-->

Pedang Ular Emas Bab 07

Bab ke 07

Un Beng San murka sampai hampir dia tak sanggup kendalikan diri lagi, maka sebagai pelabi, dia tertawa ter- bahak-bahak. "Sudah beberapa puluh tahun lohu berkelana didunia kangouw, belum pernah lohu ketemui siapa juga yang berani memandang enteng tongkatku Liong-tau Koay- thung!" kata dia. "Baiklah! Apabila kau benar punyakan kepandaian, hayo dengan pedang kau, kau tabas kutung tongkatku ini!"

Liong-tau Koay-thung ada tongkat berkepala naga- nagaan. Berbareng dengan berhentinya kata-kata jumawa itu, tongkat tersebut dipakai membabat kepinggang Sin Cie. Sambaran itu diiringi dengan sambarannya angin juga, yang bersuara nyaring.

Un Ceng menjerit ketika ia lihat serangan yaya-nya itu. Ia tampak tubuh Sin Cie seperti terbawa tongkat yang liehay itu. Akan tetapi belum sampai tubuhnya anak muda ini terlempar, atau tahu-tahu pedang kayunya sudah menyambar lempang kemuka si penyerang.

Un Beng San mundur seraya tarik pulang tongkatnya, tetapi ia tidak cuma menarik saja, sebaliknya, ia segera dapat juga maju pula, untuk totok ulu-hati orang! "Ha, kiranya tongkat ini dapat juga dipakai sebagai alat penotok jalan darah!" pikir Sin Cie sambil ia berkelit. "Aku mesti waspada!"

Sambil berkelit, pemuda ini lantas membabat dengan pedang-pedangannya itu.

Kalau itu ada pedang benar dan mengenai dengan tepat, tangan lawan yang menyekal tongkat mesti sapat semua jarinya. Akan tetapi Un Beng San bukannya lawan lemah. Dia tahu baik sekali, sekalipun hanya pedang-pedangan, kalau ia terbacok, ia bakal terluka juga. Maka segera ia lepaskan tangannya yang kanan, hingga ujung tongkat jatuh ketanah dan tinggal pangkalnya yang lain jang tercekal di tangan kiri, lalu dengan dibantu lagi tangan kanan, ia ulangi serangan susulannya yang tidak kalah berbahayanya.

Ditangan orang liehay, tongkat itu jadi seperti bertambah-tambah beratnya, maka siapa lacur kena terserang, celakalah dia.

Sin Cie kagum melihat kegesitan dan keliehayan lawan itu, karenanya, ia jadi bertanding dengan terlebih hati-hati.

Setiap serangan Un Beng San menerbitkan sambaran angin keras, malah kalau kebetulan ia mengemplang tempat kosong, batu lantai hancur terlabrak dan muncrat meletik berhamburan. Coba itu mengenai tubuh manusia, bagaimana hebatnya.

Sin Cie tidak perdulikan liehaynya tongkat, dia melayani dengan tubuhnya yang enteng, dengan gerakannya yang cepat dan pesat, sehingga ia bagaikan kupu-kupu yang terbang molos sana molos sini. Disebelah itu, pedangnya pun saban-saban mencari bagian-bagian yang lowong dari anggauta-anggauta lawannya, untuk membalas.

Tanpa merasa, saking cepatnya, pertempuran telah melalui banyak jurus, sesudah mana, Un Beng San menjadi kelabakan sendirinya. Ia sudah buka mulut besar tetapi buktinya, belum dapat ia rubuhkan lawan ini. Ia jadi ingat bagaimana tongkatnya ini yang dia buat andalan, sudah angkat namanya di Kanglam, belum pernah dia menemui tandingan, tetapi sekarang, ia seperti dilece-lece bocah cilik. Apakah nama baiknya tak akan runtuh karenanya? Oleh karena memikir begini, dalam penasarannya, Beng San ubah caranya berkelahi. Ia jadi berlaku sangat gesit, hingga ia seperti libat lawannya ini dengan tongkatnya itu.

Semua penonton mundur sedikit, mereka merasai sambaran angin tak hentinya. Ada diantaranya yang nyender pada tembok thia, supaya tidak sampai kena kelanggar....

Setelah perubahan sikapnya jago tua itu, Sin Cie merasa inilah musuh pertama yang paling tangguh yang ia pernah ketemukan. Tak dapat ia dekati lawan, sedang dengan pedang kayunya, tak bisa ia tabas tongkat itu.

"Tidak bisa lain, mesti aku gunai ajaran suhu," pikir dia akhirnya. Dan lantas ia mulai dengan perubahannya, hingga sekarang ia tampaknya bergerak lambat atau ayal.

Sebagai ahli, Un Beng San bisa lihat kelambatan bergerak dari lawannya yang muda ini. Ia jadi sangat girang. Ia tidak hendak mensia-siakan ketika lagi. Begitu terbuka ketikanya, ia menyapu dengan hebat.

Nampaknya Sin Cie sudah lelah, ayal segala gerak- geriknya, akan tetapi ketika pinggangnya disapu, mendadak ia sambar ujung tongkat. Ia menggunai tangan kiri, ia menyekal dengan keras, ia menarik dengan kaget sambil menekan, berbareng dengan mana tangannya yang kanan, yang menyekal pedang-pedangan, menyambar langsung kedepan.

"Bret!" demikian satu suara nyaring, dari pecahnya cita. Dan bajunya Un Beng San, tertua ketiga dari Cio Liang

Pay, robek karenanya! Masih Sin Cie berlaku murah hati,

jikalau tidak, ujung pedang pasti sudah menyambar terus kedada! Un Beng San kaget berbareng ia rasai telapakan tangannya sakit disebabkan gentakan Sin Cie, karena ia berbelit, ia terpaksa lepaskan tongkatnya jang tercekal keras lawannya itu.

Sin Cie ada berhati mulia, tak mau ia bikin malu jago tua itu, selagi menarik pulang pedangnya, ia sodorkan tangan kirinya, berikut tongkat ditangannya, akan kembalikan tongkat itu. Kejadian ini dilakukan dengan cepat luar biasa, kecuali ahli silat, jarang ada yang bisa lihat pertukaran tongkat itu.

Sam-yaya itu mendongkol sangat, begitu ia sambuti tongkatnya, begitu ia menyerang pula! Sin Cie terkejut, ia heran. Orang sudah kalah, kenapa orang masih berlaku begini tidak berkepantasan? Tetapi tidak sempat ia berpikir. Dengan sebat ia egos tubuh kebelakang, dengan lompat mundur sedikit untuk bebeaskan diri dari serangan seumpama bokongan itu.

Masih jago tua itu tidak mau mengerti, ia tarik tongkatnya untuk lagi sekali dipakai menyerang pula. Tapi sekarang berbareng terdengar suara "Ser!" tiga kali, dari mulut naga-nagaan dari tongkat itu melesatlah tiga batang paku baja, menherang kearah tiga penjuru: atas, tengah dan bawah! Jarak diantara kedua orang itu ada dekat, karena serangan senjata rahasia itu membarengi totokan tongkat.

Un Ceng kaget, sampai ia berseru diluar keinginannya, hampir ia berlompat kalau tidak ibunya tarik tangannya.

Sin Cie terkejut, inilah ia tidak sangka. Tapi ia tidak menjadi gugup.

Ia lantas menyampok, beruntun tiga kali. Ia telah menggunai tipu silat "Kong ciak kay pang" atau "Burung merak buka sajap". Dengan tangkisannya ini semua tiga paku jatuh ketanah. Inilah salah satu kepandaian istimewa dari Hoa San Pay. Setelah itu, ia tidak diam saja, sambil maju setindak, ia tekan ujung tongkat dengan pedang- pedangannya.

Dengan tiba-tiba Un Beng San merasai tenaga menekan yang berat sekali, sedang itu waktu, ia belum sempat tarik pulang tongkatnya. Rupanya tadi ia percaya ia pasti akan berhasil dengan serangan senjata  rahasia itu. Ia mundur,

272 akan tancap kaki, untuk pasang kuda-kuda, guna pertahankan diri.

Sin Cie menekan terus, sampai ujung tongkat mengenai tanah, sesudah mana, mendadak ia angkat sebelah kakinya yang kiri, akan injak ujung tongkat.

Jago tua itu kerahkan tenaganya, untuk tarik pulang tongkatnya.

Sin Cie tidak menginjak lama, dengan sekonyong- konyong ia angkat kakinya, sambil terus mencelat mundur, maka itu, dengan gampang sekarang Beng San bisa angkat dan tarik tongkatnya itu. Akan tetapi pada lantai, yang terbuat dari batu hijau, ada lobang bekas kepala tongkat itu! Semua hadirin terperanjat; mereka saling mengawasi dengan tercengang.

Un Beng San kena dipecundangi, ia mendongkol bukan buatan. Dengan kedua tangannya, ia lemparkan tongkatnya keatas wuwungan dari thia itu, hingga dilain saat terdengarlah satu suara nyaring yang dahsyat, sebab tongkat itu membuat satu lobang dan nembus keluar wuwungan! "Alat ini kena dikalahkan pedang kayumu, buat apa dipakai lagi!" kata jago tua itu.

Sin Cie tampak orang murka besar, didalam hatinya dia berkata: "Sebenarnya kau yang kalah dari aku, bukannya tongkatmu yang kalah dari pedang-pedanganku!"

Memang tak ada faedahnya akan jago tua itu ngambul secara demikian.

Diantara Ngo Cou dari Cio Liang Pay, yang paling liehay dengan senjata rahasianya adalah Su-yaya Un Beng Sie. Jago tua jang keempat ini mempunyai dua puluh empat batang hui-too, golok terbang, dalam hal menggunai senjata mana, tak pernah ia gagal. "Seratus kali lepas, seratus kali kena." Demikian istilahnya.

Setiap hui-too itu beratnya setengah kati saja, semuanya disimpan dalam satu kantong kulit yang digendol dibelakang. Lain orang gunai senjata rahasia secara menggelap atau diam-diam, tetapi hui-too dari Su-yaya ini menyambar sambil berusara mengaung, mirip dengan rayuan seruling. Jadi suara itu seperti merupakan pemberian ingat terdahulu untuk lawan, sedang sebenarnya, suara itu justru untuk membikin lawan menjadi bingung dan gugup.

Un Beng Sie lihat kakaknya itu gagal, tanpa bicara lagi, ia lompat kedalam kalangan.

"Saudara Wan, permainan senjatamu untuk memunahkan senjata rahasia bagus sekali," berkata dia. "Bagaimana kalau sekarang kau sambut juga golok terbangku?"

Habis mengucap demikian, jago tua ini lolosi kantong kulitnya, jang dicantel dipinggangnya, untuk dipindahkan kebebokongnya.

Sin Cie mengerti bahwa akan percuma saja ia mengalah, dari itu, ia manggut.

"Harap saja locianpwee berlaku murah hati," jawabnya. Lantas ia hampirkan bocah tadi, untuk kembalikan pedang kayu, setelah mana, ia kembali ketengah lian-bu-thia.

Semua penonton undurkan diri, antaranya ada yang menyingkir ke pintu. Suasana ada tegang. Orang menginsafi liehaynya golok dari Su-yaya itu, yang tak pernah gagal. Umpama kata Sin Cie sanggup menanggapinya, soal ada lain, akan tetapi apabila dia mencoba berkelit selalu, dia mesti terancam malapetaka... "Lihat golok!" mendadak terdengar seruan Un Beng Sie.

Karena dua pihak sudah lantas siap, jago tua ini tak sia- siakan ketika lagi.

Golok menyambar sambil berkelebatan dan bersuara juga: "Swing!"

Selama itu Sin Cie sudah pikir , golok terbang dari jago tua itu mestinya istimewa.

"Jikalau aku tanggapi, tak akan terlihat kepandaianku," demikian ia pikir. "Dengan jalan itu, tak bisa aku takluki dia. Dia mesti dibikin menyerah dengan begitu rupa Barulah dia nanti suka lepaskan Siau Hui dan kembalikan emas itu."

Karena ini, diam-diam ia telah keluarkan dua butir biji caturnya. Ketika golok menyambar, ia kagumi ketangkasannya si jago tua. Ia tak berayal, untuk gunai biji caturnya. Tangan kirinya lantas menimpuk, disusul dengan tangan kanan.

Segera sebutir biji catur tangan kiri itu mengenai golok dengan terbitkan suara pelahan, berhentilah suara mengaung nyaring tadi dari golok tersebut. Sebab biji ini tepat nancap dilobang kecil diujung golok. Segera setelah itu, terdengar suara nyaring lain. Ini kali ada suara dihajarnya golok dengan biji catur dari tangan kanan, menyusul mana, hui-too itu terhalang menyambarnya dan terus jatuh kelantai.

Golok terbang berat setengah kati dan biji catur kecil dan enteng sekali, toh golok itu kalah tenaga, maka ini telah menyatakan, bentrokan diantara dua senjata itu berbareng juga membuktikan tenaga dari kedua orang yang lagi adu kepandaian itu. Tenaga Sin Cie ternyata berlipat lebih besar daripada tenaga Un Beng Sie.

Wajah Su-yaya dari Un Ceng ini berubah dengan sekejab, tetapi berbareng dengan ini, dua batang goloknya sudah melayang pula, dengan berbareng.

Sin Cie sudah siap pula dengan biji-biji caturnya, karena ia telah duga sikap lawan, maka ketika ia diserang lagi, dengan dua golok, dengan cepat ia menimpuk dengan empat biji catur, dengan berturut-turut. Maka dengan saling-susul, kedua golok pun jatuh seperti yang pertama.

"Hm!" berseru Beng Sie. "Liehay! Liehay!"

Dimulut Su-yaya itu perdengarkan pujiannya, tangannya sebaliknya dikerjakan terus, malah kali ini enam batang golok dikasih menyambar. Dia pun sengaja sebar golok- golok terbangnya itu kesegala penjuru. Ia insyaf, disatu arah saja, akan sia-sia penyerangannya itu. Selagi menyerang, didalam hatinya, ia kata: "Apa mungkin kau sanggup pukul jatuh pula sesuatu dari golokku ini?"

Oleh karena enam batang hui-too yang terbang berhamburan, suara swingnya pun ramai sekali. Akan tetapi suara itu berhenti dalam sekejab. Karena dua belas biji catur dari Sin Cie sudah bekerja pula, untuk memukul rubuh.

"Bagus!" Un Beng Sie berseru pula, tapi dengan hati mendongkol sangat, dengan penasaran. Dan kedua tangannya digeraki dengan hampir berbareng, menyambarkan enam batang golok pula masing-masing. Maka itu, Baru enam hui-too serang si anak muda, atau enam yang lain sudah menyusul dengan segera. Serangan ini juga dilakukan dengan tenaga penuh dan semangat bernyala-nyala. Un Beng Tat ada seorang yang berpengalaman, ia segera dapay kenyataan, anak muda didepan mereka itu mesti ada muridnya seorang yang liehay sekali, maka itu ia kaget tak terkira apabila ia saksikan saudaranya yang keempat menyerang secara demikian.

"Sutee, jangan celakai dia!" dia berseru, untuk mencegah.

Tapi cegahan ini sia-sia saja, karena huitoo sudah saling susul menyerang si anak muda.

Sin Cie tidak menjadi bingung karena serangan huitoo yang seperti berantai itu, ia berlompat sambil kerahkan kedua tangannya secara sangat cepat, ia bukannya menangkis dan berkelit, ia hanya tanggapi setiap golok. Maka dilain saat, dua-belas batang golok terbang itu telah bersarang diantara kedua tangannya kiri dan kanan, enam buah disetiap tangan! Akan tetapi anak muda ini tidak cuma tangkap semua golok yang menyerang dia, dia tidak pegang itu lama-lama, dengan lantas dia melempar- lemparkannya, dengan kedua tangannya, hingga dalam beberapa kali saja, kedua tangannya sudah kosong pula. Dilain pihak, semua hadirin menjerit bahna heran dan lalu melengak karenanya. Sebab keduabelas golok itu menyambar kearah para-para senjata dan disana sejumlah tumbak-tumbak biasa dan tumbak cagak - pada terputus ujungnya terkena sambaran huitoo-huitoo itu! Menyusul ini, semua lima Ngo Cou matanya bernyala-nyala, saking mendongkolnya.

"Apakah kau dikirim oleh si Kim Coa Kan-cat?" berseru mereka dengan suara jang sangat bengis.

"Kim Coa Kan-cat" berarti "Kim Coa si bangsat". Lima jago itu menegur secara demikian karena mereka saksikan caranya Sin Cie menanggapi golok-golok terbang itu. Dengan sebenarnya, Sin Cie sudah lakukan perlawanan dengan keluarkan ilmu silat yang ia peroleh dari Kim Coa Pit Kip, kitab warisan Kim Coa Long-kun.

Tatkala dulu Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie layani jago-jago Cio Liang Pay itu, selagi Un Beng Sie serang dia dengan dua belas Huitoo, dia telah menyambuti semua golok dengan tangan kosong, gerakannya mirip dengan gerakan Sin Cie ini. Maka itu, mereka ini jadi ingat kepada Kim Coa Long-kun itu, si Ular Emas.

Sin Cie masih belum tahu, ada sangkutan apa diantara Kim Coa Long-kun dan jago-jago Cio Liang Pay ini, dari itu, ia tidak lantas keluarkan kepandaiannya menurut ajaran si Ular Emas, adalah barusan, karena terancam bahaya, ia gunai itu diluar keinginannya. Itu adalah ilmu silat yang dinamai "Cian Chiu Koan Im Siu-Ban po", atau "Koan Im Tangan Seribu Menyambut selaksa Mustika".

Sebenarnya, atas pertanyaan itu, pemuda ini hendak berikan jawaban, akan tetapi sebelum ia buka mulut, ia lihat dari luar paseban bertindak masuk tiga orang, diantara siapa ada Siau Hui, yang ternyata telah ditelikung oleh dua orangnya Cio Liang Pay. Teranglah si nona Baru saja dikeluarkan dari lobang jebakan, untuk dihadapi kepada ketua mereka.

Melihat nona itu, tidak ayal lagi, Sin Cie lompat jauh, akan pergi keluar paseban, guna papaki nona itu. Ia berlompat dengan gerakan "It hong ciong thian", atau "Burung hoo terjang langit".

Menampak demikian, dengan masing-masing hunus senjatanya, Un Beng Tat dan Un Beng Gie lari mengejar.

Sin Cie tidak perdulikan orang susul ia, ia memburu terus kearah Siau Hui, Baru ia datang dekat, ia sudah lantas disambut oleh dua orang yang iringi si nona, mereka ini masing-masing gunai golok dan pedangnya.

Segeralah terdengar suara nyaring dua kali beruntun, golok dan pedangnya dua penyerang itu terlepas dari cekalan mereka, terpental keras, sehingga mereka jadi tercengang dan kaget. Sebab senjata mereka sudah bentrok dengan senjata toaloya dan jiloya mereka! "Tolol!" kedua ketua itu mendamprat.

Sin Cie sudah berlaku cerdik, ketika ia dipapaki serangan, ia bukan tangkis serangan itu, ia hanya nelusup kebawah, justru itu Beng Tat dan Beng Gie sampai, mereka ini sudah lantas serang si anak muda, hingga tak dapat dicegah lagi, senjata mereka berempat bentrok satu dengan lain.

Lolos dari serangan, Sin Cie sudah lantas sambar Siau Hui, akan bikin putus tambang belenggu nona ini.

"Engko Sin Cie!" Nona An berseru saking girang. "Sambut ini!" kata Sin Cie, yang lemparkan pedang si

nona yang pun terikat tambang, yang ia sudah lantas

loloskan.

Siau Hui ulur tangannya, akan sambuti senjata itu.

Baru si nona pegang senjatanya, atau dua tumbak pendek dari Un Beng Tat telah sambar dia, hingga ia jadi kaget.

"Aduh!Aduh!...." demikian dua teriakan menyusul, teriakan dari kehebatan.

Dalam ancaman bahaya itu, mendadak didepannya Siau Hui menghalang dua tubuh manusia, hingga tidak ampun lagi, mereka ini kena disapu Beng Gie, hingga keduanya rubuh dengan berteriak kesakitan. Mereka nyata ada dua orang yang barusan iringi Siau Hui, mereka melintang karena dijoroki Sin Cie. Beruntung mereka, ketuanya keburu urungi serangan tumbaknya dan cuma dupak mereka.

Dua-dua Siau Hui dan Sin Cie mundur, akan tetapi Beng Tat tidak mau sudah. Toa loya ini melanjuti menyerang lebih jauh dengan tumbaknya. Tiba-tiba tumbaknya kena terlibat tambang, hingga ia terkejut. Untuk melepaskan diri, terutama untuk cegah orang tarik dia, ia barengi maju,akan menikam terus! Sin Cie masih belum lepaskan tambang bekas membelenggu Siau Hui ketika si nona terancam bahaya, ia gunai itu untuk sambar dan lilit senjata Toa- yaya. Sebenarnya ia niat membetot tapi ia telah didahului Beng Tat, maka menggunai ketikanya itu, ia kendorkan cekalannya hingga tambang jadi terlepas dari tangannya, karena mana, Beng Tat ngusruk sendirinya, sukur setelah dua tindak, jago tua ini bisa pertahankan diri.

Selagi orang terjerunuk, Sin Cie tarik tangan Siau Hui, untuk ajak si nona lari kedalam paseban dimana, bukannya ia menyerang atau menyingkir lebih jauh, ia hanya berdiri diam.

Un Beng Tat telah jadi sangat gusar, karena ia merasa sudah dipermainkan orang, ia memburu kedalam paseban dengan diturut saudaranya.

Semua orang keluarga Un juga telah berkumpul jadi satu. Mereka berdiri dibelakang Ngo Cou mereka. Beng Tat dan Beng Gie persatukan diri kepada tiga saudara mereka apabila mereka lihat si anak muda tidak lari menjingkir.

"Dimana adanya Kim Coa Kan-cat?" Beng Tat tanya sambil menuding dengan tangan kanan, karena tangan kirinya dipakai memegang tumbak pendeknya. "Lekas bilang!" "Jikalau ada bicara, locianpwee, mari kita omong secara baik, tak usah kau bergusar." Sahut Sin Cie dengan sabar.

"Pernah apa kau dengan Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie?" tanya Beng Gie, dengan suara menyatakan kemurkaannya. "Dia ada dimana sekarang? Apakah dia yang perintah kau datang kemari?"

"Seumurku, belum pernah aku lihat mukanya Kim Coa Long-kun," jawab Sin Cie, dengan tetap tenang, "maka cara bagaimana dia bisa perintah-perintah aku?"

"Apakah katamu ini?" Beng San, sam-yaya , tegaskan. "Apa gunanya aku dustakan kamu?" sahut anak muda

itu. "Secara kebetulan saja aku bertemu sama ini saudara

Un Ceng diatas sebuah perahu, berterima kasih atas kebaikannya, kita berdua lantas ikat tali persahabatan. Ada hubungan apa kamu dengan Kim Coa Long-kun?"

Ngo Cou nampaknya jadi lebih tenang, akan tetapi kecurigaannya masih belum lenyap.

"Apabila kau tidak sebutkan tempat sembunyinya Kim Coa Long-kun, hari ini jangan kau harap bisa keluar dari Cio-liang!" Beng Tat mengancam. Ia tidak jawab pertanyaan orang.

"Dengan andali kepandaian kamu ini kamu hendak menahan aku?" si anak muda tegasi. "Aku kuatir kau tak nanti mampu berbuat demikian..." Masih Sin Cie berlaku sabar sekali, sikapnya menghormat. Lalu ia menambahkan : "Dengan Kim Coa Long-kun itu, aku tidak bersanak tidak berkadang, sama sekali kita berdua belum pernah bertemu muka. Cuma, untuk bicara terus-terang, dimana adanya dia sekarang, aku tahu, melainkan aku kuatir disini tak ada seorangpun yang berani pergi menemukan dia...?" Dengan mendadak, kumat pula kemurkaan Ngo Cou dari Cio Liang Pay itu.

"Siapa bilang kami tidak berani?" seru Beng Tat, si Toa- yaya. "Selama sepuluh tahun ini, tidak ada satu hari yang kami tidak cari dia! Kami berlima saudara, satu persatu jiwa kami, suka kami antarkan ketangannya dia itu! Biar dia ada diujung langit, pasti kami akan cari padanya! Dimana dia ada?"

Sin Cie tertawa dengan tawar.

"Apa benar-benar kamu hendak pergi ketemui dia?" ia tanya.

Beng Tat maju setindak. "Tidak salah!" jawabnya.

"Ada apa faedahnya akan bertemu dengannya?" tanyanya.

"He, sahabat kecil, siapa hendak main-main denganmu?" Beng Tat menegur. "Lekas kau omong!"

Anak muda itu bersemu.

"Locianpwee semua ada bertubuh sehat wal'afiat," katanya, "masih mesti ditunggu lagi banyak tahun untuk locianpwee menemui dia itu. Dia telah menutup mata!"

Mendengar jawaban ini, semua orang tercengang, hingga mereka pada berdiri menjublak, hanya adalah Un Ceng yang terdengar menjerit dan terus memanggil-manggil : "Ibu! Ibu! Ibu, bangun!"

Sin Cie heran, ia segan menoleh, maka terlihatlah olehnya, si nyonya usia pertengahan sudah rubuh pingsan, tubuhnya berada dalam pangkuan si anak muda Un Ceng. Nyonya itu tutup rapat mulutnya, mukanya pucat sekali. Ngo Cou pun terkejut.

"Dosa!" kata Un Beng San ber-ulang-ulang.

Beng Gie segera kata pada Un Ceng : "Ceng Ceng, lekas pondong ibumu kedalam! Jangan kau mendatangkan malu, hingga orang nanti menertawainya!"

Un Ceng menangis dengan tiba-tiba, tapi ia menjawab dengan sengit. "Malu apa? Ibu dengar ayah menutup mata, tentu saja ia kaget dan jadi bersusah hati karenanya!..."

"Nyonya eilok itu jadi ada isterinya Kim Coa Long- kun?" tanyanya dalam hatinya. "Dan Un Ceng ini puteranya..."

Beng Gie gusar bukan main mendengar perkataan Un Ceng hingga ia kertak giginya berulang-ulang.

"Toako, jikalau masih kau sayangi bocah ini, nanti aku yang ajar padanya!" kata ia dengan keras pada Beng Tat, sang kanda.

"Siapa itu ayahmu?" Beng Tat bentak sang cucu. "Kau tidak mau lekas masuk?"

Un Ceng lantas pepayang si nyonya eilok, untuk diajak masuk kedalam. Nyonya itu sudah sadar tapi ia masih sangat lemah.

"Kau minta Wan Siangkong menemui aku besok malam," ibu ini kata dengan pelahan. "Aku hendak tanyakan dia."

Un Ceng manggut, terus ia menoleh pada Sin Cie. "Masih ada satu hari!" katanya. "Besok malam kau boleh

datang pula untuk curi emas, aku ingin lihat kau mampu

atau tidak!" Dengan roman sengit, ia lirik Siau Hui, habis itu ia pepayang ibunya dan bertindak masuk.

"Mari kita pergi!" Sin Cie ajak Siau Hui. Lantas keduanya bertindak keluar.

"Pelahan dulu!" tiba-tiba Ngo-yaya Un Beng Go mencegah sambil kedua tangannya dipakai menghalangi. "Aku masih ingin tanya kau."

Sin Cie rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat.

"Sekarang sudah jauh malam, lain hari saja aku kunjungi locianpwee," katanya.

"Kim Coa Kan-cat itu dimana matinya? "Beng Go tanya. "Ketika dia mati, siapa yang lihat padanya?"

Ditanya begitu, berpetalah dimatanya Sin Cie kejadian itu malam didalam gua diatas puncak gunung Hoa San ketika Thio Cun Kiu serang si pendeta.

"Terang sudah, kamu sedang cari warisan Kim Coa Long-kun," pikir dia. "Tidak, aku tidak bisa kasi keterangan!"

Maka ia jawab: "Aku ketahui itu dari pendengaran satu sahabat. Jikalau tidak keliru, Kim Coa Long-kun meninggal dunia disebuah pulau diluar propinsi Kwietang."

Ngo Cou saling mengawasi, nampaknya mereka heran. "Maka itu pergilah kamu kepulau itu dilaut Kwietang!"

Sin Cie kata. Terus ia memberi hormat pula,dan tambahkan

: "Aku yang muda tak dapat menemani lebih lama pula. "

"Jangan kesusu!" Un Beng Go mencegah pula. Dia masih mau menanya melit-melit, kembali dia lintangi kedua tangannya. Sin Cie keluarkan tangannya, untuk tolak lengan orang, tapi Beng Go segera tekuk lengannya itu, untuk dipakai menggaet. Ia gunai tipu "Kim-na-hoat" akan cekal tangan si anak muda.

Sin Cie tidak niat bertempur pula, selagi kedua tangan mereka beradu, ia tarik Siau Hui dengan tangan kiri, ia ajak si nona loncat akan lewati jago tua ini yang kelima.

Si nona adalah yang loncat lebih dahulu, akan lewat disamping jago tua itu, baju siapa pun tidak sampai terlanggar.

Un Beng jadi panas, hingga selagi tarik pulang tangan kanannya, ia bawa itu kepinggangnya, maka dilain saat ia sudah tarik keluar sepotong cambuk lemas terbuat dari kulit kerbau, senjatanya yang istimewa. Dengan itu, ia lantas serang bebokong si anak muda dengan tipu pukulannya "Cun Ma toat kiang" atau "Kuda jempol meloloskan pelana".

Jikalau lain orang bergegaman cambuk dari baja atau lain logam, Beng Go gunai bahan kulit, yang lemas tapi ulet, yang ia biasa gunai sama hebatnya seperti logam.

Sin Cie dengar suara angin dibelakangnya, sambil masih tarik tangan si nona An, ia mendak seraya terus berlompat, dengan begitu, serangan cambuk jadi mengenai sasaran kosong. Habis itu ia berlompat kearah tembok.

Un Beng Go jadi sangat penasaran. Ia punyakan latihan dari beberapa puluh tahun dengan cambuknya itu, siapa tahu, dengan gampang saja si anak muda lolos dari serangannya. Maka tak mau ia berhenti dengan begitu saja. Meneruskan gerakan tangannya, yang ia tarik pulang, ia rabih kaki Siau Hui. Jago tua ini tahu, kepandaian si nona masih sangat berbatas, ia percaya ia akan berhasil merubuhkan nona itu. Ia tidak pikir bahwa si anak muda ada bersama si nona.

Sin Cie dengar suara anginnya cambuk lemas itu, sambil menoleh ia ulur tangan kirinya, untuk menanggapi, guna lindungi Nona An. Ia berhasil dengan dayanya ini. Justru ia sudah injak tembok, ia segera kerahkan tenaganya, akan tarik cambuk itu.

Beng Go menyerang sambil berlompat maju, tentang gerakannya si anak muda, ia tidak pernah sangka, maka itu, ia kaget tidak terkira ketika cambuknya kena ditangkap dan terus ditarik, percuma ia mencoba akan pertahankan diri, tubuhnya kena tertarik hingga terangkat, hingga kedua kakinya tak menginjak tanah. Maka dengan tergantung sedemikian rupa, tak mampu lagi ia kerahkan tenaganya.

Ngo-yaya ini ingin bikin terang mukanya, ia pasti akan berhasil jika ia sanggup bikin Siau Hui rubuh, siapa nyana, ia justru jadi bertambah malu karena si anak muda pecundangi padanya. Malah dengan tergelantung demikian rupa, ia sekarang terancam bahaya.

Un Beng Sie kuatirkan saudaranya itu, ia ayun tangannya akan terbangkan dua buah goloknya, hingga dengan perdengarkan suara "Swing! Swing!" kedua huitoo menyambar kearah bebokongnya si anak muda. Sie-yaya ini hendak tolongi adiknya, tidak niat ia mencelakai orang.

Melihat ada serangan golok, Sin Cie lepaskan cekalannya kepada cambuk lemas, ia tarik Siau Hui, buat diajak terus lompat turun keluar tembok. Akan tetapi sebuah golok sudah mendekati kakinya, dengan gesit ia jejak itu, hingga golok jadi berbalik, membentur golok yang kedua, hingga dua-duanya lantas jatuh kebawah. Sementara itu Beng Go ada di kaki tembok, kemana ia jatuh tanpa bahaya ketika Sin Cie lepaskan cekalan cambuk. Kapan ia lihat turunnya golok, ia sambar dengan cambuknya, dengan niat dililit. Apamau, selagi ia menyabet, cambuknya itu putus sendirinya, hingga ia jadi kaget. Maka untuk luputkan diri dari sambaran golok, ia rubuhkan diri untuk bergulingan dengan gerakannya "Lay lou ta kun" atau "keledai malas bergulingan". Ia sudah berlaku cepat sekali tetapi tidak urung ujung golok mengenai ujung bajunya hingga baju itu robek. Maka itu, waktu ia bangkit bangun, ia keluarkan keringat dingin, mulutnya ternganga.

Tidak pernah ia sangka, dalam keadaaan seperti itu Sin Cie telah bisa bikin cambuknya tertekuk patah hingga jadi hilang kekuatannya.

Un Beng Tat saksikan itu semua, ia menggeleng-geleng kepala. Lain-lain saudaranya pun heran dan kagum.

"Bocah itu Baru berumur kurang-lebih dua-puluh tahun, umpama kata ia belajar silat sejak dalam kandungan, temponya toh tak lebih dari dua-puluh tahun, maka heran sekali, kenapa dia ada begini liehay?" kata Un Beng Gie si Jie-yaya.

Akan tetapi Un Beng San sangat penasaran.

"Si bangsat Kim Coa ada sangat liehay, dia toh rubuh ditangan kita!" katanya. "Besok malam bocah itu bakal datang pula, besok nanti kita layani dia pula!"

Sampai disitu, keluarga Un itu bubaran, sedang Sin Cie dan Siau Hui dengan tidak kurang suatu apa sudah kembali kepondok mereka dirumahnya si orang tani.

Nona An sangat kagumi ini sahabat sejak kecil, ia memuji tidak putusnya. "Cui Suko biasa puji tinggi gurunya," katanya "tapi aku percaya gurunya itu tak nanti sanggup tandingi kau!"

"Apa sih namanya Cui Sukomu itu?" Sin Cie tanya. "Dan siapakah gurunya?"

"Gurunya itu adalah murid dari Bok Lo-cousu dari Hoa San Pay, katanya gelarannya ada Tong-pit-Thie-shui-phoa. Mendengar gelaran itu, yang berarti pit kuningan dan shuiphoa besi, pada mula kalinya aku tertawa tak hentinya. Tak ingat aku akan tanyakan suko tentang nama gurunya itu."

Sin Cie manggut, didalam hatinya, ia kata: "Kiranya Cui Suko itu ada muridnya Toa-suheng, maka dia mesti panggil susiok padaku..."

Ia tidak beritahukan Siau Hui tentang hubungannya ini dengan Hie Bin atau Tong-pit-Thie-shui-phoa.

Kemudian keduanya masuk tidur.

Dimalam kedua, Sin Cie minta Siau Hui menanti saja di pondokan.

Siau Hui insaf, kepandaiannya masih belum berarti, malah tadi malam, ia seperti bantu merintangi kawan ini, maka ia menurut akan berdiam di rumah meski sebenarnya sangat ingin ia turut.

Sin Cie tunggu sampai sudah tengah malam, Baru ia berangkat. Ia ambil jalan seperti kemarinnya untuk pergi kerumah keluarga Un itu. Ketika ia sampai diluar tembok, ia lihat di-mana-mana gelap, tidak ada cahaya api seperti kemarinnya. Tadinya ia mau terus masuk ketika dengan tiba-tiba ia dengar seruling merayu tiga kali, berhenti sedetik setiap rintasan. "Itulah Un Ceng memanggil aku," pikir anak muda ini yang otaknya tajam. "Ngo Cou ada licin tapi Un Ceng masih ingat persahabatan."

Maka ia, urung lompat naik keatas tembok, anak muda ini memutar tubuh, akan bertindak kearah dari mana suara seruling datang. Ialah dari Bwee Kui San, bukit yang bertaman bunga mawar. Selagi ia mendaki, dari jauh-jauh ia sudah tampak dua orang sedang duduk didalam paseban, ketika ia mendekati, ia lihat mereka itu adalah orang-orang perempuan. Diantara sinarnya si Puteri Malam, kelihatan juga, satu diantaranya lagi tempeli seruling kepada bibirnya, hingga segera terdengar irama merayu-rayu.

"Itu toh suara serulingnya Un Ceng?..." pikir pemuda ini, yang menjadi heran dan curiga. Karena ini, selagi mendekati, ia bertindak dengan pelahan-lahan.

Orang perempuan yang meniup seruling itu bertindak keluar paseban, untuk papaki si anak muda.

"Toako!..." katanya dengan pelahan.

Sin Cie terkejut, hingga ia berdiri melongo. Nona itu Un Ceng adanya, anak muda yang ia anggap sebagai sahabatnya! Ia masih berdiam sekian lama, Baru ia tanya : "Kau....kau " katanya tak lancar.

Un Ceng tertawa geli, suaranya pelahan.

"Sebenarnya aku adalah seorang perempuan," ia kasi keterangan. "Sampai sebegitu jauh aku telah abui kau, toako, harap kau jangan buat kecil hati."

Lantas ia memberi hormat sambil menjura.

Sin Cie balas hormat itu. Sekarang Barulah lenyap kecurigaannya sekian lama mengenai perangainya Un Ceng, tentang sifat-sifat kewanitaannya. "Namaku adalah Un Ceng," berkata pula si nona. Ia rupanya dapat mengerti keheranan si anak muda. "Sebegitu jauh aku perkenalkan diri Ceng, sebenarnya masih kurang satu huruf Ceng lagi..."

Dan ia tertawa dengan manis.

Dengan dandan sebagai satu nona, Un Ceng Cneg benar elok dan manis sekali, alisnya bagus, matanya jernih, pipinya dadu, bibirnya seperti buah engtoh.

"Dasar aku yang tolol, orang perempuan tak aku kenali..." pikir Sin Cie.

"Disana ibu; ibu ingin bicara denganmu," kemudian berkata pula si nona. "Mari!"

Sin Cie bertindak kedalam paseban, terus ia memberi hormat.

"Pehbo," ia memanggil sambil ia perkenalkan diri. Nyonya itu berbangkit untuk membalas hormat. "Jangan pakai adat-peradatan," katanya.

Sin Cie lihat kedua matanya nyonya itu merah dan bengul, romannya sangat lesu, tanda dari kedukaan hati yang hebat.

"Menurut Ceng Ceng, ibunya ini telah diganggu orang jahat hingga terlahirlah dia," pikir anak muda kita. "Orang jahat itu tentu Kim Coa Long-kun adanya. Kelihatan nyata sekali, lima ketua dari keluarga Un sangat benci pada Kim Coa Long-kun, sebab ketika Ceng Ceng sebut dia itu sebagai ayah, ia ditegur oleh Jie-yaya. Sebaliknya ibunya mendengar hal kematiannya Kim Coa Long-kun, telah pingsan karenanya, tanda kedukaan yang hebat. Bukankah disini mesti ada terselip suatu rahasia? Apakah adanya itu? Baik aku hiburkan dia..." Nyonya itu berdiam sekian lama, Baru ia bicara pula.

"Dia.....apakah benar dia telah menutup mata?" tanyanya. "Wan Siangkong, apakah kau lihat sendiri dia meninggal?"

Anak muda itu manggut.

"Wan Siangkong baik terhadap Ceng Ceng, inilah aku tahu," kata pula si nyonya yang elok tetapi laju itu. "Maka itu pasti aku tidak akan berlaku sebagai sekalian yayanya itu, yang anggap kau sebagai musuh. Aku minta sukalah kau tuturkan aku tentang meninggalnya dia..."

Mengenai sifatnya Kim Coa Long-kun, Sin Cie masih gelap dan ragu-ragu. Gurunya sendiri, yang bicara dengan Bhok Siang Toojin, mengatakan si ular emas ada seorang berperangai luar biasa, cara hidupnya ada diantara sesat dan tak sesat. Akan tetapi, sejak ia dapatkan "Kim Coa Pit Kip" dan peroleh ilmu silat dari kitab pusaka itu, diam-diam ia kagumi orang luar biasa itu, yang otaknya sangat cerdas, dan diam-diam juga ia pandang si orang aneh sebagai gurunya. Biar tidak langsung dia toh dappat pelajaran berharga dari Kim Coa Long-kun. Maka itu, mendengar Ngo Coue mendamprat Kim Coa Long-kun sebagai "kan- cat", bangsat yang hina dan licik, ia jadi gusar sekali, cuma karena ia belum tahu duduknya hal, tak bisa ia bilang suatu apa. Sekarang ia dengar suaranya ibu dari Ceng Ceng, ia kembali dapat pemandangan lain.

"Belum pernah aku bertemu dengan Kim Coa Long- kun," ia jawab pertanyaan si nyonya, "akan tetapi walaupun demikian, dia dan aku ada sebagai guru dan murid, karena sebagian dari ilmu silatku aku dapat pelajarkan dari beliau. Aku pikir tidak leluasa untuk tuturkan jelas hal Kim Coa Long-kun setelah ia menutup mata, aku kuatir orang jahat nanti pergi menyatroni dan merusak kuburannya itu. " Baru si nyonya mendengar kata terakhir dari si anak muda, ia lantas saja tergeletak rubuh, sehingga Ceng Ceng mesti sambar tubuhnya,untuk ditolongi.

"Ibu, Ibu!" memanggil si nona. "Keraskan hatimu, ibu. "

Tidak lama pingsannya nyonya ini, lalu ia sadar pula. Ia lantas menangis.

"Delapan-belas tahun lamanya aku nantikan dia, aku harap dengan sangat dia datang untuk sambut kami ibu dan anak, supaya kami bisa berlalu dari sini, siapa sangka justru dialah sendiri yang sudah pergi lebih dahulu..." mengeluh nyonya Kim Coa Long-kun ini. "Dan Ceng Ceng sama sekali belum pernah lihat muka ayahnya. "

"Jangan berduka, pehbo," Sin Cie menghibur. "Sekarang ini Hee locianpwee sedang tidur dengan senang dialam baka. Tulang-tulangnya semua akulah yang kubur dengan baik-baik."

"Oh, kau yang menguburnya, Wan Siangkong?" kata si nyonya. "Budimu ini ada sangat besar, aku tidak tahu bagaimana nanti aku membalasnya."

Ia segera berbangkit, untuk memberi hormat. Sin Cie sibuk, untuk mencegah.

"Ceng Ceng, hayo kau paykui kepada Wan Toako!" nyonya ini titahkan gadisnya.

Tanpa bilang suatu apa, Ceng Ceng lantas jatuhkan diri berlutut didepan si anak muda, sehingga dia ini repot berlutut juga untuk membalas hormat, buat sekalian mengasih bangun kepada nona itu.

"Apakah dia meninggalkan surat untuk kami?" kemudian nyonya itu tanya pula. Ditanya begitu, Sin Cie ingat pesan dari Kim Coa Long- kun bahwa siapa "dapatkan warisannya, dia mesti pergi ke Cio-liang di Kie-ciu, Ciatkang untuk cari Un Gie, untuk serahkan emas banyaknya sepuluh laksa tail." Pesan itu membikin ia bingung, lalu ia tak perhatikan lebih jauh. Ia sendiri pun tidak tergiur hatinya oleh itu harta besar, malah ia bayangi, jangan-jangan Kim Coa Long-kun bercelaka karena harta besar itu. Ia juga ingat baik-baik kata-kata gurunya bahwa harta besar bisa mendatangkan malapetaka. Karena ini, ia rada jemu dengan petanya Kim Coa Long- kun itu. Sampai sekarang nyonya ini menanyakannya.

"Maaf, pehbo," katanya, "aku memberanikan diri untuk tanya apa pehbo bernama Gie?"

Ibunya Ceng Ceng nampaknya terperanjat.

"Benar," jawabnya. "Bagaimana kau ketahui itu?" Belum sampai si anak muda sahuti ia, ia sudah tambahkan : "Tentu kau ketahui itu dari surat peninggalannya! Apakah Wan Siangkong bawa suratnya itu sekarang?"

Tegang sekali sikapnya si nyonya selagi ia menanyakan demikian.

Disaat Sin Cie hendak jawab nyonya itu, mendadak ia menjejak dengan kaki kanannya, segera tubuhnya lompat mencelat melewati lankan, menyambar kesuatu gerombolan pohon mawar.

Un Gie danCeng Ceng, ibu dan anak, kaget dan heran, keduanya segera mengawasi anak muda itu.

Tiba-tiba terdengar satu jeritan "Aduh!" kemudian tertampak Sin Cie gusur keluar satu orang, tubuh siapa diam saja, karena rupanya dia telah ditotok jalan darahnya. Dengan jambak bebokongnya, pemuda ini bawa orang itu kedalam paseban dimana dia itu digabruki kelantai. "Eh, inilah cit-pehhu!" Ceng Ceng bersuara tertahan.

Un Gie pun mengenalinya, ia lantas menghela napas panjang.

"Wan Siangkong, tolong kau merdekakan dia," mintanya. "Didalam rumah keluarga Un ini, kecuali kita berdua ibu dan anak, tidak ada orang lain lagi yang pandang kami sebagai orang dalam..."

Sin Cie lihat sikap lesu nyonya itu, ia dengar suara yang lemah bersedih. Lantas saja ia tepuk jalan darahnya orang tawanannya itu, atas mana dia ini keluarkan jeritan perlahan, lalu mendusin.

Nyatalah orang ini ada Un Lam Yang dengan siapa Sin Cie pernah bertempur. Dia adalah anak Un Beng Gie dan turut runtunan, dia ada anak ketujuh dalam keluarga Un itu.

"Cit-pehhu!" Un Ceng tegur mamaknya itu., "kami sedang bicara di sini,mengapa kau mencuri mendengari? Sama sekali kau tidak hargai derajatmu sebagai orang yang terlebih tua!"

Kedua matanya Un Lam Yang bersinar, rupanya ia mendongkol, tapi sebentar saja, lantas ia ngeloyor pergi dengan tak bilang suatu apa. Rupanya ia jeri atas keliehayan si anak muda, yang barusan cekuk ia dengan gampang, sedang kemarinnya, ia pun gagal layani anak muda itu. Akan tetapi, setelah beberapa tindak diluar paseban, dia menoleh dan kata dengan sengit : "Perempuan tidak tahu malu pasti bisa melahirkan satu anak perempuan tidak tahu malu juga! Sudah sendiri mencuri lelaki, sekarang pun anak sendiri diajari curi lelaki juga!" Tapi Ceng Ceng tidak bisa antap hinaan itu, sambil hunus pedangnya ia loncat keluar paseban, untuk menyusul.

"Eh, cit-pehhu, mulutmu kotor sekali!" ia berseru. "Apa kau bilang?"

Un Lam Yang putar tubuhnya lalu ia berdiri tegak.

"Eh, kacung hina, kau hendak berontak?" tanyanya. "Yaya semua yang perintah aku datang kemari! Habis kau mau apa?"

"Jikalau kau hendak bicara dengan kita, kau boleh bicara terus-terang!" Ceng Ceng tegur. "Kenapa kau curi dengar pembicaraan kita?"

"Kita? Hm!" Un Lam Yang menghina, sambil tertawa dingin. "Entah orang hutan dari mana datang kemari yang lantas dimasuki dalam lingkungan kita! Muka terang delapan-belas turunan dari keluarga Un telah kau bikin malu!"

Mukanya Ceng Ceng menjadi merah saking malu. Ia menoleh pada ibunya.

"Ibu, dengarlah kata-katanya itu!" katanya.

"Cit-ko, mari, aku hendak bicara denganmu," kata Un Gie dengan pelahan.

Un Lam Yang kasih dengar suara :" Hm!" lantas ia bertindak menghampiri, sikapnya jumawa sekali.

"Kita ibu dan anak hidup menderita," berkata si nyonya kemudian. "Kita berterima kasih kepada lima yaya dan semua saudara, yang masih mengijinkan kita tinggal belasan tahun dalam rumah keluarga Un ini. Tentang urusan si orang she Hee, belum pernah aku omong suatu apa terhadap Ceng Ceng, tetapi sekarang setelah dia menutup mata, selagi citko ketahui semua dengan baik, tolong kau tuturkan itu kepada Wan Siangkong dan Ceng Ceng. "

"Kenapa aku yang mesti menuturkan?" tanya Un Lam Yang dengan mendongkol. "Inilah urusan kamu, kamu sendiri yang harus menceritakan asal jangan kamu tahu malu!"

Nyonya itu menghela napas.

"Baiklah," sahut dia. "Aku tahu, dia pernah tolongi jiwamu, aku percaya, sedikitnya kau masih bersukur terhadapnya, siapa tahu kau sama saja dengan semua anggauta keluarga Un ini, semuanya bong in pwee gie - semua tidak kenal budi-kebaikan!"

Un Lam Yang jadi sangat gusar.

"Dia pernah tolong jiwaku, itu benar!" katanya dengan sengit.

"Tapi kenapa dia tolongi aku? Baiklah, aku nanti tuturkan semua, supaya kalau kau yang menceritakannya, tak bisa kau menambahi bumbu hingga aku akan jadi orang macam apa tahu!"

Ini mamak yang ketujuh lantas duduk.

"Orang she Wan, Ceng Ceng," katanya, mulai, "nanti aku tuturkan bagaimana duduknya hingga kami kenal Kim Coa Kan-cat, aku nanti jelaskan semua dengan terang supaya kamu ketahui bagaimana jahatnya kancat itu!"

"Jikalau kau omong jelek tentang dia, tak suka aku mendengari!" memotong Ceng Ceng.Dan ia tutupi kupingnya.

"Ceng Ceng, kau dengarilah!" berkata sang ibu. "Ayahmu yang telah meninggal dunia ini, walaupun dia tak dapat dikatakan orang baik seluruhnya, akan tetapi apabila dia dipadu dengan keluarga Un, dia masih terlebih baik beratus lipat!"

"Hm, kau lupa bahwa kau pun she Un!" mengejek Un Lam Yang sambil tertawa dingin.

Un Gie tidak perdulikan ejekan kakak itu.

Maka Un Lam Yang segera mulai dengan penuturannya

: "Itu adalah kejadian pada dua-puluh tahun yang telah lampau. Ketika itu aku baru berumur dua puluh satu tahum. Ayah telah utus aku ke Yang-ciu untuk bantui liok- siokhu..."

"Kiranya," pikir Sin Cie," Ngo Cou dari Cio Liang Pay bukan cuma berlima saudara hanya berenam..."

Liok-siokhu adalah paman yang keenam.

"Ketika aku sampai di Yang-ciu, aku tak dapat menemui Liok-siokhu," Lam Yang melanjuti. "Pada suatu malam aku pergi keluar, untuk bekerja, apa celaka, karena kurang waspada, aku gagal..."

"Kau tidak jelaskan, kerjaan apa itu yang kau lakukan," kata Un Gie dengan dingin. Lam Yang mendongkol, ia gusar.

"Aku toh satu laki-laki, aku berani berbuat, mustahil aku takut menyebutkannya?" katanya dengan sengit. "Aku telah dapat lihat satu nona yang cantik sekali, aku lompat masuk kedalam pekarangannya , untuk memetik bunga. Nona itu tolak aku, maka aku lantas bunuh dia. Nona itu masih dapat ketika untuk menjerit dan jeritannya itu terdengar orang. Ada beberapa guru silat yang menjadi cinteng rumah itu, mereka itu keluar mengepung aku. Aku tidak sanggup layani begitu banyak orang, akhirnya aku kena ditangkap. " Sin Cie bergidik sendirinya mendengar orang cerita tentang kekejian dan kekejamannya sendiri tanpa merasa jengah atau malu. Istilah "petik bunga" itu adalah perkosaan terhadap orang perempuan. Ia pikir, kenapa Un Lam Yang sedemikian jahat.

"Orang lantas kirim aku kepenjara," mamaknya Un Ceng Ceng itu melanjuti. "Aku tidak takut. Aku ingat, liok-siokhu toh ada di kota Yang-ciu. Untuk seluruh Kanglam, bugeenya paman itu tidak ada tandingannya. Aku percaya, asal paman ketahui kegagalanku, pasti dia bakal datang menolongi aku. Akan tetapi sepuluh hari sudah aku menanti-nanti, tidak juga paman muncul. Sementara itu surat keputusan telah datang dari pembesar lebih atas, aku telah diputuskan hukuman mati, yang mesti dijalankan didalam kota Yangciu juga. Satu pegawai penjara beritahukan aku keputusan itu. Sampai itu waktu Barulah aku ketakutan..."

"Hm! Aku menyangka kau tak kenal takut!..." Ceng Ceng mengejek.

Lam Yang tidak gubris keponakannya ini.

"Selang tiga hari, sipir bui datang dengan arak secawan besar dan sepiring daging," demikian ia meneruskan ceritanya. "Aku tahu artinya makan besar ini, ialah besok aku bakal jalankan hukumanku. Aku pikir, semua orang memang satu kali mesti mati, hanya aku, aku merasa sayang atas diriku sendiri. Aku masih muda dan belum cukup merasai kesenangan....Tapi aku keraskan hati, aku dahar, aku minum, aku habiskan daging dan arak itu, sesudah mana, aku pergi tidur. Tepat pada tengah malam, aku tersedar karena ada orang tepuk-tepuk pundakku dengan pelahan. Aku segera geraki tubuh, untuk bangun. Lantas aku dengar kisikan di kupingku : "Jangan bersuara! Aku   akan   tolong   padamu!"   Orang   itu   lantas   gunai

298 senjatanya, akan tabas kutung pesawat borgolan di tangan dan kakiku. Itulah senjata yang tajam luar biasa, karena borgolan besi terpapas dengan beberapa bacokan saja. Habis itu dia tarik tanganku, dia ajak aku menyingkir dari penjara. Kita kabur sampai diluar kota, disebuah kuil tua. Selama diajak lari, aku turut saja. Memang aku tak dapat berbuat lain. Dia itu larinya pesat sekali, tenaganya pun besar luar biasa, tak bisa aku lepaskan diri dari cekalannya. Karena separuh ditarik, aku jadi tidak terlalu cape. Setelah dia nyalakan lilin diatas meja suci, Baru aku dapat lihat tegas romannya, ialah satu pemuda yang cakap- ganteng, usianya lebih muda beberapa tahun daripadaku, mukanya putih- bersih. Hm!"

Lantas saja ia berpaling kepada Un Gie dan Ceng Ceng bergantian, akan lirik itu ibu dan anak.

"Aku lantas kasih hormat pada pemuda itu seraya menghaturkan terima kasih." Lam Yang cerita lebih jauh setelah ia mengejek ibu dan anak itu dengan lirikannya. "Dia sangat jumawa, dia tak balas hormatku itu. Dia kata : "aku seorang she Hee, apa kau ada orang she Un dari Cio Liang Pay?" Aku manggut. Sementara itu aku lihat dia masih cekal senjata tajamnya yang tadi dipakai menabas kutung rantai borgolanku. Itu adalah pedang warna hitam, anehnya adalah ujung pedang terpecah dua sebagai cagak."

Didalam hatinya, Sin Cie kata : "Itulah dia pedang Kim Coa Kiam yang aku dapatkan." Ia diam saja, ia mendengari terus.

"Habis itu aku tanya namanya," Un Lan Yang bercerita terus. "Tak usah kau ketahui namaku!" jawabnya. "Biar bagaimana, dibelakang hari, tidak nanti kau berterima kasih kepadaku!" Aku jadi sangat heran. Pikirku, dia telah tolongi jiwaku, tentu saja aku mesti senantiasa ingat budinya itu, ingat seumur hidupku. "Aku tolong kau untuk kepentingan

299 pamanmu yang keenam," ia menambahkan. "Mari turut aku!"

"Dengan keheran-heranan, aku ikuti dia. Kita pergi ketepi sungai Un Hoo, kita naik atas sebuah perahu dan masuk kedalamnya. Dengan ringkas dia suruh tukang perahu berangkat, keselatan. Sesudah menyingkir dari Yangciu lebih dari sepuluh lie, Baru hatiku mulai lega. Itu artinya, pembesar negeri tidak akan mampu susul pula padaku."

"Dari sakunya, anak muda itu keluarkan sepasang ngo- bie-cie, ialah semacam senjata mirip dengan tempuling. Aku kenali itu sebagai gegaman liok-siokhu. Biasanya tidak pernah liok-siokhu terpisah dari gegamannya itu, maka aku heran, kenapa ngo-bie-cie itu berada ditangannya penolongku yang tidak dikenal itu.

"Liok-siokhumu itu adalah sahabat karibku!" kata dia sambil tertawa. Ia tertawa beberapa kali, lalu dengan tiba- tiba mukanya jadi berperongos bengis. Tanpa merasa, aku menggigil saking heran, kaget dan jeri.

"Disini ada sebuah peti," katanya kemudian. "Aku ingin kau bawa pulang itu kerumah.Dan ini surat kau serahkan pada ayahmu, pada mamak dan pamanmu semua!" Dia menunjuk pada sebuah peti didalam perahu itu. Itulah peti yang besar sekali yang ditutup dan dipaku keras, lalu dilibat dengan dadung.

"Kau mesti pulang dengan lekas, jangan kau singgah ditengah jalan," dia pesan. "Peti ini mesti dibuka dengan tangan sendiri oleh mamakmu yang pertama!"

Aku terima baik pesan itu.

"Dalam satu bulan ini, aku akan datang berkunjung kerumahmu," dia berkata pula. "Kasih tahu pada semua tertua dirumahmu supaya mereka sambut aku secara baik- baik!"

"Itulah kata-kata tidak keruan juntrungannya, akan tetapi aku toh terima juga. Setelah memesan dan aku menerimanya, se-konyong-konyong dia sambar jangkar rantai dari atas perahu, hingga rantainya berbunyi berisik. Segera ia lemparkan itu, malah beruntun semua empat- empatnya jangkar."

"Bagus!" berseru Ceng Ceng tanpa ia merasa.

"Cis!" meludah Lam Yang, hingga ludahnya itu menodai lantai paseban,yang sangat bersih.

Sekitar paseban ditanami pohon kembang mawar, Ceng Ceng tanam itu dengan tangannya sendiri. Paseban itu, terutama lantainya, sangat bersih karena si nona sangat resik. Sekarang ia lihat paseban diludahi, ia jadi berduka.

Sin Cie tampak roman menyesal sahabatnya, ia ulur sebelah kakinya, akan gusak-gusak ludah itu.

Melihat kelakuan itu, si nona menoleh pada pemuda ini, agaknya ia sangat berterima kasih.

Un Gie lihat kelakuan dua anak muda itu, ia manggut dengan pelahan. Nyata ia puas dengan tingkah-laku pemuda itu.

"Terang dia telah perlihatkan tenaga besarnya padaku, tetapi aku tidak dapat terka apa artinya itu," Un Lam Yang melanjutkan untuk kesekian kalinya. "Dengan kekuatannya itu, dia telah bikin putus rantai-rantai jangkar. Kemudian Baru dia kata padaku: "Jikalau kau tidak lakukan pesanku ini, contohnya adalah ini jangkar!"

"Setelah itu, dia rogo sakunya, akan keluarkan sepotong goan-po kelantai perahu sambil berkata : "Inilah ongkos jalanmu!" Tanpa tunggu jawabanku, dia sambar dua potong gala, sepotong ditiap tangan. Ketika dengan tangan kiri ia tancapkan gala kedalam sungai, tubuhnya segera turut terangkat naik dan melayang ketengah air. Menyusul itu ia tancapkan gala yang kanan, tubuhnya turut melayang juga, sedang gala kiri, ia cabut, ia angkat, untuk ditancapkan pula kearah depan. Secara demikian, dalam beberapa gerakan saja, ia sudah sampai ditepian dimana ia letaki kaki seraya memutar tubuh. "Kau sambut ini!" ia berseru, menyusul mana dua batang gala ditimpuki kearah perahu. Aku tidak berani sambuti kedua gala itu, yang jadi nancap digubuk perahu. Selagi aku kaget dan kagum, dari tepian aku dengar seruannya yang panjang, lantas tubuhnya lenyap ditempat gelap."

"Sungguh gagah Kim Coa Long-kun," pikir Sin Cie.

Pemuda ini cuma memikir didalam hati, tidak demikian dengan si pemudi.

"Dia ada satu enghiong, satu hoo-kiat!" Ceng Ceng berseru dengan pujiannya. Enghiong atau hookiat adalah satu pahlawan atau orang gagah.

"Satu Enghiong ? Cis!" Un Lam Yang mengejek. Ketika itu aku pandang dia sebagai tuan penolong. Melihat sinar matanya, yang tajam dan bengis, dia rupanya sangat benci aku, akan tetapi aku mau percaya itulah tabeatnya yang kukoay, maka aku tidak memperdulikannya lebih jauh. Setelah itu aku lanjuti perjalanan pulang. Semua kuli, yang aku suruh gotong peti bilang, peti itu berat sekali. Aku duga, tentunya liok-siokhu peroleh untung besar, bahwa peti itu terisi emas dan perak dan mustika lainnya. Aku pun percaya, setelah dengan susah payah aku bawa pulang itu, semua paman dan mamak akan hadiahkan aku sedikitnya satu bagian dari harta itu. Maka juga, aku sangat bergembira. Ketika akhirnya aku sampai dirumah, yah,

302 mamak dan paman, semua puji aku, mereka katakan, Baru pertama kali aku pergi bekerja, aku telah peroleh hasil yang tidak dapat dicela..."

"Memang tidak dapat dicela!" Ceng Ceng menyelak dengan ejekannya.

"Sudah kau bunuh satu nona remaja, kau juga pulang dengan gondola sebuah peti besar!"

"Ceng Ceng, diam!" Un Gie melarang. "Kau dengarkan cerita pehhu."

Un Lam Yang tidak ladeni keponakannya itu.

"Malam itu kami berkumpul," demikian lanjutan penuturannya. "Lilin dinyalakan terang-terang di seluruh thia. Empat bujang gotong peti besar. Ayah beserta keempat mamak duduk ditengah ruangan. Aku sendiri adalah yang loloskan semua dadung, kemudian aku cabut setiap pakunya.

Aku masih ingat benar ketika toapehhu sambil tertawa berkata : "Entah lauliok kepincuk oleh si cantik siapa, ia sampai lupa daratan dan tak mau pulang, dia cuma suruh ini bocah bawa pulang petinya ini! Mari! Mari kita lihat mustika apa yang dia antar pulang!" Aku lantas buka tutup peti, diatas mana ada sepotong sampul surat yang ada tulisannya, yang berbunyi : 'Lima saudara Un harus buka bersama' Itulah huruf-huruf yang indah, yang bukan buah- kalam liok-siokhu. Aku serahkan surat itu pada toa pehhu.

"Toa pehhu sambuti surat tetapi ia tidak lantas buka untuk dibaca. "Coba lihat dulu, apa isinya bungkusan!" kata dia. Peti besar itu memang berisikan sebuah bungkusan besar sekali, yang atasnya diampar kertas. Bungkusan itu dijahit rapat. "Liok-teehu, coba ambil gunting, guntingi benang itu," toa pehhu kata pada encim yang keenam. "Aku heran, liok- tee boleh menjadi begini terliti..."

"Encim lantas ambil gunting, akan putuskan semua benang, sesudah mana, ia buka bungkusan itu. Dengan tiba- tiba dari dalam bungkusa menyambar tujuh atau delapan batang anak panah beracun..."

Ceng Ceng menjerit sendiri saking kaget.

"Itulah kepandaian yang umum dari Kim Coa Long- kun," kata Sin Cie dalam hatinya. Ia tidak jadi heran dan kagum seperti si nona.

"Mengingat kejadian itu, aku bersuku kepada Thian," Un Lam Yang kata dengan pujiannya. "Coba aku keburu napsu, aku yang buka bungkusan itu, mana jiwaku masih dapat hidup sampai sekarang ini? Semua gandewa itu mengenai dengan telak kepada tubuh encim keenam. Semua ada gandewa beracun yang liehay sekali, yang mengenai darah lantas menutup tenggorokan. Hampir tidak berseru lagi, encim keenam rubuh, anggauta tubuhnya semua berubah menjadi hitam. Dan ia mati tak berampun lagi!..."

Berkata demikian, Lam Yang menoleh pada Ceng Ceng. "Itulah perbuatan bagus dari ayahmu!" kata dia dengan

ejekannya. "Karena kejadian itu, seluruh thia menjadi

gempar. Ngo-siok lantas menyangka jelek padaku, dia suruh aku yang buka bungkusan besar itu. Dengan terpaksa, aku menurut. Aku berdiri jauh-jauh, aku buka bungkusan dengan pakai gala untuk menggaet dan menggower. Sukur tidak ada gandewa lainnya yang menyambar. Kau tahu, apa isinya bungkusan itu?" ia tanya si nona.

"Apakah itu?" Ceng Ceng balik tanya. Un Lam Yang kasi dengar suara nyaring ketika ia menjawab : "Itulah mayat encek keenam!"

Ceng Ceng kaget hingga parasnya menjadi pucat.

Un Gie rangkul puterinya itu, untuk dipeluki, untuk tetapkan hatinya.

Untuk sesaat, keempat orang berdiam semua.

"Coba bilang, dia kejam atau tidak?" kemudian Un Lam Yang mulai lagi, dengan pertanyaannya. "Sebenarnya sudah cukup dia bunuh lioksiokhu, maka apa perlunya dia bungkus mayatnya dan dikirim pulang secara demikian?"

"Kau tidak hendak sebutkan sebabnya kenapa dia berbuat demikian!" Un Gie sahuti kakak itu.

"Hm, kau tentunya anggap harus demikian," Lam Yang balas.

Un Gie memandang kelangit yang luas akan lihat bintang-bintang, agaknya ia tersemsem. Kemudian, sembari memandang puterinya, ia kata dengan pelahan : "Ketika itu, Ceng Ceng, aku berusia lebih tua satu tahun daripadamu sekarang ini. Akan tetapi aku masih bersifat seperti kanak- kanak, apa juga aku tak mengerti. Dirumah ini, semua mamak dan paman, tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. Aku tidak sukai mereka itu. Melihat mayat liok- siokhu, aku tidak berduka. Inilah aku bicara terus-terang. Aku melainkan heran, dia yang ilmu silatnya liehay, cara bagaimana dia kena dibinasakan! Aku umpatkan diri dibelakang ibu, aku tidak berani mengucap apa-apa. Kemudian adalah toapehhu yang membuka surat, untuk dibacakan dengan nyaring. Dua-puluh tahun sudah lewat tetapi aku masih dapat bayangi kejadian malam itu, toapehhu gusar hingga mukanya pucat, hingga suaranya menggetar. Aku ingat, beginilah dia membaca : "Kepada yang terhormat, Tujuh saudara Un dari Cio Liang Pay! Aku kirimkan bersama ini satu mayat lengkap, harap kamu suka terima dengan gembira.

Orang ini sudah perkosa encie kandungku, habis itu dia bunuh encieku itu, kemudian lagi, dia juga binasakan ayah, ibu dan dua saudara tuaku, hingga semua lima anggauta dari keluargaku mati terbunuh ditangannya! Melainkan aku sebatang kara yang bisa kabur meloloskan diri dari ancaman malapetaka hebat itu, untuk terus berkelana. Baru sekarang aku pulang, untuk menuntut balas! Hutang darah itu mesti ditebus sepuluh lipat, dengan cara demikian Barulah aku bisa puaskan hatiku. Aku mesti bisa bunuh lima-puluh jiwa anggauta keluargamu yang lelaki dan perkosa sepuluh anggauta perempuan ! Jikalau jumlah ini tak dapat aku penuhkan, aku sumpah tak mau aku menjadi manusia! Hormatnya Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie."

Habis membaca, Un Gie menghela napas lega.

"Engko Lam Yang, benar atau tidak liok-siokhu, telah bunuh semua anggauta keluarganya?" dia tanya Lam Yang.

Orang yang ditanya manggut.

"Kami ada bangsa laki-laki, kami sudah masuk Jalan Hitam," jawabnya dengan bangga," maka untuk kami, merampas harta-benda, membunuh orang dan membakar rumah adalah pekerjaan biasa! Liok-siokhu lihat wanita cantik, dengan jalan perkosa dia masih tak dapatkan maksudnya, kalau karenanya dia cabut golok dan membunuhnya, itu mungkin terjadi."

Un Gie menarik napas panjang.

"Kamu orang-orang lagi, diluaran kamu sudah lakukan kedosaan besar, kita orang-orang perempuan didalam rumah, mana kita dapat tahu? " "Sesudah baca surat itu, toapehhu tertawa berkakakan," demikian Un Lam Yang mulai pula dengan ceritanya. "Dia kata :" Dia hendak datang kemari, itulah bagus! Kalau tidak, kita mesti pergi cari dia! Kalau dia umpatkan diri, kemana kita mencarinya?"

"Walaupun toapehhu bilang demikian, ia tapinya berlaku teliti. Sejak malam itu, penjagaan diperkeras. Malah dua orang segera diutus ke Kim-hoa dan Giam-ciu untuk panggil pulang cit-siokhu dan pat-siokhu."

Sin Cie heran.

"He, kenapa mereka bersaudara sedemikian banyak?" pikirnya.

"Ibu," Ceng Ceng juga tanya," kiranya kami masih punyakan Cit-yaya dan Pat-yaya? Kenapa aku tidak tahu?..."

"Mereka adalah saudara cintong dari yayamu," terangkan Un Gie. "Memang, mereka itu tidak tinggal disini."

"Cit-siokhu tinggal di Kim-hoa, pat-siokhu di Giamciu," kata Lam Yang. "Mereka ada keluarga kita tetapi orang luar jarang yang ketahui. Akan tetapi Kim Coa Long-kun benar liehay. Begitu lekas cit-siokhu dan pat-siokhu berangkat menuju kemari, ditengah jalan mereka dipegat dan dibinasakan oleh dia. Dia sungguh seperti malaikat muncul dan hantu selam, entah kapan terjadinya, pada suatu malam dia telah masuk kedalam rumah kita, dia telah curi lima-puluh batang ciam yang kita biasa pakai diwaktu pungut panen. Setiap kali dia bunuh satu orang kita, ditubuh korbannya itu dia tancap sebatang ciam. Rupanya dia hendak wujudkan sumpahnya, sebelum dia binasakan lima-puluh orang kita, dia tidak mau berhenti. " "Dirumah kita ini sama sekali ada seratus orang lebih, cara bagaimana tak mampu kita melawan dia?" tanya Ceng Ceng. "Dia berjumlah berapa banyak orang?"

"Dia bersendirian saja," sahut Un Lam Yang. "Kancat itu belum pernah berani perlihatkan diri, kita juga tidak tahu dimana dia sembunyikan diri. Terang dia menantikan,asal ada orang kita yang mencil sendirian, lantas dia bunuh mati. Ayah jadi gusar berbareng sibuk, sampai ayah undang belasan orang Kangouw datang ke Cio-liang ini, untuk setiap hari atau malam berpesta besar disini, guna tunggui kancat itu. Diluaran juga kita sudah tempelkan surat-surat pengumuman, akan tantang dia secara berterang, untuk satu pertempuran yang memutuskan. Akan tetapi tak mau dia terima tantangan kita itu. Melihat kita berjumlah banyak, dia tidak pernah datang-datangpula. Maka itu, selang setengah tahun, sahabat-sahabat kangouw itu pada pamitan pulang satu demi satu. Tapi, begitu lekas rumah kita sepi, engkoh yang ketiga dari kamar kedua dan adik lelaki kesembilan dari kamar kelima telah kedapatan mati tenggelam didalam empang, pada tubuh mereka tertancap masing-masing sebatang ciam. Nyata sekali, kancat itu pandai sekali mengatasi diri, ia bisa menanti dengan sabar sampai berbulan-bulan, akan datang pula disaat pilihannya. Sejak itu beruntun selama sepuluh hari, setiap harinya ada saja orang kita yang binasa sebagai korbannya, sampai di Cio- liang ini, tukang-tukang peti-mati kehabisan peti untuk merawat korban-korban itu, hingga kita mesti pergi beli peti dikota Kie-ciu. Tentu saja, terhadap orang luar, kita siarkan berita bahwa kita terganggu iblis jahat dan penyakit hebat. Adik Gie, kau tentunya masih ingat baik-baik itu hari-hari yang menggiriskan?" "Ketika itu, seluruh desa pun gempar saking ketal," Un Gie jawab. "Rumah kita telah dijaga dan dirondai setiap siang dan malam, malah ayah bersama semua yaya meronda juga dengan bergiliran, sedang semua orang perempuan dan anak-anak pada sembunyikan diri didalam rumah, tidak ada yang berani keluar dari pintu hek sekalipun satu tindak."

"Walaupun demikian," menyambung Lam Yang dengan gigi bercatrukan," kedua enso dari kamar keempat, pada suatu malam lenyap dua-duanya, diculik diluar tahu kita. Kita sudah menduga, mereka itu tentu bakal terbinasa ditangan si kancat, siapa tahu selang satu bulan lebih, kedua enso itu telah berkirim surat dari Yangciu dalam mana mereka memberi tahu bahwa oleh si kancat mereka sudah dijual dirumah hina dimana mereka dipaksa mesti melayani tetamu-tetamu lelaki selama satu bulan. Su-yaya menjadi demikian mendongkol, sehingga ia rubuh pingsan. Tidak bisa lain, terpaksa kita kirim orang dan uang ke Yangciu untuk tebus kedua enso itu..."

Sin Cie bergidik sendirinya.

"Hebat pembalasannya Kim Coa Long-kun," pikir ia. "Memang ia harus balaskan sakit hati ayah, ibu, encie dan kedua engkohnya, akan tetapi setelah musuh besarnya sudah terbinasa, sikap selanjutnya ini rada keterlaluan..."

Pemuda ini goyang-goyang kepala.

"Yang paling hebat," menyambung pula Un Lam Yang," setiap perajaan Toan-ngo, Tiong Ciu dan penutup tahun, dia tentu-tentu kirimkan kami sepucuk surat berikut sepotong surat perhitungan dalam mana dia peringati bahwa kami masih berhutang beberapa jiwa lelaki dan beberapa orang perempuan. Cio Liang Pay telah malang- melintang di Kanglam beberapa puluh tahun lamanya, sekarang mereka dipermainkan secara begini rupa oleh dia satu orang, bagaimana kami tidak berduka dan lelah? Mau kita menuntut balas, akan tetapi musuh sangat licin dan gagah. Ayah dan beberapa paman pernah tempur dia secara perseorangan, semuanya bukan tandingan dia itu. Maka juga pihak kami jadi putus asa, kita cuma bisa ambil putusan akan bela diri secara beramai-ramai. Asal kita menjaga dengan keras, dia tidak pernah muncul, sampai bulanan pun tidak. Kalau kita alpa, lantas dia muncul dan bekerja. Demikian selama dua tahun, besar dan kecil, sama sekali dia telah binasakan tigapuluh delapan jiwa. Ceng Ceng, hayo bilang, pantas atau tidak kita benci dia?"

"Kemudian bagaimana?" tanya si nona, yang tidak jawab pertanyaan mamak itu.

"Baik ibumu saja yang melanjuti," sahut sang mamak dengan lesu.

Sampai disitu, Un Gie awasi Sin Cie, wajahnya berduka.

"Wan siangkong," katanya dengan pelahan," kau telah rawat jenasah dia, maka sekarang, apa jua boleh aku tak usah sembunyikan kepadamu. Hanya aku minta sebentar, tolong kau tuturkan aku perihal meninggalnya dia itu, supaya kita ibu dan anak mendapat tahu, dengan begitu. "

Nyonya ini tidak bisa bicara terus, ia menangis sesenggukan, sehingga ia mesti menunda beberapa detik untuk legakan hati.

"Ketika itu aku tidak tahu kenapa dia demikian kejam, malah aku tidak ingin mengetahuinya," kemudian nyonya Hee ini mulai dengan keterangannya. "Ayah larang aku keluar dari pekarangan rumah walaupun setindak juga, aku jadi sangat masgul. Maka itu setiap hari aku cuma bisa memain didalam taman. Malah ayah bilang, tanpa ada beberapa engko yang temani, siang pun orang perempuan dilarang berkeliaran didalam pekarangan."

"Dalam bulan ketiga, selagi bunga-bunga mekar indah dan harum baunya, ingin aku pergi kebukit untuk tengok pohon-pohon bungaku, apamau disebabkan sepak terjangnya Kim Coa Long-kun itu, tak dapat aku puasi hatiku, aku mesti dikeram didalam rumah. Pernah aku memikir untuk membolos sendirian akan tetapi aku tidak berani karena bengisnya ayah."

"Pada suatu hari aku pergi memain didalam taman, bersama encie ketiga dari kamar kedua serta enso dari kamar kelima. Bersama kita ada engko Lam Yang serta kaupunya engko Liam Cu. Jadi kita ada berlima. Dengan gembira kita main ayunan, yang diayun makin lama makin tinggi, hingga kita bisa melihat keluar tembok pekarangan dimana tertampak pohon-pohon yangliu yang hijau-segar serta bunga-bunga toh yang gompiok-indah."

"Disaat kita sedang bergembira, se-konyong-konyong engko Liam Cu menjerit sekali, Begitu lekas kita memeriksa, nyata dadanya engko Liam Cu itu telah tertikam sebatang bor Kim-coa-coie, hingga ia habis nyawanya seketika juga. Engko Lam Yang! Aku ingat betul, kau sudah lantas lari masuk kedalam rumah, kau tinggalkan kita bertiga berada didalam taman!"

Mukanya Lam Yang menjadi merah.

"Seorang diri aku tidak dapat lawan dia, apa itu bukan berarti aku akan antari jiwa secara kecewa?" katanya, untuk bela diri: "Aku lari ke dalamuntuk minta bantuan..."

Un Gie tidak gubris bantahan saudara itu, ia lanjuti ceritanya: "Selagi aku bingung karena belum tahu duduknya perkara, tiba-tiba seorang berkelebat diatas tembok, dia lompat turun kebawah, tepat kepadaku, yang masih berdiri

311 diatas ayunan. Dengan sekuat tenaga, ia ayun ayunan itu, lalu ia peluk pinggangku. Aku rasakan seperti aku terbang melayang ditengah udara, aku percaya kita berdua bakal jatuh mati. Kakiku tidak injak lagi papan ayunan."

"Orang itu cekal aku dengan tangan kiri, ketika ia turun diluar tembok, tangan kanannya sambar secabang pohon yangliu, habis mana, dengan turuti cabang yang meroyot turun, ia turun ketanah, dengan begitu, aku terhindar dari bahaya. Dalam bingung, aku pukuli dia pada mukanya. Ketika ia tekan pundakku, lantas seluruh tubuhku jadi lemas, akan kemudian lenyaplah tenagaku. Tapi aku dengar suara berisik dibelakangku. Itulah orang-orang yang susul aku.

"Tidak antara lama, siraplah suaranya sekalian pengejar itu. Terang mereka telah ketinggalan jauh. Masih aku dibawa lari terus, sampai akhirnya kita berhenti disebuah gua dilamping jurang yang nampaknya seperti jurang tergantung. Sampai disitu, dia totok pula padaku, hingga aku jadi dapat pulang tenagaku. Ia awasi aku sambil bersenyum menyengir."

"Tiba-tiba aku ingat kedua enso yang bernasib malang. Maka aku pikir, daripada terhina, lebih baik aku binasa. Begitulah aku loncat, akan benturkan kepalaku kebatu gunung. Dia lihat sikapku itu, dia kaget, dia lantas jambret bebokongku. Cegahan ini membikin gagal kenekatanku itu. Tapi aku telah kena bentur juga batu, tidak keras, karena mana, aku jadi dapat ini tanda. "

Un Gie tunjuki jidatnya, dibagian ujung, yang ketutupan rambut, dimana ada satu cacat, melihat mana, waktu itu lukanya itu tentu bukan enteng. Ia menghela napas.

"Coba itu waktu dia tidak jambret aku, coba dia antap aku benturkan diri, hingga aku terbinasa, urusan tidak bakal jadi berlarut-larut. Untuk dia sendiri, mungkin itu ada banyak baiknya. Tapi karena dia berhasil mencegah aku, dia justru jadi terancam, Karena lukaku itu, aku pingsan, ketika kemudian aku sadar, aku dapati aku sedang rebah diatas sepotong permadani didalam gua itu. Aku kaget hingga hampir aku pingsan pula, Baru hatiku lega apabila aku dapati kenyataan, pakaiannya rapi seperti tadinya. Mungkin karena melihat aku nekat, jangkitlah yang jernih, dia tidak ganggu aku," kata nyonya ini.

0o-d.w-o0