-->

Golok Sakti Bab 07 : Melawan jago kelas wahid

Bab 07 : Melawan jago kelas wahid

KALI ini Kho Kie berkata-kata dengan serius, tidak sebagaimana biasanya ia suka bergurau dan lagaknya sangat Jenaka mengitik urat ketawa.

"Ho laote." kata pula Kho Kie "Bicara terus terang, dengan lain orang aku suka bersenda gurau dengan tidak mau tahu urusannya, Tapi terhadap kau ada lain, aku hargakan kau sebagai sahabat yang jujur dan berbudi. Buktinya, kau mendapat setetes budi saja terus akan membalasnya sampai rela mengorbankan jiwamu, ini memang tidak salah, kau punya pikiran betul. Tapi kalau kau dengan begitu saja hendak menerjang bahaya maut, apakah tidak sayang."

Ho Tiong Jong menatap wajahnya sahabat karibnya ini, tapi ia tidak memotong ketika Kho Kie melanjutkan bicaranya.

"Kau main membela dengan membabi buta saja, tanpa mencari tahu keluarga Seng itu ada orang macam apa? Memang betul nona Seng punya budi tak dapat kau lupakan, ia mungkin ada satu nona yang berhati mulia, tapi ayahnya... "

"Ayahnya kenapa?" menyelak Ho Tiong Jong.

"Hmm..." Kho Kie berkata lagi." Ayahnya punya riwayatnya hidup memalukan- Andaikata batang lehernya harus dipenggal agaknya masih belum lunas menebus dosanya. Semua kepala-kepala dari Perserikatan Benteng perkampungan satu persatu harus digantung mati sebagai hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang tidak benar."

Ho Tiong Jong berdebar hatinya mendengar cerita Kho Kie yang diucapkan dengan sungguh-sungguh, Diam-diam dalam hatinya menanya. Kenapa ayahmu harus dipenggal? Dan kepala kepala dari Perserikatan Benteng perkampungan kenapa harus digantung mati? Apa sebenarnya yang mereka telah perbuat sehingga harus menebus dosanya dengan kematian.

Meskipun ia berpikir deikian, ia tidak memotong dan menanyakan apa-apa kepada Kho Kie yang kelihatannya sangat bernapsu untuk menginsafi pikirannya Ho Tiong Jong yang hendak menerjang bahaya secara membabi buta.

"Ho laote," berkata pula Kho Kie dengan serius, Andaikata nona Seng ada mengandalkan ayahnya punya keangkeran, aku amat menentang kau membela mati-matian kepada nona Seng"

Ho Tiong Jong tertawa mendengar kata-katanya sang kawan, ia berterima kasih untuk perhatian yarg besar itu atas dirinya, Pikirnya, mungkin ia tidak mendapatkan yang keduanya lagi sahabat karib macam Kho Kie yang jujur ini. Maka sambil tertawa ia berkata kepadanya.

"Kho toako, legakan hatimu, Kau jangan kuatir, aku dapat menimbang dengan kepala dingin akan tindakanku yang kuambil soalnya Tok-kay itu, aku hendak mengambil jiwanya bukan karena dari sebab dia bermusuhan dengan keluarga Seng saja, tapi dia sudah terlalu banyak menumpuk dosa membikin susah pada rakyat jelata." Kho Kie menghela napas.

Ia tidak berdaya untuk mencegah maksudnya anak muda yang keras ini, yang kukuh hendak mengejar juga Tok kay Kang ciong yang berilmu tinggi.

"Ho laote, baiklah, aku tidak dapat menghalang-halangi maksudmu yang mulia, hanya aku pesan sukalah kau menjaga diri hati-hati sebab orang yang kau hendak bereskanjiwa nya itu ada seorang yang berilmu tinggi. Kau bukan tandingannya. Nah terimalah ini sedikit uang perak untuk

bekal kau diperjalanan, Tiga hari kemudian boleh kita ketemu lagi disini untuk saling menukar kabar."

Ho Tiong Jong terima pemberian uang Kho Kie itu dengan perasaan sangat terharu.

"Terima kasih, semoga dengan berkat doa restu toako kita akan berjumpa h pula nanti dalam keadaan selamat... "

Kho Kie kemudian menceritakan keadaan dalam ruangan perjamuan, dimana ada hadir banyak sekali tetamu yang hendak turut ambil bagian dalam dibuian diselenggarakan oleh Seng Eng dari Seng-kee-po.

Ho Tiong Jong tidak ketarik dengan beberapa nama orang-orang gagah yang disebut oleh Kho Kie, sebab hatinya masih terus melayang akan mengejar Tok-kay, bagaimana ia dapat menjatuhkan pengemis tua yang berilmu tinggi itu.

Tapi ketika sang kawan menyebutkan adanya seorang nona bernama Kim Hong Jie dengan wajah cantik luar biasa dan saban ketawa tampak sujennya yang memikat hati, ia membuka lebar matanya dan mengawasi pada Kho Kie

"Hei, laote, kau kenapa?" tanya Kho Kie ketawa ketika melihat arak muda itu tiba-tiba saja berubah wajahnya ketika mendengar ia menyebut namanya Kim Hong Jie.

"Tidak usah, dia ada satu gadis cantik lincah, puterinya majikan dari benteng Kim-Hong-po "

"Apa ia hadir bersendirian saja?" memotong Ho Tiong Jong.

"Aku tidak tahu, kau kenapa laote ? Apa kau kenal dengan nona jelita itu ?"

Hatinya Ho Tiong Jong berdebaran-

Ia ingat akan pengalamannya pada lima tahun yang lampau, dengan perantaran sinona cilik yang bersujen memikat itu ia telah melatih Iweekang dibawah pengunjukan engkong nya. Bagaimana baik dan besar perhatian nona cilik itu terhadap dirinya, sampai sekarang ia tidak dapat melupakannya. Dia... dia sekarang sudah dewasa, entah bagaimana cantik wajahnya dia?

Ia sebenarnya ingin melihat Kim Hong Jie setelah menjadi satu nona, sebagai satu gadis cantik, apakah adat dan tabiatnya masih tetap ramah dan jenaka seperti dahulu kala?

Ah, pikirnya, ia tidak seharusnya memikirkan hal nona Hong Jie itu, sebab ia kini hendak menjalankan tugas membunuh Tok-kay Kang ciong. Entah ia dapat kembali dengan selamat atau ia nanti mengorbankan jiwanya, itulah masih merupakan satu pertanyaan

Melayangkan pikirannya sampai disini, tiba-tiba ia disadarkan oleh Kho Kie yang menegur padanya .

"Ho laote, kau ngelamun jauh sekali rupanya, makanya kau menjublek sekian lama, apa kau tak pergi mengejar Tok kay dan hendak kembali ke perjamuan?"

"Sudahlah... " jawabnya lesu, "Mari kita berpisahan-"

Kho Kie tidak banyak rewel lagi, ia menyerahkan goloknya Ho Tiong Jong untuk menjaga diri diperjalanan-

Senjata mana disambut oleh pemiliknya dengan ketawa lesu.

Setelah saling berjabat sekali lagi akan bertemu kembali ditempat itu, keduanya lalu berpisahan-

Sambil menyoren goloknya Ho Tiong Jong terus berjalan kearah mana Tok-kay Kang ciong

telah pergi, sepanjang jalan pikirannya kusut, ia memikirkan tentang kepandaiannya yang hanya enam-belas dari delapan belas jurus ilmu golok keramat ditambah oleh tiga jurus ilmu pukulan "Kim-ci Gini clang" ajarannya Kho Kie, apakah dengan itu saja sudah cukup dapat menjatuhkan si pengemis beracun yang iihay?

la ragu-ragu akan kemampuannya jikalau ambil jalan kekerasan, maka ia harus mencari jalan menggunakan siasat, menggunakan jalan halus untuk dapat mengambil jiwanya orang kejam itu.

Tapi bagaimana akal halus itu yang ia akan ambil.

Berjalan sambil berpikir tanpa terasa lagi ia sudah melalui perjalanan lima-enam lie. Kini badannya dirasakan sudah jauh bedanya dari pada sebelumnya ia makan dua pilnya nona Seng, ia kini dapat berjalan dengan menggunakan ilmu lari cepat yang tidak usah kalah dengan mereka yang sudah mendapat latihan puluhan tahun.

Memikir akan perubahan pada tubuhnya yang tidak terduga-duga, membikin ia jadi bersemangat. Saat itu sudah jam dua malam, ia jalan melewati rimba dan gunung-gunung.

Perutnya mendadak dirasakan lapar sekali, ia bingung, dimana ia dapat mencari tempat untuk menangsal perut? ia jalan lagi beberapa lie, dilihatnya disebelah depannya ada bangunan seperti kuil, hatinya bukan main gembira, pikirnya disitu ia dapat makanan gratis ia boleh memberi uang pada hweshio pengurus dapurnya supaya tidak banyak rewel.

Untuk membunuh Tok-kay dengan jalan mengadu kepandaian sekarang bukan waktunya, ia harus mencari guru dahulu yang pandai untuk memperdalam kepandaian silatnya sendiri. Untuk sekarang, pikirnya ia hanya hendak menggunakan akal kalau-kalau nanti berhasil.

Disekitar tempat itu ada tiga buah kuil, yang satu bernama Giok san-kuan, kedua Biauw-hoat-si dan ke tiga ceng in si.

Tok-kay Kang ciong masuk kedalam kuil Biauw-hoat-si, setelah ia pergi meninggalkan bangkainya "sepasang orang ganas."

Ketika masuk kedalam, Tok-kay lihat penerangan sangat terang, Berjalan sampai diruangan sembahyang tiba-tiba matanya melihat ada seorang yang sedang duduk pada satu buntalan tengah sedang makan bubur.

orang itu seperti anak kecil, rambutnya dikepang umurnya diantara lima belas - enam belas tahun.

Tapi ketika ia menegasi, hatinya terkejut bukan main- sebab ia bukannya anak kecil, hanya sahabatnya sendiri oen cie yang bergelar Hong- hwe Tong- cu (Anak Angin) dan kedatangannya Tok kay itu bukannya tidak diketahui, tapi oen ci pura-pura tidak mengetahuinya terus saja menyikat buburnya.

"Hei, kau ini kapan datang?" tiba tiba itu Tok kay berteriak.

Oen ci menaruh mangkok buburnya, sambil menggoyangkan rambut kepangnya ia berkata dengan suara dingin-

"Hm Apa aku tidak boleh datang kemari ?"

Perkataannya belum habis, orangnya sudah lompat melesat kehadapan Tok kay, Tangan-nya yang kirinya diangkat seperti yang hendak menyerang, saat itu telapakan tangannya merah membara. Hingga Tok-kay terkejut dan mundur beberapa tindak^ baru berkata.

"Kau jangan menyerang, Sudah dua puluh tahun kita tak berjumpa, adatmu masih seperti dahulu kala saja tak ubahnya."

oen cie menurunkan tangannya, Terdengar ia tertawa dingin dan berkata.

"Hmm... orang macam kau ini, selama dua puluh tahun ini semakin banyak berbuat dosa. Dosamu sekarang sudah bertumpuk-tumpuk. sekarang kau bertemu denganku, apakah kau kira aku tak dapat memusnahkan racunmu."

Tok-kay mendongkol mendengar kata-katanya oei ci.

la tertawa terpaksa "Oei ci." katanya: Jikalau kau memang sengaja datang hendak mencari aku, terserah kepadamu, kau boleh berbuat sesukamu untuk melayani aku." inilah suatu tantangan- oei ci perdengarkan suara tertawa yang aneh.

"Aku tidak mencari kau, tapi tunggulah, nanti ada satu waktu ada orang yang mencari untuk mengambil jiwamu yang sudah penuh dengan dosa. percayalah pada kata-kataku sekarang."

Tok-kay tidak menjawab, hanya ia menatap wajahnya oei ci yang masih tetap ketawa seperti yang mengejek kepadanya.

Hong-hwe Tong-cu oen ci adalah salah satu dari "Lima Tokoh dalam dunia persilatan dijaman itu, maka tidak heran kalau Tok-kay tidak berani sembarangan bertanding dengannya. Terdengar oen ci berkata lagi.

"Bicara terus terang, memang harus diakui ilmu yang dinamai "Telapakan Tangan Berdarah" telah mendapat kemajuan selama dua puluh tahun ini, aku dapat mengatasi ilmunya itu. Akupun tak tahu, mengapa aku bisa berkenalan dengan kau dan menjadi sahabat karib, sedang kau ada seorang jahat yang sukar diperbaiki."

Matanya Tok-kay mendelik mendengar kata-katanya sang sahabat yang paling belakangan ini, akan tetapi ia tak berani bergerak dan diam saja ketika Honghwee Tong-cu oen cie meneruskan bicaranya.

"Kau tahu, sutitku yang sekarang menjadi ciang nasehati kau untuk menghentikan kejahatanmu. Menginsafkan padamu bahwa perbuatan jahat itu tak membawa berkah selamat. seperti ilmu kau "Telapak Tangan Berdarah" itu, kau yakinkan dengan kekejaman yang tidak ada caranya, Banyak wanita hamil yang telah menjadi korbannya, banyak orang yang dicelakai olehmu, setelah kau mendapatkan ilmu itu lantas menyembunyikan diri, takut pembalasan atas perbuatanmu yang sangat keji itu. Ha ha ha... kau keliru sebab Tuhan tak melepaskan makhluknya yang telah menumpuk dosa, kemana kau lari musti orang pada satu hari akan membinasakan dirimu."

Tok kay tundukkan kepalanya, Meskipun demikian, diam-diam ia mencaci oen ci yang banyak rewet dalam urusannya orang lain, Ketika ia dong akan kepalanya terdengar oen ci meneruskan pula kata-katanya yang tajam.

" Dengan kekejaman dan kejahatanmu yang diperbuat terus menerus, mana aku bisa tinggal peluk tangan saja melihatnya? Meskipun diandaikan kau ada menjadi anaknya juga aku tak dapat mengampuni kau dan pasti akan membunuhnya, kau mengerti?"

Tok-kay mendelik matanya, ia tidak mendebat kata-katanya oen-ci, hanya ia menanya. "Mana muridku?"

"Hmm... " oen cin menggeram, "Dua muridmu yang manis itu, jangan takut hilang kemana, mereka tidak tahu aku ini siapa, dengan secara kurang ajar telah memegang-megang rambut kepangku. perbuatan ini ada pantangan bagiku, maka dua muridmu yang manis itu aku sudah lemparkan keluar kuil, mereka sekarang mungkin ada di kuil ceng-in-si." Tok-kay gusar sekali, matanya mendelik bengis.

"Bagus perbuatanmu itu" katanya "Ada satu hari aku tentu akan mencari kau ke Bu-tong-san. Nah sekarang terima dahulu persekotnya."

Ia tutup bicaranya sambil menyerang dengan telapakan tangannya yang mengeluarkan angin dan hawa panas yang dapat membikin hangus yang terkena sasarannya.

oen ci menjadi marah melihat dirinya di serang, maka ia juga lantas mengeluarkan ilmunya menangkis dan balas menyerang lawan, Dua telapakan tangannya disodorkan kedepan, yang sebelah kiri mengeluarkan angin dahsyat dan yang kanan mengeluarkan hawa panas seperti api berkobar-kobar.

Inilah ilmu "Hong- hwe Sin- kang" (tenaga sakti angin dan api) yang membuat namanya oen ci terkenal dan dimalui oleh lawan maupun kawan- ilmu yang dilatih selama dua puluh tahun lamanya ini ada sangat lihay, hingga Tok-kay kewalahan dan mundur beberapa tindak.

Mengetahui dirinya bakal mendapat kerugian kalau meladeni oen ci, maka ia sudah memilih jalan yang selamat, "Lari"

Seketika itu juga ia lari meninggalkan oen cijago angin dan api itu tidak mengejar, hanya dengan ketawa dingin memberi nasehat.

"Kau lekas perbaiki dirimu, buang kejahatan dan balik menjadi orang baik, Kalau tidak, percayalah padaku, ada satu waktu kau akan binasa dengan kecewa... "

Hong-hweTong cu oen ci ini sebenarnya sudah sedari kecil berkawan dengan Tok-kay.

Mereka bersahabat karib. Apa mau setelah masing-masing menginjak usia dewasa, perbuatan Tok kay itu banyak nyeleweng, lebih-lebih ketika ia meyakinkan ilmunya "Telapak Tangan Berdarah" banyak membunuh- bunuhi wanita hamil, membuat hatinya oen ci sebagai kawannya sedari menjadi sangat cemas dan mengutuk perbuatannya Tok-kay, ia sebenarnya ingin menyingkirkan jiwanya Tok-kay, tapi perasaan keakraban mereka berkawan diwaktu kecil, membuat ia ragu-ragu dan tidak tega.

Ilmu tenaga dalamnya oen ci sangat mahir, dengan mana ia sudah dapat memelihara wajahnya menjadi tinggal tetap muda seperti anak yang baru berumur lima belas - enam belas tahunan saja, keistimewaannya, adalah ia paling suka makan-

Makanan apa ia tidak menampik asal makan, Tabiatnya itu seperti anak kecil, maka ia telah mendapat julukan Tong-tju (anak) julukan mana digabung dengan ilmunya Hong hwa sinkang maka menjadi Hong- hwe Tong- cu (Anak Angin Api). Sementara itu, Ho Tiong Jong juga sudah masuk kedalam kuil Biauw hoat-si.

Ia tidak masuk keruangan sembahyang, hanya langsung mencari dapur masak kuil itu, untuk minta dibagi makanan menangsel perutnya yang sudah sangat lapar.

Diatas meja tampak ada semangkok besar bubur yang masih panas, mengepul mulutnya sudah mengiler, Ketika ia hendak ulur tangannya, tiba-tiba mendengar ada tindakan kaki. Ia cepat mengumpat d ibalik pintu Ternyata yang datang ada satu hweshio pengurus dapur rupanya, yang hendak mengambil semangkok bubur tadi.

Ketika tangannya hampir menyentuh mangkok, hweshio itu menjadi sangat kaget ketika merasa bahunya ada yang menepuk- ia cepat menoleh, kiranya yang menepuk itu ada orang muda tampan,seperti bukannya orang jahat. Hatinya hweshio itu menjadi lega.

"Suhu, maaf, bolehkah aku menanya, apa bubur ini mau dibawah untuk Tok-kay?" tanya IHo Tiong Jong.

Hweshio itu itu membuka matanya lebar-lebar.

"Tok-kay ?" ia seperti berkata sendirian- "Bukan, bukan untuk Tok-kay."

"Habis untuk siapa?"

"Tok-kay sudah diusir pergi dari sini."

"Siapa yang mengusirnya? "

"Orang yang mau makan bubur ini." Ho Tiong Jong terkejut pikirannya locianpwe yang manakah sudah datang kesitu dan dapat mengusir begitu mudah kepada si pengemis beracun yang tinggi ilmunya?

"Tapi suhu," kata pula Ho Tiong Jong "apa kau bisa tolong aku?"

"Kau siapa? Aku harus menolongmu dalam hal apa?" tanya si hweshio.

"Tolong bagi semangkok bubur, perutku sudah lapar, untuk mana aku tentu tidak melupakan suhu punya budi untuk mengganti kerugiannya."

"ow, tidak bisa," jawab si hweshio.

"Kenapa tidak bisa? Semangkok bubur tokh apa artinya, sedang aku sendiri hendak menggantinya dengan uang?"

Hwehsio itu tidak mau meladeni Ho Tiong Jong ia sudah hendak ngeloyor keluar dari dapur itu, tapi mendadak ada bayangan berkelebat, ia adalah Ho Tiong Jong yang menghadang didepannya.

"Minggir" bentak si hweshio seraya menerobos.

Ia tidak tahu kalau tenaganya si anak muda ada besar sekali, mana dapat ia menerobos dengan mudahnya. Tidak heran, kalau ia terpental mundur ketika menubruk Ho Tiong Jong dan mangkok bubur menjadi jatuh dari tangannya, buburnya tumpah di lantai. Mukanya hweshio itu berubah menjadi pucat.

"Kau, kau " katanya melotot, tapi ia tidak berani menerjang pada Ho Tiong Jong yang kini ia

anggap tidak boleh dibuat sembarangan, meskipun masih demikan muda, ia akhirnya lompat keluar meninggalkan Ho Tiong Jong.

sementara itu oen ci sudah datang kedapur, maksudnya mau menegur hweshio yang mengurus dapur itu, kenapa sudah begitu lama tidak membawa bubur untuknya. Ia melihat Ho Tiong Jong dan bubur yang tumpah dilantai, Tiba-tiba ia tertawa dingin dan mengawasi pada Ho Tiong Jong.

Melihat dari sikapnya, tiba-tiba Ho Tiong Jong ingat, inilah orangnya tentu yang mau makan bubur. sekarang buburnya sudah tumpah dilantai, bagaimana? Ia lalu menghampiri oen ci, sambil merogoh sakunya mengeluarkan uang, ia berkata. "Saudara kecil, harap jangan marah. Terimalah uang ini sebagai ganti kerugiannya."

"Hmm... " oan ci memotong, "Enak saja kau ngomong, makananku sudah dibikin tumpah begitu rupa. Kau berderajat apa memanggil aku saudara kecil?"

Ho Tiong Jong bengong melihat sikapnya oen ci yang tidak memandang mata padanya.

sementara itu hweshio tadi sudah datang kembali dan mengadu kepada oen ci, bagaimana Ho Tiong Jong sudah menghadang di depannya dan mau merebut semangkuk bubur itu sehingga tumpah.

oen ci tidak meladeni pengaduannya si hwesio yang dilebih-Iebihi dan juga tidak memperdulikan Ho Tiong Jong yang berdiri menjublek. hanya ia mengawasi pada bubur yang tumpuk dilantai.

Tiba-tiba ia mengangakan mulutnya, bubur yang tumplek dilantai tiba-tiba tersedot dan masuk kedalam mulutnya, itulah ada demontrasi lweekang (tenaga dalam) yang hebat sekali.

Ho Tiong Jong dan si hwesio terpesona oleh kejadian yang disaksikannya.

Kalau oen ci ngagah untuk menyedot bubur kedalam mulutnya, kemudian ditelannya, adalah Ho Tiong Jong menganga mulutnya saking heran dan kagum oleh kekuatan lweekang oen ci yang demikian tingginya.

Dalam hati diam-diam berkata, "Pantasan ia bisa mengusir Tok-kay. Demikian tinggi dan mahir kekuatan Iweekangnya, entah bagaimana tingginya kepandaian ilmu silatnya."

Lantas terlintas dalam otaknya suatu pikiran baik orang ini begitu tinggi ilmunya, maka cari siapa lagi untuk ia angkat sebagai guru? Kesempatan yang baik inijangan dikasih lewat begitu saja.

OEN ci sendiri sebenarnya Sangat mendongkol pada IHo Tiong Jong, ia mati memberi hajaran kalau menurutinya hatinya cuma saja ia pandang Ho Tiong Jong masih begitu muda dan bukannya orang jahat, maka ia dengan hati mendongkol sudah hendak meninggalkan tempat itu.

Ho Tiong Jong jadi gelagapan, buru-buru, ia berkata,

"Hei, saudara kecil, tunggu dulu. Aku masih ada yang hendak ditanyakan padamu."

"Hmm... Siapa yang menjadi saudara kecilmu?" menggerendeng oen ci.

Ho Tiong Jong sebenarnya mendongkol mendengar kata-katanya oen ci ini, akan tetapi karena ia ada mempunyai maksud tertentu, maka amarahnya telah ditelan begitu saja. Wajahnya yang tadi sudah beringas menjadi tenang kembali.

"Ia, baiklah aku memanggil kauw Siauw-hiap. Numpang tanya, apa yang mengusir Tok-kay ituSiauw-hiap adanya?" demikian menanya Ho Tiong Jong.

"Kau siapa?" tanya oen ci.

"Aku bernama Ho Tiong Jong."

"Kau datang kesini mencari siapa?"

"Mencari Tok-kay."

"Bagus, bagus, nah, sekarang kau boleh kejar Tok-kay yang kau cari." Ho Tiong Jong jadi melongo.

Diam-diam Ho Tiong Jong berpikir, orang ini ilmu silatnya tinggi tak dapat diukur, tapi kenapa sikapnya ada sangat eneh? Apa katanya orang ini, benar juga. Demikian pikirnya. Sebelum ia dapat membuka mulut, oen ci sudah berkata lagi.

"Meskipun kau tidak dapat menempur dia dengan kepandaianmu yang tinggi, tapi untuk mendekatinya ada mudah sekali kau lakukan, sekarang aku kasih petunjuk padamu, dengarlah baik-baik."

Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.

"Kau dari sini jalan lempeng saja ke arah barat kira kira seperjalanan tiga lie kau nanti akan menemukan satu kuil dengan merek ceng in-si. Tok-kay sekarang ada disana.

Kalau kau sudah berjumpa padanya, boleh mengatakan banwa kau ini diperhina olehku, aku menolak mengambil kau sebagai murid. Kalau ia mendengarnya, pasti timbul amarahnya padaku dan akan menerima kau sebagai muridnya. Tapi ingat betul-betul. Dia meskipun ilmu silatnya amat tinggi, tetapi ia ada seorang jahat, maka kau harus tahu sendiri."

"Apa dia mau menerima aku sebagai muridnya?" tanya IHo Tiong Jong.

oen ci melihat Ho Tiong Jong seperti belum mengerti akan maksudnya yang dikatakan barusan, maka ia hanya anggukkan kepalanya, kemudian telah meninggalkan kuil Biauw-hoat-si.

Ho Tiong Jong berdiri menjublek sekian lama setelah oen ci yang sempurna sekali tenaga dalamnya (lweekang.)

Setelah tersadar dari lamunannya, IHo Tiong Jong pergi menemui hweshio pengurus dapur lagi. Kali ini secara damai, IHo Tiong Jong mendapat bagian bubur.

Setelah cukup menangsel perutnya, orang muda itu lalu meninggalkan kuil dan menuju kearah yang ditunjuk oleh Hong hwe Tong-cu oen-ci.

Dalam perjalanannya ia putar otaknya. Pikirnya, kalau ia sampai dapat berdekatan dengan Tok-kay, ia bermaksud membunuhnya. Perbuatan mana selainnya membalas dendam musuh keluarga Seng, juga berarti ia sudah menyingkirkan iblis masyarakat yang kejam Betul saja ia menemui kuil pada tempat yang diunjuk oleh oen-ci,

Waktu itu sudah jam tiga malam, keadaan sangat gelap. pintu kuil ternyata masih terpentang, tapi heran tidak ada seorang hweshlo kelihatan- Dimuka kuil ada lapangan yang luas, tengah-tengahnya ada jalanan yang dikedua pinggirannya ditanami pohon siong yang amat indah. Di kanan kirinya kuil ada bangunan rumah-rumah kecil mungil. IHo Tiong Tong bertindak masuk kedalam, di mana ia nampak ruangan ada besar sekali.

Selagi ia langak- longok. tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki mendatangi dari dalam. Dilihatnya ada seorang hweslo yang muncul, siapa telah melihat padanya dan menghampiri dirinya.

"Sicu malam-malam datang kesini ada urusan apa?"

"Aku bernama Ho Tiong Jong," si pemuda memperkenalkan namanya. "Aku datang hendak mencari seorang she Kang, apa dia ada disini?"

"ow, dia ada tinggal di ruangan sana," jawab hweslo tadi, sambil jarinya menunjuk kelain ruangan-

"Apa boleh aku menemui dia?" tanya Ho Tiong Jong. "Tentu saja, silahkan," jawabnya.

Ho Tiong Jong sembari berjalan pikirannya berdebaran bagaimana nanti ia akan bicara dengan Tok-kay Kang ciong? Tapi perlahan-lahan debaran itu hilang dan hatinya mulai mantap setelah masuk keruangan dimana Tok-kay ada ambil tempat.

Ho Tiong Jong lihat ruangan disitu besar dan lampunya pun sangat terang. Patung-patung dicanang dengan rapih. Didepan meja sembahyang kelihatan ada pintu. Meskipun ada orang masuk. tampak tak dihiraukan oleh mereka.

Dilihat caranya berlutut, kelihatan mereka seperti yang tidak rela berbuat demikian-Ketika diteliti, kiranya dua tubuhnya dua pengemis ini sudah kaku. IHo Tiong Jong heran-

Pikirnya, Tok-kay yang sudah biasa membunuh orang dengan mata tidak berkesip. mana dapat menjadi pemeluk Buddha ? Mengapa itu ada murid-muridnya Tok kay, kenapa tidak bisa bergerak? Apa mereka kena ditotok jalan darahnya? Siapa orangnya begitu berani?

Ia merasa ragu ragu untuk mendekati dua pengemis itu. perlahan-lahan ia bertindak mundur menghampiri pintu dan memutar sedikit kepinggiran ruangan. Mendadak mata nya melihat keluar, samping ruangan ada bayangan berkelebat. Bayangan itu cepat sekali sudah meluncur dan menghilang dibalik-nya pohon-

Diam-diam ia menanya pada dirinya sendiri, apakah orang itu ada musuhnya Tok-kay? kalau benar demikian, tentu orang itu ada mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Ia akan belajar kepadanya, setelah berkepandaian tinggi baru ia mencari Tok kay. Pikirnya, inilah ada saatnya yang paling baik untuk ia menemui orang pandai itu.

Maka setelah berpikir, secepat kilat ia lompat melesat kebelakang pohon tadi, disitu ia melihat tak ada orang, hanya ada sehelai kere yang menutupi pintu kecil kealingan pohon

Ho Tiong Jong tanpa ragu-ragu lagi terus masuk kedalam pintu kecil tadi.

Ternyata disebelah dalamnya ada terdapat pelataran yang lebar. Masuk kesebelah dalamnya lagi belum juga ia ketemu orang. ia heran, terus jalan kebelakang. Disini ia menemui tempat sembahyang, tapi herannya disini pun tak ada orangnya.

Matanya celingukan mencari orang. ia melihat dari sebuah kamar ada penerangannya menyorot keluar. cepat ia menghampiri dan membukanya kamar ini, tapi tidak ada orang juga. Disini hanya kedapatan sebuah meja persegi, diatasnya ada sebuah lampu yang guram sinarnya.

Matanya Ho Tiong Jong menyapu kesekitarnya kamar. Tiba-tiba dari suatu sudut yang gelap telah muncul seorang, yang ketika ditegasi ternyata ada satu tosu (imam) dengar jenggot dan rambut putih semuanya tapi semangatnya bagus dan sehat. ia muncul dengan kebutan ditangannya.

Ho Tiong Jong diam-diam pikir, apakah kuil ini ada tempat tosu ini mengasingkan dirinya.

Selang dalam berpikir mendadak ia disadarkan oleh perkataannya si tosu dengan suara dingin-

"Hmm " Dimalam yang gelap gulita ini kau berani berani masuk kesini, seharusnya aku memberi hukuman atas kelancanganmu."

Ho Tiong Jong pikir, memang benar katanya tosu ini, maka dengan cepat ia memberi hormat. "Harap totiang tidak menjadi kecil hati, aku memang salah ketarik oleh bayangan yang berkelebat masuk kesini. maka aku lupa bahwa perbuatanku masuk kesini tanpa permisi ada tidak benar. Lagi sekali aku harap totiang suka memberi maaf banyak-banyak. "

Tosu itu mengawasi pada Ho Tiong Jong sejenak, ketika ia hendak membuka mulut Ho Tiong Jong sudah mendahului. "Maaf, siapakah totiang punya nama yang mulia?" Tosu itu setelah berpikir sejenak. sambil bersenyum menjawab.

"Aku bernama Ban Siang. Sudah tiga puluh tahun lebih aku mengasingkan diri digunung cui-hui-san ini. Aku sudah tidak campur urusan duniawi lagi, tapi sungguh sayang menurut ftrasatku malam ini aku harus membuka pantangan membunuh. Betul-betul hatiku amat menyesal."

Ho Tiong Jong terkejut. "Sebab apa totiang harus berbuat demikian?" tanyanya. Ban Siang Tojin tidak menjawab.

Tampak Binar matanya yang kejam. Dilihat dari air mukanya tos u ini tentu bukannya orang baik-baik, maka Ho Tiong Jong dengan pelahan-lahan telah mundur.

"Hmmm " berkata pula Ban Siang Tojin- "itulah karena didunia ini orang tidak saling

mengetahui diri sendiri dan suka berbuat sewenang-wenang, Nah. aku misalkan seperti sekarang ini, aku akan mengikat kau. Sementara menanti keputusannya kawan karibku dahulu, apakah kau rela diikat tubuhmu?"

"Totiang, kenapa aku harus diikat? Tentu pandanganmu salah paham atas diriku."

Ban Siang Tojin angkat tangannya digoyang-goyang seperti melarang anak muda itu banyak membantah.

"Aku tadi sudah berkata aku akan membuka larangan membunuh, bukan? Nah, kalau kau tidak mengerti tunggulah saja itu orang datang baru aku bicara lagi." Ho Tiong Jong tidak puas.

"Totiang, kau tidak boleh sembarangan mengikat orang, bukan?"

"Hai, kaujangan banyak rewel kau bikin susah sendiri saja. Kalau tidak tunduk lihatlah ini buktinya."

Ban Siong Tojin setelah berkata lantas menunjukkan kebutannya kearah lampu yang menyalah diatas meja, segera api lampu tadi menjadi kecil dan panjang seperti terkena oleh tenaga yang tidak kelihatan, arahnya pun tampak berbalik. Jarak antara api dengan Ban Siang Tojin ada satu tombak lebih.

Ini menunjukkan bahwa tenaga dalamnya si tosu hebat juga, karena kalau tidak, tak dapat api itu dibalik kearah kebalikannya dan kecil memanjang.

Ketika ia menarik pulang kebutannya, lantas api lampu tadi menjadi biasa lagi seperti bermula terangnya.

"Nah, sekarang kau lihat sendiri. Kau mau takluk tidak? Apa mau tidak diikat?"

Ho Tiong Jong memang tunduk terhadap. ilmunya yang tinggi tadi, akan tetapi ia tidak mau tunduk dengan aturannya yang bukan-bukan. Maka dengan gusar ia menjawab.

"Totiang. kau bicara tidak menurut aturan- Apa boleh orang berbuat sesuka hatinya saja?"

"Aku tidak ada tempo untuk bicara dengan kau." jawab Ban Siong Tojin dengan marah melotot.

"Hmm...." Ho Tiong Jong menggeram "Boleh coba-coba mengikat aku, memangnya aku sebuah patung?"

Ban Siong Tojm melengak. ia tidak nyana anak muda didepannya itu ada sangat tabah hatinya. ia mundur tiga tindak.

"Bocah," katanya "apa barusan kau tidak lihat ilmu tenaga dalamku sampai dimana. Ah, benar-benar kau ini tidak sadar dengan bahaya di-hadapan mata. Ha ha ha... "

"Tak usah banyak perkataan yang tidak perlu, marilah kita mencoba-coba siapa yang nanti akan diikat," tantang Ho Tiong Jong. Pemuda itu berkata sambil menghunus goloknya.

Ban Siong Tojin tertawa bergelak gelak, "Bocah, kau mau apa ? Lihat nih tambang apa?" ia sembari mengunjukkan seutas tambang. "Tambang ini untuk mengikat binatang liar dan sebentar kau rasakan bagaimana ia akan mengikat dirimu."

"Totiang, jangan banyak rewel, silahkan"

Demikian Ho Tiong Jong menantang, sambil palangkan goloknya didadanya siap untuk mengadu jiwa dengan tosu jumawa itu.

"Bocah benar-benar kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Kau menantang untuk bertempur denganku? Ha ha ha."

Ho Tiong Jong tidak takut. ia tertawa bergelak gelak seolah-olah mau menyaingi sitosu ketawa yang menggema diangkasa.

"Hmm " tiba tiba terdengar Ban Siong Tojin berkata pula, "Bocah, kalau kau tahan sepuluh gebrakan saja melawan aku, akan kuijinkan kau pergi begitu saja dari sini, kau mengerti ?"

"ow, hanya sepuluh gebrakan apa susahnya?" jawab Ho Tiong Jong girang, "Hanya yang aku kuatirkan kau akan repot menangkis seranganku."

Ban Siong Tojin tidak menjawab. Ia gerakan senjata kebutannya menerjang pada Ho Tiong Jong. Benar serangan kebutannya itu amat lihay. mengandung tenaga yang kuat sekali, hingga Ho Ting Jong terpaksa lompat mundur setengah tombak untuk menghindarkan serangan tadi.

Sebentar lagi tampak ia sudah putar goloknya, ilmu golok delapan belas jurus dimainkan dengan bagus sekali, hingga diam-diam Ban Siang Tojin memuji. Ia mengerti bahwa ilmu silat golok demikian tidak mudah diterobos.

Tampak Ho Tiong Jong mainkan ilmu golok kramatnya makin lama makin kuat dan sampai hebat sekali, angin golok bajanya menyambar-nyambar. Ban Siang Tojin kerutkan alisnya

Dia gusar, sampai rambut dan jenggotnya pada berdiri. Mukanya juga berubah menjadi hitam, satu tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaganya Betul-betul untuk mengambil jiwanya si anak muda.

Menyolok sekali tanda kekurangan latihannya Ho Tiong Jong.

Menghadapi jago kelas wah id, Ho Tiong Jong merasa kewalahan- Kebutannya sang lawan menyamber-nyamber seperti bayangan anginnya dahsyat sekali seolah-olah menekan dadanya hingga hampir sukar bernapas. Tapi ia sudah nekad dan melawan terus.

Belakangan ia rubah bersilatnya dengan ilmu Kim-ci GiNi ciang. hingga Ban Siang Tojin menjadi kaget juga. Tapi dasar ia satu jago ulung, pelahan-lahan ia sudah dapat mengunjukkan keunggulannya dalam pengalaman bertempur.

"Bocah goblok. apa kau masih bisa bertahan berapa lama lagi?"

Ho Tiong Jong tidak menjawab. ia terus mengerahkan tenaganya untuk menangkis tekanan tenaga kebutan musuh. Ia kelihatan nekad, tidak mau kalah oleh lawannya.

Yang membikin ia heran tekanan Ban Siang Tojin sebentar berat dan sebentar ringan-

Entah apa maksudnya, jago kelas wahid itu tidak mau sekaligus, menekan lawannya hingga tidak berdaya?

Ban Siong Tojin kelihatan mukanya sudah menjadi berubah hitam menakutkan dan terus merangsek musuh. Dalam kenekadan-nya Ho Tiong Jong menyabetkan goloknya sambil membentak. "Tosu siluman, kenapa kau menggunakan ilmu sihirmu secara pengecut?" Tapi serangan Ho Tiong Jong dapat dihindarkan-

Ban Siong Tojin merangsek lagi tangannya diangkat.Jari jarinya yang runcing hitam dan beracun kelihatan menyengkeram bahunya IHo Tiong Jong. Tapi heran, ketika sudah dekat menyentuh sasarannya, tiba-tiba jari-jarinya berhenti setengah jalan dan membentak pada lawannya.

"Hei, bocah goblok, apa yang kau katakan tadi?"

Ho Tiong Jong tidak lantas menjawab. ia mengerti bahaya maut mengancam dirinya melihat jari-jarinya sang lawan yang runcing dan beracun sudah dekat menyentuh bahunya. Tanpa terasa, keringat dingin telah membasahi badannya. Tapi hatinya masih keras tidak mau tunduk kepada musuhnya ia menjawab pertanyaannya Ban Siong Tojin tadi.

"Hmmm Kau ini bukannya manusia, tapi siluman- Kau barusan sudah menggunakan ilmu siluman, Hmm manusia siluman"

"Ha ha ha" Ban Siong Tojin tertawa, bergelak gelak. "Bocah goblok, kau ini masih belum tahu lebarnya langit dan tebalnya bumi, kau mana tahu ilmuku yang istimewa. ilmuku itu dilatih berdasarkan rokh-nya burung dari jaman purba. Kau ini cari-cari itu dua pengemis apa gunanya, mereka sudah mengaku kalah kepadaku. Ha ha ha." Ho Tiong Jong sebal melihat lagaknya si tosu yang tengaL

Ia sampai terlupa akan maksudnya mencari guru yang pandai, hingga sudah melewatkan kesempatan yang baik untuk mengangkat Bang Siong Tojin menjadi gurunya.

Hatinya diliputi kemendongkolan- Kata-kata si tosu yang mengejek dibalas kontan dengan ejekan pula .

Dalam keadaan kepepet demikian, Ho Tiong Jong, tiba-tiba mendengar ada suara tindakan orang mendatangi. Ban Siong Tojin kagit.

"Siapa," tegurnya keras.

"Aku Siong Hoat," jawabnya, segera kelihatan muncul seorang hweshio dengan muka pucat dan romannya seperti yang ketakutan-

Kiranya ia ada hweshio dari kuil ceng-in si. Ketika ia sudah berhadapan dengan Ban Siong Tojin telah berkata. "Lo to ya, celaka itu dua pengemis sudah bisa bergerak lagi. Aku sebenarnya tidak berani masuk kesini, tapi... Hii, tidak bisa jadi dua manusia tolol itu dapat bergerak lagi "

Ban Siong Tojin tidak meneruskan kata-katanya, karena kaget, pada saat itu Siong Hoat sudah jatuh rubuh dan tidak bernapas lagi.

Ketika diperiksa, ternyata pada punggungnya ada kedapatan tanda bekas telapakan tangan yang berwarna merah darah.

Ban Siong Tojin beringas setelah melihat itu? cepat ia bangkit berdiri membawa senjata kebutannya ngeloyor keluar.

Ho Tiong Jong melihat musuhnya sudah pergi, hatinya merasa lega, Sambil menyeka peluh didahinya diam-diam berpikir. "Aku sudah menelan pil Siauw hoan tan tenagaku sudah sebat sekali, tapi menghadapi seorang jago ulung benar-benar aku tidak berdaya. Perlu apa aku mencari ilmu lagi, membuang-buang tempo saja. Habislah pengharapanku. Aku lebih baik binasa saja seperti ini hweshio daripada hidup menderita kesusahan saja^..."

Dengan pikiran kalut ia keluar dari situ, pergi kepelataran- dimana ia lihat Ban Siong Tojin sedang celingukan mencari dua pengemis yang dikatakan telah bisa bergerak lagi dan telah membunuh Siong Hoat hweshio demikian kejamnya. Terdengar si imam menantang sendirian-

"Pengemis bangkotan, kau hanya namanya saja termashur dikalangan kangouw, tapi setelah ketemu orang yang tak mudah dibikin celaka olehmu sudah lantas menyembunyikan diri seperti kura-kura?"

Tidak terdengar jawaban, malah keadaan makin sunyi setelah suaranya menghilang. Tidak kelihatan ada gerakan apa-apa.

Ho Tiong Jong yang melihat Ban Siong Tojin kesana- kemari beringas-beringas mencari mangsanya, dalam hati masih penasaran dan ingin menempur kembali pada lawannya itu.

Tidak memikir lama, ia sudah lantas menghampiri Ban Siong Tojin dan gerakkan ia punya golok menyerang pada si imam tosu. Tapi serangannya mendapat tangkisan yang tepat sekali dari pihak lawan-

Ho Tiong Jong menyerang dengan menggunakan sepenuh tenaga, tidak heran kalau serangan itu ada berat sekali, hingga diam-diam Ban Siong Tojin merasa kagum.

Dalam hatinya berkata "Bocah ini benar nekat, baru saja mengasoh sebentar tenaganya sudah pulih kembali begitu cepat "

"Tosu siluman-" bentak Ho Tiong Jong. "Perbuatanmu sewenang-wenang mau mengikat siauwyamu yang tidak bersalah dosa membikin orang jadi penasaran sekali. Nah, keluarkanlah kepandaianmu sekarang "

Ho Tiong Jong tutup bicaranya dengan serangan golok kedada orang, tapi dengan gesit Bin Siong Tojin lompat mundur beberapa tindak.

Sebagai jago kawakan Ban Siong Tojin sudah merangsek lagi musuhnya.

Pertempuran menjadi berjalan seru, sudah golok berkelebat melawan kebutan yang seperti menari-nari.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari atas tembok pekarangan- "Hei, hidung kerbau, kau beraninya dengan anak yang masih ingusan saja. Tidak tahu malu. Apa perbuatanmu ini dapat mengangkat namamu telah termashyur lagi? Ha ha ha ha." Berbareng kelihatan melompat turun sesosok bayangan dari atas tembok pekarangan-

Kiranya ia ada Tok-kay Kang ciong. la jalan menghampiri, tampak senjata bandringannya yang aneh berupa bola saja bergoyang-goyang dipinggangnya.

Ban Siong Tojin dan Ho Tiong Jong sementara itu sudah menghentikan pertempurannya dan mengawasi kedatangannya si pengemis tua beracun.

Ban Siong Tojin melihat datangnya musuh berat hatinya rada keder, dengan suara berat jawabnya. "Pengemis bangkotan" kau sudah lama datang? Apa kau sudah memeriksa isi-nya kuil disni?"

Tok-koay Kang ciong tertawa bergelak- gelak.

"Hmm " terdengar ia, menggeram. " Untuk apa diperiksa lagi, semua penghuninya delapan puluh hweshio lebih sudah kukirim ketempatnya Giam-lo-ong."

" celaka " seru Ban Siong Tojin, matanya beringas tajam mengawasi Tok-kay Kang ciong. Si pengemis beracun hanya tertawa nyengir.

Bagaimana Ban Siong Tojin tak menjadi kaget, sebab dalam kuil itu ada berdiam tak kurang dari delapan puluh hweshio. dikatakan oleh si pengemis beracun semuanya sudah di kirim ketempatnya raja akherat (Giam-lo-ong).

Ho Tiong Jong pun kesima mendengar pembunuhan yang besar-besaran itu. Diam-diam dalam hatinya mengutuk: "Tok-kay ini benar-benar kejam. hweshio yang sebegitu banyaknya yang tak bersalah telah dibunuhnya, Betul-betul kekejamannya sudah melewati takaran-Tidak ada obatnya untuk orang sekejam ini kecuali dibunuh mati."

Meskipun hatinya gusar bukan main, tapi ia tidak kentarakan diwajahnya. ia terus mendengarkan apa yang dikatakan lebih jauh oleh dua jagoan ulung itu. Ban Siong Tojin meluap-luap amarahnya ia berteriak-teriak kalap.

"Meskipun binatang, pengemis keji. Seumur hidupmu kerjanya hanya membunuh- bunuhi orang saja. Sekujur badanmu sudah jadi bau amisnya darah manusia. Dosamu sudah bertumpuk-tumpuk. Nah, malam ini aku Ban Siong pasti akan mengirim jiwamu ke akherat untuk kau bikin perhitungan dengan korban-korbanmu didepannya Giam-lo-ong." Ban Siong Tojin hampir tak dapat melampiaskan kata-katanya saking marahnya.

Si pengemis tua hanya ganda ketawa nyengir saja, seolah-olah yang mengejek. pada Ban siong Tojin yang sedang kalap. ia seperti mau membikin tosu itu mati berdiri di sebabkan kegusarannya.

Kemudian terdengar ia menyindir. "Hidung kerbau, kau jangan coba-coba mempertaruhkan

jiwamu berlaku nekad. Aku masih ada perkataan untuk disampaikan padamu "

"Pengemis iblis, jangan banyak rewel. Katakanlah"

"Aku ingin mengatakan padamu... "

"Kenapa kau berhenti, teruskan, kau mau mengatakan apa?"

Tok-kay Kang ciong tertawa nyengir. "Hidung kerbau," katanya kemudian- "apa yang aku katakan, aku merasa malu melihat kau pura-pura jadi orang budiman. Kuanjurkan kau jangan lama-lama hidup di dunia ini, lekas kau bunuh diri ada lebih baik, sebab... " Mukanya Ban Siong Tojin berubah menyeramkan- Kalau orang wajahnya merah dalam keadaan marah, adalah si tosu wajahnya menjadi hitam dan menakutkan-

Sebelum ia menegur lawannya. Tok kay Kang ciong sudah meneruskan kata katanya, "...sebab, kalau tidak ada kau yang timbulkan huru-hara menghina dua muridku, mana ada kejadian semua hweshio penghuni kuil ini melayang jiwanya, coba kau pikir saja sendiri."

"Tutup bacotmu, pengemis kejam Kau boleh rasakan senjata " Berbareng ia kerjakan

kebutannya menghajar musuhnya.

Tok-kay Kang ciong angkat tangannya, telapakan tangan kirinya yang merah membara di dorongkan darimana telah menghembus angin dahsyat menangkis serangan musuh.

Tangan kanannya meloloskan bandringan dipinggangnya, itulah ada senjata bandringan istimewa berupa sebuah bola-bola sebesar buah beligo. Setelah siap ia tidak terus menyerang hanya berkata lagi pada lawannya.

"Hidung kerbau, aku mau bertanya dahulu padamu... "

"Kau mau bertanya apa? Hm bertanya kalau sudah mati bangkaimu harus di tanam dimana? Hmm..Jangan kuatir, aku nanti carikan tempat yang baik..."

"Hidung kerbau," Tok-kay memotong, "bukan demikian maksudku. Aku ingin menanya padamu, katanya dalam agama yang kau anut dikatakan ada semacam ilmu untuk menolong roh manusia yang sudah mati yang disebut emas kayu, api, air, tanah dan entah apa lagi."

"Betul, kau mau apa?" bentak Ban Siong Tojin tidak sabaran Tok kay Kang ciong perdengerkan tertawanya yang aneh^

"Hidung kerbau sekarang aku hendak menanya padamu, kalau sebentar kau binasa oleh senjata bandringan itu, rokhmu akan termasuk dalam salah satu yang mana ?" Ban Siong Tojin mendelik matanya.

Sementara Ho Tiong Jong yang mendengarnya sipengemis seperti yang berkelakar dan memancing kegusaran lawannya secara yang lucu sekali, diam-diam telah tertawa geli.

Anak muda itu melihat Ban Siong Tojin wajahnya sudah menjadi hitam legam. layang meyakinkan ilmu hitam, jika sedang mengerahkan tenaga dalamnya membuat sekujur badannya berubah hitam.

Wajahnya benar benar sangat bengis dan menakutkan-

Tok kay Kang ciong dilain pihak wajahnya memerah seperti arang membara, menyiarkan bau amis yang membuat orang yang mengendusnya mual dan mau muntah.

Dua jago dari kelas tinggi berhadapan, tentu saja tidak sembarangan mengukur tenaganya. Mereka tak bertanding rapat, tapi dari jarak jauh. Masing-masing menggunakan tenaga dalamnya.

Mereka menyerang dengan angin telapakan tangannya yang dahsyat. Telapakan tangannya Ban Siong Tojin hitam, sedang Tok-kay merah membara.

Beberapa gebrakan sudah lewat, ternyata masih belum kelihatan siapa yang bakal menjadi pecundangnya .

Kelihatan mereka masing-masing mundur beberapa tindak, lalu mengerahkan tenaga dalamnya yang istimewa dari latihan puluhan tahun-

Tampak diudara ada dua sinar hijau dan merah saling gempur, itulah sinar-sinar yang dikendalikan oleh tenaga dalamnya Ban siong dan Tok-kay.

Dua sinar itu indah sekali, kelihatannya tampaknya seperti yang menari-nari, tapi sebenarnya saling gempur dengan hebat.

Kekuatan Iweekang (tenaga dalam) yang demikian tingginya, jarang sekali terdapat di antara pendekar-pendekar, meskipun yang sudah dapat dikatakan ulung. Ho Tiong Jong berdiri bengong menonton pertempuran yang langka itu.

Diam-diam ia sudah mengambil keuntungan, ialah memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama.

Ia coba asah otaknya untuk dapat memecahkan kelemahannya, dua jago kuat itu, tapi sia-sia saja. Sayang pikirnya kalau ia tahu kelemahannya Tok kay Kang ciong, saat itu ia bisa turun tangan untuk menyingkirkan jiwanya dari dunia ini.

la menghela napas bila ia ingat dirinya masih belum mampu bertanding melawan Ban Siong Tojin yang tinggi ilmu kepandaiannya.

Matanya terus diarahkan pada jalannya pertandingan, ia mengharap dapat memiliki keandalan dari dua orang kuat itu, untuk kelak ia dapat gunakan melawan musuh.

Lama mereka berkutat dengan sikapnya masing-masing kemudian keputusan dicari dengan pertandingan menggunakan senjatanya masing-masing.

Sekarang tampak bandringan lawan kebutan yang dimainkan oleh dua jago kelas wahid, tentu saja pertandingan ini disaksikan oleh Ho Tiong Jong dengan hati terpesona. Diam-diam ia sangat girang sekali, sebab dari pertandingan itu ia bisa menarik pelajaran untuk dirinya yang berkepandaian masih banyak kurang.

Serangan-serangan Tok kay ada lebih lihay, hingga tidak lama kemudian Ban Siong Tojin terdesak. Satu kali ia sedikit lengah, topinya berikut rambut kepalanya kena ke-sabet bandringan Tok- kay.

Bukan saja Ban Siong Tojin sendiri sangat kaget, tapi Ho Tiong Jong yang melihatnya berdebaran hatinya. Pikirnya, ia tidak boleh tinggal diam saja, ia harus turun tangan untuk membantu pada Ban Siong Tojin menyingkirkan si kejam. Tapi ketika ia mau menyeburkan dirinya Tok- kay berteriak. "Bocah, kau mundur. Aku tidak perlu dengan bantuanmu."

Demikian dengan Ban Siong Tojin juga berkata, supaya Ho Tiong Jong mundur jangan turut campur, sebab jiwanya bisa melayang.

Ho Tiong Jong mundur lagi dan berdiri dengan pikiran- Bagaimana sebenarnya pandangan dari kedua orang tua itu terhadap dirinya.

Tengah pertempuran dilakukan dalam detik-detik yang menentukan tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dari atap rumah, kemudian berkata.

"Hei Ban Siong Tojin, kau ini sudah puluhan tahun mengasingkan diri, tapi tabiatmu yang sombong masih seperti dahulu kala saja. Dan ini si pengemis tua Kang ciong, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk apa masih belum mau menyerahkan kepalamu untuk di penggal?"

Tok kay Kang ciong mendengar orang memaki padanya sudah menjadi sangat gusar. Dengan suara bengis ia menjawab.

"Dari mana datangnya manusia liar tidak tahu malu ? Kau berani menghina aku? Lekas turun dan boleh mengerubuti aku seorang diri. Aku tanggung dalam beberapa gebrakan jiwamu akan sudah melayang menghadap Giam- lo-ong." Terdengar orang di atas atap rumah tertawa dingin.

"Hm.." Ia menggeram. "Lohu sudah sampai begini tua, belum tahu ada orang mengatakan " manusia liar", baru kali ini ia mendengarnya."

Tok- kay alih kan pandangannya kearah suara tadi, hatinya tiba-tiba sangat terkejut.

Kiranya yang datang itu ada Pocu dari Seng-kee-po yang namanya terkenal dalam rimba persilatan, ialah Seng Eng.

Lalu Tok-kay melihat pada Ho Tiong Jong anak muda ini tinggal tenang tenang saja. Hatinya Tok-kay memuji ketabahannya, akan tetapi ia tidak tahu kalau Ho Tiong Jong tidak kenal pada orang yang baru datang itu.

"Hei, bocah, lekas kau naik- keatas. Lihat, masih ada beberapa orang lagi yang menyembunyikan dirinya."

Ho Tiong Jong tanpa disuruh untuk kedua kalinya sudah lantas enjot tubuhnya melesat keatas atap rumah. Seng Eng menyaksikan lompatan Ho Tiong Jong yang bagus, diam-diam dalam hatinya menanya, sejak kapan pengemis kejam ita mendapat murid yang begitu pandai ilmu mengentengi tubuhnya?

Ho Tiong Jong sendiri heran, kenapa waktu itu telah menuruti saja perintahnya Tok- kay tadi. Tapi sekarang ia sudah berada di atas rumah, terpaksa ia harus memeriksa keadaan disekelilingnya. Tiba-tiba ia mendapat lihat diluar tembok peka rangan ada berkelebat bayangan orang.

Pikirannya sangsi apakah ia kasih tahu pada Tok-kay atau jangan? Saat itu tiba-tiba terdengar suaranya Seng Eng lagi.

"Hei, pengemis tua, biasanya kau sangat sombong, memandang aku sangat rendah. Nah, sekarang aku datang hendak membuat perhitungan dengan jiwa anjingmu. Tentang penyimpanan harta bendamu yang besar itu, lebih baik kau angkat pemuda itu sebagai akhli warismu? Ha ha ha"

Ho Tiong Jong mendengar kata-kata seng Eng menjadi marah.

Semula ia mengira Seng Eng ada satu pendekar budiman mencari Tok kay untuk membasmi kejahatan- Tidak tahunya bahkan mereka berdua iiu ada setali tiga uang. Dua-dua ada satu kwalitet, apa yang mereka pertengkarkan hanya berkisar pada kejahatan- la jadi ingat akan kata-katanya Kho Kie, bahwa benggolan-benggolan dari Seng kee-po seharusnya digantung mati.

Diam-diam hatinya pemuda itu tidak puas. Apa yang dikatakan oleh Kho Kie itu memang beralasan, setelah ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri sekarang. Seng Eng dan Tok-kay perlu dibasmi." demikian pikirnya. Tiba-tiba terdengar Tok kay berkata.

"Seng Pocu, kau kasih harga terlalu mahal, aku tidak dapat membayarnya... " Ho Tiong Jong makin kaget mendengar Tok kay berkata demikian-la terus pasang telinganya dengan pikiran melamun-

Hatinya merasa cemas jika melihat sepak terjangnya Seng Eng, ayah nona Seng ini.

Nona Seng sudah melepas budi padanya, pantas ia membelanya mati-matian, tapi ia kecewa menemui ayahnya bukannya orang baik-baik. Dugaannya ayahnya nona Seng ada seorang pendekar ternama dan budiman, ternyata kecele.

Terbenam dalam soalnya keluarga Seng Imembuat ia tidak tahu kalau diam-diam ada dua orang mendekati padanya.

Mereka itu ada si Ular Kembang Tham Kek dan si Rajawali Botak le Yong, dua orangnya Seng Eng yang sangat diandalkan.

Mereka heran ketika sudah datang dekat Ho Tiong Jong seolah-olah tak menghiraukan-Tok-kay terlaki Ho Tiong Jong supaya lekas melarikan diri.

Ketika tersadar dari lamunannya, pemuda itu sudah lantas lompat mundur dan hendak melarikan diri, tapi sudah keburu di terkam oleh dua orang dari seta dan memperhatikan gerak-geriknya.

Melihat Ho Tiong Jong di halang halangi.

Tok- kay kembali dari larinya hendak memberikan pertolongan, akan tetapi Seng Eng sudah melancarkan serangan kepadanya. Terpaksa Tok-kay harus melayanijago dari Seng keepo ini.

Hatinya Tok kay gelisah ketika melihat Ho Tiong Jong hendak dicengkeram oleh Ie Yong yang mengeluarkan ilmunya Eng-jiauw-kang.

Suatu cengkeraman yang berbahaya sekali. ia mengerahkan tenaganya dan mengirimkan serangan telapakan tangan yang mengandung angin keras, maksudnya supaya dapat memukul mundur Seng Eng. Sementara itu mulutnya berteriak-teriak supaya Ho Tiong Jong lekas melarikan diri

Ho Tiong Jong ketika sadar dirinya diserbu orang lantas menegasi siapa adanya mereka itu. kiranya ada Si Ular Kumbang dan si Rajawali Botak yang ia kenal ketika di Seng kee-po.

"Hei, dua saudara ini kenapa hendak menangkap aku?" tanyanya heran-

si Rajawali Botak dan si Ular Kumbang menjadi kemekmek melihat yang akan dijadikan mangsanya itu ada Ho Tiong Jong yang mereka tahu betul pemuda itu sudah mati.

Yang tersebut duluan menarik miring cengkeramannya. selain yang tersebut belakangan juga sudah cepat menarik kembali serangannya yang sudah hampir dilancarkan-"Kau... kau... " katanya hampir berbareng. Matanya terbelalak mengawasi Ho Tiong Jong.

Menggunakan kesempatan mereka sedang terbelalak bengong. Ho Tiong Jong sudah lari meninggalkan mereka.

Seng Eng melihat ia sendiri telah gagal menangkap Tok kay, sedang dua orangnya juga tidak berhasil menangkap lawannya, sudah menjadi marah-marah kepada dua orangnya.

" Kalian namanya saja jagoan, tapi menyerang saja pada pemuda itu tidak berani. Apa kegunaannya kalian? Hmm ... "

"Aaa Pocu nanti dahulu, aku mau beri laporan- orang itu aku kenal bernama Ho Tiong jong " demikian ie Yong memberitahukan kepada majikannya.

"Kau kenal padanya, tapi kenapa kau tidak berani melancarkan serangan?"

"Pocu orang itu sudah mati. Aku melihat dengan mata kepala sendiri."

Seng Eng mendelik matanya. "Kau lihat dimana ?" tanyanya^

"Di Seng-kee-po."

"Hm " menggeram Seng Eng. "Jadi kalian mengira telah melihat setan, bukan?"

Tham Kek dan Ie Yong saling pandang satu sama lain, batinya mereka risau sekali, sebab mereka tahu adatnya sang Pocu yang kejam, dalam marahnya ia bisa membunuh mati kepada mereka berdua.

Dalam keadaan demikian tiba-tiba ie Yong ingat sesuatu, ia lantas berkata.

"Ya, Pocu, aku terus terang bicara pada Pocu, bahwa kematiannya orang itu ada bersangkutan dengan nona Seng. Diwaktu magrib nona Seng menyuruh aku menguburkan orang itu. Tapi lantaran peti mati belum sedia maka mayatnya lantas ditaruh dahulu di kuil Po-im-yan- Menurut pemeriksaanku, memang orang itu sudah mati..."

"Ya, sudahlah." memotong sang majikan- Seng Eng hatinya mendadak lunak, ketika mendengar disebutnya sang putri yang amat dimanjakan itu ada tersangkut. "Tapi apakah betul orang itu ada orang yang kau katakan sudah mati? Karena orang ada yang pengawakan dan wajahnya serupa, kau jangan salah lihat. Sekarang begini saja, kau pulang dan lihat di kuil Po im-yan masih ada atau tidak? Kalau ia masih kedapatan disana melintang, awas, aku akan cabut nyawamu"

Ie Yong danTham Kek menjadi melongo Badannya bergemetaran dan keringat dingin keluar membasahi tubuhnya.

setelah berkata pada mereka Seng Eng berpaling pada Ban Siong Tojin, berkata.

"Hmm... Sifatmu ini selalu tak dapat dirubah, sayang aku tidak membawa Pek Boe Taysu kalau tidak. mereka mana dapat meloloskan diri dari tangan kita? Tapi tidak apa, ada satu waktu mereka akan terjatuh juga ditangan kita."

"Aku sebenarnya merasa cemas sekali." memotong Ban Siong Tojin, "Aku sudah beberapa tahun melatih Tenaga cerdasnya Burung", Supaya dapat melawan ilmu Telapakan Tangan Berdarah musuh, tapi... "

Ban Siong Tojin tidak meneruskan perkataannya, karena diselak oleh tertawanya Seng Eng yang bergelak-gelak.

"llmu Telapakan tangan berdarah" orang itu dilatih sampai sekarang, entah sudah menelan berapa banyak jiwa. Kau mana dapat menandinginya. Nah, sekarang lebih baik kita pulang dahulu Besok pagi, kau yang menjadi Taysu di luitay." Mereka berempat lalu meninggalkan tempat itu.

Ketika mereka berjalan sampai ditempat Ho Tiong Jong membereskanjiwanya "Sepasang orang ganas" ada orang melaporkan tentang ditanamnya dua mayat disitu. Mereka ketarik hatinya, lantas kuburan "Sepasang orang ganas" dibongkar, kiranya dua orang itu ada dua penjahat ulung.

Tanda-tanda bekas pukulan menunjukan kematian mereka terkena pukulannya ilmu Kim ci Gin ciang, ilmu istimewa San-yu Lo-long Kong Teng Shoe.

Mereka kemudian pergi ke kuil Po-im-yan, disitu tidak kedapatan mayatnya Ho Tiong Jong, dari sini kenyataan bahwa Ho Tiong Jong sudah melarikan diri. Si Raja wali Botak Ie Yong menduga-duga akan duduknya perkara.

Ho Tiong Jong mungkin ada permusuhan dengan "Sepasang orang ganas" mereka telah berjumpa bertempur dengan kesudahan yang tersebut belakangan menemui ajalnya, melihat lukanya si Raksasa lu Goei, juga tentu ada perbuatannya Ho Tiong Jong yang menggunakan ilmu. Pasir Terbang telah melukai matanya, hingga sekarang orang punya mata menjadi tinggal satu.

Mungkin, karena ketakutan banyak golongan partai marah kepadanya, karena perbuatannya itu, maka ia sudah pura-pura mati dan kemudian melarikan diri.

Demikian pikiran ie Yong yang diberitahukan kepada sang majikan, tapi ia tidak menerangkan halnya nona Seng punya perlakuan terhadap Ho Tiong Jong bertempur dengan sepasang orang ganas karena hendak membelai nona Seng.

Walaupun demikian, Seng Eng sebagai ayah yang menyintai anaknya tentu sudah dapat mengetahui dan memahami hatinya sang puteri.

Meskipun dalam kata kata. "Mengadu silat mengumpulkan sahabat ada tersembunyi maksud tertentu, tapi biar bagaimana tujuannya pertemuan itu adalah untuk memilih pemuda yang dirasa cocok untuk dijadikan mantunya pemimpin dari benteng Seng kee po.

Riwayat dan kepandaian Ho Tiong Jong meskipun wajahnya cakap dan pengawakannya tak tercela, tidak setimpal untuk menjadi kawan seumur hidupnya nona Seng. Kini Ho Tiong Jong sudah melarikan diri, memang itu ada baiknya.

Memikir sampai disini. ie Yong merasa sungkan untuk membocorkan rahasianya nona Seng kepada majikannya, sebab ini kalau diketahui dalam kalangan kangouw ada tidak baik. juga tentang dirinya yang takut dengan setan tentu akan menjadi buah tertawaan di kalangan kangouw manakala diketahuinya.

Kalau sampai begitu, dimana ia akan menaruh mukanya lagi? Mengingat akan hal ini, maka dengan ketawa nyengir ia berkata pada majikannya.

"Ya Pocu. aku harap halnya kami takut dengan setan sukalah tidak disiarkan terlebih jauh, untuk mana kami mengucapkan banyak banyak terima kasih."

Seng Eng kerutkan alisnya sejenak. kemudian menjawab. "Hm Kau masih ada muka untuk minta dilindungi hal demikian ?"

Pocu dari benteng Seng-kee-po tampak marah betul.

"Nah, sekarang begini saja. Diantara kalian berdua siapa yang berani mengejar dia." Si Ular Kumbang Tham Kek susah hatinya, dari setadian ia tundukkan kepalanya. Mendengar perkataannya sang majikan, ia lalu angkat kepalanya dan berkata.

"Pocu, biarlah aku menebus dosaku, akan kucari dia dimana tempatnya. Begitu Pocu memberi izin aku akan segera mencarinya." Seng Pocu hatinya girang, parasnya berubah lunak lagi.

"Ya, karena kalian sudah mengaku kesalahannya," kata Seng Eng. "aku juga tidak mau mengungkat-ungkat lagi urusan ini. Nah Ban Siong Totiang, lihatlah mukaku harap kau juga bisa menyimpan rahasia urusan ini." Ban Siong Tojin tertawa terbahak bahak. ■ V| HI

"Jangan kuatir," katanya, "aku akan tepati pesan ini. Mana aku berani tidak menyetujui sebab kalau kebentrok dengan mereka berdua mana bisa aku mengasingkan diri d angan hati tentram...

"Sudahlah," Seng Eng memotong, "Kau jangan banyak bicara, sekarang lekas lekas mengatur orang yang boleh dipercaya untuk menyelidiki sekitar tempat seratus li luasnya. "Kalau perlu, boleh juga menyuruh bajingan bajingan ditempat ini untuk bantu menyelidikinya. Harus menggunakan akal untuk menghadapmya dan boleh bertempur sesuka hati kalian mengerti."

Berempat lalu berpisahan, masing-masing hendak mengatur tugasnya.