-->

Golok Sakti Bab 08 : Kisah asmara pengemis kejam

Bab 08 : Kisah asmara pengemis kejam

Diceritakan Ho Tiong Jong ketika siular sudah mencapai lima-enam lie, lantas perlambat larinya sambil matanya menyapu kesekelilingnya tempat. Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan. Ketika ditegasi, bayangan itu ternyata ada Tok kay yang sedang berdiri dibawah pohon dengan semangkok bubur ditangan-

"Ha ha ha " ia tertawa pada Ho Tiong Jong.

Matanya si pemuda mengawasi pada si pengemis kejam, tapi tidak mengutarakan kebencian diwajahnya, ketika ia datang dekat pada Tok kay, yang tersebut belakangan berkata.

"Bocah, kau baru sampai? Barusan aku juga baru sampai habis minta-minta bubur pada orang. Apa kau tidak merasa lapar? Kalau tidak merasa kotor ini, mari kita makan-makan sama-sama ?"

Ho Tiong Jong yang memang sudah sangat lapar tidak sungkan-sungkan lagi lantas menemani Tok-kay duduk diatas rumput dan makan bubur bersama-sama.

Selagi mereka asik makan dengan gembira, tiba-tiba ada muncul seekor binatang serigala menghampiri mereka. Diam-diam Tok-kay memungut batu kecil, dengan sekali sentil batu itu meluncur lebih cepat dari peluruh dan kena tepat dibagian tabuhnya yang mematikan- Terdengar raungannya yang mengerikan, setelah berkelejatan, serigala itu telah habis nyawanya. Ho Tiong Jong kerutkan alisnya.

"Kau kenapa membunuh padanya?" ia menanya dengan nada tidak puas.

"Karena ia akan merebut makanan kita." jawabnya.

"Kau terlalu kejam...." kata pula Ho Tiong Jong menghela napas.

Tok-kay Kang Hlong hanya tertawa nyengir. "Bocah, mari aku ceritakan riwayat hidupku, apa kau suka mendengarnya ?"

Ho Tiong Jong girang hatinya, memang ia kepingin tahu asal usulnya orang kejam ini. la tidak menjawab, hanya kepalanya dianggukkan-

Setelah menyeka mulutnya dengan lengan bajunya yang kotor, pengemis tua itu telah menceritakan kisahnya seperti berikut.

Kiranya ia dalam usia dua belas tahun sudah menjadi pengemis.

Pada waktu itu ibunya telah meninggal beberapa tahun. Ia jadi dibawah penilikan ayahnya yang bengis terhadapnya. Belakangan sang ayah telah menikah lagi, ia jadi mempunyai ibu tiri.

Maklumlah, ibu tiri itu selalu tidak dapat akur dengan anak tirinya. Ia juga mendapat perlakuan yang bengis dari ibu tirinya itu.

Pada suatu hari dalam sekehendak ia telah dihajar oleh kawannya yang lebih besar sehingga mukanya matang biru. Ketika pulang kerumah, bukannya dimenangkan oleh ayahnya malah ia ditambah dengan pukulan hebat. Maka sejak itu ia insaf, bahaya manusia hidup didunia ini, baru dapat hidup merdeka kalau dapat hidup dengan tenaga sendiri.

Pada hari kedua ia dari rumah bawa buku-buku mau pergi sekolah tapi sebenarnya ia tidak masuk sekolah hanya pergi pada satu pengemis tua untuk main-main dan mengobrol.

Ia tahu bahwa pengemis tua ini suka menangkapi binatang binatang berbisa seperti kelabang, kalajengking dan sebangsanya yang beracun, kemudian dijual dan uangnya dipakai membeli arak untuk diminum.

Diantara binatang binatang berbisanya itu terdapat satu kalajengking besar yang disimpan dalam sebuah bumbung bambu. Katanya binating itu sangat berbisa siapa yang kena disengat olehnya akan binasa.

Pada satu hari ia telah mencuri sepotong perakan dari ayahnya dan diberikan pada pengemis tua itu untuk membeli araknya. Pengemis tua itu kegirangan, setelah membeli arak lalu diminumannya dirumah sampai ia makan dan tidur pulas.

Menggunakan kesempatan itu, ia sudah curi kalajengkingnya yang beracun itu.

Ia bawa itu kesekolahnya dan ditaruh disatu lubang batu dibelakang rumah sekolah, diatasnya bumbung ia taruhi uang dan dua buah. Kemudian pada hari itu ia traktir makan pada teman-temannya, tidak terkecuali anak yang tempo hari telah memukuli mukanya hingga bengkak.

Anak itu menanyakan dari mana ia mendapat uang, dengan berbisik ia ceritakan bahwa ia dapat uang dibawahnya lubang batu dibelakang rumah sekolah. Hal mana sudah tentu mengherankan.

Anak itu ketarik hatinya untuk mendapatkan uang dari dalam lubang. Dijanjikan oleh Kang ciang akan diantarkan kesana kalau sebentar sekolahan sudah bubaran-

Demikian anak yang besaran itu diantar olehnya ketempat dimana disimpan kalajengking berbisa. Ia yang mula mula mengulurkan tangannya kedalam lubang mengambil uang, berbareng ia sudah membuka lubang bumbung bambu binatang kalajengking itu.

Ketika ia unjukkan uang yang didapati dari lubang, anak yang memukul padanya telah timbul keserakahannya dan menendang padanya sampai bergulingan ditanah. Kemudian anak itu sendiri telah memasukkan tangan-nya kedalam lubang batu untuk mengambil uang, tidak tahunya ia telah diantuk oleh kalajengking sehingga ia keluarkan jeritan tertahan.

Tidak lama kemudian mukanya menjadi biru dan hitam, la meringis-ringis merasa kesakitan, kemudian ia rubuh terbinasa. Kang ciang balas menendangnya dengan sengit sebagai bayar hutang untuk tendangan anak yang mati tadi lakukan kepadanya.

Setelah itu ia lalu kabur kerumahnya si pengemis tua dan menceritakan kejadian dalam sekolahannya, lantaran mana pengemis tua itu menjadi ketakutan dan ajak ia kabur bersama-sama. Pengemis ini belakangan menjadi gurunya dan yang memberi pelajaran ilmu silat kepadanya.

Ketika ia sudah berumur dua puluh tahun baru ia tahu kalau pengemis itu hanya menurunkan sepuluh persen saja kepandaian ilmu silatnya kepadanya, la tahu bahwa pengemis tua itu ada menyimpan buku tentang ilmu silat yang lihay.

Sampai disini Ho Tiong Jong mendengarkan ceritanya Tok- kay, diam-diam dalam hatinya berkata. Pantas Tok-kay ini kejam, karena sudah sejak kecil ia jahat tukang mencelakai orang.

Meskipun berpikir kesitu, ia tidak takut dan terus mendengarkan, riwayatnya Tok-kay yang ia sangat kepingin tahu. Tok kay cerita selanjutnya.

Setelah mengetahui suhunya ada mempunyai kitab ilmu silat pusaka yang dinamai kitab " Kumpulan Ilmu Silat Sejati", ia telah minta diajari ilmu silat berdasarkan dari buku itu. Tapi suhunya berkata.

"Kitab ini hanya satujilid saja. tapi lengkap dengan berbagai ilmu silat dari banyak partai yang terkenal. Satu saja kau dapat mempelajari dari banyak ilmu pukulan dalam- buku itu, kau sudah dapat menjagoi di kalangan Kangouw.

Sayang kau terlalu jahat dan suka membunuh orang, makanya aku tidak mau menurunkan pelajaran itu kepadamu. Selanjutnya, jika kau tidak mau merubah sifatmu yang jahat itu, terpaksa aku akan turun tangan membunuhmu untuk kepentingan rakyat yang tidak berdosa.

Mendeagar kata-katanya sang suhu yang terus terang, bukannya ia mengerti dan dapat merubah tabeatnya yang jahat, malah ia sudah meracuni suhunya sampai binasa dan ia lalu memiliki kitab yang ia sangat idam-idamkan itu.

Mendengar ceritanya Tok-kay sampai disini, Ho Tiong Jong berkata dalam hatinya ada sangat jahat, aku harus membunuhmu" "Saat itu Tok-kay juga sedang melayang-layang pikirannya kemasa lampau, kepada satu wanita cantik pujaannya, hingga bubur yang disuapkan kemulutnya ia telan tanpa merasa. Ho Tiong Jong pikir saat itu ada disuapkan kemulutnya ia telan tanpa meraba-Ho Tiong Jong pikir saat itu ada waktunya yang baik untuk turun tangan, ia lalu mengulurkan tangannya kebahu orang, akan tapi Tok kay miringkan badannya untuk menghindarkan tepukan Ho Tiong Jong.

"Bocah kau hendak menyerang aku?" tanyanya heran-

"oh. bukan, bukan, aku hanya hendak menepuk binatang tawon yang ada dipundak mu." jawab Ho Tiong Jong dengan sedikit gugup, Tok-kay dengan ragu-ragu anggukkan kepalanya.

Untuk menyampingkan perhatiannya Tok-kay Ho Tiong Jong menanya. "Malam ini aku pikir tidur dilapangan lebih baik"

PADA pagi harinya Ho Tiong Jong terbangun dari tidurnya, ia melihat Tok-kay telah berjalan meninggalkan dirinya dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, dan Ho Tiong Jong tetap mengintil dibelakang nya. Tok-kay merasa heran, meski ia sudah jalan lebih dahulu dan mengerahkan ilmunya yang sangat ia andalkan, Ho Tiong Jong masih tetap mengintilnya.

Ho Tiong Jong sambil mengikuti lari. otak nya bekerja. Pikirnya, pengemis tua ini sangat jahat, kalau dibiarkan tinggal hidup entah berapa banyak korban lagi akan binasa ditangannya. Baik ia mengikuti jejaknya, sebentar dalam kuil kalau ia mau menurunkan pelajarannya ia akan terima, tapi ia tetap menghendaki jiwanya manakala ia mendapat kesempatan untuk membunuhnya.

Tidak lama mereka sudah sampai disuatu tempat dimana ada berdiri sebuah kuil tua yang sudah rusak. Tok-kay ajak Ho Tiong Jong masuk. ia telah menyalakan lilin- Keadaan disitu ada bersih, mereka berdua kemudian pada duduk diatas tikar dan bercakap-cakap. Tiba-tiba Ho Tiong Jong timbulkan keinginan untuk belajar katanya^

"ln, locianpwe sudilah kiranya kau memberi beberapa pelajaran ilmu silat padaku? Aku meski pandai dari kecil sudah belajar lweekang, tapi hanya dapat menggunakan dua belas jurus saja ilmu golok setelah habis ini aku tidak punya kemampuan lagi untuk menandingi lawan-"

"Hmm aku sudah lihat caramu menyerang musuh tadi," memotong Tok-kay. "Memang gerakanmu masih terbatas sekali. Meskipun Iweekangmu baik, tapi belum dapat diandalkan untuk bertempur. Pada waktu kau menyerang dengan golokmu, aku lihat gerakan itu ada pelajaran dari Thian-san-pay yang amat lihat yang dinamai Jan-cong can-soat (burung belibis menerjang salju). Aku tidak menduga kalau kau mendapatkan pelajaran tanpa guru. Belajar tanpa guru tidak mungkin kita mendapat kepandaian, yang mahir, kau tahu?" Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.

"Aku bersedia untuk menurunkan kepandaianku padamu, jikalau kau menghendakinya, tapi..."

Si pengemis beracun merandak disitu, matanya mengawasi pada si pemuda. Ho Tiong Jong yang haus dengan pelajaran ilmu silat menjadi tidak sabaran-

"Tapi kenapa?" tanyanya.

"Tapi ada syaratnya." si pengemis telengas kata sambil tertawa nyengir.

Ho Tiong Jong kerutkan alisnya, entah syarat apa yang diminta oleh pengemis jahat tapi lihay ini ?

"Locianpwee coba kau jelaskan syaratnya bagaimana?" ia menanya.

"Syaratnya, ialah dalam tempo sepuluh tahun kau harus menurut segala perintahku, meskipun aku menyuruh kau membunuh orang atawa membakar rumah kau harus menuruti perintahku. Bagaimana, kau sanggup?"

Ho Tiong Jong dibikin melongo oleh perkataan Tok kay yang seram.

"Tapi Locianpwee..." Ho Tiong Jong berkata gugup dan tidak lampias.

"Ha ha ha...." Tok-kay tertawa. "Boleh kau tahu hatiku amat ketarik olehmu. Entah apa

sebabnya, aku sendiri tidak tahu dan merasa sangat heran. Tentang riwayat hidupku selainnya kau ada seorang lagi yang mengetahuinya, yalah salah satu dari lima tokoh yang namanya menonjol dalam rimba persilatan pada dewasa ini. Ha ha ha "

Ho Tiong Jong diam-diam merasa heran, bagaimana orang yang begini kejam bisa mempunyai hati meny intai kepada sesamanya misalnya kepada dirinya seperti yang dikatakan tadi oleh si pengemis tua?

"Locianpwee, orang itu siapa namanya?" tanya Ho Tiong Jong, yang ingin mengetahui siapa orangnya yang telah mengetahui riwayat hidupnya si pengemis tua.

" orang itu adalah pemilik rumah es di Taypek san Kok Lo-lo (nenek Kok)."

Ho Tiong Jong terkejut. Ia tahu bahwa nenek pemilik rumah es di Tay pek-san itu ada gurunya nona Seng yang kepandaiannya sukar diukur.

Ia menatap wajahnya Tok-kay, yang saat itu tampak seperti yang penasaran sekali. Ia hendak membuka mulutnya menanya, tapi Tok-kay sudah menyambung lagi bicaranya, setelah ia menghela napas.

"Kau tahu, Kok Lo-lo pada tiga puluh tahun yang lampau merupakan satu gadis yang cantik jelita sukar dicari keduanya. Pada waktu ilmu silatku belum pandai betul, tapi karena keberanianku suka membunuh orang dan menggunakan racun, maka dikalangan kangouw orang telah memberi julukan padaku Tok-kay (pengemis beracun)." Si pengemis tua bicara sampai disitu kelihatan merasa bangga sekali.

Selanjutnya ia mengisahkan pertemuannya dengan Kok Lo lo dikaki gunung Tay-pekssan dan jatuh cinta kepada Kok Lo-lo, yang pada masa itu merupakan gadis yang luar biasa cantiknya. Tanpa merasa kakinya telah mengikuti jejaknya nona Kok yang sedang naik gunung.

Ditengah jalan nona Kok berhentikan tindakannya, menantikan ia datang dekat dan lalu menanya.

"Aku tidak tahu. semangatku telah terbawa olehmu." jawabnya.

Nona Kok bersenyum manis menggiurkan, hingga hatinya Tok-kay menjadi berdebaran keras. Diam diam ia berpikir. "Kau biar bagaimana harus menjadi milikku"

" Engkau tidak seharusnya mengikuti seorang gadis yang tidak dikenal " kata pula nona Kok. " Kalau kau masih terus mengintil aku akan marah."

Suaranya si nona demikian merdu merayu, bagaimana Tok-kay tidak jadi tertegun dan berdiri seperti kakinya terpaku.

Ia tidak bisa menjawab kata-katanya nona Kok. hanya matanya saja yang dapat bicara menatap terus pada wajahnya sinona yang cantik menarik. Nona Kok segera meninggalkan ia setelah mengerlingkan matanya yang jeli.

Sebenarnya Tok-kay tidak akan tinggal diam mendapat perlakuan demikian, kalau saja ia menghadapi lain gadis. Terhadap nona Kok ia harus membawa kelakuan yang sopan santun, seberapa bisa menutup kekasarannya, agar sinona ketarik dan menyerah kepadanya tanpa paksaan- la ingin hidup dengan sinona penuh kebahagiaan-

Setelah nona Kok berlalu sampai tak kelihatan bayangannya pula, Tok kay lalu duduk diatas batu besar diam dengan termenung-menung.

Ia kelelap didalam lamunannya sampai tidak merasa kalau sang malam telah dilewati olehnya dengan hanya duduk terus diatas batu. Pagi-pagi sekali tampak nona Kok turun gunung.

Hatinya Tok kay berdebaran, ia tidak tahu harus bagaimana ia membawa dirinya supaya disuka oleh nona pujaannya itu

Ia diam saja tidak menegur. Berpura-pura. Seperti mana sedang menanggung kesal, ia tundukkan kepalanya pada saat nona Kok lewat didepannya.

"Hei, kau masih ada disini?" tanya nona Kok tiba-tiba.

Tok-kay angkat kepalanya dan melirat nona Kok berdiri didepannya seperti juga bidadari yang baru turun dari kayangan- ia begitu cantik begitu menarik dan bergoncanglah hatinya To kay karenanya.

"Ya, aku masih ada disini..." jawab Tok-kay perlahan-"Hei, kenapa begitu?"

"Nona, aku mohon belas kasihanmu. Janganiah kau sia siakan perasaan hatiku telah jatuh cinta dengan setulus hati padamu."

Parasnya nona Kok bersemu merah mendengar kata-katanya yang tidak pakai tedeng aling aling, tapi ia masih bisa bersenyum manis.

"Apa kau teras bercokol disini, tidak pernah berlalu sejak kemarin kita bertemu?" tanya nona

Kok.

"Ya," jawabnya sambil anggukkan kepala. "Betul." si nona menegasi.

"Langit dan bumi menjadi saksinya. Sejak kemarin kau meninggalkan aku sendirian di-sini, aku tak pernah berlalu barang sedikit-pun dari sini."

"Kenapa begitu?"

"Ah nona, apa kau masih belum mengerti pengakuanku yang terus terang tadi?"

Nona Kok tertawa. "Aku tidak menduga kau bisa berlaku demikian," katanya.

"Nona, sekali sukmaku tertawan, olehmu, tak gampang gampang aku menariknya pulang."

Kembali Nona Kok unjuk senyumnya yang manis.

"Nah baiklah," katanya. "Kalau kau memang bersungguh-sungguh hendak hidup bersama sama aku, akupun tidak keberatan- Asal saja... "

Tok-kay gelisah hatinya, ketika melihat si nona tidak meneruskan kata katanya.

Ketika ia mau membuka mulut, nona Kok sudah berkata lagi.

"asal saja kau dapat memenuhi dua syarat... "

"Katakan lekas syaratmu itu," memotong Tok-kay tidak sabaran-

Nona Kok berpikir sebentar.

"Syarat yang kesatu," katanya dengan sungguh-sungguh. "kau yang banyak melakukan perbuatan berdosa, harus menebus dosamu itu dengan merubah diri dari orang jahat menjadi orang baik-baik dan menjalankan penghidupan dalam kalangan kangouw sebagai pendekar untuk membela keadilan dan menumpas kejahatan, bagaimana kau sanggup?"

"Sanggup, sanggup "jawab Tok-kay tanpa pikir pikir lagi.

"Bagus." kata lagi nona Kok. "Dan sekarang syarat yang kedua, jalan lelaki yang menjadi suamiku harus ilmu silatnya ada letih tinggi dan pada aku sendiri. Kalau kau dapat memenuhkan dua syarat ini aku tidak keberatan untuk menjadi isterinya." Tok-kay tertawa terbahak-bahak.

Ia pikir dua syarat itu terlalu ringan. Untuk merobah dirinya menjadi orang baik-baik, apa susahnya? juga untuk membuktikan ia ada lebih unggul, apa - sukarnya.

Nona Kok ada begitu lemah- lembut, yang kata peribahasa kes amber angin juga akan sempoyongan, bagaimana ia bisa tahan ilmu silatnya yang sudah dilatih banyak tahun ? Maka ketika itu juga, setelah ia menghentikan tertawanya kemudian ia berkata kepada nona Kek.

"Nona, dua syarat itu aku terima baik. Supaya lebih cepat kita mencapai buktinya, apa tidak lebih baik kalau kita mulai dengan syarat yang kedua dahulu ?"

Nona Kok bersenyum. "Baik, itu bagus " jawabnya.

Tok-kay tidak pandang mata kepandaiannya si gadis, maka begitu ke duanya sudah siap bertempur, ia mendahului berkata pada nona Kok. "Nona. silahkan kau menyerang lebih dulu."

Nona Kok bersenyum manis. Ia tidak sungkan-sungkan lantas turun tangan menyerang.

Diluar dugaan sama sekali Tok kay, bahwa kepandaian sinona ada sangat tinggi, sebab selanjutnya ia menempur si nona telah menjadi keteter. Meskipun seluruh kepandaiannya ia telah keluarkan, akan tetapi sia-sia saja.

Akhirnya, setelah dengan susah payah Tok-kay melayani si nona puluhan jurus, pada jurus ke lima puluh entah bagaimana nona Kok bergerak. tahu-tahu ia sudah terpental sampai beberapa tombak dan rubuh ditanah sebagai pecundang.

Sampai disini Tok-kay Kang ciong menutur telah berhenti sebentar, untuk menarik napas. Parasnya seperti yang mengandung penuh penasaran-

Ho Tiong Jong yang terus mendengari penuturannya sipengemis beracun yang panjang lebar, saat itu juga hatinya tergerak untuk menyingkirkan pengemis jahat ini di-waktu ia terbenam dalam lamunannya mengenangkan masa yang lampau. Tapi heran tangannya tak dapat bergerak. rasanya berat sekali. Inilah karena hatinya merasa tidak tega, mengingat seorang yang begitu jahat seperti Tok-kay Kang ciong masih punya perasaan cinta dan hendak memperbaiki dirinya menjadi orang baik-baik? Tiba tiba Ho Tiong Jong tertawa.

"Hei, kau tertawai apa bocah?" tegur Tok kay.

"Aku tertawakan locianpwee, karena buat apa dimiliki itu kitab Kumpulan Ilmu "Silat Sejati, kalau tidak dipelajari sungguh-sungguh untuk mengalahkan lawan-"

"Haiii " seru Tok-kay seperti yang baru tersadar dari tidurnya, berbareng ia memukulkan telapakan tangannya kearah tanah, hingga berbunyi wut" dan tampak tanah serta batu berhamburan diatas tanah tampak bekas telapakan tangan yang memerah seperti darah.

Ho Tiong Jong sangat terkejut, ia tidak mengira reaksi dari perkataannya tadi ada demikian hebatnya, Sementara ia terbengong-bengong, Tok-kay telah berkata.

"Hei. bocah, apa kau sudah lihat barusan? Yang barusan itu adalah ilmu Telapakan Tangan Berdarah yang termasuk dalam ilmu hitam. Kau tahu bagaimana dahysatnya ilmu itu, entah sudah berapa banyak jiwa melayang oleh karenanya, menurut pendapatku ilmuku itu hanya orang yang berkepandaian sangat tinggi saja baru menjadi lawanku yang pantas"

Ho Tiong Jong melihat, meskipun dimulut Tok kay membanggakan pukulannya yang dahsyat, tapi diparas mukanya tampak seperti yang mengandung penasaran-

"Locianpwe, ilmumu itu memang sangat hebat tapi heran, aku seperti melihat diwajah locianpwee seperti yang mengandung penasaran, kenapa?" Tok-kay anggukan kepalanya.

"Betul, aku memang ada mengandung penasaran" katanya.

"Penasaran dalam urusan apa ?"

"Penasaran karena meskipun aku sudah dengan sungguh-sungguh menarik pelajaran dari kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati belum juga aku dapat mencapai pada puncaknya kemahiran. Buktinya saban kali aku berjumpa dengan Kok Lo lo dan mengukur tenaga, penghabisannya aku kalah seketika. Aku terus menjadi pecundangnya itu penghuni rumah es di-Tay pek-san "

Tok-kay berkata-kata merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kantong dari sutra indah, panjangnya kira-kira lima dim, lebarnya tiga dim dan tebalnya setengah dim.

Mulut kantong diikat dengan seutas tali halus. Ketika dikeluarkan isinya, ternyata ada kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati.

Buku itu tampak dibakal main ditangan-nya Tok-kay, Tiba-tiba parasnya kelihatan beringas, ia berkata dengan penuh kekuasaan-

"Hmm Bukan inilah yang membuat seumur hidupku menjadi celaka"

Ho Tiong Jong melihat Tok-kay apa sedemikian marahnya, takut ia akan membikin hancur kitab ilmu silat yang berharga itu maka ia sudah berkata menghibur.

"Ia, locianpwe, mungkin Kok locianpwe tidak memberi kesempatan karena locianpwe belum menurunkan syarat yang pertamanya yang lelah locianpwe sanggupi ... "

"Hei, bocah, kau jangan kata begitu. Aku sudah delapan tahun teluh mengubah perbuatanku yang lama. Selama itu bukan saja aku tidak berbuat jahat, malah membunuh juga seolah-olah pantangan untuku. Aku terus berubah semua ini menjadi pendekar budiman, banyak orang aku telah tolong dan menyebarkan budi kebaikan. Tapi hmm. perbuatan bukan mendapat perhatian selayaknya dari Kok Lo lo, sebaliknya aku mendapat kabar dia telah menikah dengan seorang piauwsu bernama Lo Teng Kok di propinsi Ha pak. Tiga hari tiga malam aku terus memikirkan kejadian itu, akhirnya hatiku yang panas tak dapat dikendalikan lagi. Terus aku mencari Kok Lo lo ketempat asalnya di Tay-pek-san, kemudian ke Ho pak. tapi aku tak dapat menemuinya. Setelah enam bulan aku mencari barulah aku menemuinya dan waktu itu dia masih memegang janjinya untuk bertempur dengan aku. Waktu aku sudah jadi sangat gemas, segera kita sudah bertempur hebat sekali. Tapi, ya, apa mau dikata. Setelah bertempur ramai seratus jurus lebih, kembali aku dikalahkan-.. "

"Sayang... " Ho Tiong Jong nyeletuk.

"Bukan sayang lagi." kata Tok-kay, "sejak kekalahanku paling belakang itu aku telah bersumpah jikalau ilmu silatku sudah mahir betul aku akan mencari lagi dia dan bukan mustahil kalau aku akan membunuh, dia karena aku merasa sakit hati. setelah membunuh dia. pikirku, baru aku membunuh suaminya... "

"Habis bagaimana, apa locianpwee berhasil memperdalam ilmu dan mengalahkan Kok locianpwee?" menyelak Ho Tiong Jong yang sudah tidak sabaran mendengarkan ceritanya.

"Bocah kau diam, dengarkan dahulu aku menutur." kata Tok-kay sambil deliki matanya, seperti yang kurang senang sedang enaknya cerita deselak orang.

X. BAGAIMANA TOK-KAY MENEMUKAN AJALNYA?

Ho TIONG JONG ketawa nyengir. "Tapi dasar nasib," melanjutkan Tok-kay, setelah sepuluh tahun aku memperdalam ilmuku, aku merasa aku masih belum dapat menjatuhkan penghuni rumah es di Tay-pek-san, yang aku tahu betul dia ada keluaran dari Hoa-san-pay dilihat dari ilmu silatnya yang telah diperlihatkan dalam pertempuran denganku.

Pada suatu hari tiba-tiba aku mendengar bahwa dia sudah bercerai dengan suaminya dan kembali ke gunung Tay-pek-san untuk tinggal dirumah es disana. Setelah mendapat kabar ini, aku lantas mencari Lo Teng Kok untuk aku bunuh mati, sayang aku tak dapat menemukannya. Setelah sekian lama aku mencari dengan sia-sia, lantas dikalangan kang-ouw ada tersiar kabar tentang kematiannya Lo Teng Kok.

Sejak mana sampai sekarang aku belum pernah menyatroni rumah es di Tay-pek-san lagi. Tapi, hmm ada satu hari nanti aku akan menjumpai dia dan membunuhnya mati, kemudian aku beset-beset kulitnya nenek Kok itu, barulah hatiku merasa puas. Ha ha ha..." -.^

Ia tertawa sambil menggerakkan tangannya. Segera terlihat satu benda meluncur ke angkasa, kemudian jatuh nyangkut di pohon yang tumbuh disamping kuil. Kiranya yang diterbangkan tadi adalah kitab pusaka " Kumpulan Ilmu Silat sejati"

Meskipun waktu itu suasana ada gelap. tapi Ho TiongJeng yang tajam matanya dapat melihat tegas meluncurnya kitab tadi dan nyangkut diatas cabang pohon.

PiKirnya Tok-kay ini sudah menjadi gila, kitab pusaka yang begitu berharga dilontarkan begitu saja, seperti juga ia membuang sampah. Ia tak dapat didekati lebih jauh dan ia hendak menyingkir daripadanya.

"Locianpwe, biarlah aku ambil kitab yang kau lontarkan tadi." katanya sambil menggerakkan kakinya hendak berjalan, maksudnya yang sebenarnya adalah ia hendak meninggalkan pengemis gila itu

"Hei, bocah," menyegah Tok-kay." kau tak perlu mengambil kitab sialan itu yang membikin seumur hidupku menjadi celaka saja. Bukan sedikit karenanya aku menderita kecewa. Ada satu hari aku nanti bikin musnah kitab celaka itu.

Ho Tiong Jong tidak menjawab. Diam-diam ia berpikir. Tok-kay ini sudah hampir gila, otaknya sudah mulai miring. Sifatnya tak dapat dirubah, dalam alam pikirannya hanya kejahatan dan kekejaman saja yang berbayang, seolah-olah perbuatan itu sudah menjadi satu hoby kesenangan baginya. Malam ini kalau aku tak dapat menbunuh dia, entah berapa banyak lagi manusia tidak betdosa akan binasa di tangannya? Dalam keadaan berpikir demikian, tiba-tiba terdengar Tok-kay berkata lagi.

"Bocah sekarang aku tidak akan menanya asal usulmu dan juga aku tidak akan membikin celaka atau membunuhmu. Kini kau boleh sebutkan minta pelajaran apa dari aku akan aku turunkan pelajaran yang aku tahu kepadamu."

Ho Tiong Jong melengak mendengar perkataannya pengemis yang ia sudah anggap gila ini. Entah apa sebabnya Tok-kay ada demikian baik terhadapnya maka ia setelah mengawasi sejenak lalu menanya.

"Locianpwee, sebab apa kau begitu baik terhadapku dan tidak hendak membikin celaka? Sungguh aku yang rendah tak mengira sama sekali, untuk kebaikan dan perhatian lo cianpwe aku menghaturkan banyak terima kasih." Tok kay Kang ciong tertawa bergelak geli.

"Bocah aku sendiri juga tidak tahu apa sebabnya aku jatuh hati padamu. Rupanya itu memang sudah jodoh. Tabeatku memang aneh. terhadup orang yang aku penuju dan mencocoki hatiku, selalu aku ingin berbuat baik dan manis, sebisanya aku ini ingin bikin ia senang dan gembira. Untuk dia, orang yang mencocoki hatiku, aku rela mengurbankan jiwaku. Ha ha ha..."

Ho Tiong Jong merasa terharu juga mendengar kata-katanya sipengemis beracun, tapi dipikir lagi orang sekejam dan sejahat Tok-kay ini seumur hidupnya tak akan berubah sifatnya suka membunuh dan mencelakai orang. Memikir kesitu, perasaan terharunya telah tersapu lenyap.

"Locianpwee," tiba-tiba ia berkata, "aku girang sekali kalau locianpwee suka menurunkan kepadaku ilmu silat yang tinggi, untuk aku menyakinkannya."

"Bocah, kau pintar bicara, hi ha ha... "

"Bukan pintar bicara, sebab kalau locianpwee menurunkan ilmu kepalang tanggung aku kuatir akan memalukan nama locianpwee. sebab sudah tentu orang akan mengetahui bahwa aku mendapat pelajaran dari locianpwe." Tok kay Kang ciong angguk anggukan kepalanya.

"Baiklah," katanya. "Selama tiga puluh tahun aku menggodok macam-macam ilmu silat yang istimewa dan menciptakan ilmu silat sendiri yang dinamai Tok-liong ciang-hoat (ilmu telapakan tangan naga berbisa) Sememara hanya tiga belas jurus, dapat digunakan bertanding dengan

tangan kosong atau pakai senjata. Hebatnya bukan main sayang waktu aku bertanding dengan Kok Lo-lo baru saja aku mainkan jurus- ketujuh keburu dijatuhkan olehnya sehingga aku jumpalitan dan malunya bukan main."

Tok-kay bicara sambil memberi petunjuk. bagnimana memainkan iimu silat lihay itu kepada Ho Tiong Jong. la kasih demontrasi menjalankan ilmu itu sampai tiga belas jurus kemudian minta Ho Tiong Jong coba meniru gerakannya: Pemuda itu amat cerdas otaknya setelah tadi memperhatikannya dengan cermat, ketika disuruh memainkan sendiri apa yang diperhatikan tadi, ia dapat menjalankan dengan baik meskipun ada sedikit kekurangan disana sini.

Dengan beberapa petunjuk perbaikan dari Tok kay, Ho Tiong Jong sudah dapat menangkap dan dicatat dlotaknya ilmu silat. "Tok Hong ciang-hoat" yang ampuh itu, warisannya sipengemis beracun. Ia hanya tinggal menjalankan latihannya saja supaya menjadi gagah memainkannya .

Diam-diam Ho Tiong Jong merasa kagum akan lihaynya ilmu yang dipelajarinya itu. Menyerang dengan tenaga lunak akan mengakibatkan binasanya musuh tanpa ampun- cara menangkis serangan lawan dapat digunakan dengan terang-terangan atau tidak kelihatan, hingga membingungkan musuh.

Tok-kay yang menyaksikan Ho Tiong Jong begitu cerdas, dalam tempo pendek sudah dapat menangkap inti sarinya, malah sudah dapat mempertunjukkan beberapa jurus yang dipelajari barusan, bukin main girang hatinya.

Ia belum pernah menemui pemuda yang demikian baik otaknya.

"Bocah, otakmu boleh juga" katanya tiba-tiba. "coba mari ikut aku sekali lagi menjalankan dulu-dulu yang kau sudah dapat catat diotakmu tadi."

Ho Tiong Jong anggukkan kepala lantas mengikuti dibelakang Tok-kay, mengikuti segala gerak-gerakannya. Tiba-tiba dalam hatinya timbul maksudnya yang semula mendekati Tok-kay. Pikirnya saat itu ada satu kesempatan baik untuk ia membokong sipangemis beracun dari belakang.

Begitu berpikir begitu ia ambil putusan, tangannya diurut untuk menotok jalan darah pada punggungnya sipengemis beracun,

Terdengar Tok-kay bersuara. " Heh e" kemudian rubuhnya rubuh ditanah.

Ho Tiong Jong setelah menotok rubuh Tok kay hatinya bukan main menyesal. Kenapa ia membunuh Tok kay yang telah menurunkan ilmunya yang ampuh kepada dirinya? ia jadi turut jatuh lemas disamping tubuhnya Tok-kay.

Ia menghela napas, ia menyesal, tapi jika dipikir sebaliknya perbuatannya itu memang harus dilakukan untuk menolong orang banyak dari kebinasaan ditangan Tok-kay. Pengemis beracun itu perlu disingkirkan jiwanya siang-siang, sebab dosanya sudah luber dari takaran-

Menghilangkan satu jiwa untuk menolong banyak jiwa, itulah ada perbuatan yang harus dilakukan Ho Tiong Jong menghibur dirinya sendiri.

Tapi biar bagaimana juga, batinya yang mulia tidak tega melihat Tok kay dalam keadaan tidak bergerak menggeletak di tanah, gara-gara perbuatannya tadi.

"Locianpwe harap kau maafkan perbuatanku ini. Aku membunuhmu bukan karena aku jahat dan serakah, hanya apa yang kuperbuat atas dirimu disebabkan untuk menolong orang banyak dari kejahatan dan keganasan mu Semoga arwahmu dalam baka tidak menyesalkan perbuatanku " Ho Tiong Jong menangis, tak dapat ia menahan rasa terharunya.

Tiba-tiba ia rasakan tangannya yang berdekatan dengan tangannya Tok-kay seperti di gigit nyamuk. ia menoleh pada Tok-kay. Dilihatnya tubuhnya sipengemis beracun sudah kaku dengan paras pucat pasi, kukunya sudah berubah berwarna hijau ungu menakutkan. Ho Tiong Jong lantas bangkit berdiri.

Pikirannya kusut. Kemana ia harus pergi? Balik kembali ke Seng-kee-po? Tidak mungkin, pikirnya karena hatinya merasa jemu terhadap Pocu dari banteng itu yang kejahatannya mungkin tidak lebih rendah dari Tok-kay yang sesarang tengah menggeletak dihadapannya dengan tubuh kaku.

Ia menghela napas. Terdengar ia berkata sendirian-

"Dunia begini luas, tapi heran tidak ada tempat untuk aku menarah kaki."

Ia dengan perlahan-lahan mengangkat kakinya meninggalkan kuil yang akan merupakan kenangan tak mudah dilupakan dalam riwayat hidupnya selanjutnya.

Ketika ia sampai dihalaman muka kuil tiba-tiba ia seperti melihat ada bayangan orang yang berkelebat. Hatinya tercekat, la tahu benar bahwa dalam kuil ini hanya ia dengan si pengemis berdua, apakah ada orang ketiga disitu?

Bayangan itu seperti menyelinap dibalik pohon, akan tetapi ketika ia menyelidiki, ternyata disitu tidak kedapatan manusia. Ia penasaran, lalu balik masuk lagi kedalam kuil.

Hatinya terkejut, tatkala ia mendekati Tok kay, sipengemis beracun kedapatan sedang berduduk seperti yang sedang mengumpulkan ingatannya.

Mayat hidup, pikir Ho Tiong Jong. Ia pernah dengar orang cerita memang ada mayat hidup, dapat mengejar orang, akan tetapi larinya lurus (tidak dapat membiluk), maka kalau benar Tok-kay menjadi mayat hidup dan menguber padanya, ia sudah siap sedia untuk melompat kesamping supaya Tok kay menyelonong lurus.

Mungkin Tok-kay menjadi mayat hidup disebabkan kematiannya sangat penasaran kena dibokong olehnya. Matanya Ho Tiong Jong terus mengawasi kepada Tok-kay, siapa perlahan-lahan telah bangun berdiri.

Tiba-tiba matanya mengawasi kearah Ho Tiong Jong tampak bengis sekali, menakutkan siapa yang lihat, tapi Ho Tiong Jong sebisa nya telah menabahkan hatinya. Ho Tiong Jong jadi kemekmek bengong. ketika mendengar Tok-kay berkata.

"Hei, bocah, benar-benar nyalimu kasar sekali. Aku yang sudah puluhan belajar ilmu, mana dapat dibunuh olehmu begitu mudah?" Kelihatan Tok-kay berkata seperti yang merasa cemas.

Tidak heran kalau ia merasa cemas, karena dalam dunia yang luas ini tidak seorangpun yang dapat menyintai dirinya. Ho Tiong Jong, pemuda yang menarik hatinya dan dengan rela ia menurunkan ilmunya bukannya membalas budinya bahkan ia coba membunuhnya. ia merasa tidak mengerti sikapnya anak muda itu, maka ia menanya.

"Bocah, kenapa kau hendak mengambil jiwaku demikian kejamnya?"

Ho Tiong Jong menatap wajahnya Tok kay tanpa memberi jawaban.

"Hei, bocah, kenapa kau hendak mengambil jiwaku?" tegur lagi Tok-kay bengis.

Ho Tiong Jong bukannya takut terhadap Tok kay, hanya ia marasa terharu dengan tegurannya Tok kay itu, sebab perbuatannya memang tidak berbudi.

Tok kay seperti merasakan juga keharuan anak muda itu, ia tak mendesak. hanya menanti apa jawabannya si anak muda.

Tak lama, Ho Tiong Jong telah memberikan jawabannya dengan tenang.

"Locianpwee, memang aku telah menerima kebaikanmu yang besar sekali. Perbuatanku yang barusan itu memang tak sepantasnya. sebab itu menandakan aku seorang yang tak mengenal budi. Kebaikan orang dibalas dengan kejahatan- Tapi, ya aku berbuat demikian saking terpaksa...

it

"Terpaksa?" Tok-kay nyeletuk, matanya berputaran galak sekali. "Ya, aku terpaksa melakukan itu" jawab Ho Tiong Jong. "sebab apa kau terpaksa? sebabnya, lekas kau katakan-"

"Sebabnya kau terlalu jahat " "Hmm.. "

"Ya, aku membunuhmu karena untuk kepentingan orang banyak. menyingkirkan bencana disebabkan oleh tanganmu yang ganas dan kejam, dengan lenyapnya kau dari dunia lenyaplah sudah bencana bagi mereka yang tidak berdosa... "

Ho Tiong Jong tidak melanjutkan kata-katanya, karena diselakoleh tertawanya si pengemis beracun yang bergolak-gelak menyeramkan.

"Bocah, dengar aku berkata. Sejak suhuku mati, akulah yang meneruskan memelihara ular beracunnya. Dalam tempo sepuluh tahun belakangan ini dengan susah payah aku sudah bisa simpan bisanya ular itu dalam kukuku. orang yang terkena kukuku dalam tempo tiga hari orang itu akan merasakan reaksinya racunku badannya akan kegatalan tak terhingga dan racunku itu dapat menyerang pada jantung sang korban- Dalam tempo tiga hari orang itu akan menemukan ajal nya dengan mengenaskan. Ha ha ha... "

Ho Tiong Jong kerutkan alisnya...

"Apa hubungan apa racun dikukumU itu denganku?" tanyanya.

"Bocah, apa kau tidak merasa tadi ketika tanganmu berdekatan dengan tanganku kau merasa seperti tanganmu digigit nyamuk? Itulah racunku yang mematuk. bukannya nyamut yang menggigit. Ha ha ha . . ."

Ho Tiong Jong jadi bengong mendengar kata-katanya Tok-kay.

Kiranya sipengemis tadi bukannya rubuh sewajarnya, hanya berpura-pura saja.

Betul-betul Tok-kay sangat lihay, ditotok jalan darahnya yang penting masih bisa menangkis dan dapat berpura-pura seperti yang mati. Ya, apa daya? Sekarang sudah ketela njur, usahanya gagal membunuh sipengemis beracun, sekarang tentu Tok kay tidak mengerti dan akan mengambil jiwanya juga.

Ia menghela napas. "Locianpwe," katanya "aku sudah berbuat salah terhadapmu, aku telah menerima kebinasaan karena racunmu itu bahkan kalau perlu locianpwe boleb penggal batang leherku sekarang juga."

Tok-kay dibikin kagum juga menghadapi keberanian si pemuda.

Diam-diam ia merasa sayang, Ho Tiong Jong tak dapat dibikin taluk olehnya dan menjadi muridnya yang tersayang. ia ingin mencoba hatinya Ho Tiong Jong apakah niatan membunuh padanya benar-benar dengan tidak menyayangi dirinya sendiri? "Hei, bocah, kau datang dekat kemari " katanya. Ho Tiong Jong tidak takut, ia datang dekat pada sipengemis. "sekarang cabut golokmu ?"

Ho Tiong Jong melengak. tapi tokh ia menurut juga menghunus goloknya.

Diam-diam dalam hatinya merasa heran, kenapa ia selalu menurut saja perintahnya ini pengemis kejam? Tapi? Tidak bisa, Tok-kay terlalu tinggi ilmu silatnya. Jalan paling baik memang ia selain menuruti saja perintahnya Tok-kay mau tahu Tok-kay akan berbuat apa terhadapnya.

Tok kay setelah melihat semua penntah-nya dituruti saja, diam-diam dalam hatinya menduga anak muda itu tentu tidak tega akan membunuh lagi padanya yang kedua- kalinya maka ia lalu berkata.

"Bocah, kau sekarang sudah terkena racun ku, selainnya obatku sendiri yang dapat menyembuhkan racun dalam dirimu, adalah si Dewi Racun Kong Jat Si yang dapat menolong dirimu. Tapi sangat mustahil dalam tempo tiga hari kau akan menemukan dirinya si tua bangka

itu.

Sekarang begini, aku mau suruh kau memilih, apakah kau benar-benar mengingini jiwaku tanpa menghiraukan Kegiatanmu atau kau mau hidup sebagai pendekar jempolan dengan mendapat seluruh kepandaianku."

"cara bagaimana memilihnya?" nyeletuk Ho Tiong Jong.

" caranya memilih itu diputuskan dengan hitungan dari satu sampai tiga puluh."

"Aku masih belum mengerti."

"Hmm, bocah, kau sudah berkali kali mau mengambil jiwaku karena menurut alasan untuk menghindarkan bencana orang banyak karena perbuatanku. Aku lihat golokmu ini tajam sekali, tentunya bukan golok sembarangan dan aku rela mati dibawh golok ini kalau memang aku punya nasib ada demikian akhirnya."

"Locianpwee. kau kau... " Ho TlongJong menyelak gugup,

Ia merasa tidak tega dan terharu dengan kata-katanya pengemis beracun itu.

"Hmm... kau jangan menyelak bicaraku bukankah kau mau tahu caranya memilih dua soal yang aku katakan tadi."

Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia tundukkan kepalanya dengan perasaan tidak karuan, hingga Tok-kay juga tergentar hatinya melihat keadaannya anak muda itu.

"Bocah, kau dengar." katanya kemudian, "dongakkan mukamu menghadap kearahku dan siap dengan golokmu yang tajam itu. Sementara kau bersikap demikian, aku akan menghitung dari satu sampai tiga puluh kalau hitunganku cukup tiga puluh kau tidak bergerak, artinya boleh hidup terus. Aku akan mengobati racun dalam dirimu, mengangkat kau menjadi muridku yang tersayang. Seluruh kepandaianku akan kuturunkan semua dan menjadikan kau sebagai satu pendekar jempolan dalam kalangan kang-ouw. Kau sudah mengerti sekarang ?"

Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.

"Nah, mari kau mulai?"

Tok-kay Kang ciong menatap wajahnya anak muda di hadapannya yang sudah siap dengan golok tajamnya, ia tampak bersenyum-senyum. Seakan-akan sudah rela untuk mati dibawah benda senjatanya Ho Tiong Jong.

la percaya anak muda ini hatinya tidak tega menyabetkan goloknya pada lehernya, kalau mengingat dengan berbuat demikian ia berarti menolong jiwanya sendiri dari kematian. Tegasnya kalau Tok-kay tidak mati, racun yang ada dalam tubuhnya anak muda itu kukunya Tok-kay yang berbisa akan mendapat obat pemuna h nyadan ia akan diangkat menjadi muridnya yang tersayang dari pengemis tua yang kejam dan telengas itu. Ia mulai menghitung.

" satu dur- tiga empat "

Selama Tok kay menghitung, otaknya Ho Tiong Jong bekerja.

Ia pertimbangkan antara kepentingan dirinya pribadi dan orang banyak punya keselamatan-

Hitungan sampai "delapan- masih belum ada kesiapan- otaknya terus bekerja, akhirnya

akhirnya...

Belum lagi suara "las^ keluar dari mulutnya, goloknya Ho Tiong Jong terayun dan tubuhnya Tok-kay sudah rubuh dengan kepala terpisah.

Kepentingan orang banyak dapat kemenangan dalam penimbangannya Ho Tiong Jong, maka ia sudah ayunkan goloknya menabas batang lehernya pengemis kejam itu. Siapa sebenarnya dapat menyingkirkan diri dari sabetan golok Ho Tiong Jong, akan tetapi Tok-kay kali ini rupanya rela mati di tangannya anak muda yang mencocokkan hatinya itu maka ia tidak berkelit dan manda lehernya ditabas, sehingga darah segar menyembur keluar dari lehernya sementara batok kepalanya terjatuh ketanah.

Sampai disini berakhirlah riwayatnya pengemis beracun- Tok-kay Kang ciong, yang namanya menggetarkan dunia persilatan baik dikalangan hitam maupun putih. Ilmunya Telapakan Tangan Berdarah yang diyakinkan dengan menggunakan entah berapa banyak wanita hamil, sangat hebat dan ganas, yang membuat lawan dan kawan segan berurusan dengannya. Tidak dinyana kematiannya itu hanya demikian, mudah saja.

Ho Tiong Jong setelah membunuh Tok-kay menjadi kesima sendirinya, ia sendiri menjublek sekian lamanya mengawasi tubuh nya Tok-kay yang menggeletak dengan kepala berpisah. Tanpa terasa ia telah mengucurkan air mata, ia sedih karena tahu Tok-kay ada demikian baik terhadapnya tapi ia sudah membunuhnya juga karena dorongan jiwa kesatriyanya lebih mementingkan orang banyak daripada dirinya sendiri.

Ia mengerti bahwa dengan matinya Tok-kay. jiwanya sendiri tidak akan tertolong lagi karena bekerjanya racun dalam tubuhnya, tapi ia rela menghadapi kematiannya itu asal dapat menyingkirkan seorang yang paling jahat dan kejam dalam dunia seperti Tok-kay itu.

Setelah sadar dari lamunannya, tanpa ragu-ragu Ho Tiong Jong angkat mayatnya Tok kay dibawa kesamping kuil diletakkan dibawahnya sebuah pohon, kemudian balik lagi mengambil kepalanya.

Sebentar lagi ia sudah membikin lubang kuburan, dengan hati-hati ia kubur mayatnya Tok kay dengan kepalanya ditempelkan pada lehernya. Ia bekerja cepat, sebentar saja ia sudah selesai mengubur mayatnya si pengemis jahat.

Sambil berdiri dengan hati terharu menghadapi kuburannya Tok-kay, kelihatan Ho Tiong Jong kemak kemik mulutnya, ia berkata- "Locianpwe, harap arwahmu dialam baka tidak menjadi penasaran karena perbuatanku, sebab apa yang aku sudah perbuat bukan karena serakah dan mempunyai ganjalan hati terhadapmu adalah semata-mata di sebabkan hendak menyelamatkan orang banyak yang akan mengalamkan kebinasaan ditangan-mujikalau engkau terus tinggal dikasih hidup, Kalau kau masih penasaran, baik tunggulah kedatanganku dialam baka, karena racunmu yang ada dalam tubuhku tidak lama lagi akan mengantarkan aku kesana menjumpai

kau "

Setelah mengucapkan kata-katanya yang tidak kedengaran itu tampak parasnya tidak begitu berduka lagi. Ia mendongakkan mukanya kelangit, seakan-akan hendak mengucapkan terima kasihnya ia sudah dapat menyingkirkan seorang yang paling jahat dan kejam dalam dunia untuk keselamatannya orang banyak.

Tiba tiba matanya kebentrok dengan kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati, yang menyangkut pada cabang pohon, hatinya berpikir. "Aku tidak lama lagi tokh akan mati buat apa aku mengambil kitab pusaka itu?" la lalu duduk didekat kuburan Tok-kay untuk mengasoh, sebentar lagi hari sudah mulai terang.

Ketika dia mendongakkan pula mukanya, ia lihat kitab pusaka diatas pohon sedang dipatokin burung-burung. Saat itu hatinya berbalik pikir, ia harus ambil kitab itu, sebab kalau sampai jatuh ditangan-nya orang jahat ada sangat berbahaya.

Maka seketika itu lalu ia memanjat pohon dan mengambil kitab berharga itu, terus dimasukkan dalam sakunya tanpa dilihat lagi. Setelah berada dibawah lagi. pikirannya melayang-layang.

Kemana ia harus pergi? Merantau? Tak mungkin, karena dalam tempo pendek jiwanya sudah melayang karena pengaruhnya racun dari Tok-kay yang mengeram dalam tubuhnya. Habis, kemana ?

Akhirnya terlintas dalam pikirannya, sebaik nya ia pulang ke Seng kec-po, untuk melaporkan kematiannya Tok kay kepada nona Seng yang telah melepaskan dengan banyak budi kepadanya, sekalian menemui saudara Kho Kie, sahabat karibnya, akan tetapi ia tak mau memberitahukan pada Kho Kie bahwa dirinya tidak lama lagi akan mati, supaya hati sahabat karibnya itu tidak menjadi duka karenanya.

Demikian, setelah mengambil keputusan ia telah gerakan kakinya menuju ke seng-kee-po. Belum lama ia jalan, ia telah menemui sebuah kali yang jernih airnya, ia menghampiri dan membersihkan mukanya yang kecipratan darah Tok kay tadi.

Tidak lama kemudian Ho Tiong Jong sudah sampai dilapangan, dimana ada didirikan luitay (panggung berkelahi), dimukanya sekali terdapat gedung tempat para tetamu menginap.

Disekelilingnya ada tempat duduk untuk orang menonton.

Bagian depan hanya dipergunakan bagi orang orang yang ilmu silatnya sudah dikenal saja, sedangkan mereka yang ilmu silatnya kepalang tanggung ditaruh disebelah belakang. Disitu sudah banyak orang berkumpul yalah hari pertama dibukanya pertemuan- Mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat.

Tampak yang duduk disebelah timur adalah angkatan tua kebanyakan seperti hweshio, nikouw, jago-jago tua dari kalangan hitam yang dahulunya ada ternama dikalangan kang ouw.

Dilain bagian tampak banyak pemuda pemudi yang tampan-tampan dan cantik-cantik mereka kelihatan sangat gembira bercakap-cakap. juga tidak ketinggalan kelihatan Seng Pocu duduk diantara banyak tetamunya dengan wajah berseri-seri.

Hati Ho Tiong Jong berdebar ketika matanya melihat diantara nona-nona yang hadir ada satu nona yang wajahnya ramai dengan senyuman, kecantikannya menonjol diantara yang lainnya. Sujennya yang menjadi kalau ia bersenyum atau ketawa membikin yang melihatnya tak mudah melupakannya.

"Dia tentu ada adik Hong." Ho Tiong Jong pikir dalam hatinya, dia benar-benar sangat cantik, entah apakah kenakalannya masih biasa setelah ia sekarang sudah menjadi gadis?

Banyak nona-nona cantik lainnya, seperti cong Ie dari oey-san. Lo lo sat Ie Ya. Lauw Hong In dari Lauw kechung di Kim-leng, ciauw Soe Soe dari ciauw- ke- Chung dan lain-lainnya, tapi kelihatan kecantikan mereka tidak ada yang nempil pada kecantikannya Kim Hong Jie.

Ho Tiong Jong menyelinap dan menonton dengan sembunyi-sembunyi diantara orang-orang penjaga rumahnya Seng Pocu yang matanya semua ditujukan ke panggung berkelahi, maka tidak mengetahui kalau ada Ho Tiong Jong diantara mereka.

Semua tetamu juga tak menggubris kedatangannya Ho Tiong Jong, karena perhatiannya lebih penting ditujukan kepanggung luitay bercakap-cakap diantara kawannya.

Tiba-tiba Ho Tiong Jong lihat ada melesat naik keatas luitay seorang yang berbadan tinggi besar. Siapa setelah menjura kepada para penonton, lantas mengumumkan syarat-syarat mengadu silat diatas luitay yaitu pertama menghadapi wakil Taycu kesatu dalam tiga puluh gebrakan, bertanding dengan tangan kosong, babak ke dua. dua puluh gebrakan melawan wakil Taycu kedua boleh menggunakan senjata.

Kalau orang dapat melewati dua wakil Taycu ini, kemudian ia boleh menghadapi Taycu sendiri dalam lima belas gebrakan. Kalau dalam lima belas gebrakan itu dapat bergebrak seri saja tak usah menang, yang tersangkut akan mendapat hadiah sebagai tanda kenang-kenangan berupa uang atawa kain sutra yang indah.

Menghadapi Taycu orang boleh bertanding dengan pakai senjata atau senjata rahasia, tidak ada larangan asal diadakan perjanjian dahulu sebelumnya bergebrak. sehari dua Taycu yang melakukan tugas-nya, yalah bagian pagi dan bagian sore.

Pada saat itu yang menjadi wakil Taycu ada seorang she Kwee nama Hoei, dalam kalangan kang ouw ia terkenal dengan ilmu mencengkramnya yang hebat. Ia sekarang sebagai Pocu dari propinsi Ho-pak bagian she co dan merupakan partai tersendiri.

Dalam "Perserikatan Benteng Perkampungan- yang dahulunya akur dan dapat bekerja sama, belakangan ini kelihatan mulai- retak. Masing-masing pada berebut pengaruh dan mendirikan partai sendiri. Perserikatan tersebut sekarang sudah merupakan tiga buah partai, yalah kesatu

Kim-Hon-po bagian kira Seng kee-po, kedua Kioe keepo Lauw kee- Chung Hul- ke- Chung, ketiga adalah In- ke- Chung chong ke- Chung ciauw- ke- Chung.

Masing-masing partainya pada mengumpulkan orang-orang gagah, mereka sudah berusaha dengan segala daya dan upaya supaya orang-orang gagah itu yang ulung suka masuk dalam partainya terutama terhadap orang-orang pandai yang sudah mengasingkan diri ada sangat disukainya dan sebisanya mereka itu membujuknya supaya dapat memperkuat partainya.

Berhubung dengan tindakan mereka itu maka dalam dunia persilatan orang-orang sangat kuatirkan ada terjadi penumpahan darah kelak dikemudian hari karena tiga partai itu sudah tentu akan berebut pengaruh satu sama lain untuk berdiri sama jago.

Kita balik pada Ho Tiong Jong telah mengikuti jalannya acara dengan tenang. Ketika Kwe Hoei habis bicara, ia lihat ada seorang naik keatas luitay. ia kenali itu ada Soe coe Liang yang tempo hari ada makan bersama sama satu meja dengannya, la ada satu pejabat kaliber besar dibagian selatan-

Soe coe Liang lantas berhadapan dengan Kwee Hoei sebagai wakil Tayeu. Ternyata menghadapi Kwee Hoei ia tidak bisa berbuat banyak. Meskipun Soe coe Liang sudah keluarkan simpanannya, cuma dalam beberapa gebrakan saja ia sudah dipukul terpelanting jatuh kebawah panggung yang memalukan sekali.