-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 05

Bagian ke V

Bun Siu pun pernah dengar ceritanya Supu bahwa siapa memasuki Gobi, dia bakal jalan terputar-putar saja di daerah pasir itu, sesudah berlari-lari sekian lama, dia bakal menjadi girang berbareng duka. Girang sebab dia mendapatkan tapak kaki. Tapi segera dia akan menjadi berduka. Sebab itulah tapak kakinya sendiri. Katanya, akhirnya orang bakal mati, dan setelah menjadi setan, dia tidak akan dapat beristirahat. Supu pernah menambahkan: "Manusia masih beruntung. Dia mati, dia menjadi setan. Tapi setan, kalau dia mati, dia tetap jadi setan juga..."

Juga pernah Bun Siu menanya Kee Loojin, apa benar Gobi demikian menakuti, bahwa orang dapat memasukinya tetapi tidak bakal keluar pula dari situ. Ditanya begitu, orang tua itu menunjuk roman kaget dan suram yang menakuti, matanya mendelong keluar jendela, seperti dia menampak memedi. Belum pernah Bun Siu melihat orang bersikap demikian, maka ia tidak mengulangi pertanyaannya itu. Ia mau percaya, orang tua itu pernah melihat setan...

Sekarang dia kabur di Gobi itu, hatinya takut bukan main. Toh dia lari terus. Dia lebih takut menghadapi beberapa pengejarnya itu. Dia ingat kepada kematian ayah dan ibunya, kebinasaan ibu dan kakaknya Supu. Kalau dia kecandak, pastilah dia bakal terbinasa di tangan orang-orang jahat itu. Hampir dia menahan kudanya kapan dia ingat memedi di gurun pasir itu...

Satu kali dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat lagi tenda-tendanya si orang-orang Kazakh, tak nampak pula padang rumput yang hijau. Dia sekarang melihat, dua orang jauh ketinggalan di belakang, lima lagi tetap menyusul, mereka itu berseru-seru tidak berhentinya. Dia mendengar jelas: "Benarlah itu kuda putih! Bekuk dia! Bekuk dia!" Di saat berbahaya itu, Bun Siu sempat berpikir: "Teranglah aku tidak akan sanggup membalaskan sakit hati ayah dan ibuku, maka biarlah aku pancing mereka ke i'iirun, untuk kita mati bersama! Biarlah, satu jiwaku ditukar dengan lima jiwa mereka! Laginya, apakah .ulinya hidup di dalam dunia kalau aku tetap sebatang kara begini?"

Air matanya nona ini mengembeng, lalu mengucur turun, tapi tekadnya telah bulat. Maka ia melarikan terus kudanya, terus menuju ke arah barat, untuk tiba di tempat ada memedi...

Kelima orang itu benar-benar penyamun-penyamun yang menyerbu rombongannya Suruke. Merekalah lima orangnya Hok man Liong dan Tan Tat Hian. Mereka pulang habis membereskan Lie Sam dan isteri dan sia-sia belaka mencari Bun Siu. Peta dari istana rahasia Kobu membuatnya mereka penasaran, maka mereka ingin sekali mendapatkan peta itu. Katanya di dalam istana itu ada tersimpan banyak sekali mustika atau barang permata. Demikian mereka mencari tak hentinya. Untuk hidupnya, di sana ada kerbau, kambing dan untanya penduduk gurun, yang mereka dapat menjadikan kurban mereka. Untuk itu cukup asal mereka menghunus senjata mereka, membunuh, membakar, merampas, bahkan memperkosa...

Kuda putih sudah tua, tenaganya telah berkurang, tetapi dia seperti mengerti majikannya terancam bahaya, dia lari keras, maka itu mendekati fajar, dia membikin lima pengejarnya jauh ketinggalan di belakang, mereka itu tidak nampak lagi, suara mereka pun tak terdengar pula. Hanya Bun Siu tahu, mereka bisa mengikuti tapak kaki, mereka nanti menyusul pula, dari itu, ia lari terus. Sampai lagi kira-kira sepuluh lie, sekonyong-konyong kuda itu meringkik, lantas dia lari luar biasa keras, tetap menuju ke barat. Dia seperti dapat mencium bau rumput dan air... Tidak lama, benarlah ilham bawaan kuda itu. Di arah barat laut lantas terlihat gunung dengan pepohonannya yang lebat. Tapi Bun Siu terkejut. Ia ingat: "Apa inikah gunung memedi? Kenapa di gurun ada tempat seperti ini? Belum pernah aku mendengarnya... Tapi biarlah, gunung memedi lebih baik, ke sini aku pancing kawanan penyamun kejam itu!"

Keras larinya kuda putih itu, segera dia tiba di depan gunung, terus dia masuk ke dalam selat. Dia hendak mencari air, untuk melenyapkan dahaganya. Di situ ada mengalir sebuah kali kecil. Bun Siu turut lompat turun, menghampirkan air, untuk menyaup air dengan kedua tangannya, guna mencuci muka menghilangkan debu, setelah mana ia minum beberapa ceglukan. Ia merasa puas sekali. Air itu rasanya manis dan menyegarkan mulutnya.

Sekonyong-konyong ia menjadi terkejut. Mendadak saja ia merasakan sesuatu yang berat menekan punggungnya. Segera kupingnya pun mendengar pertanyaan dengan suara parau: "Kau siapa? Mau apa kau datang ke sini?"

Itulah pertanyaan dalam bahasa Tionghoa.

Bun Siu hendak memutar tubuhnya ketika ia mendengar pula suara parau itu: "Inilah ujung tongkat di arah jalan darahmu sinto hiat! Asal sedikit saja kau mengerahkan tenagamu, jalan darahmu bakal terluka hingga kau bisa terbinasa!"

Bun Siu benar-benar merasai ujung tongkat terasa lebih berat, hingga ia menjadi sesemutan. Ia pernah belajar silat sama ayah ibunya tetapi tentang tiamhiat hoat, ilmu menotok jalan darah atau otot-otot yang penting, ia belum tahu sama sekali, meski begitu, ia tidak berani bergerak. Ia hanya pikir: "Orang ini dapat berbicara, dia pasti bukannya memedi. Dia juga menanya aku apa perlunya aku datang kemari, pertanyaannya itu membuktikan dia mestinya penduduk sini, dia bukannya penyamun. Hanya, kenapa dia mendekati aku tanpa aku mengetahui?" Lagi pertanyaan: "Aku tanya kau! Mengapa kau tidak menjawab?"

"Ada orang jahat mengejar aku, aku lari sampai di sini," akhirnya si nona menyahut.

"Orang jahat bagaimana?" tanya pula suara itu.

"Sejumlah penyamun." "Penyamun apa itu? Apakah nama mereka?"

"Aku tidak tahu nama mereka. Mulanya mereka piauwsu, sampai di wilayah Hwcekiang, mereka lantas menjadi penyamun."

"Kau sendiri, apakah namamu? Siapa ayahmu? Siapakah gurumu?" "Aku Lie Bun Siu. Ayahku Pekma Lie Sam dan ibuku Kimgin Siauwkiam Sam Niocu. Aku tidak mempunyai guru."

"Oh!" kata orang itu. "Kiranya Kimgin Siauwkiam Sam Niocu telah menikah sama Pekma Lie Sam! Mana dia ayah dan ibumu itu?"

"Ayah dan ibu telah dibunuh kawanan penyamun itu dan sekarang mereka hendak membunuh aku juga..." "Ah! Kau bangunlah!" Bun Siu menurut, ia berdiri. "Kau putar tubuhmu!" Bun Siu menurut, ia memutar tubuh dengan perlahan.

Orang itu mengangkat tongkatnya, hanya sekarang ia mengancam jalan darah khiesiahiat di kerongkongan.

Bun Siu heran sekali. Ia menyangka orang beroman bengis dan menakuti. Ketika ia sudah berpaling, maka ia menampak seorang usia lima puluh tahun kira-kira, dandanannya sebagai pelajar, tubuhnya sangat kurus, sepasang alisnya mengkerut. Ia mendapatkan seorang yang romannya sangat berduka.

"Empee, apakah she-mu?" ia balik menanya. "Tempat ini tempat apakah?" Orang itu berdiri tercengang. Ia rupanya tidak menyangka sekali akan berhadapan sama seorang anak dara demikian cantik.

"Aku tidak mempunyai nama. Aku juga tidak tahu tempat ini apa namanya," sahutnya sejenak kemudian.

Justeru terdengar suara samar-samar dari tindakan kaki kuda. Bun Siu kaget sekali.

"Penyamun datang!" serunya, takut. "Empee, lekas sembunyi!"

"Kenapa kau menyuruh aku bersembunyi?" si empee tanya. "Kawanan penyamun itu sangat telengas, melihat kau, dia

akan membunuhmu!"

Orang kurus kering itu mengawasi tajam.

"Kita tidak mengenal satu dengan lain, mengapa kau memperhatikan keselamatanku?"

Ketika itu, suara tindakan kuda terdengar semakin nyata.

Bun Siu takut sekali, maka tanpa mempedulikan bahwa ia lagi diancam, ia memegang tongkat orang itu, untuk ditarik, buat diajak pergi. Ia pun berkata mendesak: "Empee, mari lekas! Kita naik kuda bersama! Ayal sedikit, kita bakal terlambat..."

Orang itu menarik tongkatnya, untuk melepaskannya dari cekalan, tetapi ia agaknya bertenaga terlalu kecil, ia tidak berhasil.

"Apakah kau sakit, empee?" tanya Bun Siu heran. "Mari aku bantu kau naik atas kudaku..."

Nona ini benar-benar bekerja. Dengan kedua tangannya ia mengangkat tubuh si kurus kering itu. la mendapatkan, walaupun orang laki-laki, tubuh orang itu kalah berat dengan tubuhnya. Di atas kuda, orang itu masih terhuyung, duduknya tak tegak. Dia seperti lagi menderita sakit berat.

Bun Siu naik belakangan, ia duduk di belakang orang, maka itu, ia memegang kendali sambil membantui menjagai tubuh si kurus itu untuk mencegah tergulingnya. Ia mengaburkan kudanya ke sebelah dalam gunung.

Karena mesti berbicara sama si empee, Bun Siu telah mensia-siakan tempo. Ia lantas mendengar suara nyaring dan bengis dari ke lima penyamun, yang telah memasuki selat.

Mendadak si empee menoleh.

"Kau datang bersama-sama mereka itu?" ia menegur. "Benarkah? Kamu telah mengatur tipu daya, buat memperdayakan aku?"

Bun Siu terkejut, apapula akan menampak roman orang mendadak menjadi bengis, sinar matanya sangat tajam.

"Bukan, bukan!..." ia menyangkal. "Belum pernah aku kenal kau, buat apa aku memperdayakanmu?"

"Kau toh hendak memperdayakan aku supaya aku ajak kau ke Istana Rahasia Kobu?" katanya pula tetap bengis. Hanya ia menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba, agaknya ia telah menyesal mengatakan demikian.

Bun Siu heran. Tentang istana rahasia itu, beberapa kali ia pernah mendengar dari mulut ayah dan ibunya semenjak ia turut mereka menyingkir sampai di wilayah Hweekiang, hanya ia tidak mengerti apa-apa. Sampai sekarang sudah belasan tahun atau ia mendengarnya pula, hingga ia lupa sebenarnya ia pernah mendengar dari siapa.

"Istana Rahasia Kobu?" tanyanya "Apakah itu?"

Roman si kurus tak tegang lagi seperti tadi, ia melihat si nona seperti tidak lagi mendusta. "Benar-benarkah kau tidak tahu tentang istana rahasia itu?" ia menegasi.

"Tidak," menyahut Bun Siu, menggeleng kepala. "Ah, ya..." "Ya apakah?" membentak si kurus kering cepat.

"Aku ingat sekarang," menyahut si nona, polos. "Tempo ayah dan ibu mulai memasuki wilayah Hweekiang, aku mendengar mereka menyebut-nyebut istana rahasia itu. Apakah itu suatu istana yang indah?"

"Apa lagi ayah dan ibumu bilang?" tanya si pelajar, tetap bengis. "Aku larang kau mendusta!"

"Sebenarnya ingin aku mengingat lebih banyak kata-kata ibuku," menyahut Bun Siu berduka. "Menambah satu kata- kata saja, alangkah baiknya. Sayang aku tidak mendapat dengar pembicaraan mereka terlebih jauh. Empee, memang sering aku pikirkan, bahkan aku mengharap-harap ayah dan ibu dapat hidup lebih lama satu hari saja, supaya dapat aku melihat mereka lagi. Asal ayah dan ibu masih hidup, biarnya aku dirangket setiap hari, aku senang..."

Pelajar itu nampak menjadi sedikit sabar, la mengeluarkan suara: "Ah ..." perlahan.

"Kau sudah menikah atau belum?" mendadak ia bertanya, suaranya keras.

Mukanya si nona menjadi merah. Tidak dapat ia menjawab, maka ia menggeleng kepala.

"Selama beberapa tahun, dengan siapa saja kau ada bersama?"

"Dengan Kee Yaya." "Kee Yaya? Berapa umurnya dia?

Bagaimana macamnya?"

Ketika itu, Bun Siu justeru membentak kudanya: "Lekas lari! Penyamun datang!" Ia pun pikir, lusa melayani pembicaraan yang ia anggapnya tak keruan nmterungannya itu? Meski ia beipikir demikian, akhirnya ia toh menyahuti juga.

"Kee Yaya mungkin telah berusia delapan puluh tahun. Dia bongkok dan mukanya keriputan. Ia perlakukan aku baik sekali."

"Di Hweekiang ini, kau kenal siapa-siapa lagi?" orang itu menanya pula. "Di rumah Kee Yaya itu masih ada siapa?"

"Di rumah Kee Yaya tidak ada lain orang lagi, seorang pun tidak. Jangan kata orang Han, orang Kazakh pun tidak ada yang aku kenal." Ia tidak mau menyebutkan Supu dan Aman, ia anggap itu tidak ada perlunya.

Selagi mereka bicara, lima penyamun pun telah mendatangi semakin dekat. Juga mereka mendengar sar-sernya suara anak panah, yang menyambar ke samping mereka kiri dan kanan. Itulah panah gertakan belaka, sebab kawanan penyamun itu tidak memikir untuk menangkap mayat.

"Kau pegang jarumku ini," berkata si pelajar tiba-tiba. "Hati-hati jangan kau membikin dirimu tertusuk!"

Bun Siu melihat orang mencekal sebatang jarum, yang dijepit dengan dua jari tangannya. Ia menyambuti tanpa ia mengerti maksud orang.

Si pelajar berkata pula: "Ujung jarum itu ada racunnya yang lihai, begitu menusuk orang dan mengeluarkan darah, racunnya akan bekerja menutup tenggorokan. Kalau penyamun itu menangkap kau, kau tusuk dia, biarnya ketusuknya perlahan, dia bakal segera terbinasa."

Si nona terkejut, sedang barusan selagi menyambuti, ia kurang perhatian, la pun merasa, kalau si pelajar tidak senang padanya, ia bisa lantas mati ditusuk dia. Ia lantas berpikir: "Aku ada bagian mati, baik aku mati bersama kelima penyamun itu, biar empee ini kabur seorang diri..." Maka mendadak ia berlompat turun dari belakang kuda, sembari lompat ia menepuk kempolan kudanya seraya berseru: "Kuda putih, kuda putih! Lekas kau ajak empee menyingkirkan diri!"

Si pelajar tercengang. Ia tidak menyangka nona ini demikian murah hati.

Ketika itu kelima penyamun telah tiba dengan segera dan Bun Siu lantas dikurung. Mereka telah mendapati seorang nona yang muda remaja dan cantik, tentu sekali mereka tidak memperdulikan pula si pelajar tua bangkotan...

Berlima mereka lompat turun dari kuda mereka masing- masing. Mereka mengurung si nona sambil mengasih lihat senyum menyeringai.

Hatinya Bun Siu berdenyutan. la berkuatir dan bersangsi. Ia menyangsikan keterangannya si pelajar perihal kemustajaban jarumnya itu. Bagaimana dengan sebatang jarum itu ia dapat memberikan perlawanannya kepada lima orang jahat itu. Umpama kata satu terbinasa, masih ada empat lainnya. Ia menjadi menyesal telah tidak membekal pisau dengan mana ia dapat membunuh diri, untuk menolong diri dari penghinaan.

"Sungguh cantik!" kata satu berandal. "Sungguh manis!" Sedang dua ant. ranya berlompat maju.

Satu berandal, yang berada di sebelah kiri, mendadak meninju orang yang di dekatnya hingga orang itu terguling. Dia menegur: "Kau berani berebutan denganku?" Tanpa menanti jawaban, ia menubruk Bun Siu, untuk dirangkul.

Nona Lie kaget bukan main, ia melawan. Dengan jarumnya la menusuk lengan orang seraya berseru: "Penyamun jahat, lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Orang itu, yang tubuhnya besar, berdiri melengak, terus dia mundur dua tindak, mulutnya dipentang lebar-lebar, matanya terbuka mengawasi si nona. Penyamun yang roboh itu mengulur tangannya, akan menyambar kaki si nona, untuk ditarik jatuh.

Bun Siu menggunai tangan kirinya, guna melawan, sedang dengan tangan kanannya, ia menusuk dada penyamun yang ganas itu. Si penyamun tengah tertawa lebar sebab ia sudah memegang erat-erat si nona ketika dadanya tertusuk, lantas ia berhenti tertawa, mulutnya tinggal celangap, dengan membuka mulut lebar itu dan mata mendelong, ia berdiri diam saja.

Bun Siu lantas merayap bangun, untuk lari ke arah seekor kuda, untuk segera lompat naik ke punggungnya, terus ia melarikannya, keras, ke arah gunung.

Ketiga berandal lainnya berdiri tercengang. Mereka menyangka si nona telah menotok kedua kawannya itu. Kalau si nona demikian lihai, mana mereka berani maju mendekati? Dari itu mereka membiarkan si nona kabur, mereka sendiri menghampirkan kedua kawan itu, niatnya untuk dibawa kepada Hok Goan Liong, pemimpin mereka, untuk ditolongi. Hanya ketika tubuh dua orang itu diraba, ketiga kawan itu kaget tidak terkira. Tubuh mereka itu sudah lantas mulai dingin dan napasnya telah berhenti berjalan...

Salah satu penyamun, seorang she Song, memberanikan diri. Ia membuka baju seorang kawannya, lalu kawan yang kedua, untuk diperiksa. Ia mendapatkan titik hitam di masing- masing lengan dan dada mereka itu, pada itu ada liang kecil sebesar jarum. Maka sadarlah dia. Terus dia kata nyaring: "Bocah itu mempunyai jarum beracun!"

"Jangan takut!" kata kawannya, si orang she Coan. "Kita jangan dekati dia, dari jauh-jauh kita menghajarnya dengan senjata rahasia. Mari kita kejar dia!"

"Mari kita kejar!" berseru kawan yang ketiga. Bertiga mereka lompat naik atas kuda mereka, dengan meninggalkan mayat kedua kawan itu, mereka kabur mengejar Bun Siu.

Nona Lie kabur dengan hatinya girang, heran dan kagum. Sekarang ia membuktikan lihainya jarum si pelajar. Tentu saja, ia menjadi berani. Ia telah memikir untuk melawan musuh-musuhnya. Ia hanya berkuatir orang nanti tidak memberikan ketika ia menusuk mereka itu satu demi satu...

"Ke sini!" mendadak ia mendengar selagi kudanya lari.

Suara itu datang dari sebelah kiri. Itulah suara si pelajar tua.

Karena mengenali suara itu, Bun Siu menghampirkan. Dengan lantas ia lompat turun dari kudanya. Suara itu datangnya dari sebuah gua kecil di pinggiran sebelah kiri itu.

"Bagaimana?" menanya si pelajar, yang berdiri di mulut gua. "Aku... aku telah menusuk dua penyamun..." sahut si nona gugup.

"Bagus!" kata si pelajar. "Mari masuk! Kita sembunyi di sini!"

Tanpa bersangsi, Bun Siu mengikut masuk. Gua itu dalam, makin dalam makin sempit, sampai hanya muat sebuah tubuh di mana orang mesti jalan merayap.

Sesudah jalan terus sekira beberapa puluh tombak, mendadak terlihat cahaya terang di hadapan mereka berdua. Nyata itulah tempat terbuka, yang lebar, yang dapat memuat kira-kira dua ratus orang.

"Kita berjaga di mulut terowongan, tiga penjahat itu tentulah tidak berani menyerbu masuk," berkata si pelajar.

"Dengan begitu, kita juga sukar keluar dari sini," kata Bun Siu, masgul. "Apakah ada lain jalan keluar?"

"Ada jalan tetapi tidak terus," sahut si pelajar. Bun Siu berdiam, hatinya berdebaran. la membayangi bahaya yang tadi mengancamnya.

"Empee," katanya. "Dua penjahat itu kena aku tusuk dengan jarum, lantas mereka tidak dapat bergerak. Apakah mereka itu mati?"

"Mana ada orang yang dapat hidup karena tusukan jarumku?" menyahut pelajar itu, romannya jumawa.

Bun Siu mengulur tangannya. Ia mengembalikan jarum orang.

Si empee telah mengulur juga tangannya ketika mendadak ia menariknya pulang.

"Kau letaki di tanah!" katanya. Si nona menurut.

"Kau mundur tiga tindak," katanya pula. Bun Siu heran tetapi ia mundur.

Pelajar itu menjemput jarumnya, untuk dimasuki ke dalam satu bungbung kecil.

Baru sekarang Bun Siu mengerti. Si empee mencurigai padanya. Tapi ia diam saja.

"Kita tidak mengenal satu pada lain, kenapa tadi kau menyerahkan kudamu padaku, supaya aku dapat menyingkirkan diri?" si pelajar tanya.

"Aku juga tidak tahu," menyahut si nona bersenyum. "Aku lihat kau lagi sakit, aku tidak tega kau terbinasa di tangan orang-orang jahat itu..."

Tubuh orang itu limbung.

"Mengapa kau tahu aku... a... aku lagi...?" katanya tertahan. Tiba-tiba jidatnya memperlihatkan pelbagai ototnya, mukanya meringis, tanda bahwa ia lagi menahan rasa nyeri yang hebat. Keringat pun lantas turun berketel-ketel dari jidatnya itu. Tidak lama ia mempertahankan diri, mendadak ia berseru, terus ia roboh bergulingan. Sekarang ia merintih- rintih.

Bun Siu kaget hingga ia menjadi bingung sekali. Ia lantas melihat tubuh orang melengkung, tangan dan kakinya datang dekat satu pada lain.

"Apakah punggungmu sakit?" si nona tanya. Ia lantas menumbuk perlahan-lahan punggung si pelajar itu, kemudian ia menepuk-nepuk sambungan lengan dan kakinya.

Selang sedikit lama, si pelajar nampak rada ringanan. Ia mengangguk kepada si nona, untuk menyatakan syukurnya.

Lagi sekian lama, barulah ia dapat bangun berdiri. Terang telah lenyap penderitaannya barusan.

"Tahukah kau, aku ini siapa?" kemudian ia tanya.

"Aku tidak tahu," menyahut si nona, menggeleng kepala. "Aku she Hoa, namaku Hui," si empee memperkenalkan

diri. "Akulah yang orang kangouw menyebutnya Itcie Cin

Thianlam."

"Oh, Empee Hoa," berkata si nona.

"Apakah kau belum pernah mendengar namaku?" Hoa Hui tanya, agaknya ia kecewa.

Tentu sekali Bun Siu tidak lahu yang Hoa Hui bergelar Itcie Cin Thianlam, si Jeriji Menggetarkan Langit Selatan, atau jelasnya, jago Selatan, telah menggoncangkan selatan dan utara Sungai Besar, dan namanya itu diketahui oleh dunia Rimba Persilatan.

"Ayah dan ibuku pasti mengetahui nama empee," Bun Siu menambahkan. "Aku tiba di Hweekiang dalam usia delapan tahun, apa juga aku tidak mengerti..." "Itu benar," kata Hoa Hui. Dari romannya, nampak ia tak kecewa seperti tadi. "Kau..."

Baru ia berkata demikian, dari luar gua terdengar suara: "Pasti dia sembunyi di dalam gua ini! Hati-hati untuk jarumnya yang berbisa!..." Lantas terdengar tindakan kaki berlari-lari dari tiga orang.

Hoa Hui berhenti bicara, ia mengeluarkan jarumnya tadi, yang ia terus pasang di ujung tongkatnya, kemudian sembari menyerahkan tongkat itu pada Bun Siu, ia menunjuk ke samping mulut gua sembari berkata perlahan: "Kalau sebentar mereka masuk, kau tikam punggungnya. Jangan terburu napsu hingga kau kena menikam dadanya."

Si nona berdiam, karena hatinya berpikir: "Mulut jalanan begini sempit, bukankah terlebih baik akan menikam dadanya?"

Hoa Hui rupanya dapat menduga kesangsian orang, ia kata bengis: "Hidup atau mati kita adalah di sekejap ini, maka beranikah kau tidak mendengar titahku?"

Hampir berbareng sama suaranya jago Selatan ini, terlihat berkelebatannya golok, suatu tanda pihak penyamun bersiap sedia menjaga diri dari serangan gelap. Menyusul itu, sesosok tubuh nampak merayap masuk. Dialah si penjahat she In.

Bun Siu lari bersembunyi di samping mulut gua, ia bersiap tanpa berani berkutik.

Lantas terdengar suara dingin dari Hoa Hui: "Kau lihat di tanganku, aku mencekal barang apa?" Tangan itu pun dikibaskan.

Penjahat she In itu mengawasi ke arah Hoa Hui, goloknya disiapkan terus, la maju dengan berhati-hati.

Bun Siu menggunai saatnya yang baik, ia menusuk punggung penjahat itu. Ia berlaku hati-hati, dan ia berhasil menusuknya, perlahan tetapi tepat. Penjahat itu merasakan punggungnya tertusuk seperti diantup tawon, dia kaget dan merasa sakit, dia berteriak. Cuma sekali, lantas dia berdiam, tubuhnya kejang.

Di belakang penjahat she In ini mengikut si penjahat she Coan. la kaget bukan main. Ia menduga Hoa Hui menyerang dengan jarum beracun. Tanpa memutar tubuh lagi, ia merayap mundur.

Menyaksikan itu, Hoa Hui menghela napas.

"Jikalau ilmu silatku tidak ludas, baru lima penjahat semacam mereka ini tidak ada artinya sama sekali..." katanya menyesal. "Hari ini aku menang cuma sebab aku mempunyai kedudukan yang baik."

Bun Siu heran. Bukankah orang jago Selatan, yang tangannya lihai? Kenapa empee ini menyingkir dari lima penjahat itu dan sekarang bekerja sembunyi tangan?

"Empee Hoa," katanya, "karena kau lagi sakit, kau tidak dapat bersilat. Benarkah?"

"Bukan, bukan," menyahut orang yang ditanya. "Yang benar ialah aku telah mengangkat sumpah berat, kecuali di saat mati atau hidup, aku tidak dapat sembarang menggunai ilmu silatku..."

Bun Siu heran sekali. Tadi empee mengatakan ilmu silatnya ludas, sekarang dia menyebut-nyebut sumpah berat. Karena orang sungkan bicara, ia tidak mau menanyakan pula.

Hoa Hui rupanya merasa keterangannya bertentangan, ia menyimpanginya. Katanya: "Kau tahu kenapa aku menyuruh kau menikam punggungnya si penjahat? Selagi dia masuk, dia mengutamakan perhatiannya ke depan. Kau tidak mengerti ilmu silat, dengan menyerang dari depan, kau tidak bakal memperoleh hasil. Maka aku sengaja menarik perhatiannya itu, supaya kau bisa menikamnya dengan berhasil."

"Bagus akal empee!" memuji si nona mengangguk. Hoa Hui tidak membilang apa-apa, hanya dari sakunya ia mengeluarkan sebungkus manisan semangka kering, yang mana ia angsurkan kepada si nona.

"Kau daharlah dulu," katanya. "Dua penjahat itu tidak nanti berani lantas masuk pula, akan tetapi kita juga tidak bisa lantas keluar dari sini. Biarlah aku memikirkan akal untuk membinasakan mereka dua-duanya. Kalau mereka terbunuh cuma satu, yang lainnya dapat pergi memberi kabar pada kawan-kawannya. Jikalau mereka datang dalam jumlah besar, itulah berbahaya."

Bun Siu menganggap orang bicara tepat, karena itu, ia menurut saja. Ia makan semangkanya. Habis itu, ia beristirahat sambil menyender di batu yang seperti tembok.

Berselang dua jam, Hoa Hui dapat mencium bau barang hangus, lantas dia batuk-batuk.

"Celaka!" ia berseru, kaget. "Penjahat menggunai api untuk mempuput kita, agar kita mati karena asap. Lekas tutup mulut terowongan!"

Bun Siu mengerti, ia menginsafi bahaya, maka ia lantas bekerja. Ia mengambil batu dan pasir, guna menyumbat mulut terowongan itu. Karena mulut terowongan kecil, tidak lama gangguan asap berkurang. Pula, karena lebarnya tempat di mana mereka berada, begitu masuk, asap lantas buyar. Itulah menandakan, gua itu mempunyai lain jalan keluar.

Dengan begitu, sang tempo berlalu tanpa kejadian sesuatu.

Bun Siu melihat sinar matahari dari bagian belakang gua, ia menduga itu waktu sudah tengah hari.

Tiba-tiba Nona Lie menjadi kaget. Tidak keruan-keruan, Hoa Hui menjerit sendirinya, terus tubuhnya roboh, kaki tangannya digerak-geraki kalang-kabutan. Dalam kagetnya, ia ingat untuk menolongi. Maka ia menghampirkan, untuk mengurut-urut dan menepuk-nepuk pula seperti yang pertama kali.

Lewat beberapa saat, penderitaan Hoa Hui menjadi kurangan.

"Nona..." katanya, "kali ini mungkin aku tidak dapat bertahan lagi..."

"Jangan memikir yang tidak-tidak, empee," Bun Siu menghibur. "Kita bertemu sama orang jahat, empee jadi menggunai tenaga terlalu besar. Baik empee beristirahat, sebentar kesehatanmu akan pulih."

"Tidak, tidak bisa..." kata Hoa Hui. "Biar aku omong terus- terang. Sebenarnya jalan darah punggungku telah terkena... telah terkena jarum berbisa!..." Bun Siu kaget. "Ah, terkena jarum berbisa?" ia mengulangi. "Kapankah terkenanya? Apakah tadi?"

"Bukan," menjawab jago Selatan itu. "Aku terkena pada dua puluh tahun dulu..."

Kembali Bun Siu kaget, sekarang saking heran. "Adakah itu jarum beracun yang selihai ini?" ia tanya.

"Benar. Hanyalah karena tenaga dalamku mahir, bekerjanya racun menjadi perlahan sekali. Aku pun telah makan obat untuk melawannya, hingga aku dapat hidup sampai hari ini. Hanya kali ini, aku tidak dapat bertahan terus. Karena di tubuhku telah nancap jarum berbisa itu, maka selama dua puluh tahun, setiap tengah hari aku mesti menderita kesakitan hebat seperti ini. Kalau tahu begini, lebih baik aku tidak makan obat pemunahnya... Apakah gunanya menahan sakit sampai dua puluh tahun?"

Mendengar itu, Bun Siu pun ingat suatu hal. Coba pada sepuluh tahun yang lampau ia pun turut ayah dan ibunya mati, tentulah tak usah ia menderita sekian lama. Ya, apakah faedahnya hidupnya bersengsara ini? Hoa Hui menggertak gigi, melawan rasa nyerinya itu.

"Empee," kata Bun Siu, "apa tidak baik kau cabut saja jarum di tubuhmu itu, mungkin kau tidak usah menderita lebih lama pula?"

"Ngaco!" mendadak si empee membentak. "Bukankah siapa pun dapat mengatakannya demikian? Tapi aku berada sebatang kara di gunung ini, siapakah yang dapat menolongi aku mencabutnya? Lagi pula, siapa yang datang kemari, dia tidak mengandung maksud baik! Hm!"

Bun Siu melengak, ia heran bukan main. Tanyanya dalam hatinya: "Kenapa dia tidak mau pergi mencari pertolongan tabib? Mengapa ia tinggal bersendirian di gunung belukar dan sunyi ini sampai sepuluh tahun? Apakah maksudnya? Mengapa untuk memakai obat dia mesti main sembunyi-sembunyi?"

Biarnya orang mencurigai dia, nona ini tetap merasa berkasihan.

"Empee," katanya pula, "mari kasih aku mencoba. Kau jangan takut, aku tidak nanti mencelakai kau."

Hoa Hui mengawasi, keningnya mengkerut. Ia agaknya berpikir banyak tetapi tetap ia tidak dapat mengambil keputusan.

Bun Siu mencabut jarum beracun dari ujung tongkat, untuk dipulangi.

"Mari kasih aku melihat luka di punggungmu itu," katanya pula. "Jikalau aku mengandung maksud jahat, kau tusuklah aku dengan jarummu ini!"

Hoa Hui mengawasi tajam. "Baiklah!" akhirnya ia kata. Dan ia lantas membuka bajunya, untuk memperlihatkan punggungnya. Mengawasi punggung orang itu, Bun Siu mengeluarkan seruan perlahan, la menampak banyak sekali titik hitam, tanda luka. Entah berapa ratus jumlahnya titik itu.

Hoa Hui rupanya dapat menduga apa yang si nona pikir, ia kata: "Aku telah menggunai segala macam daya, aku tetap tidak dapat mencabut semua jarum itu."

Lukanya Itcie Cin Thianlam ini disebabkan kecuali jarum juga bekas terkena batu tajam, bekas digaruk. Bun Siu tidak mengenali, yang mana ada jarumnya yang berbisa. Ia ngeri, terharu dan bingung.

"Sebenarnya di mana jarum itu nancapnya?" akhirnya ia tanya.

"Semuanya tiga batang," Hoa Hui menjawab. "Yang satu dijalan darah pekhu hiat, satu lagi di jalan darah ciesit hiat, dan yang ketiga ialah di jalan darah ceyang hiat..."

Sembari berkata begitu, ia mengusap ke punggungnya, untuk menjelaskan ketiga jalan darah itu. Benar-benar sulit untuk mengetahui bekas tusukan jarum itu. Bun Siu terkejut. "Semuanya tiga batang?" katanya. "Empee bilang satu..."

Kembali Hoa Hui gusar, ia membentak: "Mulanya kau tidak menyebut hendak mencabut jarum itu! Buat apa aku omong terus terang padamu?"

Bun Siu mengerti kenapa orang mendusta, tiga batang dikatakan satu. Teranglah ia telah dicurigai keras sekali. Rupanya dia terkena tiga batang, karenanya kepandaian silatnya ludas, lalu dia membohong bersumpah tak sudi sembarangan menggunai ilmu silatnya. Ia tidak suka cara orang ini tetapi ia berkasihan, ingin ia memberikan pertolongannya. Maka ia tidak memperdulikan sikap kasar dan aneh itu. Ia sekarang memikirkan daya untuk mencabut ketiga batang jarum itu.

"Apakah kau telah dapat melihatnya?" Hoa Hui tanya. "Aku tidak melihat gagangnya jarum, empee. Bagaimana itu harus dicabutnya?"

"Seharusnya digunai senjata tajam memotong dagingnya, baru jarum itu dapat dilihat. Jarum itu telah masuk beberapa dim, memang sukar untuk melihatnya..."

Kata-kata yang belakangan dikeluarkan dengan sedikit gemetar.

"Sayang aku tidak punya pisau kecil," kata si nona.

"Aku juga tidak punya... Eh, itu golok panjang!" ia menunjuk ke tanah. "Kau pakai itu saja!"

Golok itu tajam dan mengkilap, terletak melintang di samping tubuhnya si penjahat she In. Si penyamun sudah mati, goloknya masih ada, golok itu mendatangkan rasa jeri. Bun Siu pun bersangsi untuk memakai golok itu.

Hoa Hui mengawasi, ia bisa menerka kesangsian si nona, lalu ia kata perlahan dan sabar: "Nona Lie, asal kau menolongi aku mencabut semua jarum itu, akan aku menghadiahkan kau banyak barang permata. Tidak nanti aku memperdayakan kau. Benar-benar aku mempunyai banyak sekali permata!"

"Aku tidak menghendaki barang permata, aku pun tidak ingin ucapan terima kasihmu," menyahut Bun Siu. "Asal kau tidak merasa sakit, itu sudah cukup untukku."

"Baiklah kalau begitu!" kata Hoa Hui. "Sekarang kau boleh mulai!"

Bun Siu mengambil golok itu.

"Empee," katanya, "aku akan perbuat apa yang aku bisa, harap kau menahan sakit."

Lantas nona ini memotong-motong bajunya si penyamun she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia memperhatikan jalan darah pekhu hiat, lalu dia mulai bekerja. Ketika kulit dan daging Hoa Hui dipotong, darahnya lantas mengalir keluar.

Hoa Hui tidak kesakitan, mengeluh pun tidak. "Sudah kelihatan?" bahkan dia menanya.

Bun Siu tidak lantas menyahuti, ia mencabut tusuk kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum. Selang sejenak, ia berhasil. Jarum itu telah nancap ke tulang. Maka ia lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang jarum, buat terus menariknya.

Hoa Hui menjerit, dia pingsan. Bun Siu tidak heran atau kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi rasa nyeri orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum lainnya. Maka tak lama, selesailah ia. Terus ia membalut luka- luka itu.

Selang sekian lama, Hoa Hui tersadar perlahan-lahan. Ia membuka matanya. Lantas ia melihat tiga batang jarum, yang hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah menyiksa padanya. Maka ia kata sengit pada jarum itu: "Dua belas tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku, baru hari ini kamu keluar!" Terus ia menghadapi Bun Siu, akan berkata: "Nona Lie, kau telah menolongku, aku tidak dapat membalas budimu, maka ini tiga batang jarum aku haturkan kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum ini telah dua belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya racunnya tidak menjadi berkurang."

Bun Siu menggeleng kepala. "Aku tidak menghendaki itu," bilangnya.

Hoa Hui heran. "Bukankah kau telah menyaksikannya sendiri lihainya jarum ini?" katanya. "Dengan kau mempunyai sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main terhadapmu." "Aku tidak menginginkan lain orang takut padaku," kata si nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir: "Asal orang menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini..."

Hoa Hui berdiam. Karena ia mengeluarkan banyak darah bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun. Ia lantas merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur. Kira satu jam kemudian, ia mendusin dengan kaget. Ia mendengar suara berisik, dari cacian dan teriakan berulang-ulang di luar gua. Itulah suaranya si penyamun she Song, yang rupanya telah datang pula.

Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk alamatnya Bun Siu dan Hoa Hui. Ia tidak berani lancang masuk, ia sengaja memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.

Hoa Hui berbangkit dengan hatinya panas.

"Jarum di tubuhku telah dicabut keluar, orang mengira aku takut!" katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia menghela napas. Ia kata: "Sudah terlalu lama jarum mengeram di dalam tubuhku, agaknya dengan beristirahat tiga empat bulan, belum tentukesehatan dan tenagaku pulih kembali..."

Di luar, si Song masih saja memuntahkan kata-katanya yang kotor. Berulangkali dia mendamprat: "Bangsat tua! Bangsat tua bangka!"

Dalam panasnya, Hoa Hui kata: "Apakah aku mesti menanti kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?" Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Bun Siu: "Nona Lie, mari aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar binatang itu!"

"Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk aku bisa menggunainya?" Bun Siu tanya. "Toh tidak dapat terlalu lekas, bukan?" "Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari tanganku, untuk menotok," menjawab Hoa Hui, "atau lainnya ilmu seperti tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan tempo setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak, kau harus belajar dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah kau membutuhkan senjata yang istimewa. Cukup kau menggunai satu atau dua jurus. Hanya di dalam gua ini, di mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan itu?"

Habis berkata begitu, Hoa Hui berdiam, otaknya bekerja. Bun Siu pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu yang dimaksudkan senjata istimewa.

Hanya sejenak Hoa Hui berpikir, segera ia mengasih lihat roman girang.

"Ada!" katanya. "Pergi kau ambil itu dua buah labu dan juga sehelai rotan. Mari kita main bandering liusengtwie!" Ia menunjuk.

Bun Siu melihat buah labu tergantung di mulut gua, semuanya sudah kering. Ia pergi mengambil dua buah, yang ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta. Ia serahkan itu kepada si empee kurus kering.

"Bagus!" kata Hoa Hui girang. "Coba kau membuat sebuah liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir."

Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah labu itu, setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau delapan kati, dapat merupakan bandering.

"Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus Senggoat cenghui," kata Hoa Hui sambil menyambut! buah labu dari tangan si nona. "Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah baik-baik dan ingati di luar kepala."

Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan itu memutar banderingnya yang istimewa itu.

Bun Siu mamasang mata, ia mengingat baik-baik. "Senggoat cenghui" itu, yang berarti jurus "Bintang dan rembulan bersaingan kegemilangan", yang kiri untuk menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan perut, yang kanan guna menyerang punggung di mana ada jalan darah lengtay hiat.

"Sekarang kau coba," kata si pelajar kemudian.

Bun Siu menuruti, menelad pelajar itu. Ia telah mempunyai dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat. Setelah beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan. Sesudah paham benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah bermandikan keringat setelah berlatih satu jam tanpa salah.

"Aku bebal, belajar sebegini saja aku memakai banyak tempo," katanya seraya menyusuri peluhnya.

"Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas sekali!" Hoa Hui memuji. "Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus ini. Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan seorang ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan dua bangsat di luar, itulah berlebihan. Sekarang kau beristirahat dulu, sebentar kau ke luar dan kau labraklah mereka!"

Bun Siu heran bukan main. "Cukup dengan ini satu jurus?" ia tanya.

Hoa Hui bersenyum. "Ya," sahutnya. "Dengan ini satu jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Itcie Cin Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua kurcaci itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama gurumu?"

Bun Siu girang sekali. Ia pun sangat cerdik, maka lantas ia berlutut, untuk mengangguk-angguk dengan hormatnya, guna mengangkat guru. Ia pun menghaturkan terima kasihnya. Hoa Hui girang berbareng duka.

"Tidak kukira, di saat kematianku, aku dapat menerima murid secerdik kau ini," katanya, bersyukur.

"Murid pun, kecuali yaya Kee Loojin itu, tidak punya sanak atau kadang lagi," berkata Bun Siu, menjelaskan. "Aku justeru merasa sangat beruntung memperoleh guru sebagai suhu."

"Sudahlah," kata Hoa Hui. "Hari bakal lekas malam, pergi kau ke luar, kau labrak kedua kurcaci itu! Kau cari tempat yang lega di mana kau bisa bersilat dengan leluasa."

Bun Siu bersangsi. Sebenarnya, ia rada jeri.

"Jikalau kau tidak percaya aku, buat apa kau mengangkat aku jadi gurumu?" Hoa Hui lantas menjadi gusar. "Kau tahu, dulu hari, Binpok Sianghiong, yaitu dua jago dari Hokkian Utara, telah terbinasa dua-duanya dengan jurus ini! Apakah kau kira Binpok Sianghiong kalah daripada dua kurcaci itu?"

Bun Siu tidak kenal dua jago dari Hokkian Utara yang disebutkan itu tetapi karena orang bergusar, ia paksa membesarkan nyalinya, ia membuka sumbatan pintu gua, lantas ia nerobos keluar, tangan kanannya memegang banderingnya yang istimewa itu, tangan kirinya mencekal jarum berbisa. Ia pun membarengi berseru: "Kurcaci, lihat jarum berbisa!"

Penjahat itu, ialah si orang she Song bersama si orang she Coan, yang menjaga di mulut gua, terkejut mendengar disebutnya jarum berbisa, dengan lantas keduanya lari mundur. Si orang she Song mundur juga meskipun ia telah memikir, kalau si nona menyerang dengan jarum, tidak nanti nona itu mengancam dulu...

Bun Siu sampai di luar dengan terus lari ke tempat lega jauhnya belasan tombak, ketika ia berhenti dan berpaling, ia melihat si  Coan memburu  kepadanya,  ia lantas  mengayun tangan kirinya ke arah penjahat itu. Si Coan terkejut, dia hendak berkelit, apamau dia terpeleset, terus saja dia terguling.

Si Song melihat kawannya roboh, dia kaget, dia lantas memburu. Tapi kawannya itu sudah lantas bangun pula. Maka berdua mereka merangsak. Hampir berbareng mereka kata: "Di sini kita bereskan budak ini! Kalau dia menggunai jarumnya, kita bisa melihatnya!"

Ketika itu matahari telah bersinar layung, kedua penjahat itu justeru menghadapi matahari, maka mereka lantas melengos. Sekarang mereka dapat melihat nyata senjata di tangan si nona. Keduanya tertawa.

Hatinya Bun Siu berdebar juga. Ia benar-benar menyangsikan ilmu banderingnya itu, sedang ilmu silat ajaran ayah dan ibunya belum berarti. Kedua musuh itu sebaliknya nampak sangat bengis. Tapi ia cerdik, ia berseru: "Jikalau kamu tidak lekas mengangkat kaki, guruku bakal segera keluar! Kau tahu guruku--Itcie Cin Thianlam? Awas kamu terhadap jarum berbisanya! Beranikah kamu menyaterukan guruku itu? Berapa besar nyalimu? Guruku dapat mengambil jiwa kamu sama gampangnya seperti ia merogoh sakunya!"

Meski mereka ada orang-orang kangouw, si Coan dan si Song itu tidak kenal Hoa Hui, dari itu sambil saling melirik, mereka pikir: "Paling benar aku lekas-lekas membekuk dia untuk dihadapkan kepada Hok Toaya dan Tan Jieya! Inilah jasa! Peduli apa aku dengan Itcie Cin Thianlam?" Maka berbareng mereka maju dari kiri dan kanan.

Hati Bun Siu gentar. "Dia maju berbareng, bagaimana aku mesti menghajar mereka?..." pikirnya, ragu-ragu dan berkuatir. Maka bukan ia maju melawan, ia justeru lompat mundur tiga tindak.

Si Coan, diikuti si Song, maju terus. Nona Lie menjadi terdesak, ia merasa ia terancam bahaya, tidak bisa lain, terpaksa ia menggeraki tangannya, menggunai banderingnya. Syukur ia masih ingat latihannya.

Si Coan maju di sebelah kanan, ia belum datang dekat ketika tahu-tahu dadanya ialah jalan darah siangkiok hiat, kena terhajar bandering istimewa itu, sedang bandering yang kanan menghantam terbang goloknya. Hanya celaka, labu itu pecah terbacok, pasirnya lantas terbang berhamburan!

Si Song lagi maju, tentu sekali dia tidak menduga kepada pasir itu, maka dengan lantas dia kelilipan, hingga dia menjadi kelabakan, tangannya dipakai untuk menutupi matanya, untuk dikucak-kucak. Justeru dia repot sendirinya, bandering yang lain menyambar tubuhnya, hingga segera dia terhuyung ke arah si nona, yang dia terus sambar.

Nona Lie kaget hingga ia berteriak, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si kurcaci. Tepat jarum di tangannya menusuk perut si Song itu, hingga dia menjerit. Cuma sekejap, penjahat ini lantas roboh binasa. Hanya, karena dia telah dapat menjambret, dia tetap masih memeluki, si nona sendiri tidak dapat segera berontak melepaskan diri.

Ketika itu Hoa Hui telah menyusul keluar, ketika ia melihat keadaan muridnya itu, ia menghela napas dan berkata: "Ha, budak tolol, budak tolol! Tadi kau dapat berlatih bagus sekali, sekarang kau kaget dan bingung, kacau ilmu silatmu..."

Ia lantas maju mendekati, untuk mendupak si Song, atas mana barulah penjahat itu melepaskan rangkulannya dan roboh binasa.

Bun Siu berdiri diam, saking bingung, ia tidak dapat pulang ketabahannya dengan lekas. Sinar matanya telah benterok sama matanya si Song, yang tubuhnya rebah jengkar, matanya melotot, sebab dia pun mati tiba-tiba. Kemudian ia mengawasi mayat si Coan. Hatinya lantas bekerja, memikirkan bagaimana dalam tempo yang pendek ia telah membinasakan lima jiwa manusia. Benar dengan begitu ia berhasil membalaskan sakit hati ayah dan ibunya, toh hatinya tidak tenang. Ia agaknya berduka

"Bagaimana?" berkata Hoa Hui tertawa. "Bukankah telah terbukti kefaedahannya satu jurus ilmu silat ajarannya gurumu ini?"

"Hanya sayang muridmu menjalankannya tidak sempurna," kata si nona menyesal.

"Tidak apa," kata guru itu, sabar. "Kau tunggu pulihnya tenaga dan kepandaianku, nanti aku mewariskan semua itu kepadamu, setelah itu kita kembali ke Tionggoan, untuk malang melintang! Siapa dapat menghalang-halangi kami? Sekarang mari kita kembali ke rumah, untuk minum teh!"

Tanpa menanti jawaban, guru ini menarik tangan muridnya. Mereka pergi ke kiri rimba, melewati sekumpulan pohon yangliu, lantas sampai di sebuah gubuk.

Bun Siu turut masuk ke dalam gubuk yang buruk perlengkapannya tetapi segalanya bersih, bahkan di tengah- tengah ruang ada sepasang papan dengan masing-masing bertuliskan lian atau syair. Ia belum mengerti banyak surat. Lian yang sebelah ia dapat baca, yang sebelah lagi, gelap baginya. Tanpa ia merasa, ia membaca berulang-ulang lian yang sebelah itu, yang berbunyi:

"Bersahabat sama-sama sehingga tua ada seumpama memegang gagang pedang."

"Apakah kau pernah baca syair ini?" Hoa Hui tanya.

"Belum," menjawab si murid. "Suhu, apakah artinya itu?"

Guru itu berdiam sejenak. Ia menjadi ingat bahwa telah dua belas tahun ia mengeram di wilayah Hweekiang ini. Dulunya ia mempelajari ilmu surat, lalu batal, ia menukar dengan ilmu silat, meski begitu, ia tetap dandan sebagai pelajar. Inilah disebabkan ia masih menggemari pelajaran surat itu.

"Itulah syairnya Ong Wie," ia menyahut sesaat kemudian. "Yang di atas itu berarti, meskipun kau mempunyai seorang sahabat kekal dengan siapa kau hidup bersama-sama sampai di hari tua, kau toh tetap tidak dapat mempercayai sahabatmu itu, sebab secara diam-diam dia dapat mencelakai kau, maka, meskipun dia berjalan di sebelah depan, baiklah kau terus meraba gagang pedangmu. Tegasnya, hati manusia itu jungkir balik bagaikan gelombang. Artinya syair yang di bawah yakni bahwa sahabatmu itu telah menjadi beruntung dan telah menjadi orang berpangkat besar, meski begitu seandai kau mengharap bantuannya, untuk membantu mengangkat kau, pengharapanmu itu melainkan membangkitkan tertawaannya saja."

Mendengar keterangan itu, Bun Siu mengerti kenapa guru ini senantiasa mencurigai ia, meskipun terhadap si guru tidak ada niatnya mencelakai. Maka ia mau percaya, mungkin tadinya guru ini pernah dicelakai orang, karena mana dia menulis syair peringatan itu untuk mencatat hati manusia yang gampang berubah.

Habis itu, Nona Lie masak air, untuk menyeduh teh, maka tidak lama kemudian, setelah minum air panas, mereka merasa segar sekali.

"Suhu, aku hendak pulang," kata Bun Siu sekian lama. Hoa Hui melengak, ia mengawasi. Agaknya ia putus asa.

"Kau mau pergi?" katanya, menyesal. "Jadi kau tidak mau turut aku untuk belajar silat lebih jauh?"

"Bukan begitu, suhu," kata si nona, menerangkan. "Satu malam aku tidak pulang, tentulah Kee Loojin berkuatir dan memikirkannya tak habisnya. Sekarang aku hendak pulang untuk memberi keterangan padanya, habis itu, baru aku akan kembali." Mendadak Itcie Cin Thianlam menjadi gusar.

"Jikalau kau memberi keterangan padanya, nah untuk selamanya kau jangan kembali padaku!" ia membentak.

Bun Siu kaget dan takut, ia menjadi bingung.

"Aku tidak dapat tidak memberi keterangan pada Kee Loojin," katanya perlahan. "Dia itu baik sekali dan sangat menyayangi aku..."

"Terhadap siapa pun kau tidak boleh omong tentang kita di sini!" kata Hoa Hui, bengis. "Kau mesti angkat sumpah untuk tidak menyebutkan apa juga mengenai kita, atau aku akan tidak ijinkan kau berlalu dari sini!" Baru ia menyebut "sini" itu atau ia menjerit "Aduh!" keras sekali dan tubuhnya segera roboh, bahkan ia terus pingsan. Itulah disebabkan ia berbicara keras-keras, lukanya mendatangkan rasa nyeri yang hebat.

Bun Siu kaget sekali, tapi ia masih ingat untuk mengasih bangun, guna menolongi. Ia membasahkan jidat orang dengan air dingin.

Selang sesaat, Hoa Hui mendusin.

"Eh, kau masih belum pergi?" tanyanya heran.

"Suhu, apakah punggungmu masih sakit?" si nona balik menanya. Ia tidak sempat menjawab.

"Sedikit mendingan," sahut guru itu. "Kau membilang hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?"

"Sebelum suhu sembuh, aku tidak mau pergi," sahut Bun Siu. "Biar aku menanti pula beberapa hari lagi." Di dalam hatinya, ia pikir: "Kee Loojin paling juga memikirkan aku tetapi suhu perlu rawatan."

Senang Hoa Hui mendengar jawaban itu, karenanya ia tidak bergusar terus. Bun Siu pun senang. Ia hanya merasa sulit untuk tabiat aneh guru ini. Ia lantas mencari rumput kering, untuk dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan itu. Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan mendadak. Ia terganggu impian-impian yang dahsyat, umpamanya penjahat datang membekuk padanya, atau setannya si penjahat, dengan berlepotan darah, datang menagih jiwa terhadapnya...

Besoknya pagi, Bun Siu mendusin dengan hati lega. Ia mendapatkan gurunya segar sekali. Ia lantas masak nasi, untuk mereka dahar. Setelah datangnya waktu senggang, Hoa Hui lantas memberikan pelajaran silat. Dia mulai dengan pokoknya lweekang, atau ilmu dalam.

"Kau telah berusia tinggi, untuk belajar silat, kau memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya," Hoa Hui memberi keterangan. "Tapi kau jangan kuatir, meski usiamu tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta dengan adanya guru bukan sembarang guru. Didalam lima tahun aku tanggung kau akan jarang tandingannya di dalam Rimba Persilatan."

Bun Siu tidak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima kasih. Ia belajar dengan rajin dan tekun. Didalam tempo delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang lukanya Hoa Hui mulai sembuh. Baru setelah itu ia kasih tahu gurunya ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loojin. Kali ini Hoa Hui tidak main bentakbentak lagi, dia tidak sampai memaksa muridnya mengangkat sumpah. Begitulah ia pulang dengan menunggang kuda putihnya. Ia menetapi janji, ia tidak mengasih tahu Kee Loojin tentang pertemuannya sama Hoa Hui disebabkan ia terancam bahaya, la mendusta bahwa ia kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan serombongan kafilah.

Kee Loojin percaya keterangan itu, maka dia tidak menanya melit-melit, dia hanya merasa girang. Semenjak itu setiap sepuluh hari atau setengah bulan, Bun Siu pergi kepada Hoa Hui, untuk berdiam dengannya beberapa hari. Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan rajin sedang gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh. Karena ia tidak memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh kemajuan pesat. Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid cerdas, dan si guru bukan sembarang guru...

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.

Satu kali dengan girang Hoa Hui kata pada muridnya: "Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor."

Bun Siu merasa senang tetapi ia tahu ia baru menyangkok kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar terus dengan tetap rajin. Karena itu selanjutnya lebih sedikit harinya ia berdiam sama Kee Loojin, lebih banyak ia tinggal bersama gurunya itu. Beberapa kali sudah Kee Loojin menanya ia pergi ke mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup rahasianya, agar ia tidak melanggar pesan gurunya. Selanjutnya, Kee Loojin tidak pernah menanyakan lagi.

Pada suatu hari Bun Siu pulang dari rumah gurunya. Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia terpaksa jalan di situ. Sebabnya ialah mega mendung dan angin utara bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju. Ia pun melarikan kudanya keras-keras. Ia melihat kawanan penggembala repot menggiring kambing mereka pulang. Di tengah udara tak nampak seekor jua burung gagak. Justeru itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang kuda tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya dikaburkan. Ia menjadi heran.

"Badai salju segera bakal datang, kenapa dia justeru keluar dari rumahnya?" ia pikir. Maka ia mengawasi. Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup dekat, Bun Siu melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh dengan mantel merah. Ia pula lantas mengenali Aman, yang tubuhnya langsing dan romannya cantik. Karena, ia tidak ingin menemui nona itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit, untuk mengintai.

Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring, atas mana, siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan, maka sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul. Pula ramai suara mereka tertawa.

"Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau keluar juga?" demikian si pemuda tanya.

Bun Siu mengenali suaranya Supu, sahabat kekalnya itu. "Hai, si cilik tolol!" kata Aman, tertawa. "Kau tahu badai

salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan menantikan aku di sini?"

Supu tertawa

"Setiap hari kita bertemu di sini” katanya, gembira. "Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi! Biarnya ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui kau di sini!"

Aman tertawa pula.

Keduanya lantas duduk berendeng di bukit kecil itu, keduanya bicara tak hentinya.

Mereka bicara tentang asmara

Bun Siu mengintai di balik beberapa pohon besar, ia berdiri tercengang. Ia telah mendengar nyata setiap perkataan pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti berbisik. Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras. Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar. Melihat tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang peristiwa dari masa ia masih kecil. Di situ pun ada berduduk berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita. Mereka itu erat sekali perhubungannya. Merekalah Supu dan ia sendiri. Di sana mereka biasa saling mendongeng, sampai itu hari mereka diserang serigala yang ganas. Apa yang mereka biasa omongi, ia seperti sudah lupa. Sebab sepuluh tahun telah berselang. Hanya sekarang, melihat Supu bersama Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.

Segera sang salju mulai turun, sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga, mulai putih ketutupan bunga salju. Juga tubuh mereka mulai ketutupan. Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju itu. Dan Bun Siu pun tidak mempedulikannya.

Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman dibikin kaget hingga keduanya berlompat bangun. Di pohon kayu di dekat mereka terdengar suara berisik.

"Ha, air batu turun!" seru si pemuda. "Mari lekas pulang!"

Aman menurut, tanpa banyak omong lagi, mereka naik kuda mereka dan melarikannya.

Bun Siu bagaikan tersadar mendengar seman mereka itu. Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu, yang mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia merasa sakit. Tanpa ayal lagi, ia lari pulang. Begitu ia tiba di depan rumahnya, ia heran. Di muka rumah ada tertambat dua ekor kuda, satu antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.

"Mau apa mereka datang ke rumahku?" pikirnya. Sambil menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk dituntun ke belakang. Hujan air batu bertambah keras turunnya.

Setelah ia memasuki ruang belakang dari rumahnya, Bun Siu mendapat dengar suaranya Supu, katanya: "Paman, hujan es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam lamaan di sini."

"Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun aku mengundang, tidak nanti kau datang ke mari," terdengar suaranya Kee Loojin.

"Tunggu, nanti aku mengambil air teh."

Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee Loojin, umpamanya...... hendak mengundang Supu. Semenjak orang- orang Chin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi sangat mencurigai orang Han. Benar Kee Loojin sudah tinggal lama di antara mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi tidak suka bergaul dengannya. Bagusnya, dia tidak sampai diusir pergi. Sebaliknya, tendanya Supu dan Aman telah dipindah semakin jauh, hingga sukar mereka datang ke rumah Kee Loojin itu. Kali ini kebetulan saja mereka ini ditimpa hujan es.

Kee Loojin pergi ke dapur. Ia heran melihat Bun Siu sudah pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.

"Kau... sudah pulang?" katanya. Orang tua itu heran akan tetapi ia mengangguk.

Tidak lama maka Kee Loojin sudah keluar dengan membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk menyuguhkan tetamunya.

Bun Siu duduk di dekat dapur, sambil menghangatkan diri, ia memasang kuping. Ia mendengar suaranya Supu dan Aman, yang kadang-kadang tertawa. Hampir ia berbangkit, untuk pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.

"Tidak ada halangannya toh?" pikirnya Hanya, dalam sekejap, ia menahan hati. Itulah sebab ia lantas ingat sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang mendamprat, cambuknya gampang merangket. Ketika Kee Loojin kembali ke dapur, untuk membagi susu dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona itu. Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip kakek dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah sedaging, si empee sukar menjajaki hati si nona.

Setelah mengawasi, mendadak Bun Siu kata pada si empee: "Aku hendak menyamar sebagai seorang nona Kazakh, aku akan datang untuk numpang berlindung dari hujan es, jangan yaya membuka rahasia." Tanpa menanti jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya, untuk dandan, pula ia rubah sanggulnya. Sudah lama ia tinggal di wilayah Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh. Habis dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi tanda dengannya. Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan kudanya dengan manda ditimpa hujan es. Hanya kabur belum satu lie, ia sudah lari kembali. Di depan rumahnya, ia mengetuk pintu. Ia jeri juga ketika melihat cuaca yang luar biasa. Sudah sepuluh tahun lebih ia tinggal di Hweekiang ini, belum pernah ada hujan es lebat begini, dan awan pun mendung sekali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia mengasih dengar suaranya: "Mohon numpang! Mohon numpang!"

Kee Loojin membukai pintu. "Nona ada urusan apa?" ia tanya.

"Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang berlindung," menyahut Bun Siu.

"Boleh, boleh!" menyahut si empee, yang terpaksa main sandiwara. "Di dalam pun ada dua sahabat lagi menumpang berlindung. Mari masuk, nona!"

"Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari sini perjalanannya masih berapa jauh lagi?" Bun Siu berlagak menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee dapat main sandiwara baik sekali. Kee Loojin berlagak kaget. "Nona mau pergi ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca seburuk ini, tidak nanti kau dapat tiba di sana. Lebih baik nona singgah satu malam di sini, besok baru kau melanjuti perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah celaka..."

Bun Siu bertindak masuk, ia menggibriki es dari bajunya. Ia melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi api.

Aman melihat yang datang adalah seorang nona, ia lantas berkata manis: "Kakak, kita ketimpa hujan, mari menghangatkan diri di sini!"

"Baiklah, terima kasih!" Bun Siu menyahuti. Ia lantas duduk di samping nona Kazakh itu. Supu mengangguk seraya bersenyum. Ia tidak mengenali nona itu, yang telah berpisah dari ianya selama delapan atau sembilan tahun. Sekarang si nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.

Kee Loojin menambah susu dan teh, ia bicara sama tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing benar- benar. Bun Siu pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi itu. Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik sebuah peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.

Supu beberapa kali melongok ke jendela, untuk melihat udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara hujan, ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.

Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu kalau-kalau gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang hujan dan angin keras itu.

"Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat menahan beratnya es dan salju," kata Supu. "Nanti aku naik ke atas, untuk menyingkirkannya."

"Awas, nanti kau kena tertiup angin dan terbawa pergi!" kata si pemudi.

Supu tertawa ketika ia menjawab: "Di tanah telah bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh tidak nanti membahayakan!..." Pikiran Bun Siu kusut. Ketika ia mengangkat cawannya, tangannya bergemetaran. Ia mesti menyaksikan eratnya hubungan muda-mudi itu. Ia sendiri tidak tahu mesti mengatakan apa. Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya tetapi mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan leluasa seperti duluhari. la pun memikirkan apa benar-benar Supu tidak mengenalinya. Di lain pihak, ia ingin Aman tidak mengetahui tentang persahabatan mereka...

Hari makin gelap. Diam-diam Bun Siu menggeser diri, supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar lain orang. Cahaya api, yang memain, pula memain di antara mukanya muda-mudi itu. Cuma muka Bun Siu tak terlihat, sebab ia berpisah cukup jauh dari unggun itu.

Kembali Kee Loojin menyajikan barang makanan. Hanya mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya...

Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar terdengar suara larinya kuda di atas salju. Bun Siu mendengar, orang lagi mendatangi ke gubuknya itu. Ia pun mengetahui, kuda itu seperti sudah letih sekali.

Kee Loojin dapat mendengar suara kuda setelah datangnya sudah dekat sekali.

"Kembali ada orang berlindung dari angin dan hujan..." katanya

Supu berdua Aman mungkin mendengar dan mungkin tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk bicara saling berbisik...

Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda tiba lebih dulu. Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi mengetuk, dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang mau mohon menumpang singgah. Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loojin membukai pintu. Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya tergantung pedang.

"Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak dapat berjalan terus!" dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa Kazakh akan tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di dalam ruang itu.

"Silahkan masuk," Kee Loojin mengundang. "Silahkan duduk! Mari minum arak!"

Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia lantas menuangi arak dan menyuguhkannya.

Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk, lantas dia duduk di dekat api. Dia membuka baju luarnya, hingga di kiri kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil dengan gagang emas yang berkeredepan.

Bun Siu dapat melihat sepasang pedang itu, hatinya bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu. Yang lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing. Tapi ia masih dapat berkata di dalam hatinya: "Inilah pedang ibu!"

Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih berusia belum sepuluh tahun, pedang ibunya itu Bun Siu ingat baik sekali, ia mengenalinya tanpa keliru. Maka ia lantas melirik pada ini tetamu yang kasar. Segera ia ingat orang ini ada satu di antara tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka satu keluarga. Ia sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat itu, yang dulu berumur tiga puluh lebih dan sekarang menjadi empat puluh lebih, sedikit perubahannya. Tapi ia kuatir orang nanti mengenali padanya, ia tidak mau mengasih lihat mukanya. Ia pikir pula: "Coba angin dan salju tak sebesar ini tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia jahat." "Tuan dari mana?" Kee Loojin bertanya. "Tentu dari tempat jauh ya?"

"Hm!" jawabnya tetamu itu, yang kembali menenggak secawan arak.

Itu waktu tibalah penunggang kuda yang kedua. Kali ini pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang itu takut membikin kaget tuan rumah.

Kee Loojin kembali membukai pintu, mengundang tetamunya masuk.

Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun ditutupi sabuk bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi seluruh jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya. Ia mengasih dengar suara aa-u-u dan kedua tangannya digerak-geraki.

Nyata ia seorang gagu.

Dengan gerakan tangan, Kee Loojin mengundang orang berduduk, terus ia menyuguhkan arak.

Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam, kepalanya digoyangi. Ia menolak meminum arak. Dengan itu ia menghaturkan terima kasihnya. Ia kedinginan sangat, meski sudah mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju atau kopiahnya atau sabuknya. Ia bahkan duduk merengkat.

"Kau minum arak, rasa dingin akan berkurang," kata Bun Siu, yang merasa berkasihan.

Kembali si gagu aa-u-u ia seperti tak mengerti omongan orang.

"Siapa gagu, dia pun tuli," kata Kee Loojin. "Dia ini tidak mendengar suara orang." Bun Siu tertawa "Ya, aku lupa!" katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang bersama mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik. Ketika Supu sudah mengawasi tuan rumah sekian lama, ia berkata: "Empee, kaulah orang Han. Dapatlah aku menanyakan tentang sesuatu orang?"

"Siapa ya?" si empee balik menanya.

"Dialah seorang nona Han dengan siapa aku pernah hidup bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main berdua," menerangkan Supu.

Bun Siu terkejut, ia lekas melengos.

"Dia bernama Lie Bun Siu," Supu menambahkan sebelumnya si orang tua menyahuti. "Sudah selang delapan atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu pula satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia tinggal bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya. Bukankah orang tua itu empee adanya?"

Kee Loojin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh penghunjukan dari Bun Siu tetapi si nona lagi berpaling ke lain arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata: "Ah, ah..."

"Dialah nona yang nyanyinya paling merdu," berkata pula Supu, "hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa tahun ini tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu. Empee, apakah dia masih tinggal bersama empee disini?"

"Tidak... tidak..." kata si empee, tak lancar. "Dia tidak..." "Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu tinggal

bersama empee ini..." tiba-tiba Bun Siu campur bicara. "Aku

kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh tahun yang lalu!"

Pemuda Kazakh itu kaget.

"Ah, dia telah meninggal dunia!" serunya. "Kenapa dia mati?" Kee Loojin melirik Bun Siu. "Dia sakit... sakit..." ia menyahuti.

Matanya Supu menjadi merah.

"Ketika kita masih kecil, biasa kita menggembala kambing bersama," ia bilang, suaranya parau. "Dia sering bernyanyi untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah menutup mata."

"Ya, kasihan anak itu..." kata Kee Loojin. Supu mendelong mengawasi perapian.

"Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan ibunya telah dibinasakan orang jahat," katanya pula kemudian, "karenanya dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini..."

"Apakah nona itu cantik?" Aman tanya. Baru sekarang dia turut bicara.

"Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat jelas," menjawab Supu. "Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi, suaranya merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya menarik hati..."

Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk: "Kau maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah dan ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang diri?"

Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.

"Benar. Kau juga kenal dia?" Supu menjawab seraya balik bertanya.

Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya pula: "Dia menunggang seekor kuda putih, bukankah?"

"Benar," menyahut Supu. "Jadi kau pun telah mengenal dia." Mendadak orang itu berbangkit.

"Dia mati di sini?" dia tanya Kee Loojin, bengis.

"Ya," menyahut si orang tua, yang terpaksa bersandiwara terus.

"Kau tentunya menyimpan baik-baik segala barang peninggalannya?" tanya orang asing itu.

Kee Loojin heran, ia mengawasi orang sambil melirik.

"Apa hubungannya barang orang itu denganmu?" ia tanya. "Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!" menyahut si

tetamu kasar. "Aku telah cari dia di mana-mana kiranya dia sudah mampus..."

Tiba-tiba Supu berbangkit.

"Kau ngoceh tidak keruan!" bentaknya. "Cara bagaimana Nona Lie dapat mencuri barangmu?"

"He, kau tahu apa?" balik tanya orang itu.

"Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama semenjak masih kecil," kata Supu.

"Aku tahu dialah satu nona yang baik hatinya, tidak nanti dia mencuri barang orang!"

Orang itu melirik, sikapnya tawar.

"Dia justru telah mencuri barangku!" ejeknya. Supu memegang gagang golok di pinggangnya.

"Siapa namamu?" dia tanya. "Aku lihat kau bukan orang Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!"

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya bertindak ke pintu, lalu mementangnya, hingga angin dingin menghembus masuk, membawa sekalian banyak lempengan salju. Di luar, salju melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir: "Di waktu begini tentulah tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona yang lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu yang bercacad, asal aku menggeraki tanganku, dia tentu roboh! Tinggal ini satu pemuda, yang romannya kekar, dia mungkin memerlukan beberapa jurus untuk merobohkannya." Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan.

"Benar aku orang Han!" katanya, menantang. "Habis kau mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw menyebutnya Cheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau! Binatang cilik, kau dengar tidak?"

Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw ia menggeleng kepala.

"Aku belum pernah mendengar," sahutnya. "Kau jadinya penyamun bangsa Han?"

"Tuan besarmu satu piauwsu, hidupnya justru membasmi perampokan!" kata Tat Hian pula "Mengapa kau bilang aku penyamun?"

Mendengar orang bukannya penyamun dan keterangan itu ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi sabar. Ia kata: "Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi banyak bangsaku yang tidak mempercayainya. Untuk kau, baiklah kau jangan menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu telah mengambil milikmu!"

Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.

"Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau masih mengingati dia?" katanya.

"Semasa hidupnya, kita adalah sahabat-sahabat baik," berkata Supu, "maka itu setelah dia menutup mata, dia tetap sahabatku. Aku melarang orang omong jelek tentangnya!"

Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia menoleh kepada Kee Loojin. "Mana barang-barangnya si nona?" tanyanya.

Sementara itu Bun Siu bersyukur yang Supu masih ingat ia dan membelanya. "Dia tidak melupai aku, dia tidak melupai aku," katanya dalam hatinya "Dia tetap baik terhadapku..." Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya: "Tidak pernah aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku mencurinya?" Ia tak sadar akan kelicikan orang.

"Kau kehilangan barang apa, tuan?" tanya si empee Kee. "Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka itu tidak dapat dia mengambil barang lain orang."

"Itulah sehelai peta!" menyahut Tat Hian setelah berdiam sejenak. "Untuk lain orang, peta itu tidak ada artinya, sebab... Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku, maka perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di rumahmu ini kau tentunya pernah melihat itu."

"Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah gambar sansui atau orang?" Kee Loojin menanya pula.

"Ya, gambar sansui..." sahut Tat Hian.

"Hm!" Supu tertawa dingin. "Gambar atau peta apa masih tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!"

Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang kecilnya. "Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan hidup?" dia

menegur. "Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa menutup matanya!"

Supu pun menghunus golok pendeknya.

"Tidak gampang untuk membunuh seorang Kazakh!" katanya menantang, suaranya dingin.

"Supu, jangan ladeni dia!" berkata Aman.

Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia masuki goloknya ke dalam sarungnya. Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian mendapatkan peta dari Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan tahun dia dan kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat endusan tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam, mana dia mau melepaskannya dengan gampang? Dia memang bangsa kasar, tetapi dia bisa berpikir. Dia mengerti, tak sabar artinya gagal. Maka dia cuma mendelik kepada Supu, lalu dia berpaling pula kepada tuan rumah yang tua itu.

"Peta itu ialah sebuah gambar," katanya. "Itulah lukisan dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun pasir, ada gunungnya, ada kalinya..."

Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si gagu menggigil. "Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada di

tangannya si Nona Lie?" empee Kee tanya pula kemudian.

"Apa yang aku bilang ini ada hal yang benar," menyahut Tat Hian. "Jikalau kau serahkan peta itu padaku, suka aku memberi hadiah besar padamu." Ia lantas merogoh keluar dua potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang emas itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang menggiurkan. Empee Kee berdiam berpikir. "Sebenarnya aku belum pernah melihat barang itu," katanya.

"Aku hendak melihat semua barang peninggalannya nona kecil itu!" kata Tat Hian.

"Ini... ini..." empee itu bersangsi. Tangan kirinya Tat Hian bergerak, maka sebatang pedang kecilnya nancap di meja.

"Ini... ini...apa?" bentaknya. "Nanti aku lihat sendiri!" la menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak pintu dalam, untuk masuk ke kamar. Paling dulu ia masuki kamarnya si empee. Ia membalik-balik tempat pakaian. Kemudian ia masuk ke kamarnya Bun Siu. Di sini ia mendapatkan baju si nona, yang tadi dia loloskan, untuk menyalin pakaian sebagai nona Kazakh. "Ha dia mati sesudah besar!" katanya si piauwsu penyamun. Ia lantas memeriksa dengan terliti.

Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia masih kecil, benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi sebab itu buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus. Melihat pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan potongan tubuh Bun Siu semasa kecilnya itu, ketika mereka mengejar-ngejarnya di gurun pasir.

"Benar! Benar!" katanya girang. "Benar dia!" Hanya setelah mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang ia cari.

Supu gusar bukan main menyaksikan orang mengaduk- aduk pakaian Bun Siu, beberapa kali sudah ia memegang goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.

Kee Loojin sendiri saban-saban melirik kepada Bun Siu, sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona itu, mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya. Maka masgullah orang tua ini. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?

Bun Siu memperhatikan sikapnya Supu. Ia berduka, ia pun merasa puas.

"Benar-benar dia masih ingat aku," pikirnya. "Agaknya dia bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku." Di lain pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya: "Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya? Peta apakah itu?"

Memang duluhari Bun Siu disesapkan peta oleh ibunya hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat lagi memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang kawanan piauwsu dari Chin Wie Piauwkiok, yang berubah menjadi penyamun, telah mencari itu selama sepuluh tahun lebih. Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia nampak masgul dan putus asa. Tapi tidak lama, mendadak dia menanya bengis: "Di manakah kuburannya?"

Kee Loojin melengak. Itulah pertanyaan yang ia tidak sangka.

“Dia dikubur jauh, jauh sekali..." sahutnya gugup. Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.

"Mari antar aku!" katanya. Supu berbangkit.

"Kau hendak bikin apa?" ia tanya.

"Perlu apa kau campur urusanku?" bentak Tat Hian. "Aku hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin dia membawanya peta itu ke liang kubur!"

Supu menghunus goloknya, ia menghalang di pintu. "Aku larang kau menggali kuburannya!" ia kata nyaring.

"Minggir!" bentak Tat Hian. la mengayun paculnya, menyerang.

Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang.

Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut pedangnya.

Maka "Trang!" kedua senjata mereka beradu keras. Atas itu keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana, mereka maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.

Kee Loojin lantas menyingkir ke pinggiran, juga si gagu dan Aman. Cuma Bun Siu yang berdiri diam di dekat jendela.

Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat Hian, yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi dia tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara mereka Supu telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, ia berkelahi bengis sekali.

Tat Hian heran hingga ia berpikir: "Aku tidak menyangka bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari Tionggoan..."

Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan mendengar suara angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam. Sebab Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang pendek. Ia berkelit ke kanan. Justeru ia berkelit, justeru tiba serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, sia- sia ia mencoba berkelit lebih jauh. Ia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang. Tiga kali beruntun ia menikam dengan jurus-jurus dari ilmu silat pedangnya, "Cheebong Kiamhoat" atau Ilmu Pedang Ular Naga Hijau.

Supu kaget melihat datangnya serangan saling susul, sedang sinar pedang membuat matanya silau. Tahu-tahu lehernya telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga darahnya mengalir keluar.

Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus. Di lain saat, lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia merasakan sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.

Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan Supu agaknya mati daya, Bun Siu maju satu tindak, untuk menolongi. la hendak menggunai ilmu Tay Kimna Ciu, guna menangkap tangannya Tat Hian. Akan tetapi mendahului ia, Aman telah berlompat ke depan Supu sambil berseru: "Jangan melukakan dia!"

Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang romannya ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu: "Kau begini memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?"

Muka Aman merah tetapi ia mengangguk. "Kau menyayangi dia, baik!" kata Tat Hian pula. "Aku nanti memberi ampun padanya asal besok badai berhenti, kau turut aku!"

Supu menjadi sangat mendongkol, sambil berseru, ia maju ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.

Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan ujung pedangnya masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki orang, maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu. Coba pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya si anak muda

Didalam keadaan seperti itu, Bun Siu masih mengawasi saja Ia memasang mata, ia bersiap sedia menggunai ilmu totoknya, karena peryakinannya atas ilmu Itcie Cin Thianlam, telah menyampai kemahiran tujuh atau delapan bagian. Hanya Aman tidak tahu bahwa seorang penolong siap sedia di dampingnya, karena mana, ia menyerah atas desakan si penyamun. Ia memberikan penyahutannya: "Baiklah, aku terima permintaanmu, asal kau jangan bunuh dia!"

Tat Hian girang sekali. Tapi pedangnya ia masih belum mau mengisarkannya.

"Kau menerima baik akan turut aku besok, jangan kau menyesal," ia bilang.

"Aku tidak menyesal," jawab Aman seraya menggigit giginya. "Singkirkan pedangmu!" Tat Hian tertawa lebar.

"Taruh kata kau menyesal dan menyangkal kau toh tidak bakal lolos dari tanganku!" katanya, la menarik pedangnya, untuk dikasih masuk ke dalam sarungnya, terus ia menjumput goloknya Supu. Ia memandang ke luar jendela, lantas ia berkata: "Sekarang kita tidak dapat pergi membongkar kuburan kita tunggu saja sampai langit sudah terang." Ia menjadi berbesar hati, karena di situ cuma ia sendiri yang bersenjata. Sampai sebegitu jauh, ia belum melihat gerak-geriknya Bun Siu.

Aman mempepayang Supu untuk dibawa ke pinggir. Ia melihat darah masih mengalir keluar dari leher si pemuda. Ia menjadi bingung, hingga ia mau menyobek ujung bajunya untuk dipakai membalut.

"Pakai ini saja," kata Supu, ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sakunya.

Aman membalut, habis itu, sendirinya ia menangis. Ia memikirkan nasibnya, yang telah terjatuh ke tangan penyamun itu. Dapatkah ia nanti meloloskan dirinya?

"Bangsat anjing! Jahanam!" Supu mendamprat perlahan. Ia tidak berdaya tetapi ia tidak takut. Kalau terjadi orang memaksa membawa Aman, ia bersedia untuk mengurbankan jiwanya guna melindungi nona itu.

Setelah pertempuran itu, ke enam orang itu duduk diam mengitari perapian, akan tetapi suasana tetap tegang. Sebelah tangannya Tan Tat Hian tidak pernah melepaskan goloknya. Untuk menenggak arak, ia menggunai tangan kiri. Senantiasa ia memandang Aman dan melirik Supu.

Di luar, badai masih mengamuk. Sering lempengan salju beterbangan menghajar tembok atau wuwungan hingga mendatangkan rasa kaget dan kuatir. Semua orang menutup mulutnya.

Sang waktu dilewatkan Bun Siu dengan segala ketenangan hatinya. Sejak semula ia sudah pikir untuk berlaku sabar. Tadi pun ia baru menindak atau Aman mendahului ia. Katanya di dalam hatinya: "Biarlah jahanam ini bertingkah lagi sekian waktu, tak usah aku tergesa-gesa..."

Dalam kesunyian itu, mendadak api meletus. Ada kayu yang terbang terbakar meledak, mulanya gelap, lalu terang luar biasa hingga mereka dapat melihat tegas sekali wajah masing-masing.

Bun Siu tercengang ketika ia mendapat lihat sapu tangan di lehernya Supu, hingga ia mengawasi terus.

Kee Loojin, yang memperhatikan nona ini, turut melihat ke arah Supu, hingga ia melihatnya juga sapu tangan itu. Bahkan ia lantas menanya: "Eh, Supu, dari mana kau dapatkan sapu tanganmu itu?"

Si anak muda Kazakh melengak. Ia meraba ke lehernya. "Kau maksudkan sapu tangan ini?" dia balik menanya. "Inilah si nona Lie yang telah mati itu yang memberikannya padaku. Di waktu masih kecil kita menggembala kambing bersama- sama, pada suatu hari ada serigala yang menerkam kami berdua, lantas aku membinasakan anjing liar itu. Aku terluka sedikit, si nona membalutnya dengan sapu tangan ini..."

Bun Siu mendengar kata-kata itu, matanya terus mengawasi sapu tangan. Sekarang penglihatannya rada kabur. Tanpa merasa, air matanya telah mengembeng.

Empee Kee masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil sehelai sapu tangan putih. Si penyamun mengawasi gerak- geriknya, ia tidak menghiraukan.

"Kau balut lukamu dengan sapu tangan ini," kata si empee pada si pemuda "Mari sapu tanganmu itu, kasih aku lihat."

"Kenapakah?" tanya Supu heran.

Oleh karena pembicaraan itu, Tat Hian turut memperhatikan sapu tangan di leher si pemuda.

Mendadak ia berlompat bangun, goloknya diangkat.

"Kau disuruh membuka sapu tangan itu, kau bukalah!" ia membentak. Nampaknya ia seperti gusar sebab si anak muda main ayal-ayalan atas permintaannya si tuan rumah. Supu berdiam, dengan mata gusar, ia memandangi penyamun itu.

Aman takut orang menggunai kekerasan, lantas ia mewakilkan Supu membuka sapu tangan itu, untuk diserahkan kepada Kee Loojin, terus dengan sapu tangan yang putih, ia membalutnya pula luka si pemuda

Tuan rumah lantas membeber sapu tangan yang berlepotan darah itu di atas meja. Ia pun membesarkan pelita minyaknya. Dengan terliti ia lantas mengawasi.

Tan Tat Hian turut mengawasi juga.

"Benar! Benar!" mendadak dia berseru seorang diri, sesudah meneliti sekian lama. "Inilah itu peta Istana Rahasia Kobu!" Dan ia mengulurkan tangannya untuk merampas!

Sebat tangannya piauwsu ini tetapi lebih sebat si empee Kee, ketika tangannya lagi tiga dim akan mengenai sapu tangan itu, sapu tangannya sendiri sudah tersambar si empee. Berbareng dengan itu, suatu sinar terang menyambar bagaikan kilat, lantas Tat Hian menjerit kesakitan, sebab sebatang pisau belati sudah nancap di belakang tangan kanannya itu, pisaunya tembus nancap ke meja sebatas gagangnya Pula si empee menunjuki lain kesehatannya, ialah dengan tangan kirinya ia sudah merampas golok panjang dari si penyamun, untuk segera diancamkan ke tenggorokan penyamun itu!

Hebat empee bungkuk sebagai unta ini, ia gesit luar biasa, ia lihai sekali.

Tan Tat Hian berdiri dengan muka meringis, tubuhnya menggigil, tangan dan kakinya tidak berani digeraki, terutama tangan kanannya yang terpanggang pisau belati itu. Cuma matanya yang dapat main, mengawasi si empee dan ke sekitarnya Bun Siu kagum bukan main. Selama sepuluh tahun ia tinggal bersama si empee, cuma satu kali ia menyaksikan empee itu mempertunjuki kepandaiannya, yaitu ketika dia membinasakan Liangtauw Coa Tang Yong si Ular Kepala Dua. Pula ketika itu dapat dibilang karena kebetulan. Sekarang Kee Loojin memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa. Pertama-tama tikaman pisau belatinya yang sangat cepat dan tepat. Kedua ialah caranya ia merampas goloknya Tat

Hian. Jurusnya ini ialah yang dinamakan "Menunjang penglari, menukar tiang", suatu jurus lihai dari ilmu tangan kosong merampas senjata tajam. Itulah sama dengan ilmu Kimna Ciu, yang gurunya Hoa Hui mengajarinya. Ia sendiri, ia percaya, tidak nanti dapat bergerak dengan sebat.

Habis itu Kee Loojin mengulur pula tangannya, untuk mengambil pedang pendek bergagang emas dan perak dari pinggangnya si penyamun, terus ia menyerahkan itu kepada si nona seraya ia berkata: "Nona, tolong kau mengambilkan sehelai tambang."

Bun Siu menyambuti pedang ibunya, tangannya bergemetaran, lantas ia lari ke belakang, untuk mengambil tambang yang diminta si empee, maka di lain saat empee itu sudah lantas mencabut pisau belatinya yang memanggang tangan si penyamun, tangan siapa terus ditelikung ke belakang sambil ia berkata pula: "Nona, belenggulah bangsat jahat ini!"

Bun Siu berdiri bengong, tangannya masih memegangi pedang pendek ibunya, sedang kedua matanya basah dengan air matanya. Ia seperti tidak mendengar perkataannya si empee. Karena itu Supu yang menghampirkan, membantu tuan rumah mengikat Tat Hian, kedua tangan dan kedua kakinya, kedua tangannya itu tetap ditelikung.

Setelah itu, di antara sinar api, Kee Loojin mengawasi sapu tangan yang si penyamun menyebutnya peta Istana Rahasia Kobu. Terang ia nampak heran. "Bolehkah kau menyerahkan sapu tangan ini padaku?" kemudian ia tanya Supu.

Supu memperlihatkan roman bersangsi dan bersusah hati. Empee ini sudah menolongi ia dan Aman, sepantasnya ia mesti membalas budi, tidak peduli dengan mustika. Hanya... hanya inilah sapu tangan tanda mata dari si nona Lie. Mana dapat ia menyerahkan itu kepada lain orang?

Empee Kee mengawasi, ia dapat menduga hati orang. "Begini saja," katanya kemudian. "Kau kasih aku pinjam

lihat untuk satu hari, besok aku akan membayar pulang padamu."

Mendengar ini, girang Supu.

"Asal empee sudi membayar pulang, kau boleh pinjam itu untuk sepuluh hari atau setengah bulan."

Aman tidak mengerti, ia heran sekali.

"Empee," ia tanya, "barusan penyamun ini menyebut bahwa sapu tangan ini ialah peta, entah peta apa Sebenarnya, apakah artinya ini?"

Kee Loojin melirik kepada Bun Siu.

"Sebenarnya aku pun belum mengerti jelas," sahutnya. "Aku masih hendak memikirkannya dahulu."

"Bangsat tua!" mendadak Tan Tat Hian mencaci tuan rumah. "Kau telah menangkap aku! Mau apa sekarang? Kau hendak membunuh aku atau menghukum picis? Lakukanlah! Kalau aku mengerutkan saja alisku, aku si orang she Tan bukannya satu hoohan!"

Kee Loojin mengawasi, ia menyahuti dengan tawar: "Kita tidak berselisih, kita tidak bermusuhan, perlu apa aku membunuh kau? Kau dan kawan-kawanmu telah mengganas di gurun pasir ini, kamu main rampas, main membakar, main membunuh manusia, sangat banyak kejahatanmu, untuk itu bakal ada orang yang nanti membuat perhitungan denganmu. Kau tunggulah sampai besok terang tanah, Supu nanti menggusur kau kepada ketuanya, di sana orang nanti menghukummu!" Supu berjingkrak. "Empee!" katanya, separuh berseru, "apakah manusia jahat ini dari rombongannya penyamun itu?"

"Kau tanyalah dia sendiri!" menjawab si empee singkat. Supu mengangkat goloknya, ia menghampirkan Tat Hian. "Kawanan bangsat yang membunuh ibu dan kakakku, jadi

itulah rombonganmu, jahanam?" dia tanya.

"Memang kawanan penyamun di gurun pasir itu ialah rombongan tuan besarmu ini!" menyahut Tat Hian dengan berani, mulutnya dipentang lebar, untuk sekalian mencaci. "Jikalau kau berani mengganggu selembar saja rambutku maka besok nusa semua saudaraku bakal meluruk kemari untuk menuntut balas! Nanti semua kamu dibasmi berikut segala ayam dan anjingmu!"

Supu gusar sekali, ia ingat sakit hati ibu dan kakaknya.

Maka ia mengayun goloknya.

Tan Tat Hian tertawa dingin, ia kata pula mengejek: "Orang lain yang menangkap aku, kaulah yang enak saja hendak membacoknya! Sudah aku bilang memang orang Kazakh bangsa bernyali kecil dan sangat tidak tahu malu!"

Supu batal membacok, tapi ia pun tertawa ewah, ia kata: "Baiklah, sekarang aku tidak akan bunuh mampus padamu, tetapi besok, besok aku akan minta ayahku yang membikin perhitungan denganmu! Kau tahu, orang tuaku itu telah mencari kawanan bangsatmu sampai sepuluh tahun tetapi masih belum bertemu juga! Besok kau nanti lihat sifatnya orang-orang gagah bangsa Kazakh!"

Supu tahu memang keinginan utama dari ayahnya ialah membinasakan dengan tangan sendiri musuh isteri dan puteranya itu, maka adalah paling benar menyerahkan penyamun ini kepada ayahnya. Karena itu, ia lantas kembali ke tempatnya duduk.

Tan Tat Hian tertawa dingin. Dia kata: "Anak tolol, lekas kau rampas pulang sapu tanganmu itu! Dengan mengasih pinjam sapu tangan itu satu hari pada tua bangka ini maka itu berarti bahwa harta besar dan mustika bangsamu, bangsa Kazakh, telah..."

"Tutup bacotmu!" menyelak Kee Loojin. "Kau ngaco belo!

Apakah kau hendak adu kami satu dengan lain? Hm!" Tan Tat Hian membandel.

"Itulah peta dari Istana Rahasia Kobu, bukankah?" kata dia pula. "Eh, Supu, apakah kau menyangka tua bangka ini manusia baik-baik? Haha! Anak tolol! Dia justeru hendak mengangkangi harta karun kamu!"

Kee Loojin seperti habis sabarnya, maka sebelah tangannya terayun, sebilah pisau belatinya menyambar ke arah uluhati penyamun besar kepala itu!

Tat Hian terikat kaki tangannya, ia melihat datangnya serangan, ia tidak bisa berbuat lain daripada berkelit bersama- sama tubuhnya. Mungkin, masih tidak dapat ia bebas anteronya. Di saat ia terancam bahaya maut itu, tangannya Bun Siu terayun, lantas pedang pendeknya meleset, menyambar pisau belati si empee, maka kedua senjata beradu, terus membentur tembok di mana keduanya nancap!

Orang kaget menyaksikan kepandaiannya Bun Siu itu, seorang nona yang nampaknya bertubuh lemah, yang sekian lama berdiam saja. Kee Loojin heran hingga ia melongo, mulutnya celangap. Bukankah ia telah tinggal bersama nona itu sepuluh tahun lebih? Adalah si gagu yang tertawa a-a-u-u sambil bertepuk tangan. "Kee Lootiang," berkata Bun Siu tawar, "saudara ini telah membilangnya besok pagi orang ini hendak diserahkan kepada orang tuanya untuk diperiksa dan dihukum, oleh karena itu sekarang ini tak usahlah kau membinasakan dia. Hanya, mengenai istana Rahasia Kobu itu, aku ingin mendengarnya! Bagaimana itu sebenarnya? Umpama dia hanya ngaco belo, kita boleh membiarkannya, kita mengganda tertawa saja! Buat apa kita bersungguh-sungguh terhadapnya?"

"Kakak ini benar," berkata Aman. "Supu, tidakkah ini aneh?

Kenapa sapu tangan sahabatmu itu justeru suatu peta?"

Kee Loojin kenal baik tabiatnya Bun Siu, biarnya dia lemah lembut, kemauannya keras, sukar dicegah, maka itu, ia suka membiarkan Tan Tat Hian bercerita.

Penyamun itu kata dengan nyaring: "Tuan besarmu telah terjatuh ke dalam tangan kamu, tuan besarmu tidak takut apa juga! Biarlah aku menuturkan tentang peta ini! Lukisan di dalam sapu tangan ini adalah lukisan atau peta dari Istana Rahasia Kobu itu. Coba kamu mengawasinya dengan saksama, kamu meneliti sutera dan benang yang dipakai menyulam dan menjahitnya, yang merupakan gunung, air dan gurun. Tidakkah itu ada sutera dan benang wol kuning, yang sama warnanya hingga sangat sukar untuk dibedakannya? Coba itu sutera dan benang wol terkena darah, lantas menjadi nyata perbedaannya. Lihatlah sekarang? Bukankah benang wol itu lebih banyak menyedot darah daripada benang sutera?"

Bun Siu mengangkat sapu tangan itu, untuk meneliti. Benarlah keterangan Tat Hian itu. Benang yang menyedot darah menjadi merah, yang tidak, tetap kuning, karena mana, gambar nampak menjadi jelas sekali. Baru sekarang ia mengerti, sapu tangan itu menggenggam rahasia, dan itulah peta Istana Rahasia Kobu.

Tan Tat Hian melanjuti kata-katanya: "Rahasianya Istana Kohii itu dibawa oleh seorang edan. Inilah kejadian pada belasan tahun yang lampau. Di kota Lokyang ada hidup satu jago tua she The bernama Kiu In. Pada suatu hari dia mengadakan pesta ulang tahun kedelapan puluh. Banyak orang gagah yang datang untuk memberi selamat padanya. Selagi pesta berjalan, muncullah si edan itu, dia tertawa lebar, tangannya menggenggam pelbagai macam mutiara, kumala dan lainnya batu permata. Dia lantas meletakinya semua itu di atas meja sambil berkata: 'Suhu, aku membawa hadiah untukmu!" Memang benar, ialah muridnya The Kiu In. Semua tetamu menjadi berkunang-kunang matanya menyaksikan harta besar itu, yang semuanya indah. Aneh adalah si edan itu, habis tertawa, dia menangis, lalu dia tertawa pula, menangis lagi. Ketika dia ditanya, dari mana dia memperolehnya barang-barang permata itu, dia menjawab: "Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu! Istana Rahasia Kobu!" Ketika itu The Kiu In tidak mau banyak tanya-tanya lagi, ia menyuruh membawa muridnya itu masuk untuk beristirahat."

Inilah cerita yang menarik hati, orang banyak ketarik untuk mendengarinya.

Tat Hian melanjuti pula: "Di antara hadirin ada banyak orang yang lihai, di antara mereka banyak juga yang matanya menjadi merah sebab melihat permata-permata yang berharga besar itu, mereka itu menanya si gila di mana letaknya Istana Kobu itu. Si gila menjawab tidak keruan, omongannya putar balik. Pertanyaan The Kiu In sendiri dijawab sama tidak keruan junterungannya. Tiga hari telah lewat atau pada tengah malamnya tuan rumah kedapatan terbunuh secara gelap. Berbareng dengan itu, si edan pun lenyap. Di dadanya The Kiu In menancap senjata yang menyebabkan kebinasaannya itu, ialah sebatang pusut yang menjadi senjatanya si edan, sebelah sepatu siapa pun ketinggalan di depan pembaringan, sepatu itu berlepotan darah. Di lantai ada tapak-tapak kaki, yang cocok waktu diakuri sama sepatunya si edan. Maka orang menduga si edan kalap dan membunuh gurunya sendiri dan terus menghilang. Karena itu orang melainkan bisa menyesali nasibnya jago tua yang malang itu. Hanya, apa yang heran, kenapa The Kiu In yang demikian lihai kalah oleh muridnya dan kenapa di kamarnya tak ada bekas- bekasnya pertempuran atau pergulatan? Keluarga The, dan juga beberapa sahabatnya, lantas pergi mencari si edan itu, tetapi dia tidak kedapatan, dia tidak ada tanda-tanda atau bekas-bekasnya, hingga orang mau menduga, kalau dia tidak terjeblos di jurang mungkin dia mati membuang diri ke sungai. Di lain pihak semenjak itu, halnya Istana Rahasia Kobu itu lantas menjadi buah pembicaraan dan lantas juga menjadi semacam gelombang di antara kaum Rimba Persilatan. Dua tahun setelah itu, lalu tersiar kabar angin bahwa ada orang yang menemui peta istana rahasia itu di tengah jalan. Peta itu dihubungi sama harta besar itu, yang orang percaya masih tersimpan banyak di dalam istana rahasia. Karena ini, peta itu menjadi perebutan di antara jago-jago, hingga ada jago-jago yang membuang jiwanya secara sia-sia. Kemudian lagi, ialah belasan tahun yang lalu, peta itu terjatuh di tangannya Pekma Lie Sam dan isterinya Kimgin Siauwkiam Sam Niocu. Sedapatnya peta itu, Lie Sam dan isterinya itu sudah lantas berangkat ke Hweekiang. Hanyalah, entah kenapa, kemudian kedapatan suami isteri itu telah mati di wilayah asing itu..."

Oood~wooO