-->

Golok Sakti Bab 10 : Tototan Nona Seng yang melumpuhkan

Bab 10 : Tototan Nona Seng yang melumpuhkan

 sebisa- bisa ia mendekati Kim Hong Jie supaya perhatiannya lebih tertarik kepadanya, ia melupakan wajahnya yang tidak dapat menarik gadis yang mana juga.

Melihat hidungnya yang pesek maka saja seorang gadis cantik sungkan mendekatinya. Karena ia berpengaruh, ayahnyapun terkenal sebagai jagoan yang dimalui dalam kalangan Kangouw, maka masih juga ada gadis-gadis yang suka bicara berhadap-hadapan dengannya meskipun dalam hatinya tentu diam-diam merasa sebal melihat mukanya yang jelek.

Kemenangan Ho Tiong Jong yang aneh membikin jago-jago tua pada berdiri dari duduknya, seperti Han San dan Han Goat dari golongan Llongbun, Kauw Seng Ngo dari Kun lun-pay, cie Kauw, Pek Boe Taysu dan Seng Eng Pocu dari Seng keepo. diantaranya Song Boe Ki yang kelihatan paling penasaran karena dua saudara seperguruannya kena dikalahkan mentah-mentah oleh Ho Tiong Jong.

la berkeputusan untuk turun tangan mengalahkan orang sho Ho itu.

juga dua saudara she Kong yang dijuluki Im-yang Siang kiam tidak ketinggalan, mereka anggap Ho Tiong Jong yang telah memperlihatkan ilmunya Kim-ci Gin ciang adalah akhli warisnya San-cu Lo-long Khong-Teng Shoe musuh besarnya darl partainya ialah Ngo bie-pay. Terdengar Seng Eng membuka suara.

"Saudara sekalian, setelah pertandingan dua wakil Tayeu selesai, sekarang adalah gilirannya

Taycu sendiri yang akan maju "

Pek Boe Taysu, yang mendapat giliran-menjadi Tay-cu, tampak berbangkit dari duduknya dan bersenyum-senyum. Ketika ia hendak mengangkat langkahnya menghampiri luitay. tiba-tiba puterinya Seng Pocu muncul, berkata pada Pek Boe Taysu.

"Harap locianpwee menyerahkan tugas Tay cu kepada aku yang tidak berguna, aku ingin membereskan orang she Ho yang sombong itu."

Pek Bo Taysu melengak mendengar kata-katanya sinona, matanya melirik pada Seng Eng, seolah-olah mau menanya pikirannya bagaimana.

Seng Eng melihat putrinya hendak turun tangan, pikirnya sang putri tentu ada mempunyai maksud untuk keuntungan pihaknya lagi pula ia tahu benar kepandaiannya sang putri sampai dimana, maka ia tak berkeberatan.

"Taycu, biarkan anakku yang mewakili." katanya sambil ketawa dan mengurut-urut jenggotnya.

Pek Boe Taysu juga tidak keberatan.

"Baiklah," katanya "harap nona diatas panggung suka berlaku hati-hati, karena lawan itu tak boleh anggap enteng kepandaiannya."

"Terima kasih, aku dapat menjaga diriku sendiri" jawab sinona, berbareng ia menghampiri luitay. Dengan sekali enjot tubuhnya sudah melayang dan hinggap di atas panggung.

Pek Boe Taysu melihat sinona sudah hinggap diatas luitay, ia balik kembali kekursi-nya. ia kini sudah berumur tujuh puluh tahun. Pada lima puluh yang lampau ia bernama Koan Pek ciak. dengan julukan "Tangan Besi", tabiatnya bukan main bengisnya. sekali kena ia marah ia dapat membunuh orang tanpa berkesip matanya. ia menjadi muridnya To Hoei Taysu dari Siauw-lim-si.

Karena ia suka membunuh orang, banyak orang melaporkan perbuatannya kepada pemimpin gereja siauw-lim-si hingga To Hoei Taysu mendapat teguran dari atasannya.

To Hoei Taysu lalu keluar sendiri mencari Koan Pek ciak. Mengingat perhubungan diantara murid dan guru biar bagaimanapun ada menyelip perasaan tidak teganya, maka To Hoei Taysu hanya memberi teguran pedas pada Koan Pek ciak dan dilarang datang lagi ke Siauw-lim-si.

Setelah diusir dari perguruan, Koan Pek ciak menunrut penghidupan dikalangan hitam (penjahat). Perbuatan-perbuatannya, yang ganas membuat orang merasa takut kepadanya, bukan sedikit orang mengantar harta kepadanya, sehingga ia jadi hartawan- Barulah keganasannya mereda setelah ditimbun dengan kekayaan-

Seng Eng dapat bersahabat karib dengannya ialah melalui pertempuran dahsyat yang memakan waktu sehari semalam, Koan Pek ciak hanya kalah seurat oleh Seng Eng, sejak mana keduanya telah menjadi sahabat kekal.

Entah mengapa, pada suatu hari Koen Pak ciak pulang ke Siauw-lim si, Pada waktu itu kedudukannya To Hoei Taysu sudah tinggi. Kepada gurunya ini Koan Tok Pek ciak minta ampun dan ia rela kepalanya digunduli masuk menjadi hweshio.

To Hoei Taysu dan memang menyintai pada muridnya, telah mengampuni dirinya dan sejak ia menjadi padri telah menukar namanya menjadi Pek Boe.

Sejak itu orang tidak melihat lagi Koan Pek ciak yang ganas kejam, dikiranya ia sudah mati, tidak tahunya ada mengasingkan diri didalam gereja Siauw-lim si.

Pada suatu hari ia keluar dari gerejanya ada urusan dikota See-an, ia telah berjumpa dengan beberapa penjahat. Karena kawanan penjahat itu menghina dirinya, maka telah timbul amarahnya dan tabiatnya yang suka membunuh orang. seketika itu ia telah membunuh beberapa penjahat diantaranya.

Setelah melakukan perbuatan demikian ia rupanya sangat menyesal. Kuatir ditegur dan mendapat hukuman kalau ia kembali ke Siauw lim si, maka ia terus mencari Seng Eng sahabat karibnya.Justru dengan kebetulan sekali Seng Eng waktu itu sedang mengumpulkan orang gagah untuk mengadu kepandaian-

la disambut dengan ramah tamah oleh Seng Eng dan diminta bantuannya mengatur pertemuan- Mengadu silat mengumpulkan sahabat yang ia selenggarakan dengan maksud tertentu. Pek Boe Taycu yang pikirannya sudah kembali ketabeatnya yang dahulu, tidak merasa keberatan dan terima baik permintaannya sang kawan-Kita balik kepada Seng Giok Cin yang naik keatas luitay.

Ho Tiong Jong melengak karenanya, sebab ia tidak menduga kalau si nona yang maju sebagai lawannya dalam pertandingan berikutnya. Ia berseri seri menyambutnya.

Tapi heran, muka yang berseri-seri itu telah disambut dengan wajah yang dingin oleh Seng Giok Cin.

Ho Tiong Jong merasa heran- Tadi sinona dibawah panggung bersenyum kepadanya, akan tapi mendadak sekarang wajahnya jadi cemberut dingin. Apa ia tadi berlaku kurang sopan kepadanya, hingga sinona menjadi marah. Meskipun hatinya tidak enak. ia menyapa juga kedatangannya Seng Giok Cin.

"Nona Seng, sungguh aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu. Sampai mati juga aku tidak akan melupakan- budimu yang besar itu. Aku tidak nyana, bahwa pemuda pelajar yang aku ketenukan diterang bulan adalah putrinya Pocu dari Seng-kee-po yang berbudi luhur dan-.. "

"Haii,..." terdengar si Nona memotong perkataannya Ho Tiong Jong. "Aku tidak ada tempo untuk membicarakan tetek bengek, mari lekas bertempur Aku ingin lihat kepandaianmu sampai dimana "

Ho Tiong Jong melengak. ia menjublek memikirkan sikapnya nona Seng yang demikian rupa. ia sebenarnya datang kesitu juga hendak menemui sinona, mengabarkan hal kematiannya Tok-kay, setelah mana ia akan angkat kaki lagi karena ia bakalan mati oleh pengaruhnya racun Tok-kay yang ada dibadannya.

"Hei, kenapa kau bengong saja? Lekas keluarkan kepandaianmu" tegur si nona.

"Nona Seng, harap maafkan aku. Dengan sejujurnya aku betul-betul tidak mengerti dengan sikapmu ini. Apakah aku pernah bersalah kepadamu? Kalau aku bersalah, sekarang aku minta

maaf"

"Jangan banyak rewel, aku tidak memerlukan kau punya permohonan maaf"

"Kalau begitu, kau memaksa juga hendak bertempur dengan aku, biarlah aku mengaku kalah saja. Nah, selamat tinggal."

Ia berbareng mau melompat turun dari luitay, akan tetapi nona Seng sudah dengan gesitnya menghadap di hadapannya. "Keluarkan dahulu kepandaianmu, kalau kau sudah dapat menjatuhkan aku. barulah kau turun daripanggang ini." kata Seng Giok Cin dengan suara ketus.

"Aku aku... " katanya gugup, sebab tidak diberi kesempatan bicara dan diserang dengan hebat oleh Seng Giok Cin

la kelabakan sebentar. Kemudian ia terpaksa melayani sinona bertempur, ia telah mengeluarkan ilmunya warisan Tok-kay yalah Tok-licng cianghoat yang ampuh

Tampak telapakan tangan kirinya sedikit didorong uutuk menangkis serangan si nona sedang tangan kanannya dengan gaya "Kay-thian Pit-tee" atau membuka langit dan bumi, ia balas menyerang.

Tapi serangannya tidak di teruskan, di ganti dengan gaya "Kim-paw Lok tiauw (Macan tutul emas perlihatkan cakarnya).Jari tangannya dibuka sebagai gaetan terus hendak mencengkeram sikutnya si nona.

Seng Giok Cin tahu bahwa tenaganya si-pemuda ada sangat kuat. Pikirnya, bertempur lima belas jurus saja belom pasti ia peroleh kemenangan- ia harus menggunakan kecerdasan diwaktu Ho Tiong Jong lengah, barulah dapat merebut kemenangan.

Serangan si pemuda di tangkis dengan telapakan tangan kanan dan telapakan tangan kirinya balas menyerang. Kaki kanannya di geser maju, sedang yang kiri ditarik mundur. Ia coba menyambuti serangan lawan, akan terapi ia kalah tenaga dan terus terdesak mundur oleh serangannya Ho Tiong Jong.

Dalam tempo sebentaran saja mereka sudah bertempur lima jurus.

Diam-diam Ho Tiong Jong mengeluh dalam hati. Pikirannya, ia tak lama lagi tokh akan mati, untuk apa ia merebut kemenangan? Apa perlunya untuknya Maka lebih baik ia mengalah dan kasihkan dadanya dihajar si nona sampai binasa. ia rela mati ditangannya orang yang pernah

membuang budi padanya. Lagi pula, dengan berbuat demikian ia sudah memberi muka kepada si nona didepannya orang banyak.

Ho Tiong Jong ingin si nona turun tangan betul-betul, maka ia berkata.

"Nona Seng kau boleh menyerang, jangan pakai sungkan-sungkan lagi, aku akan melayani kau dengan betul? Nah keluarkanlah ilmu simpananmu."

Seng Giok Cin diam-diam merasa gemas juga mendengar kata-katanya pemuda tampan itu, ia perhebat serangan-serangannya. Dilain pihak Ho Tiong Jong keluarkan ilmunya Kim ci gin-ciang menyerang dengan telapakan tangan dan menotok dengan jari-jarinya yang kuat, hingga sinona lagi-lagi ke-teter dan hatinya ada sedikit keder juga. Ho Tiong Jong terus mendesak dengan totokannya yang berbahaya.

Dalam keadaan terdesak. Seng Giok Cin menggunakan kegesitannya untuk meloloskan diri dengan melesat tinggi, diudara badannya berputaran sebentar, kemudian meluncur turun lagi, tahu-tahu sudah berada dibelakangnya Ho Tiong Jong.

Sebelumnya sipemuda dapat membaliki badannya, jari-jarinya sinona yang halus telah menotok jalan darah dibagian pinggangnya hingga seketika itu juga ia jatuh lemas. Kegalakannya yang barusan diunjuk menyerang sinona bertubi-tubi, telah lenyap tanpa bekas.

Segera seketika itu terdengar tampik sorak yang riuh sekali menyambut kemenangannya Seng Giok Cin. Tapi sinona tidak menjadi bangga oleh karena kemenangannya itu, malah wajahnya tampak dingin ketika membalas hormat atas samburan yang meriah. Seng Giok Cin suruh orang-orangnya angkut Ho Tiong Jong turun dari luitay.

Seng Eng sementara itu, dengan muka berseri-seri telah mengumumkan bahwa pertandingan dihentikan dan beristirahat dahulu.

Setelah habisan makan dipelataran yang di tanami banyak bunga-bunga terletak dibelakang rumah, kelihatan ada berkumpul beberapa orang ialah- Seng Eng, Kim Hong Jie, Pek Boe Taysu, Ban Siang Tojin, Siluman Khoe Tok dengan tiga muridnya dan si Rajawali Botak Ie Yong, yang menyolok sekali kepalanya botak.

Mereka berunding tentang Ho Tiong Jong yang sudah kena ditangkap. bagaimana harus diambil tindakan terhadapnya. Dua saudara oet-ti dengan ditunjang oleh song Boe Kie mengusulkan agar jiwanya pemuda itu dibereskan saja, supaya jangan jadi bibit penyakit di kemudian hari.

Pek Boe Taysu menyatakan pikirannya, sebaiknya Ho Tiong Jong ditahan saja dahulu jangan dibunuh sebab siapa tahu kalau ia muncul disitu bukan sendirian dan ada tulang punggungnya yang berkepandaian amat tinggi.

Ban Siang Tojin mufakat pemuda itu dibunuh mati, sebab ini berarti pihak Seng Pocu sudah menyingkirkan akhli waris Sanju Lo-Iong Khong Teng Shoe musuhnya golongan Liong Bun, hingga bisa diharapkan golongan Liong Bun akan tunduk kepada pihak Seng keepo. Seng Eng sendiri belum dapat memutuskan bagai mana baiknya.

KARENA tidak ada keputusan, maka Ho Tiong Jong terus ditahan, dalam suatu kamar tahanan yang gelap tak dapat melihat sinar matahari sepanjang hari. la dalam Keadaan tidak berdaya, karena masih tertotok.

Seng Eng telah meninggalkan kawan-kawannya untuk beristirahat dirumah belakang.

Belum lama orang tua itu berada didalam kamarnya pintu kamarnya terdengar diketuk dan kelihatan masuk Seng Giok cin dengan wajah berseri-seri manja.

"Hei, kau pergi kemana? Kenapa tidak menghadiri pertemuan kita ?" tanya sang ayah ketika nampak siapa yang masuk kedalam kamarnya.

Seng Giok cin ketawa. "Aku ada di kamar sembahyang ibu bagaimana dengan keputusan Ho Tiong Jong?" ia menanya.

"Semua orang mufakat dibunuh mati," jawab sang ayah. " Dibunuh mati?" Seng Giok Cin menegasi.

"Ya. Kalau ia dibunuh lantas golongan Liong- bun menyerah pada kita, tidak apa, aku bisa mufakat diambilnya tindakan itu."

"Tapi ayah, belum mengambil tindakan demikian, kata Seng Giok Cin " Lebih baik kita jangan berhubungan lagi dengan golongan Liong bun, aku lihat mereka licik dan bisa membujuk Ho Tiong Jong supaya dia membantu pada kita. Kasih saja ia memangku jabatan penting dalam benteng kita, aku lihat ilmu silatnya bukan sembarangan ?" Seng Eng tidak menjawab, matanya mengawasi pada wajahnya sang putri yang cantik.

"Tapi. biarlah aku nanti coba yang membujuk dia. Kalau benar-benar dia mau menjadi orang kita. lantas kita boleh mengatakan pada para tetamu bahwa dia sudah melarikan diri berbareng kita pura-pura mengirim orang untuk mengejarnya. Barusan aku tidak menghadiri perundingan oleh karena aku hendak bicarakan dengan ayahaku punya pendapatan ini."

Seng Eng kembali tidak menjawab, tapi dari paras mukanya tampak seperti ia setuju dengan pikirannya sang anak yang berakal ini. Terdengar Seng Giok cin berkata lagi.

"Menurut pikiranku, kita hanya permainkan soal Ho Tiong Jong perlahan-lahan dapat melumpuhkan mereka. Sekarang usaha ayah, mengumpulkan banyak orang dari berbagai partai dengan maksud mengetahui sampai dimana masing-masing punya kepandaian, tapi kita tak dapat membasmi mereka guna apa? Kita terang-terangan membunuh mereka tidak bisa, maka kita harus menggunakan akal, bukan? coba ayah pikir benar tidak?"

"Hei akalmu baik sekali cin Jie." tiba-tiba Seng Eng berkata dengan muka girang. "Kalau nanti berhasil, pihak kita menjagoi dikalangan persilatan, kaulah ada satu satunya orang yang berjasa besar." seng Giok cin tertawa.

Sementara itu Seng Eng lalu keluar dan memerintahkan pada Ie Yang supaya Ho Tiong Jong dipindahkan tempat tahanannya, ialah ketempat tahanan yang berair.

Ketika Ie Yong masuk kekamar tahanan Ho Tiong Jong. kelihatan pemuda ini sedang rebah ditempat tidur dengan badan lemas tidak bisa bergerak karena tertotok. Tapi pikiran dan matanya tetap terang. Ketika Ie Yong mengatakan dirinya akan dipindahkan ia tidak berkata apa-apa.

Ia melihat ada dua orang yang membawa usungan keatas ia kemudian direbahkan dan dibawa keluar kamar itu.Jalan yang dilalui ada berliku liku dan melewati beberapa pintu, ia sangat kaget dirinya akan dibawa kemana sih?

Diam-diam ia berpikir, " Kenapa aku masih belum juga dibunuh. Aku mau dibawa ke mana sebenarnya? Kenapa totokan pada jalan darahku masih juga belum dibuka." orang menyiksa aku sampai begini ada perlunya.

Dalam menanya nanya pada dirinya sendiri, tiba ia melihat ada berkelebat sesosok bayangan orang, Ketika ia tegasi bukan lain dari nona Seng. Mulutnya bergerak-gerak seperti yang hendak bicara padanya akan tetapi Seng Giok Cin sebentar lagi sudah melenyapkan pada dirinya.

Ho Tiong Jong tidak ambil pusing.

Ia tenang tenang saja orang menggotong dirinya ia mau tahu sebenarnya orang mau bawa ia kemana? Pada suatu saat tiba-tiba orang-orang yang menggotong padanya berhenti, tampak Ie Yong menghampiri satu alat rahasia yang terdapat pada sebuah gambar yang melukiskan pemandangan alam tergantung didinding.

Setelah diputar beberapa kali, lantas terdengar suara "krekek" tiba-tiba telah terbuka sebuah pintu sempit. ie Yong mengasih tanda pada yang membawa usungan, supaya Tiong Jong digotong masuk ke dalam kamar kecil itu..

Setelah berada didalam Ho Tiong Jong lihat dibawa turun melewati tangga batu, jalanan disitu sangat sempit kira-kira lebar tiga kaki dan tinggi satu tumbak. Setelah berjalan kira kira tiga tombak. telah diliwati empat belokan disitu keadaan ada terang karena ada dipasang lampu. Tampak ada beberapa lubang hawa.

Melihat keadaan kamar dibawah tanah ini, Ho Tiong Jong menduga, kamar itu tentu memang disediakan untuk keperluan pemiliknya mengumpat disitu kalau menghadapi bahaya tak dapat diatasi.

Mereka tidak berhenti sampai disitu, karena usungan digotong terus, tiba-tiba mereka berjalan dijalanan yang sangat sempit, kemudian membiluk dan disitulah terdapat sebuah kamar batu, yang dinding dan pintunya semua terbuat daripada besi.

Dibagian atas pintu ada kedapatan lubang sebesar setengah kaki tapi ditutupi dengan besi juga. Lubang ini dapat dengan sendirinya terbuka dan tertutup,

Kamar itu ada mempunyai empat pintu. Ie Yong telah membuka pintu yang sebelah kiri masuk kedalam kamar itu kira-kira hanya satu tombak persegi, bahkan tempat ini amat rendah.

"Hei, orang kasar, sebenarnya aku mau diapakan sih?" tanya Ho Tiong Jong pada ie Yong dengan tiba-tiba.

Ho Tiong Jong rupanya sudah sangat jengkel, Karena diusung orang sampai sudah sekian lamanya belum mendapat kepastian mau diapakan dirinya.

"Kau jangan banyak rewel, aku melakukan ini hanya menurut perintah." jawab Ie Yong dengan dingin.

"Apa kau mau membunuh aku mati."

"Siapa yang hendak membunuhmu? Kecuali kau banyak rewel" Ho Tiong Jong jadi sengit, ia berteriak

"Kepala botak. lekas kau katakan orang mau berbuat apa atas diriku, kalau tidak, sebentar kalau aku sudah merdeka awas dengan kepala botakmu"

Ie Yong paling jengkel kalau dikatakan kepala botak. sekarang ia mendengar Ho Tiong Jong memakinya demikian, bukan main marahnya.

"Manusia, tidak kenal mampus" teriaknya. "Kau berani memaki aku begitu, awas aku bikin remuk kepalamu, kau tahu ?"

"Hm mana kau ada kemampuan untuk berbuat demikian ?"

Ie Yong jadi naik darah. ia cepat menghampiri Ho Tiong Jong yang tak berdaya, tangannya diangkat dan hendak memukul dengan hebatnya, tapi terdengar suara halus berkata.

"Ie congkoan, kau tak dapat berbuat demikian."

Si kepala botak menjadi kaget, tangannya yang sudah diangkat telah ditarik kembali dan berpaling kearah suara tadi. Kiranya yang berkata tadi ada nona Seng, yang telah mengunjukkan dirinya sekelebatan, kemudian menghilang lagi.

Ho Tiong Jong juga akan dapat melihat berkelebatnya tubuh yang langsing dari nona akan tetapi ia tampaknya acuh tak acuh. "Hm " terdengar ie Yong menggeram sendirian-

la melihat kearahnya Ho Tiong Jong. tampaknya sipemuda sedang menertawakan padanya. bukan main mendongkolnya, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa,

Didalam kamar tahanan itu Ho Tiong Jong diletakan dilantai, tangan dan lehernya di ikat dengan rantai besi. Disitu ada mengalir air yang keluar dari sumbernya. Ketika Ho Tiong Jong dirantai air mengalirkan tingginya hanya satu kaki saja, tapi air itu mengalir terus memenuhi ruangan hingga sebentar saja sudah naik setinggi mulut

Kematian baginya tjdak menjadi soal. Mati disitu dan di mana saja ia tokh akan menemui ajalnya karena pengaruh racun dari Tok kay, akan tetapi ia tidak tahan merasakan kakinya yang kerendam air seperti digerumuti semut hingga ia berteriak-teriak seperti orang kalap.

Tiba-tiba ia hentikan berteriaknya, ketika mendengar seperti seorang tua berkata kepadanya. Suara itu datangnya dari sebelah kanan dinding kamar tahanan-

"Hei. bocah, untuk apa kau ribut-ribut? Diamkan saja. nanti juga sudah menjadi biasa lagi kau tidak akan merasakan apa-apa."

Ho Tiong Jong merasa malu mendapat teguran tadi. Memang tidak semestinya ia berteriak-teriak seperti kebakaran jenggot disebabkan merasa seperti digerumuti semut saja kakinya. Mungkin karena pengaruhnya air, yang sebentar lagi kalau sudah biasa kakinya terendam disitu akan tidak dirasakan pula yang demikian itu.

la celingukan mencari dari mana datangnya suara tadi. ia tahu benar datangnya dari samping sebelah kanan, akan tetapi tidak kelihatan disitu mata hitungnya manusia. Adakah setan penunggu disitu yang berkata-kata tadi? Demikian ia menanya pada dirinya sendiri.

"Kau siapa?" tiba-tiba ia menanya, setelah mencari orangnya sia-sia saja.

"Ha ha ha " kedengaran orang tadi tertertawa "aku disini ditahan dikamar sebelah kau. Aku ditahan disini sudah dua puluh tahun lamanya. Aku tahu sudah banyak orang yang ditahan ditempatmu itu, akan tetapi di tahan tidak lama, maka aku percaya kaupun tidak akan mengalami penahanan yang lama."

Ho Tiong Jong lega hatinya, karena suara tadi suaranya manusia, bukannya setan seperti yang diduga semula. Tapi, diam diam ia merasa heran, sebab apa orang itu ditahan disitu hingga sudah dua puluh tahun lamanya?

Sementara itu ia merasakan air naik semakin tinggi, ia menanya. "Lopek aku disini kerendam air sampai dipaha, apakah dikamarmu juga kerendam?"

"Tadinya betul ketika aku masih ditahan ditempat tahanan lain suka kerendam air akan tetapi sejak aku dipindahkan kesini, aku tidak mengalami lagi kerendam. Hanya saja kakiku sudah kena penyakit reumatik sehingga sukar digerakkan- Kalau sampai kini aku masih hidup terus, karena aku masih berpengharapan suatu hari aku dapat keluar dari kamar tahapanmu dan melihat lagi sinarnya matahari yang terang benderang." Ho Tiong Jong berduka hatinya mendengar perkataannya si orang tua tadi.

Pikirnya, orang tua itu yang ditahan sudah dua puluh tahun lamanya masih memikirkan mau hidup, tapi dirinya sendiri bagaimana? Dalam tempo tiga hari setelah terkena racunnya Tok kay jiwanya akan melayang, mana ia berani mengharapkan hidup?

Ia menghela napas beberapa kali, mukanya menjadi pucat dengan tiba-tiba. Terdengar orang tua tadi berkata lagi.

"Bocah, kau ini berbuat kesalahan apa sehingga ditahan ditempat ini?"

"Ya, aku sendiri tidak tahu mengapa orang menahan aku disini? jawab Ho Tiong Jong dengan suara sedih.

"Bocah. kau ini rupanya terlalu banyak pikir hingga tidak tahu apa-apa. Tapi, ia, memang didunia ini banyak peristiwa yang tak dapat dijawab dan banyak kejadian yang tak dapat diusut sebab musababnya."

Ho Tiong Jong setengah mengerti, separuh tidak atas kata-katanya si orang tua tadi. Ia menanya.

"Nah, lopek sendiri juga sebabnya apa ditahan disini, mengapa sampai ditahan begitu lama duapuluh tahun-" Terdengar slorang tua menghela napas.

"Aku, aku... " jawab dengan suara getir. "ditahan disini ada sebab. Mungkin aku akan ditahan seumur hidupku disini, mereka tidak akan melepaskan aku lagi. Sampai aku mati disini... "

"Kau kenapa, apakah kau ada bermusuhan dengan Seng Pocu?"

"oh bukan. Aku tidak punya permusuhan apa apa dengan Seng Pocu."

"Habis mengapa kau ditahan sampai begitu lama belum juga dikeluarkan-" Terdengar orang tua itu menghela napas lagi.

Sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi, si orang tua belum memberikanjawa bannya. sedang Ho Tiong Jong tinggal menantikan dengan perasaan heran-Terdengar orang tua tadi berkata lagi.

"Bocah, kau tahu, aku ini ada satu akhli bangunan yang tersohor. Bangunan bangunan seperti benteng benteng, jembatan-jembatan dan lain-lainnya yang indah dan tersohor adalah aku yang membikinnya. juga rahasia banteng disini aku yang merencanakannya, justru lantaran mereka kuatir aku dapat membocorkan rahasia, maka mereka telah menghukum aku disini sampai puluhan tahun- Usiaku sekarang sudah tujuh puluh tahun, sedang benteng ini sudah dibangun setengah abad lamanya."

"oh, begitu ...?" menyelak Ho Tiong Jong.

"Ya, sebenarnya dalam benteng ini tidak ada rahasia apa-apa yang berarti akan tetapi karena mereka takut oleh bayangannya sendiri telah menyekap aku sampai sudah dua puluh tahun lamanya. Sayang aku tidak berkepandaian silat, kalau ndak. hmm... orang orang macam itu dengan ilmu silat tidak seberapa tinggi juga sudah dapat dijatuhkan- Suhuku yang mengajar ilmu bangunan sebenarnya ada berilmu silat sangat tinggi, betul-betul sayang aku tidak belajar kepadanya."

Orang tua itu agaknya merasa sangat menyesal terdengar helaan napasnya beberapa kali, sehingga Ho Tiong Jong diam-diam ia merasa tahu juga.

"Tapi, bocah," orang tua itu berkata lagi, "kau jangan putus asa, karena dilihat dari air mukamu, kau ini dibelakang hari akan menjadi orang ternama. Apa yang dialami- mu sekarang, itu hanya sekedar melewati masa sialmu saja. Kau tentu mengerti, buat menjadi orang ternama, orang harus mengalami pahit getir dahulu, barulah mendapat nama yang termashyur."

Mendengar perkataannya si orang tua, Ho Tiong Jong geleng-geleng kepala dan hatinya sangat berduka mengingat akan jiwanya yang dapat hidup tidak lama lagi.

"Hmm... " ia menggeram duka. "kau mana tahu aku akan menjadi orang termasyhur? Sekarang

saja aku sudah susah untuk meloloskan diri .Jangan lagi aku, sedang kau yang akhli dalam

pembangunan tidak berdaya apa-apa. Jadi perkataan tentang orang harus bersusah payah dahulu

baharu mendapat nama tersohor, semua itu hanya omong kosong saja "

Ho Tiong Jong tekankan suaranya paling belakang begitu terharu.

orang tua tadi terdengar tertawa, tapi padanya seperti yang sangat sedih. Setelah hening beberapa lamanya, Ho Tiong Jong menanya. "Apa lopek ada murid satu satunya dari akhli silat dan bangunan itu.

"oh, tidak. tidak. Guruku ada mempunyai dua murid. Saudara seperguruanku bernama Sam Pek Sin, ia berguru dalam ilmu silat, sedang aku sendiri dalam ilmu bangunan."

"Lopek siapa namanya?"

"Aku co Kang cay."

"Dan guru lopek sendiri siapa namanya?" "Suhu bernama In Kay." Keadaan terdiam lagi beberapa lamanya.

Terdengar sicrang ini yang mengaku bernama co Kang cay berkata lagi.

"Bocah, suhuku itu ilmunya sangat tinggi."Ia berilmu dua macam siiat dan bangunan-Suhengku Sam Pek Sin mendapat warisannya silat yang sangat tinggi sedang aku sendiri yang belajar ilmu bangunnya juga sudah menjadi akhli yang rasanya sukar mencari ke duanya, kecuali suhuku sendiri."

Ho Tiong Jong terbelalak matanya mendengar co Kang cay memuji dirinya sendiri punya kepandaian-

"Begitu jempol"^ nyeletuk Ho Tiong Jong.

"Bocah, aku bukan bicara besar, tapi memang itu sudah menjadi kenyataan, Akhli-akhli bangunan lain, tidak ada yang ketika diajak masuk misalnya kedalam satu bangunan benteng dapat mengetahui lantas keadaannya disitu. Tapi aku sendiri begitu masuk dan memeriksa sebentara n keadaannya lantas mendapat tahu apa apa yang ada dalam bangunan itu, seperti umpamanya ruangan atau jalanan dibawah tanah dan lain-lainnya, yang dirahasiakan oleh pemiliknya."

Ho Tiong Jong tertarik hatinya, ia angguk-anggukkan kepalanya.

"Aku mau ceritakan padamu suatu rahasia." melanjutkan co Kang cay, "apakah, kau suka mendengarnya ?"

"Silahkan cerita." jawab Ho Tiong Jong tanpa ragu-ragu.

"Disatu kota bernama Yang co ada satu bangunan gunung. Kalau dilihat sepintas lalu seperti gunung kecil saja, puncaknya ada sangat lancip. Disitu ubin-ubinnya dari batu marmer yang serupa kembangnya. Indah sekali dan mengherankan- Bentuknya gunung ini segi empat, panjang lima tumbak. lebar lima tumbak dan tingginya juga lima tumbak. Di tengah-tengahan ini kosong, keadaan sebelah dalamnya dihias sangat menarik hati dan di situ ditempatkan sebuah peti mati dari batu."

"Siapa punya peti mati ?" nyeletuk Ho Tiong Jong.

"Kau jangan potong ceritaku, kau dengarkan dahulu," kata Co Kang Cay. Ho Tiong Jong nyengir dan anggukan kepalanya. Co Kang Cay meneruskan ceritanya seperti berikut.

"Bagunan gunung itu kiranya dibangun oleh seorang hartawan pada jaman akhirnya dinasti Sui. Untuk mengongkosi bangunan itu, si orang hartawan telah menghamburkan kekayaannya lebih dari separuhnya.

Pada waktu bangunan itu sudah selesai tiba-tiba tidak kelihatan lagi akhli- akhli yang membangunnya. Menurut dugaan orang mereka telah dibunuh oleh seorang hartawan bernama Kim Pek Ban karena diatas gunung itu ada kedapatan dua mayat. orang menduga dua mayat itu adalah akhli- akhli bangunan yang tidak munculkan dirinya pula.

Kedalam bangunan rahasia itu belum pernah ada orang yang- dapat masuk, karena dinding batu gunung itu tebalnya tidak kurang diti satu tumbak dari atas sampai kebawah tidak kedapatan barang satu lobang, sedang fondamennya, sedalam tujuh delapan tumbak.

Bagaimana Kim Pek Ban menjadi seorang hartawan, menurut orang cerita katanya ia ada mempunyai dua benda ajaib. Yang satu berupa baskom. Barang apa saja yang ditaruh dalam baskom ini akan penuh sebaskom.

Misalnya satu gram emas ditaruh dalam baskom itu akan menjadi sebaskom emas, dengan begitu mana Kim Pek Ban tidak menjadi seorang hartawan?

Yang satu lagi ada sebuah benda merupakan patungnya satu nona cantik dan elok bahannya terbikin dari batu kumala yang bersifat hangat, batu ini didapat dari luar negri dalam gunung dewa, namanya Ban nian oen-giok (batu kumala yang hangat puluhan ribu tahun) Khasiatnya patung nona cantik dari bahan batu kumala hangat ini, adalah lebih aneh lagi.

Patung itu lemas seperti juga tubuhnya satu gadis cantik, kalau dipeluk hawa hangatnya lebih dari nona cantik yang hidup, Keajaibannya bukan sampai disitu saja lantas keesokan harinya rasa letih dan tidak bernapsu menjadi hilang, terganti dengan rasa segar dan bersemangat.

orang yang berkepandaian ilmu silat. jikalau tidur dengannya bukan hanya dapat hasil seperti disebut barusan saja, tapi semakin lama tidur dengannya semakin merasakan perubahan bagi dirinya. Urat-urat dan tulang-tulangnya menjadi kuat dan awet muda."

Ho Tiong Jong sangat ketarik dengan ceritanya co Kang cay. Ia jadi ngelamun, apakah benar didunia ada dua benda yang demikian ajaibnya?

Kalau benar patung sicantik itu dapat membikin orang awet muda dan tidak bisa mati. mengapa Kim Pek Ban akhirnya mati juga?

Memikir kesana, ia lalu menanya.

"Co lopek patung itu dapat membikin-orang terus muda, tapi mengapa Kim Pek Ban tokh menemui kematiannya juga ?" Co Kang Cay tertawa terbahak-bahak.

"Bocah, memang kalau tidak tahu duduknya perkara yang akan mengadukan pertanyaan seperti barusan-"

Ho Tiong Jong membisu. Co Kang Cay kemudian, memberikan keterangan seperti berikut tentang dirinya Kim Pek Ban-

"Tentang Kim Pek Ban ada mempunyai dua benda ajaib itu telah sampai dikupingnya raja Sui yang-tek. Keinginan untuk memilikinya lantas timbul sebegitu lekas sang raja mendapat kabar itu.

Karena kalau terang-terangan melakukan perampasan dirumahnya Kim Pek Ban ada kurang baik di pemandangan rakyat, maka dengan diam-diam raja sui yang-setelah mengirim beberapa orangnya untuk menangkap Kim Pek Ban-

Kerajaan Sui yang-tepada waktu itu sudah bobrok, rakyat sudah tidak takut lagi kepada rajanya. Maka ketika orang-orangnya raja datang, dengan diam-diam Kim Pek Ban telah menyuruh jago-jagonya yang melindungi dirinya membasmi orang-orangnya raja dan mayatnya semua ditanam dengan cara rahasia.

Kejadian ini lama-lama diketahui oleh raja, maka beliau mengirim lagi beberapa orangnya yang berkepandaian silat tinggi, akan tetapi tidak juga berhasil, malah bukan sedikit orang-orangnya yang telah menemui ajalnya. Karena mana, Sui-yang-tee menjadi sangat marah, beliau lantas mengirim sepasukan tentara untuk membasmi KimPek Ban sekeluarga.

Tapi justru waktu itu Kim Pek Ban sudah selesai dengan bangunan gunung- gunungannya, maka dengan membawa benda wasiatnya ia telah masuk kedalam bangunan itu dan mulai tidak ada kabar beritanya lagi.

"Tapi co lopek ada akhli bangunan yang jempolan, tentu sudah tahu disebelah mana jalanan masuknya kesitu, bukan?" nyeletuk Ho Tiong Jong.

"Bocah, memang mestinya begitu Tapi apa mau dikata, meskipun aku sudah mempelajari sekian lamanya hal bangunan itu masih belum mendapat tahu kunci jalan masuknya kedalam bangun itu."

co Kang cay tidak meneruskan bicaranya, karena tiba-tiba mendengar ada suara tindakan kaki mendatangi, kemudian disusul dengan suara ketawanya dari orang perempuan-Pada saat itu air telah merendam Ho Tiong Jong sudah setinggi dadanya dan betul betul ia merasa kecewa kalau nanti mati konyol dengan cara begitu.

Ia menduga yang datang itu tentu Seng Giok Cin maka ia pura-pura memejamkan matanya, tidak mau melihat pada si nona. Yang datang itu menang betul nona Seng.

Ia menghampiri Ho Tiong Jong dan memegang rantai yang mengikat lehernya si pemuda, apa mau bau harum dari si nona yang menusuk hidungnya Ho Tiong Jong telah membikin pemuda itu tak tahan untuk tidak membuka matanya yang dipejamkan tadi. Hatinya berdebar juga ketika melihat sinona hanya dalam jarak setengah kaki saja daripadanya, pandangan mata muda mudi itu telah kebentrok. Wajahnya si nona yang cantik jelita saat itu kelihatan menyungging senyuman yang tak mudah dilupakan oleh Ho Tiong Jong yang merasa menanggung budi besar pada si nona.

Untuk menekan debaran hatinya, Ho Tiong Jong tundukan kepala sambil melempangkan kakinya yang sudah jadi kepegalan sedari tadi direndam dalam air.

"oh, kau direndam dalam air? Kasian... " terdengar si nona berkata sambil bersenyum menggiurkan.

Tapi Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya tundukkan kepalanya saja.

"Hei, kau sudah bisu. kenapa tidak menjawab orang berkata-kata?" tegur sinona.