--> -->

Taiko Bab 34 : Upacara Berdarah

Bab 34 : Upacara Berdarah

PASUKAN Oda harus segera mundur—itulah alasan di balik perjanjian perdamaian, dan malam itu juga sekutu Hideyoshi, orang-orang Ukita, mulai menarik pasukan. Tapi tak satu prajurit pun ditarik dari perkemahan utama Hideyoshi. Pada pagi hari kelima, Hideyoshi belum juga bergerak. Walaupun pikirannya sudah melayang ke ibu kota, ia tidak memperlihatkan gelagat hendak mem- bongkar perkemahannya.

"Hikoemon, seberapa jauh air sudah surut?" "Sekirar satu meter."

"Jangan biarkan surut terlalu cepat."

Hideyoshi keluar ke pekarangan kuil. Meski tanggul telah dijebol dan permukaan danau mulai turun sedikit demi sedikit. Benteng Takamatsu masih terkepung hamparan air. Malam sebelum- nya salah satu bawahan telah mendatangi benteng itu untuk menerima pernyataan menyerah. Dan kini pasukan bertahan tengah diungsikan.

Ketika malam tiba, Hideyoshi mengutus se- seorang untuk memata-matai pasukan Mori. Kemudian ia berunding dengan Kanbei dan para jendral lain, lalu segera mengadakan persiapan untuk membongkar perkemahan. "Suruh orang- orang segera menjebol tanggul." ia memerintahkan pada Kanbei.

Tanggul itu kini dijebol di sepuluh tempat. Hampir seketika air mulai bergolak. Pusaran air yang tak terhitung jumlahnya muncul ketika air danau menerjang keluar bagai gelombang pasang.

Mana yang lebih cepat, air danau atau Hide- yoshi, yang kini memacu kudanya ke arah timur? Tempat-tempat tinggi di sekitar benteng dengan cepat berubah menjadi dataran kering, sementara tempai-tempat rendah dilintasi oleh sejumlah sungai; jadi, biarpun pasukan Mori hendak mengejar, mereka belum dapat menyeberang selama dua-tiga hari lagi.

Pada hari ketujuh, Hideyoshi tiba di tempat penyeberangan Sungai Fukuoka, dan menemukan sungai itu tengah banjir. Para prajurit membuat bantalan pelindung untuk kuda-kuda mereka dengan mengikatkan barang-barang bawaan, lalu menyeberang, membentuk rantai manusia dengan bergandengan tangan atau dengan menggenggam gagang tombak yang dibawa oleh orang di depan.

Hideyoshi yang pertama melintasi sungai itu. dan ia duduk di kursinya di tepi seberang. "Jangan panik! Jangan terburu-buru!" ia berseru. Sepertinya ia sama sekali tak terganggu oleh angin dan hujan. "Kalau satu orang tenggelam, musuh akan menga- takan kita kehilangan lima ratus; kalau kalian kehilangan sepotong barang, mereka akan bilang seratus, jangan sia-siakan nyawa atau senjata di sini."

Barisan belakang kini bergabung dengan pasukan utama, dan dengan kesatuan demi kesatuan saling menyusul, kedua tepi sungai dipenuhi prajurit. Komandan barisan belakang menghadap Hideyoshi   dan melaporkan keadaan di Takamatsu. Penarikan pasukan telah rampung, dan tetap tidak ada tanda-tanda dari pihak Mori. Kelegaan yang dirasakan Hideyoshi terbaca jelas di wajahnya. Sepertinya baru sekarang ia merasa benar-benar aman; kini ia dapat menyalurkan segenap tenaganya ke satu arah.

Pada pagi hari kedelapan, pasukan itu kembali ke Himeji. Berlumuran lumpur, lalu diterpa hujan badai, para prajurit menempuh sekitar enam puluh mil dalam satu hari.

"Yang pertama-tama ingin kulakukan," Hide- yoshi berkata pada pembantunya, "adalah mandi." Komandan benteng  bersujud di hadapan Hideyoshi. Setelah mengucapkan selamat datang, ia memberitahukan bahwa dua kurir telah tiba. salah satunya dari Nagahama  dengan berita

penting.

"Aku akan menemui mereka sehabis mandi. Aku minta air panas yang banyak. Baju tempur dan pakaian dalamku sampai basah kuyup karena hujan."

Hideyoshi berendam dalam bak berisi air panas. Matahari pagi tampak indah, seakan-akan dibing- kai oleh jendela pemandian; cahayanya menembus lewat kisi-kisi dan menerpa wajahnya, terapung- apung dalam uap air.

Hideyoshi meloncat keluar dari bak menimbul- kan suara bagaikan air terjun. "Hei, tolong gosok punggungku!" serunya.

Kedua pelayan yang menunggu di luar bergegas masuk. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, mereka menggosok-gosok tubuhnya, mulai dari tengkuk sampai ke ujung jari.

Tiba-tiba Hideyoshi tertawa dan berkata. "Wah. lihat kotorannya! Ketika menatap dasar sekitar kakinya, ia melihat kotoran yang terlepas dari badannya menyerupai kotoran burung.

Bagaimana mungkin orang itu memiliki penam- pilan demikian berwibawa di medan perang? Tubuhnya yang telanjang tampak kurus meng- ibakan hati. Memang benar, tenaganya terkuras habis selama operasi di wilayah Barat yang ber- langsung lima tahun, tapi pada dasarnya tubuhnya yang berusia empat puluh enam tahun memang kurang berisi. Sekarang pun bayang-bayang bocah petani dari Nakamura, yang miskin dan kurus, masih terlihat. Tubuhnya bagaikan pohon cemara yang merana di celah-celah bebatuan, atau seperti pohon prem kerdil yang digerogoti angin dan salju—kuat, namun menunjukkan tanda-tanda ketuaan.

Tapi tidaklah adil membandingkan usia dan perawakannya dengan orang biasa. Kulit maupun tubuhnya penuh vitalitas. Bahkan adakalanya ia tampak seperti orang muda jika sedang gembira atau marah.

Ketika mengeringkan ludah sehabis mandi. Hideyoshi memanggil seorang pelayan dan berkata, "Ini harus segera diumumkan: Pada tiupan sangkakala pertama, seluruh pasukan harus makan; pada tiupan kedua, korps perbekalan harus berangkat, pada tiupan ketiga, seluruh pasukan harus berkumpul di muka benteng."

Hideyoshi lalu memanggil Hikoemon serta orang-orang yang bertanggung jawab atas keuangan dan perbekalan. "Berapa isi kas kita?" tanya Hideyoshi.

"Sekitar tujuh ratus lima puluh satuan perak, dan lebih dari delapan ratus keping emas," seorang petugas menjawab.

Hideyoshi berpaling pada Hikoemon dan memerintahkan. "Ambil semuanya dan bagi-bagi- kan kepada para prajurit, sesuai upah masing- masing." Kemudian ia menanyakan berapa banyak beras yang tersimpan dalam gudang-gudang, sambil berkomentar. "Kita tidak menghadapi penge- pungan di sini, jadi kita tak perlu menimbun beras banyak-banyak. Bagikan beras sebanyak lima kali jatah biasa kepada para pengikut."

Ia meninggalkan pemandian dan langsung me- nuju tempat kurir dari Nagahama menunggu. Ibu dan istrinya berada di Nagahama, dan ia terus dihantui kecemasan mengenai mereka.

Begitu Hideyoshi melihat kurir itu bersujud di hadapannya, ia bertanya. "Mereka baik-baik saja, bukan? Apakah terjadi sesuatu?"

"Ibunda maupun istri Yang Mulia dalam keadaan sehat."

"Benarkah? Kalau begitu, apakah benteng di Nagahama berada di bawah serangan?"

"Hamba diutus dari Nagahama pada pagi hari keempat, ketika segerombolan musuh mulai menyerang."

"Orang-orang Akechi?"

"Bukan, mereka ronin Asai yang bersekutu dengan marga Akechi. Tapi menurut desas-desus yang hamba dengar dalam perjalanan, pasukan Akechi berkekuatan besar sedang menuju Naga- hama."

"Bagaimana rencana orang-orang di Nagahama?" "Kekuatan mereka tidak memadai untuk meng- hadapi pengepungan, jadi dalam keadaan darurat, mereka berencana mengungsikan keluarga Yang Mulia ke sebuah tempat persembunyian di pe-

gunungan."

Si kurir meletakkan sepucuk surat di hadapan Hideyoshi. Surat itu dari Nene. Sebagai istri sang Penguasa Benteng, ia berkewajiban mengurus segala sesuatu sementara suaminya pergi. Walau- pun surat itu tentu ditulis di tengah badai kebingungan dan kebimbangan, coretan kuasnya tampak rapi. Namun isi suratnya jelas-jelas meng- isyaratkan bahwa surat tersebut mungkin yang terakhir.

Jika keadaan bertambah buruk, hamba menjamin bahwa istri Tuanku takkan berbuat apa pun yang dapat menodai nama tuanku. Satu-satunya kepentingan ibunda tuanku serta hamba adalah bahwa tuanku dapat mengatasi segala kesulitan dalam masa rawan ini.

Tiupan sangkakala pertama terdengar nyaring di benteng dan di kota.

Hideyoshi memberikan wejangan terakhir pada para pengikutnya di Benteng Himeji. "Kemena- ngan atau kekalahan ditentukan oleh takdir, tapi seandainya aku gugur di tangan Mitsuhide, bakar- lah benteng ini sehingga tak ada yang tersisa. Kita harus bersikap gagah, mengikuti contoh yang di- berikan orang-orang yang menemui ajal di Kuil Honno."

Tiupan kedua berkumandang dan iring-iringan perbekalan pun mulai bergerak. Pada waktu matahari hendak terbenam di barat. Hideyoshi memerintahkan agar kursinya dipindahkan ke luar benteng, dan menyuruh seorang prajurit meniup sangkakala untuk ketiga kalinya. Kegelapan malam mulai menyelubungi belang-belang luas serta pohon-pohon pinus yang berderet-deret di sepan- jang jalan pesisir. Dari senja sampai lewat tengah malam, tanah terasa bergetar ketika sepuluh ribu prajurit bergabung dengan divisi masing-masing di luar Benteng Himeji.

Fajar menyingsing, dan satu per satu siluet pohon-pohon pinus di jalan pesisir mulai tampak. Di timur, matahari merah muncul di cakrawala di atas lain Harima, menguak awan, seakan hendak memacu semangat para prajurit.

"Lihat!" Hideyoshi berseru. "Kita diberi angin baik. Panji-panji dan pataka kita berkibar ke arah timur. Aku tahu bahwa nasib manusia tak dapat dipastikan. Kita tidak tahu apakah kita akan hidup sampai fajar berikut, tapi para dewa menunjukkan jalan ke depan. Mari kita kumandangkan teriakan perang yang nyaring, agar para dewa mengetahui keberangkatan kita."

Dalam sepuluh hari sejak kematian Nobunaga, situasi nasional berubah dramatis. Di Kyoto, orang-orang resah sejak peristiwa Kuil Honno. Kedua jendral senior Nobunaga, Shibata Katsuie, dan Takigawa Kazumasu, berada di tempat jauh; Tokugawa Ieyasu telah kembali ke provinsi asalnya: pendirian Hosokawa Fujitaka dan Tsutsui Junkei tidak jelas, dan Niwa Nagahide berada di Osaka.

Desas-desus bahwa pasukan Hideyoshi telah tiba di Amagasaki, di dekat Kyoto, menyebar bagai- kan angin pada pagi hari kesebelas. Banyak yang tidak mempercayainya. Kabar selentingan yang beredar memang tidak sedikit—bahwa Yang Mulia Ieyasu menuju ke Barat; bahwa Nobuo, yang tertua di antara putra-putra Nobunaga yang masih hidup, sedang menyiapkan serangan balasan; bahwa pasukan Akechi terlibat pertempuran di sini atau di sana. Desas-desus yang paling dapat dipercaya adalah bahwa pasukan Hideyoshi ditahan di Taka- matsu oleh pihak Mori. Hanya mereka yang mengenal Hideyoshi dengan baik luput dari ang- gapan keliru ini.

Kecakapan yang diperlihatkan Hideyoshi dalam penyerbuan ke wilayah Barat selama lima tahun terakhir telah menyadarkan sejumlah jendral Nobunaga akan kemampuan yang dimilikinya. Di antara orang-orang ini terdapat Niwa Nagahide, Nakagawa Sebei, Takayama Ukon, dan Ikeda Shonyu. Mereka memandang keteguhan Hide- yoshi di bawah kesengsaraan berkepanjangan se- bagai bukti kesetiaan tak tergoyahkan terhadap bekas junjungan mereka. Ketika mendengar bahwa Hideyoshi telah berdamai dengan marga Mori dan sedang menuju ibu kota, mereka gembira bahwa harapan-harapan mereka tidak dikecewakan. Pada waktu Hideyoshi menempuh perjalanan ke arah timur, mereka mengirim pesan-pesan penting kepadanya, mendesaknya agar bergerak secepat mungkin, dan terus melaporkan pergerakan ter- akhir pasukan Akechi.

Saat Hideyoshi mencapai Amagasaki, Nakagawa Sebei dan Takayama Ukon membawa sebagian pasukan masing-masing dan berkunjung ke per- kemahan Hideyoshi.

Ketika kedua jendral itu tiba, samurai yang ber- tugas jaga tidak kelihatan terlalu gembira karena kehadiran mereka, dan ia pun tidak bergegas mengumumkan kedatangan keduanya. "Yang Mulia sedang beristirahat sekarang," katanya pada mereka.

Baik Sebei maupun Ukon tercengang. Mereka sangat sadar akan nilai mereka sebagai sekutu. Kekuaran militer orang yang memperoleh du- kungan mereka akan berlipat ganda. Selain itu, benteng-benteng mereka menguasai jalan masuk ke Kyoto. Dengan mengamankan kedua benteng kunci tersebut, yang terletak hampir di tengah- tengah wilayah musuh. Hideyoshi akan mem- peroleh keuntungan strategis dan logistik yang luar biasa.

Jadi, ketika mendatangi perkemahan Hideyoshi. mereka menganggap sudah sewajarnya kalau Hide- yoshi sendiri yang keluar untuk menyambut mereka. Kedua jendral itu tak dapat berbuat apa- apa selain menunggu. Selama itu, mereka meng- amati orang-orang yang terlambat tiba. Kurir-kurir pun datang dan pergi ke segala arah. Di antara mereka ada satu orang yang dikenali oleh Nakagawa Sebei.

"Bukankah itu samurai Hosokawa?" gumamnya. Bukan rahasia lagi bahwa Mitsuhide dan Hosokawa Fujitaka teramat dekat. Kedua orang itu berteman akrab selama bertahun-tahun, dan kedua keluarga mereka dihubungkan oleh ikatan per-

kawinan.

Kenapa kurir marga Hosokawa ada di sini? Sebei bertanya dalam hati. Urusan tersebut tidak menyangkut kedua jendral yang tengah menunggu Hideyoshi saja, melainkan seluruh bangsa.

"Penjaga tadi mengaku Yang Mulia Hideyoshi sedang tidur, tapi aku yakin dia bohong. Apa pun yang sedang dilakukannya, sikap Hideyoshi tak dapat diterima," Ukon menggerutu.

Mereka sudah hendak pergi ketika salah satu pelayan pribadi Hideyoshi bergegas menghampiri mereka, dan mengundang keduanya ke kuil yang dijadikan markas oleh Hideyoshi. Hideyoshi tidak berada di dalam ruangan yang mereka masuki, tapi bisa dipastikan bahwa ia telah bangun agak lama. Tawa berderai terdengar dari ruang Kepala Biara. Bukan seperti ini sambutan yang diharapkan oleh kedua jendral. Mereka telah datang untuk ber- sekutu dengan Hideyoshi dan menghukum Mitsuhide. Ukon tampak dongkol, kegetiran yang dirasakannya dalam hati terbaca pada wajahnya; Sebei merengut.

Hawa panas yang menyesakkan napas semakin memperkuat ketidakpuasan mereka. Musim hujan seharusnya sudah berakhir, tapi udara masih saja lembap. Di langit, awan-awan bergerak tanpa aturan, seolah-olah mencerminkan keadaan yang melanda seluruh negeri. Dari waktu ke waktu sinar matahari menembus lapisan awan.

"Panas sekali, Sebei," Ukon berkomentar. "Ya, dan tidak ada angin sama sekali."

Kedua orang itu tentu saja mengenakan baju tempur lengkap. Baju tempur kini memang sudah lebih ringan dan lentur, namun tak pelak lagi bahwa di bawah pelindung dada mereka, keringat mengalir seperti sungai.

Sebei membuka kipas dan mengayun-ayunkan- nya. Lalu, untuk menunjukkan bahwa kedudukan mereka tidak di bawah Hideyoshi, Sebei dan Ukon sengaja menduduki kursi yang disediakan bagi orang-orang dengan pangkat tertinggi.

Saat itulah seseorang menyapa mereka dengan riang, Hideyoshi. Begitu duduk di hadapan mereka, ia segera mohon maaf sedalam-dalamnya. "Aku sungguh menyesal telah bersikap kasar. Ketika bangun tadi, aku langsung pergi ke kuil utama, dan sementara kepalaku dicukur, seorang kurir dari Hosokawa Fujitaka tiba dengan pesan penting. Jadi aku lebih dulu berbicara dengannya, sehingga Tuan-Tuan terpaksa menunggu," ia ber- kata sambil menepuk-nepuk kepalanya yang kini tanpa rambut. Ia duduk dengan gayanya yang biasa, tanpa memedulikan pangkat. Kedua tamunya terkesima, dan pandangan mereka melekat pada kepala Hideyoshi yang gundul, yang memantulkan kehijauan pepohonan di kebun yang berdekatan.

"Paling milik, sekarang kepalaku terasa sejuk," Hideyoshi menambahkan sambil menangis. "Men- cukur rambut sampai habis memang sangat menyegarkan."

Ia tampak agak salah tingkah, dan terus meng- gosok-gosok kepalanya. Ketika Sebei dan Ukon mengetahui bahwa Hideyoshi sampai mencukur kepala demi Nobunaga, mereka segera menying- kirkan segala ketidaksenangan, dan justru merasa malu atas kepicikan mereka.

Masalahnya, setiap kali menatap Hideyoshi, mereka seakan-akan dipaksa tertawa. Walaupun tak ada lagi yang secara terang-terangan memanggil- nya Monyet, julukan lama serta penampilannya kini memancing rasa geli.

"Kecepatanmu mengejutkan kami." Sebei mem- buka percakapan. "Kau tentu tidak tidur antara sini dan Takamatsu. Kami lega melihatmu dalam keadaan sehat," ia melanjutkan sambil berjuang menahan tawa.

Hideyoshi berkata dengan manis, "Aku sungguh menghargai laporan-laporan yang kalian kirimkan padaku. Berkat laporan-laporan itulah aku dapat mengetahui pergerakan pasukan Akechi, dan yang lebih penting, mengetahui bahwa kalian merupa- kan sekutuku."

Tapi baik Sebei maupun Ukon tidak sebegitu bodoh, hingga termakan oleh sanjungan seperti itu. Hampir tanpa menanggapi komentar Hide- yoshi, mereka segera mulai memberikan saran- saran padanya.

"Kapan kau akan bertolak ke Osaka? Yang Mulia Nobutaka ada di sini bersama Niwa."

"Sekarang ini aku tidak ada waktu untuk pergi ke Osaka; bukan di sini tempat musuh bercokol. Tadi pagi aku sudah mengirim sebuah pesan ke Osaka."

"Yang Mulia Nobutaka merupakan putra ketiga Yang Mulia Nobunaga. Bukankah kau sebaiknya berjumpa dulu dengan beliau?"

"Aku tidak mengundang beliau ke sini. Aku mengundang beliau untuk turut ambil bagian dalam pertempuran mendatang, yang akan me- rupakan upacara bagi Yang Mulia Nobunaga. Beliau bersama Niwa, jadi kupikir tak perlu ber- sikap terlalu resmi. Besok beliau akan bergabung dengan kita."

"Bagaimana dengan Ikeda Shonyu?

"Kita juga akan bertemu dengannya. Aku belum berjumpa dengannya, tapi dia menjanjikan dukungan melalui kurir yang diutusnya.

Hideyoshi merasa yakin mengenai para sekutu- nya. Bahkan Hosokawa Fujitaka pun menolak ajakan Mitsuhide. Ia hanya mengirim pengikutnya ke perkemahan Hideyoshi untuk menyampaikan bahwa ia tak sudi bergabung dengan seorang pem- berontak. Hideyoshi lalu menjelaskan pada kedua tamunya bahwa kesetiaan ini bukan hanya suatu kecenderungan alami, melainkan merupakan prinsip moral golongan samurai.

Akhirnya, setelah membahas berbagai topik, Sebei dan Ukon secara resmi menyerahkan sandera-sandera yang mereka bawa sebagai bukti iktikad baik mereka.

Hideyoshi menolak sambil tertawa. "Itu tidak perlu. Aku mengenal Tuan-Tuan dengan baik. Kembalikanlah anak-anak ini ke rumah masing- masing."

Pada hari yang sama, Ikeda Shonyu, yang mengenal Hideyoshi sejak mereka sama-sama di Benteng Kiyosu, bergabung dengan pasukan Hideyoshi. Beberapa waktu sebelum berangkat pagi itu. Shonyu pun telah mencukur kepalanya sampai licin.

"Wah! Kau juga mencukur kepalamu?" ujar Hideyoshi ketika melihat sahabatnya.

"Secara kebetulan kita melakukan hal yang sama."

"Jalan pikiran kita serupa."

Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Shonyu kini menambahkan keempat ribu prajuritnya ke dalam barisan prajurit Hideyoshi. Mula-mula Hideyoshi membawahi sekitar sepuluh ribu orang, tapi dengan tambahan kedua ribu prajurit Ukon. kedua ribu lima ratus prajurit Sebei, keseribu prajurit Hachiya, dan keempat ribu prajurit Ikeda, ia kini memimpin pasukan berkekuatan lebih dari dua puluh ribu orang.

Di luar dugaan, Sebei dan Ukon mulai saling mendebat ketika mengikuti rapat perang pertama, dan keduanya tidak bersedia mundur sedikit pun dari pendirian masing-masing.

"Sejak dulu telah menjadi kebiasaan di kalangan samurai bahwa penguasa benteng yang terdekat dengan posisi musuh berhak memimpin barisan depan." ujar Ukon. "jadi, sama sekali tak ada alasan mengapa prajurit-prajurit harus mengikuti pasukan Sebei."

Sebei tak mau mengalah. "Pembedaan antara barisan belakang dan depan seharusnya tak ada sangkut-paut dengan jarak antara medan tempur dan benteng seseorang. Kemampuan pasukan dan komandan bersangkutanlah yang menentukan."

"Maksud Tuan, aku tak pantas memimpin barisan depan dalam serangan terhadap musuh?"

"Entahlah. Tapi aku yakin aku takkan mengalah pada siapa pun. Dan hasratku untuk memimpin barisan depan dalam pertempuran ini tak ter- goyahkan. Aku, Nakagawa Sebei, yang paling pantas untuk itu."

Sebei mendesak Hideyoshi agar diberi kehor- matan ini, namun Ukon pun membungkuk dan menatap Hideyoshi, dengan harapan menerima tongkat komando. Hideyoshi mengambil ke- putusan sesuai dengan kedudukannya sebagai panglima tertinggi.

"Kalian berdua sama-sama pantas, jadi masuk akal kalau Sebei memimpin satu unit baris dalam gugus tempur pertama, dan Ukon membawahi yang satu lagi. Aku berharap kalian memper- lihaikan tindakan yang sepadan dengan ucapan kalian."

Selama rapat berlangsung, pengintai-pengintai terus berdatangan untuk memberikan laporan.

"Mitsuhide telah menarik pasukannya dari Horagamine dan memusatkan kekuatannya di daerah sekitar Yamazaki dan Enmyoji. Semula dia seakan-akan hendak mundur ke Benteng Saka- moto, tapi pagi ini dia mendadak menunjukkan sikap ofensif. Kini satu divisi pasukannya sedang menuju ke arah Benteng Shoryuji."

Ketika mendengar laporan tersebut, para jendral tiba-tiba kelihatan tegang. Jarak antara perkemahan mereka di Amagasaki dan Yamazaki kurang dari sesambaran petir. Mereka sudah bisa merasakan kehadiran musuh di daerah itu.

Sebei dan Ukon sama-sama diberi tanggung jawab memimpin barisan depan, dan mereka ber- diri dan bertanya, "Tidakkah kita harus segera menuju Yamazaki?" Hideyoshi, yang tak terpengaruh oleh ke- bingungan saat itu, menjawab dengan amat tenang.

"Kupikir kita sebaiknya menunggu satu hari lagi, sampai Yang Mulia Nobutaka tiba di sini. Memang, selama kita menunggu, kesempatan baik ini akan berlalu sedikit demi sedikit, namun aku ingin salah satu putra bekas junjungan kita turut serta dalam pertempuran ini. Aku tak mau menempatkan Yang Mulia Nobutaka ke dalam situasi yang akan disesalinya sepanjang hidupnya."

"Tapi bagaimana kalau sementara itu musuh berhasil mencapai lokasi menguntungkan?"

"Hmm, tentu saja harus ada batas waktu. Apa pun yang terjadi, besok kita sudah harus bertolak ke Yamazaki. Setelah seluruh pasukan berkumpul di Yamazaki, kita akan berhubungan lagi, jadi sebaiknya kalian berdua segera berangkat se- karang."

Sebei dan Ukon keluar dari ruang rapat. Urut- urutan keberangkaun barisan depan ditetapkan sebagai berikut: Pertama-tama, korps Takayama; kedua, korps Nakagawa: dan ketiga, korps Ikeda.

Begitu meninggalkan Tonda, kedua ribu prajurit Takayama mengayunkan langkah, seolah- olah musuh sudah berada di depan mata. Ketika mengamati debu yang diterbangkan oleh kuda- kuda mereka, Sebei dan semua orang dalam korps kedua bertanya-tanya, apakah pasukan Akechi belum sampai di Yamazaki.

"Untuk itu pun mereka bergerak terlalu cepat." seseorang berkomentar curiga.

Segera sesudah memasuki Desa Yamazaki, anak buah Ukon menutup semua gerbang di jalan-jalan yang menuju kota, bahkan menghadang orang- orang yang melewati jalan-jalan kecil di kawasan itu.

Pasukan Nakagawa yang menyusul kemudian tentu saja menemui rintangan-rintangan ini, dan mendadak paham mengapa Ukon demikian ter- buru-buru; ia tak sudi didului orang lain. Sebei meninggalkan posisi strategis ini dan langsung menuju sebuah bukit bernama Tennozan.

Akhirnya Hideyoshi berkemah di Tonda malam itu, tapi keesokan harinya ia menerima laporan bahwa Nobutaka dan Niwa telah tiba di tepi Sungai Yodo.

Begitu mendengar kabar itu, Hideyoshi melom- pat gembira, nyaris membalikkan kursinya "Bawa- kan kuda! Bawakan kuda untukku!" ia memerin- tahkan.

Sambil menaiki kuda, ia berpaling kepada para penjaga gerbang dan berseru. "Aku akan pergi menyambut Yang Mulia Nobutaka!" Lalu ia memacu kudanya ke arah Sungai Yodo.

Sungai lebar itu hampir meluap. Di tepinya pasukan Nobutaka terbagi menjadi dua korps, masing-masing berkekuatan empat ribu dan tiga ribu prajurit.

"Di manakah Yang Mulia Nobutaka?" Hideyoshi berseru ketika turun di tengah-tengah kerumunan prajurit yang bermandikan keringat. Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa ia Hideyoshi.

"Ini aku, Hideyoshi," ia menyebutkan namanya. Para prajurit terbengong-bengong.

Hideyoshi tidak menunggu sambutan resmi. Sambil menerobos kerumunan orang, ia menuju pohon tempat Nobutaka memasang panjinya.

Dikelilingi para perwira, Nobutaka menduduki kursi lipat tanpa sandaran, melindungi matanya dari pantulan cahaya menyilaukan. Tiba-tiba ia ber- balik dan melihat Hideyoshi berlari ke arahnya, memanggil-manggil. Begitu melihat Hideyoshi, Nobutaka dikuasai rasa terima kasih. Inilah pengikut yang dididik selama bertahun-tahun oleh ayahnya, dan apa yang kini dilakukan orang itu jauh melampaui ikatan yang biasa terdapat antara junjungan dan pengikut. Sorot matanya menun- jukkan bahwa ia tengah diliputi emosi yang biasa- nya hanya dirasakan jika ia berhadapan dengan sanak saudara.

"Hideyoshi!" Nobutaka berseru.

Tanpa menunggu uluran tangan Nobutaka, Hideyoshi menghampiri dan menggenggam tangannya dengan erat.

"Yang Mulia Nobutaka!" Hanya itu yang diucap- kan Hideyoshi. Kedua laki-laki itu tidak berkata apa-apa lagi, tapi mata mereka berbicara panjang- lebar. Air mata bergulir di pipi masing-masing. Melalui air matalah Nobutaka dapat mengungkap- kan perasaan terhadap mendiang ayahnya kepada seorang pengikut marganya. Dan Hideyoshi pun memahami isi hati pemuda itu. Ia akhirnya me- lepaskan tangan yang digenggamnya demikian erat dan segera berlutut di tanah.

"Kedatangan Yang Mulia sungguh membahagia- kan hati. Tak ada waktu untuk mengatakan apa- apa lagi, dan sebenarnya memang tak ada lagi yang dapat hamba katakan, Hamba hanya bersyukur bahwa hamba dapat berada di sini bersama Yang Mulia, dan hamba yakin arwah ayah Yang Mulia pun merasa senang. Akhirnya hamba memperoleh kesempatan untuk menyampaikan belasungkawa dan memenuhi kewajiban hamba sebagai pengikut. Untuk pertama kali sejak Benteng Takamatsu, hamba merasa gembira."

Belakangan pada hari itu, Hideyoshi mengun- dang Nobutaka untuk menemaninya ke per- kemahannya di Tonda, dan bersama-sama mereka berpaling ke Yamazaki.

Mereka tiba di Yamazaki pada jam Monyet. Kesepuluh ribu prajurit pasukan cadangan ber- gabung dengan kedelapan ribu lima ratus prajurit dari ketiga korps gugus tempur pertama. Ke mana pun mata memandang hanya terlihat kuda dan prajurit. "Kami baru terima laporan bahwa pasukan Akechi menyerang korps Nakagawa di perbukitan sebelah timur Tennozan."

Sekaranglah waktu untuk bertindak. Hideyoshi memberikan perintah menyerang pada seluruh pasukan.

Pada pagi hari kesembilan, ketika Hideyoshi ber- tolak dari Himeji, Mitsuhide kembali ke Kyoto. Kurang dari seminggu telah berlalu sejak pem- bunuhan Nobunaga.

Pada Jam Kambing di hari kedua, sementara reruntuhan Kuil Honno masih berasap, Mitsuhide telah meninggalkan Kyoto untuk menyerang Azuchi. Tapi baru saja keluar dari ibu kota, ia telah menemui rintangan di tempat penyeberangan sungai di Seta. Pada pagi itu ia telah mengirim surat yang menuntut agar Benteng Seta segera menyerah, tapi komandan benteng itu membunuh kurir yang mengantarkan surat tersebut, lalu membakar bentengnya dan Jembatan Seta.

Dengan demikian, pasukan Akechi tak dapat menyeberangi sungai. Kedua mata Mitsuhide menyala-nyala karena marah. Jembatan yang di- musnahkan api itu seakan-akan menertawakannya. Dunia memandang kita tidak seperti kita me- mandang dunia, ia menyadari.

Setelah terpaksa kembali ke Benteng Sakamoto, Mitsuhide melewatkan dua atau tiga hari tanpa hasil, menunggu jembatan itu diperbaiki. Namun setelah akhirnya ia berhasil memasuki Azuchi, ia menemukan kota itu telah dikosongkan. Benteng- nya yang besar pun diserahkan kepada angin. Di kotanya sendiri tak ada barang atau papan nama toko yang tersisa. Keluarga Nobunaga telah melari- kan diri, tapi karena terburu-buru, mereka terpaksa meninggalkan seluruh emas dan perak milik Nobu- naga, serta koleksi seninya.

Barang-barang itu dipamerkan pada Mitsuhide setelah pasukannya mengamankan benteng, tapi ia tidak merasa lebih kaya karenanya. Entah kenapa, ia justru merasa lebih miskin.

Bukan ini yang kucari, ia berkata dalam hati, dan sungguh menyedihkan bahwa orang-orang menyangka inilah tujuanku.

Seluruh emas dan perak yang mereka temukan dibagi-bagikan kepada pasukannya. Prajurit- prajurit biasa menerima beberapa ratus keping emas, sementara para jendral tersohor mem- peroleh antara tiga ribu sampai lima ribu keping emas.

Apa yang kauinginkan? Berkali-kali Mitsuhide mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya. Memimpin negeri! Terngiang-ngiang di telinganya, tapi bunyinya sungguh hampa. Ia terpaksa me- ngakui bahwa ia tak pernah memeluk harapan sedemikian tinggi, karena tidak memiliki ambisi maupun kemampuan untuk itu. Sejak semula ia hanya mempunyai satu tujuan: membunuh Nobu- naga. Keinginan Mitsuhide telah terpuaskan oleh kobaran api di Kuil Honno, dan yang tersisa kini hanyalah nafsu tanpa keyakinan.

Menurut selentingan yang beredar saat ini, Mitsuhide mencoba melakukan bunuh diri ketika mendengar Nobunaga sudah wafat. Para pengikut harus mencegahnya secara paksa. Begitu Nobunaga berubah menjadi abu, kebencian yang membeku- kan hati Mitsuhide pun larut seperti salju men- cair. Namun kesepuluh ribu prajurit yang meng- abdi pada Mitsuhide berbeda pendapat dengan junjungan mereka. Mereka justru beranggapan bahwa imbalan sesungguhnya masih akan diraih.

"Mulai hari ini, Yang Mulia Mitsuhide merupa- kan penguasa seluruh negeri," para jendral Akechi berkata dengan keyakinan yang tak dimiliki Mitsuhide.

Namun junjungan yang mereka sanjung-sanjung telah berubah. Ia berbeda dalam penampilan dan watak—bahkan dalam kecerdasan.

Mirsuhide berdiam di Azuchi dari hari kelima sampai pagi hari kedelapan, dan selama itu ia merebut benteng Hideyoshi di Nagahama serta benteng Niwa Nagahide di Sawayama. Begitu seluruh Provinsi Omi berada dalam genggaman- nya, Mitsuhide kembali memperlengkapi pasukan- nya dan sekali lagi bertolak menuju ibu kota.

Saat itulah Mitsuhide menerima kabar bahwa marga Hosokawa menolak bergabung dengannya. Semula ia sangat yakin bahwa Hosokawa Tadaoki, menantunya, akan segera mengikuti jejaknya setelah Nobunaga digulingkan. Tapi jawaban dari marga Hosokawa ternyata berupa penolakan mentah-mentah. Sejauh ini Mitsuhide disibukkan oleh pertanyaan siapa yang akan menjadi sekutu- nya; ia nyaris tak memikirkan siapa yang bakal menjadi lawannya yang paling tangguh.

Baru sekarang Mitsuhide teringat pada Hide- yoshi, dan dadanya serasa ditonjok keras. Ia bukan- nya menutup mata terhadap kemampuan dan ke- kuatan militer Hideyoshi di wilayah Barat. Justru sebaliknya, ia sadar sepenuhnya bahwa Hideyoshi merupakan ancaman besar. Yang agak menen- teramkan pikiran Mitsuhide adalah keyakinannya bahwa Hideyoshi masih ditahan oleh marga Mori dan takkan sanggup kembali dengan cepat. Paling tidak, satu dari kedua kurir yang diutusnya ke orang-orang Mori berhasil menjalankan tugasnya. Dan jawaban dari pihak Mori tentu akan segera tiba, memberitahunya bahwa mereka telah menye- rang dan menghancurkan Hideyoshi. Namun orang-orang Mori tak kunjung memberi kabar, sama halnya dengan Nakagawa Sebei. Ikeda Shonyu, dan Takayama Ukon. Berita yang sampai ke telinga Mitsuhide setiap paginya justru ter- dengar seperti hukuman dari para dewa.

Bagi Mitsuhide, Benteng Sakamoto menyimpan kenangan buruk mengenai peristiwa-peristiwa yang belum lama ini terjadi: penghinaan yang diterima- nya dari Nobunaga; pengusirannya dari Azuchi; kunjungan ke Sakamoto, ketika ia menghadapi persimpangan yang penuh kebimbangan. Kini segala keraguan dan kemarahannya telah terhapus. Dan pada waktu yang sama ia juga kehilangan kemampuan bermawas diri. Kecerdasannya yang mengagumkan telah ia tukar dengan gelar penguasa negeri yang tanpa makna.

Pada malam hari kesembilan, Mitsuhide masih belum mempunyai bayangan di mana Hideyoshi berada, tapi sikap para pembesar setempat menim- bulkan rasa gelisah dalam dirinya. Keesokan paginya ia meninggalkan perkemahan di Shimo Toba dan mendaki ke Horagamine Pass di Yamashiro, tempat ia telah mengatur pertemuan dengan pasukan Tsutsui Junkei.

"Apakah Tsutsui Junkei sudah kelihatan?" secara berkala Mitsuhide bertanya kepada para pengintai. Berhubung Mitsuhide bekerja sama dengan Tsutsui Junkei sebelum serangan ke Kuil Honno, ia tak pernah meragukan kesetiaan sekutunya itu— sampai sekarang. Ketika malam tiba, belum juga ada tanda-tanda mengenai kedatangan pasukan Tsutsui. Bukan itu saja, ketiga pengikut Oda yang hendak ia tarik ke pihaknya—Nakagawa Sebei, Takayama Ukon, dan Ikeda Shonyu—tidak me- nanggapi surat panggilannya, walaupun mereka biasanya berada di bawah komandonya.

Kegelisahan Mitsuhide bukan tanpa alasan. Ia berunding dengan Saito Toshimitsu, "Kaupikir ada yang tidak beres, Toshimitsu?"

Mitsuhide ingin percaya bahwa terjadi sesuatu dengan para kurir yang dikirimnya, atau bahwa Junkei dan yang lain hanya terlambat, namun Saito Toshimitsu telah menerima kenyataan.

"Tidak, tuanku." orang tua itu menjawab. "Hamba kira Yang Mulia Tsutsui memang tak berniat datang kemari. Rasanya tak mungkin dia memerlukan waktu selama ini untuk menyusuri jalanan datar dari Koriyama."

"Tidak, pasti ada alasan lain," Mitsuhide ber- keras. Ia memanggil Fujita Dengo, cepat-cepat menulis surat, dan mengutusnya ke Koriyama. "Ambil kuda-kuda terbaik. Kalau kau menempuh perjalanan dengan kecepatan penuh, menjelang pagi kau seharusnya sudah berada di sini lagi."

"Jika Yang Mulia Tsutsui berkenan menemui hamba, hamba akan kembali saat fajar," ujar Dengo.

"Kenapa dia mesti tidak bersedia bicara dengan- mu? Dapatkan jawaban darinya, walaupun di tengah malam buta."

"Baik, tuanku."

Dengo segera berangkat ke Koriyama. Tapi sebelum ia kembali, beberapa pengintai membawa berita bahwa pasukan Hideyoshi sedang menuju ke Timur, dan bahwa barisan depan mereka sudah memasuki provinsi tetangga, Hyogo.

"Tak mungkin! Kalian pasti keliru!" Mitsuhide meledak ketika mendengar laporan itu. Ia tak dapat percaya bahwa Hideyoshi bisa berdamai dengan pihak Mori, dan kalaupun bisa, bahwa Hideyoshi mampu menggerakkan pasukannya yang besar sedemikian cepat.

"Hamba kira ini bukan laporan palsu, tuanku." ujar Toshimitsu, sekali lagi mengungkapkan ke- benaran. "Bagaimanapun, menurut hamba, kita se- baiknya segera menyiapkan strategi balasan."

Menyadari kebimbangan Mitsuhide, Toshimitsu langsung menyampaikan rencana konkret. "Se- andainya hamba menunggu Yang Mulia Tsutsui di sini, tuanku dapat bergegas untuk mencegah Hideyoshi memasuki ibu kota."

"Kedatangan Tsutsui tak bisa diharapkan lagi, bukan?" Mitsuhide akhirnya mengakui.

"Menurut hamba, peluang bahwa dia akan ber- gabung dengan tuanku hanya satu atau dua ber- banding sepuluh."

"Strategi apa yang bisa kita pakai untuk meng- hentikan Hideyoshi?"

"Rasanya sudah dapat dipastikan bahwa Ukon, Sebei, dan Shonyu berada di pihak Hideyoshi, jika pasukan Tsutsui Junkei pun bergabung dengannya, kekuatan militer kita tidak memadai untuk meng- ambil inisiatif dan menyerang. Namun berdasar- kan perkiraan hamba, Hideyoshi memerlukan lima atau enam hari lagi untuk menggerakkan seluruh pasukannya ke sini. Selama itu, jika kita memperkuat kedua benteng di Yodo dan Shoryuji, mendirikan kubu pertahanan di sepanjang jalan utara-selatan ke Kyoto, serta mengerahkan seluruh kekuatan di Omo dan daerah-daerah lain, kita mungkin mampu menghalaunya untuk sementara waktu."

"Apa? Semua itu hanya akan menghalaunya untuk sementara saja?"

"Sesudah itu kita memerlukan strategi yang jauh lebih menyeluruh—bukan sekadar pertempuran kecil. Tapi sekarang ini kita berada dalam posisi kritis. Sebaiknya tuanku segera berangkat."

Toshimitsu menunggu sampai Fujita Dengo kembali dari tugasnya di Koriyama.

Dengo muncul dengan wajah berkerut-kerut karena marah. "Percuma saja," ia melaporkan pada Toshimitsu. "Junkei keparat itu mengkhianati kita. Dia mencari-cari alasan karena tidak datang ke sini, tapi dalam perjalanan pulang, hamba me- ngetahui bahwa dia telah mengadakan hubungan dengan Hideyoshi. Rasanya tak terbayangkan bahwa orang yang begitu dekat dengan marga Akechi tega berbuat seperti ini!"

Caci maki Dengo tak ada habisnya, tapi gurat wajah Toshimitsu tidak memperlihatkan emosi sama sekali. Mitsuhide berangkat sekitar siang, tanpa meraih apa-apa. Ia tiba di Shimo Toba kira-kira pada waktu yang sama saat Hideyoshi menikmati tidur siang singkatnya di Amagasaki. Baik kuil Zen di Amagasaki maupun perkemahan di Shimo Toba sama-sama dilanda hawa panas. Begitu Mitsuhide sampai di perkemahannya, ia memanggil para jendralnya ke markas dan membahas strategi per- tempuran. Ia belum juga menyadari bahwa Hide- yoshi sudah berada di Amagasaki. Walaupun barisan depan Hideyoshi sudah mulai mengambil posisi, Mitsuhide menyangka masih ada waktu beberapa hari sebelum Hideyoshi sendiri tiba. Rasanya tak adil untuk menghubungkan kesalahan ini dengan kecerdasannya. Ia hanya membuat penilaian berdasarkan akal sehat, dengan meng- gunakan kecerdasannya yang luar biasa. Kecuali itu, penilaian tersebut sejalan dengan apa yang dianggap logis oleh orang-orang lain.

Rapat itu diakhiri tanpa ada waktu terbuang, dan Akechi Shigetomo-lah yang berangkat pertama. Ia segera menuju Yodo guna memulai kegiatan pembangunan untuk memperkuat benteng di sana. Jalan gunung sempit yang menuju ibu kota tentu akan merupakan salah satu sasaran serangan musuh. Benteng Yodo terletak di sebelah kanannya, benteng Shoryuji di sebelah kirinya.

Mitsuhide memberikan perintah pada divisi- divisi yang ditempatkan di sepanjang tepi Sungai Yodo. "Mundur ke Shoryuji dan ambil posisi ber- tahan. Bersiap-siaplah menghadapi serangan musuh."

Mitsuhide melakukan berbagai persiapan, tapi ketika menaksir kekuatan musuh, ia tak sanggup menutup-nutupi kelemahannya sendiri. Banyak prajurit dari ibu kota dan daerah sekitarnya ber- kumpul di sini dan menempatkan diri di bawah komandonya, tapi semuanya samurai berpangkat rendah atau ronin—tak berbeda dengan tentara sewaan yang mencari jalan pintas untuk mencari nama. Tak seorang pun dari mereka mempunyai kecakapan militer maupun kemampuan memim- pin.

"Berapa jumlah keseluruhan orang kita?" Mitsu- hide bertanya kepada para jendralnya.

Dengan menghitung prajurit-prajurit di Azuchi, Sakamoto, Shoryuji, Horagamine, dan Yodo, pasukan Mitsuhide berkekuatan sekitar enam belas ribu orang.

"Kalau saja Hosokawa dan Tsutsui mau ber- gabung denganku," gumam Mitsuhide, "takkan ada yang sanggup mengusirku dari ibu kota." Setelah menentukan strategi pun ia tetap bingung akibat perbedaan besar dalam kekuatan. Otak Mitsuhide bekerja berdasarkan angka-angka, dan kini tak ada secercah harapan pun bahwa ia memegang keuntungan. Itu saja dapat menentukan kalah atau menang. Ia mulai tertelan gelombang yang dicipta- kannya sendiri.

Mitsuhide berdiri di sebuah bukit di luar per- kemahan, memandang awan-awan.

"Sepertinya bakal turun hujan," katanya pada diri sendiri, sambil menghadapi angin yang tidak membawa tanda-tanda hujan. Memperhatikan cuaca sangat penting bagi jendral yang hendak terjun ke medan pertempuran. Lama Mitsuhide berdiri mencemaskan pergerakan awan dan arah angin.

Akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke Sungai Yodo. Lentera-lentera kecil yang berayun- ayun tertiup angin tentu lentera-lentera dari perahu-perahu patrolinya sendiri. Sungai besar itu tampak putih, sementara gunung-gunung di belakangnya kelihatan hitam pekat.

Langit luas membentang di atas sungai, sampai ke muara yang jauh di Amagasaki. Mitsuhide memandang ke arah itu, matanya seakan-akan me- nyorotkan cahaya, dan ia bertanya pada diri sendiri. "Apa yang dapat dilakukan Hideyoshi?" Kemudian ia berseru dengan nada keras yang jarang digunakannya. "Sakuza? Sakuza? Di mana Sakuzaemon?"

Ia cepat-cepat berbalik, dan dengan langkah panjang kembali ke perkemahan. Angin kencang mengguncang barak-barak, bagaikan gelombang raksasa.

"Ya tuanku? Yojiro di sini!" seorang pembantu menjawab, lalu bergegas keluar menghampirinya. "Yojiro, berikan aba-aba. Kita berangkat

sekarang juga."

Sementara pasukannya membongkar per- kemahan. Mitsuhide mengirimkan pesan penting pada semua komandannya, termasuk pada sepupunya, Mitsuharu, di Benteng Sakamoto, membertahukan keputusannya pada mereka. Ia takkan mundur dan menjalankan strategi detensif. Ia telah bertekad menyerang Hideyoshi dengan segenap kekuatannya.

Giliran jaga malam telah berganti satu kali. Tak satu bintang pun tampak di langit. Sebuah kesatuan tempur menuruni bukit; kesatuan itu ditugaskan berjaga di hagian hilir dan hulu Sungai Katsura. Unit perbekalan, kesatuan-kesatuan utama, serta barisan belakang menyusul kemudian. Tiba-tiba hujan mulai turun. Pada waktu seluruh pasukan berada di tengah sungai, mereka diterpa hujan deras.

Angin pun mulai bertiup—angin dingin dari arah umur laut. Para prajurit bergumam-gumam ketika memandang permukaan sungai yang gelap.

"Sungai dan angin ini datang dari gunung- gunung di Tamba."

Seandainya hari masih terang, mereka mungkin bisa melihat. Oinosaka tidak jauh dari tempat mereka berada, dan baru sepuluh hari berlalu sejak mereka melewati Oinosaka dan meninggalkan pangkalan Akechi di Benteng Tamba. Namun bagi para prajurit rasanya itu sudah terjadi beberapa tahun silam.

"Jangan jatuh! Jangan sampai sumbu-sumbu kalian basah!" para perwira berseru-seru. Kekuatan arus Sungai Katsura jauh lebih dahsyat daripada biasanya, kemungkinan akibat hujan deras di pegunungan.

Pasukan tombak menyeberang, masing-masing prajurit berpegangan pada lombak orang di depan- nya, diikuti pasukan senapan yang saling meng- genggam laras dan moncong senapan. Para pe- nunggang kuda di sekitar Mitsuhide berpacu ke tepi seberang, meninggalkan buih dan gelembung pada permukaan sungai. Sesekali terdengar letusan senapan dari suatu tempat di depan mereka, sementara di kejauhan bunga api tampak beter- bangan, kemungkinan dari rumah-rumah petani yang terbakar. Namun begitu suara tembakan terhenti, api pun padam dan segala sesuatu kembali diserap kegelapan.

Tak lama kemudian seorang prajurit berlari membawa laporan. "Orang-orang kita telah me- mukul mundur regu pengintai musuh. Mereka sempat membakar beberapa rumah petani ketika melarikan diri."

Tanpa mengindahkan laporan ini, Mitsuhide bergerak maju melalui Kuga Nawate, melewati Benteng Shoryuji, yang kini berada di tangan anak buahnya, dan sengaja mendirikan perkemahan di Onbozuka, sekitar lima ratus sampai enam ratus meter lebih ke tenggara. Hujan yang telah merepotkan mereka selama dua-tiga hari kini mereka, dan bintang-bintang mulai berkilauan di langit yang sebelum nya hanya menampilkan bcrbagai corak hitam dan kelabu.

Musuh juga diam saja. pikir Mitsuhide ketika berdiri di Onbozuka. menatap kegelapan ke arah Yamazaki. Pcrasaannya bergolak. dan ia pun merasa tegang ketika membayangkan akan mcnghadapi pasukan Hideyoshi pada jarak kurang dari dua mil. Dengan mcmusatkan kekuatan di Onbozuka dan memanfaatkan Benteng Shoryuji sebagai pangkalan perbekalan. la menyebar pasukannya dalam satu garis, dari Sungai Yodo di tenggara ke Sungai Enmyoji. seakan-akan membuka kipas. Saat semua kesatuan barisan depan telah menempati posisi masing-masing. fajar telah menyingsing dan Sungai Yodo yang panjang sudah mulai kelihatan.

Tiba-tiba gema tembakan gencar terdengar dari arah Tennozan. Matahari belum terbit dan awan- awan tampak gelap karena kabut tebal. Hari itu hari ketiga belas di Bulan Keenam, dan masih begitu pagi, sehingga belum ada satu kuda pun yang terdengar meringkik di jalan menuju Yamazaki.

Ketika memandang dari perkemahan utama Mitsuhide di Onbozuka, para prajurit melihat Tennozan berjarak kira-kira setengah mil ke arah tenggara. Sisi kirinya diapit oleh jalan menuju Yamazaki dan sebuah sungai besar—Sungai Yodo.

Tennozan berlereng terjal, dan ketinggiannya men- capai tiga ratus meter. Pada hari sebelumnya, ketika pasukan Hideyoshi maju sampai Tonda, semua perwiranya menatap lurus ke depan dan mengamati bukit itu. Beberapa dari mereka be- tanya pada pemandu setempat, "Bukit apakah itu?" "Apakah itu Yamazaki di perbukitan sebelah

timur?"

"Musuh berada di Shoryuji. Di sebelah mana Tennozan-kah itu?"

Setiap kesatuan disertai oleh seseorang yang mengenal medan di tempat itu. Setiap orang yang memahami strategi menyadari bahwa penguasaan tempat tinggilah yang merupakan kunci keme- nangan.

Dan semua jendral pun menyadari bahwa orang pertama yang menancapkan panjinya di punggung Tennozan akan lebih disanjung daripada orang yang merebut kepala pertama di daratan. Setiap jendral telah berikrar bahwa ia sendiri yang akan melakukannya. Pada malam hari ketiga belas. beberapa jendral Hideyoshi memohon supaya rencana penyerangan mereka disetujui, dengan harapan mereka segera diberi perintah menyerbu bukit ini.

"Pertempuran besok akan menentukan segala- galanya." ujar Hideyoshi. "Yodo, Yamazaki, dan Tennozan bakal menjadi medan tempur utama. Bukitkan bahwa kalian pantas disebut laki-laki. Jangan saling bersaing, jangan hanya pikirkan kejayaan masing-masing. Ingatlah bahwa Yang Mulia Nobunaga dan sang Dewa Perang akan mengawasi setiap langkah kalian."

Namun begitu memperoleh restu dari Hide- yoshi, dengan semangat menyala-nyala para penembak berlomba-lomba menuju Tennozan, menimbulkan kekacauan di tengah malam buta. Tempat strategis yang telah menarik perhatian para jendral Hideyoshi itu juga tak luput dari pandangan Mitsuhide. Ia telah memerintahkan pasukannya agar bergerak cepat, melintasi Sungai Katsura, dan segera menuju Onbozuka untuk merebut Tennozan.

Mitsuhide mengenai medan di daerah itu sama baiknya dengan kedua jendral barisan depan musuh, Nakagawa Sebei dan Takayama Ukon. Dan walaupun mereka memandang gunung- gunung dan sungai-sungai di daerah yang sama, pikiran Mitsuhide tentu saja melampaui pikiran orang-orang lain.

Setelah melintasi Sungai Katsura dan melewati Kuga Nawaie, ia memisahkan satu divisi dari pasukannya, dan memberi perintah agar mereka menempuh jalan lain. "Daki Tennozan dari sisi utara dan rebutlah puncaknya. Jika musuh menyerang, hadapi mereka dan jangan lepaskan titik strategis itu."

Perlu dikatakan bahwa ia memang gesit. Perintah dan tindakan Mitsuhide selalu tepat waktu; ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan menyerang. Meski demikian, pada saat ini pasukan Hideyoshi, yang sudah mencapai Hirose di lereng selatan, juga berada di atas bukit.

Keadaan gelap gulita, dan banyak prajurit sama sekali tidak mengenal medan yang mereka lalui.

"Di sini ada jalan setapak yang menanjak." "Tunggu, kita tidak bisa lewat jalan itu." "Siapa bilang begitu? Tentu saja bisa."

"Itu jalan yang salah. Di atas sana ada tebing terjal."

Sambil berputar-putar di kaki bukit, mereka berusaha menemukan jalan ke puncaknya.

Jalan setapak itu amat terjal, dan hari masih gelap. Karena tahu bahwa mereka berada di tengah sekutu, para prajurit berbaris tanpa memedulikan unit atau korps mana yang mereka ikuti. Mereka bergegas dengan napas terengah-engah, menuju puncak. Kemudian, ketika hampir sampai di atas, mereka disambut berondongan peluru.

Serangan itu dilancarkan oleh pasukan penem- bak Akechi di bawah komando Matsuda Taro- zaemon. Belakangan diketahui bahwa ketujuh ratus orang dalam korps Matsuda telah dibagi menjadi dua unit. Para prajurit Horio Mosuke, Nakagawa Sebei, Takayama Ukon, dan Ikeda Shonyu saling berlomba menjadi orang pertama yang berhasil mendaki Tennozan, tapi hanya Hori Kyutaro yang memerintahkan pasukannya meng- ambil jalan ke sisi utara bukit. Setelah menyusuri kaki bukit, mereka mencoba tindakan yang lain sama sekali—memotong jalan mundur musuh.

Seperti dapat diduga, serangan dari samping ini mengejutkan korps Matsuda dan menempatkan jendral mereka, Matsuda Tarozaemon, tepat di depan mata. Bentrokan ini jauh lebih ganas di- bandingkan bentrokan di puncak Tennozan. Per- tempuran jarak dekat pecah di antara pohon- pohon pinus dan bongkahan-bongkahan batu yang tersebar di lereng bukit. Senjata api terlalu me- repotkan, jadi para prajurit lebih banyak meng- gunakan tombak dan pedang panjang.

Sejumlah orang jatuh dari tebing sambil ber- gulat dengan musuh. Beberapa orang yang sedang mengimpit prajurit musuh ditikam dari belakang. Korps pemanah pun hadir, dan dengung panah serta letusan senapan seakan tak putus-putusnya. Tapi yang lebih keras lagi adalah teriakan perang kelima ratus atau enam ratus prajurit. Teriakan- teriakan itu tidak keluar dari tenggorokan semata- mata, melainkan terpancar dari seluruh jiwa raga, bahkan dari rambut dan pori-pori. Para prajurit maju dan didesak mundur, dan akhirnya matahari terbit. Langit biru dan awan putih tampak untuk pertama kali sejak lama. Sinar matahari yang langka ini rupanya membungkam jangkrik-jangkrik. Sebagai gantinya, teriakan- teriakan perang para prajurit mengguncang bumi. Dalam sekejap mayat-mayat berlumuran darah ber- gelimpangan di lereng bukit, saling tumpang tindih. Ada yang tergeletak sendiri di suatu tempat, sementara di tempat lain dua atau tiga mayat tampak menumpuk. Para prajurit dipacu oleh pemandangan ini, dan mereka yang me- langkahi mayat rekan-rekan mereka sendiri me- masuki ruang yang melampaui hidup dan mati. Ini berlaku bagi para prajurit korps Hori maupun bagi orang-orang Akechi.

Situasi di puncak bukit kurang jelas. namun di sini pun kemenangan mungkin saja segera disusul dengan kekalahan. Di tengah-tengah pertempuran. teriakan-teriakan korps Matsuda tiba-tiba tak lagi terdengar garang, dan malah menyerupai suara anak kecil yang sedang terisak-isak. Keyakinan mereka telah berubah menjadi perasaan putus asa.

"Ada apa?"

"Kenapa kita mundur? Jangan mundur!"

Sambil mempertanyakan kebingungan rekan- rekan mereka, beberapa anggota korps Matsuda berseru-seru dengan geram. Namun orang-orang ini pun segera berlari ke arah kaki bukit, seolah- olah terbawa tanah longsor. Jendral mereka, Matsuda Tarozaemon, rupanya terkena tembakan dan kini sedang digotong oleh para pembantunya di depan mata pasukannya.

"Serang! Bantai mereka!"

Sebagian besar korps Hori sudah mulai melaku- kan pengejaran, tapi Kyutaro berteriak sekuat tenaga, berusaha mencegah anak buahnya. "Jangan kejar mereka!"

Namun dalam suasana saat itu, perintahnya tidak berpengaruh apa-apa. Seperti bisa diduga, barisan depan korps Matsuda kini menerjang menuruni bukit, bagaikan sungai lumpur. Bala bantuan tak kunjung tiba, dan jendral mereka telah tertembak. Mereka tak punya pilihan selain melarikan diri.

Dari segi jumlah, korps Hori tidak sebanding dengan orang-orang Akechi. Kini, tanpa per- tempuran dan penghalang, mereka terdesak ke bawah dan diinjak-injak oleh musuh yang berlari menuruni lereng bukit terjal. Bagian korps Hori yang pertama-tama mengejar musuh kini ter- perangkap dalam suatu gerakan penjepit, persis seperti yang dikhawatirkan Kyutaro. Pertemuan yang mengerikan pun terjadi.

Saat itulah gabungan korps Horio, Nakagawa.

Takayama, dan Ikeda mencapai puncak bukit. "Kita menang!"

"Tennozan di tangan kita!" Teriakan kemenangan berkumandang untuk pertama kali. Hideyoshi menanti kedatangan Nobutaka di Sungai Yodo, sehingga ia belum tiba di garis depan. Hari telah sore, sekitar Jam Kambing, ketika Hideyoshi menambahkan pasu- kan Nobutaka dan Niwa Nagahide pada pasukan- nya sendiri dan menuju perkemahan utama. Hujan pagi telah mengering di bawah terik mata- hari, para prajurit maupun kuda-kuda mereka di- selubungi keringat bercampur debu, dan baju tempur serta mantel mereka yang berwarna-warni telah berubah putih. Satu-satunya benda yang tampak cemerlang di hari yang panas ini adalah panji Hideyoshi dengan lambang labu emas.

Sementara gema letusan tembakan masih ter- dengar di Tennozan, setiap rumah di desa kelihatan kosong. Namun ketika pasukan Akechi mundur dan pasukan yang baru membanjiri jalan- jalan, ember-ember penuh air, tumpukan semang- ka, dan teko-teko berisi teh tiba-tiba muncul di semua ambang pintu. Pada waktu pasukan Hideyoshi memenuhi jalanan, kaum perempuan pun terlihat di tengah kerumunan warga desa, dan menyampaikan ucapan selamat.

"Tak satu prajurit musuhkah yang tersisa di sini?"

Hideyoshi tidak turun dari kudanya, melainkan memandang panji-panji para prajuritnya, yang kini tampak di atas bukit yang berdekaran. "Tak satu pun," balas Hikoemon. Ia telah menyusun laporan-laporan dari semua korps, mempelajari situasinya, dan kini melapor pada Hideyoshi.

"Korps Matsuda kehilangan komandan pada awal pertempuran. Beberapa anak buahnya melari- kan diri ke perbukitan di sebelah utara, sementara yang lain bergabung dengan sekutu-sekutu mereka di sekitar Tomooka."

"Kenapa orang seperti Mitsuhide demikian cepat melepaskan tempat strategis ini?"

"Kemungkinan dia tak menyangka kita datang demikian cepat. Dia keliru menaksir waktu."

"Bagaimana dengan pasukan utamanya?" "Sepertinya mereka berkemah di daerah antara

Sungai Yodo dan Shimoueno, dengan Shoryuji di belakang dan Sungai Enmyoji di depan mereka."

Tiba-tiba terdengar teriakan perang dan letusan senapan dari arah Sungai Enmyoji. Ketika itu Jam Monyet.

Sungai Enmyoji, di sebelah timur Desa Yamazaki, merupakan anak Sungai Yodo. Kedua sungai itu bertemu di daerah paya-paya yang penuh ilalang. Daerah tersebut biasanya diramaikan oleh kicauan burung, tapi hari ini tak satu burung pun bernyanyi.

Sepanjang pagi, kedua pasukan yang bertikai— sayap kiri pasukan Mitsuhide dan sayap kanan Hideyoshi—berbaris di kedua tepi sungai. Sesekali ilalang berdesir dibelai angin. Sementara ujung- ujung tongkat bendera tampak, tak satu orang maupun kuda kelihatan di kiri-kanan sungai. Namun di tepi utara, kelima ribu orang di bawah komando Saito Toshimitsu, Abe Sadaaki, dan Akechi Shigetomo telah siap bergerak. Di tepi selatan, kedelapan ribu lima ratus prajurit di bawah komando Takayama Ukon, Nakagawa Sebei, dan Ikeda Shonyu tersusun dalam barisan berlapis-lapis. Sambil bersimbah peluh di tempat panas dan lembap itu, mereka menanti aba-aba untuk menyerang.

Mereka menunggu sampai Hideyoshi tiba dan memberikan perintah.

"Ke mana saja pasukan utama?"

Mereka mencaci maki pasukan Hideyoshi karena terlambat datang, tapi selain itu mereka hanya dapat mengertakkan gigi.

Akechi Mitsuhide, yang masih berada di per- kemahan utamanya di Onbozuka, telah menerima laporan bahwa Matsuda Tarozaemon gugur di Tennozan, dan bahwa pasukannya digulung musuh. Ia menyalahkan diri sendiri karena keliru memperhitungkan waktu. Ia sadar sepenuhnya bahwa secara strategis terdapat perbedaan besar antara bertempur dengan Tennozan di tangan anak buahnya dan menghadapi pertempuran menentukan setelah menyerahkan tempat itu kepada musuh. Sebelum maju ke Tennozan, perhatian Mitsu- hide memang terpceah pada tiga hal: peng- khianatan Tsutsui Junkei; perintahnya untuk memperkuat Benteng Yodo—akibat meremehkan kecepatan Hideyoshi; serta kekurangan pada wataknya—ia sukar mengambil keputusan. Harus- kah ia menyerang atau bertahan? Sampai bergerak ke Onbozuke pun ia belum menentukan pilihan- nya.

Pertempuran pecah secara hampir kebetulan. Kedua pasukan melewatkan pagi hari di tengah ilalang, disiksa oleh ngengat dan nyamuk. Selama itu mereka saling berhadapan dan menunggu perintah jendral masing-masing. Tapi tiba-tiba seekor kuda dengan pelana indah meloncat dari sisi Hideyoshi dan berlari ke tepi Sungai Enmyoji, barangkali karena terdorong rasa haus.

Empat atau lima prajurit—kemungkinan peng- ikut pemilik kuda itu—segera mengejarnya. Se- konyong-konyong tembakan senapan meletus dari tepi seberang, diikuti oleh berondongan demi berondongan.

Sebagai balasan, pasukan Hideyoshi pun me- lepaskan tembakan ke tepi utara, untuk membantu rekan-rekan mereka yang berlindung di tengah ilalang. Kini tak ada waktu untuk menunggu perintah.

"Serbu!"

Perintah Hideyoshi untuk melancarkan serangan umum baru terdengar setelah tembak- menembak tadi. Pasukan Akechi tentu saja tidak tinggal diam, dan mereka pun mulai melangkah memasuki sungai.

Tempat Sungai Enmyoji bertemu dengan Sungai Yodo cukup lebar, tapi tidak jauh dari sana, Sungai Enmyoji tak lebih dari kali kecil.

Namun arusnya deras akibat hujan yang turun selama beberapa hari berturut-turut. Sementara korps penembak Akechi muncul dari ilalang di tepi utara dan memberondong barisan Hideyoshi yang berdiri di tepi selatan, para prajurit korps tombak—korps pilihan marga Akechi—bergegas menyeberangi sungai, menimbulkan buih dan percikan air.

"Kerahkan pasukan tombak!" perwira korps Takayama berseru.

Karena sungainya sempit, pasukan penembak tak banyak berguna. Pada waktu barisan belakang maju agar barisan depan dapat mengisi senjata, mereka terancam bahaya bahwa musuh melancar- kan serangan mendadak dan menerjang ke tengah- tengah para penembak.

"Pasukan penembak segera menyingkir! Jangan halangi orang-orang di barisan depan!"

Korps Nakagawa telah siap siaga dengan tombak masing-masing. Sebagian besar dari mereka kini mengacungkan tombak dan menusuk ke bawah dari tepi sungai, ke dalam air. Mereka tentu saja membidik musuh, tapi dari- pada berulang kali menarik dan menusukkan tombak, mereka lebih suka menebas-nebaskan tombak masing-masing untuk mencegah musuh naik ke tepi. Pertempuran sengit meletus di tengah-tengah sungai, tombak melawan tombak, tombak melawan pedang panjang, bahkan tombak melawan gagang tombak. Prajurit-prajurit terlihat menikam musuh, dan tak lama kemudian meng- alami nasib serupa.

Mereka memekik-mekik dan saling bergulat. Tubuh-tubuh yang telah kehilangan nyawa jatuh ke dalam sungai, memercikkan air. Arus ber- lumpur terus berputar-putar. Darah kental meng- ambang di permukaan sungai, lalu hanyut terbawa arus.

Saat itu korps pertama di bawah Nakagawa Sebei telah menyerahkan tugas tempur di bagian depan kepada para prajurit di bawah komando Takayama Ukon. Bagaikan barisan pemuda yang mengusung tandu kebesaran dalam suatu peraya- an, mereka mendesak maju ke garis depan sambil bersorak serempak.

Setelah melawan ilalang di tepi timur sungai, dengan ganas mereka menerjang ke tengah-tengah musuh. Matahari mulai terbenam. Awan merah yang menandakan datangnya senja tercermin dalam kerumunan orang yang berteriak-teriak di bawah langit yang muram. Sam jam lagi berlalu, dan pertempuran itu masih berlangsung sengit. Keuletan korps Saito di luar dugaan. Setiap kali kehancuran mulai mem- bayang, mereka kembali menggalang kekuatan dan melawan dengan gigih. Sambil bertahan di paya- paya, mereka menghalau serangan demi serangan. Dan bukan mereka saja, hampir segenap pasukan Akechi memperlihatkan tekad membaja, pekikan- pekikan mereka memancarkan kegetiran yang tentunya juga dirasakan Mitsuhide dalam dadanya. "Mundur sebelum mereka mengepung kita!

Mundur! Mundur!"

Seruan mengibakan ini terdengar berulang kali, dan berita buruk tersebut menyebar bagaikan angin ke dua korps Akechi yang lain.

Inti pasukan utama, yang bertindak sebagai pasukan cadangan, terdiri atas kelima ribu orang yang di Onbozuka berada langsung di bawah komando Mitsuhide. Di sebelah kanan mereka terdapat empat ribu orang lagi, termasuk dua ribu prajurit di bawah komando Fujita Dengo.

Dengo memerintahkan agar genderang besar dibunyikan, dan para prajurit segera berpencar untuk membentuk susunan tempur. Secara serempak para anggota korps pemanah melepaskan anak panah, dan seketika pihak musuh membalas dengan hujan peluru.

Atas perintah Dengo, barisan pemanah me- nyingkir dan digantikan oleh korps penembak. Tanpa menunggu sampai awan mesiu menipis, prajurit-prajurit dengan tombak besi muncul di hadapan musuh dan mulai menerobos barisan mereka. Akhirnya Dengo dan pasukan pilihannya berhasil memukul korps Hachiya.

Sambil menggantikan tempat korps tersebut. para prajurit di bawah Nakagawa kembali menyer- bu dan menyerang pasukan Akechi. Tapi mereka pun digulung oleh Dengo. Saat itu anak buah Dengo seakan-akan tidak mempunyai lawan sepadan.

Genderang korps Fujita berdentam nyaring. Bunyinya seolah-olah memancarkan kebanggaan marga tersebut yang tanpa tandingan, dan mengan- cam para samurai berkuda yang mengelilingi Nobutaka, sehingga mereka berdesak-desak bingung.

Sekonyong-konyong sebuah kesatuan berke- kuatan lima ratus orang menyerang korps Fujita dari samping, meneriakkan pekikan perang bagai- kan pasukan besar.

Merahnya senja masih membayang di awan- awan, tapi keadaan di bawah sudah gelap. Dengo menyadari bahwa ia melangkah terlalu jauh, dan segera mengubah taktiknya.

"Bergeser ke kanan!" ia memerintahkan. "Ber- putarlah! Berputarlah sejauh mungkin ke arah kanan." ia ingin seluruh korpsnya mengambil jalan melingkar untuk bergabung kembali dengan pasukan utama, lalu meneruskan pertempuran.

Namun secara tiba-tiba sebuah unit di bawah komando Hori Kyutaro menyerang dari sisi kiri. Di mata Dengo, prajurit-prajurit musuh ini seakan- akan muncul dari dalam tanah.

Tak ada waktu untuk mundur. Dengo segera menyadari, tapi ia pun tak punya waktu untuk meralat perintahnya. Secepat angin pasukan Hori memotong jalan anak buah Dengo, dan mulai mengepung.

Panji-panji Nobutaka terlihat semakin men- dekati Dengo.

Pada saat itulah gerombolan yang terdiri atas sekitar lima ratus orang, termasuk putra dan adik Dengo, memacu kuda masing-masing. Tanpa takut mereka menerjang barisan musuh. Kegelapan malam telah menyelubungi medan laga. Angin membawa pekikan-pekikan dari pergumulan hidup-mati ini, memenuhi langit dengan bau darah.

Korps Nobutaka dipandang sebagai yang ter- kuat dalam divisi Hideyoshi, dan kini korps tersebut diperkuat oleh ketiga ribu orang di bawah komando Niwa Nagahide. Dengo dan anak buahnya memang gagah perkasa, tapi mereka pun tak sanggup menembus barisan musuh.

Dengo terluka di enam tempat. Akhirnya, setelah sedemikian lama bertempur dan berputar- putar di aras kudanya, ia mulai kehilangan kesadaran. Tiba-tiba sebuah suara memanggil dari kegelapan di belakangnya.

Karena menyangka suara itu suara putranya, ia mengangkat kepala dari leher kudanya. Saat itulah sesuatu membentur kepalanya di atas mata kanan. Rasanya seperti bintang yang jatuh dari langit dan menghantam keningnya.

"Jangan turun dari pelana! Berpeganglah pada pelana, kau terserempet anak panah dan meng- alami luka ringan di dahi,"

"Siapa ini? Siapa yang menahanku?" "Ini aku, Tozo."

"Ah, saudaraku. Bagaimana keadaan Ise Yosa- buro?"

"Dia telah gugur dalam pertempuran." "Bagaimana dengan Suwa?"

"Suwa pun mengalami nasib sama." "Dan Denbei?"

"Dia masih dikepung musuh. Biarkan aku menemanimu. Bersandarlah ke pegangan pelana- mu."

Tanpa membahas nasib Denbei lebih lanjut, Tozo meraih moncong kuda kakaknya dan lang- sung melarikan diri, menerobos kekacauan di sekeliling mereka.