--> -->

Taiko Bab 29 Benteng di Tengah Danau

Buku Tujuh Tahun Tensho Kesepuluh 1582 Musim Semi

Bab 29 Benteng di Tengah Danau

DUA penunggang kuda berpacu melewati gapura Okayama, menerbangkan awan debu ketika menuju benteng. Sepintas lalu saja mereka menarik per- hatian orang-orang. Setelah sampai di gerbang benteng, keduanya memberitahu para penjaga bahwa mereka membawa pesan penting dari Yang Mulia Nobunaga di Kai.

Hideyoshi sedang berada di benteng dalam ketika seorang pengikut masuk untuk memberitahukan kedatangan para kurir,

"Suruh mereka tunggu di Ruang Bangau," ia memerintahkan.

Ruangan ini khusus disediakan untuk pembicara- an yang sifatnya amat rahasia. Segera setelah kedua kurir masuk, Hideyoshi menyusul dan duduk. Salah satu kurir mengeluarkan surat dari lipatan kimono, dan dengan hormat meletakkannya di hadapan Hideyoshi. Surat itu terbungkus dua atau tiga lembar kertas minyak. Hideyoshi melepaskan pembungkus luar dan membuka sampulnya.

"Ah, sudah lama aku tidak melihat tulisan tangan Yang Mulia," ia berkata. Sebelum membuka surat itu. ia menempelkannya ke kening. Bagaimanapun, jun- jungannya sendiri yang menulisnya.

Setelah selesai membaca. Hideyoshi menyelipkan surat itu ke dalam kimononya dan bertanya, "Berhasilkah pasukan kita di Kai merebut ke- menangan gemilang?"

"Pasukan Yang Mulia bagaikan kekuatan yang tak terbendung. Pada waktu kami bertolak dari Kai, pasukan Yang Mulia Nobutada sudah sampai di Suwa."

"Itulah ciri Yang Mulia Nobunaga. Rupanya beliau sendiri ikut terjun ke kancah pertempuran. Beliau tenru bersemangat tinggi."

"Hamba mendengar salah seorang yang ikut dalam operasi itu berkata bahwa mereka melintasi pegunungan seakan-akan sedang menempuh tamasya musim semi. Kelihatannya Yang Mulia Nobunaga akan kembali lewat jalan pesisir, sekaligus berpesiar ke Gunung Fuji."

Para kurir menarik diri. Hideyoshi tidak beranjak dari tempatnya, mengamati lukisan bangau-bangau putih yang menghiasi pintu geser. Titik kuning telah ditambahkan pada mata burung-burung, dan seperti- nya mereka membalas tatapan Hideyoshi .

Tak ada pilihan selain Kanbei, ia berkata dalam hati. Hanya dia yang bisa kukirim. Ia memanggil seorang pelayan dan berkata, "Kuroda Kanbei mesti- nya sedang berada di benteng luar. Suruh dia dan Hachisuka Hikoemon datang ke sini."

Hideyoshi mengeluarkan surat tadi dan membaca- nya sekali lagi. Sebenarnya para kurir bukan membawa surat, melainkan janji yang diminta Hideyoshi dari Nobunaga. Dengan mudah Hideyoshi dapat mengumpulkan pasukan berkekuatan enam puluh ribu orang di Okayama. Namun ia tidak melintasi perbatasan provinsi musuh, Bitchu, yang harus ditaklukkannya dulu jika ia hendak mengalah- kan marga Mori. Masih ada satu rintangan yang menghalangi jalan Hideyoshi ke Bitchu, dan rintangan itu ingin ia singkirkan—sedapat mungkin tanpa pertumpahan darah. Rintangan itu berupa benteng utama dari ketujuh benteng yang mem- bentuk garis pertahanan musuh di sepanjang per- batasan Bitchu: Benteng Takamatsu.

Kanbei dan Hikoemon memasuki ruangan kecil itu, dan Hideyoshi langsung merasa lebih tenang.

"Janji Yang Mulia baru saja tiba," Hideyoshi mulai berkata. "Kelihatannya aku terpaksa menyusahkan kalian saja. Kuminta kalian pergi ke Benteng Taka- matsu."

"Jika diperkenankan, hamba ingin membaca janji itu," ujar Kanbei.

Kanbei membacanya dengan penuh hormat. seolah-olah berhadapan langsung dengan Nobunaga.

Janji itu ditujukan pada komandan Benteng Takamatsu, Shimizu Muneharu. Nobunaga berjanji, jika Muneharu menyerah, ia akan mendapat imbalan berupa wilayah yang terdiri atas Provinsi Bitchu dan Bingo. Nobunaga juga mengemukakan bahwa ia telah berjanji demi para dewa, dan bahwa tak ada yang dapat memaksanya menarik kembali janji itu. "Kuminta kau dan Hikoemon secepat mungkin berangkat ke Benteng Takamatsu." Hideyoshi ber- kata. "Aku yakin takkan ada masalah saat kalian menemui Jendral Muneharu dan berbicara dengan- nya, tapi kalau ada, kurasa dia takkan berkeras setelah mcelihat cap ini."

Hideyoshi tampak optimis, tapi Kanbei dan Hikoemon tak sanggup memperlihatkan keyakinan yang sama. Mungkinkah Hideyoshi benar-benar percaya bahwa Shimizu Muneharu akan meng- khianati marga Mori hanya karena diiming-imingi janji ini, ataukah Hideyoshi menyimpan rencana lain dalam benaknya?

***

Perjalanan dari Okayama ke Benteng Takamatsu memakan waktu kurang dari satu hari, dan para kurir sampai lebih cepat lagi karena menunggang kuda. Ketika melewati garis depan mereka sendiri, mereka melihat ke arah Pegunungan Kibi, memandang matahari merah yang sedang terbenam.

Mulai dari titik ini, siapa pun yang mereka jumpai merupakan musuh. Ini bukan musim semi seperti yang dulu mereka tinggalkan di Okayama. Ladang- ladang dan desa-desa tampak gersang.

Seorang penunggang kuda berpacu dari garis depan ke pagar pertahanan yang mengelilingi Benteng Takamatsu dan menunggu perintah. Akhir- nya Kanbei dan Hikoemon digiring melewati pagar pertahanan dan dibawa ke gerbang benteng. Takamatsu merupakan contoh tipikal benteng yang dibangun di sebuah dataran. Di kiri-kanan jalan yang menuju gerbang utama terdapat sawah dan ladang. Tanggul-tanggul dan tembok-tembok luar berdiri di tengah-tengah sawah. Dengan setiap langkah menaiki tangga batu, tembok pertahanan dan dinding-dinding benteng utama yang tajam dan runcing semakin dekat menjulang di atas kepala.

Setelah memasuki benteng dalam, para utusan sadar bahwa inilah benteng terkuat dari ketujuh benteng di sepanjang perbatasan. Mereka melihat lapangan luas, dan walaupun lebih dan dua ribu prajurit ditempatkan di sini, suasananya sunyi. Akibat keputusan Muneharu untuk berperang, benteng itu juga menampung tiga ribu pengungsi. Muneharu telah bertekad untuk menghadapi serbuan pasukan dari Timur di benteng yang satu ini.

Kanbei dan Hikoemon diantar ke sebuah ruangan kosong. Tanpa tongkat penyangga, Kanbei masuk terpincang-pincang.

"Yang Mulia Muneharu akan segera menemui Tuan-Tuan," ujar pelayan yang mengantar mereka. Usianya kurang dari dua puluh tahun, dan pada waktu ia meninggalkan ruangan, sikapnya tak ber- beda dari sikapnya di masa damai.

Kemudian Jendral Muneharu masuk, duduk tanpa banyak lagak, dan berkata. "Aku Shimizu Muneharu. Aku diberitahu bahwa Tuan-Tuan merupakan utusan Yang Mulia Nobunaga. Selamat datang." Usianya sekitar lima puluh tahun, rendah hati, dan ber- pakaian sederhana. Ia tidak diapit pengikut di kiri- kanan, hanya ada pelayan berumur sebelas atau dua belas tahun yang berlutut di belakangnya. Orang itu demikian bersahaja, sehingga ia mungkin dianggap sebagai kepala kampung, seandainya tidak membawa pedang dan disertai pelayan.

Kanbei bersikap teramat sopan terhadap jendral yang sederhana ini. "Sungguh suatu kehormatan bagiku, bisa berkenalan dengan Tuan. Namaku Kuroda Kanbei."

Setelah Kanbei dan Hikoemon memperkenalkan diri, Muneharu membungkuk ramah. Kedua utusan merasa gembira, menganggap bahwa mereka takkan mengalami kesulitan membujuk Muneharu agar beralih ke pihak mereka.

"Hikoemon," ujar Kanbei. "tolong sampaikan pokok isi pesan Yang Mulia kepada Jendral Muneharu." Pada umumnya, pembicaraan seperti ini dibuka oleh utusan berkcdudukan lebih senior, namun Kanbei beranggapan bahwa penjelasan oleh Hikoemon, yang lebih tua dan lebih matang, akan lebih membawa hasil.

"Perkenankan aku menjelaskan maksud keda- tangan kami, Tuan Jendral. Yang Mulia Hideyoshi telah memerintahkan kami untuk berbicara apa adanya, jadi itulah yang akan kulakukan. Yang Mulia Hideyoshi sedapat mungkin ingin menghindari pertcmpuran yang sia-sia. Kukira Tuan Jendral menyadari bagaimana keadaan di daerah Barat. Dalam hal pasukan, kami dengan mudah dapat mengerahkan seratus lima puluh ribu prajurit, semen- tara pihak Mori hanya mempunyai empat puluh lima, atau paling banyak lima puluh ribu. Ditambah lagi, para sekutu marga Mori—marga Uesugi dari Echigo, marga Takeda dari Kai, para biksu-prajurit dari Gunung Hiei dan Honganji, serta sang Shogun— semuanya sudah dihancurkan. Apa alasan moral yang kini dapat dikemukakan marga Mori untuk ber- tcmpur dan menghanguskan daerah Barat?

"Di pihak lain," Hikoemon melanjutkan, "Yang Mulia Nobunaga telah memperoleh dukungan sang Tenno, serta dicintai dan dihormati oleh rakyat. Bangsa ini akhirnya bangkit dari kegelapan perang sipil dan menyongsong fajar baru. Yang Mulia Hideyoshi merasa terusik oleh bayangan bahwa Tuan Jendral dan banyak orang yang mengabdi pada Tuan Jendral akan mencmui ajal. Beliau bertanya-tanya. adakah cara untuk menghindari pengorbanan itu, dan minta agar Tuan jendral memikirkannya sekali lagi."

Sambil mcngeluarkan janji Nobunaga dan sepucuk surat dari Hideyoshi, Kanbei angkat bicara. "Aku tidak akan membicarakan soal untung-rugi. Aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu pada Tuan Jendral, yang memperlihatkan maksud Yang Mulia Hideyoshi dan Yang Mulia Nobunaga. Mereka sama- sama menghargai prajurit tangguh. Yang Mulia Nobunaga telah berjanji untuk memberikan Provinsi Bitchu dan Bingo kepada Tuan Jendral."

Dengan hormat Muneharu membungkuk ke arah dokumen itu, tapi tidak meraihnya. Ia berkata pada Kanbei, "Ucapan Tuan sungguh berlebihan, dan dokumen ini menjanjikan imbalan yang tak patut kuterima. Aku tidak tahu harus berkata apa. Upah yang kuterima dari marga Mori tak lebih dari tujuh ribu gantang, dan sebenarnya aku hanya samurai desa yang sudah mulai tua."

Muneharu tidak menyinggung soal persetujuan. Kemudian suasana menjadi hening. Kedua utusan duduk dengan tegang. Apa pun yang mereka katakan padanya, ia hanya mengulangi dengan ramah dan penuh hormat, "Ini lebih dari adil."

Baik kematangan Hikoemon maupun kecemer- langan Kanbei tampak tak berguna menghadapi orang ini. Namun sebagai utusan mereka bertekad mendobrak tembok dan menempuh upaya terakhir.

"Kami telah mengemukakan semua yang bisa dikatakan," ujar Kanbei. " Tapi jika Tuan Jendral ingin menambahkan syarat atau keinginan tertentu, kami akan mendengarkannya dengan senang hati dan menyampaikannya pada Yang Mulia Nobunaga dan Yang Mulia Hideyoshi. Aku berharap Tuan Jendral tidak segan-segan."

"Tuan minta   aku   tidak   segan-segan?"   tanya Muneharu, seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia menatap kedua laki-laki di hadapannya. "Hmm, aku tidak tahu apakah Tuan- Tuan berkenan mendengarkannya. Harapanku hanya satu, yaitu semoga aku tidak menyimpang dari jalan yang benar di akhir hayatku ini. Dalam hal kesetiaan terhadap sang Tenno, marga Mori tidak lebih baik maupun lebih buruk daripada junjungan Tuan-Tuan. Betapapun tak berartinya, aku tetap pengikut marga Mori, dan walaupun aku hanya berpangku tangan, seama bertahun-tahun aku menerima upah dari mereka. Seluruh keluargaku telah menikmati ke- murahan hati mereka, dan sekarang, di masa penuh pcrgolakan ini, aku diperintahkan menjaga per- batasan. Kalaupun aku bermaksud mengambil ke- untungan, menerima tawaran Yang Mulia Hideyoshi dan menjadi penguasa dua provinsi, aku takkan sebahagia sekarang. Seandainya aku mengabaikan marga junjunganku, di mana aku harus menaruh mukaku? Paling tidak, aku akan dianggap munafik oleh kerabat dan para pengikutku, dan aku akan me- langgar setiap aturan yang kuajarkan pada mereka." Ia tertawa. "Aku menghargai kebaikan hati yang Tuan- Tuan peliihatkan padaku, tapi tolong sampaikan pada Yang Mulia Hideyoshi agar urusan ini dilupakan saja."

Sambil menggelengkan kepala, seakan-akan sangat menyesal, Kanbei berbicara cepat dan tegas, "Aku tak bakal bisa membujuk Tuan Jendral. Hikoemon, sebaiknya kita kembali saja."

Hikoemon merasa kecewa karena mereka gagal, tapi inilah yang dicemaskannya sejak awal. Keduanya telah meramalkan bahwa Muneharu tak dapat disuap. "Jalanan tidak aman pada malam hari. Mengapa Tuan-Tuan tidak  bermalam  di benteng, lalu berangkat pagi-pagi besok?" Muneharu menawarkan. Ia tidak sekadar berbasa-basi, dan kedua utusan pun sadar bahwa ia memang orang  yang ramah.

Muneharu musuh mereka, tapi kejujurannya tak perlu diragukan.

"Tidak, Yang Mulia Hideyoshi tentu sudah menanti-nanti jawaban Tuan Jendral," balas Hikoe- mon.

Ia dan Kanbei minta obor, lalu berangkat. Karena khawatir mereka mungkin mencmui kesulitan, Muneharu menyuruh tiga pengikutnya menyertai mereka sampai ke garis depan.

Kanbei dan Hikoemon menempuh perjalanan ke dan dari Benteng Takamatsu tanpa berhenti untuk beristirahat atau tidur. Begitu tiba di Okayama, mereka langsung menghadap Hideyoshi. Laporan mereka singkat dan apa adanya. "Yang Mulia Muneharu menolak menyerah. Dia telah membulat- kan tekad, dan setiap usaha untuk melanjutkan negosiasi takkan membawa hasil."

Hideyoshi tidak tampak terkejut. Ia menyuruh kedua orang itu menghadap lagi setelah beristirahat.

Belakangan pada hari itu, Hideyoshi memanggil para utusan dan beberapa jendralnya untuk mengada- kan rapat.

Sambil menunjuk peta daerah itu, Kanbei berkata, "Ketujuh benteng musuh terletak di sini, di sini, dan di sini."

Hideyoshi mengalihkan pandangannya dari peta dan meregangkan tubuh, seakan-akan merasa lelah. Sebelumnya ia telah menerima kabar kemenangan Nobunaga di Kai. Ketika membandingkan keber- hasilan junjungannya yang begitu mudah tercapai dengan kesulitan-kcsulitan yang dihadapinya, ia ber- harap keberuntungannya akan membaik. Ia segera mengirim surat pada Nobunaga, untuk memberi selamat dan menjelaskan upaya-upaya yang ditempuh- nya, dan untuk memberitahukan bahwa ia telah membatalkan niatnya untuk membujuk Shimizu Muneharu agar menyerah.

Sekitar pertengahan Bulan Ketiga, kedua puluh ribu prajurit yang telah siaga di Himeji tiba di Okayama, dan marga Ukita mengirim sepuluh ribu orang lagi. Jadi, dengan pasukan berkekuatan tiga puluh ribu orang, Hideyoshi pelan-pelan bergerak memasuki Bitchu. Namun, ketika mereka baru maju kira-kira tiga mil, ia sudah menghentikan pasukan dan me- nunggu laporan para pengintai; setelah enam mil lagi, ia kembali berhenti dan melakukan pengintaian. Semua prajurit sudah mengetahui kemenangan gemilang di Kai, jadi banyak yang dibuat frustrasi oleh sikap Hideyoshi yang amat berhati-hati ini. Beberapa orang bahkan sesumbar bahwa Benteng Takamatsu dan benteng-benteng lain yang lebih kecil dapat direbut dengan satu serbuan saja.

Namun, setelah mengetahui kondisi medan serta posisi-posisi musuh, mereka terpaksa mengakui bahwa memang sukar meraih kemenangan cepat.

Hideyoshi mendirikan perkemahan pertama di Bukit Ryuo, sebuah dataran tinggi jauh di sebelah utara Benteng Takamatsu. Dari sana ia bisa melihat langsung ke dalam benteng. Dalam sekejap ia telah mempelajari medan dan hubungan antara ketujuh benteng musuh. Ia juga dapat mengawasi pergerakan pasukan dari markas besar pihak Mori, sehingga setiap pengiriman bala bantuan takkan luput dari per- hatiannya.

Hideyoshi mengawali operasi dengan merebut benteng-benteng yang lebih kecil satu per satu, sampai hanya Takamatsu yang tersisa. Prihatin karena perkembangan tidak menguntungkan ini, Muneharu berutang kali mengirim pesan kepada marga Mori, memohon bantuan. Kurir demi kurir diutus, masing- masing dengan membawa permohonan yang semakin mendesak, tapi keadaan tidak memungkinkan pihak Mori melancarkan serangan balasan. Mereka memer- lukan waktu beberapa minggu untuk mengerahkan pasukan-pasukan berkekuatan empat puluh ribu orang dan menuju Benteng Takamatsu. Satu-satunya yang dapat mereka lakukan hanyalah membesarkan hati Muneharu agar terus bertahan, dan meyakin- kannya bahwa bala bantuan sedang dalam perjalanan. Kemudian segala komunikasi antara benteng itu dan para sckutunya terputus.

Pada hari kedua puluh tujuh di Bulan Kccmpat. Hideyoshi memulai pengepungan Benteng Taka- matsu. Tapi kelima belas ribu prajurit di markasnya di Bukit Ryuo tidak bergerak. Hideyoshi menempat- kan lima ribu orang di daerah tinggi di Hirayama, sementara kesepuluh ribu prajurit dari marga Ukita disiagakan di Gunung Hachiman.

Para jendral Hideyoshi mengambil posisi di belakang pasukan Ukita. Susunan pasukannya menyerupai susunan awal pada papan go, dan penem- patan para pengikutnya di belakang pasukan Ukita, yang belum lama berselang masih bersekutu dengan marga Mori, merupakan tindakan berjaga-jaga.

Sejak hari pertama telah terjadi pertempuran- pertempuran kecil di antara barisan depan kedua pasukan. Kuroda Kanbei, yang baru kembali setelah memeriksa garis depan, menghadap Hideyoshi dan melaporkan bentrokan berdarah di hari pertama.

"Dalam pertempuran tadi pagi," Kanbei mulai berkata. "korban di pihak pasukan Yang Mulia Ukita berjumlah lebih dari lima ratus orang, sementara musuh kehilangan tak lebih dari seratus orang. Delapan puluh prajurit musuh tewas, dan dua puluh ditawan, tapi hanya karena mereka cedera berat."

"Mcmang sudah bisa diduga," ujar Hideyoshi. "Benteng ini takkan bertekuk lutut tanpa per- tumpahan darah. Tapi kelihatannya orang-orang Ukita bertempur dengan gagah."

Kesetiaan pasukan Ukita telah diuji, dan mereka lulus.

***

Pada Bulan Kelima, cuaca berubah cerah dan kering. Pasukan Ukita, yang kehilangan banyak orang di awal peperangan, menggali parit perlindungan di muka tembok benteng. Mereka bekerja selama lima malam, dilindungi oleh kegelapan. Begitu parit tersebut rampung, mereka kembali melancarkan serangan.

Ketika pasukan penjaga benteng melihat para prajurit Ukita sudah maju sampai ke gerbang dan tembok sebelah luar, mereka tak henti-hentinya men- cerca. Tak sukar membayangkan kemarahan yang mereka rasakan terhadap orang-orang yang semula bersekutu dengan mereka, tapi kini bertempur sebagai barisan depan Hideyoshi. Begitu mendapat kesempatan, pasukan Muneharu membuka gerbang dan menyerbu keluar.

"Serang belatung-belatung ini!" mereka memekik. "Bunuh semuanya!"

Samurai melawan samurai, prajurit melawan samurai, mereka bergulat dan saling hantam. Kepala- kepala dipenggal dan diacung-acungkan, dan mereka bertempur dengan kegarangan yang jarang terlihat di medan perang.

"Mundur! Mundur!" para jendral Ukita tiba-tiba berseru di tengah-tengah awan asap dan debu.

Sambil mendelik ke arah pasukan Ukita yang ber- gerak mundur, para penjaga benteng terbawa emosi hendak menginjak-injak musuh. Mereka mulai mengejar sambil berseru, "Tumpas mereka!" dan "jangan berhenti sebelum panji-panji mereka ada di tangan kita!"

Komandan barisan depan terlambat melihat parit perlindungan yang membentang di hadapan anak buahnya. Melihat perangkap yang menghadang, ia berusaha menghentikan mereka, tapi mereka terus maju, tanpa menyadari bahaya yang mengancam. Seketika terdengar letusan senapan dan asap mesiu menggumpal-gumpal dari parit. Para penyerang ter- huyung-huyung, berjatuhan.

"Mereka pasang perangkap! Jangan masuk perangkap musuh! Tiarap! Tiarap!" si komandan ber- seru. "Biarkan mereka menembak! Tunggu sampai mereka harus mengisi senapan, lalu sergap mereka!"

Sambil melepaskan teriakan perang yang menegak- kan bulu roma, beberapa orang mengorbankan diri; mereka bangkit untuk memancing tembakan musuh dan dihujani peluru. Sambil menaksir selang waktu sebelum berondongan berikut, yang lainnya berlarian ke parit dan melompat ke dalamnya. Dalam sekejap tanah telah merah karena darah.

Malam itu hujan mulai turun. Panji-panji dan petak-petak bernilai di Bukit Ryuo basah kuyup. Hideyoshi berlindung di sebuah pondok dan meng- amati awan-awan musim hujan. Tampangnya tidak gembira.

Ia memandang berkeliling dan berseru pada seorang pengikut, "Toranosuke, suara hujankah itu atau bunyi langkah seseorang? Coba kauperiksa."

Toranosuke keluar, tapi segera masuk lagi dan melaporkan. "Yang Mulia Kanbei baru kembali dari medan laga. Dalam perjalanan ke sini, salah satu pengusung tandunya terpeleset di jalan setapak yang curam, dan Yang Mulia Kanbei terjatuh. Beliau terpaksa digotong. Yang Mulia Kanbei hanya tertawa, seolah-olah merasa geli."

Mengapa Kanbei berada di garis depan saat hujan seperti ini? Seperti biasa, Hideyoshi terkesan oleh semangat Kanbei yang tak kenal lelah.

Toranosuke menyingkir ke ruangan sebelah dan meletakkan kayu bakar ke dalam tungku. Seiring datangnya hujan, nyamuk mulai menetas. Serangga- serangga itu sangat mengganggu, terutama pada malam hari. Api di tungku menambah suasana pengap, tapi paling tidak juga mengusir kawanan nyamuk.

"Banyak sekali asap di sini," ujar Kanbei, terbatuk- batuk. Terpincang-pincang ia melewati para pelayan dan memasuki ruangan Hideyoshi tanpa memberi- tahukan kedatangannya.

Tak lama kemudian ia dan Hideyoshi  sudah asyik bercakap-cakap. Suara mereka seakan-akan saling ber- saing.

"Kurasa ini takkan mudah," kata Hideyoshi . Hideyoshi dan Kanbei terdiam sejenak mendengar-

kan hujan membentur atap pondok darurat itu.

"Ini hanya masalah waktu," ujar Kanbei. "Serangan habis-habisan kedua mengandung risiko besar. Namun di pihak lain, jika kita membiarkan pengepungan berlangsung berkepanjangan, itu pun tidak bebas dari bahaya. Keempat puluh ribu prajurit Mori mungkin tiba di sini dan menyerang kita dari belakang, dan kalau begitu, kita akan terjepit di antara mereka dan orang-orang di dalam Benteng Takamatsu."

"Inilah yang mengusik pikiranku di musim hujan ini. Apakah kau tidak punya ide yang baik, Kanbei?"

"Selama dua hari terakhir hamba menyusun garis depan, mengamati posisi benteng musuh dan kondisi medan sekitarnya. Saat ini hamba hanya punya satu rencana yang dapat kita pakai untuk mempertaruh- kan semuanya."

"Penaklukan Benteng Takamatsu bukan masalah penaklukan satu benteng musuh semata-mata." Hideyoshi berkata. "Jika benteng itu berhasil kita rebut, tak lama kemudian Benteng Yoshida akan menyusul. Tapi kalau kita sampai tersandung di sini, jerih payah kita selama lima tahun akan sia-sia. Kita perlu rencana, Kanbei. Orang-orang di ruang sebelah sudah kusuruh menyingkir, jadi kau bisa bicara dengan bebas. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan." "Tak sepatutnya hamba berkata begini, tapi rasanya

tuanku juga harus menyusun rencana." "Aku tidak membantahnya."

"Bolehkah hamba menanyakan rencana tuanku lebih dulu?"

"Bagaimana kalau kita tuliskan saja?" Hideyoshi mengusulkan, lalu mengambil kertas, kuas, dan tinta. Setelah selesai, keduanya bertukar lembaran kertas.

Hideyoshi menuliskan satu kata, "air", dan Kanbei menuliskan dua kata, "serangan air".

Sambil tertawa keras-kcras, keduanya meremas- remas kertas di tangan masing-masing dan menyelip- kannya ke dalam lengan kimono.

"Kecerdasan manusia rupanya tidak melewati batas-batas tertentu," Hideyoshi berkomentar.

"Itu benar," ujar Kanbei. "Benteng Takamatsu terletak di sebuah dataran yang dikelilingi gunung- gunung. Selain itu, Sungai Ashimori dan tujuh sungai lain membelah dataran tersebut. Mestinya tidak sukar membelokkan aliran sungai-sungai itu dan mem- banjiri benteng. Ini rencana berani yang mungkin bahkan tak terpikir oleh kebanyakan jendral. Hamba kagum betapa ceparnya tuanku memahami situasi yang kita hadapi. Tapi mengapa tuanku ragu-ragu untuk bertindak?"

"Hmm, sejak zaman dulu sudah banyak contoh mengenai serangan api yang berhasil menaklukkan benteng musuh, tapi hampir tak pernah ada serangan dengan memanfaatkan air."

"Rasanya hal seperti ini disinggung dalam catatan sejarah militer mengenai Dinasti Han dan mengenai masa Tiga Kerajaan. Dalam salah satu catatan, hamba membaca sesuatu tentang negeri kita sendiri selama masa pemerintahan Kaisar Tenchi. Ketika jepang diserbu pasukan Cina, prajurit-prajurit kita men- dirikan tanggul untuk menyimpan air. Dan pada waktu orang-orang Cina menyerang, para prajurit Jepang diperintahkan mcnjebol semua tanggul agar musuh tersapu air bah."

"Memang, tapi rencana itu akhirnya tidak jadi dilaksanakan, karena pasukan Cina lebih dulu ber- gerak mundur. Jika kita melaksanakan rencana kita ini, aku akan menggunakan strategi yang belum pernah dicoba. Jadi, aku harus menyuruh beberapa orang yang memahami geografi untuk menentukan apa saja yang dibutuhkan, baik dari segi waktu, biaya, dan tenaga."

Yang diinginkan Hideyoshi bukan sekadar perkira- an kasar, melainkan angka-angka yang tepat serta rencana tanpa cela.

"Tentu saja. Salah satu pengikut hamba sangat piawai dalam hal-hal seperti ini, dan jika tuanku meyuruhnya segera menghadap, hamba percaya dia dapat memberikan jawaban yang jelas sekarang juga. Sesungguhnya, strategi yang hamba susun didasarkan atas gagasan orang ini."

"Siapa dia?" tanya Hideyoshi. "Yoshida Rokuro," balas Kanbei.

"Hmm, suruh dia ke sini." Kemudian Hideyoshi menambahkan. "Aku juga punya orang yang menguasai bidang konstruksi dan memahami kondisi medan. Bagaimana kalau dia kita panggil juga supaya bisa bicara langsung dengan Rokuro?"

"Hamba setuju. Siapakah dia?"

"Dia bukan pengikutku, melainkan samurai dari Bitchu. Namanya Senbara Kyuemon. Dia ada di sini sekarang, dan dia khusus kutugaskan membuat peta daerah ini."

Hideyoshi bertepuk tangan untuk memanggil pelayan, tapi rupanya semua pembantu pribadi dan pelayan menyingkir agak jauh, dan bunyi tepuk tangannya tidak sampai ke tempat mereka. Suara hujan membuatnya semakin tidak terdengar. Hide- yoshi berdiri, melangkah ke ruang sebelah dan ber- seru dengan nada yang lebih pantas digunakan di medan tempur. "Hei! Apa tidak ada siapa-siapa di sini?"

Begitu diputuskan untuk melancarkan serangan air, perkemahan utama di Bukit Ryuo dipandang tidak memadai lagi. Pada hari ketujuh di Bulan Kelima, Hideyoshi pindah ke Bukit Ishii, yang dipilih karena dari sana orang dapat langsung memandang ke dalam Benteng Takamatsu.

Keesokan harinya Hideyoshi berkata. "Mari kita mulai mengukur jarak-jarak." Hideyoshi, disertai sekitar setengah lusin jendral, berkuda ke sebelah barat Benteng Takamatsu, ke Monzen, di tepi Sungai Ashimori. Selama perjalanan, pandangannya terus melekat pada benteng di sebelah kanannya. Sambil mengusap keringat dari wajah, Hideyoshi memanggil Kyuemon. "Berapa jarak dari punggung Bukit Ishii ke Monzen?" ia bertanya.

"Kurang dari tiga mil," jawab Kyuemon. "Coba kulihat petamu."

Hideyoshi mengambil peta dari Kyuemon, lalu membandingkan rencana pembangunan tanggul de- ngan kondisi medan. Di tiga sisi terdapat gunung- gunung, membentuk format menyerupai teluk alami, di sebelah barat membentang dari Kibi sampai ke gunung-gunung di daerah hulu Sungai Ashimori; di utara dari Bukit Ryuo ke pegunungan di sepanjang perbatasan Okayama; di timur sampai ke sisi Bukit Ishii dan Kawazugahana. Benteng Takamatsu terletak tepat di tengah-tengah dataran terbuka ini.

Hideyoshi mengembalikan peta pada Kyuemon. Ia meyakini kelayakan proyek ini. Sekali lagi ia menaiki kudanya. "Mari berangkat," ia berseru kepada para pembantunya, lalu berkata pada Rokuro dan Kyuemon, "aku akan berkuda dari sini ke Bukit Ishii. Tentukan ukuran tanggul dengan mengikuti jejak kudaku."

Hideyoshi mengarahkan kudanya ke timur dan langsung memacunya, menempuh garis lurus dari Monzen ke Harakoza. lalu mengambil jalan melingkar dari sana ke Bukit Ishii. Kyuemon dan Rokuro berlari mengikutinya, meninggalkan jejak tepung beras. Mereka disusul rombongan pekerja yang menancap- kan pasak untuk menandai garis tanggul.

Pada waktu garis itu berubah menjadi tanggul, seluruh daerah itu akan menjadi danau besar ber- bentuk daun lotus yang setengah terbuka. Ketika orang-orang mengamati medan yang membentuk perbatasan antara Bizen dan Bitchu, mereka me- nyadari bahwa di masa silam wilayah itu pernah menjadi bagian dari laut. Perang telah dimulai. Bukan perang berdarah, melainkan perang melawan bumi.

Tanggul itu akan membentang sejauh tiga mil; lebarnya sepuluh meter di puncaknya dan dua puluh meter di dasarnya. Yang menjadi masalah adalah tingginya yang harus proporsional dengan tinggi tembok Benteng Takamatsu, yang merupakan sasaran serangan air.

Faktor utama yang menjamin keberhasilan serangan air itu adalah kenyataan bahwa tembok luar benteng tersebut hanya setinggi empat meter. Karena itu, tinggi tanggul sebesar delapan meter merupakan hasil perhitungan atas dasar empat meter. Jika air naik sampai ketinggian itu, bukan tembok luar saja yang akan terbenam, melainkan seluruh benteng akan tertutup air setinggi dua meter.

Namun jarang sekali sebuah proyek berhasil di- rampungkan mendahului jadwal yang telah disusun. Dan masalah yang begitu mengusik Kanbei adalah masalah tenaga kerja, terpaksa mengandalkan para pectani setempat. Tapi penduduk di desa-desa sekitar tinggal sedikit. Muneharu telah menampung lebih dari lima ratus keluarga petani sebelum pengepungan dimulai, dan banyak lagi yang melarikan diri ke gunung.

Para petani yang mengungsi ke benteng telah ber- tekad hidup atau mati bersama junjungan mereka. Mereka orang baik, bersahaja, dan telah bertahun- tahun mengabdi pada Muneharu. Banyak di antara mereka yang memilih tinggal di desa-desa merupakan orang berwatak buruk, atau orang yang mencari kesempatan dan bersedia bekerja di medan perang.

Hideyoshi juga dapat mengandalkan bantuan Ukita Naoie, dan Kanbei sanggup mengerahkan beberapa ribu orang dari Okayama. Namun yang mengganggu pikirannya bukanlah mengumpulkan orang sebanyak itu; masalahnya adalah bagaimana caranya memanfaatkan mereka seefisien mungkin.

Suatu ketika, pada waktu melakukan inspeksi, ia memanggil Rokuro dan minta laporan mengenai kemajuan yang telah dicapai.

"Hamba sangat menyesal, tapi ada kemungkinan kami tidak dapat menepati jadwal yang ditentukan Yang Mulia," Rokuro membalas dengan sedih.

Bahkan orang secermat Rokuro pun tak mengerti bagaimana membuat para buruh dan bajingan mau bekerja keras. Untuk ini, di sepanjang tanggul telah dibangun pos-pos jaga, berjarak sembilan puluh meter satu sama lain, dan di masing-masing pos ditempat- kan beberapa prajurit yang bertugas memacu para pekerja. Tapi karena prajurit-prajurit ini hanya disuruh mengawasi pembangunan, para pekerja yang berjumlah ribuan, yang mengayunkan pacul dan memanggul tanah seperti semut, tetap bekerja dengan lamban.

Kecuali itu, jadwal yang ditetapkan Hideyoshi sangat ketat. Siang dan malam ia menerima pesan- pesan penting. Keempat puluh ribu prajurit Mori telah dipecah menjadi tiga pasukan, masing-masing di bawah komando Kikkawa, Kobayakawa, dan Teru- moto, dan mereka semakin mendekati perbatasan provinsi.

Kanbei memperhatikan para pekerja. Lelah karena bekerja siang-malam, beberapa orang nyaris tak bergerak sama sekali. Mereka hanya punya waktu dua minggu untuk menuntaskan pembangunan.

Dua hari. Tiga hari. Lima hari berlalu.

Dalam hati Kanbei mengeluh. Kemajuannya begitu lambat, sehingga kita takkan sanggup menye- lesaikan tanggul ini dalam lima puluh hari, atau bahkan seratus hari, apalagi dua minggu.

Rokuro dan Kyuemon tak sempat memejamkan mata. Mereka terus mengawasi para pekerja. Namun, apa pun yang mereka lakukan, para pekerja tetap tidak puas dan besar mulut. Lebih buruk lagi, beberapa orang sengaja mengacaukan jadwal pem- bangunan dengan menghasut rekan-rekan mereka yang lumayan rajin agar bekerja dengan lambat.

Kanbei tak sanggup menyaksikannya sambil ber- pangku tangan. Akhirnya ia sendiri turun ke lapangan. Sambil berdiri di atas gundukan tanah basah, di salah satu bagian tanggul yang sudah rampung, ia memandang ke bawah dengan mata menyala-nyala, mengawasi para pekerja . Setiap kali menemukan seseorang yang bekerja setengah hati, ia bergegas mcnghampiri dengan kecepatan yang tak terbayangkan bagi orang cacat, dan menghajar orang yang bersangkutan dengan tongkat.

"Hei, tidak bisakah kau bekerja lebih giat? Kenapa kau bermalas-malasan?"

Para pekerja gemeiar ketakutan dan bekerja dengan giat, tapi hanya selama Kanbei mengawasi mereka.

"Awas, si Siluman Pincang melihat ke sini lagi!" Akhirnya Kanbei melaporkan hal tersebut pada

Hideyoshi. "Pembangunannya tak mungkin selesai pada waktunya. Hamba mohon tuanku sudi me- nyusun suatu strategi untuk menghadapi kemung- kinan bala bantuan Mori tiba pada waktu tanggul baru setengah rampung. Memaksa para buruh untuk bekerja lebih sukar daripada mengatur pasukan."

Tidak seperti biasanya. Hideyoshi tampak gelisah. Sambil membisu ia berhitung menggunakan jari. Setiap jam ia mendapat laporan mengenai pergerakan pasukan Mori. "Jangan purus asa, Kanbei. Kita masih punya tujuh hari lagi.

"Kurang dari sepertiga yang sudah rampung. Bagaimana mungkin kita dapat menyelesaikan tanggul dalam waktu yang masih terstsa?"

"Pasti bisa." Untuk pertama kali ucapan Hideyoshi berlawanan dengan ucapan Kanbei, "Kita pasti bisa menyelesaikannya. Tapi tidak kalau ketiga ribu pekerja kita hanya mengerahkan tenaga tiga ribu orang. Kalau setiap orang bekerja seperti tiga atau bahkan lima orang, kita punya tenaga sepuluh ribu orang. Kalau para samurai yang mengawasi mereka bertindak dengan cara yang sama, satu orang dapat mengerahkan semangat sepuluh orang, dan kita dapat mencapai apa saja yang kita inginkan. Kanbei, aku sendiri akan pergi ke lapangan."

Keesokan paginya, seorang petugas berjubah kuning berkeliling di tempat pembangunan, me- merintahkan para buruh agar berhenti bekerja dan menyuruh mereka berkumpul di sekeliling bendera yang dipasang di atas tanggul.

Para pekerja yang bertugas malam dan kini hendak pulang, serta orang-orang yang baru datang, semuanya mengikuti mandor masing-masing. Ketika ketiga ribu pekerja itu berkumpul, rasanya sukar untuk mem- bedakan warna tanah dari warna kulit mereka .

Mereka maju dengan gelisah, namun mereka tetap bersikap angkuh, terus berkelakar dan berolok-olok. Tiba-tiba semuanya terdiam ketika Hideyoshi menuju kursi yang berada di samping bendera. Para pelayan dan pengikutnya berada di kedua sisinya. Si Siluman Pincang, yang setiap hari menjadi sasaran kebencian para buruh, berdiri di samping, bertumpu pada tongkatnya. Ia berbicara pada mereka dari atas tanggul.

"Hari ini Yang Mulia Hideyoshi berkeinginan men- dengar keluhan-keluhan kalian. Seperti kalian ketahui, waktu yang disediakan untuk membangun tanggul ini sudah habis setengahnya, tapi pem- bangunannya terlalu lamban. Yang Mulia Hideyoshi berpendapat bahwa salah satu sebabnya adalah karena kalian tidak bekerja dengan sungguh- sungguh. Beliau menyuruh kalian berkumpul di sini agar kalian dapat menjelaskan secara terus terang apa yang membuat kalian tidak puas, dan apa yang kalian kehendaki."

Kanbei berhenti sejenak dan menatap para pekerja. Di sana-sini ia melihat orang saling berbisik- bisik.

"Para mandor tentu memahami perasaan anak buah mereka. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk mengemukakan keluhan kalian pada Yang Mulia. Kuminta lima atau enam orang naik ke sini sebagai wakil untuk menyampaikan keinginan kalian. Setiap tuntutan yang memang beralasan pasti akan men- dapat tanggapan."

Menyusul ucapan Kanbei, seorang laki-laki jangkung, bertelanjang dada, dan dengan ekspresi membangkang, melangkah maju. Penuh nafsu ia naik ke atas tanggul, seakan-akan hendak dianggap pahlawan oleh rekan-rekannya. Melihat ini, tiga atau empat pekerja menyusulnya.

"Hanya ini wakil kalian?" tanya Kanbei.

Ketika menghampiri tempat duduk Hideyoshi, mereka masing-masing berlutut di tanah.

"Kalian tidak perlu berlutut." ujar Kanbei. "Yang Mulia Hideyoshi telah bermurah hati dengan mem- beri keecmpatan untuk menjelaskan ketidakpuasan yang kalian rasakan. Kini kalian menghadap beliau sebagai wakil semua pekerja, jadi bicaralah terus terang. Apakah pembangunan tanggul ini bisa selesai pada waktunya, tergantung pada kalian. Kami minta kalian memberitahukan alasan ketidakpuasan yang kalian sembunyikan sampai sekarang. Kita mulai dari orang yang datang pertama. Bicaralah." Suara Kanbei bernada mendamaikan.

Ketika Kanbei untuk kedua kali mendesak agar mereka berterus terang, salah satu dari kelima wakil pekerja angkat bicara.

"Hmm. Baiklah, tapi jangan gusar kalau ucapan hamba tidak berkenan di hati Tuan. Pertama-tama... ehm, begini... tolong dengarkan ini..."

"Bicaralah!"

"Begini, kami diberi satu kilo beras dan seratus mon untuk setiap kantong pasir yang kami angkut. dan sesungguhnya kami semua—beberapa ribu orang miskin—bersyukur bahwa kami dipekerjakan. Tapi, ehm, kami semua—termasuk hamba—merasa waswas bahwa janji Tuan akan ditarik kembali karena bagai- manapun, kami hanya buruh kasar."

"Hah," balas Kanbei. "atas dasar apa kalian men- curigai seseorang dengan reputasi seperti Yang Mulia Hideyoshi? Setiap kali kalian mengangkat kantong plastik, kalian diberi sepotong bambu bercap yang pada malam hari dapat kalian tukarkan dengan upah kalian, bukan?"

"Benar, Yang Mulia, kami memang diberi potongan bambu, tapi kami hanya memperoleh satu sho beras dan seratus mon, biarpun kami telah mengangkat sepuluh atau dua puluh karung. Sisanya berupa tanda utang dan kupon jatah beras."

"Itu betul."

"Inilah yang meresahkan kami, Yang Mulia. Upah kami sebenarnya memadai jika dibayar tunai, tapi kalau seperti sekarang, buruh harian seperti hamba tak mampu menghidupi anak-istri."

"Bukankah satu sho beras dan seratus mon jauh lebih tinggi danpada pendapatan kalian biasanya?"

"Hamba mohon Yang Mulia jangan bergurau. Kami bukan kuda atau sapi, dan jika kami mem- banting tulang seperti ini selama satu tahun, kami takkan pernah bisa bekerja lagi. Tapi baiklah, kami sudah sepakat mengikuti perintah Yang Mulia, dan kami telah bekerja siang-malam. Nah, kami tidak keberatan melakukan pekerjaan yang tak masuk akal, asal keinginan kami pun dipenuhi. Kami ingin bisa menikmati sake seusai bekerja, melunasi utang-utang, dan membelikan baju baru untuk istri. Tapi kalau kami dibayar dengan janji, kami tak dapat terus- menerus bekerja dengan sepenuh hati."

"Hmm, kalian benar-benar sukar dimengerti. Pasukan Yang Mulia Hideyoshi berprinsip untuk selalu berbuat baik, dan sejauh ini belum pernah melakukan tindakan lalim. Apa sesungguhnya yang kalian keluhkan?"

Kelima pekerja tertawa sinis. Salah satu dari mereka berkata. "Yang Mulia. kami tidak mengeluh. Kami hanya menuntut apa yang menjadi hak kami. Kami tak bisa mengisi perut dengan kertas bekas dan kupon beras. Dan yang lebih penting lagi, siapa yang akan menukarkan kertas bekas itu dengan uang setelah Yang Mulia Hideyoshi kalah?"

"Kalau itu masalahnya, kalian tak perlu khawatir." "Ah, tunggu dulu. Yang Mulia yakin akan meraih

kemenangan, dan Yang Mulia serta semua jendral mempertaruhkan nyawa untuk itu, tapi hamba enggan memasang uang untuk taruhan seperti itu. Hei, semuanya! Betul, tidak?"

Ia mengayun-ayunkan tangan di atas tanggul, menanyakan pendapat para pekerja. Seketika ter- dengar seruan membahana, dan gelombang kepala orang terlihat bergerak naik-turun, sejauh mata me- mandang.

"Hanya ini keluhan kalian?" tanya Kanbei.

"Ya. Itulah yang ingin kami selesaikan pertama- tama," jawab pekerja tadi. Ia memandang kerumunan massa, mencari dukungan, tapi tidak memperlihatkan rasa takut sama sekali.

"Enak saja!" Untuk pertama kali Kanbei melepas- kan topengnya. Langsung saja ia mencampakkan tongkatnya, menghunus pedang, dan membelah orang itu. Kemudian ia cepat-cepat beralih pada orang lain yang berusaha melarikan diri, dan membunuhnya. Secara bersamaan, Rokuro dan Kyuemon—yang berdiri di belakang Kanbei—meng- gunakan pedang masing-masing untuk menghabisi ketiga orang lainnya.

Dengan cara ini, Kanbei, Kyuemon, serta Rokuro membagi tugas dan menewaskan kelima orang itu secepat kilat menyambar.

Terkejut oleh tindakan yang tak disangka-sangka ini, para pekerja menjadi diam seperti rumput di tengah kuburan. Tak ada lagi yang menyuarakan ketidakpuasan. Wajah-wajah lancang, menantang, tak terlihat lagi. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah pucat, gemetar karena ngeri.

Sambil mengangkangi kelima mayat itu, ketiga samurai melotot ke arah para pekerja.

Akhirnya Kanbei berseru dengan garang. "Kelima orang ini yang mewakili kalian—kami menyuruh mereka naik ke sini, mendengarkan keluhan mereka dan memberikan jawaban yang teramat jelas. Tapi mungkin masih ada lagi yang ingin mengatakan sesuatu." Ia terdiam, menunggu seseorang angkat bicara. "Tentu ada seseorang di bawah sana yang ingin naik ke atas tanggul. Siapa berikutnya? Kalau ada seseorang yang hendak bicara atas nama kalian semua, sekaranglah waktunya!"

Kanbei berhenti sejenak, memberikan kesempatan berpikir pada orang-orang yang berdiri di bawah. Di antara kepala-kepala yang tak terhitung banyaknya itu terdapat beberapa yang roman mukanya berubah dari ngeri ke menyesal. Kanbei menghapus darah dari pedang dan mengembalikannya ke dalam sarungnya. Dengan sikap lebih lembut, ia lalu menguliahi para pekerja.

"Rupanya tak ada yang mau menyusul kelima orang tadi, jadi kurasa maksud kalian berbeda dengan mereka. Kalau dugaanku benar, sekarang giliranku berbicara. Ada yang keberatan?"

Jawaban para pekerja bernada lega, seakan-akan mereka baru saja diselamatkan dari kematian. Tak ada yang keberatan. Tak ada yang berniat mengeluh. Orang-orang yang tadi tampil ke depanlah yang bertanggung jawab atas segala keterlambatan. Yang lain akan mengikuti perintah dan bekerja. Namun, apakah Hideyoshi akan mengampuni mereka?

Ketiga ribu orang itu berbicara kian kemari, ada yang berbisik, ada pula yang berseru-seru, sehingga sukar untuk memastikan siapa mengatakan apa. Tapi mereka semua merasakan hal yang sama.

"Tenang!" Kanbei melambaikan tangan untuk mengendalikan mereka. "Baiklah. Inilah yang ku- anggap paling tepat. Aku takkan menyampaikan sesuatu yang rumit, tapi pada dasarnya paling baik kalau kalian bekerja dengan gembira dan cepat ber- sama istri dan anak-anak kalian di bawah ke- pemimpinan Yang Mulia. Jika kalian bermalas- malasan atau serakah, kalian hanya akan menunda hari yang kalian nanti-nantikan. Pasukan yang di- kirim oleh Yang Mulia Nobunaga takkan dikalahkan oleh orang-orang Mori. Tak pengaruh betapa besar- nya provinsi yang dikuasai marga Mori, provinsi itu telah ditakdirkan runtuh. Ini bukan karena marga Mori lemah, melainkan karena perubahan zaman. Mengertikah kalian?"

"Ya," para buruh menjawab serempak.

"Baiklah, kalau begitu. Apakah kalian akan bekerja?"

"Kami akan bekerja. Kami akan bekerja dengan sungguh-sungguh!"

"Bagus!" Kanbei mengangguk tegas dan berpaling pada Hideyoshi. "Tuanku, tuanku sudah mendengar jawaban para pekerja. Sudikah tuanku memperlihat- kan kemurahan hati untuk kali ini?" Ia hampir memohon-mohon untuk mereka .

Hideyoshi bangkit. Ia memberikan perintah pada Kanbei dan dua petugas yang berlutut di hadapannya. Hampir seketika beberapa prajurit infanteri men- dekat. Mereka memanggul sesuatu yang tampak seperti karung uang—segunung karung jerami berisi uang. Sambil kembali menghadap ke arah para pekerja yang terperangkap dalam ketakutan dan penyesalan. Kanbei berkata. "Kalian tak patut dipersalahkan. Kalian semua berada dalam situasi yang mengibakan. Kalian disesatkan oleh dua atau tiga oknum berniat busuk. Itulah keputusan Yang Mulia Hideyoshi; dan agar tak ada lagi yang membebani pikiran kalian, beliau telah memerintahkan untuk memberikan bonus, agar kalian bekerja lebih giat. Terimalah, haturkan terima kasih, lalu segera kembali bekerja."

Ketika perintah diberikan kepada para prajurit infanteri, semua karung jerami dibuka dan keping- keping uang berhamburan keluar, hampir menutupi bagian atas tanggul.

"Ambil sebanyak mungkin, lalu berikan kesem- patan pada yang lain. Tapi masing-masing hanya satu genggam."

Ucapannya terdengar lantang, namun para pekerja masih ragu-ragu. Mereka saling berbisik-bisik dan saling memandang, tapi gunung uang di hadapan mereka tetap di tempat.

"Siapa cepat, dia dapat! Jangan mengeluh kalau kehabisan. Setiap orang boleh ambil segenggam, jadi beruntunglah orang yang dilahirkan dengan tangan besar. Dan bagi mereka yang memiliki tangan kecil, jangan biarkan satu keping pun menyelinap lewat sela-sela jari. Awas, jangan terlalu bernafsu. Setelah itu, kembalilah bekerja."

Kini para pekerja tak lagi diliputi kebimbangan. Ketika melihat senyum pada wajah Kanbei dan men- dengar komentar-komentarnya yang lucu, mereka menyadari bahwa ia bersungguh-sungguh. Orang- orang yang berada di baris terdepan segera menyerbu gunung uang itu. Mereka gemetar sedikit, seolah-olah gentar menghadapi uang sebanyak itu, tapi begitu orang pertama meraup segenggam dan mundur, semuanya bersorak-sorai gembira. Sepintas lalu teriakan mereka menyerupai teriakan kemenangan.

Hampir seketika suasana menjadi kacau-balau, sehingga keping-keping uang, orang-orang, dan gumpalan-gumpalan tanah nyaris tak dapat dibeda- kan. Namun tak seorang pun mencoba berbuat curang—semuanya telah menanggalkan segala ke- licikan dan ketidakpuasan. Dengan segenggam keping uang di tangan, mereka tampak berubah, dan setiap orang bergegas ke tempat kerja masing-masing.

Gema pacul dan sekop yang digunakan dengan sungguh-sungguh terdengar di mana-mana. Sambil berseru-seru, para pekerja menimbun tanah, me- masukkan tiang-tiang kayu ke dalam keranjang- keranjang jerami, dan memanggul kantong-kantong pasir. Keringat yang bercucuran membuat mereka semakin gembira dan segar, dan mereka mulai ber- seru-seru, saling menyemangati.

"Siapa bilang kita tak sanggup menyelcsaikan tanggul ini dalam lima hari? Hei semuanya... kalian masih ingat banjir besar dulu?"

"Benar. Pekerjaan ini tak ada artinya dibandingkan usaha untuk menghalau air bah."

"Ayo kita kerjakan! Kerahkan segenap kekuatan kalian."

"Aku takkan mau menyerah!"

Dalam setengah hari saja, lebih banyak pekerjaan berhasil diselesaikan daripada dalam lima hari sebelumnya.

Cemeti para pengawas dan tongkat Kanbei tak diperlukan lagi. Pada malam hari para pekerja menyalakan api unggun, pada siang hari awan debu menyelubungi langit, dan akhirnya pembangunan hampir rampung.

Seiring kemajuan pembangunan tanggul, pekerja- an mengalihkan ketujuh sungai di sekitar Benteng Takamatsu pun berlanjut. Hampir dua puluh ribu orang dikerahkan untuk mengenakan proyek ter- sebut. Membendung dan mengalirkan air Sungai Ashimori dan Naruya dianggap sebagai tugas ter- berat.

Para petugas yang bertanggung jawab mem- bendung Sungai Ashimori sering mengeluh pada Hideyoshi. "Setiap hari permukaan air terus naik akibat hujan deras di pegunungan. Sepertinya tak ada cara untuk membendung sungai itu,"

Pada hari sebelumnya. Kanbei sempat meninjau proyek itu bersama Rokuro, dan ia memahami situasi sulit yang dihadapi regu-regu pekerja.

"Arusnya begitu deras, sehingga batu yang harus didorong dua puluh atau tiga puluh orang pun langsung hanyut terbawa."

Ketika Kanbei pun hanya dapat membawa berita buruk, Hideyoshi akhirnya pergi ke sungai untuk mengamati keadaan sesungguhnya. Namun, pada waktu ia berdiri di sana dan melihat arus yang demikian kuat, ia sendiri juga habis akal.

Rokuro menghampirinya dan mengemukakan usul, "Kalau pohon-pohon di bagian hulu sungai kita tcbang, lalu kita dorong ke dalam sungai berikut semua dahan dan daun, arusnya mungkin dapat di- perlambat sedikit."

Rencana itu dilaksanakan, dan selama setengah hari. Icbih dari seribu pekerja sibuk mencbang dan mendorong pohon-pohon kc dalam sungai. Namun usaha ini pun gagal mcmperlambat arus sungai.

Kcmudian Rokuro menyampaikan usul berikut- nya, yaitu menenggelamkan tiga puluh perahu besar berisi bongkahan-bongkahan batu di lokasi ben- dungan.

Tapi menarik perahu-perahu besar menentang arus terbukti mustahil, jadi papan-papan kayu dijajarkan di darat dan disiram minyak. Lalu dengan susah payah ketiga puluh perahu itu dihela ke arah hulu, dan setelah diisi batu, ditenggelamkan di mulut sungai.

Sementara itu, tanggul raksasa yang membentang sejauh tiga mil telah berhasil diselcsaikan, dan arus Sungai Ashimori berubah menjadi buih dan percikan air ketika dibelokkan kc dataran yang mengelilingi Benteng Takamatsu.

Kira-kira pada waktu yang sama, air dari keenam sungai lainnya disalurkan ke daerah itu. Hanya proyek pengalihan Sungai Naruya yang ternyata ter- lalu berat untuk diselesaikan tepat pada waktunya.

Empat belas hari telah berlalu sejak hari ketujuh di Bulan Kelima. Seluruh pembangunan berhasil di- rampungkan dalam dua minggu.

Pada hari kedua puluh satu Bulan Kelima. pasukan Mori berkekuatan empat puluh ribu orang, di bawah komando Kikkawa dan Kobayakawa, tiba di perbatasan—satu hari setelah daerah sekitar Benteng Takamatsu diubah menjadi danau berlumpur.

Pada pagi hari kedua puluh satu, Hideyoshi beserta para jendralnya berdiri di markas besar di Bukit Ishii dan mengamati hasil karyanya. Apalah dianggap sebagai pemandangan gemilang atau tontonan celaka, luapan air—dibantu oleh hujan yang turun pada malam hari—menyebabkan Benteng Takamatsu ber- diri terpencil di tengah-tengah sebuah danau. Tembok-tembok batu sebelah luar, seluruh hutan, jembatan jungkat, atap-atap rumah, seluruh desa, ladang-ladang, sawah-sawah, dan jalan-jalan semuanya terbenam. dan permukaan air masih terus naik.

"Di mana Sungai Ashimori?"

Menanggapi pertanyaan Hideyoshi, Kanbei me- nunjuk ke arah serumpun pohon cemara yang ter- lihat samar-samar di sebelah barat.

"Seperti tuanku lihat sendiri, di sana tanggulnya terputus sepanjang empat ratus lima puluh meter, dan di tempat itulah kami mengalirkan air Sungai Ashimori yang telah dibendung."

Pandangan Hideyoshi menyusuri pegunungan di kejauhan, yang membentang dari barat ke selatan. Di bawah langit tepat di selatan, ia melihat Gunung Hizashi yang terletak di perbatasan. Seiring fajar, panji-panji barisan depan pasukan Mori muncul di gunung itu.

"Mereka memang musuh, tapi mau tak mau kita bersimpati dengan perasaan Kikkawa dan Kobaya- kawa tadi pagi, ketika mereka tiba dan melihat danau. Mereka tentu mengentak-entakkan kaki sambil mendongkol," ujar Kanbei.

Pada saat itu, putra petugas yang bertanggung jawab atas pekerjaan di Sungai Naruya bersujud di hadapan Hideyoshi. Ia menangis.

"Ada apa?" tanya Hideyoshi.

"Tadi pagi," pemuda itu menjawab, "ayah hamba mengaku telah bersikap lalai. Dia menuliskan surar permintaan maaf ini dan melakukan seppuku."

Petugas tersebut ditugaskan memotong gunung sejauh lima ratus meter. Pagi itu masih tersisa sembilan puluh meter. Jadi ia tak sanggup menaati batas waktu yang telah diberikan. Karena merasa bertanggung jawab atas kcgagalan ini, ia lalu mengor- bankan nyawanya sendiri.

Hideyoshi menatap putra orang itu, yang masih berlumuran lumpur pada tangan, kaki, dan rambut- nya. Dengan lembut ia memberi isyarat untuk men- dekat.

"Jangan ikuti jejak ayahmu dengan melakukan seppuku. Berdoalah bagi arwah ayahmu melalui sepak terjangmu di medan laga." Ia menepuk-nepuk punggung pemuda itu.

Si pemuda tidak menutup-nutupi tangisnya. Hujan pun mulai turun dari awan-awan tebal yang semakin rendah.

Hari kedua puluh dua di Bulan Kelima telah berganti malam, malam setelah pasukan Mori mencapai per- batasan.

Terselubung kcgelapan, dua orang berenang bagai- kan ikan, melintasi danau berlumpur dan merayap ke atas tanggul. Tak sengaja mereka menyenggol seutas tali yang terentang di sepanjang tepi danau dan telah digantungi sejumlah genta dan lonceng. Tali itu diikat pada batang-batang bambu dan semak-semak. dan sengaja dibuat menyerupai batang mawar liar yang menjalar ke mana-mana.

Api unggun berkobar-kobar di setiap pos jaga di sepanjang tanggul. Para penjaga segera berdatangan dan meringkus satu orang, sementara yang satu lagi berhasil melarikan diri.

"Tak ada bedanya apakah dia prajurit dari benteng atau sedang melaksanakan tugas marga Mori. Sebaik- nya Yang Mulia Hideyoshi menginterogasi dengan cermat." Komandan para pengawal mengirim tawanan itu ke Bukit Ishii.

"Siapa orang ini?" tanya Hideyoshi ketika ia keluar ke serambi.

Beberapa pengikut memegang lentera di kiri- kanannya, dan ia menatap prajurit musuh yang berlutut di bawah lis atap yang basah karena hujan. Orang itu berlutut dengan gagah, kedua tangannya diikat tali.

"Orang ini bukan prajurit dari benteng. Dia pasti kurir marga Mori. Apakah dia tidak membawa se- suatu?" Hideyoshi bertanya pada pengikut yang meng- giring si tawanan ke pondoknya.

Dalam pemeriksaan awal, pengikut itu menemu- kan botol sake berisi sepucuk surat terselip di dalam pakaian si tawanan, dan kini ia meletakkan botol itu di hadapan Hideyoshi .

"Hmm... kelihatannya seperti surat balasan dari Muneharu, dialamatkan pada Kikkawa dan Kobaya- kawa. Coba dekatkan lentera ke sini."

Bala bantuan yang dikirim marga Mori ternyata menjadi kecil hati ketika melihat danau yang mem- bentang sejauh mata memandang. Selama perjalanan mereka terus bergegas, tapi kini mereka habis akal, tak tahu bagaimana membantu benteng yang telah dikelilingi air. Mereka menyarankan agar Muneharu menyerah pada Hideyoshi, dan dengan demikian menyelamatkan nyawa ribuan orang di dalam benteng. Surat yang kini berada di tangan Hideyoshi me- rupakan balasan Muneharu terhadap saran itu.

Marga Mori tidak melupakan kami di sini, dan ucapan Tuan-Tuan penuh kebajikan. Namun Benteng Taka- matsu kini menjadi poros provinsi-provinsi Barat, dan kekalahan benteng ini akan merupakan isyarat kematian marga Mori. Kami semua telah menikmati kemurahan hati marga Mori sejak zaman Yang Mulia Motonari, dan di sini tak ada satu orang pun yang sudi mem- perpanjang umurnya, biarpun hanya satu hari, dengan menjual lagu kemenangan kepada musuh. Kami telah siap menghadapi pengepungan. dan telah bertekad gugur bersama benteng ini.

Dalam suratnya. Muneharu malah membesarkan hati pasukan bala bantuan. Kurir Mori yang ditawan menjawab setiap pertanyaan Hideyoshi dengan sikap terus terang yang di luar dugaan. Karena surat Muneharu sudah dibaca oleh musuh, ia rupanya sadar bahwa tak ada gunanya menyembunyikan apa pun. Tapi Hideyoshi tidak mengadakan pemeriksaan lengkap. Ia enggan mempermalukan seorang samurai. Sesuatu yang sia-sia tetap dinilai sia-sia, dan Hideyoshi membelokkan pikirannya ke arah lain.

"Kurasa sudah cukup. Lepaskan ikatan orang itu dan bebaskan dia."

"Dia dibebaskan?"

"Dia berenang melintasi danau bcrlumpur, dan sepertinya dia kedinginan. Beri dia makan dan siapkan surat jalan untuknya, supaya dia tidak ditangkap lagi nanti."

"Baik.,Yang Mulia."

Si pengikut membuka ikatan tawanan itu. Sebenar- nya orang itu sudah bersiap-siap menghadapi ajal, sehingga kini ia tampak bingung. Sambil membisu dan membungkuk ke arah Hideyoshi, ia mulai ber- diri.

"Yang Mulia Kikkawa tentu dalam keadaan sehat- sehat saja," ujar Hideyoshi. "Tolong sampaikan salam- ku padanya."

Kurir Mori itu berlutut dengan sopan. Menyadari kebaikan hati Hideyoshi, ia membungkuk penuh hormat.

"Rasanya juga ada biksu bernama Ekei dalam staf lapangan Yang Mulia Terumoto. Ekei dari Ankokuji."

"Memang benar. Yang Mulia."

"Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Aku juga ingin menitipkan salam untuknya."

Begitu si kurir berangkat, Hideyoshi berbalik dan bertanya pada seorang pengikut. "Mana surat tadi?"

"Hamba menyimpannya di tempat aman, tuanku." "Surat itu berisi pesan rahasia yang sangat penting.

Bawalah surat itu langsung pada Yang Mulia Nobunaga."

"Hamba takkan membuat kesalahan."

"Tak pelak lagi, tekad pengikut marga Mori tadi tak kalah dengan tekadmu. Tapi dia tertangkap, dan sepucuk surat berisi rencana Muneharu dan Kikkawa jatuh ke tanganku. Berhari-hatilah."

Hideyoshi duduk menghadap lentera. Surat yang dipercayakannya pada kurir itu guna dibawa ke Azuchi mendesak Nobunaga untuk memimpin pasukan ke daerah Barat.

Nasib Benteng Takamatsu menyerupai nasib ikan yang sudah terjaring. Pasukan gabungan Mori Terumoto, Kobayakawa Takakage, dan Kikkawa Motoharu telah datang. Sekaranglah saatnya! Penak- lukan wilayah Barat dapat dituntaskan dengan sekali pukul. Hideyoshi ingin memperlihatkan tontonan akbar ini pada Nobunaga, dan ia yakin kehadiran junjungannya akan menjamin kemenangan yang penting.