--> -->

Taiko Bab 42 : Dosa-Dosa sang Ayah Laskar Bertudung

Buku Sepuluh Tahun Tensho Kesebelas 1583

Bab 42 : Dosa-Dosa sang Ayah Laskar Bertudung

DALAM waktu satu tahun saja, nama Hideyoshi sedemikian cepat terkenal, sehingga ia sendiri pun terkejut. la telah menundukkan marga Akechi dan marga Shibata: Takigawa dan Sassa berlutut di hadapannya; Niwa memandangnya sebagai orang kepercayaan; dan Inuchiyo telah memperlihatkan kesetiaannya terhadap persahabatan mereka.

Hideyoshi kini menguasai hampir semua provinsi yang pernah ditaklukkan Nobunaga. Hubungannya dengan provinsi-provinsi di luar lingkup pengaruh Nobunaga pun telah berubah sama sekali. Marga Mori, yang selama bertahun- cahun menghalangi rencana Nobunaga untuk meraih kekuasaan tertinggi, telah menandatangani perjanjian bersekutu dan mengirim sejumlah sandera.

Namun masih ada satu orang yang tetap merupakan tanda tanya— Tokugawa leyasu. Sudah beberapa lama tidak ada komunikasi antara mereka berdua. Mereka sama-sama diam, seperti dua pemain catur yang menunggu sampai lawan melakukan langkah bagus.

Ieyasu-lah yang melangkah lebih dulu. tak lama setelah Hideyoshi kembali ke Kyoto pada hari kedua puluh satu Bulan Kelima. Ishikawa Kazumasa, jendral leyasu yang paling senior, mengunjungi Hideyoshi di Benteng Takaradera.

Aku datang untuk menyampaikan ucapan selamat dari Tuanku leyasu. Kemenangan besar yang diraih Yang Mulia telah membawa perdamaian di negeri ini." Dan dengan khidmat Kazumasa menyerahkan hadiah berupa wadah teh antik bernama Hatsuhana pada Hideyoshi.

Hideyoshi telah menjadi penggemar upacara minum teh, dan ia senang sekali menerima hadiah yang amat berharga itu. Tapi kelihatan jelas bahwa ia memperoleh kepuasan yang bahkan lebih besar lagi karena Ieyasu yang lebih dulu mengirim cinderamata. Kazumasa sebenarnya hendak kembali ke Hamamatsu hari itu juga, namun Hideyoshi menahannya.

Tuan tidak perlu terburu-buru." kata Hideyoshi. Tinggallah selama dua atau tiga hari. Aku akan memberitahu Yang Mulia Ieyasu bahwa aku yang memaksa Tuan. Apalagi kami akan mengadakan perayaan kecil untuk lingkungan keluarga besok.

Yang disebut "perayaan kecil untuk lingkungan keluarga'' oleh Hideyoshi adalah jamuan makan yang diselenggarakan dalam rangka penganugerahan gelar baru, yang merupakan bukti bahwa pihak kekaisaran pun merestui sepak terjang Hideyoshi, serta mengakui keberhasilan- keberhasilan yang diraihnya di medan perang.

Jamuan itu   berlangsung   selama   tiga   hari. Barisan pengunjung yang mendatangi benteng seakan-akan tanpa ujung, jalan-jalan sempit di kota dipadati tandu-tandu para bangsawan beserta pembantu-pembantu dan kuda-kuda mereka.

Kazumasa terpaksa mengakui bahwa kebesaran Nobunaga kini telah beralih pada Hideyoshi. Sampai hari itu ia percaya sepenuhnya bahwa junjungannya sendiri, Ieyasu, akan menjadi penerus Nobunaga. Tapi waktu yang dihabiskannya bersama Hideyoshi menyebabkan ia berubah pikiran. Ketika membandingkan provinsi- provinsi Hideyoshi dan Ieyasu serta merenungkan perbedaan di antara pasukan mereka, dengan sedih ia sampai pada kesimpulan bahwa wilayah kekuasaan Tokugawa tetap hanya merupakan daerah pinggiran di bagian timur Jepang.

Beberapa hari kemudian, Kazumasa meng- umumkan bahwa ia hendak pulang, dan Hideyoshi menyertainya sampai ke Kyoto. Ketika mereka sedang menempuh perjalanan, Hideyoshi menengok dari atas pelana dan menatap ke belakang. Ia memberi isyarat pada Kazumasa, yang sengaja menjaga jarak, untuk bergabung dengan- nya. Sebagai pengikui marga lain, Kazumasa diperlakukan dengan keramah-ramahan yang layak bagi seorang tamu. tapi tentu saja ia tahu menempatkan diri.

Hideyoshi berkata dengan akrab, "Kita telah memutuskan untuk menempuh perjalanan bersama-sama. dan itu tidak berarti berkuda sendiri-sendiri. Jalan ke Kyoto ini cukup menjemukan. jadi kenapa kita tidak berbincang- bincang saja?"

Kazumasa ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia menyejajarkan kudanya dengan kuda Hideyoshi.

"Mondar-mandir ke Kyoto sungguh merepot- kan." Hideyoshi melanjutkan. "Jadi dalam tahun ini aku akan pindah ke Osaka, yang dekat ke ibu kota." Kemudian ia menjabarkan rencananya untuk membangun sebuah benteng.

"Yang Mulia memilih lokasi yang baik di Osaka." Kazumasa berkomentar. "Konon Yang Mulia Nobunaga pun selama bertahun-tahun mengincar Osaka."

"Ya, hanya saja waktu itu para biksu-prajurit Honganji berkubu di kuil-benteng mereka di sana, sehingga beliau harus puas dengan Azuchi."

Tak lama kemudian mereka memasuki kota Kyoto, tapi ketika Kazumasa hendak mohon diri, Hideyoshi sekali lagi mencegahnya dan berkata, "Dalam cuaca sepanas ini, Tuan jangan menem- puh perjalanan lewat darat. Sebaiknya Tuan naik perahu menyeberangi danau dari Otsu. Mari kita makan siang bersama Maeda Geni sementara perahunya disiapkan."

Yang dimaksudnya adalah orang yang baru-baru ini diangkat sebagai gubernur Kyoto. Tanpa memberi kesempaian menolak pada Kazumasa, Hideyoshi membawanya ke kediaman Gubernur. Pekarangan dalam telah disapu bersih, seakan-akan kedatangan sang tamu telah diketahui sebelumnya. dan sambutan Geni terhadap Kazumasa sangat ramah.

Hideyoshi terus mendesak Kazumasa agar bersantai, dan selama makan siang tak ada yang mereka bicarakan selain benteng yang akan dibangunnya.

Geni membawa selembar kertas besar dan menggelarnya di lantai. Rencana untuk sebuah benteng ditunjukkan pada utusan provinsi lain, dan orang yang memperlihatkannya maupun orang yang mengamatinya bertanya-tanya, meng- apa Hideyoshi bersikap sedemikian terbuka: ia seakan-akan lupa bahwa Kazumasa adalah prajurit marga Tokugawa, dan sepertinya ia pun tidak mengingat huhungannya sendiri dengan marga tersebut.

"Kabarnya Tuan termasuk ahli dalam hal benteng." Hideyoshi berkata pada Kazumasa. "Jadi, kalau Tuan punya usul, kuharap Tuan jangan segan-segan."

Seperti dikatakan Hideyoshi, Kazumasa cukup menguasai pembangunan benteng. Biasanya rencana-rencana seperti itu bersirat amat rahasia— sudah barang tentu bukan sesuatu yang diperlihatkan kepada pengikut provinsi saingan— tapi Kazumasa menyingkirkan segala keragu- raguannya mengenai niat Hideyoshi dan mem- pelajari rencana-rencana tersebut.

Kazumasa tahu bahwa Hideyoshi tidak tertarik pada hal-hal kecil, namun ketika menyadari skala proyek yang direncanakan, ia pun terkagum- kagum. Pada waktu Osaka masih merupakan markas besar para biksu-prajurit Honganji, benteng mereka menempati lahan seluas seribu meter persegi. Dalam rencana Hideyoshi, itu menjadi fondasi bagi benteng utama. Topografi daerah ini—termasuk semua sungai dan pesisir laut—telah dipenimbangkan; segala kelebihan dan kekurangan telah dipikirkan masak-masak, dan kesulitan-kesulitan dalam menyerang dan bertahan serta masalah-masalah logistik lainnya telah dipecahkan. Benteng utama, serta yang kedua dan ketiga, dikelilingi tembok tanah. Panjang tembok- tembok luar lebih besar delapan belas mil. Bangunan tertinggi di sebelah dalam tembok adalah donjon bertingkat lima yang dilengkapi bukaan-bukaan untuk memanah. Genting-genting pada atapnya akan dilapisi emas.

Kazumasa hanya bisa terbengong-bengong karena takjub. Tapi apa yang dilihatnya baru satu bagian dari proyek Hideyoshi. Selokan yang mengelilingi benteng berisi air dari Sungai Yodo. Karena letaknya yang berdekatan dengan Sakai, kota niaga yang makmur, Osaka berhubungan dengan berbagai jalur perdagangan ke Cina, Korea, dan Asia Tenggara. Barisan pegunungan Yamato dan Kawachi membentuk benteng pertahanan alam. Jalan raya Sanin dan Sanyo menghubungkan Osaka dengan jalur laut dan darat ke Shikoku dan Kyushu, dan menjadikannya gerbang ke kawasan- kawasan terpencil. Sebagai lokasi benteng paling penting di selutuh negeri dan sebagai tempat untuk memerintah seluruh bangsa, Osaka jauh lebih unggul dibandingkan Azuchi-nya Nobunaga. Kazumasa tidak menemukan kekurangan sama sekali.

"Bagaimana pendapat Tuan?" tanya Hideyoshi. "Sempurna. Proyek ini sungguh megah," balas

Kazumasa. Tak ada lagi yang dapat dikatakannya secara jujur. "Memadai, bukan?"

"Setelah rampung nanti, kota ini akan menjadi kota benteng terbesar di seluruh negeri," kata Kazumasa.

"Itulah tujuanku."

"Kapan pembangunannya selesai?"

"Aku ingin pindah sebetum akhir tahun ini."

Kazumasa berkedip-kedip, seakan-akan tak percaya. "Apa? Akhir tahun ini?"

"Hmm, sekitar itulah."

"Proyek sebesar itu bisa makan waktu sepuluh tahun."

"Dalam sepuluh tahun, dunia sudah berubah, dan aku telah menjadi orang tua." kata Hideyoshi sambil tertawa. "Aku telah memerintahkan para mandor untuk merampungkan bagian dalam benteng, termasuk dekorasinya, dalam waktu tiga tahun."

"Aku tak bisa membayangkan bahwa para pengrajin dan tukang bisa dipacu bekerja secepat itu. Batu dan kayu yang akan Tuan butuhkan tentu luar biasa jumlahnya."

"Aku mengambil kayu dari dua puluh delapan provinsi."

"Dan berapa banyak tukang yang akan Tuan kerahkan?"

"Aku belum tahu persis. Rasanya lebih dari seratus ribu. Petugas-petugasku menaksir bahwa untuk menggali selokan sebelah luar dan sebelah dalam saja, kami memerlukan enam puluh ribu orang yang bekerja setiap hari selama tiga bulan."

Kazumasa terdiam. Ia merasa sedih ketika membayangkan perbedaan besar antara proyek ini dan benteng-benteng di Okazaki dan Hamamatsu di provinsinya sendiri. Tapi benar-benar sanggupkah Hideyoshi membawa batu-batu besar yang dibutuhkannya ke Osaka, suatu daerah yang sama sekali tidak mempunyai tambang batu? Dan di masa sukar ini, dari mana ia berharap mendapatkan dana guna membiayai proyek tersebut? Sempat terlintas dalam benaknya bahwa rencana-rencana besar Hideyoshi sesungguhnya hanya omong kosong.

Saat itu Hideyoshi seakan-akan teringat sesuatu yang penting. Ia me-manggil juru tulisnya dan mulai mendiktekan sepucuk surat. Tanpa meng- indahkan kehadiran Kazumasa, ia memeriksa apa yang ditulis, mengangguk, lalu mendiktekan surat berikut. Seandainya pun Kazumasa tak ingin men- dengarkan ucapan Hideyoshi, ia berada tepat di hadapannya dan mau tak mau mendengar segala sesuatu yang dikatakan. Rupanya Hideyoshi sedang mendiktekan surat yang sangat penting untuk marga Mori.

Sekali lagi Kazumasa merasa kikuk dan salah tingkah. Ia berkata, "Urusan Tuan tampaknya cukup mendesak. Bagaimana kalau tempat ini kutinggalkan dulu?"

"Jangan, jangan, tidak perlu. Sebentar lagi aku sudah selesai."

Hideyoshi kembali mendiktekan surat. la telah menerima surat ucapan selamat dari pihak Mori atas kemenangannya melawan marga Shibata. Kini, dengan berlagak menjelaskan jalannya pertempuran di Yanagase, ia menuntut agar pengirim surat itu menegaskan sikapnya mengenai masa depan marganya sendiri. Sural itu bersifat pribadi dan sangat penting.

Kazumasa duduk di samping Hideyoshi. Sambil membisu ia memandang rumpun-rumpun bambu sementara Hideyoshi mendiktekan surat.

"Andai kata Katsuie sempat mendapat peluang untuk menarik napas, dia takkan bisa dikalahkan secepat ini. Tapi nasib Jepang dipertaruhkan, sehingga aku terpaksa merelakan prajurit- prajuritku. Aku menyerang benteng utama Katsuie pada penengahan kedua jam Macan, dan pada jam Kuda aku berhasil merebut benteng dalam."

Ketika mengucapkan kata-kata "nasib Jepang", sorot matanya tampak menyala-nyala seperti ketika ia menaklukkan benteng itu. Kemudian ia mendiktekan kata-kata yang pasti akan menarik perhatian marga Mori.

"Kurasa tak ada gunanya kita menyiagakan pasukan masing-masing, tapi kalau perlu aku akan mengunjungi provinsi Tuan untuk membahas masalah perbatasan. Karena itu, pihak Tuan harus bersikap arif dan menghindari provokasi.

Kazumasa diam-diam melirik ke arah Hideyoshi, Keberanian orang itu membuatnya tercengang. Dengan tenang Hideyoshi mendiktekan kata-kata yang sangat terus terang. seakan-akan sedang duduk bersila sambil mengobrol santai. Congkakkah ia, atau sekadar naif?

"Baik marga Hojo di Timur maupun marga Uesugi di Utara tdah mempercayakan pemecahan masalah ini padaku, jika pihak Mori pun bersedia membiarkanku bertindak bebas. pemerintahan jepang akan memasuki masa jaya yang belum pernah dialami. Pertimbangkanlah ini masak- masak, jika ada keberatan, harap beritahu aku sebelum Bulan Ketujuh. Dan harap diperhatikan bahwa urusan ini sebaiknya dilaporkan secara terperinci kepada Yang Mulia Mori Terumoto."

Mata Kazumasa memperhatikan permainan angin di sela-sela bambu, namun telinganya terpesona oleh ucapan Hideyoshi. Hatinya gemetar seperti daun-daun bambu yang dibelai angin. Bagi Hideyoshi, tugas raksasa untuk membangun Benteng Osaka pun merupakan sesuatu yang kelihatannya dilakukan dalam wakiu senggang. Dan ia menegaskan. bahkan kepada marga Mori pun, bahwa jika mereka merasa keberatan, mereka harus memberirahunya sebelum Bulan Ketujuh— sebelum ia mulai berperang lagi.

Perasaan Kazumasa sukar dijelaskan dengan kata-kata; ia merasa letih.

Saat itulah seorang pembantu mengumumkan bahwa perahu Kazumasa telah siap berlayar. Hideyoshi mengambil sebilah pedang yang tergantung di pinggang dan menyerahkannya pada Kazumasa. "Biarpun sudah agak tua, orang-orang menganggapnya pedang yang baik. Terimalah pedang ini sebagai tanda penghargaan dariku."

Kazumasa mengambil pedang tersebut, dan dengan hormat mengangkatnya ke kening.

Ketika mereka melangkah ke luar, para pengawal pribadi Hideyoshi telah menunggu untuk mengantar Kazumasa ke pelabuhan Otsu.

Segunung persoalan telah menanti Hideyoshi, baik di dalam maupun di luar kota Kyoto. Setelah Yanagase, pertempuran berakhir, tapi walaupun Takigawa telah tunduk pada Hideyoshi, masih ada sejumlah pemberontak yang dengan keras kepala menolak menyerah. Sisa-sisa pasukan Ise berkubu di Nagashima dan Kobe, dan Oda Nobuo bertugas membersihkan kantong-kantong perlawanan terakhir.

Ketika mendengar bahwa Hideyoshi telah kembali dari Echizen. Nobuo segera bertolak ke Kyoto dan menemui Hideyoshi pada hari itu juga.

"Setelah Ise bertekuk lutut, silakan ambil Benteng Nagashima," kata Hideyoshi kepadanya.

Dan dengan hati berbunga-bunga pangeran itu meninggalkan Kyoto.

Saat untuk menyalakan lentera telah tiba. Para warga istana yang datang berkunjung telah kembali dan semua tamu lain pun sudah pulang; Hideyoshi mandi, dan ketika ia bergabung dengan Hidekatsu dan Maeda Geni untuk makan malam, seorang pembantu memberitahunya bahwa Hikoemon baru saja tiba.

Angin menggoyang-goyangkan kerai-kerai rotan dan membawa suara tawa perempuan-perempuan muda. Hikoemon tidak segera masuk, melainkan berkumur dan merapikan rambutnya dulu. Perialanan pulang dari Uji ditempuhnya dengan menunggang kuda, dan debu masih menempel di seluruh badannya.

la diberi tugas menemui Sakuma Genba yang ditawan di Uji. Tugas tersebut tampaknya mudah, tapi sesungguhnya cukup sukar. Hideyoshi pun menyadari hal itu; karena itulah, ia memilih Hikoemon.

Genba telah ditangkap, namun tidak diekse- kusi. Ia malah ditawan di Uji. Hideyoshi telah memerintahkan agar ia tidak diperlakukan dengan kasar atau dipermalukan. Ia tahu bahwa Genba merupakan orang dengan keberanian tanpa tandingan, dan kalau dibebaskan. akan menyeru- pai macan yang mengamuk. Oleh karena itu, ia selalu dijaga ketat.

Meskipun Genba merupakan jendral musuh yang tertawan, Hideyoshi merasa kasihan padanya. Sama seperti Katsuie, ia pun mengakui bakat alam Genba, dan merasa sayang jika harus membunuhnya. Jadi, tak lama setelah Hideyoshi kembali ke Kyoto, ia mengutus seorang kurir uniuk berunding dengan Genba.

"Katsuie telah tiada." kurir itu mengawali pembicaraan. "dan seyogyanya Tuan memandang Hideyoshi sebagai penggantinya. Jika Tuan bersedia, Tuan bebas kembali ke provinsi dan benteng Tuan."

Genba tertawa. "Katsuie adalah Katsuie. Mustahil Hideyoshi dapat meng-gantikannya. Katsuie telah melakukan bunuh diri, dan tak terpikir olehku untuk tetap berada di dunia ini. Aku takkan pernah mengabdi pada Hideyoshi, biarpun dia menyerahkan kendali atas seluruh negeri padaku."

Hikoemon bertindak sebagai utusan kedua. Pada waktu berangkat pun ia tdah menyadari bahwa ia menghadapi tugas berat. Dan memang, ia juga gagal membujuk Genba untuk berubah pikiran.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Hideyoshi. la duduk berselubung asap obat nyamuk yang naik dari anglo dupa yang terbuat dari perak.

"Dia tidak tertarik." jawab Hikoemon. "Dia justru memohon agar hamba memenggal kepalanya."

"Kalau begitu, rasanya tak pantas kalau kita mendesak-desaknya lebih lanjut." Hideyoshi rupanya melepaskan harapan untuk membujuk Genba, dan garis-garis pada wajahnya mendadak lenyap.

"Hamba tahu apa yang diharapkan tuanku, tapi sepertinya hamba kurang layak sebagai utusan."

Tak perlu minta maaf," Hideyoshi menghiburnya. "Meskipun Genba tawanan, dia tak mau tunduk padaku untuk menyelamatkan nyawanya. Tekadnya untuk mempertahankan kehormatannya sungguh luar biasa. Aku menyesal harus kehilangan orang yang begitu tabah dan teguh. Seandainya kau berhasil membujuknya sehingga dia berubah pikiran, aku mungkin akan kehilangan rasa hormat padanya." Lalu ia menambahkan. "Kau seorang samurai, dan kau pun menghayati hal itu, jadi tidak aneh kalau kau gagal mempengaruhi nya."

"Maafkan hamba."

"Akulah yang minta maaf karena telah merepotkanmu. Tapi tidakkah Genba mengatakan apa-apa selain itu?"

"Hamba bertanya, kenapa dia tidak memilih gugur di medan laga, tapi malah lari ke gunung dan tertawan oleh sekelompok petani. Hamba juga bertanya, kenapa dia menghabiskan hari-harinya sebagai tawanan yang menunggu dipenggal, bukannya bunuh diri

"Apa katanya?"

"Dia bertanya. apakah hamba menganggap seppuku atau kematian dalam pertempuran sebagai tujuan utama seorang samurai, kemudian berkata bahwa dia berpendapat lain. Menururnya, seorang samurai harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup."

"Apa lagi?"

"Pada waktu meloloskan diri dari pertempuran di Yanagase, dia tidak tahu apakah Katsuie masih hidup atau sudah mati, jadi dia berusaha kembali ke Kitanosho untuk membantu menyusun serangan balasan. Namun dalam perjalanan, rasa nyeri dari luka-lukanya jadi tak tertahankan, maka dia mampir ke sebuah rumah petani dan minta diberi moxa." "Menyedihkan... sangat menyedihkan."

"Dia juga berkata bahwa dia rela menanggung aib karena ditangkap hidup-hidup dan dimasukkan ke penjara, sebab jika para penjaga memberi peluang, dia akan mdarikan diri, lalu mengejar dan membunuh tuanku. Dengan demikian, dia akan meredakan kemarahan Katsuie, sehingga dia dapat memohon maaf atas kesalahan yang dilakukannya ketika menembus garis musuh di Shizugatake."

"Ah, sayang sekali." Mata Hideyoshi mulai berkaca-kaca. "Menyalahguna-kan orang seperti itu dan menyuruhnya menghadap maut—itulah kesalahan Katsuie. Baiklah, kita berikan saja apa yang diinginkannya, dan membiar-kannya mati secara terhormat. Laksanakan. Hikoemon."

"Hamba mengerti, tuanku. Besok, kalau begitu?" "Makin cepat makin baik."

"Dan tempatnya?* "Uji."

"Perlukah dia diarak keliling dan diper- tontonkan?"

Hideyoshi merenung sejenak. "Kurasa begitulah kehendak Genba, laksanakan eksekusi di sebuah ladang di Uji, setelah dia dibawa berkeliling di ibu kota."

Keesokan harinya, tepat sebelum Hikoemon hendak bertolak ke Uji. Hideyoshi menyerahkan dua kimono sutra padanya. "Pakaian Genba tentu sudah kotor. Berikan kimono-kimono ini sebagai baju kematiannya."

Hari itu Hikoemon berkuda ke Uji dan sekali lagi menemui Genba. yang kini telah dipisahkan dari para tahanan lain.

"Yang Mulia Hideyoshi memerintahkan agar Tuan diarak melalui Kyoto, lalu dipenggal di sebuah ladang di Uji, seperti yang Tuan kehendaki."

Genba tidak tampak risau sama sekali. "Aku sangat berterima kasih," ia menjawab sopan.

"Yang Mulia Hideyoshi juga menyediakan pakaian ini."

Genba menatap kimono-kimono itu, lalu berkata, "Aku sungguh berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia Hideyoshi. tapi kurasa lambang dan potongannya tidak cocok untukku. Tolong kembalikan saja."

"Tidak cocok?"

"Pakaian seperti itu biasa dikenakan oleh prajurit bawahan. Bagiku, keponakan Yang Mulia Katsuie, terlihat dengan pakaian seperti itu di hadapan para warga ibu kota hanya akan membawa aib pada almarhum pamanku. Pakaian yang kukenakan sekarang memang sudah compang-camping, tapi meskipun masih kotor akibat pertempuran, aku lebih suka diarak dengan pakaian ini. Tapi jika Yang Mulia Hideyoshi memperkenankan aku memakai kimono baru, aku menginginkan sesuatu yang sedikit lebih pantas." "Aku akan menyampaikannya pada beliau. Apa

yang Tuan inginkan?"

"Mantel merah berlengan lebar dengan pola besar-besar. Di bawahnya, kimono sutra berwarna merah dengan sulaman perak." Genba tidak sungkan-sungkan. "Bukan rahasia bahwa aku tertangkap oleh sekelompok petani, diikat, lalu dibawa ke sini, Aku menanggung aib karena ditangkap hidup-hidup. Semula aku masih berniat memenggal kepala Yang Mulia Hideyoshi, namun itu pun gagal. Aku bisa membayangkan bahwa ibu kota akan gempar pada waktu aku dibawa ke tempat eksekusi. Aku menyesal harus memakai baju sutra seburuk ini, tapi kalau aku akan memakai yang lebih baik aku ingin baju yang serupa dengan yang kupakai di medan tempur, dengan bendera berkibar-kibar dari punggungku, Selain itu, sebagai bukti bahwa aku tidak mendendam karena diikat, aku minta diikat di hadapan khalayak ramai sehelum aku naik ke gerobak."

Keterusterangan Genba memang salah satu ciri yang paling menyenangkan. Ketika Hikoemon menyampaikan keinginan Genba kepada Hideyoshi, Hideyoshi langsung menyuruh pembantunya menyiapkan pakaian yang akan dikirim.

Hari eksekusi pun tiba. Sang tawanan mandi, lalu mengikat rambutnya. Kemudian ia mengenakan kimono merah, dan di atasnya mantel berlengan lebar dengan pola besar-besar. la mengulurkan tangan untuk diikat sebelum naik ke gerobak. Tahun itu ia berusia tiga puluh tahun, begitu tampan sehingga semua orang menyayangkan kematiannya.

Gerobak itu dibawa mengelilingi jalan-jalan di Kyoto, lalu kembali ke Uji- Di sana selembar kulit binatang telah digelar di tanah.

Tuan boleh membelah perut sendiri," algojo Genba menawarkan.

Sebilah pedang pendek disodorkan padanya. tapi Genba hanya tertawa. "Kalian tak perlu memberi keringanan khusus untukku."

lkatannya tidak dibuka, dan kepalanya pun dipenggal.

Akhir Bulan Keenam sudah dekat. "Pembangunan Benteng Osaka seharusnya

berjalan lancar," ujar Hideyoshi. "Coba kita lihat bagaimana kemajuannya."

Ketika ia tiba. orang-orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan menjelaskan kemajuan apa saja yang telah dicapai sampai saat itu. Paya-paya di Naniwa sedang diuruk, dan saluran-saluran air telah digali dalam arah memanjang maupun melebar. Toko-toko darurat para pedagang sudah mulai bermunculan di lokasi kota benteng. Jika memandang ke arah muara Sungai Yasuji dan pelabuhan Sakai di tepi laut, orang akan melihat ratusan perahu yang membawa batu-batu, saling berdesakan dengan layar mengembang. Hideyoshi berdiri di titik tempat benteng utama akan dibangun, dan sambil memandang ke darat, melihat puluhan ribu tukang dan pengrajin dari segala bidang. Orang- orang bekerja siang-malam bergiliran, sehingga kegiatan pembangunan tak pernah berhenti.

Para pekeria ditarik dari semua marga; jika seorang pembesar lalai memenuhi jumlah tenaga kerja yang dibebankan padanya, ia dihukum keras, tanpa memandang kedudukannya. Di setiap tempat pembangunan terdapat rantai komando yang terdiri atas subkontraktor, mandor, dan pembantu mandor untuk semua bidang keahlian. Tanggung jawab masing-masing telah digariskan secara jelas. Kalau ada yang tidak disiplin, ia akan langsung dipenggal. Para samurai yang bertindak sebagai pengawas tidak menunggu hukuman. melainkan mdakukan seppuku di tempat.

Tapi yang paling menyita perhatian Hideyoshi saat itu adalah Ieyasu. Sepanjang hidupnya. Hideyoshi yakin bahwa orang yang paling menonjol di zaman itu—selain Yang Mulia Nobunaga—adalah Ieyasu. Dan mengingat kekuasaannya sendiri yang meningkai secara mencolok, ia beranggapan bahwa bentrokan di antara mereka berdua hampir tak terelakkan. Pada Bulan Kedelapan, ia memerintahkan Tsuda Nobukatsu untuk membawa pedang termasyhur buatan Fudo Kuniyuki guna diserahkan kepada Ieyasu,

"Katakan pada Yang Mulia Ieyasu bahwa aku senang sekali menerima wadah teh yang diberikannya padaku ketika mengutus Ishikawa Kazumasa."

Nobukatsu bertolak ke Hamamatsu pada awal bulan, dan kembali sekitar hari kesepuluh.

"Keramah-tamahan yang ditunjukkan marga Tokugawa begitu luar biasa, sehingga hamba hampir merasa malu sendiri. Mereka benar-benar penuh perhatian," ia melaporkan,

"Apakah Yang Mulia Ieyasu baik-baik saja?" "Beliau tampak sehat sekali."

"Bagaimana dengan disiplin para pengikutnya?" "Mereka mempunyai ciri yang tidak ditemukan

pada marga-marga lain— kesan bahwa mereka sukar ditaklukkan."

"Kabarnya Yang Mulia leyasu mempekerjakan banyak orang baru."

"Kelihatannya banyak dari mereka bekas pengikut marga Takeda."

Dalam percakapannya dengan Nobukatsu, Hideyoshi mendadak teringat akan perbedaan usianya dengan usia Ieyasu. Ia memang senior Ieyasu. Ieyasu berusia empat puluh satu tahun, dan ia sendiri  empat puluh enam tahun—perbedaan sebesar lima tahun. Tapi Ieyasu yang lebih muda justru menimbulkan beban pikiran dalam benak Hideyoshi, bahkan melebihi Shibata Katsuie.

Meski demikian, semuanya itu terkunci rapat- rapat dalam hati Hideyoshi. la sama sekali tidak memperlihatkan bahwa pada saat perang melawan marga Shibata baru saja berakhir, ia telah mengantisipasi pertempuran berikut. Artinya. hubungan di anrara kedua orang itu tampak baik- baik saja. Di Bulan Kesepuluh. Hideyoshi mengajukan petisi kepada sang Tenno untuk menganugerahkan gelar yang lebih tinggi pada leyasu.

***

Di Azuchi, Yang Mulia Samboshi baru berusia empat tahun. Sejumlah pembesar provinsi datang untuk menyambut Tahun Baru dan melakukan kunjungan kehormatan serta berdoa agar ia tetap dalam keadaan sehat.

"Permisi, Tuan Shonyu." "Ah. Tuan Gamo."

Kedua laki-laki itu bertemu secara kebetulan di muka bangsal besar di benteng utama. Yang percama Ikeda Shonyu, yang dipindahkan dari Osaka ke Benteng Ogaki untuk memberi tempat bagi Hideyoshi. Yang satu lagi Gamo Ujisato

"Tuan tampak semakin sehat saja," ujar Gamo. Itulah berkah terbesar yang bisa diberikan pada kita."

"Sampai sekarang memang belum ada keluhan. tapi akhir-akhir ini aku cukup sibuk. Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur, bahkan di Ogaki pun."

"Tuan memikul beban tambahan karena bertanggung jawab atas pembangunan Benteng Osaka."

"Tugas semacam itu cocok untuk orang-orang seperti Matsuda dan Ishida, tapi tidak sesuai bagi kita, kaum prajurit."

"Aku tidak sependapat. Yang Mulia Hideyoshi tidak biasa menempatkan seseorang pada posisi yang tidak cocok baginya. Percayalah, beliau memerlukan Tuan di antara pejabat-pejabatnya."

"Aku benar-benar tak menduga, Tuan dapat melihat kemampuan seperti itu dalam diriku." balas Shonyu sambil tertawa. "O ya, Tuan sudah menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru kepada Yang Mulia Samboshi?"

"Aku baru saja mohon diri."

"Kebetulan sekali aku pun baru saja berpamitan. Ada urusan pribadi yang ingin kubahas dengan Tuan."

"Sebenamya, begitu melihat Tuan. aku pun teringat bahwa ada sesuatu yang perlu kita bicarakan."

"Rupanya pikiran kita sama. Di mana kita akan bicara?" Shonyu menunjuk sebuah ruangan kecil yang bersebelahan dengan bangsal besar.

Kedua laki-laki tersebut duduk di ruangan kosong itu. Tak ada anglo, namun sinar matahari Tahun Baru yang menembus piniu geser kertas terasa hangat.

Tuan sudah mendengar desas-desus yang beredar?" Shonyu membuka pembicaraan.

"Sudah. Kabarnya Yang Mulia Nobuo telah dibunuh. Dan sepertinya berita itu dapat dipercaya."

Shonyu menghela napas dan mengerutkan kening. "Sekarang saja sudah ada tanda-tanda bahwa akan terjadi keguncangan dalam tahun ini. Seberapa parah, itu tergantung pihak mana yang akan berhadapan, tapi pertanda-pertanda yang timbul belakangan ini cukup merisaukan. Tuan lebih muda dari aku. tapi sepertinya penilaian Tuan lebih tajam. Tidak dapatkah Tuan mencari ide bagus sebelum ierjadi sesuatu yang patut disesali?"

Ia tampak amat cemas.

Gamo menjawab dengan mengajukan penanyaan lain. "Dari manakah desas-desus ini berasal?"

"Aku sendiri tidak tahu. Tapi takkan ada asap kalau tidak ada api."

"Maksud Tuan, ada sesuatu yang tidak kita ketahui?" "Bukan, sama sekali bukan. Hanya saja semua fakta serba terbalik. Pertama-tama. Yang Mulia Nobuo pergi ke benteng Takaradera pada Bulan Kesebelas tahun lalu, untuk mengunjungi Yang Mulia Hideyoshi. Kabarnya Yang Mulia Hideyoshi sendiri mengatur jamuan yang diadakan dalam rangka berterima kasih pada Yang Mulia Nobuo karena telah menundukkan Ise, dan sikapnya demikian ramah sehingga Yang Mulia Nobuo tinggal selama empat hari."

"O ya?"

"Para pengikui Yang Mulia Nobuo menyangka dia akan meninggalkan benteng esoknya, tapi pada hari kedua tetap tidak ada kabar darinya, begitu juga pada hari ketiga, bahkan pada hari keempat. Nah, rupanya mereka membayangkan hal-hal yang paling buruk, dan para pelayan di luar benteng pun mulai menyebarkan dugaan-dugaan yang tak berdasar."

"Jadi, itu masalahnya." ujar Gamo sambil tertawa. "Kalau akar dari cerita-cerita seperti ini telah terungkap, ternyata sebagian besar hanya isapan jempol belaka, bukan begitu?"

Namun Shonyu tetap kelihatan khawatir, dan segera melanjutkan. "Setelah itu masalahnya dibahas lebih luas, dan berbagai isu yang saling bertentangan mondar-mandir antara Ise, Nagashima, Osaka, dan ibu kota. Yang pertama mengatakan bahwa laporan palsu mengenai kematian Nobuo tidak berasal dari para pembantu Yang Mulia Nobuo, melainkan dari mulut para pelayan Hideyoshi. Orang-orang di Benteng Takaradera menyangkal keras. Mereka mengatakan bahwa desas-desus tersebut timbul akibat kecurigaan dan iktikad buruk para pengikui Yang Mulia Nobuo. Sementara masing-masing pihak sibuk menyalahkan lawannya, desas-desus mengenai pembunuhan Yang Mulia Nobuo menyebar bagaikan angin."

Apakah ralcyai percaya?"

"Pikiran rakyar jelata sulit diraba, tapi setelah menyaksikan kematian Yang Mulia Nobutaka, menyusul kekalahan marga Shibata, tak perlu diragukan bahwa di antara kerabat dan pengikut Yang Mulia Nobuo ada beberapa orang yang mengalami mimpi buruk dan bertanya-tanya siapa yang mendapai giliran berikut."

Kemudian Gamo mengungkapkan kecemasan- nya secara terang-terangan. la beringsut-ingsut mendekati Shonyu dan berkata, "Mestinya ada saling pengertian antara Hideyoshi dan Nobuo yang tak terpengaruh oleh desas-desus yang beredar. Tapi mungkin juga telah terjadi perselisihan di antara mereka."

Gamo menatap Sonyu yang mengangguk- anggukkan kepala.

"Amatilah situasi setelah kematian Yang Mulia Nobunaga. Sebagian besar orang berpendapat bahwa setelah mewujudkan perdamaian, Hideyoshi se-harusnya menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada pewaris bekas junjungannya. Tapi dilihat dari sudut mana pun, sudah jelas bahwa Yang Mulia Samboshi masih lerlalu kecil dan bahwa Yang Mulia Nobuo yang seharusnya menjadi penerus. Jika tidak tunduk pada Yang Mulia Nobuo. Hideyoshi bisa dituduh tidak setia dan telah melupakan segala kebaikan yang diterima-nya dari marga Oda."

"Semua ini agak meresahkan, bukan? Keinginan Nobuo sudah jelas, namun sepertinya dia tak mengerti bahwa yang akan terjadi justru kebalikan dari yang dikehendakinya.

"Mungkinkah dia menyimpan harapan semuluk itu?"

"Mungkin saja. Siapa yang bisa menebak jalan pikiran orang pandir yang manja?"

"Desas-desus ini tentu juga terdengar di Osaka, dan ini akan menyebabkan semakin banyak kesalahpahaman."

"Memang pelik," ujar Shonyu sambil mendesak. Sebagai jendral Hideyoshi, baik Shonyu mau- pun Gamo terikat oleh hubungan mutlak yang terjalin antara junjungan dan pengikut. Tapi mereka juga mempunyai ikatan dengan pihak lain, dan ikatan tersebut kini dapat menimbulkan

masalah yang tak mudah dipecahkan.

Pertama-tama. Gamo menikah dengan putri bungsu Nobunaga. Selain itu, Shonyu dan Nobunaga diasuh oleh inang yang sama, dan sebagai saudara sesusuan, hubungan Shonyu dengan bekas junjungannya itu sangat dekat. Karena itu, bahkan dalam pertemuan Kiyosu pun kedua laki-laki itu ditempatkan sebagai kerabat. Dengan sendirinya mereka tak dapat bersikap acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi marga Oda, dan selain Samboshi yang masih kecil, satu-satunya orang yang merupakan keturunan langsung Nobunaga adalah Nobuo.

Gamo dan Shonyu takkan sebingung itu sean- dainya mereka dapat melihat suatu kelebihan dalam diri Nobuo, tapi keduanya menyadari bahwa Nobuo tidak memiliki kemampuan menonjol. Baik sebelum maupun sesudah pertemuan Kiyosu. semua orang telah maklum bahwa bukan Nobuo yang akan meraih tali kekang yang terlepas dari tangan Nobunaga.

Namun  sayangnya tak seorang  pun mau berterus terang pada Nobuo. Bangsawan muda yang lugu ini—yang sejak dulu mengandalkan kekuatan para pengikutnya, yang setiap  kali termakan bujuk rayu para penjilat, dan ditipu oleh orang-orang yang memanipulasinya untuk meraih keuntungan pribadi—telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan besar dan bahkan tidak menyadarinya. Pada tahun sebelumnya Nobuo diam-diam bertemu dengan Ieyasu, dan setelah pertempuran di Yanagase, atas anjuran Hideyoshi ia memaksa saudaranya melakukan bunuh diri. Kemudian ia menerima imbalan berupa Provinsi Ise, Iga, dan Owari atas kemenangannya di Ise. Dan mungkin karena merasa saatnya telah tiba, ia pun menyangka Hideyoshi akan segera mengalihkan pemerintahan pusat kepadanya.

"Kita tak boleh berpangku tangan dan membiarkan situasi berlanjut seperti ini. Barangkali Tuan punya ide tertentu?" Gamo bertanya.

"Tidak, aku justru mengharapkan usulan dari Tuan. Tuan harus mencari akal."

"Rasanya paling baik jika Yang Mulia Nobuo bertemu dengan Yang Mulia Hideyoshi, agar mereka dapat membicarakan hal ini secara terbuka."

"Itu ide yang baik sekali. Hmm, tapi belakangan ini dia berlagak penting, jadi bagaimana kita bisa melaksanakan ide Tuan?"

"Aku akan mencari alasan."

Bagi Nobuo sesuatu yang kemarin masih diminati hari ini sudah tidak menarik. Dalam hati ia selalu merasa tidak senang. Selain itu, ia tak pernah memikirkan mengapa ia merasa demikian. Musim gugur yang lalu ia pindah ke Benteng Nagashima di Ise, provinsinya yang baru, dan ia pun telah menerima kenaikan pangkat dari istana kekaisaran. Jika ia keluar, semua orang membungkuk, dan jika kembali, ia disambut dengan seruling dan alat musik berdawai. Segala keinginannya terpenuhi, dan pada musim semi itu usianya baru dua puluh enam tahun. Namun keadaan yang serba menyenangkan itu justru menyebabkan ia semakin tidak puas.

"Ise terlalu terpencil," ia kerap mengeluh. "Untuk apa Hideyoshi mem-bangun benteng yang begitu besar di Osaka? Apakah dia berniat tinggal di sana seorang diri, ataukah dia juga akan mengajak pewaris yang sah?"

Bila bicara demikian, ia seperti Nobunaga. Sepertinya ia mewarisi bentuk lahiriah ayahnya, tanpa dibekali kemampuan sebanding. "Hideyoshi itu tak tahu diri. Dia sudah lupa bahwa dia bekas pengikut ayahku, dan sekarang dia bukan saja merepotkan pengikut-pengikut ayahku yang masih hidup dan membangun benteng raksasa, dia juga bersikap seakan-akan aku merupakan beban baginya. Belakangan ini dia tak pernah lagi mengajakku berunding mengenai apa pun."

Sudah sejak Bulan Kesebelas tahun lalu kedua orang itu tidak saling berkomunikasi. Desas-desus bahwa Hideyoshi sedang menyusun rencana tanpa melibatkan Nobuo, yang belakangan ini semakin santer, segera menyulut kecurigaannya.

Pada waktu yang sama, Nobuo memberikan beberapa pernyataan sembrono di depan para pengikutnya, yang akhirnya diketahui oleh umum dan dengan demikian semakin menjengkelkan Hideyoshi. Akibatnya Tahun Baru berlalu tanpa tukar-menukar ucapan selamat di antara mereka.

Pada Hari Tahun Baru, ketika Nobuo sedang bermain bola sepak di pekarangan belakang bersama para dayang dan pelayannya, seorang samurai mengumumkan kedatangan seorang tamu. Tamu itu temyata Gamo. la dua tahun lebih tua dari Nobuo, dan menikah dengan saudara perempuan Nobuo.

"Gamo? Dia datang pada waktu yang tepat," ujar Nobuo sambil menendang bola dengan anggun. "Dia akan menjadi lawan tangguh. Bawa dia ke sini."

Samurai itu pergi, namun segera kembali lagi dan berkata. "Yang Mulia Gamo sedang terburu- buru. Beliau menunggu tuanku di ruang tamu." "Bagaimana dengan acara bola sepak?"

"Yang Mulia Gamo berpesan bahwa beliau tidak berbakat dalam permainan ini." im

"Dasar!" Nobuo tertawa. memamerkan giginya yang telah dihitamkan.

Beberapa hari setelah kunjungan Gamo, sepucuk surat datang dari Gamo dan Shonyu. Nobuo sedang bergembira, dan segera memanggil empat pengikut senior dan meneruskan informasi yang diterimanya.

"Besok kita berangkat ke Otsu. Menurut mereka. Hideyoshi menungguku di Kuil Onjo." "Bukankah itu berbahaya, tuanku?" salah satu dari keempat pengikutnya bertanya.

Nobuo tersenyum, sehingga giginya yang dihitamkan kelihatan jelas.

"Hideyoshi rupanya terusik oleh desas-desus mengenai perselisihan kami. Pasti itu masalahnya. Dia tidak memenuhi kewajibannya terhadap orang yang paling dekat dengan ayahku."

"Tapi bagaimana pertemuan ini diaiur?" Jawaban Nobuo penuh percaya diri, "Begini.

Beberapa waktu lalu, Gamo menemuiku dan melaporkan bahwa ada desas-desus mengenai suatu masalah antara Hideyoshi dan aku, tapi dia menjamin bahwa Hideyoshi tidak menyimpan dendam sama sekali. Dia minta agar aku pergi ke Kuil Onjo untuk mengadakan pertemuan Tahun Baru dengannya. Rasanya tak ada alasan untuk menaruh curiga pada Hideyoshi, karena itu aku telah memutuskan untuk pergi. Baik Yang Mulia Shonyu maupun Yang Mulia Gamo menjamin bahwa semuanya akan aman-aman saja."

Ketenderungan Nobuo umuk mempercayai apa saja yang ditulis atau diucapkan bisa dianggap sebagai akibat dari cara ia dibesarkan. Karena itu para pengikut seniornya merasa perlu bersikap lebih hati-hati dan mereka tak sanggup menyembunyikan perasaan waswas.

Sambil berkerumun, mereka mengamati surat Gamo. "Tak salah lagi," saiah seorang dari mereka berkata. "sepertinya ini memang tulisan tangan Yang Mulia Gamo."

"Tak ada lagi yang bisa kita lakukan." orang lain menanggapi. "Jika Yang Mulia Shonyu dan Yang Mulia Gamo telah bersedia menangani urusan sejauh ini, kita tak boleh ketinggalan."

Dengan demikian diputuskan bahwa keempat pengikui senior itu akan menyertai Nobuo ke Otsu.

Keesokan harinya Nobuo bertolak ke Otsu. Ketika ia tiba di Kuil Onjo, Gamo segera menemuinya, dan tak lama kemudian Ikeda pun menyusul.

"Yang Mulia Hideyoshi telah tiba kemarin." ujar Shonyu. "Beliau me nunggu tuanku.

Tempat pertemuan sudah disiapkan di tempat Hideyoshi menginap, yaitu di kuil utama, namun ketika ditanya apakah ia berkenan menemui Hideyoshi. Nobuo menjawab dengan congkak. "Aku masih lelah karena perjalanan, jadi besok aku ingin beristirahat sepanjang hari."

Tak seorang pun ingin menghabiskan satu hari tanpa melakukan apa-apa, tapi berhubung Nobuo telah menyatakan keinginannya untuk melepas lelah semuanya melewatkan hari ini dalam kejemuan yang tak berguna.

Pada waktu tiba di Otsu, Nobuo langsung jengkel karena Hideyoshi dan para pengikutnya ternyata telah menempati bangunan-bangunan utama, sementara bagi rombongannya sendiri disediakan bangunan-bangunan yang lebih kecil. Untuk melampiaskan kekesalannya, Nobuo sengaja agak ber-tingkah, tapi keesokan harinya ia sendiri tampak bosan dan mulai mengeluh.

"Para pengikut senior pun tidak ada di sini."

Nobuo menghabiskan hari itu dengan mengamati koleksi buku sajak di kuil, dan mendengarkan ocehan para biksu tua yang seakan- akan tanpa akhir. Ketika malam tiba, keempat pengikut senior muncul di ruangannya. "Tuanku dapat beristirahat dengan baik?" salah seorang dari mereka bertanya.

Dasar bodoh semua! Nobuo benar-benar marah. la ingin berteriak bahwa ia merasa jemu dan bahwa tak ada yang dapat dikerjakannya, tapi ia berkata, "Ya, terima kasih. Kalian juga sudah sempat bersantai di tempat kalian menginap?"

"Kami tak ada waktu untuk bersantai." "Kenapa begitu?"

"Para utusan dari marga-marga lain terus berdatangan."

"Begitu banyak tamu yang datang? Kenapa aku tidak diberitahu?"

Tuanku telah berpesan bahwa tuanku hendak beristirahat, dan kami tak ingin mengganggu."

Sambil mengetuk-ngetuk lutut, Nobuo memandang mereka dengan sikap angkuh dan tak peduli.

"Hmm. baiklah. Tapi kalian berempat harus makan malam bersamaku. Kita juga akan menikmati sedikit sake." Keempat pengikut senior ber-pandangan; mereka tampak salah tingkah. "Apakah ada sesuatu yang me-nyebabkan kalian berhalangan?" tanya Nobuo.

Salah satu pengikut berkata, seakan-akan ingin minia maaf. "Sebenarnya, beberapa waktu lalu seorang kurir menyampaikan undangan dari Yang Mulia Hideyoshi, dan kini kami menemui tuanku untuk mohon izin."

"Apa?! Hideyoshi mengundang kalian! Apa ini? Upacara minum teh?" Wajah Nobuo mulai berkerut-kerut.

"Bukan. hamba rasa acaranya bukan seperti itu, Hamba yakin beliau takkan mengundang pengikut seperti ini, apalagi untuk upacara minum teh, tan- pa menyertakan junjungan kami, apalagi masih banyak permbesar lain yang dapat diundang. Beliau berpesan bahwa ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan dengan kami."

"Aneh." ujar Nobuo, tapi kemudian ia angkat bahu. "Hmm. kalau dia mengundang kalian, siapa tahu dia ingin membicarakan pengalihan kekuasaan atas marga Oda ke tanganku. Mungkin itu. Tidak sepantasnya Hideyoshi menempatkan diri di atas penerus yang sah. Rakyat takkan menerimanya." Kuil utama tmpak lengang. Hanya lentera- ientera menunggu datangnya malam. Para tamu tiba. Di Pertengahan Bulan Pertama, cuaca masih amat dingin. Kemudian ada orang lain muncul, berdeham. Berhubung orang itu disertai pembantu, keempat pengikut Nobuo segera menyadari bahwa itu Hideyoshi. Sepertinya ia sedang memberi perintah dengan suara lantang sambil berjalan.

"Maaf kalau Tuan-Tuan terpaksa menunggu," ia berkata ketika memasuki ruangan, lalu terbatuk ke tangannya.

Keempat tamu menoleh dan melihat bahwa ia kini seorang diri—tak seorang pelayan pun tampak di belakangnya.

Keempat orang itu merasa tidak tenang. Ketika mereka menyapanya. Hideyoshi membuang ingus dan membersihkan hidung.

"Rupanya Yang Mulia terkena selesma," ujar salah satu pengikut Nobuo dengan ramah.

"Dan sepertinya tidak sembuh-sembuh," balas Hideyoshi tak kalah ramah.

Ruangan tempat mereka berada berkesan sederhana untuk tempat diskusi. Tak ada hidangan makanan maupun minuman, dan Hideyoshi pun membuka percakapan tanpa basa-basi, "Tidakkah Tuan-Tuan merasa risau melihat tindak-tanduk Yang Mulia Nobuo belakangan ini?"

Keempat tamunya langsung waswas. Mereka kaget mendengar ucapan bernada teguran itu, dan menyangka Hideyoshi akan menyalahkan mereka sebagai penasihat senior Nobuo. "Kukira Tuan- Tuan tentu sudah berusaha sedapat mungkin,- ia lalu berkata. "Tuan-Tuan dikenal sebagai orang- orang cerdas, tapi rasanya Tuan-Tuan pun tak dapat berbuat banyak di bawah Yang Mulia Nobuo. Aku mengerti. Aku sendiri sudah memeras otak, namun sayangnya sia-sia."

Kata-kata terakhir ini diucapkan dengan sungguh-sungguh, dan keempat tamunya merasa kaku. Hideyoshi membuka isi harinya, dan menyatakan kekecewaannya terhadap Nobuo secara terang-terangan. "Aku telah mengambil keputusan," ia berkata. "Aku merasa prihatin bahwa Tuan-Tuan sudah bertahun-tahun mengabdi pada orang ini. Singkat kata, kita bisa mengakhiri urusan ini tanpa banyak ribut jika Tuan-Tuan dapat membujuk Yang Mulia Nobuo untuk melakukan seppuku atau menjadi biksu. Sebagai imbalan, aku akan menganugerahkan tanah di Ise dan Iga."

Bukan hawa dingin saja yang menyebabkan keempat orang itu menggigil. Dinding-dinding yang mengelilingi mereka terasa seperti pedang dan tombak. Kedua mata Hideyoshi menyorot tajam, memaksa para pengikut Nobuo untuk menjawab ya atau tidak.

Ia tidak memberikan kesemparan berpikir pada merek,. atau membiarkan mereka memohon diri sebelum mendapat jawaban. Mereka dalam keadaan terjepit, dan keempat-empatnya menundukkan kepala dengan gundah. Namun akhimya mereka menyetujui usul Hideyoshi dan segera menulis dan menandatangani perjanjian.

"Pengikut-pengikutku sedang menikmati sake di ruang di ujung selasar," kata Hideyoshi. "Bergabunglah dengan mereka. Aku sebenarnya ingin me-nemani Tuan-Tuan, tapi malam ini aku akan tidur lebih cepat karena selesmaku ini."

Sambil meraih surat-surat perjanjian, ia kembali ke ruangan di kuil.

Nobuo tak kuasa menenangkan diri malam itu. Pada waktu makan malam, ia duduk bersama para pengikut dan pembantunya, ditemani para biksu, dan bahkan biksuni perawan dari kuil tetangga. la bersikap ceria dan berbicara dengan suara lantang. tapi setelah semua orang pergi dan kembali seorang diri, ia terus-menerus bertanya pada para pelayan dan samurai yang bertugas jaga, "jam berapa sekarang? Betum kembalikah para pengikut senior dari kuil utama.'-

Setelah beberapa waktu, hanya satu dari mereka yang muncul.

"Kau sendirian, Saburobei?" Nobuo bertanya curiga.

Roman muka orang itu tidak biasa, dan Nobuo pun merasa waswas. Sambil bersujud dengan kedua tangan menempel di lantai, orang itu bahkan tidak berani menatap junjungannya. Nobuo mendengarnya tersedu-sedu.

"Ada apa, Saburobei? Apakah terjadi sesuatu ketika kalian bicara dengan Hideyoshi"

"Pertemuan itu sungguh menyakitkan."

"Apa?! Dia memanggil kalian untuk dimarah- marahi?"

"Kalau hanya itu, hamba takkan merasa gundah. Kejadian tadi benar-benar tak terduga. Kami dipaksa menandatangani surat perjanjian. Tuanku pun harus rela." Kemudian ia melaporkan perintah Hideyoshi secara Iengkap, dan berkata. "Kami tahu bahwa jika kami menolak, kami akan dibunuh di tempat. Karena itu kami tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti ke-hendaknya. Belakangan hamba melihat kesempatan dalam pesta minum-minum bersama para pengikutnya, dan langsung berlari ke sini. Mereka akan gempar pada waktu menyadari bahwa hamba menghilang. Tuanku tidak aman di sini. Tuanku harus segera meninggalkan tempat ini."

Bibir Nobuo tampak pucat. Gerakan matanya seakan-akan menunjukkan bahwa ia hanya mendengar setengah dari yang diucapkan Saburobei. Jantung-nya berpacu kencang, dan ia nyaris tak sanggup duduk diam. "Tapi, kalau begitu, bagaimana dengan yang lain?"

"Hamba kembali seorang diri. Hamba tak sempat memperhatikan mereka."

"Mereka juga menandatangani perjanjian itu?" "Ya."

"Jadi, mereka masih minum-minum bersama para pengikut Hideyoshi? Rupanya aku keliru menilai mereka. Orang-orang itu lebih hina daripada binatang!"

Ia berdiri sambil terus mencaci maki dan merebut pedang panjang dari tangan pelayan yang berdiri di belakangnya. Tergesa-gesa ia meninggalkan ruangan, diikuti Saburobei yang dengan bingung memohon agar diberitahu ke mana junjungannya hendak pergi. Nobuo berbalik, dan sambil merendah-kan suara, minta diambilkan kuda.

Tunggu sebentar, tuanku." Saburobei me- mahami niat junjungannya dan bergegas ke istal.

Ia kembali dengan membawa kuda gagah berbulu cokclat kemerahan. yang bernama Palu Godam. Begitu duduk di pelana, Nobuo menyusup ke dalam kegelapan malam. Sampai keesokan paginya tak seorang pun me-ngetahui kepergiannya. Pertemuannya dengan Hideyoshi tentu saja dibatalkan, dengan alasan bahwa Nobuo mendadak jatuh sakit. Hideyoshi dengan tenang kembali ke Osaka, seakan-akan telah menduga bahwa itu akan terjadi.

Nobuo pulang ke Nagashima, mengurung diri di dalam bentengnya, dan masih dengan berlagak sakit, tidak memperlihatkan batang hidung bahkan kepada pengikut-pengikutnya sendiri. Namun ia tidak sepenuhnya berpura-pura. la memang jatuh sakit. Hanya para dokter yang keluar-masuk kamarnya, dan meskipun kembang-kembang prem di belakang benteng telah mekar, alunan musik terhenti dan pekarangannya sunyi dan lengang.

Tapi di kota benteng dan di seluruh Ise dan Iga, desas-desus semakin menjadi-jadi dan berlipat ganda setiap hari. Pelarian Nobuo dari Kuil Onjo menambah keeurigaan semua orang.

***

Para pengikui senior Nobuo mengurung diri di benteng masing-masing. seakan-akan telah bersepakat, dan tak pernah datang ke Nagashima. Tindakan mereka justru memperkuat desas-desus dan memperparah keresahan yang melanda provinsi.

Kebenaran selalu sukar terungkap, tapi sudah bisa dipastikan bahwa perselisihan antara Nobuo dan Hideyoshi sekali lagi tersulut. Status Nobuo tentu saja merupakan pusat badai, dan sepertinya ada seseorang yang dapat diandalkannya. Nobuo berwatak konservatif, dan ia meyakini keampuhan komplotan rahasia dan tipu muslihat. Meski selalu tampak sepaham dengan para sekutunya, ia pun selalu memberi isyarat bahwa ia masih mempunyai teman-teman lain yang akan membantunya jika situasi tidak berkembang ke arah yang dikehendakinya. Tanpa sekutu rahasia, ia tak pernah bisa tenang.

Nobuo kini teringat tokoh penting yang berdiri dalam bayang-bayang. Orang itu, tentu saja, si Naga Tidur dari Hamamatsu, Tokugawa leyasu.

Tapi hasil dari permainan strategi tergantung kepada para pemain lainnya. Nobuo bermaksud memanfaatkan leyasu untuk menghalau Hideyoshi, dan ini menunjukkan bahwa pemahamannya mengenai pihak-pihak lain yang terlibat masih dangkal. Orang dengan pikiran berliku-liku tak pernah sungguh-sungguh mengenali lawannya. la seperti pemburu yang mengejar rusa tanpa melihat gunung-gunung di sekelilingnya.

Jalan pikiran seperti itulah yang mendorong Nobuo untuk meminta bantuan Ieyasu guna meneegah Hideyoshi meraih kekuasaan lebih besar lagi. Suatu malam, sesudah awal Bulan Kedua, Nobuo mengirim utusan pada Ieyasu. Kedua orang itu lalu menjalin persekutuan militer rahasia yang didasarkan atas kesepakatan bahwa mereka sama- sama menanti kesempatan untuk menyerang Hideyoshi.

Kemudian, pada hari keenam Bulan Ketiga, ketiga pengikut senior yang belum terlihat di benteng sejak malam di Kuil Onjo tiba-tiba muncul. Mereka diundang Nobuo secara khusus untuk menghadiri sebuah jamuan. Sejak peristiwa di Kuil Onjo, Nobuo yakin bahwa mereka pengkhianat yang berkomplot dengan Hideyoshi. Melihat mereka membuatnya muak karena dendam.

Nobuo menjamu ketiga orang itu, dan setelah mereka makan, ia se-konyong-konyong berkata, "Ah, Nagato, aku ingin memperlihatkan senapan baru yang baru saja kuterima dari seorang pandai besi di Sakai."

Mereka pindah ke ruangan lain, dan ketika Nagato mengamati senapan itu, pengikut Nobuo tiba-tiba berseru, "Atas perintah tuanku!" dan menang-kapnya dari belakang.

"Kurang ajar!" Nagato termegap-megap dan berusaha mencabut pedang. Tapi ia diempaskan oleh penyerangnya yang lebih kuat dan hanya bisa meronta-ronta tak berdaya.

Nobuo bangkit dan berlari mondar-mandir sambil berseru-seru. "Lepaskan dia! Lepaskan dia!" Namun pergulatan itu terus berlanjut. Sambil mengangkat pedangnya yang belum terhunus, tinggi di atas kepala, Nobuo berteriak sekali lagi, "Kalau kau tidak melepaskannya, aku tak bisa membunuh bajingan itu! Lepaskan dia!"

Si pembunuh mencekik Ieher Nagato, tapi begitu melihat peluang, ia mendorong lawannya itu. Secara bersamaan, dan tanpa menunggu sampai Nobuo mengayunkan pedang, ia menikam Nagato dengan pedang pendeknya.

Sekelompok samurai, yang kini berlutut di luar ruangan, mengumumkan bahwa mereka telah membunuh kedua pengikut lainnya. Nobuo meng- angguk-angguk puas. Namun kemudian ia mendesah panjang. Apa pun kejahatan mereka, membunuh tiga penasihat senior yang sudah bertahun-tahun mendampinginya merupakan tindakan keji. Kebrutalan seperi itu juga mengalir dalam darah Nobunaga, tapi perbuatan Nobunaga selalu mengandung arti besar. Kekerasan Nobunaga dipandang sebagai obat yang drastis namun ampuh uniuk mengatasi kebobrokan dunia; tindakan Nobuo hanya didorong oleh emosinya yang picik.

Pembunuhan di Benteng Nagashima bisa saja menimbulkan gelombang yang mungkin membawa keguncangan bagi semua pihak. Tapi pembunuhan ketiga pengikut senior itu dilaksanakan secara diam-diam, dan keesokan harinya Nobuo langsung mengirim pasukan dari Nagashima untuk menyerang benteng masing-masing.

Masuk akal jika orang-orang mengira pertempuran besar berikut sudah di ambang pintu. Sesuatu telah membara sejak tahun lalu, tapi lidah api yang muncul di sini mungkin saja merupakan lidah api yang akhirnya menghanguskan dunia. Itu bukan lagi dugaan tanpa dasar, melainkan sudah dianggap kepastian. Laskar Bertudung

IKEDA SHONYU tersohor karena tiga hal: perawakannva yang pendek, ke-beraniannya, dan keterampilannya dalam tari tombak. Usianya empat puluh delapan tahun, sama seperti Hideyoshi.

Hideyoshi tidak mempunyai putra; Shonyu mempunyai tiga putra yang dapat dibanggakan, dan ketiga-tiganya kini telah dewasa. Yang tertua. Yukisuke, berusia dua puluh lima tahun dan meiupakan komandan Benteng Gifu, yang kedua, Terumasa, berumur dua puluh tahun dan merupakan komandan Benteng Ikejiri; sedangkan yang bungsu akan me-rayakan ulang tahun keempat belas tahun ini dan masih tinggal bersama ayahnya.

Shonyu dan Hideyoshi sudah saling mengenal sejak Hideyoshi masih memakai nama Tokichiro. Namun kini mereka telah terpisah oleh jurang lebar. Tapi Shonyu pun tidak terlindas oleh perkembangan zaman. Setelah Nobunaga wafat, Shonyu merupakan satu di antara empat orang— bersama Katsuie, Niwa, dan Hideyoshi—yang ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan di Kyoto, dan meskipun hanya bersifat sementara, posisi itu sangat bergengsi. Selain itu, Shonyu dan putra-putranya memiliki tiga benteng di Mino, sedangkan Benteng Kaneyama berada di bawah komando menantunya, Nagayoshi.

Nasibnya tak dapat dikatakan buruk. Ia pun tak punya alasan untuk merasa waswas. Hideyoshi selalu bersikap sopan dan sering memberikan perhatian pada teman lamanya itu. Ia bahkan mengatur penunangan keponakannya, Hidetsugu. dengan putri Shonyu.

Jadi, dalam masa damai Hideyoshi dengan cerdik memperkuat ikatan antara mereka, tapi tahun ini—ketika pertempuran menentukan semakin tak terelakkan—ia semakin mengandalkan Shonyu sebagai sekutu utama. Kini ia tiba-tiba mengirim utusan ke Ogaki dan menawarkan untuk mengangkat menantu Shonyu, Nigayoshi, sebagai anak, lalu memberinya Provinsi Owari, Mino, dan Mikawa.

Dua kali Hideyoshi mengirim surat yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Shonyu tidak segera membalas, namun itu tidak berarti ia merasa dengki atau tak senang. Ia sadar bahwa mendukung Hideyoshi lebih menguntungkan daripada mendukung orang lain. Dan ia paham bahwa meski Hideyoshi mempunyai ambisi besar. ia sendiri pun akan memperoleh keuntungan besar.

Yang menyebabkan ia sukar memberi tanggapan adalah suatu masalah yang ramai diperbincangkan: pembenaran moral untuk memulai perang antara pasukan Timur dan Barat. Pihak Tokugawa menuduh Hideyoshi sebagai pengkhianat yang telah melenyapkan satu putra bekas junjungannya, dan kini tengah hersiap-siap menggempur pewarisnya, Nobuo.

Jika aku berpihak pada Hideyoshi, pikir Shonyu, aku melalaikan kewajiban moral; jika aku membantu Nobuo, aku memenuhi kewajiban moral, tapi harapanku untuk masa depan akan pudar.

Dan ada satu hal lagi yang membuat Shonyu resah. Shonyu menjalin hubungan erat dengan Nobunaga, dan karena itu tidak mudah baginya untuk memutuskan hubungannya dengan Nobuo, bahkan setelah kematian Nobunaga sekalipun. Persoalan semakin pelik karena putra sulungnya ditahan sebagai sandera di Ise, dan Shonyu tak sampai hati membiarkan putranya itu mati dibunuh. Jadi, setiap kali menerima surat dari Hideyoshi, Shonyu dilanda kebingungan. Pada waktu membahas masalah ini dengan para pengikutnya, ia mendengarkan pendapat dari dua kubu yang saling bertentangan. Kubu pertama menekankan bahwa keadilan harus ditegakkan dan menyarankan agar ia jangan melalaikan kewajiban moral; yang kedua berkilah bahwa situasi ini mempakan kesempatan untuk meraih keuntungan besar demi kemakmuran seluruh marga. Apa yang akan dilakukannya? Shonyu semakin bingung, namun sekonyong-konyong putra sulungnya dipulangkan dari Nagashima. Nobuo menyangka Shonyu akan merasa berutang budi, dan karena itu takkan mengkhianatinya. Tipu muslihat seperti itu mungkin dapat mempengaruhi orang lain, tapi Shonyu memiliki wawasan luas. Ia memahami tindakan ini sebagai taktik mentah dan kekakak-kanakan yang didasarkan atas pertimbangan politik semata-mata.

"Aku telah mengambil keputusan. Dalam mimpi, sang Buddha bersabda agar aku bergabung dengan pasukan Barat," ia memberitahu para pengikutnya. Pada hari yang sama ia mengirim surat pada Hideyoshi dan menyatakan diri sebagai sekutunya.

Cerita mengenai wahyu dari sang Buddha tentu saja isapan jempol belaka, tapi segera setelah Shonyu mengambil keputusan, ambisi jendral tersebut tiba-tiba tersulut oleh percakapan dengan putra sulungnya.

Yukisuke sempat menyinggung bahwa Komandan Benteng Inuyama, Nakagawa Kanemon, telah memperoleh perintah untuk kembali ke Inuyama tak lama setelah ia sendiri dibebaskan dari Nagashima.

Sampai hari itu, Shonyu tak sanggup menentukan, apakah Benteng Inuyama akan merupakan sekutu atau musuh. Tapi kini, setelah Shonyu memberitahukan dukungannya pada Hideyoshi, Benteng Inuyama merupakan musuh yang berada tepat di depan hidungnya. Benteng itu terletak di daerah strategis dengan petahanan alami; Ieyasu dan Nobuo rupanya yakin bahwa Nakagawa Kanemon mampu mengemban tanggung jawab atas garis pertahanan pertama provinsi-provinsi mereka. Kalau memang demikian, tak pelak itulah tujuan ia tiba-tiba ditarik dari pasukan Ise dan diperintahkan kembali ke bentengnya.

"Panggil Pemimpin Bangau Biru," Shonyu menyuruh seorang pembantunya.

Di sebuah lembah di dekat gerbang belakang ada sekelompok pondok yang dihuni oleh anak buah Shonyu yang bukan anggota marga. Mereka dijuluki Korps Bangau Biru. Dari perkampungan itu, pembantu Shonyu memanggil seorang pemuda pendek-kekar berusia sekitar dua puluh lima tahun. la Sanzo, pemimpin Bangau Biru. Setelah menerima instruksi dari pembantu itu, ia masuk lewat gerbang belakang dan pergi ke pekarangan dalam.

Shonyu berdiri dalam hayang-bayang pohon, dan dengan gerakan dagu ia menyuruh Sanzo mendekat. Kemudian, ketika Sanzo bersujud di depan kaki junjungannya, Shonyu sendiri yang memberikan perintah.

Nama Korps Bangau Biru diambil dari seragam katun mereka yang berwarna biru. Setiap kali terjadi insiden, mereka bertolak ke tujuan yang tidak diketahui, bagai sekawanan bangau biru yang mulai terbang.

Tiga hari setetah itu, Sanzo kembali dari suatu tempat yang dirahasiakan. Cepat-cepat ia masuk lewat gerbang belakang dan seperti sebelumnya, bersujud di hadapan Shonyu di pekarangan dalam. Shonyu lalu menerima sebilah pedang berlumuran darah yang dibungkus kertas minyak, dan mengamatinya dengan saksama.

"Tampaknya kau berhasil." ujar Shonyu sambil mengangguk-angguk, lalu menambahkan, "kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik." la memberikan beberapa keping emas pada Sanzo sebagai imbalan.

Tak perlu diragukan bahwa pedang tersebut merupakan pedang yang dikenakan Nakagawa Kanemon, komandan Benteng Inuyama. Lam bang keluarganya tampak pada sarung pedang itu.

"Terima kasih atas kemurahan hati tuanku," kata Sanzo. la mulai mundur. tapi Shonyu menyuruhnya menunggu. Setelah sekali lagi memanggil seorang pembantu, ia memerintahkan orang itu untuk menaruh uang sedemikian banyak di hadapan Sanzo, sehingga harus diangkut dengan kuda. Seorang pejabat serta pembantu pribadi tadi membungkus keping-keping itu dengan tikar-tikar jerami, sementara Sanzo berdiri sambil ter- bengong'bengong.

"Ada satu tugas lagi untukmu, Sanzo." "Baik, tuanku."

Perinciannya telah kuberikan pada tiga orang kepercayaanku. Kuminta kau menyamar sebagai tukang kuda beban, naikkan uang ini ke atas kuda. lalu ikuti ketiga orang itu."

"Dan apa tempat tujuan kami?" "Jangan bertanya."

"Baik, tuanku."

"Jika semuanya berjalan lancar, kau akan kuangkat sebagai samurai."

"Terima kasih. tuanku."

Sanzo laki-laki pemberani yang tak kenal takut, tapi ia lebih terkesima oleh tumpukan uang itu daripada oleh genangan darah. Sekali lagi ia menyembah, menempelkan keningnya ke tanah. Pada waktu menegakkan badan, ia melihat seorang laki-laki tua yang kelihatan seperti samurai desa, dan dua pemuda kekar yang sedang menaikkan bungkusan-bungkusan uang ke pelana seekor kuda.

Shonyu dan Yukisuke minum teh di ruang teh. Sepintas lalu mereka tampak seperti ayah dan anak yang setelah lama terpisah kini menikmati sarapan bersama, namun sesungguhnya mereka sedang terlibat pembicaraan rahasia.

"Aku akan segera bertolak ke Gifu." Yukisuke akhirnya berkata. Ketika meninggalkan ruang teh, Yukisuke langsung memerintahkan para pengikutnya untuk menyiapkan kuda. Semula ia hendak segera pulang ke bentengnya di Gifu. tapi kini rencana tersebut ditunda selama dua-tiga hari.

"Jangan buat kesalahan besok malam." Shonyu mewanti-wanti sambil setengah berbisik.

Yukisuke mengangguk dengan pasti, tapi di mata ayahnya, pemuda yang penuh semangat itu masih terlihat seperti anak kecil.

Namun menjelang malam keesokan harinya— hari ketiga belas di bulan itu—pikiran Shonyu dan alasan ia mengirim Yukisuke ke Gifu kemarin telah diketahui oleh semua orang di dalam Benteng Ogaki.

Tiba-tiba saja keluar perintah untuk menyiagakan pasukan. Perintah itu sangat mengejutkan. bahkan bagi para pengikut Shonyu sekalipun.

Di tengah-tengah kebingungan, seorang komandan memasuki barak, tempat sejumlah samurai muda sedang ribut-ribut. Setelah mengikat tali kulit pada sarung tangannya, ia menatap mereka dengan wajah kelabu dan berkata, "Kita akan merebut Benteng Inuyama sebelum (ajar menyingsing."

Seperti bisa diduga, satu-satunya tempat tenang di tengah segala hiruk-pikuk adalah ruang pribadi sang panglima, Shonyu. Bersama putra keduanya, Terumasa. di sisinya, ia saling bersulang sambil memegang cawan sake. Ayah dan anak itu duduk di kursi lipat masing- masing dan menunggu jam keberangkatan.

Biasanya, pada saat keberangkatan pasukan diumumkan, sangkakala dibunyikan, genderang dan panji-panji dihias, dan seluruh pasukan berbaris dengan gagah melewari kota benteng. Tapi dalam kesempatan ini. para penunggang kuda mengelompok dua-dua atau tiga-tiga; para prajurit intanteri ditempatkan di depan dan di belakang: panji-panji digulung, serta semua senapan disembunyikan. Pada malam berkabut di Bulan Ketiga itu, para warga kota mungkin menoleh sambil bertanya-tanya, tapi tak seorang pun menduga bahwa itulah keberangkatan pasukan menuju garis depan.

Hanya sembilan mil dari Ogaki. ketika mereka berkumpul sekali lagi. Shonyu berpidato, "Mari kira tuntaskan pertempuran ini sebelum fajar, lalu kembali ke rumah sebelum hari berakhir. Bawalah perlengkapan sesedikit mungkin."

Kota Inuyama berikut bentengnya terletak tepat di tepi seberang. Sungai yang mengalir di hadapan mereka adalah hulu Sungai Kiso. Gemercik air terdengar bergema, tapi terselubung kabut tebal, bulan, gunung, dan air seolah-olah terbungkus mika. "Turun."

Shonyu pun turun dari kudanya dan memasang kursinya di tepi sungai. "Yang Mulia Yukisuke tepat waktu. Itu pasukannya di sebelah sana." salah satu pengikut Shonyu melaporkan.

Shonyu bangkit dan menatap ke arah hulu. "Pengintai! Pengintai!" ia langsung berseru.

Salah satu pengintai menghampirinya untuk membenarkan laporan itu. Tak lama kemudian pasukan berkekuatan empat ratus sampai lima ratus orang bergabung dengan pasukan berkekuatan hampir enam ratus orang di bawah komando lkeda Shonyu, dan sosok-sosok seribu orang tampak bergerak bagai kawanan ikan yang bercampur baur.

Sanzo akhirnya menyusul setelah anak buah Yukisuke. Para penjaga di belakang mengepungnya dengan tombak dan membawanya ke hadapan Shonyu.

Shonyu tidak memberikan kesempatan pada Sanzo untuk menceritakan hal-hal yang tak perlu diketahui orang lain ketika menanyakan pokok- pokok tugasnya.

Pada waktu itu sejumlah perahu nelayan berdasar rata yang semula tersebar-sebar di sepanjang tepi sungai mulai melintasi air. Lusinan prajurit berbaju tempur ringan mengambil ancang- ancang dan melompat ke luar, satu per satu, ke tepi seberang. Kemudian perahu-perahu itu segera kembali untuk menjemput rombongan berikut.

Dalam sekejap saja, Sanzo-lah satu-satunya orang yang tertinggal. Akhirnya teriakan-teriakan para prajurit mengguncangkan langit malam yang lembap, dari seberang sungai sampai ke daerah di bawah benteng. Secara bersamaan bagian langit itu berubah merah, bunga api tampak menari-nari dan berkilau-kilau di atas kota benteng.

Rencana Shonyu berjalan sempurna. Benteng Inuyama bertekuk lutut dalam waktu satu jam. Rasa kaget yang dialami para prajuritnya akibat serangan tak terduga itu masih ditambah dengan pengkhianatan di dalam benteng dan di kota. Pengkhianatan memang salah satu alasan mengapa benteng dengan penahanan alami sebaik ini takluk dalam waktu sedemikian singkat. Namun masih ada alasan lain. Shonyu pemah menjadi komandan Benteng Inuyama, dan para warga kota, para kepala kampung dari desa-desa sekitar, dan bahkan para petani pun masih ingat pada bekas majikan mereka itu. Meskipun Shonyu sempat menugaskan beberapa pengikut untuk menyuap orang-orang tersebut dengan uang sebelum ia melancarkan serangan, keberhasilan rencananya lebih banyak disebabkan oleh posisi yang pernah didudukinya.

Orang yang termasuk keluarga terpandang yang sedang mengalami masa surut cenderung menarik berbagai macam orang. Mereka yang berpandangan jauh, mereka yang picik, orang- orang yang menyesalkan keadaan tapi tak sanggup mengambil sikap maupun memberikan saran dengan setia—semua-nya itu segera menghilang. Dan pada suatu ketika, mereka yang memahami arah perubahan namun tak punya kekuatan maupun kemampuan untuk mencegahnya pun akan berpaling.

Orang-orang yang tetap tinggal dapat dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang tidak memiliki kemampuan menonjol yang dapat menopang kehidupan mereka di tempat lain seandainya mereka pergi, dan orang-orang yang sungguh-sungguh setia sampai akhir, dalam kemiskinan dan kekurangan, hidup dan mati, suka maupun duka.

Tapi siapakah yang patut disebut samurai sejati? Mereka yang hidup secara berguna atau mereka yang tinggal semata-mata karena hendak mencari kesempatan? Ini tak mudah dimengerti, karena setiap orang mengerahkan segala daya agar junjungannya menilai kemampuannya secara berlebih.

Meski ia pun merupakan oportunis, Ieyasu berada dalam kelas yang berbeda dengan Nobuo yang kekanak-kanakan, yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai dunia. Nobuo sepenuhnya berada di tangan Ieyasu, seperti bidak catur yang sewaktu-waktu siap digerakkan.

"Wah, kedatanganku tentu merepotkan sekali, Tuan Nobuo," ujar Ieyasu. "Sungguh, aku hanya menambah sedikit nasi saja. Aku dibesarkan di lingkungan bersahaja, jadi baik lidah maupun perutku kewalahan menghadapi hidangan mewah yang Tuan sajikan malam ini."

Malam itu malam pada hari ketiga belas. Ketika Ieyasu tiba di Kiyosu sore itu, Nobuo mengajaknya ke sebuah kuil. Di sana keduanya mengadakan pembicaraan rahasia selama beberapa jam, dan pada malam hari ia me-nyelenggarakan jamuan makan di ruang tamu di benteng.

Ieyasu tidak terpancing untuk bertindak, bahkan ketika insiden Kuil Honno berlangsung. Namun sekarang ia mempenaruhkan seluruh kekuatan marga Tokugawa—kekuatan yang dibangunnya selama bertahun-rahun— dan berkunjung ke Kiyosu. Nobuo menganggap Ieyasu sebagai juru selamat-nya. Ia berusaha keras menjamu Ieyasu, dan kini ia menyajikan berbagai hidangan lezat.

Tapi di mata Ieyasu keramah-tamahan Nobuo tak lebih dari permainan kanak-kanak, dan ia hanya bisa merasa kasihan pada orang itu. Di masa lampau, Ieyasu pernah berpesta dan menjamu Nobunaga selama tujuh hari ketika Nobunaga kembali dari Kai. Ketika mengenang kemegahan acara itu, Ieyasu mau tak mau merasa iba melihat usaha Nobuo.

Situasi tersebut menimbulkan belas kasihan dalam hati semua orang, leyasu tak terkecuali. Tapi ia menyadari bahwa hakikat alam semesta adalah perubahan. Jadi, meskipun merasa kasihan dan simpati di tengah jamuan, ia tidak dihantui perasaan bersalah karena maksud terselubungnya, yaitu memanfaatkan pesolek lembek itu sebagai boneka. Alasannya sudah jelas— tak seorang pun lebih mungkin menimbulkan bencana selain penerus sebuah keluarga terpandang yang mewarisi peninggalan dan reputasi. Dan semakin mudah orang itu dimantaatkan, semakin besar bahaya yang ditimbul-kannya.

Jalan pikiran Hideyoshi kemungkinan besar sama dengan Ieyasu. Tapi sementara Hideyoshi memandang Nobuo sebagai hambatan untuk mencapai tujuan dan mencari jalan untuk menyingkirkannya, Ieyasu mendapatkan cara-cara untuk memanfaatkan orang itu. Sudut pandang yang berbeda ini berpangkal pada satu tujuan mendasar yang sama-sama hendak dicapai oleh Hideyoshi dan Ieyasu. Dan tak pengaruh siapa di antara mereka yang keluar sebagai pemenang, nasib Nobuo takkan berubah, semata-mata karena ia tak mampu melepaskan keyakinannya bahwa ia penerus Nobunaga.

"Apa maksud Tuan?" ujar Nobuo. "Pesta sesungguhnya baru akan dimulai. Cuaca malam hari di musim semi ini sangat menyenangkan, sayang kalau hanya digunakan untuk tidur."

Nobuo berusaha keras menghibur tamunya, namun sesungguhnya ada pekerjaan yang harus diselesaikan Ieyasu.

"Jangan, Yang Mulia Nobuo. Sebaiknya Yang Mulia Ieyasu jangan tambah sake lagi. Paling tidak kalau melihat rona wajah Yang Mulia. Serahkan cawan pada kami saja."

Tapi Nobuo tidak menyadari kejemuan yang melanda tamu kehormaran-nya. Usahanya kini dituntun oleh kekeliruannya dalam mengartikan sorot mengantuk dalam mata tamunya. Ia berbisik kepada para pengikutnya, dan pintu-pintu geser di ujung ruangan segera terbuka, memperlihatkan se- kelompok pemain musik serta beberapa penari. Bagi Ieyasu ini merupakan hal biasa, tapi dengan sabar ia sesekali menunjukkan minat, tertawa dari waktu ke waktu, dan bertepuk tangan setelah pertunjukan berakhir.

Para pengikutnya memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik lengan bajunya dan memberi isyarat bahwa sudah waktunya beranjak tidur, tapi secara bersamaan seorang pelawak muncul sambil membawa sejumlah alat musik.

"Bagi tamu kehormatan malam ini, kini kami tampilkan pertunjukan Kabuki dari ibu kota.,.."

Orang itu bukan main cerewetnya. la lalu menyanyikan pengantar untuk sandiwara tersebut. Setelah itu aktor lain menembangkan satu bait dari sebuah refrein dan beberapa lagu dari misa Nasrani yang belakangan mulai digemari oleh para pembesar provinsi-provinsi Barat. Ia memainkan alat musik menyerupai biola yang digunakan dalam upacara gereja, dan pakaian-nya dihiasi sulaman bergaya Barat serta renda-renda yang diserasikan dengan kimono tradisional Jepang.

Para penonton tampak terkesan dan terpukau. Kelihaian jelas bahwa apa yang menyenangkan bagi rakyat jelata juga menyenangkan bagi para petinggi dan samurai.

"Yang Mulia Nobuo, Yang Mulia leyasu berpesan bahwa beliau mulai mengantuk," Okudaira berkata pada Nobuo yang terpesona oleh penunjukan itu.

Nobuo segera bangkit dan mengantar Ieyasu ke ruangannya. Pertunjukan Kabuki belum selesai, suara biola, seruling, dan gendang masih terdengar.

Keesokan paginya Nobuo bangun pada jam yang termasuk dini untuknya dan pergi ke kamar Ieyasu. Ia menemukan Ieyasu duduk dengan wajah segar, tengah membahas sesuatu dengan para pengikutnya.

"Bagaimana dengan sarapan Yang Mulia Ieyasu?" Nobuo bertanya.

Ketika diberitahu oleh seorang pengikut bahwa sarapan telah dihidangkan, Nobuo tampak agak salah tingkah.

Tiba-tiba seorang samurai yang berjaga di pekarangan dan seorang prajurit di atas menara pengintai mulai sahut-menyahut mengenai sesuatu yang terjadi di kejauhan. Seruan-seruan mereka segera menarik perhatian Ieyasu dan Nobuo, dan tak lama kemudian keduanya dihampiri samurai yang ingin memberi laporan.

"Asap hitam terlihat di langit barat laut sejak beberapa waktu lalu. Mula-mula kami menyangka ada kebakaran hutan, tapi kemudian asap itu perlahan-lahan berpindah tempat, dan muncul di beberapa lokasi sekaligus."

Nobuo angkat bahu. Seandainya asap terlihat di tenggara, ia mungkin berpikir mengenai medan tempur di Ise atau tempat-tempat lain, namun roman mukanya memperlihatkan bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi.

Ieyasu, yang telah mendapat laporan mengenai kematian Nakagawa dua hari sebelumnya, berkata. "Bukankah itu kearah Inuyama?" Tanpa menunggu jawaban, ia memberi perintah pada orang-orang di sekitarnya. "Okudaira. coba kauperiksa."

Okudaira berlari menyusuri selasar bersama para pengikut Nobuo dan memanjat ke puncak menara.

Suara langkah orang-orang yang dengan terburu-buru menuruni menara jelas-jelas meng- isyaratkan bahwa telah terjadi bencana.

"Kelihatannya seperti Haguro, Gakuden, atau Inuyama, tapi yang pasti sekitar daerah itulah," Okudaira melaporkan. Suasana di dalam benteng menjadi kalang kabut. Bunyi sangkakala terdengar di luar, tapi sebagian besar prajurit yang wara-wiri untuk mengambil senjata masing-masing tidak menyadari bahwa Ieyasu sudah ada di sana.

Ketika memperoleh kepastian bahwa asap berasal dari arah Inuyama, Ieyasu berseru. "Kita kecolongan!" lalu pergi dengan sikap terburu-buru yang tidak lazim baginya.

Ia memacu kudanya dengan kencang. menuju arah asap di barat laut. Para pengikutnya berkuda di kiri-kanannya, tak ingin ketinggalan. Jarak dari Kiyosu ke Komaki, atau dari Komaki ke Gakuden, tidak jauh. Jarak dari Gakuden ke Haguro sekitar tiga mi, dan dari Haguro ke Inuyama tiga mil lagi. Pada waktu mereka tiba di Komaki. mereka telah mengetahui semuanya. Benieng di Inuyama telah ditaklukkan dini hari tadi. Ieyasu menarik tali kekang dan memandang asap yang mengepul- ngepul di beberapa tempat antara Haguro dan daerah sekitar Inuyama.

"Aku terlambat, ia bergumam dengan getir. "Tidak seharusnya aku melakukan kesalahan seperti ini."

Di mata Ieyasu, wajah Shonyu seakan-akan terbayang-bayang dalam asap hitam itu. Ketika mendengar kabar angin bahwa Nobuo telah memulangkan putra Shonyu, ia langsung merasa waswas mengenai akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakan Nobuo itu. Meski demikian, ia tak menyangka Shonyu menyembunyikan sikap sebenarnya dan melaksanakan rencana licik dengan begitu cepat.

Aku bukannya tidak tahu bahwa Shonyu merupakan musang tua yang lihai, pikir Ieyasu. Nilai strategis yang dimiliki benteng di Inuyama tak perlu dipertanyakan lagi. Karena letaknya yang berdekatan dengan Kiyosu, perannya dalam perang melawan Hideyoshi pasti akan membesar. Inuyama menguasai bagian hulu Sungai Kiso, perbatasan antara Mino dan Owari, serta tempat penyeberangan ke Unuma yang sangat penting. Posisi itu sepadan dengan seratus kubu, tapi kini telah jatuh ke tangan musuh.

"Kita pulang saja." ujar Ieyasu. "Kalau melihat api sudah berkobar-kobar seperti itu, Shonyu dan putranya tentu sudah mundur ke Gifu."

Sekonyong-konyong Ieyasu memutar kudanya, dan pada saat itu ekspresi wajahnya kembali normal. Kesan yang ia berikan kepada para pengikut di sekelilingnya adalah kesan percaya diri; ia yakin bahwa ia sanggup menebus kehilangan ini. Dengan berapi-api para pengikutnya membahas tindakan Shonyu yang tak tahu berterima kasih, dan mencela serangan mendadak yang ia lancarkan sebagai perbuatan pengecut, namun Ieyasu seakan- akan tidak mendengar mereka. Sambil tersenyum ia memutar kudanya kembali ke Kiyosu. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan Nobuo yang meninggalkan Kiyosu beberapa waktu kemudian di muka pasukannya. Nobuo menatap Ieyasu, seolah-olah tak menyangka akan bertemu di tengah jalan.

"Apakah Inuyama aman-aman saja?" tanyanya.

Sebelum Ieyasu sempat menjawab, suara tawa terdengar di antara para pengikut di belakangnya. Keiika menjelaskan situasinya pada Nobuo, Ieyasu benar-benar ramah dan sopan. Nobuo tampak patah semangat. Ieyasu menyejajarkan kudanya di samping kuda Nobuo dan berusaha menghiburnya,

"Jangan khawaiir. Kita memang kalah di sini, tapi Hideyoshi akan menelan kekalahan lebih besar lagi. Lihat di sebelah sana."

Dengan matanya ia memberi isyarat ke bukit di Komaki.

Jauh sebelumnya, Hideyoshi sudah pernah menyarankan agar Nobunaga pindah dari Kiyosu ke Komaki. Meski tidak seberapa tinggi, hanya sekitar sembilan puluh lima meter, bukit itu menguasai dataran di sekelilingnya dan dengan mudah dapat dijadikan titik totak untuk melancarkan serangan ke segala arah. Dalam pertempuran di dataran Owari-Mino, jika Komaki dijadikan kubu pertahanan, gerak maju pasukan Barat akan terhalang, dan dengan demikian Komaki merupakan lokasi yang sangat baik untuk men-jalankan strategi menyerang maupun bertahan.

Tak ada waktu untuk menjelaskan semuanya itu pada Nobuo. Ieyasu menoleh dan menunjuk. Kali ini ia bicara dengan para pengikutnya sendiri. "Mulai dirikan kubu pertahanan di Bukit Komaki, sekarang juga."

Setelah memberikan perintah itu, ia kembali menemani Nobuo, dan keduanya berbincang- bincang dengan santai dalam perjalanan pulang ke Kiyosu,

Saat itu semua orang menyangka Hideyoshi berada di Benteng Osaka, tapi sesungguhnya ia berada di Benteng Sakamoto sejak hari ketiga belas Bulan Ketiga, ketika Ieyasu berbicara dengan Nobuo di Kiyosu. Kelambanan seperti ini tidak lazim baginya.

leyasu telah mulai mengambil tindakan, merampungkan rencana-rencana-nya dan semakin siap untuk bergerak dari Hamamatsu ke Okazaki, lalu ke Kiyosu: tapi Hideyoshi, yang acap kali mengejutkan dunia dengan kecepatan-nya yang luar biasa, kali ini agak terlambat. Paling tidak, itulah kesan yang tampak.

"Hei. ke mana semuanya? Mana pelayan- pelayanku?"

Suara sang majikan. Dan seperti biasa, suaranya keras.

Para pelayan muda, yang sengaja pergi ke ruang pelayan yang jauh, terburu-buru menyimpan permainan suguroku yang diam-diam mereka main-kan, dan salah satu dari mereka, Nabemaru, yang berusia tiga belas tahun, berlari sekencang mungkin ke ruangan tempat junjungannya bertepuk tangan berulang-ulang.

Hideyoshi telah melangkah ke serambi. Melalui gerbang depan benteng ia melihat sosok Sakichi tergopoh-gopoh menaiki lereng dari kota benteng. dan tanpa menoleh ke arah suara langkah di belakangnya, ia menyerukan perintah untuk membiarkannya masuk.

Sakichi mendekat dan berlutut di hadapan Hideyoshi.

Setelah mendengarkan laporan Sakichi mengenai situasi di Benteng Osaka. Hideyoshi bertanya, "Dan Chacha? Apakah Chacha dan adik- adiknya juga baik-baik saja?"

Sejenak Sakichi memasang wajah yang mengisyaratkan ia tidak ingat. Menjawab seakan- akan telah menunggu pertanyaan itu hanya akan membuat Hideyoshi curiga (rupanya Sakichi sudah tahu), dan tentu akan membuatnya merasa kikuk setelah itu. Buktinya, segera setelah menanyakan Chacha, kesan berwibawa lenyap dari wajah Hideyoshi dan ia tampak tersipu-sipu. la kelihatan salah tingkah.

Sakichi segera memahami sebabnya, dan mau tak mau merasa geli. Setelah penaklukan Kitanosho, Hideyoshi telah mengurus ketiga anak perempuan Oichi seperti mengurus anak sendiri. Ketika mendirikan Benteng Osaka, ia juga membangun tempat yang mungil dan cerah khusus untuk mereka. Dari waktu ke waktu ia berkunjung dan bermain-main dengan anak-anak itu. seakan-akan mereka burung langka dalam sangkar emas.

"Kenapa kau teriawa. Sakichi?" Hideyoshi mendesak. Tetapi ia sendiri pun merasa agak geli. Rupanya rahasianya memang sudah diketahui oleh Sakichi.

"Tidak ada apa-apa. Hamba terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang lain dan kembali tanpa mampir di tempat tinggal ketiga putri."

"Begitukah? Hmm. baiklah." Dan kemudian Hideyoshi segera mengalihkan pembicaraan, "Desas-desus apa saja yang kaudengar di sekitar Sungai Yodo dan Kyoto selama perjalanan mur"

Hideyoshi selalu mengajukan pertanyaan seperti itu jika ia mengutus kurir ke suatu tempat jauh.

"Ke mana pun hamba pergi. satu-satunya topik yang dibicarakan adalah perang."

Ketika menanyai Sakichi lebih lanjut mengenai keadaan di Kyoto dan Osaka, ia menemukan bahwa semua orang berpendapat bahwa pertempuran akibat hasutan Nobuo takkan ierjadi antara Hideyoshi dan penerus marga Oda itu, melainkan antara Hideyoshi dan Ieyasu. Setelah kematian Nobunaga, orang beranggapan bahwa perdamaian akhirnya akan diwujudkan oleh Hideyoshi, tapi kini seluruh negeri sekali lagi terpecah belah, dan rakyat dihantui kecemasan akibat momok pertentangan besar yang sangat mungkin akan merambah ke semua provinsi.

Sakichi mohon diri. Ketika ia pergi, dua jendral Niwa Nagahide muncul, yakni Kanamori Kingo dan Hachiya Yoritaka. Hideyoshi sudah berusaha keras menarik Niwa menjadi sekuiunya, sehab ia sadar bahwa ia akan menderiia kerugian besar jika Niwa sampai menyeberang ke pihak musuh. Selain kerugian dari segi kekuatan militer, pembelotan Niwa akan meyakinkan dunia bahwa Nobuo dan Ieyasu berada di pihak yang benar. Di antara para pengikut Nobunaga, kedudukan Niwa hanya kalah dari Katsuie, dan ia dihormati sebagai tokoh berbudi dan tulus.

Tak perlu diragukan bahwa Ieyasu dan Nobuo pun berusaha dengan segala cara membujuk Niwa agar bergabung dengan mereka. Namun karena akhirnya tergerak oleh semangat Hideyoshi, Niwa mengutus Kanamori dan Hachiya sebagai bala bantuan pertama dari Utara. Hideyoshi merasa gembira, tapi belum sepenuhnya tenang.

Sebelum malam tiba, ia tiga kali menerima kurir yang menyampaikan laporan tentang situasi di Ise. Hideyoshi membaca laporan-laporan yang dibawa oleh ketiga orang itu dan menanyai mereka secara langsung. Kemudian ia memberikan jawaban secara lisan dan menyuruh juru tulisnya membuat surat balasan sementara ia makan malam.

Sebuah penyekat yang dapat dilipat berdiri di pojok ruangan. Kedua panilnya menampilkan peta Jepang yang dibuat dengan helaian emas yang sangat halus. Hideyoshi menatap peta itu dan bertanya, "Belum adakah berita dari Echizen? Bagaimana dengan kurir yang kukirim kepada marga Uesugi?"

Sementara para pengikutnya beralasan dengan menyinggung jarak yang harus ditempuh, Hideyoshi menghitung jari. Ia telah mengirim pesan kepada marga Kiso dan Satake. Jaringan diplomasinya yang disusun dengan hati-hati mdiputi seluruh negeri yang tampak pada penyekat. Pada dasarnya. Hideyoshi menganggap perang sebagai langkah terakhir. Ia percaya bahwa diplomasi pun merupakan pertempuran tersendiri. Namun Hideyoshi tidak menjalankan diplomasi semata-mata demi diplomasi itu sendiri. Upayanya itu juga tidak lahir dari kelemahan militer. Diplomasinya sdalu didukung oleh kekuatan militer, dan baru dijalankan setelah ia menegakkan wibawa militer dan menyiapkan pasukan. Tapi dengan Ieyasu, diplomasi ternyara tidak membawa hasil. Hideyoshi tak pemah menceritakan pada siapa pun bahwa jauh sebelum situasinya mencapai tahap ini. ia telah mengutus seseorang ke Hamamatsu dengan pesan sebagai berikut:

Jika Tuan mempertimbangkan petisi mengenai promosi Tuan yang tahun lalu kuajukan kepada sang Tenno. Tuan akan memahami simpati yang kurasakan terhadap Tuan. Adakah alasan mengapa kita harus bertempur? Hampir semua orang di negeri ini sependapat bahwa Yang Mulia Nobuo lemah hati. Biarpun Tuan mengibarkan bendera kewajiban moral dan merangkul sisa-sisa marga Oda, dunia takkan mengagumi tindakan Tuan tebagai usaha orang besar yang memimpin pasukan pembela kebenaran.

Pada akhirnya, percuma saja kita bertempur. Tuan orang yang cerdas, dan jika kita dapat mencapai kata sepakat, aku akan menambahkan Provinsi Owari dan Mino kepada wilayah kekuasaan Tuan.

Namun hasil dari usulan semacam itu tergantung pada tanggapan pihak lawan, dan jawaban yang diberikan pada Hideyoshi jelas-jelas negatif. Tapi setelah memutuskan hubungan dengan Nobuo pun, Hideyoshi tetap berusaha membujuk Ieyasu dengan mengirim utusan disertai tawaran yang bahkan lebih menarik daripada sebelumnya. Namun utusan-utusan itu hanya menimbulkan kemarahan Ieyasu, dan terpaksa pulang dengan tangan kosong.

"Yang Mulia Ieyasu menjawab bahwa Yang Mulia Hideyoshi-lah yang tidak memahami beliau," para utusan melaporkan.

Hideyoshi memaksakan senyum dan berkata. "Ieyasu pun tidak memahami perasaanku yang sesungguhnya."

Apa pun yang dilakukan, waktu yang ia lewatkan di Sakamoto sepenuhnya diisi dengan bekerja. Sakamoto merupakan markas militernya untuk Ise dan Owari bagian selatan, sekaligus pusat jaringan diplomatik dan intelijen yang membentang dari Utara sampai ke provinsi- provinsi Barat. Sebagai pusat untuk operasi-operasi rahasia. Sakamoto jauh lebih menguntungkan di- bandingkan Osaka. Selain itu, kurir-kurir bisa datang dan pergi tanpa menarik perhatian yang tidak perlu.

Sepintas lalu, kedua lingkup pengaruh tampaknya dibatasi secara jelas: Ieyasu dari timur ke timur laut, dan Hideyoshi dari ibu kota ke barat. Tapi di kubu utama Hideyoshi di Osaka pun tak terhitung banyaknya orang yang berkomplot dengan pihak Tokugawa. Juga tak bisa dikatakan bahwa di kalangan istana tak ada orang yang mendukung Ieyasu dan menunggu sampai Hideyoshi tersandung.

Bahkan di antara marga-marga samurai ada ayah dan ibu yang mengabdi pada pembesar-pembesar provinsi di Osaka dan Kyoto yang mempunyai anak-anak yang merupakan pengikut para jendral pasukan Timur. Saudara-saudara kandung saling berhadapan sebagai musuh. Perselisihan berdarah antar saudara sudah membayang. Hideyoshi mengenal penderitaan yang ditim- bulkan oleh perang. Dunia tengah dilanda perang ketika ia masih kanak-kanak, tinggal di rumah ibunya yang bobrok di Nakamura. Dan hal yang sama dialaminya dalam masa pengembaraan selama bertahun-tahun. Ketika Nobunaga muncul. penderitaan masyarakat semakin menjadi-jadi untuk sementara waktu, tapi penderitaan itu disertai kecerahan dan kegembiraan dalam kehidupan rakyat jelata. Orang-orang percaya bahwa Nobunaga akan membawa perdamaian abadi. Tapi ia terbunuh sebelum merampungkan tugasnya.

Hideyoshi tdah bersumpah bahwa ia akan mengatasi kemunduran yang timbul akibat kematian Nobunaga, dan dengan segala upaya yang telah dikerahkannya—nyaris tanpa tidur atau istirahat—tinggal satu langkah sebelum tujuannya tercapai. Langkah terakhir yang harus diambilnya untuk meraih cita-cita kini sudah dekat. Ibaratnya ia telah menempuh sembilan ratus mil dari perjalanan sejauh seribu mil. Tapi seratus mil terakhir itulah yang paling berat. Ia telah memperkirakan bahwa pada suatu ketika, mau tak mau ia akan menghadapi satu rintangan terakhir— Ieyasu—dan rintangan itu harus disingkirkan dari jalannya atau dihancurkan. Tapi ketika men- dekatinya, ia mulai menyadari bahwa rintangan itu lebih tangguh dari pada yang ia duga. Hideyoshi berada di Sakamoto selama sepuluh hari, dan dalam waktu itu Ieyasu memindahkan pasukannya sampai ke Kiyosu. Sudah jelas bahwa Ieyasu berniat memicu perang di lga, Ise, dan Kishu, maju ke barat. memasuki Kyoto dan menyerang Osaka dengan sekali pukul, seperti angin badai yang menerjang.

Tapi Ieyasu tahu bahwa jalannya takkan mudah. Sama seperti Hideyoshi, ia meramalkan satu pertempuran besar dalam gerak majunya ke Osaka. Tapi di manakah tempatnya? Satu-satunya tempat yang cukup luas bagi pertempuran menentukan antara Timur dan Barat ini adalah Dataran Nobi yang berbatasan dengan Sungai Kiso.

Orang yang berinisiatif dapat meraih keuntungan dengan membangun kubu pertahanan dan menguasai tempat-tempat yang lebih tinggi. Sementara Ieyasu telah melakukan semuanya itu dan sudah siap sepenuhnya, Hideyoshi dapat dikatakan memulai agak terlambat. Pada malam hari ketiga belas di bulan itu pun ia tetap belum beranjak dari Sakamoto.

Namun sikapnya yang berkesan lamban ini bukan akibat kelalaian. Hideyoshi sadar bahwa Ieyasu tak dapat dibandingkan dengan Mitsuhide maupun Katsuie. Ia harus mengulur waktu untuk merampungkan segala persiapannya. Ia menunggu untuk menarik Niwa Nagahide ke pihaknya: ia menunggu untuk memastikan bahwa marga Mori tak dapat berbuat apa-apa di Barat; ia menunggu untuk menghancurkan sisa-sisa para biksu-prajurit yang berbahaya di Shikoku dan Kishu; dan akhirnya ia menunggu untuk memecah belah perlawanan para jendral di Mino dan Owari.

Utusan-utusan yang hendak menemuinya seakan-akan tak pernah berakhir, dan Hideyoshi menerima mereka sambil makan. la baru saja selesai bersantap dan meletakkan .sumpit ketika sebuah pesan tiba. Ia meraih kotak surat.

Surat itu telah ia tunggu-tunggu—jawaban dari Bito Jinemon, yang ia kirim sebagai kurir kedua ke Benteng Ikeda Shonyu di Ogaki. Berita baik atau burukkah yang menantinya? Tak ada berita sama sekali dari para utusan yang dikirimnya untuk mencari dukungan dan benteng-benteng lain. Hideyoshi membuka surat Shonyu dan membacanya.

"Bagus." hanya itu yang dikatakannya.

Lama setelah ia beranjak tidur malam itu, ia mendadak terbangun seakan-akan baru teringat sesuatu. lalu memanggil samurai yang bertugas

"Apakah kurir Bito akan kembali besok pagi?" "Tidak." jawab si pengawal. "Dia terdesak waktu,

dan setelah beristirahat sejenak, dia kembali ke Mino." Sambil duduk di tempat tidurnya. Hideyoshi meraih kuas dan menulis surat kepada Bito

Berkat usahamu yang gigih, Shonyu dan putranya telah menyatakan mendukung aku, dan tak ada yang lebih menggembirakan bagiku. Tapi ada satu hal yang perlu kukemukakan dalam kesempatan ini. Jika Nobuo dan Ieyasu tahu bahwa Shonyu mendukungku, mereka pasti akan mengancam dengan segala cara. Jangan tanggapi mereka. Jangan bertindak gegabah. Sejak dulu Ikeda Shonyu dan Mori Nagayoshi dikenal sebagai orang berani dan sombong yang memandang rendah pada musuh.

Begitu meletakkan kuas, ia mengirim pesan itu ke Ogaki.

Namun dua hari kemudian, menjelang malam hari kelima belas, pesan berikut tiba dari Ogaki.

Benteng Inuyama telah dipaksa bertekuk lutut. Segera setelah Shonyu dan putranya mengambil keputusan, mereka menaklukkan kubu pertahanan paling strategis di sepanjang Sungai Kiso, dan menghadiahkannya pada Hideyoshi sebagai tanda dukungan mereka. Sungguh berita baik.

Hideyoshi merasa gembira. namun sekaligus dihantui perasaan khawatir.

Keesokan harinya Hideyoshi berada di Benteng Osaka. Selama beberapa hari berikut, pertanda kegagalan semakin banyak bermunculan. Setelah kemenangan di Inuyama. Hideyoshi mendapat kabar bahwa menantu Shonyu, Nagayoshi, yang hendak mengukir nama besar di medan laga, telah merencanakan serangan mendadak ke kubu pertahanan Tokugawa di Bukit Komaki. Pasukannya ternyata diccgat musuh di dekat Haguro, dan kabarnya ia gugur bersama sebagian besar prajurttnya.

"Kita kehilangan orang ini karena semangat tempurnya. Kebodohan seperti itu tak dapat dimaafkan!" Keluh kesah Hideyoshi ditujukan pada dirinya sendiri.

Pada waktu Hideyoshi telah siap meninggalkan Osaka pada hari kesembilan belas, berita buruk lainnya datang dari Kishu. Hatakeyama Sadamasa rupanya memberontak dan menyerang Osaka dari laut dan darat. Tindakan ini kemungkinan besar didalangi oleh Nobuo dan Ieyasu. Kalaupun bukan mereka, stsa-sisa biksu-prajurit Honganji selalu menunggu kesempatan untuk menyerang. Hideyoshi terpaksa menunda hari keberangkatannya agar dapat merampungkan pertahanan Osaka.

Pagi-pagi sekali pada hari kedua puluh satu Bulan Ketiga. Burung-burung berkicau di tengah alang-alang di Osaka. Kembang-kembang ceri berguguran. dan di jalan-jalan, bunga-bunga yang telah jatuh itu berputar-putar di antara iring- iringan prajurit dan kuda. seakan-akan alam pun hendak melepaskan mereka ke medan laga. Para warga kota yang datang untuk menonton membentuk pagar panjang di kedua sisi jalan

Pasukan yang mengikuti Hideyoshi hari itu berkekuatan lebih dari tiga puluh ribu orang. Semua orang berusaha melihat Hideyoshi di tengah-tengah mereka, namun ia begitu kecil dan penampilannya pun begitu biasa, sehingga ia, yang dikelilingi para jendral berkuda, mudah luput dari perhatian.

Tapi Hideyoshi memandang kerumunan penduduk dan diam-diam tersenyum dengan yakin. Osaka akan menjadi makmur, katanya dalam hati. Sekarang saja kotanya sudah berkembang pesat, dan ini merupakan pertanda terbaik. Para penduduk mengenakan pakaian berwarna cerah, dan tak ada tanda-tanda kekurangan. Apakah itu disebabkan oleh keyakinan mereka terhadap benteng baru di tengah kota?

Kita akan menang. Kali ini kita bisa menang.

Begitulah Hideyoshi meramalkan masa depan.

Malam itu pasukannya berkemah di Hirakata, dan keesokan paginya, pasukan berkekuatan tiga puluh ribu orang itu kembali bergerak ke timur, menyusuri jalan setapak yang meliuk-liuk di sepanjang tepi Sungai Yodo.

Ketika mereka tiba di Fushimi, sekitar empat ratus orang menemui mereka di tempat penyeberangan.

"Panji siapakah itu?" unya Hideyoshi.

Para jendral menyipitkan mata dengan curiga. Tak seorang pun mengenali pataka-pataka berukuran besar dengan aksara-aksara Cina berwarna hitam di atas dasar merah itu. Selain itu masih ada lima gantungan emas dan sebuah panji komandan yang menampilkan delapan lingkaran kecil yang mengelilingi lingkaran besar di atas kipas emas. Di bawah bendera-bendera itu terdapat tiga puluh prajurit berkuda, tiga puluh prajurit bertombak. tiga puluh prajurit bersenapan, dua puluh prajurit bersenjatakan panah dan busur, dan satu korps prajurit infanteri. Semuanya menunggu dalam formasi lengkap, baju tempur mereka berdesir dalam angin sungai.

"Cari tahu siapa mereka." Hideyoshi memerintahkan salah seorang pengikutnya.

Orang itu segera kembali dan melaporkan, "Itu Ishida Sakichi."

Hideyoshi menepuk pelananya.

"Sakichi? Wah, wah, pantas." ia berkata dengan nada gembira. seakan-akan baru teringat sesuatu.

Sambil menghampiri kuda Hideyoshi, Ishida Sakichi menyapa junjungannya. "Hamba pernah berjanji pada tuanku, dan hari ini hamba membawa pasukan yang hamba persiapkan dengan uang hasil pembersihan lahan yang untuk digunakan di sini."

"Mari, Sakichi. Bergabunglah dengan rom- bongan perbekalan di belakang."

Prajurit dan kuda itu bernilai lebih dari sepuluh ribu gantang—Hideyoshi terkesan oleh kelihaian Sakichi. Hari itu sebagian besar pasukan melewati Kyoto dan mengambil jalan Raya Omi. Bagi Hideyoshi, setiap pohon dan setiap helai daun mengandung kenangan akan kemalangan masa mudanya.

"Itu Gunung Bodai." Hideyoshi bergumam. Ketika memandang gunung itu, ia teringat penguasanya, Takenaka Hanbei. si pertapa Gunung Kurihara. Ketika merenungkannya sekarang, ia bersyukur bahwa ia tak menyia- nyiakan satu hari pun dalam musim semi kehidupan yang singkat itu. Kemalangan dan perjuangan di masa mudanya telah membawanya ke posisi yang kini ia duduki, dan ia merasa memperoleh berkah dari kegelapan dunia saat itu.

Hanbei, yang memandang Hideyoshi sebagai junjungannya, merupakan sahabat sejati yang tak mungkin dilupakan. Bahkan setelah kematian Hanbei pun, setiap kali Hideyoshi mengalami kesulitan, ia berkata dalam hati, "Kalau saja Hanbei ada di sisiku." Meski demikian, ia telah membiarkan orang itu mati tanpa penghargaan apa pun. Tiba-tiba pelupuk Hideyoshi terasa hangat oleh air mata kesedihan yang menghalangi pandangannya ke puncak Gunung Bodai.

Dan ia pun teringat adik Hanbei. Oyu...

Tiba-tiba ia melihat tudung putih seorang biksuni dalam bayang-bayang pohon pinus di tepi jalan. Sejenak mata biksuni itu beradu dengan mata Hideyoshi. Ia menarik tali kekang kudanya dan hendak memberikan perintah, tapi wanita di bawah pohon tadi telah menghilang.

Di perkemahan malam itu, Hideyoshi menerima kiriman berupa sepiring kue. Orang yang mengantarkannya berkata bahwa kiriman itu dibawa oleh seorang biksuni yang tidak menyebutkan namanya.

"Kue-kue ini lezat sekali," ujar Hideyoshi setelah mencicipi beberapa potong, meskipun sudah makan malam. Dan ketika ia berkomeniar demikian, matanya berkaca-kaca.

Belakangan, si pelayan yang bermata jeli melaporkan sikap Hideyoshi yang janggal kepada para jendral yang mendampinginya. Semuanya tampak terkejut dan seakan-akan tak dapat menebak alasan di balik sikap junjungan mereka. Mereka cemas mengenai kesedihannya, tapi begitu kepalanya me-nyentuh bantal, Hideyoshi segera mendengkur seperti biasa. Selama beberapa jam ia tidur pulas. Dini hari, ketika langit masih gelap. ia bangun dan berangkat. Hari itu detasemen pertama dan kedua tiba di Gifu. Hideyoshi disambut oleh Shonyu dan putranya, dan tak lama kemudian benteng telah dipadati oleh pasukan besar, baik di dalam maupun di luar.

Obor dan api unggun menerangi langit malam di atas Sungai Nagara. Di kejauhan, unit ketiga dan keempat terlihat bergerak ke timur sepanjang malam. "Sudah lama kita tak berjumpa!" Hideyoshi dan Shonyu berkata serempak. "Aku sungguh gembira bahwa Ikeda Shonyu dan putranya bergabung denganku pada saat seperti ini. Dan aku tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa besar arti Benteng Inuyama yang Tuan hadiahkan kepadaku. Aku pun terkesan oleh kecepatan dan kesigapan Tuan dalam memanfaatkan peluang itu."

Hideyoshi menghujani Shonyu dengan pujian, tapi tidak menyinggung kekalahan yang diderita menantunya seusai kemenangan di Inuyama.

Meskipun Hideyoshi tidak berkata apa-apa mengenai hal itu, Shonyu tetap merasa bahwa ia memikul aib di pundaknya. Ia malu sekali bahwa kemenangannya di Inuyama tak dapat menebus kekalahan serta kerugian yang ditimbulkan oleh Nagayoshi. Surat Hideyoshi yang diantarkan Bito Jinemon secara khusus mewanti-wanti agar mereka tidak terpancing oleh Ieyasu, namun sayangnya surat tersebut terlambat sampai di tangan Shonyu.

Shonyu kini menyinggung kejadian itu. "Aku tidak tahu bagaimana aku harus minta maaf atas kekalahan akibat kebodohan menantuku."

Tuan terlalu merisaukan hal itu," ujar Hideyoshi sambil tertawa. "Ini tidak seperti Ikeda Shonyu yang kukenal"

Perlukah kutegur Shonyu, ataukah lebih baik kubiarkan saja? Hideyoshi bertanya-tanya ketika terbangun keesokan paginya. Namun kenyataan bahwa Benteng Inuyama berada di tangannya sebelum pertempuran besar yang akan datang merupakan keuntungan luar biasa. Berulang kali Hideyoshi memuji Shonyu atas keberhasilannya yang gemilang, dan bukan sekadar untuk menghiburnya.

Pada hari kedua puluh lima. Hideyoshi beristirahat dan mengumpulkan pasukannya yang berkekuatan lebih dari delapan puluh ribu orang,

Pagi berikutnya ia bertolak dari Gifu, mencapai Unuma pada siang hari. dan segera memerintahkan pembangunan jembatan apung melintasi Sungai Kiso. Kemudian pasukannya mendirikan kemah. Pada pagi kedua puluh tujuh ia membongkar kemah dan menuju Inuyama. Tepat tengah hari Hideyoshi memasuki Benteng Inuyama.

"Ambilkan kuda yang berkaki kuat." ia memerintahkan, dan setelah selesai makan siang, ia langsung melesat keluar dari gerbang benteng, disertai beberapa penunggang kuda dengan baju tempur ringan.

"Ke mana tujuan tuanku?" tanya salah satu jendral yang memacu kudanya agar tidak tertinggal di belakang Hideyoshi.

"Jangan terlalu banyak yang ikut denganku," balas Hideyoshi. "Kalau kita terlalu ramai, musuh akan melihat kita." Setelah bergegas melewati Desa Haguro, tempat Nagayoshi dilaporkan gugur, mereka mendekati Gunung Ninomiya. Dari sana Hideyoshi dapat melihat perkemahan utama musuh di Bukit Komaki.

Kabarnya pasukan gabungan Nobuo dan Ieyasu berkekuatan sekitar enam puluh satu ribu orang. Hideyoshi menyipitkan mata dan memandang ke kejauhan. Matahari bersinar terik. Sambil mdindungi mata dengan satu tangan, ia mengamati Bukit Komaki yang dipadati pasukan musuh.

Pada hari itu Ieyasu masih berada di Kiyosu. Ia sempat datang ke Bukit Komaki. memberi instruksi mengenai susunan tempur, lalu segera kembali. la seperti ahli go yang menggerakkan satu bidak dengan sangat hati-hati.

Pada malam hari kedua puluh enam, Ieyasu menerima laporan bahwa Hideyoshi berada di Gifu. Ieyasu, Sakakibara, Honda, dan beberapa pengikut lain sedang duduk di suatu ruangan. Mereka baru saja diberitahu bahwa pembangunan kubu-kubu pertahanan di Bukit Komaki telah rampung.

"Jadi, Hideyoshi sudah datang?" gumam leyasu. Ketika ia dan orang-orang yang lain saling pandang, ia iersenyum: kulit di bawah matanya tampak berkerut-kerut seperti kulit kura-kura. Segala sesuatu berjalan seperti yang diperkirakannya.

Sejak dulu Hideyoshi selalu benindak cepar, namun kali ini ia tidak memperlihatkan kesigapan yang lazim baginya, dan ini menimbulkan tanda tanya dalam diri Ieyasu. Apakah Hideyoshi akan bertahan di Ise, atau datang ke Timur ke Dataran Nobi? Mengingat Hideyoshi masih berada di Gifu, kedua kemungkinan itu masih terbuka lebar. Ieyasu menantikan laporan berikut. Kabarnya Hideyoshi telah membangun jembatan melintasi Sungai Kiso dan berada di Benteng Inuyama.

Ieyasu menerima informasi ini menjelang malam hari kedua puluh tujuh bulan itu, dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa waktunya sudah tiba. Pada hari kedua puluh delapan, pasukan Ieyasu bergerak menuju Bukit Komaki. diiringi gemuruh genderang dan kibaran bendera.

Nobuo telah kembali ke Nagashima. tapi setelah memperoleh laporan mengenai perkembangan terakhir. ia bergegas ke Bukit Komaki. Di sana ia bergabung dengan Ieyasu.

"Kudengar pasukan Hideyoshi sendiri berkekuatan lebih dari delapan puluh ribu orang, dan jumlah seluruh prajurit di bawah komandonya mencapai lebih dari seratus lima puluh ribu orang." ujar Nobuo. seakan-akan tak pernah terpikir olehnya bahwa dirinyalah penyebab pertempuran besar ini. Sorot matanya yang gemetar mengungkapkan apa yang tak sanggup ia sembunyikan dalam dada.

Shonyu menyeringai di tengah asap api dapur ketika ia keluar lewat gerbang benteng di atas kudanya.

Para laskar Ikeda yang melihat wajahnya langsung merasa waswas. Mereka semua tahu bahwa Shonyu sedang uring-uringan akibat kekalahan Nagayoshi. Karena kekeliruan Shonyu, para sekutunya terpaksa menerima pukulan telak pada awal perang. bahkan sebelum Hideyoshi. sang panglima tertinggi, tiba di medan tempur.

Ikeda Shonyu merasa yakin bahwa tak seorang pun pernah menudingnya dengan geram, dan bagi orang yang telah menjalani kehidupan sebagai pejuang selama empat puluh delapan tahun. aib seperti itu tentu tak disangka-sangka.

"Yukisuke, kemarilah, Terumasa, kau juga. Dan kuminta para pengikut senior juga mendekat."

Sambil duduk bersila di bangsal benteng utama, ia memanggil kedua putranya beserta para pengikut senior.

"Aku ingin mendengar pendapat kalian. Sekarang, coba lihat ini." ia berkata sambil mengeluarkan sebuah peta dari kimononya.

Ketika peta itu diedarkan, mereka menyadari apa yang hendak diusulkan Shonyu.

Sebuah garis yang dibuat dengan tinta merah terlihat pada peta itu. mulai dari Inuyama. melewati pegunungan. melintasi sungai-sungai, sampai ke Okazaki di Mikawa. Setelah mempelajari peta, semuanya duduk membisu dan menunggu apa yang akan dikatakan Shonyu.

"jika kita mengabaikan Komaki dan Kiyosu serta menggerakkan pasukan kita menyusuri satu jalan ke benteng utama marga Tokugawa di Okazaki. Ieyasu tentu akan kalang kabut. Satu-satunya masalah yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya agar pasukan kita tidak terlihat oleh musuh di Bukit Komaki."

Mula-mula tak seorang pun angkat bicara. Rencana itu tidak lazim. Satu kesalahan saja dapat mengakibatkan bencana yang mungkin fatal bagi semua sekutu mereka.

"Aku bermaksud mengajukan rencana ini pada Yang Mulia Hideyoshi. Jika berhasil, baik Ieyasu maupun Nobuo tak dapat melakukan apa-apa saat kita menangkap mereka."

Shonyu ingin mengambil langkah gemilang untuk menebus kekalahan menantunya. Ia menatap orang-orang yang kini menjelek-jelekkan dirinya dengan kepala tegak. Meski para pengikutnya memahami niatnya, tak seorang pun bersedia mengkritik rencana tersebut. Tak seorang pun mau berkata, Tidak, rencana lihai jarang membawa hasil yang diharapkan. Ini berbahaya."

Pada akhir rapat, rencananya diterima dengan suara bulat. Semua komandan memohon ditempatkan di barisan depan yang akan menerobos jauh ke wilayah musuh dan akan menghancurkan Ieyasu di jantung provinsinya sendiri.

Rencana serupa pernah dicoba di Shizugatake oleh keponakan Shibata Katsuie, Genba. Meski demikian, Shonyu tetap ingin mengajukan rencana itu kepada Hideyoshi, dan ia berkata, "Besok kita akan pergi ke perkemahan utama di Gakuden."

Sepanjang malam ia memikirkan idenya itu. Tapi ketika fajar menyingsing, seorang kurir tiba dari Gakuden dan memberitahunya. "Yang Mulia Hideyoshi mungkin akan mampir ke Benteng Inuyama pada waktu melakukan inspeksi keliling siang nanti."

Ketika Hideyoshi merasakan angin di awal Bulan Keempat berembus lembut, ia bertolak dari Gakuden dan setelah mengamati perkemahan Ieyasu di Bukit Komaki serta kubu-kubu pertahanan di daerah itu, ia menyusuri jalan ke Inuyama dengan disertai sepuluh pelayan dan sejumlah pembantu dekat.

Setiap kali Hideyoshi bertemu Shonyu, ia memperlakukan Shonyu seperti kawan lama. Ketika mereka masih samurai muda di Kiyosu, Shony,. Hideyoshi, dan Inuchiyo sering pergi minum-minum bersama-sama.

"O ya, bagaimana kabar Nagayoshi?" ia bertanya. Mula-mula Nagayoshi dikabarkan gugur di medan tempur, namun rupanya ia hanya mengalami luka parah.

"Sifatnya yang lekas naik darah telah mengacaukan semuanya, tapi tampaknya dia akan pulih dengan cepat. Satu-satunya keinginannya adalah segera dikirim ke garis depan, agar dia dapat membersihkan namanya."

Hideyoshi berpaling ke salah satu pengikutnya dan berkata. "Ichimatsu, dari semua kubu pertahanan musuh yang kita lihat di Bukit Komaki tadi, manakah yang tampak paling kuat?"

Pertanyaan seperti itulah yang kerap diajukannya. memanggil orang-orang di sekitamya, lalu mendengarkan pendapat terus terang para prajurit muda.

Dalam kesempatan seperti itu, kerumunan pengikut muda yang mengelilinginya tak pernah segan-segan. Kalau mereka mulai panas. Hideyoshi juga ikut panas, dan suasana seperti itu menyebabkan orang luar sukar menilai apakah orang-orang yang berdebat itu merupakan junjungan dan pengikut atau sekadar teman biasa. Namun jika Hideyoshi mulai bersikap lebih serius. semuanya segera menegakkan badan.

Shonyu duduk berdampingan dengan Hideyoshi, dan akhirnya memotong pembicaraan. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Tuan."

Hideyoshi menoleh kepadanya dan mengangguk. Kemudian ia memerintahkan agar yang lain meninggalkan mereka.

Semua orang, kecuali Shonyu dan Hideyoshi, keluar dari ruangan. Mereka berada di bangsal benteng utama, dan karena tak ada yang menghalangi pandangan, ia tak perlu berjaga-jaga.

"Ada apa. Shonyu?"

Tuan telah melakukan inspeksi, dan aku percaya Tuan telah mengambil beberapa keputusan. Bukankah Tuan sependapat bahwa persiapan Ieyasu di Bukit Komaki patut disebut sempurna?"

"Hmm, persiapannya memang baik sekali. Aku sangsi ada orang selain Ieyasu yang dapat mendirikan kubu-kubu pertahanan seperti itu dalam waktu sedemikian singkat.-

"Aku pun sudah beberapa kali memantau keadaan. dan kelihatannya tidak ada jalan untuk melancarkan serangan," kata Shonyu.

Tampaknya kita hanya akan saling berhadapan," balas Hideyoshi.

"Ieyasu sadar bahwa lawannya merupakan lawan tangguh," Shonyu melanjutkan, "sehingga dia bersikap hati-hati. Sebaliknya, sekutu-sekutu kita tahu bahwa ini pertama kali kita menghadapi laskar-laskar Tokugawa yang tersohor dalam pertempuran menentukan. Jadi, sudah sewajarnya kalau hasilnya seperti ini."

"Memang menarik. Bahkan letusan senapan pun tidak terdengar selama beberapa hari. Ini perang dmgin tanpa pertempuran."

"Dengan seizin Tuan...," Shonyu maju beringsut-ingsut, menggelar sebuah peta, dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.

Hideyoshi mendengarkan dengan sungguh- sungguh, dan mengangguk beberapa kali. Namun roman mukanya menunjukkan bahwa ia takkan terpancing untuk serta-merta memberi kata setuju.

"Jika Tuan mengizinkan, aku akan mengerahkan seluruh marga dan menyerang Okazaki. Kalau kami sudah menyerbu provinsi asal Tokugawa di Okazaki, dan Ieyasu mendengar bahwa tanah tumpah darahnya diinjak-injak oleh kaki kuda-kuda kami, segala persiapannya di Bukit Komaki takkan ada artinya. dan kejeniusannya dalam bidang militer pun takkan membantu. Dia akan hancur dari dalam, tanpa perlu diserbu."

"Aku akan memikirkannya," ujar Hideyoshi. menghindari jawaban terburu-buru. Tapi kuharap kau pun memikirkan sekali lagi—bukan sebagai buah pikiranmu sendiri, melainkan secara objektif. Rencanamu sungguh lihai dan menuntut keberanian, tapi justru ini yang membuatnya berbahaya."

Strategi Shonyu memang merupakan ide unik. Hideyoshi pun, yang selalu bersikap hati-hati, jelas- jelas terkesan, namun jalan pikirannya berbeda.

Pada dasarnya. Hideyoshi tidak menyukai strategi lihai maupun serangan mendadak. Dibandingkan strategi militer, ia cenderung memilih jalan diplomasi: daripada kemenangan mudah yang bersifat jangka pendek, ia lebih suka menguasai keadaan secara menyeluruh. meskipun makan waktu lebih lama.

"Sebaiknya kita jangan gegabah," katanya. Kemudian ia mengendurkan sikapnya. "Besok aku akan memberi jawaban pasti. Datanglah ke perkemahan utama besok pagi."

Selama pembicaraan dengan Shonyu, para pengikut pribadi Hideyoshi menunggu di selasar, dan kini mereka hendak kembali mendampinginya. Ketika sampai di pintu masuk benteng utama, mereka melihat samurai berbaju aneh meringkuk di dekat tempat kuda-kuda diikat. Kepala dan satu tangannya dibalut, dan baju luar yang menutupi baju tempurnya terbuat dari brokat emas di atas dasar purih.

"Siapa itu?"

Orang itu mengangkat kepalanya sedikit. "Duli tuanku. hamba Nagayoshi."

"Oh, Nagayoshi? Kudengar kau masih harus berbaring di tempat tidur. Bagaimana luka- lukamu?"

"Hamba telah bertekad untuk bangun hari ini." "Jangan terlalu memaksakan diri. Beri waktu

pada tubuhmu agar pulih sepenuhnya, dan kau akan dapat menghapus aibmu kapan saja."

Mendengar kata   "aib",   Nagayoshi   mulai menitikkan air mata.

Setelah mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya dengan hormat kepada Hideyoshi, ia kembali bersujud.

'Hamba mohon tuanku berkenan membaca ini."

Hideyoshi mengangguk, mungkin karena kasihan melihat penderitaan orang itu.

Setelah merampungkan inspeksi medan tempur hari itu, menjelang malam Hideyoshi kembali ke Gakuden. Perkemahannya tidak terletak di tempat tinggi seperti perkemahan musuh di Bukit Komaki, tapi Hideyoshi telah memanfaatkan hutan-hutan, ladang-ladang, dan sungai-sungai di sekitar secara maksimal, dan posisi pasukannya dikelilingi oleh jaringan selokan dan pagar pertahanan yang luas.

Sebagai langkah pengamanan tambahan, tempat persembahan desa sengaja disamarkan sebagai tempat tinggal Hideyoshi.

Dari sudut pandang Ieyasu, keberadaan Hideyoshi tak dapat ditentukan dengan pasti. Bisa saja ia berada di Gakuden atau di Benteng Inuyama. Pengamanan di garis depan sedemikian ketat, sehingga setetes air pun takkan dapat merembes, jadi pengawasan oleh pihak yang satu ierhadap pihak yang lain benar-benar tak mungkin. "Aku belum sempat mandi sejak bertolak dari Osaka. Hari ini aku ingin menghilangkan keringat yang menempel di badanku."

Seketika para pengikut mulai menyiapkan tempat mandi bagi Hideyoshi. Setelah menggali lubang di tanah, mereka melapisinya dengan lembaran-lembaran kertas minyak berukuran besar. Kemudian mereka memanaskan sepotong besi dan melemparkannya ke lubang yang sudah diisi air. Mereka juga mendirikan sejumlah papan di sekelilingnya dan memasang tirai penghalang.

"Ah, betapa nikmat rasanya." Di tempat mandi yang sederhana itu, Hideyoshi berendam dalam air panas dan memandang langit malam yang bertabur bintang. Inilah kemewahan terbesar di dunia. katanya dalam hati ketika menggosok-gosok badan.

Sejak tahun lalu ia telah membersihkan tanah di sekitar Osaka dan memulai pembangunan benteng dengan kemegahan yang tak tertandingi. Namun kesenangan yang paling besar dirasakannya di tempat-tempat seperti ini, bukan di ruang-ruang berlapis emas dan menara-menara berhiaskan batu mulia di dalam benteng. Tiba-tiba ia merasa rindu pada rumahnya di Nakamura, tempat ibunya menggosok-gosok punggungnya ketika ia masih kecil.

Sudah lama Hideyoshi tak pernah merasa setenteram sekarang, dan dalam keadaan inilah ia masuk ke kemahnya.

"Ah. rupanya kalian sudah datang!" seru Hideyoshi ketika melihat para jendral yang dipanggilnya telah menunggu.

"Coba lihat ini." ia berkata, lalu mengeluarkan peta dan sepucuk surat dari kimono serta menyerahkan keduanya kepada para jendral. Surat itu merupakan petisi yang ditulis dengan darah oleh Nagayoshi, sedangkan petanya milik Shonyu.

"Bagaimana pendapat kalian tentang rencana ini?" tanya Hideyoshi. "Kuminta kalian berterus terang."

Sesaat tak seorang pun angkat bicara. Semuanya tampak termenung-menung.

Akhirnya salah satu jendral berkata, "Hamba pikir rencana ini baik sekali."

Setengah dari orang-orang itu mendukung rencana Shonyu, tapi setengah-nya lagi menolaknya dengan berkata, "Rencana lihai selalu mengandung risiko besar."

Rapat menemui jalan buntu.

Hideyoshi hanya mendengarkan sambil tersenyum. Pokok bahasannya begitu penting, sehingga tidak mudah bagi dewan untuk mencapai kata sepakat.

"Kami terpaksa menyerahkan masalah ini untuk diputuskan oleh Yang Mulia."

Pada waktu malam tiba, semua jendral kembali ke kemah masing-masing.

Sesungguhnya, dalam perjalanan pulang dari Inuyama, Hideyoshi telah membulatkan tekad. Tujuannya mengadakan rapat bukan karena ia tak sanggup menentukan langkah berikut. la mengundang para jendralnya untuk menghadiri rapat singkat justru karena ia telah mengambil keputusan. Itu merupakan salah satu kiat psikologis yang dijalankannya sebagai pemimpin. Para jendralnya kembali ke kemah masing-masing dengan kesan bahwa ia takkan melaksanakan rencana tersebut.

Namun dalam hati Hideyoshi telah memutuskan untuk bertindak. Jika ia tidak menerima usul Shonyu, posisi Shonyu dan Nagayoshi sebagai pejuang akan sulit. Selain itu, Hideyoshi yakin bahwa jika watak mereka yang keras kepala ditekan, akibatnya akan muncul di lain waktu.

Dari segi kepemimpinan militer, situasi semacam itu sangat berbahaya. Dan yang lebih penting lagi. Hideyoshi khawatir bahwa jika Shonyu merasa tidak puas, Ieyasu akan berusaha membujuknya untuk membelot ke kubu musuh.

Ikeda Shonyu kini bawahanku. Kalau dia percaya bahwa dirinya menjadi sasaran desas-desus memalukan, dapat dimengerti bahwa dia sedemikian tergesa-gesa, kata Hideyoshi dalam hati.

Mereka telah menemui jalan buntu. dan Hideyoshi harus mengambil langkah positif untuk mengundang perubahan.

"Itu dia." kata Hideyoshi keras-keras. "Daripada menunggu sampai Shonyu datang besok pagi, lebih baik kukirim kurir malam ini juga."

Begitu menerima pesan penting ini, Shonyu bergegas ke perkemahan Hideyoshi. Giliran jaga keempat telah tiba. dan malam masih gelap gulita.

"Aku sudah memutuskannya, Shonyu."

"Bagus! Berkenankah Tuan memberiku kepercayaan untuk memimpin serangan mendadak ke Okazaki?"

Kedua laki-laki itu menyelesaikan pembicaraan mereka sebelum fajar menyingsing. Shonyu menemani Hideyoshi makan pagi, lalu kembali ke Inuyama.

Keesokan harinya medan tempur kelihatan lesu. namun di sana-sini terlihat tanda-tanda gerakan terselubung.

Letusan senapan musuh dan sekutu terdengar menggema di langit yang berawan tipis. Suara tembak-menembak itu berasal dari arah Onawate. Di Jalan Raya Udatsu, pasir dan debu tampak mengepul. di tempat dua ribu sampai tiga ribu prajurit pasukan Barat mulai menyerang kubu- kubu pertahanan musuh.

"Serangan umum telah dimulai!"

Ketika memandang ke kejauhan, para jendral merasa darah mereka menggelora. Ini memang sebuah titik balik dalam sejarah. Siapa pun yang keluar sebagai pemenang akan menjadi penguasa zaman. Ieyasu tahu bahwa tak ada yang lebih ditakuti dan dihormari Hideyoshi daripada Nobunaga. Kini tak ada yang lebih ditakuti dan dihormatinya daripada leyasu. Sepanjang pagi itu tak satu bendera pun di perkemahan di Bukit Komaki terlihat bergerak. seakan-akan telah ada perintah keras untuk tidak menanggapi serangan-serangan pasukan Barat yang hendak menguji tekad pasukan Timur.

Senja pun tiba. Satu korps pasukan Barat telah mundur dari pertempuran, guna menyerahkan setumpuk selebaran propaganda yang mereka pungut di jalan ke perkemahan Hideyoshi.

Ketika Hideyoshi membaca salah satunya, amarahnya meledak.

Hideyoshi menyebabkan Yang Mulia Nobutaka. putra bekas junjungannya, Nobunaga, melakukan bunuh diri. Sekarang dia memberontak terhadap Yang Mulia Nobuo. Dia terus-menerus menimbulkan kerusuhan di kalangan samurai, membawa bencana bagi rakyat jelata, dan merupakan penghasut utama dalam konflik saat ini. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-citanya.

Selanjutnya selebaran itu berkata bahwa Ieyasu mempunyai alasan kuat untuk mengangkat senjata, dan bahwa ia memimpin pasukan penegak kewajiban moral.

Kkspresi marah—yang tidak lazim bagi Hideyoshi—mengubah ait muka-nya. "Siapa di antara mereka yang menulis selebaran ini?" tanyanya.

"Ishikawa Kazumasa," jawab salah satu pengikutnya.

"Juru tulis!" Hideyoshi berseru. "Siapkan pengumuman untuk ditempelkan di mana-mana: Barangsiapa berhasil membawa kepala Ishikawa akan menerima imbalan sebesar sepuluh ribu gantang."

Tapi seusai memberi perintah itu, kemarahan Hideyoshi belum juga mereda, dan setelah memanggil para jendral yang kebetulan hadir, ia sendiri yang memerintahkan serangan tiba-tiba.

"Regini rupanya tindak-tanduk Ishikawa Kazumasa keparat itu!" ia mengomel. "Kuminta kalian membawa korps cadangan dan membantu pasukan kita yang berhadapan dengan Kazumasa. Serang dia sepanjang malam. Serang dia besok pagi. Serang dia besok malam. Lancarkan serangan demi serangan, dan jangan beri dia kesempatan menarik napas."

Akhirnya ia minta dibawakan nasi dan menyuruh makan malamnya disajikan saat itu juga. Hideyoshi tak pernah lupa makan. Namun pada waktu ia makan pun, kurir-kurir terus mondar-mandir antara Gakuden dan Inuyama.

Kemudian kurir terakhir tiba dengan membawa pesan dari Shonyu. Sambil hergumam, Hideyoshi menghirup sup dari dasar mangkuknya. Malam itu suara tembak-menembak terdengar jauh di balik perkemahan utama. Sejak dini hari letusan senapan menggema di sana-sini di garis depan, dan terus berlanjut sampai esoknya. Sampai sekarang pun ini dianggap sebagai awal serangan umum oleh pasukan Barat pimpinan Hideyoshi.

Namun sesungguhnya serangan pertama kemarin hanya merupakan tipu muslihat. Gerakan sebenarnya adalah persiapan di Inuyama untuk serangan mendadak Shonyu ke Okazaki.

Hideyoshi hendak mengalihkan perhatian Ieyasu, sementara pasukan Shonyu menyusuri jatan-jalan kecil dan menyerang benteng utama Ieyasu.

Pasukan Shonyu terdiri atas empat korps:

Korps Pertama: enam ribu orang di bawah komando Ikeda Shonyu.

Korps Kedua: tiga ribu orang di bawah komando Mori Nagayoshi.

Korps Ketiga: tiga ribu orang di bawah komando Hori Kyutaro.

Korps Keempat: delapan ribu orang di bawah komando Miyoshi Hidetsugu.

Korps Pertama dan Kedua membentuk barisan utama sekaligus kekuatan utama pasukan tersebut—-prajurit-prajurit yang siap menyambut kemenangan maupun maut.

Hari keenam Bulan Keempat telah tiba. Setelah menunggu sampai tengah malam, kedua puluh ribu prajurit di bawah pimpinan Shonyu diam- diam bertolak dari Inuyama. Panji-panji mereka tidak dikibarkan, kaki kuda-kuda mereka dibungkus kain. Sepanjang malam mereka bergerak maju dan menyongsong fajar di Monoguruizaka.

Para prajurit menghabiskan ransum masing- masing dan beristirahat sejenak, lalu kembali berbaris dan berkemah di Desa Kamijo. Dari sana rombongan pengintai dikirim ke Benteng Oteme.

Sebelumnya, Komandan Bangau Biru, Sanzo, telah diutus oleh Shonyu untuk menemui Morikawa Gonemon, komandan benteng tersebut, yang sudah berjanji akan membelot dari pihak Ieyasu. Tapi sekarang, sekadar untuk berjaga-jaga. Sanzo dikirim sekali lagi.

Shonyu kini sudah menyusup jauh ke wilayah musuh. Pasukannya maju langkah demi langkah, semakin mendekati benteng utama Ieyasu. Ieyasu tentu saja tidak berada di sana, sama halnya dengan para jendral dan prajuritnya yang telah menuju garis depan di Bukit Komaki, terhadap rumah kosong, jantung provinsi asal marga Tokugawa, yang kini menyerupai kepompong kopong inilah Shonyu akan melancarkan pukulan mematikan.

Komandan Benteng Oteme, yang semula bersekutu dengan pihak Tokugawa tapi dibujuk oleh Shonyu, telah menerima jaminan dari Hideyoshi atas wilayah senilai lima puluh ribu gantang.

Gerbang benteng terbuka lebar, dan komandan nya sendiri yang keluar untuk menyambut para penyerbu, menunjukkan jalan. Di zaman keshogunan lama, bukan kalangan samurai saja yang dilanda kebejatan dan kemerosotan akhlak. Di bawah kepemimpinan Ieyasu, baik junjungan maupun pengikut makan nasi dingin dan bubur; mereka terjun ke kancah pertempuran; mereka mengangkat cangkul. bekerja di ladang, dan menjadi buruh tani untuk menyambung hidup. Akhirnya mereka berhasil mengatasi segala kesusahan dan menggalang kekuatan memadai untuk menentang Hideyoshi. Meski demikian, di sini pun tetap ada samurai seperti Morikawa Gonemon.

"Ah, Jendral Gonemon." ujar Shonyu dengan wajah berseri-seri. "Aku bersyukur bahwa Tuan tetap berpegang pada janji Tuan dan menyambut kedatangan kami hari ini. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, proposal sebesar lima puluh ribu gantang akan dikirimkan langsung pada Yang Mulia Hideyoshi."

"Itu tidak perlu. Semalam aku telah menerima jaminan dari Yang Mulia Hideyoshi."

Mendengar jawaban Gonemon, Shonyu sekali lagi dibuat kagum oleh kewaspadaan dan kesungguhan Hideyoshi. Para prajurit Shonyu kini membentuk tiga pasukan dan mulai menuju Dataran Nagakute. Mereka melewati satu benieng lagi, Benteng Iwasaki, yang dipertahankan hanya oleh dua ratus tiga puluh orang.

"Biarkan saja. Percuma kita merebut benteng sekecil itu. Kita tidak punya waktu untuk bermain- main."

Sambil memandang Benteng Iwasaki dengan curiga, baik Shonyu maupun Nagayoshi melewatinya, seakan-akan benteng itu tak berarti sama sekali. Namun tiba-tiba saja mereka dihujani tembakan dari dalam benteng, dan salah satu peluru menyerempet panggul kuda Shonyu. Kuda itu memberontak. dan Shonyu nyaris terlempar dari pelana.

"Kurang ajar!" Sambil mengacungkan pecut, Shonyu berseru kepada para prajurit Korps Pertama. "Habisi benteng kecil itu sekarang juga!"

Ini merupakan pertempuran perdana bagi pasukannya. Seketika seluruh energi yang selama ini dipendam meledak. Dua komandan masing- masing membawa sekitar seribu prajurit dan menyerbu Benteng Iwasaki. Benteng yang lebih kokoh pun tak sanggup menghalau gempuran sedemikian hebat, dan benteng ini hanya dipertahankan oleh segelintir orang.

Dalam sekejap tembok-ternboknya telah dipanjati, selokannya ditimbun. kobaran api bermunculan di mana-mana, dan matahari terhalang asap hitam. Saat itulah jendral yang memimpin pasukan bertahan keluar, dan gugur dengan pedang ditangan. Semua anak buahnya dibantai, keeuali satu orang yang berhasil meloloskan diri dan berlari ke Bukit Komaki untuk melaporkan kepada Ieyasu. Selama pertempuran singkat itu, Korps Kedua di bawah Nagayoshi telah memperbesar jarak antara mereka dan Korps Pertama. Prajurit-prajuritnya kini beristirahat dan menyantap ransum masing- masing.

Sambil makan, mereka menoleh dan bertanya- tanya, dari mana asap yang mengepul-ngepul itu berasal. Tapi tak lama kemudian seorang kurir dari garis depan mengumumkan penaklukan Benteng Iwasaki. Kuda-kuda mereka merumput dengan tenang, sementara suara tawa terdengar menggema.

Setelah menerima informasi tersebut, Korps Ketiga pun beristirahat di Kanahagiwara. Di belakang mereka, Korps Keempat ikut berhenti dan menunggu sampai korps-korps di depan mulai bergerak maju lagi.

Musim semi sudah hampir berakhir di pegunungan, dan musim panas sudah dekat. Birunya langit tampak sangat cerah, bahkan lebih kuat daripada birunya laut. Begitu berhenti, kuda- kuda mulai mengantuk, dan kicauan burung bulbul terdengar di ladang-Iadang dan hutan- hutan.

Dua hari sebelumnya, pada malam hari keenam Bulan Keempat, dua petani dari Desa Shinoki merangkak melewati ladang-ladang dan menyelinap dari pohon ke pohon, menghindari para pengintai pasukan Barat.

"Ada sesuatu yang harus kami laporkan pada Yang Mulia Ieyasu! Kami membawa berita yang sangat penting!" kedua orang itu berseru ketika mereka berlari ke perkemahan utama di Bukit Komaki.

Ii Hyobu membawa mereka ke markas besar Ieyasu. Sesaat sebelumnya, Ieyasu sempat berbicara dengan Nobuo. tapi setelah Nobuo pergi, ia mengambil buku berisi bunga rampai Konfusius dari atas lemari senjatanya dan mulai membaca dengan tenang, tanpa memedulikan suara tembakan di kejauhan.

Dengan selisih umur lima tahun dari Hideyoshi. ia akan merayakan ulang tahun keempat puluh dua tahun ini, seorang jendral di puncak kejayaannya. Penampilannya begitu lembut dan ramah. tubuhnya begitu lembek dan kulitnya begitu pucat. sehingga sukar untuk mempercayai bahwa ia telah mengalami segala macam kesusahan, dan bahwa ia pernah terlibat pertempuran-pertempuran di mana ia memacu pasukannya hanya dengan sorot matanya. "Siapa itu? Naomasa? Masuklah, masuklah."

Ieyasu menutup bungai rampai yang tengah dibacanya, lalu memutar kursi.

Kedua petani itu melaporkan bahwa sejumlah unit dari pasukan Hideyoshi meninggalkan Inuyama malam itu dan menuju ke arah Mikawa.

"Kalian telah berjasa," ujar Ieyasu. "Kalian akan menerima imbalan yang pantas."

Ieyasu mengerutkan kening. Jika Okazaki diserang, tak ada yang dapat dilakukannya. Ia sendiri pun tak menyangka bahwa musuh akan meninggalkan Bukit Komaki dan melancarkan serangan ke provinsi asalnya, Mikawa.

"Panggil Sakai, Honda, dan Ishikawa sekarang juga," katanya dengan tenang.

Ketiga jendral itu menerima perintah menjaga Bukit Komaki sementara ia pergi. Ia akan memimpin sebagian besar pasukannya dan mengejar pasukan Shonyu.

Kira-kira pada waktu yang sama. seorang samurai desa melapor ke perkemahan Nobuo. Ketika Nobuo membawa orang tersebut ke hadapan Ieyasu, sekutunya itu sedang mengadakan rapat anggota staf.

Kuharap Yang Mulia Nobuo pun turut serta. Rasanya tidak berlebihan jika kukatakan bahwa pengejaran ini akan berakhir dengan pertempuran hebat, dan ketidakhadiran Yang Mulia akan mengurangi maknanya." Pasukan Ieyasu dibagi menjadi dua korps, dengan jumlah keseluruhan lima belas ribu sembilan ratus orang. Pasukan Mizuno Tadashige yang berkekuatan empat ribu prajurit akan bertindak sebagai barisan depan.

Pada malam hari kedelapan bulan itu. korps utama di bawah Ieyasu dan Nobuo telah bertolak dari Bukit Komaki. Akhirnya mereka menyeberangi Sungai Shonai. Unit-unit di bawah komando Nagayoshi dan Kyutaro berkemah di Desa Kamijo yang berjarak kurang dari enam mil.

Cahaya samar-samar yang meliputi sawah-sawah dan kali-kali kecil me-nunjukkan bahwa fajar sudah dekat, tapi bayang-bayang hitam masih tampak di mana-mana. dan awan-awan gelap menggantung rendah di atas bumi.

"Hei! Itu mereka!" "Tiarap! Tiarap!"

Di tengah-tengah sawah. di antara semak-semak. dalam bayang-bayang pepohonan, di cekungan- cekungan di tanah, para prajurit pasukan pengejar segera membungkuk. Sambil memasang telinga. mereka mendengar pasukan Barat berbaris di jalan yang menyilang di sebuah hutan di kejauhan.

Pasukan pengejar membagi diri menjadi dua korps. dan diam-diam membuntuti barisan belakang musuh yang terdiri atas Korps Keempat pasukan Barat di bawah komando Mikoshi Hidetsugu. Seperti itulah posisi kedua pasukan pada pagi hari kesembilan. Komandan yang ditunjuk Hideyoshi untuk tugas penting ini—keponakannya sendiri, Hidetsugu—belum menyadari situasi pada waktu fajar menyingsing.

Meskipun Hideyoshi menunjuk Hon Kyutaro yang sudah sarat pengalaman sebagai pemimpin penyerbuan ke Mikawa, Hidetsugu-lah yang di- angkatnya sebagai panglima tertinggi. Namun usia Hidetsugu baru enam belas tahun, sehingga Hideyoshi memilih dua jendral senior dan memerintahkan mereka untuk mengawasi komandan muda itu.

Pasukan Barat masih letih ketika matahari mulai terbit. Sadar bahwa para prajurit merasa lapar. Hidetsugu memberi aba-aba berhenti. Setelah diperintahkan untuk makan, para jendral dan prajurit duduk, lalu menyantap ransum pagi masing-masing.

Tempat itu bernama Hutan Hakusan, disebut demikian karena Tempat Persembahan Hakusan berada di puncak sebuah bukit kecil di sana. Di puncak itulah Hidetsugu memasang kursinya.

"Kau masih punya air?" pemuda itu bertanya pada seorang pengikut. "Airku sudah habis, dan kerongkonganku benar-benar kering."

la meraih botol yang disodorkan padanya, dan mereguk isinya sampai tetes terakhir.

"Minum terlalu banyak dalam perjalanan tidak baik. Bersabarlah sedikit. tuanku," seorang pengikut menegurnya.

Tapi Hidetsugu menoleh pun tidak. Orang- orang yang ditugaskan Hideyoshi untuk mengawasinya merupakan duri dalam daging, la berusia enam belas tahun, bertugas sebagai panglima tertinggi, dan semangat tempurnya tentu saja berkobar-kobar.

"Siapa itu yang sedang berlari ke sini?"

*Itu Hotomi."

"Hotomi? Kenapa dia ada di sini?" Hidetsugu menyipitkan mata dan berjinjit agar dapat melihat lebih jelas. Hotomi, komandan korps tombak, menghampirinya dan berlutut. Napasnya terengah- engah.

"Tuanku Hidetsugu, kita ada masalah!" "Begitu"

"Sudikah tuanku mendaki ke puncak bukii?" "Itu!" Hotomi menunjuk awan debu. "Sekarang

masih jauh, tapi awan itu bergerak dari pegunungan ke arah dataran."

"Kelihaiannya bukan angin puyuh. Hmm. itu pasti sebuah pasukan." "Tuanku harus mengambil keputusan." "Musuhkah itu?"

"Hamba rasa tidak ada jawaban lain." Tunggu, benarkah itu pasukan musuh?"

Hidetsugu masih bersikap acuh tak acuh. Sepertinya ia tidak percaya bahwa musuh sedang menuju ke arah mereka. Tapi begitu para pengikutnya sampai di puncak bukit, mereka langsung berseru-seru.

"Keparat!"

"Sudah kuduga musuh akan mengikuti kita.

Siagalah!"

Tak sabar menanti perintah Hidetsugu. semuanya bergegas menyepak-nyepak rumput dan menerbangkan debu. Tanah serasa bergetar, kuda- kuda meringkik, perwira dan prajurit bersahut- sahutan. Dalam selang waktu yang diperiukan untuk beralih dari suasana makan ke keadaan siap tempur, para komandan Tokugawa telah memberikan perintah untuk memberondong pasukan Hidetsugu dengan tembakan dan menghujani mereka dengan anak panah.

Tembak! Lepaskan anak panah!" "Serbu mereka!"

Melihat kebingungan yang melanda musuh, pasukan berkuda dan korps tombak segera menerjang.

"Jangan biarkan mereka mendekati Yang Mulia!"

Di sekeliling Hidetsugu kini terdengar teriakan- teriakan liar untuk me-nyelamatkan nyawa.

Serangan musuh datang dari segala arah, dari pepohonan, dari semak belukar, dari jalan raya. Hanya ada satu kelompok yang tak berhasil meloloskan diri, yaitu kelompok yang terdiri atas Hidetsugu dan para pengikutnya. Hidetsugu mengalami luka ringan di dua atau tiga tempat. dan ia mengayun-ayunkan tombaknya dengan garang. "Tuanku masih di sini?" "Cepat! Mundur! Kembali!"

Ketika para pengikutnya melihatnya, mereka menegurnya dengan gusar. Semuanya gugur dalam pertempuran itu. Kinoshiu Kageyu melihat bahwa Hidetsugu kini berjalan kaki karena kudanya kabur entah ke mana.

"Ini! Ambil kuda hamba! Gunakan pecut dan tinggalkan tempat ini tanpa menoleh ke belakang!" Setelah menyerahkan kudanya pada Hidetsugu, Kageyu menancapkan panjinya di tanah. Tak sedikit prajurit tewas di ujung pedangnya, sebelum ia pun akhirnya menemui ajal. Hidetsugu berpegangan pada pelana, namun sebelum ia sempat naik ke atas kuda, binarang itu mati

terkena peluru.

"Berikan kudamu padaku!

Sambil lari tergopoh-gopoh, Hidetsugu melihat seorang prajurit berkuda lewat di dekatnya dan segera berseru. Orang itu langsung menarik tali kekang, lalu menatap Hidetsugu dari atas kudanya.

"Ada apa. tuanku?" "Berikan kudamu."

"Iiu sama saja dengan minta payung seseorang pada waktu turun hujan. bukan? Tidak, kudaku takkan kuberikan, walaupun atas perintah tuanku." "Kenapa tidak?" "Karena tuanku hendak mundur, sedangkan hamba masih akan menerjang musuh."

Setelah menolak dengan tegas, prajurit itu kembali memacu kudanya. Di punggungnya, selembar daun bambu tampak berkibar-kibar.

"Keparat!" Hidetsugu menyumpah ketika memperhatikan orang itu men-jauh. Ia merasa dipandang sebelah mata oleh prajurit tersebut. Hidetsugu menoleh ke belakang dan melihat awan debu yang diterbangkan musuh. Tapi sekelompok prajurit dari berbagai korps yang telah menelan kekalahan melihatnya dan berseru-seru agar ia berhenti.

"Tuanku! Jika tuanku berlari ke arah itu, tuanku akan bertemu musuh lagi!"

Mereka segera mengelilingi dan menggiringnya ke arah Sungai Kanare.

Ketika menuju ke sana, mereka menangkap seekor kuda yang terlepas. dan Hidetsugu akhirnya memperoleh tunggangan. Tapi pada waktu mereka beristirahat sejenak di suatu tempat bernama Hosogane, mereka kembali diserang musuh dan setelah menderita kekalahan lagi, melarikan diri ke arah Inaba.

Dengan demikian, Korps Keempat digulung habis. Korps Ketiga, yang dipimpin oleh Hori Kyutaro, berkekuatan sekitar tiga ribu orang. Semua korps saling terpisah sejauh tiga sampai lima mi,. dan kurir-kurir terus mondar-mandir, sehingga jika Korps Pertama beristirahat, korps- korps berikut-nya pun berhenti, satu demi satu.

Sekonyong-konyong Kyutaro menempelkan tangan ke telinga. "Bukankah itu suara tembakan?" Saat itulah salah satu pengikut Hidetsugu memacu kudanya ke tengah-tengah pasukan yang

sedang beristirahat.

"Kami menderita kekalahan telak. Pasukan utama telah dibinasakan oleh bala tentara Tokugawa, dan nasib Yang Mulia Hidetsugu pun tidak jelas. Berbaliklah segera!"

Kyutaro tampak terkejut, tapi ia menanggapi berita itu dengan tenang.

"Kau anggota korps kurir?"

"Mengapa tuanku bertanya begitu dalam keadaan seperti sekarang?" "Kalau bukan kurir. kenapa kau tergopoh-gopoh begini? Kau melarikan diri?"

Tidak! Hamba datang untuk melaporkan situasi. Hamba tidak tahu apakah hamba bersikap pengecut atau tidak, tapi hamba datang secepat mungkin untuk memberitahu Yang Mulia Nagayoshi dan Yang Mulia Shonyu."

Kemudian orang itu memacu kudanya dan menghilang, menuju korps berikut di depan.

"Karena yang datang adalah seorang pengikut. bukan seorang kurir, kita terpaksa menyimpulkan bahwa barisan belakang kita menderita kekalahan mutlak." Sambil memendam kegelisahan dalam hatinya.

Kyutaro tetap duduk di kursinya.

"Semuanya ke sini!" Para pengikut dan perwiranya, yang telah memahami situasi, berkumpul dengan wajah pucat. "Pasukan Tokugawa sudah siap menyerang. Jangan sia-siakan peluru. Tunggu sampai jarak antara kita dan musuh tinggal dua puluh meter sebelum kalian melepaskan tembakan." Setelah memberikan perintah mengenai penempatan pasukan, ia menyampaikan pesan terakhir, "Aku akan memberikan seratus gantang untuk setiap prajurit musuh yang tewas."

Dugaan Kyutaro ternyata tidak meleset. Pasukan Tokugawa yang sebelumnya telah melayangkan pukulan mematikan terhadap korps Hidetsugu kini menyerang korpsnya dengan garang. Para komandan Tokugawa pun tercengang melihat semangat tempur pasukan mereka.

Busa menempel di mulut semua kuda, wajah para prajurit tampak tegang, dan baju tempur yang datang bergelombang telah diselubungi darah dan debu. Ketika pasukan Tokugawa makin mendekat, Kyutaro mengawasi mereka dengan cermat, lalu memberi aba-aba.

Tembak!"

Seketika timbul gemuruh mengerikan dan gulungan asap tebal yang menyerupai tembok. Dengan senapan-senapan kuno yang mereka gunakan, orang-orang yang terlatih pun memerlukan waktu lima sampai enam tarikan napas untuk kembali mengisi mesiu dan peluru. Karena itu, mereka memakai sistem berondongan bergilir. Setiap berondongan terhadap musuh segera diikuti oleh yang berikut. Pasukan penyerang terpontang-panting menghadapi pertahanan ini. Dalam sekejap mayat mayat sudah mulai ber-gelimpangan di tanah.

"Mereka sudah menunggu!" "Berhenti! Mundur!"

Para komandan Tokugawa meneriakkan perintah mundur, tapi para prajurit mereka tak mudah dihentikan.

Kyutaro menyadari bahwa saatnya sudah tiba dan memerintahkan serangan balasan. Kemenangannya sudah pasti, baik secara psikologis maupun fisik, tanpa perlu menunggu hasil pertempuran. Pasukan yang baru saja mencicipi kejayaan kini mengalami nasib seperti Hidetsugu beberapa saat sebelumnya.

Di seluruh jajaran pasukan Hideyoshi, korps tombak Hori Kyutaro terkenal hebat. Mayat orang- orang yang menemui ajal di ujung tombak-tombak itu kini menghalangi kuda-kuda para komandan yang berusaha kabur. Para jendral Tokugawa berhasil lolos, pedang-pedang panjang mereka terayun-ayun pada waktu mereka melarikan diri dari tombak-tombak yang terus mengejar. Langkah Gemilang

DATARAN NAGAKUTE terselubung asap mesiu, bau mayat dan darah terasa menyengat. Dengan munculnya matahari, dataran itu tampak membara.

Suasana telah kembali tenteram, tapi para prajurit yang semula mengobarkan api permusuhan kini bergegas ke arah Yazako, bagaikan awan ditiup badai.

Kyutaro tidak terpancing untuk bertindak gegabah ketika memburu pasukan Tokugawa. "Barisan belakang jangan ikut. Ambil jalan memutar ke Inokoishi dan kejar mereka dari dua arah."

Satu unit berpencar dan menyusuri jalan lain, sementara Kyutaro membawa enam ratus orang untuk mengejar musuh. Korban tewas dan luka dari pihak Tokugawa yang ditinggalkan di tepi jalan berjumlah lebih dari lima ratus orang, tapi jumlah anak buah Kyutaro pun terus menyusut.

Meskipun korps utama sudah berada jauh di depan, dua orang yang masih bernapas di tengah mayat-mayat kini beradu tombak. Tapi, mungkin karena terlalu menyulitkan, mereka lalu mengempaskan senjata-senjata itu dan menghunus pedang masing-masing. Sambil bergulat mereka terjatuh, berdiri lagi, dan terus bertempur tanpa henti. Akhirnya salah satu berhasil memenggal lawannya. Diiringi teriakan yang nyaris tak terkendali, sang pemenang mengejar rekan- rekannya di korps utama. Sekali lagi ia menghilang di tengah asap dan darah, namun akibat terjangan peluru nyasar, ia pun ambruk sebelum sempat bergabung dengan pasukannya.

Kyutaro berteriak-teriak sampai serak, "Percuma saja mereka dikejar-kejar. Genza! Momoemon! Hentikan pasukan! Suruh mereka mundur!"

Beberapa pengikutnya memacu kuda ke garis depan, dan dengan susah payah menghalau anak buah mereka.

"Mundur!"

"Berkumpul di bawah panji komandan!"

Hori Kyutaro turun dari kuda dan melangkah dari jalan ke ujung sebuah tebing. Dari sini pandangannya tak terhalang, dan ia pun menatap ke kejauhan.

"Ah, dia datang begitu cepat," gumamnya.

Roman mukanya menunjukkan bahwa ia tak lagi mabuk kemenangan. Sambil berpaling kepada para pengikutnya, ia menyuruh mereka melihat ke arah itu.

Di barat, di sebuah daerah agak tinggi yang berseberangan dengan matahari pagi, sesuatu tampak berkilau-kilau di Gunung Fujigane.

Bukankah itu lambang leyasu—panji komandan dengan kipas emas? Kyutaro angkat bicara, dan suaranya bernada pilu, "Hatiku terasa pedih karena terpaksa mengatakan ini, tapi kita tak punya strategi untuk menghadapi lawan setangguh itu. Tugas kita di sini sudah selesai."

Kyutaro segera mengumpulkan pasukannya dan mulai bergerak mundur. Tapi pada saat itulah empat kurir dari Korps Pertama dan Kedua yang datang bersama-sama dari arah Nagakute menghadapnya.

"Yang Mulia diperintahkan berbalik dan bergabung dengan barisan depan. Ini perintah langsung dari Yang Mulia Shonyu."

Kyutaro menolak dengan tegas, "Tidak. Kami akan mundur."

Para kurir hampir tak percaya pada apa yang mereka dengar. "Sebentar lagi pertempuran akan meletus. Yang Mulia harap kembali dan segera bergabung dengan pasukan junjungan kami!" mereka mengulangi dengan nada tinggi.

Kyutaro meninggikan suara, "Kalau aku bilang mundur, aku mundur! Kita harus memastikan bahwa Yang Mulia Hidetsugu selamat. Lagi pula, lebih dari separo pasukan ini telah terluka, dan jika mereka dipaksa menghadapi musuh yang masih segar bugar, bencanalah yang akan terjadi. Aku tak mau memulai pertempuran yang aku tahu tak dapat kumenangkan. Sampaikan ini pada Yang Mulia Shonyu dan Yang Mulia Nagayoshi!" Dan dengan ini, ia segera memacu kudanya.

Di sekitar Inaba, korps Kyutaro bertemu dengan Hidetsugu dan sisa pasukannya yang selamat. Kemudian, sambil membakar rumah- rumah petani di sepanjang jalan. mereka berulang kali membela diri terhadap serangan pasukan Tokugawa yang terus mengejar, dan akhirnya kembali ke perkemahan utama Hideyoshi di Gakuden menjelang matahari terbenam.

Para kurir yang memohon bantuan Kyutaro marah sekali.

"Pengecut macam apa yang lari ke perkemahan utama tanpa mau melihat kesulitan yang dialami sekutu-sekutunya?"

"Rupanya dia dicekam ketakutan."

"Hari ini Hori Kyutaro telah menunjukkan watak sesungguhnya. Kita akan mencelanya kalau kita kembali dalam keadaan hidup."

Mereka kini berpaling ke arah korps mereka sendiri, yang dipimpin Shonyu, dan dengan geram mereka memacu kuda masing-masing.

Memang, kedua korps di bawah komando Shonyu dan Nagayoshi merupakan makanan empuk bagi Ieyasu. Kedua orang tersebut sungguh berbeda. Pertempuran antara Hideyoshi dan Ieyasu saat itu menyerupai penandingan sumo umuk memperebutkan gelar juara, dan kedua- duanya saling memahami dengan baik. Sejak dini Hideyoshi dan Ieyasu telah menyadari bahwa bentrokan bersenjata tak terelakkan, dan mereka sama-sama menyadari bahwa musuh bukan orang yang dapat ditaklukkan dengan tipu muslihat atau gertakan. Namun sungguh malang nasib prajurit gagah dan garang yang hanya dituntun oleh kebanggaannya sebagai pejuang semata-mata. Terdorong oleh semangatnya yang membara, ia tak sanggup mengenali musuh maupun kemampuan nya sendiri.

Setelah memasang kursinya di Gunung Rokubo, Shonyu memeriksa lebih dari dua ratus kepala musuh yang berhasil dibawa dari Benteng Iwasaki.

Hari masih pagi, baru sekitar pertengahan pertama Jam Naga. Shonyu sama sekali belum mengetahui bencana yang terjadi di belakangnya. Pada waktu memandang reruntuhan benteng yang masih berasap, ia terbuai oleh kesenangan sesaat yang begitu mudah menguasai kaum prajurit.

Seusai pemeriksaan kepala musuh dan pencatatan jasa-jasa anak buahnya, mereka makan pagi. Sambil mengunyah, para prajurit sesekali menoleh ke barat laut. Tiba-tiba ada sesuatu yang juga menarik perhatian Shonyu.

Tango, apa itu di langit sebelah sana?" tanyanya.

Semua jendral di sekitar Shonyu menengok ke timur laut.

"Mungkinkah ada huru-hara, salah satu dari mereka menduga-duga. Namun ketika sedang menghabiskan sisa ransum, mereka didatangi kurir Nagayoshi. "Kami disergap! Mereka menyelinap dari belakang!" orang itu berseru sambil bersujud di depan kursi Shonyu.

Seketika para jendral merinding, seakan-akan terkena embusan angin dingin.

"Apa maksudmu, mereka menyelinap dari belakang?" tanya Shonyu. "Barisan belakang Yang Mulia Hidetsugu diikuti pasukan musuh."

"Barisan belakang?"

"Serangan mereka datang tiba-tiba dari kedua sisi."

Shonyu mendadak berdiri, bersamaan dengan kemunculan kurir kedua dari Nagayoshi.

Tuanku tak boleh membuang-buang waktu. Barisan belakang Yang Mulia Hidetsugu menderita kekalahan mutlak."

Semua orang di bukit itu terperanjat. Kemudian terdengar perintah-perintah ketus, diikuti bunyi langkah para prajurit yang menuruni jalan di kaki bukit.

Di sisi Gunung Fujigane yang tidak terkena sinar matahari, panji komandan berlambang kipas emas tampak berkilau di atas pasukan Tokugawa. Lambang ini seolah-olah mengandung kekuatan gaib, dan setiap prajurit pasukan Barat yang melihatnya langsung gemetar. Secara psikologis terdapat perbedaan besar antara semangat pasukan yang sedang bergerak maju dan semangat pasukan yang dipaksa mundur. Nagayoshi, yang kini memacu anak buahnya dari atas kuda, tampak seperti orang yang telah mencium kematiannya sendiri. Baju tempurnya terbuat dari kulit hitam dengan benang biru, dan baju luarnya menggunakan kain brokat emas di atas dasar putih. Sepasang tanduk rusa menghiasi helm yang didorong ke belakang, sehingga menggantung pada bahunya. Kepala Nagayoshi masih dibalut kain putih yang menutupi luka-lukanya.

Korps Kedua semula beristirahat di Oushigahara, tapi begitu mendapat berita menge- nai pengejaran pasukan Tokugawa. Nagayoshi langsung menyuruh prajurit-prajuritnya bersiaga. Kemudian ia menatap kipas emas di Gunung Fujigane.

"Ini lawan yang pantas," katanya. "Hari ini aku akan menebus kegagalanku di Haguro. Dan aib mertuaku akan kuhapus sekaligus."

Hari ini* ia berniat menegakkan kehor- matannya. Nagayoshi laki-laki tampan, dan baju kematian yang ia kenakan berkesan terlalu suram untuknya. Laporanmu sudah diterima oleh barisan depan?"

Kurir yang baru saja kembali itu menyejajarkan kudanya dengan kuda junjungannya, lalu menyam- paikan laporannya.

Pandangan Nagayoshi tertuju lurus ke depan ketika ia mendengarkan orang itu. "Bagaimana dengan orang-orang di Gunung Rokubo?" tanyanya.

"Mereka segera disiagakan, dan sekarang sedang menyusul di belakang kita"

"Kalau begitu, beritahu Yang Mulia Kyutaro di Korps Ketiga bahwa kita akan mengerahkan segenap kekuatan untuk menghadapi Ieyasu di Gunung Fujigane. dan bahwa beliau diminta mundur ke arah sini untuk mendukung kita."

Tapi, seperti telah disinggung sebelumnya, permintaan tersebut ditolak oleh Kyutaro, dan para kurir kembali dengan geram. Pada waktu Nagayoshi menerima laporan mereka, pasukannya telah melintasi daerah paya-paya di antara gunung- gunung dan sedang mendaki ke Puncak Gifugadake untuk mencari posisi yang menguntungkan. Di hadapan mereka, panji berlambang kipas emas milik Ieyasu tampak berkibar-kibar.

Medan di tempat itu cukup berat. Di kejauhan, jalan yang menuju ke salah satu bagian Dataran Higashi Kasugai tampak meliuk-liuk, sesekali diapit oleh gunung-gunung, terkadang melewati dataran- dataran sempit. Jalan raya Mikawa yang berhubungan dengan Okazaki terlihat jauh di selatan.

Tapi di banyak tempat pemandangan terhalang gunung-gunung. Tak ada ngarai-ngarai terjal maupun tebing-tebing tinggi, hanya bukit-bukit yang tampak bergelombang. Musim semi sudah hampir berakhir, dan pohon-pohon diselubungi kuncup-kuncup berwarna merah pucat.

Kurir-kurir terus datang dan pergi, tapi pikiran- pikiran Nagayoshi dan Shonyu disampaikan tanpa kata-kata. Pasukan Shonyu yang berkekuatan enam ribu orang segera dipecah menjadi dua unit. Sekitar empat ribu orang menuju ke utara, lalu membentuk formasi di tenggara, di suatu tempat tinggi. Panji komandan dan pataka-pataka yang berkibar menunjukkan bahwa pasukan ini dipimpin oleh putra sulung Shonyu, Yukisuke. serta putra keduanya, Terumasa.

Ini baru sayap kanan. Sayap kiri terdiri atas ketiga ribu prajurit Nagayoshi di Gifugadake. Shonyu, yang membawahi kedua ribu prajurit lainnya, bertindak sebagai korps cadangan. Ia mendirikan panji komandannya di tengah-tengah formasi sayap bangau ini.

Formasi apa yang akan digunakan Ieyasu pada saat menyerang?'' tanya Shonyu.

Berdasarkan posisi matahari, mereka menaksir bahwa saat ini baru penengahan .kedua Jam Naga. Apakah waktu berjalan cepat atau lambat? Hari itu waktu tak dapat diukur dengan cara biasa. Kerongkongan mereka terasa kering. namun mereka tidak menginginkan air.

Kesunyian yang aneh membuat mereka merinding. Keheningan itu hanya terusik oleh seekor burung yang berteriak-teriak ketika terbang melintasi dataran. Semua burung lain telah terbang ke gunung-gunung yang lebih tenteram, meninggalkan tempat itu pada manusia.

Ieyasu tampak berbahu bungkuk. Setelah melewati usia empat puluh, badannya menjadi agak gembur. Bahkan kala mengenakan baju tempur pun punggungnya melengkung dan pundaknya kelihatan terlalu gempal; helmnya yang penuh hiasan seakan-akan mendorong kepalanya ke bawah, sehingga ia seperti tidak memiliki leher. Tangan kanannya, yang menggenggam tongkat komando, dan tangan kirinya sama-sama bertumpu pada lutut. la duduk mengangkang di kursinya, dengan sikap membungkuk ke depan yang mengurangi wibawanya.

Demikianlah sikap tubuhnya sehari-hari, bahkan kalau ia duduk meng-hadapi tamu atau berjalan-jalan. la bukan orang yang suka membusungkan dada. Para pengikut seniornya pernah menyarankan agar ia memperbaiki sikap, dan Ieyasu pun mengangguk-angguk. Tapi suatu malam, ketika sedang bicara dengan para pengikutnya, ia bercerita sedikit mengenai masa lalunya.

"Aku dibesarkan dalam kemiskinan. Kecuali itu, aku disandera oleh marga lain sejak aku berusia enam tahun, dan semua orang yang kulihat di sekelilingku mempunyai lebih banyak hak daripada aku. Dengan sendirinya aku terbiasa untuk tidak membusungkan dada, bahkan kalau berada bersama anak-anak lain. Alasan lain untuk sikapku yang buruk ini, ketika aku belajar di ruangan yang dingin di Kuil Rinzai, aku membaca buku di meja yang begitu rendah, sehingga aku terpaksa membungkuk terus. Aku terus berangan- angan bahwa suatu hari aku akan dibebaskan oleh marga Imagawa, dan bahwa tubuhku akan kembali menjadi milikku. Aku tak dapat bermain-main seperti banyaknya anak-anak."

Rupanya Ieyasu tak sanggup menghapus kenangan pahit dan masa kecilnya. Di antara para pengikutya tak ada seorang pun yang belum mendengar kisah mengenai hari-harinya sebagai sandera marga Imagawa.

"Di pihak lain," ia melanjutkan. "berdasarkan perkataan Sessai padaku, kaum biksu lebih percaya pada bentuk bahu seseorang daripada raut wajahnya. Sepertinya, hanya dengan mengamati bahu seseorang. Sessai dapat mentamsilkan apakah orang itu telah mencapai tahap pencerahan. Nah, setelah itu aku mulai mengamati bahu para biksu, dan ternyata semuanya bulat dan lembut seperti lingkaran cahaya yang mengelilingi bulan. Jika seseorang ingin menampung seluruh alam semesta, dalam dada, dia tak dapat melakukannya dengan dada membusung. Karena itu, aku mulai yakin bahwa sikapku tidak terlalu buruk." Setelah mendirikan markas besarnya di Fujigane, Ieyasu memandang berkeliling dengan tenang.

"Gifugadake-kah itu? Orang-orang di sana pasti anak buah Nagayoshi. Hmm, tampaknya pasukan Shonyu pun akan segera bersiap siaga di salah satu gunung lainnya. Suruh para pengintai memeriksa keadaan."

Tak lama kemudian para pengintai kembali dan melapor pada Ieyasu. lnformasi mengenai posisi- posisi musuh datang sepotong demi sepotong. Ieyasu mendengarkan semua laporan, kemudian menyusun strategi.

Saat itu Jam Ular telah tiba. Hampir dua jam telah berlalu sejak panji-panji musuh muncul di gunung di hadapan mereka.

Namun Ieyasu tetap tenang. "Shiroza, Haniuro. Kemarilah." Masih sambil duduk, ia memandang berkeliling dengan wajah tenteram.

"Ya, tuanku?*" Kedua samurai itu meng- hampirinya, baju tempur mereka bergemerincing.

Ieyasu meminta pendapat mereka ketika ia membandingkan peta di hadapannya dengan medan sesungguhnya.

"Kalau dikaji lebih mendalam. tampaknya pasukan Shonyu di Kobehazama-lah yang terdiri atas prajurit-prajurit kawakan. Tergantung pada pergerakan mereka, posisi kita di Fujigane ini mungkin kurang menguntungkan." Salah seorang dari mereka menunjuk puncak- puncak di tenggara dan berkata, jika tuanku telah bertekad untuk melakukan pertempuran jarak dekat yang menentukan, hamba pikir bukit-bukit di kaki gunung itu lebih cocok untuk mengibarkan panji-panji tuanku."

"Baiklah! Mari kita pindah ke sana."

Sedemikian cepat ia mengambil keputusan. Pergeseran posisi pasukannya dimulai seketika. Dari bukit-bukit itu mereka hampir dapat menyentuh posisi musuh.

Terpisah hanya oleh paya-paya dan Cekungan Karasuhazama, para prajurit bisa melihat wajah pasukan musuh dan bahkan mendengar suara- suara mereka yang terbawa angin.

leyasu mengatur penempatan setiap unit, sementara ia sendiri memasang kursinya di suatu tempat dengan pandangan tak terhalang.

"Ah, rupanya Ii yang memimpin barisan depan hari ini." ujar leyasu.

"Pengawal Merah telah berada di garis depan!" "Mereka tampak gagah, tapi entah bagaimana

semangat tempur mereka."

Ii Hyobu berusia dua puluh tiga tahun. Semua orang tahu bahwa pemuda ini sangat dihargai oleh Ieyasu, dan sampai pagi itu ia masih berada di antara para pengikut yang mendampingi Ieyasu. Ieyasu sendiri memandang li sebagai orang yang dapat dimanfaarkan, dan ia telah menyerahkan komando atas tiga ribu orang serta tanggung jawab untuk memimpin barisan depan. Posisi tersebut memberi peluang untuk meraih kemasyhuran, tapi juga memungkinkan penderitaan paling hebat.

"Bertempurlah sesuka hatimu hari ini." Ieyasu menasihati.

Namun karena Ii masih begitu muda, Ieyasu mengambil langkah pengamanan dengan menyertakan dua pengikut berpengalaman dalam unit itu. Ia menambahkan. "Perhatikanlah saran kedua pejuang kawakan ini."

Yukisuke dan Terumasa memandang Pengawal Merah dari posisi mereka di Tanojiri, di sebelah selatan.

"Gempurlah Pengawal Merah yang sok pamer itu!" Yukisuke memerintahkan.

Kemudian kakak-beradik tersebut mengirim satu unit berkekuatan dua ratus sampai tiga ratus orang dari sisi sebuah jurang, serta satu korps serang dengan seribu orang dari garis depan. Semuanya segera melepaskan tembakan, yang disambut berondongan peluru dari bukit-bukit di kaki gunung. Asap putih segera menyebar bagaikan awan. Ketika asap mulai menipis dan melayang ke arah paya-paya, para prajurit Ii yang berbaju serbamerah berlari menuruni bukit. Sekelompok samurai berbaju hitam serta sejumlah prajurit infanteri bergegas menghadang mereka. Jarak antara kedua kelompok itu menyusut dengan cepat, dan kedua korps tombak mulai terlibat per- tempuran jarak dekat.

Keberanian sejati biasanya terlihat dalam pertempuran tombak melawan tombak. Dan lebih dari itu, hasil akhir sebuah pertempuran sering kali ditentukan oleh sepak terjang pasukan tombak.

Di sini korps pimpinan Ii membantai beberapa ratus prajurit musuh. Namun di pihak Pengawal Merah pun korban berjatuhan, dan tak sedikit para pengikut mereka menemui ajal.

Sudah beberapa lama Ikeda Shonyu memikirkan strategi yang akan dijalankannya. Ia melihat bahwa pasukan di bawah kedua putranya terlibat pertempuran jarak dekat dengan pasukan Pengawal Merah. dan bahkan pertempuran semakin sengit. "Sekaranglah kesempatan kalian!" ia berteriak ke belakang.

Sebuah korps yang terdiri atas sekitar dua ratus orang berani mati telah bersiap siaga dan menunggu saat yang tepat. Begitu diberi perintah maju, mereka akan bergegas ke arah Nagakute. Kebiasaan memilih taktik-taktik tempur yang tidak lumrah sudah mendarah daging dalam diri Shonyu. Unit pasukan serang menerima penntahnya, memutari Nagakute, dan mengincar pasukan yang masih tertinggal setelah sayap kiri Tokugawa mendesak maju. Mereka ditugaskan menyerang pusat pasukan musuh, dan ketika susunan tempur musuh sedang kacau, menangkap sang Panglima Tertinggi, Tokugawa Ieyasu.

Namun rencana itu tidak berhasil. Mereka dipergoki pihak Tokugawa sebelum mencapai tujuan, dan di bawah hujan peluru, dipaksa berhenti di daerah paya-paya yang menyulitkan gerak-gerik mereka. Dalam keadaan terjepit, jatuh banyak korban di pihak mereka.

Nagayoshi-mengamati situasi dari Gifugadake dan berdecak. "Ah. mereka maju terlalu cepat." serunya. "Tidak biasanya mertuaku begitu tak sabar." Hari ini justru ia yang jauh lebih tenang dibandingkan mertuanya. Dalam hati, Nagayoshi telah menentukan hari ini sebagai hari kematiannya. Tanpa terpengaruh oleh hiruk-pikuk di sekelilingnya, ia memandang lurus ke kursi komandan di bawah panji berlambang kipas emas di bukit seberang.

Kalau saja aku bisa membunuh Ieyasu, katanya dalam hati. Ieyasu, sebaliknya. memusatkan perhatiannya ke Gifugadake, sebab ia sadar bahwa pasukan Nagayoshi bersemangat tinggi. Pada pagi sebelumnya. seorang pengintai sempat menyinggung pakaian yang dikenakan Nagayoshi, dan Ieyasu segera mewanti-wanti orang-orang di sekelilingnya.

Tampaknya Nagayoshi memakai baju kematiannya hari ini, dan tak ada yang lebih menakutkan daripada musuh yang hendak menyambut maut. ]angan anggap enteng dia, dan jangan sampai kalian yang dijemput dewa maut.

Dengan demikian, kedua belah pihak memilih bersikap menunggu. Nagayoshi memperhatikan gerak-gerik lawannya dengan cermat. Ia yakin Ieyasu takkan sanggup berpangku tangan jika pertempuran di Tanojiri bertambah sengit. Ieyasu pasti akan mengirim satu divisi sebagai bala bantuan. Dan kesempatan itulah yang akan dimanfaatkan Nagayoshi untuk menyerang.

Namun Ieyasu tak mudah dikelabui.

"Nagayoshi lebih garang daripada kebanyakan orang. Kalau dia diam sepeni ini, dia pasti punya rencana tertentu."

Tapi situasi di Tanojiri ternyata mengecewakan harapan Nagayoshi. Semakin lama semakin banyak tanda bahwa Ikeda bersaudara akan mengalami kekalahan. Akhirnya ia memutuskan tak dapat menunggu lebih lama. Tapi secara bersamaan panji komandan dengan lambang kipas emas yang selama ini tidak kelihatan, mendadak dikibarkan di bukit-bukit tempat Ieyasu menunggu. Setengah pasukan Ieyasu bergegas ke arah Tanojiri. sementara yang lainnya menyerang Gifugadake sambil bersorak-sorak.

Prajurit-prajurit Nagayoshi maju untuk menghalau mereka, dan dengan bentrokan kedua pasukan itu, Cekungan Karasuhazama segera dilanda banjir darah.

Letusan   senapan    terdengar    tanpa    henti, Pertempuran sengit pecah di daerah yang terkurung oleh bukit-bukit itu, ringkikan kuda serta gemerincing pedang panjang dan tombak terus bergema. Suara para prajurit yang menyerukan nama masing-masing kepada lawan- lawan mereka mengguncang-kan bumi dan langit.

Dalam sekejap tak ada satu orang pun yang tidak terlibat dalam pertarungan maut, dan tak satu komandan maupun prajurit pun yang tidak berjuang mari-matian. Begitu salah satu pasukan kelihatan di atas angin, prajurit-prajuritnya ambruk; sedangkan mereka yang sudah hampir bertekuk lutut tiba-tiba berhasil mematahkan serangan musuh. Tak ada yang tahu siapa yang menang, dan selama beberapa saat pertempuran berlangsung tak menentu.

Ada yang roboh dan gugur di ujung pedang, ada pula yang berjaya dan mengumandangkan namanya sendiri. Dari mereka yang terluka, beberapa dicaci maki sebagai pengecut, tapi ada juga yang dianggap sebagai prajurit yang gagah berani. Namun jika diamati secara saksama. terlihat bahwa semuanya bergegas menuju keabadian, dan masing-masing menentukan nasibnya sendiri.

Rasa malu adalah satu-satunya alasan Nagayoshi tidak berpikir untuk kembali ke dunia sehari-hari dalam keadaan hidup. Itulah alasan ia mengena- kan baju kematiannya. "Aku akan mencegat Ieyasu!" Nagayoshi bersumpah.

Ketika pertempuran semakin membingungkan. Nagayoshi memanggil sekitar lima puluh prajurit. dan mulai bergerak ke arah panji komandan berlambang kipas emas.

"Aku akan mencegat Ieyasu! Sekarang!" Dan ia mulai memacu kudanya ke bukit seberang.

"Berhenti! Kau takkan ke mana-mana!" teriak seorang prajurit Tokugawa. Tangkap Nagayoshi!"

"Itu dia! Yang memakai tudung putih dan memacu kudanya dengan kencang!"

Gelombang demi gelombang orang-orang berbaju tempur itu berusaha menghalaunya, tapi semuanya terinjak atau diselubungi percikan darah.

Namun kemudian satu di antara sekian banyak peluru yang berdesingan, yang dilepaskan dari laras senapan yang membidik samurai berbaju putih itu menghantam Nagayoshi tepat di antara kedua matanya.

Tudung putih yang menutupi kepala Nagayoshi mendadak berubah merah. Nagayoshi terempas dari belakang kudanya, dan untuk terakhir kali menatap langit Bulan Keempat. Pemuda gagah berusia dua puluh enam tahun itu jatuh ke tanah, tangannya masih menggenggam tali kekang, Hyakudan, kuda kesayangan Nagayoshi, berdiri di atas kedua kaki belakangnya dan meringkik penuh duka.

Anak buahnya menjerit pilu ketika menghampirinya. Sambil menggotong jenazahnya, mereka mundur ke Puncak Gifugadake. Pasukan Tokugawa segera mengejar, berjuang untuk meraih simbol kemenangan mereka, ber-teriak-teriak, "Bawa kepalanya!"

Para  prajurit yang baru  saja  kehilangan pemimpin nyaris  menangis. Sambil berbalik dengan wajah mengerikan, mereka mengerahkan tombak masing-masing untuk menyambut para pengejar. Dan meski dilanda kekalutan, mereka masih sempat menyembunyikan jasad Nagayoshi. Namun berita bahwa Nagayoshi telah gugur segera menyebar bagaikan angin yang dingin membeku. Satu lagi bencana telah menimpa pasukan Shonyu. Suasana di medan tempur menyerupai sarang semut yang disiram air panas, di mana-mana terlihat prajurit-prajurit melarikan diri  dalam

keadaan kalang kabut.

"Mereka tak pantas disebut sekutu!" seru Shonyu ketika mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan, bertentangan dengan keadaan damai di sekelilingnya, mencaci maki segelintir prajurit yang berpapasan dengannya. "Aku ada di sini! Jangan lari kocar-kacir! Kalian sudah melupakan apa yang kalian pelajari setiap hari? Kembali! Kembali dan bertempurlah!"

Tapi orang-orang bertudung hitam di sekitarnya tidak menghentikan langkah mereka. Justru sebaliknya, hanya seorang pelayan belia berusia lima belas atau enam belas tahun yang menghampirinya sambil terhuyung-huyung.

Ia menuntun seekor kuda lepas dan menawarkannya pada junjungannya.

Dalam pertempuran di kaki bukit, kuda Shonyu terkena peluru dan roboh seketika. Shonyu sempat terkepung, tapi dengan garang ia menerabas membuka jalan dan mendaki bukit.

"Aku sudah tidak butuh kuda. Pasang kursiku di sini."

Pelayan itu melaksanakan perintah, dan Shonyu pun duduk.

"Empat puluh delapan tahun berakhir di sini," ia bergumam pada diri sendiri. Sambil menatap pelayan di hadapannya, ia melanjutkan, "Kau putra Shirai Tango, bukan? Kurasa ayah dan ibumu sudah menunggu. Larilah sekencang mungkin ke Inuyama. Lihat, peluru-peluru sudah berham- buran! Pergilah dari sini! Sekarang!"

Setelah mengusir pelayan yang hampir menangis itu, Shonyu tinggal seorang diri. Ia merasa tak mempunyai beban lagi. Dengan tenang ia memandang dunia untuk terakhir kali.

Tak lama kemudian terdengar suara menyerupai bunyi binatang yang sedang bertarung, dan pepohonan di celah tepat di bawahnya terguncang-guncang. Rupanya beberapa anak buahnya yang bertudung hitam masih bertahan, dan mereka mengayunkan senjata dalam pergulatan hidup atau mati.

Shonyu seakan-akan mati rasa, Kemenangan dan kekalahan tak penting lagi. Kesedihan yang mengiringi perpisahan dari dunia ini membangkitkan kenangan masa silam yang dibubuhi oleh wangi air susu ibunya.

Sekonyong-konyong semak belukar di hadapannya mulai bergoyang-goyang.

"Siapa itu?" Mata Shonyu bersinar-sinar. "Musuhkah?" ia berseru. Suaranya yang begitu tenang mengejutkan prajurit Tokugawa yang sedang mendekatinya, dan tanpa sadar orang itu pun melangkah mundur.

Shonyu kembali berseru, menuntut jawaban. "Kau prajurit musuh? Kalau ya, penggallah kepalaku dan kau akan mengukir nama untukmu. Orang yang bicara padamu adalah Ikeda Shonyu."

Prajurit yang tengah membungkuk di tengah semak belukar itu menyembulkan kepala dan memandang Shonyu di kursinya. la sempat gemetar, tapi kemudian menegakkan badan sambil berkata dengan congkak. "Hah rupanya aku mendapat lawan yang hebat. Aku Nagai Denpachiro dari marga Tokugawa. Bersiaplah!" ia berseru, lalu menusukkan tombaknya.

Seruan seperti ini biasanya ditanggapi dengan ayunan pedang, tapi tombak Denpachiro menancap di tubuh Shonyu tanpa menemui perlawanan sedikit pun. Denpachiro sampai terhuyung-huyung akibat gerakannya yang terlalu bernafsu.

Shonyu roboh seketika, dengan ujung tombak menonjol keluar dari punggung.

"Ambillah kepalaku!" ia berteriak sekali lagi.

Sampai sekarang pun tangannya belum menggenggam pedang panjang. Atas kemauan sendiri ia mengundang maut, dan atas kemau- annya sendiri pula ia menawarkan kepalanya. Semula Denpachiro seperti kerasukan, namun ketika tiba-tiba menyadari perasaan Shonyu dan melihat bagaimana jendral musuh itu menyambut kematiannya, ia pun terserang luapan emosi yang membuatnya ingin menangis.

"Ah!" serunya, tapi kemudian ia seakan-akan lupa diri karena begitu gembira, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Saat itulah ia mendengar rekan-rekannya berjuang untuk lebih dulu sampai di puncak.

"Aku Ando Hikobei! Bersiaplah!" "Namaku Uemura Denemon!"

"Aku Hachiya Shichibei dari marga Tokugawa!"

Semuanya menyerukan nama masing-masing ketika mereka berlomba-lomba untuk memenggal kepala Shonyu.

Tapi oleh pedang siapakah batang leher Shonyu ditebas? Tangan mereka yang berlumuran darah meraih kepala itu dan memutar-mutarnya.

"Aku telah memenggal kepala ikeda Shonyu!" teriak Nagai Denpachiro. "Bukan, aku yang melakukannya." Ando Hikobei bersorak. "Kepala Shonyu milikku!" seru Uemura Denemon.

Cipratan darah, teriakan-teriakan liar, hasrat untuk meraih kemasyhuran. Empat orang, lima orang—kerumunan prajurit yang semakin membengkak mulai menuju ke arah kursi Ieyasu dengan kepala Shonyu di tengah-tengah mereka.

"Shonyu telah gugur"

Seruan itu membahana dari puncak-puncak sampai ke paya-paya, dan menyebabkan pasukan Tokugawa di sduruh medan pertempuran bersorak-sorai gembira.

Para prajurit pasukan Ikeda yang berhasil lolos tidak berteriak sama sekali. Dalam sekejap orang- orang itu telah kehilangan langit dan bumi, bagaikan daun-daun kering mereka kini mencari tempat unruk menyelamat-kan diri.

"Jangan biarkan saru orang pun dari mereka kembali dalam keadaan hidup!"

"Kejar mereka!"

Para pemenang. didorong oleh perasaan haus darah yang tak terpuaskan, membantai setiap prajurit Ikeda yang mereka temui.

Bagi orang-orang yang sudah tak peduli pada nyawa sendiri, merenggut nyawa orang lain dengan ganas tak ubahnya bermam-main dengan kembang- kembang gugur. Shonyu akhirnya berhasil dihabisi, Nagayoshi tewas dalam pertempuran, dan kini formasi-formasi Ikeda yang masih bertahan di Tanojiri dibuat bercerai-berai oleh pasukan Tokugawa.

Satu per satu para jendral membawa cerita mengenai sepak terjang mereka ke perkemahan yang membentang di bawah kipas emas Ieyasu.

"Mereka begitu sedikit." Ieyasu merasa khawatir.

Jendral besar ini jarang memperlihatkan perasaannya, namun ia cemas mengenai para prajurit yang memburu musuh yang telah kalah. Banyak yang tidak kembali, meski sangkakala telah berulang kali dibunyikan. Barangkali mereka lupa diri akibat kemenangan yang mereka raih.

Ieyasu mengulangi komentarnya dua atau tiga kali.

"Jangan tumpuk kemenangan di atas kemenangan." katanya. "Tak ada gunanya kita mencari kejayaan pada waktu kita sudah berjaya."

Ia tidak menyinggung nama Hideyosh, namun tak pelak lagi ia bisa merasakan bahwa ahli strategi berbakat alam itu telah menudingnya sebagai reaksi terhadap kekalahan yang dideriia pasukannya.

"Pengejaran berkepanjangan sangat berbahaya.

Apakah Shiroza pergi?'*

"Ya. Dia pergi beberapa waktu lalu dengan membawa perintah tuanku."

Setelah mendengar jawaban Ii, Ieyasu kembali memberikan perintah, "Susul dia, Ii. Tegurlah semua orang yang lupa diri, dan perintahkan mereka untuk menghentikan pengejaran."

Pada waktu pasukan Tokugawa tiba di Sungai Yada, mereka menemukan korps Naito Shirozaemon berbaris di sepanjang tepi sungai, masing-masing orang dengan tombak siap di tangan.

"Stop!" "Berhenti!"

"Perintah dari perkemahan utama: jangan teruskan pengejaran!"

Ketika mendengar ucapan ini dari orang-orang di tepi sungai, para pengejar pun berhenti.

Sesaat kemudian Ii muncul, dan berseru-seru sampai serak sambil mondar-mandir di atas kudanya.

"junjungan kita berpesan bahwa mereka yang lupa diri karena begitu bangga akan kemenangan, sehingga terus mengejar musuh. akan dihadapkan ke mahkamah militer saat mereka kembali ke perkemahan. Berbaliklah! Ayo. kembali!"

Akhirnya luapan semangat mereka mereda, dan semuanya mundur dari tepi sungai.

Pertengahan kedua jam Kuda belum berlalu, dan matahari berada di tengah-tengah langit. Kala itu Bulan Keempat, dan dari bentuk awan-awan terbaca bahwa musim panas sudah dekat. Wajah setiap prajurit berlumuran tanah, darah, dan keringat, serta seakan-akan terbakar.

Pada jam Kambing, Ieyasu turun dari perkemahan di Fujigane, melintasi Sungai Kanare, dan memeriksa kepala-kepala yang dijajarkan di kaki Gunung Gondoji.

Pertempuran berlangsung setengah hari, dan di mana-mana mayat-mayat sedang dihitung. Pihak Hideyoshi kehilangan lebih dari dua ribu lima ratus orang, sementara jumlah korban jiwa di pasukan Ieyasu dan Nobuo mencapai lima ratus sembilan puluh orang, dengan beberapa ratus lagi mengalami luka-luka.

"Jangan sampai terbuai oleh kemenangan besar ini," salah seorang jendral mewanti-wanti. "Korps Ikeda hanya sebagian dari bala tentara Hideyoshi, tapi kita telah mengerahkan seluruh pasukan kita dari Bukit Komaki dan menerjunkan mereka di sini. Kalau kita sampai kalah di sini, itu akan berakibat fatal bagi sekutu-sekuiu kita. Sebaiknya kita secepat mungkin mundur ke Benteng Obata."

Seorang jendral lain langsung membantah, "Jangan, jangan, Sekali kemenangan sudah di tangan, kita harus mengambil inisiatif dengan gagah berani. Itulah hakikat perang. Berita mengenai kekalahan mutlak ini tentu akan memancing kemarahan Hideyoshi. Kemungkinan besar dia akan segera mengumpulkan pasukan dan bergegas ke sini. Bukankah lebih baik kita tunggu dia sambil menyiapkan diri, lalu mengambil kepala Tuan Monyet?"

Menanggapi kedua argumen ini, Ieyasu kembali berkata. "Kita jangan menumpuk kemenangan di atas kemenangan." Lalu, "Prajurit-prajurit kita sudah letih semua. Sekarang pun Hideyoshi tentu sudah menerbangkan awan debu dalam perjalanan ke sini, tapi sebaiknya jangan hari ini kita hadapi dia. Waktunya terlalu dekat. Mari kita kembali ke Benteng Obata."

Setelah keputusan tersebut diambil, mereka melintasi sebelah selatan Hutan Hakusan dan memasuki Benteng Obata saat matahari masih tinggi di langit.

Baru setelah seluruh pasukan berada di dalam Benteng Obata dan gerbang-gerbang benteng ditutup, Ieyasu menikmti kemenangannya. Ia merasa puas bahwa pasukannya berlaga tanpa kesalahan dalam pertempuran setengah hari itu. Para prajurit dan perwira mendapat kepuasan dari tindakan-tindakan berani seperti menjadi orang pertama yang mengambil kepala musuh, tapi kepuasan panglima tertinggi hanya menyangkut satu hal; perasaan bahwa ketajaman pandangannya telah membawa hasil gemilang.

Tetapi hanya orang besar dapat mengenali sesama orang besar. Satu-satunya yang kini menarik perhatian Ieyasu adalah langkah apa yang akan diambil Hideyoshi. Ieyasu berusaha bersikap fleksibel ketika memikirkan masalah ini, dan sejenak ia melepas lelah di benteng utama di Obata, mengistirahatkan baik jiwa maupun raga.

Setelah Shonyu dan putranya berangkat pada pagi hari kesembilan, Hosokawa Tadaoki dipanggil ke perkemahan Hideyoshi di Cakuden, dan ia beserta beberapa jendral lain menerima perintah untuk segera melancarkan serangan terhadap Bukit Komaki. Setelah mereka mulai menyerang, Hideyoshi memanjat menara observasi dan mengamati jalannya pertempuran. Masuda Jinemon menunggu di sampingnya sambil memandang ke kejauhan.

"Mengingat kegarangan Yang Mulia Tadaoki, bukankah kira akan menghadapi masalah jika dia menerobos terlalu jauh ke wilayah musuh?"

Dengan perasaan cemas karena pasukan Hosokawa telah begitu dekat ke kubu pertahanan musuh, Jinemon mempelajari roman muka Hideyoshi.

Tenang saja. Tadaoki memang masih muda, tapi Takayama Ukon sudah banyak makan asam- garam. Selama dia ada di sampingnya, kita tidak perlu khawatir."

Pikiran Hideyoshi menerawang. Bagaimana nasib Shonyu? Hideyoshi terus berharap akan memperoleh berita baik dari rekan seper- juangannya itu. Sekitar tengah hari, sejumlah penunggang kuda muncul. Mereka datang dari Nagakute. Dengan tampang menyedihkan mereka menyampaikan berita tragis: pasukan utama Hidetsugu telah binasa, dan nasib Hidetsugu sendiri belum diketahui.

"Apa? Hidetsugu?" Hideyoshi benar-benar kaget. la bukan orang yang sanggup memasang tampang acuh tak acuh saat mendengar berita mengejut- kan. "Ah. betapa lalainya!" la mengatakan ini bukan untuk mencela kesalahan Hidetsugu atau Shonyu, melainkan untuk mengakui kekhilafannya sendiri dan memuji kejelian musuhnya, Ieyasu.

"Jinemon." ia memanggil. "bunyikan sangkakala untuk mengumpulkan pasukan."

Hideyoshi segera mengirim kurir-kurir bertudung kuning dengan perintah darurat pada setiap divisinya, dan dalam satu jam dua puluh ribu prajurit telah bertolak dari Gakuden dan sedang bergegas menuju Nagakute.

I'ergerakan itu tidak Input dari perhatian markas besar Tokugawa di Bukit Komaki. Ieyasu telah pergi, dan segelintir orang ditinggalkan untuk menjaga tempat itu.

"Tampaknya Hideyoshi sendiri yang memimpin pasukannya."

Pada waktu Sakai Tadatsugu, salah satu jendral yang bertugas mengaman-kan Bukit Komaki, mendengar berita itu, ia segera bertepuk tangan dan berkata. "Ternyata semua berjalan sesuai dugaan kita! Sementara Hideyoshi pergi, kita bisa membakar markas besarnya di Gakuden serta benteng di Kurose. Sekaranglah waktunya bertindak, Kita akan melancarkan serangan besar- besaran."

Tapi Ishikawa Kazumasa, salah satu jendral lain yang mendampingi Tadatsugu dalam tugasnya, langsung menentang.

"Tuan Tadatsugu, mengapa Tuan begitu terburu-buru? Hideyoshi terkenal sebagai ahli strategi yang luar biasa. Tuan pikir orang seperti dia akan menempatkan jendral yang tidak cakap untuk menjaga markas besarnya, biarpun dia sudah tak sabar menunggu saat keberangkatan?"

"Dalam keadaan tergesa-gesa, orang mungkin saja tidak dapat mengerahkan seluruh kemampuannya. Hideyoshi telah membunyikan sangkakala tanda berkumpul, dan berangkat begitu terburu-buru, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa dia pun gugup mendengar berita kekalahan di Nagakute. Kesempatan emas ini tak boleh kita sia-siakan."

"Pemikiran Tuan sungguh dangkal!" Ishikawa Kazumasa tertawa keras-keras dan semakin menentang Tadatsugu. "Aku takkan heran kalau Hideyoshi meninggalkan pasukan yang cukup besar untuk memanfaatkan situasi yang terjadi kalau kita meninggalkan kubu pertahanan kita. Dan serangan dengan pasukan sekecil yang kita miliki sekarang hanya akan mengundang cemooh." Honda Heihachiro muak mendengar mereka saling membantah, dan ia pun bangkit dengan gusar. "Untuk apa Tuan-Tuan berdebat seperti ini? Orang yang suka berdebat memang hanya bisa mengoceh. Aku sendiri tak bisa duduk berpangku tangan di sini, Maafkan aku karena berangkat

lebih dulu."

Honda tak pandai bercakap-cakap, namun memiliki watak kokoh. Baik Tadatsugu maupun Kazumasa telah berkeras mempertaruhkan kebenaran pendapat masing-masing dan mengundang kontroversi, Kini keduanya tampak kaget melihat Honda meninggalkan mereka sambil mendongkol.

"Honda, hendak ke mana kau?" mereka cepat- cepat bertanya.

Honda berbalik dan berkata, seakan-akan telah menyadari sesuatu, "Aku telah menjadi pengikut junjunganku sejak masa kanak-kanak. Mengingat situasi yang dihadapt beliau sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa selain mendampinginya."

Tunggu!" Kazumasa rupanya menduga bahwa tindakan Honda disebabkan oleh luapan kemarahan. dan ia mengangkat satu tangan untuk mencegah-nya. "Kita diperintahkan oleh junjungan kita untuk menjaga Bukit Komaki selama kepergian beliau, tapi kita tidak diperintahkan untuk bertindak sesuka hati. Tenangkan dirimu." Tadatsugu pun berusaha menenangkannya.

"Honda, apa gunanya kau bertindak seorang diri pada saat seperti ini? Pengamanan Bukit Komaki jauh lebih penting."

Honda tersenyum tipis, seakan-akan melecehkan kepicikan pikiran mereka, tapi sikapnya tetap sopan, berhubung kedua orang itu merupakan seniornya, baik dari segi pangkat maupun usia.

"Aku takkan bergabung dengan para jendral lain. Tuan-Tuan bebas bertindak sesuai kehendak masing-masing. Tapi Hideyoshi memimpin pasukan yang segar bugar untuk menghadapi Yang Mulia Ieyasu, dan aku tak sanggup berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa. Coba pikirkan, Pasukan junjungan kita tentu lelah akibat pertempuran semalam dan pagi tadi. Jika kedua puluh ribu prajurit Hideyoshi bergabung dengan sisa pasukan mereka dan menyerang serempak dari depan dan belakang, mungkinkah Yang Mulia Ieyasu dapat lolos dengan selamat? Beginilah pandanganku, dan kalaupun aku bersalah karena meninggalkan Nagakute seorang diri, jika junjunganku harus gugur di medan laga, aku akan menyertainya."

Mendengar ucapan ini, semua orang mendadak terdiam. Honda memimpin pasukannya yang berkekuatan tiga ratus orang dan bergegas meninggalkan Bukit Komaki. Tersulut oleh semangat orang itu. Kazumasa pun mengumpulkan kedua ratus anak buahnya dan bergabung dengan rombongan Honda.

Pasukan gabungan itu berjumlah kurang dari enam ratus orang, tapi semangat Honda menyelubungi mereka sejak mereka bertolak dari Bukit Komaki. Apalah arti pasukan berkekuatan dua puluh ribu orang? Lagi pula, siapa Tuan Monyet itu?

Para prajurit infanteri bersenjata ringan, panji- panji digulung, dan ketika kuda-kuda dipacu, awan debu yang diterbangkan pasukan kecil itu menyerupai angin puyuh yang menuju ke timur.

Tiba di tepi selatan Sungai Ryusenji, mereka menemukan pasukan Hideyoshi bergerak menyu- suri tepi utara, korps demi korps.

"Ah, itu mereka!"

"Itu panji komandan berlambang labu emas." "Hideyoshi tentu dikelilingi para pengikutnya."

Sejak berangkat dari Bukit Komaki, Honda dan anak buahnya terus memacu kuda masing-masing tanpa henti. Kini mereka memandang ke tepi seberang, sambil menuding-nuding dengan riuh dan melindungi mata. Semuanya sudah tak sabar untuk bertindak.

Jaraknya begitu dekat, sehingga seandainya anak buah Honda berteriak, balasan dari seberang akan terdengar jelas oleh mereka. Wajah para prajurit musuh pun terlihat, dan bunyi langkah kedua puluh ribu laskat yang bercampur baur dengan gemerincing langkah kuda melintasi sungai dan mengguncangkan dada orang-orang yang mengamati mereka.

"Kazumasa!" Honda berseru ke belakangnya. "Ada apa?"

"Kaulihat itu di tepi seberang?"

"Ya, pasukan yang besar sekali. Sepertinya barisan mereka lebih panjang dari sungai ini. "Itulah kelebihan Hideyoshi." ujar Honda sambil tertawa. "Dialah yang sanggup menggerakkan pasukan sebesar ini, seakan-akan merupakan per- panjangan tangan dan kakinya sendiri. Dia memang musuh, tapi kita harus mengakui kehebatannya."

"Sudah agak lama aku memperhatikan mereka, Kaupikir Hideyoshi ada di sebelah sana, tempat panji komandan berlambang labu emas kelihatan berkibar-kibar?"

"Tidak, tidak. Aku yakin dia bersembunyi di tengah-tengah sekelompok orang lain. Dia takkan berkuda di tempat dia bisa dibidik oleh seseorang." "Para prajurit bergerak cepat, tapi semuanya

menoleh ke sini dengan curiga."

'Tugas kita sudah jelas. Kita harus memperlambat gerakan Hideyoshi di jalan yang menyusuri Sungai Ryusenji, biarpun hanya sesaat saja."

"Apakah kita harus melancarkan serangan?" "Jangan. Musuh mempunyai dua puluh ribu prajurit, sedangkan kekuatan kita hanya lima ratus orang. Kalau kita menyerang, dalam sekejap permukaan sungai sudah merah oleh darah kita. Aku bersedia mengorbankan nyawa, tapi aku tak sudi mati sia-sia."

"Ah, kau hendak memberikan waktu kepada pasukan junjungan kita di Nagakute untuk bersiap siaga dan menunggu kedatangan Hideyoshi."

Betul. Honda mengangguk sambil memukul pelananya. "Untuk mencuri waktu bagi sekutu- sekutu kita di Nagakute, kita harus menghambat perjalanan Hideyoshi dan serangannya—-meski hanya sebentar—dengan memberikan nyawa kita. Bertindaklah sambil mengingat-ingat ini, Tadatsugu."

"Baiklah. Aku paham."

Kazumasa dan Honda memutar kuda masing- masing.

"Para penembak akan membentuk tiga kelompok. Sambil berlari menyusuri sungai, setiap kelompok berlutut dan menembak musuh di seberang secara bergiliran."

Musuh bergerak cepat di tepi seberang, hampir menandingi arus yang deras. Anak buah Honda harus melakukan segala sesuatu dengan irama yang sama, tapi dua kali lebih cepat dan sambil terus berlari, saat mereka menyerang atau menyusun barisan. Karena mereka begitu dekat ke air, suara tembakan bergema jauh lebih keras daripada biasanya, dan asap mesiu menyebar bagaikan tirai raksasa. Ketika satu unit melompat ke depan dan melepaskan tembakan, unit berikut menyiapkan senapan. Kemudian unit itu melompat maju, menggantikan tempat unit pertama, dan segera memberondong musuh di tepi seberang.

Sejumlah prajurit Hideyoshi jatuh terguling- guling, dan tak lama kemudian barisannya mulai goyah.

"Siapa yang berani menantang kita dengan pasukan sekecil itu?"

Hideyoshi terperanjat. Ia kelihatan kaget sekali, dan tanpa sadar menghentikan kudanya.

Para jendral serta semua orang di sekelilingnya segera melindungi mata dengan satu tangan dan memandang ke tepi seberang, namun tak seorang pun dapat menjawab pertanyaannya dengan cepat.

"Hanya komandan yang luar biasa gagah akan menantang musuh berkekuaian seperti kita dengan pasukan berjumlah kurang dari seribu orang. Adakah yang mengenalinya?"

Berulang kali Hideyoshi mengajukan pertanyaan itu sambil memandang orang-orang di depan maupun di belakangnya.

Orang yang akhirnya angkat bicara adalah Inaba Ittetsu, komandan Benteng Sone di Mino. Meski telah mencapai usia yang patut dimuliakan, ia bergabung dengan pihak Hideyoshi dan sejak awal mendampinginya sebagai penasihat.

"Ah. Ittetsu. Kau mengenali jendral musuh di seberang sungai itu?"

"Hmm, melibat tanduk rusa di helmnya serta jalinan pita putih di baju tempurnya, aku yakin itu tangan kanan Ieyasu, Honda Heihachiro. Aku masih mengingatnya dari pertempuran di Sungai Ane bertahun-tahun lalu."

Ketika Hideyoshi mendengar ini, ia tampak seolah-olah akan mencucurkan air mata. "Ah, betapa perkasanya orang ini. Dengan segelintir prajurit dia menyerang dua puluh ribu orang. Kalau itu memang Honda, keberaniannya tak perlu diragukan. Sungguh mengharukan bahwa dia berusaha membantu Ieyasu melarikan diri dengan menghambat kita di sini dan mengorbankan nyawa," ia bergumam. Dan kemudian, "Dia patut memperoleh simpati kita, jangan lepaskan satu anak panah atau satu peluru pun ke arahnya, seberapa gencar pun dia menyerang kita. Jika ada hubungan karma antara kami, suatu hari nanti aku akan mengangkatnva sebagai pengikutku. Dia orang yang patut disayangi. Jangan menembak, biarkan saja dia."

Selama itu ketiga regu tembak di tepi seberang tentu saja sibuk mengisi senapan dan menembak tanpa henti. Satu-dua peluru bahkan berdesing di dekat Hideyoshi. Saat itulah pejuang berbaju tempur yang terus diperhatikan Hideyoshi— Honda, orang yang mengenakan helm berhiaskan tanduk rusa— menghampiri batas air, turun dari kuda, lalu membasuh moncong kudanya dengan airn dari sungai.

Terpisah oleh sungai, Hideyoshi memandang orang itu, sementara Honda menatap kelompok jendral—salah satu dari mereka jelas-jelas Hideyoshi— yang telah menghentikan kuda masing-masing.

Korps senapan Hideyoshi mulai melepaskan tembakan balasan, tapi Hideyoshi sekali lagi memarahi seluruh pasukannya, "Jangan menembak! Teruskan perjalanan! Bergegaslah!" Dan kemudian ia memacu kudanya semakin kencang.

Ketika Honda melihat adegan di tepi seberang, ia berseru keras-keras. "Jangan biarkan mereka lolos!~ dan ia pun menambah kecepatan. Sambil menyusuri sungai, ia sekali lagi melancarkan serangan sengit terhadap pasukan Hideyoshi. Namun Hideyoshi tidak terpancing, dan tak lama kemudian ia mengambil posisi di sebuah bukit yang berdekatan dengan Dataran Nagakute.

Begitu tiba di tempat tujuan, Hideyoshi langsung memerintahkan tiga jendralnya untuk membawa beberapa unit kavaleri ke medan tempur. "Kerahkan segala daya untuk menghalau pasukan Tokugawa yang hendak mundur dari Nagakute ke Obata."

Markas besarnya didirikan di bukit itu, sementara kedua puluh ribu prajurit menyebar di bawah matahari senja, memamerkan niat mereka untuk menuntut balas kepada Ieyasu.

Hideyoshi menugaskan dua orang sebagai pemimpin unit pengintai, dan mereka diam-diam menyelinap ke arah Benteng Obata. Setelah itu Hideyoshi segera menyusun rencana pergerakan bagi seluruh pasukannya. Tapi sebelum perintah- perintahnya sempat disebarluaskan, sebuah pesan penting tiba:

"Ieyasu tak lagi berada di medan pertempuran." "Tidak mungkin!" semua jendral berkata

serempak. Hideyoshi duduk membisu pada waktu ketiga komandan yang dikirimnya ke Nagakute bergegas kembali.

"Ieyasu dan pasukan utamanya tdah mundur ke Obata. Kami menemui beberapa kelompok musuh yang terpencar-pencar dan tertinggal di belakang rekan-rekan mereka, tapi yang lainya rupanya berada satu jam di depan kami," mereka melaporkan.

Dari ketiga ratus prajurit Tokugawa yang mereka habisi, tak satu pun merupakan jendral tersohor.

"Kita terlambat." Hideyoshi tak dapat melam- piaskan kemarahannya yang tampak membara di wajahnya. Semua pengintai memberikan laporan yang sama. Gerbang benteng di Obata telah ditutup rapat-rapat, dan suasana di sana tenang-tenang saja. Ini suatu bukti bahwa Ieyasu telah berada di dalam benteng dan sedang menikmati kemenangannya sambil beristirahat.

Di tengah perasaannya yang tak menentu, Hideyoshi tanpa sadar bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Ieyasu. "Itulah Ieyasu! Kecepatannya luar biasa. Dia mundur ke sebuah benteng dan menutup gerbangnya tanpa menyombongkan diri. Burung yang satu ini takkan bisa kita tangkap dengan umpan maupun jaring. Tapi tunggu saja, dalam beberapa tahun Ieyasu akan bersikap sedikit lebih tahu diri, dan akan bersujud di hadapanku."

Hari telah senja, dan serangan malam terhadap sebuah benteng pada umumnya dihindari. Kecuali itu, pasukan Hideyoshi telah menempuh perjalan- an dari Gakuden tanpa istirahat sejenak pun, sehingga kegtatan-kegiatan selanjutnya ditunda untuk sementara waktu. Perintah segera diubah. Para prajurit dlsuruh makan dulu. Asap api unggun mengepul-ngepul di langit senja.

Para pengintai yang menyusup dari Obata kembali dalam waktu singkat. Sebenarnya Ieyasu sudah tidur, tapi ia bangun lagi untuk mendengarkan laporan mereka. Setelah menge- tahui situasi ia mengumumkan bahwa semua orang akan segera kembali ke Bukit Komaki. Para jendralnya menggebu-gebu menyarankan serangan tengah malam terhadap Hideyoshi, namun Ieyasu hanya tertawa dan bertolak ke Bukit Komaki melalui jalur memutar.