-->

Golok Sakti Bab 16 : Giok Cin Buka Rhasia Hatinya

Bab 16 : Giok Cin Buka Rhasia Hatinya

Tapi kamar disitu beda dari yang sudah sudah karena terlihatlah diperlengkapi dengan perabotan yang indah-indah seperti meja kursi dan tempat tidur.

Batu kumala putih yang melapis dinding dan lantai tampak berkilat terang, hingga keadaan disini ada lebih terang dari kamar lainnya.

Diatas pembaringan Ho Tiong Jong lihat ada satu kakek kurus kering sedang bersemedi. cepat-cepat Ho Tiong Jong mendekati dan menjura memberi hormat, katanya.

"Harap cianpwee suka memaafkan Boan-pwee yang sudah lancang masuk kedalam tempat istirahat cianpwee disini karena tidak mengetahui kalau dalam kamar ini ada penghuninya."

Ho Tiong Jong beberapa saat menanti jawaban, tapi tidak juga ia mendengar suara si kakek yang bersender didinding batu.

"Harap cianpwee suka memberi maaf, supaya boanpwee meninggalkan ruangan ini dengan lega." demikian Ho Tiong Jong berkata pula.

Tapi lama ditunggu, jaga tidak mendengar orang tua itu membawa suara.

Diam-diam anak muda itu mendongkol dalam hatinya, kenapa pikirnya sombong benar orang tua itu, ia sudah merendah sampai begitu rupa, akan tetapi dianggap sepi saja seolah-olah suaranya itu tak dapat didengar.

Kini Ho Tiong Jong membuka matanya lebih lebar mengawasi kepada orang tua itu, hatinya tiba-tiba bercekat, Dengan pelahan-lahan ia menghampiri lebih dekat dan ketika diteliti, kiranya orang tua itu sudah menjadi mayat, pantasan tidak menjawab omongannya tadi.

Entah sudah beberapa lama kakek ini sudah menjadi mayat, keadaannya masih tetap seperti orang hidup yang sedang bersemedi

Tangannya tampak sedang memegangi patung kecil ditempelkan pada dadanya, agaknya seperti yang sangat menyayangi benda itu.

Ho Tiong Jong iseng tangannya lalu mengambil patung itu dan dilihatnya. Astaga... patung itu bagus sekali, di buat dari bahan batu kumala putih.

Patung itu merupakan bentuk badan wanita yang sempurna, kecantikannya yang luar biasa, hingga Ho Tiong Jong terpesona dan tangannya menggetar memegangnya.

Saat itu lantas berbayang air muka cantik jelita dari dua nona didepan matanya, Mereka itu bukan lain dari Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie, Ho Tiong Jong seperti juga sedang membanding-bandingkan keelokannya dua nona itu dengan patung yang ada ditangannya. Lama dia dalam keadaan demikian, tiba tiba terdengar ia menghela napas dan berkata pada diri nya sendiri.

"Ya masing-masing ada membawa kecantikkannya sendiri, siapa lebih unggul sukar ditentukan, Giok Cin dan Hong Jie kelihatannya ada menaruh hati padaku, tapi... ah sayang aku seorang miskin, mana pantas aku menjadi pasangannya."

Ho Tiong Jong jadi ngelamun. Dewi asmara agaknya mulai mengadu biru dalam hatinya yang masih kosong.

Tapi sang Dewi tak berhasil mendobrak hatinya, karena adanya pikiran rendah diri, bahwa ia bukan pasangannya dari nona-nona tingkatan atas itu.

Dekat pembaringan itu terdapat satu meja kecil, diatasnya Ho Tiong Jong lihat ada batu kumala yang warnanya kemerah-merahan, hatinya tertarik dan lalu memegangnya, tiba tiba ia rasakan hawa hangat nyelusup masuk keseluruh badannya keluar dari batu tadi.

Hatinya sangat heran, ia tidak tahu itulah ada batu kumala api(Hwee-giok) yang menjadi benda buruan dari tiga pemuda Khoe-cong, Kong Soe Tek dan in Kie seng datang ketempatnya si kakek Souw Kie IHan yalah benda yang akan dihadiahkan kepada Kim Hong Jie.

Ketarik oleh keajaibannya batu kumala api itu, tanpa merasa, ia sudah bakal main ditelapakan tangannya, kemudian dimasukkan kedalam sakunya.

Kemudian ia memandang lagi patung wanita cantik tadi, ketika diteliti kiranya pada patung itu ada ukiran tulisan yang berbunyi.

"cay in sudah pulang kealam baka, tak dapat hidup kembali. Hatiku menjadi kosong oleh karenanya, dunia yang luas bagaikan menjadi sempit. Tidak ada kebahagiaan lagi dalam dunia, maka aku menyusul dia ketempat baka. catatan CIE KENG.

Ho Tiong Jong berdiri bengong setelah membaca ukiran tulisan tersebut.

Pikirnya, orang tua itu bernama cie Keng yang membuat patung wanita cantik bernama cay in. ia membuat itu sebagai kenangan akan istrinya yang sangat dicintainya itu yang mendahului ia pulang kealam baka.

Kebahagiaan hidup karenanya menjadi musnah dan hidupnya cie Keng selanjutnya menjadi tidak ada artinya, Akhirnya ia mengambil putusan untuk menyusul sang istri ketempat baka. Kesian.

"Ya cie lopek ..." terdengar Ho Tiong Jong berkata sendirian, "kau masih beruntung boleh dikata, karena kau sudah mengalami masa kebahagiaan hidup dan mengenangkan orang yang dicintai, tapi seperti aku... aku bernasib buruk. Hanya bahaya kematian saja yang dihadapi olehku sepanjang hidupku. Terlunta-lunta hidupku, dimana dan siapa orang tuaku, aku juga tidak tahu."

Setelah berkata kata demikian tampak wajahnya muram ia sangat berduka.

Dengan sangat hati-hati ia telah taruh- lagi patung batu kumala tadi ditempat asalnya itulah benda miliknya si kakek, tak dapat dibawa dari situ.

Kemudian setelah mereda dari dukanya, Ho Tiong Jong keluar dari goa itu setelah terlebih dahulu menutup kembali kamar batu rahasia itu sebagaimana asalnya. Ia berjalan dengan tundukan kepala.

Belum lama kakinya bertindak. tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita memanggil namanya, ia menjadi celingukan mencari dari mana datangnya suara itu.

"Tiong Jong" kembali ia mendengar orang memanggil

Suaranya merdu halus, tapi seperti mengandung sedih, tidak heran kalau Ho Tiong Jong menjadi tidak sabaran. Pikirnya tentu wanita itu dalam keadaan sulit makanya suaranya ada demikian sedih.

Tapi siapakah dia? Sebab yang mengetahui bahwa dirinya sudah hidup kembali hanya seng Giok Cin dan Li lo-sat Ie Ya.

Ketika untuk kesekian kalinya suara memanggil tadi terdengar, Ho Tiong Jong berteriak "Hei, kau ini siapa dan dimana adanya? Apakah kau ada encie Ie ?"

"oh, bukan, aku she Kim." jawab suara tadi.

Hatinya Ho Tiong Jong terkejut tapi dibarengi oleh rasa girang, sebab orang itu tentu tidak lain daripada Kim Hong Jie adanya.

Saat itu seperti keluar dari tumpukan batu, maka cepat cepat ia menghampiri tempat itu. Memang benar keluarnya dari sini, orang tidak tahu bahwa disini terdapat sebuah goa karena kealingan oleh tumpukan batu yang tinggi.

Betul saja tampak nona Kim yang elok sedang berdiri mengawasi kepadanya dengan bersenyum, memperlihatkan sepasang sujen-nya yang memikat.

Ho Tiong Jong buru buru menghampiri dan sambil mencekal tangan si nona yang halus ia berkata. "oh, Tuhan, terima kasih... terima kasih, akhirnya aku dapat menemukan kau juga disini, adik Hong..."

"Engko Jong" hanya ini saja yang meluncur dari mulutnya sigadis yang mungil saking terharunya dapat bertemu pula dengan pemuda pujaannya itu.

"Adik Hong, kau..."

Belum usai bicaranya, telah dipotong oleh Kim Hong Jie. "Engko Jong, barusan kau menyebut namanya encie Ie Ya, apakah sebenarnya memang kau datang kesini hendak mencari padanya ?"

Si nona menanya dengan sungguh, agaknya seperti yang menaruh cemburu. Ho Tiong Jong bingung, tak dapat memberi jawaban lantas.

"Adik Hong, nanti aku akan menceritakan duduknya. Yang penting sebaiknya aku lekas lekas menolong dirimu keluar dan

tempat ini, apa memangnya kau betah tinggal terus-terusan disini?"

Kim Hong Jie deliki matanya yang jeli sambil mesem.

"Hmm....siapa kesudian tinggal terus disini. Tapi kau lihat, apa aku bisa pergi begitu saja?" kata sinona sambil perlihatkan tangan kirinya yang dirantai dengan rantai halus dan dicancang menembus ke dinding goa.

Ho Tiong Jong terkejut melihatnya. "Ah, adik Hong, bagaimana kau bisa diperlukan begini rupa ? Tapi jangan kuatir, aku nanti putuskan rantai sekecil itu."

Berbareng ia coba gunakan dua tangannya dan mengerahkan tangannya untuk memutuskan rantai kecil ini, tapi tidak berhasil biar bagaimana Ho Tiong Jong berdagingan juga, ia jadi penasaran lalu mencabut goloknya dengan senjata ini ia mencoba membacok putus, tapi hasilnya serupa saja tidak bisa putus.

Masin penasaran, anak muda itu lalu pakai batu sebagai tatakan untuk membacok pitus rantai itu, tapi juga tidak berhasil, Ho Tiong Jong bukan main herannya, entah dengan bahan apa rantai yang demikian halusnya itu dibikin sehingga tidak dapat diputuskan oleh tenaga manusia dan bacokannya golok? Kim Hong Jie melihat Ho Tiong Jong menjadi kebingungan, lantas berkata.

"Engko Jong, sebaiknya kita bercakap-cakap saja, jangan menghiraukan rantai yang mengikat tanganku ini.."

"Habis apa kau mau terus-terusan dirantai begini saja? "menyelak Ho Tiong Jong.

Si nona bersenyum getir, "Engko Jong, kita sudah lima tahun lamanya berpisah dan tidak bercakap-cakap. selama tempo itu tentu kau ada mengalamkan banyak kejadian dalam perjalanan hidupmu, maka sukalah kau memberitahukan padaku?"

Ho Tiong Jong geleng-geleng kepalanya "Adik Hong," katanya, "sejak kita btrpisahan aku lantas bekerja dalam perusahaan piauw kiok, Dalam masa ini, kalau aku ceritakan benar benar aku merasa sedih, Tapi, ah, bagaimana dengan adik Hong sendiri?"

Kim Hong Jie bersenyum, sepasang sujen nya memain menarik hati.

"Engko Jong, aku ingin menanyakan kau satu perkara."

" Urusan apa, kau tanyalah," menyelak si pemuda.

"Kau keluar masuk di Seng Kee Po, apakah untuk pertama kalinya kau melihat aku lagi, apakah kau kenali itu gadis cilik yang menangis dipinggir sawah karena bonekanya kecemplung?" tanya si gadis sambil tersenyum manis.

Ho Tiong Jong tertegun. ia tidak pernah menyangka si nona akan majukan pertanyaan ini, setelah saling pandang sejenak dengan penuh kenangan lama si pemuda menjawab. "Adik Hong, masa aku sampai tak dapat mengenal kau si nakal."

"Engko Jong, kau kau..." si gadis nyeletuk sambil menyubit tangannya si pemuda.

"Aduh..." teriak Ho Tiong Jong pura-pura kesakitan sambil mengusap-usap tangan yang kena cubitan halus dari si jelita.

"Sakit? Hmmm... sekali lagi kau berani mengatakan si nakal, aku cubit lebih keras lagi dari barusan," sipengancam dengan wajah agak cemberut.

Ho Tiong Jong ketawa, ia mengawasi si cantik dengan sorot mata lain daripada lima tahun berselang, diwaktu Kim Hong Jie masih anak-anak umur dua belas tahun. Kini pandangannya penuh dengan rasa mesra dari seorang pemuda terhadap seorang gadis pujaannya, dahulu hanya merupakan pandangan kasih sayang dari seorang kakak terhadap adiknya saja.

Si gadis bukannya tidak tahu perobahan ini, maka dari cemberut tadi wajahnya sudah lantas berubah bersenyum-senyum yang bikin orang melamun. Keduanya saling pandang, keduanya saling untuk menyatakan isi hatinya.

"adik Hong..." Ho Tiong Jong memecahkan.

"Engko Jong...." jawab sigadis pelahan.

Kembali sunyi, dan pasang mata saling pandang dengan penuh arti.

"Adik Hong." kata si pemuda, "cubitanmu jauh bedanya dengan dahulu."

"Dulu bagaimana dan sekarang bagaimana."

"Dahulu kasar dan sakit."

"sekarang?"

"Halus seperti yang dielus."

Kim Hong Jie tundukkan kepalanya, wajahnya kemerah-merahan. Memang ia sendiri tahu, bahwa cubitannya Engko Jong dahulu dan sekarang jauh bedanya.

Dahulu sebagai anak nakal ia mencubit betul-betul, tapi sekarang setelah dewasa dan memandang Ho Tiong Jong sebagai pemuda pujaannya, cubitannya halus seolah-olah bergurau mengenangkan masa yang lampau. Suatu cubitan yang menimbulkan kenangan lama. Si pemuda berdiri bengong dengan penuh lamunannya.

Lama mereka terbenam dalam masing-masing lamunannya. Ho Tiong Jong baru sadar ketika Hong Jie perlihatkan sujennya yang memain dan matanya mengerling kepadanya.

"Engko Jong kau masih belum meneruskan ceritamu mengenai aku." si gadis berkata pelahan.

"Adik Hong," jawab sipemuda "ketika pertama kali kau diSeng-Kee Po, aku merasa berat untuk menegur kau karena

aku merasa bahwa diriku seorang lantang lantung yang tidak berguna, mana adik Hong mau mengenalinya lagi?"

"Engko Jong...." nyeletuk si gadis.

Ho Tiong Jong tersenyum getir, "Adik Hong memang aku keliru, sebab ternyata kau ada seorang nona yang berhati mulia, kau sudah menolong membuka totokan pada jalan darahku dan memberikan sebuah kikir untuk aku mengikir putus rantai, yang membelenggu diriku, oh, sungguh mulia hatimu semoga Tuhan memberkahimu selamanya."

" Engko Jong, jangan berkata begitu."

"Maka, adik Hong." Kata pula Ho Tiong Jong, "ketika aku mendengar kau dalam bahaya, dengan melupakan diri sendiri yang berkepandaian rendah, sudah lantas datang kesini dengan penuh pengharapan dapat menolong dirimu."

"oh. kau baik sekali Engko Jong, Tapi kenapa mula-mula kau menyebut enci le?"

"Adik Hong, kaujangan salah mengerti. Aku sebenarnya dianggap sudah mati oleh semua orang di Seng Kee Po, kecuali adik Giok dan enci le yang mengetahui bahwa aku sebelumnya belum mati, Maka selainnya mereka berdua, tentu siapa lagi yang mengenali padaku?"

"oh, begitu? Maaf untuk pertanyaanku yang tidak beralasan, Engko Jong?"

Keduanya bersenyum mesra.

Kim Hong Jie yang sangat kegirangan- Pikirnya, pemuda pujaannya ini benar-benar datang kesini dengan menerjang bahaya adalah untuk menolong dirinya, bukan untuk menolong orang lain, Dasar hatinya saja yang penuh cemburu, membuat barusan berulang kali ia kepingin diterangkan kenapa si pemuda menyebut enci le bukannya adik Hong?

Kini ia sudah dapat penjelasan- cintanya terhadap pemuda pujaannya itu sudah semakin tebal saja.

"Tapi adik Hong, bagaimana sekarang baik nya?" tiba-tiba Ho tiong Jong berkata.

"Urusan apa?" tanya si nona kaget.

" Dirimu, bagaimana dapat lolos dari rantai yang ulet itu? siapa sebenarnya yang telah merantai kau, adik Hong?"

Kim Hong Jie menghela napas, "Sudah tentu bukan lain dari tua bangka itu yang merantaiku."

"Tua bangka yang mana?"

"Julukannya si Kakek Aneh dan namanya Siaw Kie Han, suhengnya Kong Yat Sin si Dewa obat, Dia sangat hebat ilmu kepandaiannya, ayahku dengan kawan kawannya tak sanggup menghadapinya .

Kini umurnya sudah hampir satu abad, tapi masih kuat dan sehat badannya, ia sangat kejam, siapa yang melanggar daerahnya akan mendapat hukuman dari padanya. Begitulah, aku yang lancang melanggar daerahnya telah mendapat ini perlakuan-"

si nona yang unjukkan tangannya yang dirantai.

"Adik Hong, dimana adanya dia? Aku ingin menemuinya untuk minta maaf supaya kau dapat dimerdekakan dan kembali dapat berkumpul dengan ayahmu." Kim Hong Jie terharu mendengar kata-katanya Ho Tiong Jong. "Engko Jong, dia ada di..."

XX JARUM MAUT.

NONA KIM belum lampias bicaranya, tiba tiba berhenti karena mendengar suara orang berdehem dan ia kenali itulah

ada suaranya kakek aneh yang tenaga dalamnya sangat hebat.

"Tunggu, aku lihat siapa diluar," kata Hong Tiong Jong, sambil bertindak keluar goa. Sampai diluar ia celingukan mencari orang yang berdehem tadi.

Tiba-tiba dari balik batu besar tampak muncul seorang tindakannya gesit dan semangatnya bagus, Ho Tiong Jong yang melihat nya lantas sudah dapat menebak siapa oiang tua itumaka ia lantas menjura memberi hormat katanya.

"cianpwee, bolehkah boanpwee menumpang tanya apakah boanpwee berhadapan dengan cianpwee Sauw Kie Han?"

Orang tua itu tidak menyahut, hanya anggukan kepalanya.

"Bagus," kata pula Ho Tiong Jong, "tempat disini ada begitu luas, sukar kalau boa npwee sengaja mencari pada cianpwee. Kebetulan boanpwee ketemu cianpwee disini."

"Siapa kau." tanya orang tua itu kasar. "Kan mencari lohu untuk apa? Dan kau masuk golongan mana."

"Maafkan boanpwee berlaku berani, Boenpwee mencari cianpwee maksudnya hendak minta pertolongan supaya nona Kim Hong Jie yang dirantai oleh cianpwee dapat diberi kebebasan, karena dia dengan boanpwee ada hubungan dekat."

"Hmm. Bebaskan dia? Kau harus tahu, lohu disini sudah sepuluh tahun lebih telah mengadakan peraturan, barang siapa yang berani menginjak daerah lohu, bisa masuk tidak bisa keluar lagi, siapakah kau?"

"Boanpwee bernama Ho Tiong Jong, tidak punya suhu. Mohon belas kasihan cianpwee supaya nona Kim dibebaskan." orang tua itu ketawa aneh.

"Lohu sudah tidak lantas ambil tindakan untuk kelancanganmu datang kemari sudah kelewat bagus, sekarang kau minta kebebasan tawanan lohu, betul betul lucu..."

orang tua itu berkata dengan sifat mengejek memandang rendah kepada pemuda dihadapannya, sehingga Ho Tiong Jong yang melihatnya menjadi hilang sabar.

"cianpwee, andai kata gunung ini sudah menjadi cianpwee, seharusnya disuatu tempat yang tertentu diberi pengumuman tidak boleh melanggar wilayah cianpwee, baru orang mengerti. Meskipun begitu kalau sekiranya ada orang yang kesasar masuk. rasanya masih dapat pembebasan dan tidak mendapat hukuman mati, bukan ?"

Souw Kie Han tidak menjawab mendengar perkataannya Ho Tiong Jong yang beralasan, Selainnya itu, juga lidahnya sudah mulai kaku, karena sudah puluhan tahun ia mengasingkan diri dipuncak Si-ban-leng belum pernah ia ketemu orang dan bercakapan-Akhirnya sikakek menjadi uring-uringan-

"Bocah." kata sikakek, "lohu tidak perlu dengan peraturanmu, yang lohu tetapkan, barang siapa yang berani masuk kedaerahku ini bisa masuk tak bisa keluar lagi, habis perkara."

Ia bicara dengan satu serangan hebat pada Ho Tiong Jong,

Itulah serangan dengan telapakan tangan, Ho Tiong Jong tak takut, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis. Dua kekuatan tenaga dalam segera saling bentur dengan mengeluarkan tenaga keras.

Si kakek bergoyang-goyang badannya, sedang Ho Tiong Jong terdorong mundur dua tindak.

Ho Tiong Jong kaget bukan main, ia tak pernah menyangka bahwa serangan si kakek ada demikian dahsyat. Dila in pihak, si kakek juga merasa gegetun menyaksikan kekuatan tenaga

dalam Ho Tiong Jong. Meskipun masih demikian muda, tapi sudah termasuk golongan kelas satu tenaga dalamnya.

Si kakek lantas menyerang lagi, tapi Ho Tiong Jong kali ini tidak mau menyambuti keras lawan keras, karena barusan sudah tahu sampai dimana kekuatannya sikakek. ia menggunakan tenaga lunak untuk melayaninya dan menyimpan tenaga pada siku lengannya menanti kesempatan baik lantas dapat digunakan-

Si kakek tahu maksudnya Ho Tiong Jong maka ia lantas tarik pulang serangan telapakan tangannya dan diganti dengan serangan lengan baju, ia mengebutkan lengan bajunya yang gerombonganpergi datang, tapi Ho Tiong Jong masih dapat mengelakan dirinya dari bahaya.

Tiba-tiba dari kebutan lengan ba Ju Itu, Ho Tiong Jong dapat mengendus bau amis. Hatinya bercekat, maka ia lantas menghunus goloknya untuk melayani. Si kakek tawa gelak-gelak melihat Ho Tiong Jong menghunus goloknya.

"Hai bocah" bentaknya "Kau mengeluarkan golok Lam tian to dari keluarga Seng bisa berbuat apa terhadap lohu? Ha ha ha... " terus ia melancarkan serangan dengan lengan bajunya yang ampuh.

Dua lengan baju berseleweran, kelihatannya bagus sekali seperti juga si kakek sedang menari-nari tapi sebenarnya ia sedang mencecar Ho Tiong Jong dengan serangan-serangan yang mengarah jalan darah yang berbahaya sekali.

Satu kali Tiong Jong hampir kena disapu mukanya oleh lengan bajunya Souw Kie Han, tapi ia sudah dapat menyingkirkan diri dengan melompat mundur. Kemudian dengar tertawa dingin ia berkata.

"Hei, kakek, ada apa itu didalam lengan bajumu? Kau dengan menyembunyikan senjata gelap dalam lengan baju untuk mencelakai musuh, apakah itu terhitung seorang gagah dalam kalangan Kang ouw?"

Souw Kie Han terkejut mendengar tegurannya Ho Tiong Jong.

Diam-diam dalam hatinya berpikir, kenapa penuda ini mendapat tahu bahwa dalam lengan bajunya ada tersembunyi senjata rahasia? Pertandingan dihentikan sebentar.

"Bocah," kata si kakek, "sedari dahulu lohu bertempur menggunakan telapakan tangan dan sepasang lengan bajuku yang di namai Lengan Baju Besi dengan dua senjata lohu sudah malang melintang dikalangan Kang ouw. Belakangan lohu dapat melatih ular kecil yang cerdik sebagai senjata rahasia yang disembunyikan didalam lengan baju. Ular ini dapat ditenangkan dan menggigit musuh. Banyak pendekar ulung yang telah mati dibawah senjata rahasia lohu ini.

Tiap-tiap orang yang sudah mengetahui senjata lohu, harus menemukan kematiannya, Nah, sekarang lohu mau tanya, dari sebab apakan bisa mengetahui bahwa didalam lengan baju lohu ada menyimpan senjata rahasia?"

Ho Tiong Jong mengetahui rahasia itu, karena dahulu ia ketika diserang oleh Tok-kay (si pengemis beracun) ada mengendus bau amis semacam itu. Pikirnya, kalau ia berterus terang kepada si kakek, nanti si kakek akan mencari segala daya akan menyingkirkan jiwanya, maka ia sudah menjawab dengan singkat saja.

"Aaaaa,,., hal itu tidak heran, Sebab siapapun tentu akan dapat menebaknya perbuatanmu itu."

Soaw Kie Han marah tidak mendapat jawaban yang semestinya, maka ia mulai segera menyerang lagi dengan lengan bajunya yang mempunyai banyak perubahan serangan, Ho Tiong Jong setelah membentak lalu memainkan goloknya untuk melayaninya.

Pemuda itu telah mainkan ilmu golok keramatnya dengan bagus sekali, hingga serangan sikakek tidak dapat menembusi benteng pembelaannya.

Diam-diam si kakek merasa amat heran bertanding dengan Ho Tiong Jong tak dapat menjatuhkannya .

Souw Kie Han lantas merubah serangannya, ia mendesak lebih rapih dan gencar, sementara itu juga telah memainkan ilmu goloknya sampai dua belas jurus, ia tidak bisa meneruskan jurus ketiga belas dan selanjutnya.

Melihat ilmu goloknya si pemuda hanya sampai dua belas jurus saja, maka Souw Kie Han sudah menggunakan kesempatan si pemuda sedang kebingungan ia menyerang dengan baju besinya dan sebentar lagi sudah dapat menggulung goloknya Ho Tiong Jong yang terus dilontarkannya ketengah udara.

Berbareng saat itu ular kecil yang tersimpan dalam lengan bajunya ditenangkan Ho Tiong Jong takut dengan ular kecil itu, maka ia sudah menjaga-jaga jangan sampai kena gigit, justru karena itu ia jadi lengah, tiba-tiba dirasakan tubuhnya lemas karena jalan darahnya yang penting sudah kena dibacok oleh si kakek tua aneh.

Souw Kie Han tertawa terkekeh-kekeh setelah membuat Ho Tiong Jong tidak berdaya, "Hei bocah, kau sekarang baru merasakan lihaynya lohu. Bagaimana, apa masih mau melawan lagi?"

Ho Tiong Jong tertawa dingin. "Ha ha ha... ada lihaynya apa sih? Kau menggigit aku, Kalau aku mengerutkan alis sedikit saja karena takut, kau jangan panggil aku Ho Tiong Jong sebagai satu laki-laki sejati"

Souw Kie Han mengangkat ular kecilnya ditodongkan kemukanya Ho Tiong Jong sambil berkata. "Hmm kau dengan berkata begitu tentu tidak takut mati, bukan?"

"Selama hidupku, belum pernah mengingkari hukum Tuhan, kenapa aku harus takut mati. Kau boleh suruh ularmu yang beracun itu untuk menggigit aku."

Si kakek sebenarnya menghendaki Ho Tiong Jong, dengan mudah saja ia melontarkan ularnya kemuka si pemuda dan pasti mukanya Ho Tiong Jong akan digigitnya.

Racunnya akan masuk mengikuti peredaran darah dalam tubuh Ho Tiong Jong dan tidak lama kemudian ia bisa mati konyol.

Tapi si kakek rupanya tidak mengingini-jiwanya itu. Ia seperti merasa sayang atas ketabahan hatinya menghadapi kematian, ia telah menarik pulang ular kecilnya dan dimasukan pula kedalam lengan bajunya kemudian berkata,

"Kau karena itu nona kecil, makanya kau menjadi nekad begini. sekarang begini saja lohu tidak mau melepaskan nona itu, tapi kau lohu beri ampun- Nah lekas kau pergi dari sini. Lekas, jangan sampai lohu berubah pikiran lagi"

Tapi mana Ho Tiong Jong mau mengerti ia pergi dari situ tanpa Kim Hong Jie. Maksud kedatangannya justru hendak menolongi Kim Hong Jie, maka ia lantas berkata pada si kakek.

" cianpwee, aku tidak bisa berlalu dari sini tanpa ikut sertanya nona Kim. Aku berjanji setelah aku dengan nona Kim lepas dari sini, akan bersumpah tidak berani menginjak pula daerah ini, Cianpwe bisa meliwatkan hidupmu dengan tenang dan tentram."

"Kau tidak dengar lohu barusan bilang ? Kau boleh berlalu dari sini, tapi si nona lohu tahan-" kata si kakek dengan muka kurang senang.

Ho Tiong Jong terus membandel. ia mengijeng macam anak kecil, minta supaya Kim Hong Jie dibebaskan. Hal mana membuat Souw Kie Han pusing dan menjadi marah.

"Bocah" katanya, "Kalau kau terus-terusan mengganggu lohu, jangan menyesal kalau lohu tidak akan ijinkan pula kau pergi dari sini."

Ho Tiong Jong ketawa getir. pikirnya, jiwanya hanya hidup tinggal semalaman lagi, apanya yang ditakuti, maka ia lantas berkata dengan suara mantap. " cianpwee, kau boleh tak usah melepaskan aku, asal nona Kim kau merdekakan."

"Betul?"

"Ya."

"Kau tidak menyesal?"

"Aku Ho Tiong Jong sebagai satu laki-laki sejati, sekali mengucapkan perkataan tidak akan menjadi menyesal?"

"Baik, kau keluarkan tanganmu."

Ho Tiong Jong tidak sampai diminta dua kali, sudah lantas menyodorkan sepasang tangannya, Tampak si kakek telah mengeluarkan jarum perak yang ujungnya sangat tajam dan berwarna hitam, kemudian pegang tangan kirinya si pemuda dan menusukkan jarum peraknya pada bagian jalan darah yang penting.

Setelah melakukan itu lalu berkata, "Ya, sekarang kau boleh pergi. Kau sudah kena bisa dari jarum pencabut Rokh jiwamu hanya tahan dua belas jam saja, sekarang lohu dapat melepaskan nona itu. Tapi kau harus berjanji, kau tidak boleh membocorkan rahasia lohu ini pada siapa juga, kau paham?"

Ho Tiong Jong dengan tabah anggukkan kepalanya. Ia terus mengikuti Souw Kie Han ketempatnya Hong Jie.

Si nona ketika melihat pemuda pujaannya berhasil mengudang Souw Kie Han diam-diam dalam hatinya memuji kepandaiannya Ho Tiong Jong. Bukan main girangnya, tampak ia berseyum-senyum hingga sujennya memain memikat hati.

"Engko Jong, kau..." hanya ini yang meluncur dari mulutnya yang mungil, matanya mengerling menusuk hati Ho Tiong Jong.

Hatinya pemuda itu berdebaran ia mengerti si nona, kegirangan dan ia tahu si gadis mencintai dirinya sangat besar, tapi entah kapan ia memikirkan nasib hidupnya hanya tinggal semalaman lagi, tiba-tiba rasa cemas dan sedih mengaduk dalam hatinya dan ia sudah kepingin menangis seketika itu juga.

Ketika si pemuda datang dekat, tangannya si nona yang halus memegang tangannya dengan mesra, Buat sekian kalinya ia mendengar si gadis berkata.

" Engko Jong, kau..."

"Adik Hong, aku beruntung dapat mengundang Souw cianpwee untuk membebaskan kau d rantai dan kau selanjutnya akan bebas." kata Ho Tiong Jong dengan paksakan wajahnya ketawa gembira.

"Engko Jong, kau baik sekali." jawab si gadis kegirangan

sementara itu Souw Kie Hao sudah mendekatinya rantai halus yang tidak mempan senjata golok oleh sikakek hanya dijepit dengan dua jarinya saja sudah putus, seperti juga yang kena digunting.

Hebat ilmu kepandaiannya si kakek. keduanya yang menyaksikan itu menjadi saling pandang dan diam-diam dalam hati masing-masing pada memuji si kakek. Tanpa berkata apa-apa si kakek telah berdiri tidak jauh dari mereka berdua.

Kim Hong Jie kini sudah bebas, ia tidak perdulikan si kakek, hanya ia lantas menyekal tangannya Ho Tiong Jong, sambil menatap wajahnya sipemuda yang tampan, Kim Hong Jie telah menanya.

" Engko Jong, cara bagaimana sampai dia mau melepaskan aku?."

Ho Tiong Jong paksa bersenyum, "Adik Hong, hal ini baik belakangan saja aku ceritakan padamu, sekarang yang paling perlu, lekas-lekas kau menyingkir dari sini."

"Mari kita sama sama pergi, "mengajak si gadis.

"Kau pergi lebih dahulu, aku masih ada urusan sedikit dengan Soaw Locianpwee."

Kim Hong Jie heran, ia menatap wajahnya sipemuda yang sedang tersenyum kepadanya tapi bagaimana juga senyumannya itu seperti tak sewajarnya, maka Kim Hong Jie lalu menanya.

"Engko Jong, kalau kau tidak mau pergi aku juga tidak akan meninggalkan tempat ini, Dari sebab apa, maka kau tidak mau pergi bersama-sama?"

"Hei, bocah" menyelak Souw Kie Hong dengan keras, "Lekas kau pergi dari sini, aku sudah bagi kau kebebasan apa kau tidak puas?"

Nona Kim ada satu gadis yang cerdik, setelah dia menatap wajahnya si kakek dan Ho Tiong Jong bergantian lantas ia dapat menebak bahwa keadaan tidak sewajarnya maka dengan gemas ia berkata pada Souw Kie Han-

"Kakek jahat, sekali nonamu bilang tidak mau pergi tetap tidak akan pergi, aku mau lihat kau bisa berbuat apa...."

Souw Kie Han perdengarkan ketawanya yang aneh, ia tidak meladeni Kim Hong Jie yang nyerocos bicara, ia ngeloyor dan sebentar saja sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

Kim Hong Jie hatinya sangat tidak enak, dengan air mata mengembeng, ia berkata pada pemuda pujaan hatinya^

"Engko Jong, kau jangan sanggupi permintaannya, Ayo, mari kita lekas meninggalkan tempat ini."

Tidak menunggu nona Kim meneruskan perkataannya, Ho Tiong Jong telah menyelak, katanya, "Adik Hong, memang aku

tidak omong sejujurnya padamu, Tapi.... ah, untuk apa kau mengambil sikap demikian terhadap si kakek? jiwaku tidak berharga."

Kim Hong Jie kaget, "Haa... kau tentu telah mengikat janji dengan kakek jahat itu. Baik, aku akan berhitungan dengannya." ia tutup katanya itu dan lari memburu si kakek keluar goa.

Tapi Ho Tiong Jong dengan cepat mencegah "Adik Hong, kaujangan begini kasar." katanya, sambil menyekal lengannya si nona, Si nona menangis dihalangi maksudnya.

"Adik Hong, kau harus berpikir dengan tenang. Kau ada seorang cerdik, mudah sekali kau dapat menarik kesimpulan bahwa kekuatan sendiri bukan tandingannya si kakek. Jangan lagi kau hanya seorang diri meskipun dikerubuti bersama akupun, masih bukan lawannya pula. Tidak apa, biarlah aku yang menanggungnya, asal kau dapat pulang kemerdekaanmu dan kembali kerumah dengan selamat aku sudah merasa puas." Si nona menangis sesenggukan-

"Engko Jong. ... gunaku kau sudah berkorban ini betul betul hatiku tidak mengasih. Kau tidak ada, apa artinya hidupku oh Engko Jong, kau..."

Nona Kim menangis makin sedih, hingga Ho Tiong Jong yang melihatnya menjadi teturutan mengucurkan air mata, ia tidak pernah mengimpi, bahwa sinona begitu tebal cintanya terhadap dirinya.

Tapi, ya, apa hendak dikata, Hidupnya hanya sampai besok malam saja dan sekarang ia sudah dapat menolong jiwanya orang yang pernah melepas budi padanya, hatinya sudah bukan main senangnya, sebelumnya ia menemukan ajalnya dapat menolong nona Kim, kematiannya nanti tidak membuat ia penasaran dan rela menyambut malaikat elmaut.

"Sudahlah adik Hong, kau jangan nangis terus-terusan nanti masuk angin" menghibur si pemuda dengan suara parau karena sangat sedih.

Dengan air mata berlinang linang Kim Hong Jie mengatakan isi hatinya.

"Engko Jong, sejak kau meninggalkan rumahku pada lima tahun berselang, tidak barang sesaat aku melupakan dirimu. Aku senantiasa menantikan kedatanganmu kembali supaya kau dapat merampungkan ilmu golok keramat yang sama sekali ada delapan belas jurus. Kan hanya dua belas jurus saja, masih belum cukup untuk kau pakai malang melintang didunia Kang ouw yang penuh dengan bahaya. Tapi setelah dinantikan setahun dua tahun, tiga dan sampai lima tahun tidak juga kelihatan muncul. Kau bayangkan sendiri, bagaimana cemas dan risau-nya hatiku memikirkan dirimu, Aku sangat menguatirkan keselamatanmu..."

Sampai disini, Kim Hong Jie tidak tahan dengan rasa sedihnya dan menangis semakin keras, hingga Ho Tiong Jong tanpa disadari telah memeluk si nona dan mengusap-usap dahinya serta membetulkan rambutnya yang riap- riapan dengan penuh kasih sayang.

"Adik Hong, aku berdosa terhadapmu, kau. .... oh kalau aku tahukan ada demikian, betapa merindukan diriku, sudah tentu aku tidak akan membawa adat sendiri yang angin-anginan- Nah sekarang kau berhenti menangis."

"Lima tahun berselang," kata pula sigadis, "Aku dapat membuktikan peribadimu yang luhur ketika kau tolong mengembalikan bonekaku yang kecemplung itu. Waktu itu kau tidak menghiraukan hawa dingin, kau telah menolongku. Kini, kini.... aku mendapat bukti lebih nyata lagi tentang kemuliaan hatimu terhadapku.."

"Adik Hong," menyelak Ho Tiong Jong. "Betul-betul aku merasa bangga mendapat pujianmu dan perhatianmu yang

demikian besar, aku dapat mengerti akan isi hatimu terhadapku. Aku juga merasa, hatiku ada begitu dekat dengan kau, hanya.... hanya sayang ada itu perbedaan-.."

Ho Tiong Jong tak dapat meneruskan kata-katanya, ia berkata sampai disitu juga sudah merasa keterlepasan-

Kim Hong Jie hentikan sesenggukkannya dan menatap wajahnya si anak muda. "Engko, long, kau kata tadi perbedaan perbedaan apa itu?" tanyanya.

"Perbedaan tingkatan kita, Kau dari tingkatan atas dan aku dari tingkatan yang paling rendah, seorang gelandangan seperti aku, mana orang tuamu memandang mata dan mengijinkan kau bergaul dengan aku? Ah, adik Hong, sebaiknya kita akhiri sampai disini saja perkenalan kita, karena makin rapat kita bergaul makin membuat hatiku jadi lebih sengsara saja..."

"Ah, Engko Jong... Tidak. tidak.... apa itu tingkatan tidak ada dalam kamusku perihal tingkatan atau derajat, kau adalah orang yang paling mulia."

"Adik Hong, Sudahlah, ucapanmu ini aku kuatir akan membuat kau menyesal dibeakang harinya."

"Tidak mungkin" kata si gadis sambil membanting-bantingkan kakinya, ia menangis lebih keras dari semula hingga saking sedihnya, ditambah kakinya lemas karena kelamaan ia dirantai oleh si kakek aneh, maka seketika itu juga Kim Hong Jie menjadi pingsan-

Ho Tiong Jong yang menyaksikan si nona pingsan dalam pelukannya menjadi sangat gelisah, sebelumnya ia bertindak apa-apa mendadak mincul Souw Kie Han-

Tanpa kata apa apa lagi si kakek telah menotok urat tidurnya si nona, sehigga Kim Hong Jie jatuh pulas dengan nyenyaknya.

"Bocah." kata si kakek. "Sekarang kau boleh antar dia keluar dari tempatku, jangan datang-datang lagi kesini. Kau ingat, racun dari jarum Pencabut Rokh yang sudah bersarang dalam tubuhmu itu, hanya akan mengijinkan kau hidup dalam waktu dua belas jam saja. Selainnya sute lohu Kong Jat Sin yang dapat menolong dirimu, sudah jangan harap lain orang dapat menolongnya."

Ho Tiong Jong sangat mendongkol pada si kakek, tapi apa ia bisa bikin? ia tidak ladeni Souw Kie Han mengoceh, hanya lantas ia pondong si nona untuk dibawa turun dari gunung Sie ban-leng, kemudian dengan melalui Liu soa kok (lembah pasir berjalan) ia terus membawa si nona sampai dlkaki gunung Hui cui san.

Ia memilih suatu tempat dibawah satu pohon untuk meletakkan si nona supaya gampang dilihat oleh orang yang berlalu lintas ditempat itu, ia mengharap si nona lekas diketahui oleh orang dari Seng Kee Po supaya lekas pulang dan berkumpul kembali dengan ayahnya.

Melihat si nona masih tidur dengan nyenyaknya, hatinya Ho Tiong Jong menjadi sangat sedih, ia mengusap-ngusap jidatnya si nona sekian lamanya, Hatinya jadi melamun pikirnya kalau dirinya ada sederajat dengan si nona, Kim Hong Jie memang ada satu pasangan yang tepat bagi dirinya.

Ia menyesalkan dirinya yang bernasib sangat buruk. terus menerus menemukan halangan saja, Besok malam racunnya Tok kay akan bekerja disusul oleh bisa jarum pencabut Roch dari si kakek, untuknya sudah tak dapat lolos lagi dari kematian, Mau pergi ketempat si Dewa obat Kong Yat Sin, dimana? ia tidak tahu tempatnya Dewa obat itu.

Kalaupun tahu tentu letak tempatnya ada sangatjauh dan sebelumnya ia menemui Kong Yat Sin jiwanya sudah melayang ditengah perjalanan-

Mengingat akan nasibnya dan mengingat akan kecintaannya Kim Hong Jie dan Seng Giok cin yang demikian besar atas dirinya, diam-diam dirinya merasa sangat sedih dan tanpa merasa saat itu ia telah mengucurkan air matanya.

Pelahan-lahan tangannya merogoh sakunya dan dikeluarkanlah batu kumala api (Hwe-giok), ia pegang tangannya si nona yang halus dan batu itu dikepalkan dalam telapakan tangannya Kim Hong Jie.

"Adik Hong, baik baiklah kau menjaga diri.." ia berkata sendirian sambil mengelus sekilas jidat dan pipinya sinona yang sedang tidur nyenyak. Nasib telah menentukan kita berpisahan, semoga dilain penitisan saja kita berjumpa kembali, selamat berpi....sah adik Hong."

Ia menutup kata katanya dengan suara terputus-putus dan menyeka air matanya yang berlinang linang, Kemudian ia bangun berdiri, setelah sejenak mengawasi lagi si gadis, perlahan-lahan meninggalkan sinona balik lagi ke Liu soa kok.

XXI. KAKEK ANEH DIKEPUNG

Ketika ia hampir sampai di tepi lembah pasir berjalan itu. tiba-tiba ia melihat ada kira-kira dua puluh orang sedang berkumpul, kuda-kuda tunggangnya mereka ditambat tidak jauh dari mereka berdiri, Rupanya mereka sedang berunding matanya mengawasi kearah depan, hingga tidak mengetahui kalau Ho Tiong Jong diam diam telah sembunyikan dirinya tidak jauh dari mereka.

Orang-orang itu kiranya ada pentolan-pentolan dari Perserikatan Benteng perkampungan-

Diantaranya Ho Tiong Jong kenali ada Seng Eng dengan puterinya seng Giok Cin, Kim Toa Lip ayahnya Kim Hong Jie, Hui Siauw Beng, Hui Seng Kang, nona Lauw Hong In, Kong soe Jin, semuanya terdiri dari dua puluh orang tua muda.

Meskipun dalam kalangan Perserikatan Benteng perkampungan sudah ada keretakan menjadi tiga partai, ternyata diwaktu menghadapi kesulitan mereka bisa bersatu padu untuk mengatasinya. semuanya bersemangat untuk menolonGi kawan-kawannya yang dalam bahaya.

Yang paling tengik lagaknya Kong Soe Jin yang cengar cengir seperti monyet kena terasi. jikalau beromong-omong dengan wanita, Nona Seng semua melihatnya, maka ia selalu menjauhkan dirinya.

lain dari itu hatinya memang sedang terbenam oleh rasa sedih, memikirkan akan nasibnya Kim Hong Jie, yang menjadi kawan akrabnya. Air mukanya bermuram durja, ia tidak banyak omong, seperti yang kehilangan semangatnya.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan dari kejauhan merasa... kasihan kepada nona Seng.

Sebentar lagi kelihatan seng Eng, Kim Toa Lip dan Hui Siauw ceng masing-masing mengangkat sebuah batu sebesar satu kaki persegi, yang sudah diikat tambang.

Mereka pada mengerahkan tenaga dalamnya. Batu-batu itu kemudian dilemparkan ke seberang persis jatuh ditepi bawah gunung Si ban leng.

Bagus sekali ketika batu-batu itu melayang miring dengan membawa tambang, kemudian pada menancap ditempat tujuannya dengan kokoh sekali. oleh karenanya orang jadi bisa melewati padang pasir berjalan itu diatas tambang yang melintang itu.

Yang pertama maju, adalah cianpwee Toa-nio yang dikenal paling mahir ilmu meng entenGi tubuhnya. Nyonya tua itu, benar saja dapat menyebranGi pasir berjalan dengan selamat diatasnya tambang setelah disebrang, si nenek telah membikin kokoh pula batu-batu yang menancap tadi, maka dengan bergiliran telah berjalan diatas tambang itu Kim-Toa Lip. Hui Siauw ceng dan lain-lainnya.

Justeru diwaktu Ciauw Toa-nio dan Kim Toa Lip sedang memegangi lambang membantu kawan-kawannya menyebrang, tiba-tiba meluncur turun dari atas gunung seorang kakek yang bukan lain ada Souw Kie Han sendiri.

Ia membentak dengan bengis. "Hei lekas hentikan perbuatan kalian, jangan coba membikin ribut ditempat lohu, Lekas kembali:" Mereka terkejut, tapi hanya sejenak saja.

Mereka tidak takut pada kakek aneh itu, cuma saja karena menyerbu ketempat orang tanpa ijin, mereka menjadi ragu-ragu untuk memberi alasannya. Tapi Ciauw Toa nio yang mulutnya lancang sudah berteriak keras.

"Kakek jahat!! Kau jangan sok jago-jagoan dan menang sendiri, Lekas kembalikan itu anak muda yang kau sudah tahan, baru nyonya mu dapat mengampuni jiwamu dan dengan hormat akan kembali lagi dari sini."

"Hmm." menyelak Souw Kie Han sangat mendongkol "Kau enak saja bicara, kalian jatuhkan dulu lohu, baru bicara tentang pengembalian anak-anak nakal itu yang sudah datang kemari tanpa ijin lohu."

ciauw Toa nio ketawa cekikikan seram, matanya mendelik mengawasi pada si kakek aneh dari goa Pek cong-tong, tapi sudah tentu saja tidak dibuat jerih oleh yang tersebut belakangan. Maka ia telah berkata pula.

"Nenek tidak berguna, kau jangan banyak lagak nanti lohu bikin kau tahu rasa untuk kelancanganmu datang disini."

"Baik." teriak si nenek "Lihat saja nanti siapa yang akan dikasih tahu rasa aku atau kau sendiri?"

sementara itu kawan-kawannya Ciauw Toa nio sudah menyebrang semuanya. Sambil urut-urut jenggotnya dan tertawa bergelak gelak Souw Kie Han berkata.

"Kalian tentu dari Perserikatan Benteng Peikampungan, bukan?"

"Ya, kau mau apa, kakek jahat "jawab ciauw Toa nio dengan suara keras.

Sebetulnya Seng Eng dan yang lain-lainnya, kepingin bicara dengan baik-baik saja kepada si kakek. tapi apa mau Ciauw Toa-nio sukar di rem mulutnya, Selalu mendahului yang lain lainnya, Mungkin karena ia pikir, bahwa dalam rombongannya itu dialah yang paling mahir dalam ilmu silat maupun dalam hal meng entenGi tubuh.

"Bagus... bagus..." kata Souw Kie Han.

"Memang, kalau diingat ada sukar sekali kalian bersembilan dapat berkumpul bersama-sama. Kini, kalian sudah dapat berkumpul, lohu kepingin menjajal barisan kalian yang buat bangga, yalah yang dinamai "Kim-long pat-hong-thian-bee tin" (barisan delapan penjuru angin naga emas dan kuda sakti), mari lohu kepingin menjajal sampai dimana lihay nya barisan yang diagul-agulkan oleh kalian itu."

"Hmm...." menggeram Ciauw Toa nio, kembali ia mendahului kawan kawannya. "Kalau yang dihadapi oleh kami orang ada si Dewa obat Kong Yat Sin, mungkin kami orang akan merasa jerih dan lekas-lekas berlalu dari sini, Tapi kau... kau tua bangka yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi mau membuka mulut besar? Hi, hi, hi...."

Slouw Kie Han kewalahan menghadapi si nenek ia selainnya tidak pandai tarik urat juga sudah banyak tahun tidak bergaul dengan sesamanya, mulutnya sudah menjadi kaku. Tidak heran, kalau ia merasa sangat gemas kepada si nenek yang pintar ngomong.

"Sekarang begini saja" kata si kakek. "pertama tidak ada satu diantara kamu orang yang kuperkenankan datang ditempat lohu dipuncak gunung, Kedua, kalian boleh berbaris dahulu disana, untuk menempur lohu sebentar. Kalian keluarkan kepandaian apa saja yang dimiliki untuk menjatuhkan lohu, akan lohu layani dengan baik, Asal kalian

tak mau memenuhkan dua syarat ini, h mm... jangan sesalkan lohu mati berbuat telengas "

Kim Toa Lip yang paling gelisah, karena puterinya dikira masih berada dalam kekuasaannya si kakek Maka sebelumnya Ciauw Toa nio membuka mulut sudah lantas berkata. "Baik, kami akan menerima dua syarat itu, tapi dengan jaminan bahwa lima orang yang ditahan olehmu semuanya berada dalam keadaan selamat."

"Ha ha ha, jangan kuatir, Mereka dalam keadaan segar bugar Asal kalian dapat menjatuhkan lohu pendeknya mudah saja mereka akan lohu bebaskan dengan tidak kurang suatu apa."

Mendengar ini hatinya Kim Toa Lip dan yang lain-lainnya merasa lega.

" Kakek bangkotan" teriak Ciauw Toa-nio libatiba ia masih terus tak mau kalah suara dari kawan-kawannya, "Kau boleh belajar kenal dahulu dengan nyonya mu ini kalau aku kalah, baru menjajal kami punya barisan yang ampuh."

"Kau ini nenek lancang" kata Souw Kie Han. "Kalau belum dikasih rasa memang juga belum kenal kelihayan lohu."

Ciauw Toa nio tertawa terkekeh-kekeh. Souw Kie Han sudah masuk usia sembilan puluh tahun masih lebih tua dua puluh tahun dari Ciauw Toa nio yang berumur tujuh puluh tahun. Jarak diantara mereka kira-kira ada empat tumbak.

Untuk melayani si kakek, Ciauw Toanio tidak sungkan-sungkan mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yala h suatu tali yang panjang sepuluh tumbak yang di namai, Tali Terbang Menjerit. inilah senjata Ciauw Toanio yang sangat diandalkan yang telah mengangkat namanya tersohor dalam kalangan Kang ouw.

"Kakek tua kejemur" menggoda Ciauw Toa noi. "Kau lihat senjata nyonyamu akan membuat tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Hi hi hi....."

Berbareng ia telah melontarkan talinya yang panjang itu. Tapi Souw Kie Han tidak bergerak untuk berkelit atau mengegos hanya lengan bajunya dikibaskan yang mengeluarkan angin dahsyat, hingga senjata tali Ciauw Toa-nio balik lagi dan hampir saja menghajar pemiliknya sendiri, kalau tidak si nenek cepat-cepat berkelit kesamping untuk menghindarkan serangan talinya sendiri. "He he he he" terdengar sikakek ketawa.

Matanya Ciauw Toa nio melotot, ia menyerang lagi tapi seperti juga tadi si kakek tidak bergerak dari berdirinya dan hanya mengebutkan lengan bajunya saja, cukup membuat si nenek gelagapan-

Yang jailnya si kakek seperti bisa mengendalikan angin pukulan lengan bajunya, ia membikin anginnya berkumpul mengarah rambutnya Ciauw Toa nio, hingga dalam tempo pendek saja rambutnya si nenek sudah menjadi riap- riapan seperti setan-

Panas hatinya Ciauw Toa nio dikocok demikian, maka ia menyerang lebih hebat lagi, setelah pukulan simpanannya telah dikeluarkan barulah ia bisa membuat perlawanan terhadap si kakek.

Cuma saja tegas sekali, bahwa ia bukan tandingannya Souw Kie Han- Meskipun ia coba mengurung dengan tali wasiatnya, tapi si kakek dengan acuh tak acuh melayani padanya.

Kim Toa Lip nampak Ciauw Toa nio keteter jadi saling pandang dengan kawan kawannya, ia memberi isyarat untuk menyerbu kalau Ciauw Toa nio sebentar menghadapi bahaya serangan si kakek.

Kembali terdengar si kakek tertawa terkekeh-kekeh, "Budak lancang, aneh sekarang boleh rasai kelihayannya lohu, He he he...." Sambil berkaca Souw Kie Han telah merubah tipu serangannya. Lengan biju kanannya menggunakan tipu serangan ok hong Pauw-ie, (angin jelek hujan ribut) dan lengan baju yang kiri menyerang dengan gaya, "Li-hoanBe thian (wanita celaka menutupi udara).

Dua- gerak tipu serangan dengan lengan baju yang hebat sekali, hingga Ciauw Toa-nio merasakan gencetannya hampir tak dapat bernapas. "Benar hebat" Demikian ia pikir dalam hatinya.

Kehabisan akal. Ciauw Toa nio berlaku nekad, ia mulai merogoh sakunya dan diam-diam sudah mengayunkan tangannya, segera benda yang berkeredepan hitam tampak diudara, itulah senjata gelapnya yang biasanya tidak suka salah alamat, kini nyeleweng karena angin pukulan lengan bajunya si kakek. Betul juga bendanya yang ampuh itu tidak dapat menyentuh badannya Souw Kie Han.

"He he he..." tertawa sikakek. "budak lancang, sekarang bagaimana."

Bagaimana gemas juga, bagaimana marahnya juga, Ciauw Toa-nio tidak bisa berdaya sama sekali menghadapi sikakek yang ilmunya ada lebih jauh lebih tinggi dari padanya. Malah dalam hatinya meragu- ragukan kalau sikakek sebentar dapat dikalahkan oleh barisan yang ampuh.

"Kakek bangkotan." Ciauw Toa-nio tiba-tiba menjerit, ketika ia terus kena didesak oleh lawannya, "Kau berhentikan dahulu pertandingan ini, aku mengaku kalah dan pertandingan dengan barisan kini boleh lantas dimulai."

Si nenek berbareng lompat keluar dari kalangan pertempuran dengan napas sengal-sengal. Kini Souw Kie Han tertawa gelak-gelak,

"Bagus, bagus..." katanya, "Nah, cobalah bentuk barisanmu yang sangat dibuat bangga itu. Lohu ingin lihat, apa bisa bikin terhadap lohu. He he..."

Seng Eng, KimToa Lip dan lain-lainnya panas hati mendengar perkataan sombong dari si kakek. ^api memang juga sudah menjadi kenyataan mereka, kalau satu melawan satu bukan tandingannya si kakek.

Buktinya, Ciauw Toa nio yang merupakan benggolan dari mereka tidak bisa tahan meladeni duapuluh jurus saja.

Apa boleh buat, mereka telan semua rasa gusar dan mengharap dengan barisannya yang dinamai "Kim Liong-pat. liong thian bee tiu" atau "Barisan delapan penjuru angin naga emas dan kuda sakti"

Ho Tiong Jong yang mengikuti mereka dan mengumpat ditempat yang tidak jauh dari kalangan pertempuran diam-diam merasa kagum dengan ilmu silatnya si kakek yang tinggi.

Diam-diam ia berpikir "sebab apa si kakek tidak menggunakan ular terbangnya untuk membunuh ciauw Toa-nio? Heran, kenapa dia tidak berlaku kejam?" Kim Toa Lip maju kedepan sebagai pemimpinnya.

Sret... terdengar suara pedang dihunus keluar dari sarungnya. itulah ada pedang Kim liong kiam, senjata pusaka dari Kim-liong-po (benteng naga emas). KimToa Lip yang akan mengepalai barisan (tin).

Dalam perkara memainkan senjata, KimToa Lip ada lebih unggul dari kawan-kawannya, maka juga ia telah diangkat sebagai kepala dalam barisan-

Kim Pocu dengan suaranya yang keras saban-saban berseru mengatur orang-orangnya yang menduduki tempat-tempat penting dalam barisan, seperti Seng Eng, Co Tong Kang, Hui Siauw Ceng dan lain-lainnya mendapat bagian-

bagiannya untuk menjaga posisinya masing-masing dengan senjata di tangan-

Betul-betul angker kelihatannya barisan yang dibentuk oleh Kim Pocu.

Senjata yang digunakan oleh mereka ada bermacam-macam seperti yang digunakan oleh Seng Eng dengan cambuk besar, Hui Siauw Ceng dengan pit, ada yang menggunakan giokstay (ikat pinggang), perisai dan lain-lainnya.

Yang menarik perhatian CoTong Kang dengan senjata bendera apinya (Liat -hwekie), ia menjaga posnya dengan angker sekali.

sebentar lagi barisan sudah mulai bergerak, mengurung souw Kie Hong.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan kejadian itu menjadi melongo, ia tidak tahu barisan apa yang akan mengepung si kakek, Apakah Souw Kie Han dapat memecahkan barisan yang angker itu? Souw Kie Han sendiri merasa sangsi, apakah ia akan berhasil dengan perlawanannya nanti.

Melihat Souw Kie Han masih tetap bergerak. maka Kim Coa Lip telah berkata kepadanya, "Kie Han, kami sudah siap. kenapa kau tinggal diam saja? Boleh mulai kau membobolkan barisan kami kalau kau ada itu kemampuan."

Nona Ciauw Soe See, anaknya Ciauw Toa-nio nyeletuk.

"Mana si kakek ada itu keberanian untuk membikin pecah barisan" Si nenek nyengir ketika mendengar anaknya berkata demikian-

"Budak lancang, kalau aku tidak ditinggal mati oleh isteriku yang amat cantik dan bersumpah tidak akan membinasakan kaum perempuan, kau siang-siang sudah tidak bernyawa pula ditangan lohu, Hmm..."

Souw Kie Han tutup ucapannya diiringi satu serangan dengan lengan bajunya kepada Ciauw Soe See hingga si nona merasakan sesak napasnya, ia memang tadi sudah melihat, bagaimana si kakek membuat ibunya tidak berdaya dan hampir hampir kena dipecundangi mentah-mentah, kalau tidak buru-buru lompat keluar dari kalangan berkelahi minta pertandingan dihentikan-

Ciauw Soe See menjadi ketakutan, untung Kim To Lip datang menyelak. katanya,

"Kie Han, kaujangan bikin anak kecil ketakutan, kalau ada mempunyai kepandaian boleh keluarkan untuk memecahkan barisan kami."

Souw Kie Han melotot matanya, ia tidak senang dengan perkataannya Kim Pocu yang memandang rendah rasa dirinya. Tapi sebelum ia membuka mulut, Kim Toa Lip sudah berkata pula.

"Kie Han, kami memang sudah mendengar tentang kematian isterimu yang elok itu, tapi sekarang kau bertempur, jangan bercabang hatimu. Kau harus menggunakan kepandaianmu dengan sungguh-sungguh,sebab tidak gampang-gampang kau bisa lolos dari barisan kami ini ada warisan dari nenek moyang kami, yang pada seribu tahun yang lalu pernah mengepung seorang pendekar yang luar biasa kepandaian ilmu silatnya dan membuat dia mati kutu."

"Baiklah aku akan pecahkan barisan kalian" Pikirannya, paling dahulu ia harus menjatuhkan Kim Toa Lip yang menjadi kepala barisan, Kalau kepalanya sudah jatuh, badan dari buntutnya lantas kalut dengan sendirinya.

Tapi ia tidak mengira, bahwa Kim Toa Lip bukan makanan empuk. Karena begitu ia menyerang, Kim Toa Lip sudah gunakan Kim liong kiam untuk melayaninya.

Pedang pusakanya amat berat hingga angin yang keluar dari pedang itu juga bukan main beratnya dirasakan oleh si kakek.

Tiga gebrakan lekas sekali telah berlalu, Ternyata Kimpocu dapat memainkan pedangnya dengan enteng dan kokoh sekali pertahanannya, Diam-diam si kakek menjadi kaget pikirannya, "Ini satu Kim Toa Lip saja sudah sukar dijatuhkan cepat-cepat, bagaimana kalau aku sebentar dikerubuti oleh yang lain-lainnya?

Kalau kepandaiannya mereka ada jauh dibawahnya Kim Toa Lip tidak apa, tapi kalau rata-rata kepandaiannya berimbang saja, sukar buat aku keluar dari barisan ini....

Tiba tiba ia mendengarkan Khoe Cong berkata, "Kim toako, kau jangan serakah, kasihlah aku mendapat giliran untuk melayani si kakek. tanganku sudah gatal benar." Khoe Cong berkata sambil tertawa, hingga Souw Kie Han menjadi mendelu hatinya.

"Jangan kuatir Khoe hiante, segera kau juga mendapat gilirannya, Aku juga tidak serakah mengangkangi sendiri." sahut Kim Pocu,

"Tidak. kasih aku yang mendapat giliran dahulu." inilah suaranya Coa Tong Kang.

Kemudian disusul oleh suaranya Seng Pocu. "Tidak bisa aku harus mendapat giliran terlebih dahulu, sesudahnya Kim toako."

Demikian orang ramai meminta pada dulu-dulu mendapat giliran melayani si kakek, hingga Souw Kie Han dibuat pusing kepalanya, ia sangat mendelu hati, ia gusar sekali.

Pikirnya orang sangat memandang rendah terhadap kepandaiannya. Bagaimana juga ia harus memecahkan barisan ini, barulah mereka tahu Souw Kie Han punya kelihayan-

Sementara itu pedangnya Kim Toa Lip telah mendesak dengan keras sekali, hingga mau tidak mau perhatiannya di tumplek kepada Kim Toa Lip. Apa mau tidak diduga sama sekali, ketika ia berkelit dari serangan pedang Kim Toa Lip ada angin yang meny amber dari samping, itulah Ciauw Toa-nio yang mengirim serangan dahsyat.

Matanya mendelik bahna gusar, tapi sebelumnya ia dapat membalas serangan orang, kempa li dari lain jurusan, ia diserang, ia dihujani serangan dari segala jurusan, boleh dikatakan dari delapan penjuru angin hingga ia repot sekali menangkis serangan yang dilakukan dengan senjata.

Souw Kie Han dalam marahnya sudah mainkan sepasang lengan baju besinya yang ampuh, hingga angin menderu- deru dan pasir batu pada berterbangan karena kesemprot oleh angin pukulannya yang hebat.

Kim Toa Lip masih terus dengan tenang mengendalikan serangannya.

Pada suatu saat ia mengirim tusukan tajam, tapi Souw Kie Han cepat merubah posisinya, hingga Kim Toa Lip kepaksa merubah tusukan pedangnya menjadi membabat, inilah yang ditunggu-tunggu oleh si kakek karena ia melihat Ciauw Toa-nlo merogoh sakunya hendak menerbangkan pula senjata gelapnya.

Maka diwaktu ia berkelit dari babatannya Kim Toa Lip lengan bajunya lantas menyerang kearahnya Ciauw Toa-nio, hingga senjata rahasia sinenek yang hendak diayun jadi urung dan ia sendiri sempoyongan terkena angin pukulan lengan bajunya si kakek, napasnya dirasakan menyesak dan hampir ia rubuh pingsan-

Serangan si kakek tadi ada tipu ilmu silat yang dinamai "Pek in Cat san" atau "Awan putih keluar dari gunung" yang hebat sekali hingga Ciauw Toa-Nio tidak tahan- Untung Ciauw Toa Lip melihat bahaya, Menampak kawannya kena dihajar

oleh angin pukulan musuh, segera ia menerjang si kakek dengan gaya "Iblis bermain mata" ia mengirim serentetan tusukan pedang sehingga Souw Kie Han tidak punya kesempatan untuk mengambil jiwanya si nenek yang sangat menyebalkan hatinya. Dengan begitu Ciauw Toa-Nio dapat ketolongan jiwanya.

Hebat tipu serangan iblis bermain mata dari Kim Toa Lip tadi, sebab dua belas tusukan pedang mengarah pada dua belas tempat jalan darah yang penting pada tubuhnya si kakek aneh dari goa Pekscong-tong itu.

Tapi dasar ilmu silatnya lebih atas, maka serangan yang bertubi-tubi itu dapat dielakan oleh Souw Kie Han dengan baik sekali, malah ia sudah mengulurkan tangan dan membuka lima jarinya untuk menyengkeram Ciauw Toa-nic.

Si nenek saat itu sudah meramkan matanya akan terima nasib, tapi cengkereman si kakek urung setengah jalan, karena satu benda berapi telah membentur tangannya, itulah ada benda yang diluncurkan oleh Coa Tong Kang.

Ketika melihat kawannya dalam bahaya Coa Tong Kang menggunakan ilmu "Thian-bee Keng gong (kuda semberani melayang di angkasa) melesat keangkasa dari udara dengan senjata gelapnya yang mengandung api ia telah menyambit pada lengan si kakek hingga kebakar. Si kakek terpaksa menarik pulang cengkeremannya karena jarinya dirasakan panas. Souw Kie Han perdengarkan suara ketawanya yang aneh.

Matanya menyapu sekalian jago-jago itu yang jumlahnya sembilan orang, yang keren- keren kelihatannya, Kecuali Kim Toa Lip yang masih ngotot menyerang dengan pedangnya dan beberapa orang lainnya, masih ada lima orang pula yang masih belum bergerak dan tengah mengawasi kepadanya dengan senyuman dingin-

Senjata mereka macam-macam, ada yang digunakan untuk jarak jauh ada yang untuk jarak dekat, semuanya telah digerakkan menyerang si kakek, akan tetapi semuanya dapat dielakan oleh Souw Kie Han-

Ho Tiong Jong ditempat sembunyinya melihat jalannya pertempuran demikian hatinya sangat heran, Kenapa Souw Kie Han tidak menggunakan senjata gelapnya yang berupa ular kecil untuk membunuh mati musuhnya? Dilain pihak. Seng Eng dan kawan kawannya juga karena tidak mau mengambil jiwanya sikakek aneh itu ? untuk yang tersebut belakangan Ho Tiong dapat menebak sebab sebabnya, mungkin mereka masih menguatirkan anak keponakan mereka yang masih disekap oleh si kakek.

Kalau anak-anak disekap ditempat yang tidak ketahuan dimana letaknya dan si kakek sudah binasa, dimana mereka bisa mencarinya anak-anak itu, Terdengar Kim Toa Lip berkata nyaring. "Hei, Kie Han, apa kau masih belum mau menyerah? Kau jangan mengimpi dapat melepaskan diri dari kepungan kami orang."

Mendengar kata-kata ini bukan main gusarnya Souw Kie Han-

Ia sebenarnya kepingin menggunakan ularnya untuk membunuh musuhnya akan tetapi dipikir lagi, kalau misalnya ia sudah dapat membunuh satu musuhnya tentu senjata rahasia itu diketahui oleh yang lain-lainnya.

Mereka tentu tidak akan mau mengerti dan mengeroyok mati padanya, Lain urusannya kalau ia berhadapan dengan satu dengan satu, mudah saja ia mengeluarkan senjata ularnya untuk membinasakan musuhnya. senjata gelapnya itu, selainnya Ho Tiong Jong tidak ada yang mengetahuinya pula.

Ia pikir, ada harapan suatu waktu ia ketemu dengan satu pada orang-orang yang kini mengepungnya ia bisa membinasakan dengan ular itu. Akhirnya ia bisa menjawab ucapan Kim Toa Lip tadi.

"Kau jangan keliru mengira lohu takut mati. Dalam buku kamus hidup lohu tidak ada takut mati."

"Kau sudah merasakan lihaynya barisan kami, bukan? Nah, sekarang kau merdekakan anak dan keponakan kami, supaya kami dapat melepaskan kau dengan selamat dari kepungan kami." Kim Toa Lip sambil mengasih tanda pada orang orangnya untuk meng gerakan barisannya.

"IHm, kalian dengan perkataanku" teriak si kakek, "Lohu belum mau mengaku kalah dan sejak dahulu malah belum mengaku kalah. Kalian tidak percaya, nah boleh belek, (belah) dada lohu apa dalam hati lohu ada tertulis kata-kata kalah?"

Semua orang hentikan bergeraknya barusan, mereka saling pandang mendengar kata-katanya si kakek barusan, Mereka diam-diam mengagumi sikap si kakek yang kepala batu dan kecekatannya tidak mau mengaku kalah.

"Baik," tiba-tiba Kim Toa Lip berkata. "sekarang aku mau tanya kau mau lepaskan tidak orang-orang yang telah kau tahan?"

Souw Kie Han pada saat itu memang sudah sangat lelah, karena sudah bertanding ratusan jurus lamanya, ia sungkan mengaku kalah dan terus meladeni mereka mengeroyok dirinya, ia sudah coba menerjang keluar dari barisan sampai dua kali, akan tetapi semuanya gagal, kini ia mengerti, bahwa sukar untuk ia keluar dari kepungan kalau tidak menyerah kalah.

Sebenarnya ia sangat mendongkol dengan kata tadi, tapi apa daya? Kepaksa ia menjawab dengan suara dingin, "Hmm....untuk apa aku kasih mereka tinggal hidup dalam daerahku?" Kim Toa Lip tertawa bergelak gelak mendengar ucapannya si kakek.

"Bagus inilah tanda dari perdamaian, Saudara-saudara, lekas kasih jalan untuk Souw- Locianpwee panggil anak-anak kita keluar ha ha ha..."

Souw Kie Han mendelik melihat lagaknya Kim Toa Lip. tapi ia tidak ungkulan untuk mengajak mereka bertarung lagi, maka ia hanya berkata.

"Hari ini urusan kita sudah berakhir sampai disini. Mulai sekarang dan untuk selanjutnya kalian dari Perserikatan Benteng perkampungan dan anak buah kalian dilarang menginjak daerah kediaman lohu ini. Kalau larangan ini dilanggar, jangan sesalkan kalau lohu tidak memberi ampun lagi pada yang bersangkutan-"

Anak-anak muda yang mendengar ancamannya si kakek rata-rata pada naik darah panas hatinya, akan tetapi sembilan orang tua tidak menunjukkan perubahan apa-apa diwajahnya dan juga tidak mengucapkan janjinya akan mentaati larangan si kakek. Mereka membungkam terus.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di otaknya si kakek, maka ia telah tertawa bergelak-gelak. hingga membikin pihak lawannya keheranan-

"Kau menertawakan apa?" tanya Seng Eng, yang dari setadi tinggal diam--saja.

"Lohu menertawakan pada kalian orang-orang tua yang tak ada gunanya."

" Dalam hal apa, maka kau berani mengatakan demikian?" nyeletuk ciauw Toa nio

"Lohu menyaksikan ketika kalian hendak menyebrangi Liu soa kok ada begitu bersusah payah, beda dengan seorang muda yang pernah datang kesini, ia dengan secara mudah saja dapat melalui lembah pasir berjalan (Liu soa- kok)."

Perkataan si kakek membuat Kim Toa Lip dengan kawan-kawan jadi saling pandang.

XXII. GIOK CIN BUKA RAHASIA HATINYA.

MEKEKA tampak sedang menduga-duga siapa adanya pemuda yang dimaksudkan oleh si kakek aneh itu.

"Aku lihat kalian bersembilan-" terdengar Souw Kie Han berkata pula, "yang sudah dapat nama termashur dikalangan Kangouw, tapi buktinya mengecewakan-Menyebrangi lembah pasir berjalan saja ketakutan setengah mati, beda dengan seorang muda yang datang kesini dia sudah sampai dipuncak Si-ban leng dengan tidak mendapat kesukaran apapun juga, malah dia sudah dapat menolonGi nona yang dicitiunya dan sudah dibawa pergi olehnya."

"Siapa dia?" tanya Kim Toa Lip dengan tidak sabaran.

"Ho Tiong Jong..."

Semua orang terperanjat mendengar nama itu disebut.

Mereka hampir tidak percaya dengan pendengarannya karena Ho Tiong Jong itu sudah mati, bagaimana ia bisa datang kepuncak Si ban-leng? Apakah itu setannya yang datang kesitu?

Seng giok Cin terperanjatnya lain, Mukanya berubah seketika jantungnya dirasakan memukul keras.

"Tiong Jong sudah mendahului kita menolong adik Hong... oh, dia gagah sekali, di mana adanya sekarang?" si nona diam-diam menanya pada diri sendiri.

Kim Toa Lip menjublek sekian lamanya. Ia tidak mengerti Ho Tiong Jong bisa hidup kembali. Adakah pemeriksaannya kurang teliti? ia bersama Coa Tong Kang memeriksa bersama-sama Ho Tiong Jong dalam penjara air dimana ia sudah melayang jiwanya karena di hajar oleh senjata rahasia Ceng ciauw Nikouw yang beracun, Tok kim chi (pedang emas berbisa).

Setelah memikir lebih dalam, ia jadi geli sendirinya. ia tidak mengira Ho Tiong Jong pada mempunyai kepandaian yang membuat dirinya itu betul betul telah tewas jiwanya dengan menggunakan tenaga dalamnya ia sudah dapat membuat dirinya dingin dan tidak bernapas, betul-betul macamnya orang sudah mati.

Disamping rasa geli, hatinya bukan main girangnya, karena Kim Hong Jie puterinya, ternyata sudah tidak ada pula pada si kakek dan sudah ditolong oleh itu sianak muda yang gagah dan tampan-

Tiba-tiba ia kaget mendengar sikakek berkata.

"Hm hanya sayang sekali lohu sudah memberi tusukan beracun pada Tiong Jong sebagai ganti jiwanya yang luar biasa dalam dunia persilatan dia tidak akan muncul lagi dalam dunia Kangouw. Sayang, sungguh sayang. Ya apa mau dikata, kecuali suteku Kong Jat Sin dapat menolong jiwanya sudah tidak ada pula orang lainnya lagi."

"Berapa lama ia bisa hidup?" menyelak Seng giok Cin.

"Dia dapat hidup dalam beberapa jam saja." jawab si nenek.

"Aaaaa locianpwee keliru?"

"Mana lohu bisa keliru ?"

"Tiong Jong tidak bisa mati, Aku tidak percaya ia bisa mati ."

"Sebabnya ?"

"Kalau dia memang harus mati, tempo hari saja ketika kena Ceng ciauw Ni Kouw punya Tok-Kim chi. Senjata rahasianya itu amat berbisa, aku tidak percaya jarum maut cianpwee ada lebih berbisa dari Ciauw Nikouwpunya Tok-Kim chi."

"Bisa jarum yang lohu tusukan di tubuhnya itu termasuk diantara "Lima Bisa" sedang Ceng Ciauw punya Tok kim chi

termasuk juga dalam itu "Lima Bisa", Kalau Tiong Jong tidak mati oleh Tok-kim-chi tentu dia bakalan mati oleh jarum mautku, itulah rupanya, Tiong Jong memang sudah nasibnya akan binasa dengan racun kesian-"

"Sudahlah," menyelak Kim Toa Lip. "sekarang lekas kau keluarkan itu anak yang kau tahan, Dan kami akan berlalu dari sini?"

Si kakek delikin matanya akan tetapi ia tidak kata apa-apa, ia ngeloyor pergi sekian lamanya, kemudian datang lagi dengan Tan Kie Seng, cu Coan Liang dan Kong soe Tek.

Mereka kegirangan dapat berjumpa kembali dengan paman dan kawan-kawan, terutama Kong soe Tek yang kegarangannya paling besar karena telah dapat berjumpa kembali dengan Kong Soe Jin, engkonya.

Kedua saudara itu, yang mendapat julukan im yang Siang kiam, telah berpelukan kegirangan dengan berlinang-linang air mata.

Kim Toa Lip sendiri tenang-tenang saja, karena puterinya telah diselamatkan oleh Ho Tiong Jong. Meskipun anak muda itu sudah kena tusukan jarum beracun si kakek, ia percaya Ho Tiong Jong dapat membawa putrinya ketempat yang selamat,

Mereka lantas pada meninggalkan tempat itu, karena orang-orang yang hendak ditolong nya sudah beres dan kembali dengan selamat. Hanya Seng Giok Cin yang tidak turut mereka pulang.

Seng Eng yang percaya puteri-nya bisa membawa dirinya, tidak berkata apa-apa, ketika si nona menolak untuk turut pulang dengan alasan hendak bercakap-cakap sebentar dengan si kakek, ia hanya memesan supaya si nona berlaku hati-hati.

Seng Giok Cin hiburkan sang ayah dengan kata-kata yang menentram bati, maka ayahnya telah meninggalkan ia dengan hati lega.

Meskipun dimulut tidak mengucapkan apa-apa, tapi dihati Seng Eng sudah menebak seratus persen bahwa puterinya tidak turut pulang bersama sama tentu hendak menyelidiki Ho Tiong Jong.

Sebagai orang tua yang menyayang pada putrinya, Seng Eng mengerti bahwa puterinya telah jatuh hati kepada pemuda yang gagah berani itu.

souw Kie Han heran melihat si nona tidak turut pergi, maka ia lalu menanya. "Hei nona mengapa kau tidak turut kepada mereka?"

Seng Giok Cin tersenyum manis, Pelahan-lahan ia mendekati si kakek dan berkata pelahan "cia npwee, aku tidak turut berlalu dari sini karena aku ada sedikit urusan dengan cianpwee."

"Hei, urusan apa lagi ?" menentang si kakek dengan heran-

"Soal Tiong Jong." jawabnya.

Si kakek buka lebar matanya, Pikirnya, si cantik Kim Hong Jie telah menyintai Ho Tiong Jong begitu rupa, kini kembali satu nona elok menaruh perhatian begitu besar kepada si pemuda, Betul-betul Tiong Jong sangat beruntung, hanya sayang dia pendek umur, sudah kena jarum mautnya dan tidak bisa tertolong jiwanya.

"Tiong Jong kenapa," tanya si kakek.

"Kalau Tiong Jong sudah mati, dimana kuburannya ?"

"Kau mau bersembahyang ?"

"Ya," jawab si nona telengas .Souw Kie Han mengelah napas, ia mengawasi paras muka si nona yang cantik menarik, yang saat itu mengandung kedukaan-

Hatinya kasihan, akan tetapi apa mau di kata, ibarat beras sudah jadi bubur ia sendiri tak dapat menolonGi Ho Tiong Jong, Tapi ia bisa menghiburi si nona, katanya.

"Nona, Tiong Jong masih belum mati, sebentar malam kira-kira jam dua baru dia mati..."

Setelah berkata demikian, kembali si kakek mengawasi wajah yang cantik menarik nona didepannya, pikirannya saat itu melayang kepada istrinya yang telah meninggalkan dunia.

Maka sambil menghela napas ia pelahan lahan angkat kakinya meninggalkan Seng giok cin berdiri sendiri.

Seng Giok Cin tak tahu, ia harus berbuat bagaimana sekarang.

Mau menyusul Ho Tiong Jong, menyusul kemana? ia tak tahu kemana perginya si pemuda yang membawa Kim Hong Jie.

Ia jadi berdiri menjublek sekian lamanya, pelahan napas terdengar beberapa kali, wajahnya menunjukkan rasa duka.

Ho Tiong Jong barusan mendengar Souw Kie Han memuji-muji dirinya, diam-diam ia merasa bangga, Kalau saja pujian itu pada beberapa waktu berselang, tentu ia sudah keluar dari tempat sembunyinya dan mengunjuk diri sambil tepuk-tepuk dada.

Tapi kini Ho Tiong Jong sudah ada pengalaman, ia tidak mau unjukkan dirinya sewaktu dirinya diangkat tinggi-tinggi, meskipun sang hati kepingin menonjolkan mukanya didepan orang banyak. terutama diiepan gadis jelita seperti nona Seng. seban saat ia tidak bisa wajahnya yang cantik dan kebaikannya.

Kini tegas ia menyaksikan bagaimana nona Seng begitu memperhatikan dirinya. ia tidak turut pulang dengan ayah dan pamannya karena ingin mengetahui hal kematian dirinya, pembicaraan yang dilakukan antara nona Seng dan Souw Kie

Han tertangkap nyata dalam telinga si pemuda, hingga diam-diam ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Dia juga menyintai diriku, bagaimana ini jadinya? Hong Jie dan giok Cin dua nona cantik jelita pada menyintai aku, kenapa ?"

Ia sendiri tak tahu, Apakah lantaran wajahnya cakap cakap? Atau karena sikap dan pengawakannya gagah? Aaaa..... mustahil, sebab tak kurang-kurang pemuda pemuda lain yang lebih tampan dan gagah, malah mereka ada dari tingkatan atas, sedang ia sendiri hanya seorang muda dari kalangan gelandangan saja, IHemn, ia tidak habis mengerti.

Tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya hanya tinggal beberapa jam lagi saja, hatinya menjadi cemas.

Diwaktu ia mengelah napas, matanya melihat nona Seng dengan perlahan lahan angkat kakinya menuju lembah. Cepat cepat ia keluar dari tempat sembunyinya dan dengan tindakan ringan yang tidak menerbitkan suara ia menghampiri si nona. Dari belakang nya ia berkata perlahan-

"Adik Giok, kau jangan berduka, aku ada disini."

Kaget bukan main Seng giok Cin, cepat ia berbalik dari depannya berdiri Ho Tiong Jong dengan muka berseri seri, wajahnya yang tampan menawan yang selalu menjadi buah matanya.

Tapi herannya Seng Giok Cin bukannya mengunjuk wajah girang melihat si pemuda saat itu, sebaliknya air mukanya tampak dingin.

"Ya, bagaimana sekarang setelah kau ada disini?" katanya ketus. Ho Tiong Jong jadi berdiri bengong.

Sama sekali ia tidak mengira bahwa akan mendapat jawaban begitu ketus dan air muka yang dingin, Aneh, pikirnya.

"Kau kira dirimu seorang gagah perkasa, bukan? Hm.... tidak tahu malu."

Kegirangan dan kemesraan Ho Tiong Jong seketika itu lenyap tak berbekas. ia seolah-olah diguyur air dingin dengan mendadak saja badannya dirasakan menggigil.

Tadinya ia menduga Seng giok Cin menyambut ia dengan mesra, karena ia menyaksikan sendiri, bagaimana gelisah dan benar perhatian Seng giok Cin terhadap dirinya yang dikatakan sudah kena racun dan akan menemukan ajalnya. Heran kenapa sikapnya demikian dingin? Ah, dasar hati wanita sukar diduga. Ketika Seng giok Cin perlakukan Ho Tiong Jong demikian?

Soalnya adalah karena si nona merasa malu. Tadi perbuatan dan percakapannya dengan si kakek pikirnya telah diketahui oleh sipemuda, itulah berarti bahwa rahasia hatinya telah diketahui semua oleh Ho Tiong Jong.

Ia merasa malu sendiri, maka juga ketika mataaya kebentrok dengan matanya sipemuda, lantas saja selebar mukanya menjadi merah jengah. Untuk menebus rasa malunya ia coba unjukkan muka dingin dan ucapan perkataan ketus, tapi ia salah hitung, karena justeru demikian sipemuda yang beradat angkuh lantas mengambil jalannya sendiri.

Ho Tiong Jong bukannya itu pemuda yang gampang menekuk lutut didepannya wanita cantik, boleh diinjak injak kepalanya, asal si nona untuk sikap manis pemuda she Ho itu adatnya angkuh dan dapat menghargai dirinya sendiri.

Mukanya lantas berubah, ia tidak unjuk senyumannya lagi dan menjawab ucapannya si nona.

"Ya, nona Seng harap kau suka maafkan, kalau karena kedatanganku ini ada mengganggu ketentramanmu. Budimu yang telah kuterima, aku tidak akan melupakannya. Nah, selamat tinggal."

Setelah berkata demikian Ho Tiong Jong lantas berlalu dari depan si cantik. seng Giok Cin jadi kebingungan-

Barusan kedengarannya enak sekali ketika Ho Tiong Jong mengucapkan kata kata adik giok, sekarang sudah berubah lantas dengan "Nona Seng," inilah ada tanda bahwa pemuda itu menolak sikapnya yang barusan di unjuk itu. ia tidak menduga sama sekali kalau pemuda itu berkepala batu dan tidak tunduk oleh kecantikan-

Maka cepat-cepat ia memburu, "Eh, Engko Jong, kau tunggu dahulu." teriaknya. Ho Tiong Jong hentikan tindakannya.

"Ada urusan apa lagi?" tanyanya.

" Kau sekarang hendak pergi kemana?"

Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia harus angkat bahunya dan gelengkan kepala.

Pikirnya betul-betul hati wanita sukar di tebak arahnya. Barusan ia begitu ketus dan dingin, kini ramah tamah dan menanyakan pula tentang dirinya hendak pergi kemana, tak pernah mau tahu urusan orang, mau pergi ke mana itulah ada urusannya sendiri.

Meskipun ia akan menghadapi kematian, tapi untuk di hina seseorang wanita, nanti dahulu, Maka ia segera melangkah lagi hendak meninggalkan si nona, yang kini sudah jinak dan lunak.

Seng Giok Cin gelisah menghadapi kepala batu, maka ia cepat memegang tangannya dan menanya pula dengan suara halus merdu dan tidak lupa mulutnya yang mungil menyungging senyuman.