--> -->

Taiko Bab 28 : Kehancuran Marga Takeda

Bab 28 : Kehancuran Marga Takeda

"MARI kita lewatkan musim semi di Pegunungan Kai," ujar Nobunaga ketika ia bertolak dari Azuchi di muka pasukannya. "Kita bisa memandang kembang ceri, memetik bunga, lalu bertamasya di sekitar Gunung Fuji dalam perjalanan pulang."

Keberhasilan serbuan ke Kai tampaknya sudah pasti kali ini, dan keberangkaian pasukan boleh dikatakan berlangsung dalam suasana santai. Pada hari kesepuluh di Bulan Kedua, mereka telah tiba di Shinano dan telah menempatkan pasukan di pintu masuk ke Ina, Kiso, dan Hida. Marga Hojo akan masuk dari timur, sementara orang-orang Tokugawa akan menyerang dari Suruga.

Dibandingkan pertempuran di Sungai Ane dan Nagashino, serbuan Nobunaga ke Kai berlangsung dengan tenang, seakan-akan ia pergi ke kebun untuk memetik sayur-sayuran. Di tengah-tengah provinsi musuh terdapat kekuatan-kekuatan yang tak lagi di- pandang sebagai musuh. Baik Naegi Kyubei di Benteng Naegi maupun Kiso Yoshimasa di Fukushima menanti-nanti kedatangan Nobunaga, bukan ke-datangan Katsuyori; dan pasukan yang berbaris dari Gifu ke Iwamura tidak menghadapi perlawanan dalam bentuk apa pun. Benteng-benteng Takeda telah diserahkan pada angin. Ketika fajar menyingsing, baik Benteng Matsuo maupun Benteng di Iida tak lebih dari bangunan kosong.

"Kami telah maju sampai ke Ina, dan ternyata hampir tak ada prajurit musuh yang mempertahan- kannya."

Itulah laporan yang diterima Nobunaga di pintu masuk ke Kiso. Para prajurit bergurau bahwa mereka tidak mempcroleh kepuasan karena tugas mereka ter- lampau mudah. Apa yang membuat marga Takeda begitu rapuh? Alasannya rumit, tapi jawabannya dapat dirangkum secara sederhana. Kali ini marga Takeda takkan sanggup mempertahankan Kai.

Semua pihak yang terikat hubungan dengan marga Takeda merasa yakin bahwa kekalahan tak terelakkan lagi. Barangkali malah ada yang sudah menanti-nanti datangnya hari ini. Namun telah menjadi kebiasaan di kalangan samurai—tanpa memandang marga asalnya—untuk tidak memper- lihatkan sikap tidak layak pada kesempatan seperti itu, meski mereka sadar bahwa kekalahan tak dapat ditolak.

"Mereka akan merasakan kehadiran kita," ujar Nishina Nobumori, komandan Benteng Takato dan adik Katsuyori.

Putra Nobunaga, Nobutada, yang telah mem- banjiri daerah itu dengan pasukannya, menaksir peluang mereka cukup baik. Setelah menulis sepucuk surat, ia memanggil seorang pemanah yang kuat dan menyuruhnya menembakkan pesan itu ke dalam benteng. Pesan itu tentu saja berisi bujukan untuk menyerah.

Tak lama kemudian, jawaban dari benteng sudah tiba. Kami lelah mempelajari surat Tuan... Dari baris pertama sampai terakhir, surat balasan itu ditulis dengan gaya sangat agung.

Suatu hari, orang-orang di dalam benteng ini akan membalas kemurahan hati Yang Mulia Katsuyori dengan nyawa mereka, dan tak satu pun dan mereka akan memperlihatkan sikap pengecut. Seyogyanya Tuan segera memberi perintah untuk menyerang. Kami akan mem- perlihatkan keberanian dan kegagahan yang telah men- jadi ciri kami sejak zaman Yang Mulia Shingen.

Nobumori telah menjawab dengan tekad bulat, yang hampir dapat dicium pada tintanya.

Walaupun berusia muda, Nobutada telah dijadi- kan jendral tangguh oleh ayahnya. "Baiklah, kalau itu yang mereka kehendaki," ujarnya, lalu segera me- merintahkan penyerangan.

Pasukan terbagi menjadi dua divisi, dan keduanya menyerang benteng itu secara bersamaan dari gunung di belakang dan dari daerah yang menuju gerbang depan. Pertempuran yang menyusul patut dikenang. Keseribu prajurit di dalam benteng sudah siap meng- hadapi maut. Seperti bisa diduga, keberanian para prajurit Kai belum berkurang sedikit pun. Dari awal Bulan Kedua sampai awal Bulan Ketiga, tembok- tembok benteng dibasahi darah. Setelah menerobos beberapa pagar pertahanan paling depan, yang berada sekitar lima puluh meter dari selokan pertahanan, pasukan penyerang menimbun selokan itu dengan batu, semak, pohon, dan tanah. Kemudian mereka cepat-ccpat menyeberang ke kaki tembok baru.

"Ayo, majulah!" teriak orang-orang di atas tembok beratap, sambil melemparkan tombak, potongan kayu dan batu, serta menuangkan minyak panas pada orang-orang di bawah. Para prajurit yang berusaha memanjat tembok berjatuhan tertimpa batu, kayu, dan cipratan minyak. Namun tak peduli betapa jauh mereka jatuh, sehabis itu mereka justru semakin garang. Kalaupun mereka terempas ke tanah, selama masih sadar mereka segera bangkir dan kembali memanjat.

Prajurit-prajurit yang menyusul di belakang orang- orang itu berseru kagum melihat keberanian rekan- rekan mereka, dan ikut memanjat. Mereka tak mau ketinggalan. Ketika mereka memanjat dan jatuh, memanjat lagi, dan mencengkeram tembok batu, sepertinya tak ada yang sanggup menahan kegarangan mereka. Namun upaya pasukan penjaga benteng pun tak kalah hebatnya. Mereka yang menangkal serangan, memberi kesan bahwa benteng hanya diisi oleh para prajurit Kai yang gagah perkasa. Tapi seandainya pasukan penyerang dapat melihat kegiatan di dalam, mereka akan mengetahui bahwa seluruh isi Benteng telah dikerahkan dalam pergulatan yang menyedihk, namun dilaksanakan dengan sepenuh hati. Selama Benteng dikepung, orang-orang yang berada di dalamnya—yang tua dan muda, bahkan perempuan-perempuan hamil—bekerja gigih mem- bantu para prajurit membentuk pertahanan. Perempuan-perempuan muda membawa anak panah, sementara orang-orang tua menyapu sisa mesiu senapan. Mereka mengurus yang terluka dan menyiapkan makanan untuk para prajurit. Tak seorang pun menyuruh mereka berbuat demikian, tapi mereka bekerja dengan tekun, tanpa mengeluh.

"Benteng itu pasti jatuh kalau kita kerahkan segala kekuatan yang kita miliki." Pendapat ini dikemuka- kan oleh Kawajiri, salah satu jendral pasukan penyerang yang datang menghadap Nobutada.

"Korban di pihak kita terlalu banyak," ujar Nobutada. Ia pun telah memikirkannya. "Kau punya usul bagus?"

"Hamba mendapat kesan bahwa kekuatan para prajurit di dalam benteng didasarkan atas keyakinan bahwa Katsuyori masih berada di ibu kotanya yang baru. Dengan mempertimbangkan hal ini, kita bisa mundur sementara dari sini: dan mengalihkan serangan ke Kofu dan Nirasaki. Tapi itu menuntut perubahan strategi menyeluruh. Barangkali lebih baik kita meyakinkan mereka bahwa Nirasaki telah ber- hasil kita rebut, dan bahwa Katsuyori telah tewas." Nobutada mengangguk setuju. Pada pagi hari pertama di Bulan Ketiga, pesan lain diikat pada sebatang anak panah dan ditembakkan ke dalam Benteng. Ketika mempejarinya, Nobumori hanya tertawa. "Siasat mereka begitu mudah dibaca, seakan-akan merupakan hasil pemikiran bocah ingusan. Ini suatu bukti bahwa musuh sudah tak sanggup melanjutkan pengepungan."

Bunyi pesan itu sebagai bcrikut:

Pada hari ke-28 di bulan lalu, Kai dipaksa bertekuk lutut dan Yang Mulia Katsuyori melakukan bunuh diri. Para anggota marga yang lain menyusulnya ke akhirat, atau dijadikan tawanan. Sia-sialah kalian terus memperlihatkan kegagahan, sebab benteng kalian kini hanya sebuah benteng di wilayah penaklukan. Sebaiknya kalian segera menyerah dan mengerah- kan tenaga kalian untuk membantu provinsi ini.

Oda Nobutada

"Manis sekali. Mungkinkah mereka menganggap siasat murahan ini sebagai seni perang?" Malam itu Nobumori mengadakan pesta minum dan memper- lihatkan surat Nobutada kepada para pengikutnya. "Kalau ada yang terbujuk oleh surat ini, dia tak perlu ragu-ragu meninggalkan benteng sebelum fajar tiba."

Mereka memukul gendang, menyanyikan tembang dari berbagai sandiwara Noh, dan menghabiskan waktu dengan gembira. Malam itu, istri para jendral pun dipanggil dan disajikan sake. Semuanya segera menyadari maksud Nobumori. Keesokan paginya, sesuai dugaan semua orang. Nobumori meraih tombak panjang untuk digunakan sebagai tongkat penyangga, mengikat sandal jerami ke kaki kirinya yang bengkak—terluka dalam pertempuran untuk mempertahankan benteng—dan berjalan pincang ke gerbang.

Ia menyuruh semua orang berkumpul, lalu naik ke menara gerbang yang beratap, mengamati pasukan- nya. Ia mempunyai kurang-lebih seribu prajurit, tidak termasuk mereka yang masih terlalu muda, orang- orang tua, dan kaum perempuan, tapi tak satu orang pun berkurang sejak malam sebelumnya. Sejenak ia mcnundukkan kepala, seakan-akan berdoa dalam hati. Sesungguhnya ia memang berdoa kepada arwah ayahnya, Shingen, "Lihatlah! Kita masih punya orang- orang seperti ini di Kai." Akhirnya ia menegakkan kepala. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat seluruh pasukannya.

Nobumori tidak memiliki roman wajah lebar seperti kakaknya. Karena sudah lama menjalani kehidupan pedesaan yang bersahaja, ia tidak mengenal makanan mahal maupun kemewahan. Ia diberi wajah menyerupai rajawali muda yang dibesar- kan oleh angin kencang yang bertiup di atas gunung- gunung dan dataran Kai. Pada usia tiga puluh tiga tahun, ia mirip ayahnya, Shingen: rambut tebal, alis tebal, dan mulut lebar.

"Hmm, kusangka hari ini akan hujan, tapi ternyata langit tampak cerah. Dengan kembang-kembang ceri di gunung-gunung di kejauhan, kita diberi hari yang indah untuk menyambut kematian. Kita tentu tidak akan mencampakkan reputasi kita karena tergoda oleh imbalan duniawi. Kalian lihai sendiri, dua hari yang lalu aku terluka dalam pertempuran. Karena tidak leluasa bergerak, aku akan menyaksikan per- tempuran kalian yang terakhir sambil berdiri di sini, menunggu datangnya musuh. Setelah itu aku akan mengakhirinya dengan berjuang sepuas hati. Jadi majulah kalian! Keluarlah lewat gerbang depan dan belakang, dan tunjukkan pada mereka bagaimana kembang ceri pegunungan berguguran!"

Sorak-sorai para prajurit, yang berseru bahwa mereka akan melaksanakan perintah itu dengan setepat-tepatnya, menyerupai angin puyuh. Semua nya menatap junjungan mereka di atas gerbang, dan beberapa saat seruan yang sama terdengar berulang- ulang. "Inilah perpisahan kiia!"

Masalah hidup atau mati sudah tidak dipertanya- kan. Mereka hendak bergegas menuju kematian. Gerbang depan dan belakang dibuka lebar oleh orang-orang di dalam, dan seribu prajurit meng- hambur keluar, masing-masing menyerukan teriakan perang.

Pasukan penyerang dipukul mundur. Sesaat mereka dilanda kebingungan begitu hebat, sehingga markas Nobutada pun sempat terancam.

"Mundur! Susun barisan!" Komandan pasukan penjaga benteng menanti kesempatan yang tepat, lalu memerintahkan gerak mundur.

Para prajurit kembali ke benteng, masing-masing memamerkan kepala-kepala yang berhasil dipenggal- nya kepada Nobumori yang masih duduk di atas gerbang.

"Aku akan masuk sebentar dan minum seteguk, lalu segera keluar lagi," salah seorang prajurit berseru. Dan begitulah seterusnya. Beristirahat sejenak di gerbang depan atau belakang, lalu kembali meng- hambur keluar dan menerjang barisan musuh—anak buah Nobumori mengulangi pola serang dan mundur itu sebanyak enam kali, sampai empat ratus tiga puluh tujuh kepala berhasil direbut. Ketika hari hampir senja, jumlah pasukan penjaga benteng telah berkurang banyak, dan mereka yang tersisa tampak penuh luka. Hampir tak ada yang tidak terluka. Api berkobar hebat, membakar pohon-pohon di sekeliling benteng. Pasukan musuh telah menerobos masuk, mendesak dari segala arah. Tanpa berkedip Nobumori menyaksikan para prajurit menyambut maut.

"Tuanku! Tuanku ada di mana?" seorang pengikut memanggil sambil berlari di sekitar gerbang.

"Aku di atas sini." Nobumori berseru, memberi- tahu pengikutnya bahwa ia masih hidup. "Ajalku sudah dekat. Di mana kau?" dan ia menatap ke bawah dari kursinya. Pengikut tadi memandang sosok junjungannya yang terselubung asap.

"Hampir semua orang kita sudah tewas. Sudahkah tuanku mempersiapkan diri untuk bunuh diri?" ia bertanya, tersengal-sengal menarik napas. "Naiklah, agar kau dapat membantuku."

"Baik, tuanku." Terhuyung-huyung orang itu berusaha menaiki tangga di dalam gerbang, tapi ia tak pernah sampai di atas. Kobaran api mulai menjilati kaki tangga. Nobumori mendorong daun penutup jendela yang lain dan menatap ke bawah. Semua prajurit yang dilihatnya merupakan prajurit musuh. Kemudian pandangannya beralih pada satu orang yang bertempur dengan gagah di tengah-tengah kerumunan musuh. Di luar dugaannya, orang itu ternyata perempuan, istri salah satu pengikutnya, dan ia menggenggam sebatang tombak.

Walaupun Nobumori sudah bertekad mati, ia berjuang untuk menerima perasaan tak terduga yang tiba-tiba meliputi dirinya.

Perempuan itu amat pemalu. Biasanya ia bahkan tidak berani bicara di hadapan laki-laki, apalagi menantang mereka dengan tombak, ia berkata dalam hati. Tapi kini Nobumori didesak oleh sesuatu yang harus dilakukannya, dan dari jendela sempit tempat ia berdiri, ia berseru kepada para prajurit musuh.

"Kalian yang bertcmpur untuk Nobunaga dan Nobutada! Dengarkanlah suara kehampaan. Nobu- naga berbangga hati di saat kemenangan ini, tapi setiap kembang ceri akan gugur, dan benteng setiap penguasa akan dilalap api. Aku akan memperlihatkan sesuatu yang takkan gugur atau terbakar sampai kapan pun. Aku, putra kelima Shingen, Nobumori, akan menunjukkannya pada kalian!" Ketika para prajurit Oda akhirnya berhasil naik ke atas gerbang, mereka mencmukan mayat dengan perut terbelah bersilang. Tapi kepalanya sudah tak ada. Sesaat kemudian langit malam diterangi cahaya merah, dan asap membubung bagaikan pilar hitam.

Benteng Nirasaki di ibu kota baru dilanda ke- bingungan, seakan-akan hari kiamat telah tiba.

"Benteng Takato telah ditaklukkan, dan semuanya, termasuk adik Yang Mulia, gugur."

Ketika mendengar ucapan para pengikutnya. Katsuyori seolah-olah tak tergerak sedikit pun. Meski demikian, roman mukanya menunjukkan ia sadar bahwa kekuatan yang dimilikinya sudah tak me- madai, laporan berikut tiba.

"Pasukan Oda Nobutada sudah memasuki Kai dari Suwa, dan orang-orang kita dibantai tanpa ampun, tak peduli apakah mereka melawan atau menyerah. Kepala-kepala mereka dijajarkan di tepi jalan, dan musuh menerjang ke sini bagaikan air bah."

Pesan penting lainnya menyusul. "Saudara Shingen, si biksu buta Ryuho, ditangkap dan di- bunuh musuh."

Kali ini Katsuyori mengangkat mata dan mencerca musuhnya.

"Pasukan Oda tak kenal belas kasihan. Kesalahan apa yang bisa mereka tuduhkan pada seorang biksu buta? Bagaimana mungkin dia memiliki kekuatan untuk melawan mereka ?" Kini ia dapat merenungkan kematiannya sendiri secara lebih mendalam. Ia meng- gigit bibir dan menekan gelombang perasaan yang menggelora di lubuk hatinya. Kalau aku melampias- kan kemarahanku seperti ini, pikirnya, mereka mungkin menyangsikan ketabahanku, dan para pengikut di sekitarku pun terpaksa menahan malu. Tak sedikit yang memandang Katsuyori hanya dari luar, dan menganggapnya berani, bahkan kasar. Tapi sesungguhnya ia sangat berhati-hari dalam memper- lakukan para pengikutnya. Ditambah lagi, ia ber- pegang teguh pada prinsip-prinsip yang dianutnya— pada kehormatannya sebagai penguasa provinsi dan pada sikap mawas diri. Ia telah melanjutkan tradisi Shingen dan belajar dasar-dasar Zen dari Kaisen. Namun, meski ia mempunyai guru yang sama dan sama-sama menekuni Zen, ia tak sanggup meng- hidupkannya sepert Shingen.

Bagaimana Benteng Takato bisa ditaklukkan? Seharusnya benteng itu bisa bertahan dua minggu lagi, bahkan satu bulan, pikir Katsuyori. Ini menunjukkan bahwa bencana ini bukan akibat kesalahan dalam menyusun strategi pertahanan, melainkan akibat ketidakmatangan. Kini, tanpa memandang bagaimana wataknya, Katsuyori terpaksa menerima nasib.

Dinding-dinding pemisah telah dikeluarkan dari ruang pertemuan yang luas, bahkan dari ruang-ruang di sisi luar benteng utama, dan seluruh marga kini tinggal bersama-sama, seperti pengungsi yang melari- kan diri dari bencana yang berlangsung siang-malam. Tirai-tirai dipasang bahkan di pekarangan, perisai- perisai dijajarkan, dan para prajurit bertugas tanpa sempat memejamkan mata, membawa lampion besar, dan berpatroli pada malam hari. Setiap jam para kurir yang membawa kabar mengenai perkembangan ter- akhir dibawa langsung dari pintu masuk melalui gerbang utama ke pekarangan, agar Katsuyori dapat menyimak laporan mereka. Segala sesuatu yang meru- pakan bagian dari pembangunan tahun lalu—bau kayu yang masih baru, perhiasan emas dan perak, keindahan perabot dan perlengkapan—kini hanya terasa mengganggu.

Diikuti seorang pelayan wanita, sambil mengikat ujung kimononya, seorang dayang meninggalkan hiruk-pikuk di pekarangan dan memasuki ruang pertemuan yang gelap. Tanpa ragu ia memandang sekelilingnya. Saat itu ruangan tersebut dipenuhi oleh para jendral, baik tua maupun muda, dan semuanya berlomba-lomba memberikan pendapat mengenai langkah berikut yang harus diambil.

Akhirnya perempuan itu menghadap Katsuyori dan menyampaikan pesan istrinya. "Semua perem- puan hanya berdiri sambil meratap, dan mereka tak mau berhenti, walau kami telah berusaha menenang- kan mereka. Tuan Putri berkata bahwa saat terakhir hanya datang satu kali, dan menurut beliau mereka mungkin bisa lebih ta seandainya diperkenankan hadir di sini bersama para samurai. Jika Yang Mulia mengizinkan, Tuan Putri akan segera pindah ke sini. Bagaimana kehendak Yang Mulia?"

"Boleh saja," Katsuyori menjawab cepat-cepat. "Bawa istriku ke sini, juga mereka yang masih kecil- kecil,

Pada saat itu, pewaris Katsuyori yang berusia lima belas tahun, Taro Nobukatsu, melangkah maju dan berusaha mencegahnya. "Ayah, bukankah itu tidak berguna?"

Katsuyori berpaling pada putranya, bukan dengan gusar, melainkan sambil memikirkan sesuatu dengan gelisah. "Kenapa?"

"Kalau perempuan-perempuan itu dibawa ke sini, mereka hanya akan menghalangi para samurai. Dan kalau para laki-laki melihat mereka meratap-ratap, samurai yang paling gagah pun mungkin patah semangat." Taro masih bocah, tapi ia berkeras mem- berikan pendapatnya. Ia berkata bahwa Kai merupa- kan tanah leluhur mereka sejak zaman Shinra Saburo, dan seharusnya tetap begitu sampai saat terakhir, walaupun untuk itu mereka harus bertempur dan menyerahkan nyawa. Meninggalkan Nirasaki dan melarikan diri, seperti yang baru saja diusulkan oleh salah satu jendral, hanya akan membawa aib kepada marga Takeda.

Salah seorang jendral membantah. "Bagaimana- pun, musuh sudah mendesak dari keempat sisi, dan Kofu terletak di sebuah cekungan. Sekali musuh menyerbu, mereka akan bergerak bagaikan air yang mengalir ke danau. Bukankah lebih baik kita menyelamatkan diri ke Agatsuma di Joshu? Jika Yang Mulia bisa mencapai Pegunungan Mikuni, ada banyak provinsi tempat Yang Mulia mungkin men- dapat suaka. Dan begitu Yang Mulia mengumpulkan para sekutu, Yang Mulia tentu dapat merebut kembali tanah Kai dari tangan para penyerbu."

Nagasalta Chokan sependapat, dan Katsuyori pun cenderung ke arah itu. Ia menatap Taro dan diam sejenak. Kemudian ia berpaling kepada dayang tadi dan berkata, "Kita akan pergi ."'

Dengan demikian, saran Taro ditolak oleh ayah- nya. Taro berbalik sambil membisu dan menunduk- kan kepala. Pertanyaan yang belum terjawab tinggal apakah mereka sebaiknya melarikan diri ke Agatsuma atau mendirikan kubu di daerah Gunung Iwadono. Tapi rute mana pun yang mereka pilih, meninggalkan ibu kota yang baru dan melarikan diri merupakan suratan takdir yang tak terelakkan, dan baik Katsuyori maupun para jendralnya telah me-nerimanya sebagai kenyataan.

Hari itu hari ketiga di Bulan Ketiga, hari di saat Katsuyori beserta para pengikutnya biasa mengadakan Perayaan Roneka di benteng dalam. Tapi pada hari yang cerah ini seluruh marga dikejar-kejar asap hitam ketika meninggalkan Nirasaki. Katsuyori, tentu saja, juga turut serta, sama halnya dengan semua samurai yang mengabdi padanya. Tapi ketika ia berbalik dan memandang rombongannya, roman mukanya menunjukkan keheranan.

"Hanya ini?" ia bertanya. Entah kapan, beberapa pengikut senior dan bahkan kerabatnya sendiri meng- hilang. Katsuyori diberitahu bahwa mereka me- manfaatkan kekacauan dalam kegelapan menjelang fajar, dan melarikan diri ke benteng masing-masing bersama para pengikut mereka.

"Taro?"

"Aku di sini, Ayah." Taro mendekatkan kudanya ke sosok ayahnya yang menyendiri. Dengan meng- hitung semua pengikut, samurai biasa, dan para prajurit infanteri, kekuatan mereka kurang dari seribu orang. Namun tandu-tandu untuk istri Katsuyori dan para dayang tampak berderet-deret, dan perempuan-perempuan bercadar, baik yang ber- jalan kaki maupun yang menunggang kuda, meme- nuhi jalan.

"Oh! Bentengnya terbakar!" "Lidah apinya menjilat langit!"

Kaum perempuan nyaris tak sampai hati untuk pergi, dan ketika baru berjalan beberapa mil dari Nirasaki, mereka menoleh sambil terus melangkah. Api dan asap hitam membubung tinggi di langit pagi, menyelubungi benteng di ibu kota baru. Mereka telah membakarnya pada waktu fajar.

"Aku tak ingin hidup lama," kata salah seorang di antara mereka. "Seperti apa masa depan yang akan kulihat nanti? Inikah akhir dari marga Yang Mulia Shingen?" Biksuni yang juga bibi Katsuyori, gadis menawan yang merupakan cucu Shingen, istri-istri para anggota marga dan para dayang mereka—semua- nya berurai air mata, saling merangkul sambil menangis, memanggil-manggil nama anak-anak mereka. Tusuk konde yang terbuat dari emas dan per- hiasan lainnya ditinggalkan di jalan, dan tak seorang pun berusaha memungutnya. Berbagai perhiasan dan alat kecantikan berlumuran lumpur, namun tak ada yang menyayangkannya.

"Bergegaslah! Kenapa kalian menangis? Inilah yang dinamakan kehidupan. Kalian hanya mempermalu- kan diri di hadapan para petani!" Katsuyori berkuda di antara usungan dan tandu yang bergerak lambat. Ia mendesak, memacu mereka ke arah rimur.

Dengan harapan mencapai Benteng Oyamada Nobushige, mereka memandang benteng lama di Kofu ketika melewatinya, tapi mereka hanya bisa terus berjalan menuju pegunungan. Dalam per- jalanan, para pengusung tandu berangsur-angsur menghilang, para kuli yang memanggul barang-barang bawaan kabur satu per satu, dan rombongan itu makin mengecil. Pada waktu memasuki daerah pegunungan di dekat Katsunuma, kekuatan mereka tinggal dua ratus orang, dan kurang dari dua puluh orang yang menunggang kuda, termasuk Katsuyori dan putranya. Ketika Katsuyori dan para pengikutnya dengan susah payah berhasil mencapai Desa Komagai, mereka menemukan bahwa satu-satunya orang yang menjadi tumpuan harapan mereka tiba- tiba berubah pikiran.

"Carilah suaka di tempat lain!" Dengan meng- halangi jalan ke Sasago, Oyamada Nobushige me- nolak kedatangan rombongan Katsuyori. Katsuyori, putranya, dan seluruh anggota rombongan habis akal. Tak ada yang dapat mereka lakukan selain berganti arah, dan kini mereka menuju Tago, sebuah desa di kaki Gunung Temmoku. Musim semi telah mencapai puncaknya, tapi gunung-gunung dan ladang-ladang, sejauh mata memandang, tidak menjanjikan keten- teraman maupun harapan. Kini rombongan kecil yang masih tersisa sepenuhnya mempercayakan nasib pada Katsuyori. Namun Katsuyori sendiri sudah habis akal. Sambil berimpit-impitan di Tago, para pengikut- nya menunggu dalam keadaan bingung, diterpa angin pegunungan.

Pasukan gabungan Oda dan Tokugawa memasuki Kai bagaikan gelombang mengamuk. Di bawah pimpinan Anayama, pasukan Ieyasu maju dari Minobu ke Ichikawaguchi. Oda Nobutada menyerang Suwa bagian atas, membakar Kuil Suwa Myojin dan se- jumlah kuil Buddha. Ia membumihanguskan rumah- rumah penduduk di sepanjang jalan sambil mengejar- ngejar prajurit musuh yang selamat, terus maju siang- malam ke arah Nirasaki dan Kofu. Pada pagi hari kesebelas di Bulan Ketiga, saat penghabisan pun tiba.

Salah satu pembantu pribadi Katsuyori menyelinap ke desa pada malam sebelumnya, dan kembali setelah mengintip posisi musuh. Pagi itu, dengan napas ter- sengal-sengal ia memberikan laporan pada majikan- nya.

"Barisan depan pasukan Oda telah memasuki desa- desa di sekitar sini. Rupanya mereka diberi tahu oleh para penduduk bahwa tuanku beserta seluruh kerabat ada di sini. Tampaknya orang-orang Oda telah mengepung daerah ini dan memutuskan semua jalan, dan sekarang mereka sedang bergerak kemari."

Rombongan Katsuyori kini hanya berjumlah sembilan puluh satu orang—keempat puluh satu samurai yang masih tersisa beserta Katsuyori dan putranya, dan istri Katsuyori dengan para dayang. Pada hari-hari sebelumnya, mereka berlindung di sebuah tempat bernama Mirayashiki, bahkan sempat mendirikan pagar kayu runcing. Tapi ketika mereka mendengar laporan itu, masing-masing menyadari bahwa saatnya telah tiba, dan mereka segera menyiap- kan diri untuk menghadapi kematian. Di tengah- tengah mereka, istri Katsuyori duduk, seakan-akan masih berada di kediamannya di benteng dalam. Wajahnya menyerupai kembang putih ketika ia menatap dengan pandangan kosong. Perempuan- perempuan di sekelilingnya mencucurkan air mata.

"Jika akhirnya memang harus begini, lebih baik kita tinggal saja di benteng baru di Nirasaki. Betapa memilukan. Pantaskah istri pemimpin marga Takeda tampak seperti ini?"

Perempuan-perempuan ini bertangis-tangisan dan berkeluh kesah tanpa henti.

Katsuyori menghampiri istrinya dan mendesaknya untuk pergi, "Aku baru menyuruh pembantuku mengambilkan kuda untukmu. Walaupun kita tinggal di sini untuk waktu lama, penyesalan kita takkan pernah berakhir, dan sekarang pasukan musuh sudah mulai mengepung. Kudengar kita tak jauh dari Sagami, jadi sebaiknya kau segera pergi ke sana. Lintasilah pegunungan dan kembalilah pada marga Hojo," Mata istrinya berkaca-kaca, tapi ia tidak beranjak. Sepertinya ia justru menyesalkan kata-kara suaminya.

"Tsuchiya! Tsuchiya Uemon!" Katsuyori me- manggil, menyuruh seorang pengikut mendekat. "Naikkan istriku ke atas kuda."

Orang itu menghampiri istri Katsuyori, tapi perempuan itu tiba-tiba berpaling pada suaminya dan berkata, "Kata orang, samurai sejati tak mungkin memiliki dua majikan. Begitu juga kalau seorang perempuan telah memiliki suami, tidak seharusnya dia kembali pada keluarganya. Meskipun dilandasi belas kasihan, ucapan yang mcnyuruhku kembali ke Odawara seorang diri terasa begitu dingin. Takkan kutinggalkan tempat ini. Aku akan mendampingi suamiku sampai saat terakhir. Kemudian, mungkin kita dapat bersama-sama menuju akhirat." Pada saat itulah dua pengikut melaporkan bahwa musuh telah mendekat.

"Mereka sudah sampai di kuil perbukitan." Istri Katsuyori segera menegur para pembantunya, karena mereka mulai meratap-ratap. "Tak ada waktu untuk apa pun selain berduka. Bantulah mempersiap- kan segala sesuatu."

Perempuan ini belum berusia dua puluh tahun, tapi ia tidak kehilangan keanggunannya, meski maut sudah berada di depan mata. Ia setenang air di kolam dalam, dan Katsuyori merasa ditegur oleh ketenangan yang diperlihatkannya.

Para dayang pergi, tapi segera kembali dengan membawa cawan tanpa upaman dan sebotol sake, lalu meletakkan keduanya di hadapan Katsuyori dan putranya. Rupanya istrinya telah bersiap-siap meng- hadapi saat ini. Tanpa berkata apa-apa, ia menawar- kan cawan pada suaminya. Katsuyori meraih cawan itu, minum seteguk, lalu menyerahkannya pada putranya. Kemudian ia berbagi isinya dengan istrinya. "Tuanku, untuk kakak-adik Tsuchiya," ujar istrinya. "Tsuchiya, kau harus mengucapkan selamat tinggal

selama kita masih di dunia ini."

"Tsuchiya Sozo, pembantu pribadi Katsuyori, dan kedua adik laki-lakinya telah membaktikan hidup bagi junjungan mereka. Sozo berusia dua puluh enam tahun, adik keduanya dua puluh dua tahun, dan yang paling kecil baru delapan belas tahun. Bersama-sama mereka melindungi junjungan mereka yang malang dengan setia di sepanjang jalan, sejak jatuhnya ibu kota baru sampai ke pertahanan terakhir di Gunung Temmoku. "Kalau begini, hamba dapat pergi tanpa penyesalan." Setelah mereguk habis isi cawan yang diterimanya. Sozo berbalik dan menatap kedua adiknya sambil tersenyum. Kemudian ia berpaling pada Katsuyori dan istrinya. "Kemalangan Yang Mulia kali ini sepenuhnya akibat pembelotan kerabat Yang Mulia. Selama ini Yang Mulia dan Tuan Putri tentu risau hati dan was-was karena harus menjalani semua ini tanpa mengetahui isi hati orang-orang. Tapi dunia tidak hanya berisi orang-orang seperti mereka yang mengkhianati Yang Mulia. Paling tidak, di saat ter- akhir ini, semua yang mengelilingi tuanku telah menyatu dalam jiwa dan raga. Kini Yang Mulia dapat melalui gerbang kematian dengan kepala tegak dan lapang dada." Sozo meluruskan badan dan berjalan menghampiri istrinya yang berada bersama para dayangnya.

Tiba-tiba terdengar pekikan bocah cilik yang menyayat hati, dan Katsuyori berseru dengan kalut. "Sozo! Apa yang kaulakukan?"

Sozo telah menikam putranya yang berusia empat tahun di depan mata istrinya, dan kini perempuan itu tersedu sedan. Tanpa meletakkan pedangnya yang berlumuran darah, dari jauh Sozo bersujud ke arah Katsuyori.

"Sebagai bukti ucapan hamba, hamba baru saja mengirim putra hamba mendului kita di jalan kematian. Kalau tidak, dia tentu hanya akan menjadi beban. Tuanku, hamba akan menyertai tuanku; entah hamba akan menjadi yang pertama atau yang terakhir, semuanya akan selesai dalam sekejap."

Betapa sedih melihat kembang-kembang Yang kutahu akan gugur

Beranjak menduluiku. Tak satu pun bertahan

Sampai musim semi berakhir.

Sambil menutupi wajah dengan lengan kimono, istri Katsuyori menembangkan bait-bait ini dan menangis. Salah satu dayangnya menahan air mata dan melanjutkan.

Tatkala mekar Jumlahnya tak terhitung

Namun seiring akhir musim semi Semuanya gugur, tak satu pun tersisa.

Ketika suaranya bertambah lemah, beberapa perempuan mencabut belati dan menikam dada atau tenggorokan masing-masing. Darah mengalir mem- basahi rambut mereka yang hitam. Tiba-tiba sebatang panah melesat, dan tak lama kemudian daerah sekitar mereka dihujani anak panah. Letusan senapan meng- gema di kejauhan.

"Mereka datang!" "Bersiaplah, tuanku!"

Para prajurit bangkit bersama-sama. Kaisuyori me- mandang putranya, memastikan ketetapan hati Taro. "Kau siap?"

Taro berdiri dan membungkuk. "Aku siap mati di sisi Ayah."

"Saat perpisahan telah tiba." Ketika ayah dan anak hendak menerjang barisan musuh, istri Katsuyori ber- seru dari belakang. "Aku akan pergi lebih dulu."

Katsuyori berdiri tak bergerak. Pandangannya ter- tuju pada istrinya. Sambil menggenggam sebilah pedang pendek, perempuan itu menengadah dan me- mejamkan mata. Wajahnya seputih dan sesempurna rembulan yang tampak di atas gunung. Dengan tenang ia menembangkan sebuah bait dari Sutra Lotus, yang dulu suka ditembangkannya.

"Tsuchiya! Tsuchiya!" Katsuyori memanggil. "Tuanku?"

"Bantu dia."

Tapi istri Katsuyori tidak menanti pedang laki-laki itu, dan menancapkan belatinya ke dalam mulut sambil terus menembang.

Begitu sosok perempuan itu roboh ke depan, salah satu dayang mengajak mereka yang tertinggal. "Tuan Putri telah mendului kita. Kita semua harus menyertainya di jalan kematian." Dengan kata-kata itu, ia menikam tenggorokannya dan roboh.

"Waktunya sudah riba." Sambil menangis dan saling memanggil, dalam sekejap kelima puluh perempuan itu bertebaran seperti bunga-bunga di pekarangan yang diterpa badai musim dingin. Mereka tergeletak menyamping atau menelungkup, atau menikam diri sambil berpelukan. Di tengah-tengah adegan menyedihkan ini terdengar tangis anak-anak yang belum diberi makan atau terlalu kecil untuk meninggalkan pangkuan ibu mereka.

Tergesa-gesa Sozo menaikkan empat perempuan beserta anak-anak ke atas kuda dan mengikat mereka ke pelana.

"Kalian takkan dianggap durhaka jika kalian tidak gugur di sini. Kalau kalian berhasil menyelamatkan diri, besarkanlah anak-anak kalian dan pasukan mereka mengadakan upacara peringatan bagi marga bekas junjungan mereka yang malang." Sozo memarahi para ibu yang meratap-ratap bersama anak- anak, lalu memukul ketiga kuda mereka dengan gagang tombaknya. Kuda-kuda itu segera berlari kencang, sementara para ibu dan anak-anak mereka terisak-isak dan meraung-raung.

Kemudian Sozo berpaling pada kedua adiknya. "Mari kita hadapi." Pada waktu itu mereka sudah dapat melihat wajah para prajurit Oda yang mendaki lereng gunung. Katsuyori dan putranya telah di- kepung musuh. Ketika Sozo bergegas untuk mem- bantu mereka, ia melihat salah seorang pengikut junjungannya melarikan diri ke arah berlawanan.

"Pengkhianat!" Sozo berseru, mengejar orang itu. "Mau ke mana kau?" Dan ia menikam orang itu dari belakang. Kemudian, sambil membersihkan darah yang menempel pada pedangnya, ia menerjang barisan musuh. "Aku perlu busur lagi! Sozo, berikan busur baru padaku!" Sudah dua kali tali busur Katsuyori putus, dan kini ia meraih busur baru. Sozo berdiri di sisi junjungannya, melindunginya sebaik mungkin. Setelah Katsuyori melepaskan semua anak panahnya, ia mencampakkan busur dan memungut tombak. kemudian mengacungkan pedang panjang. Ketika itu musuh sudah berada di depan matanya, dan per- tempuran pedang melawan pedang takkan ber- langsung lama.

"Inilah akhir perjalanan kita!"

"Yang Mulia Katsuyori! Yang Mulia Taro! Hamba akan mendului Yang Mulia berdua!"

Sambil saling memanggil, orang-orang Takeda yang masih tersisa pun diempaskan musuh. Baju tempur Katsuyori penuh bercak merah.

"Taro!" Ia memanggil putranya, tapi pandangannya kabur karena cucuran darahnya sendiri.

"Yang Mulia! Hamba masih di sini! Sozo masih di sisi tuanku!"

"Sozo, cepat aku akan melakukan seppuku."

Sambil bersandar pada bahu orang itu, Katsuyori mundur sekitar seratus langkah. Ia berlutut, tapi karena tubuhnya penuh luka tombak dan pedang, ia tak sanggup mempergunakan kedua tangannya. Semakin keras ia berusaha, semakin sedikit tangannya berfungsi.

"Ampunilah hamba." Tak kuasa menyaksikannya lebih lama. Sozo cepat-cepat bertindak dan me- menggal kepala junjungannya. Ketika Katsuyori roboh ke depan, Sozo meraih kepalanya dan meratap sedih.

Setelah menyerahkan kepala Katsuyori pada adiknya yang terkecil, Sozo menyuruhnya lari. Tapi, sambil berurai air mata, anak muda itu menegaskan bahwa ia akan mati bersama kakaknya.

"Bodoh! Pergi sekarang!" Sozo mendorongnya, tapi terlambat. Para prajurit musuh yang mengepung mereka menyerupai lingkaran besi. Dengan tubuh penuh luka akibat pedang dan tombak, kedua Tsuchiya bcrsaudara gugur dengan gagah.

Adik Sozo yang satu lagi dari awal sampai akhir terus berada di sisi putra Katsuyori. Kedua-duanya tercampak dan terbunuh pada saat yang sama. Taro dipandang sebagai pemuda tampan, dan penulis Riwayat Hidup Nobunaga pun, yang tidak memper- lihatkan simpati ketika menceritakan kematian marga Takeda, menyanjung kematiannya yang indah.

Karena baru berusia lima belas tahun dan berasal dari keluarga terpandang, wajah Taro sangat halus dan kulitnya putih bagaikan salju. Kegagahannya melebihi orang-orang lain, ia enggan mencemari nama keluarga, dan mempertahankan semangat ini sampai kematian ayahnya,

*** Pada Jam Ular, pertempuran itu usai. Itulah saat marga Takeda terhapus dari muka bumi.

Para prajurit Oda yang menyerbu Kiso dan Ina berkumpul di Suwa, dan akhirnya memadati kota itu. Markas Nobunaga terletak di Kuil Hoyo. Pada hari kedua puluh sembilan, pengumuman mengenai pem- berian penghargaan untuk seluruh pasukan ditempel- kan di gerbang kuil, dan keesokan harinya Nobunaga dan jendral-jendralnya mengadakan jamuan makan untuk merayakan kemenangan-kemenangan mereka.

"Sepertinya Tuan Mitsuhide minum cukup banyak hari ini. Tidak biasanya Tuan berbuat demikian," Takigawa Kazumasu berkata pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.

"Aku mabuk, tapi apa yang harus kulakukan?" Mitsuhide memang kelihatan mabuk, dan ini bukan pemandangan biasa. Wajahnya, yang oleh Nobunaga kerap disamakan dengan buah jeruk, tampak merah sampai ke garis rambut yang sudah mulai mundur.

"Bagaimana kalau satu cawan lagi?" Sambil minta tambah sake, Mitsuhide terus berbicara dengan sikap riang berlebihan. "Kita takkan sering mengalami kejadian menggembirakan seperti ini, meskipun kita berumur panjang. Coba lihat itu. Kita memperoleh hasil dan jerih payah selama bertahun-tahun—bukan hanya di balik tembok-tembok ini atau hanya di Suwa—kini Kai maupun Shinano telah terbenam di bawah panji dan pataka sekutu-sekutu kita. Hasrat yang begitu lama tersimpan dalam dada akhirnya ter- wujud di depan mata." Suaranya, seperti biasa, tidak seberapa keras, tapi kata-katanya terdengar cukup jelas oleh setiap orang yang hadir. Semua orang yang semula berbincang-bincang dengan berisik kini ter- diam, memandang bolak-balik antara Nobunaga dan Mitsuhide.

Pandangan Nobunaga melekat pada kepala Mitsuhide yang botak. Ada kalanya mata yang terlalu jeli menemukan keadaan sumbang yang sebaiknya dibiarkan terselubung; ini mengundang bencana yang tak perlu. Sudah dua hari Nobunaga memandang Mitsuhide dengan cara seperti itu. Mitsuhide berusaha keras menampilkan sikap ceria dan banyak omong yang sesungguhnya tidak cocok baginya, padahal menurut Nobunaga, Mitsuhide sama sekali tak punya alasan untuk berbuat demikian. Sikap Nobunaga bukannya tanpa sebab; dalam memberi penghargaan, Mitsuhide sengaja dilewatinya.

Diabaikan dalam pemberian penghargaan merupa- kan pukulan berat bagi seorang prajurit, dan rasa malu karena dianggap tak berjasa bahkan lebih menyiksa daripada perlakuan kasar itu sendiri. Namun Mitsuhide tak sedikit pun memperlihatkan kesedihan. Justru sebaliknya, ia bergabung dengan para jendral lain, mengobrol dengan gembira dan mengumbar senyum.

Itu tidak jujur. Mitsuhide termasuk laki-laki yang tak sanggup membuka diri sepenuhnya dan kurang disukai orang. Kenapa ia tak bisa menggerutu, sekali saja? Semakin lama Nobunaga memandang Mitsuhide, semakin panas hatinya. Perasaannya ter- pengaruh karena ia sedang mabuk, tapi reaksinya timbul dengan sendirinya. Hideyoshi tidak hadir, namun seandainya Nobunaga menatap Hideyoshi, bukannya Mitsuhide, ia takkan terpancing untuk berpikiran seperti itu. Kalau berhadapan dengan Ieyasu pun ia tak mungkin segusar sekarang. Tapi saat ia melihat Mitsuhide, sorot matanya mendadak berubah. Dulu tidak seperti ini, dan ia tidak tahu pasti kapan perubahan ini terjadi.

Tapi ini bukan masalah perubahan mendadak pada waktu atau kesempatan tertentu. Dan sesungguhnya, kalaupun hendak dicari-cari, orang akan menemukan bahwa pada suatu ketika—karena rasa terima kasih yang berlebihan—Nobunaga mem- percayakan Benteng Sakamoto pada Mitsuhide, mem- berikan benteng di Kameyama padanya, mengatur pernikahan putrinya, dan akhirnya menganugerahkan provinsi senilai lima ratus ribu gantang.

Kala itu Nobunaga amat bermurah hati terhadap Mitsuhide, tapi tak lama kemudian sikapnya mulai berubah. Dan untuk itu ada satu sebab yang jelas: Pembawaan serta warak Mitsuhide tidak menunjuk- kan kesediaan untuk mengubah diri. Setiap kali Nobunaga melihat gilapan di bawah garis rambut si "Kepala Jeruk" yang tak pernah membuat kesalahan, walau hanya satu kali, perasaan Nobunaga terarah pada apa yang dianggapnya sebagai sisi buruk watak Mitsuhide. Hatinya serasa terbakar.

Jadi, Nobunaga tidak sewenang-wenang meng- hakimi Mitsuhide, melainkan Mitsuhide sendiri yang memperburuk keadaan. Kedongkolan Nobunaga, yang tercermin dalam ucapan dan roman mukanya, semakin menumpuk setiap kali Mitsuhide memamer- kan daya pikirnya yang cemerlang. Sesungguhnya, mencari siapa yang salah tak ubahnya menentukan apakah tangan kiri atau tangan kanan yang bertepuk lebih dulu. Dan kini Mitsuhide sedang berbincang- bincang dengan Takigawa Kazumasu, sedangkan sepasang mata yang terus menatapnya sama sekali tidak menyorot gembira.

Miisuhide menyadarinya, dan Nobunaga tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

"Hei. Kepala Jeruk."

Mitsuhide mengendalikan diri dan bersujud di depan kaki Nobunaga. Dua-tiga kali ia merasakan rusuk-rusuk sebuah kipas mengenai tengkuknya.

"Ya, tuanku?" Wajah Mitsuhide tiba-tiba memucat. "Enyahlah dari ruangan ini!" Nobunaga meng- angkat kipasnya, tapi kipas yang menuding ke selasar

tampak persis seperti sebilah pedang.

"Hamba tidak tahu apa yang telah hamba perbuat, tapi jika hamba menyinggung Yang Mulia dan para hadirin, hamba tidak tahu ke mana hamba harus ber- paling. Sudikah Yang Mulia menguraikan kesalahan hamba? Hamba tidak keberatan dicela di sini juga." Sambil memohon maaf, ia tetap bersujud, menggeser- geser badannya, dan entah bagaimana merangkak ke scrambi yang lebar.

Nobunaga mengikutinya. Orang-orang yang memenuhi ruangan bertanya-tanya, apa gerangan masalahnya. Pikiran mereka segera kembali jernih, dan mulut mereka terasa kering. Ketika mendengar bunyi gedebuk dari serambi berlantai kayu, para jendral yang semula memalingkan wajah dari sosok Mitsuhide yang mengibakan pun kembali me- mandang ke luar ruangan.

Nobunaga telah melcmparkan kipasnya ke belakang. Para jendral melihat bahwa ia sedang men- jambak rambut Mitsuhide. Setiap kali laki-laki malang itu berusaha mengangkat kepala untuk mengatakan sesuatu, Nobunaga menyentakkannya dan mem- benturkannya ke pagar serambi.

"Apa katamu? Apa kaubilang? Sesuatu mengenai hasil yang kita peroleh setelah segala jerih payah, dan bahwa hari ini hari bahagia karena pasukan marga Oda telah menaldukkan Kai? Itu yang kaukatakan. bukan?"

"Be... benar."

"Bodoh! Sejak kapan kau berjerih payah? Apa jasamu dalam penyerbuan ke Kai?"

"Hamba ..." "Apa?"

"Meski mabuk, tak sepatutnya hamba mengucap- kan kata-kata secongkak itu."

"Betul sekali. Kau tak berhak bersikap congkak. Kau sembrono dengan apa yang kausembunyikan di dalam benakmu. Kaupikir aku terlalu sibuk minum dan mendengarkan orang lain, sehingga kau merasa mendapat keecmpatan untuk mengeluh."

"Ampun, tuanku! Hamba tidak berpikiran demikian. Para dewa langit dan bumi menjadi saksi! Sudah begitu lama hamba menerima kebaikan hati Yang Mulia. Yang Mulia-lah yang mengangkat harkat hamba sejak hamba masih berpakaian compang- camping dan hanya memiliki scbilah pcdang..."

"Diam!

"Perkenankanlah hamba menarik diri."

"Tentu!" Nobunaga mencampakkannya. "Ran- maru! Air!" ia berseru keras-keras. Ranmaru mengisi sebuah bejana dengan air dan memberikan nya pada Nobunaga. Ketika Nobunaga mereguk air itu, sorot matanya menyala-nyala.

Mitsuhide telah bergeser sejauh dua atau tiga meter dari kaki junjungannya, merapikan baju, dan mengusap-usap rambut. Ia bersujud begitu rendah, sehingga dadanya menempel di lantai kayu. Sikap Mitsuhide memberi kesan yang tidak menguntung- kan, dan Nobunaga segera mulai mengejarnya lagi.

Seandainya Ranmaru tidak menahannya, kemung- kinan besar lantai serambi akan bergetar lagi. Ranmaru tidak secara langsung menyinggung adegan yang berlangsung di depan matanya, melainkan hanya berkata. "Sudikah tuanku kembali ke tempat duduk tuanku? Yang Mulia Nobutada, Yang Mulia Nobusumi, Yang Mulia Niwa, dan para jendral menunggu."

Nobunaga menurut dan kembali ke ruangan yang ramai, tapi tidak duduk. Sambil berdiri ia menatap berkeliling,

"Maafkan aku. Sepertinya aku telah merusak suasana. Nikmatilah makanan dan minuman sepuas hati." Setelah mengucapkan kata-kata ini, ia cepat- cepat berlalu dan mengunci diri di ruang pribadinya.

***

Sekawanan burung layang-layang mengerik di bawah lis atap di daerah pergudangan. Walaupun matahari sedang terbenam, burung-burung dewasa rupanya masih membawakan makanan bagi anak-anak mereka.

"Itu bisa dijadikan objek lukisan, bukan?" Di salah satu ruangan sebuah bangunan yang terletak agak jauh dari pekarangan yang luas, Saito Toshimitsu, seorang pengikut senior marga Akechi, sedang menerima tamu. Tamu itu bernama Yoshu, dan ia bukan penduduk asli Suwa. Usianya sekitar lima puluh tahun, dan perawakannya yang kekar tidak mencerminkan bahwa ia pelukis. Ia hanya sedikit bicara. Suasana temaram mulai meliputi deretan gudang.

"Hamba minta maaf karena telah mengganggu Tuan di masa perang seperti ini, dan hanya mem- bicarakan urusan membosankan seorang laki-laki yang tak lagi terlibat dengan dunia ini. Hamba yakin Tuan tentu sibuk dengan berbagai tugas penting." Yusho rupanya hendak berpamitan dan mulai bangkit.

"Jangan dulu." Saito Toshimitsu laki-laki yang sangat berwibawa, dan bahkan tanpa bergerak ia menahan tamunya.

"Karena Tuan sudah jauh-jauh kemari, rasanya tidak patut kalau Tuan pergi sebelum menemui Yang Mulia Mitsuhide. Jika setelah Tuan pergi aku mem- beritahu Yang Mulia bahwa Yusho sempat ber- kunjung ketika beliau sedang tidak ada, beliau tentu akan menegurku dan bertanya kenapa aku tidak menahan Tuan di sini." Dan dengan sengaja ia menyinggung topik baru, berusaha menghibur tamu tak terduga itu. Saat itu Yusho mempunyai rumah di Kyoto, tapi sebenarnya ia berasal dari Omi di provinsi Mitsuhide. Bukan itu saja, pada suatu ketika, Yusho sempat menerima upah prajurit dari marga Saito di Mino. Pada waktu itu Toshimitsu—lama sebelum ia menjadi pengikut marga Akechi—mengabdi marga Saito.

Setelah menjalani hidup sebagai ronin, Yusho men- jadi seniman, menunjuk jatuhnya Gifu sebagai alasan. Toshimitsu pun telah memutuskan hubungan dengan marga Saito. Perpecahan yang timbul antara Toshimitsu dan bekas-bekas junjungannya bahkan diperlihatkan di depan Nobunaga, dan pertengkaran terus berlangsung, seakan-akan mereka minta pen- dapat Nobunaga. Tapi kini semua orang telah me- lupakan cerita-cerita yang kala itu sempat meng- gemparkan masyarakat, dan mereka yang memandang rambut putih Toshimitsu menganggapnya pengikut yang tak tergantikan bagi marga Akechi. Semua orang menghormati pembawaannya dan kedudukannya se- bagai pengetua.

Tempat penginapan di markas Nobunaga di Kuil Hoyo tidak mencukupi, sehingga beberapa jendral tinggal di berbagai rumah di Suwa.

Orang-orang Akechi menempati gedung-gedung kuno milik seorang saudagar, dan para prajurit maupun para perwira mereka melepas lelah sehabis bertempur sengit selama berhari-hari.

Seorang pemuda yang tampaknya putra tuan rumah datang dan berbicara dengan Toshimitsu.

"Bagaimana kalau Tuan mandi dulu? Semua samurai, bahkan para prajurit infanteri pun, sudah selesai makan malam."

"Tidak, aku akan menunggu sampai Yang Mulia kembali."

"Malam ini Yang Mulia pergi agak lama, bukan?" "Hari ini ada jamuan makan untuk merayakan

kemenangan di markas besar. Yang Mulia jarang menyentuh sake, tapi mungkin beliau minum sedikit dan agak mabuk karena ikut bersulang."

"Barangkali hamba bisa menyajikan makan malam untuk Tuan?" "Tidak, tidak. Nanti saja, kalau Yang Mulia sudah kembali. Tapi aku agak kasihan pada tamu yang ku- tahan di sini. Maukah kau mengantarnya ke pemandian?"

"Maksud Tuan, scniman yang berada di sini sepanjang sore?"

"Benar. Itu orangnya, yang sedang duduk menyendiri sambil memandang bunga peoni di pekarangan. Dia kelihatan agak jemu. Coba kau- panggil dia ke sini.

Pemuda itu menarik diri. lalu memandang ber- keliling di belakang bangunan. Di depan serumpun semak peoni yang sedang berbunga, Yusho duduk sambil memegang lutut, menatap dengan pandangan kosong. Beberapa saat kemudian, ketika Toshimitsu melewati gerbang, baik pemuda itu maupun Yusho sudah pergi.

Toshimitsu merasa was-was. Meski menyadari bahwa perayaan kemenangan itu akan berlangsung sampai larut malam, ia bertanya-tanya mengapa Mitsuhide belum juga kembali.

Setelah melewati gerbang kuno beratap jerami, jalan setapak yang disusurinya menyatu dengan jalan raya di tepi danau. Matahari yang telah terbenam masih memancarkan cahaya yang berkelip redup di langit sebelah barat Danau Suwa. Cukup lama Toshimitsu memandang ke ujung jalan. Dan akhirnya ia melihat junjungannya, diikuti rombongan berkuda, pasukan tombak, dan para pembantunya. Tapi kecemasan Toshimitsu mengenai junjungannya tidak berkurang ketika mereka mendekat. Ada sesuatu yang ganjil. Penampilan Mitsuhide bukan seperti orang yang baru kembali dari suatu perayaan kemenangan. Seharusnya ia pulang dengan gagah, terayun-ayun di atas kudanya, dalam keadaan mabuk karena sake yang disajikan. Tapi Mitsuhide malah berjalan kaki. seakan-akan patah semangat.

Seorang prajurit menuntun kudanya yang me- langkah lesu, sementara para pembantu di belakang berjalan dengan sikap sama.

"Hamba menunggu di sini untuk menyambut kedatangan Yang Mulia. Yang Mulia tentu lelah." Ketika Toshimitsu membungkuk di hadapannya. Mitsuhide tampak terkejut.

"Toshimitsu? Ah, betapa lalainya aku. Rupanya kau cemas karena aku pulang begitu lama. Maafkan aku. Aku minum agak banyak hari ini, jadi aku sengaja pulang berjalan kaki menyusuri danau, agar kepalaku tidak terlalu berat. Jangan hiraukan tampangku. Aku merasa sudah lebih baik sekarang."

Toshimitsu segera menyadari bahwa majikannya telah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Sudah bertahun-tahun ia menjadi pembantu dekat Mitsuhide, jadi hal semacam ini takkan lolos dari perhatiannya. Namun ia tidak menanyakannya lebih lanjut. Pengikut tua itu cepat-cepat mengurus keperluan majikannya, sambil berharap agar itu bisa menghiburnya. "Bagaimana dengan secawan teh, dan setelah itu mandi air panas?"

Reputasi Toshimitsu dapai membuat musuh gemetar ketakutan di medan laga, tapi ketika ia membantu Mitsuhide melepaskan pakaian, Mitsuhide hanya dapat memandangnya sebagai kerabat tua yang mencemaskan dirinya.

"Mandi? Ya. Mandi tentu amat menyegarkan di saat seperti ini." Dan ia mengikuti Toshimitsu ke pemandian.

Selama beberapa waktu Toshimitsu mendengarkan Mitsuhide bercebar-cebur di dalam bak air panas. "Bagaimana kalau hamba menggosok punggung Yang Mulia?" ia berseru dari luar.

"Suruh pelayan saja masuk ke sini," balas Mitsuhide. "Rasanya tidak pada tempatnya kalau aku memaksa tubuhmu yang tua bekerja seperti itu."

"Tidak apa-apa."

Toshimitsu memasuki pemandian, mengaduk air panas dengan ember kayu kecil, dan berjalan kc belakang majikannya. Tentunya ia belum pernah melakukan hal serupa, tapi saat itu ia hanya ingin membangkitkan semangat majikannya.

"Pantaskah seorang jendral menggosok-gosok punggung orang lain?" tanya Mitsuhide. Sekarang pun ia bersikap merendah. Ia selalu menjaga jarak, bahkan terhadap para pengikutnya sendiri, dan sesungguhnya patut dipertanyakan apakah sifat ini baik atau buruk. Toshimitsu menganggapnya sebagai sifat yang tidak menguntungkan.

"Kalau prajurit tua ini bertempur membela panji Yang Mulia, dia adalah Saito Toshimitsu dari marga Akechi. Tapi Toshimitsu sendiri tidak berdarah Akechi. Karena itu, menggosok-gosok punggung Yang Mulia, biarpun hanya satu kali ini, merupakan kenangan bagi hamba."

Toshimitsu menggulung lengan baju dan mulai membersihkan punggung majikannya. Ketika pung- gungnya digosok-gosok, Mitsuhide menundukkan kepala. Ia merenungkan keprihatinan yang diper- lihatkan Toshimitsu, serta hubungan antara dirinya dan Nobunaga.

Ah, aku memang salah, pikirnya. Di lubuk hati yang paling dalam. Mitsuhide menyalahkan dirinya. Apa yang mengganggu pikiran Mitsuhide dan membuatnya begitu risau? Nobunaga merupakan majikan yang baik, tapi apakah pengabdian Mitsuhide sebanding dengan pengabdian pengikut tua yang kini menggosok-gosok punggungnya? Betapa memalukan. Rasanya seakan-akan Toshimiuu membilas sanubari- nya dengan air panas yang kini disiram ke punggungnya.

Ketika keluar dari pemandian, baik penampilan maupun nada suara Mituhide telah berubah. Pikirannya sudah kembali jernih, dan Toshimitsu pun menyadarinya.

"Memang lebih enak setelah mandi, persis seperti yang kausarankan. Barangkali aku terlalu lelah tadi, dan masih terpengaruh sake yang kuminum." "Yang Mulia merasa lebih baik sekarang?"

"Aku tidak apa-apa, Toshimiuu. Jangan khawatir." "Hamba cemas karena Yang Mulia kelihatan risau

tadi. Baiklah, ada yang perlu hamba sampaikan. Sementara Yang Mulia pergi, kami kedatangan tamu. Dia sedang menunggu yang Mulia."

"Tamu? Di barak ini?"

"Yusho kebetulan berada di Kai, dan dia bilang bahwa sebelum pergi ke tempat-tempat lain, dia ingin bertemu dan menanyakan keadaan Yang Mulia."

"Di mana dia sekarang ?"

"Hamba mempersilakannya menunggu di kamar hamba."

"O ya? Kalau begitu, mari kita ke sana."

"Dia tentu akan merasa sungkan kalau sang tuan rumah menghampiri tamunya. Hamba akan me- mintanya datang ke sini."

"Jangan, jangan. Tamu kita ini seorang seniman.

Kita tak perlu bersikap terlalu kaku."

Jamuan makan malam yang mewah untuk Mitsuhide telah disiapkan di bangsal di bangunan utama, tapi ia memilih duduk di kamar Toshimitsu dan makan seadanya bersama tamunya.

Setelah berbincang-bincang selama beberapa waktu dengan Yusho, wajahnya semakin cerah. Ia ber- tanya mengenai gaya lukisan dinasti Sung Utara dan Selatan di Ncgcri Cina, membahas selera Shogun Ashikaga Yoshimasa dan kelebihan aliran lukisan Tosa, serta membicarakan segala sesuatu mulai dan gaya Kano sampai pengaruh seni lukis Belanda. Selama perbincangan itu, tampak jelas bahwa pen- didikan yang dienyam Mitsuhide tidak dangkal.

"Kalau sudah tua nanti, rasanya aku akan me- nekuni kegiatan yang lebih tenang, dan mungkin bahkan mencoba melukis. Barangkali, sebelumnya, Tuan bisa membuatkan buku contoh bergambar untukku."

"Tentu, Yang Mulia."

Yusho telah berusaha menyamai gaya seniman Cina kuno, Liang K'ai. Belakangan ia telah mengem- bangkan aliran sendiri, terlepas dari tradisi Kano maupun Tosa, dan akhirnya ia berhasil merebut tempat terhormat di dunia seni. Ketika Nobunaga memintanya menghiasi dinding-dinding geser di Azuchi, ia berpura-pura sakit dan menolak. Bagai- manapun, Yusho pernah menjadi pengikut marga Saito yang dihancurkan oleh Nobunaga. Dapat dimengerti kalau Yusho tidak rela menghiasi tempat tinggal Nobunaga dengan goresan kuasnya.

Ungkapan "lembut di luar, keras di dalam" patut digunakan untuk menjelaskan watak Yusho. Yusho tak dapat mempercayai logika yang mendasari ke- hidupan Mitsuhide. Seandainya Mitsuhide ter- sandung, walau hanya satu kali, ia akan menjebol bendungan yang menahan perasaannya dan akan ter- gelincir ke arah yang fatal. Mitsuhide tidur nyenyak malam itu. Mungkin karena ia baru mandi, atau karena tamu yang tak terduga dan menyenangkan.

Para prajurit bangun sebelum matahari terbit, memberi makan kuda-kuda, mengenakan baju tempur, menyiapkan perbekalan, dan kini menunggu junjungan mereka. Pagi itu mereka harus berkumpul di Kuil Hoyo, bertolak dari Suwa, dan menuju Kofu. Kemudian mereka akan menyusuri jalan pesisir dan kembali ke Azuchi dengan gilang-gemilang.

"Sebaiknya Yang Mulia segera bersiap-siap," Toshimitsu berkata pada Mitsuhide.

"Toshimitsu, semalam aku tidur nyenyak!" "Hamba gembira mendengarnya."

"Kalau Yusho berangkat nanti, sampaikan salam hangat dariku dan bekali dia dengan sejumlah uang untuk perjalanan."

"Tapi, Yang Mulia, ketika hamba bangun tadi pagi dan mencari-carinya, hamba menemukan bahwa dia sudah pergi. Rupanya dia terbangun bersama para prajurit sebelum matahari terbit."

Kehidupannya mengirikan hati, pikir Mitsuhide sambil menatap langit.

Saito Toshimitsu membuka segulung kertas. "Dia meninggalkan ini. Hamba pikir dia lupa mem- bawanya, tapi waktu hamba mengamatinya dari dekat, ternyata tintanya belum mengering. Kemudian hamba teringat bahwa Yang Mulia memintanya mem- buatkan buku contoh bergambar. Hamba rasa dia mengerjakannya sepanjang malam." "Apa? Dia tidak tidur?"

Mitsuhide memandang sekilas gulungan itu. Kertasnya tampak lebih putih dalam cahaya pagi, dan di atasnya terlihat dahan peoni yang baru saja dilukis. Goresan kuas di pojok lukisan itu berbunyi. Kesentosaan, inilah kemuliaan.

Kesentosaan, inilah kemuliaan, Mitsuhide berkata

dalam hati ketika ia kembali membuka gulungan itu. Kini ia mellihat lukisan lobak besar, dan di samping- nya tertulis. Menerima tamu merupakan cita rasa.

Lobak itu dilukis dengan tinta India, dan garis- garisnya mengalir lembut. Jika dipandang dengan saksama, bau tanahnya seakan-akan tercium. Lobak ini bertungsi sebagai akar bagi daun tunggal, dan daun itu seolah-olah penuh semangat hidup. Penampilannya yang liar seakan-akan menertawakan Mitsuhide yang selalu penuh perhitungan.

Mitsuhide terus mcmbuka gulungan kertas, tapi ternyata tidak ada apa-apa lagi. Sebagian besar hanya berupa kertas kosong.

"Rupanya dia menghabiskan sepanjang malam untuk membuat dua lukisan ini."

Toshimitsu juga terkesan, dan membungkuk untuk menikmati lukisan itu bersama Mitsuhide.

Mitsuhide tampaknya enggan melihatnya lebih lama, dan minta agar Toshimitsu menggulungnya.

Pada saat itulah suara sangkakala terdengar di kejauhan, isyarat dari markas besar di Kuil Hoyo agar seluruh pasukan bersiap-siap. Di kancah perang berdarah, sangkakala merupakan sesuatu yang amat menakutkan dan mengumandangkan getaran menye- dihkan. Namun pagi itu suaranya terdengar lembut, bahkan hampir menenangkan.

Tak lama kemudian Mitsuhide pun sudah duduk di atas kudanya. Wajahnya pada pagi itu menyerupai Pegunungan Kai, tanpa awan dan sedikit pun tanpa bayang-bayang kelabu.