--> -->

Taiko Bab 20 : Tiga Putri

Bab 20 : Tiga Putri

MENJELANG siang, prajurit-prajurit di gerbang mulai berteriak. "Mereka datang!"

Para penembak dorong-mendorong di atas tembok pertahanan, berlomba-lomba memilih sasaran. Tapi satu-satunya musuh yang mendekat adalah seorang penunggang kuda, dan ia menghampiri gerbang dengan gaya seenaknya. Seandainya ia dikirim sebagai utusan, ia pasti dikawal oleh sejumlah penunggang kuda lainnya. Dengan curiga pasukan itu bertahan, menyaksikan orang itu mendekat.

Ketika ia semakin dekat, salah satu komandan berkata pada seorang prajurit bersenapan, "Dia pasti jendral musuh. Dia tidak kelihatan seperti kurir, dan dia sangat berani. Tembak dia sekarang juga."

Sebcnarnya komandan itu menghendaki agar satu orang melepaskan tembakan peringatan, tapi tiga atau empat anak buahnya menarik picu secara bersamaan.

Ketika mereka menembak, si penunggang kuda berhenti, seakan-akan merasa heran. Kemudian ia mengacungkan kipas perang berlambang matahari merah pada latar belakang emas, melambai-lambaikannya di atas kepala, dan berseru, "Hei, prajurit! Tunggu dulu! Apakah Kinoshita Hideyoshi termasuk orang yang mau kalian tembak? Kalau begitu, tembaklah aku setelah aku bicara dengan Yang Mulia Nagamasa." Ia berlari sambil bicara, sampai berada hampir tepat di bawah gerbang benteng.

"Hmm, rupanya Kinoshita Hideyoshi dari pihak Oda. Mau apa dia di sini?" Jendral marga Asai yang menatap ke bawah merasa curiga terhadap maksud kedatangan Hideyoshi, tapi lupa untuk mencoba menembaknya.

Hideyoshi menengadahkan kepala. "Aku ingin menyampaikan pesan ke benteng dalam," ia kembali berseru.

Apa yang terjadi? Suara-suara yang tengah berdebat terdengar jelas. Tak lama kemudian, tawa mengejek bercampur dengan suara-suara itu, dan seorang jendral marga Asai menyembulkan kepala melewati tepi tembok.

"Lupakan saja. Kurasa Tuan hanya juru runding yang dikirim sebagai utusan oleh Nobunaga. Tuan hanya membuang-buang waktu, enyahlah dari sini!"

Hideyoshi meninggikan suaranya. "Diam! Mana ada peraturan yang memperbolehkan seorang pengikut mengusir tamu majikannya, tanpa lebih dulu minta izin pada majikannya? Benteng ini boleh dibilang sudah berada di tangan kami, dan aku takkan mau repot-repot menjadi utusan sekadar untuk mempercepat penaklukannya." Ucapan Hideyoshi sedikit pun tidak bernada merendah. "Aku datang sebagai wakil Yang Mulia Nobunaga, dan ingin memberikan penghormatan terakhir. Kalau kami tidak salah dengar. Yang Mulia Nagamasa sudah bertekad menyambut maut, dan telah menyelenggarakan upacara pemakamannya pada saat dia masih hidup. Mereka pernah berteman. Jadi bukankah Yang Mulia Nobunaga seharusnya diperkenankan membakar dupa? Sudah tidak adakah tenggang rasa bagi seseorang yang menjunjung tinggi persahabatan? Apakah ketetapan hati Yang Mulia Nagamasa dan para pengikutnya tidak lebih dari kepura-puraan? Apakah ini sekadar gertakan atau keberanian palsu seorang pengecut?"

Wajah di atas gerbang menghilang, mungkin karena malu. Selama beberapa saat tak ada jawaban, tapi akhirnya gerbang membuka sedikit.

"Jendral Fujikake Mikawa bersedia menemui Tuan." ujar laki-laki yang memberi isyarat untuk masuk kepada Hideyoshi. Tapi kemudian ia menambahkan, "Tuanku Nagamasa menolak menerima kedatangan Tuan."

Hideyoshi mengangguk. "Tak mengapa. Aku menganggap Yang Mulia Nagamasa telah tiada, dan aku takkan mempersoalkan hal ini."

Sambil bicara, ia melangkah masuk tanpa menoleh kiri-kanan. Bagaimana mungkin laki-laki ini berjalan demikian tenang di tengah-tengah musuh?

Ketika Hideyoshi menyusuri jalan setapak yang panung dan gerbang pertama ke gerbang utama, ia sama sekali tidak memedulikan orang yang mengantarnya. Pada waktu ia mendekati pintu benteng dalam, Mikawa keluar untuk menyambutnya. "Sudah lama kita tidak berjumpa." ujar Hideyoshi, seakan-akan hanya bertegur sapa biasa.

Mereka pernah bertemu sebelumnya, dan Mikawa membalas ucapan Hideyoshi sambil tersenyum. "Ya. memang sudah lama. Bertemu dalam situasi seperti sekarang agak di luar dugaan, Tuan Hideyoshi."

Semua prajurit di dalam benteng tampak bermata merah, tapi wajah jendral tua ini tidak kelihatan seperti wajah seseorang di bawah tekanan.

"Jendral Mikawa, terakhir kali kita bertemu pada hari pernikahan Putri Oichi, bukan? Sudah lama sekali."

"Memang demikian."

"Hari itu hari bahagia bagi kedua marga."

"Tak ada yang dapai meramalkan nasib. Tapi kalau Tuan mengingat gangguan dan bencana di masa lampau, situasi ini pun tidak terlalu aneh. Mari, silakan masuk. Aku tak bisa memberikan sambutan berarti, tapi perkenankanlah aku menawarkan secawan teh."

Mikawa mengajaknya ke pondok minum teh. Ketika Hideyoshi menatap punggung jendral tua berambut putih itum, ia menyadari bahwa Mikawa telah melewati garis pemisah antara hidup dan mati.

Pondok minum teh yang mereka tuju berukuran kecil dan agak terpencil, di ujung jalan setapak yang menembus pepohonan. Hideyoshi duduk, dan merasa ia berada di dunia lain. Dalam keheningan di pondok minum teh, baik tuan rumah maupun tamunya untuk sementara dibersihkan dari penumpahan darah di dunia luar.

Penghujung musim gugur telah di ambang pintu. Daun-daun di pohon-pohon terdengar berdesir, tapi tak setitik debu pun menempel pada lantai kayu yang mengilap.

"Kabarnya para pengikut Yang Mulia Nobunaga mulai mempraktekkan upacara minum teh." Sambil beramah tamah, Mikawa mengangkat sendok air ke ketel besi.

Hideyoshi menyadari kesantunan orang itu dan cepat-cepat minta maaf. "Tuanku Nobunaga dan para pengikutnya memahami upacara minum teh, tapi aku sendiri hanya orang bodoh dan tidak mengerti apa-apa mengenai itu. Aku hanya menyukai rasa teh."

Mikawa meletakkan cawan dan mengaduk teh dengan sapu kecil. Gerakannya yang anggun hampir menyerupai gerakan wanita. Tangan dan tubuh yang ditempa oleh baju tempur tidak tampak kaku sedikit pun. Dalam ruangan yang dihiasi cawan teh dan ketel sederhana, gemerlap baju tempur jendral tua ini berkesan ganjil.

Aku bertemu dengan orang yang tepat, pikir Hideyoshi dan ia lebih memperhatikan watak orang itu daripada tehnya. Tapi bagaimana Oichi bisa dibawa keluar dari benteng? Jika Nobunaga merasa susah, Hideyoshi pun demikian. Sejauh ini semua rencana Hideyoshi berhasil, sehingga ia juga merasa bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini. Benteng Odani akan takluk kapan saja mereka menghendakinya, tapi tak ada gunanya mengerjakan sesuatu dengan ceroboh, lalu terpaksa mencari permata dalam reruntuhan. Lebih jauh lagi, Nagamasa telah memperlihatkan pada kedua pihak bahwa ia telah bertekad menyambutr kematian, dan istrinya bersikap sama.

Nobunaga menyimpan harapan yang tak mungkin terkabul, yaitu memenangkan pertempuran dan menyelamatkan Oichi tanpa cedera.

"Jangan pikirkan etika," ujar Mikawa, sambil menawarkan cawan teh dari tempat ia berlutut di depan tungku.

Hideyoshi duduk dengan gaya prajurit, bersilang kaki. Ia menerima cawan yang disodorkan kepadanya, dan menghabiskan isinya dengan tiga teguk.

"Ah, nikmat sekali. Aku tidak tahu bahwa teh bisa senikmat ini. Dan aku tidak sekadar berusaha menyanjung."

"Satu cawan lagi?"

"Tidak, dahagaku telah terpuaskan. Paling ridak. dahaga di mulutku. Tapi aku tidak tahu bagaimana memenuhi dahaga di dalam hatiku, Jendral Mikawa, tampaknya Jendral orang yang bisa diajak bicara. Sudikah jendral mendengarkanku?"

"Aku pengikut marga Asai. dan Tuan utusan marga Oda. Dari posisi itulah aku akan mendengarkan tuan." "Kumohon Jendral mengatur pertemuan antara aku

dan Yang Mulia Nagamasa." "Permohonan itu telah ditolak pada waktu Tuan berdiri di depan gerbang. Tuan diperkenankan masuk karena Tuan mengaku kedatangan Tuan bukan untuk menemui Yang Mulia Nagamasa. Tuan telah sampai di sini. Menarik kembali ucapan Tuan merupakan siasat yang tidak terpuji. Aku tak bisa mengizinkan Tuan menemui beliau."

"Bukan. Bukan. Aku tidak bermaksud menemui Yang Mulia Nagamasa yang masih hidup. Sebagai wakil tuanku Nobunaga, aku ingin memberi penghormatan kepada arwah Yang Mulia."

"Jangan bermain kata. Kalaupun aku menyampaikan keinginan Tuan kepada Yang Mulia, tak ada alasan untuk berharap beliau sudi menerima Tuan. Sesungguhnya aku berharap mengambil bagian dalam etiket samurai dengan minum teh bersama Tuan. Jika Tuan mempunyai rasa malu, pergilah sekarang, sebelum Tuan mencoreng arang di kening Tuan."

Jangan bergerak. Jangan pergi. Hideyoshi telah bertekad untuk tidak mengalah sebelum berhasil mencapai tujuannya. Ia duduk sambil membisu. Mengumbar kata bukan strategi tepat untuk menghadapi jendral tua yang berpengalaman ini.

"Hmm, aku akan mengantar Tuan ke gerbang." Mikawa menawarkan.

Dengan geram Hideyoshi memandang ke arah lain. dan tidak mengatakan apa-apa. Sementara itu, sang tuan rumah menyiapkan secawan teh untuk dirinya. Setelah menghirupnya dengan cara yang serasi, ia menyingkirkan peralatan membuai teh.

"Aku tahu permintaanku ini egois, tapi perkenankanlah aku tinggal sedikit lebih lama," ujar Hideyoshi. Ia tetap tak bergerak. Roman mukanya menunjukkan bahwa ia takkan beranjak dari tempatnya.

"Tuan boleh tinggal di sini selama Tuan suka, tapi ini tidak akan bermanfaat."

"Belum tentu."

"Hanya ada satu cara untuk mengartikan kata-kata yang baru saja kuucapkan. Apa yang hendak Tuan lakukan di sini?"

"Aku mendengarkan suara air mendidih di dalam ketel."

"Air di dalam ketel?" Mikawa tertawa. "Dan Tuan mengaku tidak tahu apa-apa mengenai upacara minum teh!"

"Memang, aku tidak tahu apa-apa mengenai itu, tapi suaranya menyenangkan. Mungkin karena aku hanya mendengar teriakan perang dan pekikan kuda selama perang berkepanjangan ini, tapi suara airnya menyenangkan sekali. Izinkanlah aku duduk sejenak di sini. agar aku bisa merenung."

"Aku tidak tahu apa yang hendak Tuan renungkan, tapi aku tidak mengizinkan Tuan menemui Yang Mulia, atau bahkan maju satu langkah ke arah menara." ujar Mikawa ketika ia berdiri untuk pergi.

Hideyoshi hanya menjawab. "Bunyi ketel ini sungguh menyenangkan." Ia bergeser mendekati tungku, dan sambil terkagum-kagum menatap ketel besi itu. Yang tiba-tiba menarik perhatiannya adalah pola yang menonjol pada permukaan besi. Sukar untuk menentukan apakah pola itu menggambarkan manusia atau monyet, tetapi makhluk kecil itu. dengan kaki dan tangannya ditopang oleh dahandahan pohon, berdiri dengan sombong di antara langit dan bumi.

Dia mirip aku! pikir Hideyoshi. tanpa mampu menahan senyum. Tiba-tiba ia teringat pada masa setelah ia meninggalkan rumah Matsushita Kahei dan menjelajahi gunung dan hutan, tanpa makanan dan tanpa tempat berteduh.

Hideyoshi tidak tahu apakah Mikawa berdiri di luar dan mengintip, atau telah pergi dengan gusar, tapi yang jelas. Mikawa tidak lagi berada di pondok minum teh.

Ah, ini menarik. Ini benar-benar menarik, pikir Hideyoshi. Sepertinya ia sedang bicara dengan ketel itu. Seorang diri ia menggelengkan kepala. Sambil menggeleng ia merenungkan keputusannya untuk tidak bergerak, tak peduli apa yang terjadi.

Di suatu tempat di pekarangan, Hideyoshi mendengar suara lugu dua anak kecil yang sedang berusaha agar tidak tertawa. Anak-anak itu menatap Hideyoshi melalui celah-celah pagar yang mengelilingi pondok minum teh.

"Lihat, dia mirip monyet." "Ya! Persis seperti kera." "Dari mana dia, ya?"

"Dia pasti utusan Dewa Monyet."

Hideyoshi berbalik dan menemukan anak-anak itu berlindung di balik pagar.

Sementara Hideyoshi asyik mengamati ketel air. kedua anak itu diam-diam mengamati dirinya.

"Oh!" Kegembiraan Hideyoshi meluap-luap. Anakanak itu adalah dua dari keempat anak Nagamasa. Hideyoshi yakin bahwa anak laki-laki itu Manju, dan anak perempuan di sebelahnya kakaknya, Chacha. Ia melemparkan senyum pada mereka.

"Tuan Monyei tersenyum."

Kedua anak itu langsung mulai berbisik-bisik. Hideyoshi pura-pura cemberut. Hasilnya bahkan lebih hebat daripada senyuman. Menyadari bahwa orang asing bermuka monyet itu mau bermain-main dengan mereka, Manju dan Chacha menjulurkan lidah dan mengerut-ngerutkan muka.

Hideyoshi memelototi mereka, dan mereka memelototi Hideyoshi, mencoba siapa yang tahan lebih lama.

Hideyoshi tertawa berderai, mengaku kalah.

Manju dan Chacha tertawa gembira. Dengan lambaian tangan. Hideyoshi memberi isyarat agar mereka mendekat dan bermain-main lagi.

Ajakan itu menggugah rasa ingin tahu kedua anak itu, dan diam-diam mereka membuka pintu pagar.

"Tuan datang dari mana?"

Hideyoshi turun dari serambi dan mulai mengikat tali sandal jeraminya. Manju menggodanya dengan menggelitik tengkuk Hideyoshi dengan sebatang rumput. Hideyoshi tidak menanggapi keusilan ini, dan terus mengikat tali sandal.

Tapi ketika ia berdiri, dan kedua anak melihat roman mukanya, mereka ketakutan dan berusaha kabur.

Hideyoshi sendiri pun sempat terkejut. Begitu Manju mulai lari, Hideyoshi menangkap kerah bajunya. Pada waktu yang sama ia berusaha menangkap Chacha dengan tangannya yang satu lagi, tapi gadis cilik itu menjerit sekuat tenaga dan lari sambil menangis. Manju begitu kaget, sehingga bahkan tidak merengek. Tapi ketika ia terjatuh dan menatap Hideyoshi dari bawah, melihat wajah orang itu berikut seluruh langit dalam keadaan terbalik, ia akhirnya berteriak.

Fujikake Mikawa telah meninggalkan Hideyoshi seorang diri di pondok minum teh, dan telah melewati jalan setapak. Mikawa-lah orang pertama yang mendengar jeritan Chacha dan teriakan Manju di pondok itu. Dengan cemas ia kembali ke sana, untuk memeriksa apa masalahnya

"Apa? Manusia celaka!" Mikawa melepaskan teriakan ngeri, dan secara naluriah tangannya bergerak meraih gagang pedang.

Sambil berdiri mengangkangi Manju, Hideyoshi berdiri dengan nada memaksa agar orang tua itu berhenti. Ketegangan memuncak. Mikawa hendak menyerang Hideyoshi dengan pedangnya, tapi mundur ketakutan ketika melihat apa yang akan dilakukan lawannya. Sebab mata dan pedang di tangan Hideyoshi menunjukkan bahwa ia siap menusuk batang leher Manju tanpa ragu sedikit pun. Bulu roma jendral tua yang tenang itu berdiri tegak.

"Ma... manusia celaka! Hendak kauapakan anak iru?" Nada suara Mikawa hampir sedih. Perlahan-lahan ia mendekat. Seluruh tubuhnya gemetar karena menyesal dan geram. Waktu para pengikut yang menyertai jendral itu memahami apa yang terjadi, mereka berteriak-teriak, melambai-lambaikan tangan, dan segera memberitahukan kejadian ini pada semua orang.

Para penjaga dari gerbang utama dan benteng dalam juga telah mendengar jeritan Chacha, dan kini bergegas ke tempat kejadian.

Mengelilingi musuh aneh yang memelototi mereka sambil menempelkan pedangnya ke leher Manju, para samurai membentuk lingkaran baja. Mereka menjaga jarak, mungkin karena ngeri terhadap apa yang terlihat di mata dan tangan Hideyoshi. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, selain berseruseru bingung.

"Jendral Mikawa!" Hideyoshi memanggil satu wajah di antara mereka. "Apa jawaban jendral? Cara ini memang agak kasar, tapi aku tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan muka junjunganku. Kalau jendral tidak menjawab, aku akan membunuh Tuan Manju!" Hideyoshi memandang berkeliling dengan pandangan garang. "Jendral Mikawa, perintahkan prajurit-prajurit ini mundur! Setelah itu kita bicara. Begitu sulitkah untuk menentukan apa yang harus jendra) lakukan? Pemahaman Jendral sungguh lamban. Mungkinkah Jendral membunuhku, sekaligus menyelamatkan anak laki-laki ini tanpa menyebabkan dia menderita cedera? Masalah Jendral serupa dengan masalah tuanku Nobunaga yang hendak menaklukkan benteng ini, sekaligus menyelamatkan Oichi. Bagaimana mungkin Jendral menyelamatkan nyawa Manju? Kalaupun aku ditembak dengan senapan, pedang ini akan menembus lehernya pada saat yang sama."

Beberapa saat hanya lidah Hideyoshi yang aktif, dan kata-katanya meluncur deras. Tapi sekarang matanya ikut bergerak-gerak, dan seiring dengan peragaan kefasihan lidahnya, seluruh indranya terus memperhatikan musuh yang mengelilinginya.

Tak ada yang dapat berbuat apa-apa. Mikawa menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan besar, dan dengan saksama ia mendengarkan ucapan Hideyoshi. Ia telah pulih dari rasa kagetnya dan kembali memancarkan ketenangan yang ia perlihatkan sebelumnya, di pondok minum teh. Akhirnya Mikawa memberi isyarat kepada orang-orang yang mengepung Hideyoshi. "Jauhi dia. Serahkan urusan ini padaku. Biarpun aku harus bertukar tempat dengannya, Tuan Muda tidak boleh celaka. Semua kembali ke pos masing-masing." Kemudian ia berpaling pada Hideyoshi dan berkata, "Seperti yang Tuan minta, mereka sudah bubar. Sekarang harap serahkan Tuan Manju padaku."

"Tidak!" Hideyoshi menggeleng tegas, tapi kemudian mengubah nada suaranya. "Aku akan melepaskan Tuan Muda, tapi aku ingin mengembalikannya langsung kepada Yang Mulia Nagamasa. Bersediakah Jendral mengatur penemuan antara aku dan Yang Mulia Nagamasa besena Putri Oichi?"

Nagamasa berdiri di tengah kerumunan yang baru saja bubar. Ketika mendengar Hideyoshi, ia tak dapat menahan diri lebih lama. Dikuasai oleh kasih sayang kepada putranya, ia bergegas maju sambil mencaci maki Hideyoshi.

"Permainan busuk macam apa ini, mempertaruhkan nyawa bocah tak berdosa, hanya agar kau bisa bicara! Jika kau memang jendral Oda yang bernama Kinoshita Hideyoshi, kau seharusnya malu karena menggunakan siasat busuk seperti ini. Baiklah! Jika kau menyerahkan Manju padaku, kita akan bicara."

"Oh! Yang Mulia ada di sini?" ujar Hideyoshi. Tanpa memedulikan roman muka laki-laki itu. Hideyoshi membungkuk memberi hormat. Namun ia tetap mengangkangi Manju dan menempelkan ujung pedang pendeknya ke leher anak laki-laki itu.

Fujikake Mikawa berkata dengan suara bergetar. "Tuan Hideyoshi! lepaskanlah anak itu! Tidak percayakah Tuan pada janji Yang Mulia? Serahkanlah Tuan Muda padaku."

Hideyoshi tidak memperhatikan ucapan Mikawa, melainkan memandang ke arah Asai Nagamasa. Ketika menatap wajah pucat Nagamasa dan matanya yang putus asa. Hideyoshi akhirnya mendesah panjang.

"Ah, Rupanya Yang Mulia pun mengenal kasih sayang terhadap darah daging sendiri? Yang Mulia mengerti ikatan batin dengan orang yang dicintai? Hamba pikir Yang Mulia tidak memahami hal-hal semacam ini."

"Bajingan, kau tetap tidak mau melepaskan putraku? Kau akan membunuh anak kecil ini?"

"Sedikit pun hamba tidak bermaksud demikian. Tapi Yang Mulia, seorang ayah, sama sekali tidak menghargai pertalian darah."

"Bicaramu tak keruan! Bukankah setiap orangtua menyayangi anaknya?"

"Betul. Bahkan binatang liar pun demikian." Hideyoshi sependapat. "Dan karena itu, hamba kira Yang Mulia tak mungkin mencemooh tuanku Nobunaga yang karena keinginannya untuk menyelamatkan Oichi tak dapat menghancurkan benteng ini. Dan bagaimana dengan Yang Mulia sendiri? Bagaimanapun. Yang Mulia suami Oichi. Bukankah Yang Mulia memanfaatkan kelemahan tuanku Nobunaga dengan berusaha mempertautkan nyawa Oichi dan anak-anaknya dengan nasib benteng ini? Itu sama saja seperti aku kini mengancam Tuan Manju dengan pedangku agar dapat bicara dengan Yang Mulia. Sebelum mencela tindakanku sebagai perbuatan pengecut, harap Yang Mulia pertimbangkan dulu apakah strategi Yang Mulia sendiri tidak sama saja."

Sambil bicara, Hideyoshi menangkap Manju dan mendekapnya. Melihat kesan lega yang muncul di wajah Nagamasa. Hideyoshi tiba-tiba melangkah maju. menyerahkan Manju, lalu menyembah di depan kakinya. "Hamba mohon ampun atas perbuatan kasar ini. Sejak awal hamba melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Hamba mengambil tindakan ini terutama untuk mencoba mengurangi penderitaan batin tuanku Nobunaga. Tapi hamba juga menyesalkan bahwa Yang Mulia, seorang samurai yang memperlihatkan ketetapan hati sampai akhir hayatnya, setelah ini mungkin akan dibicarakan sebagai orang yang kehilangan kendali diri dalam saat-saat terakhirnya. Jangan membuat kesalahan. Tindakan ini antara lain juga demi kebaikan tuanku. Bebaskanlah Oichi dan anak-anaknya."

Hideyoshi tidak merasa memohon pada komandan musuh. Ia menghadapi hati nurani laki-laki itu dan sepenuhnya membeberkan perasaan sesungguhnya. Kedua tangannya bersilang di depan dada, dan ia berlutut penuh hormat di depan Nagamasa. Terlihat jelas bahwa sikapnya itu lahir secara tulus.

Nagamasa memejamkan mata dan mendengarkan Hideyoshi sambil membisu. Ia menyilangkan tangan, kakinya menapak kokoh, ia tampak seperti patung dengan baju tempur lengkap. Sepertinya Hideyoshi sedang membacakan doa bagi arwah Nagamasa. yang seakan-akan sudah menjadi mayat hidup, seperti dikemukakan Hideyoshi pada waktu ia memasuki benteng.

Sanubari kedua laki-laki itu—yang satu bermaksud berdoa, yang satu lagi bertekad mati—bersentuhan sejenak. Batas antara dua musuh lenyap, dan seluruh perasaan Nagamasa terhadap Nobunaga tiba-tiba terkelupas dari tubuhnya.

"Mikawa, bawalah Tuan Hideyoshi ke tempat lain dan temani dia. Aku memerlukan waktu untuk berpamitan."

"Berpamitan?"

"Aku akan meninggalkan dunia ini, dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anakanakku. Aku sudah menanti-nanti kematian. dan bahkan telah mengadakan upacara pemakaman, tapi... mungkinkah perpisahan saat kita masih hidup lebih berat daripada perpisahan ketika maut menjemput? Kurasa utusan Yang Mulia Nobunaga sependapat bahwa yang pertamalah yang lebih berat."

Hideyoshi terperanjat. Ia mengangkat wajah dan menatap laki-laki di hadapannya. "Maksud Yang Mulia, Oichi dan anak-anaknya boleh pergi?"

"Menyerahkan istri dan anak-anakku ke dalam pelukan maut dan membiarkan mereka binasa bersama benteng ini sangatlah tercela. Aku telah memutuskan bahwa tubuhku sudah mati, namun hatiku tetap dikuasai hawa nafsu dan prasangka yang dangkal. Ucapan Tuan membuatku malu. Aku memohon agar Tuan bersedia menjaga Oichi yang masih begitu muda, dan anak-anakku."

"Dengan nyawa hamba. Yang Mulia." Hideyoshi membungkuk sampai keningnya menempel di lantai. Ia langsung membayangkan wajah Nobunaga yang gembira.

"Hmm, nanti kita bertemu lagi," ujar Nagamasa sambil berbalik. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju menara.

Mikawa mengantar Hideyoshi ke sebuah ruang tamu, kali ini sebagai utusan resmi Nobunaga.

Rasa lega tercermin dalam mata Hideyoshi. Kemudian ia berbalik dan berkata kepada Mikawa. "Maaf, dapatkah Jendral menunggu sejenak sementara aku memberi isyarat kepada orang-orang di luar benteng?"

"Isyarat?" Mikawa curiga, dan bukannya tanpa alasan.

Namun Hideyoshi melanjutkan seakan-akan permintaannya merupakan hal yang wajar. "Betul. Aku berjanji memberi isyarat ketika aku datang ke sini atas perintah tuanku Nobunaga. Seandainya perundingan tidak berjalan lancar, aku seharusnya menyulut kebakaran sebagai tanda penolakan Yang Mulia Nagamasa. walaupun untuk itu aku harus mengorbankan nyawa. Setelah itu tuanku Nobunaga akan langsung menyerang. Sebaliknya, jika semua berjalan sesuai rencana dan aku bisa bertemu Yang Mulia Nagamasa, aku harus mengibarkan bendera. Pokoknya, kami telah sepakat bahwa pasukan kami akan menunggu sinyal dariku."

Mikawa tampak terkejut ketika memperoleh penjelasan mengenai persiapan laki-laki di hadapannya. Tapi yang membuatnya semakin terkejut adalah selongsong isyarat yang disembunyikan Hideyoshi di dekat tungku di pondok minum teh.

Setelah mengibarkan bendera dan kembali ke ruang tamu. Hideyoshi tertawa dan berkata, "Seandainya aku sempat mendapat kesan bahwa perundingan tadi tidak mengalami kemajuan, aku sudah bersiap-siap lari ke pondok minum teh dan menendang cerawat ke dalam tungku. Itu pasti akan membuat upacara minum teh jadi semarak sekali!"

Hideyoshi ditinggal seorang diri. Sudah tiga jam berlalu sejak Mikawa mengantarnya ke ruang tamu dan memintanya menunggu sejenak.

Rupanya dia tidak terburu-buru, pikir Hideyoshi dengan jemu. Bayang-bayang malam sudah mulai menggapai langit-langit di ruangan kosong itu. Ruangan itu cukup gelap, hingga perlu dinyalakan lentera, dan ketika Hideyoshi menatap ke luar, ia melihat matahari musim gugur membanjiri pegunungan di sekeliling dengan cahaya merah.

Piring di hadapannya kosong. Akhirnya ia mendengar suara langkah. Seorang laki-laki memasuki ruangan. "Benteng ini sedang dikepung. Tak banyak yang dapat kutawarkan, tapi Yang Mulia telah memintaku menyiapkan makan malam untuk Tuan." Laki-laki itu menyalakan sejumlah lentera.

"Hmm, dalam keadaan seperti sekarang, Yang Mulia tak perlu memikirkan makan malam untukku. Aku sendiri justru ingin bicara dengan Jendral Mikawa. Sebenarnya aku tak ingin merepotkan, tapi mungkinkah Jendral Mikawa dipanggil ke sini?"

Mikawa muncul tak lama kemudian. Dalam waktu kurang dari empat jam ia tampak sepuluh tahun lebih tua: seluruh tenaganya seakan-akan lenyap, dan kelopak matanya menunjukkan bekas air mata. "Maafkan aku," katanya. "Aku telah melalaikan Tuan."

"Ini bukan waktunya merisaukan etiket." balas Hideyoshi. "Tapi aku heran mengapa Yang Mulia Nagamasa begini berlama-lama. Apakah dia sudah berpamitan pada Oichi dan anak-anaknya? Hari sudah malam."

"Tuan benar. Tapi apa yang mula-mula diucapkan secara perkasa oleh tuanku Nagamasa... ehm... Yang Mulia sedang memberitahu anak-istrinya bahwa mereka harus berpisah untuk selama-lamanya... kurasa Tuan bisa membayangkan....'' Jendral tua itu menunduk dan mengusap mata dengan jari. "Putri Oichi berkeras tak ingin meninggalkan sisi suaminya untuk kembali pada kakaknya. Dia terus memohon, jadi sukar memastikan kapan mereka selesai."

"Ya, tapi..." "Putri Oichi bahkan memohon padaku. Dia berkata bahwa ketika dia menikah, dia bersumpah bahwa benteng ini akan menjadi makamnya. Dan tampaknya Chacha pun memahami bencana yang menimpa ayah dan ibunya. Tangisnya mengibakan hati dan dia bertanya mengapa dia harus berpisah dengan ayahnya dan mengapa ayahnya harus mati. Jendral Hideyoshi, maafkanlah aku, sikapku ini tidak pada tempatnya." Mikawa mengusap mata, berdeham, lalu menangis.

Hideyoshi bersimpati atas apa yang sedang dialami Mikawa, dan ia pun memahami kesedihan Nagamasa dan Okhi. Hideyoshi lebih mudah terharu daripada orang-orang lain, dan kini air mata mulai membasahi pipinya. Berulang kali ia tersedu-sedu dan menatap langit-langit. Tapi ia tidak melupakan misinya dan menegur dirinya sendiri—ia tak boleh disesatkan oleh emosi. Ia menghapus air matanya dan kembali mendesak.

"Aku telah berjanji untuk menunggu, tapi kita tak bisa menunggu terus. Aku berharap mereka diberi batas waktu. Misalnya, Tuan bisa menentukan sampai jam berapa mereka diberi waktu."

"Tentu. Hmm... keputusan ini merupakan tanggung jawabku, tapi aku berharap Tuan sudi menunggu sampai jam Babi. Setelah itu aku menjamin bahwa sang ibu beserta anak-anaknya sudah meninggalkan benteng."

Hideyoshi tidak menolak. Namun sesungguhnya tak ada waktu untuk berlama-lama. Nobunaga benekad merebut Odani sebelum matahari tenggelam. Seluruh pasukan sedang menunggu penuh harap. Walaupun Hideyoshi telah mengibarkan bendera sebagai tanda bahwa usaha penyelamatan berhasil, terlalu banyak waktu berlalu. Baik Nobunaga maupun para jendral tak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam benteng. Selama masa penantian, Hideyoshi bisa membayangkan kebingungan mereka, perbedaan pendapat yang terjadi di markas besar, dan keraguraguan di wajah Nobunaga ketika ia mendengarkan suara-suara bimbang.

"Usul Tuan masuk akal," ujar Hideyoshi. "Baiklah, mereka tak perlu terburu-buru. Kita tunggu sampai Jam Babi."

Mikawa gembira atas persetujuan Hideyoshi dan kembali ke menara. Saat itu hari sudah semakin gelap. Beberapa pelayan membawakan sajian lezat dan sake bagi Hideyoshi.

Setelah para pelayan pergi. Hideyoshi minum seorang diri. Sepertinya seluruh tubuhnya menghirup musim gugur dari cawan di tangannya. Sake yang diminumnya tak bisa membuat mabuk—dingin dan agak pahit. Hah, sebaiknya ini pun kutenggak penuh semangat. Seberapa besar perbedaan antara mereka yang menuju kematian dan mereka yang ditinggalkan? Mungkin hanya sekejap, jika dilihat dari sudut filsafat, mengingat ribuan tahun yang telah berlalu. Ia berusaha untuk tertawa keras. Tapi setiap kali ia mereguk minumannya, hatinya serasa disayat-sayat. Entah kenapa, ia merasa seakan-akan dikelilingi isak tangis dalam keheningan yang mengimpit.

Kesedihan dan sedu sedan Oichi; Nagamasa; wajah anak-anak yang tak berdosa. Hideyoshi bisa membayangkan apa yang sedang berlangsung di menara. Bagaimana seandainya aku berada di tempat Asai Nagamasa? ia bertanya-tanya. Kemudian pikiran itu membelok, dan ia teringat ucapan terakhirnya pada Nene.

"Aku samurai. Aku mungkin gugur dalam pertempuran kali ini. Jika aku mati. kau sebaiknya menikah lagi sebelum kau berusia tiga puluh. Setelah kau berusia tiga puluh, kecantikanmu akan memudar, dan kemungkinan untuk memperoleh perkawinan bahagia semakin kecil. Kau mampu menentukan pilihan sendiri, dan manusia sebaiknya siap untuk memilih-milih dalam menempuh hidup ini. Jadi, jika kau sudah lebih dari tiga puluh, pilihlah jalan yang kauanggap terbaik. Aku tidak menyuruhmu menikah lagi. Selain itu, seandainya kita punya anak. rencanakanlah masa depan agar anak itu menjadi pusat perhatianmu, baik ketika kau masih muda atau bertahun-tahun kemudian. Jangan menyerah pada keluhan perempuan. Berpikirlah sebagai seorang ibu. dan gunakan naluri seorang ibu dalam segala hal."

Hideyoshi telah terlelap. Ini tidak berarti ia berbaring, ia duduk tegak dan kelihatan seperti sedang bermeditasi. Dari waktu ke waktu kepalanya mengangguk. Ia ahli dalam hal tidur. Kemampuan ini berkembang selama masa mudanya yang penuh keprihatinan, dan ia begitu berdisiplin, sehingga ia bisa tertidur kapan saja ia mau, tak peduli waktu maupun tempat.

Ia terjaga karena mendengar bunyi rebana. Makanan dan sake telah disingkirkan. Cahaya lentera berkedap-kedip. Rasa pening telah hilang dari kepala, begitu juga kelelahan yang semula dirasakannya. Hideyoshi menyadari bahwa ia rupanya tidur cukup lama. Secara bersamaan ia merasakan kegembiraan menyelubungi dirinya. Sebelum ia terlelap, suasana di benteng terasa muram dan pilu, tapi kini suasananya telah berubah dengan bunyi rebana dan tawa, dan anehnya, kehangatan yang ramah mengalir entah dari mana.

Mau tak mau Hideyoshi merasa seperti tersihir. Tetapi ia terjaga, dan semuanya nyata. Ia mendengar bunyi rebana, dan seseorang sedang bersenandung. Suara-suara itu berasal dari menara dan terdengar sayup-sayup, tapi Hideyoshi yakin bahwa baru saja ada orang tertawa berderai-derai.

Tiba-tiba Hideyoshi ingin berada di tengah keramaian, dan ia keluar ke selasar, ia melihat banyak lentera dan banyak orang di kediaman Nagamasa, di seberang pekarangan luas. Angin lembut membawa bau sake, dan pada waktu angin bertiup ke arahnya, ia mendengar para samurai bertepuk tangan mengatur irama dan bersenandung. Kembang-kembang merah Tua, Buah prem wangi.

Pohon-pohon hijau.

Nilai laki-laki tergantung pada hati nuraninya. Laki-laki di antara laki-laki.

Samurai, itulah kami; Kembang di antara kembang. Samurai, itulah kami

Hidup manusia berlalu seperti ini. Apa artinya tanpa kesenangan Biarpun kita takkan melihat hari esok.

Terutama jika kita takkan melihat hari esok. Inilah teori yang dianut Hideyoshi. Ia, yang membenci kegelapan dan mencintai cahaya, telah menemukan sebuah berkah di dunia ini. Hampir tanpa sadar ia menuju ke arah keramaian, seakan-akan ditarik oleh suara-suara ceria. Pelayan-pelayan tampak bergegas. Mereka membawa baki besar dengan tumpukan makanan, serta gentong berisi sake.

Gerak-gerik mereka memperlihatkan semangat yang sama seperti yang akan mereka perlihatkan dalam pertempuran mempertahankan benteng. Pestanya semarak, dan semangat hidup tampil di setiap wajah. Sebersit keraguan menyelinap ke benak Hideyoshi. "Hei! Bukankah itu Tuan Hideyoshi?"

"Oh, Jendral Mikawa!"

"Aku tidak berhasil menemukan Tuan di ruang tamu, lalu kucari ke mana-mana." Pipi Mikawa pun memerah akibat sake, dan ia tidak lagi kelihaian begitu kurus dan cekung.

"Kenapa suasana demikian riang?" tanya Hideyoshi. "Jangan khawatir. Seperti kujanjikan, semuanya

akan berakhir pada Jam Babi. Konon, karena kita semua harus mati suatu hari, kita sebaiknya mati dengan gemilang. Tuanku Nagamasa dan seluruh anak buahnya sedang bergembira, jadi tuanku Nagamasa membuka semua gentong sake di benteng dan mengadakan Sidang Samurai. Dengan cara ini, mereka akan saling berpamitan sebelum meninggalkan dunia ini."

"Bagaimana dengan perpisahan Yang Mulia dengan anak-istrinya?"

"Itu sudah diselesaikan." Meski dalam keadaan mabuk, Jendral Mikawa kembali menitikkan air mata. Sidang Samurai—ini suatu hal biasa dalam setiap marga samurai, suatu kesempatan di mana pembagian kasta antara junjungan dan pengikut diperlonggar, dan semuanya bersenang-senang dengan minumminum sambil bernyanyi.

Pertemuan itu mempunyai dua tujuan: inilah perpisahan Nagamasa dengan para pengikutnya yang akan ikut menyambut kematian bersamanya, dan dengan anak-istrinya yang akan hidup terus.

"Tapi aku pasti akan jemu kalau hanya menunggu sampai Jam Babi," kata Hideyoshi. "Dengan seizin Jendral, aku ingin menghadiri acara ini.

"Itulah sebabnya aku mencari-cari Tuan tadi. Dan itu pula keinginan Yang Mulia." "Apa? Yang Mulia Nagamasa mengharapkan kehadiranku?"

"Tuanku Nagamasa berpesan, karena dia akan mempercayakan anak-istrinya kepada marga Oda, mulai sekarang Tuan harus menjaga mereka. Terutama anak-anaknya yang masih kecil."

"Yang Mulia tidak perlu khawatir mengenai ini! Dan aku ingin menegaskannya secara langsung. Sudikah Jendral mengantarku ke hadapan Yang Mulia?"

Hideyoshi mengikuti Mikawa ke sebuah ruangan besar. Semua mata di mangan itu beralih ke arah Hideyoshi. Bau sake tercium jelas. Tentu saja semua orang mengenakan baju tempur lengkap, dan semuanya telah bertekad untuk mati. Mereka akan mati bersama-sama. Seperti kuntum-kuntum bunga yang terguncang-guncang oleh angin, mereka siap gugur bersamaan, tapi sekarang, ketika mereka sedang bersenang-senang, tiba-tiba muncul musuh di tengahtengah mereka! Sebagian besar memelototi Hideyoshi dengan mata merah—kebanyakan orang akan gemetar ketakutan jika dipandang seperti itu.

"Permisi," ujar Hideyoshi, tanpa menujukan ucapannya pada orang tertentu. Ia masuk, berjalan dengan langkah kecil, maju sampai ke hadapan Nagamasa, dan menyembah.

"Hamba datang, penuh terima kasih atas perintah Yang Mulia bahwa hamba pun patut diberi cawan. Mengenai masa depan putra dan ketiga putri Yang Mulia, hamba akan menjaga mereka, dan nyawa hamba menjadi tamhannya," Hideyoshi berkata dalam satu tarikan napas. Seandainya ia berhenti sejenak atau tampak takut, biarpun hanya sedikit, para samurai di sekelilingnya mungkin terpancing untuk bertindak gegabah karena mabuk dan rasa benci.

"Itulah permintaanku, Jendral Hideyoshi." Nagamasa meraih sebuah cawan dan menyerahkannya pada Hideyoshi.

Hideyoshi menerima cawan itu dan mereguk isinya. Nagamasa tampak puas. Hideyoshi tidak berani menyebut nama Oichi maupun Nobunaga. Istri Nagamasa yang muda dan cantik duduk di sisi ruangan bersama anak-anaknya, tersembunyi di balik tabir perak. Mereka berimpitan seperti bunga seruni yang mekar di tepi sebuah kolam. Hideyoshi mengamati cahaya lentera yang bcrkedap-kedip dari sudut mata, tetapi tidak langsung memandang ke arah mereka. Penuh hormat ia mengembalikan cawannya

kepada Nagamasa.

"Untuk sementara, lupakanlah permusuhan di antara kita," ujar Hideyoshi. "Setelah menerima sake dalam sidang ini, dengan seizin Yang Mulia, aku ingin membawakan tarian pendek."

"Kau mau menari?" kata Nagamasa, mewakili keheranan semua orang yang hadir. Mereka terpesona oleh laki-laki kecil ini.

Oichi menarik anak-anaknya mendekat, seperti induk ayam yang hendak melindungi anak-anaknya. "Jangan takut. Ibu ada di sini," ia berbisik.

Setelah memperoleh izin dari Nagamasa. Hideyoshi berdiri dan berjalan ke tengah ruangan, ia baru hendak mulai ketika Manju berseru. "Itu dia!"

Manju dan Chacha menggenggam baju Oichi. Mereka memandang laki-laki yang sebelumnya begitu menakutkan itu. Hideyoshi mulai mengatur irama dengan entakan kaki. Secara bersamaan ia membuka kipas yang memperlihatkan bulatan merah di atas dasar emas.

Dengan waktu tertuang.

Aku menatap laku di gerbang. Sesekali angin sepoi

Tak terduga di sini, kebetulan di sana:

Tak terduga, kebetulan.

Labu yang merambat, betapa menarik.

Ia bersenandung dengan suara lantang, dan menari seakan-akan tak ada hal lain yang membebani pikirannya. Tetapi sebelum tariannya rampung, letusan senapan terdengar dari luar tembok benteng. Kemudian terdengar rembakan balasan dari jarak lebih dekat. Sepertinya pihak di dalam maupun di luar benteng mulai menembak secara bersamaan.

"Persetan!" Hideyoshi mengumpat dan membanting kipasnya. Jam Babi belum tiba, tetapi orang-orang di luar benteng tidak tahu apa-apa mengenai kesepakatan ini. Hideyoshi tidak memberikan isyarat susulan. Karena menduga mereka takkan menyerang, ia merasa cukup aman. Tetapi rupanya kesabaran para jendral di markas besar akhirnya habis, dan mereka memutuskan untuk mendesak Nobunaga agar segera mengambil tindakan.

Persetan! Kipas Hideyoshi jatuh di depan kaki para komandan benteng yang telah berdiri semua. Dan ini menyebabkan perhatian mereka beralih pada Hideyoshi, yang sampai sekarang tidak dianggap sebagai musuh.

"Serangan!" seseorang berseru.

"Dasar pengecut! Dia membohongi kita!"

Kerumunan samurai terbagi dua. Kelompok yang lebih besar bergegas keluar, sementara sisanya mengepung Hideyoshi, siap mencincangnya dengan pedang masing-masing.

"Siapa yang memerintahkan ini? Jangan sentuh dia! Orang itu tidak boleh dibunuh!" Nagamasa tiba-tiba berteriak sekuat tenaga.

Anak buahnya membalas berteriak, seolah-olah menentang, "Tapi pasukan musuh melancarkan serangan besar-besaran!"

Nagamasa tidak memedulikan keluhan mereka, dan memanggil. "Ogawa Denshiro, Nakajima Sakon!"

Kedua laki-laki ini pembimbingnya. Ketika mereka maju dan menyembah, Nagamasa juga memanggil Fujikake Mikawa. "Kalian bertiga akan melindungi anak-istriku dan mengantar Hideyoshi ke luar benteng. Laksanakan!" Nagamasa memerintahkan. Kemudian ia menatap Hideyoshi dengan tajam, dan sambil menenangkan diri sedapat mungkin, berkata, "Baiklah, kupercayakan mereka padamu."

Istri dan anak-anaknya menyembah-nyembah di depan kakinya, tetapi Nagamasa menepiskan mereka dan berseru. "Selamat tinggal!" Seiring ucapan itu, Nagamasa meraih kapak perang dan berlari ke dalam kegelapan.

Satu sisi benteng telah diselubungi api. Sambil berlari, secara naluri Nagamasa melindungi wajahnya dengan satu tangan. Serpihan-serpihan kayu yang terbakar menyerempet wajahnya. Asap tebal berwarna hitam merayap di permukaan tanah. Samurai Oda pertama dan kedua yang berhasil menerobos masuk telah menyerukan nama masing-masing. Lidah api telah mencapai menara dan dengan rakus menjilati talang air. Nagamasa melihat sekelompok orang berhelm besi bersembunyi di daerah itu, dan tiba-tiba melompat ke samping.

"Musuh!"

Para pengikut terdekat dan anggota keluarga berdiri di sekitarnya, menyambut serbuan musuh. Di atas mereka api mengamuk, di sekeliling mereka asap hitam bergulung-gulung. Baju tempur terdengar gemerincing. tombak beradu dengan tombak, pedang dengan pedang. Dalam waktu singkat mayat-mayat dan orang-orang terluka telah bergelimpangan di tanah. Sebagian besar prajurit di dalam benteng mengikuti jejak Nagamasa dan berjuang selama mungkin, masing-masing gugur dengan gagah. Hanya sedikit yang tertangkap atau menyerah. Keruntuhan Odani berbeda bagaikan bumi dan langit dengan kekalahan orang-orang Asakura di Echizen atau kekalahan sang Shogun di Kyoto. Ini membuktikan bahwa penilaian Nobunaga tidak keliru ketika ia memilih Nagamasa sebagai adik ipar.

Kesulitan Hideyoshi, yang telah menyelamatkan Oichi dan anak-anaknya dari kobaran api, serta kesulitan Fujikake Mikawa tidak berkaitan dengan pertempuran itu. Seandainya saja pasukan penyerang mau menunggu tiga jam lagi, Hideyoshi dan orangorang yang dipercayakan padanya dengan mudah dapat meninggalkan benteng. Tapi hanya beberapa menit setelah mereka pergi, bagian dalam benteng telah dipenuhi api dan prajurit-prajurit yang saling menggempur, sehingga sukar sekali bagi Hideyoshi untuk melindungi keempat anak kecil itu dan membawa mereka keluar.

Fujikake Mikawa menggendong anak perempuan paling kecil di punggungnya; kakaknya, Haisu, berada di punggung Nakajima Sakon, sedangkan Manju diikat di punggung gurunya, Ogawa Denshiro.

"Naiklah ke bahuku," Hideyoshi berkata pada Cacha, tapi gadis cilik itu tak mau beranjak dari sisi ibunya. Dengan paksa Hideyoshi memisahkan mereka. "Kalian tidak boleh terluka. Aku memohon, inilah permintaan Yang Mulia Nagamasa padaku."

Ini bukan saatnya memperlakukan mereka secara halus, dan meskipun ucapan Hideyoshi tetap sopan, nada suaranya terasa mengancam. Oichi menaikkan Chacha ke punggung Hideyoshi.

"Semua sudah siap? Ikuti aku. Tuan Putri harap genggam tanganku." Sambil memikul Chacha. Hideyoshi menarik tangan Oichi dan mulai melangkah maju. Oichi terseok-seok. dengan susah payah berusaha menjaga keseimbangan. Tak lama kemudian ia menarik tangannya dari genggaman Hideyoshi, tanpa berkata apa-apa. Ia terus berjalan seperti seorang ibu, dengan hati kacau karena memikirkan anak-anaknya yang terperangkap di tengah kegilaan ini.

Nobunaga kini sedang mengamati kebakaran di Benteng Odani. Lidah apinya nyaris sanggup menghanguskan wajahnya, begitu kecil jarak yang memisahkannya dari neraka itu. Gunung-gunung dan lembah-lembah di ketiga sisi tampak merah, dan benteng yang sedang terbakar berderu-deru bagaikan tungku pengecoran raksasa.

Ketika api akhirnya berubah menjadi abu yang mengepulkan asap dan semuanya telah berlalu. Nobunaga tak sanggup menahan air mata atas nasib yang menimpa adik iparnya. Dasar bodoh! Ia memaki Nagamasa.

Ketika api memangsa semua kuil dan biara di Gunung Hiei berikut nyawa semua biksu dan orang biasa di gunung itu. Nobunaga menyaksikannya tanpa berkedip. Tapi kini matanya berkaca-kaca. Pembantaian di Gunung Hiei tak bisa dibandingkan dengan kematian adiknya.

Manusia memiliki akal sehat dan naluri, dan keduanya sering saling bertentangan. Tetapi Nobunaga percaya penuh pada pemusnahan Gunung Hiei—bahwa dengan menghancurkan satu gunung, tak terhitung banyaknya yang akan memperoleh kebahagiaan dan kemakmuran. Kematian Nagamasa tidak memiliki arti sebesar itu. Nagamasa berjuang dengan pandangan sempit mengenai kewajiban dan kehormatan, oleh sebab itu Nobunaga terpaksa melakukan hal yang sama. Nobunaga pernah meminta agar Nagamasa melepaskan pandangannya yang picik dan mendukung visi Nobunaga yang lebih luas. Sampai akhir ia memperlakukan Nagamasa dengan penuh pertimbangan dan kemurahan hati. Tapi kemurahan hati harus ada batasnya. Sampai malam ini pun Nobunaga bersedia menunjukkan sikap lunak, tapi para jendralnya tidak mengizinkan.

Walaupun Takeda Shingen dari Kai telah tiada, para jendral dan prajuritnya masih siaga, dan kemampuan putranya konon melebihi kemampuan sang ayah. Musuh-musuh Nobunaga hanya menunggu sampai ia tersandung. Hanya orang bodoh yang akan berlama-lama menunggu tanpa bertindak di bagian utara Omi setelah menghancurkan Echizen dengan sekali pukul. Ketika mendengar argumen-argumen seperti ini dari para jendralnya. Nobunaga pun tak sanggup mengatakan apa-apa demi menyelamatkan adiknya. Tapi kemudian Hideyoshi memohon agar ditunjuk sebagai utusan Nobunaga untuk satu hari saja. Namun, walaupun Hideyoshi sempat mengirim isyarat menggembirakan ketika hari masih terang, senja pun tiba, lalu malam, tanpa isyarat susulan dalam bentuk apa pun dari Hideyoshi. Para jendral Nobunaga marah sekali. "Mungkinkah ini hanya siasat musuh?"

"Mungkin dia sudah mati terbunuh."

"Musuh sedang menyusun rencana sementara kita tidak berbuat apa-apa.

Nobunaga terpaksa mengalah, dan akhirnya memberikan perintah untuk melancarkan serangan habishabisan. Tapi, setelah mengambil keputusan tersebut, ia bertanya-tanya apakah ia tidak mengorbankan nyawa Hideyoshi, dan penyesalannya nyaris tak tertahankan.

Tiba-tiba seorang samurai muda dengan baju tempur bertali hitam menghampirinya, la begitu terburu-buru, sehingga tombaknya hampir mengenai Nobunaga.

"Tuanku!" ia terengah-engah.

"Berlutut!" seorang jendral membentak. "letakkan tombak di belakangmu!"

Di bawah tatapan para pengikut yang mengelilingi Nobunaga, samurai muda itu segera berlutut.

"Yang Mulia Hideyoshi baru saja kembali. Dia berhasil keluar dari benteng tanpa cedera."

"Apa? Hideyoshi telah kembali?" Nobunaga berseru. "Seorang diri?" ia bertanya cepat-cepat.

Kurir muda itu menambahkan, "Dia disertai tiga orang Asai, serta Putri Oichi dan anak-anaknya."

Nobunaga gemetar. "Kau yakin? Kau melihat mereka?"

"Sekelompok samurai mengawal mereka dalam perjalanan ke sini, sejak mereka keluar dari benteng yang roboh dimakan api. Mereka lelah sekali, jadi kami membawa mereka ke suatu tempat aman dan memberi mereka air. Yang Mulia Hideyoshi memerintahkan hamba berlari ke markas untuk melaporkan hal ini."

Nobunaga berkata. "Kau pengikut Hideyoshi. Siapa namamu?"

"Hamba kepala pelayan, Horio Mosuke."

"Terima kasih atas kabar baik yang kausampaikan.

Sekarang pergilah, lalu beristirahat."

"Terima kasih, tuanku, tapi pertempuran masih berlangsung sengit." Dengan ini, Mosuke cepat-cepat mohon diri dan bergegas ke arah teriakan para prajurit di kejauhan.

"Bantuan dewa-dewa...," seseorang bergumam sambil mendesah. Orang itu Katsuie. Jendral-jendral lain pun mengucapkan selamat kepada Nobunaga.

"Ini berkah yang tak terduga. Tuanku tentu gembira sekali."

Perasaan yang sama menyelinap ke dalam hati mereka. Orang-orang ini iri terhadap keberhasilan Hideyoshi, dan merekalah yang terus mendesak untuk melancarkan serangan besar-besaran.

Tapi, bagaimanapun, kegembiraan Nobunaga meluap-luap. dan suasana hatinya yang riang segera membuat suasana di markas menjadi lebih cerah. Sementara yang lain sibuk mengucapkan selamat, Katsuie yang cerdik diam-diam berkata pada Nobunaga, "Perlukah hamba menyambut dia?"

Setelah memperoleh izin dari Nobunaga, ia beserta beberapa pengikut bergegas menuruni lereng ke arah benteng. Akhirnya, di bawah perlindungan Hideyoshi, Oichi yang sudah dinanti-nanti tiba di markas. Sekelompok prajurit pembawa obor berjalan di depan. Hideyoshi menyusul di belakang mereka, masih sambil menggendong Chacha di punggungnya.

Hal pertama yang terlihat oleh Nobunaga adalah butir-butir keringat pada kening Hideyoshi, berkilaukilau terkena cahaya obor. Berikutnya ada jendral tua, Fujikake Mikawa, dan kedua pembimbing, masingmasing dengan seorang anak di punggung. Nobunaga memandang anak-anak itu sambil membisu. Wajahnya tidak memperlihatkan emosi. Kemudian, kira-kira dua puluh langkah di belakang. Shibata Katsuie muncul. Sebuah tangan putih berpegangan pada bahu baju tempurnya. Tangan itu tangan Oichi, yang kini setengah tak sadar.

"Putri Oichi." kata Katsuie. "Kakak Tuan Putri ada di sebelah sini." Cepat-cepat Katsuie menuntunnya kepada Nobunaga.

Ketika Oichi sadar kembali, ia hanya dapat mencucurkan air mata. Sejenak isak tangis perempuan itu menutupi semua bunyi lain di perkemahan. Hati para jendral veteran yang hadir pun serasa disayat-sayat. Nobunaga, di pihak lain, tampak muak. Inilah adik tercinta yang sampai beberapa saat lalu membuatnya begitu cemas. Mengapa ia tidak menyambutnya dengan gembira? Adakah sesuatu yang telah mengusik suasana hatinya? Para jendral kelihatan cemas. Bahkan Hideyoshi pun tidak memahami apa yang telah terjadi. Para pengikut utama Nobunaga terus-menerus direpotkan oleh perubahan suasana hati junjungan mereka yang serba mendadak. Ketika mereka melihat roman muka yang telah akrab bagi mereka, tak seorang pun dari mereka sanggup berbuat apa-apa selain berdiri membisu; dan di tengah-tengah keheningan, Nobunaga sendiri pun tak mampu menghibur diri.

Tidak banyak pengikut Nobunaga yang dapat membaca pikirannya dan membebaskannya dari kekusutan akibat wataknya yang murung dan tertutup. Sesungguhnya, hanya Hideyoshi dan Akechi Mitsuhide, yang kini tidak hadir, yang memiliki kemampuan itu.

Hideyoshi mengamati situasinya sejenak, dan karena sepertinya tak ada yang akan berundak, ia berkata pada Oichi, "Wah, wah, Tuan Putri. Sapalah Yang Mulia. Percuma saja Tuan Putri berdiri di sini dan menangis gembira. Ada apa? Bukankah Yang Mulia dan Tuan Putri kakak-beradik?" Oichi tidak bereaksi. Ia bahkan tak sanggup memandang wajah kakaknya. Pikirannya berada di sisi Nagamasa. Bagi Oichi, Nobunaga tak lebih dari jendral musuh yang membunuh suaminya dan membawanya ke sini sebagai tawanan di perkemahan musuh.

Nobunaga tahu persis apa yang tersembunyi di dalam hati adiknya. Jadi, selain merasa puas karena berhasil menyelamatkannya, ia pun menyesalkan perempuan bodoh ini, yang tidak memahami betapa besar cinta kasih kakaknya.

"Hideyoshi, biarkan saja. Percuma saja, kau hanya buang-buang waktu." Nobunaga berdiri mendadak. Ia mengangkat sebagian tirai yang mengelilingi markasnya.

"Odani telah takluk," ia berbisik sambil menatap kobaran api. Baik teriakan-teriakan perang maupun deru api yang menghanguskan benteng mulai berkurang, dan bulan yang sedang menyusut membanjiri gunung-gunung dan lembah-lembah dengan cahaya keperak-perakan ketika mereka menunggu fajar.

Pada saat itu, seorang perwira beserta anak buahnya berlari mendaki bukit sambil melepaskan teriakan kemenangan. Ketika mereka meletakkan kepala Asai Nagamasa dan para pengikutnya di hadapan Nobunaga. Oichi menjerit, dan anak-anak yang berpegangan erat padanya mulai menangis.

Nobunaga berseru, "Hentikan! Katsuie! Bawa anakanak keluar dari sini! Kuserahkan mereka ke dalam perlindunganmu—baik Oichi maupun anak-anaknya. Bergegaslah dan bawa mereka ke suatu tempat di mana tak seorang pun melihat mereka."

Kemudian Nobunaga memanggil Hideyoshi dan bcrkata padanya. "Kau akan bertanggung jawab atas bekas wilayah marga Asai." Ia sudah memutuskan untuk kembali ke Gifu begitu Benteng Odani berhasil direbut.

Oichi terpaksa dipapah. Belakangan ia menikah dengan Katsuie. Tetapi salah satu dari ketiga putri cilik Nagamasa mengalami nasib yang bahkan lebih aneh daripada ibunya. Putri tertua Nagamasa, Chacha. di kemudian hari dikenal sebagai Putri Yodogimi, gundik Hideyoshi.

Awal bulan ketiga di tahun berikut telah tiba. Kabar baik sampai kepada Nene, berupa surat dari suaminya.

Walaupun beberapa dinding di Benteng Nagahama masih agak kasar, begitu lama waktu telah berlalu, sehingga aku hampir tak sabar menunggu untuk melihat kalian berdua. Tolong beri tahu Ibu agar bersiap-siap menghadapi kepindahan dalam waktu dekat.

Dengan surat-surat sesingkat ini, sukar untuk membayangkan apa yang telah terjadi, tapi sesungguhnya suami-istri itu sudah beberapa kali saling mengirim surat setelah Tahun Baru. Tak sedikit pun waktu Hideyoshi tersisa untuk bersantai-santai. Berbulanbulan ia berperang di bagian utara Omi, bertempur di sana-sini, dan kalaupun ada sedikit waktu luang, ia segera diutus ke tempat lain.

Jasa Hideyoshi pada penaklukan Odani tidak tertandingi oleh siapa pun. Sebagai tanda terima kasih, Nobunaga untuk pertama kali menganugerahkan sebuah benteng bagi Hideyoshi beserta tanah senilai delapan ratus ribu gantang dari bekas wilayah Asai. Sampai saat itu Hideyoshi hanya seorang jendral, tapi dengan satu lompatan ia memasuki jajaran penguasa provinsi. Secara bersamaan Nobunaga juga memberikan nama baru padanya: Hashiba.

Di musim gugur itu Hashiba Hideyoshi menjadi orang terkenal, dan kini berdiri sejajar dengan para jendral veteran marga Oda yang lain. Namun ia tak puas dengan bentengnya yang baru di Odani; benteng itu benteng defensif, baik untuk mengurung diri dan bertahan terhadap pengepungan, tapi tidak cocok sebagai titik tolak untuk melancarkan serangan. Tiga mil ke arah selatan, di tepi Danau Biwa, ia menemukan tempat yang lebih memadai: sebuah desa bernama Nagahama. Setelah memperoleh persetujuan Nobunaga, ia segera mulai dengan kegiatan pembangunan. Ketika musim semi tiba, menara yang berdinding putih, tembok-tembok yang kokoh, serta gerbang-gerbang besi telah berhasil dirampungkan.

Hachisuka Hikoemon diberi tugas mengawal istri dan ibu Hideyoshi dari Sunomata, dan ia tiba dari Nagahama beberapa hari setelah Nene menerima surat Hideyoshi. Nene dan ibu mertuanya dibawa dengan tandu berlapis sampang, dan rombongan pengawal mereka terdiri atas seratus orang.

Ibu Hideyoshi minta pada Nene agar mereka melewati Gitu, dan agar Nene menghadap Nobunaga untuk mengucapkan terima kasih atas segala berkah yang telah mereka nikmati. Nene merasa tugas ini suatu tanggung jawab besar, dan bahkan menganggapnya sebagai siksaan. Ia yakin bahwa jika ia mendatangi Benteng Gifu dan menghadap Nobunaga seorang diri, ia takkan sanggup berbuat apa-apa selain duduk dan gemetar.

Hari yang telah ditentukan pun tiba, dan dengan meninggalkan ibu mertuanya di penginapan, seorang diri Nene pergi ke benteng, sambil membawa oleholeh dari Sunomara. Setelah sampai di benteng, ia seakan-akan melupakan segala kecemasan yang ia rasakan sebelumnya. Begitu berada di sana, untuk pertama kali ia memandang junjungannya, dan berlawanan dengan dugaannya, Nobunaga bersikap terbuka dan ramah tamah.

"Kau pasti telah mengerahkan segenap tenagamu untuk mengurus benteng itu demikian lama, sekaligus menjaga ibu mertuamu. Dan lebih dari itu, kau tentu kesepian sekali," kata Nobunaga dengan sikap begitu akrab, sehingga Nenc menyadari bahwa keluarganya sendiri memiliki hubungan dengan keluarga Nobunaga. Ia merasa bisa bersikap terus terang.

"Hamba merasa tak patut hidup tenteram di rumah, sementara orang lain sedang berperang. Dewa-dewa mungkin menghukum hamba jika hamba mengeluh karena kesepian."

Nobunaga menghentikannya dengan tertawa. "Tidak, tidak. Hati seorang wanita tetap hati seorang wanita, dan kau tak perlu menutup-nutupinya. Justru dengan merenungkan kesepian kala kau mengurus rumah tangga, kau dapat lebih memahami kelebihan suamimu. Seseorang pernah menulis sajak mengenai ini; bunyinya kira-kira begini. 'Dalam perjalanan, sang suami memahami nilai istrinya di penginapan yang terselubung salju.' Aku bisa membayangkan bahwa Hideyoshi pun sudah tak sabar. Bukan itu saja, tetapi benteng di Nagahama juga masih baru. Menanti selama perang berlangsung pasti terasa berat, tapi kalau kalian bertemu nanti, kalian akan merasa seperti pengantin baru lagi."

Nene tersipu-sipu dan menyembah. Rupanya ia teringat bagaimana rasanya menjadi pengantin baru. Nobunaga pun dapat menebak pikirannya dan tersenyum.

Makanan dan cawan sake berwarna dibawa masuk. Setelah menerima cawan dari tangan Nobunaga. Nene mencicipi sake-nya dengan anggun.

"Nene," ujar Nobunaga sambil tertawa. Akhirnya, setelah merasa sanggup memandang langsung wajah junjungannya. Nene mengangkat kepala dan bertanyatanya apa yang hendak dikatakannya. Nobunaga berkata mendadak. "Satu hal, jangan cemburu."

"Ya, tuanku." Nene menjawab tanpa berpikir lebih dulu, tapi setelah itu wajahnya langsung memerah lagi. Nene pun sempat mendengar desas-desus mengenai Hideyoshi. yang mendatangi Benteng Gifu dengan ditemani perempuan cantik.

"Itulah Hideyoshi. Dia tidak sempurna. Tetapi cawan teh yang sempurna tidak memiliki daya pikat. Semua orang mempunyai kekurangan. Kalau orang biasa mempunyai silat buruk, dia menjadi sumber masalah: tetapi hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan seperti Hideyoshi. Aku sering bertanyatanya, perempuan seperti apa yang akan memilih lakilaki seperti dia. Kini, setelah bertemu denganmu hari ini, aku tahu bahwa Hideyoshi pasti mencintaimu. Jangan cemburu. Hiduplah dengan rukun."

Bagaimana mungkin Nobunaga begitu memahami perasaan perempuan? Walaupun agak menakutkan, ia merupakan laki-laki yang dapat dijadikan tempat bersandar oleh Nenc dan suaminya. Nene tidak tahu apakah harus gembira atau merasa malu.

Ia kembali ke tempat penginapan di kota benteng. Tetapi yang paling banyak dibicarakan Nene dengan ibu mertuanya yang telah menunggu bukanlah nasihat Nobunaga mengenai kecemburuan. "Setiap kali seseorang menyebut nama Nobunaga. semua orang gemetar ketakutan, jadi aku pun bertanya-tanya seperti apa orangnya. Tapi rasanya hanya sedikit penguasa di negeri ini yang selembut dia. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana orang berperasaan halus seperu itu bisa berubah menjadi momok menakutkan jika berada di atas kuda. Yang Mulia juga mengetahui sesuatu mengenai Ibu, dan dia berkata bahwa Ibu mempunyai putra yang patut dibanggakan, dan bahwa Ibu seharusnya merupakan orang paling bahagia di seluruh Jepang. Dia memberitahuku bahwa negeri ini hanya memiliki sedikit orang seperti Hideyoshi, dan bahwa aku memilih suami yang baik. Yang Mulia bahkan menyanjungku dan berkata bahwa aku mempunyai mata yang tajam."

Kedua perempuan itu melanjutkan perjalanan dengan damai. Mereka melintasi Fuwa, dan akhirnya menatap ke luar dari tandu, mengagumi pemandangan musim semi di Danau Biwa.