-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 07

Bagian ke VII

Dengan terpaksa ayahnya Supu ini memeramkan matanya. Sampai sekian lama, baru ia membukanya perlahan-lahan. Masih ia merasa silau, sampai berkunang-kunang. Untak dapat melibat terus, ia memiringkan tubuhnya. Ketika ia telah melihat tegas, ia menjadi heran dan kagum. Di depan ia ada sebuah bukit, di atas itu ada sebuah pintu yang terlapiskan emas. Itulah sinar yang menyilaukan mata, sebab emas itu ditojo matahari dan menjadi memancarkan sinar berkeredepan itu.

Cherku melihat pintu itu maka dia berseru. Suruke pun mengasih dengar seruannya, disusul oleh Bun Siu, Supu dan Aman» yang menyusul belakangan ini juga, mulanya merasa silau.

"Istana Rahasia Kobu!" demikian suara mereka serempak.

Mereka tidak sangsi pula atas penemuan mereka itu.

Suruke lari menghampirkan pintu, ia menolak dengan kedua tangannya. Pintu itu tidak bergerak.

Cherku maju bersama, untuk membantui, sia-sia saja, meskipun mereka telah mencoba menggunai pundak mereka.

Pintu, yang berdaun dua, kuat sekail

"Penyamun jahanam itu berada di dalam, dia menguncikan pintu!" kata Suruke gusar.

Aman memandangi pintu itu, ia tidak melihat apa-apa yang mencurigai. Ia lantas meraba gelang pintu, ia putar itu ke kiri. Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia memutar pula, sekarang ke kanan. Untuk herannya, ia merasa putarannya longgar. Ia lantas memutar pula, terus, sampai beberapa kali.

Suruke dan Cherku mencoba pula membentur pintu dengan tubuh mereka. Kali ini mereka berhasil. Dengan mendadak kedua daun pintu menjebtak terbuka. Ini pun di luar dugaan mereka. Tentu sekali, mereka menjadi sangat girang. Sambit tertawa, mereka merayap bangun, sebab dengan menjeblaknya pintu, mereka roboh bersama! Di sebelah dafam tampak gelap. Itukah bukan ruang hanya lorong, jalanannya seperti gang. Maka Supu lantas menyalakan obor, untuk menyuluhi. Dengan sebelah tangan menyekat goloknya, ia maju di muka.

Tiba di ujung lorong, mereka menghadapi jalan cagak tiga. Di dalam istana ini tidak ada salju, jadi tidak dapat mereka melihat tapak kakinya si penyamun atau empee Kee. Cagak mana mereka harus ambil?

Kembali Aman menunjuk keterlitiannya. Ia membungkuk untuk dapat memperiapkan lantai. Ia mendapatkan, cagak kiri dan kanan ada tapak kakinya yang enteng, yang tipis sekali. Ia memberitahukan apa yang ia lihat itu.

"Sekarang begini," berkata Suruke. "Kita pun memecah diri, ialah tiga di kiri, dua di kanan. Di dalam baru kita bertemu."

"Tidak dapat kita berbuat demikian," kata Bun Siu. "Istana ini dinamakan istana rahasia, sudah pasti jalannya pun jalan terahasia. Menurut aku paling benar kita tetap berjalan bersama-sama."

Suruke menggeleng kepala, "Berapakah luasnya gua ini?" katanya. "Anak perempuan bernyali kecil, sungguh aku kewalahan!"

Meskipun ia membilang demikian, kejadiannya mereka berlima berjalan bersama, mereka tidak memecah diri. Lebih dnlu mereka mengambil jalan cagak kanan, yang kelihatan lebar.

Baru jalan sepuluh tombak, Suruke berpikir. Sekarang ia baru percaya Bun Siu berpikiran lebih panjang. Pula di depan mereka terdapat lagi jalan pecahan. Maka lagi sekari mereka memperhatikan lantai, untuk mengambil jalan yang ada tapak kakinya. Sekian lama mereka berjalan, mereka melihat bahwa saban-saban ada jalan cagak.

Aman berlaku cerdik, senantiasa ia menggunai pisau membuat tanda di tembok yaag dilewati. Dengan begitu mereka bisa mencegah yang mereka mundar-mandir di situ- situ juga

Akhir-akhirnya tibalah mereka di tempat yang terang. Mereka mendapat sebuah ruang kosong. Di tempat terbuka ini, mereka mendapatkan pula sebuah pintu berdaun dua.

Supu memegang gelang pintu, ia memutar itu. Pintu itu lantas terbuka. Mereka lantas melihat sebuah ruang bagaikan pendopo yang di tembok sekitarnya penuh dengan pelbagai patung malaikat, ada yang terbuat dari emas, ada yang terbikin dari batu kumala dengan biji matanya dari mutiara atau batu permata lainnya, hingga semua mata itu menjadi hidup. Maka tercenganglah lima orang ini.

Melewati ruang ini, mereka mendapatkan pelbagai ruang lainnya, mirip dengan kotak-kotak kamar di mana pun ada masing-masing patungnya beserta batu-batu permatanya. Di sini pun antaranya ada terdapat tulisan-tulisan huruf Tionghoa di tembok, seperti "Raja dari negara Kao diang", "Wen Tai" dan "Kerajaan Tong, tahun Cengkoan XIII".

Kao Chang itu adalah sebuah negara jaman dahulu di wilayah barat yang rakyatnya makmur dan pemerintahannya kuat. Di jaman Tong tahun Cengkoan, raja Kao Chang yang bernama Chu Wen Tai, menyatakan takluk kepada kerajaan Tong, akan tetapi karena negaranya makmur dan kuat, dia berlaku tidak menghormati kaisar Tong itu, dari itu kaisar Tong mengirim utusannya ke Kao Chang- Kepada utusan itu, raja Kao Chang itu mengatakan: "Burung garuda terbang di langit, ayam hutan betina mendekam di gunung, kucing pesiar di ruang dalam, tikus bersembunyi di liangnya. Mereka itu mendapati tempatnya masing-masing, bagaimana mereka tidak memperoleh kemerdekaannya?" Dengan itu raja maksudkan: "Meskipun kaulah burung garuda yang bengis dan aku hanya ayam hutan yang tidak mempunyai guna, tetapi kau terbang di udara, aku sembunyi di dalam hutan, kau tidak nanti sanggup membunuh aku! Meskipun kau adalah kucing dan aku hanya tikus, tetapi kau mundar-mandir di dalam ruang saja, aku sembunyi di dalam liangku, apa kau bisa bikin terhadap aku?"

Itulah tantangan. Mendengar itu. Kaisar Tong Tay Cong menjadi gusar. Sudah begitu lantas terjadi negeri Kao Chang itu menyerang tetangganya, Yenchi, negara yang menghormati sekali Tong itu. Negara Yenchi itu lantas minta bantuan, atas mana kaisar Tong mengirim panglima perangnya, Hauw Kun Cip, menyerang negeri Kao Chang itu.

Ketika Chu Wen Tai mendengar kabar negerinya mau diserang, dia kata pada sekalian menterinya: "Negara Tong itu terpisah dari kita tujuh ribu lie, di antaranya dua ribu lie jalanan gurun pasir di mana tidak ada rumput dan air, yang anginnya meniup tajam seperti golok dan panasnya terik bagaikan membakar diri ini, cara bagaimana dia dapat mengirim angkatan perangnya tiba kemari? Jikalau jumlah angkatan perangnya terlalu besar, pasti dia tidak dapat mengangkut cukup rangsumnya. Dan kalau jumlah lenteranya kurang dari tiga puluh ribu jiwa maka kita tidak usahlah takut Kita nanti melayani musuh dengan sabar, kita main melindungi kota kita saja, di dalam tempo dua puluh hari, nanti rangsumnya habis, lantas dia bakal mundur sendirinya!"

Chu Wen Tai mengetahui baik kegagahannya angkatan perang kerajaan Tong itu maka ia lantas menetapkan siasat tidak berperang itu, siasat menjaga diri saja. Ia mengumpulkan banyak kuli, di sebuah tempat yang tersembunyi dia membangun sebuah istana rahasia. Inilah untuk persediaan guna mengundurkan diri andaikata ia tidak sanggup melawan musuh/ Negeri Kao Chang sedang makmur, di wilayah barat itu banyak tukang yang pandai, maka itu ia dapat membuat istana yang luar biasa itu di mana pun ia menyembunyikan hartanya yang berupa pelbagai batu permata. Ia telah memikir, umpama kata musuh dapat menyerbu ke istana rahasia itu, ia dan hartanya itu tidak bakal dapat diketernukan.

Hauw Kun Cip adalah seorang panglima yang pernah turut Lie Ceng belajar ilmu perang, dia pandai memimpin angkatan perangnya, di sepanjang jalan ia dapat maju-dengari cepat, setiap pasukan musuh yang menghadang dapat dilabrak, dari itu ia berhasil melintasi gurun pasir besar. Maka kagetlah raja Kao Chang itu ketika ia: dilaporkan tibanya musuh demikian pesat, dia kaget dan ketakutan hingga dia mati. Dia lantas digantikan oleh pulennya, Chu Oun Sheng. Dia ini membuat perlawanan, tapi setiap Hauw Kun Cip datang menyerang di luar kota, pasukannya kena dikalahkan.

Didalam peperangan ini, Hauw Kun Cip menggunai alat yang dinamakan "Kereta Sarang", yang tingginya sampai sepuluh tombak, hingga mirip dengan sarang burung, hingga alat itu mendapat namanya itu. Kereta itu ditolak sampai di tembok kota, hingga keadaannya lebih tinggi dari tembok kota itu, lalu dari atas, tentera Tong menyerang dengan hujan panah dan batu. Tentara Kao Chang kewalahan, akhirnya Chu Chih Sheng menyerah.

Negara Kao Chang itu dibangun oleh Chu Chia Li, turun temurun sampai sembilan turunan, lamanya seratus tiga puluh empat tahun, sampai pada tahun Cengkoan ke 14 dari Kerajaan Tong itu, bara dia musnah. Dialah sebuah negara besar di wilayah barat, sebab luasnya daerah ialah delapan ratus lie di timur dan barat dan lima ratus lie di selatan dan utara.

Hauw Kun Cip pulang perang dengan mengangkut Raja Kao Chang beserta seratus pembesamya sipil dan militer dan lainnya, dibawa pulang ke kota raja Tiang-an. Raja Kao Chang menjadi orang tawanan, tetapi istana rahasia buatan ayahnya itu tidak tercocorkan. Selama seribu tahun lebih, di gurun pun terjadi perubahan, di sana tumbuh pepohonan, maka juga istana itu menjadi bagaikan terlebih terahasia pula, tanpa peta, tidak nanti orang dapat menemuinya.

Suruke berjalan terus, memasuki sebuah kamar, melewatinya, lalu memasuki kamar yang lain dan melewatinya pula. Kebanyakan kamar itu sudah rusak, ada temboknya yang gempur. Di sana-sini pun kedapatan tumpukan-tumpukan pasir kuning, hingga ada pintu kamar yang telah teruruk tertutup. Jalanan berliku-liku, ditambah sama segala yang uruk itu, dilaluinya jadi semakin sukar, kepala pun menjadi pusing. Di samping itu orang kadang-kadang melihat tulang- belulang manusia, yang putihmeletak, pula uang emas dan perak dan barang permata, yang membuatnya mata silau.

"Entah ke mana kaburnya Tan Tat Hian si jahanam," pikir Bun Siu, "Dia tidak kedapatan di sini. Mungkin, walaupun dia berada di sini, sukar untuk mencarinya. Harap saja istana ini tidak ada pintu belakangnya-, agar dia dapat dipegat di pintu depan di saat dia hendak mengangkat kaki dengan mengangkut harta karun ini..."

"Mana ayahku?" mendadak Nona Lie mendengar suaranya Aman selagi ia seperti ngelamun itu. Ia lantas menoleh, la menampak Aman dan Supu memasuki sebuah kamar kiri, Suruke dan Cherku tidak kelihatan, la lantas mendekati kedua muda-mudi itu.

"Nona Kang," tanya Supu pada Bun Siu   yang sekian lama

oleh. empee Kee disebut "Nona Kang"----"apakah kau melihat ayah kami?"

"Tidak," menyahut Bun Siu. "Baru saja kita ada bersama, kenapa mereka lantas tak nampak? Mari kita cari! Awas, istana ini istana rahasia, jangan kita nyasar." Supu dan Aman menurut, maka bertiga mereka lantas mencari. Supu saban-saban berteriak memanggil ayahnya serta Cherku, akan tetapi ia tidak memperoleh jawaban, hanya kupingnya mendengar kumandang yang mendengung di ruang itu.

Bernapsu mereka bertiga mencari sampai Aman lupa membuat tanda di tempat-tempat yang mereka lewatkan, hingga untuk sementara, sukar dibedakan mereka telah kembali ke tempat yang telah dilewatkan itu atau belum. Juga mereka tidak dapat melihat rata ke depan, karena kedudukan istana rahasia itu ada di lamping gunung, jadi ada kalanya kedudukannya tinggi, ada kalanya pun sangat rendah hingga orang mesti berdiri di tempat yang tinggi untuk dapat memandang ke bawah itu. Oleh karena wuwungan adalah bagian atas dari gunung, orang tidak dapat melihat dari atas. Orang tidak bisa naik ke atas wuwungan, yang sebenarnya tidak ada, sebab yang dinamai wuwungan mirip lelangit lauwteng.

Aman menjadi sangat berkuatir-.. dan berduka hingga air matanya berlinang-linang. Sia-sia Supu membujuki dan menghibur. Saking ruwetnya pikirannya itu, nona itu sampai tidak memanggil-manggil pula ayahnya.

Mereka lagi berjalan terus ketika dengan mendadak mereka mendengar suara keras di tembok sebelah kamar: "Eh, Cherku, kenapa kau membacok aku?"

Ketiga muda-mudi itu mclcngak. Itulah suaranya Suruke.

Segera terdengar suaranya Cherku: "Kau--- kau bikin apa ini?"

Setelah itu kuping mereka mendengar suara beradunya senjata tajam, disusul pula oleh bentakan-bentakan kemarahan Suruke dan

Cherku saling ganti. Mereka ini bertiga girang berbareng kaget dan kuatir.

"Ayah!" Aman berteriak. "Jangan berkelahi …Jangan berkelahi!"

Di kanan mereka tidak ada pintu, maka Supu lari ke kiri. Ia bermaksud menghampirkan ayahnya dan Cherku, sang paman itu, untuk melihat, guna memisahkan mereka. Sebab aneh mereka itu bertempur satu dengan lain. Hanyalah, pintu yang ada teras menerus di sebelah kiri, dengan begitu, ia bukan tiba ke kamar sebelah itu, ia justeni pergi semakin jauh... Bun Siu dan Aman mengikuti, mereka pun tidak berdaya. Maka kemudian mereka lari balik. Justeni itu mereka dengar, dari kamar di sebelah itu, jeritan yang menyayatkan hati dari Suruke, lantas sunyilah segala apa. Mereka kaget bukan mam.

Supu menjadi seperti kalap, dia lompat menubruk dengan pundaknya. Tapi ia gagal. Pintu itu kuat sekali dan tak bergeming.

Aman yang terliti memasang mata. Ia melihat sebuah batu di pojokan, yang agaknya terlepas, maka ia menghampirkan itu, ia mencekalnya, lantas ia menarik. Ia gagal. Ia lantas dibantu Bun Siu dan Supu. Kali ini mereka berhasil, dengan begitu, dari bekas lolosnya batu itu, mereka bisa mengintai ke kamar sebelah sana. Supu bekerja terus membongkarnya, hingga ia dapat memasuki tubuhnya, molos dari liang itu.

"Ayah! Ayah!" ia memanggil berulang-ulang.

Segera juga pemuda ini nampak apa yang hebat. Di kamar sebelah itu terlihat tubuh seorang rebah di lantai, di dadanya menancap sebatang golok panjang. Ia mengenalinya, ia lompat menubruk, untuk mengangkat. Atau ia mendapatkan ayahnya itu telah putus jiwanya!

"Ayah! Ayah!” ia berteriak-teriak, sambil menangis.

Bun Siu dan Aman menyusul masuk, mereka berdiri diam di samping Supu. Mereka bingung dan berduka. Supu mencabut galat di tubuh ayahnya itu. Itulah goloknya Cherku.

"Supu..." Aman memanggil seraya ia menarik tangannya si pemuda. Ia niat menghibur, hanya tak tahu ia harus mengatakan apa.

Supu tengah sangat berduka dan gusar, tangannya melayang ke arah si nona sambil mulutnya menanya bengis: "Mana ayahmu? Mana ayahmu?"

Ketika itu di mulut pintu nongol kepala dari satu orang, yang tubuhnya terlihat hanya bagaikan bayangan. Cuma sejenak, kepala itu lantas ditarik pulang, terus dia lari pergi. Walaupun sejenak, itu sudah cukup untuk Supu guna mengenali orang adalah Cherku yang mukanya berlumuran darah, Supu berteriak, tubuhnya bergerak, niatnya memburu.

"Supu!" memanggil Aman, tangannya menarik.

"Lepas!" bentak si anak muda. "Supu" kata si nona, "aku mau bicara; sepatah kata saja."

"Baik! Bilanglah!" kata Supu, mendongkol.

"Ingatkah kau aturan kaum kita tentang perkelahian perseorangan?" tanya Aman.

Supu mengertak gigi. “Ingat!**sahumya kaku. Dengan lantas pula wajahnya tampak kesangsian

Bangsa Kazakh bangsa gagah, di antara mereka, asal benterok, perselisihan biasa diakhiri dengan menghunus senjata. Demikian di antara kaumnya Supu, yang termasuk golongan Tiehyen. Dulunya kaum ini gemar sekali berkelahi, lama-lama, jumlah pria mereka jadi tinggal sedikit, sebaliknya, wanitanya tambah banyak, berlebihan. Maka itu, melibat ancaman bahaya itu bahwa golongannya akan kekurangan pria, selang seratus tahun yang lalu satu ketuanya mengadakan aturan untuk mencegahnya. Ialah: "Siapa membunuh orang, hukuman atasnya hukuman mati." Biarnya orang piebu, yaitu bertempur satu sama satu dengan cara terang, ancamannya tetap hukuman mati. Karena adanya hukuman ini, pertempuran menjadi dapat dicegah, pertambahan anggauta pria lantas bertambah. Aturan ini, aturan lisan, dituturkan oleh setiap orang tua kepada anak- anak muda, agar semua orang mengetahuinya. Maka itu, aturan itu ditaati turun-temurun.

Aman menangis, ia kata: "Ayahku telah kesalahan membunuh ayahmu, dia bakal diadili oleh, tertua-tertua kita yang akan menghukumnya, maka itu kau.. jangan kau membunuh ayahku."

Nona ini bingung bukan main. Ia menginsafi kesalahan ayahnya, kalau ayah itu sampai dihukum, bercelakalah ia. Sedangnya ia bingung ini, sekarang ia melihat sikapnya Supu. Ia bisa mengerti yang pemuda ini hendak menuntut balas. Biar bagaimana, tidak ingin ia si pemuda melakukan pelanggaran pula seperti ayahnya itu.

Supu memandang mayat ayahnya. Ia pun menginsafi aturan, yang keras itu.

"Baik," katanya, "aku tidak akan bunuh ayahmu. Aku cuma hendak menangkapnya!"

Lantas anak muda ini lari, mulutnya berkaokan: "Cherku! Kau hendak kabur ke mana?" Tidak lagi ia memanggil paman.

Tiba-tiba datang jawabannya Cherku: "Aku di sini! Kenapa aku mesti kabur?"

Cherku berada tidak jauh dari situ. Dia benar berlepotan darah pada mukanya.

Dengan golok di tangannya dia berdiri tegar, romannya bengis.

Supu menghampirkan. Ia membawa goloknya tetapi senjata itu ia tidak lantas menggunakannya. Cuma obor di tangan kirinya, yang ia tancapkan di pasir. Ia kata dengan keren: "Letaki senjatamu! Aku tidak akan bunuh kau!"

"Kenapa aku mesti meletaki senjataku?" Cherku membaliki. "Hm! Apakah kau mengira kau dapat membunuh aku?"

Bun Siu dan Aman menyusul. Mereka mendapatkan dua orang itu berdiri berhadapan dengan masing-masing senjatanya di tangan, roman mereka bengis, sikap mereka tegang.

"Ayah, sukalah kau lepaskan golokmu," berkata Aman kepada orang tuanya itu. "Supu telah berjanji tidak akan membunuh kau..."

"Kau suruh dia meletaki senjatanya!" kata Cherku dengan jumawa. "Aku juga berjanji tidak akan membunuh dia!"

"Benarkah kau tidak hendak melepaskan senjatamu?" tanya Supu bengis, hatinya panas. "Mungkinkah kau benar hendak membunuh aku?"

Cherku tertawa berkakak "Kau, bocah, kau memikir untuk membunuh aku?" dia kata, mengejek. "Jikalau kau mempunyai kepandaian, nah, kau cobalah!"

"Kenapa kau membunuh ayahku?" tanya Supu sengit. Ia berteriak. "Aku... aku hendak menuntut balas untuk ayahku itu!"

Belum lagi Cherku menyahuti ketika mendadak ada angin bertiup keras, hingga obor padam seketika. Hingga ruang menjadi gelap petang. Tibanya sang gelap gulita itu dibarengi sama bentakan dari kemurkaan dari Supu, disusul sama benteroknya senjata, disusul pula dengan robohnya tubuh Cherku...

"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!" Aman berteriak- teriak, kuatimya bukan main.

Bun Siu sendiri lantas berdaya menyulut api. Setelah obor menyala pula, terlihat Cherku rebah dengan tubuhnya tertancap golok. Dia mati sama seperti matinya Suruke. Di situ Supu berdiri diam dengan tangan kosong, dia menjublak saja.

Aman lantas menubruk mayat ayahnya, ia pingsan. Bun Siu maju, guna menolongi nona itu.

Sebentar kemudian, Aman tersadar. "Bagaimana, Aman?" tanya Supu, menghibur.

Aman gusar. Ia menjawab sengit: "Kau telah membunuh ayahku! Semenjak hari ini, jangan kau bicara pula denganku!" Ia mencabut tusuk kondenya, terus ia mematahkannya, terus ia melemparkannya ke tanah.

"Aku tidak membunuh ayahmu!" berkata Supu, menyangkal.

"Kau masih menyangkal?" kata Aman, sengit sekali. Dia menuding kepada golok di dada ayahnya Dia kata pula: "Apakah itu bukan golokmu? Jikalau bukannya kau yang membunuh ayahku, habis apakah aku? Ataukah kakak Kang?"

Supu terdesak hingga ia tidak dapat bicara, kepalanya tunduk.

Oood~wooO

Didalam suku Kazakh bagian Tiehyen itu ada tiga orang tertuanya. Mereka telah mengadakan sidang di mana mereka mendengari tuduhannya Aman serta penyangkalan atau keterangannya Supu, setelah itu mereka berunding sekian lama. Keputusan mereka dinantikan oleh orang-orang bangsanya.

Selang sekian lama, ketua yang usianya paling lanjut, yang kumisnya telah ubanan, berbangkit dari kursinya, lalu dengan suara nyaring dan tenang ia mengasih dengar perkataannya: "Adalah aturan dari kaum kita semenjak seratus tahun yang lampau yang melarang pembunuhan di antara kita sendiri, bahwa siapa membunuh, hukumannya ialah hukuman mati. Supu telah membunuh Cherku, maka itu dia harus dihukum mati!"

Semua orang berdiam sambil berduduk.

Supu sendiri seperti mendumal ketika ia berkata: "Aku tidak membunuh Cherku... Aku tidak membunuh Cherku..."

Di dalam kesunyian itu, sekonyong-konyong seorang bangun berdiri. Dialah Sangszer, yang terus berkata dengan nyaring: "Cherku ialah guruku, dia dibunuh Supu, perbuatan Supu tidak selayaknya. Tapi di samping itu, terlebih dulu guruku telah membunuh ayahnya Supu, bisa dimengerti yang Supu menjadi berduka dan bergusar hingga dia telah membuatnya pembalasan. Maka itu, kesalahan Supu tidak dapat dipandang dan disamakan dangan pembunuhan yang biasa."

Sangszer ini adalah musuhnya Supu, setiap orang mengetahuinya, sekarang dia menunjuki sikapnya ini, sikap dari satu laki-laki, dia membuatnya orang kagum hingga semua mata diarahkan kepadanya. Supu pun mengawasi dengan sinar mata yang bersyukur. Tatkala Supu berpaling kepada Aman, si nona menoleh ke lain arah, untuk mencegah bentroknya sinar mata mereka.

Si tertua yang kumisnya ubanan itu mengangguk.

"Kami bertiga pun sama pendapat," ia berkata, tenang. "Supu pun membilang bahwa dia telah menolongi suku kita mendapatkan suatu tempat penyimpanan harta besar dengan apa suku kita bisa menjadi makmur dan berbahagia, hingga jasanya itu bukannya kecil, hingga dapat dia menebus dosanya dengan jasanya itu. Supu dapat bebas dari hukuman mati tidak dari hukuman hidup, maka itu putusan sidang ialah: "Mulai hari ini dia diusir untuk selamanya dari kaum Tiehyen kami, dia dilarang pulang, jikalau kedapatan dia pulang secara diam-diam, dia akan dihukum mati tanpa ampun pula!"

Supu tunduk, dengan perlahan ia kata: "Aku tidak membunuh Cherku! Tapi, siapa pun tidak percaya aku, bahkan Aman tidak mempercayainya... “

Oood~wooO