-->

Kemelut Lembah Ular Jilid 08

Jilid 08

SEDANGKAN Tosu tersebut memandang si pemuda dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, untuk sejenak lamanya dia tidak berkata apa-apa dan juga hanya mengawasi pemuda she Tang itu dengan muka yang berobah ketegangan yang sangat.

Tang Po Sui berkata lagi dengan suara tenang dan tawar: "Sesungguhnya, Sun Tiong Kun hanya nama besar belaka, kepandaiannya sama sekali tidak berarti, aku telah membuat menangis tidak dapat, tertawapun tidak dapat! Apakah Sun Tiong Kun itu sahabatku?!"

Tosu itu masih memandang terpaku sejenak kepada Tang Po Sui sampai akhirnya dia menggeleng.

"Bukan... bukan! Justeru yang membuatku berkuatir, dia justeru berada di sekitar kampung ini dan kami tidak akan dapat menghadapinya "

"Dia sudah pergi jauh... karena waktu kami bertemu, dia tengah melakukan perjalanan ingin meninggalkan kampung ini dan setelah kurubuhkan, dia berlalu meninggalkan perkampungan ini. Karena dari itu, jika memang engkau memiliki ganjalan dengannya, engkau tidak perlu berkuatir karena dia tidak akan muncul di kampung ini lagi, Totiang...!" kata Tang Po Sui kemudian sambil tertawa.

Tosu itu mengangguk dan menghela napas katanya: "Syukurlah jika demikian, karena dengan begitu kami tidak akan mengalami kesulitan apa-apa lagi !"

Kemudian Tosu ini menghapus keringat di keningnya, barulah dengan sikap yang lebih tenang dan dengan senyum, telah bertanya: "Sebenarnya, siapakah Hiapkek?!" tanya Tosu itu kemudian. Pemuda she Tang tertawa terbahak-bahak sampai lama sekali, tubuhnya juga tergoncang-goncang.

“Jangan memanggilku dengan sebutan Hiapkek, akan tetapi sebut saja namaku, Tang Po Sui !" pemuda itu memperkenalkan

diri.

"Tang Po Sui? Telah lama Pinto mendengar nama besarmu itu, Tang Hiapsu!" kata Tosu tersebut akhirnya. "Sungguh menggembirakan dapat bertemu dengan seorang gagah seperti kau di tempat ini!"

Tang Po Sui tersenyum dan dia mengetahuinya bahwa itu hanya sekedar basa-basi belaka dan sesungguhnya Tosu tersebut belum mengenalnya.

Setelah berdiam diri sejenak, Tang Po Sui mempersilahkan Tosu tersebut duduk.

Tosu itu menggeleng perlahan, katanya: "Pinto harus pergi ke bawah..., untuk menantikan kedatangan seseorang !"

Tang Po Sui mengangguk, hanya saja dia telah bertanya lagi: "Dan jika memang Totiang tidak keberatan, bolehkan aku mengetahui gelaran Totiang yang harum?"

Tosu itu bimbang sejenak, akan tetapi dia kemudian mengangguk. "Pinto bergelar Sam Kak Tojin," dia memperkenalkan gelarannya itu.

"Sam Kak Tojin? Ohhho, kiranya seorang tokoh sakti dari Kun Lun San!" berseru Tang Po Sui dengan gembira. "Sungguh tidak disangka bisa bertemu dengan seorang tokoh sakti dari Kun Lun Pay di sini!"

Tosu itu berobah mukanya menjadi merah dia menyadari bahwa Tang Po Sui hanya sekedar menduga-duga dan memuji dirinya, sebenarnya Tang Po Sui sama sekali tidak mengetahui siapa adanya pendeta ini. Memang benar pendeta tersebut berasal dari Kun Lun Pay akan tetapi dia berasal dari tingkat ketiga, merupakan angkatan muda dari partai pintu perguruan tersebut.

Waktu itu Tang Po Sui telah berkata lagi lebih jauh: "Dalam urusan ini memang terlihat Totiang seperti tengah menghadapi urusan yang penting sekali.... lalu siapakah kedua sahabat Totiang?!"

"Mereka adalah dua orang anggota Kaypang dan Pinto kira tidak sepantasnya jika Pinto memperkenalkan siapa mereka adanya, karena Pinto kuatir nanti disesali mereka.”

Tang Po Sui mengangguk, dia tidak tersinggung dengan keberatan si pendeta tersebut.

"Baiklah, jika memang begitu, tidak usah Totiang menyebutkan nama mereka, karena setelah mengetahui bahwa mereka adalah dua orang anggota Kaypang maka dengan sendirinya tentu saja mereka itu merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian sangat tinggi, bukankah Kaypang terkenal sekali dengan tokoh-tokohnya yang umumnya memiliki kepandaian yang sangat liehay sekali?!"

Sam Kak Tojin menghela napas, kemudian berkata dengan suara yang perlahan, seperti juga menggumam.

"Di dalam urusan ini,"katanya "Sebenarnya merupakan urusan yang tidak terlalu penting, kami hanya tengah mengejar seseorang, yaitu seorang yang tadi telah Pinto katakan, yaitu orang yang berusia empat puluhan lebih, dengan mengenakan baju biru dan juga memelihara berewok yang sangat lebat seka1i. Sesungguhnya, di dalam urusan ini menyangkut keselamatan beberapa orang saja dan kami ingin membantu dan menyelamatkannya, menolong mereka! Akan tetapi tampaknya orang yang tengah kami cari itu telah mengetahui bahwa kami tengah mencarinya, maka dia telah melenyapkan jejaknya kami

tidak berhasil mencari jejaknya itu. dengan demikian kami juga

memperoleh kesulitan buat menentukan langkah-langkah kami lebih jauh!"

Di kala itu tampak jelas betapa Sam Kak Tojin telah berkata- kata dengan sangat hati-hati sedangkan Tang Po Sui yakin bahwa tentunya urusan yang dikatakan oleh Sam Kak Tojin tidak sederhana seperti itu, sedikitnya merupakan urusan yang cukup rumit dan besar, karena pihak Kaypang telah ikut campur dalam persoalan tersebut.

Di waktu itulah dengan nada menyelidik, Tang Po Sui bertanya: "Jika menurut pengamatanku, maka tampaknya kedua orang Kaypang itu bukan orang sembarangan, bahkan maafkan, kepandaian mereka berdua, berada di atas kepandaian Totiang. Benarkah itu?”

Sam Kak Tojin mengangguk.

"Ya, benar..." sahutnya kemudian dengan suara yang perlahan.

"Nah, dilihat keadaan demikian, kukira tentunya urusan yang tengah Totiang lakukan bersama dengan kedua orang Kaypang tidak sesederhana seperti itu, tentunya merupakan urusan yang sangat penting!"

Muka Sam Kak Tojin berobah, untuk sesaat lamanya dia tidak menyahuti.

Akan tetapi akhirnya pendeta itu telah menghela napas dalam-dalam, wajahnya jadi murung, bahkan katanya: "Baiklah, pinto akan menceritakan yang sebenarnya Sesungguhnya

memang kami tengah menghadapi kesulitan, untuk hadir dalam pertemuan di Lembah Ular!" “Lembah Ular?” tanya Tang Po Sui terkejut.

"Ya.... telah terjadi urusan yang benar-benar sangat mengherankan sekali, bahwa belakangan ini telah tersiar berita bahwa banyak orang-orang gagah yang berkumpul di Lembah Ular, Dan baru-baru ini juga memang pinto telah menerima undangan dari seorang yang tidak dikenal, agar ikut hadir di dalam Lembah Ular itu, menurut cerita kedua sahabat Pinto itu, kedua orang Kaypang tersebut, merekapun mengalami peristiwa yang sama seperti yang dialami Pinto, dimana mereka menerima undangan juga dari seseorang yang tidak mereka kenal. Kami bertemu dalam perjalanan, dan karena senasib, kami telah melakukan perjalanan bersama-sama...”

“Lalu apa hubungannya dengan maksud Totiang bersama kedua orang Kaypang itu mencari seseorang yang mengenakan baju biru dengan berewok tebal dan berusia di antara empat puluh tahun itu ?!" tanya Tang Po Sui lagi.

“Justru pinto telah menerima undangau itu dari dia," kata si Tosu. “Dan juga, menurut pengakuan dari kedua orang Kaypang itu, merekapun menerima undangan itu dari orang tersebut pula.”

“Ohhh...." kata Tang Po Sui kemudian: “Jika demikian, orang yang mengantarkan surat undangan tersebut terdiri dari satu orang?!"

“Benar...”

Lalu apa maksud dari orang yang telah mengundang Totiang buat datang ke Lembah Ular?!"

“Pinto juga belum lagi mengetahui dengan jelas!” menyahuti Tosu itu dengan ragu-ragu. “Juga kedua orang Kaypang itu tidak mengetahui apa maksud dari undangan tersebut kepada mereka?!” tanya Tang Po Sui sambil mengawasi dengan sorot mata yang tajam.

Tosu itu mengangguk.

”Sama halnya seperti juga dengan diri pinto, merekapun tidak mengetahui apa maksudnya mereka diundang ke Lembah Ular!”

“Hemm..., jika demikian, mengapa Totiang berdua dengan kedua orang sahabat dari Kaypang itu bersedia memenuhi undangan itu?”

Ditanya seperti itu, Tosu itu seperti tersentak kaget, kemudian dia memandang Tang Po Sui dengan sorot mata yang sangat tajam, barulah dia menghela napas.

“Sesungguhnya, di dalam urusan yang sederhana iui terdapat urusan yang cukup pelik, disamping cukup besar dan bisa merembet ke banyakan persoalan lainnya....” Setelah berkata begitu, Tosu itu mengawasi Tang Po Sui beberapa saat, baru kemudian katanya lagi; “Apakah engkau pernah mendengar perihal Ngo Tok Kauw?!"

“Ngo Tok Kauw?” tanya Tang Po Sui sambil mementang matanya lebar-lebar.

Tosu itu mengangguk. Sam Kak Tojin mengawasi si pemuda she Tang tersebut dengan sorot mata yang tajam sekali sampai akhirnya dia berkata setelah melihat Tang Po Sui seperti terkejut begitu.

“Ya, Ngo Tok Kauw.... Kau tentu telah pernah mendengar perihal perkumpulan Lima Bisa itu?!" Tang Po Sui mengangguk mengiyakan, katanya kemudian: “Benar.... benar.... beberapa waktu yang lalu perkumpulan Lima Bisa merupakan perkumpulan yang sangat besar dan ditakuti!"

“Hemm, justru sekarang tampaknya memang Ngo Tok Kauw hendak menancapkan kekuasaannya lagi di daratan Tionggoan, juga bermaksud buat membangun masa-masa jayanya yang telah pudar beberapa waktu yang lalu...”

Mendengar keterangan terakhir dari Tosu tersebut, Tang Po Sui benar-benar jadi terkejut, dia sampai berseru perlahan, dan katanya, “Jadi orang yang mengundang kalian buat berkumpul di Lembah Ular itu adalah orang-orang Ngo Tok Kauw?”

“Tepat!" berkata Sam Kak Tojin kemudian disertai anggukan “Memang orang-orang Ngo Tok Kauw itulah yang mengundang jago-jago dalam rimba persilatan dari berbagai aliran, mereka akan dikumpulkan di sana dan akan ditawari buat bekerja sama dengan mereka "

“Jika menolak tawaran tersebut..?!" tanya Tang Po Sui tertarik sekali.

“Kami belum lagi mengetahui, akan tetapi kita sudah bisa menduganya apa yang akan terjadi pada diri kita, kalau saja menentang dan menolak tawaran dari pihak Ngo Tok Kauw? Mereka memiliki banyak sekali anggota dari orang-orang liehay dan juga pandai sekali mempergunakan berbagai racun, dan tentu saja tawaran mereka ini tidak bisa ditolak dengan sembarangan bagitu saja, sekali saja satu kali kita salah bicara, berarti jiwa kita taruhannya "

Tang Po Sui tidak bilang apa-apa, dia telah mengawasi Sam Kak Tojin dengan sepasang alis yang mengkerut dalam-dalam sampai akhirnya baru dia menghela napas dan katanya dengan suara menggumam. “Sungguh tidak disangka, bahwa Ngo Tok Kauw yang beberapa waktu yang lalu telah lenyap dari rimba persilatan, sekarang muncul lagi.”.!"

“Malah mereka muncul dengan cara mereka yang baru dan juga sangat ganas sekali. Karena dari itu, di dalam rimba persilatan telah digemparkan dengan cara dan sepak terjang mereka, dimana telah banyak sekali korban-korban yang berjatuhan!"

Sedangkan Tang Po Sui hanya mendengarkan saja dengan mementang matanya lebar-lebar, dia melihatnya, betapa si Tojin waktu menceritakan semua itu, suaranya agak tergetar dan wajahnya memucat.

Dengan begitu, membuktikan bahwa Tosu ini memang jeri dan hatinya goncang.

“Jadi Totiang bermaksud hendak memenuhi undangan dari Ngo Tok Kauw itu?!" tanya Tang Po Sui lagi.

Tosu itu menghela napas, ia tambah ragu-ragu. “Sesungguhnya pinto tidak bermaksud pergi ke Lembah

Ular, akan tetapi pimpinan pinto di Kun Lun, telah perintahkan agar pinto pergi hadir dalam pertemuan itu, hanya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang orang Ngo Tok Kauw dan juga buat mengetahui rencana mereka selaujutnya, apa yang akan mereka lakukan...”

Tang Po Sui menghela napas, “Jika memang Ngo Tok Kauw telah mengunjukkan giginya lagi, maka akan timbul badai dan gelombang di dalam rimba persilatan! Menurut kabar yang kudengar beberapa tahun yang lalu, Ngo Tok Kauw telah dihancurkan dan dibuat kacau balau oleh rombongan Wan Sin Cie, dimana Ngo Tok Kauw boleh dibilang hampir sama sekali sudah musnah! Akan tetapi sekarang ini, sungguh mengejutkan dan juga mengherankan kali, bahwa Ngo Tok Kauw bisa muncul kembai, malah ingin menancapkan kekuasaannya pula di dalam rimba persilatan! Totiang, jika memang aku boleh mengetahui, apa maksud dari Ngo Tok Kauw yang sebenarnya dengan mengundang orang-orang rimba persilatan buat berkumpul di Lembah Ular?"

“Hal itu memang pinto masih tidak ketahui dengan jeias, akan tetapi seperti yang tadi telah pinto katakan, mereka hanya mempergunakan alasan bertukar pikiran dan akan menawarkan kerja sama dengan pihak mereka, untuk menindih dan menekan orang-orang rimba persilatan, agar mau mengakui Ngo Tok Kauw sebagai perkumpuan yang dipertuan !”

“Apakah orang-orang yang memimpin Ngo Tok Kauw yang ini masih orang-orang Ngo Tok Kauw yang lama?!" tanya Tang Po Sui lagi.

“Hal itu juga belum lagi diketahui oleh Pinto. Jika memang Pinto telah pergi ke Lembah Ular, maka waktu itu barulah Pinto akan mengetahui jelas segalanya!"

Setelah berkata begitu, si pendeta Seperti teringat sesuatu, katanya: “Oya, Pinto harus menantikan seseorang di ruangan bawah! Nanti kita memiliki waktu, dapat kita bercakap-cakap lebih jauh."

Tang Po Sui mengangguk.

Sedangkan Sam Kak Tojin telah memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar si pemuda, akan tetapi waktu dia melangkah sampai di ambang pintu, mendadak sekali berkelebat sesosok bayangan dengan gerakan yang sangat cepat dan gesit sekali, malah sambil bergerak seperti akan menubruk Sam Kak Tojin, orang itu telah menggerakkan tangan kanannya telah menghantam dada si Tojin. Sam Kak Tojin walaupun diserang secara membokong itu masih keburu mengelakkan diri. Cuma saja pundaknya yang menggantikan dadanya dihantam oleh pukulan sosok tubuh tu.

“Dukkk !" kuat sekali tenaga pukulan tersebut, karena Sam Kak Tojin telah menjerit kesakitan, malah tubuhnya telah terpelanting.

Tang Po Sui kaget bukan main, diapun melompat berdiri dan segera berlari keluar dengan gerakan yang gesit sekali.

Akan tetapi sosok bayangan itu tidak memberikan kesempatan kepada Tang Po Sui buat bertanya, sepasang tangannya telah bergerak menghantam kepada pemuda itu.

Si pemuda she Tang sekarang telah bersiap-siap, sebab dia telah sempat menyaksikan betapa Sam Kak Tojin terhantam dengan kuat seperti itu. Cepat sekali Tang Po Sui mengempos semangat dan tenaganya, dia menangkis serangan orang tersebut.

“Bukkkk!” keras dilawan keras, dimana Tang Po Sui memang menangkis serangan sosok bayangan tersebut tanpa tanggung-tanggung, dia mempergunakan tujuh bagian tenaga dalamnya, sebab dia menghendaki si penyerang terpental seperti yang dialami Sam Kak Tojin.

Akan tetapi Tang Po Sui kecele dengan apa yang dikehendakinya, karena orang itu tidak bergeming dari tempat berdirinya. Sedangkan Tang Po Sui sendiri yang telah terhuyung mundur sampai satu langkah.

“Hahaha, selamat tinggal....!” tertawa sosok bayangan itu, dia telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya ringan luar biasa mencelat keluar dan berlari dengan cepat sekali lenyap dari pandangan mata Tang Po Sui dan Sam Kak Tojin. Waktu Sam Kak Tojin dan Tang Po Sui sudah bisa menguasai kuda-kuda kedua kakinya, di waktu itulah orang tersebut telah lenyap. Waktu Tang Po Sui dengan gesit telah mengejarnya, dia melompat ke atas genting, sesosok bayangan tersebut telah lenyap tidak terlihat bayangannya.

Segera Tang Po Sui kembali ke kamarnya dan dilihatnya Tojin itu masih meringis menahan sakit pada pundaknya. Hal itu disebabkan tulang pundak Sam Kak Tojin tergeser akibat pukulan tersebut.

"Biar kubantu untuk membenarkan letak tulang pundakmu itu!" kata Tang Po Sui.

Sam Kak Tojin mengangguk mengiyakan, Tojin ini masih juga meringis.

Dengan bersusah payah Tang Po Sui berusaha mengembalikan tulang pundak Sam Kak Tojin ke tempatnya yang semula, dan Tojin itu menderita kesakitan yang luar biasa.

Tiba-tiba Tang Po Sui mengeluarkan suara seruan tertahan karena kaget, waktu dia menyingkap baju kependetaan Sam Kak Tojin di bagian pundaknya, dia melihat daging di sekitar pundak Tojin itu telah menjadi hitam.

Begitu juga pergelangan tangan Tang Po Sui yang tadi dipergunakan buat menangkis serangan orang tersebut menjadi hitam.

Seketika Tang Po Sui dan Sam Kak Tojin mengeluarkan keringat dingin, mereka segera dapat mengerti apa yang telah mereka alami yaitu mereka telah keracunan. Tangan penyerang itu rupanya sangat beracun sekali, begitu bersentuhan, maka lawannya menjadi korban racunnya.

Bukan main murkanya Po Sui, dia sampai berjingkrak. "Jangan mengeluarkan tenaga dan jangan bergusar seperti itu, racun akan lebih cepat bekerjanya,...!" Sam Kak Tojin memperingati Tang Po Sui dengan muka yang meringis karena dia masih menahan rasa sakit dada dan pundaknya. "Orang itu....

orang itu tentu merupakan salah seorang anggota Ngo Tok Kauw, karena dia pandai dan mahir sekali mempergunakan racun !”

Tang Po Sui tambah terkejut.

"Jadi orang itu anggota dari Ngo Tok Kauw?!" tanyanya. Sam Kak Tojia mengangguk mengiyakan.

"Karena aku telah membuka rahasia mengenai maksud Ngo Tok Kauw mengadakan pertemuan dengan para orang-orang gagah di dalam rimba persilatan di lembah ular itu maka orang itu bermaksud membinasakan pinto dan juga engkau... dan pinto kira, dia pikir, dengan mempergunakan racunnya tentu akan dapat membinasakan pinto dan kau.  , Tang Hiapsu!"

Tang Po Sui menggidik.

"Tentunya racun yang di pergunakannya ini merupakan racun yang hebat, karena begitu kena dipukul, telah menyebabkan kulit di pundak Totiang jadi hangus... begitu juga dengan pergelangan tanganku, waktu menangkis terasa begitu panas, ternyata sekarang telah hangus juga..! Hai! Hai! Memang orang- orang Ngo Tok Kauw sejak dulu sampai sekarang selalu ganas dengan racun mereka...!" Setelah berkata begitu, Tang Po Sui menghela napas berulang kali.

Sedangkan Sam Kak Tojin dengan segera berkata: "Sebenarnya.... dengan sebenarnya urusan ini dilarang untuk dibicarakan, dan pinto telah melanggarnya, karena pinto pikir engkau tokh tidak akan mencampuri urusan ini, dimana kau, Tang Hiapsu, tidak menerima undangan dari Ngo Tok Kauw itu! Siapa tahu, justeru Pinto diawasi oleh orang Ngo Tok Kauw itu! Celakanya Pinto pun tidak bersiap-siap, sehingga orang itu berhasil membokong dengan serangan beracunnya! Jika saja pinto mengetahui sebelumnya dan bersiap-siap, tentu pinto akan dapat menghadapinya dengan baik, tidak akan terluka seperti ini." Setelah berkata begitu, Sam Kak Tojin menghela napas berulang kali.

Tang Po Sui tertawa getir.

"Aku yang telah bersiap-siaga, tokh masih tetap saja terluka seperti ini! Aku menangkis pergelangan tangannya, dengan mempergunakan tanganku juga, akan tetapi Totiang, mengapa justeru pergelangan tanganku ini bisa terluka dan terkena racunnya juga... atau memang di pergelangan tangan orang itu mengandung racun yang hebat?!"

Sam Kak Tojin telah mengangkat bahunya dengan muka masih meringis, dia bilang; "Biarlah, urusan ini harus segera kuberitahukan kepada kedua orang sahabatku dari Kaypang!"

Baru saja Sam Kak Tojin berkata sampai di situ, kedua orang sahabatnya telah menyerbu masuk ke dalam kamar Tang Po Sui, kedua pengemis itu memperlihatkan sikap siap bertempur, karena mereka telah mendengar suara ribut-ribut dan juga suara jerit kesakitan dari Sam Kak Tojin, maka segera menyerbu keluar dan mendatangi kamar Tang Po Sui.

Karena kuatir kedua sahabatnya itu salah paham, segera juga Sam Kak Tojin berkata: "Dia adalah... sahabat Pinto!"

Sedangkan kedua orang pengemis itu memandang tajam sekali kepada Tang Po Sui, kemudian kepada Sam Kak Tojin.

"Apa yang terjadi?!" tanya pengemis yang seorang yang berdiri di sebelah kanan. "Ada... ada orang yang telah membokongku, menyerang dengan mempergunakan racun!" menyahuti Sam Kak Tojin. "Nanti akan kujelaskan...”

Tang Po Sui yang melihat kedatangan kedua pengemis itu, segera juga merangkapkan kedua tangannya, sehingga terlihat pergelangan tangannya yang hitam itu. Dia memberi hormat.

"Tentunya jiewie terkejut mendengar ribut-ribut tadi?" tanya Tang Po Sui. "Sebenarnya, ada seseorang yang kami duga tentunya salah seorang anggota dari Ngo Tok Kauw yang bermaksud mencelakai Totiang ini...!"

Mendengar disebutnya Ngo Tok Kauw, muka kedua pengemis itu berobah. Akan tetapi segera mereka berdua bisa mengendalikan diri. Salah seorang diantara mereka telah berkata lagi dengan sikap menyelidiki. "Anggota Ngo Tok Kauw? Darimana Siecu mengetahui bahwa orang yang menyerang dan membokong kepada Totiang itu adalah anggota dari Ngo Tok Kauw?!

Ditanya begitu, Tang Po Sui tersenyum getir, dia telah memperlihatkan pergelangan tangan kanannya.

"Coba Jiewie lihat sendiri, akupun terluka oleh serangan beracun...!" katanya.

Kedua pengemis itu mengawasi pergelangan tangan Tang Po Sui, mereka melihatnya betapa pergelangan tangan itu telah bergelang hitam, luka karena disebabkan racun yang bekerja keras. Kedua pengemis tersebut kemudian saling pandang satu dengan lainnya, barulah salah seorang di antara mereka, yang berdiri di sebelah kanan, berkata lagi: "Jika demikian, tentunya Siecu mengenali orang itu?"

"Orang itu mengenakan topeng penutup muka, dan gerakannya sangat gesit, dia bergerak sangat cepat, dengan begitu aku tidak bisa melihatnya dengan jelas....!! menyahuti Tang Po Sui. "Dan juga, orang itu tidak kami sangka mempergunakan racun, selain Totiang itu yang telah terluka karena racun yang dahsyat, juga memang aku telah terluka juga, padahal aku hanva menangkisnya satu satu kali serangan orang itu namun sempat membuat pergelangan tanganku jadi hitam seperti ini, keracunan !"

Kedua pengemis itu mengangguk-angguk. Kemudian yang berdiri di sebelah kiri telah mendekati Sam Kak Tojin, tanyanya, "Totiang, sesungguhnya siapakah orang itu? Apakah dia?”

Tojin itu menggeleng. Yang dimaksudkan dengan perkataan "dia", si pengemis maksudkan orang berpakaian biru dan berusia empat pulun tahun dengan muka berewokan, orang yang memang tengah mereka cari jejaknya...

"Bukan!" sahut si Tojin. "Bukan dia... tubuhnya agak pendek, disamping itu juga gerakannya jauh lebih lincah, dengan demikian jelas dia bukanlah orang yang tengah kita cari itu! Hanya saja, tidak pinto sangka, justeru orang itu telah bersembunyi di depan kamar ini. Waktu Pinto hendak keluar dari kamar ini, justeru dia telah menyerang secara membokong. Dengan demikian Pinto tidak memiliki persiapan dan membuat Pinto terluka seperti ini ”

Kedua pengemis ini jadi mengerutkan sepasang alisnya. "Totiang memiliki kepandaian yang tinggi, kami kagum

sekali dengan kepandaian Totiang, akan tetapi sangat aneh sekali

bahwa Totiang bisa dilukai oleh orang itu! Inilah benar-benar merupakan suatu peristiwa yang membuat kami jadi heran dan benar-benar tidak mengerti! Dan lagi pula, di samping Totiang, masih ada Siecu itu. Kalian berdua. Dan kalian tetap saja tidak dapat menghadapi orang itu, malah Totiang bersama siecu itu telah dilukainya. Sampai untuk melihat keadaan orang itu, mengetahui bentuk tubuhnya dengan benar, apa lagi jika bisa melihat mukanya tidak dapat dilakukan oleh kalian berdua. Tentunya orang itu memiliki kepandaian yang tinggi bukan?!"

Muka Sam Kak Tojin dan juga Tang Po Sui berobah merah, mereka tampaknya jadi malu dan mendongkol mendengar perkataan pengemis itu, yang jelas-jelas mengejek dan menyindir mereka.

"Tidak ada yang bisa Pinto katakan lagi!" kata Tojin itu dengan suara yang tawar. "Memang Pinto masih rendah serta memiliki kepandaian yang tidak berarti, karenanya telah dapat diperhina oleh orang itu! Namun sebenar-benarnya, memang orang yang membokong Pinto adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali ! Dan walaupun seandainya tadi jiewie berdua berada di kamar ini, belum tentu kita berempat bisa menghadapinya, mungkin juga sekarang jiewie tengah meringis kesakitan karena terluka tangan kalian dan keracunan...”

Dengan berkata begitu, Sam Kak Tojin ingin mengartikan bahwa kedua pengemis itu pun tidak lebih tinggi dari kepandaiannya, bahkan jika mereka kebetulan berada di kamar Tang Po Sui waktu terjadi pembokongan tersebut, mereka berdua pun tidak akan berdaya apa-apa.

Mendongkol bukan main kedua pengemis itu, malah yang berdiri di sebelah kiri telah mengayunkan tangan kanannya ke ujung meja.

"Plakk!" ujung meja itu sempal kena dihantam telapak tangannya. "Jika memang tadi kebetulan aku berada di sini, itulah lebih bagus, aku akan mematahkan batang lehernya!" Kata pengemis itu berang.

Sam Kak Tojin telah tertawa tawar, katanya: "Sayang, sayang..." "Sayang, sayang apa?” tanya si pengemis merasa disindir. "Ya, sayang tadi Jiwie tidak berada di sini, jika Jiwie berada

di sini, tentu bukan hanya Pinto seorang diri dan bersama Siecu itu meringis menahan sakit, tentunya masih ada dua orang sahabat yang ikut menderita kesakitan !"

Muka kedua pengemis itu berobah tambah merah, malah mereka jelas-jelas memperlihatkan sikap tidak senang.

"Sam Kak Tojin, bukankah kita memang telah bertekad buat melakukan perjalanan bersama-sama menuju ke Lembah Ular, mengapa sekarang kau pulang pergi menyindir kami?!" tanya salah seorang pengemis itu dengan sikap tidak senang.

"Ohhh, ohhh, mana berani Pinto menyindir atau mengejek Jiwie? Kepandaian Jiwie memang jauh lebih tinggi dari kepandaian Pinto, tentu saja Jiwie akan dapat menghadapi orang itu sebaik mungkin! Namun Jiwie tentunya tidak akan memandang terlalu rendah kepada Pinto bukan? Walaupun hanya memiliki kepandaian yang tidak terlalu luar biasa, akan tetapi jika menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian biasa saja, Pinto kira hal itu masih dapat dilakukan oleb Pinto sebaik mungkin! Karenanya, maulah kiranya Jiwie mempercayai sedikit saja keterangan Pinto, bahwa orang yang tadi datang menyerang dan membokong kepada Pinto dan Siecu itu, adalah orang yang sungguh-sungguh memiliki kepandaian yang sangat tinggi! Setelah menyerang kepada Pinto, kemudian menyerang satu gebrakan kepada siecu itu, orang tersebut melarikan diri dengan mudah, dalam waktu yang singkat dia telah lenyap tidak meninggalkan jejak. Sedangkan kami berdua telah terkena racunnya yang ganas. Nah, kalian lihatlah !"

Sambil berkata begitu, tampak Sam Kak Tojin menyingkap bajunya di dekat pundak, dia memperlihatkan lukanya yang menghitam hangus itu. Muka kedua pengemis itu berobah, mereka sudah tidak terlalu memperlihatkan sikap sinis dan mengejek kepada Sam Kak Tojin, tetapi sekarang mereka justeru memperlihatkan sikap terkejut dengan mata terpentang lebar-lebar. Dilihat dari luka yang diderita oleh Sam Kak Tojin, memang pendeta itu telah keracunan. Demikian pula melihat luka di pergelangan tangan pemuda she Tang itu. Dan yang membuat kedua pengemis itu tambah heran dan kaget di dalam hati, dimana perasaan kagetnya tidak diperlihatkan pada muka masing-masing, justeru adalah keterangan Sam Kak Tojin yang menyatakan bahwa orang yang menyerang secara membokong itu hanya menyerang Sam Kak Tojin satu kali, begitu juga yang menyerang pemuda she Tang itu satu kali. Dengan hanya dua gebrakan raja, orang tersebut berhasil melukai Sam Kak Tojin dan si pemuda she Tang, yang tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah juga.

”Sekarang apakah Jiewie mau mempercayai bahwa orang yang membokong Pinto itu adalah seorang yang sangat liehay dan tangannya telengas disamping beracun? Dengan melihat cara dia melukai Pinto dan Siecu itu, jelas dia mempergunakan dan mengandalkan racun! Lalu, orang-orang manakah yang setiap bertempur mengandalkan racun sebagai tulang punggungnya? Selain anggota-anggota Ngo Tok Kauw, Pinto kira tidak ada yang lainnya lagi!”

Kedua pengemis tersebut mengangguk perlahan, dan mereka tidak menyindir atau mengejek lagi, malah keduanya hampir berbareng telah menghela napas

“Ya, dilihat keadaan seperti ini, tampaknya memang kita akan menghadapi orang-orang Ngo Tok Kauw yang memiliki tangan beracun! Akan tetapi yang membuat kami heran, mengapa mereka menyebar surat undangan agar kita hadir di Lembah Ular, lalu sekarang mereka mengutus orang-orangnya buat melukai kita?!!” Kata pengemis yang seorang dengan mengerutkan sepasang alisnya, tampaknya dia tengah berpikir keras.

Pengemis yang seorangnya lagi juga telah berkata dengan suara yang tawar: "Jika memang Ngo Tok Kauw mengutus orang-orangnya lagi, maka kita akan menghadapinya dengan sebaik mungkin, jika kemungkinan, kita harus membekuknya, karena jika kita berhasil menawannya, berarti kita akan dapat mengorek keterangan dari mulutnya... dengan demikian kita tidak diliputi tanda tanya belaka...!"

Sam Kak Tojin mengangguk mengiyakan, dan katanya: "Ya! Mudah-mudahan saja ada orang Ngo Tok Kauw yang datang lagi memperlihatkan diri, hanya saja, kita harus bersikap hati-hati terhadap tangan mereka yang sangat beracun, sebab jika kita sekali saja terkena racun mereka niscaya menyebabkan kita menderita kerugian yang tidak kecil!" Setelah berkata begitu. Sam Kak Tojin melirik ke pundaknya, ke luka yang hitam legam dan mulai membengkak. Kemudian katanya lagi: "Jika memang dilihat dari keadaan luka Pinto ini, tentunya racun yang dipergunakannya merupakan racun yang cukup hebat dan Pinto

harus memperoleh obat pemunah racun yang benar-benar tepat!"

Salah seorang pengemis tertawa, katanya: “Kami sedikit banyak mengerti juga soal racun, karena kami memang biasa menangkap binatang-binatang berbisa terutama sekali ular, karena dari ini kami memiliki beberapa macam obat penawar racun! Jika memang Totiang tidak mentertawai, maka kami akan membagikan obat pemunah racun itu, siapa tahu akan dapat memunahkan racun yang mengendap di luka Totiang?!”

Sambil berkata begitu, pengemis tersebut telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan tiga botol obat yang tidak terlalu besar, di dalam ketiga botol obat tersebut terdapat puluhan butir pil yang beraneka warna. "Yang ini,” kata pengemis itu sambil memperlihatkan botol obat berwarna putih "Ini adalah obat pemunah racun yang tidak terlalu dahsyat, karena jika seseorang terkena racun-racun biasa saja, seperti racun ular atau racun kalajengking, bisa mempergunakan obat ini, tentu lukanya itu akan sembuh, Akan tetapi jika memang orang yang terkena racun merupakan luka yang berat dan racun yang mengendap pada lukanya itu adalah racun yang bekerja keras, merupakan racun dari gabungan beberapa racun binatang berbisa yang diramu menjadi satu, obat ini yang akan dapat menyembuhkan...” berkata sampai di situ, pengemis tersebut mengunjukkan botol obatnya yang berwarna kuning. "Dan yang ini," katanya lagi sambil memperlihatkan botol obatnya yang berwarna coklat tua, "merupakan obat penawar yang paling hebat: Sesungguhnya racun apa saja yang telah melukai korbannya, jika sang korban menelan tiga butir ini, racun itu akan punah! Nah, apakah Totiang bermaksud menelan pil dari obat penawar racun dari botol coklat tua ini?"

Muka Sam Kak Tojin jadi terang.

"Syukur Jiewie menyimpan obat penawar, dengan demikian Pinto tidak perlu terlalu kuatir! Karena mengingat racun yang mengendap dalam luka Pinto ini tentunya bukan racun sembarangan, maka Pinto berpikir untuk meminta obat pemunah racun dari botol yang berwarna coklat itu..."

Pengemis itu mengiyakan, dan dia membuka tutup botol berwarna coklat tua tersebut dan mengeluarkan tiga butir, yang diberikan kepada Sam Kak Tojin. Waktu pil obat pemunah racun tersebut dikeluarkan, di sekitar tempat itu tercium bau harum semerbak.

Kemudian setelah memberikan ketiga butir pil itu kepada Sam Kak Tojin, pengemis itu mengeluarkan tiga butir lagi yang diberikan kepada Tang Po Sui. Tang Po Sui mengucapkan terima kasih. Tanpa sangsi lagi, dia menelan tiga butir pil itu. Seketika dia merasakan nyaman waktu ketiga butir pil tersebut menyelusur masuk ke tenggorokannya. Demikian juga dengan Sam Kak Tojin, waktu melihat Tang Po Sui telah menelan ketiga butir obat penawar racun, dia telah menelan juga ketiga butir obat penawar racun di tanganya, kemudian katanya: Dengan adanya obat penawar racun seperti ini, walaupun belum tentu bisa menyembuhkan keseluruhannya, akan tetapi sedikitnya pasti bisa membendung menjalarnya racun ke jantung! Dan sekarang, kita harus berusaha mencari jejak orang yang telah melukai kami, sehingga jika kita bisa menawannya, tentu kita bisa mendesak agar dia memberikan obat penawar racun yang tepat dengan racun yang dipergunakannya!"

Berkata sampai di situ, Sam Kak Tojin menoleh kepada kedua pengemis itu, katanya; "Tentu saja Pinto sangat mengharapkan sekali bantuan jiewie karena dalam keadaan tertuka seperti ini Pinto maupun Tang Siecu tidak bisa bergerak leluasa. Dan dengan adanya Jiewie berdua, siapa tahu kita bisa menawan orang itu?!"

Kedua pengemis itu mengangguk. Akan tetapi belum lagi pengemis tersebut berkata-kata, Tang Po Sui telah maju memberi hormat, katanya: “Maaf Jiewie....... bolehkah aku mengetahui siapakah nama Jiewie yang mulia?"

Kedua pengemis itu tersenyum.

“Sesungguhnya soal nama tidak terlalu penting, apalagi dalam keadaan seperti sekarang, akan tetapi, memang Tang Siecu seperti telah menjadi orang sendiri, maka dengan ini kami tidak keberatan buat memberitahukan kepada Siecu siapa adanya kami berdua! Aku bernama Thio Sung dan ini kawanku bernama Lim Eng Kiu!" Tang Po Sui memberi hormat, dia juga menyebutkan namanya.

Begitulah, mereka berempat segera bersiap-siap hendak keluar dari rumah penginapan itu buat mencari jejak dari orang yang telah membokong Sam Kak Tojin dan Tang Po Sui. Mereka yakin orang yang mereka duga adalah anggota Ngo Tok Kauw itu belum lagi meninggalkan kampung ini, karena orang tersebut tidak mungkin meninggalkan mereka. Paasti orang yang berusaha membunuh Sam Kak Tojin dan Tang Po Sui dengan serangan membokong itu akan tetap berusaha mengawasi gerak-gerik Sam Kak Tojin dan kawan-kawannya.

Begitulah, mereka berempat telah membagi diri. Sam Kak Tojin mencari di sebelah Timur dari perkampangan itu, Tang Po Sui sebelah Barat, sedangkan Thio Sung di sebelah Selatan dan Lim Eng Kiu di sebelah Utara. Dengan demikian mereka hendak mencari ke empat penjuru perkampungan itu, dengan perjanjian jika memang mereka bertemu dengan orang yang mereka cari itu, maka mereka harus memberikan isyarat dengan melemparkan panah bersuara.

Begitulah, mereka satu harian berputar-putar di kampung itu, keempat orang ini dengan cermat telah memperlihatkan setiap orang yang mereka jumpai. Walaupun Tang Po Sui dan Sam Kak Tojin tidak bisa melihat wajah orang itu dan juga tidak melihat jelas potongan tubuh dari pembokong itu, akan tetapi tokh mereka masih bisa mengenali juga jika saja bertemu dengan orang itu. Namun setelah berputar-putar satu harian, keempat orang tersebut tetap belum juga bertemu dengan orang yang mereka cari. Dan ketika mereka telah berkumpul di rumah penginapan itu, dengan hasil yang nihil, hanya letih bukan main. Si pengemis juga telah berkata: “Lihatlah, fajar akan segera menyingsing... apakah kita melanjutkan perjalanan atau memang kita berdiam dulu selama dua atau tiga hari di kampung ini buat menyelidiki jejak dari orang itu lebih jauh?!”

Sam Kak Tojin yang penasaran segera juga menyarankan agar mereka berdiam di kampung itu selama beberapa hari lagi, karena dia masih ingin mencari jejak orang itu. Jika memang bertemu, dia segera mengadakan perhitungan dan balas sakit hati.

Luka di pundak Sam Kak Tojin tetap membengkak dan berwarna hitam, akan tetapi tidak terlalu membuat Sam Kak Tojin menderita, sebab dia telah memakan obat penawar racun yang dibagikan si pengernis, dengan begitu dia hanya agak kaku menggerakkan tangan kanannya. Tang Po Sui sendiri merasakan pergelangan tangannya kaku. Dan dia yakin bahwa obat yang dibagikan Thio Sung kurang begitu manjur dan tidak tepat buat memunahkan racun yang telah melukai pergelangan tangannya. Walaupun sekarang ini memang racun itu bisa dibendung tidak sampai menjalar ke jantung, akan tetapi tetap saja racun itu suatu waktu akan bekerja kembali dan akan membinasakannya. Sebab itu, Tang Po Sui berkeinginan keras buat mencari orang yang telah membokongnya itu, untuk menawannya dan dipaksa agar mau menyerahkan obat pemunah racun tersebut.

Terlebih lagi sekarang mereka memang memiliki tenaga tambahan, yaitu Thio Sung dan Lim Eng Kiu, dengan begitu mereka berempat tentu akan dapat menghadapi orang itu.

Begitulah, setelah tidur beberapa jam lamanya, keempat orang tersebut mulai dengan pencarian mereka, mengelilingi perkampungan tersebut. Pencarian dilakukan sampai menjelang senja, baru mereka berkumpul kembali di rumah penginapan. Tetap saja mereka tidak berhasil mencari jejak dari pembokong itu. Dengan begitu mereka semakin penasaran.

Dalam keadaan seperti itu, Tang Po Sui yang rupanya telah menjadi nekad karena merasakan pergelangan tangannya semakin kesemutan dan bengkaknya semakin membesar, jadi tidak sabar, setelah mengaso sejenak, dia pergi mencari lagi.

Sam Kak Tojin dan Thio Sung serta Lim Eng Kiu telah menantikan di rumah penginapan. Akan tetapi tiga jam lebih Tang Po Suu belum lagi kembali. Ketika Sam Kak Tojin ingin keluar pula dari rumah penginapan buat mencari jejak orang itu, tiba-tiba didengarnya di ruangan bawah suara ribut-ribut.

Segera juga Sam Kak Tojin, Thio Sung dan Lim Eng Kiu telah memburu keluar dari kamar mereka, menuruni undakan anak tangga ke ruangan bawah.

Mereka melihat kedua orang pelayan tengah bertengkar dengan sengit. Waktu itu salah seorang pelayan tersebut tengah berkata mendongkol sekali: “Sudah kukatakan, jangan menerima kiriman dari orang yang tidak kita kenal itu, akan tetapi kau temaha, diberi hadiah dua tail saja engkau jadi mata gelap dan menerima titipan bingkisannya. Sekarang apa yang terjadi? Ohhh, kita tentu akan berurusan dengan pihak tentara negeri... tentu akan disidangkan oleh Tiekwan !”

“Sudahlah, jangan ribut-ribut!" kata kawannya dengan sikap sengit juga. “Apa gunanya kita ribut-ribut? Bukankah lebih baik kita menutupi urusan ini, hanya diketahui kita berdua dan mengubur mayat itu?"

“Hu, enak saja kau bicara! Apakah urusan itu begitu mudah?!” kata pelayan yang seorang lagi. Akan tetapi baru saja dia berkata sampai di situ, tiba-tiba dia merandek, karena dia melihat Sam Kak Tojin, Thio Sung dan Lim Eng Kiu. Muka pelayan itu jadi pucat pias. Demikian juga dengan pelayan yang seorangnya itu.

Kedua pelayan itu jadi melirik ke arah sebuah bungkusan yang cukup besar, muka mereka semakin pucat. Malah mereka telah menggeser tempat berdiri mereka, seperti juga ingin menghalangi bungkusan tersebut agar tidak terlihat oleh Sam Kak Tojin bertiga.

Melihat kelakuan kedua pelayan itu, Sam Kak Tojin bertiga dengan Thio Sung dan Lim Eng Kiu jadi heran bukan main, membuat mereka jadi bercuriga juga. Maka mereka telah menghampiri lebih dekat.

“Apa yang telah terjadi?!” tanya Sam Kak Tojin dengan mata memandang tajam pada kedua pelayan itu bergantian dan matanya itu memancarkan sinar menyelidik.

“Tidak apa.... tidak apa-apa..." kata pelayan yang seorang gugup sekali. “Kami.... kami hanya saling membantah karena suatu pekerjaan "

Sam Kak Tojin tersenyum tawar, katanya:

“Kalian tidak perlu berdusta, karena kalian tadi menyebut- nyebut soal mayat dan pembesar negeri, sesungguhnya apa yang terjadi dan kalian harus bicara yang jujur, karena jika tidak, kalian berdua yang akan memperoleh kesulitan. Siapa tahu kami bisa bantu memecahkan kesulitan kalian?!”

Mendengar perkataan Sam Kak Tojin begitu, kedua pelayan tersebut saling pandang, tampaknya mereka ragu-ragu dan bimbang, juga wajah mereka yang pucat pias itu memperlihatkan bahwa mereka ketakutan sekali.

“Bungkusan apa itu?!" tanya Thio Sung sambil menunjuk kepada bungkusan di belakang kedua pelayan itu.

Kedua pelayan itu semakin pucat, tubuh mereka sampai menggigil, muka merekapun meringis seperti ingin menangis.

“Sebenarnya.....sebenarnya ....memang kami telah bersalah, bungkusan ini dititipkan seseorang yang tidak kami kenal aku telah menolaknya, karena orang itu tidak bermaksud menginap di rumah penginapan ini, akan tetapi dia ini.,..!" pelayan itu menunjuk kawannya, “Dia telah temaha dan mau menerima titipan bungkusan tersebut, dimana dia berjanji akan memperhatikan dan menjaganya jangan sampai diambil kembali oleh pemiliknya dan dia diberikan dua tail perak...!"

“Lalu mengapa kalian jadi ketakutan dan gugup demikian rupa? Bukankah nanti permiliknya akan datang kembali buat mengambil bungkusan itu?!" kata Sam Kak Tojin.

Tetapi pelayan itu tetap memperlihatkan sikap ketakutan dan gugup.

“Ini.... ini ” katanya dengan suara tergagap-gagap.

“Kenapa? Mengapa kalian gugup seperti itu?!" tanya Sam Kak Tojin.

“Lihatlah bungkusan itu !" berseru Thio Sung.

Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu telah memandang kepada bungkusan itu. “Kenapa?!" Sam Kak Tojin telah bertanya terheran-heran juga oleh sikap kawannya ini.

“Darah!" berkata Thio Sung. “Darah itu keluar ciari bungkusan itu! Ohh, tentu isi bungkusan itu sesuatu yang sangat mencurigakan sekali, atau.....atau memang bungkusan itu mayat dari babi atau seekor kerbau?!"

Muka kedua pelayan itu tambah pucat, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sam Kak Tojin bertiga sambil menangis terisak.

“Totiang... tolonglah kami... tolonglah kami !" sesambatan

kedua pelayan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu, mereka tetap menangis, tubuh mereka juga gemetaran. Sam Kak Tojin mengerutkan alisnya. "Apa yang dapar Pinto lakukan buat menolong kalian ?!" tanyanya.

"Di dalam bungkusan itu memang terdapat mayat    seorang

manusia!" kata pelayan yang seorang dengan suara tidak lampias.

"Mayat manusia?!" tanya Sam Kak Tojin tersentak kaget. Wajah Thio Sung dan Lim Eng Kiu juga berobah menjadi pucat.

"Ya.... mayat seorang manusia.... bahkan.... bahkan tadi waktu kami melihat ada darah yang mengalir dari bungkusan tersebut, kami jadi tertarik dan bercuriga, kami telah membukanya.... ternyata mayat yang terdapt di dalam bungkusan itu tidak lain dari.... dari  "

"Dari, dari apa?!" tanya Sam Kak Tojin sambil mengawasi tajam pelayan itu dan juga bungkusan tersebut bergantian.

"Ya, mayat itu.... mayat itu ternyata tidak lain dari mayatnya Tang Kongcu " menjelaskan pelayan itu.

"Tang Kongcu?!" kembali Sam Kak Tojia tersentak kaget. Demikian juga dengan kedua pengemis itu. "Maksudmu. Tang

Po Sui, tamu di rumah penginapan ini yang memperoleh kamar di dekat kamar kami?!"

"Benar... benar,   Totiang...   tolonglah   kami   totiang. !"

sesambatan pelayan itu menangis lagi dengan ketakutan.

Sam Kak Tojin dengan kedua pengemis itu berdiri terpaku di tempatnya.

"Coba buka bungkusan itu!" kata Thio Sung setelah tersadar dari kesimanya.

Pelayan itu memandang bimbang dan ketakutan pada Thio Sung.

“Ini....ini " katanya. "Cepat dibuka, kami ingin melihatnya dan jika telah melihatnya barulah kami menentukan apakah bisa menolong kalian atau tidak!” kata Sam Kak Tojin.

Pelayan itu mengiyakan dengan bimbang dan dengan tangan gemetaran mereka membuka bungkusan itu.

Seketika Sam Kak Tojin bertiga dengan Thio Sung dan Lim Eng Kiu jadi berdiri menjublek setelah bungkusan tersebut dibuka. Di dalam bungkusan itu memang benar terdapat mayat seorang manusia. Bahkan manusia yang mati terbunuh itu tidak lain dari Tang Po Sui. Yang menggetarkan hati, justru tubuh Tang Po Sui terpotong-potong, kepalanya terpisah dari lehernya, tangan, kaki dan tubuhnya tidak utuh, terpisah-pisah! Darah menggenangi potongan mayat tersebut! Sepasang mata Tang Po Sui mendelik lebar-lebar, seakan juga dia telah menemui kematiannya itu dengan penasaran.

Setelah berdiri menjublek sekian lama akhirnya Sam Kak Tojin menghela napas dengan muka merah padam karena murka.

"Jika dilihat demikian, pasti orang itu masih berada di kampung ini... karena dia telah membinasakan Tang Siecu! Yang luar biasa, justeru dia telah memotong-motong tubuh Tang Siecu demikian rupa, tampaknya orang itu ganas sekali...!" menggumam Sam Kak Tojin.

Kedua pengemis Kaypang itu juga berobah wajahnya jadi pucat, mereka telah menyaksikan pemandangan yang hebat dan mendebarkan hati. Mereka tidak menyangka, Tang Po Sui telah dibinasakan dengan cara yang demikian mengerikan, dimana tubuhnya tidak utuh lagi dan telah dipotong-potong. Dengan demikian kedua pengemis itupun segera dapat menduga, tentunya lawan yang tengah mereka cari jejaknya itu adalah seorang yang memiliki kepandian sangat tinggi, karena Tang Po Sui bisa terjatuh ke dalam tangannya dan dibinasakan dengan cara mengerikan seperti itu!

Setelah berdiam sejenak, Sam Kak Tojin menoleh kepada Thio Sung dan Lim Eng Kiu katanya: "Mari kita cari orang itu, dia tentu belum pergi jauh!"

"Tunggu dulu!" mencegah Thio Sung, kemudian menoleh kepada pelayan itu, tanyanya: "Bagaimana bentuk wajah dan keadaan orang yang telah mengirimkan bungkusan ini kepada kalian?!"

"Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, mukanya bengis dengan seluruh mukanya dipenuhi berewok yang kasar, mengenakan baju biru!" menjelaskan pelayan yang seorang itu dengan suara gemetar.

“Iihhh!" berseru Thio Sung terkejut, dia telah menoleh dan saling pandang dengan Lim Eng Kiu dan Sam Kak Tojin, kemudian bertanya lagi kepada pelayan itu: "Dan, apakah dia telah lama menitipkan bungkusan ini kepada kalian?!"

"Sepuluh menit yang lalu, belum begitu lama!" menjelaskan si pelayan.

Segera juga tanpa mengatakan suatu apapun juga, Thio Sung menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat keluar dari rumah makan itu.

"Ke arah mana orang itu pergi?” teriaknya kepada si pelayan.

"Ke arah pintu selatan kampung!" berseru pelayan itu. "Tampaknya dia ingin melakukan perjalanan jauh, sebab dia menunggang seekor kuda dan pada pelananya itu tergemblok perbekalan dan pauwhoknya...!" Thio Sung sudah tidak bertanya apa-apa lagi, segera juga dia berlari mengambil arah ke selatan, dimana dia berlari dengan cepat sekali.

Sam Kak Tojin dan juga Lim Eng Kiu tidak membuang- buang waktu, mereka ikut berlari pesat untuk mengejar orang itu.

Dengan mengandalkan ginkang mereka, ketiga orang tersebut bisa berlari cepat sekali. Dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah berada di pintu sebelah selatan, dimana mereka bertanya-tanya kepada penduduk yang kebetulan mereka jumpai di situ, apakah mereka melihat seorang laki-laki dengan muka berewokan dan memakai baju biru berusia empat puluh tahun lebih, menunggang seekor kuda yang lewat di tempat tersebut.

"Ya, ya, baru saja orang itu pergi.... dia menuju ke arah Timur,.... mungkin dia baru pergi belasan Lie...!" menjelaskan seorang tua di pintu kampung itu.

Tanpa mengucapkan terima kasih lagi, Thio Sung berlari melesat ke arah timur diikuti oleh Lim Eng Kiu dan Sam Kak Tojin.

Orang tua yang tadi memberikan penjelasan telah memandang terheran-heran atas sikap ketiga orang tersebut. Dua orang pengemis dan seorang Tojin yang tampaknya begitu tergesa-gesa buat mengejar orang yang tengah mereka cari.

Thio Sung berlari sekuat tenaganya, karena dia tahu, jika dia mengejar kurang cepat jelas mereka akan tertinggal jauh sekali.

Begitu juga halnya dengan Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu, mereka telah mengejar dengan mengerahkan seluruh ginkangnya. Setelah berlari-lari belasan lie, mereka masih belum berhasil menemui jejak orang yang mereka kejar. Akan tetapi Thio Sung yang memang berpengalaman telah melihat di atas permukaan tanah ada tanda-tanda bekas kaki kuda. Maka dia menyadari bahwa mereka tidak salah arah dalam pengejaran itu. Semangatnya terbangun dan hendak mengejar terus.

Namun berlari setengah lie lagi, tiba-tiba Thio Sung melihat sesuatu di atas tanah, dia segera berhenti dan memperhatikan permukaan tanah itu. Dia berdiri menjublek.

Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu segera juga tiba di dekatnya. Mereka heran melihat sikap Thio Sung seperti itu. Maka mereka mendekati sehingga mereka bisa melihat juga sesuatu yang terdapat di permukaan tanah.

Ternyata di atas tanah terdapat goretan-goretan dalam bentuk huruf dan kalimat, yang bunyinya sebagai berikut:

"Untuk apa kalian mengejarku dengan bersusah payah? Atau memang kalian hendak mampus seperti yang dialami oleh pemuda she Tang itu? Bukankah kalian sudah diberikan kesempatan hidup sampai kelak kalian datang di Lembah Ular? Mengapa minta mampus cepat-cepat?!

Surat itu tidak ditanda-tangani, Juga ditulis dengan mempergunakan sebatang ranting pohon tentunya, tulisannya juga kasar.

"Hemmm, benar-benar dia yang melakukannya, orang yang tengah kita cari itu!" menggumam Sam Kak Tojin dengan suara serak.

"Ya, memang dia...!” kata Thio Sung. "Mari kita kejar terus, dia tentu belum jauh...!"

Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu menyetujuinya.

Begitulah, ketiga orang ini telah melakukan pengejaran lagi, mereka berlari-lari dengan sekuat tenaga, karena mereka memang ingin berusaha agar dapat mengejar orang yang tengah mereka buru.

Setelah berlari-lari beberapa saat, empat atau lima lie, tiba- tiba Thio Sung melihat lagi beberapa huruf yang tertulis di atas tanah, coretannya dalam sekali.

"Kalian benar-benar tidak kenal selatan dan mencari mampus masih juga membuntuti diriku....! Dan rupanya kalian bertiga telah bosan hidup...!"

Dan surat inipun tidak ditanda-ta-ngani. Bukan main murkanya Thio Sung, tanpa berayal dia telah mengejar lebih cepat lagi.

Begitu juga Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu, telah mengejar semakin cepat, walaupun hati mereka agak tegang dan berdebar menghadapi semua ini.

Setelah mengejar beberapa saat, akhirnya Thio Sung mendengar di kejauhan di sebelah depannya, suara tapak kaki kuda, yang tengah berjalan perlahan sekali. Semangat Thio Sung terbangun, karena dengan demikian jelas dia telah berhasil mengejar orang itu.

Begitu juga Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu mendengar pula suara tapak kaki kuda itu dan mereka telah mengejar semakin cepat, walaupun hati mereka semakin tegang dan berdebar.

Setelah berlari-lari sekian lama, akhirnya terlihat seorang penunggang kuda tengah menjalankan kuda tunggangannya perlahan-lahan. Dan dilihat dari potongan tubuhnya dari belakang, Thio Sung jadi berhenti berlari dan mengawasi menjublek. Penunggang kuda itu bukan orang yang di harapkan mereka, yaitu seorang laki-laki bertubuh tinggi besar memakai baju biru dengan muka berewok. Tubuh orang itu kurus tinggi dan jangkung, dengan keadaannya yang tampak lemah gemulai, dan berpakaian sebagai seorang sastrawan, dengan kopiah Siauw- yauw-kinnya. Dia menjalankan kuda tunggangannya itu perlahan lahan.

Namun Thio Sung penasaran sekali, segera juga dia mengejar lebih cepat dan tahu-tahu tubuhnya telah melesat melewati penunggang kuda itu, memutar tubuhnya dan menghalangi jalan penunggang kuda itu.

Sekarang Thio Sung bisa melihat jelas, itulah seorang pemuda berusia antara dua puluh lima tahun, dengan tubuhnya yang kurus lemah gemulai dan tampaknya lemah tidak bertenaga, dengan parasnya yang tampan.

Pemuda itu memperlihatkan sikap terkejut, dia bertanya dengan suara tertahan : “Kau, mengapa kau menghalangi jalanku?!”

Thio Sung jadi kecewa, karena pemuda ini bukanlah orang yang tengah dicarinya.

“Apakah baru-baru ini kau melihat seorang laki-laki memakai baju biru dan muka berewokan kasar, menunggang seekor kuda melewati jalan ini?!" tanya Thio Sung.

Pemuda pelajar itu mengerutkan alisnya.

“Apakah yang tengah kau cari itu seorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang menyeramkan dan berusia antara empat puluh tahun lebih?!" tanya si pemuda.

Thio Sung mengangguk dengan segera.

“Benar! Benar! Apakah kau telah melihatnya?!" “Baru saja dia lewat di tempat ini, akan tetapi manusia jahat itu tidak kenal aturan. Dia menerobos melarikan kudanya hampir saja menubrukku! Hai! Hai! Hampir aku terjungkel dari kudaku... Sungguh jahat sekali orang itu...”

Masih saja pemuda itu berkata-kata mengoceh sendiri, akan tetapi Thio Sung sudah tidak memperdulikannya dan diapun sudah tidak mendengar lebih jauh perkataan pemuda pelajar itu, sebab dia memutar tubuhnya dan berlari lagi dengan pesat buat mengejar orang buruannya.

Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu juga telah melewati pemuda pelajar itu, mengikuti Thio Sung. Sedangkan pemuda pelajar itu jadi duduk bengong di atas kudanya, dia heran melihat sikap ketiga orang itu. Sampai akhirnya dia menggumam: “Hai, manusia-manusia kasar tidak tahu aturan dan tidak tahu adat......

sudah bertanya, pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih !"

Kemudian dengan kesal pemuda itu menjalankan kembali kudanya perlahan-lahan, mulutnya bersenandung perlahan.

Thio Sung yang telah mengejar sekian lama, akhirnya dia melihat juga di depannya berlari seeker kuda yang penunggangnya adalah orang yang tengah dicarinya, yaitu orang yang mukanya penuh ditumbuhi berewok dan mengenakan baju biru! Dengan mengempos seluruh sisa kekuatannya, Thio Sung berlari mengejar semakin cepat. Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu juga telah mengejar semakin cepat, akan tetapi Sam Kak Tojin tidak bisa berlari secepat Thio Sung dan Lim Eng Kiu, karena dia tengah terluka pada pundak kanannya, jika dia berlari terlalu cepat, akan menimbulkan rasa sakit yang bukan main pada pundak lukanya itu.

Sedangkan penunggang kuda di depan Thio Sung telah mengetahui bahwa dirinya tengah dikejar, tiba-tiba saja dia menghentikan lari kuda tunggangannya, dia memutar kuda tunggangannya, menghadap ke arah Thio Sung bertiga, seperti juga menantikan kedatangan ketiga orang itu.

Penunggang kuda tersebut seorang laki-laki berusia empat puluh empat atau empat puluh lima tahun, mukanya bengis dengan penuh berewok yang kasar sekali, matanya memancarkan sinar yang tajam dan kejam sekali. Juga tubuhnya tinggi besar, mengenakan baju warna biru dengan sebatang golok besar, Tian- to, tersoren di pundaknya. Dia mengawasi ketiga orang yang tengah mendatangi itu dengan sorot mata yang bengis dan bibir tersungging senyum mengejek.

Thio Sung bertiga tiba cepat sekali di hadapan penunggang kuda itu. Dengan napas agak tersengal, Thio Sung membentak: “Hemm, tidak kusangka, bahwa engkau akan menurunkan tangan begitu kejam dan bengis kepada kawan kami! Juga, kami jadi ingin mengetahui, apa maksudmu mengundang kami buat datang ke Lembah Ular?”

Laki-laki bertubuh tinggi besar berpakaian warna biru itu telah melompat turun dari kudanya dengan gerakan yang ringan, dan hinggap di atas tanah tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga. Dia tertawa dingin, katanya: “Kalian ingin mencampuri urusan pemuda tidak karuan dan bulu campur aduk itu?!" tanyanya dengan suara yang mengejek “Hemm, walaupun kalian memiliki kepandaian yang berlipat beberapa kali dari yang sekarang kalian miliki, jangan harap kalian bisa jual tingkah di hadapan tuan besarmu...!" Kalian bukankah masing-masing telah menerima surat undangan buat hadir dalam pertemuan di Lembah Ular ? Waktu aku memberikan surat undangan itu bukankah kau telah dipesan agar tidak boleh menceritakan hal itu kepada siapapun juga? Kalian telah melanggar pesanku itu, karena dengan Tojin itu, engkau berdua kawanmu telah saling menceritakan perihal surat undangan ke Lembah Ular tersebut, bahkan Tojin itu juga melanggar pesanku, menceritakan perihal undangan yang diterimanya buat hadir di Lembah Ular. Akan tetapi kupikir kalian memang sama-sama satu tujuan, merupakan orang-orang yang telah menerima surat undangan itu, maka aku tidak menarik panjang urusannya. Namun, apa yang terjadi dengan Tojin itu? Dia telah begitu lancang dan tidak kenal mampus berani menceritakan perihal undangan untuk hadir di Lembah Ular kepada pemuda she Tang itu, yang sama sekali tidak ada sangkut-paut dan bubungannya dengan surat undangan tersebut. Karenanya, pemuda itu harus disingkirkan. Dan aku telah melaksanakan tugasku dengan baik. Aku masih berbaik hati buat mengirim mayat dari pemuda she Tang itu kepada kalian, agar kalian dapat menguburnya dengan baik-baik! Akan tetapi sekarang, ternyata kalian bertiga benar-benar tidak kenal selatan, masih berusaha mengejarku ! Nah, aku ingin bertanya kepadamu, apa yang kalian kehendaki dariku dengan mengejar seperti itu?!"

Muka Thio Sung sebentar berobah pucat, sebentar berobah merah, tampaknya gusar sekali namun dia berusaha membendung kemarahan yang bergolak di dalam hatinya.

“Hemmm, aku ingin menyampaikan kepadamu, bahwa aku menolak undangan buat hadir di Lembah Ular!" kata Thio Sung dengan suara yang dingin.

Mendengar perkataan Thio Sung itu, muka orang bertubuh tinggi besar itu berobah!

“Apakah kau sudah memikirkannya masak-masak keputusanmu itu??!” tanyanya dengan wajah yang bengis.

“Ya...!!" mengangguk Thio Sung tegas. “Memang aku telah memutuskan buat menolak undangan itu! Karena dari itu, aku telah mengejarmu, buat menyampaikan penolakanku itu, yang tidak ingin hadir dalam pertemuan di Lembab Ular, dimana aku tidak berselera memenuhi undanganmu itu!”

Orang bertubuh tinggi besar dengan baju warna biru itu memandang tajam dan bengis sekali kepada Thio Sung, akan tetapi dia tidak mengatakan suatu apapun juga, kemudian menoleh kepada Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu.

“Bagaimana dengan kalian?!" tanya orang itu kemudian dengan suara yang dingin.

“Kamipun menolak undangan itu!" menyahut Sam Kak Tojin dengan suara mengandung kegusaran dan kemendongkolan.

Akupun tidak bersedia hadir di lembah Ular!" kata Lim Eng

Kiu.

“Oho, jadi kalian bertiga tidak bersedia memenuhi undangan

itu? Berarti kalian tidak bersedia buat datang di Lembah Ular walaupun kalian telah menerima penghormatan demikian besar, dimana kalian telah menerima undangan itu..." kata orang bertubuh tinggi dengan baju warna biru tersebut.

“Ya, kami tidak bersedia datang ke Lembah Ular, karena kami tidak mengetahui siapa yang mengundang kami dan apa kegunaannya kedatangan kami di Lembah Ular!" menyahuti Thio Sung.

“Jadi kalian ingin mengetahui siapa yang mengundang kalian?!" tanya orang berewokan tersebut, suaranya dingin sekali.

“Ya!" mengangguk Thio Sung. “Jika kau menjelaskan dengan terang, siapa yang mengundang kami, mungkin kami akan memikirkannya lagi dan mempertimbangkan, apakah kami perlu datang ke sana atau tidak!"

“Hemmm,baik, aku akan memberitahukan!” kata si berewok itu dengan suara yang dingin sekali. “Siapa yang mengundang kami?!" mendesak Thio Sung. “Ngo Tok Kauw!" sahut si berewok dengan suara yang

tawar. “Nah, sekarang kalian telah mendengar sendiri siapa yang mengundang kalian, tentunya kalian tidak akan membandel dan keras kepala lagi, pasti kalian bersedia datang ke Lembah Ular, bukan?!"

“Tidak!!” sahut Thio Sung kemudian dengan suara yang tegas. “Kami tidak bersedia memenuhi undangan itu, karena memang kami tidak memiliki hubungan apapun juga dengan Ngo Tok Kauw!"

Muka lelaki berbaju biru itu berobah jadi tambah bengis. “Hemmm...,” dia mendengus dingin. “Apakah sungguh-sungguh kalian sudah memikirkan akibatnya dari sikap kepala batu kalian ini?!"

“Ya, kami juga tidak bersedia pergi ke sana!" kata Sam Kak Tojin dengan Lim Eng Kiu hampir berbareng.

“Hahahaha....!" tiba-tiba si baju biru itu tertawa bergelak- gelak dengan suara yang nyaring sekali. “Jika demikian, kalian harus mati!!!"

“Kami akan menerima semua resiko itu... karena memang sudah menjadi tanggung jawab kami buat menerima semua akibat itu apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya!''

“Bagus!" berseru si baju biru itu dengan suara yang nyaring sekali. kemudian dia bilang lagi : “Nah, sekarang kalian benar- benar sudah memastikan tidak akan pergi ke Lembah Ular?!"

"Ya !" menyahuti Thio Sung dengan sikap tegas dan bersiap- siap buat menghadapi segala kemungkinan. Demikian juga halnya dengan Lim Eng Kiu dan Sam Kak Tojin yang telah membenarkan juga bahwa merekapun tidak bersedia datang ke Lembah Ular.

Muka si baju biru berobah tambah bengis, dia melangkah maju setindak-setindak, dan kemudian cepat sekali, dia menyerang dengan kedua tangannya, mempergunakan telapak tangannya.

Thio Sung yang berada paling dekat dengan si baju biru segera terkejut. Telapak tangan orang itu berwarna merah, seperti juga merah darah, hal itu menunjukkan bahwa telapak tangan orang tersebut tentu mengandung maut dan beracun sekali. Karenanya, Thio Sung tidak mau menyambuti dengan kekerasan, dia telah melompat menghindarkan diri disamping dia pun telah berusaha untuk membalas menyerang.

Angin serangan si baju biru itu berkesiuran menyiarkan bau anyir yang amis, menunjukkan telapak tangannya itu memang sangat beracun. Karenanya segera juga Thio Sung telah berkelit sambil menyerang dengan sikap hati-hati sekali, dia berusaha agar tangannya tidak saling bentur dengan tangan orang berbaju biru tersebut.

Waktu orang berbaju biru itu menyerang Thio Sung, Sam Kak Tojin dan juga Lim Eng Kiu tidak berdiam diri. Mereka melompat buat menyerang orang berbaju hiru itu, karena jika mereka melawannya seorang demi seorang, berarti kekuatan mereka belum tentu bisa menandingi kepandaian dari orang berbaju biru itu. Maka mereka bermaksud akan mengeroyoknya. Dengan demikian mereka jadi mengepung dari tiga jurusan. Hebat bukan main tenaga serangan yang dilakukan oleh Thio Sung, Sam Kak Tojin dan Lim Eng Kiu, karena mereka mempergunakan ilmu simpanan mereka yang terhebat dan juga menyerang dengan kekuatan penuh. Karena dari itu, orang berbaju biru tersebut pun tidak mudah buat merubuhkan salah seorang di antara ketiga lawannya itu.

Dalam keadaan demikian, karena melihat Thio Sung bertiga cukup cerdik dan selalu berusaha menghindarkan bentrokan yang terjadi dengan tangannya, orang berbaju biru itu menyerang dengan pukulan kedua telapak tangan yang semakin gencar dan dari jarak yang dekat.

Sedangkan Lim Eng Kiu sendiri telah berulang kali menyerang dari belakang orang berbaju biru tersebut, setiap serangannya itu seperti juga dia hendak mengadu jiwa dan telah mempergunakan seluruh kekuatan yang ada padanya, cuma satu yang dijerikan Eng Kiu, yaitu dia kuatir kalau tangannya akan saling bentur dengan tangan orang berbaju biru itu, yang ternyata memang benar-benar merupakan anggota dari Ngo Tok Kauw. Karena jika terjadi bentrokan tersebut, akan menyebabkan tangannya akan keracunan.

Waktu itu Thio Sung yang memiliki kepandaian tertinggi di antara kedua kawannya, menyerang gencar juga.

Orang berbaju biru yang menyaksikan keadaan seperti ini jadi gusar bukan main. Dia mengeluarkan suara tertawa dingin berulang kali. Tiba-tiba dia merobah cara bertempurnya, kedua tangannya berkelebat-kelebat semakin cepat saja. Dan setiap gerakannya itu seperti menyiarkan bau anyir yang amis sekali, karena dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, dan disebabkan kekuatan tenaga dalam yang berkumpul di telapak tangan, menyebabkan hawa racun di kedua telapak tangannya terdesak sangat hebat mengeluarkan uap yang amis seperti itu.

Jika orang biasa yang mencium bau anyir dari amisnya uap racun tersebut, tentu orang itu akan segera pingsan. Akan tetapi disebabkan Thio Sung bertiga memiliki latihan lwekang yang cukup tinggi, sejauh itu mereka masih bisa bertahan. Akan tetapi diam-diam Thio Sung juga berpikir: “Hemmm, jika terus menerus kami bertempur dengan cara yang tidak berkesudahan seperti sekarang ini, orang itu akan kehabisan tenaga, namun kami bertiga niscaya akan terpengaruh oleh uap racunnya itu. Walaupun bagaimana, kami harus segera menundukkannya!"

Karena berpikir begitu, cepat sekali Thio Sung menambah kekuatan tenaga serangannya. Dengan nekad tahu-tahu ia telah menerjang, dia bermaksud buat mengadu jiwa, walaupun tangannya akan mengenai dan membentur tangan orang berbaju biru itu, akan tetapi, diapun tentu akan dapat memberikan pukulan yang bisa mematikan kepada lawannya.

Dalam keadaan seperti ini, terlihat betapa Thio Sung sudah tidak memikirkan keselamatan jiwanya lagi. Hal itu bisa dilihat oleh Sam Kak Tojin dan juga Lim Eng Kiu, karenanya merekapun membarengi buat menyerang lagi dengan serentak.

Dikepung seperti ini, orang berbaju biru itu sama sekali tidak gentar, malah dia mengeluarkan suara tertawa dingin berulang kali.

Di kala tangan Thio Sung ditangkis oleh tangan orang berbaju biru itu, tangan kiri Thio Sung membarengi menyerang dada orang itu. Tenaga dalam yang dipergunakannya sangat kuat sekali, angin serangan itu berkesiuran, kalau dada orang berbaju biru itu terkena pukulannya tersebut niscaya akan menyebabkan tulang-tulang dadanya remuk dan juga seluruh isi di dalam dadanya akan hancur.

Berarti, kalau sampai terjadi seperti itu, Thio Sung berhasil membunuh orang berbaju biru tersebut, sedangkan dia sendiri hanya akan keracunan. Jika orang berbaju biru itu telah mati, Thio Sung akan dapat menggeledah bajunya dan sakunya, untuk mencari obat penawar racun dari lawannya ini. Disebabkan itulah maka Thio Sung berani buat melakukan penyerangan seakan- akan mengadu jiwa itu.

Apa yang diharapkan Thio Sung ternyata meleset. Tangan kanannya telah ditangkis oleh orang berbaju biru itu, akan tetapi tangan kiri Thio Sung sendiri tidak berhasil mengenai dada dari lawannya, sebab begitu tangan dari Thio Sung akan menghantam dada lawannya, seketika itu juga tubuh dari orang berbaju biru itu melejit, seperti juga belut, dan licin sekali. Dalam keadaan seperti itulah, tubuh Thio Sung jadi tergelincir dan seperti juga akan jatuh. Sedangkan orang berbaju biru yang telah mempergunakan kelicikannya tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada. Ia telah membentak dan tangan kanannya menghantam lagi ke punggung Thio Sung.

Seketika terdengar suara jeritan yang mengenaskan sekali, tubuh Thio Sung terlempar ke tengah udara dan ambruk di tanah dengan muntahkan darah, dia pingsan tidak sadarkan diri.

Lim Eng Kiu dan Sam Kak Tojin jadi kaget tidak terkira, keberanian mereka berkurang sebagian melihat nasib Thio Sung.

Sedangkan orang berbaju biru itu mendengus kejam sekali, tubuhnya melesat, tahu-tahu dia berada di samping Sam Kak Tojin. Tangan kirinya mengancam akan menghantam batok kepala Tojin itu, waktu Sam Kak Tojin berusaha mengelakkan pukulan tersebut, cepat sekali tangan kanan dari orang berbaju biru itu menyerang sungguh-sungguh, bukan serangan gertakan lagi, ke arah perut Sam Kak Tojin.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang mengenaskan, tubuh Sam Kak Tojin terjungkel bergulingan di tanah, mukanya pucat, walaupun dia tidak sampai pingsan dan tidak memuntahkan darah, dia merasakan seluruh isi perutnya seperti terbalik dan hancur, sakit bukan main, sehingga menahan sakit seperti itu Sam Kak Tojin mengeluarkan keringat dingin yang deras sekali.

Sedangkan Lim Eng Kiu merasakan nyalinya pecah, lenyap keberaniannya. Dia menjejakan kedua kakinya untuk berusaha mendahului menyerang dengan terpaksa, karena dia menyadari, melarikan diripun tidak mungkin. Namun waktu tubuh Lim Eng Kiu tengah melayang di tengah udara, di waktu itulah orang berbaju biru tersebut telah memutar tubuhnya, dia telah membarengi dengan hantaman kedua telapak tangannya sekaligus.

– ooOoo –