-->

Pedang Ular Emas Bab 05

Bab ke 05

Si kurus ini tidak lihat Sin Cie sudah sadar, dua kali dia perdengarkan tertawanya yang seram, lantas dia sentil sumbu lilin, untuk dibuang ujungnya, hingga apinya menjadi menyala terang sekali. Dia hampirkan meja, untuk balik lembarannya kitab "Kim Coa Pit Kip", lantas ia membaca. Suara bacaannya menyatakan ia ada sangat gembira dan puas, tubuhnya pun bergerak-gerak sedikit.

Beberapa lembaran pula dibalik, antaranya ada halaman yang seperti nempel, lantas ia tempelkan jari tangannya di lidahnya, untuk dengan jari yang basah, bisa ia buka lembaran itu. Ia menyolet ludah di lidahnya sampai beberapa kali.

Sin Cie tetap mengintai, sampai tiba-tiba ia ingat, kitab itu ada racunnya. Dia duga, si kurus ini tentu bakal keracunan. Tanpa merasa, saking kaget, ia perdengarkan seruan tertahan.

Si kurus dengar suara orang, ia menoleh dengan segera justru Sin Cie sedang buka kedua matanya, maka dapatlah ia lihat sinar mata yang seperti ketakutan dari si anak muda. Ia lantas berbangkit, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan tubuhnya si kepala gundul, untuk cabut pisau belati dari bebokongnya korban itu. Habis ini, dia dekati dua tindak pada Sin Cie.

"Kita berdua tidak bermusuhan akan tetapi hari ini tak dapat aku beri ampun padamu!" kata dia dengan suara bengis, kedua matanya pun bersinar mengancam, kemudian sembari angkat pisau belatinya, ia tertawa secara iblis, sampai dua kali.

"Jikalau aku lantas bunuh kepadamu, sampai di akhirat, kau nanti belum tahu sebab-musababnya," berkata dia, yang sikapnya sangat mengancam. "Aku ada Thio Cun Kiu dari Cio Liang Pay dari Kie-ciu, Ciatkang. Pihak kami Cio Liang Pay dengan Kim Coa Long-kun ada musuh mati- hidup. Dia telah perkosa satu adik perguruan kita jang perempuan, dia kabur kemari, untuk belasan tahun kami cari dia ubak-ubakan, siapa tahu, warisannya telah terjatuh kedalam tanganmu, bocah! Entah ada hubungan apa kau dengan Kim Coa Long-kun, yang terang kau pasti bukan orang baik-baik, maka itu, jikalau aku binasakan kau, tak nanti kau penasaran, tapi umpama kau hendak menuntut balas setelah kau jadi hantu, kau boleh cari aku di Kie-ciu! Ha-ha-ha-ha!..."

Si kurus ini belum tutup mulutnya atau sekonyong- konyong dia limbung, tubuhnya sempoyongan kearah si anak muda. Sin Cie kaget, ia tahu ini adalah saat mati atau hidupnya, dalam saat bahaya itu, ia kerahkan tenaganya, ia berontak, hingga belengguannya pada putus, bambunya menerbitkan suara nyaring, setelah mana dia berlompat maju, untuk mendahului menyerang.

Tiba-tiba orang itu terjengkang, terus tubuhnya rubuh sendirinya.

Sin Cie heran, walaupun ia batal menyerang, ia toh lantas bersiap. Ia cekal sisa tambang, untuk digunakan sebagai senjata. Ia bertindak mendekati, untuk melihat tegas.

Si kurus-kering itu kejutkan dua kakinya, lantas seluruh tubuhnya diam, tak berkutik lagi, menyusul mana dari kedua matanya, dari hidungnya, dan kupingnya, terutama dari mulutnya, lantas mengalir keluar darah hidup yang hitam. Maka sekarang teranglah dia telah mati keracunan, racun yang berbisa dari halaman-halaman kitab Kim Coa Long-kun, yang tadi dikenakan jari tangannya si kurus sendiri.

Segera Sin Cie loloskan semua libatan tambangnya, lantas ia lari keluar kamarnya, kekamar luar dimana ia dapatkan A Pa sedang terbelenggu, kedua matanya terbuka lebar, tubuhnya tak bergeming. Maka ia lantas tolong si gagu itu.

Juga disitu Tay Wie dan Siau Koay pada menggeletak, melihat mana, Sin Cie berkuatir sekali, ia kuatir kedua binatang piaraannya itu telah terbinasa karena tangan jahat musuh. Ia lantas cari air, dengan itu ia banjur dua orang hutan itu.

Tidak antara lama, kedua binatang itu mulai berkutik kaki tangannya, tandanya keduanya sudah sadar, hingga hati majikannya jadi lega. "Apa jang telah terjadi?" tanya Sin Cie kepada A Pa.

Si empeh gagu, dengan tanda-tanda tangannya, tuturkan bahwa ia kena dibokong hingga ia jadi tertawan tanpa berdaya.

Sin Cie mengerti, ia tidak bilang suatu apa.

Besoknya, setelah terang tanah, kedua mayat dibawa keluar, untuk dikubur, sesudah mana, Sin Cie pun lempar peti besi yang besar itu kedalam lobang kuburan itu. Ia anggap itu adalah peti pembawa bencana.

Malamnya, sedang beristirahat, Sin Cie bergidik sendirinya apabila ia bayangi pengalamannya yang sangat berbahaya itu.

Tatkala peti besi didapatkan, bocah ini baru berumur dua-belas tahun, berselang delapan tahun, hingga sekarang ia jadi satu pemuda, ia telah lupakan peti besi itu, akan tetapi sekarang, melihat si pendeta dan si kurus demikian inginkan peti besi itu, hatinya jadi bercekat.

"Mestinya Kim Coa Pit Kip ada berharga sekali," ia menduga-duga. "Kenapa mereka mencari terus-terusan sampai lima-belas tahun? Kenapa mereka jadi adu jiwa karenanya? Apakah itu yang tertulis dalam kitab tersebut?"

Lama Sin Cie terganggu oleh semua itu, akhirnya ia seret keluar peti besi yang kecil, jang ia letaki dikolong pembaringan, disebelah dalaman peti jang besar. Sebab ditaruh disebelah dalaman, peti ini kealingan dan jadi tak terlihat si pendeta, perhatian siapa sebaliknya telah ditumplak semua kepada peti yang besar itu terutama isinya. Peti ini telah bergala gasi dan berdebu. Dari dalam peti ini, ia keluarkan kitab yang tulen. Ia balik-balik halamannya, untuk memperhatikan semuanya dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ilmu pukulan dan mainkan senjata rahasia, buku itu beda dari pelajarannya Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin, beda dalam hal "kelicinannya".

"Hampir saja aku bercelaka ditangan manusia jahat," pikir dia sambil terus perhatikan isi kitab itu. "Kalau nanti aku berkelana, bagaimana aku mesti layani orang-orang semacam si kurus dan si gundul ini? Kenapa aku tak mau yakinkan ini, sedikitnya untuk pembelaan diri? Sebagai tambahan pengetahuan, ini pun pasti ada berharga sekali?..."

Karena memikir begini, Sin Cie segera membaca dengan teliti, ia perhatikan gerak geriknya peta. Tiga hari ia membaca terus menerus, ia dapat kenyataan bagaimana bedanya itu dengan pengajaran gurunya, malah tak pernah ia dengar gurunya menuturkan tentang ini macam ilmu silat yang asing baginya. Tapi ia cerdik, otaknya cerdas, walaupun tanpa guru dengan membaca saja, kemudian ia dapat jalankan pelbagai ilmu pukulan menurut kitab tersebut. Hanya ketika ia menyakini sampai dihari kelima, ia hadapi kesukaran, ialah dibagian pelajaran tanpa peta.

"Baik aku menunda dulu," pikir Sin Cie. Dan ia baca bagian ilmu silat pedang "Kim Coa Kiam-hoat", terus ia melatih diri. Mulanya ia dapatkan jalan dengan baik, hanya lama-lama, ia tidak ketemu jalan. Mendadakan ia ingat ukiran gambar-gambar ditembok kamar Kim Coa Long Kun, si Ular Emas. Tidakkah semua gambar itu ada hubungannya sama ini? Ingat ini, tak peduli waktu lagi, Sin Cie cari A Pa. Ia bekal tambang dan obor, ia ajak kawan itu pergi ke jurang, hingga dilain saat, ia sudah berada di dalam gua Kim Coa Long-kun. Karena mulut terowongan telah dibesarkan, dengan gampang ia bisa masuki tubuhnya.

Sampai didalam gua, Sin Cie suluhi tembok, terus ia awasi, ia perhatikan sesuatu  gerakan tangan dan  kaki.

180 Dasar ia berotak terang, lantas ia dapat kenyataan, itulah ada gambar penjelasan untuk bunyinya kitab bagian yang ia tidak mengerti. Maka bukan main girangnya ia.

Tak tempo lagi, pemuda ini berlatih didalam kamar itu sambil ia ikuti sesuatu petunjuk dari setiap ukiran. Kesudahannya ia jadi sangat girang. Satu kali ia dapat menjalankannya, terus ia ulangi dan ulangi lagi, sampai ia ingat betul.

"Terima kasih!" kata ia kepada Kim Coa Long-kun, dimuka kuburan siapa ia bersoja kui dua kali.

Pemuda ini hendak berlalu ketika ia tampak pedang aneh dari Kim Coa Long-kun, jang masih menggeletak dipinggiran, yang tadinya ia tidak perhatikan. Pedang itu rada bengkung bagaikan ular melilit diri, ekornya adalah yang merupakan gagangnya, sedang ujungnya, jang tajam, bercagak dua seperti lidah ular. Cagak ini bisa dipakai menikam berbareng menggaet senjata lawan.

"Tentu A Pa pikiri aku," pikir Sin Cie, jang terus jumput pedang itu, untuk dibawa keluar, begitu juga sejumlah Kim Coa Cui, senjata rahasia jang merupakan sebagai bor istimewa.

Dimuka terowongan masih ada melintang sepotong batu, yang agak menyulitkan untuk orang merayap keluar, iseng- iseng Sin Cie gunai pedangnya akan bacok batu itu. Untuk keheranannya, untuk kegirangannya, begitu ditabas, batu itu sapat! "Aha!" berseru pemuda ini. Itulah sebatang pedang mustika! Ketika ia coba menusuk, batu pun dapat ditikam bagaikan kayu saja! Bukan main girangnya pemuda ini, maka itu, ketika ia telah kembali kerumah, tidak buang tempo lagi, ia terus berlatih pula dilapangan peranti dia belajar silat. Mulanya ia jalankan ilmu pedang Hoa San Pay ajaran gurunya, nyata pedang aneh itu cocok untuk dipakai, akan tetapi kapan ia telah mencoba Kim Coa Kiam-hoat, kegirangannya meluap.

Selanjutnya, untuk belasan hari, tak ada bosannya, Sin Cie yakinkan semua pengajaran dalam kitab dari Kim Coa Long-kun, pelajaran senjata rahasia Kim-Coa-cui pun tak dilupakan, yang tak kalah liehaynya dengan ajaran Bhok Siang Toojin.

"Mungkin Kim Coa Long-kun tersesat tapi ia harus dikagumi," pikir Sin Cie, jang jadi menaruh harga kepada jago yang telah marhum itu.

Mempelajari kitab terlebih jauh, tiga halaman yang terakhir membuat Sin Cie pusing kepala. Ia membaca, ia melatih, tidak juga ia ketemu jalan. Ia memahami, ia tidak berhasil. Toh ia merasa, ia tak salah mengertikannya. Begitu beda itu dengan pelajaran gurunya... Malamnya, selagi rebahkan diri diatas pembaringannya, Sin Cie pikirkan kitab rahasia itu. Ia lihat sinar rembulan yang indah masuk dari jendela. Ia menghitung-hitung. Duapuluh delapan hari telah lewat dengan lekas sejak pergi gurunya.

"Lagi dua hari, aku mesti susul suhu," ia pikir. Tiba-tiba ia ingat sikap Thio Cun Kiu yang telengas. "Kitab ini sangat luar biasa, apabila ini terjatuh dalam tangan orang jahat, bahayanya untuk umum besar sekali. Kenapa aku tidak bakar saja?"

Sin Cie tidak berpikir lama dan segera ia ambil putusan. Ia turun dari pembaringan, akan sulut lampu, lalu ia ambil Kim Coa Pit-kip, tidak sangsi lagi, ia bakar itu.

Sekian lama, api menyala, membakar kitab, akan tetapi aneh, selagi semua lembaran habis hangus menjadi abu, adalah halaman kulitnya utuh, cuma hitam saja. "Aneh," pikir pemuda ini, apapula ketika ia coba beset, ia tak berhasil, sedang kedua tangannya kuat. Karena ini, ia perhatikan lebih jauh kulit buku itu, dipencet-pencet, disentil-sentil.

Segera ternyata, kulit buku itu terbuat dari tembaga campur emas dan dilapis entah dengan bulu apa dan juga lapis dua, mirip dengan baju kaos pelindung diri dari Bhok Siang Toojin, hanya ini ada terlebih tipis.

Dengan gunai pisau, Sin Cie coba korek akan buka kedua lapisan kulit buku itu. Untuk keheranannya, didalam situ ia dapatkan dua lembar kertas, yang ia lantas tarik keluar. Dihalaman depan, ia lihat tulisan bunyinya : "Gambar dari barang berharga." Dipinggiran itu ada peta- bumi serta banyak tanda-tanda. Dibelakang peta itu terdapat tulisan yang sebagai berikut bunyinya : "Siapa dapatkan harta, diminta dia pergi ke Cio-liang di Kie-ciu, Ciatkang, untuk cari Un Gie, untuk dihadiahkan uang sepuluh ribu tail."

"Sungguh jumawa!" pikir Sin Cie, karena jumlah itu besar sekali.

Sekarang pemuda ini periksa kertas yang kedua, yang memuat gambar ilmu pukulan, apabila ia telah periksa dengan hati-hati, ia sadar. Ini adalah gambar penjelasan untuk bagian ilmu silat didalam "Kim Coa Pit Kip", yang sampai sebegitu jauh masih kurang jelas untuknya, hingga tak dapat ia melatih diri dengan itu. Maka sekarang kegirangannya jadi meluap, hingga ia akhirnya menghela napas saking kagumi silat yang terrahasia itu. Terang telah disengaja, penjelasan didalam kitab dibikin kurang jelas dan itu Barulah terang apabila ini penjelasan dalam lipatan kulit halaman sudah diketemukan. Bagaimana hebat! "Coba peta bumi ini tak didapatkan, atau didapatkannya oleh orang tolol, bukankah harta besar itu bakal terus tak kedapatan?" pikir Sin Cie.

Dua lembar kertas itu diselipkan pula kedalam kulit kitab dan disimpan.

Masih Sin Cie rajin berlatih, sampai lewat lagi dua hari, sesudah mana, ia siapkan satu buntalan sederhana, untuk ia berangkat susul gurunya. Ia ambil selamat berpisah dari A Pa, siapa antar ia sampai ditengah gunung. Si empeh gagu ajak kedua orang hutan.

Berat Sin Cie merasa akan, setelah sepuluh tahun, mesti berpisah dari A Pa, dari kedua binatang piaraannya juga. A Pa sendiri ada masgul. Tapi juga kedua orang-hutan itu mengerti, keduanya pegangi tangannya si anak muda, keduanya berpekik. Mereka ini menahan orang berangkat.

Sin Cie terharu.

"Aku mesti bawa mereka!" pikir dia, setelah mana, ia bicara dengan tangan pada A Pa.

A Pa merasa berat tetapi ia kasih kedua binatang itu dibawa, maka itu, ketika ia turun gunung, Sin Cie diiring oleh dua binatang liar itu.

Inilah untuk pertama kali Sin Cie turun gunung, tidak heran apabila ia merasa asing dan lihat segala apa seperti baru baginya. Ketika pada suatu hari ia sampai di Shoasay, ia lihat gerakan tentara disana-sini dan disetiap tempat penting ada penjagaan tentara sukarela, yang melakukan pemeriksaan keras kepada orang-orang yang berlalu-lintas.

Di sebuah pos, apabila tentara yang menjaga dapat tahu, pemuda ini hendak menghadap Giam Ong, tak ayal lagi, satu serdadu diperintah mengantarnya ke markas besar dari Lie Cu Seng, sang jenderal. Sebab Sin Cie sebut dia muridnya Bok Jin Ceng, Lie Cu Seng keluar sendiri untuk menyambut, walaupun ia sedang repot.

Sin Cie kagum akan lihat pemimpin tentara ini mengenakan pakaian sederhana tetapi romannya gagah. Ia pun puas akan penyambutan manis dari pemimpin ini. Rupanya Bok Jin Ceng telah pujikan muridnya ini kepada kepala perang itu, hingga dia ini tidak berani mengabaikannya.

"Sayang gurumu sedang pergi ke Kanglam," Giam Ong terangkan kapan tetamunya tanya tentang Bok Jin Ceng.

Sin Cie menyesal, lantas hilang kegembiraannya, apalagi sesudah ia tanyakan Cui Ciu San, sahabat atau gurunya yang pertama itu, ia diberi keterangan, Ciu San pun ikut Jin Ceng ke Kanglam, untuk kumpul rangsum tentara.

"Hendak aku susul suhu," Sin Cie nyatakan. "Nanti, setelah bertemu sama suhu, aku akan kembali kemari untuk membantu."

Lie Cu Seng lihat orang berniat tetap, ia tidak mencegah.

"Kau temani dia bersantap," kepala perang ini kata pada Lie Gam, sebawahannya yang berpangkat Tie-ciangkun. Ia pun bekalkan uang sepuluh tail, uang mana Sin Cie tak berdaya menampiknya maka ia haturkan terima kasih.

Lie Gam ada ramah-tamah, melihat orang bawa-bawa orang-hutan dan pedangnya pun luar biasa, pedang mana bisa menarik perhatian orang, sedang cara dandannya si anak muda pun tak seperti orang kebanyakan, ia kasih pedang itu dititipkan didalam tangsi, sementara dilain pihak, ia lantas siapkan dua perangkat pakaian peranti mahasiswa. Sin Cie anggap pikiran itu baik, ia suka menurut, maka demikian ia tukar dandanan dalam perjalanannya ke selatan.

Pada suatu hari sampailah pemuda kita di Giok San sebelah timur dari Kangsay, habis bersantap, ia pergi kepelabuhan, akan sewa perahu untuk melanjutkan perjalanan kearah timur. Ia dapati sebuah perahu besar, yang tukang perahunya doyan persenan, sedang penyewanya, saudagar Liong Tek Lin asal Siang-jiau, Ciatkang, untuk beli barang, tak keberatan, karena dia lihat, pemuda itu ada satu siucay.

Disaat tukang perahu hendak jalankan perahunya, ditepian berlari-lari seorang anak muda sambil dia berkaok- kaok minta dikasi menumpang untuk ke Kie-ciu, katanya dia ada urusan sangat penting dikota itu.

Sin Cie ketarik mendengar suara nyaring orang tetapi halus. Iapun heran akan tampak wajah orang itu.

"Apa benar ada satu pemuda begini ganteng romannya?" memikir dia.

Pemuda itu berumur delapan atau sembilan-belas tahun, kulitnya putih halus, mukanya bersemu dadu, buntalannya tergendol dibelakangnya.

Liong Tek Lin merasa suka kepada anak muda itu, ia berikan perkenannya, maka tukang perahu lantas pasang papan tangga, untuk orang naik kedalam perahunya.

Begitu lekas orang menaruh kedua kakinya diatas perahu, Sin Cie terkejut. Ia merasakan bagaimana perahu mendadakan seperti melesak kedalam air. Ia heran sebab si pemuda itu kurus dan berat tubuhnya tak ada seratus kati. Kenapa dia ada begitu berat? Buntalannya juga tak besar. Sesampainya didalam perahu, pemuda itu beri hormat pada Tek Lin dan Sin Cie, ia menghaturkan terima kasih. Ia bilang she-nya Un dan namanya Ceng, bahwa ibunya dikabarkan sakit, ia hendak lekas-lekas pulang untuk menyambanginya.

Nampaknya pemuda ini menaruh perhatian kepada Sin Cie.

"Mendengar suaramu, saudara Wan, kau mestinya bukan penduduk sini?" tanyanya kemudian.

"Aku asal Kwietang, tetapi dibesarkan di Siamsay," sahuti pemuda kita. "Inilah untuk pertama kali aku pergi ke Kanglam."

"Ada urusan apa saudara datang ke Ciatkang?" tanyanya pula.

"Untuk menyambangi sanak saja," terang Sin Cie.

Selama itu perahu mereka asyik berlayar. Tiba-tiba dua buah perahu kecil, jang dikayuh cepat, lewat melesat dikedua samping. Un Ceng awasi kedua perahu itu, yang lenyap disebelah depan diantara tikungan, lalu kealingan bukit.

Disaatnya bersantap tengah hari, saudagar Liong baik budi, ia undang kedua anak muda itu dahar bersama, Sin Cie makan tiga mangkok, Un Ceng cuma satu. Selama itu, gerak-gerik pemuda she Un ini ada halus.

Boleh dibilang Baru mereka habis bersantap, terdengarlah suara air dikayuh, lalu terlihat dua buah perahu lewat disamping, dari sebuah diantaranya, seorang yang bertubuh besar, yang berdiri dikepala perahu, melirik beberapa kali. Menampak sikapnya orang diperahu kecil itu, alisnya Un Ceng berdiri dengan tiba-tiba, matanya bersinar, wajahnya berubah menjadi padam.

Heran Sin Cie akan lihat wajah orang itu.

"Dia begini muda dan cakap, mengapa romannya berubah sengit begini?" pikirnya.

Un Ceng dapat lihat keheranannya ini kenalan Baru, ia bersenyum, lantas wajahnya pulang asal, sikapnya tetap lemah-lembut.

Sebentar kemudian, tukang perahu datang menyuguhi air teh.

Un Ceng minum secegluk, mungkin ia anggap teh itu kasar, ia kerutkan alis, lalu cawan teh diletakinya diatas meja.

Sin Cie keluar merantau untuk pertama kalinya, kecuali segala pengetahuan yang didengar dari penuturan kedua gurunya, serta nasehat-nasehatnya mereka ini, begitupun sedikit pengalaman diwaktu belum berusia sepuluh tahun, ia belum punyakan pengalaman lainnya, akan tetapi disebelah itu, ia cerdik, otaknya hidup. Maka itu, ia duga, mungkin ada hubungan apa-apa diantara pemuda itu serta keempat buah perahu kecil, entah urusan apa itu.

Kedua perahu kecil itu lewat terus.

Mendekati sore, perahu besar berlabuh disebuah dusun. Sin Cie ingin mendarat, untuk pesiar. Tek Lin menolak, katanya tak dapat dia tinggalkan barang-barangnya.

"Ditempat tegalan sebagai ini, apa yang bisa dilihat?" nyatakan Un Ceng seraya ia mainkan bibirnya secara memandang enteng, agaknya ia hendak menyindir. Sin Cie jujur, ia anggap orang jumawa, ia tidak memperdulikannya, malah ia bersenyum, lalu ia mendarat seorang diri. Ia jalan-jalan sebentar, ia minum beberapa cawan arak, setelah beli sedikit bebuahan, ia pulang keperahu, niatnya mengundang Tek Lin dan Un Ceng, tapi dua orang itu sudah masuk tidur, maka iapun lantas rebahkan diri.

Pada tengah malam, dari kejauhan terdengar suara suitan samara-samar. Sin Cie getap, ia lantas mendusin. Diam-diam ia rapikan pakaiannya.

Tidak lama dari arah hilir terdengar suara pengayuh mengenai air, terang ada perahu lagi mendatangi. Tiba-tiba Un Ceng mendusin, ia berbangkit akan duduk dengan mendadak. Nyata ia tidur tanpa buka pakaian. Dari bawah selimut, dia hunus sebatang pedang jang panjang. Dengan membawa itu, ia memburu ke kepala perahu.

Sin Cie terkejut dan heran.

"Apa mungkin dia pengintai bajak?" menduga dia. "Mungkin orang hendak kerjakan saudagar she Liong ini? Aku tidak boleh peluk tangan saja. "

Sin Cie titip pedangnya kepada Lie Gam, dia cuma bekal pisau belati dan biji-biji caturnya, maka itu ia turun dari pembaringan dengan bawa pisaunya itu.

Segera ternyata, perahu yang mendatangi sudah datang dekat. Dari perahu itu lantas terdengar satu suara kasar : "Orang she Un, apa benar kau tidak hargakan persahabatan kangouw?"

"Kalau hargakan bagaimana? Kalau tidak, bagaimana?" tanya si anak muda. "Dengan susah payah kami menguntitnya dari Bu-han, kau sendiri enak-enakan memegat ditengah jalan dan memakannya sendiri!" jawab orang itu.

Liong Tek Lin mendusin karena suara berisik itu, ia mengintip keluar, untuk kagetnya, sampai tubuhnya bergemetar, ia tampak empat buah perahu kecil, yang obornya dipasang terang-terang. Ia tampak orang-orang dengan pelbagai alat-senjata terhunus.

"Jangan takut, inilah bukan urusanmu," Sin Cie menghibur. Ia lantas menduga kepada duduknya perselisihan itu.

"Apa...apa mereka bukannya bajak?" tegasi Tek Lin. Ia tidak dapat jawaban hanya ia dengar suara nyaring dari Un Ceng: "Harta dikolong langit ada kepunyaan umum! Mungkin emas ini kepunyaanmu sendiri?" demikian pemuda ini.

"Kau keluarkan itu dua ribu tail emas, kita bagi dua, perkara habis," bilang orang didalam perahu kecil. "Kami suka berbuat baik kepadamu..."

"Fui!" Un Ceng menghina. "Kau mengharap demikian?

Hm!"

Dua orang lain, yang romannya pun gusar, berkata pada orang yang pertama bicara: "See Toako, buat apa adu mulut dengan anak biadab itu?" Lalu keduanya loncat naik ke perahu besar.

Tek Lin sedang ketakutan, melihat orang bersenjata naik keperahunya, ia kaget tak terkira.

"Wan...Wan Siangkong, mereka turun tangan!..." menjerit dia.

Sin Cie tarik mundur saudagar itu. "Jangan takut, ada aku," ia menghibur.

Justru itu Un Ceng telah bergerak untuk papaki kedua orang itu, kaki kirinya menendang seorang, sehingga dia itu terlempar kecebur kedalam sungai, sedang pedangnya menyambar orang yang kedua. Dia ini menangkis dengan goloknya, tapi pedang ada tajam luar biasa, golok terbacok kutung, menyambar terus kearah pundak, maka penyerang itu tak ampun lagi rubuh mandi darah diatas perahu.

"See Lo Toa, jangan pertontonkan ini segala gentong kosong!" Un Ceng mengejek sambil tertawa dingin.

"Hm!" bersuara si orang she See. "Gotong Lau Lie kemari!"

Dari sebuah perahu kecil, dua orang naik keperahu besar, akan gotong si orang yang dikatakan she Lie itu, jang luka hebat lengan kanannya.

Orang yang ditendang kecebur pun sudah berenang naik perahunya.

Segera terdengar suara nyaring dari si orang she See: "Kami dari pihak Liong Yu Pang tak pernah bentrok dengan kamu dari Cio Liang Pay, pemimpin kami menghargai Ngo-coumu, tak ingin kami ganggu padamu, maka itu, jangan kau anggap kami dapat dibuat permainan!"

Sin Cie bercekat akan dengar disebutnya Cio Liang Pay. Ia ingat: "Itu Thio Cun Kiu yang datang mencuri kitab dipuncak Hoa San bukankah menyebut dirinya dari Cio Liang Pay?"

Sebagai jawaban, terdengarlah suaranya Un Ceng: "Jangan kau baiki aku! Kamu tak menang, apa kamu hendak meng-ambil-ambil hati?" See Lo Toa itu jadi gusar sekali.

"Kau bilang, kau hargakan aturan kangouw atau tidak?" dia tegaskan.

"Aku lakukan apa yang aku suka, aku tak memusingkan kamu!" ada jawaban si pemuda.

"Ingin aku omong jelas lebih dahulu," kata orang she See itu. "Kami gunai lebih dahulu adat sopan-santun, habis itu Barulah senjata! Tak sudi aku nanti dikatai Ngo-coumu bahwa yang banyak menghina yang sedikit, yang tua mempermainkan yang muda!"

Kata-kata ini menunjuki pihak Liong Yu Pang itu menghargai jang dikatakan Ngo-cou, Lima tertua, dari pihak Un Ceng si anak muda bernyali besar itu.

Un Ceng tertawa dingin.

"Dengan kepandaian macam kepunyaanmu ini kau anggap dapat menghina aku?" dia mengejek pula.

Mendengar sampai disitu, Sin Cie percaya, senjatalah yang akan bicara terlebih jauh. Ia mengerti sekarang : Liong Yu Pang hendak membegal harta, Un Ceng mendahului, Liong Yu Pang jadi tidak senang, dia menyusul, tapi masih minta sebagian saja. Tubuhnya Un Ceng kecil tapi berat, harta itu pasti berada dalam buntalannya.

"Kelihatannya mereka berdua sama-sama bukan orang baik-baik, baiklah aku berpura-pura tak mengerti ilmu silat, aku tak bantu pihak mana saja..." pikir Sin Cie.

Selagi Sin Cie memikir demikian, pertempuran sudah lantas dimulai.

See Lo Toa berseru, lantas kira-kira sepuluh orangnya loncat naik ke perahu besar. Ia pun turut naik dengan tangannya menyekal sebatang golok besar, ia berdiri didepan mereka ini, terus ia angkat tangan, untuk memberi hormat.

"Saudara-saudaraku ini bukan tandingan kau," kata dia dengan merendah tapi sifatnya menantang," maka itu biarlah aku See Lo Toa yang menggantikan mereka menyambut pedangmu, pedang Ngo-hong-kiam dari Cio Liang Pay yang menjagoi di Kanglam!"

"Hm!" Un Ceng bersuara. "Kau hendak maju sendiri atau berbareng beramai-ramai?"

See Lo Toa melengak, ia tertawa terbahak-bahak.

"Kau terlalu tak melihat mata!" katanya. "Masih ada sahabat siapa lagi dalam perahumu ini? Undang dia keluar, untuk minta dia menjadi saksi. Tak suka aku apabila kemudian kaum kangouw yang mengatakan See Lo Toa tak punya muka!" Lantas ia menambahkan : "Sahabat dalam perahu, silakan kau keluar!"

Dua orang bertindak kedalam perahu, akan kata pada Tek Lin dan Sin Cie : "Toako kami undang jiewie!"

Tek Lin bergemetaran, tak dapat ia menjawab.

"Mereka melainkan inginkan kita sebagai saksi, tidak apa, mari kita keluar," kata Sin Cie. Dan ia tarik tangannya saudagar itu.

Un Ceng menjadi tak sabaran.

"Kau hendak pertontonkan kejelekanmu sendiri, jangan katai aku keterlaluan," kata dia. "Mari mulai!"

Lantas dia mulai menyerang, membabat ke iga kiri lawan.

See Lo Toa bertubuh besar tetapi gesit, dengan goloknya, dia menangkis, lalu dengan belakang golok, dia teruskan balas menyerang. Ini adalah serangan cepat sekali.

193 Un Ceng tidak sudi terima kebaikan hati lawan, yang serang ia hanya dengan belakang golok.

"Jikalau kau mempunyai kepandaian, keluarkan semua itu!" dia berteriak. "Aku tak sudi terima kebaikan hatimu!"

Ucapan congkak dan menantang ini diikuti dengan serangan pula, demikian sebat sampai See Lo Toa, yang tidak menyangka dan karenanya jadi kurang waspada kaget tak terkira ketika ujung pedang merobek baju di pundaknya sebab hampir ia tak keburu berkelit. Dia tergetar hatinya mengingat ancaman bencana itu, tapi segera dia balas menyerang dengan sengit.

Si anak muda sangat gesit, pesat gerak-geriknya, sambil menyingkir dari sesuatu bacokan, berbareng ia seperti kurung lawannya dengan pedangnya senantiasa berkelebatan disekitar tubuh lawan itu.

Setelah menyaksikan beberapa jurus, Sin Cie segera dapat kenyataan, ilmu silat Un Ceng terlebih tinggi daripada ilmu See Lo Toa, tak perduli orang ini mencoba pertunjuki keulungannya, tanda dari banyak pengalaman, tak perduli goloknya berat dan pedang enteng, dia kewalahan melayani kegesitan si anak muda. Selang sekian lama, dia mulai bernapas mengorong dan keringatnya pun mulai membasahkan jidatnya, menyusul mana, gerakannya juga tak lagi sepesat mulanya. Di sebelah dia, sianak muda perhebat desakannya.

Sekonyong-konyong, berbareng dengan seruan Un Ceng, See Lo Toa merasai pahanya tertusuk pedang, sehingga dengan muka pucat, dia lompat mundur, sembari lompat, sebelah tangannya diayun, hingga tiga buah senjata rahasia berupa paku Tou-kut-ciam menyambar kearah lawan. Si anak muda bulang-baling pedangnya dua kali, untuk sampok jatuh dua potong paku berbahaya itu, sedang paku yang ketiga ia halau dengan egos diri.

Dua potong paku yang disampok terbang ke jurusan Sin Cie, kearah dadanya.

Melihat demikian, Un Ceng menjerit.

"Celaka," pikir dia, jang menyangka dia akan celakai anak muda itu. Tadinya dia menyangka Sin Cie mengerti silat, akan tetapi ketika dua paku menyambar, pemuda itu tidak berkelit dan juga tidak menangkis. Ia kuatir sekali menampak paku menjuju dada. Dia Baru berteriak, dia hendak loncat untuk menolongi, atau kedua paku itu, setelah mengenai dada si pemuda, runtuh sendirinya, jatuh tanpa menerbitkan bencana. Si pemuda sendiri berdiam saja, seperti ia tak lagi diancam marah-bahaya.

Orang-orangnya See Lo Toa memasang banyak obor terang-terang, mereka semua saksikan senjata rahasia menyambar kearah si pemuda, akan tetapi, melihat kesudahannya, mereka melengak, saling mengawasi. Mereka anggap si pemuda liehay walaupun romannya mirip satu siucay lemah tak berdaya... Tentu sekali orang tidak tahu yang didadanya Sin Cie dipasang baju kaos pemberian Bhok Siang Toojin mustika Kim-sie Pwee-sim, yang tak mempan senjata tajam.

See Lo Toa heran melihat si pemuda tak rubuh karena pakunya itu, ia pun lihat si anak muda lawannya tercengang; menggunai waktu yang baik itu, ia menimpuk pula dengan lagi tiga batang pakunya.

Un Ceng menjerit bahna kaget karena bokongan tiga batang paku itu, dengan hati terkesiap, ia mendak, untuk menyingkir dari paku yang arah kepalanya akan tetapi dua yang menyambar kebawah, membuat ia bingung. Tak

195 sempat dia berkelit, tak keburu dia menangkis. Justru itu terdengarlah suara nyaring dua kali, seperti barang keras bentrok barang keras, lalu kedua batang paku itu jatuh sendirinya ke lantai perahu sebelum mengenai sasarannya.

Anak muda ini bermata celi, ia dapat tahu, orang yang runtuhkan dua batang paku itu adalah si pemuda yang ia sangka satu anak sekolah belaka. Sebab Sin Cie tak puas See Lo Toa berlaku curang, dengan diam-diam tetapi dengan cepat sekali, dia telah jumput dua batang paku yang jatuh didepannya dan gunai itu untuk punahkan dua serangan yang terakhir dari orang tua itu.

Un Ceng manggut, untuk haturkan terima kasihnya kepada pemuda ini, setelah mana, ia berlompat untuk menyerang lawannya. Ia menjadi sengit karena si orang tua bokong padanya.

Walaupun dia heran atas gagalnya serangannya, See Lo Toa toh tidak alpa, maka itu, begitu diserang, dia sudah siap, malah dengan satu bacokan yang hebat, ia mendahului.

Si anak muda jadi sangat mendelu karena melihat lawan demikian telengas, ia batal menyerang, ia berkelit, Baru ia menyerang pula, dengan dahsyat sekali. Begitulah satu tikamannya mengenai iga kanan See Lo Toa, hingga, bahna sakitnya, orang tua ini tak dapat cekal lebih lama goloknya yang besar. Golok itu terlepas jatuh kelantai perahu.

Masih Un Ceng tidak puas dengan serangan yang kedua yang berhasil ini, justru senjata lawan jatuh, dia lompat mendesak, untuk membacok kaki kanan orang.

"Aduh!" menjerit See Lo Toa, yang segera rubuh dengan pingsan. Orang-orangnya orang she See itu menjadi kaget berbareng gusar, mereka lompat maju untuk menolongi ketua itu, sekalian serang si anak muda.

Dalam sengitnya, anak muda itu tangkis semua penyerang, ia balas menikam dan membabat, hingga lagi tujuh atau delapan orang rubuh karenanya.

Sin Cie jadi tidak tega hati.

"Sudahlah, Un Toako!" ia berseru. "Kasihlah mereka ampun."

Tapi Un Ceng lagi sengit, ia masih melukai dua orang lagi, hingga sisanya yang lain-lain lompat keperahu mereka masing-masing, untuk tolong diri. Tak sanggup mereka melayani si anak muda, yang seperti sudah kalap.

Oleh karena sudah tak ada musuh lagi, tiba-tiba Un Ceng tabaskan pedangnya kebatang leher See Lo Toa, hingga kepala dan tubuh menjadi terpisah, menyusul mana kaki kirinya mendupak, membikin tubuhnya Lo Toa terpental kedalam sungai! Kepala dia ini pun dilempar bersama keair! Tak puas hati Sin Cie akan tampak ketelengasan itu. Dia anggap si anak muda keterlaluan, sebab setelah peroleh kemenangan, tak perlu ia ini berlaku menuruti panasnya hati.

Sementara itu, ketika ia menoleh kepada Liong Tek Lin, Sin Cie dapati saudagar besar ini sedang mendelepok dilantai perahu saking kaget dan takut. Itu ada pemandangan hebat dan mengerikan yang belum pernah ia tampak.

Sisa-sisa orang Liong Yu Pang, yang kabur keperahu mereka, kabur terus bersama masing-masing kendaraannya dengan tinggalkan kawan-kawan mereka yang menjadi korban pedangnya si anak muda. "Mereka hendak rampas uangmu, mereka gagal, sudah saja," kata Sin Cie kepada si anak muda. "Kenapa kau mesti kurbankan demikian banyak jiwa?"

Un Ceng mendelik kepada pemuda kita.

"Apakah kau tidak lihat bagaimana hinanya sikap mereka barusan?" anak muda ini menjawab. "Mereka bokong aku, mereka mengepung, jikalau aku terjatuh dalam tangan mereka, entah kekejaman bagaimana yang berlebih- lebihan mereka bakal limpahkan atas diriku? Jangan kau anggap, karena kau telah tolongi aku, kau dapat sembarang memberi nasihat kepadaku!"

Sin Cie ketemu batunya, dia bungkam. Melainkan dalam hatinya, dia kata : "Ini anak tidak kenal cenglie dan budi..."

Un Ceng sendiri lantas susut bersih pedangnya, untuk dimasuki dalam sarungnya, setelah mana ia menjura kepada si pemuda. Tiba-tiba dia tertawa manis sekali dan kata : "Wan Toako, kau telah tolong aku, aku berterima kasih kepadamu!"

Sin Cie jengah, toh dia balas hormat itu. Ia manggut dengan tak dapat buka mulutnya. Ia heran orang demikian muda dan lemah lembut sikapnya tapi demikian telengas hatinya, bagaikan serigala atau harimau; tetapi sekarang dia jadi begini manis budi, sejenak saja lenyap kebengisannya itu.

Un Ceng panggil tukang-tukang perahu, jang ia perintah cuci bersih lantai perahu, untuk singkirkan tanda-tanda darah. Semua tubuh musuh telah terjatuh kedalam air, hanyut atau tenggelam.

"Tolong sediakan aku barang makanan," Un Ceng menitah lebih jauh kepada anak-buah perahu, sesudah mana, dia undang Sin Cie dahar dan minum bersama diatas perahu itu sambil gadangi si Puteri Malam jang permai. Sembari bersantap, dia tidak omong tentang pertempuran barusan, dia tidak timbulkan juga soal ilmu silat.

Beberapa cawan air kata-kata telah turun lewat di tenggorokan mereka.

"Besok hari entah jam berapa saja, menghadapi arak menanyakan langit baru, aku kuatir langit biru tak akan memperdulikannya!" kata anak muda ini selagi minum.

Sin Cie heran mendengar orang mendadakan menggunakan kata-kata bentuk sajak, ia menyahuti tetapi dengan "ya, ya" saja dan manggut-manggut.

Dimasa kecil, pemuda ini ikuti Eng Siong belajar surat beberapa tahun, lalu setelah terdidik lebih jauh oleh Bok Jin Ceng, walaupun ia masih gemar membaca, ia tak berkesempatan belajar lebih jauh dengan mendalam, dari itu, ada sangat berbatas pengetahuannya tentang ilmu surat.

"Saudara Wan," berkata pula si anak muda, "rembulan indah, angin sejuk, malam ada begini permai, apakah tak baik kita bersyair saling sambut?"

"Aku tidak mengerti ilmu sajak," sahut Sin Cie dengan cepat.

Un Ceng bersenyum, dia berdiam.

"Mari minum!" demikian undangnya kemudian.

Kendaraan air jalan terus, kedua anak muda itu belum berhenti minum dan makan.

Tiba-tiba terlihat mendatangi sebuah perahu kecil, yang melawan air, akan tetapi pesat lajunya. Un Ceng lihat perahu itu, tiba-tiba wajahnya berubah, lalu ia perdengarkan tertawa dingin beberapa kali, kemudian ia keringi pula cawannya. Perahunya Liong Tek Lin besar dan memakai layar, jalannya menuruti aliran, lajunya sangat pesat, maka itu, selagi perahu kecil pun mendatangi cepat, sebentar kemudian, keduanya sudah saling mendekati.

Sekonyong-konyong Un Ceng lemparkan cawan araknya, tubuhnya turut mencelat, hingga dilain saat, ia sudah sampai dibelakang pada jurumudi. Tanpa kata apa- apa, ia rampas pengayuh kemudi, ia uwit itu, hingga kepala perahu lantas bergeser kearah kiri, menghadapi tepat perahu kecil yang lagi mendatangi itu. Sia-sia saja anak buah perahu kecil egos diri, perahunya sudah ketabrak, hingga terdengarlah satu suara berisik, kepala perahu dongak keatas.

"Celaka!" Sin Cie berseru, bahna kaget.

Tiga bajangan mencelat dari perahu kecil itu, naik keperahu saudagar yang besar. Gerakan tubuh mereka menandakan mereka mengerti ilmu silat baik sekali.

Didalam perahu kecil ada lima orang, kecuali ini tiga, yang berhasil tolong diri, masih ada si jurumudi dan satu anak buahnya, yang mengayuh perahu. Mereka ini tak dapat loncat seperti itu tiga orang, mereka kecebur air sambil menjerit: "Tolong!"

Air dibahagian sungai itu deras sekali, karena kecebur, dua tukang perahu itu lebih banyak menghadapi bencana daripada keselamatan.

"Anak muda ini kejam," pikir Sin Cie, yang terus bekerja. Ia masih sempat lihat kedua tukang perahu timbul pula, mendadak ia putuskan dadung lajar, ia gigit ujungnya, lantas ia menjejak keras, tubuhnya melayang kedalam sungai, tergantung oleh dadung layar itu. Ia gunai kedua tangannya, akan sambar masing-masing satu orang. Sang dadung bawa ia terayun kembali keperahu, bersama dua tukang perahu itu.

"Bagus!" berseru empat orang dengan pujiannya. Mereka ini ada Un Ceng si anak muda dan itu tiga orang yang Baru loncat naik dari perahu kecil, yang menjadi sangat kagum.

Sin Cie letaki kedua orang diatas perahu, lantas ia hampirkan kursinya, akan duduk pula dengan tenang, hingga dengan demikian, ia dapat ketika akan awasi tiga orang asing itu. Yang pertama ada seorang tua diatas usia lima-puluh tahun, tubuhnya kurus kering, kumisnya jarang. Yang kedua, umur empat-puluh lebih, bertubuh besar dan kasar. Yang ketiga ada seorang perempuan umur kurang lebih tiga-puluh tahun.

Sambil tertawa suram, si orang tua kata pada pemuda kita: "Tuan, kau liehay sekali, bolehkah aku tanya she dan namamu yang mulia dan siapa gurumu?"

Sin Cie berbangkit, ia manggut dengan halus.

"Boanseng adalah she Wan," ia menyahut dengan manis. "Kedua tuan ini terancam bahaya, tak tega aku melihatnya, maka itu boanseng telah angkat mereka dari permukaan air. Sama sekali tak berani boanseng sengaja banggakan kepandaian dihadapan locianpwee, maka mohon locianpwee maafkan."

Orang tua ini heran menampak pemuda ini demikian halus gerak-geriknya, lalu ia hadapi Un Ceng dan tertawa dingin.

"Tak heran kau, bocah cilik, makin menjadi-jadi nyali besarmu, kiranya kau punyakan pembantu yang begini liehay!" berkata dia, suaranya tajam. "Adakah dia ini sahabatmu yang baik?"

Wajahnya Un Ceng menjadi merah. "Aku pandang kau sebagai orang tertua jang dihormati, aku minta sukalah kau hargai sedikit dirimu!" ia menegur.

Hatinya Sin Cie tak enak.

"Nampaknya mereka bukan orang-orang baik-baik, tak dapat aku antap diriku terseret kedalam arus mereka," ia berpikir. Karena ini, ia lantas kata pada si orang tua: "Aku dan saudara she Un ini tak kenal satu dengan lain, secara kebetulan saja kami bertemu disini, jadi tak ada bicara hal persahabatan diantara kami berdua. Ingin aku mengucapkan sepatah dua patah kata, jikalau ada urusan diantara kamu berdua pihak, baiklah itu didamaikan agar kerukunan tak sampai terusak..."

Belum sempat si orang tua menyahuti, atau Un Ceng, dengan matanya mendelik, berkata pada pemuda kita : "Jikalau kau takut, pergilah kau naik kedarat!"

Sin Cie berdiam, tetapi didalam hatinya, dia kata : "Belum pernah aku menemui orang kasar semacam dia ini!"

Si orang tua sementara itu dapat duga pemuda ini bukanlah kawannya si anak muda, karena mana, ia menjadi girang sendirinya.

"Sahabat Wan," berkata dia "kau tidak punyakan hubungan dengan si orang she Un ini, itulah bagus! Harap kau tunggu sampai aku sudah beres berurusan dengannya ini, nanti kita pasang omong, bolehlah kita ikat tali persahabatan!"

Sin Cie tidak menjawab, dia cuma manggut, lantas ia mundur kebelakang Un Ceng.

Lantas si orang tua hadapi Un Ceng dan kata : "Kau masih berusia sangat muda, perbuatan kau telengas sekali. See Lo Toa bukan tandinganmu, itu pun sudah cukup, kenapa dan kau kehendaki jiwanya?" "Tapi aku bersendirian saja, kamu ada orang-orang lelaki bertubuh besar dan berjumlah banyak, kamu maju dengan berbareng, tanpa aku berlaku bengis, apa mungkin terjadi?" balas si anak muda. "Kau masih menegur aku, apakah kau tak takut orang nanti katakan kamu si tua menghina si kecil, yang banyak kepung yang sedikit? Jikalau kamu punya kepandaian, pungutlah emas orang, kenapa mesti tunggu aku? Apakah kamu hendak serakahi yang sudah sedia saja? Apakah itu bukannya tak tahu malu?"

Sin Cie dengar suaranya terang dan halus, kata-kata yang tajam sehingga si orang tua bungkam karenanya.

Tiba-tiba si orang perempuan, yang alisnya berdiri dengan mendadakan, turut bicara: "Kacung cilik, orang tuamu manjai kau hingga kau makin tak tahu aturan!" dia membentak. "Sungguh ingin aku tanya yayamu, ibumu juga, siapa sudah ajar kau hingga dimatamu ini tak lagi ada orang yang terlebih lanjut usianya!"

"Orang tua yang ingin dihormati juga mesti ada sertanya!" kata Un Ceng. "Orang tua yang hendak menang sendiri, dia tak berharga untuk dihormati!"

Orang tua itu menjadi sangat mendongkol hingga dia keprak meja dikepala perahu dan meja itu menjadi melesak, apabila dia telah angkat tangannya, tangan itu menjumput potongan-potongan kayu meja, yang menjadi hancur bekas tercengkeram.

Nyata tangan orang tua ini kuat bagaikan besi.

"Eng Lo-ya-cu!" berkata Un Ceng, "tentang kepandaianmu yang liehay, aku sudah tahu, maka tak usahlah kau jual lagak didepan yang mudaan! Jikalau kau hendak pertontonkan kepandaianmu itu, pergi kau pertontonkan kepada sekalian yayaku!" Kembali orang tua itu gusar.

"Jangan kau coba gertak aku dengan sebut-sebut beberapa yayamu itu!" ia membentak. "Siapa yayamu itu? Jikalau mereka punyakan kepandaian, tak nanti mereka antap anak-gadisnya diperkosa orang, sehingga tak nanti anak-gadisnya itu lahirkan bocah haram seperti kau ini!"

Meluap hawa amarahnya Un Ceng, yang berbareng pun jadi sangat berduka, hingga wajahnya menjadi merah padam, gusar, malu dan bersedih. Sekelebatan, cahaya matanya menyala bagaikan api.

Si orang bertubuh besar dan si orang perempuan lihat itu, mereka tertawa berkakakan.

Sin Cie awasi si anak muda, kedua matanya dia ini mengalirkan air mata. Ia heran dan terharu dengan berbareng.

"Nampaknya dia jauh lebih berpengalaman daripadaku, mengapa sekarang dia menangis?" dia berpikir.

Biar bagaimana, anak muda ini kena diperhina - dia bersendirian, dia diperhina juga. Karena ini, semangatnya Sin Cie jadi terbangun, berniat ia membantu anak muda ini, apabila saatnya sudah sampai.

"Apakah faedahnya untuk menangis?" kata si orang tua, dengan tajam, lagu-suaranya mengejek. "Kau lekas keluarkan emas itu. Kami juga tidak serakahi, dari uang itu, kami nanti pisahkan sejumlah untuk tunjang jandanya See Lo Toa..."

Tubuhnya Un Ceng bergemetar.

"Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah!" ia menantang, sambil menangis. "Aku tidak hendak menyerahkannya!" "Hm!" berseru si orang tua, yang sementara itu lihat perahu besar itu laju terus dengan cepat, maka ia lantas jumput jangkar besar yang terikat rantai, ia lempar itu jauh ketepian, hingga dilain saat, perahu berhenti dengan tiba- tiba.

Berat jangkar kira-kira dua ratus kati maka bisalah diduga besarnya tenaga orang tua ini, siapa lantas tegaskan Un Ceng : "Kau hendak serahkan atau tidak?"

Anak muda itu angkat tangan kirinya, akan susuti air matanya.

"Baiklah, aku nanti serahkan!" katanya, yang segera lari kedalam perahu, akan sedetik kemudian keluar pula, sambil kedua tangannya membawa satu bungkusan, yang mestinya berat.

Si orang tua ulur tangannya, untuk sambuti bungkusan itu.

"Fui! Begini gampang!" mendadak si anak muda berseru. Dengan sekonyong-konyong ia menimpuk dengan bungkusan itu, kearah sungai, hingga dilain saat terdengarlah suara tercebur jang nyaring. Lantas dia menantang : "Jikalau kau berani, bunuhlah aku! Jikalau kau menghendaki emas, jangan harap!"

Tidak terkira kemurkaannya si orang tubuh besar, ia menjerit, ia angkat goloknya membacok anak muda jang licik itu, yang berbareng pun mempermainkan kepadanya.

Habis membuang bungkusan, Un Ceng pun segera hunus pedangnya, maka itu, setelah diserang dan berkelit, dia balas menerjang, beruntun sampai dua kali.

"Tahan ! Tahan!" berseru si orang tua. Si orang bertubuh besar, kawannya orang tua ini, lompat mundur dua tindak, Si orang tua sendiri terus awasi anak muda itu.

"Benar-benar, naga melahirkan naga, burung hong menetaskan burung hong!" kata dia. "Ada orang semacam ayahnya, ada anaknya semacam dia ini! Kalau hari ini aku antap terus kau main gila dihadapanku si orang tua, bocah cilik, aku bukan si orang she Eng lagi!"

Hampir tak kelihatan lagi, orang tua ini tutup kata- katanya dengan tahu-tahu tubuhnya sudah berada didepannya si anak muda.

Un Ceng rupanya telah siap, ia menyambut dengan satu tusukan hebat. Tapi si orang tua benar-benar liehay. Dia bertangan kosong, dia berkelit dari tikaman itu, lantas dia merangsak. Mau atau tidak, anak muda itu mundur. Malah ia mesti mundur terus, karena desakannya si orang tua, jang gerakannya membuat si anak muda tak sempat menyerang dia. Sia-sia saja Un Ceng menyekal pedang panjang, tak mampu ia gunai itu.

Sedetik saja, Sin Cie telah dapat lihat bahwa Un Ceng bukan tandingan orang tua itu, yang sangat gesit. Dengan ini pun telah dibuktikan dengan segera. Baru bisa luputkan diri dari sepuluh gebrak lebih, atau lengan kanan si anak muda sudah kena ditotok, atas mana dia rasai tangannya kesemutan dan kaku, hingga pedangnya lantas terlepas dari cekalan dan jatuh dilantai perahu.

Begitu pedang jatuh, si orang tua menyontek dengan kakinya yang kiri, hingga pedang terangkat mumbul, hingga gampang saja dia menanggapinya dengan tangannya yang kiri, lalu dengan menyekal ujungnya pedang itu, dengan tangan kanan dengan satu gerakan saja, dia bikin senjata itu patah dua! Un Ceng kaget hingga mukanya pucat. Si orang tua masih berkata : "Jikalau aku tidak tinggalkan suatu tanda dalam tubuhmu, aku kuatir kau nanti melupakan liehaynya aku si orang tua!" Dan lalu, dengan ujung pedang yang patah itu, dia menggurat kemukanya si anak muda! Un Ceng kaget dan ketakutan, mukanya pucat, cepat-cepat dia mundur, untuk menyingkir dari serangan itu, atas mana, si orang tua desak padanya, hingga dilain saat, ujung pedang, yang dipegang dengan tangan kiri, hampir mampir dimuka orang.

"Celaka dia...." pikir Sin Cie, yang merasa sayang muka demikian cakap dan putih nanti meninggalkan cacat.

Un Ceng sendiri, dalam takutnya, telah keluarkan jeritan.

Dengan sebat Sin Cie rogo sebutir biji caturnya dengan apa ia lantas menimpuk kearah pedang si orang tua.

"Trang!" demikian satu suara nyaring.

Si orang tua terkejut, justru waktu itu ia sedang kegirangan karena segera ia bakal dapat coret muka orang yang cakap-ganteng, sedang tangannya pun tergetar, sesemutan sakit, hingga tak sanggup dia cekal lebih lama pedangnya itu, yang lantas terlepas dan jatuh.

Melihat demikian, dari ketakutan, Un Ceng menjadi girang sekali, hatinya lega dengan tiba-tiba. Tidak buang tempo lagi, ia loncat kearah Sin Cie, untuk berlindung dibelakang dia ini, lengan siapa ia pegangi dengan keras, agaknya ia hendak memohon perlindungan.

Orang tua itu, orang she Eng seperti dia telah perkenalkan diri, bernama Cay. Dia adalah pangcu, atau ketua, dari Liong Yu Pang, satu kawanan di Ciat-kang Selatan dimana, kecuali Ngo-cou dari Cio Liang Pay, dia adalah orang tertangguh satu-satunya. Adalah biasanya bagi dia, apabila dia bertempur dia tak suka gunai senjata. Inilah disebabkan dia telah yakin ilmu silat Eng-jiau-kang, Kuku Garuda, sehingga tangannya jadi kuat melebihi golok atau pedang yang biasa. Maka itu, ia tak kepalang kagetnya apabila ia dapatkan, pedangnya dilepaskan orang hanya dengan timpukan sebutir biji catur. Ia kaget berbareng malu, hingga mukanya menjadi merah. Seumur hidupnya, ini adalah malu besar pertama yang ia pernah alami.

"Kenapa bocah ini besar sekali tenaganya?" pikir dia, jang masih tercengang.

Si orang tubuh besar dan wanita pun segera lihat liehaynya Sin Cie, mereka merasa bahwa dilanjutinya pertempuran tidak akan membawa bahagia untuk mereka, maka justru emas telah dibuang ke sungai, mereka anggap baiklah sudahi urusan sebelum perkara berlanjut hebat.

"Lo-ya-cu, marilah!" si nyonya segera mengajak. "Dengan memandang mata kepada sahabat she Wan ini, hari ini kita kasih ampun pada bocah ini..."

"Hm!" Un Ceng menghina, selagi si orang tua belum sempat buka mulutnya. "Melihat orang liehay, lantas hendak angkat kaki! Jadi tukang menghina si lemah tapi jeri kepada si kuat - tak malu?"

Sin Cie kerutkan alis.

"Anak licik," memikir ia " diri sendiri Baru lolos dari bahaya besar, sekarang kembali sudah mengeluarkan kata- kata tajam, sedikit juga tidak mau memandang orang. "

Benar-benar wanita itu menjadi sangat mendelu karena perkataan si orang muda ini, tapi ia pun berdiam, karena ia insyaf, melayani salah, tidak melayani salah juga. Sampai

disitu, si orang tua buka mulutnya. Dasar ia berpengalaman. "Lautee, kau liehay," berkata dia kepada Sin Cie. "Rembulan permai, cuaca indah, angin pun sejuk, bagaimana jikalau kita berdua main-main sebentar?"

Pangcu dari Liong Yu Pang menantang. Dia ingin coba- coba Eng-jiau-kangnya yang telah dia yakinkan lebih dari dua-puluh tahun lamanya. Dia mau percaya, melihat usia muda orang, jikalau bertanding, tidak nanti dia kalah dari si anak muda.

Sin Cie bersangsi. Ia telah pikir: "Jikalau aku layani dia, walaupun belum pasti aku kalah, tapi setelah bergebrak, itu artinya aku bantu Un Ceng. Dia ini tua, nampaknya dia berpandangan cupat, dia pun licin, pertempuran tentu tidak ada faedahnya. Kenapa aku mesti tanam bibit permusuhan?"

Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat.

"Aku yang muda Baru pertama kali ini menginjak dunia kangouw, belum tahu aku tingginya langit dan tebalnya bumi," berkata ia, "maka itu, dengan kebisaanku ini yang tidak berarti, cara bagaimana aku berani melayani locianpwee?"

Eng Cay bersenyum.

"Aku tidak sangka, dia begini muda tapi bisa sekali dia bawa diri," pikirnya. Ia gunai ketika ini, untuk undurkan diri. Maka ia kata saja : "Sahabat Wan, kau sungkan sekali..."

Tiba-tiba matanya mendelik, mendekati Un Ceng. Dia kata: "Dibelakang hari mesti ada satu waktu yang aku si orang tua kasih rasa liehaynya kepadamu, bocah nakal!"

Terus ia menoleh kepada kawannya, yang bertubuh besar. "Mari kita pergi!" ia mengajak.

"Berapa besar juga liehaymu, aku sudah tahu!" mendadak Un Ceng buka mulut pula. "Kau lihat orang liehay, terang kau tidak berani melayaninya!"

Anak muda ini sengaja mengejek, untuk menghina, buat puaskan kemendongkolannya. Ia pun sangat ingin saksikan pertempuran diantara mereka berdua. Ia percaya si anak muda liehay dan si orang tua bukan tandingannya, toh ia hendak memaksakan.

Eng Cay jadi serba salah. Dan Sin Cie jadi tidak senang untuk sikap orang itu.

Dalam murkanya, ketua Liong Yu Pang kendalikan diri. "Saudara Wan, walaupun kau masih muda sekali tetapi

kau kenal persahabatan," berkata dia. Lebih dahulu

daripada itu kembali dia mendekati kepada si anak muda yang mulutnya liehay itu. "Sahabat, mari kita main-main segebrak saja, supaja itu bocah tidak tahu diri tidak katakan aku tak punya nyali!"

"Oh, locianpwee, mengapa kau bersatu pandangan sebagai dia?" kata Sin Cie sambil bersenyum. "Dia omong main-main saja..."

"Kau jangan kuatir, aku pun tidak sungguh-sungguh," Eng Cay mendesak.

Kembali Un Ceng perdengarkan kata-katanya yang dingin dan tajam : "Bilangnya tidak takut tapi masih tidak mau turun tangan! Masih omong tentang persahabatan saja! Ah, lebih baik jangan bertempur, dah! Sampai umurku begini besar, belum pernah aku tampak kejadian semacam ini! Maka aku bilang, lebih baik jangan bertempur!..." Luber hawa-murka Eng Cay, hingga dengan tiba-tiba dia sampok muka Sin Cie, akan tetapi belum sampai serangan itu pada sasarannya, dia sudah tarik pulang kembali tangannya. Lantas dia kata: "Sahabat Wan, mari, mari, aku ingin belajar kenal dengan kepandaianmu!"

Melihat demikian, Sin Cie tidak bisa mundur pula. Tanpa loloskan bajunya, jang panjang, dia lompat ketengah kalangan.

"Aku harap locianpwee berkasihan terhadapku..." memohon dia.

"Kau baik sekali, sahabat Wan. Silakan!" sahut Eng Cay tapi sambil menantang.

Sin Cie tahu, apabila ia terus merendahkan diri, itu berarti penghinaan kepada si orang tua, dari itu, tanpa bilang suatu apa, ia segera kirim kepalannya jang pertama. Ia bersilat dengan ilmu pukulan "Ngo-heng-kun" atau "Kuntau Panca logam".Ia serang dada sebagai sasaran.

Eng Cay bertiga kawannya sangka si anak muda liehay sekali, maka itu, melihat orang datang-datang menyerang dengan Ngo-heng-kun, mereka lantas saja memandang enteng.

Un Ceng sendiri kecele bukan main, mukanya sampai pucat.

Ketua Liong Yu Pang menjadi girang, lantas dia balas menyerang, dengan seru, hingga setiap pukulannya mengeluarkan sambaran angin menderu-deru. Ia percaya, sebagai jago Eng-jiau-kong, dengan tiga jurus saja, ia akan dapat rubuhkan pemuda ini atau sedikitnya ia bakal dapat pukul pecah Ngo-heng-kun.

Diluar dugaan dengan sederhana, melainkan dengan andali keentengan tubuh, Sin Cie luputkan diri dari pelbagai

211 serangan yang berbahaya, hingga karenanya, sekarang ia membuat terkejut dan heran kepada lawan yang tua itu. Ia merasa aneh, ilmu silat umum sebagai Ngo-heng-kun itu bisa diubah menjadi kegesitan tubuh demikian rupa. Biasanya Ngo-heng-kun dipakai secara keras, untuk menyerang hebat.

Lantas pertempuran berlanjut, sebagai kesudahan dari mana, ketua Liong Yu Pang itu jadi semakin heran. Tak dapat dia desak, untuk mendekati tubuh pemuda itu, hingga akhirnya, dia menjadi sibuk sendirinya.

"Teranglah orang ini mengalah terhadapku..." pikir dia. "Kalau terus berlangsung begini, tentu Un Ceng bakal perhina kembali padaku..."

Inilah yang membuat ia sibuk dan kuatir. Maka kembali ia mencoba menyerang, ia berlaku sungguh-sungguh ketika ia keluarkan jurus Eng-jiau-kong. Ia berlaku cepat, semua sasarannya ada tempat-tempat berbahaya.

"Eng-jiau-kangnya ada begini rupa, inilah bukannya hasil dari satu hari satu malam," pikir dia. "Aku harus berikan muka padanya, jikalau aku tidak mengalah, Un Ceng tentu bakal buka pula bacotnya..."

Oleh karena memikir begini satu kali Sin Cie sengaja berlaku ayal.

Eng Cay girang sebab ia bakal dapat lowongan, tetapi ia juga tidak berniat mencelakai pemuda itu, ia ingin robek saja baju orang, karena ini juga sudah berarti kemenangan. Demikian ia telah jambak pundak lawan. Ia telah mengenai sasarannya, akan tetapi segera ia menjadi heran luar biasa. Ia kena pegang sepotong daging yang menjadi keras dan licin dengan tiba-tiba, hingga ia mirip dengan nelayan yang menangkap ikan tapi lolos pula saking licinnya sang ikan. Hal ini membuat ia heran dan terkejut. Sin Cie berkelit untuk segera lompat mundur dua tindak. "Aku menyerah," kata dia.

"Kau sengaja mengalah!" kata Eng Cay sambil memberi hormat.

Tapi Un Ceng segera nyelah, katanya : "Dia benar-benar mengalah kepadamu, kau tahu tidak? Jikalau kau tahu, ja sudah!"

Padam wajahnya jago Liong Yu Pang itu. Ia merasa tersinggung. Disaat ia hendak buka mulut, mendadak ada terlihat cahaya obor terang-terang didarat, beberapa puluh orang nampak sedang mendatangi, diantaranya ada yang ber-teriak-teriak: "Eng Lo-ya-cu, apa bocah itu sudah kena dibekuk? Kami hendak iris-iris dia, untuk balaskan sakit hati See Lo Toa!"

Un Ceng lihat orang datang dalam jumlah besar sekali, mau atau tidak, hatinya ciut juga.

"Saudara-saudara Lau, kamu berdua kemari!" ada jawaban pangcu dari Liong Yu Pang.

Segera rombongan itu telah sampai ditepian, akan tetapi perahu berlabuh jauh dari mereka, maka dua diantaranya segera terjun keair, akan selulup dan berenang menghampirkan perahu, cepatnya seperti ikan berenang. Begitu lekas mereka raba tepi kendaraan air, keduanya sudah loncat naik.

"Bungkusan berharga itu sudah dibuang bocah ini kedalam sungai, pergi kamu engko dan adik selulup dan cari!" Eng Cay kasi keterangan. Ia menunjuk kearah mana tadi Un Ceng lemparkan bungkusannya.

Dua saudara Lau itu lantas terjun pula kesungai, dalam sejenak, mereka sudah lenyap dari permukaan air. Un Ceng masih ada dibelakang Sin Cie, ia betot tangan baju orang.

"Tolong aku, mereka hendak bunuh padaku..." ia memohon sambil berbisik.

Pemuda kita menoleh, ia lihat roman yang berduka, hingga ia jadi merasa kasihan, tanpa berayal, ia manggut.

"Kau tarik jangkar," Un Ceng minta pula.

Belum Sin Cie menyahuti atau ia telah merasai lemasnya tangan Un Ceng, tangan yang halus dan lemah seperti tak ada tulang-tulangnya....

Eng Cay lihat anak muda itu berbisik kepada si orang she Wan, ia lantas memasang mata, akan tetapi, dia masih kalah sebat.

Dengan sekonyong-konyong Un Ceng sambar meja, dengan itu ia menimpuk kepada ketiga musuhnya.

Si orang tubuh besar dan nyonya tidak menyangka, tak ampun lagi, keduanya rubuh kecebur ke air. Eng Cay masih sempat sambuti meja, ia telah menyambarnya sambil lompat berkelit. Ia menyekal meja demikian keras, hingga kaki meja itu perdengarkan suara patah berkerekekan. Ia luput dari bahaya tetapi ia bingung terhadap dua kawannya yang kecebur itu, karena ia tahu, mereka tak bisa berenang, sedang dua saudara Lau - itu waktu - sudah berenang ketengah untuk selulupi bungkusan emas. Ia lempar meja kesungai, supaya dua kawannya pakai untuk pepegangan. Tapi ia gusar sekali, lantas saja ia serang si anak muda.

Un Ceng masih cekali dua potong kaki meja, ia tangkis serangan dengan gunai sepasang kaki meja itu sebagai senjata. Ia terutama lindungi mukanya.

"Lekas!" ia teriaki Sin Cie. Cepat luar biasa, pemuda kita sambar rantai jangkar, ia menarik dengan kaget dan keras, hingga dilain saat, jangkar itu terangkat dari gili-gili, melayang pulang keperahu.

Melihat demikian, Eng Cay kaget, tapi segera ia lompat menyingkir.

Un Ceng pun kaget dan turut menyingkir juga dari sambaran jangkar itu, dengan begini, ia jadi terpisah dari jago tua itu.

Akan tetapi Sin Cie sendiri berlaku tenang, ia sambuti jangkar, untuk diletaki perlahan-lahan dikepala perahu.

Justru karena jangkar diangkat, perahu itu segera saja hanyut dibawa air deras, dengan lekas orang-orang didarat ditinggalkan kendaraan air ini.

Selagi ia kagumi si pemuda, Eng Cay pun kaget melihat jalannya perahu, tanpa berani banyak omong pula, ia menjejak perahu, untuk loncat kearah darat.

Sin Cie tahu maksudnya, ia tahu juga, tak nanti orang tua itu sampai ditepi, lekas-lekas ia angkat papan jembatan perahu, ia lempar itu ke air disebelah depan si jago tua.

Eng Cay sedang bingung, dia merasa pasti yang dia bakal kecebur keair, maka bagaimana lega hatinya, akan tampak selembar papan jatuh didepannya, ngambang dimuka air, maka segera dia injak itu, untuk dipakai menjejak pula, akan berlompat terus, dengan begitu, bisalah ia sampai dipinggiran sungai, kakinya menginjak daratan. Berbareng berhati lega dan girang, ia pun jadi bersyukur kepada si pemuda, yang telah menunjukkan kebaikan hati kepadanya. Ia juga kagumi liehaynya pemuda ini.

"Ah!" Un Ceng berseru, dengan lesu. "Kembali kau berbuat baik terhadap dia!....Sebenarnya kau bantui aku atau dia itu? Apakah bukan lebih baik akan antap dia kecebur? Dia toh tidak bakal kelelap mampus..."

Sin Cie tahu orang beradat aneh, ia tidak mau melayani bicara, ia hanya bertindak kedalam perahu, akan rebahkan diri, buat tidur.

Un Ceng kecele, dengan masgul, ia pun masuk.

Perahunya sendiri hanyut terus... Dihari kedua, tengah hari, perahu sampai di Kie-ciu. Sin Cie menghaturkan terima kasih pada Liong Tek Lin, ia kasih persen sepotong perak pada tukang perahu.

"Jangan, biar aku yang berikan sekalian," Tek Lin mencegah. Saudagar ini insyaf, si pemuda adalah yang hindarkan bahaya, karenanya, ia berterima kasih kepadanya.

Sin Cie tidak hendak memaksa, ia membilang terima kasih pula, lalu ia pamitan.

"Aku tahu, kau juga tak nanti ijinkan aku bayar uang sewa perahu tapi aku tak sudi kau yang bayarkan," berkata Un Ceng, yang lantas rogoh buntalannya, akan keluarkan sepotong perak beratnya kira-kira sepuluh tail.

"Ini untuk kau!" katanya pada tukang perahu kepada siapa ia lempar uang perak itu.

Tukang perahu itu tercengang.

"Aku tak punya uang kecil. "katanya.

"Siapa ingin kau mengembalikannya?" jawab si anak muda. "Itu semua untukmu!"

Tukang perahu itu sangsi.

"Tak usah demikian banyak. "katanya. "He, banyak bacot!" bentak Un Ceng. "Berapa aku suka kasih, aku kasih, buat apa kau ngoceh saja! Nanti aku bolongi perahumu sehingga tenggelam, Baru kau tahu!"

"Terima kasih, terima kasih, tuan," kata tukang perahu itu kemudian. Ia tahu orang telengas, ia tak berani membantah pula. Ia jumput uang itu.

Un Ceng lantas buka bungkusannya, sehingga berkilauan cahaya kuning-emas dari kira-kira tiga-ratus potong emas yang tiap potong terdiri dari kira-kira sepuluh tail.

Dengan tangan kanannya, si anak muda pecah uang itu jadi dua tumpukan, yang setumpuk diantap diatas meja, yang setumpuk lagi, ia bungkus pula, bungkusannya terus ia gendol dibelakangnya. Dengan kedua tangan, ia tolak tumpukan yang satu itu kedepan Sin Cie.

"Untuk kau!" katanya.

"Apa?" tanya Sin Cie. Ia tidak mengerti. Un Ceng tertawa dengan manis.

"Apakah kau sangka benar-benar aku buang harta ini kedalam kali?" tanyanya. "Itulah tolol! Biar mereka selulup timbul, untuk mencarinya, jikalau mereka berhasil, tentu mereka akan pungut sebungkusan batu saja!"

Lalu ia tertawa geli sekali.

Sin Cie menghela napas. Anak muda ini lebih muda daripada ia, toh satu tua-bangka sebagai Eng Cay masih kena diperdayakan! "Aku tidak membutuhkan ini, kau ambil sendiri," ia menampik. "Aku bantui kau bukan karena uang."

"Tetapi inilah pemberianku kepadamu," si anak muda mendesak. "Uang ini bukannya kau yang ambil sendiri! Kenapa berpura-pura jadi kuncu palsu?" Sin Cie menggeleng kepala.

Tek Lin ada satu saudagar yang banyak hartanya, tetapi menghadapi dua orang itu, ia heran sekali. "Yang satu tak menghargai uang, yang lain tak memandangnya. Yang satu mendesak mengasih, yang lain keras menolak."

"Tidak peduli kau suka atau tidak, aku mesti berikan padamu!" kata si anak muda akhirnya, suaranya keras, tandanya ia gusar. Lalu dengan sekonyong-konyong ia lompat kedarat! Sin Cie tercengang, tapi segera ia mendusin, ia pun lompat, untuk menyusul.

Un Ceng bisa lari keras, akan tetapi sejenak saja, ia dapat didahului.

"Tunggu!" Sin Cie kata sambil ia pentang kedua tangannya, untuk menghalangi. "Kau bawa emasmu itu!"

Anak muda itu coba nerobos, kekiri dan kanan, sia-sia saja, tak mampu ia lewati si pemuda, dalam sengitnya, mendadakan ia serang mukanya pemuda itu.

Sin Cie tangkis serangan itu, ia menolak dengan tangan kiri. Sebenarnya ia tidak gunai tenaga, akan tetapi si anak muda mundur tiga tindak.

Menampak bahwa ia tak sanggup tobloskan cegatan, mendadak Un Ceng jatuhkan diri, untuk duduk ditanah, dengan tiba-tiba juga ia menangis sesenggukan.

"Kau sakit?" tanya Sin Cie, jang heran dan kuatir. Ia sangka tangkisannya membuat anak muda itu merasai sakit pada lengannya.

"Fui!" berseru Un Ceng, yang lompat bangun dengan tiba-tiba, terus ia loncat lagi, untuk menyingkir.

Sin Cie melongo ia awasi Un Ceng lenyap dari pandangan matanya. 0o-d.w-o0