-->

Pedang Ular Emas Bab 01

Bab ke 01

Di saat matahari sedang turun dan rombongan gowak terbang pulang, di satu jalanan dari pegunungan Cin Nia di Siamsay, seorang anak muda lagi kasi kudanya jalan pelahan-lahan, karena ia sedang menikmati pemandangan alam mendekati magrib yang indah permai.

Mengikuti pemuda ini ada seorang kacung umur belasan tahun, kudanya pun kurus, dibelakang kudanya itu, kecuali bungkusan pakaian pun ada sebuntal pelbagai kitab. Dia ini nampaknya sibuk, sebab mulai remang-remang, majikannya masih tidak percepat perjalanan mereka.

"Kongcu, jalanan disini tidak aman," ia lalu mendesak. "Nanti kita tidak dapatkan rumah penginapan. Kalau kita ketemu begal di tengah jalan. "

Si mahasiswa tidak menyawab, dia cuma tertawa, lantas ia keprak lari kudanya.

Pemuda itu ada Hau Tiau Cong alias Hong Hek, asal Siang Kiu di propinsi Hoolam, turunan sasterawan. Ketika itu ada di jaman kerajaan Beng, tahun kelima dari Kaisar Cong Ceng. Dengan perkenan ayah-bundanya, dia pergi pesiar. Pada waktu itu, pengkhianat Gui Hian Tiong, thaykam yang berpengaruh, sudah dihukum mati karena pemberontakannya, akan tetapi Negara belum seluruhnya aman-sentausa, malah disana-sini muncul segala begal dan berandal. Sebenarnya orang-tua itu tidak mufakat puteranya pesiar tetapi si anak memaksa, katanya, satu laki-laki mesti "dapat baca berlaksa kitab, dapat merantau berlaksa lie". Dia pun ada satu anak pintar dan berani.

Tiau Cong berangkat dengan cuma ajak seorang kacungnya itu, Hau Kong namanya. Ia menuju ke arah Barat. Di sepanyang jalan, ia mengicipi kepermaian gunung-gunung, sungai dan kali. Kapan ia sampai dikaki gunung Ciong Lam San, yang ia ketemui adalah penduduk bermuka pucat-kuning yang kurus-kering, malah kadang- kadang mayat-mayat kelaparan, di antara siapa pada mulutnya masih termamah sisa rumput hijau, keadaannya sangat menyedihkan dan merisaukan hati. Mulanya, ia masih bisa menderma sejumlah uang, tapi lama-lama, ia kewalahan sendirinya. Terlalu banyak yang mesti ditolong, dilain pihak, uang bekalannya sangat terbatas. Tapi semua itu menginsafi ia bagaimana kemelaratan merajalela, kesengsaraan rakyat jelata hampir merata. Walaupun semua itu, apabila ia tampak panorama indah, hatinya lega juga.

Baru setelah ditegur kacungnya, Hau Kongcu sibuk juga. Ia sudah larikan kudanya, ia belum ketemu pondokan, sedang cuaca berubah makin remang-remang, makin gelap. Belasan lie sudah ia kaburkan kudanya, baru ia sampai di sebuah kampung. Menampak kampung ia dan kacungnya girang bukan main, tapi kemudian, hati mereka cemas. Kampung itu sangat sunyi.

"Mari kita cari rumah penginapan," kata si kongcu. Akhirnya Hau Kong turun di depan sebuah pondokan,

yang pakai merek Hotel Ciang Lam, terus saja ia kaoki tuan

rumah, pemilik hotel. Ia tidak dapat jawaban, melainkan teriakannya berkumandang dibelakang hotel, yang letaknya berdampingan sama gunung. Itulah sambutan dari dalam lembah.....

Kembali kacung ini memanggil berulang-ulang, saban- saban ia disambuti kumandangnya. Hotel tetap sunyi, tidak ada penyahutan, tidak ada yang keluar.

Tiba-tiba berkesiur angin yang dingin. Keduanya, majikan dan kacungnya, bergidik sendirinya. Tiau Cong habis sabar, ia bertindak masuk kedalam hotel. Untuk kagetnya, ia tampak dua tubuh mayat menggeletak dan darah hitam mengumpiang, bau amis engas menyambar-nyambar hidung, kawanan laler terbang pergi-datang. Itulah mayat-mayat sejak beberapa hari.

Hau Kong, yang ikuti majikannya masuk, menjerit dan lari keluar.

Tiau Cong melihat kesekitarnya. Peti-peti terbuka berhamburan, pintu dan jendela pecah-rusak. Teranglah sudah, hotel itu ada korbannya berandal.

Hau Kong lihat majikannya belum juga keluar, ia masuk pula, memanggil.

"Mari kita lihat tempat lain," kata Tiau Cong.

Nyata di lain-lain tempat, hasilnya sama. Rumah-rumah kosong, ada juga mayat, malah ada mayat wanita dengan tubuh telanyang bulat, ialah korban perbuatan binatang.

Jadi itu adalah kampung kosong, merupakan sebagai neraka.....

Walaupun ia bernyali besar, akhirnya, Tiau Cong lekas- lekas berlalu dari kampung itu.

Tanpa bicara satu sama lain, majikan dan kacungnya kaburkan kuda mereka terus kearah Barat, sampai lagi belasan lie. Mereka sibuk sekali. Sekarang mereka merasa lapar. Dimana mesti mondok? Kemana mesti cari barang makanan? Akhir-akhirnya, si kacung berseru: "Kongcu, lihat!" Dan ia menunjuk.

Majikan itu memandang ketempat yang ditunjuk, ia lihat satu sinar terang, di tempat jauh.

"Mari kita mondok disana!" kata majikan ini, yang kembali kaburkan kudanya. Hau Kong, dengan kudanya seperti tulang melulu, susul majikannya itu.

Jalanan itu, makin jauh, makin sukar.

"Kalau itu ada sarang berandal, apa kita bukan cari mati sendiri?" akhirnya Tiau Cong bersangsi.

Sang kacung terkejut.

"Kalau begitu, jangan kita pergi kesana!" katanya.

Tiau Cong dongak, ia tampak awan gelap disekitarnya.

Itulah mendung, tanda bakal turun hujan.

"Kita lihat dulu," kata ia, yang segera turun dari kudanya, yang ia tambat pada sebuah pohon. Kemudian, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan cahaya terang itu. Hau Kong ikuti majikan itu.

Segera setelah datang dekat, pemuda ini dapati sebuah rumah dengan dua pintu, ia punya hati menyadi tetap. Selagi ia mengintip dipintu pekarangan, seekor anjing besar lompat keluar, terus menggonggong, agaknya dia hendak menerjang.

Dengan bulang-balingkan cambuknya, Tiau Cong bikin anjing itu mundur, tapi binatang ini masih terus perdengarkan suaranya yang berisik, hingga akhirnya daun pintu terbuka, seorang perempuan tua muncul, sebelah tangannya mencekal pelita.

"Siapa?" tanya nyonya itu.

"Kami, orang pelancongan," sahut Tiau Cong. "Kami kemalaman, kami ingin minta numpang bermalam."

"Mari masuk!" mengundang nyonya itu.

Tiau Cong masuk, akan dapati sebuah rumah buruk, kecuali kong, jaitu pembaringan tanah, tak ada perabot lainnya lagi. Satu penghuni lainnya ada seorang tua yang batuk-batuk saja.

Tiau Cong suruh kacungnya ambil kuda mereka, tapi kacung ini takut - ia ingat mayat-mayat tadi didalam hotel.

"Mari ikut aku," kata si empeh yang turun dari pembaringannya.

Dengan begitu kuda mereka dapat dibawa kedalam pekarangan.

Si nyonya tua lantas suguhkan beberapa biji kue mo-mo dan masaki satu tehkoan air panas, tapi Tiau Cong tidak pernah makan santapan itu, baru beberapa gigitan saja, ia sudah letaki pula. Ia lantas tanya, berandal siapa yang telah bunuh beberapa korban manusia di tempat yang ia lewati.

"Berandal? Mustahil berandal demikian kejam?" sahut si empeh, yang menghela napas. "Itulah perbuatan bagus dari tentara negeri!"

Tiau Cong melengak.

"Tentara negeri? Tentara negeri demikian kejam?" ia tanya. "Apa pembesarnya antap mereka mengganas?"

Orang tua itu tertawa tawar.

"Rupanya siangkong Baru ini kali pernah merantau!" berkata dia. "Segala apa, siangkong tak tahu! Pembesar tentara? Dia justeru ambil apa yang paling bagus! Si cantik- manis mesti lebih dahulu diperlihatkan!"

"Kenapa rakyat tak mengadu ke kantor negeri?" tanya Tiau Cong.

"Apa gunanya? Itu artinya cari penyakit! Sekali kau mengadu, dalam sepuluh, delapan, atau sembilan bagian, jiwamu bakal hilang!. " "Eh, bagaimana bisa jadi demikian?" Tiau Cong benar-benar tidak mengerti.

"Bukankah hamba negeri itu saling melindungi? Siapa mengadu, pengaduannya ditolak, orangnya dirangket, lalu ditahan! Siapa tidak mempersembahkan uang, dia jangan harap keluar dari penjara!"

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Tak nyana aku, pangrepraja di Siamsay ini demikian buruk," menyatakan ia. Ia lantas tanya pula: "Apa perlunya tentara negeri pergi ke pegunungan?"

"Maksudnya untuk menindas berandal! Tapi sebenarnya, kebanyakan berandal jadi berandal karena desakannya tentara juga! Kalau tentara tak berhasil membekuk berandal, dia orang bunuh sejumlah penduduk, kepala mereka ini dihaturkan kepada seatasan mereka, untuk minta jasa. Mereka serbu rakyat, mereka merampok dan membunuh, dan pulangnya, bisa naik pangkat juga!"

Orang tua itu bicara makin lama makin sengit, sampai si uwah ulapi tangan berulang-ulang, untuk cegah dia. Uwah ini kuatir Tiau Cong ada hamba negeri, itulah berbahaya.

Tiau Cong sendiri menghela napas, pikirannya pepat sekali. Engkongnya ada satu Thay-siang, ayahnya adalah Su-tou, semuanya berpangkat tinggi, ayahnya sudah letaki jabatan, tapi semua terkenal jujur, siapa sangka, sekarang ada pembesar-pembesar demikian jahat. Kabarnya tentara Boan-ciu sering mengancam perbatasan, tentara negeri bukan tangkis musuh, akan bela Negara, mereka justeru celakai rakyat! Akhirnya, saking lelah dan pusing memikirkan kejahatan tentara itu, Tiau Cong rebahkan diri niat tidur, tapi baru dia layap-layap, dia terperanjat dengar suara berisik dari gonggongan anjing dan berbengernya kuda, disusul sama seruan-seruan dari kemurkaan, lantas gedoran hebat pada pintu! Si nyonya tua hendak buka pintu, si orang tua cegah ia.

"Siangkong, pergi kebelakang untuk umpatkan diri," kata orang tua itu.

Tiau Cong menurut, bersama Hau Kong, ia menyingkir ke belakang dimana mereka dapat cium baunya batang- batang kaoliang, lalu mereka dapati tumpukan rumput. Baru mereka sembunyi, atau mereka dengar suara pintu kena didobrak rubuh.

"Kenapa tidak lekas buka pintu?" demikian teguran bengis. Teguran ini disusul sama hajaran kepada kuping, suaranya nyata sekali.

"Oh, loya, kita. kita ada suami-isteri sudah tua, kuping

kita tuli, kita tidak dapat dengar......" terdengar jawaban si nyonya tua.

Tapi kembali suaranya hajaran kepada kuping.

"Jikalau tidak kedengaran, kau mesti dihajar!" demikian teguran lagi. "Lekas sembelih ayam, lekas siapkan nasi untuk empat orang!"

"Kita sendiri bakal mati kelaparan, dari mana kita dapat ayam?" demikian suara ratapan.

Segera terdengar suara rubuh terbanting, rupanya si orang tua telah dijoroki hingga rubuh, menyusul mana terdengarlah tangisannya si perempuan tua.

"Sudahlah, Ong!" lalu terdengar satu suara lain. "Ini hari kita sudah idar-idaran satu harian, kita melainkan terima cukai dua-puluh tail lebih, memang sebenarnya kita orang tidak puas, tetapi percuma andai-kata kau hendak lampiaskan itu. " "Tetapi orang ini, tanpa dipaksa, mana bisa jadi?" terdengar penyahutan, rupanya dari si orang she Ong itu. "Mengenai dua-puluh tail itu, jikalau aku tidak kemplang patah kakinya si tua-bangka, mana dia sudi keluarkan uangnya?"

"Penduduk di sini sebenarnya melarat," kata orang yang ketiga, "hanya kalau kita tidak paksa mereka, kita sendiri bakal dicaci maki oleh toa-loya "

Selagi orang ini berkata-kata, kudanya Tiau Cong berbenger, beberapa hamba wet itu heran, lantas mereka pergi keluar, untuk melihat, hingga mereka dapati dua ekor kudanya si kongcu dan kacungnya.

"Si penunggang kuda tentu menginap di sini, inilah berarti hasil....." demikian kawanan opas itu bicara satu sama lain, kemudian mereka semua kembali ke dalam, dengan kegirangan.

Tiau Cong kaget, ia insaf ancaman bahaya, maka itu, ia tarik Hau Kong, akan ajak kacung itu molos dari pintu belakang, akan menyingkir lebih jauh di jalanan ceglak- ceglok dan banyak batunya. Hati mereka lega melihat tak ada orang kejar mereka, sedang uang bekalan mereka berada di bebokongnya Hau Kong. Mereka mendekam dalam pepohonan yang lebat, terus selama satu malam itu, besoknya terang tanah, mereka keluar, akan cari jalan besar, untuk lanjuti perjalanan.

Di tengah jalan, selagi melakoni perjalanan sepuluh lie lebih, majikan dan kacung itu rundingkan soal membeli lagi kuda, untuk perjalanan mereka itu. Sementara itu, Hau Kong senantiasa mendumal, mencaci maki kawanan hamba-hamba negeri yang jahat dan kejam, yang sudah siksa dan peras rakyat, hingga kejadiannya, kuda mereka pun turut lenyap. Mereka sedang jalan terus ketika tiba-tiba, dari jalan kecil, muncul empat orang polisi, yang bersenjatakan thie- cio, yang membekal borgolan, dan dua diantaranya sambil tuntun dua ekor kuda. Berdua mereka saling mengawasi, dengan melongo. Sebab itulah kuda mereka! Jadi empat opas itu adalah hamba-hamba negeri yang semalam mengganas si empeh dan uwah rakyat jelata yang melarat.

Di pihak lain, empat opas itu juga mengawasi majikan dan bujang itu, yang sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa keduanya mencoba jalan terus sambil bawa sikap sewajarnya.

"Eh, sahabat, kau orang kerja apa?" akhirnya satu opas menegor.

Itulah, Tiau Cong ingat, ada orang yang aniaja si empeh tadi malam.

"Bersama aku punya kongcu aku hendak pesiar ke Ciong Lam San," Hau Kong wakilkan kongcunya menjawab. Ia pun maju kedepan majikannya itu.

Dengan tiba-tiba opas, yang dipanggil si Ong itu, sambar Hau Kong untuk dicekal, lalu dengan sebat, dia sambar bungkusan dibelakang orang, yang mana dia segera buka, hingga kelihatanlah isinya uang emas dan perak. Dengan tiba-tiba juga dia jadi mata merah, romannya jadi bengis.

"Kongcu? Kongcu apa?" dia berseru. "Kamu orang tentunya bukan orang baik-baik. Dari mana harta ini? Tentu hasil pencurian! Bagus, kita dapat bekuk pencuri berikut barang buktinya! Hayo ikut kita menghadap toa-loya!"

Terang opas ini menghina pemuda dan bocah itu, yang dia hendak gertak, supaya uangnya itu bisa dikantongi.

Tapi Hau Kong cerdik, ia tidak jeri. "Bagus!" ia bilang. "Kongcu ada puteranya Tayjin Hau Su-tou, pergi kepada loyamu, itulah paling bagus!"

Si Ong melengak, hingga ia mundur. Mendadakan, ia tertawa.

"Aku main-main saja!" kata ia, yang romannya jadi ramah-tamah. "Boleh toh kita main-tiba sedikit?"

Menampak orang jadi manis-budi, hatinya Hau Kong jadi besar.

"Mari pulangi kuda kita," kata ia. "Atau sebentar, menghadap kepada toaloyamu, nanti aku mintakan presen seorang seratus rotan kepada kamu semuanya."

Semua orang terkejut.

Semua opas itu jadi terkejut, satu antaranya yang berusia pertengahan lantas kerutkan alis.

"Inilah bahaya," ia pikir kemudian. "Sudah terlanjur, baik aku binasakan dua pitik ini, uangnya kita rampas."

Ia telah lantas ambil putusan, mendadakan ia cabut goloknya dan bacok si bocah.

Hau Kong kaget, ia berkelit tidak urung, pundaknya kena kebacok, darahnya lantas ngucur.

"Kongcu, lekas lari," berseru kacung ini, yang kecil tetapi hatinya tabah dan setia.

Tiau Cong pun kaget, lantas saja ia lari.

Opas itu penasaran, ia membacok pula, tetapi sekali ini Hau Kong bisa kelit, sesudah mana, ia putar tubuh, akan lari juga, akan susul kongcunya.

"Kejar mereka!" berseru opas ganas itu, yang lalu bersama si Ong bertiga, kejar itu majikan dan kacung.

3 Bukan main kuatirnya Hau Tiau Cong, ia pun tidak bisa lari keras sekali. Disaat ia hampir kecandak, tiba-tiba dari arah depannya datang satu penunggang kuda, yang kudanya dikasi lari dengan keras.

Empat opas itu lihat si penunggang kuda, yang satu segera berteriak: "Kurang ajar! Kurang ajar! Bangsat besar, kau berani lawan kita?"

"Bekuk dia! Bekuk dia!" satu opas yang lain berteriak- teriak. "Bekuk itu penjahat!"

Kawanan opas ini secara keji tuduh Hau Kongcu berdua sebagai penjahat. Secara begini pun mereka mencari alasan untuk keganasan mereka.

Si penunggang kuda di depan datang semakin dekat, tidak saja ia telah lihat dua orang lagi lari dan empat opas lagi mengejar, ia pun dengar teriakan-teriakannya si opas, maka ia larikan kudanya kearah dua orang itu, setelah datang dekat, ia membungkukkan tubuh, ia ulur kedua tangannya, nampaknya gampang sekali, ia cekal Tiau Cong dan Hau Kong, untuk diangkat naik ke belakang kudanya.

Empat opas itu, dengan napas sengal-sengal, sudah lantas sampai kepada si penunggang kuda, yang telah tahan kudanya, dan dia ini sudah lantas turunkan dua orang itu sambil berkata: "Inilah mereka, sudah ditangkap!" Habis itu, ia pun loncat turun.

Penunggang kuda ini bertubuh besar, suaranya nyaring, mukanya berewokan, umurnya kira-kira tiga puluh tahun.

"Terima kasih," kata keempat opas, yang berlaku ramah- tamah. Mereka jerih terhadap orang beroman gagah. Kemudian mereka angkat bangun Tiau Cong dan Hau Kong, yang jatuh ke tanah. Penunggang kuda itu awasi Hau Kongcu, yang muda dan sebagai mahasiswa, serta kacungnya, yang melongo saja sebagai majikannya. Sama sekali mereka berdua tidak mirip-miripnya dengan orang jahat.

Sekonyong-konyong Hau Kong buka mulutnya: "Enghiong, tolong! Mereka ini hendak merampas dan

membunuh!"

"Kamu siapa?" tanya si penunggang kuda. "Inilah kongcuku, Hau Su-tou punya. "

Hau Kong belum sempat bicara terus atau satu opas telah bekap mulutnya.

"Saudara, kau baik ambil jalanmu sendiri, jangan kau campur urusan kami orang kantor negeri," opas yang usia pertengahan mengasih nasihat.

Tapi si penunggang kuda bersikap lain.

"Lepaskan tanganmu itu, biarkan dia bicara!" ia kata pada opas yang tekap si bocah.

"Aku yang rendah ada satu anak sekolah, aku tidak bertenaga besar, mana mungkin aku jadi penjahat. "

berkata Tiau Cong.

"Eh, kau berani banyak bacot?" satu opas lain menegur. Dan ia ayun sebelah tangannya, akan gaplok mukanya si anak muda.

Penunggang kuda itu gusar, ia ayun cambuknya dengan apa ia lilit lengannya si opas galak, hingga gaplokannya batal. Sebaliknya, kapan si penunggang kuda betot tangannya, dia terpelanting dan jatuh mencium bumi, hingga dua buah giginya gempur, mulutnya mengucurkan darah! "Bagaimana sebenarnya duduknya perkara?" tegaskan si penunggang kuda.

14 "Kongcuku sedang pesiar," Hau Kong gantikan tuannya," lantas kami bertemu sama ini empat orang, mereka lihat uang kami, lantas mereka hendak binasakan dan rampas uang kami itu!" Ia lantas berlutut. "Enghiong, tolong kami. " ia memohon.

"Apakah ini benar?" si penunggang kuda tanya opas di depannya.

Opas itu belum menjawab atau si Ong, yang berada di belakangnya, membacok dengan goloknya! Penunggang kuda itu dengar sambaran angin, tanpa menoleh lagi, ia berkelit kekiri, segera ia putarkan tubuhnya, sambil mendekam sedikit, ia kirimkan dupakannya kepada pahanya si Ong, hingga dia ini terpental dan rubuh.

"Inilah penyamun tulen!" berseru tiga opas lainnya, sambil mereka maju menyerang.

Tiau Cong berkuatir, ia lihat orang tak bersenjata, akan tetapi si penunggang kuda tak jeri dikerubuti, dengan kelit sini dan egos sana, ia hindarkan sabetan atau kemplangan thiecio dan sabetan rantai borgolan yang digunai tiga pengepungnya.

Si Ong berbangkit, ia maju pula, ia membacok.

"Kurang ajar!" berseru penunggang kuda itu, yang kelit bacokan tapi tangannya melayang, hingga dengan keluarkan jeritan kesakitan, hidungnya si Ong muncratkan darah, goloknya pun terlepas, sebab segera ia tutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Penunggang kuda itu jumput golok orang, malah terus ia pakai menyerang, atas mana, satu opas terluka pundaknya, kemudian menyusul terbacok kaki kirinya opas yang menggunai rantai, hingga dia rubuh. Melihat demikian, opas yang satunya lantas saja lari, disusul oleh si Ong, yang pun turut angkat kaki, sama sekali mereka lupa dua kawan mereka.....

Penunggang kuda itu tertawa berkakakan, ia lempar golok di tangannya, ia hampirkan kudanya untuk dinaiki.

"Tunggu dulu, inkong," mencegah Tiau Cong pada tuan penulungnya itu, yang ia hampirkan. Ia mengucap terima kasih, ia tanya she dan namanya orang itu.

Orang itu awasi kedua opas yang terluka, yang rebah di tanah sambil merintih kesakitan, dengan mata bersorot kegusaran, mereka mengawasi.

"Disini bukan tempat bicara, mari kita pergi kesana," kata si penunggang kuda. "Kita naik kuda."

Ia lompat naik atas kudanya, perbuatannya ditelad oleh Tiau Cong dan Hau Kong, yang pun naik atas kudanya masing-masing. Dengan berendeng, mereka pergi dari tempat kejadian itu, sembari jalan, Tiau Cong perkenalkan diri.

"Kau jadinya ada Hau Kongcu," kata penunggang kuda itu. "Aku ada Yo Peng Kie yang dalam kalangan kangouw dikenal sebagai Mo-In Kim-cie, Sayap emas beterbangan, aku bekerja sebagai piausu kepala dari Bu Hwee Piau-kiok."

Tiau Cong mengucap terima kasih.

“Coba tidak ada piautau yang tolongi kami berdua, hari ini tentulah kami terbinasa ditangan orang jahat." ia kata.

"Sekarang, baiklah kongcu lekas pulang," Peng Kie anjurkan. "Kau mesti beritahukan kejadian ini kepada ayahmu, supaya ayahmu urus lebih jauh, kalau tidak, tentu kawanan opas itu bakal putar duduknya perkara. Terang sudah mereka ada jahat dan licik. Mereka tidak kenal aku, tentu mereka bakal berati kongcu seorang."

Mendengar nasihat itu, lenyap kegembiraannya kongcu ini.

"Kau benar, saudara Yo," kata ia. "Terima kasih untuk keterangan kau ini. Mari kita lakukan perjalanan bersama- sama."

Peng Kie setuju. "Mari," sahut ia.

Hatinya Tiau Cong lega. Dengan dikawani itu piausu, ia tak kuatir lagi.

Dua-puluh lie mereka sudah lalui, tidak juga mereka dapat pondokan. Sukur Peng Kie ada bawa rangsum kering, ia keluarkan itu, untuk didahar bersama. Mereka singgah sebentar, Hau Kong cari kwali pecah, untuk masak air, supaya mereka bisa minum. Ia kumpuli kayu kering, untuk nyalakan api.

"Si penjahat ada di sini!" tiba-tiba kacung ini dengar suara nyaring dibelakangnya. Ia terkejut, hingga ia berjingkrak, karena mana, airnya tumpah, menyiram kayunya.

Peng Kie segera berpaling, hingga ia tampak, opas tadi, yang kabur, telah balik bersama belasan serdadu, dia itu sendiri kaburkan kudanya paling depan.

"Lekas naik kuda!" piausu ini serukan kawan-kawannya. Kemudian ia kasi majikan dan bujang itu lari didepan, ia sendiri dengan hunus golok tantoo, larikan kudanya disebelah belakang, untuk melindungi.

"Bekuk si penjahat!" beberapa serdadu berteriak-teriak. Semua serdadu itu mengejar dengan keras.

17 Peng Kie telah lari jauh juga, tetapi ia dapat kenyataan, ia terpisah semakin dekat dengan rombongan pengejarnya itu.

"Ambil jalan kecil!" ia teriaki dua kawannya.

Tiau Cong membiluk kejalan kecil, dibelakang ia, Hau Kong menyusul bersama si piausu.

"Kejar terus! Siapa dapat membekuk, ia akan dapat upah besar!" si opas berteriak-teriak, akan anjurkan belasan serdadu itu.

Melihat orang menyusul semakin dekat, terpaksa Peng Kie tahan kudanya, untuk diputar balik, guna tunggui barisan pengejar itu, kemudian ia maju memapaki, akan menyerang.

Si opas kaget, ia lantas mundur, tetapi belasan serdadu maju menyerang. Mereka bersenjatakan tumbak, yang panjang, dengan lekas Peng Kie jadi repot, belum sempat ia membacok salah satu musuh, karena goloknya pendek, pahanya telah kena tertusuk, hingga ia merasakan sakit walaupun lukanya tidak parah. Karena ini, ia jadi kecil hati. Ia keprak kudanya, ia berlompat kedepan, satu serdadu yang berada paling dekat, ia bacok pundak kirinya.

Hal ini membikin serdadu-serdadu yang lain kaget, mereka merandek, justeru itu, si piausu kaburkan kudanya, untuk lari terus.

"Kejar!" berseru si opas, yang maju pula, diikuti oleh kawan-kawannya.

Peng Kie sudah lantas dapat candak Tiau Cong dan Hau Kong. Jalanan di depan mulai jadi sempit, tapi sukar, serdadu- serdadu itu jeri terhadap si piausu, mereka tak berani maju mendekati, mereka cuma mengejar saja.

Peng Kie dapat hati, ia ajak dua kawannya lari dengan keras.

Mereka jalan di tempat banyak tikungan, ini menolong mereka, sebab tidak lama lagi, mereka lenyap dari pemandangan matanya sekalian pengejar, yang cuma suara teriak-teriakannya saja yang masih terdengar dengan nyata.

Segera mereka menghadapi jalan cagak tiga.

"Kita turun disini!" Peng Kie kata. Ia mendahului loncat turun dari kudanya.

Tiau Cong dan kacungnya menuruti, mereka pun turun. "Mari!" mengajak piausu itu.

Mereka tuntun kuda mereka, masuk kedalam pepohonan yang lebat, untuk sembunyi.

Tidak terlalu lama, muncullah rombongan tentara bersama si Ong. Mereka ini agak bersangsi melihat jalan cagak itu. Akhirnya, si Ong pilih satu diantaranya.

"Mereka tidak akan susul kita jauh-jauh, mereka bakal kembali," kata Peng Kie. "Mari lekas!"

Ia robek ujung bajunya, buat dipakai membungkus lukanya, habis itu mereka keluar dari tempat sembunyi, naik atas kuda masing-masing, lantas mereka ambil jalan yang lain yang diambil pengejar mereka.

Mereka sudah lari jauh juga ketika Peng Kie dengar suara berlari-larinya banyak kuda. Ia mengerti, orang tentu sedang susul mereka. Biar bagaimana, ia sibuk juga. Tidak jauh dari mereka, mereka lihat tiga buah rumah gubuk, di depannya, ada penghuninya orang tani sedang bekerja. Peng Kie hampirkan orang tani itu, sembari menjura, ia kata : "Saudara, dibelakang kami ada tentara sedang mengejar yang hendak celakai kami, tolong kau carikan tempat sembunyi. "

Orang tani itu tetap memacul, ia seperti tidak dengar permintaan itu.

Tiau Cong turun dari kudanya, ia hampirkan orang tani itu, akan ulangi permintaannya Peng Kie. Sekali ini, mendadakan orang tani itu mengawasi, dengan kedua matanya yang bersinar. Ia mengawasi dari atas kebawah pada tiga orang itu.

Berbareng dengan itu dari antara pepohonan lebat terdengar suara suling merayu-rayu, lantas tertampak satu bocah bercokol dibelakang seekor kerbau. Dia berumur delapan atau sembilan tahun, kuncirnya kecil pendek nyungcung di batok kepalanya.

Dia beroman manis dan cakap, membuat orang segera sukai dia.

Melihat bocah itu, si orang tani kata padanya, "Sin Cie, bawa kuda kedalam gunung, kasi makan rumput sepuasnya! Tunggu sampai sudah gelap, Baru kau bawa kembali."

Bocah itu pandang Tiau Cong bertiga.

"Baik!" ia menyahuti, terus ia hampirkan ketiga kuda orang-orang itu.

Peng Kie tidak mengerti maksud orang, ia berikan kuda mereka. Sementara itu, suara pengejar datang semakin dekat, Tiau Cong sibuk.

"Mereka mendatangi. " kata ia. "Bagaimana?"

"Mari turut aku," mengajak si orang tani.

Tiau Cong bertiga ikut diajak masuk kedalam rumah, yang bersih keadaannya walaupun perabotan kebanyakan ada alat-alat pertanian. Mereka dibawa terus kepedalaman, sampai disebuah kamar tidur, ketika si orang tani singkap kelambu, dibelakang itu ada tembok. Dia menekan dua kali kepada tembok atas mana tembok itu berbunyi dan terbukalah sebuah lobang, sehingga mereka terkejut.

"Masuklah!" kata si orang tani.

Peng Kie bertiga masuk. Mereka dapati sebuah gua yang cukup lebar.

Nyata gua itu ada gua gunung, yang sengaja dibuka. Tanpa menggempur rumah, tidak nanti diketahui, dibelakang rumah ada lobang gua.

Orang tani itu tekan pula tembok, setelah mana, pintu gua tertutup pula. Ia terus pergi keluar, untuk bekerja pula dengan cangkulnya seperti tadi.

Belum terlalu lama, muncullah si Ong serta belasan serdadunya.

"Eh, apa tadi ada tiga penunggang kuda lewat di sini?" Ong tanya dengan kasar.

"Baru saja dia lewat, kesana!" sahut si petani seraja menunjuk kesebuah jalan kecil.

Ong beramai larikan kudanya ketempat yang ditunjuk itu, disini mereka melalui tujuh atau delapan lie tanpa ada hasilnya, lantas mereka kembali. Mereka hampirkan pula si petani, utk. Ditanyakan, tapi dia ini menyahuti tidak jelas, dia mirip dengan seorang budek.

"Sudah, jangan layani si tolol!" kata beberapa serdadu. "Mari!"

Mereka larikan kuda mereka kesebuah jalan kecil lainnya.

Tiau Cong bertiga, dari tempatnya sembunyi, dengar suara kaburnya banyak kuda, suaranya nyata dan lenyap, nyata pula, lenyap lagi. Selama itu, mereka tetap sibuk, terutama sebab tuan rumah belum datang untuk membukai pintu. Peng Kie coba tolak pintu gua, tidak ada hasilnya, sebab ia tak tahu rahasianya. Daun pintu pun tak tergerak sedikit jua. Gua ada gelap. Terpaksa mereka duduk diam, kecuali Peng Kie, yang beberapa kali merintih karena lukanya, hingga ia kutuki pengejar-pengejarnya.

Entah berapa waktu telah lewat, mendadakan pintu gua terbuka sendirinya dengan menerbitkan suara, lebih dahulu muncul cahaya api kuning, lalu muncul si orang tani dengan tangannya menyekal ciaktay yang lilinnya menyala.

"Marilah kita dahar!" ia mengundang.

Peng Kie berlompat bangun, akan mendahului keluar, Tiau Cong dan kacungnya susul dia. Mereka pergi ke thia dimana ada sebuah meja yang sudah siap dengan nasi dan temannya, yang masih mengepul-ngepul,kecuali tauhu dan sayur, pun ada dua ekor ayam yang gemuk.

Didalam ruangan itu, kecuali si orang tani dan si bocah angon, ada lagi tiga petani lainnya, yang menantikan tetamu-tetamunya sambil berdiri.

Tiau Cong bertiga memberi hormat, mereka lantas perkenalkan diri. Mendengar namanya Peng Kie sebagai piausu, nampaknya orang-orang itu tak memperdulikannya, akan tetapi mengetahui si anak muda ada puteranya Hau Su-tou, semua saling memandang, lantas ada yang tanyakan halnya Hau Su-tou selama yang belakangan ini.

Tiau Cong berikan jawaban yang sebenarnya, sesudah mana, ia minta tanya namanya sekalian petani itu.

"Aku yang rendah she Eng," jawab seorang umur lima- puluh lebih. "Dia ini she Cu," dia perkenalkan petani yang pertama. "Dan dia ini she Nie." Dia tunjuk seorang bertubuh jangkung tetapi kurus. "Dan dia ini she Lo," ia tambahkan kepada seorang yang kate dampak.

"Aku kira tuan-tuan dari satu keluarga, tak tahunya semua berlainan she," kata Tiau Cong.

"Kita semua ada sahabat-sahabat baik," terangkan si orang she Eng.

Segera Tiau Cong dapat kenyataan, semua tuan rumah tak gemar bicara tapi gerak-gerik mereka tak mirip dengan petani sejati; si orang she Cu dan Nie nampaknya keren, si orang she Eng agung-agungan, seperti satu sasterawan. Dia coba bicara sama si orang she Eng itu, untuk cari kepastian, tapi ia ini tidak menjawab jelas, agaknya ia seperti mengerti dan tidak mengerti.

Habis berdahar, Baru si orang she Eng tanyakan bagaimana halnya tetamu-tetamu itu dikejar polisi dan serdadu.

Tiau Cong berikan keterangan dengan jelas, karena ia terpelajar, kata-katanya teratur sempurna dan menarik hati, apapula ketika ia menutur halnya rakyat jelata yang bersengsara dan mati terlantar, binasa teraniaya, hingga nyata sekali kekejamannya tentara negeri tukang rampok dan bunuh.

Semua pendengar membuka mata lebar-lebar, si orang she Nie sampai keprak meja, alis dan kumisnya seperti bangun berdiri, ia tentu telah membuka mulut dan mendamprat jikalau tidak si orang she Eng lirik dia, terus ia bungkam.

Tiau Cong juga ceritakan halnya Yo Peng Kie tolongi ia, dengan itu ia hunjuk syukurnya dan pujian kepada itu piausu, mendengar mana, piausu ini nampaknya puas sekali.

"Itulah tidak berarti apa-apa," kata Peng Kie. "Yang berbahaya adalah dulu ketika di Shoasay, seorang diri aku bunuh Chin-pak Sam Hiong."

Lalu dengan bangga ia jelaskan bagaimana, dalam keteter, ia berbalik menang lawan Chin-pak Sam Hiong, tiga penjahat besar dari propinsi Shoasay sebelah utara, kemudian itu ditambah sama pelbagai pengalamannya selama sepuluh tahun, hingga katanya, banyak penjahat tidak berani pandang enteng kepadanya.

Sedangnya piausu ini menutur dengan gembira, hingga ia seperti lupa daratan, tiba-tiba si bocah angon tertawa cekikikan.

Peng Kie pandang itu bocah, yang terus berdiam, maka ia lanjuti penuturannya, sekarang perihal pelbagai kejadian didalam kalangan kangouw.

Tiau Cong asing dengan kaum kangouw, ia jadi ketarik hati.

Hau Kong pun belum tahu apa-apa, ia puji piausu itu. Peng Kie kemudian bicara tentang ilmu silat, ia sampai gerak-geraki tangan dan kakinya, nampaknya ia membuat gembira kepada si orang-orang tani, sampai akhirnya si orang she Lo menguap dan kata: "Sudah tak siang lagi, marilah kita semua masuk tidur!"

Secara demikian, perjamuan ditutup, malah si bocah angon segera tutup pintu, sedang si orang she Cu angkat sepotong batu besar, yang ditaruh ditempat gelap, untuk dipakai mengganjal pintu.

Melihat batu besar itu, diam-diam Peng Kie ulur lidah. "Ah, orang ini bertenaga besar sekali....," pikir ia. "Batu

ini sedikitnya empat ratus kati beratnya. "

Si orang she Eng rupanya lihat keheranannya si tetamu. "Ditanah pegunungan ada banyak harimau," kata dia.

"Bisa kejadian ditengah malam, binatang buas itu datang dan menggempur pintu, maka pintu perlu diganjel. "

Belum berhenti suaranya si Eng ini atau mendadakan terdengar sampokan angin dahsyat di luar gubuk, diantara pepohonan, sampai daun-daun dan cabangnya perdengarkan suara menderu-deru, daun pintu dan jendela bagaikan tergetar, kemudian itu disusul sama gerungan panjang dan hebat, akan akhirnya terdengar juga suaranya kuda dan kerbau.

"Lihat, binatang itu datang pula untuk berkurang ajar!" kata si Eng.

Si Nie berbangkit, dari belakang pintu, ia ambil sepotong kongcee, cagak seperti tumbak.

"Sekali ini dia tak dapat dikasi lolos lagi!" kata ia bagaikan berseru. "Sin Cie, kau pun turut!" Si bocah angon menyahuti, ia lari kedalam kamar sebelah kanan, dari mana ia keluar pula dengan tangan mencekal sebatang tumbak pendek dan dipinggan tergendol kantong kulit.

Si Cu sudah lantas geser batu besar, ia terus buka pintu, hingga berbareng dengan terpentangnya pintu itu, angin keras menghembus masuk, membawa juga daun-daun kering, hingga lilin lantas padam.

Hau Kong kaget hingga ia menjerit.

Si Nie loncat keluar, diturut oleh si bocah angon, yang bernama Sin Cie.

"Aku turut!" kata Peng Kie seraja ia jumput goloknya. Tapi Baru ia bertindak selangkah atau mendadakan lengannya ada yang cekal,ketika ia coba tarik tangannya, ia rasai cekalan keras sekali, lima jari si pencekal bagaikan jari-jari besi saja.

"Jangan keluar, binatang buas itu ganas sekali!" demikian satu cegahan dengan suara serak.

Lagi sekali Peng Kie geraki tangannya, untuk loloskan cekalan, apamau, ia tidak berhasil, maka akhirnya, terpaksa ia duduk pula. Baru setelah itu, cekalan kendor sendirinya.

Di luar, segera terdengar seruannya si Nie beberapa kali, bercampur sama gerungannya sang harimau, diantara mana, ada pula suaranya kongcee, sedang angin masih menderu-deru. Juga ada terdengar seruan kecil tapi nyaring dari si bocah angon.

Itu semua menandakan bahwa pertempuran sedang berlangsung antara si raja hutan dan dua petani. Adalah kemudian, suara berisik mulai berkurang, terdengarnya semakin jauh, makin jauh, rupanya binatang liar itu kabur dan dikejar lawannya. Si Lo segera nyalakan batu tekesan, untuk sulut lilin, hingga kelihatan, ruangan tersebarkan banyak daun kering.

Hau Kong duduk diam, mukanya sangat pucat, sedang Tiau Cong nampaknya jeri. Malah Peng Kie, si piausu yang tadi omong besar, sekarang nampak hatinya gentar, hingga ia diam saja.

Orang berada dalam kesunyian sekian lama, kemudian terdengar tindakan kaki cepat, yang segera disusul dengan masuknya si bocah angon, yang terus - sambil tertawa, wajahnya gembira - berkata separuh berseru : "Kita makan daging harimau! Kita makan daging harimau!"

Tiau Cong lihat tumbak pendek orang berlepotan darah. "Dia begini kecil, dia berani dan kosen," pikir Hau

Kongcu, "tapi aku, aku tidak punya tenaga untuk sembelih

ayam saja....Sungguh malu!. "

Selagi pemuda ini berpikir, si Nie bertindak masuk dengan tindakan lebar, sebelah tangan mencekal kongcee, sebelah yang lain menyeret harimau yang terus ia lemparkan ke tengah thia.

Tiau Cong kaget sampai ia dapati binatang itu tidak bergerak, tanda sudah mati.

"Sin Cie, tadi kau menyerang secara keliru, kau tahu tidak?" tiba-tiba si Nie kata pada si bocah angon, yang ia awasi dengan tayam.

Bocah itu tunduk.

"Ya, tidak selajaknya aku menyerang dengan piau depan- berdepan," ia akui.

Mendengar itu, wajahnya si Nie jadi sabar pula. "Menyerang dari depan bukannya tak boleh," kata dia.

"Hanya jikalau kau hendak lepas sepasang piau dengan

27 berbareng, kau mesti arah dua-dua matanya, setelah piau dilepaskan, kau sendiri mesti segera loncat kesamping, tetapi tadi kau gunai sebatang piau saja, hingga saking kesakitan, harimau itu lompat menerjang padamu, coba aku tidak mencegah, apa jiwamu masih dapat ditolong?"

Bocah itu berdiam.

"Tapi piaumu itu jitu sekali," kata si Nie kemudian, sebagai pujian, "apa yang kurang adalah tenagamu. Inilah tidak heran, kalau nanti kau telah jadi besar, tenagamu akan tambah sendirinya."

Ia angkat tubuhnya harimau, untuk dibalik, hingga kelihatan sebatang piau lain nancap dilobang kotoran.

"Piau ini," katanya, "apabila digunakannya dengan tenaga besar,akan nembus sampai kedalam perut dan akan menyebabkan kematian."

"Mulai besok aku nanti berlatih dengan sungguh- sungguh," kata Sin Cie.

Si Nie manggut, lantas ia seret bangkai harimau itu kebelakang.

Hatinya Peng Kie jadi tidak tenteram. Tadinya ia sangka mereka itu ada orang-orang tani biasa, tidak tahunya dua diantaranya, malah yang satu adalah satu bocah cilik, dalam sekejab saja bisa binasakan seekor harimau. Ia jadi curiga, mereka itu adalah penyamun-penyamun dalam penyamaran rakyat jelata.

"Jikalau mereka turun tangan, mana sanggup aku lawan mereka?" pikir ia.

Sebaliknya dari si piausu, Tiau Cong tidak curiga apa- apa, ia malah puji si bocah, yang tangannya ia cekal dan usap-usap. Ia pun tanya she dan namanya. Bocah itu melainkan tertawa, ia tak menjawab.

Malam itu, Tiau Cong tidur bertiga bersama Peng Kie dan Hau Kong. Si kacung pulas dengan cepat. Tiau Cong sukar tidur, maka selang tak lama, ia dengar suara orang baca buku. Ia lantas kenali suaranya si bocah angon. Bocah itu membaca dalam dialek Kwietang, ia heran. Lebih-lebih ia heran akan dapati, buku yang dibaca adalah buku yang ia tidak kenal. Mungkin itu ada kitab ilmu perang. Maka akhirnya ia berbangkit, ia turun dari pembaringan akan bertindak ke thia.

Duduk menghadapi api lilin, si bocah terus baca bukunya, disampingnya duduk si Eng, yang saban-saban mengajari padanya.

Si Eng manggut melihat Hau Kongcu.

Tiau Cong mendekati, ia lihat beberapa jilid buku diatas meja, kemudian ia jumput satu, yang berkalimat "Kie Kau Sin Sie" ialah kitab ilmu perang karangannya jenderal Cek Kee Kong.

"Saudara," kata ia kemudian, ”saudara semua bukannya orang-orang biasa, kenapa saudara beramai hidup menyendiri disini? Maukah saudara kasi keterangan padaku?"

"Kita adalah petani biasa saja," sahut si Eng. "Kita hidup bertani sambil memburu, kalau kita pun baca buku. Itu biasa saja, bukan? Kenapa kongcu heran?"

Tiau Cong tak enak sendirinya.

"Maafkan aku, aku telah mengganggu," kata ia, yang terus manggut, untuk kembali kekamarnya.

Sekali ini, rebahkan diri, Tiau Cong dapat tidur, tapi, sedang ia layap-layap, ia sedar pula, sebab Peng Kie goyang tubuhnya dengan piausu itu terus berbisik: "Mari kita pergi, inilah sarang penjahat!. "

Pemuda itu kaget.

"Bagaimana kau ketahui?" ia tanya

"Mari lihat!" Peng Kie berbisik pula. Ia nyalakan api, akan suluhi sebuah peti kayu, yang ia buka tutupnya. "Lihat, kongcu!"

Kembali Tiau Cong kaget. Ia lihat peti itu muat banyak sekali emas dan perak dan barang permata. Ia sampai tergugu.

Peng Kie serahkan api pada si anak muda, ia sendiri angkat minggir peti itu, dibawah mana ada sebuah peti lain, yang dikunci, akan tetapi selagi ia berkutetan, Tiau Cong mencegah.

"Sudahlah, jangan bongkar lebih jauh rahasia orang," kata pemuda ini. "Kita bisa terbitkan onar. "

"Tetapi didalam sini ada bau luar biasa," Peng Kie bilang.

"Bau apakah itu?" "Bau bacin amis!" Tiau Cong berdiam.

Peng Kie patahkan rantai kunci, lalu ia pasang kuping, apabila ia tidak dengar suara apa-apa dari luar, ia buka tutup peti itu, ia sambuti api, untuk menyuluhi.

Kesudahannya ini, keduanya berdiri tercengang, mukanya Hau Kongcu pucat.

Didalam peti itu ada dua kepala manusia, yang satu rupanya sudah sekian lama dikutungi batas lehernya, sebab darahnya sudah hitam, yang satunya pula, masih baru, tapi

30 dua-duanya seperti telah dipakaikan obat, karena masih belum rusak.

Peng Kie ada orang kangouw, ia toh lemas kaki dan tangannya.

"Mari kita pergi!" kata pula si piausu, sesudah ia dapat pulang ketabahannya dan kedua peti ia susun rapi seperti tadinya. Habis itu, ia pun kasi bangun pada Hau Kong, untuk ajak si kacung singkirkan diri.

Api telah dikasi padam, dengan raba sana-sini, bertiga mereka pergi ke thia, terus kepintu. Disini Peng Kie dapat raba batu besar, memegang mana, ia mengeluh di dalam hati. Ia coba gunai antero tenaganya, ia masih tak dapat geraki bergeming batu besar itu.

Sekonyong-konyong, menyalalah api di dalam thia itu! Dengan tiba-tiba, si Cu muncul dengan ciaktay di tangan, ciaktay yang lilinnya menyala.

Dalam kagetnya, Peng Kie hunus goloknya. Ia niat bikin perlawanan meskipun hatinya keder.

Tapi si Cu bersikap tenang.

"Kauorang hendak berlalu?" tanya dia, yang lantas hampirkan batu besar, untuk diangkat kesamping, lalu ia buka pintu." Persilakan!"

Dengan kepala tunduk, Peng Kie bertiga keluar dari pintu, mereka hampirkan kuda mereka, akan buka tambatannya, lalu dengan menunggang binatang tunggangan itu, malam-malam mereka kabur, kearah timur. Tidak satu diantara mereka, yang buka mulut. Mereka laratkan kuda mereka, sampai belasan lie jauhnya, Baru mereka mulai merasa legaan. Tiba-tiba terdengar berketoprakannya kaki kuda disebelah belakang mereka, segera terdengar suara nyaring dari satu orang: "Hei, berhenti! Berhenti!"

Mereka kaget, mereka jadi takut pula, mereka kabur terus, kuda mereka dikepraki.

Sekonyong-konyong satu orang melesat disampingnya tiga orang ini, untuk mendahului mereka.

Kudanya Peng Kie kaget, sampai binatang itu berjingkrak sendiri.

Peng Kie ayun goloknya, akan serang orang itu. Dia ini bertangan kosong, dia kelit, lantas dia membalas menyerang.

Mereka bertempur dengan seru.

Sebelah tangan siorang tak dikenal menyambar tempilingan kanan dari Peng Kie, dia ini angkat goloknya, akan dipakai membabat, tapi orang nyata menggertak saja, serangannya ditarik setengah jalan, dikembalikan, buat dipakai mencekal lengan yang bersenjatakan golok itu.

"Turun!" demikian orang itu berseru sambil ia menarik dengan keras.

Peng Kie sedang membacok, tak keburu dia menarik pulang tangannya atau kelitkan itu, ia tercekal, ia tertarik, tidak ampun lagi, dia rubuh dari atas kudanya, sedang goloknya, tahu-tahu sudah kena dirampas lawannya. Tapi si lawan tidak gunai senjata itu untuk balas membacok, dia lepaskan cekalannya kepada lengan si piausu, dia pakai tangannya itu pegang golok dengan kedua tangannya, atau dilain saat, golok itu kena dipatahkan dua! Diantara sinar guram dari bintang-bintang dilangit Peng Kie, yang dapat berdiri pula setelah ia rubuh dari kudanya, dapat kenali lawannya adalah si Cu, tuan rumahnya. "Mari turut aku kembali!" kata si Cu dengan tenang. Lalu, tanpa perduli apa juga, ia kasih kudanya jalan kembali.

Peng Kie mati daya, ia naik atas kudanya, kemudian dengan satu tanda, ia ajak Tiau Cong dan Hau Kong balik. Dua kawan ini, yang telah tahan kuda mereka selagi orang bertempur, juga tidak berdaya lagi, mereka turut tanpa bilang suatu apa.

Kapan Tiau Cong bertiga sampai dirumah si petani, kemana mereka lantas masuk, mereka lihat ruangan tengah terang sekali dengan api lilin. Si bocah angon bercokol di- tengah-tengah,dikiri dan kanan, duduk empat orang lainnya ialah si Lo, si Eng, si Cu dan si Nie. Semua mereka berdiam, roman mereka sungguh-sungguh, hingga nampaknya jadi keren.

Peng Kie percaya dia ada bakalan mati, maka ia jadi berani.

"Hari ini Yo Thayya terjatuh di tangan kamu, hayo jangan banyak omong lagi, hendak kamu bunuh, bunuh!" kata ia dengan gagah.

"Eng Toako, bagaimana?" tanya si Cu.

Orang yang ditanya itu diam saja, cuma romannya tetap keren.

"Merdekakan Hau Kongcu dan kacungnya, bunuh orang she Yo ini!" si Nie gantikan menjawab.

"Orang she Yo ini menjadi piausu, dengan begitu ia jadi anjingnya segala hartawan," kata si Eng akhirnya, "pantas saja jikalau dia dibikin mampus. Tapi sekarang ini dia telah hunjuk perbuatan mulia dan gagah dengan membantu Hau Kongcu, dia pun berani, baik kasi dia ampun. Saudara Lo, silakan kau bikin bercacat dua anggauta penggapeannya." Si Lo lantas saja berbangkit.

Mukanya Peng Kie jadi pucat, saking kaget.

Tiau Cong tidak mengerti bahasa rahasia orang Kangouw, ia tak tahu, dengan "anggauta penggape" diartikan sepasang mata, yang mesti dikorek buta. Ia cuma duga, orang hendak bikin celaka piausu penolongnya itu. Maka itu, ia ingin buka mulut, untuk mohonkan keampunan.

Tiba-tiba si bocah angon kata : "Encek Eng, kasihan aku melihat dia, kasi ampun saja padanya!"

Si Eng dan tiga kawannya saling memandang, semua berdiam, tapi akhirnya, dia kata pada Yo Peng Kie, si piausu: "Sekarang telah ada orang yang mohonkan keampunan bagimu, bisa atau tidak kau bersumpah akan tak bocorkan apa yang kau alami disini malam ini?"

"Sebenarnya tak niat aku menyelidiki segala apa disini, hanya kebetulan saja aku menemuinya," sahut Yo Peng Kie. "Aku harus sesalkan diriku, yang seperti tidak punya mata, hingga tak dapat aku kenali siapa adanya enghiong semua. Aku janji, sejak ini aku tidak nanti melangkah ke Siamsay ini sekalipun setengah tindak. Mengenai urusan saudara-saudara disini, aku sumpah akan tutup mulut seperti rapatnya botol. Dibelakang hari, apabila aku langgar sumpahku ini, Langit dan Bumi bakal binasakan aku!"

"Bagus!" berseru si Eng. "Aku percaya kau ada satu laki- laki sejati! Pergilah!"

Peng Kie angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat, lalu ia memutar tubuh.

Mendadakan, si Nie berbangkit dari kursinya. "Apakah kau hendak pergi secara begini saja?" dia menegur.

Peng Kie melengak, tapi segera ia mengerti maksud orang. Ia lantas tertawa meringis.

"Baiklah," kata ia. "Kasi aku pinjam golok!"

Si Cu keluarkan sebatang golok dari kolong meja, dengan dilintangi, dia lemparkan kepada piausu itu.

Peng Kie sambuti golok itu, ia maju mendekati meja, diatas mana, ia letaki tangan kanannya dengan semua jarinya dibeber, kemudian cepat luar biasa, ia membacok dengan tangan kiri, hingga sapatlah empat buah jarinya.

"Seorang yang berbuat, seorang yang tanggung jawab!" kata dia sambil tertawa. "Semua pekerjaanku tidak ada sangkutannya dengan si orang she Hau!"

Semua orang kagum melihat ketangguhannya piausu ini. "Bagus!" berseru si Nie, yang perlihatkan jempolnya.

"Beginilah selesainya urusan malam ini!"

Terus ia bertindak kedalam, akan keluar pula dengan cepat bersama obat luka dan kain putih untuk obati dan bungkus tangannya piausu she Yo itu.

Peng Kie tidak mau berdiam lama, setelah selesai pengobatan, ia kata pada Hau Kongcu, "Mari kita berangkat!"

Tiau Cong lihat muka orang pucat, ia mengerti penolongnya ini menahan sakit yang hebat, ia berniat mengajak menanti dahulu, tetapi ia tak bisa buka mulutnya untuk mengutarakan itu.

Si Eng lihat segala apa didepannya, ia kata: "Hau Kongcu, kalau dibicarakan, kau dan kita sebenarnya ada hubungan satu sama lain. Sahabat she Yo inipun ada satu

35 laki-laki, maka baiklah, aku nanti berikan barang ini kepadamu!"

Dari sakunya, si Eng keluarkan serupa barang, yang dia terus serahkan pada si anak muda.

Kapan Tiau Cong sudah sambuti, dia lihat itu adalah sepotong tek-pay atau surat bambu dengan huruf-bakaran "San Cong", sedang bagian belakangnya, pun dibakar hangus merupakan tali air. Ia tidak tahu, apa artinya tek- pay itu.

"Sekarang ini Negara sedang kacau," berkata si Eng pula, "kau ada satu mahasiswa lemah, tak selayaknya kau berkelana, dari itu, aku kasi nasihat padamu, baik kau lekas pulang. Umpama kau hadapi bahaya ditengah jalan, kau keluarkan tek-pay ini, nanti ancaman bencana akan berubah menjadi keselamatan."

Tiau Cong periksa tek-pay itu, masih ia tak dapatkan keanehan atau kemujizatannya, maka itu, ia mau percaya, itu adalah benda yang cuma membawa alamat baik.....

"Terima kasih," kata ia akhirnya seraya serahkan tekpay itu kepada Hau Kong, untuk disimpan dalam buntalan.

Habis itu, tiga orang itu pamitan, mereka berlalu dengan naik kuda mereka. Sekarang mereka jalan malam-malam, dengan pelahan-lahan, terus sampai terang tanah diwaktu mana mereka sampaikan sebuah kampung.

"Kita singgah disini," mengajak Tiau Cong.

Mereka cari pondokan, untuk beristirahat satu hari dan satu malam, akan besoknya pagi, mereka lanjuti perjalanan mereka. Kembali mereka lewati dusun dimana tentara negeri pernah rampok dan bunuh-bunuhi penduduk, tak tega melihat bekas-bekas kekejaman itu, Tiau Cong ajak dua kawannya jalan ngidar. Diwaktu tengah hari, mereka

36 singgah ditengah jalan, lalu kemudian berangkat lebih jauh melalui dua-puluh lie lebih.

Adalah diitu waktu, dari arah depan, ada mendatangi satu penunggang kuda, yang lewati mereka disamping mereka, selagi berpapasan, dia itu mengawasi Tiau Cong bertiga. Debu mengepul selagi dia lewat.

Tiau Cong bertiga jalankan kuda mereka seperti biasa, tapi Baru lima atau enam lie, mereka dengar pula tindakan kaki kuda dibelakang mereka, makin lama datangnya makin dekat, akhirnya penunggang kuda itu lewati mereka, hingga mereka tampak orang ada bungkus kepala dengan cita hijau, romannya gagah.

"Ini orang aneh kelakuannya," kata Tiau Cong. "kenapa dia balik pula?"

Memang, itulah ada penunggang kuda yang tadi papaki mereka.

Peng Kie tidak menjawab, hanya ia bilang: "Sebentar lagi, Hau Kongcu, kau lari sendiri saja!"

Pemuda itu terperanjat.

"Apa? Kembali ada penyamun?" tanya dia.

"Kita jalan tak usah sampai lima lie, bakal terbit lelakon," kata Peng Kie. "Kita tak dapat mundur, dari itu, kita mesti menerjang dan lolos!"

Hatinya Tiau Cong, juga kacungnya, jadi tidak tetap. Peng Kie sendiri tegang sendirinya. Tapi masih mereka jalankan kuda mereka dengan pelahan.

Mereka Baru lewat kira-kira tiga lie, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah, yang melayang di udara, kemudian menyusul itu, tiga penunggang kuda, yang melintang ditengah jalan. Peng Kie maju didepan dua kawannya, ia rangkap kedua tangannya.

"Aku ada si orang she Yo dari Bu Hwee Piau Kiok," ia perkenalkan diri, “tetapi aku bukannya sedang antar piau, kita sedang bikin perjalanan saja, itulah sebabnya kenapa aku tidak kirim karcis nama untuk mengunjungi ciongwie. Ini ada Hau Siangkong, yang sedang pesiar, dia adalah satu anak sekolah. Aku harap kebaikan ciongwie supaja kami diberi jalan lewat."

Peng Kie berpengalaman, namanya cukup terkenal, tapi karena tangannya terluka, dan menyangka rombongan didepannya ada punya hubungan sama rombongannya si Cu beramai ia sengaja berlaku merendah.

Satu diantara tiga pemegat itu, yang tangannya tak bersenjata, tertawa sendirinya.

"Kami kekurangan uang, kami mau minta pinjam seratus tail," kata dia. Dia omong dengan lidah Amoy, Hokkian.

Peng Kie dan Tiau Cong saling mengawasi dengan melengak, tak mengerti mereka akan kata-katanya orang itu.

"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak?" tegaskan si penunggang kuda dengan ikat kepala hijau, yang tadi mundar-mandir dengan kudanya.

Menampak orang ganas, Peng Kie jadi gusar.

"Sudah belasan tahun aku si orang she Yo berkelana, belum pernah aku menemui orang-orang begini kurang ajar!" ia berseru.

"Tapi hari ini aku akan bikin kauorang lihat!" kata orang yang pertama buka suara, yang lantas turunkan gandewa dan peluruh dari bebokongnya, lalu dengan beruntun, ia lepaskan tiga biji pelurunya keudara, menjusul mana, ia memanah pula, terhadap tiga peluru yang pertama, hingga semuanya mengenai dengan jitu, hingga kesudahannya, enam peluru runtuh sendirinya.

Peng Kie melongo menyaksikan keliehayan orang itu, tapi justeru itu, mendadakan ia rasakan sakit pada lengannya kiri, hingga goloknya terlepas dan jatuh tanpa ia merasa. Nyata ia telah dipanah peluru dengan ia tidak diketahui! Orang yang ketiga segera maju dengan joan-pian ditangan, dengan "Kou teng bek sie", atau "Rotan tua melilit pohon", segera saja ia sambar pinggangnya piausu dari Bu Hwee Piau Kiok.

Peng Kie majukan kudanya, akan menyingkir dari serangan itu.

Penjerang itu menyabat ketanah, untuk sambar dan lilit goloknya si piausu, untuk ia ambil, selagi berbuat demikian, sembari tertawa, ia majukan kudanya melewati Hau Kong, terhadap siapa, ia membacok, maka sekejab saja, buntalan dibelakangnya kacung itu terputus dan jatuh. Habis membacok, dia kasi kudanya kabur terus.

Sementara itu, si tukang panah larikan kudanya, akan susul dia punya kawan, ia berlaku begitu cepat hingga dia dapat tanggapi buntalan yang lagi jatuh hingga buntalan itu tak sampai jatuh ketanah, cuma untuk itu, ia perlu cenderungkan tubuhnya.

"Terima kasih!" kata ia sembari tertawa, sebab ia rasakan buntalan itu antap.

Orang yang ketiga menyusul pergi, maka dilain saat, ketiganya sudah menghilang. Peng Kie jadi sangat lesu, ia sangat berduka, karena mendongkol pun sia-sia saja, tak sanggup ia berbuat suatu apa menghadapi tiga orang liehay itu.

Hau Kong bingung tidak kepalang.

"Mana bisa kita pulang?" katanya. "Uang itu semua ada didalam buntalan itu. "

"Mari kita jalan," mengajak Peng Kie, yang tetap lesu. "Masih untung yang jiwa kita tidak turut lenyap!"

Tiau Cong tunduk, ia ikuti piausu itu. Ia lihat, memang mereka tak berdaya.

Kira setengah jam mereka sudah berjalan, lantas mereka dengar tindakan kaki kuda dibelakang mereka, berketoprakan sangat berisik, hingga mereka menoleh, dan mereka jadi sangat kaget. Mereka tampak, tiga penyamun tadi balik kembali, debu mengepul naik tinggi.

Peng Kie bergidik sendirinya. Entah apa maunya mereka itu.

Tiga orang itu dapat menyandak dengan cepat, selagi tiga korban mereka mengawasi dengan bengong, ketiganya loncat turun dari kuda mereka, lalu menghadapi diaorang itu, mereka memberi hormat.

"Nyata kita ada orang-orang sendiri!" kata satu diantaranya. "Maaf, maafkan kami. Kami tak kenali jiewie, kami telah berbuat keliru, harap jiewie tidak buat kecil hati."

Lantas seorang diantaranya sodorkan bungkusan yang dirampasnya pada Hau Kong. Ia menyerahkan dengan kedua tangannya.

Hau Kong tidak berani lantas menyambuti, ia awasi dulu kongcunya. Tanpa bersangsi, Hau Kongcu manggut, atas mana, kacungnya sambuti bungkusan itu.

"Aku minta tanya she dan nama jiewie?" lalu menanya orang yang bersenjatakan joan-pian, rujung lemas.

Tiau Cong sebutkan nama mereka, mendengar mana, orang itu mengawasi dua kawannya, sebab heran mereka dengar, dua orang itu ada satu piausu dan satu mahasiswa putera seorang berpangkat.

"Aku sendiri she Thio dan ini dua saudara ada persaudaraan Lau," kemudian ia perkenalkan diri. "Hau Kongcu, coba setelah bertemu, kau perlihatkan tek-pay, tak nanti jadi terjadi salah mengerti ini. Beruntung kami tak sampai melukai kamu."

Mendengar itu, Baru Tiau Cong mengerti khasiatnya tek- pay itu, karena mana, ia tertawa sendirinya. Ia tetap tidak bilang suatu apa.

"Tentunya jiewie hendak pergi ke gunung Lau Ya San," kata pula si orang she Thio itu. "Mari kita berjalan bersama- sama. Dua saudara Lau ini ada asal Hokkian, mereka tak bisa bicara dialek utara, tetapi mereka dapat mengerti omongan kita."

Dua saudara Lau itu manggut, untuk benarkan si Thio.

Tiau Cong dan Peng Kie percaya mereka ini ada penyamun-penyamun besar, tetap hati mereka tidak tenteram.

"Bersama saudara Yo ini, aku hendak pulang ke Hoolam, kami tak pergi ke Lau Ya San," akhirnya Hau Kongcu bilang.

Mendengar jawaban ini, nampaknya si Thio gusar. "Lagi tiga hari adalah Pee-gwee Cap-lak," kata dia. "Dari tempat ribuan lie kami sengaja datang ke Siamsay ini, maka kenapa kamu, yang sudah sampai, tidak mau naik gunung?"

Bingung juga Tiau Cong dan kawannya. Mereka tak tahu, apa perlunya mesti panjat gunung Lau Ya San. Mereka tak ketahui juga, apa bakal dilakukan Pee-gwee Cap-lak - tanggal enambelas bulan delapan itu. Tapi mereka tak sudi akui bahwa mereka tak tahu itu semua.

"Di rumahku ada urusan sangat penting hingga aku mesti segera pulang," Tiau Cong kata pula.

"Dengan panjat gunung, tempomu cuma terganggu dua hari!" kata pula si Thio, romannya tetap gusar. Dengan melewati gunung, kamu tidakhendak hunjuk hormatmu, apa dan artinya sahabat-sahabat dari San Cong?"

Kembali Hau Kongcu bingung. Apakah itu "San Cong"? Benda apakah itu? Peng Kie berpengalaman, ia mengerti, tak dapat mereka tak pergi ke Lau Ya San. Laginya, ia insaf, bencana lebih besar bagaimana juga, mereka mesti berani hadapi, sebab itu nampaknya mesti dihadapi. Disebelah itu, nampaknya orang tidak bermaksud buruk.

"Kita orang Baru saja bertemu, samwie ada begini baik hati, baiklah, bersama-sama Hau Kongcu, aku nanti turut samwie," akhirnya dia kata.

Dengan segera si Thio perlihatkan roman girang, dia tertawa.

"Mestinya telah aku duga, tak mestinya jiewie tak hargai persaudaraan," kata ia.

Sampai disitu, berenam mereka jalan sama-sama. Selama itu, si Thio jadi seperti pemimpin. Dimana mereka sampai cuma dengan gerak-gerakan tangan, dengan kata-kata yang Tiau Cong tak mengerti, mereka lewat tanpa rintangan,

42 semua rumah penginapan, semua rumah makan, tak sudi terima pembayaran penginapan dan makanan, sebaliknya, pelayanan ada perlu dan manis sekali.

Selang dua hari, mereka ini sudah mendekati kaki gunung Lau Ya San, gunung Gaok Tua. Disitu mereka lantas lihat banyak orang lain, yang berlerot seperti tak putusnya, dandanan mereka berlain-lainan, potongan orangnya pun berbeda, ada yang gemuk, ada yang kurus, yang jangkung dan kate, hanya yang sama, mereka semua seperti mengerti ilmu silat. Dan kebanyakan dari mereka itu kenal dengan si Thio dan dua saudara she Lau itu, mereka saling tegur.

Peng Kie dan Tiau Cong bersikap tak hendak cari tahu rahasia orang, maka itu, selagi orang bicara, mereka sengaja berdiri jauh-jauh, tapi mereka bisa dengar pembicaraan mereka, yang berlidah Selatan dan utara, Timur dan Barat, tidak ketentuan. Mereka pun tahu pasti, diaorang datang dari tempat yang jauh.

Buat apa mereka datang kemari? Ini ada hal yang gelap untuk Tiau Cong berdua.

Malam itu, Tiau Cong berenam mondok disebuah penginapan dikaki gunung, untuk siap akan besok pagi-pagi manjat gunung Lau Ya San.

Benar sedangnya orang bersantap sore, mendadakan ada datang satu orang yang terus memberi kabar: "Cou Siangkong sampai!" Atas itu, delapan atau sembilan bagian orang segera berbangkit dan merubul keluar dari penginapan.

"Mari kita pun melihat," mengajak Yo Peng Kie kepada Tiau Cong, ujung baju siapa ia tarik.

Tiau Cong menurut, keduanya turut keluar. Diluar hotel, semua orang berdiri dengan rapi dan tenang, mereka seperti lagi menantikan orang, entah siapa.

Tidak terlalu lama, terdengarlah tindakan kaki kuda diarah barat gunung, maka semua mata ditujukan kesana.

Segera juga tertampak datangnya seorang anak muda umur dua-puluh tujuh atau delapan tahun, yang kudanya dikasi jalan pelahan-lahan, tapi setelah dia lihat banyak orang menyambut, dia larikan kudanya, untuk menghampirkan, setelah sampai, dia loncat turun cepat sekali.

Dari antara orang banyak segera maju seorang bertubuh besar, akan sambuti kudanya si anak muda, siapa sendirinya bertindak, akan manggut kepada semua penyambutnya. Ketika ia tampak seorang dengan dandanan sebagai mahasiswa, ia memberi hormat.

"Siapa tuan ini?" tanya dia.

"Aku yang rendah she Hau," sahut Tiau Cong. "Bolehkah aku mengetahui she dan nama besar dari tuan?"

"Aku ada Cou Tiong Siu," jawab si anak muda, dengan lakunya hormat.

Tiau Cong memberi hormat sambil memuji.

Tiong Siu bersenyum, terus ia bertindak kedalam rumah penginapan.

Peng Kie tarik sahabatnya kepinggiran.

"Nampaknya mahasiswa she Cou ini ada berpengaruh," berbisik dia. "Pergi kau bicara dengannya, supaja dia ijinkan kita lanjuti perjalanan kita. Sama-sama orang sekolahan, tentu leluasa untuk kamu berbicara. "

Tiau Cong anggap pikiran sahabat ini benar, ia lantas bertindak kedalam, ke pintu kamar sianak muda, yang

44 sudah lantas masuk kedalam sebuah kamar, Ia sengaja batuk-batuk, sesudah mana, ia mengetok dengan pelahan. Ia pun dengar suaranya orang membaca buku didalam kamar, yang segera berhenti setelah ia mengetok beberapa kali, segera disusul sama terbukanya daun pintu.

"Didalam rumah penginapan ada sepi, saudara Hau datang untuk bicara, inilah bagus!" kata si orang she Cou, yang sambut tetamunya.

Tiau Cong masuk, segera ia tampak sejilid buku diatas meja dimana ada tulisan, rupanya ada rencana kerajaan.

Kuatir orang curiga, Tiau Cong tidak mengawasi lama- lama, terus saja ia duduk.

Mulai bicara, Cou Tiong Siu tanya asal-usul orang, atas mana Tiau Cong tidak umpatkan dirinya.

"Oh!. " Tiong Siu keluarkan seruan tertahan, apabila ia

ketahui, tetamunya ada puteranya Hou-pou Siang-sie Hau Sun. "Ayahmu itu ada satu menteri yang putih-bersih, kami semua ada hargai dia."

"Tak berani aku terima pujian ini," Tiau Cong merendahkan diri. Kemudian ia ceritakan bagaimana, sedang pesiar, ia bertemu sama opas dan serdadu-serdadu yang jahat, bagaimana Peng Kie tolongi dia, sampai ia ketemui orang-orang yang berikan mereka tekpay. Ia tidak tuturkan bahwa itu malam mereka pergoki banyak emas- perak dan kepala orang dalam peti kayu.

Cou Tiong Siu tertawa.

"Inilah jodoh yang kita bertemu disini," kata dia. "Besok saudara boleh ikut aku naik kegunung, untuk belajar kenal dengan banyak orang gagah, pasti kau akan bergembira. Asal saudara tidak uwarkan pengalamanmu disini, aku tanggung kau tidak bakal hadapi ancaman malapetaka." Lega juga hatinya Tiau Cong mendengar kata-kata itu, karena itu, ia suka pasang omong, terutama mengenai ilmu sastera, tetapi justeru karena ini, ia dapat kenyataan, orang she Tou itu tidak terlalu terpelajar, sebaliknya dilain pihak, Cou Siangkong ini kagumi dia.

Pasang omong sampai jam dua, Baru Tiau Cong kembali kekamarnya dimana Peng Kie sibuk menanti-nanti dia, piausu ini sampai jalan mundar-mandir saja, dia lega hatinya melihat si anak muda berwajah terang.

0o-d.w-o0