--> -->

Taiko Bab 37 Peringatan Tengah Malam

Bab 37 Peringatan Tengah Malam

RAPAT akhirnya memutuskan bahwa provinsi pewaris Nobunaga, Samboshi, adalah tiga ratus ribu gantang di Omi. Hasegawa Tamba dan Maeda Geni ditetapkan sebagai pelindung junjungan muda itu, tapi mereka dibantu oleh Hideyoshi. Azuchi telah dimakan api, dan sampai benteng baru selesai dibangun, Samboshi akan berdiam di Benteng Gifu.

Kedua paman Samboshi, Nobuo dan Nobutaka bertindak sebagai walinya. Selain pasal-pasal ter- sebut, masih ada masalah struktur pemerintahan. Tanggung jawab untuk mengutus jendral-jendral ke Kyoto sebagai wakil marga Oda diserahkan pada Katsuie, Hideyoshi, Niwa, dan Shonyu.

Usul-usul tersebut segera diterima. Pada upacara penutupan, sumpah setia pada junjungan yang baru ditandatangani dan diucapkan di muka tempat persembahan untuk Nobunaga.

Hari ini hari ketiga Bulan Ketujuh. Upacara pertama untuk memperingati kematian Nobunaga seharusnya diselenggarakan pada hari sebelumnya. Seandainya rapat berjalan lancar, upacara itu mungkin dapat diadakan pada hari yang tepat, tapi akibat sikap Katsuie, malam pun berlalu dan upacara peringatan ditunda sampai keesokan harinya.

Sambil mengeringkan peluh yang membasahi tubuh dan berganti baju duka, para jendral me- nanti jam yang telah ditentukan untuk upacara peringatan di tempat persembahan benteng.

Kawanan nyamuk berkerumun di bawah atap, dan bulan muda tampak mengambang di langit. Dengan tenang para jendral melintasi pekarangan. Kembang teratai berwarna merah dan putih ter- gambar pada pintu geser tempat persembahan. Satu per satu mereka melangkah masuk dan duduk.

Hanya Hideyoshi yang tidak muncul. Para jendral membelalakkan mata, seakan-akan tak percaya. Tapi ketika memandang ke arah altar yang jauh di depan, mereka melihat Hideyoshi duduk tenang di bawah altar, sambil memangku Sam- boshi.

Semuanya bertanya-tanya, apa gerangan maksud Hideyoshi. Namun ketika mereka memikirkannya lebih jauh, mereka teringat bahwa berdasarkan keputusan rapatlah ia dijadikan pembina sang Junjungan Muda, disamping kedua walinya. De- ngan demikian, ia tak dapat dianggap bersikap lancang.

Dan, semata-mata karena tidak menemukan alasan untuk mencela Hideyoshi, Katsuie tampak teramat tidak senang.

"Harap menuju altar dalam urutan yang tepat," Katsuie menggeram pada Nobuo dan Nobutaka. Suaranya rendah, dan ia hampir meledak karena jengkel.

"Permisi," ujar Nobuo pada Nobutaka, lalu ber- diri.

Kini giliran Nobutaka mendongkol. Rupanya ia enggan dinomorduakan di hadapan para jendral, karena merasa hal tersebut akan menempatkannya dalam posisi lebih rendah di masa mendatang.

Nobuo menghadap lempeng peringatan ayah- nya, memejamkan mata, dan merapatkan tangan untuk berdoa. Setelah membakar dupa, ia sekali lagi berdoa di depan altar, lalu mundur.

Melihat gelagat bahwa Nobuo hendak langsung kembali ke tempat duduknya. Hideyoshi ber- deham, seakan-akan bermaksud mengingatkan Nobuo akan kehadiran Samboshi yang duduk di pangkuannya. Tanpa perlu berkata. "Junjunganmu yang baru ada di sini!" ia menarik perhatian Nobuo.

Nobuo tampak kaget, dan sambil tetap berlutut, ia cepat-cepat berpaling ke arah mereka. Pada dasarnya ia memang lemah, dan sikapnya menim- bulkan perasaan iba.

Sambil menatap Samboshi, Nobuo membung- kuk penuh hormat. Sesungguhnya ia malah ter- lampau sopan.

Bukan sang Junjungan Muda yang membalas dengan anggukan kepala, melainkan Hideyoshi. Samboshi anak manja yang nakal, tapi entah kenapa, di pangkuan Hideyoshi ia setenang boneka kecil.

Setelah Nobutaka berdiri, ia pun memanjatkan doa di hadapan arwah ayahnya. Tapi karena telah menyaksikan kejadian yang menimpa Nobuo dan tak ingin ditertawakan oleh para jendral lain, ia membungkuk dengan sikap pantas. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya.

Giliran berikut jatuh pada Shibata Katsuie. Ketika ia berlutut di muka tempat persembahan, tubuhnya yang besar hampir menutupi altar. Kembang teratai berwarna putih dan merah pada dinding-dinding penyekat serta cahaya lentera yang berkelap-kelip menyebabkan badannya seakan- akan terselubung api kemurkaan. Barangkali ia memberikan laporan panjang-lebar mengenai jalan- nya rapat kepada arwah Nobunaga, atau meng- ucapkan sumpah setia pada junjungannya yang baru. Tapi setelah menyalakan dupa, Katsuie duduk lama sambil berdoa dengan tangan saling menempel. Lalu, memilih mundur sekitar tujuh langkah, ia meluruskan punggung dan berpaling ke arah Samboshi.

Karena Nobuo dan Nobutaka telah memberi- kan penghormaian kepada Samboshi, Katsuie tak dapat mengabaikan kewajiban tersebut. Mungkin karena berpikir tak ada pilihan lain, ia menggigit bibir dan mcmbungkuk. Sekali lagi Hideyoshi yang mengangguk-angguk untuk menerima penghormatan yang diberikan pada Samboshi. Katsuie langsung melengos dan kembali ke tempat duduknya. Setelah itu ia duduk sambil merengut.

Niwa, Takigawa, Shonyu, Hachiya, Hosokawa, Gamo, Tsutsui, dan para jendral lain memberikan penghormatan. Kemudian mereka pindah ke ruang jamuan makan, dan atas undangan janda Nobutada, duduk untuk bersantap. Meja-meja disiapkan untuk lebih dari tempat puluh tamu. Cawan-cawan diedarkan dan lentera-lentera ber- kelap-kelip dalam embusan angin senja yang sejuk. Ketika mereka mulai berbincang-bincang santai untuk pertama kali dalam dua hari terakhir, masing-masing merasa agak mabuk.

Jamuan makan malam itu agak berbeda dari biasanya, karena diadakan seusai upacara per- ingatan, sehingga tak ada yang sampai benar-benar mabuk. Meski demikian, ketika pengaruh sake mulai terasa, para jendral berdiri untuk mengobrol dengan yang lain, dan tawa serta percakapan seru terdengar di sana-sini.

Kerumunan orang terlihat di hadapan Hide- yoshi. Dan kemudian satu orang lagi bergabung.

"Bolehkah aku minta cawan?" tanya Sakuma Genba.

Keperkasaan yang diperlihatkan Genba dalam pertempuran-pertempuran di wilayah Utara selalu dipuji-puji, dan konon tak ada musuh yang ber- jumpa dua kali dengannya. Kasih sayang Katsuie bagi orang itu luar biasa. Ia suka menyebutnya sebagai "Genba-ku", atau "keponakanku", dan dengan bangga ia membeberkan kecakapan militer yang dimiliki Genba.

Katsuie mempunyai banyak keponakan. tapi jika ia berkata "keponakanku'. yang dimaksudnya hanya Genba seorang.

Meski Genba baru berusia dua puluh delapan tahun, ia memimpin Benteng Uyama sebagai jendral marga Shibata, dan ia mempunyai provinsi dan pangkat yang boleh dibilang tak kalah di- bandingkan para jendral besar yang berkumpul di ruang jamuan makan.

"Hai, Hideyoshi," ujar Katsuie. "Berikan cawan pada keponakanku ini."

Hideyoshi menoleh, seakan-akan baru me- nyadari kehadiran Genba.

"Keponakan?" ia berkata sambil mengamati pemuda itu. "Ah, kau," Penampilan Genba memang sesuai bagi seorang pahlawan yang men- jadi buah bibir semua orang, dan tubuhnya yang kekar menyebabkan Hideyoshi tampak semakin pendek dan lemah.

Namun Genba tidak memiliki wajah penuh bekas cacar seperti pamannya. Ia berkulit putih tapi gelap, dan sepintas lalu alisnya menyerupai harimau, sementara tubuhnya bagaikan macan tutul.

Hideyoshi menyerahkan sebuah cawan pada Genba.

Tapi Genba menggelengkan kepala. "Kalau aku diberi cawan, aku minta yang besar itu."

Cawan yang dimaksudnya masih berisi sedikit

sake.

Tanpa pikir panjang Hideyoshi membuangnya dan berseru. "Mana pelayan?"

Mulut botol bersepuh emas menyentuh bibir cawan berwarna merah terang, dan meski isi botol itu segera tertuang habis, cawannya belum penuh. Seseorang lalu membawa botol berikut, dan cawan diisi sampai luber.

Si pahlawan muda yang tampan menyipitkan mata, menempelkan cawan ke bibir, dan meng- habiskan isinya dengan sekali tenggak. "Nah, bagai- mana dengan Tuan sendiri."

"Aku tidak mempunyai kemampuan seperti itu," ujar Hideyoshi sambil tersenyum.

Mendengar penolakan Hideyoshi, Genba men- desak.

"Mengapa Tuan tidak mau minum?" "Aku tidak kuat minum banyak." "Apa? Sedikit saja."

"Aku minum, tapi tidak banyak."

Genba tergelak. Kemudian ia berkata, cukup keras untuk didengar semua orang. "Desas-desus yang beredar ternyata benar. Tuan Hideyoshi memang pandai mencari alasan, dan dia orang yang rendah hati. Dulu sekali—lebih dari dua puluh tahun lalu—dia pesuruh yang bertugas menyapu kotoran kuda dan membawa sandal Yang Mulia Nobunaga. Sungguh mengagumkan bahwa dia belum melupakan masa itu."

Ia tertawa karena kelancangannya sendiri. Yang lain tentu saja terkesima. Segala percakapan men- dadak terhenti, dan semua orang memandang bolak-balik antara Hideyoshi, yang masih duduk di depan Genba, dan Katsuie.

Seketika semua orang melupakan cawan masing-masing. Hideyoshi hanya tersenyum ketika menatap Genba. Dengan kesabaran seorang laki- laki berusia empat puluh lima tahun, ia meman- dang pemuda berumur dua puluh delapan tahun di hadapannya. Perbedaan di antara mereka bukan sekadar perbedaan usia belaka. Perjalanan hidup Hideyoshi selama dua puluh delapan tahun pertama dan jalan yang ditempuh Genba sepan- jang hayatnya sangat berlainan, baik dari segi ling- kungan maupun pengalaman. Genba dapat dipan- dang sebagai anak kecil yang tak mengenal pen- deritaan dunia sesungguhnya. Oleh sebab itu ia di- kenal sombong dan berani. Dan rupanya ia ter- masuk orang yang merasa tak perlu bersikap waspada di suatu tempat yang lebih berbahaya di- bandingkan medan perang mana pun—sebuah ruangan tempat semua pemimpin saat itu ber- kumpul.

"Tapi, Hideyoshi, ada satu hal yang tak bisa ku- terima. Tunggu, dengar dulu. Hideyoshi. Kau punya telinga untuk mendengar?" Genba berseru- seru dengan lancang. Sikap kurang ajarnya bukan karena pengaruh sake semata-mata, melainkan lebih karena ada sesuatu yang mengganjal di hati- nya. Namun Hideyoshi menganggap ucapannya se- bagai ocehan orang mabuk, dan menanggapinya dengan tenang.

"Kau mabuk," katanya.

"Apa?!" Genba menggelengkan kepala dengan tegas dan menegakkan tubuh. "Ini bukan masalah sepele yang bisa ditimpakan pada sake yang ku- minum. Dengar. Di tempat persembahan tadi, ketika Yang Mulia Nobuo dan Yang Mulia Nobu- taka serta semua jendral lain datang untuk meng- hormati arwah Yang Mulia Nobunaga, bukankah kau duduk di kursi kehormatan sambil memangku Yang Mulia Samboshi dan memaksa mereka mem- bungkuk ke arahmu, satu demi satu?"

"Wah, wah," ujar Hideyoshi, tertawa.

"Apa yang kautertawakan? Apa yang kauanggap lucu, Hideyoshi? Aku yakin kau sengaja meman- faatkan Yang Mulia Samboshi agar kau, yang tak berarti apa-apa, bisa menerima penghormatan keluarga Oda dan para jendralnya. Ya, itu dia. Dan seandainya aku hadir, dengan senang hati aku akan mencopot kepalaku. Yang Mulia Katsuie dan orang-orang terpandang yang duduk di sini begitu pemurah, sehingga aku jadi tak sabar, dan..."

Saat itulah Kaisuie, yang duduk berjarak dua kursi dari Hideyoshi, mereguk isi cawannya sampai habis dan memandang berkeliling. "Genba, apa maksudmu bicara seperti ini mengenai orang lain? Tuan Hideyoshi, keponakanku tidak bermaksud jahat. Jadi jangan hiraukan dia," ia berkata sambil tertawa.

Hideyoshi tak bisa marah dan tak sanggup pula tertawa. Ia telah ditempatkan ke dalam posisi di mana ia hanya dapat memaksakan senyum tipis, tapi penampilannya memang cocok untuk situasi seperti itu.

"Tuan Katsuie, jangan ambil pusing. Tidak apa- apa." ujar Hideyoshi. Ia jelas-jelas berlagak mabuk.

"Jangan pura-pura, Monyet. Hei, Monyet!" Genba bersikap lebih congkak daripada biasanya. "'Monyet! Wah, kali ini lidahku tergelincir, tapi di pihak lain memang tidak mudah mengubah nama yang begitu umum digunakan selama dua puluh tahun. 'Monyet.' Itulah yang teringat olehku. Dulu sekali, dia pesuruh mirip monyet yang bekerja membanting tulang di Bcnteng Kiyosu. Saat itu pamanku sesekali bertugas jaga malam. Menurut cerita yang kudengar, suatu malam pamanku merasa jemu dan mengajak Monyet menemaninya. Pamanku lalu memberikan sedikit sake padanya. Setelah bosan minum-minum, pamanku akhirnya berbaring dan minta agar kakinya dipijat. Monyet yang tahu diri itu dengan senang hati menuruti permintaannya."

Semua orang yang hadir mendadak tak lagi merasakan pengaruh sake yang menyenangkan. Wajah mereka menjadi pucat, sementara mulut masing-masing terasa kering. Ini bukan situasi biasa. Bukan tak mungkin bahwa di balik dinding- dinding, di bayang-bayang pepohonan, serta di bawah lantai terdapat pedang, tombak, dan busur yang disembunyikan oleh orang-orang Shibata. Bukankah mereka terus berupaya memancing Hideyoshi agar bertindak sembrono? Sebuah perasaan ganjil, yang dialami oleh semua orang, mulai tumbuh dari perasaan tak percaya, dan perasaan itu terbawa oleh angin senja dan bayang- bayang lentera-lentera yang berkelap-kelip. Musim panas telah mencapai puncaknya, tapi semua orang mendadak merinding.

Hideyoshi menunggu sampai Genba selesai, lalu

tertawa terbahak-bahak.

"Ah, Tuan Keponakan, aku tak tahu dari mana kaudengar cerita itu, tapi kau membangkitkan kenangan indah. Dua puluh tahun silam, monyet tua ini dikenal pandai memijat, dan seluruh marga Oda sempat kuremas-remas. Bukan kaki Tuan Katsuie saja yang pernah merasakan pijatanku. Lantas, ketika aku diberi gula-gula sebagai imbalan, ah, betapa nikmat rasanya! Mengenang masa itu, aku jadi ingin mencicipi gula-gula itu sekali lagi." Hideyoshi kembali tertawa.

"Paman dengar itu?" Genba bertanya sambil ber- megah-megah. "Berikanlah sesuatu pada Hide- yoshi. Kalau Paman minta kaki Paman dipijat sekarang, siapa tahu dia mau melakukannya."

"Jangan bawa permainan ini terlampau jauh, Genba. Tuan Hideyoshi, dia hanya main-main."

"Tidak apa-apa. Sekarang pun aku masih suka memijat kaki orang."

"Dan siapa gerangan orang itu?" Genba bertanya sambil tersenyum mencemooh.

"Ibuku. Tahun ini usia beliau tujuh puluh tahun, dan memijat kakinya merupakan kese- nangan tersendiri bagiku. Namun, karena aku begitu lama berada di medan perang, belakangan ini aku tak sempat merasakan kesenangan itu. Baiklah, sekarang aku mohon diri dulu, tapi yang lain silakan teruskan acara ini."

Hideyoshi orang pertama yang meninggalkan jamuan makan. Ketika ia pergi dan menyusuri selasar utama, tak seorang pun berdiri untuk men- cegahnya. Justru sebaliknya, para pembesar lain merasa bahwa ia bertindak dengan arif dan semua- nya terbebas dari perasaan bahaya yang sempat meliputi mereka.

Dua pelayan tiba-tiba muncul dari ruangan di dekat pintu masuk, tempat mereka disuruh me- nunggu, lalu segera menyusulnya. Mereka pun merasakan suasana yang menguasai benteng selama dua hari terakhir. Tapi Hideyoshi tidak memperkenankan para pengikutnya memasuki benteng dalam jumlah besar, jadi pada waktu kedua pelayan itu melihat majikan mereka dalam keadaan aman, pikiran mereka pun langsung tenang.

Mereka sudah berada di luar dan sedang mengumpulkan para pembantu dan kuda ketika mereka mendengar sebuah suara memanggil dari belakang.

"Tuan Hideyoshi! Tuan Hideyoshi!"

Seseorang mencarinya di lapangan yang gelap dan terbuka. Bulan sabit tampak mengambang di langit. "Aku di sebelah sini."

Hideyoshi sudah duduk di atas kuda. Takigawa Kazumasu segera menghampirinya.

"Ada apa?" Hideyoshi bertanya. Ia menatap Takigawa, seperti seorang junjungan menatap pengikutnya.

Takigawa berkata, "Tuan pasti marah sekali. Tapi semuanya hanya akibat sake. Dan keponakan Tuan Katsuie masih muda, seperti Tuan lihat sendiri. Kuharap Tuan sudi memaafkannya," Kemudian ia menambahkan. "Ini sesuatu yang sudah dibicarakan sebelumnya, dan Tuan mung- kin sudah lupa, tapi pada hari keempat—besok— akan diadakan perayaan untuk mengumumkan suksesi Yang Mulia Samboshi, jadi jangan sampai Tuan tidak datang. Tuan Katsuie menekankan hal ini setelah Tuan meninggalkan jamuan makan."

"Begitukah? Hmm..." "Jagalah supaya Tuan hadir." "Aku mengerti."

"Dan sekali lagi, mengenai kejadian tadi. Ku- harap Tuan sudi melupakannya. Aku telah mem- beritahu Tuan Katsuie bahwa Tuan berjiwa besar, dan tentu tidak tersinggung oleh kelakar pemuda mabuk."

Kuda Hideyoshi sudah mulai berjalan. "Ayo!" ia berseru kepada para pelayan, dan nyaris menabrak Takigawa.

Penginapan Hideyoshi terletak di bagian barat kota, tempat ia bermalam itu terdiri atas kuil Zen yang kecil dan rumah milik keluarga kaya yang disewanya. Anak buahnya dan kuda-kuda tidur di kuil, sementara ia sendiri menempati satu lantai di dalam rumah.

Sebenarnya ia bisa dengan mudah ditampung oleh keluarga tersebut, tapi ia disertai sekitar tujuh ratus sampai delapan ratus pengikut. Namun jumlah itu tidak seberapa besar, sebab menurut desas-desus, marga Shibata membawa sekitar sepuluh ribu prajurit ke Kiyosu.

Begitu Hideyoshi kembali ke tempatnya meng- inap, ia mengeluh mengenai asap yang memenuhi rumah itu. Setelah memerintahkan agar jendela- jendela dibuka, ia segera membuka jubah kebesarannya dengan lambang bunga paulouwnia. Kemudian ia menanggalkan seluruh pakaiannya dan mengatakan ingin mandi.

Karena menyangka majikannya sedang gusar. dengan hati-hati pelayannya menuangkan seember air panas ke punggung Hideyoshi. Tapi Hideyoshi malah menguap ketika memberamkan diri di dalam bak. Kemudian, seakan-akan meregangkan tangan dan kaki, ia mendesah. "Ah, sekarang aku mulai santai. Kelambunya sudah dipasang?"

"Kelambu sudah kami siapkan, tuanku." jawab para pelayan yang memegang baju tidurnya.

"Bagus, bagus. Sebaiknya kalian semua harus tidur cepat. Dan beritahu para prajurit yang ber- tugas jaga." ujar Hideyoshi dari balik kelambu.

Pintu-pintu ditutup, tapi jendela-jendela tetap terbuka, agar angin dapat masuk. Cahaya bulan seakan-akan bergetar. Hideyoshi mulai mengantuk.

"Tuanku?" seseorang memanggil dari luar. "Ada apa? Kaukah itu, Mosuke?"

"Benar, tuanku. Kepala Biara Arima ada di sini.

Dia ingin bertemu empat mata dengan tuanku." "Apa? Arima?"

"Hamba telah memberitahunya bahwa tuanku sudah tidur, tapi dia terus mendesak."

Sejenak tidak terdengar apa-apa dari balik kelambu. Akhirnya Hideyoshi berkata. "Suruh dia masuk. Tapi sampaikan permintaan maaf karena aku tidak turun dari tempat tidur, dan katakan bahwa aku jatuh sakit di benteng dan sudah minum obat."

Mosuke terdengar menuruni tangga. Kemudian seseorang menaiki tangga, dan tak lama kemudian seorang laki-laki telah berlutut di lantai kayu, di depan tempat tidur Hideyoshi.

"Para pembantu Tuan memberitahuku bahwa Tuan sudah tidur, tapi..."

"Tuan Kepala Biara?"

"Ada hal penting yang perlu kusampaikan, jadi aku memberanikan diri datang malam-malam begini."

"Setelah mengikuti rapat marga selama dua hari. aku lelah jiwa raga. Tapi apa yang membawa Tuan ke sini di tengah malam buta?"

Kepala biara itu berkata pelan-pelan. "Tuan hendak menghadiri jamuan makan untuk Yang Mulia Samboshi di benteng besok?"

"Hmm, mungkin aku bisa datang kalau aku minum obat dulu. Rasanya aku hanya terkena panas yang terlampau kuat, lagi pula orang-orang tentu akan gusar sekiranya aku tidak hadir."

"Barangkali penyakit Tuan ini justru suatu berkah."

"Wah, mengapa Tuan berkata demikian?" "Beberapa jam lalu. Tuan meninggalkan jamuan

makan sebelum usai. Tak lama setelah itu, tinggal orang-orang Shibata dan sekutu-sekutu mereka yang masih berada di sana, dan tampaknya mereka diam-diam membahas sesuatu. Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi Meeda Geni juga curiga, dan akhirnya kami pun mencuri dengar."

Si kepala biara tiba-tiba terdiam, dan mengintip ke dalam kelambu, seakan-akan ingin memastikan Hideyoshi mendengarkannya.

Seekor kumbang berwarna biru muda mengerik di sudut kelambu. Hideyoshi masih berbaring seperti sebelumnya, memandang langit-langit.

"Silakan teruskan cerita Tuan."

"Kami tidak tahu persis rencana mereka, tapi kami yakin Tuan takkan dibiarkan hidup. Besok, pada waktu Tuan datang ke benteng, mereka hendak membawa Tuan ke sebuah ruangan, meng- hadapkan Tuan dengan daftar kesalahan Tuan, lalu memaksa Tuan melakukan seppuku, jika Tuan menolak, mereka bermaksud membunuh Tuan. Kecuali itu, mereka akan menempatkan prajurit- prajurit di dalam benteng, dan bahkan menguasai kota benteng."

"Hmm, ini cukup mencemaskan."

"Sebenarnya Geni sendiri ingin datang ke sini untuk memperingatkan Tuan, tapi kepergiannya dari benteng tentu akan menarik perhatian, jadi aku yang datang. Kalau Tuan sedang sakit sekarang, itu pasti suatu tanda dari para dewa. Mungkin ada baiknya kalau Tuan tidak meng- hadiri perayaan besok." "Entah apa yang harus kulakukan."

"Aku berhadap Tuan tidak datang. Jangan pergi ke sana."

"Jamuan itu diadakan untuk merayakan pelan- tikan Yang Mulia Samboshi, dan semuanya wajib hadir. Aku berterima kasih atas maksud baik Tuan. Terima kasih banyak."

Di balik kelambu, Hideyoshi menempelkan tangan dan berdoa ke arah Kepala Biara yang baru saja pergi.

Hideyoshi sangat ahli dalam hal tidur. Terlelap seketika, di mana pun seseorang berada, tampak- nya mudah, tapi sebenarnya kemampuan itu sukar tercapai.

Ia mengembangkan kemampuan misterius ini, yang begitu dekat dengan pencerahan, karena ter- desak keadaan, dan ia telah merangkumnya men- jadi semacam semboyan yang selalu ia ikuti, baik untuk mengurangi tekanan di medan perang maupun untuk menjaga kesehatannya sendiri.

Masa bodoh. Bagi Hideyoshi, ungkapan seder- hana ini merupakan jimat.

Sikap masa bodoh mungkin tak dipandang se- bagai sikap yang patut dibanggakan, tapi sikap itulah yang melandasi kemampuan tidur Hide- yoshi. Ketidaksabaran, angan-angan, kasih sayang, kebimbangan, urgensi—segala bentuk ikatan ter- putus seketika pada waktu ia memejamkan mata, dan ia tidur dengan pikiran sebersih kertas putih yang belum tercoret. Dan sebaliknya, pada saat terbangun, ia langsung sadar sepenuhnya.

Tapi sikap masa bodoh tidak hanya diguna- kannya pada waktu bertempur dengan cerdik atau saat segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Sepan- jang perjalanan hidupnya, ia telah melakukan banyak kesalahan, tapi tak sekali pun ia merenungi kegagalan-kegagalan atau pertempuran-pertem- puran yang berakhir dengan kekalahan. Pada kesempatan seperti itu, ia selalu teringat semboyan- nya: masa bodoh.

Kesungguh-sungguhan yang sering dibicarakan orang—ketetapan hati yang tak tergoyahkan. Ke- gigihan, atau konsentrasi pada satu hal bukanlah sesuatu yang istimewa bagi Hideyoshi, melainkan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Jadi, bagi Hideyoshi jauh lebih penting mencapai sikap masa bodoh yang memberi peluang padanya untuk melepaskan diri dari sifat-sifat itu—meski hanya sejenak—agar ia dapat menarik napas lega. Sebaliknya, dengan sendirinya ia menyerahkan masalah hidup dan mati pada konsep yang satu itu: masa bodoh.

Ia hanya berbaring sebentar. Satu jamkah ia ter- tidur?

Hideyoshi bangun. Ia menuruni tangga dan menuju kamar kecil. Seketika orang yang sedang bertugas jaga berlutut di lantai kayu sambil meme- gang lampion. Segera setelah itu, ketika ia keluar dari toilet, orang lain membawa mangkuk kecil berisi air, dan setelah mendekat, mengguyurkan airnya ke tangan Hideyoshi.

Hideyoshi mengeringkan tangan dan memper- hatikan posisi bulan di atas atap. Kemudian ia berpaling pada kedua pelayannya dan bertanya, "Gonbei ada di sini?"

Ketika orang yang ditanyai muncul, Hideyoshi mulai menuju tangga dan menoleh ke arah Gonbei sambil berjalan.

"Pergi ke kuil dan beritahu orang-orang bahwa kita akan berangkat. Susunan prajurit serta nama jalan-jalan yang harus dilewati sudah dicatat waktu kita meninggalkan benteng semalam, dan diserah- kan pada Asano Yahei, jadi mintalah petunjuk dari dia."

"Baik, tuanku."

"Tunggu dulu. Ada yang lupa kukatakan. Suruh Kumohachi menemuiku."

Suara langkah Gonbei terdengar menyusuri rumpun pohon di belakang rumah, lalu menuju ke arah kuil. Setelah ia pergi, Hideyoshi segera menge- nakan baju tempur dan keluar.

Penginapan Hideyoshi berada di dekat per- simpangan jalan Raya Ise dan Jalan Raya Mino. Ia berbelok ke pojok gudang dan berjalan ke arah persimpangan.

Kumohachi, yang baru saja menerima panggilan Hideyoshi, bergegas menyusulnya sambil ter- huyung-huyung. "Hamba siap menjalankan perin- tah!" Ia berputar dan berlutut di hadapan Hideyoshi.

Kumohachi prajurit berusia tujuh puluh lima tahun, tapi ia tak mudah dikalahkan oleh orang- orang yang lebih muda. Hideyoshi melihat ia datang mengenakan baju tempur.

"Wah, urusan ini tidak memerlukan baju tempur. Aku minta kau melakukan sesuatu di pagi hari. Aku ingin kau tinggal di sini."

"Di pagi hari? Maksud tuanku, di benteng?" "Benar. Kau segera paham, berkat pengalaman

dari masa pengabdianmu yang panjang. Kuminta kau menyampaikan pesan ke benteng bahwa aku jatuh sakit semalam, dan mendadak harus kembali ke Nagahama. Katakan juga aku sangat menyesal karena tak dapat menghadiri perayaan, tapi ber- harap semuanya berjalan lancar. Aku bisa mem- bayangkan Katsuie dan Takigawa akan termenung- menung untuk beberapa saat, jadi aku ingin kau menunggu di sana sambil berlagak pikun dan tuli. Jangan berikan tanggapan terhadap apa pun yang kaudengar, lalu tinggalkan tempat itu, seakan-akan tidak terjadi apa-apa."

"Hamba mengerti, tuanku."

Tubuh prajurit itu bungkuk seperti udang, tapi tombaknya tak pernah lepas dari tangan. Ia memberi hormat sebelum berdiri, lalu memutar tubuhnya, seakan-akan keberatan baju tempur, dan melangkah pergi.

Hampir semua orang di kuil telah berbaris di jalan di muka gerbang. Setiap korps, yang ditandai oleh panji masing-masing, dibagi-bagi menjadi beberapa kompi. Para komandan siaga di atas kuda, di depan unit-unit itu.

Api pada sumbu-sumbu tampak berkelap-kelip, namun tak satu obor pun dinyalakan.

Bulan di langit menyerupai sabit. Menyusuri pepohonan di tepi jalan, ketujuh ratus prajurit itu bergoyang-goyang dalam kegelapan, seperti ombak di tepi pantai.

"Hei! Yahei!" Hideyoshi berseru ketika mele- wati barisan prajurit dan perwiranya. Wajah orang sukar dikenali di bawah bayang-bayang pe- pohonan, dan tiba-tiba muncul laki-laki pendek dengan tongkat bambu. yang diikuti enam atau tujuh orang lain. Sebagian besar prajurit mungkin menyangka ia pemimpin sckelompok kuli barang, tapi ketika mereka menyadari bahwa ia Hideyoshi, mereka segera terdiam dan memundurkan kuda agar tidak menghalangi jalannya.

"Hamba di sini! Di sebelah sini!"

Asano Yahei berada di kaki tangga. Ia sedang memberikan petunjuk pada sekelompok orang. Ketika mendengar suara Hideyoshi, ia segera me- nyelesaikan penjelasannya dan bergegas meng- hampiri junjungannya itu.

"Kau sudah siap?" Hideyoshi bertanya tak sabar, hampir tidak memberi kesempatan padanya untuk berlutut. "Kalau semuanya sudah beres, berangkat- lah segera."

"Ya, tuanku, kami sudah siap."

Setelah mengambil panji komandan berlam- bang labu emas yang disandarkan di sudut gerbang, ia membawanya ke tengah-tengah barisan dan langsung menaiki kudanya.

Hideyoshi berangkat, disertai para pelayan pri- badinya dan sekitar tiga puluh penunggang kuda. Biasanya dalam kesempatan seperti ini sangkakala dibunyikan, tapi saat ini keadaan ridak memung- kinkan. Yahei telah menerima kipas komandan berwarna emas dari Hideyoshi, dan melambaikan- nya satu kali, dua kali, lalu untuk ketiga kali. Dengan aba-aba ini, pasukan berkekuatan tujuh ratus orang mulai bergerak.

Kepala barisan lalu berubah arah dan lewat di hadapan Hideyoshi. Semua komandan korps me- rupakan pengikut-pengikut kepercayaan. Hanya sedikit veteran berpengalaman yang terlihat, mung- kin karena sebagian besar ditinggalkan di benteng- benteng Hideyoshi di Nagahama, Himeji, dan tempat-tempat lain.

Tengah malam, para prajurit Hideyoshi ber- tolak dari Benteng Kiyosu.

Sepertinya mereka menyertai junjungan mere- ka. Setelah membelok ke Jalan Raya Mino, mereka mengawali perjalanan ke Nagahama. Hideyoshi sendiri berangkat segera setelah itu. Rombongan yang menyertainya hanya berjumlah tiga puluh atau empat puluh orang. Ia menempuh rute yang berbeda sama sekali, dan bergegas me- lewati jalan-jalan kecil di tempat tak seorang pun akan memergokinya. Menjelang fajar keesokan harinya, ia akhirnya tiba di Nagahama.

***

"Kita gagal, Genba." ujar Katsuie.

"Tidak, rencana kita sebenarnya sudah sempurna."

"Apa ada rencana yang sempurna? Entah di mana kita membuat kesalahan, dan karena itulah ikannya bisa lolos dari jaring."

"Hmm, aku sudah memperingatkan Paman. Jika Paman hendak bertindak, jangan bertindak setengah-setengah! Kalau saja kita menyerang tempat bermalam bajingan itu, kepala Hideyoshi tentu sudah berada di hadapan kita sekarang. Tapi Paman berkeras memilih jalan diam-diam. Seka- rang semua usaha kita sia-sia, karena Paman tidak mau mendengarkanku."

"Ah, kau masih hijau. Kau menyuruhku memakai rencana yang timpang, sedangkan rencana yang kususun lebih baik. Strategi terbaik adalah menunggu sampai Hideyoshi datang ke benteng, lalu memaksanya membelah perutnya sendiri. Tak ada yang lebih baik dari itu. Tapi berdasarkan laporan semalam. Hideyoshi tiba-tiba meninggalkan tempatnya menginap. Mula-mula kupikir kita memang sial, tapi kemudian aku berubah pikiran. Kalau si haram jadah itu mening- galkan Kiyosu malam-malam, itu justru suatu berkah dari para dewa. Berhubung dia pergi tanpa pemberitahuan sebelumnya, aku bisa melaporkan segala kejahatannya. Kau kusuruh menjebak dan membunuhnya dalam perjalanan, agar keadilan dapat ditegakkan."

"Sejak awal Paman telah membuat kesalahan." "Aku membuat kesalahan? Apa maksudmu?" "Pertama, Paman terlampau yakin bahwa Hide-

yoshi akan memudahkan usaha kita dengan datang ke benteng. Kemudian, walaupun Paman telah memerintahkan agar aku membawa beberapa prajurit untuk membunuhnya di perjalanan, Paman melakukan kesalahan kedua, yaitu lalai menyuruh orang-orang menjaga jalan-jalan kecil."

"Bodoh! Aku memberikan wewenang padamu dan menyuruh para jendral lain mengikuti segala perintahmu, karena aku percaya kau takkan me- lupakan hal sepele seperti itu. Berani-beraninya kau melemparkan kesalahan padaku, padahal kau yang menempatkan prajurit-prajurit kita di jalan utama saja, sehingga Hideyoshi bisa lolos! Akuilah bahwa kau masih kurang berpengalaman!"

"Baiklah, kali ini aku minta maaf atas kekhi- lafanku, tapi untuk selanjutnya. Paman, tolong jangan terlalu mengandalkan akal bulus. Orang yang hanyut oleh kelicikannya sendiri, suatu hari mungkin tenggelam di dalamnya."

"Apa maksudmu? Kaupikir aku terlalu banyak bersiasat?"

"Itu sudah menjadi kebiasaan Paman." "Hah, beraninya kau..."

"Bukan aku saja. Paman. Semua orang sepen- dapat. 'Hati-hati menghadapi Yang Mulia Katsuie. Kita tak pernah tahu apa rencananya.'"

Katsuie terdiam. Alisnya yang hitam tebal tampak berkerut-kerut.

Untuk waktu lama, hubungan antara Paman dan keponakan itu jauh lebih hangat daripada sekadar hubungan antara junjungan dan pengikut. Tapi keakraban berlebihan telah mengikis wibawa dan rasa hormat dalam hubungan mereka, sehing- ga hal-hal tersebut kini telah tiada. Pagi itu Katsuie hanya bisa merengut.

Perasaan tak senang yang meliputi dirinya di- timbulkan oleh berbagai sebab. Semalam suntuk ia tidak memejamkan mata. Setelah memberikan perintah pada Gemba untuk memburu Hideyoshi. Katsuie menunggu sampai fajar, menanti laporan yang dapat menghilangkan kesuraman di hatinya.

Namun ketika Genba kembali, ia tidak mem- bawa laporan yang ditunggu-tunggu oleh Katsuie.

"Ternyata hanya para pengikut Hideyoshi yang melewati Jalan Raya. Hideyoshi sendiri tidak tampak batang hidungnya. Kupikir sia-sia saja kami menyerang mereka, jadi aku kembali dengan tangan kosong, tanpa apa pun sebagai bukti usaha- ku."

Laporan itu, ditambah kelelahan Katsuie akibat tidak tidur, menyebabkan ia semakin patah semangat.

Lalu Genba pun menyalah-nyalahkannya, se- hingga tidak mengherankan bahwa Katsuie merasa murung pada pagi itu.

Tapi kemurungannya tak bisa dibiarkan ber- kelanjutan. Hari itu pelantikan Samboshi diraya- kan. Setelah makan pagi, Katsuie tidur sejenak, lalu mandi. Kemudian ia sekali lagi mengenakan pakaian kebesaran yang panas, serta tutup kepala.

Katsuie bukan orang yang mau memperlihatkan bahwa ia merasa murung. Hari ini langit tertutup awan dan udara bahkan lebih lembap daripada kemarin, tapi sikap Katsuie ketika menyusuri jalan menuju Benteng Kiyosu lebih gagah dibandingkan siapa pun di kota benteng, dan wajahnya ber- simbah peluh.

Orang-orang garang yang pada malam sebelum nya masih mengencangkan tali pengikat helm dan merayap di tengah rerumputan dan semak-semak dengan membawa tombak dan senapan untuk membunuh Hideyoshi, kini berkumpul dengan topi kebesaran dan pakaian upacara. Busur mereka tersimpan dalam kotak masing-masing dan tombak mereka disarungkan. Semuanya tampak seolah tak tahu apa-apa ketika bergabung dalam iring-iringan menuju benteng.

Tentu saja orang-orang yang hendak pergi ke benteng bukan anggota marga Shibata semata- mata. Ada pula orang-orang dari pihak Niwa, Takigawa, dan marga-marga lain. Yang kemarin masih hadir tapi kini tak terlihat lagi hanyalah mereka yang berada di bawah komando Hideyoshi. Takigawa Kazumasu memberitahu Katsuie bahwa Kumohachi telah menunggu di benteng

sejak pagi, sebagai utusan Hideyoshi.

"Dia bilang Hideyoshi tak bisa hadir hari ini karena sakit, dan Hideyoshi menyampaikan per- mintaan maaf kepada Yang Mulia Samboshi. Dia juga menyinggung bahwa dia ingin bertemu Tuan. Sudah agak lama dia menunggu."

Katsuie mengangguk dengan geram. Meski merasa gusar bahwa Hideyoshi pura-pura tidak tahu apa-apa, ia pun terpaksa berlagak tidak memahami duduk perkaranya. Ketika menerima Kumohachi, Katsuie mcngajukan pertanyaan demi pertanyaan dengan penuh curiga. Sakit apakah yang diderita Hideyoshi? Jika ia mendadak me- mutuskan untuk kembali ke Nagahama semalam, mengapa ia tidak memberitahu Katsuie? Seandai- nya diberitahu, Katsuie tentu akan mengunjungi- nya dan mengatur segala sesuatu. Tapi sepertinya daya pendengaran Kumohachi sudah amat menurun, dan ia hanya memahami setengah dari apa yang diucapkan Katsuie.

Apa pun yang dikatakan Katsuie, orang tua itu tampak tak paham dan terus mengulangi jawaban yang sama. Menyadari bahwa tatap muka ini hanya buang-buang waktu saja, dengan dongkol Katsuie menduga-duga alasan Hideyoshi mengirim prajurit tua yang pikun ini sebagai utusan resmi. Mengomel pun tak mempan terhadap orang tua itu. Sambil memendam emosi, Katsuie meng- ajukan satu pertanyaan lagi pada Kumohachi, untuk mengakhiri percakapan mereka.

"Utusan, berapa usiamu sekarang?" "Tepat... ya, benar sekali."

Aku menanyakan umurmu. Berapa usiamu sekarang?"

"Ya, Yang Mulia benar sekali." "Apa?"

Katsuie merasa dipermainkan. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Kumohachi, dan berteriak dengan suara cukup nyaring untuk memecahkan cermin.

"Berapa usiamu tahun ini?"

Kumohachi mengangguk-angguk, dan men- jawab dengan tenang.

"Ah, hamba mengerti. Yang Mulia menanyakan usia hamba. Sesungguhnya hamba belum melaku- kan sesuatu yang berarti, tapi tahun ini usia hamba tujuh puluh lima tahun." Katsuie tercengang.

Betapa konyol bahwa ia sampai naik pitam pada orang tua ini, padahal masih banyak yang harus dikerjakan, sehingga kemungkinan ia takkan sempat beristirahat sepanjang hari. Terdorong oleh kebenciannya terhadap Hideyoshi. Katsuie ber- ikrar bahwa sebentar lagi mereka takkan berada di bawah langit yang sama.

"Pulanglah. Ini sudah cukup."

Sambil memberi isyarat dengan dagu, ia menyuruh orang tua itu pergi, tapi pantat Kumohachi seperti direkatkan di lantai.

"Apa? Bagaimana kalau ada jawaban?" Kumo- hachi bertanya dan memandang Katsuie dengan sabar.

"Tidak ada! Tidak ada jawaban. Katakan saja pada Hideyoshi bahwa suatu hari kami akan berjumpa lagi."

Dengan ucapan terakhir ini, Katsuie berbalik dan menyusuri selasar sempit ke benteng dalam. Kumohachi pun mengayunkan langkah. Sambil berkacak pinggang, ia menoleh ke arah Katsuie. Dan sambil terkekeh-kekeh, ia akhirnya menuju gerbang benteng.

Upacara pelantikan Samboshi dilaksanakan hari itu, dan perayaan yang menyusul mengalah- kan perayaan pada malam sebelumnya. Tiga bangsal di dalam benteng dibuka untuk meng- umumkan pengangkatan junjungan yang baru, dan orang-orang pun datang berbondong-bondong. Topik pembicaraan utama di antara para tamu adalah sikap Hideyoshi yang dianggap menghina. Berpura-pura sakit hingga tidak menghadiri acara yang sedemikian penting benar-benar keterlaluan, dan ada saja yang berkomentar bahwa ketidak- setiaan dan ketidaktulusan Hideyoshi terlihat jelas sekarang.

Katsuie tahu bahwa celaan-celaan terhadap Hideyoshi dilontarkan oleh para pengikut Taki- gawa Kazumasu dan Sakuma Genba, namun ia tetap menikmati keyakinan bahwa keuntungan kini berada di pihaknya.

Setelah rapat besar, peringatan hari kematian Nobunaga, dan perayaan pelantikan, Kiyosu setiap hari diguyur hujan lebat.

Sejumlah pembesar kembali ke provinsi masing- masing, sehari sesudah perayaan itu. Tapi beberapa yang lain tertahan oleh Sungai Kiyosu yang meluap. Mereka yang tertinggal menunggu cuaca cerah, mungkin besok atau hari berikutnya, tapi sementara itu mereka tak dapat berbuat apa-apa selain duduk di tempat mereka menginap.

Namun bagi Katsuie masa penantian itu belum tentu sia-sia.

Berkali-kali ia dan Nobutaka saling mengun- jungi. Perlu diingat bahwa Oichi, istri Katsuie, merupakan adik Nobunaga, dan dengan demikian bibi Nobutaka. Kecuali itu, sesungguhnya Nobu- taka-lah yang membujuk Oichi untuk menikah lagi dan menjadi istri Katsuie. Sejak pernikahan itulah hubungan antara Katsuie dan Nobutaka menjadi akrab, melebihi hubungan antara saudara ipar semata-mata.

Takigawa Kazumasu pun mengikuti pertemuan- pertemuan itu, dan kehadirannya mempunyai arti khusus.

Pada hari kesepuluh bulan itu, Takigawa mengirim undangan untuk upacara minum teh kepada para pembesar yang masih berada di Kiyosu. Acara itu diadakan pagi hari.

Undangan itu berbunyi sebagai berikut:

Hujan yang melanda Kiyosu belakangan ini sudah mereda, dan kalian semua ingin segera kembali ke kampung halaman. Pepatah di kalangan prajurit mengatakan bahwa pertemuan mereka yang berikut diliputi ketidakpastian. Sambil mengenang mendiang junjungan kita, aku ingin menawarkan secawan teh tawar di tengah embun pagi.. Aku tahu kalian semua harus bergegas pulang setelah kunjungan panjang ini, tapi aku mengharapkan kehadiran kalian.

Hanya itu yang dikatakan, dan memang hanya itu yang dapat diharapkan. Tapi para warga Kiyosu dihantui kecemasan ketika melihat orang-orang yang datang dan pergi.

Ada apa sebenarnya? Rapat perangkah? Orang seperti Hachiya, Tsutsui, Kanamori, dan Kawajiri menghadiri acara minum teh pagi itu, sementara Nobutaka dan Katsuie mungkin merupakan tamu kehormatan. Tapi apakah pertemuan tersebut memang sekadar minum teh bersama, atau suatu pertemuan rahasia, hanya diketahui oleh sang pengundang dan para tamunya.

Pada sore hari, para jendral akhirnya kembali ke provinsi masing-masing. Pada malam hari keempat belas. Katsuie mengumumkan bahwa ia akan pulang ke Echizen, dan pada hari kelima belas ia meninggalkan Kiyosu.

Namun begitu ia menyeberangi Sungai Kiso dan memasuki Mino, Katsuie mendengar desas- desus bahwa pasukan Hideyoshi telah menutup semua jalan di pegunungan antara Tarui dan Fuwa, serta menghalangi perjalanan ke Echizen.

Katsuie baru saja memutuskan bahwa ia akan menyerang Hideyoshi, tapi sekarang situasi telah berbalik, dan ia bagaikan berjalan di atas lapisan es tipis. Untuk mencapai Echizen, Katsuie harus melewati Nagahama, dan lawannya sudah kembali ke sana. Apakah Hideyoshi akan membiarkannya lewat tanpa menyerangnya?

Ketika Katsuie bertolak dari Kiyosu, para jen- dralnya menyarankan ia menempuh jalan memu- tar melalui Ise, provinsi Takigawa Kazumasu. Namun jika ia menuruti saran mereka, dunia tentu akan menyangka ia takut terhadap Hide- yoshi—sebuah aib yang tak tertahankan oleh Katsuie. Tapi pada waktu mereka memasuki Mino, pertanyaannya tadi terus menghantui.

Laporan-laporan mengenai pergerakan pasukan di pegunungan memaksa Katsuie menghentikan barisan dan membentuk susunan tempur, sampai kebenaran laporan-laporan terscbut dapat diselidi- ki.

Kemudian terdengar kabar angin bahwa unit- unit di bawah komando Hideyoshi terlihat di daerah Fuwa; Katsuie dan para jendralnya yang duduk di atas kuda langsung merinding. Ketika mencoba membayangkan kekuatan dan strategi musuh yang menghadang, mereka pun diliputi perasaan suram.

Pasukan dihentikan secara mendadak di ha- dapan Sungai Ibi, sementara Katsuie dan para perwiranya berunding di tempat persembahan setempat. Harus maju atau mundurkah mereka? Satu strategi yang masuk akal adalah mundur sementara dan menguasai Kiyosu serta Samboshi. Kemudian mereka dapat mengumumkan segala kesalahan Hideyoshi, mempersatukan para pang- lima lain, lalu berangkat lagi dengan kekuatan yang lebih besar. Di pihak lain, sekarang pun mereka membawa pasukan besar, dan sebagai samurai, dengan senang hati mereka akan menerobos barisan lawan untuk meraih kemenangan cepat.

Ketika mengira-ngira hasil akhir dari masing- masing alternatif, mereka menyadari bahwa pilihan percuma akan menyebabkan perang ber- larut-larut, sementara pilihan kedua akan memberi kepastian seketika. Namun bukannya tak mungkin bahwa justru mereka sendiri yang akan menderita kekalahan.

Medan bergunung-gunung di sebelah utara Sekigahara memang menguntungkan orang untuk memasang jebakan. Kecuali itu, pasukan Hide- yoshi yang kembali ke Nagahama pasti bukan pa- sukan kecil yang baru bertolak dari Kiyosu. Dari Omi bagian selatan sampai ke daerah Fuwa dan Yoro, sejumlah besar orang dari benteng-benteng kecil, keluarga-keluarga pembesar provinsi, dan se- jumlah kediaman samurai menjalin ikatan dengan Hideyoshi. Hanya sedikit yang berhubungan dengan marga Shibata.

"Dari sudut mana pun masalah ini kupandang, rasanya tak ada strategi untuk menghadapi Hide- yoshi di sini. Dia pasti sengaja pulang cepat-cepat untuk menarik keuntungan seperti ini. Kurasa kita sebaiknya menghindari pertempuran yang diingin- kannya dalam kondisi sekarang," ujar Katsuie, mengulangi saran para jendralnya.

Namun Genba tertawa geram. "Tindakan itulah yang paling tepat jika Paman ingin menjadi bahan tertawaan, karena begitu jerih terhadap Hide- yoshi." Dalam rapat perang mana pun, saran untuk mundur merupakan saran lemah, sementara saran untuk maju dianggap lebih kuat. Pendapat Genba khususnya mempunyai pengaruh besar terhadap para anggota staf lapangan. Keberaniannya yang tiada tara, kedudukannya di dalam marga, serta sikap Katsuie terhadapnya, semua itu merupakan faktor yang dijadikan bahan pertimbangan.

"Lari ketika melihat musuh, tanpa melepaskan satu anak panah pun, pasti akan menghancurkan reputasi marga Shibata," salah seorang jendral berkata.

"Lain halnya kalau keputusan seperti ini diambil sebelum kita meninggalkan Kiyosu."

"Yang Mulia Genba benar. Kalau orang-orang mendengar kita sudah sampai di sini lalu mundur lagi, kita akan menjadi bahan tertawaan bagi generasi-generasi yang akan datang."

"Bagaimana kalau kita mundur setelah ben- trokan senjata pertama?"

"Mereka toh hanya anak buah si Monyet."

Semua prajurit muda mendukung Genba dengan menggebu-gebu. Satu-satunya orang yang tetap membisu adalah Menju Shosuke. "Bagai- mana menurutmu, Shosuke?"

Katsuie jarang menanyakan pendapat Shosuke. Belakangan ini Shosuke kurang disenangi Katsuie, karena itu ia lebih banyak diam. Kini ia menjawab dengan patuh. "Hamba sependapat dengan Genba."

Di tengah-tengah yang lain, yang semuanya ber- darah panas dan siap bertempur, Shosuke tampak sedingin air dan sepertinya kurang berani, meski masih muda. Tapi ia menjawab seakan-akan tak ada pilihan lain.

"Kalau Shosuke pun bisa bersikap begini, kita akan mengikuti saran Genba dan terus maju. Tapi kita perlu mengirim pengintai setelah menye- berangi sungai, dan tidak bertindak sembrono. Pasukan infanteri maju lebih dulu, lalu kesatuan tombak. Tempat para penembak di depan barisan belakang. Kalau musuh memang berusaha men- jebak kita, senjata api tak banyak gunanya di depan. Kalau musuh ada di sini dan para pengintai memberikan tanda, segera bunyikan genderang, tapi jangan perlihatkan kebingungan sedikit pun. Para komandan unit harus menunggu aba-aba dariku."

Setelah mendapat perintah, pasukan Katsuie melintasi Sungai Ibi. Ternyata tidak terjadi apa- apa. Ketika mereka mulai bergerak menuju Akasaka, tetap tak ada tanda-tanda kehadiran musuh.

Unit-unit pengintai sudah jauh di depan, dan sedang mendekati Desa Tarui. Di sini pun mereka tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Seorang laki-laki mendekat, ia tampak men- curigakan, lalu segera dihampiri dan ditahan oleh anggota unit pengintai. Ketika diancam dan di- mintai keterangan, orang itu langsung membuka mulut, namun mereka yang mengancamlah yang kecewa.

"Kalau kalian ingin tahu apakah aku melihat anak buah Yang Mulia Hideyoshi di jalan tadi, ya, aku memang melihat mereka. Pagi-pagi sekali, di sekitar Fuwa. Sekarang mereka sedang melewati Tarui."

"Berapa jumlah mereka?"

"Aku tidak tahu pasti, tapi tentunya ada be- berapa ratus orang."

"Beberapa ratus?"

Para pengintai saling pandang. Setelah melepas- kan orang itu, mereka segera melapor pada Katsuie.

Berita itu di luar dugaan. Pasukan musuh begitu kecil, sehingga Katsuie dan para jendralnya semakin waswas. Namun perintah untuk maju telah diberikan. Saat itulah tiba laporan bahwa utusan dari Hideyoshi sedang menuju ke arah mereka. Ketika orang itu akhirnya muncul, mereka meihat bahwa ia bukan prajurit berbaju tempur, melainkan pemuda tampan yang mengenakan mantel sutra dan kimono. Bahkan tali kekang kudanya pun dihiasi dengan mewah.

"Nama hamba Iki Hanshichiro," pemuda itu memperkenalkan diri, "pelayan pribadi Yang Mulia Hidekatsu. Hamba datang untuk menawarkan jasa sebagai pemandu bagi Yang Mulia Katsuie."

Hanshichiro melewati para pengintai yang ter- bengong-bengong. Sambil berseru-seru bingung, komandan mereka mengejar Hanshichiro, ia begitu terburu-buru, schingga nyaris terjatuh dari kuda.

Katsuie dan para perwira stafnya memandang pemuda itu dengan curiga. Mereka telah siap menghadapi pertempuran, dan semangat mereka pun berkobar-kobar. Kemudian, di tengah-tengah tombak dan sumbu senapan yang membara, pemuda tampan ini turun dari kuda dan mem- bungkuk sopan.

"Pelayan pribadi Yang Mulia Hidekatsu? Aku tak tahu apa artinya ini, tapi bawa dia ke sini. Kita bisa bicara dengannya," Katsuie memerintahkan.

Katsuie melangkah ke pinggir jalan dan berdiri di bawah naungan pohon. Setelah kursinya disiap- kan, ia berusaha menutup-nutupi ketegangan yang meliputi anak buahnya dan dirinya sendiri, lalu mempersilakan utusan Hideyoshi untuk duduk.

"Kau bawa pesan?"

"Yang Mulia tentu lelah setelah menempuh per- jalanan panjang dalam cuaca panas ini." Hanshi- chiro berkata dengan formal.

Anehnya, kata-katanya persis seperti sapaan di masa damai. Sambil mengambil sepucuk surat dari kotak yang tergantung pada bahunya, ia melanjut- kan, "Yang Mulia Hideyoshi menyampaikan salam." Kemudian ia menyerahkan surat itu pada Katsuie.

Katsuie menerimanya dengan curiga dan tidak segera membukanya. Sambil mengedip-ngedipkan mata, ia menatap Hanshichiro.

"Kaubilang kau pelayan pribadi Tuan Hide- katsu?"

"Benar, Yang Mulia."

"Bagaimana kabar Tuan Hidekatsu? Baik-baik sajakah dia?"

"Ya, Yang Mulia."

"Dia tentu sudah bertambah besar."

"Tahun ini usia beliau tujuh belas tahun, Yang Mulia."

"Wah, sudah sebesar itu? Waktu berlalu dengan cepat, bukan? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."

"Hari ini beliau mendapat perintah dari ayah beliau untuk datang ke Tarui guna memberikan sambutan."

"Apa?" Katsuie tergagap-gagap. Sebuah kerikil di bawah kaki kursinya remuk akibat berat badannya, yang sama besar dengan rasa kaget di hatinya. Sesungguhnya Hidekatsu putra Nobunaga, dan diangkat anak oleh Hideyoshi.

"Sambutan? Siapa yang hendak kausambut?" "Yang Mulia, tentu saja."

Hanshichiro menutup wajah dengan kipas dan tertawa. Kelopak mata dan mulut lawan bicaranya gemetar tak terkendali, sehingga ia tak sanggup menahan senyum.

"Aku? Dia datang untuk menyambut aku?" Katsuie terus bergumam.

Katsuie begitu tercengang, sampai-sampai surat di tangannya terlupakan olehnya. Berulang kali ia mengangguk tanpa sebab jelas. Ketika matanya mengikuti kata-kata yang tertulis, berbagai emosi melintas di wajahnya. Surat itu bukan dari Hide- katsu, melainkan tak pelak ditulis oleh Hideyoshi sendiri. Nadanya sangat jujur.

Jalan antara Omi bagian utara dan Echizen sudah sering dilalui Tuan, jadi kurasa Tuan takkan tersesat. Meski demikian, aku mengutus putra angkatku, Hidekatsu, sebagai pemandu jalan. Kini beredar kabar burung tak berdasar, yang sesungguhnya tak pantas mendapat perhatian Tuan, bahwa Nagahama merupakan tempat yang baik untuk menghalangi perjalanan Tuan. Untuk membantah laporan-laporan palsu tersebut, aku mengutus putra angkatku guna menyambut Tuan, dan Tuan boleh menahannya sebagai sandera, sampai Tuan melewati daerah ini dengan tenang, Sebenarnya aku bermaksud mengundang Tuan ke Nagahama, namun aku sakit sejak kembali dari Kiyosu....

Setelah mendengar ucapan utusan Hideyoshi dan membaca surat yang dikirimnya, mau tak mau Katsuie merenungkan ketakutannya sendiri. Ia sempat gemetar ketakutan ketika berusaha mengira-ngira apa yang mungkin tersimpan dalam hati Hideyoshi, dan kini ia merasa lega. Sudah lama ia dikenal sebagai ahli strategi yang lihai, dan ia dianggap begitu penuh intrik, sehingga setiap kali berbuat sesuatu, orang-orang langsung ber- komentar bahwa Katsuie sedang beraksi lagi. Namun pada saat seperti ini, Katsuie bahkan tidak berusaha menutup-nutupi perasaannya dengan berlagak tak acuh. Ini sebagian wataknya yang sangat dipahami almarhum Nobunaga. Nobunaga tahu betul akan keberanian Katsuie, kelihaiannya, dan kejujurannya. Karena ini pula Nobunaga memberikan tanggung jawab berat sebagai pang- lima tertinggi dalam operasi militer di wilayah Utara pada Katsuie, menempatkan sejumlah besar prajurit dan sebuah provinsi besar di bawah komandonya, dan menjadikannya andalan utama. Kini, saat Katsuie merenungkan junjungannya yang begitu memahami dirinya, namun tak lagi berada di dunia, ia merasa tak ada orang yang dapat dipercayainya.

Tapi sekarang perasaan Katsuie tiba-tiba ter- sentuh oleh surat Hideyoshi, dan segala prasangka yang dipendamnya berbalik seketika. Ia kini mengakui bahwa permusuhan di antara mereka semata-mata disebabkan oleh kecurigaan dan ketakutannya sendiri.

"Setelah junjungan kita tiada, Hideyoshi-lah orang yang patut mendapat kepercayaan kita," ujar Katsuie.

Malam itu ia asyik berbincang-bincang dengan Hidekatsu. Keesokan harinya ia melintasi Fuwa beserta pemuda itu dan memasuki Nagahama, sambil terus memeluk kesan baik yang baru diperolehnya.

Tapi di Nagahama, setelah ia dan para pengikut seniornya mengantar Hidekatsu sampai ke gerbang benteng, Katsuie sekali lagi dikejutkan ketika mengetahui bahwa Hideyoshi sudah beberapa lama tidak berada di Nagahama. Hideyoshi ternyata telah pergi ke Kyoto untuk menyelesaikan berbagai masalah negara.

"Lagi-lagi Hideyoshi mengelabuiku!" kata Katsuie, dan kedongkolannya segera bangkit kem- bali. Terburu-buru ia meneruskan perjalanan pulang.

***

Akhir Bulan Ketujuh telah tiba. Untuk memenuhi janji yang telah diberikannya, Hideyoshi menye- rahkan Benteng Nagahama berikut daerah sekitar- nya pada Katsuie, yang lalu meneruskannya kepada putra angkatnya, Katsutoyo.

Katsuie tetap belum tahu, mengapa Hideyoshi dalam rapat di Kiyosu bersikeras agar benteng itu diberikan pada Katsutoyo. Baik para peserta rapat maupun masyarakat umum tidak menaruh curiga pada syarat tersebut, bahkan tidak berusaha men- duga-duga maksud Hideyoshi .

Katsuie mempunyai satu putra angkat lagi, Katsutoshi, anak laki-laki yang pada tahun itu merayakan ulang tahun kelima belas. Tak sedikit anggota marga Shibata menyesalkan bahwa jika hubungan antara Katsuie dan Katsutoyo demikian dingin, masa depan marga bisa terancam.

"Katsutoyo selalu ragu-ragu," Katsuie mengeluh. "Tak pernah dia melakukan sesuatu dengan jelas dan tegas. Wataknya tidak cocok untuk menjadi putraku. Katsutoshi, sebaliknya, sama sekali tidak memiliki sifat buruk dalam dirinya. Dia benar- benar menganggapku ayahnya."

Tapi jika Katsuie lebih menyukai Katsutoshi dibandingkan Katsutoyo, keponakannya Genba bahkan lebih disayanginya. Kasih sayangnya ter- hadap Genba melampaui kasih sayang biasa bagi keponakan atau putra, dan ia cenderung memu- puk perasaan itu. Karenanya Katsuie terus meng- awasi kedua adik Genba, Yasumasa dan Katsu- masa, dan menempatkan keduanya di benteng- benteng strategis, meski mereka baru berusia dua puluhan.

Di tengah keakraban antara para anggota keluarga dan para pengikut, hanya Katsutoyo yang merasa tidak puas dengan ayah angkatnya dan kakak-adik Sakuma.

Suatu ketika, dalam perayaan Tahun Baru, pada waktu keluarga dan para pengikut Katsuie ber- datangan untuk mengucapkan selamat Tahun Baru, cawan sake pertama dibagikan oleh Katsuie. Dengan sendirinya Katsutoyo menyangka ia yang akan memperolehnya, dan ia telah maju beringsut- ingsut dengan penuh hormat.

"Cawan ini bukan untukmu, Katsutoyo, tapi untuk Genba," ujar Katsuie sambil menarik tangannya.

Kemudian diketahui bahwa masalah ini me- rupakan sumber ketidakpuasan bagi katsutoyo, dan cerita tersebut juga terdengar oleh mata-mata dari provinsi lain. Tentunya informasi seperti ini juga sampai ke telinga Hideyoshi.

Sebelum menyerahkan Nagahama pada Katsu- toyo, Hideyoshi perlu memindahkan keluarganya ke rumah baru mereka lebih dulu.

"Sebentar lagi kita akan ke Himeji. Musim dingin di sana tidak seberapa dingin, dan selalu ada persediaan ikan segar dari laut."

Dengan perintah ini, ibu dan istri Hideyoshi. beserta seluruh rumah tangga pindah ke benteng- nya di Himeji. Tapi Hideyoshi sendiri tidak ikut.

Waktu tak boleh terbuang sia-sia. Ia me- merintahkan agar benteng di Takaradera di dekat Kyoto direnovasi sepenuhnya. Benteng itu merupa- kan kubu pertahanan Mitsuhide pada waktu pertempuran Yamazaki, dan Hideyoshi mempu- nyai alasan tersendiri mengapa ia tidak menyuruh ibu dan istrinya tinggal di sini. Setiap dua hari ia pergi dari Benteng Takaradera ke ibu kota. Pada waktu kembali, ia mengawasi pembangunan; pada waktu pergi, ia menangani pemerintahan seluruh negeri.

Ia kini memikul tanggung jawab untuk meng- amankan Istana Kekaisaran, mengatur pemerin- tahan kota, dan mengawasi semua provinsi. Ber- dasarkan keputusan semula yang diambil dalam rapat Kiyosu, semua bidang pemerintahan di Kyoto akan ditangani bersama-sama oleh keempat pemegang kekuasaan—Katsuie, Niwa, Shonyu. dan Hideyoshi—dan sama sekali bukan oleh Hideyoshi sendiri. Tapi Katsuie berada jauh di Echizen, menjalankan manuver-manuver rahasia bersama Nobutaka dan yang lainnya di Gifu dan Ise; Niwa, walaupun berada dekat di Sakamoto, rupanya telah menyerahkan tanggung jawabnya pada Hide- yoshi ; dan Shonyu sudah menjelaskan bahwa ia, meski diberi jabatan, tak mampu menangani pe- merintahan dan kaum bangsawan, sehingga ia memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam kedua tugas itu.

Justru dalam bidang-bidang inilah Hideyoshi memiliki kelebihan. Bakatnya terutama bersifat administratif. Hideyoshi menyadari bahwa kemam- puannya yang paling menonjol bukanlah di medan perang. Tapi ia pun sadar bahwa jika seseorang dengan cita-cita tinggi dikalahkan di medan laga, urusan administratif takkan dapat mencapai ke- majuan berarti. Karena itu, ia selalu memper- taruhkan semuanya dalam suatu pertempuran, dan jika sudah mulai melancarkan operasi militer, ia akan menyelesaikannya sampai tuntas.

Sebagai imbalan atas segala jasanya, pihak Istana Kekaisaran memberitahukan bahwa ia akan di- angkat sebagai letnan jendral Pasukan Pengawal Istana. Hideyoshi menolaknya, dan berdalih bahwa ia tidak patut menerima kehormatan sebesar itu, namun pihak Istana berkeras, sehingga Hideyoshi akhirnya bersedia menerima pangkat yang lebih rendah.

Berapa banyak orang yang hanya bisa melihat sisi buruk dari kebaikan orang lain! Berapa banyak orang yang menjelek-jelekkan mereka yang bekerja dengan tulus!

Ini selalu benar, dan setiap perubahan besar senantiasa menimbulkan gosip dan desas-desus.

"Sekarang kesombongan Hideyoshi terungkap jelas. Para bawahannya pun berlagak penting."

"Mereka mengabaikan Yang Mulia Katsuie. Sikap mereka seakan-akan hanya Hideyoshi yang berjasa."

"Kalau melihat pengaruh yang diraihnya bela- kangan ini, sepertinya mereka berusaha menampil- kan Yang Mulia Hideyoshi sebagai penerus Yang Mulia Nobunaga."

Hideyoshi menjadi sasaran kritik yang bertubi- tubi. Namun, seperti biasa, identitas orang-orang yang mencelanya tak dapat dipastikan.

Hideyoshi bersikap tak peduli. Ia tak punya waktu untuk mendengarkan gosip. Di Bulan Keenam, Nobunaga wafat; pada pertengahan bulan itu, pertempuran meletus di Yamazaki; pada akhir bulan tersebut, Hideyoshi mundur dari Nagahama dan memindahkan keluarganya ke Himeji; dan di Bulan Kedelapan, ia memulai pembangunan Benteng Takaradera. Kini ia terus mondar-mandir antara Kyoto dan Yamazaki. Jika berada di Kyoto, pada pagi hari ia mengunjungi Istana Kekaisaran; pada sore hari ia meninjau kota, di malam hari ia menangani urusan pemerintahan, mengirim surat-surat balasan, dan menerima tamu; di tengah malam ia mempelajari surat-surat dari provinsi-provinsi jauh; dan pada waktu fajar ia mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut permohonan para bawahannya. Setiap hari ia me- macu kudanya, sementara masih mengunyah makanan yang terakhir disantapnya.

Ia sering mendatangi beberapa tempat tujuan secara berurutan—kediaman seorang bangsawan, pertemuan-pertemuan, peninjauan-peninjauan— dan belakangan ia berulang kali menuju bagian utara Kyoto. Di sanalah ia memprakarsai proyek pembangunan berskala raksasa. Di dalam pe- karangan Kuil Daitoku ia mulai membangun satu kuil lagi, yaitu Kuil Sokenin.

"Pembangunan harus selesai pada hari ketujuh Bulan Kesepuluh. Pada hari kedelapan semuanya sudah harus rapi, dan pada hari kesembilan persiapan upacara sudah harus rampung. Pastikan pada hari kesepuluh sudah tak ada yang perlu di- kerjakan."

Ucapan ini ditujukan pada Hikoemon dan saudara iparnya, Hidenaga. Dalam menangani proyek pembangunan apa pun, Hideyoshi tidak bersedia mengubah batas waktunya.

Upacara peringatan dilaksanakan di dalam tempat persembahan selebar seratus delapan puluh empat meter. Tirai berwarna cerah tampak berseri, ribuan lentera gemerlapan bagaikan bintang, dan asap dupa mengambang di sela panji-panji yang berkibar-kibar, membentuk awan ber-warna ungu di atas massa yang berduka cita.

Di antara para pendeta terdapat pemuka- pemuka dari kelima kuil Zen utama serta biksu- biksu dari kedelapan sekte Buddha. Orang-orang yang menghadiri upacara itu menyebutkan bahwa mereka seakan-akan melihat kelima ratus arhat dan ketiga ribu murid sang Buddha berkumpul di depan mata.

Seusai upacara pembacaan naskah-naskah kuno dan penaburan bunga di hadapan sang Buddha, para kepala biara Zen memberikan penghormatan. Akhirnya Kepala Biara Soken mengucapkan gatha perpisahan, dan dengan sekuat tenaga menyeru- kan. "Kwatz!" Sejenak suasana menjadi hening. Lalu, ketika musik khidmat mulai mengalun kembali, kembang-kembang seroja berguguran, dan satu per satu para hadirin membakar dupa di depan altar.

Namun di antara para peserta, setengah dari kerabat Oda yang seharusnya hadir tidak menam- pakkan batang hidung mereka. Samboshi tidak muncul, begitu pula Nobutaka, Katsuie, dan Takigawa.

Tapi barangkali yang paling tak terduga adalah maksud-maksud yang tersimpan dalam diri Toku- gawa Ieyasu. Setelah peristiwa Kuil Honno, ia berada dalam posisi unik. Bagaimana pikirannya, atau bagaimana matanya yang dingin memandang perkembangan terakhir, tak seorang pun dapat memastikannya.