-->

Pedang Ular Emas Bab 09

Bab ke 09

Semua mata ditujukan kepada Sin Cie, kearah kakinya. Malah Uy Cin sudah bersiap, andaikata Lu Jie Sianseng kembali totok dengkul orang, dia hendak turun tangan guna bantu sutee itu, sesudah mana, mau dia terus serang musuh jumawa itu.

Selagi kakinya Sin Cie bergerak maju, cepat luar biasa, Lu Jie Sianseng pun geraki huncweenya untuk dipakai menyerang, seperti tadi dia totok dengkulnya Hie Bin. Akan tetapi si anak muda ini cuma menggertak, selagi tangannya si mahasiswa bergerak, dia pun segera tarik pulang kakinya itu, dengan begitu totokan Lu Jie Sianseng mengenai sasaran kosong. Justru disaat itu pemuda kita menyapu pula dengan kaki kirinya itu, yang tadi ia tekuk balik, maka sekejab saja, emas potongan itu kena tersempar.

Sampai disitu, Sin Cie tidak lantas berhenti. Sebaliknya, dia bergerak terus. Kembali kaki kanannya menyambar.

Lu Jie Sianseng menjadi mendongkol sekali, dia totok bebokong orang.

Sin Cie egos tubuh kekanan, sambil membungkuk, sembari berbuat demikian, tangan kirinya menyambar. Ia berhasil menyampok kekanan kepada emas itu disaat kakinya Lu Jie Sianseng diangkat, karena untuk totok si anak muda, ia mesti bergerak.

Bergerak terlebih jauh, Sin Cie kerjakan kaki kirinya. Ia mendahului, akan gunai ketika selagi tubuh lawan itu digeser, kakinya diangkat. Ini kali pun ia berhasil karena emas tersempar, disambut oleh tangan kanannya.

Dalam tempo yang pendek, tiga potong emas tersimpan dalam tangan baju yang kanan dari anak muda ini, sesudah mana ia berdiri dengan tenang. "Aku hendak ambil semua emas ini," berkata dia. "Lu Locianpwee toh menetapkan janji?"

Kata-kata ini ditutup dengan satu gerakan yang sebat, selagi orang tunggui jawabannya sianseng itu, sedangnya si sianseng sendiri belum sempat menjawabnya.

Semua orang kagum, karena tahu-tahu Sin Cie sudah kantongi semuanya sepuluh potong emas itu, malah orang- orang Liong Yu Pang dan Cio Liang Pay serukan pujian mereka tanpa merasa.

Mukanya Lu Jie Sianseng jadi merah-padam, tanpa bilang suatu apa tangan kirinya lantas melayang, menyambar si anak muda, menyusul mana, kaki kanannya menjejak ugal-ugalan kaki Sin Cie.

Inilah serangan istimewa menurut ilmu silat Hoo Kun.

Sin Cie berkelit dari dua-dua serangan itu, kapan ia lantas didesak, ia cepat mundur. Ia lihat lawan itu geraki kedua tangannya, kedua kakinya, tubuhnya dipasang mendak, dibangunkan berdiri. Itulah gerakannya burung hoo menyambar-nyambar.

Menghadapi ilmu silat lawan yang luar biasa itu, Sin Cie tidak berani rapatkan diri, ia main berputaran, untuk setiap kali menyingkir. Secara begini, diam-diam ia bisa perhatikan sesuatu serangan atau gerakan lawan itu. Makin hebat ia diserang, makin cepat ia luputkan diri.

Lu Jie Sianseng lihat orang selalu menyingkir, tak berani lawan dekati dia, dia percaya, bocah itu cuma gesit tubuhnya, kepandaian silatnya tidak seberapa, dengan sendirinya, dia jadi memandang enteng, hingga sembari berkelahi, dia tertawa ter-bahak-bahak. Lupa dia bagaimana tadi emasnya telah disambar dengan kecepatan istimewa. Begitulah dia gunai kesempatan untuk sedot huncweenya, akan kepulkan asapnya.

Selama ber-putar-putar, Sin Cie mulai mengerti ilmu silat lawan itu, dari itu ia girang sekali menonton kejumawaan lawan, bertempur sambil sedot huncwee dan kepulkan asap. Secara mendadak dia merangsak mendekati, tangan kirinya diulur kebatang hidung lawan kepala besar itu, untuk disampok.

Lu Jie Sianseng terperanjat. Inilah serangan yang ia tidak sangka-sangka. Tapi ia tidak mau berlaku ayal-ayalan, sambil kelit hidungnya, ia pun menangkis dengan huncweenya, yang ia lekas-lekas geraki dari bawah keatas.

Sin Cie tidak singkirkan kepalannya dari serangan huncwee itu, ia buka kepalannya, ia sambuti senjata lawan itu dengan satu sambaran, untuk menyekal. Oleh karena Lu Jie Sianseng sedang menyerang, tak sempat ia tarik pulang huncweenya itu. Ia kaget, segera ia menarik dengan keras.

Inilah apa yang Sin Cie duga. Selagi si sianseng menarik dengan keras, untuk mana dia pakai kedua tangannya, dia bikin iga kanannya kosong. Ketika yang baik ini tidak disiasiakan lagi oleh si anak muda. Sebat luar biasa, ia menotok ke jalan darah thian-hu-hiat.

Lu Jie Sianseng terkejut sesudah kasip, tahu-tahu dia rasai tubuhnya sebelah kanan gemetar dan habis tenaganya, hingga huncweenya terlepas diluar keinginannya.

Selagi begitu, Sin Cie lihat Ceng Ceng tertawa hihi-hihi. Ia senang lihat si nona bergirang, lantas saja ia sodorkan huncwee kearah mulutnya lawan itu. Tapi yang ia sodorkan bukan ujung huncwee piranti menyedot, hanya ujung tempat tembakau, yang apinya sedang menyala, sebab Baru saja tadi disedot pemiliknya. Lu Jie Sianseng sedang tercengang, ia kaget ketika api membakar kumisnya, sampai mengeluarkan asap.

"Sutee, jangan bersenda-gurau!" Uy Cin teriaki adik seperguruan itu. Diam-diam ia kagumi keliehayan sutee itu.

Sin Cie tarik pulang ujung huncwee, untuk ditiup apinya, tapi justru karena ini, sebab ia meniup dengan keras, api meletik berhamburan, abu tembakau turut terbang juga, hingga antaranya ada api yang menyambar muka Lu Jie Sianseng.

Menampak demikian, Uy Cin lompat kearah orang she Lu itu. Tak dapat ia tak tertawa memandang kejadian lucu itu, akan tetapi lekas-lekas ia totok jalan darahnya si lawan, yang sudah tidak berdaya disebabkan totokannya Sin Cie. Disebelah itu, ia sambar huncwee dari tangan Sin Cie, untuk dikembalikan pada pemiliknya, ia jejalkan ditangannya dia itu.

Lu Jie Sianseng masih tercengang ketika ia lihat semua orang memandang dia sambil tertawa, tidak tempo lagi, dia lemparkan huncweenya, lantas dia memutar tubuh, untuk lari pergi.

Eng Cay memburu kawan itu, yang ia sambar tangan bajunya, untuk ditarik, buat dicegah kepergiannya, akan tetapi Lu Jie Sianseng tolak dia hingga dia terpelanting terhuyung-huyung. Tak hentikan tindakannya, kawan itu lari terus sehingga dilain saat dia sudah menghilang.

Pihak Cio Liang Pay saksikan liehaynya Sin Cie, mereka kagum tetapi tidak kaget, memang mereka tahu pemuda ini tak dapat dibuat permainan, tidak demikian pandangannya pihak Liong Yu Pang. Mereka ini pandang jagonya - Lu Jie Sianseng- bagaikan malaikat, tidak tahunya sekarang, satu bocah permainkan dia mirip sebagai anak kecil. Uy Cin sendiri kagumi sutee itu, akan tetapi dia bukan melainkan kagum saja, berbareng ia heran. Sutee itu menotok jalan darah. Ia tahu itu. Itulah totokan "It-cie-sian" atau "Satu Jeriji" dari Hoa San Pay. Yang aneh adalah caranya Sin Cie berkelit, berputar-putar, demikian juga caranya dia kower emas untuk dilemparkan masuk kedalam saku baju. Itulah pelajaran yang ia tidak pernah dapatkan dari gurunya.

"Tidak mungkin suhu sayangi ini murid bungsu dan karenanya dia diajarkan ilmu yang ber-beda-beda," pikir ia. Itu adalah gerakan yang berlainan sekali dengan semua gerakan ilmu silat Hoa San Pay.

Hie Bin adalah yang merasa paling aneh, karena ia tidak sempat lihat bergeraknya tangan si anak muda, si paman cilik itu.

Dan Ceng Ceng dan Siau Hui, mereka tertawa haha-hihi hingga mereka merasai perut mereka mulas tanpa sakit, saking lucunya pemandangan barusan itu.

Uy Cin ketek pula shuiphoa, terus dia kata: "Tadi telah dijanjikan, kalau tiga potong emas yang diinjak dan ditindih dapat digeser, semua emas itu akan dikembalikan kepada kami, maka itu disini aku haturkan banyak-banyak terima kasih!" Ia terus saja beri hormat, lalu ia titahkan Hie Bin : "Punguti semua emas itu!"

Memang, selagi Sin Cie hendak layani Lu Jie Sianseng, semua potongan emas telah dikeluarkan dari dalam tangan bajunya.

Eng Cay saksikan Hie Bin hendak pungut uang, kedua matanya bersinar diantara berkilauannya emas itu. Mana ia rela membiarkan harta itu terjatuh kedalam tangan lain orang? Maka ia maju untuk terus tolak tubuhnya Hie Bin, hingga dia ini mundur dengan sempoyongan. "Eh, apa kau mau?" tanya Hie Bin, dengan gusar. "Apa kau juga hendak coba-coba?"

Menampak demikian, Uy Cin maju.

"Hie Bin, mundur!" ia serukan. Terus ia kasi hormat pada Eng Cay, pada siapa, sambil tertawa, ia bilang : "Selamat berbahagia! Tuan, tokomu itu apa mereknya? Tuan biasanya berdagang apa? Pasti sekali kau peroleh kemajuan hingga meluas keempat penjuru lautan dan hartamu berjumlah besar sampai memenuhi tiga sungai!"

Uy Cin ini memang asal saudagar, dia adalah seorang jenaka, maka itu sekalipun sedang menghadapi pertempuran, dia masih sempat ngoceh tidak keruan.

"Siapa bergurau denganmu?" Eng Cay membentak dengan murka. "Aku adalah Eng Cay, ketua dari Liong Yu Pang. Aku masih belum belajar kenal dengan she dan namamu, tuan?"

"Sheku yang rendah ada Uy dan namaku melainkan satu huruf Cin," sahut toasuheng dari Sin Cie. "Itulah huruf Cin yang berarti 'tulen', tulen yang tidak ada keduanya. Harga barang-barangku adalah harga tetap tulen, hingga barang seharga satu tail tidak nanti aku jual dengan satu tail satu bun, sedang pembeli anak kecil dan tua, tidak nanti aku perdayakan! Tuan berdagang apa, sukakah kau membantu dengan berhubungan denganku?"

Eng Cay sebal dengan ocehan itu, ia jadi semakin mendongkol dan gusar.

"Ambil senjataku!" dia berseru kepada rombongannya.

Lantas salah satu orangnya bawakan tumbaknya yang besar, ia sambuti itu, untuk segera ditarik kebelakang, lalu diteruskan menikam orang didepannya. Uy Cin lompat berkelit kekiri.

"Ayo!" dia berseru. "Kami orang dagang, emas itu tak suka kami tidak mendapatkannya!"

Dia lantas simpan pesawat hitungnya, dia membungkuk akan punguti emas dilantai.

Ngo Cou insaf orang ini liehay dan Eng Cay bukan tandingannya, tetapi juga mereka tidak sudi kehilangan emas itu, maka Beng Gie dan Beng Go segera lompat maju kedalam kalangan.

"Untuk punyakan uang tak demikian gampang!" mereka berseru.

Uy Cin lihat rangsekan hebat, sambil mendak, ia menggeser kekanan, dari sini tangan kirinya dipakai menyerang dengan pukulannya "Keng Tek kwa pian" atau "Ut-tie Kiong menggantung ruyung". Ini adalah serangan dari samping.

Serangannya Beng Gie dan Beng Go adalah turut runtunan Ngo-heng-tin. Mereka tampak bahaya, tidak ajal lagi, mereka mundur sendirinya. Tapi justru mereka mundur, Beng Tat dan Beng San menggantikan maju. Dengan tangan kanan, Beng San tangkis serangannya Uy Cin tadi, sedang Beng Tat hajar bebokong lawan.

Sejak Uy Cin keluar dari perguruan dan berkelana, belum pernah ia menemui tandingan yang liehay, dan walaupun ia suka bergurau, ia teliti dan hati-hati. Inilah sifatnya yang membikin ia belum pernah gagal. Barulah sekarang, menyerbu Ngo-heng-tin, ia menghadapi lawan- lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Ia bisa egos tubuh dari serangan Beng Tat, atau kedua lawan itu mundur, lalu Beng Sie menyusul serang ia. Begitu selanjutnya, lima saudara itu maju dan mundur saling ganti, sebentar berdua, sebentar sendiri, hingga kendatipun mereka cuma berlima, gerakan mereka mirip dengan gerakan beberapa puluh orang.

Mau atau tidak, Tong-pit Thie-shuiphoa menjadi terkejut. Ia tidak mengerti, ilmu berkelahi cara apa itu yang lawan-lawannya gunai. Benar-benar serangan mereka, atau lebih benar pengurungan mereka, merupakan sebagai tin, barisan istimewa. Kalut serangan itu tapi rapi maju dan mundurnya.

Sesudah melayani sekian lama, tanpa ia bisa serang secara berarti kepada musuh-musuhnya, atau satu diantaranya, Uy Cin lantas ubah sikap. Ialah ia berlaku tenang, ia tempatkan diri ditengah. Ia sambut sesuatu serangan, tidak mau ia balas merangsak. Tentu saja, dengan begini, ia jadi kena dikurung.

Eng Cay girang sekali mendapati orang kena dikepung, cuma bisa beladiri, tidak bisa membalas. Ia anggap ini adalah ketikanya untuk ia turun tangan terlebih jauh. Maka ia tunggu saatnya, lalu ia menusuk dengan hebat dengan serbuan "Leng coa pok kie", atau "Ular menubruk", salah satu ilmu silat tumbak Yoo-kee-chio, ilmu tumbak keluarga Yo. Ia menikam bebokong.

"Uy supeh, awas!" berseru Siau Hui, memperingati.

Nona ini kaget atas bokongan itu.

Uy Cin adalah murid kepala dari Bok Jin Ceng, dia telah wariskan ilmu silat Hoa San Pay, coba lima saudara Un tidak gunai Ngo-heng-tin, walaupun mereka mengepung berlima, tidak nanti mereka berhasil. Demikianpun bokongan Eng Cay, tak perduli dia menjadi ketua Liong Yu Pang.

Begitu lekas serangan sampai, mendadak Uy Cin putar tubuhnya, berbareng dengan itu, tangannya pun bergerak.

367 Tepat sekali, tumbak kena ditangkis sambil terus dicekal. Itu adalah gerakan ilmu silat tangan kosong melawan senjata, yang sukar dijakinkannya, tapi Uy Cin tekah berlatih beberapa puluh tahun. Maka begitu lekas dapat menyekal, dia terusi membetot tumbak itu. Berbareng membetot lawan, dia pun menoleh kesamping sambil dengan tangan kirinya menangksi serangan Beng San, sedang kaki kanannya digeser setengah tindak, guna menghindari jejakan Beng Gie, yang datang dari belakang.

Menyusul betotannya Uy Cin, Eng Cay terdengar menjerit keras. Dia tak mau lepaskan tumbaknya, maka itu tubuhnya kena terangkat naik, terlempar melewati kepala orang, terus jatuh terbanting dilantai. Akan tetapi jeritannya bukan disebabkan terbantingnya itu. Hanya selagi dia terbetot, ketika tubuhnya mendekati Uy Cin, lawannya ini lepaskan tumbak yang dicekal, pundaknya kiri dipakai menggempur iga kanan lawan hingga ketua Liong Yu Pang itu merasakan sakit hebat sampai kesumsumnya.

Segera beberapa orang Liong Yu Pang maju untuk tolongi ketua itu.

Dalam rombongan Liong Yu Pang itu ada ketua mudanya, Bu-pangcu Khu Kak Lian, murid kepala Eng Cay yang bernama Bun Hoa dan murid kedua bernama Chio Thong Cou. Mereka ini jadi sangat gusar, hingga tanpa bilang suatu apa, mereka lompat menyerang.

Uy Cin layani tiga musuh baru itu, Baru beberapa jurus, ia telah berhasil membanting mereka satu demi satu, malah Bun Hoa patah lengan kanannya, hingga dia terluka parah.

Setelah itu, tidak ada lagi orang Liong Yu Pang yang berani maju. Maka selanjutnya, Uy Cin terus melayani Ngo Cou dari Cio Liang Pay. Pertempuran seru sekali, hingga keenam orang tertampak bagaikan bajangan saja yang saling sambar. Ada kalanya Uy Cin dapat lolos dari kepungan atau segera ia terkurung pula, saking gesitnya kelima lawan, yang cara pengepungannya tak pernah menjadi rancu.

"Benar hebat," memikir Uy Cin akhirnya, sesudah lama juga ia berkelahi dengan tidak ada hasilnya. Tidak pernah ada satu diantara musuh yang dapat ia serang. Mau atau tidak, ia sibuk sendirinya.

Juga lima saudara Un menjadi heran dan kagum. Tidak mereka sangka lawan ini, yang mirip dengan satu pedagang atau orang biasa saja, demikian liehay. Sudah dikepung hebat, pembelaannya tetap rapat dan rapi.

Selagi pertempuran berlangsung makin seru, Uy Cin lihat tegas cara penyerangan lawan-lawannya. Ada kalanya seorang hendak menendang, atau mendadakan dia berkelit kesampung dari mana menyeranglah lain kawannya. Ada waktunya seorang mementang kedua tangan untuk rangkul dia, hingga dia mesti mundur, atau dari belakangnya, satu kaki mendupak dia!

Selagi penyerangan lawan jadi semakin hebat, macamnya serangan pun bertambah beraneka-warna, hal ini membuat ia jadi repot, maka untuk tidak menempuh bencana sia-sia, mendadakan ia keluarkan seruan panjang, kedua tangannya lantas keluarkan pit dan shuiphoa - Tong- pit Thie-shuiphoa. Didalam hatinya dia pikir : "Kamu berlima, aku sendirian, tidak ada halangannya akan aku gunai senjata." Maka itu sekarang selagi menyerang, saban- saban ia cari jalan darah lawan-lawannya.

Belum terlalu lama, lima saudara Un telah menjadi repot, maka mereka tidak sudi mensia-siakan tempo, dengan mendadak Un Beng Tat berseru dengan suitannya. Un Cheng dan Un Lam Yang mengerti tanda dari ketua itu, dengan bergantian mereka lempar-lemparkan gegamannya masing-masing ketua itu, yang menyambuti dengan baik, hingga selanjutnya mereka juga bersenjata semua. Hingga karena itu, golok kongtoo, ruyung joanpian, tongkat besi dan lainnya, saling sambar.

Pertempuran kali ini berlanjut tidak saja lebih seru malah terlebih berbahaya, sebab semuanya menyekal senjatanya masing-masing. Dari itu, para hadirin menjadi tercengang, mereka gembira tapi hati mereka berkedutan.

Cui Hie Bin sibuk bukan main melihat gurunya terancam bahaya kepungan yang sangat kuat itu, ia tahu ia tidak punya guna akan tetapi ia sayang sekali gurunya, maka dengan melupakan segala apa, ia berseru dengan putar goloknya, ia lompat, untuk menyerbu kedalam Ngo-heng- tin. Ia Baru loncat tiga tindak atau didepannya ada berkelebat satu bajangan, yang tangannya segera menekan pundaknya. Ia kaget, ia ayun goloknya, untuk membacok, tapi apamau, tekanan orang itu begitu berat sehingga ia tak sanggup geraki pundaknya.

"Cui Toako, tak dapat kau pergi, sia-sia kau antarkan jiwamu!" demikian satu suara cegahan.

Kapan pemuda she Cui ini mengawasi, ia kenali Sin Cie sebagai penghalang itu. Tadi ia telah saksikan pemuda itu pecundangi Lu Jie Sianseng, masih ia kurang percaya akan kegagahan orang, tetapi sekarang Barulah ia menginsafi tenaganya yang besar luar biasa. Tak dapat ia tak dengar kata lagi.

Sin Cie tarik pulang tangannya seraya terus berkata : "Jangan kau sibuk! Gurumu masih sanggup layani mereka!" Lantas anak muda ini awasi pula pertempuran, sedang Hie Bin terpaksa berdiri melongo, untuk turut menonton terus.

Sin Cie perhatikan jalannya pertempuran tapi kadang- kadang ia dongak keatas genteng, diwaktu begitu agaknya dia berada dalam kesulitan pikiran.

Segera Siau Hui datang mendekati.

"Engko Sin Cie, pergi tolongi Uy Supeh," kata nona ini. "Berlima mereka kepung satu orang, sungguh mereka tak tahu malu!"

Sin Cie tidak menjawab, dengan satu gerakan tangan, ia suruh nona itu mundur.

Siau Hui tidak dapat muka, ia mundur dengan lesu.

Ceng Ceng saksikan lagaknya nona An itu, diam-diam ia bergirang.

Selama pertempuran berjalan dengan seru itu, Uy Cin tidak pernah berhasil dengan pitnya, dengan shuiphoanya, untuk menotok atau sambar senjatanya lawan. Malah senjata mereka tidak pernah bentrok satu dengan lain. Lima saudara itu singkirkan bentrokan, sebagaimana Uy Cin pun tak inginkan itu.

Lagi sesaat, sekonyong-konyong Sin Cie lompat menghampiri Siau Hui.

"Adik Siau Hui, maafkan perbuatan tadi," kata dia. "Tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Sekarang aku berhasil memecahkan pikiranku itu."

"Disaat sebagai ini apa masih ada soal maaf?" jawab si nona. "Lekas kau pergi bantui Uy Supeh!"

Sin Cie tertawa. "Aku telah berhasil memecahkan pikiranku, aku tidak kuatir lagi!" katanya.

"Kau benar aneh! Kenapa kau tidak bedakan urusan enteng dan berat, penting dan tidak penting? Kalau ada kesukaran, apa kau tidak bisa tunggu sampai pertempuran sudah selesai Baru kau memikirkannya pula?" tanya Siau Hui.

Kembali Sin Cie tertawa.

"Yang aku pikirkan justru ada soal pertempuran ini!" sahutnya. "Aku pikirkan bagaimana aku bisa pecahkan barisan Ngo-heng-tin ini. Apakah kau tidak dapat ingat atau lihat bagaimana senjata mereka tidak pernah bentrok satu pada lain?"

"Ja, aku pun herani itu," jawab Siau Hui.

"Pokoknya tin mereka ada kecepatan," Sin Cie menjawab. "Sesuatu bentrok senjata berarti mensia-siakan tempo. Maka itu, untuk melawannya, guna memecahkan, kecepatan juga yang dibutuhkan. Kita mesti menangkan kecepatan mereka itu, Baru kita akan berhasil."

0o-d.w-o0

"Mereka telah terlatih sempurna, mereka sangat gesit, bagaimana dapat kita lombainya?" tanyanya.

Sin Cie bersenyum.

"Lihat saja, aku akan coba-coba!" sahutnya. Ia menoleh pada Siau Hui dan berkata : "Coba pinjamkan aku tusukan rambutmu!"

Siau Hui loloskan tusukan rambutnya yang terbuat dari batu pualam dan serahkan itu.

Sin Cie menyambuti, ia dapatkan satu tusuk konde yang bagus sekali. "Aku akan gunai tusuk konde ini untuk layani mereka," katanya.

Hie Bin dan Siau Hui tertawa. Mereka anggap orang lagi main-main. Tidakkah tusukan batu kumala itu regas sekali, gampang patah? Bagaimana itu dapat dipakai sebagai alat- senjata?

Sin Cie tidak ambil mumet dua orang itu terheran-heran, ia hanya awasi pertempuran, lalu ia teriaki Toa-suhengnya itu : "Toasuheng, sut-tou menciptakan it-bok, maka injaklah kian-kiong dan jalan di kam-wie!"

Itulah istilah-istilah dari Pat-kwa.

Uy Cin dengar itu, ia melengak sendirinya, tak dapat ia lantas mengerti itu. Tidak demikian dengan Un-sie Ngo Lo, lima ketua keluarga Un itu, mereka ini terperanjat.

"He, kenapa bocah itu bisa ketahui rahasia Ngo-heng- tin?" pikir mereka. Mereka anggap temponya terlalu singkat untuk menginsafi itu.

Sin Cie tidak perdulikan kakak seperguruan itu mengerti atau tidak, kembali ia perdengarkan suaranya : "Toasuheng, phia-hoh menakluki khe-kim, maka jalanlah di Cin-kiong, keluar dari lie-wie!"

Selama pertempuran yang telah berjalan lama itu, Uy Cin pun gunai pikirannya, sebab ia dapat kenyataan, secara keras, secara halus, masih ia tak dapat pecahkan Ngo-heng- tin. Ia ingat lawan-lawannya kurung ia menuruti garis-garis Pat-kwa, akan tetapi beberapa kali ia sudah coba mendobrak, saban-saban ia gagal. Tapi setelah dengar suara suteenya yang kedua kali, ia pikir pula.

"Baik aku mencoba," ia ambil putusan. Ia lantas menunggu. Sebentar kemudian, datanglah saat yang baik. Dengan tiba-tiba ia ambil jalan cin-kiong, untuk keluar dari lie-wie. Dan ia berhasil! Ia dapatkan satu lowongan! Segera ia hendak nyeplos. Mendadakan Sin Cie serukan pula : "Jalan ke kian-wie! Jalan ke kian-wie!"

Dikedudukan kian-wie itu ada menjaga dua saudara Un, Beng San dan Beng Sie. Tapi Uy Cin percaya suteenya itu, ia tidak mau sia-siakan waktu, tanpa berpikir lagi, ia menerjang kearah kian-wie itu.

Beng San dan Beng Sie Baru menjaga, lantas mereka mesti pecah diri, untuk lowongan mereka diisi oleh Beng Tat dan Beng Go. Itu adalah menurut cara-cara kepungan mereka. Justru mereka hendak memecah diri, disaat itulah Uy Cin menerjang kearah mereka. Maka itu, selagi lowongan sedang terbuka, Uy Cin geraki pitnya dan alat penghitungnya kekiri dan kanan, untuk cegah dua saudara itu merintangi dia. Dia berlompat dengan luar biasa pesat, hingga tahu-tahu dia sudah lolos dari kurungan dan segera berdiri didamping Sin Cie!

Lima saudara Un tercengang, lekas-lekas mereka undurkan diri, akan berdiri berbaris. Nampaknya mereka menyesal. Tapi Un Beng Tat segera bicara.

"Kau bisa lolos dari Ngo-heng-tin, kepandaianmu bukan kepandaian sembarang," kata ketua Ngo-cou dari Cio Liang Pay. "Apakah tuan ada dari Hoa San Pay? Bagaimana tuan membahasakannya terhadap Locianpwee Bok Jin Ceng?"

Begitu lekas ia sudah merdeka, kumat pula kejenakaannya Uy Cin. Begitulah ia tertawa geli seorang diri.

"Bok Locianpwee itu adalah guruku yang bijaksana," ia menyahut. "Kenapa? Apakah aku sebagai murid telah membuat malu kepada guruku itu?" Beng Tat tidak gubris orang menggoda dia.

"Pantas, pantas!" katanya. "Memang aku telah lihat, ilmu silatmu ada dari Hoa San Pay."

Uy Cin tidak hiraukan pengutaraan itu. Dia kata : "Kita sudah bertempur! Kamu berlima telah kepung aku satu orang, aku tidak sanggup pukul rubuh kepadamu, kamu sendiri tidak mampu jambak kepadaku! Inilah dia yang dibilang cara berdagang yang maha adil, atau setengah kati itu ialah delapan tail! Sekarang bagaimana hendak diaturnya dengan emas ini?" Ia tidak tunggu jawabannya Ngo Cou, ia menoleh kepada Eng Cay ketua Liong Yu Pang dan kata : "Tuan saudagar, perhubungan dagang kita berdua sudah putus pembicaraannya, mengenai emas ini, bagianmu sudah tidak ada lagi!"

Eng Cay malu sekali, ia insaf tak dapat ia lawan dia itu, akan tetapi ia toh menyahuti: "Orang she Uy, jangan kau tekebur! Nanti datang satu hari yang kau toh bakal terjatuh dalam tanganku!"

Uy Cin tertawa, dia kata : "Jikalau ditoko tuan ada lain barang lagi, silakan berhubungan dengan tokoku, perkara rugi tidak menjadikan soal! Kita toh ada langganan- langganan lama! Perkara harganya barang, kita nanti boleh damaikan pula secara istimewa. "

Bukan kepalang mendongkolnya ketua Liong Yu Pang. Berkelahi dia kalah, adu mulut pun ia tak ungkulan, maka dengan terpaksa, ia ajak rombongannya ngeloyor pergi.

Rombongannya Beng Tat juga tidak perdulikan berlalunya orang-orang Liong Yu Pang itu, Beng Tat sendiri lantas kata kepada lawannya yang tangguh itu : "Melihat kepandaian kau, kau adalah seorang gagah dari jaman ini, maka mengenai emas ini, dengan memandang kepadamu aku hendak atur begini: Kami suka menyerahkannya separuh..."

Jago Cio Liang Pay ini takut juga terhadap Hoa San Pay, ia jadi tak ingin menambah musuh. Ia anggap pertimbangannya itu pantas.

Uy Cin tertawa.

"Coba uang ini ada kepunyaanku sendiri," jawabnya. "walaupun sekarang ada masa tidak aman dan mencari uang bukannya gampang, asal sahabat membutuhkannya, tak halangannya untuk diambil semua sekalipun. Akan tetapi aku harap saudara mengetahuinya. Uang ini ada uang belanja tentaranya Giam Ong! Muridku yang tolol ini diberi tugas mengantarnya, emas itu kena diambil oleh orangmu, saudara, maka kalau sekarang aku pulang dengan tidak bersama emas yang utuh, bagaimana aku dapat memberi tanggung-jawabnya?"

Belum lagi Beng Tat beri penyahutan, Beng Gie sudah tak dapat kendalikan diri.

"Untuk kembalikan emas kepadamu, itu pun boleh!" serunya dengan murka. "Tapi mesti dengan dua syarat!"

"Jikalau barang ada harganya, shuiphoa boleh dikeluarkan untuk menghitungnya," kata Uy Cin dengan tenang. "Bukankah segala apa dapat didamaikan? Bukankah tak ada halangannya untuk kita saling tawar dengan pelahan-lahan? Karena aku hendak membayar kontan, tolong kau sebutkan harganya, nanti kami timbang pula. "

"Tidak ada tawar-menawar lagi!" kata Beng Gie dengan sengit. "Syarat yang pertama, untuk mendapati emas ini, kamu mesti mengantar barang kepada kami. Tentang barang antarannya, banyak atau sedikit tidak menjadi soal. Inilah aturan kami, satu kali kami telah dapatkan suatu barang tak dapat itu dikembalikan secara gampang- gampang!"

Uy Cin bersenyum. Ia tahu inilah soal muka, soal kehormatan. Cio Liang Pay suka mengembalikan emas, itu artinya segala apa sudah beres. Maka tidak lagi ia hendak bersenda-gurau, sebaliknya, dengan sungguh-sungguh dia menyahuti: "Kalau tuan-tuan bilang demikian, dengan segala senang hati aku suka menerimanya. Besok pagi aku nanti pergi kekota Kie-ciu untuk membeli, mempersiapkan barang-barang persembahan itu, nanti aku sendiri yang mengantarkannya. Aku pun masih hendak sajikan beberapa meja hidangan untuk undang tuan-tuan serta beberapa saudara penduduk sini untuk menemaninya."

Mendengar itu, Beng Gie nampaknya puas.

"Baik!" berkata dia. "Sekarang syarat kedua. Bocah she Wan ini mesti ditinggalkan disini!"

Uy Cin terkejut.

"Kamu sudi pulangi emas, aku berikan kamu muka terang," pikirnya. "Kenapa kamu hendak timbulkan urusan lain lagi?"

Toasuheng ini masih belum tahu jelas duduknya hubungan diantara keluarga Un dan suteenya itu, perihal Kim Coa Long-kun dan Un Gi. Sin Cie tahu rahasia orang, cara bagaimana dia bisa dilepaskan secara begitu saja? Adalah keinginannya Ngo Cou untuk binasakan pemuda ini, guna lampiaskan hati mereka. Terutama adalah keinginan Ngo Cou mendapati peta harta karunnya Kim Coa Long-kun, yang mereka sangka disimpan si anak muda. Dan mereka masih percaya, tidak perduli Sin Cie gagah, Ngo-heng tin tentu bakal dapat rubuhkan padanya. Itulah syarat yang hebat, tapi mendengar itu, Uy Cin tertawa.

"Suteeku ini ada seorang yang gembul sekali gegaresnya," berkata dia. "dengan kamu suka beri tempat dia disini, itulah bagus sekali, hanya saja, nasi untuk satu tahun, dia bakal gegares habis dalam tempo enam bulan, aku kuatir tuan-tuan nanti rugi!. "

Hie Bin kenal baik tabiat gurunya, mendengar perkataan gurunya yang belakangan ini, ia percaya pertempuran bakal diulangi lagi, maka itu ia cekal keras-keras senjatanya. Dengan mata tajam ia pandang musuh.

Beng Tat tak perdulikan godaan itu, ia gusar.

"Saudara mudamu tadi ajarkan kau bagaimana harus loloskan diri dari Ngo-heng-tin," katanya sambil tertawa dingin. "Kelihatannya dia ketahui baik tentang tin kami ini, maka itu, baik kami undang dia untuk mencoba-coba kepandaiannya itu!"

Ketua Cio Liang Pay ini andali betul Ngo-heng-tin. Sebenarnya tin itu terdiri dari lima rintasan, tapi menghadapi Uy Cin, Baru digunai sampai yang kedua, jadi masih ada tiga rintasan lainnya.

Uy Cin telah rasai hebatnya tin, maka ia pikir, "Aku dengan pengalamanku beberapa puluh tahun, tak dapat aku menoblos keluar, bagaimana lagi dengan suteeku ini? Benar dia dapat tunjuki jalan padaku tetapi dia hanya sebagai orang diluar kalangan, pikirannya tentu sehat, dia dapat melihat jalan. Kalau dia disuruh maju, aku kuatir dia gagal. "

Karena ini, ia jawab: "Ngo-heng-tin ada sangat liehay, barusan aku telah mengalaminya sendiri. Suteeku ini berumur tak setua cucumu, tuan-tuan, kenapa kamu hendak mempersulit dia? Umpama tuan-tuan tak puas terhadapnya, baik majukan siapa saja untuk ajar adat kepadanya!"

Uy Cin bicara mengalah tapi maksudnya justru berkeras. Ia percaya, jikalau satu lawan satu, Sin Cie tak akan dapat dikalahkan mereka berlima.

Un Beng San tertawa dingin.

"Hoa San Pay sangat kenamaan, siapa tahu Baru lihat Ngo-heng-tin yang tidak berarti, orangnya sudah ketakutan hingga dia umpatkan kepala dan sembunyikan ekor!" katanya. "Kalau begitu, sejak hari ini, apa Hoa San Pay masih bisa angkat namanya dalam dunia kangouw?"

Hie Bin jadi sangat gusar, ia muncul tanpa perkenan. "Siapa bilang Hoa San Pay jeri terhadapmu?" dia

berteriak.

"Kalau demikian, kau saja yang maju!" Beng San mengejek sambil tertawa.

Hie Bin benar tidak tahu takut, dia hendak maju lebih jauh.

Sin Cie tarik keponakan-murid itu.

"Cui Toako, kasi aku yang maju lebih dahulu," paman cilik ini kata dengan pelahan," apabila aku gagal, Baru kau membantui..."

Hie Bin manggut.

"Baik," jawabnya. "Begitu lekas kau membutuhkan bantuan, panggillah aku dengan namaku, aku akan lantas maju, tidak usah kau sebut-sebut Cui Toako atau Cui Jieko!"

Sin Cie bersenyum, ia manggut.

Siau Hui merasa lucu, dia tertawa geli. "Eh, kau tertawakan apa?" Hie Bin menegur sambil melotot.

"Tidak apa-apa, aku merasa lucu sendiri," sahut si nona.

Masih Hie Bin hendak menegasi, tapi Sin Cie sudah lompat kedepan, sebelah tangannya memegangi tusukan rambutnya Siau Hui.

"Ngo-heng-tin dari Cio Liang Pay begini liehay tapi seumur hidupku belum pernah aku melihatnya!" kata dia.

"Pupukmu masih belum kering, kau tahu apa?" berseru Beng Gie. "Bagaimana kau bisa kenali Ngo-heng-tin kita?"

Sin Cie berlaku tenang.

"Lo-ya-cu semua hendak menahan aku, inilah soal yang minta pun aku tak berani," katanya pula. "Baiklah, mari kita gunai ketika baik ini supaya aku bisa belajar kenal dengan keliehayan Ngo-heng-tin!"

"Hati-hati, siau-susiok!" Hie Bin berteriak, memperingati. "Mana mereka kandung maksud baik!"

Sin Cie menoleh pada si semberono, ia tertawa.

"Mereka orang-orang tua, tidak nanti mereka perdayakan kita anak-anak dengan usia muda!" katanya. "Jangan kuatir, Cui Toako!" ia terus menoleh kepada Ngo Cou, akan lanjuti

: "Aku hendak maju sekarang, harap loyacu semua menaruh belas kasihan..."

Orang-orang Cio Liang Pay heran. Dari kata-katanya, terang anak muda itu jeri, akan tetapi sikapnya sangat tenang, tindakannya pelahan dan tetap, tak tertampak roman kuatir atau bingung. Mereka jadi tak dapat menerka hati orang.

Ngo Cou tahu orang liehay, mereka tidak berani memandang enteng. Dengan satu tanda gerakan tangan,

380 mereka mulai bersiap. Beng Gie dan Beng San mencelat kekanan, ketiga saudaranya turut, akan ambil kedudukannya masing-masing, maka sebentar saja, si anak muda sudah dikurung.

Sin Cie bawa sikap seperti ia tidak engah, dia malah memberi hormat ketika dia tanya : "Apakah kita orang main-main dilantai datar?"

"Ya, tak usah dipanggung Bwee-hoa-chung lagi!" sahut Beng Tat. "Kau keluarkan senjatamu!"

Sin Cie perlihatkan tusuk kondenya.

"Tuan-tuan ada dari angkatan tua, aku yang muda mana berani berbuat tidak hormat dengan menggunai senjata tajam?" katanya. "Dengan kumala ini saja aku mohon pengajaran dari kamu semua!"

Kata-kata ini membuat semua orang, sahabat dan lawan, menjadi heran. Ada yang anggap anak muda ini sangat tekebur. Apa artinya sebatang tusuk konde? Kebentur sedikit saja tentu bakal patah! Bagaimana itu bisa diadu dengan senjata Ngo Cou?

Uy Cin berdiam sedari tadi. Ia tahu, percuma saja ia turut bicara. Diam-diam ia siapkan kedua rupa senjatanya, untuk menolong disaat sutee itu terancam bahaya. Pada Hie Bin dan Siau Hui ia beri kisikan: "Musuh kita terlalu kuat, jumlah kita juga terlalu sedikit, apabila sebentar aku beri tanda, kamu mesti loncat naik keatas genteng untuk menyingkir, aku dan Wan Sutee akan memegat dibelakang. Tidak perduli kami berdua menghadapi ancaman hebat, jangan kamu bantu kami!"

Dua orang yang dipesan itu berikan janji mereka.

Uy Cin memesan demikian untuk lindungi dua anak muda itu, supaya mereka pun tidak merintangi ia dan

381 suteenya itu. Ia percaya, ia dan sang sutee pasti dapat loloskan diri andaikata mereka menghadapi bahaya. Dia juga memikir, andaikata dia gagal mendapat pulang emas itu, dilain hari dia akan kembali bersama lebih banyak pembantu, ialah jie-suteenya, Poan-sek-san-long Kwie Sin Sie suami-isteri, sahabatnya, Pou Sian Taysu dari kuil Hoa Giam Sie di Hoopak, dan gurunya, Bok Jin Ceng, atau Bhok Siang Toojin. Asal seorang tandingi satu orang, lima saudara Un itu tentu mati daya, Ngo-heng-tin akan pecah. Nampaknya Uy Cin lucu, sebenarnya dia bisa berpikir jauh. Dia tak pilih Sin Cie sebab dia kuatir sutee ini kurang latihan.

Walaupun semua sudah siap sedia, Sin Cie masih kata pada lima jago keluarga Un itu : "Loyacu semua sudi beri pengajaran padaku, kenapa masih ada yang ditahan, sehingga aku merasa tin ini belum lengkap?"

Beng Tat heran.

"Apakah yang kurang lengkap?" tanya dia.

"Disebelah Ngo-heng-tin, masih ada barisan pembantu sebelah luar yaitu Pat-kwa-tin." Sahut Sin Cie. "Kenapa Pat- kwa-tin juga tidak diatur sekalian, supaya aku bisa menambah puas pemandangan mataku?"

Beng Gie lantas saja membentak : "Inilah kau yang mengatakannya, maka kalau sebentar kau mati jangan kau menyesal!" Terus dia berpaling pada Un Lam Yang: "Lam Yang, mari maju semua!"

Un Lam Yang ada ketua dari angkatan kedua dari Cio Liang Pay, dengan suatu tanda, muncullah lima-belas kawannya yang tadi disiapkan untuk kepung Sin Cie.

Uy Cin lihat rombongan itu terdiri dari lelaki dan perempuan, diantaranya ada dua pendeta. Mereka semua mengatur diri disebelah belakang Ngo Cou, mereka bergerak-gerak, ber-putar-putar, gerakan mereka semua beres dan rapi, sehingga Uy Cin yang luas pengalamannya jadi heran dan kagum. Orang berlari-lari tetapi tidak terdengar suara tindakan mereka.

"Wan Sutee tidak tahu urusan," pikir toasuheng ini. "Dengan dia layani Ngo Cou saja, umpama ia terancam, aku bisa nyerbu untuk menolongi, sekarang barisan ditambah dengan lapis yang kedua, dengan jumlah sampai enam-belas orang, mana ada lowongan lagi untuk menerjang masuk? Jangan-jangan seekor lalat juga sukar molos. "

Suheng ini terus berdiam, ia terbenam dalam keragu- raguan.

Sin Cie didalam kurungan tetap berlaku tenang. Ia jepit tusuk konde kumala dengan jempol dan jeriji tengah kanan, tangan kirinya diangsurkan kedepan, ia pasang kuda-kuda dengan kaki kiri didepan, setelah itu, ia geraki tubuhnya lebih jauh, akan lari berputaran, setelah empat atau lima balik, ia teruskan.

Ngo Cou juga lantas bersiap, semua mata mereka dipakai mengawasi anak mdua dalam kurungan itu.

Sin Cie berputaran saja, ia tidak lantas menyerang. Ketika dahulu Kim Coa Long-kun lolos dari tangannya

Ngo Cou dari Cio Liang Pay ia keram diri didalam guanya,

setiap saat, setiap waktu, ia asah otak memikiri jalan untuk pecahkan Pat-kwa Ngo-heng-tin. Ia tidak mengerti, kenapa kurungan Ngo-heng-tin tidak dapat digempur, dan asal yang satu bergerak, empat yang lainnya lantas menyusul, menyusul tak hentinya, sampai lawan sudah kena dirubuhkan. Beberapa tahun telah dilewati, hasilnya tetap tidak ada, jalan tidak didapati. Pada suatu pagi Kim Coa Long-kun mencari hawa dipuncak Hoa San, tiba-tiba ia lihat seekor ular merayap berliku-liku, kapan binatang itu dengar tindakan orang, dia berhenti berjalan, dia melingkar, kepalanya diangkat. Itulah kebiasaan ular, untuk bersiap melawan atau menyerang musuh, tanpa diserang lebih dahulu, ia tidak akan mendahului.

Tiba-tiba saja, Kim Coa Long-kun sadar. Inilah caranya untuk pecahkan Ngo-heng-tin! Sehingga bukan main girangnya dia. Itulah gerakan : "Bergerak belakangan, menindas lawan". Ia lantas pulang, kembali ia asah otak. Ia gunai tempo satu bulan, Baru ia insyaf kelemahan Ngo- heng-tin, dan bagaimana caranya harus menerjang pecah. Semua ini lantas dicatat dalam Kim Coa Pit Kip, sebab walaupun ia telah dapatkan rahasia itu, ia sendiri tak dapat menuntut balas. Dengan urat-uratnya telah dibikin putus, ia tidak bisa bersilat lagi seperti dulu. Ia sukar percaya akan ada orang yang nanti dapatkan kitabnya ini atau umpama kata itu diketemukan seratus tahun atau seribu tahun kemudian, pasti Ngo Cou sudah lama mati dan tulang- tulangnya telah lebur menjadi tanah. Biar bagaimana, ia pun masih mengharap-harap. Jikalau Ngo-heng-tin tidak terpecahkan, pasti Ngo Cou akan menjagoi untuk selama- lamanya, sedang mereka ada orang-orang jahat.

Sekarang Sin Cie hendak gunai daya "bergerak belakangan, menindas lawan" itu, maka itu, ia melanjuti berputaran terus, tidak henti-hentinya, sehingga semua lawannya turuti ia ber-putar-putar juga akan awasi dia.

Dari bergerak pelahan pada mulanya, anak muda ini bergerak pesat, setelah sekian lama, ia mulai jadi pelahan pula, jadi kendor, selama itu tetap tidak terlihat sikapnya hendak mulai menerjang. Sebaliknya, dia lantas berhenti berputaran, dia duduk, kedua tangannya dikasih turun kedengkul, tubuhnya diam, cuma tampangnya berseri-seri.

Semua orang menjadi heran. Pihak Un tidak tahu, inilah tipu-daya, guna mengabaikan penjagaan lawan, untuk bikin lawan habis sabar.

Benar saja, Un Beng Gie tidak puas, sehingga ia geraki kedua tangannya untuk menyerang. Ia berada dibelakang Sin Cie, ia bisa membokong si anak muda.

"Jieko, jangan bikin kacau tin!" Beng Go cegah kandanya itu.

Beng Gie dapat dicegah, maka itu, berlima mereka masih berputaran, selalu siap-sedia untuk menerjang begitu lekas lawan bergerak.

Belum lama dia duduk diam, Sin Cie menguap, terus ia rebahkan diri, tidur celentang, kedua tangannya ditekuk, dipakai sebagai bantal, untuk mengalaskan kepalanya.

Ngo Cou masih terus berputaran, meskipun mereka merasa aneh. Mereka jadi bertambah waspada. Mereka mau menyangka, anak muda itu bakal gunai entah akal apa.

Disebelah belakang, enam belas orang dibawah pimpinannya Un Lam Yang turut bergerak-gerak terus juga, akan tetapi mereka tak seulet lima ketua mereka, sesudah lewat banyak tempo beberapa diantara mereka jadi letih, keringat mereka mengucur keluar, napas mereka mengorong.

"Aku hendak lihat, tua-bangka, sampai kapan kamu dapat bersabar," kata Sin Cie dalam hatinya, mendapati tidak ada orang yang hendak serang ia. Selagi rebah, ia curi lihat gerakan lawan. Mendadak anak muda ini membalik tubuh, sehingga ia jadi rebah tengkurap, kedua tangannya ketindihan tubuhnya. Kemudian lagi, terdengarlah suara menggerosnya, sebagai tanda bahwa ia ketiduran, tidur pulas.

Inilah kejadian aneh dalam medan pertempuran. Ini pun lucu. Hie Bin, Siau Hui, Ceng Ceng, dan Un Gie juga, hampir tertawa, tapi juga hati mereka kebat-kebit, saking kuatir. Umpamanya Ngo Cou menyerang, celakalah anak muda itu, yang memasang bebokong.

Cuma Uy Cin yang mengerti sutee itu sedang uji kesabarannya lawan, untuk pancing lawan itu, meski begitu, ia juga berkuatir untuk nyali besar dari sutee itu. Itulah keberanian melewati batas. Apabila serangan datang, bagaimana itu dapat dielakkan?

Benar-benar Beng Tat tidak bersabar lagi, ia hendak gunai ketikanya yang baik ini. Begitu lekas ia memberi tanda, dengan tangan kiri dikibaskan kekanan, menyambarlah empat batang hui-too dari Beng Sie, adiknya yang ketiga. Empat huitoo itu terbang menyambar kebebokong Sin Cie.

Semua orang pihak si anak muda terperanjat, malah ketika empat huitoo mengenai sasarannya, Un Gie tutupi muka, hatinya mencelos.

Dipihak Un, semua orang bergirang, ada yang bersorak, sehingga dari enam-belas anggauta Pat-kwa-tin, tujuh atau delapan antaranya berhenti berputaran.

Justru disaat itu, dengan sekonyong-konyong tubuhnya Sin Cie mencelat bangun, empat golok terbang dibelakangnya meluruk jatuh kelantai, kemudian terlihat tubuhnya melesat, melewati sela-sela lima saudara Un, selagi   mereka   ini   mengawasi   dengan   heran   kepada

386 bekerjanya huitoo yang memberi akibat luar biasa itu. Tahu-tahu Sin Cie telah sampai dibelakang Un Lam Yang, bebokong siapa ia tepuk keras sehingga menerbitkan suara nyaring, atas mana orang she Un itu berteriak-teriak segera dia muntahkan darah hidup, belum sempat dia tahu apa- apa, tubuhnya disambar si anak muda, diangkat, dilempar kedalam Ngo-heng-tin!

Setelah ini, Sin Cie tidak hentikan gerakannya. Selagi lima-belas orang Pat-kwa-tin bingung, ia serang mereka satu demi satu, dengan kepalan, dengan tendangan, dengan totokan juga, dan setiap korbannya, tubuhnya ia sambar, ia balingkan kedalam tin.

Un Cheng dan beberapa orang lagi mempunyai bugee cukup baik tapi Baru dua tiga gebrak, mereka pun kena dirubuhkan dan dilemparkan, sehingga didalam tin, bukan musuh yang terkurung, tetapi orang sendiri yang rebah malang-melintang. Secara begitu, Pat-kwa-tin telah terpukul pecah, tidak terkecuali Ngo-heng-tin sendiri.

Selama keadaan kacau itu, lima saudara Un pun repot, akan tanggapi orang-orangnya, yang dilempar-lemparkan kearah mereka. Waktu yang baik itu digunai Sin Cie untuk lompat maju akan totok Un Beng Sie, siapa kecuali sedang repot juga masih terheran-heran karena golok terbangnya tidak membinasakan lawan, sehingga hatinya ciut sendirinya. Tapi sekarang ia diserang, dengan sebat ia memapaki lawan dengan empat buah goloknya yang liehay, yang menjurus kearah dada.

Sin Cie tidak perdulikan datangnya empat huitoo, ia tidak berkelit, malah ia antapkan dadanya terbuka, tangannya lurus kedepan, tiga jarinya menjuju tenggorokannya penyerang dengan huitoo itu, benar selagi golok-golok terbang mengenai sasaran dan jatuh sendirinya, jerijinya mengenai jalan darah soan-kie-hiat sehingga lawannya rubuh.

Un Beng San lihat saudaranya terancam bahaya, ia hendak menolongi, ia menyerang dengan tongkatnya kearah kempolan kanan.

Sin Cie lihat tongkat menyambar, ia tertawa dan berkata: "Tongkat ini sudah dibuang tetapi sekarang diambil pula!" Selagi mulut bersuara, tangannya tidak diam saja, ia maju akan sambar tubuhnya satu kawannya Lam Yang, akan pakai tubuhnya dia ini akan papaki tongkat!

Beng San anggap lawannya tidak bisa menyingkir lagi, maka itu ia terperanjat melihat ia ditangkis dengan orangnya sendiri, syukur ia masih keburu menarik pulang tongkatnya itu, serta buang dengan kaget kesamping, dimana ada Beng Tat.

"Toako, awas!" ia berseru.

Beng Tat lihat sambaran tongkat adiknya, ia menangkis dengan sepasang tumbak pendeknya, sehingga kedua senjata bentrok keras dan menerbitkan lelatu api!

Selagi dua saudara itu repot sendirinya, Sin Cie menerjang Beng Go, mulanya tangannya yang kiri menyambar, lalu menyusul tangan kanannya, dengan tusuk konde kumala, ia arah kedua matanya musuh itu.

Beng Go mundur, dengan cambuk kulitnya, ia lindungi diri; ia sudah mesti lantas menangkis berulang-ulang, sebab serangannya si anak muda saling susul, karena ia lantas didesak keras. Ia sibuk melihat cahaya kumala berkeredepan, Baru sekarang ia mengerti liehaynya senjata istimewa itu, yang seperti tak hendak berpisah dari kedua matanya. Dua kali ujung tusuk konde sudah mengenai kulit mata, untung karena sebatnya dia berkelit, Un Beng Go masih bisa hindarkan bahaya, akan tetapi karenanya, semangatnya hampir terbang pergi. Dalam ancaman bahaya itu, ia tidak sempat menyingkir, ia terlalu repot dengan dayanya melindungi matanya itu. Maka akhir-akhirnya, tusukan mengenai juga matanya, tidak perduli ia coba egoskan kepala itu. Ia lepaskan cambuk kulitnya, ia tutup matanya dengan kedua tangannya. Baru sekarang ia jatuhkan diri, untuk menyingkir sambil bergulingan, akan tetapi jari tangannya si anak muda toh telah keburu mampir dibelakangnya, sehingga ia lantas rubuh tak berkutik lagi.

Ngo Cou yang kelima ini ada sangat kenamaan, dengan cambuk kulit itu, diwaktu bertempur diatas luitay di Un-ciu, dengan beruntun dia telah rubuhkan dua-belas orang kosen dari Ciatkang, sehingga untuk beberapa puluh tahun, orang malui ia. Apa lacur, sekali ini ia jatuh merek ditangannya seorang anak muda sehingga selain ia sendiri malu, para penonton pun heran dan kaget sekali.

Uy Cin tidak menjadi kecuali, dia heran melihat liehaynya sutee ini. Itulah gerakan tangan yang ia belum pernah lihat. Ia merasa, sekalipun disaat mudanya guru mereka, masih guru itu tak bisa bersilat seperti anak muda ini. Ilmu silat apakah itu? Dari mana sutee ini dapat pelajarinya?

Hie Bin ada begitu girang sehingga ia bersorak sendirinya.

Siau Hui, yang pun bergirang, cuma bersenyum.

Un Gie dan Ceng Ceng bergirang dalam hati saja. Sudah terlalu lama mereka dikekang sehingga tak berani mereka sembarangan perlihatkan wajah kegirangan. Untuk Sin Cie, inilah pertempuran pertama melayani orang-orang kenamaan, ia empos semangatnya, ia berlaku sungguh-sungguh. Ia pun tidak main pandang-pandang lagi. Maka itu dengan tangan kiri ia mainkan tipu-tipu daya dari Hok-hou-ciang, Tangan Menakluki Harimau dari Hoa San Pay, dengan tangan kanan ia bersilat dengan gerak-gerakan "Kim-coa-ciam", "Jarum ular emas", dari Kim Coa Pit Kip. Yang pertama adalah pelajaran Pat-chiu Sian-wan Bok Jin Ceng si Lutung Sakti Tangan Delapan, yang belakangan adalah dari Kim Coa Long Kun Hee Soat Gie, hingga umpama kata kedua orang liehay itu hadir bersama, mereka juga cuma mengenali separuh saja. Maka tidaklah heran apabila Ngo Cou dari Cio Liang Pay kena dibikin terbenam dalam keheranan.

Sehabis merubuhkan Un Beng Go, Sin Cie lantas terjang Un Beng Gie. Ia gunai siasatnya yang tadi, akan tetap serang satu lawan, akan bulang-balingkan tusukan rambut dimatanya lawan itu, yang saban-saban ia tusuk, sehingga Ngo Cou yang kedua lantas saja jadi repot seperti adiknya tadi.

Un Beng Tat saksikan ancaman bahaya itu, mendadak ia berseru nyaring, lantas ia tolak terpelanting satu muridnya yang ada didepannya, sehingga si murid keluar dari kalangan, sedang Un Beng San, yang mengerti maksud kanda tua itu, gunai kakinya akan dupak dan sempar sesuatu orangnya yang bergeletakan dilantai. Dengan tindakan ini, mereka bikin lantai bersih dari segala perintang, secara begitu, hendak mereka lanjutkan kepungannya menurut gerak-gerakan Ngo-heng-tin, tidak perduli jumlah mereka sudah kurang dua.

Sin Cie lanjuti desakannya terhadap Un Beng Gie, tidak pernah ia hendak memberi kelonggaran, secara begini tetap tidak berjalan lancarlah Ngo-heng-tin itu. Selagi Beng Tat dan dua saudaranya bingung, Beng Gie sudah kena dihajar pundak kirinya.

Un Beng San hendak tolong kakaknya itu, dengan tongkatnya, dengan serangan "Lie Kong shia cio" atau "Lie Kong memanah batu", ia menghajar kearah bebokong. Berbareng dengan dia, Un Beng Tat dengan sepasang siang- kek, tumbak cagaknya, menyerang kekiri dan kanan lawan. Beng Gie sendiri, dengan menahan sakit mencoba melayani terus, tak ingin dia bikin kacau gaya tinnya.

Sin Cie berkelit dari bokongan kedua lawan dibelakang dan sampingnya itu, ia masih mendesak Beng Gie, tapi karena musuh-musuh geraki Ngo-heng-tin, ia kembali tunjuki kegesitannya, kelincahannya. Ia senantiasa mengegos tubuh, berkelebatan sana dan sini, sampai mendadak ia apungi tubuhnya itu, mencelat tinggi, tusukan rambutnya diselipkan dikepalanya, sebelah tangannya dipakai menjambret penglari dimana ia bergelantungan.

Tiga jago dari Cio Liang Pay lagi mengepung dengan seru apabila mereka dapati lawan hilang dalam sekejab, hingga mereka jadi sangat heran. Sama sekali mereka tak tampak tubuh lawan itu mencelat ketinggi. Justru itu, sekonyong-konyong ada angin menyambar diatas kepala mereka, sehingga mereka terperanjat, sebab mereka duga, itulah bukan angin sembarangan. Mereka lantas geraki tubuh, untuk berkelit, tapi sudah kasep, dua-dua Beng San dan Beng Gie telah terkena timpukan, keduanya rubuh rebah dilantai tanpa berkutik.

Beng Tat loncat kepada ketiga saudaranya, terus ia membungkuk. Ia niat tolong mereka itu, yang terserang jalan darahnya. Selagi ia membungkuk serangan datang pula. Ia ada dari Cio Liang Pay, ia liehay sekali, maka dengan putar sepasang tumbak cagaknya diatasan kepalanya, ia cegah biji-biji catur mengenai tubuhnya.

391 Begitulah belasan biji catur kena disampok jatuh, hingga menerbitkan suara tingtong-tingtong. Ia putar terus siangkeknya, sebab ia kuatir lawannya melanjuti menyerang ia dengan senjata rahasia yang istimewa itu.

Selagi ketua Ngo Cou ini geraki siangkeknya itu, mendadak ia dengar seruan kaget pada pihaknya, lalu ia rasai tangannya tergetar, sepasang tumbaknya seperti tertahan atau tersangkut entah barang apa. Iapun menjadi kaget, dengan segera ia kerahkan tenaganya, untuk menarik dengan keras. Justru ia berbuat demikian, justru siangkek itu terlepas dari cekalannya. Maka berbareng kaget, ia lompat kesamping hingga tiga tindak, kedua tangannya dipakai melindungi mukanya.

Ternyata siangkek bukannya terlepas terlempar hanya pindah kedalam tangannya Sin Cie, yang telah lompat turun dari penglari selagi jago tua itu repot membela diri. Dengan ayun kedua siangkek dengan kedua tangannya, anak muda itu berseru : "Lihat!"

Sekejab saja, kedua tumbak cagak melesat, kearah kedua tiang yang besar didalam lian-bu-thia itu, nancap melesak hampir separuhnya, hingga kedua tiang tergentar, sampai genteng-genteng diatasnya bersuara berkresekan, hingga beberapa orang yang berdiri dipintu lari keluar, mereka kuatir ruang itu rubuh ambruk...

Ketika dahulu Bok Jin Ceng ajarkan Sin Cie ilmu pedang, dia pernah menimpuk dengan pedang sampai pedangnya masuk nancap kedalam batang pohon. Itulah ilmu pedang yang Bhok Siang Toojin puji tak ada tandingannya. Dan sekarang ini, Sin Cie perlihatkan kepandaiannya itu, melainkan ia tak gunai pedang hanya tumbak cagak. Uy Cin kenal baik ilmu pedang itu, dia begitu kagum hingga dia serukan : "Wan Sutee, sungguh sempurna timpukanmu "Sin Liong Hoan Bwee!" (Naga sakti perlihatkan ekor)."

Sin Cie menoleh, sambil tertawa.

Beng Tat sendiri berdiri tercengang, karena dihadapannya, empat saudaranya sudah rebah tidak berdaya.

Sin Cie bertindak menghampirkan suhengnya, ia cabut tusukan rambut dari kepalanya, untuk dikembalikan kepada Siau Hui, siapa menyambutinya dengan girang sekali.

Un Beng Tat tidak berdiam lama-lama. Cio Liang Pay yang demikian kesohor, sekarang runtuh ditangannya satu bocah. Sekejab saja, ia niat berlaku nekat, dengan benturkan kepala ke tiang rumah, akan tetapi sekejab kemudian ia berpikir lain.

"Aku sudah berusia lanjut, tak dapat aku membalas sakit hati ini," pikirnya," akan tetapi selama masih ada secarik napasku, pastilah aku tak mau sudah saja!. "

Maka itu, ia lantas hadapi Uy Cin.

"Semua emas disana, kamu boleh ambil dan bawa pergi!" katanya.

Mendengar perkataannya orang tua itu, tanpa tunggu ulangan lagi, Hie Bin maju akan jumputi semua potongan emas, untuk dimasuki kedalam kantong kulitnya, perbuatannya itu diawasi oleh beberapa puluh orang-orang Cio Liang Pay, tak satu diantaranya berani maju mencegah. Karena Sin Cie telah bikin mereka tunduk, semangat mereka gempur. Un Beng Tat hampirkan Beng Gie, dia ini rebah tanpa bisa bergerak sedikit juga, kecuali matanya yang masih bisa berjelilatan. Sebagai ahli tiam-hiat, tukang totok jalan darah, ia segera totok jalan darah "in-thay-hiat" dari adik itu, lalu ia mengurut-urut. Akan tetapi tak dapat ia sadarkan saudaranya itu, walau ia sudah ulangi percobaannya menolongi lagi. Ia jadi heran sekali.

Kemudian Beng Go, Beng San dan Beng Sie pun didekati, untuk ditolong, akan tetapi totokannya, urutannya terhadap tiga saudara itu, tidak memberikan hasil seperti terhadap Beng Gie. Maka sekarang insyaflah ia, totokannya Sin Cie adalah dari lain golongan, yang beda daripada kebisaannya sendiri. Ia pikir untuk minta tolong Sin Cie tetapi ia segan membuka mulut, dari itu dengan terpaksa, ia menoleh pada Ceng Ceng, ia memberi tanda dengan gerakan bibir.

Ceng Ceng bisa duga, toa-yaya itu mohon ia mintakan pertolongannya Sin Cie, tetapi ia berpura-pura tidak mengerti.

"Toa-yaya memanggil aku?" ia tanya, ia menegasi. "Setan alas, kacung licin!" Beng Tat mendamprat dalam

hati, ia mendongkol bukan kepalang. "Sampai disaat ini,

kau masih main gila terhadapku! Kau lihat, habis ini, aku nanti hukum kamu ibu dan anak!" Sambil kertak gigi, ia terpaksa kata: "Kau harus minta dia sadarkan keempat yayamu..."

Ceng Ceng lantas hampirkan Sin Cie, ia memberi hormat, lalu dengan suara nyaring , ia kata pada anak muda itu : "Toayayaku mohon kau suka sadarkan empat yayaku itu!"

"Baiklah," jawab Sin Cie tanpa berpikir pula. Dan lantas ia    bertindak    maju.    Benar    sedangnya    ia    hendak

394 membungkuk, kupingnya dengar ketikan shuiphoa dari toasuhengnya yang terus kata padanya:

"Wan sutee, benar-benar kau tidak mengerti barang sedikit juga kitab ilmu dagang! Saat ini ada saatnya harga barang bisa dikasi naik, kenapa kau tidak hendak gunai ketika menaikinya? Coba kau menghitung....Jangan kuatir kau menyebutkan harga berapa juga, orang toh bakal memakannya!"

Sin Cie tahu, toasuheng itu sangat jemu terhadap Cio Liang Pay dan sekarang saudara ini hendak lampiaskan hatinya, walaupun ia kurang setuju, akan tetapi dimana toasuheng itu ada beserta, ia mesti beri kemerdekaan kepada toasuheng itu.

"Baiklah toasuheng, aku turut kau," ia bilang. Ia batal menotok sadar empat korbannya itu.

"Keluarga Un ini, ditempat kediamannya ini, telah menganggu sangat pada sesama penduduknya," Uy Cin lantas berkata, "mereka melepas hutang dengan bunga berat, mereka memeras juga. Diempat dusun dari Kie-ciu ini, suara penasaran memenuhi jalanan! Selama dua hari ini aku telah bikin penyelidikan dengan jelas sekali. Maka itu Wan sutee, jikalau kau hendak obati orang, kau mesti minta angtiap berisi. Tentu sekali, jumlah uang itu kita sendiri tidak inginkan, aku hanya hendak gunai itu untuk tolong penduduk sini yang pernah dan sedang menderita karena keluarga Un ini!"

Sin Cie percaya perkataannya sang toasuheng mengenai kejahatannya keluarga Un, ia sendiri telah membuktikannya disaat pertama kali ia sampai di Cio-liang. Tidak ada orang yang sudi berikan ia keterangan waktu ia tanyakan alamatnya keluarga itu, agaknya semua orang sangat jemu dan jeri. Ia juga telah saksikan bagaimana Un Cheng labrak orang-orang yang minta keadilan dari pihak mereka.

"Benar, toasuheng!" sahutnya, yang hatinya tergerak. "Memang penduduk sini telah menderita sangat. Bagaimana suheng hendak berbuat?"

Uy Cin mengetik atas biji-biji shuiphoanya, yang dikasi turun dan naik, mulutnya pun mengoceh: "Liok siang it kie ngo cin it, sam it sam sip it, jie it tiam cok ngo," demikian seterusnya.

Siau Hui rupanya telah biasa dengan lagak lagunya supeh itu, ia melainkan bersenyum, tidak demikian dengan Sin Cie yang Baru pertama kali ia bertemu suhengnya, walau ia merasa lucu, ia diam saja. Adalah pihak Cio Liang Pay, yang jadi sangat mendongkol, kemendongkolan mana tak dapat mereka lampiaskan.

Ceng Ceng adalah satu kecuali, meski juga ia ada anggauta asli dari keluarga Un, ia sampai tertawa cekikikan.

Uy Cin telah habis mengitung, ia goyang kepalanya. "Wan Sutee, aku telah hitung uang pengobatanmu,"

katanya. "Menolong satu jiwa, ongkosnya empat-ratus pikul

beras putih."

"Empat ratus pikul?" Sin Cie tegasi.

"Tidak salah! Empat ratus pikul beras putih nomor satu yang mulus, tidak boleh kecampuran kendati juga sebutir pasir dan sepotong pesak hancur, dan dacinnya, gantangnya, batoknya, tidak boleh ada yang dipalsukan!" suheng itu beri kepastian. Ia bicara tanpa perdulikan Beng Tat setuju atau tidak, senang atau tidak.

"Disini ada empat orang, maka jumlah semua jadi seribu enam ratus pikul?" Sin Cie tegaskan pula. Uy Cin tertawa.

"Wan Sutee, kau pandai menghitung didalam hati!" kata dia. "Kau menghitung tanpa pakai shuiphoa, kau bisa lantas menjumlahkan, seorang empat ratus pikul, empat orang jadi seribu enam ratus pikul."

Mendengar kata guru itu, Hie Bin kata dalam hatinya : "Apanya yang aneh? Aku juga bisa menjumlahkan itu tanpa pakai pesawat hitung lagi!"

Si semberono ini tidak tahu gurunya lagi bergurau.

Kemudian Uy Cin awasi Beng Tat dan kata pada jago tua itu: "Besok pagi kau sediakan itu beras seribu enam ratus pikul, aku ingin bagi-bagikan itu kepada penduduk sekitar sini, satu orangnya stau gantang. Begitu lekas kau telah sediakan cukup seribu enam ratus pikul maka suteeku ini bakal bikin sadar empat adikmu itu!"

Disini tidak ada perdamaian lagi dan Beng Tat cuma tahu menurut.

"Dalam tempo begini pendek bagaimana bisa dikumpulkan beras demikian banyak?" berkata ketua Cio Liang Pay itu. "Semua persediaan didalam rumahku juga tak lebih dari tujuh - atau delapan puluh pikul."

"Ongkos pemeriksaan penyakit sudah ditetapkan, pemotongan harga tidak dapat diberikan," Uy Cin bilang. "Akan tetapi aku suka memandang kepadamu, aku suka beri keringanan ialah pembayaran dengan angsuran. Begini, asal kau selesai membagi empat ratus pikul, kami tolong satu orang, kau membagi sampai delapan ratus pikul, kami tolongi orang yang kedua, demikian seterusnya. Umpama kau tidak sanggup membuat persediaan, kami suka memberi tempo sampai sepuluh hari atau setengah bulan, atau setengah tahun sampai satu tahun. Suteeku ini, asal dia diundang, tentu dia bakal datang untuk menolong, tidak nanti dia main beri alasan ini dan itu."

"Empat saudaraku ini, bergerak pun tidak mampu, cara bagaimana mereka dapat menanti sampai setengah bulan?" pikir Beng Tat. "Tidak bisa lain, aku mesti turuti kehendaknya." Maka ia lantas berikan jawabannya : "Baik, besok aku akan mulai membagi beras itu!"

Uy Cin tertawa.

"Tuan, kau sungguh seorang dagang yang baik sekali!" ia memuji. "Sedikitpun kau tidak meminta pengurangan. Maka jikalau lain kali ada barang baik, aku minta sukalah sembarang waktu kau berhubungan denganku!"

Beng Tat berdiam saja walaupun orang terus menerus permainkan ia, tapi karena pembicaraan sudah beres, ia lantas saja ngeloyor kedalam meninggalkan tetamu-tetamu tak diingini itu.

Sin Cie lantas kasi hormat pada Un Gie dan Ceng Ceng. "Sampai besok!" katanya.

Pemuda ini tahu, Beng Tat membutuhkan pertolongannya, hatinya tenteram akan antapkan ibu dan anak itu berdiam terus dirumahnya itu.

Kemudian empat orang itu, dengan gembira, dengan bawa emas, meninggalkan rumahnya Beng Tat, akan kembali kepondokan mereka dirumah si orang tani.

Tatkala itu sudah fajar,mereka tidak lantas masuk tidur, hanya Siau Hui terus pergi kedapur, untuk siapkan barang hidangan, kemudian sambil bersantap, mereka duduk pasang omong tentang kemenangan mereka, semuanya gembira sekali. "Wan Sutee," berkata Uy Cin sambil angkat mangkok mie-nya, "baru-baru ini aku dengan suhu omong bahwa suhu telah terima satu murid baru, yang usianya masih sangat muda, berhubung dengan itu, aku telah bicara main- main dengan jie suhengmu Poan Sek San-long Kwie Sin Sie suami-isteri, bahwa murid-murid kami, umpama murid kepala, sudah berusia tiga-puluh lebih, sekarang dengan tiba-tiba suhu berikan mereka satu siau-susiok, paman kecil, tidakkah mereka nanti pada merasa likat dan itu akan mengakibatkan kesulitan? Aku tak sangka sutee, kau begini liehay, jangan kata aku, toa-suhengmu, telah ketinggalan jauh, juga jie-suhengmu, yang didelapan belas propinsi belum pernah ada tandingannya, turut penglihatanku, masih tak dapat tandingkan kau. Maka dibelakang hari, kemajuannya Hoa San Pay kita, kebesarannya akan mengandal kepada kau seorang. Disini tidak ada arak, baik aku berikan selamat dengan kuah mie ini saja!"

Benar-benar toasuheng yang jenaka ini bawa mangkok mie kemulutnya, akan hirup kuahnya!

Sin Cie berbangkit dengan tergesa-gesa, diapun segera minum kuah mie-nya.

"Dengan kebetulan saja hari ini aku beruntung peroleh kemenangan," berkata ia," maka toasuheng, tidak berani aku terima pujianmu ini. Malah aku hendak minta agar selanjutnya sukalah kau berikan aku pelbagai pengunjukan."

"Sikapmu yang merendah dan berhati-hati ini, untuk dalam Rimba Persilatan, sukar didapat," berkata dia. "Lekas duduk, mari kita dahar!"

Uy Cin gunai sumpitnya beberapa kali, lalu ia berpaling kepada Hie Bin. "Asal kau peroleh satu bagian saja dari kepandaiannya pamanmu," katanya," kau akan dapat gunai itu untuk seumur hidupmu!"

Hie Bin telah saksikan liehaynya Sin Cie, sejak itu ia telah kagumi sangat pamannya ini, benar ia semberono, akan tetapi mendengar kata-kata gurunya, mendadakan ia dapat satu ingatan baru, lalu dengan tiba-tiba ia berlutut didepan paman cilik itu, akan manggut beberapa kali.

"Aku mohon siau-susiok berikan pengajaran kepadaku," ia memohon.

Dengan tergesa-gesa, Sin Cie berlutut juga, untuk membalas hormat.

"Jangan, jangan, tak berani aku terima hormatmu ini!" kata ia. Ia pun lantas angkat bangun sutit itu. (Dibelakang hari, karena ingat budinya Cui Ciu San, yang telah ajarkan ia silat dan tolong jiwanya, Sin Cie ajarkan juga Hie Bin beberapa rupa ilmu kepandaian, setelah mana, orang semberono ini selanjutnya telah jadi berubah bagaikan seorang lain).

Habis bersantap, empat orang ini masuk juga untuk tidur, tapi mereka tak dapat beristirahat lama, sang pagi sudah lantas datang, Baru saja mereka bangun, diluar sudah ada suara orang mengetok pintu, kemudian masuklah satu orang yang membawa karcis namanya Un Beng Tat. Dia ini undang Uy Cin berempat.

"Kamu pandai sekali membikin penyelidikan," kata Tong-pit Thie-shuiphoa sambil tertawa. "Dengan lekas sekali kamu telah dapat ketahui tempat mondok kami!"

Lantas mereka dandan dan ikut utusan Beng Tat itu. Ketika sebentar kemudian mereka tiba dirumah keluarga Un, disana sudah berkumpul banyak sekali penduduk kampung, sedang dilain pihak, dengan saling-susul, datang tukang-tukang pikul dari dalam kota yang angkut beras. Beng Tat sudah kirim orang-orangnya kedalam kota Kie- ciu, untuk beli beras itu.

Kota Kie-ciu ada sebuah kota besar di Ciatkang timur, kotanya pun makmur, akan tetapi untuk beli beras mendadak demikian banyak, sulit juga. Beras ada tapi segera orang menaiki harga, hingga Beng Tat mesti membayar lebih mahal beberapa ratus tail perak.

Lebih dahulu Toayaya ini minta Uy Cin periksa jumlah berasnya, habis itu, ia mulai membagi-bagikannya kepada sekalian penduduk kampung. Mereka ini belum tahu duduknya hal, mereka semua heran kenapa tidak hujan tidak angin, jago-jago yang jahat dan kejam itu mendadak- sontak menjadi dermawan dan mengamal beras demikian banyak.

Uy Cin saksikan Beng Tat membagi beras dengan rapi, walaupun itu dilakukan dengan sangat terpaksa, karena ini, tidak lagi ia menggoda jago tua itu, ia tidak mau mengejek.

Begitu lekas empat ratus pikul beras telah terbagi habis, tanpa ajal lagi, Sin Cie totok Beng Gie dan urut-urut padanya, hingga jago she Un yang kedua ini lantas saja sadar, cuma sebab ia telah ditotok sejak tadi malam dan diantapkan telalu lama, ia masih lemah, hingga ia cuma dapat menungkuli saja kemendongkolannya.

Pembagian beras dilakukan terus, sampai magrib, sampai habis semuanya seribu enam ratus pikul, selama mana, setiap empat ratus pikul, dengan menetapi janji, Sin Cie totok sadar tiap jago she Un itu hingga akhirnya, sadarlah semuanya empat jago. Diakhirnya anak muda ini menjura kepada Ngo Cou dari Cio Liang Pay itu. "Harap dimaafkan, aku yang muda telah berbuat banyak kesalahan," katanya.

Uy Cin tertawa, dia kata kepada kelima tuan rumahnya: "Walaupun kamu telah hamburkan seribu enam ratus pikul beras, hal mana tentunya membikin sedikit sakit hatimu, akan tetapi karena itu namamu telah dapat diperbaiki tidak sedikit. Inilah satu perbuatan amal yang untuk kamu ada banyak kebaikannya. Maka janganlah kamu tidak menginsyafinya!"

Habis itu, Uy Cin hendak ajak kawan-kawannya berlalu dari rumah keluarga Un itu tetapi justru waktu itu, dari dalam bertindak keluar sambil berlari-lari dua orang perempuan, yang didepan Un Gie, yang dibelakang gadisnya, Ceng Ceng.

"Wan Siangkong, apa kau hendak pergi sekarang?" Un Gie tanya.

Anak muda itu manggut.

"Benar pehbo, siautit hendak berangkat sekarang," jawabnya seraya terus minta pamit.

Tubuhnya Un Gie gemetar dengan tiba-tiba.

"Dimana sebenarnya kuburan dia?" nyonya ini tanya. "Wan siangkong, tolong kau ajak aku pergi melihat kuburannya itu..."

Sin Cie belum sempat menjawab atau ia dengar suara angin menyambar, hingga ia terperanjat. Segera ia menoleh dan berlompat, dan dilain saat dengan beruntun ia dapat sanggapi empat potong huitoo, golok terbang. Akan tetapi menyusul itu, Un Gie menjerit keras,lalu tubuhnya terhuyung rubuh. Dibelakangnya kelihatan tertancap sebatang golok terbang, nancapnya dalam sekali, karena hampir gagang golok turut terpendam! Nyonya yang naas itu rubuh tanpa berkutik pula.

Ceng Ceng menjerit, ia tubruk ibunya itu, tangannya diulur, untuk cabut golok itu.

"Jangan cabut!" Uy Cin mencegah. "Jika dicabut, dia akan menutup mata!"

Sin Cie segera ketahui, siapa yang sudah lakukan pembokongan itu, maka tanpa bilang suatu apa, ia menimpuk dengan empat huitoo ditangannya terhadap Un Beng Sie.

Su-yaya itu telah umbar napsu amarahnya, ia mendongkol yang Sin Cie tidak rubuh karena bokongannya tetapi ia puas dengan rubuhnya Un Gie. Habis menyerang, ia berdiri mengawasi dengan senyuman iblisnya, maka itu, ia bisa lihat si anak muda serang ia. Untuk luputkan diri dari huitoo, yang bisa makan tuan, ia berkelit sambil gulingkan tubuhnya. Ia berhasil. Habis diserang, dia lompat bangun.Akan tetapi berbareng dengan itu, ia rasai bebokongnya, juga paha kanannya, menjadi baal dengan tiba-tiba, menyusul mana ia rubuh sendirinya.

Sin Cie tahu, jago Cio Liang Pay ini ahli golok terbang, sudah sewajarnya saja dia akan pandai menyelamatkan diri dari golok-goloknya yang liehay itu, maka itu, ia sudah lantas bertindak. Begitu lekas ia menimpuk dengan empat ia susul serangannya dengan dua butir biji caturnya. Malah karena ia gusar untuk ketelengasannya jago tua itu, ia menimpuk secara hebat. Beng Sie tidak dapat tolong dirinya, ia rubuh seketika, napasnya berhenti....

Kapan si anak muda memandang Ceng Ceng, ia tampak si nona numprah ditanah sambil peluki tubuh ibunya, saking sedih, nona ini menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia lantas menghampirkannya, hingga ia lihat tegas sipatnya golok terbang itu, yang masih nancap dibelakang si nyonya.

403 Ia insyaf nyonya itu sukar dapat ditolong pula. Maka tidak ayal lagi, ia menotok dua kali, setiap kalinya didekat iga, untuk menutup jalan darah, secara demikian, nyonya yang malang nasibnya itu jadi tak usah menderita lebih lama lagi.

Karena totokan itu, Un Gie bisa buka kedua matanya. Ia lagi menanggung sakit, ia meringis karena mencoba melawan itu, akan tetapi ia bisa pandang gadisnya sambil bersenyum.

"Jangan bersusah hati, Ceng," katanya kepada anak daranya itu. "Sekarang aku dapat susul ayahmu, untuk menemuinya, dengan berada didamping ayahmu itu, tidak akan ada lagi orang yang berani menghina aku. "

Ceng Ceng menangis tersedu-sedu, ia manggut tetapi tak dapat ia mengucapkan kata-kata.

Un Gie memandang Sin Cie, ia berkata pula : "Wan Siangkong, ada satu hal tentang mana mesti kau beritahu aku dengan sebenar-benarnya, tak dapat kau menyembunyikannya sedikit juga. "

"Apakah itu, pehbo?" tanya si anak muda. Ia ini mengucurkan air mata saking terharu.

"Dia meninggalkan surat wasiat atau tidak?" Un Gie tanya. "Dia pernah menyebut-nyebut aku atau tidak?"

"Hee Locianpwee telah meninggalkan seperangkat peta ilmu silat," Sin Cie jawab. "Ketika kemarin aku pecahkan Ngo-heng-tin, aku telah gunakan ilmu silat yang didapatinya dari peta itu. Dengan begitu bisalah dianggap aku telah balaskan dia punya sakit hati, hingga dendamannya terlampias sudah."

"Apakah dia tidak meninggalkan surat untukku?" Un Gie tanya pula. Sin Cie menggelengkan kepala. "Tidak," sahutnya dengan pelahan. Nyonya itu nampaknya putus asa.

"Setelah dia minum itu racun, habislah tenaganya," berkata nyonya ini dengan lemah.

"Diatas langit, rohnya locianpwee tentu ketahui itu," Sin Cie menghibur," tentu ia tidak akan sesalkan pehbo."

"Tentu dia telah menutup mata karena sakit dan berduka," Un Gie kata pula. "Pada mulanya, tentu sekali dia menyangka akulah yang racuni dia. Maka sekarang, walau duduknya perkara sudah jadi terang, toh sudah kasep..."

Sin Cie sangat berduka, apapula kapan ia lihat kedua tangannya si nyonya telah dilonjorkan dan wajahnya berubah. Tiba-tiba ia ingat pesannya Kim Coa Long-kun yang termuat didalam peta dalam Kim Coa Pit Kip. Didalam kitab itu toh ada disebut namanya Un Gie. Maka lekas-lekas ia rogoh sakunya.

"Pehbo, lihat ini!" berkata ia seraya perlihatkan tulisannya Kim Coa Long-kun.

Un Gie sudah mulai rapatkan kedua matanya ketika ia lantas membukanya pula. Sesaat itu, mendadak saja ia jadi segar pula.

"Ya, inilah tulisan dia, tulisan dia!" katanya separuh berseru. "Aku kenali tulisan dia!"

Bukan main terharunya Sin Cie akan tampak kegirangan si nyonya mirip dengan kegirangan satu bocah.

Un Gie baca tulisan dipinggir peta itu : "Siapa dapati mestika, dia mesti pergi ke Cio-liang di Kie-ciu, Ciatkang, untuk cari Un Gie. Kepadanya harus diserahkan uang emas sejumlah sepuluh laksa tail. "

"Itulah dimaksudkan aku!" berseru pula si nyonya. Tiba- tiba saja ia tertawa, air mukanya jadi terang dan ramai. Ia sambar tangannya si anak muda, untuk dicekal dengan keras. "Nyata dia tidak sesalkan aku!....Aku tak mau menerima uangnya itu.... Asal aku ketahui dia masih ingat aku, dia masih pikiri aku. Sekarang aku hendak pergi, aku

hendak pergi menemui dia. "

Sin Cie tahu tenaga si nyonya sudah hampir habis, maka ia ingin menghiburi Ceng Ceng.

Un Gie sudah tutup kedua matanya, atau tiba-tiba ia buka pula.

"Wan Siangkong, lagi dua hal aku hendak minta dari kau," katanya. "Dan aku ingin kau menerimanya dengan baik."

"Silahkan sebutkan itu, pehbo," Sin Cie lantas berikan jawabannya. "Segala apa yang aku sanggup, pasti aku akan menyanggupinya."

"Yang pertama-tama aku ingin kau nanti kubur aku didampingnya," berkata nyonya yang bernasib buruk itu. "Dan kedua....kedua. "

Sekonyong-konyong ia berhenti.

"Yang kedua.....apakah itu, pehbo?" Sin Cie tegaskan. "Silahkan pehbo menyebutkannya "

"Yang kedua itu....Kamu....kamu...." ia lantas tunjuk Ceng Ceng. Tak dapat ia meneruskannya, lantas kedua matanya ditutup rapat, kepalanya teklok, dan ia tidak berkutik lagi. Sin Cie segera raba dada orang, napasnya si nyonya sudah berhenti jalan.

Ceng Ceng mendekam ditubuh ibunya, ia menangis meng-gerung-gerung. Tapi ia tak menangis lama, segera ia pingsan.

Sin Cie terkejut.

"Adik Ceng, adik Ceng!" ia memanggil, berulang-ulang. "Tidak apa-apa," Uy Cin bilang. "Itulah disebabkan

kedukaannya yang sangat. "

Suheng ini nyalakan api tekesan, ia sulut sepotong sumbu, dengan itu ia asapkan hidungnya si nona, maka tidak lama, setelah berbangkis, Ceng Ceng ingat akan dirinya. Ia buka kedua matanya dengan pelahan-lahan, nampaknya ia seperti hilang ingatannya.

"Bagaimana rasamu, adik Ceng?" Sin Cie tanya, dengan pelahan.

Nona itu tidak menjawab.

Uy Cin dan Siau Hui merasa aneh. Mereka tidak tahu hubungan diantara Sin Cie dan Un Gie dan gadisnya nyonya ini. Dimata mereka, ibu dan anak itu mesti ada anggauta keluarga Un akan tetapi kenapa mereka justeru dicelakakan Ngo Cou dari Cio Liang Pay?

"Adik Ceng, mari kau turut kami," kata Sin Cie dengan air mata bercucuran. "Tak dapat kau tinggal disini lebih lama pula. "

Ceng Ceng masih bungkam tetapi ia dapat manggut.

Tanpa bilang suatu apa, tanpa likat juga, Sin Cie pondong tubuhnya Un Gie, untuk terus dibawa bertindak keluar. Diwaktu begitu, ia tidak ambil mumet lagi kepada keluarga Un.

407 Ceng Ceng berbangkit, ia ikuti anak muda itu.

Uy Cin, bersama-sama Siau Hui dan Hie Bin, pun segera bertindak akan tinggalkan tuan rumah.

Beng Tat dan tiga saudaranya dan yang lainnya pula, berdiri melongo, hati mereka panas. Bukankah mereka telah dianggap sebagai bukan manusia lagi? Tidak satu diantara rombongannya si anak muda gubris mereka dan mereka mesti antapkan saja orang bawa pergi dua anggauta keluarganya itu - anak perempuan, keponakan dan cucu!

Mereka menginsyafi liehaynya si anak muda dan suhengnya dia ini, mereka jeri, hingga tak berani mereka maju untuk menghalangi.

Sekeluarnya dari pekarangan, Uy Cin berikan seratus tail perak pada Hie Bin, muridnya.

"Kau bawa uang ini kepada petani yang rumahnya kita tumpangi," kata dia. "Kau berikan uang ini kepada mereka, lalu kau minta mereka pindah malam ini juga!"

Hie Bin sambuti uang itu tetapi ia awasi gurunya, agaknya ia heran.

"Kenapa dia mesti pindah sekarang juga?" tanyanya. "Pihak Cio Liang Pay tidak dapat berbuat apa jua

terhadap   kita,   pasti   sekali   mereka   akan   tumpleki

kemendongkolannya terhadap lain orang," sang guru menerangkan. "Petani itu beri tempat menumpang kepada kita, pasti sekali diaorang bakal disatroni keluarga Un itu."

Baru sekarang sang murid mengerti.

"Suhu benar," ia memuji. Dan ia lantas lari kerumahnya si orang tani, untuk serahkan uang itu, buat minta mereka pindah lantas. Sin Cie tunggu sampai orang she Cui itu kembali, Baru mereka melanjuti perjalanan, akan tinggalkan desa Cio Liang itu. Mereka lakoni perjalanan terus selama tigapuluh lie lebih, Baru mereka singgah disebuah kuil tua dan rusak diatas satu bukit.

Tiga huruf "Leng Koan Bio" yang sudah hampir hapus adalah namanya kuil yang tak terawat itu.

"Disini kita beristirahat," Uy Cin bilang.

Mereka memasuki ruangan rusak dan kotor disana-sini, dengan gala-gasinya juga. Mereka duduk diruang tengah dimana tubuhnya Un Gie diletaki didamping mereka.

"Bagaimana hendak kita urus jenazah nyonya ini?" tanya Uy Cin. Itu adalah soal paling penting. "Apakah kita kubur disini saja atau kita pergi kekota untuk merawatnya dahulu dengan baik?"

Sin Cie tidak menjawab, ia kerutkan alisnya.

"Umpama kita pergi kekota untuk merawatnya dahulu," menyatakan Uy Cin, "Aku kuatir kita tidak merdeka. Pembesar negeri tentu akan menanyakannya dengan melit. Kita boleh tidak usah kuatir tapi pasti sudah kita bakal ngalami kesulitan dan berabeh."

Dengan pikirannya ini, Uy Cin menginginkan nyonya itu dikubur disitu saja.

"Tidak, itu tak dapat dilakukan!" Ceng Ceng nyatakan tak setuju.

"Ibu telah menyatakan ia ingin dikubur bersama-sama ayah..."

"Dimanakah dikuburnya ayahmu itu?" tanya Uy Cin. Ceng Ceng diam. Tak dapat ia menjawabnya. Ia tidak tahu dimana letaknya kuburan ayahnya itu. Maka ia awasi Sin Cie.

"Digunung Hoa San kita!" kata Sin Cie tanpa tunggu ditanya lagi.

Uy Cin heran, tak terkecuali Ceng Ceng sendiri. "Ayahnya    itu    adalah    Kim    Coa    Long-kun    Hee

Locianpwee, itu orang kangouw gagah dan aneh," Sin Cie

terangkan pula.

Usianya Uy Cin tak berjauhan dengan usianya Kim Coa Long-kun, ketika ia mulai dapat perkenan akan berkelana, namanya Kim Coa Long-kun sudah menggetarkan dunia Rimba Persilatan, maka itu, berbareng heran ia pun menjadi kagum, hingga dengan sendirinya, ia tambah menghormati nyonya yang rebah didamping mereka.

"Aku mempunyai satu usul," kata ia kemudian setelah ia berpikir sekian lama. "Aku harap nona tidak buat kecil hati..."

Ceng Ceng lihat Uy Cin sudah berusia lanjut. "Silakan utarakan itu, lopeh," kata dia.

Uy Cin tunjuk Sin Cie.

"Dia ini ada suteeku, dari itu tak dapat aku terima kau panggil lopeh padaku," kata ia. "Kau memanggil toako saja."

Hie Bin segera melirik pada Ceng Ceng.

"Begini gayanya, apa aku bukan mesti panggil koh padamu?" pikir dia.

"Kau toh cuma satu bocah perempuan..."

Ceng Ceng menoleh pada Sin Cie, Baru ia menjawab. "Apa yang toako bilang pasti aku akan dengar," sahut ia, yang lantas ubah panggilannya.

"Ah, benar-benar celaka!" pikir pula Hie Bin, hatinya gentar, ia tergugu. "Dengan tidak malu-malu lagi dia panggil toako pada suhu!"

Si tolol ini sibuk memikirkannya, sudah punya paman cilik, sekarang ia bakal punyai lagi satu bibi demikian muda-belia...

Tentu sekali Uy Cin tidak pernah sangka apa yang dipikirkan muridnya itu yang berdiri dengan melongo.

"Ibumu ingin dikubur bersama ayahmu, pasti mesti kita wujudkan keinginannya itu," berkata pula Uy Cin pada si nona, yang dalam sedetik saja menjadi adik perempuannya. "Tapi pelaksanaannya itu sulit sekali. Jangan kita sebut- sebut dahulu halnya perjalanan dari sini ke Hoa San yang ribuan lie jauhnya, hingga untuk angkut layon saja sudah sukar. Umpamakan saja kita bisa sampaikan gunung Hoa San. Adik tentu tidak ketahui berapa tingginya gunung itu. Dari kaki gunung saja layon tak dapat dibawa naik kepuncak..."

Ceng Ceng mengawasi dengan tercengang. "Begitu?" tanyanya. "Habis bagaimana?"

"Masih ada satu jalan lain," sahut Uy Cin. "Kita sambut tulang-tulang mendiang ayahmu itu, untuk dibawa kemari, untuk dikubur bersama jenazah ibumu. Jalan ini aku rasa ada kurang tepat. Sekarang ini ayahmu sudah berdiam dengan tenang, adalah kurang sempurna untuk ganggu ia dengan kepindahan tempat kuburannya."

Ceng Ceng bingung, hingga ia menangis pula. "Habis?" tanya dia. "Oleh karena semua kesulitan itu," ujar pula Uy Cin, "aku pikir baiklah jenazah ibumu dibakar, lantas tulang dan abunya kita antar ke Hoa San untuk dikubur bersama ayahmu..."

Ceng Ceng tercengang. Kurang setuju ia dengan usul itu. Akan tetapi, apa daya? Maka diakhirnya, selang beberapa saat, ia manggut, tapi air matanya mengucur dengan deras.

Uy Cin lantas ajak Sin Cie dan Hie Bin pergi keluar, untuk kumpuli rumput dan kayu bakar sedapat-dapatnya, untuk mengumpulkan itu, mereka ambil tempo sekian lama, setelah itu, tubuhnya Un Gie dibawa keluar, akan dilain saat, pembakaran telah dimulai.

Sakit hatinya Ceng Ceng, ia mendekam ditanah dan menangis mengulun. Sejak dilahirkan, ia seperti hidup menyendiri disebuah rumah-tangga yang istimewa, kecuali ibunya, tidak ada seorang lain juga yang menyayangi dia, sebaliknya, senantiasa orang tertawakan dia, sindir padanya, atau paling ringan, orang lirik ia secara dingin. Suasana keluarga yang luar biasa itu membuat ia mempunyai tabeat yang luar biasa itu, ia jadi aneh dan bandel. Sekarang, setelah ibunya meninggalkan ia sebatang- kara, ia pun mesti lihat tubuh ibunya diantara api yang berkobar-kobar besar.

Uy Cin semua tahu orang sangat berduka, dan percuma saja untuk hiburkan atau nasihati padanya, dari itu semua berdiam, mengantapkan dia umbar kedukaannya itu.

Banyak waktu dilewatkan untuk tunggu pembakaran mayat selesai. Sin Cie telah cari sebuah guci, maka setelah api padam, ia kumpuli abu dan sisa tulang-tulang, untuk dimasuki kedalam guci itu, buat ditutup rapat. Ia menjura dua kali kepada abu itu dan kata dalam hatinya : "Pehbo, aku harap kau tenangkan hatimu, pasti sekali aku nanti antar pehbo ke Hoa San untuk dikubur bersama dengan baik-baik, tidak nanti aku sia-siakan pesan pehbo. "

Uy Cin lihat segala apa telah selesai, lalu ia kata pada Sin Cie.

"Kita hendak antar emas ini ke Kiu-kang, Kangsee. Selama ini Giam-ong sudah kirim sejumlah saudara ke Kang-sou, Ciatkang, seluruh Kangsee dan An-hui untuk mencari hubungan disana, untuk persiapan mereka diselatan nanti menyambut begitu lekas kita di Tionggoan sudah mulai angkat senjata. Kau berhasil merampas pulang emas ini, sutee, tak kecil jasamu ini."

"Tadinya aku tak tahu bahwa emas ini demikian berharga," kata Ceng Ceng. "Coba tidak jiewie toako datang sendiri, pastilah aku telah membikin gagal usaha besar dari Giam Ong."

"Asal kau ketahui itu, itulah bagus," Hie Bin campur bicara.

Tidak biasanya Ceng Ceng nyerah kalah bicara, ia tahu pemuda itu maksudkan dia, maka wajahnya jadi berubah. Lantas dia kata pula : "Jikalau bukan Uy Toako sendiri yang antar emas ini, aku kuatir ditengah jalan nanti terbit onar pula!"

Inilah sindiran hebat untuk Hie Bin, yang dianggapnya tidak berguna, sudah tidak mampu lindungi emas itu.

Masih Hie Bin hendak melawan bicara akan tetapi Uy Cin deliki ia, untuk cegah ia banyak mulut.

"Jikalau Wan Sutee dan Un Kohnio tidak punya urusan penting, bagaimana andainya kita pergi bersama ke Kiu- kang?" tanya Uy Cin kemudian. "Siautee memikir untuk pergi dulu ke Lamkhia untuk menemui suhu sekalian mohon pengunjukannya," sahut Sin Cie. "Di Lamkhia juga aku hendak menemui Cui Siokhu."

"Suhu bersama saudara Ciu San sudah kembali ke Siamsay," Uy Cin menerangkan. "Sekarang ini suasana sudah genting sekali, mungkin pergerakannya Giam Ong tinggal menunggu waktunya saja."

Hatinya Sin Cie tergerak.

"Dengan begitu telah sampailah saatnya sakit hati ayah dibalaskan!" pikir dia, yang kedua matanya lantas menjadi merah. Segera ia kata : "Jikalau begitu, siautee hendak lantas pergi ke Siamsay untuk menemui suhu, tidak jadi siautee pergi ke Kiu-kang. Bagaimana pikiran toako?"

Sutee ini hargakan toakonya itu maka ia menanya demikian.

"Giam Ong hendak bergerak, dia sedang membutuhkan banyak pembantu," sahut Uy Cin. "Sutee mempunyai kepandaian begini sempurna, dengan sutee pergi ke Siamsay, untuk bantu dia, itulah bagus sekali. Aku percaya, sutee, dibelakang hari kau akan berbuat banyak untuk rakyat."

"Dalam hal itu aku mengharap pimpinan suheng," kata sutee ini, yang halus sekali budi pekertinya.

Uy Cin tertawa menampak sikap yang halus itu.

"Tak dapat aku telad kau," katanya. "Disini saja kita berpisah!"

Suheng ini berbangkit, ia angkat kedua tangannya, lantas ia memutar tubuh, untuk bertindak pergi.

Hie Bin kasi hormat pada paman ciliknya, untuk pamitan. "Engko Sin Cie, rawat dirimu baik-baik," Siau Hui pesan ketika ia pun pamitan dari itu kawan semasa kecil.

Si anak muda manggut.

"Tolong sampaikan hormatku kepada encim," ia pesan. "Tolong sampaikan pada encim bahwa aku senantiasa ingat dia."

"Ibu juga sering sebut kau, engko," bilang si nona. "Apabila ibu tahu kau sudah jadi begini besar, pasti ia akan jadi sangat girang. Nah, aku pergi!"

Nona ini memberi hormat, segera ia susul Uy Cin. Mereka menuju ke selatan. Beberapa kali ini nona masih menoleh, untuk lambai-lambaikan tangannya, sehingga Sin Cie saban-saban membalasnya, sampai tiga orang itu sudah lenyap dari pandangan matanya.

"Hm!" tiba-tiba terdengar suaranya Ceng Ceng. "Kenapa kau tidak susul dia untuk lambaikan tangan pula?"

Sin Cie melengak. Inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak tahu hatinya nona ini.

"Kenapa kau tidak turut dia pergi bersama?" Ceng Ceng kata. "Dengan susul dia, bukankah kau tak akan merasa berat sebagai ini. ?"

Baru sekarang Sin Cie insyaf sebab-musabab marahnya nona ini. Ia tidak jadi gusar, sebaliknya, ia tertawa.

"Kau belum tahu," katanya. "Ketika aku masih kecil, aku hadapi ancaman bahaya besar, itu waktu adalah ibunya nona itu yang tolong aku. Sejak masih kecil itu kami biasa bermain berdua saja."

Ceng Ceng jadi semakin mendongkol, ia jumput sepotong batu dan timpuki itu secara sembarangan kepada tangga batu, sehingga muncratlah lelatu api. "Itulah persahabatan rapat sekali!" katanya kemudian, dengan dingin.

Sin Cie tahu adat kukoay si nona, ia antapkan saja. Tapi ini justru membuat nona itu makin panas hatinya.

"Dengan dia kau bicara dengan gembira, sambil tertawa- tawa, tapi melihat aku, kau masgul!" katanya.

"Kapannya aku masgul, tak gembira bicara denganmu?" Sin Cie tanya.

"Ya, itu orang manis-budi, selagi kau kecil, kau sangat disayangi, akan tetapi aku, aku tidak punya ibu. "

Lantas ia menangis.

"Ah, jangan kau turuti saja adatmu," kata Sin Cie dengan masgul. "Sekarang harus kita berdamai, bagaimana kita mesti berbuat selanjutnya."

Mendengar begitu, mukanya Ceng Ceng berubah menjadi merah-dadu.

"Apakah yang hendak didamaikan lagi?" katanya. "Pergi kau susul adikmu Siau Hui itu! Aku ada satu anak sengsara, biarkan aku terumbang-ambing diujung langit dan pojok laut. "

Bingung Sin Cie untuk menjawab. Iapun mesti pikirkan, bagaimana hendak diatur mengenai nona ini. Ia merasa sulit hingga ia diam saja.

Ceng Ceng lihat orang bungkam dan bengong saja, ia jumput guci abu dan tulang ibunya, ia lantas bertindak pergi.

"Kau hendak pergi kemana?" tanya si anak muda.

"Perlu apa kau perdulikan aku?" balik tanya si nona. Ia bertindak terus kearah utara. Dengan terpaksa Sin Cie mengikuti. Nona itu tetap diam saja, Sin Cie coba mengajaknya bicara, dia itu tidak memperdulikannya.

Akhirnya sampailah mereka dikota Kim-hoa.

Setelah ambil pondokan, Ceng Ceng pergi akan beli seperangkat pakaian orang lelaki, berikut sepatu dan ikat kepalanya, untuk ia menyamar sebagai satu pemuda.

Sin Cie tahu, karena berlalunya dengan kesusu, nona itu tidak bekal banyak uang, maka selagi si nona keluar, ia selipkan dua potong emas dalam saku bajunya. Tapi kapan Ceng Ceng kembali dan dapati uang itu, iabawa kekamarnya si anak muda, untuk dikembalikan. Dan malam itu ia keluar seorang diri, untuk "bekerja" dirumahnya satu penduduk hartawan, hingga ia jadi mempunyai lima-ratus tail perak.

Besok paginya, kota jadi gempar karena kecuriannya si hartawan itu.

Segera Sin Cie ketahui itu tentu ada perbuatan kawan wanitanya, ia jadi kerutkan alis. Ia cerdik dan gagah tapi ia seperti habis daya akan layani ini nona luar biasa. Untuk memohon, ia tak mau, ia sungkan, akan tetapi untuk tinggal pergi nona itu, ia tidak tega, itulah tak dapat dilakukan. Ia ada satu gadis remaja dan sekarang yatim-piatu, sebatang kara. Apa bisa ia antapkan dia berkelana seorang diri? Ia jadi sangat bingung!

Dihari besoknya itu, dua anak muda ini meninggalkan Kim-hoa, akan menuju ke Gie-ou. Si nona masih mendongkol, ia jalan didepan, hingga si pemuda mesti ikuti dia.

Mereka sudah lalui tiga puluh lie lebih tatkala cuaca menjadi buruk dengan tiba-tiba, awan mendatangi secara cepat, udara jadi mendung tandanya sang hujan bakal segera turun membasahi bumi. Keduanya lantas cepatkan tindakan mereka, akan tetapi belum sampai lima lie, air langit itu sudah turun juga, malah lantas dengan lebat.

Sin Cie sedia payung, ia tidak kuatirkan air hujan, tapi Ceng Ceng tidak, dari itu, ia lantas saja lari keras, untuk cari tempat meneduh. Apa lacur, disitu tidak ada rumah orang, tidak ada kuil atau paseban umum dimana orang bisa berlindung dari serangan air langit itu.

Sin Cie bisa lari lebih pesat, dengan cepat ia dapat menyusulnya, ia sengaja melewati, untuk dari sebelah depan, ia serahkan payungnya.

"Pakai ini," katanya.

Tanpa menjawab, Ceng Ceng tolak payung itu.

"Adik Ceng," berkata si anak muda," kita berdua sudah angkat saudara, kita telah bersumpah untuk hidup dan mati bersama, untuk senang dan susah dipikul bersama juga, kenapa sekarang kau gusari kokomu?"

Mendengar demikian, nona ini menjadi lebih sabar. "Jikalau kau tidak ingin bikin aku gusar, kau mesti turut

aku dalam satu hal," kata dia.

"Sebutkan itu," bilang Sin Cie. "Jangan kata Baru satu, sepuluh juga dapat aku menerimanya!"

"Baik, kau dengar," kata nona itu. "Sejak hari ini kau jangan ketemui pula nona An dan ibunya! Jikalau kau terima baik permintaanku ini, aku segera akan hatur maaf terhadapmu. "

Kata-kata ini ditutup dengan tertawa yang manis.

Sin Cie menjadi sulit sekali. Ia berhutang budi pada An Toanio, ia mesti balas budi itu, maka kenapa sekarang, tak

418 ada sebab tak ada lantaran, tak dapat ia menemui nyonya yang budiman itu? Sebagai seorang jujur dan kenal budi, tak dapat ia sembarang mengiakan si nona.

Selagi orang terbenam dalam keragu-raguan, Ceng Ceng kata :

"Memang aku sudah duga tak nanti kau tega meninggalkan itu adik Siau Hui. "

Ia lantas putar tubuhnya dan lari dengan pesat.

"Adik Ceng! Adik Ceng !" Sin Cie terperanjat dan memanggil-manggil.

Si nona tidak meperdulikannya, dia lari terus.

Sukur untuk mereka, sesudah beberapa pengkolan, mereka dapati sebuah paseban. Si nona lantas singgah di paseban itu, si anak muda susul dia.

Pakaian Ceng Ceng kuyup basah semua. Itu waktu musim panas, dia memakai pakaian yang tipis, tapi setelah sekarang pakaiannya lepek, maka berpeta tegaslah potongan tubuhnya. Ia merasa tidak enak sendirinya apabila ia tampak si anak muda turut masuk bersama, sedang anak muda itu pun likat. Lantas saja ia menangis.

"Kau menghina aku, kau menghina aku...." Katanya sambil menangis terus.

"Inilah aneh! Kapannya aku hinakan kau?" pikir si anak muda. Ia tidak bilang apa-apa, ia buka baju luarnya, untuk kerebongi itu pada tubuh si nona. Ia pakai payung, bajunya itu tidak basah.

Ceng Ceng ingat kebinasaan ibunya, dengan tiba-tiba saja ia menangis, ia menangis menggerung-gerung.

Sin Cie sibuk sendirinya, tak tahu apa ia mesti buat untuk mendiamkan nona ini, terpaksa ia berdiam saja.

419 Untung berselang tidak lama, hujan mulai redah dan akhirnya berhenti.

Ceng Ceng masih saja menangis, akan tetapi sambil menangis itu, satu kali ia melirik si anak muda. Justru itu, Sin Cie sedang mengawasinya, hingga dengan sendirinya, sinar mata mereka bentrok satu dengan lain. Ia lekas berpaling, kembali ia menangis keras.

Sin Cie jadi habis sabar.

"Aku hendak lihat, berapa banyaknya sih air matamu!" pikir dia. Dan dia mengantapkannya.

Ketegangan itu berjalan terus sampai sekian lama, sampai mendadak terdengar tindakan kaki, yang datangnya dari arah utara, apabila keduanya menoleh, mereka tampak satu petani muda sedang tuntun satu nyonya muda memasuki paseban itu. Si nyonya rupanya sedang sakit, ia merintih saja.

Rupanya si petani ada suaminya nyonya itu, nampaknya ia sangat merasa kasihan, berulang-ulang ia menghiburkannya.

Oleh karena disitu ada orang asing, Ceng Ceng berhenti menangis.

"Baik, aku nanti mencoba," pikir Sin Cie, yang dengan tiba-tiba dapat satu pikiran.

Tidak lama, pasangan suami-isteri muda itu meninggalkan paseban.

Ceng Ceng lihat hujan sudah berhenti betul, ia berniat melanjutkan perjalanannya, akan tetapi disaat ia berbangkit, untuk bertindak keluar, sekonyong-konyong Sin Cie menjerit: "Aduh! Aduh!...." Ia kaget sekali, segera ia menoleh,   hingga   ia   tampak   si   anak   muda,   dengan terbungkuk-bungkuk sedang pegangi perutnya, anak muda itu lantas mendeplok di lantai. Masih saja ia teraduh-aduh dan pegangi perutnya, mukanya meringis menahan sakit.

Dalam kagetnya, Ceng Ceng lompat mendekati. Ia lihat jidatnya Sin Cie mandi keringat!

"Kau kenapa?" tanyanya. "Apakah perutmu sakit?"

Sin Cie tidak menyahuti, sedang dalam hatinya, ia berpikir : "Bersandiwara tidak boleh kepalang-tanggung. "

Dan ia tahan ambekannya, hingga ketika si nona raba tangannya, tangannya itu dingin bagaikan es.

"Kau kenapa, kenapa?" tanya pemudi ini, yang jadi sibuk bukan main.

Si anak muda merintih, ia tidak menjawab.

Tanpa merasa, nona itu menangis, saking bingung dan berkuatir.

"Adik Ceng, sakitku ini tak dapat disembuhkan," kemudian kata Sin Cie dengan suara lemah. "Tidak usah kau perdulikan aku, pergilah kau berangkat. "

"Tapi kenapa, tidak keruan-keruan kau sakit?" tanya si nona.

"Sejak masih kecil aku ada punya serupa penyakit," sahut Sin Cie dengan susah," ialah tak dapat aku dibikin mendongkol atau gusar, asal orang menerbitkannya, hatiku pepat, lantas penyakitku itu kumat, perutku sakit....Aduh!.....Aduh!....Sakit amat!. "

Ceng Ceng jadi demikian sibuk hingga lupa dia pada adat sopan-santun, ia tubruk si anak muda untuk dirangkul, dipeluki, lalu ia urut-urut dada si anak muda.

Sin Cie merasa likat sendirinya karena orang peluki ia. "Engko Sin Cie, dasar aku yang salah..." nona itu mengaku kemudian. "Sudah, engko, aku minta kau jangan bergusar lagi..."

Sin Cie pikir : "Apabila aku tidak terus bersandiwara, dia bisa sangka aku ada satu pemuda ceriwis..." maka ia tunduk terus, ia merintih.

"Aku bakal tidak hidup lebih lama pula," ia mengeluh," kalau nanti aku menutup mata, tolong kau kubur mayatku, habis itu tolong kau beri kabar pada Uy Toako..."

Ia merintih pula, ia mengeluh, akan tetapi dalam hatinya, ia tertawa geli.

"Tak dapat kau mati," Ceng Ceng menangis. "Kau tidak tahu, aku bergusar secara main-main saja, aku gusar bohong, sengaja aku hendak gaduh padamu, sedang hatiku, sebenarnya, aku suka, aku sangat sukai kau....Jikalau kau mesti mati, mari kita mati bersama. "

Heran Sin Cie, kaget dia.

"Ah, kiranya dia menyintai aku...." Pikirnya. Hatinya lantas memukul. Ia girang, Ia pun likat, dalam bimbang, ia jadi berdiam saja.

Ceng Ceng masih saja berkuatir, ia sangka si pemuda benar-benar bakal mati, maka ia merangkul dengan keras sekali.

"Engko, engko, tak dapat kau mati!. " katanya.

Mereka berada demikian dekat, Sin Cie membaui harum istimewa, hatinya goncang. Tapi mendadak ia seperti sadar.

"Sakit hatiku belum terbalas, cara bagaimana aku sudah main cinta?" demikian ia pikir. "Satu laki-laki mesti berlaku terus-terang! Bagaimana aku dapat pedayakan satu anak dara?" "Aku bergusar bohong, jangan kau anggap sebenar- benarnya," kembali si pemuda berikan pengakuannya.

Tiba-tiba saja Sin Cie tertawa.

"Sakitku juga sakit bohong, jangan kau anggap sebenar- benarnya!..." kata dia, yang kembali tertawa berkakakan.

Ceng Ceng terperanjat, hingga ia melengak. Dengan tiba- tiba ia lepaskan rangkulannya, dia lompat bangun, menyusul mana sebelah tangannya melayang kekupingnya si anak muda, hingga Sin Cie rasai kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang.

Ceng Ceng tutupi mukanya, terus dia lari. Sin Cie bingung sekali.

"Tadi dia bilang dia menyayangi aku, dia tak dapat hidup tanpa aku, kenapa sekarang dia gusar dan pukul aku?" pikirnya.

Dalam bingungnya, Sin Cie lompat bangun, untuk susul si nona, akan mengikuti dibelakangnya.

Ceng Ceng sudah umbar adatnya, habis itu hatinya lega, ketika ia menoleh, ia lihat tanda merah bergelang dipipi kiri si anak muda, bekas gaplokannya, lantas hatinya jadi lemah. Tapi ia masih likat. Tanpa kehendaknya, ia telah beberkan rahasia hatinya, ia malu sendirinya, ia jengah sekali.

Itu magrib mereka sampai di Gie-ou, lantas mereka cari hotel.

Ceng Ceng lantas minta disediakan barang makanan, Sin Cie duduk di satu meja, untuk bersantap bersama-sama.

Tiba-tiba si pemudi tertawa sendirinya. "Mau apa ikuti orang saja, sungguh menjemukan. "

Katanya.

Sin Cie raba pipinya, ia pun tertawa.

"Perutku sakit, itulah sakit bohong," katanya. "Yang benar-benar sakit adalah ini. "

Ia maksudkan pipinya sasaran gaplokan itu.

Ceng Ceng tertawa pula. Itulah tertawa yang membuat mereka berdua akur pula, hingga mereka bisa bersantap dengan bernapsu, kemudian mereka pasang omong dengan asyik.

Malam itu mereka tidur dalam kamar masing-masing. Puas hatinya Ceng Ceng akan saksikan pemuda itu ada satu laki-laki terhormat.

Besoknya pagi, Sin Cie kata pada si nona : "Adik Ceng, pekerjaan kita paling penting sekarang ini adalah antar abu ibumu ke gunung Hoa San untuk dikubur disana."

"Benar," sahut si nona. "Sebenarnya, bagaimana duduknya maka kau dapat menemui kuburan ayahku?'

"Nanti kita bicara ditengah jalan saja," jawab pemuda itu.

Si pemudi menuruti, dari itu, setelah sarapan, mereka melanjuti perjalanan, menuju keutara. Adalah selagi berjalan, Sin Cie tuturkan kejadiannya bagaimana ia ketemukan tulang-tulangnya Kim Coa Long-kun didalam gua, bagaimana ia dapati peti besi yang berisi kitab atau peta berharga. Ia tuturkan semua dengan jelas.

Ceng Ceng girang berbareng berduka.

Sin Cie lanjuti penuturannya tentang sepak-terjangnya Thio Cun Kiu dan si pendeta, yang datang dan bekerja bersama tapi akhirnya saling menjahati.

424 Bergidik Ceng Ceng mendengar cerita itu.

"Thio Cun Kiu itu ada muridnya Su-yaya," terangkan ia kemudian. "Dia ada seorang yang jahat sekali. Dan itu hweeshio, bukankah pada mukanya ada tanda bekas satu luka?"

"Benar, itu benar," Sin Cie mengasi kepastian.

"Dia ada Goh In, ia muridnya jie-yaya," Ceng Ceng kasi keterangan lebih jauh. "Sejak ayah lenyap, yaya semua kirim belasan muridnya kesegala penjuru untuk mencari, telah ditetapkan setiap tiga tahun mereka mesti memberi kabar berhasil-tidaknya penyelidikan mereka. Dua binatang itu ada sangat jahat, pantas mereka terima kebinasaan mereka secara demikian rupa!"

Nona ini berhenti sebentar, lalu ia menambahkan : "Ayah telah menutup mata, setelah mati, dia masih bisa atur daya untuk binasakan musuh-musuhnya, sungguh luar biasa sekali!" ia jadi bangga sekali.

"Yayamu semua tahu ada hubungan diantara aku dan ayahmu itu, aku percaya mereka bakal berdaya lebih keras untuk mencari tahu hal harta besar itu dan kuburan ayahmu," Sin Cie utarakan kemudian.

"Tapi mereka tahu juga mereka tidak sanggup lawan kau, percuma saja mereka bikin dirinya tambah sibuk saja," kata si nona. "Coba ayah masih hidup dan ia tahu kau telah hajar mereka kucar-kacir begini rupa, entah betapa girangnya ayah!...Tapi ibu telah menyaksikannya sendiri kau labrak mereka, tentu ibu akan menyampaikannya kepada ayah.... Coba kau kasih lihat pula tulisannya ayah kepadaku."

Sin Cie perlihatkan apa yang diminta si nona. "Ini ada barang ayahmu, harus ini dipulangi kepadamu," ia bilang.

Ceng Ceng tidak menjawab, dengan penuh perhatian ia awasi peta dan tulisan ayahnya itu, nampaknya ia berduka berbareng bersuka-ria juga.

Sejak itu, setiap ada kesempatan, selagi singgah dipemondokan, ia suka keluarkan peta itu, untuk diawasi, untuk dibuat main.

Pada suatu hari dua anak muda ini sampai di Siong- kang, tiba-tiba si pemudi kata : "Engko, begitu lekas kita sampai di Lam-khia, paling dulu kita cari itu mustika berharga!"

Sin Cie heran.

"Kau maksudkan apa?" tanyanya.

"Bukankah dalam peta ayah ada disebutkan hal mustika berharga?" si nona baliki. "Bukankah ayah telah menulis, siapa dapatkan mustika itu, ia mesti berikan itu sepuluh laksa tail emas? Maka teranglah sudah, mustika itu mesti berharga besar sekali."

Rupanya Sin Cie Baru ingat.

"Kau benar, akan tetapi mengurus urusan kita ada lebih penting," ujarnya dengan perlahan.

Pemuda ini senantiasa ingat gurunya dan habis menemui gurunya, hendak ia menuntut balas untuk ayahnya.

"Kita telah punyakan petanya, aku pikir, dengan cari mustika itu, tidak nanti kita sia-siakan banyak tempo," si nona utarakan.

"Habis, buat apa kita punya harta besar itu?" Sin Cie tanya. "Adik Ceng, aku harap sukalah kau menjadi orang baik- baik, jangan kau terpancing oleh harta besar. "

Tapi Ceng Ceng menjebikan bibir, waktu dia masih juga dinasehati, dia jadi tidak puas hingga itu malam tak mau dia dahar....

Dihari kedua, perjalanan dilanjutkan.

"Engko," kata si nona, selagi berjalan," aku cuma ambil emasnya Giam Ong dua ribu tail, mereka itu jadi sibuk luar biasa, sampai toasuhengmu turun tangan sendiri untuk merampas pulang emas itu. Kenapa sikapnya Giam Ong demikian cupat?"

"Keliru jikalau kau anggap Giam Ong cupat pikiran," Sin Cie kasi mengerti. "Aku pernah bertemu sendiri dengannya, dia ramah tamah dan budiman, ia tak sayang uangnya untuk menolong mereka yang membutuhkannya. Dia lagi berdaya untuk membebaskan rakyat jelata dari kesengsaraan, karenanya ia jadi sangat hemat. Dia adalah satu enghiong, satu hookiat terbesar! Emas dua ribu tail itu ia sangat butuhkan, pasti sekali tak bisa ia antapkan lenyap."

"Kalau demikian, itulah lain," Ceng Ceng bilang. "Sekarang umpamakan kita hadiahkan Giam Ong dengan dua-puluh laksa tail emas, sampai dua ratus laksa tail emas, bagaimana kau pikir, tidakkah itu bagus?"

Sin Cie sadar dengan tiba-tiba, hingga dia lupa akan dirinya. Dia sambar tangannya si nona dan cekal itu dengan keras.

"Adik Ceng, kenapa pikiranku jadi begini butek?" berseru dia. "Syukur kau memperingatinya!"

Ceng Ceng lepaskan tangannya. "Tak perlu aku dengan pujianmu," katanya. "sudah cukup bagiku asal kemudian kau kurangi teguranmu."

Pemuda itu tertawa.

"Umpama berhasil kita mencari harta besar itu dan kita menghadiahkannya kepada Giam Ong, sungguh itu ada satu berkah besar untuk rakyat jelata!" katanya dengan girang.

Maka keduanya lantas numprah ditepi jalanan, mereka beber petanya Kim Coa Long-kun, untuk diperdatakan dengan seksama.

0o-d.w-o0