-->

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Jilid 08

Bagian ke VIII

Supu pergi seorang diri dengan pikirannya tidak keruan rasa. Ia menggendol sebuah bungkusan serta sebuah kantung air. Ia berjalan di antara jalanan yang bersalju. Ia telah diusir dari kaumnya, dari tanah tempat kelahirannya. Ia diusir untuk selama-lamanya hingga tidak dapat ia kembali ke kampung halamannya itu. Ayahnya, yang ia cintai, telah mati, dan kekasihnya, Aman, telah menjadi musuhnya. Di dalam dunia yang luas ini, ia sekarang menjadi sebatang kara.

Ada satu pertanyaan yang tidak mau pergi dari dalam hatinya. Itulah hal yang sangat membikin ia heran, yang tak ia mengerti. Inilah dia: "Terang sekali aku tidak membunuh Cherku! Kenapa golokku dapat nancap di dadanya? Ketika di saat itu api padam dengan tiba-tiba, aku cuma merasa ada orang menyamber dan merampas golok dari tanganku. Adakah perampas itu Cherku, yang karena telah membunuh ayahku, lalu menjadi malu sendirinya dan merampas golokku untuk membunuh diri? inilah tidak mungkin terjadi! Cherku bukan semacam laki-laki! Dia pun mempunyai goloknya sendiri, perlu apa dia merampas golokku? Mungkinkah, dalam saat murka itu, aku sampai lupa akan diriku, aku membunuh Cherku di luar tahuku? Ya, inilah mungkin, inilah mungkin..."

Ia berjalan terus, pikirannya itu pun bekerja teras. Ia menimbang-nimbang, ia menanya dirinya sendiri, tetapi tidak dapat ia memberikan jawabannya. Pikirnya pula: "Tidak, itulah tidak mungkin. Ketika itu, pikiranku sehat sekali, pikiranku tidak kacau! Luar biasa aku membunuh orang tetapi aku tidak tahu! Cherku musuhku, sebab dia membunuh ayahku, dengan membunuh dia, aku tidak menyesal, hanya aneh adalah duduknya peristiwa! Aku tidak membunuh dia! Habis, siapakah? Mungkinkah benar, di dalam istana rahasia itu ada memedinya?"

Lama Supu berjalan, lama ia berpikir, akhirnya, ia mengarahkan kudanya ke istana rahasia. Ia merasa kesepian. Ketika beberapa hari yang lalu ia pergi mencari istana itu, ia ada bersama ayahnya serta Aman, juga beserta si nona Kang yang pendiam, yang sinar matanya bagus dan tajam

"Sekarang setelah ayahku mati, aku hidup bersendirian. Dengan Aman aku tidak bakai bertemu pula untuk selama- lamanya. Umpama kata kita dapat bertemu, dia sangat membenci aku. Bagaimana dengan si nona Kang? Dia pun setahu telah pergi ke mana... Semenjak berlalu dari istana rahasia, terus aku tidak melihatnya...**

Demikian pemuda-ini ngelamun dalam pikirannya. Ia berduka, ia mendongkol, ia pun bercuriga, ragu-ragu. Ia berada dalam kesunyian tetapi ia tidak takut. Maka ia telah mengambil keputusan guna mencari sesuatu di dalam istana rahasia. Ia menganggap lebih baik lagi kalau ia dibinasakan memedi gurun! Bukankah di dalam dunia ini sudah tidak ada apa-apa lagi yang berarti?

Sementara itu di dalam salah saru kamar di Istana Rahasia Kobu, Hok Goan Liong dan Tan Tat Hian lagi duduk berhadapan, bergantian atau berbareng mereka tertawa terbahak-bahak, saking girangnya, saking puasnya, hati mereka. Bersama mereka pula turut bergembira tiga puluh lebih pengikut-pengikut mereka. Sebab kantong dari setiap dari mereka telah penuh isinya yang berupa barang-barang permata yang banyak sekali, bahkan umpama kata setiapnya membawa sepuluh buah kantong, tempat itu masih kekurangan guna dapat mengangkut semua harta karun dari kamar rahasia itu-tak satu perseratus atau satu perseribunya...

"Shatee," berkata Goan Liong, "kita telah berlalu dari rumah belasan tahun lamanya, sekarang ini barulah maksud hati kita tercapai. Semua ini ialah karena jasa kau yang bukan kecil itu. Duluhari kita bersusah hari karena kita tidak bisa mencari harta karun ini. sekarang ini kita bersusah hati disebabkan kita tidak sanggup mengangkut aemua harta ini karena jumlahnya harta sangat banyak! Bagaimana harta ini dapat diangkut semua?"

Tat Hian tertawa tetapi ia berkata: "Apa yang aku buat susah hati sekarang adalah satu urusan lain..." -

"Apakah itu, shatee?" Goan Liong tanya. "Adakah dia si tua bangka bongkok seperti unta itu? Kalau dia, meskipun dia terlebih lihai lagi, dengan dua tangannya dia tidak dapat melawan empat buah kepalan. Mungkinkah dia berani menepuk laler di kepalanya harimau?" ia menoleh kepada sebawahannya, yang menjadi tauwbak atau kepala rombongan seraya berkata: "Eh, Lao Sin, pagi kau mengajak sepuluh saudara, kau tengok segala bagian dari istana ini, periksa biar tertib!"

Tauwbak she Sin itu mengangguk, dengan lantas ia berlalu bersama sepuluh kawannya. Di antara mereka itu ada yang tidak sabaran, sembari jalan dia mengoceh: "Memeriksa saja tak hentinya! Di sini di mana ada si bungkuk unta?"

Supu di lain bagian telah menyembunyikan diri, ia mepet di tembok di belakang pintu, membiarkan rombongan si Sin itu lewat. Ia tiba di dalam istana rahasia itu di saat yang tepat Beruntung untuknya, si Sin tidak bercuriga bahwa di belakang pintu ada yang bersembunyi, mereka itu lewat terus sambil membawa obor sebagai alat penerangan. Supu lantas mendengar pula suaranya Tat Hian: "Si tua bangka bungkuk tetaplah seorang tua bangka, orang yang aku kualirkan ialah si orang Kazakh.-"

Supu jadi sangat ketarik, hingga ia memasang kuping dengan perhatian sepenuhnya.

"Mereka itu terdiri dari lima orang, mereka telah mengikuti jejak tapak kakiku," si orang she Tan melanjuti. "Entah kenapa, dua di antaranya, dua orang,.pria yang telah berusia lanjut, telah kedapatan mati di dalam istana ini..."

Sebenarnya Supu mau menduga Cherku dibinasakan Tat Hian, tetapi mendengar perkataan ini, penyamun itu tidak dapat diterka. Maka itu, siapakah pembunuhnya Cherku?

Hok Goan Liong tertawa, "Mereka itu telah melihat harta karun ini, tidaklah aneh jikalau mereka jadi mata gelap dan saling bunuh," katanya. "Itu pun masuk akal."

"Yang aku paling kuatirkan," kata pula Tat Hian, "ialah itu tiga muda-mudi anjing Kazakh... Kalau mereka pulang kepada bangsanya, bisa jadi mereka bakal datang pula dalam satu pasukan besar untuk mengangkut semua harta karun ini..."

Mendadak Goan Liong berjingkrak bangun.

"Shatee, kau benari" serunya. "Sebetulnya mereka itu bertiga harus bekerja diam-diam mengangkut harta ini, tetapi mereka muda dan tolol, memang mungkin mereka memberitahukannya kepada bangsanya. Taruh kata mereka berdiam-diam saja, di belakang hari, rahasia mereka itu bakal bocor sendirinya. Sekarang, shatee, bagaimana pikiranmu?"

"Telah lama aku pikirkan itu, aku masih belum berhasil memperoleh jalannya yang sempurna," menyahut Tat Hian. "Mereka berjumlah banyakan, jumlah kita kecil sekali, jikalau kita melawan bertempur, sulit untuk kita memperoleh kemenangan. Aku pikir, paling benar ialah kita yang turun tangan terlebih dahulu..." "Bagaimana itu?"

"Secara diam-diam kita menyateroni ke tempat mereka.

Kita menyerang sambil membakar..."

Perkataannya Tat Hian berhenti secara mendadak. Kebetulan sekali, mereka mendengar jeritan nyaring, yang nadanya menyayatkan. Keduanya kaget dan heran, keduanya lantas menyiapkan senjatanya masing-masing. Segera setelah itu, mereka mendengar tindakan kaki berlari-lari, disusul munculnya seorang sebawahannya, yang terus melaporkan: "Toa... toapiauwtauw dan sampiauwtauw, Lao Sin jatuh kecemplung!..."

"Jatuh kecemplung?" tanya Goan Liong heran.

"Benar. Lao Sin kena injak perangkap, dia terjeblos jatuh dalam..."

Tat Hian mengangguk. "Di dalam istana rahasia ini ada perangkapnya, inilah tidak aneh," katanya. "Mari kita pergi melihat!"

Goan Liong setuju, maka berdua mereka pergi. Si pelapor jalan di muka sebagai penunjuk, yang lainnya mengikuti

Mereka melintasi delapan kamar, sampai di sebuah yang lain di mana berkumpul semua kawan, yang ribut bicara satu dengan lain, mata mereka melongok ke lantai, roman mereka tegang. Di lantai ada sebuah liang besar luas setombak, tempo disuluhkan, di dalam liang itu tidak nampak apa-apa saking gelap dan dalam. Jadi itulah liang seperti tanpa dasar.

"Tadi Lao Sin jalan di muka," seorang memberi keterangan, "mendadak dia terjeblos dan kecemplung..."

Tat Hian melongok ke liang perangkap. "Lao Sin! Lao Sin!" ia memanggil-manggil.

Tidak ada jawaban kecuali jawaban sang kumandang dari dalam liang itu. Tat Hian memandang Goan Liong, Goan Liong mengawasi padanya, hati mereka sama-sama bekerja. Dengan sendirinya mereka merasa jeri.

"Di dalam istana ini disimpan harta besar, pantas kalau perangkap dipasang untuk menjaga gangguan pencuri," kata Tat Hian kemudian. "Mungkin masih ada perangkap lainnya lagi, maka itu selanjurnya kita harus berhati-hati."

Goan Liong tidak bilang suatu apa hanya ia memandang satu tauwbak she Pit

"Lao Pit," katanya, "coba kau ikat tubuhmu dengan dadung, lalu kau turun, untuk lihat Lao Sin, untuk mencoba menolongi dia."

Tauwbak itu berdiam, wajahnya menunjuk kesangsiannya. Ia rupanya jeri memasuki liang itu, yang tak ketahuan dasarnya.

"Apa? Apakah kau tidak dengar?" tanya Goan Liong, wajannya suram.

"Toapiauwtauw," sahut si tauwbak. "Si Sin terjeblos lama juga, suaranya tidak ada sama sekali, tentu dia sudah mati..."

"Tapi aku menyuruh kau turun untuk melihat, untuk menolongi kalau perlu!" kata pemimpin itu, gusar. "Kalau benar dia sudah mati, mayatnya harus diangkat."

"Apakah artinya kalau dia mati?" tauwbak ita tanya sambil tertawa. "Untuk kita, matinya satu orang berarti kurangnya satu orang, dan itu berarti juga kurangnya bagiannya satu orang atau berarti kita mendapat bagian lebih banyak...”

Hok Goan Liong tertawa, ia mengangguk.

"Kau benar!" bilangnya. "Mati satu orang berarti kurang satu orang!..." Mendadak tangannya pemimpin ini melayang, dengan satu suara nyaring, tubuh si Pit terpelanting, jatuh ke dalam liang perangkap!

Bukan main si Pit merasakan sakit dan kaget, dia menjerit keras, tangannya menjambret, guna menolong dirinya. Ia tidak herhasil memegang dadung, yang melongsor turun di pinggiran liang itu, dengan tangannya merosot, tubuhnya turun terus. Karena tertarik, dadung itu membikin tembokan tergerak dan gempur.

Tat Hian kaget sekali, tetapi ia masih ingat untuk membabat ke arah dadung, hingga tembokan tidak tertarik terus, tidak turut gempur semuanya. Cuma tubuhnya si Pit, yang tak tertahan lagi jatuhnya.

Semua orang kaget hingga mereka melongo.

"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!" kata beberapa orang.

"Syukur sampiauwtauw sebat, kalau tidak, kita bisa roboh semua dan keunikan pasir!"

Tat Hian tidak membilang apa-apa hanya lantas ia memeriksa liang perangkap itu. la mendapatkan sebuah gelang, ketika ia menarik itu, papan batu jebakannya bergerak, naik sendirinya, hingga liang jadi tertutup pula seperti biasa, lenyap tanda-tandanya perangkap itu.

"Sungguh pandai orang yang memasang perangkap ini!" Goan Liong memuji. Dia seperti ingat lagi bahwa baru saja dia menghukum satu tauwbak-nya. "Kalau begini, pasti sudah si tua bungkuk itu telah mati di dalam istana ini, jadi tidak usah kita mencari dia terlebih jauh!"

Ia lantas mengajak semua orang kembali ke ruang kamar tadi

"Toako, di luar dugaan kita menemui istana ini, itu artinya untung kita," kata Tat Hian. "Sekarang kita pun mendapatkan liang perangkap itu, maka aku pikir, kalau benar orang-orang Kazakh datang kemari, baik kita jebak mereka di liang perangkap itu. Aku percaya, seratus atau dua ratus musuh tidak ada artinya untuk kita..."

Goan Liong bertepuk tangan.

"Bagus!" serunya. "Ya, kita jebak mereka! Datang satu mati satu, datang dua mati sepasang!"

Supu bergidik. Ia telah mendengar dan melibat semua. Ia menjadi ingat kepada Aman. Nona itu tentu bakal mengajak orang-orang bangsanya datang ke istana ini untuk mengambil harta karun. Kalau mereka datang, mereka pasti akan terancam bahaya besar. Dapatkah ia berdiam saja? Tidak, ia mesti cegah mereka itu-ia mesti menolongi mereka!

Maka tanpa ragu-ragu lagi, diam-diam ia berjalan keluar dari istana itu.

Ia mau melakukan perjalanan pulang, guna memegat rombongannya Aman, untuk memperingati mereka itu dari bahaya yang mengancam mereka. Tengah ia berjalan itu, mendadak ia mendengar bentakan: "Siapa kau?" Bentakan itu disusul sama satu bacokan ke arah kepala.

Dalam kagetnya, Supu lompat berkelit. Ia tidak menjawab hanya lari terus.

Masih ada seorang lain yang merintangi pemuda ini Dia melihat si pemuda, si pemuda sebaliknya tidak. Dia muncul dengan mendadak, tanpa bersuara, dia menyerang dengan kakinya dia menyapu. Supu tidak berdaya lagi, ia roboh. Tapi, ketika dia ditubruk, untuk dibekuk, ia ingat membela diri, maka ia lantas menyambut! dengan tikaman. Orang itu tidak menyangka, dia tidak bisa menangkis atau berkelit.

Cuma sekali dia menjerit keras, lantas tubuhnya roboh, jiwanya melayang. Hanyalah Supu, tidak dapat ia meloloskan diri. Belum lagi ia sempat berlompat bangun, sebatang golok sudah ditempelkan ke batang lehernya.

"Jangan bergerak!" demikian ia mendengar ancaman. Selagi tengkurap, Supu tidak bisa melihat siapa orang itu.

Ia terpaksa berdiam saja sambil mendekam. Orang itu sebaliknya mengawasi kepada kawannya, waktu dia mendapat kenyataan si kawan telah terbinasa, dia menjadi gusar, dia lantas mengayun goloknya kepada lehernya si pemuda

Selagi Supu tidak berdaya dan tangan orang itu terayun, di situ terlihat menyambarnya barang putih berkilauan, barang mana —— serupa pedang kecil menancap di dada si pengancam itu, hingga dia menjerit dan roboh terjengkang, goloknya terlepas, jatuh di tanah.

Baru sekarang Supu, yang merasa heran, dapat berlompat bangun. Ia mendapat kenyataan pedang pendek itu nancap di dada dan merampas jiwa kurbannya. Ia menjadi heran. Ia menduga-duga, siapa penolongnya itu. Selagi ia berdiam, seorang nona muncul dari belakang pepohonan, nona itu lantas mengambil pedang pendek itu dari dada si penjahat, terus darahnya disusuri.

Melihat nona itu, Supu terkejut berbareng girang.

"Nona Kang” serunya. “Terima kasih untuk pertolonganmu.”

Nona itu Bun Siu adanya. Dia bersenyum. Lantas dia menggusur mayatnya kedua penjahat itu, di lelaki saling berhadapan, tangan mereka dibikin masing-masing mencekal pisau belati, pisau mana saling nancap di dada mereka. Dengan begitu nampak mereka seperti saling menikam.

"Bagusi" berseru Supu memuji. Ia dapat membade maksud si nona. "Kalau kawan mereka ini mendapati mereka, mereka itu bisa menyangka mereka saling bunuh. Nona Kang, setindak saja kau datang lambat, tentulah aku sudah bercelaka..."

Di dalam hatinya, Bun Siu tertawa

"Kau mana tahu yang aku senantiasa mengintil di belakangmu? Mana bisa menjadi aku datang terlambat?"

Memang benar Nona Lie senantiasa menguntit Supu semenjak mereka ke luar dari istana rahasia. Kalau Supu mengikuti Aman, untuk menghadap tertua mereka, ia diam- diam menghilang, untuk di lain saat menjadi seperti bayangan si anak muda. Begitulah ia mendapat tahu Supu diusir, lalu Supu pergi tanpa tujuan, sampai orang menuju ke istana rahasia itu. Supu mendengar dan melihat aksinya Tan Tat Hian semua, Bun Siu sebaliknya melihat gerak-geriknya itu. la lihai ilmunya enteng tubuh, sedang Supu melainkan seorang kuat di antara pemuda-pemuda Kazakh.

"Sekarang mari kita lekas pergi," kata Bun Siu kemudian. "Kalau musuh keluar semua, tidak dapat kita melawan mereka."

Supu pun insaf akan bahaya, maka ia menurut. Lebih dulu mereka masuk ke pepohonan lebat, dari situ mereka berjalan pulang. Di sepanjang jalan, Supu memberi keterangan dari halnya dia telah diusir dari kaumnya.

"Nona Kang, benar-benar Cherku bukan dibunuh olehku," kemudian ia memberi kepastian, "kecuali saking gusar dan bersusah hati, aku membunuhnya di luar tahuku..."

Bun Siu kenal pemuda ini semenjak masih kecil, ia percaya kejujurannya, hanya pembunuhan terhadap Cherku memang aneh sekali. Di dalam istana itu tidak ada lain orang. Ialah yang mengunci pintu. Kalau si pembunuh bukan Supu, habis siapa? Tidak mungkin Aman membunuh ayahnya.

"Benarkah Aman membunuh ayahnya sendiri?" ia tanya dirinya. Ia menggigil kalau ia membayangi benar-benar Aman berbuat demikian. "Tapi tidak, itulah tak dapat! Hanya, benar juga di dalam dunia suka terjadi hal yang luar biasa sekali... Sekarang satu dalam dunia, Supu jujur atau Aman si pembunuh..."

Perjalanan mereka berdua di lanjuti. Sekarang mereka berada di jalan berpasir yang penuh salju. Mereka berjalan dengan merendengi kuda mereka. Inilah saat yang Bun Siu mengharap-harapnya. Ia merasa senang berbareng berduka.

Supu sebaliknya senantiasa mengingat Aman, kalau ia membuka mulut, nama Aman adalah yang dibuat sebutan. Demikian katanya: "Kalau Aman membawa orang-orang bangsanya datang mengambil harta, mereka pasti bakal bercelaka di tangan kawanan penyamun yang licin itu, maka itu, nona Kang, mesti aku bicara dengan mereka, untuk memberi keterangan. Aman harus dikisiki."

"Benar. Dia mesti dipesan untuk waspada," Bun Siu bilang- Supu mengangguk. "Nona Kang," katanya pula selang sesaat, "benar-benar bukan aku yang membunuh Cherku, maka itu tolong kau pikirkan jalan untukku dapat akur pula dengan Aman..." Ia menjambak rambutnya saking masgul. Ia menambahkan:

"Kalau aku menemukan Aman, mungkin dia membunuh aku, kalau tidak, mungkin aku tidak bakal hidup lebih lama pula..."

"Sabar saja," kata Nona Lie. "Mungkin kau dapat melupakan dia. Kau tahu, duluhari, semasa aku masih kecil, aku sangat menyukai satu anak laki-laki. Sayang kemudian dia tidak mernperdulikan aku, hingga aku jadi bersusah hari, hingga aku menyesal tidak dapat aku mati saja. Selewatnya beberapa tahun, aku lantas tidak memikir pula untuk mati..."

"Kalau begitu, anak laki-laki itu satu telur busuk!" kata Supu. "Kaulah satu nona yang baik sekali, mengapa dia tidak mempedulikanmu?" . Bun Siu menggeleng kepala. "Bukan, anak itu bukan telur busuk," katanya. "Adalah ayahnya yang melarang aku menemuinya."

"Ah, kalau begitu, ayahnya itulah si manusia tolol dungu!" kata Supu pula. Ia mengawasi si nona, ia menambahkan: "Ayahku adalah seorang ayah yang baik, dia senang dengan Aman, dia mengharap-harap aku menikah Aman, maka— — ah —— sayang sekali, Cherku telah membunuh ayahku..." Bun Siu pun mengawasi. "Kalau semenjak sekarang kau tidak melihat lagi Aman, mungkin kau dapat melupai dia," katanya, suaranya rada bergemetar. "Dan mungkin kau akan bertemu seorang nona lain yang cantik..."

“Tidak, untuk selamanya tidak dapat aku melupakan Aman!" kata Supu, tegas. "Lain nona cantik tidak ada di mataku!" Ia berhenti sebentar, lalu ia tertawa. Ia menyesal ketika ia berkata: "Kaulah penolongku, terhadapmu aku sangat bersyukur. Pula aku sangat menghormati kau!"

Bun Siu berdiam, hatinya bekerja.

Magrib itu mereka singgah, untuk masing-masing menggali salju dan pasir, untuk menempatkan diri melewati sang malam Di antara kedua liang, mereka menyalakan unggun. Di atas mereka terlihat langit yang biru dengan bintang-bintangnya berkelak-kelik. Angin mendesir-desir, membuat salju beterbangan.

Kebetulan ada dua lempengan salju yang terbang berbareng, sambil menunjuk itu Bun Siu kata: "Kau lihat, bukankah itu mirip sepasang kupu-kupu?"

"Ya, mirip sekali," menyahut Supu. "Sudah lama, lama sekali, ada seorang nona Han yang mendongeng kepadaku tentang seorang pemuda Han nama Nio San Pek serta seorang nona Han nama Ciok Eng Tay, bahwa mereka itu berdua bersahabat kekal satu pada lain, hanya kemudian ternyata, ayahnya Eng Tay melarang anaknya menikah sama San Pek. Atas itu, San Pek menjadi sangat berduka, dia jatuh sakit dan mati karenanya. Pada suatu hari Ciok Eng Tay lewat di tempat pekuburannya Nio San Pek, dia mampir, dia menangis di kuburan itu...”

Mendengar itu, Bun Siu membayangi kejadian pada kira- kira sembilan tahun yang lalu: Itu waktu di sebuah bukit kecil ada berduduk berendeng sepasang muda-mudi cilik, sambil menilik kambing mereka, mereka memasang omong. Si pemudi bercerita, si pemuda, mendengari. Bercerita sampai di bagian yang menarik hati, mata si pemudi mengembang air, wajah si pemuda berduka. Sekarang Bun Siu tahu, si pemuda adalah Supu di depannya ini, Supu sebaliknya menganggap si pemudi telah meninggal dunia...

"Ciok Eng Tay mendekam di kuburan itu, dia menangis sedih sekali," Supu melanjuti ceritanya. "Mendadak kuburan itu melekah, lantas Eng Tay lompat masuk ke dalamnya. Setelah itu, Nio San Pek dan Ciok Eng Tay tercipta menjadi sepasang kupu-kupu, dan untuk selanjutnya mereka tidak pernah berpisah lagi."

"Ceritamu ini menarik hati," kata Bun Siu "Sekarang mana si nona yang bercerita padamu itu? Ke mana dia perginya?"

"Dia telah meninggal dunia. Itu sapu tangan dengan peta istana rahasia adalah sapu tangan yang dipakai membalut lukaku.”

"Apakah kau masih ingat dia?”

"Tentu saja. Aku sering memikirkannya!*' "Kenapa kau tidak pergi menjenguk kuburannya?"

"Aku akan pergi melihatnya nanti setelah aku dapat mencari si orang tua bungkuk itu. Aku hendak mengajak dia bersama.”

"Umpama kata kuburannya itu melekah, dapatkah kau lompat masuk ke dalamnya?" Supu tertawa.

"Cerita itu ialah dongeng, itu bukan kejadian yang benar." "Umpama kata nona itu sangat memikirkan kau dan dia

mengharapi siang dan malam untuk kau senantiasa menemui

dia, karena mana benar-benar terjadi kuburannya melekah, maukah kau melompatnya untuk dapat menemani dia?"

Supu menghela napas. "Tidak," sahurnya, jujur.

"Nona itu melainkan sahabat eratku semasa masih kecil, sedang aku sendiri, selama hidupku ini, aku cuma mengharapi Aman yang senantiasa menemani aku."

Bun Siu menanya terlebih jauh. la telah menemui jawaban yang ia harap-harap. Kalau ia menanya terus, mungkin ia akan jadi sangat bersusah hati.

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba seekor burung malam nilam mengasih dengar suaranya-suara yang menggiurkan tetapi juga menyedihkan.

"Duluhari itu aku suka menangkap burung nilam untuk dibuat main hingga dia mati," berkata Supu, "akan tetapi setelah aku bertemu sama nona itu, aku dapat menyingkirkan kebiasaanku itu. Si nona sangat menyukai burung nilam, waktu aku menangkapnya seekor, ia mengasihkan aku gelang kumala asal aku melepaskan burung itu. Sejak itu aku talak menangkap lagi burung, hanya aku terus mendengari suaranya setiap malam Kau dengar, tidakkah lagunya sangat menarik hati?" Bun Siu agak terkejut "Bagaimana dengan gelang kumala itu?" ia tanya. "Apakah itu masih ada padamu?"

"Itulah kejadian sudah lama. Gelang itu telah pecah, sudah hilang."

"Ya, itu kejadian sudah lama, gelang itu telah pecah, sudah hilang..." katanya, mengulangi Sang burung bernyanyi terus. Supu tidur bermimpi, memimpikan Aman membujuk! ia agar ia jangan masgul. Ketika ia sadar, ia kata pada kawannya: "Nona Kang, aku mimpi bertemu Aman..."

Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Si "Nona Kang" telah tidak ada di dekatnya. Entah kapan perginya dia. Entah ke mana perginya...

Oood~wooO