-->

Golok Sakti Bab 18 : Kuil Kong Beng Sie Dibakar

Bab 18 : Kuil Kong Beng Sie Dibakar

Ie Ya ada satu nona cantik, tubuhnya langsing dan menggiurkan tidak heran kalau banyak yang tekuk lutut padanya. Lain dari itu, kedudukannya sebagai kepala dari golongan wanita iblis ada sangat tinggi. Tapi herannya, begitu banyak pemuda yang tertarik hatinya dan bersedia mengorbankan segala apa asal cintanya disambut oleh Ie Ya, si nona ternyata tidak menghiraukan itu semua, seolah-olah dianggap sepi saja.

Hanya terhadap dirinya kelihatan ada lain, Si cantik telah jatuh cinta benar kepadanya, buktinya dari tempat yang jauh ia datang khusus mencari dirinya untuk mengabarkan bahaya yang mengancam padanya.

Ia ada seorang gelandangan, apakah pantas mendapat cintanya satu nona yang demikian cantik menarik seperti Li-losat Ie Ya? Tapi kenyataannya memang ada begitu.

Diam-diam ia merasa heran, kenapa dirinya ada demikian beruntung dicintai oleh banyak wanita cantik? Entahlah, siapa diantaranya yang nanti akan menjadi pasangannya seumur hidup?

Melihat kecintaannya Ie Ya yang demikian besar, Ho Tiong Jong berduka dalam hatinya, karena ia tak dapat menyambut dengan semestinya. Hatinya sudah ditempati oleh dua jelita

terlebih dahulu. Dengan menghela napas ia berkata pada si nona.

"Encie Ie, kau tidak boleh berkata demikian merendah. Aku Ho Tiong Jong, sebegitu jauh masih bernapas tidak akan melupakan budimu yang besar. Nah coba terangkan, Seng Eng itu dengan anak buahnya berjalan kejurusan mana untuk mengetahui tempatku? Harap enci Ie menjelaskan?"

Ie Ya sebenarnya tadi keterlepasan membuka rahasia, hatinya agak menyesal, sukur, Ho Tiong Jong tidak menanyakan hal-hal yang lebih penting. Kepalanya yang tadi terus ditundukkan, tampak sekarang didongakan dan memandang sipemuda dengan sorot mata mesra. Hatinya Ho Tiong Jong tergetar ia tidak berani mengadu pandangan mata dengan sijelita, karena takut akan menimbulkan urusan cinta lagi yang runyam, maka ia sudah angkat kepalanya mengawasi awan diangkasa.

"Tiong Jong, begitu kau muncul dikota, lantas anak buahnya Seng Eng yang sangat banyak sudah mendapat tahu jejakmu dan mengabarkan pada kepalanya..."

Ie Ya berkata sambil terus memandang pemuda lamunannya yang berdiri didepannya, yang masih tetap memegangi kedua tangannya, ia kelihatannya segan untuk menarik tangannya yang dicekal erat-erat oleh sipemuda.

Kedua saling pegang dengan yang satu tidak mau menariknya terlebih dahulu. Dua pasang mata kebentrok ketika si cantik sambil mendengarkan keterangan tadi-Dua- dua tergetar hatinya.

HO Tiong Jong mengelah napas, Sambil lepaskan cekalannya pada tangan si nona, Ho Tiong Jong berkata.

"Pergilah kau jauh-jauh dahulu enci- sebentar aku meninggalkan tempat ini untuk pergi ke Seng-kee-po bikin huru-hara disana."

Ie Ya terkejut tercampur girang, ia terkejut karena sipemuda hendak membuat huru bara di Seng-keepo, satu perbuatan yang berbahaya sekali, sebab disana banyak orang-orang yang berilmu silat tinggi sedang Ho Tiong Jong hanya sendirian.

Ia girang, karena pikirnya, tidaklah sia-sia iapun sudah payah datang kesitu mengisiki pada sipemuda, sebab Ho Tiong Jong kelihatan ada memperhatikan ia punya keselamatan.

"Ya, Tiong Jong," kata Ie Ya dengan suara halus "aku tidak berani pastikan adik Giok sekarang apa masih hidup apa sudah mati, kau kesana jangan datang- datang bikin onar saja, selidiki dulu tentang dirinya Giok Cin, kau jangan sembarangan mencari urusan dengan anak buahnya Seng Eng. Kalau adik Giok masih hidup sebaiknya kau serahkan saja itu benda yang kau ambiL..."

"Kau keliru, enci Ie," memotong sipemuda dengan roman muka kurang senang, "Aku sama sekali tidak pernah mengambil benda itu. Aku menotok urat tidurnya adik Giok dalam rumah penginapan karena aku tidak mau dia mengikuti aku...."

"Kenapa tidak mau diikuti Giok Cin?" menyelak Ie Ya dengan heran.

"Aku tidak mau dia bersusah hati menyaksikan aku menemukan kematiannya."

Ho Tiong Jong selanjutnya lantas menuturkan dengan ringkas, halnya ia jalan sama-sama dengan Seng Giok Cin untuk mencari pemunah racun dalam dirinya, akan tetapi ternyata gagal Karena kuatir si nona nanti terus-terusan mengikuti padanya dan akan bersusah hati menyaksikan saat ajalnya sampai, maka ia telah menotok urat tidur sinona. Kemudian ia pergi meninggalkannya. Halnya benda yang dimaksudkan itu betul betul ia tidak tahu sama sekali-

Ie Ya angguk-anggukan kepalanya "Ya, sebenarnya mengherankan sekali, karena Seng pocu tetap menuduh kau yang mengambilnya benda pusaka itu."

Ho Tiong Jong kertek gigi. Hatinya sangat gemas pada orang tua itu, karena dirinya yang tidak dosa salah dituduh mencuri benda pusaka.

"Nah baiklah, Biar aku nanti kesana untuk memberikan keterangan agar mereka jelas bahwa aku bukan pencurinya benda pusaka itu. Kalau aku tidak datang sendiri kesana, siapa yang dapat menerangkannya bukan?"

"Tiong Jong, kau tak dapat kesana."

"Kenapa begitu?"

"Sebab kau mengambil benda itu. keteranganmu itu hanya aku sendiri yang percaya penuh, sedang mereka itu orang-orang tua kejam, mana mau mengerti dengan keteranganmu. Kau datang kesana, sama saja ular mencari penggebuk. Mana mereka mau melepaskannya lagi? jangan kau jangan kesana."

"Putusan sudah tetap enci Ie, biarkan aku harus menerjang goa harimau dan gunung golok, aku sedikitpun tidak merasa gentar?"jawab Ho Tiong Jong dengan ketawa getir. Ie Ya menjadi kewalahan.

Akhirnya mereka berdua balik dahulu ke rumahnya Co Kang Cay untuk memesan pada si orang tua, supaya ia menjaga diri baik-baik. jangan sembarangan keluar, paling baik berdiam saja sembunyi didalam kamar rahasia, sebab kini orang-orangnya Seng Eng tersebar luas untuk mencari jejaknya.

Kemudian muda-mudi itu telah berangkat kearah utara.

Ie Ya tahu bahwa orang-orang dari Perserikatan Benteng Perkampungan sudah bersatu hati untuk mencari Ho Tiong Jong yang disangkanya telah mencuri benda pusaka itu.

Pikirnya keadaannya Ho Tiong Jong sangat berbahaya, meskipun ia berani dan berilmu silat tinggi, mana dapat melawan banyak orang yang juga bukan orang-orang berkepandaian rendah.

Ia mencari akal bagaimana baiknya untuk meringankan bahaya yang mengancam atas dirinya Ho Tiong Jong, pemuda yang menjadi impian itu?

Ia sendiri telah terikat dengan sumpah Ketika Ie Ya masuk dalam komplotannya Khee Po-cu (Khee Ciang), telah mengangkat sumpah bahwa ia akan bersetia terhadap golongannya, tidak akan menyeleweng yang berakibat untuk kerugian golongannya itu.

Oleh sebab itu, Ie Ya tak dapat menyertai Ho Tiong Jong menyatroni Seng-keepo. Kesulitannya ini dijelaskan kepada Ho Tiong Jong, dan anak muda itu telah mengasih nasehat, memang sebaiknya Ie Ya jangan ikut campur urusannya, karena nanti akan menempuh bahaya untuk membikin bersih namanya Seng Giok Cin yang dituduh bersekongkol dengannya sudah memberikan itu benda pusaka kepadanya. Demikianlah, setelah melewati kota Yang-cie mereka lalu berpisahan.

Ho Tiong Jong sangat risau hatinya, cepat-cepat ingin menemui Seng Giok Cin, gadis cantik jelita yang menjadi buah hatinya.

"Apa adik Giok masih hidup? Entahlah. Mungkin dia sudah mati karena kekejaman ayahnya yang bersifat binatang itu. Hmmm.." ia menggeram sendirian, tangannya dikepalkan erat-erat dan giginya kedengaran bercatrukan saking menahan amarahnya. Dalam perjalanan ini, Ho Tiong Jong sangat berhati-hati- Ia tidak berani sembarangan menyikat makanan dan minum arak. Ia gunakan jarum perak untuk mengetahui apakah makanan dan arak itu tidak ada racunnya. Kalau misalnya ada mengandung racun, jarum perak itu berubah

hitam, Benda ini ia dapat dari Tok kay, semasa ia galang-gulung dengan Si pengemis berbisa itu.

Mampir di rumah penginapanpun ia tidak tidur nyenyak, kuatir kena dibokong oleh orang-orangnya Seng Eng. Terutama ia menjaga betul- betul terhadap kemungkinan diserang dengan obat pulas, ia mengaso hanya sebentaran didalam rumah penginapan sebab begitu letihnya hilangan, sudah lantas meneruskan perjalanannya meskipun diwaktu malam. la lakukan perjalanan dengan berkuda, Suatu malam ia meninggalkan rumah penginapan, setelah menempuh perjalanan tujuh puluh lie kira-kira, saat itu sudah jam tiga malam. Keadaan sangat dingin, diwaktu terang tanah pikirnya ia sudah akan sampai di rumahnya Seng Eng.

Selagi ia enak jalankan kudanya, tiba-tiba ia melihat sebuah kuil, ia berpikir, kini sudah dekat dengan tempat tujuannya, sebaiknya ia mampir mengaso dahulu dalam kuil ini, jejaknya sudah tentu telah diketahui oleh anak buahnya Seng Eng dan mereka tentu dengan menggunakan burung dara sudah memberi kabar kepada ketuanya. ia ingin membuat anak buahnya Seng Eng terkejut melihat ia ada masuk kedalam kuil. Ketika ia sampai dipekarangan belakang kuil lantas turun dari kudanya.

Pikirnya ia mengasoh dibelakang kelenteng saja, supaya jangan bikin repot pada kawan dari penghuninya. Tidak tahunya setelah ia meninggalkan kudanya yang terus mencari rumput,jalan belum berapa lama ia melihat ada seorang hweshio yang sedang berlutut di bawah sebuah pohon yang rindang. Cepat ia menghampiri. ia lihat orang sedang bersujud, tak berani datang mengganggu hanya diam saja berdiri disitu, Menunggu sampai si hweshio habisan bersujudnya. Tapi ia tidak menunggu lama, karena si hweshio sudah berlututnya dan ketika melihat dirinya lantas menanya.

"Ow, sicu malam-malam berkuda datang ke sini tentu kesasar jalan, bukan? Mari, mari masuk kedalam...."

"Terima kasih suhu, Kedataaganku ini hanya membuat repot suhu saja."

"Oo, tidak, tidak.... mari masuk, Tahu sendirilah, kami disini tidak berpenghasilan apa-apa, mengandal orang punya dermaan dan orang orang yang datang kesini membantu sedikit untuk membeli minyak dan hio. Aku bernama Kong Ci, kedatangan sicu membuat hatiku girang. Dan nama sicu, siapa ?"

Ho Tiong Jong senang terhadap hweshio yang ramah tamah ini. "Aku she Ho bernama Tiong Jong, "jawabnya.

"Bagus... Ho sicu jalanlah duluan." Ho Tiong Jong menurut, diikuti dari belakangan oleh Kong Ci-

"Nah, ini harus waspada, Apa maunya dia mengikuti dibelakang, bukannya jalan di depan?" Demikian pikirnya Ho Tiong Jong. Tengah ia menduga-duga, tiba tiba mendengar si hwesio berteriak.

"Sicu, awas itu ada ular berbisa."

Betul saja ada ular tidak jauh dari padanya sedang legat-legot datang menghampiri. Belum Ho Tiong Jong bergerak, ular itu sudah nyamber dan menggigit pahanya si anak muda.

Tapi heran, Ho Tiong Jong bukan saja tidak terluka, malah si ular jahat tadi terpental dari tubuhnya.

Kenapa? inilah tidak herani selainnya daging Ho Tiong Jong kuat seperti baja, juga kebanyakan kena racun tempo hari, hingga si ular bukan saja tak dapat menggigit dagingnya ia sendiri kaget bukan main hingga terpental sendirinya.

Racun ketemu racun, tak dapat berbuat suatu apa, seperti yang ketakutan, ular tadi cepat-cepat telah mabur kedalam pepohonan.

Ular itu sangat berbisa, semacam ular belang. Orang yang kena gigitnya bisa terus pingsan seketika itu juga dalam

tempo tujuh hari tak sadarkan diri. Kalau setelah siuman, tiga hari lagi si korban menderita dari reakei racunnya terus mati tidak ada obatnya lagi.

Ho Tiong Jong sendiri tidak takut ular tadi akan tetapi Kong Ci kelihatan merasa jerih. Apa mau ular tadi seperti yang penasaran telah muncul lagi dan kini coba menyambar pada Kong Ci hingga si hweshio menjerit kaget.

Untung Ho Tiong Jong dapat lihat dengan satu kebutan lengan bajunya saja ular itu sudah mental balik kegerombolan tadi dan kini ia kabur serta tidak berani muncul lagi-

"Berbahaya..." terdengar si hwesio berkata, mukanya tampak pucat. "Sukur ada sicu yang menolong, kalau tidak, tentu aku akan menjadi makanan ular kurang ajar itu tadi, Terima kasih Ho sicu."

"ltu tidak apa." kata Ho Tiong Jong merendah "Perbuatan tadi hanya dengan cara kebetulan saja. Kalau tidak mendengar jeritan suhu tentu aku juga tidak bisa berbuat apa2."

Diam-diam si hweshio mengagumi sipemuda yang bukan saja kebal dagingnya, tapi juga kepandaian silatnya tentu ada sangat tinggi. Dilain saat mereka sudah berada didalam kuil. Kong Ci dengan hormat telah berkata. "Ho sicu, harap kau beristirahat sebentar, aku hendak sembahyang pada sang Buddha yang sudah melindungi aku tadi-"

Setelah berkata, dengan tersipu-sipu ia menghampiri tempat sembahyang dan berlutut. Ho Tiong Jong yang melihat kelakuannya si hweshio, tapi ia diam-diam merasa senang karena Kong Ci sangat ramah tamah dan jujur kelihatannya.

Tanpa merasa ia sendiri menghampiri dan berlutut bersama-sama Kong Ci- Kong Ci ketika berbangkit ia juga mengikuti bangun berdiri, akan tetapi kepalanya dirasakan sangat pening napasnya sesak dengan tiba-tiba.

"Kepala gundul." bentaknya, ketika ia rubuh lemas, "Kau berani main gila pada tuan mudamu, awas kau" berbareng ia hendak menyerang, tapi tenaganya sudah lemas. la tidak bisa sekehendak hatinya yang sangat marah.

"Ha ha ha... Ho Tiong Jong, kan sudah terjatuh dalam tanganku, ha ha ha..."

Bukan main marahnya Ho Tiong Jong, ia masih mencoba merangkak mendekati bangku panjang, dengan sisa tenaganya yang ada ia angkat bangku dilontarkan kepada Kong Ci-

sambil membentak. "Hweshio jahat, makan nih hasil perbuatanmu." Bangku panjang meluncur dengan cepatnya kearah Kong Ci-

"Hmm... Ho Tiong Jong, kau bisa berbuat apa?"

sambil tangannya diulur menyambuti bangku yang diluncurkan sipemuda, ia tidak mengira tenaganya Ho Tiong Jong istimewa, sekalipun ia dalam keadaaan lemas, masih dapat meluncurkan bangku itu dengan kekuatan yang cukup membikin tangannya Kong Ci tergetar dan merasa kesemutan tubuhnya sendiri terdorong mundur terhuyung-huyung. Ia jadi ketakutan setengah mati- apa lagi melihat Ho Tiong Jong dapat berdiri dan jalan sempoyongan menghampiri padanya, semangatnya sudah terbang, tapi untung sianak muda hanya dapat melangkah beberapa tindak saja dan lantas rubuh.

Melihat kejadian ini, hatinya yang tadi ketakutan dan semangatnya sudah terbang sekarang sudah berbalik kegirangan dan semangatnya berkumpul kembali. Kini ia bisa ketawa ngakak, perlahan lahan ia menghampiri tubuhnya sipemuda yang telah pingsan, sambil tolak pinggang ia berdiri didekat Ho Tiong Jong, berkata pada orang yang sedang tidak ingat orang

"Aku hweshio miskin maka tak dapat menolak uang hadiah yang disediakan oleh Seng pocu, bagi siapa yang dapat

menangkap dirimu. Kini aku yang beruntung ah, uang sebanyak sepuluh ribu tail entah bagai mana aku dapat menggunakannya. Ha ha ha " ia tertawa bergelak-gelak. Uang sepuluh ribu tail sudah berbayang didepan matanya. Kiranya ia sudah dapat membikin rubuh Ho Tiong Jong dengan menggunakan obat tidur yang tidak ada baunya sama sekali- Pantasan sipemuda tidak curiga, hanya datang-datang ia merasakan kepalanya pusing dan badannya merasa sangat lemas.

Demikianlah, meskipun bagaimana hati2-nya Ho Tiong Jong, kalau sedang "apes" akhirnya ia kena juga dikerjai Kong Ci Hweshio yang temaha itu.

Tengah ia enak ketawa, mendadak tubuh Ho Tiong Jong bergerak dan mengirim pukulan dengan angin telapak tangannya, sehingga si kepala gundul terpental sampai setumbak jauhnya.

Ketika ia jatuh, ia tidak bergerak lagi pura-pura mati- takut dikejar oleh Ho Tiong Jong dan jiwanya dihabisi.

Sebenarnya ia tak usah ketakutan, karena Ho Tiong Jong sudah rubuh lagi dan tak ingat orang, karena pengaruhnya obat tidur si kepala gundul masih bekerja.

Kong Ci setelah sesaat memperhatikan Ho Tiong Jong tidak bergerak, hatinya mulai berani lagi- pelahan-lahan ia menghampiri bantalan untuk orang sembahyang ia duduk diatasnya bersemedi mengumpulkan pula jalan napasnya, yang tadi merasa sesak kena angin pukulan Ho Tiong Jong yang hebat. Ia terluka didalamnya, Diam-diam ia menghela napas dan berkata sendiri.

"Ya, tidak begiru mudah untuk dapat sepuluh ribu tali- hampir-hampir saja jiwaku melayang oleh Ho Tiong Jong."

Sambil berkata ia menelan pil untuk mencegah luka didalam menjalar lebih luas. Apa mau, seiring ditelannya pil dan menjalankan pernapasannya, tiba-tiba ada meluncur dua

buah batu kecil sebesar jari jempol menghantam ia punya jalan darah Tay-ih hiat dan Thian su hiat, jalan pernapasan menjadi mandek lagi- kemudian dirasakan seluruh badannya gatal dan-... ia terus-terusan ketawa seperti yang dikitik-kitik urat ketawanya. Karena kecapaian ketawa, tenaganya menjadi habis dan ia jatuh pingsan-Sebentar lagi tampak ada dua hweshio lain yang masuk kedalam ruangan itu, mereka semuanya kena diserang obat tidur yang masih bekerja dalam ruangan itu. Kiranya yang melontarkan batu tadi adalah Li-lo-sat Ie Ya.

Ketika melihat ketiga hweshio sudah pada rubuh maka si nona baru berani keluar dari tempat persembunyiannya. Sambil menekap hidungnya dengan setangan, ia masuk kedalam ruangan dan mengambil Ho Tiong Jong keluar diletakkan disebuah pohon kecil yang terdapat disamping kuil itu. Setelah mana ia balik lagi dan sembunyi dibaliknya pintu. Tidak lama kemudian masuk satu hweshio tua diiringi oleh tiga hweshio muda. Melihat keadaan Kong Ci dan dua orang lainnya hweshio tua itu mengerutkan alisnya dan berkata pada satu hweshio muda yang bernama Kong Goan.

"Kong Goan, mereka rupanya kena obat tidur, Kau angkat suhengmu, Kong Ci, yang lainnya boleh menolong dua orang lainnya di bawa kebelakang dan dikasih obat kita supaya mereka pada sadar kembali- Entah apa yang terjadi dalam ruangan ini-" Berkat ketajaman hidungnya, diam-diam si hweshio tua sudah mendapat tahu bahwa didalam ruangan itu ada disebar obat tidur bikinan gerejanya itu yang tidak dapat dibade oleh sang korban, ia heran, karena senjata itu jadi makan tuan, bukannya orang lain yang menjadi korbannya. Tiga hweshio muda itu telah menjalankan tugasnya masing-masing.

Setelah dua saudara seperguruannya sadar lebih dahalu, Kong Goan yang berbadan tinggi- telah mengangkat Kong Ci

hendak menyusul kawannya. Tapi tiba-tiba terdengar ia menggerendeng sendirian-

"Apa benar suheng telah kena obat tidur? Tidak bisa jadi kalau melihat keadaannya. Dia seperti telah berkelahi dengan orang?"

Gerendengannya Kong Goan dapat didengar oleh si hweshio tua, siapa sekali lompat saja sudah berada dihadapannya Kong Goan yang sedang hendak membawa Kong-Ci kedalam.

"Tahan" katanya, sambil datang dekat dan memeriksa keadaannya Kong Cie. hweshio tua itu telah geleng kepalanya setelah memerikea keadaan muridnya.

"Memang tidak salah apa yang kau katakan, Kong Goan-" katanya.

Kemudian ia menepuk punggungnya Kong Cie tiga kali- segera si hweshio temaha sudah siuman daripingsannya. ia kembali tertawa-tawa tak sudahnya. cepat si hweshio tua membuka totokan pada urat ketawaan-nya dan sekarang Kong Cie dengan ketakutan telah menghadap gurunya.

"Kong Cie," kata si hweshio tua, "kau telah melanggar larangan, dengan sembarangan telah menggunakan obat tidur Lian hun hiong, Kau sebetulnya hendak membunuh siapa? Lekas cerita terus terang, kalau berdusta sedikit saja, akan menghukummu dengan hukuman paling berat, mengerti."

Kong Cie menggigil tubuhnya, ia takut benar kepada gurunya yang bengis dan tak pernah mengampuni pada muridnya yang nyeleweng dari peraturannya. Terdengar ia mengalah napas, kemudian dengan suara lemah berkata.

"Suhu, tecu harap suhu jangan marah dulu, sebenarnya tecu sangat menyesal sekali telah melakukan ini perbuatan yang melanggar peraturan suhu."

"Lekas cerita, tak perlu berputar-putar" bentak si hweshio tua dengan bengis.

"Duduknya urusan, yalah tecu ada mempunyai sahabat bernama Lauw Tek Cong, yalah orang bawahannya Louw Thungcu yang termasuk dalam Persekutuan Benteng Perkampungan. Menurut katanya, Seng Pocu dari Seng-kee-po ada kehilangan satu benda wasiat dan yang dituduh sebagai pencurinya adalah seorang anak bernama Ho Tiong Jong. Dia minta tecu membantunya. Karena katanya, kalau bisa menangkap Ho Tiong Jong dalam keadaan hidup dan benda wasiat itu bisa didapatkan kembali- maka orang yang berpahala itu akan mendapat hadiah sepuluh ribu tail perak. Tecu mendengar itu telah gelap mata dan janjikan pada Louw Tek Cong akan membantu sehingga berhasil. Apa mau Ho Tiong Jong telah datang sendiri kesini sebelumnya tecu bersusah payah mencari- carinya.

"Karena Ho Tiong Jong ini ada berkepandaian sangat tinggi- Saya tidak ungkulan menangkapnya dengan jalan kekerasan maka tecu sudah pasangkan obat Liap hun hiong. Tecu mohon belas kasihan suhu, mengingat akan perhubungan kita antara guru dan murid sudah begitu lama, memberi ampun kepada tecu dan tecu berjanji selanjutnya tidak berani melanggar larangan suhu."

Kong Cie berkata sambil berbuat,jidatnya sampai membentur lantai mengharap belas kasihan sang guru.

hweshio tua itu hatinya tergetar, merasa kasihan juga melihat kelakuannya sang Murid yang memang sangat disayang olehnya, Tapi ia tak dapat membebaskan murid yang melanggar peraturan itu demikian saja. Untuk menjaga tata tertib supaya dipegang teguh oleh murid- muridnya, maka mau tidak mau harus ia menghukum Kong Ci- sebagai contoh untuk yang lain-lainnya.

"Kong Ci- perbuatanmu sungguh tidak tepat dengan namamu Kong Cie (menolong seluas-luasnya). Baiklah,

hukuman mati kau dapat bebas akan tetapi tak terluput dari hukuman hidup" kemudian ia meneruskan kata katanya kepada Kong Goan-"Kong Goan kau bawa suhengmu ini dan jebloskan dalam tahanan lm mo teng, tiap hari boleh kasih makan nasi jelek dua mangkok dan secangkir air putih. Biarlah dia dalam tahanan dapat memikirkan kedosaannya dan menjadi insaf."

"Terima kasih suhu, suhu sudah bermurah hati mengasih tinggal hidup pada tecu yang berdosa ini." tiba-tiba Kong Ci memotong bicaranya sang suhu, terus angguk-anggukan kepalanya hingga jidatnya membentur lantai. Hatinya sang guru tidak tega melihat muridnya yang tersayang itu akan menjalani hukuman, tapi ya, apa boleh buat, ia harus ambil tindakan tegas sebagai contoh untuk murid yang lainnya

. "Kong Ci, kau laki laki dalam tahanan memikirkan akan dosamu dan insaf, supaya hukumanmu mendapat keentengan." demikianlah katanya sang murid dibawa oleh Kong Goan yang menjadi sutenya. Lie lo sat Ie Ya dibalik pintu mendengar tegas pembicaraan diantara guru dan murid itu. ia terkejut ketika mendengar disebutnya obat tidur Liap hun-hiong, karena ia tahu bahwa obat ajaib ini adalah bikinannya Tay Hong Hosiang, satu hweshio yang gentayangan didalam kalangan Kang-ouw di kenal termasuk golongan hitam (golongan yang menjalankan kejahatan).

Ajaibnya obat itu karena kalau dibakar tidak memberi rasa bau apa- apa. Setelah asap itu masuk kedalam hidung, tak ampun lagi sang korban akan jatuh pingsan-

Tay Hong Hmtang berkepandaian sangat tinggi ia memiliki ilmu silat rahasia dari Siauw limpay. Sayang dengan kepandaiannya yang tinggi ini- karena ia tergolong seorang murid murtad.

Nona Ie heran apakah dalam kuil itu semua ada anak muridnya Tay Hong Hosiang, makanya ada mempunyai obat tidur Llap-hun-hiong yang manjur itu.

XXVII. IE YA UNJUK KEPANDAIAN

HATINYA nona Ie gelisah, ia ingin membawa Ho Tiong Jong menyingkir dari situ, akan tetapi melihat sikap si hweshio seperti yang mempunyai kepandaian yang tinggi- pikirnya kapiran pekerjaannya itu, sebab tentu akan dikejar olehnya.

Tapi mengingat lagi- kalau tidak berani meneejang bahaya, sampai kapan ia dapat meloloskan diri? Maka ia nekad dan akan membawa sipemuda pergi kalau sudah ada kesempatan baik. Kong Ci digiring oleh Kong Goan diikuti juga oleh suhunya.

Ketika mereka berjalan hendak melewati pintu belakang mana ada bersembunyi Ie Ya, tiba-tiba Kong Ci berkata, "Suhu, pada saat apa tecu boleh keluar dari hukuman?"

"Hmm.... bagus kau menanya demikian, tapi terlebih dahulu tanya pada diri sendiri dahulu, apa kau katakan dalam sumpahmu untuk tidak sembarangan menggunakan obat Liap-hun-hiong ?"

Kong Ci berubah pucat mukanya, "Ya,"jawabnya, "suhu sudah dapat mengampuni jiwa, mana tecu lupa akan kata-kata dalam sumpah itu ialah, Menggunakan obat Llap hun-hiong tanpa ijin dari suhu, dengan rela hati menerima hukuman mati-"

hweshio tua itu adalah Tay Hong Hongsiang, ia ingin menjadi orang baik dan telah menjadi kepala dalam kuil itu, muridnya banyak juga.

Tay Hong Hosiang setelah mendengar muridnya mengatakan kata kata sumpahnya, lalu berkata pada sang murid, "Kong Ci- kata-kata sumpah itu betul demikian bunyinya. Kau dari sebab disayang olehku, masakau sudah berani sembarangan menggunakannya obat tidur itu, kau sama sekali tidak mengindahkan kata sumpahmu itu. Aku

tidak berani berdusta pada sang Budha. Kalau kau mau tahu, saat apa kau boleh keluar dari hukuman, adalah pada saat kematianku, inilah berarti- bahwa aku telah mewakili hukuman matimu, kau mengerti ?"

Kong Ci kaget bukan main, badannya menggigil seperti orang diserang penyakit panas dingin- Tapi Tay Hong Hosiang tidak perduli perubahan itu hanya terus mendorong ia jalan lebih jauh.

Lie-lo sat Ie Ya mendengar bicaranya Tay Hong Hosiang diam-diam berpikir, Kong Ci itu ada satu murid yang nyeleweng, untuk apa dikasih tinggal hidup? Lebih baik dia di hukum mati-

pada waktu ia hendak meninggalkan tempa tpersembunyiannya, ia dibikin kaget oleh kata- kata nya Tay Hong Hosiang seperti yang sedang berdoa.

"Sahabat, jangan sembunyi-sembunyi unjukkanlah dirimu. Aku Si padri tua selamanya menyambut tetamunya dengan tidak ada kecualian tinggi rendahnya kedudukan yang datang."

Ie Ya terkejut dibelakang pintu, ia pikir hweshio tua ini benar lihay lantas saja mendapat tahu ada orang sembunyi dibalik pintu, ia lebih kaget lagi ketika Tay Hong Hosiang menyambung perkataannya. "Aku menghukum muridku dengan cara ini apakah itu termasuk mengeloni murid sendiri?"

Betul- betul Lie lo-sat Ie-Ya tidak habis mengerti dengan kepandaiannya si hweshio tua yang bisa menebak apa yang dipikirkannya barusan, ia seolah-olah dewa saja yang dapat mengetahui orang punya isi hati-Karena mana, Ie Ya tak dapat bersembunyi lebih lama, ia lantas unjukkan diri dihadapannya Tay Hong Hosiang, yang saat ini ada bersama-sama dengan dua muridnya yang lain, yalah Kong Cie dan Kong Goan di sampingnya si murid nyeleweng Kong Cie.

Kawanan hweshio itu kaget melihat yang muncul dari belakang pintu ada satu wanita jelita yang jarang tandingannya, Lincah dan gesit sekali ia lompat keluar dari tempat sembunyinya, kemudian menjura pada Tay Hong Hosiang sambil berkata. "Ie Ya dengan julukannya Lie lo sat datang berjumpa dihadapan Taysu sekalian."

"Oh, kiranya nona Ie," kata Tay Hong Hosiang pelahan, tapi kedengarannya seperti lonceng ditelinganya Ie Ya disebabkan tenaga dalamnya yang hebat sekali-Ie Ya kaget, pikirnya. "Hweshio tua ini tidak boleh dibuat gegabah, aku harus hati- hati untuk melayaninya supaya dapat membawa Ho Tiong Jong keluar dari sini dengan selamat..."

Matanya Tay Hong Hosiang mengawasi dengan tajam, tapi tidak mengandung maksud lain dari pada menakeir orang punya kepandaian sampai dimana. Tapi sebaliknya dengan Kong Ce si murid nyeleweng dan sute nya itu, begitu melihat Ie Ya yang cantik jelita, lantas saja hatinya berdebaran, Pikirannya, "cantik betul ini wanita telengas, tidak surup dengan julukannya . "

Mereka suheng dan sute memang biasa diluaran suka main perempuan dan main mabok mabokan, Sampai sebegitu jauh Tay Hong Hosiang sebagai gurunya, bukannya tidak tahu kelakuan dua muridnya ini- akan retapi karena mereka sangat disayang si hweshio tua telah pura pura tidak tahu saja.

Cuma tempo-tempo dengan jalan memutar ia memberikan nasehat supaya mereka yang sudah masuk kalangan agama jangan melupakan kesujudannya, Tapi nasehat itu, masuk dikuping kanan keluar di kuping kiri.

Mereka terus melakukan perbuatannya yang terkutuk, tapi dengan yang lebih hati- hati pula jangan sampai kena diketahui oleh gurunya.

Ie Ya mengerti kedua kelakuan dua hweshio cabul itu, dilihat dari tingkah lakunya dan cengar cengir seperti monyet

kena terasi kata orang Jakarta. Ia sebal melihatnya, lalu menanya pada Tay Hong Hosiang. "Numpang tanya, apakah obat Liap hun-hiong itu bikinan Taysu?"

"Hahaha," terdengar sihweshio tua berkakakan ketawa, "tidak salah pertanyaan nona barusan. Aku Tay Hong Hosiang, sebenarnya sudah lama ingin kembali menjadi orang baik-baik makanya juga telah mendirikan kelenteng disini. Cuma sayang tabeat busukku masih terus saja melengket didadaku, Oleh karena nya aku tidak dapat kembali ke Siauw lim-sie karena aku kuatir ditertawakan oleh saudara-saudara disana."

"Tidak apa, kalau memang ada ingatan umuk kembali kejalan yang baik, aku rasa dalam sedikit waktu lagi Taysu akan berhasil dengan maksud Taysu."

"Mudah-mudahan perkataan nona itu mendapat perhatian sang Buddha, Nah sekarang kita bicarakan apa yang terjadi disini."

"Urusan apa?" tanya si nona cepat,

"Barusan yang membuat onar dalam kuil ini tentu adalah nona sendiri, Nona menggunakan muridku Kong Ci, ini sama juga tidak memandang mata padaku."

Ie Ya kaget sekali mendengar kata-katanya si hweshio tua, Pikirrya, celaka, ini kepala gundul bangkotan mau cari urusan dengannya. Apakah ia ungkulan melayaninya, itulah masih dalam pertanyaan. jikalau mengingat kegagahan dan kemashuran nama Tay Hong Hosisng dalam kalangan Kangouw.

Dengan suara sabar dan tenang Ie Ya menjawab "Taysu, kau ada seorang beragama yang sudah banyak tahun membaca kitab suci tentunya juga tidak akan turun tangan terhadapku seorang perempuan tidak ada gunanya."

"Sejak dahulu aku ada memegang peraturan, siapa saia yang menghina muridku aku akan bikin perhitungan kesalahan

dari muridku, hanya aku saja sebagai gurunya yang dapat menghukumnya tidak memperkenalkan orang lain mengacak-acak peraturanku. Maka sekarang, kau dengan sengaja datang kemari membuat onar, harus kau berani mempertanggung-jawabkan perbuatanmu itu."

"Ooo,jadi Taysu tidak perkenankan aku berialu dari sini ?"

"Kecuali kalau kau tahan menyambuti sepuluh jurus seranganku ?"

Ie Ya pikir, ia tidak dapat lolos sebelum unjuk sedikit kepandaian maka ia berkata.

"Baiklah, kalau Taysu mau lihat seorang muda berlaku kurang ajar didepan orang tua."

"Bagus,bagus..... memang sudah lama aku mendengar munculnya seorang wanita bernama dengan gelar Li-losat, yang beroperasi di sekitar Sungai Kuning, sekarang aku beruntung menghadapinya dan dapat mencoba kepandaiannya."

Ie Ya kertek gigi mendengar si hweshio tua berkata demikian-

"Silahkan Taysu menyerang" menantang, Ie Ya saat itu sudah siap sedia memasang kuda-kudanya untuk menyambut serangannya si hweshio tua.

"Awas, serangan pertama" teriak Tay Hong Hosiang.

Ia menyerang dengan telapakan tangannya yang kurus, tapi Ie Ya menggunakan kelincahannya untuk menyingkir dari serangan lawan.

"Bagus...." kata Tay Hong Hosiang, ketika melihat serangan pertamanya dapat dihindarkan oleh si nona.

"Awas, serangan kedua " teriaknya pula.

Kali ini serangannya disambuti dengan telapakan tangan juga, tampak telapakan tangan Ie Ya mengeluarkan sinar hijau, yalah ilmu "Telapakan tangan Api Setan" yang ia yakinkan sudah lama.

Itulah ada ilmu nyeleweng yang ampuh, maka Tay Hong Hosiang yang sudah lama dalam kalangan Kaugouw tidak berani gegabah untuk mengadukan telapakan tangannya dengan api setan itu, maka ia menarik serangannya.

"Taysu, sudah dua jurus" teriak Ie Ya. Si hweshio tua terkekeh-kekeh ketawa.

"Serangan ketiga, awas" teriaknya lagi.

Kali ini Tay Hong Hosiang telah menggunakan tenaga dalamnya menyerang, tampak tangannya didorong mengeluarkan angin hebat sekali, Ie Ya tidak mau kalah ia coba kekuatan si hweshio tua menyambut dengan kedua telapakan tangannya digabung menjadi satu. Kesudahannya sungguh tidak enak bagi Ie Ya, sebab si iblis telengas sudah terdorong tujuh-delapan tumbak.

Ie Ya merasakan dadanya seperti menyesak, tapi ia tahan dan berdiam sejenak untuk memulihkan tenaganya. Kemudian ia loloskan ikat pinggangnya, dengan senjata mana ia menyerang hweshio tua itu.

Tapi ternyata Tay Hong Hosiang sangat tinggi kepandaiannya susah diukur, sebab dengan mudah saja ia telah berkelit kesana sini untuk menghindarkan serangan ikat pinggang si nona yang sangat diandalkan sebagai senjatanya yang ampuh dalam setiap pertempuran.

Untung Ie Ya dapat bertahan sampai sepuluh jurus dari serangannya si hweshio tua kemudian ia melompat keluar dari kalangan pertempuran ia menjura seraya berkata.

"Taysu, sudahlah Ie Ya mengaku kalah..."

Tay Hong Hosiang ketawa. "Bagus" katanya. "kau telah dapat tahan sampai sepuluh jurus dari seranganku bukannya urusannya yang mudah. Aku persilahkan kau boleh berlalu dari sini. Nah pergilah..."

Tapi Ie Ya tinggal berdiri terpaku ditempatnya.

"Kenapa kau tinggal berdiri saja, bukannya lantas berlalu?" tanya si hweshio itu,

ketika menyaksikan si nona berdiri menjublek. "Maaf Taysu, aku baru mau pergi dari sini, kalau Taysu suka bermurah hati untuk memberikan pemunah obat tidur bagi Ho Tiong Jong yang menjadi korban murid Taysu ialah Kong Ci suhu."

Tay Hong Hosiang kerutkan alisnya. "Oo, itu tidak apa, dalam tempo enam jam ia akan siuman sendirinya, obat itu tak membikin luka apa apa pada tubuhnya Tiong Jong."

sampai disini ia berkata, ia memikir pula bahwa benar obat itu akan membuat si korban siuman dengan sendirinya, akan tetapi tenaga si korban akan hilang dan kaki tangannya menjadi lumpuh, maka ia lalu menanya pada Ie Ya.

"Ya, nona Ie sebenarnya kau ini ada sangkut paut apa dengan Tiong Jong, karena kelihatannya kau sangat memperhatikan padanya?"

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia,"jawab Ie Ya agak kikuk, "Aku pernah bersumpah dengan Khu Pocu, bahwa aku tidak akan membuat nama jelek pada keluarga Khoe, tapi sekarang aku telah menolong Tiong Jong, bagaimana baiknya ya."

Tay Hong Hosiang heran. Sedang Kong Ci yang mendengarnya ketawa nyengir, pikirnya, "Hmmm.... sekarang kau kebingungan. Kau menolong Tiong Jong bukan tidak ada maksudnya, tentu kau menyintai dia."

Kemudian ia berkata pada gurunya "Suhu, perempuan ini sangat tidak hormat kepada kita, maka sebaiknya tecu memberi dia hajaran supaya dia tahu rasa"

"Oh, suhu jangan salah mengerti " Ie Ya buru-buru berkata pada Kong Cie.

"Aku terpaksa menolong dia karena tempo hari aku pernah ditangkap olehnya. Tiong Jong sangat gagah, aku tak dapat meIawannya. Maka itu waktu aku pernah bersumpah akan melindungi dirinya dalam sepanjang perjalanannya, asal dia mengampuni aku, Dia telah setuju, maka aku terpakea melindungi dia. Suhu tentu bisa menimbang, bahwa dalam kalangan Kang ouw bukankah aku si gagah dapat berkuasa atas si lemah? Aku memang ada orang dari Perserikatan Benteng (Perkampungan) ." Tay Hong Hosiang mendengar keterangannya Ie Ya telah kerutkan alisnya dan berpikir sejenak, kemudian berkata pada muridnya. "Hei Kong Goan, kau ambil itu obat bubuk Hoti hun-sau (obat mengembalikan jiwa), cepat cepat berikan kepada nona Ie."

Sambil menyuruh muridnya, ia berpaling kepada Ie Ya dan berkata.

"Nona Ie. obat bubukku itu meskipun tak dapat memunahkan sekaligus racun Liap hun hiong, karena obat pemunahnya yang aseli tapi boleh diharap dalam tempo satu tahun Ho Tiong Jong akan sembuh kembali seperti semula..."

Li-lo-sat Ie Ya kelihatan kurang puas. Tapi dalam hatinya pikir, lebih baik ia terima saat itu untuk membikin Tiong Jong mendusin dahulu, selanjutnya bagaimana nanti akan dipikirkan pula . Mengingat itu, maka ia tidak mengucapkan apa apa kepada Tay Hong Hosiang.

Hal mana membuat Kong Cie Hweshio menjadi sangat mendongkol hatinya ia lalu berkata pada gurunya, "Suhu, perempuan ini tidak mengenal aturan, sebetulnya kita tak

usah ambil perduli kepadanya, Masa dikasih bantuan tidak mengucapkan terima kasih, perempuan apa dia..."

Li-io sat Ie Ya mendelik matanya sejenak, tapi lantas putih kembali wajahnya yang ramai dengan senyuman.

Ie Ya sebagai Ketua dari golongan wanita Iblis, telah malang melintang di sekitar Sungai Kuning dengan tiada seorangpun yang berani membentur padanya.Begitu galak adanya ia, tapi dalam kelenteng ini ia dapat bersabar dan menyesuaikan diri, karena kekuatannya kalah jauh.

Cuma saja si ceriwis Kong Tie kelakuannya yang tengik membuat ia sebagai kepingin muntah, apalagi perkataannya yang paling belakangan membuat Ie Ya menjadi hilang sabar. Tampak ia tertawa manis sekali. Ie Ya sekali tertawa manis, artinya ia sudah marah, lebih manis lagi- tertawanya lebih meluap-luap amarahnya dan sedikit sekali orang yang tahu akan tabeatnya yang aneh ini.

Kong Cie yang melihat si nona cantik di-depannya ketawa manis, dikiranya takut padanya, maka lagaknya sudah menjadi-jadi saja tengiknya.

"Hm....". Ie Ya menggeram, "Perkataanmu benar-benar tidak ada sungkannya, kalau saja aku tidak memandang Lo taysu, malam ini aku sudah hajar kau sampai tahu rasa. Kau jangan keterlaluan ya "

"Memang kau tidak tahu aturan, siapa takut padamu?" Menantang Kong Tie dengan jumawa dan membawa aksinya yang tengik. Tay Hong Hosiang melihat muridnya ingin menempur si nona, tampak mengkerutkan alisnya. Pikir Ie Ya. "Mau apa ini si kepala gundul tua? Apa dia mau menangkap aku? Gelagat kelihatannya tidak menguntungkan"

Terus ia berkata pada Tay Hong Hosiang, "Taysu, hal bertanding sudah biasa dikalangan Kang ouw. Taysu juga jangan sungkan-sungkan terhadapku. Tapi- nah itu dia Kong Goan suhu datang membawa obat."

"Nona Ie. sebaiknya kau bertanding dulu memberi hajaran pada muridku, supaya dia tahu rasa, setelah ia babak belur kau barulah ia menerima obat, bagaimana?"

Li-lo sat lo Ya kerutkan alisnya yang lentik indah, cantik sekali rupanya saat itu.

Ia mana takuti Kong Tie Hwesio yang ceriwis, hatinya sudah benci, maka keelokan-nya makin menonjol saja. Ketawanya malah makin manis menarik hati.

"Terima kasih, Taysu," katanya dengan tersenyum, "atas perintah Taysu mana Ie Ya dapat menolak? Nah Kong Tie suhu, marilah apa kau sudah siap sedia?"

Kong Tie memang dari setadian sudah siap sedia, ia pikir, meskipun namanya Ie Ya sudah sangat tersohor, rasanya dia ungkulan menjatuhkannya, Nanti, setelah ia peroleh kemenangan barulah ia dapat mempengaruhi sinona jelita ini, Siapa tahu muslihatnya akan berhasil dan dapati sicantik, biarpun umurnya dipendeki beberapa tahun rasanya ia rela asal dapatkan Ie Ya yang menggiurkan segala-galanya.

"Aku sudah siap sejak tadi, nona. Silahkan." kata Kong Tie jumawa. Ie Ya tidak sabaran, lantas saja ia menyerang kearah bahunya lawan.

Tapi Kong Tie cukup gesit untuk menghindarkan diri, ia sebenarnya sudah belajar silat dua puluh tahun lamanya, makanya ia jadi sangat sombong.

Diantara muridnya Tay Hong Hosiang, ada tiga orang yang tersayang dan dapat pelajaran tinggi, yalah pertama Kong Ci, kedua Kong Tie dan ketiga Kong Goan. Antara tiga orang ini, adalah Kong Goan yang tertinggi kepandaiannya.

Kong Ci dan Kong Tie karena suka main perempuan dan main mabok-mabokan, maka tenaga dalamnya kurang sempurna.

Serangan susulan dari Ie Ya mengejutkan Kong Tie hingga ia mundur tiga tindak.

Tay Hong Hosiang marah melihat murid-nya keteter, ia sesalkan Sang muridnya tidak mau belajar dengan betul, sehingga serangan Ie Ya yang mudah saja ditangkisnya membuat ia mundur beberapa tindak.

Dalam bingungnya, Kong Tie dibikin terkejut ketika Ie Ya telah perlihatkan serangan dengan telapak "Api Setan," yang mengeluarkan sinar warna hijau, ia tidak berani menerjang bahaya, karena serangan dengan telapakan tangan hebat itu, bisa membuat jiwanya melayang menemui raja akherat, maka sambil menangkis ia sambil mundur hingga gurunya yang melihat kejadian itu menjadi sangat murka, wajahnya pucat seketika dua mencaci muridnya.

"Hei, Kong Tie, murid busuk. Kau lantaran malas belajar dan suka berfoya foya inilah hasilnya ketemu tandingan berat, Kau rasakan sendiri. Hmmm... sayang aku punya nama yang harum jatuh karena murid semacam kau yang tidak berguna ini." Kong Tie semakin bingung mendengar gurunya memaki kalang kabutan.

"Kong Tie." terdengar pula Tay Hong Hosiang memaki, "kali ini, kalau kau tidak mati, aku akan jebloskan dirimu kedalam tahanan Im mo tong untuk menemui suhengmu kau mengerti?"

Perkataannya sang guru bukannya membuat semangatnya terbangun. tapi ternyata ia berkelahi makin kacau. Tidak heran kalau ia kedesak terus-terusan oleh Ie Ya yang tidak mengasih kesempatan padanya .

Wajahnya Ie Ya sudah kelihatan pucat, karena menahan amarahnya pada lawannya yang jumawa dan ceriwis itu. Segera suatu pukulan kearah dada yang menentukan tak dapat di tangkis olen Kong Tie, ia merasakan dadanya sesak dan matanya berkunang-kunang. Hatinya ketakutan, karena

pikirnya ia sudah kena pukulan "Api Setan" dari telapakan tangannya Ie Ya.

Tanpa malu-malu ia telah menjerit. "Oh, suhu tolongilah jiwa murid mu akan melayang..." sambil sempoyongan memegangi dadanya yang barusan kena dihajar Ie Ya. Sang guru sama sekali tidak bergerak dari tempat berdirinya. Di lain pihak Ie Ya geli melihat lawannya menjerit minta tolong. Ia segera lompat mundur dan segera sudah berada ditempatnya Tay Hong Hosiang.

"Taysu," katanya, "maafkan Ie Ya kurang hormat membuat Kong Tie suhu barusan menjerit minta tolong."

Tay Hong Hosiang ketawa-tawa. "Nona Ie tidak apa."jawabnya, "memang sepantasnya murid yang tidak berguna itu mendapat pelajaran dari kau."

Saat itu tampil kemuka, Kong Goan Hweshio yang merasa penasaran atas kelakuan Kong Tie, ia berkata pada suhunya. "Suhu Biarlah tecu mau minta pelajarannya beberapa jurus pada nona Ie...."

Tay Hong Hosiang memang tahu bahwa muridnya yang lain, maka ia ingin juga menyaksikan bagaimana Kong Goan akan menandingi Lie lo-sat Ie Ya yang termasyur namanya maka ia menjawab. "Aku tidak keberatan kau maju, harap kau suka hati-hati-" Ie Ya tidak menampik untuk bertanding dengan Kong Goan-

"Silahkan mulai, suhu" katanya, ketika mereka sudah berhadapan satu dengan lain-Kong Goan tak sungkan-sungkan lagi telah turun tangan, Angin pukulannya ternyata ada sangat hebat,jauh bedanya dengan Kong Tie. Lawan yang sekarang lain gerakannya gesit dan lincah juga tenaganya ada jauh lebih kuat, hingga sukar kalau dilawan keras dengan keras, maka Ie Ya telah memberikan perlawanannya dengan sangat hati-hati. Beberapa tipu pukulan dari Siauw-lim-pay telah dikeluarkan oleh Kong Goan-Ie Ya menggunakan ilmu

mengentengi tubuhnya yang mahir, ia setiap kali menghindarkan pukulan Kong Goan yang berat dengan bagus sekali, hingga Tay Hong Hosiang yang melihatnya telah angguk-anggukan kepalanya. Diam-diam dia mengakui bahwa Lie lo sat Ie Ya kepandaiannya tak dapat dipandang enteng.

Beberapa jurus telah dilewati, Ie Ya masih tetap memberikan perlawanan dengan roman yang tenang sekali, hingga Kong Goan Hwesio mengeluh dalam hatinya. Perempuan ini, kepandaiannya tinggi, pantasan banyak orang sungkan mencari urusan dengannya, demikian pikir Kong Goan.

"Nona Ie." tiba-tiba Kong Goan berkata. "Kepandaianmu benar-benar hebat, Nah permisi aku menaruh bungkusan obat dahulu, kemudian kita bertempur lagi...." Kiranya Kong Goan bertempur dengan sebelah tangan yalah tangan kanan, sebab tangan kirinya mencekal bungkusan obat. Ia tadinya memandang sangat enteng pada Ie Ya makanya juga ia menempur dengan satu tangan saja, siapa kiranya wanita yang dijadlkan lawannya itu bukannya wanita sembarangan yang hanya tahu dua tiga jurus saja dari serangannya yang dahsyat. Oleh karena itu ia minta pertandingan sebentar untuk ia menaruh dulu bungkusannya. Ie Ya lompat mundur dan berkata, "Silahkan"

Kong Goan setelah menaruh bungkusan obatnya, lantas menghadapi pula Ie Ya.

"Suhu, sebaiknya kau boleh keluarkan senjatamu untuk bertanding " kata Ie Ya dengan manis bersenyum. Kong Goan mendelik matanya, ia merasa dipandang rendah oleh sinona.

"Baiklah" katanya, "Nah sekarang aku mau mencoba dahulu dengan tangan kosong apakah aku bisa menjatuhkan nona atau tidak?"

Ia berkata berbareng menyerang dengan gaya pukulan yang banyak perubahannya,jari tangannya saban-saban

diulur, hendak menotok jalan darah yang berbahaya pada tubuhnya Ie Ya.

Pelahan-lahan kelihatan Ie Ya seperti di kurung oleh gaya pukulan Kong Goan- Kong Goan seperti yang sudah berlaku nekad akan mengambil jiwanya si nona. Melihat jalannya pertandingan Tay Hong Hosiang diam-diam merasa girang dan kuatir.

Girang karena menyaksikan muridnya benar-benar telah meyakinkan pelajarannya dengan betul, ilmu pukulan pukulan yang diwariskan tidak percuma, sebab Kong Goan dapat menjalankan semua jurus jurus pelajarannya dengan baik sekali-

Kuatir, oleh karena ia sudah lama mensucikan diri untuk menebus dosa, tidak bisa melihat Kong Goan itu membunuh sasarannya, Pantangan membunuh ia sudah pegang lama, selama ia berbalik pikir ingin menjadi orang baik-baik.

Kong Goan diatas angin, tapi karena terus-terusan ia mengeluarkan tenaga keras, maka ia jadi lelah juga. Melihat perubahan itu, Ie Ya mengambil over serangan. Dengan tenaga lunak ia saban-saban menyerang lawannya.

Satu kali kedua kekuatan tenaga beradu, membuat Kong Goan merasa kaget, sedang Ie Ya telah mundur dikiranya kalah tenaga, maka dengan cepat ia memburu dan menyerang dengan hebat.

Ie Ya memutar badannya setengah lingkaran, menangkis perlahan, kemudian berkelit hingga serangannya Kong Goan mendapat tempat kosong.

Kong Goan hweshio tertawa dingin, pikirnya ia pasti menang, maka ia sudah menyimpan separuh tenaganya. Tapi tiba-tiba suhunya berteriak. "Kong Goan awas."

Belum sampai ia engah ternyata sudah teriambat, sebab Lie lo sat sudah menyerang laksana kilat dengan telapakan

tangan, "Api Setan" Kong Goan mundur sempoyongan dua tindak, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si nona, untuk dengan kecepatannya yang luar biasa, ia sudah menyambar obat bubuk tadi dan melesat keluar kuil.

Tapi Kong Goan juga tidak mau tinggal diam, ia melesat menyusul, hingga si nona tidak sampai keburu melewati pintu keluar. "Nona Ie." tegurnya. "Aku Kong Goan masih belum kalah, kenapa kau kabur siang-siang?"

"Hmm." Ie Ya mengeram sambil tolak pinggang. "Aku barusan sudah berlaku murah tidak turun tangan kejam, tapi ternyata kau tidak tahu diri. Aku masih memandang mukanya Taysu, kan tahu?"

"Ha ha ha..." Kong Goan tertawa, "kau jangan omong gede nah lihat aku unjuk kepandaian."

Berbareng ia menyerang dua macam tipu pukulan- Tangan kiri menyerang dengan gelak tipu "Pencarkan bunga dengan cabang liu" dan tangan kanannya menyerang dengan tipu "Orang sakti membunuh naga." Dua macam serangan yang amat lihay dan dilakukan secepat kilat. Ie Ya agak gugup, sebelumnya ia berdaya tahu-tahu bungkusan yang ada ditahannya sudah kena dirampas kembali oleh Kong Goan Hweshio. Si nona merasakan tangannya amat sakit.

Saat itu Ie Ya mundur tiga tindak dan memerikea sikunya yang bertanda bekas tiga jari berwarna biru kehitam-hitaman ia terkejut, kiranya lawannya mahir dengan ilmu pukulan "Telapak tangan hitam", Baik juga lawannya tidak kejam, kalau tidak jiwanya sudah melayang atau sedikitnya, sikunya menjadi putus oleh serangan lawan yang demikian hebatnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara tertawanya Tay Hong Hosiang. "Nona Ie, kau tidak begitu merampas obat dari kita." Ie Ya sangat mendongkel hatinya. Ia sudah unjuk kepandaiannya demikian rupa, malah tadi dengan menyolok ia sudah dapat mengampuni jiwanya Kong Goan, tapi

kelihatannya Tay Hong Hosiang tidak rela memberikan obatnya itu. Pikirnya, sulit ia dapat menolong Ho Tiong Jong. Ia periihatkan tertawanya yang manis luar biasa, itulah tandanya Ie Ya sudah sangat marah, ia memandang pada Kong Goan dengan sorot mata halus, tapi tajam dan membuat Kong Goan diam-diam merasa bergidik bulu tengkuknya.

"Aku barusan lengah, lantaran kuatir Taysu turut campur tangan dalam urusan muridmu, sebab dua tangan melawan empat tangan mana bisa menang? Nah sekarang baik kita bertempur satu lawan satu, aku nanti dapat memperlihatkan kepandaianku yang istimewa."

"Kau jangan omong gede." menyelak Kong Goan dengan gusar. "Suhuku tidak nanti turun tangan mengeroyok kau meskipun beliau melihat aku dibinasakan olehmu. Nah, sekarang kau jangan banyak rewel lagi- mari kita bertempur lagi, untuk memastikan siapa yang lebih unggul. Kau boleh turun tangan jangan sungkan-sungkan terhadapku."

Tay Hong Hosiang juga mendongkel mendengar kata-katanya Ie Ya tadi, maka ia berkata pada muridnya, "Ya, Kong Goan, kau boleh bertempar dengannya jangan sungkan-sungkan lagi-"

Kong Goan anggukkan kepalanya dengan pikiran lega suhunya mengijinkan ia turun tangan telengas, ia maju dua tindak dan lantas menyerang pada si nona dengan teIapakan tangannya.

Lie-lo-sat Ie Ya kembali gunakan ilmu mengentengi tubuhnya yang istimewa untuk menyingkir dari serangan lawan- Kemudian, membarengi lawan tangannya menyerang tempat kesong ia menyerang, hingga Kong Goan terpaksa dari menyerang telah membela diri.

Kedua pihak saling menyerang dengan seru, sepuluh jurus dengan cepat telah dilewati, pertandingan selanjutnya makin lama makin menarik hati, Kedua pihak telah mengeluarkan

tipu-tipu pukulan simpanannya dan masing-masing tak mau mengalah terhadap lawannya. Betul mereka ada tandingan yang setimpal sekali-

Dengan sangat hati-hati Kong Goan memberikan perlawanan atas serangan telapakan tangan Api Setan Lie lo-sat Ie Ya yang ampuh. Ia tidak berani sembarangan memandang rendah lagi musuhnya, karena barusan ia sudah dapat pengalaman dan hampir-hampir ia rubuh di tangan si iblis wanita telengas. Si nona mengetahui musuhnya ada sangat gagah dan ulet, maka ia juga tidak segera dengan melakukan serangannya. Kalau tidak pasti- ia tidak melancarkan serangannya, karena itu berarti membuang-buang tenaga percuma saja.

Tay Hong Hosiang duduk dikursi menonton didampingi oleh dua muridnya Kong Ci dan Kong Tie. dua hweshio yang hanya omongnya gede tapi kemampuannya tidak berarti- Mereka menyakeikan sutenya begitu kekeh memberikan perlawanan pada lawannya, bahkan merasa kagum dan diam-diam saja menyesalkannya memandang diri-nya yang sudah berlaku malas tidak belajar dengan sungguh-sungguh dari gurunya, hingga kepandaiannya kalah jauh apabila dibandingkan dengan kepandaiannya sang sute. Tay Hong Hosiang sementara menyaksikan jalannya pertempuran, diam-diam dalam hatinya dak dik dak juga menguatirkan muridnya akan menjadi pecundangnya Ie Ya. Dengan tidak terasa pertandingan sudah berjalan sampai dua ratus jurus.

Betul-betul ada itu pertandingan yang hebat sekali dan mempesonakan dua-dua kelihatan masih kuat dan memperlihatkan perlawanan yang sama baiknya. Entah sampai berapa lama lagi pertandingan itu akan berjalan?

Kong Goan Hweshio tidak percuma menjadi murid kesayangannya Tay Hong Hosiang, sebab seluruh kepandaiannya yang diajarkan oleh gurunya kepadanya, ia sudah dapat membuktikan semua itu telah diyakinkan dengan

sebaik-baiknya, ia bertempur kali ini dengan sangat hati-hati dan tidak mengobral tenaganja dengan percuma oleh sebab mana sebagai lelaki ia ada lebih tahan lama bertempur, sebaliknya dengan Ie Ya kelihatan dengan tentu sudah mulai keteter dan lelah.

XXVII. PENGARUHNYA GELANG BATU KUMALA.

LI LO-SAT IE YA mulai kedesak.

Tiba-tiba terdengar Kong Gosn membentak berbareng tubuhnya Ie Ya kelihatan sempoyongan. Ternyata ia kena pukulan telak. Kong Goan menggejar, satu pukulan keras mampir kena bahunya si nona, Ie Ya menjerit kesakitan, badannya tak tahan berdiri dan lantas rubuh semaput.

"Bagus,bagus Kong Goan, kau betul-beul ada murid ku yang paling jempol" terdengar si hweshio mengalem muridnya sambil unjukkan jari jempolnya. "Tapi lekas-Iekas kau berikan obat padanya, kuatir nanti dia cacat hidupnya, Nah ini ambil sebutir pil dari botol" sambil keluarkan dari sakunya sebotol obat piL. Kong Goan menurut dan lalu menjemput sebutir kemudian diserahkan kepada Ie Ya untuk ditelannya. Bermula Ie Ya menolak, akan tetapi ketika dibujuk dan ia sendiri merasa tidak tahan dengan sakitnya pada bahunya yang barusan kena dipukul oleh Kong Goani maka ia terima juga dan lalu ditelannya.

Ternyata obat pil itu benar benar manjur sebab dalam waktu sedikit saja Ie Ya rasakan rasa sakit dibahunya pelahan lahan telah hilang, hanya tinggal kesemutannya saja. Kemudian dengan roman bengis ia menyapa pada sekalian hweshio yang ada disini, lalu perdengarkan ketawa dingin-

"Hmm..." si nona menggereng, "kalian telah menghinakan aku, bagus,bagus. Satu hinaan yang aku tak dapat melupakannya, Kalau aku masih bernapas ada satu hari aku

akan datang kesini lagi untuk membasmi kalian dan membikin rata ini kuil dari kawanan kepala gundul jahat."

Mendengar perkataannya si nona, bukan main marahnya Kong Goan dan saudara saudara seperguruannya, tidak terkecuali Tay Hong Hosiang sendiri. Kepala kuil itu dengan mata mendelik telah berkata.

"Hei kau ini betul-betul jahat hatimu, Baru saja ditolong jiwamu, lantas sekarang mengeluarkan perkataan yang bukan bukani betul-betul jahat"

Ie Ya tertawa terkekeh kekeh, inilah tanda dari kemarahannya yang meluap luap.

"Bagus, kau hweshio tua," katanya dengan nada dingin, "kau kira dengan kepandaianmu sudah tidak ada yang berani membentur kau Hi hi hi-. kau keliru, Coba Tiong Jong tidak pingsan karena obat pulasmu yang celaka, tentu kalian tidak berani menghinakan aku."

"Tiong Jong kenapa?" memotong si hweshio tua.

"Hi hi hi . . .dengan satu Ho Tiong Jong saja cukup akan membasmi kalian kepala gundul yang jahat"jawab Ie Ya dengan suara mengejek. Tay Hong Hosiang tertawa bergelak-gelak

"Nona Ie." katanya, "kalau kau sendiri, biarpun kau belajar lagi dua puluh tahun masih bukan tandinganku, Nah, kau barusan bilang Ho Tiong Jong yang dengan seorang diri dapat membasmi kuilku, aku kepingin lihat apa betul omonganmu?"

"Tidak percaya? Kau boleh buktikan sendiri kalau Ho Tiong Jong siuman dari pingsan." jawab Ie Ya dengan mantap.

"Kong Goan- panggil sang suhu. "Ambil obat pemunah yang aseli- kasihkan pada Ho Tiong Jong supaya dia siuman dari pingsannya. Biarlah dia mengadu tenaga dengan aku apa benar seperti katanya nona Ie dan sangat gagah dan dapat membasmi kita semua. Lekas jalan."

Kong Goan masih ragu-ragu karena kuatir ditipu oleh Ie Ya.

Tapi gurunya melotot kepadanya dan berkata lagi. "Lekas pergi, kenapa? Apa kau takut? Kita malang melintang didunia kang-ouw tidak takut akan segala orang, masa oleh satu Ho Tiong Jong saja takut?"

Kong Goan terpaksa menurut perintah, sebentar lagi ia sudah kembali dan atas pengunjukan Ie Ya, Kong Goan pergi ke tempat Ho Tiong Jong digeletaki. Di sana ia telah memberikan obat pemunah itu dicekeki kemulutnya. Tidak lama, Ho Tiong Jong sudah mendusin dan bebangkis beberapa kali- semangatnya pulih kembali- rasa mabok hilang. Matanya menyapu kesekitarnya dan melihat ada Kong Goan tidak jauh berdiri dari padanya. Cepat Ho Tiong Jong melompat bangun, Kong Goan kaget dan lompat mundur.

Ho Tiong Jong mengawasi pada si kepala gundul. Pikirnya, barusan sudah kena ditipu Kong Cie Hweshio, maka kepala gundul yang berdiri didepannya ini tentu juga ada kambratnya dan kuil disitu diberdirikan bukan tempat orang mensucikan diri, tapi dipakai untuk melakukan kejahatan.

dalam beberapa tahun ini entah berapa banyak korban sudah terjatuh dalam kuil busuk ini? Demikian ia menanya pada dirinya sendiri. Seketika itu matanya melotot mengawasi pada Kong Goan-

"Kepala gundul," bentaknya "Sudah berapa banyak kalian menjebak orang dan dibikin susah? sekarang kau disini berjumpa dengan aku si orang she Ho. jangan harap bisa berlalu lagi dari tempat ini sebelumnya mendapat persen tendanganku"

Pemuda menutup bicaranya dengan satu serangan hebat. Kong Goan Hweshio miringkan badannya danpasang kuda-kuda yang dinamai Cit-seng.poo, (tindakan tujuh bintang)jarinya berbareng diulur untuk memotong sikunyu Ho Tiong Jong,

"Bagus." kata Ho Tiong Jong, "ilmu silatmu baik sekali- sayang kau gunakan untuk kejahatani" sambil berkata ia menyodorkan sikunya dengan sengaja untuk ditotok Kong Goan Hweshio ada murid tersayang dari Tay Hong Hosiang, kepandaiannya sudah tinggi- ia mahir dalam ilmu Telapakan tangan hitam "Cengkeraman Rajawali dan Dengan jari menaklukan naga. Pikirnya salah satu saja ilmu ini ia gunakan pasti akan dapat merubuhkan musuhnya. Maka ketika ia melihat Ho Tiong Jong menyodorkan sikunya yang diarah, dalam hatinya pikirnya, "Kau cari mati sendiri." Tapi ternyata tidak begitu gampang Kong Goan dapatkan makeudnya karena begitu -jarinya hampir menyentuh siku lawan, Ho Tiong Jong dengan gesit menarik pulang dan berbareng ia menyerang dengan telapakan tangannya. Kakinya juga tak tinggal nganggur dan melayang kepada Kong Goan-Serangan secepat kilat itu diluar dugaannya si kepala gundul, hingga saat itu ia rasakan pahanya sangat sakit dan tubuhnya terbang sampai dua tumbak jauhnya. Hebat tendangan Ho Tiong Jong, sebab Kong Goan terdengar merintih kesakitan tulang pahanya patah.

Ho Tiong Jong mengawasi hweshio yang ia tendang terbang tadi dengan mata beringas "Kau bukankah kepala gundul yang membikin aku pingsan tadi kemana dia perginya, hayo kau lekas kasih tahu."

Kong Goan Hwesho tidak menjawab, ia terus merintih- rintih kesakitan-

"Hei- kau diam saja? Lekas kasih tahu, ada siapa lagi kepala gundul jahat dalam kuil ini- boleh panggil keluar supaya dapat membalas sakit hatimu?"

"Tiong Jong," katanya Kong Goan dengan sangat gusar "Kau jangan pergi dahulu, sebentar kalau guruku datang kau boleh rasakan pembalasan atas perbuatanmu yang sudah melukai aku..."

"Tidak perduli kau punya guru atau su-couwmu sekali aku si orang she Ho tidak akan gentar barang seujung rambut dan-.." Ho Tiong Jong berhenti bicaranya karena mendengar suara orang ketawa panjang, itulah suara ketawa dari seorang yang mempunyai tenaga dalam yang mahir sekali-Pemuda biar bagaimana juga agak terkejut mendengarnya.

Cepat ia menoleh kebelakang, disitu ternyata sudah berdiri Tay Hong Hosiang tengah bersenyum-senyum kepadanya.

Kong Goan Hweshio saat itu sudah menelan pil untuk menghilangkan rasa sakit, ia berkata pada gurunya "Suhu, maafkan tecu yang tidak berguna, barusan dijatuhkan oleh Ho Tiong Jong."

"Tidak apa. memang kau bukan tandingannya. Biarlah aku yang akan membalas kekalahanmu," demikian kata si hweshio tua kemudian ia berpaling kepada Ho Tiong Jong dan berkata, "Tiong Jong kau terlalu kejam terhadap muridku yang telah menolong kau dari pingsanmu."

Ho Tiong Jong agak kaget mendengar perkatannya Tay Hong Hosiang.

"Aku tidak tahu dia telah menolong aku, karena dia tidak mau omong ketika aku menyerang padanya?"jawab Ho Tiong Jong.

"IHmm... kau memang satu pemuda sombong." kata Tay Hong Hosiang^

"Aku bukan sombong. aku benci kepada kalian yang membokongku dengan obat tidur. Kalau benar kalian laki-laki boleh maju satu demi satu atau sekaligus menghadapi aku siorang she Ho, jangan membokeng orang."

"Tutup mulut" bentak Tay Hong Hosiang yang mendongkel hatinya. "Mari mari, ikut aku ketempat yang lebar. Aku memang hendak menjajal kepandaianmu yang disohorkan sangat jempolan"

Ho Tiong Jong tidak takut, "Baiklah dimana saja kau menantang aku berkelahi aku akan iringi dengan senang hati."

Sesampainya disatu tempat yang cukup lebar untuk berkelahi, tampak tidak jauh dari Ho Tiong Jong ada Li-lo sat yang sedang berdiri dengar muka marah, karena masih merasa ngilu bekas luka tadi bertanding dengan Kong Goan-

"Hei- enci Ie Ya ada disini?" kata Ho Tiong Jong ketika matanya menyapu kearah-nya.

Perkataannya sipemuda disambut dengan anggukkan kepala, pikirnya malam itu pasti Ho Tiong Jong dapat menghajar si hweshio tua dan anak buahnya.

Hatinya Nona Ie girang melihat si pemuda dalam keadaan segar, Matanya lalu melirik pada Kong Goan Hweshio, sambil tertawa geli ia berkata.

"Kong Goan suhu, apa aku bilang? Kau kini rasakan kelihayannya Tiong Jong, bukan saja kau merasakan kesakitan, tapi tulang-tulang pahamu sudah remuk Rasakan sendiri enak tidak dalam keadaan begitu Hi hi hi" Kong Goan sangat g usar, matanya mendelik.

"Budak hina, kau jangan banyak bacot, Kau juga boleh merasakan hadiahku barusan bukan?"

Ho Tiong Jong kaget, Pikirnya, apa Ie Ya telah mendapat luka? ia mengawasi lebih teliti pada Ie Ya, lantas ia dapat kepastian bahwa Ie Ya tentu mendapat luka parah tulangnya, karena tampak telah mengucurkan banyak keringat disebabkan menahan rasa sakit pada lukanya itu.

"Enci Ie, apa kau terluka oleh mereka?" tanyanya dengan hati gelisah. Ie Ya pake akan bersenyum, kepalanya dianggukkan.

Ho Tiong Jong menggereng. "Enci Ie, kau jangan banyak berjalan- Tunggu aku disitu, aku akan membalaskan sakit hatimu" ia berkata dengan gagah.

"jangan jumawa Ho Tiong Jong," kata Tay Hong Hosiang sambil tertawa dingini "Kau tidak perlu membuang banyak tempo bercakap-cakap dengan budak jahat itu. Nah. bersiaplah untuk menerima seranganku"

"Hweshio tua,"jawab Ho Tiong Jong "kau yang jahat, tapi mengatakan orang lain jahat, sebenarnya api artinya perkataanmu itu?"

"Dia budak jahat, seperti juga dengan kau. Sudah ditolong masih berani mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan...."

"Hwesio tua, Keluarkan kepandaianmu. Kau jangan banyak membusuki orang" menantang Ho Tiong Jong dengan gagah.

Tay Hong Hosiang yang selama malang melintang dalam kalangan Kangouw belum pernah mendapat hinaan seperti itu, bukan main marahnya. Dalam hatinya berpikir, malam ini ia harus membuka pantangan membunuh, ia harus mengambil jiwanya anak muda didepannya yarg sangat sombong itu. Kalau tidak diberi rasa, tentu ia akan mengelunjak terus-terusan kepada orang yang lebih tua. Memikir ini lantas ia salurkan tenaga dalamnya ke telapakan tangannya.

Berbareng dengan bentakan "awas" ia menyerang hebat sekali- Angin pukulannya ada begitu dahsyat, apa lagi kalau orang kena pukulan telapakan tangannya yang dahsyat itu. Disekitar satu tumbak terasa sekali menyambarnya angin pukulan hweshio itu.

Ho Tiong Jong terperanjat, ia tidak menduga kalau lawan tuanya ini ada mempunyai kepandaian demikian tinggi- pikirnya ini tidak boleh sembarangan.

Serangan Tay Hong Hosiang tadi disambut dengan ilmu Kim ci Gin-ciang yang ia dapat pelajari dari Kho Kie, si orang aneh yang bisa masuk kedalam tanah.

Tay Hong Hosiang tidak menduga sianak muda dapat memunahkan serangannya begitu mudah, diam-diam ia

mengagumi juga kepandaiannya sang lawan yang muda belia. Pikirnya pantasan ia tekebur, Kalau begitu ia ada isinya?

Mereka serang menyerang dalam jarak setumbak, keduanya melancarkan pukulannya dengan tidak sungkan-sungkan lagi tapi sangat hati-hati sebab masing-masing mengetahui lawannya ada berkepandaian sangat tinggi.

Setiap kali Tay Hong Hosiang melancarkan serangannya, telah menerbitkan suara keras. Batu dan pasir pada beterbangan karena kesampok oleh anginpukulannya.

Lihay sekali ilmu silatnya, Kalau saja yang menjadi lawan bukannya Ho Tiong Jong, terang-terang sudah dibikin terjungkal atau dibikin terbang tubuhnya kena angin pukulannya si hweshio tua yang luar biasa hebatnya.

Melihat kepandaiannya lawan ada demikian tinggi, Ho Tiong Jong memberikan perlawanan lebih hati-hati lagi, jangan sampai kena dipecundangi mentah-mentah. Malah hatinya sudah mengambil keputusan, ia harus menang, ia mesti dapat menjatuhkan lawannya untuk mencuci hinaan atas diri-nya enci Ie nya.

Sayang maksudnya tak tercapai, karena hweshio tua yang dihadapannya itu bukan sembarang jago silat, ia sangat lihay karena ia sudah menguasai ilmu Tat Mo Sin-kang (tenaga saki Tat Mo) dari Siauw lim-pay.

Bagaimana juga Ho Tiong Jong coba mendesak dan menguasai musuhnya, ternyata telah gagal. Ketika ia hendak mencabut goloknya untuk dipakai bertempur, ternyata sudah terlambat. Karena serangan dahsyat dari Tay Hong Hosiang yang dibarengi dengan tenaga dalam yang ampuh membuat Ho Tiong Jong terpental sampai dua tumbak. Ia merasakan dadanya sesak dan darah hidup hendak keluar dari mulutnya.

Ho Tiong Jong sebisa-bisa menelan lagi darah hidup yang hendak keluar dari mulutnya itu, sambil mendengarkan Tay Hong Hosiang berkata.

"Hmm Ho Tiong Jong, kini kau tak dapat mengunjuk kesombonganmu lagi- pukulan barusan tidak sembarangan orang dapat menangkisnya. Dalam dunia Kangouw yang dapat menahan seranganku itu boleh di hitung dengan jari."

"Kepala gundul" bentak Ho Tiong Jong, "Aku Ho Tiong Jong baru terhitung kalah kalau sudah tidak bernapas lagi- Siapa takuti dengan pukulanmu, mari maju lagi" ia menentang sambil menghunus goloknya. Tampak tubuhnya Tay Hong Hosiang melesat tinggi seperti burung garuda saja. dengan jubahnya yang berkibaran ditiup angin, ia turun dan berdiri tegak didepan Ho Tiong Jong yang sudah siap dengan goloknya.

Ho Tiong Jong tidak banyak rewel lagi, lantas saja mulai menyerang dengan hebat, ilmu golok keramatnya yang terdiri dari delapan belas jurus telah dimainkan dengan bagus sekali-

"Iiih...." seru Tay Hong Hosiang heran. "Dari mana Tiong Jong dapat ilmu golok Siauw lim pay ini?" tanyanya dalam hati. Pikirnya, ilmu golok keramat dari Siauw lim pay dimainkan begini bagus oleh Tiong Jong, sukar didapatkan keduanya diantara murid- murid. Siauw lim-pay dari tingkatan yang sepantaran dengan sipemuda . Meskipun demikian bagus dan hebat tipu-tipu serangan dari ilmu golok delapan belas jurus itu, menghadapi Tay Hong Hosiang ternyata tidak ada gunanya, sebab hweshio tua sudah mahir dengan ilmu pemunahnya dan setiap kali Ho Tiong Jong menyerang selalu mendapat sasaran kosong. Diam-diam ia menjadi heran, Pikirannya, "kepala gundul tua ini sangat hebat ilmu silatnya." Tapi Ho Tiong Jong tidak tahu bahwa lawan dihadapannya itu ada murid Siauw limpay yang pandai dan tinggi ilmu silatnya. Ie Ya dilain sudut berdiri menjublek, terpesona oleh kepandaian Ho Tiong Jong, pemuda itu ternyata lebih hebat jauh kepandaiannya dibanding dengan waktu tempo hari telah ketemu dengannya. Apa lagi kalau di ingat, Ho Tiong Jong maju dalam pertempuran itu adalah hendak membela pada

dirinya, pikirnya ia rela dirinya mendapat luka oleh pukulannya Kong Goan Hweshio, lantaran membela si pemuda, sebab sekarang ia menyakeikan dengan mata kepala sendiri Ho Tiong Jong bertempur mati matian adalah untuk kepentingan dirinya.

Melihat ilmu golok keramatnya tak dapat menyentuh ujung jubahnya saja si kepala gundul yang lihay, Ho Tiong Jong lantas merubah ilmu silatnya dengan Tok liong Ciang hoat dicampur dengan ilmu silat lain-nya, serangan yang dilancarkan olehnya sangat hebat dan indah sekali,jalannya begitu cepat dan sukar diduga lawan-Diam-diam Tay Hong Hosiang berpikir anak muda ini tidak dinyana sudah mencangkok banyak kepandaian dari berbagai partai,Baiknya saja ia yang melayani dan kalau saja orang lain, siang-siang sudah tentu akan menjadi pecundang Ho Tiong Jong.

"Bocah" bentaknya, "Kau sudah mencuri banyak ilmu serangan hebat dan berbagai partai, boleh dikatakan kau lihay juga, Nah sekarang kau kembalikan itu ilmu golok delapan belas jurus dari Siauw-lim-pay..."

Ia berkata sambil merubah gerak serangannya lebih cepat dan lebih berat menindih musuh-nya, itukah ilmu "Tat Mo Sin kang" yang jarang ia gunakan, kalau tidak terpaksa karena menghadapi musuh berat.

Dari situ sudah terbukti bahwa Ho Tiong Jong masuk kelas berat, makanya Tay Hong Hosiang sudah mengeluarkan ilmu simpanannya itu.

Kini Ho Tiong Jong benar dibikin terkejut. ia tak menduga sama sekali kalau hweshio tua ini ada tinggi kepandaiannya Diam-diam ia mengeluh dalam hatinya karena pengharapan ada sangat kecil untuk merebut kemenangan. Kalau bisa berakhir seri saja sudah bagus.

Tapi bagaimana juga tentu si kepala gundul tidak mengampuni kepadanya karena ia sudah berkata sombong dihadapannya.

Lie lo sat Ie Ya melihat jagonya keteter, bukan main cemas hatinya. Sayang ia tidak bisa bergerak, coba kalau ia tidak terluka, niscaya ia akan ceburkan diri membatu Ho Tiong Jong melawan Tay Hong Hosiang mati-matian. Ia hanya bisa menjerit-jerit saja memaki kalang kabut kepada Tay Hong Hosiang.

Mendengar jeritan jeritan Ie Ya, membuat banyak hweshio dalam kuil itu sudah pada keluar datang menonton perkelahian yang sangat seru itu.

Tekanan Tay Hong Hosiang makin dirasakan berat, Ho Tiong Jong sudah tidak tahan melayaninya, Pikirnya untuk mencegah kekalahannya ia harus kembali mainkan ilmu golok keramatnya yang dapat melindungi dirinya dari kekalahan Tapi kegesitannya Tay Hong Hosiang, ternyata ada lebih hebat dari matanya Ho Tiong Jong.

Karena seketika ia menyerang dengan telapakan tangannya laksana kilat dan sipemuda tubuhnya sudah dibikin melayang sampai jauh tiga tumbak baru jatuh ia terhuyung-huyung dengan memuntahkan darah segar, matanya berkunang kunang dan ia tak tahan berdiri lama, lantas rubuh tidak sadarkan dirinya lagi-Li-lo sat Ie Ya menjerit.

Ho Tiong Jong tampak menggeliat ditanah dengan didampingi oleh goloknya, tangannya mengeluarkan darah, rupanya kena goresan senjata tajam itu. Darah berceceran bekas tadi ia muntahkan dari mulutnya. Mukanya pucat seolah-olah ia sudah jadi mayat saat itu.

Lie lo-sat Ie Ya dengan paksakan diri perlahan-lahan jalan menghampiri sipemuda, kemudian jatuhkan diri memeluk tubuh sipemuda dan menangis.

"Tiong Jong, ah, kau... kau selalu menderita saja dalam hidupmu. Karena hendak mencuci maluku maka kau sudah berkorban begitu. Oh Tiong...." Li-lo-sat Ie Ya nangis menggerung-gerung.

Sebenarnya ada sangat ganjil kejadian saat itu. dimana Ie Ya keluarkan tangisan menggerung-gerung, Karena Ie Ya yang terkenal dengan julukannya Wanita Telengas dan Kejam, belum pernah mengucurkan air mata, apa lagi menangis menggerung gerung seperti itu.

Itulah karena rasa cintanya yang sangat besar terhadap dirinya Ho Tiong Jong yang kini menggeletak dalam keadaan setengah mati.

Tangannya yang halus meraba-raba pipi-nya dan matanya yang tertutup coba dibukanya, sambil dengan suara pelahan ia memanggiL "Tiong Jong kau jangan tinggalkan aku... Tiong Jo.... ng..."

Keadaan Ie Ya saat itu mengharukan sekali siapa yang lihat.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, "Hayo kalian pergi dari sini!!" Itulah kata suaranya Tay Hong Hosiang yang menyuruh semua muridnya pada pergi meninggalkan tempat itu, hanya disitu ketinggalan ia dan muridnya yang tersayang, yalah Kong Goan Hweshio, bersama Ie Ya dan Ho Tiong Jong yang dalam pingsan-

Lie Io sat Ie Ya yang sedang menangisi Ho Tiong Jong tidak merasa kalau Tay Hong Hosiang sudah berdiri didekatnya.

Terdengar ia tertawa dingini "IHm kau juga ingin merasakan pukulanku seperti yang dirasakan oleh Tiong Jong ?"

Li-lo sat Ie Ya susut air matanya, kemudian mengawasi pada Tay Hong Hosiang dengan sorot matanya yang gusar

sekali- "Hweshio tua, kau boleh bangga dengan ilmu pukulanmu yang kejam itu, tapi ada satu hari aku Ie Ya akan datang kembali kesini akan membuat perhitungan."

"Ha ha ha...." tertawa Tay Hong Hosiang "Kau mau membuat pembalasan? Lagi dua puluh tahun kau belajar masih bukan tandinganku kau mengerti?"

Ie Ya tak menjawab ia kertak gigi dan gigit bibirnya sampai berdarah saking menahan rasa gusarnya yang meluap luap, Sayang ia dalam terluka didalam tubuhnya, coba ia dalam keadaan segar, meskipun tahu dirinya tidak bakalan menang, ia pasti akan menerjang si hweshio tua dengan nekad.

Sambil membongkekkan badannya mengambil golok wasiatnya Ho Tiong Jong, Tay Hong Hosiang telah berkata "Aaa... ini golok Lam thian to. memang tadinya ada milik keluarga Seng, tapi sekarang akan menjadi miliknya gereja Kong ben sie disini, Ha ha ha..."

"Tak tahu malu" membentak Ie Ya.

"Sudah membunuh orangnya, sekarang mau merampas miliknya, apakah itu yang dinamai seorang pemeluk agama Buddha? Hmm..." Tay Ho Hosiang mendelik matanya.

"Kau tangisi juga percuma dia tokh bakalan mampus, Bocah macam begini..." kakinya berbareng diangkat hendak menendang tubuhnya sipemuda tapi mendadak kaki itu cepat ditarik pulang karena pandangan matanya kebentur dengan suatu benda yang keluar dari sakunya Ho Tiong Jong.

Dekat tangannya yang berdarah ada nongol dari sakunya Ho Tiong Jong itu gelang batu kumala hijau yang membuat matanya si kepala gundul menjadi terbelalak heran.

Entah apa sebabnya, dengan lantas saja jatuhkan dirinya dan menjemput keluar benda tadi dari sakunya Ho Tiong Jong. Setelah diselidiki dengan seksama bahwa benda itu ada yang tulen, maka seketika itu juga sambil menjunjung gelang

batu kumala dengan kedua tangannya diatas kepalanya ia berlutut tambil mengucapkan rasa menyesal yang sangat besar, katanya.

"Susiokcouw, maafkan tecu yang berdosa, Tecu tidak mengenali kalau Tiong Jong ada utusan susiokcouw, oh..^. tecu telah berbuat dosa besar sekali..."

Kong Goan Hweshio yang berada tidak jauh diri situ, melihat gurunya dengan tiba-tiba berlutut sambil menjunjung gelang batu kumala, ia lantas mengerti dan ia juga turut berlutut sambil kemak kemik berdoa supaya perbuatan suhunya pun diampuni oleh susiok-cownya paman dari guru sang suhu.

Kong Goan berlutut dengan susah payah, peluh mengucur deras, karena ia menahan rasa sakitnya ia di kena ditendang oleh Ho Tiong Jong.

Lama keduanya suhu dan murid pada berlutut menghormat benda kepercayaan partai itu, hingga Ie Ya yang tidak lahu sebab-sebabnya menjadi keheran-heranan.

Ia tidak berkata apa-apa karena perhatiannya terus ditujukan kepada Ho Tiong Jong yang keadaannya sangat berat. Entah, pemuda itu dapat ketolongan atau tidak jiwanya? Tapi dilihat keadaan lukanya demikian rupa, rupanya pengharapan ada kecil sekali-

Hatinya si nona sangat gelisah, perasaan duka, menyesal dan marah mengaduk jadi satu dalam otaknya, hingga ia juga hampir pingsan tak dapat menahan perasaan demikian itu.

Tak lama Tay Hong Hosiang diikuti oleh muridnya telah bangkit berdiri dan berkata pada Ie Ya.

"Nona Ie,kau ada sahabat dari utusan susiokeouw kami- kini kau juga terluka, betul-betul membuat hatiku sangat menyesal. Tapi Nona Ie, harap kau jangan kuatir jiwanya Tiong Jong sebab dia tidak apa-apa."

Dengan tidak menanti Ie Ya menjawab lagi, Tay Hong Hosiang sambil membawa gelang batu kumala hijau tadi telah berlalu dan masuk kedalam ruangan kelenteng.

Setelah ia berlalu, Ie Ya lalu memeriksa jalan darahnya Ho Tiong Jong, ia girang, karena jalan darahnya si pemuda ada normal, ia rupanya hanya pingsan saja, sekarang dapat ia pikirkan kejadian barusan dimana Tay Hcong Hosiang dengan muridnya telah beriutut menghormat kepada benda yang keluar dari saku bajunya Ho Tiong Jong.

Perkataan si hweshio tua tadi ketika meninggalkan ia. apakah bermaksud hendak memberi pertolongan kepada Tiong Jong atau bagaimana, ia tidak tahu, ia terus menanti disitu sambil saban-saban mengusap-usap pipinya sipemuda yang telah memikat hatinya itu.

"Dia cakap dan gagah, sungguh jarang didapatkan lelaki seperti dia." demikian ie Ya berkata dalam hatinya sendiri.

Ia memeluk pemuda tampan yang sedang pingsan itupelahan-lahan menempelkan mulutnya itu yang kecil mungil diatas pipi yang cakap itu, lalu rapatkan pipinya pada pipi si pemuda dan air matanya kelihatan bercucuran mengalir pada pipinya yang halus menyebrang kepipinya pemuda pujaannya itu.

oh. Semua kecintaan yang tulus murni dari seorang wanita yang kejam telengas dinyatakan oleh air matanya dan oleh kelakuannya yang sangat menyayang dan memuja, Entah lah, bagaimana hatinya tiong long akan berdebaran atau seperti hendak lompat dari tempatnya, apabila ia hadapkan dalam keadaan sadar itu ciuman halus dari mulut yang kecil mungil dan pipi cantik yang halus ditempelkan kepada pipinya?

Sebentar lagi Ie Ya terkaget dan lepaskan pelukannya pada tubuh si pemuda, ketika mendengar tindakan orang mendatangi

Kiranya yang datang itu ada empat orang hweshio muda dengan membawa usungan untuk membawa Ho Tiong Jong, Sampai didepannya Ie Ya, salah satu antaranya empat hweihlo itu berkata.

"Nona, atas perintah suhu, kami berempat hendak membawa Ho sicu kedalam untuk diberi pertolongan lukanya yang parah itu."

"Terima kasih " kata Nona Ie dengan penuh rasa sukur, "silahkan suhu sekalian membawanya dia ketempatnya Taysu."

Empat hweshio muda itu dengan sebat sudah angkat tubuhnya Ho Tiong Jong dibaringkan diatas usungan, kemudian digotong oleh mereka berempat ke dalam kelenteng dengan diikuti oleh Ie Ya sambil mengucurkan air mata.

Entahlah, air mata yang mengalir saat itu dari kedua tela kupan matanya yang indah itu, apa air mata kedutaan atau air mati kegirangan ?

Ho Tiong Jong dibawa kedalam satu ruangan yang cukup besar, keadaannya sangat bersih, dimana hanya terdapat satu tempat pembaringan dari batu pas untuk seorang. Diatas pembaringan ini tubuhnya Ho Tiong Jong direbahkan-

Lain dari itu ada satu meja dekat pembaringan ini, diatasnya ada satu koper entah isinya apa? Beberapa kursi ditaruh berjauhan dengan pembaringan dan meja tadi.

Ie Ya duduk pada salah satu kursi tadi senang hweshio muda menanti disekitarnya IHo Tiong Jong berbaring. Kiranya itu ada pembaringan untuk orang dioperasi, sedang koper diatas meja itu berisi perkakas untuk melakukan pembedahan itu.

Tak lama muncul Tay Hong Hosiang diantar oleh Kong Goan, Hanya satu hweshio yang menggotong Tiong Jong tadi

dikasih tinggal terus dalam kamar itu, yang lainnya disuruh keluar.

Kemudian Tay Hong Hosiang membuka jubahnya, tangannya menggunakan sarung tangan- . menyuruh Kong Goan untuk membuka pakaiannya Ho Tiong Jong untuk diperiksa di bagian tempat lukanya.

Jago muda itu ternyata mendapat luka di bagian dadanya kedapatan ada tanda biru yang selang berubah menghitam.

"Nona Ie. Kau tidak boleh datang dekat "kata Tay Hong Hosiang pelahan, ketika melihat si nona bangkit dari duduknya dan menghampiri.

Kiranya si nona merasa kaget ketika pakaiannya sipemuda dibukai, curiga sipemuda akan di aniya oleh dua hweshio itu.

Tapi Ie Ya tidak mau berlalu, "Maafkan Tay-su, bagaimana juga aku tak dapat ber-jauhan dengannya, Dia ada sahabatku yang paling baik..." demikian ie Ya berkata dengan suara yang seperti mau menangis.

Tay Hong Hosiang terharu mendengarnya ia merasa kasihan pada si nona yang juga perlu harus di tolong lukanya.

Maka ia biarkan saja si nona mengikuti jalannya, ia membedah lukanya Ho Tiong Jong, Meski Ie Ya tidak pernah berkedip bila membunuh orang, kini ia melihat pemuda pujiannya dibedah, tak tahan merasa ngeri dan menutupi mukanya dengan tangannya, sambil terisak-isak menangis pelahan-

Ternyata Tay Hong Hosiang rupanya sudah biasa membedah cara demikian, ia sangat sebat, sebab sebentar saja Ho Tiong Jong sudah dibalut lukanya setelah pada bagian yang dibedah diberi obat yang manjur.

Setelah beres, memberi pertolongan pada Tiong Jong, lantas ia suruh muridnya yang ada disitu mengambil kursi.

Kapan tempat duduk itu sudah berada didekatnya lantas berkata pada Ie Ya. "Nona Ie, kau juga harus kutolong. Kau duduklah dan buka bajumu." Ie Ya tampak bingung.

Matanya mengawasi pada Tay Hong Hosiang kemudian pada Kong Goan dan sutenya, Tay Hong Hosiang lantas saja mengerti, sambil ketawa ia berkata. "Kong Goan dan Seng Hay keluar dulu sebentar "

Dua orang itu tidak disuruh sampai dua kali, karena mereka juga lantas mengerti sendiri. Mereka lalu keluar dan merapatkan pintunya lagi

Kini Tay Hong Hosiang tinggal berduan saja dengan Ie Ya, dikecualikan Ho Tiong Jong yang masih rebah pingsan.

"Taysu, kau benar pintar." si nona ketawa manis sambil menekap mulutnya yang mungil.

Kemudian tanpa disuruh lantas menghampiri kursi dan duduk disitu.

Tay Hong Hosiang hanya ketawa saja, Kiranya Ie Ya merasa malu barusan, kalau ia harus membuka baiknya disaksikan oleh dua hweshio muda tadi. Kini ia hanya berhadapan dengan Tay Hong Hosiang yang sudah lanjut usianya dan boleh dijadikan engkongnya, ia tidak malu-malu lagi.

"Nona Ie, bukalah bajumu....!" menyuruh Tay Hong Hosiang, ketika si nona masih diam saja duduk dikursinya.

"Taysu, maafkan aku, Rupanya aku harus membuat Tay su berabe juga untuk menolong lukaku, karena aku sendiri tak dapat membukanya sendiri, karena tanganku dirasakan linu dan sakit..."

"ooo, begitu...."

Berbareng sihweshio tua mendekati Sinona dan membuka sebagian bajunya di bagian bahunya yang terluka. Bahu yang

putih mulus dan lengan yang halus lunak lantas tertampak didepan matanya Tay Hong Hosiang.

Ia kesima menyaksikan apa yang dilihatnya. Matanya ketika kebentrok dengan sepasang matanya si nona yang halus merayu dan senyumannya yang membuat ia melamun, tiba-tiba dirasakan hatinya tergoncang. "No..na..., Ie, kau ..."

"Aku kenapa, Taysu ."

Li lo sat Ie Ya sebagai iblis wanita yang banyak pengalaman dalam kalangan Kang-ouw sudah lantas dapat menangkap perkataan yang diucapkan dengan gaga gugu itu.

Si kepala gundul kesima oleh kehalusan kulitnya, terpesona oleh kecantikan dan sorot matanya yang merayu. Tapi ia tidak keder menghadapi perubahan itu.

"No... na... le, kau.... kau cantik sekali, Wanita yang paling cantik dalam dunia...kau..."

"Aku sudah bosen mendengar kata kata semacam itu."

"Tapi nona, memang benar kau cantik.."

PENGORBANAN TENAGA DALAM

Ie Ya kerengkan matanya yang galak sambil bersenyum simpul.

hweshio tua itu berontak hatinya tiba-tiba timbul napsu jahatnya mengawasi pada si nona dengan mata beringas.

"Aku cantik, habis kenapa?" tanya Ie Ya tertawa.

"oh, nona Ie. kau, kau, .."

Ia sudah tak dapat mengendalikan napsu-nya, seketika itu ia menubruk sinona dan memeluknya mulutnya menciumi bahu dan lengan nona Ie dengan bernapsu.

Bahu dengan lengan yang halus laksana kapas itu jadi sasaran mesra dari hidung dan mulutnya Tay Hong Hosiang, Herannya Ie Ya tinggal membiarkan saja si hweslo tua mengumbar napsunya menciumi bahu dan lengannya tapi ketika Tay Hong Hosiang tangannya mulai menggerayang hendak membuka kancing bajunya ia mencegah dan berkata dengan suara dingin. "Tay-su kau sadariah..."

"Tidak. nona Ie..." kata si hweshio tua dengan suara parau, karena tak dapat menahan getaran napsu birahinya..

"Tay Hong Taysu." terdengar pula suara si nona berkata dengan suara halus tapi dingin "kau menyebutlah omitohud."

Perkataan- omitohud, yang diucapkan si nona, seolah-olah kalajengking yang menggigit tangannya si hweshio tua sebab dengan gemetar seketika itu ia melepaskan pelukannya dan mundur dua tindak, matanya mengawasi pada si nona seperti yang ketakutan-

"Tay-su." melanjutkan si nona. "Dua puluh tahun sudah kau cuci tangan dan hendak kembali menjadi orang baik-baik apakah tidak sayang ketekunan itu menjadi punah karena bertindak? Apakah tidak akan menyesal seumur hidupnya, hanya kesalahan sendiri tak dapat menindas napsu jahat, membuat kesujudanmu memuji sang Buddha dua puluh tahun lamanya menjadi hilang seperti tersapu air banjir?"

Tay Hong Hosiang menggigil tubuhnya. Satu demi satu perkataan Ie Ya seperti juga pisau yang menyayat hatinya, sangat perih, otaknya diliputi oleh kemenyesalan besar. sorot matanya menjadi layu dan malah tak berani memandang Ie Ya, yang saat itu masih tetap duduk dengan tenang dan bahu serta lengannya yang halus putih masih seperti tadi keadaannya telanjang yang dapat napsu birahinya si hweshio tua melonjak.

Keadaan Tay Hong Hosiang saat itu seperti anak kecil yang sedang mendengari omelannya sang ibu. ia berdiri dengan

kepala ditundukkan, tidak berani mengawasi pada si nona. Kecantikan Ie Ya bulu mata dan lengannya menggoncangkan napsunya kini lenyap seperti tersapu angin tak meninggalkan bekas. Apa yang ada dalam hatinya sekarang kemenyesalan besar, perasaan putus harapan akan menjali seorang suci. Pikirannya betul betul saat itu sangat kalut. Tiba tiba berkelebat dlotaknya suatu keanehan, ia lalu menanya. "Tapi nona Ie, eh, kenapa kau barusan diam saja ketika aku memelukmu ?"

"Kenapa aku sudah dapat menebak akan jalan pikiranmu?"

"Eh, apa artinya itu ?"

"Kalau kau berotak dan menolak keras, kebuasanmu yang dulu akan merajalela dalam hatimu yang sudah mulai balik dalam kebenaran." Tay Hong Hosiang bungkam.

"Nafsu buasmu harus di beri jalan supaya pikiranmu menjadi tenang dan nasehatku bisa masuk dalam pikiranmu." kata pula Ie Ya, dengan tenang.

Kembali Tay Hong Hosiang membisu "Nona Ie." ia berkata kemudian, "bahumu dan lenganmu yang halus mulus tadi menjadi sasaran napsu iblisku, apakah kau tidak merasa jijik?"

Ie Ya bersenyum manis. "Apa boleh buat, aku harus berkorban guna menolong orang jangan terjerumus kedalam dosa lagi....."

"Apa artinya perkataanmu, nona Ie?"

"Kalau nafsu buasmu tidak mereda karena pengorbananku itu dan kau berbuat yang melanggar batas, tidakkah sia-sia untuk waktu selama dua puluh tahun kau sudah bertobat?"

"Nona Ie, oh, kau bukan saja rupamu yang cantik seperti bidadari tapi juga hatimu cantik dan suci."

Tay Hong Hosiang mengawasi si gadis dengan mata welas asih dan penuh dengan perasaan terima kasih, Si nona

mengerti apa yang dipikirkan oleh Tay Hong Hosiang, maka ia membiarkan wajahnya diawasi dengan tajam oleh jago Siauw lim sie itu. Keadaan hening beberapa lamanya.

"Taysu bagaimana dengan maksudmu untuk mengobati lukaku?" tiba-tiba si nona memecah kesunyian, sambil ketawa manis.

"Oh. betul, betul... kenapa aku jadi lupa." kata Tay Hong Hosiang dengan gugup, ia cepat-cepat memeriksa lukanya si nona yang sudah siap sejak tadi bahunya yang sudah mulai menghitam itu untuk diobati.

Ie Ya ternyata tulang bahunya telah patah dan perlu disambung.

Tay Hong Hosiang menggunakan keakhliannya untuk menyambung tulang itu.

Tapi biar bagaimana Ie Ya merasakan sangat sakit. Peluh membasahi sekujur badan-nya bahna menahan rasa sakit, akan tetapi ia tidak mengeluh oleh karenanya.

Ternyata wanita jagoan itu tahan sakit, sampai kemudian si hweshio tua sudah selesai mengerjakan pertolongannya.

"Nona Ie." kata Tay Hong Hosiang, "tulang bahumu yang patah sudah tersambung kembali, dengan pertolongan obatku yang aku bubuhi pada lukamu, dalam tempo tiga hari kau akan sembuh kembali sebagaimana semula lagi."

"Tapi, Taysu, terpaksa aku membuat kau berabe lagi ..."

"Urusan apa nona Ie ?"

Ie Ya tidak menjawab, hanya matanya melirik pada bahunya yang masih telanjang. Kelakuan mana dapat dimengerti oleh Tay Hong Hosiang.

"Maaf, nona Ie, mari aku tolong pakaikan bajumu lagi." katanya, berbareng apa yang ia katakan, dan sebentar lagi

tampak Ie Ya sudah memakai bajunya lagi dan berbangkit dari duduknya.

Ia merasakan rasa sakit luka di bahunya, meskipun barusan ia rasakan setengah mati sakitnya ketika disambungkan tulangnya dan dlobati, tapi kini pelahan-lahan sudah hilang dan rasa semutan juga sudah mereda.

"Terima kasih Taysu atas pertolonganmu." kata sigadis sambil menjura.

"Tak usah mengucapkan demikian, "jawab Tay Hong Hosiang, "hanya aku ada satu permintaan, entah apakah Nona Ie suka meluluskannya?"

"Permintaan apa itu Taysu? Kalau sekira-nya yang pantas kenapa aku tidak mau meluluskannya?"

"Itulah pernintaanku barusan terhadapmu nona Ie. Aku minta kau suka tutup rahasia."

"Ow, hal itu jangan kuatir," memotong Ie Ya.

"Percayalah pada ketulusan hatiku, sebab sejak melihat Taysu insyaf dan merasa menyesal atas kelakuanmu tadi, aku sudah lantas anggap kejadian itu seperti tak pernah terjadi. Harap Taysu juga pikir begitu, karena itu hatiku akan menjadi tentram dan dengan penuh kesujudan Taysu dapat melanjutkan niatmu yang suci..."

"Nona Ie." kini si hweshio yang memotong "apakah kau benar berpikiran demikian? oh. benar-benar kau seorang wanita berhati mulia, tidak serupa dengan julukanmu yang diberikan oleh dunia Kangouw kepadamu." Ie Ya hanya bersenyum manis sambil anggukan kepala.

Hatinya Tay Hong Hosiang kini menjadi lega dan kembali tenang seperti semula. Apa yang terjadi barusan ia melupakan semua, seperti apa yang dipikirkan juga Ie Ya. Maka ia lantas membuka pintu kamar dan menyilahkan Kong Goan masuk bersama Seng Hay.

Tulang pahanya Kong Goan juga patah karena tendangannya Ho Tiong Jong, maka oleh gurunya ia juga dlobati seperti ia tadi, setelah selesai lalu semua perabotan yang dipakai disuruh dibenahi oleh Seng Tay.

Tay Hong Hosiang sambil memakai pula jubahnya telah berkata pada Ie Ya.

"Nona Ie, kau juga Tiong Jong sebentar, aku akan menemukan murid-muridku dan tidak lama aku akan kembali."

"Baiklah, "sahut Ie Ya, sambil mengawasi si hweshio tua berjalan keluar diikuti oleh Kong Goan dan Seng Hay.

Ie Ya menghampiri tempat pemuda Ho Tiong Jong berbaring.

Ternyata wajahnya sipemuda tidak pucat lagi seperti semula ia melihatnya ini rupanya karena lukanya sudah diobati dan sudah diberi pil mujarab oleh Tay Hong Hosiang, Hatinya Nona Ie sangat girang.

Pikirnya, ia tidak rugi bahu dan lengannya yang halus lunak menjadi sasaran nafsu buas nya Tay Hong Hosiang, karena Ho Tiong Jong yang sudah tertolong, dirinya juga sudah disembuhkan dan yang paling penting si hweshio tua sudah insyaf akan kekeliruannya dan tidak terjerumus kedalam dosa.

Mari kita lihat apa yang Tay Hong Hosiang berbuat diluar kamar.

Ia pergi kesebuah ruangan besar, di mana sudah berkumpul banyak hweshio-hweshio muda yang menjadi anak muridnya.

Didepan mereka Tay Hong Hosiang angkat bicara, mengingatkan pada tempo dua puluh tahun berselang ditempat ini keadaannya masih hutan belukar.

Setelan disitu dibangun kuil Kong beng sle, periahan-lahan diperbaiki keadaan disekitarnya, sehingga sekarang

keadaannya sudah menjadi indah. Semuanya itu berkat kerja sama mereka yang sungguh-sungguh.

Sampai waktu itu, mereka sudah bisa berdiri dtatas kaki sendiri, Tak tergantung pada dan dermaan orang dermawan- Sawah ladang untuk mereka bercocok tanam dan kelebihannya dijual, sudah cukup untuk mengongkosi penghidupan mereka. Dengan suara penuh kemenyesalan ia berkata dengan tandas.

"Kita ini ada orang Siaw-lim-pay, sudah dua puluh tahun lebih aku dengan tekun memegang pantangan membunuh, apa mau malam ini aku sudah salah bertindak. Timbul napsu membunuhku sehingga hampir-hampir saja aku membunuh utusan dari su-couwku. Besar dosaku ini, Maka mulai saat ini aku akan pergi meninggalkan kalian mengasingkan diri untuk menebus dosa."

Keadaan yang sunyi senyap telah berobah ramai kembali, bisik-bisik satu dengan lain-Mereka rupanya merasa heran dan tidak puas akan ditinggalkan oleh sang guru yang demikian baik hati dan menyayang pada mereka. Tay Hong Hosiang lantas ulap-ulapkan tangannya dan minta supaya mereka tenang lagi mendengarkan bicaranya.

Ia menceritakan bahwa Beng Tie Taysu dari gereja Siauw-fim sie adalah ia punya susiok, yang sangat sayang sekali pada dirinya. Ketika suhunya mau meninggal dunia telah memberi pesanan pada Beng Tie Taysu, supaya ia digembleng dengan ilmu ilmu silat yang tinggi keluaran Siauw limpay. Beng Tie Taysu telah memenuhkan pesanannya sehingga ia menjadi salah satu orang terpandai dan partai Siauw lim.

cuma sayang sekali, setelah keluar dari perguruan, perjalanan hidupnya telah menyeleweng sebaliknya dari membikin harum nama partainya. Belakangan ia sadar akan perbuatannya yang tidak benar, akan tetapi ia merasa malu untuk minta ampun ke gereja Siauw-lim-sle, maka ditempat itu saja ia mendirikan kelenteng dan setiap malam bersujud

kepada sang Budha untuk menebus dosanya, sebagai penutup bicaranya ia menandaskan "Tentu kalian tahu kelenteng ini telah berubah indah dan maju dari sebab jasanya Kong Goan yang rajin- Maka niatku akan mengangkat dia menjadi penggantiku setelah aku berlalu dari sini, Harap kalian mupakat, jikalau ada yang keberatan boleh majukan usul padaku untuk dipertimbangkan lagi."

Keadaan menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu hweshio yang mengeluarkan sepatah katapun, mereka semua berlutut ketika Tay Hong Hosiang meninggalkan ruangan itu dan menuju kekamar Ho Tiong Jong berada. Ie Ya menyambut padanya dengan berseri-seri.

Rupanya Li lo-sat ie Ya juga dapat mencuri dengar akan putusannya Tay Hong Ho-siang yang hendak meninggalkan kuil itu, ia memang ada seorang wanita yang matang dalam pengalaman soal sedikit saja ia ingin dapat tahu, maka waktu Tay Hong Hosiang ke luar dengan dua muridnya ia juga ingin tahu apa maksudnya.

Ketika pertemuan diakhiri, maka ia cepat-cepat sudah berlalu lebih dahulu dan menyelinap masuk lagi kedalam kamar Ho Tiong Jong. "Taysu, habis bagaimana dengan Tiong Jong?" tanya si nona.

Tay Hong Hosiang tertawa, "Nona ie, kau kelihatannya sangat gelisah kalau bicara tentang Tiong Jong, kenapa?"

Li losat Ie Ya melengak ditanya demikian ia tidak pernah menduga bahwa akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Sebentar saja selebar wajahnya menjadi kemerah-merahan- ia merasa jengah, akan tetapi ia bukan wanita pemaluan yang tidak dapat menjawab pertanyaan demikian, sebab ia lantas tenangkan kembali hatinya yang bergoncang dan menjawab.

"Taysu, kau jangan keliru menebak. Tiong Jong ada penolong jiwaku, maka aku merasa hutang budi kepadanya.

Kalau dia sampai kenapa-napa, bagaimana aku bisa tinggal berpeluk tangan saja?"

"Nona Ie, kau pintar menjawab..."

"Habis harus bagaimana aku menjawabnya?"

Tay Hong Hosiang mengawasi si nona sebaliknya Ie Ya juga pentang matanya balas mengawasi, hingga dua pasang mata kebentrok dan dua-duanya pada bersenyum. Itulah... artinya... T S. T..

"Nona Ie." berkata lagi Tay Hong Hosiang dengan roman sungguh-sungguh, "aku berniat bukan saja menolong menyembuhkan Tiong Jong dari lukanya, tapi juga aku akan membuat tenaga dalamnya lebih sempurna lagi."

"Aku mengucapkan terima kasih atas namanya Tiong Jong." kata si nona.

"Untuk mana aku memerlukan tempo tiga hari tiga malam berduaan dalam kamar dengan Tiong Jong. Dalam keadaan seperti itu tak boleh terganggu, karena kalau terganggu akan sia-sialah maksudku dan Tiong Jong jnga keadaannya bisa jadi tidak beres, Disini ada Kong Goan yang sedang mengikuti aku sudah lama dan ada lima saudaranya lagi, akan tetapi kalau mereka ketemu dengan pendekar ulung rasanya tak dapat mengatasinya." Tay Hong Hosiang berkata sampai disini telah menghela napas.

"Taysu, bolehkah aku membantu ?" tanya Ie Ya .

"Terang kau harus membantu, cuma saja kau sendiri belum sembuh lukanya, seperti juga dengan Kong Goan, Bagaimana nanti kalau ada gangguan dari luar sementara aku sedang berada dalam kamar dengan Tiong Jong?"

Ie Ya terdiam. ia mengerti, memang kekuatiran si hweshio tua beralasan-

"Aku akan membuka pembuluh darah Tiong Jong melancarkan peredaran darah diseluruh tubuhnya dan memasukan aku punya tenaga dalam, selanjutnya Tiong Jong akan menjadi kebal dan tidak takut jalan darahnya kena totokan lawan, ini aku memeriukan tiga hari tiga malam bersama-sama dengan dia dalam kamar..."

"Taysu," menyelak si nona, "kau bermaksud hendak memindahkan tenaga dalammu kedalam tubuhnya Tiong Jong ?"

Tay Hong Taysu bersenyum dan anggukkan kepalanya.

"Taysu.,." kata pula ie Ya dengan mata di buka lebar, "itulah ada pengorbanan tenaga dalam, Setelah kau habiskan tenaga dalammu untuk kebaikannya Tiong Jong, kau sendiri akan menjadi sangat lelah dan tidak bertenaga. Ah, Taysu, kupikir sebaiknya kau jangan lakukan pengorbanan sedemikian itu."

"Kenapa tidak, nona Ie?"jawab Tay Hong Hosiang dengan suara mantap. Li-losat ie Ya bungkam.

"Nona Ie," kata pula Tay Hong Hosiang, "Tiong Jong ada utusan dari susiokcow, aku berdosa telah melukai utusan yang mulia maka aku sudah mengambil keputusan untuk memberikan tenaga dalamku yang telah aku latih banyak tahun, supaya Tiong Jong merupakan bintang yang cemeriang dalam dunia persilatan."

"Kalau begitu, biariah aku dengan Kong Goan suhu menjaga bersama-sama pada kamar kedua, kamar kesatu boleh dijaga oleh lima suhu lainnya."

"Bagus itulah yang saya harapkan-" kata Tay Hong Hosiang.

Kemudian ia panggil berkumpul Kong Goan dan lima sutenya, untuk mendengar pesannya, Mereka telah ditetapkan melakukan penjagaan seperti yang dikatakan nona Ie tadi,

diberikan kebebasan untuk membunuh sesuatu orang yang hendak mengacau kedalam kamar dimana ia dengan Tiong Jong berada.

Setelah beres mengatur orang-orangnya Tay Hong Hosiang menutup diri dalam kamar operasi bersama-sama Ho Tiong Jong kamar mana memang ada tempat bersemedi orang kuil dari Siauw-lim pay itu.

Kamar ini berdinding batu yang kuat, pintunya meski dari kayu, tapi lebar dan kuat sekali, hingga apa yang terjadi diluar tak dapat kedengaran kedalam.

Untuk sampai kekamar ini, orang harus melewati dahulu dua kamar lainnya, yang dijaga oleh lima hweshio muda, kamar kedua oleh Ie Ya dan Kong Goan- Dua orang yang tersebut belakangan telah mengambil keputusan akan membela mati-matian tempat jagaannya itu.

Telah dimupakati oleh keduanya, Ie Ya akan melawan musuh dari jarak jauh dengan menggunakan senjata ikat pinggangnya, sedang Kong Goan dapat menempur musuh dengan jarak dekat, sebab ilmunya menggunakan telapakan tangan ada hebat sekali.

Kalau pada beberapa saat berselang mereka menjadi musuh, kini telah menjadi sahabat yang akrab sekali, bersatu hati untuk melindungi Tay Hong Hosiang dan Ho Tiong Jong dalam kamar ketiga.

Diluar tiga kamar itu masih ada penjagaan terdiri dari beberapa hweshio yang ilmu silatnya lumayan juga ialah mereka ditugas-kan untuk menyambut tetamu. Kalau ketemu orang jahat jika tidak sangat perlu, dilarang turun tangan karena ilmu kepandaiannya belum sempurna.

Pada saat Tay Ho Hosiang menutup diri, jam mengunjukan sudahjam enam pagi tadi, tiga hari kemudian pada jam demikian Tay Hong Hosiang sudah selesai menyempurnakan tenaga dalamnya Ho Tiong Jong.

Demikianlah, penjagaan yang diatur dengan sangat kuatnya itu, melewatkan dengan saat-saat dengan sangat tegang, Dua hari telah di lewatkan sampai jam dua belas tengah malam telah berjalan dengan tidak ada apa-apa. Mereka merasa lega hatinya.

Hanya tinggal melewatkan malam besok, pada jam enam pagi, tugas mereda sudah beres dan Ho Tiong Jong sudah sempurna di gembleng tenaga dalam oleh Tay Hong Ho siang.

Apa mau, pada besok malamnya kira2 jam sepuluh kelenteng itu mendapat kunjungan tetamu yang tidak diingini yang hendak mencari Ho Tiong Jong.

Tamu itu sangat galak. Ketika dirintangi jalan masuknya, beberapa hweshio yang menghadang didepannya dengan mudah saja dirubuhkan oleh karenanya dalam kelenteng sebentar saja sudah menjadi gempar.

Ie Ya curiga hatinya, bahwa tamu yang datang itu tentu ia ada dikirim oleh Perserikatan Benteng Perkampungan, untuk mencari Ho Tiong Jong.

Teriakan-teriakan dari beberapa hweshio memperingati kawannya supaya berjaga-jaga, Kiranya tamu yang masuk itu telah menggunakan senjata gelap untuk mencelakakan orang. Yang menjadi sasaran senjata gelap-nya itu ada orang punya paha, hingga sang korban harus bergulingan menahan kesakitan-

Tamu itu sudah maju sampai kepenjagaan kesatu, dimana dua diantara lima hweshio yang menjaga disitu sudah kena dilukai sang tamu yang tidak diundang.

Mereka menghadang dengan gagahnya, tiba-tiba tamu tidak diundang itu telah perdengarkan ketawanya yang dingin.

"Kalian jangan coba menghadang, karena kalian bukan tandinganku, aku tidak mau membikin celaka orang yang tidak tersangkut, aku datang hanya untuk mencari Ho Tiong Jong.

Lekas kasih tahu dimana orang she Ho itu?" Salah satu tiga hweshio itu bernama Seng ceng telah menjawab.

"kedatanganmu sungguh tidak beraturan, telah membuat orang bergelimpangan karena senjata rahasiamu,.Hmm.... mencari orang kenapa begitu caranya?"

"Aku tidak perduli, siapa saja yang menghalangi akan maksudku. mesti tahu sendiri akibatnya, jangan banyak rewel, lekas kasih keluar Ho Tiong Jong"

Seng ceng dengan dua saudaranya tidak banyak rewel lagi, ketiganya lantas menyerang berbareng, Mereka menggunakan golok, pedang dan pentungan, Tapi ternyata tamu itu betul-betul lihay, Sebab setiap kali menggunakan telapakan tangannya, senjata kawanan hweshio itu satu demi satu dapat dipukul jatuh, ia tidak bersenjata, hanya menggunakan angin pukulan saja yang dahsyat, cukup membuat senjata lawan terpental dari cekatannya,

KETiKA melihat tiga hweshio pada jatuh senjatanya, tamu itu tertawa bergelak- gelak. "Hm... kalian kenali aku ini Khoe cong dari Perserikatan Benteng Perkampungan, Lekas keluarkan Ho Tiong Jong, barulah aku dapat mengampuni kalian..."

Suara tertawa dan bicaranya Khoe cong, sampai didengar oleh Ie Ya dan Kong Goan Hweslo, duanya sangat kaget. Ie Ya Paling sungkan ketemu Khoe cong justeru yang datang ia sendiri. Khong Goan pikir lima saudaranya yang menjaga kamar pertama bukan rendah-rendah kepandaiannya, akan tetapi mereka kena dijatuhkan demikian mudahnya, tentu kepandaiannya sang tetamu ini ada tinggi dan ia sendiri mungkin tak dapat mengatasinya.

Mereka jadi kebingungan, sebab Ho Tiong Jong masih memeriukan waktu delapan jam lagi baru dapat keluar dari kamarnya, Kini gangguan ada dari Perserikatan Benteng Perkampungan yang terkenal banyak orang kuatnya.

Tentu Seng Eng bukan hanya mengirim Khoe cong seorang, tapi disusul oleh beberapa orang kuat lainnya yang sukar diusir pergi dari rumah berhala itu. Mereka agaknya putus asa mengingat akan keadaan itu Ho Tiong Jong yang masih dalam gemblengan Tay Hong Hosiang, sedang sihweshio tua sendiri tentunya sudah buang tenaganya dan tak dapat membantu mereka bertempur dengan gerombolan orang jahat itu.

Khoe cong yang melihat tiga hweshio di hadapannya tidak mau memberi jalan dan kelihatannya hendak berlaku nekad membela penjagaannya, ia telah membentak keras dengan maksud supaya bentakannya itu kedengaran oleh Ho Tiong Jong.

"Kalian lekas minggir, aku akan bikin hancur itu kamar pasti didalamnya ada bersembunyi si maling cilik."

"Kau tak perlu nebak-nebak dalam kamar itu siapa didalamnya, kau lewati dahulu kami, barulah ada bicara lagi." kata Seng Hay tenang bicaranya meskipun barusan dengan angin pukulannya Khoe cong, senjatanya sudah dibikin terpental, ia tampak berani sekali. Khoe cong menjadi tidak sabaran.

"Baik." katanya." lihat aku menerjang kau."

Berbareng ia menerjang dengan ganas. Si muka jelek Khoe cong telah menggunakan pukulan dengan ilmu Telapakan tangan dewa, untuk membukakan tiga hweshio itu. Hebat ia mainkan ilmunya yang sangat di andalkan itu sebab buktinya tiga hweshio itu kewalahan melayaninya.

Satu kali Seng- Hay lengah, Khoe cong sudah menerobos dari arah sini dan menerjang ke kamar jagaannya Ie Ya dan Kong Goan hweshio.

"celaka," kata Ie Ya dalam hati. "ini biang keladi sudah menerobos masuk." Ie Ya cepat-cepat menyelinap kebelakang kerai.

Khoe cong tampak bengis wajahnya, betul-betul menakuti, ia mengawasi pada Kong Goan hweshio yang berdiri tidak bergerak didepan pintu kamar yang ada Ho Tiong Jong dan gurunya.

Kedua tangan dipalangkan didepan dadanya, seakan-akan yang sudah bUip untuk menjaga serangan musuh.

Koe cong tertawa bergelak-gelak. Tapi ia tak berani sembarangan menerjang kepada Kong Goan, karena ia menduga Kong Goan ini ilmu silatnya tinggi.

Meskipun demikian ia sudah terlanjur masuk kesitu, bagaimana juga ia harus menerjang masuk ke kamar ketiga itu, yang didalamnya pasti ada Ho Tiong Jong.

Demikian sewaktu ia mau bergerak. mendadak ia diserang dengan golok oleh hweshio Seng Hay dan Seng Kok. Hatinya sangat mendongkol, kembali ia menggunakan ilmunya "Telapak tangan dewa" untuk membubarkan mereka.

Betul-betul hebat ilmunya itu, sebab hanya beberapa gebrakan saja, senjata dari kedua hweshio itu sudah pada terbang dan nancap dipenglari rumah.

Seng Kok dan Seng Hay mundur dan menyender pada dinding dengan mata dibuka lebar lantaran merasa kagum akan ketangkasan sang lawan-

Tiga hweshio lawannya, dengan menggunakan tangan kosong coba datang mengeroyok pa ia Khoe cong, ternyata mereka jugabukan tandingannya sipocu muda Khoe cong. Hanya dalam beberapa jurus saja mereka juga sudah dapat ditolak mundur.

Kong Goan hweshio yeug menyaksikan kekalahan dari saudaranya diam-diam merasa sangat sedih menjadi serba salah, Kalau ia meninggaikan jagaannya dan menandingi ilmu lihay itu, dikuatir pintu yang dijaga-jaganya sangat kuat itu akan bobol oleh serbuan kawannya si tamu lihay.

Kalau ia tidak turun tangan, bagaimana nasibnya lima saudaranya ini, entahlah. Mereka kelihatannya bukan tandingan si tamu lihay, sebab dengan hanya bertangan kosong saja, pukulannya sudah dapat menerbangkan dua senjata golok lawan sehingga nancap pada tiang penglari.

Ia jadi mengucurkan air mata. Tiba-tiba hatinya dibikin pedih lagi mendengar jeritannya Seng Sin, salah satu saudaranya oleh Khoe cong, ia kena ditendang dan terpental jauh, hingga tulang pahanya patah.

"Ha ha ha..." terdengar Khoe cong ketawa girang, "Kalian mau coba menahan padaku, nah rasakan akibatnya. Ha..ha.."

Tertawanya paling belakang belum lampias, sudah berhenti sendirinya, karena ia harus menghindarkan serangan pedang yang dilancarkan dengan tiba-tiba. siapakah orang yang menyerang dengan pedang itu?

Kiranya ia bukan hwesio dari gereja disitu, hanya ada seorang berbadan kecil langsing, wajahnya tertutup dengan kedok kain kuning. Matanya bersorot tajam, gerakannya gesit dan serangannya laksana kilat, hingga Khoe cong menjadi gugup ketika ia menghindarkan serangan orang asing itu. Ia tidak mengenali siapa ini lawan berkedok kain kuning ?

Saat itu ia sangat gusar, lalu melayani lawannya dengan menggunakan gerak tipu yang dinamai "Burung rajawali manggut tiga kali" serangannya ang dilakukan susul menyusul tiga kali bukan main hebatnya, akan tetapi semua itu dapat dipunahkan oleh slorang berkedok kain kuning.

Khoe cong amat heran, karena serangan berantai itu sebenarnya belum pernah luput, tapi kini ternyata dengan mudah dapat dipunahkan oleh lawan-

"Siapa kau?" bentaknya dengan keras, Tapi sikedok kuning tak menjawab, hanya mainkan terus ilmu goloknya yang banyak perubahannya mencecar pada lawannya.

"Kau kenali aku dulu siapa ? Kau berani melawan tuan mudamu, jangan menyesal kalau tuan mudamu marah dan tidak memberikan keampunan padamu..."

Bicaranya mendadak berhenti, karena ia sangat kaget ketika satu tusukan pedang kearah tenggorokannya hampir saja tak dapat ia hindarkan- Berkat kegesitannya saja, dengan jalan menjatuhkan diri ke belakang, baru ia dapat menghindari tusukan pedang sikedok kuning.

Bukan main gusarnya Khoe cong menghadapi lawan lihay ini. Ilmu "Telapak tangan dewa" yang sangat diandaikan tak menolong.

Orang berkedok kain kuning itu makin lama serangan-serangannya makin santar saja, hingga Khoe ceng menjadi sangat gugup menangkisnya, serangan yang diarahkan ke tempat yang berbahaya pada tubuhnya membuat Khoe cong menjadi keringat dingin.

Seng Kok dan kawannya menyaksikan pertolongan yang tak diduga-duga itu diam-diam merasa banyak bersyukur kepada sang Budha yang dipujanya, karena pikirnya tuan penolong itu sudah didatangkan oleh sang Budha. Mereka dibikin kagum oleh ilmu silatnya orang berkedok kain kuning itu karena tamunya yang lihay luar biasa, sudah dibikin keteter olehnya.

Menggunakan kesempatan sitamu lihay sedang bertarung dengan tuan penolongnya, Seng Kok ajak kawannya menolongi pada Seng Sin yang barusan kena ditendang terbang dan tulang pahanya menjadi patah.

Mereka gotong sang korban kepinggiran dekat dinding.

Kemudian mereka itu padapasang mata lagi, menjaga kemungkinan munculnya kawan dari si tamu itu. Ternyata ini tak di tunggu lama oleh mereka, sebab lantas ada berkelebat masuk ke dalam ruangan itu seorang tinggi besar dengan

membawa sepasang gegaman berupa tongkat yang sangat berat sekali.

Seng Kok dan kawan kawannya meskipun sudah pada bersenjata lagi, ternyata tak dapat menahan terjangannya ini tamu baru. Kelihatannya ada lebih lihay dari yang sudah, karena saban kali senjatanya menangkis senjata lawan segera juga sudah dapat membikin terpental orang punya senjata.

Bukan main kagetnya mereka dan merasa sangat cemas tak dapat mentaati pesan gurunya yang saat itu sedang berada dalam kamar berduaan bersama Ho Tiong Jong dan tak dapat diganggu.

"Ho Tiong Jong, pengecut " teriak orang itu dengan kasar sekali. "Lekas keluar, jangan sembunyikan diri "

Hui Seng Kang jalan menghampiri, tapi dicegah oleh seng Kok dan Seng Hai.

"Sahabat, tahu aturan sedikit" bentak Seng Hay. "Kuil ini bukannya kuilmu. boleh punya suka mengumbar adatmu. Masih ada kita berdua disini, jangan kau sembarangan main gila, Nah..."

XXX. KUIL KONG BENG SIE DIBAKAR

Baru saja menyebut "nah" atawa tongkatnya si orang kasar berkelebat dimukanya hingga bukan main terkejutnya Seng Hay, Dengan goloknya ia coba menangkis. tapi senjata lawan kelewat berat, hingga ia rasakan tangannya kesemutan dan hampir saja goloknya jatuh di lantai.

Seng Kok tampil ke muka, tapi cuma tiga gebrakan saja sudah terpukul sampai sempoyongan, Benar-benar jagoan Hui Seng Kang ini.

Melihat demikian mudahnya ia memukul mundur musuhnya, maka hatinya makin besar, ia terus menghampiri

Kamar yang dikatakan oleh Khoe cong tadi, tapi sebelum ia bergerak, satu tusukan pedang dari samping hampir saja membuat ia lompat mundur. Ternyata yang menyerang tadi adalah si orang berkedok kain kuning.

Ia sebenarnya sedang menemani Khoe cong, akan tetapi melihat Hui seng Kang mau menerobos ke dalam kamar yang dijaga oleh Kong Goan, dengan tiba-tiba saja ia menyerang, sehingga si orang kasar menjadi kelabakan.

"Kau mau cari mampus" bentak Hui Seng Kang, sambil mengawasi dengan romai gusar sekali, ia terus menerjang dengan sepasang tongkatnya yang berat.

Ternyata menghadapi si orang berkedok kain kuning Hui Seng Kang tidak melempem, serangannya yang bertubi-tubi dan berat, dengan cekatan di tangkis atau dikelit oleh sikedok kuning, betul-betul hebat ilmu silatnya dia. Siapakah dia? Demikian kata Ie Ya dalam hatinya.

Ie Ya sudah sejak tadi mengikutijalannya pertandingan, ia sebenarnya kepingin turun tangan, akan tetapi mengingat lukanya masih belum sembuh benar, maka ia tidak berani sembarangan mengeluarkan tenaga-nya, kalau tidak sangat terpaksa, misalnya musuh menyerbu masuk kedalam kamarnya Ho Tiong Jong. Begitu juga dengan keadaannya Kong Goan hweshio.

Khoe cong juga sangat penasaran kepada si orang berkedok kain kuning itu, maka melihat Hui Seng Kang bertempur ia juga tidak tinggal diam dan lantas nyerbu mengeroyok pada si kecil langsing.

Ternyata kepandaian si kedok kuning tidak sampai disitu saja sebab melihat dirinya dikerubuti oleh dua jagoan dengan lantas ia meroboh ilmu silat pedangnya sekarang tampak pedangnya berkelebatan lebih menakuti lagi, tubuhnya seolah-olah dikurung oleh pedangnya yang dimainkan demikian cepatnya.