--> -->

Taiko Bab 19 : Pemakaman Bagi Mereka yang Hidup

Bab 19 : Pemakaman Bagi Mereka yang Hidup

DAUN-DAUN bunga berwarna merah dan pulih terbawa angin dari Benteng Gifu di puncak gunung, berjatuhan di atap-atap rumah di kota di bawah.

Tahun demi tahun, kepercayaan rakyat terhadap Nobunaga semakin besar—kepercayaan yang tumbuh dari ketenteraman dalam kehidupan mereka. Hukum ditegakkan secara ketat, tapi ucapan Nobunaga bukan kata-kata kosong. Janji-janjinya yang menyangkut mata pencaharian rakyat selalu dipenuhi, dan ini tercermin dalam kesejahteraan mereka.

Umur manusia

Hanya lima puluh tahun. Dunia ini

Impian belaka....

Warga provinsi mengenal syair-syair yang suka ditembangkan Nobunaga pada waktu ia minum. Tapi ia mengartikan kata-kata itu dengan cara berbeda daripada para biksu—bahwa dunia tak lebih dari impian sesaat yang tidak kekal. Adakah sesuatu yang tidak membusuk? adalah bau kesukaannya, dan setiap kali menyanyikannya, ia meninggikan suara. Bait ini seakan-akan merumuskan pandangan hidupnya. Seseorang takkan dapat memanfaatkan hidupnya secara maksimal jika ia tidak merenungkannya secara mendalam. Satu hal diketahui Nobunaga mengenai kehidupan. Pada akhirnya kita akan mati. Nobunaga sudah berusia 37 tahun, dan baginya hidup ini tidak bakal berlangsung lama lagi. Dan untuk jangka waktu sedemikian singkat, ambisinya luar biasa besar. Citacitanya tak terbatas, dan menghadapi cita-cita serta mengatasi rintangan-rintangan memberikan kepuasan sepenuhnya. Namun umur manusia telah ditentukan, Nobunaga pun tak dapat menepis perasaan menyesal.

"Ranmaru, mainkan rebana." Ia hendak menari lagi. Sebelumnya, pada hari itu, ia telah menghibur seorang utusan dari Ise. Dan sisa harinya dihabiskan dengan minum-minum.

Ranmaru membawa rebana dari ruang sebelah, tapi ia tidak menabuhnya, melainkan berkata. "Tuanku, Yang Mulia Hideyoshi telah tiba."

Pada suatu ketika, marga Asai dan Asakura tampak akan bergerak, dan mereka mulai memperlihatkan tanda-tanda keresahan. Tapi setelah Shingen mundur, mereka gemetar ketakutan di provinsi sendiri dan mulai memperkuat pertahanan masing-masing.

Hideyoshi merasa masa damai telah menjelang. Diam-diam dia meninggalkan Benteng Yokoyama, lalu mengunjungi daerah di sekitar ibu kota. Tak seorang komandan benteng pun, tak peduli betapa hebatnya kekacauan yang melanda seluruh negeri, akan mengurung diri di dalam bentengnya. Kadang-kadang mereka pura-pura pergi, tapi sesungguhnya ada di sana. Pada waktu lain mereka pura-pura ada di sana. tapi sesungguhnya pergi, sebab jalan prajurit menuntut pemanfaatan kebebasan dan kebohongan secara tepat.

Tentu saja Hideyoshi menempuh perjalanannya sambil menyamar, dan kemungkinan besar itu pula yang menyebabkan kemunculannya yang tiba-tiba di Gifu.

"Hideyoshi?" Nobunaga menyuruhnya menunggu di ruangan lain. Tak lama kemudian ia masuk dan duduk. Ia sangat gembira.

Hideyoshi berpakaian sangat sederhana, tak berbeda dari orang biasa pada saat bepergian. Dengan penampilan seperti inilah ia menyembah. Tapi kemudian ia menengadahkan wajah dan tertawa. "Tuanku pasti terkejut."

Nobunaga menatap Hideyoshi, seakan-akan tidak memahami maksudnya. "Mengenai apa?" ia bertanya.

"Kedatangan hamba yang mendadak ini."

"Jangan berkelakar. Aku tahu bahwa kau tidak ada di Yokoyama selama dua minggu terakhir."

"Tapi tuanku tidak menduga bahwa hamba akan muncul hari ini, bukan?"

Nobunaga tertawa. "Kaupikir aku buta? Aku yakin kau bermain-main sampai bosan dengan para pelacur di ibu kota, lalu menyusuri jalan Raya Omi dan mendatangi rumah seorang kaya di Nagahama, diamdiam memanggil Oyu, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke sini." Hideyoshi bergumam pelan.

"Kelihatannya justru kau yang terkejut." kata Nobunaga.

"Hamba memang terkejut, tuanku. Ternyata tidak ada yang luput dari penglihatan tuanku."

"Gunung ini cukup tinggi, sehingga aku dapat memandang sejauh sepuluh provinsi. Tapi ada satu orang yang mengetahui tindak-tandukmu secara lebih terperinci daripada aku. Kau bisa menebak siapa orangnya?"

"Rupanya tuanku telah menyuruh seorang matamata untuk mengawasi hamba."

"Bukan, orang itu istrimu sendiri."

"Tuanku bergurau, bukan? Barangkali pengaruh

sake.."

"Mungkin saja aku mabuk, tapi aku berkata apa adanya. Istrimu memang tinggal di Sunomata, tapi jika kau beranggapan bahwa dia berada di tempat jauh, kau keliru sekali."

"Oh. Hmm, mungkin hamba memilih waktu yang kurang tepat untuk mengunjungi tuanku. Dengan seizin tuanku, hamba..."

"Aku tidak menyalahkanmu aras keisenganmu ini." ujar Nobunaga sambil tertawa. "Tak ada salahnya kau sesekali memandang kembang-kembang ceri. Tapi mengapa tidak kaukunjungi Nene agar kalian berdua dapat berkumpul lagi?"

"Tentu."

"Sudah cukup lama kau tidak bertemu dengannya, bukan?"

"Apakah istri hamba mengganggu tuanku dengan mengirim surat atau semacamnya?"

"Jangan khawatir. Aku hanya bersimpati. Dan bukan pada istrimu saja. Setiap istri harus mengurus rumah tangga pada waktu suaminya pergi berperang, jadi walaupun waktunya hanya sedikit, seorang lakilaki seharusnya lebih dulu menunjukkan pada istrinya daripada pada orang lain bahwa keadaannya baik-baik saja."

"Jika itu kehendak tuanku, tapi..." "Kau menolak?"

"Ya. Meski tidak ada gangguan selama beberapa bulan terakhir, pikiran hamba tidak pernah jauh dari medan laga."

"Membantah, selalu membantah! Apa kau hendak bersilat lidah lagi? tangan lakukan hal yang tidak perlu."

"Hamba menyerah. Hamba akan menarik diri dari sini."

Junjungan dan abdi tertawa bersama-sama. Setelah beberapa saat mereka mulai minum-minum, dan bahkan menyuruh Ranmaru pergi. Kemudian pembicaraan mereka beralih pada topik serius, sehingga keduanya merasa perlu merendahkan suara.

Nobunaga bertanya penuh harap. "Jadi, bagaimana keadaan di ibu kota? Kurir-kurir selalu mondarmandir, tapi aku ingin mendengar apa saja yang kaulihat di sana. Jawaban yang akan diberikan Hideyoshi rupanya berkaitan dengan harapan junjungannya.

"Tempat duduk kita agak berjauhan. Mungkin ada baiknya kalau hamba bergeser sedikit untuk menceritakannya."

"Biar aku saja yang pindah." Nobunaga meraih tempat sake dan cawannya, lalu turun dari kursi kebesaran. "Tutup pintu geser ke ruang sebelah." ia memerintahkan.

Hideyoshi duduk tepat di hadapan Nobunaga dan berkata. "Keadaan di ibu kota belum berubah. Kecuali bahwa sang Shogun tampak semakin sedih, karena Shingen gagal mencapai ibu kora. Sekarang dia sudah mulai berkomplot secara terbuka terhadap tuanku."

"Hmm, memang bisa kubayangkan. Shingen sudah sampai di Mikatagahara, tapi kemudian sang Shogun mendapat kabar bahwa dia terpaksa mundur lagi."

"Sang Shogun memang pandai berpolitik. Dia gemar memancing di air keruh, memberikan anugerah pada rakyat, dan secara tak langsung membuat rakyat takut terhadap tuanku. Pembakaran Gunung Hiei dimanfaatkannya sebagai bahan propaganda, dan sepertinya dia berusaha menghasut kelompokkelompok keagamaan lainnya untuk memberontak."

"Bukan keadaan yang menyenangkan."

"Tapi tak perlu dicemaskan. Para biksu-prajurit telah melihat sendiri bagaimana nasib Gunung Hiei. dan ini cukup meredam semangat juang mereka."

"Hosokawa berada di ibu kota. Kau sempat bertemu dengannya?"

"Yang Mulia Hosokawa telah kehilangan kepercayaan sang Shogun, dan kini mengurung diri di rumah peristirahatannya."

"Dia diusir oleh Yoshiaki?" tanya Nobunaga. "Rupanya Yang Mulia Hosokawa berpendapat

bahwa cara terbaik untuk melindungi kcshogunan adalah bersekutu dengan tuanku. Beliau mempertaruhkan reputasinya, dan berulang kali menyarankan hal ini pada Yang Mulia Yoshiaki."

"Kelihatannya Yoshiaki tidak mau mendengarkan pendapat siapa pun."

"Bukan itu saja, pandangannya mengenai sisa kekuatan keshogunan pun berlebihan. Dalam masa transisi, masa lampau dan masa yang akan datang dipisahkan oleh sebuah bencana. Hampir semua yang binasa adalah mereka yang tidak menyadari bahwa dunia telah berubah, karena terus membayangkan kejayaan masa silam."

"Dan menurutmu kita sekarang sedang mengalami bencana seperti itu?"

"Sebenarnya telah terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan. Hamba sendiri baru saja memperoleh beritanya, tapi..."

"Peristiwa apa yang kaumaksud?"

"Hmm. Berita ini belum sempat menyebar, tapi karena terdengar oleh telinga mata-mata andalan hamba, Watanabe Tenzo, hamba kira beritanya dapat dipercaya." "Apa yang terjadi?"

"Ini memang mengejutkan, tapi ada kemungkinan bintang penuntun Kai akhirnya padam."

"Apa! Shingen?"

"Pada bulan kedua, dia menyerang Mikawa, dan suatu malam dia tertembak ketika mengepung Benteng Noda. Itulah yang didengar oleh Tenzo."

Sejenak Nobunaga memandang lurus ke wajah Hideyoshi. Jika benar Shingen telah tiada, arah perjalanan negeri akan berubah sangat cepat. Nobunaga merasa seolah-olah macan di balik punggungnya mendadak lenyap, dan ia kaget sekali. Ia ingin meyakini kebenaran cerita yang disampaikan Hideyoshi. tapi pada saat yang sama ia merasa tak bisa mempercayainya. Begitu mendengar beritanya, ia merasa luar biasa lega, dan perasaan gembira yang tak dapat dilukiskan mulai menggelora dalam dirinya.

"Jika ini benar, berarti dunia kehilangan seorang jendral yang andal." ujar Nobunaga. "Dan mulai sekarang, sejarah berada di tangan kita." Ekspresi wajahnya jauh lebih lugas dibandingkan roman muka Hideyoshi. Nobunaga bahkan kelihatan seperti orang yang baru saja mendapat hidangan utama dalam sebuah jamuan,

"Dia tertembak, tapi hamba belum tahu apakah dia langsung tewas, seberapa parah lukanya, atau di mana dia terkena. Tapi hamba mendengar bahwa pengepungan Benteng Noda mendadak dihentikan. Dan ketika pasukan Shingen mundur ke wilayah Kai. mereka tidak memperlihatkan semangat juang Takeda yang terkenal itu."

"Bisa dimengerti. Kehebatan para samurai Kai pun tidak banyak artinya jika mereka kehilangan Shingen." "Laporan rahasia ini hamba terima dari Tenzo ketika hamba dalam perjalanan ke sini. Jadi hamba langsung mengirimnya kembali ke Kai, untuk mencari

kepastian."

"Apakah orang-orang di provinsi lain sudah mendengar kabar ini?"

"Tidak ada tanda-tanda beritanya sudah menyebar. Marga Takeda tentu akan merahasiakannya. Mereka akan berusaha memberi kesan bahwa Shingen sehatsehat saja, jadi, jika ada kebijaksanaan yang dikeluarkan atas nama Shingen, kemungkinannya sembilan berbanding sepuluh bahwa Shingen tewas, atau setidaknya berada dalam kondisi kritis."

Nobunaga mengangguk sambil merenung. Sepertinya ia ingin mendapat kepastian mengenai berita ini. Tiba-tiba ia mengangkat cawan berisi sake dingin, dan mendesah. Umur manusia hanya lima puluh tahun... Tapi ia tidak berminat menari. Memikirkan kematian orang lain jauh lebih mengharukan baginya daripada memikirkan kematiannya sendiri.

"Kapan Tenzo kembali?" "Kira-kira dalam tiga hari."

"Dia akan melapor ke Benteng Yokoyama?" "Tidak, hamba menyuruhnya langsung ke sini."

"Kalau begitu, kau tunggu di sini sampai dia datang."

"Memang itu rencana hamba, tapi jika tuanku berkenan, hamba ingin menunggu perintah selanjutnya di sebuah penginapan di kota benteng."

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan khusus."

"Hmm, bagaimana kalau kau tinggal di benteng saja? Temanilah aku untuk beberapa saat."

"Sebenarnya..."

"Payah! Apa kau merasa tidak bebas jika berada di sisiku?"

"Bukan, sebenarnya..." "Sebenarnya apa?"

"Hamba... ehm, hamba meninggalkan teman seperjalanan di penginapan, dan karena hamba menyangka dia akan kesepian, hamba berjanji kembali ke sana pada malam hari."

"Apakah teman seperjalananmu ini seorang perempuan?" Nobunaga tercengang. Perasaannya akibat berita kematian Shingen begitu berbeda dengan apa yang dipikirkan Hideyoshi.

"Kembalilah ke penginapan malam ini, tapi besok kau harus datang ke sini. Kau boleh mengajak 'teman seperjalananmu'." Itulah ucapan terakhir Nobunaga pada Hideyoshi sebelum ia berbalik dan pergi.

Yang Mulia memang pandai membaca gelagat, pikir Hideyoshi ketika ia menuju penginapan. Hideyoshi merasa seperti ditegur, meskipun tidak secara langsung. Inilah kelebihan Nobunaga. Ia sanggup membungkus kata-katanya, sehingga mampu mengenai sasaran tanpa perlu mengungkapkan inti permasalahan. Keesokan harinya Hideyoshi pergi ke benteng dengan disertai Oyu, tapi hal ini tidak menimbulkan kejadian yang tidak mengenakkan baginya.

Nobunaga telah pindah ke ruangan lain, dan berbeda dengan hari sebelumnya, tidak dikelilingi bau sake. Ia duduk di hadapan Hideyoshi dan Oyu, menatap mereka dari sebuah podium.

"Bukankah kau adik Takcnaka Hanbei?" ia bertanya dengan akrab.

Ini pertama kali Oyu berjumpa dengan Nobunaga. dan kini ia datang bersama Hideyoshi. Oyu menyembunyikan wajahnya, ia merasa rikuh. Tapi kemudian ia menjawab dengan suara pelan yang terdengar merdu.

"Hamba memperoleh kehormatan karena diperkenankan menghadap tuanku. Tuanku juga telah melimpahkan rahmat kepada saudara hamba yang lain, Shigeharu."

Nobunaga tampak terkesan. Semula ia bermaksud menggoda Hideyoshi. tapi sekarang ia merasa bersalah dan menjadi serius. "Sudah membaikkah kesehatan Hanbei?"

"Sudah beberapa waktu hamba tidak berjumpa dengan kakak hamba, tuanku. Dia sedang sibuk dengan tugas-tugas kemiliterannya, tapi dari waktu ke waktu hamba menerima surat darinya." "Di mana tempat tinggalmu sekarang?"

"Hamba tinggal di Benteng Choteiken di Fuwa.

Hamba mempunyai kerabat di sana."

"Barangkali Watanabe Tenzo sudah kembali." ujar Hideyoshi, mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi Nobunaga lebih cerdik, sehingga tidak dapat dikelabui.

"Apa maksudmu? Rupanya kau sudah mulai linglung. Bukankah kau sendiri yang memberitahuku bahwa Tenzo baru akan kembali dalam tiga hari?"

Wajah Hideyoshi langsung bersemu merah. Nobunaga tampaknya cukup puas dengan reaksi ini. Ia memang ingin melihat Hideyoshi salah tingkah sejenak.

Nobunaga mengundang Oyu untuk menghadiri pesta minum malam itu, lalu berkomentar, "Kau belum pernah melihatku menari. Hideyoshi sudah beberapa kali menyaksikannya."

Menjelang malam Oyu mohon diri, dan Nobunaga tidak berupaya menahannya. Tapi tanpa tedeng alingaling ia berkata pada Hideyoshi, 'Kalau begitu, kau pergi juga."

Pasangan itu meninggalkan benteng. Namun tak lama kemudian Hideyoshi kembali seorang diri. Ia tampak agak gelisah.

"Di manakah Yang Mulia Nobunaga?" Hideyoshi bertanya pada salah satu pelayan junjungannya.

"Yang Mulia baru saja masuk ke kamar tidur beliau." Setelah mendengar ini, Hideyoshi segera bergegas ke daerah ruang-ruang pribadi, dan minta agar pengawal yang tengah bertugas jaga menyampaikan sebuah pesan.

"Aku harus menghadap Yang Mulia malam ini."

Nobunaga belum tidur, dan begitu Hideyoshi diantar ke kamarnya, ia minta agar semua orang lain meninggalkan ruangan. Terapi, meski para pengawal langsung menarik diri. Hideyoshi masih memandang berkeliling dengan gelisah.

"Ada apa, Hideyoshi?"

"Ehm, sepertinya masih ada orang di ruang sebelah."

"Oh, jangan khawatir tentang dia. Itu hanya Ranmaru. Tak jadi masalah kalau dia tetap di sana."

"Hamba tidak sependapat. Dengan segala kerendahan hati. hamba minta agar..."

"Dia juga harus pergi?" "Ya."

"Ranmaru, kau pergi juga." Nobunaga berbalik dan mengucapkan kata-kata itu ke ruang sebelah.

Ranmaru membungkuk sambil membisu, berdiri, dan pergi.

"Sekarang tidak ada masalah lagi. Ada apa sebenarnya?"

"Setelah hamba mohon diri dan kembali ke kota tadi, hamba bertemu dengan Tenzo."

"Apa! Tenzo sudah kembali?"

"Rupanya dia mengambil jalan pintas lewat pegunungan, tanpa memedulikan siang dan malam, agar dapat secepatnya tiba di sini. Sekarang sudah pasti bahwa Shingen telah tiada."

"Ah... akhirnya."

"Hamba tidak dapat memberikan laporan terperinci. Tampaknya kelompok orang dalam di Kai berusaha agar keadaan tetap terlihat seperti biasa, tapi di balik itu suasana pilu sangat terasa."

"Rupanya mereka berupaya merahasiakan bahwa mereka sedang berduka."

"Tentu saja."

"Dan provinsi-provinsi lain belum mengetahui apaapa?"

"Sejauh ini demikianlah keadaannya."

"Jadi, sekaranglah waktu yang tepat. Kurasa kau telah melarang Tenzo membicarakan hal ini dengan orang lain."

"Tuanku tidak perlu cemas mengenai ini."

"Tapi tak sedikit orang tak bermoral di kalangan ninja. Kau mempercayai Tenzo?"

"Dia keponakan Hikocmon, dan kesetiaannya tak perlu diragukan."

"Hmm, kita harus sangat berhati-hati. Berikan imbalan pada Tenzo, tapi jaga agar dia jangan sampai keluar benteng. Mungkin malah lebih baik kalau dia dipenjarakan sampai urusan ini selesai."

"Jangan, tuanku." "Kenapa?"

"Kalau kita memperlakukan seseorang seperti itu. pada kesempatan berikut dia takkan mau mempertaruhkan nyawa seperti yang baru saja dilakukannya. Dan jika kita tidak mempercayai seseorang, tapi memberikan imbalan padanya, suatu hari nanti dia mungkin tergoda untuk menerima uang dari pihak musuh."

"Hmm. baiklah. Di mana dia sekarang?"

"Kebetulan sekali Oyu hendak berangkat ke Fuwa tadi, jadi hamba memerinrahkan Tenzo untuk menyertainya sebagai pengawal tandu."

"Orang itu mempertaruhkan nyawa ketika kembali dari Kai, dan kau langsung menyuruhnya mengawal gundikmu? Apa Tenzo tidak keberatan?"

"Dia berangkat dengan senang hati. Hamba mungkin majikan yang pandir, tapi dia mengenal hamba dengan baik."

"Kelihatannya kau menangani anak buahmu dengan cara berbeda dari aku."

"Tuanku tidak perlu khawatir. Oyu memang perempuan, tapi jika dia mendapat kesan bahwa Tenzo akan membocorkan rahasia ini. Oyu pasti akan melindungi kepentingan kita, biarpun dia harus membunuh Tenzo."

"Jangan besar kepala."

"Maaf. Tuanku tahu sifat hamba."

"Bukan itu masalahnya." ujar Nobunaga. "Si Macan dari Kai sudah tiada, jadi kita tak boleh membuangbuang waktu. Kita harus bergerak sebelum kematian Shingen diketahui dunia luas. Hideyoshi. Berangkatlah malam ini juga. Kau harus segera kembali ke Yokoyama."

"Hamba memang bermaksud demikian, jadi hamba menyuruh Oyu pulang ke Fuwa, lalu..."

"Sudahlah. Aku hampir tak punya waktu untuk tidur. Besok pagi-pagi kita kumpulkan pasukan."

Pikiran Nobunaga sejalan dengan pikiran Hideyoshi. Kesempatan yang mereka cari-cari selama ini—kesempatan untuk menyelesaikan sebuah masalah lama—kini telah terbentang di hadapan mereka. Masalah itu, tentu saja, mengenyahkan sang Shogun yang selalu membuat onar, sekaligus memberantas seluruh orde lama.

Sebagai pelaku dalam masa baru yang akan segera menggantikan masa silam. Nobunaga tidak menundanunda pelaksanaan rencananya. Pada hari kedua puluh satu di bulan ketiga, pasukannya bertolak dari Gifu. Ketika mencapai tepi Danau Biwa, pasukan itu membagi diri menjadi dua. Setengahnya langsung berada di bawah komando Nobunaga. Ia dan para prajuritnya menaiki kapal-kapal dan menyeberangi danau ke arah barat. Sisa pasukannya, yang terdiri atas pasukan di bawah Katsuie, Mitsuhide, dan Hachiya, mengambil jalan darat dan menyusuri tepi selatan danau.

Pasukan darat menggulung para biksu-prajurit antiNobunaga di daerah antara Katada dan Ishiyama. serta menghancurkan kubu-kubu pertahanan yang didirikan sepanjang jalan. Para penasihat sang Shogun segera mengadakan rapat.

"Apakah kita harus mengadakan perlawanan?" "Apakah kita harus mengadakan perundingan

damai?"

Orang-orang ini menghadapi masalah besar. Mereka belum memberikan tanggapan jelas terhadap dokumen berisi tujuh belas pasal yang dikirimkan Nobunaga pada Yoshiaki pada hari Tahun Baru. Dalam dokumen itu, Nobunaga mencantumkan semua keluhannya mengenai Yoshiaki.

"Betapa pongahnya! Akulah sang Shogun!" Yoshiaki berkata dengan geram ketika menerima dokumen tersebut, tanpa menghiraukan bahwa Nobunaga-lah yang telah melindunginya dan mengembalikannya ke Istana Nijo. "Kenapa aku harus tunduk pada orang tak berarti seperti Nobunaga?"

Berulang kali Nobunaga mengirim utusan untuk merundingkan persyaratan damai, tapi semuanya terpaksa kembali tanpa diberi kesempatan bertatap muka. Kemudian, sebagai semacam tindakan balasan, sang Shogun mendirikan rintangan pada jalan-jalan yang menuju ibu kota.

Kesempatan yang ditunggu-tunggu Nobunaga adalah saat yang tepat untuk mencela Yoshiaki karena tidak menanggapi Ketujuh Belas Pasal. Kesempatan itu muncul lebih cepat dari yang diduga—dipercepat oleh kematian Shingen.

Sejarah menunjukkan bahwa orang yang sedang menuju kehancuran selalu berpegang pada bayangan menggelikan bahwa bukan mereka yang akan jatuh. Yoshiaki pun masuk ke perangkap itu.

Namun Nobunaga melihatnya dari sudut pandang lain lagi, dan berkata.

"Kita juga bisa memanfaatkan dia." Dengan berkata demikian, ia telah merendahkan sang Shogun. Tetapi para kerabat keshogunan di masa ini tidak memahami nilai mereka sendiri, dan wawasan mereka terbatas pada masa lalu. Mereka hanya melihat kebudayaan yang ada di ibu kota. dan menyangka keadaan ini juga berlaku di seantero negeri. Mereka berpegang pada tatanan kaku dari masa lampau, dan mengandalkan kaum biksu-prajurir Honganji serta para panglima samurai di daerah-daerah, yang membenci Nobunaga.

Sang Shogun belum juga mengetahui kematian Shingen. Karena ini ia bersikap keras. "Akulah sang Shogun, tonggak utama golongan samurai. Aku berbeda dengan para biksu di Gunung Hiei. Seandainya Nobunaga mengarahkan senjatanya ke Istana Nijo, dia akan dicap pengkhianat."

Sikapnya menunjukkan bahwa ia takkan mundur jika ditantang berperang. Tentu saja ia pun menghubungi marga-marga di sekitar ibu kota, dan mengutus kurir-kurir untuk menyampaikan pesan penting kepada marga Asai. Asakura, Uesugi, dan Takeda yang tinggal di tempat jauh. Ia pun tak lupa mempersiapkan pertahanan.

Ketika Nobunaga mendengar ini, ia tertawa dan segera menuju ibu kota, lalu tanpa mengistirahatkan pasukannya, memasuki Osaka. Mereka yang terkejut adalah para biksu-prajurit Honganji. Tiba-tiba saja mereka berhadapan dengan pasukan Nobunaga. dan mereka tak tahu apa yang harus mereka perbuat. Tapi Nobunaga hanya memerintahkan agar prajurit-prajurit membentuk formasi tempur.

"Kita bisa menyerang kapan saja kita mau." katanya. Pada saat ini, lebih dari apa pun, ia ingin menghindari penggunaan kekuatan militer jika tidak diperlukan. Dan sampai saat ini ia telah berulang kali mengirim utusan ke Kyoto untuk meminta tanggapan terhadap Ketujuh Belas Pasal. Jadi. tindakannya sekarang merupakan semacam ultimatum. Namun Yoshiaki memilih bersikap angkuh. Ia merupakan sang Shogun, dan ia tidak berminat mendengarkan pendapat Nobunaga mengenai pemerintahannya.

Di antara Ketujuh Belas Pasal terdapat dua pasal yang cukup mengganggu Yoshiaki. Yang penama menyangkut kejahatan berupa ketidaksetiaan terhadap sang Tenno. Yang kedua membahas tindak-tanduk Yoshiaki yang dinilai tidak pantas. Meski berkewajiban menjaga ketenteraman seluruh negeri. Yoshiaki justru menghasut provinsi-provinsi untuk memberontak.

"Percuma saja. Dia takkan menyerah jika ditanyai dengan cara sepeni ini—hanya dengan pesan-pesan tenulis dan kurir-kurir," Araki Murashige berkata pada Nobunaga.

Hosokawa Fujitaka, yang juga telah bergabung dengan Nobunaga. menambahkan. "Menurut hamba, sia-sia saja kita berharap sang Shogun akan sadar sebelum jatuh."

Nobunaga mengangguk. Ia pun memahami keadaannya. Tapi kali ini ia tak perlu memakai kekerasan liar seperti yang dipergunakannya ketika menaklukkan Gunung Hiei, dan ia pun tidak kekurangan strategi, sampai terpaksa dua kali menggunakan cara yang sama.

"Kembali ke Kyoto!" Nobunaga memberikan perintah ini pada hari keempat di bulan keempat, tapi ketika itu orang-orang mendapat kesan bahwa ia hanya hendak menggertak dengan memamerkan kekuatan pasukannya.

"Lihat itu! Perkcmahannya takkan berdiri lama. Persis seperti terakhir kali. Nobunaga khawatir mengenai Gifu dan langsung menarik prajuritprajuritnya." Yoshiaki berkata dengan gembira. Tapi. ketika laporan demi laporan mulai berdatangan, roman muka Yoshiaki pun berubah. Ia baru saja berucap syukur bahwa musuh batal menyerang Kyoto, ketika pasukan Oda memasuki ibu kota dari jalan raya Osaka. Kemudian, tanpa melepaskan teriakan perang dan dengan lebih tenang dibandingkan waktu mereka mengadakan latihan, para prajurit mengepung kediaman Yoshiaki.

"Kita berada di dekat Istana Kekaisaran. Jangan sampai Yang Mulia terganggu. Kita hanya perlu mengecam kejahatan-kejahatan Shogun yang lancang ini," Nobunaga memerintahkan.

Tidak terdengar letusan senapan maupun dengung tali busur. Tetapi suasana justru lebih menyeramkan daripada jika mereka bersorak-sorai.

"Yamato, menurutmu apa yang harus kita lakukan? Apa yang akan dilakukan Nobunaga terhadapku?" Yoshiaki bertanya pada penasihat seniornya, Mibuchi Yamato.

"Tuanku benar-benar tidak siap. Dan sampai saat ini tuanku belum juga memahami tujuan Nobunaga? Sudah jelas dia bermaksud menyerang tuanku."

"Ta... tapi... akulah sang Shogun!"

"Kita hidup di zaman yang serbakacau. Apa gunanya gelar seperti itu? Kelihatannya tuanku hanya mempunyai dua pilihan: bertempur atau memohon damai." Sambil mengucapkan kata-kata ini, air mata mulai membasahi pipi Yamato. Bersama Hosokawa Fujitaka, orang yang mulia ini tak pernah meninggalkan sisi Yoshiaki sejak junjungannya itu masih hidup di pengasingan.

"Aku bertahan bukan karena ingin menegakkan kehormatanku atau mencari kemasyhuran. Aku juga tidak menjalankan strategi untuk tetap hidup. Aku tahu apa yang akan terjadi besok, tapi entah kenapa aku tak bisa meninggalkan shogun yang bodoh ini." Yamato pernah berkata. Dalam hati ia tentu tahu bahwa Yoshiaki tidak patut diselamatkan. Ia sadar bahwa dunia sedang berubah, tapi sepertinya ia telah bertekad untuk bertahan di Istana Nijo. Usianya telah melewati lima puluh tahun, seorang jendral yang telah melewati masa jayanya.

"Memohon damai? Adakah alasan mengapa aku. sang Shogun, harus memohon damai pada orang seperti Nobunaga?"

'Tuanku terlalu terpaku pada gelar Shogun. sehingga satu-satunya jalan yang terbuka untuk tuanku adalah jalan menuju kehancuran."

"Kau tidak percaya bahwa kira akan menang jika bertempur?"

"Tak ada bukti yang dapat menopang pemikiran itu. Menggelikan sekali jika tuanku mendirikan pertahanan di tempat ini dengan membayangkan kemenangan."

"Kalau begitu, ke... kenapa kau dan para jendral lain memakai baju tempur yang demikian mencolok?"

"Kami pikir ini cara yang indah untuk gugur. Walaupun keadaannya tanpa harapan, bertahan sampai mati di sini merupakan akhir yang pantas bagi empat belas generasi shogun. Itulah kewajiban samurai. Ini semua tak lebih dari mengatur bunga pada upacara pemakaman."

"Tunggu! Jangan menyerang dulu! Turunkan senapan-senapan kalian."

Yoshiaki menghilang di dalam istana dan berunding dengan Hino dan Takaoka, kerabat istana yang akrab dengannya. Setelah siang, seorang kurir diam-diam diutus dari istana oleh Hino. Kemudian gubernur Kyoto datang dari pihak Oda, dan menjelang malam, Oda Nobuhiro muncul sebagai utusan resmi Nobunaga.

"Mulai sekarang, aku akan memperhatikan isi setiap pasal," Yoshiaki berjanji pada utusan tersebut. Dengan wajah getir Yoshiaki mengucapkan kata-kata yang tidak berasal dari lubuk hatinya. Hari itu ia memohon damai. Pasukan Nobunaga mundur dan dengan tertib kembali ke Gifu.

Namun hanya seratus hari kemudian, pasukan Nobunaga sekali lagi mengepung Istana Nijo. Dan ini terjadi karena Yoshiaki kembali menjalankan siasatsiasatnya setelah berdamai dengan Nobunaga.

Atap besar Kuil Myokaku di Nijo diterpa hujan Bulan Ketujuh. Kuil itu digunakan sebagai markas Nobunaga. Sejak pasukannya menyeberangi Danau Biwa, mereka diiringi hujan dan angin kencang. Tapi ini hanya memperbesar tekad prajurit-prajuritnya. Basah kuyup dan berlepotan lumpur, mereka mengepung istana sang Shogun, lalu berhenti, menunggu aba-aba untuk menyerbu.

Tak ada yang tahu apakah Yoshiaki akan dihukum mati atau ditawan, tapi nasibnya sepenuhnya di tangan mereka. Pasukan Nobunaga merasa sepeni melihat ke dalam kandang binatang ganas dan agung yang akan mereka bantai.

Suara Nobunaga dan Hideyoshi terbawa angin. "Apa yang akan tuanku lakukan?" tanya Hideyoshi. "Sekarang hanya ada satu jalan." Nobunaga bersikap tegas. "Kali ini aku takkan memaafkannya." "Tapi dialah sang..."

"Percuma saja kau membahas sesuatu yang sudah jelas."

"Apakah tidak ada tempat bagi sedikit pertimbangan?"

"Tidak! Sama sekali tidak!"

Ruangan di dalam kuil remang-remang karena hujan di luar. Kombinasi antara panas musim kemarau dan hujan musim gugur telah menyebabkan emas dan patung-patung Buddha serta lukisan-lukisan tinta pada pintu-pintu geser pun tampak berjamur.

"Hamba tidak bermaksud mengatakan bahwa tuanku gegabah kalau hamba minta agar tuanku mempertimbangkan langkah yang akan diambil." kata Hideyoshi. "Tapi kedudukan shogun merupakan anugerah dari Istana Kekaisaran, jadi masalah ini tak bisa dianggap sepele. Dan kekuatan-kekuatan yang menentang tuanku akan mendapat alasan untuk menghukum orang yang membunuh junjungannya, yaitu sang Shogun."

"Kurasa kau benar," jawab Nobunaga.

"Untung saja Yoshialu begitu lemah, sehingga walaupun terperangkap, dia takkan bunuh diri ataupun keluar untuk bertempur. Dia hanya akan mengunci gerbang-gerbang istana dan berharap air di selokan pertahanan akan terus naik karena hujan tanpa akhir ini."

"Jadi, apa rencanamu?" tanya Nobunaga. "Kita sengaja membuka sebagian pengepungan dan memberikan jalan agar dia bisa melarikan diri.

"Bukankah dia akan menjadi batu sandungan di masa depan? Dia mungkin dimanfaatkan untuk memperkuat ambisi provinsi lain."

"Tidak," kata Hideyoshi. "Hamba rasa, orang-orang telah muak dengan watak Yoshiaki. Hamba menduga mereka akan mengerti, bahkan kalau Yoshiaki diusir dari ibu kota, dan mereka akan memandang tindakan tuanku sebagai hukuman yang setimpal."

Malam itu pasukan pengepung membuka jalan dan sengaja memperlihatkan kekurangan prajurit. Di dalam istana, para anak buah sang Shogun menyangka ini semacam siasat, dan sampai tengah malam mereka belum mengambil langkah untuk meninggalkan istana. Tapi ketika hujan sempat mereda menjelang fajar, sekelompok penunggang kuda mendadak menyeberangi selokan pertahanan dan melarikan diri dari ibu kota.

Waktu Nobunaga mendapat kepastian bahwa Yoshiaki telah lolos, ia berpidato di hadapan prajuritprajuritnya. "Sasaran kita sudah kosong. Tak banyak gunanya menyerang sasaran kosong, tapi keshogunan yang bertahan selama empat belas generasi akhirnya menyebabkan kejatuhannya sendiri. Serang dan kumandangkan teriakan kemenangan! Ini akan merupakan upacara pemakaman bagi pemerintahan lalim para shogun Ashikaga."

Istana Nijo dihancurkan dengan satu serangan. Hampir semua pengikut di dalam istana menyerah. Bahkan kedua bangsawan, Hino dan Takaoka, keluar dan memohon maaf pada Nobunaga. Tapi satu orang, Mibuchi Yamato, dan lebih dari enam puluh pengikutnya bertempur sampai akhir, tanpa menyerah. Tak satu pun dari mereka melarikan diri dan tak satu pun dari mereka mengalah. Semuanya menemui ajal dalam pertempuran dan gugur sebagai samurai.

Yoshiaki kabur ke Kyoto dan berkubu di Uji. Sembrono seperti biasa, ia hanya disertai rombongan kecil. Ketika pasukan Nobunaga tak lama kemudian mendekati markasnya di Kuil Byodoin, Yoshiaki menyerah tanpa mengadakan perlawanan.

"Semuanya pergi," Nobunaga memerintahkan.

Nobunaga duduk sedikit lebih tegak dan menatap lurus ke arah Yoshiaki.

"Kurasa tuanku belum lupa bahwa tuanku pernah berkata tuanku menganggapku sebagai ayah. Hari ketika tuanku duduk dalam istana yang kubangun kembali untuk tuanku merupakan hari bahagia." Yoshiaki membisu. "Tuanku masih ingat?"

"Yang Mulia Nobunaga, aku tidak lupa. Mengapa Tuan menyinggung hari-hari itu sekarang?"

"Tuanku seorang pengecut. Aku tidak bermaksud merampas nyawa tuanku, biarpun dalam keadaan seperti sekarang. Mengapa Tuan terus menyebarkan kebohongan?" "Ampunilah aku. Aku bersalah."

"Aku gembira mendengarnya. Tapi tuanku menghadapi masalah berat—walaupun tuanku dilahirkan dalam posisi shogun."

"Aku ingin mati. Yang Mulia Nobunaga... aku... bersediakah Tuan... membantuku melaksanakan seppuku?" "Jangan teruskan!" Nobunaga tertawa. "Maafkan kelancanganku, tapi kurasa tuanku bahkan tidak tahu cara yang tepat untuk membelah perut tuanku. Tak pernah ada kecenderungan dalam diriku  untuk membenci tuanku. Masalahnya, tuanku tak pernah berhenti  bermain api, dan  bunga-bunga apinya

beterbangan sampai ke provinsi-provinsi lain." "Aku mengerti sekarang."

"Hmm, kurasa lebih baik kalau tuanku mengundurkan diri secara diam-diam. Putra tuanku akan tinggal bersamaku. Dia akan kubesarkan, sehingga tuanku tak perlu mencemaskan masa depannya."

Yoshiaki dibebaskan dan diberitahu bahwa ia boleh pergi—memasuki pengasingan.

Di bawah penjagaan Hideyoshi. putra Yoshiaki dibawa ke Benteng Wakae. Dengan langkah ini. Nobunaga membalas kedengkian dengan kebaikan, tapi seperti biasa Yoshiaki menerimanya dengan penuh prasangka, dan ia merasa putranya telah diambil sebagai sandera. Miyoshi Yoshitsugu adalah gubernur di Benteng Wakae, dan belakangan Yoshiaki pun ditampung olehnya.

Namun, karena   tidak   berminat   menjadi   tuan rumah bagi seorang bangsawan yang merepotkan. Yoshitsugu segera membuatnya gelisah dengan berkata. "Hamba rasa nyawa tuanku akan terancam jika tuanku tinggal di sini. Nobunaga bisa saja berubah pikiran dan memerintahkan agar tuanku dibunuh."

Terburu-buru Yoshiaki meninggalkan Benteng Wakae dan pergi ke Kii.

Di sana ia mencoba menghasut para biksu-prajurit Kumano dan Saiga untuk memberontak, dengan menjanjikan imbalan menggiurkan jika mereka berhasil menundukkan Nobunaga. Yoshiaki memanfaatkan nama dan wibawa jabatannya, namun yang ia peroleh hanya tawa dan cemooh. Menurut desasdesus, ia tidak tinggal lama di Kii, melainkan segera menyeberang ke Bizen. Di sana ia menjadi tanggungan marga Ukita.

Dengan demikian, sebuah era baru dimulai. Bisa dibilang bahwa penghancuran keshogunan tiba-tiba menguak lapisan awan tebal yang mcnyclimuri langit. Kini sebagian langit biru sudah terlihat. Tak ada yang lebih menakutkan daripada masa pemerintahan nasional tanpa tujuan, yang dipimpin oleh orang yang hanya memegang gelar sebagai penguasa. Para samurai berkuasa di setiap provinsi, melindungi hak istimewa mereka; golongan pendera meraih kekayaan dan memperbesar wewenangnya. Para bangsawan hanyalah orang-orang kerdil tak berdaya di dalam istana, hari ini berlindung di balik kaum samurai, keesokan hari memohon-mohon pada golongan pendeta, lalu menyalahgunakan pemerintahan bagi pertahanan mereka sendiri. Dengan demikian, kekaisaran terbagi menjadi empat golongan—golongan pendeta, golongan samurai, kerabat kekaisaran, dan kerabat keshogunan—masing-masing sibuk melancarkan intrik dan siasat.

Sepak terjang Nobunaga membuka mata rakyat. Tapi, walaupun mereka sudah dapat memandang langit biru, awan-awan tebal belum sepenuhnya lenyap. Tak seorang pun sanggup menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama dua atau tiga tahun terakhir, Jepang telah kehilangan beberapa tokoh kunci. Dua tahun lalu, Mori Motonari, penguasa wilayah terbesar di bagian barat, dan Hojo Ujiyasu, penguasa wilayah timur, meninggal dunia. Tetapi bagi Nobunaga, peristiwa-peristiwa itu kalah penting dibandingkan kematian Takeda Shingen dan pengasingan Yoshiaki. Bagi Nobunaga, kematian Shingen—yang sejak dulu selalu mengancam dari utara—membuka kemungkinan baginya untuk memusatkan perhatian ke satu arah, suatu arah yang menyebabkan pertempuran dan kekacauan tak terelakkan. Tak ada yang meragukan bahwa setelah runtuhnya keshogunan, marga-marga samurai di setiap provinsi akan mengibarkan panji-panji dan berlombalomba untuk lebih dulu memasuki lapangan permainan.

'Nobunaga telah membakar Gunung Hiei dan menggulingkan sang Shogun. Kejahatannya harus mendapat ganjaran!'' Ini yang akan menjadi teriakan perang mereka.

Nobunaga menyadari bahwa ia harus mengambil inisiatif dan mengalahkan saingan-saingannya sebelum mereka sempat membentuk persekutuan untuk melawannya. "Hideyoshi, kau kembali lebih dulu. Dalam waktu singkat, aku mungkin akan mengunjungimu di Benteng Yokoyama."

"Hamba akan menanti kedatangan tuanku." Hideyoshi rupanya sudah menebak arah perkembangan selanjutnya, dan setelah mengiringi putra Yoshiaki ke Wakae, ia cepat-cepat pulang ke bentengnya di Yokoyama.

Pada akhir Bulan Ketujuh, Nobunaga kembali ke Gifu. Pada awal bulan berikutnya, sepucuk surat dengan tulisan tangan Hideyoshi yang buruk tiba dari Yokoyama: Kesempatannya sudah matang. Mari bergerak!

Dalam hawa panas di Bulan Kedelapan, pasukan Nobunaga meninggalkan Yanagase dan memasuki wilayah Echizen . Lawan mereka adalah pasukan Asakura Yoshikage yang berpangkalan di Ichijogadani. Pada akhir Bulan Ketujuh, Yoshikage menerima pesan mendadak dari Odani, dari Asai Hisamasa dan putranya, Nagamasa, sekutu-sekutu Yoshikage di bagian utara Omi:

Pasukan Oda menuju utara. Kirim bala bantuan secepatnya. Jika terlambat, kami akan binasa. Di antara para anggota dewan perang ada yang meragukan kebenaran berita ini, tetapi marga Asai merupakan sekutu, sehingga sepuluh ribu prajurit dikerahkan secara terburu-buru. Dan ketika barisan depan ini mencapai Gunung Tagami, mereka menyadari bahwa berita mengenai serangan pasukan Oda memang benar. Setelah memperoleh kepastian, barisan belakang berkekuatan lebih dari dua puluh ribu orang dikirim. Asakura Yoshikage menganggap krisis ini sedemikian gawat, sehingga ia sendiri turun tangan memimpin pasukan. Setiap pertempuran di bagian utara Omi sangat meresahkan bagi marga Asakura, karena marga Asai merupakan barisan pertama dalam pertempuran provinsi mereka sendiri.

Baik Asai Hisamasa maupun putranya berada di Benteng Odani. Kira-kira tiga mil dari sana. Benteng Yokoyama berdiri megah, tempat Hideyoshi berkubu sambil mengamati marga Asai, bagaikan elang untuk Nobunaga.

Pada awal musim gugur Nobunaga telah menyerang pihak Asai. Ia menundukkan Kinomoto dalam serangan mendadak melawan pasukan Echizen. Pasukan Oda berhasil merebut lebih dari dua ribu delapan ratus kepala. Mereka terus mendesak musuh yang kini melarikan diri dari Yanagase, mengejar mereka dan membanjiri rumput yang mulai mengering dengan darah.

Para prajurit Echizen menyesali kelemahan pasukan mereka. Tetapi para jendral dan prajurit gagah yang berbalik untuk berperang akhirnya takluk dalam pertempuran. Mengapa mereka begitu lemah? Mengapa mereka tak mampu menangkis serangan orang-orang Oda? Sebuah kekalahan selalu disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, dan saat kejatuhan datang secara mendadak. Namun kalau saat itu tiba, baik kawan maupun lawan tercengang. Tetapi pasang-surut sebuah provinsi selalu didasarkan atas fenomena alam, dan di sini pun sebenarnya tak ada keajaiban atau keanehan. Ketidakberdayaan pasukan Asakura dapat dimengerti dengan melihat sikap panglimanya, Yoshikage. Terperangkap dalam arus prajurit yang melarikan diri dari Yanagase. Yoshikage tampak kalang kabut.

"Semuanya sudah berakhir! Kita bahkan tak bisa melarikan diri! Aku dan kudaku kehabisan tenaga. Lari ke pegunungan!" ia berseru. Yoshikage tak punya rencana untuk serangan balasan. Semangat juangnya tak tersisa sedikit pun. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia turun dari kudanya dan mencoba bersembunyi di gunung-gunung.

"Apa yang tuanku lakukan?" Sambil memarahinya dengan mara berkaca-kaca, pengikut utama Yoshikagc. Takuma Mimasaka. menarik ikat pinggang junjungannya. memaksanya kembali menaiki kuda. dan mendorongnya ke arah Echizen. Kemudian, untuk memberi waktu pada junjungannya untuk melarikan diri, Takuma Mimasaka mengumpulkan lebih dari seribu prajurit dan menghadapi pasukan Oda selama mungkin.

Rasanya tak perlu diceritakan bahwa Takuma dan seluruh anak buahnya gugur. Mereka menderita kekalahan total. Tapi, sementara pengikut-pengikut yang begini setia mengorbankan nyawa, Yoshikagc mengurung diri di dalam benteng utamanya di Ichijogadani. Namun ia bahkan tak sanggup mengerahkan semangat tempur untuk mempertahankan tanah leluhurnya.

Tak lama setelah kembali ke bentengnya, ia membawa anak-istrinya dan melarikan diri ke sebuah kuil di Distrik Ono. Ia berdalih bahwa jika ia tetap bertahan di dalam benteng dan keadaan bertambah gawat, ia tak punya kesempatan untuk meloloskan diri. Melihat pemimpin mereka bersikap seperti ini. semua jendral dan prajuritnya membelot.

Musim gugur telah tiba. Nobunaga kembali ke perkemahannya di Gunung Toragoze. Ia telah mengepung Odani. Sejak kedatangannya, ia tampak luar biasa tenang, seakan-akan ia tinggal menunggu sampai benteng itu takluk. Setelah kekalahan Echizen yang begitu cepat, ia segera kembali sementara reruntuhan Ichijogadani masih membara. Kini ia memberikan perintah-perintah.

Maenami Yoshitsugu, jendral Echizen yang telah menyerah, diberi komando atas Benteng Toyohara. Asakura Kageaki ditunjuk untuk mempenahankan Benteng Ino, dan Toda Yarokuro diperintahkan menempati benteng di Fuchu. Dengan demikian, Nobunaga memberi tugas pada sejumlah besar pengikut Asakura yang sudah mengenal kondisi di provinsi tersebut. Akhirnya Akechi Mitsuhide memperoleh tanggung jawab sebagai pengawas mereka.

Kemungkinan besar tak ada yang lebih pantas mengemban tanggung lawab ini selain Mitsuhide. Dalam pengembaraannya ia sempat menjadi pengikut marga Asakura dan tinggal di kota benteng Ichijogadani. Ketika itu ia hanya memperoleh tatapan dingin dari rekan-rekannya. Kini situasinya terbalik, ia mengawasi bekas majikannya.

Dada Mitsuhide tentu menggelora dengan perasaan bangga dan berbagai emosi lain. Kecerdasan dan kemampuan Mitsuhide sudah berulang kali menarik perhatian, dan ia telah menjadi salah satu pengikut favorit Nobunaga. Daya pengamatan Mitsuhide lebih tinggi dibanding sebagian besar orang lain. dan setelah bertahun-tahun ikut serta dalam pertempuranpertempuran dan menjalankan tugas sehari-hari. ia cukup mengenal watak Nobiinaga. Ia memahami roman muka, ucapan, dan tatapan junjungannya— bahkan dari jauh—sama seperti ia memahami dirinya sendiri.

Setiap hari Mitsuhidc berkali-kali mengutus kurir dari Echizen. Masalah yang paling kecil pun tak pernah ia putuskan sendiri. Dalam situasi apa pun ia memohon petunjuk Nobunaga. Nobunaga mengambil keputusan di perkemahan di Gunung Toragoze. sambil mempelajari catatan dan surat yang dikirim Mitsuhide.

Gunung-gunung yang diselubungi warna-warni musim gugur berbatasan dengan langit biru tak berawan, yang sebaliknya terpantul pada permukaan air danau di bawah. Kicau burung mengundang kuap di sana-sini.

Hideyoshi bergegas melintasi pegunungan dari Yokoyama. Sepanjang perjalanan ia bersenda gurau dengan anak buahnya. Giginya terlihat putih berkilau, setiap kali ia tertawa. Ia menegur semua orang di sekitarnya ketika mendekati tujuan. Inilah orang yang membangun benteng di Sunomata. dan kemudian diberi kepercayaan untuk memimpin Benteng Yokoyama. Tanggung jawab dan kedudukannya di antara jendral-jendral pasukan Oda menanjak cepat sekali, tapi sikapnya tetap sama.

Di antara jendral-jendral lain yang membandingkan tingkah laku Hideyoshi dengan pembawaan mereka sendiri yang serbaserius, ada yang berpendapat bahwa ia sembrono dan tidak bijaksana, tapi ada juga yang memandangnya secara berbeda. Mereka ini kerap berkata. "Dia pantas menduduki posisinya. Dia tidak berubah dari dulu, walaupun upahnya telah naik. Mula-mula dia seorang pelayan, kemudian seorang samurai, dan tiba-tiba dia telah menjadi komandan benteng. Tapi dia sendiri tidak berubah. Bisa dibayangkan bahwa dia akan merebut wilayah yang lebih luas lagi." Hideyoshi baru saja memperlihatkan batang hidungnya di perkemahan. sebelum menarik perhatian Nobunaga dengan beberapa patah kata. Berdua mereka mendaki lereng gunung.

"Tak tahu diri!" Shibata Katsuie berseru ketika ia dan Sakuma Nobumori berjalan melewati barak-barak. "Inilah sebabnya dia tidak disukai, padahal seharusnya tak perlu begitu. Tak ada yang lebih menyebalkan selain mendengarkan orang yang selalu membanggabanggakan kecerdikannya sendiri." Sambil menyemburkan kata-kata itu, mereka memperhatikan sosok Hideyoshi melintasi daerah paya-paya di kejauhan

bersama Nobunaga.

"Dia tak pernah mengatakan apa-apa pada kita—tak pernah berkonsultasi."

"Dan bukankah tindakannya sekarang amat berbahaya? Bahkan di siang hari bolong, musuh bisa bersembunyi di mana-mana di pegunungan ini. Apa jadinya kalau mereka mulai menembak?

"Hmm, itulah Yang Mulia."

"Bukan, ini salah Hideyoshi. Walaupun Yang Mulia dikelilingi banyak orang, Hideyoshi tak segan-segan melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya."

Selain Katsuie dan Nobumori masih ada beberapa komandan lain yang tidak menyukai situasi ini. Sebagian besar dari mereka menduga bahwa Hideyoshi mengajak Nobunaga ke pegunungan untuk membahas strategi perang dengan memanfaatkan lidahnya yang fasih. Inilah yang menimbulkan perasaan tak senang dalam hati mereka.

"Dia tidak mengacuhkan kita—kelompok utama di antara jendral-jendralnya."

Tidak jelas apakah Hideyoshi tidak memahami sifat manusia atau memang memilih untuk tidak memperhatikannya, tapi nyatanya ia mengajak Nobunaga berjalan-jalan di pegunungan. Sesekali ia tertawa dengan suara keras, yang sesungguhnya lebih cocok untuk suasana berlibur. Jika pengikut Hideyoshi dan Nobunaga digabungkan, rombongan pengiring mereka berjumlah tak lebih dari dua puluh sampai tiga puluh orang.

"Mendaki gunung betul-betul memancing keringat.

Apakah hamba bisa membantu tuanku?" "Jangan menghina."

"Tinggal sedikit lagi."

"Aku belum puas mendaki. Tak adakah gunung yang lebih tinggi dari ini?"

"Sayangnya tidak, paling tidak di sekitar sini. Tapi ini pun sudah cukup tinggi!"

Sambil mengusap keringat dari wajahnya. Nobunaga memandang lembah-lembah di bawah mereka. Ia melihat pasukan Hideyoshi bersembunyi di antara pepohonan, berjaga-jaga.

"Orang-orang yang menyertai kita sebaiknya berhenti di sini. lebih baik tidak ada rombongan besar yang melewati titik ini." Hideyoshi dan Nobunaga berjalan sekitar tiga puluh langkah ke punggung bukit. Di sini tidak ada pohon. Rumput hijau yang cocok untuk makanan kuda tumbuh subur di lereng gunung. Kedua laki-laki itu maju tanpa bersuara. Mereka seakan-akan memandang ke tengah laut, ke hamparan luas yang kosong.

"Merunduklah, tuanku." "Seperti ini?"

"Bersembunyilah di tengah rerumputan." Ketika mereka merangkak ke tepi jurang, sebuah benteng mulai tampak di lembah di bawah mereka.

"Itulah Odani." ujar Hideyoshi sambil menunjuk ke arah benteng itu.

Nobunaga mengangguk dan memandangnya sambil membisu. Matanya diselubungi emosi mendalam, la tidak sekadar mengamati benteng utama pihak musuh, benteng yang kini telah terkepung itu merupakan tempat tinggal adik perempuannya, Oichi. yang sudah melahirkan empat anak sejak menjadi istri penguasa benteng tersebut.

Nobunaga dan Hideyoshi duduk. Bunga-bunga dan ujung rerumpuran menggelitik telinga mereka. Tanpa berkedip Nobunaga menatap benteng di lembah, lalu berpaling pada Hideyoshi.

"Aku yakin adikku marah padaku. Akulah yang memutuskan bahwa dia harus menikah dengan anggota marga Asai, bahkan tanpa menanyakan pendapatnya. Dia mendapat pesan bahwa dia harus berkorban demi kebaikan marga Oda, dan bahwa pernikahan itu diperlukan untuk melindungi provinsi kita. Hideyoshi, peristiwanya masih terbayang jelas di depan mataku."

"Hamba juga masih mengingatnya," kata Hideyoshi. "Adik tuanku membawa barang dalam jumlah yang luar biasa, dan tandunya indah sekali. Dia dikelilingi pelayan dan kuda-kuda yang penuh hiasan. Keberangkatannya menuju tempat pernikahannya di utara Danau Biwa memang sukar dilupakan."

"Ketika itu Oichi masih gadis polos yang baru berusia empat belas tahun."

"Pengantin cilik yang cantik sekali." "Hideyoshi."

"Ya?"

"Kau mengerti, bukan? Hariku serasa disayat-sayat..." "Karena alasan yang sama, hamba pun merasa berat

sekali."

Nobunaga menunjuk ke arah benteng dengan dagunya. "Memutuskan untuk menghancurkan benteng ini tidak sulit, tapi kalau aku memikirkan untuk mengeluarkan Oichi dari sana tanpa cedera...

"Ketika tuanku memberikan perintah pada hamba untuk mempelajari medan di sekitar Benteng Odani. hamba segera menebak bahwa tuanku merencanakan serangan terhadap orang-orang Asakura dan Asai. Ucapan hamba mungkin berkesan menyombongkan diri, tapi jika tuanku memperkenankan hamba berbicara apa adanya—menurut hamba, tampaknya tuanku enggan mengemukakan perasaan tuanku, apalagi sumber kegelisahan tuanku. Tak sepatutnya hamba mengatakan ini, tapi sepertinya hamba sudah menemukan satu lagi kelebihan tuanku."

"Kau satu-satunya." Nobunaga berdecak. "Katsuie, Nobumori, dan yang lain memandangku seakan-akan aku telah membuang-buang waktu selama sepuluh hari terakhir. Wajah mereka menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak memahami perasaanku. Terutama Katsuie. Sepertinya dia menertawakanku di balik punggungku."

"Itu karena tuanku masih bimbang."

"Bagaimana aku tidak bimbang? Kalau kita menghancurkan musuh sedikit demi sedikit, tak perlu diragukan bahwa Asai Nagamasa dan ayahnya akan menyeret Oichi menuju kematian di tengah kobaran api bersama mereka."

"Rasanya memang itu yang akan terjadi." "Hideyoshi, sejak pertama kau bilang perasaanmu

sama dengan perasaanku, tapi kau mendengarkan semuanya ini dengan ketenangan yang luar biasa. Apakah kau mempunyai sebuah rencana?"

"Hamba bukannya tanpa rencana."

"Hmm, kalau begitu mengapa kau tidak menjelaskannya, agar pikiranku bisa tenang kembali?"

"Belakangan ini hamba berusaha keras tidak memberikan saran-saran."

"Kenapa?"

"Karena masih banyak orang lain di markas tuanku."

"Kau takut memancing kedengkian? Itu pun bisa mengganggu. Tapi yang paling penting, akulah yang memutuskan segala sesuatu. Cepat, ceritakan rencanamu."

"Perhatikan benteng itu dengan saksama." Hideyoshi menunjuk Benteng Odani. "Yang membuat benteng ini istimewa adalah letak ketiga kubu pertahanan yang saling terpisah dan tidak tergantung satu sama lain. Yang Mulia Hisamasa tinggal di kubu penama, sedangkan putranya. Nagamasa, beserta Putri Oichi dan anak-anaknya tinggal di kubu ketiga."

"Di sebelah sana?"

"Ya, tuanku. Nah, daerah yang bisa tuanku lihat antara kubu pertama dan ketiga disebut Kubu Kyogoku, tempat para pengikut senior, yaitu Asai Genba, Mitamura Uemondayu, dan Onogi Tosa ditempatkan. Jadi, untuk menaklukkan Odani, sebaiknya jangan serang kepala maupun ekornya. Jika kita bisa merebut Kubu Kyogoku, hubungan antara kedua kubu lain akan terpotong."

"Hmm. Maksudmu, langkah kita yang berikut adalah menyerang Kubu Kyogoku."

"Bukan, jika kita menyerbu kubu itu, kubu penama dan kedua akan segera mengirim bala bantuan. Pasukan kita akan diserang dari kedua sisi, dan akan terlibat penempuran sengit. Kalau itu terjadi, apakah kita harus mendesak maju atau bergerak mundur? Apa pun yang kita pilih, kita tak bisa memastikan nasib Putri Oichi di dalam benteng."

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

"Strategi terbaik adalah mengirim utusan kepada orang-orang Asai, membeberkan keuntungan dan kerugian situasi ini dengan jelas, dan mendapatkan benteng dan Putri Oichi tanpa insiden."

"Mestinya kau tahu bahwa aku sudah dua kali mencobanya. Aku telah mengirim kurit ke sana. Aku memberitahu mereka bahwa jika mereka menyerah, mereka tetap boleh menduduki wilayah mereka. Aku memastikan mereka mengetahui kekalahan Echizen, tapi baik Nagamasa maupun ayahnya udak akan menyerah. Mereka benekad untuk memperlihatkan betapa hebatnya mereka, tapi sesungguhnya 'kehebatan' mereka terbatas pada menggunakan nyawa Oichi sebagai tameng. Mereka pikir aku takkan melancarkan serangan habis-habisan selama adikku sendiri berada di benteng itu."

"Tapi bukan itu saja. Selama dua tahun berada di Yokoyama, hamba mengamati Nagamasa dengan cermat, dan dia memiliki bakat dan kemauan keras. Ehm, sudah lama hamba berusaha menyusun rencana untuk merebut benteng ini, mencari strategi terbaik seandainya suatu waktu kita harus menyerang. Hamba berhasil merebut Kubu Kyogoku tanpa kehilangan satu orang pun."

"Apa? Apa katamu?" Nobunaga meragukan pendengarannya sendiri.

"Kubu kedua yang terlihat di sebelah sana. Orangorang kita sudah menguasainya," Hideyoshi mengulangi, "Jadi hamba berkata bahwa tuanku tak perlu khawatir lagi." "Betulkah?"

"Mungkinkah hamba berbohong dalam situasi seperti ini, tuanku?"

"Tapi... aku tak bisa mempercayainya."

"Itu bisa dimengerti, tapi sebentar lagi tuanku akan mendengarnya dari dua orang yang telah hamba panggil ke sini. Sudikah tuanku menemui mereka?"

"Siapa kedua orang iiu?"

"Yang pertama seorang biksu bernama Miyabe Zensho. Yang satu lagi Onogi Tosa, komandan kubu itu."

Nobunaga tak sanggup menyembunyikan keheranannya. Ia percaya pada Hideyoshi, tapi ia pun bertanya-tanya bagaimana Hideyoshi berhasil membujuk pengikut senior marga Asai untuk menyeberang kc pihak meteka.

Hideyoshi menjelaskan situasinya, seakan-akan tidak ada yang luar biasa. "Tidak lama setelah tuanku menganugerahkan benteng di Yokoyama pada hamba. " ia mengawali ceritanya.

Nobunaga agak terkejut. Ia tak sanggup menatap orang di hadapannya tanpa berkedip-kedip. Benteng Yokoyama terletak di garis depan kawasan strategis ini. dan pasukan Hideyoshi bertugas mengawasi orangorang Asai dan Asakura. Nobunaga ingat bahwa ia menempatkan Hideyoshi untuk sementara di sana. tapi ia tak ingat janji untuk memberikan benteng itu. Tapi sekarang Hideyoshi berkata bahwa benteng tersebut telah dianugerahkan padanya. Namun untuk sementara Nobunaga mengesampingkan masalah ini. "Bukankah itu segera setelah serangan terhadap

Gunung Hiei, ketika kau mengunjungiku di Gifu untuk mengucapkan selamat Tahun Baru?" tanya Nobunaga.

"Betul. Dalam perjalanan pulang, Takenaka Hanbei jatuh sakit dan kami terlambat. Ketika kami tiba di Benteng Yokoyama, hari sudah gelap."

"Aku sedang tidak berminat mendengarkan cerita panjang-lebar, langsung saja kemukakan maksudmu."

"Musuh ternyata mengetahui bahwa hamba tidak ada di benteng, dan sedang melancarkan serangan malam. Tentu saja mereka dipukul mundur, dan saat iiu kami pun berhasil menangkap biksu bernama Miyabe Zensho."

"Kau menangkapnya hidup-hidup?"

"Ya. Daripada memenggal kepalanya, kami memutuskan untuk memperlakukannya dengan ramah, dan kemudian, ketika hamba punya sedikit waktu, hamba memberinya ceramah mengenai masa yang akan datang dan menunjukkan arti sebenarnya dari kehidupan samurai. Dia lalu berbicara dengan bekas majikannya, Onogi Tosa, dan membujuknya agar menyerah pada kami."

"Betulkah ini?"

"Medan perang bukan tempat untuk bergurau," kata Hideyoshi.

Nobunaga pun terkagum-kagum akan kecerdikan Hideyoshi. Medan perang bukan tempat untuk bergurau. Dan seperti dikatakan Hideyoshi, Miyabe Zensho dan Onogi Tosa dibawa ke hadapan Nobunaga oleh salah seorang pengikut Hideyoshi. Nobunaga minta penjelasan terperinci dari Tosa untuk memastikan kebenaran cerita Hideyoshi.

Jendral itu menjawab terus terang. "Bukan hamba saja yang memilih menyerah. Kedua pengikut senior lain yang ditempatkan di Kyogoku juga menyadari bahwa pertempuran melawan Tuan bukan saja merupakan tindakan bodoh, melainkan juga mempercepat kejatuhan marga dan menyebabkan penderitaan yang tak perlu bagi warga provinsi."

Usia Nagamasa belum mencapai tiga puluh, tapi ia telah diberi empat anak oleh Putri Oichi yang baru berumur dua puluh tiga tahun. Nagamasa mendiami kubu ketiga di Benteng Odani. yang sebenarnya terdiri atas tiga benteng yang digabung menjadi satu.

Bunyi tembakan senapan terdengar sampai malam dari jurang di sebelah selatan. Letusan meriam bergema secara berkala, dan setiap kali langit-langit bergetar, seakan-akan hendak runtuh.

Secara naluri Oichi menatap ke atas dengan matanya yang ketakutan, dan mendekap bayinya lebih erat ke dadanya. Anak itu masih menyusu. Tak ada angin, tapi jelaga terlihat di mana-mana. dan cahaya lentera tak henti-hentinya berkedap-kedip.

"Ibu! Aku takut!" Putri keduanya. Hat mi. Menggenggam lengan baju Oichi yang sebelah kanan, sementara putri sulungnya, Chacha, merangkul lutut kirinya sambil membisu. Namun putranya tak mau datang ke pangkuan ibunya, walaupun ia masih kecil. Ia mengacungkan anak panah pada seorang dayang. Inilah pewaris Nagamasa, Manjumaru.

"Aku mau lihat! Aku mau lihat pertempuran!" Manju berteriak kesal sambil memukul dayang tadi dengan panah yang tak bermata.

"Manju," ibunya menegur, "kenapa kau memukul dia? Ayahmu sedang bertempur. Kau sudah lupa pesan ayahmu, bagaimana kau harus bersikap kalau ada pertempuran? Kalau kau ditertawakan para pengikut, kau takkan menjadi jendral yang baik jika kau sudah besar nanti."

Manju sudah cukup besar untuk memahami sebagian ucapan ibunya.

Sejenak ia mendengarkannya tanpa berkala apa-apa. tapi tiba-tiba ia berseru dengan keras.

"Aku mau lihat pertempuran! Aku mau lihat!" Guru anak itu juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan hanya berdiri sambil memandangnya. Saat itu pertempuran agak mereda, tapi letusan senapan masih terus terdengar. Putri sulung Oichi, Chacha, sudah berusia tujuh tahun, dan rupanya ia mengerti kesulitan ayahnya, kesedihan ibunya, serta perasaan para prajurit di dalam benteng.

Dengan sikap terlalu dewasa untuk usianya, ia berkata, "Manju! Jangan bikin Ibu tambah gelisah. Kau pikir ini tidak menakutkan bagi Ibu? Ayah ada di luar sana, berperang melawan musuh. Betul, kan, Bu?" Ditegur seperti itu. Manju menatap kakaknya dan menerjangnya, masih sambil mengacungkan anak

panah. "Chacha bodoh!"

Chacha menutupi kepala dengan lengan baju dan bersembunyi di balik ibunya.

"Jangan nakal!" Sambil berusaha menenangkan Manju, Oichi mengambil anak panah itu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah tergesa-gesa di selasar.

"Apa maksud kalian? Menyerah pada orang-orang Oda? Mereka itu hanya samurai udik yang datang dari pedalaman Owari. Kalau pikir aku sudi tunduk pada orang seperti Nobunaga? Mereka tidak setaraf dengan marga Asai!" Tanpa pemberitahuan. Asai Nagamasa melangkah masuk, diikuti dua atau tiga jendral.

Ketika melihat istrinya tidak terancam bahaya di ruangan besar bercahaya remang-remang, ia merasa lega. "Aku agak lelah." katanya, lalu duduk dan mengendurkan tali baju tempurnya. Kemudian ia berpesan kepada para jendral di belakangnya. "Melihat perkembangan malam ini, pasukan musuh mungkin akan melancarkan serangan besar-besaran sekitar tengah malam Sebaiknya kita beristirahat dulu sekarang."

Ketika para komandan berdiri dan memohon diri. Nagamasa melepaskan desahan lega. Di tengah-tengah pertempuran pun ia masih ingat bahwa ia juga seorang ayah dan suami. "Apakah suara tembakan tadi membuatmu takut.

Sayang?" ia bertanya pada istrinya.

Dikelilingi oleh anak-anak mereka, Oichi menjawab. "Tidak, kami berada di ruangan ini, jadi suaranya tidak terlalu mengganggu."

"Manju dan Chacha tidak ketakutan dan menangis?"

"Kau harus bangga. Mereka bersikap seperti orang dewasa."

"Betul?" ujar Nagamasa sambil memaksakan senyum. Kemudian ia melanjutkan, "Jangan khawatir. Pasukan Oda melancarkan serangan hebat, tapi kita berhasil memukul mundur mereka dengan berondongan senapan. Biarpun mereka terus menyerbu selama dua puluh atau tiga puluh, bahkan seratus tahun, kita tidak akan menyerah. Kita marga Asai! Kita tidak akan tunduk pada orang seperti Nobunaga." Naganiasa mencerca orang-orang Oda, tapi tiba-tiba ia terdiam.

Dengan cahaya lentera di belakangnya, wajah Oichi tampak merapat pada bayi yang sedang menyusu, inilah adik perempuan Nobunaga! Perasaan Nagamasa teraduk-aduk. Wajah Oichi pun mirip kakaknya.

"Kau menangis?"

"Si kecil kadang-kadang nakal dan menggigit putingku kalau susunya tidak mau keluar."

"Susunya tidak mengalir?" "Tidak."

"Ini karena kau memendam kesedihan, dan karena kau mulai terlalu kurus. Kau seorang ibu, dan inilah pertempuran sejati seorang ibu."

"Aku tahu."

"Aku menduga kau menganggapku suami yang keras."

Oichi merapat ke sisi suaminya, masih sambil mendekap bayinya ke dada. "Aku tidak berpendapat begini. Kenapa aku harus kesal? Aku menganggapnya sebagai suratan takdir."

"Manusia tak mungkin menerima nasib begitu saja. Kehidupan istri samurai lebih menyakitkan daripada menelan pedang. Jika kau tidak bertekad dengan sepenuh hati, tekadmu tak ada artinya."

"Aku pun berusaha mencapai pemahaman seperti itu, tapi yang dapat kupikirkan hanya bahwa aku seorang ibu."

"Oichi, pada hari aku menikahimu pun aku tahu bahwa kau takkan menjadi milikku untuk selamalamanya. Dan ayahku juga tidak mengizinkan kau menjadi istri sejati orang Asai."

"Apa? Apa katamu?"

"Pada saat seperti ini, seorang laki-laki harus berkata apa adanya. Saat ini takkan terulang kembali, jadi aku membuka isi hatiku. Ketika Nobunaga mengirimmu untuk menikah denganku, dia sekadar menjalankan strategi politik. Sejak semula aku bisa membaca isi hatinya." Nagamasa terdiam sejenak. "Tapi, walaupun aku mengetahui ini. di antara kita tumbuh cinta yang tak dapat dihalangi oleh apa pun. Kemudian kita dikaruniai empat anak. Sekarang ini kau tidak lagi adik Nobunaga. Kau istriku dan ibu anak-anakku. Aku takkan membiarkan kau berurai air mata untuk pihak musuh. Jadi. kenapa badanmu jadi kurus, dan kenapa kau menahan air susu yang seharusnya kauberikan pada anak kita?"

Sekarang Oichi mengerti. Segala sesuatu yang dianggapnya suratan takdir ternyata merupakan hasil strategi  politik. Perkawinannya merupakan   perkawinan politik. Sejak pertama Nagamasa memandang Nobunaga sebagai orang yang perlu diawasi. Tapi Nobunaga sungguh-sungguh menyayangi adik iparnya. Nobunaga yakin  bahwa pewaris  marga  Asai memiliki masa depan yang baik. dan ia percaya padanya. Dengan menggebu-gebu ia mendukung perkawinan itu. Tapi sejak awal pertalian itu tidak kokoh, karena adanya hubungan yang jauh lebih tua antara marga Asai  dan   marga Asakura  dari  Echizen. Persekutuan  mereka tidak  sekadar  kerja   sama pertahanan,   melainkan merupakan  hubungan kompleks yang didasarkan atas persahabatan dan saling menolong.    Sudah  bertahun-tahun   marga Asakura dan Oda bermusuhan. Ketika Nobunaga menyerang marga Saito di Giro, seberapa banyak

mereka menghalanginya dan membantu pihak Saito?

Nobunaga mengatasi rintangan ini dengan mengirim janji tertulis kepada marga Asakura, bahwa ia takkan memasuki wilayah mereka.

Tak lama setelah upacara pernikahan, baik ayah Nagamasa dan marga Asakura—ia berutang budi pada mereka—mulai mendesak Nagamasa agar memandang istrinya dengan curiga. Sementara itu, marga Asai telah bergabung dengan orang-orang Asakura, sang Shogun, Takeda Shingen dari Kai, dan para biksuprajurit di Gunung Hiei, membentuk persekutuan yang menentang Nobunaga.

Pada tahun berikutnya Nobunaga menyerbu Echizen. Tiba-tiba ia diserang dari belakang. Nagamasa memotong jalur mundur Nobunaga. dan bersama marga Asakura ia merencanakan pembinasaan orang itu. Waktu itu Nagamasa memperlihatkan pada Nobunaga bahwa penilaiannya takkan dipengaruhi oleh istrinya, tapi Nobunaga tak mau percaya. Kekuatan Asai dan keberanian laki-laki yang dipercayai Nobunaga telah menjadi api yang berkobar di hadapannya, bahkan telah menjadi rantai yang membelenggu. Tapi setelah kekalahan Echizen, Benteng Odani tidak lagi merupakan ancaman.

Meski demikian, pada saat ini Nobunaga masih berharap tidak perlu membunuh Nagamasa. Tentu ia menghargai keberanian Nagamasa, tapi lebih dari itu, ia diganggu oleh kasih sayangnya terhadap Oichi. Orang-orang menganggapnya aneh, mengingat bahwa ketika menaklukkan Gunung Hiei dengan api, lakilaki ini tidak keberatan dijuluki Raja Setan.

Musim gugur terus berlanjut. Pada waktu fajar, embun pada rumput di sekeliling benteng terasa basah dan dingin.

"Tuanku, hamba membawa berita buruk." Nada suara Fujikake Mikawa gelisah sekali. Malam itu Nagamasa tidur di dekat kelambu yang melindungi istri dan anak-anaknya, tapi ia sendiri tidak melepaskan baju tempur.

"Ada apa, Mikawa?" Ia segera keluar dari kamar tidur. Napasnya berat. Serangan fajar! Itulah yang penama-tama terlintas dalam benaknya. Tapi bencana yang dilaporkan Mikawa bahkan lebih gawat daripada itu.

"Kubu Kyogoku jatuh ke tangan orang-orang Oda semalam."

"Apa?"

"Mula-mula hamba pun tidak percaya. Tapi tuanku bisa melihatnya dari menara jaga."

"Tidak mungkin." Nagamasa segera menaiki menara, berkali-kali kakinya tersandung di tangga yang gelap. Walaupun kubu Kyogoku berada cukup jauh dari menara, kubu im terlihat seakan-akan berada tepat di bawah Nagamasa. Di puncak benteng itu terlihat sejumlah besar panji, tapi tak satu pun milik marga Asai. Salah satunya berkibar-kibar tertiup angin, dan menandakan kehadiran Kinoshita Hideyoshi.

"Kita dikhianati! Hah! Biar kutunjukkan pada mereka! Biar kutunjukkan pada Nobunaga dan semua samurai di negeri ini." Nagamasa berkata sambil memaksakan senyum. "Akan kuperlihatkan bagaimana Asai Nagamasa menyambut maut!" Nagamasa menuruni tangga menara. Para pengikut yang mengikutinya seakan-akan menyertai junjungan mereka jauh ke bawah permukaan bumi.

"Apa... apa yang terjadi?" salah seorang jendral meratap.

"Onogi Tosa, Asai Genba, dan Mitamura Uemon menyeberang ke pihak musuh," jawab jendral lain.

Orang lain berkata dengan getir. "Walaupun mereka pengikut senior, mereka mengkhianati kepercayaan yang diberikan ketika memperoleh tanggung jawab atas Kyogoku."

"Biadab."

Nagamasa berbalik dan berkata. "Jangan mengeluh terus!"

Mereka berdiri di ruangan luas berlantai kayu di kaki tangga, yang diterangi lentera redup. Ruangan itu menyerupai kerangkeng atau sel penjara berukuran besar. Banyak di antara yang terluka dibawa ke sini. dan berbaring di tikar-tikar jerami sambil mengerangerang.

Ketika Nagamasa melewati mereka, para samurai yang terbaring pun berusaha untuk berlutut.

"Takkan kubiarkan mereka mati sia-sia! Takkan kubiarkan!" Nagamasa berkata sambil menitikkan air mata. Sekali lagi ia berpaling kepada para jendral dan memperingatkan mereka agar jangan mengeluh.

"Percuma saja menghina orang lain. Kalian semua harus memilih jalan masing-masing—apakah itu menyerah pada musuh atau gugur bersamaku. Kedua belah pihak memiliki kewajiban moral. Nobunaga berjuang untuk membentuk tatanan baru. Aku berjuang demi nama dan kehormatan golongan samurai. Kalau kalian merasa lebih baik menyerah pada Nobunaga, datangilah dia. Aku takkan menghentikan kalian!" Setelah berkata demikian, Nagamasa keluar untuk memeriksa pertahanan benteng. Belum lagi ia berjalan seratus langkah, sesuatu yang lebih gawat daripada pengkhianatan kubu Kyogoku dilaporkan padanya.

"Tuanku! Tuanku! Berita buruk!" Salah satu perwiranya, bermandikan darah, berlari menghampiri Nagamasa dan berlutut di hadapannya.

"Kyutaro, ada apa?"

Sebuah firasat buruk mulai mencengkeram Nagamasa. Wakui Kyutaro bukanlah samurai yang ditempatkan di kubu ketiga; ia pengikut ayah Nagamasa. "Ayahanda tuanku, Tuan Hisamasa. baru saja melakukan seppuku. Hamba menerobos barisan musuh untuk menyampaikan kabar ini pada tuanku." Sambil tersengal-sengal Kyutaro mengeluarkan jambul Hisamasa dan kimono sutra yang membungkusnya, dan

meletakkan keduanya ke tangan Nagamasa. "Apa? Kubu pertama juga sudah jatuh?"

"Sesaat sebelum tajar. sekelompok prajurit menyusuri jalan rahasia dari Kyogoku ke depan gerbang benteng. Mereka mengibarkan panji Onogi dan mengatakan bahwa Onogi perlu menemui Yang Mulia Hisamasa karena ada hal mendesak yang ingin dibicarakan. Karena menyangka Onogi memimpin anak buahnya sendiri, para penjaga membuka gerbang benteng, tapi begitu mereka membukanya, sejumlah besar prajurit menyerbu dan menerobos sampai ke benteng dalam."

"Prajurit musuh?"

"Sebagian besar dari mereka pengikut Hideyoshi. tapi orang-orang yang menunjukkan jalan adalah anak buah Onogi, si pengkhianat."

"Hmm. bagaimana dengan ayahku?"

"Beliau bertempur dengan gagah sampai akhir. Beliau sendiri yang menyulut api di benteng dalam, lalu melakukan bunuh diri, tapi musuh memadamkan kebakaran dan kini menduduki benteng."

"Ah! Itulah sebabnya kami tidak melihat api maupun asap."

"Seandainya api terlihat berkobar di kubu pertama, tuanku tentu akan mengirim bala bantuan, atau membakar kubu ini dan melakukan bunuh diri bersama istri dan anak-anak tuanku. Hamba rasa inilah yang ditakuti dan berusaha dicegah oleh musuh."

Tiba-tiba Kyutaro membenamkan kukunya ke tanah dan berkata. "Tuanku... maut sudah menjemput." Ia roboh dan mengembuskan napas penghabisan. Kyutaro sudah memenangkan pertempurannya yang terakhir.

"Satu lagi samurai gagah mendahului kira." Seseorang berkata di belakang Nagamasa, lalu mulai melantunkan sebuah doa dengan suara pelan.

Bunyi tasbih memecah keheningan. Ketika berbalik. Nagamasa melihat tasbih itu dalam genggaman Biksu Kepala, Yuzan—seorang pengungsi.

"Hamba turut menyesal bahwa Yang Mulia Hisamasa menemui ajal tadi pagi." kata Yuzan.

"Yang Terhormat, aku ada permintaan," ujar Nagamasa dengan mantap. Ucapannya tenang, tapi nada sedih dalam suaranya tak dapat disembunyikan. "Aku mendapat giliran berikut. Aku ingin mengumpulkan seluruh pengikutku dan mengadakan upacara pemakaman, paling tidak secara simbolis, pada waktu aku masih hidup. Di lembah di balik Odani terdapat batu peringatan berukir nama kematian yang diberikan Yang Terhormat padaku. Sudikah Yang Terhormat mengatur agar batu itu dipindahkan kc dalam benteng? Sebagai biksu. Yang Terhormat tentu diizinkan melewati barisan musuh."

"Tentu saja."

Yuzan langsung pergi. Salah satu jendral Nagamasa hampir bertabrakan dengannya ketika ia bergegas masuk.

"Fuwa Mitturuni berada di depan gerbang benteng." "Siapa dia?"

"Pengikut Yang Mulia Nobunaga."

"Musuh?" Nagamasa berseru. "Usir dia. Pengikut Nobunaga tidak kubutuhkan. Kalau dia tidak mau pergi, lempari dia dengan batu dari gerbang."

Samurai itu menuruti perintah Nagamasa dan segera kembali, tapi tak bma kemudian komandan lain datang.

"Kurir pihak musuh masih berdiri di depan gerbang. Dia tidak akan pergi, tak peduli apa yang kita katakan. Dia berdalih bahwa perang adalah perang dan perundingan adalah perundingan, dan bertanya kenapa kita menunjukkan sikap tak pantas terhadap seseorang yang mewakili provinsinya."

Nagamasa tidak memedulikan keluhan ini, lalu mencaci maki orang yang menyampaikannya. "Mengapa kau menjelaskan protes orang yang telah kuperintahkan untuk diusir?

Pada saat itu, jendral ketiga maju. "Tuanku, peraturan perang mengharuskan tuanku menemui dia, biarpun hanya sejenak. Hamba tak sudi jika orang berkata bahwa Asai Nagamasa begitu bingung, sehingga kehilangan ketenangan dan menolak menerima utusan musuh."

"Baiklah, biarkan dia masuk. Aku akan menemuinya. Di sebelah sana," kata Nagamasa sambil menunjuk ke ruang jaga.

Lebih dari setengah prajurit di dalam benteng Asai berharap bahwa damai melangkah melewati gerbang. Mereka bukannya tidak menghormati atau tidak setia pada junjungan mereka, tapi "kewajiban" yang digembar-gemborkan oleh Nagamasa serta alasan untuk perang ini amat dipengaruhi oleh hubungannya dengan Echizen dan kebenciannya terhadap ambisi dan keberhasilan Nobunaga. Para prajurit sangat memahami kontras ini.

Dan masih ada lagi. Walaupun Benteng Odani masih bertahan, kubu pertama dan kedua telah jatuh. Masih adakah harapan menang bagi mereka yang terkurung dalam benteng terpencil ini?

Jadi, kedatangan utusan pihak Oda terasa bagaikan langit biru bersih yang mereka nanti-nanti. Fuwa memasuki benteng, melangkah ke ruangan tempat Nagamasa menunggu, dan berlutut di hadapannya.

Orang-orang di dalam memandang tajam ke arah Fuwa; rambut mereka acak-acakan, dan luka terlihat di tangan maupun kepala mereka. Suara Fuwa yang sedang berlutut demikian lembut, sehingga orang mungkin meragukan bahwa ia seorang jendral.

"Hamba mendapat kehormatan dengan ditunjuk sebagai utusan Yang Mulia Nobunaga."

"Basa-basi tidak diperlukan di medan perang.

Kemukakanlah maksud kedatanganmu."

"Tuanku Nobunaga mengagumi kesetiaan Yang Mulia terhadap marga Asakura, tapi kini marga Asakura telah runtuh, dan sekutu mereka, sang Shogun, berada dalam pengasingan. Segala utang budi dan dendam sekarang telah menjadi bagian dari masa lampau, jadi untuk apa marga Oda dan Asakura saling menggempur? Bukan itu saja, tapi tuanku Nobunaga merupakan kakak ipar Yang Mulia; Yang Mulia merupakan suami adik tuanku."

"Ini semua sudah pernah kudengar. Jika kau mencari kesepakatan untuk berdamai, aku menolak tegas. Aku takkan termakan oleh kefasihan lidahmu." "Dengan segala hormat. Yang Mulia tidak mem-

punyai pilihan selain menyerah. Sikap yang diperlihatkan Yang Mulia sampai sekarang patut dijadikan teladan. Mengapa Yang Mulia tidak menyerahkan benteng ini secara jantan, lalu bekerja demi masa depan marga tuanku? Jika Yang Mulia setuju, tuanku Nobunaga bersedia memberikan seluruh Provinsi Yamato kepada Yang Mulia."

Nagamasa melepaskan tawa bernada menghina. Ia menunggu sampai juru runding dari pihak musuh selesai bicara. "Tolong sampaikan pada Yang Mulia Nobunaga bahwa aku takkan terbujuk oleh kata-kata manis. Yang dia cemaskan adalah adiknya, bukan aku."

"Pandangan Yang Mulia sungguh sinis."

"Terserah penilaianmu," Nagamasa mendesis. "Kembalilah dan beritahu dia bahwa aku tidak bermaksud menyelamatkan diri melalui hubunganku dengan istriku. Dan katakan pada Nobunaga bahwa dia sebaiknya menyadari bahwa Oichi kini istriku, bukan adiknya lagi."

"Hmm, kalau begitu Yang Mulia siap mengalami nasib yang sama seperti benteng ini?"

"Aku telah membulatkan tekad, bukan untuk diriku saja, melainkan juga untuk istriku."

"Kalau begitu, tak ada lagi yang perlu dibicarakan." Dengan ini, Fuwa langsung kembali ke perkemahan Nobunaga. Kemudian, keputusan—atau lebih tepat, kehampaan—menyebabkan suasana di dalam benteng menjadi muram. Para prajurit yang mengharapkan utusan pihak Oda membawa damai, hanya dapat mendugaduga bahwa perundingannya gagal. Kini mereka memperlihatkan kesedihan secara terang-rerangan, sebab sejenak mereka berharap nyawa mereka dapat diselamatkan.

Ada satu alasan lagi bagi suasana muram yang menyelubungi benteng. Walaupun pertempuran sedang berlangsung, upacara pemakaman bagi ayah Nagamasa terus berjalan, dan keesokan harinya suarasuara yang menembangkan sutra terdengar dari menara.

Mulai hari itu Oichi dan keempat anaknya mengenakan baju duka dari sutra berwarna putih. Tali yang mengikat rambut mereka berwarna hitam. Mereka seakan-akan memiliki kemurnian yang tidak berasal dari dunia ini, walaupun mereka masih hidup, dan walaupun para pengikut yang telah bertekad menemui ajal dalam benteng merasa nasib mereka terlalu malang untuk diungkapkan melalui kata-kata.

Yuzan kembali ke benteng, diikuti pekerja yang menggotong batu peringatan. Sesaat sebelum fajar, dupa dan kembang-kembang diletakkan di mangan utama benteng, untuk melaksanakan upacara pemakaman bagi mereka yang masih hidup.

Yuzan berpidato di hadapan para pengikut marga Asai yang telah berkumpul. "Dengan menjunjung tinggi namanya sebagai samurai. Yang Mulia Asai Nagamasa. penguasa benteng ini, gugur bagaikan bunga yang indah. Karena itu sudah sepantasnya kalian, sebagai pengikutnya, memberikan penghormatan terakhir."

Nagamasa duduk di balik batu peringatan, seolaholah ia sendiri sudah mati. Mula-mula para samurai tampak tak mengerti. Mereka bertanya-tanya apakah semuanya ini memang diperlukan, dan berkasak-kusuk dalam suasana aneh.

Tetapi Oichi dan anak-anaknya serta para anggota keluarga yang lain berlutut di hadapan batu peringatan dan meletakkan dupa ke dalam alat pembakar.

Seseorang mulai menangis, dan tak lama kemudian semuanya terpengaruh. Para laki-laki berbaju tempur yang memenuhi ruangan menundukkan kepala dan memalingkan wajah. Tak seorang pun mengangkat kepala.

Seusai upacara, Yuzan berjalan di depan, beberapa samurai memanggul batu peringatan dan menggotongnya keluar benteng. Kali ini mereka berjalan sampai ke Danau Biwa. menaiki perahu kecil, dan di suatu tirik yang berjarak kira-kira seratus meter dari Pulau Chikubu, mereka menenggelamkan batu itu ke dasar danau.

Nagamasa berkata tanpa takut, menghadapi kematian yang menantinya. Kelemahan semangat juang para prajurit yang meletakkan harapan pada perundingan damai tak luput dari perhatiannya. Upacara pemakaman bagi yang masih hidup berpengaruh baik terhadap moral pasukannya. Jika junjungan mereka telah bertekad gugur dalam pertempuran, mereka pun akan mengikuti langkahnya. Saat kematian telah tiba. Tekad Nagamasa yang menyedihkan telah membangkitkan semangat anak buahnya. Tetapi, walaupun ia jendral yang cakap, ia bukan seorang jenius. Nagamasa tidak tahu bagaimana membuat orang rela mengorbankan nyawa. Mereka berdiri, menunggu serangan penghabisan.