-->

Pedang Ular Emas Bab 04

Bab ke 04

Sin Cie sudah ikuti Bok Jin Ceng tiga tahun, pandangan matanya telah jadi beda sekali, sekalipun demikian, sekarang tak bisa ia ikuti gerak tangan dan kakinya sang guru, sedangnya ia kagum, tiba-tiba guru itu berseru, pedangnya melesat kedepan, nancap dibongkotnya satu pohon besar.

Itulah tenaga yang besar luar biasa, karena mana, Sin Cie menjadi bengong dan nganga saja! "Bagus!" demikian satu suara pujian, yang datangnya dari arah belakang si bocah.

Selama tiga tahun berdiam diatas gunung, belum pernah Sin Cie dengar suara lain orang kecuali gurunya, atau hanya suara ah-ah-uh-uh dari si empeh gagu, sekarang mendadakan ia dengar satu suara asing - memangnya ia sedang tercengang - ia jadi heran sekali. Cepat luar biasa, ia menoleh kebelakang, hingga didepan matanya, ia tampak satu toojin atau imam yang bersenyum berseri-seri seraja usut-usut kumis dan jenggotnya.

133 Imam itu berjubah kuning, mukanya bersemu merah, rambutnya sudah putih semua. Habis memuji, ia berkata : "Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak lihat kau gunai pedangmu, tidak disangka kau telah peroleh kemajuan begini rupa!"

Bok Jin Ceng telah menoleh pada tetamunya itu, ia tertawa berkakakan.

"Bhok Siang Tooyu, angin apa sudah tiup kau sampai disini?" tanya dia. "Sin Cie, hayo kau kasi hormat pada too- tiang!"

Sin Cie menurut, ia hampirkan itu imam akan berlutut dan manggut didepannya.

"Jangan, jangan!" tertawa si imam, seraya ia membungkuk, untuk angkat bangun bocah itu.

Sin Cie tidak mau diangkat, dan, sebagai biasanya orang yang mengerti silat, ia gunai tenaganya, maka itu, tidak gampang untuk si imam cegah pemberian hormat itu. Dia juga memang cuma mau mencoba saja.

"Lau Bok!" berkata ia kemudian, "selama beberapa tahun ini, jarang sekali aku bertemu dengan kau, tidak tahunya kau keram diri disini untuk mendidik muridmu ini. Sungguh, peruntunganmu tidak buruk, di saat-saat dari hari akhirmu, kau masih mendapatkan satu bahan yang baik sekali!"

Bok Jin Ceng girang atas pujian sahabat itu dengan siapa ia biasa berguyon.

"Aya!" Bhok Siang Toojin berseru sendirinya. "Hari ini aku tidak bawa uang, jadi dengan Cuma-cuma saja aku terima hormatmu ini, anak! Bagaimana sekarang?. " Mendengar kata-katanya si imam, hatinya Bok Jin Ceng tergerak, mendadakan, ia ingat suatu apa. Ia berpikir: "Imam setan tua ini ada punya kepandaian luar biasa, karenanya, kaum kangouw juluki ia Kwi-eng-cu si Bajangan Iblis. Coba dia suka wariskan salah satu pelajarannya kepada Sin Cie, alangkah baiknya! Hanya ia biasanya tak suka terima murid, maka perlu aku cari akal untuk ia keluarkan kepandaiannya itu. "

Segera juga guru ini kata pada muridnya : "Sin Cie, tootiang telah berikan janji hadiah bagimu, lekas kau memberi hormat dan haturkan terima kasihmu!"

Sin Cie benar-benar cerdik, dengan lantas ia dapat mengerti maksud gurunya, maka segera ia paykui pula, ia ucapkan terima kasihnya.

Bhok Siang Toojin tertawa terbahak-bahak. "Ya, bagus, bagus, bagus!" kata ia.

"He, bocah cilik, kau dengar aku, untuk jadi manusia, orang mesti jujur dan polos, maka jangan kau telad gurumu ini yang kulit mukanya sangat tebal! Masa, begitu dengar orang hendak memberikan barang, dia lantas ketok besi panas! Mustahil aku si tua-bangka nanti perdayakan kau satu bocah? Mustahil, bukan? Nah, begini saja, justru sekarang aku si tua-bangka lagi bergembira, aku berikan kau ini saja!"

Dari bebokongnya, dimana ada tergendol satu kantong, imam ini rogoh keluar segumpal barang, apabila Sin Cie buka itu, itu adalah baju kaos hitam, melainkan ia tak tahu, bahannya terbuat daripada sutera atau kulit. Tentu saja, ia terima hadiah barang itu dengan tergugu. "Eh, tooheng, jangan kau main-main!" Bok Jin Ceng kata pada sahabatnya itu, gangguan siapa tadi ia tak gubris. "Bagaimana kau dapat berikan dia mustika ini?"

Mendengar kata-kata gurunya itu, karena itu baju kaos katanya ada mustika, Sin Cie ulur kedua tangannya, akan angsurkan itu kepada si imam.

Tapi si imam menolak.

"Aku tak demikian kikir sebagai gurumu!" kata dia. "Tidak biasanya aku, sudah memberi barang, barang itu diminta pulang! Kau ambillah!"

Masih Sin Cie tidak berani menerima, ia awasi gurunya. "Jikalau begitu, kau terimalah," kata sang guru. "Lekas

kau bilang terima kasih."

Sin Cie menurut, ia mengucap terima kasih sambil paykui pula.

Lalu, dengan roman sungguh-sungguh, Bok Jin Ceng kata pada muridnya: "Ini adalah sepotong baju mustika! Untuk mendapatkan ini, dahulu tootiang sudah keluarkan banyak keringat-daki, ia telah membahayakan jiwanya sendiri! Nah, kau pakailah!"

Sin Cie turut perkataan gurunya, ia lantas pakai baju kaos itu.

Bok Jin Ceng bertindak kepohon, untuk cabut pedangnya, ia cuma gunai dua jerijinya, nampaknya ia dapat menyabut dengan gampang sekali.

"Baju kaos ini terbuat dari sutera emas putih, rambut dan bulunya kera-kuning, yang disulam menjadi satu, senjata tajam bagaimana juga tak dapat merusaknya," menjelaskan ia, menyusul mana, ia bacok pundak muridnya. Sin Cie kaget, ia hendak berkelit tapi sudah kasep, ia kalah sebat dengan gurunya itu, selagi ia berlompat, pundaknya sudah jadi sasaran. Akan tetapi, buat keheranannya, ia tidak terluka, bacokan terasa enteng sekali, pedang itu terpental balik. Ia jadi sangat girang, hingga lagi-lagi ia paykui didepan si imam! Bhok Siang Toojin tertawa; katanya pada si bocah: "Kau lihat barang ini hitam-legam, jelek dipandangnya. Ketika pertama kali kau paykui, mestinya kau belum punya kepercayaan, kau tidak puas, tetapi sekali ini kau paykui, tentu kau sudah puas benar!"

Mukanya Sin Cie jadi merah karena godaan itu, hingga ia diam saja.

Bhol Siang toojin tidak perdulikan orang jengah atau tidak, ia melanjutkan : "Dahulu pernah beberapa kali baju kaos ini tolong jiwaku," katanya, "tetapi sekarang, asal saja gurumu tidak ganggu aku, mungkin sekalipun tak memakai baju ini, dikolong langit tidak ada lagi orang yang mampu celakai aku!"

Habis mengucap demikian, imam itu tertawa berkakakan, nampaknya ia sangat puas dan jumawa.

Bok Jin Ceng pun tertawa, dan berkata: "Eh, imam bangkotan jangan campur aduk, kau mengebul didepannya satu bocah! Dalam hal ilmu kepandaian, tak dapat aku lawan kau, tetapi dikolong langit ini, ada banyak sekali orang pandai!"

Bhok Siang Toojin tersenyum.

"Sudah, sudah, kita berdua tak boleh gunai golok dan pedang!" berkata dia. "Mari, mari, lebih baik kita. "

"Kita adu kepandaian diatas papan catur!" tertawa Bok Jin Ceng. "Benar!" Bhok Siang Toojin pun tertawa. "Kau memangnya adalah cacing kamukan dalam perutku!"

"Ya!" kembali tertawa Bok Jin Ceng, "kau juga, jikalau ketagihan main caturmu, tidak kumat, tidak nanti kau datang cari aku diatas gunung sebagai ini! Apakah kau bawa alat peranti makan nasi?"

Bhok Siang Toojin tertawa sembari tertawa ia meraba bebokongnya, akan kasih turun papan caturnya (tio-kie) beserta dua bungkus biji tiokienya, sedang si gagu, tanpa diperintah lagi, sudah lantas gotong keluar meja dan kursi untuk dua orang itu adu otak.

Maka kedua orang tua itu lantas duduk dibawahnya sebuah pohon, akan mulai atur biji, untuk segera jalankan itu sambil saban-saban berpikir.

Wan Sin Cie berdiri disamping, ia tidak mengerti permainan itu, maka, sambil ia jalankan biji-bijinya, Bhok Siang Toojin ajari dia aturan bertindaknya sesuatu biji. Imam ini pun kebulkan tentang kepandaiannya main tiokie itu, bahwa Bok Jin Ceng bukanlah tandingannya.

Bok Jin Ceng cuma bersenyum saja, ia terus pikirkan biji- bijinya sendiri ia antapkan orang sombongi diri.

Catur ada permainan yang gampang dipelajari tetapi sulit untuk menjadi ahli, tetapi lain dengan Sin Cie, dengan lekas ia mengerti aturan mainnya, malah berkat kecerdasannya, ia mulai mengerti tipu-tipunya.

Dalam babak pertama, Bhok Siang Toojin adalah yang mendapat kemenangan, demikian juga pada babak kedua, setelah itu, pertarungan dilanjutkan, terus sampai cuaca mulai gelap. Mereka mainkan tiga babak, dibabak ketiga, Bok Jin Ceng menang. "Mari kita main terus!" mengajak si imam, yang tidak kenal lelah.

"Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk layani kau terus-menerus!" kata Bok Jin Ceng.

Karena ini, terpaksa Bhok Siang Toojin pergi beristirahat. Untuk ia, si gagu telah siapkan pembaringannya.

Sejak itu, beruntun tiga hari, tuan rumah dan tetamunya terus terusan main catur, karena si tetamu tidak mau mengerti jikalau ia tidak dilayani. Maka dihari keempat, tuan rumah kata: "Hari ini kita mengasoh satu hari, aku mesti ajarkan ilmu pedang dulu kepada muridku."

Alasan itu ada kuat, Bhok Siang Toojin tidak menghalangi. Tapi sangat sulit untuk ia tungkuli diri hari itu, maka juga, begitu lekas Bok Jin Ceng sudah selesai mengajari muridnya, dia lantas tarik tangannya sahabat itu.

"Mari, mari, kita bertempur lagi sampai tiga jurus!" kata ia dengan bernapsu.

Bok Jin Ceng merasa lelah, karena setengah-harian lamanya ia layani Sin Cie, tapi sahabatnya sedang ketagihan, apabila ia tidak tungkuli, satu malam itu tentu sahabat ini tidak bisa tidur, terpaksa ia duduk juga menghadapi papan catur berhadapan dengan tetamu yang sedang keranjingan itu. Sebab ia sedang lelah dan tidak bernapsu, hampir saja salah satu bijinya kena dirampas. Dengan susah payah ia perbaiki diri, tidak urung, ia masih kalah angin.

Sin Cie dampingi gurunya, ia tak sampai hati menampak guru itu terdesak.

"Suhu, menyerang kemari," kata ia akhirnya, hingga ia tak ingat bahwa ia telah mencampuri urusan orang tua-tua.

139 "Habis itu, suhu jalan disini, tentu suhu bisa lolos dari kepungan..."

Anak luar biasa ini dengan cepat telah mengerti baik tipu-tipunya permainan catur, penunjukannya itu memang ada jalan untuk hindarkan diri dari ancaman. Bok Jin Ceng juga tidak beradat mau menang melulu sebagai Bhok Siang Toojin, ia tidak keberatan akan turuti pengunjukan muridnya itu. Benar saja, setelah ia jalankan biji-bijinya menuruti sang murid, segera ia terlepas dari pengurungan, malah dilain pihak, ia dapat makan satu biji hitam. Ia sendiri pegang biji putih. Habis itu, Bhok Siang Toojin berbalik kena terdesak, malah akhirnya, dia cuma bisa menangi tiga biji.

"Dia benar cerdik," kata Bhok Siang Toojin, yang puji bocah itu. "Coba biarkan dia lawan aku, ganda enam biji!"

Bok Jin Ceng lulusi permintaan itu, ia ijinkan muridnya lawan sang supeh.

Sin Cie belum pandai betul tapi kecerdasannya membantu banyak sekali. Ia masih muda sekali, tapi otaknya kuat.

Dalam kalangan tiokie ada pepatah, "Didalam usia dua- puluh tidak menjadi kampiun, hilanglah harapan". Ini menandakan, tiokie mesti dipelajari sejak masih anak-anak. Sou Tong Po ada sasterawan termashur tetapi main tiokie, melawan seorang biasa, ia tak peroleh kemenangan. Hal itu membuat ia menyesal, hingga dia tulis sairnya : "Menang girang, kalah pun gembira".

Bok Jin Ceng sabar dan sederhana, tidak demikian dengan Bhok Siang Toojin, yang gemar akan kemenangan. Ia tidak lihat mata pada si bocah cilik, tetapi, sesudah biji- biji dijalankan, ia lantas merasai satu tandingan bukan sembarangan. Dasar anak kecil, Sin Cie ingin menangkan

140 supehnya itu, ia bermain dengan sungguh-sungguh. Diakhirnya, Bhok Siang Toojin menang tetapi bukan tak dengan susah-payah.

Besoknya, pagi-pagi, Bhok Siang Toojin telah cari Sin Cie, buat ditarik tangannya, untuk diajak bertanding pula, tanpa bocah ini bisa menampik. Kali ini, dua kali Sin Cie menang dengan beruntun, maka ganda diubah, dari enam biji, jadi lima.

Dapat ganti si bocah cilik, Bhok Siang abaikan tuan rumahnya, terus setiap hari, ia ajak Sin Cie "bertempur", hingga tahu-tahu, sudah hampir sepuluh hari mereka main terus, hingga selanjutnya, dari diganda, keduanya main seperti biasa. Sin Cie peroleh kemajuan sangat pesat, hingga dia berani melayani tanpa diganda lagi. Malah sekarang, sering mereka kalah dan menang bergantian! Begitu lekas Sin Cie utamakan tiokie, ilmu silatnya kena diterlantarkan juga. Bok Jin Ceng ketahui ini, tapi dia antap saja. Baru belakangan, melihat si tua bangka dan si bocah seperti lupa tidur dan makan - mereka bertempur tanpa batas tempo - ia jadi kuatir juga. Diam-diam ia kisiki muridnya ini supaja selanjutnya dia ini layani supehnya satu hari satu kali saja, sebab dia tidak boleh alpai ilmu silatnya.

Atas kisikan itu, Sin Cie malu sendirinya. Memang benar, hampir sepuluh hari, ia sudah siasiakan pelajarannya. Maka besoknya, waktu Bhok Siang Toojin ajaki dia main catur, dia menolak dengan manis, katanya ia mesti berlatih. Dihari kedua juga dia kembali menampik.

"Kau temani aku main, habis main, aku nanti ajarkan kau semacam ilmu silat, dengan itu, pasti gurumu girang," kata Bhok Siang membujuk.

"Nanti aku tanya suhu dulu," kata Sin Cie, yang tidak berani lancang. "Baik, pergilah tanya!" si imam menganjurkan.

Sin Cie lari mencari gurunya. Ia beritahukan janjinya Bhok Siang.

Bok Jin Ceng girang. Ia memang tahu, imam itu liehay, melainkan adatnya aneh, dia tak suka menerima murid, tapi sekali ini dia kasih janjinya, itu tentu disebabkan pengaruh ketagihannya main catur.

Lantas ia tarik tangan muridnya untuk dibawa kepada si imam, kepada siapa lantas saja ia menjura : "Kau hendak sempurnakan muridku ini, disini kuhaturkan terima kasih padamu!"

Lantas ia suruh muridnya paykui.

Sin Cie menurut, ia paykui dengan segera.

"Jangan, jangan!" ia menolak, tangannya digoyang berulang-ulang. "Aku tidak terima murid! Jikalau dia hendak minta pelajaran dari aku, dia mesti dapatkan itu dengan menangkan aku dengan kepandaiannya!"

"Apakah caranya itu?" tanya Bok Jin Ceng.

"Dalam hal ilmu pedang dan ilmu kepalan, Lo Bok, dikolong dunia ini kau tidak ada lawannya, aku si imam tua takluk kepadamu," berkata imam itu, "maka bocah ini, asal dia sanggup wariskan dua atau tiga bagian dari kepandaianmu, sukar dicari tandingannya dalam kalangan kangouw. Tetapi bicara tentang senjata rahasia, aku kira aku si imam tua mempunyakan dua kemungkinan!"

"Memang siapa tak tahu kau si Bajangan Iblis mempunyai kepandaianmu yang istimewa itu, jangan kau coba mengebul!"

"Ya, kau memang utamakan kaummu, segala apa kau hendak main terus-terang, hingga segala senjata rahasia kau tidak hendak dijakinkan dengan sungguh-sungguh," kata si imam. "Mengenai Sin Cie, aku hendak atur begini. Kau antap dia lajani aku main tiokie, dua dalam satu hari, jikalau aku yang menang, kau mesti biarkan dia kawani aku melewatkan waktu yang senggang. Asal dia menangkan aku satu babak saja, aku nanti ajarkan dia semacam ilmu entengi tubuh, tapi kapan dia bisa menang beruntun dua kali, disebelah ilmu entengi tubuh itu, aku ajarkan lagi serupa senjata rahasia. Coba timbang, pertaruhanku ini adil atau tidak?"

"Imam tua ini benar licik dan lucu," pikir Bok Jin Ceng. "Tapi dia ada satu laki-laki sejati, sekali dia berkata, dia tidak pernah tarik pulang lagi". Maka ia lantas jawab : "Baik, baiklah diatur begini. Aku memangnya kuatirkan Sin Cie sia-siakan waktunya yang berharga, sekarang ada ini ketika yang baik, aku terima baik permintaanmu. Sekarang kau boleh main, sesukanya, setiap hari delapan kali, sepuluh kali, masa bodo!"

Bhok Siang jadi sangat girang, demikian juga Sin Cie. Tidak tempo lagi, keduanya lantas duduk berhadapan, untuk mulai dengan pertempurannya.....

Hari itu juga mereka main dua kali juga. Habis main, dia menetapi janji, dia kata pada bocah she Wan itu : "Sekarang aku ajarkan kau satu jurus ilmu entengi tubuh. Ya, cuma satu jurus saja, tapi jikalau kau yakinkan dengan sungguh- sungguh, faedahnya kau akan dapatkan seumur hidupmu. Nah, kau lihatlah dengan waspada."

Baru habis dia mengucapkan, tak tertampak lagi gerakan kakinya, tahu-tahu tubuh imam itu sudah mencelat keatas sebuah pohon didekat mereka, ketika ia lompat dengan jumpalitan, tahu-tahu ia sudah kembali berada didepannya si bocah. Sin Cie kagum hingga ia melengak, setelah sadar ia tepuk-tepuk tangan, ia bersorak.

"Sekarang hayo kau mulai pelajarkan," Bhok Siang kata. Dan ia terus ajarkan ilmu entengi tubuh itu yang dinamakan "Poan in seng liong" atau "Naga naik merayap dimega". Untuk itu, Sin Cie mesti berlompatan dengan enjot tubuh.

Dihari kedua, Sin Cie kalah dua kali berturut-turut, maka pada hari itu seperti bunyinya perjanjian, ia tidak peroleh pengajaran apa juga. Tapi di hari ketiga, ia main bagus sekali. Ia lepaskan kedua sayap, ia menyerang di tengah dan ia menang dua-dua kalinya.

Tak puas Bhok Siang Toojin. "Mari lagi!" ia mengajak.

Mereka main pula dua kali, dengan kesudahan seri, satu kalah, satu menang. Turut jumlah, si imam kalah tiga. Atas ini, imam itu ajarkan si bocah dua rupa ilmu entengi tubuh.

Sin Cie turut ajaran itu, ia terus berlatih, sampai ia pandai jalankan.

"Kau tahu, apabila aku menghadapi lawan, aku gunai senjata apa?" tiba-tiba tanya guru istimewa ini.

Sin Cie tidak tahu, ia menggeleng-gelengkan kepala.

Bhok Siang Toojin jumput papan caturnya, untuk diangkat.

"Inilah senjatanya! Menerangkan dia.

Anak itu heran, walaupun ia tahu, papan catur itu terbuat dari baja. Ia menyangka, karena sangat gemar main tiokie, imam ini sengaja bikin papan catur luar biasa itu, dan   papan   catur   ini   terus   dibawa-bawa,   mungkin dikuatirkan rusak, dibuatnya dari logam kuat itu. Siapa sangka, itu adalah alat-senjata.

Bhok Siang jumput seraupan biji catur.

"Dan ini adalah senjata rahasiaku!" ia tunjuki si bocah.

Ia tertawa.

Belum sempat Sin Cie menanya atau si imam telah lemparkan biji-biji catur itu, belasan biji, kemudian ia angkat papannya, untuk dipakai menanggapi.

Aneh sekali, dengan menerbitkan suara nyaring, semua biji catur itu jatuh kedalam papan catur itu. Lebih aneh pula, jatuhnya tidak beruntun, hanya berbareng semua, tanpa meletik lagi.

Si imam tertawa, lalu ia kata : "Buat bisa menggunai senjata rahasia, paling dulu orang mesti melatih tenaga, lalu belajar menyerang dengan tepat, supaya penyerangan tentu cepat dan pelahannya, berat dan entengnya. Sekarang mari kau mulai!"

Bhok Siang benar-benar ajarkan Sin Cie bagaimana mesti menimpuk, bagaimana tenaga mesti dikumpul ditangan, bagaimana harus mengincar sasaran.

Bukan main girang Sin Cie, ia belajar dengan rajin.

Tanpa terasa, setengah tahun Bhok Siang Toojin menenamu di atas gunung - gunung Hoa San - selama itu setiap hari dia main tiokie dengan Sin Cie, berbareng dia ajari bocah itu menggunai senjata rahasianya - biji-biji catur serta ilmu entengi tubuh. Ia seperti lupa pulang. Ia pun mengajari dengan sungguh-sungguh.

Selama Bhok Siang Toojin berdiam di Hoa San, kebetulan musim panas, maka itu telah diatur, pagi sampai siang, Sin Cie belajar silat, tengah-hari sampai lohor, mereka berdua bertempur atas papan tiokie. Dan selama itu, permainan catur Sin Cie jadi liehay sekali, hingga ia telah melebihi gurunya ini. Tapi dasar si imam "suka menang", dia selalu suruh Sin Cie pegang biji putih dan jalan terlebih dahulu, tapi ini justru mengakibatkan, ia lebih banyak kalah daripada menang....

Sin Cie gunai biji jalan bukan untuk serang serampangan saja, hanya Bhok Siang Toojin didik ia untuk serang jalan darah, sekali timpuk, dengan belasan biji, dia mesti bisa mengenai sasaran dengan jitu. Ilmu senjata rahasia jang aneh itu dipanggil "Boan thian hoa ie", atau "Hujan bunga diseluruh langit". Ini ada pelajaran sangat sulit. Ia mulai dari satu biji, lalu ditambah, ia sudah belajar empat bulan, Baru ia bisa gunai tiga atau empat biji, dan yang kena, Baru satu atau dua. Sebagai sasaran ada selembar papan dimana dilukiskan tubuh manusia dengan tanda-tanda jalan darah, diwaktu diserang, papan itu tidak dipancar hanya dipegangi oleh si empeh gagu, untuk dilarikan, setiap sang guru serukan jalan darah mana yang musti diserang.

Pada suatu hari, sedang Sin Cie berlatih, si gagu berlari- larian dengan papannya, dan si guru sedang berseru dengan pengunjukan-pengunjukannya; ketika Sin Cie sudah menimpuk jitu tiga biji, dan hendak menimpuk terus, sekonyong-konyong ia terkejut, hingga ia serukan jeritan tertahan. Ia lari kepada si gagu, untuk tarik dia ini! Si gagu kaget, segera ia menoleh. Tidak tahunya, dibelakangnya, tahu-tahu berdiri orang hutan, yang bersikap hendak menerkam dia. Ia menjadi tidak senang, ia ayun papan jang dipegangnya, untuk dipakai menyerang.

Cepat luar biasa, Bhok Siang Toojin mencelat kepada si gagu ini, tubuh siapa ia tarik mundur, berbareng dengan mana, ia serukan muridnya : "Sin Cie, kau jang layani dia!" Anak ini tahu, guru itu hendak uji dia, dia tidak menolak, malah segera dia lompat kedepan orang hutan itu.

Entah kenapa, berhadapan dengan orang, orang-hutan itu putar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi, maka melihat demikian, Sin Cie gerakan sebelah tangannya, akan tepuk bebokongnya, hingga saking kesakitan, binatang liar itu perdengarkan pekiknya berulang-ulang. Dia menjadi gusar, dia berbalik, lalu tangannya jang panjang dan berbulu, menyambar! Sin Cie berkelit, dengan lompat kesamping, dari mana ia berniat menyerang, tetapi mendadakan, dibelakangnya ada menyambar angin. Ia tahu, tentu ada lain musuh yang bokong padanya. Tak keburu ia memutar tubuh, maka itu, ia menjejak tanah, untuk berlompat tinggi sambil jumpalitan, dengan begitu, apabila ia sudah berbalik, ia dapati si pembokong adalah satu orang-hutan lain, yang sama besarnya. Sebenarnya, sejak belajar silat, belum pernah ia berkelahi dengan lain orang, namun demikian, tak jeri ia menghadapi dua binatang buas itu. Segera ia menyerang, dengan mainkan tipu-tipu dari Hok-hou-ciang, Tangan harimau.

Suara berisik membuat Bok Jin Ceng muncul. Ia saksikan pertempuran itu, ia lihat bagaimana beberapa kali orang-orang hutan itu kena dihajar, saban-saban keduanya perdengarkan pekikan-pekikan dari kesakitan.

"Bocah ini tidak mensia-siakan cape-lelahku," pikir guru ini, jang merasa puas.

Setelah berulang-ulang merasai pukulan-pukulan jang menyakiti tubuh, kedua orang-hutan itu tidak berani berkelahi rapat, keduanya main lompat-lompatan, kadang- kadang saja mereka menubruk.

Sesudah mengawasi sekian lama, Bok Jin Ceng dapat kenyataan, walaupun ilmu silatnya telah digunai dengan baik, tenaganya Sin Cie kurang sekali, semua pukulannya melainkan menerbitkan rasa sakit, tidak bisa melukai, maka itu, ia masuk kedalam, untuk ambil pedang.

"Sambut ini!" kata ia ketika ia keluar pula, seraya lemparkan pedang kepada muridnya.

Sin Cie berlompat, akan papaki pedang, untuk disambar dengan tangannya, setelah mana, ia bisa berkelahi dengan terlebih gesit pula. Saban-saban ia membacok atau menikam, untuk mana, kedua binatang hutan itu pun berlaku gesit, senantiasa mereka lompat menyingkir.

"Jangan binasakan mereka!" Bhok Siang serukan anak muda itu.

Sin Cie menyahuti, lalu ia mendesak hebat. Kali ini, asal ia mau, ia bisa tikam sesuatu dari binatang itu, akan tetapi sekarang ia melainkan mengancam, cuma ia lukai sedikit lengan, pundak dan kepala orang hutan itu.

Kelihatannya kedua binatang itu mempunyai perasaan. Mereka mengerti orang tidak hendak binasakan mereka. Ini terbukti, kapan mereka lompat jauh, Sin Cie tidak mengejar, anak itu malah berhenti bersilat, dia mengawasi saja mereka. Mereka insyaf bahwa orang mengasihani kepada mereka, maka kemudian mereka berpekik, lalu keduanya rubuhkan diri, sepasang tangan mereka dipakai menutup kepala mereka masing-masing, cuma mata mereka mengawasi si anak muda, dengan sinar mohon diberi ampun....

Sin Cie berhenti menyerang, ia mengerti orang sudah menyerah.

Si gagu girang, ia lari kedalam, untuk ambil dadung, buat belenggu kedua binatang itu. Mulanya kedua orang-hutan coba berontak, mereka berpikir dan pertontonkan gigi mereka, tapi tenaganya si gagu kuat sekali, diakhirnya, mereka menyerah, mereka tidak berani melawan lebih jauh.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin puji Sin Cie, jang lantas dianjurkan untuk belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.

Bukan kepalang girang Sin Cie. Ia pun merasakan bagaimana hasilnya latihan kerasnya. Disebelah itu, girang ia mendapati dua orang hutan itu, ia sendiri mencarikan buah-buahan, untuk piara mereka.

Selang tujuh atau delapan hari, kedua orang-hutan itu jadi jinak sekali, keduanya mengerti kesajangan si anak muda terhadap mereka, maka itu, walaupun tidak lagi dicangcang, mereka tidak mau kabur.

Sin Cie lantas beri nama "Tay Wie" kepada yang lelaki dan "Siau Koay" kepada yang perempuan, ia biasakan memanggil mereka hingga keduanya tahu namanya masing- masing.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin tertawa melihat kedua binatang itu jadi demikian jinak dan mengerti maksud orang.

Setelah binatang itu tahu rumah, jinak dan mendengar kata, Sin Cie lepaskan mereka hingga mereka merdeka untuk pergi cari makan sendiri, mencari bebuahan diatas gunung.

Pada suatu hari terjadilah suatu hal kebetulan.

Tay Wie dan Siau Koay pergi mendaki gunung, untuk cari makanan. Dengan berani Siau Koay merambat ditembok gunung, atau mendadakan kakinya terpeleset, tiada ampun lagi, pegangannya terlepas, dia jatuh. Tembok gunung itu adalah jurang dalamnya empat puluh tumbak lebih.

Tay Wie kaget, tapi kapan dia mengawasi lebih jauh, dia lihat kawannya tidak jatuh terus ke jurang hanya nyangkut pada suatu cabang pohon dimana kebetulan ada sebuah gua kosong, jang mulut guanya sudah lumutan. Disini Siau Koay berpegangan pada mulut gua, naik tidak bisa, turun juga tidak bisa.

Dalam sibuknya, Tay Wie lari pulang, untuk cari Sin Cie, buat beri kabar. Ketika itu, sang majikan lagi berlatih dengan pedang. Binatang ini tidak bisa bicara, maka juga ia berpekik tak hentinya.

Sin Cie heran, apabila ia lihat tubuhnya orang hutan itu lecet disana-sini, berdarah bekas kena tusukan duri pepohonan, sedang romannya seperti ketakutan. Tidak tempo lagi, ia cari A Pa, si gagu, untuk diajak bersama, mengikuti binatang piaraan itu pergi kejurang.

Sesampainya di tepi jurang, Tay Wie menunjuk-nunjuk kearah Siau Koay, ia berpekik tak sudahnya, kaki tangannya digeraki berulang-ulang. Karena ini, Sin Cie dan A Pa segera dapat lihat si orang-hutan betina dalam bahaya itu. Tidak tempo lagi, Sin Cie lari pulang untuk ambil dadung, yang ia lemparkan kearah binatang piaraannya itu, ia sendiri lalu memegangi ujungnya bersama A Pa.

Siau Koay sudah lelah sangat, ketika ia lihat dadung, ia jambret, ia pegangi dengan keras, dengan begitu, sebentar kemudian ia dapat ditarik naik. Ia terluka dibeberapa tempat, syukur tidak hebat. Kemudian, dengan perdengarkan pekikan berulang-ulang, ia tunjuki tangannya kepada Sin Cie.

Sin Cie heran apabila ia dapati ditelapakan tangan kedua orang hutan itu nancap dua rupa benda luar biasa, ketika ia

150 coba cabut, benda itu nancap keras, Siau Koay sendiri menjerit-jerit keras, rupanya sangat kesakitan. Benda itu susah dicabut.

"Apa mungkin ada musuh disini?" Sin Cie tanya dirinya sendiri. Ia menjadi curiga dengan tiba-tiba. Lalu, dengan tanda-tanda tangan, ia tanya Siau Koay, siapa yang sudah serang padanya.

Dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya, Siau Koay beritahu bahwa ketika ia ulur tangannya kearah dalam gua, ia kena sambar atau tertusuk benda itu.

Bukan main herannya ini anak muda. Bagaimana dalam gua itu ada senjata rahasia? Sebab benda luar biasa itu tak lain tak bukan, mesti senjata rahasia adanya. Tidakkah gua itu jauh dari sana-sini? Dengan masih terus merasa aneh, Sin Cie ajak A Pa dan dua binatang piaraannya itu untuk cabut benda aneh itu, yang pun ia kasih lihat.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang turut merasa aneh.

"Aku gemari senjata rahasia, pernah aku lihat pelbagai bentuk senjata rahasia dari lain-lain orang, tetapi yang seperti ini, mirip ular, inilah yang pertama kali," menyatakan Bhok Siang. "Lao Bok, kali ini runtuhlah aku dari ujian..."

"Coba keluarkan dulu," usulkan Bok Jin Ceng.

Bhok Siang masuk kekamarnya, untuk ambil pisau kecil, dengan itu ia potong daging telapakan tangannya Siau Koay, untuk keluarkan benda aneh itu.

Siau Koay tahu orang hendak tolong dia, dia tidak berontak. Setelah benda dicabut, lukanya diobati dan dibungkus. Ia nampaknya merasa puas, sedang Tay Wie lantas usap-usap dia dan carikan dia kutu..... Dua potong senjata rahasia itu panjangnya masing- masing dua cun delapan hun, berbentuk kepala ular dengan lidah diulur keluar, lidahnya bercagak tiga, setiap cagaknya tajam. Seluruh tubuh ular berwarna hitam gelap, kotor dengan lumut, tapi kapan Bhok Siang telah keriki lumutnya, tertampaklah sepotong benda mengkilap - emas! "Pantas timbangannya berat, kiranya terbuat dari emas," kata imam ini. "Sungguh berbahagia orang yang menjadi pemilik senjata rahasia ini! Sekali menggunai, dia buang emas beberapa tail..."

Sekonyong-konyong Bok Jin Ceng terperanjat sendirinya, lalu ia berseru: "Inilah senjata rahasia Kim Coa Long-kun!"

"Kim Coa Long-kun?" menegaskan Bhok Siang sambil melengak. Ia berdiam sebentar, akan melanjuti sesaat kemudian: "Kau maksudkan Hee Soat Gie? Bukankah, kabarnya, dia telah meninggal dunia sejak belasan tahun jang lampau?" Dia Baru mengucap demikian, atau dengan roman kaget, dia berseru: "Tidak salah, benar dia!"

Imam ini lantas bulak-balik senjata rahasia model ular itu, lalu dibagian perutnya ia tampak satu ukiran huruf "Soat". Huruf ini kedapatan pada senjata rahasia yang kedua.

"Suhu, siapa itu Kim Coa Long-kun?" tanya Sin Cie pada gurunya, yang masih tercengang, hingga sejak tadi, guru ini diam saja.

"Nanti saja aku beri keterangan kepadamu," sahut sang guru kemudian. "Tootiang, coba bilang, kenapa senjata rahasianya bisa berada dalam gua itu?"

Bhok Siang Toojin tidak menjawab, dia hanya berdiam berpikir. Disebelahnya merasa aneh, dua sahabat itu nampaknya jadi tegang sendirinya. Karena ini, Sin Cie tidak berani menanyakan terlebih jauh.

Malam itu, habis bersantap, Bok Jin Ceng dan Bhok Siang duduk pasang omong. Sin Cie mendengari dengan diam saja, karena ia tak mengerti apa yang diomongi itu. Ia melainkan perhatikan kata-kata "pembunuhan karena permusuhan" dan "pembalasan dendaman". Pun ada kata- kata rahasia lainnya, yang gelap untuknya.

"Jadinya," kemudian kata si imam tiba-tiba," Kim Coa Long-kun telah datang kemari untuk menyingkir dari musuh-musuhnya?"

Jawaban Bok Jin Ceng ada menyimpang. "Melihat kepandaiannya, sebenarnya tak ada perlunya dia jauh-jauh dari Kanglam menyingkir dan sembunyikan diri ketempat sunyi ini."

"Apa mungkin dia masih belum mati?" Bhok Siang tanya pula.

"Dia adalah seorang luar biasa," sahut Bok Jin Ceng. "Selama ini kita cuma dengar namanya belum pernah kita menemui sendiri kepadanya. Orang bilang dia telah meninggal dunia tetapi siapa juga tidak tahu kenapa dan cara bagaimana dia meninggalnya."

"Dia memang aneh sepak terjangnya...." Sang imam menghela napas. "Ada kalanya dia telengas sekali, ada kalanya dia mulia dan berbudi, sehingga apa dia jahat, apa dia baik, orang melainkan bisa menduga-duga saja. Beberapa kali pernah aku mencoba cari dia, tetapi senantiasa gagal..." "Sudah, tak perlu kita main duga-duga saja," memutus Bok Jin Ceng. "Besok kita pergi ke guanya untuk melihat- lihat!"

Dan besok paginya Bok Jin Ceng ajak Bhok Siang Toojin, Sin Cie dan A Pa, dengan membekal senjata dan dadung, pergi kejurang yang kemarin. Sin Cie hunjuki dimana letaknya gua.

"Hati-hati," pesan Bok Jin Ceng, ketika Bhok Siang nyatakan dia suka turun untuk memasuki gua itu. Kemudian si imam libat pinggangnya dengan dadung dan kawannya, bersama si gagu, kerek dia turun secara pelahan- lahan.

Didepan mulut gua, Bhok Siang berhenti, segera ia mengawasi kedalamnya. Ia tampak kabut, hingga sekalipun tanah tak terlihat tegas. Diam-diam hatinya bercekat walaupun dia ada satu jago, jang telah luas pengalamannya. Ia mengawasi terus. Biasanya, di tempat gelap, lamaan mata orang menjadi biasa, tetapi disini, imam itu rasai malah semakin guram. Ia hanya merasa, gua ini mestinya dalam sekali. Ia pun menduga-duga apa tubuhnya muat apabila ia coba memasuki gua itu....

Bhok Siang tak mau mundur dengan begitu saja. Ia lantas bungkus sebelah tangannya, lalu ia ulur itu kedalam gua. Ia memasukinya dengan pelahan-lahan. Segera ia merasakan tangannya membentur suatu benda tajam dimulut gua - benda yang nancap dimulut gua itu. Ia duga itu adalah Kim-Coa-cui -"bor ular emas". Ia mencabut semuanya, jang berjumlah empat belas biji. Ia ulur tangannya lebih jauh, sampai pipinya mengenai mulut gua, ia tidak meraba lain benda. Sampai disitu Barulah ia kuatir, orang-orang diatas, yang menahani tubuhnya, nanti lelah.

"Tarik aku!" ia perdengarkan suara seraya ia mengedut. Bok Jin Ceng dengar suara itu, ia menarik dengan pelahan-lahan.

Lagi kira dua tumbak sampai diatas, setelah kakinya dapat injak batu dilamping jurang itu, Bhok Siang menjejak, dengan begitu, cepat sekali ia telah sampai diantara kawan- kawannya.

"Lihat ini!" berseru ia kepada Bok Jin Ceng, sambil ia perlihatkan tangannya dalam mana tergenggam empat-belas benda tajam, dan aneh jang seperti didapati Siau Koay. "Lau Bok, kita dapat harta karun! Emas begini banyak!..." ia tertawa.

Sebaliknya dari sahabat itu, Bok Jin Ceng perlihatkan wajah sungguh-sungguh.

"Ini hantu simpan bendanya di dalam gua, apakah maksudnya?" kata dia kemudian. "Ada benda apa lagi didalam gua itu? Nanti aku pergi lihat. "

"Percuma kau pergi melihat," kata Bhok Siang. "Mulut gua ada terlalu kecil, tubuhmu tak muat dalam itu!"

Bok Jin Ceng berpikir, ia diam saja. Ia tunduk.

"Supeh, apakah bisa aku yang pergi?" tiba-tiba Sin Cie tanya.

"Mungkin kau bisa," sahut Bhok Siang sambil tertawa. "Jurang ada begini dalam, apa kau berani?"

"Aku berani, supeh," jawab bocah itu. "Suhu, aku yang pergi boleh tidak?"

Bok Jin Ceng masih asyik berpikir dalam hatinya ia bilang : "Orang kangouw gaib itu simpan senjata rahasianya didalam gua sini, mesti ada maksudnya, maka jikalau gua itu tidak dicari tahu terlebih jauh, sungguh sayang. Akan

tetapi siapa tahu, ada tersembunyi ancaman bencana apa didalamnya? Kalau bocah ini diantap pergi seorang diri, tidakkah itu ada menguatirkan?...." Kemudian ia jawab muridnya : "Aku kuatirkan bencana dalam gua..."

"Aku bisa waspada, suhu," sang murid mendesak. Melihat murid itu demikian berani dan bernapsu,

akhirnya sang guru manggut.

"Baiklah," ia beri ijin akhirnya. "Tapi kau mesti coba dulu. Kau nyalakan api, umpama api itu mati, jangan kau paksa masuk!"

"Aku mengerti, suhu," kata sang murid, yang segera persiapkan sebatang obor, sedang pedangnya ia tidak lupakan. Ia cekal pedang ditangan kanan dan obor ditangan kiri. Lebih dahulu daripada itu, ia ikat pinggangnya dengan dadung.

Kapan dadung telah diulur turun, cepat sekali Sin Cie telah sampai dimulut gua. Ia turut pesan gurunya, paling dulu ia sodorkan obor kedalam gua. Ia dapatkan obornya tidak padam, hal ini membuat ia girang. Maka lantas, dengan hati-hati, ia merayap masuk kedalam gua itu. Dadung dipinggangnya ia tidak loloskan. Ia mesti jalan sambil merayap, setelah kira sepuluh tumbak lebih, terowongan mulai mendaki. Ia maju terus, kira setumbak lebih, Baru ia sampai ditempat terbuka dimana ia bisa bangkit berdiri. Ia tidak takut, ia maju terus.

Sebentar saja, anak ini lihat jalan menikung. Ia semakin waspada, ia maju sambil cekal keras pedangnya. Ketika ia telah lalui tiga tumbak, ia menghadapi sebuah kamar batu. Ia hampirkan mulut pintu, ia menyuluhi dengan obornya.

Tiba-tiba ia terperanjat, sampai ia keluarkan keringat dingin. Duduk diatas batu, ditengah-tengah kamar, ada satu rerongkong manusia, lengkap dengan kepala dan tangannya, dan kedua tangannya rebah diatas pangkuan.

Dengan hati memukul, Sin Cie awasi tulang-ulang manusia itu, setelah itu baru ia memandang kesekitar kamar. Syukur untuk ia, disitu tidak ada lagi lain pemandangan yang mengerikan.

Malang-melintang ditanah didepan rerongkong itu ada belasan kim-coa-cui. Disamping rerongkong ada terletak sebuah pedang. Ditembok kamar ada sederetan gambar ukiran dari tubuh manusia lengkap, cuma sikapnya berlainan, kakinya dipakai menendang, mirip dengan orang yang lagi berlatih silat. Ia awasi semua gambar itu, ia perhatikan, tak mengertilah ia. Entah apa maksudnya gambar-gambar itu.

Di ujung dari gambar ukiran yang penghabisan, dengan diukir juga, ada beberapa baris dari enambelas huruf.

Sin Cie dekati, lalu ia membaca. Begini bunyinya: "Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh. Siapa masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran."

Sin Cie masih hendak perhatikan kamar itu ketika ia dengar samar-samar suara orang memanggil, lantas ia bertindak keluar, tempo ia sampai ditikungan, ia kenali suaranya Bhok Siang Toojin, yang masih memanggil- manggil namanya. Lantas ia menyahuti, terus ia merayap keluar.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang, diatas jurang, menantikan sekian lama, selama itu, mereka pun ulur dadung makin lama makin panjang, karena itu, setelah menantikan pula sekian lama, sang murid masih belum kembali, keduanya berkuatir. "Nanti aku lihat," kata Bhok Siang, yang lantas saja merayap turun. Ia tidak bisa masuki terowongan, maka dari mulut itu, ia teriaki muridnya berulang-ulang. Ia merasa hatinya lega kapan ia dengar jawaban muridnya, yang pun lantas keluar.

Dengan satu tanda, Bok Jin Ceng dan A Pa tarik dadung, maka dilain saat, dua-dua Bhok Siang dan Sin Cie kembali diantara mereka, tetapi Sin Cie dengan pakaiannya kotor dan mukanya berlepotan debu dan lumut. Bocah ini pun perlihatkan roman tegang.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang duga anak ini menghadapi suatu apa yang luar biasa, dari itu mereka antap orang tetapkan hati.

Lagi sesaat Barulah Sin Cie bisa tuturkan apa yang ia tampak dalam kamar batu gua itu.

"Tidak salah lagi, rerongkong itu mesti ada rerongkong Hee Soat Gie," berkata Bok Jin Ceng. "Aku tidak sangka, seorang kosen luar biasa bisa akhirkan penghidupannya ditempat ini. Sungguh sayang. "

"Apakah artinya pesanannya enam-belas huruf itu?" tanya Bhok Siang.

Bok Jin Ceng berdiam sesaat, Baru ia menjawab. "Kelihatannya Kim Coa Long-kun mesti simpan benda

berharga, entah mustika apa," berkata dia. "Dia mempunyai

ilmu silat yang liehay sekali, mestinya ia tinggalkan itu dalam guanya, setahu dengan cara apa. Mungkin dia nantikan orang jang berjodoh dengannya untuk hadiahkan warisannya itu. Dia ada seorang dengan tabiat kukoay sekali, rupanya dia anggap, siapa nanti peroleh warisannya itu, ialah jang dianggap sebagai muridnya. Dengan kata 'pintuku', tentu dia maksudkan golongannya. Tapi mungkin juga, didalam kamarnya itu ada suatu ancaman malapetaka. "

"Melihat bunyinya pesan, itu mungkin benar," kata Bhok Siang. "Hanya entah keanehan apa adanya itu. "

Bok Jin Ceng menghela napas, lalu ia kata: "Kita tak harap warisan ilmu silat dan mustikanya itu, tetapi, Sin Cie, besok pergilah kau memasuki pula gua ini, kau mesti galikan lobang, untuk kubur rerongkong Kim Coa Long- kun, yang kita hormati sebagai cianpwee, orang yang tertua. Kau mesti nyalakan lilin dan pasang hio dan hunjuk hormatmu sambil berlutut. Secara begini kita jadi hormati dia."

Sin Cie manggut, ia suka dengar perkataan gurunya itu. Bhok Siang Toojin pun setuju pikiran sahabatnya itu.

Besoknya pagi Sin Cie pergi pula kejurang dengan bekal juga pacul. Ia pergi berdua saja sama A Pa, si gagu. Bok Jin Ceng dan Bhok Siang tidak turut, karena mereka anggap, gua itu tidak ada bahayanya. Sin Cie bekal tiga batang obor, karena ia tahu ia bakal berdiam lama didalam gua.

A Pa kerek turun anak ini.

Dengan cepat Sin Cie dapat merayap ke tikungan dimana ia bisa bangun untuk berdiri, terus saja ia hampirkan kamar. Paling dulu ia gali lobang didekat pintu, untuk pendam obornya, supaya ia tak usah pegangi terus obornya itu, dengan begitu, ia bisa bergerak dengan leluasa. Habis itu Barulah ia hadapi rerongkong Kim Coa Long- kun.

"Suhu bilang dia ada seorang kosen luar biasa, entah kenapa dia menutup mata disini," ia berpikir. "Setelah dia meninggal dunia, tak ada orang kubur mayatnya, sungguh kasihan. " Bocah ini lantas jatuhkan diri didepan rerongkong itu, untuk paykui.

"Teecu ada Wan Sin Cie," berkata ia dalam hatinya, setelah ia manggut beberapa kali, "dengan kebetulan saja, teecu dapat menemui jenasah tayhiap ini. Hari ini ingin teecu kubur jenasah tayhiap, harap tayhiap nanti beristirahat dengan tenang dan kekal disini..."

Baru habis Sin Cie hunjuk hormat itu, dari arah luar gua telah mengembus angin dingin, yang rupanya meniup dari dalam jurang, sampai hawa dinginnya membuat ia bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.

Habis itu, Sin Cie lantas mulai menggali lobang. Ia tadinya duga, tanah didalam kamar itu mestinya keras, siapa tahu, begitu ujung pacul mengenai tanah, hatinya menjadi lega. Tanah itu empuk. Karena ini, ia bisa bekerja dengan cepat.

Tiba-tiba terdengar satu kali suara membeletuk. Itulah tanda ujung pacul mengenai barang keras, mungkin besi. Untuk dapat kepastian, Sin Cie ambil obor, untuk dipakai menyuluhi dekat-dekat. Segera ia dapatkan selembar papan besi. Ia memacul terus tanah disekitar besi lembaran itu, kemudian ia angkat besinya.

Dibawah lembaran besi itu ada sebuah peti besar dua kaki persegi.

Dengan dorongan perasaan ingin tahu, Sin Cie angkat peti besi itu, yang tingginya kira-kira satu kaki. Beratnya peti itu tidak luar biasa, maka itu bisa diduga, isinya mesti tak banyak.

Oleh karena tutup peti tidak dikunci, dengan gampang Sin Cie dapat buka itu. Peti itu cetek sekali, hingga Sin Cie menjadi heran. "Heran," pikir si anak muda. "Peti besar dan tinggi, kenapa dalamnya cetek?"

Didalam peti terletak selembar sampul diatas mana ada tulisan delapan huruf besar, yang berbunyi : "Siapa dapati petiku, boleh buka surat ini."

Melihat demikian, Sin Cie jumput sampul itu, untuk dibuka dan keluarkan suratnya, yang warnanya sudah berubah menjadi kuning-dekil. Ia beber surat itu, lantas ia baca: "Barang dalam peti ini, diwariskan kepada yang berjodoh. Hanya siapa dapatkan peti, mesti lebih dahulu kubur tulang-tulangku."

Bersama surat itu, didalam sampul, ada dua sampul lain, sampul-sampul yang lebih kecil. Diatas sampul yang satu tertulis: "Aturan membuka peti". Diatas sampul yang kedua ada tulisan : "Cara-cara mengubur tulang-tulangku".

Setelah membaca ini Baru Sin Cie tahu, peti itu ada lapisannya. Lantas ia angkat peti itu untuk digoyang- goyang. Sekali ini, ia dengar suara apa-apa dari dalam peti.

Didalam hatinya, bocah ini kata : "Aku melainkan berkasihan rerongkongnya terlantar, maka aku kubur padanya, sama sekali aku tidak ingin temahai barang- barangnya."

Lantas Sin Cie buka sampul jang bertulisan "Cara-cara mengubur tulang-tulangku". Didalam situ ada selembar kertas putih dengan tulisannya : "Jikalau kamu bersungguh- sungguh hati hendak mengubur tulang-tulangku, setelah menggali lobang, tolong gali lebih jauh tiga kaki dalamnya, disitu Barulah pendam aku. Dengan aku berdiam lebih dalam ditanah, dapatlah aku bebas dari gangguannya segala kutu dan semut." Setelah membaca, Sin Cie berkata dalam hatinya: "Aku hendak jadi orang baik, tak boleh aku kepalang tanggung, baik aku turuti pesannya."

Dan ia angkat pula paculnya, untuk menggali lebih jauh.

Kali ini tanah itu kecampuran batu, tidak gampang untuk memacul leluasa seperti tadi, maka tak perduli dia telah berlatih, bocah ini toh mandi keringat. Ketika ia menggali dalam hampir tiga kaki, mendadakan ujung paculnya membentur pula suatu benda keras, hingga terdengarlah suara nyaring.

Karena tadi telah dapati pengalaman, walaupun ia merasa heran, Sin Cie gali terus tanah itu. Kembali ia dapati sebuah peti besi, jang terlebih kecil, cuma satu kaki persegi.

"Orang gagah luar biasa ini benar-benar kukoay," pikir dia. "Entah apa lagi dia simpan dalam peti ini."

Ia angkat peti, yang ia bisa buka dengan gampang. Kembali ia lihat selembar kertas jang ada tulisannya. Apabila ia sudah baca bunyinya, ia kaget hingga ia mandi keringat dingin.

Surat dari peti yang kecilan berbunyi sebagai berikut: "Kau benar-benar ada seorang baik hati dan jujur. Karena kau urus penguburanku, sudah selayaknya aku balas kebaikanmu dengan barang mustika dan ilmu kepandaian rahasia.

Jikalau peti jang besar dibuka, dari dalamnya bakal menyambar keluar anak-anak panah beracun. Surat dan peta yang berada didalam peti itu pun palsu semuanya, malah ada racunnya juga. Itu semua ialah untuk ajar adat kepada orang-orang jahat.

Barang yang tulen berada dalam peti kecil ini." Sin Cie insyaf, ia tidak mau sia-siakan tempo lagi. Ia letaki kedua peti dipinggiran, ia rapikan lobang galiannya itu, lalu dengan sikap menghormat, ia pindahkan tulang- tulangnya Kim Coa Long-kun, akan diletaki dengan hati- hati, sesudah mana, ia uruki dengan tanah, atasnya ia bikin rata, setelah ini, ia kembali soja-kui beberapa kali.

Sampai disitu, selesailah sudah ia dengan kewajibannya sebagai "ahli waris", maka dengan pondong kedua peti, Sin Cie bertindak keluar kamar, terus sampai ditikungan. Disini sekarang ia bisa lihat segala apa dengan nyata, karena hatinya lega bukan main. Ia dapatkan mulut gua tersusun batu, rupanya sengaja Kim Coa Long Kun atur demikian, untuk mencegah orang masuk kedalam guanya ini. Ia lantas singkirkan semua batu itu, hingga disitu jadi terbuka satu terowongan yang cukup lega. Ia buka gua ini supaya besok lusa ia bisa ajak kedua gurunya masuk kesitu untuk memeriksa.

Sesampainya dimulut terowongan, Sin Cie memanggil A Pa sambil tarik dadung, maka dilain saat ia sudah dikerek naik oleh si gagu. Lekas-lekas ia lari pulang, untuk menemui kedua gurunya.

Ketika itu Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin sedang main catur, mereka tunda permainannya, akan dengari penuturannya murid mereka. Sin Cie menuturkan segala apa dengan jelas.

Bhok Siang lihat surat-surat itu, diam-diam dia terperanjat dalam hatinya. Bok Jin Ceng pun dapat perasaan sebagai dia. Kemudian ia buka sampul yang bertuliskan "Aturan membuka peti", ia ambil suratnya, untuk dibaca, begini: "Dikiri dan kanan peti ini ada pesawat rahasianya, maka itu, untuk membukanya, peti mesti dipegang dengan kedua tangan dan dibukanya dengan keras dan berbareng, Baru tutupnya akan terbuka."

163 Bhok Siang Toojin dan Bok Jin Ceng mengulurkan lidah mereka saking kagum. Itulah hebat.

"Jiwanya Sin Cie seperti telah dihidupkan pula!" berkata imam itu. "Coba dia temaha sedikit saja, dia tidak kubur dulu jenasah dan lantas mendahului membuka peti, tentu anak-anak panah beracun tidak akan beri dia ampun!. "

Ia lantas suruh si gagu ambil sebuah tong besar, dikiri dan kanan itu, kira sebatas peti besi, dia bikin dua lobang, kemudian peti itu diletaki dalam tong itu, terus atasnya tong ditutup dengan papan tutupannya.

"Mari," Bhok Siang mengajak Sin Cie.

Berdua mereka masuki sebelah tangan mereka masing- masing kedalam lobang tong, untuk pegangi peti dibagian pentolannya, lalu dengan beri tanda, keduanya menarik dengan berbareng, dengan dikageti. Menyusul itu terdengarlah satu suara menjeblak. Itulah rupanya, ada tanda dari terbukanya lapisan yang kedua. Lalu menyusul itu terdengar dua rupa suara beruntun, berbunyi seperti barang nancap dan nyaring "dung,dung", hingga tong itu sedikit menggetar.

Sin Cie tunggu sampai suara sudah berhenti, ia hendak buka tutup tong itu.

"Tunggu!" Bok Jin Ceng mencegah sambil tarik lengan muridnya.

Baru guru ini tutup mulutnya atau segera terdengar suara susulan seperti barusan.

Masih Bok Jin Ceng menunggu sekian lama, Baru ia buka tutup tong, untuk dibalik, maka untuk keheranan mereka, mereka dapati tutup tong itu tertancap banyak anak panah, sampai beberapa puluh batang. Pat Chiu Sian-wan Bok Jin Ceng ambil jepitan, untuk jepit dan cabut bergantian semua gandewa itu, yang ia letaki dipinggiran. Ia takut untuk cekal semua senjata itu.

Melihat semua itu, Bhok Siang Toojin menghela napas. "Ini orang pandai memikir dalam sekali," memuji dia.

"Rupanya dia kuatir, dengan penyerangan pertama saja,

penyerangannya itu nanti gagal, maka ia atur serangan susulannya yang kedua kali. "

Lantas imam ini, Kwie-Eng-Cu si Bajangan Iblis, jumput keluar peti besi dari dalam tong itu, maka dapatlah mereka lihat, setelah lapis yang kedua terbuka, didalam situ ada kawat-kawat malang-melintang. Terang itu ada kawat- kawat yang merupakan pesawat, yang membikin anak-anak panah bisa melesat menyambar sendirinya sebagai kesudahan dari ditariknya per rahasia.

Dengan gunai jepitan, Kwie-Eng-Cu Bhok Siang Toojin singkirkan semua kawat itu, disebelah bawah itu ia tampak sejilid buku dengan kalimatnya "Kim Coa Pit Kip", atau "Kitab Rahasia Kim Coa". Dengan "Kim Coa", Ular emas, pasti dimaksudkan Kim Coa Long-kun.

Dengan terus gunai jepitan itu, Bhok Siang balik beberapa halaman dari kitab rahasia itu, didalamnya kedapatan tulisan huruf-huruf kecil berikut rupa-rupa gambar atau peta, juga peta bumi. Sejumlah gambar orang memperlihatkan pelbagai sikap latihan silat. Gambar- gambar lainnya adalah contoh rupa-rupa alat senjata.

Semua orang tonton kitab itu dengan kekaguman.

Habis itu, Bhok Siang buka peti besi yang kecil, yang tidak pakai pesawat rahasia lagi, isinya adalah sebuah kitab serupa seperti kitab yang pertama itu, sama ukuran dan romannya, sama kalimatnya, akan tetapi kapan telah dibalik-balik lembarannya, isinya beda dari kitab yang pertama itu: beda tulisannya, gambarnya, petanya. Yang belakangan ini adalah kitab yang sejati.

"Benar-benar Kim Coa Long-kun sangat luar biasa," memuji Bok Jin Ceng, si Lutung Sakti Tangan Delapan. "Untuk menghadapi orang jang tak sudi kubur rerongkongnya, dia telah asah otaknya membuat ini kitab palsu serta panah rahasianya yang beracun. Bukankah ia telah menutup mata? Kenapa ia bersiaga begini rupa terhadap orang yang masih belum diketahui bermaksud buruk atau baik?"

"Dia adalah seorang, yang bisa dianggap cupat pandangannya," menyatakan Bhok Siang Toojin, "maka juga ia telah dapatkan hari akhirnya begini rupa."

Bok Jin Ceng manggut-manggut, ia menghela napas pula.

"Sin Cie, pergi simpan kedua peti besi ini berikut semua isinya," kemudian kata sang guru kepada muridnya. "Kim Coa Longkun berpemandangan sempit, kitabnya ini tidak ada faedahnya untuk dibaca."

Sin Cie turut kata gurunya, ia benakan kedua buku, ia tutup kedua peti, lalu ia bawa pergi untuk disimpan.

Sejak itu bocah ini lanjuti latihan silatnya dengan ber- tambah-tambah rajin, Bhok Siang sangat sayangi dia hingga dia diwariskan kepandaian ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia, tak ada yang guru kedua ini sembunyikan. Karena habis itu, selang beberapa bulan, imam ini pamitan untuk turun gunung, buat kembali hidup berkelana.

Sin Cie merasa berat untuk berpisahan tapi tak dapat ia mencegah guru ini. Maka selanjutnya, ia belajar terus dibawah pimpinan tunggal dari gurunya. Bok Jin Ceng juga telah wariskan kepandaiannya kepada muridnya ini yang berbakat dan rajin dan ulet, hingga beberapa tahun telah lewat seperti tanpa dirasai. Maka akhirnya, ketika sampai ditahun keenam-belas dari Kaisar Cong Ceng dari ahala Beng, Sin Cie telah masuk usia dua-puluh tahun.

Setelah sepuluh tahun lebih terlatih, sekarang Sin Cie telah punyakan kepandaian yang berarti. Dari Bok Jin Ceng ia peroleh terutama ilmu silat pedang Hoa San Pay, sedang dari Bhok Siang Toojin, ia dapatkan ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia biji catur (wie-kie-cu). Ia jadi telah gabung-warisan ilmu kedua kaum. Tapi sementara itu, sudah belasan tahun ia tak pernah turun gunung, maka mengenai urusan dunia, ia ada gelap sekali, kecuali jang ia dapat dari penuturan-penuturan kedua gurunya, sedang sebaliknya, dunia kangouw juga tak tahu yang kaum Hoa San Pay telah punyakan satu murid-penutup seperti anak muda ini.

Pada suatu pagi dari permulaan musim semi, selagi Sin Cie berlatih silat dengan Tay Wie dan Siau Koay temani dia, tiba-tiba A Pa muncul dari dalam seraya terus gerak- gerakkan tangannya. Ia mengerti, tentulah gurunya panggil padanya, tidak ayal lagi, ia berhenti berlatih, dengan cepat ia bertindak masuk kedalam kamar gurunya. Untuk keheranannya, ia dapati dua orang asing, yang tubuhnya besar, berdiri disamping gurunya itu. Ia heran karena ia tahu, kecuali Bhok Siang Toojin, lain orang belum pernah mendaki puncak tertinggi dari gunung Hoa San ini. Ia pun tidak kenal dua orang itu.

"Sin Cie, inilah Ong Toako dan ini Kho Toako," berkata sang guru begitu ia tampak munculnya murid itu. "Mari kamu bikin pertemuan."

Karena disebutnya panggilan "toako", Sin Cie duga dua orang itu adalah sahabat-sahabat gurunya, ia lantas maju

167 mendekati untuk memberi hormat sambil bersoja-kui seraya memanggil : "susiok!"

Tapi dua orang itu lekas-lekas paykui, untuk balas kehormatan itu, seraya ber-ulang-ulang mereka kata: "Tak berani aku terima hormat ini, Wan Susiok, silakan bangun!"

Sin Cie melengak. Dia panggil mereka susiok (paman guru), sekarang mereka panggil dia susiok juga! Tidakkah itu aneh? Bok Jin Ceng tertawa berkakakan.

"Kamu semua bangun!" berkata dia.

Anak muda itu lantas berbangkit, untuk pandang dua tetamu itu, hingga sekarang ia bisa melihat lebih tegas: Mereka dandan sebagai orang tani, nampaknya mereka gesit, melainkan wajahnya tegang atau likat.

Pat Chiu Sian-wan tertawa pula, tapi sekarang sambil terus berkata kepada muridnya itu: "Belum pernah kau turut aku turun gunung, karena itu kau tidak tahu berapa tinggi tingkat-derajatmu. Kamu bertiga tak usah seejie dan main soja-kui terhadap satu dengan lain, tak usah juga kamu saling memanggil susiok. Baiklah kamu memanggil saudara satu sama lain menuruti usia kamu masing-masing."

Nyata kedua orang she Ong dan she Kho itu ada saudara-saudara seperguruan, Bok Jin Ceng itu ada susiok, paman guru mereka, meski benar mereka terlebih tua sedikit daripada Sin Cie; dalam hal derajat, Sin Cie ada lebih tinggi setingkat.

"Kedua toakomu ini datang dari Shoasay atas titahnya Ciangkun Lie Cu Seng," sang guru menerangkan pula. "Di Shoasay ada urusan penting yang mesti dirundingkan, maka itu besok aku mesti turun gunung."

Sin Cie heran tapi ia tidak mencegah. "Suhu, aku toh boleh turut, supaya aku bisa lihat Cui Siokhu?" mohon dia , yang tidak bisa lupai paman-angkat itu. Pernah beberapa kali ia minta turun gunung akan sambangi sang paman, saban-saban gurunya ini mencegah.

Mendengar permintaan muridnya itu, Bok Jin Ceng tertawa.

Kedua pemuda she Ong dan Kho itu duga guru dan murid itu hendak bicara, mereka minta perkenan, lantas mereka pergi keluar.

Segera juga sang guru berkata pada muridnya: "Sekarang ini tentara rakyat sedang maju, kedua propinsi Siamsay dan Shoasay bakal lekas dirampas pihak kita, maka itu sekarang ada ketikanya untuk kau turun gunung, buat sekalian menuntut balas kepada musuh ayahmu. Kau telah minta perkenan buat kau pergi bunuh kaisar Cong Ceng, aku selalu menolaknya, kau tahu apa sebabnya?"

"Mungkin, karena kepandaianku belum cukup," sahut sang murid.

"Itu ada salah satu sebab," jawab sang guru. "Masih ada satu sebab lain, jang terlebih penting. Kau duduk, mari kita bicara pelahan-lahan."

Sin Cie menurut, ia duduk didepan gurunya.

"Selama beberapa tahun ini, suasana di tapal batas ada tegang sekali," menerangkan Bok Jin Ceng. "Bangsa Boan kandung maksud jang tak dapat kita duga-duga, tidak ada satu hari yang mereka lewatkan tanpa niat menerjang masuk ke Tionggoan. Kaisar Cong Ceng memang senantiasa bersangsi, akan tetapi dibanding dengan kaisar- kaisar yang telah marhum, Kee Ceng atau Thian Kee, dia masih terlebih baik. Umpama karena dendaman pribadi , kau nerobos kedalam istana, kau bunuh dia, maka penggantinya tentu puteranya yang belum dewasa. Dengan putera mahkota belum tahu apa-apa, pemerintahan pasti bakal terjatuh kedalam tangannya menteri kebiri. Apabila ini sampai terjadi, aku kuatir Negara kita bakal terampas lain bangsa. Dengan begitu, tidakkah kau bakal jadi rakyat yang paling berdosa? Marhum ayahmu berkorban selagi menangkis serangan bangsa Boan, cita-citanya adalah merampas Liau-tong, sekarang didunia baka, apabila dia ketahui perbuatanmu, pasti dia akan murka dan akan kutuk kau sebagai anak put-tiong put-hau!" (tak setia dan tak berbakti).

Sin Cie terkejut, hingga ia mandi keringat dingin. "Urusan Negara adalah urusan besar, urusan pribadi

adalah urusan kecil," menjelaskan pula sang guru. "inilah

sebabnya kenapa aku cegah kau pergi bunuh kaisar Cong Ceng. Akan tetapi keadaan sekarang ada lain. Giam Ong bakal segera rampas Siamsay dan Shoasay, mungkin dalam satu atau dua tahun dia akan duduki ibu kota Pakkhia. Apabila cita-cita ini tercapai, Giam Ong yang bakal pegang pimpinan. Setelah rakyat semua bersatu padu, kenapa kita mesti kuatirkan lagi bangsa Boan di Liau Tong nanti terjang kita?"

Bergolak darah Sin Cie mendengar kata-kata yang bersemangat dari gurunya itu.

"Sekarang ilmu silatmu telah ada dasarnya," berkata pula sang guru. "Memang ilmu silat tidak ada batasnya, akan tetapi semua kepandaianku, aku telah wariskan kepadamu, maka mengandal kepada dirimu sendiri, aku percaya kau akan bisa berbuat banyak. Kau tinggal membutuhkan latihan lebih jauh dan pengalaman, kau sudah boleh turun gunung. Besok aku akan berangkat, tak dapat kau turut langsung bersama, kau harus tunggu sampai satu bulan, lantas kau boleh berangkat sendiri, kau menuju langsung

170 kedalam angkatan perang Giam Ong di Shoasay untuk cari aku."

Sin Cie girang, ia terima baik pesan guru itu. "Baik suhu, aku menurut," kata dia.

Bok Jin Ceng telah beritahu banyak kepada muridnya ini tentang segala-galanya kaum kangouw, tapi sekarang , ia telah ulangi itu agar murid ini ingat poma-poma, kemudian ia tambahkan: "Kau jujur dan berhati-hati, aku percaya kepadamu, tetapi kau masih muda, semangatmu sedang ber-kobar-kobar, maka pesanku sekarang adalah mengenai paras eilok, kau mesti waspada luar biasa. Sudah banyak buktinya bagaimana orang gagah-perkasa rubuh ditangan orang perempuan, hingga tubuhnya bercelaka dan namanya rusak! Kau ingat ini baik-baik!"

Sin Cie terima pesan penting dari gurunya ini.

Besoknya pagi, belum terang tanah, Sin Cie sudah bangun dari tidurnya, ia minta A Pa nyalakan api dan masak nasi, sesudah barang makanan siap, ia pergi kekamar gurunya, untuk undang guru itu dahar, akan tetapi kapan ia sampai didalam kamar, ia dapatkan sebuah kamar kosong. Diluar tahunya, tadi tengah malam, guru itu sudah berangkat bersama-sama si Ong dan Kho, kedua suheng itu. Bengong ia mengawasi pembaringan tak ada isinya dari gurunya. Tapi kapan ia ingat, segera juga ia bakal turun gunung, ia lari ke dapur, untuk beritahukan itu kepada A Pa, si empeh gagu. Ia ada sangat gembira, siapa tahu, A Pa sebaliknya berduka, dia putar tubuhnya dan ngeloyor keluar, meninggalkan kawan ini.

Menampak demikian, Sin Cie jadi terharu. Si gagu ini ada kawannya sepuluh tahun lebih, mereka hidup rukun bagaikan saudara kandung, sekarang tiba-tiba mereka bakal berpisah, tidak heran A Pa lesu dan berduka. Ia pun,

171 dengan memikir sekelebatan saja, tak ingin berpisah dari kawan ini....

Dengan cepat, delapan hari telah berselang, selama itu tetap Sin Cie berlatih dengan rajin, hanya sekarang, kapan ia memandang sekitarnya, ia merasa berat akan tinggalkan gunungnya itu.

Malam itu, habis bersantap, ia duduk seorang diri menghadapi api. Ia pilih sejilid kitab gurunya, ia baca itu. Kira-kira satu jam kemudian, selagi ia hendak padamkan api, untuk tidur, A Pa bertindak masuk kedalam kamarnya, terus si gagu bicara dengan gerakan tangan kaki. Itu artinya, ada orang asing jang telah datangi tempat mereka.

"Nanti aku lihat," kata Sin Cie jang berniat keluar, tetapi A Pa cegah ia seraya beri tanda bahwa dia sudah memeriksa tapi orang asing itu tidak kelihatan bekas- bekasnya. Ia masih kuatir, ia keluar juga dengan ajak dua orang-hutannya. Ia meronda tanpa hasil, sekembalinya, ia lantas masuk tidur.

Kira tengah malam, anak muda ini mendusin dengan kaget. Ia dengar suara berpekiknya Tay Wie dan Siau Koay. Ia lantas berbangkit, akan duduk untuk pasang kuping. Mendadakan ia cium bau hio wangi, hingga ia terkejut dan dalam hatinya, berteriak: "Celaka." Segera ia menahan napas, ia berloncat turun. Apamau, kedua kakinya hilang tenaganya, ia injak tanah dengan tubuh terhuyung-huyung, hampir saja ia rubuh.

Berbareng dengan itu, pintu kamar tertembrak dari luar, terpentang karena satu dupakan keras, lalu satu bajangan lompat masuk, menyusul mana, sebuah golok menyambar kearah si anak muda.

Sin Cie rasai kepalanya pusing sekali, akan tetapi ia masih sadar, ia mencoba kuati diri, maka itu, ia dapat

172 berkelit, akan egos bacokan, berbareng dengan mana, ia balas menyerang dengan tangan kanannya.

Bajangan itu putar tangannya, untuk balik babat lengan lawan.

Menghadapi musuh gesit itu, Sin Cie tidak mau memberi ketika, ia nyamping dan menyerang pula dengan tangan kiri, hingga mengenai pundak orang itu. Dia telah gunai tenaga besar.

Penyerang itu merasa kesakitan, tubuhnya limbung. Nampaknya ia heran, musuh jang telah terkena asap hio pulas, masih demikian gagah. Ia tentu telah rubuh jikalau tidak satu kawannya, yang menyusul masuk, tahan tubuhnya.

"Dia gagah?" kawan ini tanya.

Sin Cie tidak perdulikan musuh ada berdua, ia hendak menyerang terus, tetapi sekonyong-konyong kepalanya jadi sangat pusing, tidak ampun lagi, ia rubuh pingsan. Entah berapa waktu telah lewat, waktu ia mendusin, ia rasai seluruh tubuhnya lemas dan ngilu, ketika ia coba geraki tangan dan kakinya, ia kaget tidak terkira. Ia telah terbelenggu seluruh tubuhnya? Api dalam kamarnya terang, ia lihat dua musuhnya asyik geledah kamarnya, peti pakaiannya dibongkar.

"Celaka," pikir ia, yang jadi mendongkol, berbareng masgul dan menyesal. Ia sesalkan diri tidak punya guna. Baru beberapa hari gurunya meninggalkan dia, dia sudah kena orang serbu, dia kena dirubuhkan....Bagaimana nanti dia mampu menuntut balas untuk ayahnya? Tapi ia sadar, maka ia lantas tutup kedua matanya, untuk berpura-pura belum mendusin dari gangguan hio pulas, untuk mengawasi gerak-gerik orang, ia buka sedikit matanya. Orang yang satu kurus kering, usianya lima-puluh lebih, kulit mukanya kering. Orang yang kedua ada satu pendeta yang tubuhnya besar dan gemuk. Melihat potongan tubuh dia ini, ia percaya dia adalah yang barusan bertempur dengannya.

"Di gunungku ini ada barang berharga apa maka mereka datangi untuk dirampok?" pikir dia. "Ada juga uang lima- puluh perak peninggalan suhu, buat bekal aku dijalan? Jangan-jangan mereka bukannya penjahat biasa. Pendeta

ini kosen, si kurus juga tidak lemah, mungkin mereka hendak mencari balas, tetapi kenapa mereka tak lantas binasakan aku? Apa perlunya mereka menggeledah?"

Sembari berpikir, Sin Cie coba kerahkan tenaganya, untuk bikin putus pengikat tubuhnya. Ia tahu, dalam keadaan biasa, dadung itu tidak bisa rampas kemerdekaannya untuk selamanya. Baru ia mencoba atau ia mundur sendirinya, hatinya mendongkol dan kecewa.

Dua orang tidak dikenal itu ada bangsa ahli, mereka tahu lawan liehay, diwaktu membelenggu, mereka seling itu dengan sepotong bambu diantara kedua tangan, jikalau si korban berontak, sebelum dadung putus, bambu itu akan pecah terlebih dahulu, suaranya pasti meletak dan berisik, hingga orang akan ketahui percobaannya itu. Maka ia lantas berdiam, untuk cari daya lain.

Sekonyong-konyong si hweeshio jadi kegirangan. "Disini!" ia berseru.

Sin Cie lihat, dari kolong pembaringan, pendeta itu seret keluar peti besi yang besar, peti besi warisan Kim Coa Long-kun.

Si kurus-kering menoleh, ia pun nampaknya jadi sangat girang. Berdua mereka lantas duduk disamping meja, mereka buka tutup peti, untuk keluarkan isinya, itu jilid kitab jang berkalimat "Kim Coa Pit Kip".

Membaca kalimat itu, si gundul tertawa terbahak-bahak: "Benar-benar disini!" kata dia dengan nyaring. "Suko, tak kecewalah usaha kita selama lima-belas tahun mencari ini!"

Lantas dia balik lembarannya kitab itu, dia dapati banyak gambar lukisan serta huruf-huruf halus yang merupakan keterangannya, saking girang, kepalanya digoyang-goyang, dia garuk-garuk belakang kupingnya.

Mendadak si kurus berseru: "Eh, dia mau lari?" Dia menunjuk kepada Sin Cie.

Anak muda ini terkejut, ia menduga orang pergoki ia telah sadar.

Si hweeshio agaknya kaget, ia menoleh dengan segera. Sekonyong-konyong si kurus geraki sebelah tangannya,

lalu sejenak saja, bebokongnya si kepala gundul tertuncap

pisau belati, yang masuk dalam sampai dibatas gagangnya, sesudah mana, dia loncat minggir, untuk segera hunus pedangnya. Ia bersikap untuk bela diri, terutama mukanya, yang dialingi pedangnya itu.

Si pendeta kaget, dia menoleh, dia tertawa meringis. "Kita berdua saudara telah mencari lamanya lima-belas

tahun, sekarang kita berhasil, lantas kau hendak kangkangi

sendiri, kau turunkan tangan jahat....Ha-ha-ha-ha! Ha-ha- ha!"

Itulah suara tertawa hebat dan seram sekali, sampai pun Sin Cie bergidik.

Hweeshio itu ulur tangannya kebelakang, dia berniat mencabut pisau belati itu, akan tetapi tangannya itu tak dapat menyampaikannya. Mendadak dia menjerit, lantas dia rubuh terguling, dia berkelejatan, lalu seluruh tubuhnya diam....

Si kurus kuatir kepada gundul ini belum mati, ia maju untuk menikam dua kali.

Sin Cie kaget, hatinya mencelos, menampak orang demikian telengas terhadap saudara seperguruan sendiri.

"Jikalau aku tidak bunuh kau, apa mungkin kau tak nanti bunuh aku? Hm!" demikian si kurus perdengarkan suaranya. Rupanya ia curigai kawan itu, makanya ia turun tangan lebih dulu. Habis itu ia dupak dua kali tubuh gemuk dari si hweeshio...

0o-d.w-o0