-->

Golok Sakti Bab 04 : Orang aneh dalam tanah

Bab 04 : Orang aneh dalam tanah

"BAGAIMANA, apa kau masih menyesalkan aku? tanya cong ie bergurau. Ho Tiong Jong bersenyum girang tidak menjawab. Sebagai gantinya ia menggeleng-gelengkan kepalanya .

"Hm... orang bisu ... " menggrendeng si nona, sambil naik pula kudanya.

Selendang cong ie tadi tidak dikembalikan kepada pemiliknya, tapi disesapkan dalam kantongnya Ho Tiong Jong.

Kali ini dalam perjalanan pulang, mereka tidak melarikan kudanya berlomba, tapi jalankan kudanya berendeng sambil pasang omong.

Sambil menikmati pemandangan alam yang indah mereka kelihatan gembira sekali. Setelah sejenak mereka berhenti bercakap-cakap. cong Ie berkata. "Engko Ho, bagaimana pendapatmu hal dirinya itu dua saudara oet-ti?"

"Entahlah."

"Aku benci sekali padanya, Mereka sangat jahat, kalau suheng tidak melarang supaya aku jangan bikin onar ditempat ini, sudah sejak siang-siang aku ganyang dua manusia sombong itu." "Ow, galak betul kau nona cong"

"Bukannya galak. memang tabiatku membenci orang yang sombong. Mereka kira kepandaiannya sudah tak ada taranya makanya sikap angkuh dan menyebaikan itu," Ho Tiong Jong tidak memberikan pendapatnya.

Tampak ia hanya angguk anggukkan kepala, seolah-olah ia juga merasa setuju dengan pikiran sang kawan yang merasa sebal dengan sikap oet ti bersaudara.

Sementara Ho Tiong Jong dan cong ie dalam gembira menjalankan kudanya kembali ke tempat penginapannya, di lain pihak oet-ti bersaudara telah bersepakatan untuk membunuh mereka.

Melihat cek-bin Thian ong Him Toa Ki berada diatas puncak gunung ditemani oleh si Tangan Telengas Song Boe Ki, maka dua saudara oet-ti telah mengambil keputusan untuk menyingkirkan jiwanya cong ie dan Ho Tiong Jong berdua. Mayatnya akan dilemparkan kedalam jurang, supaya Him Toa Ki nanti menyangka kalau dua orang itu telah binasa dalam suatu kecelakaan-

Demikianlah, mereka telah mencegat jalan pulangnya dua korbannya.

Tempat dimana dua orang itu sedang lewat ada jalanan sempit dan pada kedua belah tepinya berjurang dalam sekali.

oet ti bersaudara mengintai mereka dibalikpohon dengan pikiran mengiri dan cemburu melihat kemesraan mereka bercakap-cakap.

Ketika dua calon korban itu datang mendekati mereka. oet-ti Koen berkata perlahan pada engkonya.

"Jiko, mari kita dorong saja mereka masuk kedalam jurang, bagaimana pikiran Jiko? ini adalah kesempatan baik untuk kita melampiaskan dendam."

"Itu juga baik." jawab oet ti Kang sambil anggukan kepalanya.

Berdua lantas melihat kesekitarnya, untuk dapat kepastian apakah benar sudah tidak ada orang yang lihat pekerjaan mereka sebentar? Tapi apakah kagetnya mereka ketika menampakkan dirinya di puncak gunung ada Him Toa Ki dan Song Boe Ki yang tengah memandang kebawah dimana Ho Tiong Jong dan cong ie sedang jalankan kudanya.

Him Toa Ki ada jago kawakan dari oei-san-pay, ia dibuat jerih juga oleh oet-ti bersaudara maupun suhengnya si Tangan Telengas Song Boe Ki, tidak heran kalau oet-ti- Koen saat itu menjadi cemas sendirinya.

"celaka, ada dia di atas yang melihat. Sukar untuk kita bekerja menurut rencana kita. Dasar mereka masih bernasib baik" demikian kata oet-ti Koen sambil menghela napas menyesal

oet-ti Kang hanya anggukkan kepalanya ia juga tidak berkata.

Song Boe Ki ketika dengan Him Toa Ki berada dikaki gunung, masing-masing telah turun dari kudanya. Setelah melihat-lihat pemandangan disitu, tiba tiba Song Boe Ki berkata.

"Saudara Him, bagaimana kalau kita naik ke puncak gunung tanpa naik kuda".

Him Toa Ki mengerti maksudnya Song Boe Kie hendak mencoba kepandaiannya, maka ia anggukkan kepala dan menjawab. "Baiklah, sembari kita lihat- lihat pemandangan-"

Song Boe Ki girang mendengar kesanggupan itu, sebab memang sebenarnya ia ingin menjajal kepandaiannya jago dari oei-san-pay itu.

Ketika mereka sampai ditengah-tengah gunung, tampak song Boe Ki kalah napas oleh Him Toa Ki, sebab kalau si orang she Him masih tenang-tenang saja adalah sebaliknya dengan si tangan Telengas, napasnya sudah sedikit memburu. Hal mana bukannya tidak dapat dilihat oleh Him Toa Ki, tapi karena hendak menutup orang punya malu, maka jago dari oei san-pay itu telah jalan bersama-sama saja.

Him Toa Ki dari jarak tiga puluh tombak telah melihat kebawah cong ie dan Ho Tlong Jong berkuda dijalanan yang berbahaya, maka ia minta Song Boe Ki suka bersama sama turun gunung untuk menyongsong cong ie dan Ho Tiong Jong. oet-ti bersaudara juga sudah muncul dari tempat persembunyiannya.

Mereka berenam lalu berjalan pulang. Kalau yang lain-lainnya pulang dengan hati senang karena selamat, adalah oet-ti bersaudara merasa kecewa dengan akal jahatnya telah gagal. Tapi diam-diam mereka masih punya pengharapan, lain kali dapat menganiaya Ho Tiong Jong dan cong ie.

Sebelum mereka sampai dibenteng Seng-kee-po ditengah jalan berpapasan dengan Li-lo sat ie Ya. Semua tidak menaruh perhatian pada wanita galak itu, hanya Ho Tiong Jong yang terkejut diam-diam ia mengawasi ie Ya dalam hati menanya, kedatangannya itu apa maksudnya?"

ie Ya setelah melemparkan senyuman kepada Ho Tiong Tong, lantas menghampiri cong ie dan berkata padanya.

"Barusan aku mendapat kabar si Raksasa in Goei sudah datang ke benteng. Tapi kau jangan takut, dia datang dengan pendekar kawakan Kong-thong Sian-im Hoei Tok Tojin-Mereka berdua telah pergi, maka entah sekarang bagaimana keadaan mereka."

cong ie berubah mukanya mendengar bicaranya ie Ya.

"Ya, In Goei pada lima tahun berselang pernah diusir oleh ayahku, dia tentu sampai sekarang ada menendam sakit hati." Ho Tiong Jong merasa heran-

Sambil tertawa, ie Ya berkata padanya. "Ya, dua partay itu ada merupakan dua musuh besar dari dahulu, maka dendaman sakit hati tak habis-habisnya." Mereka beromong-omong sambil berjalan menuju ketempat penginapan masing masing.

Ho Tiong Jong ketika sampai, segera disambut oleh pelayan yang mengantarkan kekamarnya dilain bagian, bukan dikamarnya yang semula.

Menurut keterangan pelayan, katanya ditempat itu khusus untuk para pendekar ulung yang dapat langsung berhubungan dengan Seng- Lo-pocu (kepala benteng).

Kamar kamar disitu dipecah dua baris yang sebelah kiri untuk pria mendapat pelayan-pelayan pria juga sedang sebelah kanannya untuk kaum wanita yang dilayani oleh pelayan wanita. Tampak keadaan disitu rapi dan resik sekali hingga menyenangkan yang menempatinya .

Ho Tiong Jong terbelalak matanya, ketika ia memasuki kamarnya. Perabotan disitu di- hias rapih dan indah, disekitarnya kamar penuh dengan pemandangan yang menarik hati.

Diam-diam Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri. "Apakah orang tidak keliru menanggap tentang diriku ? Aku bukannya pendekar ulung, akan tetapi mendapat tempat yang istimewa begini, betul-betul aku tidak habis mengerti".

Selagi ingatannya melayang-layang, pelayan yang mengantarnya tiba-tiba berkata.

"Ho Siang kong tentu belum tahu, dalam rumah ini mempunyai empat ratus kamar. Dalam bagian kamar-kamar disini masih belum ada yang datang, maka Ho Siang kong harus tinggal sendirian dahulu. Hari keramaian yang ditentukan masih ada tujuh hari lagi, untuk beberapa hari ini pasti Ho Siangkong akan merasa kesepian tinggal sendirian- Siangkong kalau ada keperluan apa-apa, panggil saja pelayan, ia pasti datang untuk melayani Siangkong. Tentang makan, sesuka siangkong mau dimana, dibawa kekamar juga boleh atau mau makan bersama sama teman juga tidak halangan- Pelayan akan menyediakannya. Sebentar malam, Pocu akan memperkenankan semua tetamunya yang sudah datang."

"Terima kasih," jawab Ho Tiong Jong bersenyum, "aku sekarang belum mempunyai teman, maka kalau tidak keberatan aku lebih suka kalau makanan untukku dibawa kekamarku saja"

"Baiklah" kata si pelayan- sambil anggukkan kepalanya lalu keluar dari situ.

Setelah sang pelayan berlalu, Ho Tiong Jong otaknya bekerja. ia memikirkan diam ditempat itu harus berlaku sopan santun, pakaian juga harus pantas enak dilihat orang. Ia bisa berlaku sopan santun, tapi bagaimana dengan pakaiannya? Diam-diam ia merasa tidak enak sendirinya.

Selagi pikirannya bekerja sambil jalan mundar mandir dikamarnya, ia kaget ketika pintu kamar dibuka. Kiranya pelayan tanggung kira kira umurnya sepuluh tahun masuk kedalam. Dengan hormat ia berkata.

"Aku bernama Keng Jie. sengaja datang pada Siang kong untuk menanyakan, apakah Sian kong tidak ingatan untuk membersihkan badan seulah menempuh perjalanan demikian jauh?"

Ho Tiong Jong melengak. la tidak mengira datang-datang pelayan cilik ini mengajukan pertanyaannya yang tepat sekali. Apakah dia tahu bahwa aku telah melakukan perjalanan jauh? Kalau tidak siapakah yang memberi tahukan padanya?" Demikian Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri.

Kemana ia ingin mandi, tapi bagaimana dengan tukarannya? Apa ia harus pakai pakaiannya lagi yang buruk itu?

Setelah ia menjawab. Keng Jie sudah membuka lagi mulutnya berkata.

"Ho Siang kong, mari ikut aku, Akan ku antarkan kau ketempat mandi, setelah mandi aku tanggung kau akan merasa segar... " ia bersenyum.

Kembali Ho Tiong Jong dibikin heran- Baru saja ia ketemu dengan pelayan cilik ini, tapi ia sudah dapat bergurau seperti yang sudah lama kenal. Heran pikirnya. Tapi bagaimana juga memang ingin mandi maka ia lantas menjawab. "Baiklah mari antarkan aku ke tempat mandi." Keng Jie cepatjalan di muka, diikuti oleh Ho Tiong Jong.

Tidak berapa lama mereka berjalan, sampailah pada sebuah kolam yang dikitari oleh pepohonan yang rindang daunnya. Sejuk sekali keadaan disitu, airnya juga bening sekali, ketika Ho Tiong Jong melongok kedalam kolam.

Keng Jie yang menghentikan tindakannya sambil menunjuk kekolam tadi ia berkata. "Nah inilah tempat untuk Siangkong membersihkan badan-"

Ho Tiong Jong memang senang sekali kalau bisa mandi dalam kolam yang jernih airnya itu, maka dengan tidak menjawab lagi ia sudah membukai pakaiannya dan dengan hanya celana pendek. ia nyebur kedalam kolam, berenang kesana sini dengan gembira sekali, entah berapa lama merendam dirinya ketika matanya mengawasi kepinggiran, tidak tertampak Keng Jie untuk menantikan ia. Ia lalu berenang kepinggiran, lalu naik dan hendak mengambil bajunya. Tapi alangkah herannya ia sebab pakaiannya yang sudah Compang camping tidak ada pula ditempatnya, sebagai gantinya ada setumpukkan pakaian baru.

Setelah tertegun sebentaran ia lain mendekati pakaian tadi. Diatasnya ada sepotong surat yang berbunyi singkat saja. "Jangan sungkan, pakailah tukaran ini." Tidak ada tanda tangan siapa yang mengirimnya, tapi tulisan indah sekali.

la ingin tahu menanyakan pada Keng Jie, akan tetapi pelayan cilik itu sudah tidak kelihatan mata hidungnya. Entah kemana ia sudah pergi? Dengan apa boleh buat Ho Tiong Jong pakai pakaian sumbangan orang itu. Ternyata pakaiannya itu pas benar dengan perawakannya, warnanya putih terang. Anak muda itu dalam pakaian ini tampak menonjol parasnya yang cakap tampan-

Sambil berjalan Ho Tiong Jong memikirkan, siapa gerangannya yang telah menaruh perhatian padanya demikian besar? Bagaimana juga ia mengerjakan otaknya untuk menduga-duga, ia tidak dapat menebaknya.

Ia jalan terus, melewati sebuah kolam bunga teratai. Disini ia jalan mundar-mandir sambil menggendong tangan- Tiba-tiba pada suatu tempat tidak jauh dari kolam ia melihat ada tanah mumbul seperti terdorong dari sebelah dalam.

Matanya terus mengawasi pada tanah yang mumbul itu. kemudian terlihat satu kepala manusia yang lancip nongol disusul dengan badannya keluar dari tanah.

"Apakah ia setan yang muncul disiang hari?" ia menanya dirinya sendiri.

Meskipun menduga adanya setan- Ho Tiong Jong tidak takut. Ia terus mengawasi apa yang orang itu akan lakukan lebih jauh.

orang itu berpakaian hitam, tangannya besar dengan kuku-kukunya yang meruncing berkilat, hidungnya mancung, matanya sipit dan bibir tebal. Matanya yang sipit di-pelototkan kearah Ho Tiong Jong, sambil perlihatkan giginya yaug besar. Sungguh menyeramkan bagi orang penakut yang melihatnya . Ho Tiong Jong tetap berdiri tidak bergerak mengawasi orang itu.

Setelah meloloskan pakaiannya yang serba hitam tadi, tampak dimasukkan kedalam sebuah kantong. Kemudian ia merapihkan lagi tanah yang barusan terbongkar gara-garanya ia keluar dari tanah, hingga rapih kembali seperti asal mulutnya.

Ho Tiong Jong terus mengikuti segala gerak-geriknya, ia masih terus menduga bahwa orang itu tentu ada satu jejadian penunggu disitu.

orang itu setelah kembali mengawasipada Ho Tiong Jong tiba-tiba telah tertawa terbahak-bahak.

"Hei, lote, kau mengawasi saja kepadaku tentu kau merasa heran barusan aku keluar dari tanah bukan? Kau jangan takut, sebab aku bukannya setan atau siluman- coba kau datang kemari untuk kita bersenda gurau... ha ha ha "

Ho Tiong Jong mendengar suaranya orang itu, ia mendapat kepastian bahwa ia bukannya setan yang ia duga tadi. Hatinya mulai tegar, maka ia lantas menjawab. "Betul, aku kira tadinya kau ada setan yang menggasir tanah."

Kembali orang itu ketawa girang. "Laote, kau kemarilah. Aku ada punya rahasia yang akan kuceritakan padamu, amat penting, sukakah kau mendengarnya ?" Ho Tiong Jong bersenyum tidak menjawab.

Kembali orang itu tertawa tergelak- gelak sambil menunjukkan giginya yang besar. "Kalau begitu, biarlah aku yang datang padamu"

Perkataannya belum lampias, orangnya sudah melesat menghampiri dan sebentar saja sudah berada di hadapannya Ho Tiong Jong.

"Laote, aku mau tuturkan suatu rahasia padamu," kata orang ini, "apakah kau suka mendengarnya? "

Kali ini Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.

Diam-diam Ho Tiong Jong merasa suka dengan gerak-gerik dan segala ucapannya orang aneh itu, yang lucu jenaka.

"Toako, kau hendak cerita rahasia urusan apa?" tanyanya sambil tertawa.

"Sekarang kau hendak membuka rahasia itu dibelakang mu ada banyak orang yang mengawasi kau, kau percaya tidak?" jawab siorang aneh.

Ho Tiong Jong cepat berpaling kebelakang nya, benar saja ada beberapa orang yang mengawasi kepadanya sambil pada bersandaran ditiang jalanan-

Ho Tiong Jong menghadapi lagi si orang aneh katanya. "Mereka kira barangkali kita Sedang main sandiwara."

orang itu ketawa lagi. Tidak diduga orang itu ketawanya murah sekali. saban-saban ketawa, membikin Ho Tiong Jong mau atau tidak terpaksa ikut-ikutan-

"Nah, disini kau lihat." kata orang aneh itu sambil menunjukpada dua pemuda yang edang kasak-kusuk bicara, "Mereka ada pemuda sombong dari Go bie-pay, saban hari jalan ambil menyoren pedang dengan muka angkuh. Aku sebel melihatnya, mereka namakan dirinya ebagai "im- yang Siang-kiam", tunggu aku kasih mereka rasa."

Ia berkata sambil memunggut sebuah batu sebesar kepalan-

Sambil mengangkat tangannya ia kemak-kemik mendoa.

"Atas nama langit dan bumi, semoga batu ini mengenakan tepat kepada dua orang sombong

itu"

Ho Tiong Jong melihatnya jadi terkejut. Sambil lompat ia mencegah. "Toako, kau mau berbuat

apa ?"

"Aku mau kasih dua orang ini rasai batu ini" jawabnya sambil nyengir

"Ah, tidak baik berbuat begitu. Tidak baik mencari setori, nah, sekarang kau harus perkenalkan namamu kalau kau mau mengikat persahabatan aku." orang itu ketawa bergelak-gelak. Sambil tepok-tepok kepalanya sendiri berkata.

"Aku ini memang peluapaan- Maksudku menghampiri padamu adalah hendak berkenalan, tapi barusan timbul marahku pada dua orang jumawa itu. maka aku jadi lupa. Harap laote suka maafkan-" ia sambil menjura memberi hormat. Ho Tiong Jong menyambuti hormatnya orang sambil bersenyum geli.

Batu yang hendak ditimpuki tadi, telah dimasuki kedalam kantong bajunya yang besar pada saat ia hendak memberi hormat pada Ho Tiong Jong.

"Laote, sebenarnya kau she apa dan nama mu yang terhormat?" tanyanya Jenaka.

"Aku she Ho namaku Tiong Jong. Dan toako ?" Ho Tiong Jong balik menanya.

" Laote bicara terus terang, aku sebenarnya barusan didalam tanah telah melihat kau merasa suka dan ingin bersahabat dengan kau, makanaaku sudah nerobos keluar untuk berjumpah muka."

"Hei, bagaimana didalam tanah dapat melihat aku?" menyelak Ho Tiong Jong heran. orang itu tertawa tergelak-gelak.

"Laote, memang juga kau akan merasa heran kalau aku belum bercerita tentang diriku, Aku senang padamu, ingin bersahabat, maka aku akan menceritakan padamu."

"Toako kau masih belum menjawab pertanyaanku."

"Pertanyaan apa?"

"Namamu yang terhormat" jawab Ho Tiong Jong sambil bersenyum. "ow.. namaku Mudah saja. Aku bernama Kho Kie, suhuku yang menamai aku begitu, Kie, artinya buang, jadi aku ini anak buang-buangan- Ha ha ha ha... " "Dan Kho, apa artinya?" tanya Ho Tiong Jong berlaga pilon.

"Ah, masa laote tidak tahu. Kho, artinya tinggi, artinya inilah yang menjadikan aku tidak habisnya menyesal, karena aku bukan nya orang tinggi. Aku pikir hendak merubah namaku, supaya lebih enak kedengarannya."

Semakin lama Ho Tiong Jong semakin ketarik oleh Kho Kie yang Jenaka dan menggelikan hati segala gerak-gerik dan perkataannya.

"Kho toako, aku pikir buat apa kau ganti namamu, sebab itu sudah baik,." Kho Kie ketawa nyengir.

"Khotoa-ko, sekarang baik kau ceritakan padaku bagaimana kau dapat belajar ilmu masuk kedalam tanah. Kepandaianmu itu betul-betul membikin aku tidak mengerti," demikian kata Ho Tiong Jong pula sambil tertawa.

Kho Kie kelihatannya bangga ilmunya itu dikagumi sianak muda. la beraksi lucu sekali sebelumnya ia menuturkan kisahnya.

"Ya," ia kata, "sebenarnya ilmuku ini sangat dirahasiakan, tidak boleh sembarangan diberitahukan kepada orang lain- Tapi tidak apa aku ceritakan sedikit saja cara bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu itu." Ho Tiong Jong angguk-anggukkan kepalanya.

"Bagus, bagus ceritakanlah apa yang boleh diceritakan," katanya tertawa.

"Ilmu itu dinamai Tun-te-sut (ilmu masuk tanah) yang aku yakinkan dengan susah payah baru berhasil. Aku harus melatih kepalaku supaya jadi keras, dibantu oleh alat yang merupakan topi lancip dari baja murni.

Bermula aku meyakinkan beberapa kali merasa pening kepalaku, tetapi pelahan-lahan dengan pengunjukan guruku yang telaten dapat juga mempelajarinya ilmu itu. Setelah aku dapat masuk ketanah, sering sering aku tidur dalam tanah, hingga guruku bukannya jarang telah kehilangan diriku: ha ha ha." ia tertawa tergelak-gelak.

Tingkah lakunya Kho Kie yang lucu dan agaknya berhati polos, membuat Ho Tiong Jong semakin lama semakin menaruh perhatian dan suka kepadanya.

Ia sebenarnya tidak percaya ada orang bisa masuk kedalam tanah, akan tetapi mau atau tidak ia harus percaya sebab ia sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mereka bercakap-cakap sambil duduk didepannya jendela kamar.

Kelihatannya dua orang itu akur sekali, seperti juga kenalan lama. Tiap pembicaraan ditutup dengan suara ketawa, malah terkadang Ho Tiong Jong ketawa nya keterlepasan hingga merasa jengah sendirinya karena disitu ia seberapa bisa harus membawa dirinya berlaku sopan santun-

"Laote" Kho Kie berkata lagi, setelah berhenti ketawa. "tempat disini sangat adem, aku akan pindah disini saja menemani laote, bagaimana?"

"Dengan senang hati." jawab Ho Tiong Jong ketawa.

Kho Kie lalu minta pelayan ambilkan barang-barangnya untuk ia pindah kesitu. Kemudian ia berkata lagi pada Ho Tiong Jong.

"Laote, ketika aku berpisahan dengan suhuku beliau telah berkata padaku, bahwa aku ini sangat nakal. Kalau masih dibawah perlindungannya ada selamat, tapi kalau tidak dalam perlindungannya lagi aku bisa menemui bahaya karena perbuatanku yang nakal dan ugal-ugalan-"

"Ah kalau memang kita tidak mencari onar lebih dahulu, jangan kuatir kita dapat bahaya. Sebab orang boleh tidak begitu gila akan memusuhi kita tanpa alasan, bukan?" menyelak Ho Tiong Jong.

"Suhuku bilang lebih jauh," ia meneruskan sambil ketawa nyengir, "kalau aku diserang dari depan aku dapat melawannya, tapi kalau musuh menyerang membokong cilaka tiga belas aku tidak berdaya. Maka beliau pesan wanti-wanti s upaya aku jangan nakal dalam perantauan-"

"Siapa nama suhu toako?" tanya Ho Tiong Jong.

"Suhuku Kong Tong Shu alias Sin- yu Lokong. orang di seng-keepo tidak tahu aku ini ada muridnya karena suhu memesan aku jangan menyebut nama-namanya. Aku sembarangan saja mengatakan muridnya It Im Lo ni, ha ha ha... "

"Eh, toako, siapa itu It Im Lo-ni?"

"It Im Lo ni dari kuil cauw Im Yan di Bu tong-san, musuhnya suhuku, ha ha ha... " ia tertawa geli sekali kelihatannya.

Ho Tiong Jong sebaliknya menjadi heran, bagaimana Kho Kie dapat menyebutkan muridnya It Im Lo-ni?

"Tapi, toako," ia berkata nyaring, melihat Kho Kie terus-terusan ketawa. "Orang tentu heran, kenapa It Im Lo ni memungut kau sebagai muridnya? Mau juga ia pungut murid perempuan sebagai nikouw dikuilnya."

"Laote, kau memang benar," jawabnya.

sambil menyusut matanya yang mengeluarkan air saking enaknya tadi ia ketawa. "Ada eorang kuasa disini yang menanyakan begitu kepadaku. Aku sudah kibuli padanya, bahwa Lo-ni itu telah mengingkari janjinya dan telah menerima aku sebagai muridnya. orang itu tidak percaya dan suruh aku mengunjukkan beberapa jurus ilmu silatnya Lo-ni itu dihadapannya."

"Habis, bagaimana?" menyelak Ho Tiong Jong tidak sabaran-

"Aku telah unjukkan ilmu itu untuk membikin yang menanya puas hatinya. Aku tahu Lo-ni itu

senjatanya kebutan yang dinamai Kim-soa Giok-peng in Tipu ilmu silatnya "Lian-hoa-tjat" yang

sangat terkenal. Aku sudah coba unjukkan itu, sekali aku bergerak orang yang tidak percaya tadi

telah dibikin terpelanting, maka ia baru percaya aku ada muridnya si nikow tua, ha ha ha "

Ho Tiong Jong juga ikut ketawa, diam-diam berpikir. "Betul-betul kau nakal, tidak heran kalau gurumu memesan wanti-wanti Supaya jangan nakal diluaran. Apakah orang yang begini lucu jenaka akan menghadapi bahaya? Ah. sungguh sayang sekali... "

"Siapa orang yang kau sengkelit itu toako ?" Tanya Ho Tiong Jong

"Setelah aku berjalan dalam benteng seng kee-po ini baru saja, kalau dia itu ada si "Ular Kumbang" yang menjadi pengurus nomor dua dalam benteng ini. Aku tidak takut sama segala ular, maka juga aku masih hidup sampai sekarang, ha ha ha... "

Kali ini ia ketawa keterlepasan, hingga ia dengan kursinya telah terjungkel kebelakang dan membentur kaca jendela, hingga mengeluarkan suara "prang" yang nyaring sekali.

Kaca jendela telah menjadi pecah karenanya.

Ketika ditarik mundur, ternyata Kho Ke telah menindih seorang pelayan yang saat napasnya empas empis karena keberatan kena tertindih barang berat. Pelayan itu justru bukannya lain dari pada Keng Jie.

Setelah kaca jendela yang pecah ditutup dengan kertas, Ho Tiong Jong dan Kho Kie meneruskan kongkonya (bercakap-cakapan ) kali ini mereka masing-masing mengisahkan riwayat dirinya. Diam diem Ho Tiong Jong menyesalkan dirinya yang tidak bersekolah dan berkepandaian-

Dibandingkan dengan Kho Kie jauh benar pengetahuan surat dan ilmu silatnya. Ia malu bergaul dengan Kho Kie yang jauh lebih pintar, akan tetapi Kho Kie sebaliknya merasa suka dan senang bergaul dengan anak muda itu yang dianggapnya ada orang baik-baik dan tidak sombong.

Kho Kie yang ramah tamah dan polos terus mengajak Ho Tiong Jong bergurau, hingga perasaan malunya si anak muda menjadi lumer sendirinya. Selanjutnya mereka pasang omong dengan amat gembira sekali.

Selagi mereka sibuk dengan ceritanya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki mendatangi. Ketika itu Kho Kie sudah siap hendak masuk kedalam tanah, tapi dilihatnya yang datang terayata adalah si Ular Kumbang. Sebentar saja mereka sudah hadapan, Ho Tiong Jong sambil menjura telah memohon maaf untuk kaca yang tadi pecah itu karena tidak disengaja.

"oh itu perkara kecil, jangan dibuat pikiran- "jawab si Ular Kumbang sambil tertawa.

Ho Tiong Jong merasa lega hatinya.

"Kedatanganku adalah hendak memberitahukan kalian," kata pula si Ular Kumbang, "tentang perjamuan menyambut tetamu, besok semua tetamu akan diperkenalkan satu persatu dalam perjamuan itu, yalah supaya tetamu satu dengan lain mengenali terlebih dahulu." Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya, sedang Kho Kie hanya ketawa saja.

Tengah mereka bertiga bercakap-cakap. terdengar suaranya kaki wanita mendatangi. Ketika mereka menegasi kiranya yang datang ada si nona in, pelayannya nona Seng putri kepala benteng dari Seng-kee-po.

Si Ular Kumbang telah menjura dengan hormat kepada nona pelayan itu, sebelumnya ia membuka suara terdengar nona ln berkata secara bergurau, setelah sejenak mengawasi kepada jendela yang pecah kacanya. Ho Tiong Jong dan Kho Kie.

"Hei, apa kalian sudah berkelahi sampai kaca jendela pecah?" Wajahnya berseri-seri ia meneruskan berkata pada Ho Tiong Jong. "Bagaimana? Apa Ho Siang kong senang tinggal dalam kamar ini?"

"senang... senang," jawab Ho Tiong Jong seraya anggukkan kepala.

Nona in ketawa manis hingga Kho Kie yang melihatnya menjadi kesengsem. sambil tertawa nyengir ia menimbrung.

"Nona in,akupun pindah kemari, kalau engkau ada tempo sukalah sekali waktu datang menyambang kepada kita di sini."

Nona in tidak menjawab, hanya matanya mengerling galak. Sambil menekap mulutnya karena merasa geli melihat gerak-geriknya Kho Kie yang lucu, nona pelayan itu telah meninggalkan mereka.

setelah nona in berlalu, si Ular Kumbang menegur pada Keng Jie. "IHei, Keng Jie. perlu apa kau memanggil padanya kemari?"

"Aku bukannya sengaja memanggil. Selagi aku keluar berpapasan dengannya, dia menanyakan tentang keadaannya Ho Siang-kong, aku lantas ceritakan kejadian barusan sebab aku kira mereka telah berkelahi. Katanya dia kebetulan mau melihat Ho Siang-kong, maka dia bersama-sama aku

kesini. Eh perjamuan besok bukannya malam, tapi jam tiga sore " demikian Keng Jie nyerocos

bicara.

Ho Tiong Jong tidak perhatikan pelayan itu nyerocos lebih jauh hanya diam-diam memikirkan, apa perlunya nona in menengoki ia? Hatinya merasa tidak enak berbareng saat itu pelayan yang disuruh Kho Ki datang membawa barang-barangnya Kho Kie yang sudah dapat kesitu. Sedang tukang kayu juga sudah muncul untuk membetulkan kaca yang pecah tadi.

"Ho laote. buat apa kita tinggal diam saja disini. Mari kita keluar jalan-jalan makan angin ha ha ha... " Kho Kie kembali dengan suaranya yang Jenaka lucu.

"Baiklah." sahut Ho Tiong Jong.

Ia berkata sambil mengikuti, pikirannya terus melayang pada nona in yang sengaja datang untuk melihat ia, entah apa sebabnya ? Maka setengah jalan, ia sudah berkata pada Kho Kie.

"Kho Toako, aku mau kembali kekamarku dulu, ada yang hendak kutanyakan pada Keng Jie, harap kaujalan-jalan sendiri saja. Sebentar kalau urusan sudah beres, aku akan mencari kau lagi?"

Ho Tiong Jong berbareng hendak membilukkan kakinya akan tetapi Kho Kie telah menyegah, katanya. "Ho siaocu. kau jangan tinggalkan aku sendirian- Biar saja. sebentar lagi juga kita ketemu Keng Jie, apa yang perlu kau tanya boleh ditanyakan kepadanya bukankah sama juga?"

Ia berkata sambil menarik-narik lengannya Ho Tiong Jong, hingga anak muda itu kelihatannya apa boleh buat mengikuti si orang aneh tukang nerobos tanah itu. Berdua terus berjalan jalan sambil ngobroL Tiba-tiba mereka berjumpah dengan nona cong ie.

Setelah saling memberi selamat. Ho Tiong Jong telah memperkenalkan Kho Kie kepada si nona.

"Engko Ho." kata nona cong pada Ho Tiong Jong "Malam ini mungkin aku meninggalkan tempat ini, aku menyesal sekali tidak dapat menghadiri berkumpulnya orang-orang gagah dalam benteng

ini."

Ho Tiong Jong terkejut. Ia lantas ingat, bahwa nona cong mau meninggalkan tempat ini tentu lantaran gara-garanya si Raksasa in Goei, maka ia lalu menanya. "Apa si Raksasa in Goei belum pergi dari sini."

cong ie geleng kepala. "Hmm Sekarang belum tahu, sebentar malam baru mendapat

kepastian dia pergi atau tidak."

Kho Kie yang mendengar pembicaraan Ho Tiong Jong dan cong Ie lantas mengerti bahwa nona itu akan meninggalkan benteng sebab takut oleh In Goei, maka hatinya mendadak sudah menjadi panas dan berkata.

"Nona, kau tak usah meninggalkan tempat ini. Biar aku usir si Raksasa itu, aku mendengar julukannya demikian sudah merasa sebal."

"Kho toako." menyelak Ho Tiong Jong "kau tidak boleh berbuat begitu. Kalau kau bikin onar ditempat ini aku tidak mau bersahabat dengan kau lagi." Kho Kie tertawa nyengir.

cong ie kelihatan unjuk paras muka merengut, ia agaknya merasa kesal dengan soal yang dihadapinya ia mendengar kata-katanya si orang aneh, matanya yang bagus tiba-tiba melirik. kemudian memandang pada Ho Tiong Jong yang menegur Kho Kie.

Ia masih berdiri sejenak didepan mereka, kemudian telah meninggalkan mereka dengan tidak berkata apa-apa lagi.

Ho Tiong Jong melongo melihat cong ie begitu ketus.

"Ha ha ha..." tiba-tiba terdengar Kho Kie buka suara "Ho laote barusan kau keliru melarang aku tidak boleh membuat onar, sebab dianggapnya oleh si cantik tadi kau tidak memihak kepadanya ikut membenci kepada orang yang dibencinya. Sebaliknya kau lebih memandang berat diriku, mana dia tidak jadi marah ?"

Ho Tiong Jong masih bingung dengan kata-katanya Kho Kie. "Kho toako, sebenarnya kenapa sih dia seperti yang ngambek berlalu dari sini "

"Ha ha, kau masih belum mengerti juga orang omong. Dia jengkel, karena kau menghalang-halangi untuk memberi hajaran kepada musuhnya, kau mengerti ?" Baru sekarang Ho Tiong Jong mengerti.

Ia kelihatan geleng-gelengkan kepalanya, tapi ia tidak mau disesalkan-

"Biarlah kita jangan pusingkan yang begituan, aku memang lebih menghargai persahabatan daripada wanita dan-.."

Perkataannya belum habis, cong ie tampak sudah muncul kembali didepan mereka.

Ia agaknya mendongkol pada Ho Tiong Jong, pada siapa ia berkata.

"Mana itu selendangku, lekas kau kembalikan" katanya dengan suara dingin.

Ho Tiong Jong terkejut, mukanya seketika itu juga merjadi merah karena merasa malu sudah menyimpan selendangnya si nona dan kini telah di tagih.

Ia merogo-rogo sakunya, Sudah tentu saja tidak kedapatan karena selendang itu ada dalam saku bajunya yang kotor, yang diambil oleh Keng Jie, Entahlah apakah Keng Jie mencuci bajunya sekalian dengan selendang itu turut dicuci? "oh nona cong, maafkan aku kelupaan membawanya."

Sambil sipitkan matanya dengan kelakuan lucu sekali Kho Kie telah menyelak.

"oh, selendang itu kepunyaannya nona cong? celaka tiga belas, sebenarnya aku tak seharusnya bersenda gurau dengan Ho laote, selendang itu aku telah curi dari Ho laote dan ada disini."

Ia terus meraba raba kantongnya yang besar kemudian dikeluarkan segala isinya Kira nya didalam kantong itu berisi macam-macam benda seperti baju tipis hiram untuk keluar masuk tanah, uang perakan beberapa, potong sebuah batu sebesar kepelan, dua mainan dari kayu, potongan besi bersegi tiga dan empat yang tajam sekali, sebagai penuntun ia keluarkan handuknya yang sudah dekil dan menyiarkan bau asam, hingga cong ie yang turut memeriksa apa isinya kantong telah menekap hidungnya.

Ia heran mengapa Kho Kie mengantongi banyak macam barang ?

Tadinya ia hendak marah akan tetapi melihat kelakuannya Kho Kie yang lucu diam-diam ia merasa sangat geli, ia ketawa dibalik tangannya yang menutupi mulutnya. Untuk menahan rasa gelinya, supaya jangan keterlepasan ketawa, cong ie telah melototkan matanya mengawasi pada Kho Kie.

Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Kho Kie berkata didepannya si nona: "Nona cong," katanya, " betul- betul aku ini orang celaka, aku sekarang ingat betul selendangmu itu bukan kutaruh dalam kantong ini, tapi... "

"Tapi dimana? Lekas katakan" kata si nona separuh membentak.

"Aku taruh di bawah bantal kepalanya Ho laote..." jawabnya sambil nyengir. Ho Tiong Jong terbelalak matanya.

Si nona merah selembar mukanya, akan tetapi diam-diam ia merasa girang.

"Biarlah, aku tidak perlu lagi dengan benda itu," katanya agak bersenyum kepada si pemuda yang saat itu tinggal membisu menyaksikan kawannya menjual aksi.

"Tapi nona cong, tidak apa kau sekarang pergi mengambilnya." kata Ho Tiong Jong.

"Sudahlah " kata si nona, "Aku tak memerlukan lagi barang itu. kalau nanti kau dapatkan boleh buang saja."

Matanya yang jernih menarik mengerling kearahnya si pemuda tampan, setelah meninggalkan senyumannya ia telah pergi dari situ. Ho Tiong Jong dan Kho Kie jadi saling pandangan satu dengan yang lain-Keduanya kemudian ketawa terbahak-bahak.

"Ah, betul-betul wanita itu aneh... " Ho Tiong Jong menggandeng sendirian-

"Ho laote," kala Kho Kie sambil nyengir.

"Nona cong itu kelihatannya sangat memperhatikan padamu, cuma sayang kau tak bisa memikat hatinya, ia cantik sekali parasnya."

"Kho toako, kau jangan tertawakan aku, orang semacam aku ini mana dipandang oleh matanya nona cong yang unggul segala-galanya dari aku. Kalau dia sudah mau manggutkan kepalanya saja terhadap aku, sudah membikin aku merasa sangat bahagia, Aku tidak memikirkan hal yang bukan-bukan."

Kho Kie tertawa, Tiba-tiba parasnya tampak menjadi sungguh-sungguh.

"Ho laote, kalau untuk aku memilih wanita aku akan memilih nona in itu daripada... "

"IHusstt " Ho Tiong Jong mencegah kawannya meneruskan kata-katanya." Kau jangan

sembarangan berkata, nanti dapat didengar orang tidak baik."

Ho Tiong Jong melihat ada orang yang memperhatikan mereka dalam berCakap- cakapnya itu, makanya ia cepat mencegah kawannya berkata lebih jauh.

Ia heran, kenapa gerak-geriknya selalu diawasi saja? orang tadi telah mengikuti terus kemana mereka pergi seperti orang yang sedang menguntit pencuri saja.

Kho Kie juga tahu itu, tapi keduanya seperti yang sudah sepakat, tidak memperdulikan gerak-geriknya orang yang menguntitnya mereka itu.

Mereka teruskan jalan-jalannya, bercakap tidak putusnya dan sebentar-sebentar ditutup dengan gelak ketawanya malah Ho Tiong Jong terkadang sampai terpingkal-pingkal ketawanya, rupanya tidak tahan dengan omongan-omongan Kho Kie yang mengitik urat ketawa.

oleh karenanya, tidak heran kalau banyak tetamu dalam benteng itu pada menonton lagak-lagunya mereka berdua ini.

Tiba-tiba Ho Tiong Jong berhenti bertindak dan berbisik ditelinganya Kho Kie. "Kho toako, coba kau lihat disana, dialah itu si Raksaksa in Goei... "

Kho Kie cepat menoleh kearah yang di tunjuk Ho Tiong Jong, Dilihatnya dipinggir sebelah kiri dari ruangan tamu ada jalan seorang yang berbadan tinggi besar dan sikapnya gagah sekali, ia berjalan lewat diantara para tamu, Tiba-tiba ia berpapasan dengan ie Ya dengan siapa ia bercakap-cakap sambil ketawa- ketawa.

"Ho laote, bagaimana kalau aku gunakan senjata rahasia untuk bikin sebelah matanya buta, sehingga dia sebentar malam tidak dapat menghadiri pejamuan. Dengan begitu nona cong juga tidak harus meninggalkan tempat ini karena gara-garanya, kau pikir. baik atau tidak."

-ooodwooo-