--> -->

Taiko Bab 18 : Gerbang Tanpa Gerbang

Bab 18 : Gerbang Tanpa Gerbang

API peperangan tidak hanya mengamuk di Gunung Hiei melainkan juga berkobar bagaikan kebakaran padang belantara, mulai dari distrik-distrik bagian barat Mikawa, sampai ke desa-desa di tepi Sungai Tenryu, bahkan sejauh perbatasan Mino. Pasukan Takeda Shingen sudah melintasi Pegunungan Kai, dan kini menuju ke selatan.

Orang-orang Tokugawa, yang memberi julukan "Shingen si Kaki Panjang" pada musuh mereka, bersumpah akan menghalangi perjalanannya ke ibu kota. Ini bukan semata-mata demi kepentingan sekutu mereka, marga Oda. Kai sangat berdekatan dengan Provinsi Mikawa dan Totomi, dan jika pasukan Takeda berhasil menerobos, itu berarti kehancuran bagi seluruh marga Tokugawa.

Ieyasu kini berusia tiga puluh satu tahun dan sedang dalam masa kejayaannya. Para pengikutnya telah didera kemalangan dan penderitaan selama dua puluh tahun terakhir, tapi akhirnya Ieyasu tumbuh dewasa, marganya pun menjalin hubungan persahabatan dengan marga Oda, dan sedikit demi sedikit ia mulai melanggar batas-batas wilayah Imagawa.

Provinsinya dipenuhi harapan akan kemakmuran serta keinginan untuk memperluas wilayah, demikian hebatnya, sehingga para pengikut, baik tua maupun muda, para petani, dan para penduduk kota tampak amat bersemangat.

Mikawa bukan tandingan Kai dalam hal persenjataan dan kekayaan, namun dalam hal tekad, provinsi itu tidak kalah sedikit pun. Itu sebabnya para prajurit Tokugawa memberi julukan "si Kaki Panjang" kepada Shingen. Lelucon ini pernah dicantumkan oleh Nobunaga dalam sepucuk surat kepada Ieyasu. dan ketika Ieyasu membacanya, ia menganggap ini patut diceritakan kepada para pengikutnya.

Julukan itu memang berdasar, sebab jika kemarin Shingen masih bertempur melawan marga Uesugi di perbatasan utara Kai, hari ini ia telah berada di Kozuke dan Sagami dan mengancam marga Hojo. Atau, berbalik secara cepat, ia menyulut api peperangan di Mikawa atau Mino.

Selain itu, Shingen selalu ikut terjun langsung ke medan perang untuk memberi pengarahan. Jadi orangorang mulai menyangka bahwa ia mempunyai bonekaboneka yang dapat menggantikan tempatnya. Tapi sesungguhnya, setiap kali anak buahnya bertempur, ia tampak belum puas kalau tidak berada di medan laga. Tapi kalau Shingen berkaki panjang, Nobunaga patut disebut berkaki lincah.

Nobunaga menulis kepada Ieyasu:

Rasanya lebih baik jika Tuan tidak melakukan konfrontasi frontal dengan pasukan Kai. Aku ber-harap Tuan tetap tabah Jika situasi menjadi genting dan Tuan terpaksa mundur dan Hamamatsu ke Okazaki. Kalaupun kita harus menunggu hari lain. aku yakin hari itu tak lama Nobunaga mengirim pesan kepada Ieyasu sebelum membumihanguskan Gunung Hiei, tapi Ieyasu berpaling kepada para pengikut senior dan berkata di hadapan kurir Oda, "Sebelum meninggalkan Benteng Hamamatsu, lebih baik kita patahkan busur kita dan keluar dari golongan samurai!"

Dalam pandangan Nobunaga, provinsi Ieyasu hanyalah salah satu garis pertahanan, tetapi bagi Ieyasu, Mikawa merupakan rumah. Ketika menerima surat balasan yang dibawa si kurir, Nobunaga bergumam mengenai ketidaksabaran Ieyasu, lalu kembali ke Gifu begitu ia selesai menangani Gunung Hiei. Shingen tentu terkesan dengan kecepatan yang diperlihatkan Nobunaga. Sudah bisa diduga bahwa ia pun selalu siap mencari kesempatan.

Shingen pernah berkata bahwa terlambat satu hari saja dapat menimbulkan bencana untuk satu tahun, dan kini ia merasa semakin didesak untuk segera mewujudkan cita-citanya, yaitu memasuki ibu kota. Karena alasan inilah semua upaya diplomatik dipergiat. Persahabatannya dengan marga Hojo kini mulai membuahkan hasil, tetapi perundingannya dengan marga Uesugi tetap tidak memuaskan. Dengan demikian, ia terpaksa menunggu sampai bulan kesepuluh sebelum meninggalkan Kai.

Tak lama lagi perbatasan dengan Echigo akan tertutup salju, sehingga mengurangi kekhawatiran Shingen mengenai Uesugi Kenshin. Pasukannya yang berkekuatan sekitar 30.000 orang antara lain terdiri atas pasukan wajib militer dari seluruh wilayah kekuasaannya yang mencakup Kai, Shinano, Suruga. bagian utara Totomi, bagian timur Mikawa, bagian barat Kozuke, sebagian Hida, serta bagian selatan Ktchu—seluruhnya bernilai hampir 1.300.000 gantang. "Langkah terbaik bagi kita adalah memperkuat

pertahanan," salah satu jendral berkata.

"Paling tidak, sampai ada bala bantuan dari Yang Mulia Nobunaga."

Sebagian orang di Benteng Hamamauu cenderung memilih strategi bertahan. Biarpun semua samurai di provinsi mereka dikerahkan, kekuatan militer marga Tokugawa tidak mencapai 14.000 orang—tak sampai setengah kekuatan pasukan Takeda. Meski demikian, Ieyasu memerintahkan mobilisasi umum.

"Hah! Masalah ini terlalu mendesak untuk menunggu bala bantuan Yang Mulia Nobunaga."

Semua pengikutnya yakin bahwa para prajurit Oda akan datang membantu karena merasa memiliki kewajiban moral—atau sekadar untuk membalas jasa atas peran marga Tokugawa di Sungai Ane. Namun Ieyasu seakan-akan tidak mengharapkan bala bantuan. Sekaranglah waktu yang tepat untuk memastikan apakah anak buahnya siap menghadapi situasi hidup mati, dan untuk menyadarkan mereka bahwa mereka harus mengandalkan kekuatan sendiri.

"Kalau maju maupun mundur membawa kita pada kehancuran, bukankah sudah sepantasnya kita melancarkan serangan habis-habisan, mengukir nama harum sebagai prajurit, dan gugur dengan gagah berani?" ia bertanya dengan tenang.

Didera kemalangan dan penderitaan sejak masa muda. Ieyasu menjadi laki-laki yang tak pernah membesar-besarkan urusan sepele. Kini. menghadapi situasi seperti ini, suasana di Benteng Hamamatsu terasa mendidih. Tapi, meski Ieyasu memilih jalan kekerasan untuk menghadapi serangan orang-orang Takeda, nada suaranya hampir tak berubah. Karena itu ada beberapa pengikut yang merasa waswas mengenai perbedaan antara ucapannya dan arti katakata itu. Namun Ieyasu meneruskan persiapan untuk berangkat ke medan pertempuran.

Satu per satu, seperti gigi sisir yang dipatahkan, laporan mengenai setiap kekalahan berdatangan. Shingen telah menyerang Totomi. Saat ini ada kemungkinan benteng-benteng di Tadaki dan Iida tidak mempunyai pilihan selain menyerah. Di desa Fukuroi, Kakegawa, dan Kihara, tak ada sejengkal tanah pun yang tidak diinjak-injak oleh pasukan Kai. Lebih gawat lagi, barisan terdepan Ieyasu, yang berkekuatan tiga ribu orang dan berada di bawah komando Honda, Okubo, dan Naito, dipergoki oleh pihak musuh di sekitar Sungai Tenryu. Pasukan Tokugawa mengalami kekalahan total dan dipaksa mundur ke Hamamatsu.

Laporan ini membuat pucat semua orang di dalam benteng. Tapi dengan diam Ieyasu melanjutkan persiapan militer. Ia menaruh perhatian khusus pada pengamanan jalur-jalur komunikasi, dan telah menangani pertahanan daerah itu sampai menjelang akhir bulan kesepuluh. Dan untuk mengamankan Benteng Futamata di tepi Sungai Tenryu, ia mengirim pasukan tambahan, senjata, dan perbekalan.

Pasukannya meninggalkan Benteng Hamamatsu, maju sampai ke Desa Kanmashi di tepi Sungai Tenryu, dan menemukan perkemahan pasukan Kai. Setiap posisi berhubungan dengan markas besar Shingen. seperti jari-jari yang mengelilingi naf.

"Ah, persis seperti yang diduga." Ieyasu pun berdiri di bukit dengan tangan terlipat dan melepaskan desahan kagum. Biarpun dari kejauhan, panji-panji di perkemahan utama Shingen tampak jelas. Dari jarak lebih dekat, orang dapat membaca apa yang tertulis. Kata-kata itu merupakan ucapan Sun Tzu yang tersohor, dikenal oleh kawan maupun lawan.

Cepat bagaikan angin. Hening bagaikan hutan. Bergairah bagaikan api. Diam seperti gunung.

Diam seperti gunung, baik Shingen maupun Ieyasu tidak mengambil tindakan selama beberapa hari. Dengan Sungai Tenryu di antara kedua perkemahan. musim dingin tiba di bulan kesebelas.

*** Dua hal Melampaui Ieyasu:

Helm bertanduk di kepala Ieyasu Dan Honda Heihachiro.

Salah seorang prajurit Takeda mengibarkan cercaan ini di Bukit Hitoko-tozaka. Di sanalah pasukan Ieyasu dikalahkan dan dibuat terkocar-kacir—paling tidak, demikianlah pendapat para prajurit Takeda yang mabuk kemenangan, tapi, seperti diakui dalam sajak itu, marga Tokugawa memiliki sejumlah orang andal, dan gerak mundur Honda Heihachiro patut dikagumi. Ieyasu pun bukan lawan ringan. Tapi dalam pertempuran berikut, segenap kekuatan Takeda akan berhadapan dengan segenap kekuatan Tokugawa. Mereka akan saling menggempur dalam satu pertempuran

yang menentukan seluruh perang.

Bayangan mengenai pertempuran itu justru memacu semangat tempur orang-orang Kai. Begitulah watak mereka. Shingen memindahkan perkemahan utamanya ke Edaijima dan menyuruh putranya, Katsuyori, serta Anayama Baisetsu menggerakkan pasukan mereka melawan Benteng Futamata, diiringi perintah tegas untuk tidak membuang-buang waktu.

Sebagai tindakan balasan, Ieyasu cepat-cepat mengirim bala bantuan, sambil berkata, "Benteng Futamata merupakan garis pertahanan penting. Jika musuh berhasil merebutnya, mereka memiliki tempat menguntungkan untuk melancarkan serangan."

Ieyasu sendiri yang membawahi barisan belakang, tapi pasukan Takeda yang selalu berubah-ubah formasi kembali membentuk susunan baru dan mulai mendesah dari semua sisi. Sepertinya, sekali saja Ieyasu mengambil langkah keliru, ia akan terputus dari markas besarnya di Hamamatsu.

Persediaan air Benteng Futamata—titik lemah benteng itu—dipotong oleh pihak musuh. Pada satu sisi, benteng itu berbatasan dengan Sungai Tenryu. dan air yang menopang kehidupan para prajurit di dalamnya harus ditimba dengan ember yang diturunkan dari sebuah menara. Untuk menghentikannya, pasukan Takeda meluncurkan rakit-rakit dari arah hulu dan merusak fondasi menara. Mulai hari itu, para prajurit di dalam benteng menderita kekurangan air, walaupun Sungai Tenryu mengalir tepat di depan mata mereka.

Pada malam kesembilan belas, pasukan yang bertahan menyerah. Ketika Shingen mendapat kabar bahwa benteng itu menyerah, ia segera memberikan perintah baru. "Nobumori akan menempati Benteng Futamata. Sano, Toyoda, dan Iwata akan terus berhubungan dan bersiap-siap di sepanjang jalur mundur musuh."

Seperti pemain go yang mengawasi langkah setiap bidak, Shingen waspada dengan formasi dan gerak maju pasukannya. Ke-270.000 prajurit Kai bergerak perlahan tapi pasti, seperu awan hitam, diiringi tabuhan genderang yang menggema sampai ke langit. Setelah itu pasukan utama Shingen melintasi Dataran Iidani dan mulai memasuki bagian timur Mikawa.

Menjelang siang, pada ranggal dua puluh satu, kabut merah tampak di Mikatagahara. mencemooh matahari musim dingin yang tak berdaya. Hawanya cukup dingin untuk mengiris hidung dan telinga sampai putus. Sudah beberapa hari tak ada hujan, udara pun kering kerontang.

"Ke Iidani!" demikian bunyi perintah yang menimbulkan perbedaan pendapat di antara jendraljendral Shingen.

"Kalau kita menuju Iidani. berani Yang Mulia hendak mengepung Hamamatsu. Bukankah ini suatu kesalahan?"

Beberapa orang merasa was-was karena pasukan Oda telah tiba di Hamamatsu, dan tak seorang pun mengetahui jumlah prajurit yang kini berada di sana. Menurut laporan-laporan rahasia yang berdatangan sejak pagi hari. kekuatan pihak musuh tak dapat dipastikan. Isi laporan-laporan itu selalu sama: Desasdesus yang beredar di desa-desa sepanjang jalan memang ada benarnya—pasukan Oda berkekuatan besar konon sedang menuju ke arah selatan untuk bergabung dengan pasukan Ieyasu di Hamamatsu. Akan tetapi kabar burung itu pun telah bercampur dengan berita-berita palsu yang sengaja dilontarkan oleh musuh.

Para jendral Shingen menawarkan pendapat masing-masing.

"Kalau Nobunaga datang dengan pasukan besar dan bertindak sebagai barisan belakang bagi Hamamatsu. langkah berikut tuanku sebaiknya dipertimbangkan dengan matang."

"Jika serangan terhadap Benteng Hamamatsu berkepanjangan sampai Tahun Baru, pasukan kita terpaksa melewatkan musim dingin di medan laga. Dengan serangan-serangan mendadak yang terus dilakukan oleh musuh, perbekalan kita akan menipis dan pasukan kita akan menjadi korban penyakit. Yang jelas, para prajurit akan menderita."

"Di lain pihak, hamba khawatir mereka mungkin memotong jalur mundur di sepanjang pantai dan di tempat-tempat lain."

"Kalau barisan belakang Oda memperoleh bala bantuan, pasukan kita akan terjebak di wilayah musuh—suatu ancaman yang tak mudah diatasi. Kalau ini sampai terjadi, cita-cita tuanku untuk memasuki Kyoto akan terhalang, dan kita akan terpaksa membuka jalur mundur yang penuh darah. Berhubung pasukan kita sudah dalam keadaan siaga, mengapa tuanku tidak mengejar tujuan utama dan maju ke ibu kota daripada menyerang Benteng Hamamatsu?"

Shingen duduk di tengah-tengah para jendral. Kedua matanya nyaris terpejam, menyerupai jarum, ia mengangguk-angguk ketika mendengar pandangan anak buahnya, lalu berkata dengan hati-hati, "Semua ucapan kalian memang masuk akal. Tapi aku yakin bala bantuan marga Oda takkan berkekuatan lebih dari tiga sampai empat ribu orang. Kalaupun sebagian besar pasukan Oda menuju Hamamatsu. orang-orang Asai dan Asakura yang telah kuhubungi sebelumnya akan menyerang Nobunaga dari belakang. Selain itu, sang Shogun di Kyoto mengirim pesan kepada para biksu-prajurit, dan mendesak mereka untuk segera angkat senjata. Orang-orang Oda bukan ancaman besar bagi kita."

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang, "Sejak semula keinginanku adalah memasuki Kyoto. Tapi kalau kita melewati Ieyasu begitu saja sekarang, pada waktu kita berpaling ke Gifu, Ieyasu akan membantu orang-orang Oda dengan menghadang di belakang kita. Bukankah paling baik kalau Ieyasu dihancurkan di Benteng Hamamatsu, sebelum orang-orang Oda sempat mengirim bala bantuan memadai?"

Para jendral tak dapat berbuat apa-apa selain menerima keputusan Shingen, bukan saja karena ia junjungan mereka, melainkan karena mereka mempercayai keahliannya sebagai penyusun taktik.

Namun, ketika mereka kembali ke resimen masingmasing, di antara mereka ada satu orang, Yamagata Masakage, yang menatap matahari musim dingin sambil berkata dalam hati, "Orang ini hidup untuk perang, dan kemampuannya sebagai pemimpin pasukan sungguh luar biasa, tapi kali ini..."

Pada malam hari, laporan mengenai pergantian arah pasukan Kai sampai di Benteng Hamamatsu. Hanya tiga ribu orang di bawah Takigawa Kazumasu dan Sakuma Nobumori yang tiba di benteng itu, bala bantuan dari Nobunaga.

"Jumlah yang tak ada artinya," salah seorang pengikut Tokugawa berkomentar kecewa, tapi Ieyasu tidak memperlihatkan kegembiraan maupun ketidakpuasan. Ketika laporan demi laporan berdatangan, sebuah rapat perang dimulai. Tidak sedikit jendral Ieyasu yang menganjurkan untuk mundur sementara ke Okazaki, dan mereka mendapat dukungan para komandan Oda.

Hanya Ieyasu yang tak tergerak, tetap berkeras untuk bertempur. "Apakah kita akan mundur tanpa melepaskan satu anak panah pun, sementara musuh menghina provinsiku?"

Di sebelah utara Hamamatsu ada sebuah dataran yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, lebarnya lebih dari dua mil. sedangkan panjangnya tiga mil— Mikatagahara.

Menjelang fajar pada hari ke-22, pasukan Ieyasu meninggalkan Hamamatsu dan mengambil posisi di sebelah utara sebuah tebing terjal. Di sanalah mereka menanti kedatangan pasukan Takeda.

Matahari muncul, kemudian langit diselubungi awan. Dengan tenang seekor burung melintasi langit yang membentang di atas datatan yang tandus dan gersang. Dari waktu ke waktu, para pengintai kedua pasukan merangkak di tengah rerumputan, menyerupai bayangan burung, lalu kembali ke perkemahan masing-masing. Pagi itu pasukan Shingen, yang semula berkemah di dataran itu, melintasi Sungai Tenryu. terus berbaris, dan mencapai Saigadani beberapa saat setelah siang hari.

Perintah berhenti diberikan pada seluruh pasukan. Oyamada Nobushigc dan para jendral lain berkumpul di sisi Shingen untuk memastikan posisi musuh yang akan segera berada tepat di depan mereka. Setelah berpikir sejenak. Shingen memerintahkan agar satu resimen bertugas sebagai barisan belakang, sementara pasukan utama sesuai rencana terus melintasi Dataran Mikatagahara.

Mereka berada di dekat Desa Iwaibe. Barisan terdepan telah memasuki desa itu. Orang-orang di kepala iring-iringan yang bagaikan ular ini tak dapat melihat para prajurit di ujung yang satu lagi, biarpun sambil berdiri di sanggurdi.

Shingen menoleh dan berkata kepada para pengikut yang mengelilinginya, "Di belakang sedang terjadi sesuatu."

Anak buahnya memandang ke belakang, berusaha menembus debu kuning yang umpak di kejauhan. Sepertinya barisan belakang mereka sedang diserang musuh.

"Mereka pasti terkepung!

"Jumlah mereka hanya dua ribu atau tiga ribu orang! Kalau mereka terkepung, mereka akan digulung habis!"

Semua jendral merasa kasihan pada orang-orang di balik awan debu itu. Sambil menggenggam tali kekang masing-masing, mereka menonton dengan perasaan galau. Shingen pun membisu. Walaupun mereka telah menduga, anak buah mereka dibantai dan roboh satu per satu.

Tentu ada beberapa orang yang memiliki putra, ayah, atau saudara yang tergabung dalam barisan belakang. Dan ini bukan hanya berlaku bagi para pengikut dan jendral yang berkumpul di sekitar Shingen. Seluruh pasukan—sampai ke para prajurit infanteri—memandang ke samping sambil terus berjalan.

Menyusul dari belakang, Oyamada Nobushige memacu kudanya ke sisi Shingen. Suara Nobushide bernada tegang dan terdengar jelas oleh mereka yang berada di dekatnya. Dari atas kudanya ia berkata. "Tuanku! Kesempatan untuk membantai sepuluh ribu prajurit musuh takkan terulang lagi. Hamba baru kembali dari mengamati formasi musuh yang menyerang barisan belakang kita. Masing-masing kesatuan membentuk formasi sayap bangau. Sepintas lalu, mereka tampak seperti pasukan besar, tapi sesungguhnya garis kedua dan ketiga tidak memiliki kekuatan, Ieyasu dikawal oleh segelintir prajurit yang nyaris tak berarti apa-apa. Bukan itu saja, resimenresimen mereka tampak kacau-balau, dan kelihatan jelas bahwa bala bantuan Oda tak ingin bertempur. Jika tuanku memanfaatkan kesempatan ini dan menyerang, sudah pasti tuanku akan meraih kemenangan." Setelah mendengar laporan Nobushige, Shingen menoleh ke belakang dan mengutus beberapa pengintai untuk menyelidiki kebenaran laporan itu.

Mendengar nada suara Shingen, Nobushige mengekang kudanya dan menahan diri.

Dua pengintai memacu kuda masing-masing. Telah diketahui oleh Shingen bahwa pasukan musuh jauh lebih kecil daripada pasukan mereka, dan Nobushige menghormati keengganan junjungannya untuk mengambil tindakan tergesa-gesa. Tapi ia sendiri memiliki watak seperti seekor kuda yang sukar dikendalikan, dan hampir tak sanggup memaksakan diri agar bersabar.

Kesempatan militer dapat menguap secepat kilat menyambar.

Kedua pengintai tadi kembali dan memberikan laporan, "Pengamatan Oyamada Nobushige dan pengamatan kami persis sama. Ini suatu kesempatan yang diberikan oleh para dewa."

Suara Shingen terdengar menggemuruh. Rumbairumbai berwarna putih pada helmnya terguncang maju-mundur ketika ia memberikan perintah kepada para jendral yang berada di kiri-kanannya. Sangkakala dibunyikan. Ketika pasukan berkekuatan dua puluh ribu orang itu mendengar bunyinya yang berkumandang dan ujung depan sampai ke ujung belakang, barisannya langsung pecah, menyebabkan bumi bergetar. Lalu dengan segera para prajurit Shingen membentuk formasi menyerupai ikan dan bergerak maju ke arah pasukan Tokugawa, diiringi tabuhan genderang.

Ieyasu terpesona menyaksikan kecepatan yang diperagakan pasukan Shingen, dan bagaimana pasukan itu bereaksi atas setiap perintah yang diberikan. Ia berkara, "Jika aku sempat mencapai usia setua Shingen, aku berharap aku pun mampu menggerakkan pasukan besar seterampil dia, biarpun hanya sekali saja. Setelah melihat bakatnya sebagai pemimpin pasukan, aku enggan melihatnya terbunuh, walaupun ada yang menawarkan untuk meracuni dia."

Jendral-jendral musuh pun terkagum-kagum melihat kepemimpinan Shingen di medan laga. Baginya bertempur merupakan seni. Para jendralnya yang perkasa dan prajurit-prajuritnya yang berani menghiasi kuda, baju tempur, dan panji-panji mereka, agar dapat mencapai dunia berikut dengan lebih gemilang. Kesannya seakan-akan puluhan ribu rajawali dilepaskan atas perintah Shingen.

Dalam satu tarikan napas, mereka maju, sehingga wajah musuh terlihat di depan mata. Pasukan Tokugawa berputar bagaikan roda raksasa, mempertahankan formasi sayap bangau, dan menghadapi lawan seperti bendungan manusia.

Debu yang diterbangkan oleh musuh dan orangorang mereka sendiri menutupi langit. Hanya pantulan sinar matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat dalam kegelapan. Pasukan tombak Kai dan Mikawa telah maju ke garis depan, dan kini saling berhadapan. Pada waktu satu pihak melepaskan teriakan, pihak satunya segera membalas—hampir seperti gema. Ketika awan debu mulai mengendap, kedua belah pihak dapat saling melihat, tapi jarak yang memisahkan mereka masih cukup jauh. Tak seorang pun maju dari kedua barisan tombak yang sejajar.

Pada saat seperti ini, prajurit paling berani pun gemetar ketakutan. Bisa dibilang mereka "ngeri", tapi ini berbeda sama sekali dari rasa takut biasa. Bukan semangat mereka yang goyah; mereka gemetar karena perubahan dari kehidupan sehari-hari ke suasana pertempuran. Ini hanya berlangsung beberapa detik, tapi selama itu kulit mereka merinding dan menjadi semerah jengger ayam jantan.

Bagi sebuah provinsi yang sedang berperang, nyawa seorang prajurit tak berbeda dari nyawa petani yang membawa pacul. Masing-masing sama berharganya. Dan jika provinsi tersebut runtuh, semuanya akan ikut binasa. Mereka yang tidak memedulikan pasangsurutnya provinsi mereka dan hidup bermalasmalasan, menyerupai kotoran yang menempel pada tubuh manusia—lebih tak bernilai dari satu kedipan mata.

Tapi disamping itu semua, saat pertama kali berhadap-hadapan dengan musuh konon sungguh mengerikan, langit dan bumi menjadi gelap, biarpun di tengah siang bolong. Orang tak dapat melihat apa yang berada di depan matanya. Ia tak sanggup maju maupun mundur, dan ia terdorong ke sana kemari di tengah tombak-tombak.

Dan orang yang cukup berani untuk melangkah maju mendahului yang lain diberi gelar Tombak Pertama. Orang tersebut dipandang penuh hormat oleh ribuan prajurit di kedua belah pihak. Namun tidaklah mudah mengayunkan langkah pertama.

Kemudian satu orang melangkah maju.

"Kato Kuroji dari pasukan Tokugawa adalah Tombak Pertama!" seorang samurai berseru. Baju tempur Kato sederhana saja, dan namanya tidak terkenal. Kemungkinan ia hanya samurai biasa dari marga Tokugawa.

Orang kedua menerobos dari barisan Tokugawa. "Adik Kuroji, Genjiro, adalah Tombak Kedua!"

Kakaknya lenyap dalam barisan musuh dan tertelan dalam kemelut.

"Aku Tombak Kedua! Aku adik Kato Kuroji. Tataplah aku baik-baik, serangga-serangga Takeda!" Empat atau lima kali Genjiro mengacung-acungkan tombaknya di hadapan pasukan musuh.

Seorang prajurit Kai meneriakkan penghinaan dan menerjang maju. Genjiro terjatuh ke belakang, tapi sempat meraih tombak yang membentur pelindung dadanya, lalu melompat berdiri sambil bersumpah serapah.

Saat itu rekan-rekannya juga sudah mulai menyerang, tapi orang-orang Takeda pun melakukan hal yang sama. Pemandangan itu menyerupai dua gelombang darah, tombak, dan baju tempur yang saling menghantam. Terinjak-injak oleh rekanrekannya sendiri serta oleh kaki kuda-kuda. Genjiro memanggil-manggil kakaknya. Sambil merangkak, ia menangkap kaki seorang prajurit Kai dan menariknya sampai jaruh. Langsung saja ia memenggal kepala orang itu, lalu membuangnya. Setelah itu, tak seorang pun pernah melihat Genjiro lagi.

Pertempuran pecah dalam suasana kacau-balau, tapi bentrokan antara sayap kanan pasukan Tokugawa dan sayap kiri pasukan Takeda belum mencapai tingkat kekerasan seperti ini.

Kedua barisan sejajar itu membentang jauh. Gemuruh genderang-genderang dan tiupan sangkakala terdengar di tengah-tengah awan debu. Entah bagaimana, para pengikut Shingen berada agak di belakang. Kedua belah pihak tak sempat menempatkan pasukan senapan di garis depan, jadi pihak Takeda mengerahkan resimen Mizumata—samurai bersenjata katapel. Batu-batu yang mereka tembakkan jatuh bagaikan hujan. Lawan mereka pasukan di bawah Sakai Tadatsugu. dan di belakang itu bala bantuan marga Oda. Tadatsugu duduk di atas kudanya, mendecakkan lidah dengan kesal.

Hujan batu dari garis depan pasukan Kai mengenai kudanya dan membuatnya tak terkendali. Dan bukan kudanya saja. Kuda-kuda pasukan kavaleri yang menunggu kesempatan di belakang kesatuan tombak pun memberontak dan meninggalkan formasi. Pasukan tombak menunggu perintah Tadatsugu yang menahan mereka dengan suara parau. "Jangan dulu! Tunggu sampai kuberi aba-aba!"

Kesatuan katapel di garis depan bertugas melemahkan kekuatan musuh dan membuka jalan bagi serangan pasukan utama. Resimen Mizumata sendiri tidak terlalu ditakuti, tapi di belakang mereka telah menunggu prajurit-prajurit pilihan. Di sinilah panjipanji korps Yamagau, Naito, dan Oyamada terlihat berkibar. Mereka terkenal berani, bahkan di antara pasukan Kai.

Kelihatannya mereka hendak memancing kita dengan mengerahkan resimen Mizumata, pikir Tadatsugu. Ia segera memahami strategi musuh, tapi sayap kiri pasukan Tokugawa sudah terlibat pertempuran jarak dekar, sehingga garis kedua, yang terdiri atas pasukan Oda, harus berjuang sendiri. Selain itu, ia tidak dapat memastikan bagaimana Ieyasu melihat situasi dari posisinya di tengah.

"Serbu!" Tadatsugu berteriak, membuka mulutnya begitu lebar, sehingga tali helmnya nyaris putus, la sadar sepenuhnya bahwa ia masuk perangkap lawan, tapi sejak pertempuran pecah ia tak sanggup meraih keunggulan. Inilah awal kekalahan pasukan Tokugawa dan sekutu-sekutu mereka.

Hujan batu tiba-tiba terhenti. Pada detik yang sama. sekitar tujuh ratus sampai delapan ratus anggota resimen Mizumata menyingkir ke kiri-kanan, dan mendadak bergerak mundur. "Habislah kita!" Tadatsugu berseru.

Pada waktu ia melihat garis kedua musuh, semuanya sudah terlambat. Tersembunyi di antara resimen Mizumata dan pasukan kavaleri ternyata masih ada satu garis lagi—pasukan senapan. Semua anggotanya menelungkup di tengah rerumputan, dengan senjata siap menembak.

Senapan-senapan meletus bersamaan, dan awan asap naik ke angkasa. Karena sudut tembak yang rendah, sebagian besar peluru bersarang di kaki prajurit Sakai yang menyerang. Kuda-kuda mereka memberontak dan tertembak di perut. Para perwira melompat dari pelana sebelum kuda mereka roboh, dan melarikan diri bersama anak buah mereka, melompati mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pasukan senapan segera mundur. Berdiam di tempat berarti membiarkan diri dihantam serangan pasukan tombak marga Oda. Dengan moncong kuda dalam posisi sejajar, korps Yamagata, pasukan kebanggaan Kai, menerobos maju, tenang dan penuh percaya diri. Mereka segera diikuti korps Obata. Dalam beberapa menit saja garis Sakai Tadatsugu telah musnah di tangan mereka.

Dengan bangga pasukan Kai melepaskan teriakanteriakan kemenangan. Tiba-tiba korps Oyamada mengambil jalan melingkar dan menyerang pasukan Oda—garis penahanan kedua pasukan Tokugawa—dari samping. Debu beterbangan di bawah kala kuda-kuda mereka. Dalam sekejap seluruh pasukan Tokugawa telah terkepung pasukan Kai yang menyerupai roda besi.

Ieyasu berdiri di atas bukit, mengamati pasukannya. Kita kalah, ia menyadari. Kekalahan tak terelakkan lagi.

Dengan pandangan lurus ke depan. Torii Tadahiro. jendral terkemuka di bawah Ieyasu, telah memperingatkan junjungannya untuk tidak mengadakan serangan besar-besaran, melainkan melancarkan serangan mendadak pada malam hari ke perkemahan musuh. Tapi Shingen yang penuh tipu daya sengaja memberi umpan dengan menempatkan barisan belakang berkekuatan kecil, memancing Ieyasu untuk bergerak.

"Kita tidak bisa tetap di sini. Tuanku harus kembali ke Hamamatsu." Tadahiro mendesak. "Lebih cepat lebih baik."

Ieyasu tidak berkata apa-apa.

"Tuanku! Tuanku!" Tadahiro memohon.

Ieyasu tidak menatap wajah Tadahiro. Waktu matahari mulai terbenam, kabut senja dan kegelapan berangsur-angsur menyelubungi tepi Dataran Mikatagahara. Diiringi angin dingin, kurir-kurir berulang kali membawa berita menyedihkan.

"Sakuma Nobumori dari marga Oda digulung habis. Takigawa Kazumasu terpaksa mundur sambil kocarkacir, dan Hirate Nagamasa terbunuh. Tinggal Sakai Tadatsugu yang masih bertempur dengan gagah."

"Takeda Katsuyori menggabungkan pasukannya dengan korps Yamagara dan mengepung sayap kiri kita. Ishikawa Kazumasa terluka. dan Nakane Masateru serta Aoki Hirotsugu tewas."

"Matsudaira Yasuzumi memacu kudanya ke tengahtengah musuh dan menemui ajal di sana."

"Pasukan di bawah Honda Tadamasa dan Naruse Masayoshi mengincar para pengikur Shingen dan berhasil menembus jauh ke dalam barisan musuh. Tapi kemudian mereka dikepung oleh beberapa ribu prajurit, dan tak seorang pun dari mereka kembali dalam keadaan hidup."

Tiba-tiba Tadahiro meraih lengan Ieyasu. dan dengan bantuan jendral-jendral lain, menaikkannya ke atas kudanya.

"Pergi dari sini." kuda itu dibentaknya sambil ditepuk.

Setelah Ieyasu duduk di pelana dan kuda berlari menjauh. Tadahiro dan para pengikut lain menaiki kuda masing-masing, lalu mengikuti junjungan mereka.

Hujan salju mulai turun—mungkin saljunya menunggu sampai matahari terbenam—semakin mempersulit gerak mundur pasukan yang dikalahkan. Orang-orang berseru bingung. "Yang Mulia... di mana Yang Mulia?"

"Ke arah manakah markas besar?"

Pasukan senapan Kai membidik prajurit-prajurit musuh yang tengah melarikan diri, melepaskan tembakan dari tengah-tengah salju yang terbang berputar-putar.

"Mundur!" seorang samurai Tokugawa berseru. "Sangkakala telah memberi aba-aba mundur!"

"Mereka pasti sudah mengungsi ke markas besar." orang lain menimpali.

Bagaikan gelombang pasang, pasukan Tokugawa mundur ke utara. Tapi karena kehilangan arah, korban di pihak mereka kembali berjatuhan. Akhirnya semua orang mulai mendesak ke satu arah ke selatan.

Ieyasu, yang baru saja lolos dari mara bahaya bersama Torii Tadahiro, menoleh ke arah orang-orang yang mengikutinya, dan tiba-tiba menghentikan kuda. "Kibarkan panji-panji. Kibarkan panji-panji dan kumpulkan orang-orang," ia memerintahkan.

Malam telah dekat, dan hujan salju semakin lebai. Para pengikut Ieyasu berkerumun di sekelilingnya dan membunyikan sangkakala. Sambil melambai-lambaikan panji para komandan, mereka memanggil-manggil anak buah masing-masing. Perlahan-lahan para prajurit yang kalah itu mulai berkumpul. Setiap orang bermandikan darah.

Namun korps di bawah komando Baba Noburusa dan Obata Kazusa dari pasukan Kai mengetahui bahwa pasukan utama musuh berada di sana, lalu segera mulai mendesak dengan busur dan panah dari satu sisi dan dengan senapan dari sisi yang satu lagi. Rupanya mereka hendak memotong jalur mundur Ieyasu.

"Tempat ini berbahaya, tuanku. Sebaiknya tuanku segera mundur." Mizuno Sakon mendesak Ieyasu. Kemudian, sambil berpaling kepada orang-orang, ia memerintahkan. "Lindungilah Yang Mulia. Aku akan membawa beberapa orang dan menyerang musuh. Siapa saja yang ingin mengorbankan nyawa bagi Yang Mulia, ikuti aku."

Sakon langsung menerjang ke arah musuh, tanpa menoleh untuk melihat apakah ada yang mengikutinya. Sekitar tiga puluh sampai empat puluh prajurit segera menyusul, memacu kuda masingmasing untuk menantang maut. Hampir seketika ratapan, teriakan, benturan pedang dan tombak bercampur dengan deru angin yang menerbangkan salju, membentuk pusaran raksasa.

"Sakon tidak boleh mati!" teriak Ieyasu. Sikapnya tidak seperti biasanya. Para pengikut berusaha mencegahnya dengan meraih kekang kudanya, tapi ia menepiskan mereka, dan pada waktu mereka bangkit, Ieyasu telah terjun ke tengah pusaran. Penampilannya betul-betul menyerupai setan.

"Tuanku! Tuanku!" mereka berseru-seru.

Ketika Natsume Jirozaemon, perwira yang diberi tanggung jawab atas Benteng Hamamatsu, mendapat kabar mengenai kekalahan rekan-rekannya, ia segera berangkat bersama sekitar tiga puluh penunggang kuda untuk memastikan keselamatan Ieyasu. Ketika menemukan junjungannya tengah terlibat pertempuran sengit, ia melompat turun dari kuda dan berlari ke arah pergulatan, dan memindahkan tombaknya ke tangan kiri.

"A... apa ini? Kekerasan ini tidak seperti tuanku. Kembalilah ke Hamamatsu! Mundurlah, tuanku!" Setelah meraih moncong kuda Ieyasu, ia menuntunnya dengan susah payah.

"Jirozaemon? Lepaskan aku! Bodoh betul kau, menghalang-halangiku di tengah-tengah musuh!"

"Kalau hamba bodoh, tuanku lebih bodoh lagi! jika tuanku terbantai di tempat seperti ini, apa makna segala penderitaan yang tuanku alami sampai sekarang? Tuanku akan dikenang sebagai jendral pandir. Kalau tuanku memang hendak menonjolkan diri, lakukanlah sesuatu bagi bangsa ini di lain kesempatan!" Dengan mata berkaca-kaca, Jirozacmon menghardik Ieyasu begitu keras, sehingga mulutnya nyaris robek dari telinga ke telinga, dan pada saat yang sama, tanpa ampun ia memukul-mukul kuda Ieyasu dengan tombaknya. Banyak pengikut dan pembantu dekat Ieyasu yang semalam masih berada bersamanya, tidak terlihat lagi malam ini. Lebih dari tiga ratus anak buah Ieyasu gugur dalam pertempuran, dan tak seorang pun mengetahui jumlah yang luka-luka.

Sambil memikul beban kekalahan, pasukan Ieyasu berbaris dan kembali ke kota benteng yang diselimuti salju. Mereka tampak seakan-akan muak pada diri sendiri. Tapi warna merah pada salju jelas-jelas berasal dari darah para prajurit yang kembali dari medan perang.

"Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?" orang-orang itu bertanya dengan mata berkaca-kaca. Mereka bergerak mundur karena menyangka Ieyasu telah kembali ke benteng, tapi kini mereka diberitahu oleh para penjaga gerbang bahwa junjungan mereka belum kembali. Apakah ia masih terkepung musuh, ataukah ia sudah gugur? Apa pun nasib yang menimpa Ieyasu. yang jelas mereka telah melarikan diri sebelum junjungan mereka, dan mereka begitu malu, sehingga menolak memasuki benteng. Mereka terus berdiri di luar. mengentak-entakkan kaki dalam hawa dingin.

Tiba-tiba terdengar letusan senapan dari gerbang barat, menambah kebingungan. Ternyata pasukan musuh telah mendekat. Maut telah siap menjemput mereka. Dan jika orang-orang Takeda sudah maju sejauh ini, nasib Ieyasu memang patut dipertanyakan.

Karena mengira bahwa saat terakhir marga Tokugawa telah tiba, sambil berteriak mereka berlari kc arah letusan senapan, siap untuk mati, dengan pandangan hampa tanpa harapan. Ketika sekelompok dari mereka berdesak-desakan melewati gerbang, mereka hampir bertabrakan dengan sejumlah orang berkuda yang baru hendak masuk.

Di luar dugaan, penunggang-penunggang kuda itu ternyata para komandan yang baru kembali dari medan tempur. Teriakan menyedihkan para prajurit berubah menjadi sorak-sorai kegembiraan. Sambil mengacung-acungkan pedang dan tombak, mereka mengikuti orang-orang yang baru tiba. Satu penunggang kuda, lalu satu lagi, kemudian yang berikut memasuki benteng; orang kedelapan ternyata Ieyasu sendiri, sebelah lengan baju tempurnya terkoyak, tubuhnya berlumuran darah dan salju.

"Yang Mulia Ieyasu kembali! Yang Mulia Ieyasu !"

Begitu junjungan mereka terlihat, kabar mengenai kedatangannya diteruskan dari mulut ke mulut. Para prajurit melompat-lompat kegirangan, seakan-akan lupa diri.

Sambil melangkah ke ruang duduk, Ieyasu memanggil dengan lantang, "Hisano! Hisano!" seolah-olah ia masih berada di medan perang.

Dayang itu segera menghampirinya dan menyembah. Api di lentera kecil yang dibawanya tertiup angin, menerangi profil Ieyasu dengan cahaya kerlap-kerlip. Darah menempel di pipinya, dan rambutnya acakacakan.

"Ambilkan sisir," ia berkata sambil duduk. Sementara Hisano merapikan rambutnya, ia memberikan perintah lain, "Aku lapar. Bawakan makanan untukku,"

Setelah makanan yang dimintanya tersaji, ia segera meraih sumpit, tapi tidak segera mulai makan, melainkan malah berkata, "Buka semua pintu ke serambi."

Walaupun lentera-lentera retah menyala, ruangan itu lebih terang jika pintu-pintu dibuka lebar, akibat salju yang beterbangan di luar. Samar-samar terlihat sosok-sosok prajurit yang sedang melepas lelah di serambi. Begitu Ieyasu selesai makan, ia keluar dari ruang duduk dan berkeliling untuk memeriksa pertahanan, ia memberi perintah kepada Amano Yasukage dan Uemura Masakatsu untuk bersiap-siap menghadapi serangan musuh. Komandan-komandan lain ditempatkannya mulai dari gerbang utama sampai pintu utama ke ruang duduk.

"Biarpun seluruh pasukan Kai menyerang dengan segenap kekuatan, kita akan memperlihatkan kekuatan kita pada mereka. Mereka takkan sanggup merebut sejengkal pun dari tembok-tembok ini," para komandan berkoar.

Walaupun dengan suara bernada tegang, mereka berusaha menenangkan Ieyasu dan membesarkan hatinya.

Ieyasu memahami maksud mereka dan mengangguk-angguk penuh semangat. Tapi ketika mereka hendak bergegas ke pos masing-masing, ia memanggil mereka, "Biarkan semua pintu mulai dari gerbang utama sampai ruang duduk dalam keadaan terbuka. Mengertikah kalian?"

"Apa? Apa maksud tuanku?" Para komandan tampak ragu-ragu. Perintah ini bertentangan dengan prinsip-prinsip pertahanan yang paling mendasar. Pintu-pintu besi di semua gerbang telah ditutup rapat. Pasukan musuh telah mendekati kota benteng, mendesak maju untuk menghancurkan mereka. Mengapa Ieyasu memerintahkan agar pintu air di bendungan dibuka, justru pada saat gelombang pasang siap menerjang? Tadahiro berkata. "Tidak, hamba rasa situasinya belum memaksa kita untuk bertindak sejauh itu. Kalau pasukan kita tiba dari medan laga, kita bisa membuka gerbang agar mereka bisa masuk. Tapi kita tidak perlu membiarkan gerbang benteng terbuka lebar untuk mereka."

Ieyasu tertawa dan menegur Tadahiro karena salah mengerti. "Ini bukan untuk orang-orang yang terlambat kembali. Ini langkah persiapan untuk menghadapi pasukan Takeda yang menerjang bagaikan air bah, penuh keyakinan bahwa mereka akan menang. Dan aku tidak sekadar ingin gerbang benteng dibuka. Aku ingin lima atau enam api unggun dinyalakan di depan gerbang. Selain itu, api unggun juga harus berkobar di dalam tembok. Tapi pastikan bahwa pertahanan kita tetap siaga sepenuhnya. Jangan bersuara dan amati gerak maju musuh."

Strategi nekat macam apa ini? Tanpa ragu sejenak pun, mereka menjalankan perintah itu.

Sesuai keinginan Ieyasu semua gerbang dibuka lebar, dan beberapa api unggun menerangi salju, mulai dari selokan pertahanan sampai ke pintu ruang duduk. Setelah mengamati pemandangan itu, Ieyasu kembali ke dalam.

Kelihatan para jendral senior memahami maksud junjungan mereka, tapi sebagian besar prajurit mempercayai desas-desus bahwa Shingen telah mati. dan bahwa pasukan Tokugawa telah kehilangan pemimpin. Padahal sesungguhnya desas-desus itu disebarkan oleh perwira-perwira Ieyasu sendiri.

"Aku lelah. Hisano. Rasanya aku ingin minum secawan sake. Tolong tuangkan sedikit untukku." Ieyasu kembali ke ruangan utama, dan setelah menghabiskan isi cawan, membaringkan diri. Ia menarik selimut yang dibawakan Hisano, lalu tertidur pulas.

Tak lama kemudian, pasukan Kai di bawah Baba Nobufusa dan Yamagata Masakage tiba di dekat selokan pertahanan, siap melancarkan serangan malam.

"Apa ini? Tunggu!" Ketika Baba dan Yamagata menghampiri gerbang, mereka mengekang kuda masing-masing dan mencegah seluruh pasukan untuk maju tergesa-gesa.

"Jendral Baba, bagaimana menurut Jendral?" Yamagata bertanya sambil menyejajarkan kudanya dangan kuda rekannya. Ia tampak terheran-heran. Baba pun merasa curiga dan menatap ke arah gerbang musuh. Di sana, di kejauhan, ia melihat nyala api unggun, baik di luar maupun di balik gerbang. Dan semua gerbang terbuka lebar. Mereka menghadapi gerbang tanpa gerbang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan yang mengusik.

Air di dalam selokan kelihatan hitam, salju di benteng yang siap siaga berwarna putih. Tak ada suara apa pun. Jika mereka memasang telinga baik-baik. mereka dapat mendengar api unggun meretih di kejauhan. Dan seandainya mereka memasang telinga sambil berkonsentrasi penuh, mereka mungkin mendengar dengkuran Ieyasu, jendral yang telah menderita kekalahan dan kini tengah bermimpi di ruang duduk—otak di balik gerbang tanpa gerbang ini.

Yamagata berkata, "Sepertinya serangan kita begitu cepat dan musuh begitu bingung, sehingga mereka tak sempat menutup gerbang benteng dan kini bersembunyi di dalam. Sebaiknya kita habisi saja mereka." "Jangan, tunggu." Baba memotong. Ia dikenal sebagai komandan yang pandai bersiasat. Orang bijak yang memupuk kebijaksanaan dapat tenggelam di dalamnya, ia menjelaskan pada Yamagata mengapa

langkahnya keliru.

"Mengamankan gerbang benteng merupakan langkah logis bagi seseorang yang baru saja mengalami kekalahan. Tapi dengan membiarkan gerbangnya terbuka lebar dan dengan menyempatkan diri menyalakan api unggun, Ieyasu membuktikan bahwa dia tak kenal takut. Tentunya dia sedang menunggu kita menyerang dengan tergesa-gesa. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada benteng ini, dan dia yakin akan kemenangannya. Lawan kita memang masih muda, tapi dia Tokugawa Ieyasu. Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, agar tidak membawa aib bagi marga Takeda dan malah menjadi bahan tertawaan di kemudian hari."

Mereka telah mendesak sedemikian jauh, tapi pada akhirnya kedua jendral itu menarik mundur pasukan mereka.

Di dalam benteng, mimpi Ieyasu dibuyarkan oleh salah seorang pembantunya. Ia segera berdiri. "Aku tidak mati!" ia berseru dan melompat gembira. Seketika ia mengirim pasukan untuk mengejar musuh. Tapi, sesuai dengan reputasi mereka, Yamagata dan Baba tetap menguasai diri di tengah kekacauan. Mereka mengadakan perlawanan, menyulut kebakaran di sekitar Naguri, dan menjalankan sejumlah manuver brilian.

Orang-orang Tokugawa mengalami kekalahan besar, tapi tidak salah kalau dikatakan bahwa mereka telah memperlihatkan keberanian. Bukan itu saja, mereka sekali lagi berhasil menggagalkan rencana Shingen untuk maju ke ibu kota, dan memaksanya mundur ke Kai. Banyak orang menjadi korban. Dibandingkan keempat ratus korban jiwa di pihak Takeda, pasukan Tokugawa kehilangan jauh lebih banyak prajurit. Korban di pihak mereka berjumlah seribu seratus delapan puluh jiwa.