--> -->

Taiko Bab 41 : Sahabat Sejati

Bab 41 : Sahabat Sejati

DENGAN susah payah Katsuie berhasil meloloskan diri, tapi pasukannya telah binasa. Sampai pagi itu, panji Shibata dengan lambang emas masih berkibar di daerah Yanagase, tapi kini hanya panji Hideyoshi yang terlihat. Panji itu tampak berkilau dalam cahaya matahari cerah, memukau semua yang melihatnya, dan melambangkan kenyataan yang melampaui kearifan dan kekuatan biasa.

Bendera-bendera dan pataka-pataka pasukan Hideyoshi, yang membentang di sepanjang jalan- jalan dan memadati ladang-ladang, menampilkan adegan kemenangan yang megah. Semuanya sedemikian rapat, hingga menyerupai kabut tebal berwarna emas.

Semua prajurit mulai menyantap ransum masing-masing. Pertempuran meletus dini hari dan berlangsung selama sekitar delapan jam. Seusai makan, seluruh pasukan diperintahkan untuk segera menuju utara.

Ketika mendekati Celah Tochinoki, mereka bisa melihat Laut Tsuruga di sebelah timur, sementara Pegunungan Echizen di sebelah utara seakan-akan sudah berada di bawah kaki kuda mereka.

Matahari sudah mulai terbenam, langit dan bumi memantulkan cahaya senja yang mengalahkan warna-warna pelangi.

Wajah Hideyoshi tampak merah. Namun ia tidak kelihatan seperti orang yang belum tidur berhari-hari. Sepertinya ia lupa bahwa manusia harus memejamkan mata untuk beristirahat. la terus mendesak maju, dan belum memberi perintah berhenti. Pada musim panas seperti ini, malam paling singkat. Pada waktu hari masih terang, pasukan utama mengaso di Imajo di Echizen. Namun barisan depan tetap melanjutkan perjalanan sampai ke Wakimoto—yang berjarak lura-kira enam mil—sementara barisan belakang berhenti di Itadori, kira-kira sama jauhnya di belakang pasukan utama.

Dengan demikian, perkemahan malam itu mem bentang sejauh dua belas mil dari depan ke belakang.

Malam itu Hideyoshi tertidur pulas, dan bah- kan tidak terganggu oleh kicauan burung tekukur.

Besok kita tiba di Benteng Fuchu, Hideyoshi berkata dalam hati sebelum beranjak tidur. Tapi bagaimana Inuchiyo akan menyambut kita?

Apa yang sedang dilakukan Inuchiyo saat itu? Ia telah melintasi daerah tersebut pada siang hari yang sama, dan sementara matahari masih tinggi di langit, menarik mundur pasukannya ke Fuchu. benteng putranya.

"Puji syukur kau selamat." ujar istrinya ketika keluar untuk menyambutnya.

"Urus mereka yang luka-luka. Nanti saja kita bicara."

Inuchiyo tidak melepaskan sandal maupun membuka baju tempur, ia hanya berdiri di muka benteng. Pelayan-pelayannya juga ada di sana, berbaris di belakangnya, menunggu dengan khidmat.

Akhirnya korps demi korps melewati gerbang, menggotong mayat rekan-rekan mereka yang gugur, yang ditutupi panji-panji. Setelah itu, orang- orang yang cedera dalam penempuran digotong atau dipapah.

Korban di pihak Maeda yang jatuh saat bergerak mundur berjumlah tiga puluhan orang, tapi angka ini tidak berarti apa-apa dibandingkan jumlah korban di pihak Shibata dan Sakuma. Genta di kuil dibunyikan, dan pada waktu matahari terbenam, asap dari api untuk memasak mulai mengepul di semua bagian benteng. Perintah untuk menyantap ransum diberikan, tapi pasukan tidak dibubarkan, dan para prajurit tetap dalam unit masing-masing, seakan-akan mereka masih di medan tempur.

Seorang penjaga di gerbang utama berseru, "Sang Penguasa Kitanosho telah tiba di gerbang benteng."

"Apa? Yang Mulia Katsuie di sini?" Inuchiyo bergumam heran. Ini merupakan perkembangan tak terduga, dan Inuchiyo seakan-akan tidak tega menemui orang itu, yang kini telah menjadi pelarian. Sejenak ia tampak merenung, tapi kemudian ia berkata. "Mari kita keluar untuk menyambut beliau."

Inuchiyo mengikuti putranya keluar dari benteng. Setelah menuruni tangga terakhir, ia melangkah ke selasar penghubung yang gelap. Salah satu pembantunya, Murai Nagayori. menyertainya.

"Tuanku," Murai berbisik.

Inuchiyo menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.

Si pengikut berbisik ke telinga junjungannya. "Kedatangan Yang Mulia Katsuie di sini merupakan kesempatan menguntungkan yang tiada banding. Jika tuanku membunuh beliau dan mengirim kepala beliau kepada Yang Mulia Hideyoshi, hubungan antara tuanku dan Yang Mulia Hideyoshi tentu langsung membaik kembali."

Tanpa peringatan, Inuchiyo memukul dada orang itu. "Diam!" ia membentak.

Murai terhuyung-huyung sampai menabrak dinding kayu di belakangnya, dan masih untung tidak terjatuh. Wajahnya mendadak pucat, dan ia tetap dalam posisi antara berdiri dan duduk.

lnuchiyo memelototinya dan berkata gusar. "Be rani-beraninya kau membisikkan rencana busuk yang seharusnya malu kau ucapkan. Kauanggap dirimu samurai, tapi kau tidak tahu apa-apa mengenai Jalan Samurai! Orang macam apa yang mau menjual kepala seorang jendral yang mengetuk pintunya, sekadar untuk mencari keuntungan bagi marganya sendiri? Apalagi kalau dia telah berjuang selama bertahun-tahun di bawah komando jendral tersebut!"

Setelah meninggalkan Murai yang gemetaran, lnuchiyo pergi ke gerbang utama untuk menyambut Katsuie. Panglima tertinggi pasukan Shibata itu masih duduk di atas kudanya. Ia menggenggam tombak yang telah patah dengan sa- tu tangan, dan sepertinya tidak terluka, tapi selu- ruh wajahnya—seluruh dirinya—diliputi kesedihan.

Tali kekang kudanya dipegang oleh Toshinaga yang telah berlari keluar untuk menyambutnya. Kedelapan orang yang menyertai Katsuie menunggu di luar gerbang utama. Dengan demikian, Katsuie seorang diri.

"Aku berutang budi." Dengan ucapan santun ini, Katsuie turun dari kudanya. Ia menatap lnuchiyo dan berkata keras-keras dengan nada me- nyalahkan diri sendiri, "Kita kalah! Kita kalah!"

Di luar dugaan, semangarnya masih tinggi. Mungkin ia hanya berpura-pura, tapi kelihatan lebih tenang daripada yang dibayangkan lnuchiyo. lnuchiyo bersikap lebih ramah daripada biasanya ketika menyapa jendral yang baru saja menelan kekalahan itu. Toshinaga tak kalah prihatin dari ayahnya, dan membantu Katsuie melepaskan sandal yang berlumuran darah.

"Aku merasa seperti pulang ke rumah sendiri."

Keramahan memberi kesan mendalam pada diri seseorang yang berada di jurang kehancuran, dan membuat ia melupakan segala kecurigaan dan kegetiran. Keramahan merupakan satu-satunya hal yang membuatnya sadar bahwa masih ada harapan di dunia.

Kini Katsuie tampak cukup gembira, dan ia mengucapkan selamat kepada ayah dan anak yang berhasil meloloskan diri. "Kekalahan itu sepenuhnya akibat kelalaianku. Aku juga telah merepotkan kalian, dan aku berharap kalian dapat memaafkanku." katanya. "Aku akan mundur sampai ke Kitanosho dan menyelesaikan urusanku tanpa penyesalan. Bolehkah aku minta semangkuk nasi dan teh?"

Si lblis Shibata rupanya telah menjelma menjadi Buddha Shibata. lnuchiyo pun tak sanggup menahan air mara.

"Cepat bawakan nasi dan teh. Dan sake," lnuchiyo memerintahkan. Ia tak tahu apa yang bisa dikatakannya untuk menghibur Katsuie. Meski demikian, ia merasa harus mengatakan sesuatu. "Kemenangan dan kekalahan konon merupakan santapan utama seorang prajurit. Jika Yang Mulia memandang bencana hari ini sebagai takdir. Yang Mulia akan sadar bahwa membanggakan kemenangan merupakan langkah pertama menuju hari kehancuran, sedangkan kekalahan total adalah langkah pertama menuju hari kemenangan. Kejayaan dan kemalangan seseorang membentuk perputaran abadi yang tak ada sangkut-pautnya dengan kegembiraan dan kesedihan sesaat.

"Karena itu, yang kusesali bukanlah kehancuran diriku atau arus perubahan yang tak pernah berhenti." ujar Katsuie. "Yang kusesali hanyalah kehancuran reputasiku. Tapi jangan khawatir. Inuchiyo. Semuanya telah ditakdirkan."

Katsuie yang dulu takkan pernah mengucapkan hal seperti itu. Tapi ia tidak tampak menderita maupun bingung.

Ketika sake tiba. Katsuie segera mengisi satu cawan, dan sambil berkata bahwa saat perpisahannya sudah dekat, juga menuangkan sake untuk Inuchiyo dan putranya. Hidangan sederhana yang dipesan Inuchiyo dihabiskannya dengan lahap.

"Belum pernah kucicipi apa pun yang menyamai nasi yang kumakan hari ini. Kebaikanmu takkan pernah kulupakan." Setelah itu ia mohon diri.

Inuchiyo, yang menyertainya keluar, segera melihat bahwa kuda Katsuie sudah lelah. Setelah menyuruh seorang pelayan mengambil kuda kesayangannya yang berbintik-bintik kelabu, ia menawarkannya pada Katsuie. "Yang Mulia tak perlu cemas." kata Inuchiyo. "Kami akan mempertahankan tempat ini sampai Yang Mulia tiba di Kitanosho."

Katsuie mulai menjauh, tapi kemudian memutar kudanya dan menghampiri Inuchiyo. seakan-akan mendadak teringat sesuatu. "Inuchiyo. kau dan Hideyoshi telah bersahabat sejak muda. Berhubung pertempuran berakhir seperti ini, aku membebaskanmu dari segala kewajibanmu sebagai pengikutku."

Itulah ucapan terakhirya pada Inuchiyo. Ketika ia menaiki kuda, wajahnya tidak mencerminkan kepalsuan. Dihadapkan pada perasaan seperti itu, Inuchiyo membungkuk dengan sepenuh hati. Sosok Katsuie saat meninggalkan gerbang benteng tampak hitam di hadapan matahari sore yang merah. Pasukan Shibata yang hanya tersisa delapan penunggang kuda dan sekitar sepuluh prajurit infanteri melarikan diri ke Kitanosho.

Dua atu tiga penunggang kuda berpacu memasuki Benteng Fuchu. Berita yang mereka bawa segera menyebar ke semua sudut. "Musuh berkemah di Wakimoto. Yang Mulia Hideyoshi mendirikan perkemahan di Imajo, jadi kemungkinan kecil terjadi serangan malam ini."

Hideyoshi tidur nyenyak sepanjang malam—atau lebih tepat, selama setengah malam—di Imajo, dan keesokan harinya berangkat pagi-pagi ke Wakimoto.

Kyutaro keluar untuk menyambutnya. Ia menegakkan panji komandan, dan dengan demikian menunjukkan kehadiran sang Panglima Tertinggi.

"Apa yang terjadi di Benteng Fuchu semalam?" tanya Hideyoshi.

"Mereka kelihatan sibuk sekali."

"Apakah mereka memperkuat pertahanan? Barangkali orang-orang Maeda ingin bertempur." Sambil menjawab penanyaannya sendiri. ia memandang ke Fuchu. Tiba-riba ia berpaling pada Kyutaro dan memerintahkan agar pasukan Kyutaro disiagakan.

"Yang Mulia hendak terjun langsung ke penempuran?" tanya Kyutaro.

"Tentu saja." Hideyoshi mengangguk, seakan- akan melihat jalan lebar yang datar terbentang di hadapannya. Kyutaro segera menyampaikan rencana Hideyoshi pada semua jendral dan membunyikan sangkakala untuk mengumpulkan barisan depan. Tak lama kemudian para prajuritnya telah berbaris, siap maju.

Waktu untuk menempuh perjalanan ke Fuchu tak sampai dua jam. Kyutaro berada di depan, sementara Hideyoshi berkuda di rengah-tengah pasukan. Dalam tempo singkat, tembok-tembok benteng sudah kelihatan. Orang-orang di dalam benteng tentu saja merasa gelisah. Dilihat dari atas menara pertahanan, barisan prajurit dan panji Hideyoshi yang berlambang labu emas seakan-akan sudah bisa dijangkau dengan tangan.

Perintah untuk berhenti belum diberikan, dan berhubung Hideyoshi berada di tengah-rengah mereka, para prajurit barisan depan merasa yakin bahwa mereka akan segera mengepung benteng itu.

Sambil menuju gerbang utama Benteng Fuchu, pasukan Hideyoshi— yang kini menyerupai sungai berarus deras—menampilkan formasi sayap bangau. Sejenak hanya panji komandan yang tidak bergerak.

Tepat pada saat itu, seluruh benteng menyemburkan asap mesiu.

"Mundur sedikit, Kyutaro! Mundur!" Hideyoshi memerintahkan. "Para prajurit jangan menyebar dulu, dan jangan bentuk susunan tempur. Bubarkan formasi dan suruh mereka berkumpul kembali."

Para prajurit barisan depan bergerak mundur, dan senapan-senapan di dalam benteng segera terdiam. Namun semangat tempur kedua pihak bisa meledak setiap waktu.

"Hei. salah satu dari kalian! Bawa panji komandan dan maju dua puluh meter ke depanku." Hideyoshi memerintahkan. "Kudaku tak perlu digiring; aku akan memasuki benteng seorang diri." Ia belum menceritakan rencananya pada siapa pun, dan kini ia mengumumkannya secara mendadak sambil tetap duduk di atas kuda. Tanpa mengindahkan kesan kaget pada wajah para jendralnya, ia langsung memacu kudanya menuju gerhang utama benteng.

Tunggu sebentar! Tunggu sebentar agar hamba dapat mendului Yang Mulia."

Seorang samurai mengejarnya sambil tergopoh- gopoh, tapi ketika ia baru berada sepuluh meter di depan Hideyoshi—sambil membawa panji koman- dan seperti yang diperintahkan kepadanya—bebe- rapa lerusan senapan terdengar. Peluru-peluru itu ditujukan ke arah lambang labu emas.

"Jangan tembak! Jangan tembak!"

Sambil berseru-seru lantang, kuda Hideyoshi melintas ke arah benteng, bagaikan panah yang melesat dari busur.

"Ini aku! Hideyoshi! Kalian tidak mengenali aku?" Ketika mendekati benteng, ia mencabut tongkat komando yang terbuat dari emas dan melambai-lambaikannya ke arah para prajurit di dalam benteng. "Ini aku! Hideyoshi! Jangan tembak!"

Terperanjat, dua orang melompat dari ruang senjata di samping gerbang utama dan segera membuka gerbang.

"Yang Mulia Hideyoshi?"

Perkembangan ini benar-benar di luar dugaan, dan mereka menyapanya sambil tersipu-sipu menahan malu. Hideyoshi mengenali kedua orang itu. Ia sudah turun dari kudanya dan berjalan menghampiri mereka.

"Sudah kembalikah Tuan Inuchiyo?" tanyanya, lalu menambahkan. "Apakah dia dan putranya baik-baik saja?"

"Ya, Yang Mulia." salah satu dari kedua orang itu menjawab. "Mereka pulang dengan selamat."

"Bagus, Bagus. Sungguh lega rasanya. Tolong bawakan kudaku."

Sambil menyerahkan tali kekang pada kedua orang itu, Hideyoshi memasuki benteng itu seperti memasuki rumahnya sendiri, disertai para pengiringnya.

Para prajurit yang memadati benteng tampak tercengang, bahkan hampir bingung, melihat sikap Hideyoshi. Pada saat itulah Inuchiyo dan putranya bergegas ke arah Hideyoshi. Ketika saling mendekat, keduanya angkat bicara bersamaan, seperti layaknya dua sahabat lama.

"Wah. wah!"

"Inuchiyo! Ada apa ini?" tanya Hideyoshi. "Tidak ada apa-apa," Inuchiyo membalas sambil

tenawa. "Mari masuk dan duduklah."

Disertai putranya, Inuchiyo mengajak Hideyoshi ke benteng dalam. Sengaja menghindari pintu masuk resmi, mereka membuka gerbang ke pekarangan dan membawa tamu mereka langsung ke daerah hunian, dan hanya berhenti sejenak untuk mengagumi bunga-bunga yang sedang mekar di kebun.

Hideyoshi disambut seperti anggota keluarga dekat, dan Inuchiyo bersikap seperti dulu, ketika ia dan Hideyoshi tinggal di dua rumah yang dipisahkan oleh pagar tanaman.

Akhirnya Inuchiyo mempersilahkan Hideyoshi masuk.

Namun Hideyoshi malah memandang berkeliling, tanpa tanda-tanda akan melepas sandal jeraminya. "Bangunan sebelah sana—dapurkah itu?" tanyanya. Ketika Inuchiyo membenarkannya, Hideyoshi mulai melangkah ke sana. "Aku ingin bertemu istrimu. Apakah dia di sini?"

Inuchiyo benar-benar terkejut. Ia baru hendak mengatakan bahwa ia akan memanggil istrinya jika Hideyoshi ingin menemuinya, tapi tak sempat lagi. Terburu-buru ia memberi tahu Toshinaga agar mengantar tamu mereka ke dapur.

Setelah menyuruh putranya mengejar Hideyoshi, ia sendiri bergegas menyusuri selasar untuk memperingatkan istrinya.

Yang paling kaget adalah para juru masak dan pelayan. Tiba-tiba saja seorang samurai bertubuh pendek—jelas-jelas seorang Jendral—muncul di dapur dan memanggil-manggil, seakan-akan ia merupakan anggota keluarga junjungan mereka.

"Hei! Putri Maeda ada di sini? Di mana dia?" Tak seorang pun tahu di mana istri lnuchiyo. Semuanya tampak bingung, tapi setelah melihat tongkat komando yang terbuat dari emas serta pedang kebesaran, mereka segera berlutut dan membungkuk. Ia pasti Jendral berkedudukan tinggi, tapi tak seorang pun pernah melihatnya di antara orang-orang Maeda sebelum ini.

"Hei. Putri Maeda, di mana Tuan Putri? Ini aku, Hideyoshi. Keluarlah, aku ingin bertemu!"

Istri lnuchiyo sedang menyiapkan makanan bersama beberapa pelayan ketika ia mendengar hiruk-pikuk itu. Ia muncul sambil mengenakan celemek, dengan lengan baju tergulung. Sejenak ia hanya berdiri memandang Hideyoshi. "Aku pasti bermimpi," gumamnya.

Ketika Hideyoshi melangkah maju, istri lnuchiyo segera menyadarkan diri, dan setelah melepas ikatan lengan bajunya, cepat-cepat menyembah di pelataran kayu.

Hideyoshi langsung duduk. "Yang pertama-tama ingin kuberitahukan pada Tuan Putri adalah bahwa anak-anak perempuan Tuan Putri tampak kerasan di Himeji. Tuan Putri tak perlu khawatir mengenai ini. Selain itu, meskipun suami Tuan Putri menghadapi saat-saat penuh cobaan dalam operasi militer terakhir, dia tidak memperlihatkan kebimbangan apakah harus maju atau mundur, dan bisa dibilang bahwa pihak Maeda meninggalkan medan laga tanpa terkalahkan." Istri lnuchiyo meletakkan kedua telapak tangan di bawah kepalanya yang membungkuk.

Saat itulah lnuchiyo masuk untuk mencari istrinya, dan melihat Hideyoshi.

Tempat ini tak pantas untuk menerima Tuan. Paling tidak, lepaskanlah sandal Tuan dan beranjaklah dari lantai tanah."

Pasangan suami-istri itu melakukan segala upaya untuk membujuk Hideyoshi agar pindah ke pelataran kayu, tapi Hideyoshi menolak, dan tetap bicara dengan nada akrab seperti sebelumnya. "Aku ingin cepat-cepat sampai di Kitanosho dan tak bisa meluangkan waktu banyak sekarang. Tapi kalau tidak merepotkan, bolehkah aku minta semangkuk nasi?"

"Permintaan Tuan mudah dipenuhi. Tapi mengapa Tuan tidak masuk dulu, biarpun hanya sejenak?"

Hideyoshi tidak menunjukkan tanda-randa akan melepas sandal jeraminya dan bersantai. "Lain kali saja. Hari ini aku harus bergerak cepat."

Suami-istri itu telah mengetahui kelebihan dan kekurangan pada watak Hideyoshi. Persahabatan mereka tak pernah mementingkan kewajiban dan kepura-puraan. Istri Inuchiyo kembali menggulung lengan bajunya. Lalu menuju meja racik di dapur.

Dapur itu melayani seluruh benteng, dan banyak pelayan, juru masak, bahkan pejabat bekerja di tempat itu. Tapi Putri Maeda bukan perempuan yang tidak tahu cara menyiapkan hidangan lezat dalam waktu singkat.

Baik pada hari itu maupun hari sebelumnya, ia ikut mengurus orang-orang yang terluka dan membantu menyiapkan makanan mereka. Tapi pada hari-hari tanpa banyak kesibukan pun ia biasa masuk dapur untuk menyiapkan sesuatu bagi suaminya. Kini marga Maeda telah memimpin sebuah provinsi besar. Tapi di masa susah di Kiyosu dulu, ketika keadaan tetangga mereka yang bernama Tokichiro tak lebih baik dari mereka, kedua keluarga itu sering saling mendatangi untuk meminjam setakar beras, segenggam garam, atau minyak lentera untuk satu malam. Kala itu mereka bisa menilai kesejahteraan tetangga mereka berdasarkan cahaya lentera yang memancar dari jendela pada malam hari.

Perempuan ini tak kalah baiknya sebagai istri dibandingkan Nene-ku, pikir Hideyoshi. Dalam kesempatan merenung yang singkat itu, istri Inuchiyo tdah selesai menyiapkan dua atau tiga hidangan. Sambil membawa baki, ia mengajak tamu mereka keluar dari dapur.

Di daerah berbukit-bukit yang membentang ke arah benteng sebelah barat, sebuah pondok kecil berdiri di tengah rumpun pohon cemara. Para pengiring segera menggelar tikar di samping bangunan itu dan meletakkan dua baki berisi makanan dan beberapa botol sake.

"Biarpun Tuan sedang terburu-buru, perkenankanlah aku menghidangkan sesuatu yang lebih baik." kata istri Inuchiyo.

"Jangan, jangan. Tapi bagaimana kalau suami dan putra tuan Putri menemuiku?"

Inuchiyo duduk berhadapan dengan Hideyoshi. dan Toshinaga memegang botol sake. Di tempat itu ada bangunan, tapi sang tamu dan para tuan rumah tidak menggunakannya. Angin bertiup di antara pohon-pohon cemara, tapi mereka hampir tidak mendengar suaranya.

Hideyoshi hanya minum secawan sake, tapi segera menghabiskan kedua mangkuk nasi yang disiapkan istri Inuchiyo untuknya.

"Ah, aku kenyang. Maaf kalau aku tidak tahu diri, tapi bolehkah aku minta secawan teh?"

Berbagai persiapan telah dilakukan di dalam pondok. Istri Inuchiyo langsung masuk dan mengambil secawan teh untuk Hideyoshi.

"Hmm, Tuan Putri," ujar Hideyoshi sambil minum. Lalu memandang istri Inuchiyo, seakan- akan hendak minta nasihatnya. "Aku tahu bahwa kedatanganku merepotkan, tapi sekarang aku juga ingin meminjam suami Tuan Putri sejenak."

Isrri lnuchiyo tertawa riang. "Meminjam suamiku? Sudah lama Tuan tidak menggunakan ungkapan itu."

Hideyoshi dan   lnuchiyo   ikut   tertawa,   dan Hideyoshi berkata, "Dengar itu, lnuchiyo. Rupanya kaum perempuan tidak mudah melupakan kedongkolan di masa silam, Sampai hari ini pun istrimu masih ingat bahwa kau sering 'kupinjam' untuk minum-minum bersama." Sambil mengembalikan cawan teh, ia tertawa sekali lagi. Tapi hari ini sedikit berbeda dari masa lalu, dan jika Tuan Putri tidak keberatan, aku yakin suami Tuan Putri juga demikian. Aku berharap dia bisa menemaniku ke Kitanosho. Kurasa Toshinaga sanggup menjaga Tuan Putri di sini."

Menyadari bahwa persoalannya telah terpecahkan sambil bersenda gurau. Hideyoshi sendiri yang langsung mengambil keputusan. "Aku berharap Toshinaga tinggal di sini, dan suami Tuan Putri menyertaiku. Tak ada yang bisa menandingi lnuchiyo di medan tempur, Nanti, setelah kami kembali, aku ingin mampir lagi dan menginap beberapa hari. Kami berangkat besok pagi. Dan sekarang aku mohon diri dulu."

Seluruh keluarga mengantarnya sampai ke pintu dapur. Ketika menuju ke sana, istri lnuchiyo berkata, Tuan Hideyoshi, Tuan menginginkan Toshinaga tinggal di sini untuk menjaga ibunya, tapi kurasa aku belum sebegitu tua atau kesepian. Masih banyak samurai yang akan menjaga benteng, dan tak seorang pun perlu mencemaskan pertahanannya."

lnuchiyo pun   sependapat.   Ketika   mereka bergegas ke pintu, Hideyoshi dan keluarga Maeda memastikan jam keberangkatan untuk hari berikutnya dan memutuskan hal-hal kecil lainnya.

"Kunjungan Tuan yang berikut akan ku tunggu- tunggu," istri lnuchiyo berkata ketika mereka berpisah di pintu dapur; suami dan putranya me- nemani Hideyoshi sampai ke gerbang benteng.

Pada malam Hideyoshi mohon diri pada keluarga Maeda dan kembali ke perkemahannya, dua anggota terkemuka marga Shibata digiring sebagai tawanan. Yang pertama Sakuma Genba. Yang satu lagi putra angkat Katsuie, Katsutoshi. Kedua-duanya tertangkap saat melarikan diri melintasi pegunungan di Kitanosho. Genba terluka. Akibat panasnya musim kemarau, lukanya terkena infeksi dan segera mulai bernanah. Pengobatan darurat yang sering digunakan oleh kaum prajurit adalah pengobatan dengan moxa, dan Genba mampir di rumah seorang petani di pegunungan, minta sedikit moxa, lalu meng- oleskannya di sekeliling luka.

Sementara Genba sibuk mengobati lukanya, para petani diam-diam berunding dan sampai pada kesimpulan bahwa mereka akan memperoleh hadiah jika mereka menyerahkan Katsutoshi dan Genba pada Hideyoshi. Malamnya para petani mengepung pondok tempat keduanya tidur, mengikat mereka seperti babi, lalu menggotong mereka ke perkemahan Hideyoshi. Keiika Hideyoshi menerima kabar mengenai kejadian ini, ia tampak tak senang. Berlawanan dengan harapan para petani, mereka malah dihukum berat.

Keesokan harinya Hideyoshi beserta lnuchiyo dan putranya memacu kuda masing-masing ke benteng Katsuie di Kitanosho. Dan sebelum malam tiba, ibu kota Echizen telah dipadati pasukan Hideyoshi.

Ketika ia dalam perjalanan, marga Tokuyama dan Fuwa telah membaca gelagat, dan banyak dari mereka menyerahkan diri di gerbang perkemahan Hideyoshi.

Hideyoshi berkemah di Gunung Ashiba, dan ia memerintahkan agar benteng di Kitanosho dikepung sedemikian ketat, sehingga setetes air pun takkan bisa lolos. Setelah itu korps Kyutaro ditugaskan membobol sebagian pagar pertahanan, kemudian Genba dan Katsutoshi dibawa ke dekat tembok benteng.

Sambil menabuh genderang perang, para prajurit berseru-seru pada Katsuie yang berada di dalam benteng. "Jika ada ucapan terakhir untuk putra angkatmu dan Genba, sebaiknya kau keluar dan mengatakannya sekarang!"

Pesan itu disampaikan dua atau tiga kali, tapi tak ada jawaban dari benteng. Katsuie tidak menampakkan diri, mungkin karena tidak tega melihat kedua orang itu. Selain itu, sudah jelas bahwa strategi Hideyoshi adalah menghancurkan semangat orang-orang di dalam benteng.

Sepanjang malam anggota pasukan Kaisuie yang tercecer masih terus berdatangan, dan kini ben- tengnya menampung sekirar tiga ribu orang, termasuk warga sipil.

Kecuali itu, Genba dan Katsutoshi ditangkap hidup-hidup oleh musuh, dan mau tak mau Katsuie pun merasa bahwa akhir hayatnya sudah dekat. Genderang perang musuh bertalu-talu. Pada waktu malam tiba, pagar-pagar pertahanan di sekeliling benteng telah dapat diterobos, dan sampai sejarak sembilan meter arau dua belas meter dari benteng, seluruh daerah dipenuhi pasukan Hideyoshi.

Meski demikian, suasana di dalam benteng tetap tenteram. Setelah beberapa saat, genderang musuh pun bungkam; malam sudah dekat, dan jendral-jendral yang tampak seperti utusan terlihat mondar-mandir dari benteng ke luar. Barangkali ada upaya untuk menyelamatkan nyawa Katsuie, atau mungkin juga karena diutus untuk memohon damai. Desas-desus seperti itu menyebar dengan cepat, tapi suasana di dalam benteng seperti nya tidak mendukung teori-teori tersebut.

Setelah hari berganti malam, benteng dalam yang semula gelap gulita mulai diterangi cahaya lentera-lentera. Benteng di sebelah utara dan timur juga diterangi. Di donjon pun lentera-lentera tampak menyala berselang-seling, dan para prajurit berjaga-jaga, menanti saat pertempuran.

Pasukan penyerang sempat terheran-heran, tapi teka-teki itu segera terjawab. Tak lama kemudian mereka mendengar suara genderang dan alunan sending. Lagu-lagu rakyat dengan logat Utara yang kental terbawa angin ke arah mereka.

"Orang-orang di dalam benteng rupanya sadar bahwa ini malam terakhir mereka, dan sepertinya mereka mengadakan jamuan perpisahan. Betapa menyedihkan.

Pasukan penyerang di luar benteng bersimpati kepada lawan-lawan mereka. Baik orang-orang di dalam benteng maupun mereka yang berada di luar pernah mengabdi sebagai prajurit di bawah komando Oda, dan tak satu pun dari mereka tidak mengetahui masa lalu Katsuie. Oleh karena itu, situasinya sarat dengan berbagai emosi.

Jamuan terakhir sedang diadakan di dalam benteng di Kitanosho, dan dihadiri oleh lebih dari delapan puluh orang—segenap marga dan para pengikut senior. Istri dan anak-anak Katsuie duduk di bawah lentera-lentera terang di tengah-tengah, sementara pasukan musuh menunggu di luar, berjarak hanya selemparan baru.

"Kita bahkan tak sempat berkumpul seperti ini untuk merayakan hari pertama di Tahun Baru!" seseorang berkata, dan seluruh keluarga tertawa. "Dengan datangnya fajar, hari pertama kehidupan kita di dunia berikut akan dimulai. Malam ini malam Tahun Baru kita di alam fana."

Dengan lentera-lentera dan suara tawa, pertemuan itu sepertinya tak berbeda dari jamuan biasa. Tapi kehadiran prajurit-prajurit berbaju tempur menimbulkan awan mendung di dalam bangsal.

Rias wajah serta pakaian Oichi dan ketiga puirinya memberi sentuhan segar, bahkan anggun, pada acara itu. Anak bungsunya baru berusia sepuluh tahun, dan ketika mereka melihat anak itu bergembira ria di antara baki-baki penuh makanan dan orang-orang yang gaduh, para prajurit tua yang tak terusik oleh maut yang sudah menanti pun terpaksa mengalihkan pandang ke arah lain.

Katsuie sudah terlalu banyak minum. Beberapa kali, pada waktu menawarkan cawan pada seseorang, ia tak sanggup menyembunyikan kesepi- annya, dan berkata. "Kalau saja Genba ada di sini." Setiap kali mendengar seseorang menyesalkan kegagalan Genba, ia langsung mencela. "Jangan salahkan Genba. Bencana ini timbul akibat kelalaianku sendiri. Kalau aku mendengar kalian menyalahkan Genba, hatiku lebih pedih daripada kalau aku yang diserang."

la memastikan bahwa semua orang di sekitarnya menikmati minuman, dan membagi-bagikan sake terbaik dari gudang kepada para prajurit di menara-menara. Kiriman sake diiringi oleh pesan nya.

"Rayakanlah perpisahan ini sepuas hati. Tak ada salah nya kalau kalian membacakan sajak-sajak."

Tembang-tembang terdengar dari menara- menara, suara tawa memenuhi bangsal jamuan. Gendang-gendang ditabuh, bahkan di hadapan Katsuie , dan kipas emas para penari menorehkan garis-garis anggun di udara.

"Dahulu kala Yang Mulia Nobunaga meman- faatkan setiap kesempatan untuk menari dan sering mendesak agar aku mengikuti contohnya, tapi aku selalu malu karena ketidakmampuanku," Katsuie mengenang. "Betapa sayang-nya! Paling tidak, aku seharusnya mempelajari satu tarian saja untuk malam ini."

Dalam hati ia tentu sangat kehilangan bekas junjungannya. Dan masih ada hal lain. Meskipun kesulitan yang dihadapinya sekarang—yang tak menyisakan harapan sedikit pun—diakibatkan oleh satu prajurit bermuka monyet, tak perlu diragukan bahwa ia diam-diam mengharapkan kematian gemilang.

Usianya baru lima puluh tiga tahun. Sebagai jendral, masa depannya seharusnya masih terben- tang di hadapannya, tapi kini ia hanya bisa ber- harap agar ia mati secara terhormat.

Sake terus dituangkan. Cawan demi cawan direguk, dan banyak gentong dikuras habis malam itu. Ada nyanyian yang diiringi tabuhan gendang, tarian dengan kipas-kipas perak, dan seruan-seruan riang diselingi suara tawa, tapi semua itu tak sanggup menghapus suasana suram hingga tuntas.

Sesekali bangsal jamuan diliputi keheningan. dan asap hitam yang dimuntahkan oleh lentera- lentera yang berkedap-kedip mengungkapkan rona pucat pada kedelapan puluh wajah, kepucatan yang tak berhubungan dengan sake yang mereka minum. Tengah malam telah tiba, namun jamuan masih terus berlanjut. Ketiga putri Oichi bersandar pada pangkuannya  dan mulai tertidur. Bagi mereka, jamuan ini rupanya terlalu membosankan. Tak lama kemudian si bungsu telah tertidur pulas dengan menggunakan pangkuan ibunya sebagai bantal. Ketika Oichi menyentuh rambut putrinya, ia harus berjuang untuk menahan air mata. Anak keduanya pun akhirnya terlelap. Hanya  si sulung, Chacha, tampak mengerti perasaan ibunya. la menyadari makna jamuan

malam itu, namun ia tetap kelihatan tenang.

Ketiga putri itu sangat menawan, dan semuanya mirip ibu mereka. Tapi Chacha, khususnya, dikaruniai pembawaan aristokrat yang mengalir dalam darah marga Oda. Kecantikannya dan usianya yang masih muda mau tak mau menimbulkan kesedihan dalam hati setiap orang yang memandangnya.

"Dia begitu lugu," Katsuie tiba-tiba berkata, ketika menatap wajah si bungsu yang sedang tidur. Ia kemudian berbicara dengan Putri Oichi mengenai nasib ketiga anak itu, "Kau adik kandung Yang Mulia Nobunaga, dan belum setahun berlalu sejak kau menjadi istriku. Lebih baik kau membawa anak-anak dan meninggalkan benteng sebelum fajar. Aku akan menyuruh Tominaga mengantarmu ke perkemahan Hideyoshi."

Oichi menjawab dengan mata berkaca-kaca. "Tidak!" katanya sambil menahan air mata. "Jika seorang perempuan menikah dan menjadi anggota keluarga pejuang, dia telah bertekad untuk menerima karmanya. Menyuruhku meninggalkan benteng sekarang sungguh keji, dan tak terbayang- kan olehku bahwa aku akan mengemis-ngemis di gerbang perkemahan Hideyoshi, sekadar untuk menyelamatkan nyawa.'

Ia menatap Katsuie sambil menggelengkan kepala di balik lengan baju. Tapi Katsuie mencoba sekali lagi. "Aku bahagia melihatmu begitu setia padaku, sementara hubungan kita sedemikian dangkal, tapi ketiga putrimu adalah anak-anak Yang Mulia Asai. Selain itu, Hideyoshi tentu takkan bersikap kejam terhadap adik Yang Mulia Nobunaga atau terhadap anak-anaknya. Jadi, jangan ragu-ragu. Pergilah, dan pergilah cepat- cepat."

Setelah memanggil salah satu pengikutnya, Katsuie memberi perintah pada orang itu, lalu menyuruh mereka bersiap-siap. Tapi Oichi hanya menggelengkan kepala dan tidak beranjak dari tempat.

"Biarpun Tuan Putri telah bertekad bulat, perkenankanlah anak-anak yang tak berdosa ini meninggalkan benteng, sesuai keinginan junjung- an hamba."

Oichi tampaknya hendak menyetujui per- mohonan itu. la membangunkan putri bungsunya yang tidur di pangkuannya, dan memberitahu ketiga anak itu bahwa mereka akan dikirim ke luar benteng.

Chacha merangkul ibunya dengan erat. "Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau pergi. Aku ingin bersama Ibu di sini!"

Katsuie berbicara dengannya dan ibunya berusaha membujuknya, tapi mereka tak mampu menghentikan air matanya yang meleleh. Akhirnya Chacha digiring dan dipaksa meninggalkan benteng. Isak tangis ketiga anak perempuan itu terdengar menyayat hati ketika mereka dibawa pergi. Giliran jaga keempat sudah hampir tiba, dan jamuan tanpa kegembiraan itu pun usai. Para samurai segera mengencangkan kembali tali pengikat baju tempur, lalu menuju pos masing- masing, tempat mereka akan menyambut maut.

Katsuie, istrinya, dan beberapa anggota marga berkumpul di benteng dalam. Oichi minta diambilkan meja kecil dan mulai menggerus tinta untuk sajak kematiannya. Katsuie melakukan hal yang sama.

Meskipun di mana-mana sama saja, malam hari tidak sama bagi semua orang. Fajar terasa berbeda bagi mereka yang kalah dan mereka yang menang.

"Pastikan tembok-iembok luar sudah jatuh ke tangan kita pada waktu langit terang," Hideyoshi memerintahkan, lalu dengan tenang menunggu datangnya fajar.

Kota benteng pun relatif tenteram. Kebakaran timbul di dua atau tiga tempat. Api disulut bukan oleh prajurit-pnjurit Hideyoshi, tapi kemungkinan besar disebabkan oleh para warga kota yang dilanda kebingungan. Karena dapat digunakan sebagai api unggun yang akan menerangi serangan mendadak pasukan di dalam benteng, kebakaran- kebakaran tersebut dibiarkan menyala sepanjang malam,

Sejumlah jendral keluar-masuk perkemahan Hideyoshi mulai senja sampai tengah malam. Itu menimbulkan dugaan bahwa ada upaya untuk menyelamatkan nyawa Katsuie, atau bahkan bentengnya akan segera menyerah. Meski demikian, selewat tengah malam pun tak ada perubahan dalam strategi tempur semula.

Bertambahnya kesibukan di setiap perkemahan menunjukkan bahwa fajar telah dekat. Tak lama kemudian sangkakala pun dibunyikan. Tabuhan genderang mulai membelah kabut. Suaranya yang berdentum-dentum mengguncang seluruh perkemahan.

Sesuai rencana, serbuan dimulai tepat pada jam Macan. Serangan dibuka ketika pasukan yang menghadapi tembok benteng melepaskan berondongan tembakan.

Letusan senapan terdengar menggema, tapi tiba- tiba semua tembakan dan teriakan barisan depan terhenti.

Pada saat itulah seorang penunggang kuda muncul di tengah kabut, memacu kudanya dari posisi Kyutaro ke tempat Hideyoshi duduk. Di belakangnya. seorang samurai dan tiga anak perempuan tampak berlari.

Tahan! jangan menemhak!" penunggang kuda itu berseru.

Ketiga pelarian itu, tentu saja, keponakan- keponakan Nobunaga. Tanpa mengenali mereka, para prajurit memandang ketiga sosok yang berlalu di tengah kabut itu. Si sulung bergandengan dengan adiknya, yang berpegangan tangan dengan si bungsu. Sambil berjingkat-jingkat mereka menyusuri jalan yang berbatu-baru. Sudah menjadi kebiasaan bagi para pelarian untuk mengenakan sesedikit mungkin pelindung kaki, dan ketiga putri itu bukan perkecualian. Kaki mereka hanya tertutup kaus sutra tebal.

Si bungsu mendadak berhenti dan berkata bahwa ia ingin kembali ke benteng. Samurai yang menyertai mereka menenangkan gadis cilik itu dengan menggendongnya.

"Kita mau ke mana?" anak kecil itu bertanya sambil gemetaran.

"Kita akan mengunjungi tempat seseorang yang baik hati." jawab Shinroku.

Tidak! Aku tidak mau pergi!"

Kedua kakaknya berusaha sekuat tenaga menenangkannya.

"Ibu akan menyusul nanti. Bukan begitu, Shinroku?"

"Ya, tentu saja."

Mereka berjalan dengan cepat, dan akhirnya tiba di rumpun pohon cemara tempat Hideyoshi mendirikan kemahnya.

Hideyoshi keluar dari balik tirai dan berdiri di bawah pohon cemara, memperhatikan mereka mendekat. Kemudian ia menyambut ketiga gadis itu.

"Mereka semua memperlihatkan ciri khas keluarga." ia berkomentar setelah berhadapan dengan mereka.

Bayangan sosok Nobunaga atau sosok Oichi-kah yang timbul dalam dadanya? Yang jelas, ia terpesona dan hanya dapat bergumam bahwa mereka anak-anak yang baik. Sejuntai rumbai tergantung dari baju Chacha yang berwarna seperti buah prem. Pada baju adiknya, yang berhiaskan sulaman bermotif besar, tersampir sehelai se- lendang merah. Pakaian si bungsu tak kalah anggun dari pakaian kedua kakaknya. Masing- masing membawa kantong kecil yang menyebarkan wangi kayu gaharu, serta sebuah lonceng mungil dari emas.

"Berapa usia kalian?" tanya Hideyoshi. Tapi tak satu pun dari mereka mau menjawab. Justru sebaliknya, bibir mereka jadi begitu pucat, sehingga timbul kesan bahwa ketiga gadis itu akan berurai air mata jika ada yang menyentuh mereka.

Hideyoshi tertawa ringan dan menyunggingkan senyum. "Kalian tak perlu takut. Mulai sekarang, kalian bisa bermain denganku." Dan ia menunjuk hidungnya sendiri.

Putri Tengah tertawa tertahan, mungkin karena hanya ia yang teringat pada seekor monyet.

Tapi tiba-tiba letusan senapan dan teriakan- teriakan perang kembali menggemuruh, bahkan lebih hebat daripada sebelumnya, menyapu seluruh daerah di sekeliling benteng. Di ufuk timur, langit pagi mulai kelihatan.

Ketiga anak perempuan itu melihat asap mengepul dari tembok-tembok benteng dan mulai menjerit-jerit dan menangis karena bingung.

Hideyoshi menitipkan mereka pada salah satu pengikutnya. Dengan berapi-api ia lalu minta dibawakan kuda, dan berpacu ke arah benteng.

Kedua selokan pertahanan di sepanjang tembok luar yang mengambil air dari Sungai Kuzuryu menyulitkan gerakan pasukan penyerang.

Namun ketika mereka akhirnya berhasil melindungi selokan pertama, para prajurit di dalam benteng telah membakar jembatan di gerbang depan. Api menjilat menara di atas gerbang dan menyebar ke daerah barak. Perlawanan pasukan bertahan yang begitu gigih melampaui dugaan para penyerang.

Menjelang siang hari, benteng luar berhasil ditaklukkan. Para penyerang berhamburan memasuki benteng utama dari semua gerbang.

Katsuie dan pengikut-pengikut seniornya mengurung diri di dalam donjon untuk memberikan perlawanan terakhir. Donjon megah itu berupa bangunan sembilan lantai dengan pintu-pintu besi dan pilar-pilar batu.

Setelah menggempur donjon selama dua jam, pasukan penyerang kehilangan lebih banyak prajurit daripada sepanjang pagi. Pekarangan dalam dan menara telah menjadi lautan api. Hideyoshi memerintahkan gerak mundur sementara. Mungkin karena menyadari bahwa mereka tidak mencapai kemajuan, ia menarik semua korps.

la lalu memilih beberapa ratus prajurit yang gagah berani. Mereka diperintahkan untuk tidak membawa senjata api; hanya tombak dan pedang.

"Sekarang aku akan melihat hasilnya! Bukalah jalan ke menara dengan paksa!" ia memerintahkan. Korps tombak pilihan itu segera merubungi benteng bagai sekawanan lebah, dan dalam waktu

singkat telah berhasil menerobos ke dalam.

Asap hitam tampak bergulung-gulung dari lantai tiga, lantai empat, lalu lantai lima.

"Bagus!" Hideyoshi berseru ketika semburan api menyelubungi atap menara yang bertingkat-tingkat itu dari segala arah.

Kilatan itulah yang menandai ajal Katsuie. Katsuie dan kedelapan puluh kerabatnya telah menghalau para penyerang di Lantai tiga dan lantai empat, serta berjuang dengan gigih sampai saat terakhir. Berulang kali mereka terpeleset akibat genangan darah yang membasahi lantai. Tapi kini tiga anggota keluarganya berseru padanya!

"Bersiap-siaplah dengan segera, tuanku!"

Katsuie berlari ke lantai lima, bergabung dengan Putri Oichi. Setelah menyaksikan kematian istrinya. Shibata Katsuie mengakhiri hidupnya dengan membelah perut.

Itu terjadi pada Jam Monyet. Sepanjang malam donjon dilahap api. Bangunan-bangunan megah yang berdiri di tepi Sungai Kuzuryu sejak zaman Nobunaga menyala, seakan-akan hendak mem- bakar seribu arwah dan impian masa lalu yang tak terhitung jumlahnya. Namun dalam tumpukan abu yang tersisa tak ada apa pun yang menyerupai Katsuie.

Konon ia telah menumpuk rumput kering secara cermat di dalam menara, agar tubuhnya terbakar habis. Karena itu kepala Katsuie tak dapat dipamerkan sebagai bukti nyata bahwa ia telah tewas. Selama beberapa waktu ada saja yang berkata bahwa Katsuie berhasil meloloskan diri. tapi Hideyoshi bersikap acuh tak acuh terhadap desas-desus tersebut. Esoknya ia telah berpaling ke arah Kaga.

Sampai hari sebelumnya, Benteng Oyama di Kaga masih merupakan markas besar Sakuma Genba. Ketika mendengar berita mengenai kekalahan Kitanosho, orang-orang di daerah itu langsung membaca gelagat dan menyerah pada Hideyoshi. Ia memasuki Benteng Oyama tanpa pertempuran. Namun semakin banyak kemenang- an diraih pasukannya, semakin tegas ia meng- ingatkan mereka akan gentingnya situasi, dan mewanti-wanti agar mereka tidak mengendurkan disiplin. Ia hendak menundukkan para prajurit Shibata dan sekutu-sekuru mereka untuk selama- lamanya.

Sassa Narimasa di Benteng Toyama termasuk golongan itu. Ia salah satu pendukung utama marga Shibata dan memandang rendah pada Hideyoshi. Dari segi pangkat, Sassa berada jauh di atas Hideyoshi. Ia wakil Katsuie selama operasi di wilayah Utara, dan selama peperangan melawan Hideyoshi, ia diminta tinggal di bentengnya, bukan saja untuk mengawasi marga Uesugi, tapi juga untuk menjalankan roda pemerintahan di wilayah Utara.

Sassa ada di sini. Inilah sikap yang diperlihatkannya ketika memandang ke luar dari bentengnya. Ia berdiri dengan kokoh sebagai pdindung wilayah Utara. Meskipun Katsuie telah gugur dan Kitanosho jatuh ke tangan musuh, masih ada kemungkinan bahwa Sassa, berkat kegarangan dan kebenciannya terhadap Hideyoshi, akan berupaya meneruskan rencana Katsuie dan memperpanjang perang. Dan memang itulah yang hendak dilakukannya dengan menggabungkan pasukannya sendiri dengan sisa-sisa laskar Shibata.

Hideyoshi sengaja tidak menghadapi orang itu secara terbuka. Jumlah pasukan Hideyoshi telah membuktikan kekuatannya, dan ia memutuskan untuk membiarkan kehadiran mereka membujuk Sassa merenungkan kembali posisinya. Sementara itu, ia mendekati marga Uesugi dengan undangan untuk membentuk persekutuan. Uesugi Kagekaesu mengutus seorang pengikut untuk menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan yang diraih Hideyoshi, dan tawaran Hideyoshi pun disambut baik.

Menimbang hubungan baik yang tampaknya terjalin antara Hideyoshi dan marga Uesugi, Sassa Narimasa tidak melihat kemungkinan untuk mengadakan perlawanan. Karena itu ia menutup- nutupi niat sesungguhnya dan akhirnya menyatakan tunduk pada Hideyoshi. la lalu menikahkan putrinya dengan putra kedua lnuchiyo, Toshimasa, dan dengan lega kembali ke provinsinya sendiri. Dengan demikian, wilayah di utara Kitanosho berhasil didamaikan berkat momentum semata-mata, nyaris tanpa per- tempuran.

Setelah mengamankan wilayah Utara, pasukan Hideyoshi kembali ke Benteng Nagahama bertepatan dengan Perayaan Anak-Anak Laki-Laki. hari kelima Bulan Kelima.

Di Nagahama,   Hideyoshi   mendengarkan laporan   mengenai  situasi di  Gifu  Sesudah Kitanosho,  terutama  Benteng  Gifu-lah  yang meneruskan serangan terhadap Hideyoshi, tapi setelah  kekalahan besar  yang diderita  marga Shibata, semangat juang Nobutaka dan para prajuritnya langsung mengerut. Selain itu di Benteng Nagahama terdapat sejumlah pengikut dari Gifu yang telah meninggalkan Nobutaka dan bergabung dengan  Hideyoshi. Pada akhirnya situasi jadi sedemikian buruk sehingga tinggal dua puluh tujuh orang yang tetap setia pada Nobutaka. Berhubung   Nobutaka  selama    ini   amat mengandalkan pihak Shibata, kehancuran mereka membuatnya bagai tanaman kehilangan akar. Selain pembantu-pembantu terdekatnya, semua anak buahnya telah membelot. Nobuo mengerahkan pasukannya dan mengepung benteng Nobutaka. Ia mengirim pesan yang menganjurkan agar saudaranya pergi ke Owari.

Nobutaka meninggalkan Benteng Gifu, menaiki perahu, dan mendarat di Utsumi di Owari. Salah satu pembantu Nobuo mendatangi Nobutaka dengan membawa perintah untuk melakukan seppuku dan karena merasa waktunya sudah tiba, Nobutaka dengan tenang menuliskan kata-kata perpisahan, lalu bunuh diri. Tak perlu dijelaskan bahwa Hideyoshi enggan menggunakan pasukannya sendiri untuk menyerang Nobutaka— yang mempunyai hubungan darah begitu dekat dengan Nobunaga—dan karena itu memanfaatkan Nobuo.

Bagaimanapun, tak perlu diragukan bahwa Nobuo dan Nobutaka sama-sama bukan orang yang menonjol. Kalau saja mereka mau bersatu sebagai saudara, atau seandainya salah satu dari mereka memiliki keberanian dan dikaruniai pandangan tajam yang dapat melihat pasang- surutnya zaman, mereka tak perlu mengalami nasib seperti itu. Dibandingkan Nobuo, yang memperlihatkan kebodohan yang polos, Nobutaka sedikit lebih berani. Tapi sesungguhnya ia pun tak lebih dari tukang gertak yang tidak mempunyai kemampuan. Pada hari ketujuh. Hideyoshi bertolak ke Azuchi. Ia menyempatkan diri mampir di Benteng Sakamoto pada hari kesebelas. Di Ise. Takigawa Kazumasu juga menyerah. Hideyoshi memberinya sebuah provinsi di Omi senilai lima ribu gantang. Kejahatan Kazumasu di masa lampau tidak diungkit-ungkit lagi.