-->

Pedang Ular Emas Bab 13

Bab ke 13

Ceng Ceng tidak bisa main tiokie, setelah menonton sekian lama, ia jadi kehilangan kegembiraannya, sedang waktu itu, ia masih menderita dari lukanya, dari lesu, ia jadi ngantuk, akhirnya ia taruh kepalanya diatas meja dan pulas sendirinya.

"Nona Ciau, pergi kau pepayang ia untuk ia tidur dikamarmu," kata Bhok Siang Toojin pada Ciau Wan Jie.

Mukanya Nona Ciau menjadi merah dengan tiba-tiba, ia berpura-pura tak dengar imam itu. Didalam hatinya, dia kata: "Kenapa tootiang ini jadi seperti orang tidak keruan omongannya?"

Bhok Siang lihat sikap orang, ia tertawa berkakakan. "Dia pun satu nona, kau malu apa?" kata dia pula. "Bagaimana, Wan Siangkong?" akhirnya Wan Jie tanya

si anak muda.

Sin Cie pun tertawa, tapi ia lekas menyahuti: "Benar, dia pun satu nona. Tidak leluasa untuk ia berkelana, dari itu ia menyamar."

Wan Jie percaya anak muda itu, ia tertawa, lantas ia pegangi Ceng Ceng, untuk diangkat bangun, buat dipepayang kedalam kamarnya.

Nona Hee mendusin.

"Aku tidak ngantuk, aku masih hendak menonton," katanya. Tapi ia tidak buka matanya, ia meram terus, tandanya ia masih ngantuk.

571 Wan Jie terlebih muda, akan tetapi ia biasa ikuti ayahnya, ia sudah berpengalaman.

"Baik encie beristirahat dulu, sebentar nonton lagi," ia membujuk. Ia pepayang terus tetamu itu, sampai didalam kamarnya, ia buka kopiahnya Ceng Ceng, maka ia lihat rambut yang panjang dan hitam mengkilap, ditengahnya ditancapi dua potong tusuk konde.

Sin Cie layani gurunya dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dua kali dia jalan keliru. Ia ingat tantangannya Kwie Jie-so untuk besok malam, pikirannya jadi tidak tenteram. Bagaimana ia harus layani enso yang aseran itu? Ia mencoba akan tenangkan diri. Tiba-tiba ia ingat suatu apa.

"Tootiang, cara bagaimana kau ketahui dia seorang wanita?" Tanya dia akhirnya.

Bhok Siang Toojin tertawa.

"Bersama-sama dengan Siokhumu itu, pada lima hari yang sudah telah aku bertemu denganmu," menyahut guru ini. "Aku ingin ketahui kemajuan bugeemu dan tingkah- lakumu juga, dari itu sengaja aku tidak mau lantas perlihatkan diri. - Kau hati-hati, aku hendak makan bijimu ini....." Ia lantas jalankan sebuah bijinya. Lalu ia menambahkan: "Kepandaianmu telah jadi apa yang dibilang, hijau itu asalnya dari biru, akan tetapi mungkin kau belum bisa lombai gurumu, hanya aku si imam tua, aku bukanlah tandinganmu."

Sin Cie lekas berbangkit dengan sikapnya yang sangat menghormat.

"Tapi semua itu berkat pengajaran suhu dan tootiang," kata ia. "Selama beberapa hari ini, umpama tootiang mempunyai waktu yang luang, teecu harap tootiang sudi ajari pula aku beberapa rupa ilmu pukulan lainnya." Imam itu tertawa.

"Sampai sebegitu jauh, selama kau temani aku main tiokie, belum pernah tempo itu dilewatkan dengan cuma- cuma," kata dia. "Habis apa lagi aku mesti ajari kau? Kepandaianmu sudah menyusuli kebisaanku. Justeru kaulah yang mesti ajarkan beberapa jurus kepadaku! - Ha- ha bentengmu kena aku serbu!"

Imam ini girang sekali.

"Kepandaian yang tinggi memang sukar didapatkannya," berkata ia pula. "Akan tetapi dalam halnya kau, sifatmu baik sekali, itulah terlebih sukar untuk didapatinya. Kau masih muda sekali akan tetapi hatimu lurus, terhadap kawan wanita, kau berlaku tepat dan hormat, atas itu aku dan Cu Siokhumu sangat kagumi kepadamu!"

Sin Cie jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah, ia rasakan panas. Apakah tak mungkin, imam ini telah lihat bagaimana ia bergaul rapat sekali dengan Ceng Ceng? Ia malu sendirinya, kenapa imam itu bisa intip ia tanpa ia dapat ketahui. Itu menyatakan ilmu entengkan tubuh dari ini guru tak resmi sangat tinggi.

Ketika itu keduanya berhenti bicara, ruangan jadi sangat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara perlahan di luar ruangan. Sin Cie tahu sedikitnya datang tiga orang entah siapa, akan tetapi karena Bhok Siang Toojin diam saja, ia pun tidak ambil sesuatu tindakan, ia melanjuti jalankan biji-biji caturnya seperti si imam sendiri.

"Sepak-terjangnya Jiesusomu barusan aku telah dapat lihat," berkata Bhok Siang kemudian. "Kau jangan kuatir, besok aku nanti bantu kau untuk menghadapi dia."

"Justeru tak ingin teecu turun tangan terhadapnya," Sin Cie kata. "Paling baik apabila tootiang bisa damaikan kita." "Kau takut apa?" Bhok Siang bilang. "Kau lawan, kau hajar padanya! Umpama gurumu tegur padamu, katakan saja, aku yang anjurkan kau hajar padanya!"

Menyusul kata-katanya si imam, dari atas genteng loncat turun empat orang pula yang dibarengi dengan empat buah piau menyambar ke arah Bhok Siang Toojin dan Sin Cie berdua.

Imam itu geraki kedua tangannya kebelakang, dengan gapah ia tanggapi empat batang senjata rahasia itu, lalu dengan tidak dilihat lagi, ia letaki itu diatas meja.

Tujuh orang diluar itu menjadi gusar, dengan berbareng mereka singkap sero untuk lompat masuk kedalam ruangan. Mereka semua menyekal senjata, agaknya mereka berniat menyerang.

"Bisa apa tidak kau makan ini tujuh biji semuanya?" si imam tanya kawan main catur itu.

"Teecu akan coba-coba," sahut Sin Cie yang mengerti masuk perkataan itu.

Sementara itu, dua dari tujuh orang tidak dikenal itu hampirkan Tiang Pek Sam Eng, untuk kasi bangun pada mereka itu, dan lima yang lain maju terus kepada dua orang yang asik main catur itu, untuk serang mereka ini dengan golok dan pedang.

Sebat luar biasa, Sin Cie raup biji catur, terus ia menyambit kebelakang, hingga sambaran anginnya terdengar nyata, menyusul mana tujuh orang itu mendadakan rubuh terjungkal, senjata mereka terlepas dan jatuh kelantai dengan terbitkan suara nyaring dan berisik.

Wan Jie Baru selesai urus Ceng Ceng, ia dengar suara berisik itu, ia kaget, ia lari keluar, maka ia saksikan Bhok Siang   Toojin   dan   Sin   Cie   sedang   asik   lanjutkan

574 permainannya, akan tetapi didalam thia itu, tujuh orang lain lagi meringkuk. Ia segera mengerti duduknya hal, tapi ia tidak mau ganggu dua orang itu, maka ia tepuk kedua tangannya tiga kali, atas mana muncullah enam orangnya. Dengan suara perlahan, ia suruh mereka ambil tambang, akan ringkus tujuh orang itu berikut Tiang Pek Sam Eng juga.

Selang setengah jam kemudian, Barulah dua orang itu akhirkan pertempuran mereka diatas papan catur, kesudahannya Sin Cie kalah tiga kali.

Bukan main girangnya si imam. "Dalam beberapa tahun ini, ilmu silat caturmu mundur, tak ada kemajuannya!" katanya.

"Dasar tipu-tipu tootiang yang liehay dan teecu tidak sanggup melawannya," Sin Cie aku.

Bhok Siang lantas menoleh kepada Wan Jie. "Nona, coba tolong geledah mereka!" ia minta.

Wan Jie menurut, akan tetapi ia tidak turun tangan sendiri, ia suruh orang-orangnya yang bekerja.

Sebagai kesudahan dari penggeledahan itu, kecuali senjata-senjata rahasia, diketemukan beberapa lembar surat serta beberapa buku kecil yang memuat pelbagai tanda rahasia. Salah satu surat itu adalah suratnya si pangeran Boan, Kiu-ong-ya To Jie Kun, untuk Sulee Thaykam Co Hoa Sun di kota raja. Kepada thaykam ini, thaykam, telah diberitahukan, oleh karena penjagaan di Sanhaykwan keras sekali, utusannya ini sampai mesti jalan mutar, dengan jalan laut. Kiu-ong-ya pesan, segala urusan besar, boleh didamaikan dengan pembawa suratnya itu, bernama Ang Seng Hay.

Bhok Siang gusar apabila ia ketahui siapa mereka itu. "Semakin lama kawanan dorna ini jadi makin bernyali besar!" katanya dengan sengit. "Hm! Di hadapanku mereka berani mencoba merampas orang!"

Masih imam ini sengit, hingga ia dupak kepalanya satu orang tangkapan, hingga tidak ampun lagi, kepala itu pecah, polonya berantakan.

Masih Bhok Siang hendak menendang pula tapi Sin Cie mencegah.

"Sabar, tootiang. Mungkin mereka itu ada faedahnya untuk kita. Nanti teecu periksa mereka."

Bhok Siang demikian mendongkol, hingga ia hendak robek-robek surat itu.

"Jangan, tootiang," Sin Cie mencegah pula.

"Baik aku suka dengar kau," kata si imam kemudian. "Tapi ingat, besok kau mesti layani aku main lagi sampai tiga babakan!"

"Asal tootiang mempunyai kegembiraan, sampai sepuluh babak pun boleh," jawab Sin Cie.

Ia sukai imam ini tak perduli tabeatnya aneh.

Sampai disitu, Wan Jie undang imam itu pergi beristirahat, untuk mana, satu bujang layani dia.

Sin Cie perhatikan surat-surat dan buku itu, mendadakan ia dapat pikiran.

"Sakit hatinya ayahku belum terbalas, surat-surat ini seumpama hadiah Thian kepadaku," demikian ia pikir. "Baik aku nelusup masuk kedalam istana raja, untuk wujudkan pembalasanku."

Tidak ayal lagi, ia totok sadar satu orang. "Katakan padaku, yang mana diantara kamu yang bernama Ang Seng Hay?" Tanya dia.

Orang itu menunjuk salah satu kawannya, yang berumur tiga-puluh lebih, yang romannya cakap.

Sin Cie lantas totok sadar orang she Ang itu. "Kau beri keterangan padaku," ia kata.

Ang Seng Hay berkepala batu, ia tidak suka bicara.

Anggap orang tak suka bicara karena mereka bicara didepan satu kawannya, Sin Cie perintah orang angkat Seng Hay untuk dibawa kekamar tulis.

"Kau adalah utusan Kiu-ong-ya, kau mestinya satu laki- laki sejati," kata dia. "Aku hendak minta keterangan dari kau, maka aku Tanya satu, kau mesti jawab satu. Jikalau kau tetap tidak hendak bicara, aku nanti tahan terus padamu sampai beberapa hari, supaya kau nanti mati secara perlahan-lahan!"

Ang Seng Hay murka.

"Imammu itu gunai ilmu siluman, walaupun binasa, aku tidak puas!" kata dia.

"Rupanya kau anggap bugeemu liehay," Sin Cie bilang. "Kau dengar aku! Kau orang Han, kau kesudian menjadi kacung Boan, itu artinya dosa untuk mana pantas kau mendapat hukuman, bagianmu adalah kematian. Kau tidak puas, baik, mari, aku nanti layani kau piebu! Tapi ingat, satu kali kau kalah, kau mesti jawab aku dengan sebenar- benarnya, jangan ada yang kau sembunyikan! Akur?"

Sin Cie hendak uji kepandaiannya, ia harap nanti ia bisa pakai tenaganya orang ini.

Ang Seng Hay girang dengan tawaran itu. Didalam hatinya, ia pun berkata: "Entah kenapa tadi, tahu-tahu aku

577 merasai jalan darahku tertotok, lantas aku rubuh. Mungkin itu karena si imam telah gunai ilmu gaibnya. Sekarang si imam tidak ada, anak muda ini mana dapat menjadi tandinganku? Baik aku terima tantangannya!"

Lantas saja ia menjawab: "Baik! Asal kau sanggup kalahkan aku, apa juga yang kau tanyakan, aku nanti jawab!"

Tanpa sangsi lagi, Sin Cie hampirkan orang tawanannya itu, untuk bukakan tambang belengguannya. Ia membuka dengan jalan putuskan tambang itu, agaknya ia cuma pakai tenaga sedikit sekali.

Seng Hay heran, hingga ia terperanjat. Ketika tadi ia Baru diikat, ia telah mencoba kerahkan tenaganya, untuk berontak, buat loloskan diri dari belengguan dengan jalan amuk putus tambang itu, tetapi ia tidak berhasil, bukan saja tambang tidak putus malah ia merasa, ikatannya jadi semakin keras, siapa tahu sekarang, secara sembarangan saja, anak muda ini dapat bikin putus tambang itu. Tanpa merasa, ia jadi jeri sendirinya.

"Kau hendak piebu cara apa?" bertanya dia. "Mari kita pergi keluar. Kau hendak gunai senjata tajam atau kepalan saja?"

Sin Cie tertawa.

"Aku timpuk kau dengan biji catur, kau sangka si imam gunai ilmu gaib!" katanya. "Melihat caranya kau lompat masuk kedalam thia tadi, kau mungkin satu ahli lweekee."

Kembali Seng Hay heran. Ia ingat, ketika tadi ia menerjang masuk ke thia, dua-dua pemuda ini dan imam tidak menoleh untuk awasi dia, maka kenapa orang justeru bisa lihat dia dan segera kenali cara bergeraknya itu. Tapi ia manggut, untuk benarkan pernyataan itu. "Karena itu," berkata Sin Cie, "mari disini saja kita main saling tolak."

"Baik," sahut Seng Hay tanpa ragu-ragu. "Apakah aku boleh dapat ketahui she dan nama besar tuan?"

Sin Cie tertawa.

"Kau tunggu saja sampai kau nanti sudah dapat menangkan aku, nanti aku sendiri yang memberitahukan," jawabnya.

Seng Hay manggut.

"Silakan!" kata dia, yang terus pasang kuda-kudanya dengan kedua tangan dibawa kedepan dada. Tubuhnya sedikit doyong kedepan.

Sin Cie tidak lantas terima tantangan itu. Ia hanya gosok bak, ia siapkan selembar kertas.

"Aku nanti menulis disini," katanya. "Kau tahu, apa yang aku akan tulis? Itulah syairnya Tou Kong-pou, syair "Peng Kie Hang"."

Seng Hay heran. Orang ajak dia piebu, habis orang hendak tulis surat dulu. Maka ia lantas saja ambil tempat duduk, niatnya untuk menantikan.

"Eh, kau jangan duduk!" Sin Cie mencegah. Ia ulur tangan kirinya. "Sekarang aku hendak menulis, selagi aku menulis, kau dorong tanganku ini. Umpama kata tangan kananku tergerak dan tulisannya jadi mengok atau tak keruan macam, aku anggap kau yang menang, segera kau boleh angkat kaki dari sini. Tapi umpama kata aku berhasil menulis selesai syair yang panjang itu tetapi kau tetap tidak mampu tolak aku, kaulah yang kalah, maka itu, apa juga yang aku tanyakan, aku larang kau umpetkan walau sepatah kata juga!" Ang Seng Hay tertawa berkakakan.

"Bocah ini masih hijau, dia Baru pernah muncul dia tak tahu langit itu tinggi dan bumi tebal, hingga dia terlalu sombongkan bugee sendiri, lalu dia pandang sebelah mata kepadaku! Oh, mungkin ini disebabkan karena ia lihat aku beroman cakap dan bertubuh tidak kekar, hingga dia anggap aku tidak punya guna. Baik, aku nanti coba padanya." Maka ia terus jawab: "Aku lihat piebu seperti ini sangat tidak adil. "

Sin Cie tertawa.

"Tapi inilah buah-hasilnya usulku sendiri!" ia bilang. "Sekarang aku hendak mulai menulis, kau boleh maju!"

Lantas saja ia duduk menulis, mulanya tiga huruf " Kie lin lin."

Ang Seng Hay tidak bilang apa-apa lagi, ia terima baik piebu semacam itu. Ia pasang kuda-kudanya dengan tegak, lalu ia kumpulkan tenaganya pada kedua bahu tangannya. Habis itu, dengan gerakan "Pay san to hay" atau "Menolak gunung untuk menguruk lautan", ia menolak dengan keras dengan dua tangannya kepada tangan kirinya si anak muda yang diulur kebelakang, kearahnya. Sebab untuk menulis di meja, pemuda ini berdiri menghadapi meja, karena ia menulis dengan tangan kanan, tangan kirinya jadi dikeluarkan kesebelah belakang. Hingga sama sekali ia membelakangi lawannya itu.

Begitu lekas Seng Hay menolak dengan sekuat tenaga, Sin Cie egoskan tangan kirinya, maka lenyaplah tenaga mendorong orang she Ang ini. Ia jadi penasaran, untuk mendorong satu kali lagi, kedua tangannya dipasang diatas dan bawah, sebagai menjepit. Dengan gerakan ini, mungkin juga tangan kiri si anak muda kena tertekuk hingga patah. Tangan kanannya Sin Cie menulis pula, dari mulutnya keluar kata-kata: "Seranganmu ini adalah 'Seng thian jip tee'

-'Naik kelangit, masuk kebumi'. Itulah, turut pendengaranku, adalah tipu silat Put Hay Pay dari Shoatang. Maka, tuan Ang, kau mestinya dari partai Put Hay Pay itu."

Ia menulis terus, tangan kirinya digeraki bagaikan bergeraknya ekor ikan, maka kedua tangannya Seng Hay bentrok sendirinya satu pada lain sambil menerbitkan tepokan tangan yang nyaring.

Mengalami ini, Seng Hay jadi panas. Maka ia menyerang pula dengan sengit, dengan keluarkan kepandaiannya.

Sin Cie tetap menulis terus, disebelah itu, tangan kirinya digerak-geraki terus juga, untuk membebaskan diri dari sesuatu serangan, hingga ia tak dapat ditolak atau didorong. Sebaliknya tangan kiri itu seperti mempunyai tenaga menolak, membal balik.

Dengan sengitnya Seng Hay menyerang dengan tipu silatnya "Can kau kun" atau pukulan "menyembelih naga". Baru saja ia habis menyerang, dengan kegagalan, Sin Cie telah berkata padanya: "Can kau kunmu ini masih mempunyai sembilan jurus lainnya, sedang tulisan syairku 'Peng Kie Hang' bakal lekas sampai diakhirnya. Maka sekarang aku atur begini: Aku tunggui kau, setiap kali kau menyerang, setiap kali juga aku menulis satu huruf saja."

Kembali Seng Hay menjadi heran. Kenapa orang kenali ilmu silatnya itu? Apa mungkin pemuda ini adalah orang satu kaum dengannya? Toh ia tidak kenal pemuda ini dan gerak-gerik tangan dan tubuhnya beda dengan Put Hay Pay. Dengan penasaran berbareng ragu-ragu itu, ia lanjuti penyerangannya, dengan terlebih hebat dan liehay. Ia tidak harap lagi bisa berkisar saja, pasti tulisannya akan kacau.

Sin Cie menulis terus, ia membacakan: "Thian im ie sip seng ciu ciu". Huruf ciu yang terakhir masih belum tertulis habis, serangannya Seng Hay masih ada dua jurus lagi, ialah dua jurus terakhir dari Can Kau Kun. Karena berulang-ulang dia gagal. Seng Hay ubah pula cara menyerangnya, ialah ia mendak dan kedua tangannya dikasi melengkung, ia menubruk dengan pakai tubuh juga, agaknya ia hendak peluk tubuh anak muda itu.

Ang Seng Hay sangat bernapsu, sampai ia lupai pantangan ahli silat untuk bisa kendalikan diri. Ia telah bergerak dengan ceroboh sekali. Dengan bersikap merangkul secara demikian, ia seperti lupai tangan Sin Cie. Maka Baru ia maju atau si anak muda sudah mengenai dadanya, sehingga bukannya Sin Cie atau kursinya yang berkisar, adalah ia sendiri yang kena tertolak mundur, demikian keras, sehingga ia jumpalitan tiga kali, percuma ia pertahankan diri, ia rubuh juga, jatuh duduk dilantai bagaikan patung. Sehingga ia membutuhkan sekian saat untuk bisa lompat bangun. Ia pun berlompat bangun selagi ia Baru sadar bahwa ia sudah kena dirubuhkan!

Adalah disaat itu, Ciau Wan Jie bertindak masuk kedalam kamar tulis dengan membawa tehkoan buatan Gie- hin, yang warnanya merah tua.

"Wan Siangkong, inilah teh Liong-ceng yang kesohor," katanya sambil menawarkan. "Silakan minum!"

Ia pun segera tuang air teh itu kedalam sebuah cangkir, sehingga Sin Cie lantas mencium bau wangi dari teh itu. Ia tidak sungkan-sungkan lagi, ia sambuti teh itu dan terus diminum. "Benar-benar teh bagus!" ia memuji. Ia angkat tulisannya, "Peng Kie Hang", akan tunjuki si nona seraya kata: "Nona Ciau, tolong lihat ini, apakah tulisan ini ada yang kacau dan kotor?"

Wan Jie periksa syair itu, lalu ia tertawa.

"Siangkong benar-benar bun bu coan cay!" memuji dia. "Tulisan ini baik diberikan kepadaku saja!" (Bun bu coan cay berarti mengerti berbareng dua-dua ilmu surat dan ilmu silat).

"Tapi tulisanku jelek," si pemuda bilang. "Barusan aku telah bertaruh sama sahabat baik ini, maka tulisan ini Baru saja ditulis rampung. Jikalau nona inginkan ini, baik, tapi jangan nona perlihatkan kepada orang lain, agar orang tidak tertawai aku!"

Wan Jie bersenyum, ia gulung tulisan itu, lantas ia ngeloyor pergi.

Setelah si nona keluar, Sin Cie Tanya Ang Seng Hay: "Kiu-ongya utus kau kepada Co Hoa Sun, untuk urusan apakah itu?"

Seng Hay ragu-ragu, sehingga berulang-ulang ia tidak bisa menyahuti, sehingga ia cuma kemak-kemik saja.

"Bukankah barusan kita telah bertaruh?" Sin Cie tegasi. "Bukankah kau tidak sanggup tolak aku sehingga berkisar?"

Ang Seng Hay jengah, ia tunduk.

"Bugee Wan Siangkong sangat mengagumkan, inilah ilmu kepandaian yang belum pernah aku dengar, yang belum pernah aku saksikan," katanya dengan perlahan.

"Sekarang coba kau raba tubuhmu, dibawah tetek kiri," Sin Cie kata. "Coba periksa tulang rahang yang kedua. Apakah yang kau rasai?. " Ang Seng Hay menurut, ia raba tempat yang ditunjuki itu. Tiba-tiba ia terkejut. Bagian tubuh itu menjadi baal, ia tak rasakan apa-apa!

"Sekarang kau raba pula, tengah-tengah pinggang bagian kanan," Sin Cie menyuruh pula.

Ang Seng Hay meraba, ia menekan, lantas ia menjerit: "Aduh!". Ia pun kaget sekali, herannya bukan buatan. Tapi segera ia kata: "Jikalau tidak diraba, aku tidak rasakan apajuga, begitu kebentur tangan, sakitnya bukan main. "

Sin Cie bersenyum.

"Itulah dia!" ia bilang. Ia isikan cangkir tehnya, ia hirup air teh itu, kemudian ia membalik-balik lembarannya satu buku diatas meja, tidak lagi ia perhatikan orang didekatnya itu.

Seng Hay berdiri diam dengan serba salah. Ia berniat angkat kaki akan tetapi tak berani ia pergi. Dengan begitu, ia pun terus berdiam saja.

Tidak lama, anak muda kita berpaling. "Eh, kau masih belum pergi?" tanyanya.

Seng Hay terperanjat, tetapi ia girang sekali. "Kau perkenankan aku pergi?" tegasi ia.

"Kau sendiri datang kemari, aku tidak undang kau," berkata si anak muda," maka jikalau kau hendak pergi, tak dapat aku tahan padamu."

Bukan kepalang girangnya Seng Hay, ia segera berbangkit, untuk memberi hormat sambil menjura.

"Tidak nanti aku berani lupakan budimu, siangkong," kata ia.

Sin Cie manggut, kembali ia baca bukunya. Seng Hay bertindak kepintu, ketika ia merandek di depan itu. Dengan tiba-tiba ia berkuatir orang nanti rintangi ia. Lantas ia hampirkan jendela, ia tolak kedua daunnya, tubuhnya menyusul loncat keluar. Sebelum ia angkat kaki terus, ia menoleh kebelakang, ia dapatkan si anak muda masih saja baca buku, jadi orang tidak susul ia, hatinya menjadi lega. Sekarang Barulah ia loncat naik keatas genteng, untuk angkat kaki.

Sementara itu, walaupun sang malam sudah larut, Ciau Wan Jie masih belum tidur. Ia tak dapat lupakan Sin Cie, tetamunya, penolongnya itu, budi siapa ia ingat betul. Sampai mendekati fajar, anak muda itu masih berdiam di dalam kamarnya, membaca kitab, beberapa kali ia telah mondar-mandir, akan melihat, tetap anak muda itu bercokol di kursinya. Akhirnya ia panggil bujang perempuannya, akan titahkan membuat beberapa rupa tiamsim, barang makanan, yang ia sendiri lantas bawa kekamarnya pemuda itu. Mulanya ia mengetok pintu dengan perlahan, sampai beberapa kali, Barulah ia tolak daunnya untuk masuk kedalam.

Sin Cie lagi membaca kita "Han Sie", cerita atau riwayat kerajaan Han, agaknya dia sedang sangat tertarik hatinya, sampai ia diam saja atas datangnya nona rumah.

"Wan Siangkong kau masih belum masuk tidur?" Nona Ciau Tanya. "Baik siangkong coba dulu tiamsim ini, habis kau masuk untuk beristirahat. "

Baru sekarang anak muda kita berbangkit, untuk haturkan terima kasih.

"Baik nona tidur, tidak usah kau perhatikan aku," katanya. "Aku masih menantikan satu orang. " Baru pemuda ini mengucap demikian atau mendadak daun jendela menjeblak sehingga menerbitkan suara, menyusul itu, satu tubuh lompat masuk.

Wan Jie kaget hingga ia lompat berjingkrak, akan tetapi segera ia tampak Ang Seng Hay.

Orang she Ang ini manggut kepada si nona, lantas ia hampirkan Sin Cie didepan siapa ia tekuk lutut.

"Wan siangkong, siaujin tahu diriku bersalah," katanya. Ia membahasakan diri "siau-jin" atau orang rendah. "Tolong siangkong, jiwaku. "

Sin Cie ulur kedua tangannya, untuk memimpin bangun, akan tetapi Seng Hay tidak mau berbangkit.

"Mulai hari ini dan selanjutnya, siaujin nanti ubah kelakuanku," berkata ia pula. "Aku minta dengan sangat supaya siangkong tolongi aku."

Ciau Wan Jie mengawasi dengan kedua mata dipentang lebar, ia tak mengerti atas apa yang ia pandang itu.

Sin Cie ulur pula kedua tangannya, ketika ia kerahkan tenaganya, tahu-tahu tubuhnya Seng Hay terangkat terus jumpalitan, sehingga dilain saat, pahlawan atau utusannya Kiu-ong-ya itu telah rubuh duduk di jubin, tapi ketika ia raba ketiaknya, wajahnya menjadi terang, satu tanda bahwa hatinya lega, ia girang. Tapi waktu ia usut dadanya, ia kerutkan alis hingga kedua alisnya hampir menyambung satu pada lain.

"Mengertikah kau sekarang?" Tanya Sin Cie.

Seng Hay adalah seorang sangat cerdik dan tangkas, kalau tidak, tidak nanti Kiu-Ong-Ya To Jie Kun kirim ia selaku mata-mata, maka atas pertanyaan si anak muda, segera ia insaf. "Siangkong, apakah kau hendak tanya aku?" katanya. "Silakan, siaujin nanti menjawab dengan sebenar- benarnya."

Wan Jie duga orang hendak omong rahasia, ia lantas undurkan diri, keluar dari kamar tulis itu.

Ketika tadi ia lari pulang ke hotelnya, Seng Hay telah buka bajunya, untuk periksa tubuhnya. Di dadanya ada sebuah bentol merah sebesar uang tangchie, ketika ia raba itu, ia tidak rasakan apa-apa. Dibawah ketiaknya, ia dapatkan, ada tiga titik hitam seperti kacang, apabila ia kena langgar itu, ia merasakan sangat sakit. Ia mengerti, itulah luka yang ia dapatkan tadi selagi ia bertolak tenaga kekuatan berbalik dari Sin Cie. Maka lekas-lekas ia duduk bersila di atas pembaringannya, untuk menyedot dan mengeluarkan napas dengan peraturan, untuk perbaiki jalan napasnya, ia merasakan sakit. Maka ia lekas rebahkan diri, rasa sakit itu lantas lenyap sendirinya. Tiga kali ia mencoba perbaiki jalan napasnya, selalu ia gagal.

Mata-mata Kiu-ong-ya ini tidak berpikir lama akan ingat ilmu silat yang dinamakan "Kun-thian-kang", ialah tenaga yang memukul berbalik siapa terluka karena serangan itu, apabila tidak dapat obat yang tepat dalam seratus hari dia bakal mati meroyan. Ingat ini, ia jadi takut sendirinya. Di situ tidak ada orang lain yang bisa tolongi ia, kecuali Sin Cie, si anak muda.

"Ah, aku mesti pergi padanya. "

Lantas dia pakai bajunya, ia keluar dari hotel, akan berlari-lari ke rumahnya Ciau Kong Lee, akan lompat masuk kedalam kamarnya si anak muda dengan jeblaki jendela.

Sin Cie lantas berkata pada orang she Ang ini: "Kau telah dapat dua luka di tubuhmu, yang satu tadi aku telah

587 sembuhkan, tinggal yang satu lagi. Sekarang ini, luka itu tidak memberi rasa apa-apa, akan tetapi berselang tiga bulan, baal itu bakal bertambah luas, bisa menjalar sampai di dada, di ulu hati, maka itulah artinya sampailah batas umurmu!"

Kembali Seng Hay kaget. Jadi benarlah dugaannya tentang lukanya itu. Maka ia jatuhkan diri, ia berlutut sambil manggut berulang-ulang. Karena ia minta dengan sangat untuk ditolong.

"Kau telah menjadi harimau yang mengganas, kau akui dorna sebagai ayahmu!" Sin Cie bilang, dengan roman yang keren. "Itulah dosamu yang tak berampun! Sekarang aku tanya kau, kau mau atau tidak untuk gunai jasamu menebus dosa?"

Seng Hay takut benar-benar, hingga ia menangis, air matanya meleleh.

"Memang siaujin tahu, perbuatanku ini sesat," kata ia dengan pengakuannya. "Ada kalanya di waktu malam siaujin pikirkan itu dan insaf sendiri, hingga siaujin mengerti, perbuatan itu hina dan sangat memalukan leluhurku. Inilah gara-garanya satu kejadian pada tahun yang lampau, yang membuat siaujin buntu jalan hingga terpaksa siaujin berlaku begini hina."

Sin Cie awasi wajah orang, ia mau percaya bahwa orang omong dengan sejujurnya. Ia menduga pada satu kejadian penting. Ia hendak menanya akan tetapi ia tidak lantas lakukan itu. Ia mengerti, orang ini sangat membutuhkan pertolongannya. Orang pun masih tetap paykui.

"Mari bangun dan duduk," ia kata kemudian. "Mari kita bicara dengan perlahan-lahan. Siapa sudah paksa kau berbuat begini macam, sampai kau buntu jalan?" "Aku telah didesak oleh Hui thian Mo Lie Sun Tiong Kun dan Kwie Jie Nio-cu, keduanya dari Hoa San Pay," sahut Seng Hay.

Inilah jawaban diluar sangkaan Sin Cie, sampai hatinya bercekat.

"Apa? Mereka yang desak kau?" ia tegasi.

Wajahnya Seng Hay pun berubah, nampaknya ia berkuatir.

"Apakah siangkong kenal mereka?" ia balik tanya.

"Baru tadi aku bertempur dengan mereka," sahut Sin Cie.

Mendengar itu, Seng Hay girang berbareng masgul. Ia masgul karena kekuatirannya, sebab kedua musuhnya itu berada di Lamkhia ini, di satu tempat dengan ia, Seng Hay takut nanti ketemu mereka itu di tengah jalan, itu berarti bencana untuknya. Ia girang sebab nyata anak muda ini telah bertempur dengan mereka itu, ia duga pemuda yang kosen ini adalah musuh mereka.

"Dua orang itu," katanya melanjuti," walau kepandaian mereka tinggi, mereka bukannya tandingan siangkong. Cuma mereka berdua telengas sekali, apa juga mereka berani lakukan, dari itu siangkong harus waspada."

Sin Cie perdengarkan suara yang memandang enteng. "Kenapa mereka desak kau?" ia tanya.

Seng Hay berdiam sebentar, lalu ia menyahut.

"Tidak berani aku dustakan kau, siangkong," katanya. "Tadinya siaujin berdiam di laut di Shoatang melakukan pekerjaan tidak memakai modal. Pada suatu hari, satu saudara angkat lihat Sun Tiong Kun, ia ketarik, ia lantas majukan lamaran kepada nona itu. Sun Tiong Kun tampik lamaran itu. Sebenarnya dengan penampikan saja sudah

589 cukup, akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu, tanpa mengucap sepatah kata, dia hunus pedangnya, dan babat kedua kupingnya saudara angkat itu. Tentu sekali aku tidak puas dengan perbuatan galak itu, yang keterlaluan dan kejam itu, lantas aku ajak belasan kawan, untuk satroni dia. Maksudku adalah untuk culik dia, supaya dia menikah dengan saudara angkat itu. Tegasnya kita hendak paksa padanya.

Celakanya untuk kita, gurunya Sun Tiong Kun, yaitu Kwie Jie Nio, sudah susul kita, dia tolongi muridnya itu. Dengan satu tabasan, dia bunuh saudara angkatku itu dengan pedangnya. Beberapa kawanku telah kena dibikin bubar, antaranya ada yang terluka. Untung bagiku, aku bisa loloskan diri, hingga jiwaku ketolongan. "

"Dalam hal itu, kaulah yang bersalah," Sin Cie bilang. "Siaujin pun insyaf yang siaujin sudah sembrono, hingga

satu bahaya besar diciptakan," Seng Hay akui, "karenanya

siaujin tidak berani munculkan diri di muka umum. Benar- benar Sun Tiong Kun tidak mau sudah, entah bagaimana jalannya, dia dapat tahu kampung halamanku, mereka susul aku. Oleh karena tak dapat ketemui aku, mereka binasakan ibuku yang sudah tua, yang telah berumur tujuhpuluh tahun, juga isteriku serta tiga anakku, lelaki dan perempuan, tidak ada satu yang dikasih tinggal hidup. "

Seng Hay mengucurkan air mata, hingga kata-katanya jadi tergetar, karenanya Sin Cie anggap orang bicara dengan sebenarnya. Ia manggut-manggut walaupun hatinya bercekat untuk ketelengasan Sun Tiong Kun dan gurunya itu.

"Tak dapat siaujin lawan mereka itu," Seng Hay tambahkan kemudian," akan tetapi tanpa sakit hati terbalas lampias, tak puas hatiku.... Oleh karena putus daya, pikiranku jadi sesat, siaujin lantas kabur ke Liautong dimana siaujin menghamba kepada Kiu-ong-ya. "

Seng Hay bersedih berbareng gusar.

"Mereka binasakan ibumu dan anak-isterimu juga, perbuatan itu memang keterlaluan," nyatakan si anak muda kemudian. "Semuanya adalah karena salahmu sendiri. Semua itu toh ada urusan pribadi, kenapa kau menghamba kepada bangsa asing? Kenapa kau kesudian menjadi pengkhianat bangsa?"

"Itulah kesalahanku, siangkong," Seng Hay akui. "Asal siangkong bisa balaskan sakit hatiku itu, apa juga siangkong titahkan aku, aku akan lakukan. "

"Mencari balas?" Sin Cie tegaskan. "Itulah kau jangan pikir. Kwie Jie-nio itu sangat liehay, aku bukanlah tandingannya. Yang benar adalah kau ubah kelakuanmu, supaya kau selanjutnya menjadi orang baik-baik. Aku tanya kau, Kiun-ong-ya kirim kau kepada Co Thaykam, untuk apa?"

Seng Hay tidak berani mendusta, ia menjawab dengan membuka rahasia. Ia kata Kiu-ong-ya janjikan Co Hoa Sun untuk menjadi penyambut sebelah dalam kalau nanti bangsa Boan kerahkan angkatan perangnya untuk gempur kota Pakkhia, supaya thaykam itu - thaykam - pentang pintu kota. Pun telah diatur tanda-tanda rahasia supaya orang-orangnya Kiu-ong-ya nyelundup masuk kedalam kota, ke dalam istana, untuk bantu turun tangan.

Diam-diam Sin Cie girang sekali, tapi ia tak utarakan itu pada wajahnya.

"Sebenarnya mau atau tidak kau ubah kelakuanmu, untuk selanjutnya kau jadi orang baik-baik?" ia tegaskan. "Atau apakah kau lebih suka menderita siksaan hingga nanti, selang tiga bulan, kau mati tanpa ampun lagi?"

"Siangkong boleh tunjuki aku satu jalan hidup, selanjutnya aku nanti pandang kau sebagai ayah dan ibuku yang telah hidup pula!" sahut Ang Seng Hay.

"Baik!" kata Sin Cie. "Bersediakah kau untuk jadi pengikutku?"

Seng Hay girang bukan kepalang, lantas saja ia berlutut pula, akan paykui tiga kali kepada tuannya yang baru ini. Ia girang karena ia berhati lega, karena selanjutnya tak usah ia berjeri lagi terhadap Kwie Jie Nio dan Sun Tiong Kun. Ia pun percaya, kalau nanti selang tiga bulan lukanya kumat, pasti majikan ini akan tolong obati dia.

Perubahan cara hidup ini membuat Seng Hay tenang melebihkan tenangnya diwaktu ia ikuti Kiu-ong-ya pangeran Boan itu.

Habis itu, setelah "repot" satu malaman, Barulah Sin Cie beristirahat. Seng Hay tidur dalam satu kamar bersama ia. Pengikut ini tidak pernah pikir untuk menuntut balas, sebaliknya dia berterima kasih karena si anak muda percaya dia. Sin Cie tidak kuatir, sebab ia tahu benar, untuk hidupnya Seng Hay membutuhkan pertolongannya. Maka juga ia dapat tidur nyenyak, sampai besoknya pagi, setelah matahari naik tinggi, Baru ia mendusi.

Segera juga muncul Nona Wan Jie dengan bin-tang (baskom) terisi air dan handuk untuk pemuda ini cuci muka, begitupun beberapa rupa barang makanan untuk sarapan pagi.

"Terima kasih," Sin Cie mengucapkan.

Tidak lama sehabisnya pemuda ini selesai cuci muka dan rapikan pakaiannya, Bhok Siang Toojin muncul bersama

592 papan caturnya. Ceng Ceng adalah yang bawa biji-biji catur. Berdua mereka masuk berbareng.

"Ha, begini hari baru bangun!" kata si pemudi sambil tertawa riang. "Tootiang sudah menunggui lama sekali, sampai ia tak sabaran! Hayo lekas mulai, lekas mulai!"

Sin Cie pandang si nona, akan tatap wajahnya, tiba-tiba ia tertawa. Ceng Ceng pun tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" tanya nona ini sambil balik mengawasi.

Masih saja si pemuda tertawa.

"Tootiang janjikan apa kepadamu hingga kau sekarang jadi begini rajin?" ia tanya. "Begini perlu kau carikan tootiang lawan main catur!"

Ceng Ceng tertawa pula.

"Tootiang hunjuki aku semacam ilmu silat," ia aku. "Itulah semacam ilmu silat entengkan tubuh yang sangat luar biasa. Umpama orang toyor padamu dan dupak, kau boleh layani ia dengan main berkelit saja sebagai orang lagi main petak, mengegos ke timur, ngeles ke barat, jangan harap dia bakal kena menyerang padamu!"

Mendengar itu, pemuda ini tergerak hatinya, diam-diam ia lirik guru sampiran itu, siapa sebaliknya dengan tenang lagi taruh dua biji putih dan dua biji hitam di keempat pojok papan caturnya, lalu sebiji putih dipegang di tangannya, dipakai mengetok-ngetok papan caturnya sehingga papan itu menerbitkan suara nyaring. Berbareng dengan itu, imam ini pun bersenyum.

Menampak sikap yang luar biasa dari Bhok Siang Toojin, Sin Cie ingat suatu apa. "Tootiang ajarkan ilmu silat entengkan tubuh kepada Ceng Ceng, itu mesti ada maksudnya," ia lantas berpikir. "Sebentar adalah malaman janjiku dengan Jie Suko dan Jie- Suso, akan bertanding di panggung Ie Hoa Tay, tak dapat aku tidak pergi menetapkan janji itu. Inilah sulit, sebab dilihat dari romannya, Jie-suso tak puas sebelum ia layani aku. Mana dapat aku layani mereka dengan sungguh- sungguh? Jie-suko pun sangat kesohor, melayani dia saja, belum tentu aku sanggup peroleh kemenangan, maka jikalau aku melayani dengan main-main, ada kemungkinan aku bakal terluka di tangannya, atau mungkin juga, karena alpa, aku bakal terbinasa.... Apa ini sebabnya kenapa tootiang ajarkan ilmu entengkan tubuh itu kepada Ceng Ceng?"

Karena memikir begini, pemuda ini lantas kata kepada si nona:

"Kau inginkan aku main tiokie dengan tootiang, baiklah, akan tetapi kau mesti ajarkan ilmu silat itu kepadaku!"

"Baik!" Ceng Ceng jawab sambil tertawa. "Ini dia yang dibilang, barang siapa dapat melihat, dia mesti menerima bagian!"

Ia tertawa pula, begitupun si anak muda.

Setelah itu, Sin Cie temani gurunya itu main tiokie.

Sampai waktunya bersantap, tengah-hari, Barulah orang berhenti adu otak, diwaktu itu, Sin Cie ambil kesempatan akan pasang omong dengan Cui Ciu San, sang paman atau guru. Pembicaraan mereka ialah mengenai persiapannya Giam Ong, yang tentunya tak lama lagi akan mulai turun tangan menggempur musuh Negara, katanya, pergerakan kemerdekaan itu memperoleh dukungan dari segenap rakyat. Di pihak lain, Ciu San puji anak muda ini, yang pelajaran silatnya maju dengan pesat sekali. Kedua pihak bicara secara gembira dan asik sekali, sebab dua-dua sangat bergembira.

Selama itu beberapa kali Ceng Ceng mengasi tanda dengan tangan kepada si anak muda, untuk anjuri dia keluar, Ciu San lihat itu, ia tertawa.

"Sahabat cilikmu itu memanggil, pergilah lekas!" kata dia.

Tampangnya si anak muda merah sendirinya, ia jengah, tapi ia tidak segera berbangkit, ia malu hati.

"Kau pergilah!" kata pula Ciu San, yang terus berbangkit, untuk mendahului pergi keluar.

Ceng Ceng lari ke dalam begitu lekas orang she Ciu itu sudah tidak ada.

"Lekas, lekas!" katanya. "Aku nanti beritahukan kau tentang ilmu silat yang tootiang ajari aku, karena diwaktu tootiang mengajarinya, ada bagian-bagian yang aku tidak mengerti. Tootiang melainkan kata padaku: "Kau ingat- ingat saja, nanti juga kau mengerti." Tentu saja, kalau ditinggal lama-lama, aku nanti lupa semua."

Sin Cie iringi kehendak si nona maka di lain saat, mereka sudah berlatih, atau lebih benar, Ceng Ceng menyebutkan ilmu silat itu, Sin Cie yang mendengari, habis itu, si anak muda coba menjalaninya. Itulah ilmu pukulan yang dinamakan "Pek pian kwie eng" atau "Bajangan setan yang berubah seratus kali".

Kepandaian entengkan tubuh Bhok Siang Toojin dan senjata rahasianya menjagoi di kolong langit, lebih-lebih ini "Pek pian kwie eng". Selama masih di puncak Hoa San, Bhok Siang tidak ajari Sin Cie, sebab anak muda ini masih dalam permulaan, sulit untuk dia punyakan ilmu itu, tapi sekarang, setelah terlatih baik dan peroleh pengalaman,

595 itulah waktunya untuk si anak muda diajarkan. Akan tetapi Bhok Siang mempunyai maksudnya sendiri, ia mengajari dengan perantaraan mulutnya Ceng Ceng. Nona ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya, akan tetapi otaknya sangat terang, kuat ingatannya, ia sangat cerdas. Maka hal yang sebenarnya adalah, tidak benar Bhok Siang mengajari Ceng Ceng, yang benar adalah ia mengajari Sin Cie.

Ceng Ceng memberi penuturan jelas sekali, dari gerakan tubuh dan kaki, hal itu membuat si anak muda jadi sangat girang, karena ia pun berotak terang dan segera ingat dengan baik.

Benar kalau Ceng Ceng kata ada bagian-bagian yang ia tidak mengerti, maka atas desakan Sin Cie, beberapa kali ia lari bulak-balik pada si imam, untuk minta penjelasan, hingga di lain saat, Sin Cie telah ingat semua, hingga ketika ia mencoba menjalaninya, lantas saja ia bisa jalani dengan baik. Maka itu, ia lantas meyakinkan terus-terusan.

Mengenai ilmu silatnya jie-suko dan jie-suso, Sin Cie ingat baik-baik kata-katanya sang guru dahulu: "Toasukomu jenaka, satu waktu ia tak terluput dari kealpaan. Jie-sukomu pendiam, dia belajar dengan sungguh-sungguh." Itu berarti, kepandaiannya jie-suko sangat berada di atasan kepandaiannya sang toa-suko, saudara tertua itu.

"Sekarang aku peroleh ini Pek pian kwie eng, apa mungkin aku tak dapat layani jie-suko?" pikir dia, yang untuk sesaat bersangsi.

Tapi anak muda ini berpikir terus.

"Suhu pernah ajarkan aku Sip-toan-kim, ketika itu suhu jalankan ilmu entengkan tubuh itu, aku serang ia dengan seantero kebisaanku, tak dapat aku serang dia walaupun ujung bajunya saja," demikian ia berpikir. "Sekarang Bhok

596 Siang Toojin ajarkan ilmu ini, apa tidak baik aku gabung ini dengan Sip-toan-kim? Tidakkah ini berarti, kepandaiannya dua kaum aku persatukan?"

Sin Cie lantas ambil keputusan, dari itu terus ia bersamedhi di kamar tulis itu, bukan untuk mengaso, hanya tubuhnya yang beristirahat, otaknya tetap bekerja, akan pikirkan jalan untuk gabung kedua ilmu entengkan tubuh itu.

Ceng Ceng semua ketahui pemuda ini sedang beristirahat, maka tidak ada yang berani ganggu.

Sin Cie bersamedhi sampai jam Sin-sie, pukul tiga atau empat lohor, ia berhasil, tetapi untuk memperoleh kepastian, ia hendak coba dulu. Maka ia ajak Wan Jie pergi ke lapangan peranti belajar silat, ia minta disediakan sepuluh saudara seperguruan si nona, dengan persiapan seorangnya setahang air, mereka itu diminta berkumpul di empat penjuru, untuk nanti seblok atau siram ia dengan air selagi ia bersilat.

Latihan telah dimulai dengan segera, dari pelbagai jurusan, saudara-saudara seperguruan Nona Ciau Wan Jie lantas siram si anak muda dengan air, selama itu, Sin Cie mencelat, melesat ke sana-sini, gerakannya gesit dan cepat. Ketika kemudian sepuluh tahang air telah habis, Sin Cie cuma basah ujung tangan bajunya yang kanan dan kakinya yang kiri.

Sebagai kesudahan, semua orang puji pemuda ini.

Di lapangan itu orang bergembira, suaranya bergemuruh, akan tetapi Bhok Siang Toojin sendiri lagi rebah menggeros di dalam kamarnya, ia seperti tak tahu menahu....

Sorenya, habis bersantap, Sin Cie lantas bersiap-siap untuk pergi ke panggung Ie Hoa Tay yang kesohor. Ciau Kong Lee dan Ciau Wan Jie menyatakan suka turut, katanya untuk sebisa-bisanya mengakurkan itu kedua saudara seperguruan. Ceng Ceng juga ingin turut, dengan maksud membantui sahabat ini.

Sin Cie tampik semua kebaikan itu. Kong Lee dan puterinya dapat dikasi mengerti, tidak demikian dengan Ceng Ceng, yang lantas saja menjebi dan merengut.

"Mereka itu adalah jiesuko dan jiesusoku," Sin Cie kasi mengerti, "aku telah ambil putusan, lebih suka aku kena dihajar tapi tidak nanti aku akan balas menyerang, maka itu, apabila kau saksikan itu, pasti kau tak senang dan gusar, satu kali kau gusar, apakah kau tidak jadi bikin kacau urusanku?"

"Kau boleh mengalah sampai tiga serangan, mengapa kau tidak hendak membalasnya?" tanya Ceng Ceng, yang penasaran.

"Aku hendak coba pelajaran yang kau ajari aku, aku ingin saksikan mereka mampu atau tidak menyerang kepadaku," Sin Cie bilang.

"Jikalau begitu, lebih-lebih aku ingin menyaksikannya!" si nona mendesak. "Aku janji padamu aku tidak akan turut bicara."

"Bagaimana kalau kau berpura-pura gagu?" tanya Sin Cie sambil tertawa.

Nona itu manggut.

"Baik, aku akan berpura-pura gagu!" katanya.

Tak dapat Sin Cie tolak nona yang biasa dimanjakan ini, terpaksa ia mengajaknya. Waktu ia mau pergi, ia cari Bhok Siang Toojin dikamarnya, untuk pamitan, akan tetapi si imam masih saja tidur, beberapa kali dia dipanggil-panggil, tidak juga dia mendusi, hingga kedua anak muda ini terpaksa tinggalkan dia.

Ciu San juga entah telah pergi kemana.

Dua-dua, Sin Cie dan Ceng Ceng sudah kenal baik kota Lamkhia, tak susah mereka cari panggung Ie Hoa Tay. Mereka pun pergi dengan menunggang kudam dengan meminjam dua ekor kudanya keluarga Ciau.

Pada kira-kira jam sebelas malam Barulah dua pemuda ini sampai di Ie Hoa Tay, di situ mereka tidak lihat seorangpun, maka mereka duga, Kwie Sin Sie masih belum sampai. Mereka turun dari kuda, untuk duduk di tanah, akan menanti.

Selang kira-kira setengah jam, dari arah timur kelihatan berkelebatan dua bajangan manusia, yang lari mendatangi, lalu mereka itu menepuk tangan dua kali.

Dengan lantas Sin Cie tepuk tangannya, untuk menyambuti.

Satu bajangan, yang segera sampai, lantas menanya: "Apakah Wan Susiok sudah sampai?"

"Aku sudah menantikan Jie-suko dan Jie-suso," sahut Sin Cie, yang kenali Lau Pwee Seng, muridnya sang kanda seperguruan yang kedua.

Nyata Pwee Seng datang bersama-sama Bwee Kiam Hoo, yang belakangan ini segera mendekati.

Lagi sesaat, dari kejauhan terdengar satu suara nyaring: "Dia sudah datang! Bagus!"

Baru suara itu berhenti atau dua orang mencelat muncul di depan Sin Cie berempat. Ceng Ceng terperanjat, karena ia kagumi ilmu entengkan tubuh yang sempurna itu. Pwee Seng dan Kiam Hoo minggir, untuk buka jalan bagi kedua orang yang Baru datang itu, ialah kedua guru mereka.

Masih kelihatan satu bajangan berlari-lari mendatangi, apabila dia sudah datang dekat dia ternyata adalah Sun Tiong Kun, yang tangannya mengempo satu anak kecil. Dia ketinggalan, terang itulah bedanya kepandaiannya lari keras dari kedua gurunya suami-isteri itu. Itu bocah adalah bocah kesajangan Kwie Sin Sie suami-isteri.

"Sungguh Tuan Wan harus dipercaya!" kata Kwie Jie-nio dengan dingin. "Kita berdua mempunyai lain urusan penting, supaya tidak buang-buang tempo percuma, silakan kau mulai menyerang."

Sin Cie bukannya lantas menyerang, ia hanya angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Kedatanganku ini kemari adalah untuk haturkan maaf kepada suko dan suso" kata ia dengan sabar. "Siautee telah bikin patah pedang suso, itu telah dilakukan karena siautee tak mengetahuinya terlebih dahulu, untuk kelancanganku ini, dengan memandang kepada suhu, harap suko dan suso suka maafkan aku."

Masih Kwie Jie-nio bersikap keras.

"Kau benar sutee kita atau bukan, siapakah yang ketahui?" kata dia dengan dingin. "Baik kita bertanding dulu, Baru kita bicara pula!"

Sin Cie tetap dengan sikapnya mengalah, ia tak mau turun tangan.

Kwie Jie-nio mengawasi, melihat orang mengalah terus, ia anggap orang jeri terhadapnya, ia menyambar dengan tangannya yang kiri, dari samping. Sin Cie lenggakkan kepala, dengan begitu tangan sang suso lewat tepat di depan hidungnya. Ia bebas dari serangan akan tetapi ia terperanjat.

"Siapa sangka, mesti dia hanya seorang perempuan, serangannya sebat sekali," pikir Sin Cie.

Kwie Jie-nio dapatkan tangan kirinya tak memberi hasil, segera ia menyusuli dengan tangan kanan. Ia gunai ilmu pukulan "Sin Kun" atau "Kepalan Malaikat" dari Hoa San Pay.

Sin Cie kenal baik ilmu pukulan ini, ia berkelit sambil kasi turun kedua tangannya, lurus sampai dipaha, dikasi rapat dengan pahanya itu. Inilah tanda bahwa ia suka mengalah, tak ingin ia balas menyerang.

Kwie Jie-nio jadi sangat penasaran,maka ia ulangi serangannya, malah terus-menerus, sampai lebih dari sepuluh kali. Bisa dimengerti jikalau sesuatu gerakannya cepat sekali dan setiap pukulannya berat, hebat apabila mengenai sasarannya. Tapi semua itu Sin Cie dapat egoskan dengan gerakan tubuhnya yang pesat dan lincah. Tetap anak muda ini tak hendak menangkis atau balas menyerang.

Kwie Sin Sie saksikan pertempuran itu, hatinya bercekat, ia pun gegetun.

"Anak muda ini liehay sekali," pikir ia. Tapi yang membuat ia heran adalah gerakan si pemuda, sebagian mirip dengan ilmu silat Hoa San Pay, sebagian besar lagi berbeda. Hingga akhirnya ia mau menduga, entah siapa dia ini yang berpura-pura jadi murid gurunya, untuk bisa mencuri pelajaran saja. Karena ini, ia memasang mata dengan tajam, untuk memperhatikan terlebih jauh, ia kuatir isterinya nanti gagal karena isteri itu berkelahi dengan sangat bernapsu. "Kau tidak mau balas menyerang, kau sangat pandang enteng kepadaku, aku nanti kasi kau kenal liehaynya Kwie Jie-nio!" kata si nyonya yang keras perangainya sesudah berulang-ulang ia gagal dengan pelbagai serangannya. Ia lantas menyerang, kali ini dengan kedua tangan yang saling susul, makin lama makin seru. Karena ini, ia sampai lupa bagian penjagaan diri.

Sin Cie mengeluh didalam hatinya karena desakan hebat dari ini enso, yang di lain pihak ia pun kagumi, karena sang enso benar-benar liehay.

"Inilah berbahaya untukku, apabila terpaksa, aku mesti tangkis dia," akhirnya ia ambil putusan.

Sun Tiong Kun saksikan pertempuran guru perempuannya dengan hati panas dan mendongkol, karena sampai sebegitu jauh ia saksikan tetap saja Sin Cie main berkelit saja. Ia juga heran kenapa gurunya belum pernah berhasil menyerang jitu kepada anak muda itu. Selagi hatinya panas, ia tampak Ceng Ceng sedang menonton dengan wajah riang gembira, air mukanya ramai dengan senyuman bersero-seri. Mendadak dia menjadi naik darah. Tidak tempo lagi, ia serahkan anak kecil dalam empoannya kepada Bwee Kiam Hoo, lantas ia cabut pedangnya dengan apa ia berloncat kepada Ceng Ceng, yang ia serang dadanya tanpa bilang suatu apa!

Nona Un kaget sekali, cepat-cepat ia berkelit. Ia bingung, karena ia datang - dengan penuhkan keinginannya Sin Cie - tanpa membawa senjata tajam. Sekarang ia diserang oleh seorang aseran dan ia segera diserang berulang-ulang, hingga, mulai dari terdesak, ia jadi repot. Ia memang bukan tandingan nona Sun itu, sekarang pun ia bertangan kosong, pasti sekali ia jadi sangat sibuk. Sin Cie, yang lagi layani ensonya, lihat Ceng Ceng diserang Tiong Kun, ia jadi berkuatir, karena ia tahu, Ceng Ceng bukan tandingan Hui-Thian Mo Lie yang telengas. Ia ingin tolongi si nona akan tetapi ia sendiri lagi didesak Kwie Jie-nio.

"Jangan kau lukai orang!" Kwie Sin Sie peringati Tiong Kun.

"Dia puteranya Kim Coa Long-kun, dialah si biang keladi!" Tiong Kun bilang.

Kwie Sin Sie dengar Kim Coa Long-kun kejam, dia anggap orang bukan orang baik, maka ia lantas tutup mulut.

Sun Tiong Kun anggap gurunya itu terima baik alasannya itu, ia lantas melanjuti menyerang dengan pedangnya dengan terlebih-lebih hebat, hingga diantara berkilau-kilaunya pedang, jiwanya Ceng Ceng sangat terancam bahaya maut.

Dalam sibuknya Sin Cie mengerti itulah ancaman hebat bagi Ceng Ceng, lalu ia paksakan diri akan cari ketikanya akan menyingkir dari sang enso. Masih ia lonjorkan kedua tangannya, tapi sekarang ia coba tendang ensonya itu dengan kaki kiri dan kanan bergantian, begitu ada ketikanya yang baik. Beruntun ia menendang sampai enam kali, tapi setiap kali kakinya hampir mengenai sasaran, segera kaki itu ditarik pulang. Secara begini ia berhasil akan desak mundur nyonya yang berhati panas itu.

Sin Cie gunai ketikanya dengan baik sekali, dengan tiba- tiba ia berlompat ke arah Sun Tiong Kun, guna dengan tangan kirinya totok bebokongnya si nona, maksudnya adalah untuk merampas pedangnya.

Dalam saat itu Tiong Kun menghadapi bencana, tiba- tiba terdengar seruan keras dan panjang dari samping, tahu- tahu tubuhnya Kwie Sin Sie sudah mencelat ke arah suteenya pinggang siapa ia ancam dengan satu serangan hebat.

Sin Cie ketahui datangnya serangan itu, untuk tolong diri, ia batalkan serangannya kepada Nona Sun. Ia tidak berkelit, ia hanya gunai tangan kanannya, untuk menangkis, guna sekalian gaet tangannya sang suko. Ketika kedua tangan bentrok, tubuh Sin Cie tertolak ke belakang, hingga ia terperanjat. Sebab sejak turun gunung, belum pernah ia ketemui lawan setangguh suko ini.

"Aku tahu jie-suko liehay, tetapi ia bertubuh begini kurus-kering, siapa tahu tenaganya begini besar?" ia berpikir. Karena ini, suko itu cocok sama julukannya, "Sin- kun Bu-tek," atau "Kepalan Dewa Tanpa Tandingan".

Habis itu, Sin Cie berdiri tegak, hingga untuk kedua kalinya datanglah sambaran tangan kiri dari kanda seperguruan yang kedua itu. Sementara itu, Kwie Jie-nio sendiri sudah berdiri di pinggiran.

Sekarang Sin Cie sudah siap, ia berkelit dengan pundak kiri diegoskan, hingga serangan kedua dari sang suko gagal pula. Ia telah coba satu jurus dari "Pek pian kwie eng".

Kwie Sin Sie menyerang pundak, akan tetapi ia tidak berlaku sungguh-sungguh, ia niat lantas tarik pulang tangannya itu. Biar bagaimana, ia masih hormati gurunya, tidak mau ia lukai sutee itu. Di luar sangkaannya, serangannya yang hebat itu dapat dikelit Sin Cie, hingga tanpa menginsafi, ia berseru: "Kau gesit sekali!"

Seruan ini disusul dengan serangan yang ketiga, gerakannya sama dengan gerakan tangannya Kwie Jienio tadi, hanya serangan ini lebih cepat lagi, lebih berat pula. "Tidak heran jie-suko jadi sangat kesohor," pikir Sin Cie, yang kagum tak terkira. "Pantaslah murid-muridnya pun sangat dimalui, kiranya dia telah peroleh kesempurnaan pelajarannya suhu."

Terus Sin Cie gunai "Pek pian kwie eng" untuk layani saudara seperguruan ini, tapi ia masih belum punyakan latihan yang cukup. Maka kadang-kadang ia campur itu dengan "Hok hou kun" -"Kepalan Takluki harimau" dari Hoa San Pay, buat menangkis, hingga berdua mereka bisa bertempur dengan seru.

Sun Tiong Kun di lain pihak masih desak terus pada Ceng Ceng. Seperti juga ia telah peroleh perkenan dari gurunya, ia jadi bisa bertindak dengan merdeka. Ia girang melihat lawannya repot melayaninya.

"Sumoay, jangan lancang melukai orang!" Pwee Seng dan Kiam Hoo memperingati.

Baru nasihat itu diperdengarkan atau pedangnya Tiong Kun sudah sambar dadanya Ceng Ceng. Dia ini mati jalan, terpaksa ia buang diri dengan melenggak, dengan lompat jumpalitan, akan terus bergulingan di tanah. Masih saja Tiong Kun menyerang, selagi orang berguling, ia membabat. Ceng Ceng lolos, ikat kepalanya kena ditabas, karena mana, terlepaslah rambutnya yang panjang dan hitam sampai menutupi mukanya.

Menampak itu, Sun Tiong Kun tercengang. Tidak pernah ia sangka, si pemuda sebenarnya adalah satu pemudi. Tapi karena ia penasaran, ia maju pula, akan lanjuti serangannya.

Selagi Ceng Ceng terancam bahaya, dengan sekonyong- konyong terdengar seruan nyaring dan bengis yang datangnya dari atas pohon di samping mereka: "Oh, nona yang kejam!" Lantas seruan itu disusul dengan melayang

605 turunnya satu tubuh, sebelum Tiong Kun tahu apa-apa, pedangnya sudah kena ditendang hingga terlepas, dan tentu saja ia jadi kaget sekali.

Orang asing itu adalah satu imam, alis dan kumis- jenggotnya telah putih semua, dia berdiri melintang di depan Ceng Ceng.

Sun Tiong Kun mengawasi dengan tecengang, bersama- sama dengan Pwee Seng dan Kiam Hoo, ia tidak kenal imam itu.

Akan tetapi Kwie Jie-nio kenali Bhok Siang Toojin, sahabat kekal dari gurunya, ia lekas-lekas menghampirkan, untuk memberi hormat.

"Jangan repot dengan cara-hormat saja, lihatlah itu suheng dan sutee sedang berlatih!" katanya sambil tertawa.

Kwie Jie-nio lantas berpaling kepada suaminya, siapa lagi tempur Sin Cie dengan tubuh mereka bergerak bagaikan dua bajangan berkelebatan, anginnya menderu- deru. Sin Sie pesat tapi Sin Cie gesit, kalau yang satu mewariskan satu guru, yang lain adalah ahli warisnya tiga guru yang liehay....

Makin lama pertempuran jadi makin seru, walau demikian, Sin Cie berada di pihak lebih lemah. Dia berkelahi dengan gunai ilmu silat Hoa San Pay, benar ia pandai menggunainya, akan tetapi dari Sin Sie, ia kalah latihan, kalah pengalaman. Di lain pihak, ia lebih banyak menangkis, tidak berani ia keluarkan seantero kepandaiannya.

Kwie Jie-nio girang melihat suaminya menang di atas angin, tetapi meski demikian, sekarang tidak lagi ia sangsikan Sin Cie sebagai suteenya, karena ia telah saksikan baik-baik, ilmu silat Sin Cie tulen dari Hoa San Pay. Sin Cie terdesak terus, untuk menyingkirkan ancaman bahaya, tiba-tiba ia ubah caranya bersilat, maka selanjutnya, tubuhnya bergerak-gerak licin bagaikan ular air. Sebab sekarang terpaksa ia gunai ilmu silatnya Kim Coa Long-kun, ialah "Kim Coa Yu-sin-ciang" atau "Ular Emas main-main". Itulah ilmu entengkan tubuh yang dicangkok dari ular yang lagi berenang memain di muka iar. Untuk ini, Sin Cie boleh tak usah balas menyerang lagi. Dengan gunai "Pek pian kwie eng" tubuhnya jadi bertambah licin....

Kwie Sin Sie boleh liehay sekali, akan tetapi sekarang ia putus asa untuk berikan serangan berarti terhadap sutee itu, hingga ia pun jadi kagum berbareng heran.

Pertempuran dilanjuti sampai beberapa puluh jurus lagi dengan hasilnya tetap masih tidak ada, sekonyong-konyong Sin-kun Bu-tek berlompat keluar dari kalangan sambil serukan: "Tahan!"

Sin Cie heran, akan tetapi ia berhenti bergerak, di dalam hatinya, ia kata: "Dia tak berhasil memukul aku, ini artinya kita seri, kedua pihak telah dapat lindungi muka mereka, pantaslah pertempuran habis sampai di sini. "

Setelah berdiri di pinggiran, Kwie Sin Sie dongak sambil terus menjura kearah atas, ke arah satu pohon.

"Suhu, suhu telah datang!" katanya.

Mendengar ini, Sin Cie terperanjat, ia heran. Ia mengawasi ke pohon, ke arah mana Sin Sie memberi hormat, dari situ ia tampak empat bajangan berlompat turun saling-susul, hingga di lain saat ia telah dapat lihat tegas empat orang itu, yang pertama ialah gurunya, Pat- chiu Sian wan Bok Jin Ceng, hingga tak ayal lagi, ia lari mendekati, untuk memberi hormat sambil paykui. Kemudian Barulah ia berbangkit, akan awasi tiga yang lain. Ialah Cui Ciu San, Toasuhengnya Tong-pit Thie-shuiphoa

607 Uy Cin dan di paling belakang, A Pa, si empeh gagu, sahabat karibnya di dalam guha.

Dalam kegirangannya yang luar biasa itu, Sin Cie segera bicara sama A Pa, sudah tentu dengan main gerak-gerik tangan mereka.

"Dasar aku kurang pengalaman, aku layani suko tanpa aku perhatikan segala apa di sekelilingku," pikir pemuda ini. "Coba yang sembunyi di atas itu bukannya suhu, hanya orang lain, apa aku tidak bakal celaka karena bokongan?"

Karena ini, ia kagumi Kwie Sin Sie.

Bok Jin Ceng usap-usap kepala muridnya yang bungsu. "Toasukomu telah tuturkan aku perihal perbuatanmu di

Kie-ciu, Ciatkang, perbuatanmu itu tak dapat dicela," berkata guru ini sambil tertawa. Setelah itu, mendadak tampangnya jadi sungguh-sungguh ketika ia kata dengan keras: "Kau, seorang anak muda, mengapa kau tidak hormati orang yang terlebih tua? Kenapa kau lawan sukomu?"

Sin Cie terkejut, lekas-lekas ia tunduk.

"Teecu bersalah, lain kali teecu tak berani pula," kata ia. Terus ia hampirkan Kwie Sin Sie dan Kwie Jie-nio, untuk menjura kepada mereka seraya berkata: "Siautee haturkan maaf kepada suko dan suso."

Meskipun Kwie Jie-nio aseran akan tetapi jujur.

"Suhu, jangan suhu tegur sutee," ia bilang. "Adalah aku dan suamiku yang paksa ia melayani berkelahi. Yang aku sesalkan adalah sutee sudah gunai ilmu silatnya lain kaum untuk menghina kepada beberapa muridku yang tidak berharga..." Nyonya Kwie lantas tunjuk Pwee Seng tiga saudara seperguruan.

"Bicara tentang pelbagai kaum persilatan, hatiku tawar," berkata Bok Jin Ceng dengan sabar. Lalu terus ia menoleh pada Kiam Hoo. "Eh, Kiam Hoo, mari!" ia panggil cucu muridnya yang berangasan itu. "Aku hendak tanya kau. Dia ini sudah berani lawan suhengnya bertempur, dialah yang salah! Akan tetapi kamu bertiga, kenapa kamu berani lawan susiokmu? Didalam kalangan kita mempunyai aturan yang tertua dan yang termuda, apakah kamus udah tidak hormati tingkatan derajat itu?"

Kiam Hoo, begitu juga Pwee Seng, tidak berani mendusta terhadap su-cou itu, si kakek guru, maka mereka akui kesalahan mereka, untuk itu Kiam Hoo tuturkan asal mulanya, ketika mereka bantui Bin Cu Hoa yang memusuhkan Ciau Kong Lee. Ia tuturkan semua dengan jelas, kecuali di bagian Sun Tiong Kun tabas tangannya Lo Lip Jie, ia lewatkan itu.

Ceng Ceng tidak puas dengan cerita tak lengkap itu. "Dengan telengas dia telah tabas kutung sebelah tangan

orang!" ia campur bicara, suaranya keras. "Wan Toako

tidak puas dengan perbuatan kejam itu, karenanya ia campur tangan!"

Wajahnya Bok Jin Ceng jadi guram.

"Apakah itu benar?" ia tanya. Kwie Sin Sie dan isterinya masih belum tahu hal itu, maka keduanya awasi Sun Tiong Kun, si nona yang disebut sebagai si "dia" oleh nona Un.

Kiam Hoo jawab gurunya, dengan pelahan:

"Sun Sumoay kira dia seorang jahat, maka ia turun tangan dengan tidak mengenal ampun lagi," katanya. "Sekarang sumoay telah jadi sangat menyesal. Harap sucou suka mengasi ampun..."

"Pantangan paling besar dari kaum kita Hoa San Pay adalah melukai atau membunuh tanpa sebab!" berseru dia. "Sin Sie, ketika kau mulai terima murid, apakah kau tidak jelaskan pantangan kita itu kepadanya?"

Belum pernah Sin Sie dapatkan gurunya gusar demikian rupa, lekas-lekas ia berlutut di depan guru itu.

"Teecu telah keliru mendidik, harap suhu jangan gusar," ia mohon. "Nanti teecu tegur padanya."

Kwie Jie-nio pun lantas berlutut di depan guru itu, maka perbuatannya lantas diturut oleh Lau Pwee Seng, Bwee Kiam Hood an Sun Tiong Kun. Ketiga murid ini berlutut dibelakang Kwie Sin Sie.

Bok Jin Ceng masih gusar. Ia tegur Sin Cie:

"Kau telah saksikan kejadian itu, kenapa kau sudah saja dengan cuma patahkan pedang? Kenapa kau juga tidak tabas kutung sebelah lengannya? Kita tidak jaga baik nama kita, kita tidak taat kepada pantangan sendiri, apakah kita tak bakal ditertawai, dihinai sesama sahabat kangouw?"

Sin Cie pun lekas-lekas berlutut, ia manggut-manggut. "Teecu bersalah, suhu," ia akui. Ia tak mau omong

banyak.

Pat-chiu Sian Wan si Lutung Sakti Tangan Delapan tertawa dingin.

"Mari kau!" ia panggil Sun Tiong Kun.

Nona itu takut bukan main, tidak berani ia menghampirkan kakek guru itu, ia terus mendekam di tempatnya, ia manggut berulang-ulang. "Apakah kau tidak mau menghampirkan?" tanya Bok Jin Ceng.

Kwie Jie-nio sangat takut, ia tahu maksud gurunya itu, ialah sang guru hendak bikin Sun Tiong Kun menjadi satu manusia bercacat. Tapi Tiong Kun ada murid kesajangannya, bagaimana ia tega. Maka ia lantas manggut- manggut pada guru itu.

"Suhu, harap suhu jangan gusar," memohon dia. "Sepulangnya nanti teecu beri ajaran keapdanya."

"Kau juga kutungi sebelah tangannya, besok kau ajak dia pergi kepada keluarga Ciau untuk menghaturkan maaf!" kata guru itu.

Dalam takut dan kekuatirannya yang sangat, Kwie Jie- nio bungkam.

Tapi Sin Cie segera berkata: "Mengenai urusan dengan keluarga Ciau itu, teecu sudah menghaturkan maaf. Lalu dari itu teecu juga telah janjikan orang yang dikutungi sebelah tangannya itu pelajaran silat dengan sebelah tangan. Karena itu, pihak Ciau sudah terima baik perdamaian, sekarang sudah tidak ada urusan apa-apa lagi."

"Hm!" berseru guru itu. "Sekarang bangunlah semua! Sukur Bhok Siang Toojin bukannya orang luar, apabila tidak, dia boleh tertawai kita hingga kita mati semua! Dasar Bhok Tooyu yang cerdik, setelah dapat pengalaman buruk dari muridnya, selanjutnya tak mau ia menerima murid pula, hingga tak usah ia mendapati hal-hal yang memalukan."

Kwie Sin Die semua berbangkit.

Bok Jin Ceng melirik kepada Sun Tiong Kun, justeru itu cucu murid lagi memandang dia, cucu murid ini kaget, lekas-lekas ia berlutut pula, karena ia jeri untuk sinar mata berpengaruh dari si kakek guru.

"Mari pedangmu, serahkan padaku!" Bok Jin Ceng kata pada cucu-murid itu.

Sun Tiong Kun terima perintah dengan hati memukul keras, dengan kedua tangannya ia persembahkan pedang yang diminta, kedua tangannya diangkat sampai diatasan kepalanya.

Sucou itu sambuti gagang golok, ketika ia menarik, Tiong Kun menjerit dengan tiba-tiba: "Aduh!" Lantas saja darah mengucur dari tangannya yang kiri, di mana jari kelingking telah tertabas kutung pedangnya sendiri, hingga ia merasakan sakit bukan main.

0o-d.w-o0

Bok Jin Ceng geraki pula tangannya yang memegang pedang itu, untuk mana tangan kanannya dibantu tangan kiri, atas mana, pedang itu terpatah dua dengan menerbitkan suara nyaring.

"Mulai hari ini sampai selanjutnya, aku larang kau gunai pedang!" Berkata sang kakek guru dengan suaranya yang bengis.

"Teecu terima," sahut Tiong Kun dengan menahan sakit.

Ia malu dan kaget, air matanya sampai mengucur keluar.

Kwie Jie-nio robek ujung bajunya, untuk pakai itu membungkus luka jeriji muridnya itu.

"Bagus, tak nanti kau dihukum pula," ia bisiki sang murid.

Tiong Kun berdiam, ia cuma bisa menangis.

Bwee Kiam Hoo saksikan caranya sang kakek guru patahkan pedang, sekarang Barulah ia percaya habis kepandaian Sin Cie, ketika pemuda ini patahkan pedangnya Tiong Kun. Karena ini ia pun jadi insyaf, ilmu silat Hoa San Pay sangat liehay, bahwa ia Baru dapat pelajarkan kulitnya saja, hingga tidak ada alasan untuk ia menantang di luar, untuk menjagoi. Ia menyesal, ia pun kuatir nanti dihukum kakek itu, diam-diam ia kucurkan keringat dingin di bebokongnya.

Bok Jin Ceng deliki cucu murid ini tapi ia diam saja. "Kau telah janjikan orang itu pelajaran silat, kau mesti

ajarkan dia baik-baik," cousu ini kata kepada Sin Cie,

kepada siapa ia berpaling. "Kau hendak ajarkan apa padanya?"

Mukanya Sin Cie menjadi merah.

"Teecu belum dapat perkenan dari suhu, tidak berani teecu sembarang turunkan pelajaran kita kepada lain orang," ia jawab. "Tadinya teecu memikir untuk ajari dia ilmu golok tunggal Tok-pie-too-hoat, ialah semacam pelajaran yang teecu ciptakan sendiri dari hasil campur- baur."

"Pelajaran campur-baurmu terlalu sedikit kelebihan!" berkata sang guru, yang tapinya tidak gusar. "Ketika kau barusan layani jie-sukomu, kau seperti gunai ilmu silat istimewa Pek pian kwie eng dari Bhok Siang Tooyu. Kau telah dapatkan satu sahabat-karib tukang main tiokie, yang suka membantu kepadamu, maka itu pasti sekali jie-sukomu tidak sanggup berbuat suatu apa atas dirimu!. "

Lalu jago tua ini tertawa terbahak-bahak. Bhok Siang Toojin juga tertawa lebar.

"Eh, Sin Cie," katanya kepada si anak muda," brani atau tidak kau mendusta didepan gurumu?" "Teecu tidak berani, tootiang," Sin Cie jawab.

"Kau tidak berani, bagus!" imam itu kata. "Sekarang aku hendak tanya kau: Sejak kau meninggalkan Hoa San, pernah atau tidak aku mengajarkan pula ilmu silat kepadamu? Dengar biar tegas, aku maksudkan, benar atau tidak aku sendiri yang mengajarkan pula padamu?"

Sin Cie bercekat. Baru sekarang ia mengerti kenapa imam itu, untuk ajarkan ia "Pek pian kwie eng" mesti pakai perantaraannya Ceng Ceng. Jadi inilah maksudnya, untuk cegah Jie-sukonya Kwie Sin Sie nanti mengiri dan menegur gurunya berat sebelah. Sungguh si imam sangat licik, hingga siang-siang ia sudah sedia tameng!

"Tootiang belum pernah ajarkan sendiri ilmu silat lainnya kepadaku," ia jawab imam itu. "Sejak pertemuan kita paling belakang, begitu bertemu kita berdua lantas main catur."

"Nah, itulah dia!" berseru Bhok Siang Toojin, yang tertawa pula. "Sekarang kau coba berlatih pula dengan suhengmu ini, aku larang kau gunai semua ilmu silat yang dahulu pernah aku ajarkan padamu."

"Jie-suko tersohor dengan julukannya Sin-kun Bu-tek, itulah pujianyang sebenar-benarnya," Sin Cie bilang, "tadi pun teecu sudah kewalahan, selagi teecu berniat minta pertandingan dihentikan saja, sukur suhu keburu datang. Coba temponya terlambat, tentulah teecu habis daya. "

Bok Jin Ceng tertawa. Ia puas karena murid muda ini pandai sekali bawa dirinya.

"Sudah, sudah," kata dia. "Tootiang ingin kau berlatih pula, cobalah lagi sekali kau pertontonkan keburukanmu. " Sin Cie terdesak, tak berani ia membantah pula. Maka setelah rapikan pakaiannya, ia hampirkan Kwie Sin Sie untuk menjura kepada jie-suheng itu.

"Jie-suko, aku mohon kau beri pimpinan padaku," ia minta. Kembali ia unjuki sifat halusnya, yang suka merendah.

"Jangan ucapkan itu," kata Kwie Sin Sie, yang terus berpaling kepada gurunya, untuk kata: "Jikalau ada yang salah, tolong suhu unjuki."

Begitulah kedua suheng dan sutee ini berdiri berhadapan, untuk "berlatih" pula, dalam satu pertempuran yang beda daripada yang tadi. Sebab Kwie Sin Sie, di depan gurunya, dimuka orang-orang lainnya, tak ingin mendapat malu. Ia menyerang dengan sebat dan keras, tapi ia juga membela diri dengan waspada dan teguh.

Di hadapan Sin-kun Bu-tek, Wan Sin Cie berkelahi dengan tenang tetapi cepat, akan imbangi sang suheng. Sekarang ia mau menyerang, tidak lagi main menangkis atau berkelit saja seperti tadi. Ia taat kepada pesannya Bhok Siang Toojin, ia terus gunai pelbagai tipu dari Hoa San Pay. Maka itu bisa dimengerti, bagaimana hebatnya latihan ini.

Dengan cepat, seratus jurus telah dilalui, selama itu, tidak pernah salah satu pihak berbuat keliru atau keteter, hingga Kwie Sin Sie heran dan penasaran yang ia tak mampu rubuhkan atau desak saja sang sutee yang usianya masih demikian muda. Baru sekarang ia insaf benar-benar liehaynya sutee ini.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin tonton pertandingan itu, keduanya bersenyum sambil urut-urut jenggot mereka. "Memang benar, guru terkenal menciptakan murid pandai!" Bhok Siang memuji. "Ini dia yang dibilang, di bawah pimpinan panglima perang pandai tidak ada tentara yang lemah. Melihat dua muridmu ini, aku bisa mengiri, menyesal kenapa dulu aku tidak mengajarkan beberapa muridku dengan sungguh-sungguh. "

Bok Jin Ceng Cuma bersenyum atas pengutaraan sahabatnya itu.

Pertandingan berjalan lagi beberapa jurus, masih Sin Sie tak dapat menangkan suteenya itu, ia menjadi sibuk bukan main, hingga karenanya, ia lantas mengadakan perubahan.

Sin Cie menginsyafi desakannya suheng itu, ia berpikir sebaliknya.

"Setelah sampai disini, aku mesti mengalah terhadap suheng," demikian pikirnya. "Tapi mengalah adalah sangat sulit, karena suheng liehay, apabila aku berayal sedikit saja, bisa aku nampak bahaya. Bagaimana sekarang?"

Sin Cie lantas asah otaknya.

"Dari ucapan suhu tadi, nampaknya ia kurang puas kepadaku karena pelajaranku terlampau campur aduk," demikian ia ingat. "Tadi aku gunai tiga macam kepandaian untuk layani jie-suko, aku lantas menang di atas angin, sekarang aku gunai satu kepandaian saja kita berimbang. Apakah itu bukannya alasan untuk bilang, pelajaran lain kaum menangkan kaum kita? Baik aku gunai akal. "

Pikiran ini lantas diwujudkan, anak muda ini segera bersilat dengan "Kim Coa kim hoo kun," atau ilmu silat "Ular emas menawan burung hoo." Inilah pelajarannya Kim Coa Long-kun.

Kwie Sin Sie terperanjat begitu lekas ia kenali lawan gunai ilmu pukulan yang asing baginya, sebab didalam Hoa

616 San Pay tidak ada gerak-gerakan yang mirip dengan itu. Setelah empat jurus serangannya sang sutee, ia berlaku waspada, untuk lindungi diri.

Sin Cie lihat perubahan sikapnya sang suheng, ia bernapas lega, lalu sembari berkelahi terus, ia empos tenaganya ke bebokongnya. Gerakan ini pun memperlambat gerakannya, hingga Sin Sie lantas lihat satu lowongan dibelakangnya sang sutee. Seperti biasanya satu ahli silat, tak suka ia mensia-siakan lowongan, malah tanpa sangsi lagi, ia lantas kirim serangannya.

Sin Cie sudah siap, ia antap bebokongnya kena dihajar, selagi terhuyung, hingga ia sempoyongan empat-lima tindak.

"Aku kalah," kata ia selagi ia membalik tubuh.

Kwie Sin Sie menyesal setelah ia serang jitu suteenya itu, ia kuatir sang sutee terluka parah, maka ia lompat maju, dengan niat mengasi bangun, akan tetapi bukan kepalang herannya apabila ia tampak sutee itu tidak kurang suatu apa! Benar-benar ia tidak mengerti. Ia tidak tahu, disamping mengatur tenaganya, untuk lawan serangan, Sin Cie juga andali baju kaos suci dari Bhok Siang Toojin.

Tatkala si anak muda memutar tubuh, untuk bertindak, Baru ketahuan, bajunya di bagian bebokong telah hancur dan beterbangan sepotong demi sepotong!

Ceng Ceng berkuatir sekali, hingga ia lari menghampiri. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

"Jangan kuatir," sahut Sin Cie dengan tenang.

Bok Jin Ceng sendiri sudah lantas pandang muridnya yang kedua. "Pelajaranmu telah peroleh kemajuan, akan tetapi barusan seranganmu terlalu keras, kau tahu?" tanya guru ini.

"Teecu mengerti, suhu," sahut sang murid. "Pelajaran Wan Sutee adalah di atasanku, aku takluk padanya."

"Selama yang belakangan ini sering aku dengar tentang kamu berdua suami dan isteri," kata pula sang guru, "aku dengar kamu berdua telah terlalu umbar murid-muridmu, hingga mereka jadi petantang-petenteng, menarik perhatian umum. Aku pikir, isterimu mungkin seorang yang kurang sadar, akan tetapi kau bukan seperti dia. Sekarang aku lihat sikapmu terhadap suteemu begini rupa, hm!. "

Kwie Sin Sie tunduk.

"Aku menerima salah, suhu," dia bilang.

"Sudahlah," Bhok Siang menyelak. "Di dalam piebu, siapa juga tak dapat berhati mulia. Sin Cie toh tidak terluka, kau orang tua buat apa kau omong banyak-banyak?"

Ditegur demikian rupa, Bok Jin Ceng berdiam.

Sementara itu, Kwie Sin Sie dan isterinya jadi tidak puas terhadap Sin Cie. Mereka sudah lama memperoleh nama, untuk di Kanglam, mereka seperti memimpin dengan diam- diam kaum Rimba Persilatan, sekarang mereka ditegur di muka umum oleh guru mereka, mereka jadi malu dan tak senang.

Kemudian Bok Jin Ceng ubah haluan.

"Giam Ong akan mulai bergerak di dalam musim rontok ini," demikian katanya, "maka lekas kamu pergi ikat perhubungan dengan saudara-saudara rimba persilatan di wilayah kanglam, untuk sambut gerakan mulia itu." Kwie Sin Sie dan isterinya, kepada siapa kata-kata itu diucapkan, menyahuti bahwa mereka bersedia akan jalankan titah itu.

Lantas Bok Jin Ceng kata pada Sin Cie dan Ceng Ceng: "Pergilah   kau   ke   Pakkhia   bersama-sama   sahabat

mudamu ini, disana kamu musti serep-serepi gerak-geriknya

pemerintah, tetapi ingat, janganlah keprak rumput hingga kau membikin ular kaget, terutama jangan sembarang bunuh menteri-menteri di istana. Jikalau ada kabar yang penting, segera berangkat ke Siamsay untuk memberi laporan!"

"Baik, suhu," Sin Cie jawab.

"Sekarang aku hendak pergi menemui Cit cap jie to - tocu The Kie In serta Sip Lek Taysu dari Siau Liem Sie," Bok Jin Ceng kata pula. "Bhok Siang Tooheng, kau hendak pergi kemana?"

"Kami orang-orang gagah pencinta Negara, yang senantiasa pikirkan Negara dan rakyat, pantas kamu repot terus-terusan seluruh hari," tertawa Bhok Siang Toojin, "tidak demikian denganku, aku adalah seumpama si burung hoo liar yang pesiar di tengah udara. Aku pikir akan berdiam lagi beberapa hari di sini dengan muridmu ini, kau akur atau tidak?"

Bok Jin Ceng tertawa.

"Sin Cie telah janjikan orang untuk memberi pelajaran, di Lamkhia ini ia masih mesti berdiam untuk beberapa hari," ia jawab, "maka pergi kamu main catur selama beberapa hari ini! Kau sendiri masih punyakan banyak ilmu kepandaian, bolehlah sekalian saja kau wariskan semuanya kepadanya!" Sambil tertawa berkakakan, Bok Jin Ceng putar tubuhnya untuk berlalu, atas mana Uy Cin dan Ciu San lantas mengikuti.

A Pa berdiri tegak di tempatnya, ia gerak-gerikkan kedua tangannya kepada ketua dari Hoa San Pay, melihat mana, Bok Jin Ceng tertawa.

"Baiklah," katanya. "Kau kangen dengan sahabat cilikmu, pergi kau berdiam sama dia!"

Ia juga beri tanda dengan gerakan tangannya.

A Pa sangat girang, ia lari pada Sin Cie tubuh siapa ia tubruk, untuk dipeluk dan diangkat!

Ceng Ceng kaget hingga ia mencelat, tapi kapan ia tampak wajah kegirangan orang, hatinya menjadi lega, ia menjadi tenang pula.

Sin Cie girang berbareng masgul. Baru ia bertemu gurunya, lantas mereka berpisah pula. Ia pun berat akan berpisah dari Ciu San dan Uy Cin, malah dengan sang toasuheng ia sampai tak sempat pasang omong lagi.

"Kau baik, tak kecewa banyak orang ajari kau," demikian terdengar suaranya Bok Jin Ceng, yang tubuhnya lantas lenyap di tempat gelap, lenyap bersama Uy Cin dan Ciu San, meninggalkan si murid yang bengong mengawasi kearahnya.

Kwie Sin Sie dan isterinya juga, sambil memberi hormat, awasi guru dan suhengnya itu, kemudian mereka menjura pada Bhok Siang Toojin, akan lantas ajak tiga murid mereka berlalu.

"Mereka itu mendendam terhadap kau," Bhok Siang kata pada Sin Cie. "Mereka berkepandaian tinggi, dibelakang hari apabila kau bertemu dengan mereka, waspadalah! - Sekarang, aku pun hendak pergi!"

Sin Cie manggut berbareng terperanjat. Ia terima nasehat itu tapi ia tak sangka guru ini mau berangkat demikian lekas. Ia pun menyesal sudah bentrok dengan suhengnya suami-istri. Lebih menyesal lagi, tak dapat ia tahan Bhok Siang Toojin, yang lantas saja berlalu. Maka ia pun ajak A Pa dan Ceng Ceng berlalu dan sepulangnya ke rumah Kong Lee, ia terus masuk tidur.

Besoknya pagi Baru pemuda ini mendusi, atau Ceng Ceng sudah berlari-lari masuk kedalam kamarnya sambil mulutnya berseru dengan berisik - berseru kegirangan - sebab tangannya menggenggam sebuah peti kayu yang kecil, semacam lopa-lopa.

"Terkalah, apa ini?" ia berseru dengan pertanyaannya. "Apakah ada tetamu?" Sin Cie tanya.

Ceng Ceng tidak menjawab, ia hanya buka peti kecil itu. Ia berbuat demikian dengan air mukanya tersungging senyuman, umpama bunga sedang mekar. Dari dalam peti itu, ia jumput keluar selembar kertas merah, atau angtiap lebar, yang bertuliskan: "Hormat dari adikmu yang bodoh, Bin Cu Hoa."

Terus si nona beber lembaran kertas merah itu, yang di dalamnya memuat selembar surat rumah berikut sepotong catatan lengkap dari semua barang yang berada di dalam rumah yang dimaksudkan itu.

Sin Cie jadi kurang enak hati melihat Bin Cu Hoa buktikan janjinya dengan serahkan rumah yang dibuat pertaruhan itu berikut segala isinya. Maka lekas-lekas ia salin pakaian, ia lantas pergi ke rumah orang she Bin itu, dengan maksud menemui, untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi kapan ia sampai di rumah itu, tuan rumah semua sudah pergi, di situ tinggal dua bujang yang asyik sapui kotoran. Atas pertanyaan anak muda ini, dua orang itu bilang bahwa Bin Cu Hoa serumah-tangga sudah pergi sejak tadi pagi-pagi, entah ke mana tujuannya.

Terpaksa Sin Cie terima rumah itu, yang segera ia tempatkan.

Ciau Wan Jie telah lantas kirim beberapa orangnya berikut bujang perempuan, guna bantu mengatur lebih jauh rumah gedung itu. Kedua bujang perempuan bantui Ceng Ceng. Di antara beberapa orang lelaki itu juga termasuk koki, tukang kebun, pesuruh, kusir dan cinteng, untuk jaga malam.

Dengan sendirinya, Ang Seng Hay diangkat jadi congkoan, kuasa rumah.

"Nona Ciau masih berusia sangat muda akan tetapi untuk urus rumah-tangga, ia ingat segala apa," Sin Cie puji Wan Jie.

Ceng Ceng tertawa.

"Maka jikalau dia bisa menjadi nyonya rumah ini, sungguh bagus!" katanya.

Sin Cie awasi nona itu, ia tidak kata suatu apa. Ceng Ceng baik segala-galanya, kecuali dalam hal hati-kecilnya, ia terpengaruh kejelusannya, cemburunya.

Pada malam pertama di gedungnya itu, tengah malam, Sin Cie dan Ceng Ceng berkumpul di dalam kamarnya, mereka keluarkan peta bumi dari Kim Coa Long-kun, untuk periksa peta itu, guna diakurkan dengan macamnya gedung itu. Disana-sini sudah ada beberapa perubahan akan tetapi pokoknya tetap, cocok dengan lukisan peta, dari itu keduanya jadi sangat girang. Sekarang mereka fahamkan

622 pengunjukan tanda-tanda, yang membawa mereka keluar taman, terus ke dalam taman, sampai disamping taman di mana ada sebuah gudang kayu. Mereka masuk ke dalam gudang ini.

Sin Cie ajak A Pa, si empeh gagu, untuk dia ini bantui singkirkan semua kayu dan rumput yang memenuhkan gudang itu, sesudah mana, mereka kerjakan pacul, untuk menggali tanah.

Ceng Ceng berdiri di luar pintu gudang, tangannya menyekal pedang, karena ia bertugas berjaga-jaga.

A Pa adalah yang menggali lobang, ia telah bekerja kira setengah jam, lantas paculnya membentur suatu barang keras hingga menerbitkan suara nyaring, rupanya ada batu di dalam lobang galian itu. A Pa tuli, ia tidak dengar suatu apa, maka Sin Cie lantas cegah ia, supaya penggalian dilakukan saja untuk gali keluar batu itu, yang merupakan sepotong batu besar bagaikan papan. Berdua mereka angkat batu itu, hingga kelihatan satu lobang di bawahnya.

Sin Cie berseru saking kegirangan, hingga Ceng Ceng dapat dengar suaranya, nona ini segera memburu ke dalam, hingga ia pun saksikan lobang itu.

"Di sini!" Sin Cie bilang. "Pergi kau menjaga pula di luar, sebentar Baru masuk lagi."

Nona Un menurut.

Sin Cie bikin dua batang obor, untuk itu di situ tersedia rumput keringnya, setelah ia sulut obor itu, ia lemparkan ke dalam lobang, untuk singkirkan hawa busuk, kemudian Baru ia turun ke dalam lobang dimana antara cahaya api, tertampak undakan tangga batu. Berbaris rapi, di dalam ruangan dalam tanah itu kedapatan sepuluh peti besar yang diatur rapi, setiap petinya dirantai dengan rantai yang besar. Cuma di situ tidak kedapatan anak kunci.

A Pa bertenaga besar, ia coba dukung sebuah peti, untuk diangkat, ia dapatkan peti besi itu sangat berat.

Sin Cie keluarkan petanya, untuk periksa lebih jauh. Di pinggir tempat simpan harta itu, ialah di pojok kiri, ada lukisan seekor naga kecil. Menduga apa-apa, ia sambar pacul untuk dipakai memaculi tanah di tempat yang dilukiskan itu. Baru ia memacul beberapa kali, lantas ia dapatkan sebuah lopa-lopa besi, yang tidak dikunci, maka dengan gampang lopa-lopa itu dapat dibuka tutupnya. Tapi untuk buka itu, ia gunai tali, ia menariknya pelahan-lahan. Ia ingat panah rahasia dari Kim Coa Long-kun, dari itu ia bekerja dengan waspada.

Peti itu terbuka dengan tidak mengakibatkan suatu apa, lalu Sin Cie dekati obornya, untuk memandang ke dalam peti, yang isinya ada serenceng anak kunci berikut dua lembar kertas yang ada tulisannya.

Surat yang pertama berbunyi:

"Berhubung dengan pemberontakan pamanku, tidak ada menteri militer yang tidak menakluk kepadanya, tidak demikian dengan Gui-Kok-Kong Cie Hui Cou. Cie Hui Cou adalah menteri turunan, yang setia, yang harus dipuji. Barang-barang berharga dari istana, karena sangat kesusu, tak dapat dibawa pergi semua, dari itu Gui-Kok-Kong, tolong kau wakilkan tim menjaganya. Di belakang hari, apabila ada gerakan akan menghidupkan Negara, pakailah harta ini.

Tahun Kian-bun ke-4, bulan enam"

"Jadi inilah harta peninggalannya Sri Baginda Kian Bun," kata Sin Cie dalam hatinya. Ketika Pangeran Yan Ong berontak, dia rampas kerajaan, Cie Hui Cou tak sudi menakluk kepada raja pemberontak itu, sampai Yan Ong ketemui sendiri padanya dan menegurnya tetapi dia tak suka bicara, tak sepatah kata keluar dari mulutnya, kata-kata menyatakan suka menunjang raja pemberontak ini, hingga karenanya, ia telah dihadapkan kepada pengadilan, yang coba paksa padanya. Ata situ, Hui Cou tulis sepuluh huruf yang berarti: "Ayahku adalah menteri berjasa yang bantu mendirikan Negara, anak-cucunya luput dari kematian."

Cie Hui Cou ini adalah putera Pangeran Tiong-san-ong Cie Tat dan Cie Tat ini adalah menteri nomor satu yang berjasa ketika permulaan dibangunkan kerajaan Beng. Ketika Cie Tat berperang ke Timur dan Barat, ia telah wakilkan Kaisar Beng Thay Cou meluaskan daerah, menetapkan Negara, hingga jasanya dianggap paling besar. Tapi ia tahu Beng Thay Cou kejam, ia turut mengendalikan Negara dengan hati-hati dengan hati kebat-kebit, sedikit juga ia tak mau menerbitkan kesalahan. Kaisar sebaliknya tak tenteram hatinya mengadapi menteri-menterinya yang berjasa, tiap hari ia mencari jalan untuk persalahkan Cie Tat. Sampai pada suatu hari Cie Tat dapat sakit tumbuhan di bebokongnya.

Kaisar Beng itu tahu, siapa dapat sakit tumbuhan, dia mesti pantang makan angsa tim, atau dia segera akan binasa. Maka ia lantas perintahkan kirimkan angsa tim pada Cie Tat. Melihat masakan itu, Cie Tat mengucurkan air mata, dengan berdiam tetap atas pembaringannya, ia dahar habis angsa tim itu. Maka pada malam itu juga ia mati keracunan. Atas kejadian ini, semua menteri jadi ketakutan sendirinya. Setelah Yan Ong naik atas tahta, puteranya Cie Tat, ialah Cie Hui Cou, tidak suka menakluk,   hingga   Yan   Ong   jadi   gusar   dan   hendak binasakan padanya. Tapi Yan Ong cerdik, di waktu ia mulai bertahta ia ingin ambil hati orang, maka dengan alasan Cie Hui Cou adalah puteranya menteri berjasa dan juga pernah kok-kiu, ipar raja, ia batalkan niatnya, cuma dia itu dipecat, diperintah pulang ke gedungnya, dikurangi gajinya. Cie Hui Cou tetap setia kepada Baginda Kian Bun, dari itu selama-lamanya dia kandung harapan untuk membangun pula junjungannya itu.

Mengetahu hal ihwalnya Cie Hui Cou ini, Sin Cie menghela napas. Habis itu, ia baca surat yang kedua, yang memuat syair karangan Baginda Kian Bun sendiri, yang menguraikan kesannya yang menyedihkan, yang ditulis sepulangnya dia pesiar di propinsi-propinsi Hokkian, Kwietang, Sucoan dan Inlam, sekembalinya dia ke kotaraja, ibukota Kimleng (Lamkhia). Selama itu, raja ini telah berumur enam-puluh lebih, lenyap sudah harapannya untuk bisa naik kembali atas tahta, maka kemudian ia pergi tanpa tujuan. Entah bagaimana, peta dari hartanya itu telah terjatuh ke dalam tangan Kim Coa Long-kun.

Dengan gunai anak kunci, Sin Cie buka satu peti besi dan matanya lantas kesilauan, sebab peti itu penuh dengan pelbagai macam kumala dan permata lainnya, begitupun satu peti yang lainnya, hingga ia berdiri ternganga.

Sebentar saja, setelah sadar, Sin Cie pergi keluar.

"Pergi kau lihat di dalam," ia kata pada Ceng Ceng, yang tugasnya ia gantikan.

Ceng Ceng pun tercengang, sampai ia keluarkan seruan, kemudian ia keluar, tampangnya bercampur wajah keheranan dan kegirangan.

"Harta ini ada harta peresan dari rakyat, untuk apa kita ambil?" kata Sin Cie. Ceng Ceng tahu sekarang kejantanan si anak muda, ia pun tak mau unjuk ketemahaannya seperti dulu, untuk cegah dirinya dipandang enteng, ia kata: "Harta ini diambil dari rakyat, harta ini mesti dikembalikan pada rakyat juga!"

Tak kepalang girangnya Sin Cie, hingga ia sambar tangannya si nona, untuk dicekal dengan keras.

"Adik Ceng, sungguh kau kenal aku!" katanya memuji.

Tentu saja, si nona pun puas, hatinya lega bahwa ia dapat memahami pemuda itu.

"Kita sekarang punyai harta besar ini, dapat kita bertingkah sebagai puteranya satu orang berpangkat besar," kata Sin Cie kemudian. "Mari kita pergi ke kota raja, untuk suatu usaha besar. Kita nanti bantu Giam Ong dengan harta ini, guna rubuhkan kerajaan Beng. Apakah namanya usaha ini?"

"Itu artinya, dengan tumbaknya sendiri, kita tusuk tamengnya!" jawab Ceng Ceng. "Atau dengan gayanya sendiri, kita tindih padanya!"

"Benar, benar!" Sin Cie tertawa. "Sekarang hayo kita berkemas-kemas!"

Dengan dibantui si empeh gagu, Sin Cie bertiga angkut harta itu ke dalam kamarnya, lobang harta sendiri diuruk pula. Mereka mandi keringat karena kerja terlalu keras tapi mereka puas. Sampai fajar Barulah mereka selesai.

0o-d.w-o0