-->

Golok Sakti Bab 14 : Lembah Pasir Berjalan

Bab 14 : Lembah Pasir Berjalan

"TIDAK, nanti aku pikir lagi. Urusan ini tak perlu tergesa-gesa dilakukan, tak begitu penting" kata pula pocu dari Seng Kee Po.

Seng Eng rupanya tidak senang Kim Hong Jie menempuh bahaya ikut-ikutan dengan co Goan Liang.

Pikiran Pocu dari Seng Kee Po ini sama dengan mulutnya sudah didahului oleh kawannya. Kim Hong Jin dan co Goen Liang membungkam. Mereka tidak membantah putusannya Seng Pocu.

Kim Hong Jie makanya berlaku nekad hendak pergi bersama-sama dengan co Goen Lian, lantaran pikirannya menjadiputus asa dengan kematian Ho Tiong Jong pemuda pujaannya.

Ia pikir, tanpa Ho Tiong Jong, untuk apa ia hidup lama-lama dalam dunia, maka lebih baik ia mati sekali ditangannya si kakek aneh supaya rokhnya dapat menyusul Ho Tiong Jong yang sudah pergi lebih dahulu..

Kita kembali menuturkan tiga pemuda yang mengadakan perlombaan-

Kong Soe Jin dan Kong soe Tek tampak sudah berada dipuncak gunung Hui cui-san yang menjulang tinggi. Berdua telah meneliti sekitar tempat itu, melihat kebawah umpak serentetan gunung-gunung kecil sama sekali tidak kedapatan ada sawah dan ladang.

Dari puncak Hui- cui-san tampak lembah Liusoa kok (lembah pasir berjalan) yang dikelilingi oleh gunung-gunung kecil, yalah daerah yang akan dikunjungi oleh tiga pemuda yang berlomba hendak mengambil batu kumala hangat untuk dihadiahkan kepada nona Kim Hong Jie.

Di lembah itu ada terbentang padang pasir yang angker. Yalah orang yang datang ke situ dansalah menginjak kakinya niscaya akan amblas kedalam pasir itu dan tidak dapat ketolongan lagi jiwanya. Bukan saja manusia, juga binatang liar yang salah menginjakkan kakinya akan ambles dikubur oleh pasir.

Siapapun yang datang ketempat itu belum tentu dapat pulang dengan selamat.

Dua saudara Kong itu memandang dengan hati berdebaran ketempat yang bakal dilaluinya oleh Keng soe Tek. Terdengar Kong Soe Jin menghela napas dan sambil menunjuk dengan jarinya berkata pada adiknya.

"Sute, itulah yang dinamai lembah Liu-soa-kok, yang kau akan lalui. Kakek aneh itu tinggal menyepi dalam goa Pek cong tong dipuncak Sin ban leng. Kau harus waspada betul betul. Kalau kiranya tidak ungkulan lebih baik kau balik dengan tangan hampa saja daripada binasa ditempat itu yang tidak ada artinya sama sekali,"

"Kau keliru toako" sang adik menjawab. "Satu laki-laki tidak gentar menempuh bahaya, itulah baru satu jantan tulen. Kenapa kita harus takuti mati? Kalau kita sudah di takdirkan mati, dimanapun kita harus mati. Kau legakan hatimu, aku tidak membuat kecewa namanya suhu."

Jawaban ini berada diluar dugaannya sang engko, Kong Soe Jin menjadi merasa jengah sendirinya, mendengar kata-katanya sang adik yang demikian mantap Meskipun begitu tetap Kong Soe Jin tak tega melepas adiknya. Dalam perjalanan turun gunung, kembali Kong Soe Jin berkata.

"Sute, kau dengan aku ada saudara sekandung, maka tidak perlu kita malu-malu bicara. Terus terang saja aku merasa tak tega melepaskan kau mengunjungi tempat yang berbahaya itu. Usulku, lebih baik kau batalkan saja perlombaan ini dan marilah kita cari tempat sembunyi. Besok pagi-pagi baru kita pulang. Tentu tidak seorang pun yang mengetahui perbuatanmu. . . "

"Hei, toako." memotong Kong soe Tek, "perbuatan ini membuat malu suhu kita, yang waktu ini namanya sedang harumnya dalam kalangan kangouw. Dengan berbuat begitu juga berarti aku tidak memperhatikan pada Kim Hong Jie."

Wajahnya Kong Soe Jin berubah mendengar disebutnya Kim Hong Jie.

Ia bersenyum pada adiknya. "Sute, kalau hatimu naksir pada nona Kim, aku juga tidak bisa kata apa apa atas niatanmu." Katanya dengan nada suara menyayang. "Hanya aku pesan, harap Ialah kau berlaku hati-hati dan dapat kembali dengan selamat. Aku akan menunggu kau disana, digunung yang tinggi itu." sambil menunjuk kesebuah gunung. "orang tidak akan melihat pada

kita."

Kong soe Tek anggukkan kepalanya.

Dua saudara yang terkenal dengan julukannya im- yang Siang-kiam itu, memang ada besar cintanya satu dengan yang lain, tidak heran kalau perpisahannya itu membuat keduanya merasa berat.

Setelah mereka berjalan melewati beberapa gunung kecil, sampailah mereka diperbatasan lembah Liu-soa kok, dimana ada terbentang padang pasir.

"Aaaa, aku ingin juga mencoba menginjak pasir yang dikatakan berbahaya dan dapat menelan manusia..." tiba tiba Kong Soe Jin berkata, berbareng ia jalan menghampir dan lompat kepasir.

Tiba-tiba mukanya berubah, seperti juga ia mendapat kesulitan- Adiknya yang melihat engkonya dalam keadaan demikian cepat-cepat mengulurkan tangannya menolong sang engko. Tapi ternyata engkonya tak apa apa.

Pasir diinjak oleh Kong Soe Jin tadi bukannya bagian yang berbahaya maka ia berkata pada adiknya. "Aku tidak apa apa. hanya barusan aku gugup lantaran kaget."

Berbareng ia genjot tubuhnya lompat lagi ketempatnya tadi.

"Ya sute, aku hanya dapat mengantar sampai disini saja. Selanjutnya, kau harus menempuh perjalanan sendiri. Aku akan menantimu digunung yang barusan aku katakan padamu, disana aku akan mengawasi perjalananmu sebegitu jauh dapat dilihat oleh mataku."

"Ya, toako, legakan hatimu. Kau boleh kembali, aku akan menjaga diriku dengan hati- hati." jawab Kong Soe Tek. matanya mengawasi pada engkonya dengan perasaan berat.

juga demikian halnya dengan sang engko. Setelah menghela napas panjang, Kong Soe Jin telah berpisahan dengan adiknya dan ia terus naik lagi kegunung Hui-ci-san-

Koen cong diantar oleh nona Lauw Hong In dan dua adiknya si nona bernama Lauw cian dan Lauw Seng, malah Hui seng Kang juga turut mengantarnya.

Mereka berpisahan diperbatasan lembah Liu-soa kok. mereka ini tidak berpapasan dengan dua saudara Kong yang mengambil jalan dari jurusan lain-

In Kle Seng diantar oleh Gong Ci dan cong Yong, dalam mana turut serta juga nona yang lincah, ialah ciauw Soe soe. Merekapun mengantar hanya sampai diperbatasan lembah Lu-soa-kok dan kembali lagi ke gunung Hu-cui san-

Goa Pek oong tong dipuncak Si ban-leng itu berdinding batu buatan alam yang licin sekali. Untuk sampai pada kamar yang tinggi, orang harus melalui tiga kamar batu dan beberapa undakan dari batu yang diatur sangat kokoh dan rapat.

Dalam kamar batu yang tertinggi, di empat penjurunya berjendela satu kaki persegi. Dari jendela kamar ini orang dapat melihat semua keadaan lembah Liu-soa kok, Keadaan dalam goa Pek- cong- long tidak begitu luas.

Pertama masuk orang menemui kamar yang pertama keadaannya sederhana saja. Dinding batunya kasar dan tidak rata.

Kamar yang kedua diperaboti lengkap juga, seperti kursi meja dan tempat tidur yang semuanya terbikin dari pada batu. Suasana dalam kamar ini amat sunyi dan tentram, walaupun luasnya hanya tiga tumbak saja.

Diatasnya jalanan ke kamar ketiga ada sebuah papan batu licin mengkilat yang dapat menutup jalanan- Kamar yang ketiga ini lebar dan luas. inilah ada kamar batu terbesar diantara kamar-kamar batu lainnya.

Didalamnya terang, dindingnya dibuat dari pada batu kamala putih yang amat halus. Penerangan disini dipancarkan dari sebutir mutiara sebesar buah leci yang digantung ditengah-tengahnya kamar.

Perabotannya tampak lengkap. seperti meja kursi, ranjang, lemari buku besar dan lain-lainnya perabotan rumah tangga. Mejanya diberi taplak yang disulam indah, kursinya dikasih bantalan empuk dan pakai sarung yang disulam juga.

Kelambu pembaringan dipajang indah. Dipinggir lemari buku ada sebuah meja panjang, diatas mana ada ditaruh buku-buku dan anglo dari batu giok. Api dalam anglo itu terus menyala. Pada dinding dihiasi dengan gambar gambar kuno-dimana juga ada tergantung sebilah pedang pusaka.

Keadaan dalam kamar itn pendeknya serba resik menarik siapa yang memasukinya. Barang barang yang serba indah dalam kamar itu membuat orang terpesona melihatnya.

Kamar yang diperaboti serba indah ini adalah kamarnya kakek Souw Kie IHan- seorang kakek aneh yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia kang-ouw, dimana dahulunya ia sangat terkenal namanya.

Saat itu ia sedang berdiri di jendela memandang keadaan disebelah luar goa nya.

Tiba-tiba ia berseru. "Eh" Kiranya olehnya telah dilihat ada tiga bayangan manusia yang sedang mendatangi kearah goa nya, mereka sudah dapat melewati padang pasir yang berbahaya.

Jauh ia mengasingkan diri dalam goa nya tidak ada satu manusia yang berani menginjak tempatnya, tapi kini ada tiga orang yang berbareng menyatroni.

Apakah maksudnya mereka? Apakah mereka itu ada orang-orang kuat yang akan mengganggu ketentramannya dalam tempat pengasingannya? Matanya terus mengawasi gerak-geriknya tiga orang itu.

Ia rupanya merasa kaget, karena sampai begitu jauh tampak mereka sudah memasuki daerah puncak si-ban-leng.

Keistimewaan disekitar puncak gunung Si-ban leng adalah gundul (tidak berpohon), hanya batu batu besar saja yang tampak malang melintang, Goa- goa yang terdapat di situ, entah berapa banyaknya menurut katanya orang ada seribu buah goa lebih.

Setiap goa entah berapa dalamnya, tidak terawat dan dari dalamnya menyiarkan bau yang tidak enak untuk hidung. Buruk seperti baunya jamur beracun yang basah.

Diceritakan Khoe Tiong setelah naik jauh keatas gunung, tiba-tiba memalingkan mukanya kebelakang, dilihatnya padang pasir yang berwarna putih, padang pasir yang dikatakan orang sangat angker dan dapat menelan manusia.

Kini ia sudah dapat melewatinya dengan selamat, Tapi kemana dua orang kawannya?

Ia celingukan mencarinya, akan tetapi tidak melihat mereka berdua, hingga diam-diam dalam hatinya yang jahat jelas merasa kegirangan, ia menduga bahwa dua kawannya itu tentu telah ditelan oleh padang pasir yang angker itu.

Ia melanjutkan perjalanannya, tampak di-sekitarrya sudah tidak ada pepohonan yang tumbuh. Hanya batu-batu besar saja yang pada malang melintang seolah-olah yang menghadang perjalanan orang yang berkunjung kesitu. Hatinya diam-diam merasa girang.

Goa Pek-cong-tong sudah berada didepan matanya. Apakah benar disekitarnya hanya kedapatan binatang-binatang berbisa saja? ia menanya pada dirinya sendiri.

Tapi bagaimana juga ia harus dapat membawa Hwe-giok untuk dihadiahkan kepada Kim Hong Jiu, gadis yang memikat hatinya. Siapa tahu, karena hadiah itu nona Kim akan jatuh hati kepadanya dan ia berjodoh dengan-nya.

Ia gerakkan pula langkahnya sampai pada jarak dua tumbak dari ia berdiri ia melihat ada sebuah goa. cepat-cepat ia menghampiri untuk menyelidikinya. Gua disitu amat banyak, dimana ia dapat mencari si kakek aneh itu?

Pikirnya, terpaksa ia harus menyelidiki satu persatu goa. Tapi sampai berapa lama? Ya. apa boleh buat, sudah kelanjur datang kesitu bagaimanapun ia harus berdaya mencarinya di goa mana kakek aneh itu bertempat tinggal.

Satu demi satu goa diperiksanya, Ia menggunakan batu besar dilemparkan kedalam goa untuk mengetahui didalamnya ada penghuninya atau tidak. Sudah ada beberapa goa yang diuji dengan batu lemparannya, semua batu seperti amblas kedalam lumpur. Tidak ada reaksi apa-apa yang menandakan bahwa didalamaya ada penghuninya.

Pada salah satu goa Koe cong hampir kena digigit oleh ular-ular kecil berbisa yang datang berbaris kearahnya dan hendak mencantol kakinya. Untung masih dapat kelihatan, ia melompat tinggi, kemudian menggempur dengan angin telapakan tangannya, hingga barisan ular ular kecil itu terbang berikut batu batu dan pasir.

Dilain goa ia coba lagi dengan pancingannya melemparkan batu ked alamnya. Kali ini batu yang dilemparkannya itu seperti terjatuh ketanah, bukannya kedalam lumpur. ia coba menyelidiki lebih seksama. Kiranya dalam goa itu sangat gelap. Ia lalu membikin api, dengan obor api ia coba masuk kedalamnya.

Tidak dikira, dalam goa itu ada sarangnya belalang. Begitu melihat api, kawaran belalang itu pada menyerbu, hingga Khoe cong ketakutan dan lekas-lekas mundur hendak keluar lagi. Tapi

kawanan belalang yang jumlahnya puluhan ribu, tidak memberi ketika ia meloloskan diri dan menyerbu demikian rupa sehingga Khoe cong pikir jiwanya kali ini akan mati dikerubuti kawanan belalang.

Meskipun ia menggunakan tenaga angin pukulannnya untuk mengusir kawanan belalang itu, hasilnya sia-sia saja. Entah berapa banyak binatang itu yang telah mati oleh gempurannya yang dahsyat, akan tetapi yang menyerbu jumlahnya ada berlipat ganda dari yang mati. Tidak heran kalau Khoe cong telah menjadi kewalahan oleh karenanya.

Sementara itu Kong soe Tek di lain bagian telah mencari goa kakek souw Kie Han juga menggunakan lemparan batu sebagai penanya jalan- Ia juga kena diserbu kawanan semut merah yang galak. hingga keadaannya repot sekali.

Sedang In Kie Seng dilain pihak bekerja cepat ia gunakan kakinya menendang batu-batu yang ada dimulut goa, sebagai alat untuk mencari tahu apa didalamnya goa goa itu ada penghuninya ?

Ia sudah lewati sepuluh goa, akan tetapi belum juga berhasil menemui goa yang diingininya.

Kakek souw Kie Han melihat tegas semua yang diperbuat oleh tiga anak muda itu. Ia kenali orang-orang itu tentu ada dari "Perserikatan Benteng Perkampungan," hanya ia tidak mengerti, dari sebab apa mereka menerjang bahaya datang kesitu?

Ia pikirkan, tindakan apa yang harus diambil terhadap tiga anak muda yang mengacau tempatnya itu? Tiba tiba ia melihat In Kie seng dengan menggunakan perisai dari gading telah menerjang masuk kedalam sebuah goa. Terdengar suara tertawa dingin kakek Souw Kie Han.

In Kie Seng dengan perisainya menggempur dinding disana sini, hingga banyak bagian yang semplak. Ia masuk terus kesebelah dalam. tampak keadaan disitu ada terang. Hatinya berdebaran. Pikirnya, inilah gua yang dicarinya tentu.

Sebelum ia dapat bertindak maju, tiba-tiba ada sebuah batu menghadang didepannya. Bukan main kagetnya. Dibelakang batu itu sudah tidak ada jalan lagi, hanya ia melihat ada sarang laba-laba dengan penghuninya seekor laba-laba hijau yang luar biasa besar, tampak matanya mencorong seperti yang sedang mengawasi pada In Kie Seng.

LABA-LABA besar itu tiba-tiba perdengarkan suara aneh, lalu bergerak menghampiri In Kie Seng, Kaki-kakinya yang runcing hendak mencengkeram tenggorokan orang,

In Kie Seng kaget dan lompat mundur, tangannya berbareng digerakan menyerang, hingga laba-laba itu nyeleweng cengkeramannya, Batu yang telah menjadi pengganti sasarannya kaki-kakinya yang runcing tampak berbekas.

orang she In itu ketakutan dan cepat-cepat lari, apa lacur dimulut goa sudah penuh dengan jaring laba-laba yang berkilat dan sangat lengket, kiranya laba-laba itu bukannya sendirian saja, ada kawan-kawannya lagi yang sama sekali berjumlah sepuluh, hingga membikin In Kie Seng matanya dibuka lebar dan ketakutan setengah mati.

Hampir rata-rata-laba-Iaba itu sebesar kerbau, yang paling kecil ada sebesar baskorn cuci muka.

Bukan main sikapnya menakutkan, mereka merayap dengan keluarkan sinar matanya ya bengis, hendak menerkam korbannya. Dalam gugup In Kie seng lompat keatas batu kemudian menendang batu-batu didekatnya ke arah laba-laba yang kecilan, jitu tendangannya, karena batu yang diiendangnya tadi mengenakan persis pada tubuhnya si laba-laba yang sial, hingga seketika ita juga setelah mengeluarkan suara "cet" telah melayanglah jiwanya. Laba-laba kawannya dalang memakan bangkainya laba laba apes tadi.

Lalu lainnya menyerbu lagi kepada In Kie Seng hingga anak muda itu terpaksa keluarkan kepandaian nya lompat sana dan lompat sini menghindarkan bahaya. Kadang kala ia menyerang dengan batu yang ditendang kakinya atau dengan angin pukulan telapakan tangannya.

Lantas itu, maka untuk sementara In Kie Seng masih dapat menyelamatkan dirinya dari terkamannya kawanan laba laba berbisa itu. Kita melihat Khoe cong yang dikerubuti ribuan belalang.

Meskipun ia berusaha keras menyapu mundur binatang-binatang yang mengerubuti dirinya, tidak juga kelihatan hasilnya, karena kawanan belalang itu makin lama jumlahnya telah makin banyak saja.. pikirnya ia akan mati konyol kalau tidak dapat lekas-lekas meloloskan diri.

Matanya celingukan, tidak jauh dari situ ia lihat ada goa lain, Tanpa memikirkan lagi apa isinya goa itu, ia sudah lantas lari masuk kedalam gua diuber oleh kawanan belalang, yang seolah-olah tidak mau kasih korbannya lolos.

Tapi heran, ketika Khoe cong sudah masuk kedalam goa lain ini, kawanan belalang itu tidak turut nyerbu kedalam. Tampak mereka bergulung-gulung saja diluar goa, tidak ada satupun yang berani menerjang masuk-

Khoe cong pikir, tentu dalam goa itu ada binatang musuhnya kawanan belalang itu yang ditakuti, maka nya kawanan belalang itu tidak berani menyerbu masuk.

orang dengki hati itu tampak lega hati-nya, ia melihat kesekitar tempat, disitu tanahnya demak. banyak rumput basah dan keadaannya kotor sekali. Ia menjadi bengong memikirkan nasibnya nanti bagaimana?

Keluar lagi takut diserbu belalang, tidak keluar lagi disitu keadaannya sangat tidak menyenangkan- Tengah ia berada dalam kebingungan tiba-tiba ia mendengar suara aneh. Ketika ia menoleh kebelakang nya, kiranya disitu sejarak dua tumbak daripada-nya ada seekor binatang tokek yang besar sekali dan bentuknya menakutkan. Binatang itu tengah merayap mendekati kepadanya, celaka ia menghela dalam hatinya.

Kita balik menengok Kong Soe Tek. Barisan semut merah tidak kurang-kurang menyeramkannya, karena bukan ribuan lagi tapi sudar tidak dapat dihitung banyaknya, Kemana Kong soe Tek lari telah dikejarnya hingga orang she Kong itu menjadi mengeluh, ia tidak menyangka, bahwa kepergiannya ke tempat itu akan mendapat banyak halangan yang menyeramkan.

Dengan susah payah ia bisa juga menyingkirkan diri ketempat yang ada lumpurnya. dimana kawannya semut merah itu tidak berani datang dekat, Ada beberapa puluh yang sudah nempel dibajunya dapat dibunuh mati oleh Kong soe Tek.

Matanya celingukan- Tiba-tiba ia dapat lihat tidak jauh dari padanya seperti ada jalanan untuk keluar, melalui jalan kebawah tanah. Hatinya girang karena pikirnya ia bisa meloloskan diri dari serbuannya semut merah yang galak-galak itu.

Ia beristirahat tidak lama, karena begitu ia dapat menenangkan pula pikirannya, lantas enjot tubuh menancap kakinya dimulut jalanan keluar tadi. Untuk sementara Kong soe Tek kelihatan terhindar dari serbuan semut merah yang tak kehitung jumlahnya itu. In Kie Seng dilain pihak terus dikeroyok oleh laba laba besar dan beracun.

Laba laba yang sebesar besar kerbau itu, sangat menakutkan Matanya memancarkan sinar buas, untung In Kie Seng dapat menabahkan hatinya, dengan kepandaian yang ia miliki ia sudah terputar-putar menghindarkan diri dari serangan kawanan laba laba yang sangat bernapsu menyengkeram dirinya.

Disamping senjata batu yang dihidangkan pada kawanan laba-laba itu, In Kie Seng tidak kasih perisainya tinggal nganggur. Dengan kegesitan dan kepandaiannya, beruntun ia sudah dapat membunuh enam sampai tujuh, laba-laba betina yang paling besar, menjadi marah.

Satu yang meluncur di tendang In Kie Seng kearahnya, dengan mata beringas ia sudah tangkis dengan kaki depannya. Batu itu mental balik dan hampir kena menghantam pada In Kie Seng, kalau ia tidak keburu berkelit kesamping menghindarkannya.

"Sungguh berbahaya" diam-diam In Kie Seng mengeluh, Tapi disamping itu, bagaimana juga ia sudah dapat membunuh banyak juga kawanan laba-laba itu, hingga mengurangi bahaya kena dicengkeram oleh kaki-kakinya yang runcing.

Untungnya laba-laba itu tidak mengejar terus-terusan, karena jika melihat ada kawannya mati, dengan sendirinya laba-laba itu berhenti mengejar In Kie Seng ditunda makan bangkai kawannya dahulu, Air hijau yang keluar dari mulutnya laba-laba yang mati menyiarkan hawa busuk. yang hampir hampir membuat In Kie Seng tidak tahan sampai muntah-muntah .

Akhirnya ketinggalan hanya dua laba-laba lagi, dengan begitu In Khie Seng setelah main petak beberapa lama lantas menyingkirkan dirinya kemulut goa dan lari keluar.

Laba-laba betina rupanya penasaran dan menguber tapi terlambat, karena In Kie Seng sudah nerobos masuk kedalam goa lain- Rupanya laba laba itu pikir, tidak ada gunanya ribut-ribut disarang orang lain, maka ia sudah kembali masuk dalam goanya sendirinya.

Dalam sarang laba-laba itu In Kie Seng kehilangan perisainya, yang nyangkut pada jaring laba-laba yang lengket, ia menduga tentu sudah beracun, maka ia sudah tak menghiraukan pula perisai gadingnya yang ia sangat andalkan dalam perjalanan mengambil batu kumala hangat itu.

Dalam goa yang ia masuki itu, ia merasa aman- Tapi perasaan aman itu hanya sebentara n saja, karena ketika ia mengingat kepada perisainya, lantas merasa dirinya tidak aman tanpa perisai ditangannya, perisai itu ada benda pusaka, benda turunan dari leluhurnya maka dengan hilangnya benda itu, apakah ia ada muka nanti ketemu kawan kawannya dalam dunia persilatan?

Memikir kesitu hatinya jadi nekad akan mengambil kembali perisainya yang nyangkut pada jaring laba laba didekat mulut goa. kalau perlu, pikirnya ia harus adu jiwa dengan laba-laba betina yang luar biasa besarnya itu.

Setelah mengambil putusan tetap. lantas ia keluar dari goa menghampiri lagi goa laba-laba tadi, sebelumnya masuk ia telah kumpulkan seikat rumput kering dan membikin api untuk menyalakannya. Dengan api ini, ia menerjang masuk dan membakar jaring laba-laba yang menahan perisainya.

Laba-laba betina menjadi kaget ia tidak berdaya melihat api berkobar, rupanya ia takut. Ia hanya tinggal mengawasi dengan mata bersinar buas kepada In Kie Seng yang sedang berusaha untuk mengambil pulang perisainya.

Setelah mendapat kembali perisainya. dengan segera In Kie Seng meninggalkan goa laba-laba itu dan masuk kedalam goa yang lainnya tadi.

Khoe cong dilain pihak. yang dihampiri binatang tokek yang luar biasa besarnya, lantas mencelat tinggi menyingkirkan diri, ia rapatkan tubuhnya pada dinding didekat mulut goa sebentar lagi ia dibikin kaget melihat sang tokek telah mengulurkan lidah nya yang panjang, ia mengira lidah itu akan ditujukan kearahnya, tapi ternyata diarahkan kelain jurusan ialah keluar apa dimana ada kawannya belalang yang sedang bergulung-gulung seolah-olah sedang menanti Khoe cong keluar lagi.

Kawanan belalang itu seolah-olah sayapnya pada patah sebelah, tidak bisa melarikan diri didekati oleh lidahnya sang tokek, sebentar saja ribuan belalang sudah kena dicaploki oleh binatang raksasa itu.

Seperti juga pada lidahnya itu ada getahnya, kawanan belalang ketika nempel pada lidah sang tokeh ia lantas saja tidak bisa terbang lagi.

Entah berapa ribu banyaknya belalang yang sudah jadi mangsanya sang tokek, hingga binatang itu tampak kekenyangan dan baringkan dirinya disatu sudut. Matanya merem melek, tidurlah ia dengan nyenyaknya.

Pantasan kawanan belalang tadi ketika lihat Khoe cong masuk kedalam goa itu tidak berani menerjang masuk kedalamnya kalau begitu didalam goa itu ada musuhnya yang sakti dan tak dapat dilawan-

Khoe cong untung besar, coba kalau tidak ada belalang yang menalangi menjadi korbannya binatang tokek itu, pasti ialah yang dijadikan mangsanya. Diam-diam Khoe cong telah menarik napas panjang, merasa lega oleh karenanya kemudian ia keluar dari goa itu.

Kong Soe Tek dan In Kie Seng pun sudah pada keluar dari dalam goa berbahaya mereka berkumpul lagi dan berdamai hendak kembali.saja dengan tangan kosong.

Mereka sekarang tidak berani menonjolkan kesombongannya, karena dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana berbahayanya keadaan ditempat itu.

Dari pada jiwa melayang tanpa kepentingannya yang menguntungkan, mereka lebih baik kembali saja dengan tangan hampa, biarpun untuk itu mereka akan menjadi buah tertawaannya orang banyak.

Meskipun demikian, masing-masing dalam hatinya sangat menyesal tidak memperoleh batu Hwe giok. untuk dihadiahkan kepada sijelita Kim Hong Jie.

Kakek Souw Kie Han yang telah menyaksikan semua kejadian yang dialamkan oleh tiga pemuda itu, diam-diam merasa tidak puas. Pikirnya. "Tempatku disini orang sudah tahu tidak boleh dibuat sembarangan tapi tiga pemuda brengsek ini apa- apaan datang mengacau kesini membuat ketenangan menjadi terganggu oleh karenanya? Banyak binatang-binatang berbisa penunggu tempat ini kena dibinasakan oleh mereka, maka kalau mereka tidak dikasih rasa, mana bisa?

Bagaimana nanti katanya orang luar, Kalau mereka dapat kembali pulang dengan selamat. Tidak- aku mesti kasih contoh untuk yang lain-lainnya, supaya mereka tahu keangkeran tempatku. orang dapat datang tapi tak dapat kembali pulang dengan selamat. Ha ha ha... "

Seram juga kalau tiga pemuda itu mendengar tertawanya si kakek.

Souw Kie Han mengawasi perjalanan tigapemuda itu, yang hendak kembali pulang ke- rumah nya Seng Eng.

saat itu matahari sudah mulai naik tinggi.

Keadaan dipadang pasir tampaknya menyilaukan, Khoe cong dan dua kawannya melalui lagi padang pasir yang dikatakan angker itu, mereka kelihatan tenang-tenang saja dan menganggap akan selamat kembali menemui kawan-kawannya di Seng-kee po.

Melihat tiga pemuda itu sudah mulai menginjak padang pasir, Sou Kie Han yang mengawasi dari jendela kamar nya, lantas mengulurkan tangannya memencet alat rahasia, sebentar lagi terdengar teriakannya Khoe coe, yang mendadakan dapatkan dirinya ambas ditelan pasir.

In Kie Seng kaget, tapi sebelumnya ia engah, bahaya apa yang akan menimpali pada dirinya, ia juga tubuhnya amblas ditelan pasir, hingga ia berteriak-teriak minta tolong juga tidak ada gunanya.

Kong soe Tek melihat kejadian itu mukanya pucat seketika, ia coba gerakkan kakinya untuk lari, tapi sang kaki tidak mau menurut perintah hatinya, ia jatuh lemas dan ia juga kemudian telah mengalami nasib serupa seperti dengan dua kawannya kena dicaplok oleh pasir.

Meskipun mereka berontak keras, berusaha untuk keluar dari pasir itu, ternyata tidak menolong balik, makin lama mereka terbenam makin dalam, sehingga sebatas hidungnya. Bukan main ketakutannya mereka, maka satu demi satu sudah menjadi pingsan oleh karenanya.

Souw Kie Han yang menyaksikan itu semua lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh lagi, kemudian ia mengambil lima utas rantai kecil halus dan keluar dari kamar batunya.

Lebih dahulu ia menghampiri sebuah goa dalam mana kelihatan sudah ada dua sosok tubuh orang menggeletak dalam keadaan pingsan-

Siapa mereka itu? Kiranya mereka itu bukan lain dari pada Kim Hong Jie dan Co Goen Liang. Mereka tidak tahu keadaannya si kakek yang terus merantai tangannya masing-masing sambil menggerendeng sendiri.

"Ya, bukainya aku kejam, Tapi karena kalian datang mengganggu ketenanganku, maka kalian boleh terima hukuman ini untuk kelancangan kalian-... "

Setelah menyelesaikan tugasnya merantai dua orang itu dan yakin mereka tidak akan bisa lolos dari dalam goa itu, karena rantai itu diganduli sebuah gandulan yang luar biasa beratnya, ia telah meninggalkan mereka menghampiri pada tiga pemuda yang sedang pingsan, mereka pun dirantai seperti dua yang lainnya tadi.

Rantai itu meski halus bentuknya, kuatnya bukan main, terbuat dari baja murni tak mempan diputuskan dengan pedang yang tajam bagaimanapun.

Sampai disini kita ajak pembaca menengok keadaan dirumahnya Seng Pocu diwaktu malam.

Bulan sabit nampak sebentar muncul dan sebentar lagi seperti selulup dibalik awan tebal, hingga keadaan menjadi gelap.

Malam itu tampak nona Seng sedang berada ditaman bunga yang terdapat dipekarangan belakang rumahnya.

Seng Giok Cin seperti tengah memikirkan banyak soal, karena kelihatannya sebentar duduk termenung-menung, sebentar berdiri jalan mundar mandir dan saban-saban terdengar helaan napasnya.

Memang malam itu Seng Giok Cin dirundung banyak pikiran,

Urusan ayahnya yang mengadakan pertemuan mengadu silat dengan maksud tertentu, halnya Kim Hong Jie menempuh bahaya bersama co Goen Liang pergi ketempatnya si kakek aneh Souw Kie Han diluar tahunya Kim Pocu dan Seng Pocu berdua, Bagaimana nasibnya dengan mereka masih belum tahu.

Halnya tiga pemuda, yaitu berlomba hendak mendapatkan sepotong batu kumala berapi untuk dihadiahkan kepada Kim Hong Jie, masih belum ketahuan nasibnya mereka itu, apakah mereka akan pulang dengan selamat atau salah satu diantaranya menemukan halangan yang tidak diingini?

Yang paling membikin hatinya berdebar kalau ia ingat akan penuturannya Kim Pocu tentang kematiannya Ho Tiong Jong terkena senjata rahasianya ceng ciauw Nikow yang beracun- Meski pada saat ia mendengar kabar itu tidak mengunjukkan reaksi yang menyolok tapi diam-diam dalam hatinya hanya tuhan saja yang tahu.

Ho Tiong Jong meski bukannya satu anak hartawan, satu kongcu tapi tingkah lakunya yang polos dan jujur, serta wajahnya yang cakap menarik membuat nona Seng tidak bisa melupakannya, ia ingin menarik pemuda ini kedalam komplotannya mau menggunakan tenaganya dalam usahanya sang ayah yang hendak menjagoi dalam kalangan persilatan- Akan tetapi ternyata pemuda itu ada keras hati dan menolak keras ketika ia hubungi dan membujuknya. Anak muda itu sekarang sudah mati, Apakah benar dia sudah mati?

Nona Seng masih menyaksikan anak muda itu pendek umur, apalagi kalau ia ingat ketika bertemu dengannya, ia kelihatan segar bugar.

Banyak pemuda-pemuda cakap dari tingkatannya, tidak ada satu yang dapat merebut hatinya Seng Giok Cin. Tapi terhadap Ho Tiong Jong sekali ia pernah ketemu dibawah terang bulan ketika ia menyamar sebagai pemuda pelajar, lantas hatinya sudah jatuh dan tak dapat melupakannya.

"Dia mati..." demikian ia berkata sendirian, ia terbengong sesaat lamanya, kemudian terdengar pelahan napasnya .

Matanya yang jeli tiba-tiba melihat ada bayangan dibalik pohon.

Diam-diam dalam hatinya berpikir, "Malam-malam begini ada orang yang cari mampus."

Ia pura-pura tidak mengetahui ada orang di balik pohon itu dengan maksud hendak mencekuk orang tadi.

Ketika si nona sudah datang dekat, orang itu berkelebat dan sembunyikan diri lagi di balik pohon lain.

Diam-diam Seng Giok Cin merasa kaget juga, karena kegesitannya orang itu ada diluar dugaannya, ia ragu-ragu apakah ia sebentar berhasil mencekuk batang lehernya?

Ia masih tetap berpura-pura tidak mengetahui dan menghampiri pohon dibalik mana orang itu mengumpat. Kira-kira dua tumbak jaraknya dari pohon itu, tiba-tiba Seng Giok Cin membentak.

"Penjahat bernyali besar, jangan lari, nonamu akan bekuk batang lehermu" berbareng ia melancarkan serangan kepada orang itu, yang saat mana rapanya hendak melarikan diri lagi.

orang tahu dirinya diserang, orang itu berbalik dan menyambuti serangan Seng Giok cin bukan enteng, sebab ia mengerahkan tenaganya hampir delapan bagian, tapi heran, orang ini menyambuti serangannya dengan seenaknya saja, sedikitpun tidak bergeming dari tempat berdirinya.

"Penjahat, kau siapa?" tanya nona Seng, ketika melihat serangan dahsyatnya tidak membawa pengaruh apa-apa.

Tapi orang itu tidak menyahut hanya lalu gerakkan kakinya hendak lari lagi, Seng giok cin jadi sengit " orang jahat lihat nonamu akan mengambil jiwa anjingmu" ia membentak. berbareng melancarkan serangannya yang kedua kali dengan tipu Pek-pok ciang-it atau Bangau putih mengibaskan sayapnya."

Serangan ini ada berat, karena tenaga yang dikerahkan oleh si nona hampir sepuluh bagian, tapi herannya, lagi-lagi orang itu dapat menyambuti serangannya dengan seenaknya saja. Malah kali ini ia membalas menyerang dengan mengibaskan lengan bajunya yang mengeluarkan angin keras, hingga si nona terpotong mundur.

Kesempatan ini digunakan oleh orang itu untuk enjot tubuhnya melesat melarikan diri. Tapi si nona tidak tinggal diam, ia mengejar dengan gesit sekali.

"Nona Seng, kaujangan salah paham. Kedatanganku bukannya bermaksud jahat." demikian sinona mendengar orang itu berkata, yang membikin seketika itu ia hentikan mengejarnya dan orang itu pun lantas lenyap dari pemandangannya. Nona Seng berdiri menjublek sekian lamanya.

"dia, apa benar dia ?" akhirnya ia menanya pada diri sendiri

seketika itu lantas terbayang pemuda tampan dan polos didepan matanya. "kalau begitu dia tidak mati, oh, benar barusan ada suaranya dia... "

Seng Giok Cin berkata-kata sendirian, ia seperti mengenangkan seseorang dan orang itu pun bukan lain Ho Tiong Jong adanya.

Memang orang tadi ada Ho Tiong Jong. Karena gelap dan jaraknya pun ada sedikit jauh, maka Seng Giok Cin tak dapat mengenali dengan tegas, Hanya dari suaranya ia kenali betul, itu adalah suaranya Ho Tiong Jong, pemuda yang memikat hatinya.

Dalam bengong memikir hatinya si pemuda tampan itu. Seng Giok Cin kalang- kadang tampak menyungging senyuman-

"Aku tidak sangsikan, benar dia... dia tidak mati... " kembali terdengar si nona berkata kata sendiri, "Tapi, dia sudah datang mengapa sudah lari lagi? Apa maksud kedatangannya kesini."

Si nona jadi meragukan kelakuannya Ho Tiong Jong.

Tapi biar bagaimana, hatinya sudah merasa lega karena kini seolah-olah ada angin mujijad yang menyapu kedukaannya tadi, ia mengenakan akan kematiannya si anak muda.

Perlahan lahan ia berjalan masuk kerumah dan didalam kamarnya ia duduk termenung-menung. Tidak lama, ia memeriksa keadaan kamarnya. Ia menduga jangan-jangan Ho Tiong Jong sudah masuk kekamarnya, karena kedatangannya anak muda itu kesitu tentu mencari dirinya.

Ketika matanya menyapu pada dinding tembok^ hatinya berdebaran, karena disitu sudah tidak kelihatan lagi golok pusakanya, sebagai gantinya ada secarik kertas menempel disitu ia lalu menghampiri dinding itu dan jumput secarik kertas tadi, yang ia baca bunyinya, "Nona Seng, aku harap kau rela meminjamkan golokmu padaku, karena seperti kau tahu, aku paling suka menggunakan senjata golok. Tapi ada suatu hari, aku nanti akan kembalikan padamu dengan tidak kurang suatu apa"

Meskipun secarik kertas itu tidak ada tanda tangannya, Seng Giok Cin tahu bahwa itu ada tulisannya Ho Tiong Jong.

Kembali Seng Giok Cin bengong, secarik kertas ditangannya tanpa dirasa telah diremas-remas, sejenak romannya tampak seperti yang geregetan, Memang ia gemas pada pemuda pujaannya itu, karena itu, karena dia datang dengan cara sembunyi-sembunyi, tidak mau terang-terangan menemui ia, yang sebenarnya ada kesempatan yang baik malam itu mereka berjumpa dalam taman bunganya yang indah.

XVII. LOLOS DARI TAHANAN.

MENGAPA Ho Tiong Jong tidak mau menemui Seng Giok Cin?

Mari kita tuturkan keadaan pemuda itu, setelah ia diperiksa oleh Kim Toa Lip dan co Tong Kang yang dianggapnya sudah mati.

Dengan kecerdikannya Ho Tiong Jong tatkala itu telah dapat melebihi dua tokoh kawakan dalam Perserikatan Benteng Perkampungan- Ia sebenarnya tidak mati,

Tok kim-chi dari ceng ciauw Nikow sudah kena ia gigit, kemudian dibuang kedalam air yang merendam dirinya, tanpa dilihat oleh co Tong Kang yang terus menganggap bahwa senjatanya si nikow mengenakan dengan telak pada mulutnya Ho Tiong Jong, ia telah menggunakan kepandaiannya istimewa untuk membikin dirinya tidak bernapas seperti orang mati, kepalanya teklok dan tubuhnya lemas. Kalau saja ia tidak dirantai pada tiang batu, terang ia bisa rubuh dan tenggelam dalam air.

Kepandaian istimewa itu telah membuat Kim Toa Lip dan co Tong Kang kena dikibuli mentah-mentah .

Tatkala ia melihat dua orang itu berlalu meninggalkan dirinya, lantas ia menyelesaikan pekerjaannya mengikir rantai dan tidak lama kemudian ia sudah merdeka. Kebetulan sekali waktu ia bekerja itu tidak ada orangnya Seng Eng yang melongok dirinya.

Bukan main girangnya Ho Tiong Jong setelah merdeka, ia lalu berdamai dengan co Kang cay bagaimana mereka bisa keluar dari "neraka" itu.

Si orang tua she co, yang mengetahui betul selak-beluknya bangunan penjara air itu lantas menunjukkan jalan keluar, yalah melalui got yang menyalurkan keluar air dalam penjara itu kalau sudah tak diperlukan lagi.

Dengan mengikuti petunjuk co Kang cay tidak sukar Ho Tiong Jong sudah dapat keluar dan penjara air itu dengan melalui got tersebut.

Sampai diluar, ia girang dapat menyedot lagi hawa udara yang segar.

Pikirnya, ia hendak menemui nona Seng, minta penjelasan sebenarnya untuk apa ia di tahan dalam penjara air itu? Keadaan waktu itu sudah malam.

Bulan sabit tampak selulup timbul saja di balik awan yang tebal.

Dengan menggunakan kepandaiannya dalam sekejapan saja ia sudah sampai di rumahnya Seng Eng, saat itu sudah malam, tentu Seng Giok Cin berada dlkamarnya, ia mau pergi kesana, tapi ia tidak tahu dimana letaknya.

Tiba-tiba sedang ia kebingungan dapat melihat ada pelayan perempuan mendatangi kearahnya, ia cepat mengumpat ditempat yang gelap. ketika pelayan itu datang dekat ia sudah sergap dengan tiba-tiba.

Pelayan itu hendak berteriak. tapi keburu diancam oleh Ho Tiong Jong akan dibunuh kalau berani beterlak. maka ia jadi ketakutan setengah mati dan minta ampun-

Dari mulutnya pelayan itu Ho Tiong Jong dapat tahu dimana letak kamarnya nona Seng, maka setelah menotok si pelayan itu jangan dapat bergerak. Ia lantas pergi ke kamar Seng Giok Cin-

Dari jendela yang terbuka ia mengintip. ternyata di dalam tidak ada nona Seng. Kemana dia? Demikian tanyanya dalam hati.

Matanya tiba-tiba memandang pada golok pusaka yang tergantung didinding dekat tempat tidurnya sinona. Hatinya sangat ketarik, maka tanpa dirasa ia sudah manjat dan masuk kedalam melalui jendela tadi.

Dalam kamar keadaannya sangat mewah perabotannya, bau harum menusuk kehidung-nya, hingga Ho Tiong Jong menghela napas, kapan mengingat nasibnya yang buruk.

Ia ambil golok yang menarik hatinya itu lalu dihunusnya dan ia dapat kenyataan itulah ada golok pusaka yang luar biasa tajam.

Mengingat dalam perjalanannya ia memerlukan golok. maka ia menulis di sepotong kertas dan ditempelkan sebagai gantinya dimana golok tadi tergantung, ia percaya Seng Giok Cin tidak akan marah goloknya itu dipinjam, mengingat tempo hari si nona dengan suka rela telah menghadiahkan kepadanya golok berikut kudanya sekali untuk ia pesiar dipegunungan Hui cui-san.

Ia keluar lagi dengan pikiran masgul tidak menemui si jelita.

Tiba tiba ia lewat di taman bunga ia nampak ada bayangan orang yang sebentar duduk dan sebentar berdiri, jalan mundar-mandir dengan saban-saban menarik napas seakan-akan ada yang dipikirkan dalam-dalam oleh orang itu.

Kapan ia datang lebih dekat, kiranya orang itu ada Seng Giok Cin sendiri, yang justeru ia sedang cari. Apa itu yang sedang dipikirkan oleh si nona ia tidak tahu, ia hendak menghampiri dan menegur, tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat suatu pikiran yang mencegah ia berbuat sebagaimana dimaksud semula.

Ia jadi menghela napas dengan diam-diam, Kenapa Ho Tiong Jong tidak berani menemui nona Seng.

Itulah karena pemuda itu pikir, percuma saja, ia banyak bicara, karena tokh jiwanya bakal binasa dalam satu dua malam ini karena pengaruh racun Tok-kay.

Ia tahu si nona ada menaruh hati padanya, ia tahu si nona sangat memperhatikan diri- nya, akan tetapi ia takut bicara terus terang pada nona Seng tentang dirinya terkena racunnya Tok-kay, karena ia tidak mau membikin orang berduka hatinya.

oleh sebab itu, ia jadi mengumpet dibalik pohon mengawasi gerak-geriknya nona Seng, sehingga perbuatannya itu dipergoki dan terjadilah saling serang seperti dituturkan di sebelah atas.

Ho Tiong Jong setelah meninggalkan Seng Giok Cin, lantas masuk pula kedalam penjara air melalui saluran dari mana ia semula keluar. Mukanya berseri-seri, tampaknya ia seperti kegirangan-

Ho Tiong Jong girang? Memang benar, anak muda itu kegirangan, karena ia sekarang sudah mempunyai golok pusaka miliknya keluarga Seng.

Dengan golok ini, pikirnya ia dapat menggempur kamar tahanan Co Kang Cay dan menolong keluar orang tua itu untuk diajak ke kota Yangclo melihat bangunan gunung-gunungan yang aneh yang riwayatnya sangat menarik hatinya.

Pikirnya, kalau saja ia ada jodoh bisa mendapatkan dua benda ajaib itu yang berupa baskom gaib dan patung kumala hangat si cantik, ia selainnya menjadi seorang wangwee (hartawan) yang dermawan, juga ilmu silatnya akan mendapat kemajuan dan mungkin sukar mendapatkan tandingannya.

Demikianlah, dengan penuh pengarapan ia telah mulai menggempur batu kokoh yang mengurung Co Kang cay didalamnya, Perlahan tapi tentu ia sudah bisa membobok tembok batu yang konon yang kuat itu berkat bantuan golok pusaka, akan tidak lama kemudian Ia sudah dapat membikin sebuah lubang dan masuk kedalamnya.

Disitu ia dapatkan siorang tua sedang rebah, parasnya mengunjukkan ketakutan-"Aaaa, lopek" kata Ho Tiong Jong, "akhir nya aku dapat masuk juga kekamarmu."

"Tapi, ah, kau... " orang tua itu terputus bicaranya.

"Kau kenapa lopek?" tanya Ho Tiong Jong.

"Tapi, kau sebenarnya tidak seharusnya membongkar kamar tahananku, nanti kalau Seng Pocu tahu, celakalah diriku."

"Dari sebab itu, kita harus lekas-lekas dapat keluar dari sini" jawab Ho Tiong Jong "mari, kita lekas keluar."

"Tiong Jong, mana dapat kau berbuat begitu, aku sudah tua, tak ada gunanya sekalipun kau dapat menolongnya keluar. Umurku juga sudah tidak seberapa lagi, Paling celaka, manakala aku nanti kena ditangkap lagi diriku akan disiksa, Seng Eng tentu tidak akan membiarkan aku pergi, ia akan mencarinya sampai dapat."

"Lopek, kau jangan banyak berpikir kesitu. Bukankah kau pernah berkata bahwa satu waktu kau ingin melihat lagi sinarnya matahari?" orang tua itu terdiam.

"Lopek. disana diluar kamar tahanan ada menantikan matahari yang akan menyinari dirimu lagi. Dua puluh tahun kau dikeram disini tanpa dapat melihat lagi sinar matahari pagi dan sore, tidak heran kalau kau sangat merindukannya, bukan?" Kembali co Kang Kay tidak memberikan jawabannya.

"Kau tidak mau ikut aku menyingkir dari neraka dunia ini?" tanya Ho Tiong Jong. co Kang cay geleng geleng kepala, "Aku takut, betul-betul aku takut... " katanya.

"Baiklah, kalau begitu peryakinanmu yang sudah dua puluh itu akan percuma saja. Pengharapanmu selama duapuluh tahun itu akan sia-sia... "

"Hai, urusan apa yang kau maksudkan ?" menyelak si orang tua.

"Ha ha ha, lopek, apa kau sudah lupa tempo hari ada berkata padaku, bahwa kau ingin melihat itu bangunan gunung-guuungan yang mengandung rahasia ajaib? Apa bukannya kau yang tadi berkata, bahwa kau sudah yakin akan dapat memecahkan jalanan rahasia di-sana menurut theorimu yang sudah kau yakinkan banyak tahun itu ?"