-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 10 (Tamat)

Bagian ke X (Tamat)

Sangszer ketahui lihainya Lie Bun Siu di dalam hal mengguaai senjata tajam, la telah melihat bagaimana nona itu menempur kawanan berandal. Maka ia bersangsi. Sebaliknya, ia mempercayai benar ilmu gulat atau peluk banting bangsanya, dari itu ia memilih ilmu kepandaiannya ini. Lantas ia memasang kuda-kudanya.

"Saudara Lie, silahkan maju!" ia menantang.

"Baik!" menyahut Bun Siu, yang lantas menyingkap ujung bajunya yang panjang, untuk diselipkan ke pinggangnya, setelah itu ia bertindak ke gelanggang, berdiri di depan penantangnya itu Di mana kedua pihak sudah siap sedia, Sangszer lantas membuka kedua tangannya, sambil mementang, ia maju untuk menubruk. Atau mendadak Bun Siu berseru kaget, terus dia lari ke arah kiri dimana ada- pepohonan lebat Dia seperti melihat sesuatu, yang dia lantas kejar.

Semua orang menjadi heran, terutama Sangszer. Semua orang tidak mengerti, kenapa di saat seperti itu, si pemuda Han lari kabur. Hingga ada yang menduga-duga mungkin dia jeri terhadap si pemuda Kazakh...

Sangszer berdiri sekian lama, kemudian ia kata kepada Supu: "Supu, saudara Lie telah pergi, maka itu marilah kita berdua saja yang bertempur.''

Supu menerima baik tantangan itu, meski sebenarnya ia masih mengherani Bun Siu.

"Ya, marilah!” ia menjawab, bahkan ia terus maju. Maka tidak tempo lagi, keduanya lantas bergulat.

Dua orang muda ini ada tandingan yang setimpal. Semenjak masih kecil mereka suka berkelahi, mereka menang dan kalah bergantian, hanya kali ini, dalam usia dewasa, mereka harus mencari keputusan. Maka bisa dimengerti yang mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Sedari berumur lima belas tahun, Sangszer sudah menaruh hati kepada Aman, disebabkan rapatnya pergaulan Aman dengan Supu, ia menjadi tidak dapat menyelak di antara mereka, ia cuma bisa menindas hatinya sendiri. Sampai sekarang ia masih tidak berani mendekati Aman walaupun Supu telah menjadi musuh Aman, disebabkan Supu dibuang karena tuduhan telah membunuh Cherku. Barulah menit ini harapannya timbul. Bukankah Aman sendiri yang menghendaki ini pertarungan umum? Dengan ini nanti terlihat kesudahannya Allah mengampuni Supu atau tidak...

Umumnya Supu menang unggul sedikit daripada Sangszer, tetapi setelah tadi ia mesti membanting tulang melayani si untai ia masih terpengaruh keletihannya, dari itu, segera ternyata, lawannya itu menang di atas angin. Pula ia keras memikirkan Lie Bun Siu, yang pergi tanpa sebab.

Sebenarnya Bun Siu kabur karena sejenak itu matanya melihat satu orang yang berkelebat di dalam rimba, berkelebat cepat bagaikan bayangan tetapi toh ia mengenali baik potongan tubuh Tan Tat Hian, tanpa pikir panjang lagi, ia lari mengubar. Laginya untuk ia, pertandingan itu tidak ada artinya. Taruh kata ia menang, ia toh tidak- bisa menikah dengan Aman- Di samping itu, Tat Hian ialah musuh besarnya. Akan tetapi, sesampainya ia di dalam rimba, Tat Hian telah lenyap tidak keruan peran, sia-sia belaka ia mencarinya. Kemudian ia mendengar suara kuda kabur ke arah barat daya, ia lantas menduga kepada musuh itu. Saking tergesa-gesa, ia tidak dapat kembali kepada kuda putihnya, ia kabur menyusul dengan menjembat seekor kuda yang lagi makan rumput di dekatnya.

Sesudah berlari-lari beberapa lie, Bun Siu tiba di gurun pasir. Ia mendaki tanjakan pasir bagaikan bukit, untuk melihat kehlingan. Di sini ia bisa memandang ke sekitarnya dengan leluasa, tidak seperti tadi semasa di padang rumput Ia lantas melihat di arah barat daya itu —- jauh letaknya seekor kuda lagi berdiri diam dan di samping binatang itu ada satu tubuh manusia rebah tak berkutik. Ia menduga kepada Tan Tat Hian, ia lantas mengeprak kudanya untuk lari keras ke arah itu.

Tidak lama maka tibalah ia di tempat kuda dan orang itu rebah menggeletak. Ia berkuatir orang hanya berpura-pura mati, dari itu sebelum mendatangi dekat, ia menggunai bandringnya, guna menotok jalan darah tiongteng dari orang itu. Setelah mendapat kenyataan orang terus berdiam saja- suatu bukti benar dia telah mati - barulah ia datang menghampirkan.

Benar-benar orang itu Tan Tat Hian adanya!

"Heran!" pikirnya. Tat Hian mati dengan mulut mengeluarkan darah, suatu tanda bahwa ia telah teriuka di dalam. Ia sudah putus jiwa akan tetapi tubuhnya masih hangat. Jadi dia mati belum lama. Bun Siu menggeledah tubuhnya, maka terlihat kulit dadanya bertanda mataag biru sebesar telapakan tangan dan tujuh atau delapan tulang iganya patah. "Entah siapa yang menghajar dia?" pikir nona ini. "Lihai penyerang itu!"

Karena ini, ia lantas melihat ke sekitarnya. Ia masih sempat melihat satu titik hitam di tempat jauh. Inilah satu penunggang kuda, yang kudanya dilarikan. Ia menjadi mencurigai penunggang kuda itu, sebab kantung gendolan dan sakunya Tat Hian bekas dirobek dengan pisau, dan peta tidak ada di tubuhnya itu.

"Istana rahasia sudah didapatkan, apa perlunya orang itu dengan peta tersebut?" ia berpikir. Ia berdiri berdiam sekian lama di samping tubuh musuhnya itu. Lega juga hatinya walaupun musuh ini terbinasakan lain orang. Kemudian ia lantas menaiki kudanya, untuk kembali kepada orang-orang Kazakh. Tepat ia mendengar gemuruh ramai: "Sangszer menang! Sangszer menang!" Ia terperanjat. Pikirnya: "Kalau Sangszer menikah dengan Aman dan aku memberitahukan Supu bahwa akulah kawannya semenjak masih kecil, bagaimana pilarnya?'' Memikir begitu, ia likat sendirinya. Tapi ia berjalan terus mendekati rombongan.

Supu masih rebah di tanah, ia mencoba terbangkit bangun tetapi sukar. Ia merayap, ia berdiri, lalu terhuyung dan roboh pula. Sangszer mengasih bangun "Supu," katanya, "jikalau kau penasaran, kau beristirahatlah, nanti kita mengulangi pertandingan kita ini."

Supu menggeleng kepala, matanya mengawasi Aman, sinar matanya itu menandakan remuknya hatinya.

Aman bisa melihat sinar mata itu, tanpa merasa, air matanya mengalir.

"Benar-benar mereka sangat mencinta satu pada lain," pikir Lie Bun Siu, yang bisa melihat roman muda-mudi Itu. "Dalam hidupnya, pastilah Supu tidak dapat mencintai lain orang lagi Pula Aman, kalau dia menikah sama Sangszer, tidak nanti dia dapat melupai Supu, tidak nanti dia menyenangi Sangszer, maka untuk kedua belah pihak tidak ada kebaikannya..."

Kembali Bun Siu mengawasi Supu. Pemuda itu pergi ke pinggiran, jalannya masih rada limbung, tangannya memegangi kepalanya, rupanya dia merasa pusing. Di pinggiran itu, dia duduk dengan napasnya masih belum tenang. Ia menjadi merasa kasihan pada kawannya itu. Maka ia masuk ke dalam gelanggang.

"Sangszer," katanya, "tadi aku pergi mengejar satu orang, pertandingan kita gagal. Maka itu mari sekarang kita mengulanginya." Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan: "Kau tentunya masih lelah, aku sebaliknya masih segar, kalau kita bertanding sekarang, tidak adil. Maka ini baiklah kita atur begini, hari ini pertandingan ditunda sampai besok!"

Sangszer rada jeri pada lawannya itu. "Baik," sahutnya. "Kita bertanding besok."

Bangsa Kazakh mengira, setelah Sangszer mengalahkan Supu, Aman bakal menikah sama si pemenang ini, tidak tahunya si pemuda gagah she Lie telah muncul pula dan menantang Sangszer, dengan begitu, urusan menjadi tertunda. Karena itu, sampai malamnya, mereka masih menduga-duga entah siapa yang bakal menjadi pemenang terakhir. Umumnya mereka menduga Bun Siu yang bakal menang, hanya mereka heran, pemuda itu bertubuh halus dan romannya tampan sekali, siapa tahu, dia bertenaga kuat dan ilmu berkelahinya mahir, lapi dia bakal berkelahi dengan tangan kosong. Dapatkah dia mengalahkan Sangszer? Kenapa tadi dia kabur tidak keruan?

Besoknya lohor, orang berkumpul pula di tegalan.

Setelah beristirahat dan dapat tidur satu malaman, Sangsfeer menjadi segar sekali. Ia telah memikirkan siasat berkelahinya: "Dia pandai silat, dari itu tidak dapat aku berkelahi renggang, sebaliknya, aku mesti merapatkan dia. Begitu bergerak aku mesti ringkus, untuk kita mengadu tenaga..."

Siasat ini benar-benar digunakan.

Lie Bun Siu berkelit ketika ia ditubruk, tangan kanannya dipakai menangkis berbareng menarik, sedang kaki kanannya membentur kaki orang. Dengan begitu, tidak ampun lagi, robohlah lawan itu

"Kau kurang berhati-hati!" ia kata tertawa. “Mari maju lagi!"

Sangszer berlompat bangun. Ia tetap sama siasatnya, yang ia telah pikir matang. Begitu berhadapan, ia menubruk dengan gesit

Bun Siu kembali menggunai Kimnaciu, ialah ilmu silat menangkap. Ia menangkap dan memutar, tangan kirinya menolak. Lagi sekali Sangszer roboh terguling, bahkan kali ini, tangannya keseleo sebab dia mencoba meronta. Karena merasa sakit, terpaksa ia mendekam terus.

"Kau bangun!" berkata Bun Siu tertawa. "Mari mencoba lagi!"

Nona ini mempelajari Kimnaciu yang terdiri dari tiga puluh enam jurus berikut pecahannya tiga puluh enam jurus lainnya, maka itu, mana bisa Sangszer melawannya? Maka juga, lagi- lagi pemuda Kazakh itu kena dirobohkan. Delapan kali dia diberikan ketika, akhirnya dia menggeleng kepala dan berkata: "Aku tidak sanggup melawan kau, pergi kau nikah Amani..." - la mengundurkan dai sambit tunduk.

Bun Siu tidak lantas rnenunta hadiahnya.

"Supu, mari!" ia kata pada si anak muda. "Mari kini bertanding!" Supu menggeleng kepada. "Aku tidak sanggup melawan kau," katanya. Ia tahu kekuatannya berimbang sama Sangszer, percuma ia melawan.

"Belum tentu," kata Bun Siu. "Mari kita coba dulu;" Supu melirik kepada Aman, ia melihat sinar mata si nona seperti menganjuri.

"Baik!" sahurnya seraya terus menyingsat pakaiannyn. Ia menggunai cara seperti Sangszer, begitu berhadapan, ia menubruk.

Bun Siu berkelahi seperti melawan Sangszer tadi, empat kali beruntun ia membuat lawannya mencium tanah, hanya ketika ke lima kalinya ia membikin orang roboh dan ia menekan punggung orang, ia berbisik: "Kau meronta, kau sambar punggungku, nanti kau menangi"

Supu heran, tetapi ia tidak sempat berpikir lama. Mendadak ia mengerahkan tenaganya, ia bangun, tangannya menyambar punggungnya lawan itu, maka di lain saat Bun Siu telah kena dirobohkan, ditekan pada tanah! Bun Siu tidak dapat berontak. Tapi Supu berpikir:

"Kemenangan ini bukannya kemenangan." la mengasih orang bangun seraya berkata: "Mari kita mencoba pula!"

Bun Siu menerima baik. Mereka kembali bergulat. "Ingat tipu-tipu tadi," kata Bun Siu, perlahan. "Jangan lupa!”

Di saat genting, kembali Bun Siu membiarkan ia dirobohkan. Saban-saban ia mengisiki akan lawan ingat tipunya itu. Semua itu terjadi hingga enam kali. Selama itu, tidak ada seorang jua yang mendengar kisikan itu, hingga orang cuma. heran, tidak ada yang bercuriga. Kelihatannya wajar Supu menjatuhkan lawannya itu. Hanya Supu sendiri yang heran bukan main. Terang ia kalah tetapi ia diajari tipu dan dibiarkan menang. Ia tidak dapat membade hati orang. Ia heran kenapa pemuda ini tidak mengharapi Aman yang demikian cantik manis.

Di akhirnya, habis dirobohkan, Bun Siu bangun berdiri dan berkata nyaring: "Sudah, tidak sanggup aku melawan kau, aku tidak mau memperebuti Aman!" Supu jujur, ia merasa tidak enak. "Kau mengalah," katanya.

"Jangan sungkan," kata Bun Siu. "Aku sudah kalah! Aku menyerah! Kalah dari kau, aku tidak malu!"

Si ketua pun heran, ia menjadi bingung juga. Siapa si pemenang terakhir? Supu kalah dari Sangszer, Sangszer terkalahkan Lie. Bun Siu, tetapi Supu menang dari pemuda Han ini? Bagaimana?

Beberapa orang menyatakan pikirannya: "Kalau begitu, biarlah Supu dan Sangzer mengulangi pertandingannya. Mereka itu sama-sama kalah dan sama-sama menang."

Pikiran ini dapat kesetujuan umum .dan lantas diterima baik. Bahkan pertandingan lantas diadakan seketika juga. Kali ini mereka itu sama-sama habis bertempur, jadi mereka sama letihnya.

Supu dan Sangszer menerima baik pertimbangan itu.

Pertandingan dimulai setelah kedua pihak sudah siap sedia dan pertandaan diberikan.

Selama itu Supu mencoba mengingat-ingat tujuh jurus ajarannya Lie Bun Siu, ia mengingat baik hanya tiga tipu, tetapi ini pun sudah cukup. Demikian, di saat ia terancam bahaya, ia menggunai tipu ajaran orang Han itu, karenanya, saban» saban ia menang di saat terakhir. Sangszer kewalahan, akhirnya dia menyerah kalah.

"Sesudah bergulat dua hari, Supu memperoleh kemenangan terakhir!" berkata si ketua dengan keputusannya. "Itulah bukti yang Allah telah mengampuni Supu, maka dapatlah dia menikah- sama Aman"

Muka Aman merah tetapi hatinya girang tidak terkira- kirakan.

Orang banyak pun bergirang. Itulah perjodohan yang hebat Supu hendak memberi hormat kepada Bun Siu, untuk menghaturkan terima kasih, tidak tahunya, ketika ia mencari pemuda itu, si pemuda sudah naik atas kuda putihnya dan pergi dengan diam-diam hingga dia tidak dapat disusul lagi!

Malam itu, dengan mengitari unggun, bangsa Kazakh membuat pesta.

Sangszer kalah tetapi dia terbukti gagah, ada empat nona manis lainnya yang mengerumuni, yang menghibur dan menyanyi untuknya. Mulanya ia berduka. Lama-lama ia terhibur juga. Akhirnya ia bingung, siapa yang ia mesti pilih di antara empat nona-nona itu. Mereka itu, kecuali cantik, masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, umpama yang satu halus budi pekertinya, yang lain' merdu nyanyiannya, yang lain lagi lemah gemulai tariannya...

"Apakah baik aku memilih yang lainnya saja?" demikian ia pikir. Lalu, dia pun mengingat, yang kitab sucinya mengizinkan ia menikah empat isteri...

Tengah pesta berlangsung itu. sekonyong-konyong ada terdengar tiga kail suara jeritan mengerikan seperti suara burung malam, datangnya dari arah barat. Semua orang terkejut, semua mata memandang ke barat itu.

Suara yang membangunkan bulu roma itu keluarnya dari satu orang yang luar biasa. Dia datang menyusuli suara anehnya itu, datangnya sambil berlari-lari keras, tubuhnya nampaknya putih. Lantas dia berhenti di jarak empat tombak dari orang banyak. Sekarang terlihat tegas dia mengenakan jubah putih yang berlepotan darah, seperti mukanya berdarah juga. Dia lebih tinggi dua kaki dari orang yang kebanyakan. Ketika dia mengangkat dan mengulur kedua tangannya, terlihat sepuluh jarinya panjang sekali dan sepuluh jari itu pun berdarah.

Semua orang mejengak, hati mereka berdebaran. Hanya sebentar, manusia luar biasa itu lantas mengasih dengar suaranya yang tajam "Siapa sudah curi mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu, aku akan membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak berani memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamal"

Habis berkata, dengan perlahan dia memutar tubuhnya, dia menunjuk -kepada seekor kuda terpisah tiga tombak jauhnya, dia berkata: "Mampuslah kau!" Setelah itu mendadak dia memutar tubuhnya dan lari, sekejap saja, tubuhnya lenyap.

Semua -orang kaget dan tercengang. Manusia aneh itu muncul dan leayap secara mendadak dan kelakuannya juga aneh. Lantas menyusul lain keanehan. Ialah kuda yang dia tunjuk itu mendadak roboh dan mati, ketika orang merumuninya, binatang itu tidak terluka, tidak keluar darah dari mulut dan hidungnya, agaknya mati wajar.

"Hantu.. Hantu!" kate banyak orang. "Telah aku kata di Gobi ada setannya!"

"Sudah seribu tahun istana tua itu tidak didatangi manusia, pasti ada memedi yang menjaganya!"

"Katanya hantu tidak ada kakinya, mari kita lihat, dia ini ada tapaknya atau tidak..."

Beberapa orang membesarkan hati, dengan membawa obor mereka maju. Tidak tampak tapak kaki, ada juga liang kecil setiap jarak lima kaki. Tapak kaki manusia tidak sekecil itu. Juga jarak tepak kaki tidak dapat serenggang itu.

Sampai di situ, orang menduga iblis penunggu istana main gila, maka ada yang berkata: "Semua yang memasuki istana, dia akan celaka... Lihatlah Suruke dan Cherku! Bukankah mereka terbinasa di. sana? Tentu si hantu membikin Cherku kalap, Cherku disuruh, membinasakan Suruke, kemudian Supu dibikin tak sadar dan diperintahkan membunuh Cherku..." "Ya, lihat itu kawanan penjahat Han, sudah sepuluh tabun mereka mengganas di gurun pasir, Orang kewalahan karenanya, tetapi sekali mereka memasuki istana rahasia itu, beginilah kesudahannya..."

"Dan orang bangsa kita, bukankah telah banyak yang mati di dalam istana itu?" kata lagi suara lainnya.

Di akhirnya ada yang memperingatkan suatu dongeng tua, begini: Seorang secara mendadak mendapati harta karun di padaag pasir, harta itu diangkut pulang, hanya aneh, unta yang menjadi binatang tunggangannya tidak dapat pulang, cuma mondar-mandir di situ-situ juga. Katenya, si penunggu tidak membiarkan orang mencuri harta itu, kaki unta "dipegangi". Setelah harta itu dikembalikan, baru orang itu dapat pulang. Inilah dongeng yang setiap orang Kazakh mengetahuinya.

Maka akhirnya seorang mengusulkan kepada ketuanya: "Baiklah semua harta itu dikembalikan, supaya mereka terhindar dari mara bahaya. Tapi orang berat ' .untuk mengembalikannya, mereka bersangsi.

Malam itu tidak ada kepatutannya.

Segera datang malam yang kedua. Kembali orang berkumpul di tegalan itu. Semua berkuatir "hantu" tadi malam nanti datang pula. Maka itu mereka lebih suka berkumpul bersama, hati mereka menjadi terlebih tenang. Karena tidak ada orang suka berdiam sendirian di tenda mereka, jumlah mereka menjadi jauh terlebih besar.

Mulai tengah malam, dari arah barat daya terdengar suara jeritan seperti malam pertama. Datangnya juga dari jurusan yang sama. Semua orang menjadi kaget, bulu roma mereka lantas pada bangun. Mereka tidak usah menanti lama akan melihat munculnya si "hantu" yang kemarin itu, yang bajunya putih dan berdarah. Dia datang bagaikan terbang, lantas dia terdiri di muka orang banyak. Dia pun segera mengasih dengar suaranya seperti kemarinnya: "Siapa sudah mencuri mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu, akan aku membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak dapat memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamu!"

Sehabis berkata, si hantu memutar tubuhnya. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya, untuk menunjuk satu pemuda, yang terpisah jauh juga darinya. Lantas ia kata nyaring: "Kau matilah!" Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuhnya, yang diputar balik, terus dia berjalan pergi, maka di lain derik lenyaplah dia dari pandangan mata semua orang!

Menyusul itu terjadi hal aneh dan hebat atas diri si anak muda yang ditunjuk tadi. Dengan sendirinya pemuda itu menjadi lesu, sepatah kata juga dia tidak mengeluarkannya, lantas dia berubah kulit mukanya menjadi hitam, dan dia mati! Kecuali itu, tidak ada tanda lainnya lagi. Dia tidak terluka.

Tidak cukup kemarin malam membunuh seekor kuda, kali ini hantu itu membinasakan seorang muda segar bugar. Ialah salah satu anak muda yang pernah turut memasuki istana rahasia.

Orang semua menjadi takut dan bingung, semua terbenam dalam kekuatiran. Benar selewatnya tidak ada bahaya lagi, akan tetapi di lain malamnya-malam ketiga tidak ada seorang jua yang berani muncul di tegalan, semua menyekap diri-di dalam tenda, yang ditutup rapat-rapat Malam itu jadi sangat sunyi senyap.

Malam tenang-tenang saja sampai tiba jam haysie, seperti kemarin-kemarinnya. Dengan tiba-tiba terdengar pula jeritan yang menakuti itu, disusul sama kata-kata yang serupa, disusul sama seman terakhir: "Kau matilah!"

Habis ancaman itu kembali malam rnembuat.sunyi, hanya tidak lama, ketenangan terganggu tangisan sedih yang keluar .dari sebuah tenda. Itulah bukti bahwa si hantu telah datangi tenda itu, menyingkap tendanya dan membunuh mati seorang mudai

Orang menjadi takut, tetapi mereka tidak berdaya. Juga di waktu siang, ketakutan mereka tetap tidak berubah. Mereka lantas berdoa, memuji kepada nabi mereka memohon perlindungan. Lain jalan tidak ada.

Sia-sia belaka doa mereka, di malam keempat, kembali seorang muda binasa secara serupa. Maka itu, ketika tiba kurban yang ke empat, si ketua menjadi putus asa, terpaksa ia mengajak semua orang bangsanya mengangkut pulang harta karun ke istana rahasia, tidak ada orang yang berani menyembunyikan sekalipun sepotong kecil emas atau perak. Sepulangnya barulah hati mereka lega sedikit. Mereka mau percaya si hantu tidak bakal datang pula untuk mengganggu. Akan tetapi, peristiwa tidak gampang-gampang habis...

Untuk pulang dari istana rahasia, di malam pertama, mereka mesti bermalam di tengah gurun pasir. Malam itu si hantu muncul di antara mereka, bantu itu berkata: "Kamu baik sekali, semua harta telah kamu kembalikan padaku. - Aku memajikan Semak kamu makmur, kamu sendiri selamat tidak kurang suatu apa! Hanya itu anak perempuan, yang mengantarkan kamu ke istaa rahasia, dia hendak aku menghukumnya!" Habis berkata begitu, dia lantas lenyap.

Aman adalah si anak perempuan yang dimaksudkan itu, maka bukan main takutnya ia. Dengan ia, turut berkuatir juga Supu, maka besoknya malam bersama empat kawannya pemuda lain, dengan menyiapkan golok, Supu menjagai kekasihnya Itu.

Kapan sang tengah malam tiba, si hantu putih yang berlepotan darah itu muncul pula. Supu berlima mengitari Aman, akan tetapi belum sempat mereka berbuat apa-apa, lantas mereka merasakan punggung mereka sesemutan dan kaku, lantas mereka roboh tak sadarkan diri. Ketika mereka mendusin sesudah langit menjadi terang, Aman lenyap tidak keruan paran. Mereka menjadi kaget Si empat anak muda lantas naik kuda mereka, untuk kabur pulang. Supu pun menunggang kuda dan kabur, hanya dia mengambil arah kembali ke istana rahasia

*Wah, Supu, kau mau bikin apa?" orang bertenak-teriak menanya.

Sambil kabur terus, Supu menyahuti: "Aku hendak mati bersama Aman!...”

Orang; hendak mencegah tapi pemuda itu sudah kabur jauh.

Supu hancur hatinya. Ia pergi ke istana bukan untuk menolong kekasihnya, hanya benar-benar buat mati bersama

Magribnya di hari keempat, tibalah Supu di depan pintu emas dari istana rahasia. Dia benar-benar telah menjadi nekat. Tepat di depan pintu, dia berteriak-teriak: “Hai, hantu jahat dari istana rahasia! Kau telah membikin mati kepada Aman, maka kau bunuhlah aku sekaitan! Akulah yang bersama Aman mengantarkan orang-orang bangsaku datang, kemari untuk mengangkut harta karun! Aku Supu, aku tidak-takut mati!"

Supu telah menunjuk keberaniannya itu, akan tetapi sia-sia belaka ia berkaok-kaok di muka pintu emas dari istana itu, tidak ada orang yang menyahuti padanya, tidak ada orang yang melayani bicara. Ia penasaran, maka ia berseru pula:

"He, hantu jahat, apakah kau takut padaku? Haha! Aku justeru tidak takuti kau, tidak takut meski kau hantu jahat!” Ia lantas membulang-balingkan goloknya bagaikan orang kalap.

Selagi pemuda ini masih kalap, mendadak ia mendengar suara halus di sebelah belakangnya: "Supu, kau lagi bikin apa?” Ia terperanjat; dengan segera ia memutar tabuhnya. Maka ia melihat seorang wanita Han. Malam remang-remang, sinarnya si pulen malam tidak cukup kuat untuk membikin wajah orang nampak jelas.

"Kau mencaci kalang kabutan, siapakah yang kau maki?" tanya pula wanita itu.

Sapu mendengar nyata suara orang. Itulah suara yang ia kenal baik.

"Kau... kau toh tuan Lie?" tanyanya akhirnya. "Mengapa kau... kau kembali menjadi wanita?"

Nona itu memang Lie Bun Siu. Dia bersenyum

"Sebenarnya kau bikin apa di sini?" dia menanya tanpa menjawab.

"Lekas kau menyingkir!" kata Supu, yang jnga tidak menyahuti. "Istana rahasia ini ada hantunya yang jahat! Kalau sebentar dia keluar, dia dapat membikin celaka padamu..."

"Kenapa kau sendiri tidak takut?" balik tanya si nona. Supu menjadi sengit. "Setan jahat itu telah mencelakai Aman!" sahurnya. "Aku tidak ingin hidup pula!"

Bun Sui nampak kaget . "Bagaimana bisa ada bantu jahat di istana?” katanya-: "Kenapa din mencelakai Aman?" .

Supu lantas memberi penjelasan hal munculnya si hantu baju putih, yang mengganggu orang Kazakh hingga ada yang mati dan Aman diculik, karena mana ia datang menyusul, guna menyerahkan jiwanya juga.

Bun Siu berdiam untuk berpikir. Ia heran dan curiga.

"Ada tanda apa di tubuhnya kurban-kurban jiwa itu?" ia tanya kemudian. "Benar-benarkah tidak teriuka sama sekali?"

"Benar tidak ada tanda apa-apa," menyahut Supu. "Hanya….." tiba-tiba ia ingat suatu apa, "hanya kulit muka mereka menjadi hitam seperti dilabur lumpur..." Bun Siu berdiam, hatinya bekerja: "Aku tidak percaya ada hantu di dalam dunia ini... Mungkin seorang lihai tengah main sandiwara dengan menyamar menjadi iblis. Hanya, mengapa tidak ada tapak kakinya di atas pasir? Kenapa hanya dengan satu kali mengulur tangan dia dapat membinasakan orang?..."

"Tuan Lie," berkata Supu selagi orang berpikir, "kau baik sekali, kau membantu aku mendapatkan Aman, maka sayang peruntunganku tipis, sekarang Aman dibikin celaka hantu.-Aku datang kemari untuk mengantarkan jiwa, biar si hantu - jahat membinasakan aku sekalian. Tuan Lie, mari kita berpisah, agar kita bertemu pula nanti di lain penitisan..."

Bun Siu terharu dan bingung. Menurut penuturan Supu, "hantu” itu sangat lihai. Rasanya tidak sanggup ia melawan bantu itu. Ia bingung mengingat anak muda ini mengurbankan diri untuk Aman. Itulah cinta sejati. Itu membuatnya terbaru. Ia kata di dalam hatinya: "Kau bersedia mati untuk Aman, kenapa aku tidak bersedia mati juga untuk kau?..."

Maka ia lantas kata: "Mari aku temani kaul"

Supu terkejut Ia heran. Ia lantas mementang matanya lebar-lebar, sedang hadnya berpikir "Kenapa kau begini baik terhadap aku? Mustahilkah..." Ia tidak berani memikir terus, hanya segera ia berkata: "Lekas kau menyingkir dari sini! Lebih jauh lebih baiki" Tapi si nona tidak pergi. "Kau dengar aku," ia berkata. "Itulah bukannya hantu! Aku percaya dialah orang yang menyamarnya! Mari kita bekerja sama untuk menempur dia!" Supu menggeleng, kepala. "Kau belum pernah melihat hantu itu!" katanya. "Kau tidak tabu dia lihai sekali! Tuan Lie, aku sangat berterima kasih kepada kau.tetapi.. kau baiklah lekas pergi, lekas!"

Lie Bun Siu tertawa, walaupun tertawa dengan air naiki berduka. Ia menghunus pedangnya, sedang dengan tangan yang lain ia menolak pintu istana rahasia itu. "Kau pasang obor!" ia pun berkata. "Mari kita menolongi Aman!”

Hati Supu tergetar mendengar suara orang itu. Tiba-tiba ia mendapat harapan

"Apakah Aman belum mati?" dia bertanya, matanya mendelong.

"Aku percaya belumi" menjawab Bun Siu. Tiba-tiba pemuda Kazakh itu bergembira. "Baik" dia berseru. "Mari kita tolong! Aman!"

Dia lantas menyulut obor, bahkan dia mendahului masuk ke istana.

Demikian muda-mudi ini masuk ke dalam istana. Mereka jalan berliku-liku. Sudah sekian lama, mereka belum juga memperoleh hasil, Supu tidak takut, saban-saban ia berteriak- teriak memanggil-manggil: "Aman! Aman! Kau di mana?" Tapi tidak juga ia memperoleh jawaban.

"Kau teriak bahwa pasukan besar kita datang menolongi," Bun Siu menganjur. "Mungkin si hantu takut dan nanti menyingkirkan dirinya..."

Supu menurut, ia berteriak-teriak pula: "Aman! Aman! Jangan takut! Kami datang dalam jumlah besar untuk meoolongi kau!"

Masib tidak ada jawaban, maka mereka maju terus. Sekonyong-konyong terdengar jeritan di sebelah depan.

Itulah jeritan wanita. Mungkin sekali itulah Aman. Maka Supu

lantas lari. Di depan sebuah kamar, ia segera menolak daun pintu. Untuk kagetnya, ia melihat Aman di satu pojok, tangan dan kakinya dibelenggu. Dia kaget melihat Supu, dia menjerit, Supu juga menjerit saking terkejut, dan girangnya. Supu lompat maju, untuk mendekati. Dengan cepat ia meloloskan belengguan si nona.

"Mana dia si hantu jahat?" tanya dia selagi menolongi membebaskan.

"Dia bukannya hantu, hanya manusia," Aman menjawab. "Hanya di dalam gelap, aku tidak bisa melihat tegas wajahnya. Dia bertangan panas. Barusan dia ada di sini, begitu dia mendengar suara kau, lantas dia pergi menyingkir!" Supu bernapas lega. "Orang macam bagaimana dia itu?" ia menanya. "Kenapa dia menangkap dan menculik kau?"

"Entahlah," Aman menjawab. "Selama di tengah jalan dia telah menutup mataku. Di dalam istana ini, seluruh ruangan gelap sekali, dari itu belum pernah aku dapat melihat jelas mukanya."

Supu berpaling kepada Bun Siu, sinar matanya menunjuki sangat bersyukur. Sebab benar katanya si nona. Aman belum mati.,.

Bun Siu juga memandang si anak muda, ketika ia berkata: "Supu! Bukankah kau bilang bukannya kau yang membunuh ayahnya Aman? Sekarang aku percaya kau! Si pembunuh mungkinlah.ini.manusia jahat yang menyamar menjadi hantu!”

Supu berjingkrak. Ia seperti telah disadarkan.

"Tidak salah! Tidak salah!" serunya. "Mungkin dia jugalah yang membunuh ayahku! Mari kita cari dia!”

Begitu lekas mengetahui si hantu jahat hanya manusia belaka, keberaniannya pemuda Kazakh ini bangkit pula. Tapi, cuma sejenak, ia lantas ingat suatu hal lainnya.

"Tuan Lie, dapatkah kita melawan dia?” ia menanya. Ia baru ingat bahwa penjahat itu lihai sekali.

Bun Siu pun berpikir, ia bersangsi, terus ia menggeleng kepala. "Dalam sepuluh, sembilan kita susah menang," sahutnya terus terang. "Supu, baiklah kau bersama Aman lekas pulang, lantas kau mengajak rombongan bangsamu datang kemari, kau pasti bakal dapat membekuk dia."

"Rasanya sulit," berkata Supu, juga Aman. "Mereka,itu takut bantu, mana bisa mereka diajak datang kemari?" Bun Siu berpikir pula.

"Aku ada akal, entahlah kau, kau berani atau tidak." katanya.

"Bilanglah, apa aku mesti kerjakan, nanti aku kerjakan!" kata si anak muda.

Bun Siu berduka. Ia kata di dalam hatinya: "Kalau aku menyuruh kau jangan mencintai Aman hanya aku, dapatkah kau mendengar kata-kataku?" Tapi ia tidak mengatakan demikian. Dengan perlahan ia kata: "Mari kita berdua berpura- pura bertengkar dan bertempur, kita pergi ke itu kamar di mana ayahmu dan Cherku telah terbinasa. Mungkin si orang jahat muncul. Kalau benar, kita serang dia secara mendadak" Supu setuju.

"Bagusi" katanya. "Mari kita mulai!"

"Dia lihai sekali, kau mesti waspada," Bun Siu pesan. Supu mengangkat kepalanya, sikapnya gagah.

Bun Siu lantas tertawa dingin.

"Kau bernyali besar! lihat golok!" dia berseru, lantas dia menyerang.

Supu kaget, dia lompat berkelit "Tuan Lie...” serunya. Atau ia mendusta. Maka ia membalas membacok sambil menegur. “Kau berani kurang ajar? Kau berani menyerang aku? Lihat, aku bunuh mampus padamu” la lantas mengangkat goloknya.

Aman sudah lantas mengerti peranannya. Ia mengangkat obor tinggi-tinggi ia berteriak-teriak: "Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Eh, kenapa tidak keruan-keruan kamu berkelahi?"

Cegahan itu tidak diambil mumat, keduanya lantas saling bacok. Golok dan golok bentrok, berbunyi nyaring tidak hentinya. Dari kamar itu mereka berkisar ke arah kamar di mana Cherku dan Suruke terbinasa. Supu di depan, Bun Siu di belakang. Supu terdesak, dia lari, Bun Siu merangsak, mengejar.

Meskipun mereka bersandiwara, kedua muda-mudi ini kurang tenteram hatinya. Bukankah mereka lagi bersandiwara untuk menghadapi ancaman bencana?

Tengah mereka "bertarung" itu, mendadak terdengar suara apa-apa yang nyaring di tembok, terus terasa menyambarnya angin dingin Hebat tiupan angin itu, obor di tangannya Aman padam seketika.

Supu dapat menjalankan peranannya baik sekait Ia menjerit "Aduh!" dan tubuhnya terus roboh terguling

Di lain pihak Bun Sie terkejut. Di dalam kamar yang gelap itu, ia merasa ada tangan yang dingin mengenakan lengannya, tangan mana mau merampas senjata di tangannya itu. Ia memang sudah siap sedia, maka sambil mencoba mengelit tangannya, kaki kirinya terangkat, menendang ke perut orang. Sebat gerakannya, tepat tendangannya, yang mengenai sasarannya hingga terdengar Suara keras. Tapi penyerang gelap itu keras cekalannya, dia tidak mau melepaskan tangan orang tidak perduli dia telah tertendang.

Bun Siu mengayun tangan kirinya ke muka musuh.

Musuh itu berkelit sambil mendak, dengan tangan larinya, ia membalas menyerang.

Dengan begitu, mereka lantas bertempur. Supu tidak lantas bangun, ia hanya berguling menghampirkan untuk menyambar kaki musuh itu. Tapi ia salah memekik

"Salah" berseru Bun Siu lekas. "Inilah kakiku! Aman, nyalakan api!"

Justeru ia membuka suara, pundaknya Bun Siu kena ditinju. Ia merasakan sakit hingga ia menjerit. Atas itu, musuh bekerja terus. Ia memegang keras lengan kanan si nona untuk mencoba merampas golok orang.

Di dalam keadaan yang berbahaya kembali terdengar siuran angin, tanda dari datangnya seorang lain, lantas terdengar bentakan; "Jangan bergerak!"

Suara bentakan itu belum berhenti, atau menyusul yang lain: "Jangan bergerak!"

Agaknya dua orang itu kaget, sebab berbareng terdengar suara mereka: "Siapa kau?"

Inilah suara saling tanya. Tapi mereka tidak menjawab satu pada lain sebaliknya, sebagai gantinya, terdengar suara beradunya senjata.

Bun Siu terkejut dan heran. Dengan mendadak ia menghajar dada orang. Telak tinjunya ini, hanya orang itu berdiam saja, dia tidak berkelit, dia tidak berteriak kesakitan.

Karena orang berdiam saja dan tangannya yang dicekal pun bebas, Bun Siu lantas menyalakan api, maka sekarang ia bisa melihat dengan nyata keadaan di dalam kamar itu. Tentu sekali, ia menjadi bertambah heran.

Dua orang yang lagi berkelahi itu ialah Kee Loojin serta Hoa Hui, yang satu penolongnya, yang lain gurunya: dua-duanya orang yang ia buat pikiran, yang ia hendak cari.

"Suhu!" ia  lantas berteriak. "Kakek Kee! Tahan! Tahan!

Semua orang sendiri!" Teriakan itu membikin dua orang itu heran, keduanya sama-sama lompat mundur.

Bun Siu sendiri segera mengawasi orang yang mau merampas goloknya, yang masih berdiri diam saja Sebab dia kurban totokan pada jalan darahnya. Ia tidak dapat mengenali orang, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, mukanya berewokan, rambutnya awut-awutan, dan mukanya itu juga tersilangkan tapak golok.

"Suhu! Kakek Kee!" kemudian si nona berkata. "Syukur kamu datang menolongi aku, jikalau tidak, aku bisa mati di tangannya ini manusia yang menyamar menjadi hantu!"

Orang itu tidak dapat berkutik tetapi ia bisa membuka mulutnya. Dia tertawa dingin dan berkata: "Yang menyamar menjadi hantu bukannya aku hanya Ma Kee Cunl" Dan tangannya menunjuk Mendengar disebutnya nama "Ma Kee Cun" itu, dua-dua Hoa Hui dan Kee Loojin terperanjat, mereka seperti merasakan tubuh mereka ditusuk jarum panas, keduanya sama-sama berlompat mundur. Wajahnya Kee Loojin nampak bengis tetapi bergelisah, dan wajah Hoa Hui gusar sekali. Kemudian Kee Loojin nampak menjadi kurangan bengisnya, tertukar dengan roman jeri.

Hoa Hui mengawasi orang tua she Kee itu, dan atas ke bawah dan sebaliknya.

Kee Loojin bertindak mundur lebih jauh. sinar matanya berjelalatan. Ia agaknya berniat mencari jalan untuk lari kabur.

Sekonyong-konyong Hoa Hui berseru; "Kee Cun, diam!"

Kee Loojin berdiam, ia mengangkat goloknya, sikapnya mengancam. Ia mengawasi Hoa Hui.

"Bagus, bagus!" katanya. "Kau benar belum mati!" Suaranya perlahan. Hoa Hui juga mengawasi tajam sekali, tak sekejap jua ia mengedip.

Kee Loojin tidak mundur lagi, ia terus menatap, rubuhnya lantas bergemetaran.

"Suhu!" tiba-tiba ia berseru, lalu dia menjatuhkan diri, berlutut di depan si orang she Hoa.

Lie Bun Siu heran bukan kepalang.

"Kenapa Kee Yaya pun memanggil guru kepada guruku?" ia tanya dalam hatinya. "Dia jauh terlebih tua daripada suhu..." Hoa Hui tertawa dingin "Hm! kau masih ingat aku sebagai guru?" katanya tajam. "Ketika dulu kau menggunai jarum beracun menyerang aku, kau toh tidak ingat gurumu, bukan?"

Kee Loojin mengangguk berulang-ulang.

"Ya, muridmu bersalah, muridmu bersalah" katanya. "Muridmu harus mati." Lie Bun Siu baru sadar. "Ah, kiranya tiga batang jarum di punggung suhu dilepaskan oleh Kee Loojin“ pikirnya.

Selagi yatim piatu, dan usianya demikian kecil, ia dirawat si kakek itu hingga sepuluh tahun, tentu sekali ia ingat budi kebaikan itu, maka sekarang, melihat sikap demikian galak dari gurunya kepada si kakek penolongnya itu, ia merasa berkasihan.

"Suhu," ia berkata, "Kee Loojin telah membokong kau, perbuatannya itu sangat tidak selayaknya, akan tetapi aku minta sukalah kau memberi ampun kepadanya. Selama sepuluh tahun Kee Yaya telah merawat aku baik-baik."

Hoa Hui tertawa dingin.

"Hm, apa itu Kee Yaya?" katanya, bengis. "Dia she Ma, namanya Kee Cunl Apakah kau kira dia benar-benar bungkuk unta?" Tanpa hening lagi, ia membentak pada Kee Loojin: "Lekas singkirkan semua penyamaranmu" Kee Loojin berbangkit dengan perlahan-lahan, terus ia membuka bajunya, hingga di punggungnya tertampak tergemblok sebuah buntalan besar. Ia turunkan buntalan itu. Kemudian ia menyusut mukanya dengan tangan bajunya, maka di lain detik, tampak mukanya yang putih dan tampan, la sekarang terlihat tegas sebagai seorang umur tiga puluh lebih, romannya gagah.

Lie Bu Siu sangat heran. "Kee Yaya, kiranya.." katanya tertahan, "kiranya kau masih begini muda?.,."

Kee Loojin menyeringai. "Aku bernama Ma Kee Cun," bilangnya. "Bukankah selama sepuluh tahun aku telah merawati kau tanpa kecelaan?" Bun Siu mengangguk. "Kau memperlakukan aku baik sekali," sahutnya. "Selanjutnya baiklah aku memanggil kau paman Ma."

Hoa Hui mengambil buntalan orang, yang dijadikan alat membikin punggung bungkuk, ia membuka ikatannya dan membelarakkan, maka disitu terlihat sepotong jubah putih yang berlepotan darah, yang dilihatnya mendatangkan rasa ngeri

"Ohl" Supu berseru sedang sedari tadi dia berdiam saja. "Kiranya kaulah yang menyamar menjadi si hantu jahat"

Terhadap Hoa Hui, Ma Kee Cun bersikap sangat menghormat, akan tetapi mengawasi Supu, ia beroman sangat garang.

"Benar aku!" jawabnya, jumawa. "Dengan menyamar sebagai si bungkuk, aku berdiam di gurun pasir selama belasan tahun, selama itu aku sangat menderita; maka itu apa kau kira aku suka membiarkan harta karun di dalam istana rahasia diangkut kamu?"

Supu pun gusar. "Dengan menggunai ilmu siluman kau telah membinasakan tidak sedikit orang bangsaku!" katanya bengis. "Kenapa kau juga menculik Aman?"

Kee Cun tetap berlaku jumawa.

"Aku mempunyai harta besar begini, bagaimana aku bisa tidak mendapatkan isteri yang cantik sebagai kawan?" dia balik tanya. Dia lantas berpaling kepada Hoa Hui, gurunya, untuk berkata terus: "Suhu, harta di istana rahasia ini, semua ada kepunyaanmu, aku melainkan ingin minta dibagi satu bagian saja dalam sepuluh, jumlah itu sudah dapat memuaskan batiku. Nanti aku membinasakan dulu ini bocah Kazakh, lantas kita berempat mengangkut harta ini pulang ke Tionggoan..."

"Tidak.. tidak dapat kau membunuh dia!" Bun Siu menyelak.

Ma Kee Cun menghela napas. "Baiklah," katanya. "Aku tahu kau memang menyayangi bocah Kazakh ini. Bersama dia kau menggembala kambing dan bernyanyi, semua aku telah melihatnya! Jikalau bukannya kau sangat menyayangi dia, aku juga, tidak nanti menculik Aman. Baiklah, aku tidak akan membunuh dia. Kau dapat Supu, aku mendapat Aman, dan suhu mendapatkan harta besar! Jadi kita bertiga telah mendapatkan masing-masing bagiannya..."

“Kee Yaya..." berkata Bun Siu menghela napas: "Eh, salah, aku harus memanggil paman padamu! Paman, suatu benda bukan kepunyaanmu, kau ingin memiliki itu untuk selama- lamanya, itulah tak dapat.."

Selagi orang berbicara, Supu mengawasi si nona..la pun lantas mengingat banyak hal... Tapi Hoa Hui gusar. "Anak Siul" katanya keras, "orang ini berdosa besar, apakah kau masih mau meminta keampunan baginya? Kau tahu, semua kepandaiannya akulah yang mengajari, aku mengajak dia datang ke gurun pasir ini mencari istana rahasia, justeru kita mulai mendapat endusan, dia lantas timbul keserakahannya terhadap harta karun, dia menurunkan tangan jahat membokong aku dengan tiga batang jarum beracun, maka selama beberapa tahun, entah berapa hebat penderitaanku, coba aku tidak ditolong kau, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini." Bun Siu memandang Ma Kee Cun.

"Paman, inilah salahmu!" katanya.

"Nona Lie," kata Supu tiba-tiba, "dia pandai menggunai ilmu siluman, awasi"

"Dia bukan menggunai ilmu siluman," si nona bilang. "Dia hanya menggunai senjata rahasia yang berupa jarum berbisa yang halus, yang mengenai tenggorokan, maka kurban- kurbannya tidak memperlihatkan tanda luka apa-apa. Bahwa dia menjadi bertubuh tinggi, itu juga disebabkan kakinya ditambah sama jejangkungan dan jubahnya panjang dan gerombongan hingga kaki palsunya itu tak nampak"

Supu mengangguk. "Kau benar juga," bilangnya.

"Kau telah membokong aku dengan jarum," berkata Hoa Hui, dingin, kepada muridnya itu, "meski kau tahu bahwa aku tidak bakal hidup lama, kau tetap jeri kepadaku, kau takut aku mencarimu, dari itu kau menyamar menjadi si bungkuk. Hm! Coba habis berbuat jahat itu kau menyesal, lantas kau pulang ke Tionggoan, pasti aku tidak bakal dapat mencarimu, tetapi kau berat meninggalkan harta karun di sini! Coba kau tidak datang kemari, habis perkara, tetapi kau loba, tamak hatimu, maka itu, mana bisa kau lolos dari pengawasanku? Haha! Kau dapat menakut-nakuti bangsa Kazakh kau membuatnya mereka itu mengantar pulang harta karun ini, akalmu itu bagus sekali! Kau telah membinasakan Tan Tat Hian, juga tindakanmu itu baik! Hanya sayang kau tidak mengetahui, selama itu, gurumu senantiasa mengutil di belakangmu tanpa kau mengetahui!”

Ma Kee Cun tunduk, ia masgul sekali, ia menutup mulut Ketika itu Supu mendadak berlompat maju, goloknya ia cekal keras.

"Kenapa kau membunuh ayahku?" ia tanya, bengis. "Kenapa kau membinasakan Cherku?”

Belum lagi Ma Kee Cun menjawab, maka orang yang ditotok hingga tidak berdaya itu tertawa berkakak dan berseru: "Akulah yang membunuh! Akulah yang membunuh! Haha! Haha!"

"Kau siapa?" tanya Supu. "Kau siapa?" Bun Siu pun menanya, berbareng.

"Akulah si edan!" menjawab orang itu. "Orang membunuh guruku, maka aku membunuh orang! Eh, Hoa Hui, bukankah guruku terbinasakan kau?"

"Benar!" menjawab Hoa Hui, dingin. "Kau jadinya bukan edan!"

Mendadak tangan kanannya terayun, tiga batang jarumnya menyamber.

Orang yang mengaku edan itu lagi tertawa, sekejap juga, terhentilah tertawanya itu, jiwanya terbang melayang. Karena ia tertawa, wajahnya terus masih tertawa... ' "

Bun Siu kaget dan heran. Ia tidak menyangka gurunya bertindak demikian bengis.

"Dia... dia siapakah?" ia tanya. Hoa Hui agaknya berpikir, ia tidak lantas dapat menjawab.

Tapi Ma Kee Cun mendadak campur bicara. "Si edan ini muridnya The Kiu In!" katanya.

Hoa Hui mengangguk "Benar, dialah murid The Kiu In," ia bilang. Ia mengawasi kurbannya itu, yang wajahnya tetap tertawa, lantas ia membayangkan wajahnya The Kiu In yang disebutkan muridnya itu. "Ketika itu jago tua she The merayakan hari ulang tahunnya, banyak tetamunya yang hadir, aku ialah satu di antaranya. Tengah pesta berlangsung, si edan ini muncul secara tiba-tiba dan dia membawa banyak sekali batu permata dengan apa dia menghadiahkan gurunya itu. Dia mengatakan tidak jelas, dia cuma menyebut-nyebut Istana Rahasia Kobu... Malam itu juga aku menyatroni kamar tidur The Kiu In. Aku ingin mencari tahu tentang istana rahasia itu. The Kiu In mendusin, dia mempergoki aku, sambil tertawa dingin, dia kata padaku: “Tok cie Cin Thianlam, kau juga mengarah harta karun? Aku menganggap turun tangan terlebih dulu paling baik, maka tanpa membilang suatu apa, aku serang ia dengan jarum rahasiaku. Lantas aku mengatur akal, ialah goloknya si edan ini aku tancap di dada The Kiu In, sedang si edan aku culik Aku mau membikin orang percaya si edan membunuh gurunya. Aku menculik si edan, aku membawanya ke tempat yang sunyi. Di sana aku mengorek keterangan dari mulutnya. Aku mesti menggunai segala macam akal. Sampai tiga bulan barulah aku berhasil. Si edan membilang! aku bahwa ia mendapat peta istana. rahasia secara kebetulan saja, karena ketarik hatinya, dia berangkat ke wilayah Hweekiang ini. Dia berhasil mendapatkan istana rahasia berikut harta karunnya yang berjumlah besar luar biasa. Lantas dia mengingat gurunya, maka dia berniat pulang dengan membawa oleh-olehnya itu. Meski begitu, dia terganggu rahasianya istana ini, dia tidak bisa keluar, dia terputar-putar, kelaparan dan berdahaga. Selanjurnya dia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dia dapat keluar dan pulang ke Tionggoan. Setelah memperoleh keterangannya itu, aku bawa dia datang kemari. Aku pun mengajak Ma Kee Cun bersama. Di luar sangkaan ku, pada suatu malam, Ma Kee Cun membokong aku hingga aku terluka parah. Hanya ketika itu, sambil mengerahkan tenaga dalamku, untuk mempertahankan diri, aku dapat bersikap seperti tak terluka. Kee Cun ketakutan, dia kabur. Justeru itu si edan juga kabur dengan membawa peta istana itu. Ah, aku tidak sangka murid yang aku paling percaya, yang aku pandang sebagai anak sendiri, telah mendurhaka terhadapku... Tidak lama kemudian maka di dalam kalangan kangouw tersiarlah berita halnya aku membokong The Kiu In. Mungkin si edan yang telah membuka rahasia itu. Kemudian lagi, setahu bagaimana duduknya, peta itu telah terjatuh ke dalam tangannya Pekma Lie Sam... Karena aku terluka parah dan aku takut keluarga dan murid- muridnya The Kiu In nanti mencari aku untuk menuntut balas, aku tidak berani pulang ke Tionggoan. Pula, aku pun tidak berhasil mencari pula jalanan ke istana rahasia ini... Selanjutnya aku mesti tersiksa karena luka di punggungku, sampai itu hari aku bertemu kau, Bun Siu, dan kau menolong aku mengeluarkan jarum itu... Aku tidak menduga, selang banyak bulan, aku mendapatkan orang-orang Kazakh mengangkut harta karun dari istana ini Lalu, aku pun menyaksikan sepak terjang si orang tua bungkuk unta... Haha! Aku telah melihat dia mencelakai orang dengan jarum rahasianya, maka aku lantas ingat dia siapa. Jikalau tidak, tidak nanti aku mendapat tahu bahwa dialah Ma Kee Cun, murid yang aku sayang."

Sembari mengatakan yang paling belakang ini, Hoa Hui memandang tajam-tajam muridnya itu, kemudian ia memandang si edan, mayat yang tertawa. Katanya di dalam haunya: "Kau sudah mati, perlu apa kau tertawa terus?" Habis itu, ia melanjuti pula keterangannya: "Aku tidak tahu kapan kumatnya si edan ini dan bahwa dia telah bersembunyi di dalam ini istana. Mungkin dia hendak mencari balas untuk gurunya sebab dia membenci aku, yang memfitnah padanya. Begitu, dengan meneladi caraku, dia membunuh si orang Kazakh yang bernama Suruke, begitu juga yang bernama Cherku itu. Dengan perbuatannya itu, meniru aku, si edan ini berlaku Jenaka... Karena harta karun ini, telah banyak jiwa yang melayang, dan sekarang- haha!-semua adalah milikku!- Aku Tok cie Cin Thianlam Hoa Hui si Jeriji Satu Menggetarkan Langit Selatan! Tapi ini si Kee Cun yang berhati serigala berjantung anjing, dia mengharap satu bagian dari harta ini, dia benar-benar lagi bermimpi! Ha-hai Haha! Mesti aku mengasih rasa padanya, supaya dia mati perlahan-lahan... Haha! Haha!"

Tepat tengah tertawa itu, tiba-tiba mata Hoa Hui seperti kabur, di depannya itu ia seperti melihat The Kiu In yang ia binasakan, mata Kiu In mengancam padanya. Mendadak ia berseru-seru: "Setan! Setan! Kau toh The Kiu In?"

Hoa Hui bukan melihat Kiu Su, ia hanya melihat mukanya Kee Cun. Muka Kee Cun masih belum bersih betul bekas penyamarannya. Matanya seperti kabur, ia menjadi salah melihat. Ia pun sedang jeri sebab mengingat Kiu In. Maka menjeritlah ia tanpa merasa...

"Aku bukannya The Kiu In!" Kee Cun pun berkata, dingin suaranya. "The Kiu In berdiri di belakangmu!"

Hoa Hui kaget, segera ia memutar tubuhnya.

"Mana? Mana?" tanyanya. Justeru orang berbalik, Kee Cun membacok ke punggung gurunya itu.

Hoa Hui menjerit keras, sambil memutar pula, kedua tangannya melayang!

"Buk!" demikian satu suara nyaring. Serangan itu mengenai dada si murid.

Bun Siu kaget sekaji, hendak ia menolong, tetapi sudah kasep.

Guru dan murid itu pun rubuh berbareng. Ia lantas memeriksa gurunya, Guru itu sudah lantas berhenti bernapas. Ketika ia melihat Kee Loojin, orang tua palsu ini masih dapat membuka matanya dan berkata dengan sukar. "Bun Siu, sebenarnya aku hendak menyerang dengan jarum rahasia, sayang ada kau berdiri di dekatnya, aku kualir jarumku nyasar melukai kau-" Bun Siu lantas menangis. "Paman Ma, keliru segala perbuatanmu..." katanya, "tetapi kau baik sekali terhadap aku..." Kee Cun menyeringai, lantas kepalanya teklok. Maka pergilah arwahnya.

Bun Siu berduka bukan main.

"Harta ini bukan kepunyaanmu, buat apa kau memperebutinya?..." katanya perlahan.

Oood~wooO

Lewat beberapa hari, Supu dan Aman telah pulang kepada bangsanya. Ia menuturkan segala apa, tetapi ketika ia membilang di dalam Istana Rahasia Kobu tidak ada setannya, tidak ada seorang juga yang mau percaya. Karena ini selanjutnya harta karun itu tetap terpendam di dalam istana yang hilang itu.

Oood~wooO

Sementara itu di padang pasir yang menuju ke kota Giokhunkwan, di sana nampak seorang penunggang kuda yang dari barat berjalan ke timur. Ialah seorang nona cantik, yang di pinggangnya tergantung pedang. Kudanya kuda berbulu pulih, kuda itu besar dan bagus.

"Jalanan istana rahasia berliku-liku tetapi hati manusia melebihkan itu," demikian si nona ngelamun. "Siapa sangka Kee Yaya yang bungkuk itu baru berusia tiga puluh lebih? Siapa menduga, guru dan murid yang dulu bagaikan ayah dan anak, akhirnya menjadi seperti musuh, hingga setelah menderita, mereka sama-sama terbinasa di dalam istana rahasia? Toh Paman Ma memperlakukan aku baik sekali... Suhu seorang buruk, dia juga baik sekari terhadap aku... Dan Supu demikian baik hati, sayang dia cuma mengingat Aman satu orang"

Si kuda putih tidak tahu apa yang nonanya pikirkan, dia bertindak terus menuju ke wilayah Tionggoan, untuk berjalan pulang, ia tidak gentar untuk perjalanan yang jauh dan sukar... TAMAT