini!" Lantas saja ia lompat naik ke atas susunan peti itu, dari mana sambil memandang ke bawah, ia menantang: "Mari naik, di sini kita main-main!"

0o-d.w-o0