-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 09

Bagian ke IX

Supu mengawasi ke tempat tidurnya Bun Siu. Ia merasa si nona aneh kelakuannya. Ia cuma heran, ia tidak memikirkan lama. Lantas ia meraup salju, untuk mencuci mukanya, untuk dimakan juga. Setelah itu ia naik kudanya dan pergi.

Kira-kira tengah hari, pemuda ini mendengar ramainya tindakan kaki kuda. Ia menuntun kudanya mendekati bukit, untuk melihat Ia mengawasi sampai ia melihat nyata. Itulah rombongan orang-orang Tiehyen yang menjadi suku bangsanya. Ia mengenali dari dandanan mereka. Mereka pada membeka! senjata, jumlahnya lebih daripada tiga ratus jiwa. Yang jalan di depan ada Aman serta tiga ketua mereka. Di damping Aman masih ada seorang lain, satu pemuda, ialah Sangszer. Setiap orang itu membawa kantung. Terang mereka itu mau pergi ke istana rahasia untuk mengeduk harta karun.

"Syukur,” pikir Supu, "coba aku tidak mendengar pembicaraan kawanan penyamun itu, yang hendak menggurui akal licin, pasti mereka ini akan terjebak semuanya ke dalam liang perangkap...” Maka ia lantas lompat naik atas kudanya, ia melarikannya untuk memapak! rombongan bangsanya itu. Ia berteriak-teriak: "Aku Supu! Aku hendak bicara! Ada urusan sangat penting!**

Si ketua yang kumisnya ubanan mengenali si anak muda, ia menjadi gusar. "Supu” tegurnya, "apa maumu datang kemari? Tahukah kau aturan kaum kita terhadap orang yang sudah diusir?"

Bangsa Kazakh ini bangsa penggembala yang tidak ketentuan tempat kediamannya, mereka pergi ke mana mereka suka, meski begitu, ke mana juga mereka pergi, seorang bangsanya yang telah diusir tidak dapat menemui mereka pula, dan orang itu juga tidak dapat bicara sama mereka. Maka itu, perbuatan Supu ini melanggar aturan mereka itu.

"Aku hendak membicarakan urusan sangat penting," kata Supu, membelai.

"Kau masih tidak mau lekas pergi?" si ketua menegur. "Asal kau berani bicara lagi satu patah, aku akan menitahkan melepaskan anak panah!" Ia lantas meneruskan kepada Sangszer: "Siapkan panahmu!"

Sangszer menurut, ia laatas bersiap.

Tapi Supu tidak mau pergi, bahkan dia kaburkan kudanya datang mendekati

"Aman!" katanya pada kekasihnya, "jangan kau pergi ke istana rahasia! Berbahaya!"

Matanya si nona berlinang.

"Lekas kau pergi!" bilangnya. "Jangan kau bicara sama aku!"

Sementara itu Supu melihat ancaman anak-anak panah. Tapi ia ingat baik-baik ancaman bahaya dari Hok Goan Liong. Maka ia kata: "Aku mesti bicara denganmu!"

"Panah!".berseru si ketua, murka.

Sangszer lantas melepaskan cekatannya kepada tali panahnya, yang telah ditarik sedari tadi. Supu kaget. Tapi anak panah mengenai leher kuda tanpa melukakan. Anak panah itu telah dibuang tajamnya.

"Supu, dengar!" kata pemuda itu. "Mengingat persahabatan kita duluhari, panahku itu tidak ada kepalanya, tetapi jikalau kau tetap tidak mau mendengar titahnya ketua kita, panahku yang kedua tidak mengenal kasihan lagi!"

Dan ia menyiapkan anak panahnya yang kedua itu. Benar, anak. panah ini berkepala tajam, kepala itu bersinar di cahaya matahari.

"Bapak ketua, istana rahasia berbahaya..." kata Supu. Dia belum menutup mulurnya, atau si ketua telah memerintahkan: "Panah!"

Menyusul itu beberapa batang anak panah menyambar ke arah Supu, suaranya mengaung. Hanya semua itu lewat di samping si anak muda. Inilah tanda, orang masih mengingat sesama suku.

Si ketua lantas menyiapkan panahnya, ketika ia hendak memanah. Aman maju dengan kudanya, menghalang di hadapannya. Nona ini berkata kepada Supu: "Supu, pergi lekas! Kau telah membunuh ayahku, untuk selamanya tidak dapat aku baik kembali denganmu!..."

Justru itu sebatang anak panah menyamber pundaknya anak muda itu!

Supu melihat bahwa ia telah tidak mempunyai harapan pula, dengan terpaksa, ia kaburkan kudanya. Ia menahan sakit, setelah mencabut anak panah di pundaknya itu, ia membalut lukanya. Ia masih melihat tiga ratus lebih orang- orang bangsanya menuju ke arah istana rahasia. Ia pun melihat Aman beberapa kali menoleh kepadanya, sinar matanya menunjuk entah dia mencinta atau membenci, berduka atau menyesal... Sambil menungkuli rasa sakitnya, Supu berpikir. Dapatkah ia membiarkan orang-orang bangsanya itu menempuh bahaya?

Di antara mereka itu banyak kawan-kawan akrabnya. Tidak! Ia mengambil putusan. Maka setelah rasa nyerinya berkurang, ia naik atas kudanya, untuk mengaburkannya, guna menyusul rombongan bangsanya itu.

Hari ini Supu mesti mundar-mandir tetapi ia melupakan letihnya. Sampai sore baru ia dapat singgah, sedikit jauh diluar tendanya rombongan bangsanya itu. Ia tidak berani menemui Aman atau lainnya orang. Demikian pula pada besoknya. Hanya ia melombai mereka, hingga ia sampai terlebih dulu di muka istana rahasia. Ia bersembunyi di antara pepohonan. Dari magrib ia menunggu sampai tengah malam, baru ia melihat rombongan bangsanya tiba. Terus saja, dengan banyak berisik, rombongan itu masuk ke dalam gua. Ia menguntit mereka Karena ia sudah kenal baik istana itu, ia mengambil lain jalan.

Aman yang memimpin rombongannya Ia mengambil jalan yang ia telah kenal. Setibanya di dalam, ia berduka, lenyap kegembiraannya selama di tengah jalan. Di sini ia ingat ayahnya, kebinasaan ayah itu serta ayah Supu, bagaimana karenanya ia menjadi berpisah dari Supu.

"Supu cuma menakut-nakuti kita!" berkata si ketua selagi mereka berjalan terus. "Katanya istana rahasia ini berbahaya, buktinya di sini aman! Makin besar dia jadi makin tidak keruan, sampai dia berani mendustai"

Mereka maju terus. Sesudah melewati beberapa kamar, lantas mata semua orang menjadi silau. Di depan mereka berserakan banyak emas, perak dan mutiara: Semua orang menjadi heran dan kagum. Mereka girang luar biasa. Sesudah tercengang sejenak, lantas semua bekerja, mengisikan kantung bekalan mereka dengan semua barang berharga itu. Tengah mereka itu bekerja, tiba-tiba pintu di samping mereka terpentang, di situ muncul seorang Han dengan tangan memegang golok panjang. Dia lantas membentak: "Kawanan budak tidak tahu mampus! Kenapa kamu berani memasuki istana ini dan mencuri hartaku? Lekas antari jiwamu!"

Orang-orang Kazakh itu menjadi kaget

"Berandal Han! Berandal Han!" mereka berteriak-teriak.

Lalu dua anak muda mendahului maju menyerang.

Berandal itu gagah, setelah beberapa jurus, ia berhasil melukakan pundaknya satu pemuda. Atas itu, lagi dua pemuda maju, untuk membantui kawannya. Si berandal mundur, ia dirangsak. Tiba-tiba ada lagi pintu terbuka, lagi satu orang muncul. Dia memegang tombak, ujung tombaknya tahu-tahu telah nancap di dadanya seorang muda, hingga dia ini lantas roboh, jiwanya melayang!

Semua orang Kazakh terkejut Si ketua menghela napas, ia berkata perlahan: "Semua mengepung dulu berandal! Harta ini kita urus belakangan!” Di dalam hatinya, ia pun pikir: "Kalau begini, Supu tidak mendusta..."

Kedua penjahat Han itu dikejar melintasi beberapa kamar, lantas mereka memisah ke kiri dan kanan.

"Rombongan kesatu dan kedua pergi ke kiri, mengejar berandal itu!” si ketua berseru. "Rombongan ketiga dan keempat turut aku ke kanan!”

Perintah itu diturut. Rombongan Kazakh itu memang telah dipecah empat, masing-masing ada pemimpinnya sendiri.

Ketua ini dan rombongannya maju cepat. Di sebuah pintu pinggiran, yang daun pintunya terpentang secara tiba-tiba, mereka dipegat seorang Han, yang menyerang mereka. Mereka melawan. Hanya sebentar, berandal itu lari balik. "Kejar!” si ketua menitahkan. Berandal itu bertemu sama kawannya, terus mereka lari berpisahan.

"Rombongan ketiga mengejar ke kiri!” si ketua memerintahkan.

"Rombongan keempat turut aku” Dan ia mengubar ke kanan.

"Bapak ketua!” mendadak Aman berkata. "Jangan-jangan berandal menggunai tipu, mereka menghendaki kita berccrai- berai!"

Si ketua mengangguk. "Jangan takut! Orang kita besar jumlahnya!*' katanya kemudian.

Benar saja, di sebelah depan muncul pula lain berandal, dia bergabung sama berandal yang lagi dikejar itu. Hanya sebentar, mereka pun lari berpisahan.

Kali ini si ketua tidak memisah rombongannya, ia hanya menitah mengejar terus berandai yang lari ke kiri.

Penjahat itu berlari bergantian ke kiri dan kanan, lantas dia menolak pintu, untuk masuk ke dalam sebuah kamar besar. Dia baru masuk atau dari belakang pintu berkelebat sebuah sinar mengkilap, terus dia berteriak dan roboh terluka, sebab kakinya kena terbacok dan goloknya terlepas mental.

Segera rombongannya si ketua mengenali, penyerang itu ialah Supu.

Ketua itu melengak. Tidak dapat ia mengusir orang yang membantuinya.

"Bapak ketua, inilah tempat perangkap!** Supu berkata. "Benarkah?" tanya ketua itu singkat, ragu-ragu.

Melihat ketuanya menyangsikan ia, Supu mengangkat tubuh si penjahat dan melemparkannya ke tengah ruang. Tubuh itu terbanting dan menerbitkan suara, lantai lantas menjeblak, memperlihatkan sebuah liang besar. Ke dalam situ tubuh si penjahat kecemplung seraya penjahatnya berteriak menyayatkan hati, lalu suaranya sirap.

Semua orang Kazakh itu berdiri menjublak.

"Supu, syukur kau menolongi kami!" kata si ketua kemudian.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya," berkata Supu. "Mungkin tiga rombongan yang lainnya telah terjebak kawanan penjahat, yang pada menyembunyikan diri di sini."

Ketua itu sadar, dia kaget "Benar!" serunya. "Mari kita lihat!"

Tanpa banyak bicara, Supu lantas membuka'jalan.

"Aduh!" mereka mendengar sesudah melewati beberapa pengkolan.

Mereka kaget, semua lantas memburu. Lantas terlihat di depan mereka tubuhnya seorang Kazakh yang mandi darah, waktu diperiksa, dia telah putus jiwa. Hal ini membangkitkan hawa amarah mereka itu.

Tengah mereka itu bergusar, di atasan kepala mereka terdengar suara berkeresek, lalu tertampak turunnya perangkap terali besi

"Lekas lari!" Supu berteriak. Dialah yang paling dulu melihatnya, dia pun terus lompat ke luar kamar.

Empat pemuda turut berlompat yang lainnya kena terkurung. Terali itu turun sangat cepat

Di dalam kaget dan takutnya, orang-orang Kazakh itu menyerang terali itu. Sia-sia saja usaha mereka. Terali besi tidak mempan senjata, bahkan senjata yang menjadi gompal.

Selagi orang tidak berdaya, dari luar pintu muncul lima orang, yang jalan di muka ialah Tan Tat Hian. Dia ini lantas menghampirkan pesawat rahasia, untuk dikerjakan, maka dari lelangit kamar lantas meluruk turun pasir dalam jumlah besar.

Kembali orang kaget, semua menjerit.

Supu dan empat pemuda, yang berada di luar, maju menerjang Tat Hian serta rombongannya itu. Mereka lantas bertarung seru. Selama itu, pasir masih meluruk turun, hingga sebentar saja sudah naik tinggi sebatas dengkul..

Supu bingung bukan main. Kalau kawanan penjahat ini tidak dapat dipukul mundur, pasir itu bakal meluruk terus dan akan memendam mati semua orang bangsanya itu, sedang di antaranya ada Aman. Tat Hian dan keempat kawannya itu Iihay, terutama Tat Hian sendiri. Sebentar saja, dua pemuda telah roboh binasa dan yang ketiga roboh terluka. Tinggallah Supu serta satu pemuda lainnya. Di dalam terali, parir sudah lantas sampai di dada, hingga orang sukar menggeraki tubuhnya.

Supu menjadi lebih bingung lagi ketika kawannya yang terakhir pun roboh di tangannya Tat Hian, hingga lantas ia dikepung berlima. Tat Hian juga lantas dapat memukul terlepas goloknya Supu, hingga di lain saat dia ini mesti berdiri diam saja di bawah ancaman pedangnya penjahat itu.

Mendadak saja di situ muncul seorang lain, yang bersenjatakan bandring. Belum sempat Tat Hian berdaya, pedangnya sudah terhajar bandring itu dan jatuh ke lantai. Empat penjahat kaget tapi mereka maju menyerang. Atas itu Tat Hian bisa menjumput pula pedangnya, guna membantu mengepung.

Supu sadar, ia lantas lari ke pesawat rahasia, maka di lain saat, berhentilah meluruknya pasir.

Semua orang Kazakh itu bernapas lega. Ketika mereka memandang ke arah penjahat serta orang yang baru datang itu, mereka heran. Orang itu satu pemuda yang tampan, dengan dandanan Tionghoa mirip si kawanan penjahat. Entah kenapa, mereka itu telah bertempur satu dengan lain.

Pemuda itu pandai menggunai bandringnya, setelah belasan jurus, dia berhasil merobohkan saling susul pada empat konconya Tat Hian, melihat mana, dia ini lantas kabur mengangkat kaki.

Supu lantas mencari pesawat rahasia lainnya, guna mengangkat naik terali besi itu. Maka sekarang semua orang baru benar-benar bernapas lega. Dengan susah payah mereka membebaskan diri dari urukan pasir itu.

Orang hendak membilang terima kasih pada si pemuda penolong, tapi orang sudah tidak ada, entah ke mana perginya.

Semua orang bersyukur berbareng heran. "Tanpa dia, celakalah kita," kata yang satu. "Ke mana perginya dia ? Ah, kiranya di antara orang-orang Han ada juga yang baik..."

"Bapak ketua," kata Supu tanpa mempedulikan suara Orang banyak itu, "istana ini berbahaya, baiklah lekas rhengumpuli semua orang bangsa kita, supaya mereka tidak terjebak penjahat"

Ketua itu setuju. "Mari kita bekerja!" katanya. Ia menitahkan semua orang mengambil jalan mundur menuruti jalan dari mana tadi mereka masuk. Mereka pun bunyikan terompet, tanda memanggil berkumpul tiga rombongan lainnya, untuk berkumpul di luar istana.

Rombongan ini tiba di luar, lantas mereka menantikan. Mulanya muncul rombongan ketiga, kemudian rombongan kesatu. Rombongan kedua dinantikan dengan sia-sia.

Kembali terompet ditiup nyaring dan riuh. Istana tetap sunyi

"Jangan-jangan mereka terjebak," kata si ketua kemudian. "Mari kita masuk bersama untuk melihat mereka." Usul ini disetujui Lantas mereka berbaris rapi. Belum lagi mereka bergerak, dari dalam terlihat munculnya orang-orang dari rombongan yang kedua itu. Mereka ini muncul saling susul, dalam rombongan dari dua tiga orang, dengan roman mereka tidak keruan. Dua orang pun menggotong satu orang, yang tubuhnya terpanah, yang mandi darah. Yang muncul paling belakang ialah Sangszer, goloknya di tangan, mukanya berlepotan darah.

"Bagaimana?" tanya si ketua, kaget dan berkuatir.

"Hampir kita tidak dapat bertemu lagi," menjawab pemuda itu. "Kami telah masuk dalam perangkap penjahat. Di dalam sebuah kamar, mendadak kami diserang banyak anak panah, yang datangnya dari empat penjuru. Syukur ada satu anak muda kosen, yang membantu kami Dia telah menggagalkan bekerjanya pesawat rahasia."

Baru mereka bicara sampai di situ, di situ muncul si anak muda yang disebutkan Sangszer ini. Anak muda itu menggusur satu penjahat, ialah Hok Goan Liong, yang dia lantas lempar roboh ke tanah.

Semua orang Kazakh bergarang "Terima kasih! Terima kasih!" mereka mengucap: Si ketua menghampirkan anak muda itu, guna menghaturkan terima kasihnya yang hangat seraya menanyakan she dan nama orang.

"Aku she Lie," menyahut si anak muda. "Namaku tidak ada, panggil saja aku Lie Pek Ma."

Di antara mereka itu. Aman dan Supu segera mengenali si anak muda.

"Dia toh nona Kang," pikirnya. "Kenapa sekarang dia menjadi seorang muda bangsa Han? Bagaimana sebenarnya, apa dulu itu dia menyamar jadi wanita atau sekarang dia menyaru menjadi pria? Atau mungkin si nona Kang hanya lain orang dan orang itu melainkan mirip romannya?" Supu tidak dapat menahan hati. "Kau... kau toh nona Kang?" ia menanya.

Lie Bun Siu tertawa lebar. "Tadinya aku menyamar menjadi nona Kazakh, kamu tidak mengenali aku" katanya. "Aku tahu kamu membenci orang Han, aku tidak berani berdandan seperti orang bangsaku."

Si ketua nampak likat.

"Baru hari ini kami ketahui, orang Han juga ada yang baik hatinya," kata ia, mengaku. "Tanpa pertolongan kau, tuan Lie, hari ini kami semua pasti bakal mati terpendam di dalam istana rahasia ini."

Bun Siu tidak menyahuti, ia hanya menoleh kepada Supu. "Sayang ayahmu telah menutup mata," pikirnya, "maka ia

menjadi tidak ketahui, di antara orang Han pun ada yang baik..." Kemudian ia kata, tawar "Di antara bangsa Han ada orang-orang jahat dan orang baik pula, si jahat biasa mencelakai si baik. Tapi si jahat pun tidak bisa hidup selamat!"

Semua orang Kazakh itu berdiam. Mereka pikir pemuda ini benar.

"Tuan Lie, tolong kau menunjuki kami jalan," berkata si ketua kemudian. "Kami mau masuk untuk menyerang kawanan penjahat itu!"

"Ya, kita menyerbu, kita membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita yang terbinasa!" berseru orang-orang Kazakh itu.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya, tanpa peta, tidak dapat kita lancang memasukinya," berkata Lie Bun Siu. "Kalau kita memaksa masuk, kita bisa menjadi kurban. Kalau disetujui, aku mempunyai suatu pikiran. Ini hanya meminta tempo." "Silahkan berikan petunjukmu, tuan Lie!" kata si ketua. Bun Siu bersenyum. "Aku ingin mengajukan satu permintaan, maukah bapak ketua meluluskannya?" katanya.

"Tuan adalah penolong kami, titahkan saja, pasti kami akan kerjakan," menyahut ketua itu.

Bun Siu lantas menunjuk kepada Supu.

"Kakak Supu ini telah diusir dari kaumnya," ia berkata, "barusan dia telah bertempur dengan orang jahat, dia menolongi semua saudara dari perangkap musuh, dari itu aku pikir baiklah jasanya ini dipakai menebus dosanya, supaya bapak ketua menarik pulang hukuman kepadanya, agar dia dapat berkumpul pula dengan sesama bangsanya. Inilah permintaan yang kecil sekail Dapatkah bapak ketua menerimanya?"

Ketua itu berdiam untuk berpikir, terus ia berdamai sama dua pembantunya. Tidak lama, ia menghampirkan Bun Siu, untuk memberikan jawabannya.

"Mengingat budi tuan serta dia benar telah membelai kami, kami suka meluluskan permintaanmu, tuan," berkata dia "Sekarang Supu dapat kembali kepada bangsanya."

Supu menjudi girang sekali. Ia pun mengucap terima kasih kepada Bun Siu.

Ketua itu lantas bicara kepada orang-orang bangsanya, untuk mengumumkan bahwa hukuman buang Supu telah dihapus, karena mana pemuda itu dapat kembali di antara mereka. Sebagai alasan dikemukakan permintaan Lie Bun Siu, penolong mereka, dan bahwa Supu telah berjasa sudah memperingati adanya ancaman bahaya dan tadi Supu juga telah mengadu jiwa menolongi mereka.

Pengumuman itu disambut sorak-sorai yang ramai. Setelah sirap suara orang banyak itu, sang ketua lantas tanya Bun Siu bagaimana akalnya untuk membekuk semua penjahat

Bun Siu menuding kepada Goan Liong.

"Dialah si kepala penjahat!" sahutnya. "Coba geledah padanya, mungkin dia menyimpan peta bumi atau petanya istana ini.”

Tanpa diperintah lagi, Supu maju.

Hok Goan Liong sudah tidak berdaya akan tetapi dia murka sekali, dia mementang matanya dan membuka mulutnya mencaci.

Bangsa Kazakh menghormati orang bernyali besar, mereka kewalahan.

"Peta itu telah kita bakar!" kata Goan Liong nyaring. "Kamu, kawanan anjing Kazakh, jikalau nyalimu besar, kamu terjanglah istana ini! Mari kita bertempur! Untuk mendapatkan peta, jangan harap!"

Perkataan berandal ini benar. Supu menggeledah tanpa hasil.

"Sekarang begini," berkata Bun Siu. "Semua orang berdiam di sini, kita mendirikan tenda. Sejumlah orang harus pulang guna mengambil rangsum dan lainnya keperluan. Di depan istana kita menggali liang perangkap serta tambang-tambang kalakan. Kita menanti sampai kawanan penjahat kelaparan, mesti mereka keluar. Paling lama mereka dapat bertahan delapan atau sepuluh, hari. Jikalau mereka keluar, kita bekuk satu demi satu. Dengan begitu tidak usah kita menempuh bahaya dengan menyerbu ke dalam istana."

Pikiran ini baik, sang ketua menerimanya dengan girang. Bahkan ia lantas bekerja. Rombongan ketiga diperintah pulang, buat mengambil rangsum, dan yang lainnya terus bekerja, memasang tenda dan menggali liang jebakan yang lebar dan dalamnya rata-rata lima tombak, atasnya ditutup dengan rumput yang ditutup pula dengan salju. Mata-mata pun dipasang.

Selang lima hari, rombongan ketiga kembali dengan rangsum berikut kerbau dan kambing hidup.

Dugaannya Bun Siu tepat. Lagi dua hari, kawanan penjahat muncul saling susul. Benar-benar mereka tak tahan lapar. Mereka kelaparan hingga kepala mereka pusing, maka mereka kabur, tenaga mereka habis. Mereka terjeblos ke dalam liang perangkap di mana mereka dibekuk tanpa perlawanan. Hanyalah, ketika penjahat yang terakhir muncul, dia tidak diikuti Tan Tat Hian.

"Ke mana dia pergi?" tanya Bun Siu kepada setiap penjahat "Entahlah," dia mendapat jawaban. "Kita tak melihat dia selama beberapa hari yang paling belakang. Mungkin dia terbinasa di perangkap dalam istana."

Keterangan itu tidak lantas di percaya. Sang ketua masih bersabar menanti lagi dua hari. Habis itu barulah ia berlega hati

"Sekarang mari kita masuk ke istana," katanya, la mengajak orang untuk mengambil harta besar itu.

Bun Siu sendiri memikirkan Kee Loojin. Sudah beberapa kali ia memasuki istana, tidak juga ia dapat menemui orang tua itu. Ia jadi sangat berkuatir si orang tua telah roboh di tangan jahat dari Tat Hian. Tentu sekali sukar ia melupai budi orang tua itu, yang ia telah pandang sebagai kakeknya sendiri. Ia telah menanyakan beberapa penjahat, semua menerangkan tidak pernah melihat orang tua yang bertubuh bongkok bagaikan unta itu..

Yang aneh untuk nona Lie ini yang juga ia buat pikiran, ialah lenyapnya Hoa Hui, gurunya. Guru itu bilang tidak keruan paran. Pernah Bun Siu pergi ke tempat kediamannya, di sana dia tidak kedapatan. Pula tidak ada tanda-tanda bahwa guru itu pernah pulang.

Orang-orang Kazakh itu lebih dulu mengurus mayatnya orang-orang bangsanya serta mayat-mayat si penjabat, selesainya itu baru mereka mengangkut harta karun itu. Ketiga ketua mereka telah memutuskan, semua orang memperoleh hak sama rata. Artinya, mereka tidak boleh berebutan. Keluarga kurban jiwa mendapatkan bagian dua lipat

Selagi orang mengambil harta, Supu melihat Lie Bun Siu diam saja di pinggiran, la lantas membawa sekantung harta dan meletakinya di depan orang.

"Saudara Lie," katanya, "ketua kami membilang, tanpa pertolongan kau, kami semua pasti membuang jiwa di sini, maka itu ia mengatakan, kau boleh mengambil harta ini sesukamu, umpama kata kau tidak dapat mengangkutnya, nanti kami menolong kau membawanya."

Bun Siu menggelengkan kepala.

"Aku tidak menghendaki emas dan perak serta mutiara," sahutnya.

"Kau menginginkan apa, nanti aku pergi mengambilkan," berkata Supu.

"Yang aku kehendaki, itu tak terdapatkan. Yang aku dapatkan, aku tidak menghendakinya,” berkata Bun Siu. Dan ia menuntun kudanya. "Sekarang aku mau pergi...”

"Jangan, jangan, saudara Lie!” berkata Supu. "Kau mesti mengambil sesuatu! Barang apa itu yang kau tidak mendapatkannya?"

"Itulah kejadian yang telah lama. Yang aku kehendaki itu ialah sehelai kulit serigala." Tadinya Supu masgul, tetapi mendengar kata-kata orang, air mukanya menjadi terang.

"Kulit serigala?" katanya, gembira. "Itulah gampang sekali.

Nanti aku mengambilkan sepuluh helai untukmu!" "Hanya sekarang ini aku tidak menghendaki itu..."

Kembali orang Kazakh itu menjadi heran, hingga ia menggaruk-garuk kepala. Ia menganggap orang aneh sekali.

Mau, tidak mau-tidak mau, mau. Habis bagaimana? Maka ia membuka kantungnya, memperlihatkan isinya, semua mutiara bergemerlapan.

"Nah, ambillah apa saja!" bilangnya

Lie Bun Siu mengawasi harta besar itu, ia menjumput sepotong gelang kumala yang kecil.

"Biarlah aku ambil ini saja," bilangnya. Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan: "Dulu juga aku mempunyai sepotong gelang semacam ini, gelang itu aku telah berikan kepada seorang, yang telah membikinnya pecah hancur, hingga sekarang ini lenyaplah!"

Ia masuki gelang itu ke lengannya, terus ia melarikan kudanya.

Supu heran. Ia menggaruk kepalanya pula. Ia bengong mengawasi punggung orang sampai orang tak nampak lagi.

Lewat beberapa hari, selesai sudah orang-orang Kazakh mengangkut harta karun, lantas mereka berangkat pulang. Mereka menyembelih kerbau dan kambing, untuk membikin pesta besar. Itu waktu salju sudah lumer, maka di padang rumput mereka menyalakan unggun. Terutama rombongan muda-mudi, gembiranya luar biasa. Cuma Aman yang berada bersendirian.

"Aman," kata si ketua, yang menghampirkannya, "kau sebatang kara, baiklah kau menikah sama Supu." "Apa, Supu?" Aman kata. "Dia telah membunuh ayahku!

Mana dapat aku menikah padanya?"

"Memang benar dia telah membunuh ayahmu akan tetapi kemudian dia telah menolong kau dan kita semua,” berkata si ketua, membujuk. "Kejadian itu ialah kehendak Allah junjungan kita dan sekarang permusuhan hendaknya dibikin habis.”

"Jadi bapak membilang itulah kehendak Junjungan kita?" Aman tanya.

"Benar.”

"Bapak... Sebenarnya aku menyukai Supu, tetapi, tetapi, dia telah membunuh ayahku, hatiku jadi... aku selalu penasaran terhadapnya... Kalau peristiwa benar ada kehendak Junjungan kita, kalau aku mesti menikah pada Supu, itu baru bisa terjadi setelah satu pertandingan besar dan tak ada orang lain yang dapat mengalahkannya. ..”

Ketua itu tertawa bergelak. "Jadi kau menghendaki diadakan satu pertandingan besar, untuk melihat siapa yang paling kosen?"

"Untuk itu aku hendak bersembahyang dahulu kepada Allah Yang Maha Kuasa," berkata Aman. "Jikalau Junjungan kita dapat mengampuni dia, dia bakat menjadi si pemenang, jikalau tidak, dia bakal kena dikalahkan, dengan begitu, tidak dapat aku menikah dengannya."

"Bagusi” memuji si ketua. "Kau percaya kepada Junjungan kita, itulah bagus sekail Pasti Junjungan kita akan memilihkanmu seorang suami jempolan."

Justeru orang-orang bangsanya itu lagi berkumpul, ketua ini berbangkit menghadap mereka, untuk menepuk tangan tiga kali.

Dengan serempak, semua orang berdiam, mengawasi dan mendengari. Ketua itu mengawasi semua orang, ia berkata: "Kita telah mendapatkan istana rahasia, kita berhasil mendapatkan harta besar serta membekuk juga musuh-musuh kita, dalam pada itu, orang yang paling berjasa ialah lima orang. Pertama-tama saudara Lie si orang Han. Sayang dia tidak ada di sini. Yang kedua ialah Suruke dan Cherku. Sayang sekali, mereka berdua telah menutup mata di dalam istana Yang dua lagi ialah Supu dan Aman. Jasa Supu sangat besar, sayang ia telah membunuh Cherku, hingga jasanya itu mesti dipakai menebus dosanya. Karena itu sekarang tinggal Aman satu orang. Bagaimana kita harus menghargai jasanya Aman ini?"

"Baiklah dia mendapatkan mutiara dua lipat!" seorang usulkan.

"Tambahkan dia dua puluh ekor kerbau serta seratus ekor kambing!" kata yang lain.

"Boleh kita memberikannya pula lima puluh pikul bulu kambing!" yang lainnya lagi memberi pikiran.

Si ketua menggoyangi tangan, ia tertawa riang,

"Tidak, tidak tepat!" katanya. "Aman tidak menghendaki kerbau dan kambing atau bulu kambing! Mutiara pun ia telah mempunyai banyak! Habis, dia membutuhkan apa? Dia masih belum menikah, maka perlulah kita mencarikan dia seorang suami!"

Semua orang girang sekali, semuanya bersorak.

"Akur! Akur!" seru mereka. "Mari kita mencarikan suami jempol untuk Aman!"

Hati Supu berdebaran. Semenjak mereka pulang, tidak pernah Aman bicara padanya. Ia telah menanya dia, dia tidak mau menyahut Kalau ia mendekati, dia menyingkir. Sekarang ada usul si ketua ini! Bagaimana akhirnya? Siapa yang si ketua pilih? Atau, siapa yang Aman telah pilih sendiri? Mungkinkah Sangszer? "Siapakah bakal jadi suami paling baik bagi Aman?" berkata si ketua. "Kami bangsa Kazakh, pria kami semuanya baik-baik sebagai penggembala, sebagai pemburu, sebagai penunggang kuda, sebagai orang kosen juga! Hanyalah, siapalah yang paling diberkahi Junjungan kita? Seharusnya saja, orang muda yang paling kosen dialah yang mesti mendapatkan isteri paling cantik!"

"Benar, benar!" orang banyak berseru-seru. "Pemuda kita yang paling gagah mesti menikah dengan pemudi kita paling cantik!"

Semua mata lantas dialihkan kepada Supu dan Sangszer, ada juga kepada beberapa pemuda lainnya.

Aman, dengan wajah merah, juga memandang kepada setiap anak muda. Setiap pemuda, yang sinar matanya bentrok, hatinya berdenyutan, otaknya bekerja, dia kata dalam hatinya: "Siapa dapat menjadi suami nona begini cantik, ia sungguh beruntung!"

Sementara itu, Aman tidak memandang Supu, ia menyingkir dari sinar matanya si pemuda.

"Maka itu sekarang aku ingin diadakan pertandingan guna memilih pasangannya Aman," berkata pula si ketua kemudian. "Untuk itu orang harus dapat turut ambil bagian di dalam empat macam pertandingan. Tiga yang pertama ialah pacuan kuda, mengadu panah dan rebutan kambing. Untuk merebut kambing lima ekor, orang mesti tinggal lima Inilah calon terakhir, yang akan mengadu tenaga dan kepandaian satu dengan lain. Siapa yang menang dialah orang yang paling kosen."

"Dan dialah yang mendapatkan nona kita paling cantik!" orang banyak menyambungi.

Si ketua mengangguk. Ia berkata pula: "Sekarang sudah jauh malam! Siapa sudah mempunyai isteri, siapa sudah mempunyai kekasih, kamu boleh terus pelesiran! Siapa mau turut pertandingan, pergilah masuk tidur, untuk beristirahat untuk bersiap sedia! Kita akan mulai besok pagi! Nanti kita lihat, siapakah yang dipilih Junjungan kita!"

Bangsa Kazakh beragama Islam, maka itu mereka percaya, mati dan hidup mereka ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Junjungannya.

Besoknya pagi di padang rumput telah berkumpul seratus lebih pemuda, semua dengan kudanya masing-masing, kuda pilihan. Cuma Supu yang berduduk dengan masgul. Ia kata di dalam hatinya: "Aman membenci aku, percuma aku mengalahkan orang, dia tidak bakal menikah padaku...” Tidak lama terdengarlah suara terompet. Semua anak muda, dengan menuntun kuda mereka, lantas berdiri berbaris. Supu tetap berduduk saja, ia ragu-ragu. Mendadak kupingnya mendengar teguran: "Kenapa kau tidak turut bertanding?" Ia terperanjat. Itulah suaranya Aman. Ia menoleh. Ia masih mau menduga nona itu bicara dengan lain orang. Tapi di situ cuma ada ia sendiri. Ia lantas melihat mata Aman ditujukan tajam kepadanya. Mendadak ia menjadi girang sekali.

"Oh, Aman, kiranya kau dapat memaafkan aku?..." katanya. Nona itu menggelengkan kepala.

"Aku tidak tahu..." sahutnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia menanya: "Kau... kenapa kau tidak turut bertanding?"

Supu tidak menyahut, hanya dia berjingkrak bangun, terus dia menuntun kudanya dan pergi berbaris.

Segera juga terdengar pula suara terompet, setelah tiga kali, maka seratus lebih penunggang kuda itu sudah mulai membalap, dari barat mereka kabur ke timur.

Matanya Aman tidak pernah berpisah dari kuda bulu dawuk dari Supu. Setindak derra setindak, kuda itu melewati yang lain-lainnya. Tiba di timur, batas ujung, orang lari kembali dengan memutar. Ketika orang akhirnya tiba di barat, di batas penghabisan, kuda Supu ialah yang kedelapan. Kuda nomor satu, yang bulunya putih, penunggangnya mengenakan topeng dari sapu tangan, hingga nampak sepasang matanya saja yang bercahaya.

Si ketua segera mengumumkan, yang dapat bertanding terus ialah yang kudanya terhitung sampai nomor lima puluh. Sekarang orang mulai dengan adu panah. Untuk itu di tengah padang rumput itu ditancap papan sebagai tameng atau sasaran. Sambil menunggang kuda, pemuda-pemuda itu. memanah bergantian. Setiap kali sasaran terkena tepat, orang semua bertepuk tangan bertampik sorak.

Setelah penghitungan ternyata, di dalam sepuluh kali panah, Supu dapat mengenai delapan kali. Yang sepuluh kati memanah tanpa lolos ialah si penunggang kuda bertopeng.

"Eh, siapakah dia?” demikian orang saling bertanya. "Kudanya lari paling keras, ilmu panahnya pun paling mahir!”

Si ketua sudah lantas mengumumkan siapa dalam sepuluh kali dapat memanah enam, dia berhak turut dalam pertandingan yang ketiga. Acaranya ialah merebut kambing.

Lalu ternyata, dari lima puluh calon, tiga puluh berhak bertanding lebih jauh.

Rebutan kambing adalah olah raga kepelesiran paling digemari bangsa Kazakh. Cara merebutnya ialah seekor kambing dilepas di tengah kalangan, lantas sambil menunggang kuda orang merebutnya, siapa yang akhirnya mendapatkan itu, dialah yang menang,, dia berhak memiliki kambing itu serta diakui juga sebagai orang kosen. Untuk ini orang mesti pandai menunggang kuda, bermata celi, bertenaga besar dan sebal Itulah perebutan di antara puluhan lawan.

Kali ini digunakan lima ekor kambing. Nampaknya perlombaan menjadi terlebih riang. Tentu sekali, yang diperebuti bukan kambing lagi hanya Aman. Maka juga perasaan setiap peserta menjadi tegang luar biasa. Pula setiap sanak atau keluarga atau sahabatnya si pemuda bersorak menganjurkan anak atau sanaknya itu. Maka ramailah gemuruh sorak-sorai. Siapa telah mendapatkannya, kambing itu masih dapat dirampas lain orang. Maka siapa berhasil, dia mesti bisa kabur naik ke atas bukit ialah tempat terakhir di mana orang tidak dapat merampasnya lebih jauh.

Kemudian ternyata, di antara lima calon yang berhasil itu, ada Supu, ada Sangszer, ada si penunggang kuda bertopeng itu.

Sampai di sini orang mulai dengan acara terakhir: Mengadu kepandaian berkelahi. Menurut undian, Sangszer dapat lawan seorang pemuda yang dijuluki si "banteng gede”. Lawannya Supu ialah seorang pemuda tinggi sekali dan kurus, hingga dia biasanya jalan dengan punggung melengkung agar tidak terlalu menyolok kalau dia jalan beramai-ramai. Dia dipanggil si "unta”. Meski lawannya Sangszer ada satu banteng tetapi ia sangat gesit dan cerdik, belum lama, dengan satu gaetan kaki, ia dapat membikin lawan itu roboh, lalu ditindih hingga tidak berdaya.

Si unta sebaliknya sulit untuk dijatuhkan Supu. Beberapa kali dia kena dirobohkan, saban-saban dia dapat meronta dan bangun pula, hingga dia mendatangkan ramai tempik sorak. Tadinya orang menyangka Supu bakal menang, kemudian lalu menduga si unta yang ulat ini.

Supu bermandikan peluh, kaki dan tangannya berkurang kecekatannya, napasnya pun memburu. Lawannya sebaliknya nampak lebih segar hanya dia pun tidak bisa merebut kemenangan. Maka mereka jadi bertarung seru sekali.

Saking letih, kemudian Supu kena dibanting jatuh, tubuhnya terus ditindih. Ia berontak, sia-sia saja. Banyak orang lantas berkaok-kaok: “Si unta menang! Si unta menang!*' Supu bergelisah bukan main. Tiba-tiba sinar matanya bentrok sama sinar matanya seorang lain. Itulah sinar mata yang bergelisah, yang seperti sangat memperhatikan padanya. Mendadak ia mendapat tenaga baru, ketika ia berontak, ia dapat menggulingkan si unta, hingga sekarang ialah yang berbalik menindih lawannya.

Dengan tangan kirinya ia menekuk tangan kanan si unta, lehernya dia itu ia tekan. Maka habislah tenaga si jangkung kurus itu!

Di antara sorakan riuh sekali, Supu dinyatakan menang, la bangun berdiri dengan napas menggotong. Justeru itu Sangszer berkata padanya: "Supu, kau beristirahatlah! Aku akan melayani dulu ini saudara!” Dia berbicara tanpa memberi ketika lawannya beristirahat dulu. Habis berkata, dia menghampirkan si calon yang nomor lima, yang belum ada tandingannya. Dia berkata dengan tangannya: "Saudara, mari aku melayani kau bertanding. Sekarang kau tentu dapat meloloskan topengmu..."

"Tak dapatkah tanpa diloloskan?" menjawab si lawan.

Supu mendengar suara orang, hatinya bertekat Semenjak tadi ia menduga kepada si pemuda yang menyebut dirinya Lie Pekma, sekarang ia mendapat kepastian. Hanya, karenanya, ia menjadi berpikir: "Sudah terang Sangszer dan aku bukan tandingannya. Dia selalu berada di antara kita, kiranya dia pun mengarah Aman..."

Pemuda itu memang Lie Bun Siu.

Sangszer tertawa dan berkata: "Untukku sendiri, tidak ada halangannya aku tidak melihat wajahmu, tapi kita tinggal bertiga. kalau aku dan Supu kalah, mungkinkah Aman menikah suami yang tidak ada mukanya?"

"Baiklah “ menjawab Bun Siu. yang lantas menarik sapu tangannya. "Lie Pekma!" Sangszer berseru kaget Orang banyak pun heran.

"Lie Pekma! Lie Pelana!" mereka berseru-seru. "Dialah orang Han!"

"Tidak! Gadis cantik kita tidak dapat menikah sama orang Han!" ada lagi yang berteriak-teriak.

Yang hebat adalah yang berteriak: "Orang Han menjadi penjahat! Orang Han telah merampok dan membunuh orang bangsa kita!" Mereka kurban-kurban keganasannya rombongan Hok Goan Liong.

"Orang gagah she Lie mi bukan orang jahat!" ada juga yang mengasih dengar suara lain.

"Dialah yang menolong kita di istana rahasia!"

"Dialah penolong bangsa kita! Dia lain dari orang-orang Han yang jahat!"

Maka ramailah suara-suara yang bertentangan itu.

"Baiklah kita mendengar ketua kita!" akhirnya ada yang berteriak.

Si ketua berbangkit, tiga kali ia menepuk tangan.

"Saudara-saudara, tenang!" ia berkata, nyaring. "Saudara Lie ini bukannya orang jahat! Tanpa dia, kita semua tentu telah habis terbinasa di dalam istana rahasia! Maka itu benar, dialah penolong kita! Pula harus diketahui, di antara orang Han juga ada banyak yang baik, dan saudara Lie ini orang baik itu!" Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan: "Sekarang mari kita bicara dari hal pertandingan ini. Inilah pertandingan yang mengenakan jodohnya Aman. Di dalam ini hal, kita mengharap petunjuk Allah Junjungan kita, ingin kita mendapat tahu Tuhan berkenan memberi ampun atau tidak kepada Supu. Jikalau Supu diberkahi, dia tentulah yang menang dan dia bakal menikah sama Aman. Kita ada penganut-penganut dari agama Islam, kita tidak dapat menikah sama orang dari lain agama."

Mendengar itu, Lie Bun Siu campur bicara.

"Di antara orang Han juga ada yang memeluk agama Islam," katanya. "Aku mempunyai minat untuk memuja Tuhan Junjungan kamu!"

Ketua itu menjadi serba salah. Tidak ada alasan untuk menolak Bun Siu. Pula, sebagai seorang budiman, ia tetap bersyukur dan berterima kasih pada pemuda ini. Bun Siu bukan hanya menolong dia tetapi semua bangsanya. Di sebelah itu, ia hanya terpengaruh sama hari kecilnya. Ia juga tidak puas yang gadis bangsanya yang paling cantik dinikahkan kepada orang Han. Ia terpengaruh keras rasa kebangsaannya.

"Soal ini sangat sulit, tidak dapat aku memutuskan sendiri," akhirnya ia kata. "Di dalam ini hal kita harus menanyakan pendapatnya Hapulam, tertua kita yang paling terpelajar*'

Hapulam itu adalah orang tua suku bangsa Tiehyen yang paling paham tentang kitab suci. Si ketua lantas menghampirkan ahli kitab itu, yang berada di antara mereka

"Hapulam," tanyanya, lantas, "pernahkah bangsa kita mengalami peristiwa seperti ini? Aku minta sukalah kau memberikan keterangan yang jelas."

Ditanya begitu, Hapulam tunduk. Ia berpikir.

"Pelajaranku sangat rendah, apa pun aku tidak mengerti," sahutnya selang sesaat.

"Jikalau Hapulam yang terpelajar masih menyebutkan tidak tahu apa-apa maka lain orang pastilah terlebih tidak tahu apa- apa lagi!" kata si ketua.

Didesak demikian, Hapulam berkata juga: "Kuran Surah 49 ayat 13 mengajarkan:-'Manusia, seorang pria dan seorang wanita, membuatmu menjadi sekian bangsa dan agama, untuk menggampangkan kamu saling mengenal, maka dalam pandangan Tuhan, yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling baik. Di dalam dunia ini, pelbagai bangsa dan agama, semua ada ciptaan Allah, maka juga Allah bilang, yang paling baik ialah paling mulia. Pula ada ajaran yang menganjurkan untuk kita mencintai tetangga kita dekat dan jauh, kawan, dan melayani baik-baik tetamu kita. Orang Han ialah tetangga kita yang jauh, asal mereka tidak mengganggu kita, kita harus mencintai serta melayaninya."

"Kau benar," berkata si ketua. "Tetapi anak perempuan kita, dapatkah dia dinikah orang Han?"

"Surah 2 ayat 221 membilang," berkata Hapulam: "'Jangan kamu nikah wanita yang memuja boneka sampai mereka telah mempercayai agama kita-jangan kamu menikahkan anak perempuan kepada pria yang memuja boneka sampai pria itu mempercayai agama kita. Surah 4 ayat 23 pun melarang menikah dengan wanita yang ada suaminya atau sanak langsung, selainnya itu, semua diperbolehkan sampai pun pada bujang dan budak. Maka kenapa dia tidak dapat menikah sama orang Han?"

Selama Hapulam berkhotbah itu, orang banyak berdiri mendengari dengan tenang dan perhatian, maka itu mereka menjadi mengerti baik sekali. Dari itu, lantas mereka pada membilang: "Petunjuk Alto tidak bisa salah lagi!" Pula ada yang memuji Hapunun dengan berkat* "Apa pun yang kita tidak mengerti, kita boleh pergi menanyakan kepada Hapolam, dia pasti dapat rnenjehtskannya dengan baik."

"Baiklah!" berkata si ketua. "Kuran menyatakan demikian maka orang Han yang baik ialah saudara yang baik dari kita bangsa Kazakh! Saudara Lie hendak menikah sama Aman, Junjungan kita telah mengizinkannya, maka itu sekarang kamu boleh mulai!" Semenjak kecil Lie Bun Siu tidak dapat melupai Supu, rintangannya ayah Supu membuat mereka renggang, sebab ayah Supu membenci orang Han, sekarang ia maju untuk memperebuti Aman, sengaja ia dandan sebagai pemuda, ingin ia membikin bangsa ini mempercayai bahwa orang Han juga ada yang baik. Dengan begitu juga dengan sendirinya dapat ia memberi penjelasan kepada Supu hal kekeliruan pandangan ayah pemuda itu. Mengenai pertandingan ini, ia mempunyai maksudnya sendiri, meski di muka umum terang nampak ia menyalak di antara Supu dan Sangszer untuk merebut Aman.

Oood~wooO