-->

Pedang Ular Emas Bab 03

Bab ke 03

Tiba-tiba terdengar suara orang duduk diluar gua, yang teraling pepohonan bala-bergombolan. Dengan tangan kanan cekal senjatanya, dengan tangan kiri Ciu San tekap mulutnya Sin Cie. Ia kuatir bocah ini mendusin dan menjadi kaget karenanya, dengan begitu dia bisa berteriak.

Untuk sesaat kesunyian berkuasa ditempat sunyi itu. Lalu tiba-tiba: "Pemberontak she Wan itu ada tinggalkan satu anak, kemana perginya bocah itu?" demikian satu suara yang keras.

Benar-benar Sin Cie tersadar karena suara itu, tapi Ciu San telah siap, ia bisa cegah bocah ini buka mulutnya. "Diam. " Dia kisiki.

"Kau mau omong atau tidak?" kembali terdengar suara keras tadi. Itulah satu pertanyaan bengis. "Jikalau tetap kau tutup mulut, lebih dahulu aku akan bacok kutung sebelah kakimu!"

"Jikalau kau hendak bacok, bacoklah!" terdengar satu suara lain, ialah suaranya orang yang diancam itu. "Selama diperbatasan, dengan tumbak dan golok, aku biasa hajar bangsa Tartar, mustahil aku jeri terhadapmu, dorna!"

Itulah suaranya Eng Siong. Sin Cie terkejut.

"Eng Siokhu. "kata ia, tapi suaranya pelahan.

"Eh, apa benar kau tidak mau bicara?" teguran diulangi. "Cis!" terdengar suaranya Eng Siong, yang ludahi orang

yang ancam dia. "Aduh!. "

Jeritan itu menyusuli suatu suara keras, rupanya benar- benar kakinya Eng Siong dibacok kutung! Tak bisa Sin Cie bersabar lagi, ia berontak dari cekalannya Ciu San.

"Eng Siokhu!" ia menjerit sambil ia loncat keluar gua. Maka ia bisa lihat, antara cahaya api, seorang yang bersenjatakan golok, lagi ayunkan senjatanya kearah tanah dimana ada seorang menggeletak. Ia berlompat, ia menyerang dengan ilmu pukulan "Co Kie yo kim," atau "kiri menyerang, kanan menangkap," salah satu jurus dari Hok-hou-ciang.

Orang dengan golok ditangan itu, yang kejam, menjerit bahna kesakitan, sebab tahu-tahu matanya kena toyoran, sedang selagi ia menjerit dan kesakitan itu, lengannya pun dirasai sakit, lantas goloknya kena dirampas! Sin Cie tidak bekerja sampai disitu saja, menyusuli dengan sebat, ia bacok pundak orang, benar tenaganya tidak cukup besar, pundak itu tidak sampai terbacok kutung, toh orang telah jadi pusing kepala dan matanya kabur saking sakitnya.

Disitu ada sejumlah serdadu lain, mereka kaget tapi mereka tidak berdaya untuk mencegah, setelah mereka dapati, penyerang gelap ini ada bocah, mereka lantas maju untuk menyerang.

Dalam saat Sin Cie terancam bahaya, dari dalam gua loncat keluar satu orang lain dengan kongcee ditangan, dia cuma berkelebat, lantas senjatanya iu menangkis berbagai senjata yang mengancam si bocah cilik, hingga sekalian penyerang itu terperanjat, tangannya kesakitan, ada antaranya, yang senjatanya terpental dan terlepas.

Selagi serdadu-serdadu itu kaget, Ciu San sambar Sin Cie untuk terus dibawa lari turun gunung, ketika kemudian mereka dihujani anak-panah, mereka keburu lari jauh.

Diantara serdadu-serdadu itu, yang atas titahnya Thaykam Co Hoa Sun, ada empat yang pandai silat, kapan mereka ini tampak Ciu San mereka segera lompat mengejar, satu antaranya malah keluarkan tiga batang panah-tangan, sebab terdapat kenyataan, walaupun sedang kempit orang, Ciu San bisa berlari-lari dan berlompatan dengan keras.

Ciu San masih dengar sambaran angin, lekas-lekas ia mendak, dengan begitu, tiga batang anak panah lewat diatasan kepalanya.

Selagi Ciu San mendak, karena mana ia mesti berhenti lari, satu musuh lain serang ia dengan tiga batang kong- piau, yang dilepasnya dengan beruntun. Ia lepaskan Sin Cie, ia gunai tangannya itu menanggapi dua buah piau, disaat ia hendak balas menyerang dengan piau itu, datanglah panah-tangan dan batu hui, hong cio saling susul, hingga ia jadi repot, batal menyerang dengan piau, ia menangkis dengan kongcee.

"Mari!" ia teriaki Sin Cie, untuk ajak bocah itu lari lebih jauh.

Terpisahlah mereka ini dari tentara Beng adalah jauh, tidak demikian dari itu empat pengejar yang masih saja bayangi mereka.

"Sahabat baik, letaki senjatamu!" demikian salah satu pengejar berteriak, dengan lagu suaranya mengejek. "Marilah baik-baik turut kita pulang, nanti kita bikin kamu kurangan menderita. "

Ciu San paling sebal terhadap orang yang mulutnya enteng, dari itu, ia jadi mendongkol sekali. Sembari lari, ia geser kongcee ketangan kiri dan piau ke tangan kanan, ia tunggu sampai orang telah datang lebih dekat, mendadakan ia menyambit, keatas dan kebawah.

Tukang menjengeki itu menjerit, pahanya tertancap sebatang piau, tidak tempo lagi, ia rubuh. Tetapi tiga kawannya tidak perdulikan ancaman, mereka mengejar terus.

Melihat orang datang semakin dekat, Ciu San kata pada Sin Cie: "Siangtoo dari orang itu ada bagus, nanti aku rampas untuk diberikan kepadamu!"

Habis mengucap, Ciu San tancap kongcee ditanah, lantas ia berlompat maju, akan hampirkan musuh yang bergegaman siangtoo, golok sepasang.

Dia ini sambut musuh, malah dengan pukulan beruntun "In Ling sam hian", atau "Naga tiga kali perlihatkan diri dalam awan", dia mendahului menyerang berulang-ulang, karena mana, Ciu San tidak lantas dapat mencapai maksudnya. Dipihak lain, musuh yang kedua, yang bersenjatakan tiat-pian atau thie-phie, rujung besi, telah berlompat kepada Wan Sin Cie.

Bocah ini bertangan kosong, segera ia menghadapi ancaman bahaya.

Ciu San mendongkol, karena tak dapat ia segera rampas siangtoo lawan, dilain pihak, ia lihat muridnya terancam, maka juga sambil putar tubuh, ia berlompat kepada musuh dengan tiatpian ditangan itu, dengan ulur tangannya dengan "Kim liong tam jiau" atau "Naga emas mencengkeram" ia sambar bebokongnya.

Musuh ini sedang hendak babat pinggangnya Sin Cie, kapan ia dengar sambaran angin, ia lantas putar tubuhnya, berbalik, akan lihat si penyerang. Tapi sambarannya Ciu San sudah sampai, tidak sempat dia menangkis, terpaksa dia tolong diri dengan bertindak mundur. Justru itu Sin Cie dibelakangnya telah ayun kakinya, maka kenalah ia terdupak kempolannya. Ia tidak rubuh, ia jadi gusar, ia menyabat kebelakang dengan tiatpian. Tapi ia terlambat, Ciu San telah sambar ruyungnya itu, untuk dicekal keras, buat dirampas.

Dalam saat kedua pihak bergujengan, orang yang bersenjatakan siangtoo telah datang, untuk menyerang lebih jauh, bersama ia ada kawannya yang ketiga, yang bergegaman golok kwie-tau-too, ber-sama-sama, mereka berdua menyerang dari belakang.

Juga orang yang pertama, yang tadi rubuh terkena piau, bisa bangun pula, dia memegang tumbak, dia maju untuk tikam Sin Cie.

Itulah saat berbahaya untuk Ciu San dan muridnya. Walaupun demikian, orang she Cui ini tidak menjadi bingung atau putus asa. Sambil berseru, dengan pukulannya

92 "Hang liong hok hou" atau "Menakluki naga dan menundukkan harimau" , dia hajar dadanya orang yang pegang ruyung, sampai dia ini rubuh terjengkang, malah dia kena tubruk kawannya yang bergegaman tumbak, yang hendak tikam si bocah, hingga dia ini turut terguling. Syukur untuk kawan ini dengan ruyung, dia tidak sampai tertikam tumbak teman.

Ciu San berlompat, akan rampas tiatpian orang dengan itu ia tangkis serangan siangtoo dan kwietautoo, lalu ia tarik lengannya Sin Cie, buat diajak lari lebih jauh. Ia tidak punya ingatan akan layani terus empat musuh itu.

Baru sekarang empat lawan itu berhenti mengejar, mereka rupanya insyaf liehaynya satu musuh itu, sebagai gantinya, mereka keluarkan senjata rahasia masing-masing dengan apa mereka menyerang dari jauh.

Ciu San sibuk sekali ketika ia dengar sambaran angin saling susul, ia tarik Sin Cie kepada dadanya, untuk dipeluk, dengan ruyungnya, ia bikin penangkisan. Ia pun saban-saban lompat berkelit, akan menyingkir dari perbagai serangan saling susul itu. Karena adanya si bocah, gerakannya jadi terhambat.

Tiga biji pou-tee-cu datang menyambar, dua bisa dielakkan tapi yang satu mengenai paha kirinya Ciu San. Dia terkejut, sebab mulanya sakit sedikit, lukanya itu lantas jadi gatal. Ia insyaf, pou-tee-cu itu telah dikenai racun. Karena ini, dengan sekuat tenaganya, ia lari terus. Tetapi ini justru melekaskan bekerjanya racun, kaki kirinya lantas saja jadi kaku, hingga tidak saja ia tak mampu lari lebih jauh, ia malah rubuh terguling.

"Coie Siokhu!" memanggil Sin Cie, yang kaget bukan main. Ia sendiri hampir turut terguling. Empat penyerang, dengan samar-samar, lihat orang rubuh, kapan mereka dengar suaranya Sin Cie, mereka mengejar pula.

"Sin Cie! Sin Cie!" berseru sang guru. "Lekas lari! Aku nanti tahan mereka!"

Sin Cie masih bocah tapi ia cerdas, daripada lari, dia justru lompat kesampingnya guru itu, ia hendak bersiap melawan musuh-musuhnya.

"Dengan kepandaianmu ini, mana sanggup kau belai aku?" kata Ciu San, yang terharu bukan main. Murid ini sangat berani dan bakti.

Empat musuh sudah lantas datang dekat, apapula yang bersenjatakan siangtoo dan kwietautoo. Yang pegang kwietautoo ini hendak menawan hidup-hidup, ia serang Sin Cie dengan belakang goloknya. Ia sengaja sambar bawah betisnya Sin Cie.

Sin Cie lihat serangan itu, ia berkelit sambil berlompat.

Ciu San lihat serangan itu, ia paksa bangkit, untuk berdeku dengan sebelah kaki. Dia masih pegang dia punya ruyung, dengan itu, ia timpuk orang yang pegang siangtoo. Dia ini kaget, sampai tak sempat dia berkelit, maka kepalanya kena tiatpian, syukur tidak hebat. Sedangnya dia melengak, Ciu San enjot tubuh sekuat tenaga, akan tubruk musuh ini. Beruntung untuk dia, dia bisa sambar tenggorokan orang.

Musuh kaget, dia membacok, tapi bacokan ditangkis dengan lengan oleh Ciu San, siapa kerjakan tenaganya kepada semua jerijinya, maka dilain saat, musuhnya tecekek keras, tubuhnya rubuh, napasnya berhenti jalan tanpa berkaok lagi.... Inilah hebat, menampak itu, musuh dengan kwietautoo ditangan jadi jeri, lantas ia putar tubuh untuk lari. Melihat ini, dua kawannya, yang menyusul belakangan, yang memang telah terluka, turut dia dan lari juga.....

Ciu San sendiri mengeluarkan darah tak putusnya dari lukanya itu, kaki kanannya sudah lenyap rasa sakitnya, beku tanpa rasa apa juga. Tapi ia kertak gigi, ia kumpul tenaga, dengan bantuan golok, yang ditandalkan ketanah, ia coba berbangkit. Ia insyaf, musuh lari tentu akan sebentar kembali bersama pasukan tentaranya, jadi ia tak punya tempo untuk disia-siakan.

"Mari!" ia ajak muridnya. Ia jalan dengan separuh merangkak, karena sebelah tangannya dipakai sebagai gantinya kaki. Ia separuh menyeret tubuh.

Sin Cie jalan disebelah kanan gurunya itu, ia pasang pundaknya untuk gurunya cekal dengan tangan kanan, akan kasi dirinya digelendoti. Jadi, separuh dipepayang, Ciu San paksa jalan, setindak demi setindak.

Jalan sekian lama, keadaannya Ciu San tambah hebat. Mulai dari kaki, bekunya naik ke tangan, hingga pelahan dengan pelahan, habislah tenaga tangannya itu - tangan kiri. Sekarang ia mengandal pada tangan kanan saja.

Sin Cie merasai bandulan makin berat pada pundaknya, ia lawan itu, ia diam saja. Ia telah mandi keringat.

Mereka jalan terus, sampai si bocah pun lelah sekali. "Cui Siokhu, didepan ada rumah orang, mari kita pergi

kesana," kata sang murid, apabila ia tampak sebuah rumah.

"Kita beristirahat disana sambil umpatkan diri. "

Ciu San manggut, ia paksa kumpul tenaganya. Adalah setelah sampai didepan pintu, tenaganya habis, terlepaslah cekalannya, hingga ia rubuh tanpa muridnya dapat mencegah.

"Cui Siokhu!" Sin Cie menjerit, sambil ia lekas membungkuk. "Cui Siokhu!"

Hampir itu waktu, daun pintu rumah terpentang, seorang perempuan usia pertengahan muncul diambang pintu.

"Toa-nio," berkata Sin Cie, "kami bertemu tentara negeri, pamanku ini terluka, tolong kau ijinkan kami menumpang bermalam, satu malam saja. "

Perempuan tani itu murah hati, ia manggut, lalu ia teriaki satu anak tanggung, umur delapan atau sembilan- belas tahun, untuk bantui si bocah angkat tubuhnya Ciu San, buat diangkat kedalam, direbahkan atas kong.

Karena ia ada tangguh dan kuat semangatnya, walaupun kaki dan tangannya beku sebelah, Ciu San tidak pingsan atau kalut pikirannya, sebaliknya, ia sadar benar-benar. Ia lantas suruh Sin Cie geser pelita, untuk ia periksa lukanya.

Kaget semua orang, akan tampak luka dikaki itu. Sebab kaki kiri itu bengkak besar, yang sepotong sudah matang- biru, dilihatnya mengerikan.

"Tolong bungkus luka dipundakku," Ciu San minta si tuan rumah muda. Kemudian, ia minta dibungkus keras juga pahanya, guna cegah racun naik dan menyerang ke jantungnya. Habis itu, ia cabut senjata yang melukai padanya. Segera keluar darah hitam.

Ciu San coba tunduk, ia niat isap darah dari lukanya, supaja racunnya tersedot, tapi bengkaknya demikian besar, mulutnya tak dapat sampaikan luka itu.

Melihat demikian, tanpa bersuara apa-apa, Sin Cie gantikan gurunya sedot darah itu, ia menyedot berulang- ulang, saban-saban ia muntahkan darah hitam itu. Setelah menyedot kira empat-puluh kali, Baru ia kena hisap darah bersemu merah.

Akhir-akhirnya jago itu menghela napas.

"Syukur ini bukannya racun yang sangat berbahaya," kata ia. "Sin Cie, lekas kau kekumur!"

Nyonya rumah, yang mengawasi sedari tadi, lalu berdoa.

Besoknya, lohor, tuan rumah muda, yang dimintai pertolongannya, pulang dengan laporan bahwa tentara negeri sudah mundur dari gunung Lau Ya San. Disatu pihak, kabar itu melegakan hati. Akan tetapi, dilain pihak, keadaannya Cui Ciu San menguatirkan sekali. Bengkaknya mulai kempes, tapi disebelah itu, tubuhnya menjadi panas, dia mulai mengaco-belo.

Sin Cie ada satu bocah, walaupun ia cerdik, ia toh bingung, ia tidak bisa berbuat suatu apa.

"Tuan kecil," berkata nyonya rumah," aku lihat racun dalam kakinya pamanmu ini belum habis semua, perlu kau pergi kekota kepada tabib guna periksai lukanya itu."

Sin Cie anggap usul itu baik. "Aku nanti pergi," kata ia.

Nyonya rumah, yang baik hati, pergi pinjam gerobak kerbau dari tetangganya, dengan naik itu, Sin Cie pergi dengan diantar si anak tanggung. Ciu San direbahkan diatas gerobak.

Anak tanggung itu mengantari sampai dikota, sampai Sin Cie telah dapati sebuah rumah penginapan, lantas ia berangkat pulang.

Sekarang, setelah berada dikota, Sin Cie kembali bingung. Mereka tidak punya uang. Ia bengong mengawasi

97 saja gurunya, hingga ketika jongos tanya, ia hendak dahar apa, ia tidak dapat menyahuti.

"Aku tidak lapar," kemudian ia kasi alasan. Tapi, seperginya si jongos, ia nangis seorang diri.

Selama itu, Ciu San rebah tak ingat dirinya, adalah sesudah lewat sekian lama, ia mendusin juga.

"Bagaimana, siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa siokhu merasa baikan?"

Guru itu manggut.

"Apakah kau ada bawa barang berharga apa-apa?" tanya dia kemudian.

Tiba-tiba Sin Cie ingat suatu apa, lantas dia menjadi girang.

"Ada ini!" kata ia, yang terus keluarkan sarungnya.

Itu ada kalung emas tertabur delapan buah batu permata, dan dirantainya ada ukiran beberapa huruf, kapan Ciu San baca itu, bunyinya ada empat huruf "Hui Koan Hoan Ciang" yang berarti "Kejayaan makmur". Dibawah itu ada lagi dua baris huruf-huruf kecil, yang berbunyi: "Selamat bahagia ulang bulan Wan Kongcu" dan "Selamat dari Cou Tay Siu".

Jadi itu ada tanda-mata dari Cou Tay Siu, panglima nomor satu dari Wan Cong Hoan, untuk peringatan usia sebulan dari Wan Sin Cie.

Cou Tay Siu ini, diwaktu mudanya, ada gagah dan berandalan, kemudian ia kena ditawan Tok-bu Sun Sin Cong dari Kie-liau, diwaktu ia hendak dihukum mati, Wan Cong Hoan mintakan keampunan, dengan begitu, ia jadi sangat berterima kasih, keduanya jadi bersahabat bagaikan saudara, maka dikemudian hari, waktu Wan Cong Hoan binasa teraniaya, Cou Tay Siu jadi sangat gusar, dia bawa kabur tentaranya, dia tinggalkan kota raja tanpa pedulikan titah kaisar Beng. Dikota raja, semua orang berkuatir, kuatirkan panglima ini, yang berkuasa atas tentara, nanti berontak, sukur ibu dan isterinya Tay Siu ada orang-orang bijaksana, mereka bisa bujuk Tay Siu jangan berkhianat, hingga kesudahannya, Tay Siu ajak barisannya menentang desakan tentara Boan.

Pikirannya Ciu San sedang kusut, ia tidak perhatikan bunyinya kata-kata pada kalung itu.

"Pergi ajak jongos gadai kalung ini." Ia kata pada muridnya. "Dibelakang hari, kita boleh datang pula kemari untuk menebusnya."

Sin Cie juga tidak pikirkan huruf-huruf ukiran itu. "Baik," sahut ia, yang terus ajak satu jongos, untuk

menggadai.

Pengurus pegadaian terkejut ketika ia periksa kalung yang hendak digadaikan itu.

"Sahabat cilik, tunggu sebentar , ya?" kata ia.

Pengurus ini masuk kedalam, sampai lama, hingga Sin Cie dan si jongos tidak sabaran, baiknya kemudian, dia muncul juga.

"Sahabat cilik, kami terima gadai untuk dua-puluh tail." Kata ia.

Sin Cie tidak tahu apa-apa, ia mau terima, tapi jongos mintakan tambahan lagi lima tail, kalung itu jadi digadai buat dua-puluh lima tail.

Sambil bawa uang dan surat gadai, Sin Cie ajak jongos mampir sekalian pada tabib. Diluar tahu mereka, mereka sudah lantas dikuntit dua orang polisi, terus sampai dihotel. Ciu San sedang tidur, kepalanya panas seperti api. Karena thabib, yang menyusul belakangan, belum juga sampai, Sin Cie menjadi kuatir pula, hingga ia pergi keluar, akan melihat, mengharap-harap kedatangan sang tabib.

Belum lama, mendadakan datanglah delapan orang polisi ke hotel, mereka itu bekal thie-cio dan rantai belengguan.

"Ini dia si bocah," kata satu opas seraya tunjuk Sin Cie. "Eh, anak, apa kau she Wan?" tanya opas yang jadi

kepala.

Sin Cie kaget, tak tahu ia mesti menjawab apa. "Bukan," jawab ia akhirnya, dalam bingungnya.

Opas itu tertawa, dari sakunya, ia keluarkan kalung emas tadi.

"Habis, kalung ini kau curi dari mana?" tanya dia.

"Itu bukan barang curian, itu ada barangku sendiri," sahut Sin Cie, yang dengan tidak langsung toh mengaku.

Kembali opas itu tertawa.

"Wan Cong Hoan itu pernah apa denganmu?" tanya dia.

Sin Cie kaget, ia tidak berani menyahuti, hanya ia lari kedalam, ke kamarnya, akan segera gebrak bangun pada Ciu San.

Diluar segera terdengar teriakannnya kawanan opas tadi

: "Berandalan dari Lau Ya San bersembunyi dalam hotel ini! Jangan kasi mereka lolos!"

Sementara itu, Ciu San mendusin dengan kaget, ia berbangkit, akan duduk, akan turunkan kakinya kelantai, tapi ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, begitu kakinya diturunkan, bukannya ia berdiri, ia justru rubuh terguling.

100 Disaat itu, rombongan opas telah nerobos kedalam hotel.

Dalam bingungnya, hingga ia tak keburu kasi bangun gurunya, Sin Cie lompat kepintu, disini ia berdiri untuk merintang.

Hotel sendiri lantas jadi berisik, tetamu-tetamu lainnya jadi berkumpul di pekarangan, akan saksikan hamba-hamba negeri melakukan penangkapan pada penjahat pemburon. Mereka jadi heran kapan mereka lihat, kawanan opas itu justru menghadapi satu bocah cilik.

Satu orang polisi segera lemparkan rantai kelehernya Sin Cie.

Bocah ini mundur, akan berkelit, tetapi ia masih berdiri diluar pintu, untuk cegah orang masuk.

Opas itu jadi jengah, sebab ia, yang telah punyai pengalaman belasan tahun, tidak mampu bekuk seorang kacung, dari jengah, ia jadi gusar, maka ia ulur tangannya, akan sambar kuncirnya bocah itu.

Sin Cie takut melihat rombongan opas-opas itu, ia sudah mau menangis, tapi melihat orang demikian garang, dan sekali ini ia hendak dijambak rambutnya, ia jadi gusar, ia sambar tangan orang untuk dibetot dengan kaget. Ia gunai Hok-hou-ciang punya jurus "Heng ho tan pian" atau "tarik melintang satu cambuk". Si opas sempoyongan, ia jadi gusar, maka ia putar tubuhnya, akan tendang bocah itu. Ia pun mendamprat : "Anak haram, kau lihat tuanmu!"

Tubuhnya Sin Cie kecil dan kate, dengan mendak sedikit, ia kasi lewat tendangan itu, dengan kedua tangannya, ia tanggapi kaki dan kempolan orang, terus ia angkat dan mendorong dengan keras. Tidak tempo lagi, tubuh besar dari opas itu terlempar, jatuh terbanting dengan keras! Sebenarnya Sin Cie tidak punya tenaga demikian besar, ia sanggup berbuat demikian sebab ia berbareng pinjam tenaga tendangan dari si opas sendiri.

Banya orang bersorak. Mereka memang sebal melihat opas-opas itu, orang-orang dewasa dan tua, perhina satu bocah, tapi sekarang si bocah yang menang, mereka puas dan gembira, tanpa merasa lagi, mereka berikan pujian mereka! Opas-opas lainnya melengak, mereka heran hingga mereka hendak sangka bocah itu punya ilmu gaib. Tapi segera mereka saling melirik, lantas semuanya maju, dengan golok dan thiecio ditangan.

Menampak demikian, semua tetamu kaget dan takut, mereka pada mundur.

Biar bagaimana, Sin Cie masih terlalu muda, saking bingung, ia repot, tapi dalam saat yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari kamar samping lompat keluar satu orang, yang tubuhnya besar, mencelat kedepannya si bocah, terus ia geraki kaki-tangannya, entah bagaimana, dengan gampang ia dapat rampas senjatanya sekalian hamba wet itu, selagi opas-opas itu mundur dengan kekuatiran, ia mendesak, ia menyerang dengan kepalannya sampai orang babak belur. Habis itu, orang ini perdengarkan suara keras yang luar biasa.

"Siapa kau?" akhirnya satu opas menegor. "Kami hendak tangkap orang jahat, lekas mundur!"

Seperti juga orang yang tidak dengar pertanyaan, tubuhnya orang itu melesat kedepan opas ini, tahu-tahu tangannya sudah menjambret dada, apabila ia mengangkat, tubuh si opas dilemparkan, hingga tubuh itu melayang, bagaikan lajangan melewati tembok, ketika dia rubuh, dia terbanting keras, dia pingsan! Melihat demikian, semua opas lainnya lari sipat-kuping keluar. Orang kuat itu lalu hadapi Sin Cie, ia bicara, tangannya digerak-geraki, tapi suaranya "ah-ah uh-uh," maka sekarang ternyata dia adalah seorang gagu. Rupanya dia tanya si bocah, bagaimana duduknya hal.

Bingung Sin Cie, sebab ia tidak tahu bagaimana harus berikan keterangan. Selagi ia mengawasi dengan melongo, orang itu lantas saja angkat tangannya keatas, lalu kebawah, segera menyusul gerakan kakinya, maka tahu- tahu, dia sudah jalankan Hok-hou-ciang, sampai jurus kesepuluh, "Pek pok kie hie" jaitu "Egos serangan, tubruk kosong," ia lantas berhenti.

Baru sekarang Sin Cie mengerti. Sebagai jawaban, ia melanjuti jurus kesebelas. "Tek tou kwie," atau "menendang betis". Ia bersilat sampai empat jurus.

Si gagu menonton, lalu ia tertawa, ia manggut-manggut, kemudian ia ulur tangannya, akan tarik bocah itu, yang terus ia pondong.

Sin Cie ingat gurunya, walaupun ia girang, ia menunjuk kedalam kamarnya. Ia mau tunjuki bahwa dalam kamar itu ada orang.

Si gagu manggut, ia bertindak masuk kedalam kamar dengan masih empo bocah itu. Ketika ia lihat Ciu San numprah ditanah, mukanya pucat bagaikan mayat, ia kaget. Lekas-lekas ia turunkan Sin Cie, ia hampirkan orang she Cui itu.

Ciu San sadar, ia kenali si gagu ini, ia geraki kedua tangannya, ia tunjuk pahanya juga.

Si gagu itu mengerti, tidak tempo lagi, ia bekerja. Dengan tangan kiri, ia tarik Sin Cie, dengan tangan kanan, ia pondong Ciu San. Dengan tindakan lebar, ia lantas keluar dari kamar, dari hotel, akan lari sangat cepat, tidak peduli tubuhnya Ciu San ada seratus kati lebih beratnya.

Tuan rumah atau jongos tidak berani rintangi si gagu ini.

Si gagu ini berlalu bukan tanpa ada yang kuntit. Dua opas, yang umpatkan diri diluar hotel, telah memasang mata, lalu mereka mengikuti dari jauh-jauh, pikir mereka akan cari tahu, dimana si gagu nanti taruh kaki, mereka akan cari bala bantuan untuk melakukan penangkapan terlebih jauh.

Ciu San masih tak sadar akan dirinya, ia tak tahu suatu apa bahwa si gagu bawa dia kabur. Si gagu sendiri tak tahu ada orang bayangi dia, ia tidak dengar suara apa-apa diarah belakangnya, karena kedua opas terpisah jauh dari padanya. Akan tetapi Sin Cie, yang cerdik, lihat ada dua orang mengikuti saja, diam-diam ia tarik-tarik tangannya si gagu dan monjongi mulutnya, untuk mengasi tanda. Atas ini si gagu berpaling, ia lantas lihat kedua opas itu, tapi ia tak bikin gerakan apa-apa, ia bertindak terus dengan cepat.

Mereka melalui tempat yang berupa tegalan yang sepi, makin lama makin sunyi, selang dua-tiga lie, tiba-tiba si gagu letaki tubuhnya Ciu San ditanah. Nampaknya dia ingin berhenti, untuk menghilangi lelah, tidak tahunya, dengan sekonyong-konyong ia membalik tubuh, untuk berlompat, begitu pesat, hingga dalam dua-tiga enjotan saja, ia sudah sampai didepan kedua opas itu tanpa mereka ini menduga suatu apa.

Tentu saja kedua hamba wet itu menjadi kaget dan takut, tidak tempo lagi, mereka berhenti jalan, mereka putar tubuh, dengan niat mengangkat kaki. Tapi sudah kasep! Si gagu ada terlalu sebat untuk mereka, sebelum mereka bisa angkat kaki, dia ini sudah sampai, kedua tangannya diulur, hingga tak ampun lagi, mereka kena terjambak masing- masing! Si gagu tidak melainkan mencekuk kedua opas itu, tanpa pikir pandang lagi, ia angkat kedua tangannya, ia ayun itu kesampingnya, dimana ada jurang, apabila ia telah lepaskan jambakannya, kedua tubuh terlempar melayang kedalam jurang.

"Aduh!...." adalah jeritan hebat, yang tertahan, lantas sunyi-senyap. Sebab kedua opas telah terbanting hebat didalam lembah, kepala mereka pecah, otak mereka hancur berantakan! Habis tamatkan lelakon hidupnya kedua opas itu, si gagu kembali kepada Ciu San, tubuh siapa ia angkat pula, untuk dibawa pergi lagi, tetap dengan tindakannya yang lebar, cepatnya bagaikan terbang.

Sekali ini sibuk juga Sin Cie, ia coba berlari-lari keras, tak dapat dia mengikuti dengan saksama, ia paksakan kedua kakinya lari sekeras bisa, tetapi Baru satu lie, sudah tak sanggup dia, napasnya lantas memburu sengal-sengal.....

Si gagu menoleh, dia lihat orang sudah kehabisan tenaga, ia bersenyum, lalu ia menyambar dengan tangannya yang sebelah lagi, akan kempit bocah itu, akan lari terus. Malah sekarang dia bisa lari dengan terlebih keras lagi, sebab tak usah ia menantikan pula.

Setelah berlari-lari sekian lama, si gagu, yang tidak kenal lelah, membiluk kekiri, maka sekali ini, dia lari kearah gunung. Ia mendaki. Ia sudah sampaikan dua undakan, masih ia berlari-lari terus, hingga di depannya terlihat satu rumah gubuk dengan tiga ruangan.

Selagi mendekati rumah itu, seorang yang berada diambang pintu lantas lari keluar, untuk menghampirkan. Dia ini ada seorang perempuan umur dua-puluh lebih. Dia manggut terhadap si gagu, si gagu pun manggut terhadapnya, tetapi ia heran tampak si gagu mengempit dua orang. Segera ia mengajak masuk. "Siau Hui, lekas ambil tehkoan teh dan cangkirnya!" demikian si perempuan muda.

Dari kamar sebelah terdengar satu jawaban anak kecil, cepat sekali dia muncul, dengan membawa tempat air teh dan cangkirnya. Ia nampaknya heran, hingga setelah memandang si gagu, dia pun awasi Ciu San dan Sin Cie. Nyata dia ada punya sepasang mata yang celi.

Si perempuan muda, walaupun pakaiannya terdiri dari bahan cita kasar, ada punya kulit muka yang putih-bersih dan halus, sebagaimana si bocah sendiri nampaknya manis.

"Eh, anak, apa namamu?" tanya perempuan muda itu kepada Sin Cie, yang sudah diturunkan dari kempitan si gagu. "Bagaimana kau bisa bertemu sama dia ini?"

Sin Cie percaya orang perempuan ini ada sahabatnya si gagu, lalu ia berikan jawabannya dengan jelas.

Perempuan muda itu lantas saja masuk kedalam, untuk kembali dengan teromol obat-obatan, ia keluarkan dua rupa obat bubuk putih dan merah, ia ambil sedikit, untuk diaduk dengan air, setelah mana, Ciu San dicekoki. Habis itu, dia ambil satu pisau kecil dengan apa dia iris lukanya si Cui, sesudah mana, luka itu diborehkan obat bubuk kuning, lantas ditunggu sebentar, lalu dicuci dengan air, akan akhirnya diborehkan lagi. Tiga kali luka itu dirawat secara demikian.

Selama itu, Ciu San buka mulutnya, akan perdengarkan suara tidak jelas.

"Dia ketolongan!" kata si perempuan muda kepada Sin Cie, ia bicara sambil tersenyum. Lantas ia gerak-geraki tangannya terhadap si gagu, maksudnya supaja si gagu ini pondong orang yang luka kedalam, untuk antap dia beristirahat. Selagi si gagu memondong kedalam, perempuan itu benahkan teromol obatnya.

"Aku ada orang she An, panggillah aku Encim An," kata dia pada Sin Cie. "Ini ada anakku, namanya Siau Hui. Sekarang tinggallah kau sama kami disini."

Sin Cie manggut.

An Toa-nio lalu masuk kebelakang, untuk membuat mie, malah ia pun sembelih ayam, guna santapan kedua tetamunya. Sin Cie dahar lebih dahulu, habis itu, saking lelah dan ngantuk, dia tidur dengan kepala diletaki diatas meja. Dia tak ingin apa-apa lagi....

Besoknya pagi, Baru saja orang bangun, Siau Hui sudah tarik tangannya Sin Cie.

"Mari cuci muka!" kata si nona cilik.

"Aku hendak lihat dulu Cui Siokhu, bagaimana lukanya. " kata si bocah.

"Empeh gagu telah bawa dia pergi sejak pagi," Siau Hui kasih tahu.

Sin Cie terperanjat.

"Dibawa pergi? Apa benar?" tanya dia, hatinya mencelos. Nona itu manggut.

Lantas Sin Cie lari kedalam kamar, yang kosong. Tidak ada Ciu San dan si gagu disitu. Tiba-tiba saja ia menjerit, nangis.

"Ibu, ibu, lekas!" Siau Hui teriaki ibunya berulang-ulang. An toa-nio datang dengan cepat.

"Ibu, dia lihat encek Cui semua pergi, dia menangis," si anak memberitahukan. "Jangan sibuk, anak yang baik," nyonya An lantas menghibur. "Pamanmu terluka, lukanya parah, bukan?"

Sin Cie manggut.

"Aku cuma bisa berikan dia pertolongan pertama," nyonya itu terangkan. "Dia sudah terserang racunnya senjata rahasia, kalau dia tidak cepat dapat perobatan yang sempurna, sebelah kakinya itu bisa mati seterusnya, maka itu empeh gagu bawa dia pergi kepada satu orang lain, yang sanggup mengobatinya. Kau tunggu saja, kalau nanti dia sudah sembuh, pamanmu itu bakal datang pula kemari melihat kau..."

Sin Cie dapat dikasih mengerti, dengan pelahan, ia berhenti menangis.

"Pasti pamanmu akan sembuh," Toa-nio kata pula. "Sekarang pergi cuci muka, habis cuci muka, kita dahar."

Sin Cie menurut, maka sebentar kemudian, ia sudah duduk bersantap bersama itu ibu dan anak.

Setelah dahar, An Toa-nio tanya lebih jelas tentang bocah ini.

Sin Cie tuturkan segala apa, yang ia tahu mengenai dirinya.

Mendengar itu, nyonya rumah menghela napas. "Sekarang tinggallah kau sama kami, jangan kuatir apa-

apa," ia menghibur. "Kau tunggu saja, tak lama pamanmu

sembuh dan akan kembali." Sin Cie cuma bisa menurut.

Sejak masih kecil sekali, Sin Cie sudah berpisah dari ibunya, selama itu, ia berada dibawah asuhannya Eng Siong dan Cu An Kok beramai, walaupun mereka merawatnya dengan   sungguh-sungguh,   sekarang,   dibanding   sama

108 perawatannya An Toa-nio, ia merasakan perbedaannya. Nyonya An merupakan sebagai ibu sejati, sedang disebelah si nyonya, ada Siau Hui yang manis, yang jelita, yang senantiasa menjadi kawannya. Baru beberapa hari, Sin Cie sudah betah.

An Toa-nio satu kali suruh Sin Cie jalankan semua ilmu silat yang pernah dipelajarkannya. Sin Cie menurut, setelah lihat itu, nyonya ini memuji, ia agaknya insaf sempurnanya pelajaran itu.

Berselang sepuluh hari, An Toa-nio anjurkan Sin Cie berlatih silat setiap hari, akan tetapi, diwaktu melakukan itu benar atau salah, ia antap saja, tidak pernah ia bilang suatu apa, malah selagi si bocah berlatih, jarang sekali ia menyaksikannya.

Siau Hui senantiasa temani Sin Cie, tapi disaat si bocah berlatih silat, ia dipanggil ibunya.

Pada suatu hari, An Toa-nio pergi kepasar, untuk belanja. Ia pun niat beli cita, guna bikinkan baju dan celana untuk Sin Cie, pakaian siapa sudah korat-karit, pecah disana-sini bekas dipakai buron dari Lau Ya San.

"Kamu memain didalam rumah saja, jangan keluar, nanti ada srigala," pesan si nyonya ketika ia hendak pergi.

Siau Hui dan Sin Cie terima pesan itu, seperginya si nyonya mereka main masak-masakan. Siau Hui keluarkan mangkok dan sumpit kecil.

"Kau potong ayam disini, aku hendak beli daging," kata si nona cilik.

Yang dinamakan "ayam" adalah sepotong lobak, yang di-potong-potong, dan "daging" adalah semacam ubi hutan, yang ada di pekarangan depan, untuk mana, Siau Hui pergi keluar. Tapi dia pergi sekian lama, hingga Sin Cie tidak sabaran.

"Siau Hui! Siau Hui!" bocah ini memanggil-manggil akhirnya.

Panggilan ini tidak dapat jawaban, hingga akhirnya si bocah ingat serigala, sebagaimana pesannya An Toa-nio. Ia lantas ambil korekan barah didapur, dengan bawa itu, ia lari keluar.

Bukan main kagetnya Sin Cie begitu lekas ia muncul diambang pintu, karena ia tampak Siau Hui dikempit seorang lelaki bertubuh besar, yang sedang memutar tubuh untuk lari pergi.

"Hei, hei!" berteriak bocah ini sambil mengubar. "Kemana kau hendak pergi?"

Tapi Sin Cie tidak mengubar saja, ia pun menyerang dengan korekan barah.

Culik itu tidak menyangka, ia kena ditikam Sin Cie. Sukur untuk dia, dia jangkung dan Sin Cie kate, lukanya tidak dibelakang hanya dikempolan. Dia kaget, dia merasa sakit, karenanya dia jadi gusar.

"Kurang ajar!" dia berseru. Dia turunkan Siau Hui, lalu dia hunus goloknya, untuk dipakai menyerang.

Sin Cie tidak takut, dia menangkis dengan korekan barahnya itu. Ia keluarkan pelajaran silat ajarannya Nie Hoo, ialah Gak Kee Sin-chio, ilmu silat tombak keluarga Gak (Gak Hui). Malah dengan ini, ia pun bisa balas menyerang.

Heran orang bertubuh besar itu, terpaksa ia melayani, hingga disitu terjadilah pertempuran kipa - seorang dewasa dan tubuh besar melayani satu bocah cilik. Dia ini pun mainkan Lo-han-too, ilmu golok dari Siau Lim Pay. Dia ada bertenaga besar, goloknya sampai menderu-derukan angin keras.

Sin Cie berkelahi sambil hunjuk kegesitannya, ia menyingkir dari bentrokan senjata, ia main kelit saja, dilain saat, ia menikam berulang-ulang.

Selang belasan jurus, orang dewasa itu sibuk sendirinya. Ia heran, ia penasaran, kenapa ia tidak sanggup rubuhkan satu bocah cilik! Karena ini, ia jadi berkelahi dengan sengit, ia ubah cara penyerangannya. Sekarang ia lebih banyak membabat kaki.

Untuk menyerang kaki, penyerangan mesti dilakukan dengan "Tee-tong-too", ialah permainan golok sambil bergulingan ditanah, tapi si culik tidak bertindak sampai begitu jauh, ia main jongkok atau mendak saja.

Perubahannya lawan itu membuat Sin Cie sibuk, dilain saat, ia mesti main mundur. Ia terancam bahaya.

Siau Hui, yang dilepaskan dari cekalan, tidak diam menonton, dia lari kedalam rumah, darimana ia kembali dengan pedang panjang ditangannya, dengan senjata ini ia serang culik itu, akan bantui kawannya. Ia menyerang dengan tusukan "Sian-jin cie lou" atau "Dewa menunjuki jalanan".

"Fui, perempuan cilik, kau pun hendak cari mati!" berseru culik itu. Ia berbalik, ia bacok si nona, Ia tidak gunai tenaga keras, ia tidak inginkan jiwa orang, ia cuma hendak sampok terlepas pedangnya nona itu.

Tapi si nona cerdik, gerakannya pun gesit. Dia berkelit dari serangan itu, dia menyingkir kebelakang, dari mana dia menyerang pula, dengan tikamannya "Sam-poo lian-tay" atau "panggung teratai mestika". Berbareng dengan itu, Sin Cie menyerang dengan "Tok liong cut tong" atau "Naga jahat keluar dari kedung".

Repot culik itu diserang dari dua pihak, ia mesti berlaku sebat sekali.

Tadinya Sin Cie berkuatir menampak majunya si nona cilik, tapi setelah lihat penyerangan orang beberapa kali, ia jadi girang. Nona itu bersilat dengan "Tat Mo Kiam-hoat", ilmu silat dari guru besar Tat Mo. Untuk tidak kalah pengaruh, ia menyerang dengan lebih seru.

Mengetahui orang desak ia, culik itu menjadi girang. Ia tahu bocah-bocah tidak ulet, tidak perduli ilmu silat mereka ada cukup untuk menjelamatkan dirinya dari pelbagai serangan.

Benar dugaan culik ini, selang sedikit lama, dua-dua Sin Cie dan Siau Hui mulai jadi lemah, maka sekarang adalah giliran dia untuk mendesak.

Siau Hui menikam, culik itu menangkis, demikian sebat, si nona sampai tidak keburu menarik pulang senjatanya untuk hindarkan bentrokan, maka begitu kedua senjata beradu, pedangnya terlepas, terlempar.

Sin Cie lihat kawannya terancam, ia menikam, tapi culik itu, sembari menangkis, angkat sebelah kakinya, akan tendang si nona, hingga dia ini terguling karena dia tak sempat egos tubuh.

Dalam kaget dan kuatirnya, Sin Cie lupa segala apa, waktu ia menikam pula, ia berlaku sembrono sekali.

Melihat sikap orang itu, culik itu tertawa menyengir. Ia berkelit dari tikaman, lalu ia merangsang goloknya diayun. Sin Cie angkat korekan barahnya, untuk menangkis, tapi selagi kedua senjata hendak beradu, si culik sambar ujung korekan, untuk ditarik sambil diputar. Sin Cie kesakitan pada tangannya, karena bentrokan kedua senjata, karena putaran itu, tak lagi ia bisa mencekal terus senjatanya itu, yang terlepas dengan segera.

Melihat orang telah tidak berdaya, culik itu lemparkan korekan barah,ia loncat pada Siau Hui, tubuh siapa ia sambar, untuk dikempit, buat lantas dibawa lari! Walaupun dia sedang kesakitan, melihat Siau Hui kena dibawa lari, Sin Cie lupai sakitnya itu. Ia jumput korekan barahnya, ia lari, akan mengejar.

"He, setan cilik, apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?" membentak si culik , yang lihat bocah itu demikian bandel. Ia kempit Siau Hui dengan tangan kiri, dengan tangan kanan cekal goloknya, ia balik tubuh, akan layani pula bocah itu.

Setelah bertempur lima-enam jurus, Sin Cie kena terbacok pada pundaknya, sia-sia ia berkelit, bajunya robek, pundaknya terkena sedikit, hingga darahnya mengucur keluar.

"Setan cilik, apa kau masih berani?" mengejek culik itu. Sin Cie benar-benar besar nyalinya.

"Lepaskan Siau Hui, aku tidak akan susul pula padamu!" ia jawab sambil ia menahan sakit. Ia jumput korekannya, kembali ia mengejar musuh, yang sudah lantas kabur pula.

Akhirnya culik itu habis sabar.

"Jikalau aku tidak bunuh dia, dia terang bakal ganggu aku," pikir dia. Maka ia berhenti lari, ia sambut serangannya Sin Cie.

Baru beberapa gebrak, korekan Sin Cie kena disampok, dia terus ditendang hingga rubuh berguling, sesudah mana, tidak berayal lagi, culik itu lompat maju seraya kirim bacokannya.

Siau Hui dalam kempitan lihat bahaya mengancam Sin Cie, ia geraki kedua tangannya, akan jambret lengannya culik itu, terus ia gigit lengan itu.

Culik itu kaget, dia kesakitan, karena mana, bacokannya jadi salah.

Sin Cie sendiri berkelit dengan buang diri, akan bergulingan di tanah.

Dalam sengitnya, culik itu sentil kupingnya Siau Hui, kemudian ia maju pula, lagi sekali, ia serang Sin Cie.

Bocah itu, yang belum sempat berbangkit, berguling lagi, tapi ujung golok mengenai jidatnya, hingga di jidat itu, diatasan alis sedikit, terluka dan mengeluarkan darah.

Percaya bahwa orang akan mati kutunya, culik itu hendak kabur pula bersama korbannya.

Sin Cie benar berani dan bandel, ia berlompat, akan tubruk orang punya kaki kiri, yang ia peluki dengan keras, lalu dengan tipu silat "To tiu kim ciang" atau "merubuhkan lonceng emas", ia tekuk kaki itu menurut sekuat tenaganya.

Sengit culik itu, walaupun ia tidak rubuh, ia toh merasakan sakit pada kaki kirinya itu, maka ia angkat kaki kanannya, untuk injak si bocah, atas mana, Sin Cie terpental terguling. Ia lantas maju pula seraja membacok.

Belum sampai golok turun, atau culik itu terkejut dan merasakan sakit pada kepalanya, karena batok kepalanya menerbitkan satu suara membeletuk, apabila ia menoleh, ia tampak An Toa-nio sedang ayun kedua tangannya. Ia jadi jeri, ia tinggalkan Sin Cie, lantas ia lari. Tapi Siau Hui ia kempit terus. An Toa-nio ayun tangan kanannya beruntun tiga kali, tiga butir telur menyambar culik itu, dia bisa kelit dua serangan tapi yang ketiga mengenai batang hidungnya, hingga disebelah merasa sakit, mukanya mandi putih dan merah telur.

Masih nyonya An menimpuk dengan sebutir telur yang lain, yang kali ini mengenai mata kiri si culik, hingga dia gelagapan. Walaupun hanya telur, toh timpukan ini ada cukup keras.

Dalam gusarnya, culik ini lepaskan Siau Hui, dengan tangan kirinya, ia usap mukanya, kemudian ia maju, akan serang si nyonya.

An Toa-nio tidak bersenjata, ia melayani sambil senantiasa berkelit.

Sin Cie sudah bangun, ia telah pungut korekan barahnya, dengan tidak pedulikan lukanya, ia maju, akan serang culik itu, guna bantu nyonya penolongnya. Ia jadi tambah semangat, berulang-ulang ia menikam dengan ilmu tumbaknya Gak Hui.

Karena didesak Sin Cie, culik itu tak bisa desak An Toa- nio seperti bermula, hingga nyonya ini dapat sedikit waktu senggang, sebab mana, ia jadi ingat cita yang Baru saja ia beli untuk Sin Cie. Segera ia keluarkan cita itu dari dalam rantangnya, terus ia lempar kekali kecil didekatnya untuk dibasahkan. Ia pun gunai kesempatan menjumput tiga buah batu, yang dipakai menimpuk, hingga culik itu jadi repot juga, karena mana, Sin Cie tidak sampai kena terlalu terdesak.

Selagi si culik terpaksa mundur, An Toa-nio sudah angkat citanya, untuk dibuka hingga mirip dengan angkin atau sabuk, lalu ia maju lagi, akan dekati orang itu. "Ou Lo Sam!" berseru nyonya ini. "Selagi aku tidak ada dirumah, kau datang menyatroni, kau perhina segala bocah cilik! Adakah kau satu laki-laki?"

Teguran itu ditutup berbareng dengan serangan dengan sepotong cita itu, yang digunakan sebagai joan-pian atau cambuk lemas. Setelah basah, cita itu dapat digunakan bagaikan toya juga.

Culik itu, yang dipanggil Ou Lo Sam, nampaknya sibuk. Ia tendang rubuh pada Sin Cie, lantas ia layani sungguh- sungguh pada si nyonya.

An Toa-nio sedang gusar, ia berkelahi dengan hebat, setelah mendesak, dua kali berhasil ia menyerang dengan toya atau cambuknya yang istimewa itu. Ou Lo Sam tidak sampai terluka, tetapi ia merasakan sakit pada bebokongnya, yang kena terpukul. Karena ini, gerakannya jadi lambat sendirinya.

Masih An Toa-nio mendesak, akan akhirnya, ia dapat libat golok lawan, maka lantas saja ia menarik dengan kaget dan keras! Ou Lo Sam terkejut, tak dapat ia mencekal keras, goloknya terlepas dan terbetot oleh si nyonya, tapi ia tertawa dingin. Ia telah lompat dua tindak, lalu ia kata sambil bersenyum iblis: "Aku adalah orang yang terima pesan dari suamimu! Selama alusku belum buyar, maka ada satu hari yang aku nanti cari pula padamu...!"

Alisnya si nyonya berdiri, ia sahuti ancaman itu dengan sabatan cambuk istimewanya.

Lo Sam telah bersedia agaknya, sebelum serangan sampai, ia sudah putar tubuh dan lari, lari turun gunung dengan lekas.

Melihat orang angkat kaki, An Toa-nio tidak mengejar, hanya ia balik, untuk lekas-lekas lihat Siau Hui dan Sin Cie. Siau Hui tidak terluka, dia melainkan kaget, ia tubruk ibunya lantas ia menangis. Dasar bocah cilik! Sin Cie berlumuran darah, ia diajak pulang untuk lantas dipetali darahnya, sesudah bersih, lukanya diobati, dibungkus dengan rapi. Dia peroleh dua luka, syukur tidak berbahaya; benar ia keluarkan banyak darah tetapi itu tidak sampai membahayakan jiwanya. Ia dipondong, untuk direbahkan di pembaringan.

Sampai disitu, Siau Hui cerita pada ibunya bagaimana, selagi keluar sebentar, ia ketemu Ou Lo Sam, yang terus tawan ia, buat dibawa lari, bagaimana Sin Cie pergoki mereka, lantas bocah itu lawan Lo Sam, untuk tolongi padanya.

"Aku tidak sangka, begini muda usianya, dia berhati mulia, dia gagah sekali," berkata An Toa-nio. "Tak dapat kita berayal pula, aku mesti tolong ia supaya jadi seorang sempurna." Kemudian nyonya ini lanjuti pada puterinya. "Kau pun pergi tidur, sebentar malam kita berangkat."

Siau Hui tidak heran atas kata-kata ibunya itu, ia lantas beristirahat.

An Toa-nio lantas berkemas, ia siapkan dua buntalan, kemudian ia tunggu datangnya sang sore. Habis bersantap, bertiga mereka duduk menghadapi pelita. Nyonya ini tidak kunci pintu, ia tidak jeri.

Benar kira-kira jam dua, diluar terdengar tindakan kaki, yang terus masuk kedalam.

Itulah si gagu, yang telah kembali. Ia bertubuh besar dan keren tapi tindakannya enteng, suatu bukti bahwa kepandaian entengi tubuhnya telah sempurna.

An Toa-nio menyambut sambil berbangkit, ia bicara sama si gagu itu dengan mainkan kedua belah tangannya, dengan mainkan juga mulutnya. Si gagu rupanya mengerti, dia manggut-manggut.

"Mana Cui Siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa dia baik?"

"Dia baik, kau jangan kuatir," An Toa-nio menghibur. "Mari, aku hendak omong sama kau."

Nyonya itu masuk kedalam kamar dimana ia duduk atas pembaringan.

Sin Cie mengikuti, si nyonya lantas tarik tangannya.

"Sin Cie!" katanya dengan manis-budi, "begitu lihat kau, aku suka padamu, dari itu, aku pandang kau sebagai anak sendiri. Tadi kau telah berkorban untuk Siau Hui, itulah budimu yang aku tidak nanti lupakan. Malam ini kami hendak pergi kesuatu tempat jauh, maka itu, pergilah kau ikut empeh gagu."

"Tidak, aku ingin ikut kau bersama," kata Sin Cie.

"Aku pun tidak tega berpisah dari kau," terangkan An Toa-nio. "Aku ingin empeh gagu bawa kau kepada satu orang, dia adalah guru Baru namanya saja dari Cui Susiokmu. Baru beberapa bulan Cui Susiok belajar silat pada orang itu, ilmu silatnya sudah liehay sekali. Locianpwee itu ada punya ilmu silat yang tidak ada tandingannya, dari itu aku ingin kau berguru kepadanya."

Mendengar itu Sin Cie berdiam, agaknya dia ketarik. "Seumur hidupnya, locianpwee itu cuma terima dua

murid," An Toa-nio terangkan lebih jauh. "Itu adalah

kejadian pada belasan tahun yang lampau. Meskipun demikian, masih belum tentu dia suka menerima murid pula. Tapi aku ada berbakat baik, hatimu pun mulia, aku percaya dia pasti akan suka padamu. Empeh gagu ada bujangnya locianpwee itu, aku ingin dia ajak kau untuk minta locianpwee terima padamu. Maka pergilah kau dengan baik-baik. Umpama kejadian locianpwee tidak suka terima kau, empeh gagu nanti bawa kau kembali padaku."

Sampai disitu, Sin Cie telah ambil putusannya. Dia manggut.

"Bagus!" kata nyonya An. "Sekarang baik kau ketahui tabiatnya locianpwee itu. Dia adalah seorang aneh. Umpama kau tidak suka dengar perkataannya, lantas dia tidak sukai padamu. Umpama kau terlalu dengar kata, dia juga akan cela kau terlalu tolol dan tidak punya semangat! Maka segala-galanya tinggal terserah kepada peruntunganmu sendiri!"

Dari lengannya, nyonya itu loloskan sepotong gelang emas, ia masuki itu kelengannya bocah ini, apabila ia lengkuk sedikit, gelang itu menjadi kecil dan tidak akan lolos lagi.

"Jikalau nanti kau sudah rampungkan pelajaran ilmu silatmu, apabila kau telah menjadi satu bocah besar, jangan kau lupakan encim Anmu ini dan Siau Hui!" kata nyonya yang baik budi itu sambil tertawa.

"Andaikata locianpwee sudi terima aku," berkata Sin Cie," apabila ada ketika senggang, aku minta encim suka ajak Siau Hui datang melongok aku!"

Matanya nyonya itu menjadi merah, saking hatinya terharu.

"Baik, aku akan senantiasa ingat kau," ia jawab.

Lantas An Toa-nio menulis sepucuk surat, yang ia serahkan pada si gagu.

"Sekarang kita berangkat," kata ia sambil ia bawa dua buntalannya. Berempat mereka keluar dari rumah, sesampainya diluar, mereka berpisah dalam dua rombongan, masing-masing dengan tujuannya sendiri.

Sin Cie berkumpul Baru beberapa hari dengan An Toa- nio dan Siau Hui, akan tetapi perpisahan itu membuat ia merasa sangat berat. Ia senantiasa ingat itu bibi dan puterinya.

Si gagu tahu bocah ini telah keluarkan banyak darah karena luka-lukanya, dari itu, ia angkat tubuh orang untuk dipondong, sesudah mana, segeralah ia buka tindakannya yang lebar, ia jalan cepat sekali tak peduli jalanan ada jalanan pegunungan yang sukar. Ia lakukan perjalanan siang, setiap malam mereka mondok ditempat dimana mereka sampai sorenya, tetapi bukannya dihotel atau rumah orang, hanya didalam gua-gua atau rumah berhala. Kalau toh mereka singgah di hotel, melulu untuk beristirahatnya si bocah, untuk beli barang makanan.

Dalam halnya sendiri, si gagu dahar secara sembarangan, melainkan sekali tangsel perut, sedikitnya mesti dua kati mie! Sering Sin Cie tanya, mereka telah sampai ditempat apa, jawabannya adalah menunjuk jari tangannya kearah depan.

Lagi tiga hari telah dilewatkan, jalanan jadi bertambah sukar, makin sukar, hingga lebih benar disebut, sudah tidak ada jalanan lagi, untuk maju terus, si gagu gunai kedua tangannya, akan merayap naik atau merambat antara pepohonan oyot. Sebab mereka sedang mendaki gunung.

Selama itu, lukanya Sin Cie telah jadi sembuh, cuma diatasan alisnya ada ketinggalan tanda cacat kecil. Dia menggemblok di bebokongnya empeh gagu itu, kedua tangannya merangkul leher orang dengan keras. Ia jeri kapan ia lihat tempat yang curam. Kalau mereka terpeleset dan jatuh, habislah.......

Satu hari lamanya si gagu mesti manjat, sampailah ia diatas puncaknya gunung yang tinggi dimana tepinya ada sebidang tanah yang lebar dimanapun ada tumbuh banyak pohon cemara yang tinggi-tinggi, yang merupakan rimba saja. Disini si gagu jalan melewati lima atau enam rumah batu, melihat mana, ia bersenyum sendirinya, hingga dia mirip seorang perantauan lama yang Baru kembali ke kampung asalnya sendiri.

Didepan sebuah rumah batu, si gagu tuntun Sin Cie untuk masuk kedalamnya, Galagasi malang melintang, sebagai tanda rumah itu sudah lama tidak diisi, tetapi dengan bantuannya sesapu, si gagu bersihkan itu, malah ia terus sapui semua, dalam dan luar, sesudah mana, ia nyalakan api untuk masak air dan nasi.

Gunung ada demikian tinggi, entah bagaimana caranya si gagu sediakan beras dan lainnya itu.

Ada sulit untuk Sin Cie bicara sama empehnya ini, tetapi ia tidak banyak cerewet, ada selang tiga hari, ia sibuk juga. Dengan gerakan tangan, ia tanya si gagu, mana dia si locianpwee yang katanya dia bakal angkat jadi gurunya.

Si gagu mengerti pertanyaan itu, dia menunjuk kebawah gunung.

"Mari kita turun," Sin Cie mengajak. Ia memberi tanda- tanda pula.

Si gagu menggeleng-geleng kepala, ia tak mau meluluskannya.

Dengan terpaksa, Sin Cie diam saja. Ia jadi sangat masgul. Ia pun kesepian. Tidak dapat ia pasang omong dengan si empeh itu. Pada suatu malam, selagi Sin Cie sedang tidur, ia mendusin dengan tiba-tiba. Didepan matanya berkelebat cahaya terang, yang membuat ia terperanjat. Ia geraki tubuhnya, untuk berbangkit, duduk diatas pembaringan, sebelah tangannya mencekal lilin yang apinya menyala. Orang tua itu perlihatkan roman berseri-seri, tandanya ia girang.

Dasar otaknya cerdas, Sin Cie lekas-lekas turun dari pembaringan, lantas saja ia paykui empat kali.

"Suhu!" berkata dia. "Akhirnya suhu datang juga!" Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Eh, anak, siapa suruh kau panggil suhu padaku?" tanya dia. "Cara bagaimana kau ketahui bahwa pasti aku akan terima kau sebagai murid?"

Sin Cie girang bukan kepalang. Dari kata-katanya orang tua itu, benar-benar dia bakal diterima sebagai murid. Segeralah ia berikan jawabannya : "Inilah encim An yang ajari aku!"

"Artinya itu dia telah menambah kesulitan untukku!" kata si orang tua, sambil bersenyum. "Baiklah, memandang kepada mendiang ayahmu, aku terima kau sebagai murid!"

Lantas saja Sin Cie hendak paykui pula, tetapi si orang tua cegah.

"Sudah cukup, sudah cukup!" katanya. "Sampai besok saja."

Besoknya pagi, sebelum terang tanah, Sin Cie sudah bangun dari tidurnya, lantas ia pergi pada si empeh gagu diluar, dia ini rupanya sudah dapat tahu juga yang orang tua itu suka terima bocah ini sebagai murid, dalam kegirangannya yang meluap-luap, dia angkat  tubuhnya si bocah, dia lemparkan ke atas, lalu dia tanggapi dengan tangannya. Hingga empat-lima kali tubuh Sin Cie terapung- apung, sehingga bocah itu, yang pun girang sekali, tertawa dengan berisik.

Si orang tua di dalam kamarnya dengar suara riuh diluar, ia bertindak menghampirkan, hingga ia saksikan laga- lagunya si gagu dan bocah itu.

"Bagus!" berkata ia. "Kau masih begini muda, kau mengerti perbuatan-perbuatan mulia dan gagah, kau telah tolongi seorang perempuan. Hayo, kepandaian apa kau punyai, pertunjuki semua itu, kasi aku lihat!"

Sin Cie jengah, hingga wajahnya menjadi merah. "Jikalau kau tidak perlihatkan semua kepandaianmu,

cara bagaimana aku bisa ajarkan kau silat?" kata si orang

tua sambil tertawa. Sekarang Barulah si bocah tahu, orang tua itu tidak main-main dengannya.

"Baiklah, suhu," kata ia kemudian, sesudah mana, ia mulai bersilat. Ia jalankan Hok-hou-ciang ajaran Cui Ciu San dari permulaan sampai diakhirnya.

Orang tua itu mengawasi dengan air muka berseri-seri, ia tunggu sampai si bocah selesaikan jurus terakhir, ia tertawa.

"Tak habisnya Ciu San puji kecerdasanmu, mulanya aku tidak percaya," kata dia. "Dia ajarkan kau ilmu silat ini Baru beberapa hari saja, sekarang kau bisa jalankan itu begini rupa, dia benar."

Mendengar disebutnya nama gurunya, Sin Cie sangat tertarik, tergerak hatinya, akan tetapi orang tua itu masih bicara, ia tidak berani memutuskannya.

"Cui Siokhu dimana?" begitu ia tanya, begitu lekas si orang tua berhenti bicara. "Apa ia baik?" Terang sudah ia sangat perhatikan keselamatan orang she Cui itu.

"Ia tak kurang suatu apa, ia sudah kembali kepada Lie Ciangkun," jawab si orang tua.

Sin Cie girang sekali, walaupun ia ada sedikit menyesal yang ia tak sampai bertemu pula dengan guru Hok-hou- ciang itu.

Si gagu sendiri sudah lantas siapkan meja sembahyang.

Si orang tua keluarkan selembar gambar dimana ada lukisannya satu sasterawan, yang romannya alim dan agung. Ia sulut lilin, ia pasang hio, lantas ia memberi hormat sambil menjura. Kemudian Barulah ia kata pada Sin Cie : "Inilah gambarnya Cie Cou-suya, pendiri dari kaum kita Hoa San Pay. Hayo kau jalankan kehormatan!"

Sin Cie menurut, ia lantas paykui , tapi ia tak tahu, berapa kali ia mesti manggut-manggut, ia terus paykui tak hentinya, hingga si orang tua tertawai padanya.

"Sudah cukup!" kata si orang tua itu.

Masih saja orang tua itu ketawa ketika tahu-tahu si bocah paykui terhadapnya.

"Suhu!" memanggil murid cilik ini, yang sangat cerdik.

Sambil bersenyum orang tua itu terima pemberian hormat ini.

"Mulai hari ini, kau adalah murid yang sah dari Hoa San Pay kita," kata si orang tua kemudian. "Lebih dahulu daripada kau, aku telah punyakan dua murid, sejak itu, karena tidak ada orang yang berbakat, aku belum pernah terima murid lainnya lagi, belasan tahun telah lewat, baru sekarang kau datang. Kau ada murid yang ketiga,kau juga ada murid penutup, maka itu, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh, supaya tidak sampai kau menerbitkan malu untuk kaum kita!"

Sin Cie manggut berulang-ulang.

"Aku janji, suhu," ia berikan perkataannya.

"Aku adalah orang she Bok," sang guru berkata pula." Dalam kalangan kangouw, sahabat-sahabatku panggil aku Pat Chiu Sian-wan. Kau harus ingat baik-baik, kau harus jaga supaja lain kali, apabila ada orang tanya kau tentang nama gurumu, nanti kau menyahuti, "Oh, oh, aku tak tahu. "

Mendengar itu, tak dapat ditahan lagi, Sin Cie tertawa. Tapi segera ia berhenti. Ia ingat pesannya An Toa-nio bahwa si orang tua bertabiat ku-koay; ingat itu, hatinya kecil, ia jeri, akan tetapi sekarang ternyata, guru ini bukannya seorang aneh, dia hanya satu tukang guyon! Pat Chiu Sian-wan Bok Jin Ceng, si Lutung Sakti Tangan Delapan, sudah malang-melintang dua-puluh tahun lebih dalam dunia kangouw, belum pernah dia ketemukan tandingannya, karena ia tidak suka jual lagak, namanya tidak terlalu tersohor. Memang benar ia mempunyai sifat yang luar biasa, ialah suka menyendiri. Tapi terhadap Sin Cie, segera timbul perasaan kasihannya. Bocah ini, yang yatim-piatu, harus dikasihani, sedang disebelah itu, Jin Ceng hargakan sangat Wan Cong Hoan sebagai panglima perang yang gagah, sebagai jenderal yang setia, terutama disayangi kebinasaannya secara menyedihkan. Sin Cie sendiri ada berbakat baik, cerdas, kelakuannya sangat menyukai orang. Maka itu, lenyap keanehannya, Jin Ceng suka terima bocah ini, malah ia telah berguyon dengannya.

"Kedua suhengmu ada jauh lebih tua daripadamu, dua atau tiga-puluh tahun lebih," berkata sang guru kepada muridnya. "Murid-murid mereka juga ada jauh terlebih tua daripada kau. Maka bisa kejadian, mereka akan sesalkan aku, yang aku telah terima kau, satu murid begini muda! Dan umpama kata kau belajar tidak berhasil, apabila nanti kau dipadu dengan murid-murid mereka dan kau kalah, ada alasan untuk mereka itu cela aku..."

"Pasti aku belajar sungguh-sungguh, suhu," Sin Cie pastikan. Lalu ia tanya: "Cui Siokhu itu ada murid suhu juga?"

"Ia hendak turut Lie Ciangkun berperang, ia tidak punya tempo akan belajar dengan tetap padaku," sahut Bok Jin Ceng. "Aku cuma ajarkan ia ilmu pukulan Hok-hou-ciang, tak dapat ia dipandang sebagai muridku." Lalu ia tunjuk si gagu dan melanjuti : "Lihat ia! Setiap hari ia saksikan kita berlatih, dengan sendirinya ia dapatkan bukan sedikit kepandaian, akan tetapi apabila ia dipadu dengan dua muridku, bedanya bagaikan langit dan bumi saja!"

Sin Cie kagum, hingga ia melengak. Ia telah saksikan kekuatan dan liehaynya si empeh gagu, toh ia ini cuma satu pelajan dan kepandaiannya didapat, katanya, "boleh mencuri lihat saja." Ciu San pun gagah sekali, toh ia cuma peroleh satu Hok-hou-ciang. Semua itu adalah bukti-bukti yang menunjuki liehaynya guru ini.

"Maka jikalau aku belajar sungguh-sungguh, walaupun aku tak dapat susul kedua suheng, tentu sedikitnya aku bisa dapat kepandaian sebagai si gagu ini." Pikir ia. Dan pikiran ini membikin ia girang sekali.

"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai beberapa aturan," Bok Jin Ceng berkata lebih jauh. "Itu mengenai pantangan berbuat cabul, melakukan pekerjaan sebagai piausu dan lain-lain, sekarang belum dapat aku jelaskan kepada kau, karena kau tentunya tidak mengerti. Melainkan kau hendak pesan dua rupa kepada kau, yaitu kau mesti dengan kata guru, kau mesti jangan lakukan apa-apa yang buruk! Kau mengerti?"

"Pasti aku akan dengar perkataan suhu, tidak nanti aku berbuat buruk," jawab sang murid.

"Bagus!" berkata guru itu. "Sekarang mari kita mulai berlatih. Karena temponya sangat mendesak, Cui Siokhumu ajarkan kau Hok-hou-ciang secara sekelebatan saja. Sebenarnya, ilmu pukulan itu mempunyai kefaedahan yang utama, usiamu masih terlalu muda, apabila kau terus yakinkan itu, kau tak akan dapatkan kesempurnaan. Maka sekarang aku nanti mulai kau dengan Tiang-kun Sip-toan- kim."

"Dulu pernah Nie Siokhu ajarkan aku pukulan itu," Sin Cie terangkan.

"Ya, tetapi itu belum berarti!" kata sang guru. "Apa kau rasa kau sudah pandai gunai itu? Kau keliru jauh! Jikalau kau telah sempurnakan Tiang-kun Sip-toan-kim, didalam kalangan kangouw, tentulah tak banyak orang lagi yang sanggup kalahkan padamu!. "

Sin Cie melengak pula.

"Ya, ya, suhu," kata ia, yang tak berani banyak omong lagi.

"Sekarang kau lihat, habis itu, kau turuti," kata sang guru.

Bok Jin Ceng lantas jalankan Tiang-kun Sip-toan-kim, muridnya mengawasi.

Sin Cie heran, ilmu silat yang guru ini jalankan, semua mirip dengan yang ia peroleh dari Nie Hoo. Ia jadi tidak mengerti, apakah kefaedahannya ilmu pukulan itu........ Sedang bocah ini berpikir keras, sang guru tegur padanya.

"Apakah kau sangka gurumu perdayakan kau? "tanya Bok Jin Ceng. "Mari, mari, kau coba serang aku, asal kau bisa jambret saja baju atau langgar ujung bajuku, anggaplah kau benar sudah pandai!"

Bocah itu tidak berani serang gurunya, ia cuma bersenyum saja, tak bergerak ia dari tempatnya berdiri.

"Hayo maju, aku sedang ajarkan kau ilmu silat!" guru itu mendesak.

Mendengar bahwa ia hendak diberi pelajaran, Sin Cie lantas maju, dengan satu lompatan, ia sambar baju gurunya, yang memakai tungsha, baju panjang. Ia rasa ia bakal berhasil menjambret, tidak tahunya, Baru ia hampir mengenai atau ujung baju itu seperti mundur sendirinya. Ia maju pula, atau lantas, ia kehilangan gurunya itu.

"Aku disini!" kata si guru sambil tertawa, dengan tangannya ia tekan pundak orang. Ia ada dibelakang si murid.

Sin Cie berdiam, tetapi dia geraki tubuhnya dengan gerakan "Au cu hoan sin" atau burung elang jumpalitan". Ia bergerak dengan gesit sekali, kedua tangannya dipentang, untuk merangkul. Tapi ia merangkul tempat kosong, ia tak lihat gurunya. Apabila ia berpaling, ia tampak gurunya itu berdiri dari dia jauhnya kira-kira tiga tumbak! "Aku mesti bisa jambak padamu!" pikirnya, yang jadi sangat penasaran. Ia lompat pula, secara sangat gesit, tangannya diulur.

Tangan bajunya Bok Jin Ceng dikibaskan, tubuhnya ikut mencelat, dengan begitu, ia hindarkan dari terkaman, hingga kembali sang murid tangkap angin. Sin Cie tidak jadi putus asa, dia malah tidak mendongkol, sebaliknya, ia tertawa hi-hi-hi, menandakan kegembiraannya. Ia mengejar, ia membiluk kemana si guru putar tubuh. Tiba-tiba ia lihat si gagu gerak-gerakan tangannya sebagai tanda untuknya. Diam-diam ia menaruh perhatian, mendadakan hatinya tergerak.

"Benar-benar suhu gunakan Tiang-kun Sip-toan-kim",ia memikir. "Kenapa suhu ada begini gesit?"

Ia masih mengubar terus, tapi sekarang dengan perhatikan gerak-gerik gurunya itu. Ia sudah paham benar sekali semua gerakannya. Ia terus menaruh perhatian, akan setelah itu, ia pun menelad gerakan gurunya, hingga lantaslah terlihat, dia pun jadi gesit beberapa lipat.

Bok Jin Ceng senantiasa awasi sang murid, diam-diam dia manggut-manggut.

"Anak ini benar-benar bisa terima pelajaran," pikir dia.

Sin Cie perhebat pengejarannya, karena ia bisa bergerak terlebih sebat pula, akan tetapi didepan dia, gurunya pun bertambah-tambah gesit, hingga sia-sia saja pengejarannya. Hingga berdua mereka seperti merupakan bajangan saja.

Lagi sekian lama, mendadakan Bok Jin Ceng berlompat, akan tubruk muridnya, tubuh siapa ia angkat tinggi-tinggi.

"Murid yang baik, anak yang manis!" berkata dia sambil tertawa berkakakan.

"Suhu!" kata sang murid, yang girang luar biasa, karena sekarang ia insaf kemujijatan Tiang-kun Sip-toan-kim.

"Bagus, anak, sebegini sudah cukup untuk latihanmu!" kata sang guru. Ia turunkan tubuh Sin Cie, ia lepaskan cekalannya. "Sekarang kau ulangilah sendiri!" Sin Cie menurut, ia lantas jalankan Tiang-kun Sip-toan- kim.

Setelah mengawasi beberapa ulangan, Bok Jin Ceng masuk kedalam.

Sin Cie tidak turut gurunya beristirahat, ia masih berlatih terus, sampai belasan kali, hingga ia tambah mengerti kefaedahannya ilmu silat itu, yang berpokok pada kegesitan. Ia ada demikian kegirangan, hingga malam itu tak dapat ia tidur dengan nyenyak, terus ia bayangi itu ilmu pukulan, sampai mimpi pun ia masih berlatih....

Besoknya pagi, Baru saja fajar, bocah ini sudah bangun, untuk berlatih, karena ia kuatir pengajarannya kemarin nanti terlupa. Ia belajar seorang diri, dengan sungguh- sungguh.

Berselang belum lama, selagi bocah ini sangat bersemangat, ia dengar suara batuk-batuk dibelakangnya, apabila ia berpaling, ia lihat gurunya.

Bok Jin Ceng berada dibelakang muridnya, sambil tertawa.

"Suhu!" ia memanggil, terus ia berdiri diam, kedua tangannya dikasih turun.

"Kau telah mengerti dengan cepat, inilah bagus," berkata sang guru. "Tapi kau Baru mengerti bagian atas, bagian bawahnya belum, dibagian bawah, kau masih kosong, apabila kau hadapi lawan liehay, kau bakal celaka. Kau mesti bersikap begini. "

Guru itu lantas mengasi contoh. "Sekarang hayo kau turut!" Sin Cie menelad gurunya, ia mengerti dengan cepat, setelah mana, terus ia jakinkan ini ajaran baru, hingga ia kembali dapat tambah pengertian.

Selanjutnya, tidak pernah Sin Cie abaikan ajaran-ajaran gurunya. Sang tempo lewat dengan cepat, selang tiga tahun, bocah ini telah masuk usia dua-belas tahun. Ia berlatih dari kecil, sekarang tubuhnya jadi kuat sekali, pasek dan gesit.

Seperti biasanya, Bok Jin Ceng suka turun gunung, untuk pesiar, kalau ia pergi, ia pergi untuk dua atau tiga bulan. Setiap kali ia pergi, ia ajarkan muridnya pelbagai ilmu, apabila ia pulang, ia lantas menilik, untuk mengajarkan terlebih jauh. Ia puas mendapati muridnya belajar rajin sekali dan pesat kemajuannya.

Pada suatu harian Toan-ngo-ciat, sehabisnya minum arak Hiong-hong-ciu, dengan tiba-tiba saja Bok Jin Ceng keluarkan gambarnya Cousu-ya, ia memberi hormat sambil paykui, ia perintah Sin Cie turut menghormatinya sebagai dia. Kemudian dia kata pada muridnya: "Sin Cie, tahukah kau, apa sebabnya hari ini aku suruh kau menghormati Cousu-ya?"

Murid ini goyang kepala.

Bok Jin Ceng masuk kedalam kamarnya, akan keluar pula dengan satu peti kayu kecil tetapi pandang, yang ia letaki diatas meja, apabila ia telah buka tutup peti itu, nyata didalamnya terletak sebilah pedang yang sinarnya bergemirlapan menyilaukan mata. Pedang itu pandangnya tiga kaki.

Sin Cie terkaget! "Apa suhu hendak ajarkan pedang padaku?" tanya dia.

Sang guru manggut, ia jumput keluar pedang tajam itu. "Kau berlutut, dengar perkataanku," tiba-tiba kata dia, suaranya keras, sikapnya keren dengan mendadakan.

Tanpa banyak omong, murid itu tekuk kedua lututnya. "Pedang adalah rajanya ratusan macam alat-senjata,"

berkata Bok Jin Ceng, "pedang ada gegaman paling sukar

untuk dipelajarkan. Tapi kau ada berotak terang, kau pun berhati keras, aku percaya kau akan sanggup mempelajarinya. Ilmu pedang kaum kita, Hoa San Pay, yang diwariskan berulang-ulang, mengandal kepada si ahliwaris, tetapi buktinya sampai sebegitu jauh, senantiasa tambah saja kemajuannya. Dikalangan lain, ada umum sang guru tinggalkan satu ilmu pukulan yang dirahasiakan, karena ini, satu angkatan dengan satu angkatan, murid- muridnya tambah kurang kepandaiannya, tetapi kita, kita tidak berbuat demikian. Benar kita memilih murid dengan keras, tetapi setelah dipilih, kita berikan dia semua pelajaran, malah dibagian ilmu pedang, setiap achliwaris menambah kepandaiannya. Ilmu pedang kita sulit untuk dipelajarkan, hanya setekah mengerti, orang akan insaf itu dengan sempurna, dan asal orang bisa wariskan, dia sudah seperti tidak ada tandingannya. Sekarang aku hendak ajarkan kau ilmu pedang tapi kau mesti sumpah dahulu bahwa kau tidak nanti bunuh sekalipun satu orang yang tidak bersalah-dosa!"

Sin Cie jawab gurunya itu, ia kata : "Ini hari suhu ajarkan teecu ilmu pedang, apabila dibelakang hari aku binasakan seorang yang tidak bersalah, maka pasti aku pun bakal binasa terbunuh orang!"

"Bagus! Hayo bangun!"

Sin Cie berbangkit, untuk berdiri.

"Aku tahu kau berhati mulia, tidak nanti kau bunuh orang tanpa alasan," kata guru ini," akan tetapi saat ada

132 berlainan, ada saatnya untuk silat membedakan kebenaran dari kepalsuan, inilah yang harus dijaga. Asal kau senantiasa berpokok pada kejujuran dan belas-kasihan, aku percaya tidak nanti kau membunuh secara keliru. Maka hal ini mesti kau ingat baik-baik."

Sin Cie manggut, ia beri pula janjinya.

"Sekarang kau lihat," berkata sang guru akhirnya. Ia cekal pedang dengan tangan kanan, tangan kirinya diletaki diatas itu, habis itu ia mulai bersilat, hingga sinar pedang memain, me-nyambar- bagaikan naga dan ular, cahayanya seperti bianglala.

0o-d.w-o0