--> -->

Taiko Bab 27 : Kaum Padri

Bab 27 : Kaum Padri

WALAUPUN Hideyoshi dan Nobunaga berdiam di tempat yang saling berjauhan, Hideyoshi merasa bahwa pengiriman berita secara berkala ke Azuchi merupakan salah satu kewajibannya sebagai panglima perang. Dengan cara ini, Nobunaga memperoleh gambaran umum mengenai situasi di provinsi-provinsi Barat, sehingga ia merasa tenteram.

Setelah menyaksikan keberangkatan Hideyoshi ke provinsi-provinsi Barat. Nobunaga menyambut Tahun Baru di Azuchi. Tahun Kesepuluh Tensho telah tiba. Suasana Tahun Baru lebih semarak dibandingkan tahun lalu, dan perayaannya diiringi kecelakaan. Kejadian berikut tercatat dalam Riwayat Hidup Nobunaga:

Ketika para pembesar provinsi, sanak saudara, dan orang- orang lain berdatangan ke Azuchi untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru kepada Yang Mulia, desakan massa begitu kuat, sehingga sebuah tembok runtuh dan banyak yang tewas tertimbun bebatuan yang jatuh. Kekacauan besar tak terelakkan.

"Kenakan biaya seratus mon pada setiap tamu yang datang pada hari pertama, tanpa memandang siapa orangnya," Nobunaga memerintahkan pada malam Tahun Baru. "Sudah sewajarnya orang membayar pajak kunjungan, karena diperkenankan menghadap- ku untuk mengucapkan selamat Tahun Baru."

Tapi bukan itu saja. Sebagai imbalan atas pajak kunjungan yang dibayar, Nobunaga juga membuka bagian-bagian benteng yang biasanya tertutup untuk umum.

Tempat-tempat penginapan di Azuchi sudah lama dipesan habis oleh para pelancong tamasya—para pembesar, saudagar, cerdik pandai, dokter, seniman, pengrajin, serta para samurai dari segala tingkatan. Semuanya tak sabar menanti kesempatan melihat Kuil Sokenji, melewati Gerbang Luar, dan menuju Gerbang Ketiga, lalu dari sana melintasi daerah hunian dan memasuki taman pasir putih, untuk kemudian menghaturkan selamat Tahun Baru pada junjungan mereka.

Para pengunjung Tahun Baru menyusuri benteng, memandang ruang demi ruang. Mereka mengagumi pintu-pintu geser yang dihiasi lukisan Kano Eitoku. terpukau oleh tikar-rikar tatami dengan pinggiran berupa brokat Korea, dan dibuat tercengang oleh dinding-dinding yang dipoles dan dilapisi emas.

Para pengawal menggiring massa keluar lewat gerbang istal, tapi tanpa diduga jalan mereka terhalang oleh Nobunaga dan beberapa pembantunya.

"Jangan lupa membayar sumbangan! Masing-masing seratus mon!" Nobunaga berseru. Ia menerima uang itu dengan tangannya sendiri dan melemparkannya ke belakang. Dengan cepat tumpukan keping uang di belakangnya mulai menggunung. Uang itu dimasuk- kan ke dalam kantong-kantong oleh sejumlah prajurit, lalu diberikan kepada pejabat-pejabat yang berwenang dan dibagi-bagikan pada kaum papa di Azuchi. Jadi, dengan hati senang Nobunaga membayangkan bahwa selama Tahun Baru tak ada yang perlu menahan lapar di Azuchi.

Ketika Nobunaga berbicara dengan pejabat yang bertugas mengumpulkan sumbangan, yang semula merasa rikuh karena Nobunaga hendak melibatkan diri dalam kegiatan yang demikian kampungan, orang itu terpaksa mengakui. "Gagasan Yang Mulia sungguh cemerlang. Orang-orang yang mengunjungi benteng mendapatkan kisah yang dapat mereka ceritakan sepanjang hayat, dan orang-orang miskin yang mem- peroleh 'sumbangan' akan menyebarkan beritanya. Semua orang menganggap keping-keping itu bukan uang biasa, melainkan uang yang telah tersentuh tangan Yang Mulia Nobunaga, dan karena itu sayang dikeluarkan lagi. Mereka bilang akan menggunakan- nya sebagai modal. Wah, para petugas pun merasa gembira. Hamba pikir kegiaran amal ini merupakan contoh baik untuk Tahun Baru berikut, dan untuk tahun-tahun mendatang."

Tapi di luar dugaan orang itu, Nobunaga menggelengkan kepala dengan dingin dan berkata, "Aku tidak akan melakukannya lagi. Membiarkan orang miskin terbiasa menerima sedekah merupakan kesalahan bagi orang yang memegang tampuk pemerintahan."

***

Bulan Pertama telah berlalu setengahnya. Setelah perhiasan Tahun Baru dicopot dari pintu-pintu rumah, para warga Azuchi menyadari bahwa sedang terjadi sesuatu—begitu banyak kapal memuat barang dan berlayar setiap hari.

Kapal-kapal itu, tanpa kecuali, berlayar dari bagian selatan danau ke arah utara. Dan ribuan bungkus beras dibawa lewat jalan darat oleh iring-iringan kuda dan gerobak yang panjang dan meliuk-liuk. Semuanya menuju utara.

Seperti biasa, jalan-jatan di Azuchi dipenuhi oleh pelancong-pclancong yang berlalu-lalang dan para pembesar yang datang dan pergi. Tak satu hari pun berlalu tanpa kurir yang memacu kudanya, atau kedatangan utusan dari provinsi lain.

"Kau tidak mau ikut?" Nobunaga berseru riang pada Nakagawa Sebei.

"Ke mana, tuanku?"

"Membawa elang untuk berburu!"

"Itu olahraga kesukaan hamba! Bolehkah hamba menyertai tuanku?"

"Sansuke, kau ikut juga."

Pada suatu pagi di awal musim semi, Nobunaga bertolak dari Azuchi. Rombongan yang menyertainya sudah ditentukan malam sebelumnya, tapi Nakagawa Sebei—yang baru tiba di benteng—ikut diajak, begitu juga putra Ikeda Shonyu, Sansuke.

Nobunaga gemar berkuda, menyukai gulat sumo, berburu dengan elang, dan upacara minum teh, tapi berburulah yang merupakan hiburan favoritnya.

Seusai acara berburu, para penabuh dan pemanah selalu letih sekali. Kegiatan seperti ini mungkin dianggap sebagai hiburan, namun Nobunaga tak pernah mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Dengan gulat sumo, misalnya, jika sebuah basho diadakan di Azuchi, ia akan mengumpulkan lebih dari seribu lima ratus pegulat dari Omi, Kyoto, Naniwa, dan provinsi-provinsi jauh lainnya. Para pembesar akan menonton beramai-ramai, dan Nobunaga pun seakan-akan tak jemu-jemunya menyaksikan per- tarungan demi pertarungan, walaupun malam telah larut. Ia justru menunjuk orang-orang dari kalangan pengikutnya sendiri dan menyuruh mereka naik ke arena.

Namun acara berburu ke Sungai Echi di Bulan Pertama itu tak lebih dari pesiar belaka, dan burung- burung elang pun tak dilepaskan. Setelah berhenti sejenak untuk melepas lelah, Nobunaga memberi perintah untuk kembali kc Azuchi.

Ketika rombongannya memasuki kota, Nobunaga mengekang kudanya dan berpaling ke sebuah bangunan yang tampak asing dan dikelilingi pepohonan. Gesekan biola mengalun dari salah satu jendela. Mendadak Nobunaga turun dari kuda dan melewati pintu beserta sejumlah pembantu.

Dua atau tiga padri Jesuit bergegas menyambutnya, tapi Nobunaga sudah melangkah memasuki bangunan itu.

"Yang Mulia!" para padri berseru kaget.

Inilah sekolah yang dibangun bersebelahan dengan Gereja Kebangkitan Yesus Kristus. Nobunaga merupa- kan salah satu orang yang membantu pendirian sekolah itu, tapi segala sesuatu, mulai dari kayu untuk keperluan konsituksi sampai ke perlengkapannya, di- sumbangkan oleh para pembesar provinsi yang telah beralih pada ajaran Nasrani.

"Aku ingin melihat bagaimana kalian mendidik murid-murid kalian," ujar Nobunaga. "Kukira mereka ada di sini."

Mendengar keinginan Nobunaga, para padri bersukaria dan saling memberitahu betapa besar kehormatan yang mereka peroleh. Tapi Nobunaga tidak memedulikan ocehan mereka, dan segera menaiki tangga.

Terburu-buru, nyaris panik, salah satu padri men- dului Nobunaga ke ruang kelas, dan memberitahu para murid bahwa mereka mendapat kunjungan tak terduga dari seorang tamu agung.

Bunyi biola mendadak berhenti, dan bisik-bisik para murid langsung dihentikan. Sejenak Nobunaga berdiri di mimbar dan memandang berkeliling. Baginya sekolah itu sungguh ganjil. Kursi-kursi dan meja-meja di dalam ruang kelas tampak asing di matanya, dan di atas setiap meja ada sebuah buku pelajaran. Seperti bisa diduga, semua murid merupa- kan putra para pembesar dan pengikut. Penuh hormat mereka membungkuk di depan Nobunaga.

Anak-anak itu berusia antara sepuluh dan lima belas tahun. Semuanya berasal dari keluarga ter- pandang, dan pemandangan yang terlihat, yang di- ilhami oleh kebudayaan Eropa yang asing namun menakjubkan, menyerupai taman bunga yang tak tertandingi oleh sekolah kuil Jepang mana pun di Azuchi.

Tapi pertanyaan mengenai sekolah mana—Nasrani atau Buddha—yang menawarkan pendidikan paling baik rupanya telah terjawab dalam benak Nobunaga, sehingga ia tidak kagum maupun terpesona pada apa yang dilihatnya. Ia meraih buku pelajaran seorang murid dari meja paling dekat, membolak-balik halamannya, lalu mengembalikannya pada pemiliknya.

"Siapa yang memainkan biola tadi?" ia bertanya. Salah seorang padri berbicara dengan para murid,

mengulangi pertanyaan Nobunaga.

Nobunaga segera paham. Baru sekarang para guru masuk ke ruang kelas, dan para murid memanfaatkan ketidakhadiran mereka untuk memainkan alat musik, berbincang-bincang, dan bercanda ria.

"Jerome yang memainkannya," ujar si Padri.

Semua murid menoleh pada satu anak yang duduk di tengah-tengah mereka. Nobunaga mengikuti arah pandangan mereka, dan matanya bertumpu pada seorang pemuda berusia empat belas atau lima belas tahun.

"Ya. Itu dia. Itu Jerome." Ketika si Padri menunjuk- nya, pemuda itu tersipu-sipu dan menundukkan kepala. Nobunaga sangsi apakah ia mengenalnya atau tidak.

"Siapa Jerome ini? Putra siapakah dia?" ia kembali bertanya.

Dengan keras padri tadi menegur anak itu. "Berdiri- lah, Jerome. Jawab pertanyaan Yang Mulia."

Jerome berdiri dan membungkuk.

"Hamba yang memainkan biola tadi, Yang Mulia." Ucapannya tegas, tanpa merendah: kelihatan jelas ia keturunan keluarga samurai.

Nobunaga terus menatap mata Jerome, tapi pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya.

"Apa yang kaumainkan tadi? Itu pasti musik bangsa barbar dari Selatan."

"Ya, benar. Hamba memainkan Mazmur Daud," Pemuda itu tampak sangat gembira. Ia bicara demikian lancar, seakan-akan sudah lama menanti- nanti kesempatan untuk menjawab pertanyaan sepeni itu.

"Siapa yang mengajarkannya padamu?" "Hamba belajar dari Padri Valignani." "Ah. Valignani."

"Yang Mulia mengenalnya?" tanya Jerome.

"Ya, aku pernah bertemu dengannya." balas Nobunaga. "Di mana dia sekarang?"

"Dia berada di Jepang selama Tahun Baru, tapi mungkin sudah bertolak dari Nagasaki dan kembali ke India lewat Macao. Menurut surat dari sepupu hamba, kapalnya seharusnya berlayar pada tanggal dua puluh."

"Sepupumu?" "Namanya Ito Anzio,"

"Aku belum pernah mendengar nama itu—'Anzio'.

Apa dia tak punya nama Jepang?"

"Dia keponakan Ito Yoshimasu. Namanya Yoshi- kata."

"Oh, begitu rupanya. Kerabat Ito Yoshimasu, penguasa Benteng Obi. Dan bagaimana denganmu?"

"Hamba putra Yoshimasu."

Nobunaga merasa geli. Ketika menatap pemuda lancang tapi menyenangkan ini, ia langsung mem- bayangkan sosok ayahnya, Ito Yoshimasu yang ber- cambang dan ugal-ugalan. Kota-kota benteng di pesisir Pulau Kyushu di bagian barat Jepang berada dalam kekuasaan orang-orang seperti Oiomo, Omura, Arima, dan Ito. Dan belakangan ini daerah tersebut mulai ter- pengaruh kebudayaan Fropa.

Apa pun yang dibawa dari Eropa—entah senjata api, mesiu, teropong, obat-obat dan alat-alat kedokteran, kulit, kain celup dan kain tenun, serta barang-barang kebutuhan sehari-hari—Nobunaga menerimanya de- ngan rasa terima kasih. Ia terutama menaruh minat pada—dan bahkan sangat menginginkan—penemuan- penemuan yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, ilmu bintang, dan kemiliteran. Namun sebaliknya ada dua hal yang ditolaknya mentah-mentah: ajaran Nasrani dan pendidikan Nasrani. Tapi jika kedua hal ini tidak diperkenankan kepada para misionaris, mereka takkan datang membawa senjata, obat-obatan, dan kejaiban-kejaiban lainnya.

Nobunaga menyadari bahwa ia perlu memelihara berbagai kebudayaan, dan ia telah mengizinkan pem- bangunan gereja dan sekolah di Azuchi. Tapi setelah benih-benih yang dibiarkannya tumbuh bertunas, ia mengkhawatirkan masa depan murid-murid itu. Jika diabaikan terlalu lama, situasi ini tentu akan mem- bawa masalah.

Nobunaga meninggalkan ruang kelas, dan oleh para padri ia dituntun ke sebuah ruang tunggu yang nyaman. Di sana ia duduk di kursi berwarna-warni dan berkilau-kilau yang disediakan khusus bagi tamu agung. Para padri lalu mengeluarkan teh dan tembakau dari negeri asal mereka, yang begitu mereka banggakan, dan menawarkannya pada Nobunaga, tapi Nobunaga tidak menyentuhnya.

"Putra Ito Yoshimasu baru saja memberitahuku bahwa Valignani berlayar dari Jepang bulan ini. Apakah dia sudah berangkat?"

Salah seorang padri menjawab, "Padri Valignani menyertai rombongan dari Jepang."

Rombongan?" Nobunaga tampak curiga. Kyushu belum berada di bawah kekuasaannya, sehingga tidak mengherankan bahwa hubungan persahabatan dan perniagaan antara Eropa dan para pembesar dari pulau itu membuatnya bersikap waspada.

"Menurut Padri Valignani, jika anak-anak orang Jepang yang berpengaruh tak pernah memperoleh kesempatan untuk melihat peradaban Eropa, hubungan niaga dan diplomatik takkan pernah ter- bentuk dengan baik. Dia menyurati raja-raja di Eropa serta Sri Paus dan mcmbujuk mereka untuk mengundang rombongan dari Jepang. Yang tertua dari mereka yang terpilih untuk misi ini berumur enam belas tahun."

Kemudian ia menyebutkan nama-nama mereka.

Hampir semuanya merupakan putra marga tcrpandang di Kyushu.

Mereka pemberani." Nobunaga malah gembira bahwa serombongan pemuda—yang paling tua baru berusia enam belas—berlayar ke Eropa yang begitu jauh. Dalam hati, ia pikir ada baiknya seandainya ia sempat bertemu dengan mereka, dan sebagai bekal bagi mereka, berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaannya sendiri.

Mengapa para raja Eropa serta orang seperti Padri Valignani begitu bersemangat agar anak-anak para pembesar provinsi mcngunjungi Eropa? Nobunaga memahami tujuan mereka, tapi ia juga melihat maksud yang terselubung.

"Ketika bertolak dari Kyoto untuk kunjungan ini, Valignani mengungkapkan penyesalannya... mengenai Yang Mulia." "Penyesalan?"

"Bahwa dia kembali ke Eropa sebelum membaptis Yang Mulia."

"Begitukah? Dia bilang begitu ?" Nobunaga tertawa. Ia bangkit dari kursi dan berpaling kepada pembantu- nya. Orang itu membawa elang yang bertengger di tangannya. "Kita sudah terlalu lama di sini. Mari kita pergi."

Begitu ucapan itu meluncur dari bibirnya, ia sudah menuruni tangga dengan langkah lebar. Di luar pintu ia segera menyuruh seseorang mengambilkan kuda- nya. Ito Jerome—murid yang memainkan biola tadi— serta para murid lain berbaris di pekarangan sekolah untuk mengantar Nobunaga.

***

Benteng di Nirasaki, ibu kota Kai yang baru, telah rampung sampai ke dapur dan hunian para dayang.

Tanpa memedulikan bahwa hari itu hari kedua puluh empat di Bulan Kedua Belas, tepat di akhir tahun, Takeda Katsuyori pindah dari Kofu, yang selama bergenerasi-generasi merupakan ibu kota para leluhurnya, ke ibu kotanya yang baru. Kemegahan dan keindahan kepindahan itu masih menjadi buah bibir para petani di sepanjang jalan.

Mulai dari tandu untuk Katsuyori dan istrinya serta dayang-dayang mereka, berlanjut dengan tandu untuk bibi dan purri bibinya, tandu para pembesar dan kerabat Takeda berjumlah ratusan.

Dari iring-iringan yang memukau ini—para samurai dan pengikut, para pembantu pribadi, para pejabat dengan pelana emas dan perak, hiasan kulit kerang, kemilau lapisan emas, payung-payung yang dibuka, para pemanah dengan busur dan tempat anak panah, gagang-gagang lombak yang menyerupai hutan—yang paling menarik perhaitan semua orang adalah panji- panji marga Takeda. Tiga belas aksara Cina tampak berkilau dengan warna emas di atas kain merah terang, berdampingan dengan bendera lain. Dua baris aksara emas tampak pada bendera panjang berwarna biru tua:

Gesit bagaikan angin Hening bagikan hutan Panas bagaikan api Diam bagaikan gunung

Semua orang tahu bahwa kaligrafi sajak ini merupa- kan karya Kaisen, biksu kepala Kuil Erin.

"Ah, sungguh menyedihkan bahwa jiwa bendera ini meninggalkan benteng di Tsutsujtgasaki dan ber- pindah ke tempat lain."

Semua orang di ibu kota lama tampak sedih. Setiap kali bendera dengan ucapan Sun Tzu dan bendera dengan aksara-aksara Cina dikibarkan dan dibawa ke medan perang, para prajurit yang gagah kembali dengan membawa kejayaan. Dalam kesempatan seperti itu, mereka dan para warga kota bersorak-sorai sampai serak, memekikkan teriakan kemenangan. Peristiwa- peristiwa seperti itu terjadi di zaman Shingen, dan sekarang semuanya merindukan masa itu.

Walaupun bendera dengan kata-kata Sun Tzu tidak berubah secara fisik, orang-orang merasa bendera itu berbeda dengan yang kerap mereka lihai sebelumnya.

Tapi ketika rakyat Kai menyaksikan harta yang luar biasa serta persediaan amunisi dipindahkan ke ibu kota baru, berikut tandu-tandu dan pelana-pelana emas seluruh marga, dan iring-iringan kereta lembu yang meliuk-liuk sepanjang bermil-mil, maka pulihlah keyakinan mereka bahwa Provinsi Kai tetap provinsi kuat. Perasaan bangga yang meliputi mereka sejak zaman Shingen ternyata masih hidup dalam hati para prajurit dan orang kebanyakan.

Tak lama sesudah Katsuyori pindah ke benteng di ibu kota baru, bunga-bunga prem berwarna merah dan putih di pekarangan mulai mekar. Katsuyori dan pamannya, Takeda Shoyoken, berjalan-jalan di kebun buah, tanpa memperhatikan kicauan burung.

"Dia bahkan tidak datang untuk perayaan Tahun Baru. Dia mengaku sakit. Apa dia tidak mengirim kabar kepada Paman?"

Katsuyori berbicara mengenai sepupunya, Anayama Baisetsu, penguasa Benteng Ejiri. Oleh orang-orang Takeda, benteng yang terletak di perbatasan dengan Suruga itu dianggap sebagai titik strategis penting di daerah Selatan. Lebih dari setengah tahun telah berlalu sejak Baisetsu terakhir kali mengunjungi Katsuyori, selalu berdalih bahwa ia sakit, dan Katsuyori merasa cemas.

"Tidak, hamba rasa dia benar-benar sakit. Dia biksu dan dikenal jujur. Hamba kira dia takkan pura-pura sakit."

Shoyoken merupakan orang yang amat baik hati, jadi jawabannya tak mampu mcnenteramkan pikiran Katsuyori.

Shoyoken terdiam.

Katsuyori pun tidak mengucapkan apa-apa lagi, dan keduanya berjalan sambil membisu.

Di antara menara dan benteng dalam terdapat sebuah jurang sempit yang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Seekor burung turun mendadak, seakan-akan jatuh dari langtt, mengepak-ngepakkan sayap, lalu kembali terbang. Secara bersamaan seseorang terdengar memanggil dari deretan pohon prem.

"Yang Mulia! Yang Mulia! Hamba membawa berita penting." Wajah pengikut itu tampak pucat.

"Tenangkan dirimu. Seorang samurai mestinya sanggup menyampaikan berita penting dengan tenang," Shoyoken memarahinya. Shoyoken bukan sekadar menegur orang itu, ia juga hendak me- nenangkan keponakannya. Tidak seperti biasa. Katsuyori pun tampak pucat karena kaget.

"Ini bukan urusan sepde. Beritanya sungguh penting, ruanku." balas Gcnshiro sambil menyembah. "Kiso Yoshimasa dari Fukushima berkhianat!"

"Kiso?" Nada suara Shoyoken menunjukkan bahwa ia merasa ragu, sekaligus ingin menyangkal kebenaran berita itu. Sedangkan Katsuyori, ia mungkin sudah menduga bahwa ini akan terjadi. Ia hanya menggigit bibir dan menatap pengikut yang bersujud di hadapannya.

Degup dalam dada Shoyoken pun takkan mudah diredam, dan ketidaktenangannya terdengar dalam suaranya yang bergetar. "Suratnya! Mana suratnya!"

"Kurir tadi berpesan bahwa urusannya begitu men- desak, sehingga tak ada waktu yang boleh terbuang," ujar Genshiro, "dan bahwa kita akan menerima surat dari kurir berikutnya."

Sambil berjalan dengan langkah lebar, Katsuyori melewati pengikut yang masih bersujud, dan berseru pada Shoyoken, "Kita tak perlu menunggu surat dari Goro. Dalam tahun-tahun terakhir sudah banyak tanda mencurigakan mengenai Yoshimasa dan Baisetsu. Aku tahu permintaanku ini sangat merepot- kan, Paman, tapi aku sekali lagi memerlukan Paman sebagai pemimpin pasukan. Aku pun akan turut scrta."

Sebelum dua jam berlalu, genderang besar di menara benteng baru berdentam, dan bunyi sangkakala berkumandang di kota benteng, menanda- kan pengerahan pasukan. Kembang-kembang prem hampir putih ketika senja musim semi yang penuh damai di provinsi pegunungan ini mulai berganti malam. Pasukan Kai bertolak sebelum hari berakhir. Dipacu oleh matahari yang sedang terbenam, lima ribu orang berbaris di jalan raya Fukushima, dan ketika malam tiba, hampir sepuluh ribu prajurit telah meninggalkan Nirasaki.

"Hah, malah kebetulan! Dia memperlihatkan pem- berontakannya secara terang-terangan. Seandainya ini tidak terjadi, aku mungkin takkan pernah mendapat kesempatan untuk menghabisi pengkhianat yang tak tahu diri itu. Kali ini kita harus menumpas semua orang dengan kesetiaan mendua di Fukushima."

Sambil melampiaskan kedongkolan yang begitu sukar dikendalikan, Katsuyori bergumam-gumam sementara kudanya terus melangkah. Tapi selain Katsuyori hanya sedikit yang marah karena peng- khianatan Kiso.

Seperti biasa, Katsuyori penuh percaya diri. Ketika memutuskan hubungan dengan marga Hojo, ia mem- bubarkan sebuah persekutuan tanpa memandang kckuatan marga yang telah memberikan dukungan begitu besar kepadanya.

Atas saran orang-orang yang mengelilinginya, Katsuyori juga telah mengembalikan putra Nobunaga—yang selama bertahun-tahun menjadi sandera pihak Takeda—ke Azuchi; tapi dalam hati ia tetap memandang rendah pemimpin marga Oda itu, lebih-lebih lagi pada Tokugawa Ieyasu di Hamamatsu. Sejak pertempuran di Nagashino, Katsuyori sudah memperlihatkan sikap agresif ini.

Seesngguhnya kekokohan semangat Katsuyori tanpa cela. Ia selalu berpikiran positif. Memang, kekokohan semangat merupakan zat yang seharusnya mengisi hati sampai meluap. Dan selama periode itu, yang ditandai oleh provinsi-provinsi yang saling ber- perang, golongan samurai secara keseluruhan dapat dikatakan memiliki semangat sepertii itu. Tapi dalam situasi yang kini dihadapi Katsuyori, orang sebaiknya mengandalkan kekuatan yang penuh kesabaran, yang sepintas lalu mungkin saja dianggap kelemahan. Unjuk kekuatan secara sembrono takkan dapat meng- gertak musuh, bahkan sebaliknya, justru memperkuat semangatnya. Karena alasan inilah kegagahan dan keberanian Karsuyori dianggap enteng oleh Nobunaga dan Ieyasu.

Dan bukan oleh mereka saja, musuh-musuhnya. Di provinsinya sendiri terdengar suara-suara yang ber- harap Shingen masih hidup.

Shingen berkeras menegakkan pemerintahan militer yang kuat di Kai, baik para pengikutnya maupun rakyat Kai merasa mereka akan aman selama Shingen masih hidup, sehingga mereka sepenuhnya bertopang pada dirinya.

Dalam masa pemerintahan Katsuyori pun, dinas militer, penarikan pajak, dan segala bidang pe- merintahan lainnya tetap dijalankan berdasarkan hukum yang disusun oleh Shingen. Namun ada sesuatu yang hilang.

Katsuyori tidak tahu apa "sesuatu" itu. Sayangnya, ia bahkan tidak sadar bahwa ada yang hilang. Tapi yang tidak dimilikinya adalah kepercayaan pada keselarasan serta kemampuan untuk membangkitkan keyakinan terhadap pemerintahannya. Inilah yang mulai me- nimbulkan pertentangan dalam tubuh marga.

Di zaman Shingen terdapat hukum tak tertulis yang dianut oleh golongan atas maupun bawah, yang membuat mereka semua teramat bangga. Takkan pernah ada musuh yang diperkenankan menjejakkan satu kaki pun ke wilayah Kai.

Tapi kini perasaan was-was timbul di mana-mana Rasanya tak perlu dijelaskan, semua orang menyadari bahwa kekalahan di Nagashino menandakan akhir sebuah zaman. Bencana ini bukan semata-mata akibat kegagalan perlengkapan dan strategi pasukan Kai. Bencana ini disebabkan oleh kekurangan-kekurangan dalam watak Katsuyori; dan orang-orang di sekitar- nya—bahkan rakyat kebanyakan, yang menganggapnya sebagai sokoguru—mengalami kekecewaan yang luar biasa. Katsuyori, mereka menyadari, bukanlah Shingen.

Meski Kiso Yoshimasa menantu Shingen, ia ber- komplot untuk mengkhianati Katsuyori dan tak percaya bahwa Katsuyori sanggup bertahan lama. Ia mulai menghitung-hitung prospek Kai di masa men- datang. Melalui perantara di Mino, sudah dua tahun ia diam-diam menjalin hubungan dengan Nobunaga.

Pasukan Kai berpencar, membentuk sejumlah barisan, dan maju ke arah Fukushima.

Para prajurit mdelngkah dengan mantap, penuh percaya diri. Acap kali mereka terdengar berkata, "Pasukan Kiso akan kita injak-injak."

Tapi ketika hari demi hari berlalu, berita yang disampaikan ke markas besar tak dapat membuat Takeda Katsuyori tersenyum puas. Justru sebaliknya, laporan-laporan itu malah mencemaskannya.

"Kiso tetap keras kepala."

"Medannya berbukit-bukit, dan pertahanan mereka kuat, jadi barisan depan kita membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendekat."

Setiap kali Katsuyori mendengar hal-hal seperti ini, ia menggigit bibir dan bergumam, "Kalau aku sendiri yang pergi ke sana..."

Katsuyori memang cepat naik darah jika situasi perang tidak menguntungkan baginya.

Bulan Pertama berlalu, dan kini hari keempat di Bulan Kedua.

Berita mencemaskan sampai ke telinga Katsuyori: Nobunaga tiba-tiba memberi perintah untuk mengerahkan pasukan di Azuchi, dan ia sendiri bahkan sudah bertolak dari Omi.

Mata-mata lain pun membawa kabar buruk: "Pasukan Tokugawa Ieyasu telah bertolak dari

Suruga; pasukan Hojo Ujimasa telah berangkat dari Kanto; dan Kanamori Hida meninggalkan Benteng- nya. Semuanya menuju Kai, dan kabarnya pasukan Nobunaga dan Nobutada telah terpecah dua dan kini siap menyerbu. Ketika hamba mendaki sebuah gunung tinggi dan memandang berkeliling, hamba melihat asap membubung ke segala arah." Katsuyori merasa seperti diempaskan ke tanah. "Nobunaga! Ieyasu! Dan Hojo Ujimasa juga?"

Berdasarkan laporan-laporan rahasia itu, Katsuyori bagaikan tikus yang terperangkap.

Menjelang matahari terbenam, berita baru tiba: Pasukan Shoyoken telah membelot malam sebelum- nya.

"Tak mungkin!" ujar Katsuyori. Namun sesungguh- nya itulah yang terjadi, dan berita-beita selanjutnya membawa bukti yang tak dapat disangkal.

"Shoyoken! Bukankah dia pamanku, dan termasuk pengetua marga? Apa-apaan dia meninggalkan medan tempur dan lari tanpa izin? Dan yang lainnya, cis. bicara tentang orang-orang durhaka itu hanya mengotori mulutku."

Katsuyori mencerca langit dan bumi, tapi seharus- nya kemarahan itu ditujukan pada dirinya sendiri. Biasanya ia tidak lemah hati, tapi seseorang dengan keberanian luar biasa pun mau tak mau merasa ngeri akibat perkembangan seperti itu.

"Apa boleh buat. Tuanku harus memberi perintah untuk mcmbongkar perkemahan."

Berkat saran Oyamada Nobushige dan yang lain, Katsuyori tiba-tiba mundur. Betapa hancur hatinya ketika itu! Meski kedua puluh ribu prajurit yang berangkat bersamanya belum terlibat satu per- tempuran pun, mereka yang kini kembali ke Nirasaki berjumlah tak lebih dari empat ribu.

Barangkali   untuk    mencari    penyaluran    bagi perasaan-perasaan yang nyaris tak sanggup diatasinya. Katsuyori memerintahkan Kaisen si biksu datang ke benteng. Keberuntungan seakan-akan semakin men- jauhi dirinya, sebab setelah kembali ke Nirasaki ia terus mendapat kabar buruk. Yang paling buruk mungkin berita bahwa Anayama Baisetsu telah mem- belot, dan seolah-olah itu belum cukup, Baisetsu bukan saja menyerahkan bentengnya di Ejiri pada musuh, melainkan juga bertindak sebagai pemandu bagi Tokugawa Ieyasu. Konon Baisetsu kini berada di barisan depan pasukan yang menyerbu Kai.

Jadi, saudara iparnya sendiri telah mengkhianatinya secara terang-terangan, bahkan berupaya menghancur- kannya. Kejadian ini memaksa Katsuyori mawas diri. Di mana letak kesalahanku? Ia bertanya dalam hati. Di satu pihak, ia semakin memperteguh semangatnya dan memerintahkan agar pertahanan semakin diperkuat, tapi di pihak lain, ketika menerima Kaisen di bentengnya yang baru, ia memperlihatkan kesediaan untuk melakukan intropeksi. Namun kemungkinan besar perubahan ini datang terlambat.

"Baru sepuluh tahun berlalu sejak ayahku wafat, dan delapan tahun sejak pertempuran di Nagashino. Mengapa para jendral Kai tiba-tiba mencampakkan prinsip-prinsip yang mereka anut?" ia bertanya pada si biksu.

Tapi Kaiecn, yang duduk berhadapan dengannya, tetap membisu, sehingga Katsuyori melanjutkan, "Sepuluh tahun lalu, jendral-jendral kita tidak seperti ini. Masing-masing memiliki rasa malu dan menjaga reputasinya. Ketika ayahku masih berada di dunia ini, jarang ada orang yang mengkhianatt junjungannya, apalagi marganya sendiri."

Kaisen duduk membisu dengan mata terpejam. Dibandingkan biksu itu, yang menyerupai abu yang telah dingin, Katsuyori terus bicara seperti api yang berkobar hebar.

"Bahkan mereka yang semula tenang dan siap menggempur para pengkhianat akhirnya bubar tanpa terlibat pertempuran atau menunggu perintah junjungan mereka. Pantaskah sikap seperti ini diper- lihatkan oleh marga Takeda dan para jendralnya—yang telah menangkal semua musuh yang ingin menapak- kan kaki di tanah Kai, termasuk Uesugi Kenshin yang termasyhur? Bagaimana mungkin terjadi kemerosotan disiplin yang begitu parah? Seberapa hinakah mereka itu? Banyak jendral yang mengabdi pada ayahku— Baba, Yamagata, Oyamada, Amakasu—sudah tua atau telah tiada. Mereka yang tersisa sungguh berbeda. Mereka putra para jendral tersohor atau prajurit yang tidak memiliki hubungan langsung dengan ayahku."

Kaisen tetap tidak memberi tanggapan. Biksu itu lebih akrab dengan Shingen daripada siapa pun, dan usianya kini tentu sudah melebihi tujuh puluh tahun. Dari balik alisnya yang bagaikan salju, ia telah meng- amati pewaris Shingen dengan saksama.

"Tuan Guru yang terhormat, Tuan mungkin merasa bahwa sekarang sudah terlambat, karena segala sesuatu telah terjadi, tapi jika caraku menjalan- kan pemerintahan salah, sudikah Tuan menunjukkan letak kesalahanku? Jika pemahamanku mengenai disiplin militcr tidak tepat, tunjukkanlah cara untuk menegakkannya. Aku ingin memperbaiki diri. Ku- dengar Tuan banyak belajar dari mendiang ayahku. Tak dapatkah Tuan mengajarkan beberapa strategi kepada putranya yang tak berguna ini? Kumohon Tuan tidak ragu-ragu mengajariku. Pandanglah aku sebagai putra Shingen. Tunjukkanlah kesalahanku dan beritahukan bagaimana aku dapat membenahi semuanya. Apakah aku membuat gusar rakyat setelah ayahku wafat dengan tiba-tiba mcnaikkan tarif di tempat penyeberangan sungai dan perbatasan agar pertahanan provinsi dapat diperkuat?"

"Tidak," ujar Kaisen. Ia menggelengkan kepala. Katsuyori scmakin gelisah.

"Kalau begitu, aku tentu membuat kesalahan dalam memberi imbalan dan menjatuhkan hukuman."

"Sama sekali tidak." Sekali lagi orang tua itu menggeleng.

Katsuyori bersujud dan hampir menangis. Di hadapan Kaisen, panglima perang yang memiliki rasa harga diri demikian besar itu hanya dapat meratap dalam penderitaan,

"Jangan menangis," Kaisen akhirnya berkata. "Tak sepatutnya Yang Mulia menyebut diri putra yang tak berguna. Satu-satunya kesalahan Yang Mulia adalah kelengahan. Zaman yang kejam inilah yang memaksa Yang Mulia berhadap-hadapan dengan Oda Nobu- naga. Bagaimanapun, Yang Mulia bukan musuhnya. Gunung-gunung Kai berada jauh dari pusat, dan Nobunaga mempunyai keuntungan geografis, tapi ini pun bukan sumber utama masalah Yang Mulia. Meski Nobunaga terlibat pertempuran demi pertempuran dan menjalankan pemerintahan, dalam hati ia tak pernah melupakan sang Tenno. Pembangunan Istana Kekaisaran hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak hal yang telah dikerjakannya."

Di antara Kaisen dan Shingen terjalin persahabatan kental. sehingga masing-masing sanggup menyelami hati yang lainnya, dan Shingen sangat menaruh hormat pada biksu tua itu. Tapi Kaisen pun amat percaya pada Shingen—Shingen bagaikan naga di tengah-tengah manusia; kuda bernapas api dari langit. Kaisen menyanjung-nyanjung Shingen, tapi tak sekali pun membandingkannya dengan putranya. Katsuyori, maupun menganggap Katsuyori kalah hebat.

Justru sebaliknya, ia memandang Katsuyori dengan penuh simpati. Jika ada yang mengecam kesalahan Katsuyori, Kaisen selalu menjawab bahwa berlebihan untuk mengharapkan lebih banyak; ayahnya memang terlalu besar. Ada satu hal yang mungkin mengusik Kaisen. Seandainya Shingen masih hidup sampai sekarang, pengaruhnya takkan terbatas pada Provinsi Kai. Ia tentu akan memantaatkan kemampuannya yang besar serta kejeniusannya untuk hal-hal yang lebih bermakna. Dan kini Kaisen menyesalkan kematian Shingen. Laki-laki yang menyadari panggilan untuk hal-hal yang lebih berani adalah Nobunaga. Nobunaga-lah yang memperluas peran samurai dari tingkat provinsi ke tingkat nasional. Nobunaga-lah yang memperlihatkan diri sebagai pengikut panutan. Harapan Kaisen pada Kaisuyori, yang tidak mewarisi jiwa ayahnya, telah lenyap. Dengan jelas biksu tua itu merasa kan bahwa perang sipil yang berkepanjangan sudah berakhir.

Jadi, membantu Katsuyori memaksa pasukan Oda bertekuk lutut, atau mereka-ecka pemecahan yang aman adalah mustahil. Marga Takeda didirikan berabad-abad lalu, dan nama Shingen bersinar terlalu terang di langit. Katsuyori takkan memohon damai di kaki Nobunaga.

Takeda Katsuyori berkemauan kcras dan memiliki rasa malu. Di kalangan rakyat kebanyakan di provinsi- nya, terdengar suara-suara sumbang mengenai pemerintahan yang memburuk sejak zaman Shingen, dan kenaikan pajak dianggap sebagai sumber utama keluhan-keluhan itu. Tapi Kaisen tahu bahwa Katsuyori menaikkan pajak bukan demi keuntungan pribadi atau gengsi. Seluruh pemasukan pajak diguna- kan untuk kepentingan militer. Dalam beberapa tahun terakhir, taktik dan teknologi perang telah ber- kembang pesat di ibu kota, bahkan di provinsi- provinsi tetangga. Tapi Katsuyori tak mampu mengeluarkan uang sebanyak pesaingnya untuk memperoleh persenjataan baru. "Jagalah diri Yang Mulia." Kaisen berkara pada Katsuyori ketika ia bersiap-siap pergi.

"Tuan Guru sudah akan kembali ke kuil?" Sesungguhnya masih banyak yang hendak ditanyakan Katsuyori, tapi ia tahu bahwa jawabannya sama saja. Ia menempelkan tangannya ke lantai, memberi hormat.

Kaisen melakukan hal yang sama, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.