--> -->

Taiko Bab 43 : Epilog

Bab 43 : Epilog

KARENA tak ada pilihan lain, Hideyoshi berputar haluan dan kembali ke perkemahannya di Gakuden. Ia tak dapat memungkiri bahwa kekalahan yang dialaminya di Nagakute merupa- kan pukulan serius, meskipun kekalahan itu disebabkan oleh semangat Shonyu yang meluap- luap tak terkendali. Namun juga tak dapat disangkal bahwa dalam kesempatan ini Hideyoshi terlambat bertindak.

Penyebabnya bukan karena Hideyoshi baru sekali ini mengadu kekuatan dengan Ieyasu. Ia telah mengenal Ieyasu jauh sebelum meng- hadapinya di medan tempur. Masalahnya bentrok- an ini merupakan bentrokan antara dua jendral ulung, pertarungan antar juara, sehingga Hideyoshi bersikap lebih hati-hati daripada biasanya.

"Jangan hiraukan benteng-benteng kecil di sepanjang jalan. Jangan buang-buang waktu." Hideyoshi sempat mengingatkan, tapi Shonyu telah ditantang oleh garnisun di Iwasaki dan berhenti untuk menghancurkan benteng itu.

Kemampuan Ieyasu dan Hideyoshi-lah yang akan meneniukan hasil pertempuran. Ketika mendengar berita mengenai kekalahan di Nagakute. Hideyoshi merasa yakin bahwa kesempatannya telah tiba. Kematian Shonyu dan Nagayoshi merupakan umpan tepat untuk menangkap Ieyasu hidup-hidup.

Tapi musuh muncul seperti api, dan meng- hilang bagaikan angin, dan setelah mereka pergi, suasana jadi sehening hutan. Pada waktu Ieyasu mundur ke Bukit Komaki, Hideyoshi merasa gagal menangkap seekor kelinci ketakutan, tapi dalam hati ia berkata bahwa ia hanya menderita luka kecil di jarinya. Kekuatan militernya memang nyaris tak terpengaruh, namun secara psikologis ia telah memberikan kemenangan kepada pihak Ieyasu.

Tapi bagaimanapun, seusai pertempuran sengit selama setengah hari di Nagakute, kedua orang itu bersikap sangai hati-hati, dan masing-masing mengamati gerak-gerik lawan dengan cermat. Dan sementara menunggu-nunggu kesempatan baik, tidak terpikir oleh kedua-duanya untuk melancar- kan serangan gegabah. Namun usaha-usaha untuk memancing musuh dilakukan berulang kali.

Sebagai comoh, ketika Hideyoshi mengirim keenam puluh dua ribu prajuritnya ke Gunung Komatsuji pada hari kesebelas Bulan Keempat, tanggapan di Bukit Komaki hanya berupa senyum masam yang tenang.

Kemudian, pada hari kedua puluh dua di bulan yang sama, pihak Ieyasu-lah yang melancarkan provokasi. Pasukan gabungan berjumlah delapan belas ribu orang dibagi-bagi menjadi enam belas unit dan bergerak ke timur.

Sambil menabuh genderang dan melepaskan teriakan-teriakan perang, barisan depan di bawah komando Sakai Tadatsugu dan Ii Hyobu berkali- kali menghampiri musuh, seakan-akan hendak berkata, "Keluarlah, Hideyoshi!"

Pagar kayu runcing dengan selokan pertahanan di depannya dijaga oleh Hori Kyutaro dan Gamo Ujisato. Ketika memandang pasukan musuh yang riuh rendah, Kyutaro mengertakkan gigi.

Setelah Nagakute, musuh telah menyebarkan desas-desus bahwa prajurit-prajurit Hideyoshi takut menghadapi laskar Tokugawa. Tapi Hideyoshi telah menegaskan bahwa bala tentaranya dilarang melancarkan serangan tanpa perintah langsung darinya, sehingga mereka tak dapat berbuat apa- apa selain mengirim kurir-kurir ke perkemahan utama.

Ketika salah satu kurir tiba, Hideyoshi tengah bermain go.

"Pasukan Tokugawa berkekuatan besar sedang mendekati orang-orang kita di selokan ganda." orang itu memberitahunya.

Sejenak Hideyoshi mengalihkan pandang dari papan go dan bertanya pada kurir tersebut. "Apakah Ieyasu berada di antara mereka?"

"Yang Mulia Ieyasu tidak turut serta."

Hideyoshi   meraih    biji    berwarna    hitam, meletakkannya di papan permainan, dan tanpa menoleh ia berkata. "Beritahu aku kalau Ieyasu muncul. Kecuali dia sendiri yang memimpin pasukannya. Kyutaro dan Ujisato bebas memilih bertempur atau tidak."

Kira-kira secara bersamaan, Ii Hyobu dan Sakai Tadatsugu di garis depan dua kali mengirim kurir pada Ieyasu di Bukit Komaki.

"Sekaranglah waktu yang tepat untuk datang ke medan tempur. Jika tuanku melakukannya dengan segera, kita pasti sanggup memberikan pukulan mematikan kepada pasukan utama Hideyoshi."

Ieyasu menanggapi dengan tenang. "Apakah Hideyoshi sudah melangkah? Kalau dia masih di Gunung Komatsuji, aku pun tak perlu turun tangan."

Pada akhirnya Ieyasu tidak meninggalkan Bukit Komaki.

Sementara itu, Hideyoshi memuji para prajurit yang berjasa dalam pertempuran Nagakute dan menyalahkan mereka yang gagal melaksanakan tugas. la sangat hati-hati ketika mengumumkan kenaikan upah atau memberi penghargaan, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun pada keponakannya, Hidetsugu. Setelah melarikan diri dari Nagakute, Hidetsugu sendiri tampak salah tingkah di hadapan pamannya. Ketika tiba di perkemahan, ia hanya melapor bahwa ia telah kembali. Baru kemudian ia berusaha menjelaskan alasan kekalahannya. Tapi Hideyoshi hanya berbicara dengan para jendral lain yang duduk di sekelilingnya. Tak sekali pun ia memandang wajah Hidetsugu.

"Akulah yang bersalah, sehingga Shonyu menemui ajal." kata Hideyoshi. "Sejak muda kami berbagi kemiskinan. Kami mencari hiburan malam bersama-sama, dan main perempuan bersama- sama. Aku takkan pernah melupakannya."

Setiap kali ia bicara mengenai teman lamanya itu, matanya berkaca-kaca.

Suatu hari, tanpa menjelaskan jalan pikirannya pada siapa pun, Hideyoshi memerintahkan pembangunan kubu pertahanan di Oura. Dua hari kemudian, pada hari terakhir Bulan Keempat, ia memberikan perintah lebih lanjut. "Besok aku akan melakukan pertempuran paling penting dalam hidupku. Kita akan melihat siapa yang tumbang, Ieyasu atau Hideyoshi. Beristirahatlah dengan baik, persiapkan diri, dan jangan lengah."

Hari berikutnya adalah hari pertama Bulan Kelima. Dengan anggapan bahwa hari itu mereka akan berlaga dalam pertempuran menentukan semua prajurit telah mempersiapkan diri sejak malam sebelumnya. Kini, pada waktu Hideyoshi akhirnya tampil di hadapan mereka para prajurit mendengarkan kata-katanya dengan heran.

"Kita akan kembali ke Osaka! Seluruh pasukan ditarik mundur." Kemudian ia memberikan perintah selanjutnya. "Korps-korps di bawah Kuroda Kanbei dan Akashi Yoshiro akan bergabung dengan pasukan di selokan ganda. Posisi barisan belakang akan ditempati oleh Hosokawa Tadaoki dan Gamo Ujisato."

Enam puluh ribu orang berpindah tempat, Sambil mengarah ke timur, mereka mengawali gerakan mundur pada waktu matahari pagi muncul di cakrawala. Hori Kyutaro ditinggalkan di Gakuden dan Kato Mitsuyasu di Benteng Inuyama. Selain mereka. seluruh pasukan menyeberangi Sungai Kiso dan memasuki Oura.

Gerak mundur mendadak ini menimbulkan tanda tanya dalam benak para jendral Hideyoshi. Hideyoshi tenang-tenang saja ketika memberikan perintah, tapi menarik mundur pasukan sebesar itu bahkan lebih sukar daripada memimpinnya melancarkan serangan. Tugas membuat barisan belakang dipandang paling berat, dan konon hanya mereka yang paling perkasa yang sanggup mengemban tanggung jawab itu.

Ketika orang-orang di markas besar Ieyasu melihat pasukan Hideyoshi mendadak mundur ke timur pagi itu, semuanya diliputi keragu-raguan, dan mereka melaporkan kejadian itu pada Ieyasu.

Semua jendral yang berada di sana sepenuhnya sependapat. "Tak perlu diragukan lagi. Kita telah meluluhlantakkan semangat tempur musuh."

"Kalau kita mengejar dan menyerang mereka, pasukan Barat akan hancur lebur dan kita akan merebut kemenangan besar."

Mereka mendesak-desak Ieyasu agar melancar- kan serangan. dan masing-masing memohon diberi kepercayaan sebagai pemimpin pasukan. Tapi Ieyasu tidak tampak gembira. Dengan tegas ia melarang pengejaran pasukan musuh.

Ia sadar bahwa orang seperti Hideyoshi takkan menarik mundur sebuah pasukan besar jika tidak karena alasan tertentu. Ia juga sadar bahwa meski ia sanggup bertahan, kekuatannya tidak memadai untuk menghadapi Hideyoshi dalam suatu penempuran di tempat terbuka.

"Perang bukan judi. Apakah kita harus mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang hasilnya tak dapat kita ramalkan? Jangan bertindak sebelum yakin waktunya sudah tiba."

Ieyasu tidak suka mengambil risiko. Ia juga mengenal dirinya dengan baik. Dalam hal itu, ia bertolak belakang dengan Nobuo. Nobuo selalu membayangkan bahwa ia memiliki karisma dan kemampuan yang sama seperti Nobunaga. Ia tak sanggup berdiam diri, walaupun semua jendral lain duduk membisu setelah permohonan mereka ditolak oleh Ieyasu.

Kata orang, prajurit sejati menghormati peluang yang diberikan kepadanya. Kenapa kita hanya duduk di sini dan membiarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja? Perkenankanlah aku memimpin pengejaran." Sikap Nobuo semakin berapi-api.

Ieyasu mengingatkannya dengan dua atau tiga patah kata, tapi Nobuo semakin gigih memamer- kan keberaniannya. Sambil berdebat dengan Ieyasu, ia bertingkah seperti anak manja yang tidak mau mendengarkan siapa pun.

"Kalau begitu, apa boleh buat. Lakukanlah apa yang Tuan anggap perlu.-

Ieyasu memberi izin, meski sadar bahwa bencanalah yang akan muncul. Nobuo segera membawa pasukannya sendiri dan mengejar Hideyoshi.

Setelah Nobuo pergi, Ieyasu menunjuk Honda sebagai pemimpin sejumlah prajurit dan menyuruh mereka mengikuti Nobuo. Seperti telah diduga oleh Ieyasu, Nobuo menggempur barisan belakang Hideyoshi yang sedang mundur, dan walaupun ia sempat kelihatan unggul, ia segera dikalahkan. Dengan cara ini, ia menyebabkan banyak pengikutnya menemui ajal dalam pertempuran.

Seandainya bala bantuan Honda tidak muncul, bukannya tak mungkin Nobuo sendiri pun menjadi salah satu hadiah terbesar bagi barisan belakang Hideyoshi. Ketika kembali ke Bukit Komaki. Nobuo tidak segera menghadap Ieyasu. Tapi Ieyasu memperoleh laporan terperinci dari Honda, la hanya mengangguk dan berkata. "Memang sudah kuduga."

Meski telah memutuskan untuk mundur, Hideyoshi tidak bermaksud pulang dengan tangan kosong. Ketika pasukannya bergerak menyusuri jalanan, ia berkata kepada para pengikutnya, "Bagaimana kalau kita membawa tanda mata dari sini?"

Benteng Kaganoi berdiri di tepi kiri Sungai Kiso, di sebelah timur laut Benteng Kiyosu. Dua pengikut Nobuo berkubu di sana, siap bertindak sebagai salah satu sayap pasukan Nobuo dalam keadaan darurat.

"Rebut benteng itu." Perintah tersebut diberikan Hideyoshi kepada para jendralnya, seakan-akan menunjuk buah kesemek yang tergantung di pohon.

Pasukannya menyeberangi Sungai Kiso dan mengambil posisi di Kuil Seitoku. Hideyoshi, yang berada di tengah-tengah pasukan cadangan, mem- buka serangan pada pagi hari keempat bulan itu. Sesekali ia menaiki kudanya dan mengamati jalannya pertempuran dari sebuah bukit di dekat Tonda.

Dalam pertempuran keesokan harinya, komandan benteng itu gugur. Namun bentengnya sendiri baru takluk menjelang malam hari keenam. Hideyoshi memerintahkan pembangunan kubu pertahanan di sebuah titik strategis di Taki, dan mundur sampai ke Ogaki pada hari ketiga belas. Di Benteng Ogaki ia bertemu dengan para anggota keluarga Shonyu yang selamat. dan menghibur istri dan ibu rekan seperjuangannya itu.

"Aku bisa membayangkan kesepianmu. Tapi jangan lupakan masa depan anak-anakmu yang penuh harapan. Usahakanlah untuk melewatkan sisa hidupmu dalam keharmonisan. Amatilah pertumbuhan pohon-pohon kecil dengan gembira, dan nikmatilah bunga-bunga yang sedang mekar."

Hideyoshi juga memanggil kedua putra Shonyu yang masih hidup dan berpesan agar mereka selalu tabah. Malam itu ia bersikap seperti anggota keluarga, dan selama berjam-jam ia membicarakan kenangannya mengenai Shonyu.

"Aku berbadan pendek, sama halnya dengan Shonyu. Pada waktu laki-laki pendek itu menjamu jendral-jendral yang lain, dia sering menampilkan tari tombak kalau sudah mabuk. Kurasa dia belum pernah memamerkan kebolehannya di hadapan keluarganya sendiri, tapi gerakannya kira-kira seperti ini." la menirukan Shonyu, dan semuanya tertawa. Hideyoshi tinggal selama beberapa hari, tapi akhirnya. pada hari kedua puluh satu, ia kembali ke Benteng Osaka melalui Jalan Raya Omi.

Osaka telah berkembang menjadi kota besar, sangat berbeda dari pelabuhan kecil di Naniwa dulu, dan ketika pasukan Hideyoshi tiba, para warganya berkerumun di jalan-jalan dan di sekitar benteng, mengelu-elukan mereka sampai matahari terbenam.

Pembangunan bagian luar Benteng Osaka telah rampung. Seiring datangnya malam, peman- dangan luar biasa mulai terlihat. Lentera-lentera memancarkan cahaya terang benderang dari jendela-jendela yang tak terhitung banyaknya di menara bertingkat lima di benteng utama, juga dari benteng kedua dan ketiga, menghiasi langit malam dan menerangi batas-batas benteng: di timur, Sungai Yamato; di utara, Sungai Yodo; di barat, Sungai Yokoboh; dan di selatan, selokan pertahanan yang kering.

Hideyoshi telah meninggalkan perkemahannya di Gakuden, berubah pikiran dan menjalankan strategi "awal baru". Tetapi bagaimana tanggapan Ieyasu terhadap perubahan tersebut? la duduk dan memperhatikan pasukan Hideyoshi bergerak menjauh. Dan meskipun ia mendapat berita mengenai kesulitan yang dialami sekutu-sekutunya di Benteng Kaganoi, ia tidak mengirim bala bantuan.

"Ada apa ini?" Suara-suara sumbang mulai terdengar di antara bawahan-bawahan Nobuo. Namun Nobuo sudah pernah mengabaikan peringatan Ieyasu, menyerang barisan belakang Hideyoshi, menderita kekalahan memalukan dan akhirnya hatus diselamatkan oleh Honda. Karena itu, ia merasa telah kehilangan hak bicara. Dengan demikian, perselisihan yang terus memburuk menjadi tilik lemah dalam pasukan sekutu. Disamping itu, tokoh utama di balik pertempuran besar ini bukanlah Ieyasu, melainkan Nobuo. Nobuo-lah yang menggembar-gemborkan kewajiban moral, dan sang Penguasa Mikawa memutuskan untuk membantunya. Ieyasu berkedudukan sebagai sekutu, karena itu ia sukar membatasi sepak terjang Nobuo. Akhirnya ia mengajukan usul, "Sementara Hideyoshi berada di Osaka, cepat atau lambat dia akan menyerbu Ise. Nyatanya memang sudah ada tanda-tanda yang mencemaskan bagi sekutu-sekutu kita. Kurasa sebaiknya Tuan secepat mungkin kembali ke benteng utama Tuan di Nagashima.

Nobuo memanfaatkan kesempatan ini dan segera pulang ke Ise. Selama beberapa waktu Ieyasu masih bertahan di Bukit Komaki, tapi setelah menyerahkan komando kepada Sakai Tadatsugu, ia pun akhirnya bertolak ke Kiyosu. Para warga Kiyosu menyambut kedatangan Ieyasu dengan sorak-sorai kemenangan, tapi jumlah mereka tak dapat menyamai jumlah penduduk Osaka yang mengelu-elukan Hideyoshi.

Para warga dan prajurit memandang pertempuran di Nagakute sebagai kemenangan besar bagi marga Tokugawa, namun Ieyasu mengingatkan para pengikutnya agar mereka tidak berbangga hati secara berlebihan, dan mengirim pesan berikut ini kepada pasukannya:

Dari srgi militer, Nagakute merupakan kemenangan, tapi dalam hal benteng dan wilayah, Hideyoshi-lah yang menarik keuntungan. Jangan sampai ada yang mabuk kemenangan.

Selama Ieyasu berada di Bukit Komaki, sekutu- sekutu Hideyoshi tidak tinggal diam. Di Ise, yang sudah beberapa lama tidak dilanda pertempuran, mereka berhasil merebut benteng-benteng di Mine, Kanbe, Kokulu, dan Hamada. serta menyerbu dan menghancurkan benteng di Nanokaichi. Sebelum orang lain menyadarinya, sebagian besar Ise telah jatuh ketangan Hideyoshi.

Hideyoshi berada di Benteng Osaka selama kurang-lebih satu bulan, menangani urusan pemerintahan, menyusun rencana untuk mengatur daerah-daerah di sekitar ibu kota dan menikmati kehidupan pribadinya. Untuk sementara ia menganggap krisis Bukit Komaki sebagai masalah orang lain.

Di Bulan Ketujuh ia pulang-pergi ke Mino. Kemudian pada sekitar pertengahan Bulan Kedelapan ia berkata, "Sungguh menjemukan kalau urusan ini dibiarkan berkepanjangan. Dalam musim gugur ini aku harus menyelesaikannya sampai tuntas."

Sekali lagi ia mengumumkan bahwa sebuah pasukan besar akan bertolak ke garis depan. Selama dua hari sebelum keberangkatannya, bunyi seruling dan genderang dari penunjukan Noh menggema di dalam benteng utama. Dan sesekali suara tawa riuh pun terdengar.

Hideyoshi menampilkan rombongan pemain Noh, serta mengundang ibu, istri, dan kerabatnya di benteng untuk bersuka ria bersama-sama selama satu hari.

Di antara para tamu terdapat ketiga putri yang dipingit di benteng ketiga. Tahun itu Chacha berusia tujuh belas, adiknya riga belas, sedangkan si bungsu baru sepuluh tahun.

Baru satu tahun berlalu sejak ketiga bersaudara itu menatap asap yang menyelubungi kematian ibu dan ayah angkat mereka, Shibata Katsuie, ketika Benteng Kitanosho takluk di tangan pasukan Hideyoshi. Kemudian mereka dipindahkan dari perkemahan di wilayah Utara, dan ke mana pun mereka memandang, mereka hanya melihat orang- orang yang asing bagi mereka. Selama beberapa waktu mata mereka tampak sembap, siang dan malam, dan tak satu kali pun terlihat senyum menghiasi wajah-wajah belia yang seharusnya riang gembira itu. Namun lambat laun ketiga putri itu mulai terbiasa dengan orang-orang di dalam benteng, dan karena terhibur oleh pembawaan Hideyoshi yang menyenangkan, mereka mulai menyukainya sebagai "paman yang lucu".

Hari itu, seusai sejumlah pertunjukan, si paman yang lucu pergi ke ruang ganti, mengenakan kostum, lalu muncul di panggung.

"Lihai! Itu Paman!" salah satu dari kakak- beradik itu berseru.

"Wah, dia kelihatan lucu sekali!"

Tanpa menghiraukan kehadiran orang lain, kedua putri yang lebih kecil bertepuk tangan dan menunjuk-nunjuk sambil tertawa tanpa henti. Tapi, seperti bisa diduga, si sulung Chacha segera menegur mereka. "jangan menuding. Nonton saja tanpa banyak bicara," ia berkata. Ia pun berusaha duduk dengan tenang, tapi tingkah polah Hideyoshi begitu lucu. Sehingga Chacha akhirnya terpaksa menyembunyikan wajah di balik lengan kimononya dan tertawa terpingkal-pingkal.

"Apa ini? Kalau kami tertawa, kami dimarahi.

Tapi sekarang Kakak malah ikut tertawa." Dipermainkan seperti itu oleh kedua adiknya.

Chacha semakin tak kuasa menahan diri.

Ibu Hideyoshi pun tertawa dari waktu ke wakiu ketika menyaksikan tarian jenaka yang ditampilkan putranya, tetapi Nene, yang telah terbiasa menghadapi tingkah polah dan senda gurau suaminya dalam keluarga, kelihatan tidak terlalu senang.

Nene lebih tertarik untuk mengamati gundik- gundik suaminya yang duduk di sana-sini, dikelilingi pelayan-pelayan.

Ketika mereka masih tinggal di Nagahama, Hideyoshi hanya mempunyai dua gundik. Tapi setelah mereka pindah ke Benteng Osaka, sebelum Nene menyadarinya sudah ada gundik di benteng kedua, dan satu lagi di benteng ketiga.

Memang sukar dipercaya, tapi ketika kembali dari perang di Utara, Hideyoshi membawa pulang ketiga putri Asai Nagamasa yang telah yatim-piatu, dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang di benteng kedua.

Hati para dayang yang melayani Nene—istri pertama Hideyoshi—terasa pedih karena Chacha malah lebih cantik lagi daripada ibunya.

"Putri Chacha sudah berumur tujuh belas tahun. Mengapa Yang Mulia memandanginya seperti memandang bunga dalam vas?"

Mereka hanya memperburuk keadaan dengan komentar-komentar seperti itu, tapi Nene hanya tertawa.

"Apa boleh buat, ini seperti goresan pada sebutir mutiara."

Dulu ia pun merasa cemburu seperti lazimnya seorang istri, dan ketika masih tinggal di Nagahama, ia bahkan pernah mengeluh pada Nobunaga, yang lalu mengirim balasan tertulis:

Kau dilahirkan sebagai perempuan, dan secara kebetulan kau bertemu dengan laki-laki yang sangat luar biasa. Aku percaya bahwa orang seperti itu pun mempunyai kekurangan, tapi kelebih-annya banyak sekali. Jika kau memandang dari lereng sebuah gunung besar, kau takkan paham seberapa besar gunung itu. Tenangkanlah hatimu, dan nikmatilah hidup bersama orang itu dengan cara yang diinginkannya. Aku tidak mengatakan bahwa rasa cemburu itu buruk. Sampai taraf tertentu, kecemburuan justru merupakan bumbu bagi kehidupan suami-istri

Jadi, pada akhirnya Nene-lah yang menerima teguran. Nene menarik pelajaran dari pengalaman itu, dan ia bertekad untuk lebih menguasai diri. Ia pun berniat menjadi perempuan yang dapat menutup mata terhadap penyelewengan suaminya. Namun belakangan ini adakalanya ia merasa terancam dan bertanya-tanya, apakah suaminya tidak mulai terlalu berlebihan.

Bagaimanapun. Hideyoshi kini mendekati usia empat puluh tujuh tahun, masa kejayaan seorang laki-laki. Sementara sibuk menangani masalah- masalah eksternal seperti pertempuran di Bukit Komaki, ia juga direpotkan oleh persoalan internal seperti pengaturan urusan ranjang. Dengan demikian ia tak puas-puasnya menjalani hidup, hari demi hari dengan semangat laki-laki yang gagah perkasa. la sedemikian terlarut sehingga orang lain mungkin bingung bagaimana ia dapat memisahkan yang biasa dari yang luar biasa sikap murah hati dari sikap bijaksana, dan tindakan untuk umum dari perbuatan yang seharusnya disembunyikan.

"Menonton orang menari memang mengasyikkan, tapi kalau aku menari di panggung. rasanya sama sekali tidak menyenangkan, malah melelahkan."

Hideyoshi telah menyusup ke belakang ibunya dan Nene. Ia baru saja meninggalkan panggung, diiringi tepuk tangan para penonton, dan sepertinya ia masih terbawa oleh luapan kegembiraan tadi.

"Nene," katanya. "mari kita habiskan malam dengan tenang di ruanganmu. Dapatkah kau menyiapkan jamuan?"

Ketika pertunjukan berakhir, lentera-lentera langsung dinyalakan, dan para tamu kembali ke benteng ketiga dan kedua.

Hideyoshi kini mampir di ruangan Nene, diikuti serombongan pemain sandiwara dan pemusik. Ibunya telah kembali ke kamarnya, sehingga tinggal suami-istri itu bersama tamu-tamu mereka.

Telah menjadi kebiasaan bagi Nene untuk memperhatikan orang-orang seperti itu beserta para pelayan mereka. Khususnya setelah pertunjukan tadi, ia merasa gembira ketika mengucapkan terima kasih, melihat mereka saling memberi cawan sake, dan berbincang-bincang dengan para penonton.

Hideyoshi duduk menyendiri sejak pertama, dan karena sepertinya tak ada yang memper- hatikannya, ia tampak agak murung.

Nene, kurasa tak ada salahnya kalau aku ikut minum sake." katanya. "Begitukah?"

"Apakah aku harus menonton yang lain bersenang-senang? Kaupikir untuk apa aku datang ke kamarmu?"

"Tadi ibumu berkata. 'Besok lusa anak itu akan berangkat ke Bukit Komaki lagi,' dan aku disuruh mengoleskan moxa ke tulang kering dan pinggangmu sebelum kau benolak ke garis depan."

"Apa? Kau disuruh mengoleskan moxa?"

"Ibumu khawatir medan tempur masih diliputi panasnya musim gugur, dan jika kau minum air yang tidak baik, kau mungkin jatuh sakit. Sekarang kuoleskan moxa dulu, setelah itu kau kuberi secawan sake."

"Jangan konyol. Aku tidak suka moxa" "Suka atau tidak, itulah perintah ibumu."

"Dan karena itu aku akan menjauhi kamarmu. Dari semua orang yang menonton penunjukan tadi sore, hanya kau yang tidak tertawa. Kau kelihatan begitu serius."

"Begitulah aku. Kalaupun kau menyuruhku bersikap seperti gadis-gadis cantik itu, aku tidak sanggup.- Nene tampak agak gusar. Kemudian. tiba-tiba saja, ia meneteskan ait mata ketika teringat zaman dulu, ketika ia seumur Chacha dan Hideyoshi berusia dua puluh lima tahun dan dikenal dengan nama Tokichiro.

Hideyoshi menatap istrinya dengan pandangan bertanya-tanya dan berkata. "Kenapa kau menangis?"

"Aku tidak tahu," jawab Nene sambil membuang muka, dan Hideyoshi menoleh agar dapat menatapnya dari depan.

"Maksudmu, kau akan kesepian kalau aku berangkat ke garis depan lagi?-

"Sejak awal perkawinan kita, berapa hari yang kauhabiskan di rumah?"

Tak ada yang bisa dilakukan sebelum kita berhasil membawa kedamaian di dunia, meskipun kau tidak menyukai perang." balas Hideyoshi. "Dan seandainya Yang Mulia Nobunaga tidak tertimpa musibah, kemungkinan besar aku kini menjadi komandan sebuah benteng di pedalaman, yang hanya duduk dan terpaksa berada di sisimu seperti kauinginkan."

"Orang-orang itu akan mendengar kata-kata jahat yang keluar dari mulutmu. Aku tahu persis apa yang tersimpan dalam hati laki-laki."

"Dan aku pun dapat menyelami hati perempuan."

"Kau selalu mengolok-olokku. Aku tidak menggugatmu karena cemburu, seperti perempuan biasa."

"Setiap istri akan berkata demikian."

"Maukah kau mendengarkanku tanpa meng- anggap semuanya ini sebagai lelucon?"

"Baiklah. Aku akan mendengarkanmu dengan penuh hormat."

"Aku sudah lama pasrah pada keadaan. Jadi aku takkan mengeluh bahwa aku merasa kesepian mengurus bentengmu saat kau pergi berperang."

"Perempuan berbudi luhur, istri yang setia! Inilah alasan Tokichiro dulu menaruh hati padamu."

"Jangan keterlaluan kalau bergurau. Itulah sebabnya ibumu memberi nasihat padaku."

"Apa katanya?"

"Ibumu berpendapat bahwa aku- terlalu patuh, sehingga kau lupa diri dan berfoya-foya terus. Ibumu menasihati agar aku sesekali bicara terus terang dengan mu."

"Karena itukah kau disuruh mengoleskan moxa?" ujar Hideyoshi sambil tertawa.

"Kau tak pernah memikirkan kecemasan ibumu. Karena terlalu banyak minum, kau lupa bahwa kau wajib menyayangi ibumu."

"Kapan aku terlalu banyak minum?"

"Bukankah dua malam yang lalu kau ribut-ribut sampai dini hari mengenai sesuatu di kamar Putri Sanjo?"

Para pembantu dan pemain sandiwara yang sedang minum-minum di ruang sebelah berlagak tidak mendengarkan percekcokan yang jarang— hmm, mungkin tidak begitu jarang—antara suami- istri itu. Tiba-tiba saja Hideyoshi berseru pada mereka, "Hei, bagaimana pendapat penonton tentang penampilan kami?"

Salah satu pemain sandiwara menjawab. Terus terang, ini menyerupai pertandingan bola sepak antara dua orang buta." Hideyoshi tertawa.

"Benar, takkan ada habisnya kalau kedua pihak sama-sama mau menang sendiri."

"Hei, pemain gending, bagaimana menurutmu?" "Hmm. hamba menyaksikan tuanku seakan- akan hamba sendiri yang terlibat. Entah siapa yang

salah dan siapa yang benar."

Sekonyong-konyong Hideyoshi merenggutkan kimono luar Nene dan melemparkannya sebagai hadiah.

Keesokan harinya keluarga Hideyoshi tak sempat melihatnya, meskipun mereka berada di benteng yang sama. Sepanjang hari Hideyoshi sibuk memberikan instruksi kepada para pengikut dan jendralnya.

Pada hari kedua puluh enam Bulan Kedelapan, Ieyasu menerima laporan penting bahwa Hideyoshi akan datang. Bersama Nobuo ia bergegas dari Kiyosu ke Iwakura, dan menempati posisi yang berhadap-hadapan dengan Hideyoshi. Ia sekali lagi mengambil sikap bertahan, dan mengingatkan anak buahnya agar tidak membuka serangan tanpa diperintah.

"Orang ini tidak tahu kapan harus berhenti."

Hideyoshi telah merasakan sendiri bahwa kesabaran Ieyasu sangat merepot-kan, namun ia pun tidak kekurangan akal. Ia tahu bahwa kulit kerang tak dapat dibuka paksa, bahkan dengan menggunakan palu pun, tapi jika bagian ekornya dipanggang, dagingnya dapat diambil dengan mudah. Akal sehat seperti inilah yang kini melandasi pemikirannya. Mengirim Niwa Nagahide untuk mempelajari kemungkinan dibentuknya perjanjian damai tak ubahnya memanaskan ekor kerang.

Niwa merupakan pengikut paling senior di antara para pengikut marga Oda. Ia tokoh yang bertanggung jawab dan populer. Setelah Katsuie tiada dan Takigawa Kazumasu berada dalam keadaan melarat. Hideyoshi tak lupa betapa pentingnya mengambil hati orang itu sebagai "buah catur cadangan sebelum penempuran pecah di Bukit Komaki.

Niwa berada di Utara bersama lnuchiyo. tapi dua jendralnya, Kanamori Kingo dan Hachiya Yoritaka, turut berperang di pihak Hideyoshi. Diam-diam kedua jendral ini beberapa kali mondar-mandir antara perkemahan Hideyoshi dan provinsi asal mereka, Echizen.

Isi surat yang dikirim tidak diketahui siapa pun, termasuk oleh para utusan sendiri, namun akhirnya Niwa menempuh perjalanan rahasia ke Kiyosu dan bertatap muka dengan Ieyasu.

Kerahasiaan pembicaraan seperti ini dijaga dengan sangat ketat. Di pihak Hideyoshi hanya tiga orang yang tahu, yaitu Niwa dan kedua jendralnya. Atas usul Hideyoshi, Ishikawa Kazumasa bertindak sebagai penengah.

Namun akhirnya seseorang dalam tubuh marga Tokugawa membocorkan desas-desus bahwa perundingan damai telah di mulai secara rahasia. Berita itu menimbulkan pergolakan hebat dalam pertahanan Ieyasu yang berpusat di Bukit Komaki.

Rahasia yang bocor selalu diiringi omongan jahat. Dalam kasus ini, nama yang muncul ke permukaan adalah nama yang memang sudah dicurigai oleh rekan-rekan sesama pengikut—nama Ishikawa Kazumasa.

"Kabarnya Kazumasa berperan sebagai penengah. Sepertinya ada saja yang mencurigakan antara Hideyoshi dan Kazumasa."

Beberapa orang membawa masalah ini langsung ke hadapan Ieyasu, tapi ia memarahi semuanya dan tak sedikit pun meragukan kejujuran Kazumasa.

Namun sekali keraguan seperti itu timbul di kalangan para pengikut, moral seluruh marga terpengaruh.

Ieyasu sudah barang tentu cenderung mengadakan perundingan damai, namun ketika melihat keadaan yang melanda pasukannya, ia tiba- tiba menolak utusan Niwa.

"Aku tidak menginginkan perdamaian." kata Ieyasu. "Aku tidak mengharapkan kesepakatan dengan Hideyoshi, bagaimanapun kondisi yang ditawar-kannya. Kami akan berlaga di sini dalam pertempuran yang menentukan. Aku akan mengambil kepala Hideyoshi, dan kami akan memperlihatkan makna kewajiban kepada seluruh negeri."

Ketika hal ini secara resmi diumumkan di perkemahan Ieyasu, para prajurit merasa gembira, dan desas-desus mengenai Kazumasa langsung berhenti.

"Hideyoshi mulai goyah!"

Dengan semangat baru, mereka semakin agresif. Hideyoshi menelan pil pahit itu dengan lapang dada. Baginya hasil tersebut tidak terlalu buruk. Ia pun tidak   menggunakan  kekuatan  militer, melainkan memerintahkan  agar  pasukannya menempati  posisi-posisi strategis.   Menjelang penengahan   Bulan  Kesembilan, ia  kembali menarik mundur pasukannya dan  memasuki

Benteng Ogaki.

Sudah berapa kalikah para warga Osaka menyaksikan Hideyoshi beserta pasukannya berangkat ke garis depan lalu pulang lagi, bolak- balik antara benteng itu dan Mino?

Hari kedua puluh Bulan Kesepuluh pun tiba, musim dingin sudah di ambang pintu. Pasukan Hideyoshi, yang biasanya melalui Osaka, Yodo, tiba-tiba kali ini melewati Koga di lga dan menuju Ise. Di sana mereka meninggalkan jalan Raya Mino dan menyusuri jalan yang menuju Owari.

Laporan demi laporan dari benteng-benteng para pengikut Nobuo dan para mata-mata di Ise datang bertubi-tubi. seakan-akan ada tanggul jebol dan arus berlumpur sebuah sungai deras sedang menuju ke arah sana.

"Pasukan utama Hideyoshi datang!"

"Mereka bukan prajurit-prajurit di bawah komando satu jendral saja, seperti yang kita lihat selama ini."

Pada hari kedua puluh tiga bulan itu, pasukan Hideyoshi berkemah di Hanetsu dan mendirikan kubu-kubu pertahanan di Nawabu.

Mengetahui bahwa pasukan Hideyoshi terus bergerak ke arah bentengnya, Nobuo tak sanggup menenangkan hati. Sudah sekitar satu bulan lamanya ia menangkap gelagat bahwa badai sedang mendekat. Artinya. tindak-tanduk Ishikawa Kazumasa-—yang dirahasiakan secara ketat oleh marga Tokugawa— secara misterius telah dibesar- besarkan oleh seseorang, meskipun tak ada yang tahu siapa orangnya.

Menurut desas-desus, telah terjadi perpecahan di kalangan inti marga Tokugawa. Rupanya ada sejumlah pengikut Ieyasu yang tidak menyukai Kazumasa dan hanya menunggu saat yang tepat.

Kabar angin lain mengatakan bahwa pihak Tokugawa telah membuka perundingan dengan Hideyoshi, dan bahwa sebelum kabar mengenai perpecahan ini bocor, Ieyasu hendak mencapai perdamaian dengan cepat. Tapi kemudian pembicaraan dihentikan secara mendadak, karena persyaratan yang diajukan Hideyoshi dinilai terlalu memberatkan.

Nobuo benar-benar bingung. Bagaimanapun, nasibnya akan tidak menentu jika Ieyasu berdamai dengan Hideyoshi.

"Jika Hideyoshi sampai berubah arah dan membelok ke jalan Raya Ise, tuanku sebaiknya menerima kenyataan bahwa telah ada kesepakatan rahasia antara Hideyoshi dan Ieyasu untuk mengorbankan marga tuanku."

Dan persis seperti yang dikhawatirkan Nobuo. pergerakan pasukan Hideyoshi mengisyaratkan bahwa mimpi buruknya akan menjadi kenyataan. Tak ada yang dapat dilakukannya selain melaporkan perkembangan ini kepada Ieyasu dan memohon bantuannya.

Sakai Tadatsugu bertugas sebagai komandan Benteng Kiyosu selama kepergian Ieyasu. Ketika menerima laporan Nobuo, ia segera mengirim kurir untuk menyampaikannya kepada Ieyasu, yang langsung mengumpulkan seluruh pasukannya dan kembali ke Kiyosu pada hari itu juga. Kemudian ia cepat-cepat mengirim bala bantuan di bawah pimpinan Sakai Tadatsugu ke Kuwana.

Kuwana merupakan leher Nagashima. Nobuo pun membawa prajurit-prajuritnya dan menem- patkan mereka berhadapan dengan Hideyoshi, yang telah mendirikan markas besarnya di Desa Nawabu.

Nawabu terletak di tepi Sungai Machiya. kurang-lebih tiga mil di sebelah barat daya Kuwana, tapi berdekatan dengan muara Sungai Kiso dan Ibi, sehingga cocok sekali untuk meng- ancam markas besar Nobuo.

Penghabisan musim gugur. Alang-alang di daerah itu menyembunyikan ratusan ribu prajurit, dan asap dari api unggun yang tak terhitung banyaknya segera menyebar di sepanjang tepi sungai, pagi maupun malam. Perintah untuk memulai pertempuran belum diberikan. Para prajurit bersantai dan bahkan memancing di sungai. Jika kebetulan dipergoki oleh Hideyoshi, yang sering mendatangi perkemahan-perkemahan dan tiba-tiba saja muncul dengan kudanya, mereka langsung gugup dan cepat-cepat membuang joran masing-masing. Tapi kalaupun Hideyoshi melihat ini, ia hanya lewat sambil tersenyum.

Sebenarnya, andai kata berada di tempat lain, ia pun ingin memancing dan berjalan dengan kaki telanjang. Dalam beberapa hal, ia tetap seperti kanak-kanak. dan pemandangan-pemandangan seperti itu membangkitkan kenangan masa kecilnya.

Di seberang sungai ini terletak tanah Owari. Di bawah sinar matahari musim gugur, bau tanah dari tempat kelahiran menimbulkan rangsangan tersendiri dalam dirinya.

Tomita Tomonobu dan Tsuda Nobukatsu telah kembali dari suatu misi, dan sedang menunggu kedatangannya dengan tak sabar.

Setelah meninggalkan kudanya di gerbang, Hideyoshi bergegas dengan cara yang tidak lazim baginya. Ia sendiri yang mengajak kedua laki-laki yang keluar untuk menyambutnya ke tengah rumpun pohon yang dijaga ketat.

"Bagaimanakah jawaban Yang Mulia Nobuo?" ia bertanya. Suaranya pelan, tapi matanya bersinar- sinar penuh harap.

Tsuda yang pertama angkat bicara. "Yang Mulia Nobuo berpesan bahwa beliau memahami perasaan tuanku dan setuju untuk mengadakan pertemuan."

"Apa? Dia setuju?"

"Bukan itu saja, beliau tampak senang sekali." "Betulkah?" Hideyoshi menarik napas dalam-

dalam, lalu mendesah panjang. "Betulkah? Itukah yang terjadi?" ia mengulangi.

Sejak semula, niat Hideyoshi menyusuri Jalan Raya Ise pada saat ini didasarkan atas spekulasi. Ia mengharapkan pemecahan lewat jalan diplomasi. tapi jika usaha itu gagal, ia akan menyerang Kuwana, Nagashima, dan Kiyosu. Dan itu akan membuka Bukit Komaki terhadap serangan dari belakang. Tsuda terhitung sebagai kerabat marga Oda; ia putra seorang sepupu Nobunaga. Ia memaparkan duduk perkaranya kepada Nobuo, dan akhirnya berhasil mendapatkan jawaban.

"Aku bukan orang yang menyukai perang." balas Nobuo. "Jika Hideyoshi menganggapku begitu penting dan ingin mengadakan perundingan damai, aku tidak keberatan menemuinya."

Sejak pertempuran pertama di Bukit Komaki, Hideyoshi telah menyadari bahwa Ieyasu takkan mudah diajak bicara. Setelah itu ia mempelajari hati nurani manusia dan mempengaruhi orang- orang di sekitar lawannya itu secara diam-diam.

Akibat pengaruh Hideyoshi, Ishikawa Kazumasa menjadi sasaran kecurigaan di kalangan inti marga Tokugawa. Jadi, ketika Niwa Nagahide menganjurkan perundingan, orang-orang di kalangan inti Nobuo yang telah menjalin hubungan dengan Niwa segera diasingkan sebagai golongan perdamaian. Nobuo sendiri gelisah memikirkan niat Ieyasu sesungguhnya, dan pihak Tokugawa mengamati pasukan Nobuo dengan waspada. Keadaan ini berkembang akibat perintah khusus dari Osaka yang jauh.

Hideyoshi percaya benar bahwa apa pun siasat diplomasi yang ia gunakan, pengorbanannya tidak sehebat pengorbanan dalam perang. Setelah menempuh berbagai alternarif pun—berhadapan langsung dengan Ieyasu di Bukit Komaki, menjalankan rencana militer yang lihai, bahkan melancarkan gertakan mengancam—Hideyoshi tetap merasa bahwa berperang melawan Ieyasu takkan membawa hasil, dan bahwa ia harus mencari jalan lain.

Pertemuan dengan Nobuo keesokan harinya merupakan perwujudan dari pemikiran seperti itu. Hideyoshi bangun pagi-pagi sekali, dan sambil memandang ke langit, berkata, "Cuaca sangat

mendukung."

Pada malam sebelumnya, gerakan awan musim gugur sempat menimbulkan kecemasan di hatinya; dan ia khawatir bahwa jika ada hujan dan angin, pihak Nobuo mungkin ingin menunda pertemuan atau memilih tempat lain, sehingga rencananya tercium oleh orang-orang Tokugawa. Sebelum tidur, pikiran Hideyoshi terus diusik oleh kemungkinan yang tidak menguntungkan itu, tapi pagi ini awan-awan telah lenyap dan langit tampak lebih biru daripada biasanya di musim gugur. Hideyoshi menganggap-nya pertanda baik, dan sambil mendoakan keberhasilan bagi dirinya sendiri, ia menaiki kudanya dan meninggalkan perkemahan di Nawabu.

Para pengiringnya terdiri atas beberapa pengikut senior, sejumlah pelayan, dan kedua bekas utusan, Tomita dan Tsuda. Namun ketika rombongan mereka akhirnya menyeberangi Sungai Machiya, Hideyoshi telah mengambil langkah pengamanan dengan menyembunyikan sekelom- pok prajuritnya di tengah alang-alang dan di rumah-rumah petani pada malam sebelumnya. Hideyoshi terus mengobrol di atas kudanya, seakan-akan tidak melihat mereka,dan akhirnya turun di tepi Sungai Yada yang berdekatan dengan daerah pinggiran sebelah barat Kuwana.

"Bagaimana kalau kita tunggu kedatangan Yang Mulia Nobuo di sini saja?" tanyanya, dan sambil duduk di kursinya, ia mengamati pemandangan sekitarnya.

Tak lama kemudian, Nobuo, disertai sejumlah pengikut berkuda, tiba sesuai waktu yang telah ditetapkan. Tentunya ia pun melihat orang-orang yang menunggu di tepi sungai, dan ia segera mulai berunding dengan para jendral di kedua sisinya, tanpa melepaskan pandangan dari Hideyoshi. la berhenti, lalu turun dari kudanya di tempat yang agak jauh, rupanya karena curiga.

Kerumunan samurai yang menyertainya kini menyebar ke kiri-kanan. Nobuo mengambil posisi di tengah dan mulai menghampiri Hideyoshi. Kilauan baju tempurnya seakan-akan mencerminkan keperkasaannya di medan laga.

Hideyoshi. Inilah orang yang sampai kemarin masih dituduh sebagai pembunuh berdarah dingin dan tak tahu berterima kasih. Inilah musuh yang kejahatannya disebutkan satu per satu oleh Nobuo dan Ieyasu. Meski telah menyetujui usulan Hideyoshi dan menemuinya di sini. Nobuo tak sanggup menenangkan diri. Apakah tujuan orang itu sesungguhnya?

Ketika Hideyoshi melihat Nobuo berdiri penuh wibawa, ia bangkit dari kursinya dan seorang diri bergegas menghampiri nya.

"Ah, Yang Mulia Nobuo!" la melambaikan kedua tangan, seolah-olah pertemuan ini terjadi secara tak terduga dan tanpa rencana sebelumnya.

Nobuo tampak bingung. tapi para pengikut yang mengelilinginya, yang tampak begitu mengesankan dengan tombak dan baju tempur masing-masing, menatap Hideyoshi dengan ternganga.

Namun itu bukan satu-satunya kejutan yang menanti mereka. Hideyoshi kini telah berlutut di hadapan Nobuo, bersembah sujud sampai wajahnya hampir mengenai sandal jerami Nobuo.

Lalu, sambil meraih tangan Nobuo yang masih tercengang, ia berkata, "Tuanku, dalam tahun ini tak satu hari pun berlalu tanpa hamba merasakan hasrat untuk bertemu tuanku. Hamba sungguh bahagia melihat tuanku dalam keadaan sehat walafiat. Roh jahat macam apakah yang menyesatkan tuanku sehingga kita saling berperang? Mulai hari ini tuanku akan menjadi junjungan hamba, seperti sediakala."

"Hideyoshi, berdirilah. Aku pun bersyukur kau telah bertobat. Kita sama-sama bersalah. Mari, bangkitlah."

Nobuo menarik Hideyoshi sampai berdiri.

Pertemuan pada hari kesebelas Bulan Kesebelas di antara kedua orang itu berjalan lancar, dan persetujuan damai pun berhasil dicapai. Berdasarkan tata krama, Nobuo seharusnya membicarakan masalah itu dengan Ieyasu dan meminta persetujuannya sebelum bertindak. Tapi kesempatan menguntungkan ini langsung disambutnya dengan baik, dan ia menerima tawaran damai Hideyoshi tanpa berkonsultasi lebih dulu.

Dengan demikian, orang yang selama ini dimanfaatkan Ieyasu demi kepentingannya sendiri telah direbut oleh musuhnya. Singkat kata, Nobuo termakan bujuk rayu Hideyoshi.

Orang hanya dapat menebak kata-kata manis yang digunakan Hideyoshi untuk memikat Nobuo. Selama tahun-tahun pengabdiannya, Hideyoshi jarang-jarang memancing kemarahan ayah Nobuo, Nobunaga, jadi menghadapi Nobuo merupakan tugas ringan baginya. Tapi persyaratan perjanjian damai yang semula disampaikan oleh kedua utusan tak dapat dikatakan manis maupun ringan:

Pasal : Anak perempuan Nobuo akan diangkat anak oleh Hideyoshi.

Pasal : Keempat distrik di Ise bagian utara yang diduduki Hideyoshi akan diserahkan kembali pada Nobuo.

Pasal : Nobuo akan mengirim beberapa perem- puan dan anak-anak anggota marganya sebagai sandera.

Pasal : Tiga distrik di Iga, tujuh distrik di Ise bagian selatan, Benteng Inuyama di Owari, dan kubu pertahanan di Kawada akan diserahkan pada Hideyoshi.

Pasal : Semua kubu pertahanan sementara dari kedua pihak di Provinsi Ise dan Owari akan dibancurkan.

Nobuo membubuhkan segelnya di atas dokumen tersebut. Sebagai hadiah dari Hideyoshi. pada hari itu Nobuo menerima dua puluh keping emas serta pedang buatan Fudo Kuniyuki. Ia juga memperoleh tiga puluh lima ribu bal beras yang merupakan barang rampasan perang dari daerah Ise.

Hideyoshi telah bersembah sujud di hadapan Nobuo, dan telah memberikan berbagai hadiah sebagai tanda persahabatan. Dengan perlakuan seperti itu, Nobuo mau tak mau tersenyum puas. Namun sudah jelas bahwa Nobuo tidak mempertimbangkan bagaimana siasatnya akan menjadi senjata makan tuan. Di zaman yang serba tak menentu itu, Nobuo memperlihatkan kebodohan yang tak dapat dimaafkan. Takkan ada yang menyalahkan seandainya ia tetap berdiri di pinggir, tapi ia memilih berdiri di tengah panggung. Tanpa menyadari dirinya diperalat, ia telah menyebabkan kematian banyak orang di bawah panjinya.

***

Orang yang paling terkejut ketika semuanya terungkap adalah Ieyasu yang telah berpindah dari Okazaki ke Kiyosu guna memperoleh tempat berpijak untuk berperang melawan Hideyoshi. Hari kedua belas telah tiba.

Sakai Tadatsugu tiba-tiba muncul di benteng, setelah memacu kudanya sepanjang malam dari Kuwana.

Tidak biasanya seorang komandan dari garis depan meninggalkan posisinya dan mendatangi Kiyosu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Selain itu, Tadatsugu merupakan pejuang kawakan ber- usia enam puluh tahun. Mengapa orang tua itu menempuh perjalanan semalam suntuk, hanya diiringi beberapa orang?

Tadatsugu tiba sebelum waktu sarapan, tapi Ieyasu keluar dari kamar tidur, duduk di ruang pertemuan pribadinya, dan bertanya, "Ada apa, Tadatsugu?"

"Yang Mulia Nobuo bertemu dengan Hideyoshi kemarin. Kabarnya mereka berdamai tanpa ber- konsultasi dengan tuanku."

Tadatsugu melihat emosi terpendam di wajah Ieyasu, dan secara tak terduga, bibirnya sendiri ikut bergetar. Ia nyaris tak sanggup menahan perasaannya. Ia ingin berseru bahwa Nobuo orang yang paling bodoh. Barangkali itulah yang tersimpan dalam hati Ieyasu. Harus marahkah ia? Harus tertawakah ia? Tak pelak lagi ia memendam semua perasaan itu, seakan-akan tak dapat menerima gejolak dalam hatinya.

Ieyasu tampak bingung. Ia tercengang. Hanya itu yang terbaca dari roman mukanya. Selama beberapa saat kedua laki-laki itu duduk membisu. Akhirnya Ieyasu mengedipkan mata dua atau tiga kali, kemudian mencubit cuping telinganya dengan tangan kiri dan menggosok-gosok pipi. la kehabisan akal. Punggungnya yang melengkung mulai bergoyang-goyang. Tangan kirinya dibiarkan terkulai di lututnya.

"Tadatsugu, kau yakin?" tanyanya.

"Hamba takkan gegabah menyampaikan laporan semacam ini. Laporan-laporan yang lebih terperinci akan menyusul"

"Kau belum mendapat kabar dari Nobuo?" "Kami mendengar berita bahwa beliau telah

meninggalkan Nagashima, melewati Kuwana, dan berhenti di Yadagawara, tapi hamba pikir beliau sekadar memeriksa pertahanan dan pasukan beliau. Setelah beliau kembali ke bentengnya pun kami belum mengetahui tujuan perjalanan beliau." Laporan-laporan berikutnya membenarkan desas-desus mengenai perjanjian  damai yang disepakati Nobuo, tapi sepanjang hari Nobuo sendiri tidak mengirim kabar. Dalam waktu singkat berita itu telah menyebar ke kalangan pengikut marga Tokugawa. Setiap kali bertemu, mereka membahas kejadian yang sukar dipercaya ini dengan berapi-api. Mereka menuduh Nobuo sebagai orang yang tidak memiliki integritas, dan bertanya-tanya bagaimana marga Tokugawa dapat menghadapi dunia dengan kepala tegak setelah mengalami musibah seperti ini.

"Kalau ini memang benar, kita tak bisa mem- biarkan orang yang menyebabkannya, biarpun dia Yang Mulia Nobuo," ujar Honda yang lekas naik darah.

Pertama-tama kita harus membawa Yang Mulia Nobuo keluar dari Nagashima dan menyelidiki kejahatannya," Ii menambahkan sambil mendelik. "Setelah itu kita akan berlaga dalam pertempuran menentukan melawan Hideyoshi."

"Aku setuju!"

"Bukankah karena Yang Mulia Nobuo kita menyiagakan pasukan?"

"Kita mendukung penegakan kewajiban dan mengangkat senjata hanya karena Yang Mulia Nobuo memohon-mohon bantuan Yang Mulia Ieyasu dan berkata bahwa keturunan Yang Mulia Nobunaga akan binasa akibat ambisi Hideyoshi! Sekarang simbol perang kewajiban itu—orang yang merupakan perwujudan keadilan—telah membelot ke pihak musuh. Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan kebodohan orang itu."

"Dalam keadaan seperti ini, wibawa junjungan kita diinjak-injak. Kita menjadi bahan tertawaan. Ini merupakan penghinaan terhadap rekan-rekan kita yang gugur di Bukit Komaki dan Nagakute."

"Kematian mereka sia-sia belaka, dan tak ada alasan kenapa kita harus menanggung beban seperti itu. Bagaimana kiranya keputusan yang diambil junjungan kita?"

"Sepanjang pagi beliau tidak keluar dari ruangannya. Beliau mengadakan pertemuan dengan para pengikut senior, dan rupanya mereka masih berunding.

"Bagaimana kalau salah seorang yang ada di sini menyampaikan pandangan kita kepada para pengikut senior?"

"Ya. itu gagasan baik. Tapi siapa yang bersedia?" Mereka semua saling pandang.

"Bagaimana denganmu, li? Dan kau, Honda, sebaiknya ikut juga." Honda dan li baru saja hendak meninggalkan ruangan ketika seorang kurir masuk. "Dua utusan Yang Mulia Nobuo baru saja tiba." "Apa? Utusan dari Nagashima?" Berita itu kembali mengobarkan kemarahan mereka.

Namun karena utusan-utusan tersebut telah dibawa ke bangsal pertemuan, besar kemungkinan mereka sudah bertatap muka dengan Ieyasu. Sambil saling meyakinkan bahwa tanggapan junjungan mereka akan segera diumumkan, para pengikut Ieyasu memutuskan untuk menunggu hasil pertemuan itu.

Bertindak sebagai utusan Nobuo adalah pamannya, Oda Nobuteru, serta Ikoma Hachiemon. Dapat dibayangkan bahwa sulit bagi keduanya untuk menghadapi Ieyasu, apalagi men- jelaskan pemikiran Nobuo, dan dengan lesu mereka menunggu di bangsal pertemuan.

Tak lama kemudian Ieyasu muncul disertai seorang pelayan. Ia mengenakan kimono tanpa baju tempur, dan wajahnya tampak cerah.

Ia duduk di sebuah bantal dan berkata. "Kabarnya Yang Mulia Nobuo telah berdamai dengan Hideyoshi."

Kedua utusan membenarkannya sambil bersujud; mengangkat kepala pun mereka tak sanggup.

Nobuteru berkata. "Perundingan damai dengan Yang Mulia Hideyoshi tentu mengagetkan dan memalukan bagi marga Tokugawa, dan kami pun memahami perasaan Yang Mulia, namun sesung- guhnya junjungan kami telah mempertimbangkan situasi ini dengan saksama, dan..."

"Aku mengerti," balas Ieyasu. "Tuan-Tuan tak perlu memberi penjelasan panjang-lebar."

"Perinciannya tercantum dalam surat ini, jadi... ehm... jika Yang Mulia berkenan..."

"Nanti saja kubaca."

"Satu-satunya hal yang mengusik junjungan kami adalah kemungkinan bahwa Yang Mulia merasa gusar." kata Hachicmon.

"Wah, wah, ini tak perlu dirisaukan. Sejak pertama, peperangan ini tak ada sangkut-pautnya dengan keinginan atau rencana-rencanaku sendiri."

"Kami paham sepenuhnya."

"Oleh karena itu, aku akan tetap mendoakan kesejahteraan Yang Mulia Nobuo."

"Yang Mulia tentu lega mendengarnya."

"Aku telah menyuruh para pelayan menyiapkan hidangan sederhana di ruangan lain. Kita patut bersyukur bahwa perang ini berakhir dengan cepat. Silakan makan siang dulu sebelum Tuan-Tuan bertolak kembali."

Ieyasu meninggalkan mereka. Para utusan dari Nagashima dijamu dengan makanan dan minuman di sebuah ruangan lain, tapi mereka makan terburu-buru dan segera berangkat.

Ketika para pengikut Ieyasu menerima kabar mengenai pembicaraan itu, mereka marah sekali.

"Yang Mulia tentu mempunyai pertimbangan lain. Kalau tidak, mana mungkin beliau sede- mikian mudah menyetujui persekutuan antara Yang Mulia Nobuo dan Hideyoshi?"

Sementara itu, Ii dan Honda menemui para pengikut senior untuk menyampaikan pandangan kalangan pengikut muda.

"Juru tulis!" Ieyasu memanggil.

Setelah menerima kedua utusan Nobuo di ruang pertemuan pribadi, ia kembali ke kamarnya dan duduk termenung selama beberapa waktu. Kini suaranya berkumandang.

Si juru tulis membawa batu tinta dan menunggu perintah junjungannya.

"Aku ingin mengirim surat ucapan selamat pada Yang Mulia Nobuo dan Yang Mulia Hideyoshi."

Ketika mendiktekan surat-surat itu, Ieyasu memalingkan wajah dan memejamkan mata. Sambil memoles kalimat-kalimat yang akan dicantumkan, tampaknya ia menyerap perasaan- perasaan yang membara bagaikan besi cair dalam dadanya.

Setelah surat-surat itu selesai, ia memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil Ishikawa Kazumasa.

Si juru tulis meninggalkan kedua surat tersebut di hadapan Ieyasu, membungkuk, lalu mengundurkan diri dari ruangan. Setelah ia pergi, seorang pembantu pribadi masuk dengan membawa lilin dan menyalakan dua lentera.

Matahari telah terbenam. Ketika memandang cahaya lentera, Ieyasu merasa hari berlalu cepat. Ia bertanya-tanya. itukah sebabnya ia tetap merasakan kekosongan di hatinya, meski beban kerjanya begitu berat.

Seakan-akan dari jauh, ia mendengar bunyi pintu geser membuka per-lahan.

Kazumasa, berpakaian sipil seperti junjungan- nya, tampak membungkuk di ambang pintu. Di antara para prajurit marga Tokugawa hampir tak ada yang telah membuka baju tempurnya, namun karena sejak pagi melihai Ieyasu berbaju biasa, Kazumasa pun menukar baju tempur dengan kimono.

"Ah, Kazumasa. Kau terlalu jauh di sebelah sana. Majulah sedikit."

Orang yang sama sekali tidak berubah adalah Ieyasu. Tapi ketika Kazumasa menghadapnya, ia tampak seakan-akan tak berdaya.

"Kazumasa, kuminta kau bertindak sebagai utusanku dan mengunjungi perkemahan Yang Mulia Hideyoshi dan markas besar Yang Mulia Nobuo di Kuwana besok pagi."

"Baik."

"Surat-surat ucapan selamat sudah disiapkan." "Ucapan selamat atas perjanjian damai yang

mereka sepakati?" "Benar."

"Rasanya hamba memahami pikiran tuanku. Tuanku takkan mengungkapkan rasa tidak senang, tapi kalau melihat kemurahan hati tuanku, Yang Mulia Nobuo pun akan merasa malu."

"Apa maksudmu, Kazumasa? Tidak sepantasnya aku mempermalukan Yang Mulia Nobuo, sedangkan pernyataan untuk meneruskan perang karena dorongan kewajiban akan berkesan janggal. Entah perjanjian itu palsu atau bukan, aku tak punya alasan untuk menyesalkan perdamaian. Jelaskanlah dengan tulus, bahkan gembira, bahwa aku berucap syukur dari lubuk hati yang paling dalam, dan bahwa aku turut bersukacita bersama para warga Kekaisaran."

Kazumasa termasuk orang yang dapat membaca apa yang tersimpan dalam hati junjungannya, dan kini Ieyasu telah memberikan perintah terperinci mengenai tugas yang akan dijalankannya. Namun bagi Kazumasa masih ada satu hal yang menyakitkan, yaitu kesalahpahaman para pengikut lain menyangkut dirinya—bahwa ia dan Hideyoshi menjalin hubungan akrab. Tahun lalu, setelah kemenangan Hideyoshi di Yanagase, Kazumasa ditunjuk sebagai utusan Ieyasu pada Hideyoshi.

Saat itu kegembiraan Hideyoshi meluap-luap. la mengundang para pembesar untuk menghadiri upacara minum teh di Benteng Osaka yang masih dalam pembangunan.

Setelah itu, setiap kali ia berhubungan dengan marga Tokugawa, Hideyoshi selalu menanyakan kabar Kazumasa, dan ia pun selalu bicara mengenai Kazumasa di hadapan pembesar-pem besar yang mempunyai hubungan baik dengan marga Tokugawa.

Keakraban Kazumasa dengan Yang Mulia Hideyoshi telah terukir dalam benak para prajurit Tokugawa. Selama menemui jalan buntu di Bukit Komaki, dan kemudian ketika Niwa mengupayakan penyelesaian secara damai, setiap tindakan Kazumasa diawasi dengan cermat oleh sekutu-sekutunya.

Seperti dapat diduga, leyasu tidak terpengaruh sedikit pun oleh semuanya itu.

"Wah, di luar sana bising sekali, bukan?"

Suara-suara riuh terdengar dari bangsal yang berjarak agak jauh dari tempat Ieyasu dan Kazumasa duduk. Rupa-rupanya para pengikut yang menentang perjanjian damai sedang menyatakan ketidakpuasan mereka dan memprotes pemanggilan Kazumasa ke hadapan Ieyasu.

Ii dan Honda, yang bertindak sebagai juru bicara, serta beberapa orang lain telah mengelilingi Tadatsugu.

"Bukankah Tuan yang memimpin barisan depan dan tinggal di kota benteng Kuwana? Apakah Tuan tidak malu bahwa Tuan tidak mengetahui pertemuan antara Yang Mulia Nobuo dan Hideyoshi di Yadagawara? Dan bagaimana dengan kurir Hideyoshi yang langsung datang ke Benteng Kuwana? Bagaimana tindakan Tuan setelah datang ke sini karena mendengar kabar mengenai perjanjian damai yang tidak sah itu?"

Mereka terus menanyai Tadatsugu dengan keras. Masalahnya, kemungkinan kecil Hideyoshi membuat rencana yang akan bocor sebelum waktunya. Bagi Tadatsugu, itu saja sudah cukup sebagai pembenaran. Namun menghadapi protes yang menggebu-gebu, ia pasrah menerima ke- marahan dan caci maki mereka, dan meminta maaf dengan kesabaran yang pantas bagi seorang jendral tua.

Tapi sesungguhnya Ii maupun Honda tidak bermaksud menggugat orang tua itu. Keduanya hanya ingin menyampaikan pandangan mereka pada junjungan mereka. dan menolak perjanjian damai itu. Mereka juga hendak memberi tahu seluruh dunia bahwa marga Tokugawa tidak terlibat dalam pembicaraan damai dengan Nobuo.

"Bersediakah Tuan menjadi perantara bagi kami? Tuan merupakan sesepuh yang disegani."

"Tidak, itu merupakan pelanggaran serius terhadap tata krama." jawab Tadatsugu.

Namun Honda berkeras. "Orang-orang ini belum membuka baju tempur dan siap menuju medan laga. Tata krama biasa tidak berlaku dalam keadaan seperti ini."

"Waktunya mendesak," ujar Ii. "Kami dihantui ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu sebelum beliau berbicara dengan kami. Jika Tuan tidak bersedia bertindak sebagai perantara, apa boleh buat. Kami terpaksa mengajukan permohonan melalui para pembantu pribadi Yang Mulia agar dapat menemui beliau."

"Jangan. Yang Mulia sedang mengadakan pembicaraan dengan Tuan Kazumasa. Tak ada yang boleh mengganggu beliau." "Apa? Dengan Kazumasa?"

Ketika mendengar bahwa Kazumasa melakukan pembicaraan empat mata dengan Ieyasu pada waktu seperti ini, mereka semakin was-was dan gelisah. Sejak awal operasi militer di Bukit Komaki, mereka telah memandang Kazumasa sebagai orang yang patut diwaspadai. Dan ketika Niwa memprakarsai perdamaian, Kazumasa pun yang terlibat dalam perundingan. Mereka menduga perkembangan terakhir pun ikut didalangi Kazumasa.

Kecurigaan mereka akhirnya tak dapat dipendam lebih lama, dan meledak dalam suasana hiruk-pikuk yang juga terdengar oleh Ieyasu. Tak lama kemudian seorang pelayan menyusuri selasar dan menghampiri mereka.

"Tuan-tuan diminta menghadap!" pelayan itu mengumumkan.

Para pengikut tampak terkejut, dan dengan bingung mereka saling pandang. Tapi ekspresi pada wajah Honda dan Ii yang keras kepala menunjukkan bahwa justru itulah yang mereka harapkan. Sambil mendesak Sakai Tadatsugu dan yang lain, mereka menuju ruang penemuan pribadi.

Dalam sekejap ruangan itu telah penuh sesak dengan samurai-samurai berbaju tempur lengkap.

Perhatian semua orang terfokus pada Ieyasu. Kazumasa duduk di sampingnya. Kemudian Sakai Tadatsugu, dengan tulang punggung marga Tokugawa di belakangnya.

Ieyasu mulai angkat bicara, tapi mendadak ia berpaling ke arah kursi-kursi yang paling rendah dan berkata. "Orang-orang di kursi yang paling rendah duduk terlalu jauh. Aku tak bisa bicara keras-keras, jadi majulah sedikit."

Semuanya semakin berdesak-desakan mengelilingi Ieyasu ketika ia mulai bicara.

"Kemarin Yang Mulia Nobuo berdamai dengan Hideyoshi. Sebenarnya aku bermaksud mengeluarkan pemberitahuan resmi kepada seluruh marga besok pagi, tapi rupanya kalian sudah mendengar beritanya dan dihantui rasa waswas. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menutup-nutupi masalah ini."

Semua pengikutnya menundukkan kepala. "Akulah yang bersalah karena menyiagakan

pasukan sehubungan dengan permohonan bantuan Yang Mulia Nobuo. Akulah yang bertanggung jawab atas kematian begitu banyak pengikut setia dalam pertempuran-pertempuran di Bukit Komaki dan Nagakute. Dan tindakan Yang Mulia Nobuo pun, yang diam-diam bekerja sama dengan Hideyoshi sehingga kemarahan dan pengorbanan kalian menjadi tak berarti, bukan kesalahan beliau. Akulah yang lalai dan kurang bijaksana. Kalian semua telah memperlihatkan ke- tulusan kalian, dan sebagai junjungan kalian, aku tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menebus kesalahanku. Maafkan aku."

Semuanya menunduk. Tak seorang pun menatap wajah Ieyasu, dan isak tangis pun memenuhi ruangan.

"Tak ada yang dapat kita lakukan, jadi terimalah cobaan ini dengan lapang dada. Tabahkan hati kalian dan tunggu kesempatan lain."

Setelah duduk, baik Honda maupun Ii tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kedua orang itu malah mengeluarkan saputangan, dan sambil menoleh, mengusap air mata mereka.

"Ini merupakan berkah bagi kita. Perang telah usai, dan besok aku akan kembali ke Okazaki. Kalian pun akan pulang untuk menemui anak-istri masing-masing." ujar Ieyasu sambil membuang ingus.

Keesokan harinya, hari ketiga belas bulan itu, Ieyasu beserta bagian terbesar pasukan Tokugawa meninggalkan Benteng Kiyosu dan kembali ke Okazaki di Mikawa. Pada pagi hari yang sama, Ishikawa Kazumasa pergi ke Kuwana bersama Sakai Tadatsugu. Setelah mengunjungi Nobuo, ia melanjutkan perjalanan untuk menemui Hideyoshi di Nawabu. Ia menyampaikan salam dari Ieyasu, lalu menyerahkan surat ucapan selamat dan segera pulang lagi. Sesudah Kazumasa pergi, Hideyoshi menatap orang-orang di sekelilingnya.

"Lihat itu," ia berkata. "Itulah Ieyasu. Tak ada orang yang sanggup menelan pit pahit ini seakan- akan hanya minum teh panas."

Sebagai orang yang telah memaksa Ieyasu menenggak besi cair. Hideyoshi dapat menghayati perasaan musuhnya itu. Sambil menempatkan diri pada posisi Ieyasu, ia bertanya-tanya, apakah ia sendiri sanggup bereaksi dengan cara yang sama.

Ketika hari demi hari berlalu, satu orang yang merasa cukup puas dengan dirinya adalah Nobuo. Setelah pertemuan di Yadagawara, ia sepenuhnya menjadi boneka Hideyoshi. Situasi apa pun yang dihadapinya, ia selalu bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana pendapat Hideyoshi mengenai ini?"

Sama seperti ketika dengan Ieyasu sebelumnya, ia kini terus dihantui kecemasan mengenai tanggapan Hideyoshi terhadap setiap tindakannya. Karena itu, ia merasa perlu memenuhi syarat- syarat yang diajukan Hideyoshi dalam perjanjian damai dengan setepat-tepatnya. Sebagian wilayah- nya, para sandera, dan perjanjian tertulis telah ia

serahkan tanpa kecuali.

Hideyoshi mulai mengendurkan tekanan. Meski demikian, karena berpendapat bahwa pasukannya perlu tinggal di Nawabu, ia mengirim kurir kepada orang-orang yang ditugaskan di Osaka dan bersiap- siap melewatkan musim dingin di medan perang.

Tak perlu disebutkan bahwa sejak semula Ieyasu-lah sumber kecemasan Hideyoshi, bukan Nobuo, Karena urusan dengan Ieyasu belum selesai, Hideyoshi tak dapat berkata bahwa situasi telah berhasil ia kuasai. Saat itu tujuannya baru tercapai setengahnya. Suatu hari Hideyoshi berkunjung ke Benteng Kuwana, dan setelah membicarakan berbagai topik dengan Nobuo, ia bertanya, "Bagaimana keadaan tuanku belakangan ini?"

"Aku sehat walafiat! Dan ini tentu karena tak ada yang membebani pikiranku. Aku telah pulih dari kelelahan di medan perang, dan tak ada yang kucemaskan."

Nobuo tertawa cerah dan riang, dan Hideyoshi mengangguk beberapa kali, seakan-akan sedang memangku anak kecil.

~Ya, ya Aku bisa membayangkan bahwa perang yang sia-sia ini telah melelahkan tuanku. Namun sesungguhnya masih ada beberapa persoalan yang belum tuntas."

"Apa maksudmu, Hideyoshi?"

"Jika Yang Mulia Ieyasu dibiarkan seperti sekarang, kelak beliau akan menimbulkan kesulitan bagi tuanku."

"Begitukah? Tapi dia telah mengirim pengikutnya untuk menyampaikan ucapan selamat."

"Sudah tentu beliau tak ingin menentang kehendak tuanku." "Tentu saja."

"Jadi, tuanku perlu mengambil langkah pertama. Dalam hati, Yang Mulia Tokugawa ingin berdamai dengan hamba, namun sekiranya beliau mengalah begitu saja, beliau akan kehilangan muka. Dan karena tak ada alasan untuk menentang hamba, beliau tentu dilanda kebingungan. Alangkah baiknya kalau tuanku membantu beliau."

Di antara putra keluarga terpandang, tak sedikit yang sangat egois, mungkin karena beranggapan bahwa semua orang di sekeliling mereka hidup semata-mata untuk melayani mereka. Tak pemah terlintas dalam benak mereka untuk membantu orang lain. Tapi setelah diajak bicara oleh Hideyoshi, Nobuo pun sanggup memahami bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingannya sendiri.

Jadi, beberapa hari kemudian, ia mengusulkan agar ia sendiri yang bertindak sebagai penengah antara Hideyoshi dan Ieyasu. Sesungguhnya ia memang wajib menjalankan tugas tersebut, namun sebelum disinggung oleh Hideyoshi, hal itu tak pernah terpikir olehnya.

"Jika beliau menerima persyaratan-persyaratan yang kita ajukan, kita akan memaafkan perbuatannya untuk menghormati peran tuanku dalam perundingan ini." Hideyoshi mengambil sikap sebagai pemenang, tapi ingin agar syarat-syarat perdamaian disampaikan melalui mulut Nobuo. Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

Putra Ieyasu, Ogimaru, akan diangkat anak oleh Hideyoshi, dan putra Kazumasa, Katsuchiyo, serta putra Honda, Senchiyo, harus diserahkan sebagai sandera.

Selain menghancurkan kubu-kubu pertahanan, pembagian wilayah yang sebelumnya telah disetujui oleh Nobuo, serta konfirmasi status quo oleh pihak Tokugawa, Hideyoshi tidak menginginkan perubahan lebih lanjut.

"Sesungguhnya masih ada perasaan gusar terhadap Yang Mulia Ieyasu dalam hatiku, tapi aku dapat memendam perasaan itu demi menjaga kehormatan. Dan karena tuanku telah memutuskan untuk menjalankan tugas ini, rasanya kurang baik kalau ditunda terlalu lama. Mengapa tuanku tidak segera mengirim kurir ke Okazaki?"

Ditegur seperti itu, Nobuo langsung mengirim dua pengikut seniornya sebagai utusan ke Okazaki. Persyaratan yang diajukan Hideyoshi tak dapat disebut keras, tapi ketika Ieyasu mendengarnya, ia

jadi mengelus dada.

Meskipun dikatakan bahwa Ogimaru akan diangkat anak, sesungguhnya ia tak lebih dari sandera biasa. Dan mengirim putra dua pengikut senior ke Osaka jelas-jelas merupakan syarat yang hanya dikenakan kepada pihak yang kalah. Namun, walaupun para pengikutnya marah sekali. Ieyasu bersikap tenang agar Okazaki pun tetap tenang.

"Aku menerima persyaratan ini, dan aku berharap Tuan-Tuan dapat menangani pelak- sanaan selanjutnya," ia berkata pada kedua utusan Hideyoshi.

Mereka mondar-mandir, berulang kali. Kemudian, pada hari kedua puluh satu Bulan Kesebelas, Tomita Tomonobu dan Tsuda Nobukatsu datang ke Okazaki untuk menandatangani perjanjian damai.

Pada hari kedua belas Bulan Kedua Belas, putra Ieyasu dikirim ke Osaka. Ia disertai oleh putra Kazumasa dan putra Honda. Para prajurit yang menyaksikan keberangkatan para sandera berdiri di sepanjang jalan dan mencucurkan air mata. Dengan demikian, berakhirlah aksi mereka di Bukit Komaki—sebuah aksi yang sempat mengguncang seluruh negeri.

Nobuo datang ke Okazaki pada hari keempat belas, menjelang akhir tahun, dan tinggal sampai hari kedua puluh lima. Tak sepatah pun kata bernada tak menyenangkan keluar dari mulut Ieyasu. Selama sepuluh hari ia menjamu laki-laki lugu yang masa depannya telah jelas itu, lalu mengirimnya pulang lagi.

Tahun   Kesebelas    Tensho    pun    berakhir, meninggalkan berbagai macam kesan dalam hati orang-orang. Salah satu hal yang paling terasa adalah kepastian bahwa dunia telah berubah. Baru setengah tahun berlalu sejak Nobunaga wafat di Tahun Kesepuluh Tensho, dan semua orang dikejutkan oleh perubahan menyeluruh yang datang begitu cepat.

Kedudukan, popularitas, serta misi yang semula menjadi milik Nobunaga dengan cepat beralih pada Hideyoshi. Kebebasan yang dibawa Hideyoshi memang sesuai dengan perkembangan zaman, dan ikut mendorong revolusi-revolusi kecil dan kemajuan dalam masyarakat serta pemerintahan.

Ketika mengamati perkembangan zaman, Ieyasu terpaksa mengakui kebodohannya karena telah melawan arus. Dari semua orang yang menentang laju perubahan, tak seorang pun berhasil selamat, dan Ieyasu pun mengetahui hal itu. Pemikirannya didasarkan atas kesadaran bahwa manusia tak lebih dari setitik debu dalam perjalanan waktu, dan bahwa menentang orang yang sedang di atas angin merupakan tindakan sia-sia. Karena itu, ia sepenuhnya tunduk pada Hideyoshi.

Tapi bagaimanapun orang yang menyambut Tahun Baru di puncak kemakmuran adalah Hideyoshi. Ia kini berusia empat puluh sembilan tahun. Dalam usia kelima puluh, satu tahun lag, ia akan menikmati masa keemasannya sebagai laki- laki. Jumlah tamu Tahun Baru berlipat ganda dibandingkan tahun lalu, dan dengan mengenakan pakaian kebesaran, mereka memenuhi Benteng Osaka. Melihat mereka, orang mendapat kesan bahwa musim semi sudah dekat.

Ieyasu tentu saja tidak muncul, dan segelintir pembesar provinsi yang berpihak padanya mengikuti contohnya. Disamping itu, sekarang pun masih ada kalangan tertentu yang menentang Hideyoshi dan diam-diam melakukan persiapan militer serta mengumpulkan laporan-laporan rahasia. Orang-orang itu pun enggan mengikat kuda mereka di gerbang Benteng Osaka.

Hideyoshi memperhatikan semuanya itu ketika ia menyambut tamu demi tamu.

Memasuki Bulan Kedua, Nobuo berkunjung dari Ise. Andai kata ia datang pada Tahun Baru seperti para pembesar provinsi yang lain, kesannya ia mendatangi Hideyoshi untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru, dan itu dianggap merendahkan martabatnya.

Tak ada yang lebih mudah daripada memuaskan kesombongan Nobuo. Dengan sikap hormat seperti yang ditunjukkannya ketika berlutut di hadapan Nobuo di Yadagawara, Hideyoshi memperlihatkan ketulusan sewaktu menyambut tamunya. Ucapan Hideyoshi di Yadagawara iernyata tidak bohong, pikir Nobuo. Ketika timbul desas-desus mengenai Ieyasu, Nobuo segera mencela watak penuh perhitungan yang dimiliki orang itu, karena menyangka bahwa dengan cara demikian ia dapat menyenangkan hati Hideyoshi. Tapi Hideyoshi hanya mengangguk sambil membisu.

Pada hari kedua Bulan Ketiga, Nobuo kembali ke Ise dalam keadaan gembira. Selama kunjungannya di Osaka, ia diberitahu bahwa berkat jasa baik Hideyoshi, ia dianugerahi gelar istana. Nobuo tinggal di Kyoto selama lima hari dan menerima ucapan selamat dari banyak tamu. Baginya matahari seakan-akan tak mungkin terbit kalau bukan karena Hideyoshi.

Perjalanan para pembesar provinsi dari dan ke Osaka selama Tahun Baru dilaporkan secara terperinci ke Hamamatsu. Namun Ieyasu tak dapat berbuat apa-apa selain berdiri di tepi dan mengamati cara Hideyoshi menenteramkan Nobuo. Penutup

ANTARA musim semi dan musim gugur tahun itu, Hideyoshi mengirim armada kapal perang ke Selatan dan pasukan berkuda ke Utara, dalam rangka menundukkan seluruh negeri. Ia kembali ke Benteng Osaka di Bulan Kesembilan, dan mulai menangani urusan pemerintahan yang me- nyangkut masalah dalam maupun luar negeri.

Sesekali ia menoleh ke belakang dan mengenang gunung-gunung yang didakinya untuk mencapai kedudukannya sekarang, dan di saat-saat seperti itu, mau tak mau ia mengucapkan selamat pada dirinya sendiri. Tahun depan ia akan berusia lima puluh tahun, saat seseorang merenungi kehidupan yang telah dijalaninya dan dipaksa memikirkan langkah berikut,

Kemudian, karena ia pun manusia dan bahkan lebih dipengaruhi bawa nafsu dibandingkan orang kebanyakan, tidaklah mengherankan bahwa pada malam hari ia kerap mengingat-ingat dorongan- dorongan yang menguasai hidupnya sejak dulu sampai sekarang, dan bertanya-tanya ke mana ia akan dibawa di masa mendatang.

Inilah musim gugur dalam hidupku. Tak banyak waktu tersisa setelah usia keempat puluh sembilan.

Ketika membandingkan perjalanan hidupnya dengan sebuah pendakian gunung, ia merasa seakan-akan memandang bukit-bukit di bawah setelah hampir mencapai puncak.

Puncak gunung dianggap sebagai tujuan akhir sebuah pendakian. Tapi tujuan sesungguhnya, yaitu memperoleh kenikmatan hidup, tidak ditemui di puncak, melainkan dalam kesulitan- kesulitan yang menghadang di perjalanan. Perjalanan itu ditandai oleh lembah, tebing, sungai, jurang, serta tanah longsor, dan pada waktu menyusuri jalan setapak, sang pendaki mungkin merasa ia tak dapat maju lebih jauh, atau bahkan kematian lebih baik daripada meneruskan perjalanan. Tapi kemudian ia bangkit dan kembali berjuang melawan kesulitan-kesulitan yang menghadang, dan ketika akhirnya ia dapat menoleh dan mengamati rintangan yang berhasil diatasinya, ia pun menyadari bahwa ia telah merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.

Betapa membosankan hidup bebas dari kebimbangan atau perjuangan yang melelahkan! Betapa cepatnya orang akan bosan menempuh perjalanan di tempat datar. Pada akhirnya, hidup manusia merupakan rangkaian penderitaan dan perjuangan, dan kenikmatan hidup tidak terletak dalam masa-masa jeda yang singkat. Hideyoshi, yang lahir dalam kesengsaraan, tumbuh dewasa sambil bermain di tengah-tengahnya.

Pada Bulan Kesepuluh tahun Tensho Keempat Belas, Hideyoshi dan Ieyasu bertemu di Benteng Osaka untuk perundingan damai yang bersejarah. Tak terkalahkan di medan perang, Ieyasu menyerahkan kemenangan politik kepada Hideyoshi. Dua tahun sebelumnya, Ieyasu mengirim putranya sebagai sandera ke Benteng Osaka, dan kini ia mengambil saudara perempuan Hideyoshi sebagai istri. Ieyasu yang penyabar akan menunggu kesempatan lain. Barangkali sang burung masih akan berkicau untuknya.

Setelah jamuan makan megah untuk merayakan perdamaian dengan saingan terkuatnya, Hideyoshi kembali ke benteng dalam, tempat ia dan para pengikut kepercayaannya menyambut kemenangan dengan bercawan-cawan sake. Beberapa jam kemudian, Hideyoshi bangkit sambil terhuyung- huyung, dan mengucapkan selamat malam kepada para tamunya. Perlahan-lahan ia menyusuri selasar, seorang laki-laki pendek berwajah monyet. dikelilingi dayang-dayang, hampir tersembunyi di balik kimono sutra ber-warna cerah dan berlapis- lapis. Suara tawa perempuan terdengar di sepanjang selasar ketika sosok penguasa tertinggi di jepang itu diantar ke tempat tidurnya.

Dalam tahun-tahun yang masih tersisa baginya, Hideyoshi mengukuhkan kedudukannya sebagai pemimpin seluruh negeri, mematahkan kekuasaan marga-marga samurai untuk selama-lamanya. Minatnya terhadap seni menciptakan kemewahan dan keindahan yang sampai sekarang masih dikenang sebagai zaman kebangkitan Jepang. Gelar demi gelar dianugerahkan oleh sang Tenno: Kampaku, Taiko. Tetapi cita-cita Hideyoshi tidak berhenti di batas air, ambisinya menjangkau lebih jauh, ke negeri yang diimpi- impikannya semasa kanak-kanak—negeri para kaisar Ming. Namun di sana pasukan sang Taiko gagal berjaya. Orang yang tak pernah ragu bahwa ia sanggup membalik setiap kesulitan menjadi keuntungan baginya, bahwa ia sanggup membujuk setiap musuh untuk menjadi sahabat, bahwa ia sanggup membujuk burung yang membisu agar menyanyikan lagu yang dipilihnya— akhirnya terpaksa tunduk pada kekuatan yang lebih besar, dan kepada orang yang bahkan lebih sabar. Namun ia meninggalkan warisan yang sampai sekarang tetap dikenang sebagai Zaman Keemasan.

TAMAT