-->

Kemelut Lembah Ular Jilid 05

Jilid 05

MUKA orang itu jadi merah mendengar perkataan Kim Yan yang membela diri seperti itu, dia telah mendengus beberapa kali kemudian dengan gusar membentak:

"Jika memang kau rewel dan tidak cepat-cepat menyerahkan seribu tail perak buat kami, rumah makan ini akan kami hanguskan.

Kim Yan tersenyum tawar. "Apakah tuan-tuan berangasan dikota ini tidak terdapat hukum, sehingga demikian mudah saja seseorang melakukan pemerasan?" tanya Kim Yan. Muka keenam orang tamu itu berobah merah dan bengis sekali.

"Kau menuduh kami melakukan pemerasan? Hemmm, tahukah kau siapa kami berenam ini? kami kira jika memang kau mengetahui, tentu kau akan mati berdiri...!"

Kim Yan tersenyum tawar, sikapnya tenang sekali. "Justru aku ingin sekali mengetahui siapakah tuan-tuan berenam ?!"

katanya tawar.

Orang-orang itu saling pandang satu dengan yang lain, kemudian katanya dengan suara yang tawar: "Hem, dia benar cari penyakit!"

Kemudian salah seorang diantara mereka berkata dengan suara yang bengis: "Baiklah, kami nkan memberitahukan siapa kami sebenarnya.... kau dengarlah baik-baik dan jangan sampai mampus berdiri. Kami sebenarnya orang-orang Ngo Tok Kauw!"

Hati Kim Yan tercekat. Dia memang bekas orang Kangouw, dengan sendirinya dia mengetahui jelas apa itu Ngo Tok Kauw. Dulu raja Ngo Tok Kau merupakan satu-satunya perkumpulan di Tionggoan yang sangat ditakuti oleh orang-orang rimba persilatan. Dan sekarang justru anak buah Ngo Tok Kauw mengacau dirumah makannya. Jika memang benar apa yang didengarnya akhir-akhir ini bahwa Ngo Tok Kauw yang beberapa tahun lalu telah hancur dan tidak terdengar-dengar namanya, namun belakangan ini justru telah muncul lagi, tentu dengan demikian jelas dia tengah menghadapi kesulitan tidak kecil.

Akan tetapi memang Kim Yan pernah berkelana didalam kalangan Kangouw dan juga dia memiliki kepandaian yang tinggi, dengan sendirinya Kim Yan bisa berlaku tenang.

"Baikrah, jika memang benar kalian orang-orang Ngo Tok Kauw, lalu apa yang kalian inginkan?!" tanya Kim Yan tenang. "Justru kami hendak meminta kau membayar kami seribu tail perak! Setiap bulannya kelak kami akan memungut pajak sebesar seribu tail perak.... jika memang kau keberatan buat melaksanakan permintaan kami, tentu kami akan membuat usaharnu ini hancur!"

Kim Yan tetap berlaku tenang.

“Jika begitu, baiklah! Mcngenai uang yang seribu tail, sebenarnya tidak menjadi persoalan buatku, karena sebagai orang yang pernah berkelana dan hidup didalam kalangan Kangouw, aku lebih mementingkan persahabatan. Akan tetapi cara kalian memerasku keterlaluan sekali, karenanya aku tidak mau memberikan uang seperti yang kalian pinta.! Jika memang hanya sekedarnya, seperti lima puluh tail perak, mungkin aku tidak akan rewel.”

Setelah berkata begitu, tampak Kim Yan merangkapkan kedua tangannya dimana dia memberi hormat sambil mengambil sikap bersiap siaga.

Benar saja, orang-orang Ngo Tok Kauw itu waktu mendengar perkataan Kim Yan yang terakhir dua orang diantaranya melangkah mendekati pemilik rumah makan tersebut, tanpa berkata lagi, keduanya menyerang Kim Yan.

Serangan yang dilakukan kedua orang anak buah Ngo Tok Kauw tersebut dilakukan dari sebelah kiri dan kanan. dimana mereka menyerang dengan tenaganya yang besar.

Kim Yan juga tidak berdiam diri, tubuhnya waktu itu memang doyong kedepan, sebab disaat itu dia tengah mengambil sikap seperti memberi hormat. Kemudian waktu tangan kedua orang lawannya meluncur tiba, dengan cepat sekali dia telah mengibaskan kedua tangannya, yang dipentang dengan disertai kekuatan tenaga dalamnya. "Takkk, dukk!" terdengar dua kali suara benturan tangan Kim Yan dengan tangan dari kedua orang Ngo Tok Kauw tersebut. Kesudahannya benar-benar sangat hebat sekali. Tubuh orang Ngo Tok Kanw tersebut telah terhuyung beberapa langkah dan juga muka mereka berobah pucat. Hal ini disebahkan waktu mereka merasakan betapa tangkisan yang dilakukan Kim Yan sangat kuat sekali, menyebahkan mereka merasakan betapa tulang tangan nya bagaikan remuk dan patah.

Dalam keadaan seperti ini Kim Yan telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat dan katanya: "Maafkan, terpaksa aku harus bersikap lancang kepada tuan-tuan, tidak seharusnya terjadi keributan didalam rumah makan yang kuusahakan ini...!" Sambil berkata begitu memang Kim Yan memberi hormat, bagaikan dia menyatakan penyesalannya. Akan tetapi, walaupun demikian, dia tetap memperlihatkan sikap berwaspada.

Keempat orang anak buah Ngo Tok Kauw yang semula terkejut dan berdiri tertegun melihat kawan-kawan mereka terhuyung dan menderita kesakitan seperti itu, telah tersadar dengan murka.

Disaat Kim Yan baru saja berkata sampai disitu, mendadak tubuh keempat orang Ngo Tok Kauw tersebut melompat dengan sebat, sepasang tangan mereka masing-masing telah bergerak menyerang dengan pukulan yang hebat sekali.

Kim Yan juga menyadari bahwa keempat orang lawannya itu tidak bisa diremehkan, karenanya begitu melihat menyambarnya serangan keempat orang lawannya, dengan cepat Kim Yan telah berseru nyaring, tanpa menantikan tibanya serangan keempat orang lawannya Kim Yan pun telah menggerakkan sepasang tangannya mengambil sikap dengan jurus. "Bangau Putih Mengembangkan Sepasang Sayapnya", dari kedua tangannya mengalir keluar kekuatan yang mendesak kearah keempat orang Ngo Tok Kauw.

Usaha Kim Yan untuk memaksa lawan mundur ternyata gagal, karena waktu itu keempat orang Ngo Tok Kauw dengan geraka yang gesit sekali telah melompat menyingkir ke samping, lalu membarengi dengan serangan berikutnya.

Dua orang Ngo Tok Kauw yang terlebih dulu tadi menyerang Kim Yan, pun telah berhasil menenangkan diri mereka kembali, keduanya telah ikut menerjang untuk bantu mengeroyok Kim Yan.

Begitulah, keenam orang anggota Ngo Tok Kauw tersebut mengeroyok dengan rapat sekali. Akan tetapi Kim Yan tetap bertahan dengan kuat, dia rupanya mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikiaya. Sama sekali Kim Yan tidak gentar menghadapi keenam orang lawanya itu.

Dalam keadaan seperti ini, salah seorang dari anggota Ngo Tok Kauw tersebut, telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang yang berkilauan dan telah menikam dengan pedangnya dari arah belakang Kim Yan.

Gerakan yang dilakukannya itu merupakan serangan membokong, karena tikaman itu dilakukan dengantiba-tiba sekali. Jalan darah Pai-kong-hiat dipunggung Kim Yan yang yang diincarnya. Jika saja tikaman itu mengenai sasarannya dengan jitu, niscaya akan menyebahkan Kim Yan menemui ajalnya atau sedikitnya akan bercacad seumur hidupnya.

Kim Yan juga tidak tinggal diam. Dia tengah menghadapi dua orang lawannya yang disetelah kiri dan didepannya, yang waktu itu tengah menyerangnya. Akan tetapi waktu memerasakan sambaran angin serangan yang dingin dan tajam, Kim Yan segera mengerti bahwa lawannya yang dibelakang tengah menyerangnya dengan mempergunakan senjata tajam. Karenanya, tanpa menoleh lagi Kim Yan telah mengibaskan lengan bajunya, se- hingga lengan bajunya itu melihat pedang lawan, kemudian Kim Yan telah membentaknya dengan suara yang nyaring sekali, dimana dia telah menghentaknya dengan kuat, sehingga membuat pedang lawan terlepas dari cekalannya dan terlempar jauh sekali, menancap dalam disalah satu tiang diruangan tersebut.

Kim Yan juga tidak berhenti sampai disitu raja, kaki kanannya telah bekerja dengan cepat sekali, dia mendupak lawannya yang di sebelah kanan, sehingga lawannya itu terjungkal bergulingan dilantai.

Lawan-lawan Kim Yan yang lainya segera mencabut keluar senjatanya mereka masing-masing yang serentak dipergunakan untuk menyerbu dan menyerang Kim Yan.

Melihat keadaan seperti ini, diam-diam Kim Yan mengeluh juga. Kepandaian yang dimilikinya memang berada disebelah atas kepandaian lawan-lawannya tersebut, akan tetapi menghadapi cara pertempuran dengan dikeroyok seperti itu, membuat Kim Yan benar-benar terancam bahaya yang tidak kecil. Apa lagi dia bertangan kosong, lawan-latwannya itu mempergunakan senjata tajam.

Kim Yan terpikir untuk mempergunakan goloknya, akan tetapi senjatanya itu justru berada dikamarnya.

Belum lagi Kim Yan dapat berpikir lebih jauh, justru senjata dari lawan-lawannya telah menyambar kepada dirinya.

Kim Yan mengeluarkan suara nyaring, lalu sepasang kakinya menjejak lantai, dan tububnya terapung ketengah udara.

Gerakan yang dilakukan oleh Kim Yam benar-benar sangat gesit sekali, diluar dugaan lawan-lawannya. Serangan senjata tajam dari lawannya telah jatuh ditempat kosong. Mereka cepat-cepat memarik pulang senjata masing- musing, waktu mana tubuh Kim Yan tengah meluncur turun lagi, dan mereka menyambuti dengan serangan.

Kali ini orang-orang Ngo Tok Kauw tersebut sudah tidak berlaku segan-segan lagi menurunkan tangan kejam. Senjata mereka me nyambar serentak dengan sasaran yang bisa me matikan.

Kim Yan melihat dirinya diserang seperti itu, cepat sekali dia menggerakkan kedua kakinya menotol batang senjata dari salah seorang lawannya yang sebelah samping kiri, membarengi mana sepasang tangannya dikibas kan. Angin kibasan lengan bajunya yang kebe saran itu membuat serangan dari senjata tajam dari lawan-lawannya mencong dan tidak berhasil mengenai sasaran yang mereka maksudkan. Tiba-tiba Kim Yan merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali disebelah belakangnya, kearah bahhunya. Kim Yan bermaksad untuk berkelit, akan tetapi waktu itu dia tengah dilibat oleh dua orang lawannya yang lain, dengan demikian Kim Yan tidak berhasil buat mengelakkan diri, dan bahunya terasa sakit serta pedih sekali, tampak darahpun tetah mengucur deras sekali, karena bahu-nya telah terluka.

Dengan gerakan yang nekad, salah seorang lawan Kim Yan menubruk dengan menggerak-kan pedangnya, menikam kearah dada Kim Yan.

Kim Yan sendiri mencelos hatinya, dia hanya bertangan kosong dan serangan senjata lawannya yang dilakukan begitu nekad pun tak mungkin dapat ditangkisnya. Jalan satu-satunya sebenarnya Kim Yan harus membuang diri dan bergulingan dilantai. Akan tetapi justeru lawannya mendesak Kim Yan dari jarak yang dekat sekali, dengan demikian membuat dia tidak memiliki kesempatan sedikitpun juga buat bergulingan guna mengelakan diri dari serangan senjata tajam lawannya itu.

Dalam keadaan terdesak seperti itu Kim Yan tidak kehabisan akal, dia telah mengeluarkan bentakan yang nyaring, tangan kanannya secepat kilat telah merampas senjata salah seorang lawannya. Pedang lawan telah dirampas dan kemudian dibolang- balingkan.

Apa yang dilakukan oleh Kim Yan sangat cepat sekali, waktu lawannya menyadari apa yang terjadi, pedangnya telah dipergunakan oleh Kim Yan untuk menghadapi kawan- kawannya.

Dengan begitu, Kim Yan berhasil menghindarkan diri dari setiap serangan lawannya, yang ditangkisnya dengan mempergunakan pedang yang dapat dirampasnya tersebut.

Akan tetapi karena Kim Yan seorang akhli tohoat (ilmu golok), dengan sendirinya pe-dang itu tidak cocok buat dia, dimana dia me rasakan pedang tersebut terlalu ringan sekali. Dalam keadaan terdesak seperti itu Kim Yan terpaksa mempergunakan pedangnya itu juga, jurus demi jurus dia telah berhasil menghalau serangan lawannya.

Akan tetapi karena lawannya berjumlah jauh lebih banyak dan juga mereka bukannya sebangsa manusia-manusia lemah, Kim Yan perlahan-lahan mulai terdesak. Para pelayan Kim Yan mengawasi dengan berkuatir. Mereka kuatir katau-kalau majikan mereka terdesak dan berhasil dirubuhkan oleh orang-orang Ngo Tok Kauw itu, niscaya akan menyebahkan mereka dianiaya oleh orang-orang perkumpulan Lima Bisa tersebut.

Kim Yan yang melihat keadaan dirinya yang tidak menguntungkan telah berusaha mempergunakan pedang ditangannya sebaik mungkin. Dan dalam keadaan semakin terdesak, Kim Yan berlaku nekad.

Akan tetapi, disaat Kim Yan tengah menyerang salah seorang lawannya yang berada disebelah kirinya, waktu tubuhnya membungkuk miring itulah dari arab belakangnya salah seorang lawannya telah menyerang dengan pedangnya cepat sekali.

Kim Yan mendengar berkesiuran angin sambaran senjata lawan, akan tetapi dia tidak berdaya buat mengelakannya, karena diwaktu itu dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk melompat mengelakan diri. Dengan demikian, segera juga terlihat betapa pundak Kim Yan telah tertabas pedang lawannya, pakaian dan kulit tubuitnya terketupas, darah mengucur keluar deras sekali....

Mempergunakan kesempatan Kim Yan telah terluka seperti itu, empat orang lawan lainnya telah membarengi dengan serangan mereka, empat batting pedang yang berkilauan tampak menyilaukan mata telah menerobos menikam dan menabas Kim Yan, Sedangkan lawan Kim Yan yang seorang telah mengayun- kan tangannya, berhamburanlah senjata rahasia yang menyerang Kim Yan.

Pemilik rumah makan ini berusaha memutar pedang ditangannya guna menghalau serangan lawan-lawannya itu.

Akan tempi dia gagal, karena dengan segera Kim Yan merasakan. dadanya dan pundaknya sakit ditikam oleh dua batang pedang, darah segera mengucur, tubuh Kim Yan terhuyung-huyung lalu akhirnya rubuh terguling dilantai dengan suara keluhan yang perlahan.

Sedangkan beberapa orang lawanya tidak sampai disitu saja, waktu melihat tubuh Kim Yan rubuh, dua orang diantara mereka telah melom pat menerjang lagi sambil menggerakansen-jatanya masing-masing menikam kepada Kim Yan, yang menembusi perut dari pemilik rumah makan itu. Semula Kim Yan bermaksud buat melompat bangun akan tetapi setelah tertikam perutnya, tubuhnya mengejang kaku, dan untuk selanjutnya diam tidak bergerak lagi, nyawanya telah melayang keakherat....

Para pelayan rumah makan tersebut mengeluarkan seruan kaget melihat majikan mereka telah terbinasa ditangan orang- orang Ngo Tok Kauw.

Walaupun dua orang diantara keenam orang Neo Tok Kauw tersebut luka-luka. tokh kenyataannya mereka tidak kurang suatu apapun juga. Dengan demikian jelas bahwa mereka me mang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan setelah berhasil membinasakan pemilik rumah makan itu, mereka memperlihatkan sikap puas. Malah salah seorang diantara mereka telah menepuk keras sekali pada salah sebuah meja sambil berseru. "Pelayan, cepat sediakau kami makanan yang lezat- lezat!"

Para pelayan rumah makan itu yang tengah ketakutan tidak berani berayal. Mereka segera menyajikan arak dan beberapa rupa makanan yang enak-enak buat keenam orang tamu istimewa ini.

Sedangkan tamu-tamu yang lainnya sejak siang-siang sudah angkat kaki.

Salah seorang dari keenam orang Ngo Tok Kauw tersebut perintahkan pelayan buat mengangkat dan menyingkirkan mayat pemi1ik rumah makan tersebut.

Setelah makan minum sepuas hati, keenam orang Ngo Tok Kauw itu melambaikan tangannya kepada seorang pelayan yang berusia tiga puluh tahun dan tampaknya memiliki tubuh yang tegap. Disertai sikap ketakutan, pelayan itu cepat cepat menghampiri, dimana dengan tubuh yang terbungkuk-bunguk dia telah berkata: "Ada perintah apakah Toaya (Tuan besar) Siauwjin akan segera melaksanakannya dengan segera...!"

Orang Ngo Tok Kauw tersebut tertawa dengan sikap yang angkuh, dia memperhatikan pelayan itu dari ujung rambut sampai keujung kaki.

Sikap orang Ngo Tok Kauw tersebut membuat pelayan rumah makan ini ketakutan setengah mati, karena dia kuatir kalau-kalau akan me ngalami nasib seperti yang dialami oleh majikannya, yang telah dibinasakan dengan keadaan yang mengenaskan sekali.

"Kau mau bekerja dengan baik?!" tanya orang Ngo Tok Kauw tersebut.

"Tentu tentu Toaya, Siauwjin akan bekerja sebaik mungkin guna melayani Toaya sekalian agar puas...!" menyahuti pelayan itu tambah ketakutan.

“Tentu, siapa namamu?!” tanya orang Ngo Tok Kauw lagi dengan suara yang bengis.

“Kawan-kawan Siauwjin memanggil dengan sebutan A-Kiu, sedangkan kedua orang tua Siauw jin menghadiahkan nama Bie Kiu!" menjelas kan pelayan tersebut tambah ketakutan.

“Hemmm, baiklah A Kiu, apakah kau ingin menjadi orang kaya?" tanya orang Ngo Tok Kauw itu lagi.

Untuk sejenak pelayan tersebut, A Kiu, memandang tertegun dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar.

“Ini… ini mana berani Siauwjin mengharapkannya, karena... karena Siauwjin memang tidak memiliki potongan untuk menjadi orang kaya!" “Kami bisa menciptakan engkau menjadi orang kaya! Sekarang jawab saja, kau mau atau tidak menjadi orang kaya?!" menegaskan orang Ngo Tok Kauw tersebut.

Dengan masih ragu-ragu dan tidak mengerti apa maksud pertanyaan dari orang Ngo Tok Kauw itu, pelayan itu akhirnya mengangguk.

“Baik!” Dengarlah baik-baik! Rumah makan ini akan kami serahkan kepadamu, dan juga seterusnya kau sebagai pemilik rumah makan ini! Akan tetapi dengan diserahkannya rumah makan ini menjadi milikmu, berikut kami harta kekayaan orang yang telah kami binasakan itu, kaupun harus bersedia menjadi anggota dari perkumpulan kami, yaitu Ngo Tok Kauw!"

Pelayan ini seperti mendengar petir ditepi telinganya, inilah tak pernah dimimpikannya. “Ini....ini   bagaimana mungkin?!" kata nya tergagap.

“Sekarang kau katakan saja, kau mau mentrimanya atau tidak menjadi pemilik rumah makan ini?!" tanya orang Ngo Tok Kauw itu pula.

Pelayan itu mengangguk beberapa kali de ngan cepat dan muka berseri-seri.

“Tentu mau, Toaya akan tetapi jika nanti ada pihak yang berwajib mengusutnya bagaimana?” tanya pelayan itu masih bimbang walaupun hatinya sangat gembira sekali.

Orang-orang Ngo Tok Kauw itu tertawa. “Kau tidak perlu kuatir, Ngo Tok Kauw bukan sebuah perkumpulan kecil yang bisa di remehkan! Jika ada orang yang berani mengganggu selembar rambutmu saja, orang itu kami binasakan Tetapi ini berlaku jika memang engkau telah resmi menjadi anggota Ngo Tok Kauw, dan dalam mengusahakan rumah makanmu ini, tentu saja kau harus memikirkan kepentingan perkumputan sendiri, jika memang kau memperoleh keuntungan yang besar, kau harus membantu perkumpulan lebih banyak lagi. Mengertikah kau?!"

Pelayan itu cepat-cepat manekuk kedua kaki-nya sambit mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mengucapkan terima kasih dan bersyukur yang tidak terhingga. Bahkan berjanji untuk setia kepada perkumpulanuya, yaitu Ngo Tok Kauw.

“Besok kau harus menghadap pada Kauwcu, guna melakukan sembahyang pengangkatan kau sebagai auggota perkutnpulan kami!" kata orang Ngo Tok Kauw itu. “Jika memang kelak ada orang-orang yang berani mengganggumu atau juga jika memang kau diperiksa oleh yang berwajib, katakan saja kami yang telah menyerahkan rumah makan ini kepadamu, dan seluruh persoatan telah ditangani oleh Ngo Tok Kauw! Kau mengerti?!”

“Mengerti... mengerti.” menyahut pelayan itu, A Kiu kegirangan bukan main.

Begitulah orang-orang Ngo Tok Kauw itu telah makan minum beberapa saat lagi, sampai akhirnya mereka telah berialu.

Sedangkan A Kiu sangat girang luar biasa, dimana dia telah menjadi pemilik rumah makan tersebut, dengan membusungkan dadanya dan sikap angkuh, semua pelayan rumah makan tersebut diperingatkan untuk membereskan sebagian perabotan meja dan kursi yang tadi pada jungkir balik.... sedangkan isteri Kim Yan diambil alih juga untuk menjadi isterinya, disamping semua harta kekayaan Kim Yan menjadi milik A Kiu... Semua pelayan pun diharuskan memanggil dia dengan sebutan Kiu Loya.

– oOo – DENGAN cara-cara seperti itulah Ngo Tok Kauw mengembangkan kekuasaannya, dan setiap toko yang tidak bersedia membayar „pajak' kepada perkumpulan tersebut, tentu pemiliknya akan dibinasakan, dan salah soorang pegawai toko itu diangkat menjadi perniliknya juga sebagai anggota Ngo Tok Kauw.

Dengan begitu pula, maka pelayan yang, diangkat menjadi pengganti pernilik toko itu memiliki kewajiban yang sudah tidak bisa di bantah-bantah pula, dimana setiap bulannya harus menyerahkan 'upeti wajtb' sebesar seribu tail perak, ataupun juga mungkin bisa juga malah lebih dari itu, tergantung dari basil toko yang diserahi kepadanya.

Sekarang, setelah lewat empat bulan, sebagian besar toko, rumah makan dan juga perusahaan lainnya, yang terdapat dikota itu, telah diambil alih menjadi milik Ngo Tok Kauw secara tidak langsung.

Dengan secara seperti itu, cepat pula Ngo Tok Kauw memperoleh kekuatan, uang mengalir terus semakin banyak. Terlebih lagi Ban Lang Han dengan anak buahnya pun telah merajalela dikota tersebut, dimana mereka telah meagganggu gadis-gadis cantik, istri-istri peududuk yang mereka lihat cukup cantik.

Tidak ada seorangpun yang berani mencari urusan dengan orang-orang Ngo Tok Kauw. Bah kan pembesar negeri dikota tersebut, yang se-mula berusaha mengambil tindakan keras menumpas Ngo Tok Kauw, akhirnya harus bertekuk lutut dan menyerah menjadi anggota Ngo Tok Kauw! Boleh dibilang dari segala sektor dikota tersebut telah dikuasai oleh Ngo Tok Kauw.

– oOo – DIPAGI hari yang sejuk dan hanya dihangati oleh cahaya matahari pagi yang belum lagi begitu tarik, dipersimpangan jalan diguung Laosan, tampak seorang penunggang kuda yang tengah menjalankan kuda tunggangannya itu perlahan-lahan. Bijunya yang berwarna merah dengan celananya yang terbuat dari kain warna kuning, lalu dengan rambutnya yang diikat dan dibentuk. seperti buntut kuda, menyebabkan penunggang kuda itu seorang gadis yang sangat cantik menarik sekali. Usia gadis terse but masih muda sekali, mungkin belum lebih dari dua puluh tahun.

Hanya saja yang membuat gadis itu tam-paknya lebih gagah, dimana dia membawa sebatang pedang yang digantung dipinggangnya. Setiap kali kuda itu bergerak melangkah, maka pedang itu bergoyang-goyang tak hentinya, dan juga rambutnya terhebus oleh desiran angin yang sangat lembut sekali.

Sambil melarikau terus kudanya, gadis muda usia ini sering memandang sekelilingnya, seperti juga tengah mencari sesuatu.

Siapakah gadis cantik manis itu?

Ternyata dia tidak lain dari nona Bin, yaitu Bin Giok Hoa, dan dia tiba dipegunungan itu dalam rangka usaha mencari pamannya, Bin Cu Hoa. Sejak berpisah dengan Wan Sin Cie, Bin Giok Hoa selalu berusaha mencari pamannya itu, karena justru dia itu mempunyai urusan yang sangat penting sekali, dimana terjadi adanya seorang yang telah menyamar sebagai Bin Cu Hoa.

Akan tetapi telah lewat setengah bulan sejak ia berpisah dengan Sin Cie, sejauh itu masih saja Giok Hoa belum berhasil dengan usahanya. la bagaikan mencari jarum didasar lautan. Pamannya tetap saja tidak berhasil ditemui jejaknya.

Banyak orang-orang Kangouw ternama yang menjadi sahabat dekat dari pamannya itu yang di hubungi Giok Hoa, akan tetapi merekapun tidak mengetahui dimana beradanya Bin Cu Hoa sekarang ini. Dengan begitu telah membuat Giok Hoa menemui kesulitan buat mencari terus jejak pamannya.

Terakhir, dari salah seorang tokoh Kang-ouw dia mendengar kabar mengenai Bin Cu Hoa. Berita itu sangat sedikit sekali, yang memberi tahukan bahwa Bin Cu Hoa tengah berada di Lao-san. Apa yang dilakukannya tidak diketa huinya.

Karena itu cepat-cepat Giok Hoa telah me lakukan perjalanan ke Lao-san. Akan tetapi setibanya di Lao-san, gadis tersebut tidak mengetahui, kemana dia harus mencari pamannya itu, karena Lao-san merupakan gunung yang cukup tinggi dan daerah pegunungan tersebut memang sangat luas.

Begitulah, tanpa tujuan akhirnya Giok Hoa telah membiarkan kudanya jalan terus mendaki gunung itu. Waktu itu hari masih pagi. dan Giok mempergunakan kesempatan itu untuk menikmati keindahan gunung tersebut.

Setelah mendaki sekian lama, akhirnya Giok Hoa tiba didekat persimpangan empat itu, di mana jalan yang berada disebelah kiri dan kanannya merupakan jalan yang sempit. Sedangkan jalan yang lurus didepannya, yang akan merupakan jalan mendaki itu, tetap lapang dan luas.

Setelah memandang sekian lama, akhirnya Giok Hoa memutuskan untuk memasuki jalan disebelah kirinya. Dia membelokkan kudanya dan menyusuri jalan tersebut.

Jalan itu memang sempit, akan tetapi sema kin lama jalan itu sernakin Iebar.

“Entah ini menuju kemana?!!" Gi-ok Hoa berpikir didalam hatinya, “Dan apakah di tempat sesunyi ini ada orang yang berdiam disini?!" Sambil berpikir begitu, Giok Hoa telah membiarkan kudanya berjalan terus. Akan tetapi disaat sigadis menyusuri jalan itu, yang semakin lama semakin meluas dan lebar, dia melihat disebelah depannya sesuatu yang aneh sekali.

Kurang lebih terpisah beberapa puluh tombak, tampak seorang manusia. Akan tetapi kelakuan orang itu aneh sekali, dimana dia bukan berdiri dengan kedua kakinya, melainkan berdiri jungkir balik dengan kedua tangannya yang menapak ditanah, dan kedua kakinya menjulang keatas.

Dengan kedua tangannya itulah orang tersebut telah melangkah setapak demi setapak.

Bin Giok Hoa menahan jalannya kuda tung gangannya, dia mementang sepasang matanya lebar-lebar, sampai akhirnya dia bisa melihat jelas.

Orang aneh yang berjalan dengan mempergunakan kedua tangannya dan tubuh yang jungkir balik itu, adalah seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun lebih. wajahnya masih tampak cantik. Walaupun telah ada kerut-kerut yang jelas di kulit mukanya. Dia melangkah dengan mempergunakan kedua tangannya itu tidak ada kesulitan, dimana dia tenang sekali seperti tidak mempergunakan tenaga.

Waktu Bin Giok Hoa tengah tertegun seperti itu, tiba-tiba wanita tersebut telah berhenti melangkah dengan kedua telapak tangannya, dia mengawasi Bin Giok Hoa kemudian wanita itu mengeluarkan seruan tertahan yang perlahan dan mempercepat langkah kedua tangannya.

Dalam waktu yang singkat sekali dia telah dihadapan Bin Giok Hoa. Dengan mata memancarkan sinar mengandung kecurigaan, dia mengawasi Bin Giok Hoa, kemudian tegurnya : “Hemm, kiranya ada tamu seorang nona cantik manis ...!" suara wanita itu merdu sekali, walaupun usianya telah agak tua.

Bin Giok Hoa seperri baru tersadar, cepat-cepat melompat turun dari kudanya Dia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, sedikitpun sigadis tidak berani memperli hatkan sikap kurang ajar, karena Giok Hon telah dapat menduganya bahwa wanita ini tentunya seorang tokoh aneh yang memiliki kepandaian tinggi.

“Maafkan kelancangan Siauwlie yang telah berani datang memasuki tempat ini!" kata Giok Hoa dengan halus. “Dapatkah Locianpwe memberitahukan pada Siauwlie, sesungguhnya tempat apakah ini?!"

Bola mata wanita aneh itu men cilak-cilak, dia telah mengawasi Bin Giok Hoa beberapa saat, sampai akhirnya tersenyum penuh arti. “Hemm, kau ingin megetabui tempat apa ini?!" tanyanya. “Baiklah, mari kau ikut denganku!" dan setelah berkata begitu, Wanita aneh tersebut memutar tuhullnya, dia melankah dengan kedua teapak tangannya.

Giok Hoa mengawasi dengan hati yang agak bingung dan bertanya-tanya, sampai akhirnya dia telah menuntun kudanya dan mengikuti wanita aneh tersebut. Walaupun berjalan dengan mempergunakan kedua telapak tangannya, akan tetapi wanita tersebut dapat berjalan dengan cepat sekali, tubuhnya ringan sekali dan dia seperti juga sama sekali tidak mempergunakan tenaganya pada kedua tangannya yang melangkah.

Giok Hoa mengikuti lebih cepat lagi karena dia kuatir tertinggal oleb wanita tersebut. Diam-diam iaapun tertarik ingin mengetahui sebenarnya tempat apakah ini dan juga siapakah wanita aneh itu. Setelah diajak menikung beberapa jalur jalan gunung yang semakin lebar, akhirnya didepan Giok Hoa terbentang pemandangan yang indah, lapangan rumput yang cukup luas dan juga banyak pohon yang bertumbuhan disitu.

Di tengah-tengah lapangan rumput itu tampak sebuah rumah yang mungil dan tidak begitu besar. Akan tetapi dinding rumah ito terbuat dari batu.

Yang aneh, disekeliling rumah itu tidak terdapat sesuatu apapun juga. Wanita aneh yang berjalan dengan mempergunakan kedua tangannya itu, telah berhenti sambil menoleh, katanya: “Jika memang engkau ingin mengetahui siapa adanya aku dan juga tempat apakah ini, kau pergilah masuk ke dalam rumah itu, nanti engkau akan segera mengetahui dengan jelas …!”

Sambil berkata begitu, wanita aneh itu telah menolehkepada Giok Hoa, matanya memandang dengan curiga kepada pedang si gadis yang tergantung dipinggangnya.

Giok Hoa ragu-ragu, dia balas memandang ke pada wanita aneh itu, diam-diam hatinya jadi bimbang, pikirannya bekerja keras. Dan diapun telah berkata dengan sikap yang bimbang : “Apakah apakah rumah itu milik Locian-pwe? Dan apakah didalam     rumah     itu      tidak      ada      orang      lain?!" Wanita aneh itu, yang masih tetap berdiri dengan mempergunakan kedua tangannya, telah mengangguk, katanya: “Benar memang rumah itu milikku akan tetapi bukankah tadi engkau menanyakan siapa diriku dan tempat ini tempat apa? Nah, jika memang demikian, silahkan kau melihat kedalam rumah itu, nanti engkaupun akan mengetahuinya dengan jelas, semua pertanyaanmu akan terjawab!"

Giok Holt ragu-ragu sejenak namun akhirnya gadis ini mengangguk. Semua yang ditemuinya ini serba aneh dan penuh rahasia, karena itu rasa iogin tahunya jadi semakin besar juga. Disaat itu, tampak wanita yang aneh dengan kedua tangan sebagai pengganti kedua kakinya buat berjalan telah berkata lagi: “Nah, pergiiah kau melihatuya kedalam rumah itu!"

“Balklah!" mengangguk Giok Hoa. “Maafkanlah kelancangan Siauwlie, harap Locianpwe memaafkan!"

Dan setelah berkata begitu, Giok Hoa mengikat kudanya disalah sebatang pohon didekatnya, kemudian menghampiri lapangan rumput itu, guna mendekati rumah tersebut yang terpencil terpisah dari keramaian.

Akan tetapi waktu tiba ditepi lapangan rumput tersebut, Giok Hoa jadi berdiri ragu-ragu, ka rena dilihatnya lapangan rumput itu agak luar biasa. Dia menoleh kepada wanite aneh yang saat itu juga tengah mengawasi Giok Hoa sambil tersenyum, tetap saja wanita aneh itu berdiri dengan mempergunakan kedua tangannya.

Tidak perlu ragu, kau pergilah memasuki rumah itu, segalanya akan menjadi jelas buatmu, menganjurkan wanita aneh tersebut.

Giok Hoa berdiri ragu-ragu sejenak. Dia memperhatikan keadaan disekttar lapangan rumput.

Benar tempat itu merupakan sebuah lapangan rumput, dimana rumah tersebut dibangun di tengah-tengah lapangau rumput tersebut. Akan tetapi yang aneh justru lapangan rumput itu seperti juga permukann rawa, memiliki tanah yang lunak, jika diinjak akan menyebahkan orang tersebut terjeblos kedalamnya. Setelah berditi diam sejenak, Giok Hoa membungkukkan tubuhnya, dia mengambil beberapa butir batu, kemudian salah satu dari batu tersebut dilemparkannya ketengah-tengah lapangan rumput itu.

“Blesssss batu tersebut telah ambas lenyap, rupanya tanah ditempat tersebut memang lunak sekali.

Hati Giok Hoa tereekat, Waktu gadis ini melirik kearah wanita aneh ini, wanita aneh tersebut tengah tertawa, bagaikan menertawai dirinya.

“Hamm, tampaknya wanita ini bermaksud menguji diriku! Tidak mungkin tidak ada jalan untuk menuju kerumah tersebut, pasti ada jalan yang bisa menghubungkan dari tepian lapang an ramput ini kerumah tersebut, karena walaupun bagaimana rumah itu tokh telah dapat dibangun di tengah-tengah lapangan ini berpikir Giok Hoa.

Dan kembali dia menimpuk beberapa kali dan batu-batu yang ditimpukkannya telah amblas masuk kedalam tanah yang berumpur tersebut. Akan tetapi ada satu batu yang tidak amblas, ketika ditimpukan oleh Giok Hoa, batu itu menganai bagian yang keras dari tanah itu. “Hemmm, seperti yang kuduga, tentu sebagian dari tanah ini ada yang keras dan bisa dilewatiakan tetapi dilihat demikian tentunya jalan yang akan menehubungkan kerumah tersebut memiliki pengaturan menurut Cit-seng cu-tin atau Pat-kwa-tin, jika memang benar apa yang kuduga ini. tentu harus dipecahkan dengan ilmu Patkwa-tin atau dengan pengaturan barisan tin lainnya! Hemm, aku akan mencobanya!"

Setelah berpikir begitu, Giok Hoa mengam bil batu yang lebih banyak, kemudian menimpukkan sebutir batu ketanah lapang yang tidak jauh dari tempatnya berada. Kebetulan batu itu mengenai bagian yang keras.

Giok Hoa menjejakkan kedua kakinya, dia melompat ketanah yang keras itu. Kemudian berdiam diri sejenak memperhatikan keadaan disekitar tempat tersebut, sampai akhirnya dia telah berpikir keras.

“Memang jalan yang menghubungkan rumah itu diatur dengan Pat-kwa-tin, aku harus berusaha mencari jalan yang tepat...!” setelah berpikir seperti itu, Giok Hoa menimpuk lagi. Dan tanah itu memang bagian tanah yang keras. Dan apa yang diduga oleh Giok Hoa memang tepat, tanah berumput itu diatur menurut pat-kwa-tin, sehingga setiap langkah kaki harus diperhitungkan, tidak bisa melangkah sernbarangan karena akan dapat menyebahkan dia celaka, jika salah menginjak bagian tanah yang lunak.

Sedangkan Giok Hoa telah menimpuk berapa kali, lagi, sebentar kearah kemudian kekanan, lalu dia menimpuk dalam jarak yaug dekat, atau kemudian dia menimpuk dengan jarak yang jauh. Dungan begitu, cepat sekali dia berhasil mendekati rumah yang berada ditengah-tengah lapangan rumput itu.

Sedangkan wanita aneh yang masih berdiri dengan mempergunakan kedua tangannya, berulang kali mengeluarkan seruan heran dan takjub.

Semula wanita aneh ini menduga Giok Hoa tentu tidak akan berhasil mendekati rumah itu. Akan tetapi dugaannya ternyata meleset jauh, dan ternyata Giok Hoa telah berhasil menemukan jalan yang tepat buat mendekati rumah tersebut. Sehingga wanita aneh ini menaruh perhatian yang lebih cermat lagi kepada Giok Hoa, yang diduga-duganya entah gadis ini siapa adanya dan murid dari tokoh persilatan mana.

Akan tetapi setelah Giok Hoa mendekati rumah ditengah- tengah lapangan rumput itu lebih dekat lagi, dengan setiap kali menimpukan batu kerikil sebelum melompat maju, wanita aneh itu telah tertawa dingin, sambil katanya dengan suara menggumam perlahan: "Hemmm, dirinya! Jangan-jangan dia utusan dari lawanku!"

Setelah menggumam begitu, tampak wanita aneh tersebut dengan gerakan yang sangat ringan sekali telah melompat-lompat dengan mempergunakan kedua telapak tangannya itu, tubuhnya melayang kesana kemari gesit luar biasa, dan setiap kali hinggap, dia tiba ditanah yang keras. Cepat pula dia bisa mendekati Giok Hoa.

Waktu itu Giok Hoa telah tiba didepan pinto rumah aneh itu, dia memperhatikannya beberapa saat, dan tengah mengulur tangan kanannya bunt mendorong terbuka pintu tersebut.

"Berhenti!” teriak wanita aneh itu tiba-tiba sekali. "Jangan kau buka pintu, jiwamu bisa melayang!"

Giok Hoa batal mendorong pintu tersebut, dia menoleh kepada wanita aneh itu. "Kenapa Locianpwe?!" tanyanya.

"Dibalik pintu itu terdapat berbagai senjata rahasia, yang diperlengkapi dengan segala peralatannya begitu kau mendorong pintu itu, segera juga bermacam-macam senjata rahasia akan menyambar kearahmu! Mundurlah kau!"

Giok Hoa tidak mau rewel, dia telah me lompat lagi kesebelah kanan, ketempat semula tadi dia melompat, bagian tanah yang kering dan keras.

Sedangkan wanita aneh itu menggerakkan kedua tangannya, tubuhnya cepat sekali melompat mendekati pintu rumah tersebut. Gerakannya sebat sekali.

"Kau lihatlah katanya sambil mengulurkan tangan kanannya, dia mendorong. Yang luar biasa justru telapak tangannya tidak menyentuh daun pintu, akan tetapi dari telapak tangannya itu telah menyambar angin terjangan yang kuat kearah daun pintu. Segera daun pintu menjeblak terbuka, dan seketika itu pula terlihat beberapa macam senjata rahasia melesat keluar dari dalam rumah itu.

Wanita aneh tersebut rupanya memang telah mengetahui apa yang akan terjadi begitu daun pintu terbuka. Waktu senjata- senjata ra-hasia tersebut menyambar kearahnya, cepat luar biasa wanita aneh itu mempergunakan tangannya yang satu buat mendorong tubuhnya, yang melesat cukup tinggi, dua tombak lebih, dan tubuhnya terapung ringan, lalu meluncur turun kembali kebagian tanah yang keras.

Dengan caranya seperti itu. wanita aneh ini telah berhasil menghindarkan diri dari terjangan senjata rahasia tersebut.

Kemudian wanita aneh itu kembali ketem patnyasemula, didepan pintu. "Nab," katanya sambil menoleh kepada Giok Hoa. "Sekarang bahaya telah lewat. Kau masuklah!"

Giok Hoa melihat cara wanita tersebut menghindarkan diri dari sambaran senjata-senjata rahasia itu, bertambah yakin bahwa wanita aneh ini seorang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Berani sekali, tanpa ragu-ragu lagi, Giok tioa telah melompat kebagian tanah yang keras, kemudian dia menerobos masuk kedalam rumah Ternyata rumah tersebut berukuran tidak terlalu besar. Waktu Giok Hoa melangkah masuk, dia melihat dirinya berada dalam taman yang terurus rapi sekali, banyak pohon bunga yang tumbuh disitu. Giok Hoa memperhatikan heran sekali keadaan rumah tersebut, diam-diam dia berpikir: "Siapakah yang berdiatn dirumah ini? Apakah wanita itu pemiliknya Sedang Giok Hoa berpikir seperti itu, tiba-tiba sekali terdengar suara seorang lelaki yang parau beagis: "Siapa yang berani lancang memasuki rumahku?!" Giok Hoa. tercekat hatinya.

Akan tetapi sigadis tersadar dengan cepat, karena dia telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kearah dalam rumah katanya dengan disertai sikap menyesal: "Maafkan Siauwlie berani lancang masuk kedalam rumah ini dapatkah Siauwlie bertemu dengan tuan rumah?!" suaranya sangat manis dan sabar sekali.

Tidak terdengar jawaban.

Giok Hoa memandang sekeliling rumah tersebut dengan hati yang bimbang.

Setelah sekian lama masih belum juga memperoleh jawaban dari orang yang berada didalam rumah itu. Giok Hoa telah melirik kepada wanita aneh yang masih berdiri diluar rumah dengan mempergunakan kedua tangan-nya, yang saat itu tengah menatap kepada Giok Hoa dengan mulut yang tersenyutn simpul.

Akan tetapi belum lagi Giok Hoa sempat bertanya apa-apa kepada wanita aneh tersebut telah terdengar lagi suara laki-laki didalam rumah tersebut: "Hemmm, rupanya seorang nona manis yang mengantarkan diri kemari.... bagus! Bagus! Memang aku sudah lama tidak melihat wanita cantik!"

Dan berbareng dengan perkataan orang di dalam rumah itu, terasa oleh Giok Hoa sambaran angin yang santer sekali. Disusul kemudian oleh suara laki-laki itu yang parau: "Masuk lah nona manis, pintu terbuka lebar buatmu!"

Dan memang, sambaran angin dari dalam rumah itu telah menyebahkan daun pintu ruang an tengah menjeblak terbuka lebar, seperti terbuka dengan sendirinya.

Giok Hoa yang sejak memasuki rumah ini dan mendengar suara laki-laki itu sudah bercuriga sekarang bertambah curiga. Didengar dari per-kataannya, tampaknya laki-laki itu tidak mengandung maksud baik buat dirinya.

"Masuklah nona manis, mengapa ragu-ragu?" terdengar lagi suara laki-saki didalam rumah tersebut.

Giok Hoa menoleh kepada wanita aneh diluar. ternyata wanita aneh itu masih berdiri dengan mempergunakan kedua tangannya. Diwaktu itu wanita aneh tersebut telah mendengus berulang kali, malah kemudian berseru: "Kiang Bun Cit, keluarlah untuk bicara denganku!"

"Ihhh!" terdengar seruail tertahan dan orang didalam rumah itu yang dipanggil dengan sebutan Kiang Bun Cit.

"Kau, Lolo San yang datang?!" tanya orang didalam rumah

itu.

"Benar kau tercejut bukan? tanya wanita itu, yang ternyata

bernama Lolo San.

"Hemm, jadi gadis didalam rumah ini adalah muridmu?!" tanya Kiang Bun Cit lagi, suaranya sernakin parau dan nadanya tidak sedap didengar.

"Tepat! Tepat!” berkata Lolo San sambil tertawa. "Jika memang gadis itu bersedia menjadi muridku, tentu akupun tidak keberatan buat menjadi gurunya!"

"Hemmm, apa maksudmu menjadikan gadis itu sebagai umpan?!" tegur Kiang Bun Cit didengar dari nada suaranya menunjukkan bahwa dia tidak senang.

"Aku tidak perlu memakai umpan, jika memang aku datang secara biasa, kau tentu akan menghindar dengan berbagai cara!" menyahuti Lolo San sambil tertawa dingin.

Bukankah sekarang kita dapat bertemu secara baik baik!" "Sebenarnya urusan diantara kita berdua telah habis, dan antara kau denganku sudah tidak ada urusan lagi, kau cepatlah angkat kaki sebelum aku marah!"

"Justru aku ingin melihat bagaimana rupamu dalam keadaan marah!" menyahuti Lolo San dengan suara mengejek.

Mendengar perkataan Lolo San seperti itu, tampaknya Kiang Bun Cit semakin sengit dan marah, dia telah mengeluarkan suara seruan perlahan mengandung kegusaran. Akan tetapi, dia tidak berkata lain-lainnya lagi.

Lolo San tertavva. "Kau tidak perlu marah seperti itu, kukira pertemuan kita ini merupakan pertemuan yang sangat mengembirakan sekali, bukan?!" tanya Lolo San mengejek.

"Hemm, baiklah! Katakanlah. apa mak-sudmu?!" tegur Kiang Bun Cit dari dalam.

"Banyak! Banyak urusan yang ingin kubi carakan denganmu!” menyahuti Lolo San. “Nah, sekarang kau tak usah malu-malu seperti perjaka yang ingin dikawinkan, keluarlah perlihatkan di rimu! Tidak perlu kau merasa rendah diri dengan cacad yang kau miliki, baik aku sendiri maupun gadis calon muridku itu tidak akan mentertawai cacatmu itu! Nah, keluarlah perlihatkan dirimu!”

Selama Lolo San tengah bicara dengan orang didalam rumah itu, Giok Hoa hanya mengawasi dengan mata mengandung perasaan heran karena diam-diam dia menduga, entah manusia macam apakah orang didalam rumah itu. Dan juga, wanita aneh yang bernama Lolo San itu entah pendekar wanita macam apakah yang berkeliaran ditempat sesunyi ini.

Disaat itu, Giok Hoa melihat Lolo San berulang kali memancing orang didalam rumah itu agar keluar memperlihatkan dirinya dengan, kata-kata yang mengejek. Akan tetapi rupanya orang didalam rumah itu sama sekali tidak melayani pancingan itu, karena sejaub itu belum juga dia muncul keluar.

Sedangkan Giok Hoa sendiri menyaksikan betapa Lolo San telah habis sabar. Dengan suara tawar waktu itu Lolo San telah berkata: "Jika memaug engkau tidak memiliki keberanian buat memperlihatkan dirimu karena kuatir nanti aku dan calon muridku itumenertawai cacadmu itu, baiklah! Biarlah aku bersama calon muridku itu yang lancang masuk kedalam buat bertemu dengan kau!"

“Hemm, beranikah kau menerobos masuk. kedalam? Sekali saja engkau melangkah keru angan tengah, jiwamu dan jiwa calon muridmu itu akan melayang!" terdengar suara laki-laki didalam rumah itu, nada suaranya mengandung kegusaran.

Lolo San tertawa gelak-gelak dengan suara mengejek, sahutnya. “Jelas aku berani masuk ke dalam menemuimu. Jika memang aku tidak memitiki keberanian, mengapa aku harus menca pai lelah datang berkunjung kemari?"

“Silahkan kau masuk jika memang kalian mencari mampus!,' kata orang didalam rumah “Hemm, tentu engkau dapat masuk tidak akan dapat keluar pula!"

Sedangkan Lolo San sendiri telah memperdengarkan suara tertawa dingin, dia menoleh kepada Giok Hoa, kemudian katanya

: “Nah, mari kau ikut bersamaku kedalam untuk menemui seorang yang agung dan sangat terhormat sehingga walaupun menerima kunjungan tamu tidak mau keluar menyambut!

Giok Hoa diam saja ragu-ragu, dia tidak mengerti sebenarnya urusan apakah yang tengah dihadapinya.

Sadangkan Lolo San telah melambaikan tangannya, katanya : “Cepat kau ikut aku masuk ke dalam, karena jika terlambat, kau tidak bisa masuk kedalam rumah ini buat menemui si saorang yang agung dan mulia sekali, kau tentu akan menyesal seumur hidupmu!"

Giok Hoa hanya ragu-ragu sejenak lagi, sampai akhirnya dia mengangguk. “Baiklah!” katanya sambil mengikuti wanita aneh itu, Lolo San melangkah masuk ke dalam rumah Lersebut.

Keadaan rumah itu luar biasa sekali, dalam dari rumah ini semuanya diatur dalam bentuk delapan persagi, dengan begitu memperlihatkan bahwa pemilik rumah ini memang bermaksud mengatur rumahnya tersebut dengan posisi Pat-kwa-tin.

Sedangkan Lolo San, tanpa ragu-ragu sejenak pun telah melangkah masuk, dibelakangnya mengikuti Giok Hoa yang tidak hentinya memandang sekelilingnya.

Diam-diam Giok Hoa juga menduga-duga entah siapa adanya Kiang Bun Cit dan Lolo San ini, tampaknya mereka memang memiliki hubungan, cuma saja hubungan mereka itu diaertai dengin api permusuhan.

“Entah apa yang ingin dilakukan oleh Lolo San ini? Dan juga, mengapa dia menyebut-nyebut bahwa aku adalah calon muridnya?!” Sambil berpikir seperti itu, Giok Hoa telah mengikuti Lolo San masuk kedalam ruangan tengah rumah tersebut.

Ternyata ruangan itu cukup luas. Ditengah ruangan itu terdapat seperangkat kursi dengan empat kursinya. Akan tetapi tidak terlihat seorang manusia juga. Giok Hoa menjadi heran. “Entah siapa orang yang menjadi pemilik rumah ini, dan dimana dia bersembunyi?!” berpikir Click Hoa.

Dia telah mengangkat kepalanya, memandang kesana kemari, disaat mana diapun berusaha untuk melihat keatas penglarian, karena dia menduga mungkin saji bahwa laki-laki dengan suara yang parau itu, bersernbunyi disana. Tetap saja Giok Hoa tidak berhasil menemukan orang yang dicarinya. Ruangan itu tetap kosong dan tidak terlihat seorang manusia pun selain dia bersama Lolo San.

Dalam keadaan seperti itu, Lolo San sendiri telah berkata dengan suara yang nyaring dan disertai dengan suaranya yang mengandung ejekan, “Hemm, orang she Kiang, rupanya engkau benar-benar merupakan manusia pengecut! Mengapa kau mengelakkan pertemuan kita? Keluarlah perlihatkan dirimu, janganlah seperti tikus menyembunyikan ekor belaka!”

Terdengar suara laki-laki itu mendengus marah, diiringi dengan bentakannya yang nyaring: “Sekarang kalian berdua telah berani memasuki ruangan ini, maka jangan harap kalian dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup dan masih bernapas...!”

Giok Hoa mendengar suara itu datangnya dari sebelah dalam dibalik dinding yang cukup tinggi.

“Orang itu berada dibalik dinding itu!” kata Giok Hoa perlahan kepada Lolo San.

“Ya!” mengangguk Lolo San.

Diwaktu itulah tampak Lolo San bukan hanya mengangguk menyahuti, dia pun telah melangkah mendekati dinding tebal itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia telah menggerakkan tangan kanannya, menghantam dinding tersebut.

“Dukkk!” keras sekali dinding itu terhajar oleh tinjunya. Dan dinding itu tergetar.

Terdengar suara tertawa Kiang Bun Cit, suara tertawa yang sangat tinggi dan memekakan anak telinga. “Jangan harap kau bisa menjebolkan, dinding ini bukan dinding biasa!" begitulah yang diucapkan oleh Kiang Bun Cit. “Hemmmmm, biarpun engkau memiliki Iweekang yang bagai mana tinggi sekalipun juga, tokh tetap saja kau tidak mungkin dapat memukul jebol dinding itu!”

Diwaktu itu tampak Lolo San telah menge luarkan seruan lagi, dengan masih berdiri di tangan kirinya, dia menghantam dengan tangan kanannya.

Pukulan yang dilakukannya sangat kuat sekali, karena diwaktu itu tangan kanannya telah disertai dengan kekuatan tenaga Iweekang yang luar biasa hebatnya.

“Bukkk!” kali ini dinding tersebut telah tergetar lebih hebat lagi bagaikan di tempat tersebut terjadi gempa bumi.

Giok Hoa diam-diam didalam hatinya memuji akan kehebatan tenaga Iweekang Lolo San.

Lolo San berulang kali memukul dengan kuat. Tenaga pukulan yang dilakukan itu benar-benar sangat dahsyat. Semakin lama semakin kuat juga tenaga pukulannya itu.

Sedangkan Kiang Bun Cit yang masih berdiam dibalik dinding tersebut tertawa bergelak.

“Sudah kukatakan, walaupun bagaimana tidak mungkin engkau berhasil memasuki rumah ku ini buat menemuiku... lihatlah, menghadapi selapis dinding saja engkau tidak sanggup untuk sesuatu apapun juga! Terlebih lagi jika memang aku memang telah keluar memperlihatkan diri, tentu engkau akan segera kubinasakan dengan mudah! Sekarang kau bersama calon muridmu itu telah lancang berani memasuki rumahku ini, maka dengan demikian aku tidak bisa memaafkan kelancanganmu, dan aku akan membinasakanmu serta muridmu itu. Jika memang nanti aku merasa berkasihan kepada calon muridmu itu, dan dia mau meminta pengampunan kepadaku, akan kupikirkan apakah aku akan menurunkan tangan kematian padanya atau tidak! Nah, sekarang bersiap-siaplah buat kau, siluman wanita Lolo San untuk menemui kematianmu!”

Barbareng dengan habisnya perkataan Kiang Bun. Cit, waktu itu dinding diruangan tersebut tergetar. Lolo San dan Giok Hoa terkejut. Apa yang mereka libat benar-benar mengejutkan, keempat dinding ruangan tersebut bargerak, perlahan sekali. Kemudian terjadi getaran yang keras. Dan lantai dibawah kaki mereka telah menjeblak.

Giok Hoa yang kepandaiannya tidak sesempuma Lolo San telah kejeblos kedalam, meluncur jatuh kebawah ruangan rahasia itu,

Akan tetapi Lolo San justru berdiri diatas kedua tangannya. Waktu itu dia merasakan lantai dimana sepasang tangannya berada menjeblak, cepat sekali dia menekan dengan kedua tangannya, tubuhnya seketika mencelat ketengah udra, sehingga dia tidak sampai kejeblos kedalam ruangan rahasia dibawah itu. Dan waktu tubuhnya meluncur turun, cepat Lolo San telah berjumpalitan ditengah udara, dimana dia berhasil memperlambat luncuran tubuhnya, dengan begitu dia berhasil hinggap dilantai waktu lantai rahasia tersebut telah terangkat dan tertutup kembali.

Terdengar suara tertawa bergelak-gelak dari Kiang Bun Cit, yang disusul dengan ejekannya. “Hemm, mana mungkin kau dapat menghadapiku? Lihatiah, jika memang aku bukannya masih berkasihan kepadamu, dengan mudah saja aku membuka kembali lantai itu dengan segera dan kau akan terjerumus masuk kedalamnya!”

“Manusia pengecut!” bentak Lolo San murka. “Keluarlah, marilah kita berurusan dengan cara yang berterang?!"

Terdengar Kiang Bun Cit tertawa terbahak-bahak kembali, diapun menyahuti: “Secara berterang? Apakah ini belum berterang? Aku menasehati kepadamu, janganlah coba-coba untuk mencari urusan denganku, karena jika sampai aku habis kesabaran, niscaya jiwamu sulit dilindungi lagi!”

Diantara kemurkannnya itu, Lolo San juga berwaspada dengan alat-alat perangkap yang di pasang Kiang Bun Cit. Diwaktu itulah dia me lompat kedepan menghantam kembali dinding: di hadapannya.

Dinding itu tergetar, kemudian dibarengi dengan ejekan Kiang Bun Cit : “Benar-benar kau keras kepala, rupanya kau mencari kematiam buat jiwamu yang tidak berharga siluman betina!” Dan sehabis perkataan itu, keempat lapis dinding diruangan tersebut tergetar dan tergeser pula, dan kemudian lantai dituana Lolo San berada telah menjeblak pula.

Akan tetapi Lolo San memang telah bersiap siaga, dia melampat keatas lagi.

Waktu tubuhnya meluncur turun dan Lolo San tengah berjumpalitan, hatinya mencelos. karena ketika dia melirik kearah bawahnya, lantai yang menjeblak itu belum terangkat naik. Rupanya Kiang Bun Cit memang sengaja menekan terus alat rahasia penggerak lantai itu. sehingga tidak kembali keasalnya semula.

Lolo San mengeluh, akan tetapi dia rupanya memang memiliki kepandaian yang cukup. tinggi, karenanya dia telah berseru dan cepat sekali tangan kanaanya diulurkan dia menghantam tepi dari liang tersebut.

Meminjam tenaga pukulannya itu tubuh Lolo San melambung lagi keatas. Dan mempergunakan kesempatan itu Lolo San telah mengempos napasnya dalam-dalam. dia berusaha untuk berdiri dan hinggap disebelah kanan dari liang rahasia tersebut. Kedua tangannya tepat sekali hinggap disana, dengan demikian dia tidak sampai perlu terjerumus kedalam liang rahasia itu.

"Hahaha!" terdengar suara tertawa bergelak dari Kiang Bun Cit. "Benar-benar licik kau! Nah, coba kau hadapi ini!”

Selesai Kiang Bun Cit berkata, lantai rahasia itu telah bergerak terangkat kembali dan menutup rapat, akan tetapi yang membuat Lolo San jadi tambah terkejut, justru langit-langit kamar itu bergerak turun perlahan-lahan!

Hati Lolo San tercekat! Kiranya langit-langit ruangan tersebutpun bukan langit-langit biasa, terbuat dari semacam baja dan merupakan langit-langit yang dipasangi alat rahasia.

Akan tetapi keadaan seperti itu yang berlangsung dengan tiba-tiba sekali, tentu saja membuat Lolo San tidak bisa memutuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukannya. Dia berpikir keras sedangkan langit-langit ruangan tersebut telah semakin turun mendekatinya.

"Hemm, sekali ini kau akan menjadi perkedel ditindih oleh langit-langit itu. Jangan harap kau bisa meloloskan diri lagi!" Kiang Bun Cit telah mengejeknya.

Lolo San dalam keadaan terdesak seperti itu telah menekan kedua tangannya, tubuhnya melompat kelantai yang tadi dapat menjeblak terbuka. Dengan sekuat tenaganya berulang kali Lolo San menghantam lantai itu. Maksudnya agar lantai tersebut terbuka lagi sehingga dia bisa melompat kedalamnya, menghindarkan diri dari tindihan langit-langit ruangan tersebut.

Akan tetapi lantai yang diperlengkapi dengan alat rahasia tersebut hanya tergetar saja, tidak terbuka juga wataupun Lolo San telah mcmusatkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Sedangkan langit-langit ruangan itu semakin dekat juga, semakin turun... semakin turun Lolo San mengeluh, dia berpikir keras sekali, berusaha untuk dapat menghadapi tindihan langit-langit rahasia ruangan tersebut.

Sedangkan langit-langit ruangan itu telah turun sampai terpisah hanya satu tombak lagi dari dirinya, dan Lolo San sudah tidak bisa berdiri dengan kedua tangannya, dimana dia telah duduk. malah waktu langit-langit itu turun lebih jauh, dia telah rebahkan dirinya, kemudian diangkatnya sepasang kaki dan tangannya, dia berusaha buat menahannya.

Langit-langit itu terus juga bergerak dengan kekuatan raksasa, sama sekali Lolo San tidak berhasil menahan meluncur turunnya langit-langit ruangan tersebut. Dalam keadaan seperti ini, seketika Lolo San memiliki serupa pikiran.

"Kiang Bun Cit, hentikan dulu alat perangkapmu ini, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!” teriaknya dengan sekuat suaranya.

"Hemmm, apa lagi yang ingin kau katakan kepadaku, disaat- saat menghadapi maut seperti ini barulah engkau mau bicara secara baik-baik denganku Hemm, kukira ini hanya akal bulusmu saja, lebih baik kubinasakan dulu kau!”

"Tunggu dulu, ada sesuatu yang sangat penting! Kau tahukah kedatanganku kemari sesungguhnya menyangkut dengan urusan apa disamping urusan kita berdua?!" teriak Lolo San lagi, sambil mati-matian berusaha mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya guna menahan meluncumya langit-langit ruangan tersebut.

"Apa lagi urusanmu itu jika bukan hanya, mencari kitab warisan dari Ngo Tok Kauw menjawab Kiang Bun Cit.

"Ya, benar! Justru baru-baru ini aku telah mengetahui dimana beradanya kitab itu!” menyahuti Lolo San, Langit-langit kamar itu telah turun semakin kebawah, hampir menindihi dadanya, Jika lewat beberapa saat lagi tentu tubuh Lolo San akan tertindih remuk.

"Apa? Kau telah mengetahui dimana beradanya kitab pusaka itu?!" tanya Kiang Bun Cit dengan suara setengah mempercayai dan setengah tidak.

"Benar!” menyahuti Lolo San tergesa-gesa. "Cepat kau kerek naik kembali langit-langit kamar ini, aku akan memberitahukan kepada mu dimana beradanya kitab pusaka itu!”

Terdengar suara bunyi yang berisik sekali langit-langit ruangan tersebut telah berhenti bergerak, dan tidak turun lebih jauh. Akan tetapi walaupun demikian, tetap saja Lolo San tidak bisa bangun dari rebahnya, karena langit-langit ruangan itu tidak terangkat.

"Katakan, dimana kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu berada?!" tanya Kiang Bun Cit.

"Cepat kau angkat dulu langit-langit ruangan ini, aku akan segera memberitahukannya! me nyahuti Lolo San.

"Tidak! Kau beritahukan dulu, baru nanti aku akan menaikkan kembali langit-langit berseru Kiang Bun Cit tidak sabar.

"Jika kau tidak mau mengangkat langit-langit kamar ini, aku tidak akan menyebutkannya!" menjawab Lolo San.

Akan tetapi Kiang Bun Cit tertawa mengejek, katanya: "Hemm. engkau ingin mempermainkan diriku? Disaat kau menghadapi kematian seperti ini, engkau ingin mengulur waktu? Baik, aku akan menghitung sampai sepuluh, jika kau masih belum mau mengatakan juga, akan segera kuturunkan langit- langit kamar itu menindih tubuhmu sampai gepeng menjadi rata dengan lantai!" Itulah ancaman yang tidak main-main dari Kiang BunCit, karena dia mulai menghitung.

Waktu Kiang Bun Cit menghitung sampai angka enam, justru Lolo San tengah berpikir keras buat mencari jalan keluar mempengaruhi Kiang Bun Cit.

"Tujuh! Delapan!" berseru Kiang Bun Cit. Akan tetapi Lolo San tetap berdiam diri saja. "Sembilan!" berseru Kiang Bun Cit lagi. Ketnudian: "Apakah kau tetap tidak mau menyebutkan dimana beradanya kitab pus tka Ngo Tok Kauw itu?!"

Lolo San tertawa mengejek. "Baik! Jika memang kau ingin membinasakan aku, turunkanlah terus langit-langit ruangan ini, dan engkaupun buat selamanya tidak akan mengetahui dimana disimpannya kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu!"

Nekad sekali tampaknya Lolo San, karena dia berpikir, Kiang Bun Cit tokh tidak mungkin akan membunuhnya setelah mendengar bahwa dia mengetahui tempat menyimpannya kitab pusaka Ngo Tok Kauw. Apa yang dipikirkan oleh Lolo San ternya to memang tidak meleset, karena Kiang Bun Cit tampaknya menjadi ragu-ragu.

"Sepuluh!" teriak Kiang Bun Cit. "Jika memang engkau tidak mau menyebutkannya juga, aku akan segera menurunkan langit- langit ruangan ini!"

Lolo San berdiam diri saja, akan tetapi tokh hatinya berdebat juga.

Akan tetapi langit-langit ruangan tersebut tidak turun juga, membuktikan bahwa Kiang Bun Cit ragu-ragu.

"Ayo sebutkan dimana tempat penyimpanan kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu?!" bentak Kiang Bun Cit setelah lewat sekian lama. Lolo San berdiam diri saja. Sekarang dia yakin Kiang Bun Cit tidak mungkin akan menurunkan langit-langit ruangan tersebut buat membunuhnya. Sedangkan pikiran Lolo San pun teringat kepada Bin Giok Hoa, gadis yang telah terjebak oleh lantai rahasia itu. Entah bagaimana keadaan gadis tersebut.

Kiang Bun Cit yang melihat Lolo San berdiam diri saja, jadi habis kesabarannya. Bentaknya: "Jika memang engkau tidak mau memberitahukan kepadaku, dimana beradanya kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu aku segera menurunkan langit-langit ruangan ini dan ta-matlah riwayatmu!”

“Silahkan! Ayo kau turunkan langit-langit ruangan ini!

Akupun tidak jeri buat mati!” berseru Lolo San berani sekali.

Kiang Bun Cit tertawa dingin. Terdengar suara bergeraknya langit-langit ruangan tersebut. Akan tetapi langit-langit ruangan itu bukannya turun kebawah, melainkan naik keatas, bergerak perlahan-lahan terangkat kembali.

Lolo San cepat-cepat melompat dan berdiri dengan kedua tangannya yang menjadi. pengganti kedua kakinya.

"Nah, sekarang aku telah mengampuni jiwamu, cepat kau sebutkan dimana beradanya kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu!” bentak Kiang Bun Cit.

"Bebaskan dulu aku dan gadis calon muridku itu! Nanti baru akan kuberitahukan kepadamu dimana beradanya kitab pusaka Ngo Tok Kauw yang kau kehendaki itu!”

Kiang Bun Cit tertawa gusar, tampaknya dia sengit sekali, suara tertawanya tergetar keras. "Jika aku membebaskan kau dan gadis dungu calon muridmu itu, mana mungkin kau bersedia memberitahukan sebenarnya tempat penyimpanan kitab pusaka Ngo Tok Kauw itu?!" katanya mengejek. "Aku tidak akan mendustaimu!” kata Lolo San dengan sikap bersungguh-sungguh.

Kiang Bun Cit ragu-ragu. "Ayo cepat kau buka pintu rahasia itu, dan marilah kita bicara secara berhadapan!” teriak Lolo San.

Terdengar Kiang Bun Cit tertawa dingin, katanya: "Baiklah akan tetapi jika nanti ternyata engkau hanya mendustai diriku, hemm, hemm, diwaktu itu tentu aku akan membinasakanmu dengan cara yang sangat hebat sekali!”

Setelah berkata begitu, terdengar suara ber gerak sesuatu peralatan besi, kemudian dinding disebelah kanan dari Lolo San telah terbuka perlahan-lahan.

Lolo San tidak membuang-buang waktu lagi telah mencelat keluar, dia masih tetap dengan sikapnya berdiri dengan kedua telapak tangan nya, yang dipergunakan sebagai pengganti kedua kakinya.

Waktu berada di luar, Lolo San berteriak lagi : “Mana colon muridku itu, bebaskan dulu dia baru aku akan memberitahukan dimana letak penyimpanan kitab pusaka Ngo Tok Kauw tersebut!”

Kiang Bun Cit rupanya memang sangat mengharapkan sekali kitab pusaka Ngo Tok Kauw, dia percaya tidak mungkin dapat mendesak Lolo San dengan kekerasan, karenanya diapun segera telah membuka pintu rahasia yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah.

Tidak lama kemudian tampak Bin Giok Hoa muncul dengan langkah gontai. Pakaiannya kotor sekali dia menaiki undakan tangga dan telah berada disamping Lolo San, yang cepat sekali menyambutnya dengan tersenyum. “Kau tentunya terkejut bukan? Jangan kuatir, nanti penasaranmu akan kubalaskan!”

Kiang Bun Cit ditempat persembunyiannya rupanya sudah tidak sabar lagi, dia membentak “Tadi kau mengatakan, setelah aku membebaskan gadis itu, kau akan memberitahukan dimana tempt penyimpanan kitab pusaka 'Ngo Tok Kauw itu! Cepat kau beritahukan?!"

Lolo San tertawa dingin. “Bukankah tadi telah kukatakan, kau membebaskan kami berdua, kemudian kau keluar dari tempat persembunyianmu buat kita bicara berhadapan muka? Ada lagi syaratku, kita melakukan pembicaraan bukan didalam rumah sial ini, yang penuh dengan alat-alat rahasianya! Aku menghendaki pembicaraan berlangsung diluar dari lapangan rumput ini!”

Mendengar perkataan Lolo San, bukan main gusarnya Kiang Bun Cit.

“Manusia hina, runanya kau tidak bisa di percayai lagi mulutmu! Aku akan membunuhmu!" teriaknya.

“Terserah kepadamu!” sahut Lolo San dengan suara yang dingin. “Jika memang engkau ingin memaksa dengan kekerasan, akupun akan manghadapinya tetapi jika memang engkau ingin secara secara baik-baik, itulah lain lagi.”

Kiang Bun Cit telah berdiam diri beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berkata lagi: “Baiklah, kau tunggulah sebentar, aku akan segera keluar!”

Dan terdengar suara bergeraknya dinging itu, dan tampak sebuah ruang rahasia.

Dari dalain ruangan rahasia itu telah muncul seorang yang keadaannya sangat luar biasa sekali. Bin Giok Hoa yang melihat orang yang baru muncul tersebut jadi mengeluarkan seruan tertahan bercampur ngeri.

Ternyata orang yang baru keluat. itu nda lah seorang laki-laki yang kedaannya sangat mengerikan sekali, dengan rambut yang hanya beberapa helai saja, boleh diblang kepalanya itu botak. Juga tubuhnya sudah tidak keruan macam bentuknya, sebab terlihat tangannya miring sabelah, bekas patah, dengan dada membusung dan pinggang memhungkuk, kaki yang tidak seimbang panjangnya, dimana kaki kirinya lebih pendek dari ukuran kaki kanannya.

Wajah. orang itupun sangat mengerikan sekali, penuh dengan daging lebih bertonjolan keluar, Matanya melotot, kedua biji matanya seperti longgar dan dapat keluar bergantungan.

Mututnya lebar dan sumbing. benar-benar sangat mangerikan sakali. Langkah kakinya perlahan sekali, dan waktu dia keluar, bola matanya itu memain memandang Bin Giok Hoa.

Itulah sebabnya mengapa Bin Giok Hoa sampai mengeluarkan suara jeritan tertahan karena merasa kaget dan ngeri melihat keadaan Kiang Bun Cit.

Sedangkan Lolo San telah tertawa terbahak-bahak “Akhirnya kau keluar juga memperlihatkan dirimu! Hahaha, sebuah pemandangan yang bagus sekali! Sungguh pemandangan yang sangat menarik sekali!” Dan setelah mengejek seperti itu, Lolo San mengibaskan lengan bajunya, dia tetap berdiri dengan tangan kirinya, tangan kanannya yang dikibaskan menunjuk, sambil katanya: “Kau manusia busuk yang paling jahat dipermukaan bumi ini! Hemm, setelah kau memperlihatkan dirimu, itulah memang hal yang sangat kuharapkan sekali. Dan jika memang engkau ingin mengetahui dimana beradlaya tempat penyimpanan kitab pusaka Tok Kauw tersebut, kau harus membinasakan diriku, karena disinilah aku menyimpan rahasia tempat penyimpanan kitab pusaka Ngo Tok Kauw!” sambil berkata begitu, Lolo San telah tertawa gelak-gelak sambil nunjuk kepada dadanya, seakan juga ingin mengatakan bahwa rahasia tempat penyimpanan kitab pusaka Ngo Tok Kauw disimpannya didalam hatinya.

Sedangkan Kiang Bun Cit yang mendengar perkataan terakhir dari Lolo San, sangat gusar. “Perempuan hina dina! Ternyata kau telah menipu diriku!" sambil berseru marah. Kiang Bun Cit bersiap-siap hendak menyerang.

Lolo San tetap membawa sikap yang tenang sama sekali dia tidak jeri berhadapan dengan Kiang Bun Cit. Memang Lolo San tidak jeri buat bertempur dengan Kiang Bun Cit, justru yang dikuatirkannya adalah kelicikannya orang she Kiang tersebut, yang telah memasang berbagai perangkap didalam 'rumahnya' yang istimewa itu, sehingga tadi saja ia terperangkap.

Kiang Bun Cit rupanya sudah tidak bisa menahan kemurkann hatinya. Sedangkan Bin Giok Hoa, yang juga waktu itu tertegun memandang dengan hati tergoncang atas keseraman muka orang she Kiang tersebut, jadi bergidik lagi waktu Kiang Bun Cin melirik kepadanya dengan sorot mata yang bengis.

“Hemm, kalian berdua memang harus dibinasakan! Biarlah, walaupun aku tidak akan memperoleh kitab pusaka Ngo Tok Kauw, hatiku puas jika memang dapat membinasakan kalian'!” Dan berbareng dengan selesai perkataannya tersebut, tampak tubuh Kiang Bun Cit telah melayang ketengah udara, tubulanya begitu ringan, dan juga dia telah menyerang dengan mempergunakan cara yang aneh sekali, dimana sepasang tangannya dilakukan lurus ke depan, dia menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan.

Lolo San tertawa dingin, sama gesitnya dia menghindarkan diri dari serangan. Tidak lupa ia juga telah memperingatkan pada Bin Giok Hoa, agar gadis tersebut menyingkirkan diri jauh-jauh, karena Lolo San tampaknya kuatir kalau-kalau Kiang Bun Cit yang telengas dan berhati kejam akan turunkan tangan kepada pada gadis itu.

Bin Giok Hoa pun tidak berani berayal, ia telah menyingkir kasamping dengan segera. karena gadis itu memang merasa ngeri, menyaksikan muka Kiang Bun Cit yang menyeramkan, disamping itu juga sikapnya yang bengis dan tampaknya memiliki hati yang sangat kejam.

Kiang Bun Cit melihat Lolo San dapat meaghindarkan diri dari serangannya, jadi berseru tambah murka, dan dia juga tidak tinggal diam saja setelah gagal dengan serangannya yang pertama itu, karena dia telah mulai memenyerang lagi.

Dua kali Lolo San menghindarkan diri dan dua kali dia berusaha untuk balas menyerang.

Hanya saja disebahkan Kiang Bun Cit menyerang sangat gencar, kesempatan bagi Lolo San membalas menyerang jadi tidak ada sama sekali. Dengan begitu, Lolo San selama dua jurus itu hanya menghindarkan diri saja.

Bin Giok Hoa yang melihat Lolo San dise rang bertubi-tubi oleh Kiang Bun Cit, jadi berkuatir Dia menyadarinya, jika saja Lolo San gagal mengadapi Kiang Bun Cit dan terserang oleh lawannya tersebut, niscaya dirinya pun tidak bisa menghindar diri jauh-jauh dari rangkulan elmaut, dimana tentu dia akan diserang dan dibinasakan oleh Kiang Bun Cit. Mengingat akan kepandaiannya yang tidak berada di sebelah atas kepandaian Kiang Bun Cit dan Lolo San, tentu saja Bin Giok Hoa dengan mudah dapat dibinasakan oleh Kiang Bun Cit.

Waktu itu Lolo San yang telah berhasil mengelakkan diri empat jurus banyaknya, sekarang tidak bisa berkelit terus begitu saja. Karenanya, waktu Kiang Bun Cit menyerang dirinya lagi, tampak tubuh Lolo San telah bergerak lincah sekali. Dia seperti juga ingin memutari tubuh Kiang Bun Cit dan sepasang tangannya menotok beberapa jalan darah terpenting di tubuh Kiang Bun Cit.

“Hemm!” mendengus Kiang Bun Cit. Tampak ia tidak berkelit dari totokan tangan Lolo San. Hanya wktu serangan hampir tiba, cepat sekali dia menangkis dengan kuat.

– ooOoo –