-->

Pedang Ular Emas Bab 08

Bab ke 08

"Rupa-rupanya dia kuatir aku nanti berlaku nekat pula, selama dua hari terus-terusan dia jaga aku," Un Gie bercerita lebih jauh. "Dia matangi sendiri bahan makanan, untuk aku dahar. Aku melainkan menangis, tidak sudi aku layani dia. Hari ketiga lewat, datang hari keempat. Dalam empat hari saja, aku telah jadi kurus bukan main. Ia masaki aku daging kuah, dengan sabar ia bujuki aku untuk dahar daging kuah itu. Tetap aku tidak perdulikan padanya. Tiba- tiba dia jambak aku, untuk bikin kepalaku melenggak, hidungku terus ditutup, sesudah mana, selagi mulutku terpentang, dia paksa cekoki kuah daging itu. Secara demikian, mau atau tidak, aku kena tenggak separuh dari isinya mangkok. Baru setelah itu, ia tidak jambak pula padaku. Dengan sengaja aku sembur mukanya, aku ingin bikin dia gusar, supaya dia bunuh aku, sebab tak ingin aku nanti diperkosa dia, tak sudi aku diperlakukan sebagai kedua enso, yang dijual pada rumah hina. Sedikitpun ia tidak gusar, ia tertawa saja. Dengan sabar ia susuti mukanya, ia awasi aku dengan diam saja, Baru kemudia dia menghela napas." "Malam itu dia rebahkan diri dimulut gua.

"Aku hendak nyanyikan satu lagu, apa kau suka dengar?" dia kata padaku.

"Aku tidak suka dengar," aku jawab dia.

Dengan tiba-tiba dia kegirangan hingga dia lompat berjingkrakan.

"Aku sangka kau gagu, kiranya kau bisa bicara!" katanya gembira.

"Diluar keinginannku, aku tertawa. Aku anggap lucu yang dia sangka aku tidak bisa bicara. Kemudian secara mendamprat, aku kata padanya: "Siapa yang gagu? Bertemu sama orang jahat, aku memang tidak sudi bicara!"

"Dia tidak layani aku bicara, sebaliknya dengan suara muluk, dia nyanyikan satu lagu pegunungan. Dia nyanyi terus, sampai lanjut malam, hingga sang rembulan muncul dengan keindahannya. Masih saja dia bernyanyi. Seumurku, aku hidup terkurung didalam rumah, mana pernah aku dengar nyanyian semacam itu? Itulah nyanyian percintaan diantara orang-orang lelaki dan perempuan. "

"Kau tidak sudi dengarkan tapi toh kau dengari, bukan?" mendadakan Un Lam Yang campur bicara. "Siapa mempunyai kesabaran akan dengarkan cerita burukmu ini?"

Lantas dia bertindak keluar paseban, tindakannya lebar. "Tentu dia pergi untuk mengadu pada yaya semua," kata

Ceng Ceng.

"Biar saja, aku tidak takut!" sahut Un Gie.

"Kalau begitu,ibu, hayo lanjuti ceritamu," sang puteri minta. "Kemudian lagi, dengan lapat-lapat aku ketiduran sendiri," Un Gie melanjuti. "Besoknya pagi aku mendusi, aku tidak lihat dia. Aku lantas memikir untuk minggat. Tapi setelah aku melongok kemulut gua, aku putus asa. Gua itu berada dipuncak bukit, disebuah lamping, diempat penjurunya, tidak ada jalanan untuk turun. Cuma orang- orang sebagai dia, yang sempurna ilmu silatnya dan bisa ilmu mengentengkan tubuh, bisa naik dan turun dengan merdeka.

"Kira-kira tengah-hari, dia pulang. Dia bawakan aku banyak barang perhiasan, yancie dan pupur. Aku tidak inginkan itu, aku jumput, aku lemparkan kedalam jurang. Dia tidak gusar, malah dia gembira sekali."

"Kapan sang malam sampai, kembali dia bernyanyi untukku."

"Dilain harinya, dia pergi untuk kembali dengan bawakan aku banyak barang mainan, antaranya anak ayam yang berciap-ciap dan anak kucing yang mengeong-ngeong, juga anak burung dan anak kura-kura yang merayap pergi- datang. Tentu saja tak tega aku akan lemparkan semua binatang itu kedalam jurang. Dia rupanya ketahui perasaanku itu. Maka hari itu, terus seantero hari, dia temani aku memain dengan keempat binatang itu, yang kita pun kasih makan. Malamnya, kembali dia nyanyi untuk aku dengari."

Melihat yang dia tidak niat ganggu aku, aku menjadi sedikit lega, hingga aku jadi suka juga dahar. Hanya sampai lebih dari satu bulan, tetap aku tidak suka bicara dengannya. Meskipun demikian rupa sikapku terhadapnya, tidak pernah dia hunjuk kegusarannya, terus-menerus dia bersikap lemah-lembut terhadapku. Sekalipun ayah dan ibuku belum pernah berlaku baik sebagai dia terhadap aku." "Adalah pada suatu hari ketika dengan sekonyong- konyong datang perubahan atas dirinya. Dengan tiba-tiba saja dia awasi aku dengan rupa bengis dan sikap mengancam, hingga aku jadi ketakutan, hingga aku menangis."

"Dia awasi aku sekian lama, lantas ia menghela napas sendirinya.

"Sudah, jangan nangis," dia bujuk aku akhirnya.

"Pada malam itu aku pergoki dia menangis seorang diri, suaranya pelahan sekali, akan tetapi aku tahu, dia menangis dengan sangat sedih. Dia menangis diluar gua. Apamau, malam itu turun hujan.

Dia tidak mau masuk kendati juga hujan turun dengan lebat. Aku jadi tidak tega.

"Mari masuk," aku kata padanya. Dia tidak perdulikan ajakanku itu.

"Kenapa kau menangis?" aku tanya pula.

"Secara mendadak saja dia menyahuti, dengan bengis : "Besok adalah hari ulang setahun dari matinya ayah, ibu, encie dan kedua kandaku! Dalam itu satu hari saja, seluruh keluargaku musnah terbinasa dalam tangannya seorang dari keluargamu! Maka besok aku mesti bunuh lagi orang keluargamu, sedikitnya mesti satu jiwa! Sekarang ini rumahmu dijaga sangat keras dan kuat! Keluargamu sudah minta bantuannya Lie Cwee Toojin dari Ngo Bie Pay dan Ceng Beng Siansu dari Siau Lim Pay! Tapi aku tidak takut!"

"Habis mengucap demikian, dia lantas pergi. Dia pergi sampai magrib dihari yang kedua, masih dia belum kembali. Tanpa merasa aku jadi senantiasa ingat dia. Diam- diam aku meng-harap-harap pulangnya dia." Diam-diam Ceng Ceng lirik Sin Cie, akan lihat orang memandang hina atau tidak kepada ibunya itu,akan tetapi ia dapati pemuda itu duduk dengan tetap tenang dan perhatiannya sangat tertarik. Menampak demikian, diam- diam ia merasa girang.

Un Gie melanjuti :

"Selagi cuaca mulai menjadi gelap, dia masih belum kembali juga. Dua-tiga kali aku telah melongok kemulut gua. Ketika untuk keempat kalinya aku melongok pula, aku tampak tubuh empat orang diatas puncak, kelihatannya bagaikan bajangan saja. Mereka itu sedang saling kejar."

"Aku coba mengawasi dengan teliti, maka akhirnya, dengan samar-samar, bisa juga aku mengenalinya. Orang yang terdepan adalah dia, lalu satu imam, disusul sama satu pendeta yang menyekal sebatang sian-thung, tongkat yang panjang sebagai toya. Orang yang keempat ada ayah dengan senjatanya yang istimewa, tongkat berkepala naga- nagaan. Dia sendiri cekal pedang Kim Coa Kiam. Sendirian saja dia layani tiga lawan, nampaknya dia terancam bahaya. Sebab sesampainya dipuncak itu, mereka lantas bertempur."

"Sekarang aku dapat melihat terlebih tegas. Pendeta yang bersenjatakan tongkat itu liehay sekali, ia dapat mendesak, akan akhirnya mengemplang dengan tongkatnya itu. Aku kaget hingga aku menjerit, sebab aku lihat dia telah sangat terdesak, aku kuatir dia tak dapat menghalau bahaya. Tapi dengan pedangnya, dia bisa menangkis, malah tangkisa itu membuat sapat ujungnya tongkat."

"Ayah dapat dengar jeritanku, ia menoleh kearah aku, lantas ia tidak berkelahi lebih lama, ia berlari-lari menuju aku." "Menampak sikap ayah, dia jadi sibuk sekali. Dia desak kedua lawannya, itu imam dan pendeta, lantas dia tinggalkan, untuk dia susul ayah. Karena ini, dia pun dikejar kedua orang beribadat itu."

"Tidak lama sampailah mereka dilembah dimana dia telah dapat mencandak ayah, untuk cegah ayah mendekati aku, dia serang ayah, hingga kembali mereka berdua jadi bertempur. Baru beberapa jurus, si imam dan si pendeta pun sudah datang, diaorang lalu mengepung pula padanya."

"Ayah lantas gunai ketika untuk menyingkir dari pertempuran itu, untuk ia ber-lari-lari pula kearah aku. Selama itu, mereka telah mendatangi aku semakin dekat. Aku girang sekali.

"Ayah, lekas!" aku teriaki ayahku.

"Sebagai orang kalap, dia desak kedua lawannya, lalu dia lari akan susul ayah. Dia berhasil dia serang ayah dengan hebat, hingga ayah terdesak mundur. Sebentar saja, ayah jadi terancam bahaya.

"Selagi aku berpikir untuk lari kepada ayah, untuk tolongi dia, si imam dan si pendeta sudah menyusul pula, maka kembali mereka bertempur pula."

"Eh, Gie, bagaimana dengan kau?" ayah teriaki aku. "Aku tidak kurang suatu apa, ayah, jangan kuatir," aku

jawab.

"Baik!" ayah bilang. "Nanti aku bereskan dahulu ini kancat!"

Bertiga mereka kepung pula dia.

"Kim Coa Long Kun," terdengar suaranya si imam dari Ngo Bie Pay," aku hendak bicara denganmu supaya kau mengerti.   Kami   dari   Ngo   Bie   Pay   tidak   bermusuh denganmu, kita tidak punya sangkutan apa juga, tapi sekarang aku telah campur tahu urusanmu, ini melulu disebabkan perbuatanmu keterlaluan. Aku janji akan tidak bantu siapa juga asal kau suka hentikan permusuhan, supaya selanjutnya kau tidak satroni pula keluarga Un. Aku ingin supaya urusan diselesaikan mulai hari ini."

"Sambil kertak gigi, aku dengar dia menjawab:

"Habis, apa aku tidak boleh balas sakit hatinya ayah dan ibuku, encie dan kanda-kandaku?" demikian tanyanya.

"Kau sudah binasakan banyak jiwa, aku anggap pantaslah kau merasa puas," kata si imam. "Aku minta, dengan memandang mukaku, sukalah kamu kedua pihak habiskan persengketaan ini."

"Tapi dia tidak menjawab, malah dengan tiba-tiba dia serang si pendeta. Karena ini, lagi-lagi mereka jadi bertempur."

"Senjatanya si imam ada liehay, imamnya sendiri berilmu silat tinggi. Disamping dia, tongkatnya si pendeta perdengarkan suara angina men-deru-deru. Tongkat itu masih bisa digunai dengan sempurna walaupun ujungnya sudah terkutung."

"Aku lihat dia terancam. Dia mandi keringat. Dia terdesak. Tiba-tiba aku tampak dia sempoyongan, hampir- hampir dia rubuh terguling. Justru itu, tongkatnya si pendeta menyambar. Masih dia bisa luputkan diri dari bahaya dengan berkelit miring."

"Justru karena dia berkelit, dia dapat lihat mukaku. Menurut keterangannya belakangan, hari itu dia sudah sangat letih, urat-uratnya lemas semua. Akan tetapi kapan dia dapat lihat aku, dan dia dapat perasaan aku sangat memperhatikan padanya, tiba-tiba bangkitlah semangatnya, tenaganya jadi kumpul pula. Maka ketika dia bikin perlawanan lebih jauh, Kim-coa-kiam jadi sangat berbahaya."

"Nona Un, jangan takut!" dia serukan aku. "Kau lihat!" "Entah bagaimana dia telah gunai senjatanya, mendadak

terdengar si pendeta keluarkan jeritan yang menyeramkan,

tubuhnya rubuh, lalu bergelundungan kebawah. Kemudian ternyata, batok kepalanya yang gundul telah tertancap bor Kim-coa-cui."

"Ayah dan si imam jadi kaget."

"Segera datang saatnya dia serang ayah. Gunai ketika yang baik, si imam membokong dari belakang. Tapi dia tidak kena ditikam bebokongnya. Dalam ancaman bahaya itu, ia mendahulukan memutar tubuh, sambil berkelit, tangan kirinya diulur, dua jarinya menusuk kedua matanya si penyerang. Sambil berbuat demikian, dia berseru keras."

"Imam itu terkejut, lekas-lekas ia tunduk, untuk selamatkan diri dari totokan itu kearah mata. Selagi ia tunduk, lengan kanannya telah menyambar. Itulah lengan yang menyekal pedang. Tidak ampun lagi, tubuh si imam terbabat pedang, sehingga dengan satu jeritan mengerikan, dia rubuh binasa."

Ceng Ceng berseru mendengar cerita ibunya itu. Ia kagum.

"Habis itu, dia kembali serang ayah."

"Ketika itu muka ayah telah jadi pucat hingga seperti tak ada darahnya, terang ia kaget dan jeri karena dapatkan dua kawannya yang liehay telah dibinasakan dengan cepat. Ayah menangkis secara sembarangan. Tidak lagi ayah bisa mainkan tongkatnya dengan sempurna. "Aku lantas lari keluar gua."

"Tahan! Tahan!" aku berseru berulang-ulang. "Mendengar teriakan aku, dia berhenti menyerang." "Inilah ayahku," aku perkenalkan dia kepada ayah.

Dia pandang ayah dengan mata bengis. "Kau pergi, aku kasi ampun padamu!" ia kata pada ayah.

"Ayah tercengang, lalu ia putar tubuhnya, untuk pergi." "Itu hari, seantero hari aku belum dahar, tubuhku lemas,

ditambah dengan kaget karena menyaksikan pertempuran

hebat itu, dan berbareng aku girang sekali karena ayah dikasih ampun, mendadak aku rubuh sendiri."

"Dia lihat aku rubuh, segera ia lompat untuk kasih bangun padaku. Aku tidak pingsan, selagi ia membungkuk, aku lihat ayah mengawasi dengan mata bersinar bengis. Tiba-tiba ayah ayun tongkatnya dipakai mengemplang bebokongnya. Tentu sekali dia tidak menyangka, karena perhatiannya ada padaku, yang dia hendak tolongi. Aku kaget, aku berseru:" Awas!"

"Dia pun kaget, segera dia putar tubuh. Akan tetapi tongkat sudah sampai, bebokongnya kena terhajar. Syukur untuk dia, dia telah berkelit, serangan itu tidak parah. Sambil putar tubuh, tangannya menyambar menyekal tongkat, yang dia dapat rampas, setelah mana, tongkat itu dilempar kelembah. Dia tidak berhenti sampai disitu, sambil merangsak, dia serang ayah, dengan kedua tangannya."

"Ayah gugup. Rupanya ia menyesal karena serangannya gagal dan ia kaget tongkatnya kena dirampas. Ketika serangan datang, ia putus asa, bukannya ia berkelit atau menangkis, ia justru berdiam seraya tutup kedua matanya. "Dengan mendadak saja, dia tarik pulang serangannya. Dia menoleh kepadaku,lantas dia menghela napas. Kemudian dia pandang ayah dan kata : "Lekas kau pergi, jangan tunggu sampai pikiranku berubah, nanti kau tak dapat ampun lagi!"

"Sampai disitu, tanpa bilang apa juga, ayah putar tubuhnya, akan angkat kaki sambil berlari-lari."

"Dia awasi ayah pergi, lantas dia menoleh kepadaku. Tiba-tiba ia muntahkan darah, darahnya menyemprot kebajuku..."

Ceng Ceng terkejut, hingga ia keluarkan seruan tertahan. Kemudian : "Sam yaya tak tahu malu!" katanya. "Depan berdepan dia tidak berani lawan musuh, dia membokong dengan tangannya yang jahat!"

Un Gie menghela napas.

"Sebenarnya dia adalah musuh kita," katanya, melanjuti. "Dia pun telah binasakan beberapa puluh orang dari keluarga kita. Akan tetapi melihat dia dibokong, tak dapat aku diam saja, makanya aku sudah berseru. Mungkin ini yang dinamakan takdir celaka. Habis itu dengan sempoyongan, dia bertindak kedalam gua, lantas dia ambil obatnya untuk terus dimakan. Masih beberapa kali ia muntahkan darah. Aku kaget dan berkuatir, sehingga aku menangis sendiri."

"Dia terluka akan tetapi dia gembira." "Kenapa kau menangis?" dia tanya aku. "Sebab kau terluka parah," jawabku.

Dia tertawa.

"Jadi kau menangis untukku?" tanyanya pula.

"Aku berdiam aku tidak menjawab. Tetap aku berduka."

"Sebentar kemudian, dia kata padaku: "Sejak semua anggauta keluargaku dibunuh oleh pamanmu yang keenam, sejak itu sudah tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian atas diriku, yang menyayangi aku. Hari ini aku telah bunuh lagi satu kandamu cintong, maka itu sama sekali sudah berjumlah empat-puluh orang yang aku binasakan. Sebenarnya masih ada sepuluh orang lagi, yang mesti jadi korban pembalasanku, akan tetapi sekarang, memandang kepada airmatamu, aku janji aku akan hentikan pembunuhan terlebih jauh. Nyata masih ada kau seorang yang memperhatikan aku."

"Aku menangis saja, aku tidak jawab dia."

"Juga orang-orang perempuan keluargamu, sejak hari ini aku tidak akan ganggu pula," demikian dia kata lagi. "Kau tunggu sampai lukaku ini sudah sembuh, aku nanti antar kau pulang..."

"Masih aku berdiam, tak tahu aku apa perasaanku saat itu. Aku cuma merasa lega yang dia telah berjanji untuk hentikan pembunuhan-pembunuhan terlebih jauh."

"Sjak itu selanjutnya, beberapa hari, akulah yang masak nasi dan masak air, dengan sungguh-sungguh aku rawati dia," Un Gie cerita lebih jauh. "Pada suatu hari, dia pingsan, terus selama satu hari, dia tak sadar akan dirinya. Aku jadi berkuatir, aku kuatir dia bakal tak ketolongan. Aku lantas menangis, menangis saja, sampai kedua mataku pada merah dan bengul. Selagi aku menangis, sekonyong- konyong dia buka matanya, dia tertawa."

"Tidak apa, tak nanti aku mati," katanya.

"Selang lagi dua hari, benar-benar kesehatannya mulai pulih. Dia bisa bangun dan jalan-jalan. Itu malam dia beritahukan aku, sebetulnya luka bekas bokongan ayah ada hebat sekali, akan tetapi ia tertolong obat dan kuat hatinya.

323 Dia bilang, asal dia mati, aku pun bakal mati kelaparan. Seorang diri, pasti aku tidak bisa berlalu dari gua itu, dilain pihak, tidak ada orang dari rumahku yang berani datang menyatroni., kalau tidak, selama itu tentulah sudah ada datang orang, entah siapa. Aku anggap dia omong dari hal yang benar."

"Ibu," Ceng Ceng kata," dia berlaku baik sekali kepadamu, dia ada orang baik."

Setelah mengucap demikian, nona ini menoleh pada Sin Cie.

Anak muda ini merasakan mukanya panas, ia melengos kelain arah.

"Dengan pelahan-lahan kesehatannya maju terus," Un Gie mulai pula. "Selama itu, suka sekali dia bicara dengan aku tentang masanya kanak-kanak. Dia bilang bagaimana ayahnya, ibunya,s angat sayang dia, bagaimana kedua engkonya, encienya, sangat menyinta dia. Katanya pernah satu kali dia jatuh sakit sampai ibunya tidak tidur tiga hari tiga malam. Akan tetapi pada suatu malam, liok-siokhu telah bunuh ibunya itu, ayahnya, saudara-saudaranya!"

"Diluar aku lihat dia kejam dan telengas, akan tetapi bicara tentang kekeluargaannya, nyata ia ada berbatin baik, halus martabatnya. Begitulah ia perlihatkan aku sepotong oto merah yang tersulam indah. Dia kata, itulah oto sulaman ibunya sendiri ketika dia masuk umur satu tahun..."

Selagi mengucap demikian, Un Gie rogo sakunya dari mana ia keluarkan oto yang ia omongi itu, yang ia letaki diatas meja.

Sin Cie lihat oto itu tersulam satu bayi montok tanpa pakaian,   wajahnya   manis   dan   sangat   menyenangi. Sulamannya sendiri benar-benar indah. Tiba-tiba ia terharu sendirinya. Ia jadi ingat, sejak masih sangat kecil, ia sudah tidak punya ayah dan ibu....

"Sering-sering dia nyanyikan lagu pegunungan untuk aku dengari," kembali Un Gie melanjuti. "Diwaktu senggangnya, dia ambil kayu untuk dibikin menjadi barang- barang permainan untukku. Dia kata aku adalah satu bocah yang tak mengerti apa-apa. "

"Akhir-akhirnya dia sembuh seluruhnya. Akan tetapi, walaupun sudah sembuh, aku lihat dia tidak punya kegembiraan. Aku jadi heran. Pada suatu hari, aku tanyakan sebabnya. Jawabannya mengherankan aku. Dia bilang dia merasa tidak tegah meninggalkan aku."

"Kalau begitu baiklah aku berdiam terus disini menemani kau!" kataku tanpa berpikir lagi.

"Mendengar perkataanku itu, dia jadi girang bukan main. Dia pergi kepuncak, dia loncat naik turun disebuah pohon kayu besar, dia berjingkrakan, dia jumpalitan bagaikan kera. Kemudian dia beritahukan aku, dia telah dapatkan selembar peta dari suatu tempat dimana ada disimpan banyak emas dan barang permata. Katanya ketika dulu Pangeran Yan Ong rampas tahta-kerajaan, dari Pakkhia ia menerjang ke Lamkhia, Baginda Kian Bun kabur dari kota raja, sebelum kabur, raja itu telah pendam harta besarnya disuatu tempat rahasia. Setelah naik tachta, Yan Ong coba cari harta itu diseluruh kota Lamkhia, tidak ada hasilnya. Kemudian Yan Ong utus Sam Po Thaykam beberapa kali berlayar mengarungi samudera, ke Selatan, katanya untuk membuat penyelidikan dimana kaisar Kian Bun bersembunyi, tapi sebenarnya guna cari harta itu."

Diam-diam Sin Cie manggut-manggut sendirinya. "Jadi itulah peta yang aku dapatkan dalam kitab Kim Coa Pit Kip," pikirnya. "Itu jadi ada peta yang melukiskan tempat rahasia itu..."

"Dia ceritakan padaku bahwa seumur hidupnya Kaisar Beng Seng Cou tetap tak dapat cari peta itu - adalah setelah berselang beberapa ratus tahun, secara kebetulan saja, dialah yang mendapatinya. Setelah sekarang dia sudah puas menuntut balas, dia hendak mulai cari harta karun itu. Dia janji, begitu lekas dia berhasil mendapati harta besar itu, dia bakal kembali untuk sambut aku. Maka itu, katanya, sekarang dia hendak antarkan aku pulang."

Nyonya ini berhenti sebnetar, ketika sesaat kemudian ia melanjuti, ia ada sengit sekali. Dia kata : "Ketika aku sampai dirumah, semua orang pandang hina kepadaku. Aku jadi mendongkol dan gusar sekali. Aku sebal terhadap mereka.Mereka tidak punya kemampuan untuk melindungi satu gadis keluarganya, setelah aku pulang dengan tubuh putih-bersih, mereka perhina aku. Maka itu selanjutnya aku tidak perdulikan mereka, tak suka aku bicara dengan mereka itu!"

"Ibu, kau berbuat benar!" kata Ceng Ceng.

"Setelah tiga bulan aku berada dirumah, selama mana aku harap-harap dia," bercerita pula Un Gie. "Pada suatu malam aku dengar suara nyanyian lagu pegunungan diluar jendela kamarku. Aku kenali baik sekali suara nyanyian itu. Dia datang! Lekas-lekas aku buka jendela, aku kasih dia masuk. Pertemuan ini ada sangat menggirangkan aku, dan malam itu, kami berdua lantas hidup sebagai suami-isteri, hingga kemudian, anak, terlahirlah kau. Perangkapan

jodoh itu telah terjadi karena keinginanku sendiri, sampai sekarang aku tidak menyesal karenanya. Orang bilang dia perkosa aku, itulah tidak benar! Ceng Ceng, selama sekian lama itu ayahmu tetap perlakukan baik padaku, kami

326 berdua sangat saling menyinta. Selama itu dia selalu hormati aku, belum pernah dia paksa aku."

Diam-diam Sin Cie puji keberaniannya nyonya ini. Ia pun terharu untuk dengar riwayat percintaan yang demikian sulit.

"Rupa-rupanya, dengan kedatangannya ini, Hee locianpwee telah dapatkan tempat rahasia dari harta besar itu," kata Sin Cie.

Nyonya itu manggut.

"Dia bilang dia masih belum dapat cari," sahutnya. "Akan tetapi dia kata dia sudah dapatkan endusan hingga dia merasa, segera dia akan dapat mencarinya. Maka itu kami telah berdamai untuk dihari kedua, pagi-pagi, pergi minggat. Diluar tahu kami, pembicaraan kami itu ada yang curi dengar. Besoknya fajar sebelum terang tanah, aku sudah lantas siapkan pakaianku. Aku pun telah tinggalkan sepotong surat untuk ayah. Disaat kami hendak berangkat, tiba-tiba ada orang ketok pintu kamarku. Pasti sekali aku kaget dan takut.

"Jangan kuatir," dia kata padaku," biar dalam kepungan satu pasukan perang, kita kaan dapat noblos keluar!"

Lantas saja dia buka pintu.

"Yang ketok pintu itu ada ayah bersama toapeh dan jipeh bertiga. Mereka tidak bawa senjata, malah pakaiannya pun thungsha, baju panjang yang dilapis makwa, baju luar yang pendek. Kami heran memandang dandanan mereka itu.

"Urusan kamu berdua aku sudah tahu," berkata ayah." Inilah takdir celaka yang telah ditetapkan sebelum kamu terlahir. Biarlah selanjutnya kitaorang menjadi satu dengan lain, supaya tak usah lagi kita main angkat senjata." "Dia menyangka ayah semua kuatir dia nanti melakukan pembunuhan pula, dia bilang : "Kau jangan takut, aku telah berjanji dengannya untuk tidak bunuh lagi anggota-anggota keluargamu!"

"Walaupun demikian, tak dapat kamu berlalu dengan diam-diam," ayah bilang. "Adalah pantas apabila kau melamar dengan terang dan menikah dengan upacara."

"Dia girang sekali mendengar kata-kata ayah. Tidak tahunya dia kena terjebak ayah."

"Jadi ayahmu dustakan dia, bukankah?" Sin Cie tanya. Un Gie manggut.

"Ayah lantas berikan dia tempat dikamar samping," nyonya ini melanjuti. "Segala apa segera diatur untuk perayaan pernikahan. Dia ada cerdik sekali. Semua arak, barang makanan dan air, yang ayah perintah suguhkan, lebih dahulu dia kasi anjing yang cobakan, tapi meski anjing makan itu tanpa akibat, dia masih tidak minum dan dahar itu, tidak dia cobai. Dia tunggu sampai malam, semua itu dia buang keluar. Untuk tangsel perutnya sendiri, dia pergi kepasar Cio-liang dimana dia beli barang makanan dan dahar."

"Pada suatu malam ibu datang dengan semangkok bubur biji teratai. "Suguhkan ini pada baba mantu," ibu kata padaku."

"Aku benar-benar tidak menduga suatu apa, aku sangka ibu menyayangi dia, dengan gembira aku bawa bubur teratai itu kedalam kamarnya. Dia pun girang sekali melihat aku datang dengan barang makanan, dia sambuti itu, tanpa curiga, dia makan bubur itu. Dia Baru mengirup beberapa kali, selagi dia bicara denganku, mendadakan air mukanya berubah menjadi pucat. Segera ia berbangkit. "Oh, A Gie, hatimu telengas!" dia tegur aku. Aku kaget tidak terkira.

"Apa?" aku tanya.

"Kenapa kau racuni aku?" tanya dia.

Sin Cie dan Ceng Ceng bergidik sendirinya.

Sekejab saja, seluruh paseban dan sekitarnya jadi sangat sunyi. Akan tetapi sekejab saja juga, atau mendadak terdengarlah suara tertawa ramai dan menyeramkan yang datangnya dari luar paseban. Kapan Sin Cie menoleh, dia tampak lima bersaudara Un sedang berdiri diluar paseban.

"A Gie, bagus!" Un Beng San berseru. "Urusanmu yang busuk kau tuturkan kepada orang luar! Apakah kau masih punyakan muka?"

Mukanya nyonya yang bernasib buruk itu menjadi pucat dan merah bergantian. Ingin dia bicara tetapi tercegah sendirinya. Maka ia lantas menoleh kepada Sin Cie dan puterinya.

"Sudah sembilan belas tahun, belum pernah aku omong sepatah kata jua dengan ayah," berkata dia," dan selanjutnya, aku pun tidak nanti bicara pula dengannya! Aku tidak takut terhadap mereka! Kau sendiri, kau takut atau tidak?"

"Engko Sin Cie tidak kenal takut!" Ceng Ceng jawab. "Bagus! Kalau begitu, aku nanti bercerita terus!" kata

nyonya yang tak beruntung ini, yang sekarang tiba-tiba

nyalinya jadi besar, dia tak lemah lagi sebagaimana biasanya. Malah dia sengaja perbesar suaranya:

"Aku lantas saja menangis. Aku tidak tahu bagaimana harus bicara, aku tidak tahu juga mesti berbuat apa. Dengan sebenarnya aku tak tahu suatu apa tentang racun itu. Aku

329 bersusah hati karena dia menyangka jelek terhadapku. Selagi begitu, pintu kamar ada yang tendang dan gembrak, lantas menyerbu masuk banyak orang dengan pelbagai alat- senjatanya."

"Orang-orang yang berbaris dimuka pintu itu waktu adalah mereka ini semua!" melanjuti ia. "Ditangannya itu telah tergenggam masing-masing senjata rahasia."

Ayah masih juga punya liang-sim. "A Gie, kau keluar." Dia panggil.

"Aku tahu mereka tunggu aku keluar, Baru mereka hendak menyerang dengan senjata rahasia mereka. Kamar ada sempit, kemana dia bisa singkirkan diri? Maka aku menjawab: "Aku tidak mau keluar! Kamu baik bunuh juga aku!"

"Ketika itu, dia duduk diatas kursi dengan alis mengkeret. Dia menyangka aku bersekongkol dengan ayah semua, dia jadi sangat bersusah hati, hingga dia tak niat untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi kapan dia dengar penolakanku untuk keluar, bahwa aku rela binasa bersama dia, sekonyong-konyong dia berlompat bangun."

"Apakah kau tahu bubur teratai ini dicampuri racun?" dia tanya aku, suaranya tak lagi sebengis tadi.

"Aku jumput mangkok bubur itu, aku lihat masih ada sisanya, lantas saja aku minum satu ceglukan.

"Jikalau bubur ini ada racunnya, mari kita mati bersama!" kataku.

"Dia sampok mangkok bubur itu hingga terlempar hancur, akan tetapi aku telah meminumnya. Lantas saja dia tertawa. "Bagus!" katanya. "Mari kita mati bersama!..." Segera dia berpaling kepada ayah semua, dia menegur : "Kamu gunakan cara rendah sekali, apa kamu tidak malu?"

Toapeh gusar sekali.

"Siapa racuni padamu?" katanya. "Jikalau kau andali ilmu silatmu yang liehay, mari keluar, kita bertempur!"

"Baik!" dia jawab tantangan itu. Dia tuntun tanganku untuk diajak keluar dari kamar.

"Diluar telah diatur panggung pelatok Bwee-hoa-chung, diatas itu dia ditantang akan layani ayah bersama mamak dan paman semua bertempur. Dia tidak perdulikan yang dia bakal dikepung.

"Dia benar tidak diracuni dengan racun, tetapi kemudian aku dapat tahu, bubur teratai itu telah dicampuri Cui-sian- bit yaitu madu tercampur obat pulas, yang kekuatannya kendor, yang membuat orang yang memakannya jadi ber- angsur-angsur kehilangan tenaganya, akan akhirnya orang nanti rubuh dan tidur seperti mayat, selang satu hari satu malam Baru orang akan sadar sendirinya. Mereka itu tidak niat meracuni, mereka hendak merobohkan dengan pengaruh obat pulas itu, untuk selanjutnya mereka siksa padanya!"

Un Gie bicara dengan sengit, menyatakan kemarahannya yang besar yang tertahan, yang Baru sekarang dapat dilampiaskan.

Ketika itu Un Beng San berseru," Eh, orang she Wan, kau berani atau tidak melayani berbareng kita berlima bersaudara?"

Pada dua hari yang sudah, karena ingat mereka adalah orang-orang tertua dari Ceng Ceng , Sin Cie berlaku hormat terhadap mereka, akan tetapi sekarang, setelah mendengar

331 penuturan Un Gie dan mengetahui mereka ada orang-orang jahat, ia tidak sudi menghormati lagi, malah dia mendongkol dan gusar.

"Hm!" jawabnya. "Kamu boleh maju berbareng sepuluh saudara, aku masih tidak jeri!. "

Belum sampai Sin Cie tutup mulutnya, atau satu bajangan telah menerjang kedalam paseban.

"Bocah tidak tahu adat, menggelindinglah kau keluar!" bajangan itu membentak.

Sin Cie lihat seorang dengan tubuh besar dan kekar, rambutnya yang riap-riapan dililit sepotong gelang tembaga yang berkilauan, sedang bajunya adalah jubahnya kasee, maka dia tahu, itu adalah satu pendeta tautoo. Pada dua malam yang sudah, belum pernah dia lihat orang beribadat ini.

Tautoo itu adalah Teng Seng, satu bandit besar dari Hoolam. Dia Baru datang, dia kunjungi lima saudara Un untuk beritahu dia niat "bekerja" sama-sama jago-jago dari Cio-liang itu. Kapan dia ketahui keluarga Un, yang kenamaan di Selatan dan Utara Sungai Besar jeri terhadap satu bocah, dia jadi panas hati, maka dia lantas maju paling dulu. Ia ingin ajar adat pada bocah ini....

Sin Cie lihat gerakan orang, dengan sebat ia berkelit kekanan, berbareng mana tangan kirinya menyambar, menjambak rambut panjang orang itu, setelah mana, ia menyempar, ia lepaskan cekalannya. Tidak ampun lagi, tubuh besar dari si pendeta terlempar ke pohon mawar, yang banyak durinya, hingga mukanya, bahunya, pahanya, kena tertusuk duri pohon bunga itu, sehingga keluar darah!

Itulah bantingan atau hajaran yang si tautoo tidak pernah sangka. Melihat demikian, Un Gie tertawa dingin. Dia berkata : "Pada malam itu, mereka berlima bersaudara mengepung dia satu orang. Sebenarnya dia sanggup melayani, apa celaka, dia sudah minum madu obat pulas, makin lama, dia berkelahi makin lelah. Disebelah itu, lima saudara itu berkelahi secara mengepung yang dinamakan "Un-sie Ngo- heng-tin", maka dikepung secara demikian, sulit untuk dia meloloskan diri..."

"A Gie!" membentak Un Beng San. "Apakah kau buka rahasia kepada orang luar?"

Un Gie tidak perdulikan lagi ayahnya itu, kepada Sin Cie dia melanjuti penuturannya: "Kelihatan nyata dia ingin lekas-lekas pukul rubuh salah satu musuhnya, dengan begitu, dia akan dapat pecahkan barisan pengurung itu. Akan tetapi dia berkelahi dengan semakin lama semakin kendor, tubuhnya sempoyongan semakin hebat. Maka itu, aku teriaki dia:" Kau pergi lekas! Untuk selamanya, aku tidak akan tinggalkan padamu!"

Suaranya nyonya ini menyedihkan secara dahsyat, melebihkan dahsyatnya jeritannya kemarin ini.

Ceng Ceng kaget bukan main. "Ibu!" dia memanggil.

Sin Cie lihat sinar mata si nyonya kabur dan napas memburu, ia tahu nyonya itu mendongkol dan berduka sangat. Terang sekali dia tak dapat bicara lebih jauh karenanya.

"Sudah, pehbo, silakan kau kembali kekamar untuk beristirahat," kata anak muda ini. "Sekarang aku hendak pasang omong dengan ayahmu beramai, besok aku nanti datang pula..." "Tidak! Tidak!" kata Un Gie seraya tarik ujung bajunya. Nyonya ini bisa pula bicara dengan lekas sekali. "Sudah sembilanbelas tahun aku menahan didalam hatiku, tak dapat tidak, hari ini aku mesti keluarkan semua! Wan siangkong, kau dengari aku. "

Suara itu tercampur tangisan. Sin Cie manggut. "Aku akan mendengari," ia jawab.

Masih saja, nyonya ini pegangi ujung bajunya si anak muda.

"Mereka inginkan jiwanya!" berkata ia, meneruskan. "Dan yang terlebih penting daripada itu, mereka juga mengharap harta karun! Terus dia layani mereka bertempur, lalu lagi sejurus, dia terluka, tak dapat dia menahan diri, dia rubuh dari pelatok-pelatok itu. Mereka tahu dia punyakan peta dari tempat rahasia harta karun disembunyikan, mereka memaksa dia untuk serahkan peta itu. Tapi dia jawab : "Peta itu tidak ada padaku! Siapa berani, dia boleh ikut aku untuk mengambilnya!"

"Jawaban itu membuat mereka menghadapi kesulitan," melanjuti si nyonya. "Jikalau dia dimerdekakan, apabila sebentar dia sadar dari pengaruhnya obat pulas, lantas tidak ada orang yang sanggup kendalikan dia lagi! Jikalau dia dibinasakan saja, lantas peta itu untuk selama-lamanya bakal lenyap, harta karunnya tak akan ada orang yang akan dapatkan... Maka akhirnya ayahku adalah yang berikan pikirannya yang bagus! Ha,ha! Sungguh cerdik dia, bukankah?"

"Ketika itu dia mulai jatuh pulas, aku sendiri pingsan. Ketika ini digunai mereka untuk menggeledah tubuhnya. Inilah aku ketahui sebab aku sudah lantas ingat akan diriku. Mereka tidak dapatkan peta itu, yang tidak tersimpan ditubuhnya. Maka mereka jadi sengit, mereka melakukan

334 penganiayaan hebat dan kejam, ialah urat-urat tangan dan kakinya telah dipotong putus!Dengan ini mereka hendak bikin percuma kepandaian ilmu silat liehay itu, supaya selanjutnya ilmu silat itu tak dapat digunakan pula! Habis itu Barulah dia dilepaskan dari belengguan. Dia masih dipaksa untuk serahkan peta bumi yang diarah sangat itu. Tidakkah itu ada cara cerdik sekali?"

Sin Cie terkejut. Nyatalah pikirannya si nyonya menjadi waswas seketika.

"Pehbo, baiklah kembali saja, beristirahat," katanya. "Tidak!" jawab Un Gie. "Asal kau pergi, mereka bisa

aniaya aku sampai binasa! Aku hendak tuturkan semua,

Baru aku puas! Kau tahu, mereka bawa dia pergi! Lima bersaudara itu tidak percaya satu kepada lain! Bersama mereka ada turut dua jago dari Ngo Bie Pay. Mereka semua ingin peroleh harta karun! Entah bagaimana, kemudian ternyata, dia bisa loloskan diri dan kabur! Mungkin dia telah berikan mereka peta itu, hingga, begitu lekas mereka kegirangan, penjagaannya jadi kendor. Mereka semua ada cerdik sekali, akan tetapi Kim Coa Long-kun bukannya seorang tolol! Bertujuh mereka telah dapatkan selembar peta, mereka saling berebut. Lima saudara itu bersekongkol, mereka curangi kedua jago Ngo Bie Pay sampai dua- duanya binasa!. "

Un Beng Gie dari luar paseban berseru dengan ancamannya :

"A Gie! Jikalau kau tetap ngaco-belo, awas!"

"Untuk apa aku mesti awas?" Un Gie balik menanya sambil tertawa. "Apa kamu sangka aku masih takut mampus?" Dia menoleh kepada si anak muda, akan berkata

: "Peta yang mereka dapati adalah yang palsu! Lima saudara itu pergi ke Lamkhia, mereka gali sana dan gali

335 sini, sampai setengah tahun lamanya, mereka hamburkan lebih dari selaksa tail perak, tapi sepotong kecil perak jua mereka tak dapatkan! Ha-ha! Sungguh tak ada yang lebih memuaskan daripada ini!"

Siasia saja lima saudara Un itu kertak gigi mereka diluar paseban. Mereka jeri terhadap si anak muda, tidak berani mereka lancang menerjang kedalam paseban itu.

Habis berkata-kata demikian, Un Gie berdiam melongo, kemudian dengan pelahan-lahan, Baru ia berkata pula. Suaranya pelahan :

"Setelah kepergiannya itu, selanjutnya aku tak peroleh lagi kabar dari atau tentang dia....Urat-urat tangan dan kakinya telah diputuskan, dia mirip dengan satu manusia tapadaksa....Dia beradat tinggi dan keras, karenanya, apabila dia tidak mati lantaran luka-lukanya itu, tentu mati karena mendongkol yang tak terlampias. "

Dari luar, Un Beng Tat menantang :

"Orang she Wan!" katanya," kau telah dengar perkataan dia tentang kami keluarga Un mempunyai Ngo-heng-tin, jikalau kau benar satu laki-laki, mari keluar, kau coba terjang!"

"Kau pergilah!" Un Gie dului si anak muda menjawab. Nyonya ini hendak mencegah. "Jangan kau layani mereka bertempur!"

Sin Cie tahu,apabila mereka bertempur satu sama satu, tidak ada seorang juga dari lima saudara itu yang nempil terhadapnya, akan tetapi apabila berlima mereka maju berbareng, sedang mereka pun punyai Ngo-heng-tin, barisan "Panca-logam", itulah lain.

Menurut Un Gie, Ngo-heng-tin itu berdasarkan Kim, Bok, Sui, Hoh dan Tou, ialah emas, kayu, air, api dan

336 tanah (ngo-heng), yang berhubungan satu dengan yang lain, yang saling ganti perubahannya. Maka itu, memang itu adalah "barisan" yang sulit untuk digempur. Dan lagi, ketika pertama kali mereka bertanding, mereka tidak mendendam satu dengan lain, masing-masing bisa berlaku sungkan, akan tetapi sekarang dia tekah ketahui rahasia mereka, dan mereka menyangka ia punya hubungan dengan Kim Coa Long-kun, pasti sekali mereka akan pandang ia sebagai musuh besar. Mereka bangsa telengas, mereka siap- sedia akan gunai segala tipu-daya, mungkin dia dibikin celaka. Satu kali dia tak berhati-hati, dia bisa tak ketolongan. Karena ini, sangsilah dia.

"Apa? Kau tidak berani?" Un Beng Gie tanya dengan ejekannya. "Kalau begitu hayo kau berlutut tiga kali dan manggut-manggut kepada kami, nanti kami ijinkan kau pergi!..."

Itulah ejekan yang hebat.

Un Beng Sie, dengan suara seram, pun berkata : "Sekarang ini walaupun kau berlutut dan manggut- manggut, sudah kasip!"

Lantas saja Sin Cie berkata dengan nyaring :

"Katanya Ngo-heng-tin dari keluarga Un ada liehay sekali tapi aku yang muda ingin mencoba-cobanya, untuk belajar kenal, namun saat ini aku letih sekali, maka kamu ijinkanlah aku beristirahat barang satu jam! Akur?" tanyanya.

"Satu jam ialah satu jam!" jawab Un Beng Gie dengan mengejek. "Walaupun kau beristirahat sampai delapan atau sepuluh hari, toh tak nanti kau mampu lolos!" "Jangan-jangan binatang ini hendak menggunai akal- muslihat," Beng San kata dengan pelahan. "Baik kita lantas kerjakan dia!"

"Jie-tee telah berikan perkataan padanya, biarlah dia hidup lebih lama satu jam," Beng Tat bilang. "Biarlah dia beristirahat, supaya dia tak usah sampai mati menyesal! Melainkan kita harus jaga jangan sampai dia kabur!"

"Kasi dia beristirahat didalam thia," Un Beng Go usulkan. "Disana kita kurung padanya."

Un Beng Tat akur, lalu dengan suara nyaring, dia kata: "Orang she Wan, pergi kau ke Lian-bu-thia untuk beristirahat. Dengan berdiam disini, kami kuatir kau lolos. "

"Baik!" sahut Sin Cie tak bersangsi sedikit jua. Lantas dia berbangkit.

Un Gie dan putrinya jadi bingung sekali, mereka tidak berdaya untuk mencegah. Maka terpaksa mereka ikuti anak muda itu.

Didalam Lian-bu-thia , ruang latihan silat, Un Beng Tat si Toa-yaya sudah lantas perintahkan orang-orangnya nyalakan puluhan batang lilin, dengan begitu, seluruh ruangan jadi terang sekali.

"Kapan nanti sebatang lilin ini telah menyala habis, bukankah telah cukup waktunya untukmu beristirahat?" tanya tertua Ngo Cou dari Cio Liang Pay.

Sin Cie tidak menjawab, dia melainkan manggut, habis itu dia lantas duduk atas sebuah kursi yang diletaki di- tengah-tengah ruangan itu.

Lima saudara Un angkat masing-masing sebuah kursi, untuk mereka duduk sendiri. Mereka mengurung di lima penjuru dengan sikapnya Ngo-heng. Mereka juga duduk diam dan meram, untuk sekalian beristirahat juga. Akan tetapi dibelakang mereka berkumpul enam belas orang lain diantara siapa ada Un Lam Yang dan Un Cheng, semua orang angkatan terlebih muda, semuanya duduk atas masing-masing sebuah kursi kate.

Sin Cie lihat kedudukannya enam belas orang itu, ia dapati mereka ambil sikap delapan penjuru, atau Pat-kwa, maka itu lengkaplah Ngo-cou punya barisan Ngo-heng Pat- kwa-tin itu, yang ringkasnya disebut Ngo-heng-tin.

"Benar-benar sulit untuk memecahkan barisan ini dan lolos," pikir si anak muda, sambil duduk diam, kedua tangannya dikasi turun. Ia merasa, dibawah kepungan dua puluh satu orang itu, paling bisa ia membela diri, untuk lolos, sukar sekali. Ia pun insaf, jikalau lama-lama ia dikurung, tenaganya bisa habis, hingga akhirnya, dia bakal dirubuhkan juga. Kim Coa Long-kun yang demikian liehay masih tidak sanggup pecahkan Ngo-heng-tin ini, maka pasti tin ini ada punyakan perubahan-perubahan luar biasa.

Selagi sibuk berpikir, tiba-tiba si anak muda ingat beberapa halaman terakhir dari Kim Coa Pit Kip. Itulah bagian-bagian yang pertama kali membingungkannya, karena ia tak dapat menginsyafi artinya, sampai perlu ia pergi pula kedalam gua untuk meyakinkan gambar-gambar di tembok gua, untuk diakuri dengan bunyinya kitab pusaka itu, sesudah mana, Barulah ia mengerti. Melainkan itu waktu ia masih belum insaf, apa perlunya ilmu silat yang nampaknya kusut sekali itu. Siapa bisa dengan satu gebrakan saja menyerang keempat atau ke delapan penjuru? Toh ilmu itu ada untuk melayani serangan berbareng dari pelbagai penjuru itu?

Terus Sin Cie memikir, hingga ia menduga, tentulah Kim Coa Long-kun, setelah lolos dari tangan musuh-

339 musuhnya, telah sembunyikan diri untuk memikirkan jalan guna pecahkan ngo-heng-tin itu dan dia akhirnya berhasil menciptakan ilmu silat istimewa ini. Tentu sekali maksud Kim Coa Long-kun untuk kembali ke Cio-liang, guna menuntut balas, maka sayanglah urat-urat tangan dan kakinya telah terputus hingga dia tak dapat bersilat terlebih jauh. Maka, untuk dijadikan warisan, ilmu silat itu dicatat rapi dalam kitabnya, dalam gambar-gambar ditembok gua. Dan sengaja dia bikin kitab yang palsu, yang diperlengkapi dengan panah rahasia dan beracun, guna menjaga kalau- kalau pihak Cio Liang Pay mencurinya.

"Syukur aku telah dapati kitab itu dan dapat memahamkan juga semua isinya," pikir pemuda ini lebih jauh. "Dengan gunai ilmu silat itu, kecuali dapat lolos dari bahaya, aku juga dapat tolong lampiaskan dendaman Kim Coa Long-kun, maka didunia baka, pastilah dia akan bersenyum puas, hingga tak sia-sialah capai lelahnya menciptakan ilmu silat itu. "

Sin Cie menjadi gembira hingga ketika ia buka kedua matanya, wajahnya ada terang-riang. Ia dapatkan lilin hampir habis terbakar, tinggal hanya satu dim saja.

Lima saudara Un juga membuka mata, mereka heran apabila mereka tampak roman bergembira dari anak muda itu, tak dapat mereka menerka pikiran anak muda ini. Akan tetapi mereka percaya betul ketangguannya Ngo-heng-tin, mereka tidak terlalu perhatikan sikap orang itu, mereka cuma membuka mata lebar-lebar, untuk bersiaga kalau- kalau orang lompat melesat untuk kabur....

Kembali Sin Cie rapati kedua matanya. Ia mencoba ingat diluar kepala segala pengunjukan Kim Coa Long-kun. Kemudian ketika ia sampai dibahagian "Koay too chan loan ma" atau "Dengan golok cepat memotong guni awut- awutan", mendadak ia keluarkan keringat dingin, ia terkejut sendirinya.

"Celaka!" demikian ia menjerit dalam hati. "Habis ini, pertempuran membutuhkan golok atau pedang mustika, untuk bikin lawan tak berani datang dekat, senjata tajam itu perlu untuk membikin kalut kepungan , akan tetapi Kim Coa Kiam tidak ada padaku, bagaimana?"

Selama itu Ceng Ceng terus awasi si anak muda, hatinya lega melihat air muka terang dari pemuda itu, tapi sekarang ia pun terperanjat mendapati orang mandi keringat, romannya berkuatir.

"Belum sampai bertempur, hatinya sudah goncang, bagaimana nanti?" pikir dia. Maka ia menjadi turut bingung sendirinya.

Sin Cie awasi lilin, yang hampir padam, ia sendiri masih belum peroleh daya, bukan main sibuknya dia.

Itu waktu satu bujang perempuan bertindak kedalam ruangan, tangannya menyekal secawan air teh, ia hampirkan si anak muda.

"Wan siangkong, silakan minum teh," katanya.

Selagi kusut pikiran itu, Sin Cie sambuti cawan teh dengan tidak ragu-ragu, malah ia terus antar cawan kemulutnya, akan tetapi disaat bibir dan cawan hampir nempel, mendadakan terdengar suara nyaring didepan mukanya sendiri dan tangannya tergetar, untuk kagetnya, ia dapatkan cawan sudah terpukul terlepas panah-tangan, jatuh hancur dilantai.

Masih anak muda ini sempat lihat Ceng Ceng menarik pulang tangannya, maka ia tahu, adalah si nona yang sudah serang cawan itu. Maka berbareng kaget, ia insaf. "Sungguh berbahaya!" kata ia dalam hatinya. "Kenapa aku jadi begini goblok? Kenapa tak ingat aku yang mereka juga bisa kasi aku minum obat pulas?"

Justru itu waktu, bagaikan guntur, Un Beng Go mendamprat : "Ada ibunya, ada gadisnya. Keluarga Un telah tidak menumpuk jasa-jasa baik maka juga telah terlahirlah anak hina-dina ini yang bersekongkol dengan orang luar!"

Ceng Ceng tahu, dialah yang dicaci, dia tidak mau mengalah.

"Ya, leluhur keluarga Un telah menumpuk banyak sekali jasa-jasa baik! Mereka telah perbaiki jembatan-jembatan, jalan-jalan besar, mengamal terhadap orang-orang melarat! Segala macam perbuatan baik, mereka lakukan!"

Itulah sindiran belaka terhadap Ngo Cou yang tidak ada kejahatan yang tidak dilakukan mereka.

Un Beng Go jadi demikian murka sehingga dia lompat bangun sambil berjingkrak, dia hendak hajar cucu atau cucu-keponakan itu, akan tetapi Un Beng Tat menghalangi dia.

"Sabar, ngo-tee," kata engko ini. "Jaga itu bocah saja!" Pada waktu itu, telah lenyap roman berkuatir dari Sin

Cie, sebagai gantinya, anak muda ini kembali berwajah

riang-gembira. Serangan Ceng Ceng dengan panah rahasia terhadap cawan seperti memberikan ia ilham.

"Kenapa aku tidak mau gunai senjata rahasia?" demikian pikirnya. "Dalam hal senjata rahasia, walaupun Kim Coa Long Kun masih tak dapat menandingi aku! Bukankah pada tubuhku juga ada baju kaos istimewa hadiah dari Bhok Siang Toojin? Kenapa aku tidak mau antap orang hajar beberapa kali bebokongku, supaya berbareng dengan itu aku bisa pecahkan Ngo-heng-tin ini?"

Sekejab saja, pemuda ini ambil putusannya. Tidak lagi dia tunggu habisnya sebatang lilin, segera ia berbangkit.

"Cukup!" katanya. "Silakan kamu beri pengajaran kepadaku!"

Un Beng Tat lantas perintah orang-orangnya tukar semua lilin.

"Ini kali, kalau ada keputusan menang atau kalah, bagaimana?" Sin Cie tegaskan.

"Jikalau kau menang, pergi kau bawa emas itu!" jawab Un Beng Tat. "Jikalau kau tidak berhasil, nah, tak usah omong banyak lagi!"

Sin Cie mengerti, jikalau dia yang kalah, jiwanya tidak bakal tertolong lagi, akan tetapi apabila dia yang menang, orang masih bisa menyangkal. Maka ia kata pula :

"Kalau begitu, keluarkanlah emas itu! Begitu aku menang, aku hendak segera bawa pergi!"

Lima saudara Un itu kagum. Sudah terkepung, lagi menghadapi bahaya maut, anak muda ini masih berkeras kepala. Tetntu sekali, mereka tidak kuatir. Mereka tahu, Kim Coa Long-kun yang liehay masih tak mampu dobrak ngo-heng-tin, apapula bocah ini.

Setelah asah pikiran belasan tahun, Ngo Cou berhasil menciptakan Ngo-heng-tin, setelah itu, mereka melatih diri dengan sempurna. Ngo-heng-tin ada pusaka bagi Cio Liang Pay. Buat layani tiga sampai empat-puluh musuh masih leluasa, apapula akan hadapi satu orang. Biasanya tak sembarangan Ngo Cou gunai barisannya ini, ia kuatir orang lihat dan menirunya, sekarang terpaksa mereka pakai karena Sin Cie terlalu tangguh untuk mereka, sehingga mereka tak kuatir nanti ditertawai orang banyak berkelahi dirumah sendiri secara mengeroyok.

"Kau keluarkan emas itu!" akhirnya Beng Tat titahkan Ceng Ceng.

Nona ini sangat menyesal, Jikalau ia tahu bakal jadi begini rupa, pasti dari siang-siang ia sudah kembalikan emas itu. Ia tidak berani bantah yaya itu, terpaksa ia pergi ambil bungkusan emas itu, diletaki diatas meja dalam ruang itu.

"Jangan letaki secara demikian," kata Un Beng San. "Cheng, kau atur berdiri semua emas itu, bikin menjadi peta!"

Un Cheng menyahuti, ia ambil bungkusan emas itu, akan sepotong demi sepotong dia letaki di lantai, diatur semacam gambar Thay-kek (dunia bundar), hingga diluar itu, seputarnya, merupakan pat-kwa.

"Mari!" berseru lima saudara One begitu lekas sepuluh potong emas itu selesai diatur, mereka lantas bergerak, senjata mereka pun lalu dihunus.

Sin Cie sambut tantangan itu, akan tetapi disaat ia hendak mulai lompat maju, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa ber-gelak-gelak diatas rumah, disusul dengan kata : "Orang-orang tua dari keluarga Un! Aku Eng Cay datang berkunjung untuk menanggung dosa!"

Lima saudara Un terkejut.

"Silakan turun!" mereka mengundang.

Menyusul undangan itu, belasan orang lompat turun dengan saling susul dari atas genteng ruangan latihan silat itu, sesuatu orangnya tak rata tubuhnya, ada yang tinggi, ada yang kate, tetapi yang bertindak dimuka adalah Eng Cay, pang-cu atau ketua dari partai Liong Yu Pang.

Justru itu Sin Cie berpaling kepada Ceng Ceng. Ia tampak, biarpun si nona mencoba mentenangkan diri, pada wajahnya ada ketegangan.

Un Beng Tat sudah lantas tanya tetamunya yang tak diundang itu.

"Lao Eng, sahabatku, tengah malam buta-rata kau berkunjung kegubukku ini, apakah maksudmu? Lu Jie Sianseng dari Hong-gam juga turut datang bersama!"

Sembari mengucap, Toa-yaya ini rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat kepada satu orang yang berada dibelakang Eng Cay. Orang itu dandan sebagai seorang mahasiswa, usianya pertengahan.

Eng Cay tidak jawab pertanyaan, atau teguran itu, hanya dia kata : "Un Lo-ya-cu, kau berbahagia sekali! Kau telah dapatkan seorang cucu perempuan yang ilmu silatnya sempurna, yang otaknya cerdas sekali, tidak saja See Lo-toa kami serta belasan saudara lainnya rubuh ditangannya, malah aku sendiri si tua-bangka turut mendapat malu juga!. "

Beng Tat heran. Memang dia dan saudara-saudaranya belum tahu hal bentrokan diantara Ceng Ceng dan rombongan dari Liong Yu Pang itu. Yang pasti adalah, diantara Cio Liang Pay dan Liong Yu Pang, ada pergaulan. Dimana sekarang mereka lagi menghadapi lawan tangguh, Ngo Cou tidak inginkan keruwetan baru.

"Lao Eng, apakah yang diperbuat cucu kami terhadapmu?" Beng Tat tanya dengan sabar. "Tidak nanti kami melindungi pihak yang bersalah. Siapa bunuh orang, dia berhutang jiwa, siapa berhutang uang, dia mesti membayar dengan uang juga! Tidakkah demikian?"

Ketua dari Liong Yu Pang itu melengak.

"Heran!" pikirnya. "Kenapa tua bangka ini yang biasa tekebur sekali hari ini jadi begini pandai omong? Mustahil dia jeri terhadap Lu Jie sianseng sampai begini macam jerinya?"

Tapi segera juga ia tampak Sin Cie diantara rombongan tuan rumah itu, ia jadi bertambah-tambah heran. Maka ia kembali berpikir.

"Tua bangka ini mempunyai pembantu yang liehay sekali, mungkin Lu Jie sianseng juga tak nanti sanggup lawan dia. Baiklah aku lihat selatan untuk menyimpan lajar. "

Maka ia lantas menyahut dengan tenang: "Kami dari Liong Yu Pang belum pernah bentrok dengan pihakmu, maka itu dengan memandang kepada kamu lima saudara, sukalah aku bikin habis kematian See Lo Toa, anggap saja dia mesti sesalkan kepandaiannya sendiri yang cetek, melainkan mengenai emas itu...." Dia menyapu dengan matanya kepada sepuluh potong emas dilantai, lalu dia melanjuti: "Kami telah mengikuti jalanan jauhnya beberapa ratus lie, kami telah bercape-lelah dan bercape-hati, buang ongkos juga, malah ada orang kami yang sampai mengantari jiwanya, semua itu adalah usaha kami untuk hidup dalam dunia kangouw. "

Eng Cay berhenti sampai disitu.

Un Beng Tat heran, ia mengawasi. Segera hatinya menjadi lebih tenteram. Teranglah sudah, Eng Cay datang bukan untuk pembalasan hanya guna emas itu. "Semua emas itu ada disini, jikalau kau menginginkannya, pergilah ambil, tidak ada halangannya," berkata dia.

Eng Cay heran hingga ia menatap wajah tuan rumahnya. Kenapa ketua Cio Liang Pay itu jadi demikian baik budi? Ia tadinya mau menyangka orang hendak mengejek padanya, tetapi ia dapati air muka tenang dan biasa, tidak ada bajangan kepalsuan. Maka ia kata:

"Un Toaya, jikalau kau sudi memberikannya separuh saja dari jumlah itu, untuk kami pakai menunjang korban- korban yang terbinasa dan terluka, bukan main berterima kasihnya aku. "

"Silakan kau ambil sendiri," Beng Tat berikan persetujuannya.

Eng Cay angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Terima kasih!" ujarnya, terus ia memberi tanda kepada orangnya, maka dua orang segera maju kearah emas, mereka ini membungkuk untuk jumput potongan-potongan emas itu. Akan tetapi, Baru tangan mereka raba emas atau mereka telah rasai pundak mereka masing-masing ada yang tolak dengan pelahan, atas mana tubuh mereka jadi terdorong kebelakang, hingga mereka mesti mundur beberapa tindak, kalau tidak, tentu mereka rubuh. Lekas- lekas mereka angkat muka, akan memandang, maka tampaklah mereka Sin Cie berdiri didepan mereka.

Dengan tenang, pemuda ini segera berkata kepada ketua Liong Yu Pang :

"Eng Lo-ya-cu, emas ini adalah uang belanja tentaranya Giam Ong, maka jikalau kau ambil, pastilah itu kurang sempurna!" Nama Giam Ong di utara ada menggetarkan, adalah di Selatan, kaum kangouw tak terlalu memperdulikannya, maka itu, Eng Cay lantas menoleh pada Lu Jie Sianseng.

"Lihat, dia sebut-sebut nama Giam Ong untuk gertak kita!" katanya sambil tertawa.

Lu Jie Sianseng itu ada menyekal sebatang huncwee yang besar, dia menyedot satu kali, dia kebulkan asapnya, dia ulangi dan ulangi itu, gerak-geriknya ada tenang sekali. Sebelum jawab ketua Liong Yu Pang itu, ia melirik pada si anak muda, ia menatapnya.

Sin Cie dapat kenyataan, tenang dia ada, mahasiswa itu tapinya ada angkuh atau agung-agungan, dari itu tak puaslah hatinya. Kapan ia lihat sinar matanya, dan kulit mukanya yang bersemu dadu, ia percaya dia mestinya ada seorang kangouw kenamaan, mungkin dia mempunyai kepandaian istimewa karenanya, tak berani ia memandang enteng. Malah ia lantas saja menjura.

"Apakah cianpwee she Lu?" tanya ia. "Akuyang muda Baru kali ini mulai berkelana, dari itu maafkanlah aku tidak kenal cianpwee..."

Lu Jie Sianseng kepulkan pula asap huncweenya, sekali ini tepat kearah muka si anak muda, kemudian kapan ia menyedot lagi, ia keluarkan asapnya diantara kedua lobang hidungnya. Maka bagaikan sepasang naga melilit, asap itu bergulung-gulung melayang....

0o-d.w-o0

Sin Cie tidak murka karena lagak orang itu, tidak demikian dengan Ceng Ceng, yang hatinya panas, hingga mau ia menegurnya. Tapi Un Gie lihat sikap puterinya, dia tekan pundaknya. Ceng Ceng menoleh dengan cepat, ia lihat ibunya meng- geleng-geleng kepala dengan pelahan. Ia mengerti cegahannya sang ibu, ia terpaksa telan pula kemendongkolannya.

Lu Jie Sianseng ketruk-ketruki huncweenya, akan buang bersih sisa-sisa abu dan tembakau, lalu dengan pelahan- lahan, ia mengisi pula.

Juga Ngo Cou nampaknya tak sabaran mengawasi tingkah-laku dibuat-buat itu, akan tetapi mereka tahu, mahasiswa ini adalah seorang kangouw kenamaan selama beberapa puluh tahun, sebisa-bisa mereka kendalikan diri. Mereka pernah dengar bagaimana dengan ilmu silatnya Hoo Kun, kuntau burung Hoo, Lu Jie Sianseng tidak punyakan tandingan di Selatan dan Utara Sungai Besar, sedang huncwee itu adalah senjatanya yang istimewa, senjata mana selain bisa dipakai menotok jalan darah juga bisa dibuat menggaet senjata lawan. Namun mereka belum pernah saksikan sendiri kegagahannya. Maka meng-harap- haraplah mereka yang jago itu nanti bentrok sama Sin Cie, sukur kalau si anak muda kena dipecundangi, dengan begitu, pekerjaan mereka akan jadi lebih ringan.

Lu Jie Sianseng keluarkan tekesan api dari sakunya, ia menekes-nekes, akan tetapi ia masih tidak hendak lantas sulut huncweenya itu.

Selagi jago Hoo Kun itu ayal-ayalan, tiba-tiba diatas genteng muncul seorang lain, malah dia ini segera berseru : "Kembalikan emasku!"

Menyusul itu seorang perempuan muda loncat turun. Tetapi dia tidak bersendirian, dia segera diikut oleh seorang muda yang sifatnya kasar, dibelakang siapa ada lagi seorang usia pertengahan, umur lima puluh tahun lebih, yang dandan sebagai seorang dagang, tangan kirinya memegang shui-phoa, tangan kanannya menyekal sebatang pit, sedang romannya lucu....

Sin Cie kenali Siau Hui, ia girang berbareng kaget, ia kuatir juga. Ia girang karena datangnya bala-bantuan, melainkan ia belum tahu, bagaimana dengan kepandaiannya dua kawan dari nona An itu. Dilain pihak, ia berkuatir untuk Un Gie dan Ceng Ceng. Dipihak sana, ialah Cio Liang Pay, ada pula Liong Yu Pang, itu artinya ia menghadap dua lawan tangguh. Ia mesti bela diri, ia pun perlu lindungi ibu dan gadisnya. Atau kalau kawan- kawannya Siau Hui lemah sebagai si nona sendiri, ia pun sibuki mereka itu....

Suasana sungguh-sungguh tidak menggembirakan pemuda ini.

Itu waktu dari pihak Cio Liang Pay sudah lantas ada yang maju untuk rintangi Siau Hui, yang mereka tegur.

"Lekas kembalikan emasnya tuan-tuan besarmu!" kata si anak muda yang romannya kasar itu seraya terus saja membungkuk, akan jumput emas dilantai itu.

Sin Cie kerutkan alis mengawasi kesembronoannya.

"Dia begini sembrono, tentu dia tak dapat diharap," pikirnya.

Un Lam Yang lihat orang hendak jumput uang, ia ayun kakinya untuk tendang tangannya si anak muda.

"Cui Suko, awas!" Siau Hui berseru. Ia lihat gerakan si orang she Un itu.

Walaupun ia sembrono, pemuda itu tapinya awas dan sebat. Ia berkelit kesamping, untuk elakkan tendangan, setelah itu sambil merangsak, ia balas menyerang, dengan dua tangan berbareng. Un Lam Yang tidak sudi mengalah, ia keluarkan dua- dua tangannya, untuk menangkis, hingga empat tangan bentrok, setelah mana, keduanya terdampar mundur sendirinya sampai beberapa tindak.

Si anak muda penasaran, ia maju pula.

"Hie Bin, tahan!" berseru kawannya yang mirip saudagar.

Sekarang Sin Cie ingat kepada kawannya Siau Hui, dengan siapa si nona sama-sama mengantar emas itu. Bukankah Siau Hui bilang, sebab ia berpisah dari sang kawan, emas jadi kena disambar Ceng Ceng? Anak muda sembrono itu jadinya ada Giok-bin Kim-kong Cui Hie Bin, keponakan Cui Ciu San. Karena itu, apa mungkin si orang dagang ada toasuhengnya sendiri, Tong-pit Thie-shuiphoa Uy Cin? Maka ia lantas awasi senjata ditangannya orang dagang itu. Itulah sebatang pit yang bergemirlapan, maka tak salah lagi, pit terbuat dari tembaga tulen. Karena ia tidak bersangsi pula, dengan gembira ia maju kepada si orang dagang itu, ia mendekati sambil berlompat, tanpa siasiakan tempo lagi, ia tekuk lututnya sambil manggut.

"Toasuheng, terimalah hormatnya siautee Wan Sin Cie!" katanya.

Saudagar itu ulur kedua tangannya untuk mengangkat bangun, ia awasi anak muda ini, lantas saja ia jadi girang sangat.

"Oh, sutee!" katanya. "Kau masih begini muda? Sungguh tak disangka-sangka olehku kita dapat bertemu disini!"

Siau Hui maju selagi orang bicara.

"Engko Sin Cie, itulah dia Cui Suko!" ia perkenalkan si anak muda sembrono. Sin Cie menoleh pada si anak muda, ia manggut.

Siau Hui lihat bebokongnya pemuda she Wan itu ketempelan rumput kering, ia ulurkan tangannya akan kepriki itu pelahan-lahan. Atas ini Sin Cie bersenyum, tanda terima kasihnya.

Hie Bin lihat kelakuan pemudi dan pemuda itu, ia tak puas.

"Eh, Hie Bin, kenapa kau tidak tahu aturan?" tiba-tiba Uy Cin tegur muridnya itu. "Lekas kau kasi hormat pada susiokmu ini!"

Kembali orang she Cui itu tak puas. Bukankah Sin Cie lebih muda daripadanya? Maka ia menghampirkan dengan tindakan pelahan, dengan ayal-ayalan juga ia hendak paykui.

"Jangan, jangan, tak usah!" Sin Cie lekas-lekas mencegah, ia menghalangi dengan kedua tangannya.

Hie Bin batal berlutut, ia menjura saja. "Siau-susiok!" ia memanggil.

Ia membahasakan "Siau-susiok" atau paman kecil.

"Apa sih siau susiok toa-susiok?" Uy Cin menegur pula. "Biarpun kau terlebih tua, susiok tetap terlebih tua tingkatnya!"

Sin Cie tertawa pada su-tit itu, atau "murid keponakan". "Panggil saja aku siok-siok!" katanya dengan manis. "Siok-siok baik. ?" kata Hie Bin.

Lu Jie Sianseng mesti menonton saja orang menjalankan tata-hormat sutee dengan suheng dan su-tit dengan susiok, kalau tadi dia yang membuat orang tak sabaran, sekarang dialah yang habis sabarnya sendiri. Dia anggap orang

352 seperti tak pandang mata sekali kepadanya. Maka juga kedua matanya lantas mencilak.

"Kamu semua orang-orang apa?" tegur ia dengan jumawa.

Teguran ini membuat orang kaget. Bahwa sekarang ia buka mulut, kiranya ia mempunyai suara yang nyaring sekali, seperti suara burung hantu yang menciutkan nyali. Suara itu pun tajam sekali.

Akan tetapi Hie Bin tidak takut. Dia maju satu tindak. "Emas ini ada emas kami!" kata dia. "Emas ini telah

kena kamu curi! Guruku telah ajak aku kemari untuk

mengambilnya kembali!"

Lu Jie Sianseng tidak segera menjawab, sambil dongak kewuwungan, ia kebul-kebulkan asap huncweenya.

"Hm! Hm!" dia perdengarkan tertawa dingin. Hie Bin mendongkol atas lagak orang itu.

"Sebenarnya emas ini hendak kau pulangkan atau tidak?" ia tegaskan. "Jikalau kau tidak dapat mengambil putusan, hayo titahkan maju orang yang berhaknya!"

Lu Jie Sianseng tertawa dua kali, suara tertawanya pun aneh. Kemudian ia menoleh pada Eng Cay, untuk kata dengan jumawa: "Kau beritahukan bocahh ini, siapa adanya aku!"

Eng Cay turut titah itu.

"Inilah Lu Jie Sianseng yang termashyur namanya!" katanya. "Kau jangan kaget! Kau masih muda sekali, jangan kau tidak tahu adat!"

Tentu sekali Hie Bin tidak kenal Lu Jie Sianseng ini. "Aku tidak perduli entah dia sianseng apa!" katanya dengan mendelu dan sikap memandang enteng. "Kami datang untuk ambil pulang emas kami!"

Tiba-tiba maju pula Un Lam Yang, yang hatinya masih panas.

"Ambil kembali emas? Tak demikian gampang!" ia mengejek. "Jikalau kau ada punya kepandaian, mari layani aku dahulu, Baru kita bicara pula!"

Orang she Un ini menantang, akan tetapi belum dia sampai dapat jawaban, tangannya sudah melayang.

Itulah serangan tidak di-sangka-sangka, maka pundaknya Hie Bin terhajar bogem-mentah. Dia jadi sangat gusar, dia segera menyerang, untuk membalas. Tangan kirinya menyambar cepat sekali. Serangan ini mengenai perut, hingga Lam Yang merasai sakit.

Buat sedetik, kedua mundur, akan saling mengawasi dengan mata mendelik, habis itu, mereka sama-sama maju pula, akan mulai bertempur.

Segera juga terdengar suara dakduk atau bakbuk beberapa kali. Itulah suara dari kepalan yang mampir dikepala atau tubuh masing-masing. Mereka berkelahi dengan sengit sekali, sampai mereka alpa dengan pembelaan diri, dari itu, kepalan masing-masing dapat mengenai sasarannya.

Sin Cie saksikan perkelahian itu, diam-diam ia menghela napas.

"Kenapa muridnya Toasuheng begini tak punya guna?" pikir dia. "Jikalau dia hadapi musuh tangguh, dengan satu dua tonjokan saja dia tentu sudah tak tahan...Apakah mungkin Cui Siokhu juga tidak pernah berikan dia suatu pengunjukan?" Hie Bin itu jujur, cuma adatnya keras dan semberono, karena itu, biarnya dia belajar silat, perhatiannya kurang. Dua bagian saja dari kepandaiannya Uy Cin, belum ia dapatkan. Cuma karena bertubuh kuat yang membikin ia sanggup pertahankan diri dari beberapa tonjokan. Tetapi ia berkelahi dengan hebat.

Kemudian datanglah saatnya pertempuran berakhir. Dengan kepalan kanan, Hie Bin mengancam. Lam Yang berkelit kekanan. Dengan cepat luar biasa, tangan kiri Hie Bin menyambar. Serangan ini tidak dapat dielakkan Lam Yang, dia kena dihajar keras, menyusul suara tonjokan, tubuhnya yang besar rubuh terbanting, hingga dia pingsan.

Kemenangan ini membikin Hie Bin girang sekali, dengan bangga ia menoleh kearah gurunya, ia harap gurunya nanti puji padanya. Diluar harapan, ia dapati sang guru merah wajahnya karena murka, hingga ia jadi heran.

"Aku menang, kenapa suhu gusari aku?" pikir dia.

Siau Hui hampirkan kakak seperguruan itu, muka siapa bengap dan kuping kanannya berdarah, dengan sapu tangannya, dia menyusuti.

"Kenapa kau tidak kelit sesuatu pukulannya?" nona ini kata dengan pelahan. "Kenapa kau melawan dengan keras saja?"

"Untuk apa berkelit?" Hie Bin jawab. "Dengan main berkelit, tidak nanti aku berhasil menghajar dia!"

Tiba-tiba terdengar suara hebat dari Lu Jie Sianseng. "Jangan kau berjumawa karena kau dapat rubuhkan satu

lawan!" kata orang dengan dandanan mahasiswa itu. "Kau

inginkan emas?" Se-konyong-konyong dia berlompat, kedua kakinya diletaki atas dua potong emas, sedang huncweenya ditekankan kesepotong emas lainnya.

"Tidak perduli kau menjotos atau mendupak," katanya," asal kau mampu geser emas ini dari kakiku, kau boleh ambil semua!"

Para hadirin melengak atas kata-kata ini, melengak karena Lu Jie sianseng terlalu jumawa.

Hie Bin jadi mendongkol sekali.

"Jangan kau menyesal!" katanya dengan sengit. Lu Jie Sianseng tertawa besar sambil melengak.

"Kau dengar, dia kuatir aku menyesal!" katanya kepada Eng Cay, tetap dia dengan sikapnya yang jumawa itu.

Eng Cay menjawab hanya dengan tertawa kering. "Baik, aku nanti coba!" berseru Hie Bin.

Orang semberono ini lompat tiga tindak, hingga ia datang dekat pada si tekebur itu, lantas dia ayun kaki kanannya dan menyapu kearah potongan emas yang ditekan huncwee.

Dimatanya Sin Cie, tendangan itu ada tendangan berat dua-tiga ratus kati. Ia percaya, tidak perduli bagaimana kuatnya Lu Jie Sianseng, emas itu mesti kena tergeser, kecuali dia itu gunai ilmu gaib. Maka ingin ia menyaksikan kesudahan pertaruhan itu.

Disaat kakinya Hie Bin sampai, belum sampai potongan emas kena ditendang, tiba-tiba, dengan sebat sekali, Lu Jie Sianseng angkat huncweenya, dipakai memapaki kaki dengan ujung huncwee itu, tepat mengenai dengkul. Dengan mendadakan Hie Bin rasai kakinya itu kaku dan tak bertenaga, tidak ampun lagi, dengkulnya tertekuk, hingga dia rubuh dengan berlutut!

Lu Jie sianseng segera rangkap kedua tangannya, ber- ulang-ulang ia tertawa besar sambil ia berkata: "Ah, jangan, tak sanggup aku terima!"

Dia memberi hormat untuk tampik kehormatan. Dia anggap Hie Bin berlutut untuk beri kehormatan padanya! Itulah sebenarnya suatu penghinaan.

Siau Hui terperanjat, dia lari pada Hie Bin, untuk kasih bangun pemuda itu, buat dipepayang sampai didepannya Uy Cin.

"Uy supeh, dia main gila, lekas supeh ajar adat padanya!" nona ini minta.

Dalam gusarnya, Hie Bin mendamprat : "Kau gunai akal busuk! Kau bukannya satu hoohan!"

Uy Cin menotok pada pinggang muridnya, lalu pada pahanya, sembari berbuat demikian, dia kata dengan pelahan : "Apa lain kali kau berani pula berlaku semberono begini?"

Murid itu berdiam, hatinya bersyukur.

Lu Jie Sianseng tercengang kapan ia saksikan korbannya dapat ditolong secara demikian cepat. Ia tidak mengerti kenapa ditempat begini sepi sebagai Cio-liang ada ahli ilmu totok yang demikian liehay.

Selagi orang berdiam, Uy Cin ketek shuiphoanya. "Perhitungan ini telah dimasuki buku!" kata dia. Lalu dia

geraki tangan kanannya, yang menyekal pit. Terang dia

hendak maju, untuk cuci malu muridnya. Sin Cie lihat sikap Toa-suheng itu, dia berpikir: "Dia adalah murid kepala dari Hoa San Pay, aku adalah suteenya maka sudah selayaknya aku mesti mendului maju!"

Maka ia lantas berseru: "Toa-suheng, biar siautee yang maju lebih dulu! Jikalau aku tidak berhasil, Baru suheng yang menggantikan!"

"Sutee, baik aku saja yang maju," jawab Uy Cin dengan pelahan.

Suheng ini ragu-ragu untuk ijinkan adik seperguruan itu wakilkan dia. Sutee ini masih terlalu muda, meskipun gurunya telah berikan pelajaran sempurna, ia kuatir sang sutee kurang latihan, kurang pengalaman, hingga ia kuatir, sutee ini bukan tandingan Lu Jie Sianseng yang liehay itu. Dia pun percaya, dengan terima murid terakhir itu, yang masih "kecil", tentunya sang guru sangat sayangi murid bungsu itu, apabila karena pertempuran ini Sin Cie terluka, gurunya tentu berduka, dia bakal ditegur, dia bakal malu sendirinya. Kalau tadi dia antapkan Hie Bin maju, itulah sekalian untuk beri ajaran pada murid semberono ini agar ia selanjutnya bisa berhati-hati. Dia harap Hie Bin insyaf dan nanti belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi Sin Cie tidak mau mengerti.

"Toasuheng," katanya dengan pelahan juga," dipihak mereka ada banyak orang liehay, sedang lima orang tua itu mempunyai barisan Ngo-heng-tin yang berbahaya sekali, mungkin sebentar bakal terjadi pertempuran dahsyat. Suheng sebagai kepala perang, maka biar siautee yang maju lebih dulu."

Uy Cin kagum untuk sutee ini, yang tahu aturan, yang hendak menghormati kakak seperguruan. Ia juga lihat kesungguan hati sutee itu. "Baik, sutee," kata ia akhirnya. "Harap kau hati-hati."

Sin Cie manggut pada suheng itu, lalu ia memutar tubuh, untuk hampirkan Lu Jie Sianseng.

"Aku juga hendak menendang emas ini, apa boleh?" dia tanya ahli silat Hoo Kun itu. Ia bersikap tenang sekali.

Lu Jie Sianseng dan kawan-kawannya dari Liong Yu Pang heran. Barusan si anak muda bertubuh kekar dan semberono tekah dapat ajaran getir, kenapa sekarang ada pemuda lain yang tidak tahu mampus?

Melihat orang jauh terlebih muda daripada Hie Bin, Lu Jie Sianseng makin memandang rendah.

"Baik," sahut dia. "Ingin aku jelaskan dahulu, jikalau nanti kau jalankan kehormatan besar kepadaku, tak berani aku terima itu!"

Kata-kata yang terakhir ini mengandung ejekan.

Habis itu, jago Hoo Kun itu tekan emas dengan huncweenya.

Sin Cie ambil sikap sama seperti Hie Bin, dia maju tiga tindak, lantas dia angkat kakinya yang kanan, untuk menyapu.

Hie Bin menonton, dia kaget, dia menjerit: "Siau-susiok, jangan! Dia nanti totok kakimu!"

Ngo Cou dari Cio Liang Pay sebaliknya tak mengerti. Dia tahu pemuda ini liehay, akan tetapi cara sapuannya itu semberono. Maka mereka menduga, apa mungkin pemuda ini mengerti ilmu menghentikan jalan darahnya hingga dia tak jeri untuk ditotok?

0o-d.w-o0