--> -->

Taiko Bab 30 : "Kepala Jeruk"

Bab 30 : "Kepala Jeruk"

KOTA benteng Azuchi telah menjadi pusat sebuah budaya baru. Para warganya, dengan baju ber- warna-warni, memadati jalan-jalan, dan di atas mereka, warna emas dan biru pada donjon di benteng tampak seperti disulam oleh hijaunya daun-daun musim semi.

Keadaannya sungguh berbeda dengan keadaan di daerah Barat. Di Bulan Kelima, sementara Hideyoshi dan para anak buahnya siang-malam membanting tulang di tengah lumpur untuk menaklukkan Benteng Takamatsu, jalan-jalan di Azuchi malah dihiasi, dan suasana di seluruh kota teramat semarak, seakan-akan para warga meng- adakan perayaan Tahun Baru dan perayaan Pertengahan Musim Panas secara bersamaan.

Nobunaga sedang bersiap-siap menyambut tamu agung. Tapi siapa yang demikian penting? Para warga bertanya-tanya. Orang yang tiba di Azuchi pada hari kelima belas di Bulan Kelima tak lain dari Yang Mulia Tokugawa Ieyasu dari Mikawa.

Kurang dari satu bulan sebelumnya, arak-arakan Nobunaga setelah meraih kemenangan di Kai juga melewati provinsi Ieyasu, jadi mungkin saja Nobunaga kini sekadar menerima kunjungan balasan. Tapi kunjungan ini jelas-jelas demi kepentingan Ieyasu. Mereka hidup di zaman yang penuh pergolakan, dan hanya si pandir yang mengabaikan masa depan. Jadi, walaupun Ieyasu jarang melakukan kunjungan resmi ke provinsi- provinsi lain, ia datang ke Azuchi, disertai rombongan pengikut yang gemerlapan.

Penginapan-penginapan terbaik di Azuchi di- sediakan untuknya, dan Akechi Mitsuhide ber- tanggung jawab atas acara penyambutan. Selain itu, Nobunaga telah menyuruh putranya, Nobu- tada, yang sudah hendak bertolak menuju provinsi- provinsi Barat, membantu menyiapkan jamuan makan mewah selama tiga hari.

Sementara itu orang bertanya-tanya, mengapa Nobunaga memberi sambutan begitu meriah untuk Ieyasu yang delapan tahun lebih muda dan merupakan penguasa sebuah provinsi yang sampai beberapa waktu lalu masih terhitung kecil dan lemah. Orang lain membalas bahwa tak ada yang aneh. Sudah lebih dari dua puluh tahun per- sekutuan antara marga Oda dan marga Tokugawa berlangsung tanpa adanya kecurigaan, persetujuan yang dilanggar. maupun pertempuran, dan ini merupakan keajaiban di suatu masa yang penuh pengkhianatan dan perebutan kekuasaan feodal.

Kelompok ketiga berpendapat bahwa alasan di balik penyambutan besar-besaran ini tentu bukan sekadar menerima kunjungan balasan Ieyasu. Mereka mengatakan bahwa pemimpin marga Oda akan mencapai keberhasilan besar di masa men- datang. Daerah Barat merupakan batu loncatan ke pulau paling selatan di Jepang, Kyushu, dan dari sana ke pulau-pulau kaya di Laut Selatan. Jika Nobunaga bermaksud menaklukkan pulau-pulau itu, ia harus menyerahkan bagian utara Jepang pada seseorang yang dapat dipercayainya.

Sudah beberapa lama Nobunaga merencanakan untuk mengunjungi provinsi-provinsi Barat guna menegakkan hukumnya sendiri, seperti yang di- lakukannya di Kai. Sekarang pun ia tengah sibuk dengan persiapan untuk bertolak ke garis depan. Meski demikian, ia menunda berbagai pekerjaan penting untuk menyambut Ieyasu.

Tentu saja Ieyasu diberi segala yang terbaik di Azuchi, baik dalam hal penginapan, perabot, per- lengkapan, sake, maupun makanan. Tapi ada dua hal yang secara khusus hendak diberikan pada Ieyasu oleh Nobunaga, dua hal yang bisa ditemui di rumah-rumah bersahaja rakyat kebanyakan dan di sekitar tungku masyarakat pedesaan—per- sahabatan dan kepercayaan.

Kedua hal inilah yang menyebabkan per- sekutuan mereka terus bertahan. Dan Ieyasu telah berulang kali membuktikan diri sebagai sekutu yang dapat diandalkan. Ieyasu menyadari bahwa kepentingannya sendiri terjalin erat dengan kepentingan Nobunaga, walaupun Nobunaga kadang-kadang bersikap sewenang-wenang dan mementingkan diri sendiri. Jadi, meski beberapa kali dipaksa menelan pil pahit, ia tetap men- dukung Nobunaga dan telah bersumpah akan mengikutinya sampai saat penghabisan.

Seandainya orang ketiga yang tidak terlibat diminta mengamati persekutuan di antara kedua orang itu, lalu diminta menilai siapa yang untung dan siapa yang rugi, kemungkinan besar ia akan menjawab bahwa kedua-duanya sama-sama me- narik keuntungan. Tanpa persahabatan Ieyasu di masa mudanya, ketika ia baru mulai menetapkan arah hidupnya, Nobunaga takkan pernah tiba di Azuchi. Dan seandainya Ieyasu tak pernah me- nerima bantuan Nobunaga, Provinsi Mikawa yang lemah dan kecil tentu takkan sanggup menahan tekanan-tekanan dari tetangga-tetangganya.

Disamping terikat oleh tali persahabatan, kedua orang itu juga memiliki watak yang saling mengisi. Nobunaga mempunyai cita-cita yang bahkan tak terbayangkan oleh orang yang hati-hati seperti Ieyasu, dan ia juga dianugerahi kemauan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Ieyasu, Nobunaga pun mengakui, mempunyai kelebihan yang tak dimilikinya, yakni kesabaran, kerendahan hati, dan kesederhanaan. Dan sepertinya Ieyasu tidak me- nyimpan ambisi pribadi. Ia memperhatikan ke- pentingan provinsinya sendiri, tapi tak pernah membuat sekutunya merasa waswas. Ia tak pernah ragu menghadapi musuh-musuh bersama mereka, sebuah benteng bisu di belakang Nobunaga.

Dengan kata lain, Mikawa merupakan sekutu ideal, dan Ieyasu teman yang dapat diandalkan. Ketika merenungkan segala kesusahan dan bahaya yang mereka hadapi bersama selama dua puluh tahun terakhir, Nobunaga tergerak untuk menyebut Ieyasu "kawan lama yang setia", dan menyanjung-nyanjungnya sebagai orang yang paling berjasa dalam mewujudkan Azuchi.

Pada waktu perayaan berlangsung, Ieyasu me- nyampaikan ucapan terima kasih yang tulus atas perlakuan Nobunaga, tapi sesekali ia merasa bahwa ada yang kurang, dan akhirnya ia bertanya pada Nobunaga. "Bukankah Tuan Mitsuhide yang ber- tanggung jawab atas penyelenggaraan jamuan ini? Apa yang terjadi dengannya? Aku sama sekali belum melihatnya hari ini, dan pada waktu per- tunjukan Noh kemarin aku juga tidak melihatnya."

"Ah, Mitsuhide," jawab Nobunaga. "Dia sudah kembali ke Benteng Sakamoto. Dia harus be- rangkat cepat-cepat, sehingga tak sempat melaku- kan kunjungan kehormatan." Jawaban Nobunaga bernada segar dan jelas, serta tidak memperlihat- kan perasaan apa pun ketika berbicara.

Namun Ieyasu agak prihatin. Berbagai desas- desus beredar di kota. Tapi jawaban Nobunaga yang singkat dan tenang seakan-akan membantah segala desas-desus itu, dan Ieyasu pun tidak menyinggungnya lebih lanjut. Meski demikian, ketika kembali ke penginapan- nya malam itu, Ieyasu menyimak cerita-cerita yang didengar oleh para pengikutnya mengenai ke- pergian Mitsuhide, dan ia menyadari bahwa situasinya terlalu pelik untuk diabaikan begitu saja. Setelah mendengarkan beberapa versi, ia menyim- pulkan alasan di balik kepergian Mitsuhide yang begitu mendadak.

Peristiwa itu terjadi pada hari kedatangan Ieyasu. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, Nobu- naga melakukan peninjauan resmi ke bagian dapur. Musim hujan sudah mulai, udara di Azuchi panas dan lembap. Bau amis menyengat hidung. Bukan itu saja, bahan makanan yang dikumpulkan dalam jumlah besar dari Sakai dan Kyoto telah dibongkar dan ditumpuk-tumpuk secara seram- pangan. Kawanan lalat menghinggapi makanan dan wajah Nobunaga.

"Baunya tak tertahankan!" Nobunaga meng- gerutu dengan gusar. Kemudian, ketika masuk ke ruang racik, ia kembali berkata tanpa ditujukan pada orang tertentu, "Apa ini? Semuanya kotor! Sampah di mana-mana! Di tempat sejorok inikah kalian siapkan masakan untuk tamu agung? Apa yang akan kalian sajikan? Ikan busuk? Buang semuanya!"

Kemarahan Nobunaga sama sekali tak terduga, dan para petugas dapur segera bersujud di depan kakinya. Pemandangan itu sungguh mengibakan, Mitsuhide telah berupaya mendatangkan bahan- bahan terbaik untuk menyiapkan hidangan- hidangan lezat. Selama beberapa hari ia hampir tidak tidur sama sekali, sibuk mengawasi para pengikutnya serta petugas-petugas dapur, Kini ia hampir tak percaya pada pendengarannya. Ter- kejut, ia menghampiri junjungannya dan ber- sujud, menjelaskan bahwa bau menyengat yang tercium bukan disebabkan oleh ikan busuk.

"Jangan banyak alasan!" Nobunaga memotong. "Buang semuanya! Siapkan hidangan lain untuk jamuan makan nanti malam!"

Tanpa menggubris penjelasan Mitsuhide, ia melangkah pergi.

Beberapa saat Mitsuhide duduk membisu, seakan-akan kehilangan tenaga untuk meng- gerakkan kakinya. Kemudian seorang kurir muncul dan menyerahkan sepucuk surat berisi perintah untuk mengumpulkan pasukannya dan segera berangkat menuju provinsi-provinsi Barat.

Para pengikut Akechi membawa sajian-sajian lezat yang telah mereka persiapkan untuk Ieyasu melalui gerbang belakang, dan membuang semua- nya ke parit pertahanan, tak ubahnya membuang sampah atau anjing atau kucing mati. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan sambil ber- usaha menahan tangis, mereka mencurahkan perasaan masing-masing ke air hitam di dalam parit. Pada malam hari, gerombolan katak berkuak-kuak di depan penginapan Mitsuhide. Apa yang kau- risaukan? Katak-katak itu seakan-akan bertanya. Apakah mereka bernyanyi untuk menunjukkan simpati, atau justru menertawakan kebodohannya? Jawaban terhadap pertanyaan itu tergantung bagaimana orang mendengarkan binatang-binatang tersebut.

Mitsuhide telah memberi perintah agar tak seorang pun diizinkan masuk, dan kini ia duduk seorang diri di sebuah ruangan besar dan kosong.

Walaupun musim panas baru mulai, angin sejuk berembus lembut. Mitsuhide tampak pucat sekali. Rambut di sisi kepalanya seolah-olah berdiri tegak setiap kali lilin berkedip. Penderitaannya terlihat dari rambutnya yang acak-acakan dan dari warna wajahnya yang menakutkan.

Akhirnya, pelan-pelan, ia mengangkat kepalanya yang oleh Nobunaga disebut "kepala jeruk", dan menatap ke pekarangan yang gelap. Di kejauhan ia melihat cahaya banyak lentera di antara pe- pohonan. Malam itu malam pertama jamuan makan di benteng.

Apakah aku sebaiknya langsung berangkat, sesuai perintah? Mitsuhide bertanya pada diri sendiri. Atau lebih baik kalau aku pergi ke benteng untuk melakukan kunjungan kehormatan sebelum bertolak ke garis depan? Mitsuhide selalu dibuat bingung oleh hal-hal seperti ini. Ia, yang biasanya begitu cermat, kini sedemikian lelah, sehingga harus memeras otak agar tidak membuat ke- salahan.

Walaupun telah mempertimbangkannya dari berbagai sudut. Ia tetap tak tahu tindakan apa yang harus diambilnya, karena ia sendiri terlanjur mem- besar-besarkan masalahnya. Tanpa sadar ia men- desah, lalu bertanya dalam hati, "Adakah orang lain di dunia ini yang begitu sukar dipahami? Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkan hati junjunganku?"

Seandainya sanggup mengesampingkan hu- bungan junjungan-pengikut dan bersikap jujur, ia akan mencela Nobunaga. Mitsuhide dianugerahi kemampuan menelaah yang jauh melebihi orang kebanyakan, dan hanya karena Nobunaga merupa- kan junjungannya, ia waspada, bahkan takut, ter- hadap kritiknya sendiri.

"Tsumaki! Tsumaki!" Mitsuhide memanggil, sambil mendadak menoleh ke arah pintu-pintu gerbang di kedua sisinya. "Dengo! Dengo, di mana kau?"

Tapi yang akhirnya membuka pintu geser dan membungkuk di hadapannya bukanlah Dengo maupun Tsumaki, melainkan salah seorang pengikutnya, Yomoda Masataka.

Kedua-duanya sedang membuang bahan-bahan yang semula hendak digunakan untuk jamuan makan, dan juga disibukkan oleh persiapan meng- hadapi keberangkatan mendadak."

"Ikut ke benteng bersamaku."

"Ke benteng? Tuanku akan pergi ke benteng?" "Kurasa sudah sepantasnya aku berpamitan

pada Yang Mulia sebelum kita berangkat. Siapkan semuanya."

Mitsuhide segera bangun untuk berpakaian. Sepertinya ia memacu diri sendiri sebelum tekad- nya goyah kembali.

Masataka tampak bingung. "Tadi sore, ketika hamba menanyakan rencana tuanku, hamba pikir tuanku mungkin ingin pergi ke benteng dengan tujuan itu. Dan tuanku memutuskan bahwa kita akan berangkat tanpa menghadap Yang Mulia Nobunaga maupun Yang Mulia Ieyasu. Sekarang semua pembantu dan pelayan sibuk membersih- kan dapur. Dapatkah tuanku menunggu sejenak?"

"Aku tak perlu disertai banyak pembantu. Kau saja sudah cukup. Bawakan kudaku ke sini."

Mitsuhide berjalan ke arah gerbang. Tak satu pengikut pun berada di ruangan-ruangan yang dilewatinya. Ia hanya diikuti dua atau tiga pelayan. Tapi begitu melangkah keluar, ia melihat para pengikutnya berkerumun dalam kelompok- kelompok kecil, berbisik-bisik dalam bayang- bayang pepohonan dan di dalam istal. Tak meng- herankan, semua pengikut Akechi merasa prihatin karena tiba-tiba dibebaskan dari tugas mengurusi jamuan makan, dan diperintahkan bertolak ke daerah Barat pada hari itu juga.

Bolak-balik mereka mengungkapkan kekesalan yang mereka rasakan sambil menahan air mata duka. Kebencian dan kemarahan mereka terhadap Nobunaga, yang semakin kuat sejak operasi di Kai, telah tersulut akibat peristiwa terakhir ini.

Di perkemahan di Suwa, waktu operasi Kai, Mitsuhide telah dipermalukan di depan umum, dan kejadian itu juga diketahui oleh para pengikutnya. Mengapa Nobunaga begitu menyeng- sarakan junjungan mereka belakangan ini?

Tapi kejutan hari inilah yang paling parah, sebab peristiwa tersebut tentu takkan lolos dari perhatian semua tamu: Yang Mulia Ieyasu dan para pengikutnya, kaum bangsawan dari Kyoto, serta rekan-rekan Mitsuhide, para jendral Oda. Dipermalukan di sini tak ubahnya dipermalukan di depan seluruh bangsa.

Perlakuan seperti ini tak tertahankan bagi siapa saja yang dilahirkan sebagai samurai.

"Kuda tuanku sudah siap," ujar Masataka.

Para pengikut belum juga melihat pembantu yang menuntun kuda Mitsuhide. Pikiran mereka kacau akibat kejadian tadi, dan mereka masih ber- kerumun sambil membahas masalahnya.

Tepat sebelum Mitsuhide hendak berangkat, seseorang turun dari kuda di depan gerbang. Orang itu ternyata kurir Nobunaga. "Tuan Mitsuhide, apakah Tuan sudah mau ber- tolak ke Barat?"

"Belum. Aku ingin pergi ke benteng dulu untuk berpamitan pada Yang Mulia Nobunaga dan Yang Mulia Ieyasu."

"Justru itu yang menjadi pikiran Yang Mulia Nobunaga. Beliau mengirim hamba ke sini agar Tuan tidak perlu datang ke benteng di tengah persiapan Tuan."

"Apa? Ada pesan lagi dari beliau?" ujar Mitsuhide. Ia segera kembali ke dalam, duduk, dan dengan penuh hormat menyimak kehendak jun- jungannya.

Perintah agar kau tidak menghadiri acara malam ini dan segera bertolak dari Azuchi tetap berlaku, tapi ada instruksi tambahan menyangkut keberangkatanmu ke daerah Barat sebagai barisan depan. Dan Tajima, pasukan Akechi harus menuju Inaba. Kau bebas memasuki provinsi-provinsi yang dikuasai Mori Terumoto. Jangan gegabah, dan jangan buang-buang waktu. Kau harus segera kembali ke Tamba, per- siapkan pasukanmu, dan lindungi sisi Hideyoshi di sepanjang Jalan Raya Sanin. Tak lama lagi aku sendiri akan menyusul sebagai barisan belakang. Jangan sia-siakan waktu. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan baik ini.

Mitsuhide bersujud dan berkata bahwa ia akan menjalankan perintah dengan secepat-cepatnya. Kemudian, mungkin karena merasa bahwa sikap- nya terlalu merendah, ia menegakkan badan, me- natap kurir di hadapannya, dan berkata, "Silakan sampaikan apa pun yang kauanggap layak pada Yang Mulia."

Mitsuhide mengantar orang itu sampai ke gerbang. Dengan setiap langkah, ia semakin gugup karena angin yang berembus melalui bangunan yang hampir kosong itu.

Sampai beberapa tahun lalu, jika aku diberi kesempatan kembali ke kampung halaman, dia selalu minta agar aku menemuinya sebelum berangkat, walaupun di tengah malam buta. Entah berapa kali Nobunaga berpesan, "Mampirlah untuk minum teh," atau, "Kalau kau berangkat pagi, datanglah sebelum fajar." Kenapa ia kini sedemikian benci padaku? Ia bahkan mengirim kurir, supaya tak perlu berhadapan langsung denganku.

Jangan merenung, jangan dimasukkan ke hati. Namun semakin ia berusaha untuk tidak me- mikirkannya, semakin ia berkeluh kesah dalam hati. Kata-katanya menyerupai gelembung udara yang naik ke permukaan air berbau busuk.

"Coba perhatikan ini! Kembang-kembang ini pun tak berguna!"

Mitsuhide meraih sebuah vas besar dan me- renggut bunga-bunga yang telah ditata dengan apik. Air tumpah ke lantai ketika ia membawa vas itu ke serambi. Mitsuhide mengangkatnya tinggi- tinggi, membidik batu pipih, dan melemparkan vas itu sekuat tenaga. Vas itu meledak di tengah percikan air, menimbulkan bunyi menyenangkan. Percikan air mengenai wajah dan dada Mitsuhide. Mitsuhide menengadahkan wajahnya yang basah kuyup ke langit malam dan tertawa keras-keras. Ia tertawa seorang diri.

Malam telah larut, dan ketika kabut mulai turun, udara menjadi panas dan lembap. Para pengikutnya sudah selesai berkemas dan telah ber- baris di luar gerbang. Kuda-kuda terdengar me- ringkik di bawah awan kelabu yang rendah.

"Perlengkapan hujan sudah disiapkan," seorang pengikut bertanya, sekali lagi menengok ke dalam gerbang.

"Malam ini bintang-bintang tidak menampak- kan diri, dan kalau hujan mulai turun, medannya akan tambah berat. Sebaiknya kita bawa obor cadangan," orang lain berseru.

Wajah para samurai sama suramnya dengan langit malam. Mata mereka berkaca-kaca, men- cerminkan kemarahan, kegetiran, dan ketidak- puasan. Tak lama kemudian suara Mitsuhide ter- dengar ketika ia mengarahkan kudanya menjauhi gerbang, disertai sekelompok penunggang kuda lainnya.

"Sakamoto hampir kelihatan," katanya. "Biar- pun hujan, perjalanan kita takkan makan waktu lama." Para pengikutnya terkejut mendengar nada suaranya yang lebih riang daripada biasa.

Sebelumnya pada malam itu Mitsuhide menge- luh karena demam dan sempat minum obat. Kini para pengikutnya was-was menghadapi kemung- kinan hujan. Ia menanggapi kekhawatiran mereka dengan suara sengaja dikeras-keraskan, agar ter- dengar oleh orang-orang di sebelah dalam gerbang, maupun oleh mereka yang berada di sebelah luar.

Ketika keberangkatan Mitsuhide diumumkan, api diteruskan dari obor ke obor. Dalam sekejap jumlah obor yang menyala telah berlipat ganda. Kemudian, dengan obor terangkat tinggi-tinggi, para pengikut keluar satu per satu, mengikuti barisan depan.

Setelah rombongan itu berjalan sekitar satu setengah mil, hujan mulai turun, memercik ke api obor.

"Rupanya para tamu di benteng belum beranjak tidur. Barangkali mereka akan bangun sepanjang malam."

Mitsuhide tidak mengindahkan hujan. Ketika ia berbalik di atas pelana dan menoleh ke arah danau, donjon besar di Benteng Azuchi seakan-akan menjulang ke langit yang hitam bagaikan tinta. Ia membayangkan bahwa lumba-lumba emas yang menghiasi atap berkilau lebih cerah pada malam yang suram ini, menatap ke dalam kegelapan. Pada waktu memantul di danau, lautan cahaya di bangunan bertingkat-tingkat itu seolah-olah meng- gigil kedinginan.

"Tuanku! Tuanku! Tuanku jangan sampai masuk angin!" Fujira Dengo berkata dengan nada prihatin ketika menyejajarkan kuda di samping kuda Mitsuhide dan menaruh jas hujan yang ter- buat dari jerami pada bahu junjungannya itu.

Pagi itu tepi Danau Biwa sekali lagi terselubung kabut, dan hujan masih turun dari langit. Ombak yang memukul-mukul, kabut, dan hujan bercam- pur baur, sehingga seluruh dunia tampak putih.

Jalan raya luar biasa becek, dan kuda-kuda ber- lepotan lumpur sampai ke telinga. Tanpa meme- dulikan hujan dan kondisi jalan, seluruh pasukan berbaris menuju Sakamoto. Tepi danau berada di sebelah kanan, Gunung Hiei di sebelah kiri mereka. Angin yang bertiup dari puncak gunung membuat jerami jas hujan yang mereka kerukan berdiri kaku seperti landak.

"Ah, lihatlah ke sebelah sana, tuanku. Yang Mulia Mitsuharu keluar untuk menyambut tuanku," Masataka berkata pada Mitsuhide.

Benteng di tepi danau—Benteng Sakamoto— berada tepat di depan mereka. Mitsuhide meng- angguk perlahan, seakan-akan telah mengetahui- nya. Walaupun Sakamoto hampir berada dalam jarak pandangan mata dari Azuchi, Mitsuhide tampak seperti orang yang baru saja berjalan ribuan mil. Ketika berdiri di muka gerbang yang dipimpin oleh sepupunya, Akechi Mitsuharu, ia merasa seolah-olah berhasil meloloskan diri dari sarang macan.

Tetapi para pengikutnya lebih cemas mengenai batuknya yang terdengar secara berkala daripada mengenai apa yang ada dalam pikirannya, dan mereka mengemukakan keprihatinan yang mereka rasakan.

"Tuanku telah menempuh perjalanan dalam cuaca dingin dan diterpa hujan sepanjang malam. Tuanku tentu lelah. Begitu tiba di benteng, sebaik- nya tuanku segera menghangatkan diri dan ber- istirahat."

Mitsuhide memang junjungan yang berhati lembut. Ia mendengarkan saran para pengikutnya dengan sungguh-sungguh, dan memahami ke- cemasan mereka. Ketika mereka tiba di hutan pinus di depan gerbang, Dengo meraih tali kekang kuda Mitsuhide dan berdiri di samping pelana, siap membantu junjungannya turun dari kuda.

Sejumlah pengikut Mitsuharu telah berbaris di atas jembatan yang melintasi parit pertahanan. Salah satu dari mereka membuka payung dan menawarkannya dengan hormat. Masataka meng- ambil payung itu dan menggunakannya untuk melindungi kepala Mitsuhide dari hujan.

Mitsuhide berjalan menyeberangi jembatan. Ketika menatap ke bawah, ia melihat burung air berbulu putih berenang di sekeliling pilar-pilar, bagaikan bunga di air yang biru kehijauan.

Mitsuharu, yang keluar untuk menyambut sepupunya, kini maju beberapa langkah dari barisan pengikut dan membungkuk hormat.

"Kami telah menunggu sejak fajar," ia berkata sambil mengajak Mitsuhide ke dalam. Sekitar sepuluh pengikut utama yang menyertai Mitsu- hide membilas tangan dan kaki mereka yang penuh lumpur, menumpuk jas-jas hujan, dan masuk ke benteng dalam.

Para pengikut lainnya tetap di luar parit per- tahanan, membersihkan kuda dan mengurus barang-barang bawaan sambil menunggu diberi- tahu di mana mereka akan bermalam. Ringkikan kuda dan hiruk-pikuk suara manusia terdengar sampai jauh.

Mitsuhide telah berganti pakaian. Ia merasa sangat betah di tempat tinggal Mitsuharu, seakan- akan berada di rumah sendiri. Dari setiap ruangan ia dapai memandang danau dan Gunung Hiei. Benteng dalam terletak di suatu tempat yang tadinya mempunyai pemandangan paling indah, tapi kini tak ada yang dapat menikmati pe- mandangan iiu. Sejak Nobunaga memberikan perintah untuk membumihanguskan Gunung Hiei, semua biara dan kuil telah menjadi tum- pukan abu. Rumah-rumah desa di kaki gunung baru belakangan ini mulai dibangun kembali. Reruntuhan benteng di Bukit Usa, tempat ayah Ranmaru menemui ajalnya, juga berdekatan, sama halnya dengan medan tempur tempat para prajurit marga Asai dan Asakura terlibat bentrokan ber- darah dengan pasukan Oda. Kalau kita merenung- kan reruntuhan dan pertempuran-pertempuran di masa silam itu, kita akan menyadari bahwa ke- indahan panorama dipenuhi rintihan arwah- arwah. Mitsuhide duduk sambil mendengarkan bunyi hujan di awal musim panas, mengenang masa lalu.

Sementara itu, Mitsuharu berada di sebuah ruangan kecil yang biasa dipakai untuk upacara minum teh, mengamati api di tungku dan men- dengarkan bunyi air mendidih di dalam poci buatan seniman terkenal, Yojiro.

Sejak masa remaja, Mitsuharu dan Mitsuhide dibesarkan seperti kakak-adik, membagi keseng- saraan di medan tempur dan kesenangan di rumah.

Dan mereka bukannya saling menjauh, seperti biasa terjadi pada kakak-adik ketika mereka tum- buh dewasa, melainkan tetap menjalin hubungan akrab.

Namun watak mereka takkan pernah sama. Jadi, pada pagi ini, kedua laki-laki itu segera menuju tempat berbeda di dalam benteng. Kedua- nya menjalani gaya hidup yang sesuai dengan hati masing-masing. Hmm, kurasa dia sudah berganti pakaian, Mitsuharu berkata dalam hati. Ia bangkit dari tempat duduknya di depan poci. Setelah melintasi serambi yang basah, ia menyusun selasar beratap, ke sekelompok ruangan yang disediakan bagi sepupunya. Ia mendengar suara para pembantu dekat Mitsuhide di salah satu ruangan lain, tapi Mitsuhide duduk seorang diri, tegak, dengan pan- dangan tertuju ke danau.

"Aku ingin menawarkan teh padamu," ujar Mitsuharu.

Mitsuhide berpaling pada sepupunya dan ber- gumam. "Teh..."' seakan-akan baru terjaga dari mimpi.

"Poci yang kupesan pada Yojiro di Kyoto baru- baru ini telah diantarkan. Poci itu tidak memiliki pola-pola anggun seperti poci Ashiya, tapi mengan- dung daya tarik bersahaja yang menyenangkan mata. Kata orang, poci teh yang masih baru kurang berguna, tapi dasar Yojiro, air yang direbus di dalam tekonya tak kalah nikmat dari air yang direbus dalam poci tua. Aku bermaksud meng- gunakan poci itu untuk membuatkan teh untuk- mu kalau kau berkunjung ke sini lagi, dan tadi pagi, begitu aku diberitahu bahwa kau mendadak kembali dari Azuchi, aku segera menyalakan api dalam tungku."

"Kau sungguh baik hati, Mitsuharu, tapi aku sedang tidak berminat minum teh." "Hmm, kalau begitu, bagaimana dengan air panas agar kau bisa mandi?"

"Kau juga tak perlu menyiapkan air panas. Biarkanlah aku tidur sejenak. Hanya itu yang ku- inginkan sekarang."

Mitsuharu sudah mendengar banyak cerita belakangan ini, jadi ia tidak sepenuhnya buta ter- hadap pikiran Mitsuhide. Meski demikian, ia agak heran kenapa sepupunya itu begitu tiba-tiba kembali ke Sakamoto. Bukan rahasia bahwa Mitsuhide diberi tugas mengurus jamuan makan yang diselenggarakan Nobunaga untuk menyam- but Ieyasu. Mengapa Mitsuhide mendadak di- bebastugaskan, tepat sebelum jamuan itu? Ieyasu pasti berada di Azuchi. Akan tetapi tugas Mitsu- hide diserahkan pada orang lain, dan ia sendiri di- perintahkan pulang.

Mitsuharu belum mendengar berita terperinci, tapi dari waktu ke waktu ia menerima laporan mengenai perkembangan di Azuchi, sehingga ia pun memahami bahwa telah terjadi sesuatu yang menyulut kemarahan Nobunaga. Diam-diam Mitsuharu turut berduka bersama sepupunya.

Dan seperti yang dicemaskan Mitsuharu, sejak ia menyambut kedatangan Mitsuhide di benteng- nya tadi pagi, tampang Mitsuhide tidak terlalu ber- semangat. Mituharu tidak seberapa terkejut melihat bayang-bayang suram di wajah sepupunya. Ia yakin tak seorang pun memahami watak Mitsuhide seperti ia sendiri, karena mereka di- besarkan bersama -sama.

"Ya, itu masuk akal. Kau menghabiskan sepan- jang malam di atas kuda dalam perjalanan dari Azuchi. Kita sama-sama berusia lima puluhan sekarang, dan kita tak lagi bisa memperlakukan badan kita seperti ketika kita masih muda. Istirahatlah sejenak. Semuanya sudah dipersiap- kan."

Mitsuharu tidak mendesak lebih lanjut atau ber- usaha menentang keinginan sepupunya. Mitsuhide berdiri dan masuk ke bilik kelambu, sementara cahaya pagi masih menerangi benang-benangnya.

Amano Genemon, Fujita Dengo, dan Yomoda Masataka telah menunggu Mitsuharu ketika ia keluar dari kamar Mitsuhide. Ketiga laki-laki itu membungkuk.

"Hamba mohon ampun, Yang Mulia." kata Dengo. "Kami mohon maaf karena mengganggu Yang Mulia, tapi jika Yang Mulia berkenan, kami ingin berbicara sebentar. Urusannya cukup penting." Nada suara Dengo tidak seperti biasa- nya.

Mitsuharu menjawab seakan-akan telah men- duga kedatangan mereka. "Bagaimana kalau kita pergi ke pondok minum teh? Yang Mulia Mitsu- hide sedang tidur, dan aku tidak tega menyia- nyiakan api di bawah poci." "Kalau kita pergi ke pondok minum teh, kita tak perlu menyuruh orang-orang menjauh. Itu gagasan yang baik."

"Mari kutunjukkan jalannya."

"Kami bertiga hanya orang desa, jadi kami tidak memahami seni minum teh, dan kami tak men- duga akan memperoleh kehormatan sebesar ini dari Yang Mulia."

"Jangan berpikir begitu. Aku bisa menduga apa yang mengusik pikiran kalian, karena itu pondok minum teh merupakan tempat yang baik untuk berbicara."

Mereka duduk dalam cahaya lemah yang mene- robos pintu kertas tembus sinar di pondok minum teh yang kecil itu. Air di dalam poci sudah mendidih beberapa lama, dan kini menggelem- bung dengan suara yang bahkan lebih menyenang- kan daripada sebelumnya. Sudah berulang kali Mitsuharu membuktikan jiwa prajuritnya di medan tempur, tapi di sini, di depan tungku, ia seakan-akan orang yang berbeda sama sekali.

"Baiklah, kita langsung ke pokok persoalan saja. Apa yang mengganggu pikiran kalian?" tanya Mitsuharu.

Ketiga laki-laki di hadapannya saling pandang. Akhirnya Dengo, yang tampaknya memiliki ke- beranian paling besar di antara mereka, berkata. "Yang Mulia Mitsuharu, ini sungguh memalukan. Hamba nyaris tak sanggup menyinggungnya..." Ia mengangkat lengan kanannya untuk menyem- bunyikan air mata,

Kedua rekannya tidak menangis, tapi mereka pun tak dapat menutup-nutupi mata yang sembap. "Apakah telah terjadi sesuatu?" Sikap Mitsuharu teramat tenang, dan ketiga laki-laki itu segera mengendalikan diri. Sepertinya mereka menyangka akan berhadapan dengan api, tapi hanya melihat air. Mitsuharu memperhatikan bahwa mata mereka bengkak, namun ia sendiri tidak ikut ter-

haru.

"Sesungguhnya," Mitsuharu melanjutkan, "aku pun khawatir bahwa kedatangan yang mendadak ini disebabkan oleh kemarahan Yang Mulia Nobu- naga. Mengapa Yang Mulia Mitsuhide dibebaskan dari tugas-tugasnya di jamuan makan itu?"

Dengo yang pertama menjawab, "Yang Mulia Mitsuhide junjungan kami, tapi kami tidak buta terhadap kelalaian, dan akal sehat kami tidak terbelenggu oleh prasangka buruk, jadi kami tidak akan menggerutu dan menyesalkan tindakan Yang Mulia Nobunaga. Kami berusaha keras memahami alasan Yang Mulia Nobunaga kali ini, baik menyangkut situasi saat Yang Mulia Mitsuhide dibebastugaskan maupun mengapa dia dipersalah- kan. Kejadian ini sungguh ganjil."

Tenggorokan Dengo begitu kering, sehingga ia tak sanggup meneruskan ucapannya. Yomoda Masataka segera membantunya dan melanjutkan, "Kami sampai menyangka bahwa ada alasan politik, sekadar untuk menenteramkan pikiran kami, tapi dari sudut mana pun masalahnya dipandang, kami tak berhasil menarik kesimpulan yang masuk akal. Yang Mulia Nobunaga tentu sudah menyusun rencana keseluruhan. Jadi, mengapa beliau mencopot orang yang telah di- tugaskan untuk mengurus jamuan makan, lalu memberikan kehormatan tersebut pada orang lain justru pada hari jamuan itu diselenggarakan? Sepertinya beliau sengaja hendak memamerkan perpecahan di hadapan tamunya, Yang Mulia Ieyasu."

Genemon angkat bicara, "Jika hamba meng- amati situasi yang telah digambarkan oleh rekan- rekan hamba, hanya satu alasan yang dapat hamba temui, dan ini pun sebenarnya sama sekali bukan alasan. Selama beberapa tahun terakhir, kebenci- an Yang Mulia Nobunaga telah menyebabkan segala perbuatan Yang Mulia Mitsuhide dipandang buruk. Dan kini beliau memperlihatkan kebenci- annya secara terbuka, tanpa ditutup-tutupi, sampai terjadilah peristiwa ini."

Ketiga orang itu terdiam. Masih banyak ke- jadian yang ingin mereka kemukakan. Misalnya, di perkemahan di Suwa selama berlangsungnya operasi Kai, Nobunaga membenturkan wajah Mitsuhide ke lantai kayu di selasar, memanggilnya "Kepala Jeruk", dan memaksanya menjilat air dari lantai. Mitsuhide telah dihina di hadapan semua orang, dan sudah sering ia dipermalukan dengan cara serupa di Azuchi. Kejadian-kejadian seperti ini, yang terlalu banyak untuk disinggung satu per satu, telah menjadi bahan gunjingan di kalangan marga-marga lain. Mitsuharu sedarah dan sedaging dengan Mitsuhide, dan karena hubungan saudara yang dekat ini, ia tentu mengetahui peristiwa- peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Mitsuharu mendengarkan semuanya tanpa membiarkan roman mukanya berubah. "Kalau begitu, berarti Yang Mulia Mitsuhide dibebas- tugaskan tanpa alasan tertentu? Aku lega men- dengarnya. Marga-marga lain pun sudah sering menerima kemurahan hati atau menanggung kemarahan Yang Mulia Nobunaga, tergantung suasana hatinya."

Ekspresi wajah ketiga laki-laki di hadapannya tiba-tiba berubah. Otot-otot di sekitar bibir Dengo berkedut-kedut, dan secara mendadak ia bergeser mendekati Mitsuharu.

"Apa maksud Yang Mulia? Mengapa Yang Mulia justru merasa lega?"

"Haruskah aku mengulangi ucapanku? Ke- salahan bukan di pihak Yang Mulia Mitsuhide, jadi kalau kejadian ini disebabkan Yang Mulia Nobunaga sedang marah, Yang Mulia Mitsuhide tentu dapat mcmperbaiki keadaan pada saat suasana hati Yang Mulia Nobunaga lebih cerah." Nada suara Dengo semakin tegang. "Bukankah ini berarti Yang Mulia memandang Yang Mulia Mitsuhide sebagai penghibur, yang harus menjilat demi perasaan junjungannya? Pantaskah Yang Mulia Akechi Mitsuhide dipandang seperti ini? Tidakkah Yang Mulia sependapat bahwa beliau telah dipermalukan, dihina, dan didesak sampai batas ketahanan beliau?"

"Dengo, urat di pelipismu mulai kelihatan.

Tenangkan dirimu."

"Sudah dua malam hamba tak dapat memejam- kan mata. Hamba tak sanggup bersikap setenang Yang Mulia. Junjungan hamba dan para pengikut- nya digodok dalam kuali berisi ketidakadilan, ejekan, penghinaan, segala bentuk kedengkian lainnya."

"Karena itulah kuminta agar kau menenangkan diri dan beristirahat selama dua atau tiga malam."

"Tidak mungkin!" Dengo berseru. "Di kalangan samurai berlaku: sekali berlepotan lumpur, rasa malunya sukar dihapus. Entah berapa kali sudah junjungan hamba beserta para pengikut harus menahan malu karena penguasa Azuchi yang keji ini? Dan kejadian kemarin bukan sekadar pen- copotan Yang Mulia Mitsuhide dari tugas-tugasnya pada jamuan itu. Perintah yang menyusul ke- mudian menyebabkan seluruh marga Akechi terlihat bagaikan anjing yang mengejar babi hutan atau rusa liar. Barangkali Yang Mulia sudah men- dengar bahwa kami harus segera menyiapkan pasukan untuk bertolak ke daerah Barat. Kami disuruh menyerbu provinsi-provinsi Mori di wilayah Sanin, untuk melindungi sisi Yang Mulia Hideyoshi. Bagaimana mungkin kami bertempur sementara perasaan kami seperti ini? Situasi ini merupakan satu contoh lagi dari kebusukan penguasa jahanam itu."

"Tahan lidahmu! Siapa yang kausebut penguasa jahanam?"

"Yang Mulia Nobunaga, orang yang memanggil junjungan kami 'Kepala jeruk' di hadapan orang lain. Lihatlah Hayashi Sado, atau Sakuma dan putranya. Bertahun-tahun mereka membantu Nobunaga mencapai kedudukan seperti sekarang. Kemudian, setelah mereka akhirnya memperoleh status yang sepadan dengan jasa mereka serta sebuah benteng, mereka ditangkap karena urusan sepele, dan dihukum mati atau dibuang ke pengasingan. Pada akhirnya penguasa keji itu selalu mengusir seseorang."

"Diam! Jangan lancang berbicara mengenai Yang Mulia Nobunaga. Keluar! Sekarang!"

Ketika Mitsuharu akhirnya tak sanggup lagi menahan kemarahan dan menegur orang itu, sesuatu terdengar sayup-sayup di pekarangan. Sukar untuk memastikan apakah bunyi itu ditim- bulkan oleh orang yang mendekat atau oleh daun- daun yang berguguran. Kemungkinan penyusupan mata-mata harus di- waspadai siang dan malam, bahkan di tempat- tempat yang boleh dikata tak mungkin dijangkau musuh. Jadi, di pekarangan pondok minum teh pun ada samurai yang berjaga-jaga. Salah seorang penjaga telah menghampiri pondok dan kini mem- bungkuk di depan pintu. Setelah menyerahkan sepucuk surat kepada Mitsuharu, ia mundur sedikit dan menunggu sambil diam seperti patung. Tak lama kemudian suara Mitsuharu terdengar dari dalam. "Surat ini harus dijawab. Nanti aku akan menuliskan balasan. Suruh biksu itu me-

nunggu."'

Penjaga tadi membungkuk ke arah pintu, dan kembali ke posnya. Sandal jeraminya hampir tak menimbulkan bunyi sama sekali, seakan-akan ia sedang mengendap-endap.

Selama beberapa saat Mitsuharu dan ketiga laki-laki lainnya duduk membisu, terselubung suasana dingin bagaikan es. Sesekali buah prem yang matang jatuh ke tanah dengan bunyi menyerupai palu kayu menghantam tanah. Itulah satu-satunya bunyi yang memecahkan keheningan. Tiba-tiba seberkas sinar matahari terang benderang mengenai panil-panil kenas pada dinding geser.

"Sebaiknya kami mohon pamit saja. Tentu ada urusan lebih penting yang harus ditangani oleh Yang Mulia." ujar Masataka, memanfaatkan kesempatan itu untuk mohon diri, tapi Mitsuharu, yang telah membuka surat tadi dan membacanya di depan ketiga orang itu, kini menggulungnya kembali.

"Kenapa kalian terburu-buru?" ia bertanya sam- bil tersenyum.

"Kami tak ingin mengganggu lebih lama lagi."

Mereka menutup pintu geser rapat-rapat di belakang mereka, suara langkah mereka menjauh ke arah selasar beratap, dan kedengarannya seakan- akan mereka berjalan di atas lapisan es yang tipis.

Beberapa saat kemudian, Mitsuharu pun pergi. Ia berseru ke hunian para samurai ketika me- nyusuri selasar. Para pelayan pun tergesa-gesa mengikutinya ke ruangannya. Mitsuharu segera minta diambilkan kertas dan kuas, dan dengan lancar ia menggoreskan kuas, seolah-olah sudah tahu apa yang hendak ditulisnya.

"Berikan surat ini kepada kurir Kepala Biara Yokawa, dan suruh dia pulang."

Mitsuharu menyerahkan surat itu pada salah satu pelayan, dan seakan-akan tidak lagi menaruh minat pada masalah itu, ia bertanya. "Masih tidur- kah Yang Mulia Mitsuhide?"

"Ketika hamba ke sana, ruangannya sunyi sekali," pelayan itu menjawab.

Pada waktu mendengar jawaban ini, kedua mata Mitsuharu tampak berseri-seri, seakan-akan baru sekarang perasaannya betul-betul tenteram. Hari demi hari berlalu, Mitsuhide menghabiskan waktunya di Benteng Sakamoto, menganggur. Ia telah menerima perintah Nobunaga untuk ber- tolak ke provinsi-provinsi Barat, dan seharusnya ia secepat mungkin kembali ke bentengnya sendiri untuk mengerahkan para pengikutnya. Mitsuharu ingin mengingatkan sepupunya bahwa menghabis- kan waktu tanpa berbuat apa-apa takkan mem- bantu reputasinya di Azuchi. Tapi setelah me- renungkan perasaan Mitsuhide, ia tak sampai hati menegur. Rasa tak puas yang diungkapkan oleh Dengo dan Masataka tentu juga bercokol di hati Mitsuhide.

Kalau begitu, pikir Mitsuharu, menikmati ke- tenteraman selama beberapa hari merupakan per- siapan terbaik menghadapi operasi militer. Mitsuharu percaya penuh pada kecerdasan dan akal sehat sepupunya. Karena ingin tahu bagai- mana Mitsuhide menghabiskan waktu, ia berkun- jung ke ruangan Mitsuhide yang ternyata sedang melukis, mencontoh sesuatu dari sebuah buku.

"Wah, rupanya kau sedang sibuk." Mitsuharu berdiri di samping Mitsuhide dan memperhatikan goresan kuasnya. Ia senang melihat ketenangan sepupunya dan bersyukur bahwa ada sesuatu yang dapat mereka nikmati bersama-sama.

"Mitsuharu? Jangan lihat. Aku tetap belum bisa melukis kalau ada orang lain."

Mitsuhide segera meletakkan kuas. Ia memper- lihatkan rasa malu yang jarang tampak pada laki- laki berusia di atas lima puluh. Ia begitu malu, sehingga menyembunyikan sketsa-sketsa yang telah dibuatnya.

"Mengganggukah aku?" Mitsuharu tertawa. "Siapa yang melukis buku yang kaugunakan se- bagai contoh?"

"Buku itu karya Yusho."

"Yusho? Bagaimana kabarnya sekarang? Berita mengenai dia tak pernah sampai ke sini."

"Suatu malam, dia mendadak muncul di per- kemahanku di Kai. Dan keesokan paginya, sebelum fajar, dia sudah pergi lagi."

"Orang itu memang aneh."

"Bukan, rasanya dia tak bisa disebut aneh. Orangnya setia, dan hatinya setegak bambu. Dia memang sudah menanggalkan status samurai, tapi di mataku dia tetap seorang pejuang."

"Kabarnya dia bekas pengikut Saito Tatsuoki. Apakah kau menyanjungnya karena sampai hari ini pun dia tetap setia terhadap bekas junjungan- nya?"

"Selama pembangunan Azuchi, dialah satu- satunya orang yang menolak ikut ambil bagian, walaupun dia diundang oleh Yang Mulia Nobu- naga sendiri. Rupanya harga dirinya terlalu tinggi untuk melukis bagi musuh bekas junjungannya."

Pada waktu itulah salah satu pengikut Mitsu- haru masuk dan berlutut di belakang mereka, dan kedua orang itu berhenti berbicara. Mitsuharu berbalik dan menanyakan maksud kedatangan pengikutnya.

Samurai itu tampak sungkan. Di tangannya terlihat sesuatu yang tampak seperti sebuah petisi yang ditulis di atas kertas tebal. "Satu lagi utusan dari Kepala Biara Yokawa datang ke gerbang benteng, dan mendesak agar hamba sekali lagi mengantarkan surat ini pada tuanku. Hamba menolak, tapi dia berkata bahwa dia harus me- laksanakan perintah dan tidak akan pergi. Apa yang harus hamba lakukan?"

"Apa? Lagi?" Mitsuharu berdecak perlahan. "Beberapa waktu lalu aku sudah mengirim surat pada Kepala Biara Yokawa, dan menjelaskan bahwa aku tak mungkin menyetujui isi petisinya, sehingga percuma saja dia menanyakannya. Tapi dia tetap berkeras, dan sesudahnya dia masih dua atau tiga kali mengirim surat. Dasar keras kepala. Jangan terima suratnya, dan suruh kurir itu pergi."

"Baik, tuanku."

Si pengikut segera kembali, dangan petisi tadi masih tergenggam di tangannya. Sepertinya ia merasa dirinya sendiri yang dicela. Begitu orang itu pergi, Mitsuhide berkata pada sepupunya. "Maksudnya, Kepala Biara Yokawa dari Gunung Hiei?"

"Benar."

"Bertahun-rahun lalu, aku diperintahkan turut serta dalam pembakaran Gunung Hiei. Waktu itu yang kami serang bukan saja para biksu-prajurit, tapi juga orang-orang suci, kaum perempuan, dan anak-anak. Kami membantai mereka tanpa me- mandang bulu dan melemparkan mayat-mayat ke dalam api. Kami meluluhlantakkan gunung itu, sehingga pohon-pohon pun tak mungkin hidup kembali, apalagi manusia. Dan sekarang tampak- nya para biksu yang selamat dari pembantaian itu telah kembali, dan sepertinya mereka mencoba memberikan kehidupan baru pada tempat itu."

"Benar. Dari apa yang kudengar, puncak gunung itu masih setandus dan segersang sebelum- nya, tapi orang-orang terpelajar sedang mengum- pulkan sisa-sisa pengikut yang tercerai-berai dan menempuh segala cara untuk menghidupkan kem- bali gunung itu."

"Itu takkan mudah selama Yang Mulia Nobu- naga masih hidup."

"Dan mereka pun menyadarinya. Sebagian besar usaha mereka diarahkan ke Istana. Mereka ber- usaha memperoleh maklumat dari sang Tenno untuk membujuk Yang Mulia Nobunaga, tapi harapannya tipis. Jadi, belakangan ini mereka mencari dukungan di kalangan rakyat kebanyakan. Mereka mengembara ke semua provinsi, meminta sumbangan, mengetuk setiap pintu, dan kabarnya mereka bahkan membangun tempat persembahan sementara di lokasi kuil-kuil lama." "Hmm, kalau begitu, tugas kurir yang dikirim dua atau tiga kali oleh Kepala Biara Yokawa ada sangkut-pautnya dengan petisi itu?"

"Tidak." Mitsuharu segera mengalihkan mata, menatap wajah Mitsuhide dengan tenang. "Se- benarnya, kupikir kau tak perlu direpotkan oleh urusan ini, jadi aku langsung menolaknya. Tapi, karena kini kau menanyakannya, barangkali ada baiknya kalau aku membahasnya denganmu. Si Kepala Biara Yokawa tahu bahwa kau berkunjung ke sini, dan dia minta kesempatan bertemu, paling tidak satu kali."

"Kepala biara itu hendak bertemu denganku?" "Ya, dan dia juga ingin agar nama besar Yang

Mulia Mitsuhide tercantum dalam daftar derma- wan untuk pembangunan kembali Gunung Hiei. Aku memberitahunya bahwa kedua permintaan iiu tak mungkin dipenuhi, dan menolaknya dengan tegas."

"Dan meski kau sudah menolaknya berulang kali, dia masih juga mengirim kurir ke sini? Aku tentu takkan mencantumkan namaku pada daftar itu, demi menghormati Yang Mulia Nobunaga, tapi kenapa aku harus ragu-ragu menerima kunjungannya?"

"Kurasa tak ada perlunya kau menemui dia." ujar Mitsuharu. "Untuk apa kau—yang memimpin penghancuran Gunung Hiei—menemui biksu yang selamat dari pembantatan itu?" "Ketika itu dia merupakan musuh," balas Mitsu- hide. "Tapi sekarang Gunung Hiei telah dibuat tak berdaya, dan orang-orang di sana pun telah ber- sujud dan bersumpah setia pada Azuchi."

"Tentu, sebagai formalitas. Tapi jangan lupa, kita berhadapan dengan rekan-rekan serta kerabat orang-orang yang dibantai, dan dengan para biksu yang harus menyaksikan pembakaran kuil dan biara mereka. Mungkinkah mereka melupakan dendam yang sudah sekian lama membara dalam hati masing-masing? Korban yang tewas berjumlah sekitar sepuluh ribu, dan bangunan-bangunan itu sudah berdiri di sana sejak zaman Dengyo Yang Suci.

Mitsuhide mendesah panjang. "Kala itu aku tak mungkin menghindari perintah Nobunaga, dan aku pun turut dalam pembakaran gila-gilaan itu. Para biksu-prajurit, para biksu, dan orang biasa yang tak terhitung jumlahnya, tua maupun muda, kutikam sampai mati. Kalau kukenang peristiwa tersebut, dadaku serasa terbakar, seperti gunung yang dimangsa api itu."

"Tapi kau selalu menganjurkan agar kita ber- pandangan luas, dan sepertinya kau tidak bersikap demikian sekarang. Kau menghancurkan yang satu untuk menyelamatkan yang banyak. Jika kita membumihanguskan satu gunung, tapi membuat Ajaran Buddha bersinar cerah di lima gunung dan seratus puncak lainnya, menurut hematku, ke- matian yang kita timbulkan sebagai samurai tak dapat disebut pembunuhan."

"Tentu saja itu benar. Tapi sekadar karena simpati, mau tak mau aku harus menitikkan sebutir air mata, Mitsuharu! Di depan umum aku terpaksa menahan diri, tapi sebagai manusia biasa kurasa tak ada salahnya kalau kupanjatkan doa bagi gunung itu, bukan? Besok aku akan pergi ke sana dengan menyamar. Aku akan segera kembali setelah bertemu dengan si Kepala Biara."

Malam itu Mitsuharu tak sanggup memejamkan mata, walaupun telah beranjak ke peraduan. Mengapa Mitsuhide begitu dikuasai oleh ke- inginan pergi ke Gunung Hiei? Apakah ia, Mitsuharu, perlu mencegahnya, ataukah ia harus membiarkan Mitsuhide berlaku sesuka hatinya? Mengingat situasi yang kini dihadapi Mitsuhide, rasanya lebih baik ia menghindari hubungan apa pun dengan pembangunan kembali Gunung Hiei. Dan sebaiknya ia juga tidak bertemu dengan si Kepala Biara.

Sampai di sini semuanya masih jelas bagi Mitsuharu. Tapi kenapa Mitsuhide tampak tak senang ketika mendengar bahwa Mitsuharu tidak bersedia menemui utusan si Kepala Biara dan menolak menerima petisinya. Sepertinya Mitsu- hide tak setuju dengan cara sepupunya menangani situasi itu.

Rencana macam apa yang sedang digodok oleh Mitsuhide, dengan Gunung Hiei sebagai poros- nya? Tak pelak lagi, kunjungan Mitsuhide akan menjadi sumber bagi desas-desus bahwa ia ber- komplot melawan Nobunaga. Dan yang jelas, ia hanya menyia-nyiakan waktu dengan kunjungan itu, apalagi ia berada di ambang keberangkatan untuk berperang di provinsi-provinsi Barat.

"Aku harus mencegahnya. Apa pun yang akan terjadi, aku harus menccgahnya." Setelah meng- ambil keputusan ini, Mitsuharu akhirnya meme- jamkan mata. Pada saat berhadapan dengan Mitsuhide nanti, ia tentu akan memancing caci maki dari sepupunya itu atau membuatnya marah sekali, tapi ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya. Dengan tekad ini, ia pun terlelap.

Keesokan paginya ia bangun lebih pagi daripada biasa, tapi ketika sedang membasuh muka, ia men- dengar suara langkah menyusuri selasar ke arah jalan masuk. Mitsuharu memanggil dan meng- hentikan salah seorang samurai

"Siapa yang pergi ?" "Yang Mulia Mitsuhide." "Apa?!"

"Benar, tuanku. Beliau memakai baju tipis un- tuk pergi ke gunung, hanya disertai oleh Amano Genemon. Mereka hendak berkuda sampai ke Hiyoshi. Itulah yang baru saja dikatakan Yang Mulia Mitsuhide, ketika dia mengikat sandal jeraminya di gerbang." Mitsuharu tak pernah melalaikan doa pagi di hadapan tempat persembahan benteng dan altar keluarga, tapi kali ini ia mengabaikan kedua- duanya. Ia membawa pedang panjang dan pendek, lalu bergegas menuju gerbang. Tapi Mitsuhide dan pengikutnya sudah berangkat. Mitsuharu hanya menjumpai pata pembantu yang mengantar mereka dan kini memandang ke arah awan-awan putih di atas Shimeigatake.

"Kelihatannya di sini pun musim hujan sudah mulai berakhir."

Kabut pagi yang menyelubungi hutan pinus di balik benteng belum menipis, hingga menyebab- kan daerah sekitar tampak seperti dasar lautan. Kedua penunggang kuda itu melewati hutan dengan santai. Seekor burung besar terbang di atas kepala mereka mengepakkan sayap dengan anggun.

"Cuacanya bagus, bukan, Genemon?"

"Kalau terus seperti ini, udara di gunung akan cerah."

"Sudah lama aku tidak merasa setenteram sekarang."

"Berarti perjalanan kita tidak sia-sia."

"Aku ingin sekali bertemu dengan Kepala Biara Yokawa. Itulah satu-satunya tujuan perjalananku ini."

"Hamba rasa dia akan terkejut melihat tuanku." "Orang pasti akan curiga seandainya aku meng- undangnya ke Benteng Sakamoto. Aku harus menemuinya di bawah empat mata. Siapkan segala sesuatu, Genemon.

"Kemungkinan kedatangan tuanku diketahui orang lebih besar di kaki gunung daripada di atas gunung. Bisa repot kalau para warga desa menge- tahui bahwa Yang Mulia Mitsuhide berkunjung ke sini. Sebaiknya tuanku turunkan topi agar me- nutupi wajah, paling tidak sampai kita tiba di Hiyoshi."

Mitsuhide menarik topinya, sehingga hanya mulutnya yang masih kelihatan.

"Pakaian tuanku sederhana, dan pelana tuanku hanya pelana prajurit biasa. Takkan ada yang menyangka bahwa tuanku ternyata Yang Mulia Mitsuhide."

"Kalau kau memperlakukanku begitu hormat, orang akan langsung curiga."

"Hamba tidak berpikir sejauh itu," Genemon berkata sambil tertawa. "Mulai sekarang hamba akan lebih berhati-hati, tapi jangan salahkan hamba kalau hamba bersikap kasar."

Kegiatan pembangunan kembali di kaki Gunung Hiei telah berlangsung selama dua atau tiga tahun, dan perlahan-lahan semua jalan kem- bali ke wujud semula. Ketika kedua penunggang kuda itu melewati desa dan membelok ke jalan setapak yang menuju Kuil Enryaku, matahari pagi akhirnya mulai berkilau di permukaan danau. "Apa yang akan kita lakukan dengan kuda-kuda

kita nanti?" tanya Genemon.

"Tempat persembahan baru sudah dibangun di lokasi yang lama. Tentu ada rumah-rumah petani di sekitarnya. Kalau tidak, kita bisa menitipkan kuda-kuda kita pada salah satu pekerja di tempat persembahan."

Seorang penunggang kuda memacu kudanya, berusaha menyusul mereka.

"Sepertinya ada yang memanggil kita di belakang," ujar Genemon dengan was-was.

"Kalau ada yang mengejar kita, itu pasti Mitsuharu. Kemarin aku mendapat kesan bahwa dia ingin mencegahku melakukan perjalanan ini."

"Kelembutan hati dan ketulusan yang dimiliki beliau kini sudah jarang ditemui. Beliau hampir terlalu lembut sebagai samurai."

"Ah, ternyata memang Mitsuharu." "Kelihaiannya beliau bertekad untuk meng-

hentikan tuanku."

"Aku takkan berputar arah, tak peduli apa yang akan dikatakannya. Barangkali dia tidak ber- maksud menghentikanku. Jika itu yang ingin dilakukannya, dia tentu sudah merebut tali kekang kudaku di gerbang benteng. Lihat, dia pun mengenakan pakaian untuk berpesiar ke gunung."

Rupanya Mitsuharu telah berubah pikiran. Ia merasa sebaiknya tidak menentang keinginan Mitsuhide, tapi justru menemaninya, untuk me- mastikan sepupunya itu tidak membuat kesalahan. Mitsuharu tersenyum cerah ketika menyejajar- kan kudanya di samping kuda Mitsuhide. "Yang Mulia terlalu gesit untukku. Aku sempat terkejut tadi pagi. Aku tak menyangka Yang Mulia akan

berangkat sepagi itu."

"Dan aku tak menyangka kau hendak menyertai kami. Sebenarnya kau tak perlu mengejar-ngejar kami seperti ini, kalau saja kita sudah membuat janji semalam."

"Aku memang lalai. Meskipun Yang Mulia bepergian sambil menyamar, kukira Yang Mulia paling tidak disertai sepuluh orang berkuda yang membawa perbekalan ringan. Aku juga tak men- duga Yang Mulia akan memacu kuda sekencang ini."

"Seandainya ini kunjungan biasa, perkiraanmu memang tepat." ujar Mitsuhide. "Tapi tujuan perjalananku hari ini adalah berdoa bagi mereka yang bertahun-tahun lalu tewas dalam amukan api, dan mengadakan upacara peringatan bagi mereka. Tak pernah terlintas dalam benakku untuk mem- bawa sake dan makanan lezat."

"Di antara ucapan-ucapan kemarin mungkin ada yang menyinggung Yang Mulia, tapi aku memang cenderung terlalu berhati-hati. Sebenar- nya aku hanya tak ingin Yang Mulia melakukan sesuatu yang mungkin menimbulkan salah pengertian di Azuchi. Melihai pakaian yang dikenakan Yang Mulia, dan mengingat bahwa Yang Mulia hendak memanjatkan doa bagi mereka yang tewas, aku yakin Yang Mulia Nobunaga pun takkan keberatan. Aku sendiri belum pernah ber- kunjung ke gunung ini, walaupun aku bertempat tinggal di benteng yang berdekatan dengan Sakamoto. Jadi, kupikir sekaranglah kesempatan yang baik. Silakan berjalan di depan, Genemon."

Sambil memacu kudanya agar mengimbangi kecepatan kuda Mitsuhide, Mitsuharu mulai me- ngajaknya berbincang-bincang, seolah-olah takut sepupunya itu akan merasa jemu. Ia membicara- kan tumbuhan dan kembang yang mereka lihat di tepi jalan, menjelaskan tingkah laku berbagai burung yang ia bedakan berdasarkan kicauan masing-masing, dan terus bersikap seperti perem- puan ramah yang berusaha menghibur seseorang yang bersedih hati karena sakit.

Mitsuhide tak kuasa menolak ungkapan perasa- an seperti itu, tapi Mitsuharu hanya berbicara tentang alam, sementara pikiran Mitsuhide selalu disibukkan oleh masalah manusia, baik pada saat tidur maupun terjaga, atau bahkan kalaupun ia sedang memegang kuas di atas lukisan. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah per- saingan, di dalam api dendam dan dengki. Walau- pun nyanyian tekukur terdengar menggema, darah panas yang sempat naik ke pelipisnya pada waktu ia kembali dari Azuchi belumlah dingin.

Ketika Mitsuhide mendaki Gunung Hiei, hati- nya tak pernah tenang, walau sekejap pun. Betapa tandusnya tempat itu, dibandingkan kemakmuran yang pernah bersemi di sini. Mereka menyusun Sungai Gongen ke arah Pagoda Timur, tanpa melihat tanda-tanda kehidupan manusia. Hanya kicauan burung yang tidak berubah. Sejak dulu gunung itu terkenal sebagai tempat perlindungan bagi burung-burung langka.

"Aku tak melihai satu biksu pun," ujar Mitsu- hide ketika berdiri di depan reruntuhan sebuah kuil. Ia seolah-olah kaget melihat hasil kesungguh- sungguhan Nobunaga. "Masa tak ada satu orang pun di gunung ini? Coba kita periksa bangunan kuil utama."

Sepertinya ia lebih dari sekadar kecewa. Barang- kali ia diam-diam berharap akan melihat kekuatan para biksu-prajurit bangkit kembali di gunung ini. Tapi ketika mereka akhirnya tiba di lokasi kuil utama dan gedung ceramah, mereka hanya melihat gundukan abu. Hanya di sekitar bekas biara tampak sejumlah pondok. Bau dupa tercium dari arah itu, sehingga Genemon pergi ke sana untuk menyelidikinya. Ia menemukan empat atau lima pertapa yang duduk mengelilingi sepanci bubur

beras yang sedang dimasak di atas api.

"Mereka bilang si Kepala Biara Yokawa tidak ada di sini," Genemon melaporkan. "Jika kepala biara itu tak ada di sini, barangkali ada cendekiawan atau pengetua dari zaman dulu?"

Sekali lagi Genemon menghampiri para per- tapa, tapi jawaban yang kemudian dibawanya ter- nyata tidak menggembirakan. "Rupanya tak ada orang seperti itu di gunung ini. Mereka tidak diperkenankan datang ke sini tanpa izin dari Azuchi atau dari Gubernur Kyoto. Kecuali itu, sampai sekarang pun undang-undang tidak mem- perbolehkan pemukiman permanen di sini, selain untuk sekelompok biksu yang jumlahnya dibatasi." "Undang-undang tinggal undang-undang," ujar Mitsuhide, "tapi semangat keagamaan bukan seperti api yang dapat disiram air, lalu padam untuk selama-lamanya. Kurasa para pengetua menyangka kita prajurit dari Azuchi, sehingga mereka mungkin bersembunyi. Si Kepala Biara dan para pengetua yang selama tentu berada di sekitar sini. Genemon, jelaskan pada pertapa- pertapa itu bahwa mereka tak perlu khawatir, lalu

tanyai mereka  sekali lagi."

Ketika Genemon mulai menjauh, Mitsuharu berkata pada Mitsuhide. "Biar aku saja yang ber- bicara dengan mereka. Mereka takkan berani buka mulut kalau ditanyai oleh Genemon dengan sikap- nya yang serbakeras itu."

Tapi ketika menunggu Mitsuharu, Mitsuhide dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak di- sangka-sangka. Laki-laki itu mengenakan tudung berwarna kehijauan dan jubah biksu dengan warna yang sama, dan memakai pembalut kaki berwarna putih serta sandal jerami. Usianya lebih dari tujuh puluh tahun, tapi bibirnya masih semerah bibir anak muda. Alisnya putih bagaikan salju, dan ia tampak seperti burung bangau yang memakai jubah biksu. Ia membawa seorang bocah kecil dan dua pelayan. "Tuan Mitsuhide? Wah, wah, aku tak menyang- ka akan bertemu Tuan di sini. Kudengar Tuan berada di Azuchi. Apa yang membawa Tuan ke

gunung tandus ini?"

Bicaranya bukan seperti orang itu, suaranya nyaring, dan bibirnya terus-menerus menyungging- kan senyum.

Justru sebaliknya. Mitsuhidelah yang tampak bingung. Terpengaruh oleh sorot mata tajam orang itu, tanggapannya jelas-jelas bernada hati-hati.

"Ah, Sinshe Manase, bukan? Aku bertamu di Benteng Sakamoto selama beberapa hari, dan kupikir berjalan-jalan di pegunungan ini bisa memulihkanku dari kesuraman musim hujan."

"Memang tak ada obat yang lebih mujarab untuk jiwa dan raga selain sesekali membersihkan ch'i dengan berjalan-jalan di pegunungan dan menikmati alam. Sepintas lalu, Tuan kelihatannya sudah agak lama mengalami kelelahan. Apakah Tuan sedang cuti sakit dan kembali ke kampung halaman?" sinshe itu bertanya, menyipitkan mata sampai seukuran jarum. Entah kenapa, Mitsuhide merasa tak sanggup mengelabui orang dengan mata seperti itu. Manase sudah lama berpraktek sebagai sinshe, sejak ayah Yoshiaki, Yoshiteru, menduduki posisi shogun. Sudah agak lama kedua orang itu tidak berjumpa, tapi Mitsuhide sudah beberapa kali berbincang-bincang dengan sinshe tersohor itu di Azuchi. Nobunaga sering meng- undang Manase untuk menghadiri upacara minum teh, dan setiap kali ia jatuh sakit, ia segera me- manggil Manase. Nobunaga lebih percaya pada orang itu daripada sinshe-sinshenya sendiri.

Namun pada dasarnya Manase kurang suka dipekerjakan oleh para pembesar, dan karena ia bertempat tinggal di Kyoto, bepergian ke Azuchi terasa melelahkan, walaupun ia termasuk orang yang tahan banting.

Saat itulah Mitsuharu kembali. Ia belum sempat mencapai pondok, karena Genemon segera me- ngejarnya untuk memanggilnya kembali.

"Kita bertemu seseorang, dan situasinya agak kacau." Genemon berbisik. Tapi ketika Mitsuharu melihat Manase, ia segera ikut berbincang-bincang dengan gembira, menunjukkan bahwa ia pun akrab dengan sinshe itu.

"Ini kejutan yang menyenangkan, Tuan Manase. Tuan Sinshe selalu tampak lebih sehat daripada orang yang berada di puncak kejayaannya. Tuan datang dari Kyoto? Barangkali Tuan juga ingin menikmati keindahan alam di sini?"

Manase gemar mengobrol, dan ia gembira karena berjumpa teman lama di atas gunung.

"Setiap tahun, di musim semi atau awal musim panas, aku mendaki Gunung Hiei, dan sekali lagi di musim gugur. Di sini pasti banyak tumbuhan untuk jamu yang belum kita kenal."

Sepertinya Manase tidak terlalu memperhatikan Mitsuhide, meski sesekali ia menatap orang itu dengan pandangan seorang sinshe. Akhirnya ia mengalihkan pembicaraan pada kesehatan Mitsu- hide.

"Kudengar dari Yang Mulia Mitsuharu bahwa Tuan akan segera bertolak ke medan tempur di wilayah Barat. Jagalah kesehatan Tuan baik-baik. Kalau orang sudah melewati umur lima puluh, dia sukar menyangkal usianya, tak peduli seberapa kuatnya orang itu."

Dalam ucapannya tersirat rasa prihatin men- dalam.

"Begitukah?" Mitsuhide tersenyum dan menang- gapi saran Manase, seakan-akan membicarakan kesehatan orang lain. "Belakangan ini aku memang kurang enak badan, tapi badanku kuat, dan aku tidak menganggap diriku sakit."

"Hmm, jangan terlalu yakin. Orang sakit sebaik- nya menyadari keadaannya dan mengambil lang- kah pencegahan yang tepat. Kalau seseorang terlalu yakin, seperti Tuan, bukan tak mungkin dia membuat kesalahan fatal."

"Kalau begitu, Tuan Sinshe menduga bahwa aku digerogoti penyakit yang telah berurat-berakar? "Hanya dengan mengamati paras dan men- dengarkan suara tuan sudah ketahuan bahwa kondisi kesehatan Tuan tidak seperti biasanya.

Kurasa penyebabnya bukan penyakit, melainkan kelelahan pada organ-organ tubuh tuan."

"Kalau itu masalahnya, aku pun sependapat. Karena berbagai pertempuran dalam tahun-tahun terakhir dan karena pengabdianku pada jun- junganku, aku kerap memakai tubuh ini melewati batas kekuatannya."

"Membicarakan hal seperti ini di hadapan Tuan tak ubahnya mengajarkan Dharma kepada sang Buddha, tapi sesungguhnya Tuan perlu lebih menjaga kesehatan. Kelima organ tubuh—hati, jantung, limpa, paru-paru, dan ginjal—terwujud dalam kelima aspirasi, kelima tenaga, dan kelima suara. Sebagai contoh, jika hati terkena penyakit. air mata Tuan akan berlebihan; jika jantung ter- luka, Tuan akan dikuasai rasa rakut, seberapa besar pun keberanian Tuan biasanya; jika limpa terganggu, Tuan akan mudah marah; jika paru- paru tidak berfungsi dengan benar, Tuan akan mengalami siksaan mental dan tidak memiliki kekuatan psikologis untuk memahami sebabnya. Dan jika ginjal Tuan lemah, perasaan Tuan akan terombang-ambing dengan hebat." Manase terus mengamati paras laki-laki di hadapannya. Tapi Mitsuhide sendiri merasa yakin akan kesehatannya, dan tidak berniat mendengar- kan ucapan Manase. Ia berusaha menutup-nutupi perasaannya dan memaksakan senyum, namun sesungguhnya ia merasa jengkel dan tidak senang. Akhirnya, setelah kesabarannya habis, ia me- nunggu-nunggu kesempatan untuk menjauhi orang tua itu.

Manase, di pihak lain, tidak bermaksud ber- henti di tengah jalan Meskipun ia memahami arti sorot mata Mitsuhide, ia terus menasihatinya.

"Sejak pertama berjumpa dengan Tuan tadi, warna kulit Tuan sudah menarik perhatianku. Kelihatannya Tuan takut atau cemas mengenai sesuatu. Tuan berusaha menampik kemarahan, tapi aku melihat bahwa mata Tuan tidak hanya berisi kemarahan laki-laki, melainkan juga air mata perempuan. Belakangan ini pernahkah Tuan merasa kedinginan sampai ke ujung jari tangan dan kaki pada malam hari? Dan bagaimana dengan suara mendenging di telinga? Atau air liur yang mengering dan mulut yang rasanya seperti habis mengunyah onak duri? Adakah gejala-gejala ini pada diri Tuan?"

"Memang adakalanya aku tak sanggup meme- jamkan mata, tapi semalam aku tidur nyenyak. Baiklah, aku berterima kasih atas perhatian Tuan Sinshe, aku akan memperhatikan makananku dan terus minum obat," Mitsuhide segera memanfaat- kan kesempatan ini, dan memberikan isyarat pada Mitsuharu dan Genemon bahwa sudah waktunya mereka berangkat lagi.

***

Hari itu Shinshi Sakuzaemon, pengikut marga Akechi, bertolak dari Azuchi ke Benteng Saka- moto, disertai romhongan kecil. Keberangkatan junjungannya, Mitsuhide, begitu mendadak, se- hingga Shinshi tinggal lebih lama untuk menye- lesaikan urusan-urusan yang belum tuntas.

Begitu ia berganti baju setelah tiba di Benteng Sakamoto, beberapa orang berkerumun di kamar- nya dan menghujaninya dengan pertanyaan.

"Bagaimana keadaannya sesudah kami pergi?" "Seperti apa desas-desus yang menyebar di

Azuchi setelah Yang Mulia berangkat?"

Shinshi menjawab sambil mengertakkan gigi, "Baru delapan hari berlalu sejak Yang Mulia me- ninggalkan Azuchi, tapi bagi orang-orang yang menerima upah dari marga Akechi, rasanya seperti tiga tahun berbaring di atas paku. Semua pelayan dan orang biasa di Azuchi sempat melewati bangsal besar yang kosong tambil mencerca. 'Inikah tempat yang ditinggalkan Tuan Mitsuhide? Pantai saja baunya seperti ikan busuk. Kalau begini terus, cahaya yang menerangi si Kepala Jeruk tentu akan segera padam.'"

"Tak ada yang mencela tindakan Yang Mulia Nobunaga sebagai tindakan yang tak masuk akal atau tidak adil?"

"Pasti ada beberapa pengikut yang memahami duduk perkaranya. Apa kata mereka?"

"Selama beberapa hari setelah keberangkatan Yang Mulia, berlangsung jamuan makan untuk Yang Mulia Ieyasu, dan semua orang di Benteng Azuchi disibukkan oleh acara itu. Barangkali Yang Mulia Ieyasu merasa heran bahwa pejabat yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan jamuan itu mendadak diganti, dan kabarnya beliau sempat bertanya pada Yang Mulia Nobunaga mengapa Yang Mulia Mitsuhide tiba-tiba menghilang. Tapi Yang Mulia Nobunaga hanya menjawab acuh tak acuh bahwa dia menyuruhnya pulang ke kampung halamannya."

Semua yang mendengar laporan ini menggigit bibir. Shinshi kemudian memberitahu rekan- rekannya bahwa sebagian besar pengikut senior marga Oda merasakan kemalangan yang menimpa Mitsuhide sebagai keuntungan bagi mereka. Kecuali itu, ada kemungkinan Nobunaga hendak memindahkan marga Akechi ke suatu tempat terpencil. Ini tak lebih dari desas-desus, namun jarang ada asap tanpa api. Ranmaru, pelayan kesayangan Nobunaga, merupakan putra Mori Yoshinari, pengikut marga Oda yang beberapa tahun silam gugur dalam pertempuran di Sakamoto. Karena alasan ini, Ranmaru diam-diam mendambakan Benteng Sakamoto. Dan konon Nobunaga telah berjanji untuk memberikan benteng itu padanya.

Dan masih ada lagi. Banyak orang beranggapan bahwa Mitsuhide sengaja ditugaskan menuju Jalan Raya Sanin, dengan perhitungan bahwa setelah menduduki wilayah itu, ia akan segera diangkat sebagai gubernur. Benteng Sakamoto, yang begitu dekat ke Azuchi, kemudian akan diserahkan pada Mori Ranmaru.

Sebagai bukti, Shinshi menyinggung perintah yang diberikan kepada Mitsuhide oleh Nobunaga pada hari kesembilan belas di bulan itu, lalu berpaling dengan geram. Ia tak perlu memberi penjelasan. Perintah itu telah menyulut ke- marahan Mitsuhide dan semua pengikutnya. Bunyinya sebagai berikut:

Agar kau dapat bertindak sebagai barisan belakang di Bitchu, kau harus bertolak dari kampung halamanmu dalam beberapa hari mendatang, dan dengan demikian menduluiku ke medan perang. Setelah tiba di sana, tunggu perintah lebih lanjut dari Hideyothi.

Surat tersebut, yang disebarkan pada semua jendral dan pengikut Oda, jelas-jelas ditulis atas suruhan Nobunaga. Jadi, ketika surat itu sampai ke tangan para prajurit marga Akechi, mereka begitu geram sampai meniiikkan air mata ke- marahan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa marga Akechi dipandang lebih tinggi kedudukannya daripada marga Ikeda dan Hori, dan setingkat dengan marga Hashiba dan Shibata. Meski demikian, junjungan mereka bukan saja dicantum- kan di bawah nama komandan-komandan itu, tapi juga ditempatkan di bawah komando Hideyoshi.

Pelecehan terhadap kedudukannya merupakan penghinaan terbesar yang mungkin dialami se- orang samurai. Rasa malu akibat peristiwa jamuan makan kini ditambah lagi dengan perintah itu. Sekali lagi orang-orang Akechi merasa sakit hati. Sore telah berganti senja, dan matahari yang sedang terbenam memancarkan cahayanya yang terakhir. Tak ada yang angkat bicara, tapi tak sedikit yang menitikkan air mata. Ketika itulah suara langkah sejumlah samurai terdengar di selasar. Menduga bahwa junjungan mereka telah kembali, orang-orang itu berhamburan keluar untuk mcnyambutnya.

Hanya Shinshi yang menunggu sampai di- panggil. Tapi Mitsuhide, yang memang baru tiba dari Gunung Hiei, baru memanggil Shinshi setelah mandi dan makan.

Kecuali Mitsuharu, tak seorang pun berada ber- samanya, dan Shinshi melaporkan sesuatu yang tidak diceritakannya kepada para pengikut lain, yaitu bahwa Nobunaga telah mengambil kepu- tusan dan sedang bersiap-siap untuk bertolak dari Azuchi pada hari kedua puluh sembilan di bulan itu. Ia akan menginap satu malam di Kyoto, lalu segera menuju wilayah Barat.

Mitsuhide mendengarkan dengan saksama. Sorot matanya mencerminkan kecerdasan dan kecermartn yang dimilikinya. Ia menanggapi setiap ucapan Shinshi dengan anggukan kepala.

"Berapa orang yang akan menyertai beliau?" tanyanya.

"Beliau akan ditemani beberapa pengikut dan sekitar tiga puluh sampai empat puluh pelayan."

"Apa?! Beliau hendak pergi ke Kyoto dengan rombongan sekecil itu?"

Sejak semula Mitsuharu lebih banyak diam, tapi karena kini Mitsuhide pun membisu, ia memper- silakan Shinshi menarik diri dari hadapan mereka. Setelah Shinshi pergi, Mitsuharu dan Mitsuhide kembali berduaan saja. Mitsuhide seolah-olah ingin mencurahkan isi hati kepada sepupunya, tapi Mitsuharu tidak memberikan kesempatan pada- nya. Mitsuharu justru berbicara mengenai kesetia- an terhadap Nobunaga, dan mendesak Mitsuhide untuk segera berangkat ke wilayah Barat, agar tidak

menyulut kemarahan junjungannya.

Sikap tulus yang diperlihatkan sepupunya di- warnai suatu ketegaran yang selama empat puluh tahun terakhir menjadi tempat bertumpu bagi Mitsuhide, dan kini ia memandang Mitsuharu sebagai orang yang paling dapat diandalkan. Karena itu, meskipun sikap Mitsuharu tidak se- jalan dengan hari nurani Mitsuhide, ia tak bisa marah atau mencoba mendesaknya.

Setelah hening beberapa saat, Mitsuhide men- dadak berkata. "Sebaiknya kita utus rombongan pendahuluan untuk menemui para pengikutku di Kameyama, supaya persiapan untuk menuju medan perang dapat dirampungkan secepat mungkin. Dapatkah kau mengurus itu, Mitsu- haru?"

Dengan gembira Mitsuharu menyanggupi permintaan itu.

Malam itu sebuah rombongan bergegas menuju Benteng Kameyama.

Sekitar giliran jaga keempat, Mitsuhide tiba-tiba duduk tegak. Bermimpikah ia? Ataukah ia untuk kesekian kali memikirkan sesuatu, lalu menyingkir- kan gagasan itu dari dalam benaknya? Tak lama kemudian ia kembali menyelimuti tubuhnya dan berusaha tidur lagi.

Kabut atau hujankah yang mempengaruhi diri- nya? Debur ombak di danau, atau angin yang bertiup dari puncak Gunung Hiei? Sepanjang malam, angin dari gunung itu tak henti-hentinya berembus. Walaupun tidak sampai menerobos ke dalam, lilin di samping bantal Mitsuhide berkelap- kelip, seakan-akan digoyang-goyangkan oleh roh jahat. Mitsuhide membalikkan badan. Walaupun di musim panas ini malam tak berlangsung lama, bagi Mitsuhide rasanya pagi masih lama sekali. Akhir- nya, ketika irama napasnya baru saja mulai teratur, ia sekali lagi menyingkap selimut dan duduk tegak. "Ada siapa di sana?" ia berseru ke arah ruang-

ruang para pelayan.

Sayup-sayup terdengar bunyi pintu bergeser. Pelayan yang bertugas jaga malam masuk tanpa bersuara dan langsung bersujud.

"Suruh Matabei segera datang ke sini." Mitsu- hide memerintahkan.

Semua orang di tempat tinggal para samurai sedang tidur lelap, tapi berhubung sejumlah pengikut Mitsuhide bertolak ke Kameyama pada sore sebelumnya, mereka yang masih berada di Sakamoto diliputi ketegangan, karena tidak tahu kapan junjungan mereka, Mitsuhide, akan menyu- sul. Malam itu semuanya naik ke peraduan dengan pakaian perjalanan telah siap di samping bantal.

"Tuanku memanggil hamba?"

Yomoda Matabei muncul. Ia pemuda kekar yang telah menarik perhatian Mitsuhide. Mitsuhide menyuruhnya mendekat dan membisik- kan sebuah perintah ke telinganya.

Ketika menerima perintah rahasia dari Mitsu- hide, wajah pemuda itu memperlihatkan emosi meluap-luap.

"Sekarang juga hamba akan berangkat!" ia men- jawab, menanggapi kepercayaan junjungannya de- ngan segenap haii.

"Kau pasti dikenali sebagai samurai Akechi, jadi pergilah cepat-cepat—sebelum fajar menyingsing. Gunakan akalmu. dan jangan lakukan kesalahan."

Setelah Matabei pergi, ternyata masih ada waktu sebelum hari terang, dan baru sekarang Mitsuhide dapat tidur nyenyak. Banyak pengikutnya men- duga bahwa pada hari itulah mereka akan berang- kat ke Kameyama, dan bahwa rencana tersebut akan diumumkan pagi-pagi sekali. Mereka ter- peranjat ketika mengetahui bahwa junjungan mereka ternyata bangun lebih siang daripada biasanya.

Menjelang siang, suara Mitsuhide terdengar di bangsal.

"Kemarin aku seharian berjalan-jalan di gunung, dan sudah lama aku tidak tidur senyenyak se- malam. Barangkali itu sebabnya aku merasa begitu enak hari ini. Rupanya aku sudah sembuh sepenuhnya."

Para pengikutnya tampak lega. Tak lama ke- mudian Mitsuhide memberikan sebuah perintah kepada para pembantunya.

"Malam ini, pada pertengahan kedua Jam Ayam Jantan, kita akan bertolak dari Sakamoto, menyeberangi Sungai Shirakawa, melewati bagian utara Kyoto, dan kembali ke Kameyama. Pastikan semua persiapan telah rampung." Lebih dari tiga ribu prajurit akan menyertainya ke Kameyama. Malam mendekat. Mitsuhide mengenakan pakaian perjalanan dan keluar untuk mencari Mitsuharu.

"Karena aku akan menuju wilayah Barat, aku tak bisa memastikan kapan aku akan kembali. Malam ini aku ingin bersantap bersamamu dan keluargamu."

Dengan demikian mereka sekali lagi berkumpul dalam lingkungan keluarga, sampai Mitsuhide berangkai.

Orang tertua yang hadir adalah paman Mitsuhide yang terkenal eksentrik, Chokansai. yang telah mengucapkan sumpah keagamaan. Tahun itu ia berusia enam puluh enam tahun, bebas dari penyakit apapun, dan ia gemar men- ceritakan lelucon. Ia duduk bersebelahan dengan putra Mitsuharu yang berusia tujuh tahun dan menggodanya dengan jenaka.

Tapi orang tua yang baik hari itulah satu- satunya yang tersenyum dari awal sampai akhir. Tanpa menyadari karang-karang tersembunyi yang mengancam marga Akechi, ia mempercayakan sisa usianya pada kapal yang sedang berlayar di laut musim semi, dan ia tampak setenteram biasanya.

"Suasana begitu semarak di sini. Rasanya seperti di rumah sendiri. Pak Tua, berikan cawan ini pada Mitsutada.'"

Mitsuhide telah menghabiskan dua atau tiga cawan, dan kini menyerahkan cawannya pada Chokansai, yang kemudian menyodorkannya pada keponaka-nya, Mitsutada.

Mitsutada komandan Bcnteng Hachijo dan baru tiba hari itu. Ia yang termuda di antara ketiga sepupu.

Mitsutada mereguk sake-nya, dan sambil ber- ingsut-ingsut mendekati Mitsuhide, mengembali- kan cawan. Istri Mitsuharu memegang botol sake dan menuangkan isinya, dan tepat pada saat itu tangan Mitsuhide mulai gemetar. Biasanya ia tidak termasuk orang yang mungkin terkejut karena bunyi tak terduga, tapi sekarang, ketika seorang prajurit memukul genderang di muka benteng, wajahnya mulai agak memucat.

Chokansai berpaling pada Mitsuhide dan ber- kata. "Sebentar lagi Jam Ayam Jantan sudah tiba, jadi itu pasti genderang yang memanggil pasukan ke lapangan upacara."

Mitsuhide semakin muram. "Aku tahu," ia berkata dengan nada getir, lalu menghabiskan isi cawan terakhir.

Dalam satu jam ia sudah siap di atas kuda. Di bawah bintang-bintang yang bersinar redup, tiga ribu orang meninggalkan benteng di tepi danau dengan membawa obor. Mereka membentuk barisan meliuk-liuk, dan menghilang di perbukitan di Shimeigatake.

Mitsuharu memperhatikan mereka dari puncak benteng. Ia akan menyusun kesatuan yang terdiri atas pengikut-pengikut Sakamoto semata-mata, dan akan bergabung dengan pasukan utama di Kameyama kemudian.

Pasukan di bawah Mitsuhide berbaris tanpa ber- henti. Tepat tengah malam mereka memandang dari sebelah Shimeigatake dan melihat kota Kyoto yang sedang terlelap.

Untuk menyeberangi Sungai Shirakawa, mereka akan menuruni lereng Gunung Uriyu dan tiba di jalan raya sebelah selatan Kuil Ichijo. Sejak tadi mereka terus mendaki, tapi mulai tilik itu jalan setapak yang mereka susuri akan terus menurun.

"Kita beristirahat sebentar!"

Mitsutada menyampaikan perintah Mitsuhide kepada para prajurit.

Mitsuhide pun turun dari kudanya, melepas lelah sejenak. Seandainya mereka tiba pada siang hari, ia akan dapat melihat jalan-jalan di ibu kota. Tapi kini seluruh kota diselubungi kegelapan, dan hanya atap-atap kuil dan puncak-puncak pagoda serta sungai lebar yang tampak membayang.

"Apakah Yomoda sudah menyusul kita?"

"Sejak semalam hamba belum melihatnya. Apakah tuanku memberikan tugas khusus pada- nya?"

"Benar."

"Pergi ke manakah dia?"

"Nanti kau akan tahu sendiri. Kalau dia kem- bali, suruh dia menemuiku dengan segera. Biarpun kita di tengah perjalanan."

"Baik. tuanku."

Begitu terdiam kembali, Mitsuhide kembali mengalihkan pandangannya ke arah atap-atap gelap di kota. Barangkali karena kabut mulai menipis atau karena matanya sudah mulai terbiasa dengan kegelapan malam, berangsur-angsur ia dapat membeda-bedakan bangunan-bangunan di ibu kota. Tembok putih Istana Nijo-lah yang paling berkilau.

Dengan sendirinya pandangan Mitsuhide ter- tarik ke titik putih iiu. D sanalah putra Nobunaga, Nobutada, menginap. Juga ada Tokugawa Ieyasu yang telah meninggalkan Azuchi beberapa hari yang lalu dan pergi ke ibu kota. Yang Mulia Ieyasu mungkin sudah meninggalkan ibu kota, pikir Mitsuhide .

Akhirnya ia bangkit dengan tiba-tiba, mengejut- kan semua jendralnya. "Ayo kita berangkai lagi. Kudaku."

Kecemasan para bawahannya menyerupai riak yang berpusat pada tindak-tanduknya yang serba gelisah. Dalam beberapa hari terakhir ia secara ber- kala mengucilkan diri dari para pengikutnya, dan tingkah lakunya lebih seperti anak yatim daripada pemimpin marga samurai.

Walaupun para prajurit hanya dengan susah payah dapat mengikuti jalan setapak dalam kegelapan—berkerumun di sekeliling Mitsuhide dan bolak-balik menyerukan peringatan—mereka terus turun perlahan-lahan, dan akhirnya men- dekati pinggiran ibu koia.

Ketika barisan ketiga ribu orang dan kuda mencapai Sungai Kamo dan berhenti sejenak, semua prajurit menoleh ke belakang, dan Mitsu- hide pun melakukan hal yang sama. Melihai gelombang-gelombang di sungai memantulkan cahaya merah, mereka tahu bahwa matahari pagi sudah muncul dari balik punggung bukit di belakang mereka.

Perwira yang bertanggung jawab atas perbekalan pasukan menghampiri Mitsutada dan bertanya mengenai makan pagi. "Apakah kita akan makan di sini, atau melanjutkan perjalanan sampai ke Nishijin?"

Mitsutada baru ingin menanyakan kehendak Mitsuhide, tapi pada saat itu Yomoda Masataka sedang berada di samping Mitsuhide, dan kedua orang itu mengarahkan pandangan mereka ke Sungai Shirakawa yang telah mereka lintasi. Mitsutada memutuskan untuk menunggu.

"Masataka, Matabei-kah itu? "Kelihatannya begitu."

Mitsuhide dan Masataka memperhatikan se- orang penunggang kuda berpacu melewati kabut pagi.

"Matabei." Sementara menunggu orang yang kedatangannya telah dinanti-nantikan itu, Mitsu- hide berpaling kepada para komandan di sekeli- lingnya. "Kalian pergilah menyeberangi sungai. Aku akan segera menyusul."

Barisan depan telah melintasi bagian dangkal Sungai Kamo ke tepi seberang. Para komandan lain segera menjalankan perintah Mitsuhide. Lang- kah kuda-kuda mereka menimbulkan buih putih di air yang bening. Satu per satu mereka menye- berangi sungai itu.

Mitsutada memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya, "Di manakah kita akan makan pagi? Apakah kiia sebaiknya menunggu sampai kita tiba di Nishijin?"

"Semuanya pasti lapar, tapi lebih baik kita tidak berhenti di wilayah ibu kota. Kita akan menerus- kan perjalanan sampai Kitano," balas Mitsuhide.

Pada jarak sekitar dua puluh meter, Yomoda Matabei turun dari kuda dan melilitkan tali kekang pada sebuah tonggak yang tertancap di dasar sungai.

"Mitsutada dan Masataka, kalian berdua ikut menyeberang, lalu tunggu aku di sana. Jangan khawatir, aku takkan lama."

Baru setelah kedua orang terakhir ini menjauh, Mitsuhide berpaling pada Matabei dan memberi isyarat agar ia mendekat.

"Baik, tuanku!"

"Bagaimana keadaan di Azuchi?" "Laporan yang telah tuanku dengar dari Amano Genemon rupanya benar."

"Aku menyuruhmu menyelidiki kebenarannya untuk memastikan apakah Yang Mulia Nobunaga akan meninggalkan ibu kota pada hari kedua puluh sembilan, serta untuk mengetahui seberapa besar rombongan yang dibawanya. Jawabanmu bahwa laporan sebelumnya tidak keliru tak ber- guna sama sekali. Jawablah dengan tegas: Apakah informasi itu dapat diandalkan atau tidak?"

"Sudah dapat dipastikan bahwa beliau akan bertolak dari Azuchi pada hari kedua puluh sembilan. Hamba tidak berhasil memperoleh nama para jendral utama yang akan menyertainya, tapi telah diumumkan bahwa beliau akan mem- bawa rombongan yang terdiri atas sekitar empat puluh sampai lima puluh pelayan dan pembantu dekat."

"Bagaimana dengan tempat penginapan beliau di ibu kota?"

"Beliau akan menginap di Kuil Honno." "Apa?! Kuil Honno?"

"Benar, tuanku." "Bukan di Istana Nijo?"

"Semua laporan menyebutkan bahwa beliau akan bermalam di Kuil Honno," Matabei men- jawab tegas, agar tidak dicerca sekali lagi.