-->

Golok Sakti Bab 13 : Ho Tiong Jong Mati Lagi

Bab 13 : Ho Tiong Jong Mati Lagi

LUCU sekali kelihatannya si botak dalam keadaan demikian-

Ngo-ho San jin cia Peng San tertawa geli melihat si botak yang sudah tidak berdaya, Ia berkata menyindir.

"Hmm.... botak, kau ini nasibmu sangat jelek. orang satu-satunya yang melindungimu seng Eng, kini sedang repot dengan urusan pertandingan luitay, maka sekarang siapa yang dapat menolong dirimu? Ha ha ha, kau lihat aku nanti akan memapas kedua kupingmu supaya lebih pantas dengan kepala botaknya."

le Yong bukan main marahnya, tapi ia tidak berdaya. ia tidak berani bergebrak lagi dengan lawannya yang ia sudah tahu ada lebih tinggi kepandaiannya dari ia. Maka ia hanya dapat memaki-maki saja.

"orang she cia, perkataanmu ini benar-benar menyakitkan tuanmu. Sampai mati aku tidak nanti daant melupakannya. Tunggu saja nanti pada Suatu hari tuanmu akan mencari kau untuk menagih hutang kekalahannya. Kau ini masuk partay apa? Hmm berani-berani mau berserikat dengan Ho Tiong Jong Apa kau kira kami tidak tahu?"

Hatinya cia Peng San bercekan pikirannya, kalau begitu Seng Eng menahan Ho Tiong Jong dengan maksud tertentu untuk memperalat anak muda itu dikemudian hari. Ia lalu berkata pada Ie Yong.

"Hmm baik sekali kau membuat jebakan macam ini. Sekarang aku mau tanya kau, didalam benteng ini selainnya Seng-Eng dan itu hweshio tua Pek Boe, apakah tidak ada lain orang lagi yang kosen? Mereka hendak menghalangi aku cia Peng San punya kehendak. hmm jangan harap"

Si botak yang sedari tadi merasa dihina dan tak tahan menahan amarahnya yang membuat dadanya seakan-akan mau meledak, maka sudah lompat bangun dan menyerang dengan senjata martilnya bertubi-tubi.

Perbuatan mana ada diluar dugaannya cia Peng San, maka dengan agak kaget ia telah mengegoskan serangan kekanan dan kekiri. Pertempuran kali ini kelihatan sangat ramai. Kedua pihak telah mengeluarkan kepandaiannya yang lihay.

Sementara itu Ho Tiong Jong dilainpihak hatinya merasa sedih, karena cia Peng San hendak menolong dirinya bukan didasarkan atas kebaikan hatinya, jikalau mendengar pembicaraan diantara dua orang itu, cia Peng San juga bermaksud akan memperalat dirinya saja.

Si botak bertempur dengan cia Peng San lama juga, tiga puluh jurus, tapi tampak nyata bahwa ia bukan tandingannya Cia Peng San-

Memikir kalau pertandingan diteruskan, si botak nanti akan keburu mendapat bantuan, maka Cia Peng San setelah mendesak mundur lawannya lantas lompat keluar dari kalangan berkelahi untuk melarikan diri.

"Ha ha ha " si botak tertawa. "Orang she Cia, tanya sebegini saja kemampuanmu menjual

lagak didepan tuan besarmu, sungguh menyebalkan. Mari kembali untuk bertempur dengan tuanmu sampai tiga puluh jurus "

Cia Peng San tidak meladeni diejek demikian- Ia masih berusaha untuk meloloskan diri dari tempat itu. Siapa tahu ketika ia membiluk disatu tikungan didepannya ada menghadang seseorang. Bukan main kagetnya, ketika ditegasi ia rupanya kenali orang yang menghadang didepannya.

"Hei, yang menghadang didepan itu bukan nya cio Lopocu?" tanyanya.

orang itu mengenakan baju hijau dan berjenggot panjang, tidak menjawab atas tegurannya Cia Peng San hingga ia ini menjadi gelisah hatinya. Ketambahan pintu buat ia ke Iuar ternyata sudah tertutup, maka pikirnya ia tak dapat lolos dari tempat itu.

Sayang ia tadi tidak membekuk si botak buat dijadikan, barang jaminan terhadap orang yang menghadang didepannya itu. "Co Lopocu, bukan?" ia mengulanGi pertanyaannya.

"Ha ha, pandanganmu tak salah. Siapakah yang menjebak kau disini?" jawab orang itu. "Ya, pocu sudah tahu kedatanganku kesini, buat apa menanya lagi."

orang itu tertawa dingin. "Bagus," katanya. "Nah sekarang aku mau minta pelajaran dari ilmumu " Gerakan Tangan Sakti" yang mempunyai tiga puluh jalan-"

"Bagus, aku juga ingin menjajal ilmumu "Kuda semberani melayang diangkasa." Keduanya kelihatan sudah siap untuk bertempur.

Ngo ho Sanjin Cia Peng San dengan kepalannya menjaga didada, tangan lainnya membuka jarinya dan menyerang dengan angin pukulan yang santar.

Co Tong Kang (Co Pocu) telah mengerahkan tenaga dalamnya, hingga jenggotnya bergoyang-goyang meskipun tidak ketimpa angin-

Cia Peng San mengirimkan serangan hebat dengan gaya "Di waktu malam mengintai kereta istana" dan "Singa bertahan". Tapi dengan menggunakan kegesitan lompat kesana-sini, Co Tong Kang dapat mengundurkan semua serangan lawannya.

Cia Peng San gelisah hatinya melihat semua serangannya luput, ketambahan ia lihat lawannya sudah mulai menggunakan ilmunya "Kuda sembari melayang keangkasa".

Tubuhnya Co Tong Kang tampak melesat tinggi dari atas ia menyerang musuhnya dengan tangan dan kaki berbareng di kerjakan- Sebetulnya ilmu ini hanya untuk menyerang, tidak untuk menjaga diri. Genanya untuk membikin musuh tak dapat melarikan diri.

Cia Peng San tidak tahu serangan macam ini, maka dengan dua tangannya ia menyerang kedadanya sang lawan yang masih melayang diudara, Co Tong Kang tahu serangan lawan ada hebat maka tidak sembarangan ia menyambut. Ia meluncur turun dibelakang nya Cia Peng San, kemudian dengan satu gerakan manis sekali ia buat Cia Peng San terpental dan tubuhnya membentur dinding, kemudian rubuh meloso ditanah."

Cia Peng San merangkak bangun, ia maksudnya hendak menyerang lagi musuhnya, tapi diurungkan ketika dalam otak berkelebat pikiran lebih baik lari. Maka begitu ia sudah dapat menegakkan badannya sudah lantas kabur meninggalkan musuhnya.

co Tong Kang melengak. Ia tidak mau membiarkan musuhnya melarikan diri, maka lantas menguber. Pikirnya, kalau Ie Yong bisa mencegat larinya cia Peng San, tentu pecundang ini dapat dibekuknya. Tapi siapa nyana, setelah ia menguber melewati dua kamar batu ia dapatkan sibotak sedang membentak-bentak dan mundur mundur seolah-olah barusan ia habis dikerjai orang.

"Kau kenapa?" tanya co Tong Kang.

"Barusan aku kena dikerjai orang," jawabnya sambil mengusap-usap sikunya. "cia Peng San yang barusan datang ke-sini?"

"Bukan-"

"Hei, siapa lagi orangnya yang datang ke sini?" co Tong Kang berCekat hatinya. "Dia mengenakan kedok hitam," jawab si botak. "Menggunakan kedok hitam?" co Tong Kang mengulangi, heran.

"Ya. dia berkedok hitam dan pakaiannya juga serba hitam. Aku sedang lengah di kamar batu ke satu telah dipukul olehnya hingga aku mundur kesini. Aku tidak perhatikan pengawakannya, tapi dari gaya pukulannya seperti pukulan Ie su-pit (pit sejarah) dari Han Siauw ceng."

"oo, pantasan kau tidak berdaya, kalau orang ini yang menyelusup kesini. Kalau begitu kecuali dia tentu masih ada lain lain nya yang menyelusup kesini." si botak hanya memandang pada co Tong Kang yang sedang meng urut-urut jenggotnya.

"Jadi kau sudah buat terlepas cia Peng San bukan?" tanya co Tong Kang.

"Aku bukan sengaja membuat dia terlepas," jawab si botak. "Aku baru saja mau masuk ke jalanan got untuk mencegah larinya orang she cia itu. mendadak dari belakang aku sudah di serang orang. cepat aku menggosok serangan dan memutar tubuh menangkas susulan serangan orang itu, Tapi dia ada sangat tinggi ilmu silatnya, karena terus menerus aku dicecer dan mundur sampai ke-sini. cia Peng San menggunakan aku kedesak begini, rupanya dia sudah melarikan dirinya."

co Tong Kang manggutkan kepalanya. "Ya, si orang tua she Hui sudah muncul, aku tidak dapat mempersalahkan kau. sekarang kau berlaku sebagai mana biasa saja menurut rencana yang telah diatur. Nah, ini aku kasih dua butir pil, satu untuk dimakan dan lainnya untuk- dipakai diluar menyembuhkan lukamu. Tidak lama kesehatanmu pulih kembali." co Tong Kang berkata sambil menyerahkan obatnya.

"Terima kasih, Pocu." kata si botak dengan perasaan penuh terima kasih. Tidak lama kemudian telah menghilang dari situ.

Sementara itu Ho Tiong Jong dalam kamar tahanannya tiba tiba melihat munculnya si botak dekat pintu besi, siapa telah berkata.

"Hei, Tiong Jong, kaujangan ngimpi hendak kabur diluar penjagaan sangat rapihnya, kau tahu?"

Ho Tiong Jong mendongkol mendengar kata-katanya si botak ia menjawab.

"HMM botak. disini kau jangan menunjukkan botakmu yang buruk itu, apa kau anggap

kebagusan? Kalau tuanmu mau melarikan diri, jangan lagi kau, setan sekalipun tak dapat mencegahnya, kau mengerti?"

Ie Yang berteriak gusar, Ia paling tidak suka kalau kepalanya yang botak dipakai bahan omongan- Tapi kegusarannya tak dapat ditumplekkan kepada pemuda itu, karena ia tahu kalau Ho Tiong Jong sampai kenapa-apa nona Seng tentu tidak akan memberi maaf kepadanya. Malah Seng Pocu kelihatan menghargai pada pemuda ini.

Kalau terhadap lain tahanan ia boleh punya suka. Tapi ia tidak puas, maka ketika meninggalkan Ho Tiong Jong ia berkata.

"Hmmm Tiong Jong, kau jangan terlalujumawa. Ada satu hari nanti kau tahu bahwa aku Ie Yong bukannya seorang yang gampang-gampang dihina." Ho Tiong Jong geli dalam hatinya melihat tingkah lakunya si botak.

"Hei, botak kau tidak rela? Aku nanti perlihatkan padamu, bahwa aku tidak sukar lolos dari sini." demikian Ho Tiong Jong temberang.

si botak mendelik matanya. "Tiong Jong, kau jangan banyak tingkah. Kalau benar kau bisa meloloskan diri dari sini, aku Ie Yong dengan sukarela akan menghadiahkan kepalanya sebagai tanda penghargaan, ha ha ha^.."

Si botak penuh keyakinan Ho Tiong Jong biar bagaimana juga tak dapat meloloskan diri dari situ. Selalu ia yang menjaga, juga ada Co Tong Kang. Kalau ini dapat dilewati, masih ada Pek Boe Taysu dan seng Pocu yang akan datang memberikan bantuan mencegah larinya anak muda itu.

Dari sebab keyakinannya itu. maka ia dengan temberang telah berkata hendak menghadiahkan kepalanya kalau Ho Tiong Jong benar-benar dapat keluar dari benteng yang kuat itu.

Ho Tiong Jong mendongkol juga mendengar kata-katanya si botak.

"Hei, botak." katanya, "kau dikalangan kangouw bukan sudah punya nama juga?Jangan kau seperti orang penjual obat dijalanan saja boleh mengeluarkan perkataan sesuka hatimu. Kalau aku betul sudah dapat meloloskan diri dari sini. kaujangan mungkir untuk menyerahkan kepalamu yang botak"

Ie Yong tertawa dingin sambil tepok dadanya ia menjawab. "Tiong Jong aku Ie Yong ada satu laki-laki sejati. Ludah yang sudah dibuang tak akan dapat dijilat kembali, maka perkataanku barusan tidak akan aku tarik kembali. Maka, kalau kau betul-betul dapat meloloskan diri dari sini, nanti kalau kita ketemu muka, aku akan persembahkan kepadamu kepadamu."

Terdengar Ho Tiong Jong tertawa tergelak- gelak.

sibotak tidak mau meladeni lagi, lalu menutup pintu tahanan terus ngeloyor pergi.

Ho Tiong Jong setelah melihat sibotak berlalu, terus memasukkan tangannya meloloskan rantai yang sudah dikikir putus.

Pintu tahanan sebentar kemudian tampak terbuka lagi. kini muncul nona cong ie berjalan masuk. Dari atas ia berkata pada Ho Tiong Jong.

"EngKo Ho, aku cong ie datang hendak menolong kau."

Ho Tiong Jong kaget mendengarnya. ia tidak mengira bahwa nona cong juga datang ke-situ dengan maksud menolongnya, seperti terjadi pada cia Peng San tadi. Pemuda itu kuatir kalau nona cong mendapat celaka, maka ia berkata.

"Nona cong, terima kasih. Tapi harap kau lekas-lekas meninggalkan tempat ini, ada orang yang mengawasi gerak-gerikmu."

"Engko Ho, semata-mata aku berani menerjang masuk kesini aku sudah perhitungkan apa akibatnya, maka legakan hatimu semua urusan aku yang menanggungnya."

"Tapi ah nona cong. lebih baik.kau lekas meninggalkan tempat ini. Kau datang dengan tangan kosong, mana dapat kau mengelakan bahaya yang mengancam dirimu? Harap kau suka turut perkataanku. "

Ho Tiong Jong gelisah hatinya. Tapi conGi e dengan tertawa angkuh telah berkata.

"Engko Ho, mana bisa aku berpeluk tangan melihati kau menderita dan mana aku dapat ke gunung Po san dengan tangan kosong?"

Ho Tiong Jong mengerti, bahwa jalanan got untuk keluar dari tempat tahanan itu ada dijaga keras oleh orang-orang yang menjaganya, tentu ada berkepandaian sangat tinggi. Bahkan rupanya masih ada jalanan untuk orang melaporkan kepada tuan rumah jikalau terjadi apa-apa dalam tempat tahanan itu yang tak dapat diatasi.

Kalau nona Ciong menolong dirinya, lebih-lebih banyak bahayanya daripada selamat. juga dengan menggrecoknya nona cong berarti telah mengacaukan rencananya untuk kabur dari tempat itu. Tidak heran kalau hatinya menjadi sangat risau. Tanpa merasa Ho Tiong Jong mengeluarkan keringat dingin.

"Ya, nona cong harap kau suka menurut perkataanku," katanya lagi.

"Apa yang harus ditakuti?" tanya si nona.

"oh, aku harap kau suka memikirkan juga tentang apa katanya orang, kau satu wanita datang kemari menyatroni lelaki. Maka pergilah kau, aku betul-betul tidak berani menerima budimu yang besar ini. Aku takut dengan berita orang perihal kita berdua, maka haraplah kau suka maafkan"

Mendengar kata-katanya si anak muda tampan yang memincak hatinya, lantas saja ia merasa sangat sedih. Dengan susah payah ia datang kesitu untuk menolong Ho Tiong Jong, akan tetapi melihat yang hendak ditolongnya sedikit pun tidak mempunyai rasa kasih sayang, siapa tidak akan menjadi sedih? Maka dengan hati cemas dan menolongkol ia telah meninggalkan tempat itu dengan tidak menutup pula pintu besi tempat tahanan itu.

Setelah si nona pergi, hatinya si pemuda jadi berduka telah menolak orang punya maksud baik. Beberapa kali ia menghela napas.

Tidak lama tiba-tiba terdengar suara timpukan batu kecil ialah biasa digunakan dalam kalangan kangouw untuk mencari tahu ada orang atau tidak ditempat yang ditimpuknya.

Tampak muncul ceng ciauw Nikouw yang berpakaian abu abu warnanya. pipinya menonjol, alisnya halus dan hidungnya lancip.

Seram kelihatannya. Ho Tiong Jong yang melihatnya merasa jemu.

ceng ciauw Nikouw melihat Ho Tiong Jong separuh dadanya terendam air, ia berkata pada anak muda itu. "Hei bocah, aku datang kesini hendak menolong kau."

"Terima kasih," jawab Ho Tiong Jong, "tapi jangan lupa. kau bisa masuk sukar keluar lagi.Jalanan keluar sangat berbahaya, mungkin kita akan menemui kematian."

"Maka sebelumnya kita berlalu, harap kau suka memeriksa dahulu jalanan keluar yang selamat, agar kita aman keluar." ceng ciauw Nikouw anggukkan kepalanya.

Setelah berdiam sebentar, lantas ia hendak meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba terdengar suara yang berkata.

"Ya. betul seperti dikatakan Tiong Jong. orang masuk kemari, bisa masuk tapi tidak bisa keluar lagi. Dari itu, nikouw kalau kau hendak keluar dari sini perlihatkan dahulu kepandaianmu didepanku."

Itulah suara co Tong Kang. yang ceng ciauw Nikouw kenali.

"Ya, betul aku." jawabnya sambil unjukan diri. "Seng Pocu mengadakan pertandingan luitay, tapi aku sendiri tak ingin bertanding di luitay, lebih baik aku mengukur kepandaian orang disini saja." ceng ciauw Nikouw perdengarkan tertawa dingin.

"Ya. aku sudah terjebak olehmu." katanya "Kalau tidak mengeluarkan sedikit kepandaian memang tidak pantas."

co Tong Kang tertawa bergelak-gelak.

"Bagus, bagus," katanya, "memang begitu halnya, aku tahu ilmu senjata rahasiamu yang lihay yang diramai Tok-kim-chi (uang emas beracun) dan senjata kebutanmu yang terkenal, maka sekarang aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

Ho Tiong Jong mendengar tentang tanya jawab dua lawan itu, diam-diam dalam hatinya berpikir, bahwa dalam "Perserikatan Benteng Perkampungan" banyak jago jago pilihan yang ilmu silatnya istimewa.

Ini Tio Pocu juga tentu ada lihay, sedang si nikouw juga pasti bukannya orang Sembarangan, sebab Tic Pocu tidat berani unjuk kelakuan yang memandang rendah.

Sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba ia dengar ceng ciauw Nikouw berkata.

"Baiklah, kau boleh bersedia." Berbareng ia gerakkan kebutannya menyerang pada co Tong Kang.

Kebutan itu ketika digerakkan lantas perlihatkan sinar ke kuning-kuningan, mengurun pada dirinya co Tong Kang. Tapi orang she co itu juga sudah siap sedia untuk menangkisnya. ia menggunakan senjatanya yang dinamai " Liat- h we kie" atau "Panji Api".

Gerakan mereka cepat sekali. Kebutan dan Panji Api menari-nari dengan indahnya, masing-masing mengarah jalan darah lawannya.

Pertandingan berjalan seru, tapi setelah sepuluh jurus lantas dapat diketahui bahwa nikow itu berada dibawah angin- Serang-serangannya yang gencar tadi mulai kendor kena tekan oleh serangan hebat co Tong Kang.

Tiba-tiba ceng ciauw Nikow keluarkan bentakan keras, kebutannya digetarkan dan dimainkah lebih cepat lagi. hingga dirinya seperti terbungkus oleh sinar kuning yang keluar dari kebutannya.

Dengan merubah permainan pukulannya ceng ciauw Nikouw dapat memperhatikan diri dari desakannya co Tong Kang yang dahsyat.

ceng ciauw Nikouw mengerti, bahwa senjata Liat hwe kie, lawan adalah senjata khusus untuk memunahkan senjata gelap yang kecil-kecil, maka juga ia tidak berani sembarangan menggunakan senjata rahasianya Tok-kim chi.

Ia kebingungan juga melihat ilmu silatnya kalah dari lawan, mau mengeluarkan senjata gelapnya merasa ragu ragu, habis bagaimana baiknya menyudahi pertempuran ini?

Ho Tiong Jong melihat si nikouw keteter, lalu berteriak "Hei, cong ciauw Nikouw cepat-cepat kau melarikan diri"

"Tiong Jong, kau jangan bikin gelisah hatinya," kata Tong Kang sambil ketawa terkekeh-kekeh, "kau lihat aku bikin dia terputar-putar, ha ha ha... " ceng ciauw Nikouw mendelu hatinya mendengar kata-katanya co Tong Kang.

Ia ada satu wanita yang biasa jalan hitam (Jahat). tabeatnya telengas dan kejam, bukan nya sedikit orang yang binasa dibawah tangannya. Kini ia harus menempur lawan berat, ia sukar mengalahkannya, kalau kesudahannya ia pecundang bagaimana ia ada muka menemui kawan-kawannya?"

co Tong Kang sangat cerdik dalam tiap pertempuran, Ia selalu menempur musuh dengan didahului perang urat syaraf, membikin musuhnya menjadi meluap amarahnya dengan beberapa perkataannya yang menusuk hati.

Kini siasat perang urat syaraf menang dari ceng ciauw Nikouw, maka tinggal ia mendesak musuhnya lebih hebat lagi sehingga ia tidak berdaya, akan kemudian dapat dibunuhnya.

NIKOUW itu timbul keganasannya ketika terus menerus kena desakan oleh lawannya. sekejap saja ia sudah ambil over penyerangan, kebutannya berkelebatan mengeluarkan sinar kuning yang berkeredepan.

Tapi coTong Kang melayani padanya dengan tenang malah ia tidak mau membuka serangan membalas, hanya menutup dirinya dengan senjatanya yang ampuh Liat hwe kie.

Sebentar lagi kelihatan ceng ciauw Nikouw mengayun tangannya, segera tiga sinar keemas-emasan melayang mengarah dirinya co Tong Kang dan satu sinar melayang ke arahnya Ho Tiong Jong.

Itulah senjatanya ceng ciauw Nikouw yang sangat diandalkan, yalah Tok kim-chi atau Uang emas beracun, yang berupa uang dengan pinggirannya tajam bergigi direndam dalam racun. Maka, siapa yang terkena senjata rahasianya ini pasti akan melayang jiwanya menemui Giam lo ong.

ci Tong Kang melihat si nikow telah melepaskan senjata rahasianya, menjadi gelisah karena selainnya ia harus menjaga dirinya sendiri dari serangan musuh, juga ia harus melindungi dirinya Ho Tiong Jong.

Senjata rahasia tiga biji yang mengarah dirinya dengan mudah ia gulung dengan Panji Apinya, tapi Ho Tiong Jong bagaimana?

Pemuda itu menjadi kaget ketika senjata rahasia nikow jahat itu mengarah dirinya, ia bingung karena rantai yang merintangi dirinya masih belum dapat putus semua, hingga ia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Dengan apa boleh buat, ketiga senjata rahasia itu menyamber kemukanya ia telah membuka mulutnya dan menggigit dengan tepat sekali.

Kejadian ini tak dilihat oleh co Tong Kang ia ini hanya melihat Ho Tiong Jong sudah terkena senjata rahasianya si nikow jahat, ia menduga Ho Tiong Jong tentu binasa oleh karenanya.

Ho Tiong Jong pura-pura terkena oleh senjatanya si nikow, ia telah tundukkan kepalanya dengan teklok seolah-olah ia telah binasa co Tong Kang yang melihatnya sudah tidak mengambil perduli lagi.

Kenapa ceng ciaw Nikouw menyerang Ho Tiong Jong ?

Itulah karena dalam anggapan nikow jahat itu Ho Tiong Jong ada orangnya Seng Eng dan ditahan dalam tempat tahanan itu hanya merupakan umpan untuk menjebak orang saja. ia tidak tahu pemuda itu tidak mau diperalat Seng Pocu.

cong Tong Kang pikir Ho Tiong Jong tak termasuk partainya, maka kematiannya untuk apa diambil pusing, lebih baik ia mengerahkan tenaganya meneruskan pertempuran dengan ceng ciauw Nikouw.

Ia terus mendesak lawannya. Meski kebutannya si Nikouw berkelebatan mengurung dirinya, tidak dapat mendekati tubuhnya yang dilindungi oleh Panji api.

ceng ciauw Nikouw menjadi jengkel. Kembali ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua buah senjata rahasianya disambitkan kepada musuhnya. Lagi-lagi senjata rahasianya tidak berdaya menghadapi senjata Panji Api co Tong Kang dan telah kena digulung mentah-mentah. ceng ciauw Nikouw semakin jengkel.

Ia jadi nekad. kebutannya dimainkan lebih hebat lagi menyerang musuhnya. Tapi co Tong Kang juga tidak tinggal diam. Ia mengerti nikouw jahat itu hendak angkat kaki melihat serangan-serangannya yang bertubi-tubi seperti mencari kesempatan untuk melompat keluar dari kalangan perkelahian-

Ia lalu mengerahkan tenaganya ke telapak tangannya, dengan ilmunya Thiat-cian kang (telapakan tangan besi), sambil menggulung senjata rahasia sang lawan, ia telah mengirimkan serangannya yang maha dasyat itu.

Kebetulan ceng ciauw Nikow menjadi tertahan kena angin serangan tadi.

Tapi hanya sebentar saja, sebab di lain saat kebutan itu bergerak lagi dan dapat memukul jalan darah pada sikunya co Tong Kang. Keadaan orang she co itu menjadi berbalik buruk- ia terdesak musuhnya co Tong Kang juga jadi nekad.

Ia lalu bersiul nyaring, tampak tubuhnya melesat tinggi dan dari atas menyerang musuhnya dengan tipu pukulan "Kuda Pemberani melayang diudara", tapi Nikow jahat itu juga cerdik dan sudah bisa menghindarkan serangan lawan, kemudian ia cepat melarikan diri diuber oleh co Tong Kang.

Tiba tiba ia mendengar suara orang membentak disebelah depan-

Hatinya Nikow jahat itu kebingungan, didepan ada musuh dan dibelakang dikejar musuh, ia jadi tergencet ditengah-tengah. celaka, pikirnya, bagaimana ia bisa meloloskan diri? orang yang menghadang didepannya itu berbadan gemuk, laki-laki setengah tua dengan muka merah.

orang itu kelihatan mendorong dua tangannya, dari mana meluncur keluar angin yang dahsyat sekali. ceng ciauw Nikow menjadi nekad, dengan kebutannya ia coba menangkis serangan orang. Tapi tidak tahan dan tubuhnya telah terdorong mundur hingga dua tindak. Hatinya tambah gelisah. Siapakah gerangan orang yang demikian kuat tenaga dalamnya? ceng ciauw Nikouw sudah lemas, tinggal dibekuk saja.

Dalam keadaan demikian, nikouw jahat itu sudah mandah terima nasib akan tertawan oleh musuhnya. Tapi ketika si muka merah datang menghampiri, tiba-tiba ada berkelebat bayangan kecil langsing dan turun menyelak di antara mereka. Si muka merah menjadi kaget. "oh. ciauw Toa-nio juga datang kemari?" serunya.

Kiranya yang menyelak itu ada seorang nenek yang dikenal dengan nama ciauw Toa-nio dalam kalangan kang ouw. Ia disegani oleh kawan dan lawan, maka juga kedatangannya telah membikin kaget si gemuk muka merah tadi. setelah tertawa terkekeh-kekeh. ciauw Toa-nio berkata.

"Maafkan aku. Melihat kalian sudah turun tangan bertempur, maka tidak enak kalau aku si nenek tinggal enak-enakan berpeluk tangan, bukan?"

Menggunakan kesempatan si muka merah pasang omong dengan ciauw Toa-nio, si nikow yang sudah kepepet, telah gerakan kakinya meninggalkan tempat itu. ciauw Toa-nio juga sudah gerakan tubuhnya mencelat hilang dari situ.

co Tong Kang melihat itu, lantas berteriak. "Hei, Kim toako, kaujangan kasih lolos nikow itu"

Berbareng tubuhnya melesat hendak mengejarpada ceng ciauw Njkouw, akan tetapi orang berbadan gemuk muka merah tadi sudah mencegahnya. Sementara itu ceng ciauw yang sudah dapat meloloskan diri, terdengar suara ketawanya yang bergelak-gelakjauh disebelah luar. Terdengar Ang-bin Lojin (orang tua muka merah) berkata.

"co hiante, kaujangan berlaku sembarangan. Kini belum waktunya untuk kita membuka kartu. Kau harus banyak bersabar."

"Oo, kau hanya menggertak saja." jawabnya sambil ketawa nyengir. Tapi begitu mengetahui nikouw itu sudah jauh, ia menambahkan. "Sayang, nikouw itu lolos. Akn sebenarnya ingin membunuhnya." Ang bin Lojin ketawa gelak-gelak.

"co hiante, buat apa kau mencari urusan Nikouw itu sudah sepuluh tahun lamanya ada bertinggal digunung Siauw-tong Kit-sin san dalam goa ceng ciauw teng. Tenaga dalamnya cukup mahir. Aku bicara terus terang. ceng ciauw Nikow memang ada musuh kita yang terhitung kuat. Kalau suhu nya yang bernama Ya Sin Bo nanti muncul bersamanya, benar-benar urusan akan jadi runyam, terpaksa kita harus mencari bantuan."

"Ya, co hiante rupanya masih ragu-ragu yang Ya Sih Bo itu sudah mati. Memang juga ada kemungkinan dia belum mati. coba pikirkan, orang yang melatih silat tubuhnya ada banyak lebih sehat dari orang biasa, seperti kau tahu dalam golongan kita masih ada tiga orang yang masih sehat-sehat saja keadaannya dan tiga orang itu umurnya hampir bersamaan dengan Ya Sin Bo.

Sepuluh tahun yang lalu Ya Sin Bo ada tinggal di Siauw tong Kit sin-san. Setelah ini ia telah pindah ketempat yang lebih kesebelah timur dari tempatnya yang ditinggali semula. Aku sangsikan bahwa dia kini sudah mati, sebab siapapun belum pernah ada yang pergi kesana."

"Ya. Kim toako, barusan aku menyatakan ingin membunuh ceng ciauw karena mengingat ketelengasannya. Dengan senjata rahasianya yang beracun, bukan saja dia serang aku, tapi Ho Tiong Jong yang dalam keadaan tidak berdaya juga diserang hingga binasa."

"oo, itu orang yang terendam dalam air yang kau maksudkan?"

"Ya, betul dianya."

"Aku lihat dia seperti masih hidup dan badannya bergerak" Berdua lalu pergi memeriksa keadaan Ho Tiong Jong.

Keadaan Ho Tiong Jong memang seperti sudah mati, kepalanya teklok dan hidungnya hampir kerendam air. Mereka berpendapat bahwa Ho Tiong Jong sudah binasa, karena kalau masih hidup dan bernapas, air didekat hidungnya itu tentu bergerak gerak kena tiupan hidungnya. Kini toh diam diam merasa heran-

"Ya, aku heran sekali, dia betul betul mati. Apakah dia mati karena serangan ganas si nikow

tadi?"

"Ya, sudah tentu karena serangan nikow itu. Dia menyerang dengan kejam kearahku dan kearah Tiong Jong dengan berbareng. Aku tidak bisa melindunginya dari sebab aku sendiri juga repot untuk menghindari serangan si nikouw."

"Ha ha ha..." Kim Toa Lip tertawa.

" Dalam hal ini, mana dapat orang menyalahkan padamu. Kau tak usah kuatir orang akan mencelamu?"

Setelah berkata. Kim Toa Lip lalu turun mendekati Ho Tiong Jong yang ketika itu dapatan masih dirantai pada sebuah tiang batu. Ia meneliti sejenak. tiba-tiba ia menghela napas.

"Sungguh sayang orang ini mati konyol. Tulang-tulang bakatnya untuk menjadi satu akhii silat bagus sekali. Dalam seratus tahun belum tentu ada muncul satu orang yang mempunyai bakat seperti dia bagusnya."

Sampai disini tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu setelah menatap wajahnya Ho Tiong Jong, lalu berkata lagi kepada co Tong Kang.

"Hei, co Hiante, kau tentu tahu. orang ini pada lima tahun yang lalu pernah datang ke- rumah ku, dia telah mendapat hadiah pelajaran delapan belas jurus ilmu golok keramat dari Siauw-lim pay. cuma sayang, baru dua belas jurus, ia sudah meninggalkan rumah kami"

"Bagaimana dia dapat hadiah begitu mudah, apakah dia sudah berbuat jasa?"

"Duduknya perkara sederhana saja. Gara-gara boneka anakku Hong Jie kecemplung ke-dalam sawah, dia yang telah menolong ambilkan. Hong Jie sudah merasa sangat berterima kas ih kepadanya dan merasa kalau dia dalam keadaan kedinginan- Maka atas desakan Hong Jie pada ayahku, maka ia diberi hadiah ilmu golok terkenal itu."

"Tapi kenapa dia baru belajar dua belas jurus sudah meninggalkan rumah toako?"

"Kau tentu kenal tabeat ayahku, yang paling suka dengan kebersihan. Waktu itu Tiong Jong masih merupakan anak gelandangan, Ayahku meskipun benar memberi pelajaran dengan sungguh sungguh, tapi beliau sikapnya agak dingin terhadapnya. Sedang Tiong Jong bertabeat angkuh, tidak bisa terima perlakuan ayahku itu. Keduanya tidak cocok. maka ketika Tiong Jong disuruh pulang dahulu setahun untuk melatih dalam peraktek apa yang diajarkan dan diminta kembali setelah tempo setahun itu, ternyata dia tidak balik kembali Jadi masih ada enam jurus ilmu yang lihay itu belum diturunkan kepadanya. Sungguh sayang sekali."

co Tong Kang menganggukkan kepalanya. "Memang harus dibuat sayang " ia menggrendeng.

"Ayahku sebenarnya tahu bahwa bakat Tiong Jong sangat bagus, sukar didapatkan yang keduanya, akan tetapi karena tabeatnya pun ada luar biasa, maka ketika Tiong Jong tidak kembali lagi beliau sudah tidak mau ambil pusing lagi."

"Sayang." kata co Tong Kang.

"Aku tidak nyana, setelah lima tahun berselang Tiong Jong berubah demikian rupa. Kalau waktu itu dia sudah begini gagah, tentu ia sudah diangkat menjadi wakil dari Kim pocu."

co Tong Kang hanya anggukkan kepala dan mengikuti Kim Toa Lip naik tangga lagi dan keluar dari kamar tahanan itu.

sebelum melangkah pintu, Kim Toa Lip berkata co Tong Kang.

"Eh, hal kematian Tiong Jong sebaiknya ditutup pada rapat-rapat, jangan sampai tersiar keluar, sebab darinya kita bisa gunakan sebagai umpan untuk membasmi musuh kita."

"Mana bisa," jawab co Tong Kihg. "Kita bisa menutup rahasia ini, tapi ceng ciauw Nikouw bagaimana? Dia tentu tak dapat merahasiakan, apalagi senjata rahasianya yang mengambil jiwanya Tiong Jong tentu dia akan suruh orang minta kembali bersama dengan yang aku sudah punahkan dengan senjataku."

Kim Toa Lip jadi melongo.

Pikirnya, betul juga soal kematiannya Ho Tiong Jong itu sukar dirahasiakan berhubung cong ciauw Nikow sudah mengetahuinya.

"Ya, apa mau dikata." akhirnya ia berkata. "Tapi baiknya kau tidak sampai membunuh ceng ciauw Nikow, kalau sampai kejadian demikian, wah, bisa runyam kita meladeni suhunya yang tentu tidak mau mengerti. Harap saja dia pulang ke kiauw teng Kit-sin-san tidak berurusan lagi dengan kita."

Sambil berjalan mereka bercakap-cakap. dengan tidak terasa sudah sampai ke pintu gerbang dari tempat tahannan itu.

"Nah, sampai disini saja kita berpisah." kata co Tong Kang. "Aku-harus bertugas, harap toako saja yang menyampaikan apa yang telah terjadi disini kepada Seng Pocu."

Kim Toa Lip anggukkan kepalanya. Setelah Pocu dari Kim-Liong-po itu berlalu, co Tong Kang lalu balik lagi ketempatnya dengan mengambil jalan dari pintu rahasia.

Kim Toa Lip juga melalui jalanan rahasia sampai kerumahnya Seng Pocu, yang saat itu sedang duduk dikursi kebesaran berunding dengan empat anak muda, dua yalah laki laki, dan dua anak perempuan-

Munculnya Kim Toa Lip telah membikin satu antaranya dua pemudi tadi berjingkrak kegirangan dan lari menubruk pada Kim Toa Lip. dengan roman yang aleman telah menyenderkan kepalanya didadanya Kim Pocu.

"Ayah, kau baru datang? kemana saja kau pergi?" Pemudi itu bukan lain Kim Hong Jie adanya.

Sebagai anak yang di manjakan, kelihatannya Kim Hong Jie tidak malu malu lagi di-depan orang menggelendot terus dan nyerocos bicara pada ayahnya.

"Hai, kau ini budak kecil memang paling aleman, apakah kau tidak malu dilihat oleh orang orang yang ada disini? Kau toch sudah bukan gadis cilik lagi?"

Demikian sang ayah menegur, tapi dengan suara menyayang dan Ia antapkan anaknya menggelendot didadanya yang lebar. Tangannya juga tidak tinggal diam, telah mengusap usap rambutnya si nona yang hitam sangat halus.

Seng Eng yang melihatnya telah tertawa gelak-gelak. "Hong Jie anak tunggal, tentu saja dia kolokan- Asal tahan saja yang menjadi ayah." katanya.

Nona Kim cemberut dikatakan anak kolokan matanya mengerling penasaran kepada Seng Pocu yang ganda tertawa saja kelakuannya, hingga nona Kim kewalahan dan ia juga turut ketawa gembira.

"Ayah." katanya, "kau baru datang, disini banyak urusan-.."

"Aku tahu semua." memotong sang ayah ketawa.

Kim Hong Jie deliki matanya. "Ayah memang begitu, orang ngomong belum habis sudah main potong saja" kata sinona agak cemberut.

"Habis, apa yang mau kau katakan lagi, semua aku sudah tahu." jawab ayahnya.

"Ayah..." si nona urung melanjutkan bicaranya karena dipotong oleh Seng Eng yang berkata.

"Sudah, sudah Hong jie kau suka mau menang sendiri saja. Sedikit-sedikit mau debat dengan ayah sendiri, sebaiknya kita beritahukan kepada ayahmu kabar yang hangat menyangkut pada dirimu. Ha ha ha... "

"Hei. ada urusan apa dengan Hong jie?" tanya Kim Toa Lip.

Kim Hong Jie tundukkan kepalanya sambil buat main ujung bajunya.

"Hei, Hong jie, kau ini macam anak kecil saja. Ada apa urusan lekas cerita, kenapa malu-malu, apa memangnya rahasia?" Kim Toa Lip tegur anaknya sambil ketawa. Tapi Kim Hong Jie tidak menjawab, ia masih terus tundukkan kepalanya.

Kim Toa Lip jadi heran, lalu berpaling pada Seng Eng, matanya dikedipkan seakan-akan menanyakan ada urusan apa, tapi Seng Eng hanya ketawa saja juga Seng Giok cin kelihatan bersenyum-senyum mengawasi si nakal yang seperti kemalu-maluan-

"Baiklah," kata Kim Toa Lip tiba-tiba, "Kalian ada kabar penting belum mau menceritakan kepadaku. Sekarang aku juga ada punya kabar penting yang tidak mau diceritakan pada kalian sebelum kalian bercerita terlebih dahulu."

Kim Hong Jie yang dari tadi tundukan kepalanya, kini mendengar ayahnya ada kabar penting lantas dong akan mukanya yang cantik menarik. Dua sujennya memain memikat ketika ia bersenyum-senyum dan berkata pada ayahnya. "Ayah, tidak bisa. Ayah yang harus cerita lebih

dahulu."

"Mana bisa, kalian mau tutup rahasia, ayahmu juga mau tutup mulut. Ha ha ha... "

Kim Hong Jie sudah timbul lagi adatnya yang kolokan. Ia memeluk ayahnya dan mendesak. "Ayah yang baik, kau tentu tidak bikin kecewa anakmu yang hanya satu-satunya maka lekas ceritakanlah, ayah bawa kabar penting apa ?"

Kim coa Lip bohwat (kewalahan) melihat kelakuan anak tunggalnya ini.

"Betul adik Hong, kita dengar dahulu ayahmu cerita kabar pentingnya, baru sebentar kita beritahukan urusan itu." demikian co Goen Tiong menimbrung, tapi ia tak dapat melampiaskan bicaranya, karena Kim Hong Jie sudah pelototkan matanya.

Kim Toa Lip menyaksikan itu semua, kembali perdengarkan tertawanya yang terbahak-bahak. hingga nona Kim jadi tidak sabaran-

"Ayah, kau memangnya mau terus tutup mulut saja? HmmmA ayah jangan bikin Hong jie ngambek.. "

"Huaha." menyela k Seng Eng sambil ketawa.

"Ayah sih... " Kim Hong Jie mengerlingkan matanya dengan senyum urung pada ayahnya yang ketawa terbahak-bahak.

"Sudah, sudah." Seng Pocu berkata lagi, "ayoh, kau Goen Tiong yang menerangkan pada- Kim pekhu. "

co Goen Tiong tidak berlaku ayal. ia lalu ceritakan pada Kim Toa Lip tentang perlombaan yang dilakukan oleh tiga pemuda Khoe cong, In Kie seng dan Kong soe Tek, pergi ke tempatnya orang aneh dipuncak Si-ban-lenggoa Pek se ong-tong untuk mengambil Hwe giok guna dihadiahkan kepada Kim Hong Jie. Kim Toa Lip terkejut setelah mendengar co Goen Tiong cerita.

Mukanya berubah. "Sungguh berbahaya " ia menggrendeng, matanya melirik pada Seng Eng

dan berkata. "Itu ada perbuatan yang sangat berbahaya."

"Aku juga sedang memikirkan hal itu, tapi yang penting orang tua kukway itu harus disingkirkan jiwanya, karena dengan adanya dia kita tak leluasa bergerak." Demikian Seng Pocu menyatakan pikirannya .

"Masih bagus dia belum muncul," jawab Kim Pocu, "Kalau dia muncul rasanya runyam juga urusan kita. Tapi tidak apa, lihat saja nanti bagaimana perkembangannya, kita akan berusaha untuk mengatasinya. Tadi, ada nikouw tua dalam penjara air sudah bercakap-cakap dengan Tiong

Jong."

"Hei, pekhu." menyelak Seng Giok cin yang dari setadian berdiam saja. "ada kabar penting yang hendak disampaikan oleh pekhu itu mengenai dirinya Tiong Jong."

"Bukan-" jawab Kim Toa Lip sambil geleng-gelengkan kepala ketawa nyengir.

"Apa Tiong Jong ikut pada nikow tua itu?" menimbrung Kim Hong Jie.

Besar perhatian dua gadis jelita itu yang terpikat hatinya oleh Ho Tiong Jong yang gagah dan tampan parasnya.

Tampak Kim Toa Lip menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ayah, hayo lekas cerita... " Kim Hong Jie tidak sabaran kelihatannya.

"Betul, adik Hong betul ... " kata Seng giok Cin.

Kim Toa Lip mengerti bahwa dua gadis ini menaruh perhatian besar atas dirinya Ho Tiong Jong, maka ia sengaja perlambat meneruskan bicaranya.

"Ayah," Kim Hong Jie tidak meneruskan bicaranya, karena Kim Toa Lip sudah menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.

"Kalian berdua kelihatan begitu bernapsu hendak mendengar berita Tiong Jong, kenapa sih?"

Dua gadis jelita itu bungkam.

Nona Seng melirikan matanya pada si paman yang nakal, parasnya merah seketika. Sedang nona Kim mendeliki matanya cemberut tapi tidak mengurangi parasnya yang cantik menarik. malah kelihatannya lebih-lebih manis. Dua saudara co bengong, sedang Seng Eng tertawa geli.

Kim Toa Lip sendiri bersenyum-senyum melihat nona Seng tundukkan kepalanya, sedang puterinya ngambek cemberut. Tapi akhirnya ia tidak ingin menggoda lebih-jauh pada dua gadis jelita itu, maka ia lalu cerita lagi.

"ceng ciauw mau menolong Tiong Jong keluar dari penjara air, tapi dia tidak mau. hingga ceng ciauw jadi marah. Aku telah menyerang ceng Ciauw, apa mau nikow tua itu amat kejam. Tahu bahwa dia tidak bisa membawa keluar Tiong Jong, maka dengan senjata gelapnya Tok kim-chi dia menyerang Tiong Jong... kalian tahu sendiri senjata gelapnya nikouw tua itu sangat berbisa."

"Ayah, apa Tiong Jong binasa?" menyelak sang puteri.

Sen giok Cin jaga saat itu berbareng hendak membuka mulutnya menanya, akan tetapi sudah didahului oleh adik Hongnya.

Mereka kelihatan gelisah. Hatinya berdebaran menguatirkan akan keselamatan pemuda pujaannya.

"Kau dengar dahulu aku cerita habis" kata Kim Toa Lip pada puterinya, sambil urut-urut jenggotnya. "Aku lihat dengan mata kepala sendiri, senjatanya Ceng Ciau amblas dalam mulutnya Tiong Jong rupanya dia punya gigi ada beberapa buah yang rontok karena terkena serangan Ceng Ciauw... "

" celaka" Seng Giok Cin dan Kim Hong Sio mengeluh dalam hatinya masing-masing.

Tapi tidak ada yang menyelak dalam lanjutan kata-katanya Kim Pocu yang jail itu, mereka mendengarkan terus dengan hati berdebaran.

"Ya.... Tiong Jong sudah mati karena senjata gelapnya ceng ciauw. Senjata nikow tua itu sangat berbisa, rasanya si. "Dewi obat, Kong Yat Sin meski datang menolong juga tidak dapat mencegah melayang jiwa Tiong Jong." Dua gadis jelita itu rasakan hatinya seperti mencelos.

Tiong Jong sudah mati, apa betul? Mereka masih belum mau percaya, mereka memang tidak mau percaya, kalau tidak dengan kepala sendiri menyaksikan pemuda pujaannya itu binasa.

"Apa kabar penting yang dimaksudkan pekhu itu tentang binasanya Tiong Jong?"

"Ya, betul" jawab Kim Toa Lip sambi anggukan kepalanya.

Dua gadis jelita itu rupanya tahan hatinya menerima kabar buruk itu, karena masing-masing masih dalam ragu-ragu untuk mempercayai kebenarannya kalau tidak dengan mata sendiri melihatnya kematian Tiong Jong.

Wajahnya mereka hanya sebentaran saja berubah, kemudian tampak tenang kembali hingga membuat batinya Kim Toa Lip menjadi lega, karena sebermula ia menduga kabar buruk tentang Tiong Jong yang disampaikannya itu akan membuat mereka mengalami yang tidak diingini.

"Tempo hari aku pernah meramalkan anak muda itu panjang umur, bahkan ia akan menjadi seorang ternama dikemudian hari. Tapi tidak dinyana ia ternyata telah menemukan kematiannya secara demikian, untuk selanjutnya aku tidak mau meramalkan lagi orang punya umur." demikian Kim Toa Lip berkata, seolah-olah berkelakar sambil melirik pada puterinya.

Tapi nona Kim kelihatan tidak segembira seperti semula sebelumnya ia mendengar kabar tentang kematiannya Ho Tiong Jong, malah tampak lesu. Perkataannya sang ayah ia sambut dengan adem saja.

"Ya, serangan yang diterima Tiong Jong itu. memang hebat sekali," kata pula Kim Toa Iip. "sayang sebelumnya nikouw itu kena kita bekuk, ada menyelak sinenek Ciauw dengan tiba-tiba hingga ia bisa lolos dari kepungan kita."

"Hmm." terdengar Seng Eng menggeram, "semua jago-jago sudah pada bergerak. Tapi tidak ada satujago boleh menghina kita".

"Tapi laote," kata Kim Toa Lip. "urusan mereka itu memang tidak menjadi soal apa-apa, hanya dikuatirkan gurunya si nikow itu Ya Sin Bo yang amat jahat. Kalau dia turun tangan membela muridnya kita boleh runyam. Semua urusan yang kita kerjakan dapat di kacaukan olehnya. Apa tidak lebih baik kita pancing keluar itu kakek dari goa Pek-cong-tong supaya dia berhantam dengan sinenek yang memang ada musuh buyutnya."

Mereka lalu berunding mencari akal bagaimana baiknya supaya dapat memancing pada kakek aneh itu kemudian biar kita bertempur dengan Ya Sin Bo. Biarkan salah satu ada yang mati, berarti hilangnya satu rintangan untuk komplotannya.

Tiba-tiba Co Goan Liang majukan diri, menyatakan ingin mencoba-coba untuk memancing keluar kakek dari goa- Pek cong tong.

Hal mana membikin Kim Pocu merasa girang, sebab co Goan Liang ada putranya co Tong Kang, kalau anaknya kenapa- napa tentu co Tong Kang iuga tidak tinggal diam.

co Tong Kang tentu akan bertempur mati-matian dengan si kakek Souw Kie Han-kesudahannya siapa yang mati masa bodo, kalau co Tong Kang berani, hilang lagi satu lawan dalam usaha mereka mengatasi rimba persilatan-

Dalam "Perserikatan Benteng-perkampungan- meskipun sudah retak. tapi masing-masing belum mengunjukkan terang-terangan, satu sama lain dengan diam-diam mengatur akalnya sendiri-sendiri untuk menjatuhkan saingannya. Jadi co Tong Kang mati, berarti hilang satu Pocu saingan"

"Kalau engko Liang pergi, aku juga mau turut " tiba-tiba nona Kim nyeletuk. Kim Toa Lip. Seng Pocu menjadi kaget.

"Kau mau apa kesana?" tegur Seng Pocu.

"Akan membantu engko Liang mengerubuti si kakek." jawab nona Kim.

-oooOwOooo-