-->

Pedang Ular Emas Bab 02

Bab ke 02

Besoknya ada Ting Ciu, harian tanggal lima-belas bulan delapan yang indah, Tiau Cong bertiga turut Cou Tiong Siu panjat gunung Lau Ya San. Mereka berangkat pagi-pagi, diwaktu tengah hari, sampailah mereka ditengah gunung dimana sudah menantikan belasan orang dengan barang hidangan, untuk semua orang berhenti sebentar, akan bersantap dan minum, untuk sekalian beristirahat, kemudian Baru mereka mendekati terlebih jauh. Adalah sejak ini, seterusnya, saban-saban ada orang-orang yang menjaga, yang menanya dan memeriksai sesuatu pengunjung. Ketika gilirannya Tiau Cong bertiga dimintai keterangan, Tiong Siu cuma manggut pada si petugas, lantas mereka dikasi lewat tanpa pertanyaan apa jua.

"Sungguh berbahaya!" kata si kongcu dalam hatinya. Ia makin insaf pengaruhnya orang she Cou ini. Ia girang semalam ia telah pasang omong dengan orang ini yang berpengaruh. Ia hanya belum tahu, apa akan terjadi terlebih jauh. Diwaktu magrib sampailah semua orang diatas gunung dimana ada beberapa ratus orang yang berbaris rapih, untuk menyambut, mereka itu jangkung dan kate, kurus dan gemuk, tidak rata, semua beroman keren. Satu diantaranya, rupanya yang jadi kepala, maju untuk sambut Tiong Siu,sesudah mana, sambil bergandengan tangan, mereka sama-sama masuk kedalam sebuah rumah yang besar.

Diatas gunung itu ada terdapat beberapa puluh rumah, yang letaknya berpencaran, yang paling besar adalah rumah tadi, yang mirip dengan sebuah kuil. Tidak ada panggung atau pagar-pagar seperti benteng, hingga keadaan itu tak mirip-miripnya dengan sarang berandal.

Peng Kie tidak sangka bahwa rumah-rumah itu ada demikian sederhana. Ini ada pengalaman Baru bagi ia, yang sudah belasan tahun berkelana. Ia pun tidak mengerti mengenai wajahnya semua orang itu, yang datang dari pelbagai penjuru. Mereka ada sahabat kekal satu dengan lain, pertemuan mestinya menggirangkan mereka, tapi buktinya, orang rata-rata ada berduka dan tak puas.....

Tiau Cong bertiga diantar kesebuah kamar kecil, untuk mereka sendiri, sebentar kemudian, ada orang mengantari barang hidangan, ialah nasi serta empat macam sayur dan dua-puluh lebih bahpau.

"Entah apa yang mereka bakal bicarakan...."begitu Tiau Cong dan Peng Kie saling tanya malam itu. Mereka tidak tahu juga, mereka itu bakal lakukan apa.

Besoknya ada Peegwee Caplak - tanggal enam-belas bulan delapan, Tiau Cong dan Peng Kie bangun pagi-pagi, setelah bersihkan diri dan sarapan, mereka keluar akan jalan-jalan ditepi gunung. Ini kali mereka lihat juga orang- orang dengan kepala atau muka bercacat, kurang tangan atau kaki, suatu tanda dari medan pertempuran. Mereka tidak ingin terbitkan gara-gara, maka lekas-lekas mereka kembali kekamar mereka, terus mereka tak keluar lagi.

Siang itu, sampai sore, barang makanan tetap sama seperti paginya, sayur melulu, hingga Peng Kie mendumel dalam hatinya : "Celaka, orang desak aku dengan ini macam hidangan yang tawar melulu!. "

Mendekati malam, seorang datang kekamarnya Tiau Cong.

"Cou Siangkong undang kamu ke pendopo untuk saksikan upacara," kata dia, yang menyampaikan undangan.

Tiau Cong dan Peng Kie, yang sudah dandan, lantas ikut keluar.

Hau Kong hendak turut majikannya, tapi si pengundang tolak dia.

"Saudara cilik, kau tidur saja siang-siang," katanya.

Tiau Cong lewati beberapa rumah batu, Baru mereka sampai di kuil, yang pakai nama Tiong Liat Su, tulisannya bagus dan keren.

"Entah kuil siapa ini," pikir Tiau Cong, menduga-duga. Bersama Tiong Siu ia ikut masuk terus kedalam. Di serambi, dikiri dan kanan, ada banyak para-para senjata dengan pelbagai macam senjatanya, delapan-belas rupa, yang semua terawat baik, bersinar bergemirlapan.

Di pendopo sudah berkerumun banyak sekali orang, barangkali dua atau tiga-ribu, yang memenuhi ruangan yang luas.

Tiau Cong dan kawannya heran kenapa digunung itu bisa berkumpul demikian banyak orang. Di tengah ruangan, Tiau Cong lihat satu patung yang beroman sebagai satu panglima perang, kopiahnya kopiah perang emas, jubahnya jubah perang berlapis baja, tangan kirinya mencekal pedang kebesaran, Siang-hong Poo-kiam, dan tangan kanannya memegang leng-kie, bendera titah.

Patung itu punyakan muka yang kecil dan bersih tapi keren romannya, kumis-jenggotnya tiga aliran,matanya memandang kedepan, sinarnya rada guram, seperti orang berduka. Dikedua sampingnya ada masing-masing sebaris sin-wie.

Karena ia berdiri jauh, Tiau Cong tidak dapat baca tulisan namanya patung itu.

Diempat penjuru ruangan dikibarkan banyak bendera, disitu pun kedapatan banyak kopiah perang, pelbagai alat senjata dan pakaian kuda, dan benderanya beraneka-warna, ada yang bertuliskan huruf-huruf. Disini pun semua roman ada berduka, hingga Hau Kongcu jadi sangat bingung.

Akhir-akhirnya, berbangkitlah satu orang jangkung- kurus, yang duduk disamping patung, ia sulut lilin, ia pasang hio, lalu ia serukan : "Mulai sembahyang!"

Semua orang berlutut serentak, maka Tiau Cong dan Peng Kie pun turut tekuk lutut.

Cou Tiong Siu maju kemuka, untuk angkat cee-bun, untuk dibacakan.

Peng Kie tidak mengerti bunjinya cee-bun itu, tidak demikian dengan Tiau Cong, yang heran dan kaget, hingga ia keluarkan keringat dingin. Disitu pemerintah Boan dicaci habis, dan kaisar Cong Ceng pun tidak dikasi hati, kaisar ini dkatakan tolol dan tak dapat membedakan kansin dari tiongsin, antara dorna dan menteri setia, merusak Negara, melulu menjadi orang berdosa antara cucu-cucunya Uy Tee. Lebih jauh, Beng Thay-hou sendiri turut dicela sebab sudah membunuh Cie Tat, Na Giok dan Lau Kie, menteri- menteri berjasa. Yan Ong pun dimaki sebagai penyiksa rakyat dan Hie Cong sebagai pekakas orang kebiri, karena banyak menteri besar sebagai Him Teng Pek kena dihukum mati. Cong Ceng dikatakan sewenang-wenang, sudah celakai "jendral" mereka, jendral (Goan-swee) yang gagah dan berjasa besar.

Sampai disitu mengertilah Tiau Cong, patung itu ada patung sang jendral, ialah Tok-bu Wan Cong Hoan dari Liautong yang sudah berjasa berulang-ulang melabrak angkatan perang Boan, membinasakan Ceng Thay-cou Nuerhacha, hingga bangsa Boan sangat takut terhadapnya.

Setelah mendengar cee-bun itu, Tiau Cong awasi patung, lalu ia merasakan melihat patung itu bagaikan hidup bersemangat.

Akhirnya cee-bun, yang membuat Tiau Cong kembali kaget, adalah sumpah para hadirin untuk membasmi musuh Boan, guna melenyapkan penasaran jendral mereka supaja rohnya si jendral puas ditanah baka.

"Hormatilah Goanswee kita serta panglima yang turut dia berkorban!" Cou Tiong Siu akhirkan pembacaannya.

Semua orang lantas menjura, atas mana satu bocah yang berpakaian berkabung, yang telah maju kedepan, akan balas hormatnya orang banyak itu.

Melihat itu anak kecil, buat kesekian kalinya, Tiau Cong dan Peng Kie kaget, hatinya berdebaran. Mereka kenali, bocah itu adalah si kacung yang berani lawan harimau, yang dipanggil Sin Cie! Habis pemberian hormat, semua orang berbangkit, muka mereka berlinangkan air mata. "Saudara Hau," kata Tiong Siu kemudian pada Tiau Cong, "saudara terpelajar tinggi, bagaimana saudara lihat cee-bun ini? Kalau ada yang tidak sempurna, tolong kau ubah!"

"Aku tak berani, saudara Cou," jawab Hau Kongcu. Tapi Tiong Siu titahkan orang sediakan perabot tulis.

"Aku ajak saudara mendaki gunung ini justeru untuk mohon kau menulis suatu apa untuk tambah kegemilangan dari Wan Tay-goanswee!" ketua ini.

Tiau Cong jadi serba salah. Ia ketahui baik penasarannya Wan Cong Hoan, yang terbinasa sebagai korban dari tipu- muslihat merenggangkan dan mengadu-domba dari kaisar Boan, tapi karena goanswee itu dihukum mati kaisar, apabila dia dikatakan penasaran, itu berarti mencela kaisar, hukuman untuk ini perbuatan adalah leher kutung! Tapi Tiong Siu telah memohon, bagaimana itu dapat ditolak? Dasar ia pintar, ia cuma berpikir sebentar, lantas ia angkat pit dan menulis: "Naga kuning belum sempat dihajar, Bu Bok sudah mengandung penasaran.

Kerajaan Han sedang menantikan kebangunan, Atau bintangnya Cu-kat telah guram padam.

Bagaimana menyedihkan!"

Dengan "Naga Kuning", (Uy Liong) diartikan bangsa Tartar (Liau), sedang Bu Bok ada gelaran suci untuk Gak Hui, dan dengan Cu-kat dimaksud Cu-kat Liang. Secara begini, Tiau Cong bisa egos diri umpama cee-bun itu terjatuh kedalam tangan kaisar. Cong Siu senang sekali dengan tulisan itu, yang huruf- hurufnya bagus, sedang dengan begitu, Wan Cong Hoan dibandingkan dengan Gak Hui dan Cu-kat Liang. Ia lantas bacakan itu dan terangkan artinya pada semua hadirin, hingga mereka pun puas, semua menghaturkan terima kasih pada mahasiswa ini. Dengan begitu, Tiau Cong dan Peng Kie tidak lagi dipandang sebagai orang luar.

"Surat dan pujian saudara ini sempurna sekali," kata Tiong Siu kemudian. "Aku nanti perintah untuk ukir ini diatas batu disamping kuil ini."

Tiau Cong menjura, untuk merendahkan diri.

Habis itu, semua orang duduk kembali, lalu seorang berdiri, untuk membacakan laporan, maka Tiau Cong jadi ketahui, kebanyakan hadirin ada bekas sebawahan Wan Cong Hoan, setelah terbinasanya Goanswee ini, mereka bubar-mencar tapi gunung Lau Ya San dijadikan tempat berkumpul, untuk hormati kepala perang itu.

Hal yang belum jelas bagi Hau Kongcu adalah maksud terlebih dalam dari ini macam pertempuran, rupa-rupanya mereka masih kandung maksud apa-apa.

Setelah laporan itu, pembaca acara memanggil : "Hu Congpeng Cu Kok An dari Kee-tin!"

Satu orang lantas berbangkit, tetapi melihat orang itu, Tiau Cong dan Peng Kie terkejut. Orang itu ada si petani she Cu, yang ajak ia masuk kedalam rumah gubuknya, ke gua rahasia di dalam gunung.

"Kiranya dia ada satu panglima ternama yang menentang bangsa Liau," pikir piausu itu. "Masih berharga bagiku yang aku kalah ditangannya. "

Cu Kok An berdiri buat terus berkata : "Ilmu silat pemimpin muda kita selama satu tahun ini telah peroleh

52 kemajuan pesat dan surat pun ia mengenal tambah banyak. Ilmu silatku, ilmu silatnya saudara-saudara Nie dan Lo, semua telah diwariskan kepadanya, maka itu sekarang aku hendak minta saudara-saudara pujikan lain guru untuk didik ia terlebih jauh."

"Bagus!" jawab Cou Tiong Siu. "Tentang itu, sebentar kita damaikan pula. Bagaimana urusan menyingkirkan orang jahat?"

Si Nie, si pembunuh harimau, berbangkit, menggantikan si Cu, yang telah berduduk pula. Kata ia : "Si pengkhianat she Un telah dibinasakan Lo Cham-ciang di propinsi Ciatkang dalam bulan yang lalu, dan pengkhianat Du akulah yang bunuh pada sepuluh hari yang lalu ketika aku susul dia di Tiang-an. Kepala mereka berdua ada disini."

Habis berkata, si Nie jumput satu kantong yang diletaki dilantai, ia buka itu, untuk keluarkan dua kepala orang.

"Bagus, bagus!" banyak orang berseru, kemudian pun terdengar cacian dan kutukan terhadap dua pengkhianat itu.

Tiong Siu sambuti dua kepala orang itu, untuk diletaki diatas meja sembahyang, setelah mana, ia berlutut menjalankan kehormatan.

Tiau Cong kenali dua kepala itu, ialah yang Peng Kie pergoki didalam peti kayu. Baru sekarang ia mengerti, itulah dua musuhnya Wan Tok-bu.

Setelah itu beberapa orang lain, dengan bergiliran, keluarkan masing-masing satu kepala orang, yang juga diletaki diatas meja sembahyang, hingga disitu semua ada belasan kepala tanpa tubuh.

Sesuatu dari orang-orang itu berikan laporannya seperti si Nie, dari situ jadi dapat diketahui, salah satu kepala adalah kepalanya satu giesu yang Tiau Cong dengar dari

53 ayahnya dulu pernah dakwa Wan Cong Hoan, yang dituduh bersekongkol hendak menjual Negara, pantas sekarang dia dibinasakan.

"Sekarang tinggallah satu musuh besar kita terhadap siapa kita belum mencari balas!" kata Tiong Siu setelah pelbagai laporan itu. "Raja Tartar dan kaisar Cong Ceng masih bercokol atas tahtanya! Bagaimana kita mesti menuntut balas? Coba saudara-saudara utarakan pikiranmu masing-masing."

Seorang kate berbangkit.

"Cou Siangkong!" berkata ia dengan suaranya yang nyaring luar biasa, hingga Tiau Cong dan Peng Kie jadi heran, sebab itulah suara tak dinyana dari surang kate sebagai dia.

"Tio Congpeng hendak bicara apa?" tanya Tiong Siu. "Silakan!"

"Menurut aku," berkata si kate itu. Tapi dia belum sempat meneruskannya ketika dari luar muncul satu orang, sikapnya tergesa-gesa, terus saja ia kata : "Ciangkun Lie Cu Seng ada kirim utusan! "

Mendengar ini, banyak orang perdengarkan suara tak nyata.

"Tio congpeng, mari kita sambut dulu utusannya Lie Ciangkun," Tiong Siu mengajak.

"Baik," jawab chamciang itu, malah dialah yang mendahului bertindak keluar.

Sekalian hadirin berbangkit, untuk pergi keluar.

Pintu besar sudah lantas dipentang, dua orang, dengan obor-obor besar ditangan, berdiri dikiri dan kanan, kemudian tertampak tiga orang bertindak masuk. Selama ia berada di Siamsay, Peng Kie telah dengar nama besar dari Lie Cu Seng yang berani bunuh pembesar negeri dan berontak, maka sekarang ia ingin ketahui utusannya pemberontakan itu.

Dari tiga orang itu, yang jalan terdepan, ada seorang umur empat-puluh lebih, romannya bengis, tetapi dandanannya seperti rakyat jelata saja, sebab rambutnya kusut, kakinya bersepatu rumput saja, tanpa kaos, dan bajunya, yang kapas hitamnya molos keluar, tangan bajunya sudah pada pecah. Itulah roman umum dari petani di Siamsay.

Dari dua yang lain, yang satu berumur tiga-puluh lebih, kulitnya putih, romannya cakap, tak miripnya dia dengan petani, dan kawannya, yang berusia dua-puluh lebih, bertubuh besar-kekar, kulit mukanya rada hitam, tapi dia mirip dengan petani.' Sampai di thia, orang yang pertama masih mengucap apa-apa, dimuka meja, ia berhenti untuk berdiri diam. Adalah si muka putih, yang menggendol buntalan dibelakangnya, keluarkan lilin dan hio, untuk disulut dan dipasang, sesudah mana, bertiga mereka menjalankan kehormatan sambil berlutut dan manggut- manggut, atas mana si bocah pengangon kerbau turut tekuk kaki, untuk membalas hormat itu.

Setelah upacara ini, si rambut kusut kata dengan nyaring

: "Ciangkun kami Lie Cu Seng ketahui halnya Wan Tayciangkun telah labrak bangsa Tartar di Liautong, dia telah membuat jasa besar, ciangkun kami sangat kagum, maka sayang kemudian Wan ciangkun telah dihukum mati oleh raja, hingga rakyat menjadi gusar dan berontak karenanya. Kami, untuk dapat makan, sudah rampas rangsum Negara, kami bunuh pembesar negeri, untuk ini, kami mohon perlindungan roh suci Wan Ciangkun. Mari kita menerjang ke Pakkhia, buat bekuk raja dan menteri- menteri dorna, untuk bunuh mereka satu demi satu, supaja dengan demikian, bisa kita balas sakit hati Taygoanswee serta semua rakyat!"

Semua hadirin ketarik mengetahui Lie Cu Seng hargai jendral besar mereka (taygoanswee). Mereka pun dapat kenyataan, walaupun suaranya kaku, utusan ini bicara dengan sungguh-sungguh.

Tiong Siu menjura, untuk beri hormat pada utusan itu. "Terima kasih, terima kasih," kata ia, yang terus tanya

she dan nama si utusan.

"Aku ada Lau It Hou," jawab si utusan. "Lie Ciangkun ketahui saudara-saudara hendak rayakan peringatannya Wan Taygoanswee, ia telah utus kami datang kemari."

Kembali Tiong Siu menghaturkan terima kasih, kemudian ia perkenalkan dirinya.

"Saudara jadinya ada saudara muda dari ciangkun Cou Tay Siu," kata si utusan. "Kami ketahui nama besar dari Cou Ciangkun, kami semua kagumi dia. "

Selagi Tiong Siu hendak pasang omong sama tetamunya ini, yang bermuka hitam si tetamu, kawannya yang telah awasi para hadirin, mendadakan berlompat kepintu besar dimuka mana segera ia berhenti, berdiri dengan membalik tubuh.

Semua orang heran, semua awasi tetamu ini.

Dengan tiba-tiba utusannya Lie Cu Seng itu tunjuk dua orang usia pertengahan diantara para hadirin, terus ia tanya: "Kamu adalah orang-orang sebawahan Co Thaykam, apa kamu hendak perbuat disini?"

Kata-kata ini membuat kaget semua orang. Kaisar Cong Ceng sudah binasakan Gui Tiong Hian dan keluarga Keh dan singkirkan kambratnya mereka ini, tetapi ia tetap curigai semua menteri besar, ia terus pakai orang- orang kebiri sebagai orang-orang kepercayaannya, maka juga, ia andalkan Thaykam Co Hoa Sun siapa telah pimpin semua pahlawan rahasia dari kaisar, tugasnya melulu untuk selidiki berbagai menteri. Inilah sebabnya kenapa semua hadirin heran.

Dua orang yang dituding itu, yang satu berumur kira-kira empat-puluh tahun, mukanya berewokan kuning, dan yang kedua, rupanya putih tak berkumis, tubuhnya kate-dampak. Si kate-dampak ini terkejut tapi segera ia tenang pula.

"Kau maksudkan aku?" tanya dia sembari tertawa. "Ah, jangan main-main. "

"Hm, main-main?" sahut si muka hitam. "Aku tahu bagaimana kau kasak-kusuk di rumah penginapan, lalu kamu menyelusup masuk ke San-cong ini. Tentu, kemudian kamu akan beri laporan kepada Co Thaykam, hingga akhirnya, balatentara akan dikirim untuk menyerbu kesini. Itulah buahnya kasak-kusuk kamu itu!"

Mendengar itu, si berewokan kuning hunus goloknya, dia hendak segera menyerang tapi si muka putih cegah dia. Si muka putih ini bersikap tenang.

"Lie Cu Seng hendak bereskan sahabat-sahabat dari San- cong, siapa pun ketahui ini!" kata dia. "kau berniat merenggangkan kami, itulah tak mungkin terjadi!"

Suara ini halus tetapi tajam, itulah terang suaranya seorang kebiri, tetapi walaupun demikian, suara ini memberi pengaruh, hingga banyak hadirin mengawasi si penuduh itu. Lau It Hou dandan sebagai petani, akan tetapi dia adalah seorang peperangan ulung, dia cerdik, dia lantas bisa lihat orang curigai pihaknya.

"Kau siapa, tuan? Adakah sahabat dari San-cong?" ia tanya dengan tenang.

Ditanya demikian, orang muka putih itu tergugu, dia berdiam.

Tiong Siu lantas mendekati, untuk tanya: "Sahabat, adakah kau bekas sebawahan dari Wan Taygoanswee? Kenapa mataku yang lamur tak kenali kau? Kau sebenarnya ada sebawahan dari congpeng mana, dari kota mana?"

Si muka putih lihat tak dapat berpura-pura pilon lebih lama, ia lirik kawannya, ia kedipi mata, lantas ia loncat kepintu. Perbuatannya ini segera disusul sahabatnya itu, malah dia ini segera membacok pada si muka hitam, penuduhnya.

Si muka putih mirip orang banci tetapi gerakannya pesat sekali, dengan cepat telah keluarkan senjatanya, sepasang poan-koanp-pit, yang mirip alat tulis, dengan itu, iapun serang si muka hitam, yang ia arah dadanya. Senjata ini pun bisa dipakai menotok jalan darah.

Utusannya Lie Cu Seng datang untuk hunjuk hormat, ia tidak siapkan senjata, menampak dia diserang, semua hadirin kaget dan berkuatir. Dua rupa senjata serang ia dengan berbareng. Maka itu, beberapa orang lantas bersiap, untuk bantu padanya. Akan tetapi segera ternyata, dia liehay.

Dengan kesebatan luar biasa, dengan tangan kirinya, utusan Lie Cu Seng ini mendahului sambar lengannya si berewokan kuning, tubuhnya cuma mendak sedikit, berbareng dengan itu, tangan kanannya, dengan dua jari, menyambar kearah sepasang matanya si penyerang dengan poan-koan-pit. Karena ia telah mendak sambil mengegos sedikit, ia tidak kuatir senjata musuh mengenai sasarannya.

Utusan ini diserang terlebih dahulu, akan tetapi karena kegesitannya, kedua tangannya dapat melayani kedua musuh.

Dua-dua musuh lantas mundur sambil tarik pulang tangan mereka, si berewokan sambil lebih dahulu loloskan tangannya dari cekalan.

Semua hadirin berubah menjadi girang melihat utusan itu demikian liehay, mereka yang hendak membantu pun urungkan niatnya masing-masing. Semua lantas menonton saja.

Selagi pertempuran berjalan, dua mata-matanya Co Thaykam sibuk sendirinya. Mereka insyaf, walaupun mereka mengepung berdua, sebenarnya mereka sendiri berada didalam sarang harimau, mereka dengan sendirinya terancam bahaya. Karena ini, mereka main mundur dengan pelahan-lahan, akan kemudian mendadakan merangsak, untuk mendesak.

Utusannya Lie Cu Seng berkelahi dengan hati-hati, tapi daripada membela diri, ia lebih banyak menyerang, tidak peduli ia bertangan kosong. Dengan begini, ia pun bisa merintangi kedua musuh, yang berniat menghampirkan pintu, untuk loncat keluar, untuk lari.....

Dalam sibuknya, si muka putih mainkan poan-koan pit secara hebat, ia ingin bisa totok jalan darah lawan, untuk dibikin rubuh, sedang si berewokan kuning mendesak dengan ilmu goloknya Bu-Seng-Bun asal Shoasay, satu kali ia mendak dengan tiba-tiba tetapi goloknya membacok kebawah. Ini kalipun desakan ada sangat berbahaya. Akan tetapi, orang semua lihat, utusan itu tetap tenang saja, benar ia mundur tapi dengan teratur.

Pertempuran berlanjut. Sebab pihak Co Thaykam ingin bisa angkat kaki, mereka coba merangsak terus. Tapi mendadakan, si berewokan kuning terdengar menjerit, menjerit kesakitan, goloknya terpental diantara hadirin.

Melihat demikian, Cu An Kok maju, akan tanggapi gegaman itu.

Berbareng sama terlemparnya golok, utusan Lie Cu Seng kirim tendangan terhadap lawannya yang berewokan kuning itu, tidak ampun lagi, lawan itu terjungkal rubuh. Tapi utusan itu tidak berhenti sampai disitu, Baru kaki kiri turun atau kaki kanannya menggantikan melayang akan tendang juga lawannya yang kedua, si muka putih.

Lawan yang kedua ini liehay, ia bisa loloskan diri dari ancaman kaki itu, dilain pihak, ia terus maju, akan balas menyerang. Lagi-lagi ia menotok kedada musuh, sepasang poan-koan-pit sengaja dimajukan silih-ganti.

Utusannya Lie Cu Seng berlaku gesit, ketika poan-koan- pit yang pertama, tangan kiri, hampir mengenai dadanya, dengan tiba-tiba ia miringkan tubuh dan tangannya dipakai menyambar ujung senjata musuh itu, begitu ia dapat mencekal, begitu ia membetot dengan dikageti, hingga dalam sekejab saja, ia telah rampas senjata itu.

Poan-koan-pit tangan kanan, yang dipakai menyusul, telah menyusul dengan tak dapat dibatalkan lagi, segera senjata ini diketok lawannya, yang gunakan poan-koan-pit kirinya itu, maka kedua senjata beradu keras, nyaring suaranya, muncrat lelatu apinya.

Celaka untuk si muka putih, selagi tangannya sesemutan dan sakit karena bentrokan yang hebat itu, ia juga tak dapat cekal lebih jauh sisa senjatanya itu, yang terlepas dan terpental! Si muka hitam lantas saja tertawa pandang, sembari tertawa, tangan kanannya menyambar dada musuh, untuk segera diangkat, lalu menyusul tangan kirinya, menyambar celana musuh itu, sesudah mana, kedua tangannya, yang masing-masing masih mencekal, dipentang dengan keras, hingga belum orang tahu apa-apa, terdengarlah suara memberebet yang nyaring.

Ternyata celana si muka putih kena terbeset pecah dan tertarik hingga copot, hingga orangnya Co Thaykam itu menjadi telanjang sebatas pinggang kebawah, hingga dilain pihak, semua hadirin mengawasi dengan melongo.

Si muka hitam bicara.

"Kau ada orang kebiri atau bukan, biarlah orang banyak persaksikan!" berkata dia.

Baru sekarang semua orang seperti tersadar. Memang benar, si muka putih adalah seorang kebiri, hingga - saking lucu - semua orang tertawa lebar, semua bertindak mendekati, mengurung thaykam itu, muka siapa pucat, bahna jengah.

Dilain pihak lagi, semua orang kagumi utusannya Lie Cu Seng itu untuk kegagahannya.

Sementara itu, dua-dua mata-matanya Co Thaykam telah ditelikung.

"Untuk apa Co Thaykam kirim kamu kemari?" Tiong Siu segera memeriksa. "Kamu ada punya berapa kawan? Cara bagaimana kamu bisa nyelundup masuk kesini?"

Dua orang itu bungkam.

Melihat orang membandel, Tiong Siu kedipi Lo Chamciang, siapa sudah lantas datang mendekati, dengan goloknya, ia bacok bergantian dua mata-mata itu, hingga kepala mereka kutung, sesudah mana, kedua kepala diletaki diatas meja sembahyang.

"Jikalau tidak ada sam-wie, tentu sekali kami bakal alami bencana," kata Tiong Siu kemudian kepada utusannya Lie Cu Seng bertiga. Ia memberi hormat seraya terus mengucap terima kasih.

"Tapi ini pun terjadi karena kebetulan saja," berkata Lau It Hou. "Selama ditengah jalan, kami lihat dua orang ini, yang sikapnya mencurigai, yang gerak-gerakannya gesit, karena itu, selagi mondok, kami intai mereka, kesudahannya kami ketahui siapa adanya mereka. Mereka rupanya tak sangka ada orang yang intai mereka, hingga mereka kasak-kusuk dengan leluasa."

Sampai disitu, Tiong Siu tanya dua kawannya orang she Lau ini.

Orang yang beroman cakap itu mengaku she Thian, dan kawannya yang mukanya hitam, she Cui.

Cu An Kok kagumi utusan yang gagah itu, sampai ia jabat orang punya tangan dan puji padanya.

Kemudian Lau It Hou bersama-sama Cou Tiong Siu dan beberapa orang lagi, pergi kebelakang, kekamar rahasia, untuk bicara. Utusan ini sampaikan amanatnya Lie Cu Seng, yang suka bekerja sama-sama untuk gulingkan pemerintah.

Atas usul perserikatan itu, pihak Cou Tiong Siu ragu- ragu, maka kemudian, Tiong Siu bilang : "Menurut aku, baiklah kitaorang bekerja sama-sama. Co Thaykam sudah ketahui gerakan kita, kita harus perbesar jumlah kita. Dimana tujuannya Lie Ciang-kun ada sama dengan cita-cita kami, kita bisa bekerja sama-sama untuk lawan pemerintah dengan berbareng kita sendiri bisa balaskan sakit hatinya Wan Thaygoanswee. Apa yang aku buat kuatir adalah Co Thaykam nanti mendahului menyerang kita."

Pikiran ini dapat kesetujuan, maka putusan segera diambil.

Selagi didalam orang rundingkan cara-cara untuk bekerja sama-sama, diluar, Cu An Kok, bersama si Nie, yang bernama Hoo, tarik tangannya si anak muda muka hitam she Cui, yang bernama Ciu San, untuk diajak ke tempat yang sepi.

"Cui Toako", kata An Kok, "Walaupun kita Baru pernah bertemu hari ini, hari pertama, aku percaya kita sudah seperti sahabat kekal, maka itu harap kau tidak pandang kita sebagai orang luar."

"Jiewie toako, dulu kamu telah hajar bangsa Tartar, kamu telah lindungi rakyat negeri" berkata Ciu San, "perbuatan itu ada perbuatan yang membikin aku kagum, sekarang aku bisa bertemu sama sahabat-sahabat dari San- cong, aku girang bukan main!"

"Aku ingin berlaku lancang aku ingin ketahui, guru toako itu siapa adanya?" tanya Nie Hoo.

Ditanya tentang gurunya, matanya Ciu San mendadakan menjadi merah.

"Guruku itu ada It-seng-lui Thio Pek Ya, sudah banyak tahun ia menutup mata," ia jawab.

Cu An Kok dan Nie Hoo saling mengawasi, terang mereka heran.

Nie Hoo ada polos, ia segera berkata pula: "Aku tahu It- seng-lui Thio Cianpwee, namanya yang besar kita kagumi, akan tetapi, Cui Toako, harap kau tidak gusar, sekalipun Thio Cianpwee berkepandaian tinggi, ia nampaknya masih beda jauh dengan kau."

Cui Ciu San berdiam, ia tidak menyahuti.

"Memang benar, hijau asalnya dari biru," An Kok turut bicara, "memang sering terjadi, murid suka melebihkan gurunya, akan tetapi barusan, melihat caranya toako kalahkan kedua mata-matanya Co Thaykam, pasti toako ada punya kepandaian lain. "

Ciu San bersangsi, tapi kemudian ia menyahuti juga. "Jiewie ada kedua sahabat baik, tidak selayaknya aku

sembunyikan apa-apa terhadapmu," demikian katanya.

"Memang, setelah suhu menutup mata, aku telah ketemu jodoh lain, seorang aneh. Dia ini merasa kasihan melihat aku, dia ajarkan aku beberapa rupa ilmu pukulan yang menjadi kebiasaannya, tetapi ia telah suruh aku bersumpah untuk tidak sebutkan nama atau gelarannya. Maka itu, jiewie toako, harap kau maafkan aku."

Kedua orang she Cu dan Nie itu lihat orang bicara sungguh-sungguh.

"Jangan omong tentang maaf, toako," berkata An Kok. "Kalau aku sampai menanyakan jelas kepadamu, itu disebabkan ada satu urusan yang penting."

"Apakah itu, jiewie?" Ciu San tanya. "Segala apa yang aku sanggup kerjakan, aku tentu suka lakukan untuk kamu. Diantara orang sendiri harap jiewie toako tidak sungkan- sungkan."

An Kok manggut.

"Harap tunggu sebentar, Cui Toako, kita hendak cari dua orang untuk bicara sebentar," kata ia.

Ciu San lihat orang berlaku sesungguhnya, ia manggut. An Kok lantas pergi, bersama-sama si Nie.

Mereka cari si Eng dan si Lo, yang diajak kesamping. "Ada apa?" si Eng tanya.

"Aku mau bicara perihal utusan she Cui itu," jawab An Kok. "Tak satu dari kita sanggup lawan bugeenya, sedang menurut caranya ia bicara, dia ada seorang jujur. "

"Melainkan mengenai gurunya, dia ragu-ragu bicara terus terang," Nie Hoo timpalkan.

Cu An Kok lantas tuturkan hal pembicaraan mereka sama si Cui itu. Ia pun kasi tahu ia dan maksudnya si Nie.

Si Eng, ketika pembuatan tembok kota di Leng-wan, itu adalah buah rencananya, pada itu, dia keluarkan tenaga tidak sedikit. Sedang si Lo , yang bernama Tay Kan, ada satu tukang tembak meriam jempolan, selama peperangan di Leng-wan, dialah yang sulut meriam besar Ang-ie Toa Pau, hingga bukan sedikit tentara Boan yang terbinasa. Karena jasanya, ia telah diangkat jadi Cham-ciang, letnan kolonel.

"Tak ada halangannya kita omong terus-terang dengannya." Kata Eng Siong kemudian. "Setelah kita minta, kita lihat bagaimana sikapnya."

"Aku pikir baik kita tanya dulu pikirannya Cou Siangkong," Cu An Kok mengusulkan.

Usul ini dapat persetujuan, maka mereka lantas pergi kebelakang dimana Cou Tiong Siu sedang bicara dengan asik sekali sama Lau It Hau. Ketua itu dipanggil sebentar, untuk diajak berdamai.

"Eng Suya," berkata si siangkong," urusan ini mengenai kepentingan seumur hidup dari tuan muda kita, sebelum kita ambil putusan, baiklah kau tanyakan dulu pikiran si orang she Cui itu."

Eng Siong setuju, maka ia lantas ajak Cu An Kok, Nie Hoo, dan Lo Tay Kan pergi pada Ciu San.

"Cui toako, kami ada punya satu urusan untuk mana kami harap benar bantuanmu," berkata Eng Siong. "Maka itu. "

Cui San lihat orang ragu-ragu, ia jadi tidak sabar.

"Aku ada seorang kasar, jikalau ada apa-apa, titahkanlah aku," kata ia. "Asal apa yang aku bisa, tidak nanti aku tidak menurut."

"Saudara Cui jujur, baiklah, kita juga hendak bicara terus terang," kata Eng Siong. "Ketika Wan Taygoanswee teraniaya, ia ada meninggalkan satu putera, waktu itu, sang putera Baru berumur tujuh tahun. Untuk tolongi putera itu, kita telah lakukan perampasan, karena mana, tiga kali kami lakukan pertempuran, hingga dua saudara kami terbinasa. Syukur untuk kami, kami berhasil menolongi putera itu."

Ciu San tidak bilang suatu apa, ia cuma perdengarkan suara tak nyata.

"Putera itu, yang menjadi tuan muda kita, bernama Wan Sin Cie," kata Eng Siong terangkan lebih jauh. "Kami berempat adalah yang didik ia dalam ilmu surat dan ilmu silat. Dia ada berotak sangat terang, bahannya baik sekali, apa yang diajari dia lantas bisa, Baru dua tahun, hampir habis semua kebisaan kami diturunkan kepadanya. Dia masih sangat muda, ada beberapa rupa pelajaran yang ia masih belum menginsafinya, maka itu kami pikir, apabila ia tetap berada dibawah pimpinan kami, sukar untuk dia peroleh kemajuan terlebih jauh." Mendengar sampai disitu Ciu San segera mengerti maksud orang.

"Jadi saudara ingin aku yang teruskan mendidik dia?" ia tegasi.

Cu An Kok manggut.

"Tadi kami saksikan toako layani itu dua mata-mata dorna, kami dapat kenyataan toako ada sepuluh kali lebih pandai daripada kami," berkata dia," maka jikalau toako sudi terima dia sebagai murid, untuk didik padanya, kami percaya rohnya Wan Thayswee didunia baka pasti akan sangat berterima kasih kepadamu. "

Lantas saja empat saudara itu menjura kepada sahabat baru ini.

Dengan cepat-cepat, Cui Ciu San membalas hormat.

Segera ia berdiam.

"Saudara-saudara sangat menghargai aku, turut pantas, tak dapat aku menampiknya," kata ia kemudian. "Hanya sayang sekarang ini aku mesti berdiam didalam tangsinya Lie Ciangkun, siang dan malam, tidak ada ketentuannya waktu, saban-saban aku mesti keluar untuk lakukan tugas, malah satu waktu, kami mesti bertempur dengan tentara negeri, hingga tak dapat dipastikan, berapa hari lagi ada umurku. Maka itu, jikalau Wan Kongcu mesti tinggal bersamaku didalam tangsi, aku sangat kuatir kegagalannya, Tidak ada tempo senggang untuk aku mendidik dia, dilain pihak, keselamatannya berada dalam ancaman bencana."

Alasan itu ada beralasan, mendengar itu, Eng Siong berempat jadi putus asa.

Ciu San lihat orang berputus asa. "Ada satu orang bugee siapa dapat menangkan aku berlipat-lipat," kata dia kemudian," jikalau dia suka terima Wan Kongcu, sungguh itu ada keberuntungan besar bagi kongcu itu..." Tapi mendadakan ia goyang-goyang kepala, lalu ia ngoceh seorang diri: "Tidak, tidak, inilah tak bisa menjadi. "

Eng Siong beramai heran.

"Siapa orang itu?" tanya dia begitupun Cu An Kok. "Itulah si orang aneh yang aku sebutkan tadi," jawab Ciu

San. "Kepandaiannya tidak ada batasnya. Dia ajari aku Baru enam bulan, aku telah punyakan kebisaanku seperti sekarang ini, toh itu Baru kulitnya saja. "

"Siapa sebenarnya orang aneh itu?" tegaskan An Kok, yang girang tak kepalang.

"Dia ada seorang yang tabiatnya aneh," terangkan Ciu San. "Dia telah ajarkan ilmu silat padaku tetapi dia larang aku panggil guru kepadanya dan dia pun larang aku beritahukan namanya kepada lain orang, maka itu, aku kuatir taklah bisa berhasil apabila Wan Kongcu disuruh pergi belajar padanya."

"Dimana tinggalnya orang aneh itu?" Nie Hoo tanya. "Dia juga tidak punya tempat kediaman yang pasti. Dia

biasa pergi kesegala tempat, setiap kali dia pergi, dia tidak

mau beritahukan kemana perginya."

Eng Siong berempat kewalahan, tapi si Eng ini terus panggil Wan Sin Cie untuk bocah ini diperkenalkan kepada utusannya Lie Cu Seng itu.

Cui Ciu San senang melihat ini anak, yang romannya cakap,yang tubuhnya sehat sekali, kapan ia tanyakan pelajarannya Sin Cie, Sin Cie menyahuti dengan rapi. "Eh, encek Cui," tiba-tiba bocah ini tanya," ketika tadi encek rubuhkan kedua mata-mata, ilmu pukulan apakah yang encek gunai?"

Ciu San tertawa.

"Itu ada pukulan Hok Hou Ciang, Harimau mendekam, salah satu pecahan dari Shacap-lak Lou Kim-na-hoat."

"Demikian cepat gerakan encek, sampai aku tak melihat tegas!" bocah itu kata.

"Apakah kau ingin pelajarkan itu?" tanya Ciu San. Sin Cie sangat cerdik.

"Ja, encek Cui, ajarkanlah aku!" ia lantas minta. Ciu San menoleh pada Eng Siong.

"Pada Lie Ciangkun aku telah bicara akan berdiam disini beberapa hari, biar aku gunai ketikaku akan ajarkan ini anak," ia bilang.

Tentu sekali, Eng Siong girang, sedang Sin Cie sudah lantas menghaturkan terima kasih.

Pada waktu itu, Lau It Hau dan Cou Tiong Siu telah mencapai permufakatan untuk perserikatan, maka juga dihari kedua, dihadapan patung Wan Cong Hoan, kedua pihak resmikan itu dengan angkat sumpah, untuk mati dan hidup bersama.

Pun pagi-pagi, Tiong Siu telah kasi selamat jalan pada Tiau Cong dan Peng Kie bertiga, selagi berpisahan , ia bilang pada mereka berdua: "Kita telah bertemu secara kebetulan, inilah jodoh. Tentang kami disini, asal ada yang bocor, kesudahannya dua saudara harus ketahui sendiri, tak dapat aku jelaskan lagi!" "Itulah pasti, kami sudah mengerti," sahut Tiau Cong berdua.

Tiong Siu bekali lima puluh tail perak dan perintah dua orang antar mereka ini turun gunung.

Sejak itu, sesampainya mereka dirumah masing-masing, selagi Tiau Cong rajin belajar surat dengan tak suka pesiar lagi, hingga kemudian ia jadi terpelajar tinggi.

Yo Peng Kie tutup Piau-kioknya, akan hidup menyendiri, sebab ia insyaf, kepandaian tak ada ujung- pangkalnya, orang pandai ada yang lebih pandai, maka ia anggap lebih baik ia bertani, bercocok-tanam saja.

Lau It Hou pulang berdua saja sama kawannya, si orang she Thian.

Dengan pertemuan telah sampai diakhirnya, kaum San- cong pun bubaran, akan masing-masing pulang, tetapi diantaranya, ada yang kemudian pergi hubungi diri pada Lie Cu Seng.

Cou Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hood an Eng Siong beramai masih terus berdiam diatas gunung. Mereka masih mesti urus Wan Sin Cie. Sebaliknya, Sin Cie sendiri seperti tak perdulikan hal-ikhwalnya sendiri saking kegirangan lantaran janjinya Cui Ciu San akan ajarkan dia ilmu silat Hok-hou-ciang.

Malam itu Sin Cie tak dapat tidur nyenyak, sedang dihari besoknya, dia sibuk sendiri, karena belum sempat orang perhatikan dia. Habis rapat, orang semua sibuk menjelesaikan ini dan itu, akan antar mereka yang berangkat pulang. Mereka ini pun pada pamitan dari pemimpin muda ini.

Adalah setelah sore, Baru Tiong Siu perintah siapkan sebuah meja serta satu kursinya, begitupun lilin dan hio.

70 Cui Ciu San diminta duduk dikursi itu, untuk terima hormatnya Sin Cie. Disitu hendak diadakan upacara sederhana pengangkatan guru atau penerimaan murid.

"Saudara Wan kecil ini, sekali aku lihat, aku lantas suka padanya," kata Ciu San. "Dia suka Hok-hou-ciang, aku nanti pakai tempoku beberapa hari untuk ajarkan dia sekedarnya. Tentu saja, tempo hanya beberapa hari, tidak cukup, hingga harus disangsikan ia bisa gunakan itu atau tidak apabila ia sudah bisa melatihnya sendiri. Semua- semua ada bergantung dengan bakat, kerajinan, dan keuletannya. Biarlah kita menjadi sahabat-sahabat saja bukannya guru dan murid, suatu hal yang tak dapat dibicarakan."

"Asal dia diajari, walaupun cuma satu-dua gebrak, dia sudah berarti murid dan saudara adalah guru," Eng Siong bilang. "Harap Cui Toako tidak terlalu merendah."

Tapi putusannya Ciu San tak dapat diubah, hingga akhirnya orang mengalah.

Sama-sama ahli silat, Eng Siong semua ketahui baik aturan orang memberi pelajaran, apapula mengenai Ciu San dan Sin Cie, guru dan murid istimewa. Tentu sekali, orang luar tak dapat tonton mereka. Maka itu, semua lantas undurkan diri.

Ciu San tunggu sampai semua orang sudah pergi, ia duduk dikursi yang disediakan tadi, untuk bicara sama ahli warisnya mendiang Wan Cong Hoan.

"Sin Cie," katanya dengan sungguh-sungguh. "Ini ilmu silat Hok-hou-ciang aku peroleh dari seorang berilmu yang telah berusia lanjut, aku sendiri masih belum meyakinkannya sampai sempurna, akan tetapi, apabila dipakai melayani lawan yang umum, sudah cukup. Ketika aku diwariskan ilmu pukulan ini, orang berilmu itu

71 wajibkan aku angkat sumpah, ialah tak boleh aku gunakan untuk menghina orang baik-baik atau mencelakai tanpa alasan. "

Sin Cie ada sangat cerdik, segera ia mengerti maksud gurunya ini, lantas ia bertekuk lutut seraya katanya : "Murid Wan Sin Cie, apabila telah berhasil mempelajari Hok-hou- ciang, tak akan gunakan itu untuk menghina orang baik- baik dan mencelakai tanpa alasan, Baru ia meneruskan : ". biarlah suhu nanti pukul mati padaku!"

Mendengar sumpah itu, Ciu San tertawa.

"Bagus!" berkata dia, yang tubuhnya mencelat dengan mendadakan.

Sin Cie angkat kepala dengan heran, karena sang guru lenyap dari hadapannya, kapan ia menoleh, guru itu kembali telah berada dibelakangnya dan pundaknya lantas ditepuk.

"Kau tangkap aku!" menganjurkan guru ini.

Sin Cie telah peroleh ajaran dari Cu An Kok dan Nie Hoo, kecuali dasarnya baik, dia pun cerdik, maka atas anjuran gurunya ini, ia tidak lantas memutar diri, hanya ia mendak dulu, sembari berbuat demikian, tangan kirinya digeraki, tangan kanannya menyusul - ia pun sembari dengari anginnya gerakan tubuh sang guru - lalu dengan tiba-tiba,ia menyambar kearah kaki.

"Inilah cara yang tidak bercela!" terdengar sang guru, kaki siapa tapinya tidak kena disambar. Dilain pihak, pundaknya si murid kembali kena ditepuk. Murid ini memutar tubuh dengan siasia, ia tak lihat gurunya itu.

Kembali Sin Cie perlihatkan kecerdikannya, ia ingat baik-baik, ajarannya Nie Hoo. Ia tidak membalik tubuh, ia tidak menyambar lagi, hanya ia jalan setindak demi setindak kearah tembok, begitu lekas sudah sampai, mendadakan ia putar tubuhnya seraja berseru: "Encek Cui, aku dapat lihat padamu!"

Dengan sebenarnya, diakui cara demikian, Ciu San tak lagi bisa singkirkan diri.

"Bagus, bagus!" kata Ciu San sambil tertawa. "Kau cerdik, kau ada punya bakat, kau pasti bakal bisa jakinkan Hok-hou-ciang!"

Lantas saja guru istimewa ini mulai berikan pelajarannya, sejurus dengan sejurus, sampai diakhirnya, yang semua terdiri dari seratus delapan gerakan, dan saban gerakan mempunyai lagi tiga perubahan, untuk mengelakkan diri dan menyerang saling ganti, hingga semuanya jadi jumlah tiga-ratus dua-puluh empat jurus.

Sin Cie gunakan otaknya, ketika ia Baru diajari tiga kali, ia sudah lantas ingat semua, dengan pelahan-lahan, ia bisa jalankan Hok-hou-ciang itu, maka dilain saat, sang guru mulai pecahkan artinya, keperluannya sesuatu jurus.

Sin Cie ingat dengan baik semuanya itu, ia terus berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia ketarik hati, gurunya pun suka terhadapnya, yang demikian rajin dan ulet, guru ini tungkuli terus padanya, hingga malam pertama itu mereka berlatih terus sampai jauh malam, Baru berhenti.

Besoknya pagi-pagi, Ciu San pergi keluar, untuk cari hawa fajar yang segar.

Betapa keheranannya, ia dapatkan Sin Cie asyik berlatih seorang diri ditanah lapangan, dan untuk kekagumannya, murid itu bisa jalankan semua jurus dengan baik. Ia jadi sangat girang. Dengan diam-diam, ia mendekati murid itu, akan akhirnya lompat melesat, untuk dupak bebokong orang.

Sin Cie sedang madap kelain jurusan, ia tidak lihat gurunya, akan tetapi ia dengar angin menyambar, segera ia egos tubuh kesamping, sembari berbalik, ia ulur tangan kanannya, untuk sambar kaki yang menendang ia, tapi kapan ia kenali gurunya, ia tarik pulang tangannya.

"Encek Cui!" ia berseru. Ciu San tertawa.

"Jangan berhenti, hayo menyerang terus!" kata guru ini sambil dia menyerang muka orang.

Sin Cie kelitkan kepalanya, kakinya dimajukan satu tindak, sedikit kesamping, dari situ ia kirim kepalannya yang kecil kepada pinggangnya sang guru. Inilah pukulan ke-89 dari Hok-hou-ciang, yang dinamakan "Cim jip hou hiat", atau "Masuk jauh dalam guha harimau".

"Bagus, begini memang maunya!" Ciu San memuji sambil ia berkelit. Kemudian, kembali ia serang murid itu.

Sin Cie layani guru itu, sampai sekian lama. Beberapa kali ia berbuat keliru, sang guru lantas ajarkan, untuk dibenarkan, hingga ia jadi sangat gembira. Terus-terusan ia layani gurunya, hingga habislah semua tiga-ratus dua-puluh empat jurus. Malah itu diulangi dan diulangi.

Bocah ini girang bagaikan ia peroleh azimat atau mustika, ia dapat kenyataan, Hok-hou-ciang menggenggam banyak rupa rahasia pukulan.

"Mari beristirahat," Kata Ciu San, sesudah lihat muridnya mandi keringat. Tapi sambil berduduk, ia pun berikan pelbagai penjelasan. Kemudian, habis mengaso, latihan diulangi. Guru dan murid ini berhenti untuk bersantap pagi, sekian lama habis itu, mereka berlatih pula. Hingga itu hari, dari pagi sampai jauh malam, mereka cuma berhenti untuk berdahar dan beristirahat saja.

Sin Cie lanjuti cara belajarnya ini terus menerus sampai tujuh hari, selama itu, sang guru juga terus layani dia, kemudian dimalam kedelapan, Baru Cio San kata pada muridnya: "Aku telah ajarkan semua kepada kau, bagaimana nanti jadinya, segala itu terserah kepada peryakinanmu sendiri. Diwaktu menghadapi lawan, orang mengandal tujuh bagian pada latihannya, tiga bagian pada kecerdasannya, apabila orang andalkan melulu latihan, kemenangan sukar didapat."

Sin Cie terima baik pesanan berarti ini.

"Besok aku hendak kembali kepada Lie Ciangkun," Ciu San terangkan kemudian. "Maka itu dibelakang hari, kau mesti berlatih sendiri saja."

Merah matanya Sin Cie mendengar perkataan guru itu, air matanya berlinang. Benar mereka berkumpul Baru beberapa hari tapi ia telah sangat sukai guru itu, yang manis-budi, yang mengajar ia dengan sungguh-sungguh.

Ciu San ada seorang peperangan ulung, tapi melihat sikapnya murid ini, ia terharu, maka ia lantas usap-usap kepala orang.

"Jarang aku menemui orang berbakat dan cerdik sebagai kau," kata guru ini, "maka sayang sekali kita berdua tidak berjodoh untuk berkumpul lama-lama..."

"Bagaimana kalau aku ikut pergi pada Lie Ciangkun, encek Cui?" Sin Cie tanya.

"Kau masih begini kecil, mana bisa?" sahut sang guru. Sin Cie hendak jawab guru itu atau mendadakan mereka dengar suara binatang buas diluar rumah.

"Binatang apa itu?" tanya si bocah. "Itu bukan suaranya harimau atau serigala. "

"Itulah suara harimau tutul," Ciu San terangkan. Mendadakan, ia tambahkan : "Mari kita tangkap binatang liar itu. Ada perlunya. "

"Perlu apa itu, suhu?" tanya Sin Cie, yang merasa heran.

Ciu San tidak menjawab, dia melainkan tertawa, segera ia bertindak keluar.

Murid ini terpaksa lantas menyusul.

"Encek Cui, senjata apa kau pakai untuk lawan macan tutul itu?" ia tanya kapan ia ingat gurunya tidak bekal senjata.

Ciu San tidak menyahuti, dia cuma bersenjum. Ia juga tidak ambil pintu depan hanya bertindak kesamping, diluar kamarnya Cou Tiong Siu, ia memanggil : "Cu Toako! Nie Toako!"

Dua orang yang dipanggil itu berada di dalam kamar, mereka lantas buka pintu.

"Tolong toako bantu aku," kata Ciu San sambil tertawa," di luar ada seekor macan tutul , harap toako beramai usir dia masuk kedalam rumah, aku membutuhkan dia."

"Baik, baik," jawab Nie Hoo, si tukang memburu harimau. Malah dia segera sambar cagaknya, untuk mendahului keluar.

"Nie Toako, jangan lukai binatang itu!" Ciu San pesan. Nie Hoo tidak menyahuti, ia keluar terus. Ciu San menyusul bersama-sama Cu An Kok dan Lo Tay Kan. Sin Cie bekal tumbak pendek, ia hendak turut.

"Sin Cie, jangan kau ikut, tunggu disini saja gurunya mencegah.

Bocah ini terpaksa menurut, maka itu, ia berdiam bersama Tiong Siu dan Eng Siong. Mereka mengawasi dari jendela.

Ciu San bertiga membawa obor, masing-masing berdiam ditiga penjuru. Nie Hoo sendirian saja, ditepi gunung, lagi tempur sang binatang liar, tapi ia taat kepada pesannya si Cui, ia tidak mau lukai binatang itu, ia cuma menyerang mengancam sambil bela diri.

Begitu lekas lihat api obor, macan tutul itu kaget, berniat melarikan diri, tetapi ketika dia mundur untuk lari, Cu An Kok bertiga pegat dia di tiga jurusan, hingga dia jadi makin bingung. Diantara tiga orang itu, Ciu San tidak pegang senjata, dia lantas terjang gurunya Sin Cie ini.

Ciu San tidak takut, ia tidak kaget mendengar gerungan, ketika ia ditubruk, ia egos tubuh sambil menyerang kepalanya binatang itu, atas mana si macan tutul rubuh bergulingan, saking kerasnya pukulan. Tapi dia lekas bangun pula, untuk terus lari, kearah selatan, yang tak ada yang jaga. Ini ada jalanan untuk masuk kedalam rumah, itulah pintu muka. Dia cerdik, dia urung memasuki pintu itu. Tapi ia telah dikurung dari segala penjuru, cahaya api bikin dia bingung.

Ciu San maju dengan berani, selagi berada dibelakangnya si macan tutul, ia lompat untuk menendang, hingga saking kaget dan kesakitan, binatang itu loncat kedepan. Maka sekali ini, mau atau tidak, ia masuk juga kedalam rumah. Eng Siong didalam rumah sudah siap, ia telah tutup semua pintu kecuali pintu barat, maka kesitu, macan itu lari. Binatang ini menyingkir tanpa pilih jalanan lagi. Begitulah dia memasuki pendopo barat, sesudah mana, Lo Tay Kan kuncikan dia pintu.

Setelah berkumpul, semua orang, yang bergembira, awasi Ciu San. Mereka masih belum tahu maksud utusan dari Lie Cu Seng itu.

Ciu San tertawa, ia kata pada muridnya : "Sin Cie, pergi masuk kedalam, kau hajar macan tutul itru!" ia menitah.

Semua orang tercengang.

"Aku kuatir ini tak sempurna...." Kata Tiong Siu, yang berkuatir.

"Aku nanti mengawasi dari samping, tidak ada bahayanya," Ciu San bilang, sikapnya tenang.

"Baik!" jawab Sin Cie, yang terus bertindak kepintu, sambil bawa tumbaknya.

Bocah itu tercengang, tapi segera ia mengerti, gurunya rupanya ingin dia gunai Hok-hou-ciang. Tentu saja ia bersangsi.

"Kau takut?" sang guru tanya.

Sin Cie tidak menjawab, hanya ia cabut palangan pintu, terus ia buka daun pintu, akan nyeplos kedalam.

Segera juga terdengar suara menggeram, lalu satu bajangan berlompat nubruk.

Sin Cie berkelit kesamping, sebelah tangannya dipakai menyerang, mengenai kuping si macan tutul, tetapi ia bertenaga kecil, binatang itu seperti tidak merasai sakit, tapi dia membalik tubuh, untuk menerjang pula. Dengan gesit Sin Cie lompat, kebelakang macan itu, akan betot ekornya.

Sementara itu, Cui Ciu San juga sudah njeplos masuk, ia terus berdiri dipinggiran seraja pasang mata.

Sin Cie tendang macan itu, atas mana, binatang ini tarik ekornya, hingga si bocah mesti lepaskan cekalannya. Setelah memutar tubuh, harimau itu menubruk pula.

Dengan berkelit sambil mendekam, Sin Cie selamatkan diri, karena ia berada disamping, kembali ia kirim kepalannya, hanya seperti tadi, binatang buas itu tidak bergeming karenanya.

Itu waktu Cou Tiong Siu beramai turut menonton, biar bagaimana, mereka kuatirkan itu pemimpin cilik, yang masih terlalu muda usianya. Mereka bantu menjaga, diantaranya ada yang terus pegangi obor, sedang An Kok dan Nie Hoo siapkan senjata rahasia mereka. Segera juga mereka menyaksikan dengan kekaguman, mlihat bagaimana bocah she Wan itu bergerak gesit sekali.

Mulanya tertampak Sin Cie masih ragu-ragu atau sedikit jeri, tetapi setelah pertarungan ganjil ini berjalan sekian lama, hatinya jadi mantap. Nyata ia bisa gunai dengan sempurna Hok-hou-ciang, itu ilmu pukulan "Menakluki Harimau". Ia pun insaf, percuma ia main kelit, sia-sia saja ia mengajar dengan kepalannya, macan itu ada terlalu tangkas untuk dia, maka diakhirnya, ia pakai akal. Ialah saban-saban ia loncat kebelakang macan tutul itu, ia membetot, habis itu, ia jambak bulunya, untuk dibetot copot.

Dicabuti bulunya, yang mana sering kejadiannya, lama- lama macan tutul itu berasa juga sakit, , maka saban-saban dia menderum, berbareng diapun jadi semakin gusar, tubrukan-tubrukannya jadi semakin sengit dan hebat. Tapi

79 tetap saja, tidak pernah dia mampu terkam itu bocah, yang tubuhnya sangat gesit dan licin. Maka diakhirnya, dari kewalahan, dia mulai jeri juga, hingga dia lalu tukar siasat, dari saban-saban menerkam, dia main mundur, dia pentang mulutnya akan mengancam dengan giginya yang besar dan tayam.

Sin Cie cerdik, ia ganggu macan itu, sampai dia saban- saban diterkam pula, saban diterkam, dia loncat kesamping

, atau kebelakang, selalu dia cabut bulunya! Cou Tiong Siu beramai, dari berkuatir, jadi tertawa melihat lagak-lagunya bocah ini, kelincahan siapa mereka sangat kagumi.

Biar bagaimana, macan tutul itu tidak dapat dirubuhkan cuma karena bulunya dicabuti, pun sia-sia saja pukulan kepalan dan tendangannya Sin Cie, dari itu, juga ini bocah lalu menukar siasat.

Sekonyong-konyong Sin Cie mendekam, ia loncat kedepan macan tutul itu. Gerakan ini membuat heran itu binatang buas, yang jadi melengak, tapi meski demikian, dia lantas ingat untuk lompat menerkam. Gerakannya ada sangat gesit, sedang itu waktu, Sin Cie sampai didepan binatang itu, hingga ia jadi berada dibawah perutnya si raja hutan.

Nie Hoo terkejut, tidak ayal lagi, ia menyerang dengan sepasang piau.

Macan itu tidak kena terserang senjata rahasia itu, kaki depannya dapat menyampoknya hingga jatuh.

Berbareng itu, Sin Cie lenyap dari kolong harimau, sebaliknya tubuhnya nempel sama perutnya binatang itu. Entah bagaimana, kedua kakinya telah menyangkul keras kebebokong macan tutul, kepalanya sendiri menyundul janggutnya, hingga ia tidak bisa digigit binatang itu. Kedua tangannya juga turut memeluk.

Macan tutul itu jadi kewalahan, untuk bikin orang terpelas, dia jatuhkan diri, bergulingan dilantai.

Sin Cie tetap menjepit dan merangkul dengan keras, ia tidak kasih tubuhnya terpisah dari tubuh lawannya yang luar biasa itu. Tapi ia insaf, lama-lama ia bisa habis tenaga, apabila ia pisahkan diri, ia bisa celaka diterkam binatang itu.

"Encek Cui, mari lekas," akhirnya ia memanggil. "Matanya!" adalah jawaban Cui Ciu San.

Ini pemberian ingat menyadarkan bocah itu, tidak ajal lagi, ia ulur tangan kanannya, beberapa jarinya mencari sebelah matanya yang terus ia korek dan betot keluar! Binatang itu kaget dan kesakitan, dia berjingkrakan sambil menderum-derum, darah mengucur keluar dari matanya itu.

Menampak demikian, Ciu San lompat maju, ia dekati macan tutul itu tanpa si binatang buas dapat lihat padanya, segera ia menyerang dengan keras dengan kedua tangannya kearah kepala, atas mana, macan itu jadi pusing, segera dia rubuh terguling.

Selagi si raja hutan rubuh, Ciu San sambar Sin Cie, untuk diangkat.

"Bagus,bagus!" ia puji murid itu.

Kapan si Cui menoleh pada kawan-kawannya, Tiong Siu semua berkuatir hingga mereka mandi keringat! Ciu San pentang pintu, ia dekati macan itu pada belakangnya, lalu ia mendupak. "Pergilah, aku merdekakan padamu!" kata ia.

Tendangan itu keras, sang harimau, yang mulai merangkak bangun, terjerunuk kedepan, sesudah mana, dia terus loncat, untuk kabur, Menyusul itu, diluar terdengar riuh jeritan kaget dari banyak orang.

Menyangka bahwa macan tutul itu menerbitkan kecelakaan, Tiong Siu semua berlari keluar, untuk melihat, tapi begitu lekas mereka berada diluar, mereka juga kaget tidak terkira.

Seluruh gunung terang dengan api, yang mendatangi dari arah bawah, diantara itu, tertampak pelbagai senjata yang berkilatan.

Itulah tentara kerajaan Beng, yang mengurung Lau Ya San dengan tiba-tiba! Orang-orang Lau Ya San Baru saja bubar, yang masih ada tinggal sedikit, ini menyulitkan mereka. Mereka pun tidak dapat kabar lebih siang, karena mereka disergap dan penjaga-penjaga di saban pos telah terbunuh mati, sampai mereka ini tidak bisa memberi tanda bahaya.

Cou Tiong Siu ada seorang peperangan ulung, walaupun ia kaget, hatinya tidak gentar. Tadinya, dia pun adalah orang yang pangkatnya paling tinggi.

"Lo Ciangkun," ia segera beri titah pada Lo Tay Kan, "pergi kau pimpin saudara-saudara tukang masak, tukang sapu dan penjaga-penjaga kuil, lepaslah api digunung sebelah timur seraya berteriak-teriak, untuk menyesatkan musuh!"

Lo Tay Kan terima titah, ia berlalu dengan cepat.

"Cu Ciangku, Nie Ciangkun!" Cou Tiong Siu panggil Nie Hoo dan Cu An Kok. "Pergilah kedepan, masing- masing memanah belasan kali, untuk cegah tentara musuh terlalu mendesak, habis itu, lekas kembali!"

Dua punggawa itu berlalu dengan titah tersebut.

"Cui Toako, ada satu tugas penting aku mohon kau yang pegang!" kata Tiong Siu pada Ciu San.

"Kau ingin aku yang lindungi Sin Cie?" Ciu San tegaskan.

"Benar," jawab pemimpin itu. Lalu bersama-sama Eng Siong, dia menjura terhadap utusan Lie Cu Seng ini.

Ciu San kaget, dengan tersipu-sipu, ia membalas hormat. "Bicaralah, jiewie, tapi jangan berbuat begini!" ia

mencegah.

Suara gemuruh diluar bertambah besar, malah terdengar juga suara tambur dan gembreng tentara yang riuh, tapi itu datangnya dari atas gunung, maka Tiong Siu menduga kepada perbuatannya Lo Tay Kan, ialah siasat akan mengelabui musuh.

"Inilah satu-satunya darah daging dari Wan Tayswee, tolong Cui Toako antar dia turun gunung!" Tiong Siu minta kepada Ciu San.

"Aku nanti lakukan itu!" Ciu San berikan janjinya.

Itu waktu, Cu An Kok dan Nie Hoo kembali habis melepas panah.

"Aku akan ambil jalan bersama Cu Caingkun," Tiong Siu mengatur diri, "kami nanti gabungkan diri sama Lo Ciangkun, akan menerjang turun disebelah timur. Eng Sinshe bersama Nie Ciangkun boleh menerjang dari barat. Kita akan menerjang lebih dulu, buat tarik perhatiannya tentara musuh, supaja mereka tercegah, setelah itu, Cui Toako bersama Sin Cie boleh nerobos turun dari gunung

83 belakang. Biarlah kitaorang berkumpul ditempat Lie Ciangkun!"

Semua orang kagum, disaat segenting itu, Cou Tiong Siu masih bisa mengatur diri demikian sebat dan tepat, coba mereka punyakan tentara, tentu keadaan mereka ada lain sifatnya.

Sin Cie sedih bukan main, sebab telah begitu lama ikuti Eng Siong semua, yang pun telah didik dia, sekarang mereka mesti berpisahan secara demikian mendadakan dan dalam ancaman malapetaka hebat juga. Ia paykui berulang- ulang terhadap mereka.

"Cou Siokhu, Eng Siokhu, Cu Siokhu, Nie Siokhu," kata ia, "aku, aku. "

Ia tak dapat bicara lebih jauh, tenggorokannya seperti terkancing.

"Kau ikuti Cui Siokhu, kau dengar perkataannya," kata Tiong Siu.

Masih Sin Cie tak dapat bicara, ia cuma bisa manggut.

Suara berisik makin hebat, itulah tandanya tentara negeri sudah mulai mendaki tinggi.

"Marilah!" mengajak Eng Siong. "Cui Toako, kau berangkat sebentar lagi sedikit. "

Lantas mereka itu bertindak keluar.

Nie Hoo lihat Cu Cio San tidak punya senjata, ia lemparkan kongcee kepadanya.

"Cui Toako, sambut ini!" ia kata.

"Aku tak butuhkan itu," sahut Ciu San, yang menyambuti tapi terus hendak kembalikan, hanya Nie Hoo sudah lari jauh, ia jadi batalkan niatnya. "Mari!" katanya, yang terus tarik tangannya Sin Cie, sedang tangannya yang lain tetap pegangi tumbak cagak itu.

Berdua mereka pergi kebelakang dimanapun ada terang cahaya api, hingga kelihatan berlapis-lapis tentara, entah berapa jumlahnya. Anak panah pun dipanahkan naik bagaikan hujan. Maka terpaksa Ciu San lari balik kekuil, kedapur, akan cari dua buah kwali, yang satu besar, yang lain kecil yang kecil ia serahkan pada muridnya.

"Inilah tameng!" kata ia. "Mari!"

Dengan berlompatan secara enteng, mereka lari kearah tempat gelap.

"Kejar, kejar!" begitu tentara kerajaan Beng berteriak- teriak, ketika mereka lihat dua orang berlari-lari. Dan mereka segera mengejar seraya terus memanah juga.

Ciu San lari dibelakang Sin Cie, dengan kongcee, dan tameng kwali, ia tangkis pelbagai gandewa, hingga kwalinya menerbitkan suara berisik berulang-ulang.

Disebelah depan mereka, ada beberapa serdadu, yang merayap naik, yang memegat, tapi berdua, guru dan murid itu, serang mereka, hingga belasan serdadu rubuh.

Sin Cie bersenjatakan tumbak pendek, diwaktu demikian, senjata itu tidak leluasa dipakainya, karena itu, ia lebih banyak lindungi diri.

Tidak lama, mereka telah sampai ditengah gunung, Baru mereka bernapas lega sedikit, lantas terdengar suara riuh, disusul sama munculnya sebarisan serdadu Beng Tiau dengan yang maju dimuka ada satu cian-bu atau kapten, yang bersenjatakan sebatang golok besar, malah terus saja dia bacok Ciu San. Cu Ciu San tangkis bacokan itu, ia merasakan tenaga musuh yang besar, maka dengan sebat, ia balas menyerang.

Kapten itu menangkis seraya ia serukan barisannya: "Saudara-saudara, maju!"

Ciu San tidak mau melayani lama-lama, dengan tamengnya, ia ancam kapten itu, dengan cagaknya, ia membarengi menikam, berbareng dengan mana, ia pun membentak.

Celaka adalah kapten itu, iganya kena tertusuk.

Selagi Ciu San cabut senjatanya, ia menoleh, ia tidak lihat Sin Cie, bukan main terkejutnya ia. Disebelah kiri ada suara berisik, ia lihat serdadu-serdadu berkerumun, ia lari kesana. Beberapa serdadu mundur sendirinya melihat ia merangsak.

Nyata disitu Sin Cie sedang dikepung tiga serdadu, tumbak pendeknya sudah terlepas jatuh, maka dia melawan dengan gunai Hok-hou-ciang, dengan tangan kosong. Kelihatan nyata ia sedang terdesak.

Tanpa bersuara lagi, Ciu San berlompat kepada musuh, terus ia menyerang. Satu serdadu rubuh, menyusul yang lain, dengan begitu, Sin Cie dapat ditolong.

"Mari!" mengajak sang guru. "Kejar!" berseru serdadu yang ketiga.

Tidak jauh dari situ masih ada kawan mereka, dua diantaranya lantas maju.

Dengan satu loh-bee, gerakan berbalik, Ciu San rubuhkan dua serdadu, kemudian ia terjang yang ketiga, yang coba merangsak. Serdadu yang ketiga itu kena dilemparkan hingga dia rubuh terbanting sambil perdengarkan jeritan hebat. Menampak demikian, serdadu-serdadu yang lainnya merandek, tak berani mereka mendesak.

Ciu San sambar Sin Cie, untuk dipondong, buat dibawa kabur dengan gunai ilmunya entengi tubuh. Ia tunggu sampai ia sudah terpisah jauh dari tentara negeri, Baru ia lepas turun muridnya itu.

"Apakah kau terluka?" dia tanya.

Sin Cie usap mukanya, ia kena raba barang bergenjik, waktu ia lihat tangannya antara cahaya rembulan, ia lihat barang cair merah, ialah darah. Ia terkejut. Ia pun kaget, akan lihat muka gurunya berlepotan darah juga.

"Encek Cui, darah, darah. " ia berseru.

"Tidak apa, inilah darahnya lain orang," sahut Ciu San. "Kau terluka atau tidak?"

"Tidak," jawab sang murid.

"Bagus! Mari kita pergi!" guru itu mengajak.

Mereka lantas nyelusup antara pepohonan, akan pergi dari tempat berbahaya itu. Mereka sudah jalan kira-kira setengah jam, sampai tidak ada pepohonan lagi, ketika Tiong Siu melongok kebawah, ia tampak cahaya terang, ada beberapa ratus serdadu menjaga disitu.

"Kita tak dapat turun, mari mundur. " Ia bilang.

Mereka jalan beberapa ratus tindak, sampai mereka lihat sebuah gua cetek yang tertutup pepohonan. Keduanya masuk, untuk umpatkan diri.

Sin Cie merasa sangat lelah, dasar anak kecil, ketika ia rebahkan diri, cepat sekali, ia jatuh pulas.

Ciu San angkat tubuh orang, buat dipeluki, supaya murid itu tidur dipangkuannya, sembari berbuat begitu, ia pasang kuping, hingga ia dengar, suara riuh masih belum berhenti. Kemudian ia dengar suara merotok keras, disusul sama naik tingginya cahaya api.

Teranglah sudah, kuilnya Wan Cong Hoan telah dibakar tentara Beng.

Masih berselang sekian lama, Baru terdengar suara terompet tentara, tandanya mereka dititahkan berkumpul, untuk turun gunung, buat angkat kaki.

Ciu San terus pasang kuping ketika kemudian ia mengeluh sendirinya. Ia dengar tindakan kaki yang ramai, yang makin lama makin nyata. Rupanya barisan serdadu mendatangi kearah guha yang mesti dilalui mereka.

Jikalau dia dipergoki.....

0o-d.w-o0