--> -->

Taiko Bab 16 : Musuh sang Buddha

Buku Empat ~ Tahun Genki Pertama 1570

Bab 16 : Musuh sang Buddha

PADA malam pertama setelah kembali ke Kyoto, hanya ada satu pikiran dalam benak para perwira dan prajurit barisan belakang yang berhasil menyelamatkan nyawa—tidur.

Setelah melapor pada Nobunaga, Hideyoshi pergi dalam keadaan linglung.

Tidur. Tidur.

Keesokan paginya ia membuka mata sejenak, lalu segera terlelap kembali. Sekitar siang Hideyoshi dibangunkan oleh seorang pelayan dan makan sedikit bubur nasi, tapi dalam keadaan antara sadar dan bermimpi, ia hanya tahu bahwa makanannya lezat.

"Tuanku hendak tidur lagi?" si pelayan bertanya heran.

Hideyoshi akhirnya bangun menjelang malam, dua hari kemudian, sama sekali kehilangan orientasi. "Hari apa sekarang?"

"Hari kedua," jawab samurai yang sedang bertugas.

Hari kedua, pikir Hideyoshi sambil menyeret tubuhnya keluar dari kaniur tidur. Kalau begitu, Tuan Nobunaga pun sudah pulih.

Nobunaga telah memugar Istana Kekaisaran dan membangun kediaman baru bagi sang Shogun, tapi ia sendiri tidak memiliki rumah di ibu kota. Setiap kali datang ke Kyoto, ia tinggal di sebuah kuil, dan para pengikutnya menempati kuil-kuil di sekitarnya.

Hideyoshi keluar dari kuil tempat ia menginap, dan untuk pertama kali dalam beberapa hari ia menatap bintang-bintang. Musim panas sudah di ambang pintu, katanya dalam hati. Dan kemudian ia menyadari, "Aku masih hidup!" Kegembiraannya meluap-luap. Meski malam telah larut, ia minta izin untuk menghadap Nobunaga. Hideyoshi segera dipersilakan masuk, seakan-akan Nobunaga telah menunggunya.

"Hideyoshi, pasti ada sesuatu yang membuatmu gembira," ujar Nobunaga. "Senyummu lebar sekali."

"Bagaimana hamba tidak gembira?" balas Hideyoshi. "Sebelum ini, hamba tidak tahu betapa berharganya hidup ini. Tapi setelah lolos dari ancaman maut, hamba menyadari bahwa hamba tidak membutuhkan apa-apa selain hidup. Hanya dengan memandang lentera ini atau wajah tuanku, hamba tahu bahwa hamba masih hidup, dan bahwa hamba menikmati berkah yang lebih besar daripada yang patut hamba terima. Tapi bagaimana keadaan tuanku?"

"Aku kecewa. Inilah pertama kali aku mengalami aib dan merasakan kegetiran yang menyusul kekalahan."

"Pernahkah orang mencapai hasil besar tanpa mengalami kekalahan?"

"Hmm, itu pun bisa kaubaca dari wajahku? Perut kuda hanya perlu dipecut satu kali. Hideyoshi, persiapkan dirimu untuk melakukan perjalanan."

"Perjalanan?" "Kita kembali ke Gifu." Tepat pada saat Hideyoshi merasa berada satu langkah di depan Nobunaga, junjungannya kembali mengambil alih pimpinan. Nobunaga memang memiliki beberapa alasan untuk sesegera mungkin kembali ke Gifu.

Meski Nobunaga sering disebut tukang mimpi, ia pun dikenal sebagai laki-laki berkemauan keras. Malam itu Nobunaga, Hideyoshi, serta rombongan pengawal berjumlah kurang dari tiga ratus orang meninggalkan ibu kota. Tapi, walaupun mereka bergerak cepat, keberangkatan mereka tak dapat dirahasiakan.

Sebelum fajar, rombongan itu tiba di Otsu. Membelah kegelapan malam, letusan senapan menggema di pegunungan. Kuda-kuda langsung ketakutan. Beberapa pengikut segera memacu kuda mereka ke depan, cemas akan nasib Nobunaga, sekaligus mencari-cari si penembak gelap.

Nobunaga rupanya tidak mengetahui tembakan itu. Ia bahkan mendului yang lain lebih dari lima puluh meter. Di tempat itu ia berbalik dan berseru, "Biarkan saja!"

Karena Nobunaga berada seorang diri dan jauh di depan anak buahnya, mereka membiarkan si pembunuh yang gagal. Ketika Hideyoshi dan para jendral lain menyusul Nobunaga dan menanyakan apakah ia terluka, Nobunaga memperlambat kudanya dan mengangkat lengan baju, memperlihatkan sebuah lubang kecil. Komentarnya singkat saja, "Nasib kita berada di tangan para dewa."

Belakangan diketahui bahwa yang melepaskan tembakan ke arah Nobunaga ternyata seorang biksuprajurit yang terkenal sebagai penembak jitu.

"Nasib kita berada di tangan para dewa," kata Nobunaga, tapi itu tidak berarti ia menunggu sampai keinginan para dewa menjadi kenyataan. Ia tahu bahwa para panglima saingan merasa iri padanya. Dunia tidak memandangnya sebelah mata ketika ia melebarkan sayap ke Owari dan Mino dari wilayah kekuasaannya yang hanya meliputi dua distrik di Owari. Tapi kini ia berada di tengah panggung, memberi perintah dari Kyoto, dan marga-marga kuat tiba-tiba merasa tidak tenang. Marga-marga yang tidak terlibat pertikaian dengannya—marga Otomo dan Shimazu dari Kyushu, marga Mori dari daerah barat, marga Chosokabe dari Shikoku, bahkan marga Uesugi dan Date di utara—semuanya memandang keberhasilan-keberhasilannya dengan sikap bermusuhan.

Tetapi bahaya sesungguhnya datang dari saudarasaudara iparnya sendiri. Kini sudah jelas bahwa Takeda Shingen dari Kai tak lagi dapat dipercaya. Nobunaga pun tak bisa menutup mata terhadap marga Hojo; dan Asai Nagamasa dari Odani, yang menikah dengan saudara perempuan Nobunaga, Oichi, merupakan bukti nyata mengenai kelemahan persekutuan politik yang didasarkan atas perkawinan. Ketika Nobunaga menyerbu daerah utara, musuh utamanya—orang yang tiba-tiba bersekutu dengan marga Asakura dan mengancam jalur mundur Nobunaga—ternyata tak lain dari Asai Nagamasa. Ini sekali lagi membuktikan bahwa ambisi seorang lakilaki tak dapat dibendung dengan pesona perempuan.

Ke mana pun Nobunaga memandang ia melihat musuh. Sisa-sisa marga Miyoshi dan Matsunaga tetap merupakan lawan merepotkan yang menunggununggu kesempatan, dan di mana-mana para biksuprajurit dari Honganji mcngipas-ngipas api pemberontakan. Sepertinya seluruh negeri berbalik menentang Nobunaga ketika ia meraih kekuasaan, jadi sudah sewajarnya jika ia hendak sesegera mungkin kembali ke Gifu. Seandainya ia berdiam satu bulan lebih lama di Kyoto, mungkin tak ada benteng atau marga tempat ia bisa berpulang, tapi kini ia mencapai Benteng Gifu tanpa kejadian di luar dugaan.

"Pengawal! Pengawal!" Malam yang singkat itu belum berakhir, tapi Nobunaga sudah memanggil-manggil di ruang tidur. Tidaklah aneh bagi Nobunaga untuk bangun dini hari dan langsung memberi perintah. Para penjaga malam sudah terbiasa, tapi sepertinya setiap kali mereka mengendurkan penjagaan sedikit saja, mereka langsung dikejutkan oleh suara Nobunaga.

"Ya, tuanku?" Kali ini si pengawal tidak membuangbuang waktu.

"Siapkan rapat perang. Beritahu Nobumori bahwa semua jendral harus segera berkumpul," ujar Nobunaga sambil keluar dari ruang tidur.

Para pelayan dan pembantu mengikutinya. Mereka masih setengah tidur dan tak sanggup memastikan apakah masih tengah malam atau sudah menjelang fajar. Yang jelas masih gelap, dan bintang-bintang bersinar cerah di langit malam.

"Hamba akan menyalakan lentera," salah seorang pelayan berkata. "Mohon Tuanku bersabar sejenak saja."

Tetapi Nobunaga sudah membuka pakaian. Ia masuk ke kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air.

Di benteng luar, keadaan bahkan lebih kacau lagi. Orang-orang seperti Nobimori, Tadatsugu, dan Hideyoshi berada di dalam benteng, tapi banyak jendral lain tinggal di kota benteng. Pada waktu kurirkurir ditugaskan memanggil mereka, ruangan besar dibersihkan dan lentera-lentera dinyalakan.

Akhirnya semua jendral berkumpul. Cahaya lentera menerangi wajah Nobunaga. Ia telah memutuskan bahwa menjelang pagi mereka akan berangkat untuk menyerang Asai Nagamasa dari Odani. Meski pertemuan ini merupakan rapat perang, tujuannya bukan untuk mengemukakan pendapat yang berbeda-beda atau berdiskusi. Nobunaga hanya ingin tahu apakah ada yang hendak mengajukan usulan mengenai taktik. Setelah jelas bahwa Nobunaga telah membulatkan tekad, semua jendral terdiam. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dalam hati mereka. Mereka semua mengetahui bahwa hubungan Nobunaga dengan Nagamasa bukan sekadar hubungan antara sekutu politik. Nobunaga sungguh-sungguh menyukai saudara iparnya itu, dan ia pernah mengundang Nagamasa ke Kyoto dan mengantarnya berkeliling-keliling.

Nobunaga mempunyai alasan kuat mengapa ia tidak memberitahu Nagamasa bahwa ia akan menyerang marga Asakura. Ia tahu bahwa marga Asai dan Asakura terikat persekutuan yang lebih tua daripada hubungan marga Asai dengan marga Oda. Karena pertimbangan kedudukan saudara iparnya itu, Nobunaga berusaha keras agar Nagamasa tidak terlibat.

Namun, begitu mendapat kabar bahwa pasukan Nobunaga telah menembus jauh ke wilayah musuh, Nagamasa mengkhianati Nobunaga, memotong jalur mundur, dan memastikan bahwa kekalahan tak terelakkan.

Sejak kembali ke Kyoto, Nobunaga terus memikirkan hukuman bagi saudara iparnya. Dan di tengah malam buta ia menerima sebuah laporan rahasia. Laporan itu menyebutkan bahwa Sasaki Rokkaku telah menyulut pemberontakan petani dengan bantuan Benteng Kannonji dan para biksuprajurit. Rokkaku memanfaatkan kekacauan itu, dan dengan bekerja sama dengan orang-orang Asai, ia hendak menghancurkan Nobunaga dengan sekali pukul.

Seusai rapat perang, Nobunaga mengajak para jendral ke pekarangan dan menunjuk ke langit. Di kejauhan, langit tampak merah karena api yang mengiringi huru-hara.

Keesokan harinya, hari kedua puluh, Nobunaga membawa pasukannya ke Omi. Ia menaklukkan para biksu-prajurit dan mematahkan pertahanan Asai Nagamasa dan Sasaki Rokkaku. Pasukan Nobunaga bergerak secepai badai yang menyapu awan-awan dari dataran luas, dan menyerang mendadak bagaikan petir.

Pada hari kedua puluh satu, orang-orang Oda mendesak benteng utama marga Asai di Odani. Sebelumnya mereka telah mengepung benteng Yokoyama, sebuah benteng milik marga Asai. Pasukan musuh dibuat kocar kacir. Mereka tak punya waktu untuk mempertahankan diri, dan perlawanan mereka ambruk, tanpa ada kesempatan untuk menempati posisi baru.

Kedalaman Sungai Ane hanya beberapa meter, jadi walaupun cukup lebar, orang bisa menyeberanginya dengan berjalan kaki. Tapi airnya yang jernih, yang berasal dari pegunungan di bagian timur Provinsi Asai, begitu dingin, sehingga terasa menusuk sampai ke sumsum, bahkan di musim kemarau.

Fajar baru menyingsing. Nobunaga membawahi dua puluh tiga ribu orang, ditambah enam ribu prajurit Tokugawa, dan menyebarkan pasukan di sepanjang tepi timur sungai.

Sejak tengah malam pada hari sebelumnya, pasukan gabungan Asai dan Asakura—berjumlah sekitar delapan belas ribu orang—perlahan-lahan menyusup dari Gunung Oyose. Tersembunyi di balik rumahrumah di tepi barat, mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Malam masih gelap, dan hanya bunyi air mengalir yang terdengar.

"Yasumasa," Ieyasu memanggil salah seorang komandan, "pasukan musuh sedang bergerak ke tepi sungai."

"Sukar untuk melihat jelas dalam kabut ini, tapi hamba mendengar kuda meringkik di kejauhan."

"Ada perkembangan baru di bagian hilir?" "Belum ada, tuanku."

"Pihak mana yang akan mendapat berkah dari dewa? Dalam setengah hari, kita akan mengetahuinya."

"Setengah hari? Mungkinkah selama itu?"

"Mereka jangan dianggap enteng," ujar Ieyasu sambil berjalan ke hutan di tepi sungai. Di sinilah prajurit-prajuritnya menanti, kelompok elite dalam pasukan Nobunaga. Suasana di dalam hutan hening sepenuhnya. Para prajurit telah menyebar, bersembunyi di semak-semak. Pasukan tombak menggenggam senjata masing-masing dan menatap ke seberang sungai. Di sana belum ada yang bergerak.

Apakah hari ini membawa kematian?

Mata para prajurit tampak berbinar-binar. Tak terusik oleh persoalan hidup dan mati, mereka membayangkan akhir pertempuran sambil membisu. Tttk ada yang kelihatan yakin bahwa ia akan kembali memandang langit malam itu. Ditemani Yasumasa, Ieyasu menyusuri barisan prajurit. Tak ada cahaya, keeuali sumbu-sumbu senapan yang membara. Seseorang bersin—mungkin prajurit yang sedang pilek, dengan hidung gatal terkena asap sumbu. Tapi akhirnya sama saja, prajuritprajurit lain bertambah tegang.

Permukaan air menjadi putih, dan sederetan awan megah menerangi dahan-dahan pohon di Gunung Ibuki.

"Musuh!" seseorang bcrteriak.

Para perwira di sekitar Ieyasu memberi isyarat pada kesatuan penembak untuk menunggu. Di tepi seberang, sedikit ke arah hilir, gabungan pasukan berkuda dan infanteri berjumlah sekitar seribu dua ratus sampai seribu tiga ratus orang menyeberangi sungai secara diagonal, membuat air bergolak.

Barisan depan marga Asai yang terkenal hebat tidak memedulikan barisan depan marga Oda maupun garis pertahanan kedua dan ketiga. Mereka langsung hendak menyerbu ke tengah-tengah perkemahan Oda.

Anak buah Ieyasu menelan ludah, dan semuanya berseru bersamaan, "Isono Tamba!"

"Kesatuan Tamba!"

Isono Tamba yang termasyhur, kebanggaan marga Asai, memang lawan yang tangguh. Panji-panji tampak berkibar-kibar di tengah buih dan percikan air.

Tembakan senapan!

Apakah ini tembakan perlindungan bagi pihak musuh, atau senapan-senapan mereka sendiri? Bukan, tembak-menembak dimulai secara bersamaan dari kedua sisi. Bergema di atas permukaan sungai, kebisingannya terasa memekakkan. Awan-awan mulai menguak, dan langit musim panas memperlihatkan warna-warninya. Saat itulah garis kedua pasukan Oda, di bawah komando Sakai Tadatsugu, dan garis ketiga pimpinan Ikeda Shonyu tiba-tiba menyerbu ke sungai. "Jangan biarkan musuh menginjak sisi kita! Dan jangan biarkan satu orang pun kembali ke sisi

mereka!" para perwira berseru.

Anak buah Sakai menyerang pasukan musuh dari samping. Dalam sekejap terjadi pertempuran satu lawan satu di tengah sungai. Tombak beradu dengan tombak, pedang beradu dengan pedang. Para prajurit bergulat dan jatuh dari kuda, dan air sungai menjadi merah oleh darah.

Pasukan Sakai dipaksa mundur oleh kesatuan elite di bawah komando Tamba. Sambil berseru, "Kita dipermalukan!" begitu keras sehingga terdengar di kedua sisi sungai, putra Sakai, Kyuzo, terjun ke tengahtengah pertempuran. Ia gugur dengan gagah, bersama lebih dari seratus anak buahnya.

Tanpa dapat dibendung, kesatuan Tamba menembus garis ketiga pasukan Oda. Para pembawa tombak di bawah Ikeda menyiapkan senjata masingmasing dan berusaha mematahkan serangan musuh, namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Kini giliran Hideyoshi merasa takjub. Ia bergumam pada Hanbei, "Pernahkah kau melihat orang-orang yang begitu garang?" Tetapi Hanbei pun tidak memiliki taktik untuk menghadapi serangan ini. Bukan ini saja alasan kekalahan Hideyoshi. Tak sedikit anak buah Hideyoshi merupakan bekas prajurit musuh yang menyerah ketika benteng-benteng mereka ditaklukkan pasukan Oda. Para "sekutu" baru ini ditempatkan di bawah komando Hideyoshi, tapi sebelumnya mereka menerima upah dari marga Asai dan Asakura. Tidak mengherankan bahwa tombaktombak mereka jarang menemui sasaran, dan ketika diperintahkan mengejar musuh, mereka malah cenderung menghalang-halangi pasukan Hideyoshi sendiri.

Akibatnya barisan Hideyoshi menderita kekalahan, dan garis pertahanan kelima dan keenam pun dipaksa bertekuk lutut. Secara keseluruhan Tamba menggulung sebelas dari tiga belas garis pertahanan marga Oda. Pada saat inilah pasukan Tokugawa di sebelah hilir menyeberangi sungai, menyerbu musuh di tepi seberang, lalu bergerak ke arah hulu. Tapi ketika memandang ke belakang, mereka melihat para prajurit Tamba sudah mendesak mendekati markas Nobunaga. Sambil berseru, "Serang sisi mereka!" pasukan Tokugawa kembali melompat ke sungai. Para prajurit Tamba menyangka pasukan Tokugawa sekutu yang memasuki sungai dari tepi barat, bahkan setelah mereka mendekat. Dipimpin oleh Kazumasa, para samurai Tokugawa menggempur kesatuan Isono

Tamba. Tiba-tiba menyadari kehadiran musuh, Tamba berseru-seru sampai serak, memerintahkan anak buahnya mundur. Seorang prajurit bersenjatakan tombak menusuknya dari samping. Sambil menggenggam gagang tombak yang melukainya, Tamba berusaha berdiri, tapi lawannya tidak memberi kesempatan. Sebilah pedang tampak berkilau di atas kepala Tamba dan menghantam helm besinya. Pedang itu pecah berkeping-keping. Tamba berdiri, air di sekitar kakinya menjadi merah. Tiga orang mengepung Tamba, menikam, dan mencincangnya.

"Musuh!" para pengikut di sekeliling Nobunaga berseru. Mereka bergegas dari markas ke tepi sungai, dengan tombak siap di tangan.

Takenaka Kyusaku, adik Hanbei, tergabung dalam kesatuan Hideyoshi, tapi dalam pertempuran ia terpisah dari resimennya. Ia mengejar-ngejar musuh, dan kini berada di dekat markas Nobunaga.

Apa? Kyusaku bertanya-tanya heran. Musuh sudah ada di sini? Ketika menatap berkeliling, Kyusaku melihat seorang samurai muncul dari balik markas. Orang itu mengenakan baju tempur yang menandakan ia bukan prajurit biasa. Ia mengangkat tirai dan mengintip dengan hati-hati.

Kyusaku segera menerjang dan menangkap kakinya yang terbungkus pelindung tulang kering. Samurai itu mungkin anggota pasukan mereka sendiri, dan Kyusaku tidak membunuh seorang sekutu. Si samurai berbalik tanpa kelihatan kaget. Tampaknya ia perwira pasukan Asai.

"Kawan atau lawan?" tanya Kyusaku.

"Lawan, tentu saja!" si samurai membentak, menyiapkan tombak di tangan.

"Siapakah Tuan? Apakah Tuan mempunyai nama yang patut dicatat?"

"Aku Maenami Shinpachiro dari pasukan Asai. Aku datang untuk memenggal kepala Yang Mulia Nobunaga. Hei, kerdil menjijikkan! Siapa kau?"

"Aku Takenaka Kyusaku, pengikut Kinoshita Tokichiro. Coba lawan aku dulu!"

"Hmm, hmm. Adik Takenaka Hanbei rupanya." "Betul." Pada detik ia mengatakan ini, Kyusaku

menarik tombak lawannya, lalu mendorongnya kembali sehingga membentur dada Shinpachiro. Tapi sebelum Kyusaku menghunus pedang, Shinpachiro sudah menangkapnya.

Keduanya jatuh ke tanah, Kyusaku di sebelah bawah. Ia menendang-nendang sampai terbebas, tapi sekali lagi diimpit oleh musuhnya. Saat itulah ia menggigit jari Shinpachiro, sehingga Shinpachiro mengendurkan genggaman.

Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu! Dengan mendorong Shinpachiro, Kyusaku akhirnya berhasil membebaskan diri. Dalam sekejap tangannya menemukan belati dan mengayunkannya ke leher Shinpachiro. Ujung belati tidak mengenai sasaran, tapi menyayat wajah Shinpachiro dari dagu ke hidung, menusuk matanya. "Musuh rekanku!" sebuah suara berseru dari belakang. Tak ada waktu untuk memenggal kepala Shinpachiro. Melompat berdiri, Kyusaku segera menghadapi lawan barunya.

Kyusaku tahu bahwa beberapa anggota pasukan berani mati Asai berhasil menyusup mendekati markas Nobunaga. Lawan yang kini dihadapinya berbalik dan melarikan diri. Sambil mengejar, Kyusaku menebas lututnya dengan pedang.

Ketika menindih orang yang terluka itu dan mendudukinya dengan kaki terkangkang, Kyusaku berseru, "Kau punya nama yang patut diucapkan? Ya atau tidak?"

"Namaku Kobayashi Hashuken. Aku tak akan mengatakan apa-apa selain bahwa aku menyesal jatuh ke tangan samurai rendahan seperti kau sebelum sempat mendekati Nobunaga."

"Di mana Endo Kizaemon, orang paling berani dalam pasukan Asai? Kau orang Asai, kau pasti tahu."

"Aku tidak tahu sama sekali." "Buka mulutmu!"

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, kau tak berguna lagi bagiku!" Kyusaku memenggal kepala Hashuken. Ia kembali berlari, matanya menyala-nyala. Ia bertekad tidak membiarkan kepala Endo Kizaemon jatuh ke tangan orang lain. Sebelum pertempuran dimulai, Kyusaku telah berkoar bahwa dialah yang akan memperoleh kepala Kizaemon. Kini ia berlari ke arah tepi sungai, tempat mayat-mayat bergelimpangan di rumput dan kerikil—tepi sungai kematian.

Di sana, di antara yang lain, ada satu mayat dengan wajah berlumuran darah yang tertutup rambut. Kawanan lalat beterbangan di kaki Kyusaku. Kyusaku menoleh ketika menginjak mayat dengan wajah tersembunyi di balik rambut itu. Sebenarnya tak ada yang aneh, tapi Kyusaku merasa waswas. Dengan curiga ia menoleh, dan saat itulah mayat tadi bangku dan berlari ke arah markas Nobunaga.

"Lindungi Yang Mulia! Musuh datang!" teriak Kyusaku.

Ketika melihat Nobunaga, si samurai musuh hendak melompat sebuah tanggul rendah, tapi tali sandalnya terinjak dan ia pun terjatuh. Kyusaku menindih orang itu dan segera meringkusnya. Pada waktu Kyusaku menggiringnya ke markas Nobunaga, si samurai berteriak, "Cepat, tebaslah leherku! Sekarang juga! Jangan permalukan sesama prajurit!"

Ketika tawanan lain yang juga tengah digiring melihat laki-laki itu berteriak-teriak, ia berkata tanpa berpikir, "Tuan Kizaemon! Tuan pun ditangkap hiduphidup?"

Orang yang sempat berlagak mati ini, dan kemudian diringkus Kyusaku, ternyata justru orang yang memang diincarnya—Endo Kizaemon, prajurit Asai yang terkenal garang.

Mula-mula pasukan Oda berada di ambang kehancuran, tapi ketika pasukan Tokugawa di bawah Ieyasu menyerbu dari samping, serangan musuh berhasil dipatahkan. Namun pihak musuh pun memiliki baris kedua dan ketiga. Pada waktu mereka mendesak maju, lalu bergerak mundur, baik pasukan musuh maupun pasukan Nobunaga bertempur tanpa ampun. Keadaan begitu kacau, sehingga tak seorang pun sanggup menentukan pihak mana yang akan meraih kemenangan.

"Jangan bingung! Serbulah langsung ke perkemahan Nobunaga!"

Sejak semula, inilah tujuan barisan kedua pasukan Asai. Tapi mereka maju terlalu jauh, dan akhirnya menembus sampai ke barisan belakang marga Oda. Pasukan Tokugawa pun berhasil mendobrak pertahanan di seberang sungai, dan dengan seruan, "Jangan sampai dikalahkan pasukan Oda!" mereka mendesak menuju perkemahan Asakura Kagetake.

Tapi kemudian terlihat bahwa para prajurit Tokugawa sudah terlalu jauh meninggalkan sekutusekutu mereka dan kini dikelilingi musuh. Pertempuran berlangsung dalam keadaan kacau-balau. Seperti ikan yang tak dapat melihat sungai tempatnya berenang, tak seorang pun sanggup memahami situasi secara keseluruhan. Masing-masing prajurit berjuang mempertahankan nyawa. Begitu seseorang merobohkan lawannya, ia segera menghadapi wajah lawan berikut.

Dari atas, kedua pasukan terlihat seakan-akan tersedot ke dalam pusaran raksasa. Dan sesuai dugaan, Nobunaga memandang situasinya tepat seperti itu. Hideyoshi pun melihat pertempuran secara keseluruhan. Tampaknya saat inilah yang akan menentukan kalah atau menang.

Nobunaga membenturkan tombak ke tanah, berseru, "Pasukan Tokugawa terjebak! Jangan biarkan mereka berjuang sendiri! Bantulah Yang Mulia Ieyusu!" Tapi sisa kekuatan pasukan di kiri-kanan tidak memadai. Seruan Nobunaga sia-sia belaka. Kemudian, dari rumpun pohon di tepi utara, sekelompok orang bergegas membelah kekacauan dan menuju tepi seberang, memercikkan air dengan setiap langkah.

Hideyoshi, walaupun tidak mendengar perintah Nobunaga, juga telah memahami situasi. Nobunaga melihat panji Hideyoshi dengan lambang labu emas, dan berkata dalam hati, "Ah, bagus! Hideyoshi sudah bergerak."

Sambil menghapus keringat dari mata, Nobunaga berkata pada para pembantu di sekelilingnya, "Saat seperti ini takkan terulang lagi. Pergilah ke sungai dan lihat apa yang dapat kalian lakukan."

Ranmaru dan yang lain—bahkan yang paling muda pun—berlari menghampiri musuh, semuanya berlomba-lomba untuk tiba lebih dulu. Pasukan Tokugawa, yang telah menembus jauh ke wilayah musuh, memang menghadapi kesulitan. Tapi dalam permainan catur ini, Ieyasu yang lihai merupakan bidak yang berada di posisi menentukan. Nobunaga takkan membiarkan bidak ini gugur, Ieyasu berkata pada diri sendiri. Anak buah Ittetsu mengikuti anak buah Hideyoshi. Akhirnya pasukan Ikeda Shonyu pun menyerbu. Tiba-tiba pasang surut pertempuran telah berubah, dan pasukan Oda berada di atas angin. Para prajurit Asakura Kagetake mundur lebih dari tiga mil, dan pasukan Asai Nagamasa terburu-buru melarikan diri ke Benteng Odani.

Mulai saat itu, pertempuran berubah menjadi pengejaran. Orang-orang Asakura dikejar sampai ke Gunung Oyose, sementara Asai Nagamasa berlindung di balik tembok Benteng Odani. Nobunaga menangani ekor pertempuran dalam dua hari, dan pada hari ketiga ia kembali ke Gifu. Ia bergerak secepat burung pelatuk yang pada malam hari terbang di atas Sungai Ane. Mayat-mayat bergelimpangan di kedua tepi sungai.

***

Orang besar tidak lahir karena kemampuannya semata-mata. Ia pun harus memiliki kesempatan. Ia sering kali dikelilingi perasaan dengki yang mempengaruhi wataknya, seakan-akan sengaja ingin menyiksa. Pada waktu musuh-musuh telah muncul dalam segala macam bentuk, balk terlihat maupun tidak, dan bergabung untuk menderanya dengan setiap penderitaan yang dapat dibayangkan, pada saat itulah ia menjalani ujian sesungguhnya. Segera setelah pertempuran di Sungai Ane, Nobunaga mundur begitu cepat, sehingga para jendral di berbagai kesatuannya bertanya-tanya apakah telah terjadi sesuatu di Gifu. Tentu saja strategi yang disusun oleh para anggota staf tidak dipahami oleh para bawahan. Desas-desus yang beredar mengatakan bahwa Hideyoshi mengusulkan merebut benteng utama marga Asai di Odani guna menghabisi mereka untuk selama-lamanya, tapi ditolak oleh Nobunaga. Keesokan harinya Nobunaga malah mengangkat Hideyoshi sebagai komandan Benteng Yokoyama, sebuah benteng musuh yang telah ditinggalkan, sementara ia sendiri kembali ke Gifu.

Bukan para prajurit saja yang tidak memahami mengapa Nobunaga begitu tergesa-gesa kembali ke Gifu. Kemungkinan besar para pembantu terdekatnya pun tidak mengetahui alasan sesungguhnya. Satusatunya orang yang mungkin sanggup membayangkannya adalah Ieyasu. Matanya yang netral tak pernah lepas lama dari Nobunaga—tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh; tanpa perasaan berlebihan, tapi juga tidak terlalu dingin.

Pada hari keberangkatan Nobunaga, Ieyasu pun kembali ke Hamamatsu. Dalam perjalanan, ia berkata kepada para jendralnya, "Begitu Yang Mulia Nobunaga melepaskan baju tempurnya yang berlumuran darah, dia akan berpakaian untuk ke ibu kota dan memacu kudanya langsung ke Kyoto. Jiwanya seperti kuda jantan muda yang tak bisa diam." Dan memang itulah yang terjadi. Ketika Ieyasu tiba di Hamamatsu, Nobunaga sudah dalam perjalanan ke Kyoto. Tapi ini tidak berarti telah terjadi sesuatu di ibu kota. Yang paling ditakutkan Nobunaga adalah sesuatu yang tak dapat dilihatnya—musuh yang tidak kasat mata.

Nobunaga mengungkapkan kecemasannya pada Hideyoshi. "Menurutmu, apa yang paling merisaukanku? Kau tahu, bukan?"

Hideyoshi memiringkan kepala dan berkata, "Hmm. Bukan Takeda dari Kai, yang selalu mengintai dari belakang dan menunggu kesempatan, juga bukan marga Asai dan Asakura. Yang Mulia Ieyasu patut diwaspadai, tapi beliau cerdas, sehingga tak perlu dikhawatirkan sama sekali. Orang-orang Matsunaga dan Miyoshi menyerupai kawanan lalat, dan mereka berkerumun di sekitar kebusukan. Musuh yang harus ditakuti hanyalah para biksu-prajurit Honganji, tapi rasanya sampai sekarang mereka belum seberapa merepotkan bagi Yang Mulia. Berarti hanya satu orang yang tersisa."

"Dan siapa orang itu? Bicaralah."

"Dia bukan kawan maupun lawan. Tuanku telah menunjukkan rasa hormat, tapi jika tindakan tuanku hanya sebatas itu, tuanku mungkin segera terjebak. Orang itu bermuka dua—oh, ampun, kata-kata ini tak patut diucapkan. Bukankah kita berbicara mengenai sang Shogun?"

"Benar. Tapi jangan singgung soal ini di depan orang lain." Kecemasan Nobunaga menyangkut orang ini, yang memang bukan kawan maupun lawan— Yoshiaki, sang Shogun.

Yoshiaki menanggapi kebaikan Nobunaga kepadanya dengan berurai air mata, dan bahkan berkata bahwa ia menganggap Nobunaga seperti ayahnya sendiri. Jadi, mengapa Yoshiaki? Sikap bermuka dua selalu tersembunyi di tempat-tempat paling tak terduga. Watak Yoshiaki dan Nobunaga sama sekali tidak cocok; pendidikan mereka berbeda, begitu juga nilai-nilai yang mereka anut. Selama Nobunaga membantunya, Yoshiaki memperlakukan Nobunaga sebagai dermawan. Tapi begitu ia mulai terbiasa dengan kursi shogun, rasa terima kasihnya berubah menjadi kebencian.

"Gelandangan itu mengganggu saja," Yoshiaki dikabarkan berkata demikian. Ia mulai menghindari Nobunaga, bahkan menganggapnya sebagai rintangan, dengan kekuasaan melebihi kekuasaannya sendiri. Namun Yoshiaki tidak memiliki keberanian untuk memperlihatkan sikapnya secara terbuka dan menggempur Nobunaga. Watak Yoshiaki sungguh gelap. Dan berhadapan dengan kecemerlangan Nobunaga, Yoshiaki terus berkomplot sampai saat terakhir.

Di sebuah ruangan terpisah di dalam Istana Nijo, sang Shogun bercakap-cakap dengan utusan para biksu-prajurit Honganji.

"Sang Kepala Biara juga membencinya? Tak mengherankan bahwa kecongkakan dan kesombongan Nobunaga membuatnya gusar."

Sebelum pergi, si utusan berpesan, "Hamba mohon agar segala sesuatu yang hamba katakan tadi tetap dirahasiakan. Kemudian, mungkin ada baiknya mengirim pesan-pesan rahasia ke Kai dan ke marga Asai dan Asakura, agar kesempatan ini tidak berlalu dengan sia-sia."

Pada hari yang sama, di bagian lain Istana Nijo, Nobunaga menanti Yoshiaki untuk melaporkan kedatangannya di ibu kota. Yoshiaki menenangkan diri, menampilkan sikap polos, dan pergi ke ruang resepsi untuk bertemu dengan Nobunaga.

"Kabarnya pertempuran di Sungai Ane berakhir dengan kemenangan gemilang bagi pihak Oda. Satu lagi bukti mengenai kehebatan militer Tuan. Selamat! Ini sungguh menggembirakan."

Nobunaga tak sanggup menyembunyikan senyum getir ketika mendengar sanjungan yang menjilat ini, dan ia menjawab dengan ironis, "Tidak, tidak. Berkat kebijakan dan pengaruh Yang Mulia-lah kami dapat bertempur dengan gagah, karena kami yakin takkan ada kejadian tak terduga seusai pertempuran."

Yoshiaki agak tersipu-sipu. Wajahnya bersemu merah seperti wajah perempuan. "Jangan khawatir. Seperti Tuan lihat sendiri, keadaan di ibu kota tetap tenteram. Tapi apakah Tuan mendapat kabar bahwa ada bahaya mengancam? Tuan bergegas ke sini seusai pertempuran."

"Tidak, hamba datang untuk melakukan kunjungan kehormatan karena pemugaran Istana Kekaisaran telah rampung, untuk menangani masalah pemerintahan, dan tentu saja untuk menanyakan kesehatan tuanku."

"Ah, begitukah?" Yoshiaki tampak agak lega. "Hmm, Tuan lihat sendiri bahwa aku sehat-sehat saja. Roda pemerintahan pun berjalan mulus, jadi Tuan tak perlu cemas dan mengorbankan waktu untuk begitu sering datang ke sini. Tapi mari, perkenankanlah aku mengadakan jamuan makan untuk merayakan kemenangan Tuan."

"Hamba terpaksa menolak, Yang Mulia," ujar Nobunaga. "Hamba belum sempat menyampaikan ucapan terima kasih kepada para perwira dan prajurit. Rasanya tak patut hamba menerima undangan jamuan makan. Sebaiknya kita tunda saja sampai kesempatan hamba menghadap Yang Mulia berikutnya."

Kemudian Nobunaga mohon diri. Ketika ia kembali ke tempatnya menginap, Akechi Mitsuhide telah menunggu untuk memberikan laporamiya.

"Seorang biksu yang mungkin utusan Kepala Biara Honganji, Kennyo, terlihat meninggalkan istana sang Shogun. Pertemuan-pertemuan antara para biksuprajurit dan sang Shogun agak mencurigakan, bukan?" Sebelumnya Nobunaga telah mengangkat Mitsuhide menjadi komandan pasukan penjaga Kyoto. Sesuai kedudukannya, Mitsuhide mencatat semua pengun-

jung Istana Nijo dengan cermat.

Nobunaga membaca laporan Mitsuhide sepintas lalu, dan berkata, "Bagus sekali." Ia muak karena shogun itu begitu sukar diselamatkan, namun sekaligus merasa bahwa sikap Yoshiaki malah menguntungkan baginya. Malam itu ia memanggil para petugas yang bertanggung jawab atas pemugaran Istana Kekaisaran, dan ketika mendengar laporan mengenai kemajuan pekerjaan, suasana hatinya bertambah cerah.

Keesokan harinya ia bangun pagi-pagi sekali dan meninjau bangunan-bangunan yang sudah hampir selesai dikerjakan. Kemudian, setelah melakukan kunjungan kehormatan pada sang Tenno di istana lama, ia kembali ke tempatnya menginap seiring dengan terbitnya matahari, dan mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan ibu kota.

Ketika Nobunaga tiba di Kyoto, ia mengenakan kimono. Tapi pada waktu hendak pergi ia memakai baju tempur, karena tujuannya bukan Gifu. Sekali lagi ia mengunjungi medan pertempuran di Sungai Ane, bertemu dengan Hideyoshi yang ditempatkan di Benteng Yokoyama, memberikan perintah pada kesatuan-kesatuan yang tersebar di berbagai tempat, kemudian mengepung benteng di Sawayama.

Setelah menumpas musuh-musuhnya, Nobunaga kembali ke Gifu. Tapi bagi Nobunaga dan anak buahnya, waktu untuk beristirahat dari kelelahan akibat panas musim kemarau belum tiba.

Justru di Gifu Nobunaga menerima surat-surat penting dari Hosokawa Fujitaka yang berada di Benteng Nakanoshima di Settsu, serta dari Akechi Mitsuhide di Kyoto. Surat-surat ini memberitakan bahwa pihak Miyoshi mengerahkan lebih dari seribu orang untuk membangun benteng-benteng di Noda, Fukushima, dan Nakanoshima di Settsu. Mereka dibantu oleh para biksu-prajurit Honganji beserta para pengikut mereka. Baik Mitsuhide maupun Fujitaka menekankan bahwa tak ada waktu untuk menundanunda keputusan, dan menanyakan perintah Nobunaga.

Kuil utama para biksu-prajurit dibangun pada masa yang penuh kerusuhan, dan konstruksinya dibuat sedemikian rupa, sehingga sanggup menangkal berbagai gangguan. Di luar tembok batu ada selokan pertahanan yang dalam dan dibentangi oleh sebuah jembatan. Walaupun Honganji merupakan kuil, kontruksinya menyerupai benteng. Menjadi biksu di sini berarti menjadi prajurit, dan jumlah biksu-prajurit di tempat ini tidak kalah dengan di Nara atau Gunung Hiei. Kemungkinan besar di Honganji tak ada satu biksu pun yang tidak membenci Nobunaga, orang yang baru menanjak itu. Mereka menuduhnya sebagai musuh sang Buddha yang mencemooh tradisi-tradisi, perusak kebudayaan, dan setan yang tak mengenal batas, seekor binatang berwujud manusia.

Ketika Nobumori menghadapi orang-orang Honganji dan memaksa mereka menyerahkan sebagian tanah mereka kepadanya, ia telah melangkah terlalu jauh. Kebanggaan kubu Buddha ini amat besar, dan hak-hak istimewa yang mereka nikmati telah diteruskan secara turun-temurun sejak zaman dulu. Laporan-laporan dari daerah barat dan daerah-daerah lain mulai berdatangan, mengabarkan bahwa orangorang Honganji sedang mempersenjatai diri. Kuil itu telah membeli dua ribu senapan, jumlah para biksuprajurit telah berlipat ganda, dan selokan-selokan baru digali di sekitar kubu pertahanan.

Nobunaga telah menduga bahwa mereka akan bersekutu dengan marga Miyoshi, dan bahwa sang Shogun yang berhati lemah akan terbujuk untuk memihak mereka. Ia juga telah menyangka bahwa propaganda busuk akan disebarkan ke rakyat jelata, dan bahwa tindakan ini akan menimbulkan pemberontakan umum.

Ketika menerima pesan-pesan penting dari Kyoto dan Osaka, Nobunaga tidak terlalu terkejut. Ia justru semakin berkeras untuk memanfaatkan kesempatan, dan segera pergi ke Settsu. Dalam perjalanan ke sana, ia mampir di Kyoto.

"Dengan segala kerendahan hati, hamba memohon agar Yang Mulia bersedia menyertai pasukan hamba," Nobunaga berkata pada sang Shogun. "Kehadiran Yang Mulia akan membangkitkan semangat pasukan hamba, dan akan mempercepat pelaksanaan hukuman."

Yoshiaki tentu saja enggan, tapi tak kuasa menolak. Dan meski timbul kesan bahwa Nobunaga membawa seseorang yang tak berguna, sesungguhnya ia justru menarik keuntungan dengan memanfaatkan nama sang Shogun untuk menabur benih-benih perselisihan di kalangan musuh-musuhnya.

****

Daerah antara Sungai Kanzaki dan Sungai Nakatsu di Naniwa merupakan dataran rawa yang luas, dengan tanah pertanian tersebar di sana-sini. Nakajima di utara berada di tangan orang-orang Miyoshi, sedangkan benteng kecil di selatan dipertahankan oleh Hosokawa Fujitaka. Pertempuran berpusat di daerah ini, dan berlangsung sengit sejak awal sampai pertengahan bulan kesembilan, kadang kala dengan kemenangan, kadang kala dengan kekalahan. Ini adalah perang terbuka dengan melibatkan senjata api besar maupun kecil.

Di pertengahan bulan kesembilan, marga Asai dan Asakura, yang selama itu tetap mengurung diri di benteng-benteng pegunungan sambil merenungkan kekalahan dan menanti sampai Nobunaga membuat kesalahan, mengangkat senjata, menyeberangi Danau Biwa, dan mendirikan kemah di tepi danau di Otsu dan Karasaki. Satu resimen bergabung dengan kubu Buddha di Gunung Hiei. Untuk pertama kali, para biksu-prajurit dari beberapa sekte bersatu melawan Nobunaga.

Keluhan mereka serupa, "Nobunaga sewenangwenang menyita tanah milik kami, dan menginjakinjak kehormatan kami."

Antara Gunung Hiei, marga Asai, dan Asakura terjalin ikatan erat. Ketiganya bersepakat untuk memotong jalur mundur Nobunaga. Pasukan Asakura bergerak dari pegunungan di utara danau, sementara pasukan Asai menyeberangi danau, lalu mendarat. Penyusunan pasukan kedua marga mengisyaratkan bahwa mereka hendak merebut Otsu dan memasuki Kyoto. Kemudian, sambil menunggu di Sungai Yodo, mereka akan bergerak seiring pihak Honganji dan menghancurkan Nobunaga dalam satu serangan.

Nobunaga telah terlibat pertempuran sengit selama beberapa hari, menghadapi para biksu-prajurit serta pasukan Miyoshi dari benteng di Nakajima di daerah rawa-rawa antara Sungai Kanzaki dan Sungai Nakatsu. Pada tanggal dua puluh dua, sebuah laporan samar namun mencemaskan mengenai bencana yang datang dari belakang, sampai ke telinganya.

Keterangan terperinci belum dapat diperoleh, tapi Nobunaga menduga keterangan itu takkan menggembirakan. Ia mengertakkan gigi, bertanya-tanya bencana apakah yang dimaksud. Kemudian ia memanggil Katsuie dan mengembankan tanggung jawab atas barisan belakang kepadanya. "Aku akan segera mundur dan menghancurkan marga Asai, marga Asakura, dan Gunung Hiei sekaligus."

"Bukankah lebih baik kita menunggu satu malam lagi sampai laporan terperinci tiba?" tanya Katsuie, berusaha mencegah junjungannya. "Kenapa? Sekaranglah dunia akan berubah!" Setelah Nobunaga berkata demikian, tak ada yang dapat mengubah pendiriannya. Ia berpacu ke Kyoto, berganti kuda lebih dari satu kali.

"Tuanku!"

"Betapa besar kemalangan ini!"

Tersedu-sedu, sejumlah pengikut berkerumun di depan rumah Nobunaga. "Adik tuanku, Yang Mulia Nobuharu dan Mori Yoshinari gugur dengan gagah di Uji, setelah bertempur sengit selama dua hari dua malam."

Orang pertama tak sanggup melanjutkan laporannya, sehingga salah satu rekannya menyambung dengan suara bergetar, "Orang-orang Asai dan Asakura beserta sekutu mereka, para biksu, membawa pasukan berkekuatan dua puluh ribu orang, sehingga serangan mereka tak berhasil dipatahkan."

Seolah tidak terpengaruh, Nobunaga menanggapi, "Jangan hanya membacakan nama orang-orang mati yang takkan kembali pada saat seperti ini. Aku ingin tahu perkembangan terakhir! Seberapa jauh musuh berhasil mendesak maju? Di mana garis depan? Apakah Mitsuhide ada di sini? Kalau dia ada di depan, segera panggil dia ke sini. Panggil Mitsuhide!"

Hutan panji-panji mengelilingi Kuil Mii—markas besar marga Asai dan Asakura. Pada hari sebelumnya, para jendral telah mengamati kepala adik Nobunaga, Nobuharu, di hadapan kerumunan orang. Setelah itu mereka memeriksa kepala para prajurit Oda yang termasyhur, satu per satu, sampai mereka sendiri hampir bosan.

"Ini pembalasan atas kekalahan kita di Sungai Ane. Aku merasa jauh lebih enak sekarang," salah seorang bergumam.

"Aku tetap belum puas, sampai kepala Nobunaga tergeletak di depan kaki kita!" orang lain menimpali.

Kemudian seseorang tertawa dengan suara parau, dan berkata dengan logat utara yang kental, "Anggap saja kepalanya sudah di hadapan kita. Nobunaga menghadapi orang-orang Honganji dan Miyoshi di depan, sedangkan kita berada di belakangnya. Ke mana dia mau melarikan diri? Dia bagaikan ikan dalam jala!"

Lebih dari sehari mereka mengamati kepala demi kepala, sampai muak dengan bau darah. Ketika malam tiba, botol-botol sake dibawa ke markas untuk membantu menaikkan semangat para pemenang. Pada waktu sake mulai mengalir, pembicaraan beralih pada strategi.

"Apakah kita harus masuk ke Kyoto, atau merebut leher botol di Otsu, lalu berangsur-angsur merapatkan barisan dan menariknya seperti ikan besar di dalam jala?" salah satu jendral mengusulkan.

"Kita harus maju ke ibu kota dan menumpas Nobunaga di Sungai Yodo dan di ladang-ladang Kawachi," jendral lain membalas.

"Percuma saja!" Jika seseorang menjagokan taktik tertentu, orang lain segera menentangnya. Sebab, meskipun orangorang Asai dan Asakura disatukan oleh tujuan yang sama, kalau menyangkut diskusi dalam jajaran atas, masing-masing orang merasa perlu memamerkan pengetahuannya yang dangkal dan menegakkan reputasinya. Akibatnya sampai tengah malam belum ada kata sepakat.

Jemu dengan debat tanpa hasil ini, salah satu jendral Asai pergi ke luar. Ketika menatap langit malam, ia berkomentar, "Langit merah sekali, ya?"

"Pasukan kita membakar rumah-rumah petani mulai dari Yamashina sampai ke Daigo," seorang penjaga menanggapinya.

"Untuk apa? Rasanya percuma saja membakar daerah itu, bukan?"

"Justru sebaliknya. Kita harus menghalau musuh," balas jendral dari pihak Asakura yang mengeluarkan perintahnya. "Pasukan penjaga Kyoto di bawah Akechi Mitsuhide bergerak seakan-akan semuanya siap menyambut kematian. Kita pun harus memperlihatkan kegarangan."

Fajar telah tiba. Otsu merupakan persimpangan jalan-jalan utama menuju ibu kota, tapi kini tak seorang pun terlihat. Lalu seorang penunggang kuda lewat, diikuti beberapa saat kemudian oleh dua atau tiga penunggang lagi. Mereka kurir militer, berkuda dari arah ibu kota, berpacu ke Kuil Mii, seolah-olah nyawa mereka sedang dipertaruhkan. "Nobunaga sudah hampir mencapai Keage. Pasukan-pasukan Akechi Mitsuhide bergabung untuk membentuk barisan depan, dan mereka terus mendesak maju tanpa dapat dibendung."

Para jendral nyaris tak mempercayai pendengaran mereka.

"Pasti bukan Nobunaga sendiri! Tak mungkin dia begitu cepat kembali dari medan laga di Naniwa."

"Sekitar dua ratus sampai tiga ratus prajurit kita di Yamashina sudah gugur. Musuh sedang mengamuk, dan seperti biasa, Nobunaga sendiri yang memberi perintah. Dia melesat bagaikan setan atau dewa berkuda, dan dia menuju ke sini!"

Baik Asai Nagamasa maupun Asakura Kagetake menjadi pucat. Nagamasa yang paling panik. Nobunaga kakak istrinya, orang yang sebelum ini memperlakukannya dengan ramah. Kegarangan yang diperlihatkan Nobunaga membuatnya gemetar.

"Mundur! Kembali ke Gunung Hiei!" Nagamasa berseru tanpa berpikir.

Asakura Kagetake menangkap nada mendesak dalam suara sekutunya. "Kembali ke Gunung Hiei!" Secara bersamaan ia meneriakkan perintah kepada anak buahnya yang terperanjat. "Bakar rumah-rumah petani di sepanjang jalan! Jangan, tunggu sampai barisan depan kita lewat. Setelah itu bakar semuanya! Bakar semuanya!"

Angin panas menghanguskan alis Nobunaga. Bunga api menggosongkan bulu tengkuk kudanya dan rumbai-rumbai pada pelananya. Mulai dari Yamashina sampai Otsu, nyala api yang melalap rumah-rumah petani di sepanjang jalan, serta lidah api yang seakan berputar-putar di udara tak sanggup mencegahnya untuk mencapai tujuan. Ia sendiri telah menjadi obor menyala, dan prajurit-prajuritnya menyerupai lautan api.

"Pertempuran ini upacara penghormatan bagi Yang Mulia Nobuharu!"

"Mereka pikir kita takkan membalas kematian rekan-rekan kita?"

Tapi pada waktu mereka tiba di Kuil Mii, tak seorang prajurit musuh pun kelihatan. Semuanya telah melarikan diri ke Gunung Hiei.

Ketika memandang ke arah gunung, mereka melihat bahwa pasukan musuh berkekuatan lebih dari dua puluh ribu orang, ditambah lagi dengan para biksu-prajurit, membentang sampai ke Suzugamine, Aoyamadake, dan Tsubogasadani. Panji-panji yang tampak berkibar-kibar seolah-olah berkata, "Kami tidak kabur. Mulai sekarang, susunan tempur yang akan bicara."

Nobunaga menatap gunung yang menjulang tinggi dan berkata dalam hati, "Inilah tempatnya. Musuhku bukan gunung ini. Hak-hak istimewa yang dimilikinya yang harus kugempur." Kini Nobunaga melihatnya dengan mata berbeda. Sejak zaman dulu, melewati masa kekuasaan kaisar demi kaisar, tradisi dan hakhak istimewa gunung ini telah merepotkan para penguasa negeri serta rakyat jelata. Adakah pancaran sang Buddha di gunung ini?

Ketika sekte Tendai pertama kali dibawa dari Cina ke Jepang, Dengyo, pendiri kuil pertama di Gunung Hiei, bersenandung, "Semoga pancaran Sang Buddha yang murah hati memberikan perlindungan kepada balok-balok kuyu yang kita dirikan di tempat ini." Apakah lentera kemuliaan dinysuci ini agar para biksu dapat memaksakan kehendak mereka kepada sang Tenno di Kyoto? Agar mereka dapat mencampuri pemerintahan dan menjadi semakin kuat dengan hakhak istimewa? Agar mereka dapat bersekutu dengan panglima-panglima perang, berkomplot dengan orang awam, dan mengacaukan seantero negeri? Apakah lenteranya dinyalakan agar ajaran sang Buddha dapat dilengkapi dengan baju dan helm tempur, agar seluruh gunung menjadi tempat untuk menderetkan tombak, senapan, dan panji-panji perang?

Nobunaga menitikkan air mata kemarahan. Jelas baginya bahwa semua ini merupakan penghujatan. Gunung Hiei dibentuk untuk melindungi bangsa, dan karenanya diberi hak-hak istimewa. Tapi ke manakah tujuan semula itu sekarang? Kuil utama, ketujuh tempat keramat, biara-biara di pagoda timur dan barat hanyalah barak setan bersenjata dengan jubah biksu.

Baiklah! Nobunaga menggigit bibirnya begitu keras, hingga giginya berlumuran darah. Biarlah mereka menyebutku raja setan yang menghancurkan ajaran Buddha! Keindahan gunung ini hanyalah daya tarik palsu, dan para biksu bersenjata tak lebih dari segerombolan orang tolol. Aku akan menghanguskan mereka dengan api peperangan dan membiarkan Buddha sesungguhnya bangkit dari abu yang tersisa.

Pada hari yang sama ia memerintahkan agar seluruh gunung dikepung. Tentu saja pasukannya memerlukan beberapa hari untuk menyeberangi danau, melewati gunung-gunung, dan bergabung dengannya.

"Darah adikku dan Mori Yoshinari belum mengering. Biarkan jiwa mereka yang setia dan tak tergoyahkan berbaring dalam damai. Biarkan darah mereka menjadi lentera yang akan menerangi dunia!"

Nobunaga berlutut dan merapatkan tangannya untuk berdoa. Gunung suci telah dijadikannya musuh, dan ia telah memerintahkan pasukannya untuk mengepung. Kini, di atas sepotong tanah, Nobunaga merapatkan tangan dalam doa dan meratap. Tiba-tiba ia melihat salah satu pembantunya mencucurkan air mata, juga dengan tangan dirapatkan. Rupanya Ranmaru, yang telah kehilangan ayahnya, Mori Yoshinari.

"Ranmaru, kau menangis?" "Maafkan hamba, tuanku."

"Kumaafkan. Tapi berhentilah menangis, atau arwah ayahmu akan menertawakanmu."

Tetapi kedua mata Nobunaga sendiri pun mulai memerah. Setelah memerintahkan agar kursi panglima dipindahkan ke puncak sebuah bukit, ia mengamati susunan pasukan pengepung. Sejauh mata memandang, bukit-bukit di kaki Gunung Hiei dipenuhi panji-panji pasukannya.

Setengah bulan berlalu. Pengepungan Gunung Hiei—sebuah strategi yang tak lazim bagi Nobunaga— terus berlanjut. Ia telah memotong jalur suplai musuh, dan berusaha agar mereka mati kelaparan. Rencananya sudah mulai menampakkan hasil. Dengan pasukan berkekuatan lebih dari dua puluh ribu orang, lumbung-lumbung di gunung dengan cepat terkuras habis. Mereka bahkan sudah mulai makan kulit pohon.

Musim gugur telah menjelang akhir, dan cuaca dingin di gunung membawa lebih banyak penderitaan bagi pasukan yang bertahan.

"Rasanya waktunya sudah tiba, bukan?" Hideyoshi berkata pada Nobunaga.

Nobunaga memanggil seorang pengikut, Ittetsu. Setelah menerima perintah Nobunaga dan disertai empat atau lima pembantu, Ittetsu mendaki Gunung Hiei dan bertemu dengan Kepala Biara Pagoda Barat, Sonrin.

Sonrin dan Ittetsu sudah cukup lama saling mengenai, dan sebagai tanda persahabatan mereka, Ittetsu datang untuk membujuknya agar menyerah.

"Aku tidak memahami jalan pikiranmu, tapi sebagai sahabat, kuanjurkan agar lelucon ini tidak dibawa terlalu jauh," balas Sonrin, terguncang-guncang karena tawa. "Aku memperkenankan pertemuan ini karena kupikir kau datang untuk minta izin menyerah pada kami. Betapa bodohnya meminta kami menyerah dan pergi dari sini! Tidak sadarkah kau bahwa kami telah bertekad melawan sampai akhir? Hanya orang gila yang mungkin datang ke sini, lalu bicara tak keruan."

Mata para biksu-prajurit lain tampak menyala-nyala, dan mereka melotot ke arah Ittetsu.

Setelah membiarkan si Kepala Biara bicara, Ittetsu berkata dengan tenang dan berhati-hati, "Yang Terhormat Dengyo mendirikan kuil ini demi kedamaian dan perlindungan Istana Kekaisaran, serta untuk ketenteraman seluruh bangsa. Kurasa tidak pada tempatnya para biksu mengenakan baju tempur, mengacungkan pedang dan tombak, melibatkan diri dalam kancah politik, dan bersekutu dengan pasukan pemberontak, atau membuat sang Tenno menderita. Para biksu sebaiknya kembali menjadi biksu! Usirlah orang-orang Asai dan Asakura dari gunung suci ini, letakkan senjata-senjata kalian, dan kembalilah ke peran semula sebagai pengikut sang Buddha!" Ittetsu berbicara dari lubuk hari, tanpa memberi kesempatan kepada para biksu untuk menyisipkan sepatah kata pun. "Selain itu," ia melanjutkan, "jika kalian tidak menaati perintah Tuan Nobunaga, Yang Mulia akan membumihanguskan kuil utama, ketujuh tempat keramat, serta biara-biara, dan membunuh semua orang di gunung ini. Pertimbangkanlah ini masakmasak dan singkirkanlah perasaan keras kepala. Apakah kalian akan mengubah gunung ini menjadi neraka, atau menyapu  bersih semua  kejahatan dan melestarikan lentera di tanah yang suci ini?"

Tiba-tiba para biksu yang menyertai Sonrin mulai berteriak-teriak.

"Ini percuma saja!"

"Dia hanya membuang-buang waktu!"

"'Tenang!" Sonrin memerintahkan sambil tersenyum mengejek. "Pidatomu luar biasa menjemukan, tapi aku akan menanggapinya dengan sopan. Gunung Hiei bukanlah tempat biasa, dan memiliki prinsipprinsip tersendiri. Kau terlalu mencampuri urusan orang lain. Tuan Ittetsu, hari sudah sore. Tinggalkanlah gunung ini dengan segera."

"Sonrin, dapatkah kau mengambil keputusan seorang diri? Mengapa kau tidak berunding dengan orang-orang terpelajar dan para tetua, lalu membahas urusan ini secara cermat?"

"Gunung ini merupakan satu jiwa dan satu badan.

Suaraku mewakili semua kuil di Gunung Hiei." "Kalau begitu, apa pun yang..."

"Dasar bodoh! Kami akan melawan setiap serangan militer sampai akhir. Kami akan melindungi kebebasan tradisi-tradisi kami dengan darah kami sendiri! Enyahlah dari sini!"

"Baiklah kalau itu yang kauinginkan." Ittetsu tidak beranjak. "Sayang sekali. Bagaimana kalian akan melindungi pancaran sang Buddha dengan darah kalian? Apa sebenarnya kebebasan yang hendak kalian lindungi? Tradisi-tradisi mana yang kaumaksud? Bukankah semuanya tak lebih dari tipu muslihat yang dimanfaatkan untuk menjamin kemakmuran kuil? Hah, semua itu tidak berlaku di dunia sekarang. Perhatikanlah pertanda zaman. Orang-orang serakah yang menutup mata dan berusaha menghalangi kemajuan demi kepentingan mereka sendiri akan terbakar habis bersama daun-daun yang gugur." Kemudian Ittetsu kembali ke perkemahan Nobunaga.

Angin musim dingin meniupkan daun-daun kering berputar-putar di puncak-puncak gunung. Baik pagi maupun malam selalu ada embun beku. Sesekali angin dingin membawa hujan salju. Pada waktu inilah kebakaran-kebakaran mulai melanda Gunung Hiei, hampir setiap malam. Suatu malam, api berkobar di gudang bahan bakar Gedung Daijo; malam sebelumnya di Takimido. Malam ini pun, walau belum larut, kebakaran terjadi di tempat tinggal para biksu di kuil utama, dan genta terdengar berdentang-dentang. Karena banyak kuil besar di sekitarnya, para biksu bekerja keras agar api tidak menyebar.

Lembah-lembah Gunung Hiei tampak gelap di bawah langit yang merah.

"Kacau-balau!" salah seorang prajurit Oda berkomentar, lalu tertawa.

Angin dingin menerpa dahan-dahan pohon, dan para prajurit bertepuk tangan. Sambil menghabiskan jatah nasi, mereka menonton lautan api. Desas-desus mengatakan bahwa kebakaran-kebakaran itu direncanakan oleh Hideyoshi, dan disulut oleh para pengikut marga Hachisuka. Pada malam hari, para biksu disibukkan oleh kebakaran-kebakaran, dan pada siang hari mereka menguras tenaga untuk menyiapkan pertahanan. Selain itu, persediaan makanan dan bahan bakar mereka mulai menipis, dan mereka tidak mempunyai perlindungan terhadap hawa dingin.

Musim dingin pun melanda pegunungan, dan hujan salju turun lebat. Kedua puluh ribu prajurit yang bertahan dan kesekian ribu biksu-prajurit mulai layu seperti tanaman yang terkena embun beku.

Pertengahan bulan kedua belas telah tiba. Tanpa baju tempur, hanya dengan jubah biksu, seorang utusan menghampiri perkemahan Nobunaga, disertai empat atau lima biksu-prajurit.

"Aku ingin bicara dengan Yang Mulia Nobunaga," utusan itu berkata.

Ketika Nobunaga datang, ia mengenali si utusan sebagai Sonrin, kepala biara yang sebelumnya bertemu dengan Ittetsu. Sonrin menyampaikan pesan bahwa karena pandangan kuil utama telah berubah, ia bermaksud mengajukan tawaran damai.

Nobunaga menolak. "Apa yang kaukatakan pada utusan yang kukirim dulu? Apa kau tidak tahu malu?" Nobunaga mencabut pedangnya.

"Keterlaluan!" si biksu berseru. Ia berdiri dan terhuyung-huyung ke samping ketika pedang Nobunaga menebas mendatar.

"Pungut kepalanya dan kembali ke gunung. Itulah jawabanku!" Para biksu menjadi pucat dan bergegas kembali ke markas mereka. Salju dan hujan bercampur es yang bertiup melintasi danau juga bertiup ke perkemahan Nobunaga. Nobunaga telah memberikan jawaban yang tak mungkin disalahartikan kepada Gunung Hiei, tapi pikiran mengenai bagaimana menangani kesulitan besar lain berkecamuk dalam benaknya. Musuh yang tampak di depan matanya hanyalah bayangan api pada tembok. Menyiram air ke tembok takkan memadamkan api, dan sementara itu kebakaran sesungguhnya akan berkobar di balik punggungnya. Ini merupakan hal lumrah dalam seni perang, namun Nobunaga tak sanggup memerangi sumber kebakaran, meskipun ia mengetahui asal-usulnya. Sehari sebelumnya, ia menerima pesan penting dari Gifu bahwa Takeda Shingen dari Kai mengerahkan pasukannya dan akan memanfaatkan ketidakhadiran Nobunaga untuk mengadakan serangan. Selain itu, puluhan ribu pengikut Honganji dikabarkan memberontak di Nagashima, di provinsinya sendiri, Owari, dan salah satu kerabatnya, Nobuoki, dibunuh dan bentengnya direbut. Akhirnya, segala macam fitnah busuk yang menjelek-jelekkan Nobunaga disebarkan di kalangan rakyat jelata, dan para biksu-prajurit menghasut orangorang Takeda untuk bergabung dengan mereka.

Dapat dimengerti bahwa Shingen memberontak. Setelah berhasil mengadakan gencatan senjata dengan musuh lamanya, marga Uesugi dari Echigo, Shingen mengalihkan perhatiannya ke arah barat. "Hideyoshi! Hideyoshi!" Nobunaga memanggil. "Ya, tuanku."

"Cari Mitsuhide. Kalian berdua harus segera membawa surat ini ke Kyoto."

"Surat untuk sang Shogun?"

"Betul. Dalam suratku, aku meminta sang Shogun sebagai penengah, tapi lebih baik jika beliau juga mendengarnya langsung dari mulutmu."

"Tapi kalau begitu, mengapa tuanku tadi memenggal kepala utusan dari Gunung Hiei?"

"Tidak mengertikah kau? Kalau aku tidak melakukannya, mungkinkah kita mengadakan perundingan damai? Kalaupun kita mencapai kesepakatan, mereka pasti akan melanggarnya dan mengejar-ngejar kita."

"Tuanku benar. Sekarang hamba mengerti."

"Tak pengaruh di pihak mana kau berada, tak peduli di mana pun api tampak, kebakaran ini hanya memiliki satu sumber. Tak salah lagi, ini ulah sang Shogun bermuka dua, yang gemar bermain api. Kita harus menempatkannya sebagai penengah dalam perundingan damai, lalu mundur secepat mungkin."

Negosiasi damai pun dimulai. Yoshiaki datang ke Kuil Mii dan berupaya meredakan Nobunaga dan mendamaikan kedua belah pihak. Orang-orang Asai dan Asakura menganggapnya sebagai kesempatan menguntungkan, dan pada hari yang sama mereka meninggalkan Gunung Hiei.

Pada hari keenam belas, seluruh pasukan Nobunaga mengambil jalan darat, dan dengan melewati jembatan terapung di Seta, mundur ke Gifu.