--> -->

Taiko Bab 14 : Jadilah Tetangga yang Ramah

Bab 14 : Jadilah Tetangga yang Ramah

KOTA benteng Kiyosu kini lengang. Yang tersisa hanya beberapa toko dan rumah samurai. Namun di balik kelengangan itu terdapat rasa puas karena telah terjadi pergantian kulit. Hukum alam menyatakan, setelah rahim menjalankan fungsinya, ia akan membusuk dan lenyap. Dan dari segi inilah semua orang merasa gembira bahwa Nobunaga takkan selamanya terjebak di kota kelahirannya, biarpun karena itu kotanya harus mengalami kemunduran.

Dan di sinilah seorang perempuan yang pernah dilahirkan melewatkan hari tuanya. Perempuan itu ibu Hideyoshi. Tahun ini usianya akan mencapai lima puluh. Saat ini ia menikmati hari tuanya dengan damai, hidup bersama menantunya, Nene, di rumah mereka di perkampungan samurai di Kiyosu. Tapi dua atau tiga tahun sebelumnya ia masih bekerja sebagai petani, dan sendi-sendi tangannya masih berkulit tebal. Setelah melahirkan empat anak, ia telah kehilangan banyak gigi. Namun rambutnya belum sepenuhnya putih.

Satu surat yang dikirim Hideyoshi dari medan tempur dapat mewakili banyak surat lain:

Bagaimanakah keadaan pinggang Ibu? Ibu masih memakai moxa? Ketika kita masih tinggal di Nakamura, Ibu selalu berpesan. "Jangan sia-siakan makanan untuk Ibu," tak peduli apa pun yang ada. Jadi di sini pun Ananda khawatir apabila Ibu tidak makan seperti seharusnya. Ibu harus berumur panjang. Kalau Ibu tidak menjaga diri, Ananda khawatir tidak sempat mengurus Ibu sebagaimana Ananda inginkan, karena Ananda begitu bodoh. Untung saja Ananda tidak jatuh sakit selama berada di sini. Tampaknya Ananda memiliki nasib baik sebagai prajurit, dan Yang Mulia sangat menghargaiku.

Setelah penyerbuan ke Mino, surat yang dikirim Hideyoshi sukar dihitung jumlahnya.

"Nene, coba baca ini. Dia selalu menulis seperti anak kecil," kata ibu Hideyoshi pada Nene.

Setiap kali, ibunya menunjukkan surat-surat Hideyoshi kepada menantunya, dan sebaliknya Nene memperlihatkan surat-surat yang ia terima kepada perempuan tua itu.

"Bunyi surat-surat yang kuterima tak pernah semanis itu. Selalu menyang-kut hal-hal seperti, 'Berhati-hatilah terhadap kebakaran.' atau 'jadilah istri yang berbakti sementara suamimu pergi.' atau 'Jagalah ibuku."

"Anak itu memang cerdik. Dia mengirim satu surat padamu dan satu padaku. Jadi dia cukup baik memisahkan isi suratnya, kalau diingat bahwa dia bersangkutan dengan kedua belah pihak."

"Pasti itu sebabnya." Nene tertawa, ia mengurusi ibu suaminya dengan setia. Ia berusaha melayani mertuanya dengan sebaik-baiknya, seakan-akan ia pun seorang putri kandung seperti Otsumi. Namun suratsurat Hideyoshi-lah yang memberikan kesenangan paling besar pada perempuan tua itu. Ketika mereka mulai cemas karena sudah lama tidak menerima kabar, sepucuk surat tiba dari Sunomata. Tapi entah kenapa surat ini hanya ditujukan pada istri Hideyoshi. Kadang kala surat Hideyoshi hanya ditujukan pada ibunya, tanpa surat khusus untuk isirinya. Pesan-pesan untuk Nene biasanya digabungkan ke dalam surat untuk ibunya. Sampai hari  ini, belum  pernah Hideyoshi mengirim surat khusus untuk istrinya. Nene tiba-tiba cemas bahwa telah terjadi sesuatu, atau bahwa Hideyoshi ingin menyampaikan sesuatu dan tak ingin membuat ibunya khawatir. Setelah masuk ke kamarnya dan membuka amplop. Nene menemukan

surat yang lebih panjang daripada biasanya.

Sudah lama aku berharap kau dan ibuku bisa tinggal bersamaku di sini. Kini, setelah aku akhirnya menjadi penguasa sebuah benteng dan di anugerahi panji jendral oleh Yang Mulia, keadaanku cukup memadai untuk mengundang ibuku ke sini. Namun aku ragu apakah kehidupan di sini dapat menyenangkan hatinya. Sebelum ini ibuku khawatir kehadirannya akan menjadi beban dalam pengabdianku kepada Yang Mulia. Ibuku selalu berkata bahwa dia hanya perempuan tua dari desa dan bahwa dia merasa tak pantas menjalani kehidupan seperti ini. Karenanya, dia pasti akan menolak dengan berbagai alasan. biarpun aku menanyainya secara langsung.

Apa yang harus kukatakan? Nene sama sekali tidak mempunyai bayangan. Ia merasa permintaan yang tersirat dalam surat suaminya sungguh berat.

Pada saat itulah suara ibu Hideyoshi terdengar memanggil dari belakang rumah. "Nene! Nene! Coba datang ke sini dan lihat!"

"Sebentar!"

Hari ini pun ibu Hideyoshi sibuk mencangkul tanah di sekeliling akar tanaman terong. Hari sudah sore dan udara masih panas. Gundukan-gundukan tanah di pekarangan pun panas. Keringat berkilaukilau pada tangannya.

"Aduh! Panas-panas begini?" ujar Nene.

Tapi perempuan tua itu selalu menjawab bahwa itulah pekerjaan petani, dan jangan khawatir. Berapa kali pun Nene mendengarnya, karena ia tidak dibesarkan sebagai petani dan tidak menyadari keasyikan yang terkandung dalam bertani, ia tetap menganggapnya sebagai pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun belakangan ini Nene merasa mulai memahami, meski hanya sedikit, mengapa ibu suaminya tak sanggup berhenti bekerja.

Perempuan tua itu sering menyebut hasil panen sebagai "anugerah dari bumi". Kenyataan bahwa ia sanggup membesarkan empat anak di tengah-tengah kemiskinan dan bahwa ia sendiri tidak mati kelaparan, merupakan salah satu anugerah. Pada pagi hari ia merapatkan tangan dan menghadap matahari terbit untuk berdoa, dan menjelaskan bahwa ini pun kebiasaan lama dari Nakamura. Ia tidak akan melupakan kehidupan sebelumnya.

Kadang-kadang ia berkata bahwa jika ia tiba-tiba terbiasa dengan pakaian mewah dan makanan lezat, lalu melupakan berkah dari matahari dan bumi, ia pasti akan dihukum dan jatuh sakit.

"Oh, Nene, coba lihat ini!" Begitu melihat menantunya, ibu Hideyoshi meletakkan cangkul dan menunjukkan hasil jerih payahnya. "Lihatlah berapa banyak terong sudah matang. Kita akan membuat acar, supaya bisa menyantapnya di musim dingin. Tolong bawakan keranjang ke sini, biar kita bisa memetik beberapa."

Ketika Nene kembali, ia memberikan satu dan dua keranjang yang dibawanya kepada mertuanya. Pada waktu mulai memetik dan memasukkan terong ke dalam keranjang, ia berkata, "Kalau Ibu terus bekerja keras seperti ini, kita takkan kekurangan sayuran untuk sup dan acar."

"Toko-toko langganan kita pasti tidak gembira." "Hmm, para pelayan mengatakan bahwa Ibu

menyukai pekerjaan ini, dan bahwa pekerjaan ini baik untuk kesehatan Ibu. Dan yang pasti, kita menghemat uang, jadi manfaatnya tentu besar."

"Tapi nama baik Hideyoshi akan terpengaruh jika orang-orang menganggap kita melakukannya karena kikir. Kita harus membeli barang lain dari para pedagang, supaya mereka tidak berpikiran begitu."

"Ya, itu bagus. Hmm, Ibu. Sebenarnya aku enggan mengatakan ini. Tapi beberapa waktu lalu aku menerima sepucuk surat dari Sunomata."

"Oh? Dari anakku?"

"Ya. Tapi kali ini suratnya tidak ditujukan pada Ibu, melainkan hanya padaku."

"Sama saja. Hmm, apakah semuanya seperti biasa? Dia baik-baik saja, bukan? Sudah agak lama kita tidak menerima kabar, dan kupikir ini pasti karena kepindahan Yang Mulia ke Gifu."

"Benar. Dalam suratnya, suamiku minta aku memberitahu Ibu bahwa Yang Mulia telah mengangkatnya sebagai komandan benteng, jadi suamiku pikir sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk tinggal bersamanya. Suamiku minta aku membujuk Ibu agar mau pergi ke sana, lalu menganjurkan agar Ibu dalam beberapa hari sudah pindah ke Benteng Sunomata."

"Oh... itu kabar bagus. Rasanya seperti mimpi... anakku—komandan sebuah benteng. Namun dia tidak boleh melangkah terlalu jauh, sehingga akhirnya malah tersandung."

Meski gembira mendengar kabar baik mengenai putranya, hati nuraninya sebagai ibu khawatir kalau keberuntungan anaknya hanya berlangsung sesaat saja. Perempuan tua itu dan menantunya bersama-sama bekerja di kebun, memetik terong. Tak lama kemudian, kedua keranjang sudah penuh sayuran berwarna ungu.

"Ibu, apakah punggung Ibu terasa sakit?"

"Apa? Ah, tidak, justru sebaliknya. Kalau aku setiap hari bekerja seperti ini, badanku akan tetap segar."

"Aku pun belajar dari Ibu. Sejak Ibu membolehkanku ikut membantu di kebun, aku mulai belajar menikmati memetik sayur-mayur untuk membuat sup pada pagi hari, juga bercocok tanam mentimun dan terong. Di pekarangan Benteng Sunomata pun tentu ada sepetak tanah yang bisa kita jadikan kebun sayur. Kita akan bekerja sesuka hati."

Perempuan tua itu menutupi mulut dengan tangannya yang berlepotan tanah dan tertawa kecil. "Kau sama cerdiknya dengan Hideyoshi. Kau telah memutuskan pindah ke Sunomata sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi."

"Ibu!" Nene menyembah, merapatkan ujung jarinya ke tanah. "Penuhilah keinginan suamiku."

Ibu mertuanya cepat-cepat meraih kedua tangan Nene, "Jangan begitu! Aku hanya perempuan tua yang mementingkan diri sendiri."

"Tidak, itu tidak benar. Aku memahami keprihatinan Ibu."

"Jangan gusar karena perempuan tua yang keras kepala ini. Demi kepentingan anakku itulah aku tidak mau pindah ke Sunomata. Dengan demikian, dia dapat mengabdi Yang Mulia tanpa cela."

"Suamiku pun mengerti itu."

"Kalaupun itu benar, Hideyoshi akan berada di tengah orang-orang yang iri melihat keberhasilannya dan mereka akan memanggilnya dengan sebutan 'petani si Monyct dari Nakamura', atau 'si Anak Petani'. Kalau seorang perempuan petani yang hina lalu bercocok tanam di pekarangan benteng, pengikutpengikutnya sendiri pun akan menertawakannya."

"Tidak, Ibu. Sesungguhnya Ibu tak perlu cemas mengenai masa depan. Apa yang Ibu takutkan mungkin berlaku bagi orang yang mementingkan penampilan dan takut menjadi bahan gunjingan, tapi hati suamiku tidak dikendalikan oleh pendapat umum. Sedangkan mengenai para pengikutnya..."

"Entahlah. Jika seorang penguasa benteng memiliki ibu seperti aku... bukankah itu mempengaruhi reputasinya?"

"Watak suamiku tidak sekerdil itu." Ucapan Nene begitu terus terang, sehingga mertuanya sempat terkejut. Akhirnya mata perempuan tua itu berkaca-kaca. "Kata-kataku tak dapat dimaafkan. Nene. Ampuni-

lah aku."

"Hmm, Ibu. Matahari sudah mulai tenggelam. Cucilah tangan dan kaki Ibu." Nene berjalan lebih dulu, membawa kedua keranjang yang berat itu.

Bersama para pelayan, Nene meraih sapu dan menyapu. Kamar mertuanya dibersihkannya sendiri. Lentera-lentera dinyalakan, dan makan malam disiapkan. Selain piring untuk mereka berdua, piring tambahan disediakan bagi Hideyoshi, baik pagi maupun malam. "Pinggang Ibu perlu dipijat?" tanya Nene.

Ibu mertuanya mempunyai keluhan kronis yang dari waktu ke waktu terasa mengganggu. Kalau angin malam bertiup di musim gugur, ia sering mengeluh sakit. Ketika Nene memijat kakinya, perempuan tua itu seperti hendak terlelap, tapi rupanya sepanjang waktu ia memikirkan sesuatu. Akhirnya ia duduk dan berkata pada Nene.

"Dengar, sayangku. Kau ingin berkumpul kembali dengan suamimu. Aku menyesal telah mementingkan diri sendiri. Tolong sampaikan pada putraku bahwa ibunya tidak keberatan pindah ke Sunomata."

Sehari sebelum ibu Hideyoshi diperkirakan tiba, seorang tamu tak terduga, namun sangat diharapkan, melewati gerbang Sunomata. Tamu ini mengenakan pakaian sederhana. Matanya tertutup topi, dan ia disertai dua orang saja, seorang perempuan muda dan seorang anak laki-laki.

"Kalau beliau melihatku, beliau akan mengerti," kata orang itu pada penjaga gerbang, yang lalu meneruskannya pada Hideyoshi.

Hideyoshi bergegas ke gerbang benteng untuk menyambut tamu-tamunya. Takenaka Hanbei, Kokuma, dan Oyu.

"Hanya merekalah pengikut hamba," Hanbei memberitahunya. "Rumah tangga di benteng hamba di Gunung Bodai cukup besar, tapi hamba memutuskan menarik diri dari percaturan dunia. Mengenai janji hamba dulu, tuanku, hamba pikir waktunya telah tiba. Jadi hamba meninggalkan pertapaan hamba dan turun gunung agar bisa berada di tengah orang lagi. Sudikah tuanku menerima tiga pengembara ini sebagai pelayan paling rendah?"

Hideyoshi membungkuk dengan tangan berpegangan pada lutut dan berkata. "Tuanku terlalu merendah. Kalau saja Tuan mengirim kabar lebih dulu, aku sendiri yang akan pergi ke gunung untuk menyambut kedatangan Tuan."

"Apa? Tuan hendak menyambut ronin tak berharga yang datang umuk mengabdi pada Tuan?"

"Hmm, bagaimanapun, silakan masuk dulu." Berjalan ke depan, Hideyoshi mengajak Hanbei ke dalam. Tapi ketika ia menawarkan kursi kehormatan pada tamunya. Hanbei menolak tegas, "Itu bertentangan dengan keinginan untuk menjadi pengikut Tuan."

Hideyoshi menanggapinya dari lubuk hati yang paling dalam. "Tidak, tidak. Aku tidak patut menempatkan diri di atas Tuan. Aku justru ingin merekomendasikanmu kepada Yang Mulia Nobunaga."

Hanbei menggelengkan kepala dan menolak dengan tegas. "Seperti hamba katakan sejak semula, hamba tidak berkeinginan sama sekali untuk menjadi abdi Yang Mulia Nobunaga. Ini bukan sekedar masalah kesetiaan terhadap marga Saito. Seandainya hamba mengabdi pada Yang Mulia Nobunaga, dalam waktu singkat hamba tentu terpaksa mengundurkan diri. Kalau mengingat kepribadian hamba yang jauh dari sempurna serta apa yang hamba dengar mengenai watak Yang Mulia, hamba mendapat firasat bahwa hubungan majikan dan abdi takkan saling menguntungkan. Tapi dengan tuanku, hamba tak perlu menutup-nutupi watak buruk hamba. Tuanku dapat menerima hamba yang mementingkan diri sendiri serta keras kepala. Hamba mohon Tuanku sudi menganggap hamba sebagai abdi yang paling rendah."

"Hmm, kalau begitu, bersediakah Tuan mengajarkan ilmu kemiliteran bukan hanya padaku, melainkan juga pada pengikut-pengikutku?"

Dengan demikian, mereka berhasil mencapai kompromi, dan pada malam harinya mereka berbagi sake, mengobrol sampai larut malam, tanpa mengingat waktu. Keesokan harinya merupakan hari kedatangan ibu Hideyoshi di Sunomata. Disertai sejumlah pembantu, Hideyoshi meninggalkan benteng dan menuju Desa Masaki yang berjarak sekitar satu mil dari Sunomata, untuk menyambut tandu ibunya.

Langit tampak biru, dan bunga-bunga serunai di pagar para warga desa menyebarkan bau harum.

"Iring-iringan yang mulia ibunda tuanku sudah kelihaian," salah satu pembantu mengumumkan.

Wajah Hideyoshi memperlihatkan kegembiraan yang hampir tak tertahankan. Tandu-tandu yang membawa isiri dan ibunya akhirnya tiba. Ketika para pengawal melihat majikan mereka darang menyambut, mereka langsung turun dari kuda masing-masing. Hachisuka Hikoemon segera menghampiri tandu ibu Hideyoshi dan memberitahunya bahwa Hideyoshi datang untuk menemuinya.

Dari dalam tandu, suara pcrcmpuan tua itu terdengar meminta tandunya diturunkan. Para pembawa tandu berhenti dan meletakkan kedua tandu di tanah. Para prajurit berlutut di kedua sisi jalan dan membungkuk. Nene yang pertama turun. Ia menghampiri tandu mertuanya dan meraih tangan perempuan tua itu. Ketika melirik wajah samurai yang cepat-cepat meletakkan sandal di depan kaki ibu mertuanya, Nene melihat bahwa Hideyoshi-lah orangnya.

Diliputi perasaan terharu dan tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, Nene menyapa suaminya dengan memandangnya sekilas.

Setelah meraih tangan putranya, penuh hormat ibu Hideyoshi menempelkannya ke kening, lalu berkata, "Sebagai penguasa benteng, tuanku terlalu bermurah hati. Hamba tak patut menerima perlakuan demikian istimewa."

"Sungguh lega rasanya melihat Ibu begitu sehat. Ibu berkata bahwa aku terlalu bermurah hati, tapi kedatanganku ke sini untuk menyambut Ibu, bukan sebagai samurai."

Ibu Hideyoshi turun dari tandu. Para samurai lain segera menyembah, sedangkan perempuan tua itu merasa terlalu pusing untuk berjalan.

"Ibu tentu lelah." ujar Hideyoshi. "Beristirahatlah sejenak. Jarak ke benteng hanya sekitar satu mil." Hideyoshi meraih tangan ibunya, dan menuntun percmpuan tua itu ke sebuah kursi di bawah teritis sebuah rumah. Ibunya duduk dan menatap langit musim gugur yang membentang di atas pepohonan.

"Seperti dalam mimpi." ia berdesah. Mendengar ucapan itu, Hideyoshi mengingai-ingat tahun-tahun yang telah berlalu. Ia tidak merasa bahwa saat ini menyerupai mimpi. Dengan jelas ia melihat setiap langkah yang mcnghubungkan kenyataan sekarang dengan masa lampau. Dan ia yakin bahwa saat ini merupakan tonggak bersejarah dalam perjalanan kariernya.

Bulan berikutnya, setelah ibu dan istri Hideyoshi pindah kc Sunomata, mereka diikuti oleh saudara perempuannya yang berusia dua puluh sembilan tahun, Otsumi, saudara laki-laki yang berusia dua puluh tiga tahun, Kochiku, serta saudara perempuannya yang berusia dua puluh tahun.

Otsumi belum juga menikah. Lama sebelumnya, Hideyoshi telah berjanji bahwa jika Otsumi menjaga ibu mereka, setelah Hideyoshi berhasil menjadi orang, ia akan mencarikan suami untuknya. Satu tahun kemudian Otsumi menikah di benteng dengan saudara istri Hideyoshi.

"Semuanya sudah besar," kata Hideyoshi pada ibunya, sambil mengamati kepuasan yang terpancar dari wajah perempuan tua itu. Inilah sumber kebahagiaan Hideyoshi serta pendorongnya di masa depan. Musim semi telah mendekati akhirnya. Bunga-bunga ceri berjatuhan dari atap ke sandaran tangga tempat Nobunaga sedang berbaring-baring.

"Ah... betul juga." Teringat sesuatu, Nobunaga cepat-cepat menulis sebuah pesan dan mengutus kurir untuk membawanya ke Sunomata. Karena Hideyoshi kini komandan sebuah benteng, ia tak mungkin lagi segera datang jika Nobunaga memanggilnya, dan ini rupanya membuat junjungannya agak kesepian.

Setelah menyeberangi Sungai Kiso yang lebar, kurir Nobunaga mengantarkan pesan majikannya ke gerbang benteng Hideyoshi. Di sini pun musim semi berlangsung dalam damai, dan kembang-kembang berayun-ayun dalam bayang-bayang sebuah bukit buatan di pekarangan. Di balik bukit ini, di pinggir pekarangan yang luas, ada ruang belajar yang baru dibangun serta rumah kecil untuk Takenaka Hanbei dan Oyu.

Ruang belajar berukuran besar itu merupakan sebuah dojo tempat para pengikut Hideyoshi dapat berlatih bela diri. Dengan Takenaka Hanbei sebagai guru, para pengikut mempeajari sejarah Negeri Cina pada pagi hari, lalu saling bersaing dalam teknik tombak dan pedang pada sore harinya.

Setelah itu Hanbei mengajarkan konsep-konsep perang yang disusun oleh Sun Tzu dan Wu Chi sampai larut malam. Dengan tekun Hanbei mendidik para samurai muda agar mereka terbiasa dengan disiplin ilmu bela diri serta adat istiadat kehidupan benteng. Sebagian besar pengikut Hideyoshi bekas ronin liar yang dulu tergabung dalam gerombolan Hikoemon.

Hideyoshi sadar bahwa ia harus terus berupaya mempcrbaiki diri, untuk mengatasi kekurangankekurangannya, dan untuk memperbesar kemampuan bermawas diri, dan ia pun bertekad agar para samurai diharuskan melakukan hal yang sama. Jika Hideyoshi ingin agar masa depan menjadi miliknya, pengikutpengikut dengan kekuaran liar semata-maia takkan banyak berguna. Hideyoshi mencemaskan ini. Jadi. selain merangkul Hanbei scbagai abdi, Hideyoshi juga menganggapnya sebagai guru dan menghormatinya sebagai instruktur ilmu kemiliteran, serta mempercayakan pendidikan para pengikuinya kepadanya.

Kemampuan ilmu bela diri meningkat pesat. Pada waktu Hanbei memberi ceramah mengenai Sun Tzu atau sejarah Negeri Cina, orang-orang seperti Hikoemon selalu terlihat di antara para pendekar. Satu-satunya masalah adalah kesehatan Hanbei. Karena itu, ceramah-ceramah terpaksa dibatalkan dari waktu ke waktu, dan para pengikut merasa kecewa. Hari ini pun Hanbei terlalu menguras tenaga pada siang hari, lalu berkata bahwa ia tak sanggup memberi ceramah malam. Ketika malam tiba, ia cepat-cepat menyuruh pintu rumahnya ditutup.

Walaupun musim panas sudah di ambang pintu, angin malam dari hulu sungai Kilo semakin melemahkan tubuh Hanbei. "Tempat tidur Kakak sudah kusiapkan di dalam. Lebih baik Kakak tidur saja." Oyu menaruh ramuan obat di sebelah meja Hanbei. Hanbei sedang membaca, seperti biasa kalau ia memiliki waktu luang.

"Tidak perlu, keadaanku belum separah itu. Aku membatalkan ceramah malam ini karena menduga akan ada panggilan dari Tuan Hideyoshi. Daripada menyiapkan tempat tidur. Lebih baik kausiapkan pakaianku, supaya aku bisa cepat menjawab panggilan Yang Mulia."

"Itukah masalahnya? Malam ini ada pertemuan di benteng?"

"Sama sekali tidak.'' Hanbei menghirup ramuan obat yang masih panas. "Beberapa waktu lalu, ketika kau menutup pintu, kau sendiri yang memberitahuku bahwa perahu dengan bendera kurir dari Gifu telah menyeberangi sungai, dan bahwa seseorang sedang menuju gerbang benteng."

"Jadi, itu yang Kakak maksud?"

"Jika kurir itu membawa pesan dari Gifu untuk Tuan Hideyoshi, tak ada yang dapat memastikan ke mana urusan ini akan membawa beliau. Kalau pun aku tidak dipanggil, aku tak bisa melepaskan ikat pinggang dan tidur."

"Penguasa benteng ini menghormati Kakak sebagai guru, dan Kakak memuliakannya sebagai guru, jadi aku tidak tahu siapa yang lebih menghormati siapa. Kakak sungguh-sungguh bertekad mengabdi pada orang ini?" Sambil tersenyum. Hanbei memejamkan mata dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit. "Akhirnya aku pun telah sampai di titik itu. Kepercayaan seorang laki-laki pada laki-laki lain merupakan sesuatu yang menakutkan. Aku tak mungkin disesatkan oleh kecantikan seorang wanita." Pada waktu ia berkata demikian, seorang pelayan datang. Ia menyampaikan permintaan Hideyoshi agar Hanbei segera menemuinya, lalu pergi lagi. Tak lama kemudian pelayan lain menghadap Hideyoshi yang sedang duduk seorang diri sambil merenung, dan mengumumkan. "Tuan Hanbei telah tiba."

Hideyoshi mengangkat kepala dan segera meninggalkan ruangan untuk menyambut Hanbei. Berdua mereka kembali dan duduk.

"Aku mohon maaf karena memanggil Tuan di tengah malam buta. Bagaimana keadaan Tuan?"

Hanbei menatap tajam ke arah Hideyoshi, yang rupanya akan terus memperlakukannya sebagai guru. "Tuanku terlalu bermurah hati, jika tuanku berbicara seperti itu dengan hamba, bagaimana hamba dapat menjawabnya. Mengapa tuanku tidak bcrkata. 'Ah. kau sudah datang, Hanbei?' Tak sepantasnya seorang pengikut seperti hamba menimbulkan beban pikiran pada tuanku."

"Bcgitukah? Apakah sikapku tidak baik bagi hubungan kita?"

"Menurut hamba, tak sepatutnya tuanku menghormati orang seperti hamba." "Mengapa tidak?" Hideyoshi tertawa. "Aku tidak berpendidikan, sedangkan Tuan orang terpelajar. Aku lahir di desa, sementara Tuan putra komandan benteng. Bagaimanapun, kuanggap kedudukan Tuan lebih tinggi daripada kedudukanku."

"Kalau memang harus begitu, hamba akan lebih berhati-hari mulai sekarang."

"Baiklah, baiklah," Hideyoshi bergurau. "Lama-lama kita akan menjadi junjungan dan pengikut, jika saja aku sanggup menjadi orang yang lebih besar."

Sebagai penguasa benteng, Hideyoshi berusaha keras agar ia tidak silau oleh martabatnya sendiri. Ia tak pernah menutup-nutupi kekurangannya di hadapan Hanbei.

"Hmm, kalau begitu, mengapa tuanku memanggil hamba?" tanya Hanbei dengan sopan.

"Oh, ya." ujar Hideyoshi, tiba-tiba teringat maksud pertemuan mereka. "Aku baru saja menerima surat dari Yang Mulia Nobunaga. Beginilah bunyinya: Setelah bersantai, aku tiba-tiba jemu dengan Gifu. Angin dan awan penuh damai, dan aku ingin memandang semuanya sekali lagi. Keindahan alam belum juga berteman denganku. Bagaimana dengan rencana tahun ini?' Menurut Tuan, apa yang harus kujawab?"

"Hmm, artinya sudah jelas. Jadi tuanku dapat menjawab dengan satu baris saja."

"Aku memahami artinya, tapi bagaimana cara menjawab dengan satu baris saja?" "'Jadilah tetangga yang baik. Persiapkan masa depan'?"

"Begitulah." "Hmm, begitu."

"Hamba menduga Yang Mulia Nobunaga merasa bahwa setelah merebut Gifu, tahun inilah waktu yang tepat untuk membenahi pemerintahan, mengistirahatkan pasukan, dan menunggu hari lain," kata Hanbei.

"Aku pun yakin bahwa itulah rencana beliau, tapi bagaimana dengan wataknya? Beliau tak sanggup membiarkan hari demi hari berlalu tanpa berbuat apa-apa."

"Merencanakan masa depan, bersekutu dengan para tetangga—hamba kira sekaranglah kesempatan yang paling baik."

"Jadi?" tanya Hideyoshi.

"Ini hanya pendapat hamba, sebab tuanku, bukan hamba yang dipandang mampu di begitu banyak bidang. Pertama, jawablah dengan satu baris saja: jadilah tetangga yang baik. Persiapkan masa depan. Kemudian, pada saat yang tepat, pergilah ke Gifu untuk menjelaskan rencana tuanku."

"Bagaimana kalau kita masing-masing mengambil kertas dan mencatat provinsi mana yang paling patut dijadikan sekutu, lalu membandingkan hasilnya untuk melihat apakah jalan pikiran kita sama?"

Hanbei yang lebih dulu menulis, dan kemudian Hideyoshi menggoreskan

Ketika mereka menukar dan membuka kertas, ternyata mereka sama-sama menuliskan Takeda dari Kai, dan keduanya tertawa gembira.

Lentera-lentera di ruang tamu menyala terang. Kurir dari Gifu dipersilakan menempati kursi kehormatan, ibu dan istri Hideyoshi pun hadir. Ketika Hideyoshi duduk, semua lentera seakan-akan bertambah terang dan suasana semakin seru.

Nene merasa suaminya kini lebih banyak minum sake dibandingkan dulu. Nene memperhatikan Hideyoshi yang bersikap gembira sepanjang jamuan makan, seolah-olah tidak melihat apa-apa. Hideyoshi menghibur tamunya, membuat ibunya tertawa, dan rupanya ia sendiri pun merasa senang. Hanbei pun yang tak pernah minum, menempelkan cawan sake ke bibirnya dan menghirup sedikit untuk bersulang bagi Hideyoshi.

Orang-orang lain bergabung, dan suasana segera menjadi meriah. Setelah Nene dan ibunya mengundurkan diri, Hideyoshi melangkah keluar, mencari angin. Kembang-kembang ceri telah berguguran, dan hanya wangi tanaman paulownia yang memenuhi udara malam.

"Ah! Siapa itu di bawah pepohonan?" seru Hideyoshi.

"Aku," jawab sebuah suara perempuan. "Oyu, sedang apa kau di sana?"

"Kakakku belum pulang, padahal tubuhnya lemah, jadi aku agak cemas."

"Hatiku tersentuh melihat hubungan yang begitu indah antara kakak dan adik." Hideyoshi menghampiri Oyu. Perempuan itu hendak menyembah, tapi Hideyoshi lebih dulu meraih tangannya. "Oyu, mari kita jalan-jalan ke pondok minum teh itu. Aku begitu mabuk, sehingga langkahku tak menentu. Aku ingin kau membuatkan secawan teh untukku."

"Oh! Tanganku! Ini tidak pantas. Tolong lepaskan." "Tidak apa-apa. Jangan khawatir."

"Tak sepatutnya tuanku berbuat begini." "Ini tidak apa-apa."

"Tuanku!"

"Kenapa kau begitu ribut? Berbisiklah. Kau terlalu kejam."

"Ini tidak pantas."

Saat itulah Hanbei terdengar berseru. Ia dalam pcrjalanan pulang. Ketika melihat Hanbei, Hideyoshi segera melepaskan tangan Oyu. Hanbei menatapnya heran. "Tuanku, seperti inikah pengaruh sake?"

Hideyoshi menepuk kepala dengan satu tangan. Kemudian, sambil menertawakan diri sendiri, ia membuka mulutnya yang lebar dan berkata. "Ya, ehm, ada apa? Inilah yang disebut 'beramah tamah dengan tetangga dan mempersiapkan masa depan. Jangan khawatir."

Musim panas berganti dengan musim gugur. Hikoemon datang dengan pesan untuk Hanbei, meminta Oyu menjadi dayang ibu Hideyoshi. Ketika mendengar permintaan itu, Oyu gemetar ketakutan. Tangisnya meledak. Itulah jawabannya terhadap permintaan Hideyoshi.

Cawan teh yang tidak mempunyai cacat dianggap kurang indah, dan watak Hideyoshi pun memiliki cela. Walaupun keindahan cawan teh, bahkan kelemahan manusia, menarik untuk direnungkan, dari sudut pandang seorang perempuan kekurangan ini tidak "menarik" sama sekali. Melihat adiknya tersedu-sedu ketika urusan itu dibicarakan, Hanbei berpendapat bahwa penolakannya masuk akal, dan ia menyampaikannya pada Hikoemon.

Musim gugur pun berlalu dengan tcnang. Di Gifu, prinsip "menjadi tetangga yang baik dan mempersiapkan masa depan" sedang dilaksanakan. Bagi marga Oda, marga Takeda dari Kai sejak dulu merupakan ancaman dari belakang. Rencana disusun untuk mengawinkan putri Nobunaga dengan putra Takcda Shingen, Katsuyori. Calon pengantin perempuan berusia tiga belas tahun, dan kecantikannya tanpa tandingan. Namun ia anak angkat, bukan darah daging Nobunaga. Meski demikian, seusai upacara pernikahan, Shingen tampak senang sekali, dan tak lama kemudian perkawinan itu telah dikaruniai seorang putra. Taro.

Paling tidak untuk sementara waktu perbatasan utara marga Oda seharusnya aman, tapi si ibu muda meninggal ketika melahirkan Taro. Nobunaga lalu mempertunangkan putra tertuanya, Nobutada, dengan putri Shingen keenam, untuk mencegah retaknya persekutuan antara kedua provinsi. Ia juga mengirim usul ikatan perkawinan kepada Tokugawa Ieyasu dari Mikawa. Lalu, persekutuan militer yang telah terjalin di antara mereka diperkuat dengan ikatan keluarga. Pada saat pertunangan, baik putra tertua Ieyasu, Takechiyo, maupun putri Nobunaga berusia delapan tahun. Pendekatan ini juga digunakan terhadap marga Sasaki di Omi. Dengan demikian, benteng di Gifu disibukkan dengan perayaan selama dua tahun berikut.

Wajah samurai itu tersembunyi dalam bayangan topi lebar. Ia jangkung, berusia sekitar empat puluh tahun. Melihat pakaian dan sandalnya, ia pendekar yang sudah cukup lama berkelana. Dari belakang pun tubuhnya tidak memberi peluang untuk diserang. Ia baru selesai makan siang, dan sedang melangkah ke salah satu jalan di Gifu. Ia berputar-putar, melihatlihat, tanpa tujuan tertentu. Sesekali ia bergumam pada diri sendiri, betapa suatu tempat telah berubah.

Dari sctiap tempat di dalam kota, si pengelana bisa melihat tembok-tcmbok Benteng Gifu menjulang tinggi. Sambil memegang tepi topinya yang berbentuk kerucut, sesaat ia memandang tembok-tembok itu dengan takjub.

Tiba-tiba seorang pejalan kaki, mungkin istri seorang saudagar, berbalik dan berhenti untuk menatapnya. Perempuan itu membisikkan sesuatu kepada pelayan yang menyertainya, lalu menghampiri si pendekar dengan ragu-ragu. "Maaf, sebenarnya tak pantas aku menyapa Tuan di tengah jalan, tapi bukankah Tuan keponakan Tuan Akechi?"

Terkejut, si pendekar cepat-cepat menjawab. "Bukan!" dan pergi dengan langkah-langkah panjang. Namun setelah sekitar sepuluh langkah, ia berbalik dan menatap perempuan tadi, yang masih memandang ke arahnya. Dia putri Shunsai, si tukang baju tempur, katanya dalam hati. Mestinya dia sudah berkeluarga sekarang.

Ia kembali menyusuri jalan-jalan. Dua jam kemudian ia berada di dekat Sungai Nagara. Ia duduk di tepi sungai yang ditumbuhi rumput dan menatap permukaan air. Rasanya ia bisa tinggal di sini untuk selama-lamanya. Alang-alang berdesir di bawah matahari musim gugur yang dingin pucat.

"Tuan Pendekar?" Seseorang menepuk pundaknya. Mitsuhide berbalik dan melihat tiga laki-Iaki—

kemungkinan besar samurai Oda yang sedang berpatroli.

"Sedang apa Tuan di sini?" salah seorang dari mereka bertanya dengan nada biasa-biasa saja. Namun roman muka ketiga orang itu tegang dan penuh curiga.

"Aku telah berjalan, dan berhenti untuk beristirahat sejenak." si pendekar menjawab tenang. "Kalian dari marga Oda?" ia balik bertanya, berdiri, dan menepis batang-batang rumput yang menempel pada pakaiannya. "Betul," kata si prajurit dengan kaku. "Tuan datang dari mana, dan hendak pergi ke mana?"

"Aku dari Echizen. Aku punya saudara di benteng dan berusaha menghubunginya."

"Seorang abdi?" "Bukan."

"Tapi bukankah Tuan baru saja mengatakan bahwa orang itu berada di benteng?"

"Dia bukan abdi. Dia anggota rumah tangga." "Siapa namanya?"

"Aku enggan menyebutkannya di sini." "Bagaimana dengan nama Tuan sendiri?" "Sama juga,"

"Maksud Tuan, Tuan Tidak ingin bicara di tempat terbuka?"

"Benar."

"Hmm, kalau begitu, silakan ikut ke gardu jaga dengan kami."

Rupanya mereka mencurigainya sebagai mata-mata. Untuk berjaga-jaga seandainya si pendekar melawan, mereka berseru ke arah jalan tempat seorang samurai berkuda, yang tampaknya pemimpin mereka, dan sepuluh prajurit lain sedang menunggu.

"Inilah yang kuharapkan. Silakan tunjukkan jalannya." Si pendekar segera mulai melangkah.

Di Gifu, seperti di setiap provinsi lain, pemeriksaan ketat, diberlakukan di tempat penyeberangan sungai, di kota benteng, serta di perbatasan-perbatasan. Nobunaga belum lama pindah ke Benteng Gifu, dan dengan perubahan pemerintahan dan undang-undang, tugas para hakim sungguh besar. Meski beberapa pihak mengeluh bahwa penjagaan terlalu ketat, sebenarnya masih banyak bekas pengikut marga Saito yang telah digulingkan di dalam kota, dan komplotan provinsi-provinsi musuh sering kali terlambat diketahui.

Mori Yoshinari pantas menduduki jabatan hakim kepala, tapi sama seperti prajurit mana pun, ia lebih menyukai medan perang daripada tugas-tugas sipil. Pada waktu pulang menjelang malam, ia selalu melepaskan desahan lega. Dan setiap malam ia memperlihatkan roman muka yang sama kepada istrinya.

"Ada surat dari Ranmaru untukmu."

Ketika mendengar nama Ranmaru, Yoshinari tersenyum. Berita dari benteng merupakan satu di antara sedikit kesenangan Yoshinari. Ranmaru-lah putra yang dikirimnya untuk mengabdi di benteng ketika masih kanak-kanak. Sejak semula sudah jelas bahwa Ranmaru takkan menonjol, namun ia anak yang tampan dan telah menarik perhatian Nobunaga, dan karena itu ditunjuk sebagai salah satu pelayan pribadi. Belakangan ini ia akrab dengan para pembantu lain, dan rupanya dipercayai memegang tugas tertentu.

"Ada berita apa?" tanya istri Yoshinari.

"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Semuanya tenang, dan Yang Mulia sedang bergembira." "Dia tidak menulis apa-apa bahwa dia sakit?"

"Tidak. dia bilang dia sehat-sehat saja." balas Yoshinari.

"Anak itu memang pintar. Dia pasti tidak mau orangtuanya khawatir."

"Mungkin," kata Yoshinari. "Tapi dia masih kecil, dan terus-menerus berada di sisi Yang Mulia pasti melelahkan sekali baginya."

"Sesekali dia tentu ingin pulang untuk dimanjakan sedikit."

Saat itu seorang samurai muncul dan memberitahu bahwa tak lama setelah Yoshinari pulang, terjadi sesuatu di tempat kerjanya, dan bahwa beberapa anak buahnya datang untuk berunding, meskipun malam telah larut. Ketiga petugas itu sedang menunggu di pintu masuk.

"Ada apa?" Yoshinari bertanya pada mereka.

Pemimpin mereka memberi laporan. "Menjelang malam, salah satu patroli menangkap seorang pendekar yang tampak mencurigakan di dekat Sungai Nagara."

"Lalu?"

"Orang itu menurut saja ketika digiring ke gardu jaga. Tapi ketika kami menanyainya, dia menolak menyebutkan nama maupun provinsi asalnya, dan dia berkata bahwa dia akan mengungkapkannya hanya jika bisa berbicara dengan Tuan Yoshinari. Kemudian dia mengaku bukan mata-mau, dan bahwa saudaranya—seorang perempuan—sudah bekerja dalam rumah tangga Oda sejak Yang Mulia bertempat tinggal di Kiyosu. Tapi dia tak mau mengatakan apa-apa lagi, kecuali jika dihadapkan pada orang yang berwenang. Dia sangat keras kepala.''

"Hmm, hmm. Berapa umurnya?" "Sekitar empat puluh tahun." "Seperti apa dia?"

"Penampilannya cukup mengesankan. Rasanya sukar dipcrcaya bahwa dia cuma pendekar pengelana biasa."

Beberapa saat kemudian, orang yang ditangkap itu dibawa masuk. Seorang pengikut tua menggiringnya ke salah satu ruangan di bagian belakang rumah. Sebuah bantal dan semmlah makanan telah menantinya.

"Tuan Yoshinari akan segcra menemui Tuan," kata si pengikut, lalu pergi.

Asap dupa memasuki ruangan. Si pendekar, dengan pakaian kotor akibat perjalanan yang ditempuhnya, menyadari bahwa dupa itu amat bermutu, terlalu bermutu untuk dibakar bagi sembarang orang. Sambil membisu ia menunggu kedatangan tuan rumah.

Wajah yang semula tcrsembunyi di balik pinggiran topi kini mengamati cahaya lentera yang berkelapkelip. Tak dapat disangkal, ia terlalu pucat untuk membuat patroli tadi percaya bahwa ia pendekar pengelana. Selain itu, sorot matanya lembut dan penuh damai—berlainan dengan sorot mata seseorang yang sehari-harinya makan-tidur bersama pedang. Pintu geser membuka, dan seorang perempuan dengan pakaian dan sikap yang menunjukkan bahwa ia bukan pelayan, mengantarkan semangkuk nasi. Tanpa berkata apa-apa, perempuan itu meletakkan mangkuk di hadapan si pendekar, lalu mengundurkan diri, menutup pintu geser di belakangnya. Sekali lagi, kalau bukan karena dianggap tamu penting, si pendekar takkan memperoleh perlakuan seperti itu.

Beberapa saat kemudian, sang tuan rumah, Yoshinari, melangkah masuk, dan secara tak langsung minta maaf karena telah membiarkan tamunya menunggu.

Si pendekar bcrgeser dari bantal ke posisi berlutut yang lebih resmi. "Apakah aku mendapat kehormatan untuk berhadapan dengan Tuan Mori? Kurasa sikapku telah menimbulkan sedikit kesulitan bagi anak buah Tuan. Aku sedang menjalankan misi rahasia bagi marga Asakura di Echizen. Namaku Akechi Mitsuhide."

"Ternyata benar. Kuharap Tuan sudi memaafkan kekasaran bawahan-bawahanku. Aku sendiri dibuat terkejut oleh apa yang kudengar beberapa saat yang lalu, dan bergegas untuk menemui Tuan."

"Aku tidak menyebutkan nama maupun tempat asalku, jadi dari mana Tuan mengetahui siapa aku?"

"Tuan sempat menyinggung seorang perempuan— keponakan Tuan, kalau aku tidak salah—yang sudah agak lama menjadi anggota rumah tangga Yang Mulia. Ketika hal ini dilaporkan padaku, aku langsung menduga bahwa Tuan yang datang. Keponakan Tuan bernama Hagiji, bukan? Dia telah mengabdi pada istri Yang Mulia Nobunaga sejak kepindahannya dari Mino ke Owari."

"Betul! Pengetahuan Tuan mengenai detail seperti ini sungguh mengesankan."

"Itu memang bagian dari tugasku. Kami biasa menyelidiki tempat asal, keturunan, serta kerabat semua orang, mulai dari para dayang senior sampai gadis-gadis pelayan."

"Kewaspadaan Tuan patut dipuji."

"Kami juga menyelidiki latar belakang keponakan Tuan. Pada saat Yang Mulia Dosan menemui ajal, salah satu paman Hagiji melarikan diri dari Mino dan menghilang. Hagiji sering bercerita pada istri Yang Mulia mengenai seseorang bernama Mitsuhide dari Benteng Akechi. Inilah yang sampai ke telingaku. Jadi, ketika para bawahanku menggambarkan umur dan penampilan Tuan, dan memberitahuku bahwa Tuan menghabiskan setengah hari dengan berjalan-jalan di kota benteng, aku menggabungkan semuanya dan menerka bahwa Tuan-lah yang dimaksud."

"Kemampuan Tuan untuk menarik kesimpulan memang mengagumkan." kata Mitsuhide sambil tersenyum.

Yoshinari berseri-seri. Dengan nada lebih resmi, ia lalu bertanya. "Tapi, Tuan Mitsuhide. urusan apa kiranya yang membawa Tuan demikian jauh dari Echizen?" Roman muka Mitsuhide langsung serius, dan ia segera merendahkan suara. "Apakah ada orang lain di sini?" Pandangannya tertuju ke pintu geser.

"Tuan tidak perlu khawatir. Para pelayan sudah kusuruh pergi. Orang di balik pintu adalah pengikut kepercayaanku. Dan selain penjaga di ujung koridor, tidak ada siapa-siapa lagi."

"Sebenarnya ada dua surat untuk Yang Mulia Nobunaga yang dipercayakan padaku. Yang pertama dari Shogun Yoshiaki. yang satu lagi dari Yang Mulia Hosokawa Fujitaka."

"Dari sang Shogun!"

"Hal ini harus dirahasiakan dari marga Asakura, jadi Tuan dapat membayangkan betapa sulitnya menempuh perjalanan sampai ke sini."

Tahun scbdumnya, Shogun Yoshiteru dibunuh oleh wakil gubernur Jendralnya, Miyoshi Nagayoshi, dan pengikut Miyoshi, Matsunaga Hisahide, yang merampas kekuasaan sang Shogun. Yoshiteru mempunyai dua adik laki-laki. Yang lebih tua, seorang kepala biara Buddha, dibunuh olch para pemberontak. Yang lebih muda, Yoshiaki, yang ketika itu menjadi rahib di Nara, mcnyadari bahaya yang mengancamnya dan meloloskan diri dengan bantuan Hosokawa Fujitaka. Selama beberapa waktu ia bersembunyi di Omi, melepaskan kedudukannya sebagai rahib, dan mengambil gelar shogun keempat belas pada usia dua puluh enam tahun.

Setelah itu sang "shogun pengembara" mendekati marga Wada, marga Sasaki, dan beberapa marga lain untuk mencari dukungan. Sejak awal Yoshiaki merencanakan untuk tidak tergantung pada kebaikan orang lain. Ia berniat mengalahkan para pembunuh kakaknya serta mengembalikan kedudukan dan kewibawaan keluarganya. Ia mencari bantuan, memohon margamarga di provinsi yang jauh.

Tapi sesungguhnya urusan ini menyangkut seluruh negeri, sebab Miyoshi dan Matsunaga telah merebut pemerintahan pusat. Meskipun Yoshiaki bergelar shogun, dalam kenyataan ia hanya seorang tanpa harta yang hidup di pengasingan. Ia tidak memiliki uang. apalagi pasukan sendiri. Kecuali itu, ia pun tidak terlalu disukai oleh rakyat.

Mitsuhide mengawali ceritanya dengan kedatangan Yoshiaki di Bentcng Asakura di Echizen. Pada saat itu, seorang laki-laki bernasib buruk yang belum diterima sebagai pengikut marga sedang mengabdi pada Asakura. Orang itu adalah Akechi Mitsuhide sendiri. Di sanalah Mitsuhide pertama kali bertemu Hosokawa Fujitaka.

Mitsuhide melanjutkan. "Ceritanya agak panjang, tapi jika Tuan bersedia mendengarkannya, kuminta Tuan menyampaikannya pada Yang Mulia Nobunaga. Tentunya surat dari sang Shogun harus kuserahkan secara langsung pada Yang Mulia."

Kemudian, untuk menjelaskan situasinya sendiri, Mitsuhide menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak ia meninggalkan Benteng Akechi dan melarikan diri dari Mino ke Echizen. Selama lebih dari sepuluh tahun, Mitsuhide merasakan penderitaan di dunia. Sesuai dengan wataknya, ia mudah tertarik pada buku-buku dan ilmu pengetahuan. Ia bersyukur atas kemalangan yang dialammya. Masa pengembaraannya yang penuh kesusahan itu memang panjang. Benteng Akechi hancur dalam perang saudara di Mino, dan hanya ia dan sepupunya, Mitsuharu, yang berhasil lolos ke Echizen. Pada tahun-tahun sesudah itu Mitsuhide menghilang, menjalani hidup sebagai ronin dan menyambung hidup dengan mengajar anakanak petani membaca dan menulis.

Satu-satunya hasrat yang tersimpan di dadanya adalah menemukan junjungan yang tepat, serta satu kesempatan baik. Sambil mencari jalan keberhasilan, Mitsuhide mengamati semangat juang, keadaan ekonomi, dan benteng-benteng di berbagai provinsi dengan mata ahli strategi militer, bersiap-siap menghadapi masa yang akan datang.

Ia terus berkelana dan mengunjungi semua provinsi di daerah barat. Mitsuhide memiliki alasan kuat untuk berbuat demikian. Daerah baratlah yang selalu lebih dulu menerima penemuan asing, dan kemungkinan besar di sanalah ia dapat menambah pengetahuan mengenai bidang yang menjadi keahliannya—senjata api. Pengetahuan Mitsuhide dalam hal senjata api menimbulkan berbagai peristiwa di provinsi-provinsi barat. Seorang pengikut marga Mori bernama Kaisura menangkap Mitsuhide di kota Yamaguchi, karena mencurigainya sebagai mata-mata. Saat itu Mitsuhide berterus terang mengenai tempat asalnya, situasinya, serta harapan-harapannya, dan bahkan mengemukakan penilaiannya mengenai provinsi-provinsi tetangga. Ketika menanyai Mitsuhide, Katsura begitu terkesan oleh pengetahuannya, sehingga ia lalu memuji-muji Mitsuhide di hadapan junjungannya, Mori Motonari. "Hamba rasa dia memiliki bakat yang luar biasa.

Seandainya dia diberi pekerjaan di sini, hamba yakin dia akan melakukan hal-hal besar di kemudian hari."

Pencarian orang-orang berbakat berlangsung di mana-mana. Orang-orang seperti itu, yang meninggalkan kampung halaman dan mengabdi di provinsi lain, suatu ketika akan berhadapan sebagai musuh dengan bekas junjungan mereka. Begitu Motonari mendengar kabar mengenai Mitsuhide, ia ingin bertemu dengannya. Suatu hari Mitsuhide dipanggil ke benteng Motonari. Keesokan harinya, Katsura seorang diri menghadap Motonari, dan menanyakan pendapatnya mengenai tamunya.

"Seperti kaukatakan, orang berbakat jarang ditemui. Sebaiknya kita beri dia sejumlah uang dan beberapa potong pakaian, lalu mempersilakannya melanjutkan perjalanan."

"Baik, tapi tidakkah dia membuat tuanku terkesan?" "Memang. Ada dua macam orang besar: mereka yang benar-benar besar, dan para bajingan. Nah, kalau seorang bajingan juga orang terpelajar, dia akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri dan bagi majikannya." Motonari melanjutkan, "Ada sesuatu yang licik pada penampilannya. Pada waktu dia bicara dengan tenang dan sorot mata cerah, daya pikatnya sungguh memukau. Ya, dia memang laki-laki yang menawan, tapi aku lebih menyukai sikap para prajurti daerah barai yang tak pernah banyak omong. Kalau kutempatkan orang ini di tengah-tengah prajuritku, dia akan menonjol seperti burung bangau di tengah kawanan ayam. Ini saja sudah cukup untuk menolaknya." Dengan demikian Mitsuhide tidak diterima oleh marga Mori.

Ia menjelajahi Hizen dan Higo, serta daerah kekuasaan marga Otomo. Ia menyeberangi laut ke Pulau Shikoku, tempat ia mempelajari jurus-jurus marga Chosokabe.

Ketika Mitsuhide kembali ke rumahnya di Echizen. ia baru mengetahui bahwa istrinya telah jatuh sakit dan meninggal, dan sepupunya, Mitsuharu, pergi untuk mengabdi pada marga lain. Setelah enam tahun berkelana, situasinya ternyata belum bertambah baik. Ia belum juga melihat titik terang pada jalan yang membentang di hadapannya.

Di saat yang serbasusah itulah ia menemui Ena, kcpala rahib Kuil Shonen di Echizen. Ia menyewa rumah di depan kuil dan mulai mengajari anak-anak tetangga. Sejak awal Mitsuhide telah menyadari bahwa mengajar di sekolah bukanlah panggilan hidupnya. Dalam beberapa tahun ia telah memahami seluk-beluk pemerintahan serta masalah-masalah yang dihadapi provinsinya.

Selama masa itu, Echizen berulang kali dirongrong pemberontakan para anggota sekte Ikko. Suatu ketika. pada waktu pasukan Asakura melewatkan musim dingin di medan perang melawan para biksu yang memberontak. Mitsuhide bertanya pada Ena, "Ini hanya pendapat hamba yang tak berguna, tapi hamba ingin menyampaikan sebuah strategi kepada marga Asakura. Siapakah yang harus hamba temui untuk itu?"

Ena langsung mengerti apa yang tersimpan dalam benak Mitsuhide. "Temuilah Asakura Kageyuki. Kurasa dia bersedia mendengarkanmu."

Mitsuhide mempercayakan murid-muridnya pada Ena dan pergi ke perkemahan Asakura Kageyuki. Karena tidak memiliki perantara. ia langsung saja memasuki perkemahan, membawa rencana yang dicatatnya pada secarik kenas. Ia ditangkap, tanpa mengetahui  apakah rencananya diserahkan pada Kageyuki atau tidak, dan selama dua bulan ia tidak mendapat kabar apa pun. Walaupun dipenjara, dari pergerakan dan semangat pasukan, Mitsuhide menarik kesimpulan bahwa Kageyuki menjalankan rencananya. Mula-mula Kageyuki merasa curiga pada Mitsuhide.

Karena inilah Mitsuhide dipenjara. Tapi karena tak ada jalan lain untuk mengatasi jalan buntu yang dihadapinya di medan laga. Kageyuki memutuskan untuk mencoba rencana Mitsuhide. Ketika kedua lakilaki itu akhirnya benemu. Kageyuki memuji Mitsuhide sebagai prajurit berpengetahuan luas mengenai sejarah dan ilmu bela diri. Setelah memperkenankan Mitsuhide berjalan-jalan di perkemahan, Kageyuki memanggilnya dari waktu ke waktu. Namun rupanya tidak mudah bagi Mitsuhide untuk memperoleh status pengikut, karena itu pada suatu hari ia berkata dengan tegas. "Jika tuanku berscdia itu meminjamkan senjata api pada hamba, hamba akan menembak jendral musuh di tengah-tengah perkemahannya."

"Kau boleh bawa satu," kata Kageyuki, tapi karena rasa curiganya belum pupus sama sekali, ia diam-diam menunjuk seseorang untuk mengawasi Mitsuhide.

Pada masa itu, sepucuk senapan sangat berharga, bahkan untuk marga Asakura yang kaya sekalipun. Setelah mengucapkan terima kasih atas kebaikan Kageyuki. Mitsuhide mengambil senapan itu, terjun ke tengah pasukan, dan menuju garis depan. Ketika pertempuran meletus, ia menghilang di balik barisan musuh.

Mendengar bahwa Mitsuhide menghilang, Kageyuki lalu minta pertanggungjawaban orang yang ditugaskan mengawasi Mitsuhide, dan bertanya kenapa ia tidak menembaknya dari belakang. "Mungkin saja dia ternyata memang mata-mata musuh yang datang ke sini untuk mempelajari kcadaan."

Tapi beberapa hari kemudian terdengar laporan bahwa jendral musuh ditembak oleh penyerang tak dikenal ketika ia memeriksa garis tempur. Semangat pasukan lawan dikabarkan tiba-tiba menipis. Tak lama setelah itu, Mitsuhide kembali ke perkemahan. Ketika bertemu Kageyuki, ia segera menegurnya. "Kenapa tuanku Tidak mengerahkan seluruh pasukan dan menumpas musuh kita? Patutkah orang yang membiarkan kesempatan seperti ini lewat begitu saja diberi pangkat jendral?"

Mitsuhide memenuhi janjinya. Ia telah menyusup ke wilayah musuh, menembak jendral mereka, lalu kembali.

Ketika Asakura Kageyuki kembali ke Benteng Ichijogadani, ia menceritakan kejadian itu pada Asakura Yoshikage, Yoshikage mengamati Mitsuhide dan memintanya menjadi pengikutnya. Kemudian Yoshikage menyuruh para bawahannya mendirikan sasaran di pekarangan benteng, dan memerintahkan Mitsuhide untuk memperlihatkan kebolehannya. Dari seratus tembakan yang dilepaskan Mitsuhide, yang bukan ahli menembak, enam puluh delapan mengenai sasaran.

Mitsuhide kini memperoleh tempat tinggal di kota benteng, dan diberi upah sebesar seribu kan seratus putra pengikut ditempatkan di bawah bimbingannya, dan sekali lagi ia membentuk kesatuan penembak. Mitsuhide begitu berterima kasih pada Yoshikage, karena diselamatkan dari penderitaan, sehingga selama beberapa tahun ia bekerja tanpa kenal lelah untuk membalas berkah dan budi baik yang diterimanya.

Tapi pada akhirnya pengabdian Mitsuhide justru memancing rasa dengki orang-orang sekitarnya. Mereka menuduhnya bersikap congkak dan angkuh. Tak peduli apa yang sedang dibicarakan atau dikerjakan, kecemerlangan Mitsuhide tampak nyata di mata semua orang.

Sikap Mitsuhide tidak berkenan di hati para pengikut marga Asakura yang mulai mengeluh mengenai dirinya:

"Dia memang sombong." "Dia tinggi hati."

Tentu saja, keluhan-keluhan ini juga sampai ke telinga Yoshikage. Prestasi Mitsuhide pun mulai berkurang. Dilahirkan dengan watak dingin, ia kini menjadi sasaran tatapan yang sama dinginnya. Persoalannya mungkin lain seandainya Yoshikage melindunginya, tapi Yoshikage ditahan oleh para pengikutnya. Perselisihan itu membuat ke seluruh benteng, bahkan ke selir-selir favorit Yoshikage. Mitsuhide sendiri tidak memiliki koneksi, dan di tempat yang dianggapnya rumah tempat ia hanya diberikan perlindungan sementara. Hatinya gundah gulana, tapi tak ada yang dapat ia lakukan.

Aku membuat kesalahan, Mitsuhide berkata dalam hati. Ia telah memperoleh sandang pangan, tapi kini ia menyesali keputusannya. Karena terburu-buru hendak meloloskan diri dari kemalangan, ia tidak menyadari bahwa pelabuhan yang dipilihnya merupakan pelabuhan yang salah. Begitulah pikirannya setelah melewati hari-hari tanpa kebahagiaan. Aku telah menyia-nyiakan seluruh hidupku! Tekanan batin yang ia alami rupanya berpengaruh pada kesehatannya, dan ia mulai menderita penyakit kulit yang kemudian menjadi serius. Mitsuhide mengajukan permohonan cuti pada Yoshikage agar dapat berobat di kota permandian Yamashiro.

Pada waktu berada di sana, ia mendapat kabar bahwa Istana Nijo diserang pemberontak, dan bahwa Shogun Yoshiteru mati terbunuh. Di Yamashiro pun, di tengah-tengah pegunungan. orang-orang merasa terkejut dan gelisah.

"Kalau sang Shogun terbunuh. negeri ini akan dilanda kekacauan lagi." Mitsuhide segera bersiap-siap untuk kembali ke Ichijogadani. Kekacauan di Kyoto berarti kekacauan di seantero negeri. Peristiwa itu dengan sendirinya akan membawa akibat di provinsiprovinsi. Tak pelak lagi, di mana-mana persiapan dibuat dengan tergesa-gesa.

Aku bisa saja merajuk dan merasa tertekan karena hal-hal sepele, tapi itu memalukan bagi laki-laki yang sedang berada dalam masa jayanya, Mitsuhide memutuskan. Penyakit kulit yang ia derita telah sembuh, dan kini Mitsuhide cepat-cepat menghadap junjungannya. Yoshikage nyaris tidak menanggapi kedatangannya, dan Mitsuhide menarik diri tanpa mendapat perhatian Yoshikage. Setelah itu ia tak pernah dipanggil lagi. Sementara berobat, ia telah dibebastugaskan dari jabatannya sebagai komandan kesatuan penembak, dan di mana-mana ia diperlakukan dengan sikap bermusuhan. Setelah kepercayaan Yoshikage pada Mitsuhide berubah sama sekali. Mitsuhide sekali lagi mengalami penderitaan batin.

Saat itulah ia menerima kunjungan dari Hosokawa Fujitaka, yang hanya dapat dilukiskan sebagai tamu utusan para dewa. Mitsuhide begitu terkejut, sehingga ia sendiri melangkah keluar untuk menyambut orang iiu, seakan-akan tak percaya bahwa orang dengan kedudukan seperti Fujitaka sudi datang ke rumahnya.

Pembawaan Fujitaka tepat seperti yang disukai Mitsuhide. Sikapnya agung dan terpelajar. Mitsuhide sudah lama mengeluh bahwa ia tak pernah berjumpa dengan orang-orang besar, dan tamu seperti itu tentu saja menimbulkan kegembiraan di hatinya. Namun ia merasa ragu-ragu mengenai maksud kunjungan Fujitaka.

Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, pada saat ia diam-diam mengunjungi rumah Mitsuhide, Fujitaka tak lebih dari orang buangan. Setelah terusir dari Kyoto, Yoshiaki mengungsi dan berkelana dari provinsi ke provinsi. Fujitaka-lah yang mendekati Asakura Yoshikage untuk kepentingan sang Shogun. Sambil mengelilingi provinsi-provinsi untuk berkhotbah mengenai kesetiaan, sekaligus berusaha mempengaruhi para penguasa daerah agar mengambil tindakan, Hosokawa Fujitaka merupakan satu-satunya orang yang ikut menderita bersama Yoshiaki. Segala upaya dijalankannya untuk mengatasi kemalangan yang menimpa junjungannya. "Tentunya marga Asakura akan berpihak pada sang Shogun. Jika Provinsi Wakasa dan Echizen bergabung dengan kami, semua marga di daerah utara akan bergegas mendukung perjuangan kami."

Yoshikage berniat menolak permintaan itu. Tak peduli apa yang dikatakan Fujitaka mengenai kesetiaan. Yoshikage tidak berminat mengangkat senjata demi shogun yang tanpa kekuasaan dan hidup dalam pengasingan. Masalahnya bukan kekuatan militer maupun kekayaan, Yoshikage memang mendukung keadaan saat itu.

Fujitaka segera melihat bahwa situasinya tidak menguntungkan bagi mereka, dan menyadari nepotisme serta pergulatan dalam marga Asakura, ia membatalkan usaha mencari dukungan di sana. Tetapi Yoshikage dan para pengikutnya sudah dalam perjalanan menuju Echizen.

Walaupun orang-orang Asakura merasa terganggu, sang Shogun tak bisa diperlakukan dengan semenamena, dan mereka menyediakan sebuah kuil sebagai tempat tinggal sementara. Mereka menerimanya dengan baik, namun sekaligus berdoa agar ia segera angkat kaki lagi.

Kemudian, secara tiba-tiba Mitsuhide mendapat kunjungan dari Fujitaka. Tapi ia tak dapat merabaraba maksud kunjungan itu.

"Aku mendengar bahwa Tuan menggemari puisi. Aku sempat melihat karya yang Tuan buat ketika pergi ke Mishima." kata Fujitaka pada awal percakapan mereka. Ia tidak tampak seperti orang yang hatinya sedang digerogoti kesusahan. Roman mukanya lembut dan ramah.

"Oh, puisiku tak patut mendapai perhatian Tuan," Mitsuhide tidak sekadar merendah; ia sungguhsungguh merasa malu. Fujitaka memang terkenal karena puisi-puisinya. Hari itu perbincangan mereka dibuka dengan puisi, lalu beralih pada sastra Jepang.

"Astaga, percakapan kita begitu menarik, sehingga aku lupa bahwa ini pertama kali aku bertamu di sini." Setelah meminta maaf karena kunjungannya begitu lama, Fujitaka mohon diri.

Mitsuhide semakin bingung. Memandangi lentera di hadapannya, ia duduk termenung-menung. Fujitaka berkunjung dua atau tiga kali lagi, tapi tema pembicaraan mereka tak pernah menyimpang dari puisi atau Upacara Minum Teh. Tapi suatu hari— ketika itu hujan turun begitu dcras, sehingga lenteralentera terpaksa dinyalakan di dalam rumah—Fujitaka bersikap lebih resmi dan pada biasa.

"Hari ini aku ingin membahas sesuatu yang sangat serius dan rahasia," katanya.

Mitsuhide memang telah menanti-nanti ucapan ini, dan menjawab. "Kalau kepercayaan Tuan padaku begitu besar sehingga Tuan mau membuka rahasia, aku berjanji untuk menjaganya. Silakan bicara secara terbuka, mengenai apa saja."

Fujitaka mengangguk. "Aku yakin orang secerdik Tuan tentu sudah paham mengapa aku sering berkunjung. Sesungguhnya kami, para pembantu sang Shogun, datang ke sini dengan bertumpu pada harapan bahwa Yang Mulia Asakura akan mendukung perjuangan kami. Sampai sekarang sudah berkali-kali kami diam-diam memohon kesediaan beliau dan melakukan perundingan rahasia. Namun jawaban Yang Mulia ditunda-tunda terus, dan tampaknya takkan ada keputusan dalam waktu dekat. Sementara itu kami mempelajari pemerintahan Yang Mulia Asakura, dan sekarang aku yakin bahwa beliau tak ingin bertempur bagi sang Shogun. Mereka yang mengajukan permohonan pun menyadari bahwa ini sia-sia belaka. Meski demikian..." Fujitaka kini tampak berbeda sama sekali dengan laki-laki yang berkunjung sebelumnya. "Siapa di antara para panglima provinsi— terkecuali Yang Mulia Asakura—yang dapat kami andalkan? Siapa panglima perang di negeri ini yang paling bisa dipercaya sekarang? Adakah orang sepcrti itu?"

"Ada."

"Ada?" Mata Fujitaka berbinar-binar.

Dengan tenang Mitsuhide menggunakan jari untuk menuliskan sebuah nama di lantai: Oda Nobunaga.

"Sang penguasa Gifu?" Fujitaka menarik napas. Ia mengalihkan pandangannya dari lantai ke wajah Mitsuhide, dan terdiam sejenak. Kemudian kedua orang itu membahas Nobunaga untuk waktu yang cukup panjang. Mitsuhide pernah menjadi anggota marga Saito, dan ketika mengabdi pada bekas junjungannya, Saito Dosan, ia sempat mengamati watak menantu Dosan. Jadi, ucapan Mitsuhide memang memiliki bobot.

Beberapa hari kemudian, Mitsuhide menemui Fujitaka di gunung-gunung di balik kuil yang menjadi tcmpat menginap sang Shogun. Fujitaka menyerahkan sepucuk surat yang ditulis sendiri oleh sang Shogun dan dialamatkan pada Nobunaga. Malam itu Mitsuhide meninggalkan Ichijogadani. Tentu saja ia melepaskan kediaman dan para pengikutnya, karena menyangka ia takkan kembali. Keesokan harinya seluruh marga Asakura gempar.

Teriakan "Mitsuhide melarikan diri!" terdengar menggema. Regu pelacak dibentuk untuk membawanya kembali, tapi Mitsuhide tak dapat ditemukan dalam batas-batas provinsi. Kemudian Asakura Yoshikage memperoleh kabar bahwa salah seorang pengikut sang Shogun, Hosokawa Fujitaka, sering mengunjungi Mitsuhide, dan kini Yoshikage berpaling pada sang Shogun. "Tak pelak lagi, dialah yang menghasut Mitsuhide dan mungkin mengutusnya sebagai kurir ke provinsi lain." Walhasil Yoshikage mengusir sang Shogun dari Echizen.

Sejak semula Fujitaka telah meramalkan perkembangan ini. Jadi, dengan memanfaatkannya sebagai kesempatan baik, ia beserta rombongannya pergi dari Echizen ke Omi, dan diterima oleh Asai Nagamasa di Benteng Odani. Di sanalah Fujitaka menunggu kabar dari Mitsuhide. Dan inilah sebabnya Mitsuhide datang ke Gifu. Membawa surat sang Shogun, selama dalam perjalanan ia acap kali mempertaruhkan nyawa. Kini Mitsuhide berhasil mencapai setengah dari tujuannya. Ia sudah menembus sampai ke kediaman Mori Yoshinari, dan malam ini sedang duduk berhadaphadapan dengan sang tuan rumah, menjelaskan misinya secara terperinci dan meminta kesediaan Yoshinari untuk bertindak sebagai perantara guna menghadap Nobunaga.

Hari itu hari ketujuh di Bulan Kesepuluh pada tahun Eiroku kesembilan. Hari itu mungkin dianggap hari yang menentukan oleh sementara orang. Mori telah menjadi perantara bagi Mitsuhide, dan seluk-beluk keadaan sudah disampaikan pada Nobunaga. Hari inilah Mitsuhide memasuki Benteng Gifu dan bertemu untuk pertama kali dengan Nobunaga. Mitsuhide berusia tiga puluh delapan tahun—enam tahun lebih tua daripada Nobunaga.

"Aku telah mempelajari surat-surat dari Yang Mulia Hosokawa dan sang Shogun." kata Nobunaga, "dan kulihat mereka menginginkan dukunganku. Betapapun tak berartinya aku, aku akan mengerahkan segenap kekuatan yang kumiliki."

Mitsuhide membungkuk dan menanggapi ucapan Nobunaga. "Mempertaruhkan nyawa hamba yang hina merupakan tugas yang jauh melampaui status hamba." Tak ada kepalsuan dalam kata-kata Mitsuhide. Ketulusannya membuat Nobunaga terkesan, begitu juga sikap dan pembawaannya, pemilihan katanya yang cerdik, serta kecerdasannya yang patut dikagumi. Semakin lama Nobunaga memperhatikannya, ia semakin terkesan. Orang ini pasti akan berguna, katanya dalam hati. Dengan demikian, Akechi Mitsuhide menemukan dirinya di bawah sayap marga Oda. Dalam waktu singkat ia telah menerima anugerah berupa tanah senilai empat ribu di Mino. Di samping itu, karena sang Shogun dan para pengikutnya berada bersama marga Asai, Nobunaga mengutus sejumlah orang di bawah pimpinan Mitsuhide umuk mengawal mereka ke Benteng Gifu, Nobunaga bahkan pergi ke perbatasan provinsi untuk menyambut kedatangan sang Shogun, yang telah diperlakukan sebagai orang yang merepotkan di provinsi-provinsi lain.

Di gerbang benteng, Nobunaga meraih tali kekang

kuda sang Shogun dan memperlakukannya sebagai tamu kehormatan. Tetapi sesungguhnya Nobunaga tidak sekadar meraih tali kekang kuda sang Shogun, melainkan mengambil alih kendali atas seluruh negeri. Mulai saat itu, jalan mana pun yang ditempuhnya, awan badai dan angin zaman berada di tangan yang menggenggam tali kekang demikian erat.