-->

Golok Sakti Bab 15 : Cubitan Yang Menimbulkan Kemenangan

Bab 15 : Cubitan Yang Menimbulkan Kemenangan

"Kau maksudkan gunung-gunungan dikota Jang co ?"

"Bagus kalau kau masih ingat."

Co tiang cay tergerak batin ya, Memang ia berpengharapan ada satu waktu ia bisa keluar dari tempat tahanan itu dan mengunjungi bangunan aneh itu untuk membuktikan apakah theorinya betul akan mendapatkan jalanan rahasia masuk kedalamnya gunung-gunungan itu yang membawa riwayat aneh luar biasa, ia ingin pergi kesana, hatinya gembira, tapi lantas padam lagi kegembiraannya itu bila mengingat keadaan dirinya waktu itu.

Ia jadi menghela napas dengan paras lesu, "Lopek, kau kenapa berduka?" tanya Ho Tiong Jong.

"Kau tidak tahu, Tiong Jong meskipun aku dapat keluar dari sini, cuma membikin kau berabe saja, sebab aku sekarang sudah tidak bisa bergerak leluasa seperti dahulu, Lengan tangan dan kakiku rasanya susah digerakan, ah...,. . nasib."

Orang tua itu sangat berduka, ia seperti kepingin nangis, tapi air matanya sudah kering.

Maka hanya terdengar beberapa kali ia menghela napas.

"Lopek. kau jangan kesal." menghibur Ho Tiong Jong, "aku sanggup membawa kau keluar dari sini."

"Tiong Jong, kau sangat berbudi. Semoga Allah selalu

melindungimu " kata co Kang cay dengan penuh rasa

terima kasih.

Perlahan-lahan ia bangkit dari rebahannya dan coba berdiri, sebelum ia mencoba kakinya untuk berjalan, Ho Tiong Jong sudah menyamber tubuhnya dan dibawa keluar dari kamar " neraka" itu.

Sambil menggendong co Kang cay, pemuda yang berbudi luhur itu, jalan sepanjang got untuk membuang air, yang cukup luas untuk mereka lewat tanpa mendapat halangan apa-apa.

Tiba-tiba mereka mendengar dari arah depan ada kaki orang berjalan masuk. Mereka jadi kaget, siapakah orang itu? ia bukan lain dari Seng pocu yang gedang muncul sendiri.

Seng Eng ketika mendapat laporan dari co Tong Kang, bahwa mayatnya Ho Tiong Jong dilarikan orang dalam hati sangat cemas, Maka lantas pergi kekamar bukunya dan dari tempat yang rahasia ia mengambil keluar segulung peta dari bangunan penjara air. ia meneliti dengan seksama jalanannya saluran air itu sampai dimana ternyata sampai dibelakang rumahnya di kebun bunga.

Lalu dari ini ada lagi jalan melalui satu tutupan dari besi yang dapat terbuka dan tertutup sendiri, yalah jikalau air dalam kamar tahanan meluap dapat mendorong itu tutupan menjadi terbuka, jikalau sedang air surut tutup itu tertutup sendirinya.

Dilihat dari keadaan dua jalan membuang air, itu yang tersebut duluan adalah jalanan yang paling gampang ditempuh untuk orang melarikan diri dari penjara air.

Meskipun demikian menurut pikirannya Seng pocu adalah tidak gampang diketahui oleh orang orang tawanan, jikalau tidak mengetahui dengan betul jalanan itu, yang memang ada dirahasiakan-

Pembangunan jalanan air itu Seng Eng telah borongkan pada satu pemborong she le, tapi orang ini bersama-sama anak buahnya setelah selesai membikin saluran rahasia itu telah dibunuh mati semuanya, inilah tindakan kejam, tapi Seng Eng anggap itu ada satu keharusan ia lakukan untuk menutup rahasia jalanan itu jangan sampai diketahui oleh orang luar.

Orang shw ie itu sudah mati, tapi sekarang bagai mana orang dapat mengetahui jalanan rahasia saluran air itu? Seng Eng jadi bingung. orang-orang penting dari "Perserikatan Benteng Perkampungan" memang mengetahui hal itu, akan tetapi mereka semua sudah bersumpah untuk tidak membocorkannya.

Seng Eng mengingat akan kawan-kawannya yang mengetahui hal itu, hatinya timbul ragu-ragu, apakah diantaranya ada yang mengingkari sumpahnya?

Maka pada malam itu, setelah ia memeriksa peta tersebut, lalu mengambil senjatanya ci Jit pian (cambukjari matahari), suatu senjata cambuk pusaka dari keluarga Seng, panjangnya satu tumbak, besarnya sebesar jari kelingking, bersinar berkilauan- Pada ujung pegangannya diperlengkapi dengan dua puluh dua butir mutiara merah sebesar senjata rahasianya.

Dengan membekal senjata pusaka ini, Seng Eng telah bikin pemeriksaan dan masuk juga kedalam lobang got, dimana secara kebetulan ia sudah berpapasan dengan Ho Tiong Jong yang sedang hendak keluar melalui jalanan itu.

Ho Tiong Jong telah turunkan co Kang cay dari gendongannya, lalu menghunus goloknya untuk siaga menghadapi kemungkinan.

Berdua telah mencoba untuk sebisa- bisa menahan napasnya, jangan sampai terdengar oleh orang disebelah depan, tapi apa mau telinganya Seng Eng sangat tajam, suara tarikan napas mereka tidak terlolos sebagaimana yang diharap oleh merek berdua. Dengan pelahan-lahan Seng Eng jalan menghampiri mereka.

Ho Tiong Jong cepat menggendong co Kang cay balik masuk. kemudian mengumpat dibalik kamar tahanan-

Sebentar lagi tampak Seng Eng sudah lewat didepannya. siapa lantas melakukan pemeriksaan didalam situ, justeru kesempatan ini digunakan oleh Ho Tiong Jong untuk lari nerobos melalui got tadi lagi.

Gerakannya tidak terluput dari perhatian nya Seng Eng, sebab ia lantas balikkan tubuhnya dan menguber. Ho Tiong Jong sudah berada diluar, Seng Eng juga cepat sudah menyusulnya .

"co lopek, kau tunggu sebentar, aku akan tempur padanya,." kata Ho Tiong Jong, sambil turunkan orang tua dari gendongannya dibawah sebuah pohon-Sebentar lagi Seng Eng sudah berada didepannya, membentak dengan suara keras "Hei, siapa kau, berani mati masuk bikin onar ditempatku ?"

Matanya berbareng melirik pada co Kang cay, hatinya sangat mendelu, sebab pemuda didepannya ini rupanya hendak membawa lari pada orang she co yang ia sudah kurung selama dua puluh tahun lamanya

Seng Eng tidak mengenali Ho Tiong Jong yang mukanya kotor hitam.

Memang sengaja Ho Tiong Jong bikin mukanya yang tampan dilapis dengan lumpur, supaya orang tidak mengenali dirinya, yang dianggapnya sudah mati Bentakan Seng Eng tak mendapat jawaban

Tentu Seng Eng Pocu menjadi marah, ia belum pernah mendapat sambutan acuh tak acuh dari seseorang yang ditegurnya. Maka ia lalu menyerang dengan angin kepalannya, tapi pemuda itu dengan seenaknya saja telah mengegos dan serangan Seng Eng telah mengenai sasaran kosong.

Kembali Seng Eng melancarkan serangan hebat, tapi juga seperti yang pertama tidak mendapatkan maksudnya. Hal mana membikin jago benteng Seng kee-po itu menjadi heran lawannya hanya mengandalkan kegesitannya sudah dapat mengegoskan dua serangannya ya tidak sembarangan orang dapat meloloskan diri dari pukulannya itu

Mengetahui lawanan berat, maka Seng Eng keluarkan cambuknya yang dibuat andalan dalam hidupnya malang melintang di rimba persilatan

Lawannya telah mengeluarkan goloknya yang berkilauan kena kesoroti rembulan.

Hatinya Seng Eng terkejut, karena ia seperti mengenali golok itu ada golok miliknya yang tergantung dalam kamarputerinya.

"orang liar, lekas katakan, kau dapat curi darimana golok itu?" ia membentak.

Tapi lawannya tidak menjawab, hanya menyerang dengan senjatanya, hingga Seng Eng sangat mendongkol, ia pun lantas gerakkan senjata cambuknya, hingga lawan itu dalam sekejapan saja sudah bertarung ramai sekali.

Co Kang cay menonton dibawah pohon dengan hati kuatir, diam-diam ia berdoa supaya Tiong Jong diberi kekuatan dapat mengalahkan Seng Pocu yang kejam.

Ho Tiong Jong membikin bingung lawannya, sebentar ia mainkan tipu-tipu serangan keluaran Hoa-sanpay, lalu Siauw-lim-pay, kemudian Bu tong-pay. Terutama permainan golok-keramatnya yang membikin Seng Eng sangat kagum.

Dari mana datangnya anak liar ini? Demikian diam-diam Seng Eng menanya pada diri sendiri, sementara itu serangan yang gencar dari pihak lawan yang menggunakan tenaga im

(lemas) dan yang (keras) membuat Seng Eng tak tetap menyerang dengan senjata cambuk pasakanya.

Sebagai sat ujago kawakan, yang sudah mempunyai nama dalam kalangan kangouw, terang Seng Pocu tidak mau mengalah terhadap lawannya yang masih sangat muda. Tapi bagaimana juga ia ngotot, kenyataannya ia bukan tandingan sang lawan-

Beberapa kali goloknya lawan hendak mampir ditubuhnya, akan tetapi tidak jadi, rupanya sang lawan seolah-olah menaruh belas kasihan-

Perbuatan mana bukannya tidak diketahui oleh Seng Eng, maka juga diam-diam hatinya mulai gentar menghadapi lawannya yang lihay. Sebenarnya, baru kali ini ia menghadapi lawan berat.

Satu kali cambuknya sudah dapat mendekati tubuh lawan, tapi goloknya musuh ada sangat cepat dengan satu sontekan yang oleh ujung golok, senjatanya Seng Eng telah dibikin terbang melayang-layang.

Seng Eng kaget, cepat ia melesat menyambuti cambuknya, kemudian ia hadapi lagi pemuda lihay itu. ia sebenarnya keder, tapi sebagai satu jago kenamaan ia tidak mau menyerah kalah mentah-mentah.

Apalagi hatinya sangat panas bila melihat co Kong cay pikirnya, kalau bisa ia akan membunuh dua orang itu.

Kembali pertempuran telah berlangsung dengan ramai sekali.

Cambuknya Seng Eng menari dan mengurung Ho Tiong Jong, akan tetapi anak muda itu dengan tenang putar goloknya yang tajam.

Sungguh indah sekali kelihatannya dua senjata itu dimainkan oleh dua orang yang mahir menggunakannya.

Dua-dua mengeluarkan ilmu serangannya yang hebat, maka tidak heran kalau kejadian itu telah membikin co Kang cay melongo, sekalipun ia sebenarnya tidak tahu apa-apa dalam hal ilmu silat, Hatinya merasa lega, karena melihat "jagonya" seperti berada diatas angin.

Meskipun cambuknya Seng Eng mengulung, tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya Ho Tiong Jong sangat gesit, ia pergi datang menyingkir dari sabetan pecut yang lihay, sementara goloknya berkelebatan seolah-olah malaikat elmaut hendak meminta korban, Berbagai tipu silat simpanan sudah dikeluarkan oleh seng Eng, tapi tetap lawannya yang masih sangat muda dapat melayaninya dengan bagus sekali. " celaka?" Demikian ia menghela dalam hatinya.

Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk mendesak mundur lawannya, kemudian merogoh sakunya mengeluarkan senjata rahasianya sebuah mutira merah sebesar buah lengkeng, dengan mana ia menyambit.

Mutiara merah ini mengenakan dengan jitu pada dadanya si anak muda, akan tetapi heran, lawannya tidak rubuh. Malah, sekali ia bersiul nyaring lantas menyambar tubuhnya co Kang cay dibawah lari terbang.

Seng Eng kaget betul-betul, ia jadi bengong sejenak. Hatinya mulai jerih dangan tiba-tiba itulah tidak heran, karena Seng-Eng selama menjagoi dalam kalangan rimba persilatan senjata gelapnya itu belum pernah meleset kalau ia gunakan, korbannya akan rubuh dengan luka berat paling sedikit kalau tidak binasa seketika itu juga.

Tapi kali ini korbannya yang terkena jitu senjata rahasianya itu tidak apa apa, malah dapat melarikan diri demikian gesitnya, siapa yang tidak jadi kaget oleh karenanya?

Tapi ketika Ho Tiong Jong sudah berada tiga tumbak jauhnya, ia baru sadar dan paksakan menguber, cuma saja mengubernya tidak sungguh karena direm oleh perasaan takut kalau-kalau pemuda itu balik lagi dan menempur dirinya dengan kesudahan ia menjadi pecundangnya .

Setelah mengejar melewati beberapa tikungan, Seng Eng hentikan kakinya, ia tidak mau spekulasi dengan jiwanya, apa lagi kalau ingat tempat rahasia dari mana ia mengeluarkan peta saluran air d ipenjara air itu masih belum ia tutup rapih. Oleh karenanya, ia balikkan tubuhnya dan kembali ke kamar bacanya, dimana ia menutup rapih-rapih tempat rahasia itu.

Setelah ia mengasoh sebentaran, lalu pergi keruan-gan tempat berkumpul.

Ia menyuruh orangnya untuk panggil beberapa kaki tangannya dan sebentar lagi dalam ruangan itu sudah berkumpul PekBoe Taysu, Kim Toa Lip. co Tong Kang, Ban Slong Tojin, song Boe Kie, dua saudara oet-ti dan co Goen Tiong.

Rapat kilat ini membikin mereka heran, tapi mengerti Seng Kee Po sudah kedatangan musuh kuat, makanya Seng Pocu demikian repot kelihatannya.

Apa yang mereka duga memang tak salah, ketika sebentar lagi Seng Eng menerangkan adanya seorang pemuda yang lihay telah melarikan orang tawanan yang sudah dua puluh tahun lamanya ditahan dalam penjara air.

Ia bicara sengit dan minta supaya mereka dengan sungguh bikin penjagaan dan menangkap orang yang mengacau itu.

"Dia sangat lihay, meski orangnya masih sangat muda. Maka, kalau orang begini memusuhi kita dan tidak dapat dibekuk siang-siang niscaya kedudukan kita akan ambruk oleh karenanya, Maka itu, aku minta sekali lagi, haraplah sekalian saudara dengan sepenuh hati menjaga benteng kita dan menangkap padanya."

Demikian Seng Eng tutup bicaranya, ia tidak menceritakan yang ia barusan sudah bertanding dengan pemuda itu dan hampir menjadi pecundangnya.

Diantara mereka tidak ada yang majukan pertanyaan apa-apa, hanya menerima perintah dan melakukan penjagaan terpencar.

Setelah mereka berlalu, Seng Eng tinggal termenung-menung sendirian-Terdengar beberapa kali ia menghela napas.

"Ayah." tiba-tiba ia mendengar suara halus menyelusup dalam telinga. Itulah suara puterinya, yang masuk keruangan menghampiri padanya. Seng Eng hanya mengawasi puterinya tidak mengucapkan apa-apa.

"Ayah, kau sudah mengadakan sidang kilat malam-malam begini apa sebenarnya yang telah terjadi ?" si nona menanya dengan laku yang sangat manja.

Sang ayah tinggal membisu, seolah-olah ingatannya masih belum kumpul.

"Ayah, mengapa kau sampai begitu terpengaruh ?"

"Giok-jie. kau . . . kau . . ."

"Kau apa? Ada apa dengan giokjie ?"

"Kau tidak tahu, benteng kita sudah kemasukan satu pemuda yang lihay ilmu silatnya. Dia sudah menculik co Kang cay, tawanan kita yang sudah dua puluh tahun lamanya sungguh celaka sekali, kalau co Kang cay dapat meloloskan diri dari sini. ia tahu banyak tentang keadaan benteng kita, kalau ia membocorkan pada musuh kita dengan mudah mereka dapat membuat bentengan kita ambruk pertahanannya dan ludeslah sekali angan-angan kita untuk menjadi jago dalam rimba persilatan-"

"Ayah, bagai mana kau tahu pemuda itu sangat lihay?" si nona memotong.

"giok-jie, benar-benar dia sangat lihay, cambuk ayahmu yang telah mengangkat namaku dalam rimba persilatan tidak

ada gunanya dihadapkan kepadanya, malah malah senjata

rahasia ayahmu mutiara merah yang ampuh luar biasa tidak mempan menembusi dadanya yang terkena telak betul, Ah,

dia.... dia memang lihay..." Seng giok cin bingung juga melihat

kelakuan ayahnya.

Adatnya sang ayah sangat angkuh, tidak gampang-gampang memuji kepandaian orang.

Kalau kini ia sampai memiiji-muji demikian rupa, sudah tentu pemuda itu bukan main lihaynya.

"Apa pemuda itu bukannya dia?" ia tanya dirinya sendiri.

Sedang pikirannya melayang layang, tiba-tiba dibikin kaget oleh pertanyaan ayahnya.

"Giok-Jie, aku ada mencurigakan senjatanya."

"Senjata apa dia gunakan?"

"Golok pusaka kita... "

"Ayah... " hanya ini yang keluar dari mulutnya yang mungil, dadanya berdebaran seketika itu, parasnya yang pucat agak kemerah-merahan-

Sang ayah menatap parasnya sang putri sekian lama, hingga Seng Giok cin tundukan kepalanya.

"Betulkah itu golok pusaka kita?" tegurnya.

" . . . mungkin. . . " jawabnya perlahan.

Puterinya yang biasa lancar bicara dan sangat tangkas mengatur sesuatu urusan, kini kelihatan agak gugup seolah-olah yang mempunyai kesulitan, membuat Seng Pocu menjadi heran dan mau mendesak puterinya tapi urung ketika satu pikiran berkelebat dalam otaknya.

Kalau melihat kelakuan pemuda lihay itu dan anaknya sekarang, seperti ada mempunyai hubungan apa-apa yang ia tidak tahu.

Tadi ketika ia bertempur, beberapa kali goloknya si pemuda hampir berhasil melukai dirinya, tapi heran tidak diteruskan, seolah-olah sengaja tidak ingin melukainya.

Kalau benar-benar pemuda itu bertempur dengan maksud membunuh, tadi rasanya tidak sukar mengambil jiwanya, Mungkin pemuda itu ada memandang pada dirinya, maka telah mengasih kelonggaran yang tidak diduga-duga.

Seng giok cin ada puteri tunggalnya, ia sangat sayang pada si nona yang otaknya sangat cerdik dan banyak akalnya, Maka melihat anaknya seperti mempunyai kesukaran untuk menuturkan kepadanya soal golok pusaka itu, ia tidak mau mendesak lebih jauh, hanya simpangkan pembicaraan kelain jurusan.

"Sudahlah Giok-jie mari ikut aku membantu mereka menangkap pemuda itu." kita Seng Eng, sambil berbangkit dari duduk nya dan berjalan keluar diikuti oleh seng Giok Cin dengan tundukkan kepala.

Selama mengikuti ayahnya, pikirannya terkenang pada pemuda pujaannya.

Ia tidak mengira sama sekail, kalau Ho Tiong Jong ada mempunyai kepandaian yang tinggi, dapat mengalahkan ayahnya yang tersohor mempunyai kepandaian jarang tandingannya.

Barusan, ketika bertempur dengan Ho Tiong dengan acuh tak acuh memberikan perlawanannya. Sebab kecuali anak muda itu memang tidak bermaksud jahat padanya, juga menang benar-benar kepandaiannya telah meningkat diluar dugaannya. Tapi kenapa Ho Tiong Jong tidak mau menemuinya.

Pertanyaan ini adalah yang mengaduk dalam otaknya.

Ia paham Ho Tiong Jong tentu mengerti bahwa ia ada mencintai padanya, tapi kenapa pemuda itu tidak terang-terangan menemui padanya? Malah ia sudah menculik Co Kang Cay hendak dibawa keluar benteng, apakah maksudnya

itu?

Rupa-rupa pertanyaan mengaduk dalam otaknya akan tetapi sulit ia dapat memecahkannya, Tindakkannya pemuda she Ho itu seolah-olah merupakan teka-teki yang sukar ditebaknya.

Kini ia dihadang oleh jago-jago kenamaan, apakah Ho Tiong Jong dapat meloloskan diri sambil membawa beban yang berupa dirinya Co Kang Cay.

Seng giok cin baru tersadar dari lamunan nya ketika mendengar ayahnya berkata.

"giok Jie, kau menjaga disini. Awas jangan kasih dia lolos, Kalau mereka lolos berarti membahayakan pada kedudukan kita, kau mengerti?"

"Aku mengerti ayah" jawab si nona seperti yang masih linglung.

Dengan cepat Seng Eng sudah melesat ke lain jurusan dan menghilang ditempat gelap.

Tempat yang ditugaskan untuk Seng giok cin juga adalah jalanan penting untuk orang dapat keluar dari Seng Kee Po. Meskipun ia mencurigai anaknya, tapi Seng Eng percaya puterinya tak akan menghianati ayahnya sendiri.

Kita kembali melihat Ho TioagJong, Pemuda itu setelah lari meninggalkan Seng Eng atas petunjuk co Kang cay telah mengumpat dalam satu bangunan di bawah tanah

Sebelumnya masuk ia turunkan co Kang cay dari gendongannya dibawah suatu pohon yang rindang,

Ia memeriksa goloknya, diam diam ia merasa terkejut ketika melihat goloknya gompal karena tadi dipakai menahan senjata rahasianya Seng Eng.

Ia mengerti hebatnya senjata rahasia mutiara merah itu, kalau saja tidak golokrya barusan yang menalangi merangkis nya, jiwanya tentu bisa melayang saat itu.

"Lihay " ia menggerendeng sambil menghela napas.

Pikirnya mengalami bahaya maut tadi tidak sampai mati, apakah nasibnya tidak jadi mati karena racunnya Tok kay didalam tubuhnya?

Setelah sekali lagi ia menghela napas lalu pondong tubuh co Kang cay masuk kedalam bangunan rahasia tadi, dimana mereka sembunyi untuk sementara waktu dari kejarannya Seng Eng, setelah mengasoh beberapa lama, Ho Tiong Jong ajak Co Kang Cay ke luar lagi, supaya malam itu juga mereka bisa meloloskan diri dari kekuasaannya Seng Eng dan kawan-kawannya.

Tapi ia tidak jadi keluar mengambil jalanan masuk tadi, karena ketika ia mengintip keluar mendapat lihat ada si muka merah Kim Toa Lip yang sedang menjaga.

"Lopek, bagaimana sekarang kita bertindak? Semua tempat rupanya sudah dijaga oleh orang orang kuat dari Seng Kee Po, apakah lopek tidak punya jalanan lain untuk kita keluar dari

sini dengan selamat?" tanya Ho Tiong Jong Co Kang Cay.

"Tiong Jong, kau jangan kuatir. Masih banyak jalanan untuk kita bisa keluar dari sini dengan selamat," jawab sikakek lumpuh.

Hatinya Ho liongJong lega mendengar perkataannya sang kawan tua.

"Bagus," katanya,"kita berusaha, kita mencoba, bagaimana juga harus kita berhasil meninggalkan tempat terkutuk ini."

Mereka lalu pergi ke lain bagian keluar, disini baru saja Ho Tiong Jong menongolkan kepalanya lantas melihat ada dijaga oleh seorang yang bersenjatakan bendera segi tiga.

Sipemuda kenali ia ada Co Tong Kang, salah satu orang lihay dalam Perserikatan Benteng perkampungan yang ia saksikan sendiri kepandaiannya ketika Co Tong Kang bertempur dengan Ceng Ciauw Nikow. IA kembali pada Co Kang cay dan berkata padanya.

"Lopek jalanan ini juga tidak aman- Diluar ada dijaga oleh Co Tong Kang, sulit kita melewatkan dia tanpa ada pertempuran yang hebat." Co Kang cay berpikir sejenak. kemudian ia berkata.

"Masih ada jalanan lain, entah disana dijaga oleh siapa, mari kita kesana ?"

Ho Tiong Jong lalu pondong lagi si kakek jalan mengikuti jalanan yang berbiluk-biluk, kemudian ia letakkan si kakek dan ia sendiri menghampiri tutup lubang yang merupakan pintu jala n keluar untuk mengintip siapa yang jaga disitu.

Hatinya tiba-tiba berdebar, karena ia melihat satu bayangan kecil langsing yang sedang menjaga dibagian itu. ia bukan lain tentu nona Seng, pikirnya.

Harapan dapat lolos dengan mendadak muncul dalam otaknya, ia paham akan besarnya cinta Seng giok cin atas dirinya, maka ia percaya si nona tidak ingin melihat ia mengalamkan kesulitan dan tentu akan memberi jalan kepadanya untuk keluar dari tempat itu. ^

Maka tanpa ragu-ragu ia telah gendong co Kang cay diajak keluar dari bangunan dibawah tanah itu, Ketika ia hendak menghampiri sinona telah dibikin merandek melihat ada bayangan seseorang yang mendatangi menghampiri si nona, cepat-cepat Ho Tiong Jong menyelingkar dibalik pohon besar. Terdengar orang tadi berkata. "giok-jie, apakah kau tidak melihat apa-apa?"

"Ah, dia Seng Pocu" pikir Ho Tiong Jong dibalik pohon-"Tidak. ayah." jawab si nona ringkas.

"Hati-hatilah kau menjaga, jangan sampai bocah itu lolos membawa co Kang cay. Aku banyak urusan mengontrol tidak lama-lama menemani kau. Nah, perhatikan apa yang ayahmu kata barusan-.. "

Omongannya belum habis, orangnya sudah lompat melesat menghilang dari pemandangan-

Diam-diam Ho Tiong Jong bersyukur dirinya tidak sampai dipergoki oleh kepala benteng yang kejam telengas itu.

Setelah keadaan sudah aman untuk ia menghampiri si nona, maka dengan perlahan-lahan sambil menggendong Co Kang Cay ia datang pada Seng Giok Cin-

Nona Seng terkejut melihat seseorang dengan menggendong orang datang menghampiri padanya tapi lekas hatinya menjadi tenang lagi ketika mengetahui bahwa orang itu bukan lain ada Ho Tiong Jong.

Ia menanti serangan Ho Tiong Jong, tapi heran pemuda itu tidak menyerang, sebaliknya malah mendekati padanya dan berkata, "Nona Seng, aku mohon kemuliaan hatimu supaya memberi jalan lolos kepada kami, untuk pertolongan mana kami seumur hidup tidak akan melupakannya . "

Seng Giok Cin hatinya berdebaran mendengar suara itu yang ia kenali betul.

"Hai, kau ini siapa?" si nona pura-pura menanya.

"Aku Ho Tiong Jong," jawabnya.

"Hai, bukan Ho Tiong Jong sudah mati?"

"Giam-lo ong masih belum mau menerima aku."

Si nona menekap mulutnya yang mungil menahan ketawanya mendengar jawaban Ho Tiong Jong yang lucu.

"Nona Seng, aku harap sekali pertolonganmu itu," kata pula si pemuda, yang jadi mesem melihat kelakuannya si nona terasa geli sambil menekap mulutnya. Tiba-tiba ia rasakan tangannya dicekal si nona.

"Tiong Jong, "kata si nona, "kau ini bukankah sudah mati dibawah senjata rahasianya ceug ciauw Nikow yang dinamai Tok kim-chi? cara bagaimana kau bisa hidup. Selain dari itu, apa maksudmu kau hendak pergi dari sini dengan membawa-bawa orang tua ini?" sambil menunjuk pada co Kang cay yang digendong. "Tidak. malam ini juga kau harus datang dikamarku."

Ho Tiong Jong terkejut, Dalam hatinya berpikir kalau ia tidak menurut permintaannya si nona, sudah pasti ia tidak bisa keluar dari situ, Untuk dirinya sendiri tidak menjadi soal, hanya kasian kepada co Kang cay yang sudah dua puluh tahun lamanya belum pernah melihat matahari lagi, Ia cepat mengambil putusan, jawab nya. "Ya, baiklah nona Seng, sebentar jam tiga aku akan datang ketempatmu."

Seng giok ceng girang mendengar janjinya si anak muda, maka ia lalu berkata. "Nah, sekarang cepat-cepat kau melarikan diri "

Ho Tiong Jong mengucapkan terima kasih, kemudian meninggalkan tempat itu menuju kekuil bokbrok yang tempo hari ia dengan Tok-kay pernah meneduh dan telah membunuh pengemis beracun itu.

Ia lalu menurunkan co Kang cay dari gendongannya.

Berdua duduk diatas lantai, berCakap cakap akan bertindak selanjutnya.

Selama itu pikirannya si pemuda kalut, karena memikirkan nasibnya yang hanya sampai besok malam temponya jam tiga, jiwanya pasti melayang karena racun jahatnya Tok kay. Pikirnya, orang telah mengetahui dirinya telah binasa dibawah Tok-kim-chi ceng ciauw Nikow, sekarang hidupnya dalam rahasia sudah bocor diketahui orang juga.

Untuk apa sebenarnya hidupnya yang sesingkat waktu itu? Sambil menghela napas ia berkata pada Co Kang Cay

"Co Lopek. baru sekarang aku ingat bahwa pekerjaanku menolong kau akan terlantar setengah jalan-.. "

"Hei, kenapa kau bilang begitu?" memotong Co Kang Cay kaget.

kembali Ho Tiong Jong menghela napas, "Lopek." katanya lesu", sebenarnya badanku sudah terkena racunnya Tok kay. Besok jam tiga malam racun itu akan bekerja dalam tubuhku. Kecualinya sebelum jam tiga itu aku ketemu dengan si Dewa obat Kong Jat Sin yang dapat menolongku, jiwaku tidak melayang karenanya, Aku menyesal tidak bisa melanjutkan tugasku menolong dirimu sampai ditempat yang aman-"

Co Kang Cay kaget bukan main mendengar bicaranya Tiong Jong. Mukanya menjadi pucat seketika.

"Hai, bagaimana baiknya ini?" katanya gugup, "Kakiku sudah tak dapat berjalan, kalau nanti dapat diketemukan oleh Seng Eng tentu dia akan menyiksa diriku dengan lebih kejam lagi daripada yang sudah."

Ho Tiong Jong yang berhati budiman, merasa terharu dan kasihan pada si kakek yang jadi gelabakan ketakutan-

Perkataannya Co Kang Cay memang beralasan- Ditempat itu, malah disekitarnya sejauh ratusan li masih dibawah kekuasaannya Seng Eng, mana mereka dapat bersembunyi disitu, apalagi kalau Co Kang Cay ditinggal sendirian, terang ia akan ditemukan lagi oleh Seng Eng.

"Tiong Jong, kalau begitu baik kau bawa lagi aku ke tempatnya Seng Eng," kata co Kang cay dengan tiba-tiba.

Ho Tiong Jong kaget dan mengawasi si kakek dengan perasaan tidak mengerti.

"Tiong Jong, kau jangan kaget," kata si kakek nyengir, "kau tidak tahu, kita sembunyi ditempatnya Seng Eng ada lebih aman, karena disaaa ada banyak tempat yang rahasia dan aku sendiri yang mengetahuinya, jikalau kita masuk dalam salah sebuah kamar yang kiranya tidak akan menjadi perhatian mereka, tentu kita sembunyi dengan selamat kau pikir bagaimana?"

Ho Tiong Jong pikir jalan itu memang ada berbahaya, tapi karena sudah tidak ada jalan lain, pikirnya jalan itu baik ditempuh- nya.

"Tapi, bagaimana kita balik kesana, apa tidak akan dipergoki oleh mereka?" tanyanya sangsi.

"Kaujangan kuatir, turut saja petunjukku kau jalan akan selamat" jawab si kakek yang sudah tahu betul selak seluknya tempat di benteng Seng-kee Po itu.

—oooOdwOoo—

XVIII. TOTOKAN SI CANTIK IE YA

DEMIKIAN setelah mereka mengasoh sebentar lantas Ho Tiong Jong menggendong si kakek dan dia akan sendiri, Maka nya semuanya ada tujuh koper penuh dengan isi nya emas semua, Betul-betul dalam seumur hidupnya Ho Tiong Jong baru mengalami melihat harta dunia yang demikian hebatnya, Mustahil maka berapa harganya emas itu dapat dibayangkan bawa kembali ke tempatnya Seng Eng. Betul saja, dengan melalui jalanan yang jarang dilalui orang atas pengunjukan co Kang cay, akhirnya Ho Tiong Jong dapat membawa si kakek kembali ke-tempatnya Seng Eng dengan tidak menemui rintangan apa-apa.

Dengan mengikuti petunjuk Co Kang cay ia menggendong masuk keluar kamar-kamar batu rahasianya? Akhirnya mereka memasuki sebuah kamar batu yang lebarnya dua tombak dan tingginya enam kaki, pintunya dapat didorong dan menutup sendiri.

Inilah ada kamar yang merupakan pusatnya dari sekalian kamar batu lainnya, di atasnya kamar ini ada kamar tempat tidurnya Seng Eng, penerangan disini terpancar dari dua buah batu mustika.

Co Kang Cay memilih kamar ini dianggapnya tempat yang aman, karena jarang di datangi oleh Seng Eng. Kamar-kamar batu rahasia disitu, merupakan gudang hartanya Seng Eng. Atas pengunjukan Co Kang cay supaya si pemuda dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana besar hartanya Seng Eng.

Ho Tiong Jong pergi ke kamar sebelahnya dimana benar saja terdapat harta benda yang tak ternilai harganya. Di atas meja panjang ia lihat ada tersebut barang mustika, mutiara dan sebagainya yang sangat berharga.

Lebih jauh ia lihat ada tujuh buah koper besi, ia membukanya koper itu isinya ada barang barang yang terbikin dari bahan emas. Ditaksir timbangan koper itu ada puluhan ribu.

Setelah puas melihat-lihat dalam kamar harta itu, Ho Tiong Jong balik lagi kekamar dimana Co Kang cay ada menantikan padanya.

"Bagaimana ?" tanya Co Kang cay ketika melihat si pemuda menghampiri padanya. Sambil ambil tempat duduk. l Ho Tiong Jong menjawab. "Ya, betul-betul aku seumur hidupku baru melihat harta yang demikian besarnya, Tujuh buah koper penuh dengan emas sedang diatas meja ada berserakan benda-benda mustika, berlian, batu kumala, mutiara dan sebagainya. Betul-betul Seng Pocu ada satu hartawan besar... " Ia berkata sambil menghela napas.

"Hei, kenapa kau menghela napas?" tanya co Kang cay.

"Ya." katanya lesu, "kalausaja aku tidak merasa hutang budipada nona seng, aku pasti akan mencari akal untuk mengambil harta benda itu dan kemudian dibagi-bagikan kepada orang yang melarat supaya mereka dapat bernapas legahan dalam penghidupannya yang serra sempit."

"Bagus, Tiong Jong," kata sikakek sambil mengelus- elus jenggotnya, kau yang begini muda mempunyai pikiran begitu dermawan, kelak di kemudian hari kau akan mendapat pembalasannya. Memang benar, kalau harta kekayaan itu kita bagi-bagikan kepada orang miskin, tentu mereka merasa sangat berterima kasih dan akan membalas budi pada kita... "

"Tidak. lopek" memotong Ho Tiong Jong, "bukan maksudku untuk menerima pembalasan budi, Aku kalau sampai dapat membagi harta kepada pihak si miskin, aku sudah merasa puas dan tidak mengharap akan pembalasan budinya mereka."

Demikian mereka melamun, jikalau menguasai harta akan dibagi bagikan kepada rakyat miskin-

Selagi si kakek tersenyum-senyum sambil mengurut- urut jenggotnya, tiba tiba ia seperti kaget dan berkata pada Ho Tiong Jong.

"Tiong Jong, bukankah kau sudah berjanji dengan nona Seng? Kini sudah dekat jam tiga, kau harus pergi kesana, Harap kau lekas pergi dan cepat kembali, aku disini kesepian di tinggal sendirian."

"Tidak apa," jawab Ho Tiong Jong bersenyum, " lambat-lambatan sedikit tidak menjadi soal, asal aku pergi menemuinya. Kau jangan kuatir, aku pergi dan tidak lama akan balik kembali."

Ia lalu meninggalkan Co Kang Cay, tapi di luar ia merandek dan memikirkan halnya Sikakek yang sudah dua puluh tahun ditahan sungguh tersia sia kepintarannya selama dua puluh tahun itu tak dapat digunakan-

Pikirnya, baik sekali kalau ia masuk pula ke gua harta tadi dan mengambil beberapa potong emas dan mutiara untuk diberikan kepada Co Kang Cay, ia sudah tua dan tak dapat bekerja berat lagi maka emas dan mutiara itu ada untuk ongkos hidup selanjutnya.

Setelah mengambil putusan, ia lalu mampir lagi keg udang harta tadi, dimana ia mengambil potong emas dua, dua puluh butir matiara. Ketika ia hendak kembali kekamar Co Kang Cay, ia melihat disitu ada patung tembaga yang besar, yang bermula ia datang kesitu tidak diperhatikan-

Kini ia perhatikan patung tembaga yang besar itu. Pikirnya, patung beginian apa gunanya ditaruh dalam gudang harta ini? ia lalu menghampiri dan merabah patung tembaga itu dari kepala sampai kebawah. Dilihatnya dibawahnya ada satu bantalan, ia iseng dan menggosok-gosok bantalan ini tiba-tiba bantalan itu mengeluarkan cahaya dan terbuka. Didalamnya pun ada sebuah perisai gading lebarnya tiga jari dan panjangnya tiga dim, pada gading itu ada benang merah, mulai dari sudut atas bagian kiri terus berputar-putar ketengahnya dan sampai ditengah-tengah sebelah kanan benang itu Sudah-putus, ia tidak mengerti apa rahasianya benda itu, kemudian ia benahi lagi seperti sedia kala, ia balik lagi ketempatnya Co Kang Cay. orang tua itu heran sianak muda balik kembali.

"Kau balik kembali, kenapa, apa tidak jadi menemui nona Seng ?" tegurnya.

"Aku balik kembali membawa ini. "jawab si pemuda sambil menunjukkan emas dan mutiara yang dibawanya dari kamar harta,

"Untuk apa kau bawa bawa yang demikian?" tanya si kakek.

"Kau sudah ditahan disini sudah dua puluh tahun lebih, maka lebih dari pantas kalau kau dapat bagian ini. Maka harap lopek terima ini." sambil diberikan pada si kakek. Co Kang Cay tertawa bergelak-gelak pelahan sambil menerima barang tersebut.

"Hmm Tiong Jong memang betul katamu tadi, Aku harus

mendapat kerugian untuk tempoku yang ditahan disini. Tapi aku tidak mau harta ini, aku mau tempoku itu, Nah, karena sudah ketelanjur kau membawanya, maka kita bagi seorang separuh saja. Kau perlu gunakan untuk diperjalananmu kelak, untukku separph sudah cukup,"

Ho Tiong Jong menolak. tapi setelah dipaksa ia hanya menerima lima butir saja, yang ia anggap itu ada pemberian Co Kang Cay bukannya harta haram.

"Nah, sekarang sudah saatnya aku pergi menemui nona Seng, Aku sudah paham dengan jalanan rahasia disini, maka aku tidak sampai salah jalan- Harap kau baik-baik menantikan disini."

Ho Tiong Jong segera meninggalkan tempat itu sebentar saja ia sudah sampai dikamarnya nona Seng. ia lalu mengetuk jendelanya sampai dua kali, tapi tak kedengaran reaksi apa-apa dari dalam.

Ia sudah hendak meninggalkan tempat itu, tapi di pikirannya tak baik ia mengingkari janji, maka ia lalu mengetok pula sekali. Tapi tak juga mendapat jawaban, Ketika ia hendak pasang kupingnya meneliti, ia mendengar suara mengorok disebelah dalam. Kapan ia menyelidiki dari renggangannya jendela, ia dapat kenyataan yang tidur ngorok itu ada satu pelayan perempuan.

Ia sudah putar tubuhnya hendak kembali, tiba-tiba ia melihat ada berkelebat bayangan orang menuju kepinggir rumah, dimana ia menghilang.

Ho Tiong Jong bercekat hatinya, Apa ia Seng Eng? Badannya kurus dan ilmu mengentenGi tubuhnya bagus sekali.

Tertarik oleh penglihatannya, maka ia lantas mengejar, tidak jadi kembali kekamar rahasianya, ia melihat bayangan orang itu lompat melewati tembok pekarangan, maka ia juga menyusul lompati tembok tadi.

Diluar tembok pekarangan itu ternyata ada lapangan, dan sawah, sedang orang tadi entah kemana perginya tidak kelihatan bayangan-nya. Tapi ia terus mengejar pula beberapa li, tiba-tiba ia hentikan tindakannya karena mendengar seperti ada orang yang sedang bertempur.

Dari suara bentakan-bentakan, ia kenali suaranya Li-lo sat Ie Ya, "Apakah Ie Ya terjebak disini?" tanyanya dalam hati sendiri.

cepat-cepat ia pergi ketempat pertempuran disana, dibelakangnya kebun buah, ia melihat ada tiga orang sedang bertempur. Dua lelaki melawan satu perempuan-

Perempuan yang dikerubuti itu ia kenali betul ada Li lo-sat Ie Ya, sedang yang mengeroyoknya juga ia kenali ada oet-ti Kang dan oet-ti Koen.

Dilihat jalannya pertandingan kelihatan tak menguntungkan untuk le Ya. ia ini menggunakan selendang sutra sebagai senjata, sebenarnya ada meminta banyak tenaga karena orang yang menggunakannya harus menyalurkan tenaga dalamnya ke selendang sutra itu, barulah selendang itu dapat digunakan dengan sesuka hatinya.

Maka Ho Tiong Jong pikir, lama lama le Ya akan kewalahan dan kalah melawan dua musuhnya yang bukan lemah kepandaiannya.

Mengingat le Ya pernah menolong dirinya tempo hari maka perasaan hendak membalas kebaikan orang timbul seketika dalam hatinya. Tambahan ia merasa gemas, seorang perempuan dikeroyok oleh dua lelaki pantes. Tidak ayal lagi ia lantas menyerbu dalam pertempuran membantu Li-Iosat le Ya.

Co Tong Kang yang juga ada disitu telah keluarkan bentakan nyaring. "Hei, kau manusia liar dari mana berani mengacau ditempatnya Seng Pocu"

Tapi Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya putar goloknya menyerang kepada dua saudara oet-ti yang mengerubuti le Ya.

Oet-ti Kang sambil berkelit dari sambaran goloknya Ho Tiong Jong, telah meneruskan serangan pedangnya kepala Li-lo-sat le Ya.

Oet-ti Koen telah menangkis serangan hebat Ho Tiong Jong pedangnya membentur golok sampai lelatu api. Ketika dilihatnya, oet-ti Koen merasa sangat terlihat berduka, karena pedang cit seng-kiamnya telah menjadi gompal karenanya.

le Ya dilain pihak ketika pedang cit-Seng kiam Oet-ti Kang mengarah dirinya lantas gunakan selendang suteranya dengan tipu Sin liong cut hay (Naga sakti keluar dari laut), ia menggulung senjatanya lawan.

Oetti Kang kerahkan tangannya menarik pulang pedangnya, tapi selendang suteranya Ie Ya terus menyerang kearah jalan dari seorang yang penting, Untung co Tong Kang itu waktu keburu menyelak. menggunakan senjata benderanya menahan serangan selendang suteranya Ya, hingga oet-ti Kang terhindar bahaya kena ketotok.

Ho Tiong Jong tidak tinggal diam, dengan gaya co imSu-yang (tiba-tiba lunak berubah keras) yang telah menangkis benderanya co Tong Kang, Golok dengan Panji Api telah beradu, serangan im (lunak) dari Ho Tiong Jong telah berubah menjadi yang (keras) membikin co Tong Kang sangat terkejut, sampai ia mundur dua tindak.

oet-ti Kan mengenali golok yang digunakan Ho Tiong Jong ada golok pusaka, maka ia berteriak.

"Hei, kau jangan berlaku pengecut Kau ini pendekar dari mana, lekas katakan, aku tidak ingin bertempur dengan segala orang yang tidak punya nama." Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.

Ie Ya sekarang sudah mundur, menonton penolongnya bertempur dengan co Tong Kang, Diam diam ia heran sebab apa pemuda tidak dikenal ini telah turun tangan membantunya.

Ho Tiong Jong sebenarnya menyerbupada saat mereka bertempur, maksudnya supaya Ie Ya lekas-lekas melarikan diri, tapi kenyataannya tidak demikian, Ie Ya daripada angkat kaki malah diam menonton dipinggiran, Hatinya jadi gelisah.

Ho Tiong Jong dikeroyok co Tong Kang dan oet-ti Koen, tapi pemuda itu dengan tenang telah memberikan perlawanannya. Tipu-tipu golok seperti "Bulan keluar bintang lenyap dan Dimana hati melewati perbatasan gunung telah dimainkan oleh si anak muda dengan bagus sekali.

Tenaganya besar, hingga tekanan golok dirasakan oleh co Tong Kang sangat berat, Maka ia tidak berani menangkis goloknya Ho Tiong Jong dengan keras lawan keras, hanya ia mengandalkan kegesitannya untuk menyingkir dari serangan sang lawan-

Dengan gaya Thian lie San-hoa, (Bidadari menyebar bunga) Ho Tiong Jong, menyalakan api membakar langit.

oet-ti Koen yang melihat saudara tuanya tertindih, kuatir pedangnya akaa mengalami nasib seperti pedangnya sendiri gompal, maka ia lalu menyerbu memberikan bantuannya Kini-Ho Tiong Jong jadi dikerubuti bertiga.

Li lo-sat Ie Ya terbengong menyaksikannya pemuda itu sangat gagah dikerubuti bertiga masih tidak kelihatan merasa keder, justru ia sedang bengong, mendadak lihat pemuda itu mendorongkan tangannya kearahnya, angin keras telah menyampok dirinya hingga ia terpental beberapa tumbak jauhnya.

Ie Ya bermula heran, tapi kemudian ia mengerti maksudnya pemuda itu, yalah supaya ia lekas lekas menyingkir dari tempat itu, Maka seketika itu ia telah menyembunyikan diri dibaliknya rimba pepohonan yang jauhnya beberapa tumbak dari tempat pertempuran-

oet-ti Koen yang biasa suka sekali membentak ia telah menyerang dengan pedang gompalnya, Apa mau tangkisan golok bukan main beratnya, hingga tangannya tergetar dan ia sendiri telah sempoyongan mundur beberapa tindak.

Lihay Demikian pikirnya, nyalinya seketika itu telah menjadi ciut.

oet-ti Kang jugapelan pelan telah menarik serangannya, karena ia tahu betul ia bukan tandingannya musuh. Kalau ia memaksa meneruskan pertandingan niscaya kerugian akan dialamkan olehnya.

Tinggal sekarang co Tong Kang, si bayangan kurus yang dikejar oleh Ho Tiong Jong tadi, masih ngotot melayani Ho Tiong Jong, meskipun sudah tahu bahwa ia juga bukan tandingannya si anak muda yang lihay.

Ho Tiong Jong mengerti dua saudara oet-ti itu sudah ciut nyalinya dan tidak berani mengeroyok lagi, maka untuk membikin keder satu lawannya yang masih ngotot ini, pemuda itu telah mengeluarkan tipu tipu serangan bergabung antara partay-partay Siao lim, Bu-tong dan Kun-lun-

Memang dengan tekanan ilmu gabungan itu co Tong Kang kelihatan kewalahan-

Diam-diam ia merasa keder akan lawannya yang tangguh itu. Goloknya berkelebatan menakutkan, hingga dua saudara oet tilang menonton dipinggiran menjadi terkejut dan menguatirkan jiwanya co Tong Kang.

Di waktu sudah keteter, co Tong Kang telah keluarkan ilmunya Thian-bee Heng-gong atau Kuda semberani melayang diangkasa, suatu tipu serangannya yang paling ampuh dan sedikit sekali orang yang dapat meloloskan diri dari serangannya itu.

Badannya co Tong Kang tiba-tiba melesat ke angkasa, dari atas ia menukik, menyerang dengan kaki dan tangannya kepada bahu orang.

co Tong Kang sudah kegirangan, musuhnya tentu bakal kena dikalahkan, bahkan kena ditangkap hidup hidup juga dua saudara oet ti sudah bersiap-siap untuk bantu menangkapnya

Siapa tahu kenyataannya ada di luar dugaan, Tiba-tiba Ho Tiong Jong bersiul nyaring, badannya mendadak kemudianjumpalitan kebelakang, akan selanjutnya mencelat keatas dan melayang turun dalam gerombolan pohon, hingga sekejapan saja ia sudah menghilang dari pemandangan mereka.

oet-ti Kang dan oet ti Koen menjadi melongo karenanya.

Sedang co Tong Kang yang mendapat sasaran kosong, juga tidak kurang kurang kagetnya menyaksikan kepandaian yang luar biasa dari pemuda lawannya itu.

"Hei, bagaimana orang itu bisa meloloskan dirinya? " oet-ti Koen nyeletuk setelah rasa kagetnya hilang. co Tong Kang geleng-geleng kepalanya.

"Aku juga sangat heran," katanya, "orang itu gerakannya sukar dibade, Tadi dia belum habis menjalankan ilmu goloknya, ketika dia melihat aku melesat dan hendak menyerang dengan gaya oei liong (Naga kuning) tidak diduga gayanya itu telah memunahkan serangan tendanganku. sungguh lihay orang itu, entah dia dari golongan mana karena ilmu silatnya yang campur aduk itu dari beberapa partay, Tapi biar bagaimana juga dia adalah musuh yang sangat berat bagi kita dan perlu kita waspada untuk kedatangannya yang kedua

kali."

Dua saudara oet ti diam-diam bergidik mendengar kata-katanya co Tong Kang bahwa orang itu akan datang kedua kalinya, ia tidak sanggup menandinginya.

Mereka telah menarik kesimpulan, orang muda tadi adalah seorang gagu, karena berka lokali ditanya tak memberikan penyahutan-

Sementara itu, Ho Tiong Jong yang masuk dalam gerombolan pepohonan, terus lari hendak balik ke tempat rahasianya. Belum lama ia tari, tiba-tiba mendengar suara bentakan merdu." Berhenti "

Dari bilik sebuah pohon besar lompat keluar seorang wanita yang cantik.

Ho Tiong Jong kaget juga mendengar bentakan itu, maka ia hentikan larinya dan mengawasi kepada wanita cantik yang keluar dari balik pohon-

Kiranya dia ada Li lo sat Ie Ya. Dengan wajah berseri-seri menggiurkan Ie Ya menghampiri Ho Tiong Jong yang sedang kemekmek.

Ie Ya tidak kenali anak muda itu, karena ia masih tetap melebur menjadi hitam dan kumel pakaiannya juga tidak karuan- persis seperti juga seorang pengemis yang sudah beberapa bulan tidak menemukan air untuk mandi.

"Anak muda, kau baik sekali sudah membantu aku barusan" kata ie Ya, seraya menghampiri sianak muda lebih dekat. "Kau siapa?"

Dengan kecepatan bagai kilat ie Ya telah menotok jalan darahnya Ho Tiong Jong yang membuat si anak muda jatuh lemas.

Anak muda itu tidak menyangka ie Ya akan membokong dengan totokannya, maka ia tak berjaga-jaga. Apa maksudnya ia menotok Ho Tiong Jong, bukankah tadi ia dibantu si anak oleh muda itu? Kalau saja barusan tidak cepat Ho Tiong Jong turun tangan membantu, pasti Ie Ya sudah kena ditangkap oleh musuh musuhnya.

Tapi mengapa ia bukannya mengucapkan terima kasih malah sebaliknya telah menotok orang sehingga lemas mendeplok ditanah.

" Hi hi hi... " terdengar ie Ya ketawa agak menyeramkan tapi air mukanya tetap ramai dengan senyuman- "Anak muda kau terlalu pandang rendah diriku, begitu lancang turun tangan membantu aku. Meskipun maksudmu baik, tapi aku Li lo-sat Ie Ya dalam setiap pertempuran belum pernah dibantu orang. Dengan turun tangannya kau tadi, tidakkah kau membuat namaku menjadi gurem? Hm... anak liar dari mana begitu lancang campur urusanku? siapa kau?"

Ho Tiong Jong diam saja, cuma matanya kedap kedip menatap wanita cantik didepan-nya. Hatinya merasa sangat heran atas kelakuannya ie Ya.

Anak muda itu tidak menjawab untuk sekian lamanya, hingga Ie Ya marah dan mau mengayun tangannya menabok

Ho Tiong Jong, akan tetapi tiba-tiba pikiran sehat berkelebat diotaknya.

Ia urungkan telapakannya jalan-jalan dimuka Ho Tiong Jong.

"Ah, aku yang salah." demikian ia menggerendeng sendirian, ia bersenyum manis, jarinya yang halus kembali menotok si anak muda dua kali, satu totokan membuat yang korban tidak bisa bergerak. yang satu lagi membuka totokan pada urat gagunya sehingga anak muda itu kini dapat membuka mulutnya menjawab.

Kiranya barusan makanya Ho Tiong Jong membisu saja karena urat gagunya yang tertotok belum dibuka, Makanya Ie Ya cepat menarik pulang tangannya yang hendak mampir dipipinya sianak muda, karena ia ingat bahwa ia keliru, mana anak muda itu dapat menjawab pertanyaannya sedang totokan pada urat gagunya belum dibuka?

"Nah, sekarang jawablah pertanyaanku barusan." Kata pula

Ie Ya.

"Enci le aku... aku..."

"Hei, kau... kau... " Ie Ya memotong karena ia kenali itu ada suaranya Ho Tiong Jong, Tersipu-sipu ia mengulur jari tangannya membuka totokan pada jalan darahnya si pemuda yang tadi tertotok.

"Enci ie, kau bikin semangatku menjadi terbang" Ho Tiong Jong bergurau.

"Siapa suruh kau diam saja," sahut si nona ketawa manis.

"Siapa suruh kau menotok urat gaguku." jawab Ho Tiong Jong menatap wajahnya yang ayu. Keduanya jadi ketawa geli.

"Adik Jong," kata nona ie. " kabarnya kau sudah mati kena dihajar senjata Tok kim chi ceng ciauw Nikouw tapi kenyataannya kau masih segar bugar begini."

"Memang benar senjata rahasianya nikouw mampir dimulutku, tapi tidak terus masuk ketenggorokan. "

"Sebabnya?"

"Mana dapat senjatanya lewati giginya^" "Ah, adik Jong, apa benar?"

"Kalau tidak percaya mana dapat aku sekarang berdiri di hadapanmu?"

Li lo-sat ie Ya geleng-geleng kepalanya. "Adik Jong, betul-betul aku tidak nyana kau dalam beberapa hari saja tak ketemu kepandaianmu sudah begitu tinggi, seperti dapat mengalahkan co Tong Kang, salah satu tokoh terkuat dalam "Perserikatan Benteng Perkampungan" kalau saja itu tersiar diluar, namamu akan naik tinggi dengan mendadak dalam dunia Kang ouw. Aku seharusnya mengaturkan selamat kepadamu, adik Jong"

"Enci le, kau berkelebihan," sahut Ho Tiong Jong rendah, "kepandaianku masih cetek dan masih memerlukan didikan orang pandai lebih jauh, orang bagaimana aku sekarang dapat pujian begitu muluk dari enci."

"Tapi sebenarnya kau dapat pelajaran dari mana sih?" tanya si nona penasaran-

"Ah, itu hanya dengan cara kebetalan saja. Tapi biarlah lain kali aku nanti menuturkan padamu, sekarang enci mau pergi kemana?"

"Aku mau pergi dari sini."

"Apa kau tak kuatir nanti dicegat dijalanan?"

"Mereka tidak berani lagi, Barusan kalau mereka dapat menangkap aku, mungkin susah akan aku dapat meloloskan

diri."

Ho Tiong Jong merasa heran, ia menanyakan dari sebab apa si nona kena dikeroyok oleh dua saudara oet ti. Dari roman mereka kelihatannya begitu gemas dan seperti mau menelan si nona.

Ie Ya bersenyum-senyum, "Kau tidak tahu meskipun kelihatannya akur dalam "Perserikatan Benteng perkampungan- sebenarnya telah retak. Sudah terpecah menjadi tiga partai, masing-masing berusaha memperkuat partainya sendiri untuk kelak dapat menjagoi dikalangan rimba persilatan- Dua saudara oet-ti itu tidak termasuk dalam komplotanku, mereka telah menerima perintah dari atasannya, sekarang setelah mereka gagal, buat sementara aku dapat berlalu dari tempat ini dengan--selamat. Lain urusannya kalau dikemudian hari kita berjumpa pula."

"Ooh begitu," nyeletuk Ho Tiong Jong.

Kembali Ie Ya memperlihatkan ketawa nyayang manis menarik. "Adik Jong, kau kenapa sampai sekarang masih belum juga berlalu dari sini?"

"Enci Ie, kau mau suruh aku pergi ke-mana? kau tahu kekuasaannya Seng Pocu ada sangat luas dalam daerahnya ini, kalau tidak dengan pelahan-lahan menggunakan akal mana aku dapat lolos dari kejarannya, Lain dari itu, juga aku masih ada urusan-... "

"Hm urusan-.." menggerenden Gie Ya.

Mukanya yang tadi ramai dengan senyuman mendadak menjadi dingin-"Aku, tahu tentu urusannya... "

"Urusan apa ? Bagaimana kau tahu ?"

"Urusan nona Seng tentu, Kau sudah kejiret keelokannya, maka kau tidak maupergi dari sini, dia sedang keluar."

"Keluar kemana?" Ho Tiong Jong memotong.

Ie Ya mendelu hatinya, ia sebenarnya ada cemburuan dan merasa tidak puas melihat sikapnya Ho Tiong Jong seperti yang lebih memperhatikan dirinya Seng giok cin daripada dirinya.

Maka ia tidak lantas menjawab atas pertanyaan si pemuda, kalau tidak Ho Tiong Jong ulangi lagi pertanyaannya tadi.

"Dia sudah pergi menyusul Kim Hong Jie yang pergi ke lembah Lui soa-kok."

"Hei, ada itu perkara ? Apa maksud Kim Hong Jie pergi kesana ?"

"Ya, Kim Hong Jie pergi kesana dengan cu coan Liang, menyusul tiga orang gila yang bertaruhan mengambil batu Hwe-giok disana?"

"Ada pertaruhan apa encie Ie? sukalah kau menceritakan padaku? Dan siapa mereka yang barusan encie katakan tiga orang gila?"

Ie Ya sebenarnya mendelu hatinya, ia tidak mau orang banyak tanya lagi dan sudah hendak meninggalkan tempat icn, kalau tidak Ho Tiong Jong dengan separuh menatap minta diceritakan halnya Seng giok cin, Kim-Hong Jie dan lain-lainnya.

"Soalnya sederhana saja," kata Ie Ya "lantaran saling kepingin disebut jagoan, maka Khoe Tiong, Tie Kie Song dan Kong soe Tek bertiga telah pergi ke lembah Lui soa kok untuk mengambil batu Hwe-giok di goa Pek cong tong... "

"Untuk apa itu Hwe-giok?" sipemuda menyelak.

" Untuk si nona manis Kim Hong Jie?-" jawab ie Ya separuh menjebi bibirnya.

" Kenapa jadi untuk Kim Hong Jie?"

" Kau tidak tahu, itu Hoan Sian Jie dan Kong Soe Jin setelah menang bertanding di atas luitay, hadiah peblokan sutera yang diterimanya, telah diserahkan pada nona Seng.

Rupanya nona Seng tidak enak kalau hanya ia sendiri saja yang peroleh hadiah itu maka telah mengusulkan pemuda-pemuda lainnya bertanding dan mendapatkan hadiah untuk diserahkan kepada Kim Hong Jie."

"Ada apa hubungan batu Hwe-giok dengan goblogan sutera itu?" kembali Ho Tiong Jong menyelak

Li lo sat Ie Ya pelototkan matanya, "Kau dengar dahulu orang ngomong, jangan saban-saban memotong, Mana kau mengerti kalau belum aku habis menutur." kata Ie Ya.

Ho Tiong Jong ketawa nyengir, ia berasa salah, maka ia lalu berkata, "lya, iya dah, aku salah. Teruskan ceritamu enci Ie Ya yang baik."

Kembali ie Ya pelototkan matanya, hanya kali ini matanya melotot tapi mulutnya yang mungil menyungging senyuman geli.

"Makanya, kau dengar dulu aku cerita." katanya, "tiga pemuda itu sebenarnya hendak mengadu kepandaian diatas luitay, tapi tiba-tiba itu si Goen menyelak dan mengatakan bahwa pertandingan adu silat sudah bosan mendapat hadiah sutera sudah bukan model baru, paling baik, katanya, bertaruh pergi kegoa Pek-cong-tong mengambil Hwe-giok untuk dihadiahkan pada nona Kim Hong Jie. Barulah itu ada harganya." katanya.

"Mereka yang mau main jago-jagoan, lantas saja bersedia untuk melakukan pertaruhan itu, meskipun mereka tau bahwa orang yang pergi kesana bukannya tidak berbahaya."

Sampai disini nona ie berhenti sebentar. Matanya yang bagus menatap mesra pemuda didepannya, " kenapa kau tidak menyelak?" tanyanya.

Ho Tiong Jong melengak, "Bukankah enci bilang aku dengan menyelak?" tanyanya. Ie Ya menekap mulutnya, menahan ketawa nya melihat kelakuan Ho Tiong Jong.

"Betul- betul kau bisa pegang janji," si nona kata sambil tersenyum.

Ho Tiong Jong juga tersenyum. suatu senyuman yang membuat hatinya ie Ya berduka sebaiknya dari bergembira, Kenapa? itulah karena diam-diam ia berpikir.

"Pemuda ini dicintai oleh Giok Cin dan Hong Jie sepasang jelita yang sukar mendapat tandingan kecantikannya maupun ilmu silatnya, Aku yang dikenal sebagai Kepala iblis Wanita, apakah ada harapan menempati hatinya pemuda ini? oh, kejadian itu mungkin hanya bisa terjadi dalam impian belaka."

Berpikir demikian maka wajahnya yang barusan ramai dengan senyuman lantas berubah duka dan dingin.

"Hei, kau kenapa, enci Ie?" tanya Ho Tiong Jong heran melihat perubahan itu. Si nona menghela napas,

"Tidak. " jawabnya, "Nah, Dengarlah aku cerita terus."

Ie Ya lantas menceritakan ceritanya tentang tiga pemuda yang pergi ketempat berbahaya itu telah menimbulkan rasa kuatir di- kalangan jago-jago tua dan muda, Mereka kuatirkan keselamatan tiga pemuda itu terhadap si kakek aneh souw Kie Han yang ganas, penghuni dari goa Pek-cong tong.

Kim Hong Jie yang turut memikirkan halnya tiga pemuda itu, yang telah pergi kesana karena gara-gara dia juga, merasa tidak enak hati diluar tahunya jago jago tua dalam Seng kee-po itu, dengan mengajak co Goan Liang telah menyusul kesana.

Sebagai penutup ceritanya, ie Ya berkata "Seng Giok cin dan Kim Hong Jie ada satu komplotan, tidak heran kalau Giok Cin hatinya merasa tidak enak mendengar kepergiannya Hong Jie dan iapun telah menyusul kesana. Karena itu, kedatanganmu untuk menemui Giok cin jadi kecele... hi hi

hi... "

Ho Tiong Jong jadi melongo mendengar keterangannya ie

Ya.

"Habis, apa kepergian mereka itu dibiarkan saja." tanyanya, ketika tersadar dari melongonya

"Sudah tentu tidak- tolol. Kawanan- kawanan tiga orang gila itu, yang mahir ilmu silatnya sudah pada menyusul pertandingan adu kepandaian diatas luitay dengan sendirinya dihentikan, karena Seng Pocu dan kambratnya pada menyusul

juga."

Ho Tiong Jong menjublek. pikirnya melayang kepada Seng giok cin dan Kim Hong Jie, pikirnya orang tua aneh dari goa Pek cong-tong memang sangat kejam dan telengas kabarnya tapi disamping itu juga disana pun dipelihara banyak kutu, ular, dan lainnya binatang berbisa, kalau tak sampai terbinasa ditangannya kakek aneh Souw Kie Han, mereka disana pasti akan menemui kematiannya karena diantuk oleh binatang-binatang beracun. Belum kembali ingatannya mendadak ia mendengar Ie Ya berkata.

"Adik Jong aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu barusan, memang harus aku akui kalau kau tidak datang, entah bagaimana dengan diriku kena dikeroyok oleh mereka itu. Aku masih ada urusan, maka sampai disini saja kita berpisahan-"

Ho Tiong Jong melihat si gadis sehabis-nya mengucapkan kata-katanya dengan segera mengangkat kakinya hendak berlalu cepat-cepat ia mencegah.

"Eh, encie le tunggu dulu"

Si nona merandek dan menoleh pada Ho Tiong Jong. "Ada apa lagi?" tanyanya.

"Boleh kah aku minta pertolongan encie?"

"Dalam hal apa?"

"Aku ada mempunyai sahabat seorang tua, yang belum lama aku tolong keluarkan dari rumah penjara berair, Dia sudah dua puluh tahun disiksa dalam penjara, aku kasihan, ia merindukan melihat matahari lagi dalam usia tuanya."

"Siapa orang tua itu, sampai tahan disekap begitu lama ?"

Ho Tiong Jong lalu menuturkan dengan ringkas halnya co Kang cay dan ie Ya yang mendengarnya telah anggukkan kepalanya,

Setelah ia kerutkan alisnya yang lentik halus, seperti ia sedang menimbang-nimbang lalu berkata.

"Aku harus menbiwa ia kemana?"

"Bagaimana kalau ke Yang-co apa tidak kejauhan?" tanya Ho Tiong Jong bersenyum.

"Jauh atau dekat, kalau memang mau menolong tidak menjadi soaL" jawab si nona sambil melirikan matanya yang jeli dan bersenyum menggiurkan.

"Terima kasih, kau baik sekali enci, Aku sebenarnya tidak ingin membuat berabe encie. kalau saja aku ungkulan untuk menerjang keluar dari tempat ini. Barusan aku ketemu encie, lantas mendapat pikiran untuk menyelamatkan orang tua itu, tidak ada jalan lain yang lebih sempurna dari pada minta pertolongan encie, Dengan dimasukkan dalam kereta encie, orang tua itu akan selamat dari tempat mereka disini, Nah, encie tunggu sebentar, aku akan ambil orang tua itu kemari." Ie Ya angguk kan kepalanya.

Ho Tiong Jong lantas berlalu, Dengan kepandaiannya mengelilingi tubuh dalam tempo sebentaran saja ia sudah kembali dalam kamar rahasianya, di mana co Kang cay sedang menanti-nantinya .

"Tiong Jong, kau sudah balik? sungguh kesepian ditinggalkan olehmu." kata co Kang cay dengan muka berseri seri.

"co Lopek sungguh kebetulan sekali aku ketemu dengan encie ie. Dengan pertolongannya, kau dapat pulang ketempatmu di Yang-co." kata Ho Tiong Jong dengan muka berseri-seri girang.

co Kang cay masih belum mengerti duduk -nya, tapi setelah ia diberi keterangan tentang Ie Ya hendak menyelamatkan dirinya sampai ditempatnya di Yang co, orang toa itu kegirangan- Sambil mengurut-urut jenggotnya ia berkata, "Tiong Jong, aku betul-betul merasa girang mempunyai sahabat seorang muda seperti kau ini. Aku harap- setelah kau disini membereskan kewajibanmu, kau lekas-lekas menyusulku kesana." Ho Tiong Jong ketawa sambil anggukan kepala.

"co lopek. asal saja aku masih bernyawa pasti aku akan

menyusul kau kesana dan "

"Tiong Jong." menyelak si kakek, "kau jangan berkata begitu di lihat dari air muka-mu, kau ini bukan macam orang yang pendek umur. Rejekimu besar meskipun kau mengalamkan banyak bayangan dalam perjalanan hidupnya akhirnya kau akan menjadi seorang yang ternama. percayalah pada aku si orang tua."

Sebelum orang tua itu berkata habis, Ho Tiong Jong sudah tidak memberi ketika lagi, dengan cepat ia meny amber tubuhnya dan di gendong keluar dari tempat rahasia itu. sebentar saja mereka sudah berada ditempat, dimana Li lo sat Ie Ya sudah menanti dengan keretanya.

Kusirnya berbadan tegap. tinggi besar. umurnya kira-kiranya tiga puluh tahun-

Roda-roda kereta telah dibungkus, rupanya supaya jangan menerbitkan suara berisik keluar dari tempat itu.

Ie Ya membantu Ho Tiong Jong memasukkan co Kang cay kedalam kereta, setelah selesai Ho Tiong Jong berkata pada Ie

Ya.

"Enci ie, kau sudah bermusuhan dengan-.. "

"Aku dapat pergi" jawab Ie Ya bersenyum manis,

"Aku kuatirkan-... " Ho Tiong Jong belum lampias bicara sudah dipotong oleh Ie Ya katanya.

"Kau kuatirkan aku mendapat celaka dari pihaknya Seng Pocu? IHm... mereka tidak membuat susah padaku, asal saja aku tidak tertangkap malam ini. Kita akan berhadapan sebagai sahabat meskipun dalam hati masing-masing ada mempunyai rencana sendiri.

Kau jangan kuatir, Tiong Jong, kita berpisah sampai disini, tidak lupa aku mengucapkan sekali lagi terima kasih atas bantuanmu barusan-." Ie Ya tutup bicaranya dengan mengerlingkan matanya yang memikat.

Tiong Jong hatinja berdebar sejenak. Tapi lekas ia dapat menetapkan ketenangannya kembali "Encie ie, selamat berpisah. Semoga kau selamat dan dilain ketika dapat berjumpa kembali, tapi... "

Ho Tiong Jong mengelah napas dengan tiba-tiba hingaa ie Ya jadi terperanjat. "Kau kenapa. Tiong Jong?" tanyanya.

"oh. tidak apa apa, selamat tinggal harap saja encie

dapat mengantar co lopek sampai ditempatnya dengan tidak kurang apa2, Dan co lopek kini kita berpisah." ia meneruskan kata-katanya pada co Kang cay "Harap saja kau baik baik dapat menjaga diri.. "

Ie Ya sudah membuka mulutnya hendak berkata, akan tetapi badannya si pemuda sudah melesat sejauh beberapa tumbak, akan kemudian menghilang dari pemandangan-

Ho Tiong Jong tidak menceritakan terus terang bahwa dirinya bakal mati gara-gara racun Tok kay, maka bicaranya sampai, tapi... " telah terputus.

Ie Ya memandang bayangan si pemuda sampai hilang, lalu menghela napas, terus naik keretanya dan perintah kusirnya untuk segera menjalankan keretanya.

---oooOdwOoooo—

XIX. CUBITAN YANG MENIMBULKAN KENANGAN.

KITA ikuti Ho Tiong Jong. setelah berpisah dengan ie Ya lantas ia lari kegunung Hul-cui-san- dari tempat mana ia memandang ia bisa memandang lembah Liu soa kok dipagi hari.

Dibawahnya sinar mata hari pagi tampak padang pasir yang putih mengasih pemandangan yang indah. Dalam hatinya merasa gelisah memikirkan Kim Hong Jie yang ada kesana, di goa Pek cong-tong tempatnya si kakek aneh yang terkenal ganas dan kejam.

Tiba-tiba ia melihat dua bayangan orang yang naik kuda dikaki gunung sedang menuju ketempat Seng Eng. Lantas saja Ho Tiong Jong mengenali satu diantaranya ada Seng Giok cin, Dalam hati berpikir, apakah Giok Cin sudah kembali dari sana? Mungkin Hong Jie sudah menemukan ajalnya disana, maka Giok Cin sudah kembali dengan tangan kosong? pikirnya tentu tidak ada gunanya ia lama lama dalam goa kakek aneh itu, karena Kim Hong Jie tokh sudah mati. Rupa-rupa pikiran saat itu telah mengaduk dalam otaknya si anak muda.

Bayangap nona Kim yang cantik menarik dengan dua sujennya dikedua belah pipinya yang halus botoh memikat hati, membuat Ho Tiong Jong melamun kennasa yang lampau, dimana ia telah menerima banyak budi dari gadis cilik (Hong

Jie) itu, selama ia belajar silat dua belas jurus ilmu golok keramat- dari engkong nya.

Tanpa disadari dengan pelahan-lahan ia bertindak. Belum lama ia berjalan, ia mendengar disebelah depan ada orang bicara, cepat-cepat ia menghampiri lalu menyelingkar di balik pohon ketika ia sudah datang dekat kepada orang orang yang bicara tadi, yang bicara tadi, yang ternyata bukan lain daripada Hui Siauw ceng yang mukanya kasar dan kakaknya si Hui Sang Kang bersama-sama dengan nona Lauw Hong In-

Pada saat itu tampak nona Lauw air mukanya muram, yang dikesalkan, apa mungkin ia memikirkan perginya Kim Hong Jie ke-tempatnya si kakek aneh, yang belum diketahui bagaimana nasibnya si nona disana? Terdengar Hui Song Kang berkata, " itu putrinya Seng Pocu, Seng Giok cin semalaman suntuk gentayangan tidak berani meneruskan perjalanannya, betul-betul dia bikin kita celaka"

Hui Siauw ceng mengerutkat alisnya "Ya, memang ditempat ini ada sangat berbahaya" katanya. "pasir berjalan (Liu soa) yang harus dilewati sangat angker setiap orang yang berjalan diatas pasti menemukan bahaya yang tidak diingini."

"semua-mua ada gara garanya co Goan Tiong," nyeletuk Lauw Hong in. "orang she co itu telah membunuh musuh dengan meminjam tangannya lain orang, Betul-betul terkutuk perbuatannya itu... " Hui Siauw ceng tidak berkata apa-apa.

Matanya tampak mengawasi disekitarnya. Tiba-tiba ia berkata.

"Seng Kang, coba keluarkan tambang panjang yang digemblok di punggungmu aku hendak mencoba-coba pasir berjalan ini."

Hui Seng Kang terbelalak matanya mengawasi ayahnya. "Ayah . . ." katanya gugup, "Kau kenapa," tanya sang ayah.

"Jangan kita coba-coba menempuh bahaya sendiri Ayah, coba lihat itu gerombolan Seng Pocu, semuanya juga ada membawa tambang, akan tetapi mereka masih belum berani turun tangan"

"Terserah sama mereka," memotong sang ayah dengan mata melotot, " mereka mana dapat menandingi ayahmu, Lekas keluarkan jangan banyak rewel ?"

Hong Tiong Jong kini tahu kalau Hui Siauw ceng itu kiranya ada cungcu dari keluarga Hui, pantasan ia ada demikian sombong dan angkuh, pikirnya

Hui Seng Kang melihat ayahnya berkeras, ia tidak dapat membantah, dangan apa boleh buat menurunkan tambangnya kira kira tiga puluh tumbak. Nona Lauw juga menurunkan tambangnya, diberikan pada Hui Seng Kang untuk disambung menjadi lebih panjang, kemudian diberikan pada Hui Siauw ceng.

Lalu diatur gulungan tambang supaya beres untuk dibawa terbang oleh sijago tua. Tampak Hui Siauw ceng, sambil memegangi ujung lambang yang dibelitkan pada pergelangannya, telah mengerahkan tenaga dalamnya, ia menarik napas dalam-dalam seketika lamanya, tiba-tiba ia enjot tubuhnya melesat seperti- juga anak panah cepatnya meluncur kira-kira dua puluh tumbak jauhnya.

"Adik In" ia berkata "sukalah kau bantu menolong ayahku jangan sampai dia mengalamkan kecelakaan-.. "

Belum habis bicaranya, hatinya kaget bukan main ketika mendengar ayahnya berteriak, " celaka... "

Hai Suuw ceng tampak bergulat dengan pasir, yang hendak menarik masuk ia kedalam. Tampak ia sudah amblas sehingga pinggangnya.

Bukan main gelisahnya Hui Seng Kang, sambil berteriak supaya nona Lauw bantu turun tangan, ia memegangi kencang-kencang tambang dan coba menarik ayahnya keluar dari dalam pasir yang sudah menelan ia sehingga pinggang.

Nona Lauw juga kelihatan kaget, Ia membantu sungguh sungguh pada Hui Seng Kang dan sebentar lagi tampak tambang tercetar.

Kiranya Hui Siauw ceng dengan menggunakan ilmu mengentengi tubuhnya dibantu dengan lambang, ia beruntung dapat lolos dari cengkeraman malaikat elmaut.

Hui Seng Kang menarik napas lega melihat ayahnya kini sudah berdiri ditempat yang aman- Rupanya diatas pasir berjalan itu ada bagian-bagian yang berbahaya dan yang tidak, yang berbahaya ialah yang telah dipasangi alat rahasia oleh si kakek aneh souw Kie Han yang dikendalikan dari dalam goanya, Kini Hui Siauw ceng berdiri dibagian yang tidak berbahaya.

Tidak lama ia sudah enjot tubuhnya dan balik lagi berkumpul dengan anaknya dan nona Lauw. Dengan air muka masih pucat Hui Siauw ceng berkata.

"Aiyaa... betul-betul berbahaya, Baiknya aku yang mencoba, sehingga dapat menghindarkan diri dari cengkramannya pasir ajaib itu. Kita sekarang sudah tahu berbahayanya, maka tidak usah kita tergesah-gesah menyeberangi pasir berjalan ini."

"Tapi, Hui sickhu, bagaimana baiknya dengan toako Khoe cong yang sudah dua hari lamanya disana?" nyeletuk nona Lauw.

"Adik Lauw." Hui Seng Kang menalangi ayahnya menjawab, "apa kau tidak lihat bagaimana berbahayanya ayah barusan? Maka kita tidak boleh tergesa-gesa harus kita berunding dulu bagaimana baiknya untuk menolong mereka yang ada disana." Lauw Hong In bungkam, tapi diam-diam hatinya merasa kurang puas.

"Ya, kau tak perlu gelisah." kata Hui Siauw ceng. "Giok cin yang cerdik tidak berani sembarangan menempuh bahaya, Yang perlu sekarang, sebaiknya kita kesampingkan dahulu kepentingan sendiri harus kita bersatu dalam tujuan hendak menolonGi orang. Dengan demikian barulah bisa diharap kita dapat mengatasi kesulitan dan usaha kita dapat berjalan dengan aman-"

Kemudian, mereka bertiga sambil pasang omong, telah

meninggalkan tempat itu.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan Hui Siauw ceng punyai ilmu mengentengi tubuh demikian mahir, sehingga dapat meloloskan diri dari terkamannya pasir ajaib diam-diam mengagumi pada orang tua itu.

Kini melihat mereka sudah meningalkan tempat itu diam-diam mereka berpikir, tapi tidak tahu siapa-siapa diantaranya pentolan-pentolan dari Perserikatan Benteng perkampungan itu yang berani menempuh bahaya terlebih dahulu?

"Ya, sebaiknya aku mencari tempat sembunyi, supaya mereka tidak mengetahui aku ada disini." ia lalu meneliti disekitarnya tempat itu. Tidak jauh dari tempat ia berdiri kelihatan ada satu batu besar ia menghampiri dan ternyata dibawahnya ada sebuah goa.

"Aaaa... ini ada tempat yang aman-" pikirnya, maka ia

sudah lantas masuk kedalamnya dan disitu ia duduk bersemedi, ia sudah beberapa malam tidak tidur, tidak heran kalau ia sudah kepulasan dan tidur nyenyak.

Tahu-tahu, ketika sinar matahari merah menyoroti tempat itu, membuat ia kaget dan cepat cepat lompat bangun dan keluar dari goa, gunakan ilmu lari cepatnya masuk kedalam rimba yang banyak pepohonannya.

Ia putar otaknya untuk mencari jalan bagaimana ia bisa menyeberangi lembah pasir berjalan itu dengan selamat?

Mendadak ia mendapat suatu cara, Lekas ia gunakan goloknya menebang dua cabang pohon yang kokoh, ia bikin dua batang cabang itu macam tongkat ia gunakan sepasang tongkat itu sebagai gantinya pengunjuk jalan untuk mencari bagian-bagian jalanan yang tidak berbahaya.

Perlahan-lahan ia sudah berjalan diatas pasir ternyata ia tidak mendapat halangan apa apa, Hatinya ia semakin besar, maka ia percepat jalannya dan tidak lama kemudian benar saja ia sudah berada disebrang dibawahnya puncak gunuug Si-ban-leng.

Diam-diam ia bersenyum ewa mengingat percobaan yang dilakukan oleh Hui Siauw ceng yang tidak berhasil. Pikirnya, ia ada lebih pandai menggunakan akal dan sudah bisa sampai dengan selamat ditempat tujuan- Tapi Ho Tiong Jong tidak tahu, bahwa ia bisa selamat menyebrangi lembah pasir berjalan karena alat rahasianya tidak dikerjakan oleh Souw Kie Han-

Kakek aneh itu pada saat Ho Tiong Jong menyebrangi padang pasir yang angker itu, sedang nyenyaknya tidur, karena terus-terusan dua hari dua malam tidak tidur karena mendapat gangguan dari orang-orangnya Seng Kee Po.

coba kalau sikakek dalam sadar, tentu tidak begitu mudah Ho Tiong Jong dapat melalui padang pasir berjalan itu, kalau tidak sampai ia mengalami celaka karena ditelan oleh pasir seperti kejadian dengan Khoe cong dan kawan-kawannya.

Ho Tiong Jong setelah berdiri sejenak. mengawasi padang pasir yang ia telah lewati barusan, lantas membuang sepasang tongkat kayunya.

Anak muda itu bukannya takut mati ditelan pasir, ia makanya ingin selamat sampai disebrang, karena hatinya ingin menolongi Kim Hong Jie.

Untuknya, kematian tidak memjadi soal, karena ia tahu ia tokh bakalan mati karena racunnya Tokskay. ia ingin sebelumnya mati ia dapat menolong dahulu orang yang ia hargakan tinggi kebaikannya.

Dilain saat Ho Tiong Jong sudah naik ke puncak gunung, ia lihat banyak sekali terdapat goa-goa, entah betapa banyaknya ia tidak dapat menghitungnya. BELUM berapa tombak ia jalan, tiba-tiba ia berhenti disebuah batu besar.

Ketika matanya memeriksa keadaan disitu, ia melihat dibatu besar itu ternyata ada sebuah goa. orang tidak mudah melihatnya karena kealingan oleh batu besar tadi, Selainnya ini, Ho Tiong Jong dapatkan disana-sini diatas batu-batu ada liurnya dari binatang berbisa yang sudah menjadi kering karena kesorotan matahari. Hatinya berdebar mengingat kemungkinan Kim Hong Jie sudah binasa menjadi mangsanya binatang berbisa.

Ia lalu berjalan masuk kedalam goa, Ternyata dalam goa itu amat bersih, diatas jalannya hanya kedapatan pasir putih, tidak kedapatan sebutir batupun, Mulut goa besar dan tinggi, dinding sekelilingnya ada dari batu kumala putih, begitupun lantainya hingga tampaknya terang dan resik.

Dilihat keadaannya goa ini seperti juga tempatnya orang yang mengasingkan diri, memang membuat orang merasa betah menempati goa ini, keadaannya tentram dan sunyi, jauh sekali bedanya kalau dibandingkan dengan goa yang barusan Ho Tiong Jong masuki dan bersemadi kepulasan, dalam goa yang terdahulu itu selain tempatnya kecil sempit, juga banyak kutu-kutu dan lain-lain binatang berbisa.

Selagi ia terpesona menyaksikan keadaan dalam goa itu, tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum. Hatinya heran, karena ditempat itu dimana ada tanaman bunga karena tidak ada sebatang rumputpun yang hidup disitu. Terdorong oleh perasaan kepingin tahu.Ho Tiong Jong telah memasuki goa itu lebih dalam lagi.

Berjalan tidak lama ia menemui sebuah kamar batu yang terang, Keadaannya kosong tidak ada perabotan apa-apa, ia hanya melihat ada satu pot bunga besar yang digantung setinggi lima kaki pada dinding kamar.

Ketika diperiksa dalampot itu ada ditanami bunga degan pasir sebagai tanahnya, Tampak bunga itu hidup subur dan menyiarkan bau harum sebagaimana yang dapat diendus olehnya tadi

Pot itu berbentuk patkwa delapan persegi makin didekati harumnya bunga makin keras hingga Ho Tiong Jong tidak tahan dan keluar dari kamar itu.

Tidak jauh dari kamar tersebut ada kamar pula, Kamar-kamar batu itu dibangun dengan indahnya dan seperti ada mengandung rahasia. Ho Tiong Jong penasaran lalu keluar goa lagi, dimulut goa ada pintu bikinan alam yang kokoh kuat, Depan mulut goa tanahnya berpasir halus dan empuk ketika ia coba coba berjalan diatasnya, pikirannya didalam goa itu pasti ada penghuninya yang tinggi ilmunya. Apakah ia ada kakek Souw Kie Han yang dimaksudnya.

Dengan menemui kakek itu, pikirnya, ia akan dapat tahu perihal keadaannya Kim Hong Jie apakah si nona masih dalam selamat atau sudah binasa diantuk binatang beracun yang banyak berkeliaran disitu?

Memikir kesitu, lantas Ho Tiong Jong putar lagi badannya memasuki pula goa tadi, Dengan goloknya ia ketok ketok disekitar dinding, seolah-olah ia ada mencari alat rahasianya. Tapi ia tidak mendapatkan apa apa selamanya suara membalik dari ketokan goloknya itu berbunyi mengaung.

Ia masih panasaran, lalu masuk kedalam kamar tadi yang ada pot bunganya.

Setelah memeriksa disekitar kamar tidak ada apa apa yang mencurigakan tangannya iseng sadah mendorong dorong pot berbentuk patkwa itu kekiri, sedikitpun tidak bergerak akan

tetapi ketika didorong kekanan mendadak ia mendengar suara berkelelek danpot itu menggeser tiga dim.

"Aaaa ini tentu kuncinya untuk masuk kekamar rahasia" pikirnya.

Ia lalu yang menggoyang goyangkan pot itu, segera terdengar seperti suara terbukanya pintu. Benar saja Ho Tiong Jong lihat pada dinding kamar batu itu ada terbuka sebuah pintu. Ho Tiong Jong menjadi girang lalu ia memasuki pintu tadi, kiranya disitu juga ada sebuah kamar.