-->

Kemelut Lembah Ular Jilid 02

Jilid 02

DAPAT membuat kedua biji mata kawannya terkorek tanpa sang kawan itu berdaya untuk melindungi kedua biji matanya tersebut . Tetapi dua orang diantara mereka, yang berada paling dekat dengan Ho Ang Yo dan memegang masing-masing sebatang pedang, telah mengeluarkan bentakan, tampak pedang mereka telah meluncur menabas kepada Ho Ang Yo.

Ho Ang Yo sama sekali tidak berusaha berkelit, dia berdiri diam ditempatnya dengan si kap menanti. Waktu kedua batang pedang itu menyambar lebih dekat, hanya terpisah beherapa dim saja, segera Ho Ang Yo mengibaskan tangan kanannya, dengan mempergunakan jari.

Kedua orang penyerang itu jadi mengeluar kan suara seruan tertahan karena kaget, mereka merasakan telapak tangannya itu kesemutan, lalu mereka melompat mundur sambil mengurut-urut tangan kanan masing-masing.

Beberapa orang kawannya yang melihat keadaan seperti itu, menyerang dengan serentak. namun sekarang mereka berlaku hati-hati mereka telah melihat bahwa nenek tua ini memang seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Karena itu mereka menyerang dengan penuh perhitungan.

Tetapi ketika beberapa batang pedang itu berkelebat menyambar kearah Ho Ang Yo, tahu-tahu si nenek telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya bagaikan terbang, telah berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari para penyerangnya tersebut dengan demikian, segera juga mereka kehilang-an sasaran, hampir saja mereka saling hantam diantara mereka seadiri.

Kiranya Ho Ang Yo telah melompat keluar dari kepungan mereka, berada dibelakang salah seorang lawannya. Maka tangan kanannya telah diulurkan. dia menepuk punggung lawannya yang seorang, tepukan itu dabsyat sekali, sebab disertai dengan tenaga Iweekang yang kuat, tubuh orang itu terjerunuk kedepan, kemudian jatuh tejerembab dengan mengeluarkan je titan, diapun memuntahkan darah segar.

Sedangkan Ho Ang Yo tidak bertindak hanya sampai disitu saja cepat luar biasa tangannya itu telah bergerak untuk menjambak baju dipunggung lawannya yang seorang lagi, waktu itu ia mengempos semangatnya, dia telah memutar tubuh orang itu, sehingga seperti titiran berbareng dengan itu, dia telah menyampok tiga orang lawan lainnya dengan mempergunakan orang tawanannya itu, dia berhasil untuk membuat lawan- lawannya itu jadi terguling terpelanting sambil masing-masing mengeluarkan suara jerit kesakitan

Sedangkan Ho Ang Yo masih tidak melepas kan orang tawanannya itu. karena dia masih menyerarig kepada beberapa orang lawannya. Dengan den-Hi:Ian, lima atau enam orang lawan nya telah kern digernpur dengan memperguna-Lan when kawan mereka sendiri, mereka terguling.

Sisanya yang lain telah mengeluarkan bentakan marah, mereka meluruk akan menyerang dengan senjata tajam masing- masing. Namun yang membuat mereka tidak leluasa bergerak dalam penyerangan mereka tersehut, justru saat salah seorang kawan mereka berada ditangan si nenek yang dipergunakan sebagai senjata. Maka, telah membuat mereka sering membatalkan serangan mereka, sebab jika tidak, pasti senjata mereka akan menikam kepada kawan mereka tersebut, yang berarti mereka membuntrh kawan sendiri .

Ho Ang Yo melihat lawan-lawannya menyerbu dengan senjata tajam mereka masing-masing, dia memutar tawanannya lebih cepat lagi sehingga tubuh orang itu diputar-putar dengan cepat sekali, dan disaat itu lawan-lawannya pun tidak berani terlalu mendesak padanya karena di tangannya terdapat seorang kawan mereka yang dihpergunakan sebagai perisai.

Dengan demikian, Ho Ang Yo juga bisa bergerak dengan leluasa, dia terus memutar lawannya itu, diapun bukan memutar tawanan nya itu bukan sembarangan, sebab dia telah me mutar sambil mengerahkan tenaga Iweekangnya dimana setiap sampokannya itu mengandung ke kuatan tenaga Iwekang yang dahsyat, dan jika saja tawanannya yang diputar itu menghantam salah seorang lawannya, maka lawannya itu pasti kena disampoknya sampai terpental, dan sambil mengeluarkan suara jeritan yang keras tentu akan terguling-guling. Ho Ang Yo tak bertindak sampai disitu sa walapun dia hanya memiliki tangan tunggal, yaitu tangan kanan, toh kedua kakinyn masih bisa di pergunakan menendang secara bergantian, membnat lawan-lawannya itu sering berjungkir balik dilantai.

Diam-diam Ho Ang Yo juga berpikir dalam hati, “Hmm … jika memang bertempur terus menerus seperti ini, tentu akan membuatku lelah, mereka ini merupakan manusia-manusia yang keras kepala, tentu aku tidak bisa bertempur terus dengan cara ini. aku harus merubuhkan dulu beberapa orang diantara mereka!”

Setelah berpikir begitu, Ho Ang Yo merubah cara bertempurnya itu, dimana dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, dan memusatkan kekuatan ditelapak tangannya. lalu dia mengeluarkan suara seruan sambil melambung ke udara. Mempergunakan kesempatan itu. telapak tangan Ho Ang Yo bergerak cepat menghantam kearah dada dari salah seorang lawannya, sehinga seketika itu juga terdengar suara jerit kesakitan, tampak se sosok tubuh telah terpental dan terpelanting di alas lantai dengan mengeluarkan darah yang banyak sekali dari mulutnya, mukanya telah hitarn, dan waktu itu nyasnya telah putus, arwahnya telah terbang ke neraka.

Semua orang yang mengepung Ho Ang Yo jadi berdiri tertegun, mereka memandang de-ngan mata yang terpentang lebar-lebar, kernatian ka wan mereka benar-benar merupakan kernItian yang begitu mengerikan, Dengan demikian, telah menyebahkan Ho Ang Yo mempergunakan kesempatan itu, dia mengeluarkan bentakan, tangan tunggalnya itu bergerak tagi. dia telahmenghantam dengan menggunakan Iweekang, maka ter dengarlah suara jeritan dari dua orang lawannya, tubuh mereka terpental dan memuntahkau darah segar, seketika itu juga mereka telah putus napas . . Kawan-kawannya yang lainnya ketika menyaksi kan hal itu tambah terkejut, mereka pun ma rah bukan main. Segera beberapa orang diantara mereka telah betseru : “Kepung yang rapat, binasakan nenek keparat ini, cincang tubuhnyil". berbag1 macam senjata telah bereltbat, ditzts. na merekatelah menyerang untuk berusaha item hinasakan Ho Ang Yo.

Tidak percuma Ho Ang Yo memiliki kepandaian yang tinggi, dia menggerakkan tangan kanan dan kedua kakainya bergantian. Malah tangan kanannya itu berulang-kali bergerak melontarkan jarum rahasia beracun. Maka jika salah seorang lawannya terkena timpukan tersebut, segera dia menierit dengan suara yang mengerikan, tubuhnya terjengkang di lantai, mukanya sekeetika menjadi hitam, nafasnya putus dan arwahnya telah melayang ke akherat.

Menyaksikan kehebatan si nenek tua ini yang jarum berbisanya sangat berbahaya sekali, segera sisa dari orang-orang itu berseru "Angin keras!" dan marekapun telah memutar tubuhnya segera meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Ho Ang Yo tidak mengjar mereka, hanya dengan sengit dia mengayuasan kaki kanannya menendang sesosok tubuh dari lawannya yang telah putus napas itu. Sosok tubuh itu terpental dan ambruk dilantai, kemudian Ho Ang Yo telah berkata kenada peayan, "Urus mayat me reka ...!”

Pelayan mengiyakan dan Ho Ang Yo telah melangkah dengan sikap yang tenang, kernbali kekamarnya, untuk rebah dan melanjutkan tidumya, cikapnya itu seperti, juga tidak pernah terjadi suatu apapun juga.

Sejak terjadinya peristiwa itu, maka semua orang dikota itu mengetahui bahwa si nenek yang mukanya menyeramkan itu adalah seorang kangouw yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Diwaktu itu para pelayan rumah penginapan pun melayani sinenek tua she Ho itu dengan sikap yang menghormat sekali. Malah salah seorang dari pelayan itu telah memberikn peringatan pada si nenek, agar dia berhati-hati, karena orang-orang yang tadi mengepungnya itu adalah murid-murid pintu perguruan silat yang terdapat dikota tersebut, yang dipimpin oleh Ban Lang Han, seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan memang menjagoi dikota tersebut, murid-muridnya itupun sering menimbulkan keonaran dan kerusuhan, dengan memeras pemilik toko dikota tersebut. Dengan demikiat, nyebahkan penduduk kota tersebut sering merasa tertindas oleh perbuatan murid-murid Ban Lang Han itu.

Tetapi disebabkan murid-murid Ban Lang Han selalu main keroyok, disamping itu Ban Lang Han pun mengumbar murid- muridnya itu untuk me lakukan segala kejahatan, maka dia seperti juga tidak arnbil perduli dan tidak pernah menghukum muridnya yang menimbulkan keonaran itu dan malah melindunginya. Setiap orang yang benterok dengan murid-muridnya, tentu Ban Lang Han tidak segan-segan untuk turun tangan senditi.

Karena guru mereka seperti juga melindungi perbuatan mereka, murid-murid Ban Lang Han kian hari kian menjadi-jadi dengan perbuatan serta sepak terjang mereka. Barulah hari ini, di mana mereka justru ketemu batunya. dan mere ka telah dihajar babak belur oleh si nenek Ho itu, yang kehetulan pula tokoh Ngo Tok Kauw yang biasanya bertindak aseran dan bertangan telengas.

Tetapi menerima nasehat dan peringatan pelayan itu agar dapat sinenek cepat-cepat berlalu dari kota tersebut, justru Ho Ang Yo tertawa tawar, “Aku ingin melihat siapakah sebe narnya Ban Larg Han ..... biarlah dia datang justru aku ingin bertemu dengannya!" Setelah berkata hegitu, Ho Ang Bo telah kibaskan tangan kanannya, dia perintahkan pelayan itu berlatu dan kamarnya. Sipelayan juga tidak berani berayal, dia cepat-cepat berlalu.

Benar saja apa yang dikuatirkan oleh si pelayan itu, katena keesokan harinya, penginapan itu telah datang tiga orang. Yang jalan didepan seorang lelaki bertubuh tegap, usianya sekitar lima puluh tahun lebih, dipinggangnya tergantung senatang golok tanpa sarung yang berkilauan. Dipakaiannya itu tampak beberapa bunga salju, dengan sikap yang angkuh dia telah menyenti1- nyentil bunga salju itu, dan perintahkan pelayan untuk memanggil Ho Ang Yo, katanya dengan suara tawar. "Cepat panggil nenek buruk rupa itu keluar dari kamarnya, jangan dia mengurung diri seperti seekor kura-kura saja …..!”

Pelayan itu mengenali siapa orang itu, yang tak lain dari Ban Lang Han. Dengan sikap yang menghorrnat sekali dan mengiyakan berulang kali, dia cepat-cepat pergi ke kamar Ho Ang Yo untuk memberitahukan prihal kedatangan Ban Lang Han.

Kedua orang yang mengawal kedatangan Ban Lang Han ke rumah penginapan itu adalah dua orang murid kepala dari Ban Lang Han. Kepandaian merekapun tidak rendah. Sikap mereka sama angkuhnya seperti guru mereka. Semuanya mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan mahal.

Pelayan itu telah mengetuk pintu dengan gemetar. Waktu Ho Ang Yo membuka pintu kamarnya tersebut, dia memberitahukan kedatangan Ban Lang Han tersebut dengan suara bergetar dan muka pucat pias.

“Celaka Ho popo ….. celaka, dia telah datang!” katanya tergagap. “Ban … Ban Lang Han, guru dari orang-orang yang pernah dilabrak oleh Ho popo …!” menjelaskan pelayan itu. “Jika

… jika Ho Popo melarikan diri, tentu kami yang akan dihajar oleh mereka …!” Ho Ang Yo tertawa dingin, mukanya yang buruk itu memperlihatkan senyuman mengejek. “Hemm" dia mendengus. “Kau kuatir aku melarikan diri? Pergilah kau, nanti kau saksikan bagaimana aku menghajar orang she Ban itu.."

Pelayan itu memandang, ragu-ragu pada Ho Ang Yo. Dia melihar seorang nenek tua dengan tangan tunaggal dan tampak begitu lemah tak bertenaga: Jika memang dia tak menyaksikan sendiri ketika Ho Ang Yo melabrak murid-muridnya Ban Lang Han, tentu dia akan menduga Ho Ang Yo bakal menemui kematian di tangan Ban Lang Han.

Ho Ang Yo tanpa mempedulikan pelayan yang memandangnya dengan mata penuh keraguan, waktu itu dia telah melangkah ke depan.

Ketika ia sampai di ruang depan rumah penginapan tersebut dilihatnya Ban Lang Han tengah duduk dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja, sikapnya angkuh sekali, dia hanya melirik sedikit waktu Ho Ang Yo melangkah keluar. sedangkan kedua orang murid Ban Lang Han telah mendeliki matanya mengawasi sinenek, yang telah dapat diduga bahwu nenek tua inilah yarpg telah menggajar babak belur saudara-saudara seperguruan mereka, bahkan diantara mereka ada yang terbinasa. Ban Lang Han sendiri telah menduganya bahwa nenek bermuka rusak inilah orang yang dicarinya, tapi dia berdiam diri saja dengan sikapnya itu. duduk ditempataya dengan lagak ankuh.

Ho Ang Yo melihat ketiga orang itu berdiam diri saja, segera membentak. “Siapa yang mencariku?!”

“Aku!” menyabuti Ban Lang Han dengan suara tawar tanpa menoleh.

“Hmm, ada urusan apa mencariku?" tanya Ho Ang Yo dengan tawar. “Untuk mengambil jiwa tuamu ...!” menyahuti Ban Lang Han dengan suara dingin.

Ho Ang Yo tertawa tergelak-gelak Lengan sna-rl' yang nyaring. “Kau ingin membunuhku!?" tanyanya mengejak. “Bolen, mari maju, aku ingin melihat berapa tinggi kepandaianmu kau berani mengatakan ingin mengambil jiwaku.” Setelah berkata begitu tampak Ho ang Yo berdiri dengan sikap menantang.

Kedua murid Ban Lang Han rupanya sudah tak bisa menahan sabar lagi. Mereka melompat berdiri kemudian akatanya, “Suhu, biarkan kami yang membekuk nenek buruk rupa ini, nanti suhu yang menjatuhkan hukuman untuknya …!”

Ban Lang Han mengangguk sedikit sambil mengibaskan tangannya. Kedua murid Ban Lang Han yang memperoleh ijin dari suhunya, segera menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat sekali dimana mereka telah mengepung si nenek tua she Ho itu dengan sikap mengancam.

Ho ang Yo mengawasi mereka dengan sorot mata yang bengis, kemudian katanya, “Mengapa berdiam diri saja? Ayo seranglah …!”

Diwaktu itu kedua murid Ban Lang Han rupanya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dengan mengeluarkan suara bentakan, tangan mereka telah meluncur ke bagian yang mematikan di tubuh Ho Ang Yo, dimana mereka menyerang dari depan dan belakang. Ho Ang Yo yang waktu itu tetap berdiri ditempatnya dengan tenang dan hanya wajahnya saja yang memperlihatkan sikap yang bengis, telah tertawa dingin. Kemudian dia membentak perlahan, tangan kanannya yang tunggal itu menyarnpok dengan gerakan memutan sehinga sekaligus dia bisa menangkis serangan kedua tangan dari kedua lawannya dan membuat mereka terpental kesamping.

Rupanya benturan yang terjadi pada waktu itu sangat kuat, rebah Ho Ang Yo telah menangkisnya dengan mempergunakan Iweekangnya, segera kedua orang lawannya tangannya kesemutan.

Tetapi mereka merupakan murid-murid kepala dari Ban Lang Han. Kepandaian mereka juga tidak rendah, cepat mereka menyerang lagi. Serangan mereka itu datang dengan gencar dan beruntun. karena mereka menyerang bertubi-tubi dimana kedua tangan mereka telah memukul dan mencengkeram.

Ho Ang Yo memperdengarkan suara dengusan, diapun bergerak gesit. Kali ini Ho Ang Yo tidak berusaha menangkis, melainkan dia mempergunakan tangan kanannya untuk mencengkeram pergelangan tangan seorang lawannya yang berada di depan, kemudian setelah mencekal dia menarik dengan kuat sehingga tubuh lawannya itu terhuyung maju, menubruk ke arah lawannya ketika Ho Ang Yo memiringkan tubuhnya.

Ho Arg Yo pun tidak bertindak hanya sampai disitu saja, cepat luar biasa dia telah bekerja terus dimana kaki kanannya menendang pinggul lawanan yang seorang itu, sehingga orang itu terpental melayang tiga tombak lebih.

Tetapi ketika Ho Ang Yo ingin menendang lawannya yang seorang lagi, waktu itulah tampak Ban Lang Han tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan bentakann nyaring, tubuhnya melesat dari tempat duduknya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja dia melihat kedua muridnya itu memang bukan tandingan Ho Ang Yo. Dan yang mengejutkan Ban Lang Han justeru kepandaian sinenek tarnpaknya tinggi sekali, dia bukan orang sembarangan.

Ban Lang Han biasa mengumbar keganasannya di kota tersebut, karena itu tidak pernah dia merasa jerih kepada siapapun juga. Sekarang dia menyaksikan kedua muridnya dihajar sedemikian rupa oleh Ho ang Yo, malah terjadinya di depan matanya, maka dia mengeluarkan suara bentakan nyaring. Tubuhnya meluncur ke arah si nenek, sambil tangannya diulurkan untuk menotok pundak si nenek.

Ho Ang Yo merasakan sambaran angin tersebut. Tanpa menoleh dia berkelit dan waktu tubuhnya miring kakinya menendang dengan tendangan berantai untuk mendesak Ban Lang Han.

Ban Lang Han memang harus berkelit beberapa kali. Diapun tidak bisa mendesak si nenek bermuka buruk ini beberapa saat. Setelah Ho Ang Yo melompat menjauhkan diri dari kedua muridnya, barulah Ban Lang Han melompat mengejar sambil menggerakkan tangannya bergantian, dia menyerang bukan dengan kepalan atau telapak tangan, hanya menggunakan jari telunjuknya, yaitu dia ingin menotok beberapa jalan darah yang mematikan di tubuh Ho Ang Yo.

Diam-diam Ho Ang Yo jugi berpikir: Tampak nya orang she Ban ini pandai ilmu menotok.!" Tetapi Ho Ang Yo tak jeri, dia telah berseru nyaring dengan tangan tunggalnya dia telah mengibas-ngibaskan lengan bajunya itu menimbulkau angin yang berkesiuran kuat sekali. Ban Lang Han harus melompat mundur dua langkah kebelakang, sebab dia merasakan desakan tenaga yang sangat hebat.

Dikala itu Ho Ang Yo tak bertindak sampai disitu saja, tububnya berkelebat juga seperti bayangan tahu-tahu telah disamping Ban Lang Han, dan cepat luar biasa tangan kanannya di ulurkan. dia ingin menotok jalan darah kie-hiat' di tubuh lawannya tersebut.

Ban Lang Han terkejut, hatinya tereekat, diapun berpikir: “Akh. kiranya diapun ahli Tiam-hiat (ilmu menotok)!” Dan cepat-cepat Ban Lang Han mengelakkan diri, bersamaan dengan itu, tampak dia menggerakkan tangan kirinya untuk menotok lengan kanan si nenek yang tunggal ini.

Gerakan yang dilakukan oleh Ban Lang Han sebenarnya sangat cepat sekali, dia bertindak sebat, tetapi rupanya sinenek she Ho itu jauh lebib gesit.

Belum lagi telunjuk jari Ban Lang Han berhasil mengenai tubunya diwaktu itu tampak si nenek tua she Ho tersebut telah melompat ke sebelah kanannya, malah si nenek telah mempergunakan tangan tunggalnya untuk mencengkeram pundaknya. Gerakan sinenek selain cepat, juga merupakan serangan yang bahaya sekali, karena jika saja mengenai pada sasarannya, yaitu pundak Ban Lang Han, niscaya akan membuat tulang piepe Ban Lang Han hancur, dan berarti membuat dia bercacad.

Yang lebih mengejutkan Ban Lang Han, jusrtu waktu itu serangan sinenek hanya terpisah dua dim lagi dari pundaknya, malah dia telah merasakan sambaran angin serangan itu membuat pundakya dingin.

Tetapi Ban Lang Han memang tidak percuma bisa menguasai kota itu dan menjagoinya selama bertahun-tahun. karena dia memiliki kepandaian tinggi. Dalam keadaan terancam seperti itu, dia tidak menjadi gugup. Cepat sekali tangan kanannya telah berputar akan melibat tangan kanan Ho ang Yo, maka tangan Ho ang Yo telah saling bentur dengan tangan Bang Lang Han. Tubuh Bang Lang Han jadi terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan muka berubah menjadi pucat.

Sedangkan Ho Ang Yo hanya tergetar sejenak ditempatnya, kuda-kuda kakinya tetap teguh tak bergeming dan setelah menarik nafas dalam-dalam untuk mengempos semangat murninya, tampak Ho ang Yo telah menyerang lagi. Kali ini serangannya pun tak kalah cepat dan hebatnya seperti tadi.

Bang Lang Han mengeluh, karena dia melihat serangan si nenek memang cepat sekali, juga disertai tenaga Iweekang yang dahsyat.

Dan kali ini Bang Lang Han tak berani mengadu keras dengan keras, dia tak berani menyambutinya, sebab menyadari bahwa benar lawannya yang telah berusia tua ini ternyata memamng sangat tangguh sekali, diatas kepandaiannya sendiri. Dia hanya mengelakkan sambaran si nenek dengan cepat, membuang diri dan bergulingan di lantai.

– ooOoo –

SEBAGAI seorang ahli Tiamhiat (menotok) yang sangat tinggi serta berpengalaman, sesungguhnya Ban Lang Han memiliki ginkang yang tinggi. Namun menghadapi si nenek tua muka buruk she Ho tersebut justru dia seperti dipermainkan dimana berulangkali dia terdesak dengan hebat.

Juga setiap serangan Ho Ang Yo tak sanggup untuk disambuti dengan kekerasan oleh Bang Lang Han. Padahal Ho ang Yo hanya seorang berlengan tunggal yaitu tangan kanannya belaka, namun cara menyerang itu benar-benar hebat, karena setiap jurus yang dipergunakan iut memiliki tenaga Iweekang yang bisa mematikan. Karena itu walaupun Bang Lang Han memiliki dua tangan, dia tetap dalam keadaan terdesak. Berulangkali dia harus mundur mengelakkan serangan-serangan Ho ang Yo yang gencar dan beruntun tersebut.

Sedangkan kedua murid Ban Lang Han telah memandang pertempuran itu dengan mata terpentang lebar-lebar. Mereka kagun sebab mereka melihat bahwa kepandaian Ho ang Yo tinggi. Jika saja mereka yang menjadi lawan Ho Ang Yo, niscaya mereka pasti sudah rubuh terbinasa dalam beberapa jurus. Tampaknya tadi Ho Ang Yo memang masih berlaku lunak pada mereka, tidak menurunkan tangan terlalu keras. Sedangkan sekarang dalam menghadapi Ban Lang han tampaknya Ho Ang Yo memang telah mengeluarkan kepandaian dan ilmu simpanannya.

Ho ang Yo waktu itupun memang telah berpikir, “Hemm, manusia ini harus kutundukkan, dia banyak sekali memiliki murid yang menjadi kaki tangannya, maka jika aku menundukkannya, jelas bisa aku memperalat dia!”

Karena berpikir begitu, tiba-tiba Ho Ang Yo mengeluarkan suara tertawa nyaring. Ban Lang Han jadi tertegun, dia berdiri menjublak, karena ia heran lawannya tertawa seperti itu. waktu itu Ho Ang Yo tidak menyerangnya lagi dan pertempuran terhenti.

Ho ang Yo dengan cepat telah berkata begitu dia berhenti tertawa. “Aku akan mengampuni jiwamu, jika engkau mau tunduk pada setiap perintahku ….!”

Ban Lang Han tercengang sejenak, kemudian bentaknya dengan murka. "Takluk? lakluk apa? hemm, aku akan meugadu jiwa denganmu!" Dan berhareng dengan bentakannya itu, tampak tubultnya telah melesat dengan cepat sekali, tangannya juga bergerak dengan hebat, telah meuyerang pukulan yang sekuat tenaganya, karena memang benar-benar Ban Lang Han tampaknya ingin mengadu jiwa dengan lawannya ini.

Ho Ang Yo tertawa mengejek. dia melompat mundur, katanya dengan muka bengis. “Hmm kau memang perlu dihajar!” dan setelah berkata begitu, tampak dia menggerakkan tangannya, tampak melesat sinar hijau yang menyambar kearah Ban Lang Han.

Ban Lang Han menduga itulah senjata rahasia. Ia telah mingibaskan lengan bajunya. Tetapi beada hijau itu bubannya tersampok, malah telah melejit dan tahu-tahu telah menyantol di tangannya. itulah seekor ular hijau. Ban Lang Han sendiri jadi kaget bukan Main, dia telah berjingkrak sambil berusaha mengibaskan tangannya, agar pagutan ular itu terlepas.

Ho Ang Yo, tertawa dingin, katanya dengan tawar: “Sekarang kau telah terke na bisanya Ceng Co (ular hijiu) ku, maka jangan harap engkau bisa memperoleh obat pemunahnya!"

Muka Ban Lang Han jadi berobah pucat dengan sepasang mata mendelik dia telah membentak: ''Siapa ... siapa kau sebenarnya?"

“Aku she Ho dan bernama Ang Yo, menjelaskan si nenek.

Muka Ban Lang Han jadi berobah pucat, tubuhnya juga menggigil, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi ular hijau yang berukuran kecil itu tetap juga meneantel ditangannya. tidak ju ga terlepas walaupun Ban Lang Han telah berulang kali mengibaskan tangannya itu. Ban Lang menduga itulah senjata rahasia dia telah mengibakan lengan bajunya.

“Kalau begitu … kau adalah … Kauwcu Ngo Tok Kauw” berseru Ban Lang Han dengan suara tergetar, tampak dia Jeri berurusan dengan Ho Ang Yo setelah menegtahui bahwa nenek buruk rupa ini adalah orang kuat dari Ngo Tok Kauw, bahkan menurut apa yang didengarnya, nenek tua she Ho itu adalah Kauwcu Ngo Tok Kauw. Diapun bergidik ngeri jika membayangkan bahwa Ngo Tok Kanw adalah sebuah perkumpulan yang pandai sekali mempergunakan berjenis-jenis racun.

Sekarang saja, disaat tangannya tergigit oleh ular hijau itu, dia merasakan tangannya itu baal dan kesemutan, bahkan waktu itu tangannya berobah hitam. Rupanya racun ular hijau itu merupakan    racun    yang    bisa    bekerja    cepat    sekali. Waktu itu Ho Ang Yo telah bertanya dengan. sikap yang bengis. "Apakah kau taktuk pada ku?"

Ban Lang Han tidak menyabuti dia menge lurkan tangan kauannya, waktu itu dia telah memegang ekor ular tersebut, dengan mengelu-arkan ternganya dan menahan sakit, dia menarik uiar tersebut.

Tetapi ular itu tetap mencantel didaging tangannya, karena gigi luar itu memang berca gak dan sulit dicabut. Bukannya ular itu melepaskan gigitannya, malah Ban lang Han merasakan kesakitan luar biasa.

Sehingga dia kesakitan dan terhuyung dengan muka yang pucat pias tubuhnya gemetar karena keringat dingin telah mengucur keluar dari tubuhnya, pandangan matanya jadi berkunang-kunang.

Dikala itu, Ho Ang Yo teah bertanya dengan suara yang bengis: “Waktumu tinggai sedikit lagi jika kau berayal, jiwamu tak mungkin di lolos dari maut kau sekarang menakluk padaku

atau tidak'?"

Ban Lang Han kenal selatan, ia memang telah mengetabui bahwa kini jiwanya tengah terancam kematian. Karena itu, akbirnya dia menyerah juga, tahu-tahu dia menekuk kedua lututnya dia tetah berlutut dihudapan si nenek Ho tersebut . “Ampunilah jiwaku... Ho.... Ho Locianpwe tolonglah!” kata Ban Lang Han akhirnya. Dia juga menyebut Ho Ang Yo dengan sebutan Lociaupwe, orang dari tingkatan tua.

Ho An Yo tersenyarn puas, dia telah mendekati Ban Lang Han, kemudian dia bersiul panjang.

Ular hijau yang sejak tali menggigi tangan Ban Lang Han, mendadak sekali telah melepaskan gigitannya. Dia telah melompat ke arah si nenek, kemudian hinggap di telapak tangan Ho Ang Yo, dimana dia tampaknya begitu jinak.

Ho Ang Yo pun telah berkata sambil menimang-nimang ular tersebut, “Hemm, baik! aku akan mengampuni jiwamu, tapi dengarlah baik-baik olehmu! Setiap orang yang telah terkena racunnya Ceng jie, seumur hidupnya tak mungkin bisa sembuh. Racun ceng coa ku tak bisa dipunahkan begitu saja, aku memang memiliki obat penawaar racun yang bisa menyelamatkan kau selama satu tahun, waktu itu racun akan bekerja lagi. Jika engkau tak memperoleh obat penawarnya lagi, berarti kau akan terancam kematian yang menyiksa sekali, dimana seluruh otot-otot dan urat tubuhmu akan putus satu persatu dan menimbulkan perasaan sakit yang membuat kau sangat menderita. Nah terimalah obat penawar ini. tahun depan kau harus mencariku lagi guna memperoleh obat penawar pula!”

Muka Ban Lang Han jadi pucat. Orang telah menolongnya dengan memberi obat penawar, tapi itu juga berarti dia telah terikat dan dikuasai si nenek she Ho tersebut. Dengan setiap tahun dia hatrus memperoleh obat pennar dari si nenek. dan jika tak memperoleh obat pemunah itu dia terancam kematian yang membuatnya sangat menderita. Ban Lang Han segera menyadari bahwa selanjutnya dialah seorang kacungnya Ho Ang Yo secara tidak resmi. Sambil menghela nafas Ban Lang Han telah bertanya, “Locianpwe, … apakah … apakah locianpwe tak bisa memberikan obat penawar yang bisa melenyapkan dan memunahkan seluruh pengatuh racun ular itu? aku bersumpah jika memang jiwaku tertolong, tentu aku tidak akan melupakan budi kebaikan locianpwe … aku akan berbakti pada locianpwe akan mematuhi seluruh perintahmu!”

Ho ang Yo tersenyum, tapi mukanya tetap angker dan bengis. Dengan mukanya yang buruk seperti itu, kedua murid Ba Lang Han yang melihat itu diam-diam menggigil ngeri.

“Baik, aku ada saran untukmu, entah kau dapat menerimanya atau tidak … “ kata Ho ang Yo kemudian.

“Saran apa itu Ho locianpwe?” tanya Ban Lang Han tergagap takut dengan suara tergetar penuh harap.

“Aku bersedia menerima kau untu,k menjadi anggota Ngo Tok kauw. Demikian juga halnya dengan murid-muridmu, semuanya akan kuterima menjadi anggota Ngo Tok Kauw. Nah sekarang bersumpahlah, apakah kau menerima tawaran itu?”

Muka Ban Lang Han seketika menjadi terang, dia sampai berseru nyaring dengan gembira, diapun berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

“Inilah keberuntungan buat kami yang bermimpi saja tidak berani mengharapkan …!” kata Ban Leng Han dengan suara yang nyaring penuh kegembiraan. “Dan dengan diterimanya kami sebagai anggota Ngo Tok Kauw, itulah rejeki kami yang bagus!”

Ho Ang Yo girang melihat tak ada kerewelan dari orang she Ban tersebut.

“Baik, sekarang berdirilah kau. Sementara ini kau boleh berdiam di sini bersama-sama muridmu. Tetapi jika sewaktu- waktu kau menerima utusanku, dimana dia membawa pesanku, maka kau harus segera melaksanakan perintah yang kuberikan! Untuk obat pemunah racun itu kau tak perlu kuatir. Satu bulan sebelum tiba masa bekerjanya racun tersebut, aku akan perintahkan salah seorang anggota Ngo Tok Kauw untuk mengantarkan obat pemunah itu kepadamu!”

Ban Lang Han cepat-cepat mengucapkan terima kasih yang berulangkali, diapun berkata dengan penuh kegembiraan.

“Jika memang kauwcu perintahkan untuk terjun ke dalam lautan api, atau juga terjun ke dalam minyak yang mendidih, tetu boanpwe tidak akan menampiknya, dengan segera akan melaksanakannya…..!” janji Ban Lang Han. Diapun dengan segera telah merobah panggilannya pada Ho Ang Yo dengan sebutan Kauwcu yaitu ketua perkumpulan.

Ho Ang Yo tersenyum senang, dia telah mengeluarkan pula semacam barang, berbentuk lempengan emas yang di tengah- tengahnya berukir lima binatang beracun yaaitu, kalajengking, kelabang, ular, kadal dan kodok. Katanya kemudian, “Lambang pengenal dari Ngo Tok Kauw, jika memang kau memperlihatkan barang ini pada salah seorang anggota Ngo Tok Kauw, maka bisa kau minta bantuannya. Dengan memegang barang ini, maka sama saja seorang angeota Ngo Tok Kauw mewakili Kauwcu. !"

Bukan main girangnya Ban Lang Han. Dia menyambuti dengan kedua tangannya, diapun mengucapkan terima kasihnya yang berulang kali.

“Nah, sekarang kalian boteh berlalu, jika ada sesuatu yang hendak diperintahkan kepada mu, nanti aku yang mengirim orangku untuk memanggilmu. "

Ban Lang Hen mengiyakan, setelah memberi hormat lagi, dia berlalu mengajak muridnya. Ho Ang Yo sendiri tampaknya puas, dia telah kembali kekamarnya.

Pelayan-pelayan rumah penginapan itu tambah takjub, dimana Ban Ling Han yang selama ini merupakan jago yang ditakuti dikota tersebur. ternyata telah dapat ditundukkan oleh Ho Ang Yo seorang nenek yang telah lanjut usia itu. Maka para pelayan, dan juga kemudian penduduk kota yang mendengar perihal tersebut, jadi menaruh rasa hormat yang semakin besar kepada nenek bermuka buruk ini .

– ooOoo –

MARI kita menengok pada Bin Giok Hoa, dimana gadis yang mengenakan baju serba hitam itu telah melarikan kudanya yang berbulu hitam tersebut dengan cepat. Walaurpun luka dipundaknya telah dibalut dan diberikan obat oleh Ho Ang Yo, namun gadis ini masih menderita sakit yang sangat oleh goncangan kuda tunggangannya itu.

Namun ia memiliki urusan yang sangat penting yang harus di selesaikan dengan cepat. Karenanya dia menggi git bibirnya manhan rasa sakit itu. dia telah melarikan kudanya dengan cepat, dimana dialah berusaha untuk mencapai suatu tempat dengan waktu yang sesingkatnya.

Luka yang diderita oleh Giok Hoa rupanya luka yang tak ringan, racun yang mengendap dalam lukanya itupun merupakan racun yang ccpat daya kerjanya. sebab biarpun telah memperoleh obat penawar itu, toh tetap saja dia masih menderita kesakitan.

Malah setelala dia melarikan kudanya itu hampir tiga puluh lie. tubuhnya sering linglung dan bergoyang-goyang bagaikan kehilangan keseimbangan tubuhnya. dia seperti ingin rubuh terguling dari kudanya tersebut Malah Bin Giok Hoa merasakan matanya itu berkunang-kunang.

Namun gadis itu mengeraskan hatinya, ia terus bertahan untuk dapat duduk tetap di kudanya, dia melarikan binatang tungaangannya itu cepat sekali. Waktu itulah dia merasakan luka pada pundaknya berdenyut, dan menimbulkan rasa sakit yang tambah hebat.

Akhirnya Bin Giok Hoa tidak dapat mempertnhankan diri nya lagi, dengan mengeluh tahu-tahu matanya jadi gelap tidak dapat melihat sesuatu apapun juga, tangannya jadi lernas tidak bisa mencekal kuat tali kendali kudanya, malah tubuhnya setelah bergoyang-goyang beberapa-kali, kemudian terlempar dari punggung kudanya itu.

Waktu tubuh Bin Giok Hoa meluncur hendak terpelanting ditanah, tiba-tiba berkelebat seso sok bayangan yang gerakannya gesit sekali.

Sosok tubuh itu juga telah mengulurkan tangannnya, dia menjambretnya dengan cepat, sehingga tubuh Bin Giok Hoa tidak terbanting dan dia merebahkan si gadis dengan perlahan-lahan ditanah berumput itu. Dialah seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih. Tubuhnya ramping, namun dengan pundak yang lebar dan tegap sekali, wajahnyapun tampan.

Jika ditihat sepintas lalu. tampaknya dia seperti orang yang lemah lembut, tapi dilihat dari gerakannya tadi yang begitu gesit dan lincah, maka jelas dia seorang pemuda yang memiliki ginkang tinggi sekali. Terlehih lagi ketika dia menyambut tubuh Bin Giok Hoa dimana dia telah mempergunakan Iweekang sehingga tampaknya dia sama sekali tidak mempergunakan tenaga. Pemuda itu telah mengerutkan sepasang alisnya ketika melihat muka Bin Giok Hoa yang pucat pasi dan tidak melihat bahwa pundak si gadis dibalut oleh sobekan kain darimana merembes darah yang memerah. Dia membuka ikatan kain itu untuk melihat luka di pundak si gadis.

Darah yang berceceran di sekitar pundak si gadis sudah menghitam. Dengan demikian di menduga bahwa gadis ini terluka oleh senjata beracun yang bekerjanya cepar sekali.

Sebat sekali pemuda itu telah memeriksa keadaan luka si gadis. Setelah meneliti sejenak lamanya, dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak yang mungil dan terukir indah. Waktu dia membuka tutup kotak itu, terdengar suara “krook” dari seekor kodok.

Dan waktu itu si pemuda telah mengeluarkan di dalam kotak itu, yang tidak lain dari seekor kodok berwarna putih bening seperti salju.

Didekatkan kodok itu didekat luka si gadis. Kodok itupun segera menghisap darah dpada luka Bin Giok Hoa. Dalam waktu singkat, tampak kodok yang semula berwarna putih mulus itu telah berobah menjadi merah kehitam-hitaman, rupanya darah beracun di pundak Bin Giok Hoa telah berhasil dihisap keluar oleh kodok itu.

Beberapa kali pemuda itu telah membersihkan kodoknya itu dengan mengeluarkan darah beracunnya dari tubuh kodoknya, sehingaa kodok tersebut berwarna putih mulus lagi, kemudian menghisap lagi luka dipundak sigadis.

Akhirnya darah yang mengucur keluar ini berwarna merah bersih, telah tidak mengandung racun pula. Karena semua darah yang mengandung racun terhisap bersih oleh kodok mujijat itu. Si pemuda tersenyum puas, setelah kodoknya yang putih seperti salju itu dibersihkan jadi putih mulus lagi, diapun memasukkan kodok itu kedalam kotakya dan menyimpan kotak yang berisi kodok mujijat yang bisa menghisap darah beracun itu.

Pemuda inipun masih bekerja keras, dia menotok beberapa jalan darah dibagian wie-tiong-hiat, lalu menotol bagian darah yang tertelak dibagian ciu-wie-hiat dan disusul dengan totokan- totokan pada jalan darah di Cian-bun-hiat. Tidak lama kemudian gadis berpakaian hitam she Bin itu telah tersadar dari pingsannya. dia mengeluarkan suara keluhan dan membuka matanya.

Ketika melihat didekatnya berjongkok seorang pemuda, gadis itu mengeluarkan seruan tertahan. dia melompat berdiri.

Namur tubuhnya masih lamas, membuat dia terjungkal rubuh terguling lagi.

Sipemuda terkejut, cepat-cepat dia bilang. “Nona jangan banyak bergerak dulu, …. racun yang mengendap ditubuhmu telah kukeluarkan, dan kini jiwa nona tidak terancam bahaya lagi… hanya perlu beristirahat beberapa hari tentu luka nona di pundak akan sembuh seluruhnya.”

Bin Giok Hoa menatap dengan perasaan berterima kasih kepada si pemuda, dia bilang “Kau.. kau telah menolong jiwaku, Inkong (tuan penolong), entah dengan apa aku dapat me”Jangan nona bicara begitu, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong terhadap orang yang tenagh dalam kesulitan? itulah pertolongan yang tak berarti!" kata pemuda tersebut.

“Jika memang boleh, dapatkah Siauwmoy (adik) mengetahui siapa she dan nama inkong yang mulia?” tanya Bin Giok Hoa lagi. “Aku she Wan namaku diatas Sin dan dibawah Cie” sahut pemuda itu.

“Kau … kau Wan Siangkong?” tanya gadis she Bin itu terkejut.

Si pemuda heran melihat sikap si gadis yang tampaknya terkejut dan memandang dia dengan mata terpentang lebat-lebar, tanyanya, “Apakah ada sesuatu yang tak beres?”

Si gadis hanya tergagap sejenak, kemudian dia tersenyum manis dan katanya, “Sungguh beruntung sekali Siauwmoy hari ini bertemu dengan Wan Siangkong yang merangkap menjadi Inkongku juga ….. telah lama sekali siauwmoy mendengar nama besar inkong dari pamanku, juga diceritakan prihal kegagahan Wan Siangkong menghadapi pihak kerajaan Beng, dimana membela Giam Ong dalam menegakkan dan membangun kerajaan baru …..!”

Pemuda itu tersenyum walaupun hatinya heran. Dia jadi menduga-duga entah siapa gadis ini dan siapa pamannya si gadis yang katanya sering menceritakan prihal sepak terjang darinya?

“Jika nona tidak keberatan bolehkan aku mengetahui nama nona? Dan siapakah paman nona yang mulia itu?” tanya Sin Cie kemudian.

“Siauwmoy she Bin …” menyahut si gadis.

Gadis itu baru menyahuti sampai disitu, di otak Sin Cie telah berkelebat serupa ingatan, dia menduga siapa adanya gadis ini dan siapa paman gadis itu. tapi dia diam saja.

“Namaku Giok Hoa” si gadis telah melanjutkan keterangannya. “Sedangkan pamanku itu menurut ceritanya dia merupakan sahabat baik Inkong, dialah Bin Cu Ho!” “Oh, Bin Toako!” berseru Sin Cie yang memang tepat dugaannya. Dan nona adalah keponakan dari Bin Toako?”

Giok Hoa mengangguk. dia mengiyakan. “Benar!" sahutnya. “Tapi sekarang ini siauwmoy tengah melakukan perjalanan tengah menyelidiki keadaan pamanku itu, karena telah tiga tahun ini pamau tak ada kabar beritanya, malah didalam urusan ini, siaummoay ingin menyampaikan sesuatu yang luar biasa."

Setelah berkata begitu, Bin Giok Hoa berdiam diri sejenak, dia memandang ragu pada Sin Cie. barulah kemudian dia meneruskan lagi perkataannya: “Jika memang inkong tidak keberatan, aku ingin meaceritakan sesuatu.,.. apa kah inkong bersedia mendengarnya?"

Wan Sin Cie mengangguk perlahan, diapun berkata: “Jika memang nona tak keberatan untuk menceritakannya, mengapa aku harus merasa keberatan mendengarnya? Yang terutama sekali justru akupun ingin sekali mengetahui kabar telakhir mengenai Bin Toako, kami telah cukup lama tak berjumpa...!"

Muka Bin Giok Hoa tampak terang. Rupanya gadis ini girang sekali.

“Ya. sebenarnya Siauwmoay tengah berusaha mencari tempat berdiamnya parnan siauwmoy, karena siauwmoy memiliki urusan peuting yang menyanyangkut dengan urusan BuToug Pay.” kata sigadis kemudian, “Itulah menyangkut nama baik Bu Tong Pay. Karena baru-baru ini ada seorang yang menyamar sebagai Bin Supeh dan wakatu itulah dia melakukan perbuatan- perbuatan yang memalukan dan hina sekali. Diapun telah menghimpun tokoh-tokoh dari kalangan sesat dimana mereka berkumpul dan nanti ingin menyerbu ke Bu Tong Pay untuk merebut seluruh kitab-kitab yang terdapat di Bu Tong San …!” Hati Sin Cie tercekat, “Inilah hebat!” pikirnya. Lalu tanyanya, “Siapakah orang   yang menyamar menjadi pamanmu itu nona?”

Bin Giok Hoa menghela napas.

“Orang itu menyambar sangat sempurna sekali, dia bisa merobah bentuk mukanya mirip sekati dengan paman Bin....

semula waktu bertemu dengannya, kuduga dia Bin-supeh, tapi setelah kami bercakap-cakap, barulah disaat itu Siauwmoay curiga, karena orang itu banyak sekali tidak mengetaltui perihal keluarga dan kecurigaan itu bertambah, ketika Siauwmoy molihat ada tahi lalat berukuran cuknp besar dibawah dagunya, yang rupanya tak tertutup oleh penyamarannya itu. Segera siauwmoy mengetahui bahwa dia bukanlah Bin Supeh, ka rena diapun gelap untuk urusan keluarga kami. Siauwmoay memperhatikan dengan cermat, ma ka segera siauwmoy bisa melihat jelas, dimana mukanya itu diluhur oleh semacam cairan dan pupur, sehingga jelas dia adalah penyamar dari paman Bin...! Dengan alasan Siauwmoay ingin pergi pergi membeli makanan untuk disajikan dalam perjamuan kami, Siauwmoy tetah meloskan diri 1"

"Lalu, dia menyusul dan telah melukaimu dengan mempergunakan racun2" tanya Sin Cie sambil mengawasi Bin Giok Hoa.

Giok Hoa menggeleng perlahan, dia berkata, "Yang melukai siauwmoy bukan dia, justeru setelah berhasil lolos menghindarkan diri dari orang itu, Siauwmoy telah melakukan perjalanan selama satu minggu, untuk mencapai Kwie-ciu mencari Bin Supeh, guna memberitahukan segalanya itu. tetapi siapa duga di Sung Kuang siauwmoy bertemu dengan dua orang anggota Ngo Tok Kauw. Waktu mereka mengetahui bahwa siauwmoy adalah keponakan paman Bin, segera mereka turun tangan untuk menangkap siauwmoy dan kami jadi bertempur. Tetapi kepandaian mereka biasa saja. siauwmoy dapat menghadapinya dengan baik. siapa tahu mereka ahli dalam mempergunakan racun, tahu-tahu seekor kelabang telah menyambar siauwmoy dan mengigit pundak siauwmoy. Dengan demikian akhirnya siauwmoy terluka oleh racun itu dan merasakan sebagian tenaga siauwmoy telah berkurang. Mati- matian siauwmoy berusaha meloloskan diri, untung saja kuda hitam siauwmoy ini merupakan kuda pilihan yang bisa berlari cepat sekali, dengan demikian siauwmoy berhasil meloloskan diri dari kejaran dua orang anggota Ngo Tok Kauw tersebut.”

Mendengar cerita Bin Giok Hoa, sepasang alis Wan Sin Cie jadi mengkerut dalam-dalam.

“Akh, rupanya anggota Ngo Tok kauw masih berkeliaran juga. Entah siapa yang sekarang memimpin mereka. Teksiu sekarang telah menjadi muridku, sedangkan Ho Ang Yo telah terbinasa, lalu siapa yang memimpin Ngo Tok Kauw dan masih melanjutkan sepak terjang mereka?”

Waktu itu Bin Giok Hoa telah menceritakan lebih jauh mengenai pertemuan dengan seorang nenek yang mukanya buruk sekali yang hanya memiliki satu tangan yaitu tangan kanan saja. nenek itu juga mengaku she Ho.

“Apa?” Sin Cie jadi terkejut bukan main. “Dia mengaku she Ho? Bagaimana rupanya?” Sin Cie telah meminta Bin Giok Hoa menceritakan lebih jelas perihal keadaan si nenek she Ho itu.

Giok Hoa heran melihat sikap Sin Cie seperti itu. namun dia telah menceritakan keadaan si nenek tua yang mukanya buruk, berpakaian seperti pengemis wanita, dengan tangan kanan saja sedangkan tangan kirinya telah buntung dan juga dengan she nya yang she Ho itu. “Apakah dia masih hidup …..?” mengguman Sin Cie dengan suara perlahan.

“Dia siapa?” tanya Giok Hoa heran.

“Ya . . nenek she Ho itu . . .!' menyahuti Sin Cie. “Memang dulu Ngo Tok kauw memiliki seorang tokohnya yang bernama Ho Ang Yo. Dia seorang nenek yang mukanya rusak karena gigitan ratusan ular. Dengan pakaiannya sebagai seorang pengemis wanita dan sebelum menemui kematiannya, nenek itu telah menebas tangan kirinya sendiri hingga buntung karena dia hendak menghindarkan bisa kelabangnya Cee In Go yang menggigitnya. Semua keadaan Ho ang Yo itu diceritakan dengan jelas oleh Sin Cie.

“Benar, memang tepat lukisan mengenai nenek itu sama dengan nenek yang kujumpai belum lama yang lalu!” berseru Giok Hoa.

“Kalau begitu … dia masih hidup …!” menggumam Sin Cie perlahan.

Segera Sin Cie menceritakan bagaimana Ho Ang Yo menggelatak dalam goa Kim Coa Long Kun karena keracunan. Dan setelah menolong Ceng Ceng, goa itu meledak. Pintu goa tertutup tertimbun bongkahan batu yang besar berarti   si nenek she Ho itu telah terkubur di dalam goa dan tak mungkin hidup lebih jauh lagi.

“Tetapi dia mengatakan bukan dari Ngo Tok Kauw yang Inkong maksudkan, tentu dia tidak menolongku dan juga tidak akan memberikan obat pemunah racun pada lukaku itu …!” berkata Giok Hoa kemudian dengan ragu-ragu.

Sin Cie jadi bimbang. Dia berdiam diri dengan sepasang alis berkerut. Tampaknya dia berpikir keras sekali! “Memang benar apa yang kau dikatakan itu nona. Jika dia adalah orang yang kumaksudkan itu, tentu dia tidak akan menolong dirimu …. Bahkan boleh jadi setelah dia mengetahui dirimu dilukai oleh orang-orang Ngo Tok Kauw, dia akan menambahkan lagi racun untuk membinasakan dirimu!”

Giok Hoa mengangguk mengiyakan.

“Jika demikian, lalu siapa dia?” tanya Giok Hoa, seperti bertanya kepada dirinya sendiri.

“Ya ….. keadaannya mirip sekali dengan apa yang dilukiskan oleh Inkong ….. tetapi dia bukan orang Ngo Tok Kauw! Apakah di dalam dunia ini terdapat peristiwa yang demikian kebetulan, dimana nenek yang bertemu denganku itu bisa memiliki persamaan dengan Ho Ang Yo dari Ngo Tok Kauw itu?” kata Giok Hoa lagi.

“Apakah nenek itu lalu menuju ke arah kota Sung-kuang?” tanya Sin Cie.

Si gadis mengangguk.

“Jika demikian,   mari   kita   berangkat   ke   Sung-kuang.

Mungkin kita masih bisa bertemu dengannya!” kata Sin Cie.

Giok Hoa ragu-ragu, karena dia sesungguhnya memiliki urusan yang sangat penting.

Melihat sigadis ragu-ragu seperti itu. Sin Cie tersenyum, katanya: “Nona, luka yang diderita olehmu sebenarnya merupakan luka yang tidak berat, tapi luka itu telah terlalu lama, sehingga telah menyebahkan racun meresap lebih dalam kejalan darahruu, kalau engkau tidak beristirahat, wataupun racun telah dihisap keluar semuanya dan dibersihkan, tokh jiwamu masih bisa terancam. Lebih baik kau kembali ke Sung kuang, untuk beristirahat beberapa hari disana, jika kesehataarnu telah pulih, engkau boleh teruskan perjalananmu lagi!” Giok Hoa akhirnya mengaugguk.

Terlebih lagi dia sekarang telah mengetahui bahwa pemuda dihadapannya ini adalah Wan Sin Cie, yang sangat dikagumi sekali oleh Bin Cu Hoa, pamannya. Beberapa kali pamannya itu telah menceritakan kepadanya perihal kegagahan Sin Cie, karena itu, Giok Hoapun jadi tertarik untuk ikut serta bersama Sin Cie, karena dia ingin melihat apa yang ingin dilakukan sipemuda, dan juga yang membuat dia lebib tertarik lagi, dia ingin mengetahuinya apakah sinenek tua she Ho yang bertemu dengannya beberapa saat yang lalu itu adalah Ho Ang Yo yang dimaksudkan Sin Cie.

"Balklah inkong!" katu Giok Hoa sambil mengangguk. Sigadis dengan susah payah naik kepung-gung kudanya,

dibantu oleh Sin Cie. Ketika ku da itu telah dilarikan perlahan- lahan. Sin Cie sen diri telah mengikuti dibelakangnya dengan mem pergunakan ginkangnya hingga dia bisa berlari mengimbangi larinya sang kuda.

Tak lama kemudian, disaat sang sore hampir tiba, diwaktu itulah mereka telah tiba di Sung-kuang, kota itu tak begitu ramai, karena dimusirn dingin yang berkepanjangan ini.

Sin Cie segera mencari sebuah rumah penginapan, mercari dua kamar. Selama dua hari dia merawat luka Giok Hoa.

Selama itu Sin Cie meraang telah menyeli diki keadaan dikota itu. Diapun telah mendengar. seorang nenek tua dengan muka yang rusak, berusia lanjut, berhasil merubuhkan Ban Lang Han serta murid-muridnya. Berita itu merupakan berita yang hangat diantara penduduk kota tersebut. yang menjadi bahan percakapan di antara mereka. Sin Cie segera menanyakan kepada seorang penduduk. Si nenek tua she ho yang bisa mengalahkan Ban Lang Han itu menginap dirumah penginapan mana. Setelah memperoleh petunjuk, pada sore itu Sin Cie pergi secara diam-diam kerumah penginapan itu. Tidak dilihamya sinenek tua she Ho tersebut kaerma si nenek selalu mengurung diri dikantar nya.

Sin Cie kembali kerumah penginapannya, dia berpikir: “Biarlah malam ini aku akan datang kembaii ke rurrah penginapan itu untuk menyelidikinya!"

Sin Cie berpikir begitu, karena dia beranggapan menyelidiki disore hari kurang leluasa. Memang bisa saja dia menggunakan ginkangnya untuk mengintai kekamar sinenek Ho itu, tapi disore itu masih banyak sekali tamu-tamu rumah penginapan itu.

Begitulah. setelah melongok kesehatan Giok Hoa, dimana dia melihat luka dipundak gadis itu memperoleh banyak kemajuan, telah merapat, Sin Cie malam itu mengatakan pada Giok Hoa hendak pergi menyelidiki keadaan si nenek Ho itu.

Dengan mengenakan Ya-keng-ie, pakaian untuk berjalan malam, Sin Cie malam itu menuju dimana berdiam Ho Ang Yo. Sin Cie berangkat dari rumah penginapannya menjelang kentongan kedua, diapun telah mempergunakan ginkangnya yang sempuma untuk mengambil jalan diatas genting rumah penduduk, dimana ia berlari-lari melompat dari gentingrumah yang satu ke genting rumah yang lainnya.

Cepat sekali dia tiba dirnmab penginapan Ho Ang Yo, dia tahu dimana letak karnar Ho Ang Yo, malan itu dia tidak memperoleh kesulitan. Setelah berdiam sejenak diatas genting rumah penginapan itu, dia menuju kedekat belakang rumah penginapan, dia mendekati jendela sebuah kamar yang masih terang. Dengan ringan Sin Cie melompat ke atas genting. Diapun telah mengintai ke dalam kamar setelan menyantelkan kedua kakinya di payon jendela tersebut. Dia melobangi kertas jendela karnar itu, sehingga dia bisa melihatnya.

Ketika Sin Cie melihat keadaan dikamar itu, hatinya jadi tercekat. Dia melihat seorang nenek tua berpakaian sebagai pengemis, dengan rambut terurai panjang, muka rusak, tangan kirinya buntung, dia tengah duduk didepan meja karnar tersebut dengan berdiam diri. Yang mengejutkan Sin Cie, dia kenali baik bahwa nenek tua itu tidak lain dari Ho Ang Yo, nenek dari Ngo Tok Kauw yang dulu bentrok dengan Ho Tek Sim muridaya.

Karena terkejut dia heran, Sin Cie sampai mengeluarkan suara mendecih, yang membuatnya kaget dan heran sebab si nenek masih hidup. Padahal tahun yang lulu, Ho Ang Yo telah rubuh pingsan disebahkan keracunan, dan juga kemudian goa dimana beradanya Ho Ang Yo telah meledak hebat sekali, sampai mulut goa itu tertimbun oleh bongkahan batu yang besar-besar.

Siapa sangka sekarang Ho Ang Yo ternyata masih hidup.

Inilah yang benar-benar aneh.

Tetapi justru suara mendecit dari Sin Cie telah mengejutkan Ho Ang Yo. Bola matanya telah mencilak kearah jendela kamarnya, mukanya bengis menyeramkan, dengan muka yang buruk mengerikan itu. Hibirnya yang melebar akibat luka-luka itu telah memperlihatkan senyuman mengejek.

"Entah tamu dari many yang secara diam-diam ingin mengunjungiku?" menggumam si nenek dengan suara yang dingin dan bengis. Belum lagi perkataannya itu selesai tangan kanannya yang tunggal itu bergerak cepat sekali.

Seketika itu juga meluncur beberapa sinar terang yang menerobos ke arah jendela. Sin Cie terkejut melihat sambaran sinar-sinar yang berkilauan itu, dia tahu si nenek telah menyerang dengan menggunakan jarum beracunnya.

Cepat sekali Sin Cie mengerahkan tenaga pada kakinya, dia menghentak sehingga tubuhnya mencelat naik ke atas genting. Dengan demikian dia bisa menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum beracun tersebut.

Tapi belum lagi Sin Cie berkata waktu itu daun jendela kamar telah terpentang lebar, menyusul melompat keluar sesosok bayangan.

Itulah Ho Ang Yo melompat keluar dengan gesit sekali. Waktu kakinya menginjak tanah yang berlapiskan salju, si nenek menjejak lagi, maka tubuhnya melesat ke atas genting. Ketika kedua kakinya hinggap di atas genting, tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga.

Dengan muka yang bengis si nenek tua Ho Ang Yo memandang kepada Sin Cie dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar.

Tetapi begitu melihat jelas siapa yang berdiri dihadpannya, dia jadi kaget bukan kepalang.

“Kau....!" dia berseru dengan suara yang tergagap karena kaget dan heran.

Sin Cie tersenyum, "Apakah selama ini Ho Locianpwe sehat- sehat saja?” tanya Sin Cie sambil merangkapkan tangannya, dia member: hormat.

Ho Ang Yo memperdengarkan tertawa dingin, dengan muka yang kembali menjadi bengis dia telah berkata: "Hemm rupanya kau! Sekarang rupanya kau sengaja datang kemari untuk mencariku. bukan?" Sin Cie tersenyum dia membawa sikap yang ramah sekali. “Ho Locianpwe.... maafkan kelancangan Boanpwe ...!” katanya dengan sikap yang tetap sabar. Boanpwe hanya secara kebetulan saja lewat ditempat ini mendengar penduduk kota telah menceritakan kehebatan Locianpwe yang menghajar Ban Lang Han serta murid-muridnya itu. Boanpwe menduga bahwa orang itu adalah Ho Locianpwe. maka sengaja Boanpwe datang berkunjung kemari untuk mengunjuk hormat !"

Muka Ho Ang Yo tetap bengis, dia tertawa dingin.

“Hemm….!" dia mendengus. “Jika hari ini engkau tidak datang berkunjung kesini mencariku, aku sendiri yang memang ingin men carimu! Maka kebetulan sekali! Dengan datangnya engkau kesini, berarti aku tidak sulit-sulit mencarimu lagi! Mana Tgiat Cu? Dan mana itu si bocah puteranya Kim Coa Long Kun?"

Sin Cie mengetahui bahwa yang dimaksud kan oleh Ho Ang Yo adalah Tek Siu, murid-nya. bekas Kauwcu Ngo Tok Kauw, dan juga Ceng Ceng yang sampai kini Ho Ang Yo masih menduganya sebagai seorang pemuda.

“Mereka dalam keadaan sehat-sehat saja, Hu Locianpwe!" menyahuti Sin Cie. “Justru kebe tulan sekali, Boaupwe hanya melakukan perjalanan seorang diri, karena itu mereka tidak turut serta dan tidak bisa memberikan hormatnya kepada Locianpwe”

Muka Ho Ang Yo tetap bengis, dia berkata dengan sikap yang aseran. “Jika memang mereka tidak ikut serta, kau sendiripun telah cukup! Aku justru ingin coba dengan tulang- tulang tua ku ini uutuk main-main dengan kau!"

Waktu berkata begitu sepasang mau Ho Ang Yo mencilak- cilak bengis sekali.

Sin Cie tersenyum, dia tahu nenek ini bengis, kejam dan aseran sekali. Dia menghadapi nya dengan sabar, katanya, “Apakah Locianpwe yang masih memimpin Ngo Tok Kauw. karena Boanpwe dengar belakangan ini, masih cukup banyak anggota Ngo Tok Kauw yang berkelana didalam kalangan Kangouw?"

Muka Ho Ang Yo jadi makin bengis saja, dia telah menyahuti, "Jika memang aku yang tetap menjadi Kauwcu. kenapa? Jika bukan aku yang menjadi kauwcu, kenapa?" dan dia memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian melanjutkan perkataannya, "Baiklah, apakah jika memang sekarang ini aku yang memimpin Ngo Tok Kauw, maka engkau akan menumpas diriku, karena Ho Tiat Cu telah menjadi muridmu dan kini resmi menjadi murid Hoa San Pay?"

Sin Cie cepatceat merangkapkan sepasang tangannya. dia menjura members hormat, lalu ka tanya. “Bukan begitu maksud Boanpwe....sama sekali Boanpwe tidak mengandung maksud demikian! Hanya saja ada satu saran yang hendak Boanpwe berikan, inipun jika Locianpwe mau menerimanya!"

"Kau hendak memberikan saran padaku?" tanya sinenek she

Ho.

Sin Cie meagangguk. “Ya, jika memang Ho Locianpwe

bersedia menerima saran itu aku akan mengatakannya. Balehkah aku menyebutnya, Locianpwe?" tanya Sin Cie sabar.

“Saran apa?" tanya Ho Ang Yo.

"Jika dapat, maka di hari-hari mendatang, ho Locianpwe lebih dapat mengendalikan anggota Ngo Tok Kauw, karena mereka belakangan tampaknya semakin mengganas, selalu begitu mudah melukai orang dengan mempergunakan racun berbisa, sehingga bisa mengancam keselamatan orang banyak. Jika memang Locianpwe bersedia dan dapat memberikan nasehat kepada mereka, agar tidak terlalu mengganas, tentu semua orang gagah dalam rimba persilatan akan bersyukur. Terlebih lagi kini negeri tengah mengalami ancaman dari luar, yaitu dan pihak Boanciu!”

Mendengar perkataan Sin Cie itu, Ho Ang Yo tertawa dingin. katanya. "Belum lama yang lalu enakau begitu gigih membantu dan membela Giam Ong. Setelan Giam Ong naik tahta, ter nyata kalian dimusuhinya ….. apa yang akan kau katakan lagi perihal itu?"

“Itulah urusan lain, kami berjuang untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat, jika benar tidak terdapat persesuaian paham antara kami dengan Giam Ong, itulah hal yang biasa dan kami bisa saja mengundurkan diri ….tapi sekarang yang ingin Boanpwe tanyakan apakah saran Boanpwe dapat diterima Well Ho Locian pwe?"

Ho Ang Yo tertawa dingin, katanya. "Kau tidak perlu rewel, kaupun tidak berhak mencampuri urusan dalam perkumpuian kami itu adalah urusanku! Mereka hendak membu-nub lawan-

lawannya, jika memang mereka sanggup melakukannya, akupun mengijinkannya !”

Mindengar jawaban yang diberikan sinenek tua she Ho tersebut yang sikapnya berkepala batu, membuat Sin Cie jadi mendongkol. Tapi pemuda itu dengan sabar telah berkata. “Ho Locianpwe, Tiat Cu sekarang telah resmi menjadi muridku, murid Hoa San Pay, dialah Kauw resmi dan Ngo lok Kauw. Namun sekarang dia sudah tak mau memperdulikan lagi segala keludukan yang tak berarti itu. Dan juga Locianpwe memang telah kukenal sebelumnya. jika memang Ho Lociapwe ingin memimpin dengan baik orang-orang Ngo Tok Kauw, itulah baik, namun jika ditangan Ho Locianpwe justru orang-orang itu bisa menimbulkan kerusuhan dan juga kekalutan didalam rimba persilatan, tentu saja Boanpwe tak bisa melihat saja tak dapat boanpwe berpeluk tangan belaka ….. dan jika di antara kita sampai terjadi bentrokan seperti yang lalu, tentu tak menyenangkan!”

Mendengar peckataan Sin Cie seperti itu Ang Yo tertawa mengejek.

“Hemm, aku tak takut apa yang ingin kau lakukan!" jawab Ho Ang Yo. “Jika kau senang melihat orang-orang Ngo Tok Kaow dengan segala sepak terjangnya itu, aku bersedia untuk bertanggung jawab Dan di luar dari persoalan itu, aku sendiri memang telah bertekad sewaktu-waktu ingin mencarimu, guna memperhitung kan apa yang telah kita alami dulu. !"

Setelah berkata begitu, tampak muka nenek berobah semakin bengis.

Sin Cie baru saja ingin berkata, sinenek itu telah berkata lagi dengan suara yang mengan-dung kegusaran dan dendam: “Justru sekarang kau telah datang sendiri kemari, inilah bagus. karena tanpa bersusah payah, kita bisa bertemu.., justru aku ingin memperintungkan segala urusan yang dulu…. walaupun kini si bocah yang menjadi putera Kim Coa Long Kun tak berada bersamamu tapi dengan membereskan terlebih dulu kau, itupun telah lebih cukup. "

Setelah berkata begitu, dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tangan Ho Ang Yo telah bergerak dengan sebat, terdengar suara "serr, serrr," berulang kali, tampak beberapa sinar kuning yang menyambar kearah Sin Cie, dan diantara sinar kuning itu tampak juga berkelebat sinar hijau, yang menyambar dirinya dengan cepat sekali.

Sin Cie memang telah berwaspada, dia mengetahui Ho Avg Yo selain kepandaiannya tinggi dan tak bisa dipandang remeh, juga dia menguasai segala macam jenis racun. Itulah sebabnya Sin Cie mengelakkan cepat sekali, dia mempergunakan "Pek Pian Kwie Eng" ilmu meringankan tubuh yang diperoleh dari Bhok Siang Tojin.

Sambaran jarum-jarum beracun itu mengenai tempat kosong, tapi justru sambaran-sambaran dari warna hijau yang merupakan seekor Ceng-coa atau ular hijau tersebut, terus juga menyambar ke arah Sin Cie.

Jika sebelum Ceng-coa menyambar gagal, karena Sin Cie telah melomput kesamping, justru diwaktu itu ular tersebut seperti bisa menikung dan menyambar terus pada Sin Cie.

Semula Sin Cie menduga bahwa dia akan dapat menghindarkan diri dari sambaran tersebut tapi betapa terkejutnya ketika dia melihat ular itu bisa menikung dan menyambarnya terus.

Dengan demikian, dia mengeruarkan suara seruan tertahan ketika merasakan mulut ular itu hampir memagutnya. Tetapi Sin Cie tidak menjadi gugup, secepat kilat jarinya menyentil.

Dia hukan menyentil tubuh ular tersebut, melainkan menyentil kepala ular tersebut sehingga kepala ular itu telah kena disentil terpental dan diwaktu itu ular tersebut telah terlempar lima tombak lebih, kemudian meluncur keatas tumpukan salju.

Namun, begitu ular jatuh, segera ia melejit lagi dan menyambar dengan gesit pada Sin Cie.

Ular itu memang benar-benar telah terpelihara baik sekali oleh Ho Ang Yo, karena ular ini berulang kali dapat dibuat terpental oleh Sin Cie namun berulang kali pula dia dapat menyerang kepada Sin Cie.

– ooOoo –