--> -->

Taiko Bab 26 : Amanat Hanbei

Bab 26 : Amanat Hanbei

TAK seorang pun dapat meramalkan sebelumnya bahwa Bessho Nagaharu sanggup mempertahankan Benteng Miki untuk waktu begitu lama. Sudah tiga tahun benteng itu dikepung, dan selama lebih dari enam bulan hubungan dengan dunia luar diputus oleh pasukan Hideyoshi.

Pasukan Hideyoshi terkesima setiap kali mengamati kesibukan dan mendengar suara orang-orang di dalam benteng. Mungkinkah sedang terjadi keajaiban? Kadang-kadang mereka percaya bahwa musuh memiliki kekuatan gaib, sehingga masih dapat bertahan. Mereka terlibat adu ketahanan, dan pasukan penyerang berada di pihak yang kalah. Tak peduli bagaimana mereka memukul, menghantam, me- nendang, dan mencekik, musuh mereka tetap tak berhenti menggeliat.

Jalur perbekalan dan jalur air pasukan penjaga benteng berkekuatan tiga ribu lima ratus orang telah terputus. Seharusnya mereka sudah terancam kelaparan pada pertengahan Bulan Pertama, tapi pada akhir bulan itu Benteng Miki belum tertaklukkan juga. Dan kini sudah Bulan Ketiga.

Hideyoshi menyadari kelelahan pasukannya, tapi memaksa diri untuk menyembunyikan rasa cemas. Janggut kasar yang tumbuh di dagunya serta matanya yang cekung merupakan bukti kekhawatiran dan keletihan akibat pengepungan berkepanjangan itu.

Aku salah perhitungan, Hideyoshi mengakui dalam hati. Dari semula aku tahu mereka   akan bertahan, tapi aku tak menyangka selama ini. Ia telah menarik pelajaran bahwa perang bukan sekadar masalah angka dan keuntungan logistik.

Semangat orang-orang di dalam benteng justru semakin berkobar. Sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa mereka mungkin menyerah. Bahwa mereka kehabisan perbekalan, itu tak perlu diragukan. Para prajurit yang terkepung tentu sudah memakan sapi- sapi dan kuda-kuda mereka, bahkan akar-akar pohon dan rerumpuran. Segala hal yang menurut Hideyoshi akan menentukan kejatuhan Benteng ternyata justru memperkokoh semangar dan persatuan pasukan.

Di Bulan Kelima mereka memasuki musim hujan. Mereka berada di daerah pegunungan, jadi bersama hujan yang turun tanpa henti, semua jalan berubah menyerupai air terjun, dan selokan-selokan yang semula kosong kini tergenang air lumpur. Orang- orang terus tergelincir pada waktu naik-turun gunung. dan pengepungan—yang akhirnya mulai menampak- kan hasil—sekali lagi dimentahkan oleh kekuatan alam.

Lutut Kuroda Kanbei yang cedera ketika ia melarikan diri dari Benteng Itami tak pernah pulih benar, dan ia memeriksa barisan depan dari atas tandu. Setiap kali teringat bahwa ia mungkin akan pincang seumur hidup, ia selalu memaksakan senyum. Pada waktu Hanbei melihat kegigihan sahabatnya,

ia melupakan penderitaannya sendiri dan mulai men- jalankan tugas beratnya. Staf lapangan Hideyoshi sungguh ganjil. Kedua jendral utamanya, yang ia hargai bagaikan sepasang permata berkilauan, sama- sama terganggu kesehatannya. Yang satu menderita penyakit tak tersembuhkan; yang satu lagi terpaksa memimpin pertempuran dari atas usungan.

Tetapi bantuan besar yang diberikan kedua laki-laki itu pada Hideyoshi tidak berupa kepanjangan akal semata-mata. Setiap kali ia menatap mereka, hatinya tergerak oleh perasaan yang luhur dan matanya berkaca-kaca. Hanbei dan Kanbei telah menyatu dalam jiwa dan raga, dan hanya karena inilah semangat pasukan tidak goyah. Paling tidak setengah tahun telah berlalu, tapi kini perlawanan Benteng Miki mulai melemah. Seandainya pasukan penyerang tidak dipimpin oleh Hanbei dan Kanbei, Benteng Miki barangkali takkan pernah takluk. Kemudian kapal-kapal Mori mungkin berhasil menembus kepungan dan membawa perbekalan, atau pasukan mereka melintasi pegunungan, bergabung dengan pasukan penjaga benteng, dan menghancurkan para penyerbu. Dan riwayat Hideyoshi akan tamat di tempat itu juga. Dengan semangat seperti ini, ada- kalanya Hideyoshi pun merasa terlampaui oleh kecerdikan Kanbei. Setengah berkelakar ia menunjuk- kan kekagumannya dengan menyebut Kanbei "si Cacat Celaka". Tapi jelas bahwa dalam hati ia sangat menghormari laki-laki yang begitu diandalkannya itu.

Musim hujan telah lama berakhir, hawa panas musim kemarau pun telah berlalu, dan kesejukan musim gugur tiba seiring datangnya Bulan Kedelapan. Penyakit Hanbei mendadak bertambah parah, dan kali ini tampaknya ia takkan pernah lagi mengenakan baju tempur.

Ah, mungkinkah para dewa akhirnya berpaling dariku? Hideyoshi berkeluh kesah. Hanbei terlalu muda dan terlalu cakap untuk mati. Tak bisakah takdir memberikan lebih banyak waktu padanya?

Hideyoshi mengurung diri di pondok tempat Hanbei terbaring, menemani sahabatnya siang dan malam, tapi malam itu, ketika ia dipanggil karena urusan penting lainnya, kondisi Hanbei memburuk dengan cepat. Benteng-Benteng musuh di Takano dan Gunung Hachiman terselubung kabut senja. Ketika malam tiba, letusan senapan terdengar menggema.

"Tentu saja si Cacat Celaka lagi!" pikir Hideyoshi. "Seharusnya dia jangan menerobos barisan musuh sejauh itu."

Hideyoshi mencemaskan keselamatan Kanbei yang telah menyerang musuh, tapi belum kembali. Langkah-langkah cepat terdengar mendekat dan ber- henti di sampingnya. Ketika ia menoleh, seseorang sedang bersujud sambil menitikkan air mata.

"Shojumaru?"

Setelah Shojumaru tiba di perkemahan di Gunung Hirai, ia sudah beberapa kali terjun ke kancah pertempuran. Dalam waktu singkat ia telah menjadi laki-laki dewasa yang gagah perkasa. Kira-kira seminggu sebelumnya, ketika kondisi Hanbei tampak memburuk, Hideyoshi menyuruh Shojumaru menjaga Hanbei.

"Aku yakin Hanbei lebih suka jika kau berada di sampingnya daripada seorang diri. Sebenarnya aku ingin mengurusnya sendiri, tapi aku takut kalau dia merasa menyusahkanku, keadaannya akan semakin parah."

Bagi Shojumaru, Hanbei merupakan guru sekaligus ayah pengganti. Kini ia menunggui Hanbei siang dan malam tanpa melepaskan baju tempur, mencurahkan segenap tenaga untuk membuat ramuan obat dan memenuhi segala kebutuhan Hanbei. Shojumaru ini- lah yang mendatangi Hideyoshi dan menyembah sambil berlinang air mata. Seketika dada Hideyoshi scrasa ditusuk.

"Kenapa kau menangis, Shojumaru?" ia menegur pemuda itu.

"Hamba mohon ampun," ujar Shojumaru sambil mengusap-usap mata. "Tuan Hanbei hampir tak sanggup bicara lagi. Beliau mungkin takkan bertahan sampai tengah malam. Jika Yang Mulia dapat meninggalkan pertempuran sejenak, sudikah Yang Mulia menemui beliau?"

"Saatnya sudah tiba?" "Ha... hamba kira begitu." "Itukah yang dikatakan dokter?"

"Ya Tuan Hanbei melarangku menceritakan keada- an beliau kepada Yang Mulia atau siapa pun di perkemahan ini, tapi dokter dan para pengikut beliau mengatakan bahwa kepergian beliau dari dunia ini sudah dekat, dan mereka menyarankan agar Yang Mulia segera diberitahu."

Hideyoshi telah mengambil keputusan. "Shoju- maru, dapatkah kau menggantikan tempatku di sini untuk sementara? Kurasa tak lama lagi ayahmu akan kembali dari medan tempur di Takano."

"Ayah hamba bertempur di Takano?"

"Seperti biasa, dia mengatur segala sesuatu dari tandunya."

"Kalau begitu, perkenankan hamba pergi ke Takano untuk menggantikan ayah hamba di sana. Hamba akan memberitahunya untuk segera menuju ke sisi Tuan Hanbei."

"Ucapanmu sungguh gagah! Pergilah, kalau keberanianmu memang sebesar itu."

"Selama Tuan Hanbei masih bernapas, ayah hamba tentu ingin berada bersama beliau. Tuan Hanbei tidak mengatakannya, tapi hamba yakin beliau pun ingin melihat ayah hamba," Shojumaru berkata dengan gagah, dan sambil menyambar tombak yang kelihatan terlalu besar untuknya, bergegas menuju bukit-bukit.

Hideyoshi berjalan ke arah berlawanan. Semakin lama langkah-langkahnya semakin panjang. Cahaya lentera memancar dari salah satu pondok. Di pondok itulah Takenaka Hanbei terbaring, dan tepat pada saat itu bulan mulai bersinar samar-samar di atas atapnya. Dokter yang dikirim Hideyoshi berada di samping tempat tidur, sama halnya dengan para pengikut Hanbei. Pondok itu tak lebih dan pagar kayu, tapi kain penutup seprai telah ditumpuk-tumpuk di atas tikar jerami, dan di salah satu pojok ada dinding penyekat yang dapat dilipat.

"Hanbei, kau bisa mendengarku? Ini aku, Hideyoshi. Bagaimana keadaanmu?" Hideyoshi duduk di sisi sahabatnya, menatap wajahnya di atas bantal. Mungkin karena gelap, wajah Hanbei tampak tembus cahaya, bagaikan permata. Mau tak mau air mata orang yang melihatnya mulai mengalir. "Bagaimana mungkin seseorang bisa sekurus ini?" Hideyoshi ber- tanya dalam hati. Pemandangannya sungguh memilu- kan; hati Hideyoshi serasa diiris-iris.

"Dokter, bagaimana keadaannya?"

Yang ditanya tak sanggup berkata apa-apa. Kebisuannya menunjukkan bahwa ini hanya masalah waktu saja, walau sesungguhnya Hideyoshi ingin mendengar bahwa masih ada harapan.

Hanbei menggeser tangannya. Rupanya ia men- dengar suara Hideyoshi, dan sambil membuka mata sedikit, ia berusaha mengatakan sesuatu pada salah satu pembantunya, yang lalu membalas. "Yang Mulia berkenan mengunjungi tuanku..."

Hanbei mengangguk, tapi kelihatannya ia resah mengenai sesuatu. Sepertinya ia minta dibantu duduk. "Bagaimana?" si pelayan bertanya sambil menatap Dokter. Dokter itu hampir tak sanggup menjawab, tapi Hideyoshi memahami maksud Hanbei.

"Apa? Kau hendak duduk? Mengapa tidak ber- baring saja?" ia berkata seakan-akan menenangkan anak kecil. Hanbei menggeleng lemah dan kembali mengatakan sesuatu kepada para pembantunya. Ia tak sanggup bicara keras-keras. tapi hasratnya terbaca jelas di matanya yang cekung. Dengan hati-hati mereka mengangkat bagian atas tubuhnya yang tipis bagaikan papan, tapi ketika mereka hendak mendudukkannya, Hanbd mendorong mereka. Ia menggigit bibir dan perlahan-tahan turun dari tempat tidur. Tindakan ini menuntut usaha besar dari seorang laki-laki sakit yang hanya dengan susah payah dapat menarik napas.

Terkesima oleh apa yang mereka lihat, Hideyoshi, si dokter, dan para pengikut Hanbei hanya dapat menahan napas dan menonton. Akhirnya, setelah merangkak beberapa langkah dari tempat tidur, Hanbei berlutut di atas tikar jerami, Dengan bahunya yang lancip, lututnya yang kurus, dan tangannya yang pucat, Hanbei hampir kelihatan seperti anak perempuan. Mulutnya terkatup rapat-rapat, dan sepertinya ia sedang mengatur napas. Akhirnya ia membungkuk begitu rendah, sehingga badannya seolah-olah patah.

"Malam ini hamba akan berpisah dengan Yang Mulia. Sekali lagi hamba harus menunjukkan terima kasih atas segala kemurahan hati Yang Mulia, yang hamba peroleh selama bertahun-tahun." Kemudian ia terdiam sejenak. "Entah daun-daun gugur atau bermekaran, hidup atau mati, kalau kita merenung- kannya, kita akan sadar bahwa warna-warni musim gugur dan musim semi mengisi seluruh alam semesta. Hamba merasa dunia ini merupakan tempat yang menarik. Tuanku, hamba memiliki hubungan karma dengan tuanku, dan telah menikmati kemurahan hati tuanku. Jika hamba memandang ke belakang, tiada penyesalan dalam diri hamba, selain bahwa hamba tak sempat berbuai sesuatu untuk tuanku."

Suara Hanbei pelan sckali, tapi ucapannya meluncur dengan lancar. Semua yang hadir duduk lebih tegak ketika menyaksikan keajaiban ini. Hideyoshi, terutama, meluruskan punggung, me- nundukkan kepala, dan dengan kedua tangan di pangkuan, mendengarkan Hanbei, seakan-akan tak rela kehilangan sepatah kata pun. Lentera yang hampir padam akan menyala cerah tepat sebelum mati. Hidup Hanbei kini seperti itu, sekejap saja. Ia terus berbicara, penuh hasrat untuk meninggalkan kata-kata terakhirnya bagi Hideyoshi.

"Segala kejadian... segala kejadian dan perubahan yang akan dialami dunia sesudah ini, hamba bersimpati dengan semuanya. Jepang berada di ambang perubahan besar. Hamba ingin melihat apa yang akan terjadi dengan bangsa ini. Inilah yang tersimpan dalam hati hamba, tapi umur yang dianugerahkan pada hamba tidak memungkinkannya." Kata-katanya berangsur-angsur bertambah jelas, dan sepertinya ia berbicara dengan sisa tenaga terakhir. Sejenak ia berjuang untuk menghirup udara, tapi kemudian ia menahan napas agar dapat melanjutkan ucapannya.

"Tapi... tuanku... tidakkah tuanku merasa terpilih karena dilahirkan di masa seperti ini? Setelah mengamati tuanku dengan saksama, hamba tak dapat menemukan ambisi untuk menjadi penguasa selumh negeri." Hanbei terdiam sebentar. "Sampai sekarang, ini suatu kelebihan dan sebagian dari watak tuanku. Sesungguhnya tak patut hamba menyinggungnya, tapi ketika tuanku menjadi pembawa sandal Yang Mulia Nobunaga, tuanku melaksanakan tugas itu dengan segenap hati. Setelah mencapai kedudukan samurai, tuanku mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas samurai. Tak sekali pun tuanku menoleh ke atas dan berusaha mencapai kedudukan lebih tinggi lagi. Yang hamba khawatirkan sekarang—sesuai dengan sifat tuanku ini—tuanku akan menyelesaikan tugas tuanku di provinsi-provinsi Barat, atau melaksanakan tugas yang diembankan Yang Mulia Nobunaga, atau menundukkan Benteng Miki tanpa memperhatikan perkembangan dunia maupun mencari jalan untuk menonjolkan diri."

Suasana hening sekali, seakan-akan tak ada orang lain di dalam ruangan. Hideyoshi mendengarkan uraian Hanbei demikian saksama, hingga seolah-olah tak dapat menegakkan kepala atau bergerak. "Tetapi... kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memcgang kendali di zaman seperti ini merupakan anugerah dari para dewa. Para panglima perang saling bersaing memperebutkan kekuasaan, masing-masing mengaku bahwa hanya dirinyalah yang sanggup membawa fajar baru ke dunia yang dilanda kekacauan, dan menyelamatkan rakyat dari kesusahan. Tetapi Kenshin, yang begitu hebat, telah menemui ajal. Shingen dari Kai telah tiada; Motonari dari provinsi-provinsi Barat meninggal dunia dengan pesan agar para penerusnya melindungi warisan mereka dengan mengenali kemampuan mereka: di samping itu, baik marga Asakura maupun marga Asai telah tertimpa bencana akibat kesalahan sendiri. Siapa yang akan membawa pemecahan untuk masalah ini? Siapa yang memiliki kemampuan membentuk budaya baru untuk era berikut, dan diterima oleh rakyat? Orang seperti itu lebih sedikit dari jumlah jari di satu tangan."

Hideyoshi tiba-tiba menegakkan kepala, dan mata Hanbei yang cekung tampak menyorot. Hanbei sudah di ambang maut, dan Hideyoshi pun tak dapat memastikan umur yang diberikan padanya, tapi sejenak pandangan mereka beradu.

"Hamba maklum, tuanku tentu bingung men- dengar ucapan hamba, sebab kini tuanku mengabdi pada Yang Mulia Nobunaga. Hamba memahami perasaan tuanku. Tuanku dan Yang Mulia Ieyasu tidak mempunyai semangat yang  diperlukan untuk men- dobrak situasi ini, maupun keyakinan untuk mengatasi segala persoalan yang timbul sampai sekarang. Siapa, selain Yang Mulia Nobunaga, yang sanggup memimpin negeri sejauh ini melalui kekacauan zaman? Tapi ini tidak berarti bahwa dunia telah diperbarui melalui sepak terjang beliau. Hanya dengan menundukkan provinsi-provinsi Barat, menyerang Kyushu, dan berdamai dengan Shikoku, bangsa ini belum tentu memperoleh kedamaian, keempat golongan rakyat belum tentu hidup berdampingan secara harmonis, budaya baru belum tentu terbentuk, dan landasan untuk kesejahteraan generasi-generasi berikut pun belum tentu terwuiud."

Rupanya Hanbei telah merenungkan hal-hal tersebut secara mendalam, menelaah semuanya dengan berpedoman pada kitab-kitab klasik dari Cina. Ia telah membandingkan pergolakan yang dihadapi negerinya dengan kejadian-kejadian sejarah, dan telah menganalisis gejolak-gejolak di balik situasinya dewasa ini.

Selama benahun-tahun menjadi anggota staf lapangan Hideyoshi, ia telah mendapatkan pandangan umum mengenai perkembangan Jepang. Namun kesimpulannya tetap ia rahasiakan. Bukankah Hideyoshi "orang berikutnya"? Bahkan di antara para pengikut Hideyoshi sendiri, yang siang-malam berada di dekatnya, yang kadang-kadang melihatnya bersama istri, berkelakar mengenai urusan sepele, tampak lesu, dan bicara tak keruan—atau yang membandingkan penampilannya dengan penampilan para pemimpin marga lain—tak ada satu dari sepuluh yang menganggap junjungannya memiliki bakat alam yang menonjol. Tapi Hanbei tidak menyesal telah mengabdi di sisi Hideyoshi atau menghabiskan se- tengah hidupnya demi kepentingan laki-laki itu. Ia justru bersukacita karena para dewa mempertemu- kannya dengan junjungan seperti itu, dan ia merasa tidak menyia-nyiakan hidupnya, sampai ke titik penghabisan.

Jika junjungan ini menjalankan perannya seperti yang kuduga, dan merampungkan tugas besar yang menanti di masa mendatang, pikir Hanbei, hidupku tidak sia-sia. Dengan semangat dan masa depan yang dimilikinya, secara garis besar angan-anganku dapat terlaksana. Orang mungkin berkata aku mati muda, tapi aku mati dengan baik.

"Selain itu," ujar Hanbei, "tak ada lagi yang perlu dikatakan. Hamba mohon tuanku menjaga diri baik- baik. Percayalah tuanku tak dapat digantikan, dan berusahalah lebih keras lagi setelah hamba tiada." Begitu Hanbei selesai berbicara, dadanya roboh seperti sepotong kayu busuk. Tak sedikit pun tersisa tenaga di tangannya yang kurus, yang seharusnya menopang badannya. Wajahnya membentur lantai, darah segar mulai menggenangi tikar jerami.

Hideyoshi melompat maju dan menahan kepala Hanbei, dan darah yang kini mengalir deras mem- basahi pakaiannya. "Hanbei! Hanbei! Kau hendak meninggalkan aku? Kau hendak pergi seorang diri? Apa yang harus kulakukan di medan tempur kalau kau tak lagi berada di sisiku?" Ia meratap, menangis sejadi-jadinya, tanpa memedulikan penampilan maupun reputasinya.

Wajah Hanbei yang pucat tampak letih, kepalanya bersandar di pangkuan Hideyoshi. "Mulai sekarang tuanku tak perlu khawatit mengenai apa pun."

Mereka yang lahir pada pagi hari, mati sebelum malam: dan mereka yang lahir di malam hari, mati sebelum fajar tiba. Hal ini tidak mutlak men- cerminkan pandangan ajaran Buddha mengenai kefanaan, jadi orang mungkin saja bertanya-tanya. mengapa justru kematian Hanbei yang melontarkan Hideyoshi ke dalam lembah kesedihan. Bagai- manapun, ia berada di medan perang. Setiap hari orang tewas bagaikan daun-daun berjatuhan di musim gugur. Tapi kesedihannya begitu mendalam, sehingga orang-orang yang turut berduka pun terperanjat, dan ketika ia akhirnya sadar—seperti anak kecil sehabis meraung-raung—dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Hanbei yang dingin dari pangkuan, dan tanpa bantuan meletakkannya di tempai tidur beralas kain putih, berbisik-bisik, seakan-akan Hanbei masih hidup.

"Gagasan-gagasanmu begitu besar. Kalaupun kau hidup dua atau tiga kali lebih lama dari umur manusia biasa, mungkin baru setengah dari harapan- harapanmu yang sempat terpenuhi. Kau tak ingin mati. Seandainya aku menjadi dirimu, aku pun takkan mau mati. Betul, Hanbei? Kau tentu menyesal karena begitu banyak hal terpaksa kautinggalkan dalam keadaan belum rampung, jika seorang jenius seperti kau lahir ke dunia, dan kurang dari seperseratus gagasanmu terlaksana, sudah sewajarnya kau tak ingin mati."

Betapa dalam kasih sayangnya untuk laki-laki itu! Tak henti-hentinya Hideyoshi berkeluh kesah di hadapan jenazah Hanbei. la tidak merapatkan tangan dan mengucapkan doa, tapi permohonannya untuk Hanbei seakan-akan tanpa akhir.

Kanbei, yang mengetahui kondisi Hanbei dari putranya, baru tiba sekarang .

"Terlambatkah aku?" Kanbei bertanya cemas. Kaki- nya yang pincang melangkah secepat mungkin. Ia melihat Hideyoshi yang duduk dengan mata merah di sisi tempat tidur, dan tubuh Hanbei yang membujur kaku, dingin. Kanbei duduk sambil mengerang, seolah-olah jiwa-raganya mendadak remuk. Kanbei dan Hideyoshi duduk diam, tanpa berkata -kata, hanya memandang jasad Hanbei.

Ruangan itu gelap seperti gua, namun tak satu lentera pun dinyalakan. Kain putih di bawah jenazah tampak seperti salju di dasar sebuah jurang.

"Kanbei," Hideyoshi akhirnya berkata dengan suara sarat oleh duka, "ini sungguh memilukan. Aku tahu ini takkan mudah, tapi..."

Kanbei tak mampu menjawab. Sepertinya ia pun tak sanggup berpikir jernih. "Ah, aku tak mengerti. Enam bulan lalu dia masih sehat. Dan sekarang ..." Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan seakan-akan baru sadar, "Ayolah. Apakah kita hanya akan duduk dan menangis? Kita harus menyapu ruangan dan memandikan jenazah untuk disemayamkan dalam kebesaran. Kita harus menyiapkan pemakaman yang pantas."

Sementara Kanbei memberikan perintah, Hide- yoshi menghilang. Dalam cahaya lentera yang ber- kelap-kelip, ketika orang-orang mulai bekerja dengan kaku, seseorang menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Hanbei di bawah bantalnya. Surat itu ditujukan pada Kanbei, ditulis dua hari sebelumnya.

Mereka mengebumikan Hanbei di Bukit Hirai. Tiupan angin musim gugur menambah suasana pilu.

Kanbei memperlihatkan surat terakhir Hanbei pada Hideyoshi. Isinya tidak menyangkut dirinya; Hanbei menulis mengenai Hideyoshi, serta rencana-rencana- nya untuk masa depan. Sebagian surat itu berbunyi demikian:

Kalaupun tubuhku hancur dan tinggal tulang-belulang di dalam tanah, jika tuanku tidak melupakan ketulusanku dan mengenangku walau hanya sesekali, jiwaku akan terus berembus dan takkan berhenti mengabdi, bahkan dari dalam liang kubur.

Karena beranggapan bahwa jasa-jasanya tidak memadai, namun tanpa menyesali kematiannya yang dini, Hanbei menanti ajal dengan berpegang pada keyakinan bahwa ia akan terus mengabdi junjungan- nya, meski yang tersisa dari dirinya hanyalah tulang- belulang yang telah memutih. Kini, pada waktu Hideyoshi merenungkan perasaan Hanbei yang paling dalam, mau tak mau ia menitikkan air mata. Tak peduli betapa ia berusaha menguasai diri, ia tak kuasa membendung tangisnya.

Akhirnya Kanbei berkata dengan tegas. "Tuanku, seyogyanya tuanku tidak terus berduka seperti ini. Hamba mohon tuanku sudi membaca sisa surat Hanbei dan berpikir dengan kepala dingin. Yang Mulia Hanbei telah menuliskan rencana untuk merebut Benteng Miki."

Kesetiaan Kanbei pada Hideyoshi tak tergoyahkan, tapi dalam situasi sekarang, nada suaranya menunjuk- kan ketidaksabaran terhadap cara Hideyoshi mem- perlihatkan sisi emosional wataknya.

Dalam suratnya, Hanbei meramalkan bahwa Benteng Miki akan takluk dalam seratus hari. Tapi ia pun mewanti-wanti agar kemenangan jangan diraih dengan serangan frontal, yang akan membawa banyak korban di pihak mereka, lalu ia menuliskan rencana terakhir:

Di Benteng Miki, tak seorang pun lebih pandai mem-baca situasi daripada Jendral Goto Motokuni. Dalam pandanganku, dia bukan prajurit yang menutup mata terhadap keadaan negeri dan menunjukkan kegagahannya dengan bertempur se-cara membabi buta. Sebelum operasi militer ini dimulai, aku beberapa kali berbincang-bincang dengannya di Benteng Himeji, jadi dapat dikatakan bahwa kami telah menjalin hubungan baik. Aku telah mengirim surat padanya, berisi desakan untuk menjelas- kan keuntungan dan kerugian situasi saat ini kepada junjungannya, Bessho Nagaharu. Jika Yang Mulia Nagaharu memahami ucapan Goto, matanya seharusnya terbuka, dan dia akan menyerah dan memohon damai. Tapi agar rencana ini dapat berjalan, kita harus menunggu saat yang tepat. Menurutku, waktu yang paling tepat adalah pada akhir musim gugur, ketika tanah tertutup daun-daun kering, bulan tampak sepi dan dingin di langit, dan para prajurit musuh menundukkan sanak tauladan. Para prajurit di Benteng Miki sudah terancam kelaparan. Mereka pasti sadar bahwa maut telah mengintai, dan mereka tentu didera oleh kesengsaraan. Serangan besar-besaran pada saat itu hanya memberikan kesempatan yang baik untuk mati pada mereka. Tapi jika kau menunda serangan dan, setelah memberi waktu pada mereka untuk berpikir dengan kepala dingin, mengirim surat untuk menjelaskan duduk perkaranya pada yang Mulia Nagaharu dan para pengikutnya, aku tidak ragu bahwa kau akan memperoleh hasil dalam tahun ini.

Kanbei menyadari bahwa Hideyoshi sangsi, apakah rencana Hanbei dapai berhasil, dan kini ia me- nambahkan pemikirannya sendiri.

"Sesungguhnya sudah dua-tiga kali Hanbei me- nyinggung rencana ini ketika dia masih hidup, tapi selalu ditunda karena waktunya belum tepat. Dengan seizin tuanku, hamba setiap saat siap bertugas sebagai utusan untuk menemui Goto di Benteng Miki." "Jangan, tunggu," ujar Hideyoshi sambil meng- gelengkan kepala. "Bukankah baru musim semi yang lalu kita memakai rencana serupa, yaitu mendekati salah seorang jendral di dalam benteng melalui kerabat Asano Yahei? Ketika itu tak ada jawaban. Belakangan kita baru mengetahui bahwa pada waktu orang kita menyarankan Bessho Nagaharu untuk menyerah, para jendral dan prajurit marah dan men- cincangnya. Rencana yang ditinggalkan Hanbei sekarang kedengarannya sama saja. bukan? Dan kurasa memang sama. Kalau tidak ditangani dengan cermat. kita hanya akan memperlihatkan kelemahan kita dan tidak meraih keuntungan apa pun."

"Bukan begitu, tuanku. Hamba kira Hanbei justru menekankan pentingnya menunggu saat yang tepat. Dan hamba pikir saat itu telah tiba."

"Kaukira sekarang saat yang tepat?"

"Hamba yakin sepenuhnya." Tiba-tiba mereka men- dengar suara-suara di luar. Selain suara para jendral dan prajurit yang sudah biasa mereka dengar, juga ada suara perempuan. Suara itu milik adik Hanbei, Oyu. Begitu diberitahu bahwa kakaknya berada dalam kondisi kritis. Oyu bertolak dari Kyoto, hanya disertai oleh beberapa pembantu. Dengan harapan ia masih dapat menjumpai Hanbei dalam keadaan hidup, Oyu bergegas ke Bukit Hirai, tapi semakin dekat ia ke garis depan, semakin berat medan yang harus ditempuhnya. Akhirnya ia terlambat.

Di mata Hideyoshi, perempuan yang kini mem- bungkuk di hadapannya telah berubah sama sekali. Ia menatap pakaian Oyu dan wajahnya yang kurus, dan kemudian, ketika ia hendak angkat bicara. Kanbei dan para pelayan sengaja menarik diri untuk membiarkan mereka berdua. Mula-mula Oyu hanya bisa mencucur- kan air mata, dan untuk waktu lama ia tak sanggup menatap Hideyoshi. Selama operasi militer di provinsi- provinsi Barat berlangsung, Oyu ingin bertemu dengannya, tapi kini, pada waktu berdiri di hadapan- nya, ia hampir tak sanggup menghampiri laki-laki itu.

"Kau sudah tahu bahwa Hanbei telah tiada?" "Sudah."

"Kau harus menerimanya. Tak ada yang dapat kita lakukan." Hati Oyu runtuh bagaikan salju yang men- cair, dan ia tersedu sedan sampai tubuhnya ter- guncang-guncang.

"Hentikan tangismu; ini tak pantas." Hideyoshi kehilangan kesabaran. Walau tak ada orang lain yang hadir, para pernbantu berdiri tepat di luar petak bertirai, dan ia merasa terpojok ketika membayang- kan apa saja yang mungkin mereka dengar.

"Mari kita pergi ke makam Hanbei bersama-sama," ujar Hideyoshi, dan ia mengajak Oyu menyusuri jalan setapak di belakang perkemahan, yang menuju puncak sebuah bukit kecil.

Angin musim gugur bertiup dingin ketika mereka menuju ke sebatang pobon cemara yang tumbuh di tempat terpencil. Di bawahnya terdapat gundukan tanah yang masih basah, berikut batu nisan. Biasanya, jika ada waktu senggang, selembar tikar digelar di kaki pohon cemara ini, dan Kanbei, Hanbei, serta Hideyoshi duduk bersama-sama, membahas masa lalu dan keadaan sekarang, sambil memandang bulan.

Oyu menyingkap semak-semak, mencari kembang untuk diletakkan di atas makam. Kemudian ia meng- hadap gundukan tanah tadi dan membungkuk di samping Hideyoshi. Air matanya telah berhenti. Di puncak bukit ini, rerumpuran dan pepohonan di akhir musim gugur memperlihatkan bahwa keadaan yang dihadapinya sekarang merupakan prinsip alam. Musim gugur berganti dengan musim dingin, musim dingin berganti dengan musim semi—alam tak mengenal duka maupun air mata.

"Tuanku, hamba ada permintaan, dan hamba ingin menanyakannya di sini, di tempat kakak hamba ter- baring."

"Ya?"

"Barangkali sanubari tuanku dapat memahaminya." "Aku memahaminya."

"Hamba mohon tuanku sudi membiarkan hamba pergi. Jika tuanku berkenan meluluskan permohonan ini, hamba tahu bahwa kakak hamba akan merasa lega, walau telah berada di akhirat."

"Hanbei meninggal dengan pesan bahwa jiwanya tetap akan mengabdi dari liang kubur. Bagaimana mungkin aku bisa menutup mata terhadap sesuatu yang dicemaskannya ketika dia masih hidup? Ikutilah kata hatimu." "Terima kasih. Dengan seizin tuanku, hamba akan berusaha memenuhi permintaannya yang terakhir."

"Ke manakah kau hendak pergi ?"

"Ke sebuah kuil di salah satu desa terpencil." Sekali lagi Oyu meitikkan air mata.

***

Setelah memperoleh restu dari Hideyoshi, Oyu menerima sejumput rambut serta pakaian Hanbei. Tak sepantasnya seorang perempuan berlama-lama di perkemahan militerer, jadi keesokan harinya Oyu segera menghadap Hideyoshi dan memberitahunya bahwa ia sudah siap berangkat.

"Hamba datang untuk berpamitan. Hamba mohon Yang Mulia mau menjaga diri baik-baik," katanya.

"Kenapa kau tidak tinggal dua atau tiga hari lagi di sini?" tanya Hideyoshi.

Selama beberapa hari berikut Oyu tinggal seorang diri di sebuah pondok terpencil, berdoa bagi arwah kakaknya. Hari demi hari berlalu tanpa kabar dari Hideyoshi. Gunung-gunung telah diselubungi bunga es. Setiap kali turun hujan di awal musim dingin ini, daun-daun berguguran. Kemudian, pada malam pertama bulan tampak jelas, seorang pelayan men- datangi Oyu dan berkata, "Yang Mulia ingin bertemu, dan beliau menunggu Tuan Putri di makam Tuan Hanbei. Beliau juga minta agar Tuan Putri malam ini bersiap-siap berangkat." Persiapan Oyu untuk menempuh perjalanan tidak banyak. Ia menuju makam Hanbei beserta Kumataro dan dua pembantu lainnya. Pohon-pohon telah kehilangan daun. Rerumputan pun layu. Seluruh bukit tampak gersang. Tanah kelihatan putih dalam cahaya bulan, seakan-akan dilapisi bunga es.

Salah satu dari keenam pengikut yang menyertai Hideyoshi mengumumkan kedatangan Oyu.

"Terima kasih atas kedatanganmu, Oyu," Hideyoshi berkata dengan lembut. "Sejak pertemuan kita yang terakhir, aku begitu sibuk menangani masalah-masalah militer, sehingga tak sempat mengunjungimu. Akhir- akhir ini udara sangat dingin, kau tentu kesepian."

"Hamba telah bertekad menghabiskan sisa hidup hamba di sebuah desa terpencil, jadi hamba takkan kesepian."

"Kuharap kau berdoa untuk arwah Hanbei. Tempat mana pun yang kaupilih sebagai tempat tinggal, aku tetap percaya bahwa kita akan berjumpa lagi," Hideyoshi berpaling pada makam Hanbei di bawah pohon cemara. "Oyu, aku telah menyiapkan sesuatu untukmu di sana. Aku sangsi apakah aku akan mendengar kemerduan koto-mu lagi. Setelah malam ini. Bertahun-tahun lalu, kau menyertai Hanbei dalam pengepungan Benteng Choteiken di Mino. Kau me- mainkan koto dan mencairkan hati para prajurit yang bertempur bagaikan iblis, sehingga mereka akhirnya menyerah. Kalau kau mau memainkannya sekarang, permainanmu akan merupakan persembahan bagi arwah Hanbei, sekaligus kenang-kenangan bagiku. Selain itu, jika nada-nadanya terbawa angin sampai ke benteng, para prajurit musuh mungkin akan tergugah untuk menyadari bahwa kematian mereka kini sia-sia belaka. Hanbei pun akan bersukacita seandainya usaha ini berhasil."

Hideyoshi mengajak Oyu ke pohon cemara, tempat sebuah koto disiapkan di tikar jerami.

Setelah menghadap pengepungan selama tiga tahun dengan segenap keberanian dan ketulusan, kegagahan para prajurit provinsi-provinsi Barat, yang memandang rendah pada orang lain, kini tinggal bayang-bayang.

"Aku tak peduli apakah aku mati hari ini atau besok, asal tidak mati kelaparan," salah satu dari mereka berkata.

Keadaan mereka demikian parah, sehingga mati dalam pertempuran merupakan harapan terakhir yang masih tersisa. Penampilan mereka masih seperti manusia, namun kini mereka merasa terpaksa meng- isap-isap sumsum tulang kuda-kuda yang sudah mati dan makan tikus, kulit pohon, dan akar-akaran. Untuk musim dingin yang sudah di ambang pintu, mereka sudah siap merebus tikar-tikar tatami dan makan tanah liat yang menempel di dinding-dinding. Dengan mata cekung, mereka saling menghibur, dan semangat mereka masih cukup guna menyusun rencana untuk melewati musim dingin sebaik mungkin. Jika musuh mendekat, mereka bahkan sanggup melupakan rasa lapar dan lelah, dan keluar untuk bertempur.

Namun sudah lebih dari setengah bulan para prajurit Hideyoshi tidak mendekati benteng, dan ini lebih menyiksa pasukan yang bertahan daripada bayangan kematian. Pada waktu matahari terbenam, seluruh benteng diselubungi kegelapan pekat bagaikan di dasar rawa. Tak satu lentera pun dinyalakan. Seluruh persediaan minyak ikan dan minyak lobak telah dihabiskan. Sebagai makanan. Banyak burung yang biasa berkerumun di pekarangan benteng pada pagi dan malam hari telah ditangkap dan disantap, dan belakangan ini burung-burung yang masih tersisa tak pernah datang lagi, mungkin karena mengetahui nasib yang menanti mereka. Para prajurit sudah makan begitu banyak burung gagak, sehingga hampir tak ada lagi yang dapat mereka tangkap. Di tengah kegelapan, mata para penjaga berbinar-binar kalau mendengar musang menyelinap. Secara naluri, cairan lambung mereka mulai mengalir, dan mereka saling berpandangan sambil menyeringai. "Perutku serasa diperas, seperti lap basah."

Bulan malam itu tampak indah, tapi para prajurit hanya mcnyayangkan bahwa bulan tak dapat dimakan. Daun-daun mati berjatuhan ke atap benteng dan di sekitar gerbang. Salah satu prajurit mengunyah daun- daun itu dengan rakus,

"Enak?" rekannya bertanya.

"Lebih baik daripada jerami," jawab prajurit itu, lalu memungut daun berikut. Mendadak ia tampak mual. batuk beberapa kali, dan memuntahkan daun-daun yang baru saja dimakannya.

"Jendral Goto!" seseorang tiba-tiba berseru, dan semuanya berdiri tegak. Goto Motokuni, pengikut utama marga Bessho, berjalan ke arah para prajurit tadi dari menara yang gelap gulita.

"Ada yang perlu dilaporkan?" Goto bertanya. "Tidak ada, Yang Mulia."

"Betulkah?" Goto memperlihatkan sebatang panah pada mereka. "Panah ini ditembakkan ke dalam benteng oleh musuh tadi. Sepucuk surat terikat pada panah ini, berisi pesan agar aku menemui salah satu jendral Yang Mulia Hideyoshi, Kuroda Kanbei, di sini."

"Kanbei mau datang malam ini! Laki-laki yang mengkhianati junjungannya demi orang-orang Oda. Dia tak pantas menjadi samurai. Kalau dia muncul. kami akan menyiksanya sampai mati."

"Dia utusan Yang Mulia Hideyoshi, dan tidak seharusnya kita membunuh orang yang telah mem- berita bukan kedatangannya lebih dulu. Di kalangan samurai berlaku kesepakatan bahwa utusan tak boleh dibunuh."

"Jendral musuh mana pun yang datang. Sebagai utusan akan kami perlakukan dengan baik, asal bukan Kanbei. Tapi dengan Kanbei, rasanya belum cukup kalau kami menggerogoti daging dari tulang-tulang- nya." "Jangan perlihatkan perasaan kalian pada musuh.

Tertawalah pada waktu kalian menyambutnya."

Ketika Goto memandang ke dalam kegelapan, ia dan pihak anak buahnya seakan-akan mendengar bunyi sayup-sayup di kejauhan.

Seketika Benteng Miki diliputi keheningan yang ganjil. Di malam yang sepekat tinta, rasanya tak seorang pun sanggup menarik napas, sementara daun- daun gugur berputar-putar dan menari-nari tak beraturan dalam suasana gaib.

"Suara kotor," salah satu prajurit berkata sambil menatap kehampaan di atasnya.

Kegembiraan mereka hampir meluap ketika men- dengar bunyi yang membangkitkan kerinduan itu. Orang-orang di menara pengintai, di ruang jaga, dan di setiap bagian benteng memiliki pikiran yang sama. Di bawah hujan panah, tembakan senapan, serta teriakan perang—dari fajar sampai senja, dan dari senja sampai fajar—orang-orang yang sudah tiga tahun berada di dalam benteng, terputus dari dunia luar, tetap bertahan dengan gigih, tanpa menyerah maupun mundur. Kini suara kotor tiba-tiba membangkitkan berbagai pikiran dalam benak masing-masing.

Tanah Leluhur, Sudikah kau menanti

Laki-laki yang tidak tahu Apakah malam ini Malam terakhir baginya Inilah sajak kematian Kikuchi Taketoki, jendral setia Tenno Godaigo, yang dikirim kepada istrinya ketika ia dikepung pasukan pemberontak.

Ketika orang-orang di dalam benteng merenungkan sajak itu dalam hati, para prajurit yang berada jauh dari rumah tentu ada yang memikirkan ibu, anak, kakak, dan adik yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Dan para prajurit yang tak lagi memiliki tempat pulang pun ikut terpengaruh oleh perasaan yang timbul akibat nada-nada koto itu. Tak seorang pun sanggup membendung air matanya.

Dalam hati Goto merasakan hal yang sama seperti anak buahnya, tapi ketika melihat roman muka para prajurit di sekelilingnya, ia cepat-cepat menahan diri. Ia sengaja bersikap ceria ketika menegur mereka. "Apa? Bunyi koto dari perkemahan musuh? Dasar! Untuk apa mereka membawa koto? Ini membuktikan betapa lemahnya para prajurit musuh. Mereka tentu lelah karena pengepungan berkepanjangan ini, lalu mengambil pesinden dari salah satu desa dan berusaha menghibur diri. Prajurit yang membiarkan semangat- nya begitu goyah tak patut diampuni. Jiwa prajurit sejati tidak selemah itu!"

Ucapannya membuyarkan lamunan para anak buahnya.

"Daripada memperhatikan kebodohan seperti int. lebih baik masing-masing orang menjaga posnya sendiri. Sebuah Benteng menyerupai tanggul yang menahan terjangan air lumpur. Tanggulnya panjang dan meliuk-liuk, tapi kalau satu bagian saja ambruk. keseluruhannya akan runtuh. Kalian semua seharus- nya berdiri tegak, bahu-membahu, tak bergerak bahkan saat ajal tiba. Kalau salah seorang dari kalian meninggalkan tempatnya, sehingga Benteng Miki jatuh ke tangan musuh, leluhurnya akan meratap di akhirat dan keturunannya akan menanggung aib dan menjadi bahan tertawaan."

Goto sedang membangkitkan semangat anak buah- nya ketika ia melihat dua atau tiga orang berlari ke benteng. Mereka segera memberitahunya bahwa jendral musuh yang kedatangannya telah diumumkan sudah sampai di pagar kayu runcing di kaki bukit.

Kanbei tiba, diusung tandu. Tandunya ringan, ter- buat dari kayu, jerami, dan bambu. Tak ada atap, dan kedua sisinya rendah, ia telah terbiasa mengayun- ayunkan pedang dari atas tandu jika menggempur musuh dalam pertempuran. Tapi malam ini ia datang dengan maksud damai sebagai utusan.

Di atas jubah tipis berwarna kuning. Kanbei me- makai baju tempur dan mantel dengan sulaman perak di atas dasar putih. Untung saja perawakannya kecil, sekitar seratus lima puluh tiga senti dan lebih ringan dari rata-rata, sehingga orang-orang yang menggotong tandunya tidak keberatan dan gerak-geriknya sendiri tidak terlambat.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah dari batik gerbang di pagar pertahanan. Sejumlah prajurit dari benteng  berlari menuruni lereng bukit. "Tuan Utusan. Tuan diperkenankan masuk!" mereka berseru. Begitu Kanbei mendengar seruan keras itu, gerbang di hadapannya membuka. Dalam kegelapan ia melihat sekitar seratus prajurit saling ber- desakan. Setiap kali mereka bergerak-gerak, kilau lombak-tombak mereka seakan-akan menusuk mata- nya.

"Maaf kalau kedatanganku merepotkan," Kanbei berkata pada orang yang mempersilakannya masuk. "Aku pincang, jadi aku terpaksa menggunakan tandu. Maafkanlah sikapku yang kurang pantas ini," Kemudian ia berpaling dan berkata kepada putranya, Shojumaru, satu-satunya orang yang ikut besertanya. "Kau jalan di depan."

"Baik." Setelah melewati tandu ayahnya, Shojumaru menerobos barisan tombak musuh.

Keempat pengusung mengikuti langkah Shoju- maru. Ketika melihat ketenangan yang diperlihatkan anak berusia tiga belas tahun itu serta ayahnya yang pincang, para prajurit Benteng Miki yang haus darah dan kelaparan tak bisa marah, walaupun mereka ber- hadapan dengan musuh. Kini mereka paham bahwa pihak musuh memiliki keteguhan dan kegigihan yang sebanding dengan keteguhan dan kegigihan mereka sendiri, sehingga sebagai sesama prajurit, mereka bersimpati dengan para utusan. Anehnya, Kanbei dan Shojumaru bahkan menggugah perasaan mereka.

Setelah melewati pagar pertahanan dan gerbang benteng, Kanbei dan putranya tiba di gerbang utama, tempat Goto dan pasukan pilihannya menunggu dengan acuh tak acuh.

Sekarang aku mengerti bagaimana Benteng Miki di- pertahankan oleh orang-orang ini, pikir Kanbei. Benteng ini takkan runtuh, walaupun mereka kehabisan perbekalan. Mereka akan bertahan, tanpa memedulikan harga yang harus mereka bayar. Kanbei melihat bahwa semangat tempur orang-orang itu tidak berkurang sedikit pun, dan beban tanggung jawabnya terasa semakin berat. Perasaan ini segera berubah menjadi keprihatinan mendalam atas situasi yang di- hadapi Hideyoshi. Tanpa bersuara Kanbei mengulangi ikrarnya di dalam hati. Entah bagaimana caranya, tapi misi yang diembankan padaku harus berhasil.

Goto dan para anak buahnya terkejut oleh sikap utusan yang mendatangi mereka. Inilah jendral pasukan penyerang, tapi orang itu tidak menatap mereka dengan angkuh. Ia malah hanya disertai seorang pemuda tampan. Bukan itu saja; ketika Kanbei menyapa Goto, ia cepat-cepat minta tandunya diturunkan, dan dengan berdiri di atas kedua kaki, menyapanya sambil tersenyum.

"Jendral Goto, aku Kuroda Kanbei, dan aku datang sebagai utusan Yang Mulia Hideyoshi. Aku merasa tersanjung bahwa semua orang keluar untuk menyambutku."

Kanbei sama sekali tidak bersikap tinggi hati. Sebagai utusan musuh, ia memberi kesan yang sangat baik. Ini mungkin karena ia mendekati mereka dari hati ke hati, tanpa memedulikan menang atau kalah, dengan pengertian bahwa ia dan para musuhnya sama- sama samurai. Namun alasan ini belum cukup untuk memaksa pihak musuh menerima tujuan kedatangan- nya, yaitu membujuk mereka untuk menyerah. Sekitar satu jam Kanbei berbicara dengan Goto di salah satu ruangan di benteng yang gelap gulita, lalu bangkit dari tempat duduknya sambil berkata, "Baiklah, aku akan menunggu jawaban Tuan."

"Aku akan memberikan jawaban setelah berunding dengan Yang Mulia Nagaharu dan para jendral lain," ujar Goto, dan ikut berdiri. Dengan demikian, pem- bicaraan malam itu memberi kesan bahwa hasil negosiasi melebihi harapan Kanbei dan Hideyoshi— tapi lima hari berlalu, kemudian tujuh, sepuluh, dan belum juga ada jawaban dari benteng. Bulan Kedua Belas datang dan pergi, dan kedua pasukan yang bertikai menyongsong Tahun Baru ketiga dari pengepungan. Di perkemahan Hideyoshi, para prajurit masih memiliki nasi untuk dimakan dan sedikit sake untuk diminum, tapi mereka tak dapat melupakan bahwa orang-orang di dalam benteng tidak mempunyai perbekalan dan hanya dengan susah payah menyambung nyawa. Sejak misi Kanbei di Bulan Kesebelas, Benteng Miki tenggelam dalam kesedihan dan kesunyian. Konon para prajuritnya bahkan kehabisan peluru untuk menembak pasukan penyerang. Namun Hideyoshi tetap menunda serbuan besar-besaran, dan berkata, "Barangkali mereka takkan bertahan lebih lama lagi."

Kalau pengepungan ini dipandang sekadar sebagai adu ketahanan, posisi yang kini ditempati Hideyoshi tak dapat disebut sulit atau tidak menguntungkan. Namun sesungguhnya perkemahan di Bukit Hirai maupun posisi Hideyoshi bukan bagian dari per- juangannya sendiri. Pada dasarnya, ia menggempur salah satu mata rantai persekutuan musuh yang terdiri atas orang-orang yang menentang supremasi Nobu- naga, dan ia sendiri tak lebih dari perpanjangan tangan Nobunaga yang mencari lubang untuk men- dobrak barisan musuh yang mengelilinginya. Karena itu, lambat laun Nobunaga mulai bertanya-tanya mengenai operasi militer di provinsi-provinsi Barat yang tak kunjung berakhir.

Dan musuh-musuh Hideyoshi dalam staf lapangan Nobunaga mulai mempertanyakan pilihan Nobunaga dalam menentukan komandan. Mereka berkilah bahwa sejak semula tanggung jawab ini terlalu berat bagi Hideyoshi.

Untuk membuktikan perasaan mereka saingan- saingan Hideyoshi menuduh bahwa ia menghambur- hamburkan uang militer untuk meraih popularitas di kalangan rakyat setempat, atau ia tidak tegas melarang sake di perkemahan karena takut memancing antipati para prajurit. Tapi apa pun yang dipertanyakan oleh para saingannya, segala urusan sepele yang tak pantas sampai di telinga Nobunaga terdengar juga di Azuchi dan dimanfaatkan untuk memfitnah Hideyoshi. Namun Hideyoshi tak pernah memedulikan gunjingan mengenai dirinya. Tentu saja ia pun manusia biasa yang memiliki perasaan seperti semua orang lain, dan ia juga bukannya tidak mengetahui desas-desus yang beredar: ia hanya tak mau dipusing- kan oleh hal-hal seperti ini.

"Urusan sepele setiap urusan sepele," ia biasa ber- kata: "Kalau diselidiki, semuanya akan jelas dengan sendirinya." Satu-satunya hal yang membebani pikirannya adalah komplotan penentang Nobunaga yang bertambah kuat setiap hari. Marga Mori yang memiliki kekuatan besar sedang membenahi, menyusun rencana dengan pihak Honganji, ber- hubungan dengan marga Takeda dan Hojo yang jauh di Timur, dan menghasut marga-marga di pesisir laut Jepang. Kekuatan mereka dapat dipahami dengan mengkaji posisi Araki Murashige di Benteng Itami, yang walau dikepung oleh pasukan utama Nobunaga. belum juga berhasil ditaklukkan.

Sesungguhnya yang diandalkan Murashige dan marga Bessho bukanlah kekuatan mereka sendiri, maupun kekokohan tembok-tcmbok pertahanan scmata-mata. Tak lama lagi pasukan Mori akan datang membantu! Sebentar lagi Nobunaga akan kalah! Inilah yang menyebabkan semangat mereka tetap tegak. Pada umumnya, masalah paling berat bukan musuh yang berhadap-hadapan langsung dengan Nobunaga, me- lainkan musuh yang menunggu dalam bayang-bayang.

Pihak Honganji   dan   Mori   memang   musuh Nobunaga, tapi Araki Murashige di Itami dan Bessho Nagaharu di Benteng Miki-lah yang secara langsung merintangi ambisinya.

Malam itu Hideyoshi tiba-riba memutuskan untuk menyalakan api unggun. Ia sedang melawan udara malam yang dingin, ketika ia berbalik dan melihat para pelayan muda yang riang berdiri di dekat api. Mereka setengah telanjang dan meributkan sesuatu yang rupanya lucu bagi mereka.

"Sakichi! Shojumaru! Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Hideyoshi, hampir iri akan kegembira- an mereka.

"Tidak ada apa-apa." jawab Shojumaru, yang baru- baru ini diangkat sebagai pelayan pribadi. Cepat-cepat ia berpakaian dan merapikan baju tempumya.

"Tuanku." Sakichi menyela. "Shojumaru malu hati mengemukakan masalah pada tuanku, karena memang menjijikkan. Tapi hamba akan angkat bicara, scbab kalau kami tidak memberitahukannya, tuanku tentu akan curiga."

"Baiklah. Apa yang sedemikian menjanjikan se- hingga Shojumaru harus malu?"

"Kami saling mencari kutu." "Kutu?"

"Ya. Mula-mula salah satu dari kami menemukan seekor merayap di kerah baju hamba, lalu Toranosuke mendapatkan seekor lagi di dengan baju Sengoku. Akhirnya semua berkata bahwa yang lain terserang kutu, dan di tengah-tengah seloroh itu, ketika kami datang ke sini untuk menghangatkan badan di dekat api, kami menemukan kutu merayap pada baju tempur semua orang. Sekarang kami mulai merasa gatal-gatal, jadi kami akan membantai seluruh pasukan musuh. Kami akan melakukan pembasmian, persis seperti ketika Gunung Hiei dibumihanguskan!"

"Begitukah?" Hideyoshi tertawa. "Rasanya kutu-kutu pun letih karena terus dikepung."

"Tapi situasi kami berbeda dengan Benteng Miki. Kutu-kutu ini tidak kekurangan perbekalan, jadi kalau kami tidak membakar semuanya, mereka takkan pernah menyerah."

"Cukup. Sekarang aku pun mulai terserang gatal- gatal."

"Sudah lebih dari sepuluh hari tuanku tidak mandi. bukan? Hamba yakin tuanku pun tengah menghadapi serangan gerombolan 'musuh'!"

"Cukup, Sakichi!" Seakan-akan hendak menambah kegembiraan para pelayan, Hideyoshi bergegas meng- hampiri mereka dan mengguncang-guncangkan badan Sebagai bukti bahwa bukan mereka saja yang mengatasi masalah kutu.

Tiba-tiba seorang prajurit mengintip dari luar kemah. "Apakah Tuan Shojumaru ada di sini?"

"Ya, aku di sini," balas Shojumaru. Prajurit itu salah satu pengikut ayahnya.

"Kalau Tuan tidak sedang sibuk melaksanakan tugas, ayah Tuan ingin bertemu."

Shojumaru minta izin pada Hideyoshi. Karena permintaan ini kurang lazim, Hideyoshi tampak terkejut, tapi cepat-cepat memberikan persetujuannya. Shojumaru segera pergi, disertai oleh pengikut ayahnya. Api unggun menyala di mana-mana, dan semua kesatuan sedang bergembira ria. Mereka sudah kehabisan makanan dan sake, tapi sebagian suasana Tahun Baru masih terasa. Malam ini menandai hari kelima belas di Bulan Pertama. Ayah Shojumaru tidak berada di perkemahan. Tanpa mengindahkan hawa dingin, ia duduk di sebuah kursi, di puncak bukit yang jauh dari barak-barak darurat.

Tak ada perlindungan dari terpaan angin dingin yang menusuk-nusuk kulit dan hampir membuat darah berhenti mengalir. Tapi Kanbei hanya me- mandang ke dalam kegelapan. scolah-olah ia sebuah patung prajurit yang terbuat dari kayu.

"Ayah, aku sudah datang."

Kanbei hanya bergerak sedikit ketika Shojumaru melangkah ke sampingnya dan berlutut.

"Kau sudah mendapat izin dari majikanmu?" "Sudah, dan aku segera datang."

"Kalau begitu, temani aku duduk di sini sejenak" "Baik."

"Perhatikan Benteng Miki. Bintang-bintang ter- selubung awan dan tak satu lentera pun menyala di dalam benteng, jadi kau mungkin tidak melihat apa- apa. Tapi kalau matamu sudah terbiasa dengan kegelapan ini, bentengnya akan tampak samar-samar." "Untuk inikah aku diminta datang?"

"Ya," ujar Kanbei, sambil memberikan tempat duduknya pada putranya. "Selama dua atau tiga hari terakhir aku mengamati benteng, dan entah kenapa aku mendapat kesan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalamnya. Sudah setengah tahun kita tidak melihat asap, tapi sekarang ada sedikit, dan ini mungkin membuktikan bahwa hutan kecil yang mengelilingi benteng—satu-satunya rintangan yang menghalangi pandangan dari luar—sedang ditebang dan digunakan Sebagai kayu bakar. Kalau kau pasang telinga saat malam telah larut, kau akan merasa mendengar suara- suara, tapi sulit untuk mengatakan apakah itu suara tangis atau tawa. Pokoknya, selama Tahun Baru telah terjadi sesuatu yang tidak biasa di dalam benteng." "Ayah yakin?"

"Sebenarnya tidak ada perubahan nyata, dan kalau aku ternyata keliru tapi sudah keburu mengumum- kannya, orang-orang kita mungkin menjadi tegang dengan sia-sia. Itu mungkin merupakan kesalahan serius yang dapat menimbulkan saat lengah, dan kelengahan ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak musuh. Tidak, aku hanya duduk di sini memandangi benteng pada malam kemarin dan malam sebelumnya, dan aku merasa sedang terjadi sesuatu. Bukan memandang dengan mata kepala, melainkan dengan mata batin."

"Itu sulit sekali."

"Ya, memang sulit, tapi bisa juga dianggap mudah. Kau tinggal menenangkan hati dan mengosongkan batinmu. Karena itulah aku tak bisa memanggil para prajurit lain. Kuminta kau duduk di sini dan meng- gantikanku untuk beberapa waktu."

"Aku paham."

"Jangan sampai tertidur. Kau memang diterpa angin dingin, tapi setelah terbiasa, kau akan mengantuk."

"Aku takkan melakukan kesalahan."

"Satu hal lagi. Segera lapor pada jendral-jendral Iain begitu kau melihat api di dalam benteng, walau hanya sekilas. Dan kalau kau melihat prajurit musuh me- ninggalkan benteng, nyalakan sumbu cerawat, lalu lari menghadap Yang Mulia."

"Baik."

Shojumaru mengangguk sambil menatap panah api yang tertancap di tanah di depannya. Situasinya lumrah untuk medan tempur, tapi tak sekali pun ayahnya bertanya, apakah tugas itu berat atau menyiksa, dan Kanbei pun tidak berusaha menenang- kan anak itu. Namun Shojumaru memahami bahwa ayahnya selalu berusaha menurunkan ilmu kemiliterannya, sesuai situasi yang tengah dihadapi. Shojumaru merasakan pancaran kehangatan, bahkan dari balik sikap ayahnya yang teramat serius, dan ia menganggap dirinya sangat beruntung.

Kanbei meraih tongkatnya, dan sambil terpincang- pincang menuju ke arah barak-barak. Tapi ia tidak memasuki perkemahan, melainkan terus menuruni gunung seorang diri. Dengan cemas para pem- bantunya bertanya ke mana ia hendak pergi .

"Ke bukit-bukit di bawah," Kanbei menjawab singkat, dan walaupun harus bertopang pada tongkatnya, ia mulai menuruni jalan setapak dengan langkah yang hampir dapat dikatakan ringan. Orang- orang yang semula menyertai Kanbei, Mori Tahei dan Kuriyama Zensuke, segera menyusulnya.

"Tuanku!'' Mori memanggil. "Tunggu!"

Kanbei berhenti, memegang tongkat, dan menoleh ke arah mereka. "Rupanya kalian berdua?"

"Hamba tercengang melihat kelincahan tuanku," ujar Mori, tersengal-sengal. "Dengan kaki tuanku yang cedera, hamba khawatir tuanku akan celaka."

"Aku sudah tcrbiasa berjalan dengan kakiku yang pincang," Kanbei menampik sambil tertawa. "Aku hanya jatuh kalau aku mcmikirkan kakiku saat aku melangkah. Belakangan ini aku bisa bergerak lebih bebas. Tapi aku tak ingin memamerkannya."

"Tuanku sanggup melakukannya di tengah-tengah pertempuran?"

"Kurasa tandu lebih baik untuk medan perang. Dalam pertempuran jarak dekat pun aku bebas meng- genggam pedang dengan kedua tangan atau merebut tombak musuh. Satu-satunya hal yang tak dapat kulakukan hanyalah berlari maju-mundur. Jika aku duduk di tandu dan melihat gelombang prajurit musuh siap menerjang, aku dikuasai oleh gejolak tak tertahankan. Rasanya seolah-olah musuh akan mundur hanya dengan mendengar suaraku." "Ah, tapi keadaan sekarang sangat berbahaya. Bagian-bagian tebing yang terlindung dari matahari masih disdimuti salju, dan tuanku mungkin tergelincir dalam arus salju yang mencair."

"Di bawah sana ada sungai, bukan?"

"Perkenankan hamba menggendong tuanku ke seberang." Mori menawarkan punggungnya.

Kanbei digotong menyeberangi sungai. Ke mana- kah mereka hendak pergi ? Kedua pengikut Kanbei tak punya bayangan sama sekali. Beberapa jam sebelumnya, mereka melihat seorang prajurit datang dari pagar pertahanan di kaki gunung dan menyerah- kan sesuatu yang tampak seperti surat pada Kanbei, dan tak lama kemudian, mereka tiba-riba disuruh menyertai Kanbei, tapi tidak memperoleh keterangan lebih lanjut.

Setelah perjalanan lumayan jauh, Kuriyama mulai menyinggungnya. "Tuanku, apakah komando pos jaga di kaki gunung mengundang tuanku malam ini?"

"Apa? Kaukira kita diundang makan?" Kanbei terkekeh-kekeh. "Kaupikir perayaan Tahun Baru tak ada habis-habisnya? Bahkan Yang Mulia Hideyoshi pun sudah tidak lagi mcngadakan upacara minum teh."

"Kalau begitu, ke manakah kita pergi ?" "Ke pagar pertahanan di tepi Sungai Miki."

"Pagar pertahanan di tepi sungai? Itu tempat berbahaya!"

"Tentu saja berbahaya. Tapi pihak musuh juga menganggapnya begitu. Di situlah kedua perkemahan bertemu."

"Hmm, bukankah lebih baik kalau kita membawa lebih banyak orang?"

"Tidak perlu. Pihak musuh pun tidak membawa rombongan besar. Kurasa kita hanya akan menemui seorang pembantu dan seorang anak kecil."

"Anak kecil?" "Benar."

"Hamba tidak mengerti."

"Ikut sajalah. Dan jangan ribut. Aku bukannya tak mau memberi tahu kalian, tapi untuk sementara lebih baik kalau urusannya tetap kurahasiakan. Setelah Benteng Miki takluk, aku juga akan menjelaskan duduk perkatanya pada Yang Mulia Hideyoshi.'

"Benteng Miki akan takluk?"

"Apa jadinya kalau tidak? Pertama-tama, kemung- kinan besar musuh akan menyerah kalah dalam dua atau tiga hari mendatang. Mungkin bahkan besok."

"Besok?" Kedua pengikut itu menatap Kanbei dengan mata terbelalak. Wajahnya tampak putih terkena pantulan cahaya dari air sungai yang jernih. Ilalang kering terdengar berdesir di tempat-tempat dangkal. Mori dan Kuriyama berhenti karena ngeri. Mereka melihat sebuah sosok berdiri di antara ilalang di tepi seberang.

"Siapa itu?" Kejutan berikut berbeda dari kejutan pertama. Sepertinya mereka berhadapan dengan jendral musuh yang berkedudukan tinggi, tapi orang itu hanya disertai satu pembantu yang menggendong anak kecil di punggung. Tak ada tanda-tanda bahwa ketiganya datang dengan maksud buruk. Sepertinya mereka sedang menunggu kedatangan mmbongan Kanbei.

"Tunggu di sini," Kanbei memerintahkan.

Dengan taat kedua pengikutnya memperhatikan majikan mereka menjauh.

Ketika Kanbei mulai berjalan, musuh yang berdiri di tengah ilalang pun maju satu-dua langkah. Begitu mereka dapat saling melihat dengan jelas, keduanya menegur sapa, seakan-akan mereka sahabat lama. Seandainya pertemuan rahasia antarmusuh di tempat seperti ini sempat diaksikan oleh orang lain, orang itu tentu akan mencium persekongkolan, tapi kelihatan- nya Kanbei maupun jendral musuh yang ditemuinya sama sekali tidak mengacuhkan pertimbangan se- macam itu.

"Anak yang hendak kutitipkan pada Tuan berada di punggung laki-laki itu. Pada waktu benteng akhirnya takluk dan aku menemui ajal di medan tempur besok, kuharap Tuan tidak menertawakan kasih sayang seorang ayah. Dia anak kecil tak berdosa dan masih begitu polos." Inilah jendral musuh, komandan Benteng Miki, Goto Motokuni. Ia dan Kanbei kini berbicara dengan akrab, karena baru pada akhir musim gugur tahun lalu Kanbei mendatangi Benteng Miki sebagai utusan Hideyoshi, menyarankan agar mereka menyerah. Pada waktu itu pun pembicaraan mereka berlangsung dalam suasana bersahabat. "Rupanya Tuan telah membulatkan tekad. Aku

ingin bertemu dengannya. Suruh orang itu membawa- nya kc sini."

Ketika Kanbei memberi isyarat halus, pengikut Goto maju dari balik majikannya, melepaskan tali yang mengikat anak di punggungnya, dan menurun- kan anak itu dengan hati-hati.

"Berapa umurnya?"

"Baru tujuh tahun." Pengikut Goto tentu sudah lama bertugas sebagai pengasuh anak itu; ia menjawab pertanyaan Kanbei sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca, membungkuk satu kali, lalu mundur lagi.

"Namanya?" tanya Kanbei, dan kali ini ayah anak itu yang menjawab.

"Dia dipanggil Iwanosuke. Ibunya telah tiada, dan tak lama lagi ayahnya akan menyusul. Tuan Kanbei, aku mohon dengan sangat agar Tuan sudi menjaga masa depan anak ini."

"Jangan khawatir. Aku pun seorang ayah. Aku memahami perasaan Tuan, dan aku akan memastikan dia dibesarkan di bawah pengawasanku sendiri. Kalau dia telah dewasa kelak, nama marga Goto takkan lenyap dari muka bumi,"

"Kalau begitu, besok aku bisa menyambut maut tanpa penyesalan." Goto berlutut dan mendekap putranya. "Perhatikan baik-baik apa yang dikatakan ayahmu sekarang. Umurmu sudah tujuh tahun. Putra samurai tak pernah menangis. Upacara akil baligmu masih jauh, dan kau masih merindukan cinta kasih ibumu dan ingin berada di sisi ayahmu. Tapi kini dunia dilanda pertempuran. Kita tak kuasa mencegah perpisahan ini, dan sudah sewajarnya aku gugur ber- sama junjunganku. Tapi sesungguhnya nasibmu tidak terlalu malang. Kau beruntung bisa berada bersamaku sampai malam ini, dan untuk itu kau harus memanjatkan syukur kepada dewa-dewa langit dan bumi. Mulai sekarang, kau akan berada di sisi laki-laki ini, Kuroda Kanbei. Tuan Kanbei akan menjadi majikan sekaligus orangtua yang membesarkanmu, jadi kau harus taat kepadanya. Kau mengerti?"

Ketika ayahnya menepuk-nepuk kepalanya dan ber- bicara dengannya, Iwanosuke berulang kali meng- angguk sambil membisu, sementara air mata mengalir di pipinya. Nasib Benteng Miki kini sudah jelas. Semua orang di dalam benteng, yang berjumlah beberapa ribu, tentu saja berikrar untuk gugur ber- sama junjungan mereka, dan telah bertekad untuk menghadapi kematian dengan gagah berani. Kemauan Goto sekeras batu karang, dan sekarang pun ia tak goyah sedikit pun. Tapi ia memiliki putra yang masih kanak-kanak, dan ia tak sampai hati menyaksikan kematian seorang anak yang tak berdosa. Iwanosuke masih terlalu kecil untuk memikul beban sebagai keturunan samurai.

Selama hari-hari sebelum pertemuan ini, Goto mengirim surat pada Kanbei yang—walaupun berada di pihak musuh—dipandangnya sebagai orang yang dapat dipercaya. Goto telah membuka hatinya pada Kanbei, memohon Kanbei untuk membesarkan putranya.

Ketika menguliahi putranya yang masih kecil itu, ia menyadari bahwa saat perpisahan telah tiba, dan setetes air mata mengalir tanpa dapat dicegah. Akhirnya ia berdiri dan dengan tegas menyuruh Iwanosuke menghampiri Kanbei, seakan-akan hendak mencampakkan bocah malang itu.

"Iwanosuke, kau pun harus memohon kemurahan hati Tuan Kanbei."

"Tenangkanlah pikiran Tuan," Kanbei meyakinkan laki-laki itu ketika ia meraih tangan putranya. Ia memerintahkan salah satu pengikutnya untuk mem- bawa anak itu kembali ke perkemahan.

Baru sekarang kedua pengikut Kanbei memahami maksud majikan mereka. Mori mengangkat Iwanosuke ke punggungnya dan berangkat bersama Kuriyama.

"Baiklah," ujar Kanbei.

"Ya, inilah saat untuk berpisah." balas Goto. Ucapan dan tindakan tidak selalu berjalan seiring.

Kanbei berusaha mengeraskan hati dan pergi secepatnya, tapi walaupun ia menganggap ini sebagai tindakan paling baik, kakinya terasa berat melangkah.

Akhirnya Goto berkata sambil tersenyum, "Tuan Kanbei, jika besok kita berjumpa di medan tempur, dan kita membiarkan ujung tombak kita menjadi tumpul karena perasaan kita, kita akan menanggung aib sampai akhir zaman. Kalau yang terburuk terjadi, aku takkan segan-segan memenggal kepala Tuan. Secmoga Tuan tidak lengah!" Ia menyemburkan kata- kata itu sebagai ucapan perpisahan, kemudian langsung berbalik dan berjalan ke arah benteng.

Kanbei pun segera kembali ke Bukit Hirai, menghadap Hideyoshi, dan memperlihatkan putra Goto.

"Besarkan dia dengan baik." Hideyoshi berpesan. "Itu akan merupakan perbuatan amal. Dia kelihatan gagah, bukan?" Hideyoshi sangat sayang pada anak kecil, dan ia memandang wajah Iwanosuke dengan ramah dan menepuk-nepuk kepalanya.

Barangkali Iwanosuke belum mengerti; usianya baru tujuh tahun. Ia berada di perkemahan asing bersama orang-orang asing, sehingga ia menatap segala sesuatu di sckelilingnya dengan mata terbelalak. Berthun-tahun kemudian ia akan meraih ke- masyhuran sebagai prajurit marga Kuroda. Tapi sekarang ia hanya bocah cilik yang ditinggal seorang diri, hampir seperti kera gunung yang jatuh dari pohonnya.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Benteng Miki akhirnya berhasil ditaklukkan. Hari itu hari ketujuh belas di Bulan Pertama tahun Tensho Kedelapan. Nagaharu, adik laki-lakinya Tomoyuki, dan para pengikut seniornya membelah perut masing-masing, benteng dibuka, dan Uno Uemon menyampaikan surat penyerahan pada Hideyoshi. Kami bertahan selama dua tahun dan telah mengerahkan segala daya sebagai prajurit. Satu-satunya hal yang tak tega kusaksikan adalah kematian beberapa ribu prajurit setia dan para anggota keluargaku.

Demi para pengikutku aku memohon dan berbarap Tuan sudi memperlibatkan belas kasihan.

Hideyoshi meluluskan permohonan jantan ini dan menerima penyerahan Benteng Miki.