-->

Golok Sakti Bab 12 : Hadiah Untuk Si Jelita

Bab 12 : Hadiah Untuk Si Jelita

KETIKA pertandingan dimulai lagi, Kong Soe Jin telah menghunus pedangnya yang berkilauan hijau warnanya, belakang pedang ada lebih tipis dari pedang biasa, inilah pedang yang dinamai. Im kiam pedang Ying kiam, dipakai oleh Kong See Tek.

Berdasarkan nama pedang itu, maka kedua saudara she Kong itu mendapat julukan Im-yang Siang kiam atau Sepasanng pedang Im- yang.

Hui Seng Kang bersenjatakan "Siang hay-tiang atau, Tongkat "Siang hay-tiang" atau Tongkat sepasang jantung hati. Senjata orang she Hui itu berat sekali, kira-kira tujuh puluh delapan puluh kati, hingga dibawanya juga harus digotong dua orang.

Penonton yang melihat itu diam-diam menguatirkan akan dirinya Kong Soe Jin. Mereka lihat pertandingan dengan tangan kosong saja kelihatan Kong Soe Jin sudah tidak tahan, apa lagi sekarang ia harus melayani Hui Seng Kang punya senjata berat, mendapat ia pertahankan diri?

Sekali saja pedang kebentur dengan senjata beratnya Hui Seng pasti pedang nya orang she Kang itu akan terbang melayang-layang.

Khoe Cong mengawasi pada Kang soe Tek yang tengah memandang ke atas panggung dengan hati sangat tidak enak, kuatir engkonya dikalahkan-orang she Khoe itu benar benar menyebaikan, terdengar ia mengejek lagi.

"Benar benar kita dari "Perserikatan Benteng Perkampungan tak usah malu keluar dalam pertandingan, nona Kim. seperti tadi nona Seng dengan mudah saja menjatuhkan Ho Tiong Jong, maka sebentar lagi Hui Seng Kang juga tentu akan keluar sebagai pemenang dari pertandingan yang ia sedang lakukan- Ha ha ha... "

Sambil ketawa matanya melirik kepada Kong soe Tek yang berdiri menjublek tidak ambil pusing perkataannya itu. Sebenarnya dua saudara Kong itu, sebagai "im yang Siang kiam" biasanya sangat sombong tidak memandang mata kepada siapa juga.

Tapi kini, semua hinaan dari Khoe Cong terpaksa ditelannya, karena jangan lagi ia menimbulkan urusan baru, sedang memandang engkonya saja melawan Hui Seng Kang hatinya sudah kedat kedut takut engkonya dijatuhkan oleh lawannya.

Kim Hong Jie hanya bersenyum mendengar kata-katanya Khoe Cong, sedang nona Seng sendiri tinggal adem adem saja.

Hui Seng Kang setelah menerima sepasang senjatanya, lantas mendemenstrasikan permainan tongkat mengaung-ngaung dan ujungnya telah mengeluarkan letikan seperti kembang api.

seng Giok Cin yang melihat itu telah kerutkan alisnya dan berkata sendirian-

"Hmm orang itu tolol benar. Untuk apa dia membuang-buang tenaga dengan permainannya yang meminta tenaga besar, bukankah lebih baik digunakan untuk bertempur? Celaka, kalau sebentar dia kehabisan tenaga baru dia tahu rasa... " Khoe Cong tidak senang kawannya di kritik.

Ketika ia hendak membuka mulut, dilihatnya Kim Hong Jie sedang manggut-manggutkan kepalanya, seperti yang merasa setuju dengan pendapatnya nona Seng, maka ia tidak jadi membuka suara karena disalahkan oleh kedua nona jelita itu Diatas luitay dua lawan sudah mulai bergebrak lagi.

Kong Soe Jin pandai memasukan pedangnya. ia kelihatan berputar-putar mengeliling luitay seperti yang menari-nari, hingga Hui Seng Kang terpaksa mengikuti gerakkannya. Setelah mendapat lowongan segera orang she Hui itu kerjakan sepasang tongkatnya yang berat menyerang lawannya.

Pertandingan makin lama makin seru. Sepasang tongkatnya Hui Seng Kang bertubi-tubi menyerang lawan, hingga Kong soe Jin kelihatan kewalahan menangkisnya. Mengingat akan beratnya genggaman musuh, maka Kong Soe Jin tidak mau membenturkan pedangnya.. sepuluh jurus dengan cepat sudah dilewatkan-

Hui Seng Kang penasaran belum juga dapat menjatuhkan musuhnya maka ia mendesak lebih keras Kong Soe Jin sebisa-bisanya berikan perlawanan dan menjaga diri jangan sampai kena dijatuhkan-

Suatu ketika Hui Seng Kang menyerang dengan gaya serangan "Seng hong Bo lang. atau Menuruti angin memecah ombak. tongkatnya yang satu dimalangkan sedang yang satunya lag menyerang lurus. Untuk menghindari serangan hebat ini, Kong soe Jin melesat tinggi keudara.

Hui Seng Kang ketawa gelak-gelak. lalu membarengi dengan serangan dahsyat sebelumnya Kong soe Jin sempat menancapkan kakinya dilantai luitay.

Para penonton kaget dibuatnya. Mereka menduga Kong Soe Jin kali ini akan melayang jiwanya. Tapi orang she Kong itu sudah berlaku nekad kali ini menyambuti serangan tongkatnya Hui Seng Kang dengan pedangnya dipalangi.

Satu benturan dari dua senjata terdengar trang nyaring sekali. Tubuh Kong Soe Jin tampak melayang tinggi lagi dludara kemudian jatuh diatas luitay. ia masih bisa merang kang dan mengumpulkan, kemudian sudah bisa bangun lagi untuk menghadapi musuh

Penonton yang menyaksikan kejadian itu telah perdengarkan tampik soraknya yang riuh, sementara Hui Seng Kang sendiri merasa sangat heran melihat Kong Soe Jin tidak apa-apa menyambuti serangan hebatnya tadi.

"Saudara Kong, hayo maju lagi kita bertempur" Hui Seng Kang menantang.

Kong Soe Jin anggukkan kepalanya, kemudian pedangnya im-kiam mulai menari-nari lagi diantara samberan sepasang tongkatnya Hui Seng Kang yang berat. Perlahan-lahan dari kedesak Kong Soe Jin telah dapat balik mendesak musuhnya.

Diluar dugaan semua penonton, pertandingan telah mengasih lihat gambaran yang dapat membikin para penontonnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan tentu Hai Seng Kang yang tadi begitu agresif, kini sudah mulai terlihat keletihannya, sedang Kong Soe Jin masih kelihatan segar dan merangsek pada musuhnya, setirnya Hui Seng Kang tidak berdaya dan menyerah kalah.

Suatu kesudahan yang membuat Khoe Cong melongo dan merah padam mukanya.

Kini ia tidak berani membuka suara besar lagi kepada Kong Soe Tek. Dengan hati cemas ia menghampiri pada kawannya dan menanyakan, kenapa sang kawan sudah jadi kalah, sedang menurut perhitungannya dapat menang dari Kong Soe Jin?

"Khoe Pocu, kau keliru melihat. Kong Soe Jin sebenarnya ada achli pedang yang pandai, tidak kecewa namanya tersohor dikalangan sungai telaga. Kalau semula kelihatannya ia berikan perlawanan yang lembek itulah ia hanya main main saja dan dengan sengaja mau kuras aku punya tenaga. Aku si tolol bermula tidak tahu, terus-terusan menyerang dengan mengeluarkan tenaga besar, hingga enak saja orang she Kong itu permainkan aku.

Tanpa merasa aku telah masuk dalam perangkapnya. Kau lihat, setelah ia melihat aku sudah kehilangan banyak tenaga, ia telah mencecar aku dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, hingga aku menjadi kewalahan dan kalau aku tidak siang-siang menyerah kalah terang aku akan menjadi korbannya pedang, kena di-"sate" diatas punggung, maka aku dapat melihat gelagat, maka aku sudah menyerah kalah, meskipun aku tahu perbuatan itu akan memalukan"

Hui Seng Kang berkata-kata dengan paras guram dan menyesal sekali untuk apa yang ia telah perbuat diatas panggung. Sama sekali ia tidak nyana orang she Kong itu pandai memancing tenaga orang, hingga peroleh kemenangannya dengan mudah.

Cocok dengan kata kata Seng Giok Cin. bahwa Hui Seng sudah mendemontrasikan tenaganya yang kuat. Siang-siang ia sudah banyak menghamburkan tenaganya, sehingga dimenit- menit paling akhir melawan Kong soe Jin yang gesit dan lincah tidak berdaya karena kehabisan "bensin".

Tempik sorak terdengar riuh ketika Pek Boe Taysu naik keatas luitay.

Kini gilirannya ia yang menjadi Taycu, untuk menggantikan Hui Seng Kang wakil Tay-cu-nya yang pecundang.

orang menduga-duga akan kekalahannya Kong soe Jin mengingat Pek Boe Taysu ada satu jago tua yang sudah banyak pengalaman, lagipula hweshiotua itu ada sangat telengas.

Kong Soe Jin menjura dengan hormat pada Pek Boe Taysu, ketika mereka sudah berhadapan

"Tidak dikira Taysu yang hari ini menjadi Taycu, mereka sebentar kalau aku sitolol mengunjukkan

kebodohanku, harap Taysu suka memaafkan dan sukalah memberi banyak petunjuk akan

kesalahannya "

"Ha ha " Pek Boe Taysu memotong dengan ketawanya yang bergelak-gelak "Sicu ada jago

pedang dari Ngo bie-pay, mana aku si hweshio bangkotan dapat memberi petunjuk apa-apa. Harap sicu jangan terlalu merendah. Nah, marilah kita mulai bertanding "

"Baiklah" kata Kong soeJin dengan tak sungkan-sungkan ia menghunus pedangnya.

Pek Boe Taysu genggamannya aneh, baru pernah orang melihatnya. Bentuknya seperti sekop. diujungnya ada sepasang gigi tajam dan lingkaran dari baja kecil kecil, hingga senjata itu kalau digoyangi akan perdengarkan saara kerincingan ramai.

Ketika Pek Boe Taysu mempersilahkan menyerang lebih dulu. K^ong Soe Jin tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai membuka serangan dengan satu tipu serangan yang indah dari perguruannya. Lawannya menangkis sambil perdengarkan ketawanya yang aneh

Kemudian Pek Boe Taysu balas menyerang dengan gaya. Dengan tongkat menaklukkan setan, ia memalangkan dan melempengkan tongkatnya menyerang musuhnya dengan hebat sekali yang dapat mengugurkan gunung.

Tapi Kong Soe Jin gesit dan lincah, ilmu pedangnya pun mahir, maka dengan indah sekali sudah meluputkan diri dari serangan lawannya yang berat.

Kali ini menghadapi musuh kawakan, Kong Soe Jin tidak main-main- Ia mencurahkan betul-betul perhatiannya pada ilmu pedangnya yang dimainkan itu, hingga Pek Boe Taysu dengan genggaman beratnya tidak bisa berbuat banyak terhadap jago muda dari Ngo-biepay itu.

Penonton di bikin kagum oleh permainan pedangnya.

Berkali-kali terdengar sorakan penonton. Kalau Kong soe Kek merasa masih kuatir akan kekalahannya sang engko adalah Khoe cong diwajahnya yang jelek mengunjukkan perasaan dengki. Bibirnya saban menjebi yang membikin wajahnya jadi semakin jelek saja.

Meski Pek Boe Taysu mencoba dengan sungguh untuk menjatuhkan lawan mudanya, ternyata tidak berhasil. Kesudahannya lima belas jurus telah dilewati dan pertandingan dinyatakan seri, hal mana telah disambut dengan suatu tampik sorak yang ramai sekali oleh penonton-I Hadiah telah diberikan kepada Kong Soe Jie oleh Seng Pocu sendiri.

Seng Giok Cin berseri-seri. sedang Kim Hong Jie juga tampak merasa puas dengan kesudahan pertandingan itu. Diam diam nona Kim yang nakal teluh mengutik lengannya nona seng. "Encie Giok betul-betul kau banyak untung hari ini. Si orang she Kong sebentar lagi akan menghadiahkan barang yang diperolehnya itu kepadamu. Kenapa kau tidak cepat-cepat bangun berdiri untuk menyambutnya."

"Adik Hong. kau nakal betul, paling bisa memang kau menggoda orang." ia berkata sambil mencubit tangannya yang dicubit tadi.

Nona Kim lucu sekali membuang aksinya hingga mau tidak mau nona Seng ini menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawanya. Berdua mereka bersenda gurau dengan gembira.

Tampak Kong Soe Jin jalan menghampiri mereka, lewat didepannya Hui Seng Kang yang duduk disitu, terhadap pecundang ini Kong Soe Jin melirik sejenak dan tidak memandang mata.

Seng Giok Cin menyambut dengan gembira ketika Kong Soe Jin menghadiahkan barangnya.

"Nona Seng. " katanya. "barang ini kudapatkan bukan secara mudah, aku harap kau menerimanya dengan segala senang hati."

"Terima kasih, kau sungguh baik sekali saudara Kong." jawab Seng Giok Cin sambil bersenyum girang dan melirikan matanya yang jeli. Kong Soe Jin merasa girang dan bangga kelihatannya.

Seng Giok Cin kemudian berpikir dan berkata kepada sekalian pemuda yang ada di-sekitarnya.

"Saudara saudara, adik Hong Jie bersedia menerima hadiah untuk yang ada minat, aku di anjurkan untuk mengunjuk kepandaiannya agar mendapat hadiah sutera lagi untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie. Ayo, lekas, aku anjurkan-.. "

Kim Hong Jie pelototkan matanya, mulutnya yang mungil berkemak kemik seperti yang mau mengatakan apa-apa kepada Seng Giok Cin, tapi nona Seng hanya ganda ketawa saja kelakuannya Kim Hong Jie.

Tapi kemudian Kim Hong Jie sudah unjuk senyumannya yang ramai pula diparasnya sujennya memain memikat hati. Tidak heran kalau banyak pemuda sudah ketarik hatinya dan ingin unjuk kepandaiannya diatas panggung untuk merebut barang hadiah dan diberikan kepada nona Kim yang cantik jelita.

Pertama-tama Kong soe Tek yang berdiri disusul oleh in Kie Seng.

Khoe cong juga kelihatan bangkit berdiri, dengan muka tidak enak dilihat ia perdengarkan ejekannya kepada Kong Soe Tek.

"Hmm, perkara memberi hadiah kepada perempuan sudah biasa. Tidak mengherankan, tapi janganlah unjuk kelakuan sendiri yang tidak tahu diri hingga ditertawai orang." Khoe cong sangat memandang rendah kepada Kong soe Tek.

In Kie Seng menambahkan- "Kau benar saudara Khoe, pertandingan diatas luitay ini dilakukan bukan karena napsu menghadiahkan barang kepada seseorang." Kong soe Tek melotot matanya terhadap In Kie Seng.

Mereka jadi bertengkar, saling menantang untuk menyelesaikan pertengkaran itu diatas luitay, Khoe cong yang menjadi "bibit"-nya pertengkaran itu hanya ketawa gembira saja. Pikirnya, ia puas sudah dapat mengadu dombakan mereka berdua. Tiba-tiba terdengar suaranya nona ciauw Yoe Soe berkata.

"Hai, kalian tidak perlu bertengkar tidak keruan- Paling baik kalau kalian bertiga mau betul-betul bertanding harus saling berjanji." Nona ciauw berkata " bertiga"

maksudnya supaya Khoe cong, tukang mengadu-ngadu orang itu, juga turut terlibat dalam pertandingan-

Terdengar beberapa orang berteriak setuju dengan kata katanya nona ciauw, mereka kelihatan benci betul kepada orang she Khoe tukang mengadu dombakan orang itu. Pemuda bernama co Goen Tiong telah mengusulkan perlombaan pertandingan lain, katanya.

"Ya, kain sutera yang untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie hanya barang biasa saja, bukannya merupakan benda yang aneh. Maka, menurut pendapatku, lebih baik kalian bertanding dengan lain cara dalam suasana damai."

"Bagus, bagus," menyelak In Kie heng, "kau mau usulkan kami berlomba dengan cara bagaimana? coba ceritakan kasih orang-orang dengar."

"Pertandingan itu aku pikir baik diatur begini," kata co Goan Tiang sambil bersenyum.

"yalah kira kira sepuluh Li jauhnya dari sini ada sebuah gunung Hui-cui-san, setelah mendaki puncaknya membelok kearah barat kira-kira juga sepuluh Li ada sebidang ladang yang tandus. Setelah berjalan dari tempat itu kira-kira lima Li, disitu terdapat gunung kecil yang lancip dan sebuah lembah yang sempit, tanahnya semua disitu pasir melulu lembah ini jalanannya berliku-liku. Kalau orang berjalan lempang mengikuti sepanjangnya bisa kembali balik ketempat semula, asalnya darimana mereka masuk. Melalui sepanjang lembah yang sempit ini, orang akan menemui tebing-tebing gunung ada terdapat banyak sekali goa." sampai di sini ia bicara, terhenti sebentar, mengawasi kepadanya anak muda yang sedang asyik mendengarkannya.

Dilain pihak. orang orang dari perserikatan Perkampungan- semuanya sudah tahu ke-mana juntrungannya pembicaraan co Goen Tiong ini.

"Saudara co, lembah itu namanya apa ?" tanya Koen Soe Tek.

co Goen Tiong ketawa "Lembah itu dinamai Liu soa- kok" jawabnya, "puncak gunung ini ada goanya yang dinamai Pek cong. Nah saudara Kong, apakah sudah mendengarnya nama-nama

ini?"

Kong soe Tek terkejut mendengar disebutnya nama goa Pek-cong tong, maka ia lalu melirik pada engkonya, kemudian pada si "Muka Merah" Him Toa Ki dari oey-san-pay. Lirikannya itu seolah olah memohon petunjuk.

"Ya," kata Him Toa Ki dengan suara dingin "lembah itu kabarnya ada berbahaya, tidak kusangka adanya tidak jauh dari sini. Dipuncak Si ban-ieng dalam goa Pek- cong tong ada berdiam seorang tua yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia kangouw, yalah su-hengnya si "Dewi obat Kong Jat Sin bernama Souw Kie Han- Setelah lima puluh tahun lamanya ia berjarah disana, telah melarang orang mengujuk tempatnya itu."

"Menurut katanya orang cerita dalam kamarnya orang tua itu ada digantung sebuah mutiara ajaib untuk menolak hawa racun. Maka itu kawannya binatang berbisa tidak ada yang berani memasuki kamarnya itu. Dalam kamar hawanya panas, karena sebagian dari dinding goa itu ada dari batu Hwe giok (batu kumala berapi). Nah. kalau kalian sudah sampai disana, bawalah sepotong batu Hwe giok kemari sebagai tanda bukti bahwa kalian sudah sampai ditempat itu Hwe giok itu dilain tempat tidak ada, kecuali disitu tempatnya. Batu itu. merupakan benda yaag berharga maka jikalau diantara kau orang ada yang beruntung mendapatkannya dan dibawa kemari untuk dihadiahkan kepada nona Kim, memang ada harganya daripada barang hadiah kain sutera." Terdengar Kong Soe Tek berkata.

"Aku pun pernah mendegar bahwa goa Pek cong tong di puncak Si ban leng ada tempat yang berbahaya. Kita kebetulan sudah sampai disini. maka ada baiknya untuk pergi kesana, hitung-hitung sebagai menambah pengalaman- Bagaimana dengan Pocu dan ceng-cu apakah juga akan turut pergi kesana?"

Pocu dan cengcu dimaksudkan Khoe cong dan ln Kie Seng.

Mendengar kara-katanya Kong soe Tek yang paling belakang matanya Khoe cong melotot kearahnya seorang In Kie Seng dengan marah besar. "Biarpun tempat itu berbahaya, aku berani pergi kesana?"

"Ya, kita pergi berkuda, tentu tidak membawa pembantu." kata Khoe cong dengan mata melotot mengawasi kepada Kong soe Tek. Kong soe Tek hanya ganda ketawa saja semua itu. Seng giok cin dan Kim Hong Jie mendengarkan perundingan mereka. Tiba-tiba Seng giok cin mendekati Kim Hong Jie dan berkata bisik2.

"Adik Hong, kau lihat. Mereka hendak menempuh bahaya, tentu ada salah satu yang akan menjadi korban hilang jiwanya." Kim Hong Jie anggukkan kepalanya.

"Nah, sekarang kalian bertiga sudah setuju." kata co Goen Tiong pula, rupanya ia sebagai wasitnya dari pertandingan ini. "tapi harus diterangkan syaratnya disini, yalah didalam tempo dua puluh empat jam kalian harus sudah pulang lagi kesini. Karena tempat itu tidak jauh letaknya dari sini, maka syarat ini rasanya sangat sederhana." Tiga pemuda itu hampir berbareng menganggukkan kepalanya.

Mereka tinggal menanti temponya berangkat saja. Tiba tiba ada Li oh hweshio dari Tibet menghampiri mereka.

co Goen Tiong berseru. "Nah, ini Taysu yang dapat mengantar kalian kesana. Tapi, tunggu dulu ia menyelesaikan pertandingannya diatas luitay." Mereka setuju dengan bicaranya co Goen Tiong.

Li Dho saat itu sudah naik keatas luitay, disusul deh Boen Kay Teng lawannya.

Boen Kay Teng ini umurnya kira-kira lima puluh tahun, matanya merah dan berbadan sedang, tindakan kakinya perlahan, tapi mantap. Ia adalah keponakannya Boen-lt Kong, salah satu dari Lima Tokoh terkuat pada masa itu dalam rimba persilatan-

Boen it Kong ada satu pendekar ulung dibagian barat daya. Mendengar keponakannya berkelakuan tidak baik, maka Boen Kay Teng dipanggilnya. Ia diberikan pelajaran ilmu silat yang tinggi oleh sang paman, tapi kenyataannya ia tidak bisa merubah kelakuannya yang jelek. Ia telah berkawan dengan orang-orang yang jalan hitam (jahat), dan namanya terkenal dalam kalangan orang jalan jahat itu.

Ia malang melintang dalam kalangan rimbah hijau sudah sepuluh tahun maka orang sudah tahu benar kelakuannya yang buruk. tapi kelihatan banyak pendekar kawakan sungkan berurusan dengannya karena mengingat akan pamannya yang namanya sangat dimalui dalam kalangan kangouw.

Dua lawan setelah berhadapan saling menyilahkan untuk mulai menyerang.

Li Dho telah menyerang lebih dahulu. Serangannya dahsyat sekali, hingga lawannya tidak berani menyambuti keras lawan keras. Dengan menggunakan tipu serangan "Koan Kong buka baju" Boen Kay Teng telah menangkis serangan Li Dho.

Jago dari Tibet itu mainkan ilmu pukulan Toa ciu-in (cap telapakan tangan), dengan telapakan tangannya mencecer musuhnya hebat sekali, hingga suara angin serangan sampai terdengar nyaring. Boen Kay Teng kelihatan terputar-putar mengelilingi panggung untuk meluputkan diri dari serangan dahsyat lawannya.

Li Dho dan kawannya Phadho Ka datang turut meramaikan pertandingan adu silat di-Seng Kee Po, belum ketahuan mereka ditempatnya itu ada masuk partai mana maka Seng Eng selalu menaruh curiga kepada mereka.

Boen Kay Teng yang terus menerus dicecer musuhnya, menjadi kewalahan- Dalam hatinya menjadi nekad, ia lalu menyerang dengan senjata gelapnya kepada sang lawan hingga semua orang menjadi kaget. Dalam gebrakan pertama itu hanya dibolehkan menggunakan tangan kosong bertanding, tidak menggunakan senjata apalagi senjata gelap. Maka perbuatannya Boen Kay Teng tadi ada melanggar peraturan.

Li Dho tidak takut senjata gelap, karena ia berilmu Thian-Hong-leng (sisik naga sakti), ilmu ini dapat memunahkan serangan senjata gelap macam apa juga. Maka ketika melihat lawannya menyerang dengan senjata gelap. ia mendekam badannya untuk meluputkan diri, tapi ternyata kejadiannya tidak seperti yang ia duga.

Hanya terdengar suara tertahan keluar dari mulutnya dua orang itu kemudian berpisahan Boen Kay Teng mundur sanapai tujuh- delapan tindak dan malah tubuhnya telah terpelanting kebawah luitay.

Li Dho hanya mundur dua tindak. berdiri tegak. tapi mukanya sudah pucat pasi, terang ia sudah terluka dibagian dalamnya.

Phua Do Ka, temannya Li Dho sudah lantas melesat naik keatas luitay, menanyakan keselamatannya sang kawan- Tiba tiba Li Dho telah memuntahkan darah segar dari mulutnya badannya nampak limbung hendak jatuh kalau tidak keburu dibimbing oleh Phua Dho Ka, ya menjadi marah sekali kawannya sudah dicurangi musuhnya.

Diatas luitay itu telah diketemukan senjata gelapnya Boen Kay Teng yang berupa cincin- Dalam bahasa tibet Li Dho berkata pada kawanannya.

"Suheng, rupanya ajalku sudah sampai disini. Kalau aku mati, harap suheng bawa mayatku pulang." Belum lampias bicaranya, ia sudah lantas memuntah lagi darah segar.

Boen Kay Teng setelah terpelanting dan bangun lagi, ia mencari sebuah kursi untuk ia beristirahat, napasnya kelihatan sudah empas-empis sangat keras- Ia terluka parah didalam. Ia merapatkan matanya untuk memulihkan tenaganya kembali.

Seng Eng dan Pek Boe Taysu sudah lompat keatas luitay untuk memeriksa keadaan Li Dho, sementara Phua Dho Ka sudah jadi gemas sekali pada Boen Kay Teng yang curang dan tanpa memperdulikan kawannya ia sudah lompat turun dan menghampiri Boen Kay Teng yan sudah tidak berdaya hendak dibunuhnya.

Tapi niatnya dihalang halangi Song coe Ki dan dua saudara oet-ti yang menghibur, supaya Phua Dho Ka jangan menuruti napsu hatinya saja. Urusan dapat didamaikan, bagaimana baiknya sebab Li Do tokh belum mati.

Seng Eng melihat keadaan Li Dho sudah lantas mengeluarkan obat pilnya yang mustajab untuk menyembuhkan luka didalam. kemudian turun dan memberikan juga obat pil itu kepada Boen Kay Teng yang keadaannya sudah setengah mati.

Pertandingan telah berakhir sampai disitu saja. Penonton kasak-kusuk menyalahkan kepada satu diantaranya, ada juga yang menyalahkan pada dua duanya.

Boen Kay Teng bersalah sudah menyerang dengan senjata gelapnya, sedang Li Dho dipersalahkan sudah keterlaluan mendesak pada lawannya yang sudah kewalahan. Sementara itu tiba-tiba terdengar co Goen Tiong berkata.

"Saudara yang hendak berlomba mengambil batu Hwe giok, perhatikan padasyarat yang telah dikatakan tadi, Sekarang tanggal sembilan belas bulan delapan, jam setengah lima sore, besok pada hari begini siapa saja diantara kalian yang datang lebih dahulu di-sini dengan membawa batu Hwe- giok dianggap dia yang menang dalam perlombaan ke puncak si ban-leng goa Pek cong-tong. Tegasnya, dalam tempo sehari semalam kalian semuanya sudah berada disini, dalam keadaan masih segar atau terluka, mengerti semua?" Tiga orang yang hendak berlomba itu telah anggukkan kepala.

"Ya masih ada yang penting untuk peringatkan." kata lagi co Goen Tiong, "masing-masing tidak boleh membawa pembantu. Yang mengantarkan boleh, tapi tidak boleh melewati batas lembah Liu-soa kok." Tiga pemuda itu pada anggukkan kepala.

Mereka tak tahu seluk beluknya tempat itu, main sanggup saja. Tapi untuk yang- mengetahui bagaimana seramnya keadaan ditempat yang hendak dituju itu, merasa bergidik dan berdiri bulu romanya.

Souw Kie Han, orang tua yang mengasingkan diri dalam goa Pekcong itu tabiatnya sangat kukway, tidak mau kalah dengan siapa juga dalam ilmu silat.

Siapa yang bertempur dengannya pasti kalah dan mati. ia sangat kejam dan telengas, sudah tersohor dalam rimba persilatan-

Lain daripada itu, juga dipuncak Si-ban leng yang hidup disitu hanya sebangsa kutu-kutu dan binatang-binatang yang berbisa saja. Sekali orang kena digigit atau di antuk oleh ular atau binatang kutu pasti akan binasa, maka semua yang tahu bagaimana berbahayanya ditempat itu, pada menguatirkan akan keselamatannya tiga pemuda itu.

Seng Giok cin dengan bersenyum menggiurkan telah berkata pada tiga pemuda itu, "Ya, aku dengan adik Hong mendoakan kalian selamat. sekarang kami mohon diri dahulu ada sedikit urusan- Besok sore pada hari begini, kami harap kalian dapat kembali dengan tidak kurang suatu apa dan membawa Hwe giok untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie."

Sambil berkata ia menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ, dengan sedikitpun tidak merasa kuatir akan keselamatannya tiga pemuda itu.

Tiga pemuda yang tidak akan menempuh bahaya, hanya tertawa saja melihat dua jelita itu mengundurkan diri dan lenyap bayangannya dari pandangan mereka. Kemudian mereka bersiap-siap hendak melakukan perjalanan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh co Goen Tiong.

Kong Soe Jin lalu menarik tangannya sang adik dan berbisik dikupingnya.

"Sute sudah terlanjur kau menyanggupi, biar bagaimana juga harus menghadapi bahaya, kau tak dapat mundur lagi. Hanya aku memesan kau lebih baik mati di tangan orang tua penyepi atau

oleh binatang berbisa disana dari-pada kau kena dicelakakan oleh dua pemuda yang menjadi saingan kau berlomba."

"Toako, kau jangan kuatir." jawab Kong Soe Tek. "aku akan menjaga diriku sebaik-baiknya. Legakan hatimu. Apa kau takut aku kalah berusaha?"

"Bukan itu maksudku. Kalau menang tidak menjadi soal, hanya aku tidak puas kalau dirimu nanti dianiaya oleh dua orang licik itu."

"Aku paham. Mereka itu ada orang-orangnya "Perserikatan Benteng Perkampungan- tapi aku sudah siap saja, aku tidak takut. Legakan hatimu toako, aku juga mendoakan toako tidak mengalamkan kesulitan apa-apa sementara aku tidak berada didamping mu." Kong Soe Jin merasa sedih mendengar perkataannya sang adik.

Ia tidak tahu apakah perpisahan dengan sang adik ini nanti akan berjumpa pula dengan selamat atau sang adik mengalamkan bahaya yang tidak diingini? Kong Soe Jin kelihatan berat sekali melepaskan adiknya.

Sementara itu tampak Sa Kie Sang juga bercakap-cakap dengan ciauw Hauw, sedang Khoe cong kasak kusuk dengan Hui Seng Kang.

Setelah tiga pemuda yang hendak berlomba itu berunding sebentaran, Kong Soe Jin ajak adiknya untuk berangkat terlebih dahulu.

Terdengar Hoan SiangJle dan Kun-lun Pay mengucapkan doa restunya.

"Ya, saudara Kong, aku bantu mendoakan semoga kau nanti kembali dengan kemenangan dan selamat walaftat..."

"Terima kasih" jawab Kong Soe Tek.

Kemudian dengan diantar oleh engkonya Kong Soe Jin dan Hoan Siang Jie, berangkatlah Kong soe Tek terlebih dulu.

sekarang mari kita ajak pembaca melihat Ho Tiong Jong.

Ketika dua nona jelita yang mempesonakan hatinya sudah berlalu, Ho Tiong Jong girang bercampor masgul. Girang karena totokannya sudah terbuka dan masgul karena dengan cara bagaimana ia memutuskan rantai yang membikin dirinya tidak merdeka ? Dalam keadaan bingung. tiba-tiba ia mendengar suaranya co Kang cay berkata.

"Hei, bocah, legakan hatimu, aku lihat dua nona itu tidak akan membunuhmu. Nah, sekarang coba lihat, barang apa yang si nona berikan padamu tadi."

Ho Tiong Jong baru jengah. Barusan ketika Kim Hong Jie membuka totokannya, bergerak menyesapkan suatu benda ditangannya. ia segera memeriksa, kiranya benda itu ada kikir kecil yang dapat mengikir putus rantai yang membelenggu dirinya. Ho Tiong Jong kegirangan.

"Terima kasih, adik Hong." katanya dalam hati. Lalu berkata pada co Kang cay. "Dia memberi kikir untuk mengikir rantai."

"Bagus, bagus Untungmu sangat bagus bocah ..." co Kang cay ketawa terkekeh kekeh. Sambil mergerjakan tangannya, Ho Tiong Jong pasang omong dengan co Kang cay.

Antaranya ia berkata "Lopek, aku ingin lekas-lekas keluar dari sini. Bagaimana, kalau umpamanya aku sudah merdeka dan hendak keluar, apakah lopek mau turut aku?"

"Bocah, "jawab co Kang cay "hatimu mulia sekali, cuma sayang aku sudah tua, tidak ada gunanya lagi hidup beberapa tahun."

"Tapi aku ingin kau ikut aku keluar."

"Tidak. Dengan adanya aku, tapi memberabekan kau bergerak."

"Apa pun yang akan terjadi, aku harus menolong lopek keluar bersama-sama dari neraka ini. Aku harap kau suka menerima bantuanku yang tidak berarti ." Co Kang Cay menghela napas. Agaknya ia terharu akan kebaikan hati si anak muda.

Ketika Ho Tiong Jong menanyakan tentang jalanan rahasia untuk keluar dari kamar tahanan itu, tiba-tiba terdengar seperti ada tindakan kaki yang mendatangi.

Sebentar lagi. tampak ada terbuka sebuah lubang pada pintu kamar, sepasang mata yang bersinar mencorot kedalam. Ho Tiong Jong tidak tahu siapa orang itu, tapi ia tidak perduli. Ia pura-pura tidak tahu ada orang yang mengintai dari lubang tersebut. Kemudian lubang itu telah tertutup kembali.

Dalam hati Ho Tiong Jong berpikir. "Kenapa orang sangat perhatikan diriku? Aku biar bagaimana harus membawa keluar Co lope dari sini. Kalau aku keluar sendiri, mana aku bisa pergi ke kota Yang cio untuk menikmati keindahan bangunan istimewa seperti yang dibicarakan oleh Tio lopek?" Lalu Keduanya tidak berkata-kata, Ho Tiong Jong yang memecahkan kesunyian.

"Co lopek, kau jangan kuatir. Kalau aku lolos, kau juga harus lolos"

"Hai, bocah, hatimu memang sangat mulia. Aku sebenarnya sudah tua dan tidak ada gunanya lagi, cuma saja aku sudah mempelajari itu bangunannya istimewa di Yang-co dua puluh tahun lamanya, kalau aku tidak bisa membuktikan kepandaianku untuk mendapatkan jalan masuk kedalam bangunan gunung-gunungan itu, memang aku mati juga rasanya sangat penasaran-"

Hatinya Ho Tiong Jong tergetar mendengar kata-katanya si orang tua.

Sambil terus mengerjakan kikirnya untuk membebaskan diri dari rantai. Ho Tiong Jong menanyakan jalan keluar dari situ.

Menurut keterangan Co Kang Cay, untuk dapat keluar dari kamar tahanan itu orang harus melalui s ebuat selokan yang mempunyai beberapa tikungan- Harus diperhatikan bilukan-bilukan itu jangan sampai salah membiluknya, barulah bisa keluar dari kamar tahanan yang tidak enak itu.

Selagi mereka asyik pasang omong tiba-tiba terdengar orang menanya dengan suara keras. "Hei, apakah didalam betul ada Ho Tiong Jong ?"

"Ya, betul aku Ho Tiong Jong." jawabnya.

Tidak lama, pintu kamar tahanan telah terbuka dan muncul seorang berjenggot putih, matanya berkilat kilat mengawasi Ho Tiong Jong. ia berkata perlahan-

"Hei. Tiong Jong, aku ini Ngo ho San-jin bernama Cia Peng San, aku datang hendak menolong kau, harap kau jangan bicara keras-keras"

Ho Tiong Jong melongo. ia tak kenal pada orang itu. Apa maksudnya ia hendak menolonGi dirinya yang tidak kenal satu dengan lain-

"Sahabat." kata Ho Tiong Jong: "aku dengan kau tidak saling mengenal, untuk apa kau hendak menolonGi diriku?"

"Soal itu, sebentar kalau kau sudah keluar dari sini nanti aku terangkan dengan jelas apa sebabnya." kata cia Peng san-

Setelah berkata demikian cia Peng San sudah hendak gerakkan badannya meluncur kebawah menghampirinya Ho Tiong Jong berkata.

"Hei, sahabat, nanti dahulu? Aku tidak mau sembarangan menerima budi orang, maka aku harap kau suka memberi keterangan lebih dahulu?"

"Ah, kau ini banyak cerewet. Kalau sebentar diluar aku menerangkan padamu bukankah sama saja dengan disini"

Sebelum Ho Tiong Jong membuka suara lagi, tiba-tiba terdengar seorang berkata. "Aaaa saudara cia, kau rupanya kelebihan tempo jalan-jalan sampai disini" Itulah suara mengejek dari si Rajawali Botak Ie Yong. Kiranya kedatangan cia Peng san kesitu sudah kena diintai oleh Ie Yong.

Mendengar perkataannya si Rajawali Botak cia Peng San tidak jadi takut. Dengan suara tenang ia menjawab. "oo, ie congkoan juga ada melakukan ronda sampai di sini? Benar-benar kamar tahanan ini sangat dijaga rapih sekali." Si Rajawali Botak tertawa dingin

"cia Peng San kau ini ada ke sorga bukan dijalani malah berjalan masuk ketempat jebakan disini. Ha ha ha... "

"ie Congkoan," kata pula cia Peng San, "aku tidak mengerti apa artinya kau kata barusan? Apakah kau maksudkan tempat ini terlarang untuk orang melihat- lihatnya?"

Sambil berkata demikian, cia Peng San matanya celingukan mencari tahu. kalau- kalau dibelakangnya si botak ini ada lagi yang akan membantunya. Tapi lantaran keadaan gelap.

maka ia tidak dapat lihat orang lain-

"Ha ha ha, Cia Peng San, kau jangan berlaga bodoh dengan maksudmu yang sebenarnya. Aku tahu namamu ada terkenal juga di kalangan kangouw, aku si orang she le ingin menjajalnya disini. Mari, mari kita bertempur"

Setelah berkata, tangan kirinya menyerang dengan senjata, sedang tangan kanannya membuka telapakan tangannya dan lima jarinya yang runcing mengancam hendak mencengkeram pada si orang she Cia.

Cia Peng San marah melihat kelakuannya si Rajawali Botak.

Ilmu mencengkeram dari le Yong dianggap tidak ada artinya bagi Cia Peng San, sebab ia juga ada akhli ilmu demikian- Ia dapat menggunakan tiga puluh enam jalan menyerang dari ilmu menceng kramnya. Tidak heran, kalau dalam tempo pendek saja si botak sudah ke-desak oleh musuhnya, akhirnya ia hanya dapat menangkis tapi tak dapat balas menyerang.

Ho Tiong Jong menyaksikan pertandingan kedua lawan itu dengan nyata. Pikirnya hendak membantunya Cia Pek San, tapi diluar dugaannya dalam dua tiga gerakan saja le Yong sudah kena dijatuhkan oleh lawannya.

Berbareng Ho Tiong Jong mendengar Co Kang Cay berkata.

"Tiong Jong, kau jangan enak-enakan- Kau harus waspada, sebab orang yang hendak menolongmu itu aku lihat bukannya orang baik-baik."

Ho Tiong Jong tidak begitu percaya akan kata-katanya, tapi diam-diam ia memikirkan juga. Kini ia melihat sibotak rubuh, apakah ia mati?

Kiranya sibotak rubuh hanya berpura-pura saja mati, karena tidak sanggup meladeni lebih jauh lawannya yang kosen. Ia sudah terkena goresan kukunya cia Peng San hingga berlumuran darah. Saat itu ia pikir lebih baik mencari jalan selamat dan pura-pura rubuh binasa.

Tapi ia lupa bahwa lawannya tidak mudah dikelabui oleh akal bulusnya.

cia Peng San perdengarkan tawa dingin, katanya.

"Hei, botak, lekas balut lukamu dan mari kita bertempur lagi?"

Si Rajawali Botak paling benci kalau mengatakan "si botak", maka ketika mendengar lawannya itu perdengarkan itu perkataan, kontan darahnya mendidih dan sambil kertak gigi ia mengawasi musuhnya dengan mata beringas.

-ooo0dw0ooo-

KETIKA pertandingan dimulai lagi, Kong Soe Jin telah menghunus pedangnya yang berkilauan hijau warnanya, belakang pedang ada lebih tipis dari pedang biasa, inilah pedang yang dinamai. Im kiam pedang Ying kiam, dipakai oleh Kong See Tek.

Berdasarkan nama pedang itu, maka kedua saudara she Kong itu mendapat julukan Im-yang Siang kiam atau Sepasanng pedang Im- yang.

Hui Seng Kang bersenjatakan "Siang hay-tiang atau, Tongkat "Siang hay-tiang" atau Tongkat sepasang jantung hati. Senjata orang she Hui itu berat sekali, kira-kira tujuh puluh delapan puluh kati, hingga dibawanya juga harus digotong dua orang.

Penonton yang melihat itu diam-diam menguatirkan akan dirinya Kong Soe Jin. Mereka lihat pertandingan dengan tangan kosong saja kelihatan Kong Soe Jin sudah tidak tahan, apa lagi sekarang ia harus melayani Hui Seng Kang punya senjata berat, mendapat ia pertahankan diri?

Sekali saja pedang kebentur dengan senjata beratnya Hui Seng pasti pedang nya orang she Kang itu akan terbang melayang-layang.

Khoe Cong mengawasi pada Kang soe Tek yang tengah memandang ke atas panggung dengan hati sangat tidak enak, kuatir engkonya dikalahkan-orang she Khoe itu benar benar menyebaikan, terdengar ia mengejek lagi.

"Benar benar kita dari "Perserikatan Benteng Perkampungan tak usah malu keluar dalam pertandingan, nona Kim. seperti tadi nona Seng dengan mudah saja menjatuhkan Ho Tiong Jong, maka sebentar lagi Hui Seng Kang juga tentu akan keluar sebagai pemenang dari pertandingan yang ia sedang lakukan- Ha ha ha... "

Sambil ketawa matanya melirik kepada Kong soe Tek yang berdiri menjublek tidak ambil pusing perkataannya itu. Sebenarnya dua saudara Kong itu, sebagai "im yang Siang kiam" biasanya sangat sombong tidak memandang mata kepada siapa juga.

Tapi kini, semua hinaan dari Khoe Cong terpaksa ditelannya, karena jangan lagi ia menimbulkan urusan baru, sedang memandang engkonya saja melawan Hui Seng Kang hatinya sudah kedat kedut takut engkonya dijatuhkan oleh lawannya.

Kim Hong Jie hanya bersenyum mendengar kata-katanya Khoe Cong, sedang nona Seng sendiri tinggal adem adem saja.

Hui Seng Kang setelah menerima sepasang senjatanya, lantas mendemenstrasikan permainan tongkat mengaung-ngaung dan ujungnya telah mengeluarkan letikan seperti kembang api.

seng Giok Cin yang melihat itu telah kerutkan alisnya dan berkata sendirian-

"Hmm orang itu tolol benar. Untuk apa dia membuang-buang tenaga dengan permainannya yang meminta tenaga besar, bukankah lebih baik digunakan untuk bertempur? Celaka, kalau sebentar dia kehabisan tenaga baru dia tahu rasa... " Khoe Cong tidak senang kawannya di kritik.

Ketika ia hendak membuka mulut, dilihatnya Kim Hong Jie sedang manggut-manggutkan kepalanya, seperti yang merasa setuju dengan pendapatnya nona Seng, maka ia tidak jadi membuka suara karena disalahkan oleh kedua nona jelita itu Diatas luitay dua lawan sudah mulai bergebrak lagi.

Kong Soe Jin pandai memasukan pedangnya. ia kelihatan berputar-putar mengeliling luitay seperti yang menari-nari, hingga Hui Seng Kang terpaksa mengikuti gerakkannya. Setelah mendapat lowongan segera orang she Hui itu kerjakan sepasang tongkatnya yang berat menyerang lawannya.

Pertandingan makin lama makin seru. Sepasang tongkatnya Hui Seng Kang bertubi-tubi menyerang lawan, hingga Kong soe Jin kelihatan kewalahan menangkisnya. Mengingat akan beratnya genggaman musuh, maka Kong Soe Jin tidak mau membenturkan pedangnya.. sepuluh jurus dengan cepat sudah dilewatkan-

Hui Seng Kang penasaran belum juga dapat menjatuhkan musuhnya maka ia mendesak lebih keras Kong Soe Jin sebisa-bisanya berikan perlawanan dan menjaga diri jangan sampai kena dijatuhkan-

Suatu ketika Hui Seng Kang menyerang dengan gaya serangan "Seng hong Bo lang. atau Menuruti angin memecah ombak. tongkatnya yang satu dimalangkan sedang yang satunya lag menyerang lurus. Untuk menghindari serangan hebat ini, Kong soe Jin melesat tinggi keudara.

Hui Seng Kang ketawa gelak-gelak. lalu membarengi dengan serangan dahsyat sebelumnya Kong soe Jin sempat menancapkan kakinya dilantai luitay.

Para penonton kaget dibuatnya. Mereka menduga Kong Soe Jin kali ini akan melayang jiwanya. Tapi orang she Kong itu sudah berlaku nekad kali ini menyambuti serangan tongkatnya Hui Seng Kang dengan pedangnya dipalangi.

Satu benturan dari dua senjata terdengar trang nyaring sekali. Tubuh Kong Soe Jin tampak melayang tinggi lagi dludara kemudian jatuh diatas luitay. ia masih bisa merang kang dan mengumpulkan, kemudian sudah bisa bangun lagi untuk menghadapi musuh

Penonton yang menyaksikan kejadian itu telah perdengarkan tampik soraknya yang riuh, sementara Hui Seng Kang sendiri merasa sangat heran melihat Kong Soe Jin tidak apa-apa menyambuti serangan hebatnya tadi.

"Saudara Kong, hayo maju lagi kita bertempur" Hui Seng Kang menantang.

Kong Soe Jin anggukkan kepalanya, kemudian pedangnya im-kiam mulai menari-nari lagi diantara samberan sepasang tongkatnya Hui Seng Kang yang berat. Perlahan-lahan dari kedesak Kong Soe Jin telah dapat balik mendesak musuhnya.

Diluar dugaan semua penonton, pertandingan telah mengasih lihat gambaran yang dapat membikin para penontonnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan tentu Hai Seng Kang yang tadi begitu agresif, kini sudah mulai terlihat keletihannya, sedang Kong Soe Jin masih kelihatan segar dan merangsek pada musuhnya, setirnya Hui Seng Kang tidak berdaya dan menyerah kalah.

Suatu kesudahan yang membuat Khoe Cong melongo dan merah padam mukanya.

Kini ia tidak berani membuka suara besar lagi kepada Kong Soe Tek. Dengan hati cemas ia menghampiri pada kawannya dan menanyakan, kenapa sang kawan sudah jadi kalah, sedang menurut perhitungannya dapat menang dari Kong Soe Jin?

"Khoe Pocu, kau keliru melihat. Kong Soe Jin sebenarnya ada achli pedang yang pandai, tidak kecewa namanya tersohor dikalangan sungai telaga. Kalau semula kelihatannya ia berikan perlawanan yang lembek itulah ia hanya main main saja dan dengan sengaja mau kuras aku punya tenaga. Aku si tolol bermula tidak tahu, terus-terusan menyerang dengan mengeluarkan tenaga besar, hingga enak saja orang she Kong itu permainkan aku.

Tanpa merasa aku telah masuk dalam perangkapnya. Kau lihat, setelah ia melihat aku sudah kehilangan banyak tenaga, ia telah mencecar aku dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, hingga aku menjadi kewalahan dan kalau aku tidak siang-siang menyerah kalah terang aku akan menjadi korbannya pedang, kena di-"sate" diatas punggung, maka aku dapat melihat gelagat, maka aku sudah menyerah kalah, meskipun aku tahu perbuatan itu akan memalukan"

Hui Seng Kang berkata-kata dengan paras guram dan menyesal sekali untuk apa yang ia telah perbuat diatas panggung. Sama sekali ia tidak nyana orang she Kong itu pandai memancing tenaga orang, hingga peroleh kemenangannya dengan mudah.

Cocok dengan kata kata Seng Giok Cin. bahwa Hui Seng sudah mendemontrasikan tenaganya yang kuat. Siang-siang ia sudah banyak menghamburkan tenaganya, sehingga dimenit- menit paling akhir melawan Kong soe Jin yang gesit dan lincah tidak berdaya karena kehabisan "bensin".

Tempik sorak terdengar riuh ketika Pek Boe Taysu naik keatas luitay.

Kini gilirannya ia yang menjadi Taycu, untuk menggantikan Hui Seng Kang wakil Tay-cu-nya yang pecundang.

orang menduga-duga akan kekalahannya Kong soe Jin mengingat Pek Boe Taysu ada satu jago tua yang sudah banyak pengalaman, lagipula hweshiotua itu ada sangat telengas.

Kong Soe Jin menjura dengan hormat pada Pek Boe Taysu, ketika mereka sudah berhadapan

"Tidak dikira Taysu yang hari ini menjadi Taycu, mereka sebentar kalau aku sitolol mengunjukkan

kebodohanku, harap Taysu suka memaafkan dan sukalah memberi banyak petunjuk akan

kesalahannya "

"Ha ha " Pek Boe Taysu memotong dengan ketawanya yang bergelak-gelak "Sicu ada jago

pedang dari Ngo bie-pay, mana aku si hweshio bangkotan dapat memberi petunjuk apa-apa. Harap sicu jangan terlalu merendah. Nah, marilah kita mulai bertanding "

"Baiklah" kata Kong soeJin dengan tak sungkan-sungkan ia menghunus pedangnya.

Pek Boe Taysu genggamannya aneh, baru pernah orang melihatnya. Bentuknya seperti sekop. diujungnya ada sepasang gigi tajam dan lingkaran dari baja kecil kecil, hingga senjata itu kalau digoyangi akan perdengarkan saara kerincingan ramai.

Ketika Pek Boe Taysu mempersilahkan menyerang lebih dulu. K^ong Soe Jin tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai membuka serangan dengan satu tipu serangan yang indah dari perguruannya. Lawannya menangkis sambil perdengarkan ketawanya yang aneh

Kemudian Pek Boe Taysu balas menyerang dengan gaya. Dengan tongkat menaklukkan setan, ia memalangkan dan melempengkan tongkatnya menyerang musuhnya dengan hebat sekali yang dapat mengugurkan gunung.

Tapi Kong Soe Jin gesit dan lincah, ilmu pedangnya pun mahir, maka dengan indah sekali sudah meluputkan diri dari serangan lawannya yang berat.

Kali ini menghadapi musuh kawakan, Kong Soe Jin tidak main-main- Ia mencurahkan betul-betul perhatiannya pada ilmu pedangnya yang dimainkan itu, hingga Pek Boe Taysu dengan genggaman beratnya tidak bisa berbuat banyak terhadap jago muda dari Ngo-biepay itu.

Penonton di bikin kagum oleh permainan pedangnya.

Berkali-kali terdengar sorakan penonton. Kalau Kong soe Kek merasa masih kuatir akan kekalahannya sang engko adalah Khoe cong diwajahnya yang jelek mengunjukkan perasaan dengki. Bibirnya saban menjebi yang membikin wajahnya jadi semakin jelek saja.

Meski Pek Boe Taysu mencoba dengan sungguh untuk menjatuhkan lawan mudanya, ternyata tidak berhasil. Kesudahannya lima belas jurus telah dilewati dan pertandingan dinyatakan seri, hal mana telah disambut dengan suatu tampik sorak yang ramai sekali oleh penonton-I Hadiah telah diberikan kepada Kong Soe Jie oleh Seng Pocu sendiri.

Seng Giok Cin berseri-seri. sedang Kim Hong Jie juga tampak merasa puas dengan kesudahan pertandingan itu. Diam diam nona Kim yang nakal teluh mengutik lengannya nona seng. "Encie Giok betul-betul kau banyak untung hari ini. Si orang she Kong sebentar lagi akan menghadiahkan barang yang diperolehnya itu kepadamu. Kenapa kau tidak cepat-cepat bangun berdiri untuk menyambutnya."

"Adik Hong. kau nakal betul, paling bisa memang kau menggoda orang." ia berkata sambil mencubit tangannya yang dicubit tadi.

Nona Kim lucu sekali membuang aksinya hingga mau tidak mau nona Seng ini menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawanya. Berdua mereka bersenda gurau dengan gembira.

Tampak Kong Soe Jin jalan menghampiri mereka, lewat didepannya Hui Seng Kang yang duduk disitu, terhadap pecundang ini Kong Soe Jin melirik sejenak dan tidak memandang mata.

Seng Giok Cin menyambut dengan gembira ketika Kong Soe Jin menghadiahkan barangnya.

"Nona Seng. " katanya. "barang ini kudapatkan bukan secara mudah, aku harap kau menerimanya dengan segala senang hati."

"Terima kasih, kau sungguh baik sekali saudara Kong." jawab Seng Giok Cin sambil bersenyum girang dan melirikan matanya yang jeli. Kong Soe Jin merasa girang dan bangga kelihatannya.

Seng Giok Cin kemudian berpikir dan berkata kepada sekalian pemuda yang ada di-sekitarnya.

"Saudara saudara, adik Hong Jie bersedia menerima hadiah untuk yang ada minat, aku di anjurkan untuk mengunjuk kepandaiannya agar mendapat hadiah sutera lagi untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie. Ayo, lekas, aku anjurkan-.. "

Kim Hong Jie pelototkan matanya, mulutnya yang mungil berkemak kemik seperti yang mau mengatakan apa-apa kepada Seng Giok Cin, tapi nona Seng hanya ganda ketawa saja kelakuannya Kim Hong Jie.

Tapi kemudian Kim Hong Jie sudah unjuk senyumannya yang ramai pula diparasnya sujennya memain memikat hati. Tidak heran kalau banyak pemuda sudah ketarik hatinya dan ingin unjuk kepandaiannya diatas panggung untuk merebut barang hadiah dan diberikan kepada nona Kim yang cantik jelita.

Pertama-tama Kong soe Tek yang berdiri disusul oleh in Kie Seng.

Khoe cong juga kelihatan bangkit berdiri, dengan muka tidak enak dilihat ia perdengarkan ejekannya kepada Kong Soe Tek.

"Hmm, perkara memberi hadiah kepada perempuan sudah biasa. Tidak mengherankan, tapi janganlah unjuk kelakuan sendiri yang tidak tahu diri hingga ditertawai orang." Khoe cong sangat memandang rendah kepada Kong soe Tek.

In Kie Seng menambahkan- "Kau benar saudara Khoe, pertandingan diatas luitay ini dilakukan bukan karena napsu menghadiahkan barang kepada seseorang." Kong soe Tek melotot matanya terhadap In Kie Seng.

Mereka jadi bertengkar, saling menantang untuk menyelesaikan pertengkaran itu diatas luitay, Khoe cong yang menjadi "bibit"-nya pertengkaran itu hanya ketawa gembira saja. Pikirnya, ia puas sudah dapat mengadu dombakan mereka berdua. Tiba-tiba terdengar suaranya nona ciauw Yoe Soe berkata.

"Hai, kalian tidak perlu bertengkar tidak keruan- Paling baik kalau kalian bertiga mau betul-betul bertanding harus saling berjanji." Nona ciauw berkata " bertiga"

maksudnya supaya Khoe cong, tukang mengadu-ngadu orang itu, juga turut terlibat dalam pertandingan-

Terdengar beberapa orang berteriak setuju dengan kata katanya nona ciauw, mereka kelihatan benci betul kepada orang she Khoe tukang mengadu dombakan orang itu. Pemuda bernama co Goen Tiong telah mengusulkan perlombaan pertandingan lain, katanya.

"Ya, kain sutera yang untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie hanya barang biasa saja, bukannya merupakan benda yang aneh. Maka, menurut pendapatku, lebih baik kalian bertanding dengan lain cara dalam suasana damai."

"Bagus, bagus," menyelak In Kie heng, "kau mau usulkan kami berlomba dengan cara bagaimana? coba ceritakan kasih orang-orang dengar."

"Pertandingan itu aku pikir baik diatur begini," kata co Goan Tiang sambil bersenyum.

"yalah kira kira sepuluh Li jauhnya dari sini ada sebuah gunung Hui-cui-san, setelah mendaki puncaknya membelok kearah barat kira-kira juga sepuluh Li ada sebidang ladang yang tandus. Setelah berjalan dari tempat itu kira-kira lima Li, disitu terdapat gunung kecil yang lancip dan sebuah lembah yang sempit, tanahnya semua disitu pasir melulu lembah ini jalanannya berliku-liku. Kalau orang berjalan lempang mengikuti sepanjangnya bisa kembali balik ketempat semula, asalnya darimana mereka masuk. Melalui sepanjang lembah yang sempit ini, orang akan menemui tebing-tebing gunung ada terdapat banyak sekali goa." sampai di sini ia bicara, terhenti sebentar, mengawasi kepadanya anak muda yang sedang asyik mendengarkannya.

Dilain pihak. orang orang dari perserikatan Perkampungan- semuanya sudah tahu ke-mana juntrungannya pembicaraan co Goen Tiong ini.

"Saudara co, lembah itu namanya apa ?" tanya Koen Soe Tek.

co Goen Tiong ketawa "Lembah itu dinamai Liu soa- kok" jawabnya, "puncak gunung ini ada goanya yang dinamai Pek cong. Nah saudara Kong, apakah sudah mendengarnya nama-nama

ini?"

Kong soe Tek terkejut mendengar disebutnya nama goa Pek-cong tong, maka ia lalu melirik pada engkonya, kemudian pada si "Muka Merah" Him Toa Ki dari oey-san-pay. Lirikannya itu seolah olah memohon petunjuk.

"Ya," kata Him Toa Ki dengan suara dingin "lembah itu kabarnya ada berbahaya, tidak kusangka adanya tidak jauh dari sini. Dipuncak Si ban-ieng dalam goa Pek- cong tong ada berdiam seorang tua yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia kangouw, yalah su-hengnya si "Dewi obat Kong Jat Sin bernama Souw Kie Han- Setelah lima puluh tahun lamanya ia berjarah disana, telah melarang orang mengujuk tempatnya itu."

"Menurut katanya orang cerita dalam kamarnya orang tua itu ada digantung sebuah mutiara ajaib untuk menolak hawa racun. Maka itu kawannya binatang berbisa tidak ada yang berani memasuki kamarnya itu. Dalam kamar hawanya panas, karena sebagian dari dinding goa itu ada dari batu Hwe giok (batu kumala berapi). Nah. kalau kalian sudah sampai disana, bawalah sepotong batu Hwe giok kemari sebagai tanda bukti bahwa kalian sudah sampai ditempat itu Hwe giok itu dilain tempat tidak ada, kecuali disitu tempatnya. Batu itu. merupakan benda yaag berharga maka jikalau diantara kau orang ada yang beruntung mendapatkannya dan dibawa kemari untuk dihadiahkan kepada nona Kim, memang ada harganya daripada barang hadiah kain sutera." Terdengar Kong Soe Tek berkata.

"Aku pun pernah mendegar bahwa goa Pek cong tong di puncak Si ban leng ada tempat yang berbahaya. Kita kebetulan sudah sampai disini. maka ada baiknya untuk pergi kesana, hitung-hitung sebagai menambah pengalaman- Bagaimana dengan Pocu dan ceng-cu apakah juga akan turut pergi kesana?"

Pocu dan cengcu dimaksudkan Khoe cong dan ln Kie Seng.

Mendengar kara-katanya Kong soe Tek yang paling belakang matanya Khoe cong melotot kearahnya seorang In Kie Seng dengan marah besar. "Biarpun tempat itu berbahaya, aku berani pergi kesana?"

"Ya, kita pergi berkuda, tentu tidak membawa pembantu." kata Khoe cong dengan mata melotot mengawasi kepada Kong soe Tek. Kong soe Tek hanya ganda ketawa saja semua itu. Seng giok cin dan Kim Hong Jie mendengarkan perundingan mereka. Tiba-tiba Seng giok cin mendekati Kim Hong Jie dan berkata bisik2.

"Adik Hong, kau lihat. Mereka hendak menempuh bahaya, tentu ada salah satu yang akan menjadi korban hilang jiwanya." Kim Hong Jie anggukkan kepalanya.

"Nah, sekarang kalian bertiga sudah setuju." kata co Goen Tiong pula, rupanya ia sebagai wasitnya dari pertandingan ini. "tapi harus diterangkan syaratnya disini, yalah didalam tempo dua puluh empat jam kalian harus sudah pulang lagi kesini. Karena tempat itu tidak jauh letaknya dari sini, maka syarat ini rasanya sangat sederhana." Tiga pemuda itu hampir berbareng menganggukkan kepalanya.

Mereka tinggal menanti temponya berangkat saja. Tiba tiba ada Li oh hweshio dari Tibet menghampiri mereka.

co Goen Tiong berseru. "Nah, ini Taysu yang dapat mengantar kalian kesana. Tapi, tunggu dulu ia menyelesaikan pertandingannya diatas luitay." Mereka setuju dengan bicaranya co Goen Tiong.

Li Dho saat itu sudah naik keatas luitay, disusul deh Boen Kay Teng lawannya.

Boen Kay Teng ini umurnya kira-kira lima puluh tahun, matanya merah dan berbadan sedang, tindakan kakinya perlahan, tapi mantap. Ia adalah keponakannya Boen-lt Kong, salah satu dari Lima Tokoh terkuat pada masa itu dalam rimba persilatan-

Boen it Kong ada satu pendekar ulung dibagian barat daya. Mendengar keponakannya berkelakuan tidak baik, maka Boen Kay Teng dipanggilnya. Ia diberikan pelajaran ilmu silat yang tinggi oleh sang paman, tapi kenyataannya ia tidak bisa merubah kelakuannya yang jelek. Ia telah berkawan dengan orang-orang yang jalan hitam (jahat), dan namanya terkenal dalam kalangan orang jalan jahat itu.

Ia malang melintang dalam kalangan rimbah hijau sudah sepuluh tahun maka orang sudah tahu benar kelakuannya yang buruk. tapi kelihatan banyak pendekar kawakan sungkan berurusan dengannya karena mengingat akan pamannya yang namanya sangat dimalui dalam kalangan kangouw.

Dua lawan setelah berhadapan saling menyilahkan untuk mulai menyerang.

Li Dho telah menyerang lebih dahulu. Serangannya dahsyat sekali, hingga lawannya tidak berani menyambuti keras lawan keras. Dengan menggunakan tipu serangan "Koan Kong buka baju" Boen Kay Teng telah menangkis serangan Li Dho.

Jago dari Tibet itu mainkan ilmu pukulan Toa ciu-in (cap telapakan tangan), dengan telapakan tangannya mencecer musuhnya hebat sekali, hingga suara angin serangan sampai terdengar nyaring. Boen Kay Teng kelihatan terputar-putar mengelilingi panggung untuk meluputkan diri dari serangan dahsyat lawannya.

Li Dho dan kawannya Phadho Ka datang turut meramaikan pertandingan adu silat di-Seng Kee Po, belum ketahuan mereka ditempatnya itu ada masuk partai mana maka Seng Eng selalu menaruh curiga kepada mereka.

Boen Kay Teng yang terus menerus dicecer musuhnya, menjadi kewalahan- Dalam hatinya menjadi nekad, ia lalu menyerang dengan senjata gelapnya kepada sang lawan hingga semua orang menjadi kaget. Dalam gebrakan pertama itu hanya dibolehkan menggunakan tangan kosong bertanding, tidak menggunakan senjata apalagi senjata gelap. Maka perbuatannya Boen Kay Teng tadi ada melanggar peraturan.

Li Dho tidak takut senjata gelap, karena ia berilmu Thian-Hong-leng (sisik naga sakti), ilmu ini dapat memunahkan serangan senjata gelap macam apa juga. Maka ketika melihat lawannya menyerang dengan senjata gelap. ia mendekam badannya untuk meluputkan diri, tapi ternyata kejadiannya tidak seperti yang ia duga.

Hanya terdengar suara tertahan keluar dari mulutnya dua orang itu kemudian berpisahan Boen Kay Teng mundur sanapai tujuh- delapan tindak dan malah tubuhnya telah terpelanting kebawah luitay.

Li Dho hanya mundur dua tindak. berdiri tegak. tapi mukanya sudah pucat pasi, terang ia sudah terluka dibagian dalamnya.

Phua Do Ka, temannya Li Dho sudah lantas melesat naik keatas luitay, menanyakan keselamatannya sang kawan- Tiba tiba Li Dho telah memuntahkan darah segar dari mulutnya badannya nampak limbung hendak jatuh kalau tidak keburu dibimbing oleh Phua Dho Ka, ya menjadi marah sekali kawannya sudah dicurangi musuhnya.

Diatas luitay itu telah diketemukan senjata gelapnya Boen Kay Teng yang berupa cincin- Dalam bahasa tibet Li Dho berkata pada kawanannya.

"Suheng, rupanya ajalku sudah sampai disini. Kalau aku mati, harap suheng bawa mayatku pulang." Belum lampias bicaranya, ia sudah lantas memuntah lagi darah segar.

Boen Kay Teng setelah terpelanting dan bangun lagi, ia mencari sebuah kursi untuk ia beristirahat, napasnya kelihatan sudah empas-empis sangat keras- Ia terluka parah didalam. Ia merapatkan matanya untuk memulihkan tenaganya kembali.

Seng Eng dan Pek Boe Taysu sudah lompat keatas luitay untuk memeriksa keadaan Li Dho, sementara Phua Dho Ka sudah jadi gemas sekali pada Boen Kay Teng yang curang dan tanpa memperdulikan kawannya ia sudah lompat turun dan menghampiri Boen Kay Teng yan sudah tidak berdaya hendak dibunuhnya.

Tapi niatnya dihalang halangi Song coe Ki dan dua saudara oet-ti yang menghibur, supaya Phua Dho Ka jangan menuruti napsu hatinya saja. Urusan dapat didamaikan, bagaimana baiknya sebab Li Do tokh belum mati.

Seng Eng melihat keadaan Li Dho sudah lantas mengeluarkan obat pilnya yang mustajab untuk menyembuhkan luka didalam. kemudian turun dan memberikan juga obat pil itu kepada Boen Kay Teng yang keadaannya sudah setengah mati.

Pertandingan telah berakhir sampai disitu saja. Penonton kasak-kusuk menyalahkan kepada satu diantaranya, ada juga yang menyalahkan pada dua duanya.

Boen Kay Teng bersalah sudah menyerang dengan senjata gelapnya, sedang Li Dho dipersalahkan sudah keterlaluan mendesak pada lawannya yang sudah kewalahan. Sementara itu tiba-tiba terdengar co Goen Tiong berkata.

"Saudara yang hendak berlomba mengambil batu Hwe giok, perhatikan padasyarat yang telah dikatakan tadi, Sekarang tanggal sembilan belas bulan delapan, jam setengah lima sore, besok pada hari begini siapa saja diantara kalian yang datang lebih dahulu di-sini dengan membawa batu Hwe- giok dianggap dia yang menang dalam perlombaan ke puncak si ban-leng goa Pek cong-tong. Tegasnya, dalam tempo sehari semalam kalian semuanya sudah berada disini, dalam keadaan masih segar atau terluka, mengerti semua?" Tiga orang yang hendak berlomba itu telah anggukkan kepala.

"Ya masih ada yang penting untuk peringatkan." kata lagi co Goen Tiong, "masing-masing tidak boleh membawa pembantu. Yang mengantarkan boleh, tapi tidak boleh melewati batas lembah Liu-soa kok." Tiga pemuda itu pada anggukkan kepala.

Mereka tak tahu seluk beluknya tempat itu, main sanggup saja. Tapi untuk yang- mengetahui bagaimana seramnya keadaan ditempat yang hendak dituju itu, merasa bergidik dan berdiri bulu romanya.

Souw Kie Han, orang tua yang mengasingkan diri dalam goa Pekcong itu tabiatnya sangat kukway, tidak mau kalah dengan siapa juga dalam ilmu silat.

Siapa yang bertempur dengannya pasti kalah dan mati. ia sangat kejam dan telengas, sudah tersohor dalam rimba persilatan-

Lain daripada itu, juga dipuncak Si-ban leng yang hidup disitu hanya sebangsa kutu-kutu dan binatang-binatang yang berbisa saja. Sekali orang kena digigit atau di antuk oleh ular atau binatang kutu pasti akan binasa, maka semua yang tahu bagaimana berbahayanya ditempat itu, pada menguatirkan akan keselamatannya tiga pemuda itu.

Seng Giok cin dengan bersenyum menggiurkan telah berkata pada tiga pemuda itu, "Ya, aku dengan adik Hong mendoakan kalian selamat. sekarang kami mohon diri dahulu ada sedikit urusan- Besok sore pada hari begini, kami harap kalian dapat kembali dengan tidak kurang suatu apa dan membawa Hwe giok untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie."

Sambil berkata ia menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ, dengan sedikitpun tidak merasa kuatir akan keselamatannya tiga pemuda itu.

Tiga pemuda yang tidak akan menempuh bahaya, hanya tertawa saja melihat dua jelita itu mengundurkan diri dan lenyap bayangannya dari pandangan mereka. Kemudian mereka bersiap-siap hendak melakukan perjalanan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh co Goen Tiong.

Kong Soe Jin lalu menarik tangannya sang adik dan berbisik dikupingnya.

"Sute sudah terlanjur kau menyanggupi, biar bagaimana juga harus menghadapi bahaya, kau tak dapat mundur lagi. Hanya aku memesan kau lebih baik mati di tangan orang tua penyepi atau

oleh binatang berbisa disana dari-pada kau kena dicelakakan oleh dua pemuda yang menjadi saingan kau berlomba."

"Toako, kau jangan kuatir." jawab Kong Soe Tek. "aku akan menjaga diriku sebaik-baiknya. Legakan hatimu. Apa kau takut aku kalah berusaha?"

"Bukan itu maksudku. Kalau menang tidak menjadi soal, hanya aku tidak puas kalau dirimu nanti dianiaya oleh dua orang licik itu."

"Aku paham. Mereka itu ada orang-orangnya "Perserikatan Benteng Perkampungan- tapi aku sudah siap saja, aku tidak takut. Legakan hatimu toako, aku juga mendoakan toako tidak mengalamkan kesulitan apa-apa sementara aku tidak berada didamping mu." Kong Soe Jin merasa sedih mendengar perkataannya sang adik.

Ia tidak tahu apakah perpisahan dengan sang adik ini nanti akan berjumpa pula dengan selamat atau sang adik mengalamkan bahaya yang tidak diingini? Kong Soe Jin kelihatan berat sekali melepaskan adiknya.

Sementara itu tampak Sa Kie Sang juga bercakap-cakap dengan ciauw Hauw, sedang Khoe cong kasak kusuk dengan Hui Seng Kang.

Setelah tiga pemuda yang hendak berlomba itu berunding sebentaran, Kong Soe Jin ajak adiknya untuk berangkat terlebih dahulu.

Terdengar Hoan SiangJle dan Kun-lun Pay mengucapkan doa restunya.

"Ya, saudara Kong, aku bantu mendoakan semoga kau nanti kembali dengan kemenangan dan selamat walaftat..."

"Terima kasih" jawab Kong Soe Tek.

Kemudian dengan diantar oleh engkonya Kong Soe Jin dan Hoan Siang Jie, berangkatlah Kong soe Tek terlebih dulu.

sekarang mari kita ajak pembaca melihat Ho Tiong Jong.

Ketika dua nona jelita yang mempesonakan hatinya sudah berlalu, Ho Tiong Jong girang bercampor masgul. Girang karena totokannya sudah terbuka dan masgul karena dengan cara bagaimana ia memutuskan rantai yang membikin dirinya tidak merdeka ? Dalam keadaan bingung. tiba-tiba ia mendengar suaranya co Kang cay berkata.

"Hei, bocah, legakan hatimu, aku lihat dua nona itu tidak akan membunuhmu. Nah, sekarang coba lihat, barang apa yang si nona berikan padamu tadi."

Ho Tiong Jong baru jengah. Barusan ketika Kim Hong Jie membuka totokannya, bergerak menyesapkan suatu benda ditangannya. ia segera memeriksa, kiranya benda itu ada kikir kecil yang dapat mengikir putus rantai yang membelenggu dirinya. Ho Tiong Jong kegirangan.

"Terima kasih, adik Hong." katanya dalam hati. Lalu berkata pada co Kang cay. "Dia memberi kikir untuk mengikir rantai."

"Bagus, bagus Untungmu sangat bagus bocah ..." co Kang cay ketawa terkekeh kekeh. Sambil mergerjakan tangannya, Ho Tiong Jong pasang omong dengan co Kang cay.

Antaranya ia berkata "Lopek, aku ingin lekas-lekas keluar dari sini. Bagaimana, kalau umpamanya aku sudah merdeka dan hendak keluar, apakah lopek mau turut aku?"

"Bocah, "jawab co Kang cay "hatimu mulia sekali, cuma sayang aku sudah tua, tidak ada gunanya lagi hidup beberapa tahun."

"Tapi aku ingin kau ikut aku keluar."

"Tidak. Dengan adanya aku, tapi memberabekan kau bergerak."

"Apa pun yang akan terjadi, aku harus menolong lopek keluar bersama-sama dari neraka ini. Aku harap kau suka menerima bantuanku yang tidak berarti ." Co Kang Cay menghela napas. Agaknya ia terharu akan kebaikan hati si anak muda.

Ketika Ho Tiong Jong menanyakan tentang jalanan rahasia untuk keluar dari kamar tahanan itu, tiba-tiba terdengar seperti ada tindakan kaki yang mendatangi.

Sebentar lagi. tampak ada terbuka sebuah lubang pada pintu kamar, sepasang mata yang bersinar mencorot kedalam. Ho Tiong Jong tidak tahu siapa orang itu, tapi ia tidak perduli. Ia pura-pura tidak tahu ada orang yang mengintai dari lubang tersebut. Kemudian lubang itu telah tertutup kembali.

Dalam hati Ho Tiong Jong berpikir. "Kenapa orang sangat perhatikan diriku? Aku biar bagaimana harus membawa keluar Co lope dari sini. Kalau aku keluar sendiri, mana aku bisa pergi ke kota Yang cio untuk menikmati keindahan bangunan istimewa seperti yang dibicarakan oleh Tio lopek?" Lalu Keduanya tidak berkata-kata, Ho Tiong Jong yang memecahkan kesunyian.

"Co lopek, kau jangan kuatir. Kalau aku lolos, kau juga harus lolos"

"Hai, bocah, hatimu memang sangat mulia. Aku sebenarnya sudah tua dan tidak ada gunanya lagi, cuma saja aku sudah mempelajari itu bangunannya istimewa di Yang-co dua puluh tahun lamanya, kalau aku tidak bisa membuktikan kepandaianku untuk mendapatkan jalan masuk kedalam bangunan gunung-gunungan itu, memang aku mati juga rasanya sangat penasaran-"

Hatinya Ho Tiong Jong tergetar mendengar kata-katanya si orang tua.

Sambil terus mengerjakan kikirnya untuk membebaskan diri dari rantai. Ho Tiong Jong menanyakan jalan keluar dari situ.

Menurut keterangan Co Kang Cay, untuk dapat keluar dari kamar tahanan itu orang harus melalui s ebuat selokan yang mempunyai beberapa tikungan- Harus diperhatikan bilukan-bilukan itu jangan sampai salah membiluknya, barulah bisa keluar dari kamar tahanan yang tidak enak itu.

Selagi mereka asyik pasang omong tiba-tiba terdengar orang menanya dengan suara keras. "Hei, apakah didalam betul ada Ho Tiong Jong ?"

"Ya, betul aku Ho Tiong Jong." jawabnya.

Tidak lama, pintu kamar tahanan telah terbuka dan muncul seorang berjenggot putih, matanya berkilat kilat mengawasi Ho Tiong Jong. ia berkata perlahan-

"Hei. Tiong Jong, aku ini Ngo ho San-jin bernama Cia Peng San, aku datang hendak menolong kau, harap kau jangan bicara keras-keras"

Ho Tiong Jong melongo. ia tak kenal pada orang itu. Apa maksudnya ia hendak menolonGi dirinya yang tidak kenal satu dengan lain-

"Sahabat." kata Ho Tiong Jong: "aku dengan kau tidak saling mengenal, untuk apa kau hendak menolonGi diriku?"

"Soal itu, sebentar kalau kau sudah keluar dari sini nanti aku terangkan dengan jelas apa sebabnya." kata cia Peng san-

Setelah berkata demikian cia Peng San sudah hendak gerakkan badannya meluncur kebawah menghampirinya Ho Tiong Jong berkata.

"Hei, sahabat, nanti dahulu? Aku tidak mau sembarangan menerima budi orang, maka aku harap kau suka memberi keterangan lebih dahulu?"

"Ah, kau ini banyak cerewet. Kalau sebentar diluar aku menerangkan padamu bukankah sama saja dengan disini"

Sebelum Ho Tiong Jong membuka suara lagi, tiba-tiba terdengar seorang berkata. "Aaaa saudara cia, kau rupanya kelebihan tempo jalan-jalan sampai disini" Itulah suara mengejek dari si Rajawali Botak Ie Yong. Kiranya kedatangan cia Peng san kesitu sudah kena diintai oleh Ie Yong.

Mendengar perkataannya si Rajawali Botak cia Peng San tidak jadi takut. Dengan suara tenang ia menjawab. "oo, ie congkoan juga ada melakukan ronda sampai di sini? Benar-benar kamar tahanan ini sangat dijaga rapih sekali." Si Rajawali Botak tertawa dingin

"cia Peng San kau ini ada ke sorga bukan dijalani malah berjalan masuk ketempat jebakan disini. Ha ha ha... "

"ie Congkoan," kata pula cia Peng San, "aku tidak mengerti apa artinya kau kata barusan? Apakah kau maksudkan tempat ini terlarang untuk orang melihat- lihatnya?"

Sambil berkata demikian, cia Peng San matanya celingukan mencari tahu. kalau- kalau dibelakangnya si botak ini ada lagi yang akan membantunya. Tapi lantaran keadaan gelap.

maka ia tidak dapat lihat orang lain-

"Ha ha ha, Cia Peng San, kau jangan berlaga bodoh dengan maksudmu yang sebenarnya. Aku tahu namamu ada terkenal juga di kalangan kangouw, aku si orang she le ingin menjajalnya disini. Mari, mari kita bertempur"

Setelah berkata, tangan kirinya menyerang dengan senjata, sedang tangan kanannya membuka telapakan tangannya dan lima jarinya yang runcing mengancam hendak mencengkeram pada si orang she Cia.

Cia Peng San marah melihat kelakuannya si Rajawali Botak.

Ilmu mencengkeram dari le Yong dianggap tidak ada artinya bagi Cia Peng San, sebab ia juga ada akhli ilmu demikian- Ia dapat menggunakan tiga puluh enam jalan menyerang dari ilmu menceng kramnya. Tidak heran, kalau dalam tempo pendek saja si botak sudah ke-desak oleh musuhnya, akhirnya ia hanya dapat menangkis tapi tak dapat balas menyerang.

Ho Tiong Jong menyaksikan pertandingan kedua lawan itu dengan nyata. Pikirnya hendak membantunya Cia Pek San, tapi diluar dugaannya dalam dua tiga gerakan saja le Yong sudah kena dijatuhkan oleh lawannya.

Berbareng Ho Tiong Jong mendengar Co Kang Cay berkata.

"Tiong Jong, kau jangan enak-enakan- Kau harus waspada, sebab orang yang hendak menolongmu itu aku lihat bukannya orang baik-baik."

Ho Tiong Jong tidak begitu percaya akan kata-katanya, tapi diam-diam ia memikirkan juga. Kini ia melihat sibotak rubuh, apakah ia mati?

Kiranya sibotak rubuh hanya berpura-pura saja mati, karena tidak sanggup meladeni lebih jauh lawannya yang kosen. Ia sudah terkena goresan kukunya cia Peng San hingga berlumuran darah. Saat itu ia pikir lebih baik mencari jalan selamat dan pura-pura rubuh binasa.

Tapi ia lupa bahwa lawannya tidak mudah dikelabui oleh akal bulusnya.

cia Peng San perdengarkan tawa dingin, katanya.

"Hei, botak, lekas balut lukamu dan mari kita bertempur lagi?"

Si Rajawali Botak paling benci kalau mengatakan "si botak", maka ketika mendengar lawannya itu perdengarkan itu perkataan, kontan darahnya mendidih dan sambil kertak gigi ia mengawasi musuhnya dengan mata beringas.

-ooo0dw0ooo-