-->

Golok Sakti Bab 11 : Kim Hong Jie Si Lincah Nakal

Bab 11 : Kim Hong Jie Si Lincah Nakal

Ho Tiong Jong masih tetap membisu dengan tundukan kepala, seakan-akan ia lebih suka memandang bayangannya si nona dimana air daripada melihat wajah aslinya. Hal mana membuat si nona tidak sabaran, tangannya yang halus dan menyiarkan bau harum telah memegang janggutnya si pemuda didongaki.

"Hai kau jangan begini macam Lihat aku, kita dapat berunding bagaimana baiknya... "

"Berunding dalam hal apa?" memotong Ho Tiong Jong.

"Ayah sebenarnya hendak membunuh kau," jawab si nona, "tapi aku sudah mencegahnya, sebab aku ada mempunyai lain maksud terhadap kau."

"Bagaimana dengan Kho toako?" si pemuda menyimpang dari pembicaraan Seng Giok Cin mendelu juga hatinya, tapi ia terpaksa menjawabnya.

"Hmm Peristiwa Kho Kie dengan pelayanku Kang cice in sebenarnya agak mengherankan.

Pelayanku amat cinta kepada Kho Kie yang bertubuh lucu itu. Berdua sudah sama-sama terbang meninggalkan rumahku, Pada saat Cioe in dengan Kho Kie hendak meninggalkan rumahku, aku telah memberi banyak uang kepada Cioe in. Aku tidak tahu mereka itu sudah terbang kemana."

"Aaaa itu baik sekali" mengejek Ho Tiong Jong, "Kho toako seumur hidupnya sendirian saja, sekarang sudah mendapatkan jodonya, betul-betul aku mimpipun tidak menyangka akan kejadian itu. Tapi aku sudah berjanji dalam tempo tiga hari akan berjumpa dengannya."

"Kau jangan memikirkan diri lain orang pikirkan dirimu sendiri saja."

"Rasanya, aku sendiri tidak akan kawin Aku akan hidup seperti Tok kay... "

"Hei, apa hubunganmu dengan Tok kay?"

"Ya, sebenarnya aku tidak enak hati terhadap Tok-kay itu. ia sudah mengajari aku ilmu silat yang istimewa, tapi aku masih membunuhnya juga. Aiii... "

Kata-katanya dipotong oleh nona Seng. "Aiii, kenapa sih?"

"Baiknya aku sudah menanam mayatnya sebagai perasaan terima kasihku." Seng Giok Cin bersenyum urung mendengar bicaranya Ho Tiong Jong. "Sekarang hatiku sudah merasa lega." katanya.

"Lega lantaran apa?" tanya si pemuda heran.

"Lega karena sekarang aku mendapat kepastian kau ada seorang pembasmi kejahatan dan kekejaman- Tadi pagi, hampir-hampir saja aku membunuh kau karena aku melihat gaya seranganmu seperti ilmu serangannya Tok kay, musuh suhuku."

Ho Tiong Jong menatap wajah si gadis dengan tidak berkata-kata.

"Kau tahu..." kata pula si nona. " lantaran gara-gara kematian Tok kay telah menyeret dua orangku menemukan ajalnya."

"Bukan mayatnya aku sudah tanam, bagaimana bisa menyeret dua orangmu?" tanya Ho Tiong Jong heran-

"Itulah karena si Ular Kumbang Tham Kek yang konangan-" jawab si gadis. "Kami ada mengirim orang ke kuil dimana kau berdua, dibawah pimpinannya Si Ular Kumbang, yang telah memberitahukan kepada kami halnya Tok- kay dengan kau ada disitu. Tidak tahunya kau dengan Tok-kay sudah tidak ada pula dalam kuil itu, hanya yang terlihat oleh si Ular Kumbang darah berceceran di lantai. Dalam penyelidikannya lebih jauh kedapatan olehnya satu kuburan disamping kuil tampaknya baru saja orang mengubur mayat didalamnya. si Ular Kumbang dengan orang-orangnya untuk membongkar kembali kuburan itu. dan ia dapatkan mayatnya Tok-kay dengan kepalanya yang sudah terpisah ... " Ho Tiong Jong tampak kerutkan alisnya mendengar penuturan si nona.

"Setelah si Ular Kumbang kaget sebentaran," meneruskan sinona, "dilihat olehnya senjata

bandringan Tok-kay yang seperti bola. ia lalu ambil benda itu dan dikocok-kocok di dekatkan

kekupingnya. Tidak terdengar apa-apa isinya. Dalam penasaran ia sudah kocok kocok pergi datang

lagi benda itu hingga terbuka sebuah lubang, ia lihat didalamnya seperti tidak ada apa-apa. Dasar

dia harus mati, bolehnya dia ini sudah memasukkan sebuah jarinya kedalam lubang tadi.

Berbareng jarinya dimasukkan matanya tampak terbelalak dan menjerit perlahan, kemudian telah

rubuh dengan tidak ingat lagi dirinya untuk selama-lamanya. la telah mati disitu juga "

Si nona berhenti sampai disini dan mengawaskan wajah Ho Tiong Jong yang tampan menawan, dua pasang mata telah kebentrok lagi. Dua-duanya berdebar hatinya.

"Lantas bagaimana?" Ho Tiong Jong menanya. Seolah-olah dengan pertanyaan itu ia hendak menekan debaran hatinya.

Setelah mengerlingkan matanya dan bersenyum memikat, Seng Giok Cin meneruskan ceritanya.

"Salah satu anak buahnya melihat si Ular Kumbang rubuh, sudah lantas turun tangan hendak menolonginya, tapi... ketika tangannya menyentuh tubuhnya dia pun lantas membelalakan matanya dan kemudian rubuh mati."

"Itulah tentu karena racun ularnya Tok-kay yang berbisa." nyeletuk Ho Tiong Jong.

"Ya, rupanya begitu. Maka, setelah melihat kejadian berbahaya itu, yang lain-lainnya tidak berani menyentuh badannya dua korban itu dan lalu melaporkan kerumah. Kami lalu mengirim si Rajawali Botak Ie Yong ke-sana untuk mengurusnya." Ho Tiong Jong terdengar menghela napas.

"Kalau dipikir, perbuatanku membunuh Tok kay memang kejam, akan tetapi kalau mengingat bahwa perbuatanku itu untuk membebaskan sesama manusia dari keganasannya aku tidak merasa menyesal. Dia sudah mati tapi toch meminta dua orang korban, sungguh kematiannya itu tentu membawa penasaran"

la berkata demikian teringat akan dirinya sendiri yang tidak lama lagi juga akan meninggalkan dunia yang fana ini. karena racun berbisa dari Tok-kay.

Tampak mukanya muram dan berduka sekali. Seng Giok Cin melihat Ho Tiong Jong berduka dikiranya ia merasa cemas direndam di situ, maka ia lalu berkata.

"Kau sabar saja dahulu. Kabar tentang kau ditahan dalam tahanan disini telah kami uwarkan, nanti diam diam ada orang yang menyaksikan kau disini, setelah itu nanti aku akan melepaskan padamu."

"Hei, dari sebab apa kau mau melepaskanku?"

" Karena kami perlu memakai tenagamu." Ho Tiong Jong geleng-gelengkan kepala.

"Meskipun jiwaku hanya tinggal semalam lagi, aku tidak mau mengerjakan urusan kalian, ah... "

Ia tak dapat melampiaskan kata-kata. Sebenarnya ia hendak berkata bahwa nona Seng memang seorang yang baik, tapi ada seorang jahat. Tidak mau diperalat oleh seorang jahat.

Hanya saja ia tidak mau berterus terang pada Seng Giok Cin kuatir kalau nona itu menjadi berduka.

"Kau jangan kuatir, Ayahku tak nanti menyuruh kau berbuat... "

Ho Tiong Jong menggeleng gelengkan kepala saja, seolah-olah ia sudah menolak dengan pasti keinginannya orang yang hendak memperalat dirinya. Seng Giok Cin kecewa kelihatannya.

Parasnya menjadi berubah sungguh-sungguh. "Nah, kalau begitu aku tidak hendak minta pertolonganmu lagi. Aku sekarang pergi, harap saja aku dapat menengoki kau lagi disini selekasnya."

Sambil berkata Seng Giok Cin melepaskan rantai yang dipegangnya tadi dan mendorong pundak si pemuda, seolah olah yang ngambil karena kehendaknya.

Sebentar lagi si jelita sudah lenyap dari pemandangan Ho Tiong Jong, setelah lebih dulu terdengar suaranya pintu besi yang ditubruk.

Ho Tiong Jong menghela napas. "IHm sebenarnya dia mau suruh aku bekerja apa?" ia

menggerendeng sendirian. Terdengar suaranya Co Kang Cay berkata.

"Hei, bocah, kau tak perlu bersusah hati. Nona itu kelihatannya mau memperalat kau. tapi kau juga sebaliknya dapat memperalat mereka " Ho Tiong Jong terkejut sejenak.

"Hm kau orang tua mana tahu urusan- ku." jawabnya kemudian-

"Urusan apa ?"

"Aku karena nona Seng telah membunuh Tok-kay."

" Kenapa karena nona Seng, kau membunuh orang yang telah menurunkan pelajaran padamu?"

Ho Tiong Jong meughela napas.

"Co lopek kau tidak tahu, Nona Seng itu hatinya sangat baik, beberapa kali dia telah mengulurkan pertolongan padaku. Maka untuk membalas budinya, aku tak dapat menolak permintaannya. Cuma saja, aku tidak ingin diperalat oleh ayahnya yang jahat. Bagaimana aku harus berbuat? Kalau untuk nona Seng, sekalipun aku harus mengorbankan diriku, aku rela untuk membalas budinya yang besar."

"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau membunuh Tok-kay."

"Ya, aku membunuh dia karena pertama hendak melenyapkan kekejamannya terhadap sesama manusia dan kedua ingin membantu nona Seng menyingkirkan musuhnya."

"ow, begitu? Sayang kau tak dapat menggeserkan tubuhnya untuk mendekati aku disini, aku masih ada mempunyai cerita yang akan membikin kau kagum."

Ho Tiong Jong tidak perhatikan bicaranya Co Kang Cay, sebab pikirannya melayang kepada nona Seng, si cantik jelita yang telah membuang budi kepadanya. pikirnya, "ayah nona Seng benar-benar hendak memperalat dirinya, maka juga jiwanya dikasih tinggal hidup, Melihat sendiri macam apa ayahnya si nona itu, ia yakin dirinya akan dipakai untuk melakukan kejahatan, la merasa cemas. nona yang begitu baik budi mempunyai ayah yang demikian jahat... "

Dilain pihak. semua tetamu memikirkan jiwanya Tiong Jong.

Entah siapa yang membocorkan, semua orang telah tahu bahwa Ho Tiong Jong ditahan dalam kamar tahanan yang berair. Kim Hong Jie yang memang sehaluan dengan Seng Giok Cin sudah tahu dimana Ho Tiong Jong ditahan, ialah diberitahu oleh yang disebut belakangan. Hanya saja Seng Giok Cin tidak memberitahukan hal yang sebenarnya mengapa Ho Tiong Jong ditahan? tidak di bunuh.

Sementara itu si Rajawali Botak Ie Yong sudah kembali dari perjalanannya membereskan kematiannya si Ular Kumbang. ia kembali dengan membawa senjata bandringannya Tok kay. ialah

bola yang didalamnya ada tersimpan ular berbisa yang telah menggigit jarinya si Ular Kumbang hingga binasa.

Benda ini ada sangat berbahaya, maka setelah diperiksa oleh Seng Pocu, sesuai dengan usulnya si Rajawali Botak. benda berbahaya itu ditanam ditempat yang jarang dilalui orang.

sekarang kita ajak pembaca menengok keramaian orang pukul luitay.

Pada waktu itu yang menjadi wakil Tay-cu ada orang she Ho bernama Yaa. ia seorang berpengawakan tinggi besar dan gagah sekali, ditambah dengan mukanya yang penuh berewok tampaknya ia beroman bengis, ia perkenalkan namanya pada sekalian tetamu Kemudian menyilahkan orang yang berminat naik keatas luitay.

Lama tidak ada orang yang menyambut undangannya itu, tiba-tiba seorang pemuda yang berpengawakan tegap dan gagah bangkit dari duduknya dan jalan menghampiri ke panggung luitay itu.

Kiranya ada, Hoan Siang Jie, seorang jago pemuda dari kun-lunpay.

Ia jalan melewati Seng Giok Cin dan Kim Hoan Jie duduk menonton dan bersenyum kearah dua nona elok ini, yang telah disambut dengan senyuman juga hingga membikin hatinya Hoan Siang Jie sangat girang.

Matanya tampak menatap pada Seng Giok Cin saja sambil terus bersenyum.

"Nah dia terus-terusan melihat kau saja encie Giok." kata Kim Hong Jie sambil mengutik lengan sang kawan-"Seharusnya jangan lupa kau sembahyang supaya dia peroleh kemenangan"

Sujennya semakin menyolok saja memikat hati jika nona Kim sedang tertawa. Nona Seng yang digodai sang kawan pelototkan matanya.

"Adik Llong, kau nakal." kata Seng Giok Cin sambil mencubit pelahan lengannya Kim Hong Jie.

"IHei, kau kenapa mencubit aku," teriak nona Kim pelahan sambil tangannya mengusap-usap lengan yang dicubit barusan seperti yang kesakitan-

"Sebentar aku akan suruh dia membalas mencubitmu."

"dia siapa, adik Hong?"

"Dia, janih, nah kau lihat dia sudah lompat naik keatas panggung."

Kembali Seng Giok Cin hendak mencubit adik hong-nya yang nakal, tapi Kim Hong Jie sudah mengegos sambil ketawa cekikikan-

"Awas ya, ada satu waktu aku nanti bikin perhitungan denganmu," kata Seng Giok Cin sambil bersenyum.

Kedua gadis elok yang merupakan kembangnya diantara semua gadis yang ada disitu, terus bercanda sambil ketawa- ketawa.

Hoan Siang Jie yang sudah berada diatas panggung melihat mereka sudah menjadi senang hatinya karena mengira bahwa dua gadis itu ada ketarik pada dirinya. Ho Yan menyambut kedatangannya Hoan Siang Jie dengan hormat.

Meskipun ia tahu bahwa Hoan Siang Jie masih mudah belia, akan tetapi karena tahu anak muda itu ada dari partai Kun-lun-pay, tidak berani sembarangan memandang rendah. "Aku girang saudara Hoan ada minat untuk naik diatas panggung," demikian katanya ketika Hoan Siang Jie sudah berhadapan dengannya.

"Saudara IHo, harap kau nanti tidak mencela kejelekannya kalau sebentar aku perlihatkan padamu. "

Demikianlah, keduanya setelah mengucapkan perkataan perkataan sungkan, lantas mulai bergerak dengan tangan kosong.

Hoan Siang Jie tahu lawannya bertenaga sangat kuat, maka ia tidak berani keras lawan keras. Serangan-serangan Ho Yan hebat dan menakutkan, karena anginnya saja sudah begitu kuat menyambernya. Meskipun begitu ia berkelahi dengan hati-hati, karena tahu lawannya bukan lawan sembarangan-

Demikian keduanya saling serang dengan seru. Tampak Ho Yan mendesak lawannya dan tidak memberikan kesempatan untuk membalas menyerang, tapi Hoan Siang Jie telah beri perlawanan yang tenang sekali, ia kelihatan sangat gesit dan lincah sekali, badannya terputar-putar mengelilingi panggung untuk membebaskan diri dari serangan Ho Yan yang lihay.

Caranya ia beraksi sangat menarik perhatian hingga banyak penonton yang bersimpati kepadanya. Kim Hong Jie gembira nampak jalannya pertandingan yang meski kelihatannya hebat dan seru tapi tidak telengas dan menggiurkan jiwa. Maka ia berkata dengan pelahan pada Seng Giok Cin. "Enci Giok, ini baru yang dinamakan mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat yang sejati... "

Khoe Cong yang melihat mereka kasak-kusuk mata alap alapnya mengawasi saja pada si cantik Seng Giok Cin.

"Hmm, pertandingan apa ini tidak menggerakan semangat sama sekali " demikian ia menyela.

Seng Giok Cin mendelu hatinya mendengar perkataannya Khoe Cong, apalagi melihat ia terus-terusan mengawasi dirinya sudah makin jemu saja. Dengan tidak mengambil perduli kepadanya, nona Seng berkata pada Kim Hong Jie.

"Adik Hong, kau benar.. Coba lihat dia punya bermainan silat, benar-benar Kun lun-pay tidak sembarangan mendidik orang-orangnya. Dia gagah dan lincah. Kalau sebentar dia mengeluarkan kepandaiannya betul-betul rasanya HoJan tidak sampai tiga puluh jurus sudah kena dikalahkan olehnya."

"Enci Giok. pandanganmu tepat sekali, biar kita lihat bagaimana kesudahannya dua jago itu bertanding."

Khoe Cong mendengar dua gadis itu pada memuji dirinya Hoan Siang Jie, cepat tarik pulang celaannya tadi dan berkata. .

"Memang betul, ilmu silatnya orang she Hoan itu tinggi dan bagus sekali."

la berkata demikian untuk membikin senang hatinya dua gadis elok itu, karena ia sangat naksir kepala mereka. Hanya saja ia tidak mengingat akan mukanya yang buruk dan tingkahnya yang menyebalkan, hingga gadis mana juga jemu kepadanya.

Diatas panggung, Hoan Siang Jie dapat kesimpulan bahwa lawannya seperti yang menghendaki pertandingan sampai tiga puluh jurus, kemudian diganti dengan pertandingan menggunakan senjata. Oleh sebab mana, ia tidak balas menyerang lawannya, hanya berkelit berputaran diatas panggung.

Benar saja akhirnya pertandingan dinyatakan seri setelah melewatkan tiga puluh jurus. Mereka tampak ketawa tawa dan saling memberi hormat. Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan menggunakan senjata.

Ho Yan menggunakan senjata sepasang pentungan, selang Hoan Siang Jie sebilah pedang untuk mempertahankan kehormatannya.

Ketika Ho Yan mencoba sepasang pentungannya. kedengaran suara "wut wat" suatu tanda bahwa tenaga dalamnya orang she Ho tak boleh dipandang enteng. juga Hoan Siang Jie mencoba kibas kibaskan pedangnya, jugalelah perdengarkan suara nyaring dan angin santar.

Jago Kun lun-pay iiu berdiri tegak dengan pedang dirapatkan pada sikutnya, kemudian sendai pedang dimiringkan mengacung ia mempersilahkan lawannya menyerang terlebih dahulu. Dalam pertandingan ini Hoan Siang Jie menggunakan ilmunya yang dinamai "Tanduk naga menggempur, yang mempunyai dua daya guna, yalah menjaga diri dan menyerang. Satu ilmu yang sangat

diandalkan dalam partainya. juga kun-lun-pay ada menurunkan pada anak muridnya ilmu yang dinamai Thian liong IHeng kang atau Berjalannya tenaga naga sakti suatu ilmu serangan yang dahsyat sekali.

Ho Yan tidak berani sembarangan menyerang, ia menggunakan sepasang pentungannya dengan sangat hati-hati. Belum beberapa lama bergebrak lantas terdengar suara "tang" kilaunya sebilah pedang.

Hoan Siang Jie, telah menyontek pentungan lawan- Gerakan itu tampaknya sederhananya, akan tetapi mengandung tenaga kekuatan yang tidak diduga-duga, sebab pentungannya ho Yan yang tersontek hampir saja terlepas dari cekalan- Tidak heran kalau siorang she Ho menjadi kaget dibuatnya.

Seng Giok Cin kagum melihat gerakan Hoan Siang Jie itu, maka ia berkata kepada Kim Hong

Jie. "Adik Hong kau lihat, apa salah kalau pandanganku dia akan merupakan pendekar ternama

dikemudian hari? Lihat dia punya mata, semangat dan kemasan digunakan serentak dalam

penyerangannya, betul-betul hebat "

Kim Hong Jie kerutkan alisnya yang lentik menarik. "Ya, katanya, kalau sontekan demikian saja tidak dapat memainkannya, mana dapat dia masuk dalam rimba persilatannya ?"

Ho Yan sudah keteter, untung baginya gwakang (tenaga luar) cukup mahir, hingga menggunakan pentungannya untuk menjaga diri terus-terusan- Biarpun bagaimana hebat serangan lawan, ternyata tak dapat menembusi pertahanannya.

Ia dapat mewaraskan dirinya pada pertandingan persahabatan, tidak mau berlaku nekad-nekadan yang tidak ada perlunya.

Hoan Siang Jie berdasarkan latihan Iwee-kang amat memperhatikan musuhnya punya gerak-gerik, kalau musuh menyerang pasti ia balas menyerang dengan kontan, tapi kalau lawannya diam ia nya hentikan serangannya.

Diantara tetamu yang menonton, banyak yang menilai bahwa Ho Yan bukan tandingannya Hoan Siang Jie. Penonton kini hanya tinggal menunggu, bagaimana sebentar kalau orang she Hoan itu menghadapi Pek Boe Taysu yang mendapat gilirannya menggantikan Ho Yan, apakah ia sanggup menandinginya atau tidak.

Pek Boen Taysu juga kelihatan sudah bersiap-siap bangkit dari duduknya.

Seng Eng yang melihat sahabat karibnya hendak naik panggung sudah berkata.

"Taysu. orang itu benar bagus ilmu silatnya. Apakah Taysu hendak menempurnya?"

Pek Boe Taysu sudah hendak menjawab, tapi urung karena melihat keatas panggung berkelahi tampak Ho Yan sedang marah marah katanya. "Aku sudah menerima pelajaran istimewa dari Kun-lunpay. Ilmu silatmu tinggi. Aku mulai hari ini tidak akan melupakan untuk pelajaranmu ini."

Ho Yan berkata sambil lompat turun dari luitay.

Rupanya Hoan Siang Jie keterlaluan mengocok Ho Yan yang sudah tidak berdaya, maka telah membikin orang she Ho itu marah dan mengucapkan kata katanya tadi.

Kauw Sang Ngo, susioknya Hoan Siang Jie melihat kejadian tersebut telah mengkerutkan alisnya dengan tidak berkita apa-apa.

Seng Giok Cin melihat Pek Boe Taysu yang akan naik panggung diam-diam dalam hatinya mengeluh. Hoan Siang Jie mana dapat melayani Pek Boe Taysu yang ilmunya tinggi? Maka ia tidak bernapsu untuk menontonnya, lalu bangkit dari duduknya berjalan pulang kerumah.

Kim Hong Jie tidak membiarkan nona Seng pergi begitu saja, maka ia sudah lompat mengejar.

"Enci Giok. kau mau kemana?" tanyanya sambil memegangi lengan orang. Seng Giok Cin tidak menjawab.

"Aaa, aku tahu." katanya lagi Kim Hong Jie, "kau tentu mau menengoki Tiong Jong dalam kamar tahanan berair, bukan?" seng Giok Cin bersenyum.

"Aku ikut," Kata Kim Hong Jie.

Seng Giok Cin anggukkan kepalanya. Mereka kemudian jalan sama-sama menuju ke-tempat tahanan Ho Tiong Jong.

Tidak berapa lama mereka sudah sampai ketempat tujuannya.

Sambil menunjuk pada pintu besi, Seng Giok Cin berkata. "Nah, didalam kamar itulah Ho Tiong Jong ditahan-"

"Mari kita masuk." Kim Hong Jie mengajak seraya menarik tangannya Seng Giok Cin menghampiri pintu besi tadi.

Pintu dibuka, mereka berjalan mnsuk dan melihat dari atas tangga kebawah HoTiong Jong kelihatan sama sekali tidak takut mati. la masih berdiri tegak di rendam dengan air hingga dadanya.

"Adik Hong, tuh dianya Ho Tiong Jong" kata Seng Giok Cin sambil menunjuk dengan jarinya. Kim Hong Jie mengawsi kearah yang ditunjukkan, benar saja Ho Tiong Jong ada disana. "Mari kita turun" nona Kim mengajak.

"Dia suka marah-marah, kalau nanti di marahi dan angkar kaki, aku tanggung jawab, ia" jawab seng Giok Cin. Kim Hong Jie kerutkan alisnya bersenyum.

"Kalau betul dia berani berbuat begitu kepadaku awas, aku nanti tinju mukanya, baru dia tahu rasa." katanya dengan jenaka sekali.

Seng Giok Cin yang merasa geli dengan kelakuannya sang kawan telah menekap mulutnya yang mungil menahan ketawanya.

Mereka lalu turun kebawah, tapi Seng Giok tidak turut menghampiri ketika Kim Hong Jie nyelonong terus mendekati Ho Tiong Jong.

Ho Tiong Jong kenali sang dara, ada Kim Hong Jie, tapi ia pura-pura tidak tahu, ia tinggal diam saja.

Terdengar Kim Hong Jie menegur.

"Hei, kau ini apa bukannya yang bernama Ho Tiong Jong."

"Betul aku Ho Tiong Jong. Kau siapa?"

"Aku Kim Hong Jie" jawabnya bersenyum sepasang sujennya memain karenanya. Ho Tiong Jong menatap wajah si gadis sebentar lalu tundukkan kepalanya.

"Aku mau tanya kau, apa kau takut mati tidak?" Kim Hong Jie menanya lagi. Ho Tiong Jong membisu.

"Hei, aku tanya kau, apa kau tuli tidak menjawab?"

Ho Tiong Jong mendelu hatinya, tapi ketika menatap parasnya si nona yang ramai dengan senyuman amarahnya lumer seketika.

"Ya," jawabnya, "aku bukannya orang luar biasa, mana tidak takut mati?"

Pikirnya Ho Tiong Jong, dengan menjawab begitu si nona akan membukai rantai dan totokan pada tubuhnya, kemudian ia bisa merdeka lagi. la rela untuk membantu nona disampingnya yang dahulu pernah berbuat baik kepadanya.

Tapi ia tidak tahu pikirannya Kim Hong Jie ada lain- si nona pikir, kalau Ho Tiong Jong menjawab "tidak takut mati" ia akan membuktikan matanya menghajar pemuda itu. Keduanya menjadi salah paham dalam anggapannya masing-masing.

si nona tiba tiba unjuk roman serius, ia mendekati Ho Tiong Jong. tangannya diangkat seakan akan yang hendak menghajar muka si anak muda itu. Ho Tiong Jong melihat kelakuannya Kim Hong Jie telah tertawa.

"Nona Kim." katanya, "Kalau kau mempunyai keberanian teruskanlah tanganmu memukul diriku. Aku tak dapat menipu dan berkata bohong kepadamu."

Kim Hong Jie melengah ia tarik pulang tangannya sebentara n akan kemudian secepat kilat tangannya digerakkan memukul lehernya.

Seng Giok Cin yang menyaksikan itu sudah menjadi sangat kaget. Cepatlah ia menghampiri dan menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ. Dengan tergesa-gesa mereka naik tangga dan kemudian menggabruti pintu tahanan-

Kiranya pukulan tadi dari nona Kim bukannya pukulan yang membinasakan sekali-pun kelihatannya dilakukan dengan hebat sekali. Pukulan itu justeru yang membuka totokan pada jalan darahnya sipemuda. Ho Tiong Jong tidak menyangka akan kejadian itu, hingga diam-diam bukan main girangnya.

Kiai ia sudah bisa gerakkan lagi tubuhnya dengan leluasa.

Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie setelah berada diluar, telah membicarakan halnya Khoe Cong punya kelakuan dan pertandingan Hoa Siang Jie dengan Pek Boe Taysu bagaimana kesudahannya.

Kelakuannya Khoe Cong sangat ceriwis, mata nya yang seperti alap-alap selalu mengawasi orang, hanya muka tidak bosan bosannya, maka keduanya telah mengambil keputusan untuk seberapa bisa menjauhkan diri dari Khoe Cong dan tidak mau mengajak bicara pula.

Selagi mereka sedang enaknya berjalan hendak ke tempat pertandingan pula, tiba-tiba ada satu bayangan meluncur datang. Kiranya bayangan itu ada Khoe Cong yang mereka sangat benci.

"Hei, nona-nona kemana saja kalian pergi?" tanyanya sambil cengar-cengir.

Menurut keputusan mereka berdua, memang sudah tidak kepinginan lagi bicara dengan orang ceriwis ini, akan tetapi karena ingin mengetahui kesudahannya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie, maka Kim Hong Jie terpaksa tekan rasa ditemuinya dan menanyakan pada orang she Khoe itu halnya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie.

"Hmm " jawabnya, dengan nada suara tidak enak. "Benar Pek Boe Taysu sudah bertempur

dengan Hoan Siang Jie. akan tetapi kelihatannya ia menempur lawannya secara main-main saja."

Seng Giok Cin mendengar itu, dalam hatinya berpikir, mungkin kesudahan itu atas pesan ayahnya, yang tidak ingin melukai hatinya Kun- lun-pay, jangan menambah musuh lagi yang tidak ada perlunya.

Demikian, Seng Giok Cin lalu mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke lapangan adu silat untuk menyaksikan pertandingan selanjutnya.

Ketika mereka lewat ditempatnya Hoan Sian Jie, nona Seng bersenyum dan manggut-kan kepalanya, yang telah disambut dengan gembira oleh pemuda kosen itu

Tapi Khoe Cong yang melihatnya merasa cemburu, lantas saja keluarkan perkataannya yang mengejek. "Siauwhiap benar benar jempol ilmu silatnya Kun- lun-pay tak usah malu diwakili olehmu. Nah sutera yang indah itu yang didapatkan sebagai hadiah tadi kini boleh diterimakan kepada nona Seng."

Hoan siang Jie memang ada menantikan nona Seng. maka ia tidak mengubris kata-katanya Khoe Ciong tadi ia hanya menerimakan sutera hadiah dari kemenangan dalam pertandingan kepada nona Seng.

Kong Soe Jin, yang tertua dari Im yang Siang-kiam, tiba-tiba telah mendengarkan suaranya berkata.

"Ya, aku Khong Soe Jin, juga hendak naik panggung untuk mendapat segeblok kain sutera yang akan ku hadiahkan kepada nona Seng ha ha ha... "

Para tetamu yang mendengarnya menjadi melengak. Perkataannya Kong soe Jin itu sungguh kasar sekali sebab tidak seharusnya ia berkata demikian kalau memang hatinya ada niatan untuk memikat hatinya putri dari Seng Pocu. Kelakuannya dengan otomatis tampak menjemukan-Matanya terus menerus mengawasi pada siJelita Seng Giok Cin

Kim Hong Jie sebal melihatnya, ketika ia melirik pada Khoe Cong, tampak pemuda muka buruk ini unjuk sikap yang gusar sekali? Wabahnya berubah bengis dan menakutkan matanya bersinar buas mengawasipada Hoan Siang Jie yang tengah menerimakan geblokan sutra kepada nona Seng.

Diam-diam Kim Hong Jie menghela napas.

Pikirnya, karena banyak pemuda yang setolol Khoe Cong ini, maka didunia sering terbit keonaran yang tidak diingini.

Perkataan Kong Soe Jin dibuktikan dengan melompat naiknya ia keatas panggung, hingga si hati Khoe Cong melototkan matanya lebar-lebar, kemudian ia anjurkan kawannya bernama Hui Seng Kang untuk melayani Kong Soe Jin.

Hui Seng Kang lalu minta permisi pada Seng Pocu untuk ia melayani Kong Soe Jin, untuk mana Seng Pocu tidak berkeberatan-

"KAU juga ingin naik panggung, boleh saja," kata Seng Pocu sambil mengurut- urut jenggotnya, "tapi aku harap kalian berdua akan mengunjukkan ilmu silat yang sebaik-baiknya supaya penonton merasa puas. Nah, pergilah kau layani dia... "

"Terima kasih atas perkenan Pocu." kata Hui Seng yang lantas menghampiri panggung luitay. Dengan sekali enjot saja badannya telah melayang dan sebentar lagi ia sudah berhadapan dengan Kong Soe Jin dengan mata melotot.

Kong Soe Jin lihat wajahnya Hui Seng Kang yang hitam legam ditambah dengan mata yang kejam dan licik, maka pikirannya ia harus berhati-hati melayaninya orang ini. Setelah ia bersedia, lantas mempersilahkan lawannya menyerang.

Hui Seng Kang tidak sungkan-sungkan lagi, lantas gerakkan tangannya menyerang.

Betul hebat tenaga dalamnya orang she Hui itu, karena serangan dengan telapakan tangannya itu telah perdengarkan suara "wut wut" yang hebat sekali.

Kong Soe Jin tidak mengira bahwa tenaga dalam dan luarnya sang lawan ada demikian lihay, maka ia berikan perlawanan dengan hati-hati, supaya dalam sepuluh gebrakan saja ia sudah dapat menjatuhkan lawan-lawannya.

Hui Seng Kang melihat Kong Soe Jin tak berani menyambut keras lawan keras, maka ia terus melancarkan serangan yang bertubi-tubi, hingga penontonnya dibikin kagum oleh ilmu silatnya yang lihay.

Kong Soe Jin terus didesak. Kelihatannya dengan susah payah ia dapat menangkis serangan lawannya. Hal mana telah membikin hatinya sang adik Kong soe Tek, berdebaran melihatnya. Ia sangat menguatirkan kekalahan engkonya.

Khoe Cong yang duduk tidak jauh dari Kong Soe Tek sudah keluarkan ejekannya dan menghina. " orang she Kong itu hanya sebegitu saja kepandaiannya, aku kira tidak sampai tiga puluh jurus ia sudah harus mencium papan sedikitnya kalau tidak terpental jatuh kebawah luitay,

ha ha ha... "

Kong soe Tek merasa tertusuk hatinya oleh kata kata Khoe Cong yang menghina, akan tetapi ia tidak sempat meladeni orang she Khoe itu karena perhatiannya dibikin gelisah oleh pertandingan diatas panggung.

Engkonya kelihatan terus-terusan di desak oleh lawannya, hingga ia hanya dapat menangis tetapi tidak dapat membalas menyerang. Kong soe Tek diam diam merasa heran bahwa engkonya hari ini bertanding telah unjukkan kepandaiannya yang jelek sekali. Apakah sang engko itu tidak enak badan, entahlah tapi ia diam-diam sudah menyiapkan dirinya kalau kiranya yang saudara tua itu dikalahkan oleh Hui Seng Kang, ia akan naik panggung untuk menebus kekalahan engko nya.

Kong Soe Jin hanya mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya saja antuk saban-saban meluputkan diri dari serangannya Hui Seng Kang yang dahsyat.

Semakin lama Hui seng Kang tampak semakin gesit dan lincah, ilmunya beberapa macam seperti gaya "Kepelan kilat". semua kuli berbareng membunyikan tambur, Angin puyuh menyapu dedaunan, dan sebagainya telah diperlihatkan dengan baik sekali.

Karena mana Kong Soe Jin jadi terdesak terus-terusan, sampai terdesak keping gir lui-tay. hinggi Kong soe Tek yang melihatnya semakin tidak enak hatinya.

"Hei sahabat jangan lemas begitu semangatnya. Bangun sedikit, kenapa sih?" Demikian terdengar Khoe Cong mengejek pada Kong Soe Jin. Hatinya sudan kegirangan, bahwa kawannya Hui Keng berada diatas angin-

Kong Soe Jin kuatir melihat darinya sudah kepepet begitu, tapi lawannya juga merasa gelisah karena sampai sebegitu jauh masih belum dapat menjatuhkan musuhnya yang sudah hampir tidak berdaya menangkis serangan-serangannya yang hebat.

Pertandingan masih berjalan terus dengan seru, masih Kong Soe Jin tidak mau menyerah kalah meski sudah tidak berdaya kelihatannya.

Tiba-tiba terdengar suara Hui Seng Kang membentak, disusul oleh serangannya yang dirubah. Kali ini ia menggunakan gaya pukulan- Piauwsu membalikkan kereta, suatu serangan hebat, tapi Kong Soe Jin masih dapat meluputkan diri dengan suatu tangkisan memotong dari samping.

Hui Seng Kang penasaran masih belum dapat memukul rubuh lawannya, lalu ia keluarkan serangannya yang paling berat, tipu pukulan yang dinamai. "Tenaga sakti membelah gunung Hoa san, telapakan tangannya dimiringkan, persis seperti golok ia menyerang hendak membelah kepala musuhnya.

Melihat hebatnya serangan, Kong Soe Jin terpaksa kerahkan Seantero kekuatannya dan menangkis serangan dahsyat itu. Terdengar suara "Praaaakkk" lantas badannya Kong Soe Jin seloyongan dan hampir jatuh dilantai luitay.

Ia masih bisa pertahankan diri. Hui Seng Kang sudah mau susulkan serangannya dengan satu tendangan dan telapakan tangan yang dilakukan berbareng dari bawah mengarah perut musuh, akan tetapi baru saja lututnya ditekuk. la urungkan serangan demikian, dikuatirkan lawannya mahir dengan tipu pukulan itu, nanti kesudahannya seperti senjata makan tuan-

Dengan cepat ia merubah gaya serangan tadi, ia menendang sambil miringkan badannya. Kong Soe Jin tahu gaya serangan ini, maka secepat kilat ia balas menyerang dua kali, hingga lawannya gelagapan-

Saat itu pertandingan sudah berjalan tiga puluh jurus dinyatakan serie keduanya lompat mundur untuk mengasoh sebentaran, untuk dalam babakan selanjutnya pertandingan dilakukan dengan menggunakan senjata.

-ooo0dw0ooo-