--> -->

Taiko Bab 36 : Perang Kata-Kata

Bab 36 : Perang Kata-Kata

TAHUN itu Shibata Katsuie berusia lima puluh dua tahun. Sebagai panglima, ia telah turut serta dalam banyak pertempuran; sebagai laki-laki, ia telah menyaksikan banyak perubahan selama per- jalanan hidupnya. Ia berasal dari keluarga ter- pandang dan kariernya menonjol; ia membawahi pasukan yang kuat, dan dikaruniai tubuh kekar. Tak pelak lagi, ia orang terpilih. Ia sendiri pun beranggapan bahwa hal tersebut tak perlu diper- tanyakan. Pada hari keempat di Bulan Keenam, ia berkemah di Uozaki di Etchu. Begitu menerima kabar mengenai peristiwa Kuil Honno, ia berkata dalam hati. "Tindakanku yang berikut teramat penting, dan aku harus melakukannya dengan baik."

Karena itulah ia tidak segera bertindak. Demiki- an hati-hatinya ia. Namun bagaikan angin, pikiran- nya langsung melayang ke Kyoto.

Ia paling senior di antara para pengikut marga Oda, sekaligus penguasa militer provinsi-provinsi Utara. Kini, berbekal kebijakan dan kekuatan yang dimilikinya, ia mempertaruhkan seluruh kariernya pada satu langkah. Ia meninggalkan medan perang di Utara dan bergegas menuju ibu kota. Walau dikatakan bergegas, ia memerlukan beberapa hari sebelum meninggalkan Etchu dan menghabiskan beberapa hari lagi di bentengnya di Kitanosho di Echizen. Namun ia sendiri tidak menganggap gerakannya lambat. Begitu orang seperti Katsuie memulai misi sepenting ini, segala sesuatu harus dilakukan berdasarkan peraturan, dan itu menun- tut sikap hati-hati dan pemilihan waktu yang tepat. Kecepatan gerak pasukannya dipandang luar biasa oleh Katsuie, tapi pada waktu pasukan utamanya mencapai perbatasan antara Echizen dan Omi, hari kelima belas di bulan itu telah tiba. Baru menjelang siang keesokan harinya barisan belakang dari Kitanosho menyusulnya, dan seluruh pasukan mengistirahatkan kuda-kuda di jalan tembus pegunungan. Ketika menatap dataran yang membentang di bawah, mereka melihat awan

musim panas sudah tinggi di langit.

Dua belas hari telah berlalu sejak Katsuie mene- rima kabar mengenai kematian Nobunaga. Me- mang benar, Hideyoshi—yang tengah menggempur Klan Mori di wilayah Barat—mendapat laporan dari Kyoto satu hari lebih awal daripada Katsuie. Tapi pada hari keempat di bulan itu, Hideyoshi telah berdamai dengan pihak Mori, pada hari kelima ia telah berangkat, pada hari ketujuh ia tiba di Himeji, pada hari kesembilan ia berpaling ke arah Amagasaki, pada hari ketiga belas ia me- naklukkan Mitsuhide dalam pertempuran di Yamazaki, dan pada waktu Katsuie mencapai per- batasan Omi, Hideyoshi telah membersihkan ibu kota dari sisa-sisa pasukan musuh.

Meski benar bahwa jalan dari Echizen ke ibu koia lebih panjang dan lebih berat dibandingkan jalan dari Takamatsu, kesulitan yang menghadang Hideyoshi dan kesulitan yang dihadapi Katsuie tidaklah sebanding. Katsuie jelas-jelas mempunyai keuntungan. Ia jauh lebih mudah menggerakkan pasukan dan meninggalkan medan tempur diban- dingkan Hideyoshi. Kalau begitu, apa sebabnya ia demikian terlambat? Jawabannya sederhana: bagi Katsuie, sikap hati-hati dan ketaatan pada per- aturan lebih penting daripada kecepatan.

Pengalaman yang diperolehnya dengan turut serta dalam sekian banyak pertempuran, dan rasa percaya diri yang muncul sebagai akibatnya, telah membentuk perisai di sekeliling pemikiran dan kemampuannya mengambil keputusan. Sifat-sirat itu justru menjadi penghalang untuk bergerak cepat pada saat kepentingan negara terancam, dan juga menambah ketidakmampuan Katsuie untuk melampaui taktik dan strategi konvensional.

Desa pegunungan Yanagase dipenuhi kuda dan orang. Ibu kota terletak di sebelah barat. Jika ber- paling ke timur, pasukan Katsuie akan melewati Danau Yogo dan memasuki jalan menuju Benteng Nagahama. Katsuie mendirikan markas sementara- nya di pekarangan sebuah tempat persembahan kecil.

Katsuie teramat peka terhadap udara panas, dan sepertinya ia menderita akibat udara panas serta pendakian pada hari itu. Setelah menaruh kursi- nya di bawah naungan pepohonan, ia menyuruh memasang tirai dari pohon ke pohon, kemudian ia melepaskan baju tempur di baliknya. Ia lalu duduk membelakangi anak asuhnya, Katsutoshi, dan ber- kata, "Gosoklah punggungku. Katsutoshi."

Dua pelayan mengayunkan kipas-kipas besar. Setelah peluhnya mengering, tubuh Katsuie mulai gatal-gatal.

"Katsutoshi, lebih keras. Lebih keras," ia meng- gerutu.

Anak itu baru berusia lima belas tahun. Sungguh mengharukan melihat sikapnya yang demikian taat di tengah-tengah pergerakan militer. Kulit Katsuie terserang semacam ruam. Dan bukan Katsuie saja yang menderita pada musim panas itu. Di antara para prajurit yang mengena- kan baju tempur yang terbuat dari kulit dan logam, banyak yang mengalami gangguan pada kulit, yang mungkin dapat disebut ruam baju tempur, tapi

kasus Katsuie termasuk yang paling parah.

Ia berusaha meyakinkan diri bahwa kelemahan- nya dalam musim panas timbul karena selama tiga tahun terakhir ia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tugasnya di wilayah Utara. Tapi kenyataan yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa seiring bertambahnya usia, ia pun rupanya semakin melemah. Katsutoshi menggosok lebih keras, seperti yang diperintahkan padanya, sampai kulit Katsuie mulai berdarah.

Dua kurir tiba. Yang satu pengikut Hideyoshi, satu lagi pengikut Nobutaka. Mereka membawa surat dari majikan masing-masing, dan bersama- sama mereka menyerahkan surat-surat itu pada Katsuie.

Kedua surat itu ditulis sendiri oleh Hideyoshi dan Nobutaka, yang sama-sama berkemah di Kuil Mii di Otsu, dan keduanya ditulis pada hari keempat belas bulan itu. Surat Hideyoshi berbunyi sebagai berikut:

Hari ini aku memeriksa kepala sang jendral pem- berontak, Akechi Mitsuhide. Dengan demikian. upacara peringatan bagi mendiang junjungan kita berakhir sesuai harapan. Kami ingin mengumumkan hal ini secepat mungkin kepada para pengikut Oda yang berada di wilayah Utara, dan akan segera mengirimkan laporan. Wafatnya junjungan kita telah menimbulkan duka tak terkira dalam hati kita semua, tapi kepala sang jendral pemberontak telah dipajang dan pasukan pemberontak dibasmi sampai ke orang terakhir, semuanya dalam waktu sebelas hari. Kami tidak membanggakan hal ini, tapi kami percaya bahwa tindakan kami akan dapat menenteramkan arwah junjungan kita di akhirat, walau hanya sedikit.

Hideyoshi mengakhiri suratnya dengan ber- pesan bahwa hasil akhir tragedi ini seharusnya ditanggapi dengan sukacita, tapi Katsuie sama sekali tidak gembira. Justru sebaliknya, roman mukanya memperlihatkan emosi berlawanan, bah- kan sebelum ia selesai membaca. Namun dalam surat balasannya ia tentu saja menulis bahwa tak ada yang dapat membuatnya lebih bahagia dari- pada berita Hideyoshi. Ia juga menekankan bahwa pasukannya sendiri telah maju sampai ke Yanagase.

Sambil merenungkan laporan para kurir dan isi kedua surat itu, Katsuie bimbang mengenai lang- kahnya yang berikut. Ketika para kurir pergi, ia memilih sejumlah laki-laki muda dengan kaki kuat dan mengirim mereka dari Otsu ke Kyoto untuk menyelidiki keadaan sesungguhnya di sana. Ke- lihatannya ia berniat tetap berkemah di tempat ia berada, sampai ia mengetahui cerita keseluruhan- nya.

"Adakah alasan untuk menganggap laporan ini palsu?" Katsuie bertanya. Ia bahkan lebih terkejut dibandingkan ketika menerima laporan tragis mengenai Nobunaga beberapa hari sebelumnya.

Jika ada orang yang mendului Katsuie meng- hadapi pasukan Mitsuhide dalam suatu "pertem- puran peringatan", orang itu seharusnya Nobutaka atau Niwa Nagahide, atau bahkan salah satu peng- ikut Oda di ibu kota yang mungkin bergabung dengan Tokugawa Ieyasu, yang pada saat itu sedang berada di Sakai. Dan kalau begitu, kemenangan takkan tercapai dalam satu hari dan satu malam. Tak seorang pun dalam marga Oda berpangkat lebih tinggi dan Katsuie, dan ia tahu persis bahwa sekiranya ia berada di sana, semua orang akan memandangnya sebagai panglima tertinggi dalam pertempuran melawan pihak Akechi. Itu tak perlu dipertanyakan lagi.

Katsuie tak pernah menilai Hideyoshi berdasar- kan penampilannya. Malah sebaliknya, ia menge- nal Hideyoshi cukup baik, dan kemampuan Hideyoshi tak pernah ia anggap enteng. Meski demikian, Katsuie tak habis pikir bagaimana cara Hideyoshi berhasil meninggalkan wilayah Barat begitu cepat.

Keesokan harinya pertahanan di sekeliling per- kemahan Katsuie mulai diperkuat. Semua jalan dijaga ketat, dan orang-orang yang datang dari ibu kota dihentikan oleh para prajuritnya untuk di- periksa.

Setiap informasi segera diteruskan melalui ber- bagai perwira ke markas besar di perkemahan utama. Berdasarkan keterangan yang terkumpul, tak perlu diragukan lagi bahwa pasukan Akechi telah musnah dan bahwa Benteng Sakamoto telah jatuh. Menurut beberapa orang, api dan asap hitam terlihat mengepul di daerah Azuchi pada hari itu, dan seseorang melaporkan bahwa Yang Mulia Hideyoshi membawa sebagian pasukannya ke arah Nagahama.

Keesokan harinya pikiran Katsuie belum juga tenang. Ia masih mengalami kesulitan untuk menentukan langkah selanjutnya, dan terus di- hantui rasa malu. Ia telah membawa pasukannya dari Utara, dan ia tak sanggup berdiam diri sementara Hideyoshi mengambil tindakan.

Apa yang harus dilakukan? Seharusnya pengikut Oda yang paling seniorlah yang mengemban tanggung jawab untuk menyerang orang-orang Akechi, tapi tugas tersebut telah dirampungkan oleh Hideyoshi. Lantas, dalam keadaan sekarang, urusan manakah yang paling penting dan men- desak? Dan strategi apa yang akan digunakannya untuk menghadapi Hideyoshi yang kini berada di atas angin?

Tak henti-hentinya Katsuie memikirkan Hide- yoshi. Kecuali itu, pemikirannya dikuasai oleh rasa tak senang yang menjurus ke arah kebencian. Setelah mengumpulkan para penasihat seniornya, ia membahas masalah itu bersama mereka sampai larut malam. Keesokan harinya, kurir-kurir dan pembawa-pembawa pesan rahasia bergegas ke segala arah dari markas besar. Pada waktu yang sama, Katsuie menulis surat bernada sangat ber- sahabat kepada Tokugawa Ieyasu.

Meski pun telah menitipkan surat balasan khusus pada kurir Nobutaka, Katsuie kini menulis dan mengirim satu surat lagi kepada putra Nobu- naga itu. Ia memilih salah satu pengikut senior sebagai utusan, dan menugaskan dua pengikut lain untuk menyertai orang tersebut, mengisyaratkan pentingnya misi mereka.

Untuk menghubungi para pengikut dekat lain- nya, dua juru tulis mencatat kata-kata Katsuie, lalu menghabiskan setengah hari untuk menuliskan lebih dari dua puluh surat. Inti surat-surat itu adalah bahwa pada hari pertama Bulan Ketujuh. mereka semua akan bertemu di Kiyosu untuk membicarakan berbagai masalah penting, misalnya siapa yang akan menjadi penerus Nobunaga, dan bagaimana bekas wilayah Akechi akan dibagi- bagikan.

Sebagai pemrakarsa rapat tersebut, Katsuie dapat menegakkan wibawanya sebagai pengikut senior. Tentunya semua pihak mengakui bahwa tanpa kehadirannya, masalah-masalah penting seperti itu tak dapat diselesaikan. Dengan meng- andalkan pengaruh ini sebagai "kunci". Katsuie mengubah arah dan menuju Benteng Kiyosu di Owari.

Dalam perjalanan, dari apa yang didengarnya dan dari laporan para pengintai, Katsuie menge- tahui bahwa banyak pengikut Oda yang selamat telah menuju Kiyosu sebelum suratnya diantarkan. Samboshi, putra pewaris Nobunaga, Nobutada, sudah berada di sana, dan dengan sendirinya semua orang menganggap bahwa pusat marga Oda pun akan dipindahkan ke tempat itu. Namun Katsuie menduga Hideyoshi-lah yang telah ber- tindak lancang dengan mengatur segala sesuatu- nya.

Setiap hari pemandangan luar biasa berupa iring- iringan penunggang kuda yang menaiki bukit menuju gerbang benteng terlihat di Benteng Kiyosu.

Tanah yang menjadi titik tolak bagi Nobunaga dalam mewujudkan karya agungnya kini dijadikan tempat untuk membicarakan penyelesaian urusan marga.

Para pengikut Oda yang berkumpul di sana mengaku datang dalam rangka kunjungan kehor- matan kepada Samboshi. Tak seorang pun me- nyinggung bahwa ia menerima surat Katsuie, atau bahwa ia datang untuk memenuhi undangan Hideyoshi.

Tapi semua orang tahu bahwa pertemuan resmi akan segera dimulai di dalam benteng. Topik pertemuan itu pun bukan rahasia lagi. Hanya pengumuman mengenai hari dan waktunya yang masih perlu dipasang. Setelah para pengikut mengunjungi Samboshi, tak satu pun dan mereka akan kembali ke provinsi asalnya. Masing-masing membawa sejumlah prajurit yang menunggu di tempat mereka menginap di kota.

Jumlah penduduk kota benteng telah mem- bengkak, dan itu, bersama udara musim panas dan ukuran kota yang kecil, menciptakan suasana yang luar biasa kacau dan gaduh. Dengan kuda-kuda berlarian di jalanan, pelayan-pelayan yang terlibat perkelahian, dan kebakaran yang berulang kali terjadi, tak ada waktu untuk merasa jemu.

Menjelang akhir bulan, kedua putra Nobunaga yang selamat, Nobutaka dan Nobuo, dan para jendralnya, termasuk Katsuie dan Hideyoshi, tiba di Kiyosu.

Hanya Takigawa Kazumasu yang belum mun- cul. Karena ketidakhadirannya, ia menjadi sasaran kritik di jalan-jalan.

"Takigawa tidak keberatan menerima berbagai jabatan semasa hidup Yang Mulia Nobunaga, bahkan ditunjuk untuk menduduki posisi penting sebagai gubernur jendral Jepang bagian timur, jadi kenapa dia begitu terlambat dalam krisis ini? Sikap- nya sungguh memalukan."

Orang lain memberikan kritik yang bahkan lebih pedas lagi.

"Dia politikus yang lihai, dan dia bukanlah orang dengan kesetiaan tak tergoyahkan. Kemung- kinan inilah sebabnya dia belum bergerak."

Selentingan seperti itulah yang beredar di kedai- kedai minuman.

Tak lama setelah itu, kritik mengenai keter- lambatan Katsuie dalam menyerang Mitsuhide pun mulai terdengar di sana-sini. Tentu saja marga- marga yang sedang berada di Kiyosu juga men- dengarnya, dan Hideyoshi segera menerima laporan dari para pengikutnya.

"Begitukah? Jadi, itu juga sudah mulai? Kritik ini menyangkut Katsuie, jadi tak seorang pun akan menduga bahwa Katsuie sendiri yang menyebarkan desas-desus itu, tapi kelihatannya dia berusaha menanam benih-benih perpecahan di antara kita— pertarungan siasat sebelum rapat besar. Tapi tak apalah, biarkan saja mereka, Takigawa toh sudah berada di pihak Katsuie."

Sebelum rapat dimulai, semua orang sibuk mengira-ngira masa depan masing-masing, dan mencoba menerka apa yang ada dalam pikiran yang lain. Sementara itu, pertentangan dan per- setujuan yang tak terucapkan terus berjalan, sama halnya dengan penyebaran desas-desus yang tak berdasar. Dengan segala cara, orang-orang ber- usaha merangkul yang lain serta memecah-belah pihak lawan.

Hubungan antara Shibata Katsuie dan Nobu- taka cukup mencurigakan; yang satu memiliki pangkat tertinggi di antara para sesepuh marga, sementara yang satu lagi putra ketiga Nobunaga. Keakraban antara kedua orang ini melampaui urusan resmi dan tak dapat dirahasiakan.

Pendapat umum mengatakan bahwa Katsuie bermaksud mengabaikan putra kedua Nobunaga. Nobuo, dan bahwa ia mendukung Nobutaka sebagai pewaris berikut. Namun semua orang pun sependapat bahwa Nobuo pasti akan menentang Nobutaka.

Hampir tak ada yang meragukan bahwa Nobutaka atau Nobuo—keduanya adik Nobutada, yang gugur di Benteng Nijo pada waktu ayahnya wafat—yang akan terpilih sebagai penerus Nobu- naga. Tapi semua orang bingung, siapa di antara keduanya yang harus mereka dukung.

Nobuo dan Nobutaka; kedua-duanya lahir pada Bulan Pertama di tahun pertama Eiroku, dan masing-masing kini berusia dua puluh empat tahun. Walaupun terasa janggal bahwa mereka lahir di tahun yang sama, namun mereka tetap disebut kakak dan adik; penjelasannya sederhana saja: mereka lahir dari ibu yang berbeda. Meski Nobuo dianggap sebagai kakak dan Nobutaka sebagai adik. Nobutaka sebenarnya lahir dua puluh hari lebih awal daripada Nobuo. Karena itu, se- harusnya Nobutaka yang dipandang sebagai kakak, kalau saja ibunya tidak berasal dari marga kecil yang tidak terkenal. Itulah sebabnya ia disebut putra ketiga, sementara Nobuo dikukuhkan se- bagai putra kedua.

Karena itu pula, walaupun mereka disebut kakak-adik, mereka tidak memiliki keakraban yang lazimnya terjalin antara saudara kandung. Pem- bawaan Nobuo lesu dan negatif, dan satu-satunya sikap positif yang ditunjukkannya adalah per- lawanan terhadap Nobutaka, yang ia pandang sebagai adik yang harus tunduk padanya. Kalau keduanya dibandingkan secara adil, semua orang mengakui bahwa Nobutaka jauh lebih pantas menjadi penerus Nobunaga. Di medan tempur, ia jauh lebih menyerupai panglima daripada Nobuo; ia memperlihatkan ambisi besar dalam tutur katanya sehari-hari, dan yang paling penting, ia tidak malu-malu seperti saudaranya.

Jadi, tidaklah mengherankan kalau ia secara mendadak mulai menampilkan sikap agresif tak lama setelah pergi ke Yamazaki dan membuat kehadirannya terasa di perkemahan Hideyoshi. Kesediaannya untuk memikul tanggung jawab se- bagai pewaris Oda tercermin dalam ucapan dan sikapnya belakangan ini, dan seakan-akan ingin membuktikan ambisi yang dipendamnya, setelah pertempuran Yamazaki ia pun mulai membenci Hideyoshi.

Bagi Nobuo, yang panik ketika orang-orang Akechi menyerang, Nobutaka mempunyai kata- kata tajam.

"Jika hukuman dijatuhkan tanpa pandang bulu, dia pun harus mempertanggungjawabkan tin- dakannya. "Nobuo orang bodoh." Meski perasaan- perasaan tersebut tidak dibeberkan secara terbuka, Kiyosu diliputi suasana tegang, dan dapat dipasti- kan bahwa ada orang yang menyampaikan ucapan tersebut kepada Nobuo. Dalam situasi ini, berbagai persekongkolan tersembunyi membawa sifat-sifat manusia yang paling menjijikkan ke permukaan. Pembukaan rapat dijadwalkan pada hari kedua puluh tujuh bulan ini, tapi karena Takigawa Kazumasu terlambat, pembukaannya terus diun- dur-undur, sampai akhirnya, pada hari pertama Bulan Ketujuh, sebuah pengumuman diedarkan kepada semua pengikut penting yang berada di Kiyosu, "Besok, pada pertengahan kedua jam Naga, semuanya diharapkan hadir di benteng, untuk menentukan siapa yang akan menjadi penguasa negeri. Rapat besar ini akan dipimpin oleh Shibata Katsuie."

Nobutaka menaikkan gengsi Katsuie, sementara Katsuie menambah pengaruh Nobutaka, dan keduanya berkoar bahwa kehendak merekalah yang akan dituruti dalam rapat. Kecuali itu, ketika rapat tersebut akhirnya dibuka, ternyata banyak yang memang sudah cenderung berpihak pada mereka.

Hari itu semua dinding penyekat di Benteng Kiyosu diangkat, tak pelak karena matahari terus bersinar, sehingga hawa panas dan pengap takkan tertahankan seandainya penyekat-penyekat itu di- biarkan tetap terpasang. Tapi tindakan tersebut juga menunjukkan bahwa pihak penyelenggara berusaha mencegah pembicaraan rahasia. Hampir semua penjaga di dalam benteng merupakan pengikut Shibata Katsuie.

Pada Jam Ular, semua pembesar telah ber- kumpul di bangsal utara. Susunan tempat duduk mereka sebagai berikut: Katsuie dan Takigawa duduk di sebelah kanan, menghadap Hideyoshi dan Niwa di sebelah kiri. Pengikut-pengikut berpangkat lebih rendah seperti Shonyu, Hosokawa, Tsutsui, Gamo, dan Hachiya, ditempatkan di belakang mereka. Tempat paling depan, tempat bagi orang-orang dengan ke- dudukan paling tinggi, diberikan kepada Nobutaka dan Nobuo. Tapi dari samping, Hasegawa Tamba

terlihat memangku anak kecil. Itu, tentu saja, Samboshi.

Di sebelah mereka ada Maeda Geni, pengikut yang menerima perintah terakhir Nobutada ketika Nobutada menghadapi ajal dalam pertempuran di Benteng Nijo. Rupanya ia tidak menganggap sebagai kehormatan bahwa ia satu-satunya yang selamat dan kini hadir di sini.

Samboshi baru berusia dua tahun, dan ia pun tak bisa diam ketika dipangku walinya di hadapan para pembesar. Ia merentangkan tangan, men- dorong dagu Tamba, dan berdiri di pangkuannya.

Untuk membantu Tamba yang kebingungan, Geni berusaha menghibur anak itu dengan mem- bisikkan sesuatu dari belakang; langsung saja Samboshi meraih melewati bahu Tamba dan menarik telinga Geni. Geni diam saja, dan sekali lagi pengasuh anak yang berlutut di belakang mereka meletakkan lipatan kertas berbentuk burung bangau ke tangan Samboshi. Telinga Geni berhasil diselamatkan.

Pandangan para jendral tertuju pada anak itu. Beberapa dari mereka tersenyum samar, sementara yang lain menitikkan air mata secara sembunyi- sembunyi. Hanya Katsuie yang tampak merengut. Sepertinya ia hendak menggerutu mengenai "gangguan yang menyusahkan" itu.

Sebagai ketua rapat dan juru bicara yang serius dan penuh wibawa, ia seharusnya membuka acara dengan berbicara paling dulu. Namun kini perhaitan semua orang telah beralih, dan ia ke- hilangan kesempatan berbicara.

Akhirnya Katsuie membuka mulut dan berkata, "Tuan Hideyoshi."

Hideyoshi langsung menatap matanya

Katsuie memaksakan senyum. "Apa yang harus kita lakukan?" ia bertanya, seolah-olah membuka perundingan. "Yang Mulia Samboshi masih kanak- kanak tanpa dosa. Pembatasan gerak-geriknya pasti tidak menyenangkan baginya."

"Barangkali memang demikian," ujar Hideyoshi dengan nada datar. Katsuie mungkin merasa Hideyoshi bermaksud menjadi penengah, dan ia segera memperlihatkan sikap menentang. Antipati yang bercampur dengan usaha menegakkan wibawa membuatnya tampak kaku, dan kini ia memasang wajah yang mengungkapkan perasaan tak senang.

"Baiklah. Tuan Hideyoshi. Bukankah Tuan sendiri yang menuntut kehadiran Yang Mulia Samboshi? Aku sungguh tak mengerti, tapi..."

"Tuan tidak keliru. Aku menyarankannya ber- dasarkan keharusan."

"Keharusan?"

Katsuie merapikan kerut-kerut pada kimono- nya. Hari belum siang, sehingga udara panas belum seberapa mengganggu, tapi akibat pakaian- nya yang tebal dan gangguan kulit yang diderita- nya, ia rupanya merasa sangat tidak nyaman. Hal seperti itu mungkin dianggap sepele, namun tetap mempengaruhi nada suaranya dan menyebabkan roman mukanya berkesan geram.

Pandangan Katsuie mengenai Hideyoshi ber- ubah sejak peristiwa Yanagase. Sampai saat itu, ia menganggap Hideyoshi sebagai junior, dan ber- pendapat bahwa hubungan mereka tidak terlalu baik. Tapi pertempuran Yamazaki merupakan titik balik. Nama Hideyoshi kini terus disebut-sebut sehubungan dengan pekerjaan yang belum tuntas setelah kematian Nobunaga. Dan Katsuie tak sanggup menyaksikan hal itu sambil berpangku tangan. Perasaannya diperkuat oleh reaksinya ter- hadap apa yang dianggapnya kelancangan Hide- yoshi dalam memulai pertempuran peringatan bagi Nobunaga.

Dipandang setaraf dengan Hideyoshi sangat mengganggu pikiran Katsuie. Ia tidak terima bahwa perannya sebagai sesepuh marga Oda selama bertahun-tahun dikesampingkan karena sepak terjang Hideyoshi belakangan ini. Kenapa Shibata Katsuie harus menempati posisi lebih rendah dari seseorang yang kini mengenakan kimono dan tutup kepala dengan demikian bangga, tapi di zaman dulu di Kiyosu tak lebih dari pesuruh yang merangkak naik dari jabatan pem- bersih selokan dan tukang sapu kotoran kuda? Hari ini dada Katsuie terasa sesak karena emosi dan strategi yang tak terhitung jumlahnya.

"Aku tidak tahu bagaimana pandangan Tuan mcngenai rapat hari ini, tapi pada umumnya para pembesar yang berkumpul di sini menyadari bahwa marga Oda belum pernah bertemu seperti ini untuk membicarakan masalah yang teramat penting. Kenapa anak berumur dua tahun itu harus hadir?" Katsuie bertanya secara blak-blakan.

Baik ucapan maupun sikapnya menunjukkan bahwa ia mengharapkan dukungan, bukan saja dari Hideyoshi, melainkan juga dari semua pem- besar yang hadir. Ketika menyadari bahwa ia tak- kan memperoleh jawaban jelas dari Hideyoshi, ia melanjutkan dengan nada yang sama.

"Kita tidak punya waktu untuk bermain-main. Kenapa kita tidak minta agar Yang Mulia Samboshi menarik diri sebelum kita membuka rapat ini? Bagaimana, setujukah, Tuan Hideyoshi?" Penampilan Hideyoshi tidak istimewa, meski- pun ia mengenakan kimono resmi. Asal-usulnya tak dapat ditutup-tutupi kalau ia berada bersama orang lain.

Mengenai pangkatnya, semasa hidup Nobunaga ia diberi sejumlah gelar penting. Ia telah memper- lihatkan kekuatan sesungguhnya, baik dalam operasi militer di provinsi-provinsi Barat maupun ketika ia meraih kemenangan di Yamazaki.

Tapi jika seseorang berhadap-hadapan dengan Hideyoshi, tak aneh bila ia merasa ragu, apakah ia akan berpihak pada Hideyoshi dalam masa yang penuh bahaya ini, dan apakah ia bersedia mem- pertaruhkan nyawa untuknya.

Di antara para hadirin, ada yang sepintas lalu tampak cukup mengesankan. Takigawa Kazumasu, misalnya, mempunyai sikap gagah yang oleh semua orang diakui sangat pantas bagi jendral tersohor. Niwa Nagahide memiliki kesederhanaan yang anggun, dan dengan garis rambut yang mulai mundur, ia tampak seperti prajurit yang tegap. Gamo Ujisato paling muda di antara semuanya, tapi dengan asal-usulnya yang terhormat serta kemuliaan wataknya, ia memperlihatkan moralitas tinggi. Dari segi ketenangan dan martabat, Ikeda Shonyu bahkan lebih tidak mengesankan daripada Hideyoshi, namun matanya memancarkan sorot tertentu. Lalu ada Hosokawa Fujitaka yang tulus dan lembut, tapi memiliki kematangan yang mem- buatnya tak dapat diduga.

Jadi, walaupun penampilan Hideyoshi biasa- biasa saja, ia tampak lusuh jika berada di tengah orang-orang itu. Para pembesar yang berkumpul untuk mengadakan rapat di Kiyosu pada hari itu termasuk yang paling berpengaruh di antara orang- orang sezaman mereka. Maeda Inuchiyo dan Sassa Narimasa tidak hadir, karena masih bertempur di wilayah Utara. Dan meski ia merupakan kasus khusus, seandainya nama Tokugawa Ieyasu ditam- bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa orang-orang di Kiyosu itu merupakan para pemim- pin negeri. Dan Hideyoshi berada di antara mereka, tanpa terpengaruh oleh penampilannya.

Hideyoshi sendiri mengakui kebesaran rekan- rekannya, dan ia berhati-hati serta merendah. Kesombongan yang diperlihatkannya seusai per- tempuran Yamazaki kini tak tampak. Sejak awal ia bersikap sangat serius. Ketika menjawab ucapan Katsuie pun ia menahan diri dengan penuh hor- mat. Namun kini ia sepertinya tak lagi bisa mengelak dari penanyaan Katsuie.

"Ucapan Tuan masuk akal. Walau sesungguh- nya ada alasan untuk kehadiran Yang Mulia Samboshi dalam rapat ini, berhubung usianya yang begitu muda, dan karena rapat ini tentu akan ber- langsung lama. Yang Mulia pasti merasa terkung- kung. Jika Tuan menghendakinya, nanti kita minta agar Yang Mulia segera menarik diri." Setelah menanggapi tuntutan Katsuie dengan bahasa demikian halus, Hideyoshi menoleh dan minta kepada sang wali agar Samboshi meninggal- kan ruangan.

Tamba mengangguk, dan setelah mengangkat Samboshi dari pangkuan, menyerahkan anak itu kepada pengasuh di belakangnya. Samboshi tampaknya menyukai kerumunan laki-laki ber- pakaian lengkap, dan ia menampik tangan pengasuhnya dengan keras. Tapi perempuan itu tetap memegangnya, lalu berdiri untuk pergi. Samboshi tiba-tiba mengayun-ayunkan tangan dan kaki, lalu mulai menangis. Kemudian ia melempar- kan burung-burungan kertas ke tengah-tengah para pembesar yang sedang duduk. Mata semua orang mendadak berkaca-kaca.

Siang pun tiba. Ketegangan di bangsal utama seakan-akan dapat diiris dengan pisau.

Katsuie memberikan pidato pembukaan. "Ke- matian tragis Yang Mulia Nobunaga telah menim- bulkan kesedihan mendalam, tapi sekarang kita harus memilih penerus yang pantas untuk me- nyambung perjuangan beliau. Kita wajib memper- lihatkan pengabdian kita, meski beliau telah wafat. Inilah Jalan Samurai."

Katsuie melemparkan masalah suksesi kepada para hadirin. Berulang kali ia minta usulan dari mereka, namun tak seorang pun bersedia menjadi orang pertama yang angkat bicara untuk me- nyampaikan pandangannya. Kalaupun ada yang cukup gegabah untuk mengemukakan pemikiran- nya dalam kesempatan itu, seandainya orang yang didukungnya sebagai penerus marga Oda tidak ter- pilih dalam seleksi terakhir, dapat dipastikan nyawanya akan terancam.

Tak satu pun dari mereka mau membuka mulut secara sembrono, dan semuanya duduk sambil membisu. Katsuie pun memahami hal itu, dan menunggu dengan sabar. Barangkali ia telah men- duga perkembangan ini. Dengan nada penuh wibawa ia berkata, "Jika tak ada yang mempunyai pendapat tertentu, untuk sementara ini perkenan- kanlah aku mengemukakan pandanganku sebagai pengikut senior."

Seketika terlihat perubahan pada roman muka Nobutaka yang duduk di kursi kehormatan. Katsuie menatap Hideyoshi, yang sebaliknya me- mandang bolak-balik antara Takigawa dan Nobu- taka.

Gerak-gerik samar ini menimbulkan gelombang- gelombang halus yang memancar dari hati ke hati. Benteng Kiyosu diliputi ketegangan yang bisu, seakan-akan tak ada manusia di dalamnya.

Akhirnya Katsuie angkat bicara. "Dalam pan- danganku, Yang Mulia Nobutaka berada dalam usia tepat, dan memiliki kemampuan alami serta asal-usul yang cocok untuk menjadi penerus Yang Mulia Nobunaga. Yang Mulia Nobutaka-lah pilihanku."

Pernyataan tersebut disusun secara cermat, sehingga hampir merupakan pengukuhan. Katsuie berpendapat bahwa kendali telah berada di tangan- nya.

Tapi kemudian seseorang membantah. "Tidak, itu tidak benar." Orang itu ternyata Hideyoshi. "Dari segi silsilah," ia melanjutkan. "urutan yang tepat adalah putra tertua Nobunaga, Yang Mulia Nobutada, lalu putranya, Yang Mulia Samboshi. Provinsi kita mempunyai hukum, dan marga mem- punyai peraturan rumah ungga."

Wajah Katsuie langsung merah. "Ah, tunggu sebentar, Tuan Hideyoshi."

"Tidak," balas Hideyoshi. "Tuan akan berdalih bahwa Yang Mulia Samboshi masih kanak-kanak. Tapi jika seluruh marga—mulai dari Tuan sendiri, serta semua pengikut dan jendral—bertekad melin- dunginya, tak ada yang perlu dipermasalahkan. Kesetiaan kira seharusnya tidak dikaitkan dengan usia. Menurutku, jika suksesi dijalankan secara benar, Yang Mulia Samboshi-lah yang harus men- jadi penerus."

Terkejut, Katsuie mengeluarkan saputangan dari kimono dan mengusap keringat yang mem- basahi tengkuknya. Apa yang dituntut Hideyoshi memang merupakan hukum marga Oda. Ucapan- nya tak dapat dikesampingkan begitu saja sebagai tuntutan tak berdasar.

Orang lain yang memperlihatkan kekhawatiran pada wajahnya adalah Nobuo. Ia merupakan saingan utama Nobutaka dan telah secara resmi dikukuhkan sebagai kakak, sedangkan ibunya berasal dari keluarga terpandang. Tak perlu diragu- kan bahwa ia pun menyimpan ambisi terselubung untuk dipilih sebagai penerus ayahnya.

Karena harapannya telah dipupuskan, biarpun hanya secara tak langsung, ia segera menunjukkan wataknya yang asli. Ia tampak seolah-olah tak tahan berada di dalam bangsal. Nobutaka, sebaliknya, menatap Hideyoshi sambil mendelik. Katsuie tak sanggup berkata apa-apa, dan hanya bergumam tak jelas. Orang-orang lain pun tidak menyatakan setuju maupun keberatan.

Katsuie telah memperlihatkan maksud sesung- guhnya, dan ucapan Hideyoshi pun tak kalah terus terang. Pendapat kedua orang itu saling ber- lawanan dan telah dikemukakan sedemikian jelas, sehingga semua orang terpaksa berpikir dua kali sebelum berpihak pada salah satu. Keheningan menyelubungi para hadirin, bagaikan kerak tebal.

Berkali-kali Katsuie mengajak rekan-rekannya untuk mengemukakan pandangan masing-masing, dan setiap kali ia membuka mulut, Takigawa mcngangguk-angguk. Namun rupanya masih sukar untuk menebak isi hati yang lainnya.

Sekali lagi Hideyoshi angkat bicara. "Seandainya istri Yang Mulia Nobutada baru mengandung sekarang, dan kita harus menunggu sampai tali pusar dipotong untuk mengetahui apakah anaknya laki-laki atau perempuan, rapat seperti ini memang diperlukan. Tapi kita sudah mempunyai penerus yang cocok, jadi apa lagi yang perlu dipersoalkan atau dibicarakan? Kupikir kira harus segera memu- tuskan untuk menunjuk Yang Mulia Samboshi."

Ia tetap bertahan pada posisinya, bahkan tanpa melirik wajah para pembesar lainnya. Ucapannya terutama ditujukan kepada Katsuie.

Meskipun pandangan para jendral lain tidak dikemukakan secara terbuka, mereka tampak ter- gerak oleh pendapat Hideyoshi, dan sepertinya dalam hati mereka setuju dengannya. Sebelum per- temuan dibuka, mereka sempat melihat putra Nobutada yang tak berdaya, dan mereka semua mempunyai anak-anak dalam rumah tangga masing-masing. Mereka samurai, dan walaupun mereka hidup pada hari ini, hari esok tetap me- rupakan tanda tanya. Ketika memandang sosok Samboshi yang mengibakan hati, mau tak mau perasaan mereka pun tersentuh.

Perasaan itu didukung oleh alasan yang mulia dan kuat. Meskipun para jendral terus membisu, dalam hati mereka terpengaruh oleh tuntutan Hideyoshi.

Scbaliknya, biarpun sampai batas tertentu alasan Katsuie tampak masuk akal, sesungguhnya dasarnya lemah. Alasan itu berpangkal pada suatu kebijaksanaan yang mengabaikan status Nobuo. Tidaklah sukar memperkirakan bahwa Nobuo akan mundur untuk mendukung Samboshi, bukannya Nobutaka.

Katsuie berusaha keras menemukan dalih yang dapat digunakannya melawan Hideyoshi. Sejak semula Katsuie sudah yakin bahwa Hideyoshi tak- kan begitu saja menerima usulannya dalam per- temuan hari ini, tapi ia tak menyangka betapa gigihnya orang itu dalam memberikan dukungan kepada Samboshi. Ia pun tidak menduga bahwa begitu banyak jendral akan cenderung mendukung anak itu.

"Hmm, baiklah. Sepintas lalu ucapan Tuan memang logis, tapi ada perbedaan besar antara mengurus junjungan berusia dua tahun dan mem- beri hormat pada seseorang yang cukup usia dan memiliki kemampuan militer. Jangan lupa, kita, para pengikut yang masih tersisa, wajib memikul tanggung jawab untuk menegakkan pemerintahan dan mengamankan kebijaksanaan jangka panjang di masa mendatang. Selain itu masih ada berbagai masalah dengan marga Mori dan Uesugi. Apa jadi- nya kalau kita memilih junjungan yang masih kanak-kanak? Perjuangan bekas junjungan kita bisa terhenti di tengah jalan, dan wilayah marga Oda bahkan mungkin berkurang. Tidak, jika kita memilih sikap bertahan, musuh-musuh di keempat sisi kita tentu akan merasa kesempatan mereka telah tiba, dan mereka pasti akan menyerang. Kemudian seluruh negeri akan kembali dilanda kekacauan. Tidak, aku menganggap gagasan Tuan terlalu berbahaya. Bagaimana pendapat yang lain?"

Sambil memandang orang-orang yang duduk di bangsal utama, matanya mencari-cari siapa yang mungkin mendukungnya. Namun ia bukan saja tidak menemukan tanggapan tegas, tapi tiba-tiba matanya beradu dengan tatapan orang lain.

"Katsuie."

Seseorang memanggil namanya dengan nada menentang yang begitu kental, sehingga terasa bagai tikaman dari samping.

"Ah, Nagahide, ada apa?" Katsuie langsung membalas dengan muak, tanpa berpikir lebih dulu.

"Aku sudah mendengarkan uraianmu yang penuh kebijakan, tapi mau tak mau aku harus membenarkan alasan yang dikemukakan Hide- yoshi. Aku sepenuhnya setuju dengan usul Hide- yoshi."

Niwa berkedudukan sebagai sesepuh. Setelah memecahkan keheningan dan menunjukkan bahwa ia berpihak pada Hideyoshi, Katsuie dan semua hadirin lain mendadak gelisah.

"Kenapa kau berkata demikian, Niwa?"

Niwa telah mengenal Katsuie selama bertahun- tahun, dan mengenalnya dengan baik. Karena itu ia berbicara dengan nada menenangkan, "Jangan gusar, Katsuie." Sambil memandang Katsuie dengan ekspresi ramah, ia melanjutkan, "Bagai- manapun, bukankah Hideyoshi yang paling pandai menyenangkan hati junjungan kita? Dan ketika Yang Mulia Nobunaga menemui ajal sebelum waktunya, Hideyoshi-lah yang kembali dari wilayah Barat untuk menyerang Mitsuhide yang tak ber- moral itu."

Katsuie meringis. Tapi ia tak sudi mengaku kalah, dan pendiriannya tercermin dalam sikap tubuhnya.

Niwa Nagahide kembali berkata. "Pada waktu itu, kau sibuk dengan operasi militer di wilayah Utara. Kalaupun pasukan yang berada di bawah komandomu tidak siap, seandainya kau bergegas ke ibu kota setelah menerima kabar mengenai kematian Yang Mulia Nobunaga, kau tentu mampu menghancurkan orang-orang Akechi— bagaimanapun, statusmu jauh lebih tinggi diban- dingkan Hideyoshi. Tapi karena kelalaianmu, kau terlambat, dan itu patut disesalkan."

Semua yang hadir berpendapat sama, dan ucapan Niwa mengungkapkan perasaan mereka yang paling dalam. Kelalaian itulah titik lemah Katsuie. Keterlambatan yang menyebabkan ia tidak ikut ambil bagian dalam pertempuran untuk mem- peringati mendiang junjungan mereka tak dapat dimaafkan. Setelah mengungkapkan hal tersebut, Niwa memberikan dukungan pada Hideyoshi dengan menyebut usulannya sebagai adil dan pantas. Setelah Niwa selesai berbicara, suasana di bangsal utama terasa muram.

Seakan-akan hendak membantu Katsuie, Taki- gawa segera memanfaatkan kesempatan itu untuk berbisik-bisik pada orang di sebelahnya, dan dalam sekejap seluruh ruangan dipenuhi suara-suara serupa.

Tampaknya kesepakatan semakin sukar ter- capai. Ini mungkin titik balik bagi marga Oda. Di permukaan, tak ada apa-apa selain kegaduhan yang ditimbulkan oleh suara-suara para hadirin, tapi di baliknya terselip kecemasan mengenai hasil kon- frontasi antara Katsuie dan Hideyoshi.

Di tengah suasana menyesakkan ini, seorang ahli seni minum teh masuk dan memberi tahu Katsuie bahwa hari telah melewati siang. Sambil mengangguk, Katsuie lalu menyuruh orang itu membawa sesuatu untuk menyeka keringat dari tubuhnya. Ketika salah satu pembantunya menye- rahkan kain puiih yang lembap, ia segera meraih- nya dengan tangannya yang besar dan menyeka keringat dari tengkuk.

Pada saat itulah Hideyoshi tiba-tiba memegang perutnya. Sambil meringis dan mengerutkan alis, ia berpaling pada Katsuie dan berkata, "Aku mohon diri sejenak, Tuan Katsuie. Perutku men- dadak sakit."

Sekonyong-konyong ia berdiri dan meninggal- kan ruang pertemuan. "Ampun, sakitnya." ia mengeluh keras-keras, sehingga orang-orang di sekitarnya menjadi bingung.

Hideyoshi tampak amat tidak sehat ketika merebahkan diri di suatu ruangan terpisah. Namun sepertinya ia masih sanggup menguasai diri. Ia sendiri mengatur bantal agar dapat meng- hadap embusan angin dan pekarangan, mem- belakangi yang lain, dan membuka kerah yang basah karena keringat.

Baik dokter maupun para pembantu segera dipanggil. Pengikui-pengikut Hideyoshi pun ber- datangan satu per satu, untuk mengetahui keadaannya.

Tapi Hideyoshi menoleh pun tidak. Sambil tetap membelakangi mereka, ia menggerakkan tangan, seakan-akan mengusir lalat.

"Ini sudah biasa. Biarkan aku sendiri, dan aku akan segera membaik."

Para pembantu cepat-cepat menyiapkan ramuan berbau manis untuk Hideyoshi, dan ia meng- habiskannya dengan sekali tenggak. Kemudian ia kembali berbaring dan sepertinya tertidur, sehing- ga para pembantu dan samurai meninggalkan ruangan dan menunggu di ruang sebelah.

Ruang rapat berjarak agak jauh, jadi Hideyoshi tidak mengetahui perkembangan yang terjadi setelah ia mohon diri. Ia pergi pada waktu para pembantu berulang kali mengumumkan bahwa siang telah tiba, sehingga ada kemungkinan para jendral memanfaatkan kepergiannya dengan me- nangguhkan rapat untuk makan siang.

Sekitar dua jam berlalu. Selama itu matahari sore bersinar tanpa ampun. Benteng diliputi ke- damaian, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Niwa memasuki ruangan dan bertanya, "Bagai- mana keadaanmu, Hideyoshi? Perutmu sudah lebih tenang?"

Hideyoshi berbalik dan menopangkan badan pada satu siku. Melihat wajah Niwa, ia langsung kembali sadar dan duduk tegak. "Astaga, maafkan aku!"

"Katsuie minta aku menjemputmu." "Bagaimana pertemuannya?"

"Kita tidak bisa melanjutkan selama kau belum hadir. Katsuie memutuskan bahwa kita akan mulai lagi setelah kau kembali."

"Aku sudah mengungkapkan segenap isi hati- ku."

"Setelah beristirahat satu jam, sikap para pengikut tampaknya berubah. Katsuie pun pikir- pikir lagi."

"Mari kita ke sana."

Hideyoshi berdiri. Niwa tersenyum, tapi Hide- yoshi sudah melangkah keluar dengan wajah serius.

Katsuie menyambutnya dengan tatapan tajam, sementara orang-orang yang berkumpul di sana kelihatan lega. Suasana ruang rapat telah berubah. Secara tegas Katsuie menyatakan bahwa ia bersedia mengalah, dan menerima usul Hideyoshi. Semua- nya telah sepakat bahwa Samboshi akan dikukuh- kan sebagai pewaris Nobunaga.

Seiring perubahan pendirian Katsuie, semua awan mendung yang semula menyelubungi ruang rapat terhapus seketika. Suasana damai mulai bangkit.

"Semuanya setuju bahwa Yang Mulia Samboshi dipandang sebagai pemimpin marga Oda, dan aku tidak keberatan." Katsuie mengulangi. Menyadari bahwa pendapatnya sendiri ditolak oleh rekan- rekannya. Katsuie segera menarik komentar- komentar sebelumnya, tapi kekecewaannya nyaris tak tertahankan.

Namun ada satu harapan yang masih digeng- gamnya.

Harapan itu berkaitan dengan masalah berikut yang akan dibahas dalam rapat: nasib bekas wilayah kekuasaan Akechi—atau, dengan kata lain, masalah pembagian wilayah tersebut di antara para pengikut Oda yang selamat.

Masalah yang secara langsung menyangkut kepentingan semua jendral ini merupakan masalah pelik yang—bahkan lebih dari persoalan suksesi—tak terelakkan.

"Urusan ini seyogyanya diputuskan oleh para pengikut senior," ujar Hideyoshi yang telah meraih kemenangan pertama. Pendapatnya ini sangat memperlancar jalannya rapat.

"Baiklah, bagaimana pandangan pengikut paling senior?"

Niwa, Takigawa, dan yang lain kini menyelamat- kan muka Katsuie dengan memberikan peran sentral padanya.

Namun kehadiran Hideyoshi sukar diabaikan, dan akhirnya rencana usulan Katsuie pun sampai ke tangannya. Rupanya rencana itu tak dapat dirampungkan sebelum menanyakan pendapat Hideyoshi lebih dulu.

"Ambilkan kuas," ia memerintahkan. Setelah mencelupkan kuas ke dalam tinta, ia segera men- coreti tiga atau empat ketentuan dan menambah- kan pendapatnya sendiri. Setelah itu ia mengem- balikan rencana usulan tersebut.

Sekali lagi Katsuie membacanya, dan ia tampak tak senang. Beberapa saat ia merenung sambil membisu; ketentuan-ketentuan yang memuat keinginannya masih basah oleh lima yang dicoret- kan Hideyoshi. Namun Hideyoshi juga mencoret ketentuan mengenai pengalihan hak atas Benteng Sakamoto pada dirinya, yang digantinya dengan Provinsi Tamba.

Dengan memperlihatkan bahwa ia tidak me- mentingkan diri sendiri, ia berharap Katsuie pun bersikap demikian. Akhirnya sebagian besar wilayah Akechi diberikan pada Nobuo dan Nobutaka, dan sisanya dibagi-bagikan, sesuai jasa masing-masing orang pada pertempuran Yamazaki. "Besok masih ada urusan lagi," Katsuie berkata. "Dan mengingat rapat panjang ini berlangsung dalam udara begitu panas, aku yakin kalian semua tentu lelah. Yang jelas, aku merasa letih. Bagai-

mana kalau rapat kita tangguhkan?"

Katsuie akhirnya memilih cara ini agar ter- hindar dari keharusan untuk segera menanggapi usul baru Hideyoshi. Tak ada yang keberatan. Matahari sore bcrsinar cerah, dan udara panas semakin menyesakkan. Hari pertama telah usai.

Keesokan harinya Katsuie menyodorkan kom- promi ke hadapan para pengikut senior. Pada malam sebelumnya ia telah mengumpulkan pengikut-pengikutnya sendiri, dan mengadakan perundingan di tempat mereka menginap. Namun usul baru ini pun ditolak oleh Hideyoshi.

Pada hari yang sama, ketentuan mengenai pem- bagian wilayah kembali memisahkan kedua orang itu, dan perselisihan mereka semakin menajam. Tapi pada umumnya para pembesar lain cen- derung berpihak pada Hideyoshi. Katsuie mem- perjuangkan pendiriannya dengan gigih, tapi akhir- nya usul Hideyoshi-lah yang diterima.

Siang hari diisi masa jeda, dan pada Jam Kambing, semua keputusan diumumkan kepada para jendral.

Wilayah yang dibagi-bagikan terdiri atas wilayah Akechi yang disita serta wilayah pribadi Nobunaga. Urutan teratas pada daftar pembagian provinsi- provinsi Oda ditempati oleh Nobuo, yang menerima seluruh Provinsi Owari, diikuti Nobu- taka, yang memperoleh Provinsi Mino. Yang pertama provinsi asal marga Oda; yang satu lagi

rumah kedua Nobunaga.

Namun masih ada dua ketentuan yang me- rupakan tambahan berarti terhadap usulan semula: Ikeda Shonyu mendapatkan Osaka, Amagasaki, dan Hyogo, yang bernilai seratus dua puluh ribu gantang; Niwa Nagahide memperoleh Wasaka dan dua distrik di Provinsi Omi. Hideyoshi menerima Provinsi Tamba.

Satu-satunya pemberian bagi Katsuie adalah Benteng Nagahama milik Hideyoshi, yang merupa- kan titik strategis pada jalan dari Echizen, provinsi asal Katsuie, ke Kyoto. Katsuie telah menuntut keras agar seluruh provinsi diserahkan kepadanya, dan dalam hati ia mengharapkan tiga atau empat distrik lagi, tapi Hideyoshi mencoret semua pem- berian lain. Hideyoshi hanya mengajukan satu syarat, yaitu agar Nagahama dianugerahkan pada Katsutoyo, anak angkat Katsuie.

Malam sebelumnya, para pengikut marga Shibata mengelilingi Katsuie dan memprotes pem- bagian yang sedemikian memalukan. Mereka bah- kan mendesak agar Katsuie menolak rencana itu dan segera meninggalkan Kiyosu, dan sampai rapat hari kedua dibuka, Katsuie pun sependapat dengan mereka. Namun ketika menghadapi orang- orang yang duduk di bangsal utama, ia menyadari bahwa tuntutannya takkan diluluskan.

"Meski tidak sepantasnya merendah, aku pun tak ingin dianggap mau menang sendiri. Sebagian besar toh akan menyetujui ketentuan-ketentuan ini. Jadi, kalau aku sendiri yang bersikap menen- tang, keadaan mungkin akan bertambah buruk."

Di hadapan pendapat para peserta rapat yang lain, ia tak dapat berbuat apa-apa kecuali menahan diri.

Kalau saja aku bisa merebut daerah Nagahama yang strategis dari tangan Hideyoshi, ia berkata dalam hati. Namun akhirnya ia hanya berharap agar maksud terselubung itu dapat dilaksanakan dalam kesempatan lain, dan ia menerima semua persyaratan sebagaimana adanya.

Berlawanan dengan Katsuie yang penuh kebim- bangan. Hideyoshi menampilkan sikap tak peduli. Sejak operasi militer di wilayah Barat sampai saat ia meraih kemenangan di Yamazaki, Hideyoshi telah mengambil alih kepemimpinan dalam bidang militer dan pemerintahan, dan dengan sendirinya orang-orang menyangka ia akan memperoleh bagian lebih besar dibandingkan yang lain. Namun apa yang diterimanya ternyata tak lebih dari Provinsi Tamba. Ia melepaskan wilayah Nagahama dan menyerahkan Sakamoto—yang oleh semua orang dianggap patut diambilnya—kepada Niwa.

Dan Sakamoto merupakan kunci ke Kyoto. Mungkinkah ia sengaja mengabaikan Sakamoto, agar jelas bahwa ia tak bermaksud memegang tampuk pemerintahan? Ataukah ia berpendapat bahwa urusan sepele seperti itu sebaiknya ditentu- kan secara bersama dalam kelompok, karena ia yakin mereka akan mengambil keputusan yang tepat? Saat itu belum ada satu orang pun yang dapat menyelami isi hatinya.