--> -->

Taiko Bab 15 : Sang Shogun Pengelana

Bab 15 : Sang Shogun Pengelana

SETELAH sang Shogun dan rombongannya menemukan tempat perlindungan bersama Nobunaga, mereka ditempatkan di sebuah kuil di Gifu. Namun para pengikut Shogun sombong dan berjiwa kerdil, dan satu-satunya keinginan mereka adalah menegakkan wibawa mereka sendiri. Mereka tidak menyadari perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, dan begitu mereka menetap, mereka mulai bersikap congkak dan mengeluh kepada para pengikut Nobunaga.

"Makanan ini kurang enak." "Tempat tidur kami terlalu keras."

"Aku tahu kuil sempit ini hanya untuk sementara, tapi tempat semacam ini tidak sepadan dengan martabat sang Shogun."

Mereka tak mengenai batas. "Kami ingin melihat perlakuan yang lebih baik terhadap sang Shogun. Carilah tempat yang indah untuk membangun istana bagi sang Shogun, dan mulailah dengan pekerjaan pembangunan.''

Nobunaga, yang mendengar tuntutan mereka, menganggap orang-orang itu patut dikasihani. Seketika ia memanggil para pengikut Yoshiaki dan berkata pada mereka, "Aku mendapat kabar bahwa kalian ingin aku membangun istana bagi sang Shogun. karena kediamannya sekarang terlalu sempit." "Memang!" juru bicara mereka menanggapinya.

"Tempat tinggal beliau yang sekarang tidak memadai. Kuil itu sama sekali tidak pantas sebagai kediaman sang Shogun."

"Hmm, hmm," balas Nobunaga dengan nada melecehkan. "Bukankah pikiran Tuan-Tuan agak lamban? Sang Shogun mendatangiku karena berharap aku akan mengusir Miyoshi dan Matsunaga dari Kyoto, merebut kembali wilayah kekuasaannya, dan mengembalikan beliau ke kedudukan yang menjadi hak beliau."

"Itu benar."

"Betapapun tak beraninya aku, aku bertekad memikul tanggung jawab besar ini. Selain itu, aku merasa sanggup mewujudkan harapan-harapan sang Shogun dalam waktu dekat, bagaimana mungkin aku meluangkan waktu untuk mendirikan istana bagi beliau? Apakah Tuan-Tuan sungguh-sungguh telah melepaskan harapan untuk kembali ke Kyoto guna menegakkan pemerintahan yang sah? Puaskah TuanTuan dengan melewatkan hidup secara tenang di suatu tempat berpemandangan indah di Gifu, dan tinggal sebagai pertapa di sebuah istana besar, dengan makanan yang disediakan oleh tuan rumah?"

Para pengikut Yoshiaki menarik diri tanpa berkata apa-apa lagi. Setelah itu mereka tidak banyak mengeluh. Nobunaga tidak mengada-ada. Pada waktu musim panas berganti musim gugur, Nobunaga memerintahkan mobilisasi umum di seluruh Mino dan Owari. Pada hari kelima di Bulan Kesembilan, hampir tiga puluh ribu prajurit siap bergerak. Pada hari ketujuh, mereka sudah berbaris meninggalkan Gifu, menuju ibu kota.

Dalam pesta besar yang diadakan di benteng pada malam sebelum keberangkatan, Nobunaga berkata kepada para perwira dan anak buahnya. "Kekacauan di negeri ini, yang merupakan akibat dari persaingan para panglima provinsi, menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat. Tak perlu disebutkan bahwa kesengsaraan yang melanda seluruh negeri menimbulkan kesedihan bagi sang Tenno. Sejak zaman Ayahanda, Nobuhide, sampai sekarang, marga Oda berpegang pada peraturan tak tertulis bahwa kewajiban utama seorang samurai adalah melindungi sang Tenno beserta kerabatnya. Jadi, pada waktu menuju ibu kota, kalian tidak bertempur untukku, melainkan atas nama sang Kaisar."

Setiap komandan dan prajurit menanggapi perintah berangkat dengan semangat berkobar-kobar.

Untuk langkah besar ini, Tokugawa Ieyasu dari Mikawa, yang belum lama ini menjalin persekutuan militer dengan Nobunaga, mengirim pasukan berkekuatan seribu orang. Saat seluruh pasukan mulai bergerak, sejumlah orang mengemukakan kritik.

"Orang yang dikirim si penguasa Mikawa tidak banyak. Dia memang licik, persis seperti yang kita dengar selama ini." Nobunaga tidak menghiraukannya. "Mikawa sedang membenahi pemerintahan dan ekonomi, karena itu mereka tak punya waktu untuk pertimbanganpertimbangan lain. Saat ini Ieyasu tak mungkin mengirim pasukan besar. Dia memilih bertindak cermat, meski sadar bahwa dia akan dicerca karenanya. Tapi dia pun bukan panglima biasa. Aku percaya bahwa pasukan yang dikirimnya terdiri atas orang-orang terbaik di Mikawa."

Sesuai dugaan Nobunaga, keseribu prajurit Mikawa di bawah Matsudaira Kanshiro tak pernah dilampaui dalam pertempuran. Selalu bertcmpur di baris terdepan, mereka membuka jalan bagi para sekutu mereka, dan keberanian mereka menambah keharuman nama Ieyasu.

Setiap hari cuaca tetap indah. Tiga puluh ribu pejuang bergerak bagaikan garis hitam di bawah langit musim gugur. Barisan mereka begitu panjang. sehingga pada waktu ujung depannya mencapai Kashiwabara, ujung belakangnya masih melewati Tarui dan Akasaka. Panji-panji mereka menutupi langit. Ketika mereka melewati kota Hino dan memasuki Takamiya, dari depan terdengar seruan-seruan.

"Kurir! Ada rombongan kurir dari ibu kota!"

Tiga jendral berkuda maju untuk menemui mereka. "Kami ingin menghadap Yang Mulia Nobunaga."

Para kurir membawa surat dari Miyoshi Nagayoshi dan Matsunaga Hisahide.

Ketika permintaan mereka disampaikan ke markas, Nobunaga berkata. "Bawa mereka ke sini."

Para kurir segcra dipanggil, tapi Nobunaga mencemooh tawaran perdamaian dalam surat itu sebagai siasat musuh. "Katakan pada mereka bahwa jawaban akan kuberikan setelah aku tiba di ibu kota."

Ketika matahari terbit pada hari kesebelas, ujung depan pasukan Nobunaga menyeberangi Sungai Aichi. Kccsokan harinya Nobunaga bergerak menuju kubu pertahanan orang-orang Sasaki di Kannonji dan Mitsukuri. Benteng Kannonji berada di bawah komando Sasaki Jotei. Putra Jotei, Sasaki Rokkaku. mempersiapkan Benteng Mitsukuri menghadapi pengepungan. Marga Sasaki dari Omi bersekutu dengan Miyoshi dan Matsunaga, dan ketika Yoshiaki mencari perlindungan bersama mereka, mereka malah berusaha membunuhnya.

Omi merupakan kawasan stratcgis yang membentang sepanjang Danau Biwa, di tepi jalan yang menuju ke arah selatan. Dan di sinilah orang-orang Sasaki menunggu, berkoar bahwa mereka akan melumatkan Nobunaga seperti Nobunaga menghancurkan Imagawa Yoshimoto dengan sekali pukul. Sasaki Rokkaku meninggalkan Benteng Mitsukuri, bergabung dengan pasukan ayahnya di Kannonji, dan membagi-bagi pasukannya di semua benteng Omi yang berjumlah delapan belas.

Sambil melindungi matanya dari sinar matahari, Nobunaga memandang dari tempat tinggi dan tertawa. "Barisan musuh sungguh gemilang. Persis seperti dalam risalah kuno."

Ia memrintahkan Sakuma Nobumori dan Niwa Nagahide untuk merebut Benteng Mitsukuri, dan menempatkan pasukan Mikawa di barisan terdepan. Kemudian ia berpesan, "Seperti kukatakan pada malam sebelum keberangkatan kita, gerakan menuju ibu kota ini bukan balas dendam pribadi. Aku ingin setiap prajurit dalam pasukan kita paham bahwa kita bertempur untuk sang Tenno. Jangan bunuh mereka yang melarikan diri. Jangan bakar rumah-rumah para penduduk. Dan, sejauh mungkin, jangan menginjakinjak ladang yang belum dipanen."

***

Dalam kabut pagi, air Danau Biwa belum tampak. Mengoyak-ngoyak kabut itu, tiga puluh prajurit mulai bergerak. Ketika Nobunaga melihat sinyal api yang menandakan serangan terhadap benteng Mitsukuri oleh pasukan Niwa dan Sakuma, ia memberi perintah. "Pindahkan markas ke Benteng Wada."

Benteng Wada merupakan kubu pertahanan musuh, jadi perintah Nobunaga untuk memindahkan markas ke sana berarti menyerang dan merebut benteng itu. Namun perintah itu diucapkannya seakan-akan anak buahnya tinggal menempati posisi yang telah dikosongkan oleh pasukan musuh.

"Nobunaga sendiri ikut dalam penyerangan!" jendral yang memimpin Benteng Wada bersorak, menanggapi seruan para pengintai di menara jaga. Sambil menepuk pangkal pedang, ia berpidato di depan pasukannya. "Ini berkah dari para dewa! Baik Benteng Kannonji maupun Benteng Mitsukuri seharusnya mampu bertahan selama paling tidak satu bulan, dan sementara itu pasukan Matsunaga dan Miyoshi beserta sekutu-sekutu mereka di sebelah utara danau bisa memotong jalur mundur Nobunaga. Tetapi Nobunaga telah mempercepat kematiannya dengan menyerang benteng ini. Ini kesempatan emas! Jangan biarkan keberuntungan ini lepas bcgitu saja! Ambillah kepala Nobunaga!"

Seluruh pasukannya bersorak-sorai. Mereka yakin bahwa tembok besi marga Sasaki dapat bertahan selama satu bulan, meskipun Nobunaga memimpin pasukan berkekuatan tiga puluh ribu orang dan membawahi banyak jendral hebat. Provinsi-provinsi kuat di sekitar mereka pun meyakini hal ini. Namun pada kenyataannya Benteng Wada takluk dalam setengah hari saja. Seusai pertempuran selama sekitar empat jam, pasukan yang bertahan tercerai-berai, dan terpaksa melarikan diri ke gunung dan ke tepi danau.

"Jangan kejar mereka!" Nobunaga memberi perintah dari puncak Bukit Wada, dan panji yang dikibarkan di sana terlihat jelas di bawah matahari siang. Berlepotan darah dan lumpur, para prajurit bcrangsur-angsur berkumpul di bawah panji kesatuan masing-masing. Kemudian, setelah melepaskan teriakan kemenangan, mereka menghabiskan ransum makan siang. Beritaberita terus berdatangan dari arah Mitsukuri. Pasukan Tokugawa dari Mikawa, yang ditempatkan di barisan terdepan di bawah komando Niwa dan Sakuma, sedang bertempur dengan gagah, bermandikan darah. Satu per satu berita kejayaan terkumpul di tangan Nobunaga.

Laporan mengenai kekalahan Mitsukuri sampai di telinga Nobunaga sebelum matahari tenggelam. Menjelang malam, asap hitam tampak mengepul dari arah benteng di Kannonji. Pasukan Hideyoshi sudah mulai mendesak maju. Perintah untuk serbuan habishabisan diberikan. Nobunaga memindahkan perkemahannya, dan seluruh pasukan Mitsukuri beserta sekutu-sekuiu mereka dipaksa mundur sampai ke Benteng Kannonji. Ketika hari berganti malam, orang pertama telah berhasil mendobrak dinding benteng musuh.

Bintang dan bunga api berkilauan di langit cerah. Para penyerang melanda masuk bagaikan air bah. Lagu kemenangan berkumandang, dan bagi para sekutu marga Sasaki, lagu itu menyerupai suara angin musim gugur yang kejam. Tak seorang pun menduga bahwa kubu pertahanan ini akan bertekuk lutut dalam satu hari saja. Benteng di Bukit Wada serta kedelapan belas tempat strategis lainnya sama sekali tak sanggup memberikan perlawanan berarti terhadap serbuan pasukan Nobunaga yang bagaikan ombak dahsyat.

Segcnap marga Sasaki—mulai dari para perempuan dan anak-anak sampai ke pemimpin mereka, Rokkaku dan Jotei—terhuyung-huyung mengarungi kegelapan malam, melarikan diri dari api yang menyelimuti benteng mereka, dan menuju benteng di Ishibe.

"Biarkan para pelarian kabur sesuka hati mereka, besok masih ada musuh lain yang menanti kita." Nobunaga tidak hanya membiarkan mereka hidup, ia juga tidak merampas harta yang mereka bawa. Nobunaga tidak biasa berlambat-lambat di tengah jalan. Pikirannya sudah berada di Kyoto, di pusat lapangan permainan. Api di Benteng Kannonji akhirnya padam. Begitu Nobunaga memasuki reruntuhan benteng itu, ia memperlihatkan rasa terima kasih pada pasukannya dengan berkata, "Kuda-kuda dan para prajurit patut diberi kesrmpatan melepas lelah."

Namun ia sendiri tidak beristirahat lama. Malam itu ia tidur tanpa melepas baju tempur, dan pada waktu fajar tiba, ia mengumpulkan para pengikut senior untuk mengadakan rapai. Sekali lagi ia mengeluarkan keputusan-keputusan yang harus diumumkan di seluruh provinsi, dan langsung mengutus Fuwa Kawachi dengan perintah untuk membawa Shogun Yoshiaki dari Gifu ke Moriyama.

Kemarin ia bertempur di muka pasukan, hari ini ia memegang kendali pemerintahan. Inilah Nobunaga. Setelah memberikan tanggung jawab sementara sebagai administrator dan hakim di Otsu kepada empat jcndral, dua hari kemudian ia menyeberangi Danau Biwa, dan hampir lupa makan karena sibuk memberi perintah demi perintah. Pada hari kedua belas bulan ini, Nobunaga memasuki wilayah Omi dan menyerang Kannonji dan Mitsukuri. Kemudian, pada tanggal dua puluh lima, pasukan Nobunaga mulai memasang pengumumanpengumuman mengenai undang-undang baru yang akan diberlakukan di provinsi itu. Hanya ada satu jalan untuk meraih keunggulan! Kapal-kapal perang dari tepi timur Danau Biwa berlayar ke Omi. Segala sesuatu, mulai dari pembuatan kapal sampai pemuatan ransum untuk para prajurii dan makanan untuk kuda-kuda, melibatkan kerja sama dengan rakyat jelata. Tentu saja mereka meringkuk ketakutan menghadapi kekuatan militer Nobunaga. Tetapi selama itu, kenyataan bahwa rakyat Omi bersatu untuk mendukung Nobunaga adalah karena mereka menyctujui gaya pemerintahannya, yang mereka anggap dapat dipercaya.

Nobunagalah satu-satunya orang yang menyelamatkan orang-orang kecil dari api peperangan dan secara terang-terangan membela kepentingan mereka. Ketika mereka menanyakan nasib mereka, jawaban Nobunaga terasa membesarkan hati. Dalam situasi seperti itu, tak ada waktu untuk menyusun kebijaksanaan politik secara terperinci. Rahasia Nobunaga sebenarnya tak lebih dari melaksanakan semua hal secara cepat dan jelas. Yang diinginkan rakyat jelata di sebuah negeri yang diombang-ambingkan oleh perang bukanlah administrator ulung atau pemimpin bijaksana. Dunia dilanda kekacauan. Jika Nobunaga sanggup mengendalikannya, mereka pun bersedia menanggung penderitaan sampai batas-batas tertentu.

Angin di tengah danau mengingatkan orang bahwa musim gugur telah tiba, dan armada Nobunaga menimbulkan gelombang dengan pola memanjang yang indah pada permukaan air. Pada tanggal dua puluh lima, kapal yang ditumpangi Yoshiaki berlayar dari Moriyama dan mendarat di bawah Kuil Mii.

Nobunaga, yang telah tiba lebih dulu, menduga bahwa Miyoshi dan Matsunaga akan melancarkan serangan, tapi kali ini dugaannya meleset.

Ia menyambut Yoshiaki di Kuil Mii dengan berkata, "Boleh dibilang kita sudah memasuki ibu kota."

Pada tanggal dua puluh delapan, Nobunaga akhirnya mendesak pasukannva ke Kyoto. Ketika mencapai Awataguchi, seluruh pasukan berhenti. Hideyoshi, yang berada di samping Nobunaga, memacu kudanya ke depan, sementara Akechi Mitsuhide datang dari arah barisan depan.

"Ada apa?"

"Utusan sang Tenno."

Nobunaga pun terkejut, dan segera turun dari kuda. Kedua utusan tiba dengan membawa surat dari sang Tenno.

Sambil membungkuk rendah, Nobunaga bersikap penuh hormat, "Sebagai pemimpin pasukan provinsi, aku tidak memiliki kemampuan selain mengangkat senjata. Sejak zaman Ayahanda, kami telah menyayangkan keadaan menyedihkan yang menimpa Istana Kekaisaran serta ketidaktenteraman dalam hati sang Tenno. Namun hari ini aku mendatangi ibu kota dari pelosok negeri untuk menjaga Yang Mulia. Tak ada tugas yang lebih mcmbanggakan bagi seorang prajurit atau lebih menggembirakan bagi keluargaku."

Bersama tiga puluh ribu prajurit, Nobunaga berikrar untuk menaati setiap keinginan sang Tenno.

Nobunaga menempatkan markasnya di Kuil Totuku. Pada hari yang sama, berbagai pengumuman dipasang di mana-mana. Pertama-tama adalah penyusunan patroli keamanan. Tugas jaga pada siang hari diberikan pada Sugaya Kuemon, sementara tanggung jawab jaga malam diembankan pada Hideyoshi.

Salah satu prajurit Oda pergi minum-minum. Prajurit yang baru saja meraih kemenangan mudah terpancing untuk bertingkah sewenang-wenang. Setelah minum sampai mabuk dan makan sampai kenyang, si prajurit melemparkan beberapa keping uang dengan nilai kurang dari setengah yang seharusnya ia bayar, lalu melangkah keluar sambil berkata. "Itu sudah cukup."

Pemilik kedai itu segera mengejarnya sambil marahmarah. Tapi ketika ia menangkap si prajurit, orang itu memukulnya, kemudian pergi dengan langkah terhuyung-huyung. Hideyoshi, yang sedang berpatroli, kebetulan melihai kejadian tersebut dan segera memerintahkan agar praiurit yang bersangkutan dicekal. Ketika prajurit itu dibawa ke markas, Nobunaga memuji kesigapan patroli, melucuti baju tempur si prajurit, dan bawahannya mengikat orang itu ke pohon besar di muka gerbang kuil. Keterangan mengenai kejahatan yang dilakukannya dicatat pada sebuah papan pengumuman, kemudian Nobunaga memerintahkan agar orang iiu dipertontonkan selama tujuh hari, untuk selanjutnya dipenggal. Hari demi hari tak terhitung banyaknya orang yang mondarmandir di depan gerbang kuil. Tak sedikit dari mereka saudagar kaya atau bangsawan, juga ada kurir-kurir dari kuil-kuil lain, serta pcmilik toko yang mengantarkan barang dagangan mcrcka.

Orang-orang yang berlalu-lalang berhenti untuk membaca papan pengumuman dan mengamati orang yang terikat di pohon. Dengan demikian para warga ibu kota melihat sendiri keadilan dan ketegasan Nobunaga. Mereka melihat bahwa undang-undang yang diumumkan di setiap sudut kota—pencurian sekeping uang pun akan diganjar hukuman mati— ditegakkan tanpa pandang bulu, dimulai dengan prajurit Nobunaga sendiri. Tak seorang pun menyatakan ketidakpuasannya.

Istilah "mati karena sekeping" menjadi umum di antara para warga untuk menggambarkan kerasnya hukuman di bawah undang-undang yang diberlakukan Nobunaga. Dua puluh satu hari berlalu sejak pasukannya berangkai dari Gifu.

Setelah Nobunaga berhasil menguasai situasi di ibu kota dan kembali ke Gifu, ia berpaling dari segala urusan yang menyibukkannya dan menemukan bahwa Mikawa bukan lagi provinsi lemah dan miskin seperti semula.

Mau tak mau ia mengagumi kewaspadaan Ieyasu. Si Penguasa Mikawa rupanya tidak puas menjadi penjaga pintu belakang Owari dan Mino sementara sekutunya, Nobunaga, bergerak ke pusat kekuasaan. Bertekad untuk tidak membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja, Ieyasu memaksa pasukan penerus Imagawa Yoshimoto, Imagawa Ujizane, keluar dari Provinsi Suruga dan Totomi. Ini, tentu saja, tidak semata-mata berkat kekuatannya sendiri. Berhubungan dengan marga Oda di satu pihak, Ieyasu juga bekerja sama dengan Takeda Shingen dari Kai, dan mereka bersepakat untuk membagi bekas wilayah Imagawa. Ujizane memang bodoh, dan memberikan banyak alasan kuat bagi marga Tokugawa maupun marga Takeda untuk menyerangnya.

Meskipun seluruh negeri dilanda kekacauan, setiap komandan militer memahami bahwa ia tak bisa memulai perang tanpa alasan, dan jika ia nekat melakukannya, pada akhirnya ia akan menderita kekalahan. Ujizane menjalankan pemerintahan yang memberikan peluang bagi musuh-musuhnya untuk bersikap demikian, dan ia sendiri tak sanggup membaca pertanda zaman. Semua orang tahu bahwa ia tak pantas menjadi penerus Yoshimoto.

Provinsi Suruga menjadi milik marga Takeda, sementara Totomi menjadi bagian wilayah kekuasaan marga Tokugawa. Pada hari Tahun Baru di tahun Eiroku ketiga belas, Ieyasu menyerahkan komando benteng di Okazaki kepada putranya, lalu pindah ke Hamamatsu di Totomi. Di bulan kedua, ia menerima surat berisi ucapan selamat dari Nobunaga.

Tahun lalu aku mengungkapkan kenginanku yang telah lama terpendam dan mencapai berbagai keberhasilan kecil, tetapi tak ada yang lebih menggembirakan daripada menambahkan tanah Totomi yang subur ke dalam wilayah Tuan. Secara kolektif, kita semua bertambah kuat.

Pada awal musim semi, Ieyasu pergi ke Kyoto bersama Nobunaga. Tentu saja kunjungan mereka adalah untuk menikmati ibu kota di musim semi dan bersantai di bawah kembang ceri, paling tidak itulah yang tampak dari luar. Namun dari sudut politik, seluruh dunia memandang ke arah kedua pemimpin yang bertemu di Kyoto dan bertanya-tanya apa scsungguhnya tujuan mereka.

Tetapi perjalanan Nobunaga kali ini memang hanya untuk bersenang-senang. Nobunaga dan Ieyasu menghabiskan satu hari penuh di ladang-ladang dengan berburu menggunakan burung rajawali. Pada malam hari. Nobunaga mengadakan jamuan makan dan minta agar para warga desa menampilkan nyanyian dan tarian di tempat menginapnya. Pada dasarnya. ia dan Ieyasu hanya menikmati waktu santai. Ketika mereka tiba di ibu kota, Hideyoshi, yang diberi tanggung jawab atas pertahanan Kyoto, pergi sampai ke Otsu untuk menyambut mereka. Nobunaga memperkenalkannya pada Ieyasu.

"Ya, aku sudah lama mengenalnya. Aku pertama kali berjumpa dengannya pada waktu aku berkunjung ke Kiyosu, dan dia berada dalam barisan samurai yang ditugaskan di gerbang untuk menyambutku. Itu satu tahun setelah pertempuran di Okehazama, jadi memang sudah agak lama," Ieyasu menatap Hideyoshi dan tersenyum. Hideyoshi terkesan dengan daya ingat Ieyasu yang begitu baik. Ieyasu kini berusia dua puluh delapan tahun, Nobunaga tiga puluh enam, Hideyoshi hampir tiga puluh empat. Pertempuran di Okehazama berlangsung scpuluh tahun lalu.

Setelah tiba di Kyoto. Nobunaga pertama-tama meninjau perbaikan Istana Kekaisaran.

"Menurut perkiraan kami, pekerjaan ini akan tuntas tahun depan." kedua pengawas pembangunan memberitahunya.

"Biayanya tak perlu ditekan-tekan." jawab Nobunaga. "Sudah bertahun-tahun Istana Kekaisaran berada dalam keadaan tak terurus."

Ieyasu mendengar komentar Nobunaga dan berkata, "Aku benar-benar iri terhadap posisi Tuan. Tuan dapat memperlihatkan pengabdian pada sang Tenno secara nyata."

"Memang begitu," balas Nobunaga tanpa malumalu, kcmudian mengang-angguk, seakan-akan sependapat dengan Ieyasu.

Nobunaga tidak hanya memugar Istana Kekaisaran, ia juga memperbaiki keuangan istana. Sang Tenno tentu saja merasa senang dan Nobunaga pun berhasil memperlihatkan kesetiaannya pada rakyat. Setelah yakin bahwa kaum bangsawan maupun rakyat jelata merasa senang, Nobunaga menikmati waktu yang dihabiskannya bersama Ieyasu selama bulan kedua, mengagumi kembang ceri, menjalani Upacara Minum Teh, serta menyelenggarakan tarian dan musik istana.

Siapa yang dapat menerka bahwa selama itu dalam hati ia sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi kesulitan berikut yang bakal menghadang? Nobunaga memprakarsai tindakan-tindakannya seiring dengan perkembangan yang terjadi, dan menyusun rencana serta memikirkan pelaksanaannya bahkan pada saat ia tidur. Tiba-tiba, pada hari kedua di bulan keempat, semua jendralnya menerima panggilan untuk berkumpul di tempat kediaman sang Shogun.

Ruang rapat yang berukuran besar terisi penuh.

"Ini menyangkut marga Asakura di Echizen." Nobunaga angkat bicara, mengungkapkan apa yang direncanakannya sejak bulan kedua. "Yang Mulia Asakura tak pernah menanggapi permintaan sang Shogun, dan tidak mengirim sepotong kayu pun untuk pembangunan Istana Kekaisaran. Yang Mulia Asakura ditunjuk oleh sang Shogun dan berkedudukan sebagai pengikut sang Tenno, tapi tak ada yang dipikirkannya selain kemewahan dan kemalasan marganya sendiri. Aku ingin turun tangan untuk menyelidiki kcjahatan ini, dan membentuk pasukan untuk menghukumnya. Bagaimana pendapat yang lain?"

Di antara mereka yang langsung berada di bawah kendali keshogunan sesungguhnya terdapat orangorang yang sudah lama menjalin persahabatan dengan marga Asakura, dan secara tak langsung mendukung mereka, tapi tak seorang pun merasa keberatan. Dan karena tidak sedikit yang secara terus terang menyetujui rencana Nobunaga, tak seorang pun berani bicara di bawah tekanan kelompok yang lebih besar.

Menyerang marga Asakura berarti mengadakan serbuan ke daerah utara. Ini suatu langkah besar, tapi dalam waktu singkat rencananya telah disetujui.

Pada hari yang sama sebuah pengumuman diedarkan, berisi pemberitahuan mengenai pengerahan pasukan, dan pada hari kedua puluh di bulan yang sama, pasukan itu telah terbentuk di Sakamoto. Selain pasukan Owari dan Mino masih ada tambahan delapan ribu prajurit di bawah komando Tokugawa Ieyasu. Di Bulan Keempat yang cerah, pasukan berkekuatan sekitar seratus ribu orang tampak membentang di sepanjang tepi danau di Niodori.

Ketika memeriksa pasukannya. Nobunaga menunjuk pegunungan di utara. "Lihatlah! Salju yang menyelimuti gunung-gunung di daerah utara telah mencair. Kita akan diiringi bunga-bunga musim semi!" Hideyoshi pun termasuk dalam pasukan ini, dan ia memimpin sekelompok prajurit.

Hideyoshi mengangguk-angguk dan berkata dalam hati, "Hmm, rupanya Tuan Nobunaga sengaja melewatkan musim semi dengan bersenang-senang di ibu kota bersama Yang Mulia Ieyasu karena menunggu salju mencair di pegunungan yang menuju daerah utara."

Tetapi Hideyoshi menganggap bahwa langkah Nobunaga yang paling gemilang adalah mengundang Ieyasu ke ibu kota. Secara tak langsung Nobunaga telah memamerkan kekuatan dan keberhasilannya, sehingga Ieyasu takkan menyesali keputusannya untuk mengirim pasukan Mikawa. Inilah kelebihan Nobunaga. Meskipun dunia tengah menghadapi kekacauan, Nobunaga akan mempersatukannya dengan kemampuan yang ia miliki. Hideyoshi meyakini hal ini, dan ia lebih paham daripada siapa pun bahwa makna pertempuran yang mereka hadapi terletak pada kenyataan bahwa pertempuran itu memang harus terjadi.

Pasukan Nobunaga berangkat dari Takashima, melewati Kumagawa di Wakasa, dan menuju Tsuruga di Echizen. Pasukan itu terus mendesak maju, membumihanguskan benteng-benteng musuh serta pos-pos perbatasan, melintasi gunung demi gunung, dan melancarkan serangan ke Tsuruga dalam bulan yang sama.

Orang-orang Asakura, yang semula menganggap enteng pasukan musuh, tertegun karena Nobunaga sudah berada di sana. Setengah bulan sebelumnya ia masih mengagumi bunga-bunga musim semi di ibu kota. Orang-orang Asakura tak bisa percaya, bahkan dalam mimpi pun, bahwa mereka melihat panji-panji Nobunaga berkibar di provinsi mereka sendiri.

Martabat marga Asakura yang tua menanjak pesat berkat bantuan yang mereka berikan pada Shogun Pertama, dan kemudian mereka dianugcrahi seluruh Provinsi Echizen.

Marga itulah marga terkuat di daerah utara. Ini diakui oleh mereka sendiri maupun oleh marga-marga lain. Marga Asakura berkedudukan sebagai peserta dalam keshogunan, mereka memiliki kekayaan alam berlimpah, dan kekuatan militer mereka dapat diandalkan.

Ketika memperoleh kabar bahwa Nobunaga telah sampai di Tsuruga, Yoshikage hampir mencaci orang yang menyampaikan berita itu. "Jangan panik. Kau pasti keliru."

Pasukan Oda yang menyerang Tsuruga berkemah di tempat itu, dan mengirim beberapa batalion untuk menyerbu benteng-benteng di Kanegasaki dan Tezutsugamine.

"Di mana Mitsuhide?" tanya Nobunaga.

"Jendral Akechi ditugaskan sebagai komandan barisan depan," jawab pembantunya.

"Panggil dia ke sini!" perintah Nobunaga.

"Ada apa, tuanku?" tanya Mitsuhide, bergegas kembali dari barisan depan.

"Kau cukup lama tinggal di Echizen, jadi kau tentu mengenai medan antara tempat ini dan benteng utama marga Asakura di Ichijogadani. Mengapa kau bertempur untuk merebut keberhasilan kecil bersama barisan depan, tanpa menyusun suatu strategi?" Nobunaga ingin tahu.

"Hamba mohon ampun." Mitsuhide membungkuk, seakan-akan tertusuk oleh ucapan Nobunaga. "Jika tuanku memerintahkannya, hamba akan menggambar peta dan menyerahkannya untuk dipelajari oleh tuanku."

"Baiklah, kalau begitu kuberikan perintah resmi. Peta-peta yang kubawa ternyata kurang cermat, dan sepertinya ada beberapa daerah yang sama sekali salah. Bandingkan peta-peta itu dengan petamu, lakukan koreksi, lalu serahkan kembali padaku."

Mitsuhide memiliki beberapa peta terperinci yang tak dapat dibandingkan dengan peta-peta milik Nobunaga. Mitsuhide menjiplak peta-petanya sendiri, dan kembali untuk menyerahkan peta-peta itu pada Nobunaga.

"Kurasa kau sebaiknya pergi ke markasku dan mengamati medan. Selain itu, rasanya kau harus kujadikan perwira staf untuk dewan perang." Setelah itu, Nobunaga tak pernah membiarkan laki-laki ini pergi jauh dari markasnya.

Tezutsugamine, benteng yang dipimpin oleh Hitta Ukon, menyerah dalam waktu singkat. Tapi benteng di Kanegasaki tak bisa secepat itu ditaklukkan. Benteng ini dipertahankan mati-matian oleh Asakura Kagetsune, seorang jendral berusia dua puluh enam tahun. Ketika ia menjadi biksu pada masa mudanya, banyak orang menyayangkan bahwa prajurit dengan potongan dan pembawaan seperti Kagetsune hendak memasuki biara. Karena itu ia terpaksa kembati ke kehidupan duniawi, dan segera dipercaya sebagai komandan sebuah benteng. Dikepung oleh lebih dari empat puluh ribu prajurit di bawah pimpinan jendraljendral berpengalaman seperti Sakuma Nobumori. Ikeda Shonyu, dan Mori Yoshinari, Kagetsune sesekali memandang dari menara bentengnya dan mengembangkan senyum.

"Sok pamer."

Yoshinari, Nobumori, dan Shonyu melancarkan serangan besar-besaran, menodai tembok-tembok dengan percikan darah, dan sepanjang hari mencengkeram bagaikan semut. Ketika mereka menghitung jumlah mayat mnjelang malam, pihak musuh kehilangan tiga ratus orang, tapi korban jiwa di pasukan mereka sendiri berjumlah lebih dari delapan ratus. Malam itu benteng di Kanegasaki tampak megah di bawah cahaya bulan musim panas.

"Benteng ini takkan jatuh. Dan kalau pun kita dapat menaklukkannya, kita tidak meraih kemenangan," kau Hideyoshi pada Nobunaga.

Nobunaga kelihatan agak tidak sabar. "Kenapa kita tidak meraih kemenangan jika benteng ini jatuh?" Pada saat-saat seperti itu, Nobunaga tidak memiliki alasan untuk bergembira.

"Kalaupun benteng Kanegasaki takluk, itu tidak berarti Echizen akan runtuh. Dengan merebut benteng ini, kekuatan militer tuanku takkan meningkat."

Nobunaga memotongnya dengan berkata. "Tapi bagaimana kita bisa maju tanpa mengalahkan Kanegasaki?"

Hideyoshi tiba-tiba berpaling ke samping, Ieyasu telah melangkah masuk dan berdiri di sana. Melihat Ieyasu, Hideyoshi segera membungkuk dan menarik diri. Kemudian ia membawa beberapa tikar dan menawarkan tempat duduk di samping Nobunaga pada Ieyasu.

"Mengganggukah aku?" tanya Ieyasu, lalu ia duduk di tempat yang disediakan oleh Hideyoshi. Tapi pada Hideyoshi ia tidak memberi tanggapan sama sekali. "Rupanya Tuan tengah membahas sesuatu."

"Tidak." Sambil menunjuk Hideyoshi dengan dagu dan memperlunak sikapnya. Nobunaga menjelaskan apa yang mereka bicarakan kepada Ieyasu.

Ieyasu mcngangguk dan menatap Hideyoshi. Ieyasu delapan tahun lebih muda daripada Nobunaga, tapi Hideyoshi justru merasa sebaliknya. Ketika Ieyasu menatapnya, Hideyoshi seolah-olah tak dapat percaya bahwa pembawaan dan roman mukanya milik laki-laki bcrusia dua puluhan.

"Aku sependapat   dengan   apa   yang   dikatakan Kinoshita. Membuang-buang waktu dan mcnyianyiakan pasukan di benteng ini bukanlah langkah bijaksana."

"Tuan berpendapat bahwa kita sebaiknya membatalkan serangan, lalu menuju jantung pertahanan musuh?"

"Pertama-tama, mari kita dengar apa yang akan dikatakan Kinoshita. Dia tentu menyimpan sesuatu dalam kepalanya."

"Hideyoshi." "Ya. tuanku."

"Ceritakan rencanamu."

"Hamba belum mcnyusun rencana."

"Apa?" Bukan Nobunaga saja yang tampak terkejut.

Ieyasu pun kelihatan bingung.

"Di dalam benteng itu ada tiga ribu prajurit dan tembok-tembok benteng diperkuat oleh hasrat mereka untuk mcnghadapi musuh berkekuatan sepuluh ribu orang dan bertempur sampai titik darah penghabisan. Meskipun hanya benteng kecil, Kanegasaki takkan dapat direbut dengan mudah. Hamba sangsi apakah benteng itu akan goyah, kalaupun kita mempunyai rencana. Orang-orang itu pun manusia biasa, jadi hamba mcmbayangkan bahwa mereka juga memiliki perasaan dan ketulusan. "

"Kau mulai lagi, he?" ujar Nobunaga. Ia tak ingin Hideyoshi mengoceh tak keruan. Ieyasu merupakan sekutunya yang paling berkuasa, dan Nobunaga memperlakukannya dengan amat sopan; tapi bagaimanapun ia penguasa Provinsi Mikawa dan Totomi, bukan anggota inti marga Oda. Selain itu, Nobunaga telah mengenal cara berpikir Hideyoshi, sehingga ia tak perlu mendengar penjelasan terperinci untuk mempercayainya.

"Bagus. Bagus sekali." kata Nobunaga. "Dengan ini aku memberimu wewenang umuk melakukan apa saja yang ada dalam kepalamu. Laksanakan-lah dengan sebaik-baiknya."

"Terima kasih, tuanku." Hideyoshi menarik diri, seakan-akan urusan itu tidak seberapa penting. Tapi pada malam hari ia memasuki benteng musuh seorang diri dan menemui komandannya, Asakura Kagetsune. Hideyoshi membuka hatinya dan berbicara dengan penguasa benteng yang masih muda itu.

"Tuan pun berasal dari keluarga samurai, jadi perhatian Tuan tentu tertuju pada hasil akhir pertempuran ini. Perlawanan lebih lanjut hanya akan mengakibatkan kematian prajurit-prajurit yang sangat berharga. Aku sendiri tak ingin melihat Tuan mati percuma. Daripada tewas sia-sia, mengapa Tuan tidak membuka gerbang benteng dan mundur teratur, bergabung dengan Yang Mulia Yoshikage dan menghadapi kami sekali lagi di medan pertempuran yang lain? Aku akan menjamin keamanan semua harta, senjata, serta para perempuan dan anak-anak di dalam benteng, dan mengirim semuanya kepada Tuan, tanpa gangguan."

"Berpindah medan tempur dan menghadapi Tuan di lain waktu memang menarik," balas Kageisune, lalu mempersiapkan diri untuk mundur. Bersikap seperti samurai sejati, Hideyoshi membcrikan scgala kemudahan bagi pasukan musuh yang hendak mundur, lalu mengawal mereka sampai sejauh satu mil dari benteng.

Satu setengah hari berlalu sampai urusan Kanegasaki berhasil dituntaskan, tapi ketika Hideyoshi memberitahu Nobunaga bahwa pekerjaannya telah rampung, junjungannya hanya berkata, "Begitukah?" dan tidak memberikan pujian sama sekali. Namun roman muka Nobunaga memperlihatkan bahwa ia berpikir. "Kau terlalu bcrhasil—amal bakti pun ada batasnya." Tapi keberhasilan Hideyoshi tak dapat disangkal, tak peduli siapa yang menilainya.

Seandainya Nobunaga memujinya setinggi langit, Shonyu, Nobumori. dan Yoshinari tentu merasa malu dan takkan berani lagi muncul di hadapan junjungan mereka. Bagaimanapun, mereka telah mengirim delapan ratus prajurit menemui ajal dan tak sanggup meraih kemenangan, bahkan dengan pasukan yang jauh lebih besar daripada pasukan musuh. Hideyoshi pun memahami perasaan ketiga jendral itu, dan ketika memberikan laporan, ia mengaku sekadar menjalankan perintah Nobunaga.

"Hamba hanya ingin menjalankan segala sesuatu sesuai perintah. Hamba berharap sepak terjang hamba dapat dimaafkan." Dengan mengucapkan permintaan maaf, ia menarik diri. Saat itu Ieyasu kebetulan berada bersama jendraljendral lain di sisi Nobunaga. Sambil menggerutu ia menyaksikan Hideyoshi pergi. Mulai detik itu ia menyadari bahwa ada laki-laki hebat dengan umur tidak terpaut jauh dari usianya sendiri, yang dilahirkan di masa yang sama. Sementara itu, setelah mengosongkan Kanegasaki. Asakura Kagetsunc bergegas mundur. berencana untuk bergabung dengan pasukan di benteng utama di Ichijogadani, lalu sekali lagi mengadu kekuatan dengan pasukan Nobunaga di tempat lain. Ketika masih dalam perjalanan, ia bertemu dengan kedua puluh ribu prajurit yang dikirim oleh Asakura Yoshikage sebagai bala bantuan untuk Kanegasaki.

"Kacau!" seru Kagetsune, menyesal karena ia menuruti nasihat musuh, tapi sudah terlambat.

"Kenapa kautinggalkan benteng tanpa bertempur?" hardik Yoshikage, marah sekali, tapi ia terpaksa menggabungkan kedua pasukan dan kembali ke Ichijogadani.

Pasukan Nobunaga menyerbu sampai ke Kinome Pass. Jika ia berhasil menembus tempat strategis itu, markas marga Asakura akan berada tepat di depan matanya. Tapi sebuah pesan penting mengejutkan pasukan Oda.

Mereka mendapat kabar bahwa Asai Nagamasa dari Omi, yang sudah selama beberapa generasi terlibat persekutuan antarmarga dengan orang-orang Asakura, telah membawa pasukannya dari utara Danau Biwa dan memotong jalur mundur Nobunaga. Selain itu, Sasaki Rokkaku, yang sudah sempat mencicipi kekalahan di tangan Nobunaga, bekerja sama dengan orang-orang Asai dan menyerbu dari wilayah berbukitbukit di Koga. Satu per satu mereka menyerang sisi Nobunaga.

Musuh kini berada di depan dan di belakang. Mungkin karena perkembangan inilah semangat pasukan Asakura berkobar-kobar, dan mereka siap menerjang dari Ichijogadani untuk melancarkan serangan balasan.

"Kita telah memasuki rahang kematian," kata Nobunaga. Ia mcnyadari bahwa mereka seakan-akan mencari kuburan di wilayah musuh. Yang tiba-tiba membuatnya khawatir bukan saja karena Sasaki Rokkaku dan Asai Nagamasa telah memotong jalur mundurnya; yang membuat bulu kuduk Nobunaga berdiri adalah kemungkinan bahwa para biksu-prajurit Honganji, yang memiliki kubu pertahanan di daerah ini, akan mengangkat senjata dan menentang pasukan penyerbu. Cuaca mendadak berubah, dan pasukan penyerbu menyerupai perahu yang berada di ambang badai.

Tapi di manakah lubang yang cukup besar agar sepuluh ribu prajurit dapat mundur? Para ahli strategi mewanti-wanti bahwa bergerak maju selalu lebih mudah daripada menarik pasukan mundur. Jika seorang jendral melakukan satu kesalahan saja, ia mungkin akan kehilangan seluruh pasukannya. "Perkenankan hamba mengambil komando barisan belakang. Setelah itu tuanku dapat menempuh jalan pintas melewati Kuchikidani, tanpa direpotkan oleh terlalu banyak orang, dan dalam perlindungan kegelapan malam, menyusup keluar dari tanah kematian ini."

Scmakin lama bahaya yang mengancam semakin besar. Malam itu, hanya disertai segclintir pengikut dan pasukan berkekuatan sekitar tiga ratus orang, Nobunaga menyusuri lembah-lembah dan jurangjurang, serta berkuda sepanjang malam menuju Kuchikidani. Berkali-kali mereka diserang oleh para biksu-prajurit dari sekte Ikko serta oleh gerombolan bandit setempat, dan selama dua hari dua malam mereka tidak makan, minum, maupun tidur. Pada hari keempat mereka akhirnya tiba di Kyoto, dan pada saat itu sebagian besar dari mereka begitu lelah. sehingga nyaris tak sanggup berjalan. Tapi mereka masih terhitung beruntung. Yang patut dikasihani adalah laki-laki yang memegang tanggung jawab atas barisan belakang dan setelah pasukan utama berhasil lolos, bertahan di Benteng Kanegasaki.

Orang iiu Hideyoshi. Jendral-jendral lain, yang selama ini iri melihat keberhasilannya dan secara sembunyi-sembunyi menyebutnya tukang cekcok dan anak kemarin sore, kini berpisah dengan memuji Hideyoshi sebagai "tonggak utama marga Oda" dan "pejuang sejati", dan mengantarkan senjata api, bubuk mesiu, serta persediaan makanan ketika mereka hendak berangkat. Kesannya seakan-akan mereka meletakkan rangkaian bunga di kuburan.

Kcmudian, dari fajar sampai menjelang siang setelah Nobunaga meloloskan diri, kesembilan ribu prajurit di bawah pimpinan Katsuie, Nobumori, dan Ikeda pun berhasil lolos. Ketika pasukan Asakura melihat ini dan mengejar mereka, Hideyoshi menyerang dari samping dan mengancam dari belakang. Dan ketika pasukan Oda akhirnya terbebas dari impitan maut, Hideyoshi beserta anak buahnya mengurung diri di dalam Benteng Kanegasaki, dan bcrikrar, "Di sinilah kita akan mcninggalkan dunia ini."

Dengan memperlihatkan ketetapan hati untuk gugur bertempur, mereka memalangi benteng rapatrapat, memakan yang bisa dimakan, tidur jika ada waktu untuk tidur, dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Pasukan Asakura berada di bawah Jendral Keya Shichizaemon yang terkenal berani. Daripada mempertaruhkan nyawa orang-orangnya dengan menyerang pasukan yang sudah siap mati, ia memilih mengepung benteng, memotong jalur mundur Hideyoshi.

"Serangan malam!" Ketika peringatan ini terdengar pada pertengahan malam kedua, segala persiapan yang telah di lakukan disebarkan tanpa ragu-ragu. Pasukan Keya segera menyerang musuh yang bergerak dalam kegelapan malam dan memorak-porandakan pasukan Hideyoshi, yang kemudian cepat-cepat kembali ke dalam benteng.

"Musuh sudah pasrah menghadapi kematian! Pergunakan kesempatan ini, dan menjelang fajar benteng itu sudah berada di tangan kita!" Keya memberi perintah. Mereka bergegas ke tepi selokan, membuat rakit-rakit, dan menyeberang. Dalam sekejap ribuan prajurit berhasil merebut tembok-tembok pertahanan.

Kemudian, persis seperti yang dikatakan Shichizaemon, Kanegasaki takluk menjelang fajar. Tapi apa yang ditemui pasukannya? Tak satu pun anak buah Hideyoshi berada di dalam benteng. Panji-panji mereka berdiri tegak. Asap sudah mulai membubung ke langit. Kuda-kuda meringkik, Namun Hideyoshi tak ada di sana. Serangan pada malam sebelumnya sama sekali bukan serangan.

Di bawah pimpinan Hideyoshi, pasukan kecil itu hanya berpura-pura melarikan diri ke dalam benteng. Sesungguhnya mereka terburu-buru mencari jalan keluar dari kematian yang seolah-olah tak terelakkan. Ketika fajar menyingsing, anak buah Hideyoshi sudah berada di kaki pegunungan yang membentang di sepanjang perbatasan provinsi.

Kcya Shichizaemon beserta pasukannya tentu saja tidak rela melihat musuh mereka lolos begitu saja. "Siapkan pengejaran!" perintah Shichizaemon. "Kejar mereka!"

Pasukan Hideyoshi   mundur   ke   pegunungan, scpanjang malam meneruskan pelarian tanpa berhenti untuk makan maupun minum.

"Kita belum lolos dari sarang macan!" Hideyoshi memperingatkan. "Jangan berlambat-lambat. Jangan mengaso. Jangan pikirkan rasa haus. Pertahankanlah keinginan untuk hidup!" Tak henti-hentinya Hideyoshi berusaha memacu semangat anak buahnya. Seperti telah diduga, Keya mulai menyusul. Ketika mendengar teriakan perang musuh di belakang, Hideyoshi pertama-tama memerintahkan istirahat singkat, lalu berkaia kepada prajurit-prajurirnya.

"Jangan khawatir. Musuh kita telah bertindak bodoh. Mereka bersorak-sorai sambil menaiki lembah, sementara kita berada di tempat yang lebih tinggi. Kita semua lelah, tapi musuh mengejar kita sambil marah, dan banyak dari mereka akan kehabisan tenaga. Kalau mereka sudah mendekat, hujani mereka dengan batu, lalu gunakan lombak-tombak kalian."

Tenaga anak buahnya memang terkuras, tapi ucapan Hideyoshi mengembalikan rasa percaya diri mereka.

"Ayo, majulah!'' seru mereka sambil bersiap-siap menghadapi serangan. Upaya Keya umuk menghukum pasukan Hideyoshi berakhir dengan kekalahan. Tak terhitung jumlah korban yang roboh di bawah hujan batu dan tombak.

"Mundur!"

"Ini kesempatan kita! Mundur! Mundur!"

Hideyoshi seakan-akan meniru musuhnya, para anak buahnya berbalik dan lari ke arah dataran rendah di sebelah selatan. Mendahului prajuritprajuritnya yang masih hidup, Keya sekali lagi mengejar. Pasukan Keya sungguh keras kepala, meski kekuatan mereka telah berkurang, tapi para biksuprajurit Honganji turut bcrgabung, menutup jalan pada waktu anak buah Hideyoshi berusaha menuruni gunung untuk mencapai Omi. Pasukan Hideyoshi dihujani panah dan batu dari paya-paya dan hutan di kiri-kanan jalan, dan mendengar orang-orang berteriak. "jangan biarkan mereka lewat!" Hideyoshi pun mulai berpikir bahwa ajalnya telah dekat. Tapi sekaranglah waktunya untuk menggalang semangat hidup serta menolak godaan untuk menyerah.

"Biar para dewa yang memutuskan apakah kita bernasib baik atau buruk, dan apakah kita akan hidup atau mati! Seberangi paya-paya ke arah barat. Ikuti aliran sungai! Semuanya bermuara di Danau Biwa. Berlarilah secepat aliran air. Hanya kecepatan yang sanggup menyelamatkan kalian dari kematian." Ia tidak menyuruh mereka bertempur. Inilah Hideyoshi yang begitu pandai menggrakkan orang, namun ia pun tak ingin memerintahkan pasukannya yang kelaparan dan tidak tidur maupun istirahat selama dua hari dua malam, menangkal serangan biksu-prajurit yang jumlahnya tidak diketahui. Ia hanya ingin membantu setiap prajurit agar dapat kembali ke ibu kota. Dan tak ada yang lebih mujarab daripada keinginan untuk bertahan hidup. Di bawah perintah Hideyoshi, pasukan yang lelah dan lapar bergegas memasuki paya-paya. Langkah itu penuh risiko, sebab para biksu-prajurit bersembunyi di dalam hutan, seperti kawanan nyamuk. Meski demikian, anak buah Hideyoshi terus berlari, menembus barisan musuh, menggagalkan penyergapan yang telah disusun dengan cermat. Suasana menjadi kacaubalau, dan semuanya berlari ke selatan, menyusuri sungai-sungai pegunungan.

"Danau Biwa!"

"Kita selamat!" Mereka bersorak-sorai dengan gembira. Keesokan harinya mereka memasuki Kyoto.

Ketika Nobunaga melihat mereka, ia berseru, "Kalian masih hidup! Kalian seperti dewa-dewa. Kalian sungguh-sungguh seperti dewa-dewa."