--> -->

Taiko Bab 35 : Dua Gerbang

Bab 35 : Dua Gerbang

ANGIN sunyi berembus di antara pohon-pohon pinus yang tumbuh di sekitar perkemahan Mitsu- hide di Onbozuka. Tirai markasnya yang mengem- bang tampak bagaikan makhluk raksasa berwarna putih. Tak henti-hentinya tirai itu mengepak- ngepak tertiup angin, melantunkan nyanyian kematian yang menyeramkan.

"Yoji! Yoji!" Mitsuhide memanggil. "Ya, tuanku!"

"Kurirkah yang baru datang itu?" "Ya, tuanku."

"Kenapa dia tidak melapor langsung padaku?" "Kebenaran laporannya belum dipastikan." "Adakah peraturan mengenai apa yang boleh

dan tidak boleh sampai ke telingaku?" Mitsuhide bertanya kesal.

"Hamba mohon ampun, tuanku."

"Teguhkan hatimu! Kau mulai gelisah karena adanya pertanda buruk?"

"Tidak, tuanku. Tapi hamba telah siap meng- hadapi kematian."

"Begitukah?"

Mitsuhide tiba-tiba menyadari nadanya yang melengking, dan segera merendahkan suara. Kemudian ia mengingatkan diri bahwa mungkin ia sendiri yang perlu mendengarkan kata-kata yang baru saja dipergunakannya untuk menegur Yojiro. Angin terdengar jauh lebih sedih dibandingkan pada siang hari. Kebun-kebun sayur dan ladang- ladang berada di belakang lereng yang landai. Di sebelah timur terletak Kuga Nawate; di sebelah utara, gunung-gunung; di sebelah barat. Sungai Enmyoji. Tapi dalam kegelapan malam hanya bintang-bintang yang berkelap-kelip redup yang menerangi medan laga.

Baru tiga jam berlalu antara Jam Monyet dan pertengahan kedua Jam Ayam Jantan. Ketika itu panji-panji Mitsuhide memenuhi semua ladang. Di manakah panji-panji itu sekarang? Semuanya telah dicampakkan ke tanah. Ia telah mendengarkan daftar nama orang yang gugur, sampai ia tak sanggup lagi meneruskan hitungannya.

Semuanya hanya memakan waktu tiga jam. Tak pelak lagi bahwa Yojiro baru saja kembali me- nerima kabar buruk. Dan ia telah kehilangan keberanian untuk menyampaikan kabar tersebut pada junjungannya. Setelah ditegur Mitsuhide, Yojiro sekali lagi menuruni bukit. Sambil meman- dang berkeliling, dengan lesu ia bersandar pada sebatang pohon pinus dan menatap bintang- bintang di atasnya.

Seorang penunggang kuda mendekati Yojiro dan berhenti di hadapannya.

"Kawan atau lawan?" Yojiro berseru sambil menghadapi orang tak dikenal itu dengan tombak yang semula digunakannya sebagai tongkat pe- nyangga.

"Kawan," jawab si penunggang kuda sambil turun.

Hanya dengan mengamati langkahnya yang ter- tatih-tatih Yojiro mengetahui bahwa ia cedera berat. Yojiro menghampirinya dan mengulurkan tangan.

"Gyobu!" Yojiro berkata ketika mengenali rekan- nya. "Genggamlah lenganku. Biar kusangga badan- mu."

"Kaukah itu, Yojiro? Di mana Yang Mulia Mitsuhide?"

"Di puncak bukit."

"Beliau masih di sini? Tempat ini sekarang teramat berbahaya bagi beliau. Beliau harus segera meninggalkan tempat ini."

Gyobu menemui Mitsuhide. Ia nyaris terjungkal pada waktu bersujud di hadapan junjungannya. "Seluruh pasukan kita dipukul mundur. Orang- orang yang tengah sekarat jatuh menimpa mereka yang sudah tewas; begitu banyak yang menemui ajal secara gagah berani, sehingga hamba tak sanggup mengingat nama semuanya."

Ketika menengadah, ia hanya melihat wajah Mitsuhide yang pucat. Wajah itu seolah-olah mengambang di bawah pohon-pohon pinus yang gelap. Mitsuhide tidak memberi tanggapan, seakan- akan tidak mendengarkan ucapan Gyobu.

Gyobu melanjutkan. "Suatu ketika, kami sempat mendesak mendekati pusat kekuatan Hideyoshi, namun waktu hari mulai gelap, jalur mundur kami terputus, dan kami tak dapat menemukan Yang Mulia Dengo. Divisi Jendral Sanzaemon dikepung musuh, dan pertempuran yang luar biasa sengit pun pecah. Beliau akhirnya berhasil meloloskan diri, tapi hanya sekitar dua ratus orang yang tersisa dari divisi beliau. Pesan terakhir beliau adalah sebagai berikut, ’Segera pergi ke Onbozuka dan beritahu Yang Mulia agar secepat mungkin mundur ke Benteng Shoryuji, lalu bersiap-siap mempertahankan benteng atau kembali ke Omi pada malam hari. Sampai saat itu, aku akan bertindak sebagai barisan belakang. Setelah menerima kabar bahwa Yang Mulia selamat, kami akan segera menerjang ke per- kemahan Hideyoshi dan bertempur sampai titik darah penghabisan.’"

Mitsuhide tetap membisu. Sehabis memberikan laporannya, Gyubo pun ambruk dan mengembus- kan napas terakhir.

Mitsuhide menatap Gyubo dari kursinya. Lalu menatap Yojiro dengan pandangan kosong. Ia bertanya, "Parahkah luka Gyubo?"

"Ya, tuanku," Yojiro menjawab. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Kelihatannya dia sudah mendahului kita." "Ya, tuanku."

"Yojiro," Mitsuhide mendadak berkata dengan nada yang berbeda sama sekali. "Bagaimana laporan kurir sebelumnya?"

"Hamba takkan menutup-nutupi apa pun, tuanku. Pasukan Tsutsui Junkei muncul di medan tempur dan menyerang sayap kiri kita. Saito Toshimitsu dan seluruh korpsnya tak kuasa meng- halanginya, dan mereka menderita kekalahan total."

"Apa?! Itukah yang terjadi?"

"Hamba sadar bahwa jika hamba menyampai- kannya sekarang, tuanku tentu sukar mempercayai- nya. Scsungguhnya hamba ingin mengemukakan hal ini pada saat yang tepat, agar tidak menambah penderitaan tuanku."

"Inilah dunia." Kemudian ia menambahkan. "Tak ada pengaruhnya."

Mitsuhide tertawa. Paling tidak, suara menye- rupai tawa. Kemudian ia mendadak melambaikan tangan ke arah belakang perkemahan. Dengan tak sabar ia menyuruh seseorang membawakan kuda- nya.

Sebagian besar pasukan Mitsuhide telah dikirim ke garis depan, tapi mestinya masih ada sekitar dua ribu orang di perkemahannya, termasuk para pengikut senior. Bermodalkan kekuatan ini. Mitsu- hide hendak bergabung dengan sisa korps Sanzae- mon dan bertempur untuk terakhir kali. Sambil menaiki kudanya, ia menyerukan perintah menyerang dengan suara yang terdengar di seluruh Onbozuka. Kemudian, tanpa menunggu sampai para prajurit berkumpul, ia berputar dan mulai memacu kudanya menuruni bukit, diikuti hanya oleh beberapa samurai berkuda.

"Siapa kau?" Mitsuhide bertanya sambil meng- hentikan kudanya. Seseorang telah bergegas dari perkemahan, berlari menuruni lereng, dan meng- halangi jalan dengan tangan terentang.

"Tatewaki, kenapa kau menghadangku seperti ini?" Mitsuhide bertanya dengan tajam. Orang itu ternyata salah satu pengikut seniornya, Hide Tatewaki, dan ia langsung meraih kekang kuda Mitsuhide. Binatang itu mengentak-entakkan kaki dengan liar.

"Yojiro! Sanjuro! Kenapa kalian tidak mencegah beliau? Turunlah dari kuda kalian," ujar Tatewaki. memarahi para pembantu Mitsuhide. Kemudian ia membungkuk ke arah Mitsuhide dan berkata, "Orang yang berada di hadapan hamba bukanlah Yang Mulia Mitsuhide yang menjadi junjungan hamba. Menderita kekalahan dalam satu pertem- puran tidak berarti kalah perang. Yang Mulia Mitsuhide yang hamba kenal takkan mencampak- kan hidupnya setelah satu pertempuran saja. Musuh akan mengejek kita jika menyangka kita tak sanggup mengendalikan diri. Meski mengalami kekalahan di sini, Yang Mulia masih mempunyai keluarga di Sakamoto dan sejumlah jendral di berbagai provinsi yang hanya menunggu perintah Yang Mulia. Yang Mulia perlu menyusun rencana untuk masa depan. Pertama-tama, kembalilah ke Benteng Shoryuji."

"Apa maksudmu, Tatewaki?" Mitsuhide meng- gelengkan kepala. "Mungkinkah orang-orang yang telah gugur bangkit kembali? Mungkinkah semangat juang mereka kembali berkobar-kobar seperti sediakala? Aku tak bisa meninggalkan anak buahku dan membiarkan mereka dibantai musuh. Aku akan memberi pelajaran pada Hideyoshi dan menghukum pengkhianatan Tsutsui Junkei. Aku bukan mencari tempai untuk mati sia-sia. Aku akan memperlihatkan siapa Mitsuhide. Sekarang menyingkirlah!"

"Mengapa sorot mata tuanku yang bijak begitu nanar? Pasukan kita menerima pukulan telak hari ini, dan paling tidak tiga ribu orang telah tewas. Mereka yang terluka bahkan tak terhitung lagi. Banyak jendral kita telah gugur, sementara orang- orang yang baru direkrut tercerai-berai. Menurut tuanku, berapa jumlah prajurit yang tersisa di perkemahan ini?"

"Lepaskan kudaku! Aku bisa berbuat sesuka hatiku! Lepaskan kudaku!"

"Ucapan tak bertanggung jawab inilah yang membuktikan bahwa tuanku hendak bergegas menyambut maut, dan hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya. Seandainya masih ada tiga atau empat ribu prajurit di sini, per- soalannya tentu berbeda. Tapi hamba menduga hanya sekitar empat atau lima ratus orang yang akan mengikuti tuanku. Yang lainnya telah menyusup keluar dari perkemahan dan melarikan diri." ujar Tatewaki dengan suara berat karena menahan air mata.

Serapuh itukah otak manusia? Dan jika otak berhenti berfungsi, pastikah orang yang ber- sangkutan menjadi gila? Tatewaki menatap Mitsu- hide dan bertanya-tanya bagaimana junjungannya itu bisa berubah begitu banyak. Sambil menitikkan air mata, ia mengenang betapa bijaksana dan cerdas Mitsuhide dulu.

Jendral-jendral lain kini ikut berkerumun di depan kuda Mitsuhide. Dua dari mereka sudah sempat berada di garis depan, namun karena men- cemaskan keselamatan junjungan mereka, kedua- nya kembali ke perkemahan. Salah satu dari mereka berkata, "Kami sependapat dengan Yang Mulia Hide. Shoryuji tidak jauh, dan tentunya belum terlambat untuk menuju ke sana dulu, lalu menyusun strategi untuk langkah berikutnya."

"Selama kita berada di sini, pasukan musuh akan semakin mendekat, dan segala sesuatu bisa saja berakhir di titik ini. Sebaiknya kita pacu kuda masing-masing dan secepat mungkin kembali ke Shoryuji." Tatewaki tak lagi menanyakan kehendak jun- jungannya. Ia menyuruh seseorang meniup sangka- kala, dan segera memerintahkan mereka mundur ke arah utara. Yojiro dan seorang pengikut lainnya turun dari kuda. Sambil berjalan kaki mereka meraih kekang kuda Mitsuhide dan menuntunnya ke utara. Semua prajurit dan komandan yang berada di bukit itu mengikuti mereka. Tapi, seperti dikatakan Tatewaki tadi, jumlah mereka tak sampai lima ratus orang.

Miyake Tobei komandan Benteng Shoryuji. Di sini pun pertanda kekalahan sudah membayang, dan seluruh benteng diliputi suasana murung. Dikelilingi lentera-lentera yang berkelap-kelip redup, semua orang sibuk memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri. Namun ketika mereka men- cari-cari kemungkinan yang masuk akal, Mitsuhide pun terpaksa mengakui bahwa tak ada yang dapat mereka lakukan.

Para penjaga di luar benteng sudah berulang kali melaporkan bahwa musuh sedang mendekat, dan benteng itu sendiri tak cukup kuat untuk menentang kekuatan pasukan Hideyoshi. Benteng Yodo pun berada dalam kondisi serupa beberapa hari yang lalu, ketika Mitsuhide memerintahkan benteng tersebut diperkuat. Usaha itu tak ubahnya membangun tanggul pada waktu suara ombak yang mengamuk telah terdengar.

Barangkali satu-satunya hal yang tidak disesali Mitsuhide pada saat ini adalah bahwa sejumlah jendral dan prajurit tetap setia padanya dan ber- tempur dengan garang. Dari satu segi, sungguh ganjil bahwa ada orang di dalam marga Akechi— marga yang telah menggulingkan junjungan mereka sendiri—yang masih terus menegakkan ikatan antara junjungan dan pengikut. Mitsuhide memang berbudi luhur, dan orang-orang itu ber- pegang teguh pada hukum yang melandasi Jalan Samurai.

Karena inilah jumlah korban yag tewas dan terluka luar biasa tinggi, meskipun pertempuran berlangsung tak lebih dari tiga jam. Berdasarkan taksiran yang dilakukan kemudian, pihak Akechi kehilangan lebih dari tiga ribu orang, sementara jumlah pasukan Hideyoshi berkurang lebih dari tiga ribu tiga ratus orang. Jumlah orang yang terluka tak dapat dipastikan. Angka-angka ini men- cerminkan semangat pasukan Akechi, yang tak kalah sedikit pun dari semangat panglima mereka. Mengingat kekuatan Mitsuhide yang tak seberapa— kira-kira hanya separo kekuatan musuh—dan medan yang tak menguntungkan tempat ia ber- tempur, kekalahan yang diderita Mitsuhide bukanlah kekalahan yang membuatnya harus me- nanggung malu.

Pada hari ketiga belas Bulan Keenam, bulan tampak kabur di balik awan tipis. Satu-dua prajurit berkuda mendului rombongan mereka. Tiga belas penunggang kuda membentuk beberapa kelompok kecil, dan menuju Fushimi dari utara Sungai Yodo.

Ketika mereka akhirnya mencapai jalan setapak gelap di tengah-tengah pegunungan. Mitsuhide berbalik dan bertanya pada Tatewaki, "Di mana kita sekarang?"

"Ini Lembah Okame, tuanku."

Cahaya bulan yang menerobos di antara dahan- dahan pohon mengenai Tatewaki dan orang-orang yang menyusul di belakangnya.

"Kau bermaksud melintas di sebelah utara Momoyama, lalu keluar di Jalan Kuil Kanshu dari Ogurusu?" tanya Mitsuhide.

"Benar. Jika kita menempuh jalur itu dan bisa sampai di dekat Yamashina dan Otsu sebelum hari terang, kita tak perlu khawatir."

Shinshi Sakuzaemon tiba-tiba menghentikan kudanya di depan Mitsuhide dan memberi isyarat agar jangan ada yang bersuara. Mitsuhide dan para penunggang kuda yang mengikutinya juga ber- henti. Tanpa bersuara, mereka memperhatikan Akechi Shigetomo dan Murakoshi Sanjuro maju sebagai pengintai. Kedua orang itu menghentikan kuda masing-masing di tepi sebuah kali, dan mem- beri isyarat agar yang lain menunggu. Agak lama mereka berdiri di sana, memasang telinga.

Perangkap musuhkah? Akhirnya kesan lega muncul pada wajah mereka. Mengikuti lambaian tangan kedua orang di depan, rombongan itu kembali bergerak maju. Baik bulan maupun awan-awan seakan meng- ambang di tengah langit malam. Tapi betapapun mereka berusaha tidak menimbulkan suara, ketika kuda-kuda mereka mulai menaiki lereng, ada saja batu yang tertendang atau kayu rapuh yang ter- injak, dan gema bunyi-bunyi selemah ini pun sanggup membangunkan burung-burung yang sedang tidur. Setiap kali ini terjadi, Mitsuhide dan para pengikutnya segera menarik tali kekang.

Setelah menderita kekalahan telak, mereka sempat melarikan diri ke Benteng Shoryuji dan melepas lelah. Kemudian mereka membahas langkah selanjutnya, namun akhirnya satu-satunya pilihan adalah mundur ke Sakamoto. Semua pengikut Mitsuhide membujuknya agar tetap ber- sabar. Setelah mempercayakan Benteng Shoryuji ke tangan Miyake Tobei, Mitsuhide menyusup ke dalam kegelapan.

Pasukan yang mengikutinya ketika meninggal- kan Shoryuji masih berjumlah empat ratus atau lima ratus orang. Namun pada saat mereka memasuki Desa Fushimi, sebagian besar telah menghilang. Segelintir orang yang masih tersisa adalah para pengikut kepercayaannya, dan jumlah mereka hanya tiga belas orang.

"Rombongan besar justru akan menarik per- hatian musuh, dan setiap orang yang belum mem- bulatkan tekad untuk menyertai junjungan kita dalam keadaan apa pun hanya akan menjadi penghalang. Yang Mulia Mitsuharu berada di Sakamoto beserta tiga ribu prajurit. Satu-satunya keinginanku adalah tiba dengan selamat di sana. Aku berdoa agar para dewa sudi membantu jun- jungan kita yang malang."

Dengan cara inilah para pengikut setia yang masih tersisa saling menghibur diri.

Meski daerah yang mereka lalui berbukit-bukit, tak ada bagian yang benar-benar terjal. Bulan tampak di langit, tapi akibat hujan, tanah di bawah pohon-pohon becek, dan di sana-sini air meng- genang di permukaan jalan.

Kecuali itu, baik Mitsuhide maupun para pengikutnya telah lelah. Mereka sudah berada di dekat Yamashina, dan jika berhasil sampai di Otsu, mereka akan aman. Inilah kata-kata yang mereka gunakan untuk saling membesarkan hati, tapi bagi orang-orang yang nyaris kehabisan tenaga itu, jaraknya terasa seperti beratus-ratus mil.

"Kita memasuki sebuah desa."

"Ini tentu Ogurusu. Jangan berisik."

Pondok-pondok beratap rumbia terlihat di sana- sini. Sebenarnya rombongan Mitsuhide sedapat mungkin ingin menghindari daerah pemukiman, tapi jalan yang mereka lalui melintas di antara rumah-rumah itu. Untung saja tak satu lentera pun tampak menyala. Pondok-pondok itu dikelilingi rumpun-rumpun bambu yang diterangi cahaya bulan, dan segala sesuatu mengisyaratkan bahwa semua orang sedang tidur nyenyak, tanpa menya- dari kekacauan yang melanda dunia.

Dengan sorot mata tajam yang menembus kegelapan, Akechi Shigetomo dan Murakoshi Sanjuro menjalankan tugas sebagai pengintai, menyusuri jalan desa yang sempit, tanpa gangguan. Di tempat jalanan membelok di balik sebuah rumpun bambu, mereka berhenti dan menunggu Mitsuhide serta rombongannya.

Sosok kedua orang itu, dan pantulan tombak- tombak mereka, terlihat jelas di hadapan bayang- bayang pepohonan yang berada lima puluh meter di depan.

Sekonyong-konyong bunyi bambu diinjak-injak serta dengusan binatang liar seakan-akan meledak dari kegelapan.

Tatewaki, yang sedang menuntun kudanya di depan Mitsuhide, segera menoleh ke belakang. Kegelapan menyelubungi pagar sebuah pondok yang berada di bawah naungan rumpun bambu. Sekitar dua puluh meter di belakang, siluet Mitsu- hide tampak seolah-olah terpaku di tempat .

"Tuanku," Tatewaki memanggil. Rumpun bambu muda bergoyang-goyang di langit yang tanpa angin.

Tatewaki baru hendak berbalik ketika Mitsu- hide tiba-tiba memacu kudanya dan melesat melewati Tatewaki, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia merunduk dan memeluk leher kuda- nya. Tatewaki menganggapnya ganjil, namun ke- mudian segera mengikuti junjungannya, sama hal- nya dengan yang lain.

Dengan cara inilah mereka memacu kuda masing-masing sekitar tiga ratus meter, tanpa ke- jadian apa pun. Setelah bergabung kembali dengan kedua pengintai tadi, ketiga belas orang itu me- neruskan perjalanan. Mitsuhide berada di urutan keenam dari depan.

Tiba-tiba kuda Murakoshi memberontak. Se- ketika ia menghunus pedang dan mengayunkan- nya di sebelah kiri pelana.

Bunyi gemerincing terdengar nyaring ketika pedangnya menebas ujung sebuah bambu runcing. Tangan yang memegang tombak itu segera meng- hilang di dalam rumpun bambu, tapi yang lain sempat melihat apa yang terjadi.

"Apa itu? Bandit?"

"Mestinya. Awas, sepertinya mereka bersem- bunyi di tengah rumpun bambu ini."

"Murakoshi, kau tak apa-apa?"

"Hah, kaupikir aku bisa terluka oleh bambu runcing pencuri yang hina?"

"Jangan   terpancing!    Teruskan    perjalanan.

Jangan cari masalah."

"Bagaimana dengan Yang Mulia?" Semuanya menoleh. "Lihat, di sebelah sana!"

Mereka mendadak pucat. Kira-kira seratus langkah di depan mereka, Mitsuhide terjatuh dari kudanya. Bukan itu saja, ia menggeliat di tanah. mengerang-erang kesakitan, dan sepertinya tak sanggup bangkit kembali.

"Tuanku!"

Shigetomo dan Tatewaki turun dari kuda, ber- lari menghampirinya, dan mencoba mengangkat- nya ke pelana. Namun rupanya Mitsuhide sudah tak mampu meneruskan perjalanan. Ia hanya menggelengkan kepala.

"Tuanku, apa yang terjadi?" Yang lainnya segera berkerumun dalam kegelapan. Hanya erangan Mitsuhide serta desahan para pengikutnya yang ter- dengar. Dan tepai pada saat itu bulan bersinar lebih cerah.

Tiba-tiba bunyi langkah dan teriakan-teriakan para bandit terdengar dari kegelapan yang menye- lubungi rumpun bambu.

"Sepertinya mereka hendak menyerang dari belakang. Beginilah kebiasaan para perampok; mereka memanfaatkan setiap tanda kelemahan. Sanjuro dan Yojiro, tangani mereka."

Atas perintah Shigetomo, mereka segera ber- pencar. Tombak disiagakan dan pedang-pedang di- hunus.

"Bedebah!" Sambil berteriak lantang, seseorang melompat keluar dari rumpun bambu. Bunyi yang menyerupai bunyi daun berguguran, atau mungkin suara sekawanan monyet, memecahkan kehe- ningan malam.

"Shigetomo... Shigetomo..." Mitsuhide berbisik. "Hamba di sini, tuanku."

"Ah... Shigetomo," Mitsuhide berkata sekali lagi. Kemudian ia meraba-raba, seakan-akan mencari tangan yang menopangnya.

Darah bercucuran dari sisi dadanya, pandangan- nya mulai kabur, dan ia sukar berbicara.

"Hamba akan membalut luka tuanku, lalu mem- berikan obat, jadi hamba mohon tuanku bersabar sejenak."

Mitsuhide menggelengkan kepala untuk menga- takan bahwa lukanya tak perlu dibalut. Kemudian kedua tangannya bergerak, seolah-olah mencari sesuatu.

"Ada apa, tuanku?" "Kuas..."

Shigetomo cepat-tepat mengeluarkan kertas, tinta, dan kuas. Mitsuhide meraih kuas itu dengan jari gemetar dan menatap kertas yang putih. Shigetomo sadar bahwa junjungannya hendak me- nuliskan sajak kematiannya, dan tenggorokannya mulai tercekat. Ia nyaris tidak tahan menyaksikan sikap Mitsuhide, dan berpegang teguh pada apa yang dirasakannya sebagai takdir junjungannya, ia berkata. "Jangan coretkan kuas dulu, tuanku. Perjalanan ke Otsu tinggal secarikan napas, dan kalau kita tiba di sana, tuanku akan disambut oleh Yang Mulia Mitsuharu. Perkenankanlah hamba membalut luka ini."

Ketika Shigetomo meletakkan kertas tadi ke tanah dan mulai membuka ikat pinggangnya, Mitsuhide tiba-tiba mengibaskan tangannya de- ngan tenaga tak terduga. Kemudian, dengan tangan kirinya, ia menolakkan tubuhnya dari tanah. Sambil merentangkan tangan kanan, ia menggenggam kuas tadi dengan erat dan mulai menulis:

Tak benar ada dua gerbang: kesetiaan dan pengkhianatan.

Tapi tangannya begitu gemetar, sehingga ia seakan-akan tak sanggup menuliskan baris berikut- nya. Mitsuhide menyerahkan kuas pada Shige- tomo. "Tolong selesaikan sisanya."

Sambil bersandar pada pangkuan Shigetomo, Mitsuhide memutar kepalanya ke arah langit dan memandang bulan selama beberapa waktu. Ketika bayangan maut yang bahkan lebih pucat daripada bulan mengisi seluruh wajahnya, ia berkata dengan nada mantap yang tak terduga dan menyelesaikan sajaknya.

Jalan Besar menembus lubuk hati.

Terjaga dari mimpi lima puluh lima tahun, Aku berpulang kepada Yang Satu. Shigetomo meletakkan kuas dan mulai me- nangis. Saat itulah Mitsuhide mencabut pedang pendek dan menggorok lehernya sendiri. Sakuzae- mon dan Tatewaki segera berlari menghampirinya. Keduanya mendekati jenazah junjungan mereka, lalu menjatuhkan diri ke atas pedang masing- masing. Empat orang lagi, lalu enam, lalu delapan mengelilingi jenazah Mitsuhide dengan cara yang sama dan menyusulnya ke akhirat. Dalam sekejap tubuh-tubuh tak bernyawa itu tergeletak di tanah, menyerupai sekuntum bunga yang terbuat dari darah.

Yojiro telah menerobos ke tengah-tengah rumpun bambu untuk menghadapi gerombolan bandit tadi. Murakoshi memanggil-manggil ke dalam kegelapan, cemas akan keselamatan rekan- nya.

"Yojiro, kembalilah! Yojiro! Yojiro!"

Tapi beberapa kali pun ia memanggil. Yojiro tidak muncul-muncul. Murakoshi pun mengalami cedera di beberapa tempat. Ketika ia akhirnya ber- hasil merangkak keluar dari semak-semak, ia melihat satu sosok lewat di hadapannya.

"Ah! Yang Mulia Shigetomo." "Sanjuro?"

"Bagaimana keadaan yang Mulia Mitsuhide?" "Beliau telah mengembuskan napas terakhir." "Oh!" Sanjuro terkejut. "Di mana?"

"Beliau ada di sini, Sanjuro." Shigetomo menun- juk kepala Mitsuhide yang terbungkus kain dan tergantung pada pelananya. Dengan sedih ia memalingkan wajah.

Sanjuro langsung melompat maju. Ketika me- raih kepala Mitsuhide, ia melepaskan teriakan pan- jang bernada meratap. Beberapa saat kemudian ia bertanya. "Apa ucapan terakhir beliau?"

"Beliau membacakan sebuah sajak yang dimulai dengan, 'Tidak benar ada dua gerbang: kesetiaan dan pengkhianatan.'"

"Beliau berkata begitu?"

"Walaupun beliau menyerang Nobunaga, tin- dakannya tak dapat dipandang dari segi kesetiaan atau pengkhianatan. Beliau dan Nobunaga sama- sama samurai, dan keduanya mengabdi pada sang Tenno. Ketika Yang Mulia Mitsuhide akhirnya terjaga dari mimpi yang berlangsung lima puluh lima tahun, beliau menyadari bahwa beliau pun tak dapat meloloskan diri dari cercaan maupun sanjungan dunia. Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau mencabut nyawa sendiri."

"Hamba mengerti." Murakoshi terisak-isak. Dengan tangan terkepal ia menghapus air mata dari wajahnya. "Beliau tidak mengindahkan teguran Yang Mulia Toshimitsu dan tidak meng- hindari pertempuran yang menentukan di Yamazaki dengan pasukan kecil di medan yang tak menguntungkan, semua karena beliau berpegang teguh pada Jalan Kebesaran. Dari segi itu, mundur dari Yamazaki tak ubahnya menyerahkan Kyoto kepada musuh. Setelah menyadari apa yang ter- simpan di hati beliau, hamba tak kuasa menahan tangis."

"Walaupun dikalahkan, Yang Mulia tak sekali pun menyimpang dari jalan yang diyakininya, dan tak pelak beliau wafat dengan ambisi yang telah lama diiidam-idamkan itu. Tapi, kalau kita mem- buang-buang waktu di sini, begundal-begundal tadi mungkin kembali dan menyerang lagi."

"Benar."

"Aku tak sanggup menangani segala sesuatu di sini seorang diri. Aku meninggalkan jenazah junjungan kita tanpa kepala. Sudikah kau mengu- burnya agar tak ditemukan siapa pun?"

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Mereka berkumpul di sekitar jasadnya dan gugur dengan gagah."

"Setelah melaksanakan perintah Yang Mulia, hamba pun akan mencari tempat untuk menuju akhirat."

"Aku akan membawa kepala beliau pada Yang Mulia Mitsutada di Kuil Chionin. Setelah itu aku pun akan menyambut maut. Selamat jalan."

"Selamat jalan."

Kedua laki-laki itu menuju arah berlawanan pada jalan setapak sempit yang melewati rumpun bambu. Pancaran cahaya bulan yang menerobos dedaunan sungguh indah dipandang. Malam itu Benteng Shoryuji dipaksa bertekuk lutut, kira-kira pada saat Mitsuhide menemui ajal di Ogurusu. Nakagawa Sebei, Takayama Ukon, Ikeda Shonyu, dan Hori Kyutaro memindahkan pos komando masing-masing ke sana. Setelah menyalakan api unggun raksasa, mereka menderet- kan kursi di muka gerbang benteng dan menanti- kan kedatangan Hideyoshi dan Nobutaka. Tak lama kemudian Nobutaka telah berdiri di hadapan mereka.

Merebut benteng itu merupakan kemenangan gemilang. Para prajurit dan perwira sama-sama menegakkan panji-panji dan memandang Nobu- taka dengan takzim. Ketika Nobutaka turun dari kuda dan memeriksa barisan. Ia mengangguk- angguk ramah. Sikapnya terhadap para jendral bahkan hampir terlalu sopan. Ia menyapa mereka dengan hormat, dan secara terang-terangan menunjukkan rasa terima kasihnya.

Sambil meraih tangan Sebei , ia berkata, "Berkat kesetiaan dan keberanianmulah orang-orang Akechi dapat dihancurkan dalam pertempuran satu hari. Kini arwah ayahku telah tenteram, dan aku takkan pernah melupakan ini."

Pujian yang sama diberikannya kepada Taka- yama Ukon dan Ikeda Shonyu. Tapi Hideyoshi, yang tiba beberapa saat kemudian, tak mengucap- kan sepatah kau pun pada semua orang itu. Ketika lewat di atas tandunya, ia malah seakan-akan meremehkan mereka.

Kegarangan Sebei dikenal tanpa tandingan, biarpun di tengah-tengah prajurit yang kasar, jadi tidak aneh kalau ia merasa tersinggung oleh sikap Hideyoshi. Ia berdeham cukup keras. Hideyoshi melirik dari tandu dan berlalu sambil ber- komentar. "Pekerjaanmu bagus, Sebei."

Sebei mengentakkan kaki dengan geram. "Yang Mulia Nobutaka pun bersedia turun dari kuda untuk kita, tapi orang ini begitu congkak, sehingga tetap saja duduk dalam tandu. Barangkali si Monyet menyangka telah menguasai seluruh negeri." Ucapannya cukup keras untuk didengar semua orang di sekelilingnya, tapi selain itu ia tak kuasa berbuat apa-apa.

Ikeda Shonyu, Takayama Ukon, dan yang lain berkedudukan sederajat dengan Hideyoshi, namun sejak beberapa waktu lalu, Hideyoshi mulai ber- sikap seolah-olah mereka bawahannya. Mereka pun merasa bahwa entah bagaimana mereka berada di bawah komando Hideyoshi. Tak perlu diragukan bahwa perasaan itu tak berkenan di hati mereka, tapi tak seorang pun mengatakan sesuatu. Ketika memasuki benteng pun Hideyoshi hanya menatap sekilas pada reruntuhan bangunan yang telah hangus itu. Tampaknya ia belum memikir- kan istirahat. Setelah memerintahkan agar petak bertirai didirikan di pekarangan, ia menempatkan kursinya di samping kursi Nobutaka, segera me- manggil para jendral, dan mulai memberikan perintah-perintah.

"Kyutaro, bawa pasukanmu ke Desa Yamashina, lalu maju ke arah Awadaguchi. Tugasmu adalah menutup jalan antara Azuchi dan Sakamoto di Otsu." Kemudian ia berpaling pada Sebei dan Ukon. "Kalian harus segera menyusuri Jalan Raya Tamba. Kelihatannya banyak musuh melarikan diri ke arah Tamba, dan kita tidak boleh memberi kesempatan pada mereka untuk mencapai Benteng Kameyama, sehingga mereka dapat mengadakan persiapan. Jika kita berlambat-lambat di sini, kita akan kehilangan lebih banyak waktu lagi. Kalau kalian bisa tiba di Kameyama besok siang, benteng itu seharusnya dapat kalian taklukkan tanpa banyak kesulitan."

Kemudian beberapa orang dikirim ke Toba dan ke daerah Shichijo, sementara sejumlah orang lain disuruh menuju sekitar Yoshida dan Shirakawa. Perintah-perintah itu sangat jelas, dan Nobutaka hanya mendengarkan semuanya, tanpa berkata apa-apa. Namun di mata para jendral, sikap Hideyoshi sungguh lancang.

Meski demikian, Sebei pun, yang semula menyuarakan ketidaksenangannya secara terang- terangan, kini diam saja dan menerima perintah yang diberikan padanya seperti yang lain. Akhirnya mereka membagi-bagikan ransum kepada para prajurit, menuang sake, mengisi perut masing- masing, dan sekali lagi bertolak ke medan tempur berikut.

Hideyoshi paham bahwa selalu ada waktu dan tempat yang tepat untuk membuat orang-orang tunduk padanya, dan kali ini ia sengaja menunggu sampai masing-masing jendral berhasil meraih kemenangan. Namun Hideyoshi juga menyadari bahwa rekan-rekannya merupakan orang dengan keberanian tanpa tandingan dan tak pernah gentar, sehingga ia pun tak berani bersikap gegabah dengan hanya mengandalkan satu cara ini. Sebuah pasukan harus mempunyai pemimpin.

Dari segi kedudukan, Nobutakalah yang paling pantas menjadi panglima tertinggi. Tapi ia baru saja bergabung, dan semua jendral mengakui bahwa baik wibawa maupun tekadnya tidak memadai. Karena itu, tak ada yang dapat me- megang tampuk kepemimpinan selain Hideyoshi.

Meski tak satu jendral pun rela tunduk pada Hideyoshi, semuanya menyadari bahwa tak ada orang lain yang dapat diterima oleh semua pihak. Hideyoshi merencanakan pertempuran ini sebagai upacara peringatan bagi Nobunaga dan telah mengumpulkan mereka semua. Jadi, jika kini mereka mengeluh karena ia memperlakukan mereka sebagai bawahan, mereka hanya akan membuka peluang untuk dituduh mengejar ke- pentingan pribadi.

Para jendral tidak mendapat kesempatan ber- istirahat, melainkan diharuskan langsung bertolak ke medan tempur baru, sesuai perintah yang mereka terima. Ketika mereka berdiri untuk berangkat, Hideyoshi tetap duduk di kursi komandan dan hanya memberi isyarat dengan gerakan dagunya kepada masing-masing orang.

Hideyoshi tinggal di Kuil Mii, dan pada malam hari keempat belas, badai petir kembali melanda. Bara api di reruntuhan Benteng Sakamoto padam, sepanjang malam kilat menyambar-nyambar di atas Shimeigatake dan danau yang warnanya menye- rupai tinta.

Namun seiring fajar, awan-awan kelabu me- nyingkir dan langit musim panas muncul sekali lagi. Dari perkemahan utama di Kuil Mii, asap tebal berwama kuning terlihat mengepul dari arah Azuchi di tepi timur danau.

"Azuchi terbakar!"

Mendengar laporan para penjaga, para jendral keluar ke serambi. Hideyoshi dan yang lainnya melindungi mata dengan sarung tangan.

Seorang kurir melaporkan, "Yang Mulia Nobuo, yang semula berkemah di Tsuchiyama di Omi, dan Yang Mulia Gamo menggabungkan kekuatan dan menyerang Azuchi sejak pagi. Mereka menyulut api di kota dan benteng, dan angin dari danau menyebabkan kobaran api merambat ke seluruh Azuchi. Tapi ternyata tak ada prajurit musuh di Azuchi, sehingga tidak terjadi pertempuran." Hideyoshi dapat membayangkan apa yang ter- jadi di tempat  jauh.

"Tak ada alasan untuk menyulut kebakaran." ia bergumam sambil merengut. "Yang Mulia Nobuo dan Gamo telah bertindak gegabah."

Tapi dengan cepat ia berhasil menenangkan diri. Keruntuhan budaya yang dibentuk Nobunaga dengan darah dan keringat selama setengah umur- nya memang patut disesali, tapi Hideyoshi yakin bahwa tak lama lagi—dan dengan kekuatannya sendiri—ia akan membangun benteng dan budaya yang lebih besar lagi.

Tepat saat itu, sebuah patroli tiba dari gerbang utama kuil. Mereka mengelilingi satu orang dan menggiringnya ke hadapan Hideyoshi. "Petani dari Ogurusu bernama Chobei ini mengaku menemu- kan kepala Yang Mulia Mitsuhide."

Telah menjadi kebiasaan untuk memeriksa kepala jendral musuh dengan khidmat, dan Hide- yoshi memerintahkan agar kursinya disiapkan di muka kuil utama. Tak lama kemudian, ia duduk bersama para jendral lain dan menatap kepala Mitsuhide sambil membisu.

Setelah itu, kepala tersebut dipajang di reruntuhan Kuil Honno. Baru satu setengah bulan berlalu sejak panji berlambang kembang lonceng ditegakkan di tengah-tengah teriakan perang pasukan Akechi.

Kepala Mitsuhide dipajang agar dapat dilihat oleh para warga ibu kota, dan mereka terus ber- datangan dari pagi sampai malam. Bahkan mereka yang mencela pengkhianatan Mitsuhide kini meng- ucapkan doa, sementara orang-orang lain mena- burkan bunga di bawah tengkorak yang telah mulai membusuk.

Perintah-perintah militer Hideyoshi sederhana dan jelas. Ia hanya mempunyai tiga undang- undang: Bekerja sungguh-sungguh. Jangan melaku- kan kesalahan. Pembuat onar akan dihukum mati. Hideyoshi belum mengadakan upacara pema- kaman resmi bagi Nobunaga; upacara kebesaran yang dikehendakinya tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan militer semata-mata, dan rasanya tak pantas jika ia memprakarsainya seorang diri.

Api di ibu kota akhirnya padam, tapi pengaruhnya menyebar ke semua provinsi.

Nobunaga telah wafat, Mitsuhide telah wafat, dan ada kemungkinan seluruh negeri akan kembali terbagi ke dalam tiga kutub kekuasaan, seperti pada masa sebelum Nobunaga. Kecuali itu, sengketa keluarga dan panglima-panglima yang memperjuangkan kepentingan masing-masing mungkin saja menjerumuskan seluruh negeri ke dalam kekacauan yang menandai keshogunan selama tahun-tahun terakhirnya.

Dari Kuil Mii, Hideyoshi memindahkan segenap pasukannya ke atas armada kapal perang. Ia mengangkut segala sesuatu, mulai dari kuda- kuda sampai penyekat-penyekat berlapis emas. Ini terjadi pada hari kedelapan belas di bulan itu, dan tujuannya adalah untuk pindah ke Azuchi. Pasukan lain juga merayap ke Timur. Lewat jalan darat. Iring-iringan kapal yang melintasi danau digerakkan oleh angin yang mengibarkan panji- panji, dan bergerak sejajar dengan pasukan darat yang menyusuri pesisir.

Tapi Azuchi telah dibumihanguskan, dan begitu pasukan Hideyoshi tiba di sana, mereka langsung patah semangat. Dinding-dinding Azuchi yang ber- warna biru dan emas tak ada lagi. Semua gerbang tembok luar serta atap Kuil Soken yang menjulang tinggi telah terbakar habis. Keadaan di kota benteng bahkan lebih parah lagi. Anjing-anjing liar pun tak sanggup menemukan makanan, dan para misionaris berjalan mondar-mandir dengan pan- dangan kosong.

Nobuo seharusnya berada di sini, tapi ia sedang memerangi pemberontak-pemberontak di Ise dan Iga. Akhirnya jelaslah bahwa pembakaran Azuchi tidak diperintahkan oleh Nobuo. Api memang disulut oleh anak buahnya, tapi rupanya perbuatan mereka disebabkan oleh salah paham, atau mung- kin oleh desas-desus palsu yang disebarkan musuh. Hideyoshi dan Nobutaka menempuh per- jalanan ke Azuchi bersama-sama, dan mereka sangat menyesalkan kehancurannya. Namun, se- telah menyadari bahwa bukan Nobuo yang ber- tanggung jawab atas kejadian tersebut, kemarahan mereka sedikit berkurang. Hanya dua hari mereka tinggal di Azuchi. Iring-iringan kapal kembali ber- layar, kali ini ke arah utara. Hideyoshi hendak me- mindahkan pasukan utamanya ke bentengnya di Nagahama.

Benteng itu ternyata aman. Tak ada tanda-tanda kehadiran musuh, dan pasukan sekutu telah mulai memasuki pekarangan benteng. Ketika panji komandan berlambang labu emas dikibarkan, para warga kota benteng tampak bersukaria. Mereka memadati jalan-jalan yang dilalui Hideyoshi dari kapal ke benteng. Kaum perempuan, anak-anak, dan orang-orang tua bersujud di tanah untuk menyambutnya. Beberapa orang menitikkan air mata, bahkan ada yang tak sanggup menengadah- kan wajah. Ada yang bersorak-sorai sambil melam- baikan tangan, dan tak sedikit yang seolah-olah lupa diri dan menari-nari riang. Hideyoshi sengaja menunggang kuda untuk menanggapi sambutan meriah yang diberikan padanya.

Namun bagi Hideyoshi masih ada satu hal yang sangat membebani pikirannya, dan beban itu semakin berat ketika ia memasuki Benteng Naga- hama. Ia sudah tak sabar untuk melepas rindu. Selamatkah ibu dan istrinya?

Setelah duduk di benteng dalam, ia mengajukan pertanyaan ini berulang-ulang pada semua jendral- nya yang datang dan pergi. Tiba-tiba ia sangat men- cemaskan keadaan keluarganya.

"Kami telah mencari mereka ke mana-mana, tapi sampai sekarang belum ada laporan jelas," para jendral berkata.

"Masa tak satu orang pun yang mengetahui ke- beradaan mereka?" tanya Hideyoshi .

"Kami juga berpikir demikian," salah satu jendral menjawab. "Tapi rupanya tak seorang pun melihat mereka. Pada waktu mereka melarikan diri dari sini, tempat yang mereka tuju dirahasiakan secara ketat."

"Begitu. Memang benar, seandainya rencana mereka bocor ke kalangan orang kebanyakan, musuh tentu akan melakukan pengejaran, dan mereka akan terancam bahaya."

Hideyoshi mengadakan pertemuan dengan jendral lain dan membahas hal yang sama sekali berbeda. Hari itu pasukan musuh di Benteng Sawayama telah meninggalkan benteng tersebut dan melarikan diri ke arah Wakasa. Hideyoshi diberitahu bahwa benteng itu sudah dikembalikan ke tangan bekas komandannya, Niwa Nagahide.

Ishida Sakichi serta lima atau empat anggota kelompok pelayan pribadi tiba-tiba kembali dari suatu tempat yang tak diketahui. Sebelum mereka sampai di ruangan Hideyoshi, suara-suara riang ter- dengar dari selasar dan ruang para pelayan, dan Hideyoshi bertanya pada mereka yang berada di sckelilingnya. "Sudah kembalikah Sakichi? Kenapa dia tidak segera ke sini?" Ia mengutus seseorang untuk menegurnya.

Ishida Sakichi kelahiran Nagahama, dan ia mengenal medan di daerah itu lebih baik dari siapa pun. Karena itu, ia menganggap sekaranglah waktu terbaik untuk memanfaatkan pengetahuan- nya. Sejak siang ia pergi atas inisiatif sendiri, mencari-cari tempat ibu dan istri junjungannya mungkin bersembunyi.

Penuh hormat, Sakichi berlutut di hadapan Hideyoshi. Berdasarkan laporannya, ibu dan istri Hideyoshi, sertna para anggota rumah tangga lainnya, bersembunyi di pegunungan kira-kira tiga puluh mil dari Nagahama. Tampaknya hanya dengan susah payah mereka dapat bertahan.

"Baiklah, mari kita bersiap-siap untuk segera berangkat. Jika kita berangkat sekarang, mestinya besok malam kita sudah sampai di sana," ujar Hideyoshi sambil berdiri. Ia nyaris tak sanggup menahan diri.

"Uruslah segala sesuatu sementara aku pergi." ia memberi perintah pada Kyutaro. "Hikoemon berada di Otsu, dan Yang Mulia Nobutaka masih di Azuchi."

Ketika Hideyoshi keluar lewat gerbang benteng, ia melihat sekitar enam ratus sampai tujuh ratus orang menunggunya sambil berbaris. Berturut- turut mereka mengikuti pertempuran di Yamazaki dan Sakamoto, dan bahkan di Azuchi pun mereka tidak mendapat kesempatan melepas lelah. Prajurit-prajurit itu baru tiba pagi hari, dan wajah- wajah mereka yang berlepotan lumpur masih menyiratkan keletihan. Hideyoshi berkata. "Lima puluh penunggang kuda sudah memadai untuk menyertaiku."

Hideyoshi baru mengatakannya setelah para penunggang yang membawa obor mulai memim- pin iring-iringan itu. Berarti sebagian besar dari mereka akan tinggal di Nagahama.

"Itu berbahaya." ujar Kyutaro. "Lima puluh penunggang kuda terlalu sedikit. Jalanan yang harus dilalui malam ini melintas di dekat Gunung Ibuki, dan mungkin saja sisa-sisa pasukan musuh masih bersembunyi di sana."

Baik Kyutaro maupun Shonyu mewanti-wanti Hideyoshi, namun Hideyoshi tampak yakin bahwa kekhawatiran mereka tidak beralasan. Setelah men- jawab bahwa tak ada yang perlu dicemaskan, ia menyuruh para pembawa obor berjalan di depan. dan mereka mulai menyusun jalan yang diapit pepohonan ke arah timur laut.

Dengan berkuda sampai giliran jaga keempat, Hideyoshi menempuh lima belas mil tanpa terlalu terburu-buru.

Tengah malam rombongannya tiba di Kuil Sanjuin. Semula Hideyoshi menyangka keda- tangannya akan mengejutkan para biksu, namun di luar dugaannya, ketika mereka membuka gerbang utama, ia melihat bagian dalam kuil terang benderang oleh cahaya lentera-lentera, pekarangan telah disiram air, dan seluruh tempat itu telah disapu sampai bersih.

"Pasti ada yang mendului kita dan memberi- tahukan kedatanganku pada mereka."

"Hamba yang melakukannya," ujar Sakichi. "Kau?"

"Ya. Hamba pikir tuanku mungkin akan mampir di sini untuk beristitahat sejenak, jadi hamba mengutus pemuda jago lari dan memesan makanan untuk lima puluh orang."

Sakichi pernah menjadi murid di Kuil Sanjuin. tapi pada usia dua belas tahun ia diterima oleh Hideyoshi sebagai pelayan di Benteng Nagahama. Itu terjadi delapan tahun silam, dan sekarang ia telah berumur dua puluh tahun. Sakichi sangat cerdas dan lebih tanggap daripada kebanyakan orang.

Menjelang fajar, sosok Gunung Ibuki mulai membayang di hadapan merah muda dan biru pucatnya langit; tak ada suara selain kicauan burung-burung kecil. Embun membasahi jalan, dan kegelapan masih bercokol di bawah pe- pohonan.

Hideyoshi tampak gembira. Ia tahu bahwa dengan setiap langkah, ia semakin mendekati ibu dan istrinya, dan sepertinya ia tak memedulikan jalan yang menanjak maupun kelelahannya sen- diri. Kini, semakin ia mendekati Nishitani seiring semakin terangnya Gunung Ibuki, semakin kuat perasaannya bahwa ia didekap di dada ibunya.

Tak peduli berapa lama mereka mendaki dan menyusuri Sungai Azusa, sepertinya mereka tak kunjung tiba di sumbernya. Justru sebaliknya, mereka sampai di sebuah lembah yang sedemikian lebar, sehingga memberi kesan bahwa mereka tidak berada di tengah-tengah pegunungan.

"Itu Gunung Kanakuso," ujar biksu yang ber- tindak sebagai pemandu, dan ia menunjuk sebuah puncak terjal tepat di hadapan mereka. Ia meng- usap keringat yang membasahi keningnya. Mata- hari telah mencapai puncak perjalanannya me- lintasi langit, dan udara semakin panas.

Biksu itu kembali menyusuri jalan setapak yang sempit. Setelah beberapa saat, jalan setapaknya be- gitu menyempit, sehingga Hideyoshi dan para pem- bantunya terpaksa turun dari kuda. Sekonyong- konyong orang-orang di sekeliling Hideyoshi ber- henti.

"Kelihatannya seperti musuh," mereka berkata dengan waswas.

Hideyoshi dan rombongan kecilnya baru saja mengitari puncak gunung. Di kejauhan mereka melihat sekelompok prajurit di lereng gunung. Orang-orang itu pun tampak terkejut dan berdiri serempak. Sepertinya salah satu dari mereka mem- berikan perintah-perintah, sementara yang lain segera berpencar dalam keadaan kacau-balau. "Barangkali mereka sisa pasukan musuh," sese-

orang berkata, "Hamba dengar mereka melarikan diri sampai ke Ibuki."

Itu memang suatu kemungkinan, dan seketika para penembak berlari ke depan. Perintah siaga menghadapi pertempuran segera diberikan, tapi kedua biksu yang bertindak sebagai pemandu langsung berseru-seru.

"Mereka bukan musuh. Mereka petugas-petugas pengintai dari kuil. Jangan menembak!"

Kemudian mereka berpaling ke arah gunung di kejauhan dan membuka komunikasi dengan me- lambaikan tangan dan berteriak sekuat tenaga.

Sesudah itu, para prajurit menuruni gunung bagaikan batu yang menggelinding dari tebing. Tak lama kemudian seorang perwira dengan bendera kecil terpasang di punggung berlari menemui mereka. Hideyoshi mengenalinya sebagai pengikut dari Nagahama.

Kuil Daikichi tak lebih dari kuil pegunungan yang kecil. Jika turun hujan, air merembes lewat atap. Jika angin bertiup, semua dinding dan balok ber- goyang-goyang. Nene tinggal dan menunggui ibu mertuanya di kuil utama, sementara para dayang ditempatkan di bagian hunian para biksu. Para pengikut yang menyusul dari Nagahama men- dirikan pondok-pondok kecil di daerah sekitar. atau menginap di rumah-rumah petani di desa. Dalam kondisi menyedihkan inilah sebuah keluar- ga besar berjumlah lebih dari dua ratus orang hidup selama lebih dari dua minggu.

Ketika berita mengenai pembunuhan Nobu- naga sampai di telinga mereka, barisan depan pasukan Akechi telah terlihat dari benteng, dan hampir tak ada waktu untuk memikirkan langkah yang harus diambil. Nene sempat mengirim surat kepada suaminya yang berada di wilayah Barat yang jauh, tapi hanya pada saat-saat terakhir. Ia membawa ibu mertuanya melarikan diri dari benteng, meninggalkan segala sesuatu di sana. Ia hanya membawa satu kuda beban, dengan pakaian untuk ibu mertua dan hadiah dari Nobunaga untuk suaminya.

Dalam situasi itu, Nene merasakan beban tang- gung jawab yang diemban kaum perempuan. Ia memimpin benteng sementara Hideyoshi pergi, dan ia harus melayani mertuanya yang berusia lanjut dan mengatur rumah tangga benteng yang besar. Tentunya dengan sepenuh hati ia ingin merasakan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh pujian suaminya, namun Hideyoshi berada jauh di medan tempur. Sampai saat itu, Nene hidup aman di dalam benteng, sementara suaminya berada di medan perang, tapi sekarang tak ada perbedaan lagi di antara mereka.

Dalam masa perang, situasi semacam ini bukan alasan untuk berputus asa, tapi Nene risau me- mikirkan ke mana ia harus memindahkan ibu Hideyoshi. Kalaupun benteng diserahkan pada musuh, tak perlu diragukan bahwa Hideyoshi akan segera merebutnya kembali. Tapi sebagai istrinya, jika ia membiarkan ibu mertuanya terluka, ia tak- kan sanggup menghadapi suaminya lagi.

"Jangan pikirkan apa-apa selain melindungi ibu mertuaku. Jangan cemaskan aku. Dan walau terasa berat, tinggalkan segala sesuatu yang tak mutlak diperlukan. Jangan terpengaruh oleh harta benda." Demikianlah Nene membesarkan hati para pelayan perempuan dan semua anggota rumah tangga ketika mereka menyusuri jalan ke arah timur.

Di sebelah barat Nagahama dibatasi oleh Danau Biwa, daerah sebelah utara dikuasai oleh marga- marga musuh, sedangkan keadaan ke arah Jalan Raya Mino tidak diketahui pasti. Karena itu, tak ada pilihan selain mengungsi ke arah Gunung Ibuki.

Jika marganya meraih kemenangan, hati istri prajurit akan meluap oleh kebahagiaan.

Tapi jika suaminya berada di pihak yang kalah, atau mereka diusir dari bentengnya dan terpaksa mengungsi, istri yang malang itu merasakan ke- sedihan yang tak terbayangkan oleh laki-laki yang bekerja di ladang atau berdagang di kota.

Sejak hari itu, para anggota rumah tangga Hideyoshi mengalami kelaparan, membaringkan diri untuk tidur di tempat terbuka, dan terus di- hantui ketakutan akan patroli musuh. Pada malam hari, mereka sukar menghindari embun; pada siang hari, kaki mereka yang berdarah tak henti- hentinya melangkah.

Selama masa penderitaan itu ada satu pikiran yang menjadi pegangan bagi mereka: kalau sampai tertangkap oleh musuh, kita akan menunjukkan pada mereka siapa kita. Hampir semuanya berikrar demikian dalam hati.

Desa itu merupakan tempat pengungsian yang baik. Sejumlah penjaga telah ditugaskan di ke- jauhan, sehingga tak ada bahaya serangan men- dadak. Para pengungsi mempunyai tempat meng- inap dan perbekalan memadai. Satu-satunya masalah adalah keterpencilan mereka. Karena begitu jauh dari pemukiman lain, mereka tidak mengetahui perkembangan yang terjadi.

Tak lama lagi, kurir yang diutus seharusnya sudah kembali. Nene membiarkan pikirannya me- layang ke langit Barat. Pada malam sebelum me- ninggalkan Nagahama, ia sempat terburu-buru menulis surat untuk suaminya. Dan sejak itu tak ada kabar dari kurir yang bertugas menyampaikan suratnya. Barangkali orang itu tertangkap oleh pihak Akechi, atau ia tak mampu menemukan tempat persembunyian mereka. Siang-malam Nene memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut Belakangan Nene mendengar bahwa terjadi per- tempuran di Yamazaki. Ketika peristiwa itu di- beritahukan padanya, kulit Nene langsung ber- semu merah.

"Mungkin saja. Begitulah anak itu," ujar ibu Hideyoshi.

Rambut perempuan tua itu telah putih semua- nya, dan kini ia duduk di bangsal utama Kuil Daikichi sejak terjaga di pagi hari sampai beranjak tidur, hampir tanpa bergerak, berdoa dengan tulus bagi kejayaan putranya. Betapa besar pun ke- kacauan yang melanda dunia, ia yakin sepenuhnya bahwa putra yang dilahirkannya takkan pernah berpaling dari Jalan Kebesaran. Sekarang pun, pada saat berbincang-bincang dengan Nene, ia tak dapat meninggalkan kebiasaan lamanya, yaitu memanggil Hideyoshi dengan sebutan "anak itu".

"Biarkan dia kembali dengan membawa ke- menangan, meskipun kemenangannya harus di- tebus dengan tubuh renta ini." Itulah doa yang diucapkannya sepanjang hari. Dari waktu ke waktu ia menengadah sambil mendesah lega dan me- natap patung Dewi Kannon.

"Ibu, aku mendapat firasat bahwa tak lama lagi kita akan menerima kabar baik," ujar Nene suatu hari.

"Aku juga merasakannya, tapi aku tidak tahu apa sebabnya," kata ibu Hideyoshi.

"Aku tiba-tiba saja merasakannya, sewaktu menatap wajah Dewi Kannon," ujar Nene. "Sepertinya Dewi Kannon tersenyum pada kita. kemarin lebih jelas daripada hari sebelumnya, dan hari ini lebih jelas daripada kemarin."

Perbincangan kedua perempuan itu terjadi pada pagi hari menjelang kedatangan Hideyoshi.

Matahari sedang terbenam, dan temaram senja telah mewarnai dinding-dinding kuil. Nene meng- hidupkan lentera-lentera di tempat persembahan, sementara ibu Hideyoshi duduk berdoa di hadapan patung Dewi Kannon.

Tiba-tiba mereka mendengar prajurit-prajurit bergegas keluar. Ibu Hideyoshi menoleh terkejut dan Nene keluar ke serambi.

"Yang Mulia datang!"

Seruan para penjaga menggema di pekarangan. Setiap hari mereka menyusuri sungai sejauh enam mil ke arah hulu, untuk berjaga-jaga. Mereka ter- engah-engah karena berlari sampai ke gerbang utama, tapi ketika melihat Nene berdiri di seram- bi, mereka langsung berseru-seru, seakan-akan tak ada waktu lagi untuk mendekat.

"Ibu!" Nene berseru. "Nene!"

Perempuan tua dan menantunya itu berpelukan sambil menitikkan air mata. Ibu Hideyoshi ber- sujud di hadapan patung Dewi Kannon. Nene berlutut di sampingnya dan membungkuk khid- mat. "Sudah lama anak itu tak berjumpa denganmu. Kau tampak agak lelah. Sikatlah dulu rambutmu."

"Baik. Ibu."

Nene segera pergi ke kamarnya. Ia menyikat rambut, mengambil semangkuk air dari pipa bambu untuk mencuci muka, lalu cepat-cepat memoles wajah.

Semua anggota rumah tangga serta para samurai berada di depan gerbang, berbaris berdasarkan usia dan pangkat untuk menyambut Hideyoshi. Baik tua maupun muda, dan tak sedikit di antaranya penduduk desa, mengintip dari balik pepohonan. Mata mereka membeliak karena ingin tahu apa yang akan terjadi. Beberapa saat kemudian, dua prajurit yang mendului yang lain tiba di gerbang dan mengumumkan bahwa junjungan mereka berikut rombongannya akan segera menyusul. Setelah melapor pada Nene, mereka bergabung di ujung barisan, dan semua orang terdiam. Semua- nya menantikan kemunculan Hideyoshi di ke- jauhan. Sorot mata Nene tampak muram.

Tak lama kemudian sekelompok orang dan kuda datang, udara dipenuhi bau keringat dan debu, serta hiruk-pikuk orang-orang yang hendak mengelu-elukan junjungan mereka.

Hideyoshi berada dalam rombongan itu. Per- jalanan singkat dari desa ditempuhnya dengan ber- kuda, tapi di dalam gerbang kuil ia segera turun dari kudanya. Sambil menyerahkan tali kekang pada salah satu pembantunya, ia memandang sekelompok anak kecil yang berdiri di ujung barisan di sebelah kanannya.

"Di pegunungan ini tentu banyak tempat ber- main," katanya. Lalu ia menepuk-nepuk bahu para bocah yang berdiri di dekatnya. Mereka semua anak para pengikutnya; ibu, nenek, dan kakek mereka pun hadir di sini. Hideyoshi menatap semuanya sambil tersenyum ketika menuju tangga gerbang.

"Hmm, hmm. Kelihatannya semuanya aman. Aku lega." Kemudian ia berpaling ke sebelah kirinya, tempat para prajurit marganya berdiri sambil membisu. Hideyoshi meninggikan suara- nya. "Aku telah kembali. Aku memahami ke- sengsaraan yang kalian derita selama kepergianku. Kalian dipaksa bekerja sangat keras."

Para prajurit dalam barisan itu membungkuk. Di bawah gerbang di ujung tangga, para pengikut utama serta anggota-anggota kerabat terdekatnya, tua maupun muda, menunggu untuk menyambut- nya. Hideyoshi hanya melirik ke kiri-kanan sambil tersenyum. Kepada istrinya, Nene, ia hanya melirik sekilas, lalu melewati gerbang kuil tanpa berkata apa-apa.

Tapi sejak saat itu sang suami selalu disertai sosok istrinya yang bersahaja. Para pelayan yang mengikuti mereka sambil berkerumun dan para anggora keluarga bubar dan beristirahat, sesuai petunjuk Nene, atau memberi hormat dari serambi, lalu menghilang ke kamar masing-masing. Di dalam kuil utama yang berlangit-langit tinggi, sebuah lentera memancarkan cahayanya yang ber- kelap-kelip. Di sebelahnya duduk seorang perem- puan dengan rambut seputih kepompong ulat sutra, mengenakan kimono berwarna cokelat

muda.

Ia mendengar suara putranya ketika diantar dari serambi oleh istrinya. Tanpa bersuara, ibu Hide- yoshi berdiri dan pindah ke tepi ruangan. Tata cara untuk kesempatan itu menuntut penyam- butan untuk kepala marga yang pulang dengan membawa kemenangan; ini merupakan tradisi golongan samurai, bukan urusan sehari-hari antara orangtua dan anak. Tapi begitu Hideyoshi melihat ibunya dalam keadaan sehat, ia tak merasakan apa pun selain cinta kasih bagi darah dagingnya sen- diri. Sambil membisu ia menghampiri ibunya. Namun dengan sopan perempuan tua itu menolak.

"Kau telah kembali dengan selamat. Sebelum menanyakan penderitaan atau kabarku, maukah kau bercerita mengenai kematian Yang Mulia Nobunaga? Dan tolong beritahu aku, apakah kau berhasil menghancurkan musuh kita, Mitsuhide?"

Tanpa sadar Hideyoshi menegakkan badan. Ibunya melanjutkan. "Entah kau menyadarinya atau tidak, tapi hari demi hari yang dicemaskan ibumu yang tua ini bukanlah pertanyaan apakah kau masih hidup atau tidak. Aku bertanya-tanya, apakah kau akan bertindak sebagai Jendral Hideyoshi yang agung, pengikut Yang Mulia Nobunaga. Kemudian aku mendengar kau meng- gempur Amagasaki dan Yamazaki. Tapi sesudah itu kami tidak mendapat berita lagi."

"Maafkan kelalaianku."

Ibu Hideyoshi sengaja menjaga jarak, dan kata- katanya seakan-akan tidak mengandung nada kasih sayang, tapi Hideyoshi gemetar karena bahagia. Ia merasa teguran ibunya menunjukkan kasih sayang yang jauh lebih besar daripada sekadar kasih sayang seorang ibu, dan teguran itu pun mem- berikan semangat padanya untuk menghadapi masa depan.

Hideyoshi lalu bercerita secara terperinci mengenai apa saja yang terjadi setelah kematian Nobunaga, dan tentang hal-hal besar yang ingin diraihnya. Ia membicarakan semuanya secara gamblang, agar dapat dimengerti oleh ibunya yang tua.

Baru sekarang ibunya menitikkan air mata dan memuji putranya. "Syukurlah kau berhasil menum- pas orang-orang Akechi dalam beberapa hari saja. Arwah Yang Mulia Nobunaga tentu puas, dan beliau takkan menyesal telah membimbingmu selama ini. Sesungguhnya, aku telah bertekad untuk tidak membiarkanmu melewatkan satu malam pun di sini, seandainya kau datang sebelum melihat kepala Mitsuhide."

"Dan aku takkan dapat menemui Ibunda sebelum menuntaskan urusan itu, jadi aku tak ada pilihan selain bertempur terus sampai dua atau tiga hari yang lalu."

"Pertemuan kita di sini menunjukkan bahwa jalan yang kautempuh scsuai dengan kehendak para dewa dan Buddha. Hmm... Nene, kemarilah. Kita perlu mengucap syukur bersama-sama."

Kemudian perempuan itu sekali lagi berpaling kepada patung Dewa Kannon. Sampai saat itu, Nene duduk terpisah dari Hideyoshi dan ibunya. Namun ketika ibu mertuanya memanggil, ia segera bcrdiri dan menghampiri tempat persembahan.

Setelah menyalakan lentera, ia segera kembali. Baru sekarang ia duduk di samping suaminya. Ketiga-tiganya membungkuk ke arah cahaya redup di hadapan mereka. Setelah Hideyoshi menenga- dah dan menatap patung itu, mereka membung- kuk sekali lagi. Sebuah lempeng peringatan ber- tuliskan nama Yang Mulia Nobunaga telah di- tempatkan di sana.

Setelah selesai, ibu Hideyoshi merasa seolah- olah sebuah beban berat telah terangkat dari pundaknya.

"Nene," perempuan tua itu memanggil dengan lembut. "Anak itu tentu ingin mandi. Sudah siap- kah semuanya?" "Sudah. Mandi memang lebih menyenangkan daripada apa pun, jadi aku sudah menyiapkan semuanya."

"Bagus, jadi dia bisa membersihkan keringat dan debu yang melekat. Sementara itu, aku akan ke dapur untuk menyiapkan beberapa hidangan kesukaannya."

Perempuan tua itu membiarkan mereka ber- duaan saja.

"Nene."

"Ya?"

"Kurasa kau pun melalui banyak penderitaan kali ini. Tapi dengan segala kesulitan yang kau- hadapi, kau berhasil mengamankan ibuku. Sesungguhnya itulah satu-satunya kekhawatiran- ku."

"Istri prajurit selalu siap menghadapi cobaan seperti ini, jadi rasanya tidak terlampau berat."

"Betulkah? Kalau begitu, kau paham bahwa tak ada yang lebih memuaskan daripada menoleh ke belakang dan melihat bahwa segala kesulitan telah berhasil kaulewati."

"Kalau aku melihat suamiku pulang dengan selamat, aku pun memahami maksud ucapan itu."

Keesokan harinya mereka kembali ke Naga- hama. Matahari pagi terpantul pada kabut yang putih. Menyusuri Sungai Azusa, jalanan semakin menyempit, para prajurit turun dan menuntun kuda masing-masing. Di tengah perjalanan, mereka bertemu salah satu perwira staf dari Nagahama yang datang untuk melaporkan situasi perang.

"Surat tuanku mengenai hukuman terhadap orang-orang Akechi telah dikirim kepada marga- marga lain, dan barangkali karena segera diberi- tahu, pasukan Yang Mulia Ieyasu telah kembali ke Hamamatsu dari Narumi. Di pihak lain, pasukan Yang Mulia Katsuie, yang sudah sempat mencapai perbatasan Omi, kabarnya kini menghentikan gerak majunya."

Hideyoshi tersenyum simpul, lalu bergumam, seakan-akan berbicara pada diri sendiri, "Rupanya kali ini Yang Mulia Ieyasu pun agak bingung. Meski tidak secara langsung, kelihatannya kesiaga- an Ieyasu telah membubarkan kekuatan militer Mitsuhide. Para prajurit Tokugawa pasti amat kecewa, karena terpaksa pulang tanpa sempat men- cicipi pertempuran."

Jadi, pada hari kedua puluh lima bulan itu, sehari setelah ia mengantar ibunya ke Nagahama, Hideyoshi bertolak ke Mino.

Provinsi Mino sempat dilanda huru-hara, tapi begitu pasukan Hideyoshi maju, daerah itu segera kembali tenteram. Pertama-tama ia menyerahkan benteng di Inabayama kepada Nobutaka, dan dengan demikian ia menunjukkan kesetiaannya terhadap marga bekas junjungannya. Kemudian dengan tenang ia menunggu pertemuan di Kiyosu, yang menurut rencana dimulai pada tanggal dua puluh tujuh bulan itu.