--> -->

Taiko Bab 17 : Shingen si Kaki Panjang

Bab 17 : Shingen si Kaki Panjang

MESKIPUN Amakasu Sanpei bersaudara dengan salah satu jendral marga Kai, ia menghabiskan sepuluh tahun terakhir dalam kedudukan rendah, karena memiliki bakat istimewa—kemampuannya untuk berlari kencang dalam jarak jauh.

Sanpei adalah pemimpin ninja marga Takeda— orang-orang yang bertugas memata-matai provinsi lain, membentuk persekutuan gelap, dan menyebarkan desas-desus palsu.

Sejak masa muda, bakat Sanpei sebagai pejalan dan pelari yang gesit telah mengesankan teman-temannya. Ia sanggup mendaki gunung mana pun dan berjalan dua puluh sampai tiga puluh mil dalam sehari. Namun ia tak sanggup mempertahankan kecepatannya hari demi hari. Perjalanan pulang dari suatu tempat terpencil biasa ditempuhnya dengan berkuda, kalau medannya mengizinkan, tapi jika menghadapi jalan-jalan setapak yang terjal, ia mengandalkan kedua kakinya yang kuat. Karena inilah ia selalu menempatkan kuda di titik-titik penting di sepanjang jalur-jalur yang dilewatinya—sering kali di pondok pemburu atau tukang kayu.

"Hei, tukang arang! Pak Tua, kau di rumah?" Sanpei memanggil ketika turun dari kuda di depan gubuk pembuat arang. Ia bermandikan keringat, begitu pula kuda yang ditungganginya.

Musim semi baru berganti dengan musim panas. Daun-daun di gunung-gunung masih tampak hijau pucat, sementara di daerah rendah suara jangkrik sudah mulai terdengar.

Dia tidak ada, pikir Sanpei. Ia menendang pintu reyot yang segera terbuka. Sanpei membawa kuda yang hendak ditinggalkannya di dalam. Setelah mengingatnya ke sebuah tiang, ia pergi ke dapur dan mengambil nasi, sayur asin, dan teh.

Begitu selesai mengisi perut, ia mencari tinta dan kuas, lalu menuliskan pesan pada secarik kertas. Kemudian ia menggunakan beberapa butir nasi sisa untuk melekatkan kertas itu ke tutup tempat nasi.

Ini bukan ulah musang. Akulah, Sanpei, yang menyantap makananmu. Kutinggalkan kudaku di sini agar kau mengurusnya dengan baik, sampai aku mampir lagi.

Ketika Sanpei hendak berangkat, kudanya mulai menendang-nendang dinding, tak ingin tuannya pergi. Namun pemiliknya yang berhati dingin menoleh pun tidak, melainkan segera menutup pintu. Terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kakinya yang hebat membawanya terbang, tapi ia memang bergegas dengan kecepatan tinggi menuju Provinsi Kai yang bergunung-gunung. Sejak awal, tujuannya adalah ibu kota Kai, Kofu. Dan kecepatan yang dikembangkannya mengisyaratkan bahwa ia membawa laporan yang sangat penting. Keesokan paginya Sanpei telah melintasi beberapa barisan pegunungan dan melihat aliran Sungai Fuji di sebelah kanan bawah. Atap-atap yang tampak di antara kedua sisi lembah adalah atap-atap Desa Kajikazawa.

Ia ingin mencapai Kofu pada sore hari, tapi karena perjalanan lancar, ia beristirahat sejenak, menatap matahari musim panas yang membakar Cekungan Kai. Tak pengaruh ke mana pun aku pergi, tak peduli kesulitan yang dialami di suatu provinsi pegunungan, memang tak ada tempat yang dapat menyaingi rumah sendiri. Pada waktu berpikir begitu, dengan tangan merangkul lutut, ia melihat barisan kuda yang membawa ember-ember berisi sampang. Hmm, hendak ke manakah mereka? tanyanya pada diri sendiri.

Amakasu Sanpei berdiri dan mulai menuruni gunung. Di tengah jalan ia berpapasan dengan kafilah yang terdiri atas paling tidak seratus kuda. "Heiii!"

Laki-laki yang menuntun kuda paling depan ternyata kenalan lamanya. Sanpei segera bertanya, "Sampangnya banyak sekali, bukan? Ke mana kau akan membawanya?"

"Ke Gifu," jawab orang yang ditanya. Melihat roman muka Sanpei yang penuh curiga, ia segera memberi penjelasan tambahan, "Kami akhirnya selesai membuat sampang yang dipesan marga Oda tahun lalu, jadi sekarang aku mengantarnya ke Gifu."

"Apa! Untuk orang-orang Oda?" Sambil mengerutkan kening, Sanpei seakan-akan tak mampu tersenyum dan mengucapkan selamat jalan. "Berhati-hatilah. Jalanan sangat berbahaya."

"Kudengar para biksu-prajurit telah angkat senjata.

Entah bagaimana nasib pasukan Oda."

"Aku tak bisa bercerita mengenai itu sebelum kusampaikan laporanku kepada Yang Mulia."

"Ah, benar. Kau baru kembali dari sana, bukan? Hmm, kalau begitu kita tak boleh berbincang-bincang lebih lama di sana. Aku akan meneruskan perjalanan." Si pemimpin kafilah dan keseratus kudanya melintasi punggung bukit dan menuju ke barat.

Sanpei menyaksikan kepergian mereka. Dalam hati ia berkata bahwa provinsi pegunungan tetap hanya provinsi pegunungan. Berita dari luar selalu terlambat, dan biarpun pasukan kita kuat dan jendral-jendral kita cerdik, kita tetap memiliki kekurangan serius. Beban tanggung jawabnya terasa semakin berat, dan ia berlari ke kaki gunung dengan kecepatan burung walet. Sanpei mengambil kuda lain di Desa Kajikazawa, dan dengan lecutan cemeti ia berpacu ke arah Kofu.

Benteng kokoh milik Takeda Shingen terletak di Cekungan Kai yang panas dan lembap. Wajah-wajah yang jarang terlihat, kecuali pada waktu provinsi mengalami masalah berat dan mengadakan rapat perang, kini satu per satu terlihat melewati gerbang benteng, sehingga para penjaga gerbang pun menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi. Di dalam benteng yang diselubungi kehijauan daun muda, suasana hening hanya terusik oleh jangkrik yang sesekali terdengar mengerik.

Sejak pagi tidak banyak jendral yang pergi lagi. Sanpei memacu kudanya ke gerbang. Setelah turun di tepi selokan, ia melintasi jembatan dengan berjalan kaki, menggenggam tali kekang di tangannya.

"Siapa itu?" Mata dan ujung tombak para penjaga tampak berkilau-kilau di pojok gerbang besi. Sanpei mengikat kudanya ke pohon.

"Aku," ia membalas, memperlihatkan wajahnya kepada para prajurit, lalu bergegas ke dalam benteng. Ia sering keluar-masuk benteng, jadi walau mungkin saja ada yang tidak tahu siapa ia sebenarnya, tak satu penjaga gerbang pun yang tidak mengenali wajahnya atau mengetahui jenis pekerjaannya.

Di dalam benteng terdapat kuil Buddha yang dinamakan Bishamondo, mengambil nama dewa pelindung daerah utara. Kuil ini berfungsi sebagai ruang meditasi Shingen, sebagai tempat membahas masalah-masalah pemerintahan, dan sesekali sebagai tempat mengadakan rapat perang. Shingen kini berdiri di serambi kuil. Tubuhnya seolah-olah melambai-lambai dalam embusan angin dari batu-batu dan aliran air di pekarangan. Di luar baju perang, ia mengenakan jubah merah seorang pendeta agung, yang seakan-akan tcrbuar dari kembang peoni berwarna merah padam.

Tinggi badannya sedang-sedang saja, tubuhnya kekar berotot. Tampak jelas bahwa ia bukan sembarang orang. Orang-orang yang tak pernah bertemu dengan Shingen menganggapnya menakutkan, tapi sesungguhnya tidak terlalu sukar didekati. Justru sebaliknya, ia cukup ramah. Hanya dengan menatapnya, orang dapat merasakan ketenangan alami dan wibawa yang dimilikinya, sedangkan janggutnya memberikan kesan keras hati pada wajahnya. Namun ini memang ciri umum para laki-laki di Provinsi Kai.

Satu per satu para jendral bangkit dari tempat duduk masing-masing dan mohon diri. Mereka mengucapkan sepatah-dua kata perpisahan dan membungkuk di hadapan junjungan mereka di serambi. Rapat perang telah berlangsung sejak pagi, dan Shingen terus mengenakan baju tempur di bawah jubah merahnya, persis seperti di medan tempur. Ia tampak agak lelah akibat hawa panas dan diskusidiskusi berkepanjangan. Sesaat setelah rapat berakhir, ia keluar ke serambi. Para jendral telah pergi, tak ada orang lain, dan tak ada apa-apa di Bishamondo kecuali dinding-dinding berlapis emas yang berkilau-kilau dalam terpaan angin, serta kicauan burung-burung yang terdengar merdu di telinga.

Musim panas ini? Shingen memandang ke kejauhan, menatap gunung-gunung yang mengelilingi provinsinya. Sejak pertempurannya yang pertama, saat ia berusia lima belas tahun, kariernya dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi antara musim panas sampai musim gugur. Di sebuah provinsi pegunungan, musim dingin berarti mengurung diri di dalam dan memupuk kekuatan. Tentu saja pada waktu musim semi dan musim panas tiba, darah Shingen pun bergelora, dan ia menghadap dunia luar sambil berkata, "Hah, sekaranglah waktu untuk bertempur!" Bukan hanya Shingen, semua samurai Kai bersikap demikian. Para petani dan penduduk kota pun merasa waktunya telah tiba, seiring dengan matahari musim panas.

Tahun ini Shingen berusia lima puluh, dan ia merasakan penyesalan mendalam—perasaan tak sabar dengan tujuan hidupnya. Aku terlalu banyak bertempur demi pertempuran semata-mata, katanya dalam hati. Aku bisa membayangkan bahwa di Echigo, Uesugi Kenshin pun merasakan hal yang sama.

Ketika teringat lawan tangguhnya selama bertahuntahun, Shingen tak kuasa menahan senyum getir. Tapi senyum yang sama membuat hatinya terasa pedih ketika ia mengingat tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa lama lagi ia akan hidup?

Kai tertutup salju selama sepertiga tahun. Dan walaupun orang bisa bersilat lidah bahwa pusat dunia berada di tempat jauh, dan bahwa senjata-senjata terbaru sulit diperoleh, Shingen merasa ia telah menyia-nyiakan usianya dengan bertempur melawan Kenshin.

Matahari bersinar cerah, bayang-bayang di bawah dedaunan tampak gelap.

Selama bertahun-tahun Shingen menganggap dirinya prajurit terbaik di seluruh bagian timur Jepang. Kemampuan pasukannya, serta kemakmuran dan pemerintahan provinsinya memang dihormati di seluruh negeri.

Meski demikian, Kai telah terlempar ke pinggir. Sejak tahun lalu, ketika Nobunaga mendatangi Kyoto, Shingen merenungkan posisi Kai dan memandang dirinya dengan mata baru. Sasaran yang ditetapkan marga Takeda ternyata terlalu rendah.

Shingen tak ingin menghabiskan sisa usianya dengan imerbeut sepotong tanah dari provinsiprovinsi tetangga. Pada waktu Nobunaga dan Ieyasu masih anak ingusan dalam gendongan pengasuh masing-masing, Shingen sudah berangan-angan menyatukan seluruh negeri di bawah pemerintahannya yang bertangan besi. Ia menganggap provinsi pegunungan ini semata-mata sebagai tempat tinggal sementara, dan ambisinya begitu besar, sehingga ia sempat mengemukakan pemikiran tersebut kepada utusan-utusan dari ibu kota. Dan sesungguhnya pertempuran-pertempuran tanpa akhir dengan Echigo yang bertetangga hanya merupakan awal dari sekian banyak pertempuran yang akan menyusul. Tapi sebagian besar pertempuran berlangsung melawan Uesugi Kenshin, dan telah menghabiskan sebagian besar sumber daya provinsinya serta menyita banyak waktu.

Ketika Shingen menyadari ini, marga Takeda telah tertinggal di belakang Nobunaga dan Ieyasu. Sejak dulu ia menyebut Nobunaga "si anak ingusan dari Owari" dan Ieyasu "si bocah dari Okazaki". Setelah kupikir-pikir, ternyata aku telah melakukan kesalahan besar, ia mengakui dengan getir. Ketika hanya terlibat dalam pertempuran-pertempuran, ia hampir tak pernah menyesalkan apa-apa; tapi sekarang, pada waktu merenungkan kebijaksanaan diplomatik, ia menyadari bahwa ia telah gagal. Mengapa ia tidak menuju tenggara ketika marga Imagawa dimusnahkan? Dan mengapa ia diam saja melihat Ieyasu memperluas wilayahnya ke Suruga dan Totomi, padahal ia telah menyandera kerabat Ieyasu?

Kesalahan yang lebih besar lagi adalah menjalin hubungan persaudaraan dengan Nobunaga dengan menempuh perkawinan atas permintaan si Penguasa Owari. Jadi, Nobunaga telah memerangi musuhmusuhnya di barat dan selatan, sekaligus melangkah ke arah pusat permainan. Sementara itu, sandera dari marga Ieyasu telah memperoleh kesempatan dan berhasil melarikan diri, dan Ieyasu dan Nobunaga pun telah membentuk persekutuan. Kini semua orang dapat menilai upaya diplomatik yang dijalankan Shingen.

Tapi takkan kubiarkan mereka berkomplot terus. Aku akan memperlihatkan pada mereka bahwa aku Takeda Shingen dari Kai. Sandera dari marga Tokugawa berhasil meloloskan diri. Ini memutuskan hubunganku dengan Ieyasu. Alasan apa lagi yang kuperlukan?

Itulah yang dikatakannya dalam rapat perang. Setelah mendapat kabar bahwa Nobunaga berkemah di Nagashima dan rupanya terlibat pertempuran sengit, Shingen yang lihai melihat kesempatan terbuka lebar.

Amakasu Sanpei meminta salah seorang pembantu dekat Shingen mengumumkan bahwa ia telah kembali.

Namun, karena tak kunjung dipanggil, ia mengulangi permintaannya.

"Mungkin kedatanganku belum disampaikan pada Yang Mulia. Tolong beritahu beliau sekali lagi."

"Yang Mulia baru selesai mengadakan rapat dan tampak agak lelah," pembantu tadi menjawab.

Sanpei mendesak, "Justru sehubungan dengan rapat itu aku harus segera menghadap Yang Mulia. Maaf, tapi aku terpaksa berkeras agar beliau segera dihubungi."

Rupanya kali ini pesan Sanpei disampaikan pada Shingen, dan ia segera dipanggil. Salah satu penjaga mengawalnya sampai ke gerbang tengah Bishamondo. Di sana ia diserahkan pada penjaga benteng dalam dan dibawa ke hadapan Shingen.

Shingen sedang duduk di kursi yang ditempatkannya di serambi Bishamondo. Bayangan daun-daun muda dari sebatang pohon mengenai dirinya.

"Langsung saja, Sanpei. Kabar apa yang kaubawa untukku?" tanya Shingen.

"Pertama-tama, informasi yang hamba kirimkan sebelum ini telah berubah sama sekali. Jadi, untuk mencegah terjadinya hal yang tak diinginkan, hamba datang ke sini secepat mungkin."

"Apa!? Situasi di Nagashima telah berubah? Bagaimana maksudmu?"

"Orang-orang Oda sempat meninggalkan Gifu, seakan-akan hendak melakukan serangan besarbesaran terhadap Nagashima. Tapi begitu Nobunaga tiba di medan laga, dia segera memberikan perintah mundur. Pasukannya harus membayar mahal, tapi mereka mundur bagaikan laut di kala surut."

"Mereka mundur. Lalu?"

"Perintah itu rupanya tak terduga, bahkan oleh pasukannya sendiri. Para prajuritnya saling berbisik bahwa mereka tidak memahami jalan pikirannya, dan tidak sedikit yang tampak bingung sekali."

Orang itu memang pintar! pikir Shingen, berdecak dan menggigit-gigit bibir. Sebenarnya sudah ada rencana untuk memancing Ieyasu keluar dan menghancurkannya, sementara Nobunaga terjebak oleh para biksu-prajurit di Nagashima. Tapi semuanya kandas, dan sekarang aku harus berhati-hati, Shingen berkata pada diri sendiri. Kemudian, sambil menghadap ke ruang dalam kuil, ia tiba-tiba memanggil, "Nobufusa! Nobufusa!" Cepat-cepat ia memerintahkan agar para jendral diberitahu bahwa keputusan untuk menuju garis depan yang diambil dalam rapat tadi dibatalkan.

Baba Nobufusa, pengikut senior Shingen, tak sempat menanyakan alasannya. Disamping itu, para jendral yang baru saja pergi pasti akan bingung, karena menyangka takkan ada kesempatan lebih baik untuk menaklukkan marga Tokugawa. Namun Shingen sadar bahwa kesempatannya telah berlalu, dan ia tak mungkin berpegang pada rencana semula. Ia justru harus mengambil tindakan balasan dan mencari kesempatan berikut.

Setelah melepaskan baju tempur, ia kembali bertemu dengan Sanpei. Setelah menyuruh para pengikut-nya pergi, dengan cermat Shingen mendengarkan laporan terperinci mengenai situasi di Gifu, Ise, Okazaki, dan Hamamatsu. Belakangan, salah satu kecurigaan Sanpei ditepis oleh Shingen.

"Dalam perjalanan ke sini, hamba berpapasan dengan kafilah yang membawa sampang dalam jumlah besar untuk orang-orang Oda, sekutu marga Tokugawa. Mengapa tuanku mengirim sampang kepada marga oda?"

"Janji harus ditepati. Disamping itu, orang-orang Oda mungkin kurang waspada, dan karena iringiringan kuda itu harus melewati wilayah Tokugawa dulu, kupikir ini kesempatan baik untuk mempelajari jalan ke Mikawa. Tapi ternyata upaya ini pun sia-sia belaka." Sambil bergumam menyalahkan diri sendiri, ia melegakan diri di suatu tempat sepi.

Keberangkatan pasukan Kai yang hebat akhirnya ditunda, dan para prajurit melewatkan musim panas tanpa berbuat apa-apa. Tapi ketika musim gugur mendekat, desas-desus kembali terdengar di gununggunung sebelah barat dan bukit-bukit sebelah timur. Pada suatu hari yang menyenangkan di musim gugur, Shingen berkuda ke tepi Sungai Fuefuki. Hanya disertai segelintir pembantu, sosoknya yang pcnuh semangat, bermandikan cahaya matahari, tampak bangga akan ke-sempurnaan pemerintahannya. Pancaindranya menangkap fajar sebuah era baru. "Sekaranglah waktunya!" ia berkata dalam hati.

Tulisan pada papan di gerbang kuil berbunyi "Kentokuzan". Inilah kuil tempat tinggal Kaisen, orang yang mengajarkan rahasia-rahasia Zen pada Shingen. Shingen membalas sapaan para biksu dan pergi ke taman. Karena hanya bermaksud mampir sejenak, ia sengaja tidak memasuki kuil utama.

Tidak jauh dari sana ada pondok teh dengan dua ruangan saja. Air incngalir dari sebuah mata air. Daun-daun berwarna kuning jatuh ke pipa air yang melintang di tengah lumut berbau semerbak di taman batu.

"Yang Terhormat, aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal."

Kaisen mengangguk ketika mendengar kata-kata Shingen. "Jadi, tuanku telah membulatkan tekad?"

"Sudah cukup lama aku bersabar, menunggu kesempatan seperti ini, dan kurasa pada musim gugur ini keberuntungan telah beralih padaku."

"Hamba mendapat kabar bahwa pasukan Oda akan menyerbu ke arah utara," ujar Kaisen. "Kelihatannya Nobunaga mengerahkan pasukan yang bahkan lebih besar daripada tahun lalu untuk mengancurkan Gunung Hiei."

"Begitulah," balas Shingen. "Kesabaran pasti akan berbuah. Aku bahkan menerima beberapa pesan rahasia dari sang Shogun. Dalam pesan-pesan itu, sang Shogun mengatakan bahwa jika aku menyerang pasukan Oda dari belakang, orang-orang Asai dan Asakura akan bangkit pada waktu yang limn, dan dengan bantuan dari Gunung Hiei dan Nagashima, aku hanya perlu menendang Ieyasu untuk kemudian segera menuju ibu kota. Tapi apa pun yang kulakukan, Gifu akan tetap merupakan ancaman. Aku tak ingin mengulangi kesalahan Imagawa Yoshimoto, jadi aku menunggu saat yang tepat. Aku berencana untuk menyergap Gifu secara tak terduga, lalu melintasi Mikawa, Totomi, Owari, dan Mino bagaikan petir, dan kemudian menuju ibu kota. Kalau berhasil, kurasa aku akan menyambut Tahun Baru di Kyoto, Kuharap Yang Terhormat tetap dalam keadaan sehat." "Kalau itulah yang harus terjadi," Kaisen berkata

dengan muram.

Hampir dalam segala hal Shingen minta pendapat Kaisen, mulai dari urusan pemerintahan sampai persoalan militer, dan ia percaya penuh pada Kaisen. Ia sangat peka terhadap ekspresi yang kini ditangkapnya. "Rupanya Yang Terhormat kurang berkenan dengan rencanaku."

Kaisen mengangkat wajah. "Tak ada alasan bagi hamba untuk menentang-nya. Bagaimanapun, ini citacita tuanku. Yang menyebabkan hamba merasa tidak tenang adalah rencana-rencana licik Shogun Yoshiaki. Bukan tuanku saja yang menerima surat-surat rahasia berisi desakan untuk segera menuju ibu kota. Hamba diberitahu bahwa Yang Mulia Kenshin pun menerima surat-surat serupa. Dan rupanya sang Shogun juga mendesak Yang Mulia Mori Motonari untuk mengangkat senjata, meski setelah itu beliau mening-gal."

"Aku tahu. Tapi, lebih dari apa pun, aku harus pergi ke Kyoto untuk mewujudkan rencana-rencana besar yang kususun untuk negeri ini."

"Memang, hamba pun tak sanggup menerima kenyataan bahwa orang dengan kemampuan seperti tuanku menghabiskan hidupnya di Kai," ujar Kaisen. "Hamba kira tuanku akan menemui banyak kesulitan dalam perjalanan, namun pasukan di bawah komando tuanku belum terkalahkan. Tapi ingatlah, hanya tubuh tuanku yang betul-betul merupakan milik tuanku, jadi pergunakanlah keberadaan tuanku dengan bijak. Hanya ini pesan hamba."

Seorang biksu yang baru hendak mencedok air dari mata air yang jernih tiba-tiba menjatuhkan embernya, dan sambil berteriak-teriak tak jelas, berlari di antara pepohonan. Bunyi mirip rusa berlari terdengar bergema di taman. Biksu yang berusaha mengejar langkah yang kabur itu akhirnya bergegas kembali ke pondok teh.

"Cepat kumpulkan orang-orang! Laki-laki mencurigakan baru saja melarikan diri dari sini," katanya. Sebuah kuil bukanlah tempat bagi orang mencurigakan, dan ketika Kaisen menanyai si biksu, semuanya terungkap.

"Hamba belum melaporkan pada Yang Terhormat, tapi semalam seorang laki-laki mengetuk pintu gerbang. Dia mengenakan jubah biksu pengelana, sehingga kami mengizinkannya bermalam. Tentunya, kalau dia orang tak dikenal, kami takkan membiarkannya masuk. Tapi kami mengenalinya sebagai Watanabe Tenzo, yang sebelumnya tergabung dalam pasukan ninja Yang Mulia dan sering mengunjungi kuil ini bersama para pengikut Yang Mulia. Karena menyangka tak ada masalah, kami membiarkannya tinggal di sini.

"Tunggu dulu," ujar Kaisen. "Bukankah ini lebih incncurigakan lagi? Seorang anggota pasukan ninja menghilang di provinsi musuh selama bertahuntahun, tanpa pernah ada kabar darinya. Tiba-tiba dia mengetuk gerbang di tengah malam buta—berpakaian seperti biksu, lagi—dan meminta izin untuk bermalam. Kenapa kalian tidak lebih cermat waktu menanyai dia?"

"Kami memang bersalah, tuanku. Tapi dia memberitahu kami bahwa dia ditahan ketika memata-matai orang-orang Oda. Menurut pengakuannya, dia menghabiskan beberapa tahun di penjara, tapi kemudian berhasil melarikan diri, dan kembali ke Kai dengan menyamar. Tadi pagi dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke Kofu untuk menemui Amakasu Sanpei, atasannya dalam pasukan ninja. Kami betul-betul termakan oleh ucapannya, tapi waktu hamba hendak mengambil ember di mata air, hamba melihat bajingan itu di bawah jendela pondok teh, menempel seperti kadal."

"Apa?! Dia menguping percakapanku dengan Yang Mulia?"

"Waktu mendengar langkah hamba dan berpaling ke arah hamba, dia kelihatan kaget. Kemudian dia cepat-cepat berjalan ke arah pekarangan belakang, sehingga hamba memanggilnya, menyuruhnya berhenti. Dia tidak memedulikan seruan hamba, malah mempercepat langkahnya. Lalu, ketika hamba berteriak, 'Mata-mata!' dia berbalik dan mendelik ke arah hamba."

"Dia berhasil lolos?"

"Hamba berteriak sekuat tenaga, tapi semua pengikut Yang Mulia sedang makan siang. Hamba tidak berhasil menemukan bantuan, dan malangnya dia terlalu cepat untuk hamba."

Si biksu dilirik pun tidak oleh Shingen, yang mendengarkan sambil membisu. Tapi ketika Shingen beradu pandang dengan Kaisen, ia berkata dengan tenang, "Amakasu Sanpei ikut dalam rombonganku. Biar dia saja yang mengejar orang itu. Panggil dia ke sini."

Sanpei menyembah di pekarangan, lalu sambil menatap Shingen yang masih duduk di pondok teh, menanyakan tugas yang akan diberikan padanya. "Beberapa tahun lalu ada seorang laki-laki bernama Watanabe Tenzo di bawah komandomu, bukan?"

Sanpei berpikir sejenak, lalu berkata, "Hamba ingat. Dia lahir di Huchisuka di Owari. Pamannya yang bernama Koroku penah memesan sepucuk senapan, tapi Tenzo mencurinya dan lari ke sini. Dia menyerahkan senapan itu sebagai hadiah kepada tuanku, dan diberi upah selama beberapa tahun."

"Aku ingat soal senapan itu, tapi rupanya orang Owari tetap orang Owari, dan sekarang dia bekerja untuk marga Oda. Kejar dia dan penggal kepalanya."

"Kejar dia?"

"Beraugkatlah setelah kau mendapat penjelasan dari biksu itu. Kau harus segera mengejarnya, supaya dia tidak bisa lolos."

Di sebelah barat Nirasaki, sebuah jalan setapak menyusuri kaki pegunungan di sekitar Komagatake dan Senjo, melintasi Takato di Ina.

"Hei!"

Suara manusia jarang terdengar di pegunungan ini. Si biksu berhenti dan menoleh, tapi ternyata tak ada apa-apa selain gema, sehingga ia kembali mengayunkan langkah.

"Hei, biksu!" Kali ini suaranya lebih dekat. Dan karena jelas bahwa dirinya yang dimaksud, si biksu berhenti sejenak sambil memegang pinggiran topinya. Dalam sekejap seorang laki-laki lain telah mendekat. Napasnya tersengal-sengal. Ketika menghampiri si biksu, laki-laki itu tersenyum sinis. "Ini baru kejutan, Watanabe Tenzo. Kapan kau tiba di Kai?"

Si biksu tampak kaget, tapi segera menenangkan diri dan tertawa kecil.

"Sanpei! Kukira siapa. Hmm, sudah lama kita tak berjumpa. Kelihatannya kau sehat-sehat saja, seperti biasa."

Sindiran dibalas sindiran. Kedua-duanya pernah bertugas sebagai mata-mata di provinsi musuh. Tanpa keberanian dan ketenangan seperti ini, mereka takkan sanggup menjalankan tugas.

"Terima kasih atas pujianmu." Sanpei pun tampak tenang-tenang saja. Hanya orang awam saja yang banyak cincong jika memergoki mata-mata musuh di daerahnya sendiri. Tapi, karena melihatnya dari sudut pandang seorang pencuri, Sanpei tahu bahwa di siang hari bolong pun ada pencuri yang berkeliaran, sehingga ia tidak merasa heran.

"Dua malam yang lalu kau mampir di Kuil Eirin, dan kemarin kau menguping pembicaraan rahasia antara Kepala Biara Kaisen dan Yang Mulia Shingen. Waktu kau dipergoki salah satu biksu, kau kabur secepat mungkin. Memang begitu, bukan, Tenzo?"

"Ya, kau pun ada di sana?" "Sayangnya."

"Hanya itulah yang tidak kuketahui." "Berarti kau bernasib buruk."

Tenzo berlagak tak peduli, seakan-akan urusan ini tidak menyangkut dirinya. "Kupikir Amakasu Sanpei, si ninja Takeda, masih memata-matai orang-orang Oda di Ise atau Gifu, tapi ternyata kau sudah kembali. Kau patut mendapat pujian, Sanpei, kau selalu cepat sekali."

"Simpanlah pujian-pujianmu. Kau boleh menyanjungku sesuka hati, tapi setelah aku menemukanmu, aku tak bisa membiarkanmu kembali dalam keadaan hidup. Kaupikir kau bisa melewati perbatasan sebagai orang bernyawa?"

"Aku belum berniat mati. Tapi, Sanpei, bayangbayang kematian .sudah melintas di wajahmu. Tentunya kau tidak mengejarku karena ingin menyambut maut."

"Aku datang untuk mengambil kepalamu, atas perintah majikanku. Dan itulah yang akan kulakukan."

"Kepala siapa?" "Kepalamu."

Begitu Sanpei mencabut pedang panjang, Watanabe Tenzo memasang kuda-kuda. Tombaknya siap menangkis serangan. Jarak antara kedua laki-laki itu agak jauh. Mereka berdiri saling melotot. Napas mereka bertambah ccpat dan wajah mereka tampak pucat kelabu, seperti orang yang berada di ambang maur. Kemudian sesuatu terlintas di benak Sanpei, dan pedangnya dimasukkannya kembali.

"Tenzo, turunkanlah tombakmu." "Kenapa? Kau takut?"

"Tidak, aku tidak takut, tapi bukankah kita memiliki kewajiban yang sama? Tak ada salahnya seorang laki-laki gugur ketika menjalankan tugas, tapi saling membunuh seperti ini tidak bermanfaat sama sekali. Mengapa tidak kaulepaskan jubah biksumu dan kauserahkan padaku? Kalau kau bcrsedia, aku akan membawanya kembali dan mengatakan bahwa aku telah membunuhmu."

Di antara ninja terjalin rasa saling percaya yang tidak lazim bagi prajurit-prajurit lain. Mereka memiliki pandangan hidup berbeda, yang timbul ukibat kekhususan tugas-tugas mereka. Bagi para samurai pada umumnya, tak ada kewajiban yang lebih penting selain dari kesediaan untuk mati dcmi majikan. Namun jalan pikiran para ninja berbeda. Mereka sangat menyayangi nyawa. Mereka harus kembali dalam keadaan hidup, tak peduli aib atau penderitaan yang menimpa mereka. Sebab, walaupun seseorang sanggup menyusup ke wilayah musuh dan berhasil mendapatkan keterangan berharga, informasi itu tak berguna jika ia tak dapat kembali ke provinsi asalnya dalam keadaan hidup. Maka dari itu, kematian seorang ninja di wilayah musuh tak lebih dari kematian seekor anjing, tak pengaruh berapa hebatnya ia berjuang sebelum menemui ajal. Tak peduli betapa taatnya orang tersebut pada tata cara samurai, jika kematiannya tidak bermanfaat bagi majikannya, ia mati sebagai seekor anjing. Jadi, meski ninja itu mungkin dianggap sebagai samurai bejat yang hanya ingin menyelamatkan nyawa sendiri, ia memang berkewajiban berbuat demikian, dengan menempuh segala cara.

Baik Sanpei maupun Tenzo berpegang teguh pada prinsip-prinsip itu, yang telah mendarah daging dalam diri mereka. Jadi, ketika Sanpei mengatakan bahwa saling membunuh tak bermanfaat, lalu memasukkan kembali pedangnya, Tenzo pun segera menarik senjatanya.

"Aku tidak berminat menjadi lawanmu dengan mempertaruhkan kepalaku. Syukurlah kalau kita bisa menyelesaikan urusan ini dengan selembar jubah biksu." Ia merobek sepotong kain dari jubah yang dipakainya, lalu melemparkannya ke depan kaki Sanpei. Sanpei memungutnya.

"Ini sudah cukup. Kalau kubawa ini sebagai bukti, dan berkata bahwa Watanabe Tenzo telah kubunuh, urusannya selesai. Yang Mulia takkan berkeras melihat kepala seorang ninja biasa."

"Ini pemecahan masalah untuk kota berdua. Nah, Sanpei, aku akan pergi sekarang. Sebenarnya aku ingin mengatakan 'Sampai jumpa lagi,' tapi aku berdoa agar itu takkan terjadi, sebab aku tahu itu akan merupakan pertemuan kita yang terakhir." Kemudian Tenzo segera berlalu, seakan-akan mendadak ngeri pada lawannya, dan gembira karena ia berhasil menyelamatkan nyawa.

Ketika Tenzo mulai menuruni lereng bukit, Sanpei meraih senapan dan sumbu yang sebelumnya ia sembunyikan di rumput, lalu mengikuti lawannya. Letusan senapan terdengar menggema di pegunungan. Sanpei langsung melemparkan senjatanya dan melompat bagaikan kijang, menuruni bukit, bermaksud menghabisi musuhnya yang telah roboh.

Watanabe Tenzo jatuh telentang. Tapi pada saat Sanpei berdiri di atasnya dan mengarahkan ujung pedang ke dadanya, Tenzo menangkap dan menarik kaki Sanpei, mengempaskannya dengan kekuatan luar biasa.

Kini Tenzo memperlihatkan wataknya yang liar. Sementara Sanpei tergeletak tak sadarkan diri, Tenzo melompat berdiri seperti serigala, meraih sebongkah batu dengan kedua tangan, dan menghantamkannya ke wajah Sanpei. Bunyi benturannya menyerupai bunyi buah delima saat pecah.

Kemudian Tenzo lenyap.

***

Hideyoshi, yang kini komandan Benteng Yokoyama, melewatkan musim panas di pegunungan berhawa sejuk di bagian utara Omi. Menurut para prajurit, bersantai lebih berat daripada bertempur di medan laga. Disiplin tak boleh diabaikan, walau hanya sehari. Pasukan Hideyoshi telah beristirahat selama seratus hari.

Namun, pada awal bulan kesembilan, perintah untuk menuju garis depan diberikan, dan gerbanggerbang Benteng Yokoyama dibuka. Sejak meninggalkan benteng sampai tiba di tepi Danau Biwa, para prajurit belum mempunyai bayangan di mana mereka akan bertempur.

Tiga kapal besar berlabuh di danau. Ketiganya dibuat selama Tahun Baru, dan masih berbau kayu yang baru digergaji. Baru setelah kuda-kuda dan orangorang naik ke kapal, para prajurit diberitahu bahwa tujuan mereka adalah Honganji atau Gunung Hiei.

Setelah melintasi danau besar dan sampai di Sakamoto, anak buah Hideyoshi tampak terkejut melihat pasukan di bawah Nobunaga dan jendraljendralnya telah tiba lebih dulu. Di kaki Gunung Hiei, panji-panji Oda membentang sejauh mata memandang.

Setelah mengakhiri pengepungan Gunung Hiei dan mundur ke Gifu pada musim dingin tahun lalu, Nobunaga memberi perintah untuk membuat kapal pengangkut pasukan yang setiap saat siap menyeberangi dunia. Baru sekarang para prajurit memahami jalan pikiran serta ucapannya ketika ia menghentikan serangan terhadap Nagashima dan kembali ke Gifu.

Api pemberontakan yang berkobar di seantero negeri hanyalah bayangan api sesungguhnya—sumber segala kebusukan—yang berakar di Gunung Hiei. Sekali lagi Nobunaga mengepung gunung itu dengan pasukan besar. Wajahnya memancarkan tekad baru, dan ia bicara cukup keras, sehingga suaranya terdengar dari dalam petak bertirai yang merupakan markasnya sampai ke barak-barak, seakan-akan tertuju pada pihak musuh.

"Apa? Maksud kalian, kalian tidak mau menggunakan api karena kebakaran mungkin menyebar ke biara-biara? Tahukah kalian apa itu perang? Kalian semua berpangkat jendral, tapi itu pun tidak kalian pahami? Bagaimana kalian bisa sampai sejauh ini?"

Itulah yang terdengar dari luar. Di dalam petak, Nobunaga sedang duduk, dikelilingi jendral-jendralnya yang paling berpengalaman. Semuanya menundukkan kepala. Nobunaga menyerupai seorang ayah yang tengah memarahi anak-anaknya. Walaupun ia junjungan mereka, kritik semacam ini telah melewati batas. Paling tidak, itulah yang terbaca pada wajah para jendral ketika mereka mengangkat kepala dan memberanikan diri menantang pandangan Nobunaga. "Sikap tuanku tak berperasaan. Kami bukannya tidak paham, tapi kalau tuanku memberikan perintah keterlaluan—yaitu membakar Gunung Hiei, sebuah tempat yang selama berabad-abad dihormati sebagai tempat suci untuk memelihara kedamaian dan ketenteraman seluruh negeri—kami sebagai pengikut tuanku memiliki alasan kuat untuk tidak menaati

perintah itu," ujar Sakuma Nobumori.

Ekspresi bertindak-atau-mati terlihat jelas di wajah Nobumori. Seandainya ia belum siap mati di tempat, tak mungkin ia berkata demikian pada Nobunaga. Apalagi mengingat roman muka yang ditampilkannya. Meski sehari-hari pun sukar untuk berbicara terus terang di hadapan Nobunaga, hari ini ia menyerupai roh jahat yang mengacungkan pedang dengan ganas. "Diam! Diam!" Nobunaga mengaum, menghentikan

Takei Sekian dan Akechi Mitsuhide yang hendak mendukung Nobumori. "Tidakkah pemberontakanpemberontakan serta keadaan yang memalukan ini menimbulkan amarah dalam diri kalian? Para biksu telah melanggar ajaran sang Buddha, menghasut rakyat, menimbun kekayaan dan senjata, serta menyebarkan desas-desus. Mereka tak lebih dari gerombolan panghasut yang mencari keuntungan sendiri dengan berlindung di balik tameng agama."

"Kami tidak keberatan menjatuhkan hukuman atas pelanggaran-pelanggaran ini. Tetapi waktu satu hari tidak mungkin cukup untuk memperbarui agama yang diyakini secara sungguh-sungguh oleh semua orang dan telah diberi hak-hak istimewa," Nobumori berpendapat.

"Apa gunanya berakal sehat?" Nobunaga meledak. "Selama delapan ratus tahun semua orang menggunakan akal sehat. Justru karena itulah tak pernah uda yang berhasil mengubah keadaan, walaupun rakyat berkeluh kesah mengenai kelaliman dan kemerosotan akhlak para penegak agama. Bahkan Yang Mulia Tenno Shirakawa pernah berkata bahwa ada tiga hal yang berada di luar kekuasaannya: dadu, air Sungai Kamo, dan para biksu-prajurit di Gunung Hiei. Apakah gunung ini berperan sebagai pemelihara kedamaian dan ketenteraman selama perang saudara berlangsung? Apakah gunung ini memberikan ketenangan dan ketabahan pada rakyat jelata?" Nobunaga tiba-tiba melambaikan tangan kanannya ke samping. "Selama berabad-abad, para biksu hanya melindungi hak-hak istimewa mereka pada waktu terjadi bencana. Dengan uang yang disumbangkan oleh massa yang mempercayai mereka, mereka membangun tembok-tembok batu dan gerbanggerbang yang cocok untuk sebuah benteng, dan di dalamnya mereka menimbun tombak dan senapan. Lebih buruk lagi, para biksu melanggar sumpah mereka secara terang-terangan dengan makan daging dan bersetubuh. Belum lagi soal kemerosotan ilmu keagamaan. Apakah kita berdosa kalau kita membakar semuanya sampai hangus?"

Nobumori menjawab, "Setiap kata yang diucapkan tuanku mengandung kebenaran, namun kami harus mencegah tuanku. Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum berhasil mencegah tuanku, biarpun harus mengorbankan nyawa." Secara serempak ketiga jendral menyembah, lalu diam tak bergerak di hadapan Nobunaga.

Gunung Hiei adalah markas besar sekte Tendai, sedangkan Honganji kubu utama sekte Ikko. Masingmasing menjuluki yang lain "sekte yang satu lagi" dalam hal doktrin, dan mereka hanya dipersatukan oleh perlawanan terhadap Nobunaga. Nobunaga tak sempat beristirahat sejenak pun, akibat ulah orangorang berjubah biksu yang tinggal di Gunung Hiei. Mereka berkomplot dengan marga Asai dan Asakura serta dengan sang Shogun, membantu musuh-musuh yang dikalahkan Nobunaga, mengirim pesan rahasia berisi permohonan bantuan sampai ke Echigo dan Kai, dan bahkan menyulut pemberontakan petani di Owari.

Ketiga jendral menyadari, tanpa menghancurkan kubu para biksu-prajurit yang konon tak dapat ditaklukkan, pasukan Oda akan terhalang di setiap tikungan, dan Nobunaga takkan sanggup mewujudkan cita-citanya.

Tapi begitu mendirikan perkemahan, Nobunaga memberikan perintah yang sukar dipercaya, "Serang gunung itu dan bakar semuanya sampai hangus, mulai dari tempat persembahan, gedung utama, biara-biara, serta semua naskah kuno dan barang keramat." Tindakan itu saja sudah keras, namun Nobunaga melanjutkan, "Kalau seseorang mengenakan jubah biksu, dia tidak boleh lolos. Jangan bedakan antara orang bijak dan pandir, bangsawan dan biksu biasa. Jangan beri ampun pada perempuan dan anak-anak. Seandainya ada orang berpakaian biasa, kalau dia bersembunyi di gunung dan lari karena kebakaran, kalian boleh menganggapnya sebagai bagian penyakit yang harus diberantas. Bantai semuanya dan bakar gunung itu sampai tak ada tanda kehidupan tersisa di reruntuhannya!"

Para raksasa dan roh-roh jahat penghuni neraka yang haus darah pun takkan bertindak seperti ini. Para jendral yang mendengar perintah Nobunaga tampak gelisah.

"Sudah gilakah dia?" Takei Sekian bergumam perlahan, tapi cukup keras, sehingga terdengar oleh jendral-jendral lain. Namun hanya Sakuma Nobumori, Takei Sekian, dan Akechi Mitsuhide yang berani mengutarakan pendapat mereka di depan Nobunaga.

Sebelum menghadap junjungan mereka, ketiganya telah berikrar, "Kita mungkin akan dipaksa melakukan seppuku satu per satu karena menentang perintah Yang Mulia, tapi kita takkan bisa membiarkan beliau melaksanakan serangan api."

Nobunaga bisa saja mengepung dan merebut Gunung Hiei. Tapi perlukah mereka melakukan pembantaian dengan serangan api? Jika mereka nekat menempuh langkah keji ini, mereka khawatir rakyat akan berbalik menentang marga Oda. Semua musuh Nobunaga akan bersukacita, dan mereka akan memanfaatkan serangan itu untuk memburuk-burukkan namanya dalam setiap kesempatan. Tindakan itu hanya akan menimbulkan reputasi buruk, yang selama berabad-abad ditakuti dan dihindari semua orang.

"Kami takkan melakukan pertempuran yang akan membawa kehancuran bagi tuanku," ketiga jendral berkata dengan suara bergetar, mewakili semua yang hadir.

Namun Nobunaga telah membulatkan tekad, dan tak ada tanda ia akan mempertimbangkan ucapan ketiga pengikutnya. Bahkan sebaliknya, sikapnya semakin keras. "Kalian boleh mengundurkan diri. Jangan berkata apa-apa lagi," ia memberitahu mereka. "Kalau kalian menolak menjalankan perintah ini, aku akan memerintahkan orang lain. Dan kalau para jendral lain dan para prajurit tidak menaatiku, aku akan melakukannya seorang diri!"

"Perlukah kita melakukan kekejian seperti ini?" Nobumori kembali bertanya. "Menurut hamba, jendral sejati seharusnya sanggup menaklukkan Gunung Hiei tanpa pertumpahan darah."

"Aku muak dengan 'akal sehat' kalian! Lihatlah apa yang dicapai selama delapan ratus tahun berakal sehat. Kalau akar yang lama tidak dibakar habis, tunas yang baru takkan bisa tumbuh. Kalian terus membicarakan gunung ini, tapi aku tidak sekadar memikirkan Gunung Hiei. Membakar Gunung Hiei akan menyelamatkan agama di tempat-tempat lain. Kalau dengan membantai semua laki-laki, perempuan, dan anakanak di Gunung Hiei aku dapat membuka mata orang-orang yang lalai di provinsi-provinsi lain, berarti tindakanku tidak sia-sia. Neraka yang paling panas dan paling dalam tak berarti apa-apa bagiku. Siapa lagi yang sanggup melakukan ini selain aku? Aku mendapat amanat para dewa untuk melakukannya."

Ketiga jendral, yang percaya bahwa mereka mengenai kehebatan Nobunaga lebih baik daripada siapa pun, merasa terkejut mendengar pernyataan ini. Apakah junjungan mereka dikuasai roh-roh jahat?

Takei Sekian memohon, "Tidak, tuanku. Tak pengaruh perintah apa yang tuanku berikan pada kami, sebagai pengikut tuanku kami tak dapat berbuat apa-apa selain meminta agar tuanku ddak meneruskan rencana ini. Tuanku tak dapat membakar sebuah tempat yang dianggap suci sejak zaman..."

"Cukup! Diam! Dalam hati aku telah menerima titah sang Tenno untuk menghanguskan tempat ini. Aku memerintahkan pembantaian ini karena kasih sayang sang Pendiri, Dengyo, tersimpan di hatiku. Tidak mengertikah kalian?"

"Tidak, tuanku."

"Kalau begitu, menyingkirlah! Jangan halang-halangi aku."

"Hamba akan terus menentang, sampai tuanku membunuh hamba."

"Terkutuklah kau! Keluar!"

"Kenapa hamba harus pergi? Daripada menyaksikan kegilaan junjungan hamba dan kehancuran marga beliau semasa hamba masih hidup, lebih baik hamba berusaha mencegahnya dengan kematian hamba. Lihadah contoh-contoh di masa lampau. Tak seorang pun yang membakar kuil atau tempat persembahan Buddha, atau membantai biksu, menemui ajal dengan tenang."

"Aku berbeda. Aku tidak bertempur demi kepentingan sendiri. Dalam pertempuran ini, peranku adalah menghancurkan kebusukan lama dan membentuk dunia baru. Aku tidak tahu apakah ini keinginan para dewa, keinginan rakyat, atau panggilan zaman. Aku hanya tahu bahwa aku akan menjalankan perintah yang kuterima. Kalian semua takut, dan pandangan kalian terbatas. Seruan kalian adalah seruan orang berpandangan picik. Keuntungan dan kerugian yang kalian bicarakan hanya menyangkut aku sebagai individu. Kalau aku bisa melindungi provinsiprovinsi dan menyelamatkan nyawa yang tak terhitung jumlahnya dengan mengubah Gunung Hiei menjadi neraka, aku telah mencapai keberhasilan besar."

Sekian belum berhenti. "Rakyat akan memandangnya sebagai perbuatan iblis. Mereka akan bersukacita jika tuanku memperlihatkan perikemanusiaan. Jika tuanku terlalu keras, mereka takkan pernah menerima tuanku—biarpun tuanku didorong oleh cinta kasih yang mendalam."

"Kalau kita menahan diri karena pendapat umum, kita tak bisa bertindak sama sekali. Para pahlawan masa lampau mencemaskan pendapat umum, dan membiarkan kebusukan ini merongrong generasigenerasi berikut. Tapi aku akan menunjukkan cara memberantasnya untuk selama-lamanya. Dan kalau aku melakukannya, aku harus melakukannya sampai tuntas. Kalau tidak, percuma saja angkat senjata dan menuju pusat medan tempur."

Amukan badai pun diselingi masa tenang. Suara Nobunaga agak melembut. Ketiga pengikutnya menundukkan kepala.

Hideyoshi baru tiba setelah menyeberangi danau. Perdebatan sedang berlangsung seru ketika ia menghampiri markas besar, sehingga ia menunggu di luar. Kini ia menyembulkan kepalanya melalui celah tirai, dan minta maaf karena mengganggu.

Seketika semua orang memandang ke arahnya. Ekspresi Nobunaga menyerupai api yang sedang mengamuk, sedangkan wajah ketiga jendral yang telah siap mati tampak membeku, seakan-akan tertutup lapisan es.

"Hamba baru tiba naik kapal," ujar Hideyoshi dengan riang. "Danau Biwa di musim gugur luar biasa indah. Tempat-tempat seperti Pulau Chikubu diselubungi daun-daun berwarna merah. Rasanya sama sekali bukan seperti perjalanan menuju medan perang, dan hamba bahkan sempat menyusun sajak. Barangkali hamba akan membacakannya seusai pertempuran."

Melangkah masuk, Hideyoshi bercerita mengenai apa saja yang terlintas di kepalanya. Pada wajahnya tak ada keseriusan yang sesaat lalu masih mencengkeram Nobunaga dan para pengikutnya. Sepertinya Hideyoshi tidak memiliki beban sama sekali.

"Ada apa?" ia bertanya. Pandangannya bolak-balik antara Nobunaga dan ketiga jendral yang diam seribu bahasa. Ucapannya terasa menyejukkan, seperti semilir angin musim semi. "Ah, hamba sempat mendengar pembicaraan tuanku dari luar. Itukah sebabnya tuanku membisu? Karena menyayangi junjungan mereka, para pengikut bertekad memberi peringatan dan rela mati untuk itu. Karena memahami perasaan para pengikutnya, sang junjungan tak sampai hati menebas mereka. Ya, kelihatannya memang ada masalah. Bisa dibilang di kedua belah pihak ada segi baik dan buruk."

Nobunaga menoleh secara tiba-tiba. "Hideyoshi, kau datang pada saat yang tepat. Kalau kau sempat mendengar hampir seluruh percakapan kami, kau tentu memahami apa yang tersimpan dalam hatiku dan apa yang hendak dikemukakan oleh mereka bertiga."

"Hamba memahaminya, tuanku."

"Mungkinkah kau menaati perintahku? Kaupikir langkahku keliru?"

"Hamba tidak berpikir sama sekali. Ah, tunggu dulu. Kalau tidak salah, perintah ini didasarkan atas saran yang ditulis dan diserahkan oleh hamba pada tuanku beberapa waktu lalu."

"Apa? Kapan kau memberi usulan seperti ini?" "Tuanku tentu tak ingat lagi. Kalau tidak salah,

pada musim semi yang lalu." Kemudian Hideyoshi berpaling pada ketiga jendral dan berkata, "Aku hampir menangis ketika berdiri di luar dan mendengar peringatan kalian yang tulus. Singkat kata, yang paling kalian khawatirkan adalah bahwa seluruh negeri akan berbalik menentang Yang Mulia jika kita melancarkan serangan api terhadap Gunung Hiei."

"Tepat sekali. Seandainya kita melakukan kekejian semacam ini," ujar Sekian, "baik golongan samurai maupun rakyat jelata akan menyesalkannya. Musuh musuh kita akan memanfaatkannya untuk memburukkan nama Yang Mulia untuk selama-lamanya." "Tapi sesungguhnya akulah yang menyarankan bahwa jika kita menyerang Gunung Hiei, kita tidak boleh setengah-setengah. Jadi, gagasan ini bukan berasal dari Yang Mulia. Nah, kalau begitu, akulah yang akan menanggung kutukan atau reputasi buruk yang mungkin timbul."

"Betapa pongahnya!" Nobumori berseru. "Mengapa rakyat harus menyalahkan orang seperti kau? Apa pun yang dilakukan pasukan Oda merupakan tanggung jawab pimpinan tertinggi."

"Tentu saja. Tapi bukankah kalian semua bersedia membantuku? Bukankah kita bisa mengumumkan pada dunia bahwa kita berempat terlalu bersemangat melaksanakan perintah Yang Mulia, sehingga kita melangkah terlalu jauh? Kata orang, bukti kesetiaan yang paling kuat adalah memberikan peringatan, biarpun seseorang terpaksa merelakan nyawa karenanya. Tapi menurutku memberi peringatan dan bersedia mati belum cukup untuk membuktikan diri sebagai pengikut setia. Menurutku, sementara kita masih hidup, kitalah yang harus mengambil alih tanggung jawab atas segala reputasi buruk, penganiayaan, dan tuntutan. Setujukah kalian?"

Nobunaga mendengarkan sambil membisu, tanpa memberi isyarat setuju atau tidak.

Sekian-lah yang pertama menanggapi usulan Hideyoshi. "Hideyoshi, aku sependapat denganmu." Ia menatap Mitsuhide dan Nobumori. Mereka pun tidak keberatan. Dan mereka bersumpah untuk menyerang Gunung Hiei dengan api, lalu mengumumkan bahwa tindakan mereka melampaui perintah Nobunaga.

"Rencana gemilang." Sekian memuji Hideyoshi dengan nada mengungkapkan kekagumannya, tapi Nobunaga tidak kelihatan gembira. Justru sebaliknya, tanpa mengatakan apa-apa, wajahnya memperlihatkan bahwa usulan Hideyoshi bukan sesuatu yang patut disanjung seperti itu.

Pendapat yang sama juga terbaca di wajah Mitsuhide. Meskipun Mitsuhide memahami saran Hideyoshi, dalam hati ia merasa ucapan orang yang baru datang itu telah mengurangi arti peringatan yang diberikannya. Ia merasa iri. Tapi sebagai orang cerdas ia segera merasa malu atas sikapnya itu. Ketika bermawas diri, ia tiba pada kesimpulan bahwa orang yang bersedia mati karena menentang perintah junjungannya tidak boleh berpikiran dangkal, meski hanya sejenak.

Ketiga jendral merasa puas dengan rencana Hideyoshi, tapi Nobunaga bersikap tak peduli. Dan yang jelas, ia tidak mengubah tujuannya semula. Nobunaga memanggil para komandannya satu per satu.

"Malam ini, begitu sangkakala berbunyi, kita akan melancarkan serangan besar-besaran!" Ia sendiri mengulangi perintah yang sebelumnya telah ia berikan pada ketiga jendral. Rupanya tak sedikit perwira yang, bersama Sekian, Mitsuhide, dan Nobumori, menentang serangan api, tapi karena ketiga orang itu telah menyetujui perintah Nobunaga, yang lain pun bersikap sama dan pergi tanpa membantah.

Beberapa kurir meninggalkan markas besar dan memacu kuda masing-masing untuk menyampaikan perintah itu pada pasukan garis depan di kaki gunung. Warna-warni awan senja tampak cemerlang di belakang Shimeigadake ketika matahari tenggelam.

Berkas-berkas cahaya kemerahan menyapu permukaan danau yang berombak.

"Lihat!" Nobunaga berdiri di puncak bukit dan berkata pada orang-orang di sekitarnya, sambil memandang awan di sekeliling Gunung Hiei. "Dewadewa beserta kita! Angin bertiup kencang. Ini cuaca paling baik untuk serangan api!"

Pakaian mereka berdesir terkena embusan angin musim gugur yang dingin. Nobunaga hanya disertai lima atau enam pengikut, dan pada saat itu seorang laki-laki mengintip ke balik tirai, seakan-akan mencari seseorang.

Sekian menghardik orang itu, "Ada perlu apa? Yang Mulia ada di sini."

Samurai itu segera menghampirinya dan berlutut. "Bukan, hamba tidak membawa berita untuk Yang Mulia. Apakah Jendral Hideyoshi ada di sini?"

Ketika Hideyoshi muncul, si samurai berkata, "Seorang laki-laki berpakaian biksu baru saja memasuki perkemahan. Dia mengaku bernama Watanabe Tenzo, salah satu pengikut tuanku, dan dia baru kembali dari Kai. Sepertinya dia membawa laporan yang sangat penting, sehingga hamba bergegas ke sini."

Walaupun Nobunaga berdiri agak jauh dari Hideyoshi, ia tiba-tiba berpaling ke arahnya.

"Hideyoshi, orang yang baru kembali dari Kai itu termasuk pengikutmu?"

"Rasanya tuanku pun mengenalnya. Watanabe Tenzo, keponakan Hikoemon."

"Tenzo? Hmm, coba kita dengar apakah dia membawa berita baru," ujar Nobunaga. "Panggil dia ke sini. Aku juga ingin mendengar laporannya."

Tenzo berlutut di hadapan Hideyoshi dan Nobunaga, lalu menceritakan pcmbicaraan yang didengarnya di Kuil Eirin.

Nobunaga menggerutu. Ini ancaman berbahaya dari belakang. Seperti halnya serangan terhadap Gunung Hiei tahun lalu, bahayanya belum berkurang sedikit pun. Justru sebaliknya, baik posisinya terhadap pasukan Takeda maupun keadaan di daerah Nagashima telah memburuk. Namun dalam serbuan tahun lalu pasukan Asai bergabung dengan pasukan Asakura, dan mundur ke Gunung Hiei. Kali ini Nobunaga tidak memberi kesempatan kepada musuhmusuhnya, jadi pasukan yang kini dihadapinya tidak begitu kuat. Hanya saja selalu ada ancaman dari belakang.

"Kurasa orang-orang Takeda telah mengirim pesan ke Gunung Hiei, jadi para biksu pasti berkeyakinan bahwa pasukan kita akan berputar dan kembali pulang," ujar Nobunaga, lalu menyuruh Tenzo pergi. "Ini berkah dari para dewa," katanya. Ia tertawa puas. "Mana yang lebih cepat—pasukan Takeda yang melintasi Pegunugan Kai serta menyerbu ke Owari dan Mino, atau pasukan Oda yang kembali setelah menghancurkan Gunung Hiei dan merebut ibu kota serta Settsu? Sepertinya kita diiming-imingi insentif tambahan dalam persaingan ini. Semuanya kembali ke pos masing-masing!"

Nobunaga menghilang di balik tirai. Asap membubung dari perkemahan raksasa yang mengitari bukitbukit di kaki Gunung Hiei. Ketika malam tiba, angin bertambah kencang. Genta yang biasanya terdengar dari Kuil Mii kini membisu.

Bunyi sangkakala berkumandang di puncak bukit, disambut teriakan perang para prajurit. Pembunuhan besar-besaran berlangsung mulai malam itu sampai fajar keesokan harinya. Para prajurit Oda mendobrak rintangan-rintangan yang didirikan para biksu-prajurit di jalan-jalan setapak menuju puncak.

Asap hitam memenuhi lembah. Api melahap seluruh gunung. Dari bukit-bukit di kaki gunung, lidah api terlihat di mana-mana. Danau Biwa pun tampak berpijar, memantulkan cahaya merah. Lokasi kebakaran terbesar menunjukkan bahwa kuil utama telah menyala, begitu juga ketujuh tempat persembahan, gedung utama, menara genta, biara-biara, pagoda tempat penyimpanan harta, pagoda besar, dan semua kuil yang lebih kecil. Ketika fajar menyingsing keesokan harinya, tak satu pun kuil yang masih berdiri.

Para jendral, yang saling membangkitkan semangat setiap kali menatap pemandangan mengerikan itu, harus mengingatkan diri bahwa Nobunaga mengaku telah menerima amanat dewa-dewa serta pemberkahan dari Dengyo, sebelum kembali mendesak maju. Sikap para jendral yang tampaknya menerjang penuh keyakinan, dijadikan contoh oleh anak buah mereka. Sambil menembus api dan asap hitam, para penyerang melaksanakan perintah Nobunaga dengan taat. Delapan ribu biksu-prajurit tewas dalam pertempuran yang menyerupai neraka. Para biksu yang merangkak di lembah-lembah, bersembunyi di dalam gua, atau memanjat pohon untuk meloloskan diri, diburu dan dibunuh seperti hama pada tanaman padi.

Sekitar tengah malam, Nobunaga sendiri menaiki gunung untuk melihat hasil apa yang dibawa oleh tekadnya yang membaja. Para biksu Gunung Hiei telah salah perhitungan. Meskipun terkepung oleh pasukan Nobunaga, mereka tidak mau menyadari betapa seriusnya situasi mereka, dan menganggap semuanya sebagai gertakan kosong. Mereka telah bersumpah untuk menunggu sampai pasukan Oda mundur, lalu mengejar dan menghancurkan musuh. Dan mereka menunggu tanpa berbuat apa-apa, merasa tenang karena banyaknya surat berisi pernyataan dukungan yang datang dari Kyoto—yang berarti, tentu saja, dari sang Shogun. Bagi semua biksu-prajurit dan pengikut-pengikut mereka di seluruh negeri, Gunung Hiei merupakan pusat perlawanan terhadap Nobunaga. Tapi tokoh yang tak henti-hentinya mengirim perbekalan dan senjata ke Gunung Hiei, dan yang berusaha keras untuk menghasut para biksu dan mendesak mereka agar bertempur, adalah Shogun Yoshiaki.

"Shingen dalam perjalanan!" Begitulah janji yang tercantum dalam pesan dari Kai untuk sang Shogun. Yoshiaki mengandalkan janji ini dengan harapan besar, dan telah meneruskannya ke Gunung Hiei.

Para biksu-prajurit tentu saja percaya bahwa pasukan Kai akan menyerang Nobunaga dari belakang. Dengan demikian Nobunaga akan terpaksa mundur, sama seperti tahun lalu di Nagashima. Dan ada satu hal lagi. Karena telah hidup tak terganggu selama delapan ratus tahun terakhir, para biksu tidak menyadari perubahan-perubahan yang telah melanda seantero negeri dalam tahun-tahun terakhir.

Dalam setengah malam saja, Gunung Hiei berubah menjadi neraka di bumi. Agak terlambat, sekitar tengah malam, ketika api telah merambat ke manamana, utusan dari Gunung Hiei, gemetar karena takut dan panik, datang ke perkemahan Nobunaga untuk memohon perdamaian.

"Kami akan memberikan uang dalam jumlah berapa saja yang dimintanya, dan kami akan menyetujui setiap persyaratan yang ditetapkannya."

Nobunaga hanya menyeringai dan berkata pada orang-orang di sekitarnya, seakan-akan melemparkan umpan pada burung rajawali, "Tak perlu mereka diberi jawaban. Bunuh mereka di tempat." Sekali lagi para biksu mengirim rombongan utusan, dan kali ini mereka memohon langsung di hadapan Nobunaga. Nobunaga membuang muka, dan memerintahkan agar mereka dibunuh.

Fajar tiba. Gunung Hiei diselubungi asap yang tak hilang-hilang, abu, dan pohon-pohon hangus; di mana-mana mayat-mayat tampak membeku dalam posisi seperti ketika maut datang menjemput.

Di antara mereka tentu terdapat orang-orang terpelajar dan bijak, serta para biksu muda harapan masa depan, pikir Mitsuhide, yang pada pembantaian semalam berada dalam barisan terdepan. Pagi ini ia berdiri di tengah asap tipis, menutupi wajah, dan merasakan sesak di dada.

Pada pagi yang sama, Mitsuhide telah menerima anugerah dari Nobunaga. "Mulai sekarang kau bertanggung jawab atas Distrik Shiga. Kau akan menempati Benteng Sakamoto di perbukitan di kaki gunung."

Dua hari kemudian, Nobunaga menuruni gunung dan memasuki Kyoto. Asap hitam masih membubung dari Gunung Hiei. Rupanya tak sedikit biksu prajurit yang melarikan diri ke Kyoto agar lolos dari pembantaian, dan orang-orang itu kini membicarakannya seakan-akan ia merupakan penjelmaan iblis.

"Orang itu raja setan." "Utusan dari neraka!"

Para warga Kyoto diberi gambaran gamblang mengenai Gunung Hiei dan peristiwa memilukan yang terjadi malam itu. Kini, pada waktu mereka mendapat kabar bahwa Nobunaga menarik mundur pasukannya dan menuruni bukit, mereka terguncang. Desas-desus pun berkembang subur.

"Sekarang giliran Kyoto!"

"Istana Shogun di Muromachi takkan sanggup menangkal serangan api."

Orang-orang mengunci pintu masing-masing, meski hari masih terang, mengemasi barang-barang, dan bersiap-siap mengungsi. Tetapi para prajurit Nobunaga berkemah di tepi Sungai Kamo dan dilarang memasuki kota. Orang yang mengeluarkan larangan ini tak lain dari si raja setan yang telah memerintahkan serangan terhadap Gunung Hiei. Disertai beberapa jendral, ia kini memasuki sebuah kuil. Setelah melepaskan baju tempur dan helm serta menyantap makanan panas, ia mengenakan kimono istana serta hiasan kepala, lalu pergi.

Nobunaga menunggangi kuda gagah berpelana indah. Jendral-jendralnya tetap memakai baju tempur dan helm. Bersama keempat belas atau kelima belas orang ini, ia berkuda menyusuri jalan-jalan dengan sikap acuh tak acuh. Si raja setan tampak sangat tenang, dan tersenyum ramah pada orang-orang yang ditemuinya. Para warga membanjiri jalanan dan menyembah pada saat Nobunaga lewat. Takkan terjadi apa-apa. Mereka mulai bersorak-sorai, seiring rasa lega yang menyebar bagaikan gelombang.

Tiba-tiba terdengar letusan senapan dari tengahtengah massa. Pelurunya menyerempet Nobunaga, tapi ia bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, dan hanya menoleh ke arah sumber letusan. Para jendral di sekelilingnya tentu saja segera melompat turun dari kuda masing-masing dan bergegas menangkap si penjahat. Penembakan itu ternyata menyulut kemarahan para penduduk kota, dan mereka berseruseru dengan gusar, "Tangkap dia!" Pelaku kejahatan itu, yang menduga bahwa orang-orang Kyoto berada di pihaknya, rupanya salah perhitungan, dan tak menemukan tempat bersembunyi. Ia seorang biksuprajurit, konon yang paling berani, dan ia terus mencaci maki Nobunaga, bahkan saat ia diringkus.

"Kau musuh sang Buddha! Raja setan!"

Roman muka Nobunaga tak berubah sedikit pun. Sesuai rencana, ia menuju Istana Kekaisaran dan turun dari kuda. Setelah mencuci tangan, dengan tenang ia menuju gerbang, lalu berlutut.

"Amukan api yang terjadi semalam tentu mengejutkan Yang Mulia. Hamba memohon ampun karena telah menimbulkan kegelisahan dalam diri Yang Mulia."

Ia berlutut untuk waktu lama, sehingga orang yang melihatnya mungkin merasa bahwa permintaan maaf itu berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Tapi kini ia menatap gerbang dan tembok-tembok istana yang baru, lalu melemparkan pandangan puas ke arah jendral-jendral di kiri-kanannya.

1. Meninggalkan pekerjaan adalah tindakan melawan hukum.

2. Mereka yang menyebarkan desas-desus dan berita palsu langsung dihukutn mati.

3. Segala sesuatu harus tetap seperti semula. Atas perintah Oda Nobunaga, Hakim Kepala

Setelah ketiga ketetapan ini ditempelkan di semua penjuru kota, Nobunaga kembali ke Gifu. Ia pergi tanpa menemui sang Shogun, yang telah beberapa saat sibuk memperdalam selokan-selokan, membeli senapan, dan bersiap-siap menghadapi serangan api. Para penghuni istana Shogun melepaskan desahan lega, namun tetap merasa tidak tenang ketika menyaksikan kepergian Nobunaga.